Istana Kumala Putih Jilid 16

 
Jilid 16

Akhirnya Khu Leng Lie mencari daya upaya untuk melarikan diri. Tapi, karena Khouw-low Sin- ciam mempunyai kecerdikan luar biasa, maksud Khu Leng Lie untuk sementara telah dibikin gagal olehnya.

Satu kali, dengan alasan mencari buku kitabnya yang dibawa kabur orang hutan betina, ia dapat lolos juga dari tangannya Kouw-louw Sin Ciam. Tidak nyana Kouw-louw Sin Ciam terus mencari dirinya, seolah-olah membayangi dirinya, dan kali ini kembali muncul di Pek liong-po..."

Kala itu Khu Leng Lie hatinya merasa girang benar-benar, ia benar-benar mengharap supaya Kim Houw dapat mengalahkan Kouw-low Sin Ciam lebih baik pula kalau dapat dibinasakan sekali, habis perkara.

Tapi, beberapa puluh jurus telah berlalu, pertempuran terus berlangsung dengan sengitnya, kekuatan kedua pihak agak berimbang. Khu Leng Lie lalu memikirkan daya upaya untuk membantu Kim Houw. Ia seorang yang berhati ganas kejam, setelah berpikir sejenak, lalu mendapat akal keji. Dengan cepat ia melayang turun ke dalam kalangan pertempuran, sambil bersiul nyaring ia berkata kepada Kouw-low Sin Ciam: "Iblis tua! mari aku bantu kau!".

Belum selesai ucapannya, ia lantas menyerang Kim Houw dengan hebat.

Dalam rimba persilatan, bagi orang gagah yang berkepandaian tinggi, ada merupakan suatu pantangan apabila dalam pertempuran dibantu orang luar, apalagi seorang gagah seperti Kouw- low Sin Ciam itu menghadapi seorang bocah saja harus perlu bantuan tenaga bagaimana kemudian hari bisa tancap kaki di dunia Kangouw lagi.

Apalagi pada saat itu ia juga belum terkalahkan oleh lawannya. Maka ia lantas membentak dengan suara keras:" Manusia hina, lekas pergi, siapa sudi kau bantu?".

"Iblis tua! Kau tidak suka aku bantu, biarlah aku bantu padanya!" sahut Khu Leng Lie sambil ketawa cekikikan. Berbareng, ia berbalik menghajar Kouw-low Sin Ciam.

Tadi ketika ia menyerang Kim Houw, sebetulnya cuma pura-pura saja, maka hanya menggunakan satu atau dua bagian saja kekuatannya, tapi kali ini lain ia menggunakan tenaga sepenuhnya dalam melakukan serangannya.

Ia ingin menggunakan kesempatan selagi Kouw-low Sin Ciam pusatkan tenaganya untuk menghadapi Kim Houw, sekali pukul tentu dapat membinasakannya.

Karena perbuatan itu dilakukan dengan mendadak, betapapun tinggi kepandaian ilmu silat Kouw-low Sin Ciam, juga tidak mampu menghadapi kedua musuh kuat seperti Kim Houw dan Khu Leng Lie. nampaknya jiwa orang tua itu segera dapat binasa ditangan istrinya sendiri...

Mendadak Kim Houw tarik mundur dirinya dan serangannya, untuk memberi jalan hidup bagi Kouw-low Sin Ciam. Tapi, sedikitpun orang aneh itu tidak menduga Kim Houw akan berbuat demikian, ketika ia mengetahui, ternyata sudah terlambat, belakang punggungnya sudah dihajar dengan telak oleh Khu Leng Lie.

Badannya sempoyongan, matanya berkunang-kunang setelah perdengarkan geraman hebat, ia lantas kabur.

Kouw-low Sin Ciam ternyata sudah terluka parah, sehingga tidak berani bertempur terus. Tapi, dengan lolosnya ia kali ini, di kemudian hari telah menimbulkan banyak kerewelan.

"Ah, kau benar-benar seorang tolol, dengan maksud baik aku memberi bantuan padamu, supaya bisa menyingkirkan jiwanya manusia iblis itu, mengapa kau berikan jalan hidup padanya? Untuk selanjutnya jangan harap kau bisa lewatkan hari-hari dengan tenang, dia bisa berlaku seperti roh manusia yang mati penasaran, setiap kau lengah sedikit saja, dia lantas lepaskan anak panahnya kepadamu!" demikian kata Khu Leng Lie. Perkataannya yang paling akhir, sengaja ia ucapkan begitu tandas, sehingga Kim Houw merasa kaget juga. Ini bukan berarti Kim Houw takut Kouw-low Sin Ciam, ia hanya dibikin kaget oleh Khu Leng Lie.

Khu Leng Lie melihat Kim Houw agaknya takut benar-benar kepada Kouw-low Sin Ciam lantas ketawa cekikikan sambil menghampiri dengan tindakan perlahan ia berkata: "Sebetulnya kau juga tak perlu takut padanya, asal kau mau menungkuli aku setiap hari dan malam, sudah tentu aku mempunyai daya untuk menyingkirkannya. Kalau kau mau menuruti nasehatku, aku tanggung belum sampai setengah bulan, kita bisa mengambil jiwanya!".

Mendengar keterangan itu, Kim Houw diam-diam merasa geli, karena sejak kanak-kanak, ia belum pernah kenal apa artinya takut. Hanya ia tidak mau bentrok dengan wanita cantik dan genit ini. Ini bukan berarti Kim Houw tertarik akan kecantikannya, melainkan ingin mendapatkan kembali ingatannya. Sebabnya ialah, ketika Kim Houw tersadar dari pingsannya, orang yang pertama kali ia lihat adalah wanita cantik dan genit ini.

Dengan lagaknya yang genit dan manja, Leng Lie mendekati Kim Houw. Bau harum dari badannya telah membuat Kim Houw lemas dan hatinya tercekat.

Pek Liong-ya bertiga mendadak bangkit dan berlalu meninggalkan mereka berdua.

Leng lie seolah-olah tidak melihat dan tidak mendengar mereka, ia tersenyum manis kepada Kim Houw, kemudian berkata kepadanya dengan suara yang merdu: "Adik kecil, apa yang kau pikirkan? Mengapa kau tidak mau bicara?"

Kim Houw saat itu sedang tenggelam dalam lamunannya, karena terpengaruh oleh bau harum dari tubuh Leng lie tadi, semangatnya seperti melayang-layang, tapi perginya Pek Liong-ya bertiga dari situ justru telah mengembalikan kesadarannya.

Ketika melihat Leng Lie semakin dekat, buru-buru ia kerahkan ilmu Han Bun Cao Kie, untuk menenangkan pikirannya. Lama sekali barulah ia menyahut: "Enci, ada suatu hal yang ingin aku tanyakan padamu!"

Leng lie agaknya girang sekali mendengar kata-kata pemuda yang dirindukannya itu.

"Ya, begitu baru benar!" jawabnya. "Seharusnya sedari tadi kau sudah panggil aku enci, aku tadinya masih mengira kau seorang yang berhati baja, tidak tahunya juga terbuat dari darah dan daging. Kau ingin menanyakan soal apa? Katakan saja, kalau encimu tahu, sudah tentu akan memberi penjelasan padamu."

Mendengar jawaban terus terang itu, Kim Houw sebaliknya merasa curiga. Ia melihat keadaan sekitarnya, meski tahu bahwa di situ sudah tidak ada orang lain lagi, tapi ia masih belum buka mulut.

Melihat Kim Houw masih bersangsi, Leng Lie menganggap ia tengah memikirkan persoalan mengenai perhubungan antara wanita dan pria, karena merasa malu lalu tidak berani mengeluarkan kata-kata.

"Adik kecil," katanya, "Kalau merasa malu untuk mengatakannya, marilah kita mencari tempat untuk bicara! Disini aku sendiri juga merasa kurang tentram."

Kim Houw pikir, itu memang betul. Mengapa tidak mau mencari tempat yang sunyi, agar bisa bicara dan menanyakan lebih jelas. Ia masih mengharap wanita ini dapat mengembalikan ingatannya yang hilang.

