Istana Kumala Putih Jilid 22

 
Jilid 22

"Tempo hari ketika bawa nona datang kemari, pernah mengatakan bahwa nona turun tangan agak berat. Namun, di dunia Kang-ouw terlalu banyak jumlahnya orang jahat, kalau tidak kita bunuh bagaimana? Aku karena harus menunggui ayah yang usianya sudah lanjut, tidak bisa keluar pintu, apalagi berkelana di dunia Kang-ouw. Jika ayah sudah tidak ada, aku juga ingin merantau lihat-lihat keadaannya dunia Kang-ouw, untuk melakukan sedikit pekerjaan yang berarti. Di kemudian hari aku masih mengharapkan petunjuk dari nona." Mendengar itu, hati Kie Yong Yong bergoncang hebat. "Suthay itu sekarang kemana?"

"Oleh karena ada urusan, sukouw hari itu begitu tiba lantas pergi lagi. Ia kata sebulan kemudian baru balik, atau paling lambat dua bulan. Ia sudah perhitungkan dengan baik, pada saat nona sudah sembuh benar-benar sukouw akan datang lagi."

Mulai saat itu Kie Yong Yong belum pernah turun dari pembaringannya, sebabnya ialah luka di badannya meski sudah sembuh tapi mendadak dapat lagi semacam penyakit aneh. Setiap hari kepalanya pening, hatinya pepat, badannya lemas dan tidak doyan makan minum.

Makanan atau minuman begitu masuk mulut, lantas tumpah lagi, hingga boleh dikata setetes air atau sebutir nasi sukar masuk di mulutnya. Apa yang diingini hanya makanan yang asam- asam. Mengingat ini, Kie Yong Yong kagetnya bukan main.

Sebab ia lantas mendadak ingat ini ada tanda-tandanya orang perempuan yang mulai hamil !

Kee Yong Seng setiap hari pasti datang menengoki satu kali, ia juga pernah panggil tabib untuk memeriksa, tapi Kie Yong Yong yang sudah tahu penyakitnya, sudah tentu tidak mau diperiksa oleh tabib, karena itu berarti membuka rahasianya sendiri.

Tapi, sekalipun Kie Yong Yong berada dalam kesulitan, namun ia masih belum mau meninggalkan rumah keluarga Kee. Sebab ia masih hendak menunggui nikow tua, supaya bisa ajak dirinya masuk menjadi nikow.

Tidak tahunya, yang ditunggu begitu lama tetap masih belum muncul.

Akhirnya, pada suatu malam terang bulan dengan diam-diam Kie Yong Yong meninggalkan rumah keluarga Kee.

Sembari menuntun kudanya ia keluar dari pintu belakang, ia kira perbuatannya itu tidak ada yang mengetahui. Apa mau, baru saja ia cemplak kudanya, mendadak ada berkelebat bayangan hitam, Kee Yong Seng segera sudah berdiri dihadapannya.

"Nona, apa kau tidak bisa menunggu beberapa hari lagi? Sukow tidak lama segera datang apalagi kau sekarang masih belum sembuh betul dari penyakitmu." kata Kee Yong Seng.

Selama dua bulan berkumpul dengan Kee Yong Seng, kalau mau dikata Kie Yong Yong sama sekali tidak mempunyai perasaan, itu tidak benar. Tapi ia terpaksa menindas perasaannya sendiri, sebab dengan badannya yang sudah ternoda, apalagi itu darah daging dalam kandungannya, bagaimana harus dikatakan?

Oleh karena sudah ada kandungan, pengharapannya yang semula sudah buyar, kini telah bersemi kembali, maka ia berkeputusan hendak mencari Kim Houw.

Tapi, sekarang Kee Yong Seng menghalangi di depannya, bagaimana ? Dengan menekan perasaan dukanya, ia berkata setengah meratap :

"Kee siangkong, maafkanlah aku. Dua bulan lamanya aku telah menggerecok di rumahmu, budi sebesar gunung ini selama-lamanya tak akan kulupakan. Sekarang tidak ada jodoh, semoga dilain penitisan aku dapat membalas budimu. Di dalam kamar aku ada tinggalkan sepucuk surat, yang menjelaskan kepergianku yang mendadak ini. Kee siangkong, aku mohon kau supaya suka melepaskan aku, meski badanku masih belum sembuh betul, aku percaya tidak begitu mengkhawatirkan." Menampak Kie Yong Yong bertekad bulat hendak pergi, Kee Yong Seng terpaksa menyahut :

"Baiklah, kalau nona memaksa mau pergi juga, aku nanti temani kau jalan bersama-sama."

Habis berkata, Kee Yong Seng lalu gerakkan badannya melesat masuk ke dalam. Ia agaknya sudah siap dengan kuda dan barang-barangnya, sebab sebentar saja sudah keluar lagi sambil menuntun kudanya.

Tapi, baru saja melangkah pintu, di luar sudah terdengar suara kaki kuda Kie Yong Yong dan kudanya sudah berada sejauh kira-kira sepuluh tombak.

Mana mau Kie Yong Yong ditemani Kee Yong Seng, karena kepergiannya itu justru hendak mencari Kim Houw. Bagaimana kalau diketahui oleh Kim Houw, bukankah akan runyam? Maka, selagi Kee Yong Seng berada di dalam, ia sudah keprak kudanya dan larikan terbang!

Sekalipun sudah ditinggal jauh, Kee Yong Seng tetap mengejar. Cuma sayang kudanya tidak berdaya mengejar kudanya Kie Yong Yong, yang merupakan kuda jempolan.

Tapi, ia tidak putus asa, ia tetap larikan kudanya untuk mengejar.

Sudah tentu Kie Yong Yong tidak membiarkan dirinya kecandak. Selewatnya tiga hari jarak antara mereka sudah lebih dari ratusan lie jauhnya. Hanya Kie Yong Yong yang berlari-lari melakukan perjalanan, agaknya sudah mulai kepayahan.

Hari itu, ia tiba di suatu kota kecil, begitu masuk ke dalam rumah penginapan, lantas rebah di pembaringan.

Apa mau, malam itu selagi Kie Yong Yong masih rebah diatas pembaringan, mendadak dapat didengar suara mengaungnya anak panah yang khusus untuk menyampaikan berita dari golongan Ceng-hong-kauw. Kie Yong Yong ada orang Ceng-hong-kauw, sudah tentu mengetahui itu.

Mengetahui bahwa di kota itu ada orang-orangnya Ceng-hong-kauw, dalam hati juga merasa kaget, sehingga mengucurkan banyak keringat, tapi justeru oleh karena ini, badannya dirasakan agak banyak baikan.

Ia lalu coba gerakkan badannya, setelah minum air lalu melesat naik ke atap rumah, ia hendak menyelidiki siapa-siapa orang-orangnya.

Ceng-Hong-kauw yang berada di kota.

Baru saja ia tancap kaki, kembali terdengar suara mengaungnya anak panah, lalu ia berlarian mengikuti suaranya anak panah itu.

Dalam penyelidikannya, Kie Yong Yong telah dapat tahu bahwa orang-orang Ceng-hong-kuaw yang datang cuma terdiri dari tingkatan biasa, bukan orang-orang penting. Tapi, disamping itu ia telah dapat tahu pula bahwa Na Ang dan PeK ketiga anggauta wanita terpenting dari golongan Ceng-hong kauw sudah pergi mengejar Kim Houw. Dengan demikian maka ia dapat mengetahui dimana adanya Kim Houw.

