Istana Kumala Putih Jilid 12

 
Jilid 12

Dengan kepandaiannya untuk mengejar mereka bukan soal apa-apa, tapi untuk kepentingan Peng Peng, Kim Houw pikir tidak perlu meladeni segala manusia begituan. Maka ia sengaja mengejar dengan tindakan perlahan. Ia kuatir sedikit terlambat, Peng Peng entah sudah dibawa kemana oleh anak baju hijau tadi. Dan untuk mengetahui dimana beradanya Peng Peng, terpaksa ia menguntit mereka berdua.

Dari jarak agak jauh Kim Houw terus mengikuti Teng Goan Piaw dengan istrinya. Setelah melalui dua bukit, di depan matanya terbentang rimba yang sangat liar dan gelap, seolah-olah tidak pernah didatangi oleh manusia.

Rimba lebat Kim Houw sudah lihat banyak. Rimba keramat di gunung Tian-pek-san begitu terkenal di dunia rimba persilatan, bagaimana sekarang ia takuti rimba begituan? Ketika ia lihat dua orang itu masuk ke dalam rimba, ia juga ikut menyusup dari samping.

Karena kuatir dipergoki oleh mereka, Kim Houw mengikuti jejak mereka dengan mereka sangat hati-hati sekali.

Mendadak ia mendengar suara jeritan ngeri. Dalam rimba begitu gelap. Meski Kim Houw mempunyai pandangan tajam, tapi oleh karena terhalang oleh pepohonan, ia tidak bisa melihat jauh.

Belum lenyap suara jeritan tadi, sudah disusul oleh suara ketawa yang amat seram.

Kim Houw adalah seorang yang mempunyai kepandaian tinggi dan bernyali besar, tapi ketika mendengar suara ketawa yang menyeramkan itu, hatinya bergoncang juga.

Terhalang oleh suara-suara tadi, kini Kim Houw telah kehilangan bayangannya suami istri tadi.

Ia coba menyelidiki dengan telinganya, juga sia-sia saja.

Tiba-tiba ia menjadi kaget ketika menginsyafi dirinya mungkin masuk dalam jebakan suami istri

itu.

Belum lenyap kesangsiannya, suara ketawa yang menyeramkan itu terdengar pula. Tapi untuk kepentingannya Peng Peng, sekalipun Kim Houw tahu di depan matanya menghalang banyak rintangan yang sangat berbahaya, ia masih keraskan kepala untuk menerjang masuk.

Dari jauh tiba-tiba ia dapat lihat sinar seperti sinar binatang kunang-kunang. Ia lalu maju menghampiri ternyata itu ada sebuah papan batu besar yang diatasnya ada ditaburi butiran batu permata warna hijau dan perak, sinar tadi adalah batu-batu itu yang memancarkannya.

Ditengah-tengah batu itu ada terdapat tiga huruf Im Hong Ciong, dikedua sisinya ada delapan huruf HUD HOAT BU PIN SIN KANG KAI SEE. Yang maksudnya, "Pengetahuan Buddha tidak terbatas, kepandaian ilmu meliputi jagat.

Kim Houw merasa geli, sungguh suatu kenyataan yang sombong. Hari itu kalau tidak karena hendak menolong jiwa Peng Peng, ia pasti hendak menguji kepandaian orang itu orang yang menjadi majikan "IM HONG CIONG" ini.

Tiba-tiba ia mendengar pula suara ketawa seram itu, Kim Houw mendongkol dan amat gusar.

Ia memandang batu-batu permata yang memancarkan sinar hijau itu, di dalam suasana gelap seperti itu, sinar itu tampaknya semakin menyolok.

Kim Houw lalu berpikir: "Kalau aku bikin rusak batumu ini, pasti kau akan keluar untuk tunjukkan dirimu."

Begitu berpikir, ia lantas bertindak. Dengan satu tangan ia menghajar batu itu tapi heran, ia tidak dengar suara hancurnya batu, sebaliknya suara per yang mengaung.

Kim Houw pentang matanya, batu itu ternyata sudah rubuh ke belakang, tapi tidak kelihatan bayangannya, mungkin di bawahnya batu itu ada dipasangi pesawat rahasia.

Kim Houw tersenyum. Pikirnya, tidak mempunyai kesempatan untuk melayani segala batu begitupun. Siapa nyana, baru saja ia memutar tubuhnya, di belakangnya memancar sinar yang seperti kunang-kunang tadi.

Kemudian disusul oleh suara ketawa dingin, seolah-olah sedang mentertawakan Kim Houw yang tidak mampu melayani sebuah batu saja, dan toh masih berani memasuki rimba.

Kim Houw gusar, lalu ia keluarkan senjatanya yang istimewa Bak-tha Liong-kin untuk membabat batu itu. Senjata itu merupakan senjata ampuh dan luar biasa. Jangan kata cuma sebuah batu, sekalipun besi atau baja, di bawah serangan Kim Houw yang sedang gusar, mungkin juga bisa hancur lebur.

Tapi selagi senjata itu hampir mengenai sasarannya, mendadak batu itu seperti merekah dan batu permata yang menghiasinya berbareng keluar menyambar, seolah-olah bintang yang jatuh berhamburan dari langit, mengurung diri Kim Houw.

Serangan yang secara mendadak itu, apalagi menyambarnya begitu cepat dan jaraknya pun begitu dekat jika mengenakan sasarannya niscaya si korban akan ditembusi banyak lobang.

Kim Houw urung menghancurkan batu, sebaliknya lompat melesat setinggi tiga tombak.

Saking cepat gerakannya, bajunya banyak robek keserempet cabang pohon yang ada di belakangnya.

Baru saja Kim Houw meluncur turun, kembali terdengar suara ketawa dingin menyeramkan, bahkan kali ini disusul oleh suara orang, katanya: "Bangsat cilik dari mana berani-berani mencuri batu permataku? Im-hong-ciong selama beberapa puluh tahun hanya bisa dimasuki tanpa bisa keluar lagi. Kau bersedia menyerah? Atau antarkan jiwa? Di sini tidak ada seorang pun yang bisa keluar dalam keadaan hidup. Kau boleh pikir...!"

"Siau-yaya sudah berani memasuki rimba," kata Kim Houw dingin, "sudah tentu tidak memikirkan untuk keluar. Kalau kau mempunyai nyali boleh unjukkan diri untuk kita bertanding! Dengan menggunakan akal, muslihat seperti ini, apakah kau masih menganggap dirimu seorang yang gagah?"

"Kau! kau benar-benar sombong! Apa lantaran senjata rahasia tidak mampu melukai kau, lantas kau anggap dirimu adalah seorang jago tanpa tandingan? Kini kau benar-benar telah masuk ke dalam neraka! Baiklah, aku nanti antarkan kau menghadap raja akhirat!"

Suara itu dibarengi oleh meniupnya angin dingin yang keluar dari depan batu besar itu, lalu muncul seorang imam tua berbadan kate kecil. Di belakang punggungnya menggemblok sebilah pedang panjang, tangannya membawa kebutan (hud-tin). Pakaiannya cukup rapi, cuma sayang sedikit wajahnya terlalu jelek, panjang tirus, sepasang matanya besar dan bundar, persis seperti monyet.

Kim Houw ketika menyaksikan wajah yang aneh dari si imam tua, dalam hati sudah kepingin ketawa. Baru Kim Houw hendak membuka mulutnya, si imam sudah pelototkan matanya, kebutan di tangannya bergerak cepat menotok padanya.

Kebutan biasanya terbuat dari bulu kuda, lemas dan ulet, orang yang menggunakan senjata semacam itu harus mempunyai kekuatan lwekang yang sudah cukup sempurna, barulah bisa menggunakan menurut kemauan hati. Tapi kebutan imam itu, ketika diputar mengeluarkan suara menderu hebat, bisa diduga tentu bukan terbuat dari bulu kuda biasa.

