Istana Kumala Putih Jilid 13

 
Jilid 13

"Jangan ribut-ribut, anak laki maupun perempuan kalau sudah dewasa seharusnya kawin! Kau lihat, orang pilihan yayamu toh tidak jelek? Bukannya lekas berlutut di depan yayamu?"

Orang tua itu belum paham maksud cucunya, maka ia masih bisa berkata-kata sambil ketawa- tawa. Kim Houw sekarang baru mengerti, bukan kepalang rasa kagetnya, tapi bukan cuma kaget saja, iapun merasa gusar.

Pikirnya, kematian adik Bwee Peng yang kucintai masih belum mampu aku menuntut balas sedang Peng Peng yang berada dalam bahaya sampai kini masih belum dapat diketahui dimana adanya, bagaimana bisa sembarangan kawin dengan nona ini?

Ia faham, bahwa di dalam keadaan demikian, makin banyak bicara semakin ruwet, maka ada baiknya kalau ia cepat-cepat bisa keluar dari situ. Jika sudah meninggalkan goa itu pasti mereka tidak akan tebalkan muka untuk memaksa ia kawin.

Tanpa ayal lagi, Kim Houw lantas lompat melesat. Maksudnya dengan melalui kedua orang itu, menerobos keluar dari pintu mana si orang tua tadi masuk.

Siapa tahu Hui-thian Go-kang ada seorang licin, ketika tadi Kim Houw tengah memikirkan daya upaya untuk keluar, ia agaknya sudah dapat menduga maksud si anak muda. Maka sebelum Kim Houw berhasil meloloskan dirinya, ia sudah ayun tangannya, segera terdengar suara gemuruh di empat penjuru dan pintu-pintu yang terdiri dari batu-batu besar itu lantas menutup semua.

Hui-thian Go-kang tertawa bergelak-gelak.

"Kau sudah bikin susah diri cucuku," ia kata. "Apa dengan kabur begitu saja sudah habis perkara? Kalau tidak terima baik perkawinan ini, jangan harap kau bisa keluar dari Soa-im-hong- ciong!"

"Dimana ada aturan mengawinkan cucu perempuan dengan cara paksa demikian rupa? Dalam hal ini benar-benar aku tidak mau terima baik. Apa itu Im-hong-ciong? Benarkah mampu mengurung aku? Lihat saja!"

Berbareng Kim Houw sudah melesat tinggi, tancapkan jarinya kelobang pada atap tadi, sambil bergelantungan ia berkata: "Locianpwe, di sini masih ada jalan keluar!" ia ketawa gelak-gelak dan hendak molos melalui lubang itu.

Hui-thian Go-kang terkejut. Adanya goa rahasia dalam Im hong-ciong itu sudah lama ia tahu, namun beberapa puluh tahun lamanya ia menyelidiki secara diam-diam masih belum bisa menemukannya. Dan kini, dengan tidak sengaja telah ditemukan oleh Kim Houw, bagaimana ia tidak girang? Maka ia lantas berseru memanggil Kim Houw.

"Kim siauhiap! Kim siauhiap! Harap kau suka turun dulu, aku nanti pasti antar kau keluar dari dalam goa ini, aku si tua bangka belum pernah mengingkari janji..."

Ia dorong ke pinggir diri Teng Ceng Ceng dengan cepat ia berjalan menuju ke depan meja besar, di bawah kaki tempat abu sembahyang ia memutar suatu alat dengan kuat!

Sebentar lalu terdengar suara menggesernya empat pintu batu yang semula tertutup kini telah terbuka dengan perlahan-lahan, kiranya tempat abu sembahyang yang terbuat dari batu itu adalah pesawat rahasia pembuka pintu goa itu. Kim Houw tahu, goa rahasia itu pasti ada tempat simpanan benda pusaka yang seperti Teng Ceng Ceng ucapkan tadi. Bagi Kim Houw sedikitpun tidak mempunyai keinginan untuk merampas barang-barang pusaka itu, keinginan satu-satunya ialah lekas-lekas keluar dari dalam goa.

Setelah mengetahui pintu terbuka pula, ia juga tidak perlu keluar melalui lubang tersebut. Lagi pula, dari sini ke mulut goa paling jauh barangkali cuma ada kira-kira beberapa tombak, sekejap saja sudah bisa keluar dari dalam goa, hingga tidak perlu takut si kakek akan laku curang. Ia lantas lepaskan tangannya melayang turun.

"Untuk haturkan terima kasihku kepada locianpwe yang telah sudi membebaskan diriku dari dalam goa ini, aku beritahukan keistimewaannya dalam goa. Di atas goa ada terdapat sebuah gambar lingkaran besar, rupa-rupanya seperti gambar peta rahasia, jika kita mau periksa dengan teliti, mungkin akan mendapatkan suatu penemuan baru!" demikian Kim Houw berkata setelah berhadapan pula dengan Hui-thian Go kang.

Mendengar keterangan itu, Hui-thian Go kang terkejut. Ia mendongak ke atas, lama sekali ia mencari cari, baru dapat melihat tanda-tanda seperti apa yang Kim Houw katakan.

Mungkin karena rasa terima kasih yang timbul dalam hatinya, orang tua itu lantas memberi hormat sembari menjura dalam-dalam.

"Kim-siauhiap!" katanya, "Kali ini kalau benar-benar bisa menemukan barang peninggalan leluhur kami, semua ini adalah jasa siauhiap, di kemudian hari pasti kami tidak bisa melupakan budi ini. Kini siauhiap hendak keluar gua, tidak semudah yang siauhiap kira, karena dimulut gua masih terdapat banyak rintangan. Biarlah aku nanti panggilkan burung piaraanku untuk mengantar siauhiap keluar, agar tidak mendapat banyak kesulitan!"

Setelah itu ia lantas bersuit nyaring.

Tak lama kemudian seekor burung berbulu hitam dengan patuknya yang putih laksana perak terbang masuk ke dalam gua.

Begitu tiba didalam gua, burung itu mengeluarkan suaranya lantas hinggap diatas lengan Hui- thian Go-kong yang disodorkan.

"Tiauw-ji, kau antar Kim-siauhiap ini keluar gua. Beritahukan kepada mereka supaya jangan berlaku tidak sopan terhadap Kim-siauhiap. Kau antar Kim Siauhiap sampai keluar dari rimba barulah kembali," berkata Hui-thian Go-kang kepada burungnya sambil menunjuk Kim Houw.

Burung itu seperti paham maksud majikannya, ia anggukkan kepalanya berulang-ulang. Lalu ia berbunyi dan terbang berputaran di atas kepala Kim Houw.

Dengan adanya burung hitam sebagai penunjuk jalan, maka Kim Houw tidak perlu repot. Ia haturkan terima kasih kepada Hui-thian Go-kang, kemudian mengikuti burung itu keluar dari gua.

Sepanjang jalan, burung itu mengeluarkan suara kwak, kwak,...seolah-olah sedang memberi perintah menyampaikan pesan majikannya.

Dengan demikian Kim Houw telah berhasil keluar dari dalam gua dan rimba yang memusingkan kepalanya itu tanpa rintangan. Keluar dari rimba gelap itu, Kim Houw lari ke belakang gunung Ceng-kee-cee. Dari puncak gunung memandang ke dalam Ceng-kee-cee, ia dapat melihat orang-orang sedang sibuk melakukan persiapan untuk makan malam.

Kim Houw mendongak melihat keadaan cuaca, ia terkurung dalam gua Im-hong-ciong ternyata sudah satu hari satu malam. Melihat mengepulnya asap dapur, ia baru ingat kalau perutnya telah kosong, dan rasa lapar mulai menggangu pikirannya.

Tapi, lapar adalah masalah kecil, sedang nasib Kim Lo Han dan kawan-kawannya adalah masalah yang besar. Sekalipun hebat rasa laparnya, ia juga harus mencari tahu dulu keadaan kawan-kawannya itu, kemana perginya, entah masih hidup ataukah benar sudah menemukan bahaya?

