Istana Kumala Putih Jilid 11

 
Jilid 11

Lama juga burung dan ular itu dalam keadaan demikian. Ular yang berada ditanah agaknya tenang tidak takut apa-apa. Sebaliknya bagi burung hitam itu nampaknya makin lama makin gelisah. Ia bersembunyi terus, suaranya makin nyaring makin menyeramkan.

Ular-ular yang masih hidup, pada ketakutan terhadap suara burung itu, mereka pada diam di tanah dan kemudian pada terlentang menghadap ke atas.

Mendadak burung hitam yang sedang melayang layang menukik ke bawah dengan kecepatan luar biasa menerkam ular emas yang dari tadi menunggu serangan musuh.

Ular emas itu ada merupakan rajanya ular, ia bukan saja tidak menyingkir, bahkan menyambuti serangan sang musuh.

Burung hitam itupun merupakan burung ajaib, ia berhasil mematuk sang ular, tapi karena badan ular itu lemas licin, sekalipun golok dan pedang pusaka masih belum tentu mempan atas dirinya, betapapun kerasnya patuk burung itu jangan harap bisa melukainya.

Sebaliknya ular emas juga berhasil menggigit beberapa lembar bulu lawannya. Untung hanya kena bulunya saja, jika badannya yang kena tergigit, sekalipun merupakan burung ajaib, mungkin ia tidak akan mampu mempertahankan jiwanya. Pertempuran aneh itu dalam segebrakan telah berlalu. Sang burung terbang tinggi lagi ke angkasa dan ular emas kembali berjaga jaga di tanah. Mendadak ada suara seruling berbunyi, suara seruling itu demikian merdu, sehingga menggetarkan perasaan.

Burung hitam ketika mendengar suara seruling lalu terbang menghilang, sedang ular emas juga lantas berlalu.

Pertempuran antara dua jenis binatang yang aneh dan mendebarkan hati itu, telah membuat Tok Kai berdiri melongo. Setelah pertempuran itu selesai. Tok Kai baru ingat, kiranya kedua binatang itu masing-masing ada majikannya.

Di luar gua tiba-tiba terdengar suara bentakan: "Siapa yang melepaskan ular melukai burungku

?"

Suara itu girang dan halus, seperti suara anak-anak. Ketika Tok Kai melongok keluar, asap beracun ternyata sudah buyar, di luar gua ada berdiri seorang anak laki-laki tanggung berusia kira- kira tiga belas tahun. Anak itu berpakaian serba hijau, di tangannya memegang seruling batu kumala.

Wajahnya putih bersih seperti batu giok, bibirnya merah, giginya putih, parasnya sungguh cakap.

Pertanyaan anak lelaki tadi belum mendapat jawaban, dari belakang sebuah batu besar muncul Kim Koa Nio-nio yang rambutnya sudah putih seluruhnya.

Melihat sikap anak laki-laki baju hijau itu yang sangat tidak sopan, Kim Coa Nio-nio sangat mendongkol. Tapi setelah menyaksikan sendiri wajah si bocah yang cakap, hatinya lunak.

"Adik kecil, ular itu sangat berbisa, kau harus hati-hati!" demikian katanya Kim Coa Nio-nio sambil tersenyum.

Meski wajahnya cakap, tapi adatnya anak itu sangat jelek. Diberi nasehat secara baik, jawabannya sangat kasar.

"Apa berbisa tidak berbisa, siapa yang menanyaimu tentang ini ? aku cuma tanya siapa yang melepaskan ular melukai burungku ? aku hendak bikin perhitungan padanya !"

Kim Coa Nio-nio dijawab secara kasar demikian, lunaknya berubah lagu menjadi amat gusar. "Ular aku yang melepaskannya, burungmu... "

Belum habis ucapan Kim Coa Nio-nio, anak itu sudah memotong dengan suaranya yang garing nyaring : "Kau yang lepas ? Lekas ganti kerugianku"

Kim Coa Nio-nio merasa geli. dasar anak-anak, pikirnya.

"Cuma kerusakan sedikit bulunya saja, dengan apa aku musti ganti kau ?"

"Dengan apa musti ganti ? Dengan jiwamu! Nenek pengemis, serahkan jiwamu !" kata anak itu dengan suara galak.

Tanpa memberi peringatan pula, dengan kecepatan bagaikan kilat ia gunakan serulingnya menotok dada Kim Coa Nio-nio. Kim Coa Nio-nio mendengar ucapan si bocah yang terlalu kurang ajar, dalam hati memang sudah gusar. Cuma karena mengingat dirinya adalah seorang tua dan namanya terkenal di dunia Kangouw, bagaimana harus meladeni segala anak-anak. Kini ia diserang, lantas berkelit dan membentak : "Bocah kurang ajar siap suhumu ?"

Tidak berhasil dengan terjangannya, sekali lagi si bocah menyerang. Ia tidak mengerti keharusan antara tua dan muda, mendengar Kim Coa Nio-nio menanyakan gurunya. Lantas menjawab sambil tertawa dingin: "Kau seorang nenek seperti pengemis, mau tahu guruku ? Kalau kau mampu menyambuti seruling batu giokku, sudah tentu guruku bisa mencari kau untuk membuat perhitungan"

Disebut nenek pengemis, Kim Coa Nio-nio sangat mendongkol. Maka ketika melihat si bocah menerjang tanpa malu-malu lagi ia lantas ayun tangan kirinya menyampok seruling sedang tangan kanannya berbareng menotok dada si bocah.

Kim Coa Nio-nio sudah puluhan tahun terkenal di rimba persilatan, mana mau melayani seorang bocah yang masih bau pupuk bawang. Bocah yang baru berusia belasan tahun betapapun tinggi ilmu silatnya, bagaimana mau menandingi si nyonya tua ?

Dalam segebrakan saja anak itu sudah terdesak mundur. Tapi, ia masih penasaran, sembari memekik, kembali menerjang dengan serulingnya.

Kim Coa Nio-jio jadi sengit, dengan tongkatnya ia menahan serangan seruling, dengan tangan kosong ia menghantam pundak kanan si bocah. Ia cuma bermaksud hendak memberi peringatan dan sedikit rasa kepada bocah yang bandel itu.

Ia hanya menggunakan lima puluh persen, apa mau ketika tangannya menyentuh si bocah, melihat wajah yang cukup menarik, hatinya si nenek merasa kasihan.

Mengingat ini, ia kurangi tenaga pukulannya menjadi dua puluh persen, cukup membuat si bocah terpental terbang satu tombak lebih.

Memang si bocah rupanya sangat bandel, badannya di udara berjumpalitan, dan ketika jatuh di tanah ia bisa berdiri dengan tegak, anehnya, bukan saja tidak marah, bahkan ketawa bergelak- gelak. Ia menghampiri Kim Coa Nio-nio menjura dan berkata: "Locianpwe, terima kasih atas pelajaranmu, boanpwe di sini memberi hormat!"

Kelakuan anak itu sebaliknya membikin bingung Kim Coa Nio-nio. Ia tidak mengerti apa maksudnya ia berbuat demikian !

Mendadak anak itu berseru kaget: "Locianpwe ! Locianpwe ! Lihat apa itu ?"

Kim Coa Nio-nio yang tengah kebingungan, dibikin kaget oleh seruan bocah nakal itu dengan cepat berpaling dan mengawasi tempat yang ditunjuk oleh si bocah. Tapi, tidak ada apa-apa di situ, hal ini membuat ia terheran-heran !

Mendadak telinganya menangkap suara halus dari bergeraknya per, hingga dalam hati merasa kaget. Dengan cepat ia gerakan badannya, tapi sudah kasep, di beberapa bagian badannya merasa sakit seperti dicocok jarum halus.

