Istana Kumala Putih Jilid 25

 
Jilid 25

"Sejak hari itu aku lantas menjadi tetamu terhormat dari Pek-liong-po. Tetapi siapa nyana oleh karenanya, akhirnya telah menimbulkan keruwetan. Sebabnya ialah, didalam Pek-liong-po kecuali aku, masih ada sepasang tetamu perempuan yang juga boleh dikatakan sepasang kembang.

Mereka berdua merupakan kakak beradik dari satu ayah lain ibu, tetapi keduanya sama-sama cantik.

Sang kakak bernama Ceng Nio cu dan sang adik bernama Ceng Kim-cu, tetapi sifat dan tabiat mereka ada berlainan. Sang kakak tabiatnya keras dan berangasan, sedikit tidak senang saja dapat mengumbar amarahnya, sedangkan sang adik ada sebaliknya, dia seorang perempuan yang sangat lemah lembut dan suka bergaul dengan siapa saja. Kala itu adik dari Pek Leng bermaksud menjodohkan aku dengan Ceng Nio-cu, menurut katanya yang tuaan harus mengawini yang tuaan pula, sedang dia sendiri mengingini Ceng Kim-cu.

"Semula aku tidak mengetahui adat Ceng Nio-cu, karena parasnya cantik, aku suka juga bergaul dengan dia." berbicara sampai di sini, wajah Bwee-hoa Kiesu agah kemerah-merahan, mungkin terkenang akan keberadaannya dimasa mudanya, dan sekarang waktu membicarakan hal itu di hadapan kedua anak muda, agaknya merasa tidak enak sendiri.

Tetapi keadaan itu hanya berlangsung sepintas lalu saja, lantas Bwee-hoa Kiesu menuturkan kembali:

"Siapa nyana dalam hati Ceng Nio-cu siang-siang sudah mencintai adik Peng Leng, maka ia selalu berusaha supaya aku banyak bergaul dengan adiknya. Tetapi adik Peng Leng di hadapanku, selalu mengutarakan isi hatinya dengan terus terang. Begitu juga dalam cintanya terhadap Ceng Kim-cu, tidak mudah untuk dirubahnya, dalam keadaan demikian, belum sampai setengah bulan aku sudah merasa sulit untuk tinggal lebih lama lagi di Pek-liong-po. Aku paham, jika keadaan itu dibiarkan begitu saja, pada akhirnya pasti akan timbul kejadian yang tidak enak bagi semua pihak. Maka pada suatu malam terang bulan, setelah aku meninggalkan surat untuk adik Pek Leng, dengan cara diam-diam aku berlalu dari Pek-liong-po, lantas aku bertemu dengan San hoa Sian lie. Meski setelah kita menikah baru kuketahui bahwa dia putrinya Lui Kong, tetapi karena dia sendiri merupakan seorang perempuan yang bijaksana, maka aku tidak memperdulikan hal itu dan lantas aku mengajaknya pulang ke Bwee khe chung. "Sejak aku berlalu dari Pek liong po, dengan tidak dirasakan empat tahun telah berlalu. Pada suatu malam, adik Pek Leng mendadak berkunjung ke rumahku sambil mendukung satu bayi laki- laki yang baru lahir kira-kira beberapa bulan. Aku heran mengapa dia jauh-jauh telah mengunjungi aku dengan membawa bayi, ternyata, didalamnya ada terselip suatu tragedi yang mengharukan.

"Menurut keterangan adik Peng Leng tidak lama setelah aku meninggalkan Pek liong po, dia lantas menikah, istrinya adalah Ceng Kim cu yang sudah lama dicintainya. Karena perkawinan Ceng Kim cu, dari pihak Ceng kee-ce telah datang banyak orang, tetapi diantaranya tidak terdapat ibunya Ceng Kim cu. Menurut keterangan Ceng Kim cu sendiri, katanya sang ibu itu sudah lama meninggal dunia. Upacara dan pesta perkawinan itu sangat ramai.

"Di Pek liong po hampir satu minggu lamanya kebanjiran tetamu, dan setelah semua tetamu berlalu, keadaan tenang kembali. Tetapi dalam suasana tenang itu, adik Pek Leng baru mengetahui bahwa istrinya ternyata bukan Ceng Kim cu yang dia cintai, sebaliknya ialah Ceng Nio cu yang sangat dibencinya. Adik Pek Leng lantas menjadi gusar, dia mencari Ceng Kim Cu hampir ke seluruh pelosok Pek Liong po.

"Semula dia masih mengira bahwa Ceng Kim cu benci padanya dan sengaja tidak mau menemuinya, tetapi kemudian diketahuinya bahwa Ceng Kim cu telah disembunyikan oleh mereka dan menggunakan Ceng Nio cu untuk menggantikan kedudukan Ceng Kim cu. Tetapi di Pek liong po dia tidak dapat menemukan Ceng Kim cu akhirnya salah satu adik dari Pek Leng, karena tidak tega melihat keadaan saudaranya yang sudah seperti orang gila, baru diberitahukan bahwa Ceng Kim cu siang-siang sudah dibawa pulang oleh ayannya ke Ceng kee-ce.

Ketika adik Pek Leng mendengar berita itu malam-malam lantas dia pergi ke Ceng-kee-cee di gunung Ceng lay san. Di sana akhirnya dapat diketemukan Ceng Kim cu yang telah dikeram didalam suatu goa.

"Dengan tidak banyak rewel lagi adik Peng Leng lantas menolong diri Ceng Kim cu dan mereka berdua lantas menjadi suami istri tanpa mempunyai kediaman yang tetap. Baik dipihaknya Ceng Kee-ce maupun dari pihaknya Pek liong po semuanya tidak menyetujui perbuatan mereka itu, maka kedua pihak lantas mengutus banyak orang untuk mencari jejak mereka. Selama tiga tahun lamanya adik Peng Leng dengan mengajak Ceng Kim cu, telah menjelajahi seluruh daerah Kang-lam dan Kang-pak.

"Mereka juga pernah ke Kwan-gwa dan Sinkiang, tetapi selalu tidak dapat hidup dengan tenang, bahkan Ceng Kim cu yang berbadan lemah dan berpenyakitan setelah melakukan perjalanan jauh, badannya makin lama makin payah. Tahun itu Ceng Kim cu mulai mengandung, justru karena kandungannya, makin sukar untuk mereka melakukan perjalanan jauh. Adik Peng Leng merasa sangat gelisah, tetapi apa gunanya gelisah itu? Akhirnya entah dengan cara bagaimana adik Peng Leng telah mengajak Ceng Kim cu kembali ke Su-coan. Dia menetap di desa Ka-leng, di tepi sebuah sungai dan hidup di sana sebagai nelayan.

