Istana Kumala Putih Jilid 19

 
Jilid 19

Sekejap saja, sesosok bayangan hitam telah melayang turun dari puncak gunung, dari jauh, dari rambutnya yang sudah putih dan awut-awutan, Kim Houw sudah kenali bahwa orang itu adalah si pengemis sakti Sin-hoa To-kai.

Karena sudah mengenali siapa orangnya, Kim Houw merasa tidak perlu sembunyikan diri lagi.

Tapi, belum lagi ia bergerak, kembali terdengar suara orang lewat, yang ternyata mengikuti di belakangnya Tok-kai.

Kim Houw terkejut, kembali sembunyikan dirinya. Ia kira ada musuh yang menguntit dirinya Tok-kai!

Siapa nyana Tok-kai setelah melihat kuil Han-pek Cin-koan sudah menjadi rata dengan bumi, jauh-jauh sudah berdiri termenung seperti tonggak. Sebentar kemudian, orang yang mengikuti di belakangnya juga sudah sampai. Kim Houw pasang mata, ternyata ia ada Sian-lie Cu Su.

Kim Houw perdengarkan suara pekikannya yang nyaring, lantas lompat turun dari atas pohon. Suara pekikan Kim Houw itu kedengarannya lebih memilukan hati daripada suara tangisan,

sampai Tok-kai dan Cu Su pada tercengang.

Tapi, ketika mereka dapat lihat Kim Houw muncul dihadapannya, masih dianggapnya ia adalah Siao Pek Sin, maka seketika itu kedua orang itu lantas gusar.

Tok-kai yang lebih dulu membentak! "Siao Pek Sin, kau hend

ak main gila apa lagi?"

Kim Houw setelah sembuh penyakitnya, sudah tentu mengetahui semuanya maka lantas maju memberi hormat kepada mereka seraya berkata :

"Aku Kim Houw, bukan Siao Pek Sin."

Tapi Tok-kai mana mau percaya begitu saja. "Kau hendak menipu siapa?" katanya.

Tanpa banyak rewel, Tok-kai lantas ayun tangannya menyerang dirinya Kim Houw.

Untuk membuktikan siapa dirinya, Kim Houw sengaja tidak bergerak atau berkelit, ia mandah dirinya diserang oleh Tok-kai!

Melihat keadaan demikian, bagaimana Tok-kai mau turun tangan? Katanya kepada diri sendiri: "Siao Pek Sin! meski kepandaianmu lebih tinggi setingkat dari aku, rasanya kau juga tidak mampu menyambuti serangan tanganku yang sudah kulatih selama beberapa puluh tahun."

Meski dalam hati mengatakan demikian, tidak urung masih menambah kekuatan tenaga di tangannya. Dalam pikirannya menganggap kau tidak tahu diri, biarlah aku hajar kau sampai binasa.

Siapa nyana serangan yang hebat itu ketika sudah hampir sampai didada Kim Houw, anak muda itu masih tetap berdiri tidak bergerak, seolah-olah sudah ada yang diandalkan.

Tok-kai semakin gusar, sambil membentak hebat ia kerahkan seluruh kekuatannya menyerang dada Kim Houw. Di luar dugaan, serangannya yang terang sudah mengenakan sasarannya, mendadak dirasakan bahwa dada yang diserang itu ada begitu lunak seperti kapas.

Serangan Tok-kai yang dilancarkan dengan sepenuh tenaga, ketika mengetahui gelagat tidak baik, sudah tidak keburu ditarik kembali, hingga kagetnya bukan main, keringat dingin sampai mengucur deras membasahi badannya.

Kekuatan lwekang apa yang dipunyai oleh pemuda itu? Tok-kai sendiri merasa bingung.

Kini, kalau benar pemuda itu ada Siao Pek Sin, asal mau, seketika itu Tok-kai sudah binasa di tangannya. Tapi, nyatanya anak muda itu masih tetap berdiri tidak bergerak. Tok-kai meski tahu dirinya dalam bahaya, tahu sekalipun jiwanya tidak melayang, sedikitnya tentu akan terluka parah atau cacat untuk seumur hidup, tapi ia toh tidak bisa menantikan kematiannya sambil peluk tangan maka dalam saat yang sangat kritis itu, ia masih berdaya tarik kembali tangannya dan mundur teratur.

Di luar dugaan, gerakannya itu tidak menemukan rintangan apa-apa, agaknya anak muda itu tidak mengerti caranya menyerang atau melakukan pembalasan terhadap lawannya.

Dengan demikian, Tok-kai lantas garuk-garuk sendiri kepalanya yang tidak gatal, ia memandang Cu Su dengan sorot keheran-heranan.

"Pangcu, bagaimana kita harus mempercayai omongan dia ?" demikian akhirnya ia menanya.

Cu Su agaknya juga tidak berdaya, ia tarik mukanya yang panjang, sehingga kelihatan semakin panjang, kedua matanya terus memandang Kim Houw, terhadap pertanyaan Tok-kai ia tidak bisa lantas menjawab, karena ia sendiri juga tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Mendadak Kim Houw ingat lima buah kuburan yang berada dibelakangnya, maka lantas berkata :

"Tidak susah kalau mau aku membuktikan dengan barang, yang susah ialah persahabatan kita belum lama, entah barang apa yang kalian anggap dapat dibuat bukti? Sekarang baiklah aku tunjukkan apa-apa, silahkan jiwie lihat sendiri." ia lantas menunjuk kepada lima buah kuburan,

"Dengan meminjam sinarnya bintang, kalian boleh lihat dari dekat! Ini semua adalah aku yang mengubur sendiri. Di dalam tanah ini, ada keringatku, juga ada air mataku serta doaku yang kuucapkan dengan setulus hati."

Cu Su dan Tok-kai sebetulnya sedang mencari murid-murid mereka yang telah hilang dengan menempuh hujan lebat, berputar-putaran setengah harian, masih belum berhasil menemukan jejaknya, malah dengan Tiong-ciu-khek lantas berpencaran.

Ketika balik ke lembah, mereka telah menemukan tanda-tanda darah, yang membikin mereka sangat terkejut. Tok-kai lalu lebih dulu memburu ke Han-pek Cin-koan.

Apa mau kuil itu sudah menjadi rata dengan bumi, tidak ada sejengkal dinding yang masih utuh, hal mana lebih-lebih membuat mereka terheran-heran.

Sebelum kuil itu hancur, mereka sudah pernah berdiam beberapa hari disitu, maka tentang keadaannya sekitar kuil itu, mereka kebanyakan tahu benar, lima buah makam itu sudah tentu lantas dapat lihat.

Tapi, mereka sungguh tidak menduga, bahwa lima jenazah yang rebah dalam makam itu adalah sahabat-sahabat mereka, tokoh-tokoh terkemuka dari kalangan rimba persilatan yang keluar dari Istana Panjang Umur di gunung Tiang-pek-san.

Kini, setelah mendengar perkataan Kim Houw, hati mereka lantas berdebaran, kakinya hampir saja tidak dapat bergerak!

Dengan susah payah akhirnya mereka tiba juga di depan kuburan dan bisa melihat dengan tegas nama-nama yang tertulis dengan jari tangan Kim Houw di atas batu nisan masing-masing. Setelah mereka kenali siapa-siapa orangnya yang rebah didalam tanah kuburan itu, Tok-kai lantas menubruk kuburannya Kim Coa Nio-nio, air matanya mengalir keluar, ia menangis seperti anak kecil.

"Kim Coa ! Mengapa kau benar-benar jalan lebih dulu ?" demikian ia meratap.

Ternyata antara Kim Coa Nio-nio dan Sin-hoa Tok-kai, dimasa mudanya pernah terjalin suatu roman, sebab tabiat mereka sama-sama kerasnya, sering timbul percekcokan dan akhirnya mengambil jalan sendiri-sendiri.