Tiba-tiba ia tampar kepalanya sendiri, ia sesalkan dirinya mengapa tadi berlaku alpa, sehingga tidak menanyakan dengan jelas kepada Hui-thian Go-kang, Teng Kie Liang. Jika dilihat dari sikap orang tua itu terhadap dirinya yang begitu hormat, ia percaya pasti orang tua itu mau menjelaskan keadaan sebenarnya.

Sekarang kalau mau kembali lagi ke dalam gua, waktunya sudah terlambat. Keadaan dalam Ceng-kee-cee nampaknya tenang-tenang saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Jika dibandingkan dengan keadaannya satu hari berselang, perbedaan itu antara langit dan bumi.

Sekalipun demikian, Kim Houw tidak bisa pergi begitu saja, sedikitnya ia harus mencari keterangan lebih dahulu. Maka ia lantas turun dari atas puncak dan masuk ke Ceng-kee-cee. Ia tiba di depan sebuah rumah batu.

Ia lalu melompat ke dalam rumah itu dan ternyata didalamnya tidak ada orang, hanya terdapat anak-anak yang sedang main pedang-pedangan dengan pedang dan golok kayu.

"Adik kecil, apa ayah ibumu ada dirumah?" tanya Kim Houw sambil tertawa.

Dua anak itu lantas berhenti bermain, mungkin karena takut terhadap Kim Houw yang masih asing bagi mereka, maka bukannya menjawab, sebaliknya malah menangis dan lari masuk ke dalam rumah.

Dari dalam segera terdengar suara wanita, entah apa yang dikatakannya, Kim Houw sama sekali tidak mengerti. diam-diam ia mengeluh, karena bahasanya tidak dimengerti, bagaimana bisa minta keterangan padanya?

Pada saat itu, seorang wanita sambil menggandeng tangan kedua anaknya keluar dari dalam, tapi ketika melihat Kim Houw, seperti juga anaknya iapun menjerit dan masuk lagi kedalam.

Suara jeritan itu segera menimbulkan kepanikan para tetangganya, semua pada keluar dari rumah masing-masing, cuma sayang orang-orang itu semuanya terdiri dari kaum wanita, hingga Kim Houw kikuk untuk bicara.

Kim Houw merasa serba salah, apalagi wanita itu lantas pada kasak-kusuk entah apa yang dibicarakan? Kim Houw sepatahpun tidak mengerti.

Untungnya dari sebuah rumah batu muncullah seorang laki-laki tua yang sudah bungkuk, dengan membawa tongkat orang tua itu berjalan menghampiri Kim Houw.

Melihat kedatangan orang tua itu, Kim Houw sangat girang, ia buru-buru menyambut dan memberi hormat sambil bertanya: "Lopek, apa kau mengerti perkataanku?" Orang tua itu geleng-gelengkan kepalanya. Kim Houw mendelu, ternyata si kakek juga rupanya tidak mengerti bahasanya. Percuma saja ia menanya.

Tiba-tiba orang tua itu bertanya: "Kau ini datang ada keperluan apa? Aku seorang yang sudah buta lagi tuli, bicaralah sedikit keras! Kau darimana dan hendak kemana?"

Mendengar ucapan si kakek, Kim Houw girang, kiranya tadi ia tidak mendengar perkataannya, maka hanya gelengkan kepalanya saja.

"Lopek, aku hendak mencari orang! Numpang tanya." kata Kim Houw dengan suara keras.

Tapi belum habis ucapannya, kakek itu sudah berkata dengan suaranya yang nyaring :" Apa?

Siapa mencuri barangmu? Si An Peng toh sudah lama binasa, kau cari saja di akhirat! Sehabis berkata kakek itu lantas pergi.

Kim Houw tidak berdaya, ia buru-buru menarik tangannya dan berkata pula: "Lopek, kau salah mengerti, aku cuma ingin tanya."

Tapi orang tua itu masih kurang jelas menangkap pertanyaannya, terpaksa Kim Houw bicara lebih keras: "Lopek, perkataanku tadi kau belum dengar jelas, aku hendak tanya orang-orang yang kemarin bertempur di sini, sekarang pada kemana? dan dimana Lo ceecu?"

Orang tua itu kini baru bisa mendengar jelas, maka lantas menjawab :" Ha! Kiranya kau mencari Lo ceecu kami? Dia kemarin bertempur satu harian, petangnya baru mengajak orang- orangnya pergi ke lembah! Tapi entah apa yang dilakukan di sana, sehingga sekarang masih belum kembali!" sehabis memberi keterangannya, ia lantas menunjuk ke arah selatan yang dimaksudkan mungkin adalah lembah yang disebut kakek tadi.

Kim Houw setelah mengetahui sedikit duduk perkaranya, lantas mengucapkan terima kasih kepada orang tua itu, kemudian menuju ke lembah yang ditunjuk si kakek.

"Engko kecil, kalau kau hendak berangkat sekarang, belum sampai di sana sudah keburu gelap!" berkata si kakek sambil menghela napas.

Kim Houw cuma ganda tertawa, kemudian menghilang dari depannya.

Sekejap saja Kim Houw sudah melalui dua puncak gunung, tapi tidak mendapat apa-apa.

Diam-diam ia mulai heran, apakah si kakek tadi berlagak tuli untuk menipu dirinya?

Dengan perasaan curiga ia kembali melalui dua puncak gunung lagi, masih tetap tidak mendapat kabar apa-apa. Sekarang cuaca sudah mulai gelap, perutnya keroncongan. Oleh karena itu ia pikir hendak menangkap binatang kelinci untuk tangsal perut, tapi ia tidak membawa bekal batu api, maka urungkan maksudnya dan terpaksa mencari buah-buahan untuk mengisi perutnya.

Pada saat itu, di atas pohon ia dapat melihat gambar kepala tengkorak manusia sebesar kepalan tangan, mulutnya menggigit sebatang anak panah sedang ujung anak panahnya menunjuk ke arah yang justru sedang ia tuju.

Melihat gambar tengkorak itu, Kim Houw terkejut. Karena gambar itu masih baru, entah golongan orang Kangouw mana yang menggunakan tanda demikian. Dengan adanya penemuannya ini, Kim Houw tidak mau membuang-buang waktu lagi, maka dengan cepat ia melanjutkan perjalanannya.

Belum sampai melewati satu puncak, kembali ia menemukan dua gambar tengkorak itu, ujung anak panahnya tetap menunjuk ke selatan.

Tengah ia berlari, tiba-tiba ia mendengar suara tindakan kaki yang amat riuh, agaknya ada banyak orang yang lari menuju ke arahnya. Dari gerak kaki mereka, Kim Houw segera tahu bahwa rombongan itu ternyata kepandaiannya biasa saja. Diam-diam ia merasa heran, darimana datangnya begitu banyak orang ke hutan belukar ini?

Tak lama kemudian, dari sebuah tikungan puncak gunung datanglah beberapa ratus laki-laki, Kim Houw melihat mereka, segera mengetahui bahwa orang-orang itu adalah orang-orang Ceng- kee-cee, maka ia lantas menghadang ditengah jalan untuk merintangi mereka.

"Tuan-tuan, numpang tanya, Lo ceecu dari Ceng-kee-cee sekarang ada dimana?" ia tanya dengan suara nyaring.

Rombongan anak buah Ceng-kee-cee itu lantas berhenti, dari dalam rombongan itu lalu keluar seorang laki-laki berusia kira-kira empat puluh tahun, lama ia menatap Kim Houw, barulah ia bertanya :" Tuan siapa? Ada urusan apa mencari Lo ceecu?"

Kim Houw diawasi sekian lamanya oleh laki-laki tadi, lantas melirik kepada dirinya sendiri. Saat itu ia baru tahu kalau dirinya benar-benar sudah tidak keruan pakaiannya, baju panjangnya sudah robek tidak keruan.

Semula ia memang menyaru sebagai pengemis, tapi sejak berjalan bersama dengan Kie Yong Yong, karung goni dipunggungnya sudah dibuang, rambutnya juga tidak awut-awutan lagi, begitu pula sepatu bututnya, hanya baju panjangnya yang belum ditukar.