"Sungguh aneh sekali, penghidupan demikian sebaliknya malah membuat mereka lebih tenang dan tentram. Dan setelah jabang bayi terlahir, keadaan badan Ceng Kim cu semakin lemah, sehingga tidak dapat menyusui bayinya lagi. Maka mau tidak mau adik Peng Leng mencari penduduk yang mempunyai anak kecil untuk diminta bagi air susunya untuk bayinya.

"Pada suatu hari ketika adik Peng Leng habis menjala ikan, telah melihat di tepi sungai ada tiga orang laki-laki yang sedang menggoda seorang perempuan. Apa mau, perempuan itu justru ialah si nyonya yang sering diminta air susunya oleh Pek Leng. menyaksikan keadaan demikian adik Peng Leng lantas ikut campur tangan. Siapa nyana, ketika mereka melihat keadaan adik Pek Leng, dianggap oleh mereka bahwa adik Pek Leng seorang lemah, maka mereka telah perlakukan adik Pek Leng secara kasar. Adik Pek Leng yang sedang risau hatinya, karena memikirkan diri istrinya, maka perbuatan ketiga orang laki-laki itu telah membuat panas hatinya. Percekcokan segera terjadi dan mereka itu masih belum mengetahui bagaimana cara Pek Leng bergerak, tahu- tahu pipi masing-masing sudah ditampar sedemikian kerasnya sehingga mereka merasa kesakitan.

"Di Su-coan sebenarnya ada beberapa golongan atau disebut juga dengan nama Pang-hwee dan orang-orang dari golongan ini kebanyakan merupakan bangsa berandalan yang juga mengerti sedikit ilmu silat. Karena mengandalkan nama seseorang, maka mereka sering berlaku sewenang- wenang.

"Setelah ketiga orang itu ditampar, mereka lantas menjadi kalap dan dengan berbareng mereka menerjang adik Peng Leng. tetapi begitu cepat mereka menerjang, begitu cepat pula mereka rubuh dan anehnya mereka masih belum mengetahui caranya turun tangan adik Peng Leng, sehingga mereka segera berteriak-riak untuk meminta bantuan, sebentar saja beberapa puluh orang sudah datang mengurung adik Peng Leng dan diantaranya terdapat juga orang-orang yang membawa golok, ruyung, dan sebagainya.

Tetapi bangsa kurcaci demikian, mana dapat menandingi adik Pek Leng, maka sebentar saja beberapa puluh orang itu sudah dibikin rubuh kucar kacir. Tiba-tiba terdengar suara orang berkata sambil tertawa dingin:" Tidak nyana didalam got ada sembunyi seekor naga."

Adik Pek Leng yang mendengar ucapan itu, merasa kaget juga dan mengetahui bahwa hari itu dengan tidak sengaja dia telah menunjukkan kepandaiannya dan dalam waktu beberapa hari orang-orang pasti akan datang mencari padanya, maka dengan tidak berkata apa-apa dia lantas pulang ke rumahnya.

Oleh karena kesehatan Ceng Kim-cu selama dua hari itu agaknya terganggu, tentang kejadian itu, tidak berani adik Peng Leng memberitahukan padanya. Ceng Kim-cu memang sudah berkali- kali menyatakan kepada adik Peng Leng bahwa nasibnya sangat buruk dan dia telah meminta supaya adik Peng Leng jangan terlalu memikirkan dirinya, dia hanya mengharap supaya anak satu-satunya itu dijaga keselamatannya. Tidak lama setelah meninggalkan pesannya itu Ceng Kim-cu meninggal dunia. Dapat dibayangkan betapa sedih hati Pek Leng dikala itu. Baru saja ia

selesai mengubur jenazah Ceng Kim-cu, orang-orang dari Pek-liong-po semuanya datang, bahkan ayahnya sendiri juga terdapat diantara mereka. Adik Pek Leng tidak mau menemui siapapun juga, sambil mendukung anaknya dia melakukan perjalanan siang malam dan akhirnya telah tiba di rumahku. Akhirnya dia berkata bahwa dia akan menyerahkan anaknya itu di bawah perawatanku, ialah anak satu-satunya dan turunan satu-satunya yang ditinggalkan oleh Ceng Kim-cu. Mengingat tali persaudaraan kita, aku tidak dapat menolak, apalagi istriku tahun itu juga baru melahirkan satu anak perempuan, maka tentang air susu tidak menjadi soal lagi, maka aku lantas menerima baik permintaannya dan adik Pek Leng lantas berlalu."

Bwee-hoa kiesu lantas berhenti menutur dan Kim Houw yang sedari tadi mendengarkan dengan hati berdebar-debar, tiba-tiba bertanya:

"Dan kemudian dimana adanya anak itu?"

Bwee-hoa Kiesu mendongakkan kepalanya dan menjawab sambil menghela napas: "Dia berada tidak jauh dari sini"

Kim Houw menggigil dan seketika itu ia berdiri terpaku. "Apa kau merasa heran?" tanya bwee-hoa Kiesu. Jago pedang itu mengawasi Kim Houw dengan perasaan terharu. Lalu menuturkan pula:

"Bayi laki-laki itu adalah kau sendiri. Kim Houw! sudah tentu dalam hal ini ada sebab- sebabnya. Tempo hari adik Pek Leng pernah memesan supaya aku tidak memberikan pelajaran ilmu silat padamu, sebaliknya dia telah menyuruh aku mengajarkan ilmu surat. Meskipun aku mengetahui bahwa tulang tulangmu sangat baik sekali untuk belajar ilmu silat, tetapi aku tidak berani melanggar pesan adik Peng Leng. Ketika kau baru berumur tiga tahun, tiba-tiba ada orang datang dari Pek-liong-po yang menanyakan tentang dirimu, sedang ayahmu sendiri sekian lamanya tidak ada kabar beritanya.

"Untuk menjaga keselamatanmu, malam itu juga aku lantas mengajak kau meninggalkan rumah. Baru tiga hari berjalan sejak meninggalkan rumah, aku telah bertemu dengan Ciok Siucay, empek Ciok, yang baru pulang dari luar kota. Untuk menepati janji pada ayahmu dan juga untuk menjaga kebaikanmu sendiri maka dengan diam-diam aku menyerahkan pada orang tua yang lemah. Dengan demikian maka kau lantas dibawa kembali lagi ke Bwee-kee-chung.

"Untuk menghindarkan perasaan curiga dari orang-orang Pek-liong-po dan sekalian untuk menyerapi jejak ayahmu, aku telah pergi merantau. Setahun kemudian baru aku kembali ke Bwee- kee-chung, begitu sampai di rumahku, pertama-tama aku pergi melihatmu, sudah tentu kau tidak mengenali aku. Di bawah pimpinan Ciok Yaya, ternyata kau sudah mengenali huruf dan tulisan dan kelihatannya kau hidup lebih tentram, sehingga membuat hatiku merasa lega, tetapi disamping itu istriku sendiri sudah tidak ada, entah kemana perginya. Menurut keterangan orang- orang di rumah belum lama setelah aku pergi, dia juga lantas berlalu. Waktu perginya dia telah meninggalkan sepucuk surat, oleh karena sudah terlalu lama entah kemana sekarang adanya surat itu. Mendengar itu hatiku merasa sedih, perlu apa dengan surat, satu orang perempuan telah meninggalkan rumah tangganya dan anak-anaknya begitu saja, untuk apa harus aku cari lagi?

