Istana Kumala Putih Jilid 14

 
Jilid 14

Kim Houw ulur tangannya, sebuah pintu kuil ia dorong ke arah Khu Leng Lie, badannya juga melayang melesat keluar dari pintu kuil. Tapi kakinya belum sampai menginjak tanah, telinganya kembali sudah dengar suara benda rubuh.

Kim Houw berpaling, ternyata pintu kuil tadi sudah dibikin hancur berantakan oleh serangan tangan Khu Leng Lie.

Kim Houw terperanjat, sebab pintu kuil kebanyakan terbikin dari papan yang kuat, kepandaiannya sendiri Han-bun-cao kie, mungkin juga cuma begitu saja. Kalau begitu kekuatan wanita itu, bukankah berimbang dengan kekuatannya sendiri?

Tapi sebetulnya tidak demikian. Kim Houw tidak insyaf bahwa pintu kuil itu sudah tua usianya, entah sudah berapa lamanya kuil itu sudah tua usianya, entah sudah berapa lamanya kuil itu didirikan ? Dan sekarang kuil dan temboknya sudah rubuh, bagaimana papannya juga sudah lapuk

?

Baru saja Kim Houw lompat keluar dari kuil Khu Leng Lie sudah mengintil. Kepandaiannya mengentengi tubuh wanita itu, kembali membuat heran Kim Houw.

Ia lantas kerahkan tenaganya, lalu dorong tangannya dengan secara mendadak. Serangan Kim Houw itu menggunakan Han-bun-cao-kie, tapi baru saja serangannya meluncur, Khu Leng Lie sudah menghilang.

Ditempat sejauh kira-kira tiga tombak, tiba-tiba terdengar ketawanya.

"Entah dapat berapa banyak pelajaran dari tangannya setan tua, kau berani-berani menyerang aku ? Apa setan tua tidak memberitahukan padamu tentang adatku yang aneh ?" demikian ia berkata.

Kim Houw menampak ia mengejar, tapi tidak berani melancarkan serangan. Ia tidak mengerti apa maksudnya? Malahan agaknya ia berani tidak pandang mata kekuatannya Han-bun-cao-khie.

Terdengar pula ucapan si wanita cantik yang sebentar-sebentar menyebut setan tua, entah siapa yang dimaksudkan dengan setan tua itu. Maka ia lalu menanya.

"Aku dan nona tidak ada permusuhan apa-apa, juga bukan karena kau datang kemari. Apa maksud perkataanmu ini? Aku tidak mengerti. Nona selamat tinggal, sekarang aku hendak pergi!"

"Kau ingin pergi?" Khu Leng Lie tiba-tiba membentak dengan suara bengis. "Kau benar-benar usaha mengotori tangan nyonyamu!"

Mendengar itu. Kim Houw sudah mengerti bahwa kesalahan faham wanita itu sudah semakin dalam. Ia juga tidak ingin menjelaskan duduk perkaranya, sebab adatnya Khu Leng Lie terlalu aneh, sekalipun menjelaskan sampai lidahnya kering, Khu Leng Lie tidak mau percaya !

Maka Kim Houw lantas tutup rapat-rapat mulutnya dan berlalu. Pikirnya : Sekalipun kepandaianmu lebih tinggi sepuluh kali dari aku, aku juga tidak perlu takuti kau, juga tidak nanti akan tundukkan kepala di depanmu. Apalagi, kita belum menguji tenaga, perlu apa kau berlaku begitu galak ?

Baru saja Kim Houw bergerak, Khu Leng Lie sudah merintangi jalannya.

"Hm! Ini ada kau sendiri yang cari mampus, jangan kau sesalkan diriku!" katanya. Pada saat itu, Khu Leng Lie sudah basah kuyup sekujur badannya, sehabis keluarkan ucapannya itu, lantas ulur tangan dan pentang lima jarinya.

Jari tangan itu dipentang seperti gaetan, agak melekuk ke dalam. Kembali Kim Houw merasa heran, karena gerakannya itu adalah gerak tipu silat Tai-ing-jiauw-lek, tapi ilmu silat itu amat sukar, meski dilatih keras sampai tiga puluh atau lima puluh tahun, belum tentu tampak hasilnya.

Juga, ilmu silat itu meminta banyak makan tenaga, maka yang mempelajarinya, kebanyakan kaum pria. Ia tidak nyana bahwa Khu Leng Lie yang usianya masih begitu muda, juga pandai ilmu silat Tai-ing-jiauw-lek.

Sebelumnya, ketika Khu Leng Lie dengan tangan kosong telah merobohkan dinding kuil, Kim Houw sudah saksikan dengan mata kepala sendiri, ia sudah dapat meraba-raba sampai dimana kekuatannya wanita ini, maka kini Khu Leng Lie melancarkan serangannya Tai-ing-jiauw-lek, ia lantas tidak berani memandang ringan.

Dengan cepat ia egoskan diri menghindar serangan Khu Leng Lie, kemudian dengan membalikkan diri ia balas menyerang belakang pundak si nona. Maksudnya ialah hendak menggunakan serangan.

Untuk menghentikan serangannya Khu Leng Lie. Sebab, dalam pelajarannya Kao-jin Kiesu, meski banyak jenisnya ilmu silat yang tercantum di situ, tetapi tidak ada satu yang mengutamakan taktik bertahan. Uraiannya itu sangat aneh, demikian bunyinya: "Sesuatu ilmu silat, umumnya ada yang mempunyai taktik menyerang dan bertahan. Diwaktu menyerang, harus pula tidak melupakan bertahan. Tetapi taktik menyerang tetap merupakan ilmu silat yang paling kuat. Aku tidak mau terus bertahan dan mandah diserang, maka dalam kitab pelajaranku juga tidak ada yang mengutamakan pelajaran untuk mempertahankan diri dari serangan musuh."

Saat itu, Khu Leng Lie juga mulai heran. Sejak ia bertemu dengan Kim Houw, hatinya sudah terpikat oleh kegagahan dan ketampanan wajah Kim Houw, maka tidak memperhatikan hal lainnya.

Kini, Kim Houw dalam gerakannya mengegoskan serangannya dan caranya balas menyerang serta kegesitan geraknya, ternyata begitu hebat. Khu Leng Lie merasa amat kagum.

Tapi ia masih menganggap, bahwa Kim Houw sekalipun pernah melatih ilmu silat yang betapapun tingginya mungkin masih sangat terbatas karena umurnya masih muda. Maka dengan tidak ragu-ragu secepat kilat lantas ayun kedua tangannya, satu digunakan untuk mencakar satu lagi untuk menotok.

Sampai d isini kita tunda dulu jalannya pertempuran Khu Leng Lie dan Kim Houw marilah kita cari tahu siapa Khu Leng Lie si wanita cantik genit itu.

Khu Leng Lie ada satu anak yang lahir dan berhubung tidak sah, maka begitu lahir di dunia, lantas dibuang kehutan belukar. Sangat kebetulan sekali, dalam rimba itu ada sepasang orang hutan yang baru saja kematian anaknya. Yang betina mendengar suara tangisan perempuan, lantas ditolong dan disusui dengan air susunya sendiri.

Bayi perempuan itu telah mengikuti sepasang orang utan itu selama empat belas tahun lamanya. Pada suatu hari, seorang aneh dalam dunia kangouw yang bernama Khu Teng lewat di situ, dan kebetulan melihatnya. Ketika menyaksikan cara ia bergerak, lari dan melompat yang laksana terbang serta tenaganya yang begitu kuat, ia anggap suatu barang gaib dalam dunia persilatan, maka lantas di pungut murid dan dididik olehnya. didalam hutan itu Khu Teng mendirikan tempat tinggal, anak perempuan itu lalu diberi nama Khu Leng Lie. Saat itu Khu Teng usianya sudah lima puluh tahun lebih, tapi ia belum kawin. Dengan Khu Leng Lie yang dianggapnya sebagai murid mereka tinggal bersama-sama dalam satu gubuk selama tiga tahun. Kalau siang makan bersama, malam juga tidur dalam satu tempat tidur, seperti layaknya ayah dan anak.

