Istana Kumala Putih Jilid 21

 
Jilid 21

HOAN CIANGKUN yang masuk ke dalam ruangan lebih dulu, begitu memasuki ruangan, ia lantas melakukan upacara pemberian hormat menurut jaman dulu kalau menghadap Jendralnya, kemudian berkata :

"Tin-koan Tay-ciangkun menghadap kepada Tay-gwanswee!"

Orang tua itu sedikitpun tidak mengunjukkan perubahan apa-apa pada wajahnya, sambil lambaikan tangannya ia menyahut :

"Tidak perlu menggunakan upacara, duduk saja di sebelah!" Hoan ciangkun itu kembali memberi hormat, baru berdiri.

Kim Houw dan Peng Peng pada merasa geli. Tempat itu tokh bukan panggung komedi, dan apa yang mereka mainkan itu ? Apakah yang ditunjukkan kepada mereka ? Sungguh lucu.

Mendadak dengar Hoan Ciangkun berkata : "Silahkan jiwie menjumpai gwanswee!"

"Gwanswee, selamat berjumpa!" berkata Kim Houw sambil menyoja.

Sebaliknya bagi Peng Peng, ia tidak mau menjumpai atau memberi hormat, hanya langak- longok kesana kemari, sejenak ia melihat-lihat senjata-senjata yang di letakkan di atas rak, pikirnya : mungkinkah semua senjata ini sama dengan goloknya Hoan ciangkun ?

Orang tua itu menampak Peng Peng tidak memberi hormat padanya, matanya mengawasi si nona.

Kim Houw rupanya mengerti, maka buru-buru ia mintakan maaf sambil berkata. "Ganswee, dia adalah adikku, karena usianya masih terlalu muda, muka tidak mengerti

urusan, harap supaya gwanswee memberi maaf banyak-banyak."

Orang tua itu sebenarnya sangat mendongkol, tapi karena Kim Houw berlaku hormat padanya, dalam hati merasa girang, lantas berkata kepada Hoan Ciangkun.

"Kita telah kedatangan tetamu agung, segera titahkan kepada tukang masak, supaya menyediakan hidangan yang baik."

Mendengar perintah itu, Hoan-ciangkun sangat girang, "Baik!" begitu jawabnya dan lantas lari tersipu-sipu masuk ke dapur.

Kim Houw mendengar hendak disediakan hidangan yang baik, dalam hati merasa tidak enak. Tapi Peng Peng saat itu masih menggoda padanya sambil unjukkan tingkah lakunya yang sangat jenaka.

Tiba-tiba, sang gwanswee berdiri dan berkata kepada kedua tetamunya: "Jiwie silahkan duduk di sini!"

Kim Houw mengikuti tangannya gwanswee, apa yang ditunjuknya ternyata ada beberapa buah kursi yang terbikin dari tanah liat, hingga dalam hati merasa heran.

Dibagian lain masih ada sebaris kursi dan meja yang terbikin dari kayu, mengapa tidak suruh orang duduk disana, sebaliknya disuruh duduk di atas kursi tanah liat?

Tiba-tiba ia dengar suaranya gwanswee berkata pula: "Kursi meja di sana itu adalah peninggalan ayah almarhum. Sejak dibikin, karena takut nanti rusak, maka belum pernah diduduki oleh manusia. Oleh karena goanswee hendak mentaati pesan ayah, maka tidak berani ajak tetamu duduk di sana, harap minta dimaafkan!"

"Gwanswee terlalu merendah, orang yang keluar pintu tidak memperdulikan segala begituan, semua sama saja!" jawab Kim Houw.

Tidak demikian dengan Peng Peng, ia suka kebersihan, bagaimana mau duduk diatas bangku tanah liat ?

Setindak demi setindak ia menggeser ke sebelah kanan.

Gwanswee dan Kim Houw sudah pada duduk di atas bangku tanah, ketika melihat Peng Peng geser badannya ke kanan, gwanswee itu mendadak berbangkit, sepasang matanya melotot dan wajahnya pucat pasi, agaknya sedang gusar. Kim Houw yang menyaksikan perubahan itu, baru saja hendak memanggil Peng Peng, tiba- tiba sudah dengar suara jeritan si nona.

"Aiya engko Houw! ada setan! ada setan!"

Berbareng dengan itu lalu disusul oleh suara pecah dan rubuhnya kursi yang tadinya masih utuh, tapi kini sudah hancur berarakan.

Semua terkejut ketika dengar suara seruan Peng Peng, Kim Houw juga tidak terkecuali, tapi ia ini kemudian menampak Peng Peng berseru sembari menuding kesana kemari, segera mengetahui kalau Peng Peng sedang main gila, maka Kim Houw tidak mau meladeni!

Tapi, gwanswee dan kedua orangnya, ketika mendengar suara ada setan, bukan kepalang kaget dan takutnya!

Dengan wajah pucat sang jenderal menanya kepada Peng Peng dimana adanya setan.

Kembali Peng Peng menunjuk kesana kemari sambil berseru tidak hentinya. Apa yang mengherankan, setiap kali Peng Peng menunjuk kursi atau meja yang ditunjuk lantas hancur berarakan, hingga sebentar saja semua kursi berikut mejanya sudah hancur semuanya, dan akhirnya kursi kebesarannya gwanswee juga turut dibikin hancur!

Memang betul itu ada perbuatannya Peng Peng. Karena sejak ia dapat pelajaran dari Kim Houw, diam-diam suka menguji kekuatan tenaga lwekangnya kepada pohon-pohon di sepanjang jalan, dan kali ini dilakukan terhadap meja kursinya si gwanswee, sehingga membuat gwanswee itu percaya benar-benar ada perbuatannya setan.

Akhirnya setelah semua kursi sudah hancur Peng Peng lalu berlagak berseru:

"Aaaa! setannya sekarang lari ke ruangan belakang. Engko Houw, bukankah kau pandai menangkap setan? Lekas, bantu gwanswee pasti akan memberi pangkat padamu !"

Gwanswee itu mendengar perkataan Peng Peng, buru-buru minta kepada Kim Houw supaya segera mengusir itu setan-setan.

Menyaksikan keadaannya sang gwanswee, Kim Houw juga merasa geli hatinya.

"Gwanswee, setan beginian tidak akan mengganggu orang. Tidak usah kita usir, dia bisa pergi sendiri !" demikian ia menghibur.

Tapi gwanswee itu tetap meminta supaya Kim Houw mengusir setan-setan itu, sebab semua kursi dan meja yang disediakan itu katanya akan dibawa ke akherat kalau ia nanti pulang ke alam baka.

Menyaksikan keadaannya yang menyedihkan maka Kim Houw lantas terima baik permintaannya.

Oleh karena ia sudah menyanggupi hendak menangkap setan-setan itu, terpaksa ia harus berlagak seperti caranya dukun-dukun yang mengusir atau menangkap setan. Ia pejamkan matanya, mulutnya kemak-kemik, dan akhirnya membentak dengan suara keras. Apa yang mengherankan, pada saat itu tiba-tiba terbit angin besar, sampai obor-obor di empat penjuru pada bergoyang-goyang. Perubahan yang mendadak datangnya itu benar-benar membuat Kim Houw yang sedang berlagak menjadi orang sakti juga merasa heran.