Kim Coa Nio-nio benar-benar murka, mendadak ia memutar tubuhnya, tapi baru saja hendak bergerak, kedua pahanya sudah lemas dan sakit, hingga jatuh rubuh ditanah. Sedang telinganya mendengar perkataan-perkataan mengejek dari bocah tadi, "Nenek pengemis, aku tadi katakan kau harus mengganti jiwa bukan? Apa kau kira masih bisa kabur ? Maaf aku antar kan jalan ! Cuma kau harus kenali aku dulu, namaku Teng Peng Jin kalau kau sampai di akhirat jangan sampai kesalahan mendakwa orang "

Serulingnya bocah nakal itu dalamnya ternyata diperlengkapi dengan per. Dikedua ujung nya disembunyikan jarum Bwee hoa-ciam yang sangat halus, tapi sangat berbisa. Jarum itu jika menancap pada badan orang, dalam waktu dua belas jam orang itu pasti binasa. 

Si bocah mengetahui kalau dirinya tidak mampu menandingi si nenek, maka ia harus menggunakan akal. Ia berhasil menipu Kim Coa Nio-nio dan kemudian melepaskan jarum Bwee- boa-ciamnya.

Kim Coa Nio-nio yang terkena jarum Bwee hoa-ciam, meski tidak binasa seketika badannya sedikitpun tidak bisa bergerak, kecuali sepasang matanya yang masih di pentang lebar.

Nampaknya ia akan binasa di tangannya bocah yang masih bau pupuk itu.

Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba ada benda kuning melayang di udara, satu menyambar seruling, satunya lagi mengenakan paha Peng Jin. Seruling terlepas dari tangannya. sedang Peng Jin, sendiri terpental sejauh tujuh delapan tombak.

Peng Jin begitu jatuh lantas bangun lagi. Ketika ia mengawasi di depan Kim Coa Nio-nio, berdiri seorang pengemis tua yang wajahnya kotor dan rambutnya putih awut-awutan, di bawah kakinya sepasang sepatu rumput yang sudah butut.

Peng Jin meski usianya masih muda, ia bukan bocah sembarangan. Ternyata ketika melihat sepatu rumput ia lantas tahu dengan siapa ia berhadapan.

"Paman ini bukankah Sin-hoa Tok Kai Locianpwe?" tanyanya.

"Kau, kenali aku Sin-hoa Tok Kai, masa tidak kenali Kim Coa Nio-nio?" benlak Tok Kai. "Kenapa tidak kenal? Kedatanganku justru mencari dia, apa kau kira aku kesalahan alamat?

Tapi soal ini baik kita jangan bicarakan lagi, lain hari saja kita bikin perhitungan sekalian. Kalau kau betul Sin-hoa Tok Kai, memang mau apa? Aku juga tidak takuti kau?" Peng Jin kata dengan lagak seperti orang gede, kemudian memungut serulingnya dan lantas berlalu!

Tok Kai seperti juga Kim Coa Nio-nio ia tidak berdaya menghadapi Peng Jin yang sangat nakal. Biar bagaimana mereka merupakan tokoh-tokoh terkemuka di kalangan Kangouw, bagaimana mau meladeni segala anak-anak? Apalagi, ia harus pentingkan menolong jiwa orang lebih dulu.

Kim Coa Nio-nio masih menggeletak di tanah dalam keadaan tak berdaya Tok Kai sudah tahu bahwa Kim Coa Nio-nio jiwanya terancam bahaya, untuk ketika munculnya bocah baju hijau tadi, asap beracun sudah mulai buyar, di atas gunung, juga sudah tidak ada batu besar lagi yang mengancam. Kecuali Kim Coa Nio-nio, seorangpun sudah tidak kelihatan bayangannya.

Tok Kai pondong Kim Coa Nio-nio masuk ke dalam goa. Kecuali sepasang mata yang masih bisa memandang, sekujur badannya Kim Coa Nio-nio boleh dibilang sudah hampir kaku.

Ketika nampak munculnya Tok Kai, dari kelopak matanya segera mengucur deras air matanya.

Tapi sejenak kemudian, air mata itu sudah lenyap, sedikitpun tidak ketinggalan.

Tok Kai setelah meletakkan Kim Coa Nio nio, lantas mencari apa-apa dalam kantong bawaannya Kim Coa Nio-nio. Terhadap wanita tua itu, Tok Kai agaknya sudah kenal betul. Sebentar kemudian. Tok Kai sudah menemukan dua botol kecil, dari dalam botol itu Tok Kai mengeluarkan dua butir obat pil dan diberikan kepada Cu Su sembari berkata : "Pangcu, lekas berikan kepada Kim-siauhiap supaya ditelan, ini ada obat yang sangat mujarap."

Setelah menyerahkan obat, dari lain botol ia menuangkan sedikit obat cair, tengah hendak dituangkan dalam mulutnya Kim Coa Nio-nio, tiba-tiba ia mendengar helaan napas nyonya tua itu.

"Pengemis tua, sia-sia saja perbuatanmu ini ! Apa kau masih belum ingat siapa bocah baju hijau itu ?" demikian katanya.

Tok Kai kelihatan berpikir sejenak, tiba-tiba berseru kaget: "Kim Coa ! Maksudmu, apakah bocah itu adalah keturunannya Hu-thian Go-kong (kelabang Terbang) Tang Kie Liang ?"

Kim Coa Nio-nio mengucapkan perkataannya tadi menggunakan tenaga yang masih ada kini masa ia masih mempunyai tenaga lagi untuk menjawab Tok Kai ? Ia hanya anggukkan kepala sebagai jawabannya.

"Ini.sekarang bagaimana ? Racun si Kelabang Terbang sangat luar biasa, kalau bukan obat

pemunah dari padanya, jangan harap bisa menyembuhkan. Waktu dua belas jam, sekejap saja sudah sampai, ini... ini." berkata Tok Kai dengan cemas.

Mendadak ia lompat bangun.

Baru saja Tok Kai hendak berlalu, tiba-tiba ada benda menyambar ke arah mereka. Tok Kai tidak tahu benda apa yang menyambar padanya. ia lantas sambut dengan tangannya.

Baru hendak periksa barang itu, mendadak ia dengar Kim Coa Nio-nio bisa mengeluarkan suara berseru: "Berikan aku ! Berikan aku !"

Itu adalah pecut Bak tha Liong kin ! Benda ini namanya sudah menggetar dunia. Kim Lo Han kenal, Tiong Ciu Khek kenal, Tok Kai tentu saja juga kenal. Melihat benda pusaka sangat berharga itu, girangnya ia bukan main, ia segera letakkan ke dalam mulut Kim Coa Nio-nio.

Bak-tha Liong-kin berada di pinggangnya Kim Houw, ia bisa melemparkan benda itu kepada Tok Kai, itu menandakan ia sudah mendusin. Dua butir obat pil dari Kim Coa Nio-nio, meski banyak faedahnya bagi dirinya, tapi tidak begitu cepat dapat ditelan karena mulutnya terus-terusan memuntahkan darah.

Adalah jasa Kim Lo Han dan Cu Su, yang menotok jalan darah Kim Houw, supaya mulutnya tidak menyemburkan darah terus menerus. Ditambah lagi dengan penyaluran lwekang dari kedua orang jago tadi, maka dua butir pil obat tadi dapat ditelan oleh Kim Houw dan sebentar kemudian ia lantas mendusin.

Kim Houw duduk bersemedi untuk memulihkan kekuatan tenaganya. Sebentar saja, di atas kepalanya sudah kelihatan asap mengepul.

Si botak yang berada tidak jauh dengan Kim Houw, ketika menyaksikan diatas kepala Kim Houw mengepul asap, ia mengira dalam tubuh Kim Houw tentu panas seperti bara. Pikirnya jika tubuhnya begitu panas, perlu apa ia bersemedi? Apa yang harus diobati?

Ia coba ulur tangannya, maksudnya hendak memegang tubuh Kim Houw, sampai dimana panasnya itu. Tidak disangka, baru saja tangannya hampir menyentuh tubuh itu.angin dingin

mendadak menyambar, sampai sekujur badannya dirasakan menggigil. Dalam kagetnya si botak buru-buru menarik kembali tangannya. Dalam hati diam-diam ia merasa heran, ilmu apa sebetulnya itu? Mengapa bisa menghembuskan angin dingin?