Sekarang, meski sepatunya tidak butut lagi, rambutnya sudah rapi, tapi pakaiannya tidak karuan macamnya, lebih buruk keadaannya daripada selagi ia menyamar sebagai pengemis.

Atas pertanyaan laki-laki itu, ia lantas menjawab: "Aku yang rendah bernama Kim Houw, karena ada urusan penting, maka hendak mencari Lo ceecu."

Sayang belum habis ucapannya, laki-laki itu sudah keluarkan bentakan: "Kura-kura." yang

tidak dimengerti oleh Kim Houw.

Tapi sekejap saja rombongan itu lantas mengeluarkan suara gemuruh, dan masing-masing mengeluarkan senjatanya, bahkan ada beberapa orang dari samping mengambil sikap mengurung Kim Houw.

Laki-laki itu setelah memberikan perintahnya sekian lama, barulah berkata kepada Kim Houw: "Kiranya tuan adalah Kim Houw si biang keladi yang namanya begitu terkenal, ha ha, ke surga kau tidak mau pergi, sebaliknya hendak masuk ke neraka! Lo ceecu tidak berhasil menemukan kau dan sekarang kau terjatuh ke tangan kami. Saudara-saudara, bentuk barisan untuk mengurung dia, sekali-kali jangan kasih dia lolos, supaya Lo ceecu juga tahu bahwa kita juga mempunyai kepandaian yang berarti!"

Sehabis berkata, orang itu juga mengeluarkan senjata pecutnya, lalu acungkan ke atas yang disambut suara gemuruh dari segala penjuru.

Menyaksikan kelakuan orang-orang itu, Kim Houw merasa geli dalam hatinya. Meski jumlah mereka banyak, tapi apa gunanya? Ia berlagak bodoh dalam kepungan mereka, seolah-olah tidak mengerti kalau dirinya sedang berada dalam bahaya.

Laki-laki tadi tiba-tiba berseru pula, beberapa puluh orang yang sedang mengepung Kim Houw segera bergerak semuanya, mereka berputar-putar mengelilingi Kim Houw, makin lama putarannya makin cepat.

Kim Houw yang berdiri tegak ditengah lingkaran mereka itu, sedikitpun ia tidak bergeser dari tempatnya, sedang dalam hatinya diam-diam berpikir: kalau dari orang-orang ini masih belum dapat informasi dimana adanya Kim Lo Han dan kawan-kawannya, benar-benar repot!

Orang-orang yang lari berputaran itu, gerak kakinya benar-benar lihai, sebentar saja sudah tidak kelihatan bayangannya. Cuma, sebegitu jauh masih belum mengambil tindakan apa-apa terhadap Kim Houw.

Anak muda itu masih tetap berdiri seperti patung, meskipun di sekitarnya begitu ribut namun tidak mempengaruhi pikirannya. Jika orang lain, mungkin sudah dibikin senewen oleh gerakan mereka yang seperti orang gila itu.

Lewat lagi sekian lamanya, orang-orang itu masih tetap mengitari korbannya, tapi masih tetap belum turun tangan, sebaliknya Kim Houw dapat memeriksa satu-persatu keadaan orang-orang tersebut. Kini ia sudah dapat melihat bahwa mereka sudah pada mandi keringat, hingga diam- diam hatinya merasa girang. Pikirnya, dengan bergerak secara demikian, mereka akhirnya tentu akan lelah sendiri.

Gerakan semacam ini ini dinamai Kui-goan-in salah satu gerakan barisan Ceng-kee-cee yang khusus untuk menghadapi musuh-musuh yang berkepandaian terlalu tinggi. Yang ditugaskan melakukan serangan terdiri dari enam belas orang, terbagi menjadi empat rombongan, tiap orangnya membawa sebilah golok dan gerakan mereka pun serupa. Seolah-olah lari berantai, mereka mengurung musuhnya sambil berlarian mengitari. jika musuh yang dikurung coba balas menyerang kepada salah seorang saja, yang lain akan segera maju menyerang dengan serentak. Kalau bukan mereka yang menghentikan serangannya, si korban yang diserang akhirnya tentu kehabisan tenaga dan binasa.

Oleh karena mereka terpecah menjadi empat rombongan, setiap empat orang melakukan pertempuran secara bergiliran, sehingga mereka mempunyai banyak waktu untuk istirahat, sedang lawannya harus memberi perlawanan terus dari awal sampai akhir. Kalau bukan orang-orang gagah yang berkepandaian tinggi, dari sepuluh orang ada sembilan orang yang terbinasa atau terluka oleh barisan tersebut.

Tapi barisan Kui-goan-tin ini juga ada cacatnya, yaitu karena barisan ini selalu berada dalam keadaan bergerak dan tidak mampu melakukan serangan jika tidak diserang.

Oleh karena Kim Houw tidak pandang mata pada mereka, ia tidak mau turun tangan lebih dulu.

Dengan sendirinya tanpa disengaja ia telah melumpuhkan daya serang barisan tersebut.

Pada saat itu, beberapa puluh orang yang lari berputaran perlahan-lahan mulai kendor gerakannya. Orang yang jadi kepala dan berdiri disamping, tidak henti-hentinya acungkan pecutnya dan berteriak-teriak.

Salah seorang yang berbadan pendek kecil diantara enam belas orang itu, tiba-tiba menabas pundak Kim Houw dengan goloknya, serangannya itu demikian kuat dan gesit.

Siapa nyana perbuatannya itu justru telah berakibat kocar-kacirnya barisan itu. Kim Houw sudah mengetahui ciri-ciri dari barisan tersebut. Orang-orang itu setelah berlari-lari sekian lama, akhirnya tampak tanda-tanda kelelahannya, kalau dibiarkan mereka itu lari terus menerus, pasti mereka akan rubuh satu persatu.

Mengingat nasib anak-anak dan kaum wanita yang ditinggalkan oleh mereka di Ceng-kee-cee, dalam hati Kim Houw merasa tidak tega. Selagi dalam keragu-raguan, seorang yang pendek kecil telah melakukan serangan, namun Kim Houw hanya berkelit dengan mudah. Beberapa gebrakan saja, cukup membuat keadaan berobah terbalik. Puluhan orang itu tampak pada berdiri tanpa bergerak dalam keadaan yang sangat aneh. Kecuali sepasang matanya yang masih bisa berkedip, bagian tubuh lainnya tidak bisa bergerak sama sekali.

Ternyata mereka semua sudah kena totok oleh Kim Houw. Hanya sang kepalanya saja yang masih tetap bebas.

Karena Kim Houw anggap orang itu merupakan kepala rombongan, mungkin lebih baik dan lebih banyak tahu rahasia Ceng-kee-cee daripada yang lainnya, maka ia ingin mengorek keterangan tentang keadaan kawan-kawannya.

Tepat pada saat Kim Houw selesai menotok mereka, orang itu sudah datang menghampiri lalu berlutut di hadapan Kim Houw, seraya meratap:

"Kim Siauhiap, aku mohon belas kasihan siauhiap dan suka mengampuni kesalahanku. aku Ceng Phwee sangat menyesal, benar-benar punya mata tapi buta, tidak kenal siauhiap seorang yang gagah. Ceng Phwee disini minta maaf padamu, jika kau anggap aku salah, sekalipun kau bunuh mati aku juga tidak sesalkan kau, aku hanya minta supaya kau suka membebaskan mereka, karena beberapa ratus jiwa dalam Ceng-kee-cee penghidupannya masih mengandalkan dari mereka."

Belum habis ucapan Ceng Phwee, Kim Houw sudah ulurkan tangannya mengangkat tinggi kepada orang yang mengaku bernama Ceng Phwee ini.

Apa sebabnya Ceng Phwee yang semula begitu sombong mendadak bersikap begitu menghormat? Sebagai anak buah Lo ceecu dari Ceng-kee-cee, Ceng Phwee sebetulnya juga bukanlah seorang yang lemah. Senjata pecutnya sudah pernah menjatuhkan beberapa jago di kalangan Kangouw.

