Istana Kumala Putih Jilid 23

 
Jilid 23

Meski Kim Houw sudah melihat rumput kering karena pengaruhnya racun, tapi ia masih kurang percaya. Ia ambil dua batang jarum itu, di ujungnya tampak hitam mengkilat, kalau jarum itu digerakkan, rumput yang tersentuh ujung jarum itu lantas menjadi kering layu. Dengan demikian ia baru percaya kalau jarum itu ada mengandung racun yang sangat berbisa.

Tapi ia masih tidak habis mengerti, bagaimana badannya tidak dapat dicelakakan oleh racun itu ? Ia tidak percaya dirinya kebal terhadap segala racun seperti Tok-kai.

Namun kenyataan memang demikian, mau tidak mau ia harus percaya juga. Ia coba kerahkan kekuatannya, dirinya ternyata tidak terganggu apa-apa, ia baru merasa lega.

Karena orang tua itu sudah berlalu, ia lalu balik kembali ke gedungnya gwanswee tua. Begitulah pengalamannya Kim Houw ketika ia berlalu dengan diam-diam meninggalkan Peng

Peng.

Dan kini ketika mengetahui bahwa dua orang tua itu coba merintangi dirinya, bagaimana ia tidak jadi gusar ?

Satu diantara kedua orang tua itu mendadak berkata sambil tertawa dingin : "Binatang cilik, kau benar-benar terlalu jumawa, meskipun kau pernah mengalahkan beberapa orang kuat golongan Ceng-hong-kauw, tapi kalau kau ingin menjagoi di rimba persilatan, masih belum waktunya, kau mengerti?"

Kim Houw yang bingung ditinggalkan Peng Peng, kini kedua orang tua itu menggerecok tidak berhentinya, dalam hati jadi sengit maka ia lantas membentak dengan suara keras :

"Jangan rewel, kalau kalian punya kemampuan, boleh maju berbareng menyambuti seranganku hanya tiga jurus saja. Jika dalam tiga jurus salah satu dari kalian bisa lolos dengan selamat, kau jangan panggil aku si orang she Kim lagi !"

Kedua orang tua itu tertawa bergelak-gelak, nampak sangat jumawa. Orang tua yang berbicara duluan tadi berkata kepada kawannya :

"Lo-jie, kau sambuti dulu tiga jurus, toako nanti akan membantumu. Aku kepingin lihat bagaimana dia dapat melukai kita dalam tiga jurus ?"

Ternyata kedua orang tua itu adalah kakak beradik, yang tua bernama Kai Tong, sang adik bernama Kai Eng. Keduanya belajar silat di gunung Kow-san, maka dalam kalangan Kang-ouw mereka terkenal dengan julukan Kow-san Jie-lo.

Kim Houw yang mendengar mereka tidak mau maju bersama, lantas berkata pula:

"Kalau kau mau maju satu persatu, biarlah aku jelaskan padamu, supaya kau bisa siap sedia.

Gerakkan pertama dinamakan Pho-lek-hui-thian, selanjutnya disusul dengan tipu serangan Lo- hay-hok-ciu dan akhirnya Yan-tee-hui-thian. Nah sambutlah !"

Sehabis memberi keterangan, Kim Houw lantas putar tangan kirinya, membuat lingkaran bundar, kemudian disusul dengan serangannya yang menggunakan ilmunya Han-bun-cao-kie.

Serangan pertama itu benar-benar sangat hebat, sambaran angin yang amat dahsyat saling menyusul, seperti gelombang air bah menyambar Kai Eng.

Kai Eng yang menampak serangan Kim Houw ada begitu hebat, dalam hati diam-diam ia merasa kaget, tapi ia masih berlagak tenang. Sambil ketawa bergelak-gelak ia angkat kedua tangannya, seperti hendak menyambuti serangan Kim Houw itu.

Apakah Kai Eng benar-benar berani menyambuti serangan Kim Houw? Tidak. Kecuali kalau ia sudah tidak kepingin hidup lagi!

Ia hanya melakukan gerakan pura-pura itu, setelah serangannya Kim Houw sudah hendak mengenakan dirinya, ia baru tarik mundur dirinya.

Ancaman dari sambaran angin telah mendesak dengan hebat, Kai Eng segera melesat tinggi, kemudian meluncur turun dengan miringkan dirinya. Siapa nyana baru saja badannya melesat ke atas, angin yang sama kuat kembali mengancam di depannya, tapi sebentar kemudian mendadak lenyap sendiri tanpa bekas.

Selagi ia melayang turun dengan badan miring angin yang amat dahsyat kembali menyerang di belakang badannya secara mendadak. Kai Eng kali ini tidak bisa ketawa lagi !

Karena kakinya belum menginjak tanah, ia pikir hendak berkelit juga amat sukar. Kai Tong yang menyaksikan keadaan adiknya, kagetnya bukan kepalang. Ia segera kerahkan kekuatan tenaganya, dari samping ia lancarkan satu serangan tangan, untuk mendorong tubuhnya Kai Eng sehingga satu tombak jauhnya, baru terhindar dari ancaman bahaya.

Kim Houw dengan meniru gayanya kedua orang tua itu ketawa bergelak-gelak sembari berkata

:

"Serangan pertama Pho-lek-hui-thian, boleh dikata sudah kalian elakkan dengan baik, tapi ini bukan berarti kalian mampu menyambuti seranganku tadi. Sekarang serangan kedua ada lebih lihay dan lebih hebat dari serangan pertama, kalian harus hati-hati!"

Kow-san Jielo belum menjawab, kedua tangannya Kim Houw sudah diajur ke tanah berulang- ulang.

Sebentar saja, tempat dimana dua orang tua itu berdiri sekitar satu tumbak, mengepulkan debu tinggi, batu dan pasir pada berterbangan menyambar dirinya kedua orang tua itu. Dalam keadaan demikian, kedua orang tua itu baru gelagapan, sampai tempat untuk tancap kakinya saja dirasakan sudah tidak ada.

Betapakah hebatnya kekuatan tenaga yang diunjukkan oleh Kim Houw? Benar-benar susah dibayangkan !

Kow-san Jielo selagi hendak lompat mundur, merasakan angin hebat mendadak menyambar dari segala penjuru, sehingga membuat kedua orang tua itu tidak mengenal arah lagi.

Biar bagaimana, Kow-san Jielo masih terhitung orang kuat dalam kalangan Kang-ouw, di dalam Ceng-hong-kauw, mereka juga mempunyai kedudukan cukup tinggi.

Kai Tong mendadak pegang erat tangannya Kai Eng, sembari keluarkan bentakan "Naik!" keduanya lantas lompat melesat ke atas kira-kira tiga tombak tingginya.

Selanjutnya ditengah udara mereka saling mendorong, hingga satu melesat ke timur dan yang lain melesat ke barat. Dengan demikian mereka telah terlepas dari kepungan angin.

Tapi, baru saja keluar dari kepungan angin, mendadak ada kekuatan yang tidak kelihatan mendesak hebat kepada mereka. Dua orang tua itu segera kerahkan seluruh tenaganya untuk menahan gencetan tenaga yang tidak kelihatan itu. Apa mau, karena perbedaan kekuatan ada sangat jauh, ketika kekuatan tenaga kedua fihak saling bentur, segera terdengar suara jeritan ngeri, kemudian disusul dengan jatuhnya dua tubuh. Mereka ada kedua orang tua yang jumawa telah rubuh berbareng di atas tanah.

Kim Houw tertawa bergelak-gelak.