Kim Houw melihat si imam sudah mengeluarkan senjata, bahkan sudah melakukan serangan tanpa memberi peringatan terlebih dahulu. Ia mengerti kalau si imam itu tentu seorang yang ganas. Maka ia tidak berani menyambut dengan tangan kosong, sebaliknya ia menyapu dengan senjata Bak-tha Liong-kin nya.

Liong-kin dan kebutan, keduanya merupakan senjata lemas dan ulet, begitu bentrok lantas saling melibat sehingga untuk sementara sukar untuk dipisahkan.

Si imam lalu mengeluarkan suara tawa dingin, cepat sekali ia menghunus pedang panjangnya dan menikam Kim Houw.

Menurut semestinya, Kim Houw yang mempunyai kekuatan lwekang luar biasa serta ilmu Han- bun-cao-khie, asal ilmunya itu disalurkan pada senjata Liong-kinnya, si imam pasti tidak akan tahan dan senjatanya akan terlepas dari tangannya.

Tapi imam tua itu sudah mendahului menghunus pedangnya dan menikam, Kim Houw belum sempat mengeluarkan ilmunya, atas tekanan si imam, Kim Houw segera memiringkan sedikit badannya, lalu dengan cepat iapun mengeluarkan pedang pendeknya Ngo-heng-kiam untuk membabat pedang panjang si imam.

Si imam begitu melihat pedang Ngo-heng-kiam, bukan kepalang kagetnya. Ia buru-buru menarik kembali pedangnya, tapi kebutannya yang terlibat kencang oleh senjata Liong-kin tidak ampun lagi lantas terpapas kutung.

Senjata kebutan imam itu terbuat dari bulu binatang monyet berbulu emas dan rambut manusia, bagi pedang biasa jangan harap dapat memapas kutung. Dengan senjata kebutannya itu, si imam entah sudah menjatuhkan berapa banyak jago-jago dalam dunia Kangouw. Tapi hari ini, telah ketemu batunya dan rusak ditangan seorang bocah saja.

Si imam tidak menduga bahwa Kim Houw yang sedang mempertahankan kedudukannya masih bisa memapas senjatanya. Ia cemas karena kehilangan senjata yang paling disayanginya itu.

Tidak heran kalau ia semakin gusar dan gemas terhadap Kim Houw.

"Hari ini, kalau aku tidak bisa mencincang tubuhmu menjadi beberapa potong, betul-betul tidak akan terlampiaskan kegusaran Toyamu!" katanya dengan kertak gigi.

Tangannya kelihatan digetarkan, ujung pedangnya lantas menggetar seolah-olah kembang yang sedang mekar dan mengancam dada Kim Houw.

Kim Houw kelitkan tubuhnya. "Kalau aku menggunakan senjata untuk melukai dirimu, kau pasti masih penasaran, biarlah aku." belum habis perkataan Kim Houw, si imam bersiul nyaring.

Meski orangnya kecil dan kurus kering, tapi suaranya sangat nyaring, sehingga menggema jauh.

"Bangsat cilik, kau berlagak jumawa! Kalau tidak menggunakan senjata pusaka, siang-siang kau sudah enyah dari sini," kata si imam.

Kim Houw tertawa tergelak-gelak, lalu menyimpan kembali pedang Ngo-heng-kiam nya.

"Tua bangka! Dengan Bak-tha Liong-kin ini saja kalau aku tidak mampu bikin kau terjungkal di tanganku, selanjutnya aku tidak mau menduduki kedudukan Tiancu di Istana Kumala Putih lagi," demikian jawab Kim Houw.

Si imam cuma ganda tertawa dan tidak berkata apa-apa lagi. Terus ia membuka serangan dengan ujung pedangnya yang mencecar Kim Houw laksana jatuhnya air hujan.

Ceceran dengan pedang ini, kadang-kadang diselingi dengan serangan telapak tangannya yang tidak mengeluarkan suara, sehingga sukar dijaga.

Kim Houw mengeluarkan ilmu mengentengkan tubuhnya yang luar biasa, ia berkelit diantara sambaran ujung pedang. Ia ingin melihat ilmu pedang golongan apa yang digunakan oleh imam tua itu.

Ketika imam itu menggunakan serangan tangan kosong. Kim Houw mengenalinya sebagai ilmu serangan Bu-hong Pek-lek-ciang. Tidak salah lagi, sepasang suami istri tadi pasti ada hubungannya dengan imam tua ini.

Tanpa banyak rewel lagi Kim Houw lantas keluarkan ilmu Hiang-liong-lie-pian. Hanya dalam tiga-lima jurus saja, serangan pedang si imam tua sudah dibikin kalang kabut tidak karuan.

Si imam tua yang berdiam didalam rimba dan setiap hari melatih kepandaian ilmu silatnya seorang diri, tidak seharusnya hanya dalam tiga jurus saja sudah dibikin kucar-kacir oleh serangan Kim Houw.

Sebabnya adalah waktu Kim Houw melancarkan ilmu pecutnya Hiang-liong-lie-pian, Kim Houw sengaja membiarkan si imam melancarkan serangan Bu-hong Pek-lek-ciang. Si imam ini menganggap ilmu Bu-hong Pek-lek-ciang ini merupakan ilmu silat paling ampuh di dunia, maka ia telah menyerang Kim Houw sebanyak dua kali, tapi ia tidak menyangka kalau Kim Houw sudah siap dan hanya memancingnya saja.

Kim Houw yang telah menguasai ilmu Han-bun-cau-khie yang ampuh tiada taranya, dan sudah dilatihnya dengan matang, maka asal sudah siap begitu ada tekanan dari luar otomatis ilmu itu menunjukkan kedahsyatannya.

Serangan yang pertama, jarak si imam dengan Kim Houw belum cukup dekat, meski menggunakan tenaga sepenuhnya, juga tidak dapat melukai lawan. Iapun tidak tahu, bahwa dalam diri Kim Houw tersembunyi ilmu yang sangat lihai.

Serangan yang kedua, Kim Houw memberi kesempatan, jarak si imam dengan dirinya sudah cukup dekat. Si imam sudah bertekad bulat hendak merubuhkan Kim Houw dengan serangan yang dilancarkannya, namun suatu kekuatan serangan membalik yang luar biasa hebatnya telah membuat sekujur badannya bergetar. Akhirnya ia tidak mampu mempertahankan kedudukannya, ia limbung dan sebelah tangannya dirasakan sakit seperti patah.

Karena lengannya terluka, maka ilmu pedangnya menjadi kalut. Ia mengerti telah terjebak oleh akalnya Kim Houw, tapi menyesalpun sudah terlambat.

Ilmu pecut Kim Houw, suatu ilmu pecut paling dahsyat masa itu. Sekali dilancarkan, terus menerus menekan lawannya, jangan harap terlolos dari tangannya.

Untung Kim Houw bukan seorang yang berhati kejam, ia hanya merasa panas hatinya oleh ucapan tekebur dari si imam tua yang dahsyat itu dan sekedar untuk memberi pelajaran kepada si imam tua itu.

Dari ilmunya Bu-hong Pek-lek-ciang, Kim Houw tahu imam tentu ada hubungannya dengan suami istri yang ia kuntit, maka ia ingin mendengar dari mulutnya si imam tentang diri Peng Peng.

Saat itu si imam sudah mulai keteter, ia hanya bisa terus mundur dan sukar melayani serangan Kim Houw.

Kim Houw juga tidak terlalu mendesak, ia ingin menjauhi pertempuran, maka ia lalu bertanya :" Tua bangka! Kau ingin mati, tapi aku justru tidak menginginkan jiwamu. Aku masuk rimba ini karena ingin mencari seseorang, kalau kau mau menjawab pertanyaanku, aku bersedia minta maaf kepadamu, bagaimana?"

Ucapan Kim Houw yang terakhir ini sudah sangat merendah. Namun ucapan "Tua bangka" diawal ucapannya malah membuat si imam makin mendongkol.