Tapi ia telah dibikin terkesima dan kagum dengan ilmu mengentengkan tubuh yang diperlihatkan Kim Houw. Ia belum pernah menemukan orang gagah yang mempunyai kepandaian yang demikian hebat. Terutama kepandaian Kim Houw menotok orang-orangnya tadi benar-benar merupakan kepandaian ilmu silat yang sudah tiada taranya.

Karena orang-orang yang tertotok sudah tidak bisa bergerak semuanya, ia yang bertindak sebagai pemimpin rombongan, bagaimana tidak cemas?

Lagi pula dalam hutan belukar seperti ini, kepada siapa lagi ia akan minta bantuan.

Dalam keadaan demikian terpaksa ia harus tebalkan muka, untuk minta tolong kepada Kim Houw. Di kemudian hari apabila Lo ceecu sesalkan perbuatannya, ia juga tidak mau ambil pusing. Yang penting adalah jiwa kawan-kawannya.

Kim Houw meski berlaku galak, tapi jawabannya ternyata lunak.

"Aku juga tidak ada niat membuat susah kalian, kau tidak usah kuatir. Asal kau menjawab terus terang semua pertanyaanku, aku tidak akan mencelakakan diri mereka, tapi kalau kau berani berdusta, kau nanti akan rasakan sendiri akibatnya!" demikian jawabnya.  Mendengar jawaban Kim Houw, Ceng Phwee buru-buru berlutut lagi.

"Tuhan Allah yang Maha Esa, para dewa yang kebetulan lewat di sini, harap suka menjadi saksi, aku Ceng Phwee akan menjawab dengan sejujurnya, atas semua pertanyaan yang akan diajukan oleh Kim siauhiap. Jika ada sepatah saja yang bohong, biarlah Ceng Phwee mati binasa di bawah hujan golok, sehingga tidak bisa kembali ke Ceng-kee-cee," demikian

Ceng Phwee melakukan sumpah berat. Sekali lagi ia manggut-manggut di hadapan Kim Houw kemudian berkata pula: "Kim-siauhiap, sekarang tentunya siauhiap boleh percaya kepada Ceng Phwee?"

"Baiklah, sekarang aku hendak tanya, kemana perginya Lo Ceecu?" "Ke Pek-liong-po!" jawabnya.

Pek-liong-po? Pikir Kim Houw, mungkin benar, Ceng Ceng juga mengatakan bahwa Peng Peng dibawa ke Pek-liong-po. Pantasan Lie Cie Nio dan To Pa Thian ketika hendak menutup mata pernah mengucapkan kata-kata Pek.....Pek.Pek saja, kiranya yang dimaksud adalah Pek-liong-

po.

"Tahukah kau, bahwa kemarin sebelum Ceng-kee-cee melakukan upacara sembahyang, dan setelah nona baju merah dibawa kabur, kemudian datang lagi rombongan orang-orang, sekarang dimana orang-orang itu?" tanya pula Kim Houw.

"Kemudian keluarga Teng dari Im-hong-ciong telah datang ke Ceng-kee-cee membikin ribut, Lo Ceecu karena takut kepada Teng kie Liang dari keluarga Teng, tidak berani menahan si nona baju merah. Sebetulnya ia sendiri juga tidak tahu kalau nona itu dari keluarga Teng, kalau tahu, sudah tentu siang-siang sudah diantar pulang. Orang-orang yang kemudian datang ke Ceng-kee- cee, aku melihat ada seorang pengemis tua, dua orang tua yang usianya kira-kira lima puluh tahun ke atas, seorang hwesio yang tubuhnya tinggi besar dan seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua. Selain itu masih ada lagi seorang muda yang kepalanya botak, tapi tenaganya besar bukan main serta seorang pemuda yang amat galak.

Orang-orang itu begitu tiba di Ceng-kee-cee, lantas menerjang ke tangga batu dan bicara dengan Lo Ceecu. Kala itu aku berdiri agak jauh, hingga tidak dapat mendengar jelas pembicaraan mereka, aku hanya tahu belum bicara beberapa lama lantas saling hantam!"

Ceng Phwee tadi meski tidak menyebutkan namanya, hanya melukiskan bentuknya, tapi Kim Houw sudah tahu siapa yang dilukiskan oleh Ceng Phwee. Pengemis tua itu adalah Sin-hua dan Tok-kai, kedua orang tua itu adalah Cu Su dan Tiong Ciu Khek, nenek rambut putih itu adalah Kim Coa Nio-nio sedang kedua anak muda itu bukan lain adalah si botak dan Sun Cu Hoa.

Mereka bisa masuk ke Ceng-kee-cee, kalau begitu mereka tidak mengalami gangguan dari serangan laba-laba beracun didalam rimba, lalu ia bertanya lagi: "Setelah bertempur, bagaimana kesudahannya?"

"Lo Ceecu kita tinggi sekali kepandaiannya, terutama istrinya ceecu. Tapi rombongan itu ternyata juga bukan orang-orang sembarangan. Seorang tua yang wajahnya merah bertempur dengan Lo Ceecu setengah harian, masih belum ketahuan siapa yang menang dan siapa yang kalah, kemudian aku dengar bahwa orang yang wajahnya merah itu adalah ketua partai sepatu rumput Cu Su."

"Nyonya Lo ceecu kami juga bertempur dengan si pengemis, tapi ia bukan tandingan Nyonya Lo Ceecu, setelah seratus jurus lebih, pengemis tua itu lantas mulai keteteran. Tapi sepasang sepatu bututnya, ternyata lebih lihai daripada senjata pasir hitam nyonya Lo Ceecu, sehingga akhirnya tidak ada yang menang dan yang kalah."

"Pasangan lainnya ialah adik perempuan nyonya Lo Ceecu kami, Cey-hua Kui-bo dengan si nenek berambut putih, mereka juga lawan berimbang."

"Pada akhirnya, Lo Ceecu sudah memuncak amarahnya, maka lantas memancing mereka kedalam lembah Hui-hun-kok. Dalam gunung ini sebetulnya masih ada lagi sebuah lembah ular, tapi sayang ular yang jumlahnya puluhan ribu itu, pada suatu hari telah digiring oleh seorang penjinak ular, entah kemana."

"Lembah Hui-hun-kok juga cukup lihai, lembahnya sempit, kedua tebingnya tinggi sekali, sehingga menutupi mulut lembah. Jika batu besar digelindingkan ke bawah, sekalipun dewa juga sukar untuk meloloskan diri."

Di satu bagian dari lembah tersebut terdapat tangga, jika orang-orang fihak sendiri sudah naik ke atas, tangga itu lantas diangkat, ketika orang-orang dari pihak lawan tiba ditempat tersebut, sudah tidak keburu naik tangga itu.

Selagi Lo Ceecu memancing mereka ke lembah tersebut, mulut lembah baru saja tertutup dengan batu, tepat pada saat itu, Hui-thian Go-kang Teng Kie Liang telah tiba. Ia sebetulnya hendak mencari setori dengan Lo Ceecu, tapi ketika menyaksikan didalam lembah ada begitu banyak orang, ia lantas tertawa terbahak-bahak. Bukan saja tidak mencari setori dengan Lo Ceecu, malah membantu pihaknya, dengan menggunakan batu-batu besar yang berada didalam lembah itu, orang-orang itu terpaksa melompat kesana-sini untuk menghindarkan diri dari kematian.

"Tidak lama setelah Hui-thian Go-kang berlalu, orang-orang didalam lembah tiba-tiba menghilang. Sedangkan Lo Ceecu sendiri setelah meninggalkan beberapa orang untuk menutup jalan keluar lembah tersebut, ia juga ajak kami pulang."

"Siapa sangka, dalam perjalanan pulang, kami berpapasan dengan orang-orang itu lagi.

Mereka bukan saja tidak terluka, bahkan lebih dulu dari kami keluar dari lembah, akhirnya timbul lagi pertempuran hebat."

"Untung senjata rahasia pasir hitam nyonya Lo Ceecu sangat lihai, dengan beruntun telah melukai tiga orang lawannya, oleh karena itu maka orang-orang tersebut lantas mundur, sedang dipihak kami Ceng Cu Nio-nio dan Hey Hoa Kui-bo juga dilukai oleh seekor ular emas yang lihai sekali."