Beberapa tahun kemudian, ketika Tok-kai hendak mencari Kim Coa Nio-nio lagi, ternyata Kim Coa Nio-nio sudah masuk ke Istana rimba keramat.

Ketika mereka saling bertemu lagi diperjalanan gunung Teng-lay-san, masing masing sudah pada ubanan, mereka baru pada menyesal atas perbuatan mereka yang sudah lampau tapi sudah terlambat.

Kim Houw ketika menyaksikan kesedihan Tok-Kai yang agak luar biasa terhadap kematian Kim Coa Nio-nio, lantas menduga diantara mereka dulunya tentu ada mempunyai hubungan yang sangat erat. Ia segera ingat tongkatnya Kim Coa Nio-nio yang ia lupa turut sekalian di kubur.

Ia cari tongkat itu yang ternyata masih menggeletak di atas rumput, lalu ia ambil dan serahkan kepada Tok-kai seraya berkata : "Lo Cianpwee, ini adalah barang peninggalan Kim Coa Nio- nio."

Tok-kai yang sedang berduka, ketika mendengar ada barang peninggalannya Kim Coa Nio- nio, lantas mendongak dan segera ambil tongkat itu dari Kim Houw.

Tapi, bagian kepala tongkat ternyata sudah terbuka, ular emas kecil yang tersimpan dalam tongkat itu sudah tidak ketahuan kemana perginya. Maka ia lantas menanya:

"Kemana larinya ular kecil itu ?"

"Hal ini.aku juga tidak tahu. Ketika aku ketemukan keadaannya sudah demikian, bahkan

cara bagaimana mereka menemukan ajalnya, aku juga tidak tahu. Cuma ketika aku dengar suara jeritan Cek-ie-ya aku lantas menyamperi padanya, dan menurut keterangannya, katanya semua itu adalah perbuatannya Kouw-low Sin-ciam. Dia telah meninggalkan pesan supaya aku menuntut balas dendam untuk mereka." jawab Kim Houw sambil gelengkan kepala.

"Kouw-low Sin-ciam! Kouw-low Sin-ciam." Tok-kai berulang-ulang menyebut namanya,

menandakan betapa gemas ia dalam hatinya. Ketika itu Kim Houw baru ingat bahwa kedua orang itu sedang mencari murid-muridnya, ia juga lantas ingat tentang dirinya Peng Peng. Nampaknya mereka belum berhasil menemukan orang yang dicari.

Maka ia lantas bertanya kepada Cu Su :

"Cu Cianpwe, bagaimana dengan murid cucumu ?"

"Belum dapat kabar apa-apa, meski dalam lembah aku sudah menemukan tanda-tanda darah dan tanda-tanda perkelahian, tapi tidak menemukan bayangan mereka."

"Soalnya kita sekarang, lebih dulu harus berdaya untuk menolong yang masih hidup, baru nanti menuntut balas untuk yang sudah mati!" kata Kim Houw. "Sudah tentu, tapi kali ini aku terpaksa menggunakan pengaruh sepatu rumputku, untuk menyampaikan perintah kepada semua orang-orang dari partai kami, supaya bantu mencari iblis yang ganas itu sampai dapat." jawab Cu Su sambil anggukkan kepala.

Saat itu, Tok-kai juga sudah mulai tenang, barangkali mendadak ingat apa-apa, lantas ia turut kata :

"Menurut dugaanku, tiga orang itu belum sampai menemukan bahaya, jika mendapatkan kecelakaan, tidak nanti sampai mayatnya saja tidak bisa diketemukan. Cuma, mereka entah ketemu lagi dengan siapa, atau dibawa kabur oleh siapa?"

Mendengar perkataan Tok-kai itu, mereka pada putar otak untuk memikirkan soal itu.

Tiba-tiba didalam lembah ada terdengar suara orang ketawa nyaring. Kim Houw mendengar suara itu segera tahu bahwa Liok-cie Thian-mo masih belum berlalu dari situ.

Mengingat kematiannya Kim Lo Han, Kim Houw merasa gemas, maka lantas berkata kepada mereka.

"Suara ketawa itu ada suaranya Liok-cie Thian-mo, Lo Han-ya pernah meninggalkan pesan, iblis itu harus disingkirkan. Ji-wie tunggu sebentar di sini, aku akan pergi sebentar kesana!"

Cu Su dan Tok-kai mendengar disebutnya nama Liok-cie Thian-mo, tahu bahwa itu iblis ada sangat lihay. Supaya tidak menghalangi Kim Houw, maka lantas anggukkan kepala dan menjawab

: "Siauhiap harap supaya berhati-hati!"

Kim Houw kuatir iblis itu akan sembunyi lagi, belum dapat menjawab, lantas gerakkan badannya, sebentar sudah hilang dari depan Cu Su dan Tok-kai!

Ketika tiba di lembah, dari jauh ia sudah dapat lihat Liok-cie Thian-mo sedang mencari sebatang pohon yang usianya sudah ribuan tahun sambil menenteng pedangnya, agaknya sedang menantikan sasarannya yang hendak diserang dengan senjatanya.

Menyaksikan keadaan demikian, dalam hati Kim Houw juga merasa heran. Untuk mengetahui apa yang akan dilakukan, Kim Houw sengaja tidak mau unjukkan diri, ia mengintip dari samping.

Liok-cie Thian-mo setelah mengitari pohon itu kira-kira seratus putaran, masih belum mau berhenti, bahkan sebentar ke kanan, sebentar ke kiri, kemudian ke atas dan lantas ke bawah. Gerakannya itu sungguh aneh.

Kim Houw yang menyaksikan juga diam-diam merasa heran.

Akhirnya Liok-cie Thian-mo agaknya sudah tidak sabar lagi, pedangnya ditujukan ke arah pohon, lalu menabas, sebentar nampak pedang itu sudah mengenakan sasarannya, tapi pohon itu ternyata tidak mau rubuh!

Apa yang lebih mengherankan, batang pohon sedikitpun tidak terdapat tandanya pernah diserang dengan pedang !

Iblis tua itu sudah dibikin gusar, pedangnya membabat ke kanan ke kiri, tapi betapa hebatnya ia membabat, pohon itu tetap tidak bergeming.

Sampai di sini, Kim Houw sendiri juga dibikin kesima. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan.

Kim Houw terkejut, ia kenal bahwa suara tertawa itu ada suaranya Khu Leng Lie !

Liok-cie Thian-mo juga terkejut, ia anggap di lembah itu setelah Kim Houw berlalu, sudah tidak ada lain orang lagi. Siapa sangka pada tengah malam buta itu masih muncul manusia ? Untuk mengetahui siapa orangnya, ia lantas membentak dengan keras :

"Siapa pada tengah malam seperti ini berani datang kemari, apa sudah bosan hidup?"

Menyusul suaranya itu, dari belakang sebuah batu besar telah muncul Khu Leng Lie yang hanya berkerudung dengan sehelai kain tipis.

"Aku lihat kau sangat kasihan karena kau buang tenaga dengan percuma, aku sebetulnya tidak tega, maka aku ingin." demikian Khu Leng Lie berkata dengan suaranya yang amat

merdu.

Liok-cie Thian-mo tidak mau mengerti, tidak menunggu Khu Leng Lie berkata lagi, senjatanya Thian-mo Siok-hun-leng sudah dilancarkan ke arah Khu Leng Lie. Sebab dari pembicaraannya, ia dapat tahu bahwa Khu Leng Lie sudah mengintai perbuatannya sekian lama. 

Sebagai seorang bertabiat ganas dan sombong, bagaimana mau dihina secara demikian?

Maka ia hendak menggunakan gerakannya secepat kilat, hendak menyingkirkan dirinya Khu Leng Lie.

