Istana Kumala Putih Jilid 24

 
Jilid 24

Kontributor: Agusis, Martinus, Axd002, Koedanil "Apa sebabnya Tuhan kau katakan kejam ?"

"Apa tidak kau lihat bahwa dikedua tepi sungai perak itu berdiri Gu-long dan Cit-lie yang sebenarnya saling menyinta, tetapi telah dipisahkan oleh Tuhan, sehingga mereka tidak dapat bersatu ?"

Mendengar perkataan sang kekasih, Kim houw tidak tahu bagaimana harus menjawab, maka ia menjawab sekenanya saja :

"Sebetulnya di dunia atau akherat, bukankah sama saja? Dimana ada suatu perjamuan yang tidak berakhir. ?"

Tidak nyana belum habis ucapan Kim Houw wajah Peng Peng mendadak berubah dan seketika itu air matanya lantas mengalir dengan deras.

Menyaksikan keadaan demikian hati Kim Houw merasa heran, ia tidak tahu apakah perkataannya tadi salah atau telah menyinggung hatinya, maka lantas buru-buru merangkul seraya berkata: "Peng Peng. Oh Peng Peng kau kenapa?"

Ditanya demikian, nampaknya Peng Peng semakin sedih dan air matanya mengalir deras, lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan Kim Houw.

"Dimana ada suatu perjamuan yang tidak berakhir?" katanya perlahan, suaranya sedih.

"Oh, perkataan yang kuucapkan barusan hanya sekenanya saja, mengapa kau anggap benar- benar? Aku ucapkan itu tanpa disadari bukankah aku sudah berjanji padamu bahwa aku tidak akan berpisah dengan kau lagi. apakah kau tidak percaya terhadapku?"

Peng Peng menjawab dengan suara sesenggukan :

"Kepercayaanku terhadap dirimu sebetulnya sangat teguh, tetapi itu serentetan peristiwa yang terjadi pada beberapa hari yang lalu telah menggoyahkan kepercayaanku. Pepatah mengatakan bahwa kalau tidak ada angin sudah tentu tidak akan timbul ombak, apakah mereka itu semuanya sedang bermain sandiwara saja? Hal ini tidak perlu ku usut lebih jauh lagi, tetapi perkataanmu tadi, telah menunjukkan betapa tipisnya perasaanmu, bagaimana aku tiada bersedih dan bagaimana pula aku dapat mempercayai dirimu? Apa sebetulnya yang kau maksudkan dengan perkataanmu tadi mengatakan dimana ada perjamuan yang tiada berakhir itu?"

Kim Houw yang menyaksikan Peng Peng makin sedih, lalu memeluk si nona erat-erat. "Diwaktu malam terang bulan begini rupa perlu apa kau keluarkan perkataan yang begitu

sedih? Peng Peng, kau hanya ucapkan ucapanku yang satu, mengapa tidak menyebut-nyebut janjiku yang aku tidak akan tinggalkan kau"

Akhirnya Peng Peng mengalah juga, ia berhenti menangis, tetapi ia masih mau membantah dan mengatakan bahwa Kim Houw pandai memutar lidah. Perselisihan paham antara kedua kekasih itu telah berakhir sampai di situ.

Kim Houw lantas memeluk dan mencium pipinya Peng Peng si nona mandah saja ketika Kim Houw angkat mukanya ia melihat di kelopak mata si nona telah mengembeng air mata pula, Kim Houw heran, lalu bertanya:

"Peng Peng, mengapa kau menangis lagi? apa kelakuanku terlalu kasar terhadapmu?

Sungguh mati, aku tidak dapat membendung rasa cintaku yang besar, maka mungkin aku berlaku agak kasar terhadapmu, harap kau suka memaafkan. Peng Peng kau jangan bersusah hati..."

Peng Peng ulur tangannya, menekap mulut Kim Houw katanya:

"Engko Houw, aku tidak menangis, juga tidak merasa susah. Air mataku ini merupakan air mata kegirangan. Sejak aku dijelmakan oleh ibu aku baru pertama kali ini aku bersentuhan begitu erat dengan kaum lelaki, untuk pertama kali ini aku serahkan pipiku dicium oleh orang lelaki, aku merasa terlalu girang, sebab orang yang memeluk dam mencium diriku itu ialah orang satu- satunya yang aku cintai sejak aku masih anak-anak, sehingga membuat aku teringat semua kejadian dimasa lampau. Bagaimana aku dapat bersusah hati?"

Kim Houw mengelus-elus rambutnya, kepalanya dan tangannya Peng Peng, lalu menciumnya lama sekali baru ia dapat berkata lagi:

"Peng Peng asal kau tidak berduka, aku juga merasa girang. Walaupun sebelum itu hatiku pernah mencintai seorang wanita lain, tetapi kala itu kita masih sangat muda dan aku mengaku bahwa seumurku ini juga baru pertama kali ini aku mencium orang perempuan. Pada sebelumnya, belum pernah aku mencium orang perempuan, dan untuk selanjutnya juga tidak nanti aku mencium lain orang perempuan. Dengan demikian bolehlah kau berlega hati?"

Peng Peng yang mendengar keterangan itu bukan kepalang girang hatinya, sehingga ia balas memeluk Kim Houw dengan erat. Selagi mereka berdua berada dalam keadaan seolah-olah lupa daratan itu, mendadak Kim Houw dengan satu tangan memeluk Peng Peng, badannya bergulingan ke belakang pohon, pada saat itu tiba-tiba terdengar suara barang jatuh ditempat mereka rebahan tadi, kemudian disusul oleh suara orang yang ketawa menyeramkan:

"Hmm, sekarang akhirnya aku dapat menangkap bukti! kau bangsat cabul, bukan lekas keluar untuk menerima hukuman. Meskipun kau dapat menghindarkan kedua senjata rahasia, apakah kau kira dapat lolos dari tanganku?"

Kim Houw mula-mula tidak mengetahui orang yang menyerangnya tadi, tetapi ketika didengarnya perkataan tersebut, mau tidak mau juga ia merasa terkejut. Mungkinkah benar perkataan Ciok Liang yang mengatakan bahwa pembesar negeri telah mengirim orang-orangnya untuk menangkap dirinya. Oleh karena pada anggapan Kim Houw bahwa orang itu dari kalangan pembesar negeri, maka ia tidak mau mengajukan diri, sebab ia paling benci orang-orang yang menjabat pangkat dan untuk menghindarkan supaya salah pengertian tentang dirinya itu, yang dianggapnya sebagai Siao Pek Sin, biarlah dicari sendiri oleh pembesar-pembesar negeri.

Saat itu setelah merapikan pakaian masing-masing, Kim Houw lalu memandang Peng Peng sejenak, kemudian menunjuk ke atas pohon terus menunjuk pula ke arah bukit Ceng-shia-san.

Peng Peng yang cerdik segera mengetahui apa yang dimaksudkan Kim Houw. Cuma dalam anggapannya, didalam soal-soal itu seharusnya dihadapi dengan terus terang dan tidak perlu main sembunyi-sembunyi.

Tetapi ia tidak mau menentang maksud Kim Houw, maka ia lantas enjot tubuhnya melompat ke atas pohon. Baru saja Peng Peng berlalu, Kim Houw segera ayun lengannya dan sebuah batu meluncur dari tangannya dengan sangat cepat.