"Bangsat cilik, kalau kau mempunyai kepandaian kau boleh bunuh aku. Aku tidak kuatir nanti tidak ada orang untuk menuntut balas bagiku, apa perlunya kau mengucapkan perkataan yang tidak ada gunanya itu? jangan kata cuma minta maaf, sekalipun kau mau menjadi cucuku, aku juga tidak sudi terima," si imam umbar kekesalannya.

Kemudian si imam mengerang dan menerjang dengan pedangnya dengan kalap.

Perbuatannya itu tidak bedanya dengan orang yang hendak mengadu jiwa. Mungkin hari ia terlalu sakit hati, hingga ia berniat mati bersama dengan musuhnya.

Kim Houw yang menyaksikan perbuatan nekat tersebut, dalam hati tidak setuju. Ia lalu memutar tubuhnya mengelakkan serangan. Karena ia anggap dengan imam tua itu ia tidak mempunyai ganjalan atau permusuhan. Tidak perlu ia menghendaki jiwanya, terlebih-lebih tidak ada gunanya membiarkan dirinya terluka bersama-sama. Tapi, selagi Kim Houw memutar tubuh, dari belakangnya tiba-tiba terdengar suara "ser, ser, ser," kiranya ada sambaran senjata-senjata rahasia yang sangat halus. Dalam kagetnya, Kim Houw lantas melompat melesat ke tengah udara. Di luar dugaannya, seolah-olah mempunyai mata, senjata rahasia itu terus mengejar dirinya. Kim Houw terpaksa meluncur lurus dan ketika kakinya menginjak tanah ia lalu memutar senjatanya Bak-tha Liong-kin untuk melindungi diri.

Diam-diam Kim Houw mengawasi, siapa orang yang melancarkan serangan senjata rahasia tadi.

Di suatu tempat sejarak kira-kira tiga tombak jauhnya, berdirilah Teng Goan Piauw yang wajahnya cakap dan si bocah baju hijau. Bocah itu tengah mengawasi dirinya dengan tertawa nyengir. Di tangannya masih membawa seruling batu kumala, kedua tangannya agaknya sedang repot mengisi senjata rahasia ke dalam serulingnya.

Kim Houw segera mengerti, kedatangan kedua orang itu pasti karena mendengar siulan si imam tua tadi. Tapi ia tidak takut, sebaliknya dengan munculnya si bocah baju hijau itu, tentunya Peng Peng berada tidak jauh dari situ.

Tiba-tiba Teng Coan Piauw bertanya sambil tertawa dingin.

"Saudara memasuki Im-hong-ciong ini apa perlunya? Apa hanya ingin pesiar saja? Melihat kepandaian ilmu silatmu, gurumu pasti salah seorang pandai dari tingkatan Locianpwe. Apakah gurumu tidak pernah memberitahukan tentang Im-hong-ciong ini, yang menembus ke akhirat?"

Kata-kata itu meski diucapkan dengan ketawa dingin, tapi nada suaranya masih lunak, maka Kim Houw juga menjawab dengan suara lunak, katanya: "Kedatanganku kemari, hanya untuk mengejar seseorang. Kalau kalian mau mengizinkan aku menemui orang itu, agar aku bisa bicara sepatah dua patah kata, aku nanti segera berlalu dari sini. Tapi, jangan sekali-kali kalian hendak menipu aku, sebab dia kenal aku dan aku juga kenal dia. Hanya mendengar suaranya saja aku sudah dapat mengenalinya."

"Apa kedatanganmu ini hanya mengejar seorang saja? Siapa orangnya yang kau kejar itu?

Katakanlah!"

"Orang yang ingin aku temui adalah si nona baju merah yang oleh saudara kecil ini digendong dari Ceng-kee-cee!"

"Apa? Kau ingin menemuinya? dia kenal kau? Kau juga mengenalinya? Oh! Kalian."

"Ya! Orang yang ingin aku temui adalah dia. Kita sejak beberapa tahun berselang sudah saling kenal. kali ini aku dengan menempuh perjalanan sangat jauh, perlunya hanya hendak menolong dia," Kim Houw memotong.

Coan Piauw melihat sikap Kim Houw serta kata-katanya yang penuh rasa duka, dalam hati diam-diam merasa heran dan kaget.

"Baiklah, kalau kau ingin ketemui dia, mari ikut aku!" katanya.

Setelah berkata ia lalu menggandeng tangannya si bocah baju hijau dan berlalu.

Kim Houw berpaling pada si imam tua, hendak mengatakan sepatah dua patah permintaan maaf, tapi imam itu ternyata sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Terpaksa ia mengikuti di belakangnya Goan Piauw dan si bocah. Mereka berjalan cepat sekali, sebentar saja sudah tiba di salah satu puncak gunung.

Betapapun cepatnya mereka berjalan, mereka tidak mampu meninggalkan Kim Houw yang menguntil dengan waspada, kuatir mereka berdua kabur.

Selama itu, si bocah acap kali berpaling dan mengawasi Kim Houw dengan sorot mata kejam.

Kim Houw tercekat, dalam hati diam-diam berpikir, apa sebabnya mereka memusuhi aku? Aku hanya ingin menemui Peng Peng, apa salahnya? Ada hubungan apa Peng Peng dengan mereka?

Serentetan pertanyaan ini belum terjawab. Goan Piauw dan si bocah berhenti melangkah, Kim Houw mengawasi, kiranya pada tempat dimana mereka berdiri terdapat sebuah goa.

Di depan mulut goa itu keadaannya sama dengan apa yang Kim Houw pernah saksikan di depan rimba ketika ia tiba, ialah tiga huruf "Im-hong-ciong" dengan di sisinya ada dua baris huruf yang agak kecil.

Belum lagi Kim Houw mengajukan pertanyaan, dari dalam goa tiba-tiba terdengar suara isak tangis, hingga Kim Houw terperanjat.

Kim Houw tidak tahu betapa lihainya tempat yang dinamakan Im-hong-ciong ini, hanya dari mulutnya Goan Piauw ia dengar bahwa goa ini bisa menembus ke akhirat.

Keadaannya menyeramkan, hingga Kim Houw ragu-ragu kelihatannya.

Tiba-tiba ia dengar suara laki-laki yang penuh dengan kebencian: "Bagaimana? Takut? Orang yang hendak kau temui ada didalamnya."

Lantas ia ajak si bocah baju hijau berlalu dari situ.

Kim Houw berpikir, meski ia tahu bahwa tempat ini mudah dimasuki tapi sukar untuk keluarnya, ia sudah tiba di situ, biar bagaimanapun ia harus masuk ke dalam. Ia toh tidak bisa membiarkan Peng Peng berdiam sendiri dalam goa itu. Apalagi keadaan dalam goa itu toh belum tentu begitu menyeramkan seperti apa yang dikatakan oleh laki-laki itu tadi.

Mungkin juga Peng Peng hanya hendak menguji hatinya. Meski Peng Peng belum menjadi istrinya, tapi si nona sudah banyak melepas budi pada dirinya, hal mana tak boleh diabaikan begitu saja.

Berpikir sampai di situ, suara isak tangis dari dalam goa itu terdengar pula, seolah-olah mendesak dirinya supaya lekas masuk ke dalam. Tanpa banyak pikir lagi, Kim Houw lantas lompat masuk.

Goa itu tidak luas, memutar dua kali putaran dan membelok lagi beberapa putaran masih itu-itu juga. Cuma sekarang ia sudah dapat merasakan angin dingin yang menghembus dari dalam goa itu.

Berjalan kira-kira beberapa tombak lagi, di atas dinding goa itu terlihat beberapa buah kamar yang terbuat dari batu, pada setiap kamar terdapat beberapa buah patung malaikat yang berkuasa di akhirat. Patung-patung itu terbuat dari batu tapi tampaknya seperti orang hidup.