Bagi Kim Houw, sudah tentu tidak percaya adanya setan, ia lebih percaya ada perbuatan orang yang berkepandaian tinggi. Maka, buru-buru ia menarik kembali kelakuannya secara pura- pura tadi, untuk menjaga segala kemungkinan.

Diluar dugaan, setelah angin ribut itu buyar, Kim Houw tidak melihat adanya perobahan, sedikit suarapun tidak kedengaran lagi. Diam-diam ia merasa heran.

Mendadak ia ingat Peng Peng, yang pada saat itu tidak kedengaran suara. Ia menengok ke arahnya, ternyata nona itu masih berada di tempatnya semula, bahkan wajahnya mengunjukkan ketawa yang mengandung teka-teki.

Melihat ketawanya Peng Peng, Kim Houw lalu mengerti, semuanya itu tentu ada perbuatannya Peng Peng pula.

Kim Houw melototi Peng Peng, maksudnya supaya si nona jangan berbuat keterlaluan. Di luar dugaan, Peng Peng bahkan mengawasi secara nakal sekali.

Kim Houw tidak berdaya, terpaksa berkata kepada si gwanswee, yang saat itu sudah ketakutan setengah mati.

"Gwanswee, setan sudah pergi, gwanswee boleh tenangkan diri."

Karena bantuannya angin tadi, orang-orang yang semula tidak percaya adanya setan, terpaksa harus percaya juga, apalagi si jendral sendiri menjadi kegirangan mendengar keterangan Kim Houw bahwa sang setan sudah di usir pergi.

"Apa hidangan sudah siap semuanya ? Buka arak Hoa-tiaw yang kusimpan lama itu !" serunya pada orang-orangnya.

Arak Hoa-tiaw ada semacam arak yang namanya sangat terkenal di daerah Ciat-kang.

Menurut kebiasaan di daerah tersebut, penduduk yang melahirkan anak perempuan, harus membuat beberapa guci arak yang disimpan dalam tanah. Kalau anak perempuan itu nanti sudah dewasa dan menikah, arak yang disimpan dalam tanah itu baru digali keluar untuk menyuguhi para tetamunya. Maka arak itu juga ada yang menamakan arak anak perempuan. Warnanya merah, kalau lebih merah rasanya lebih enak.

Kim Houw yang seumur hidupnya belum minum arak, betapapun enaknya arak itu, baginya tidak berarti.

Tapi, tidak demikian dengan Peng Peng. Ia yang dilahirkan dari penduduk daerah sungai Tiang-kang dan dari keturunan keluarga yang doyan minum, maka sejak kanak-kanak sudah biasa ia minum arak. Bahkan ia dapat membedakan mana arak yang jelek dan arak yang baik.

Sejak keluar mengembara, jarang sekali ia minum arak. Hari ini mendengar ada arak Hoa-tiaw yang terkenal, sudah tentu hatinya merasa girang. Ia jadi menyesal bahwa perbuatannya tadi agak keterlaluan terhadap tuan rumah.

"Gwanswee tidak perlu banyak berabe, aku dan adikku selamanya belum pernah minum arak." mendadak Kim Houw berkata. "Benar-benar ada arak Hoa-tiaw yang telah kusimpan sudah beberapa puluh tahun lamanya, sungguh sayang sekali kalau tidak kita minum. Arak itu tawar tapi wangi, tuan nanti kalau sudah coba tentu tahu sendiri." Tuan rumah berkata dan tertawa tergelak-gelak. 

Kim Houw menolak, sebab memang ia tidak biasa minum arak.

"Siapa kata aku tidak bisa minum arak?" Peng Peng nyeletuk. "Aku paling gemar minuman arak!"

Kim Houw tercengang, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Hoan ciangkun mendadak keluar dari dalam, ia memberi hormat kepada gwanswee seraya berkata :

"Gwanswee, Ceng-tang dan Ceng-see Jiwie Ciangkun, mendengar kabar gwanswee hendak mengadakan perjamuan, mereka sekarang berada di luar ingin menjumpai gwanswee. Apakah gwanswee bersedia menemui mereka?"

Gwanswee itu kerutkan keningnya, ia memandang Kim houw sejenak.

"Baik, suruh mereka masuk ! Cuma, kau harus kasih tahu kepada mereka, bahwa mereka hanya diperbolehkan mengawani, tapi tidak boleh banyak bicara !"

"Baiklah!" Hoan ciangkun lantas berlalu.

Tidak antara lama, dari luar telah masuk dua laki-laki yang wajah dan potongan badannya mirip sekali dengan gwanswee dan Hoan ciangkun, hingga tidak perlu disangsikan lagi kedua ciangkun itu tentunya juga anaknya gwanswee, atau saudaranya Hoan ciangkun.

Dandanan mereka juga sama dengan Hoan ciangkun, meski tidak begitu mentereng seperti gwanswee, tapi yang satu membawa gendewa komplit dengan anak panahnya, sedang yang lain ada membawa pedang panjang.

Peng Peng yang menyaksikan keadaan mereka, diam-diam berpikir, kalian tokh hendak makan, bukannya pergi ke medan perang, mengapa membawa gendewa dan pedang ?

Kedua ciangkun itu tiba dalam ruangan lantas melakukan upacara penghormatan kepada gwansweenya. Betul seperti apa yang dipesan oleh gwanswee tadi, mereka tidak berani membuka mulut sama sekali, sampai bernapas saja rasanya juga merasa kuatir.

Kedua ciangkun itu setelah memberi hormat, lantas berdiri dengan tegak di sisi gwanswee. Pada saat itu, Hoan ciangkun telah memberi tahukan bahwa hidangan telah siap.

Gwanswee lantas mempersilahkan Kim Houw dan Peng Peng masuk, tapi belum mereka gerakkan kakinya, si gwanswee sudah mendahului jalan memasuki keruangan makan.

Kim Houw merasa geli, tapi mulutnya tidak berkata apa-apa.

Sebaliknya bagi Peng Peng, ia sangat mendongkol melihat sikap gwanswee itu. Kembali timbul jailnya, dengan satu gerakan kaki, ia telah bikin gwanswee itu terjatuh. Karena Peng Peng lakukan itu sangat gesit. Kecuali Kim Houw yang dapat tahu, yang lainnya termasuk gwanswee sendiri tidak tahu kalau itu ada perbuatannya Peng Peng.

Ketika gwanswee terjatuh, Peng Peng lalu tarik tangannya Kim Houw, lebih dulu masuk keruangan belakang.

Tapi baru saja tiba di depan pintu, Peng Peng dan Kim Houw telah dibikin silau oleh pemandangan di depan matanya.

Apa yang mereka saksikan ternyata ada di luar dugaannya.

Dalam ruang belakang itu ada terdapat dua buah lemari besar, yang sekitarnya diperlengkapi dengan kaca, hingga semua isinya dalam lemari bisa dilihat dengan nyata. Barang-barang yang ada didalam lemari itu ternyata merupakan seperangkat perabot makan komplit, semua terbikin dari barang-barang yang mahal.

Sumpit yang terbikin dari emas, perak atau gading gajah. Mangkok, piring dan cawan yang terbikin dari batu kumala, dengan ukiran-ukirannya yang sangat menarik. Pendek kata, semua barang dalam lemari itu terdiri dari barang-barang yang sangat berharga, kecuali didalam istana, buat rumah tangga biasa barangkali sukar didapatkan.

