Istana Kumala Putih Jilid 18

 
Jilid 18

Kim Houw egoskan dirinya, lantas menoleh memandang melotot pada Kim Lo Han, maksudnya hendak mengatakan, suaranya tertawa itu justru menyadarkan dirinya mengapa dia dirintangi?

Menampak Kim Houw berkelit, dalam hati bukan hanya terperanjat, tapi juga ketakutan. Sebab ia mengerti, kalau Kim Houw benar-benar hendak menggunakan kepandaian Kao-jin Keisu, mesti dalam kamar sesempit itu, sungguh tidak gampang bagi dirinya hendak menangkap Kim Houw, dan jika ada kesalahan apa-apa bukan lebih celaka lagi akibatnya?

Untung pada saat itu mendadak terdengar bentakan Kim Coa Nio-nio, yang telah mengagetkan Kim Houw. Kesempatan itu telah digunakan oleh Kim Lo Han untuk memegang lagi tangan Kim Houw.

Dengan cepat ia mengerahkan seluruh kekuatan Kim-kong Cao-kangnya, supaya Kim Houw tertidur lagi, jangan sampai terganggu oleh soal-soal tadi, sehingga akan sia-sia semua usahanya.

Sudah tentu, dengan keadaan demikian, Kim Lo Han sendiri juga harus menindih semua perasaannya sendiri yang tadi sedang bergolak. Setelah Kim Houw nampak tenang lagi, ia sendiri juga perlahan-lahan mulai tenang pikirannya.

Namun, gangguan telah datang dan saling menyusul, saat itu dari luar kembali terdengar suara pertempuran hebat, cuma Kim Lo Han dan Kim Houw tadi setelah berlaku gegabah dan hampir saja mencelakakan dirinya, kini telah tertidur lagi.

Entah berapa lama telah berlalu, terdengar suara geledek, hingga Kim Lo Han dan Kim Houw kaget, selanjutnya disusul oleh jatuhnya hujan lebat.

Kemudian suara gunung berbunyi tak putus-putusnya.

Hujan dan bunyi geledek itu bagi dirinya yang mengobati dan yang diobati, merupakan suatu rintangan besar.

Kim Lo Han buru-buru tarik kembali kekuatannya, ia duduk tenang disamping, sebab saat itu juga merupakan saat-saat yang terpenting, kalau bisa menahan diri sampai hari itu, boleh dikata Kim Houw sudah sembuh sembilan puluh yakin tidak merupakan suatu halangan atau bahaya lagi.

Siapa nyana tepat pada saat itu telinganya dengar suara ketawa seram yang datangnya dari arah jauh, tapi kemudian mendekat dan kemudian berada di depan kuil. Suara itu jauh dari jauh kedengarannya sangat halus, dari jarak dekat juga tidak begitu nyaring. Tapi sudah jelas bahwa orang yang tertawa itu sudah berada dekat di depan mata ! Kim Lo Han mengetahui bahwa saat itu di depan matanya sudah muncul dua orang yang berkepandaian sangat tinggi, mereka tentu adalah Kouw-low-sin-ciam dan Liok-ci-Thian-mo.

Kim Lo Han buru-buru mengamati diri Kim Houw, masih untung, Kim Houw matanya memandang lurus, kedua tangannya meraba-raba badannya seolah-olah tidak memperdulikan kedatangan kedua iblis itu.

Kim Lo Han mulai tenang, sebab dari keadaannya itu, Kim Houw terang sedang menggunakan pikirannya untuk mengenangkan apa-apa.

Mendadak suara di luar telah masuk ke telinganya Kim Lo Han.....

"Kita menggunakan kuil ini saja, untuk menguji kekuatan tangan kita"

Nyata kedua iblis tua itu sudah siap akan menguji kekuatan dan kuil itu yang akan menguji kekuatan, dan kuil itu yang akan dijadikan batu ujian. Sekarang apa daya ?......

"Beleduk! Beleduk!" terdengar suara nyaring dua kali, pintu kuil ternyata sudah dibikin rubuh ! Kim Lo Han terperanjat, tapi apa daya ?

Ia masih belum menemukan daya apa untuk menghadapi kedua iblis itu, kembali terdengar suara dinding rubuh, bahkan tanah juga bergetar, sedang dinding kamar rahasia itu juga goncang keras.

Kim Lo Han memandang Kim Houw, anak muda itu ternyata masih tetap dalam keadaannya seperti tadi, seolah-olah tidak dikejutkan oleh suara robohnya dinding tadi.

Setelah suara gemuruh terdengar beberapa kali langit-langit kamar rahasia itu akhirnya rubuh juga. Kim Lo Han gerakan badannya menyelamatkan diri. Ia mengira Kim Houw sudah sadar, tentu bisa menyingkir sendiri.

Siapa nyana, Kim Houw bukan saja tidak menyingkir, bahkan bergerak sajapun tidak, ia membiarkan, bahkan bergerak sajapun tidak, ia membiarkan dirinya ditimpa genteng, tiang, serta air hujan !

Ketika genteng dan tiang menimpa badannya, Kim Houw masih tidak anggap apa-apa. Tapi ketika air hujan mengguyur dirinya. Kim HOUW merasakan badannya amat sejuk segar, ia lalu dongakkan kepala dan mengeluarkan suara helaan napas.

Kim Lo Han lantas menegur dirinya "Houw-ji ! Houw-ji! Kau kenapa ?"

Mendengar suara panggilan, Kim Houw terkejut, lantas lompat bangun,

Kim Lo Han masih mengira penyakitnya kambuh lagi, maka lantas lintangkan dirinya hendak menyambar tangannya, tapi Kim Houw mendadak seperti macan mengamuk.

Dengan mendadak ulur tangannya, sehingga badan Kim Lo Han terdorong membentur tepat pada dinding tembok kamar, justru saat itu, tembok itu mendadak rubuh!

Dalam pada saat yang kritis itu, Kim Houw mendadak sadar apa yang telah terjadi. Sambil mengeluarkan pekikan nyaring, lantas gerakkan kedua tangannya. Satu tangannya. Satu tangan mendorong tembok yang hendak menindih badan Kim Lo Han, lain tangan menyambar badannya. Tapi bukan main kagetnya Kim Houw karena badan Kim Lo Han yang disambar dan diangkat tinggi-tinggi ternyata sangat enteng seperti sudah hilang beratnya, bahkan terdengar suara merintih, meski tidak keras tapi sangat menyedihkan !

Kim Houw yang kini sakit ingatannya sudah pulih kembali, ketika menyaksikan keadaannya Kim Lo Han, hampir saja terbang semangatnya.

"Lo Han-ya ! Lo Han-ya ! Kau....kau...kau..." demikian ia berseru.

Kim Houw bisa sembuh pada saat yang sangat gawat itu, mungkin sudah takdir namun jasanya Kim Lo Han juga tidak sedikit. Kalau tidak ada Kim Lo Han yang menggunakan ilmunya Kim Kong Cao-kang dan menyalurkan seluruh kekuatan tenaganya untuk mengobati dirinya terus menerus selama beberapa hari, walaupun bagaimana juga ingatan Kim Houw tidak bisa sadar pada saatnya. Dan apabila tidak bisa sadar pada saat itu, bagaimana akibatnya, benar-benar susah dibayangkan !

Kesembuhan Kim Houw, kecuali jasa Kim Lo Han, suara tertawa Khu Leng Lie, suara robohnya tembok, suara halilintar dan angin ribut serta turunnya hujan lebat juga merupakan faktor penting.