Kim Houw bernyali besar, tapi waktu pertama menyaksikan pemandangan di situ rada kaget juga. Setelah mengetahui bahwa patung-patung itu cuma terbuat dari batu ia merasa geli sendiri. Di salah satu tikungan, keadaannya tiba-tiba menjadi terang benderang. Kiranya di situ terdapat ruangan yang luas. Ditengah-tengah ruangan ada sebuah patung Giam Lo ong (raja akhirat). Di depan patung ada sebuah meja yang cukup lebar, diatasnya ada sebuah tempat abu sembahyang. Dan ada api yang sedang menyala, entah apa yang sedang dimasak dalam kuali itu. Justru api yang berkobar inilah yang membuat keadaan dalam ruangan itu menjadi terang benderang.

Kim Houw segera pasang matanya, untuk mencari suara tangisan tadi, karena ruangan itu dianggapnya sudah merupakan titik akhir dari gua tersebut. Seandainya Peng Peng berada didalam ruangan ini, tentu tidak bisa keluar.

Benar saja, Kim Houw tidak kecele. Disamping kuali besar itu yang apinya sedang berkobar- kobar. Ia melihat si nona baju merah sedang berjongkok dan menangis sambil menutupi mukanya dengan kedua tangannya. Melihat keadaan itu, Kim Houw segera melompat maju dan berseru :" Peng Peng! Peng Peng! Oh, kau banyak menderita!"

Nona baju merah itu tiba-tiba dongakkan kepalanya, Kim Houw melihat wajahnya sudah basah dengan air mata. Tapi begitu melihatnya, Kim Houw lantas mengenali bahwa nona baju merah itu bukanlah Peng Peng yang telah ia kejar siang dan malam.

Kim Houw berdiri bengong dengan hati cemas. Apa artinya ini?

Pada saat itu, berturut-turut terdengar suara ledakan hebat, seolah-olah gunung meletus, hingga dalam goa itu terasa bergoncang hebat. Kim Houw yang sedang berdiri, lantas bisa tancap kakinya dengan kuat, sehingga tidak sampai rubuh. Tapi, wanita baju merah yang sedang berjongkok itu, telah terpental dan menggelinding ke dalam api yang sedang menyala.

Melihat keadaan demikian, bukan main kagetnya Kim Houw. Meski si nona bukan Peng Peng, tapi biar bagaimanapun nona itu tidak mempunyai kesalahan apa-apa. Kim Houw yang berhati mulia, tidak dapat berpeluk tangan begitu saja.

Dalam keadaan demikian. Kim Houw sudah tidak perlu memikirkan peraturan yang membatasi hubungan pria dan wanita. Dengan cepat ia lompat, kemudian menyambar pinggang si nona. Baju lengan si nona sudah pada terbakar, Kim Houw dengan cepat memadamkan apinya. Untung belum sampai membakar kulit, namun cukup membuat nona itu pingsan.

Getaran tanah itu akhirnya berhenti sendiri. Kim Houw letakkan si nona ke tanah dan memeriksa pernapasannya, ternyata ia masih bernapas, maka Kim Houw diam saja sendiri dan duduk termenung memikirkan persoalannya, tapi berpikir sampai setengah harian ia masih belum mengerti duduk perkaranya.

Nona baju merah itu perlahan-lahan telah siuman kembali, begitu ia membuka mata ia lantas menangis lagi.

"Nona sudikah kau menjawab pertanyaanku?" tanya Kim Houw.

Si nona mendadak berhenti menangis, sepasang matanya menatap mata Kim Houw dengan tidak berkedip.

"Kau telah mencelakakan diriku sampai begini rupa, masih mau tanya apa lagi? Apa yang harus aku jawab?" jawab nona itu dan kemudian ia menangis lagi.

Mendengar jawaban demikian, Kim Houw tercengang. Bagaimana ia dituduh mencelakakan diri si nona? "Nona harap kau jangan menangis." kata Kim Houw, "Kita harus jelaskan duduk perkaranya. Kau beri tahu dulu kesulitanmu, nanti kita pikirkan untuk mencari jalan keluarnya. Menangis apa gunanya? Kalau kau masih terus menangis, terpaksa aku tinggal kau pergi."

Si nona akhirnya hentikan tangisannya.

"Hm! Kau pikir hendak pergi, kau mimpi!" si nona tertawa dingin.

Kim Houw tidak mengerti. Pikirnya, mengapa tidak bisa pergi? apa kau tahu aku masih banyak urusan yang belum diselesaikan? Siapa yang sudi menungguimu terus di sini?

Meski dalam hatinya berpikir demikian, tapi mulutnya tidak mengucapkan.

"Aku sebetulnya bisa keluar, hanya lantaran kau dengan tanpa sebab telah mengejar aku terus-terusan, untuk selanjutnya aku sudah tidak ada harapan bisa keluar lagi!" jawab si nona sambil mengusap air matanya.

"Nona aku bukannya tanpa sebab mengejar dirimu, hanya aku kesalahan mengejar orang.

Orang yang aku kejar sebetulnya..."

"Oh, kiranya yang kau kejar adalah si "dia" , aku hanya menjadi penggantinya saja."

Kim Houw mengerti yang dimaksudkan si "dia" oleh si nona adalah Peng Peng, maka buru- buru ia bertanya: "Nona! Nona! Si "dia" yang kau sebut tadi sekarang berada dimana? Bolehkah kau memberitahukannya padaku? Ia sungguh harus dikasihani, aku mesti segera menolongnya!"

Melihat Kim Houw mengucapkan kata-katanya itu dengan sungguh-sungguh dan nampaknya begitu gelisah, hati si nona lantas tergerak. Ia monyongkan mulutnya, lalu menjawab :" Tentu saja kau kasihan padanya, karena dia adalah kekasihmu. Hanya aku yang karena kau kejar-kejar, sehingga menimbulkan kesalah-pahaman dari keluargaku dan harus menjalani siksaan seumur hidup, sedikitpun kau tidak menaruh perhatian, kau tanyakanlah kepada orang lain!"

Kim Houw tambah cemas mendengar jawaban si nona.

"Nona bagaimana kau katakan aku telah mencelakaimu? Cobalah ceritakan!"

Si nona nampaknya mulai lega pikirannya, ia dapat bicara dengan suara yang lunak: "Tahukah kau aku she apa? dan bernama siapa?"

Kim Houw gelengkan kepalanya.

Wajah si nona tiba-tiba menjadi merah kemalu-maluan, ia berkata pula dengan suara perlahan: "Aku bernama Teng Ceng Ceng, Teng Goan Piauw adalah ayahku, imam tua itu adalah sute ayah julukannya Leng Liong Cu. Ibuku bernama Kong sun-toanio, dan aku masih mempunyai seorang adik laki-laki yang bernama Teng Peng Jin, kita berlima tinggal didalam Im-hong-ciong ini."

Kim Houw ketika mendengar Im-hong-ciong lalu ingat batu permata warna hijau yang dipakai untuk namanya tempat tersebut, maka ia lantas bertanya: "Nona, siapakah majikan yang sebenarnya dari Im-hong-ciong ini?"

"Majikan yang sebenarnya? Siapa yang berani mengaku-ngaku menjadi majikan dari Im-hong- ciong?" jawab si nona.

Kim Houw mengerti bahwa si nona salah paham, maka ia lantas menjelaskan: "Bukan itu yang aku maksudkan, memang benar siapa orangnya yang berani mengaku-ngaku. Aku hanya merasa, orang-orang yang aku temukan, semuanya masih belum pantas menjadi majikan tempat ini. Entah ucapanku ini salah atau tidak?"

Teng Ceng Ceng tersenyum, agaknya sangat mengagumi kata-kata anak muda itu. Ia lalu cerita, bagaimana sampai ia dijadikan gantinya Peng Peng. "Perkataanmu sedikitpun tidak salah. Majikan dari Im-hong-ciong adalah kakekku Teng Kie Liang. Dulu dalam dunia Kangouw ada empat raja iblis, mereka itu masing-masing bergelar Hong, Ie, Lui dan Tian. Kakekku adalah Hong Mo-ong. Kali ini kakekku sedang keluar mencari sahabatnya yang belum kembali. Kalau kakekku sudah ada, aku tidak akan sampai menerima penderitaan seperti ini."