Khu Leng Lie melihat berkelebatnya sinar merah, dalam hati juga kaget. Dengan kerudungnya ia putar beberapa kali, baru berhasil menyambar senjata aneh itu namun kain kerudungnya sendiri juga sudah pada robek beberapa bagian.

Ketika ia mengetahui bahwa senjata itu ternyata ada Thian-mo Siok-hun-lengnya Liok-cie Thian-mo, ia semakin kaget. Tapi, sekejap saja ia sudah tenang kembali, seolah-olah ada yang diandalkan.

Dengan gerakan badannya yang lemah gemulai, ia menghampiri Liok-cie Thian-mo sambil berkata dengan suaranya yang merdu :

"Ow! aku kira siapa, ternyata ada Thian-mo Cianpwe yang namanya sangat tersohor di kolong langit. Siaolie benar-benar berlaku kurang hormat. Tapi orang yang tidak tahu katanya tidak berdosa, Siaolie di sini memberi hormat!"

Sehabis berkata, Khu Leng Lie benar-benar lantas memberi hormat.

Karena sikapnya itu, sekalipun Liok-cie Thian-mo ada seorang ganas, juga tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi gusar.

Hanya kerbau hijau itu ada merupakan binatang wasiat yang luar biasa yang tidak bisa dibandingkan dengan benda apa saja di dalam dunia. Maka ia lantas berkata :

"Kalau benar tidak tahu, aku juga tidak salahkan kau. Sudahlah kau boleh pergi, aku tidak akan menyusahkan kau!"

Tapi, Khu Leng Lie bukan saja tidak menyingkir, bahkan maju lebih dekat, setelah unjukkan ketawanya yang menggiurkan, ia berkata pula :

"Siaolie bernama Khu Leng Lie, masih ada beberapa soal yang hendak kuberi tahukan." Mendengar nama Khu Leng Lie, Liok-cie Thian-mo juga terperanjat. Pantas ia mampu memunahkan serangannya dengan Thian-mo Siok-hun-leng.

"Kiranya nona, selamat bertemu. Tidak sangka dalam perjalananku pulang ke daerah Tionggoan kali ini, telah banyak menemukan beberapa sahabat, benar-benar tidak percuma perjalananku ini, cuma tidak tahu kedatangan nona ini ada maksud apa?"

Khu Leng Lie maju lagi dua langkah, tapi lantas dicegah oleh Liok-cie Thian-mo.

"Harap nona jangan maju lagi, jangan sesalkan kalau aku tidak memberi tahukan padamu lebih dulu!"

Melihat tangannya bergerak, Khu Leng Lie lantas berkata sambil tertawa cekikikan :

"Lo-cianpwe, perlu apa begitu takut. Kedatanganku ini ada faedahnya bagi kau, sebab aku mengerti cara menangkapnya, tapi kau tidak. Apa kau tidak memerlukan pertolonganku ?"

Mendengar ucapan Khu Leng Lie, Liok-cie Thian-mo merasa girang, tapi berbareng juga merasa kuatir. Girang karena ada orang yang mengerti caranya menangkap kerbau hijau itu. Kuatir, kalau ia majukan syarat berat....

Selagi Liok-cie Thian-mo masih terbenam dalam lamunannya, Khu Leng Lie sudah berkata pula: "Hanya Siaolie ingin majukan satu syarat!"

Benar seperti apa yang diduga oleh Liok-cie Thian-mo, tapi entah syarat apa yang akan diajukan oleh Khu Leng Lie.

Liok-cie Thian-mo kertek gigi, dalam hati berpikir : Syarat apa saja aku akan terima baik semuanya. Kalau sudah selesai, masa aku takut kau bisa lolos dari tanganku?

"Syarat apa kau ingin ajukan, sebutkanlah saja!" berkata Liok-cie Thian-mo

"Sebetulnya tidak ada artinya apa-apa sebab aku tahu, bahwa aku tidak mempunyai itu rejeki khasiatnya kerbau hijau yang sangat mujijat itu. Aku hanya ingin mengikuti kau untuk sementara, harap kau suka menurunkan kepandaianmu kepadaku. Selama hidup aku sudah merasa tidak kekurangan, apa yang aku masih ingini lagi?"

Ini benar-benar di luar dugaan Liok-cie Thian-mo. Syarat yang diajukan ternyata begitu enteng saja. Maka lantas menjawab :

"Baiklah, jangan kata cuma beberapa jurus saja, sekalipun seluruh kepandaianku, kuturunkan padamu juga tidak menjadi soal, cuma aku harus"

Bicara sampai disitu ia agaknya ingat kurang sopan, maka lantas ketawa bergelak-gelak. Khu Leng Lie tahu bahwa ketawanya iblis tua itu ada mengandung maksud tidak beres, dalam hati lantas memikirkan siasat, maka juga lantas turut ketawa.

Kim Houw yang mendengar suara ketawa Khu Leng Lie, bulu romanya mendadak pada berdiri, seolah-olah takut akan terulang pengalamannya yang getir!

Tapi, ia sebetulnya tidak jeri terhadap perempuan genit itu, juga tidak takut akan dibikin mabuk oleh suara ketawanya yang mengandung pengaruh gaib itu ia hanya merasakan tidak enak saja. Kim Houw sebetulnya sudah ingin unjukkan diri, tapi karena dengar pembicaraan mereka tentang binatang mukjijat kerbau hijau itu, hatinya merasa tertarik. Sebab kerbau hijau itu adalah jelmaan pohon yang sudah ribuan tahun usianya, hal ini dalam kitabnya Kaojin Kiesu juga ada dimuat dengan jelas. Cuma saja dalam kitab itu tidak dijelaskan caranya menangkap. Kalau benar Khu Leng Lie mengerti caranya menangkap biarlah ia lakukan, setelah berhasil mendapatkan binatang mukjijat itu, dua iblis itu nanti baru ia singkirkan berbareng.

Sebab khasiatnya yang luar biasa dari binatang yang mukjijat itu, bagaimana Kim Houw dapat membiarkan diambil oleh kawanan manusia yang sebagai iblis itu ?

Mendadak ia dengar suaranya Liok-cie Thian-mo :

"Sudah ! Sudah ! Aku terima baik permintaanmu, kau harus beritahukan cara-caranya untuk menangkap binatang itu ! Aku tidak nyana pohon yang sudah jadi siluman ini ternyata tidak mempan pedang tajam."

"Aku akan lihat dulu pohon itu sudah berapa tuanya ?" jawab Khu Leng Lie.

Sehabis berkata, ia lantas unjuk ketawanya yang manis kepada Liok-cie Thian-mo, lalu mendekati pohon yang cukup besar.

Pada saat itu, mendadak Liok-cie Thian-mo menyambar dirinya Khu Leng Lie, lalu dipeluk erat- erat. Ternyata ketawanya tadi sudah membikin goncang hatinya Liok-cie Thian-mo, sehingga akhirnya tidak dapat mengendalikan lagi hawa napsunya.

Khu Leng Lie setelah dipeluk, dalam hatinya merasa girang. Ia tahu bahwa siasatnya sudah berhasil sebagian. Sebagai seorang perempuan yang moralnya sudah bejad, apa saja ia bisa lakukan, asal bisa mencapai maksudnya.

Suara ketawanya cekikikan terdengar semakin nyaring.

Kim Houw sudah tidak bisa sabar lagi, ia tidak sudi melihat manusia cabul itu berbuat tidak senonoh di depan matanya. Ia lantas mau bergerak, selagi hendak unjukkan dirinya, tiba-tiba terdengar suara jeritan yang mengejutkan.