Apa yang paling menarik ialah sebuah lampu istana yang terbikin dari batu karang berwarna warni, lampu itu tingginya ada tiga kaki.

Meski Kim Houw sudah banyak lihat barang-barang pusaka berharga, tapi barang-barang berharga dengan buatan tangan yang begitu halus bentuknya, baru kali ini ia lihat.

Selagi mereka masih terheran-heran mengawasi barang-barang dalam lemari, sang gwanswee tahu-tahu sudah berada di belakang mereka. Lalu menyilahkan kedua tetamunya itu masuk.

Kali ini ia tidak jalan lebih dulu, setelah Peng Peng dan Kim Houw berjalan, baru ia mengikuti di belakangnya.

Didalam ruangan belakang, ternyata tidak kelihatan ada persediaan barang hidangan apa-apa. Kecuali itu dua lemari besar, sepotong meja atau kursipun tidak kelihatan. Hanya ditengah-tengah ruangan, ada sebuah meja batu hijau, di atas mana ada beberapa cawan dan sumpit, yang semuanya terbikin dari bahan bambu kasar.

Menyaksikan keadaan demikian, Kim Houw benar-benar dibikin tidak mengerti.

Tapi, tidak demikian dengan Peng Peng, tanpa banyak rewel, ia lantas duduk numprah di pinggir meja.

Kim Houw menduga Peng Peng hendak main gila lagi, buru-buru duduk didekatnya, dengan perlahan ia menyenggol dengan sikutnya, tapi nona itu tidak perdulikan sikapnya Kim Houw itu.

Sebentar kemudian, hidangan sudah dikeluarkan. Mangkok piringnya ternyata terdiri dari bahan tanah yang amat kasar. Tapi Kim Houw dan Peng Peng tidak perdulikan itu semua, karena perutnya sudah lama keroncongan.

Peng Peng yang gemar makan ikan laut, ketika melihat seekor ikan besar di atas piring, rasanya mengiler dan sudah kepingin menyambar saja.

Sayang tuan rumah masih belum bergerak, sebagai tetamu, biar bagaimana laparnya, juga tidak pantas memulai lebih dulu. Akhirnya setelah semua hidangan dikeluarkan, sang gwanswee baru perintahkan orangnya supaya membuka guci arak.

Mendengar akan disediakan arak, Peng Peng sangat girang, sayang cawannya sangat kasar, mungkin sukar untuk dipakai minum dengan gembira.

Sumbat guci dibuka sendiri oleh gwanswee, lalu mengendus-endus sekian lamanya sambil pejamkan matanya, mulutnya terus mengoceh : "Aduh wangi betul!"

Tiga ciangkun yang pada berdiri disampingnya, rupanya juga mencium bau wangi, semua pada mengunjukkan sikap seperti orang yang sudah ketagihan.

Tapi Peng Peng sedikitpun tidak dapat merasakan baunya arak wangi itu. Dengan alis mengkerut, pikirannya mulai diliputi perasaan berbagai kecurigaan.

Akhirnya, arak mulai dituangkan kepada tiap cawan di hadapan para tetamunya. Arak itu warnanya merah seperti darah, Peng Peng yang kenal banyak arak, dalam hati diam-diam juga merasa girang.

Sang gwanswee lalu ajak semua orang minum, ketiga ciangkun itu nampaknya yang paling tidak sabaran, sebentar saja arak dicawan mereka sudah ditenggak habis.

Kim Houw tidak minum arak, ia hanya angkat cawannya saja, tapi tidak diminum.

Peng Peng ada sebaliknya, melihat warnanya yang bagus, dan menyaksikan ketiga ciangkun sudah pada tenggak habis, ia juga tanpa ragu-ragu lagi lantas tenggak araknya.

Di luar dugaan, arak itu begitu turun di tenggorokan, Peng Peng lantas berobah wajahnya !

Kim Houw kaget melihat keadaan demikian. Tapi, ia masih belum menduga jelek, sebab arak itu diambil dari guci, jika ada apa-apanya, masa yang lainnya tidak memperlihatkan perobahannya

?

Mendadak Peng Peng balikkan badannya, arak yang barusan diminum dimuntahkan semuanya !

"Peng Peng, kau kenapa ?" tanya Kim Houw kuatir. "Tidak apa-apa." jawabnya sambil tersenyum. "Sayang !" terdengar suaranya gwanswee.

Peng Peng matanya melotot, alisnya berdiri, hingga si gwanswee ketakutan setengah mati, mengapa Peng Peng keluarkan lagi araknya yang diminum ? Mengapa nona itu begitu gusar ? Apa arak itu ada racunnya ?

Bukan !

Ternyata arak itu bukannya arak. Bukan saja tidak ada bau dan rasanya arak, tapi bau dan rasanya sangat amis. Untung Peng Peng perutnya sedang kosong, kalau tidak, mungkin semua isi dalam perutnya ikut keluar semua. Menampak Peng Peng gusar, gwanswee dengan ketakutan minta maaf atas kesalahannya.

Kemudian ajak mereka makan.

Tiga ciangkun dengar sudah mulai makan segera menyerbu paling dulu, sebentar saja semua hidangan yang dekat di depan matanya bahkan yang agak jauhan telah disikat habis.

Gwanswee yang tampaknya paling sopan ia dahar dengan tenang, tidak begitu rakus seperti ciangkunnya.

Kim Houw menampak semua orang sudah mulai, terpaksa angkat sumpitnya, ambil serupa sayur dimasukkan kedalam mulutnya.

Ia sendiri juga tidak tahu itu ada sayur apa, tapi begitu masuk mulut, rasanya sangat tawar, tidak manis dan tidak asin!

Untuk mengindahi tuan rumahnya, Kim Houw merasa kurang sopan kalau makanan itu dikeluarkan lagi dari mulutnya. Ia coba kunyah, tapi sayur itu ternyata alot sekali, tidak dapat dikunyah hancur.

Selagi Kim Houw masih merasa serba salah, Peng Peng angkat sumpitnya, Kim Houw mengira ia juga hendak ambil sayur itu, buru-buru ia tarik bajunya.

Peng Peng merasakan itu, tapi ia pura-pura tidak berasa, hingga Kim Houw diam-diam mengeluh sendiri.

Tapi Peng Peng ternyata menyumpit ikan, hingga Kim Houw merasa lega, buru-buru balikkan dirinya dan keluarkan sayur yang berada didalam mulutnya.

Mendadak ia dengar piring pecah, ternyata itu ada piring tempat ikan yang sudah pecah berarakan, sedang ikannya sudah ditusuk oleh sumpit Peng Peng.

Peng Peng nampaknya sangat geli, ia terus ketawa tidak hentinya, hingga Kim Houw merasa heran.

"Engko Houw, kau lihat ini yang sering dipakai oleh hwesio!"

Kim Houw tercengang. Apa yang sering dipakai oleh Hwesio? Ketika ia menegasi, ikan yang ditusuk oleh sumpitnya itu ternyata bukan ikan benar, tapi ada ikan kayu.

Kim Houw turut ketawa terpingkal pingkal.