Maka dalam rumahku aku hanya berdiam tiga hari lamanya dan aku segera merantau lagi di dunia Kang-ouw."

Pada saat itu Kim Houw yang mendengarkan, menggigil badannya, air matanya turun membasahi dikedua pipinya, begitu pula Peng Peng tidak terkecuali.

Bwee-hoa Kiesu sendiri mungkin juga terkenang oleh kejadian dimasa lampau, matanya juga mengembang air mata.

"Aku telah mengajak kalian kemari, apakan kalian ketahui apa maksudku?" si imam menanya. Kim Houw menggelengkan kepalanya.

"Maksudku ialah supaya kau ayah dan anak bertemu muka!"

"Apa, ayahku?" tanya Kim Houw dengan heran. "Empek Bwee, dimana adanya ayahku sekarang, tolong bawa aku padanya, tolong!"

"Kau tokh sudah sampai di sini, tidak perlu kau meminta pertolonganku lagi. Semua itu tergantung atas usahamu sendiri, sebab ayahmu justru berada di atas gunung Ceng-shia-san ini. Malam ini kalian berdua mengasolah dulu, setelah terang tanah kau boleh pergi naik gunung untuk menemui ketua Ceng-shia-pay dan padanya kau boleh meminta ijin untuk bertemu dengan ayahmu, sebabnya ialah ayahmu di sini hanya merupakan satu tawanan.

"Bagiku sendiri, juga setelah mengetahui hal ini dengan tidak disengaja, baru masuk dalam Ceng-shia-pay menjadi imam, disamping mencari keterangan aku juga ingin melindungi ayahmu."

Karena kagetnya Kim Houw sampai lompat. "Apa, ayahku sebagai tawanan? Apa dosanya dan dengan hak apa Ceng-shia-pay berani menawan ayahku? Aku tidak dapat menunggu lagi, sekarang juga, aku hendak berangkat!"

Meski dimulut Kim Houw berkata dengan demikian, tetapi nyatanya ia tidak bergerak, sebab ia ingin mengetahui dahulu apa sebabnya maka ayahnya ditahan oleh Ceng-shia-pay.

Bwee-ho Kiesu menggelengkan kepala dan menjawab sambil menghela napas:

"Sudah sepuluh tahun aku beribadat, meskipun sudah beberapa kali aku bertemu dengan adik Pek Leng, tetapi dia belum pernah mengatakan apa-apa, maka bagiku sendiri juga tidak mengetahui apa sebabnya ayahmu ditawan. Hanya kau jangan terlalu terburu napsu, mengasolah dulu sebentar."

Ketika mengucapkan perkataan itu Bwee-hoa Kiesu sambil mengulur tangannya hendak menarik tangan Kim Houw. Diluar dugaan, dengan kecepatan kilat, Bwee-hoa Kiesu menotok jalan darah Kim Houw, sehingga Kim Houw rubuh seketika itu juga.

Hal ini telah terjadi di luar dugaan semua orang, Kim Houw tidak berjaga-jaga, begitu pula halnya dengan Peng Peng, bagaimana mereka dapat menduga, kalau Bwee-hoa Kiesu dapat mendadak turun tangan.

Bwee-hoa Kiesu yang berada dekat sekali dengan Kim Houw, lantas lompat menyingkir sambil menyambar tubuhnya anak muda itu dibawa ke suatu tempat aman tidak jauh dari situ.

Peng Peng kesima. Tiba-tiba mendengar suara Bwee-hoa Kiesu yang berkata sambil tertawa. "Nona Touw, kemarilah! Kau jangan camas, juga tidak perlu takut, aku hanya ingin supaya dia

mengaso sebentar, setelah terang tanah baru boleh pergi naik gunung. Harap kau beritahukan

padanya, kalau dia naik ke gunung untuk minta bertemu dengan ayahnya, jangan terlalu sombong dan jangan terlalu penakut, ambil saja sikap sewajarnya. Dengan kepandaian yang dipunyainya sekarang ini, dia tidak perlu takut apa juga sebaiknya kalian jangan pergi bersama-sama supaya dia tidak memikirkan dirimu. Sekarang aku hendak pergi dahulu, walaupun aku sendiri berada di atas puncak gunung itu, tetapi aku tidak dapat memberi bantuan pada kalian, harap kalian suka memaafkan, sebab dengan penuturanku tadi aku sebenarnya sudah melanggar peraturan partai, maka hatiku merasa tidak enak."

Sehabis berkata, Bwee-hoa Kiesu lantas berlalu dan sebentar saja sudah menghilang ditempat gelap.

Setelah berlalunya Bwee-hoa Kiesu, Peng Peng menghampiri kekasihnya dan memeriksa pernapasan Kim Houw. Ternyata jalan napasnya normal dan memang benar ia sedang tidur dengan nyenyaknya, maka ia lantas meletakkan kepalanya anak muda itu di pangkuannya, sedang ia sendiri duduk bersila untuk bersemadi.

Entah berapa lama telah berlalu, ketika Peng Peng sedang tidur, Kim Houw merayap bangun dari pangkuan Peng Peng. Ternyata tadi sebenarnya ia telah main gila dan berpura-pura rubuh, sehingga Bwee-hoa Kiesu sendiri juga dapat dikibuli.

Tetapi setelah Kim Houw bangun berdiri ia merasa bingung, bagaimana ia hendak perlakukan dirinya Peng Peng? Apa si nona harus didiamkan begitu saja, sudah tentu itu sangat berbahaya.

Mengingat tentang bahaya, memang dimana saja tidak ada yang aman, maka seketika itu Kim Houw lantas menjadi kebingungan sendiri. Selagi berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia yang melayang turun dari atas pohon dan lantas berkata padanya:

"Serahkan Peng Peng padaku!"

Ketika Kim Houw mengamati orang yang baru datang itu, hatinya sangat girang, sebab orang itu Tiong-cu-khek Touw Hoa adanya.

Buru-buru Kim Houw maju memberi hormat:

"Maafkan aku yang sedang berada dalam kesulitan" katanya.

"Kedatanganku sudah lama," kata Tiong-cu khek. "Soal urusanmu juga sudah kudengar sebagian. Aku dapat mengerti perasaanmu, nah, ini ada sebuli air dan kau boleh menggunakannya untuk menambahkan tenaga, juga untuk membangkitkan semangat. Kau pergilah cepat-cepat biarlah Peng Peng aku yang menjaganya."