Tiga tahun lamanya Khu Leng lie mengikuti Khu Teng, ia sudah pandai bicara dan melakukan segala pekerjaan. Meski usianya masih muda, tapi bentuk tubuhnya sudah seperti orang dewasa, parasnya juga cantik luar biasa.

Pada suatu hari, Khu Teng keluar rumah untuk belanja kebutuhan sehari-hari, tapi sampai malam belum pulang, sehingga Khu Leng Lie merasa cemas. Tapi ia tidak menunggu dirumah melainkan keluar untuk mencari.

Ditengah jalan ia telah berpapasan dengan seorang laki-laki setengah tua. Laki-laki itu cakap tapi gemar paras cantik. Melihat Khu Leng Lie malam-malam berkeliaran sendirian ditengah hutan, langsung timbul pikiran jahatnya.

Khu Leng Lie mengikuti Khu Teng baru tiga tahun dan urusan dunia yang baru dikenal sedikit sekali, tapi begitu tergoda oleh laki-laki cakap itu dengan cepat timbul reaksinya. Sebagai anak liar ia tidak mengerti tata kesopanan. Ia cuma menuruti hati remajanya, hawa nafsunya. Begitulah malam itu kehormatannya telah dirusak oleh laki-laki yang tak dikenal itu.

Diluar dugaan, selagi keduanya terbenam dalam kesenangan, laki-laki itu tiba-tiba telah meninggal dunia.

Khu Leng Lie terperanjat, tapi ketika ia dongakkan kepala dengan tidak sengaja, ia telah melihat sosok bayangan orang yang berdiri membelakanginya.

Ia lantas bangkit dan menghampiri bayangan tersebut yang ternyata suhunya sendiri, Khu Teng. Maka ia lantas berseru :" Suhu! Suhu! Kau tengok dia. "

Khu Teng menghela napas perlahan dan menjawab: "Aku tahu, kau urus dirimu dan pulang dulu, aku akan lemparkan bangkainya ke dalam hutan untuk santapan srigala!"

Khu Leng Lie tidak tahu artinya malu juga tidak kenal takut. Setelah rapikan pakaian dan rambutnya ia lantas lari pulang.

Tapi sejak hari itu, Khu Teng berubah sikapnya, tidak gembira seperti biasanya. Mengajar ilmu silat kepada Khu Leng Lie tampak tidak bersemangat lagi.

Khu Leng Lie agaknya juga menyadari perubahan sikap gurunya, suatu hari ia menggelendot dibadan Khu Leng, dengan sikap manja ia bertanya: "Suhu, apa kau tidak senang? atau kau kurang enak badan?"

Kelakuan Khu Leng Lie itu memang merupakan kebiasaannya, setiap kali kalau gurunya sedang sendirian dengan aleman ia suka gelendoti gurunya seperti tingkah anak kecil yang manja. Setiap kali Khu Teng suka pondong dirinya serta cium-cium jidatnya, tanpa ada reaksi apapun. Hal demikian telah dilakukan sejak Khu Leng Lie di pungut dari hutan oleh jago tua itu.

Tapi kali ini lain, ketika Khu Leng Lie berada dalam pelukannya, Khu Teng merasakan hatinya terguncang, badannya gemetar dan ia tidak berani memondong lagi. Hanya sepasang matanya yang memandang tidak berkedip kepada Khu Leng Lie.

Khu Leng Lie merasa heran, untuk menggirangkan hati suhunya, maka ia lalu merangkul leher Khu Teng, dan dengan sangat manja ia memanggil-manggil :" Suhu! Suhu! Apa kau sudah tidak sayang lagi pada Leng Lie?" Sambil bertanya Khu Leng Lie terus duduk di pangkuannya.

Tiba-tiba Khu Teng pentang tangannya, rupanya ia hendak memondong Leng Lie, tapi mendadak ia seperti ingat sesuatu sehingga ia tidak jadi memondong, sebaliknya ia malah mendorong badan Leng Lie dengan perlahan sambil menghela napas panjang dan berkata: "Leng Lie, aku tidak apa-apa, pergilah kau ke dapur dan siapkan makanan."

Sang murid mengerlingkan matanya dan berlalu dari hadapan suhunya.

Khu Leng Lie yang dilahirkan dari hubungan gelap, sudah merupakan bibit durhaka, apalagi ia dibesarkan oleh air susu binatang, hingga menjadikan ia seorang yang sifatnya kurang normal. ia tidak mengerti apa-apa soal hubungan antara pria dan wanita. Tapi sejak kehormatannya dirusak oleh laki-laki tidak dikenal itu, terjadilah perubahan pada dirinya.

Hawa nafsunya sangat tinggi, belakangan ini ia menggelendoti dan duduk di pangkuan suhunya ada maksudnya, ia mengharapkan suhunya nanti berbuat atas dirinya seperti yang dilakukan laki-laki yang tidak dikenal tempo hari.

Khu Teng usianya sudah lebih dari setengah abad, masih tetap perjaka, namun betapapun teguh imannya, akhirnya ia tidak tahan juga menghadapi godaan muridnya dan terjadilah hubungan yang memalukan antara guru merangkap ayah angkat dengan murid atau anak angkatnya sendiri....

Buat Khu Leng lie yang memang setengah liar masih tidak mengapa, tapi Khu Teng yang sebegitu jauh dapat mempertahankan kedudukannya sebagai perjaka, sesungguhnya harus dibuat menyesal.

Sejak malam itu, hingga selanjutnya mereka telah merupakan suami istri, ya suami istri yang ganjil dalam segala-galanya. Perbuatan mereka tidak kenal batas, tidak heran baru kira-kira satu tahun, keadaan Khu Teng sudah loyo.

Khu Leng Lie merasa kurang puas menghadapi keadaan Khu Teng, terpaksa Khu Teng menggunakan obat kuat. Ia adalah seorang kangouw kenamaan, mengerti juga ilmu obat-obatan, selain daripada itu ia juga masih mempunyai kitab wasiat yang bernama Ban-po Khie-sie, yang didalamnya memuat segala rupa pengetahuan.

Khu Leng Lie otaknya cerdas, disamping belajar ilmu silat, ia juga mendapat pelajaran ilmu surat. Dalam waktu tiga tahun, ia sudah dapat membaca dan memahami maksudnya. Kalau Khu Teng sedang keluar mencari obat-obatan, ia suka mencuri baca kitab wasiat Khu Teng. Dari situ ia mendapat pengetahuan caranya untuk menghisap hawa kaum lelaki guna membikin perempuan awet muda. Sebagai seorang yang bermoral bejat, Leng Lie sudah tentu tidak perduli akibat dan bahayanya perbuatan tersebut.

Sejak hari itu, ia lantas coba praktekkan dan buktikan ajaran-ajaran yang ia dapatkan dari kitab tersebut. Sang suhu yang dijadikan percobaan memang sudah mulai lemah keadaannya, sudah tentu ia tidak tahan hingga akhirnya melayanglah jiwanya.

Setelah Khu Teng binasa, khu Leng Lie baru tahu bahayanya, namun orangnya sudah mati, menyesal juga tiada gunanya. Ia juga tidak mengerti bagaimana orang yang mati harus dikubur, maka ia biarkan jenazahnya Khu Teng menggeletak begitu saja, sedang ia sendiri lalu membawa barang-barang peninggalan Khu Teng balik lagi ketempat tiggalnya orang utan yang pernah membesarkan dirinya. Didalam guanya orang utan itu, Khu Leng Lie setiap hari membaca Ban-po Khie-sie yang mengandung bermacam-macam pelajaran. Hanya diwaktu malam, perasaannya selalu merasa gelisah. Dalam keadaan demikian maka akhirnya ia telah melakukan hubungan tidak senonoh dengan orang utan jantan. Orang utan ini meskipun seekor binatang, tapi tidak urung binasa juga kehabisan tenaga.