Kim Houw bergerak seperti kucing. Ia enjot tubuhnya melesat ke arah kebalikannya.

Gerakannya bukan saja gesit luar biasa, tetapi juga tidak menimbulkan suara.

Apa mau, belum sampai kakinya menginjak tanah, kembali terdengar suaranya Peng Peng membentak: "Anjing buduk, kau berani menghalangi nonamu, kau mau mencari mampus?"

selanjutnya lantas terdengar suara jatuhnya senjata rahasia yang makin lama nampaknya makin gencar. Dari suaranya, Kim Houw duga itu ada suara senjata rahasia yang sangat ganas.

Oleh karena Peng Peng terhalang, otomatis Kim Houw tidak membiarkan bakal istrinya itu terancam bahaya, maka segera ia lompat balik.

Di bawah sebuah pohon besar ia lihat Peng Peng sedang bertempur sengit dengan seorang laki-laki yang berusia kira-kira lima puluh tahun lebih. Melihat gerakan orang tua itu Kim Houw bisa kenali orang itu bukan dari golongan sembarangan. Ia heran, bagaimana di dalam pegawai negeri ada orang yang berkepandaian begitu tinggi?

Walaupun pihak lawan merupakan orang yang berkepandaian tinggi, tetapi Kim Houw masih belum mau lekas-lekas menggantikan Peng Peng untuk bertempur dengan orang tua itu. Ia hanya memungut beberapa buah batu dari tanah, dengan tangannya ia membuat batu-batu itu menjadi beberapa puluh batu-batu kecil-kecil.

Apa sebabnya ia tidak lekas-lekas menggantikan Peng Peng? Tidak lain karena ia hendak menguji kepandaian ilmu silat si nona yang selama beberapa hari ini telah digembleng dalam ilmu pedang dan ilmu serangan menggunakan tangan kosong.

Batu-batu kecil di tangannya hanya untuk menjaga-jaga saja dari segala kemungkinan, bukan untuk melukai orang. Ia tahu bahwa lawannya juga mahir menggunakan senjata rahasia, maka sedikit saja salah perhitungan mungkin dapat membahayakan jiwa Peng Peng.

Baru saja Kim Houw membikin hancur batu di tangannya, senjata rahasia lawan kembali meluncur dan mengarah Peng Peng.

Sekarang Kim Houw tahu bahwa senjata lawan itu ada sebuah peluru. Ia tidak mau membiarkan lawannya berbuat sesukanya, maka ia mengayunkan tangannya, segera tiga butir batu kecil melesat dan memukul jatuh senjata peluru yang mengancam Peng Peng.

Diluar dugaannya, setelah senjata peluru itu dipukul jatuh, telah menyusul beberapa puluh butir peluru yang bergemerlapan menyambar ke arah dirinya sendiri. Kim Houw tertegun. Diam-diam ia memuji kepandaian lawan dalam menggunakan senjata rahasia.

Oleh karena sudah tidak keburu untuk menggunakan batunya lagi menghajar peluru-peluru itu, terpaksa semua batu di tangannya disebar dan dilemparkan ke arah pohon, dari mana senjata peluru tadi meluncur keluar. Ia sendiri sama sekali tidak berkelit dan dengan tangan kirinya ia menyambuti beberapa butir senjata peluru itu, satupun tidak ada yang lolos.

Orang yang melancarkan senjata rahasia tadi, meskipun dapat menghindarkan serangan batu Kim Houw, tetapi ia telah dikejutkan oleh kepandaian Kim Houw yang sekaligus dapat menyambuti beberapa butir pelurunya.

Sementara orang tua yang bertempur dengan Peng Peng, mendadak lompat keluar dari kalangan pertempuran. Mundur beberapa tindak dikala ia menggerakkan kedua tangannya lantas meluncur keluar dua buah benda hitam menyerang ke arah Kim Houw.

Dua buah benda hitam itu kira-kira sebesar kepalan tangan, tetapi meluncurnya lebih cepat dari pada peluru tadi dan suara anginnya juga menderu lebih keras, dari sini dapat diketahui bahwa kekuatan orang tua itu sangat hebat.

Kim Houw masih tetap tenang dan hanya mengayun tangan kirinya, agaknya seperti acuh tak acuh, tetapi dari tangannya justru sudah meluncur dua butir peluru yang tepat mengenai kedua benda hitam yang mendatangi tadi.

Tiba-tiba terdengar suara ledakan dua kali, lantas terlihat lelatu api berhamburan, sedangkan kedua buah benda hitam tadi telah menyebarkan banyak benda hitam kecil-kecil yang mengurung Kim Houw.

Kim Houw terkejut dan segera ia putar kedua tangannya untuk menjatuhkan semua benda hitam kecil-kecil itu kemudian berseru: "Sahabat, kau dengan Cu-bo sin-tan To Pa Thian masih pernah apa?"

Dua butir peluru yang dilepas oleh Kim Houw tadi sudah dapat memecahkan kedua senjata rahasianya, itu saja sudah cukup mengherankan hati orang tua itu. Kemudian dengan satu tangan telah menjatuhkan semua benda hitam kecil-kecil yang keluar dari induknya, ini menunjukkan betapa tinggi kepandaiannya Kim Houw.

Dan kini Kim Houw membuka mulut menyebut nama To Pa Thian, orang tua itu semakin heran dan bertanya: "Apakah saudara kenal dengan pamanku?"

Kiranya orang itu adalah keponakan To Pa Thian yang bernama To Siao Peng. Oleh karena hendak mencari sang paman, maka ia datang ke Su Coan. Tentang usahanya hendak menangkap Kim Houw itu disebabkan anjurannya Chi Kiong yang tadi menyerang Kim Houw dengan peluru peraknya. Oleh karena Chi Kiong dengan To Siao Peng merupakan dua sahabat karib, maka ia telah meminta To Siao Peng untuk membantunya.

Tidak nyana begitu melihat peluru hitam Cu-bo-sin-tan, Kim Houw lantas menanyakan dirinya To Pa Thian.

Mengetahui bahwa orang tua itu adalah keponakan To Pa Thian, Kim Houw lantas berkata: "Aku bukan saja kenal padanya, bahkan sudah lama makan dan tidur bersama-sama di dalam

istana panjang umur." Ketika mendengar keterangan itu To Siao Peng tergesa-gesa memotong: "Benar, benar, pamanku memang sudah masuk ke dalam istana panjang umur, hanya begitu pergi lantas tidak ada kabar ceritanya lagi. Khabarnya Tiancu dari Istana Panjang Umur di Koa Cong San, Siao Pek Sin, pernah memimpin serombongan orang keluar dari Istana Panjang Umur di rimba keramat, apakah paman juga termasuk diantara mereka? Maka aku sengaja datang ke daerah Su-coan, dengan maksud hendak ke Pek liong po untuk mencari Siao Pek Sin guna meminta penjelasan mengenai soal ini."

Kim Houw ingat bagaimana To Pa Thian dan Lie Cit Nio telah binasa di tangannya sendiri secara tidak disengaja, kini setelah menghadapi keponakannya, dalam hati merasa sangat berduka. Sebab ia memang tidak ada maksud hendak membinasakan jiwanya kedua orang tua itu.

Sekarang, harus bagaimana ia menerangkan duduknya perkara kepada To Siao Peng?