"Hari ini siaoyamu ada urusan, tidak mau berbuat keterlaluan. Lain waktu apabila ketemu lagi, tidak nanti akan kuberi ampun begitu saja." kata si anak muda.

Habis berkata, kembali ia dengar suaranya Kie Yong Yong:

"Engko Houw, benarkah kau ada begitu kejam? Benarkah kau tega menyaksikan diriku bergulat dengan maut? Kau tahu, aku Kie Yong Yong sudah.untuk keluarga Kim." Kim Houw yang mendapat keterangan dari Peng Peng, tadinya mengira Peng Peng ada main- main atau karena cemburu, tapi kini setelah mendengar ucapan Kie Yong Yong, baru tahu kalau Kie Yong Yong benar-benar sudah mengandung.

Tapi, dalam hati Kim Houw lantas mengerti bahwa semua itu ada perbuatannya Siao Pek Sin, walaupun demikian, ia tokh tidak dapat mengatakan, sebab sekalipun ia menjelaskan mungkin juga tidak ada orang yang mau percaya.

Sekarang, Peng Peng sudah berlalu, hal ini merupakan soal yang benar benar bisa membikin pusing kepala.

"Nona Kie, aku bukan orang semacam itu. Mengenai urusanmu, kalau bisa dapatkan Tiancu dari istana Panjang Umur Siao Pek Sin, kau nanti akan tahu sendiri. Siao Pek Sin sekarang ini berada di Pek-liong-po di kota Ceng Shia. Pergilah cari dia, semuanya akan menjadi jelas."

Ia anggap bahwa keterangannya itu sudah cukup jelas, padahal bagi orang lain yang tidak mengerti duduknya perkara, tentu tidak mengerti.

Demikianlah bagi Kie Yong Yong, keterangan Kim Houw itu tambah membingungkan padanya, maka ia lantas berkata :

"Engko Houw, kecuali kau, orang lain tidak bisa menolong diriku, siapapun tidak mampu menolong aku!"

Kim Houw merasa kurang pantas untuk menjelaskan duduknya perkara yang sebenarnya, maka terpaksa ia tidak menjawab. Sambil kertak gigi ia lantas putar tubuhnya hendak pergi menyusul Peng Peng !

Baru saja Kim Houw bergerak, mendadak berkelebat bayangan putih memegat di depannya.

Kim Houw merandek, ketika ia menegasi, baru tahu bahwa orang yang memegat padanya itu adalah pemuda yang tadi berdiri di samping dengan sikapnya yang tenang.

Kim Houw terperanjat. Dari gerak-geriknya dan sepasang matanya, Kim Houw tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang mempunyai kepandaian tinggi, mungkin juga salah satu orang kuat dari rimba persilatan.

Ketika ia menampak senjata Giok-cu-tiauw-kim-kao di tangannya anak muda itu, dalam hati semakin kaget. Sebab dalam kitab pelajaran ilmu silatnya Kauw-jin Kiesu juga ada disebutkan tentang senjata ini, hingga Kim Houw mau menduga bahwa anak muda itu tentunya bukan orang sembarangan.

Selanjutnya pemuda itu lantas berkata kepada Kim Houw :

"Heng-tay, harap suka tunggu sebentar, siaoseng ingin bicara sedikit. Nona Kie begitu besar cintanya padamu, bagaimana heng-tay nampaknya begitu dingin seperti tidak mempunyai perasaan sama sekali terhadap dirinya? Juga nampaknya karena sudah dapatkan yang baru maka membuang yang lama. Meskipun paras nona Kie sekarang kelihatannya begitu perok, tapi ia demikian sebetulnya karena heng-tay. Kecantikannya dimasa yang lampau, rasanya tidak kalah dengan nona barusan tadi."

Kim Houw meski kagum terhadap senjatanya yang aneh dari anak muda itu, tapi ia tidak takuti padanya. Sebab sejak muncul di dunia Kang-ouw, ia belum pernah menemukan tandingan yang setimpal. Kini mendengar ucapan anak muda itu, ia merasa bingung. Darimana ia tahu Kie Yong Yong menyintakan dirinya begitu besar? Apa artinya tidak mempunyai perasaan sama sekali? Dan apa artinya dapatkan yang baru membuang yang lama?

Maka tidak menantikan anak muda itu bicara habis, ia lantas memotong :

"Apa yang kau maksudkan, sama sekali aku tidak mengerti. Tentang jelek atau cantik, itu ada urusan mereka sendiri, asal aku suka, sekalipun jelek, aku juga bisa menyinta selama-lamanya, tidak usah kau repot-repot turut memikirkan."

Anak muda itu adalah Kee Yong Seng. Ketika mendengar jawaban Kim Houw, ia lantas ketawa dingin dan berkata :

"Aku bahasakan heng-tay kepadamu, itu adalah karena aku pandang dirimu. Tapi menampak sikapmu yang pura gagu dan tuli, itu seolah-olah seperti perbuatan binatang, sungguh tidak pantas aku bahasakan heng-tay lagi. Meskipun kepandaian ilmu silatmu sudah terlalu tinggi, tapi aku tetap ingin meminta pengajaran darimu, dengan sepotong kain rombeng ditanganku ini, aku ingin menyambuti seranganmu sampai tiga ratus jurus!"

Kim Houw merasa sangat tersinggung, maka seketika itu lantas naik darah. Taruh kata anak muda itu bermaksud dengan membela Kie Yong Yong, juga tidak sepatutnya mengucapkan perkataan demikian.

"Aha!" jawabnya dingin. "Kau anggap karena di tanganmu ada memegang senjata ampuh yang tidak ada tandingannya lantas mau menggertak orang ? Haha ! kau dapat menggertak orang lain, tapi tidak buat aku, "Giok-cu-tiauw-kim-kao" meski lihay, tapi kalau hendak mematahkan senjataku, kau jangan harap, biarlah aku juga unjukkan senjataku yang tidak berharga untuk kau saksikan."

Sehabis berkata, Kim Houw lalu mengeluarkan senjatanya "Bak-tha-liong-kin".

"Senjataku ini meski bukan benda pusaka yang sudah tidak ada tandingannya, tapi kalau kau ingin melayani aku sampai tiga ratus jurus, aku tidak mempunyai begitu banyak waktu terluang. Kau lihat saja ! dan sekarang silahkan kau bergerak !"

Kee Yong Seng tadi meski agak mendongkol, tapi sikapnya masih tetap tenang. Sebab ia tahu bahwa kekuatan Kim Houw ada sangat luar biasa, namun ia tidak merasa keder. Karena ia masih boleh mengandalkan senjata dan ilmu silatnya yang aneh dan luar biasa.

Ia pikir, meski dalam hal kekuatan tenaga lwekang mungkin ia masih kalah, tapi senjatanya "Giok-cu-tiauw-kim-kao" dan tipu-tipu serangannya yang aneh dan luar biasa, bukan setiap orang gagah didunia Kang-ouw yang mampu menyambuti. Andaikata benar-benar tidak mampu menandingi, rasanya juga tidak kalah terlalu jauh, sedikitnya masih mengharap berkesudahan seri.

Tapi, ketika Kim Houw mengeluarkan senjatanya "Bak-tha-liong-kin", Kee Yong Seng lantas terkejut, wajahnya berubah seketika.

"Bak-tha-liong-kin !" demikian ia berseru.

Memang, "Bak-tha-liong-kin" ada senjata pusaka yang luar biasa, bagaimana Cu-kao Lojin tidak tahu? Kalau Cu-kao Lojin tahu, Kee Yong Seng juga tahu. Orang she Kee itu merasa heran, oleh karena senjata "Bak-tha-liong-kin" itu ada senjatanya Kauw-jin Kiesu, satu jago kenamaan dari beberapa ratus tahun berselang.