"Pada suatu hari aku sedang berburu seekor anak kijang, aku telah keluar dari Im-hong-ciong, kebetulan berpapasan dengan seorang wanita cantik setengah tua. Aku melihat dia, dia juga mengawasiku. Kemudian aku baru tahu bahwa wanita itu bernama Ceng Nio-cu."

"Aku tahu bahwa wanita itu orang Ceng-kee-cee, meski merupakan tetangga Im-hong-ciong, dilarang sekali membuat perhubungan, juga tidak pernah mempunyai ganjalan apa-apa."

"Siapa sangka selagi aku tidak ambil perhatian, dia lantas menotok jalan darahku dan kemudian menangkap aku. Aku tidak habis pikir, apa sebabnya Ceng Nio-cu menangkapku?"

"Setelah dia membawaku ke Ceng-kee-cee, aku baru tahu kiranya ada seorang nona yang namanya Peng Peng yang hendak digunakan korban upacara sembahyang kepada dewa-dewa tidak jadi dibawa ke Ceng-kee-cee, tapi dikirim ke Pek-liong-po, karena Siao Pek Sin mengubah rencananya ditengah jalan."

"Untuk keperluan menggantikan kedudukannya si nona, Ceng Nio-cu lantas menangkapku dan merias diriku seperti nona Peng Peng, maksudnya ialah hendak menipu orang-orang yang hendak menolong nona itu."

"Akhirnya orang-orang yang mau menolong tidak datang, malah ayah, ibu, susiok dan adikku telah berhasil merebut kembali diriku dari tangan mereka."

"Tapi, peraturan dalam rumah tanggaku sangat keras, dengan adanya kau mengejar terus terusan, keadaanku lantas sangat menyedihkan, ditambah lagi kau pernah berkata tidak karuan di hadapan mereka, sehingga membuat mereka gusar."

"Ayah dan ibu yang ingin mendapat bukti bahwa aku tidak berdosa, lantas suruh aku masuk ke ruangan ini untuk menyatakan penyesalan. Tidak disangka kau masih mengejar sampai di sini juga. Sekarang, kita berdua sudah tamat."

Kim Houw terkejut :" Mengapa? Mengapa tamat?"

Teng Ceng Ceng melirik Kim Houw sejenak. "Kau benar-benar tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?"

"Apa perlunya aku pura-pura tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu!"

Teng Ceng Ceng menghela napas, "Namanya Im-hong-ciong meski belum cukup untuk menggetarkan dunia, tapi sudah cukup membuat keder atau kuncup nyali orang-orang dunia persilatan. Didalamnya terdapat perlengkapan alat rahasia yang sangat lihai. Barusan suara ledakan dan getaran, juga merupakan alat rahasia yang paling lihai di Im-hong-ciong ini, namanya Kui-to Kui-bun-koan. Dari mulut goa sampai di sini, ada sembilan buah pintu batu besar yang jatuh menutupi jalanan, sekarang kalau mau keluar dari dalam goa sudah sangat sukar sekali, bukankah berarti riwayat kita tamat di goa ini? Sekalipun tidak mati kedinginan, juga akan mampus kelaparan!"

Mendengar itu, Kim Houw wajahnya berubah seketika. Dengan cepat ia putar tubuhnya, baru saja tiba dimulut tikungan, ia telah terhalang oleh sebuah pintu batu yang sangat besar dan licin, bukan seperti batu biasa.

Kim Houw lalu menghajar dengan tangannya, meski ia sudah menggunakan delapan puluh persen tenaganya tapi pintu itu tidak bergerak sedikitpun.

Bukan kepalang kagetnya Kim Houw, ia tidak sangka bahwa tindakannya yang terlalu gegabah, bukan saja sudah mencelakakan dirinya sendiri, tapi juga akan mencelakakan orang lain. Kalau benar-benar ia tidak bisa keluar dari dalam goa ini, hal itu akan menjadikan suatu penyesalan seumur hidupnya.

Kim Houw mendadak keluarkan senjata Bak-tha Liong-kin dan Ngo-heng-kiam, ia gunakan berbareng untuk menggempur pintu yang kokoh kekar itu.

Di bawah gempuran senjata pusaka itu, nampak bubuk batu pada berhamburan. tapi setelah Kim houw memeriksa dengan teliti, bekas yang digempur Bak-tha Liong-kin hanya berlobang sebesar kepalan tangan, sedang bekas pedang Ngo-heng-kiam meski amblas ke dalam, tapi batu sukar dibikin bergerak.

Untuk kepentingan supaya bisa lekas keluar dari gua itu, kini setelah mendapatkan sedikit harapan, Kim Houw tidak pikirkan lagi apa artinya susah. Ia menggunakan pedang lebih dahulu dengan tenaga sepenuhnya, ia membuat lingkaran kecil di atas batu lalu digempur dengan menggunakan Bak-tha Liong-kin.

Sedikit demi sedikit batu itu telah digempur hancur. tapi, ada berapa tebalnya pintu batu itu, ia sendiri juga tidak tahu. Pedang Ngo-heng-kiam yang tidak cukup satu kaki panjangnya, ia harus menggunakan waktu berapa lama baru bisa menembusi pintu itu, masih merupakan suatu pertanyaan besar.

Tiba-tiba ia dengar suara Teng Ceng Ceng yang berkata padanya: "Kau akan buang-buang tenaga secara percuma saja! Pintu batu itu tebalnya satu tombak lebih, meski kau mempunyai pedang dan senjata pusaka, dalam waktu satu hari juga tidak mampu menembusi pintu itu"

Kim Houw tidak mau ambil pusing, ia terus menggempur dengan senjatanya.

"Apa kita harus menantikan kematian kita di sini sambil berpeluk tangan?" demikian jawabannya.

Kim Houw mendadak ingat, pintu besi itu sukar ditembus. Tapi batu cadas dipinggirannya, tentu tidak begitu keras seperti pintu itu.

Ia lalu menghentikan gerakannya, senjatanya dialihkan tujuannya, kini ia menggempur pinggirnya.

Di luar dugaan Kim Houw, batu cadas itu ternyata empuk sekali? melihat keadaan demikian, semangat Kim Houw bertambah besar, maka ia lantas berpaling dan berkata kepada nona Teng. "Kali ini kau boleh lega, dalam satu hari saja, aku nanti akan tembusi pintu batu semuanya, im- hong-ciong ternyata cuma begitu saja." Tepi Ceng Ceng sedikitpun tidak menunjukkan sikap girang, sebaliknya malah mengeluarkan tawa dingin.

"Kau terlalu pandang enteng Im-hong-ciong. aku sudah berkeputusan mati dalam goa ini, cepat atau lambat sama saja. untuk sementara aku tidak perlu beritahukan padamu, biar kau tahu sendiri saja," berkata Teng Ceng Ceng dan segera berjalan menuju ke ruangan.

Kim Houw tidak mau perduli, sebelum mendapat tahu keadaan sebenarnya, biar bagaimanapun ia tidak mau melepaskan keinginannya untuk keluar dari situ. Maka, ia terus melancarkan rencananya.

Sebentar saja, ia sudah menggempur sampai tujuh-delapan kaki dalamnya.

Sedang ia menyingkirkan hancuran batu, tiba-tiba dibagian bawah dirasakannya agak basah, lalu diikuti oleh mengalirnya air yang keluar dari sela-sela lubang.

Kim Houw terkejut, pikirnya: jika dalam goa ini terdapat simpanan air, maka bagian yang berlubang itu pasti akan menimbulkan bencana yang hebat.

Belum lenyap pikirannya itu, dinding di sebelahnya telah terbelah, dari dalam menyemburlah air laksana bendungan bobol. Kim Houw yang tidak sempat menyingkir langsung terseret sampai jauh.