To Siao Peng ketika menampak Kim Houw bersangsi, lalu menanya pula : "Kalau saudara mengetahui persoalannya paman, harap supaya suka menjelaskan secara sejujurnya. Aku hanya kepingin tahu saja, sudah merasa puas. Apalagi paman usianya kalau dihitung-hitung kini dia sudah ada delapan puluh tahun lebih."

"Sungguh tidak beruntuk, paman saudara meski sudah berhasil keluar dari Istana Panjang Umur di rimba keramat, apa mau kemudian sudah meninggal dunia bersama-sama dengan Lie Cit Nio."

"Ow! Bibi Lie Cit .." To Siao Peng berseru, ia menangis mendengar berita jelek itu. "Bukan Lie Cit, tapi Lie Cit Nio yang aku maksudkan." Kata Kim Houw.

"Lie Cit Nio juga adalah bibi Lie Cit, kita sudah biasa membahasakan demikian padanya. Dia sebetulnya bakal istrinya paman, tapi entah apa sebabnya, mereka berdua telah bertengkar dan kemudian masing-masing pergi mengembara mencari jalannya sendiri-sendiri. Meskipun demikian, mereka berdua tidak lupa setiap dua-tiga tahun masih pulang untuk menengok rumah tangganya. Paling akhir, keduanya lantas menghilang, sudah hampir dua puluh tahun tidak ada kabar ceritanya, tidak nyana mereka masuk ke dalam Istana Panjang Umur di rimba keramat. Mungkin dimasa tuanya mereka sudah akur kembali. Semoga di alam baka arwah mereka bisa saling menyinta." Demikian To Siao Peng menutur.

Kim Houw mendengar keterangan To Siao Peng, teringat akan keadaan mereka berdua ketika masih bersama-sama berada di dalam Istana Panjang Umur di rimba keramat, memang luar biasa juga keadaan mereka.

Saat itu, To Siao Peng mendadak ingat dirinya Cie Kiong, maka ia lantas berkaok-kaolk memanggil padanya, tapi entah kemana perginya Cie Kiong?

Kim Houw lalu memperkenalkan To Siao Peng kepada Peng Peng yang diakui sebagai istrinya.

To Siao Peng dapat tahu bahwa Peng Peng adalah cucu perempuannya Tiong Ciu Khek, buru- buru memberi hormat serta meminta maaf atas perbuatannya yang ceroboh tadi. Peng Peng juga membalas hormat sebagaimana mestinya. Cuma, ketika ingat bagaimana perbuatannya dengan Kim Houw sudah diketahui oleh orang tua itu, diam-diam ia merasa jengah.

Kim Houw ajak To Siao Peng duduk di atas rumput. Dalam bercakap-cakap, Kim Houw menjelaskan bagaimana dirinya telah difitnah oleh Siao Pek Sin, sehingga di luaran ia mendapat nama jelek. To Siao Peng yang mendengar keterangan itu lalu berjanji akan berusaha membikin bersih nama baik Kim Houw.

Sudah tentu janji ini membuat Kim Houw merasa sangat girang.

Akhirnya, To Siao Peng lantas pamitan kepada Kim Houw dan Peng Peng, untuk melanjutkan perjalanannya.

Tidak antara lama lagi cuaca sudah mulai terang.

Kim Houw dan Peng Peng masing-masing lantas duduk bersemedi untuk memulihkan kekuatan tenaganya.

Tapi baru saja mulai bersemedi, dari jauh tiba-tiba terdengar suara orang menyanyi dengan lagu yang biasa dinyanyikan oleh si imam palsu, hingga membuat kaget Kim Houw dan Peng Peng.

"Hei, itu apa bukan Kee Toya...?" Menanya Peng Peng heran.

"Kee Toya tokh sudah dipanggil pulang oleh Tuhan, bagaimana bisa dia? Juga tidak mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali." Sahut Kim Houw sambil gelengkan kepalanya.

Tapi bila ingat akan dirinya si imam palsu yang tingkah lakunya gila-gilaan itu, hati Kim Houw lantas merasa sedih.

"Kalau bukan Kee Toya, mengapa suaranya ada begitu mirip benar? Coba aku pergi tengok." Kata pula Peng Peng, romannya penasaran.

Kim Houw belum menjawab, Peng Peng sudah enjot tubuhnya dan lompat melesat ke arah datangnya suara orang bernyanyi tadi.

Melihat perbuatan Peng Peng terpaksa Kim Houw mengikuti jejaknya.

Setelah lari melalui satu bukit kecil, di depan terbentang sebidang tanah sawah yang penuh tanaman padinya.

Tapi di sawah itu tidak kedapatan satu petanipun juga, sebaliknya ada satu imam yang sedang berjalan di tengah galangan sawah. Sayang Kim Houw dan Peng Peng cuma melihat belakangnya, tidak dapat lihat dengan tegas bagaimana wajah aslinya.

Oleh karena ia adalah satu imam, maka Peng Peng lantas berseru memanggil: "Kee Toya ..."

Perbuatan Peng Peng itu sebetulnya sangat gegabah. Semula karena terdorong oleh napsunya kepingin tahu, maka ia memanggil secara tidak sadar, tapi setelah suara panggilan itu keluar dari mulutnya, ia baru mendusin kalau perbuatannya itu sangat gegabah. Sebab topi dan pakaian imam itu sangat bersih, beda jauh dengan dandanannya si imam palsu yang mesum dan tidak karuan. Apalagi mengingat si imam palsu belum pernah membawa-bawa senjata tajam, sedang imam ini di gegernya menggemblok sebilah pedang panjang.

Kim Houw yang tidak keburu mencegah sudah lantas menduga bahwa kali ini kembali Peng Peng akan menerbitkan onar. Sebab bagi seorang imam umumnya tidak suka disebut imam palsu, kecuali si imam palsu Kee Toya sendiri. Imam itu ketika mendengar panggilan Peng Peng, dengan perlahan membalikkan badannya dan saling memandang. Kim Houw dan Peng Peng pada berseru kaget, melihat sepasang matanya imam itu bukan saja begitu dingin, wajahnya juga keren, nampaknya sangat berwibawa.

Kim Houw ketika menyaksikan wajahnya imam itu, hatinya tercekat. Pikirannya siapakah imam ini? Mengapa mempunyai kekuatan tenaga lwekang begitu dalam? Nampaknya bukan orang dari golongan sembarangan.

Imam itu memandang Kim Houw dan Peng Peng berdua agak lama, masih tetap tidak bergerak, begitu pula wajahnya, juga tidak mengunjukkan reaksi apa-apa.

Kim Houw yang menyaksikan keadaan demikian, telah menganggap imam itu sudah gusar, tapi karena tidak ada sebab dan lantarannya, ia pikir tidak ada perlunya membuat onar. Maka ia lantas menjura memberi hormat.

"Istriku ini karena kesalahan lihat, tadi telah kesalahan memanggil Toya, harap supaya Toya suka memberi maaf." Katanya merendah.

Kim Houw sehabis mengucapkan perkataannya itu kembali menyoya dalam-dalam.

Tapi imam itu nampaknya masih tidak tergerak hatinya, ia masih tetap memandang Kim Houw dengan sorot mata yang dingin, agaknya hendak menegasi siapa sebetulnya sepasang anak muda ini?

Kim Houw melihat imam itu tidak menggubris padanya, dalam hati agak mendongkol. Pikirnya, begitu jumawa kelakuanmu. Walaupun kau mempunyai kepandaian sangat tinggi, apa kau kira aku Kim Houw takuti padamu?