Kim Houw lihat Kee Yong Seng mengenal senjatanya, lantas ketawa dan berkata:

"Benar ! Ini adalah "Bak-tha-liong-kin" tapi kalau mau dibanding dengan senjatamu "Giok-cu- tiauw-kim-kao", rasanya masih kalah jauh. Kau tak usah kuatir, silahkan maju !"

Ucapan Kim Houw yang bersifat mengejek ini bagaimana Kee Yong Seng mau mengerti ? Pada umumnya, setiap orang tidak mau mengalah mentah-mentah begitu saja, apa lagi darah muda? Sekalipun tahu benar bahayanya juga akan ditempuh.

Apalagi Cu-kao Lojin dulu pernah memuji ia, bahwa kepandaiannya ternyata tidak dibawah suhunya sendiri, asal bisa berlaku hati-hati, betapapun kuatnya sang musuh, juga tidak perlu ditakuti.

Demikianlah, Kee Yong Seng karena mengandalkan kepandaiannya sendiri, nyalinya lantas besar, sambil pegang erat senjatanya dan mengeluarkan siulan panjang, ia lantas berkata :

"Jangan kau kira karena mempunyai senjata istimewa "Bak-tha-liong-kin", kau lantas bersikap sombong, sekalipun Kauw-jin Kiesu si iblis tua menjelma kembali, aku Kee Yong Seng juga tidak takut."

Mendengar perkataan Kee Yong Seng yang menghina nama gurunya yang ia sendiri belum pernah mengenalnya, Kim Houw sangat gusar.

Saat itu Kee Yong Seng sudah mulai serangannya dengan senjatanya yang istimewa.

Kim Houw tidak berkelit atau mengegos, senjata Liong-kinnya diputar, Bak-thanya dengan cepat menotol senjata Kim-kaonya Kee Yong Seng, berbareng dengan itu, badannya juga digeser maju untuk mendesak.

Senjatanya Kee Yong Seng selamanya belum pernah menyingkiri senjata musuhnya yang bagaimanapun juga, kali ini juga tidak kecualian. Gaetannya tetap masih digunakan untuk menyambuti serangan senjata lawannya, maka kesudahannya lantas terdengar suara "trang", beradunya kedua senjata yang sama-sama istimewanya itu.

Tapi baru saja senjatanya beradu, badan Kim Houw sudah mendesak maju. "Liong-kin" diputar untuk menotok beberapa bagian jalan darah di dada lawannya.

Kee Yong Seng tidak menduga Kim Houw bisa berlaku demikian gesit, buru-buru ia berkelit, badannya melesat ke samping kira-kira satu tombak, kemudian ayun tangannya, gaetannya balik menyambar batok kepala Kim Houw.

Tapi, Kim Houw yang sudah mendesak maju bagaimana mau membiarkan Kee Yong Seng meloloskan diri?

Sebab, senjatanya "Bak-tha-liong-kin" Kim Houw, adalah senjata pendek yang menguntungkan untuk penyerangan jarak pendek. Sebaliknya senjata Kee Yong Seng ada senjata panjang yang sangat menguntungkan untuk penyerangan jarak jauh. Satu pendek dan satu panjang masing- masing berlainan kepentingannya. Maka Kim Houw yang sudah mendesak maju, bagaimana mau lepaskan kesempatannya begitu saja dan membiarkan senjata lawannya mendapat keuntungan? Kee Yong Seng berkali-kali menyingkir, selalu tidak berhasil menjauhkan diri dari desakan Kim Houw. Anak muda itu seolah-olah bayangan yang terus membayangi dirinya.

Tapi Kee Yong Seng setelah mengetahui semua usahanya tersia-sia, segera bikin pendek senjata gaetannya, sedangkan mutiaranya juga di lepaskan dari tangannya, dengan demikian maka senjatanya lantas berubah menjadi senjata pendek.

Kedua fihak lalu melakukan pertempuran yang cepat dan hebat.

Sebentar saja batu dan pasir pada berterbangan, senjata kedua pihak saling berkelahi, kedua pihak sama-sama kuatnya, benar-benar merupakan suatu pertempuran yang amat seru.

Suara beradunya kedua senjata itu terdengar berulang-ulang sampai sembilan kali setiap kali sehabis beradu, keduanya dengan cepat lantas memisahkan diri, untuk memeriksa senjata masing-masing.

Pertempuran sengit secara demikian, berlangsung terus sampai lebih dari delapan puluh jurus. Untungnya senjata-senjata Bak-sha dan Kim kao itu sama-sama merupakan senjata pusaka,

yang tiada taranya, maka setiap kali diperiksa tidak kedapatan tanda kerusakan apa-apa, keduanya lantas bertempur lagi.

Kim Houw dengan beruntun melancarkan tiga macam ilmu serangan pecutnya, tapi semuanya tidak dapat melukai lawannya, dalam hati mulai mendongkol. Mendadak ia keluarkan siulan nyaring, sambil ayun pecutnya ia melesat tinggi kemudian menukik turun.

Tertanya kali ini Kim Houw sudah melancarkan tipuan serangannya Kauw jin Kiesu yang membuat ia terkenal : "Thian-liong pat sik"

Tubuhnya Kim Houw seolah-olah seekor burung elang raksasa, menukik sambil berputar, orang yang berada dalam lingkaran kira-kira beberapa tombak, barangkali tidak gampang lolos dari serangannya yang hebat ini.

Kee Yong Seng lihat Kim Houw melancarkan serangan dengan ilmu Thian-liong pat sik dalam hati agak keder. Buru-buru ia menggunakan tipu serangan Giok-cu Kim kaonya yang paling istimewa, untuk mengimbangi tipu serangan Thian-liong pat sik, Kim Houw.

Tapi Thian-liong pat sik ada merupakan serangan warisannya Kauw jin Kiesu yang paling hebat, biar bagaimana ada lain dengan yang lain. Apa lagi dilancarkan secara menukik bukan main hebatnya, bagaimana Kee Yong Seng dapat menangkis serangan tersebut ? Kim-kao dan Giok cunya sudah kena di tendang oleh kaki Kim Houw.

Dengan demikian, maka bagian kepala dan dada Kee Yong Seng lantas terbuka lebar. Ia hendak menarik kembali serangannya ternyata sudah tidak keburu, sekalipun hendak berkelit, juga masih kelambatan satu tindak. Batok kepala dan dada Kee Yong Seng sudah terancam senjatanya Kim Houw.

Kee Yong Seng mengerti kalau dirinya sudah terlolos dari tangannya Kim Houw, maka ia serahkan nasibnya dalam tangannya anak muda itu. Ia lantas pejamkan matanya, untuk menantikan saat kematiannya.

Mendadak ia dengar suara "plak" kepalanya seperti di tepok orang, tapi dengan tepokan enteng, Kee Yong Seng hanya merasa sedikit kelengar saja, selekasnya sudah sembuh dengan sendirinya. Sedang dadanya yang terbuka, yang merupakan makanan enak untuk musuh, ternyata tidak ada yang sentuh.

Dalam keadaan heran sambil memejamkan mata, tiba-tiba ia dengar suaranya Kim Houw: "Aku dengan kau belum saling mengenal, sudah tentu tidak mempunyai ganjalan sakit hati dan

permusuhan. Hari ini karena mengingat kau membela nona Kie, maksud dan tujuanmu tidak jahat, maka kuberikan keampunan.