"Pada saat itu, orang-orang dari Pek-liong-po juga tiba, Lo Ceecu lantas suruh kita pulang dan selanjutnya bagaimana, aku Ceng Phwee sudah tidak tahu lagi!"

Kim Houw yang mendengarkan cerita Ceng Phwee, sebentar-sebentar harus menghapus keringat dingin ketika mendengar nyonya Lo Ceecu telah berhasil melukai tiga orang, perasaannya semakin cemas, maka ia segera bertanya: "Tiga orang yang terluka ditangan nyonya Lo Ceecu itu siapa? senjata pasir hitam itu bagaimana digunakannya? apakah ada racunnya?"

Ceng Phwee dipegang dengan kencang oleh Kim Houw, sehingga merasakan sakit setengah mati. Maka dengan suara merintih ia minta diampuni. Setelah Kim Houw mengendorkan tangannya, ia lalu menjawab :" Siapa tiga orang yang terluka itu, aku hanya dengar kabar saja, tapi tidak melihat sendiri. Tentang rahasia pasir hitam, dia terbuat dari pasir hitam khusus dari Teng-lay-san, namanya saja pasir tapi sebetulnya sebesar batu kerikil. Sebab dalam satu genggaman dapat lebih dari satu maka dinamakan pasir. Pasir hitam telah diberi racun oleh Ceecu hujin, bukan saja beracun bahkan luar biasa bekerjanya racun itu. Orang yang terkena senjata tersebut dalam satu minggu, kalau tidak dapat obat pemunahnya yang khusus untuk racun itu, akan segera binasa dalam keadaan hancur luluh daging dan kulitnya!"

Kim Houw tidak perlu bertanya lagi, ia lantas bebaskan mereka semuanya dari totokan, akhirnya baru ia menanyakan perjalanan ke Pek-liong-po.

"Pek-liong-po tidak jauh dari kota Ceng-thia-san"

Kalau kau sudah sampai dikota Ceng-shia-san, tanya saja kepada penduduk disitu, tidak ada seorangpun yang tidak tahu," kata Ceng Phwee.

Kim Houw haturkan terima kasih dan berlalu dengan tergesa-gesa. Ia tidak tahu siapa tiga orang yang terluka itu, namun biar bagaimana orang-orang itu terluka karena membelanya, maka dalam hati ia merasa sangat cemas.

Terutama ketika ia dengar bahwa senjata itu sangat berbisa, hatinya semakin gelisah, terluka untuk ia, sudah membikin ia merasa tidak enak, apalagi jika sampai terjadi apa apa, bagaimana besar kedudukannya dan merasa berdosa.

Saat itu, hari sudah gelap. Kim Houw dua hari dua malam tidak dapat mengaso dengan baik, maka sudah mulai merasa letih, tapi ia masih terus lari menuju ke tujuannya.

Menjelang pagi, Kim Houw sudah tiba di mulut gunung. Meski ia mempunyai kepandaian dan kekuatan melebihi manusia biasa, tapi selama dua hari dua malam tidak tidur dan mengaso, kini ia benar-benar sudah mulai tidak tahan! Lantas ia mencari sebuah batu besar yang agak rata, untuk duduk mengaso, memulihkan kembali tenaganya.

Tapi belum sempat duduk, matanya kembali dapat lihat lukisan tengkorak itu, merasa menyesal kenapa barusan tidak menanya kepada Ceng Phwee, ia percaya Ceng Phwee pasti bisa memberi jawaban yang memuaskan.

Kim Houw lantas mulai duduk untuk semedi guna memulihkan kekuatannya.

Ketika ia membuka matanya, dua jam telah berlalu. Matahari sudah mulai naik tinggi. Sehabis melakukan semedi, Kim Houw nampak semangatnya pulih kembali.

Selagi hendak berbangkit, tiba-tiba menyambar senjata rahasia yang datang dari jurusan arah belakang. Senjata rahasia itu datang cepat sekali, kekuatannya juga hebat.

Kim Houw terkejut, ia tidak berani menyambuti dengan tangannya, ia lompat melesat ke atas, setelah berada di tengah udara, ia jumpalitan dan turun kembali.

Ketika ia melesat ke atas, telah dengar suara ledakan hebat, batu besar bekas tempat duduknya tadi ternyata sudah meledak dan terbakar. Kim Houw kesima, untung ia tadi tidak menyambuti dengan tangannya, kalau tidak tangan itu tentu sudah terbakar.

"Kawanan manusia terkutuk darimana berani berlaku begitu pengecut? Kalau kau ada satu laki-laki, lekas unjukkan diri!" teriak Kim Houw.

Tiba-tiba terdengar orang tertawa bergelak-gelak, dari atas sebuah pohon telah melayang turun satu orang yang tidak mirip dengan manusia, lebih mirip dikatakan bara arang yang menyala.

Tampak ia menggelinding di depan Kim Houw lalu berhenti sendiri, tapi nyatanya benar manusia yang berbentuk bundar pendek dan gemuk, hingga mirip dengan satu balon. Yang lebih aneh ialah, orang bulat cebol itu sekujur badannya mengenakan pakaian warna merah darah, pada kedua pahanya yang pendek kasar, kelihatan beberapa lingkaran warna merah, maka kalau berjalan atau melesat ke atas nampaknya seperti bara!

Kim Houw tadinya mengira ada sebuah bola api yang menggelinding, siapa tahu kalau ia adalah manusia. Karena merasa geli, hampir saja ia ketawa.

Orang cebol itu begitu berada di depan Kim Houw, lantas membentak dengan suaranya yang bengis: "Anak busuk, kiranya kau sudah bosan hidup! Hwee-tok Sin-kun (dewa api) hendak bercanda dengan kau, mengapa kau berani berlaku kurang ajar? Hari ini kalau aku tidak beri hajaran padamu, tentunya kau tidak akan tahu bahwa aku Hwee-tok Sin-kun ini orang apa?"

Sehabis mengucapkan perkataannya itu, Hwee-tok Sin-kun lalu ayun tangannya, kembali ada senjata rahasia yang berwarna merah membara meluncur dari tangannya. Kali ini nampaknya lebih hebat dan lebih pesat meluncurnya daripada yang duluan.

Nama Hwee-tok Sin-kun, Kim Houw belum pernah dengar, ia juga tidak tahu sampai dimana lihainya orang yang bentuknya aneh itu. Tapi terhadap senjata rahasianya yang berupa api itu ia tidak takut.

"Hanya mengandalkan senjata rahasiamu yang tidak berarti ini, kau hendak melukai siauyamu? Kau benar-benar mengimpi." demikian ia berkata.

Tepat pada saat itu, senjata rahasianya si cebol itu sudah tiba di depan Kim Houw, ia tahu hanya sekali sentuh senjata apinya akan meledak, tapi ia masih coba ulur tangannya untuk menyentil.

Suara "Tak" terdengar nyaring, senjata itu lantas melesat ke udara dan meledak.

Kim Houw sendiri setelah menyentil senjata itu dengan jarinya, sudah lompat mundur jauh- jauh.

Hwee-tok Sin-kun kembali perdengarkan suara ketawanya. "Anak busuk, kiranya kau tidak takut. Coba sekali lagi!" katanya.

"Ser" senjata rahasia yang merah membara kembali meluncur dari tangannya.

Melihat itu, Kim Houw gusar dengan tiba-tiba. Ia anggap orang cebol jelek itu sungguh bandel sekali, maka tanpa menunggu datangnya senjata tadi, ia sudah lompat melesat untuk memapak!, selain menggunakan jari tangan untuk menyentil senjata rahasia si cebol, ia juga menggunakan tangan kirinya untuk mengipasi, hingga api yang menyala hebat itu lantas tertiup balik. Hwee-tok Sin-kun dengan tersipu-sipu lari mundur sendiri.

Hwee-tok Sin-kun meski lari mundur terbirit tapi ia masih bisa ketawa sembari ubat-abitkan kedua tangannya. Beberapa puluh butir senjata berwarna merah membara segera berterbangan ke depan, belakang kanan kiri badan Kim Houw. Dalam waktu sekejap saja, suara ledakan terdengar berulang ulang, api berkobar keras mengurung diri Kim Houw.