Melihat pasangannya binasa, si betina menjadi murka. Tapi mengingat kepandaian ilmu silat Khu Leng Lie tinggi sekali, orang utan itu tidak berani mendekat padanya. Ia tahu Leng Lie suka membaca kitab Ban-po Khie-sie, maka dianggapnya kitab itu tentu benda kesukaan Leng Lie, orang utan itu lantas mencuri kitab tersebut, kemudian melarikan diri.

Leng Lie sangat marah, ia mencari ke segala penjuru tempat itu, tapi sia-sia saja, entah kemana orang utan betina itu bersama kitabnya Ban-po Khie-sie.

Tidak lama kemudian, di kalangan kangouw lantas muncul seorang wanita aneh. Orangnya masih muda, parasnya cantik tapi pakaiannya hanya selembar kain yang menutup seluruh tubuhnya.

Ia mempunyai kepandaian ilmu silat tinggi sekali, karena parasnya cantik seperti bidadari dan kelakuannya yang genit, maka mudah saja baginya memikat kaum lelaki, siapa saja yang mau pada dirinya ia tidak menolaknya. Tapi, jika tidak memuaskan hatinya, malam itu juga sudah dibikin tamat riwayatnya. Kalau yang bisa memuaskannya, paling lama juga tahan sepuluh hari atau setengah bulan, dan akhirnya pun mengalami nasib yang sama.

Wanita itu adalah Khu Leng Lie. Dunia kangouw telah dibuat gempar oleh kejadian-kejadian ini. Ada orang-orang gagah dari golongan muda yang ingin mencoba-coba memberantasnya, meski perbuatannya itu berarti pertaruhan jiwa. Tapi tetap ada yang berlaku nekat sehingga akhirnya tidak pulang kembali ke rumahnya.

Perbuatan Khu Leng Lie itu akhirnya menimbulkan gusar diantara tokoh-tokoh kuat dari dunia persilatan. Mereka pada berusaha hendak menangkap dan membinasakannya.

Tapi, ilmu silat Khu Leng lie memang hebat, segala macam guru-guru silat biasa saja, tiga puluh orang belum tentu mampu menghadapinya. Sekalipun tokoh kelas satu di dunia kangouw, juga tidak mudah mengalahkan dirinya.

Kemudian tersiar kabar bahwa Kiam-kun Sam-lo atau tiga orang tua Kiam-kun yang sangat terkenal hendak keluar mencari dirinya. Entah apa sebabnya wanita itu lalu menghilang, bahkan empat puluh tahun lamanya sudah tidak kedengaran lagi kabar beritanya.

Kini Khu Leng Lie sudah berusia lebih dari enam puluh tahun, tapi kelihatannya masih seperti wanita muda yang baru berusia dua puluh tahun, sedikitpun tidak kelihatan tuanya.

Selama empat puluh tahun itu benarkah ia menghilang? tidak, ia hanya meninggalkan daerah Tionggoan dan pergi ke Kwan-gwa. Cuma di daerah itu ia bisa mengendalikan dirinya, ia tidak berlaku sembarangan lagi. Ia juga sudah pandai memilih, hanya laki-laki yang ia suka yang baru ia pikat, juga tidak lantas dibinasakan. Baru setelah ia benar-benar merasa bosan, lalu ia hisap habis tenaganya.

Tapi ia juga tidak membinasakan para korbannya itu, ia berikan sang korban sedikit kekuatan lalu dilepaskannya. Laki-laki yang bagaimanapun gagahnya, setelah pulang, lantas menjadi seorang laki-laki yang kurus kering dan tidak bertenaga. Kali ini, ia kembali dari Kwan-gwa, karena mendadak ia mendengar kabar bahwa kitabnya Ban-po Khie-sie khabarnya muncul di daerah selatan. Kitab itu peninggalan Khu Teng, ia anggap juga kepunyaannya. Maka ia lantas berangkat ke selatan untuk mencari kitabnya tersebut. Tidak nyana ditengah jalan ia dibikin basah kuyup oleh hujan yang turun sangat lebat dan tidak henti- hentinya, maka ia lantas berteduh di kuil tersebut.

Tidak disangka, ketika ia sedang mengeringkan pakaiannya di perapian, Kim Houw juga ikut berteduh di kuil tersebut.

Ilmu mengentengkan tubuh Khu Leng lie boleh dikatakan berasal dari alam, karena sejak bayi ia di asuh oleh orang utan. kemudian ia mendapat didikan ilmu silat dari Khu Teng, kemajuannya semakin pesat, ditambah lagi latihannya selama beberapa puluh tahun ini, maka kepandaian ilmu silatnya tidak boleh dianggap ringan.

Ketika ia melihat wajah Kim Houw yang tampan, usianya yang masih muda belia serta badannya yang kokoh kekar, seketika itu juga timbul sukanya, maka dengan ilmu gaibnya ia coba memikat diri anak muda itu.

Siapa nyana dalam keadaan genting, ia telah dikejutkan oleh munculnya gambar tengkorak manusia dengan anak panah.

Semula ia masih mengira bahwa setan tua itu sengaja mengirim seorang anak muda yang tampan untuk memancing dirinya, maka dalam hatinya sudah ingin membinasakan Kim Houw saja.

Diluar dugaan kepandaian ilmu silat anak muda itu jauh lebih tinggi dari kepandaiannya sendiri.

Kalau tidak karena Kim Houw menganggap ia adalah seorang yang pandai luar biasa dan terus menyerang dengan tidak ragu-ragu, mungkin dalam beberapa gebrakan saja, Leng Lie sudah terjungkal ditangan anak muda itu.

Khu Leng Lie terus melakukan serangan dengan hebat, tapi menyaksikan Kim Houw dengan mudah saja menghindarkan setiap serangannya, dalam hati merasa sangat gemas. Tapi berbareng dengan itu, ia juga lantas dapat kenyataan bahwa anak muda itu agaknya bukan anak muridnya si setan tua, sebab semua gerakannya jauh berlainan dengan ilmu silat si setan tua.

Dengan demikian, maka ia lantas hentikan serangannya, kembali dengan senyumannya yang menggiurkan hati, ia berkata :" Adik kecil, barusan aku benar-benar salah paham! Sekarang kita tak usah berkelahi, lebih baik kau menikmati nyanyian dan tarianku saja!"

Sehabis berkata, benar-benar ia lantas menyanyi dan menari di bawah hujan lebat itu.

Kim Houw tidak mau ambil perhatian. Ia hendak pejamkan matanya, tapi sudah tidak keburu lagi. Juga rasanya amat sukar seolah-olah ada yang mengganjal kelopak matanya.

Sebentar saja Kim Houw kembali dibuat silau oleh gerakan-gerakan Leng Lie, hingga pikirannya terguncang hebat.

Hujan lebat telah berhenti, matahari muncul dari balik awan, menyinari bumi yang sudah basah kuyup tersiram air hujan.

Di sebuah puncak bukit yang tidak terlalu tinggi, ada sepasang muda-mudi. Si pemuda meletakkan kepalanya di atas pangkuan si pemudi, agaknya ia sedang tidur nyenyak. Tingkah laku si pemuda nampak begitu mesra, mereka seakan-akan seperti sepasang merpati.

Hanya mereka itu seperti pasangan dewa yang turun dari kahyangan, tidak mirip dengan manusia biasa. Mengapa? Sebab sepasang muda mudi itu, meski saat itu ada ditengah siang hari bolong, keduanya dalam keadaan setengah telanjang, tidak mengenakan pakaian luar, agaknya sudah tidak kenal apa artinya malu? Apa artinya kesopanan?

Siapakah mereka? Mereka bukan lain adalah Kim Houw dan Leng lie.

Pembaca tentu merasa heran, sebab apa Kim Houw jadi main gila begitu? Kewajibannya masih belum selesai, bagaimana ia bisa mempunyai kesempatan bersenang-senang dengan wanita cantik.