Air itu dengan cepat mengalir ke seluruh ruangan, Kim Houw yang menyaksikan keadaan demikian cuma bisa memandang dengan mulut ternganga.

Sekejap saja, air itu sudah memenuhi seluruh ruangan dan sedikit demi sedikit mulai naik tinggi.

Teng Ceng Ceng menghampiri Kim Houw. "Bagaimana?" kata si nona dingin.

"Apa kau kira Im-hong-ciong begitu gampang untuk kau gempur? Cuma saja, lekas mati rasanya lebih baik daripada tersiksa karena kelaparan atau direndam air!"

Kim Houw telah dibikin kaget oleh sikap si nona yang memandang kematian begitu sepi. Tapi ia sendiri masih belum kepingin mati, apalagi mati secara konyol. Ia harus berusaha keluar dari goa neraka ini.

Tapi air masuk makin deras, sebentar saja sudah naik sampai sebatas lutut.

Air dan api, sama-sama merupakan bencana alam yang menakutkan dan tidak kenal kasihan.

Kim Houw yang terkurung air didalam goa Im-hong-ciong, meski ia seorang yang bernyali besar dan berkepandaian tinggi, tidak urung juga merasa putus asa, apalagi ketika melihat air itu makin meluap tidak kenal batas. Air itu mula-mula cuma merendam kakinya, kemudian sampai batas lutut, lalu naik ke pinggang dan terus mencapai dada....

Tiba-tiba Teng Ceng Ceng menjerit dan melompat dari dalam air sedang kedua tangannya memeluk Kim Houw.

"Hai,.........aku takut, aku takut." ia berkata dengan gugup.

"Kejadian sudah begini rupa, apa yang mesti ditakuti? Apakah kau pandai berenang?" "Apa kau kira aku takut mati? Cuma dinginnya air ini yang aku tidak tahan. Tentang berenang?

Akukan wanita, bagaimana mengerti permainan itu," jawabnya menggigil.

Kim Houw melihat wajah si nona yang pucat pasi dan menggigil semakin keras, ia mengerti bahwa ucapan Teng Ceng Ceng barusan memang ada benarnya. maka ia lantas mendekap kencang si nona, tangannya diam-diam menyalurkan lwekang kedalam tubuh Ceng Ceng.

"Nona tidak mengerti berenang tidak apa-apa, sudah cukup asalkan menutup pernapasan, supaya air tidak masuk ke perutmu. Kejadian sudah begini rupa, kita terpaksa serahkan nasib kita ditangan Tuhan Yang Maha Kuasa," Kim Houw menghibur.

Ceng Ceng menjatuhkan dirinya ke dada Kim Houw yang kekar dan bidang, ia cuma bisa mengangguk.

Pada saat itu, air sudah naik sebatas leher, Kim Houw dengan menggendong si nona meloncat ke atas meja sembahyang. Teng Ceng Ceng melepaskan dirinya dari pelukan Kim Houw, kemudian berseru: "Apa? aku benar-benar bodoh, mengapa aku tidak memikirkan ada meja batu, tempat abu sembahyang, patung besar.,sekalipun air naik tinggi lagi juga tidak bisa membuat

aku mati. Juga tidak sampai kedinginan begini rupa!"

Meski suara Ceng Ceng cukup nyaring, tapi sepatahpun tidak masuk ke dalam telinga Kim Houw. Hatinya sedang risau, ia tidak seperti Ceng Ceng yang masih kekanak-kanakan, sebentar mengatakan tidak takut mati tapi tak lama kemudian menunjukkan ketakutannya.

Kematian memang kadang-kadang boleh dianggap ringan seperti ringannya bulu, tetapi kadang-kadang harus dipandang berat laksana gunung. Apakah Kim Houw benar-benar seorang yang takut mati? Ia hanya tidak sudi mati konyol seperti sekarang ini.

Semut saja masih sayang jiwanya, apalagi manusia?

Kim Houw kini memeras otaknya yang cerdas untuk mencari jalan keluar dari dalam bahaya yang tengah mengancam jiwanya.

Pikirnya air adalah benda cair yang gampang menyusup kemana-mana, asal ada sedikit lubang saja tentu bisa mengalir keluar.

Tapi, air itu justru seperti air bah yang mengalir dari sungai yang bobol bendungannya, terus mengalir tanpa henti.

Dalam goa itu sebetulnya ada sinar terang lampu lilin, tapi sejak air masuk ke dalam ruangan itu, semua api padam hingga keadaan dalam goa menjadi gelap gulita. Kim Houw mempunyai kepandaian untuk tetap dapat melihat dalam keadaan gelap sehingga ia tidak merasa takut.

Namun tidak demikian halnya dengan Ceng Ceng. Meski ia sudah lepaskan diri dari pelukan Kim Houw, tapi ia masih memerlukan bantuan anak muda itu barulah bisa lompat naik.

Dari atas meja batu mereka pindah ke atas tempat abu sembahyang, lalu loncat lagi ke pundak patung dan ke atas kepalanya. Tapi air terus naik tidak putus-putusnya, mereka sudah tidak mempunyai jalan mundur lagi.

Ceng Ceng mulai ketakutan, Kim Houw mulai tidak tenang. Dalam ruangan goa yang begitu luas sudah tergenangi air seluruhnya. Tiba-tiba Kim Houw ingat soal gua ini, jika tidak ada lubang udara, bagaimana air bisa mengalir begitu deras? Dan kini setelah air menggenangi hampir sampai bagian atas, Kim Houw menduga pasti terdapat lubang udara dibagian atas, tapi nampaknya air masih bergerak terus.

Dengan matanya yang tajam ia mulai memeriksa keadaan sebelah atas, Pertama-tama ia memperhatikan apakah di situ terdapat sesuatu yang janggal?

Bagian atas sudah diperiksa semuanya, tapi tidak ditemukannya bagian yang mencurigakan.

Sesaat sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, di atas dinding yang terdiri dari batu cadas yang tidak rata, tiba-tiba ia melihat gambar seperti peta, sayang gambar itu tidak utuh keadaannya, sebagian besar bahkan sudah terendam air.

Saat itu air sudah memenuhi seluruh goa.

Patung besar juga sudah terendam. Kim Houw dan Ceng Ceng yang berdiri di atas patung itu, kakinya juga sudah ikut terendam.

Kim Houw yang berdiri di kepala patung, terpisah dengan atap goa cuma kira-kira delapan kaki tingginya. Terdesak oleh keinginan untuk tetap hidup, Kim Houw tiba-tiba melesat ke atas, ujung jarinya ditancapkan ke atas batu pada atap gua itu.

Pikirnya, mungkin jika ia tidak terpisah cukup jauh dari atap gua maka akan bisa menemukan lubang udara, sebab kalau berada dekat dirinya tentu sudah diketahuinya sejak tadi. Maka ia lantas mengambil tindakan tiba-tiba itu. Tidak disangka, baru saja tangannya menancap dalam dinding gua, tiba-tiba terdengar jeritan Ceng Ceng : "Hei! Hei! Kau jangan tinggalkan aku sendirian."

Kasihan Ceng Ceng, hingga saat ini, ia masih belum tahu nama Kim Houw, maka ia cuma bisa berteriak "Hei! Hei! saja untuk memanggil Kim Houw. Tidak nyana belum habis ucapannya, tiba- tiba terdengar suara orang yang kecemplung dalam air. Ia tidak perlu lihat dan memang ia juga tidak bisa melihat, sebab keadaannya gelap gulita. Ia hanya dapat mengira bahwa yang jatuh kecemplung itu pastilah Kim Houw. Maka ia lantas berseru memanggil :" Hei! Hei! Kau kenapa?"

Tapi di luar dugaan, Kim Houw tahu-tahu sudah berada disampingnya lagi, badannya basah kuyup, tapi ia tidak dapat melihat dengan nyata.

Ceng Ceng agaknya kelewat kaget sehingga dengan tanpa malu-malu lagi ia lantas ulur tangannya merangkul Kim Houw, mulutnya masih mengoceh sendirian: "Benar-benar mengagetkan aku!"