"Baiklah, mari kita berangkat!" jawabnya singkat.

Melihat Kim Houw menjawab tanpa ragu-ragu, Leng Lie menganggap dugaannya sendiri tidak meleset. Hatinya girang bukan kepalang, ketawanya sampai semakin manis.

Kim Houw mengajak ia pergi ke sebuah rimba di luar rimba Pek Liong Po.

Begitu tiba ditempat sunyi, Leng Lie lantas menubruk hendak memeluk Kim Houw. Tidak disangka, ia tidak melihat Kim Houw bergerak, tapi nyatanya pemuda itu sudah tidak kelihatan bayangannya, Leng Lie yang menubruk tempat kosong, hampir saja jatuh.

Ia merasa heran, entah apa maksudnya Kim Houw ini?

Mendadak di belakangnya terasa ada sambaran angin, Leng Lie lantas segera berkelit, ketika ia berpaling ternyata Kim Houw yang hendak menyerang dirinya.

Leng Lie semakin heran, mengapa Kim Houw menyerang dirinya?

Tiba-tiba ia melihat Kim Houw tertawa dan berkata: "Kau menubruk aku satu kali, aku juga hendak menubruk kau satu kali, dengan demikian kita impas, enciku yang baik."

Kiranya Kim Houw sedang main-main dengannya, maka tidak kepalang girangnya Leng Lie, ia menyesal tadi telah menghindar. Kalau tidak, bukankah ia sekarang sudah berada dalam pelukan Kim Houw? maka tidak menunggu Kim Houw menjelaskan maksudnya, ia sudah memotong :

"Adik kecil, tak usah kau ucapkan lagi, mari."

Ia ucapkan perkataannya dengan nada dibuat-buat sangat manja, juga sangat menggiurkan! Dan tanpa menanti jawaban Kim Houw lagi, kembali ia menubruk dan memeluk erat-erat diri si anak muda.

Kali ini Kim Houw tidak menyingkir lagi, bahkan pentang kedua tangannya, menyambuti diri Leng Lie. Perbuatan Kim Houw itu entah benar-benar terpengaruh oleh hawa nafsu atau ada maksud yang lain?

Begitu berada dalam pelukan Kim Houw, Leng lie lantas unjukkan sikap genit, ia keluarkan seluruh kepandaiannya untuk memikat hati Kim Houw.

Apa mau dikata, selagi ia dalam keadaan lupa daratan, tiba-tiba ia merasa tubuhnya tergetar, lalu kakinya lemas dan jatuh merosot dari pelukan Kim Houw, dan tergeletak di tanah.

Ternyata ia sudah ditotok jalan darahnya oleh Kim Houw.

Setelah menotok Leng Lie, Kim Houw lantas berjongkok dan bertanya padanya: "Enci, aku bukan tidak mau berdekatan denganmu, cuma sejak aku mendusin dalam pelukanmu tempo hari, segala kejadian yang terdahulu, aku sudah lupa semua. Apakah kau bisa beritahukan padaku, siapakah sebetulnya aku ini? Dengan cara bagaimana aku bisa kenal dengan enci? Harap kau suka jelaskan padaku. Jika aku dapat kembalikan semua ingatanku, aku pasti tidak akan melupakan budimu ini."

Leng lie yang tertotok jalan darahnya, kecuali badannya yang sedikitpun tidak bisa bergerak, bagian lainnya masih tetap sepeti biasa.

Tadi ketika ditotok, dalam hati sebetulnya merasa kaget dan gusar, ia heran atas perbuatan Kim Houw yang sangat aneh itu. Karena belum pernah ada seorang laki-laki yang melihat dirinya tanpa tergila-gila.

Hanya Kim Houw yang selalu menjauhi dirinya, seolah-olah menghadapi siluman.

Ia heran pula, mengapa Kim Houw berbuat demikian pada dirinya. Dengan Kim Houw ia tidak mempunyai permusuhan apapun, jadi tidak ada alasan Kim Houw untuk mencelakakan dirinya. kalau ia tidak suka berdekatan dengannya, tinggalkan saja, bukankah sudah habis perkara? Kini setelah mendengar ucapan Kim Houw, Leng Lie baru mengerti, bukan saja lantas lenyap rasa gusarnya, malah tersenyum menggiurkan.

"Aku kira urusan penting apa? Kiranya cuma soal begitu. Sebetulnya itu juga tidak menjadi soal. Menurut pikiranku, kalau kau lupakan segala urusanmu yang sudah lalu, bukankah lebih baik? Mulai hari ini kita boleh memulai kehidupan baru, pergi kesuatu pulau yang tidak ada manusianya, disana kita bisa menikmati kehidupan seperti didalam surga, bukankah lebih nikmat?" demikian katanya.

Kim Houw mendengar perkatan Leng Lie yang melantur tidak karuan, hatinya jadi mendongkol. "Enci, kau jangan mengucapkan perkataan demikian, aku ingin kau menjelaskan padaku,

siapa sebetulnya aku ini?" ia mendesak.

Leng Lie sendiri juga tidak tahu siapa sebetulnya Kim Houw.

Tempo hari ketika ia berada dalam satu kuil tua didalam rimba untuk berteduh karena hujan lebat, Kim Houw hanya mengenalkan dirinya sendiri sebagai Kim Houw, tapi Leng Lie pada saat itu sedang mabuk pikirannya, bagaimana dapat ingat hal yang lainnya?

Tidak nyana kini Kim Houw terus menanyakan padanya soal itu saja. Sebab Kim Houw tahu sebelum hilang ingatannya, pasti ia pernah bersama-sama dengan Leng Lie, ini suatu bukti bahwa Leng Lie juga merupakan seorang sahabatnya sebelum ia kehilangan ingatannya. Asal Leng Lie mau memberitahukan ia bahwa dia itu siapa, Kim Houw pasti percaya.

Siapa sangka, Leng Lie sendiri juga tidak tahu siapa adanya Kim Houw.

Dalam hatinya Leng Lie berpikir, tidak perduli siapa adanya dia, aku tipu saja dulu dirinya. Ia lantas pura-pura kaget dan menyahut: "Astaga! Apa kau benar-benar sudah lupa? Kau anak goblok! kau adalah adikku. Apa kau tidak dengar kalau aku panggil kau adik? Bukankah kau panggil aku enci? Adik tolol, bukan lekas bebaskan totokan encimu!"

Kim Houw tercengang. Lagi-lagi adik. Mengapa begitu banyak orang yang mengakui dirinya adalah adik? Sudah dua laki-laki yang mengaku sebagai engkonya dan kini kembali ada orang yang mengaku sebagi encinya. Ini benar-benar membuat pusing kepalanya.

Ia tahu bahwa dari Leng Lie juga tidak bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan, hatinya mulai dingin lagi.

Pada saat itu dari luar rimba tiba-tiba terdengar suara Siao Pek Sin yang memanggil :" Adik Leng! Adik Leng! Kau ada dimana?"

Kim Houw terkejut, dengan cepat ia menjawab :" Aku disini!"

Baru habis ucapannya, tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang, tapi dengan cepat sudah menghilang. Gerakan bayangan itu demikian gesitnya, dalam rimba yang gelap yang cuma mendapat penerangan rembulan, kalau bukan matanya Kim Houw yang tajam luar biasa, pasti tidak dapat melihat.

Selama beberapa hari ini, di Pek Liong Po terjadi beberapa peristiwa, kebakaran yang sangat misterius, kematian Peng Peng yang secara aneh, terlukanya dua paman dari Pek Liong Po dan entah berapa banyak lagi orang-orang Pek Liong Po yang terluka. Karena pikirannya itu, Kim Houw mendadak gusar. Ia pikir, daripada menantikan kedatangan musuh yang menyerang lebih dulu, lebih baik ia obrak abrik dulu serangannya. Ia kepingin tahu ada permusuhan apa sebetulnya diantara mereka? kalau nyata ada permusuhan besar, bertempur saja secara laki-laki, bukankah lebih memuaskan?