Cuma, Kim Houw yang baru tersadar tidak seharusnya Kim Lo Han melarang ia bergerak, sehingga akhirnya terkena serangan-serangan Kim Houw. Selama sebulan lebih Kim Houw hilang ingatannya, tapi kekuatan tenaganya ternyata bertambah tidak sedikit. Sebab dalam pikirannya selain memikirkan bagaimana ingatannya bisa hilang, hal lainnya boleh dikatakan tidak ada sama sekali dalam keadaan alam pikirannya. Maka, jika ada waktu terluang lantas digunakan untuk melatih ilmu silatnya.

Dalam keadaan antara sadar dan tidak ia keluarkan ilmunya Han-bun Cao-kie untuk menyerang Kim Lo Han yang sudah tidak mampu menandingi Kim Houw, apalagi setelah kehilangan kekuatannya begitu banyak, bagaimana ia sanggup menerima serangan itu ?

Dalam keadaan terpaksa ia menyambut serangan Kim Houw, sisa kekuatan tenaganya lantas musnah. Setelah sekujur badannya dingin menggigil, tulang-tulangnya pada sakit linu otot-ototnya pada mengkerut, tahulah dia bahwa sudah batas waktu hidupnya sudah sampai.

Tapi ia merasa sangat girang, ketika tahu bahwa Kim Houw sudah sembuh.

Ketika Kim Houw mengetahui bahwa orang yang diserang bukannya musuh, ia berdaya hendak menarik kembali serangannya, tapi sudah terlambat. Pada saat itu, tiba-tiba terdengar orang bicara : "Hmmm ! Tidak dinyana di dalam kuil ini masih ada kamar rahasianya dan dalam kamar masih ada orang yang sembunyi, Liong Ci Thian mo muncul kembali di dunia tidak nanti membiarkan orang melihat wajahnya, siapa yang melihat harus kubinasakan!"

Kim Houw mendengar perkataan itu, hatinya yang sedang bersedih karena memikirkan luka Kim Lo Han, seketika lantas naik darah. Ia tidak mau membiarkan orang itu omong besar dan berlaku congkak di depan matanya. Sambil memandang tubuh Kim Lo Han, ia lantas melesat keluar dari runtuhan puing.

Baru saja meletakkan tubuh Kim Lo Han di bawah satu pohon besar, tiba-tiba di belakangnya terdengar orang ketawa dingin.

"Ingin lolos dari bawah hidungku dalam keadaan hidup," katanya. "Sama sukarnya dengan naik ke sorga. Anak busuk, orang semacam kau juga memikirkan lari dari bawah tanganku. Hai! Belum pernah Liok-ci Thian-mo mengampuni orang yang melihat wajahnya!" Mendengar perkataan yang sangat tekebur itu, Kim Houw makin gusar. Tapi ia tidak mau meladeni, berpaling sajapun tidak seolah-olah di matanya tidak ada orang yang omong besar itu.

Sikap Kim Houw itu telah membuat seorang yang anggap dirinya ada orang terkuat di dunia seperti Liok-ci Thian-mo itu, merasa lebih terhina daripada dimaki atau digebuk.

Munculnya Liok-ci Thian-mo di dunia kangouw untuk kedua kalinya ini, pertama telah bertemu dengan Kouw-low Sian Ciam dengan kesudahan mengadu kesaktian. Karena kedua iblis itu sebaya usianya, maka boleh dikata sama tingkatannya.

Tapi Kim Houw yang usianya masih muda belia, juga berani berlaku begitu sombong terhadap dirinya, bagaimana dia tidak murka ?

Kini Liok ci Thian mo sikapnya tidak begitu ingin sombong lagi. Sambil keluarkan bentakan hebat, tangannya mengeluarkan sebuah benda semacam plat yang warnanya merah membara.

"Bocah, kau terlalu kurang ajar, lihat aku dengan "Thian-mo Siok-hun-leng" akan ambil jiwa anjingmu!" katanya gusar sekali.

Kim Houw meski sikapnya acuh tak acuh tapi sebenarnya sangat waspada, sebab dari perkataan dan kelakuannya Liok-ci Thian-mo ia sudah dapat menduga bahwa iblis tua itu bukan orang sembarangan.

Saat itu berbareng dengan ucapannya Liok-ci Thian-mo, ia dapat menangkap suara memecah diangkasa yang sangat halus. Kim Houw yang mempunyai kepandaian tinggi dan bernyali besar, sedikitpun tidak merasa jeri. Ia menantikan setelah suara halus itu dekat, baru memutar-mutar badannya, sedang jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ia ulur menurut kehendak sang hati....

Ia kira, sebelum matanya dapat lihat senjata apa sebetulnya yang dilancarkan itu, kedua jari tangannya sudah cukup menjepit senjata tersebut tanpa meleset.

siapa nyana, senjata rahasia fihak lawan itu ternyata sangat aneh meluncurnya, tidak secara lurus, melainkan berputaran, maka jari tangan Kim Houw tidak berhasil menjepit senjata tersebut malah senjata itu sudah meleset ke arah pelipisnya.

Bukan kepalang kagetnya Kim Houw, masih untung kepandaiannya sangat tinggi dalam keadaan sangat gawat, ia cepat miringkan badannya sambil pentang mulutnya meniup untuk menahan majunya senjata gaib itu. Lalu untuk kedua kalinya ia ulur jari tangan kanannya untuk menjepit dan kali ini ia berhasil.

Berbareng pada saat itu, telinganya kembali menangkap suara aneh yang memecah angkasa, yang datangnya dari arah lain. Karena pengalaman barusan Kim Houw tidak berani gegabah lagi.

Dengan cepatnya ia melesat tinggi ke angkasa, kemudian menjungkir balik dengan kepala di bawah dan kaki di atas, ia menggunakan tangannya yang menjepit senjata "Thian mo Siok hun leng" untuk menyambut serangan musuh. Setelah terdengar suara "trang" yang amat nyaring, sebatang anak panah panjang jatuh ke tanah.

Kim Houw melayang turun sambil ketawa, matanya lantas dapat melihat dua orang kakek, satu berada di timur, satunya lagi berada di barat. Dengan demikian, hingga Kim Houw berada di tengah-tengah antara kedua iblis tua itu. Kedua iblis tua itu satu berbadan kurus jangkung, sedang yang lain gemuk pendek.

Yang jangkung kurus tangannya memegang gendewa, pinggangnya dilibat serenceng kepala tengkorak manusia, keadaannya sungguh menakutkan.

Sedang si gemuk pendek tangan kirinya sudah putus sebatas pergelangan, dibungkus dengan kain merah, seolah-oleh sebilah belati.

Tangan kanan telapakan luar biasa besarnya, bagian jempolnya lebih satu jari.

Kedua orang tua itu sudah tentu adalah Kouw Low Sin Ciam dan si Malaikat jari enam.

Kouw-louw Sin-ciam melihat Kim Houw, telah keluarkan seruan kaget. Sebab tadi pagi ia baru saja menolong jiwa Siao Pek Sin, mana ia tahu bahwa kedua pemuda itu wajahnya mirip satu sama lain.

Tapi tidak demikian dengan Liok-ci Thian Mo, ia bukan cuma kaget saja, bahkan merasa terheran-heran. Senjata Thian-mo Siok hun-leng adalah senjata yang paling ampuh yang membuat namanya sangat terkenal. Berapa puluh tahun lamanya ia malang melintang di dunia Kangouw tidak ada seorangpun yang mampu menyambuti senjatanya yang sangat aneh bentuknya itu.