Mendengar itu bukan main rasa girangnya Kim Houw, ia tahu bahwa air dalam buli-buli itu ialah air yang berbusa hijau dari kerbau hijau yang mujijat.

Mulanya ia tidak ingin menerima, sebab ia tahu bahwa sebuli air sekecil itu dapat dipakai untuk menolong banyak jiwa manusia, tetapi ketika ia melihat bahwa di belakang badan Tiong-ciu-khek masih membawa banyak buli-buli serupa itu, maka ia menerimanya juga. Ia berlutut mengunjuk hormat pada Tiong-ciu-khek kemudian permisi berlalu.

Malam itu karena bulan tiada bersinar, meskipun banyak bintang-bintang yang bertaburan di langit, agaknya tidak cukup menerangi lebarnya jagat.

Saat itu baru saja kira-kira jam satu malam, keadaan disekitar gunung sunyi senyap. Ketika Kim Houw berada di bawah kaki gunung Ceng-shia-san, dari jauh ia sudah dapat melihat sesosok bayangan manusia yang naik ke atas gunung.

Siapa bayangan orang itu? Tanpa dipikir juga sudah dapat diduga bahwa bayangan itu tentu Bwee-hoa Kiesu.

Tetapi ia juga mengetahui, bahwa Bwee-hoa Kiesu tentu pulang ke gunung dengan melalui jalanan yang sewajarnya, sedangkan ia sendiri yang sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi dan tidak mengetahui jalanan yang menuju ke gunung itu, maka ia sebaliknya melalui jalan yang terdekat dan dapat mendahului Bwee-hoa Kiesu.

Kim Houw yang bersama Bwee-hoa Kiesu sudah berlari-larian sehari penuh, telah mengetahui benar kepandaian imam itu.

Maka Kim Houw segera mengeluarkan ilmu mengentengi tubuhnya yang luar biasa dan terus melesat ke atas gunung.

Sebentar kemudian ketika ia sudah berada ditengah gunung, ternyata bayangan Bwee-hoa Kiesupun tidak kelihatan lagi.

Ditengah gunung itu Kim Houw telah menemukan sebidang tanah datar yang agak luas, dimana ada berdiri sebuah gereja yang cukup besar. Setelah memeriksa keadaan tempat itu, Kim Houw tidak melihat bayangan satu manusiapun, dengan beberapa kali gerak saja ia telah dapat melalui tanah datar itu. Waktu tengah malam yang sunyi itu, sudah tentu semua orang sudah pada tidur dan pintu gereja juga sudah tertutup rapat. Kim Houw yang saat itu berada di luar pintu gereja, tanpa banyak pikir, lantas melompat ke atas tembok.

Tepat pada saat itu mendadak terdengar bunyi sesuatu yang memecahkan suasana sunyi dimalam itu. Ia mulanya mengira bahwa dirinya telah dipergoki orang maka ia buru-buru mendekam dan lompat turun lagi.

Tetapi selewatnya beberapa lama ia masih juga belum melihat sesuatu gerakan, Kim Houw lalu sesalkan dirinya sendiri yang demikian Pengecut.

Andaikata perbuatannya itu diketahui orang, seharusnya ia berlaku secara terus terang. Maka untuk kedua kalinya, Kim Houw lompat naik ke atas tembok.

Tetapi baru saja ia tancap kaki, ia telah mendengar tindakan kaki orang yang sedang berjalan. diduga tentunya yang datang itu ada Bwee-hoa Kiesu, maka ia segera mencari pikiran, bagaimana nanti harus menjawab kalau berpapasan dengan dia.

Selagi bingung, dari dalam gereja tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin yang kemudian disusul dengan kata-katanya:

"Bangsat dari mana yang tidak mempunyai mata, begitu berani mati naik ke bukit Ceng-shia?

Lekas enyah dari sini, kalau kau masih ayal-ayalan, hati-hati dengan sepasang kakimu."

Mendengar itu Kim Houw tahu bahwa dalam Ceng-shia-pay benar-benar banyak orang pandainya. sebab begitu ia tiba sudah diketahui perbuatannya.

Karena sudah kepergok, Kim Houw lantas bertindak secara terang-terangan. Setelah melalui beberapa tembok pagar ia segera masuk ke dalam pekarangan gereja.

Dari dalam gereja segera terdengar orang yang berseru kaget, disusul dengan munculnya bayangan orang yang mencoba menghalangi tindakan Kim Houw sambil membentak:

"Binatang kau benar-benar bernyali besar!"

Siapa nyana, belum selesai perkataan tadi, ia sudah dipukul rubuh oleh Kim Houw. Tetapi justru karena perbuatannya itu, dalam gereja itu segera terdengar suara yang riuh,

kemudian disusul oleh penerangan lampu dan munculnya beberapa orang yang semuanya menghampiri Kim Houw.

Kim Houw mengetahui, jika ia tidak menunjukkan kepandaiannya, tentunya sukar untuknya dapat berlalu. Maka ia sengaja berdiri diam dan dengan tenang ia menantikan kedatangan mereka.

Di sekitarnya telah berdiri lebih dari tiga puluh orang, tetapi tidak seorangpun yang berani turun tangan terlebih dahulu, hanya mengawasi segala gerak gerik Kim Houw dengan mata terbuka lebar.

Tidak antara lama, seorang diantara imam-imam itu berkata:

"Orang gagah dari mana yang datang berkunjung ke sini, silahkan maju berbicara."

Ketika Kim Houw menengok, melihat ia ada seorang imam tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua sedang berdiri ditengah-tengah orang banyak. Melihat keadaan si imam, Kim Houw dengan tidak sadar telah timbul rasa hormatnya dan dalam hati diam-diam berpikir bahwa imam itu nampaknya sangat berwibawa, mungkin ia merupakan salah satu orang yang berkepandaian sangat tinggi dari golongan Ceng-shia-pay.

Ia buru-buru bertindak maju, sambil memberi hormat ia berkata:

"Aku yang rendah bernama Kim Houw, datang ke gunung ini hendak mencari seorang, harap toting memberi sedikit kelonggaran!"

Imam tua itu tertawa tergelak-gelak, sambil membalas hormat ia menjawab:

"Kim Siaohiap, kau terlalu merendah, aku si orang tua adalah Pek Ho Tojin yang mendapat tugas untuk mengepalai gereja Pek-ho-koan ini, entah siapa orangnya yang Siaohiap cari, sehingga diwaktu tengah malam buta seperti ini telah memasuki Ceng-shia."