Setelah berpikir demikian, ia lantas melesat mengejar bayangan tadi dan meninggalkan Leng Lie begitu saja!

"Hai! Adik kecil! mengapa kau belum membebaskan aku dari totokan." berseru Leng Lie.

Tapi Kim Houw sudah berada disuatu tempat kira-kira sepuluh tombak jauhnya, namun bayangan tadi juga tidak kelihatan kemana perginya.

Setelah tidak berhasil mengejar bayangan tadi, Kim Houw lantas ingat Leng Lie lagi.

Seorang wanita cantik seperti bidadari, menggeletak didalam rimba jangan kata kalau bertemu dengan orang jahat, kalau ada binatang buas bagaimana? Bukankah ia akan binasa secara konyol?

Karena memikirkan nasibnya Leng lie, Kim Houw hendak kembali lagi.

Tidak tahunya baru saja bergerak, tiba-tiba terdengar suara Leng Lie: "Ya! Begitu baru adikku yang baik, aku tadinya kira kau benar-benar hendak meninggalkan aku begitu saja!

"Enci, kau kenapa?"

Itu adalah Siao Pek Sin!

Kim Houw lantas mengerti bahwa Leng Lie salah anggap Siao Pek Sin sebagai dirinya.

Pikirnya sudah ada engkohnya yang akan membebaskan totokan, tidak perlu aku datang lagi padanya, lebih baik aku cari bayangan orang tadi!

Kembali terdengar suara Leng Lie: "Eh, mengapa kau berubah, barusan kau berlaku tolol seperti patung, kenapa sekarang begini bernafsu? Biar bagaimana kau harus bebaskan dulu aku dari totokan, baru ada kesenangan."

Segala perkataan Leng Lie itu, tidak dapat dimengerti oleh Kim Houw, ia hanya merasa heran. Pikirnya: Satu pihak adalah engkohku, dilain pihak enciku. Dari pembicaraan mereka, mungkin aku bisa dapat sesuatu yang dapat mengembalikan ingatanku.

Diam-diam ia memasang telinga untuk menangkap pembicaraan mereka. Kembali ia dengar pula suara Leng Lie: "Ya, begitu baru adikku yang baik."

Setelah itu, ia tidak mendengar apa-apa lagi. Kim Houw merasa heran, mengapa mendadak tidak kedengaran pembicaraan mereka?

Dengan hati-hati ia pergi melihat, tapi apa yang dilihat? Jelas itu adalah suatu perbuatan yang sangat memalukan! Seketika itu juga darahnya meluap. Darimana ia bisa mempunyai engko yang seperti binatang itu? Darimana ia mempunyai enci yang tidak kenal malu itu? Demikian pikirnya dalam hati. Ia telah mengambil keputusan: andaikata betul mereka adalah engko dan encinya, ia juga tidak mau kenal lagi!

Dengan diam-diam ia menghilang ke dalam rimba, saat itu pikirannya bukan cuma gusar saja tapi juga cemas dan duka.

Tentang Leng Lie betul adalah encinya atau bukan, ia tidak perduli. Tapi Siao Pek Sin ia sudah anggap adalah engkonya sendiri. Dan sekarang, setelah dalam hati tidak mau kenal lagi dengan mereka, ia juga merasa tidak perlu pulang lagi ke Pek Liong Po!

Maka Kim Houw kembali harus melakukan perjalanan yang tidak tentu tujuannya. Beberapa puluh lie perjalanan sudah ditempuhnya, dan hari sudah mulai terang.

Tiba-tiba, dari jauh ia mendengar suara orang menyanyi:".orang di dunia pada mabuk,

hanya aku yang masih sadar."

Kim Houw terkejut, ia hentikan langkahnya, ia ingat nyanyian itu pernah dinyanyikan oleh si imam palsu dari Pek Liong Po yang tingkah lakunya seperti orang sinting. Maka lantas timbul pertanyaan dalam hatinya: mengapa si Imam palsu ini mendadak bisa muncul disini?

Kembali ia mendengar suara nyanyian yang merdu mengalun, seperti suara seorang wanita. "Jalannya waktu laksana air mengalir, membawa hanyut daun merah yang sudah luntur

warnanya!

Angin musim rontok bagaikan anak panah, memanah jatuh kembang kuning nan indah!."

Mula-mula suaranya kedengaran manis dan merdu, tapi kemudian berubah menjadi sedih memilukan hati, dan akhirnya terdengar suara isak tangis yang sangat memilukan hati!

Kim Houw yang mendengar suara tangisan itu, dalam hati terkejut, karena suara itu rada-rada mirip dengan suara tangisan Peng Peng. Tapi Peng Peng toh sudah binasa terbakar, bagaimana ia bisa muncul di sini?

Tidak perduli Peng Peng atau bukan, Kim Houw tetap ingin tahu siapa adanya orang itu. Maka ia lantas lompat melesat ke arah suara itu.

Ia meninggalkan jalan raya, melalui sebuah bukit. Di belakang bukit itu ia menemukan sebuah kuil.

Dari jauh Kim Houw sudah dapat melihat seorang laki-laki dan seorang wanita, berjalan perlahan menuju ke kuil. Laki-laki yang jalan di sebelah depan adalah si Imam palsu, sedikitpun tidak salah. Sedang wanita yang jalan di belakangnya adalah Peng Peng, juga ia kenali dan tidak akan keliru.

Apa yang terlihat telah membuat Kim Houw terkesima! Kalau tadi ia tidak percaya kepada telinganya sendiri, sekarang matanya sendiri juga hampir tidak ia percayai lagi.

Tapi, percaya atau tidak, memang benar bahwa wanita itu adalah Peng Peng, sedikitpun tidak salah, bahkan baju yang dipakainya juga adalah baju yang dipakai sebelum terjadinya kebakaran di kamarnya.

Kim Houw mengucek-ngucek matanya, tidak salah lagi. itu memang Peng Peng adanya. Tapi ketika ia memikirkan si Imam palsu yang jalan di depannya, ia mulai bimbang. Apakah si Imam setengah edan itu benar-benar bisa membuat orang yang sudah hangus, hidup kembali? Kalau tidak, bagaimana Peng Peng yang sudah mati terbakar bisa hidup lagi?

Tidak perduli bagaimana, ia harus buktikan sendiri kebenarannya. Maka ia lantas bersiul nyaring kemudian terbang melesat ke arah kuil tersebut.

Siulan nyaring Kim Houw, telah mengejutkan si Imam palsu dan Peng Peng.

Apakah wanita itu benar-benar Peng Peng? Memang benar, ia adalah Peng Peng! Tapi bagaimana ia masih hidup dan muncul disitu? Mari kita ceritakan duduk perkaranya!

Sejak Peng Peng tertawan Siao Pek Sin, sepanjang jalan meski ada Ciok Goan Hong yang mengawasi, disamping itu masih ada lagi si Imam palsu, Kacung baju merah dan La to Kiesu bertiga yang diam-diam melindungi keselamatannya.

Sejak Siao Pek Sin mengangkat dirinya sebagai Tiancu dari Istana Kumala Putih, meski mereka pernah bersumpah, siapa saja yang mampu membawa mereka keluar dari istana di rimba keramat itu, selain mereka hendak menurunkan kepandaian masing-masing, juga menyediakan diri masing-masing untuk mengabdi seumur hidup.

Siapa nyana bahwa Siao Pek Sin telah menggunakan kesempatan baik untuk menjagoi di dunia kangouw, ingin membuat dirinya sebagai orang yang teragung didalam rimba persilatan. Hal ini telah menimbulkan reaksi hebat bagi mereka. Pertama, adalah dua manusia kukoay dari daerah luar yang setelah menurunkan kepandaian masing-masing lantas meninggalkan Siao Pek Sin tanpa pamit, kembali ke tempat kediaman mereka semula, yaitu ke pulau Wan Yu To di Tong Hay.

Perginya satu dua orang bagi Siao Pek Sin tidak menjadi soal. Ia tetap dengan sepak terjangnya sendiri, sedikitpun tidak ada kekuatiran. Tapi, munculnya Kim Houw secara tiba-tiba, telah membuat Siao Pek Sin ketakutan!