Sebab cara menyerangnya dan cara meluncurnya ada sangat aneh, melukai korbannya tanpa terduga serta tetap mengarah sasarannya, merupakan suatu keistimewaan dalam dunia Kangouw. Dimasa yang telah lampau, lawannya yang mampu melayani senjatanya itu, kebanyakan dengan pertolongan senjata tajam atau dengan cara berkelit, dan paling akhir baru mendesak padanya supaya tidak melepaskan senjatanya itu lagi. Tapi tidak ada seorangpun yang berani menyambuti senjata Thian mo Siok-hun-leng itu, apalagi dengan jepitan dua jari.

Dan kini, baru segebrakan saja Kim Houw sudah berhasil menyambuti senjatanya, bahkan dengan senjatanya itu pula digunakan untuk menyampok jatuh senjata anak panah Kow-low Sin- ciam. Sungguh hebat kepandaian anak muda itu.

Caranya Kim Houw bertindak begitu gesit dan kekuatan jari tangannya serta ilmu mengentengi tubuh yang sangat luar biasa, semuanya telah mengherankan iblis yang anggap dirinya seorang jagoan paling kuat itu. Terutama perbuatan Kim Houw tadi, yang berarti seorang diri telah menghadapi kedua iblis kenamaan, bagaimana Liok-ci Thian-mo tidak kaget?

Liok-ci Thian-mo mengamat-amati Kim Houw, sebaliknya Kim Houw juga memandang padanya.

Kim Houw pada saat itu sudah murka betul-betul, wajahnya pucat, matanya mendelik mengawasi kedua musuh-musuhnya. Sebentar menyapu ke timur, sebentar ke barat, sikapnya keren sekali, sedikitpun tidak merasa jeri!

Liok-ci Thian-mo adalah seorang yang licik, dalam segala hal, kalau ia anggap tidak safe benar-benar, ia tidak berani berbuat. Dalam pertempuran demikian pula, kalau ia anggap tidak unggul sedikitnya sembilan puluh persen, ia juga tidak berani turun tangan. Kalau ia berani bertempur dengan Kow-louw Sin-ciam, karena ia yakin benar bahwa kepandaiannya lebih tinggi setingkat dari lawannya.

Tapi sekarang melihat kekuatan dan kepandaian Kim Houw yang seolah-olah dewa dari langit, bagaimana kalau ia tidak lantas ragu-ragu? "Anak busuk! Tahukah kau siapa aku ini?" demikian akhirnya ia menanya.

Kim Houw matanya melotot. Dengan tajam ia memandang Liok-ci Thian-mo, lalu perlihatkan sikap yang menghina !

Selanjutnya ia lantas ulapkan senjata Thian-mo Siok-hun-leng yang berada dalam tangannya, secara diam-diam ia kerahkan kekuatan tenaga lwekangnya dengan kedua jari tangannya ia menekan, senjata itu lantas patah menjadi dua potong, terus dilemparkan ditanah !

Menyaksikan kejadian itu, Liok-ci Thian-mo kaget bercampur gusar. Kaget karena senjatanya itu terbikin dari besi keluaran Burma yang dicampuri dengan emas, lebih ulet dan keras sepuluh kali dari pada baja. Meskipun ia sendiri, dengan hanya kekuatan dua jari tangan belum tentu bisa membikin patah senjata itu. Gusar, karena Kim Houw berani merusak senjatanya yang dipandang sebagai tanda dirinya, di hadapan mata hidungnya sendiri !

Maka Liok-ci Thian-mo lantas keluarkan bentakannya yang hebat: "Binatang cilik, kau berani merusak benda tandaku yang sudah sangat terkenal. Aku Liok-ci Thian-mo bagaimana mau mengerti ? Sekarang aku akan kasih kau rasa kelihaian Liok-ci Thian-mo !"

Dengan beruntun Liok-ci Thian-mo menyebut namanya sendiri, ia anggap bahwa nama julukannya itu sudah begitu terkenal dan bisa digunakan untuk menggertak orang.

Ia tidak tahu bahwa Kim Houw sama sekali tidak tahu nama-nama jago-jago dunia Kangouw, maka ia hanya ganda dengan tertawa dingin.

"Liok-ci Thian-mo, Cit-ci Thian-mo atau Pat-ci Thian-mo dan segala Thian-mo apa lagi, apa kau kira bisa berbuat apa terhadap aku?" Kim Houw mengejek.

Jawaban itu merupakan suatu hinaan luar biasa. Liok-ci Thian-mo yang namanya sudah terkenal sejak empat puluh tahun berselang, sekalipun dalam hati agak jeri, juga tidak sanggup menelan hinaan begitu rupa. Bisa dibayangkan bagaimana kalapnya waktu itu.

Selagi hendak angkat tangannya untuk menyerang Kim Houw, tiba-tiba di bawah gunung di suatu lembah yang sangat dalam, muncul segumpal awan berwarna hijau, yang perlahan-lahan kain ke atas. Awan itu cuma seperti tempayan besarnya, bentuknya ada begitu aneh, sehabisnya hujan lebat, awan itu memancarkan sinar hijau yang berkilauan.

Ketika Liok-ci Thian-mo yang tengah hendak menyerang Kim Houw melihat pemandangan itu, bukan kepalang girangnya. Sambil perdengarkan siulan nyaring, ia lantas tinggalkan Kim Houw dan lompat melesat ke lembah itu!

Kim Houw tadi karena terluka Kim Lo Han, telah tumpahkan amarahnya keatas diri Liok-ci Thian-mo, sebab dinding tembok itu adalah Liok-ci Thian-mo yang membikin rubuh. Kalau bukan gara-gara Liok-ci Thian-mo, yang mengadu kekuatan dengan Kouw-low Sin Ciam bagaimanapun kuil itu tidak sampai hancur dan Kim Lo Han juga tidak sampai terluka. Oleh karena itu maka ia tidak membiarkan Liok-ci Thian-mo kabur seenaknya saja.

"Kau ingin kabur? Tinggalkan kepalamu dulu!" bentaknya.

Baru saja Kim Houw gerakkan badannya, Kouw-low Sin Ciam juga bergerak. Kim Houw mengira iblis tua itu hendak merintangi dirinya, maka ia tahu badannya yang masih berada ditengah udara, sambil mengirim serangan ia berkata : "Bagus? Aku nanti hajar mampus kau dulu!" Tidak nyana, Kouw-low Sin ciam mendadak berseru kaget, setelah melompat ke samping ia lalu menegur: "Aku justru hendak membantu kau, apa kau sudah lupa dengan perkataanku tadi pagi?"

"Siapa sudi kau bantu? Siapa tahu yang terkandung dalam hatimu? Aku tidak kenal kau?" jawab Kim Houw.

Kouw-low Sin ciam juga ada satu iblis yang ganas yang sudah kenamaan, bagaimana sudi dihina begitu rupa? Tapi, ia juga tahu bahwa Kim Houw lihay. Dengan melihat semua sepak terjangnya tadi, kepandaiannya kelihatan jauh lebih tinggi daripada beberapa hari berselang.

Kalau mau menuruti hawa napsunya dan paksa merintangi gerakan Kim Houw juga, meski belum tentu ia akan kalah, tapi dalam waktu setengah hari, mungkin masih belum ketahuan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Oleh karena dengannya tidak mempunyai permusuhan apa-apa, ia merasa tidak ada perlunya untuk adu jiwa, maka ia lantas tidak bergerak lebih jauh.