Makin heran, ia makin ingin mencari tahu sebab-sebabnya. Ia ulur tangannya kembali, dan dengan perlahan menyentuh tubuh Kim Houw.

Ini benar-benar merupakan pengalaman tidak enak bagi si botak. Ia bukan saja sudah kedinginan setengah mati, tapi badannya juga lantas menggigil tiada hentinya. Sebab yang ia sentuh, bukan seperti apa yang ia duga yaitu seperti bara, sebaliknya seperti menyentuh es yang luar biasa dinginnya.

"Ou! celaka! Kim-siangkong...ia...ia..." demikian ia berteriak.

Semua orang dikagetkan oleh teriakannya terutama Tok Kai. Sebab, ia yang memberikan obat pil, ia kuatirkan karena makan obat pilnya lantas terjadi hal tidak enak atas diri Kim Houw. Jika demikian halnya, maka dosanya itu sekalipun ia menyembur ke laut juga tidak dapat menebusnya.

Tapi ketika semua orang menoleh ke arah Kim Houw, di atas kepala Kim Houw asap mengepul semakin tebal. Tok Kai lalu pelototi si botak.

"Anak tolol, kau tahu apa? Ini adalah Coa-kie-sin-kang. Kau sekarang boleh buka matamu supaya lain kali tidak terheran-heran lagi hingga membuat aku malu!" ia memaki muridnya.

Tapi si botak masih belum mengerti.

"Suhu, badannya lebih dingin daripada es!" katanya kepada suhunya. Keterangan ini membuat semua orang merasa heran kecuali Kim Lo Han.

"Itu juga bukan apa-apa. Yang ia latih memang ilmu demikian. Di bagian belakang dalam Istana Kumala Putih, keadaannya lebih dingin dari tempat yang sedang turun salju. Orang yang mempunyai kepandaian seperti aku cuma bisa masuk kira-kira dua tombak lebih ke dalam situ, sudah menggigil tiada hentinya. Kalau mau masuk lebih dalam lagi bisa mati kedinginan di situ juga. Tapi dia sejak melatih ilmunya Han-bun-cao-khie, ia bisa keluar masuk di situ tanpa halangan" demikian Kim Lo Han memberikan keterangannya.

Kim Lo Han mengakhiri keterangannya Kim Houw sudah selesai semedinya. Ia membuka mata. Dari mulutnya kembali mengeluarkan darah hidup, ia lalu menghela napas panjang.

"Masih untung jiwaku tertolong! Barusan siapakah yang memberikan obat mujarabnya? Tuan penolong yang besar sekali budinya, aku harus mengucapkan terima kasih padanya."

Kim Coa Nio-nio mendadak menghampiri, dengan kedua tangan menjunjung tinggi-tinggi Baktha Liong kin ia lantas berlutut di depannya Kim Houw.

"Kim tiancu tidak perlu menyatakan terima kasih, akulah seharusnya yang mengucapkan terima kasih padamu!" demikian ia berkata.

Melihat Kim Coa Nio-nio berlutut di depannya, Kim Houw kelabakan, ia tidak berani menerima kehormatan begitu besar, maka buru-buru pimpin bangun si nyonya tua seraya berkata: "Cianpwe jangan berlaku demikian, perbuatan kau jangan ulangi lagi. Sebaliknya aku ingin minta sedikit keterangan darimu, nona Peng Peng sekarang berada dimana? Apakah ia berada di Ceng Kee cee? Lama Kim Coa Nio-nio kerutkan alisnya, baru menjawab: "Soal ini aku si nenek juga tidak tahu, sebab kami masuk ke Su cuan secara berpencaran dan kemudian baru melihat bayangan nona Peng Peng. Tertarik oleh ular-ular aneh, aku memasuki lembah ini, tidak nyana di sini akan bertemu dengan sahabatku juga dengan musuhku pada beberapa tahun berselang. Hui thian Go kong Teng Kie Liang memelihara burung hitam dengan patuk dan kuku putih, ternyata khusus hendak menghadapi aku si Kim Coa Nio-nio."

Kim Houw dengan nyonya tua itu juga tidak tahu dimana adanya Peng Peng, dalam hati tambah curiga. Ia heran, apakah setelah Peng Peng sampai di Ceng kee cee lantas dikurung?

Tanggal lima bulan hanya tinggal lima hari saja. Hatinya mulai gelisah

"Botak, coba keluar sebentar, bagaimana keadaan sekarang? Kalau bisa jalan kita harus segera berlalu dari sini!" katanya Kim Houw pada si botak.

"Kim-siangkong, kakiku ini semua melepuh kebakar, aku..." jawab si botak sedih.

Kim Coa nio-nio mendadak keluarkan satu botol kecil, diberikan pada si botak sembari berkata: "Ini obat khusus untuk menyembuhkan luka kebakar. Kau olesin sedikit saja, pasti sembuh. Kau tidak perlu keluar lagi, semua orang sudah pergi, sebabnya dari Ceng-kee-cee tiba-tiba menerima tanda bahaya. Mereka telah mengirim keluar semua orang-orangnya untuk mencelakakan musuh, tidak menduga sarangnya sendiri dimasuki musuh, Cuma tidak tahu siapa orangnya?"

"Bagaimana dengan badanmu yang terkena senjata rahasia tadi...?" Tok Kai menanya kepada Kim Coa nio-nio.

Kim Coa nio-nio pentang jari tangannya, dari dalam telapak tangannya dikeluarkan beberapa puluh jarum yang halus seperti bulu kerbau. Setiap jarum bagian kepalanya ada titik hitam.

"Tuan-tuan yang ada di sini, terhadap si Kelabang Terbang Teng Kie Liang, barangkali semua sudah pernah dengar namanya! Kalian lihat ini adalah senjata rahasia tunggal kepunyaan keluarga Teng itu, namanya Hui-ie-ciam, selanjutnya kalau bertemu padanya harus waspada. Aku si nenek hari ini telah terguling di tangan satu bocah cilik yang masih bau pupuk, hitung-hitung sebagai pelajaran bagiku yang kelewat lemah. Bocah itu kelak akan lebih lihay dan lebih ganas daripada bapaknya, Teng Kie Liang. Parasnya tampan tapi hatinya kejam ia bisa membunuh orang tanpa berkedip. Benar-benar orang akan percaya bahwa satu bocah yang begitu tampan wajahnya, ternyata mempunyai hati begitu ganas melebihi serigala. Ini benar-benar seperti pepatah: "Kacang tidak meninggalkan lanjaran. Sedikitpun tidak salah". demikian Kim Coa Nio-nio memberi keterangan.

Ia lalu mengambil tongkatnya dan ngeloyor ke luar goa. Semua orang yang ada di dalam goa pada luka terbakar dan ia sendirian orang wanitanya, sekalipun sudah lanjut usianya, rupanya ia masih merasa jengah tinggal berkumpul dengan mereka.

Belum lama ia menunggu di luar goa, orang-orang yang berada dalam goa sudah pada keluar.

Kim Houw yang terluka di dalam karena getaran batu besar, begitu keluar goa lantas mengukur-ukur besarnya batu yang menggetarkan padanya Benar-benar luar biasa, beratnya sedikitnya juga ada puluhan ribu kati, pantas tadi getarannya terasa begitu hebat.

Tampak hari sudah dekat petang. Bangkai ular berserakan di sana sini mengeluarkan bau busuk, cepat-cepat mereka meninggalkan tempat itu.

Mereka pilih sebagai tempat untuk melewatkan sang malam, sebidang tanah lapangan yang terdapat di mulut lembah. Si botak dan Sun Cu Hoa ditugaskan untuk mencari barang hidangan, yang lainnya pad duduk bersila untuk merundingkan cara menyerbu Ceng-kee-cee.  Kim Hoa Nio-nio yang pernah masuk ke Ceng-kee-cee ialah bertindak sebagai penunjuk jalan hingga serang penjahat itu lebih mudah dicapai.