Apa yang telah terjadi ? Kim Houw lihat Liok-cie Thian-mo sedang menekan ketiaknya bagian kiri, dari sela-sela jarinya telah mengucurkan darah, seolah-olah terluka hebat.

Kim Houw terperanjat, karena Khu Leng Lie tidak membawa senjata tajam sepotongpun juga, entah dengan senjata apa ia dapat melukai dirinya iblis tua itu ?

Tiba-tiba ia dengar Khu Leng Lie ketawa badannya lantas lompat mundur kira-kira satu tombak lebih, sambil berkata :

"Tua bangka, kau sebagai bandot tua juga masih mengingini daun muda, jangan mimpi! Aku hanya kembalikan senjatamu sendiri, dan itu adalah kau sendiri yang mencari mampus. Sekarang terserah kepada kau hendak kata apa. Apa kau kira aku Khu Leng Lie boleh kau permainkan?"

Liok-cie Thian-mo perdengarkan suaranya yang aneh, kemudian maju menerjang, dengan kedua kakinya ia melancarkan tendangannya Wan-yo-tui.

Khu Leng Lie masih ketawa mengejek, ia bahkan tidak berkelit, sebaliknya menggunakan tipu silatnya Tai-eng Jiauw-lek memapaki serangan Liok-cie Thian-mo. Khu Leng Lie yang dibesarkan dari air susu binatang orang hutan, kekuatan tenaganya sangat luar biasa, Tendangan Liok-cie Thian-mo meski hebat, tapi kalau kena disambar oleh tangan Khu Leng Lie, ia juga tidak berdaya !

Dalam keadaan bahaya, Liok-cie Thian-mo tarik mundur serangannya, lalu ulur tangan kanan dan menepok batok kepala Khu Leng Lie. Ini adalah merupakan gerak tipu untuk menolong dirinya yang terancam bahaya, namun tidak kalah hebatnya serangannya tersebut.

Khu Leng Lie yang tidak berhasil menyambar kakinya Liok-cie Thian-mo, mendadak melihat datangnya serangan tangan yang dilancarkan dengan kecepatan luar biasa, ia juga tidak berani menyambuti, dengan gerakan badannya, ia sudah memutar ke belakang pohon !

Ia masih ketawa cekikikan dan mulutnya masih bisa menggoda :

"Tua bangka, kalau kau berani, mari main kucing-kucingan dengan aku. Tidak apa, kita orang yang sudah tua main kucing-kucingan seperti anak-anak, tua bangka, bagaimana ?"

Liok-cie Thian-mo yang sebentar-sebentar disebut tua bangka, bukan main mendongkolnya, tapi ia tidak berani bergerak sama sekali.

Sebabnya ialah : Khu Leng Lie tadi dengan menggunakan Thian-mo Siok-hun-leng telah melukai ketiaknya, dan yang diserang itu justeru merupakan bagian yang penting. Ia tahu kalau tidak diobati dengan segera, jiwanya sangat berbahaya, tapi dihadapannya Khu Leng Lie ia juga tidak sudi mengunjukkan kelemahan, ia tidak sudi memberi obat atau membungkus!

Sekarang, meski hatinya sangat mendongkol, tapi sedikitpun tidak berdaya. Dilain pihak, ia juga merasa berat meninggalkan pohon mukjijat itu.

Dari jauh-jauh ia datang untuk mencari barang mukjijat itu, bukan saja tidak berhasil mendapatkan, bahkan jiwanya hampir melayang, hanya disebabkan karena ia tergoda oleh paras cantik saja!

Memikir sampai di situ, ia semakin gemas terhadap Khu Leng Lie. Mendadak Khu Leng Lie unjukkan dirinya lagi.

"Aha! Lo Cianpwe, kau masih belum mau obati lukamu? Itu ada sangat berbahaya mari, mari aku periksa, kau belum tahu bahwa aku juga ada satu tabib yang sangat pandai!" katanya genit.

Liok-cie Thian-mo semakin gemas, ia tidak nyana bahwa dalam usianya yang begitu tua telah dipermainkan oleh satu perempuan genit.

Liok-cie Thian-mo tidak mau lepaskan tangannya dari ketiaknya yang telah terluka, ia hanya menjawab dengan gusar :

"Perempuan hina, seorang kuncu masih bisa menunggu waktu untuk menuntut balas, kau tunggu saja! Kalau Liok-cie Thian-mo tidak mampu cincang badanmu, aku bersumpah tidak mau jadi orang. Hari ini biarlah aku ampuni kau."

"Jangan omong sekenanya saja," memotong si genit. "Kalau kau pergi, dan setelah aku dapatkan kerbau hijau, kau pikir sendiri saja apa di kemudian hari kau masih mampu menjatuhkan aku? Sebaiknya sebelum aku mendapatkan binatang mukjijat itu, kau bunuh saja aku sekarang !"

Liok-cie Thian-mo tercengang. Memang benar asal Khu Leng Lie berhasil mendapatkan binatang mukjijat itu, apa ia masih mampu menuntut balas dengannya? Pada saat itu, di atas gunung tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring, kemudian disusul oleh munculnya sesosok bayangan manusia.

Baik Liok-cie Thian-mo dan Khu Leng Lie, maupun Kim Houw, telah dikejutkan oleh suara siulan itu karena mereka tahu bahwa siulan itu adalah tanda datangnya Kouw-low Sin Ciam. Si setan tua yang sangat ganas itu, begitu tiba di lembah, dengan tidak banyak bicara lantas menerjang pada Khu Leng Lie.

Kali ini Khu Leng Lie tidak menyingkir ia agaknya sudah siap sedia, begitu lihat Kouw-low Sin Ciam menerjang padanya segera ia menangis dengan sedihnya sembari berkata :

"Oh, tua bangka, kau tega benar menyaksikan istrimu dihina orang ! Apa kau sudah tidak bersedia untuk membelanya ?"

Kouw-low Sin Ciam tidak menduga bahwa kedatangannya telah disambut oleh tangisan Khu Leng Lie yang begitu memilukan. Sebab ia sejak berkumpul dengan si genit, belum pernah melihat Khu Leng Lie keluarkan air mata.

Oleh karenanya, selain terkejut, ia juga merasa heran. Ia urungkan maksudnya hendak menangkap Khu Leng Lie, lalu berpaling mengawasi Liok-cie Thian-mo.

Tepat pada saat itu, menggunakan kesempatan selagi mereka bicara, Liok-cie Thian-mo telah mengeluarkan obat hendak diborehkan kepada lukanya.

Kouw-low Sin-ciam meski ada satu setan yang sangat ganas, juga masih merasa segan turun tangan terhadap orang yang sedang terluka. Ia menyaksikan Liok-cie Thian-mo mengobati lukanya, setelah dibungkus rapi dengan robekan bajunya, baru berkata padanya sambil ketawa dingin:

"Kau tokh juga terhitung seorang gagah yang kenamaan, mengapa menghina seorang perempuan, apa kau tidak takut ditertawakan oleh dunia Kangouw?"

Nyalinya Liok-cie Thian-mo besar kembali, setelah membungkus rapi lukanya, sembari perdengarkan ketawanya mengejek ia menyahuti :

"Kouw-low Sin Ciam, tadi kita mengadu bekas kesaktian dan kekuatan di atas gunung, masih belum mendapat keputusan siapa yang lemah. Sekarang mari kita lanjutkan lagi. Soal lainnya kita tunda dulu, setelah pertandingan selesai kita baru bicara lagi!"

"Aku senang sekali mengiringi kehendakmu, cuma."

Kouw-low Sin Ciam lalu menoleh ke arah Khu Leng Lie, ia kuatirkan isterinya yang genit itu nanti kabur lagi, maka ia kelihatan bersangsi.