Hening lagi sejenak, imam itu masih tidak bergerak atau menjawab perkataan Kim Houw. Menganggap sifatnya imam ini ada serupa dengan sifatnya si imam palsu yag gial-gilaan,

maka Kim Houw lantas berkata pula:

"aku yag rendah karena tahu sudah berbuat kesalah, maka tadi meminta maaf kepada Toya untuk istriku. Kalau toya rasanya sudah memberi maaf, sekarang kami mohon diri untuk melanjutkan perjalanan"

Kali ini, Kim Houw tanpa menunggu jawaban si imam, lantas tarik tangannya Peng Peng diajak berlalu. Karena tidak mau membanggakan kepandaiannya, maka ia tidak mengeluarkan ilmunya mengentengi tubuh!

Tapi, baru saja berjalan kira-kira delapan tindak, di belakangnya seperti ada suara orang yang membuntuti. Kim Houw lantas menduga bahwa imam itu menyusul padanya.

Kim Houw diam-diam memberi isyarat kepada Peng Peng, supaya ia berlaku waspada. Tapi diluarnya masih pura-pura tidak tahu, ia jalan seperti biasa.

Tapi sebentar kemudian, suara itu sudah tidak kedengaran. Kim Houw diam-diam merasa heran, apakah imam itu tidak membuntuti lagi?

Karena hatinya bercuriga, ia lantas berpura-pura membungkukkan badannya untuk memungut sebuah batu, tapi matanya melirik ke belakangnya. Begitu melihat, Kim Houw semakin heran sebab imam itu ternyata sudah tidak kelihatan mata hidungnya !

Tapi, selagi masih dalam keragu-raguan mendadak dengar suaranya imam itu yang dibarengi dengan suara ketawanya yang dingin :

"Apa kau ada itu pemuda bernama Kim Houw dan namanya begitu menggetarkan jagat ?"

Dalam kagetnya, Kim Houw lantas lompat berdiri, namun imam itu tidak kelihatan di belakangnya. Entah sejak kapan, tahu-tahu ia sudah berada di depan matanya. Kegesitannya imam bergerak sungguh menakjubkan.

Begitu buka mulut lantas si imam menyebut namanya, maka Kim Houw menjawab dengan merendah :

"aku yang rendah memang benar Kim Houw siapakah nama Toya yang mulia ? Bolehkah kiranya memberi tahukan kepadaku seorang yang tidak berharga ini ?"

Meski Kim Houw terlalu menghormat dan merendah begitu rupa, tapi imam itu masih tetap dingin kaku sikapnya.

"San-hua Sian-lie bukankah telah binasa di tanganmu ?" demikian ia menanyakan soalnya San-hua Sian-lie, dengan tiba-tiba.

Kim Houw ketika mendengar disebutnya nama San-hua Sian-lie, seketika itu wajahnya lantas pucat pasi. Mengingat San-hua Sian-lie ada ibunya Bwee Peng, dan ibu yang bernasib malang itu memang benar binasa didalam tangannya, bagaimana ia bisa mungkir?

Cuma, kematian San-hua Sian-lie itu ada serupa dengan kematian To Pa Thian dan Lie Cit Nio, yang memang sengaja mencari jalan mati, tapi hanya meminjam tangannya yang melaksanakan kematian itu, dan akibatnya justru adalah Kim Houw yang dianggap sebagai algojonya. Dan apa yang mendukakan, hal itu ia tidak mengetahui pada sebelumnya, andai kata ia tahu maksudnya itu, sekalipun harus korbankan sebelah tangannya, ia juga tidak mau melakukan pembunuhan itu.

Belum sempat Kim Houw memikirkan jawabannya, imam itu sudah ketawa dingin pula, sambil menghunus pedang di belakang gegernya ia berkata :

"Rasa kau tidak berani tidak mengakui. Sekarang tidak perlu banyak rewel, lekas keluarkan senjatamu !"

Mendengar perkataan itu, hati Kim Houw sangat cemas. Kematian San-hoa Sian Lie sebenarnya merupakan suatu kesalah pahaman, maka kejadian itu membuatnya menyesal dan sekarang bagaimana harus ia menjawab ?

Terutama imam tua itu dari golongan mana, belum diketahui dengan jelas. Jika terjadi kesalahan tangan lagi, bukankah berarti menambah dosa? Andaikata arwah Bwee Peng di alam baka mengetahui hal ini, sudah tentu tidak akan memaafkan padanya.

Si Imam tua itu, ketika melihat Kim Houw lama tidak menjawab, lalu berkata pula : "Hm! Apa kau takut ? Sebaiknya kau bunuh diri saja, habis perkara !"

Diejek secara demikian hati Kim Houw mulai gusar, tetapi ia masih mencoba untuk mengendalikan diri sambil berkata: "Numpang tanya apa sebutan totiang yang mulia dan ada hubungan apa dengan San-hou Sian-lie Lo Cian-pwee? Kalau totiang mau menjelaskan, mungkin aku juga bisa berbuat menurut kehendak totiang"

Imam itu kembali perdengarkan tertawanya yang mengejek.

"Bohong!" bentaknya, "Dasar ceriwis, sekalipun kau tidak mau turun tangan apa kau kira toyamu bisa mengijinkan kau berlalu dalam keadaan hidup? Kau jangan mengimpi !"

Ucapan itu sungguh jumawa, seolah-olah ia sendiri seorang yang paling kuat didalam dunia persilatan, siapapun tidak dipandang mata.

Kim Houw panas hati, tetapi ia masih bicara dengan sikap yang sangat merendah:

"Kim Houw, meskipun munculnya di dunia Kang-ouw belum lama, tetapi sedikit banyak sudah pernah menghadapi banyak bahaya. Kalau totiang tidak mau memberikan kelonggaran, terserah apa yang totiang hendak perbuat"

"Bohong! bohong! bohong! dan sekarang kau mau apa ?"

Beruntun sampai tiga kali si imam mengatakan kau bohong, benar-benar Kim Houw sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Kelakuan imam itu, sekalipun terhadap orang yang bagaimana sabarnya, rasanya tidak dapat membiarkan.

Maka Kim Houw sambil tertawa dingin berkata:

"Aku seorang hse Kim meminta dengan hormat, supaya totiang menjelaskan duduknya perkara, tetapi totiang tetap berkeras dengan kemauan sendiri. Jika totiang masih tetap tidak mau memberi penjelasan, jangan sesalkan aku si orang she Kim nanti turun tangan dengan tidak mengenal kasihan!"

Imam itu tertawa, lalu mengacungkan pedangnya. "Memang itu yang aku harapkan, marilah!" ia menantang.

Pedang panjangnya imam itu, ketika diayun di udara, entah dengan cara bagaimana, tersorot oleh sinar matahari lantas mengeluarkan sinar yang berkilauan, sehingga membuat silau mata Kim Houw dan Peng peng.

Kim HoUw terkejut. PikirNya hari ini benar-benar ia telah menemukan musuh yang tangguh sebab dalam kitab pelajaran silat Kao jin Kiesu juga ada dimuat tentang ilmu pedang yang di namakan "Tiauw-yang ye-hui" ialah ilmu pedang menggunakan sinarnya matahari membuat silau mata lawannya, supaya ia sendiri berada di tempat yang menguntungkan. Ilmu pedang itu banyak sekali perubahan gerak tipunya, sehingga boleh dikatakan ada semacam ilmu pedang yang sangat luar biasa.