Ceng-kee-cee letaknya di suatu daratan tinggi di tengah-tengah puncak gunung Teng-lai-san yang paling tinggi. Selain duduknya sangat strategis di situ hawanya juga sejuk, hampir setiap tahun dilewati seperti musim semi.

Tapi hari itu, tanggal lima bulan lima, ada merupakan hari sembahyang yang dilakukan setiap tahun sekali di Cengkee-cee. Tempat itu tidak memperlihatkan suasananya yang indah permai, kabut tipis meliputi seluruh Ceng-kee-cee hingga kelihatannya sebagai suatu tempat yang penuh rahasia.

Kim Coa Nio-nio memimpin Kim Houw dan kawan-kawannya tiba di lembah Ceng-kee-cee.

Pertama mereka merasa heran dengan adanya kabut tipis yang meliputi seluruh lembah, kemudian disusul oleh pemandangan batu-batu yang ditumpuk-tumpuk secara aneh, seperti gambar barisan.

Tok Kai yang berada di belakangnya Kim Coa Nio-nio menanya: "Kim Coa, apa yang dilakukan oleh si iblis tua Ceng mo ini?"

"Aku sendiri juga tidak tahu. Pada beberapa hari berselang di sini tidak ada segala begituan!" jawab Kim Coa Nio-nio sembari pimpin kawan kawannya memasuki barisan batu.

Semua orang pada waspada terhadap kabut asap dan barisan batu itu. Berjalan tidak lama, gundukan batu itu rasanya makin lama makin kalut dan makin banyak, seolah-olah bentuknya Pat Kua tin.

Kim Coa Nio-nio meski ada satu tokoh terkenal dalam kalangan Kangouw, tapi ternyata sesuatu tin (barisan) ia tidak paham, ia berputar-putar memimpin kawan-kawannya, lama sekali masih belum berhasil memasuki lembah.

"Tidak perduli barisan apa yang dibentuk oleh si iblis tua itu akan ubrak-abrik dulu tumpukan batu ini, habis perkara!" demikian katanya Tok Kai sengit.

Lalu menyapu semua tumpukan batu itu dengan kakinya, sehingga pada berhamburan.

Tok Kai ketawa bergelak-gelak. Belum lenyap suara ketawanya, tiba-tiba terdengar ketawa dingin yang menyeramkan, disusul oleh suara bentakan nyaring: "Bocah dari mana berani mati merusak barisan batuku?"

Suaranya begitu tajam melengking, seperti suara iblis. Orang pada terkejut, mereka mencari kesana ke sini, tapi dalam kabut tipis itu ternyata tidak dilihat bayangan orang.

"Apa di situ ada kakek iblis dan nenek iblis yang datang? Permainan apa yang kalian lakukan?

Mengapa tidak berani ketemu orang?" bentak Tiong Ciu Khek.

Baru habis ucapannya Tiong Ciu Khek, di depan matanya tiba-tiba nampak terang. Di bawah sebuah batu cadas, tertampak nenek yang parasnya kuning keriputan dan badannya kurus kering. Nenek itu tangannya membawa sebatang tongkat, di rambutnya tersunting setangkai bunga warna kuning, dandanannya tak keruan macam, benar-benar seperti kuntilanak. Wajahnya yang kempot keriputan, kelihatannya seperti gusar tapi juga seperti sedang tertawa. Sekalipun orang-orang gagah dan bernyali besar, juga akan merasa jeri melihatnya. Dengan tongkat ditangan, nenek itu berjalan sempoyongan di dalam barisan batu. Sepasang matanya berputaran mengawasi wajah setiap orang. Ketika menatap wajah Kim Houw, nenek itu memandang agak lama, kemudian lalu memandang Tiong Ciu Khek.

Lama sekali baru kedengaran ia membuka mulut: "Kau bocah ini siapa namamu? Berani- berani kau memandang enteng Ceng-kee-cee? Siapa gurumu?"

Tiong Ciu Khek orang golongan tua dari rimba persilatan, sejak kapan pernah dipandang rendah orang? Nenek itu telah memanggil padanya bocah, bahkan berani menanyakan gurunya maka seketika itu lantas naik darahnya.

"Iblis tua, kau berani pandang rendah aku Tiong Ciu Khek...?" jawabnya gusar.

Belum sampai habis ucapannya Tiong Ciu Khek, sudah dipotong oleh si nenek sembari perdengarkan suara ketawanya yang seram: "Bocah tidak tahu adat, kau bernai-berani mengaku namanya Tiong Ciu Khek untuk bikin onar di sini, aku nanti suruh kau mampus tidak keruan tempatnya."

Tiong Ciu Khek sudah lama namanya terkenal di dunia Kangouw, tapi oleh karena nenek itu sudah beberapa tahun mengasingkan diri, maka belum pernah bertemu. Ia tidak nyana bahwa orang yang namanya menggetarkan jagat itu ternyata masih begitu muda paling banter usianya baru empat puluh tahun, juga nampaknya seperti anak sekolah yang lemah. Maka ia katakan Tiong Ciu Khek mengaku-ngaku saja nama orang yang tersohor.

Tiong Ciu Khek makin gusar.

"Jangan kau anggap bahwa Ceng-kee-cee itu sebagai tempat yang keramat?" bentaknya keras dan menghunus pedangnya. "Buat apa aku Tiong Ciu Khek harus mengaku-ngaku nama orang lain? Biarlah kau nanti belajar kenal dengan ilmu pedang Tiong Ciu Khek yang membuat namanya terkenal..."

Si nenek matanya mendelik, tapi masih bisa unjukkan ketawanya yang ngejek.

"Hm! Kau bocah kemarin sore juga berani bertempur dengan aku? Aku juga nanti suruh kau membuka mata..."

Belum habis ucapannya si nenek, pedang Tiong Ciu Khek sudah mengancam dirinya.

Serangan pedangnya Tiong Ciu Khek itu sangat mantap tapi agak ganas, lantas si nenek mengerti bahwa orang yang dianggap bocah itu ternyata lihay. Ia tidak berani memandang ringan lagi.

Badannya agak dimiringkan tongkatnya menyampok tumpukan batu disamping badannya, sehingga batu-batu itu lantas berhamburan terbang melalui badan dan atas kepala Tiong Ciu Khek.

Batu-batu itu tidak ada yang mengenakan dirinya Tiong Ciu Khek, tapi ketika batu-batu itu pada berbenturan di udara, pecahnya pada muncrat menyambar Tiong Ciu Khek.

Tiong Ciu Khek gusar, pedang Ceng hong kiam berkelebat di udara, dengan cepat menggunakan tipu serangannya yang luar biasa anehnya mengarah mata, hidung, mulut dan telinga serta beberapa bagian jalan darah di dada si nenek.

Si nenek dengan menggetarkan tangan, tongkatnya menindih hebat, gerakannya itu cepat dan gesit. Jika Tiong Ciu Khek tidak tarik kembali pedangnya serta membalikan dirinya pasti senjatanya dibikin terlepas dari tangannya. Tiong Ciu Khek merasa kaget dan gusar, sambil memutar ia menyerang dengan pedang, melancarkan ilmu pedangnya Cu-liong-kiam yang membuatnya terkenal. Ilmu pedang itu luar biasa cepat dan anehnya.

"Kau bisa lolos dari bawah tongkatku boleh dikata sudah beruntung, apa masih mau jual lagi?" kata si nenek tertawa mengejek.

Tiong Ciu Khek yang sudah gusar terus menyerang dengan ganas, sebentar saja sudah sembilan belas jurus lebih. Meski setiap serangannya demikian hebat dan ganas, tapi dapat dipecahkan oleh si nenek.

"Hmm! Mempunyai ilmu pedang demikian untuk dewasa ini, boleh terhitung tokoh kelas satu. Cuma rasanya belum cukup kuat untuk berlaku sesukanya di Ceng-kee-cee!" mengejek si nenek.

Selama mengucapkan perkataannya itu, tongkat si nenek telah balas menyerang dengan beruntun, sehingga Tiong Ciu Khek terdesak. Setelah mengitari beberapa gundukan batu, lama- lama pedangnya tidak bisa bergerak menurut kemauan hatinya!.