Di luar dugaan Khu Leng Lie sudah hentikan menangisnya, sebaliknya malah ketawa. "Tua bangka, kau boleh tetapkan hatimu kali ini aku tidak akan kabur. Aku bersedia sama-

sama menikmati kebahagiaan hidup dengan kau, setelah kita berhasil mendapatkan itu barang mujijat yang sangat langka di dunia. Tapi kau harus bisa menyingkirkan bangsat tua itu lebih dahulu." Demikian ia berkata. Kouw-low Sin-ciam hatinya agak lega mendengar kata-kata Khu Leng Lie. Apalagi ketika mendengar ada benda mukjijat, hatinya lantas merasa girang. Sekarang ia mengerti apa sebabnya Khu Leng Lie tidak menyingkir dari padanya, rupanya karena itu benda mukjijat.

Maka, tanpa banyak rewel, Kouw-low Sin-ciam lantas putar gendewanya, menyerang Liok-cie Thian-mo.

Liok-cie Thian-mo meski masih belum sembuh lukanya, tapi ketika mendengar perkataan Khu Leng Lie, dengan terang-terangan hendak menikmati kesenangan itu dari kerbau hijau bersama Kouw-low Sin-ciam, matanya lantas merah, hatinya panas.

Maka dengan tidak pikirkan lukanya, ia lantas bertempur dengan Kouw-low Sin-ciam. Pertempuran antara kedua iblis itu dilakukan dengan sengit dan seru.

Kim Houw yang mengintai sejak tadi, masih tidak bergerak. Semua perbuatan mereka di dengar dan disaksikan dengan mata kepala sendiri. Pertempuran antara kedua iblis itu sudah tentu menguntungkan baginya. Ibarat dua macan yang sedang bergulat, pasti ada salah satu yang terluka, dengan demikian, berarti Kim Houw kekurangan satu musuh tangguh. Tidak perduli siapa yang binasa, baginya sama saja. Dalam hati ia sudah ambil keputusan, bahwa setelah pertempuran antara kedua iblis itu selesai, ia tidak akan membiarkan sisanya bisa keluar dari lembah itu dalam keadaan hidup.

Angin menderu akibat pertempuran kedua iblis tadi mendadak berhenti suasana di lembah kembali menjadi sunyi. Keadaan itu meski mengherankan tapi tidak terlepas dari matanya Kim Houw.

Ternyata kedua iblis itu entah apa sebabnya, mendadak merubah pertandingan adu senjata menjadi adu kekuatan tenaga lwekang.

Khu Leng Lie yang menyaksikan keadaan itu, dalam hati merasa girang. Dengan perlahan ia menghampiri mereka, hingga Liok-cie Thian-mo diam-diam merasa kuatir.

Ia sebetulnya tidak menginginkan pertandingan secara demikian, karena badannya masih terluka, darahnya banyak keluar. Dalam keadaan terpaksa saja ia baru berbuat demikian.

Kalau dengan Kouw-low Sin-ciam seorang diri mungkin ia masih bisa bertahan. Tapi jika Khu Leng Lie turut campur tangan, sudah dapat dipastikan ia yang akan menjadi pecundang.

Apalagi, mengadu kekuatan lwekang secara demikian, sedikitpun tidak boleh main-main.

Begitu kedua tangan sudah saling menempel, sekalipun belum ketahuan siapa yang lebih kuat, juga tidak boleh ditarik kembali secara sembarangan, sebab jika dikendorkan, pihak lawannya pasti akan mendesak terus, akibatnya sekalipun tidak binasa, sedikitnya juga terluka parah.

Dalam keadaan demikian bagaimana Liok-cie Thian-mo tidak cemas ? Ia buru-buru ingin menyelesaikan pertempuran itu, ia coba kerahkan seluruh kekuatannya itu, apa mau di bawah ketiaknya dirasakan sakit sekali, sehingga tidak mampu berbuat menuruti sesuka hatinya, dengan demikian sudah tentu ia terdesak oleh Kouw-low Sin-ciam.

Masih untung kekuatan tenaga lwekang Kouw-low Sin-ciam masih setaraf dengan kekuatannya Liok-cie Thian-mo. Sebelum adu tenaga, hal itu belum bisa diketahui. Tapi kini setelah mengadu tenaga, siapa yang lebih kuat dan siapa yang lemah segera ketahuan.

Oleh karenanya, meski Liok-cie Thian-mo dalam keadaan terluka. Kouw-low Sin-ciam juga tidak mampu merobohkan padanya. Khu Leng Lie yang menyaksikan Liok-cie Thian-mo menunjukkan paras berkuatir, lantas buru- buru berkata :

"Bangsat tua, kau tidak usah kuatir. Aku bukan sebangsa manusia yang begitu rendah. dan tidak mengerti peraturan dunia kang-ouw, tidak nanti aku akan melakukan serangan terhadap dirimu!"

Liok-cie Thian-mo tadinya masih belum percaya, kemudian setelah melihat Khu Leng Lie berdiri disamping sebagai penonton dan benar-benar seperti tidak akan turun tangan baru merasa lega hatinya.

"Tua bangka, kau jangan harap aku akan membantu kepadamu. Paling baik kamu berdua rubuh berbareng, supaya aku bisa memungut keuntungannya," kata pula Khu Leng Lie kepada Kouw-low Sin-ciam.

Dengan keterangannya itu, Khu Leng Lie secara terang-terangan sudah buka kartu. Begitu jahat adanya wanita genit itu sekalipun Kim Houw yang tidak ada sangkut pautnya juga turut merasa gemas.

Tidak usah di kata lagi bagaimana gemasnya Kouw-low Sin-ciam. Seketika itu hatinya dirasakan panas, cuma dalam keadaan demikian, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebaliknya bagi Liok-cie Thian-mo, keterangan Khu Leng Lie ini telah membesarkan hatinya, ia sekarang sudah tidak usah kuatir dibokong. Maka ia lantas pejamkan matanya dengan seluruh kekuatannya ia mendesak lawannya.

Pertempuran berlangsung terus, tidak lama kemudian, tibalah saatnya untuk menentukan.

Khu Leng Lie agaknya mendapat pikiran apa-apa secara mendadak. Ia lihat sudah sekian lama pertempuran itu berlangsung, tapi masih belum ada penentuannya. Meski tanda-tanda dari mereka yang sudah nampak sangat lelah serta bercucuran keringat, hingga sebentar lagi ke- duanya akan rubuh terluka, namun Khu Leng Lie agaknya sudah tidak sabar menantikan saat yang terakhir itu, tiba-tiba ia membentak dengan suara keras :

"Tua bangka, mari aku bantu kau!"

Khu Leng Lie anggap seruannya itu pasti akan membuat reaksi yang berlainan kepada kedua pihak, tapi sebelum ketahuan reaksi mereka tangan Khu Leng Lie sudah menempel di belakang gegernya Kouw low Sin ciam, dengan kekuatan tenaga lweekang, ia mendesak Liok cie Thian mo melalaui badannya Kouw low Sin ciam.

Liok cie Thian mo yang sudah hampir kehabisan tenaganya, biar bagaimana tidak mampu menahan serangan dua orang. Maka sebentar kemudian lantas terdengar suara jeritan ngeri, badannya Liok-cie-Thian-mo terpental sejauh empat sampai lima tumbak, mulutnya menyemburkan darah hidup dan lantas tidak ingat orang lagi.

Belum lenyap suara jeritan Liok-coe Thian-mo, kembali terdengar suara jeritan lain, kali ini giliran Kouw-low Sin-ciam yang mengeluarkan jeritan tadi.

Perobahan yang datangnya secara mendadak itu, benar-benar telah menjatuhkan Kim Houw. Pandangannya yang masih di arahkan kepada dirinya Liok-cie Thian-mo yang terbang melayang seperti layang-layang putus talinya, kini setelah mendengar jeritan lain lagi, dengan cepat ia berpaling ke arah Kouw-low Sin-ciam.