Sebabnya ialah: Kim Houw adalah satu-satunya orang yang bisa membuka rahasia Siao Pek sin yang telah mencelakakan diri Kim Houw dan merebut kedudukan Tiancu dari Istana Kumala Putih. Maka, tidak menunggu sampai Kim Houw muncul dimuka umum, dengan licin ia telah menarik diri bersama orang-orangnya meninggalkan Istana Kumala Putih.

Selagi hendak meninggalkan sarangnya, ia telah berpapasan dengan Peng Peng yang hendak mengambil kudanya. Dengan akal yang licik ia bisa menawan Peng Peng, lalu dibawa kabur sekalian, ia hendak menggunakan Peng Peng untuk memancing Kim Houw.

Kala itu si Imam palsu dan yang lain, meski dalam hati merasa kurang senang atas perbuatan Siao Pek Sin, tapi belum mau mengambil keputusan untuk meninggalkannya. Mereka mengikuti perjalanan Siao Pek Sin. Disepanjang perjalanan Siao Pek Sin dengan mengaku dirinya sebagai Kim Houw telah melakukan perbuatan merampok dan memperkosa para wanita-wanita baik, hal ini telah membangkitkan perasaan gusar mereka, hingga timbullah pikiran untuk meninggalkan Siao Pek Sin!

Tadinya Siao Pek Sin mengira, dengan perbuatannya itu, ia dapat membuat rusak nama baik Kim Houw, hingga tidak dapat menancapkan kaki dikalangan kangouw. Siapa nyana akal kejinya itu, ternyata merupakan kesalahan besar, bukan saja sudah tidak berhasil mencelakakan diri orang lain, sebaliknya telah mencelakakan diri sendiri. Itulah sebabnya sampai kejadian Lie Cit Nio dan To Pa Thian habiskan jiwanya sendiri. Mereka tidak mau mengingkari janji mereka sendiri, tapi juga tidak sudi diperalat oleh Siao Pek Sin melakukan kejahatan. Kecuali mati, sudah tidak ada jalan lain bagi mereka!

Selanjutnya Kim Coa Nio-nio berontak, San Hua Sian-lie binasa, Lui Kong ayahnya San Hua Sian-lie karena gusar dan duka, juga telah berlalu tanpa pamit!

Semua kejadian yang timbul saling susul menyusul itu, baru membuat Siao Pek Sin kuatir. Orang-orangnya satu persatu telah menyingkir, ada yang habiskan jiwa sendiri, ada yang pergi tanpa pamit, hingga kekuatan Siao Pek Sin nampak mulai berkurang.

Dalam keadaan tidak berdaya, akhirnya Siao Pek Sin coba berlaku manis seberapa bisa terhadap orang-orangnya yang masih tinggal, diantaranya masih terdapat si Imam palsu, Kacung baju merah dan La to Kiesu. Sebabnya ketiga orang ini bukan saja tidak mau mengurusi segala urusan tetek bengek, bahkan sampai hari itu, mereka belum menurunkan kepandaian sedikitpun kepada Siao Pek Sin. Tindakan kedua ialah, Siao Pek Sin dapat membujuk si iblis tua Lo Ceng Mo, dan dengan kekuatan Ceng Kee Cee dan Pek Liong Po mereka hendak kembali ke Istana Kumala Putih.

Tidak disangka, Lo Ceng Mo dalam perjalanannya ke Pek Liong Po, setelah bertempur dengan Kim Lo Han dan kawan-kawannya, telah menemukan tanda-tanda yang ditinggalkan oleh Kouw Low Sian Ciam, yang membuat hatinya jerih dan segera lari pulang ke sarangnya.

Pek Liong Po pernah membinasakan murid Kouw Low Sin Ciam, ini telah diketahui dengan baik oleh Lo Ceng Mo. Munculnya Kouw Low Sin Ciam, pikirnya sudah tentu hendak membikin perhitungan dengan orang-orang Pek Liong Po.

Lo Ceng Mo tidak takut Kim Houw dan yang lainnya, hanya terhadap iblis yang membunuh orang tanpa berkedip itu, ia takut seperti ketemu dengan iblis sungguhan.

Dengan demikian, kekuatan Siao Pek Sin lantas berkurang. Namun, saat itu Kim Houw telah kambuh kembali penyakit lamanya, yang tidak dapat mengingat segala kejadian yang sudah lalu dan terjatuh ditangan Siao Pek Sin. Untuk kepentingannya melawan Kouw Low Sin Ciam, Siao Pek Sin terpaksa berlaku baik terhadap Kim Houw.

Gangguan yang ditimbulkan Kim Lo Han dan kawan-kawannya, yang dilakukan berulang kali, sedikitpun tidak dipandang mata oleh Siao Pek Sin. ia hendak menyimpan tenaganya untuk menghadapi Kouw Low Sin ciam.

Tapi perkataan Peng Peng kepada Kim Houw: "Aku akan berusaha keras supaya kau mendapatkan kembali semua ingatanmu!" telah membuat Siao Pek Sin pusing kepala.

Karena ucapannya itu, Siao Pek Sin anggap perlu untuk menyingkirkan Peng Peng. Pertama untuk menutup jalan bagi Kim Houw untuk mendapatkan kembali ingatannya, supaya Kim Houw tetap dapat diperalatnya untuk selama-lamanya.

Kedua, menimbulkan kesalah pahaman dan kekeliruan antara Kim Houw dengan pihak Kim Lo Han, sehingga kedua pihak saling hantam sendiri.

Siapa sangka, rencana Siao Pek Sin itu, meski dapat mengelabui mata orang lain, tapi tidak bisa mengelabui mata si Imam palsu bertiga yang setiap saat melindungi jiwa Peng Peng, dan dengan menggunakan kesempatan itu, mereka dapat menolong jiwa Peng Peng dan keluar dari sarang macan. Maka, pada saat yang kritis, si Imam palsu bertiga lantas bertindak, mereka kemudian menjebloskan pelayan wanita yang ditugaskan untuk membakar kamar Peng Peng, sedang Peng Peng sendiri dibawa kabur ke tempat aman!

Dasar Siao Pek Sin lagi sial, ia malah bertemu dengan Khu Leng Lie dan melakukan perbuatan binatangnya, hingga membuat Kim Houw cemas dan gusar serta meninggalkannya.

Dikala si Imam palsu dan Peng Peng mendengar suara siulan, lantas menengok, dan ketika mengetahui bahwa suara itu adalah suara Kim Houw, Peng Peng lantas lari menyambut sambil berseru :" Houw-ji! Houw-ji!"

Kim Houw dengan cepat menghentikan langkah kakinya, baru saja berhenti, Peng Peng sudah berada dalam pelukannya dan memeluk dirinya dengan erat.

"Houw-ji, apa kau sudah kembali ingatanmu?" tanyanya.

Kim Houw tidak menjawab pertanyaannya, sebaliknya ia mengangkat wajah si nona dan dipandanginya sekian lama. Wajah Peng Peng nampak merah segar, jelas kesehatannya tidak terganggu, maka segera ia mengetahui bahwa dalam hal ini pasti ada rahasianya.

"Peng Peng, kau baik-baik saja?" tanyanya.

Peng Peng juga tidak menjawab, ia malah balik bertanya, "Aku tanya kau, mengapa kau tidak menjawab? Apakah kau sudah mengetahui semua kejadian ini?"

Kim Houw gelengkan kepalanya.

Melihat Kim Houw geleng kepala, Peng Peng lalu menghela napas, "Kau belum pulih kembali ingatanmu, mengapa seorang diri kau berani kabur kemari?"

Mendengar pertanyaan demikian, Kim Houw lalu ingat perbuatan mesum antara Siao Pek Sin dengan Khu Leng lie, maka seketika itu wajahnya lantas berubah merah, mulutnya seperti terkancing tidak dapat menjawab.

"Tidak perduli bagaimana, sekarang kau sudah keluar dari Pek Liong Po, jadi tidak perlu balik kembali kesana!"