Saat itu di bawah lembah kembali muncul awan hijau, berbareng dengan itu, Kim Houw juga dengar ketawa riang Liok-ci Thian-mo!

Oleh karena Kim Houw menampak Kouw-low Sin ciam tidak mengandung maksud permusuhan, maka ia juga tidak mau bikin perhitungan dengannya, dengan cepat ia melesat turun. Maksudnya, sekalipun tidak dapat merenggut jiwa Liok-ci Thian-mo, setidak-tidaknya juga harus dapat menghajar padanya setengah mampus !

Kim Houw berlalu, Kouw-low Sin-ciam juga pergi !

Setibanya di lembah, Kim Houw sudah tidak dapat menemukan Liok-ci Thian-mo. Ia heran kenapa Liok-ci Thian-mo bisa lari ketakutan ?

Benarkah Liok-ci Thian-mo ketakutan dan kabur ? Tidak ! Iblis itu pernah dengar pembicaraan seorang tukang jual obat-obatan, bahwa di daerah pegunungan itu, telah muncul seekor "kerbau hijau" kecil. Kerbau hijau adalah penjelmaan dari siluman pohon yang usianya sudah ribuan tahun, kalau bisa mendapatkannya dan dimakan sebagai obat, sama khasiatnya dengan rumput "lengci" yang ribuan tahun usianya, bukan saja kekuatan tenaganya bertambah hebat, bahkan bisa bikin tambah umur dan awet muda, maka jauh-jauh ia perlukan datang kemari.

Siapa nyana, berhari-hari lamanya ia mencari, ternyata tidak dapat ditemukan.

Hari itu, sehabis hujan lebat, tiba-tiba timbul awan hijau dari bawah lembah. Itu sebetulnya bukan awan, melainkan hawa yang dipancarkan oleh kerbau hijau itu. Oleh karena penemuannya itu, bagaimana ia tidak girang. Segera rasa malu, nama baik yang telah dipupuk selama beberapa puluh tahun, semuanya sudah tidak diperdulikannya lagi. Asal ia bisa dapatkan kerbau hijau, apa yang ditakuti lagi?

Tapi, binatang mukjijat penjelmaan siluman kayu itu, bagaimana begitu mudah diketemukan? Ia begitu mendengar suara aneh, segera menghilang ke dalam tanah. Ketika Liok-ci Thian-mo tiba ditempat tersebut, kerbau itu sudah tidak terlihat bayangannya.

Baru saja Liok-ci Thian-mo tiba di bawah lembah, ia sudah tahu kalau Kim Houw mengejar dirinya. Oleh karena kuatir Kim Houw akan menghalangi maksudnya, maka dengan menahan gusarnya, ia mencari tempat untuk menyembunyikan diri. Liok-ci Thian-mo adalah seorang yang banyak akal, tempat yang dipakai untuk menyembunyikan diri, sudah tentu tidak mudah ditemukan, apalagi Kim Houw memang tidak menduga kalau ia bisa menyembunyikan diri.

Maka, setelah mencari di sana-sini tidak bisa menemukan, terpaksa naik lagi ke atas gunung.

D iatas gunung, selagi Kim Houw berjalan, tiba-tiba melihat berkelebatnya bayangan merah. Ia mengira itu adalah si kacung baju merah yang datang, maka lantas hentikan tindakannya untuk menunggu.

Tidak nyana, bayangan merah itu tidak menghentikan tindakannya, bahkan seperti sedang mengejek, tapi juga seperti menantang!

Kim Houw gusar, tapi ia sudah tidak mempunyai tempo terluang untuk mengurusi segala begituan, sebab Kim Lo Han masih menggeletak di sana dalam keadaan terluka parah.

Maka ia lantas tinggalkan bayangan merah itu dan melesat naik keatas gunung.

Di puncak gunung, kembali ia melihat berkelebatnya bayangan merah yang sedang memburu ke arah Kim Lo Han. Menyaksikan keadaan itu bagaimana Kim Houw tidak cemas? Maka, dengan tanpa pikir lagi, ia lantas ayun tangannya mengirim satu serangan.

Dengan demikian, maka terjadilah penyerangan atas dirinya si kacung baju merah seperti telah dituturkan dibagian atas. Untung Kim Houw bermata jeli, sekelebatan ia sudah lantas mengenali dirinya si kacung baju merah, maka dengan cepat tarik kembali serangannya.

Pada saat itu, hati Kim Houw benar-benar sedih, sebab luka Kim Lo Han, sudah tidak mungkin dapat disembuhkan. Bukan saja sudah musnah seluruh kekuatannya, bahkan daging di badannya juga sudah mulai mengkeret.

Badannya yang tadinya begitu besar seperti gajah, kini telah berubah demikian rupa, wajahnya sudah banyak keriputnya, nampaknya sudah loyo benar-benar.

Kim Houw yang menyaksikan keadaan demikian air matanya lantas bercucuran.

Tiba-tiba terdengar suara Kim Lo Han yang berkata kepadanya : "Houw-ji, apa kau sudah sembuh betul-betul ?"

"Penyakit lamaku telah kambuh, ini sungguh menjengkelkan! Selama ini, entah berapa banyak kesalahan yang telah aku lakukan ? Cuma, aku sekarang sudah sadar betulnya, hanya kau Lo Han-ya, kau." demikian jawabnya, dengan air mata sukar dibendung.

Di wajahnya Kim Lo Han tiba-tiba terkilas satu senyuman katanya : "Houw-ji, asal kau sudah sembuh. Lo Han-ya mati juga tidak menyesal. Cuma sebelumnya aku melepaskan napasku yang penghabisan, masih ada sedikit perkataan akan kutinggalkan untuk kau, itu adalah tentang dua iblis tua itu, kau harus bertanggung jawab untuk menyingkirkan mereka, kalau mereka tidak disingkirkan dari dunia, orang-orang di dunia Kangouw mungkin tidak akan bisa hidup aman."

Bicara sampai di situ, napas Kim Lo Han sudah memburu. Kim Houw terperanjat, sekarang baru tahu bahwa selama bicara tadi itu, hanya merupakan pergulatannya yang terakhir untuk meninggalkan pesannya penghabisan !

Selanjutnya, Kim Lo Han masih bisa bicara lagi dengan suara terputus-putus: "Dua iblis tua itu, kepandaian ilmu silatnya merupakan tersendiri. Kalau kau bertempur dengan mereka kau tidak boleh gegabah, dan lagi." Dan lagi apa? Kim Lo Han belum sempat menyampaikan maksudnya, matanya sudah meram, napasnya sudah berhenti, dia sudah pulang......

Kim Houw menjerit, lalu menangis seperti anak kecil dan berlutut di depannya.

Si kacung baju merah juga tidak menduga Kim Lo Han akan meninggalkan dunia begitu cepat. Mengingat persahabatannya begitu lama, air matanya lantas meleleh tanpa merasa dan menjura dua kali di depan jenasah kawan senasib dalam Istana Kumala Putih di rimba keramat.

Kim Houw masih terus menangis, seolah-olah tidak perdulikan dirinya sendiri. Si kacung baju merah tidak berdaya, maka membiarkan dirinya melampiaskan menangisnya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dingin yang mengecam suasana duka itu.

Bukan kepalang kagetnya si kacung baju merah, ia mengira kedua iblis tua itu datang lagi. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi barusan di tempat itu, juga tidak tahu bahwa Kim Houw pernah bertemu muka bahkan sudah mengadu tenaga dengan dua iblis. Maka seketika itu lantas berseru : "Kim-siauhiap!"