Mendadak dua benda kuning terbang melayang dengan menyerang belakang geger si nenek. Tapi nenek itu di belakangnya seperti ada matanya, dengan tanpa menoleh, ia balikkan tangannya untuk menyambuti benda kuning itu.

Ketika dua benda kuning itu berada dalam tangannya, si nenek agak tercengang. Sebab benda kuning itu ternyata sangat lemas, tapi kekuatan serangannya ada demikian hebat hingga hampir terlepas dari tangannya.

Ia kaget bercampur gusar, dengan hebat ia mendesak mundur Tiong Ciu Khek, kemudian memeriksa apa sebetulnya benda kuning tadi, ternyata itu cuma sepasang sepatu rumput butut. Dalam hari bercekat, kemudian matanya menyapu, setelah perdengarkan pekikannya yang tajam dan seram, baru berkata: "Aku kira siapa, ternyata ada Pangcu dan Hu-pangcu dari partai Sepatu Rumput yang namanya menggetarkan Kanglam dan Kangpak yang datang berkunjung. Maafkan aku Oey Hoa Kui-bo karena sudah lamur maka menyambut terlambat"

Sin Hoa Tok Kai ketawa bergelak-gelak. "Aku si pengemis tua sudah menduga kalau kau, tapi aku tidak tahu kau mempunyai hubungan apa dengan Cen-Kee-cee perbuatan kali ini agak keterlaluan."

Tidak menunggu habis ucapannya Tok Kai, Oey Hoa Kui-bo sudah memotong.

"Partai Sepatu Rumput meski namanya menggetarkan dunia Kangouw, tapi masih belum cukup untuk membuat takut Oey Hoa Kui-bo. Urusanku si nenek rasanya masih belum waktunya untuk kau turut campur tahu."

Setelah mengucap demikian, ia lantas remas-remas sepatu rumput itu sehingga hancur menjadi berkeping-keping, kemudian dilemparkan ke tanah.

Tok Kai ketawa bergelak-gelak, dari dalam sakunya kembali mengeluarkan sepasang sepatu rumput yang juga butut dan kotor, lalu dimasukkan pada kakinya.

Pada saat itu, Tiong Ciu Khek dengan pedang yang berkilauan kembali menyerang Oey Hoa Kui-bo. Kali ini Tiong Ciu Khek yang berhasil merebut posisi yang agak baik, pedang dapat dimainkan begitu rapat, sehingga sukar ditembus. Oey Hoa Kui-bo coba balas menyerang berulang ulang, masih belum berhasil pukul mundur Tiong Ciu Khek. Ia merasa malu dan gusar, kembali perdengarkan pekikannya yang nyaring dan menyeramkan.

Setelah suara pekikan itu berhenti, dari sekitar gundukan batu telah muncul beberapa puluh wanita yang masing-masing pada membawa bendera kecil segi tiga. Bendera-bendera kecil itu setiap kali dikebutkan, lantas timbul angin dingin.

Sebentar saja keadaan disekitarnya lantas berubah dari dalam barisan batu.

"Kalau telah mengandalkan kekuatan menyerang Ceng-kee-cee, kalau lebih dulu mampu menembus barisanku Im-hong Pat-kua-tin ini, sudah tentu aku bisa mengijinkan kalian masuk Ceng-kee-cee. Tapi kalau tidak mampu... hm..."

Belum selesai ia berkata, Kim Houw sudah memotong: "Im-hong Pat-kua-tin berarti apa?

Sedang Istana Kumala Putih bersama rimbanya yang keramat toh masih belum mampu menyulitkan aku!"

Berbareng, ia lantas mengeluarkan pedang Ngo heng-kiam yang memancarkan sinar berkilauan beraneka warna, hingga sekejap saja sinar pedangnya itu telah menerangi keadaan dalam barisan batu yang gelap gulita itu.

Dengan pedang pusaka ditangan, Kim Houw telah membuka jalan lebih dulu, ia menerobos ke kanan dan ke kiri dalam gundukkan batu-batu itu.

Rimba keramat di gunung Tiang-pek-san telah mengurung banyak tokoh-tokoh rimba persilatan bertahun-tahun lamanya, tapi Kim Houw dengan dua potong gambar peta yang tidak utuh, telah berhasil keluar dari rimba tersebut. Gundukan batu yang begitu kecil, apa artinya bagi dia?

Sebentar Kim Houw bersama kawannya lari berputaran dalam barisan batu, mendadak di depan muncul cahaya terang. Justru Kim Houw tengah hendak melompat keluar dari dalam barisan batu, tiba-tiba merasakan samberan angin kuat menyambar di atas kepalanya. Dalam keadaan kritis seperti itu, Kim Houw tidak pikir akan berkelit, sebaliknya telah menyambuti serangan itu dengan ilmu Han-bun-coa-khie disertai kekuatan penuh.

Suara keras terdengar hebat, Kim Houw berhenti sejenak, tapi masih bisa lompat keluar dari barisan batu. Berbareng dengan itu, dari tengah udara telah melayang jatuh sesosok tubuh yang barusan terkena serangannya Kim Houw. Orang itu bukan lain dari pada San-hoa-sian-li, ibunya Bwee Peng.

Kim Houw sangat terperanjat. Ia sungguh tidak nyana bahwa San-hoa-sian-li yang telah menyerang dirinya. Dengan cepat ia berjongkok untuk memeriksa keadaannya, tapi ternyata sudah payah sekali. Dengan air mata berlinangan San-hoa-sian-li memandang Kim Houw lama sekali baru membuka tangan kanannya, ditengah-tengah telapak tangannya ternyata ada tiga titik hitam.

Kim Houw yang tidak mengerti sebab-sebabnya, lantas menanya dengan cemas: "Bibi Bwee... bibi Bwee... kau... kau..."

Belum sampai melampiaskan omongannya kembali sambaran angin keras datang menyerang.

Kim Houw kuatir akan melukai orang lagi, kali ini ia tidak berani menyambuti dengan ilmu yang ampuh. Dengan gerakan sangat gesit ia melompat untuk menghindarkan serangan tersebut.

Ketika ia berpaling, orang yang menyerang padanya itu ternyata adalah Lui Kong, ayahnya Sun- hoa-sian-li. "Lao Lui Kong, apa artinya ini?" tiba-tiba Kim Coa Nio-nio berseru.

Lui Kong tidak berkata apa-apa, ia lalu memondong putrinya yang menggeletak di tanah. Tapi keadaan Sun-hoa-sian-li sudah sangat payah, tidak lama ia berada dalam pondongan, jiwanya sudah melayang menyusul putrinya di alam baka.

Dengan mata mendelik Lui Kong mengawasi Kim Houw.

"Bocah, bagus perbuatanmu!" katanya gemas. "Kau turunkan tangan begitu kejam, sehingga mencelakakan jiwa anakku. Kau sudah mencelakakan jiwa cucu perempuanku, dan ini anakku! Aku Lui Kong tidak nanti mau mengerti, tunggulah saja aku akan minta kau ganti jiwa mereka!"

Sehabis berkata, ia lantas lompat melalui orang banyak, keluar dari barisan batu. Kim Houw berdiri bengong kesima.

Ia benar telah melukai diri Sun-hoa-sian-li, tapi itu bukan disengaja. Kematiannya Bwee Peng sudah cukup memilukan hatinya, apa mau orang lain masih menimpakan dosanya di atas pundaknya.

"Dalam telapak tangannya Sun-hoa-sian-li ada tiga titik hitam, ini suatu tanda bahwa ia sudah terkena serangan tangan jahat San-im-ciu, pantas saja kalau ia nekad menghabiskan jiwanya sendiri. Orang yang terkena Sam-im-ciu, setiap tengah hari dan tengah malam, harus merasakan penderitaan sakit yang luar biasa, cuma tidak seharusnya ia meminjam tangan Kim-tiancu. Lui Kong pada beberapa puluh tahun berselang adalah seorang iblis, dan jika ia kembali muncul lagi, tidak dapat dibayangkan bagaimana sepak terjangnya nanti." demikian tiba-tiba Kim Coa Nio-nio berkata.