"Kau tak usah kuatir! Aku tidak akan kembali lagi! Selamanya tidak akan kembali lagi ke Pek Liong Po!"

Mendengar jawaban Kim Houw, Peng Peng sangat girang. "Aaa! Kalau begitu baik sekali.....cuma tentang ingatanmu"

Mendadak terdengar suaranya si Imam palsu, "Jangan kesusu, lihat si Budha hidup telah datang!"

Kim Houw dan Peng Peng menengok berbareng, diatas puncak gunung yang berderet-deret, dari jauh tampak beberapa bayangan orang yang lari laksana terbang.

"Siapa itu Budha hidup yang dimaksudkan Toya ini?" tanya Kim Houw.

"Jangan panggil aku Toya, aku ini adalah si Toya palsu. Kau hendak menanyakan tentang Budha hidup? Kuberitahukan padamu, kau juga tidak akan tahu? Untuk sementara biarlah kau berada dalam kegelapan dahulu. Karena dalam keadaanmu seperti sekarang ini, sekalipun kau bertemu dengannya juga masih belum mengenalinya1" kata si Imam palsu sambil tertawa tergelak-gelak.

Kim Houw tidak bisa berbuat lain, ia merasa agak jengkel, lalu berkata kepada Peng Peng. "Peng Peng, kau suka ikut aku pergi?"

Peng Peng tercengang, ia melirik kepada Kim Houw sejenak. "Pergi? Kemana hendak pergi?" tanya si nona.

Kim Houw meniru lagaknya si Imam palsu. menjawab sambil tertawa tergelak-gelak : "Didalam dunia yang lebar ini. Masakan tidak ada tempat untuk aku tinggal?"

"Houw-ji, apa kau tidak ingin mendapatkan kembali ingatanmu? Apakah kau ingin terus linglung seumur hidupmu?" tanya Peng Peng.

Kim Houw tercengang, "Siapa bilang aku tidak ingin? Aku hendak menjelajahi dunia untuk mencari tabib yang pandai, yang dapat menyembuhkan penyakitku!"

"Baik! Aku mau ikut kau. Tapi harap kau suka tunggu aku sebentar, aku hendak ketemu Yayaku sebentar. Sebentar lagi ia akan datang, kemudian aku akan ikut kau pergi, tidak perduli kemana saja, aku selalu mengikutimu!"

Kim Houw mendengar Peng Peng menyebut yayanya, segera teringat dengan orang setengah tua yang mengaku sebagai kakeknya Peng Peng.

Tak lama kemudian, beberapa bayangan orang itu sudah berada semakin dekat. Kim Houw melirik mereka, ia dapat melihat orang yang jalan dimuka sebagai pengantar adalah si Kacung baju merah yang bentuk badannya pendek kate seperti anak-anak, sedang yang mengikuti di belakangnya adalah seorang hwesio, hati Kim Houw lantas berdebaran!

"Kim Lo Han! Kim Lo Han! Kim Lo Han!" berulang-ulang ia menyebut nama itu, tapi nama itu sama juga dengan nama Kim Houw yang teringat hanya samar-samar, ia tidak dapat menyelaminya.

Sebentar saja, orang-orang itu sudah tiba di depan kuil.

Mereka itu kecuali si Kacung baju merah, tidak lebih, tidak kurang adalah tujuh orang yang masuk ke Ceng Kee Cee digunung Teng Lay San. Kim Lo Han, Cu Su bersama muridnya, Tok Kai bersama muridnya, Tiong Ciu Khek dan Kim Coa Nio Nio!

Kim Lo Han dan teman-temannya ketika melihat Kim Houw berada di situ, semua pada tercengang.

Oleh karena wajah Kim Houw mirip benar dengan wajah Siao Pek Sin, sampai mereka sukar untuk membedakan anak muda itu Kim Houw atau Siao Pek Sin?

Dua tahun lalu, Kim Houw masih belum dewasa, bentuk badannya agak pendek dari Siao Pek Sin maka mudah dikenali. Tapi sekarang, keduanya sama tingginya, sama-sama cakap dan gagahnya, kalau belum mendapatkan bukti, siapa berani percaya? Sekalipun Kim Houw sendiri yang mengatakan, mereka juga belum tentu mau percaya. Bukankah Siao Pek Sin juga bisa mengatakan dirinya adalah Kim Houw? Kim Houw tadinya menganggap orang-orang itu memandang dirinya karena pernah bertempur dengan mereka, hingga menganggap dirinya musuh, ia lantas berkata pada Peng Peng: "Peng Peng, aku akan jalan dulu, aku akan tunggu kau diatas bukit sana!"

Baru saja Peng Peng hendak anggukkan kepala, tiba-tiba terdengar suara si Imam palsu berkata: "Apa perlunya berbuat begitu? Semua toh sahabat lama, tidak ada halangan untuk saling bertemu, mungkin ini ada baiknya bagi penyembuhan penyakitmu. Mereka tidak percaya kau, tapi aku percaya bahwa kau benar adalah Kim Houw. Biarlah aku nanti yang menjelaskan duduk perkaranya!"

Sehabis berkata, si Imam palsu lantas berseru: "Budha hidup, apa sebab Kim Siauhiap bisa jadi begini, seharusnya kau tahu, kenapa kau juga bingung terlongong-longong?"

Kim Lo Han masih belum percaya penuh bahwa pemuda itu adalah Kim Houw, untuk membuktikan ia betul Kim Houw atau bukan, maka ia lantas menjawab: "Kee Tojin, bagaimana kau dapat memastikan siapa adanya dia?"

"Mereka berdua meski mirip satu sama lain, tapi tabiatnya berlainan. Siao Pek Sin licik dan banyak akalnya, tidak seperti dia yang jujur, terutama linglung, bagaimana bisa dibikin-bikin?"

Kim Houw yang mendengar si imam palsu mengatakan mereka semua adalah sahabat lama, bukan lagi engko atau encinya, hatinya tergerak juga. Pikirnya kalau benar mereka adalah sahabat-sahabatnya, kita beromong-omong mungkin ada baiknya bagi diriku! pikirnya.

Mengingat ketika baru pertama kali bertemu dengan Peng Peng, nona itu pernah suruh ia keluarkan pedangnya! Pikirnya, aku mempunyai dua macam senjata, semuanya merupakan senjata yang cocok dengan hatiku, mungkin ini adalah senjata yang dahulu aku pergunakan.

Untuk mendapat kepercayaan orang-orang yang dikatakan sebagai sahabat-sahabat itu, Kim Houw segera keluarkan senjata Bak Tha Liong Kin nya, berbareng dengan itu, ia lantas bersiul nyaring, kemudian memainkan ilmu silatnya yang paling ia banggakan, Leng In San Hoat.

Belum sejurus ia mainkan ilmu silatnya itu, Kim Lo Han sudah berseru girang dan dengan suara nyaring: "Houw-ji! Houw-ji!"

Sebab ilmu silat itu bukan saja sukar dilatih, tapi juga hebat serangannya. Oleh karena terlalu seringnya Kim Houw melatih ilmu silatnya itu dan Kim Lo Han juga paling sering menyaksikan latihan Kim Houw dengan ilmu silatnya, maka ia lantas mengenalinya dan tidak menganggap palsu lagi.

Kim Houw yang dipanggil namanya, malah tidak berani menyahut, Kim Houw itu apakah namanya sendiri atau bukan, ia sendiri masih belum tahu.

Setelah Kim Lo han dapat mengenali Kim Houw, orang-orang itu lantas anggukan kepala untuk memberi hormat, Kim Houw juga membalas hormat sambil anggukkan kepalanya.

Mereka beramai-ramai lantas masuk ke dalam kuil. Kuil itu meski masih berbentuk kuil, tapi didalamnya sudah tidak ada tempat sembahyang atau patungnya. Cuma dalam kuil itu keadaannya bersih sekali, sudah tentu itu adalah pekerjaan si Imam palsu dan Peng Peng.