Malam itu juga, Kie Yong Yong lantas bedal kudanya untuk melanjutkan perjalanannya mencari Kim Houw. Kalau tidak karena mengandung. Kie Yong Yong pasti dapat mendahului tiga nona jagoan dari Ceng-hong kauw itu. Badannya dirasakan tidak enak meski mempunyai kuda tunggangan luar biasa, akhirnya ia sudah merasa puas dapat mengintil di belakang.

Kei Yong Yong yang setiap hari larikan kudanya di bawah teriknya matahari, akhirnya telah jatuh sakit pula. Tapi kalau ia ingat segera dapat menemui kekasihnya, ia paksa dirinya melanjutkan perjalanannya.

Hari itu karena kesalahan jalan akhirnya tiba di desa Gu-Kee-cun.

Apa mau, di luar desa penyakitnya tambah berat dan akhirnya jatuh dari atas tunggangannya. Kudanya yang sangat cerdik, ketika menampak majikannya jatuh pingsan lantas berbenger.

Ketika Kim Houw datang, ia tidak melihat Kie Yong Yong, setelah mencari kesana kemari, baru diketemukan menggeletak dalam keadaan lupa orang.

Melihat Kei Yong Yong sangat payah tanpa pikir akibatnya lantas ia pondong si nona dibawa ke gedungnya gwanswee.

Demikian asal mulanya Kei Yong Yong tiba di Gu-kee-chun.

Ketika Kei Yong Yong dengar suaranya seorang wanita, hatinya agak lega, ai lalu menatap wajahnya Peng Peng, mendadak matanya dibuka lebar, dalam hatinya berseru : Aaa sungguh cantik!

Dalam hati Kei Yong Yong merasa heran dalam dusun sepi seperti ini, bagaimana ada nona begini cantik dengan dandanannya begitu mewah ? Karena terheran heran, ia sampai lupa menjawab pertanyaan Peng Peng.

Peng Peng yang dipandang begitu rupa masih mengira bahwa nona itu ada kenal padanya, maka ia juga coba mengamat-amati parasnya si nona sakit.

Kei Yong Yong sedang hamil, ditambah lagi sudah melakukan perjalanan jauh berhari-hari serta penyakitnya yang kambuh kembali, maka kecuali kedua pipinya yang sudah legok parasnya kelihatan tidak begitu cantik.

Peng Peng lega hatinya nampak Kei Yong Yong tidak menarik, ia tidak percaya kalau Kim Houw bisa suka kepadanya.

"Enci, apanya yang kau rasakan kurang enak?" ia menanya, ketawa manis. Kei Yong Yong gelengkan kepala, lalu menghela napas panjang.

"Aku menumpang tanya, di sini tempat apa?" tanya nona Kie.

"Ini adalah gedungnya gwanswee dari Gu-kee-chun." Peng Peng menjawab setangah main- main, maka lantas ketawa sendiri, "enci apa kau ada urusan penting?"

"Nampak keadaanku kini, aku sudah tidak bisa naik kuda lagi. Aku ingin minta pertolongan kepada seseorang yang kiranya sudi memberi bantuan, untuk pergi ke gunung depan sana mencari seseorang!"

"Mencari seorang? Orang itu pernah apa dengan kau?" Dalam herannya, Peng Peng telah majukan pertanyaan itu. Ia sudah menduga, orang yang hendak dicari oleh nona ini mungkin adalah Kim Houw. Maka ia kepingin tahu sedikit, sampai dimana hubungannya antara kedua orang ini?

Kei Yong Yong yang ditanya demikian lantas menghela napas duka.

"Kejadian sudah begini rupa, serta ingin meminta bantuanmu, terpaksa aku tebalkan mukaku untuk berbicara dengan terus terang. Dia adalah kekasihku, juga suamiku, hanya kita belum melakukan upacara perkawinan secara sah. Namun didalam perutku sudah ada keturunannya yang ditinggalkan begitu saja, hanya disebabkan dia hendak menolong dirinya satu nona lain.

Sekarang dengan susah payah aku mencari padanya sampai di sini, hanya kepingin lihat wajahnya sebentar saja. Tapi, dia ada didalam gunung, entah masih ada kesempatan mendapat lihat dia lagi atau tidak?"

Peng Peng berdebar hatinya mendengar keterangan nona Kie, hampir saja ia lompat keluar. "Siapa yang kau ingin cari itu?" tanyanya dengan cemas.

Kie Yong Yong nampaknya sudah kelewat letih, sesudah bicara begitu banyak, napasnya memburu, maka atas pertanyaannya Peng Peng ia tidak bisa menjawab.

Sebaliknya, Peng Peng yang tidak dijawab pertanyaannya, hatinya semakin cemas. "Orang yang kau ingin cari itu siapa namanya? Katakanlah!" ia mendesak.

"Dia bernama... " Kei Yong Yong cuma mampu menjawab demikian, napasnya sudah memburu lagi.

Pada saat itu, tiba-tiba terasa angin meniup jendela ternyata sudah terbuka.

Peng Peng yang sedang mendongkol hatinya, lalu perdengarkan suara ketawa dingin. "Enci jangan cemas, suamimu yang baik telah datang!"

Di luar jendela ada suara orang yang menyambuti sambil ketawa:

"Haha, ini benar-benar ada peruntunganku, sekali tepuk mendapat dua lalat !"

Peng Peng yang mendengar suara itu, bukan main kagetnya. Tadinya ia mengira Kim Houw yang datang, siapa nyana ada lain orang. Orang itu ilmunya mengentengi tubuh sangat bagus, dalam keluarga Hoan tidak ada orang yang mempunyai kepandaian begitu tinggi.

Secepat kilat Peng Peng lantas keluar dari kamar.

Gerakan Peng Peng lantas menampak dirinya seorang muda berusia kira-kira dua puluh tahun, memandang padanya dengan kelakuan ceriwis.

Si nona mendongkol, dengan gusar membentak:

"Bangsat dari mana tengah malam buta berani datang kemari ? Apa kau mau mencari mampus ?" "Bukankah kau sendiri yang mengatakan, bahwa aku ada satu suami yang baik, yang sedang mencari istriku yang manis ? Adikku yang baik, mengapa begitu galak ! Mari, mari belajar kenal dengan cihumu... "

Apa lacur, belum tamat ucapannya, tangan Peng Peng sudah mampir di pipinya, plak-plak, dua kali tamparan itu bukan saja keras tapi juga nyaring.

Sungguh tidak enak bagi pemuda itu. untung giginya tidak sampai rontok, tapi banyak darah sudah mengalir keluar dari mulutnya!

"Perempuan hina tidak tahu diri, kau berani memukul tuan mudamu? Kau tahu siapa tuan mudamu ini? Aku adalah Cheng-Hong-Kauw Kauwcu" Peng Peng yang sudah menampar

pipinya anak muda itu, kemendongkolannya sebetulnya sudah lenyap sebagian.

Tapi kini dengar pengakuan anak muda itu sebagai kauw-cu dari Ceng-hong-kauw, dalam hati merasa geli berbareng mendongkolnya timbul lagi. "Cis! Betul-betul tidak tahu malu! Macam cecongor dan tingkah lakumu itu, ingin menjadi kauwcu dari Ceng-hong-kauw?" ia mengejek.

Pemuda itu mendengar perkataan Peng Peng yang seolah-olah pandang tinggi Ceng-hong- kauw, dalam hati merasa girang, maka lantas berkata: "Perlu apa kau tergesa-gesa, perkataanku tokh masih belum habis. Kauwcu dari Ceng-hong-kauw adalah yayaku, aku adalah kauwcu kecil Ho Leng Thian, senangkah kau? Kalau kau suka, juga boleh menjadi isterinya kauwcu kecil! hihi

....."