Pada saat itu, dari bawah gunung terdengar suara nyaring: "Lau Sin-kun, jangan lepaskan adanya, memang betul bocah itu!" "Lau Leng kauw, aku Sin kun siang-siang memang sudah tahu kalau dia, kau tak usah kuatir, ada aku Sin kun di sini, kiranya dia tidak bisa lari lagi!" jawab Hwee-tok Sin-kun sambil ketawa.

Sementara itu, kedua tangannya cepat mengambil senjatanya yang luar biasa itu dari dalam kantong besar yang ada disampingnya yang saban-saban dilemparkan ke arah Kim Houw, hingga api terus berkobar mengurung diri anak muda itu.

Pada saat mana, seluruh tubuh Kim Houw sudah terkurung oleh api yang berkobar keras sampai bayangannya saja juga tidak kelihatan. Hwee-tok Sin kun dengan bangga berpaling mengawasi Lau Leng-kau yang sedang naik ke atas bukit.

"Kalian berempat mengapa baru sekarang tiba, mana lagi tiga orang yang lainnya?" demikian tanyanya.

Orang yang dipanggil Lau Leng kau itu ternyata adalah Hui-thian Leng-kau dari Ceng-hong- kau.

Dengan kecepatan bagaikan kilat Hui-thian Leng kauw, sudah berada di depan Hwee-tok Sin kun.

"Aaaa! mengapa kau bakar mata padanya? Kalau dia binasa, nona Kie tak dapat kita temukan lagi. Jika Kaucu gusar, siapa yang harus memikul tanggung jawab ini?" Demikian katanya.

"Apa kau kata? Hal itu aku tidak mau tahu. Aku hanya mendapat perintah untuk menghadapi dia, tapi tidak dijelaskan harus ditangkap hidup-hidup tidak boleh dibunuh mati. Tentang urusan mencari nona Kie bukan urusanku. Hwee-to Sin-kun tidak membunuh mati orang, bagaimana bisa mendapat julukan "Tok" jawab Hwee-tok Sin-kun.

"Sin-kun, aku mohon padamu, lekaslah padamkan apinya! Mungkin masih ada sedikit harapan, untuk mendapatkan keterangannya. Kalau tidak, di dunia yang luas ini, kemana kita harus mencari nona Kie?"

"Lau Leng kau, bagaimana sih anggapanmu tentang peluru api Hwee-tok Sin kun? Kalau tidak padam sendiri, siapa saja jangan harap bisa memadamkan. Bocah itu barangkali sudah takdirnya mati di tanganku."

Hui-thian Leng-kau tidak bisa berbuar apa-apa, dalam hari lantas berpikir: "Baiklah kalau aku sudah melihat bangkainya, aku nanti limpahkan segala tanggung jawabnya di atas pundaknya.

Tiba-tiba dari bawah gunung terdengar pula suara orang yang memanggil-manggil, mereka itu adalah tiga orang tua yang pernah mengejar nona Kie di tepi danau Thai-pek-ouw. Tiga orang tua itu tiba di tengah bukit, segera menuju ke arah api berkobar.

Pada saat itu, dalam gumpalan api berkobar, tiba-tiba terlihat sinar hijau yang menaik tinggi ke angkasa, Hwee-tok Sin-kun terperanjat, ia heran bagaimana bocah itu tidak mati terbakar?

Belum hilang rasa kagetnya sinar hijau itu mendadak meluas, satu bayangan orang melesat keluar dari sinar tersebut dan meluncur setinggi sepuluh tombak, baru melayang turun.

Orang itu bukan lain daripada Kim Houw sendiri. Peluru apinya Hwee-tok Sin-kun, memang tidak berdaya terhadap dirinya, kalau ia manda dibakar, itu disebabkan hendak mencoba-coba sampai dimana kekuatannya ilmunya Han-bun-cao-khie, apa juga tidak takut api? 

Begitu dicoba, benar saja bahwa ilmunya Han-bun-cao-khie sedikitpun tidak takut api-apinya Hwee-tok Sin-kun meski lihai, tapi tidak berdaya mendekati badannya. Pada saat itu, ia dengar pembicaraan antara Hwee-tok Sin-kun dengan Hui-thian Leng kauw, hingga ia mengetahui bahwa Hwee-tok Sin-kun ternyata ada orangnya Ceng Hong-kau. Sehabis mendengarkan pembicaraan mereka Kim Houw lalu mengerahkan ilmunya Han-bun- cao-khie, ia ayun tangannya ke atas, api yang sedang berkobar hebat itu lantas mendadak pudar dan ia melesat ke luar dari dalam api.

Setelah berada di tanah, Kim Houw lalu berkata kepada mereka: "Aku kira siapa, tidak tahunya orang-orang Ceng-hong kauw. Kau Hwee-tok Sin-kun sudah membakar diriku setengah harian, kalau aku tidak membalas melakukan apa-apa, bukankah itu suatu perbuatan kurang sopan?"

Mendengar itu, Hwee-tok Sin-kun terkejut, tapi wajahnya masih bisa ketawa.

"Anak busuk, kau ternyata mengerti ilmu gaib untuk membereskan kau," demikian katanya.

Kalau ia mengeluarkan sebuah kaca besar menghadap pada matahari, maksudnya dengan menggunakan sinar matahari, ia soroti matanya Kim How, kemudian baru menyerang.

Tapi maksudnya itu belum tercapai tiba-tiba angin keras telah menyambar mukanya.

Kiranya Hwee-tok Sin-kun ini selanjutnya peluru apinya yang sudah membuat ia terkenal kepandaian ilmu silat dan lweekangnya juga tidak lemah. Oleh karena ia berada di sebelah barat, meski sinar matahari, sudah menyoroti kacanya, tapi ia juga seperti kesilauan.

Ketika ia merasa ada sambaran angin, dengan cepat lantas meloncat untuk menghindarkan serangan.

Tapi Kim Houw siap sedia, ia tidak memberikan kesempatan Hwee-tok Sin-kun untuk menyelamatkan diri.

Segera terdengar beberapa suara ledakan, asap mengebul tinggi dan api berkobar dengan mendadak. Hwee-tok Sin-kun menjerit-jerit, lalu bergulingan di tanah bajunya pada hancur terbakar.

Ternyata, Kim Houw telah membalas serangan senjata si cebol sendri, karena Kim Houw merasa gemas dengan sikapnya yang jumawa. Tapi ketika ia ayun tangannya, ia tidak menyerang diri orang, sebaliknya menyerang dua kantong besar yang selalu dibawa-bawa oleh Hwee-tok Sin- kun, yang ternyata isinya adalah senjata yang bisa meledak.

Hwee-tok Sin-kun sama sekali tidak menduga kalau Kim Houw hendak berbuat demikian.

Sebentar saja, api sudah membakar sekujur badannya. Masih beruntung, Hwee-tok Sin-kun mengerti caranya menghadapi api, ia lantas membuka semua bajunya dan dilemparkan jauh-jauh, kalau tidak, badannya sudah hangus terbakar.

Sekalipun demikian, tidak urung badannya sudah pada melepuh tidak karuan macam, terutama sepasang tangannya yang sudah merah membara dan mengucurkan banyak darah.

Empat orang tua yang baru tiba saja, telah berdiri dengan kesima menyaksikan itu semua.

Menampak Hwee-to Sin-kun menggeletak di tanah dalam keadaan luka parah. Mereka tidak bisa berdaya sama sekali, terpaksa menggotong si korban berlalu meninggalkan Kim Houw.

oo000oo

Dari sebelah selatan Kim Houw turun gunung, ia bisa lari lebih cepat, tapi semalaman ia mengejar masih belum juga menemukan jejaknya Kim Lo Han dan kawan-kawannya. Hatinya merasa cemas. Sedangkan dari fihak Pek liong po, khabarnya sudah ada orang menyambut Lo Ceng mo, apakah dengan tambahnya bantuan itu mereka berbalik mengejar Kim Lo Han dan kawannya?