Dan, jika kau benar-benar bermaksud menolong dia, silahkan pergi ke Peng-liong-po. Dengan kepandaianmu seperti ini, boleh saja kau kesana. Kalau kau nanti sudah menjumpai Siao Pek Sin, tidak usah banyak rewel, kau nanti akan mengerti sendiri duduknya perkara. Sampai bertemu kembali sahabat she Kee, semoga kau berhasil dengan usahamu!"

Kee Yong Seng tidak nyana, dalam saat ia tinggal ditamatkan jiwanya, Kim Houw telah memberi ampun padanya. Ucapannya pemuda itu juga sangat merendah maka diam-diam ia mengagumi Kim Houw yang mempunyai sifat pendekar bijaksana.

Ketika ia membuka matanya dan mencari Kim Houw, ternyata anak muda itu sudah berlalu jauh!

Kee Yong Seng cuma bisa menghela nafas, dan berpaling mencari Kie Yong Yong.

Siapa nyana Kie Yong Yong juga sudah tidak kelihatan batang hidungnya, begitu pula itu pemuda ceriwis Ho Leng Than dan Kow-san Jielo yang terluka, juga sudah tidak ada.

Bukan kepalang kagetnya Kee Yong Seng sebab pertama kali bertemu dengan Kie Yong Yong, ia telah mengakui bahwa ia sudah jatuh cinta pada nona Kie.

Dan sekarang, setelah menempuh perjalanan ribuan lie baru dapat menyadari nona yang dicintainya, usianya masih nihil.

Pada saat itu mendadak terdengar suara kuda berbenger, kedengarannya jauh sekali. Suara kuda itu Kee Yong Seng sudah kenal betul, itu adalah kudanya Kie YOng Yong.

Kee Yong Seng tahu benar kecerdikan kuda itu, kalau ia berbenger pasti ada sebabnya, maka ia lantas gerakan tubuhnya melesat ke jurusan kuda tadi perdengarkan suaranya.

Baru saja Kee Yong Seng berlalu dari pekarangan, di situ kembali melayang turun satu bayangan orang.

Bayangan itu ternyata seorang wanita. Dilihat dari gerakannya yang sangat lesu, sikapnya yang murung, bisa diduga bahwa wanita itu sedang risau hatinya.

Tindakan kakinya nampak begitu berat seolah-olah diganduli oleh barang berat.

Tiba-tiba dari dalam dapur ada merayap keluar seorang hitam, siapa mungkin karena ketakutan maka sembunyi di dalam dapur. Tapi ketika mau melangkah masuk pintu dapur, tiba- tiba merasa penasaran, lalu ia berpaling, untuk melihat dulu siapa orangnya yang berada di dalam pekarangan. Ketika melihat bahwa orang dalam pekarangan itu ternyata hanya seorang wanita, nyalinya besar seketika. Maka bisa berdiri tegak sambil pelembungkan dadanya.

Tepat pada saat itu, wanita dalam pekarangan itu juga berpaling melihat kepadanya.

Dari sinar rembulan, si hitam kenali wajahnya wanita itu, dalam hati merasa girang, Lalu dengan tersipu-sipu ia menghampiri wanita itu seraya berkata :

"Nona, aku tahu kau tentunya masih ingat aku Hoan tayciangkun, maka kau tidak mau pergi."

Kiranya orang hitam itu adalah Hoan tayciangkun!

Tapi belum habis ucapannya tangannya wanita itu sudah mampir di kedua pipinya, hingga Hoan tayciangkun sempoyongan mundur empat sampai lima tindak.

Siapa wanita itu ?

Ia adalah Peng Peng!

Tapi mengapa Peng Peng yang sudah pergi balik kembali ? Semua itu karena gara-garanya asmara.

Peng Peng menyinta Kim Houw sejak masih kanak-kanak. Sejak Kim Houw kesasar dalam Istana Panjang umur di rimba kera dan kemudian bisa keluar dengan selamat bahkan mendapat kepandaian ilmu silat yang luar biasa tingginya, baru bertemu kembali dengan anak muda itu di gunung Kou-cho-san.

Setelah mengalami berbagai kesulitan, Kim Houw akhirnya mengutarakan isi hatinya.

Tentu saja siapapun bisa pikir sendiri betapa besar girangnya. Peng Peng yang begitu sabar menantikan Kim Houw, kini dapat mendengar kekasihnya mengutarakan isi batinnya sebetulnya ada sukar dilukiskan.

Siapa nyana, pada malam yang banyak penggoda itu telah muncul dirinya Kie Yong Yong, yang tanpa sengaja telah membuka rahasia hubungannya dengan Kim Houw.

Dalam gusarnya Peng Peng telah kembali lagi setelah berjalan kira-kira sepuluh tombak lebih. Dua kali hampir ia jatuh tergelincir di jalanan, ia merasa gelap di seputarnya, matanya tidak bisa melihat apa-apa.

Otaknya ruwet, pikirannya kusut, sikap dan di wajahnya tidak mengunjukkan tanda gembira, juga tidak bersedih. Nampaknya hanya baru pucat.

Ia merasa sudah berlalu jauh dari dunia yang di depannya nampak kosong melompong, tidak tahu kemana yang harus di tuju. Seolah-olah seorang yang sudah kehilangan ingatannya, mirip orang yang kesasar dalam rimba raya.

Suara bentakan dan suara pertempuran mendadak terdengar di telinganya Peng Peng, hatinya yang tengah risau seketika lantas menjadi cemas.

Dikejutkan oleh itu Peng Peng lantas berhentikan tindakan kakinya. Tatkala ia membuka matanya, baru tahu kalau dirinya sudah berada di tepi kolam tempat memelihara ikan, kalau tidak karena dikejutkan oleh suara itu, mungkin dirinya sudah tercebur di dalam kolam tanpa sadar. Peng Peng adalah seorang perempuan yang berhati keras, walaupun bagaimana sedihnya atau tertindih oleh kedukaan yang hebat, ia tidak memikirkan untuk mengambil keputusan pendek.

Ia cuma merasa benci, mengapa Kim Houw tidak menyusul? Suara bentakan dan pertempuran kembali terdengar sangat nyata.

Ia coba pasang telinga, diantara suara bentakan itu ada terdengar suaranya Kim Houw.

Sekarang ia mulai mengerti, pantas Kim Houw tidak mengejar rupa-rupanya karena bertempur. Siapa musuhnya itu ? Siapa yang mampu merintangi Kim Houw ?

Peng Peng itu ingat akan nasibnya Kim Houw, Mungkinkah Kim Houw dengan secara sendiri harus menghadapi banyak musuh ? Pedang di tangannya Ho Leng Than sudah cukup membikin pusing kepala, apa lagi ditambah itu dua orang tua yang datang belakangan, yang kepandaian ilmu silatnya dan lweekangnya agaknya lebih tinggi setingkat dari pada Ho Leng Than.

Disamping itu masih ada si anak muda sekolahan yang tidak dikenal, sampai dimana tingginya kepandaian ilmu silatnya, masih merupakan suatu pertanyaan. Mungkinkah mereka mendadak bersatu mengerubuti Kim Houw ?

Baru berpikir sampai di situ saja, Peng Peng sudah sangat kebingungan dan kuatirkan dirinya Kim Houw. Semua kedukaan dan kebencian seketika itu lantas lenyap tanpa batas.

Dengan segera ia putar tubuhnya, balik ke arah suara pertempuran tadi.