Tapi Kim Houw seolah-olah tidak mendengar seruan itu, ia masih tetap mendekam dan menangis, sama sekali tidak meladeni seruannya.

Tepat pada saat itu, suara ser, ser, ser, kedengaran ramai, berapa puluh batang anak panah menyambar beterbangan bagaikan binatang balang.

Si kacung baju merah dalam kagetnya segera melesat, ia berdaya hendak melindungi diri Kim Houw. Karena ia mengira Kim Houw yang hatinya sedang berduka, mungkin tidak tahu kalau dirinya di bokong!

Di luar dugaan, Kim Houw sudah melesat tinggi sembari keluarkan bentakan keras, dan tangannya diputar laksana titiran, untuk menyampok jatuh serangan anak panah, sehingga sebatangpun tidak ada yang mengenakan dirinya.

Kim Houw nampaknya sudah murka, sembari membentak, badannya meluncur ke arah datangnya anak panah. Gerakannya gesit dan hebat sekali. Si kacung baju merah masih belum lihat tegas apa yang dilakukan oleh Kim Houw, anak muda itu sudah melesat dan menghilang dari depan matanya.

Tidak antara lama lalu disusul dengan suara jeritan ngeri berulang-ulang. Si kacung baju merah tercekat, dalam hatinya menduga orang-orang yang melakukan pembokongan dengan anak panah tadi, tentunya tidak terluput dari pembalasan Kim Houw. Tapi entah Kim Houw menggunakan cara apa untuk menghajar orang-orang itu, dan siapa sebetulnya orang yang melakukan pembokongan itu.

Sebentar kemudian Kim Houw sudah balik kembali. Ia tetap berdiri tenang di depan jenasah Kim Lo Han! Kelihatannya begitu menghormat, tidak berani bergerak atau bersuara.

Si kacung baju merah kuatirkan Kim Houw karena terlalu duka sehingga mengakibatkan luka didalam jika demikian halnya, maka kalau kedua iblis tua itu nanti muncul lagi, tidak ada yang mampu menundukkan.

"Kim-siauhiap, siapakah orangnya yang tengah malam buta datang ditempat belukar ini ?" tanyanya perlahan. Kim Houw dengan suara yang cuma bisa didengar oleh si kacung baju merah sendiri menyahut : "Rasanya seperti orang-orang dari Ceng-hong-kauw !"

"Ceng-hong-kauw ? Apa kau ada permusuhan dengan orang-orang Ceng-hong-kauw ?" tanya si kacung baju merah kaget.

Kim Houw mengangguk, tidak menjawab. Tapi ia jelalatan, agaknya sedang mencari tempat yang pantas untuk mengubur jenazah Kim Lo Han.

Melihat Kim Houw tidak menjawab, si kacung baju merah juga tidak menanya lagi. Ia pergi ke bekas kuil Han-pek Cin-koan, ketika kembali tangannya memondong sebuah guci besar. Kim Houw mengerti maksudnya, keduanya dengan tanpa banyak bicara, memasukkan jenazah Kim Lo Han ke dalam guci, kemudian dikubur di belakang bekas kuil. Setelah selesai, Kim Houw berhenti berlutut di depan gundukan tanah, lama tidak mau berdiri !

Si kacung baju merah yang menyaksikan keadaan demikian, dalam hati merasa cemas. Untuk menasehati atau mencegah ia sudah tak mampu, tiba-tiba dalam pikirannya ingat sesuatu yang dapat menggerakkan hati pemuda itu.

"Kim-siauhiap ! Tahukah kau dimana adanya nona Peng Peng sekarang ?" demikian ia menanya dengan tiba-tiba.

Pertanyaan itu berhasil menarik perhatian Kim Houw, karena setelah mendengar pertanyaan itu, dengan serentak Kim Houw berdiri dan menjawab : "Cek-ie-ya, bukankah ia ditawan oleh Siao Pek Sin ?"

Si kacung baju merah melihat Kim Houw meski sangat berduka, tapi pikirannya ternyata sudah terang hingga dalam hati merasa girang.

"Tidak, ia sudah lolos dari tawanan Siao Pek Sin. Cuma, sekarang barangkali untuk kedua kalinya ia berada dalam bahaya, bahkan mungkin lebih berbahaya daripada ketika dalam tangan Siao Pek Sin !"

Mendengar itu Kim Houw terperanjat. "Apa artinya perkataanmu ini ? Ah, sudah lama aku kehilangan ingatan, sebetulnya apa yang telah kulakukan selama itu ? Cek-ie-ya di sini tempat siapa ? Apa sebetulnya yang telah terjadi ? Bolehkah kau beritahukan padaku ?"

"Rasanya tidak perlu begitu tergesa-gesa" jawabnya.

"Tidak, harap kau beritahukan aku dulu, aku sudah tidak sabar."

"Kim-siauhiap, tenanglah sedikit. Di belakang puncak gunung ini, masih ada orang yang menunggu kita !"

Kim Houw mendengar masih ada orang yang menunggu, juga tidak mendesak pula. Selagi hendak pergi bersama si kacung baju merah, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin, dibarengi oleh suara aneh.

Kim Houw dan si kacung baju merah mendengar suara itu, terpaksa lantas hentikan kakinya. Sebab sudah mendengar suara, kalau pergi begitu saja, kuatir dianggapnya tentu ketakutan oleh suara tadi. Sebentar kemudian, dari puncak gunung telah muncul tiga bayangan orang, masing-masing mengenakan pakaian warna hijau, merah dan putih, kiranya mereka adalah tiga orang wanita !

Ketiga wanita, yang berbaju putih bentuknya paling tinggi dan paling besar, yang pakai baju hijau bentuknya sedang, dan yang memakai baju merah bentuknya paling pendek kecil.

Dengan munculnya ketiga wanita itu Kim Houw lantas tahu bahwa mereka sebetulnya sudah lama datang, sebab tadi ia masih di bawah gunung, pernah melihat berkelebatnya wanita baju merah itu !

Tapi, oleh ketiga wanita itu wajahnya tertutup oleh kain sutera berwarna yang sama dengan warna bajunya masing-masing, sehingga tidak dapat dilihat wajah aslinya. Hanya dari potongan tubuhnya dapat diduga bahwa mereka ini tentunya berwajah cantik, terutama itu yang memakai baju merah dan baju hijau yang bentuk badannya kecil langsing, sungguh menggiurkan. Cuma yang memakai baju putih yang badannya sangat kasar, mungkin ada wanita sebangsa macan betina!

Namun ia ada berdandan dengan bajunya yang putih meletak, kalau tidak karena lengan kulitnya yang putih halus, dandanannya itu tentu tidak cocok dengan bentuk badannya.

Kim Houw sejak sembuh dari penyakitnya, sifatnya seolah-olah berubah menjadi pemarah, ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan itu.

Melihat munculnya ketiga wanita itu, ia lantas menanya dengan gemas : "Kalian hendak berbuat apa ? Apa yang kalian tertawakan?"

Yang memakai baju putih mendadak tertawa suaranya seperti gembreng.

"Enak saja kau buka mulut! Pertanyaanmu memang tidak salah, apa perlunya kamu datang kemari. Tapi seorang laki-laki, berani berbuat harus berani tanggung jawab, apa harus berlagak pilon? Apakah kau masih berani tidak mengakui perbuatanmu?" demikian katanya.

Ini benar-benar aneh dan brutal. Kim Houw tidak pernah berlagak pilon, maka sebetulnya dia tidak perlu meladeni. Hanya ia tidak mengerti apa maksud mereka ?