Dan apa yang telah disaksikannya ?

Ternyata Khu Leng Lie telah membantu Kouw-low Sin-siam dan berhasil merobohkan Liok-cie Thian-mo, mendadak mengeluarkan ilmunya Tai-eng Jiauw-lek mencengkeram gegernya Kouw- low Sin-ciam!

Khu Leng Lie melakukan itu dengan sekuat tenaga, sehingga belakang gegernya Kouw low Sin Ciam menjadi gerowak dan kelihatan tulangnya.

Kalau diwaktu biasa, Khu Leng Lie menyentuh saja kulitnya Kouw-low Sin-ciam sudah tidak mampu, apalagi melukai. Tapi hari itu keadaan ada berlainan, dalam keadaan sudah hampir kehabisan tenaga dan tidak berjaga-jaga, sudah tentu Kouw-low Sin-ciam mudah diperdayai.

Dalam keadaan kesakitan setengah mati, Kouw-low Sin-ciam kerahkan sisa kekuatannya, dengan cepat kabur ke atas gunung.

Kim Houw yang menyaksikan Kouw-low Sin-ciam kabur, lantas turun dari tempat sembunyinya hendak mengejar si kakek, untuk menuntut balas atas kematiannya Lato Kiesu dan si Imam palsu.

Tapi baru saja kakinya menginjak tanah, tiba-tiba ia mendengar suara ketawanya Khu Leng Lie yang menunjukkan kepuasannya.

Mendengar itu Kim Houw lantas ingat Khu Leng Lie dengan sang kerbau hijau. Jika mujijat itu terjatuh di dalam tangannya Khu Leng Lie, dalam dunia kangouw mungkin akan timbul kegegeran yang tidak ada batasnya. Dan kalau hal demikian telah terjadi siapa yang harus bertanggung jawab ?

Apalagi Kouw-low Sin-ciam sudah terluka parah, sekalipun berhasil di tangkap, apa yang dapat dilakukan terhadap dirinya seorang yang sudah terluka parah ?

Setelah di timbang bolak-balik, akhirnya ia mengambil keputusan membiarkan Kouw-low Sin- ciam kabur, sebaliknya mencurahkan seluruh perhatiannya kepada gerak geriknya Khu Leng Lie, bagaimana caranya ia menangkap binatang mukjijat itu.

Khu Leng Lie setelah berhasil menyingkirkan kedua iblis tua itu dengan akalnya yang keji, hatinyapun merasa sangat girang. Dengan gerak badannya yang menggairahkan dan suara nyanyiannya yang amat merdu, ia perlahan - lahan berputaran mengitari pohon besar yang usianya sudah ribuan tahun itu.

Kim Houw bingung akan tingkah lakunya Khu Leng Lie, entah itu lantaran terdorong oleh kegirangan hatinya atau itu ada cara-caranya untuk menangkap binatang kerbau hijau yang sangat mukjijat itu!

Hanya dalam hati berpikir : perbuatan semacam itu kecuali dia, orang lain pasti tidak bisa melakukannya.

Tiba-tiba Khu Leng Lie hentikan gerakannya lalu memungut pedang panjang yang di tinggalkan Liok-cie Thian-mo. Tapi ia tidak menggunakan pedang panjang itu untuk menebang pohon, sebaliknya membuka gulungan rambutnya yang panjang dan bagus, dengan sangat perlahan dan sangat teratur, segumpal demi segumpal, ia potong rambutnya sendiri sampai habis.

Perbuatan itu bikin Kim Houw tertegun dan menganga wanita itu sudah jadi gila. Dengan caranya yang rapi dan teratur, tampak rambut panjang itu di ikatkan kepada batang pohon besar tersebut.

Setelah di ikat beres, dengan mengikuti tempat-tempat yang di ikat oleh rambutnya, Khu Leng Lie lantas memotong batang pohon besar itu.

Sekali saja ia bergerak, pohon besar yang usianya sudah ribuan tahun itu lantas rubuh. Dari bawah akar pohon lantas muncul kerbau kecil berwarna hijau yang besarnya cuma segede kucing.

Dengan munculnya binatang mukjijat yang jalannya seperti tidak bertenaga, telah membuat Khu Leng Lie sangat kegirangan.

Selagi hendak menyambar badan kerbau itu, mendadak ia rasakan ada sambaran angin hebat yang menggempur dadanya.

Angin hebat itu datangnya tidak bersuara, namun sambarannya ada sangat dahsyat, hingga Khu Leng Lie tidak dapat kesempatan untuk menyambuti. Dengan cepat ia memutar tubuhnya kemudian menghadang di depannya kerbau hijau. Pada saat itu, ia benar-benar sudah tidak mempunyai waktu untuk melihat siapa adanya orang yang menyerang padanya itu, ia lebih mementingkan binatang mukjijat itu.

Di luar dugaan, sebelum ia tancap kakinya, serangan itu telah datang lagi, bahkan semakin hebat dari pada yang duluan.

Sudah tentu Khu Leng Lie tidak berani menyambuti, kemudian ia egoskan dirinya, mundur setombak lebih jauhnya. Sampai di sini, dengan rasa terheran-heran ia terpaksa dongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang menyerang padanya itu.

Ketika ia mengetahui siapa adanya si penyerang, bukan main rasa girangnya. Ia ternyata ada itu pemuda yang pernah menjadi suami istri untuk sementara dengannya. Maka ia lalu berseru:

"Hai, jantung hatiku, mengapa kau main-main demikian rupa ? Ini ada binatang mukjijat yang sukar didapatkan, kalau ia nanti bertemu dengan air, habislah semuanya!"

Tapi ia tidak tahu bahwa pemuda yang menyerang padanya itu adalah Kim Houw, bukan Siao Pek Sin.

Ketika mendengar perkataan Khu Leng Lie ia tidak mau ambil pusing, matanya terus mengawasi binatang mukjijat itu. Menampak gerak- geriknya tidak berbeda dengan binatang kerbau biasa, hanya bentuknya saja yang lebih kecil, tidak ada apa-apanya lagi yang mengherankan, sungguh sukar dipercaya kalau ia mempunyai khasiat yang luar biasa.

Khu Leng Lie ketika menyaksikan pemuda itu diam saja, tidak menjawab pertanyaannya, masih anggap bahwa pemuda itu tentu tergerak hatinya, maka lantas berkata pula :

"Kau tentunya masih belum tahu, binatang aneh ini ada titisan dari hawa gaib antara langit dan bumi, bagi kita orang-orang yang melatih ilmu silat, apabila kita makan dagingnya, kekuatan tenaga kita akan bertambah berlipat ganda. Kau jangan mengawasi saja, mari datang dekat, kita makan bersama-sama!"

Sehabis berkata, Khu Leng Lie menghampiri binatang itu yang segera hendak menangkapnya. Tidak nyana, baru saja tangannya bergerak, serangan Kim Houw sudah mencegah padanya.

Khu Leng Lie seketika itu lantas gusar. "Bagus! Kau manusia yang tidak ingat budi, ternyata ingin mengangkangi sendiri barang orang. Apa kau kira aku Khu Leng Lie ada orang begitu baik hati, mau membiarkan kau serakahi sendiri barang yang kudapatkan dengan dengan susah payah ini ?" katanya dengan bernapsu.

"Kepandaianku dan kekuatanku sudah tidak ada orang yang mampu menandingi, perlu apa menggunakan bantuan pengaruhnya barang mukjijat ? Tapi aku tidak akan membiarkan orang- orang sebangsa kalian merusak benda mukjijat yang merupakan pusakanya alam." jawabnya Kim Houw dengan suara dingin.