Selagi masih ketawa cengar-cengir, kembali terdengar suara plak plak yang amat nyaring, kali ini ia harus menerima tamparan sampai empat kali, bahkan lebih keras dari pada yang duluan. Ho Leng Than menjerit-jerit karena kesakitan, dua giginya telah copot jatuh, hingga wajahnya merah padam.

Sambil menghunus pedangnya ia berkata dengan suara keras: "Perempuan hina, perempuan busuk, kau benar-benar bernyali besar! Sudah tidak tahu diri, berani sembarangan memukul orang. Apa kau kira aku Ho Leng Than ada seorang yang boleh kau perhina sembarangan? Lihat pedang!"

Kepandaian silat Ho Leng Than sebetulnya tidak lemah, cuma karena dibikin silau oleh kecantikan Peng Peng, hatinya lantas lemas, semangatnya sudah lebih dulu terbang!

Sungguh tidak nyana Peng Peng meski cantik seperti bunga mawar, tapi banyak durinya.

Sebelum kena dipetik, tangannya sudah berlumuran darah karena tertusuk durinya.

Saat itu, Ho Leng Than mengerti bahwa kalau tidak unjukkan sedikit kepandaiannya sukar untuk menundukkan Peng Peng. Hendak menawan hatinya wanita cantik, memang harus kerja keras.

Karena berpikir demikian, maka begitu turun tangan lantas keluarkan ilmu silatnya yang paling dibuat bangga.

Kauwcu Ceng-hong-kauw Ho Hoan Hay dengan ilmu pedangnya Ceng-hong-kiam-hoat namanya sangat terkenal di dunia Kang-ouw. Ho Leng Than adalah cucunya, sudah tentu ia dapatkan warisan ilmu pedangnya, bedanya hanya kekuatan tenaga dalamnya saja.

Kini, begitu turun tangan Ho Leng Than lantas menggunakan ilmu pedangnya Ceng-hong- kiam-hoat, rupanya ia bermaksud merebut kedudukan baik lebih dulu, supaya bisa dapat menguasai Peng Peng, serta tidak memberikan kesempatan bagi Peng Peng untuk melakukan serangan pembalasan. Pedangnya Peng Peng sudah hilang sejak bertemu kembali dengan Kim Houw, maka sekarang di tangannya tidak mempunyai senjata apa-apa. Tapi, sejak mendapat saluran kekuatan tenaga lwekang dari Kim Houw, kekuatan tenaganya jauh lebih besar daripada duluan.

Ketika melihat Ho Leng Than menghunus pedangnya, lalu mengerti bahwa anak muda itu tentunya mahir ilmu pedang, namun ia tidak takut, dengan mengandalkan kegesitannya sudah cukup menyingkirkan setiap serangan pedang Ho Leng Than.

Kalau ilmu pedang Ceng-hong-kiam-hoat dapat mempertahankan namanya di rimba persilatan, sudah tentu mempunyai keistimewaan sendiri. Diantara keistimewaan itu adalah serangan pembukaannya yang mempunyai perubahan gerak begitu banyak. Kalau lawannya bukan seorang yang juga mahir ilmu pedang, sedikit lengah saja, bisa lantas dibikin tidak berdaya sama sekali. Keistimewaan lainnya pula ialah : Begitu turun tangan, sekalipun kepandaian lawannya lebih tinggi setingkat, juga sukar untuk merebut kedudukan atau mengimbangi gerakannya.

Tapi Peng Peng seolah-olah sudah mempunyai perhitungan yang tepat, secara mudah dapat mengelakkan serangannya Ho Leng Than. Maka Ho Leng Than mau tidak mau merasa terkejut juga, apakah nona ini mempunyai kepandaian bisa meramalkan semua hal yang belum kejadian ?

Selagi masih dalam keadaan bingung mendadak angin kuat menyambar dari belakang dirinya ! Dalam kagetnya, Ho Leng Than segera putar balik pedangnya, menyerang dengan hebatnya. Ini juga merupakan salah satu tipu serangan yang sangat lihay dalam ilmu pedang Ceng-hong-

kiam-hoat. Serangannya bukan saja hebat, tapi juga cepatnya luar biasa. Siapa nyana, pedangnya ternyata cuma menyambar tempat kosong, orang yang diserang sudah tidak kelihatan bayangannya.

Bukan kepalang kagetnya Ho Leng Than kali ini, meski serangannya itu ia masih tidak berani memastikan dapat melukai lawannya, namun ia juga tidak menyangka bahwa lawannya itu benar- benar bisa berlaku seperti setan.

Satu anak dara yang nampaknya jauh lebih muda dari usianya sendiri, biar bagaimana ia juga tidak percaya kalau Peng Peng mempunyai kekuatan dan kepandaian lebih tinggi daripadanya.

Belum lenyap rasa kagetnya Ho Leng Than kembali angin kuat sudah menyambar dari samping. Tapi kali ini ia berlaku cerdik! Ia pura-pura tidak berasa, tidak menyingkir. Tapi setelah angin kuat itu dekat, baru keluarkan bentakan hebat dan badannya lantas mumbul ke atas seolah- olah seekor burung elang, ia berputaran di tengah udara hendak menyambar mangsanya.

Kali ini Peng Peng hendak tarik mundur dirinya sudah tidak begitu gampang lagi, terpaksa berdiri tegak di tengah-tengah kalangan.

Ia lantas perdengarkan ketawa dingin dan berkata :

"Orang yang begini tidak berguna, juga masih ingin kawin, benar-benar tidak tahu diri !"

Dengan berani Peng Peng berdiri ditengah kalangan, sebab tadi ketika Ho Leng Than menerjang padanya sampai dua kali, ia dapat egoskan dengan mudah, dan anak muda itu tidak berdaya mencari jejaknya, maka sekarang ia bertambah besar nyalinya, ia anggap Ho Leng Than ada seorang yang hanya gede omongnya saja. Diluar dugaannya, baru saja menutup mulutnya, mendadak merasakan sambaran angin kuat yang mengitari dirinya, sinar pedang berkelebatan, seolah-olah ada beberapa puluh batang yang mengancam dirinya.

Dengan demikian, Peng Peng lantas kelabakan, karena di tangannya tidak ada senjata barang sepotong, tidak berdaya menangkis serangan pedang itu, sekalipun ilmunya mengentengi tubuh yang boleh diandalkan, ia juga tidak bisa keluarkan!

Tapi orang yang kepepet kadang-kadang suka timbul kecerdikannya, demikianlah keadaannya Peng Peng. Setelah mengetahui keadaannya sendiri berada dalam bahaya, lalu kerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, disalurkan kepada lengan bajunya. Kemudian diputar dijadikan senjata untuk menangkis pedangnya Ho Leng Than.

Tapi serangannya Ho Leng Than kali ini benar benar hebat, serangan yang dilakukan saling menyusul dan begitu rapat, membuat Peng Peng sangat ripuh.

Itulah keistimewaannya ilmu pedang Ceng-hong-kiam-hoat yang sangat tersohor di kalangan Kang-ouw. Karena gencar dan rapatnya putaran pedang, membuat lawannya tidak dapat lihat tegas orang yang menyerang.

Pertempuran berlangsung terus, Peng Peng masih kewalahan menembusi tirai sinar pedangnya Ho Leng Than. Meski kekuatan tenaga dalamnya Peng Peng sudah tambah banyak, namun pertempuran dengan cara demikian, ia juga harus memerlukan banyak tenaga. Maka sebentar saja Peng Peng sudah mandi keringat.