Memikir demikian, Kim Houw merasa lebih cemas dan kakinya lari semakin pesat. Menjelang tengah hari, awan gelap menutupi langit, kemudian disusul oleh turunnya hujan,

bahkan makin lama hujan makin bertambah besar.

Kim Houw yang sudah lari setengah harian, meski belum mandi keringat, tapi dalam harinya merasa amat masgul. Dengan adanya hujan itu, ia merasakan hawa yang sejuk. Ia lantas buka baju luarnya, hanya tinggal baju dalamnya dan celana pendeknya saja, berlari-larian di bawah hujan lebat.

Tiba-tiba Kim Houw ingat sesuatu. Berlari-larian secara demikian, jika berpapasan dengan rombongannya Kim Lo Han bagaimana ia bisa melihat, karena pemandangannya tentu terhalang oleh air hujan.

Ia lantas kendorkan kakinya.

Tepat pada saat itu, di depan matanya tiba-tiba terbentang sebuah rimba, lapat-lapat tertampak ujung sebuah dinding tembok warna merah. Pikirnya dalam rimba ini pasti ada sebuah kuil. Lebih baik ia meneduh di sana dulu nanti setelah hujan berhenti baru melanjutkan perjalanannya lagi.

Ia lalu bertindak masuk ke dalam rimba. Benar saja dalam rimba itu ada sebuah kuil.

Kuil itu sangat mengenaskan, tampaknya di sana-sini sudah pada hancur, sebagian malah sudah rubuh. Pintu kuil separuhnya sudah rusak dan menggeletak di tanah.

Baru saja Kim Houw hendak melangkah ke dalam, di atasnya pintu kuil yang menggeletak tadi, kembali terlihat lukisan tengkorak manusia dengan anak panahnya. Entah tanda gambarnya partai atau perkumpulan persilatan mana itu yang ia jumpai berkali-kali. Sampai di atas pintu kuil yang sudah rusak juga terdapat gambar demikian. Kalau mau dikatakan itu ada gambar baru tanda dari partai Ceng-hong-kauw, tadi ketika melihatnya tidak menunjukkan perobahan apa-apa. Apa yang lebih mengherankan, mengapa orang-orang dari Ceng-hong kauw itu juga mengejar dan mencari dirinya?

Otaknya memikir, kakinya sudah melangkah masuk.

Di belakang meja sembahyang, tiba-tiba tampak sinar api, Kim Houw pikir ternyata sudah ada lain orang yang mendahului masuk ke dalam kuil. Sebaliknya apa tidak mungkin itu rombongan Kim Lo Han yang sedang meneduh?

Kim Houw menjadi tidak sabaran, dengan cepat ia lompat masuk ke ruang belakang yang ada sinar api tadi.

Api masih tetap menyala, tapi tidak keliahtan satu manusiapun.

Kim Houw tercekat. Melihat keadaannya api yang sedang menyala itu, kalau orang menyalakan sedang pergi, mungkin perginya belum begitu lama. Ia berlaku sangat hati-hati, ia pasang mata dan telinganya, untuk mendapatkan kepastian apakah ada orang yang sembunyi dalam kuil ini?

Sayang hujan terlalu besar, suara jatuhnya air hujan di atas genteng sangat berisik, hingga kalau benar ada orang sembunyi di situ, tidak gampang-gampang Kim Houw dapat tahu.

Ia menanti sekian lama, masih tidak terdapat gerakan apa-apa, hingga ia mau menduga bahwa orang yang menyalakan api tadi sudah berlalu benar-benar. Sebab jika masih ada, melihat kedatangannya orang tentu ia akan menegor.

Kalau benar sudah berlalu ia tidak perlu memikirkan lagi. Dari sudut tembok ia memilih beberapa batang kayu kering dan dilemparkan ke dalam api, bajunya dibuka dan dipanggang di atas api supaya lekas kering.

Tiba-tiba terdengar suara tertawanya seorang wanita. Suara itu seperti dari bawah datangnya, hingga Kim Houw terkejut dan hampir saja ia lompat.

Belum hilang rasa kagetnya, belakang gegernya tiba-tiba dirasakan dingin.

Dengan cepat ia memutar tubuhnya, tapi tidak kelihatan seorangpun di situ, Kim Houw bertambah heran, maka lantas keluarkan bentakannya: "Siluman dari mana..."

Baru mengucapkan demikian, di belakangnya kembali terdengar suara ketawanya wanita yang tadi ia dengar, Kim Houw kembali memutarkan tubuhnya secepat kilat tapi heran tidak kelihatan orangnya!

Kim Houw benar-benar merasa bingung, mungkinkah ada siluman? Sebab kalau memang manusia biasa, tidak mungkin mempunyai kepandaian ilmu mengentengi tubuh demikian tinggi. Karena sebagai seorang yang sudah mempunyai ilmu mengentengi tubuh luar biasa ia sudah bisa mengukur kepandaian orang sampai dimana tingginya.

Pada saat itu, ada sambaran angin dari atas tiang penglari. Kim Houw berkelit, tapi segera menduga bahwa orang yang permainkan dirinya itu ada di atas tiang!

Kim Houw gerakkan kakinya, sebentar saja sudah melesat ke atas. Ketika ia berada di atas, matanya lantas dapat dilihat seorang wanita berparas cantik dalam keadaan setengah telanjang tengah rebah terlentang di atas penglari, mengawasi padanya dengan senyuman yang menggiurkan.

Kali ini Kim Houw bukannya kaget, tapi takut. Wajahnya merah seketika, hatinya berdebar keras. Ia buru-buru melompat turun dan keluar.

Sesosok bayangan tiba-tiba sudah menghadang di depannya, sepasang matanya yang jelas genit terus mengawasi padanya sambil tersenyum, badannya mengeluarkan bau harum yang sangat luar biasa.

Kim Houw dengan hati berdebaran terpaksa hentikan tindakan kakinya, ia tahu bahwa wanita di depannya itu ada si wanita cantik yang barusan rebah di atas penglari. Ia tidak berani memandangnya, buru-buru pejamkan matanya.

Tapi, justru ia menutup matanya ia jadi tidak bisa lari lagi.

Tiba-tiba ia merasakan si wanita itu mendekati, badannya bau harum pada tubuhnya dirasakan lebih keras menusuk hidungnya. Kim Houw egoskan dirinya, mundur beberapa langkah. Tiba-tiba pikirannya ditujukan kepada siluman, apa mungkin ini adalah siluman yang hendak menguji kekuatan batinnya? Karena bau harum itu ada sangat aneh, apa yang dapat mengendus semangatnya seolah-olah lantas terbang, tulang-tulangnya lepas, perasaannya bergolak dan nafsu birahinya kontan berkobar.

Mengingat itu, lantas ia buru-buru duduk bersemedi untuk mengheningkan cipta.

Wanita cantik itu tiba-tiba mendekati Kim Houw dengan tangan yang halus mengusap wajah dan badannya Kim Houw yang kekar.

Kim Houw tetap bersemedi, tidak perdulikan segala gerak geriknya orang yang menggerayangi dirinya.

Wanita itu tiba-tiba tertawa nyaring, lalu berkata.

"Adik kecil, kau toh bukan hwesio perlu apa bersemedi?"

Kim Houw seolah-olah tidak dengar, ia tetap tidak mau ambil pusing. Perlahan lahan pikirannya mulai tenang kembali.

"Menurut apa yang aku tahu, pendeta yang beribadat tinggi dan kuat imannya, telinganya tidak menghiraukan segala suara yang didengarnya, matanya tidak dapat disesatkan oleh segala aneka warna. Kau tidak berani membuka mata memandang aku, nyata masih belum terhitung seorang yang berilmu tinggi !" kata pula wanita itu.

Kim Houw terkejut, ia tambah curiga bahwa wanita itu betul ada setan atau siluman, oleh karena dalam kitab pelajaran ilmu silat Kao-jin Kiesu juga ada disebut tentang segala pengetahuan setan, maka ia ingin mencoba sampai dimana kekuatan batinnya sendiri. 

Ia membuka matanya, tapi tidak berani memandang langsung, melainkan memandang ke arah hidungnya sendiri.