Begitu berada didalam kuil, si Imam palsu lantas berkata :" Dulu ketika pinto beribadat di sini, orang-orang yang datang bersembahyang ramai sekali. Tapi sekarang setelah beberapa puluh tahun pinto tinggalkan, keadaannya lain sekali. Maka kedatangan tuan-tuan di sini, pinto tidak dapat menyuguhi apa-apa, harap supaya dimaafkan." Ternyata kuil tersebut dulu adalah tempatnya si Imam palsu menjalankan ibadat, juga merupakan tempat kediamannya. Kim Houw ketika melihat papan mereknya, huruf emasnya ternyata sudah pada rontok, cuma samar-samar masih dapat dibaca : HAN PEK CIN KOAN.

Kim Houw lalu berpikir : sebutan si Imam palsu saja, sudah cukup aneh, dan sekarang nama kuilnya lebih aneh lagi. Di bawah huruf HAN PEK, perlu ditambah huruf CIN? Apa ada HAN PEK palsu?

Oleh karena dalam kuil tidak ada meja, orang-orang itu lantas pada duduk di bawah. Pada saat itu Tiong Ciu Khek sudah duduk bersama-sama Peng Peng sambil mengobrol.

Setelah semua sudah berkumpul, Kim Lo Han lalu berkata kepada Kim Houw: "Houw-ji, aku Kim Lo Han adalah satu-satunya orang yang mengetahui urusanmu. Dulu ketika masih berada di Istana Kumala Putih di gunung Tiang Pek San, kau juga pernah mendapat penyakit begini.

Kemudian dengan menggunakan ilmuku Kim Kong Cao Khie, dalam tempo setengah tahun lebih, penyakitmu baru sembuh. Selanjutnya, kita bersama-sama turun gunung, sama-sama membikin onar di Istana Kumala Putih di gunung Kua Cong San! Sama-sama"

Kim Lo Han selanjutnya menjelaskan semua hal yang telah mereka alami, sehingga berpencaran di Ceng Kee Cee, akhirnya ia berkata "Bagaimana kau bisa kehilangan ingatanmu lagi, kami tidak tahu. Sungguh sayang sedikitpun kau tidak ingat pula akan kejadian-kejadian lampau, maka untuk menyembuhkan penyakitmu ini, paling sedikit kau harus menggunakan waktu setengah tahun."

Kim Houw yang mendengarkan penuturan Kim Lo Han, dalam hati merasa kaget bercampur girang, sedang otaknya dirasakan nyeri.

Ia terkejut karena dulu ternyata ia juga sudah pernah mendapatkan penyakit demikian, dan bergirang karena penyakit itu bukan penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan, hanya dalam waktu setengah tahun sudah bisa sembuh. Ia juga heran, ternyata sudah mengalami begitu banyak kejadian.

Semua kejadian itu, Kim Houw hanya ingat samar-samar, biar bagaimana sudah tidak teringat lagi.

"Hud-ya, aku bukannya tidak kenal sama sekali, cuma samar-samar seperti pernah melihat, seperti pernah ada kejadian serupa itu, tapi juga seperti tidak, entah bagaimana persoalannya," berkata Kim Houw.

"Kalau begitu, kali ini kau masih belum hilang sama sekali ingatanmu. Hanya dengan ilmu Cit Cu Kang sudah bisa disembuhkan!" kata Kim Lo Han.

Kim Houw sangat girang, "Numpang tanya Hud-ya, apa artinya ilmu Cit Cu Kang itu?" "Cit Cu Kang adalah serupa ilmu kekuatan lwekang yang harus disalurkan terus menerus

selama tujuh hari terhitung mulai dari jam satu tengah malam. Jelasnya, ialah harus diobati terus menerus tidak boleh terputus setengah jalan selama tujuh hari, lantas bisa sembuh!"

Ia mendadak kerutkan alisnya, "Cuma ilmu Cit Cu Kang ini meski tercapai hasilnya lebih cepat daripada ilmu lainnya, tapi bahayanya juga besar. Maka harus mencari suatu tempat yang sepi sunyi ditengah-tengah gunung dan yang tidak pernah didatangi manusia, barulah dapat digunakan. Sebab selama menjalankan ilmu ini, sama sekali tidak boleh terganggu atau dikagetkan. Apabila terganggu, sang pasien bukan saja bertambah berat penyakitnya, sedang yang mengobatinyapun akan lenyap semua tenaga lweekangnya." Mendengar itu, Kim Houw lantas berkata: "Hud-ya, kau tadi bukankah pernah berkata bahwa di Istana Kumala Putih di gunung Tiang Pek San tidak ada orang yang tinggal lagi? Kalau begitu, kita balik saja kesana, bukankah bebas dari gangguan manusia?"

"Houw-ji, gunung Tiang Pek San adanya di propinsi San See, terpisah dari sini ribuan li jauhnya," kata Kim Lo Han sambil gelengkan kepalanya.

Kim Houw pikir, ribuan li apa artinya? Cuma, karena minta pertolongan orang, ia merasa tidak enak membuka mulut. Ia tidak tahu dalam hati Kim Lo Han sangat gelisah.

Kalau tadi ia berkata demikian, ialah karena sudah tidak ada waktu lagi, melakukan perjalanan begitu jauh.

Tiba-tiba terdengar suara si Imam palsu berkata: "Eh, hwesio bangkotan! Kau ini benar-benar keterlaluan, mengapa kau tidak minta tolong kepadaku Han Pek Cin Koan. Buat apa cari tempat jauh-jauh atau pulang ke Istana Kumala Putih? Di tempatku ini saja, aku tanggung cukup aman, ditambah lagi dengan bantuan begini banyak orang yang melindungi kalian, sekalipun langit runtuh juga dapat kita tahan."

Mendengar perkataan si Imam palsu itu, Kim Houw sangat girang.

"Kee Tojin, saat ini bukan waktunya kau untuk bergurau lagi," kata Kim Lo Han. Si Imam palsu tertawa tergelak-gelak.

Aku si Imam palsu meski edan, tapi belum pernah main gila terhadap kau si hwesio gagu, apa kau tidak percaya? mari, mari sekarang juga aku ajak kau lihat!"

Sehabis bicara, si Imam palsu lantas bangkit berjalan mengitari ruangan belakang, di sebuah kamar tumpukan kayu kering, si Imam palsu itu lantas berhenti dan berpaling, lalu berkata kepada yang lainnya.

"Di sini adalah kamar tempat menyimpan kayu kering, sebagai orang-orang terkenal namanya di rimba persilatan, apakah kalian dapat melihat dimana adanya kunci rahasia didalam kamar ini?"

Kim Houw memandang keadaan sekitar kamar itu, ia lihat dikedua sudut sudah penuh dengan tumpukan kayu kering, di sudut yang lain terdapat sebuah batu gilingan beras.

Di atas batu gilingan itu sudah penuh debu, sedang kayu yang digunakan untuk menggiling juga sudah patah dan di sandarkan di dinding. Kecuali itu, tembok-tembok dinding dalam kamar itu sudah pada retak, di sana sini terdapat runtuhannya.

Kalau bukan si Imam palsu yang mengatakan bahwa kamar itu ada kamar rahasianya, mungkin Kim Lo Han dan kawan-kawannya walaupun dari tokoh-tokoh terkenal dengan kepandaian ilmu silatnya yang tinggi, juga tidak akan menyangka bahwa didalam kamar ini ada rahasianya.

Kini, setelah si Imam palsu memberitahu karena dalam kamar itu isinya cuma kayu kering dan batu gilingan, dimana adanya kunci rahasia. Kecuali dalam tumpukan kayu dan batu penggilingan, sudah tidak ada tempatnya lagi. Namun, tidak ada seorangpun yang berani mengatakan, rahasianya sangat sederhana sekali perlu apa harus ditebak lagi! Siapa sangka ketika melihat tidak ada yang buka mulut, si Imam palsu lalu ajak mereka ke kamar sebelahnya!

Kamar sebelahnya itu juga merupakan kamar tumpukan kayu dan keadaannya serupa dengan kamar yang tadi.