Kao-jin Kiesu hanya mengenai ilmu pedang itu, tetapi sebelum berhasil mempelajari bagaimana memecahkan ilmu pedang tersebut, ia sudah keburu menutup mata.

Maka ketika mata Kim Houw dibikin silau oleh sinar matahari yang menyorot melalui pedang si imam, segera mengenali ilmu pedang itu. Siapakah adanya imam ini yang sudah mampu menggunakan ilmu pedang yang luar biasa hebatnya? Si imam ketika melihat Kim Houw terkejut dan kemudian berdiam, lantas berkata sambil tertawa bergelak-gelak :

"Menurut apa yang tersiar di dunia Kang-ouw, khabarnya kau mempunyai kepandaian luar biasa, tetapi hari ini aku lihat ternyata kau hanya begitu saja, sehingga percuma saja aku berhari- hari menantikan kedatanganmu."

Sebelum si imam selesai ocehannya dan selagi hendak menarik pedangnya, mendadak ia melihat sebutir mutiara yang berkelebat di depan matanya.

Ketika ia menegasi, ternyata senjata Bak-tha Liong-kin sudah tergenggam di tangannya Kim Houw.

"Banar, itulah baru namanya laki-laki sejati, "kata si imam mengejek." Berani berbuat juga harus berani bertanggung jawab. Mari, mari, kita jangan membuang tempo lagi." Kim Houw yang merasa didesak terus menerus, sudah tidak ada lain jalan kecuali turun tangan, meskipun hal itu tidak dikehendaki oleh hati kecilnya.

la lalu mendongakkan kepalanya dan bersiul panjang, lama sekali siulannya itu masih menggema di udara.

Sehabis bersiul, ia lantas berkata: "Totiang benar-benar mendesak keterlaluan, sekalipun Kim Houw tidak mampu menandingi kau, tetapi juga ingin belajar kenal dengan ilmu pedang totiang "Tiaw-yang-fe-hui" yang luar biasa hebatnya itu."

Mendengar ucapan Kim Houw itu, si imam segera mengetahui bahwa Kim Houw sudah menanti ilmu pedangnya yang di latih dengan susah payah selama beberapa puluh tahun lamanya.

Karena ilmu pedang itu baru saja berhasil disempurnakannya, bagaimana Kim Houw dapat dengan segera mengenalinya.

Lewat sejenak, imam itu baru berkata dengan mendongkol! "Baiklah, kau ternyata sudah mengenali ilmu pedang toyamu, sehingga perjalananku ini tidak tersia-sia hanya aku ingin melihat dengan cara bagaimana kau hendak melayani ilmu pedangku yang istimewa ini."

Kim Houw tidak memperdulikan ocehan imam itu lagi, hakekatnya ia sendiri juga tidak mengerti dengan cara bagaimana dapat mengalahkan ilmu pedang yang luar biasa itu. Dalam pikirannya ialah ingin menggunakan kepandaian diri sendiri yang luar biasa untuk melayani imam yang sangat jumawa itu.

Si imam ketika melihat Kim Houw masih belum mau bergerak, jengkel kelihatannya. "Kalau kau tidak mau turun tangan terlebih dahulu, hati-hatilah sedikit."

Tetapi Kim Houw tetap tidak menggubrisnya. "Siapakah sebetulnya nama totiang yang mulia?"

Sebagai jawaban adalah pedang si imam yang sudah datang membabat dirinya.

Melihat si imam itu tetap tidak mau memberitahukan namanya, dalam hati makin mendongkol.

Dengan tidak mau memperdulikan siapa adanya si imam itu lagi, ia lalu mengayun senjatanya Bak-tha Liong-kin untuk menyambuti senjata pedang musuhnya. Siapa nyana, sebelum ia menegakkan dirinya, kembali pedang imam itu sudah mengancam, sedangkan sinarnya yang berkilauan kembali membuat silau pada kedua matanya.

Dalam keadaan demikian, Kim Houw terpaksa mendongakkan kepala untuk melihat keadaan udara. Ia ingin menyelidiki matahari sedapat mungkin ia akan berdaya untuk mencoba berdiri di bawah kaki matahari, supaya matanya tidak dibikin silau, pikirnya jika dapat merebut kedudukan yang menguntungkan itu, tentu matanya tidak akan dibikin silau lagi oleh sinarnya matahari.

Diluar dugaan, pikiran Kim Houw itu seolah-olah sudah diketahui dengan jelas oleh lawannya, sehingga penjagaannya makin rapat dan serangannya makin gencar. Asal Kim Houw baru bergerak sedikit saja, imam itu sudah merebut tempat yang menguntungkan untuknya.

Beberapa puluh kali Kim Houw mencoba tetapi biar bagaimana juga ia tidak berhasil lolos dari kurungan si imam. Satu kali pernah kejadian, terang ia sudah merebut tempat yang menghadapi matahari, di belakang dirinya mendadak ada angin menyambar. Ketika ia berpaling, kembali matanya dibikin silau oleh sinarnya matahari.

Sinar matahari yang menyorot ke matanya melalui pedang imam itu, benar-benar membuat kepalanya terasa pusing. Karena disamping menjaga matanya ia juga harus menjaga ujung pedang si imam yang setiap saat dapat membahayakan jiwanya. "

Pada saat itu Peng Peng yang menonton disamping, hatinya sudah kebat-kebit, hampir saja ia melompat untuk membantu Kim Houw.

Bermula ia masih belum tahu benar sebab-sebabnya, ia merasa heran, mengapa kepandaian Kim Houw mendadak menurun begitu rupa.

Tetapi akhirnya dapat juga diketahuinya bahwa yang membikin repot Kim Houw ternyata adalah itu sinar matahari yang berkelebatan melalui pedangnya si imam.

la lalu mulai memutar otaknya, dengan cara bagaimana supaya ia dapat menolong Kim Houw.

Tetapi untuk nama baiknya Kim Houw dalam dunia Kang-ouw di kemudian hari, sekali-kali ia tidak boleh turun tangan memberi bantuan, karena sekalipun dengan kekuatan dua orang dapat mengusir pergi imam itu, tetapi jika hal itu tersiar di kalangan Kang-ouw, benar-benar tidak menguntungkan Kim Houw.

Lagi pula apakah Kim Houw mengijinkan ia berbuat demikian, juga masih merupakan suatu pertanyaan. Apabila perbuatannya itu menimbulkan salah paham Kim Houw, bukankah akibatnya akan lebih runyam lagi?

Maka ia cuma merasa cemas didalam hati, dan ia hanya ingin menggunakan otaknya untuk memikirkan dengan cara bagaimana ia dapat membantu Kim Houw tanpa turut turun tangan.

Segera Peng Peng memikirkan tentang cara supaya Kim Houw tidak membelakangi sinar matahari, tetapi sebelum membuka mulutnya ternyata Kim Houw sudah dapat pikiran itu lebih dahulu, tetapi tidak dinyana bahwa usaha Kim Houw itu masih sia-sia saja.

Sebentar saja pertempuran itu sudah melalui beberapa puluh jurus, tetapi Kim Houw masih tetap belum berhasil menghindarkan dirinya dari ancaman bahaya.