Kim Houw tadi tidak mengerti apa maksudnya San Hoa Sian-li memperlihatkan telapak tangannya pada dirinya, kini setelah mendengar keterangan Kim Coa Nio-nio, ia baru mengerti. Mengenai ilmu serangan Sam-im-ciu ini, dalam buku Kao-jin Kiesu telah ditulis dengan jelas.

Pada saat itu, semua orang sudah keluar dari barisan batu.

Suara kentongan tiba-tiba terdengar amat riuh, lalu disusul oleh suara tambur yang amat nyaring. Kim Houw memandang keadaan di sekitarnya, sekarang mereka berada ditengah-tengah antara dua buah gunung, sedang di depannya terhalang oleh sebuah rimba yang lebat.

"Rimba itu tidak terlalu dalam dan jauh. Setelah melalui rimba itu lantas dapat kita lihat danau Siao-ceng-ouw ditengah-tengah Ceng-kee-cee. Cuma, dalam rimba itu dipelihara binatang laba- laba beracun yang besar dan banyak jumlahnya dan bukan main lihainya. Harap kalian suka waspada terutama dua bocah ini." berkata Kim Coa Nio-nio sambil menunjuk pada si botak dan

Sun Cu-hoa.

"Manusia masih tidak ditakuti, masa takut pada binatang kecil?" kata Tok Kai sambil tertawa tergelak-gelak.

"Sekarang sudah dekat waktunya Ceng-kee-cee melakukan upacara sembahyang, kalau kau telantarkan urusan penting ini, aku mau lihat, apa kau si pengemis busuk nanti merasa enak hati terhadap kawan-kawan?" Kim Coa Nio-nio pelototi Tok Kai.

"Aku justru tidak percaya segala ilmu jahat demikian, lihat aku yang buka jalan bagi kalian!" jawab Tok Kai yang masih tetap tertawa besar. Tiba-tiba Cu Su turut bicara :" Kim Coa Nio-nio kau lupa binatang laba-laba beracun demikian kecil, bagaimana bisa melukai dirinya? Kim Coa Nio-nio harap kau tenang dan pimpin perjalanan kita!"

Kim Houw maju menghampiri si botak dan Sun Cu Hoa.

"Cu-cianpwe", katanya pada Cu Su, "Si botak biarlah aku yang melihat-lihat, sebaiknya kita lekas berangkat!"

Kim Houw tidak menyebut Sun Cu Hoa bukan karena Sun Cu Hoa mampu melindungi dirinya sendiri dari serangan laba-laba beracun itu, ini disebabkan Sun Cu Hoa beradat keras dan rasa benci terhadap dirinya masih belum lenyap sama sekali. Ia tidak suka menyakiti hati anak muda itu lagi, maka sengaja tidak menyebut namanya.

Sun Cu Hoa dengar Kim Houw cuma hendak melindungi si botak, meski dimulutnya tidak mengatakan apa-apa, tapi tubuhnya sudah lompat melesat mengikuti jejak Kim Coa Nio-nio masuk ke dalam rimba.

Kim Houw tidak enak mengikuti jejak Sun Cu Hoa, lalu memberi isyarat kepada Kim Lo Han. Ia ini lantas mengerti maksud Kim Houw, dan dengan tanpa bicara ia lantas mengikuti di belakang Sun Cu Hoa.

"Kim-siauhiap harap jangan kecil hati, bocah itu sangat keterlaluan." Cu Su berkata sambil

menghela napas.

Kim Houw cepat menghiburnya :" Tidak apa-apa," katanya, "Cu-cianpwee boleh legakan hati, aku pasti berusaha untuk melenyapkan perasaan benci dan kesalah-pahamannya terhadap diriku!"

Tidak lama kemudian mereka sudah mulai memasuki rimba yang banyak terdapat laba-laba beracunnya itu.

Kim Houw menggandeng tangan si botak, tiba-tiba terdengar suara mengaung yang amat nyaring. Ia hendak hentikan langkahnya dan tidak jalan terus, sebaiknya ambil jalan mengitar di bawah kaki gunung. Oleh karena larinya yang pesat, meski di tangannya menggandeng si botak, ia tidak usah takut ketinggalan kawan-kawannya. Siapa tahu begitu keluar dari rimba, apa yang telah dilihat di depan matanya.?"

Di depan ramai suara kentongan, tambur dan gembreng, tapi kawan-kawannya tidak satupun yang kelihatan muncul dari dalam rimba. Buat Kim Houw, saat ini sudah tidak mempunyai waktu untuk menyelidiki keadaan kawan-kawannya didalam rimba, seluruh perhatiannya telah ketarik oleh seorang nona baju merah yang terikat di atas undakan batu yang tingginya beberapa tombak. Nona itu berdiri membelakanginya.

Di atas batu undakan itu juga duduk sepasang suami istri yang sudah lanjut usianya, diujung empat penjuru batu undakan itu terdapat dua pasang muda-mudi dengan pakaian seragam ringkas. Tangan mereka memegang pedang panjang, kantong piauw menempel dibadan masing- masing.

Nona baju merah itu diikat pada sebuah tiang ditengah-tengah batu undakan dan di depannya berdiri ibunya Siao Pek Sin, Ceng Niocu. Sedang tangannya tampak memegang sebilah pisau kecil yang berkilauan, sepasang matanya mengawasi langit seolah-olah sedang menantikan waktu. Disekitar batu undakan, telah dikurung oleh ratusan laki-laki yang berbadan kekar, tangan mereka membawa tombak atau golok. Tempat tersebut boleh dikatakan telah dikurung sangat rapat. Nampaknya mereka berdiri dengan tidak teratur, tapi nyatanya disiplin. 

Kim Houw cuma dapat melihat punggung nona itu, namun ia sudah dapat memastikan bahwa nona baju merah itu tentu Peng Peng. Sayang, tempat dimana ia berdiri berada jauh sekali terpisahnya dengan batu undakan itu. Seandainya ia hendak lompat menerjang, sukar untuk mencapai tujuannya. Mau tidak mau ia harus melalui rintangan sekawanan orang-orang yang menjaga di sekitarnya, barulah ia bisa mencapai batu undakan itu.

Pada saat mana tiba-tiba terdengar suara bunyi burung yang menyeramkan, suara itu agak lain dari burung biasa. Tapi Kim Houw pernah mendengar suara burung itu, cuma belum pernah melihat rupanya.

Ketika ia mendongakkan kepalanya, ia melihat seekor burung hitam dengan patuk dan kukunya yang putih, sedang beterbangan sambil berbunyi di atas batu undakan. Karena suaranya yang aneh, kadang-kadang tinggi melengking dan kadang-kadang rendah, semua orang pada tujukan perhatiannya pada burung itu.

Si nenek yang duduk di atas batu undakan itu tiba-tiba gerakkan tongkatnya, sebuah senjata rahasia yang warnanya hitam jengat telah meluncur ke atas menyerang burung aneh itu. Tapi si burung aneh ketika melihat dirinya diserang dengan senjata rahasia, bukan saja tidak takut bahkan menukik ke bawah, sambil miringkan sayapnya, hendak menyambuti senjata rahasia tadi dengan sayapnya.

Senjata si nenek yang sedang meluncur dengan kerasnya itu, sebentar saja sudah dibikin jatuh oleh sayapnya.

Burung itu lantas mengeluarkan pula suaranya yang aneh, agaknya sedang membanggakan hasil pekerjaannya. Ia terbang berputaran lagi kemudian lantas menukik ke tengah batu undakan.

Terpisah kira-kira satu tombak lebih tingginya, nenek itu kembali gerakkan tongkatnya, dengan beruntun melancarkan serangan senjata rahasianya ke arah burung itu.

Rupanya burung itu sudah terdidik dan terlatih dengan baik, sehingga terhadap serangan senjata rahasia itu sedikitpun ia tidak takut.