Wanita cantik itu menampak Kim Houw seolah-olah tidak melihat kecantikan dirinya, dalam hatinya juga merasa heran. Tiba-tiba ia bersiul perlahan, kemudian menyanyi dan menari sendirian. Ia telah keluarkan segala kemampuannya untuk memikat hatinya Kim Houw. Kim Houw meski tidak memperhatikan dengan matanya, tapi telinganya masih tetap bebas untuk menangkap segala suara. Apalagi suara nyanyian yang mengandung rayuan ini merupakan pendengaran asing yang selama hidupnya belum pernah mendengar.

Disamping itu, usia muda juga merupakan suatu faktor, darah muda, sebagaimana lazimnya, mudah tergoda, begitulah keadaannya Kim Houw pada saat itu.

Wanita cantik itu agaknya sudah mengetahui perobahan Kim Houw, ia beraksi semakin hebat.!

Mata Kim Houw seolah dibikin silo oleh pemandangan luar biasa di depan matanya, pikirannya mulai tergoncang. Ia mengawasi setiap gerakan wanita cantik itu dengan bernapsu. Akhirnya, Kim Houw tidak tahan godaan hati dia rubuh !

Seperti dituntun oleh kekuatan gaib, Kim Houw perlahan-lahan bangkit menghampiri dan merangkul wanita cantik itu. Siapa merasa girang usahanya telah berhasil, sambil ketawa manis ia balas memeluk. Sejenak kemudian wanita cantik itu tiba-tiba menjerit, seolah-olah lakunya ikan yang ingin terlepas dari jaring, ia berontak loloskan diri dari pelukan Kim Houw.

Kim Houw yang sedang berkobar napsunya, mana mau membiarkan wanita cantik itu terlepas, dengan cepat ia menjambret dan berhasil menyambar tangannya.

Tapi, ketika tangan wanita itu berada dalam cekalannya, Kim Houw terperanjat, karena tangan itu dirasakan dingin seperti es. Berbareng dengan itu, hawa napsunya yang tengah berkobar juga seperti terguyur air dingin, dengan sendirinya telah padam.

Tiba-tiba ia dengar wanita cantik itu mengoceh sendirian : "Aku Khu Leng Lie mengapa hatiku begitu kecil ? Apa yang harus ditakuti ? Kita bersenang-senang dulu habis perkara. Bocah ini nampaknya mempunyai kekuatan tenaga yang hebat sekali apalagi kelihatannya masih perjaka tulen. Mungkin dalam satu malam saja, sudah cukup untuk menambah kekuatan lwekang. Maka tidak perlu aku takuti itu setan tua lagi !"

Ocehan si wanita cantik itu telah dapat didengar dengan jelas oleh Kim Houw. Dalam keadaan sudah sadar, Kim Houw segera mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh wanita cantik itu. Ia tahu bahwa yang disebut bocah oleh wanita itu adalah dirinya, maka ia lantas menjadi gusar.

"Perempuan cabul, kiranya kau hendak mengganggu diriku ? Kau jangan mengimpi !" bentak Kim Houw.

Wanita cantik yang menyebut dirinya Khu Leng Lie, tidak menjadi gusar, sebaliknya ia ganda Kim Houw dengan senyumannya yang sangat menggiurkan.

"Aha, adik yang manis, aku sebetulnya sayang pada dirimu ! Banyak orang yang menginginkan diriku, tapi tidak satu yang berhasil mendekati aku !" jawabnya.

"Perempuan tidak tahu malu, siapa ada adikmu yang manis?"

"Aha? galak benar kau! Benarkah kau tidak mengerti kebaikan orang? Adikku yang manis, barangkali kau belum pernah rasakan manisnya madu penghidupan, pantas kalau kau tidak memikirkan! Mari, aku ajak kau menikmati kebahagiaan."

Perempuan itu kembali unjukkan kegenitannya, air mukanya mengobral senyuman.

Kim Houw meski sedang gusar, tapi masih tidak berani menatap wajahnya wanita genit itu. Ia lalu hendak meninggalkan padanya. Baru saja memutar tubuhnya, tiba-tiba melihat badannya Khu Leng Lie gemetaran lalu berkata dengan suaranya bergemetar pula: "Bagus! Kiranya rohmu belum buyar, terus saja mengikuti jejakku, aku nanti bikin rusak kau dulu !"

Sehabis berkata, dengan kecepatan kilat ia menerjang ke dinding kuil yang sudah hampir rubuh itu.

Kim Houw yang memperhatikan setiap gerak gerik wanita genit itu, segera dapat lihat suatu pandangan yang mengejutkan !

Apakah sebetulnya ? Kiranya di atas dinding tembok itu, ternyata telah tertampak jelas gambar tengkorak manusia yang menggigit sebatang anak panah. Gambar itu sama benar dengan apa yang pernah dilihat oleh Kim Houw barusan dan dua hari berselang.

Terjangan wanita ternyata sangat hebat, dinding tembok hampir rubuh itu kontan berantakan, sampai seluruh dinding di ruangan belakang kuil menggetar hampir rubuh. Kim Houw tercengang, ia tidak perdulikan hujan dan angin lagi, segera lompat keluar ke pekarangan, ketika air hujan menimpa diri dan kepalanya, sekujur badannya dirasakan dingin, hingga semakin sadar keadaannya.

Baru saja ia berdiri tegak, Khu Leng Lie sudah lompat menyusul padanya, tapi kali ini seluruh badannya sudah dibungkus dengan kain tebal.

Dua orang baru saja berhadapan di bawah hujan lebat, lantas terdengar suara gemuruh, ternyata kuil yang sudah tua usianya itu kini telah rubuh.

Kim Houw tadinya menduga Khu Leng Lie adalah perempuan cabul, tapi ketika menyaksikan dengan tangan kosong ia telah merobohkan kuil tua itu, ia baru tahu kalau wanita itu ternyata juga adalah seorang pandai dari kalangan rimba persilatan.

Tapi, berbareng dengan itu, ia juga merasa heran, mengapa Khu Leng Lie ketika melihat lukisan tengkorak dan anak panah itu sekujur badannya lantas gemetar? Apakah tanda tengkorak itu ada pertandanya seorang yang sangat lihay sekali?

Untuk menyelidiki persoalan gambar-gambar tengkorak dan anak panah itu, Kim Houw lantas anggukkan kepala kepada wanita genit itu, maksudnya menyambut.

"Nona, mari aku ajak kau melihat sesuatu benda." ia berkata.

Suaranya ramah, agaknya seperti sudah menyerah. Khu Leng Lie dalam hati merasa girang, ia balas dengan senyuman yang manis.

"Tidak, aku jauh lebih tua daripada usiamu. Kau harus menghormati aku, kau harus panggil aku enci!" demikian jawabnya.

Kim Houw tidak nyana bahwa nona itu ada begitu nakal, sudah dapat hati, ingin ambil ampela!

Maka seketika itu ia jadi kemek-mek.

"Aiya! Mengapa kau tidak mau panggil? Encimu toh sangat sayangi kau!" tegur Khu Leng Lie ketawa.

Kim Houw tetap merasa tidak enak membuka mulut memanggil enci. Sebaliknya ia berjalan ke pintu kuil, kemudian mengambil pintu kuil yang telah rubuh, sambil menunjuk pada gambar tengkorak ia berkata: "Kau tengok apa ini?"

Khu Leng Lie senyumannya lenyap seketika, dengan wajah pucat ia berkata: "Kau sebetulnya siapa? Lekas jawab!"

Kim Houw tercengang. "Aku adalah aku, apa yang harus aku jawab?"

Mendengar itu, Khu Leng Lie ketawa dingin. Tadi ketika ia tersenyum manis, wajahnya sangat menggiurkan, tapi kini ketika ketawa dingin, wajahnya itu kelihatan menakutkan.

"Binatang cilik, setan tua tidak ada, siapa yang nyonyamu takuti?" demikian katanya, lalu menerjang Kim Houw dengan sengit.

Kelakuan yang tidak diduga-duga ini, sebaliknya membuat Kim Houw terheran-heran.