Mendadak ia dengar suara Kim Houw: "Lepaskan tanganmu! Jangan ribut-ribut, kau lihat kita sekarang tertolong!"

Ceng Ceng yang mendengar kata-kata Kim Houw agak ketus, merasa tidak puas, percuma saja perhatiannya atas anak muda tadi. Pikirnya, meski sampai pada saat itu antara mereka masih belum ada perasaan suka, namun dalam keadaan bahaya sudah selayaknya kalau saling memperhatikan nasib kawannya. Mengapa Kim Houw bersikap begitu ketus?

Tapi ketika mendengar kata-kata Kim Houw terakhir, bahwa mereka akan tertolong, dalam hatinya kegirangan. Segera ia lepaskan pegangannya.

Kiranya pada atap gua itu ada sebuah lubang, itu adalah bekas jatuhnya sepotong batu cadas. Tadi, ketika jari tangan Kim Houw menusuk batu cadas itu, maksudnya ialah untuk mendapat pegangan supaya badannya tidak jatuh, hingga bisa memeriksa keadaan pada atap gua tersebut. Suara jeritan Ceng Ceng telah mengejutkan badannya.

Dari atas ia menoleh ke bawah dengan tiba-tiba tapi Kim Houw lantas mengerti duduk perkara, meluncur turun bersama potongan batu. Setelah kecebur dalam air, Kim Houw segera loncat naik lagi dan kembali ke sampingnya Ceng Ceng.

Dalam kejadian sepintas lalu itu, ia dapat kenyataan bahwa pada tempat bekas pegangannya tadi ternyata ada satu lubang, bahkan ada sedikit sinar terang muncul dari situ.

Kim Houw yang sudah pernah melihat banyak macamnya barang pusaka, mendengar perkataan Teng Ceng Ceng yang menyebutkan adanya goa rahasia, segera membayangkan adanya benda-benda pusaka yang tersimpan didalam goa rahasia itu. Tapi benda-benda pusaka baginya tidak menarik, yang penting baginya ialah lekas-lekas dapat keluar dari dalam goa neraka itu.

Mendadak ia dengar suara gemuruh, kemudian disusul oleh suara seperti guntur yang berbunyi tidak henti-hentinya.

Pada saat itu juga, air yang menggenang dalam goa itu tiba-tiba lantas surut dengan cepat. Teng Ceng Ceng meski tidak dapat melihat, tapi bisa merasakan. Dalam kegirangannya ia lantas menarik tangan Kim Houw sambil berseru : "Aaa, air sudah surut ! air sudah surut !"

"Memang betul air sudah surut ! Ini benar-benar aneh, mengapa tanpa sebab air bisa surut sendiri? Bahkan begitu cepat surutnya !" jawab Kim Houw sambil ketawa getir.

Sebentar saja, air sudah turun sampai di bawah patung, kemudian dibawah meja!

Mendadak mata Kim Houw yang tajam telah lihat sebuah batu dalam tempat abu sembahyang, pada mana terdapat tanda lima jari tangan dengan nyata. Kim Houw terkejut, tiba-tiba terbuka pikirannya: Mungkinkah dalam tempat abu sembahyang ini ada tersimpan pesawat rahasia ?

Air sudah surut dan bagaimana surutnya bisa begitu cepat? Kiranya di empat penjuru goa telah muncul empat pintu, air itu keluar dengan cepat melalui pintu itu.

Karena air sudah surut, Kim Houw tidak usah memikirkan untuk keluar menoblos ke atas.

Apalagi tempat simpanan barang pusaka lain orang, lebih-lebih tidak dimasuki. Meskipun tempat ia sendiri yang menemukan, tapi barang disitu bukan haknya, ia sama sekali tidak memikirkan.

Ketika ia sembari menggandeng tangan Teng Ceng Ceng lompat turun dari atas patung, pada pintu sebelah timur tiba-tiba ada sinar terang, dari situ muncul seorang tua muka merah yang masuk ke dalam goa dengan ngerobok air.

Melihat orang tua itu, Teng Ceng Ceng segera tinggalkan Kim Houw lari menghampiri sambil berseru : "Yaya! Yaya!" ia mau menubruk orang tua itu.

Tapi belum sampai Teng Ceng Ceng menubruknya, orang tua itu sudah menggeram dengan suaranya yang seperti mengguntur. Teng Ceng Ceng terperanjat, lalu hentikan kakinya dan lantas berlutut dihadapannya.

"Yaya! Ini bukan salahku, aku tidak pernah melakukan suatu perbuatan yang membikin noda nama baik keluarga Teng!" demikian ia meratap. Orang tua muka merah yang dipanggil "Yaya." oleh Teng Ceng Ceng, bukan lain adalah Hui- thian Go-kang Teng Kie Liang, majikan dari Im-hong-ciong.

"Siapa yang berani memecahkan pesawatku dalam Im-hong-ciong ?" bentak orang tua "Boanpwe Kim Houw, lantaran hendak menolong jiwa orang, dalam tergesa-gesa telah

kesalahan masuk kedalam Im-hong-ciong. Dan kemudian dengan tidak sengaja telah kesalahan menyentuh pesawat dalam goa. Semua itu telah terjadi secara kebetulan, kalau tidak, pesawat rahasia dalam goa yang begitu hebat, jangankan cuma satu Kim Houw, sekalipun ada sepuluh Kim Houw, juga tidak bisa berbuat apa-apa. Maka boanpwe mohon Locianpwe supaya suka memberi maaf sebanyak-banyaknya."

Kim Houw mengucapkan kata-katanya dengan sikap yang sangat hormat dan merendah sekali, terutama ketika mengatakan hebatnya pesawat rahasia dalam goa. Maka hawa amarah orang tua mendadak seketika itu telah lumer, tapi suaranya masih galak.

"Kabarnya Kim-siauhiap mempunyai banyak kepandaian ilmu silat yang luar biasa." katanya. "Tinggi sekali kekuatan tenaga lwekangnya dan tidak memandang mata kepada semua orang dari Im-hong-ciong, serta kemudian merusak papan batu Im-hong-ciong, apakah semua ini ada benar

?"

Menampak orang tua itu gusarnya belum lenyap betul, Kim Houw lantas menjawab dengan sikapnya yang rendah: "Soal inipun bukan disengaja, itu hanya kesalahan paham. Kalau locianpwe mau percaya, harap locianpwe beri petunjuk kepada boanpwe jalan keluar dari goa ini, karena boanpwe masih ada urusan penting yang hendak dilakukan. Menolong orang seumpama menolong kebakaran."

Hui-thian Go-kang tiba-tiba buka lebar matanya. "Menolong orang? Apakah kau ada satu jalan dengan rombongan si pengemis tua Tok-kai? Mereka sekarang mungkin sudah binasa semua!

Masih ada satu hwesio berbadan tinggi tegap, si Sepatu Dewa Cu Su dan Kim Coa Nio-nio si nenek tua.barangkali juga tidak terlolos dari bencana kematian."

Kim Houw tiba-tiba membentak dengan keras: "Apa kau kata?" Teng Kie Liang tertawa terbahak-bahak.

"Aku Teng Kie Liang sungguh tidak nyana kalau demikian mudah telah dapat menuntut balas permusuhan yang sudah berlangsung beberapa puluh tahun lamanya!"

Kim Houw yang mendengar jawaban orang tidak ada hubungannya dengan pertanyaannya, lalu gerakkan badannya, memutar melalui dirinya si orang tua, maksudnya hendak keluar melalui belakang Hui-thian Go-kang. Sebab orang tua itu masuk dari pintu tersebut, sudah tentu ada jalan untuk keluar, pikirnya.

Hui-thian Go-kang tiba-tiba tarik mundur dirinya persis seperti menutupi pintu jalan. "Kemana?" bentaknya.