Peng Peng semakin cemas, apalagi menyaksikan pedang si imam itu terus mendesak Kim Houw, sampai rasanya pemuda pujaannya seperti itu tidak dapat berkutik. Tiba-tiba Peng Peng ingat bagaimana kalau melayani musuh dalam gelap gulita selalu mengandalkan ketajaman pendengaran telinganya. Ia ingat pula dimasa kanak-kanak ketika masih melatih ilmu silat ditempat gelap, apakah sekarang Kim Houw tidak dapat melayani musuhnya dengan menutup mata supaya terhindar dari ancaman sinar matahari?

Begitu Peng Peng mendapatkan pikiran tersebut, ia lantas berseru dengan suara nyaring; "Engko Houw, pejamkan mata, pejamkan mata!"

Setelah itu kembali terdengar suara beradunya dua senjata, tetapi sudah tidak segencar tadi lagi.

Selewatnya itu, keadaan telah berubah dengan mendadak, Bak tha Liong-kin-nya Kim Houw telah meluncur keluar dari kurungan sinar pedang sehingga tirai sinar pedang yang diciptakan oleh si imam, telah terbelah menjadi dua.

Bak tha yang ada di atas Liong-kin, diputar sedemikian rupa, seolah-olah seekor naga hitam yang perlahan-lahan menelan sinar pedang. Ketika Peng Peng mengamat-amati keadaan Kim Houw, benar saja Kim Houw telah menutup rapat kedua matanya, di bibirnya tersungging satu senyuman gembira suatu tanda bahwa dirinya merasa puas dengan teriakannya tadi. Perubahan itu menggembirakan Kim Houw, pula halnya dengan Peng Peng sebab tidak dapat disangkal lagi, itu merupakan jasa Peng Peng yang telah mendapatkan cara memecahkan ilmu pedang lihay itu.

Hanya Peng Peng juga tidak habis mengerti, cara menghadapi ilmu pedang yang begitu mudah, mengapa Kim Houw yang terkenal juga tidak mampu memikirkan?

Ini ada juga sebabnya. Karena mula-mula Kim Houw belajar ilmu silat, sudah kesalahan makan buah batu yang dikerami oleh binatang kalajengking besar yang sangat berbisa, sehingga matanya menjadi terang. Mata terang itu bagi orang rimba persilatan merupakan suatu pusaka yang sangat berharga.

Dan Kim Houw yang telah mendapatkan mata terang itu, meskipun dapat membedakan siang dan malam hari, tetapi hampir-hampir ia tidak ia tidak mengerti apa artinya malam, sebab matanya memang boleh dikatakan tidak mengenal gelap, terang atau gelap baginya serupa saja, oleh karena itu, bagaimana dapat memikirkan cara menghadapi musuh di tempat gelap ?

Sekarang kita balik lagi pada si imam yang melihat ilmu pedangnya yang sudah di latih beberapa puluh tahun ternyata sudah dipecahkan oleh Kim Houw, karena peringatannya Peng Peng, sudah tentu merasa gusar sekali.

Apalagi setelah Kim Houw melakukan serangan pembalasan dan telah mendesaknya sedemikian rupa sehingga ilmu pedangnya tidak berdaya lagi.

Mendadak ia membentak dengan keras, kemudian meninggalkan Kim Houw dan mencoba untuk menyerang Peng Peng, sehingga sekarang Peng Peng yang terkurung oleh sinar pedang si imam.

Bukan main kagetnya Peng Peng, meskipun ia telah mengetahui bahwa di belakangnya masih ada jalan buat mundur, tetapi ia juga mengetahui bahwa kalau dirinya di tarik mundur, pedang si imam segera dapat menembusi ulu hatinya.

Keadaan Kim Houw saat itu sungguh serba salah, sebab imam tadi setelah mengeluarkan seruannya, ia mengira masih hendak mengeluarkan ilmu pedang simpanannya untuk menyerangnya lagi, siapa nyana si imam itu telah merubah siasatnya, ujung pedangnya berbalik ditujukan pada Peng Peng. Dalam keadaan demikian, Kim Houw tidak dapat berpikir panjang lagi, ia membenci perbuatan imam itu yang telah menghina kekasihnya yang tidak bersenjata.

Maka ia juga lantas berseru keras, mengayun senjata dan dengan secepat kilat menyerang ke arah si imam.

Siapa nyana, baru saja Bak-tha Liong-kin meluncur dari tangan KIm Houw mendadak telah berkelebat sinar pedangnya yang kemudian di susul oleh suara jeritan dan tubuhnya badan manusia.

Dalam keadaan bingung, Kim Houw tidak dapat melihat dengan tegas siapa orangnya yang roboh itu dan ia masih mengira bahwa yang tubuh itu ialah Peng Peng, karenanya itu dia tidak berani melihat.

Tetapi sebentar kemudian, telinganya mendadak dapat mendengar suara yang halus dan merdu :

"Engko Houw, kau tidak kenapa-napa ?"

Kim Houw terkejut dan dengan cepat ia membuka matanya dan terlihat di depannya Peng Peng dengan senjata pendeknya Ngo-heng-kiam, sedang di tangan kirinya memegang senjata Bak-tha Liong-kin, ia memandang Kim Houw sambil tersenyum, agaknya tidak menderita luka apa- apa.

Bukan main girangnya Kim Houw, lalu mengukur tangannya dan memeluk Peng Peng sambil berbisik :

"Peng Peng, kau tidak apa-apa ? Aku tadi lupa bahwa kau ada menyimpan pedang Ngo-heng- kian dari yayamu."

Peng Peng hanya tertawa saja dan dalam kegirangannya ia balas memeluk Kim Houw. Sunyi keadaan sekian lamanya, baru kedua kekasih itu melepaskan pelukannya.

"Luka si imam tidak sampai membahayakan jiwanya," kata Kim Houw. "Marilah kita lihat dia sebenarnya dari golongan mana. Kalau masih ada hubungan dekat dengan kita, sebaiknya lekas- lekas kita obati lukanya supaya dia tidak menderita lama-lama."

Kim Houw lantas memutar tubuhnya untuk memberikan pertolongan, tetapi ternyata si imam itu sudah tidak kelihatan cecongornya.

Terang tadi ia terluka, tetapi dalam waktu sekejap saja sudah dapat menghilang tanpa bekas.

Kim Houw menyesal telah berkelahi tanpa faedah, sebab siapa musuhnya dan kemana perginya tidak diketahuinya.

Ketika ia melihat keadaan di sekitarnya, ternyata hanya sawah saja yang terhilat, tidak ada suatu bayangan orang.

Mendadak Peng Peng menunjuk ke sebuah atap rumah yang berada agak jauh. "Engko Houw, mari kita kesana sebentar," ia mengajak kekasihnya.

Pada saat itu, si depan rumah atap itu tiba-tiba terlihat sesosok bayangan manusia yang menghilang dengan cepat. "Itu tentunya si imam tadi, mari kita lihat!" Kim Houw kata.

"Sudahlah, Orang sudah lari perlu apa di kejar lagi," jawab Peng Peng sambil menggandeng tangan Kim Houw.

"Tidak, aku bukannya mengejar dia, aku hanya ingin tahu sebenarnya dia siapa dan lagi pula untuk melihat lukanya membahayakan jiwanya atau tidak."

Peng Peng anggap perkataan Kim Houw beralasan, maka keduanya lantas lari ke rumah tersebut.