"Hmm! sungguh mentereng perkataanmu, tapi entah apa isi perutnya ? Apa kau kira aku tidak tahu ? Kau jangan mimpi, kalau tidak ada Khu Leng Lie yang membantu, sekalipun kau makan dagingnya juga tiada berguna. Di dalam dunia ini, kecuali aku, barangkali tidak ada orang keduanya yang mengetahui cara-caranya menggunakan khasiatnya bintang mukjijat ini."

Kim Houw tahu bahwa Khu Leng Lie sedang mencari akal keji lagi, meski demikian, ia mau percaya keterangan itu. Sebab ia sudah menyaksikan sendiri bagaimana caranya Khu Leng Lie menangkap binatang mukjijat itu.

Tapi bagaimana Kim Houw bisa membiarkan Khu Leng Lie mendapatkan binatang itu.

Bukankah itu berarti menambah bahaya ? Ia lebih suka binatang mukjijat itu berlalu sendiri biar bagaimana tidak mau ia memberikan kepada Khu Leng Lie.

Pada saat itu, binatang kerbau itu sudah berjalan semakin jauh, menuju keluar lembah.

Khu Leng Lie sangat gelisah, tapi Kim Houw dengan wajahnya yang menakutkan menghalangi setiap gerakannya Khu Leng Lie. Wanita genit itu juga tahu bahwa ia tidak mampu menandingi Kim Houw, tapi benda yang baru didapatkannya dengan susah payah, bagaimana ia mau lepaskan begitu saja ?

Mendadak ia ingat akan senjatanya yang paling ampuh, maka lantas ketawa cekikikan sebentar tinggi sebentar rendah, sungguh merdu kedengarannya.

Berbareng dengan itu, kain kerudung badannya juga mulai terbuka berterbangan. Kembali ia hendak menggunakan ilmunya memikat hati lelaki, supaya Kim Houw tunduk kepadanya.

Tapi Kim Houw sejak sembuh dari penyakit hilang ingatannya, kekuatannya semakin bertambah, menyaksikan aksinya perempuan genit itu, sedikitpun tidak bergerak hatinya bahkan tidak mau membiarkan Khu Leng Lie beraksi terus, lantas keluarkan siulan nyaring kemudian membentak:

"Perempuan cabul, tak usah banyak bergaya. Dengan kecabulan dan kejahatanmu, sudah sepantasnya kau mendapat ganjaran mati. Hari ini aku Kim Houw akan berbuat kebaikan bagi banyak orang dengan menyingkirkan jiwanya seorang jahat semacam kau ini!" Khu Leng Lie tahu bahwa akalnya sudah tidak mampu lagi, mendengar pula perkataannya Kim Houw, kagetnya bukan main. Ia tahu kalau tidak lekas-lekas ia angkat kaki, jiwanya pasti akan melayang di tangannya anak muda itu.

Dengan hati berdebaran dan alisnya dikernyitkan, Khu Leng Lie memutar otaknya, mencari akal untuk melarikan diri. Mendadak ia lihat tempat bekas dimana tadi Liok-cie Thian-mo rebah terluka, sekarang ternyata sudah kosong, entah kemana perginya iblis itu. Maka ia lantas berseru:

"Am ! Iblis tua itu bagaimana sudah mampus bisa hidup kembali ? Dan sekarang kabur kemana ?" Mendengar seruan itu, Kim Houw juga terkejut. Ketika ia menengok, benar saja, Liok- cie Thian-mo yang tadi terluka parah, sekarang ternyata sudah tidak ada. Kaburkah ? Atau ditolong orang ? Mau dikatakan di tolong orang, lebih tidak mungkin lagi!

Siapa adanya orang yang mempunyai kepandaian begitu tinggi, sehingga datang dan perginya tidak diketahui oleh orang-orang yang ada disitu ? Kecuali jika orang yang datang menolong itu ada mempunyai ilmu gaib, yang bisa menghilang!

Kim Houw benar-benar merasa heran, ia juga tidak percaya kalau Liok-cie Thian-mo di tolong kawannya.

Demikian dengan Khu Leng Lie, wanita genit itu ketika menampak Kim Houw dalam keheran- heranan, segera memungut dua butir batu dan dilemparkan ke arah kanan dan kiri, sedangkan ia sendiri melesat lurus ke atas gunung.

Kim Houe yang sedang kesima memikirkan menghilangnya Liok-cie Thian-mo, mendadak dengar suara melesatnya batu. Ia segera menduga Khu Leng Lie hendak kabur, maka dengan kecepatan bagaikan kilat mengejar ke arah melesatnya suara batu tadi.

Setelah Kim Houw berada di tengah udara baru tahu kalau diperdayakan oleh Khu Leng Lie. Ia membalikkan dirinya, tapi Khu Leng Lie sudah jauh, hingga sudah sukar dikejar lagi. "Manisku aku berada di sini, marilah biar kerbau itu dibawa lari oleh Liok-ci Thian-mo!"

demikian Khu Leng Lie berkata dari atas puncak gunung.

Kim Houe anggap ucapan Khu Leng Lie itu mungkin sebab Liok-ci Thian-mo yang sedang terluka, memang membutuhkan khasiatnya binatang itu untuk menyembuhkan penyakitnya.

Karena berpikir demikian, ia urungkan maksudnya hendak mengejar Khu Leng Lie dan hendak mencari dimana adanya binatang mukjijat itu.

Ia coba mengikuti jejaknya kerbau hijau tadi, hanya dengan beberapa kali loncatan, ia sudah dapat lihat binatang itu yang tengah berjalan dengan gerakannya yang lesu.

Sebentar kemudian, Kim Houw sudah berada di depannya binatang itu. Ia lalu berjongkok hendak memondong sang binatang mukjijat itu.

Dengan mendadak, kerbau itu merandek dan angkat kepalanya memandang Kim Houw dengan matanya yang redup dan dari sela-sela matanya tiba-tiba mengalir air bening, setetes demi setetes mengucur keluar.

Kim Houw yang menyaksikan itu, hatinya merasa tidak enak, tangannya yang sudah di ulur lantas di tarik kembali. "Ceng-gu, aku tidak akan tangkap kau lagi, kau hendak kemana ? Apa yang hendak kau mencari air?" demikian ia menanya kepada kerbau hijau itu.

Kerbau hijau itu seperti mengerti pertanyaannya Kim Houw, kepalanya lantas dianggukkan.

Melihat binatang itu anggukan kepala, Kim Houw sangat girang, "Setelah kau dapatkan air, apakah dirimu bisa menghilang, sehingga orang tidak bisa menangkap kau!" tanya pula Kin Houw.

Kerbau mukjijat itu kembali anggukan kepalanya.

"Kalau begitu, aku nanti bantu kau. Sebab di sini jauh terpisahnya dengan tempat yang ada airnya, sekarang, aku mau kau buktikan bahwa kau dapat mengerti maksudku, maka anggukkanlah kepalamu tiga kali!"

Kerbau mukjijat itu benar-benar anggukkan kepalanya sampai tiga kali. Kim Houw girang, lalu di pondongnya padanya dan lari keluar lembah.

Berjalan kira-kira sepuluh li lebih, ia tiba di sebuah sungai kecil. KErbau hijau yang berada di dalam pelukannnya tiba-tiba bergerak- gerak.

"Ceng-gu, air sungai ini apa sudah cukup untuk kau ?" tanya Kim Houw. Kerbau hijau itu kembali anggukan kepalanya.

Kim Houw lalu letakan kerbau hijau itu di pinggir sungai. Tapi kerbau itu tidak lantas masuk kedalam air, sebaliknya balikkan badannya dan berlutut di hadapannya KIm Houw!

Perbuatan kerbau hijau itu sungguh mengharukan hati Kim HOuw. Seekor binatang ternyata masih ingat budi orang, tapi ada banayk manusia yang tidak kenal apa artinya budi!