Ketika ia tiba di luar dinding bambu, kebetulan anak muda sekolahan itu dengan tangan memegang senjatanya Ciok-cu-tiauw-kiam-kao, tengah menghalang di depan Kim Houw, sementara dua orang tua tadi sudah pada rebah menggeletak dalam keadaan terluka.

Karena hanya pemuda itu seorang saja yang menghadapi Kim Houw, hati Peng Peng merasa agak lega, maka ia sembunyi disamping untuk sementara tidak mau unjuk diri. Sebab betapapun tingginya kepandaian anak muda itu, ia yakin benar tidak nanti dapat menandingi Kim Houw.

Tetapi, ketika Kim Houw dan anak muda itu sedang bertempur dengan sengitnya, Peng Peng telah melihat dua orang tua itu sudah siuman, sedangkan Ho Leng Than sudah menggunakan kesempatan tersebut menotok dirinya Kie Yong Yong yang asyik memperhatikan jalannya pertempuran.

Dalam keadaan tidak berdaya Kie Yong Yong sudah dibawa kabur oleh Ho Leng Than.

Peng Peng yang masih dirongrong oleh perasaan cemburu, menyaksikan itu semua tidak memberikan pertolongan, bahkan menjerit sajapun tidak.

Ketika Kim Houw berlalu ia sebetulnya ingin memanggil, tetapi suara yang masih ada dalam tenggorokan akhirnya ditelan kembali. Pikirnya: "Biarlah dia pergi! Aku tidak akan temui engkau lagi."

Ketika Kee Yong Seng terkejut karena lenyapnya Kie Yong Yong, Peng Peng sebetulnya ingin memberitahukan padanya supaya ia mengejar Ho Leng Than, niatan itu ia urungkan. Pikirnya, biarlah wanita yang tidak punya malu itu merasakan sedikit kesulitan. Ia mengira Kie Yong Yong yang dibawa pergi oleh Ho Leng Than, sedikit banyak tentu akan disiksa oleh anak muda itu. Akhirnya suara berbengernya kuda telah membawa pergi anak muda sekolahan itu. Sampai disini keadaan sunyi kembali, di kalangan pertempuran tidak terlihat seorangpun juga. Tetapi Peng Peng tetap masuk ke dalam pekarangan karena ia ingin memberi sedikit harapan kepada Gwanswe yang kikir itu, sekalian untuk mengambil dua ekor ayamnya yang masih berada di dalam dapur, tetapi baru saja ia masuk, telah muncul pikiran sehat, buat apa meladeni segala begituan. Tidak nyana, Huan Ciangkun tidak tahu diri, masih berani menggoda si nona.

Setalah memberi hajaran kepada Hoan Ciangkun, Peng Peng masih merasa kurang puas, dengan kakinya ia menendang, sehingga Hoan ciangkun jatuh bangun dan menjerit-jerit seperti babi mau disembelih. Si nona yang menyaksikan keadaan Hoan Ciangkun, hatinya merasa mendongkol tetapi juga merasa geli, ia tidak mau memperdulikan Hoan ciangkun lagi, terus masuk ke dapur untuk mencuri ayamnya.

Ayam panggang itu sebetulnya lezat rasanya, tetapi karena saat itu hati Peng Peng sedang risau, maka dirasakannya sangat tawar.

Walaupun demikian ayam itu dimakannya juga sampai habis. Mendadak ada angin meniup disampingnya.

Angin itu datangnya sangat aneh, berbareng dengan itu ia juga seperti melihat berkelebatnya bayangan orang. Dalam kagetnya, ia lantas memeriksa keadaan sekitarnya.

Tetapi dalam kamar itu kosong melompong, kecuali ia, tidak ada orang lain. Oleh karena itu Peng Peng juga tidak mau memikirkan bayangan itu lagi. Tetapi ketika ia balik hendak mengambil ayamnya lagi, ternyata ayam itu sudah tidak ada di tempatnya.

Peng Peng coba mencari sampai di bawah meja, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa.

Sekarang Peng Peng baru merasa kaget benar-benar.

Ia tahu bahwa ada orang yang lebih pandai telah mempermainkannya.

Karena sejak anak-anak ia tak takut akan setan, maka ia juga tidak percaya adanya setan. Ia tahu bahwa itu adalah perbuatan manusia, tetapi siapa gerangan dia?

Siapa orangnya yang mempunyai kepandaian yang begitu tinggi, sehingga datang dan perginya tidak meninggalkan bekas?

Meskipun Peng Peng merasa kaget, tapi sedikitpun tidak merasa takut. Ia percaya bahwa orang itu tidak bermaksud jahat, mungkin maksudnya hanya main-main atau ditujukan khusus kepada daging ayam itu saja.

Di atas meja masih ada ayam rebus, dengan tidak berayal lagi Peng Peng lantas menghabiskan makanan itu.

Pikirnya, kalau tidak dimasukkan ke perut mungkin nanti disambar orang lagi.

Tetapi selagi enaknya makan, dengan tidak disengaja ia telah ingat akan dirinya Kim Houw.

Jika pada saat itu tidak muncul si perempuan she Kie, bukankah ia bersama Kim Houw akan menikmati lezatnya ayam ini?

Pada saat itu cuaca sudah mulai terang. Peng Peng sejak kekuatan tenaganya bertambah, sekalipun satu malam suntuk tidak tidur, buatnya tidak berarti apa-apa. Hatinya yang masih terus mendongkol membuat ia uring-uringan. Ia belum tahu dimana Kim Houw kini berada dan kapan dapat bertemu kembali dengan si dia.

Pikiran ini Peng Peng ingin usir jauh-jauh. Namun pikir atau tidak, hal itu tetap berputaran di otaknya, sehingga membuat hatinya bertambah risau.

Mendadak Peng Peng ingat si gwanswe yang berbadan kurus kering itu, sebab terkecuali Hoan ciangkun yang tadi sudah mengundurkan diri, mengapa yang lainnya tidak kelihatan?

Lantas dia berteriak-teriak memanggil, tetapi tiada seorangpun yang menyahut.

Dalam hati Peng Peng pikir, mungkinkah mereka sudah menduga bahwa ia akan mencari setori pada mereka? Kalau tidak, mengapa seorangpun tidak perlihatkan cecongornya?

Peng Peng lantas keluar dari dapur dan masuk ke ruangan besar. Selagi hendak berteriak memanggil lagi, mendadak ia terkejut melihat dua lemari besar yang berada dalam ruangan tersebut sudah tidak ada di tempatnya lagi. Semua barang berharga itu, entah sejak kapan dibawa pergi.

Peng Peng tidak habis pikir, benarkah mereka sudah berlalu semuanya? Tapi ia tidak percaya bahwa dalam tempo satu malam saja mereka sudah menghilang semuanya.

Si nona mencoba untuk mencapai ke seluruh pelosok gedung itu, tetapi satu bayangan manusiapun tidak terlihat. Akhirnya ia tiba di depan kamar tempat menyimpan ayam.

Dalam pikiran Peng Peng, sekalipun orangnya berlalu semuanya, masa ayam juga dibawanya?

Tetapi ketika ia membuka kamar tersebut, ternyata memang tidak seekor ayampun yang tinggal kecuali bulunya yang berhamburan di tanah.

Betul-betul Peng Peng merasa heran, dengan cara bagaimana ayam-ayam itu dapat dibawa kabur? Apakah Gwanswe kurus itu pandai bermain sulap?