"Orang yang ingin kucari ialah ayahku sendiri yang bernama Pek Leng!" jawab Kim Houw. "Pek Leng?" Pek Hoa Tojin berseru kaget dan wajahnya berubah. "Apakah Pek Leng itu

ayahmu, mengapa namamu sendiri Kim Houw dan kedatanganmu hanyalah untuk mencari dia semata-mata?"

Kim Houw angguk-anggukkan kepalanya.

Pek Ho Tojin perlahan-lahan gelengkan kepalanya, matanya yang sangat tajam mengawasi Kim Houw.

"Soal Pek Leng berada dibukit Ceng-shia-san, siapa yang memberitahukan padamu?" tanyanya.

Mendengar pertanyaan itu Kim Houw terkejut pikirnya:

"Hal ini tak boleh kuberitahukan dengan terus terang, kalau Bwee-hoa Kiesu yang memberitahukan, sebab itu berarti ia mencelakakan dirinya Bwee-hoa Kiesu, juga berarti membalas budi dengan kejahatan.

"Dalam hal ini, harap Koancu jangan tanyakan, hanya apa yang dapat kuberitahukan pada Koancu ialah jika di Ceng-shia-san aku tidak dapat melihat ayahku, aku tidak mau turun dari gunung ini."

Pek Ho Tojin mengerutkan alisnya.

"Kalau Kim Siaohiap benar-benar mau berbuat demikian," katanya "Itu hanya akan membuat Siaohiap sangat kecewa, sebab Pek Leng adalah penghianat dari kaum kami, meskipun beberapa tahun yang lalu pernah disekap didalam gunung, tetapi tahun yang lalu ia sudah dilepas turun gunung dan sekarang entah kemana perginya."

"Koancu, juga terhitung golongan tua dari rimba persilatan yang mempunyai nama dan kedudukan yang sangat baik, tentunya tidak akan bicara secara main-main dengan seorang dari tingkatan muda dan juga tentu tidak boleh berdusta, betul atau tidak?" Kim Houw kata sambil tertawa dingin.

Pek Ho Tojin sungguh tidak menyangka bahwa lidah Kim Houw itu sangat tajam. "Orang yang beribadat perlu apa berdusta?" jawabnya.

"kalau bukan berdusta, mengapa kau mengatakan bahwa ayahku sudah dilepas turun gunung? Sebab menurut apa yang aku ketahui, sampai sekarang ayahku masih disekap didalam gunung." Kim Houw penasaran.

Pek Ho Tojin kembali dibuat terkejut, sesaat itu wajahnya lantas berubah dan berkata sambil menunjukkan sikapnya yang bengis:

"Aku tadi telah menasehati kau dengan baik, aku ingin supaya kau jangan mencari kesulitan sendiri dan lekas-lekas turun gunung. Kalau kau masih tetap membandel, jangan sesalkan aku, kau boleh coba saja sendiri, Ceng-shia-san ini lain dari pada yang lain!" 

Melihat Pek Ho Tojin, meskipun ia seorang beribadat, tetapi sikapnya mudah berubah, sehingga segera Kim Houw tahu bahwa imam itu seorang yang licin dan tentunya juga seorang yang kejam pula. Maka dengan tidak sungkan-sungkan lagi lantas ia menjawab dengan suara tegas:

"Nasehat baik dari Koancu, Kim Houw terima dengan perasaan banyak terima kasih, tetapi seperti apa yang sudah kukatakan tadi, setelah aku berada di sini jika aku belum dapat melihat ayahku, aku juga tidak mau turun dari gunung ini. walaupun ayah, Koancu katakan sebagai seorang penghianat dari partaimu seharusnya juga memberikan ijin supaya ayah anak bertemu muka barang sejenak. Nama Ceng-shia-pay dari Ceng-shia-san yang sudah menggetarkan jagat, semua orang sudah mengetahuinya. Aku si orang she Kim karena ingin menemui ayahku, aku tidak sayangi jiwa sendiri untuk menempuh bahaya. Sekalipun Koancu menyediakan minyak dalam kuali yang mendidih, kalau sampai Kim Houw kerutkan alisnya, dia bukannya anak Pek Leng lagi."

"Sungguh gagah ucapanmu, ilmu mengentengi tubuh juga tidak tercela, siapa suhumu?

Supaya setelah hari ini kami mengusir kau turun gunung, kemudian hari membuat perhitungan dengan suhumu!"

"Kau ingin tahu siapa guruku? Kalau kau mampu mengusir aku turun dari gunung, ini aku nanti segera memberi tahukan padamu. Tetapi kalau kau tidak mampu mengusir aku, kau juga tidak pula menanya, sekarang jangan banyak rewel, aku akan segera turun tangan!" Kim Houw sudah tidak sabaran.

Pek Ho Tojin mendadak mengebutkan lengan jubahnya, dua imam yang lompat turun dari atas genteng dan sedang hendak membokong Kim Houw mendadak urungkan maksudnya.

"Kalian menjaga ditempat sendiri-sendiri, tidak boleh bergerak sesukanya, aku akan menyambuti serangan Kim Siaohiap lebih dulu, kecuali jalanan yang menuju ke atas gunung, jalan untuk turun gunung tidak perlu diadakan penjagaan terlalu keras." Setelah memberikan pesannya itu, Pek Ho Tojin lalu memutar lagi lengan jubahnya dan sebentar saja ia sudah berdiri kira-kira satu tumbak di depan Kim Houw.

"Siaohiap silahkan, Koancu sudah lama tidak pernah berlalu dari gunung ini sehingga tidak mengetahui keadaan di dunia Kang-ouw, telah tumbuh berapa banyak tenaga muda yang usianya begitu muda seperti kau juga tidak mau memandang muka pada Ceng-shia-pay. Kalau aku tidak memberikan sedikit hajaran padamu, kau tentunya akan mengira bahwa di Ceng-shia-san sudah tidak ada orang lagi."

Berkata sampai di sini, keadaan juga sudah menjadi jelas, kalau Kim Houw tidak dapat menemui ayahnya dengan jalan damai. Empek Bwee-nya mengatakan bahwa ayahnya masih berada di atas gunung, toh tidak mungkin kalau empek Bwee-nya menipu padanya. Kalau begitu sudah tentu Pek Ho Tojin yang berdusta.

Tetapi Kim Houw juga merasa heran, mengapa sampai saat itu, ia tidak melihat Bwee-hoa Kiesu menunjukkan diri. Apa ia menyesalkan perbuatannya yang telah bertindak terlebih dahulu? Sebab menurut perhitungannya, seharusnya Bwee-hoa Kiesu sudah sampai terlebih dahulu, tetapi pada saat itu ia tidak sempat memikirkan lainya, sebab Pek Ho Tojin sudah berada di depan mukanya, maka ia lantas maju dua tindak dan berkata sambil mengangkat tangannya memberi hormat.