Gubuk atap itu rupanya telah didirikan oleh pak tani untuk menjaga sawahnya panjangnya hanya kira-kira enam kaki dan lebarnya empat kaki, yang hanya cukup untuk rebah satu orang saja. Sungguhpun nampaknya seperti gubuk, tetapi sebenarnya bukan gubuk.

Ketika Kim Houw dan Peng Peng tiba di depan gubuk itu, benar saja telah terlihat si imam itu sedang duduk bersemedi, sepasang matanya dipejamkan dan napasnya agak memburu, rupa- rupanya sedang menggunakan kekuatan tenaga lweekangnya untuk mengobati lukanya. Atas kedatangan Kim Houw dan Peng Peng sedikitpun ia tidak menggubris.

Kim Houw lalu menarik tangan Peng Peng, "peng Peng, jangan ganggu dia." katanya dengan suara perlahan.

Lewat sejenak, napas si Imam sudah teratur kembali dan lukanya agaknya sudah banyak sembuh.

Dengan tiba-tiba ia membuka matanya, bibirnya mengunjukkan satu senyuman yang penuh rasa welas asih.

Matanya memandang Kim houw dan Peng Peng sambil mengangguk anggukan kepalanya, agaknya sedang memberikan pujiannya.

Menyaksikan itu semua, Kim houw bukannya girang, sebaliknya malah berkuatir. Ia pikir imam itu pasti ada sedikit hubungan dengan mereka berdua, terang bukan orang dari golongan jahat.

Hati Peng Peng pun merasa curiga, tetapi ia juga masih belum dapat menduga siapa sebenarnya imam itu.

Tiba-tiba terdengar si imam menghela napas panjang, kemudian berkata:

"Kalian berdua apa tahu siapa sebenarnya aku ini ? Sejak aku menjadi imam, aku telah menamakan diriku Bwee-hoa Keisu!"

"Bwee-hoa-Keisu? Bwee-hoa-Keisu?... "

Nama itu selalu berputaran diotaknya Kim Houw dan Peng Peng, sebab mereka belum pernah mendengar nama itu, dengan sendirinya mereka tidak mengetahui imam itu. Bwee-hoa_kiesu lantas berkata lagi :

"Bwee-hoa-Keisu ialah nama julukanku, setelah aku menjadi imam, sebelum itu aku adalah Chung-cu dari Bwee-kee-cung, yang bernama Bwee Seng dengan gelar Kiam-seng. Bwee Peng adalah putraku sedangkan San-hoa Sian-lie ialah istriku..." Mendengar keterangan itu Kim Houw bukan main kagetnya dan segera ia menekuk kedua lututnya berlutut di hadapan si imam dan berkata :

"Boanpwee Kim houw, sungguh tidak mengetahui kalau kau adalah Empe Bwee, aku benar- benar sangat berdosa. Tidak tahu bagaimana luka Empe Bwee ? Apakah membahayakan ?"

"Sekalipun kepandaianmu sudah sangat tingi, tetapi kalau hendak melukai diriku, rasanya juga tidak begitu mudah. apa yang barusan terjadi, sebenarnya aku hanya pura-pura saja, kau tidak usah kuatir, hanya aku ingin memberitahukan sesuatu hal padamu, suatu kisah yang sudah tersimpan dalam hatiku, hampir dua puluh tahun lamanya, sekarang ini rasanya sudah tiba saatnya untuk aku memberitahukan kisah tersebut, marilah kalian berdua mengikuti aku"

Bwee-hoa Kiesu lantas berbangkit dan mengajak kedua anak muda itu berjalan melalui sawah dan tegalan.

Kim Houw menyaksikan gerak gerik si imam yang benar seperti orang yang tidak terluka, maka hatinya merasa lega.

Bwee Peng telah binasa untuk dirinya, sedang San-hoa Siau-lie telah terbinasa di tangannya meskipun perbuatannya itu bukan disengaja. Jika Bwee-hoa Kiesu juga terluka di tangannya, benar-benar Kim Houw tidak dapat membayangkan apa akibatnya.

Setelah melalui galangan sawah dan bukit-bukit, di depan matanya terbentang satu dusun kecil yang mempunyai penduduk beberapa puluh rumah tangga saja. Di luar dusun itu ada beberapa puluh anak gembala yang sedang bermain-main dan membiarkan kerbaunya makan rumput.

Kim Houw mengira bahwa Bwee-hoa Kiesu dalam dusun itu mempunyai beberapa kenalan, tetapi nyatanya tidak demikian.

Bwee-hoa Kiesu setelah turun dari bukit, sebaliknya malah menuju ke lain bukit yang terletak di sebelah dalam.

Kim Houw dan Peng Peng tidak berani menanya banyak-banyak dan hanya mengikuti saja di belakangnya.

Selanjutnya terlihat bahwa Bwee-hoa Kiesu telah mempercepat gerak kakinya naik turun bukit- bukit, ia seperti berkuatir kedua anak muda tidak dapat mengejar jejaknya, maka kadang-kadang ia berpaling ke belakang.

Siapa nyana Kim Houw dan Peng Peng bukan saja tetap mengikuti di belakangnya, bahkan sikapnya sangat tenang dan mukanya tidak merah, juga napasnya tidak memburu.

Akhirnya ketiga orang itu mendaki puncak bukit laksana terbang.

Tetapi berjam-jam meraka berjalan dan matahari juga sudah mendoyong ke barat, tetapi tampaknya Bwee-hoa Kiesu belum bermaksud untuk menghentikan tindakan kakinya. Walaupun kaki Kim Houw dan Peng Peng dapat mengikuti, tetapi perut mereka sudah keroncongan. 

Kim Houw masih dapat tahan lapar. Untuk Kim Houw, tiga sampai lima hari tidak makan pun tidka menjadi soal, tidak demikian halnya dengan Peng Peng, tidak saja perutnya sudah keroncongan tetapi juga dirasakannya sudah agak nyeri.

Tetapi, untuk mengetahui kisah yang sudah disimpan selama dua puluh tahun oleh Bwee hoa Kiesu, terpaksa ia kertak gigi menahan sakit dan laparnya, sebab kisah itu mungkin ada hubungannya dengan dirinya Kim houw yang belum jelas asal usulnya. Cuma ia merasa heran, apa sebabnya untuk menceritakan suatu kisah saja harus melakukan perjalanan begitu jauh.

Matahari sudah mendoyong ke barat, Bwee-hoa Kiesu yang sudah mengajak kedua anak muda itu melalui beberapa buah bukit, tibalah mereka di sebuah tanah datar dan memasuki suatu kota yang sangat ramai.

Tetapi Bwee-hoa Kiesu masih juga lebum mau berhenti di kota, setelah mengajak Kim Houw dan Peng Peng menangsal perut dalam salah satu rumah makan diluar kota, kembali ia melanjutkan perjalanannya.

Tadinya Peng Peng mengira bahwa Bwee-hoa Kiesu akan menceritakan kisahnya dirumah makan, siapa nyana imam itu masih mau melanjutkan perjalanannya, maka sepasang alisnya yang lentik, terlihat dikerutkan dan dalam hati merasa tidak senang, entah, permainan apa yang akan dipertunjukkan oleh imam itu.

Perubahan sikap Peng Peng itu, rupanya dapat dilihat oleh Kim Houw tetapi ia tidak dapat mengatakan apa-apa, sebaliknya telah mengulurkan satu tangannya untuk menggandeng dirinya Peng Peng.