Kenapa sebetulnya dia? Mari kita lihat duduk perkaranya.

Kim Houw karena terkena pengaruh gaib dari Leng Lie, sebentar saja telah gelap pikirannya, hatinya terguncang, sepasang matanya tidak bisa dipejamkan lagi.

Apa yang dilihatnya hanya tubuh Leng Lie yang putih montok, dan yang didengarnya hanya suara nyanyian Leng Lie yang amat merdu.

Jatuhnya hujan lebat, gemuruhnya suara geluduk, berkelebatnya kilat yang menakutkan, semua tidak menyadarkan Kim Houw kembali ke pikirannya yang sehat. Ia seperti dalam keadaan linglung, tidak ingat lagi siapa dirinya.

Kim Houw terjatuh di bawah pengaruh Khu Leng Lie.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara halilintar, sebuah pohon telah disamber rubuh, tepat menimpa kearah Kim Houw.

Anak muda ini yang dikiranya sudah mabuk sekalipun di ancam pedang tajam, ia juga tidak akan menyingkir, apalagi cuma rubuhnya sebuah pohon saja!

Pohon itu besar sekali, sekalipun Kim Houw mempunyai kekuatan luar biasa, mungkin akan remuk badannya jika ketimpa.

Tapi Kim Houw seolah-olah tidak tahu bahaya mengancam, hanya Khu Leng Lie yang mengerti.

Sembari menjerit lantas sendiri loncat mundur.

Tapi dengan perbuatannya itU, Kim Houw lantas seolah-olah lukanya orang kalap mengejar Khu Leng Lie.

Meskipun Kim Houw mempunyai kekuatan dan ketangkasan luar biasa, tapi biar bagaimana sudah agak terlambat setindak, maka akhirnya terpukul hebat oleh dahan pohon yang besar yang roboh itu.

Meski jiwanya tidak melayang seketika, tapi lukanya tidak ringan, karena tubuhnya terpental sampai beberapa tumbak jauhnya dan ketika terjatuh kepalanya membentur tanah, sehingga ia tidak ingat orang!

Pemuda yang meletakkan kepalanya di atas pangkuan si wanita cantik, adalah Kim Houw. Hanya, ia bukannya terbenam dalam lamunan yang muluk, melainkan dalam keadaan pingsan, hingga saat itu sudah hampir satu hari satu malam lamanya, namun belum kelihatan ia mendusin. Tapi kemudian ia mendusin dengan mendadak. Ia membuka matanya perlahan-lahan, ia merasa silau oleh sinar matahari, lalu kucek-kucek matanya sekian lamanya, baru bisa melek.

Ia terkejut dapatkan dirinya dalam keadaan setengah telanjang. Lebih kagetnya ketika mengetahui kepalanya rebah di pahanya orang, ketika ia tegasi ternyata ada satu wanita cantik, tengah tertawa manis memandang dirinya.

"Adik kecil, kau sudah mendusin?" tanya si cantik.

Kim Houw belum sempat menjawab, sekilas sudah dapat dilihatnya si cantik juga dalam keadaan setengah telanjang seperti dirinya sendiri.

Segera ia melompat bangun dan menanya: "Kau siapa...?"

Siapa? Siapa lagi kalau bukan Khu Leng Lie, tapi Kim Houw sudah tidak ingat semua kejadian.

Baru menanya demikian, Kim Houw tiba-tiba ingat keadaannya sendiri, hingga tidak perdulikan lagi siapa adanya si cantik, lantas saja buru-buru lari turun dari bukit!

Di belakangnya ia dengar suara Khu Leng Lie yang memanggil-manggil: "Adik kecil, kau mengapa begitu tidak punya perasaan? Aku telah menolong jiwamu, menggadangi kau satu hari satu malam lamanya, mengapa kau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku, bahkan, oh..."

Kim Houw meski sedang lari bagaikan terbang, semua perkataan Khu Leng Lie ia masih bisa dengar dengan jelas, maka ia mengetahui bahwa wanita itu sedang mengejar padanya.

Oleh karena keadaannya sendiri yang kurang sopan, Kim Houw tidak berani berhenti.

Pada suatu tikungan, Kim Houw berhasil sembunyikan dirinya dalam sebuah pohon besar yang daunnya lebat.

Tidak lama kemudian, satu bayangan putih kelihatan melesat dihadapannya.

Setelah bayangan putih itu lewat, Kim Houw mulai agak tenang. Tapi kesulitan lainnya segera menyusul karena akibat kecelakaan, gara-gara pohon besar yang disambar petir, penyakit lamanya telah kambuh kembali. Sekali lagi ia berada dalam keadaan linglung, ia sudah hilang ingatannya, segala-galanya lupa.

Tapi kali ini keadaannya ada mengenaskan! Dulu, ketika ia dapat penyakit demikian sedang berada dalam Istana Kumala Putih di gunung Tiang-pek-san, ada orang hutan yang merawat dirinya, ada Kim Lo Han yang memberi obat padanya, tapi di sini tiada siapapun juga!

Untung ia masih mengenal malu, kalau perasaan malunya sudah tidak ada, benar-benar baginya ada sangat celaka!

Ia murung saja, siapa dirinya, ia tidak tahu, apa yang diucapkan oleh Khu Leng Lie menambahkan kebingungannya. Ia pukul-pukul kepalanya sendiri sampai matanya berkunang- kunang, tapi masih belum mendapatkan jawaban apa-apa, bahkan makin kepala itu dipukul, ia makin linglung.

Di atas pohon ia sembunyi sekian lama, ketika mengetahui Khu Leng Lie tidak balik lagi, ia lalu turun dengan diam-diam dan balik lagi ke atas bukit untuk mengingat-ingat dirinya.

Bukit itu sebelum Kim Houw linglung, sama sekali belum pernah ia datangi, kemana ia harus mencari jalan? Namun tidak sia-sia ia naik ke bukit itu, karena di atas bukit itu, ia telah menemukan pakaiannya. Selain daripada itu, ia juga menemukan kembali senjata wasiat Bah-tha Liong-kim dan pedang Ngo-heng-kiam! Khu Leng Lie cuma mengopeni dirinya Kim Houw saja, hingga tidak perhatikan yang lainnya, maka semua wasiat itu masih ketinggalan di situ.

Kim Houw girang menemukan pakaiannya sendiri sekalipun sudah tidak karuan macamnya.

Sebaliknya ketika melihat Bak-tha Liong-kim dan pedang Ngo-heng-kiam, ia terperanjat.

Pikirannya ia pernah lihat dua senjata itu tapi dimana, entahlah. Ia coba mengingat-ingat tapi sia-sia saja tidak menemukan jawaban.

Dengan membawa kedua senjatanya Kim HOW turun ke bawah bukit lagi. Tapi ia sekarang sudah tidak mempunyai ingatan lagi, tak mempunyai tujuan dalam dunia yang lebar ini, tidak tahu kemana harus pergi.

Masih untung, dia tidak berjalan ke jalanan yang menuju ke dalam jurang. Sekalipun ia tidak tahu harus pergi ke kota Ceng-shia, namun ia berjalan menuju ke timur.

Sepanjang jalan, Kim Houw hanya mencari binatang-binatang kecil atau memetik buah-buahan untuk tangsal perutnya. Sisa waktunya ia gunakan untuk mengingat-ingat, siapa sebetulnya ia?

Mengapa dirinya sendiri ia sudah tidak dapat kenali?

Tapi setiap kali memikir, kepalanya malah menjadi pusing kalau sudah begitu, lantas guyur kepalanya dengan air dingin untuk memulihkan ketenangannya, ia lakukan berulang-ulang, tapi sia-sia saja. Dapat dibayangkan sampai dimana jengkelnya ia pada kala itu.