Pek Ho Tojin yang menyaksikan Kim Houw yang sangat tenang, yang seolah-olah menganggap pertandingan itu bukan suatu soal penting, atau dengan lain perkataan juga berarti sudah tidak memandang mata kepadanya, maka seketika itu Pek Ho Tojin lantas menjadi gusar. Kumisnya berdiri, kemudian ia mengebutkan lengan jubahnya sebagai tanda membalas hormat.

Sebetulnya ketika Pek Ho Tojin menggerakkan jubahnya, ia telah menggunakan tipu serangannya Ceng-shia-pay yang terkenal dengan tenaga lweekangnya yang demikian tinggi, ialah yang disebut "Cie-khie-sin-kang" maksudnya hanya hendak menundukkan Kim Houw yang sangat jumawa itu.

Ilmu Cie-khie-sin-kang merupakan satu-satunya serangan yang menggunakan tenaga lweekang yang paling lihay dari golongan Ceng-shia-pay, kalau sudah berhasil melatih sampai di puncaknya, begitu dikerahkan lantas keluarkan asap ungu yang mengepul mengurung lawannya.

Pek Ho Tojin yang sejak masih kanak-kanak sudah mempunyai bakat yang luar biasa, ilmu Cie-khie-sin-kang yang sudah dilatihnya beberapa puluh tahun lamanya, sudah tentu tidak boleh pandang ringan.

Kali ini ia hanya menggunakan enam puluh persen tenaganya saja, tetapi asap yang berwarna ungu sudah kelihatan begitu nyata mengurung dirinya Kim Houw, tetapi sayang sekali ini ia telah salah perhitungan, tadinya ia telah mengira bahwa dengan mengerahkan ilmunya itu secara diam- diam, tentu ia akan dapat menjatuhkan lawannya yang masih sangat muda itu, sekalipun tidak dapat lantas rubuh, setidak-tidaknya juga akan mundur sempoyongan.

Siapa nyana ia telah menemukan seorang yang mempunyai kepandaian luar biasa tingginya.

Ilmu Han-bun-coa-kie Kim Houw merupakan suatu ilmu tanpa tandingan, bagaimana ia takut segala ilmu Cie-khie-sin-kang.

Kelihatannya Kim Houw sedikitpun tidak bergerak, agaknya juga tidak memberi perlawanan apa-apa.

Pek Ho Tojin melihat itu, diam-diam merasa girang. Pikirnya, benar-benar dia seorang bocah yang baru saja keluar pintu, maka sedikitpun tidak mempunyai kewaspadaan, aku bikin dia tahu sedikit rasa.

Tetapi sungguh diluar dugaannya, belum lenyap pikiran girangnya mendadak ia rasakan hawa dingin menyerang dirinya, sampai sekujur badannya menggigil. Dengan sendirinya ilmunya Cie- khie-sin-kang yang dibuat andalan seketika juga tidak berguna lagi.

Bukan main kagetnya Pek Ho Tojin, biar bagaimanapun ia masih belum mau percaya bahwa hawa dingin itu dikirim oleh Kim Houw. Tetapi saat itu, didalam pekarangan kecuali anak-anak muridnya dan para imam dari gereja Pek-ho-koan, hanya Kim Houw seorang yang terhitung orang luar, siapakah yang membantu Kim Houw? Terutama hawa dingin tadi yang menyerang dengan tiba-tiba, lihaynya luar biasa, pasti bukan orang-orangnya sendiri yang mampu menggunakan serangan demikian. Melihat Pek Ho Tojin celingukan kesana sini, seperti yang sedang mencari apa-apa, diam diam Kim Houw merasa geli sendiri.

"Koancu, silahkan mulai!" katanya, sikapnya tenang.

Pek Ho Tojin gusar sekali, dengan tidak banyak rewel lagi ia lalu mengebutkan lengan jubahnya dan tubuhnya yang jangkung maju menyerang Kim Houw.

Pek Ho Tojin juga mengeluarkan sepasang tangannya yang hitam dan kurus kering, melancarkan serangan saling susul tiga kali pada Kim Houw.

Serangan-serangan itu berat dan cepat, boleh dikatakan hanya dalam waktu sekejap saja. Ketika Kim Houw naik gunung, sudah mengambil keputusan ia tidak akan melukai orang.

Tetapi apa mau, melihat Pek Ho Tojin melancarkan serangannya yang demikian ganas pikirannya

berubah. Sebab jika ia tidak mau melukai orang, ia tidak akan mencapai maksudnya, terutama terhadap Pek Ho Tojin yang kelihatannya welas asih, tetapi sebetulnya sangat kejam. Justru Kim Houw paling membenci orang yang bersifat demikian, maka ia lantas ketawa bergelak-gelak.

"Koancu, hati-hati sedikit!" ia mengejek.

Kim Houw tidak berkelit dari serangan imam itu, ia hanya mengangkat satu tangannya, menepok tiga kali sebagai sambutan atas serangan Pek Ho Tojin yang ganas itu.

Suara keras dari beradunya kekuatan tenaga kedua orang itu dahsyat sekali, angin keras menyambar dengan hebat sampai genteng-genteng pada berterbangan jatuh.

Kim Houw setelah melancarkan serangan itu, tampak masih berdiri di tempatnya, sedikitpun ia tidak bergoyang karena serangan lawannya.

Sebaliknya tidak demikian halnya dengan Pek Ho Tojin, badannya sudah dibikin tergetar oleh serangan Kim Houw, sehingga ia tidak mampu berdiri tegak lagi, terpaksa ia mundur setengah tindak.

Sampai di sini, Pek Ho Tojin bukan saja kaget dan gusar, tetapi ia juga merasa heran dari mana Kim Houw mempunyai kekuatan yang demikian hebatnya. Apalagi kalau dilihat dari sikapnya anak muda itu yang kelihatannya tenang-tenang saja, benar-benar ada merupakan suatu kejadian yang amat ganjil.

Pek Ho Tojin sebagai kepala gereja Pek-ho-koan, merasa malu kalau harus jadi pecundang dengan disaksikan oleh hampir semua imam dari gerejanya, seketika itu wajahnya berubah pucat pasi.

"Ambilkan pedangku!" ia perintah orangnya

Dengan cepat salah seorang muridnya muncul menyerahkan sebilah pedang panjang padanya. Pek Ho Tojin menghunus senjatanya itu, ketika dikibaskan terdengar suara mengaung yang sangat nyaring sekali.

Dari suara mengaungnya pedang itu, bisa diukur pedang itu bukan suatu pedang sembarangan, dan memang betul pedang itu merupakan suatu pedang pusaka dari Pek-ho-koan.

"Siaohiap, silahkan hunus senjatamu, untuk menyambut pedangku ini!" si imam berseru. Kim Houw yang melihat Pek Ho tojin sangat bandel, tanpa banyak bicara pula telah gerakkan tubuhnya menerjang akan merebut pedang Pek Ho Tojin.