Maka ia menunggu hingga senjata rahasia itu dekat, barulah menerjang dengan kedua sayapnya yang terpentang lebar, kemudian badannya berbalik sehingga senjata-senjata rahasia itu terbang melewati bawah perutnya, berbarengan dengan itu, burung tersebut dengan kecepatan seperti peluru menyambar kepala Ceng Niocu.

Siapapun tidak akan menduga bahwa burung yang begitu kecil berani menyerang manusia. Ceng Niocu dalam gugupnya cuma bisa mengangkat tangannya sambil ayunkan pisau kecilnya. Tapi baru saja bergerak, mulutnya sudah menjerit, pisaunya terlepas dan tangannya mendekap kedua matanya sambil berjongkok di atas batu undakan.

Sepasang mata Ceng Niocu ternyata sudah dipatuk oleh burung aneh itu, sehingga menjadi buta. Di atas batu undakan itu seketika terjadi kekalutan. Senjata-senjata rahasia yang bermacam- macam bentuknya beterbangan menyerang burung aneh itu.

Sang burung bisa menukik begitu cepat, naiknya juga gesit. Orang-orang cuma melihat bergerak sayapnya saja, tahu-tahu ia sudah melesat ke angkasa. Orang-orang di atas dan di bawah batu undakan itu, semua telah dibikin kalang kabut oleh seekor burung kecil. Kim Houw yang menyaksikan dari jauh, dalam hati lantas berpikir, ini adalah kesempatan yang paling baik, kalau tidak lekas bertindak, menunggu kapan lagi?

Ia berpaling pada si botak dan berkata: "Botak, kau di sini menunggu suhumu."

Belum selesai memberikan pesannya, di atas batu undakan itu kelihatan semakin kalut, suara makian dan bentakan silih berganti, maka Kim Houw lantas berpaling kearah undakan.

Ternyata ada orang yang turun tangan lebih dulu dari padanya. Sedang si burung aneh sebentar naik tinggi, sebentar menukik ke bawah, ternyata ia juga sedang melakukan pertempuran.

Kim Houw semula mengira itu adalah kawanan Kim Coa Nio-nio yang memimpin kawan- kawannya dan melakukan penyerangan dari samping, tapi ketika ia mengawasi, ternyata tidak ada seorangpun yang dikenalinya.

Yang lebih mengherankan adalah si nona baju merah yang tadinya diikat pada tiang, sekarang sudah lenyap, hingga membuat ia menjadi gugup.

"Kim-siangkong di sana, itu dia!" tiba-tiba si botak berseru sambil menunjuk ke satu arah.

Kim Houw tunjukkan matanya ke arah yang ditunjukkan si botak. Dilihatnya ada seorang bocah berpakaian hijau sedang menggendong si nona baju merah, sedang lari menuju ke atas gunung.

Di belakangnya ada seorang wanita setengah tua yang mengikuti sambil memutar senjata seruling batu giok, untuk menangkis serangan orang-orang yang mengejar.

Kim Houw heran. Kalau dilihat kenyataannya orang-orang itu seperti sedang menolong si nona baju merah, tapi juga mirip dengan perbuatan orang yang sedang melakukan perampokan.

Menolong ataukah merampok? Kim Houw masih belum jelas.

Ia sudah tidak ada tempo lagi untuk memikirkan persoalan itu, ia tidak dapat membiarkan Peng Peng dibawa pergi di depan matanya. Setelah meninggalkan pesan lagi pada si botak, tubuhnya melesat mengejar orang-orang yang membawa kabur si nona.

Sebentar saja, seolah-olah seekor burung garuda terbang, Kim Houw sudah melayang ke bawah puncak gunung. Pada saat itu, si anak baju hijau dengan menggendong si nona baju merah, sudah menghilang ke belakang puncak gunung.

Kim Houw mengawasi wanita setengah tua itu, yang sedang memutar seruling di tangannya seperti ular perak. Ilmu silatnya tinggi sekali, dengan senjata serulingnya ia hajar semua orang yang mengejar sampai kalang kabut.

Kim Houw tidak ingin terlibat dalam pertempuran itu, tapi seandainya terpaksa, tentunya ia akan membantu pihak wanita itu. Melihat nyonya itu sudah lebih dari cukup untuk memukul mundur orang-orang yang mengejar, maka pikirnya ia hendak berlalu melewati samping si nyonya.

Siapa sangka baru saja badannya bergerak, tiba-tiba ia melihat nyonya itu sudah menghadang di depannya. "Siao Pek Sin, kau harus mengerti! Jika kau benar-benar tidak mau berhenti, jangan sesalkan aku Hui-ie-ciam turun tangan dengan kejam. Kau harus pikir-pikir dulu, apakah kau mampu menyambuti jarum Hui-ie-ciam ku atau tidak?" demikian bentaknya.

Kim Houw tahu nyonya itu sudah salah mengerti lagi terhadap dirinya, tapi ia tidak mempunyai waktu untuk memberi penjelasan.

"Tolong tanya, mengapa kalian merampas diri nona baju merah itu?" Ia menanya.

Si nyonya alisnya berdiri, menjawab dengan suara bengis: "Kita merampas? Hmm! Kau ternyata lancang mulut. Sekarang aku hendak menanya hak, Ceng-kee-cee setiap tahun melakukan upacara sembahyangan menggunakan binatang kerbau, mengapa tahun ini menggunakan manusia? Jawablah!"

Apa yang harus dijawab? Bagaimana ia harus menjawab? Ia tidak tahu orang-orang sebetulnya ada hubungan apa dengan Peng Peng? Ia memberi hormat kepada si nyonya dan menanya: "Numpang tanya, siapa sebenarnya Cianpwe? Ada hubungan apa dengan nona yang ditolongnya?"

Tapi nyonya itu ketika melihat Kim Houw memberi hormat padanya, buru-buru mundur beberapa tindak.

"Jangan pura-pura merendah," katanya, "Aku ada seorang yang tidak gampang menyerah baik dengan kelakuan keras atau lunak. Apa hubungan aku dengan si nona, apa kau juga berhak untuk menanya?"

Jawaban wanita itu telah membikin pusing kepala Kim Houw, ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh si nyonya, hanya kata-katanya yang terakhir yang ia dapat tangkap artinya.

Kim Houw tidak berani menjawab sembarangan, karena belum memahami maksud orang. "Cianpwe, sebab aku dengan nona baju merah itu ada mempunyai hubungan baik, aku ingin

bertemu padanya, untuk bicara sepatah dua patah saja. Harap Cianpwe suka memberi ijin padaku!

Hanya sepatah dua patah saja."

"Wanita itu mendengar keterangan Kim Houw bahwa pemuda itu dengan nona baju merah mempunyai hubungan baik, mendadak tambah gusar.

"Apa? Kau dengan nona itu mempunyai hubungan baik? Kau bajingan!" dengan kalap si nyonya menotok dada Kim Houw.

Kim Houw makin bingung, sadarnya tidak ingin ia meladeni dan hendak meninggalkan padanya, untuk mengejar cianpwe. Tapi, ucapan terakhir dari wanita itu telah membikin meluap darahnya.

Menampak wanita itu menotok padanya sengaja ia tidak mengegos atau berkelit, malah ulur tangannya untuk merampas seruling orang. Kegesitan gerak tangannya Kim Houw, masa itu dalam dunia Kangouw sudah tidak ada tandingannya. Wanita masih belum tahu tegas bagaimana Kim Houw bergerak, tahu-tahu senjatanya sudah pindah tangan.

Wanita itu mendadak tertawa dingin dan berkata: "Ini adalah kau sendiri yang mencari mampus, jangan kau sesalkan aku nyonya Teng."

Berbareng itu, suara berbunyi. Kim Houw terkejut, cepat ia lemparkan itu memuntahkan segumpal jarum perak tersebut di tanah. Kim Houw jadi ketika berhasil merampas senjata si nyonya sebetulnya bisa menggunakan ilmunya Han-bun-cao-khi! Untuk membikin remuk seruling itu. Apa mau mendadak ingat jika nyonya itu benar ada mempunyai hubungan apa-apa dengan Peng Peng, tidak enak baginya kalau sampai berbuat dosa lagi. Untuk Peng Peng saja, ia sudah kesalahan melukai banyak orang. Kematian ibunya Bwe Peng, ada merupakan suatu kemenyesalan besar yang sukar dilupakan olehnya.