Pada suatu hari, ia tiba di sebuah kota. Seperti biasa, ia berjalan tanpa tujuan, ketika tiba di depan sebuah rumah makan, bau harum barang hidangan dari rumah makan telah membuat rasa laparnya menjadi-jadi. Sehingga ia berdiri melongo di depan pintu sekian lamanya.

Mendadak pundaknya ada orang yang menepuk, Kim Houw berpaling seorang laki-laki gendut pertengahan umur sedang mengawasi padanya sembari ketawa. Ketawa toh tidak bermaksud jahat, maka ia juga balas ketawa!

"Tuan ada punya tempo? Bolehkah kita omong-omong sebentar? Biarlah siaute yang menjadi tuan rumah." orang laki-laki gendut itu. Dan tanpa menunggu jawabannya, si gendut sudah tarik tangan Kim Houw diajak masuk ke rumah makan.

Kim Houw memang sudah lapar, maka ia juga tidak malu-malu lagi. "Tanpa pikir orang itu, ada orang baik atau jahat, ia ikut saja dan manda dirinya ditarik. Suruh ia duduk, suruh ia makan, ia juga makan dengan lahapnya !

Laki-laki gemuk itu nampaknya sangat royal, ketika menampak Kim Houw dahar dengan sangat bernapsu, berulang-ulang minta ditambah hidangan.

Ia biarkan Kim Houw menyikat makanan sehingga berhenti sendiri kekenyangan.

Sampai disitu, si gemuk baru majukan pertanyaannya : "Numpang tanya tuan siapa namanya?

Asal dari mana?"

Celaka!. Hidangannya sudah disikat habis menanyakan namanya toh bukan suatu perbuatan yang tidak layak. Tapi siapa sebetulnya ia, Kim Houw sendiri tidak ingat, bagaimana harus menjawab! Seketika itu wajahnya lantas merah, Kim Houw tidak bisa menjawab.

"Apa tuan kurang leluasa memberi nama? tidak halangan. Sebutkan saja shemu! Kita toh sudah bersahabat, sudah seharusnya mengetahui nama masing-masing. betul tidak?" kata pula orang itu sambil ketawa.

Sebutkan shenya saja? Tapi she apa sebetulnya? Hati Kim Houw berdebaran, bukan karena takut tapi merasa tidak kenal.

Sebab terhadap satu sahabatnya yang baru dikenal, bagaimana kita mengatakan bahwa she dan namanya sendiri tidak tahu? Bahkan itu adalah lelucon besar?

Maka ia lantas putar Otak, ia hendak mencari she sembarangan saja, tapi she apa sebaiknya?

Ia sendiri juga tidak bisa memilih!

She Tio, she cian, she Sun, Lie, Ciu, The ataukah Ong.? Mana yang lebih baik?.

Akhirnya ia pilih satu yang tersebut pertama, ialah she Tio! she ini baik dalam anggapannya Kim Houw maka ia lantas menyebut: "Aku yang rendah ada seorang she Tio. Tuan sendiri siapa namanya?"

Laki-laki gemuk itu lantas tertawa bergelak-gelak.

"Aku yang rendah adalah she Cian, dalam urutan keluarga aku jatuh nomor dua, maka sahabat-sahabat pada manggil aku Cian Lo ji. Tuan she Thio, ternyata masih berada di atasku, benar-benar hebat. Biasanya aku suka menganggap bahwa she-ku itu termasuk paling atas diantara begitu banyak she, sehingga aku kadang-kadang merasa bangga sendiri. Tapi hari ini di depan tuan, aku tidak biasa banggakan diri lagi!" demikian si gemuk menjawab Cian Lo-ji itu, agaknya doyan mengobrol. Apa saja ia katakan, rupanya seperti yang mengerti banyak urusan, namun sebetulnya tidak ada kebecusannya. Bicara tentang kepandaian ilmu silat, Cian Lo-jie lantas sombongkan dirinya, ia berkata dengan satu tiupan saja ia bisa bikin orang jumpalitan sampai tiga kali. Itu masih belum terhitung apa apa, ilmu sedotnya adalah lebih hebat lagi, sekali sedot orang yang berada di suatu tempat tiga tumbak lebih jauhnya lantas bisa tersedot tubuhnya!

Kim Houw mendengarkan dengan perasaan kagum. Ia kagum karena si gemuk agaknya mengerti banyak urusan dan semua bisa!

Tapi ketika si gemuk membicarakan. soal ilmu silat, perhatian Kim Houw lantas berkurang, itu bukannya ia tidak percaya perkataan Ciau Lo jie, ia cuma merasa bahwa kecuali kepandaian ilmu silatnya yang masih belum dilupakan, hal yang lainnya semua sudah lenyap dari ingatannya!

Ilmu silatnya itu sudah cukup membuatnya pusing kepala, dari ilmu silatnya itu ia hendak mengingat-ingat kembali segala kejadian yang sudah lalu, tapi sia sia. Akhirnya ia merasa jemu terhadap kepandaiannya sendiri!

Ia pikir, segalanya sudah tidak ingat lagi, alangkah baiknya jika ilmu silatnya juga terlupa sama sekali.

Cian Lo-jie agaknya mengerti kalau Kim Houw kurang gembira, lalu mencoba menghibur dengan rupa rupa akal. Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebutir batu permata yang besar sekali. lalu diletakkan di depan Kim Houw sembari berkata: "Tio Lo tee kau lihat batu permata ini tidak jelek bukan?"

Kim Houw sudah banyak lihat barang permata yang berharga, tapi semua itu tidak menarik hatinya, maka terhadap barang permata Cia Lo-ji ia tidak pandang mata. Cuma karena sinarnya yang gemerlapan, masih boleh juga, tapi Kim Houw tidak menyatakan pendapatnya, hanya anggukan kepala saja. Tidak nyana bahwa barang permata itu justru telah mengembalikan sedikit ingatannya, ia ingat-ingat seperti pernah melihat barang permata begituan, entah dimana!

Cin Lo ji melihat Kim Houw menganggukkan kepala, lantas ambil kembali batu permatanya, kemudian ditekan dengan dua jarinya dan batu itu lantas hancur berkeping-keping.

Menyaksikan kejadian itu. bukan main kagetnya Kim Houw. la anggap bahwa si gemuk ini benar-benar lihay, batu permata yang lebih keras daripada besi atau baja ternyata bisa dihancurkan demikian mudah.

Cian Lo-ji ketawa gelak-gelak, agaknya sangat bangga atas perbuatannya tadi.

"Ho Lo-tee !" katanya tiba-tiba. "Aku ada sedikit pertanyaan, entah boleh kuucapkan atau tidak?"

"Cian Ji-ko hendak menanya, apa salahnya?" jawab Kim Houw.

Cian Lo-ji berpikir sejenak, baru berkata: "Sebetulnya pertanyaanku juga bukan bermaksud menghina, hanya aku lihat kau bukan orang jahat, mengapa pakaianmu begitu mesum, entah apa sebabnya? Kau dari mana hendak kemana?"

Kim Houw lihat-lihat pakaiannya sendiri, memang tidak keruan macamnya. Tapi ia juga merupakan suatu hal yang memusingkan dirinya, karena ia sendiri juga tidak tahu apa sebabnya bisa jadi begitu rupa?"

Dari mana? Hendak kemana? Semakin tidak tahu. Maka ia cuma bisa memandang melongo memandang Cian Loji.

Nampak Kim Houw lama tidak bisa menjawab dan hanya memandang dengan bengong Cian Lo ji berkata pula: "Apa ada kau lihat yang sukar diutarakan? Kalau begitu sudah saja. Jika kau sudi ikut aku, aku pasti bisa mencarikan kau suatu pekerjaan yang baik untukmu, bahkan aku dapat merawat baik-baik diri kau. Mengapa wajahmu mirip benar dengan adikku yang telah menghilang dari sampingku"

Dalam pembicaraannya Cian Lo-ji agaknya menaruh banyak perhatian atas dirinya Kim Houw, sehingga Kim Houw mulai tergerak hatinya. Pikirnya, mungkin aku adalah adiknya, tapi ia betul- betul tidak ingat ada mempunyai kakak seperti si gemuk ini!