Melihat Kim Houw hendak merebut pedangnya, Pek Ho Tojin merasa gusar. Dengan tidak mengenal kasih, cepat ia memutar pedang pusakanya dan menikam Kim Houw dari samping, sedang tangan kirinya diayun mengirim serangan Cie-khie-sin-kang.

Pedang dan ilmunya Cie-khie-sin-kang yang dilancarkan dengan berbarengan itu sudah tentu bukan main hebatnya. Siapa nyana, orang yang diserangnya kelihatannya hanya berkelebat bayangannya, tahu-tahu sudah menghilang dari depan matanya.

Sebaliknya di belakangnya telah terdengar suara gedebukan, Pek Ho Tojin segera menoleh, ternyata dua orang tojin yang semula bermaksud hendak membokong Kim Houw dari kiri dan kanan, telah jatuh bergelimpangan dan kelihatannya sudah terluka parah.

Sedang Kim Houw sendiri saat itu sudah dikepung oleh empat orang imam lain yang lompat turun dari atas genteng.

Pek Ho Tojin bergidik dan berkata terhadap diri sendiri:

"Ah, benar-benar dia adalah seorang iblis yang baru turun dari langit. Kelihatannya Ceng-shia- san tahun ini tidak dapat melewatkan hari-hari dengan tentram."

Pada saat itu mendadak telah terdengar suara jeritan saling susul yang mengerikan, ternyata ke empat imam-imam tadi, satu demi satu telah menggeletak rubuh di tanah, sedangkan Kim Houw sendiri saat itu sudah lompat ke atas genteng.

Pek Ho Tojin lantas berseru: "Binatang, apa kau kira kau dapat lolos dari sini dengan begitu saja?"

Kim Houw telah dihujani oleh banyak sekali anak panah sehingga ia terpaksa lompat ke atas genteng dan kini Kim Houw mendengar perkataan Pek Ho Tojin segera turun lagi dan menjawab:

"Aku bukannya ingin lolos, sebaliknya kau sendiri yang terlalu cerewet. Kau hendak memajukan syarat apa, katakan lekas!"

"Asal kau mampu menyambuti seranganku tiga jurus saja, nanti aku mempersilahkan kau naik gunung, bagaimana?"

"Jangan kata hanya tiga jurus, sekalipun tiga puluh jurus juga aku tidak akan mengeluarkan tanganku untuk menyambut seranganmu. Kau boleh menyerang sepuasnya, cuma saat itu kau jangan main gila dan aku memungkiri janjimu sendiri, supaya orang-orangmu jangan banyak yang menderita."

Mendengar itu, Pek Ho Tojin panas sekali hatinya, dengan tidak banyak bicara, lantas ia angkat pedangnya melancarkan serangan yang pertama.

Kim Houw tidak bergerak, hanya mulutnya saja yang berkoak-koak. "Jurus pertama!"

Kim Houw belum menutup mulutnya, Pek Ho Tojin badannya sudah bergerak lagi. Kedua lengan jubahnya dikebutkan berbarengan, seolah-olah burung elang raksasa yang terbang diangkasa, kemudian turun menerkam mangsanya, sedang pedang ditangannya telah diputar laksana titiran, seolah-olah ada beberapa puluh bilah pedang yang menyerang.

Kim Houw yang diserang secara demikian, diam-diam juga terperanjat. Ia memang sudah menduga bahwa tiga jurus serangannya Pek Ho Tojin itu tentu bukan serangan sembarangan, tapi ia ada seorang yang berkepandaian tinggi dan bernyali besar, ia yakin masih mampu mengelakkan.

Namun serangan Pek Ho Tojin kali ini perubahannya sangat luas, dari mana saja rasanya sukar untuk dihindarkan.

Kim Houw harus berlaku sangat hati-hati. Ujung pedang ketika sudah dekat pada dirinya, mendadak ia memutar tubuhnya, kedua tangannya mendorong ke udara, kemudian badannya lantas melesat tinggi ke angkasa.

Ketika ia turun kembali, dua lawan terpisah kira-kira lima enam tumbak jauhnya.

Badan Kim Houw meski tidak terluka, tapi bajunya sudah terdapat tujuh atau delapan lobang bekas tusukan pedang.

Sekalipun demikian, Kim Houw sudah dapat mengelakkan serangan jurus pertama dari Pek Ho Tojin, bahkan ia dapat mengelakkan secara begitu bagus, tidak lari juga tidak mundur.

Pek Ho Tojin lihat Kim Houw tidak mundur atau berkelit, ia sengaja memberikan kesempatan Kim Houw balas menyerang. Siapa nyana Kim Houw benar-benar tidak keluarkan tenaga untuk balas menyerang. Hanya dalam keadaan bahaya ia melesat tinggi memutar tubuhnya, untuk menyingkirkan serangannya.

Kedua tangannya mendorong ke udara, adalah untuk memunahkan serangannya Pek Ho Tojin yang amat dahsyat, tapi itu dilakukan terhadap udara, bukan terhadap orangnya. Sekalipun Pek Ho Tojin ada seorang yang sangat licin, juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau Pek Ho Tojin tadi berani memberikan janjinya kepada Kim Houw hanya menyambuti serangan pedangnya tiga jurus, segera diijinkan naik gunung, serangan pedangnya itu sudah tentu bukan serangan sembarangan. Didalam hatinya, mungkin si imam anggap Kim Houw tidak akan mampu menyambuti serangannya itu.

Sebab tiga jurus serang pedangnya itu sudah sangat terkenal, namanya saja ada cukup hebat, jurus pertama dinamakan "Ciu-ie-hong-hong" atau hujan lebat angin kencang, jurus kedua dinamakan "bit-lo-kin-kow" atau bunyi tambur dan genderang yang amat seru dan rapat. Dan jurus ketiga dinamakan "Hok-tee-hoa-thian" atau bumi dan langit terbalik. Ilmu pedangnya ini merupakan ilmu pedang dari golongan Ceng-shia-pay yang paling lihay, umumnya disebut "Sam- put-kee" atau tidak bisa melewati sampai tiga jurus.

Ceng-shia-pay namanya sudah terkenal sejak beberapa puluh tahun berselang, terutama ilmu pedangnya di kalangan Kang-ouw sangat menjagoi. Dan tiga jurus serangan yang mendapat nama "Sam-put-kee" itu, jurus ada merupakan ilmu pedangnya Ceng-shia-pay yang paling lihay dan ganas.

Pek Ho Tojin bukan saja ada merupakan salah satu orang kuat yang mempunyai kepandaian sangat tinggi dalam golongan Ceng-shia-pay, juga ada sutenya Ciang-bun-jin sendiri. Ilmu "Cie- khie-sin-kang" meski tidak sehebat suhengnya, tapi ilmu pedangnya "sam-put-kwee" ini sudah sangat mahir sekali.