Peng Peng tahu bahwa dengan bantuan tangan Kim Houw itu, telah membuatnya ia berlari lebih cepat bahkan laksana tebang, tanpa menggunakan banyak tenaga.

Maka ia lantas mengawasi Kim Houw sambil tersenyum, tetapi mendadak dilihatnya ada perubahan pada wajah Kim Houw, sehingga hatinya tercekat.

"Engko Houw, engkau kenapa?" demikian tanyanya.

Kim Houw hanya menggelengkan kepala dan tidak menjawabnya, sambil menggandeng tangan Peng Peng, ia mengikuti di belakangnya Bwee hoa Kiesu.

Akhirnya di bawah sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi, Bwee-hoa Kiesu lantas berhenti berlari dan setelah mencari tempat yang agak datar untuk mereka duduk, ia lalu menanya

:

"Tahukan kalian ini tempat apa ?"

Kedua orang muda itu yang hanya mengikuti jejak Bwee-hoa Kiesu saja, sudah tentu tidak mengetahui hal itu tempat apa, maka mereka hanya dapat menggelengkan kepala sebagai jawaban.

Bwee-hoa Kiesu lantas berkata pula :

"Ini ialah gunung Ceng-shia-san tempat asalnya partai Ceng-shia-pay yang namanya sangat tersohor dalam rimba persilatan. Meski pun gunung ini tidak tinggi, tetapi di atas gunung itu terdapat banyak sekali orang-orang yang berkepandaian tinggi dan aku juga menjadi imam dalam daerah gunung ini!"

Kim Houw dan Peng Peng pada melengak. Nama Ceng-shia-pay memang benar telah menggetarkan dunia Kang-ouw, tetapi selama beberapa puluh tahun ini, sudah tidak terdengar lagi namanya, agaknya partai itu sudah lama tertelan oleh masa. Kalau kini Bwee-hoa Kiesu mengatakan bahwa di atas gunung terdapat banyak orang yang berkepandaian tinggi, ini benar- benar susah dimengerti. Bwee-hoa Kiesu melihat kedua anak muda itu menunjukkan sikap yang agak tidak percaya, juga tidak mengunjukkan sikap apa-apa, hanya ia berkata :

"Aku mengajak kalian berdua datang ke mari, sudah tentu ada sebabnya. Sekarang aku akan menceritakan pada kalian suatu kisah yang sudah terjadi pada dua puluh tahun berselang, ialah di bawah bukit Ceng-shia-san ini, juga di atas tempat yang sekarang kita duduki ini, kala itu aku telah melakukan pertandingan silat dengan seorang muda yang umurnya sebaya dengan diriku. Asal mulanya pertandingan itu hanya disebabkan karena saling mengagumi kepandaian masing- masing, tetapi boleh juga dikatakan karena perasaan saling mengiri. Dan karena kebetulan aku dengan dia bertemu di tempat ini, maka akhirnya kita lantas mengadu tenaga. Pertandingan itu seru sekali, sebab kita keduanya merupakan orang-orang yang namanya baru menonjol di dunia Kang-ouw, siapa yang akan menjadi pecundang, pihak yang menang dengan sendirinya namanya segera akan menggetarjan jagat."

Tiba - tiba Peng Peng memotong perkataan imam itu :

"Barangkali Empe Bwee yang menang, maka mendapat julukan Kiam-seng atau dewa pedang itu ?"

"Kau salah menebak." Bwee-hoa Kiesu menjawab sambil tersenyum.

"Empe Bwee, siapakah lawanmu itu ?" Kim Houw memotong. Bwee-hia Kiesu sambil tetap bersenyum mengatakan :

"Ya, itulah yang penting, lawanku itu ialah Siao-hui-liong Pek Leng dari Pek-liong-po yang letaknya tidak jauh dari sini, ilmu silat warisan dari keturunan keluarganya saja sudah cukup untuk mengagetkan orang, bagaimana aku dapat memenangkan dengan mudah ?"

Mendengar disebut nama Pek Leng, Kim Houw mendadak bercekat hatinya. Ia ingat Ceng Niocu ketika di istana panjang umur di gunung Kao-chong-san juga pernah menyebutkan nama Pek Leng itu bahkan menyebutkan namanya Ceng Kim-jie yang agaknya nama seorang wanita, sebab di mulutnya Ceng Niocu kalau menyebut nama Ceng Kim-jie, selalu mengatakan perempuan hina. Kim Houw tahu bahwa Bwee-hoa Kiesu akan menceritakan kisahnya yang sebenarnya, maka ia tidak berani memotong lagi dan ia juga menarik-narik ujung baju Peng Peng, agaknya hendak memperingatkan supaya nona itu jangan banyak menanya tetapi di dalam hati Kim Houw sendiri, saat itu sungguh tidak enak, selanjutnya Bwee-hoa Kiesu lalu berkata pula :

"Nona ini barangkali ada orang she Touw, Tiong-ciu-khek Touw Cianpwe pernah apa dengan nona ?"

Dalam hati Peng Peng merasa heran, sebab pada waktu sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan imam yang menyebut dirinya Bwee-hoa Kiesu ini. Di sepanjang jalan ia dengan Kim Houw juga tidak pernah menyebut-nyebut nama Yayanya, mengapa ia dapat mengenali.

Seketika itu ia lantas menjawab :

"Ia adalah Yayaku."

Bwee-hoa Kiesu kembali anggukan kepala dan bersenyum ia bertanya :

"Dugaanku ternyata tidak salah, sebab pedang pendek Ngo-heng-kiam itu pernah kulihat dari tangan Yayamu, sebabnya kala itu ketika kita sedang bertanding, kebetulan Tiong-ciu-khek Touw Cian-pwee lewat sini. Ketika ia melihat kita bertanding ilmu silat, ia kelihatannya sangat girang, bahkan sudah menjadi saksi kita dan pedang Ngo Heng-kiam itu disediakannya bagi siapa yang dapat merebut kemenangan." Peng Peng merasa heran dan dengan tidak sengaja memotong :

"Ini rasanya tidak benar, mengapa pedang ini masih berada di rumahku?"

"Sedikitpun tidak salah," Bwee-hoa Kiesu menjawab sambil tertawa. "Kau dengar dulu kisahku!

Kala itu pertandingan di lakukan sejak tengah hari sampai tengah malam masih belum ada yang kalah dan menang, tetapi dalam hati, kita sama-sama mengerti bahwa kekuatan kita memang berimbang. Siapa yang hendak mengalahkan siapa, sebetulnya bukan soal mudah, juga tidak dapat dilakukan dalam waktu satu dua hari saja. Dan kesudahannya kedua pihak lantas mengakhiri pertandingan itu sambil tertawa bergelak-gelak.

"Sehabisnya pertandingan sengit itu, aku lantas mengangkat saudara dengan Pek Leng.

Karena usia Pek Leng lebih muda dari padaku, maka ia menjadi adik angkatku, tetapi berbeda dengan Tiong-ciu-khek Touw Cianpwee, sebaliknya merasa kurang gembira dan pedang Ngo- heng-kiam urung diberikan kepada salah satu antara kita, maka masih tetapi berada di dalam rumahmu. Tadi ketika kau keluarkan pedang Ngo-heng-kiam, lantas kuketahui siapa adanya kau."

Bicara sampai di situ, Bwee hoa Kiesu berhenti sejenak kemudian meneruskan pula :