Dalam keadaan demikian Peng Peng lantas sesalkan Kim Houw, mengapa berlalu tanpa memberitahukan lebih dulu, entah kemana perginya dia sekarang ?

Ia pikir, kalau Kim Houw berada didekat dekat situ, tidak nanti ia tidak dengar suara perempuan itu. Dan kalau ia dengar, juga tidak nanti ia tinggal peluk tangan saja.

Karena pikirannya itu Peng Peng lantas buka suaranya yang nyaring, pikirnya, sekalipun Kim Houw berada beberapa puluh lie jauhnya dalam waktu malam yang begitu sunyi ia juga bisa dengar suaranya.

Ho Leng Than yang menyaksikan perbuatan Peng Peng, lantas ketawa cengar-cengir.

"Nona manis, kau ternyata juga bisa gelisah! Kau panggil bantuan juga tidak ada gunanya. Aku kauwcu muda dari Ceng-hong-kauw, kalau keluar tentu ada banyak pengiringnya, apalagi kali ini kepergianku justeru hendak mencari bakal isteriku, andai kata ada orang rimba persilatan yang liwat dan dengar suaramu, tapi kalau melihat orang-orangnya Ceng-hong-kauw, mereka juga tidak berani turut campur tangan!"

Peng Peng tidak tahu bahwa ucapan Ho Leng Than itu memang sesungguhnya, dianggapnya si orang she Ho menyombongkan dirinya saja, maka ia tidak ambil pusing, tetap masih keluarkan suaranya yang memanggil-manggil nama Kim Houw!

Suara Peng Peng masih mendengung, pintu kamar mendadak terbuka, Kie Yong Yong melesat keluar dari kamarnya!

Bukankah Kie Yong Yong sedang sakit mengapa bisa sembuh secara mendadak ? Sebetulnya ia belum sembuh, tapi karena dengar Peng Peng memanggil Kim Houw, ia kira Kim Houw berada di situ, karena kegirangan , ia lantas lompat keluar tanpa menghiraukan penyakitnya sendiri.

Kedatangannya Ho Leng Than, Kie Yong Yong bukannya tidak tahu, tapi ia tidak kuatir atau takut. Sebab selama menderita sakit setengah bulan lamanya, parasnya sudah banyak berubah, kecantikannya dimasa yang lampau sudah lenyap semua. Ditambah lagi badannya yang sudah mengandung, ia percaya Ho Leng Than tentu tidak maui dirinya lagi!

Namun ketika mendengar disebutnya nama Kim Houw, semangatnya lantas bangun. Tapi ketika tiba di situ, dimana ada bayangannya Kim Houw?

"Hai, nyonya mantu, kau kenapa? Mengapa kau berubah demikian rupa ? Oh ! Manisku !

Pedih rasa hatiku ! Mari, mari ! Biarlah nanti bakal suamimu memberi hiburan padamu." Kie Yong Yong mendelikkan matanya, seketika itu lantas jatuh pingsan.

Ho Leng Than ketawa terbahak-bahak.

"Kie Yong Yong," katanya. "Kau sekarang sudah tidak secantik dulu lagi. Aku Ho Leng Than sebagai kauwcu muda, masa mau mempunyai isteri begitu jelek? Rupanya penyakitmu sudah terlalu mendalam, sebaiknya lekas-lekas pergi menemui Giam Lo Ong saja!"

Habis keluarkan ucapannya, Ho Leng Than lalu angkat pedangnya, hendak menikam dada Kie Yong Yong yang sudah tidak berdaya.

Dalam saat yang sangat kritis, tiba-tiba sesosok bayangan hitam melayang secepat kilat, menyambar dirinya Kie Yong Yong, hingga ujung pedang Ho Leng Than mengenakan tempat kosong.

Bukan kepalang kagetnya Ho Leng Than sehingga saat itu ternyata ia masih belum tahu siapa yang menyambar mangsanya tadi, entah manusia atau setan ?

Tapi kini, setelah Kie Yong Yong sudah tidak ada di depan matanya, ia pikir bayangan hitam tadi tentu ada manusia, tidak perlu disangsikan lagi. Hanya kepandaiannya orang itu benar-benar sangat tinggi.

Belum hilang rasa kagetnya Ho Leng Than mendadak terdengar suara bentakan Peng Peng siapa melakukan serangan terhadap Ho Leng Than dengan sepotong kayu.

Kauwcu muda itu sebetulnya tidak pandang kepandaian Peng peng, ketika melihat Peng Peng menggunakan sebatang kayu sebagai senjata, lebih-lebih tidak memandang mata sama sekali.

Dengan cepat ia putar pedangnya, untuk menangkis serangan Peng Peng.

Tiba-tiba terdengar suara orang berkata :

"Nona silahkan mundur sebentar, biarlah aku yang melayani kauwcu muda dari Ceng-hong- kauw ini!"

Suara itu masih sangat asing bagi Peng Peng, hingga dalam hati merasa heran. Bayangan orang yang barusan menolong dirinya Kie Yong Yong, Peng Peng masih mengira ada perbuatannya Kim Houw, maka dengan berani ia melawan Ho Leng Than.

Siapa nyana bahwa orang itu bukannya Kim Houw, ketika mendengar ucapan orang itu, Peng Peng lantas loncat ke samping. Saat itu ditengah kalangan tampak berdiri seorang muda seperti anak sekolah dengan tindak tanduknya yang halus sopan dan sikapnya yang tenang luar biasa.

Peng Peng tercengang, ditengah malam buta dan didalam desa terpencil seperti Gu-kee-cun ini, darimana datangnya anak sekolah begitu cakap ?

Selagi Peng Peng masih menduga-duga telah terdengar suaranya Ho Leng Than :

"Siapa yang mempunyai nyali begitu besar berani mencampuri urusan pribadi kauwcu muda.

Apakah sudah bosan hidup ?"

Pemuda seperti anak sekolah itu dengan sikap tenang memberi hormat seraya berkata :

"Aku adalah Kee Yong Seng, calon siucai yang tidak lulus ujian, tidak mempunyai kepandaian apa-apa, hanya ingin minta belajar satu dua jurus ilmu silatnya siao kauwcu yang khabarnya tinggi sekali. Terutama ilmu pedang Ceng-hong-kiam-hoat, yang namanya begitu tersohor di dunia Kang-ouw. Tuan sebagai kauwcu muda dari Ceng-hong-kauw, sudah tentu mahir sekali dengan ilmu pedang Ceng-hong-kiam-hoat, tapi entah tuan sudi atau tidak memperlihatkan kepada aku seorang yang baru muncul didunia Kang-ouw ini? Andaikata karena ini aku harus korbankan jiwa, aku tidak akan menyesalkan kepada siapapun juga!"

Perkataan pemuda itu kedengarannya tidak begitu tajam, lagi pula diucapkan dengan sikap merendah serta tenang, namun sudah cukup membikin mendidih darahnya Ho Leng Than.

"Kau ternyata juga tahu lihaynya ilmu pedang Ceng-hong-kiam-hoat. Kalau sudah tahu mengapa masih berani coba-coba main gila? Apa kau benar-benar sudah bosan hidup? Kalau memang kau sengaja hendak mencari jalan kematian, aku juga tidak perlu sayangi ilmu pedangku. Lihat pedang!"

Ho Leng Than meski dimulutnya bisa keluarkan perkataan begitu enak, namun dalam hatinya merasa kebat-kebit. Sebab apa yang diunjukkan oleh Kee Yong Seng tadi dalam usahanya merebut dirinya Kie Yong Yong, sudah cukup untuk membuktikan betapa tingginya kepandaian pemuda she Kee itu.