Maka Kim Houw lantas menyahut dengan gusar :" Aku tidak mempunyai tempo untuk mengadu lidah dengan kalian. Ada urusan apa lekas terangkan, kalau tidak, maafkan aku tidak dapat menemani lama-lama!"

"Bagus! Kau benar-benar hendak mungkir, kalau begitu biarlah kita berikan sedikit rasa padamu." kata wanita baju putih gusar. Lalu bersama kedua kawannya mengeluarkan

senjatanya yang berupa tiga utas tambang, kira-kira lima tombak panjangnya. Tambang itu warnanya juga berlainan, masing-masing terdiri dari warna putih, hijau dan merah!

Samar-samar tambang itu memancarkan sinar aneh, seperti sutera tapi bukan sutera, seperti urat binatang tapi juga bukan urat, entah terbuat dari bahan apa, tapi tampaknya sangat ulat.

Menampak senjata mereka yang aneh itu, Kim Houw tahu tentunya mereka lihay, maka buru- buru ia mendorong minggir si kacung baju merah. Ia siap melayani tiga wanita itu dengan seorang diri.

Menampak sikap Kim Houw tenang sekali, sedikitpun tidak mengunjukkan kegugupan, dalam hati mereka merasa heran.

"Eh! Kenapa kau tidak keluarkan senjata?" tanya tiga nona itu hampir berbareng. "Menghadapi tiga bocah seperti kalian perlu apa harus menggunakan senjata?"

Mendengar jawaban itu, si wanita baju putih sangat gusar. Namun, ia juga lantas menduga, bahwa anak muda itu tentunya bukan sembarangan.

Kiranya ketiga wanita itu juga orang-orangnya Ceng-hong-kauw, tapi tidak ada orang yang mengetahui asal-usulnya, cuma tahu mereka ada saudara seperguruan. Wanita yang memakai baju putih itu bernama Pek Hong Eng, orang-orang pada memanggilnya nona Pek. Yang memakai baju hijau itu bernama Na Cai Hong, orang-orang memanggil nona Na. Yang memakai baju merah bernama Ang Loan Ie, orang-orang memanggil nona Ang. Meski usia mereka masih sangat muda, tapi dalam partai Ceng-hong-kauw kedudukannya sangat tinggi. Mereka merupakan orang-orang terkuat dalam partainya.

Kali ini oleh karena orang-orang Ceng-hong-kauw yang mengejar nona Kie Yong-yong berkali- kali mengalami kegagalan, telah membuat murka ketiga nona itu, maka lantas pada mengejar sampai di situ.

Sebelum turun hujan lebat, mereka sudah berpapasan dengan Siao Pek Sin. Saat itu Siao Pek Sin baru sembuh dari luka-lukanya, kekuatannya banyak berkurang, sudah tentu bukan tandingannya ketiga wanita itu, dan akhirnya tertangkap hidup-hidup oleh mereka serta dikompres dimana adanya Kie Yong-yong.

Siao Pek Sin adalah seorang licin, ia sebetulnya tidak tahu siapa adanya Kie Yong-yong, tapi ia berlagak mengaku terus terang, bahkan menceritakan kepada mereka bahwa Kie Yong-yong berada di kuil Han-pek-cin-koan, dan ia bersedia mengantarkan mereka kesana.

Tiga wanita itu nampaknya bicara Siao Pek Sin seperti sungguh-sungguh lantas percaya sepenuhnya. Maka lantas berangkat bersama-sama ke kuil Han-pek-cin-koan. Ditengah jalan tiba- tiba hujan turun sangat lebat, angin meniup kencang. Ketiga wanita itu takut kebasahan, lantas mencari tempat untuk meneduh.

Siao Pek Sin menggunakan kesempatan baik itu lantas kabur. Karena maksudnya memberitahukan kepada ketiga wanita tadi, sebetulnya ia hendak minta bantuan Kouw-louw Sin Ciam atau Khu Leng Lie, asal salah satu dari mereka mau membantu, ia tidak usah takuti ketiga wanita itu lagi !

Melihat Siao Pek Sin kabur, ketiga wanita itu tidak mau mengerti, tidak perduli hujan masih belum berhenti, mereka lantas lompat melesat untuk mengejar. Ketika tiba di Han-pek-cin-koan, kebetulan Kouw-louw Sin Ciam sedang mengadu kesaktian dengan Liok-ci Thian-mo, masing- masing pada meluncurkan senjata rahasianya yang paling ampuh.

Menyaksikan keadaan demikian, betapapun tinggi kepandaian ketiga wanita itu, juga tidak berani maju secara gegabah.

Setelah kedua iblis tua itu berlalu, ketiga wanita itu baru berani munculkan diri.

Nona Pek heran menyaksikan sikap Kim Houw bicara, berlainan sekali dengan yang diketemukan duluan, tampaknya sama sekali tidak pandang mata pada mereka bertiga. Apakah mungkin ada dua orang yang wajahnya begitu mirip ? Tapi, kalau belum mengadu kekuatan, biar bagaimana ia tentu masih belum mau percaya !

Maka ia lantas keluarkan suaranya yang seperti gembreng pecah, ketiga senjata tambang segera terpecah tiga jurusan melibat lawannya. Kim Houw yang berdiri tegak laksana gunung, sedikitpun tidak bergerak, ia menantikan ketiga utas tambang itu mendekati dirinya baru keluarkan siulan nyaring, kedua tangannya melancarkan serangan dengan berbareng.

Karena cepatnya bergerak, belum mereka tahu apa yang telah terjadi, tambang ditangan nona Na dan nona Ang kena terpegang !

Nona Pek yang menyaksikan itu, bukan main terkejutnya. Senjata tambangnya yang lemas, mendadak berubah keras seperti baja. Dengan itu ia menotok dada Kim Houw, untuk menolong kedua saudaranya.

Kim Houw dengan secara enteng sekali melesat, kemudian kedua kakinya menjepit senjatanya nona Pek. Ketika ia turun di tanah, ketiga senjata yang berupa tambang itu sudah dikuasai semua olehnya.

Ketiga wanita itu bukan kepalang kagetnya, mereka semula memang memandang enteng kepada lawannya, sebab belum lama pemuda itu dengan mudah dapat ditawan, mereka masih mengira bahwa Kim Houw itu adalah Siao Pek Sin, siapa nyana orang muda yang mudah ditawan itu kini ada begitu lihay!

Melihat senjatanya kena terpegang, masing-masing menarik dengan kekerasan, tapi Kim Houw tidak bergeming, percuma saja mereka berdaya hendak menarik kembali senjatanya.

Sampai di situ Kim Houw baru membuka mulut menanya: "Mau tarik kembali senjata kalian tidak susah, tapi harus terangkan dulu ada urusan apa kalian datang kemari?"

Nona Pek belum menjawab, sudah didahului oleh nona Na dengan suaranya yang ketus: "Sungguh tidak disangka kau masih ada muka untuk menanya. Yang kau culik dengan kekerasan, sekarang kau sembunyikan dimana, lekas jawab."

Dengan tidak menantikan penjelasannya, Kim Houw mendadak menggentak tangannya, nona Na berikut senjata tambangnya lantas terbang melayang. Untung ilmu mengentengi tubuhnya cukup sempurna, dengan jumpalitan di tengah udara, ia telah berhasil menolong dirinya.

"Aku Kim Houw adalah seorang laki-laki sejati," kata Kim Houw mendongkol. "Bagaimana bisa menculik dirinya seorang perempuan? Kalian jangan coba menimpahkan segala perbuatan orang lain di atas diriku, jelaskan persoalannya, kalau masih terus kalian menggerecok, aku nanti terpaksa tidak menaruh kasihan lagi!"