Kali ini, Pek Ho Tojin berani keluarkan omongan besar, suruh Kim Houw menyambuti tiga jurus serangan pedangnya itu, ia tadinya menganggap Kim Houw tentunya tidak berani menerima syarat itu, dengan demikian, ia bisa mencari lain akal untuk mencegah Kim Houw jangan sampai bisa naik ke atas gunung.

Siapa nyana, Kim Houw telah menerima baik syarat yang diajukan itu dengan tidak ragu-ragu, ini benar-benar di luar perhitungannya.

Tapi, berbarengan dengan itu, dalam hatinya diam-diam juga merasa girang, karena ia anggap Kim Houw tentunya tidak bisa terlolos dari serangannya itu.

Sebabnya, serangan "Sam-put-kwee" yang lihay dan ganas ini sudah membuat banyak jago- jago kelas satu di dunia Kang-ouw yang tidak mampu menyambuti, bagaimana Kim Houw berani menyambuti tanpa turun tangan? Bukankah berarti ia mencari mampus sendiri?

Walaupun kepandaian dan kekuatan Kim Houw yang barusan sudah ditunjukkan di depan matanya, "Sam-put-kwee" juga belum tentu dapat membinasakan jiwanya, tetapi setidak-tidaknya anak muda itu akan merasa keder dan menyingkir dari serangannya, dengan demikian juga sudah dihitung kalah.

Di luar dugaan, jurus pertama sudah dapat dielakkan dengan baik, meskipun bajunya Kim Houw sudah dibikin berlobang oleh ujung pedang, tapi badannya tidak mendapat luka apa-apa.

Serangannya yang kedua ia harus menggunakan seluruh kepandaiannya, sebab ia toh tidak perlu berjaga-jaga serangan pembalasan dari lawannya, maka ia dapat melancarkan serangannya menurut sesuka hatinya.

Ketika Pek Ho Tojin melakukan serangannya dengan pedang dan tangan secara berbarengan, suara pedang dan suara tangan meski sangat berlainan, tapi justru karena itu, sudah cukup untuk membikin bingung perasaan lawannya.

Tapi, Kim Houw yang kepandaiannya sangat luar biasa, suara apa saja jangan harap bisa menggerakkan hatinya, meskipun menghadapi serangan Pek Ho Tojin yang begitu hebat, ia nampak masih tidak bergerak barang setindak.

Ketika ia menampak tingkah lakunya yang aneh dari imam tua itu, Kim Houw lantas keluarkan suara ketawanya yang nyaring untuk memusnahkan suara pedang dan suara tangan dari Pek Ho Tojin.

Pek Ho Tojin terperanjat, ia tidak mau membuang tempo lagi, dengan cepat sudah melancarkan serangannya yang kedua.

Pedang dan tangan Pek Ho Tojin telah mengurung rapat dirinya Kim Houw.

Dalam keadaan demikian, jika Kim Houw diperbolehkan menggunakan tangannya untuk balas menyerang, dengan mudah ia dapat lolos dari serangannya Pek Ho Tojin. Tapi, karena menurut perjanjian ia tidak boleh balas menyerang dengan tangan, bahkan juga tidak diperbolehkan mundur, jika mundur juga dihitung kalah.

Maka tidak boleh tidak Kim Houw harus mengeluarkan kepandaiannya yang luar biasa untuk merebut kemenangan.

Mendadak ia melesat tinggi, untuk menghindarkan pedangnya Pek Ho Tojin, berbareng memapaki serangan dengan lengan baju lawan. Pek Ho Tojin menyaksikan kelakuan Kim Houw, diam-diam merasa geli, karena itu berarti mencari mati sendiri.

Kiranya serangan yang kedua itu, meski didahului oleh suara, untuk memberi tanda, tapi disamping itu masih ada lain maksud yang lebih dalam.

Jika fihak lawan tidak berhati-hati, terkena serangannya tangan atau pedang jangan harap bisa hidup lagi!

Sebabnya, jika terkena serangan tangan sebentar saja lantas menyusul serangan lain yang meluncur secara beruntun serta ditujukan pada satu tempat saja.

Dan bagaimana dengan pedang? Tak usah ditanya lagi, begitu terkena serangan si korban nampak dirinya sudah mendapat lubang yang tidak kurang dari tujuh atau delapan tempat.

Karena gaibnya ilmu serangan tersebut, maka Pek Ho Tojin diam-diam merasa girang, ia ingin kali ini benar-benar dapat membinasakan dirinya Kim Houw.

Di luar dugaannya, Kim Houw ternyata bisa menghindarkan serangannya yang hebat itu.

Belum hilang rasa kaget dan herannya Pek Ho Tojin, Kim Houw sudah berkata sambil tertawa bergelak-gelak:

"Jurus kedua sudah habis, silahkan mulai dengan jurus yang ketiga!"

Pek Ho Tojin benar-benar sudah meluap kegusarannya, sambil putar badannya ia melakukan serangan terakhir yang sangat hebat.

Jurus terakhir ini ada lebih hebat dari jurus-jurus yang terdahulu, berkali-kali Kim Houw coba menghindarkan dirinya dari ancaman pedang, ternyata masih tidak berhasil, hingga dalam hati diam-diam merasa cemas, juga menyesalkan dirinya sendiri yang tadi sudah terlalu tekebur tidak perlu turun tangan untuk menghindarkan serangan. Nampaknya sekarang terpaksa harus turun tangan juga untuk menolong jiwanya.

Terhina dihadapannya orang banyak, ia masih anggap suatu perkara sepi. Tetapi jika tidak berhasil naik gunung menemui ayahnya, biar bagaimana Kim Houw tidak mau mengerti.

Menurut keterangannya Bwee-hoa Kiesu, keadaan ayahnya sudah sangat berbahaya sekali jika kehilangan kesempatan untuk menemui ayahnya, itu berarti suatu penyesalan untuk seumur hidupnya.

Nampaknya, sang waktu sekejap sajapun tidak dapat diulur lagi, jari tangan kedua tangan Kim Houw sudah ditekuk, asal ia ulur keluar, ia sudah bisa terlepas dari ancaman bahaya, tapi dengan demikian ia sudah mengingkari janjinya sendiri!

Dalam keadaan yang sangat kritis itu, mendadak dengar suara orang membentak-bentakan: "Siapa?"

Pek Ho Tojin terkejut.

Ia menduga Kim Houw membawa teman, lalu dengan bengis ia berkata pada anak muda: "Binatang, kau sebetulnya datang dengan berapa banyak orang?" Tapi, baru saja ia mengucapkan perkataan "orang", mendadak lihat Kim Houw sudah berjungkir balik, dengan tangan di bawah dan kaki di atas, kemudian kedua kakinya itu diputar laksana titiran, lalu menendang hebat.