Pada saat itu, mendadak terdengar suara kuda berbenger nyaring sekali. Kim Houw agaknya sudah kenal betul suara kuda itu, lantas hentikan ketawanya dan pasang telinganya dengan seksama.

Kuda itu rupanya tahu kalau ada orang memperhatikan padanya, kembali perdengarkan suaranya yang amat nyaring!

Kali ini suara itu dapat didengar lebih nyata, Kim Houw tidak bersangsi lagi ia lalu lompat bangun dan berkata kepada Peng Peng.

"Itu suaranya Tie-kie." "Engko siapa dia?" tanya Peng Peng sambil tarik tangannya Kim Houw.

Kim Houw ingat majikannya kuda itu, ia kuatirkan Peng Peng tidak memahami dirinya, maka lantas menjawab: "Itu adalah kuda tunggangannya salah satu sahabatku, entah apa sebabnya bisa datang kemari? Kau di sini tunggu sebentar aku akan pergi lihat."

Peng Peng tahu bahwa Kim Houw tidak akan tinggalkan padanya, apalagi di sini juga tidak ada ancaman bahaya apa-apa, maka lalu menyahut: "Pergilah, tapi lekas kembali! Aku tunggu kau makan bersama-sama."

Kim Houw tersenyum, lalu gerakan badannya, sekejap saja sudah menghilang dari depan Peng Peng.

Gwanswee tua dan ketiga ciangkun yang menyaksikan gerakan Kim Houw sudah menghilang begitu cepat, semua pada kaget dan terheran-heran.

Peng Peng nampaknya sangat puas sambil ketawa dingin ia berkata kepada mereka: "Kalian tahu siapa dia? Dia adalah satu pendekar jelmaan binatang macan putih dari

kahyangan. Kalau begitu menghina kita apakah kalian masih pikir bisa pertahankan jiwamu lebih

lama lagi?"

"Aaaa! nona tentunya juga dewi dari kahyangan yang menjelma jadi manusia. Ini.bagaimana

baiknya? Dalam gedung kita ini kecuali itu rebung-rebung kering, yang dapat digunakan untuk menjamu para tetamu kita, sudah tidak ada lain barang yang bisa disuguhkan." jawab sang gwanswee sambil menggigil.

"Hm, kalian mempermainkan kita setengah harian, sudah tentu kita tidak bisa memberi ampun secara mudah! Malam ini kalau kau dapat sediakan hidangan untuk kita, yah sudah, tapi kalau tidak, hati-hati dengan batok kepalamu !"

Ucapan Peng Peng itu hanya sebagai gertakan saja, sudah tentu ia tidak akan buktikan.

Tidak nyana Gwanswee tua itu telah anggap benar-benar dengan suara setengah meratap ia menjawab:

"Nona, sekalipun kau binasakan jiwa kita serumah tangga, juga tidak bisa dapatkan sedikitpun barang makanan."

Peng Peng yang mendapat jawaban begitu sungguh-sungguh hampir saja percaya omongannya. Selagi hendak berlalu untuk mencari Kim Houw, hidungnya tiba-tiba mencium bau binatang piaraan.

Ia masih belum tahu binatang piaraan apa yang dipiara oleh gwanswee tua itu, tapi dalam hatinya berpikir: biarlah aku cari tahu dulu.

Tanpa banyak bicara, dengan meniru caranya Kim Houw, sebentar kemudian ia sudah lompat keluar.

Tiba di pekarangan belakang ia mencari ubek-ubekan, tapi tidak menemukan piaraan apa-apa.

Ia masih anggap karena perutnya lapar, maka hidungnya juga kesalahan mencium bau.

Mendadak sebuah batu kecil melayang turun dari atas rumah. Peng Peng mengira Kim Houw yang sudah balik pulang, maka lantas lompat melesat ke atas, tapi baru saja tancap kakinya segera mendapat cium bau piaraan ayam. Ia menjadi girang, dengan cepat mendorong pintu kamarnya.

Ketika pintu terbuka, hampir saja Peng Peng lompat karena kagetnya. Ruangan kamar yang sangat luas itu, ternyata penuh dengan isinya ayam hidup, besar kecil entah berapa ratus ekor banyaknya.

Peng Peng tidak perdulikan lagi, dengan cepat ia lompat masuk dan menangkap dua ekor.

Sungguh aneh, ayam-ayam itu semuanya seperti gagu tidak bersuara atau terbang lari.

Setelah menangkap ayam, Peng Peng balik lagi ke dapur, tapi di dapur ternyata kosong tidak ada barang seorangpun. Selagi dalam keadaan tidak berdaya, mendadak lihat Hoan ciangkun muncul di depan pintu.

"Nona aku datang hendak membantu kau tapi kau harus bagi aku sedikit, sepotong cakar saja sudah cukup. Tadi kalau aku tidak melemparkan batu, kau juga tidak bisa menemukan dimana adanya ayam ini, tambah lagi sepotong sayapnya barangkali nona juga tidak keberatan! Andaikata aku bantu kau memotong dan memasak ayam ini, bolehlah bagi lagi kepalanya. Lagi pula, jika aku Hoan ciangkun tidak antarkan masuk kemari, kau tentunya tidak dapat makan daging ayam, untuk jasa-jasa itu, rasanya nona perlu membagi sedikit lagi." katanya Hoan ciangkun dengan wajah

cengar cengir.

"Baik, baiklah! Tak usah kau banyak bicara aku nanti tangkapkan seekor lagi untuk kau. Tapi kau harus masakkan untuk aku, kalau salah hati-hati dengan kepalamu!"

Hoan ciangkun bukan main girangnya, ia lantas turun tangan memotong ayam.

Peng Peng benar saja menangkapkan satu ekor lagi untuk Hoan ciangkun, tapi ia paksa padanya supaya masakkan dulu untuk dirinya, seekor dipanggang, seekor lagi direbus, Belum ada setengah jam, dua ekor ayam sudah matang semua.

Mendadak di luar dapur terdengar suara orang memanggil "Peng Peng! Peng Peng!" tidak henti-hentinya.

Peng Peng tahu bahwa Kim Houw sudah balik kembali, maka lalu berkata kepada Hoan ciangkun: "Hoan ciangkun, kau keluar sebentar!"

Hoan ciangkun dapat cium baunya ayam matang yang wangi sekali, sudah kepingin makan saja. Ketika mendengar perintah Peng Peng terpaksa ia menurut. Peng Peng juga menyusul keluar.

Hoan ciangkun menyaksikan Peng Peng keluar dengan tangan kosong, diam-diam merasa girang dan segera balik kembali ke dapur.

Ia bongkar-bongkar seluruh dapur, tapi ia tidak dapat menemukan dua ekor ayam yang barusan sudah matang.

Peng Peng keluar dari dapur, dari jauh sudah dapat lihat Kim Houw berdiri di dalam ruangan, tengah memondong seorang wanita berbaju hijau. Mulutnya tidak henti-hentinya memanggil Peng Peng, tapi Peng Peng merasa cemburu, hatinya merasa tidak enak. Peng Peng sengaja berjalan seenaknya. Ketika Kim Houw menampak padanya, lantas lompat menghampiri dan menegur :

"Peng Peng, kau mengapa? Aku panggil kau sekian lama, mengapa tidak menyahut ? Kau tidak tahu betapa cemas perasaanku ?"