Dengan demikian, orang-orang itu harus memeriksa dengan teliti. Sebab kedua kamar itu, biar bagaimanapun hanya satu yang memiliki rahasia, tidak kedua-duanya!

"Sudah periksa jelas? Dimana kamar rahasianya? tanya si Imam palsu sambil tertawa.

Orang-orang itu meski terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka di dunia persilatan, tapi dalam hal ini tidak berani sembarangan membuka mulut, karena kuatir apabila kesalahan akan merendahkan derajatnya.

Si Imam palsu sengaja berlaku demikian supaya Kim Lo Han mengerti bahwa sembunyi didalam kamar ini sangat aman dan boleh tidak usah kuatir apa-apa.

Ketika melihat orang-orang itu tidak ada yang membuka mulut, si Imam palsu lantas berjalan menghampiri batu penggilingan. Ia putar tiga kali batu gilingan tersebut, lalu dibalik dan diputar lagi tiga kali.

Lalu terdengar suara berkeresekan, di dinding tembok lalu terbuka sebuah pintu. Sebelum pintu itu terbuka, di dinding tembok itu cuma merupakan dinding tembok yang sudah sedikitpun tidak kelihatan apa-apanya yang aneh. Ternyata retak-retakan dan tanda basah itu adalah buatan belaka.

Ketika semua orang melongok ke dalam, di situ terdapat sebuah kamar batu kira-kira satu tombak luasnya. Dalam kamar itu keadaannya sangat bersih dan kering, tidak terdapat hawa basah, terang ada lubang hawanya. Semua orang yang menyaksikan itu pada berseru kagum!

"Bagaimana? Aku si Imam palsu toh tidak omong kosong?" katanya sambil tertawa.

"Bagus! Kamar ini sungguh tepat untuk maksud kita Houw-ji, mari sekarang kita mulai. Cuma, kami minta bantuan saudara-saudara untuk melindungi keselamatan kami, begitu pula makan kami setiap harinya." kata Kim Lo Han girang.

"Hal ini kau tak usah kuatir. Aku tanggung jawab sepenuhnya!" jawab si Imam palsu. Dari rombongan orang itu tiba-tiba terdengar suara Peng Peng: "Houw-ji!"

Kim Houw melihat Peng-peng sudah basah air mata, buru-buru berkata: "Peng-peng, hanya tujuh hari kemudian, aku percaya tidak akan berpisah lagi dengan kau. Baik-baik kau ikut yayamu, jika belum sembuh penyakitku, sukar untuk aku menjadi orang!"

Peng peng yang sudah menangis sedih, tidak dapat membuka mulutnya. Ia hanya mengangguk sebagai jawabannya!

Segera, Kim Lo Han dan Kim Houw berdua lantas masuk ke dalam kamar batu. Si Imam kembali memutar batu penggilingannya, untuk menutup pintunya.

Satu hari..... Dua hari berlalu......

Tiga hari....

Tiga hari telah dilewatkan dengan aman, sedikitpun tidak ada kejadian apa-apa.

Selama tiga hari itu, Kim Houw di bawah pengobatan Kim Lo Han dengan ilmunya Kim-kong cao-khie, siapa sebentar mendusin dan sebentar tertidur.

Tapi waktu mendusinnya agak sedikit, waktu tidur agak banyak. Kalau sedang mendusin Kim Houw juga seperti melamun, tidak ingat segala urusan.

Hari keempat, pagi-pagi benar. si Botak sehabis melatih silat pagi-pagi, keluar mengambil air. Tiba-tiba melihat di atas pintu ada goresan gambar kepala tengkorak sebesar kepalan tangan, di mulutnya menggigit sebatang anak panah.

Si Botak tidak mengenal tanda apa itu. Buru-buru memanggil sun cu hoa yang sedang melatih silat.

"Saudara Cu hoa! kau lihat ini, permainan apa?" Sun cu hoa yang sedang berlatih, tadinya tidak mau ambil pusing. Tapi mengingat selama perjalanan berkawan rapat dengan Si Botak, meski Si Botak bentuknya jelek tapi hati nya baik, Sun hoa terpaksa hentikan latihannya, untuk melihat apa sebetulnya yang terjadi yang di lihat yang di lihat Si Botak.

Tapi Sun Cu Hoa juga tidak tau apa-apa, meski sudah melihat juga percuma. Cuma saja ia ada lebih cerdik daripada Si Botak, ia tau gambar itu tentu tidak bermaksud baik.

Dengan cepat ia lari ke dalam, kala itu didalam ruangan ada terdapat suhunya berlima tengah duduk bersemedi. Sun cu hoa melihat suhunya juga masih bersemedi melatih ilmunya, sudah tentu tidak berani menggangu, ia berdiri sembari ulurkan kedua tangannya!

Tiba-tiba terdengar Cu su berkata: "Cu hoa bukan ke depan melatih silat, apa perlunya datang kemari ?" Lebih dulu mengucapkan selamat pagi kepada Suhunya, kemudian berkata: "Tecu barusan dapat melihat didepan pintu ada lukisan gambarnya sebuah kepala tengkorak"

Ucapan Sun cu hoa itu telah mengejutkan yang lain-lainnya yang sedang bersemedi, mereka pada lompat bangun dan menanyakan dengan kaget: "Apa katamu?" Sun Hoa menyaksikan reaksi mereka merasa heran dan kaget, ia segera mengetahui bahwa hal itu belum pernah terjadi, tentu penting. Karena selama mengikuti gurunya, belum pernah kelima orang tua itu menunjukkan kaget demikian rupa, apalagi baru hanya dengar kepala tengkorak saja.

Terutama suhunya sendiri yang selamanya bersikap tenang, tidak pernah tergopoh-gopoh atau gelisah, tapi mendengar keterangannya tadi ternyata lain dari kebiasaannya. "Di atas pintu ada gambar tengkorak manusia yang mulutnya menggigit sebatang anak panah!" Cu hoa menjelaskan.

Belum habis perkataan Sun cu hoa. Lima orang tua di depannya sudah bergerak cepat laksana angin, sebentar saja sudah menghilang di depan matanya. Sun cu hoa bertambah heran, ia buru-buru mengejar ke depan. sedikitpun tidak salah, orang tua itu semuanya berdiri di depan pintu, matanya memandang gambar kepala tengkorak yang di lukis di atas pintu. Sun cu hoa berdiri jauh-jauh, ia mengawasi tingkah laku setiap orang itu. Suhunya sendiri wajahnya merah, saat itu kelihatan merah padam.

Sedangkan si pengemis sakti seperti anak-anak sebentar pucat sebentar merah, nampaknya sangat tegang. Wajah tiong-ciu-khek yang putih bersih.nampaknya semakin putih seperti orang baru sembuh sakit. Dan si Kacung merah ? sikapnya tidak ketentuan saat itu, susah dibilang, kaget atau jeri? Tiba-tiba ia dengar Kim Coa Nio-Nio berkata: "Menurut kebiasaan iblis tua itu, kepala tengkorak itu kalau menggigit anak panah makin dekat pada bagian kepalanya, kedatangannya semakin cepat. Melihat keadaannya anak panah ini, siang atau malam iblis tua itu pasti datang.

Sekarang, satu-satunya jalan melawan musuh yang ganas itu, ialah kita semuanya harus bersatu padu dan menggunakan seluruh kekuatan tenaga untuk menahan kedatangannya, lalu aku diam-diam melepaskan ular emasku menyerang dirinya. Kecuali ular emas ini, aku percaya tidak ada cara lain untuk menundukkan dia!"

"Entah apa maksudnya ia datang kemari ?" kata Cu su Iblis tua itu tidak mempunyai tujuan yang tertentu. Dimana ada orang gagah dari rimba persilatan, di situ ia muncul, lalu terbitkan huru- hara. Kalau mandah terhina olehnya, ia dapat mengampuni jiwa orang itu, kalau tidak suka di hina, ia lalu binasakan!" jawab kim Coa Nio-Nio.

Baru Cu Su hendak menyahut, tiba-tiba terdengar suara Si Botak: " Suhu! suhu lihat bidadari!

Bidadari!"