Karena ia tidak mempunyai tujuan yang tertentu, pikirnya apa salahnya kalau ikut dia!

Cian Lo-ji membayar rekening makanya ia ajak Kim Houw pergi ke toko pakaian. Ia membeli dua potong baju panjang, sepatu, kaus kaki, dan pakaian dliam.

Barang-barang yang ia beli meski barang bekas dipakai, tapi cocok untuk badan Kim Houw.

Sekarang Kim Houw berubah gagah dan cakap.

Cian Lo-ji benar-benar memperlakukan Kim HouW seperti adiknya sendiri, segala-galanya ia perhatikan benar-benar.

Entah kebetulan atau sengaja, Cian Lo-ji telah ajak Kim Houw menuju ke selatan. Dua hari kemudian, sudah tiba di kota Liong Khe, yang letaknya dekat dengan kota Ceng-shia. Ketika dua orang itu tengah enak-enak berjalan, tiba-tiba ditegor orang. "Aha! Cian-jiko, lama tidak ketemu, apa kau ada baik?"

Cian Lo-ji berpaling, lantas ketawa dan menjawab: "Kukira siapa, kiranya Siauw-siaucu. Aku jika seorang bernasib jelek, bagaimana bisa senang? Mungkin adikku ini mempunyai roman gagah, di kemudian hari tentu akan hidup senang, barangkali aku nanti akan mengandal padanya!"

Cian Lo-ji berkata sambil menunjuk Kim Houw yang dikatakan adiknya. Tapi orang she Sauw itu begitu melihat Kim Houw, badannya lantas gemetar, hampir saja ia menjerit dan kabur.

Cian Lo-ji cepat menjambret padanya.

"Kau kenapa? Apakah kau sudah gila? Mengapa mau lari?" tegurnya.

Apa sebabnya orang she Sauw itu begitu lihat Kim Houw lantas kabur! kiranya dia itu adalah murid kepala Ciok Goan Hong, Souw Coan Hui. Dulu, ketika Kim Houw didesak masuk ke dalam Istana Kumala Putih di dalam rimba keramat, Souw Coan Hui pernah menguntit dan menimpuk dirinya dengan senjata piaw.

Souw Coan Hui yang selalu bergelandangan di dunia Kangouw, sudah tentu dapat dengar dengar segala urusan yang menyangkut diri Kim Houw. Musuh lama telah bertemu muka, bagaimana ia tidak ketakutan?

Ketika dijambret oleh Cian Lo-ji, benar-benar ia sudah terbang semangatnya, tapi mendadak seperti menemukan apa-apa pada diri Kim Houw, yang saat itu tidak bergerak atau bicara, hingga ia anggap mungkin Kim Houw sudah melupakan dirinya. Oleh karena itu, maka hatinya mulai tenang.

"Cian Jiko, kau kenapa? Di tengah jalan raya kau tarik-tarik badan orang, apa maksudmu ini? Aku tadi karena ingat suatu hal penting, terpaksa hendak pergi. Dan kalau kau memerlukan diriku, apa boleh buat. Apakah kau hendak suruh aku minum dua cawan arak? Tidak apa, biarlah aku urungkan maksudku!" demikian Coan Hui berkata.

"Namaku toh Cian Gan Khai, kau tahu bukan? Hari ini karena ada barang dagangan besar, baru memerlukan kau. Tidak apa kalau kau ingin minum dua cawan arak, cuma sekali ini jangan coba main gila, sudah tenggak arak lantas kabur..." kata Cian Lo-ji sambil ketawa terbahak-bahak.

Souw Goan Hui tidak mengerti apa maksudnya she Cian itu, lalu melirik pada Kim Houw sejenak, ia dapat kenyataan bahwa Kim Houw keadaannya seperti orang linglung, beda keadaannya dengan masih waktu kanak-kanak. Apa yang tersiar di kalangan Kangouw makin jauh bedanya. Maka diam-diam ia lantas berpikir. Apakah dia bukan Kim Houw? Rasanya tidak mungkin! Apa Lo-ji menggunakan obat membikin ia bingung?

Pikirannya kerja keras, sedang mulutnya menyahut: "Cian Jiko, kau dengan aku sudah seperti saudara saja, masa perlu merendah! Kalau kau ada urusan apa-apa, bicaralah terus terang! Asal tenagaku mampu lakukan, tidak nanti menolak permintaanmu, tidak usah putar-putar pembicaraanmu..."

"Kalau urusan ini nanti berhasil, aku tidak akan merugikan kau. Apa yang kau ingin bicarakan justru mengenai Tio Le-te ini!" kata Cia Lo-ji sambil menunjuk Kim Houw.

Soan Coan Hui diam-diam merasa heran. Mengapa Kim Houw mendadak berobah menjadi orang she Tio? Ia lalu berlagak tidak kenal pada Kim Houw, ia anggukan kepala, sebagai tanda belajar kenal. Kim Houw melihat Souw Coan Hui mengangguk kepadanya ia juga balas dengan anggukan kepala. Ia seperti belum pernah kenal Souw Coan Hui.

Menepuk keadaan demikian, Souw Coan Hui makin tenang.

Cian Lo-ji menarik tangan Souw Coan Hui, lalu bicara bisik-bisik di telinganya: "tolol, jangan kesusu makan saja paling penting urus perkara yang perlu dulu. Tio Lo-teko ini, dia betul she Tio bukan, mungkin dia sendiri juga tidak tahu. Sebab aku berada bersama-sama dengannya beberapa hari lamanya, aku sering lihat dia pukuli kepalanya sendiri, menanyakan dirinya sendiri siapa. Coba kau pikir di dunia mana ada orang yang tidak kenal dirinya sendiri? Namun kepandaian silatnya hebat sekali. Maksudku memikat dia, sebab dalam badannya ada membawa- bawa dua rupa benda wasiat yang harganya dapat digunakan untuk membeli sebuah kota!

Dengan menggunakan sedikit uang, aku dapat menempel dia. Aku sebetulnya hendak mencuri secara diam-diam, tapi jangan kau anggap dia tolol. Sungguhpun kelihatannya tolol, tidak gampang-gampang di disentaknya. Akhirnya, aku coba menggunakan obat tidur, siapa tahu obat tidur ternyata tidak mempan terhadap dirinya. Dia cuma duduk bersemedi sebentar, lantas sadarkan dirinya lagi. Aku benar-benar kewalahan menghadapi dia.

"Aku sebetulnya merasa penasaran, biar bagaimana aku harus dapat garuk sedikit keuntungan daripada dirinya, baru merasa puas! Eh, Souw, otakmu sangat cerdas, cobalah carikan akal! Kalau kita berhasil memiliki barang-barang wasiatnya, kita nanti jadikan uang dan bagi dua, bagaimana kau pikir?"

Souw Coan Hui mendengar keterangan Cian Lo-jie bahwa di badannya anak muda itu ada membawa-bawa benda wasiat dan kepandaiannya sangat tinggi, pikirnya benar-benar dia mirip dengan Kim Houw yang ramai dibicarakan di kalangan Kangouw. Tapi mengapa keadaan dia seperti orang linglung?

Ia pura-pura menengok dan memanggil "Kim Houw!"

Kim Houw mendengar suara itu, sekujur badannya tergetar, seketika itu ia seperti kaget, lalu menanya: "Saudara Souw ini, kau panggil siapa? Aku rasanya pernah kenal nama dan suara saudara ini, tapi entah dimana? Coba kau panggil sekali lagi!"

Mendengar perkataan Kim Houw, Souw Coan Hui tahu bahwa dugaannya tidak keliru. Pemuda itu adalah Kim Houw, sudah tidak bisa salah lagi. Tapi mengapa ia bisa hilang ingatannya? Ia benar-benar aneh!