Kemana ? Sungguh suatu pertanyaan yang amat aneh. Kemana lagi kalau bukannya keluar. "Sampai disini saja dulu, boanpwe hendak minta diri !" jawab Kim Houw.

"Enak benar kau bicara. Kau sudah berani memasuki Im-hong-ciong, kalau tidak unjukkan sedikit kepandaianmu, apa kau kira bisa keluar dengan gampang ? Lagi pula Teng Ceng Ceng ini sudah cukup kau bikin susah, apa kau hendak tinggalkan begitu saja?" kata Hui-thian Go-kang dengan suara dingin.

Mula-mula Kim Houw masih tenang saja, tapi perkataan Teng Kie Liang yang terakhir membuat ia terperanjat. Wajahnya merah padam, hatinya berdebaran. Mereka telah timpahkan semua kesalahan di atas pundaknya.

Kenyataannya, memang Kim Houw tidak bisa angkat pundak begitu saja. Teng Ceng Ceng yang terbawa-bawa olehnya, kalau ia tidak salah faham, anggap nona itu ada Peng Peng, sehingga dikejar terus-terusan. Tidak nanti sampai Teng Ceng Ceng dipersalahkan oleh ayah, ibu dan yayanya.

Teng Ceng Ceng saat itu masih berlutut dalam ketakutan, sepatahpun tidak berani keluar perkataannya, tapi ketika mendengar ucapan yayanya itu, ia lantas menangis dengan amat sedihnya.

Kim Houw mendengar suara tangisan diam-diam mengeluh. Segala apa ia tidak takut, hanya suara tangisan wanita yang membuat ia lemas.

Tapi otaknya tiba-tiba teringat pada Kim Lo Han dan kawan-kawannya. Menurut keterangannya Hui-thian Go-kang mereka sudah meninggal semuanya. Tapi Kim Houw tidak mau percaya bahwa keterangan itu benar, mungkin mereka percaya bahwa keterangan itu mereka dalam kesulitan atau bahaya, seharusnya segera ditolong.

Kenapa oleh karena tangisan seorang wanita saja ia melupakan kawan-kawannya dalam bahaya begitu saja, maka tangisan Ceng-ceng ia lantas anggap sepi.....

Hui-thian Go kang berkata lagi padanya sambil ketawa dingin: "Sekarang aku hendak uji kepandaian ilmu silatmu dulu, hal yang lain nanti kita bicarakan lagi. Aku hendak lihat kau sebetulnya mempunyai kepandaian sampai dimana sehingga berani menggempur batu Im-hong- ciongku?"

Tanpa beri peringatan lagi, ia lantas ulur tangan menyambar diri Kim Houw.

Sampai di situ, Kim Houw anggap sudah tidak perlu sungkan - sungkan lagi. Apa gunanya banyak bicara? Kalau tidak unjukkan sedikit kepandaiannya, barang kali benar-benar ia tidak bisa keluar dari goa itu. Ketika disambar oleh Hui-thian Go-kang dengan tiba-tiba dengan gesit ia mengegos menghindarkan cekalan tangan si orang tua.

"Cianpwe benar-benar hendak menguji boanpwe, terpaksa boanpwe meringis, tapi boanpwe tidak berani berlaku lancang, biarlah boanpwe mengalah tiga jurus." kata Kim Houw.

Belum menutup mulut, Hui-thian Go-kang kembali sudah menyerang dengan hebatnya.

Melihat sambarannya tadi mengenakan tempat kosong, ia sudah tidak mau mengerti, apalagi kini dengar Kim Houw memberikan kelonggaran tiga jurus kepadanya, hatinya semakin panas! Diam- diam hatinya mengutuk bocah busuk, kau berani tidak pandang mata padaku? 

Dalam tiga jurus, kalau aku tidak mampu paksa kau turun tangan, kedudukan majikan Im- hong-ciong ini terpaksa aku serahkan padamu!

Masih untung, Hui-thian Go-kang tidak berani sombongkan dirinya, hanya di dalam hatinya saja ia berkata. Kalau pikirannya itu ia keluarkan dari mulutnya, entah kemana ia hendak taruh mukanya? Sebab, Kim Houw bukan saja sudah memberi kelonggaran padanya sampai tiga jurus, malah terhadap semua serangannya si kakek selama dalam tiga jurus itu, ia belum pernah menghindarkan diri sampai lebih dari satu tombak. Jangan kata Hui-thian Go-kang mampu paksa padanya turun tangan, sedangkan segala gerakan dan caranya menghindarkan diri dari si anak muda itu, ia masih belum dapat tahu ilmu sialt Kim Houw sebetulnya dari golongan mana.

Seliwatnya tiga jurus, Kim Houw lantas membuka mulut: "Kini boanpwe terpaksa hendak berlaku kurang ajar!"

Hui-thian Go-kang diam-diam mengeluh, tapi mulutnya masih menyahut: "Hanya mengandalkan ilmu mengentengi tubuh saja belum dapat dianggap kepandaian yang sejati, sekarang coba kau sambuti serangan tanganku!"

Dengan demikian, Hui-thian Go-kang telah berhasil mendahului Kim Houw melakukan serangannya. Dari ilmunya mengentengi tubuh, Teng Kie Liang tahu bahwa Kim Houw benar- benar mempunyai kepandaian, maka ia tidak berani memandang ringan lagi!

Kini Kim Houw tidak perlu malu-malu lagi, ia lantas ulur tangannya menyambuti serangan Hui- thian Go-kang, hanya ia tidak menggunakan kekuatan tangannya, kemudian ia akan melayani menurut kekuatan yang digunakan oleh Hui-thian Go-kang, sebab pikirnya dengan orang tua itu ia tidak mempunyai permusuhan apa-apa.

Siapa tahu selagi tangan kedua pihak hendak saling menempel, Hui-thian Go-kang tiba-tiba ulur tangan kirinya menotok jalan darah Kie-bun-hiat di ketiak kanan Kim Houw.

Kie-bun-hiat merupakan salah satu jalan darah terpenting dalam anggota badan manusia, kalau kena tertotok, tubuh lantas lemas seketika dan tidak ampun lagi lantas rubuh. Melihat perbuatan orang tua itu, Kim Houw diam-diam mengutuk perbuatan yang sangat licik itu.

Kim Houw mempunyai ilmu Han-bun-cao-khie yang tidak ada taranya, bagaimana ia takut segala ilmu totokan demikian? Si orang tua itu ternyata berani berbuat demikian tidak tahu malu, maka ia juga tidak perlu merendahkan diri lagi. Dengan cepat ia tambah kekuatan di tangannya, seolah-olah tidak mau ambil pusing, totokannya Teng Kie Liang.

Tiba-tiba Teng Kie Liang merasakan daging bagian yang ditotok olehnya seperti melesak ke dalam kemudian membal dengan mendadak, hingga kekuatan dari jari tangannya meleset keluar. Ia belum pernah menemukan kejadian yang demikian itu, tidak heran kalau ia amat kaget.

Sampai di sini Hui-thian Go-kang geleng kepala dan akui anak muda itu tulen mempunyai kepandaian yang tidak ada taranya, sampai ia bisa menutup seluruh jalan darah di anggota badannya menurut kehendak hatinya, mana bisa ia menjatuhkannya?

Maka ia lantas ketawa bergelak-gelak dan berkata: "Sudah! Benar-benar memang hebat, kita tidak perlu bertanding lagi. Sekarang tiba gilirannya untuk membicarakan soalnya kamu berdua! Teng Ceng-ceng si budak ini, oleh karena gara-gara kau telah mengalami banyak penderitaan, sekarang aku hendak jodohkan padamu!"

Kim Houw masih belum dengar jelas Ceng Ceng sudah berseru, kemudian lompat menubruk kakeknya.

"Yaya! Yaya! Ceng ji tidak Ceng ji tidak!"

Hanya itu saja yang ia mampu ucapkan kepalanya lalu direbahkan di dadanya Hui-thian Go- kang.

Hui-thian Go-kang ketawa sambil mengelus-elus rambut cucunya.