Semua orang menengok ke arah yang di tunjuk Si Botak, ternyata seorang wanita muda yang cantik yang melayang turun dari atas bukit. Semua orang kembali pada terkejut, mengapa wanita siluman yang sudah lama tidak kedengaran namanya ini muncul kembali?

Melihat kedatangan wanita cantik itu. Orang-orang itu, kelihatannya lebih takut daripada Kow Low sin ciam. Dengan cepat mereka pada lari ke dalam kuil, hanya tertinggal Kim coa nio-nio seorang.

Betulkah mereka takut padanya? Tidak! mereka hanya tidak sudi melihat dandanannya yang tidak patut!

Wanita yang baru datang itu adalah Khu Leng Lie. Setelah melakukan perbuatan mesum dirimba Pek-Liong-Po dengan Siao Pek Sin, Khu Leng Lie merasa puas.

Ia tidak tahu Siao Pek Sin bukan Kim Houw, tapi Siao Pek Sin tahu kalau sedang menjalankan peran sebagai Kim Houw. Sebab ia telah saksikan sendiri Kim Houw bersama Khu Leng Lie pernah muncul bersama di Pek-Liong-Po.

Sehabis melakukan perbuatan durhaka itu, Siao Pek Sin kembali ingat Kim Houw. Ia lantas mencari dan memanggil-manggil, tapi Kim Houw sudah pergi jauh!

Siao Pek Sin anggap Kim Houw sudah pulang sendirian ke Pek-liong-po maka lantas ajak Khu Leng Lie pulang. Tapi di Pek-liong-po juga tidak menemukan bayangan Kim Houw. Siao Pek Sin menunggu lagi satu hari, masih tidak kelihatan Kim Houw pulang, ia baru merasa gelisah!

Berbareng dengan itu, Pek-liong-ya setelah mengetahui bahwa wanita cantik yang dibawa pulang oleh Siao Pek Sin adalah Khu Leng Lie yang namanya menggegerkan jagat, ia lantas marah-marah dan mendamprat Siao Pek Sin.

Tapi Siao Pek Sin sudah mabuk oleh kecantikan Khu Leng Lie, tidak mau percaya Khu Leng Lie adalah wanita genit yang namanya sangat tersohor itu. Disamping itu orang-orang di Pek-liong- po juga makin lama makin sedikit, hingga ia merasa agak masgul.

Dengan alasan hendak mencari Kim Houw ia bersama Khu Leng Lie pergi meninggalkan Pek- liong-po. Tidak nyana, dengan tidak sengaja mereka telah tiba di kuil Han-pek-cin-koan.

Ilmu lari cepat Siao Pek Sin jauh lebih rendah daripada Khu Leng Lie. Maka ketika Khu Leng Lie keluarkan kepandaiannya lari pesat, sebentar saja Siao Pek Sin sudah ketinggalan jauh sekali.

Ketika berada di puncak gunung Khu Leng Lie dapat melihat ditengah-tengah bukit itu ada kuil tua dan bayangan orang. Ketika masih jauh ia sudah mendengar si botak menyebut dirinya bidadari, ia merasa girang dan sangat bangga.

Tapi ketika ia tiba di depan pintu kuil, orang yang berdiri di depan pintu ternyata seorang nenek rambut putih. Khu Leng Lie tak kenal Kim Coa Nio-nio, tapi Kim Coa Nio-nio kenal padanya.

Empat puluh tahun berselang, Khu Leng Lie sebenarnya sudah beberapa kali pernah bertemu dengan Kim Coa Nio-nio, satu sama lain sudah saling mengenal. Tapi kini empat puluh tahun kemudian, Kim Coa Nio-nio sudah menjadi seorang nenek, sedang Khu Leng Lie masih tetap seperti Khu Leng Lie pada empat puluh tahun yang lampau, sedikitpun tidak berubah, wajahnya tetap cantik, kelakuannya tetap genit.

Kim Coa Nio-nio begitu melihat Khu Leng Lie, lalu berkata dengan suara gemas: "Perempuan cabul apa perlumu datang kemari? Lekas pergi !"

Begitu bertemu muka lantas didamprat, sudah tentu Khu Leng Lie gusar. Maka lantas menyahut sambil ketawa dingin: "Perempuan cabul? Siapa yang kau maksudkan dengan perempuan cabul? Kau tidak kacai dirimu sendiri, seharusnya kaulah yang pantas mendapat gelaran itu!"

"Aku tidak perlu adu mulut dengan kau, itu cuma membikin kotor mulutku dan menodakan nama baikku. Aku hanya menanya kau, apa perlumu datang kemari? Kalau tidak ada urusan, lekas pergi saja paling baik. Di sini semuanya orang-orang yang kau tidak boleh anggap sembarangan !"

"Apa artinya nama baik? Berapa harganya nama baik per tail? Kedatangan nyonyamu kemari, boleh dikata ada urusan tapi juga boleh dikatakan tidak. Bagi kau seorang nenek yang wajahnya jelek seperti setan, kau masih tidak ada hak untuk mengetahuinya!"

Sehabis berkata, Khu Leng Lie dengan lenggang-lenggok masuk ke dalam kuil.

"Aku nasehati kau, lebih baik kau jangan masuk !" kata Kim Coa Nio-nio sambil ketrukkan tongkatnya ke tanah.

Khu Leng Lie ketika mendengar suara tongkat yang diketrukkan di tanah, ternyata bukan suara dari besi atau baja, juga bukan suara kayu. Ia lalu mengawasi sejenak bentuk tongkat itu.

Warnanya kuning bersinar, kiranya terbikin dari emas murni.

Melihat tongkat emas itu, Khu Leng Lie terperanjat dan lantas berseru: "Aaaa! kiranya kau adalah Kim Coa cici, sudah banyak tahun kita tidak bertemu, kau ternyata masih belum mati!"

Ucapan Khu Leng Lie ini mula-mula kedengarannya mesra, tapi pada akhirnya sangat tidak sedap didengarnya.

Karuan saja, ketika mendengar perkataan itu Kim Coa Nio-nio lantas naik darah.

"Siapa sudi mempunyai kenalan perempuan cabul? Siapa sudi kau panggil cici segala? Aku si nenek belum mau mati, kau tak usah kuatir. Kalau kau memaksa hendak masuk dengan menggunakan kekerasan, hari ini adalah kau yang akan mati, bukan aku!" Khu Leng Lie tertawa dingin: "Astaga Enci Kim Coa, perlu apa kau berlaku begitu galak? Sudah banyak tahun tidak saling bertemu, kita bercanda dan berlaku sedikit mesra tokh juga sudah seharusnya. Kau tidak ijinkan aku masuk, masa iya seorang nenek seperti kau masih mau keram laki-laki ?"

Perkataannya itu kembali pertamanya manis dan kemudian pahit, mula-mula mesra kemudian beracun, sehingga membuat Kim Coa Nio-nio bertambah gusar, Ia juga tidak mau menjawab lagi, sembari ketrukkan tongkatnya, lantas lompat menerjang !

Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu, kedengarannya seperti di tengah udara. Itu adalah tawanya Khu Leng Lie, dengan kegesitannya yang luar biasa sudah mengegoskan serangan Kim Coa Nio-nio, kemudian terus, melayang masuk ke dalam kuil.

Kim Coa Nio-nio sangat murka, dengan perdengarkan siulan nyaring, ia mengejar masuk.

Di luar dugaan, ketika Kim Coa Nio-nio berada dalam kuil Khu Leng Lie sudah melesat keluar lagi.

Kim Coa Nio-nio sangat heran. Ia sengaja nontonkan kepandaiannya atau hendak memainkan diriku? Tapi ketika ia mengawasi Khu Leng Lie, ia lihat wanita genit itu tengah berdiri kesima di depan pintu sambil memandang gambar tengkorak. Maka dalam hatinya lantas berpikir "kiranya kau juga satu gambar tengkorak itu?"

"Perempuan cabul? Sudah tahu? Sebaiknya lekas pergi jauh-jauh dari sini!" demikian kata Kim Coa Nio-nio.