Kerbau hijau itu setelah anggukan kepalanya tiga kali, baru bangun dan lantas mencebur ke dalam sungai.

Sungai itu tidak dalam, tapi airnya bening hingga kelihatan dasarnya. Aneh, kerbau itu setelah terjun ke dalam sungai, seketika lantas lenyap tidak kelihatan bayangannya. Hal ini benar-benar membuat heran Kim Houw.

Saat itum hari sudah terang benar-benar, Kim Houw yang masih terheran-heran atas perbuatannya kerbau hijau tadi, berdiri terlongong-longong sekian lamanya. Mendadak ia lihat dua bayangan orang lari mendatangi. Kini Kim Houw baru ingat akan dirinya Cu Su dan Tok Kai yang ditinggalkannya di Han-pek Cin-koan, maka ia lantas lari menyambut.

Dua bayangan orang itu benar saja adalah Cu Su dan Tok Kai, mereka ketika melihat Kim Houw tidak mendapat halangan apa-apa, hatinya merasa lega. Sebaliknya adalah Kim Houw yang merasa sangat berduka.

Ketika ditanya apa sebabnya, Kim Houw lalu memberi tahukan semua kejadian yang telah dialaminya. Mendengar kemujijatannya binatang kerbau hijau itu, Cu Su dan Tok-kai juga merasa terheran-heran.

Akhirnya Kim Houw berkata : "Sebetulnya ingin aku membasmi habis kawanan iblis itu, apa mau gara-gara seekor kerbau hijau, akhirnya iblis itu satupun tidak ada yang dapat kubinasakan. Aku sungguh menyesal bahwa saat itu aku tidak lantas unjukkan diri untuk menghadapi mereka, apakah aku jeri pada mereka? Demikian aku sesalkan diriku sendiri. Sebab kalau ketiga orang itu berhasil aku bunuh mati, kerbau hijau itu tokh masih tetap bisa dipertahankan jiwanya. Maka aku merasa tidak enak terhadap Lo Han-ya dan lain-lainnya yang ada di alam baka. aku benci terhadap diriku sendiri yang tidak bisa mengambil keputusan secara tepat."

Kim Houw nampaknya sangat menyesal dan sedih, hingga air matanya mengalir keluar.

Cu Su dan Tok-kai segera menghibur: "Siaohiap harus jaga baik-baik kesehatan diri sendiri, mungkin itu sudah takdir bahwa mereka belum waktunya dipanggil menghadap Giam-lo-ong.

Cuma saja, manusia seperti mereka itu yang sudah banyak melakukan kejahatan pasti tidak dapat lolos dari dosanya."

Kim Houw berhenti menangis, mendadak dongakkan kepalanya dan pasang telinganya sebentar kemudian, seolah-olah tingkah lakunya orang gila, ia lantas melesat terbang tinggi sembari berseru :

"Bagus, masih ada satu yang masih belum berlalu, aku harus bunuh mampus padanya untuk melampiaskan kemendongkolanku !"

Sebentar saja orangnya sudah berada sejauh kira-kira sepuluh tumbak lebih.

Dibelakang sebatang pohon besar, memang benar ada sembunyi bayangan seseorang, ketika Kim Houw menghampiri, bukan main kagetnya ia urungkan maksudnya hendak membunuh mampus, dengan mata membelalak ia menanya.

"Botak, mengapa kau sendirian berada disini?"

Si botak menoleh, wajahnya matang biru, lengan kanannya melongsor ke bawah tidak bisa digerakkan, kakinya juga agak pincang, terang ia telah terluka parah.

Tapi ketika ia dapat lihat Kim Houw, lantas berseru dengan suara girang. "Kim Siaohiap! Kim Siaohiap! dimana suhu?"

Berbareng dengan itu, Cu Su dan Tok-kai juga sudah muncul di depannya.

Begitu melihat suhunya, si botak hatinya merasa lega, tapi segera ia jatuh tidak ingat dirinya lagi!

Ketika Tok-kai menyaksikan keadaannya si botak, hatinya merasa pilu, ia lalu menghampiri dan menepuk jalan darahnya, sebentar kemudian si botak sudah mendusin.

Ketika membuka matanya, si botak lantas hendak paksakan dirinya untuk berdiri.

Tok-kai buru-buru mencegah seraya berkata. "Jangan bergerak, kau rebah dulu sebentar!" "Tidak suhu! Lekas naik ke atas gunung. Touw cian-pwee dan nona Peng Peng serta Cu

Hoako semua masih ada diatas." jawab si botak

Tanpa menunggu keterangan lebih jauh, Kim Houw sudah melesat keatas gunung yang ditunjuk oleh si botak. Dari keterangan si botak Kim Houw sudah dapat menduga kalau mereka berada dalam bahaya, maka ia tidak mau membuang tempo lagi.

Tiba di tengah gunung, pertama-tama ia berpapasan dengan Sun Cu Hoa. Sun Cu Hoa rebah menggeletak di belakang sebuah batu besar, terang lukanya pasti ada lebih berat dari pada si botak, Kim Houw menoleh, ia lihat Cu Su sudah lari menghampiri padanya.

Kim Houw menunjuk tempat dimana Sun Cu Hoa mendapat kecelakaan, ia sendiri melanjutkan perjalanannya mencari Peng Peng.

Diatas sebuah bukit ada sebidang tanah datar, dikitari tanaman pohon, tapi bagian yang kosong cuma kelihatan tumpukan batu-batu besar kecil yang sangat aneh bentuknya!

Diatas bukit itu Kim Houw berputaran lama, ia menemukan jejak orang pernah bertempur. Tapi Tiong-ciu-khek dan Touw Peng Peng tidak kelihatan bayangannya.

Pada saat itu, kecemasan hati Kim Houw sungguh sukar dilukiskan. Melihat luka lukanya Sun Cu Hoa dan si botak yang begitu hebat ia telah menduga Peng Peng dan Tiong-ciu-khek juga tidak terluput dari bahaya, atau mungkinmungkin lebih hebat keadaannya daripada Sun Cu Hoa dan

si botak, tapi semua ini Kim Houw tidak berani membayangkan!

Mendadak ia dengar sayup-sayup suara rintihan yang terbawa oleh siliran angin gunung.

Kim Houw yang dapat menangkap suara itu, dalam hati merasa kaget tapi juga girang. Dengan cepat ia lari menuju ketempat datangnya suara rintihan tadi.

Suara itu datangnya ternyata dari belakang gunung, baru kira-kira sepuluh tombak Kim Houw berlari, kembali terdengar suara rintihan, kali ini lebih nyata. Dengan tidak banyak pikir lagi Kim Houw lantas lari kearah suara itu.

Mendadak ia merasa ada sambaran angin kuat, menyambar dari arah samping, Kim Houw terkejut, dengan cepat memutar tubuhnya menghindarkan serangan angin itu. Tapi ketika ia menoleh untuk melihat siapa si penyerang, ia kaget dan girang, sebab orang itu ternyata adalah Peng Peng sendiri yang ia anggap sudah terluka parah sehingga membuat cemas hatinya.

"Oh, Peng Peng! Kau.kau tidak kenapa-napa?" seru Kim Houw kegirangan melihat Peng

Peng segar bugar.

Memang betul Peng Peng tidak kenapa-napa, ia selamat tidak kurang suatu apapun. Suara Kim Houw membuat ia terkejut girang.

"Houw-ji, kaukah yang datang, aku."

Peng Peng sebetulnya hendak mengatakan "aku sekarang boleh tidak perlu takut-takut lagi." Tapi baru saja mengeluarkan perkataan "aku", kakinya mendadak lemas dan jatuh numprah di tanah.