"Perlu apa tergesa-gesa, sabar sedikit apa tidak boleh ?" jawab Peng Peng tenang.

Kim Houw rupanya dapat mengendus bau asam, tapi untuk kepentingan menolong jiwa orang, ia sudah tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan duduknya perkara kepada Peng Peng, maka lantas berkata pula :

"Peng Peng, menolong jiwa orang ada sangat penting, mengapa sampai saat ini kau masih memain ?"

Tapi Peng Peng sedikitpun tidak berobah sikapnya, ia masih menjawab dengan dingin: "Menolong jiwa orang ? Siapakah yang harus ditolong ? Jiwa sahabatmukah ? Nampaknya

kau begitu cemas. Pantas begitu masuk rumah, kau masih pondong padanya begitu erat, agaknya berat melepaskan !"

Kim Houw mengerti bahwa Peng Peng benar-benar sudah cemburuan.

"Peng Peng, kau jangan main-main lagi! Kau coba lihat, di sini mana ada tempat yang cukup untuk memeriksa orang sakit ? Dia kini sedang sakit keras !"

Tapi Peng Peng rupa-rupanya masih belum mau mengerti.

"Peng Peng aku terpaksa harus minta bantuanmu, karena kalian sama-sama wanita, tidak perlu malu-malu. Aku dengan dia, biar bagaimana tokh merasa kikuk, apakah kau benar-benar tidak mau membantu ?" tanya pula Kim Houw.

Mendengar keterangan Kim Houw, Peng Peng hatinya merasa lega. Diantara mereka masih ada mempunyai perasaan kikuk, kalau begitu hubungan mereka masih belum terlalu akrab.

"Baiklah, mari kita cari tempat untuk memeriksa dia !" jawabnya.

Tanpa banyak bicara, Kim Houw lantas lari menuju ke ruangan belakang. Disitu gwanswee tua dan lain-lainnya ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya.

Kim Houw membuka pintu sebuah kamar, di situ ternyata cuma kedapatan sebuah pembaringan yang terbikin dari kayu yang sudah tua, ia lalu letakkan dirinya wanita itu diatas pembaringan kemudian berkata kepada Peng Peng :

"Peng Peng, dia sakit keras, sudah lama berada dalam keadaan pingsan, coba kau periksa dulu."

"Aku mengerti, pergilah !" jawabnya Peng Peng agak ketus.

"Peng Peng, kau tidak usah kuatir, aku tidak akan tinggalkan kau. Kalau kau sudah tolong padanya sehingga mendusin, aku nanti jelaskan hubunganku dengan dia." kata Kim Houw yang lantas keluar dari kamar.

Ucapan Kim Houw ini merupakan obat tenang bagi Peng Peng. Tapi, ia masih tidak mau unjukkan girangnya, bahkan masih berkata dengan suaranya yang agak ketus : "Siapa ingin penjelasanmu. Lekas pergi, di dapur sudah kusediakan ayam, lekas makan, kalau sudah kenyang lekas kembali."

Kim Houw sebetulnya sudah lupa rasa laparnya, mendengar ucapan Peng Peng bahwa di dapur ada ayam, rasa laparnya segera bangkit kembali.

Tiba di dapur, Kim Houw lihat pintu dapur tertutup rapat. Ia coba dorong, ternyata tidak terbuka. Mendadak dari dalam terdengar suara keresekan. Ia lalu mengintip, lantas dapat lihat Hoan ciangkun dengan kedua tangan memegang seekor ayam panggang sedang hendak digerogoti.

Kim Houw mengira bahwa ayam panggang itu adalah yang dikatakan oleh Peng Peng tadi, telah dicuri oleh Hoan ciangkun, maka ia tidak mau mengerti, dengan sekali dorong pintu lantas terbuka.

Hoan ciangkun terperanjat, tidak perduli siapa yang datang, ia lantas padamkan lampu penerangan. Tidak nyana begitu keadaan gelap, ayam ditangannya lantas terbang entah diambil siapa.

Saat itu, Kim Houw sedang duduk diatas penglari rumah sambil makan daging ayamnya.

Baru saja ia makan sebagian, mendadak melihat berkelebatnya bayangan orang, sebentar kemudian ia lihat dirinya Peng Peng, ia lalu bersuit perlahan, hingga Peng Peng segera mengetahui dimana Kim Houw berada.

Dengan cepat ia lompat naik, setelah berada disampingnya, lalu berkata dengan suara agak cemas:

"Engko Houw, siapa sebetulnya nona itu?"

"Bagaimana? Apa sudah sadar?"

"Belum, aku hanya dapat mengetahui dia bukan saja berat penyakitnya, bahkan sedang hamil!"

Mendengar keterangan Peng Peng tentang hamil, Kim Houw terperanjat. Sudah tentu ia tidak mempunyai hubungan tidak sopan dengan nona itu, maka tidak ada perlunya merasa takut. Cuma ia merasa heran, nona itu yang bukan lain adalah Kie Yong Yong sendiri, hamil oleh siapa? Apa benar dimana partai Ceng-hong-kauw ia sudah menjadi bakal isteri orang ? Tapi mengapa ia kabur? Apakah bakal suaminya ada seorang jelek yang tidak pantas menjadi suaminya?....

Serentetan pertanyaan mendadak timbul dalam otaknya Kim Houw, hingga Kim Houw lupa menjawab pertanyaan Peng Peng. Untung saat itu Peng Peng tidak ambil perhatian terhadap perobahan sikapnya, karena perhatiannya ditujukan kepada panggang ayam yang berada di tangannya Kim Houw, dan ia sudah lantas merampasnya serta dijejalkan ke mulutnya sendiri.

"Engko Houw, masih ada seekor ayam rebus!" Peng Peng mendadak ingat ayamnya, maka lantas beritahukan kepada Kim Houw.

Tapi Kim Houw memandang padanya dengan heran, ia anggap Peng Peng sedang mimpi.

Peng Peng sebaliknya mengira Kim Houw tidak mau mengambilkan untuk ia, maka lantas berkata sambil ketawa: "Biarlah aku ambil sendiri!"

Peng Peng lalu lompat turun. Di dapur ia telah menemukan Hoan ciangkun sedang duduk di tanah sembari menangis. Dalam hati merasa heran sendiri, tapi ia tidak mau ambil pusing terus mencari ayam rebusnya. Ketika ia melihat miliknya masih lengkap, ia lantas tahu apa sebabnya Hoan ciangkun menangis, hingga dalam hati merasa geli.

Ia lalu ambilkan kaki dan sayapnya serta kepalanya, semua diberikan kepada Hoan ciangkun sembari berkata:

"Nah, ini untuk jasa-jasamu, ambillah!"

Mendapat hadiah tiga rupa makanan itu Hoan ciangkun girangnya bukan kepalang, dengan cepat lantas digerogoti. Meski semua itu merupakan tulang-tulang, tapi Hoan ciangkun makan dengan lahapnya.

Peng Peng tidak perdulikan sikapnya Hoan ciangkun, dengan cepat balik lagi keatas penglari, tapi disitu ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya Kim Houw.

Ia mengira Kim Houw pergi tengoki si nona baju hijau, kembali timbul pikiran cemburuannya, maka ia lantas pergi kekamar dimana rebah dirinya si nona baju hijau.