Apalagi, begitu buka mulut Kee Yong Seng lantas berani menantang ilmu pedang ciptaan yayanya yang sangat terkenal di kalangan Kang-ouw, kalau ia tidak mempunyai kepandaian cukup tinggi, sudah tentu tidak berani berbuat demikian.

Diukur dari situ saja, betapapun besar nyalinya Ho leng Than, juga tidak berani berlaku gegabah. Maka ketika ia melancarkan serangan pedangnya, ia sudah menggunakan kekuatan tenaganya delapan puluh persen lebih serta bersikapnya sangat hati-hati.

Siapa nyana, ketika pedang meluncur meski gerak pedangnya tidak berubah, tapi tidak tahu dengan cara bagaimana Kee Yong Seng bergerak, ia berkelebat menghilang dari depan matanya.

Kee Yong Seng entah disengaja atau tidak dan nampaknya mungkin kebetulan saja, ia menggunakan siasat yang sama dengan Peng Peng, ialah terus berkelit, tidak mau berhadapan langsung dengan lawannya.

Tapi, Ho Leng Than yang sudah mendapat pengalaman dari Peng Peng, tidak sudi ia diperdayai oleh lawannya lagi. Maka lantas tegakkan dirinya, lalu berkata: "Kau tadi berkata ingin belajar kenal dengan ilmu pedang Ceng-hong Kiam-hoat, tapi mengapa sekarang terus-terusan berkelit? Kalau kau sengaja hendak permainkan siaoyamu, terpaksa siaoyamu akan memaki-maki kau!"

"Kalau kau benar begitu hargakan diriku jika aku tidak sambuti seranganmu barang satu dua jurus, tentunya kau akan anggap aku takut mati atau pengecut! Apa boleh buat, terpaksa aku sediakan jiwaku untuk melayani kau!"

Habis ucapkan kata-katanya, Kee Yong Seng kembali sudah berada di depannya Ho Leng Than.

"Keluarkan senjatamu! Aku selamanya tidak bertempur dengan musuh yang bertangan kosong!" kata Ho Leng Than sambil ketawa dingin.

Ia tidak tahu bahwa perkataannya itu sebenarnya seperti suatu tamparan bagi mukanya sendiri, sebab barusan ia mendesak Peng Peng sampai si nona kewalahan, apakah Peng Peng tangannya ada memegang senjata tajam?

Padahal perkataannya itu bukan tidak ada sebabnya. Karena ilmu pedang Ceng-hong kiam- hoat, buat seorang lawan yang menggunakan senjata, ada lebih mudah masuk dibawah pengaruh, dan begitu musuh dapat dipengaruhi betapapun tingginya kepandaian musuh juga tidak berdaya.

Ho Leng Than tahu bahwa kekuatan lawannya masih tinggi satu tingkat daripada kekuatannya sendiri, maka ia mau paksa lawannya menggunakan senjata. Meski tahu kalau ucapannya itu ada bertentangan dengan perbuatannya tapi untuk kepentingan keselamatan dirinya sendiri, ia tidak perdulikan rasa malunya lagi.

"Aku ada satu calon siucay, biasanya cuma membaca buku. Meskipun sudah belajar sedikit ilmu silat, tapi kedua tanganku masih tidak mempunyai tenaga cukup kuat, bagaimana bisa menggunakan senjata? Kalau kau benar ada punya peraturan demikian, di sini aku mempunyai serupa benda yang dapat digunakan sebagai senjata, silahkan kau mulai!" jawab Kee Yong Seng lantas buka ikat pinggangnya, yang agak luar biasa bentuknya, panjangnya kira-kira dua tombak lebih, di satu ujungnya digantungi sebutir mutiara, lain ujung adalah sebuah gaetan yang terbikin dari emas.

Terang itu ada senjata lemas, tapi di mulutnya Kee Yong Seng hanya anggap itu satu benda mainan.

Ketika Ho Leng Than menyaksikan senjata Kee Yong Seng, tiba-tiba berseru: "Giok-cu-tiauw-kim-kao!"

"Ow, kau terlalu memuji tinggi pada senjata tidak berarti ini," sahut Kee Yong Seng.

Setelah keluarkan seruan kaget, Ho Leng Than baru sadar kalau ia sudah membuka rahasia hatinya yang sangat tegang. Ia coba perbaiki dengan keluarkan kata-kata jumawa:

"Giok-cu-tiauw-kim-kao, memang tidak berarti apa-apa kalau bertemu dengan ilmu pedang siaoyamu!"

Setelah itu, ia putar pedangnya laksana titiran, kemudian menikam dengan hebatnya ke arah dada Kee Yong Seng. Sudah menyanggupi hendak menyambut serangannya, maka Kee Yong Seng tentu saja tidak mau berkelit. Ia hanya miringkan sedikit badannya, senjatanya, gaetan dibalik kebawah, untuk balik menyerang perut Ho Leng Than.

Gerakannya itu dinamakan "Kim-kao-tau-kua", satu tipu pukulan untuk menghentikan serangan lawannya.

Tapi ilmu pedang Ceng-hong-kiam-hoat memang ada lain daripada yang lain, Ho Leng Than putar tiga kali pedangnya dengan kecepatan sangat luar biasa, sehingga menimbulkan sambaran angin yang amat dahsyat.

Putaran pertama, gaetan lawannya dibikin miring, putaran kedua sinar pedang memutar makin kencang dan putaran ketiga bayangan pedang dan sambaran amgi-nya timbul dari berbagai penjuru.

Sebentar saja, Kee Yong Seng sudah terkurung rapat oleh sinar pedang dan angin kuat.

Melihat keadaan Kee Yong Seng, siapapun akan anggap kalau Kee Yong Seng sudah berada di bawah kekuasaannya Ho Leng Than.

Tapi, setelah pertempuran berlangsung sekian lamanya, keadaan masih tetap begitu saja, sinar pedang dan sambaran angin masih mengurung dirinya Kee Yong Seng, sedikitpun tidak perlihatkan adanya perubahan.

Saat itu, bagaimana keadaannya - Kee Yong Seng, yang terkurung rapat, tidak kelihatan. Namun Ho Leng Than sebagai orang yang mengurung, sebaliknya kelihatan telah keluarkan banyak tenaga, otot-ototnya pada menonjol keluar dan keringatnya membasahi dahinya, wajahnya nampak sangat tegang.

Tiba-tiba suara siulan yang amat nyaring dan panjang telah menggema dimalam yang sunyi itu, sampai lama belum buyar.

Ho Leng Than yang mendengar siulan itu, merasa sangat girang, ia lantas timpah dengan siulan pula.

Baru saja berhenti bersiul, tiba-tiba terdengar suara trang, pedang panjang ditangan Ho Leng Than sudah patah menjadi dua potong, ujungnya jatuh di tanah!

Karena pedangnya Ho Leng Than patah sinar pedang dan sambaran angin buyar dengan sendirinya. Tapi Kee Yong Seng masih tetap berdiri ditengah kalangan, sikapnya masih kelihatan tenang, sedikitpun tidak kelihatan letihnya.

Siapakah pemuda Kee Yong Seng itu?

Kiranya ia adalah murid satu-satunya Cu-kao Lojin yang namanya sangat terkenal pada tujuhpuluh tahun berselang.