Souw Coan Hui adalah seorang licik dan berbahaya, sudah tentu tidak mau mengembalikan ingatan Kim Houw.

"Yang aku panggil adalah Keng Go, nama ini siapa yang belum pernah dengar?" jawabnya, lalu berkata kepada Cian Lo-ji: "Cian-jiko, bukan aku tekebur, aku tanggung kau bisa dapat untung besar! Kau tunggu di sini sebentar, aku segera kembali!"

Sehabis berkata, dengan jalan separuh melompat ia lari keluar.

Setengah jam kemudian, Souw Coan Hui sudah balik kembali, diikuti oleh seseorang berbaju putih, ia ini adalah suhunya Souw Coan Hui. Ciok Goan Hong.

Ciok Goan Hong ketika melihat Kim Houw dalam hari terkejut. Ketika Kim Houw hilang ingatannya di Istana Kumala Putih, siapapun tidak tahu maka siapa kira kalau kali ini telah kambuh kembali? Ciok Goan Hong mendapat kabar dari Souw Coan Hui, semula ia tidak dapat percaya, tapi setelah menyaksikan sendiri, mau tidak mau ia harus percaya. Ia memang kenal dengan Cian Lo- ji, maka sengaja ia menggoda: "Cian Lo ji dimana barang permatamu dari beling itu? Coba kau demonstrasikan sekali lagi untuk aku lihat!"

Ciok-ya kau jangan ketawai aku, muslihatku ini mana aku berani pertunjukkan di hadapanmu?" jawab Cian Lo ji sambil membungkukkan badan.

Kim Houw benar-benar sudah tidak mengenali Ciok Goan Hong, ia minum sendiri seenaknya.

Apa yang dibicarakan oleh mereka bertiga, ia tidak mau ambil pusing, sekalipun dengar ia juga tidak mengerti.

Akhirnya mereka berempat tiba di satu pekarangan gedung di luar kota. Di sini adalah pos pertama untuk jaringan mata-mata yang dipasang oleh Pek-liong-po.

Di tempat itu Kim Houw mendapat perlakuan luar biasa mewahnya.

Malam itu Kim Houw sedang tidur layap-layap, pintu telah terbuka, dari luar masuk seorang pemuda cakap. Kim Houw ketika dapat lihat pemuda itu, lantas lompat bangun dari tempat tidur dan menanya: "Kau... kau siapa?"

Orang itu tidak perdulikan pertanyaan Kim Houw, segera memeluk dirinya sambil bercucuran air mata berkata: "Adik, oh adikku. Bertahun-tahun aku mencari kau, kemana saja kau pergi?"

Orang itu memang benar saudara Kim Houw, Siao Pek Sin.

Kim Houw melihat Siao Pek Sin agaknya sedikit tersadar, sebabnya ialah kebenciannya yang sangat mendalam terhadap dirinya Siao Pek sin, sehingga kesan buruknya juga sangat menggores di otaknya. Tapi begitu dipeluk oleh Sin Pek Sin, ingatannya itu lantas buyar lagi!

Dalam keadaan linglung, ia juga balas memeluk Siao Pek Sin. Karena memang wajahnya mereka seperti pinang dibelah dua. Kim Houw tidak meragukan lagi, keterangan Siao Pek Sin siapa berlagak menanya ke barat ke timur, seolah-olah sangat sayang terhadap saudara kecilnya itu.

Pertanyaan Siao Pek Sin itu semuanya adalah kosong, bagaimana Kim Houw bisa menjawab?

Akhirnya Siao Pek Sin beritahukan kepada Kim Houw, bahwa Gian Lo hi itu seorang petani ulung sekarang sudah digebah olehnya, selanjutnya mereka dua saudara tidak akan berpisah lagi!

Sesudah terang tanah, Siao Pek Sin mengajak Kim HOUw meninggalkan kota Liong-khe. Hari itu Kim Houw benar-benar tidak melihat Cian Lo-ji lagi.

Mereka menunggang kuda belum sampai dua jam, sudah memasuki Pek-liong-po, yang terpisah tidak jauh dengan kota Ceng-shia.

Tiba di Pek-liong-po, Kim Houw diperkenalkan pada semua orang-orang Siao Pek Sin.

Sehabis mandi, tukar pakaian dan makan, Siao Pek Sin lalu dorong Kim Houw ke dalam satu kamar yang mirip dengan tahanan.

"Disini ada sahabatmu dimasa kanak-kanak Touw Peng Peng, ia sedang menantikan kedatanganmu sampai seperti orang gila!" kata Siao Pek Sin. Kim Houw baru saja masuk pintu, sudah disambut oleh... sambitan sebuah benda yang diarahkan ke mukanya, Kim Houw lantas berkelit ke samping, "Prang!" Kim Houw dengar suara barang beling jatuh pecah di tanah, ternyata itu adalah pot kembang besar yang jatuh hancur berantakan!

Telinganya kemudian dengar suara bentakan keras: "Kau... iblis, binatang! Kau berani datang?"

Kim Houw tercengang, lalu menengok ke arah datangnya suara. Seorang wanita muda dengan rambutnya yang awut-awutan tidak karuan serta wajahnya yang mesum, telah mengawasi dirinya dengan mata beringas!

Kim Houw yang sudah terpengaruh oleh lagu-lagu Siao Pek Sin, sudah anggap semua yang ditunjuk dan dikatakan oleh Siao Pek Sin adalah benar. Sebab Siao Pek Sin sudah memberikan pakaian untuknya yang begitu cocok benar dengan dirinya, membuat ia percaya bahwa semua pakaian itu adalah kepunyaannya sendiri.

Ia juga percaya bahwa wanita muda itu adalah Touw Peng Peng, kawannya dimasa kanak- kanak.

Tapi sedikitpun tidak mempunyai kesan terhadap wanita itu, ia terpaksa mendekati setindak demi setindak.

"Siao Pek Sin, tahukah kau, sekalipun aku binasa juga tidak sudi kau hina!" tiba-tiba wanita itu berteriak.

Kim Houw dia dapat lihat di tangannya wanita muda itu memegang sebilah pisau belati yang sedang ditujukan ke dadanya sendiri, maka lantas ia buru-buru berkata: "Peng Peng, aku bukan Siao Pek Sin, aku bernama Pek Leng Ji! Apa kau sudah lupa?" kata Kim Houw dalam keadaan linglung.

Pek Leng Ji adalah nama pemberian Siao Pek Sin. Kim Houw mengira nona itu setelah mendengar namanya, pasti kaget dan melepaskan pisau belati di tangannya.

Siapa nyana, belum habis ia bicara, nona itu sudah ketakutan seperti orang gila, lalu memotong pembicaraannya: "Tidak ada gunanya kau memutar otak, segala akal bangsat begituan, apa kau kira bisa mengelabui mataku? Terus terang, sekalipun mulutmu sendiri mengatakan bahwa kau adalah Kim Houw, aku juga tidak percaya!"

Tepat pada saat itu Siao Pek Sin muncul di depan pintu.

"Peng Peng, coba kau lihat aku siapa? Sekarang kau boleh bandingkan sendiri. Tentunya kau mau percaya lekas sambut kekasihmu!" demikian ia berkata.

Dengan munculnya dua orang dengan berbareng, Peng Peng yang tidak mau percaya terpaksa juga harus putar otaknya! Benarkah orang di depannya itu adalah Kim Houw? Mengapa ia sebut namanya sendiri Pek Leng-JI?

Wanita muda itu benar Peng Peng, sejak ia tertawan banyak penderitaan telah dialami, untung ada Ciok Goan Hong yang mau mengopeni, sehingga jiwanya masih belum melayang kelain dunia.

Kini setelah melihat Kim Houw, ia kesima. Roman Siao Pek Sin serupa benar dengan Kim Houw. Kalau muncul sendirian, sampai mampus iapun tidak mau percaya. Peng Peng mendadak ingat pedang Ngo-heng-kiamnya yang ia berikan kepada Kim Houw, maka lantas berkata: "Kalau benar kau orang yang selalu kupikiri, kau harus ingat bahwa aku pernah memberikan kau sebilah pedang!"