Meskipun dalam hati Peng Peng berpikir demikian, namun ia tetap tidak percaya kalau kejadian itu merupakan suatu kenyataan. Ia sebenarnya hendak masuk ke dalam kamar ayam itu untuk mengadakan pemeriksaan, tetapi karena di situ penuh dengan tai ayam, maka terpaksa ia mengurungkan niatnya.

Mendadak ia mendengar suara panggilan orang: "Peng Peng, Peng Peng mengapa kau berada disini? Aku mencari kau setengah mati."

Peng Peng mendengar suara itu bukan main terkejutnya, sebab suara itu untuknya tidak asing lagi, lagi pula kedengarannya sangat menyayang, tetapi suara itu bukan suara pemuda pujaannya.

Mendadak Peng Peng membalikkan badan. Sesosok bayangan manusia lompat turun dari dinding bambu, ketika Peng Peng menegasi, ia baru mengenali orang itu ternyata adalah Ciok Liang, puteranya Ciok Goan Hong.

Begitu melihat Ciok Liang, bukan kepalang kagetnya Peng Peng. "Apa perlunya kau mencari aku ?" ia menanya dengan suara kaku.

"Apa perlunya ?" balas menanya, Ciok Liang sambil tertawa cengar-cengir. "Kau tokh tunanganku ? Apa aku tidak boleh mencari kau ?" "Aku harap kau bicara sedikit sopan, sekarang aku tidak takuti kau lagi!" kata si nona dingin. "Kau telah mencelakai dirinya nona Bwee Peng, sekarang Kim Houw sedang mencari kau untuk membuat perhitungan, jiwamu berada dalam bahaya. "

Belum habis ucapan Peng Peng. Ciok Liang mendadak memotong sambil tertawa tergelak- gelak:

"Kau jangan bawa-bawa Kim Houw untuk menggertak aku, Kim Houw she apa, ia sendiri juga tidak tahu, apa ia masih dapat mengenali aku siapa ? Ha.. ha.. ha."

"Kalau begitu kau sudah mengaku sendiri bahwa nona Bwee Peng kau yang membinasakan." Ciok Liang dengan bangga berjalan menghampiri Peng Peng.

"Peng Peng di hadapanmu aku mengakui segala perbuatanku, apa yang aku takuti?" katanya. Peng Peng belum menjawab, ia sudah meneruskan.

"Tokh tidak nanti kau akan membantu orang luar, untuk mencelakakan bakal suamimu sendiri, betul atau tidak ?"

"Diam!" bentak si nona. "Harap kau berlaku sedikit sopan, jangan mengaco belo tidak keruan. Kau mau tahu ? Aku bukan saja hendak membantu Kim Houw, tetapi juga kalau kau masih tetap tidak mengerti kesopanan, aku tidak akan memperdulikan hubungan keluarga kita lagi, aku akan turun tangan menuntut balas untuk nona Bwee Peng."

Tetapi Ciok Liang yang mendengar itu bukannya jerih sebaliknya telah tertawa terbahak- bahak.

"Peng Peng, dua tahun sudah kita tidak saling bertemu, apakah kau sudah mendapatkan ilmu silat yang hebat? Mari, mari kita tidak usah mengatakan hubungan suami istri, marilah kita mengadu tenaga sebagai tanda persaudaraan saja."

"Aku tidak mempunyai waktu untuk melayani kau, pergilah dari sini!" jawab Peng Peng.

Ciok Liang yang sebenarnya sudah terdiam, saat itu kembali maju lagi dua tindak sambil berkata:

"Peng Peng, sudah dua tahun kita tidak saling bertemu, mengapa kau begini galak terhadapku? Coba beritahukan kepadaku, dimana adanya Kim Houw sekarang?"

Peng Peng yang sedang jengkel terhadap Kim Houw, segera menjawab dengan suara ketus, "Aku tidak tahu!"

"Aaa! Bagaimana kau bilang tidak tahu ? Aku tadi masih mengira kau bersama-sama dia.

Souw Suheng telah memberitahukan padaku, aku masih belum percaya. Ow, ya! Apa kau telah bertemu dengan Souw Suheng ? Dia sebenarnya berjalan-jalan bersama-sama dengan aku, tetapi kemudian di kaca-kaca oleh dua orang tua keparat, aku lalu berteriak-teriak memanggil nama Kim Houw baru aku terlolos dari bahaya, sebab nama Kim Houw sekarang ini sudah menggetarkan dunia Kang Ouw" "Cis, tidak tahu malu!" mengejek si nona. "Meminjam nama orang lain untuk menggertak orang benar-benar kau memalukan Kow-thio sebagai jago kenamaan di daerah Sanshe selatan, dan tokh kau masih ada muka untuk menceritakan kepada orang lain."

"Kau jangan terburu napsu dulu, dengarkan dulu penuturanku!" kata Ciok Liang. "Aku baru menyebut nama Kim Houw sekali saja, tidak nyana kedua tua bangka itu segera kelihatannya sangat gusar dan menanyakan dimana adanya Kim Houw, malahan ia memaki-maki Kim Houw sebagai penjahat, perusak kehormatan kaum wanita dan sebagainya. Ternyata Kim Houw ada satu Don Yuan, banyak gadis-gadis di daerah Su-coan Timur yang di rusak kehormatannya, sehingga pembesar negeri harus campur tangan dan sekarang sudah mengutus orang-orangnya untuk menangkap padanya."

Mendengar keterangan itu, Peng Peng merasa kaget sekali. Ia sebenarnya tidak percaya Kim Houw ada orang semacam itu, sebab ia sendiri kenal padanya sejak masik kanak-kanak sehingga mengenal betul sifat-sifatnya.

Tapi kalau ingat dirinya Kie Yong Yong, Peng Peng lantas mulai bimbang lagi pikirannya.

Bagaimana Kim Houw bisa berbuat tidak patut terhadap Kie Yong Yong ? Apakah diantara mereka berdua ada tumbuh perasaan cinta ? Ataukah hanya main-main saja?

Namun biar bagaimana Kie Yong Yong sudah mengandung untuk dia!

Peng Peng terus memikirkan soal ini dengan hati bimbang, ia makin memikir makin cemas, makin perih hatinya, sampai Ciok Liang datang dekat sekali di depan dirinya, ia juga tidak sadar.

Apa yang diucapkan oleh Ciok Liang memang benar seperti apa yang tersiar diluaran, cuma Peng Peng tidak tahu kalau ia ada perbuatannya Siao Pek Sin.

Ciok Liang tahu bahwa sejak masih kanak-kanak Peng Peng ada menyintakan Kim Houw, maka ia tahu bagaimana mengatur supaya Peng Peng berbalik membenci Kim Houw.

Ia yakin jika Peng Peng mendengar keterangannya itu tidak perduli si nona mau percaya atau tidak, kalau terluka hatinya itu sudah tentu. Bahkan ada kemungkinan si nona akan membenci Kim Houw.

Sebab umumnya kaum wanita hampir semua membenci laki-laki yang suka berbuat cabul.

Ciok Liang ketika menampak Peng Peng sudah masuk perangkapnya, dalam hati merasa girang. Ia hendak menggunakan kesempatan selagi Peng Peng masih bimbang, segera turun tangan. Kalau sebentar nasi sudah menjadi bubur biar bagaimana Peng Peng tentu tidak bisa menolak lagi untuk menjadi isterinya.

Ciok Liang berada semakin dekat pikiran begitu ia ulur tangannya bisa menotok jalan darah Peng Peng, akan kemudian di perlakukan tidak senonoh. Siapa nyana baru ia ulur tangannya, tiba-tiba merasa kesemutan dan tangannya kemudian menjadi teklok.