Cu-kao Lojin meski kepandaian ilmu silatnya menjagoi rimba persilatan, tapi ia adalah seorang yang tidak suka nama dan kekayaan dunia. Ia tidak suka setori dengan orang lain. Setiap hari pesiar saja ke pegunungan mencari kesenangan dengan pemandangan alam.

Kee Yong Seng ada keturunan seorang berpangkat, bagaimana bisa menjadi muridnya Cu-kao Lojin, itu semua memang jodoh. Pada waktu Kee Yong Seng masih berusia tiga tahun, mendadak dihinggapi penyakit aneh.

Ayah bundanya hanya mempunyai ia anak satu-satunya, bagaimana tidak jadi kuatir dan ketakutan. Banyak tabib pandai telah diundang, namun tampaknya pada tidak berdaya menyembuhkannya.

Kebetulan kala itu Cu-kao Lojin sedang mengejar satu penjahat dan tiba di tempat itu. Setelah si penjahat ditangkap dan dimusnahkan kepandaiannya, lalu diserahkan kepada pembesar negeri, siapa justeru ada ayahnya Kee Yong Seng. Ia pembesar yang bijaksana, meski keadaan penyakit anaknya sendiri ada sangat berbahaya, ia masih tidak lalaikan kewajibannya. Ketika dengar kabar telah ditangkap seorang penjahat ulung, ia segera mengadakan pemeriksaan sendiri.

Peristiwa ini telah menjadi buah tutur penduduk kota, hingga dalam tempo tidak cukup satu hari sudah tersiar luas.

Cu-kao Lojin ada seorang penggemar arak, setelah menyerahkan si penjahat kepada pembesar negeri, ia sendiri lantas minum arak sampai mabuk. Ketika sadar dari mabuknya mendengar dalam kota ramai orang bicarakan perkara itu.

Bukan cuma itu saja, banyak diantara penduduk kota yang mintakan doa kepada Tuhan supaya anaknya pembesar negeri yang arif bijaksana itu disembuhkan dari penyakitnya.

Cu-kao Lojin yang mendapat tahu hal tersebut, lantas pergi menemui pembesar negeri dan nyatakan hendak mengobati penyakitnya Kee Yong Seng.

Cu-kao Lojin bukan saja pandai ilmu silat, tapi juga faham ilmu obat-obatan, pengetahuannya tentang berbagai penyakit ada sangat luas.

Kee Yong Seng yang diperiksa dan diobati sendiri oleh Cu-kao Lojin, tidak lama lantas sembuh.

Tapi setelah Kee ong Seng sembuh dari sakitnya, Cu-kao Lojin juga tidak bisa meninggalkan padanya lagi. Sebabnya ialah: ia telah menemukan bakat yang luar biasa pada dirinya Kee Yong Seng untuk menjadi seorang kuat, apabila mendapat didikan ilmu silat yang sempurna.

Dalam kegirangannya, Cu-kao Lojin lantas turunkan seluruh kepandaiannya kepada Kie Yong Seng, bahkan senjatanya Giok-cu-tiauw-kim-kau yang membuat ia menjadi seorang terkenal juga diberikan padanya.

Senjata Giok-cu-tiauw-kim-kau itu ada terbikin dari rumput aneh dari dasarnya laut, uletnya luar biasa, segala rupa senjata tajam jangan harap bisa menyentuh.

Terutama gaetannya yang terbikin dari emas, tajamnya luar biasa, pedang atau golok biasa, begitu beradu, lantas terpapas kutung.

Kee Yong Seng mengikuti Cu-kao Lojin belajar silat sudah lima belas tahun lanya serta sudah mendapat warisan seluruhnya kepandaian orang tua aneh itu. Cuma karena ayah bundanya sudah tua dan ia merupakan anak satu-satunya, ia tidak bisa meninggalkan jauh-jauh, maka belum pernah muncul di dunia Kang ouw.

Sedang Cu-kao Lojin sendiri sejak beberapa puluh tahun ini, sudah tidak pernah menyebutkan namanya kepada siapapun juga, kalau ia bekerja selalu dengan diam-diam maka di kalangan Kang-ouw sudah lama tidak terdengar namanya orang tua itu lagi.

Ho Leng Than menyebut namanya "Giok-cu-tiauw-kim-kao" sebab pernah dengar dari yayanya, tapi ia tidak percaya Kee Yong Seng ada muridnya Cu-kao Lojin, ia cuma anggap Kee Yong Seng mau meniru Cu-kao lojin dan membuat senjata yang serupa. Sebab justeru ia sendiri juga pernah mempunyai pikiran yang sangat rendah itu, ia hendak membuat senjata "Giok-cu-tiauw-kim-kao" untuk menggertak orang dunia Kang-ouw cuma sayang ia tidak becus dengan ilmu gaetan itu maka terpaksa ia urungkan niatnya.

Kee Yong Seng meski belum pernah tancap kaki di dunia Kang-ouw, tapi terhadap ilmu silat yang luar biasa dari berbagai golongan, ia ketahui dengan baik. Ho Leng Than telah sebut dirinya sebagai kauwcu muda dari Ceng-hong-kauw, sudah tentu Kee Yong Seng juga tahu kalau ia pandai ilmu pedang Ceng-hong kiam-hoat.

Ia ada seorang yang berkepandaian tinggi dan bernyali besar, sesudah mengetahui ilmu pedang yang menggetarkan dunia Kang-ouw itu, tidak boleh tidak ia harus uji dulu sampai dimana lihaynya ilmu pedang itu.

Maka ia sengaja menantang Ho Leng Than.

Memang benar, ilmu pedang yang namanya begitu terkenal, sudah tentu agak lain daripada yang lain. Tapi ia dari Cu-kao Lojin sudah terlalu banyak dapatkan pelajaran, mengetahui bagaimana caranya untuk menghadapi, maka bisa melayani dengan mudah!

Akhirnya, pedang Ho Leng Than telah dibikin kuntung oleh senjatanya yang luar biasa itu.

Ho Leng Than melihat senjatanya terbuntung, semangatnya terbang seketika, nyalinya juga lantas runtuh.

Tepat pada saat itu, dua bayangan orang tiba di depan Ho Leng Than dan menanya dengan berbareng:

"Apa siao-kauwcu tidak dapat halangan?"

Dua orang itu ada orang-orang tua yang usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, maka rambut dan jenggotnya sudah putih semua. Dari gerakannya kedua orang itu, dapat diduga bahwa mereka ada orang-orang yang mempunyai kepandaian ilmu silat tinggi sekali.

Baru saja dua orang itu tiba, lain bayangan lalu menyusul.

Tiba-tiba terdengar Kie yong Yong berseru "Kim Houw! Engko Houw! aku sangat menderita mencari kau"

Kiranya orang yang baru tiba itu memang benar Kim Houw.

Peng Peng mendengar Kie Yong yong memanggil Kim Houw, dalam hati dirasakan seperti tertusuk senjata tajam, matanya lantas berkunang-kunang, hampir saja ia jatuh pingsan.

Him Houw yang melihat itu, segera mau menghampiri dan menanya: "Peng Peng! Peng peng ! Kau Kenapa? Apa kau terluka?"

Meski perhatian Kim Houw yang begitu besar ditujukan kepada dirinya dan bukan kepada Kie Yong Yong, tapi biar bagaimana sudah tidak mampu mengobati rasa cemas luar biasa yang timbul dalam hatinya.

Mendadak Peng Peng berontak, melepaskan diri dari bimbingan Kim Houw. "Jangan sentuh aku, siapa kesudian dengan ucapanmu yang berpura-pura saja. Lebih baik tengok sahabat baikmu! Hm, sahabat baik juga kekasih yang baik dan isteri yang bijaksana. Dia sudah menyediakan turunan untuk kau!"