Pedang! Meski ia sudah tidak ingat dari mana asal usulnya itu pedang, tapi di badannya memang benar ada sebilah pedang. Ia lalu hunus pedang Ngo-heng-kiamnya, yang lantas memancarkan sinarnya yang berkilauan.

Peng Peng menghela napas, pisau di tangannya lantas terlepas dan jatuh di tanah. Berbareng dengan itu, ia juga lantas merasa badannya lemas dan rubuh di tanah. Kemudian menangis dengan sedihnya seraya berkata: "Houw-ji. Houw-ji! Kau benar-benar telah datang! Misalnya sudah tidak dapat melihat aku lagi!"

Kim Houw terkejut, ia lompat dan memeluk diri Peng Peng sembari memanggil: "Peng Peng!

Peng Peng..."

Ia memanggil dua kali, lantas merandek. Sebab hal itu rasanya ganjil. Siang dan malam otaknya selalu memikirkan Peng Peng, ketika memanggil dua kali, dalam otaknya agaknya timbul kesadaran, dalam keadaan linglung, ia seperti benar-benar pernah kenal dengan nama itu.

Tapi, karena Peng Peng lantas jatuh pingsan, dan Kim Houw harus buru-buru memberikan pertolongan, dengan terhalangnya keadaan itu, kesadarannya lenyap dari otaknya.

Semua kejadian itu lantas disaksikan dengan jelas oleh Siau Pek Sin. Ia lalu perlihatkan ketawa iblisnya dan berlalu.

Peng Peng yang berada dalam pelukan Kim Houw, perlahan-lahan mendusin, ketika melihat keadaan Kim Houw seperti orang linglung ia lalu berkata : "Houw-ji, akhirnya kau datang juga."

Tidak menunggu habis perkataan Peng Peng, Kim Houw lantas memotong : "Peng Peng, mengapa kau memanggilku Houw Ji ?"

Peng Peng bingung, ia tidak bisa menjawab. Kemudian ia tundukkan kepalanya, ia merasa jengah. Jika wajahnya tidak mesum, dikedua pipinya yang putih mungkin dapat terlihat rona merah.

Tiba-tiba ia berkata dengan suara perlahan: "Engko Houw." setelah memanggil, kepalanya

menunduk semakin rendah.

Tapi Kim Houw ternyata masih bingung, "Tidak ! Mengapa kau panggil aku Houw" tanyanya.

Peng Peng hatinya berdebaran, ia kira Kim Houw menghendaki supaya ia penggil lebih mesra padanya.

Tiba-tiba ia dengar suara Kim Houw pula : "Peng Peng, kau salah mengerti, aku heran mengapa kau panggil aku Houw ? Sebab namaku adalah Pek Leng-jie, apakah dalam hal ini"

Peng Peng mendongak, ia telah dapat melihat wajah Kim Houw selain murung, juga seperti bingung.

"Apa kau bukan bernama Kim Houw ? Mengapa kau ganti nama menjadi Pek Leng-jie ?" tanya si nona. "Kim Houw ! Kim Houw ! Kim Houw ..."

Kim Houw berulang-ulang menyebut namanya sendiri. Nama itu rasanya pernah didengar, pernah dikenal, tapi entah dimana ? ia sudah tidak ingat lagi !

Akhirnya, ia memukul-mukul kepalanya sendiri, makin lama makin bernapsu oleh karenanya menjadi makin linglung!

Peng Peng segera cegah perbuatan Kim Houw itu lebih jauh, "Houw-ji kenapa kau? Apa betul sedikitpun sudah tidak ingat apa-apa lagi?"

Kim Houw gelengkan kepala, "Aku benar-benar tidak ingat semua. Sebetulnya juga bukan tidak ingat, melainkan seperti belum pernah terjadi seperti bayi yang baru dilahirkan, segala tidak tahu."

Peng Peng geleng-gelengkan kepalanya lalu duduk disampingnya :

"Baiklah." katanya. "Aku peringatkan kau. Dahulu, dengan seorang diri kau telah memasuki sebuah rimba keramat di gunung Tiang-pek-san yang sangat ditakuti oleh orang-orang gagah rimba persilatan, kau telah masuk ke Istana Kumala Putih."

"Istana Kumala Putih ?" Kim Houw menyebut nama itu, otaknya mendengung.

Peng Peng melihat ia seperti masih bisa mengingat, lantas berkata: "Benar ! Istana Kumala Putih."

"Istana Kumala Putih !" Kim Houw mengulang nama itu. "Kemudian bagaimana ?"

Kemudian bagaimana ? Ia sendiri juga tidak tahu. Hakekatnya terhadap urusan Kim Houw selama dua tahun itu, apa yang ia ketahui hanya sedikit sekali, boleh dikata tidak berarti sama sekali. Maka ia lantas menyahut "Houw-ji biarlah kau linglung untuk sementara. Aku nanti coba mencari jalan untuk menyembuhkan kau. Cuma kau harus hati-hati, harus dengar perkataanku. Sebab engkomu itu, Siao Pek Sin, dia adalah musuh besarmu !"

Kim Houw melengak. Ia mengawasi Peng Peng sekian lama.

"Peng Peng, benarkah ucapanmu ini? Aku tidak percaya! Ini tidak mungkin. Diantara saudara, bagaimana jadi musuh besar?"

Peng Peng belum sampai menjawab, tiba-tiba terdengar orang ketawa yang kemudian disusul dengan ucapannya: "Nona Houw, usahamu ini benar-benar percuma saja! Bagaimana kau dapat merenggangkan persaudaraan kita? Adik Leng, mari kita minum arak, biarlah nona Peng Peng berhias diri dulu!"

Orang yang bicara itu adalah Siao Pek Sin. Tapi hanya terdengar suaranya, tidak kelihatan orangnya.

Belum sampai Kim Houw menjawab, sudah didahului oleh Peng Peng: "Tidak! Houw-jie kau jangan tinggalkan aku, jangan! Aku berhias diri, kau harus tunggu diluar. Sebab aku takut.

Sebelum bertemu kau, aku seorang pemberani, apa juga tiada yang kutakuti. Tapi setelah bertemu denganmu, keberanianku hilang semua. Aku yakin, jika kau meninggalkan aku..

Bicara sampai disitu, Peng Peng telah rubuh...

Peng Peng ternyata dalam keadaan sakit, badannya terlalu lemah. Dengan sangat hati-hati Kim Houw memondong Peng Peng, berkata perlahan: "Baiklah aku terima permintaanmu, aku tidak akan meninggalkan kau. Cuma selanjutnya kau tidak boleh lagi menjeleki nama engko."

Mendengar itu hati Peng Peng seperti diiris-iris, air mata mengucur deras, tapi mulutnya seperti terkancing.

Pintu terbuka, dari luar masuk dua pelayan wanita dan dua pesuruh. Kim Houw lalu keluar dari kamar, tapi ia tidak berlalu jauh, benar-benar ia menjaga di luar pintu.

Siao Pek Sin tiba-tiba muncul disampingnya, ia lantas ketawa kepada Kim Houw dan berkata: "Adik Leng, mari kita pergi minum arak!"

"Engko, Peng Peng sedang sakit keras!" jawab Kim Houw sambil gelengkan kepala.

"Aaa ia benar-benar telah sakit, itu adalah waktu yang tidak baik, dalam rumah kita ada rupa- rupa obat ajaib yang sangat manjur. Kau tunggu dulu, aku nanti ambilkan untuk mu!" Siao Pek Sin pura-pura bersusah hati.

Baru saja Siao Pek Sin berlalu, sebuah benda jenis senjata rahasia menyambar ke arah Kim Houw. Sambil miringkan badannya berkelit, Kim Houw ulur tangannya menyambut senjata rahasia itu.