Bukan main kagetnya Ciok Liang, hingga seketika itu lantas menjerit. Karena suara jeritan itu, Peng Peng jadi tersadar dari lamunannya.

Baru saja membuka matanya, Peng Peng juga mengeluarkan jeritan keras, bahkan lebih keras dari suara jeritan Ciok Liang.

Apakah sebabnya ? Kiranya Peng Peng telah melihat di belakang Ciok Liang telah berdiri seseorang dan orang itu bukan lain dari pada Kim Houw sendiri. Kim Houw saat itu nampaknya sangat gusar sekali, matanya merah beringas, bibirnya ditutup rapat, hingga bagi siapa saja yang melihatnya tentunya dapat segera mengetahui bahwa kegusarannya sudah sangat memuncak.

Oleh karenanya, maka Peng Peng lantas menjerit ketakutan.

Walaupun dosa Ciok Liang sangat besar, yang membinasakan dirinya nona Bwee Peng, tetapi biar bagaimanapun keluarga Ciok hanya mempunyai keturunan Ciok Liang seorang saja. Apakah benar-benar keluarga Ciok harus diputuskan keturunannya? Demikian pikir Peng Peng.

Lagi pula antara Peng Peng dengan Ciok Liang masih tersangkut sanak saudara hal ini juga Peng Peng tidak boleh mengabaikan begitu saja.

Ciok Liang ketika sikutnya terkena totokan, dalam herannya ia celingukan mencari penotoknya, ia tidak mengetahui kalau Kim Houw berada di belakangnya. Maka ketika Peng Peng menjerit ia sendiri juga merasa kaget.

Ia lihat Peng Peng tunjukkan perhatiannya ke belakang dirinya dengan wajah ketakutan, ia segera mengetahui di belakangnya tentu ada seseorang. Tetapi sungguh tidak dinyana bahwa orang yang berdiri di belakangnya itu justru ada Kim Houw sendiri.

Dengan cepat ia memutar tubuhnya, seketika itu ia melihat wajah Kim Houw yang merah padam.

Tetapi dalam kagetnya Ciok Liang masih mengandung sedikit pengharapan, sebab apa yang diketahuinya ialah bahwa Kim Houw sudah kehilangan ingatannya, tentunya tidak mengenali dirinya siapa.

Peng Peng yang tahu Kim Houw sudah sembuh dari penyakit kehilangan ingatannya segera berkata :

"Ciok Liang, kau cari mampus"

Selanjutnya Peng Peng lantas bergerak dan menjatuhkan dirinya dalam pelukannya Kim Houw seraya berkata :

"Engko Houw, engko Houw jangan begitu beringas, Peng Peng takut benar! Keturunan keluarga Ciok hanya tinggal dia seorang saja, bolehkah kau melepas padanya ? Oh engko Houw..."

Kim Houw yang mendengar itu, segera ingat akan dirinya Bwee Peng, air matanya seketika itu mengalir bercucuran.

"Adik Bwee Peng juga hanya seorang tanpa kakak dan adik!..." jawabnya dengan suara sedih. Ciok Liang yang mendengarkan pembicaraan mereka berdua segera mengetahui bahwa Kim

Houw sudah sembuh dari penyakitnya, maka segera ia merasa ketakutan sekali. Dulu ia pernah

terlolos dari bahaya, tetapi kali ini seolah-olah ia mengantarkan diri sendiri ke tangan seorang algojo, maka kalau mau berlalu dalam keadaan hidup mungkin masih lebih sukar dari pada naik ke langit.

Tetapi walaupun bagaimana juga ia tidak ingin menantikan kematian begitu saja. Ketika melihat Peng Peng berada dalam pelukan Kim Houw untuk memintakan keampunan dirinya, dalam anggapannya itu merupakan suatu kesempatan yang paling baik untuk ia meloloskan diri.

Ciok Liang tidak sia-siakan kesempatan segera ia mengerahkan seluruh kepandaiannya dan dengan gesit lompat melesat ke arah dinding bambu.

Tetapi sebelum orangnya sampai ke tempat tujuannya di depannya sudah berkelebat bayangan seseorang yang merintangi perjalanannya. Itulah Kim Houw sendiri yang berdiri sambil memondong Peng Peng.

Hal ini telah membuat Ciok Liang terbang semangatnya!

Peng Peng masih meratap -ratap meminta keampunan untuk dirinya.

"Engko Houw, kau harus ingat budinya Ciok Ya-ya terhadap dirimu, apakah jiwanya Ciok Liang tak dapat kau ampuni?"

Kim Houw mendengar disebut Ciok Ya-ya lantas menggetar seluruh badannya. Bukankah Ciok Ya-ya sebelum menutup mata telah meninggalkan pesan padanya supaya ia jangan membenci orang-orang dari keluarga Ciok?

Mengingat dirinya Ciok Ya-ya, air mata Kim Houw kembali mengalir. Ia menyesal tidak dapat menuntut balas untuk kematiannya Bwe Peng, karena mengingat budinya Ciok Ya-ya yang begitu besar atas dirinya.

Dapatkah ia melupakan budi Ciok Ya-ya terhadap dirinya ? Dan tega untuk turun tangan membinasakan Ciok Liang sebagai cucu tunggalnya? Saat itu hatinya dirasakan tidak menjadi karuan, malu, benci, dendam tercampur aduk menjadi satu sampai otaknya dirasakan mau pecah.

Ciok Liang yang melihat keadaan demikian, tidak berani berdiam lama-lama lagi maka dengan cepat ia segera angkat kaki untuk melarikan diri.

Ketika ia berada kira-kira tiga tombak jauhnya, dengan tidak disengaja ia telah menoleh ke belakang, dilihatnya Kim Houw dan Peng Peng sedang berpelukan sambil menangis nampaknya sangat mesra sekali, tetapi berbareng jug seperti mengharukan sangat.

Ciok Liang sejak masih kanak-kanak sudah menyintai Peng Peng kalau bukan karena Kim Houw, mungkin siang-siang Peng Peng sudah menjadi istrinya. Dan Sekarang, menyaksikan keadaan demikian mesra, sudah tentu hatinya merasa sedih, iri hati dan benci.

Saat itu mendadak timbul pikiran jahatnya diam-diam ia telah mengambil dua buah senjata rahasianya, selagi kedua orang itu sedang berpelukan, segera diserangnya dengan dua senjata rahasia itu.

Senjata rahasia Ciok Liang merupakan satu senjata rahasia tunggal dari keturunan keluarga Ciok dan sudah dilatih sampai mahir betul oleh Ciok Liang, maka ketika senjata itu meluncur dari tangannya sedikitpun tidak mengeluarkan suara.

Kedua senjata rahasianya itu semuanya tujukan pada dirinya Kim Houw seorang.

Begitu senjata meluncur dari tangannya, Ciok Liang segera lompat melesat untuk menjauhkan diri. Karena ia mengetahui betul kepandaian Kim Houw sukar diukur, maka serangan bokongannya itu berhasil atau tidak masih merupakan suatu pertanyaan, maka pikirnya lebih baik ia melarikan diri lebih dahulu. Ketika ia berada di luar pagar bambu itu ia mendengar jeritan Kim Houw.

Diam-diam Ciok Liang merasa girang sekali. Senjata rahasianya yang berbentuk sangat mirip dengan lidah burung dari itu mengandung racun yang sangat berbisa, kalau mengenai sasarannya dan sasaran itu justeru orang, maka jiwa si korban susah sekali ditolongnya.

Maka untuk kedua kalinya Ciok Liang lompat memasuki pagar bambu.