Siapa nyana nona baju hijau itu ternyata masih tetap dalam keadaan pingsan, di situ juga tidak ada bayangannya Kim Houw.

Kemana sebetulnya Kim Houw telah pergi? Mengapa ia pergi secara diam-diam? Mendadak suara kuda berbenger telah memecahkan suasana malam yang sunyi itu!

Nona baju hijau itu agaknya dibikin terkejut oleh suara kuda itu, tiba-tiba membalikkan badannya. Begitu sadar ia lantas menjerit.

Jeritannya sangat lemah, tapi sudah cukup menandakan kekagetan dan ketakutannya. Sebab saat itu ia telah mendapat kenyataan, meski baju luarnya tidak terbuka, tapi baju dalamnya seperti pernah dibuka orang.

Peng-peng buru-buru menghampiri serta menghiburnya: "Enci, apa kau sudah merasa baikan?

Penyakitmu nampaknya agak berat."

Si nona baju hijau itu memang benar Kie Yong Yong. Ketika berpisahan dengan Kim Houw tanpa pamit, lantas membedal kudanya dengan tanpa tujuan.

Entah berapa jauh ia sudah larikan kudanya, sampai kudanya sudah letih benar, ia baru hentikan larinya.

Tapi selanjutnya akan kemana? Ia sendiri juga tidak tahu.

Hati Kie Yong Yong amat risau, ia sebetulnya mengharap supaya Kim Houw bisa mengajaknya merantau di dunia Kang-ouw, siapa nyana kalau Kim Houw ternyata ada seorang berhati binatang.

Dalam hatinya Kie Yong Yong, Kim Houw telah mempermainkan dirinya, menodakan kehormatannya dan kemudian mensia-siakan padanya dengan begitu saja. Ia mulai membenci penghidupan, membenci Kim Houw, membenci nasibnya sendiri yang malang....

Hidup diliputi oleh segala macam kebencian, apa artinya hidup? Karena putus harapan, satu ketika ia sudah ingin ambil keputusan nekad, ia ingin buang diri dari sebuah bukit yang tinggi, tapi bagaimana kalau tidak mati?

Akhirnya, ia ambil keputusan hendak menggantung diri. Ia buka ikat pinggangnya, diikatkan di atas sebatang pohon besar. Tapi dikala menghadapi saat terakhir bagi hidupnya itu, perasaan sedih timbul secara tiba-tiba, air matanya lantas mengalir turun dari kelopak matanya.

Tepat pada saat itu, kuda tunggangannya agaknya dapat menebak maksud majikannya, ia lantas berbenger dan melompat-lompat tidak henti-hentinya.

Tidak antara lama, selagi Kie Yong Yong hendak ikat pinggangnya, disekitarnya mendadak berkumpul puluhan laki-laki, yang dipimpin oleh seorang pemuda berwajah cakap.

Dalam keadaan demikian, siapapun bisa menduga apa maksudnya Kie Yong Yong. Anak muda itu lantas berkata: "nona manis, perlu apa harus membunuh diri? Apa tidak sayang dengan jiwamu yang masih begitu muda? Kau ada kesulitan apa? Aku Ko Thian Seng dapat membantu kau untuk membereskan. Dalam gunungku kebetulan membutuhkan Apee-hujin (istri penyamun). Nona manis, mari ikut aku saja."

Kie Yong Yong menatap wajah Ko Thian Seng, siapa memang cukup tampan tidak kalah dengan Kim Houw. Cuma sayang, hatinya sudah hancur luluh, sekalipun yang lebih cakap dari pada Kim Houw juga tidak mampu menyembuhkan luka dalam hatinya.

Ko Thian Seng menampak si nona terus membungkam, lalu menghampiri, kemudian ulur tangannya hendak menowel pipinya.

Terhadap kelakuan yang sangat ceriwis itu bagaimana Kie Yong Yong mau tinggal diam?

Belum sampai tangan Ko Thian Seng dapat meraba pipinya, Kie Yong Yong mendadak sambuti dengan satu serangan yang amat telak hingga badan Ko Thian Seng terpental melayang sampai tiga tombak jauhnya. Tangannya patah, orangnya lantas pingsan.

Beberapa puluh anak buahnya ketika menampak keadaan demikian, lantas pada menghunus senjata masing-masing, menyerang Kie Yong Yong.

Si nona gusar, lalu menghunus pedangnya untuk menyambuti anak buahnya Ko Thian Seng.

Kepalanya sendiri begitu tidak berguna, apalagi anak buahnya? Sebentar saja, banyak yang telah rubuh terluka parah atau binasa. Kie Yong Yong agaknya sangat benci terhadap orang laki, maka ia turun tangan tidak tanggung-tanggung, hingga begitu banyak anak buahna Ko Thian Seng, sebagian besar pada terluka atau binasa.

Mendadak diantara suara jeritan manusia itu terdengar suara orang menyebut Budha. Kie Yong Yong terperanjat, ketika ia hentikan gerakannya untuk melihat siapa yang datang, entah sejak kapan dalam medan pertempuran itu sudah berdiri seorang nikow tua.

Kie Yong Yong mengira bahwa nikow tua itu datang hendak membantu kawanan penyamun, hingga tidak mau ambil pusing, kembali menghajar kawanan berandal yang hendak kabur.

Selagi hendak membinasakan salah satu kawanan berandal itu, mendadak ia rasakan ada sambaran angin, pedang di tangannya terdengar bersuara "trang" kena disambit dengan batu kecil, sehingga miring dan hampir saja terlepas dari tangannya. Kie Yong Yong terkejut, kekuatannya sebuah batu kecil saja begitu besar, dapat dibayangkan betapa hebat kekuatan tenaga lwekangnya orang yang menyambit tadi. Tapi Kie Yong Yong sedikit pun tidak takut, ia sudah anggap kematian itu tidak ada artinya apa-apa, kalau tokh ia sendiri tidak berhasil menghabisi jiwanya sendiri, apa salahnya pinjam tangan orang lain?

Maka Kie Yong Yong tanpa banyak bicara, lalu tinggalkan kawanan berandal yang hendak dibunuh tadi, berbalik menyerang si nikow tua.

Entah bagaimana caranya bergerak, tahu-tahu nikow tua itu sudah melesat setombak lebih jauhnya dan lantas berkata kepada Kie Yong Yong:

"Li-sicu, mengapa begitu ganas? Berbuatlah sedikit kebajikan terhadap sesama manusia, sicu pandang jiwa manusia seperti barang permainan, bukankah itu ada melanggar kemauan Tuhan?"

Kie Yong Yong yang sedang gelap pikirannya, bagaimana bisa dengar perkataan nikow tua itu? Dengan tidak banyak rewel, kembali ia putar pedangnya menyerang padanya.

Tapi kali ini nikow tua itu tidak mengelakkan lagi serangannya Kie Yong Yong. Ia kebutkan lengan jubahnya untuk menahan pedangnya Kie Yong Yong.

Namun Kie Yong Yong juga bukan orang sembarangan, ketika ia merasakan sambaran angin kuat, ia lantas buru-buru putar tubuhnya dan melakukan serangannya pula secara membalikkan badannya.

Nikow tua itu menampak Kie Yong Yong berulang kali melakukan serangannya begitu ganas, dalam hati agak mendongkol, maka lantas putar lengan jubahnya, hendak memberi sedikit hajaran terhadap nona yang bandel itu.