Sehabis mengucapkan perkataannya, Peng Peng lantas putar tubuhnya dan melesat pergi.

Perkataannya Peng Peng itu telah membikin bingung Kim Houw, sehingga saat itu cuma bisa berdiri kesima. tapi kemudian setelah memikirkan, ia lantas menjadi kaget dan seketika itu lantas seperti seorang linglung. Ketika ia sadar, Peng Peng sudah tidak kelihatan bayangannya.

Pada saat itu, kembali terdengar suaranya Kie Yong Yong yang memanggil padanya. Kim Houw menghela napas dan geleng-gelengkan kepalanya.

"Nona Kie, " katanya. " Aku Kim Houw meski manusia biasa, tapi moralku masih belum begitu bejad, sehingga melakukan perbuatan durhaka terhadap dirimu. Mengapa kau mendesak aku terus menerus, tindakanmu ini benar-benar menyulitkan diriku!"

Mendadak Kim Houw ingat Peng Peng sudah pergi lama, maka ia tidak mau membuang tempo lagi, ia harus menyusul nona Touw.

Baru saja ia lompat melesat, mendadak ada angin kuat menyambar ke arah dadanya, rupanya orang hendak merintangi perjalanannya.

Kim Houw tercengang, tapi sebentar ia sudah tenang lagi dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Ia membiarkan dirinya dirintangi oleh kekuatan serangan angin itu, terus meluncur turun lagi.

Tapi, kira-kira dua kaki Kim Houw mau menginjak tanah, mendadak ia gerakkan kedua lengannya, tubuhnya kembali melesat tinggi kira-kira lima tombak, baru kemudian melayang turun.

Baru saja hendak menginjak tanah, dari kanan dan kirinya tiba-tiba muncul dua orang tua yang merintangi perjalanannya sambil berteriak-teriak.

"Haha! Kiranya kau adalah binatang cilik Kim Houw, yang membuat kita berdua repot melakukan perjalanan beberapa puluh lie untuk mencarinya. Binatang, sekalipun kau mampus juga masih belum cukup untuk menebus dosamu."

Menampak dua orang tua itu merintangi perjalanannya, Kim Houw diam-diam memang sudah jengkel, sekarang mendengar perkataan yang kasar, hatinya jadi panas, ia lantas membentak dengan suara keras: "Barusan sudah kuampuni jiwa anjingmu berdua, tapi sekarang kembali hendak menggerecok. Kalau tidak mengingat usia kalian yang sudah lanjut, aku bikin kalian tidak bisa hidup sampai terang tanah."

Mengapa Kim Houw mengatakan barusan sudah mengampuni jiwa mereka? Tadi dia masih duduk di atas atap rumah, kemudian menghilang dengan mendadak, kemana sebetulnya ia telah pergi?

Kiranya tadi ketika Peng Peng pergi ke dapur hendak mengambil ayam panggangnya, dari jauh Kim Houw dapat melihat berkelebatnya bayangan orang yang muncul saling menyusul.

Bergeraknya bayangan orang ini gesit sekali, Kim Houw heran dan ingin mencari keterangan. Dua bayangan itu bukan lain ada dua orang tua itu yang sedang lari dengan pesat agaknya mencari apa-apa. Kim Houw lalu hendak balik kembali, tapi mendadak ia mendengar dari pembicaraan mereka ada menyebut-nyebut nama Kim Houw. Ia heran, karena ia tidak pernah kenal dengan kedua orang tua itu. Dalam hati menanya, mungkin ini kembali perbuatannya Siao Pek Sin yang menggunakan namanya, sehingga membuat orang tua itu mencarinya.

Mengingat ini, Kim Houw lantas mengambil keputusan mengejar mereka.

Karena Kim Houw sedang pusatkan perhatiannya kepada dua orang tua itu, ia tidak tahu jika di depannya kembali ada orang lain.

Baru saja ia membelok ke satu tikungan sebuah bukit, kembali ia melihat berkelebatnya bayangan orang, Kim Houw lalu urungkan niatnya mengejar dua orang tua tadi, sebaliknya lompat mengejar bayangan orang itu.

Ketika ia sudah berada dekat, ia baru kenali bahwa orang itu ternyata adalah Souw Coan Hui, murid kesayangan Ciok Goan Hong.

Hati Kim Houw berdebaran, melihat si orang she Souw, pikirnya kematian Bwee Peng kecuali Ciok Liang yang berdosa, Souw Coan Hui mungkin juga merupakan salah satu pembantunya yang melakukan kejahatan tersebut.

Apalagi mengingat dari mulutnya Ciok Liang seolah-oleh menyebut bahwa perbuatannya itu ada atas anjuran orang lain, karena kala itu ia masih terlalu muda dan tidak mengerti urusan. Di Bwee Kee Chung, Ciok Liang bergaul erat sekali dengan Souw Coan Hui, kedua orang itu boleh dibilang belum pernah terpisah satu sama lain. Maka Kim Houw menganggap kecuali Souw Coan Hui siapa lagi yang mau menganjuri Ciok Liang berbuat kejahatan?

Karena memikir demikian, Kim Houw lantas melesat merintangi perjalanannya siorang she Souw.

Souw Coan Hui menampak Kim Houw turun dari udara mencegat dirinya, bukan kepalang kagetnya. Tapi ia masih mengira Kim Houw masih linglung seperti dulu, maka tidak begitu kuatir, bahkan masih menegur padanya:" Kim Houw, Kau ..."

"Souw Coan Hui, kau ternyata masih mengenali aku Kim Houw, masih bagus..." jawab Kim Houw dingin.

Mendengar jawaban Kim Houw, Souw Coan Hui lantas tahu bahwa Kim Houw sekarang sudah pulih kembali ingatannya, hingga ia ketakutan setengah mati.

"Kau ...... kau.kau mencari aku?", ia menanya dengan suara gemetar.

"Kau tahu sendiri, apa masih perlu aku menjelaskan lagi?"

Sampai di situ, Souw Coan Hui segera mengerti bahwa dirinya dalam bahaya, maka semangatnya lantas terbang seketika, badannya menggigil, tapi ia masih coba membela diri: "Itu tidak ada hubungannya dengan aku, semua ada perbuatannya Ciok Liang, sedikit juga aku tidak turut campur tangan."

"Enak saja kau menyangkal. Kalau benar seperti apa yang kau katakan, semua tentu ada perbuatannya Ciok Liang seorang, sekarang aku tidak tanya kau, apa yang kau maksudkan dengan urusan yang kau tidak turut campur dengan itu?" Ditanya demikian, Souw Coan Hui kelabakan tidak mampu menjawab. Memang, perbuatan itu sebetulnya dilakukan oleh Ciok Liang tidak ada hubungannya dengan dia?

Tadi Kim Houw belum membuka mulut menanya, sebaliknya ia sendiri yang mengatakan, terang ia memang tahu urusan itu, karena ketakutan kerembet-rembet urusan kejahatan Ciok Liang, maka tergesa-gesa ia membersihkan diri.

Kalau memang ia tahu, sudah tentu tak akan terlepas dari tanggung jawabnya.

Setelah sadar kalau ia sudah keterlepasan omong, dalam hati semakin takut, hingga keringat dingin mengucur deras.

Pada saat itu orang tua tadi telah muncul berbareng.

Kim Houw lantas ulur tangannya, seolah-olah burung elang menerkam ayam, menyambar diri Souw Coan Hui, dibawa sembunyi di belakangnya sebuah pohon besar.