Justru karena keragu-raguannya itu, hampir saja membuat dirinya celaka.

Kim Houw mendongkol sekali, dengan cepat tangannya mendorong. Ia hanya menggunakan lima puluh persen ilmunya Han bun-coa-kie, namun sudah cukup bagi lawannya.

Menampak senjata rahasianya jarum Hui-ciam tidak bisa melukai dirinya si anak muda, dalam hari si nyonya diam-diam merasa heran, kemudian melihat Kim Houw keluarkan tangannya dengan tangan kosong. Ia anggap Kim Houw meski tinggi ilmu silatnya, tapi lweekangnya belum tentu dapat menandingi dirinya. Maka, tanpa ragu-ragu lagi, ia lantas pasang tangannya untuk menyambuti serangan tangan Kim Houw.

Ketika kekuatan tangan kedua pihak benturkan, si nyonya baru merasa kaget. Lwekang anak muda itu ternyata lebih kuat dari apa yang ia duga semula, mengalir terus tidak putusnya, bahkan mengandung hawa dingin yang luar biasa.

Dalam kagetnya, si nyonya hendak menarik kembali tangannya dan segera mundur teratur, tapi ternyata sudah terlambat.

Suara "Bluk!" terdengar nyaring, badannya si nyonya dibikin terpental dua tombak lebih jauhnya.

Ketika jatuh di tanah, badannya menggigil kedinginan tidak bisa berbangkit lagi.

Mendadak terdengar suara pekikan nyaring melengking dan seram ! Kim Houw terperanjat, entah siapa orangnya yang mempunyai lwekang demikian? Kim Houw tanpa dirinya sendiri.

Belum sempat berpaling, di depannya muncul seorang laki-laki setengah tua yang mempunyai wajah cakap ganteng. Matanya memandang Kim Houw dengan tidak berkedip, kemudian sambil unjukkan senyuman riang gembira berkata pada Kim Houw: "Adik kecil, sungguh hebat kepandaianmu! Tidak kecewa kau menjadi tiancu dari istana Kumala Putih !"

Kim Houw tadi melihat si nona berbaju merah digendong si bocah memutar ke belakang puncak gunung, kini ternyata sudah tidak kelihatan bayangannya.

Kuatir akan terjadi apa-apa lagi, maka ketika mendengar ucapan laki-laki setengah tua tadi yang nampaknya tidak mengandung maksud permusuhan, lantas menjawab secara sopan: "Bolehkah aku tahu mana tuan yang terhormat. Aku yang rendah bukan Siao Pek Sin, Tiancu dari Istana Kumala Putih, melainkan seorang kecil yang tidak terkenal bernama Kim Houw."

Mendengar keterangan Kim Houw bahwa dirinya bukan Siao Pek Sin, wajah orang tua itu mendadak berubah pucat pasi, alisnya berdiri, senyumnya lantas lenyap tanpa meninggalkan bekas.

"Anak busuk! Kau bukannya Sioa Pek Sin? mengapa berani mati turut campur dalam urusan lain orang?" demikian orang tua itu membentak. Kim Houw yang menyaksikan laki-laki cakap itu begitu mudah berubah sikapnya, diam-diam merasa heran. Mengapa seorang yang nampaknya ramah tamah dalam sekejap saja bisa berubah demikian bengis dan jahat.

Selagi masih terbenam dalam keheranan, orang itu sudah melancarkan serangan aneh, tidak menimbulkan suara apa-apa, juga tidak kelihatan ada sambaran anginnya, seolah-olah serangan kosong yang tidak bertenaga.

Tapi, Kim Houw yang sudah mempelajari kitab Kao-jin selama dua tahun, sudah lantas mengenali bahwa serangan yang dilontarkan oleh orang itu adalah ilmu serangan bu-hong pek- lek-ciang atau tangan geledek tidak berangin.

Pukulan Bu-hong Pek-lek-ciang ini ada sangat ganas. Oleh karena tidak menimbulkan angin atau suara apa-apa, orang yang diserang tidak tahu dan tidak menduga kalau serangan itu ada hebat. Sesudah mengenakan sasarannya, kekuatan lweekangnya lantas timbul dengan mendadak. Seolah-olah sambaran geledek. Kapan orang yang diserang mengetahui dan hendak melawan dengan kekuatannya, saat itu sudah terlambat.

Karena Kim Houw kenal sifatnya serang geledek ini, maka ia tidak takut. Apa lagi ilmunya Han- bun-cao-kwie sudah dapat digunakan menurut kehendak hatinya, ilmu bu-hong Pek-lek-ciang baginya tidak berarti apa-apa.

Kim Houw nampaknya enak-enakan saja, ia seperti acuh tak acuh, seolah-olah tidak pandang mata atas serangan itu.

Laki-laki itu menggeram hebat, serangan geledek yang terdengar menggelegar tapi Kim Houw masih tetap berdiri di tempatnya, bergerak pun tidak , sebaliknya laki-laki itu sendiri yang terpental mundur sampai dua-tiga tindak.

"Anak busuk! kiranya kau juga mengerti ilmu gaib. Mari, mari, sambuti seranganku sekali lagi. Memang kalau kau tidak dikasih rasa sedikit kelihaianku, kau anggap aku benar-benar tidak punya guna!" kata orang itu yang segera menggosok kedua tangannya, sebentar saja telapak tangannya kelihatan merah membara.

Kim Houw terkejut, ia kenali itu adalah ilmu Tok-see-siang atau tangan pasir beracun, yang hampir sama dengan ilmu Sam-im cu, tapi ia lebih lihay dan lebih ganas.

Kim Houw diam-diam merasa geli, sebab ilmu Han-bun-cao-khie, justru merupakan senjata yang paling ampuh untuk memunahkan panasnya ilmu itu. Tapi untuk mempermainkan laki-laki sombong itu, Kim Houw hanya miringkan sedikit badannya, ia berlagak unjukkan kelemahannya, sebaliknya telah melakukan serangannya Han-bun-cao-khie dari samping.

Tapi belum sampai serangannya berwujud, orang itu tiba-tiba ketawa bergelak gelak.

"Kim-siauhiap." katanya. "Kepandaian ilmu silatmu benar-benar sangat lihay, aku si orang tua sungguh kagum. Hanya aku merasa sedikit heran, apa sebabnya Kim-siauhiap keluarkan tenaga membantu Ceng-kee-cee memusuhi keluarga Teng ?"

Kim Houw sebetulnya sudah siap melancarkan serangannya, tapi ketika mendengar pihak lawannya ketawa dan bicara padanya, ia buru-buru tarik kembali serangannya, lawannya membarengi menyerang hebat, hingga Kim Houw terpaksa mundur satu tombak.

Kim Houw tidak menduga bahwa orang itu ada begitu licik dan jahat. Kalau bukan karena Han- bun-cao-khie ilmu yang paling ampuh untuk menundukkan ilmunya Tok-see-ciang, Kim Houw pasti sudah rubuh terluka atau binasa. Orang itu mengira serangannya pasti dapat melukai Kim Houw, tapi tidak tahunya pemuda itu cuma terpental mundur saja beberapa tindak dan tidak terluka apa-apa. dalam hatinya diam-diam merasa sangat heran.

Ia menoleh dan mengawasi si nyonya yang jatuh pingsan, yang kini ternyata sudah siluman kembali. Sedang pada saat itu ditengah lapangan Ceng kee-cee sudah terjadi pertempuran kalang kabut.

Ia melihat gelagat tidak menguntungkan lalu timbul pikiran hendak menyingkir.

"Bocah, aku Teng Goan Piauw sudah menerima pelajaranmu, lain waktu kita bertemu lagi", demikian ia berkata kepada Kim Houw, kemudian menghampiri istrinya.

Mereka sambil bergandengan tangan menghilang di atas puncak gunung.