Nikow tua itu meski turun tangan melayani Kie Yong Yong, tapi sebenarnya tidak banyak melakukan serangan, seolah-olah sengaja hendak menguji kekuatannya si nona, kemudian baru turun tangan memberi hajaran.

Kie Yong Yong melancarkan serangannya bertubi-tubi, tapi semua telah dielakkan dengan mudah oleh nikow tua itu. Ia tahu ada sukar untuk menandingi kekuatannya nikow tua itu, tapi ia masih tetap tidak mau mundur, ia bermaksud handak mengeluarkan ilmu pedangnya yang paling lihay: "How-ie-kiam" untuk merebut kemenangan.

Mendadak terdengar suara riuh:" Lo-cecu datang! Lo-cecu datang!"

Kie Yong Yong mendengar pihak berandal telah datang kepalanya sendiri, dengan cepat undurkan diri, baru saja tancapkan kaki, dihadapannya sudah berdiri seorang tua yang potongannya seperti kerbau. Orang itu memandang Kie Yong Yong sejenak, segera mengawasi si nikow tua. Agaknya ia tidak memandang Kie Yong Yong sama sekali.

Tapi ketika matanya kebentrok dengan pandangan mata si nikow tua, ia lantas berkata sambil tertawa dingin: "Hm! Kiranya adalah kau lagi!"

Nikow tua itu merangkap kedua tangannya memberi hormat, menjawab: "Cin cecu, sudah banyak tahun kita tidak bertemu, mengapa mengatakan loni lagi?"

"Tahun lalu kau telah menghajarku dan melukai isteriku, hal ini aku masih belum lupa, kini kembali kau telah melukai anakku, bagaimana aku tidak mengatakan kau lagi?" Kie Yong Yong mendadak nyeletuk dari samping: "Orang yang melukai anakmu itu adalah aku, ada urusan apa-apa kau cari saja padaku. Segala bocah ceriwis dan tidak tahu malu, jangan kata baru dilukai, dimampusi juga tidak ada salahnya."

Saat itu Ko Thian Seng meski sudah terluka, tapi masih bisa berdiri dengan dibimbing oleh seorang anak buahnya. Mendengar ucapan Kie Yong Yong, ia juga lantas turut campur mulut : "Bagus sekali kelakuanmu ya, perempuan hina, kau sendiri yang mau mencari mampus dengan jalan menggantung diri, adalah aku yang karena merasa kasihan telah menolongi jiwamu.

Sekarang sebaliknya kau mengatakan aku ceriwis. Ayah, dia telah membikin patah tangan anakmu."

Sang ayah sangat gusar, tapi Kie Yong Yong juga tidak kalahy gusarnya. Kedua pihak sudah siap hendak melakukan pertempuran.

Mendadak nikow tua itu lompat ke sampingnya Kie Yong Yong: "Li-sicu, kau bukan tandingannya, biarlah loni nanti yang menalangi." katanya.

Dari pembicaraan antara si orang tua dengan nikow tua, Kie Yong Yong tahu bahwa nikow tua itu bukan konconya berandal itu. Namun ia masih belum mau menerima kebaikan sang nikow, sebabnya ia sudah kepingin mencari jalan mati.

Sebelum nikow tua itu bertindak Kie Yong Yong sudah mendahului bergerak, dengan ujung pedangnya ia menikam si orang tua. Kali ini ia tahu berhadapan dengan kepala berandal, maka begitu turun tangan lantas menggunakan ilmu pedangnya yang paling lihay: Hoa-It-kiam. Ilmu pedang ini cepat seperti kembang yang beterbangan dan rapat seperti jatuhnya air hujan.

Demikian, seperti air hujan yang terdiri dari beberapa butir air, ia menikam, sasarannya dada si orang tua.

Sang lawan menampak ilmu pedang Kie Yong Yong begitu rapat, segera mengetahui gayanya ilmu pedang itu. Tapi ia masih bisa tertawa bergelak-gelak, tidak berkelit atau mengegos, juga tidak balas menyerang.

Kie Yong Yong semakin gusar, pikirnya: "sekalipun kau mempunyai ilmu kebal, juga tidak nanti mampu menyambuti serangan yang kulancarkan dengan kekuatan penuh tenaga lwekang."

begitu ia berpikir, ujung pedangnya segera meluncur mengarah dada lawan.

Orang tua itu kakinya masih tetap tidak bergerak, tapi ketika ujung pedang tiba di depan dada, badannya bagian atas mendadak mengelak ke bekakang dengan demikian maka ujung pedang Kie Yong Yong tidak mengenai sasarannya. Sebaliknya Kie Yong Yong yang menyerang terlalu bernapsu, sukar untuk dapat menarik kembali serangannya.

Tiba-tiba ia dengar suaranya nikow tua: "Lie sicu hati-hati!"

Melihat sukar untuk menarik kembali serangannya, Kie Yong Yong sudah bermaksud hendak melompat mundur, tapi mendadak dengan seruan nikow tua itu lantas berlaku nekad. Ia urungkan maksudnya mundur, sebaliknya malah maju, pedangnya menyerang seperti jatuhnya hujan.

Apa mau sambaran angin yang sangat kuat telah menyerang padanya dari kanan dan kiri. Kie Yong Yong hendak berkelit sudah tidak keburu, hingga oleh angin kuat tadi ia terpukul sampai mental tiga tumbak lebih jauhnya.

Nikow tua yang menyaksikan kejadian itu terperanjat, lalu gerakan tangannya menyambuti badannya Kie Yong Yong, kemudian di bawa kabur. Si Kepala berandal berteriak-teriak sambil mengejar :

"Yaoni! Apa kau hendak kabur ? Tinggalkan jiwamu dulu!"

Sang nikow melihat Kie Yong Yong pingsan, tidak berani menunda perjalanannya. Ia kerahkan ilmu lari pesat dan lompat jauh, tapi, karena sembari memondong dirinya Kie Yong Yong, sudah tentu agak lambat, sedangkan si orang itu sudah mengejar semakin dekat.

Nikow tua itu sebetulnya tidak takut si orang tua seperti kerbau, ia percaya masih mampu menandingi, bahkan masih ada kemungkinan dapat merubuhkan padanya, cuma, pertarungan itu sedikitnya tentu akan makan waktu dua ratus sampai empat ratus jurus.

Apa yang ia kuatirkan ialah dirinya Kie Yong Yong yang sudah pingsan. Kalau ia harus bercampur melawan si kepala berandal itu, anak buahnya pasti turut campur tangan merebut dirinya Kie Yong Yong. Dengan demikian maka keadaan Kie Yong YOng akan berbahaya sekali.

Selagi nikow tua itu merasa serba sulit, mendadak ia dengar suara kaki kuda, seekor kuda hitam sudah lari menghampiri padanya.

Nikow tua itu sangat girang, dengan cepat lantas ia loncat di gegernya. Ia tadinya berpikir hendak letakkan Kie Yong Yong di gegernya kuda itu, dan ia sendiri hendak menempur kepala berandal. Tapi heran kuda hitam itu lantas unjuk ketangkasnnya, meski di atas gegernya ada duduk dua orang, ia masih berlari seperti terbang.