Diluar dugaan, sebelum Kim Houw berdiri tegak Souw Coan Hui mendadak menggerakkan kedua tangganya, kiranya dalam tangannya siang-siang ia sudah menyediakan dua buah senjata rahasia keluarga Ciok yang sangat terkenal, yang bentuknya seperti lidah burung dali.

Dua batang senjata rahasia itu sebetulnya disediakan bukan untuk menyerang Kim Houw, sebab ia bukan dewa, sudah tentu tidak mengira dia bakal ketemu dengan Kim Houw.

Ia sediakan itu khusus untuk menyerang kedua orang tua tadi, tapi sekarang digunakan untuk menyerang Kim Houw.

Saat mana antara dua orang itu berdiri sangat rapat, Souw Coan Hui ulur tangannya, tapi dalam jarak yang begitu dekat, sudah tentu tidak mudah ia melepaskan senjata rahasianya. Di dalam keadaan demikian, Souw Coan Hui terpaksa tarik mundur tangannya, kemudian melancarkan serangannya.

Senjata rahasianya itu adalah senjata rahasia tunggal dari keluarga Ciok, sudah tentu bukan senjata rahasia sembarangan, terutama bagiannya yang berbentuk mirip dengan paruh burung, di dalamnya ada tersimpan sebatang jarum perak yang mengandung racun sangat berbisa, bila mengenakan orang, sukar si korban ditolong jiwanya.

SOuw Coan Hui dengan senjatanya yang sangat berbisa itu, telah menyerang Kim Houw secara mendadak, ia tidak mengharap senjatanya itu bisa melukai dirinya Kim Houw, hanya mengandalkan racunnya yang disembunyikan di dalamnya.

Ketika Souw Coan Hui tarik mundur tangannya, Kim Houw sudah curiga, tapi ia tidak menduga kalau di tangannya Souw Coan Hui sudah sedia senjata rahasia yang amat berbisa.

Kim Houw mengetahui adanya senjata hanya beberapa dim saja!

Ia memang sangat membenci Souw Coan Hui, sebetulnya sudah ingin membinasakannya tapi ia juga tahu lihaynya senjata rahasia keluarga.

Mengeluarkan ilmunya mengentengi tubuh, cepat melesat ke atas, untuk menghindarkan serangan tersebut. Tapi, gerakannya ternyata sudah agak lambat, senjata rahasia itu sudah mengenakan badannya, namun tidak begitu kuat tenaganya baru menyentuh dirinya senjata itu lantas jatuh ke tanah.

Kim Houw kaget terkena serangan senjata beracun itu. Dalam sengitnya, ia hendak binasakan Souw Coan Hui lebih dulu, sekalipun ia sendiri akan menyusul binasa, ia akan merasa puas.

Maka begitu Kim Houw tancap kaki, segera melesat lagi menubruk Souw Coan Hui.

Pada saat itu mendadak ada beberapa buah senjata rahasia lagi yang menyerang dari samping.

Kim Houw tahu bahwa senjata-senjata rahasia itu dilancarkan oleh kedua orang tua tadi, hatinya gemas sekali terhadap dirinya Souw Coan Hui, ia sudah ambil putusan tidak akan membiarkan orang she Souw itu berlalu dalam keadaan bernyawa.

Ia lalu kerjakan kaki dan tangannya untuk menyampok jatuh senjata-senjata rahasia yang menyerang dari samping.

Souw Coan Hui yang mengetahui bahwa senjata rahasianya sudah mengenakan sasarannya, dalam hati sudah merasa girang, sekarang dengan adanya kedua orang itu yang memberi bantuan padanya, ia semakin girang.

Tapi ia tidak nyana bahwa Him Houw yang telah kena senjata rahasianya masih mempunyai kekuatan tenaga begitu hebat. Ketika menampak Kim Houw menyerang padanya dengan tangan kosong, segera ia kerahkan seluruh kekuatannya, hendak menyambuti serangan lawan dengan kedua tangannya.

Dalam perhitungannya, karena Kim Houw badannya sudah kena serangan senjata beracunnya pasti kekuatannya banyak berkurang.

Apalagi buat orang yang sudah terserang racun tentunya tidak boleh memaksa mengerahkan kekuatan tenaganya, seharusnya duduk diam sambil menahan napas, supaya racunnya tidak menjalar dengan cepat.

Tapi kini. Kim houw setelah kena serangan senjata beracun, masih bisa menyerang dengan kekuatan yang masih ada, ia tidak percaya kalau serangannya Kim Houw masih cukup hebat.

Tapi. bagaimana ia dapat mengukur tenaganya Kim Houw ? Baru saja menyambuti serangannya yang pertama, kedua tangannya sudah patah dan tidak mampu digerakkan lagi.

Sampai disini Souw Coan Hui baru tahu kalau ia salah memperhitungkannya, tapi tangannya sudah terlanjur patah. Buru-buru ia gerakkan kakinya, ia masih hendak berusaha untuk melarikan diri namun dirasakan sakit, seolah-olah dijepit dengan tang besar.

Itu adalah tangannya Kim Houw yang sangat kuat, yang sudah menyekal lehernya. Karena ia benci sekali kepada anak muda ini, maka Kim Houw mencengkeram semakin kuat sehingga Souw Coan Hui kesakitan setengah mati, mulutnya menjerit-jerit tidak berhenti-hentinya.

Selanjutnya, Kim Houw menotok jalan darah Souw Coan Hui dikedua pahanya, totokan itu sangat hebat kedua kakinya Souw Coan Hui lantas menjadi bercacat untuk selama-lamanya.

Pada saat itu, mendadak beberapa buah senjata rahasia menyerang lagi pada dirinya. Sambil mengangkat tubuhnya Souw Coan Hui, Kim Houw menyambuti serangan tersebut.

Dengan demikian, kembali Souw Coan Hui menjerit-jerit seperti babi dipotong.

Tiba-tiba Kim Houw merasakan dadanya sedikit nyeri. Ia terkejut, sebetulnya ia hendak memberi hajaran kepada kedua orang tua yang menyerang dirinya tanpa sebab, baru memeriksakannya.

Tapi karena rasa nyerinya itu, ia tidak berani memaksakan diri. Ia lantas angkat tubuhnya Souw Coan Hui, dilemparkan pada batu padas, hingga Souw Coan Hui binasa seketika itu juga dalam keadaan remuk. Kim Houw kemudian berkelebat dan menghilang.

DUa orang tua itu mencari ubek-ubekan, tapi tidak dapat menemukan, terpaksa berlalu dengan perasaan mendongkol.

Kim Houw karena mendapat gangguan di dadanya, untuk sementara tidak mau melayani dua orang tua itu. Ia sembunyikan diri didalam sebuah lembah, untuk memeriksa lukanya.

Ketika membuka bajunya, di kanan dan kiri dadanya apa terdapat dua batang jarum perak, ia coba gerakkan tenaganya, dua batang jarum itu lantas jatuh di tanah. Dari bekas jarum menancap tadi lantas mengalir darah segar. Kim Houw agak kaget, melihat darah mengalir.

Bahwa jarum itu ada mengandung racun yang sangat berbisa, Kim Houw ketahui dengan baik.

Tapi ia heran. kenapa ia tidak apa-apa apakah jarum itu tidak ada racunnya.

Ia coba mencari kedua batang jarum yang jatuh di tanah tadi.

Dan apa yang ia saksikan? Tempat dimana dua batang jarum itu terjatuh, rumputnya nampak kering, dari sini ada membuktikan bahwa jarum tadi memang ada racunnya.