Kim Houw tahu, itu tentu gara-garanya Siao Pek Sin lagi, yang menimpahkan kedosaannya, ke atas kepalanya, maka ia hendak mendesak lawannya supaya menjelaskan duduk perkaranya.

Nona Ang segera menjawab sambil ketawa dingin: "Kie Yong-yong sekarang dimana? Apa kau si orang she Kim berani mengatakan tidak tahu?"

Diantara ketiga nona itu, Ang Loan Ie yang paling tahu, sebab tadi ketika berada di atas gunung, ia pernah melihat ilmu mengentengi tubuh Kim Houw yang sangat luar biasa, ia curiga bahwa hal ini ada menyelip apa-apa.

Itulah sebabnya maka ia menyebutkan nama Kie Yong-yong, ia ingin tahu reaksi apa yang ditunjukkan oleh Kim Houw, atau ada orang lain yang main gila di belakang layar?

Kim Houw mendengar disebutnya nama Kie Yong-yong, hatinya lantas bercekat, kedua tambang yang dipegangnya juga lantas dikendorkan. Memang Kie Yong-yong adalah ia sendiri yang menolong, tapi dimana sekarang adanya Kie Yong-yong, ia sendiri juga tidak tahu. 

Mengingat betapa sedihnya Kie Yong-yong ketika berpisah dari dirinya, dalam hati Kim Houw lantas merasa pilu. "Bagaimana ? Tidak salah toh itu adalah perbuatanmu?" nona Ang mendesak. "Kau telah sembunyikan isteri orang, dan toh berani mengaku sebagai laki-laki sejati, orang gagah, padahal lebih biadab daripada binatang liar!"

Mendengar ucapan nona Ang bahwa Kie Yong-yong adalah isteri orang, Kim Houw bertambah kaget.

"Kalian bicara harus mempunyai kira-kira." jawab Kim Houw. "Jangan seenaknya saja, apalagi menuduh orang yang bukan-bukan. Aku Kim Houw meski tidak berani mengaku budi, tapi dalam hal membela pihak yang lemah dan menentang segala kejahatan, tidak mau kalah dengan orang lain, belum pernah mengandung maksud jahat, juga bukan semacam orang rendah seperti apa yang kalian bayangkan, cuma."

"Cuma.cuma apa? Boleh jadi mulanya memang bermaksud baik, tapi kemudian melihat

kecantikan wajah Yong-yong, lantas timbul hati jahat.betul tidak ?" kata nona Ang sambil ketawa

mengejek.

"Ngaco belo !" bentak Kim Houw.

Tapi nona baju merah itu sedikitpun tidak menjadi kesal ia masih membalas dengan lidahnya yang tajam.

"Hm, masih berani mengatakan aku ngaco belo ? Saling berpelukan di atas gunung, menginap bersama-sama di rumah penginapan"

Kim Houw mendadak tundukkan kepalanya, dalam hati berpikir: Apakah perbuatan demikian juga merupakan dosa ? Apakah perbuatan itu bisa dianggap suatu bukti bahwa aku dengan dia telah melakukan perbuatan yang tak senonoh ? Apakah perbuatan itu patut dicela dan dimaki ?

Belum habis Kim Houw merenungkan, nona Ang sudah berkata pula dengan tertawa dingin: "He, he ! Orang she Kim ! Kau ternyata masih mengerti apa artinya malu ! Kau juga tahu apa artinya salah ! Lekaslah kini serahkan dia pada kami !"

Kim Houw lantas dongakkan kepala, jawabnya dengan suara keras : "Aku salah ? Dalam hal apa aku harus merasa malu ? Baik terhadap langit, maupun terhadap bumi terutama terhadap liangsimku, aku merasa bahwa aku tidak pernah berbuat dosa. Sekarang, aku beritahukan terus terang pada kalian, ketika ada di Sucoan utara nona Kie sudah berpisah dengan aku. Sekarang dia berada dimana, aku sendiri juga tidak tahu. Aku dengan dia cuma merupakan sahabat biasa, tidak ada apa-apanya yang tidak boleh diketahui orang. Sekarang, aku sudah menjelaskan secara terus terang, harap kalian bisa mengerti dan lekas pergi. Kalau tidak jangan sesalkan kalau aku berlaku kurang sopan!"

Nona baju merah masih penasaran, sambil lintangkan senjata tambangnya ia membentak : "Tunggu dulu, jangan angkat pundak seenaknya saja kalau tidak ada pemberesan yang memuaskan, Ceng hong kauw tidak akan mau mengerti begitu saja terhadap kau, terutama bertiga saudara, masih tetap hendak minta pelajaran darimu."

Ditantang secara demikian, Kim Houw lantas naik darah.

"Kau kira Ceng hong kauw bisa berbuat apa terhadap aku? Apa kau kira dapat menggertak aku? Sembarangan waktu dan sembarangan tempat, aku bersedia menyambut kedatangannya. Kalian bertiga kalau tidak tahu diri, masih tetap ingin mengadu tenaga, aku bersedia melayani, tidak nanti akan membuat kalian kecewa!" Saat itu, nona Pek lantas keluarkan komandonya dengan suaranya seperti gembreng: "Jimoay, maju, serang bagian kakinya dari tiga jurusan!"

Nona baju biru itu menurut, segera ayun senjata tambangnya yang biru, menyerang bagian kaki Kim Houw!

Nona Pek badannya paling besar kekar, tenaganya juga paling kuat, senjatanya juga paling besar dan panjang. Melihat nona Na sudah turun tangan, ia lantas gerakkan senjatanya, turut menyerang!

Nona Ang ternyata lebih gesit, tanpa diperintah lagi, ia melesat tinggi kemudian dengan menukik ia melakukan serangannya. Ia yang bentuk badannya pendek kecil, sebaliknya telah melakukan serangan dari atas, mungkin karena ilmu mengentengi tubuhnya adalah yang paling baik diantara mereka bertiga.

Serangan yang dilakukan dari tiga jurusan ini, sesungguhnya sangat hebat, sedikit meleng saja, lantas bisa terlibat oleh senjata mereka yang berupa tambang lemas itu. Cuma sayang, mereka telah salah alamat, apa yang mereka hadapi justeru Kim Houw yang kepandaiannya dalam ilmu silat sudah tidak ada taranya.

Tadi mereka sudah diberi kelonggaran oleh Kim Houw, tapi mereka masih tidak tahu diri, bagaimana Kim Houw tidak gusar? Kim Houw tahu, kalau tiga wanita ini tidak diberi hajaran sampai merasa takluk benar-benar, mereka akan terus menggerecok tidak berhentinya.

Maka, ketika diserang berbareng oleh ketiga wanita itu, Kim Houw lantas gerakkan badannya dengan ilmu mengentengi tubuhnya yang luar biasa, ia berputaran dan berloncat-loncatan sambil menggendong kedua tangannya, sedikitpun tidak melakukan serangan pembalasan.

Sebentar kelihatan ia ada di kiri, sebentar lagi sudah berada di kanan. Sebentar ia melesat ke atas, sebentar lagi mendekam di bawah, tapi tetap berada didepan dan dibelakang diri ketiga nona itu.

Pada saat itu, Kim Houw sebetulnya cuma bermaksud hendak memberi peringatan kepada mereka, supaya mau mundur teratur. Kalu ia benar-benar turun tangan, jangan kata cuma tiga orang, sekalipun tiga puluh orang juga ia dapat rubuhkan dengan mudah!