Sebentar saja, si kepala berandal sudah ketinggalan jauh.

Nikow tua merasa sangat heran atas kegesitan dan kecerdikannnya kuda hitam itu. Ketika Kie Yong Yong sadar dari pingsannya ternyata sudah satu hari satu malam. Kie Yong Yong baru hendak bergerak ia merasakan badannya seperti terikat kencang,

bergerak sedikit saja sekujur badannya dirasakan sakit sekali.

Dalam kagetnya ia coba membuka matanya, tapi rasanya berat sekali.

Tiba-tiba ia dengar suara orang berkata : "Nona, kau telah terluka parah, harap jangan bergerak sembarangan."

Kie Yong Yong sudah membuka matanya, dihadapannya ada seorang pemuda seperti anak sekolah, sedang memandang padanya dengan sorot matanya yang tajam dan bening.

Ketika melihat anak muda itu, Kie Yong Yong bertambah heran.

"Siaoseng Kee Yong Seng," anak muda itu perkenalkan diri. "Nona telah di tolong oleh sukow dan di antar kemari. Menurut keterangan sukow, luka nona sangat parah, meski sudah makan obat mungkin dalam satu atau dua bulanan, barangkali masih belum bisa bergerak"

Mendengar keterangan itu, Kie Yong Yong dirasakan hancur, ia lantas menjerit dan pingsan lagi!

Ketika tersadar untuk kedua kalinya, ternyata hari itu sudah tengah malam. Sinar rembulan menembus masuk ke dalam kamarnya, hingga keadaan dalam kamar nampak terang. Kie Yong Yong buka matanya mengawasi isi kamar itu, ternyata ada satu kamar tidur yang sangat rapi bersih. Ketika ia menengok ke bawah, ia lihat dekat tempat tidurnya ada rebah seseorang.

Bukan kepalang kagetnya Kie Yong Yong tapi ia tidak lihat tegas siapa sebetulnya orang yang tidur di bawah dekat tempat tidur itu ? Ia ingin bangun, tapi badannya dirasakan sakit sekali.

Ia pura-pura batuk, kepingin tahu reaksinya orang yang sedang tidur itu.

Reaksi itu ternyata ada di luar dugaannya. Ketika ia batuk-batuk, orang itu sudah lompat bangun. Di lihat dari gerakannya, agaknya ia mengerti ilmu silat, bahkan mempunyai dasar cukup baik.

Kie Yong Yong mengira itu ada pemuda berdandan anak sekolah yang ia lihat tadi siang, siapa nyana, setelah orang itu berdiri, ternyata ia ada seorang gadis tanggung berusia kira-kira tiga belas atau empat belas tahun.

Gadis tanggung itu parasnya tidak begitu cantik, tapi cukup menarik. "Nona, kau sudah mendusin, apa ingin minum ?"

Kie Yong Yong melihat gadis tanggung, bukannya si anak muda yang dijumpai tadi siang, hatinya merasa lega.

"Terima kasih, adik kecil, aku telah mengagetkan kau dari tidurmu, harap kau suka maafkan!" jawab si nona.

"Nona namaku Cian-cian, aku cuma satu pelayan, nona jangan terlalu merendahkan diri."

Kie Yong Yong merasa heran, karena meski gadis itu dandanannya sangat sederhana, tapi tidak merupakan dandanannya pelayan umumnya. Maka dengan perasaan agak tidak percaya, ia menanya :

"Apa ? Kau ada pelayan ? Aku tidak percaya!"

Tuan besar dan tuan muda meski tidak memandang aku sebagai pelayan, tapi bagi aku sendiri merasa tidak pantas kalau mengangkat diriku dari orang bawah menjadi orang atas.

Kie Yong Yong lalu menanyakan keadaannya rumah tangga keluarga Kee.

Ternyata Kee-loya dulu pernah beberapa kali menjabat pangkat Tihu, karena usianya sudah lanjut, lalu mengundurkan diri. Setelah isterinya meninggal dunia, ia ajak anaknya berdiam di sini. Selagi masih menjabat pangkatnya, ia terkenal dengan seorang pembesar negeri yang bersih.

Si nona heran, mendengar keterangan bahwa keluarga itu bukan orang rimba persilatan. "Adik, darimana kau dapatkan pelajaran ilmu silat?" ia menanya.

"Ah, mana boleh disebut ilmu silat. Hanya tuan muda saja di waktu terluang suka mengajari aku beberapa jurus ilmu pukulan, katanya ada baik untuk kesehatan badan!"

Kie Yong Yong melongo. Dalam hatinya berpikir, biar bagaimana orang-orang terpelajar perkataannya memang berlainan dengan orang biasa. Belajar ilmu silat saja dikatakan untuk kebaikan kesehatan badan. Saat itu ia mendadak mendapat suatu perasaan, bahwa orang-orang demikian memang biasanya. Sudah belajar ilmu silat, tidak mau menggunakan itu untuk melakukan perbuatan mulia, umpama membela pihak yang lemah dan menentang kejahatan. Apakah orang seperti keluarga Kee ini tidak terlalu egoistis dan penakut ?

Esok harinya, ketika Kie Yong Yong mendusin, Cian-Cian sudah tidak kelihatan batang hidungnya.

Kembali Kee Yong Seng yang datang menjumpai padanya. Begitu masuk pintu kamar, anak muda itu lantas berkata sambil tersenyum :

"Hari ini nona agaknya sudah baikkan. Aku sudah pesan Cian-cian supaya masalah dua jinsom untuk nona, supaya dapat menambah kekuatan badan nona. Kalau ada keperluan apa-apa suruh saja Cian-cian mengerjakan, bocah itu sangat cerdik."

Di dalam kamar, Kee Yong San duduk jauh-jauh, nampaknya sangat sopan santun. Sorotan sepasang matanya yang memandang si nona dengan penuh kasih sayang, tidak dapat menutupi perasaan hatinya yang meluap-luap.

Kie Yong Yong meski sifatnya ganas, tapi menghadapi sikap demikian, ia juga merasa sulit menghadapinya, entah bagaimana baiknya.

Maka, seketika itu pipinya lantas berobah merah, ia cuma bisa anggukan kepala, sebagai tanda terima kasihnya, mulutnya tidak dapat mengatakan apa-apa.

Melihat si nona membisu, Kee Yong Seng berkata pula:

"Kuda tunggangan nona, benar-benar adalah seekor kuda jempolan. Aku sudah suruh orang merawat baik-baik, harap nona tidak usah kuatirkan!"

Kie Yong Yong mendengar bahwa kudanya masih ada, hatinya tambah tenang. Tapi, berbicara tentang kuda tunggangannya, ia segera ingat pada partai Ceng-hong-kauw. Jika orang-orang dari Ceng-hong-lauw mengejar sampai di situ, bukankah urusan nanti akan merembet-rembet keluarga Kee ini ?

Karena mengingat itu, maka ia lantas berkata :

"Kuda itu sifatnya masih liar, harap Kong-cu pesan orangmu supaya dipelihara di dalam rumah, agar tidak kabur!"

"Nona tidak usah kuatir, ditanggung tidak ada urusan apa-apa! Mohon tanya nona-nona yang terhormat ?" kata Kie Yong Seng sambil tersenyum.

"Siaumoay she Kie, namaku Yong Yong."