Tetapi baru saja ia berada di atas pagar dan masih belum dapat melihat apa yang telah terjadi, mendadak ia melihat suatu benda hitam mendatangi laksana terbang.

Ciok Liang tidak tahu benda apa itu, maka ia tidak berani menyambuti, hanya cepat melompat ke samping kira-kira setombak jauhnya. Tapi mendadak lengan tangan kanannya dirasakan sakit. Ciok Liang benar-benar menduga bahwa gerakannya yang begitu gesit masih juga kelanggar benda hitam itu. Ketika ia memeriksa lengannya, kagetnya bukan main.

Ternyata Kim Houw sudah menggunakan senjata rahasia Ciok Liang sendiri untuk menyerang balik. Bagaimana Ciok Liang tidak terkejut? Melihat lengan kanannya itu sebentar saja sudah bengkak dan matang biru sukar ditolong.

Tanpa ragu-ragu lagi Ciok Liang lantas menghunus pedangnya dan menabas kutung lengan kanannya sendiri, inilah satu-satunya jalan untuk menolong jiwanya.

Waktu lengan itu baru saja terlepas dari anggota badannya, mendadak ia mendengar orang berkata dengan suara tajam :

"Hukuman mati meskipun dapat diampuni tetapi tidak dapat lolos dari hukuman hidup. Jika kau masih tidak dapat merubah kelakuanmu yang sudah-sudah dan masih berani berbuat jahat, di kemudian hari jika kita bertemu lagi, pasti tidak ada keampunan untukmu."

Suara itu agaknya dari tempat yang jauh sekali, ketika Ciok Liang menengok ke dalam pagar, memang betul di sana tidak ada orang lagi, entah kemana perginya Kim Houw dan Peng Peng.

Sungguh pilu dan menyesal hatinya Ciok Liang, jikalau tadi ia tidak balik lagi mungkin lengan kanannya itu masih utuh.

Dan sekarang ia telah menjadi seorang yang cacad.

Kim Houw dan Peng Peng setelah meninggalkan desa Gu kee chun, terus lari menuju ke gunung Ceng Shia-san. Di sepanjang jalan, Kim Houw terus menjelaskan duduknya perkara mengenai urusan dirinya Kie Yong Tong.

Walaupun apa yang dijelaskannya oleh Kim Houw itu belum tentu dapat dipercaya keseluruhannya oleh Peng Peng, tetapi si nona telah berkeputusan lebih baik menerima nasibnya. Sebab jika ia berpisahan dengan Kim Houw, ia merasakan sangat kesepian, maka sebaiknya tidak mengurusi itu lagi supaya hari itu dapat di lewatkan dengan kegembiraan.

Oleh karena pikiran Peng Peng yang optimis itu, maka keterangan Kim Houw telah dipercaya sepenuhnya. Di sepanjang perjalanan dapat melewatkan waktu dengan penuh kegembiraan.

Disamping itu sudah tentu Kim Houw juga tidak mau melupakan kewajibannya untuk memberikan pelajaran ilmu silat pada Peng Peng, dan pedang Ngo heng-kiam juga dikembalikan kepada Peng Peng untuk keperluan menjaga diri. Pada suatu hari, ketika Peng Peng sedang berlatih ilmu silat, tiba-tiba teringat akan soal yang terjadi di depan pintu Gwanswee kurus itu, maka ia lantas menanyakan pada Kim Houw.

"Engko Houw, apa benar kau sudah pandai ilmu menyampaikan suara dengan kekuatan nafas sampai ribuan lie jauhnya ?"

"Masih terlalu pagi! Jangan kata seribu lie, satu lie saja aku tidak mampu. Ilmu ini siapa saja yang mau belajar semua bisa, tetapi kalau kekuatan tenaga lweekangnya kurang, belajar juga tidak ada gunanya. Selama berada di istana panjang umur kekuatan tenaga sebenarnya belum seperti sekarang ini, setelah keluar dari istana panjang umur, juga tidak pernah mendapat kesempatan untuk berlatih dengan baik."

Peng Peng mendengar keterangan itu lantas tidak memikirkan lagi.

Kemudian ia ingat dirinya Kim Houw sudah pergi mengapa dapat dengan cepat balik kembali, maka ia segera menanyakan hal itu kepada Kim Houw.

Kim Houw lalu memberikan keterangan sambil tertawa :

"Aku sebenarnya ketika melihat kau pergi dalam keadaan gusar, segera mengejar dan siapa nyana telah dirintangi oleh kedua orang tua keparat itu. Dalam gusarku terpaksa aku turun tangan melukai mereka, tetapi setelah kedua orang tua itu terluka, kembali aku dirintangi oleh seorang anak muda seperti anak sekolahan itu. Anak muda itu ternyata lebih lihay dari pada kedua orang tua tadi. Ia juga bermaksud untuk membela Kie Yong Yong. Aku sebetulnya tidak ingin turun tangan terhadapnya, maksudku hanya ingin melayani dia sebentar untuk kemudian mengejar kau, tetapi ketika dengan tidak disengaja aku memeriksa keadaan di sekitar kalangan pertempuran itu untuk melihat masih ada siapa lagi orang yang lebih lihay, di luar dugaan aku telah dapat melihat kau yang sedang bersembunyi di luar pagar bambu itu. Begitu aku melihat bayanganmu, hatiku lantas tenteram dan aku tahu untuk sementara kau tidak akan pergi jauh, maka aku lantas melayani anak muda itu dengan leluasa sampai dia merasa takluk benar-benar. Akhirnya aku sebenarnya ingin memanggil kau, tetapi kemudian berpikir pula sebaiknya menyingkir lebih dahulu untuk menunggumu reda dari rasa gusarmu, baru menjelaskan persoalannya padamu."

Setelah mendengarkan keterangan yang panjang lebar itu, Peng Peng tertawa puas. "Kiranya kau belum berlaku ?" kata si nona seraya mengerlingkan matanya yang bagus.

"Kalau begitu daging ayamku tentunya kau yang mencuri makan." "Apa kau enak makan sendirian ?" tanya Kim Houw tertawa.

"Memang, saat itu aku telah menduga tentunya kau yang menggoda aku." Kim Houw hanya menjawab dengan tersenyum.

Begitulah kedua kekasih itu sepanjang hari mengobrol sambil berjalan.

Pada suatu malam, kedua kekasih itu telah semalaman di dalam hutan belukar, terpaksa mereka mengaso di tepi sungai di bawah sebuah pohon besar.

Malam itu rembulan memancarkan sinarnya yang terang benderang dan bintang bintangpun banyak bertebaran di langit yang bersih.

Kim Houw dan Peng Peng berpelukan sambil memandang rembulan yang bundar dan bintang- bintang yang bergemerlapan di langit. Mendadak Peng Peng berkata sambil menuding ke langit. Engko Houw, kau, lihat sungai perak itu!"

KIm Houw yang selamanya belum pernah memperhatikan itu, ketika mendengar disebut- sebutnya nama sungai perak oleh Peng Peng, lalu menengok ke arah yang ditunjuk. Tapi dimana adanya sungai itu ? Maka lantas ia menyahut sambil menggelengkan kepala : "Dimana adanya sungai perak itu dan mengapa aku tidak dapat melihatnya ?"

"Kau benar-benar bodoh, apa kau tidak dapat melihat bintang-bintang Gu-long (Penggembala kerbau) dan Cit-lie (wanita pemintal) ? Jarak yang memisahkan antara kedua bintang itulah yang disebut sungai perak! Sebetulnya Tuhan juga terlalu kejam."