Pertempuran secara kucing mempermainkan tikus itu telah berlalu setengah jam lamanya, tiga senjatanya ketiga nona itu jangan kata bisa melukai Kim Houw, sedangkan ujung bajunya saja tidak dapat menyenggol.

Dalam Ceng-hong kauw, ketiga nona itu mempunyai kedudukan tinggi, kaucu sendiri juga pandang tinggi kepada mereka. Oleh karenanya, maka setelah begitu lama tidak mampu berbuat apa-apa terhadap diri Kim Houw, mereka menjadi serba salah, ibarat orang sudah naik di atas punggung macan, sudah turun lagi. Sebab, selain daripada itu, di belakang mereka juga ada banyak orang yang mengawasi, kalau mereka mundur sebelum dikalahkan, bagaimana kalau hal itu nanti tersiar dalam kalangan Ceng-hong-kauw? Bagaimana mereka nanti mempertanggung jawabkan kepada partainya?

Buat Kim Houw adalah lain, setelah bertempur begitu lama, melihat lawannya terus membandel, tidak mau sudah kalau belum dikalahkan, hatinya mulai tidak sabar lagi! Maka, ia lantas mencari kesempatan. Satu kali, mendadak ia keluarkan bentakan keras, lalu ulur tangannya yang panjang merampas ketiga senjata lawannya. Ia kerahkan tenaga dalamnya untuk membetot dan mendesak. Pikirnya, setelah berhasil merampas ketiga senjata lawannya, akan lemparkan ke dalam lembah, tidak akan mencelakakan jiwa mereka. Siapa nyana, rencananya itu gagal, karena ketiga nona itu pertahankan senjatanya mereka dengan mati-matian.

Dalam gusarnya, Kim Houw sudah tidak perdulikan bahwa tindakannya nanti akan berakibat melukai lawannya atau tidak, lantas kerahkan ilmunya Han-bun-cao-khin. Dengan ilmu yang ampuh ini, bagaimana ketiga nona itu mampu bertahan ?

Ketika mereka mengetahui bahaya mengancam telah berdaya menarik kembali tangannya, apa mau sudah terlambat ! Kesudahannya, ketiga nona berbareng melepaskan senjatanya dan tubuhnya jatuh rubuh di tanah, tidak bisa bangun lagi.

Kim Houw tahu bahwa mereka sudah terluka parah, lalu lemparkan senjata mereka di tanah, kemudian berkata kepada si kacung baju merah: "Cek-ie ya mari kita pergi !"

Kim Houw dan si kacung baju merah setelah melalui puncak gunung tiba di belakang gunung. Saat itu, si kacung baju merah dengan secara singkat memberitahukan kepada Kim Houw hal-

hal yang telah terjadi selama Kim Houw hilang ingatannya.

Ketika Kim Houw mendengar bahwa dirinya pernah membantu Siao Pek Sin melakukan kejahatan dan bermusuhan dengan Kim Lo Han serta kawan-kawannya, tidak kepalang rasa menyesalnya.

Mendengar pula bahwa Peng Peng oleh karena dia, hampir binasa dibakar hidup-hidup oleh Siao Pek Sin, hingga rasa bencinya terhadap Siao Pek Sin semakin mendalam. Akhirnya ketika mendengar bahwa Pek Peng dan Sun Cu Hoa serta si botak bertiga telah lenyap dan belum diketahui bagaimana nasibnya, bukan main kagetnya.

Maka, ia lantas percepat larinya, ia ingin dari mulutnya si Imam palsu dapat tahu dimana adanya ketiga orang itu !

Tapi, ketika mereka tiba dibelakang gunung, di depan matanya telah terbentang suatu pemandangan yang sangat mengerikan ! Apa yang telah terjadi ?

Kiranya, selama setengah hari itu, Lato Kiesu dan Kim Coa Nio-nio yang bertugas menjaga si imam palsu, kini telah menggeletak di tanah dan sudah putus jiwanya !

Sedangkan si Imam palsu yang semula memang sudah terluka parah, keadaannya semakin mengenaskan, kepalanya hancur seperti buah semangka tergilas roda. Sebab ia sedang terluka, sudah tentu tidak bisa bergerak, siapapun tidak nyana bahwa orang yang sudah terluka parah harus mendapat perlakuan demikian kejam.

Si kacung baju merah melihat keadaan demikian lantas berseru kaget, mulutnya telah menyemburkan darah segar.

"Kim-siauhiap, Kim Houw ! Kau harus menuntut balas untuk mereka ! Ini semua adalah perbuatan Kouw-low Sin Ciam!" serunya dengan penuh kegusaran.

Kim Houw dengan mata melotot mengawasi ketiga mayat itu, dalam hatinya berpikir "Mana cukup menuntut balas saja, aku beset kulitnya, cabut tulang-tulangnya, hirup darahnya dan makan dagingnya."

Kim Houw kertak giginya, ia masih termenung memikirkan nasib kawan-kawannya itu ketika tiba-tiba terdengar suara tubuh orang jatuh, ia terkejut, ketika ia berpaling ternyata si kacung baju merah juga sudah menghabiskan nyawanya sendiri ! Tindakan nekad Cek-ie-ya ini mengingatkan akan kematian yang saling susul dari kawan senasibnya.

Orang-orang yang keluar dari Istana Kumala Putih, kecuali kedua manusia kukoay dari Hay- lam yang sudah kabur pulang ke Hay-lam dan Lui Kong yang belum ketahuan nasibnya, yang lainnya sudah binasa semua.

Meski selama mereka berkumpul di satu tempat tidak pernah melakukan upacara sumpah angkat saudara, namun tali persahabatan mereka, terutama setelah berada di luar dan mengalami perlakuan tidak patut dari Siao Pek Sin, sedikit banyak ada beda dengan persahabatan biasa. Dan sekarang semua sudah binasa, bagaimana ia bisa enak tinggal hidup sendirian ?

Apalagi terhadap Kouw-low Sin Ciam yang membinasakan Lato Kiesu dan lain-lain, Ia jua tidak mampu menuntut balas untuk kawan-kawannya itu. Untuk membela kawan-kawannya yang sudah mati, untuk menguatkan hati Kim Houw menuntut balas, ia telah memilih jalan kematian.

Maka selagi Kim Houw dalam keadaan termenung, tangannya telah menepok kepalanya sendiri sehingga pecah, Kim Houw tidak menduga akan perbuatan nekadnya itu, maka ia tidak keburu menolongnya.

Bintang-bintang bertaburan di langit, tapi tidak kelihatan rembulan.

Di belakang bekas kuil Han-pek Cin-koan yang sudah jadi reruntuhan puing, kelihatan lima buah gundukan tanah kuburan, pada setiap kuburan dibangun sebuah batu nisan, diatasnya ditulis nama masing-masing yang telah bersemayam didalamnya.

Pada saat itu, Kim Houw telah berlutut di hadapan lima kuburan itu, agaknya sedang bersujut atau meminta doa restu. Suaranya halus sekali, tidak dapat didengar oleh siapapun jua.

Malam keadaan amat sunyi itu, telinga Kim Houw tiba-tiba dapat menangkap suara orang berjalan pelan, suara itu halus dan lunak, kalau bukan Kim Houw pasti tidak dapat mendengar.

Dari suara itu Kim Houw dapat menduga orang itu berkepandaian tinggi sekali, oleh karena belum diketahui apa ia kawan atau lawan, maka dengan cepat meloncat ke arah pohon untuk mengintai.