Istana Kumala Putih Jilid 10

 
Jilid 10

Kim Houw lantas berpikir senjata itu pasti ada semacam senjata beracun Bwee-hoa-ciam yang terdapat dalam buku pelajaran silat Kauw-jin Kiesu.

Cuma saja, jarum Bwee-hoa-ciam ada senjata yang ringan, sedang pemuda itu terpisah jauh dengan pohon besar itu masih bisa membikin rontok daun-daun pohon tersebut, maka ketajaman matanya dan kekuatan tenaganya mungkin sudah dapat dibandingkan dengan tokoh-tokoh kelas satu di kalangan kangouw.

Mendadak pemuda itu hentikan gerakannya, lalu menjura ke arah Kim Houw.

Perbuatan anak muda itu kemba1i membuat kaget Kim Houw, dengan ilmu mengentengi tubuh yang sudah mencapai puncak kesempurnaannya, ditempat jauh kira-kira sepuluh tombak, ternyata masih dapat diketahui oleh si pemuda, maka lweekangnya anak muda itu, benar-benar sudah tinggi sekali.

Belum hilang rasa kagetnya, Kim Houw tiba-tiba lihat pula satu bayangan orang terbang ke dalam kalangan. Ia adalah seorang tua berjenggot panjang, wajahnya merah, pakaiannya rapi.

Setelah ketawa bergelak- gelak Orang tua itu berkata: "Bagus! Benar- benar sudah cukup memuaskan, jeri payah suhumu selama setahun ini ternyata tidak percuma.

Cuma didalam lembah ini telah kemasukan seseorang. dia itu entah kawan atau lawan, masih belum diketahui. Coba kau timpuk dengan batu supaya dia keluar!" .

Percuma saja Kim Hauw sembunyi lagi karena dirinya sudah diketahui orang, lagi pula ia juga memang tidak ingin sembunyi terus.

Kemudian ia perdengarkan suara ketawa yang panjang, lalu lompat turun dari atas pohon.

Jauh-jauh Kim Houw sudah memberi hormat kepada orang tua dan anak muda tadi seraya berkata: "Boanpwe telah kesasar jalan sehingga kesalahan masuk ke tempat kediaman Cianpwe harap Cianpwe suka maafkan!"

Apa mau, baru saja Kim Houw menutup mulut. Si anak muda sudah membentak dengan suara keras, lalu menyerang dengan senjata rahasianya yang berkeredepan.

Kim Houw terperanjat, cepat melesat tinggi secara mudah sekali menghindarkan serangan itu.

Meski dapat menghindarkan serangan secara mendadak itu, tidak urung dalam hati ia merasa heran.

Tapi pengalamannya selama beberapa hari ini, ia sudah dapat meraba-raba sebab- musababnya, semua perlakuan orang-orang yang dikemukakannya, sudah pasti adalah perbuatan Siao Pek Sin.

Kim Houw masih belum berdiri tegak, tiba-tiba si orang tua sudah berada di depan matanya dan membentak: "Apa kau Siao Pek Sin, Tiancu dari Istana Kumala Putih ?"

Dengar pertanyaan ini, Kim Houw segera mengerti duduk perkaranya. Kembali gara-gara Siao Pek Sin, cepat ia memberi penjelasan. "Boanpwe bernama Kim Houw memang mirip dengan Siao Pek Sin, tapi bukan Siao Pek Sin harap cianpwe tidak sampai salah alamat."

Tiba-tiba muridnya nyeletuk: "Tidak... Tidak dia adalah Siao Pek Sin. Bukan parasnya saja yang sama, suaranya juga mirip. Cu Pek-ya, kau harus menuntut balas untukku dan untuk yaya, sekali kali jangan kena dikelabui. "Cu Hoa, benarkah kau tidak salah lihat ?" tanya si orang tua.

"Cu Pek-ya, sudah tidak salah lagi. Sekalipun dia sudah berobah menjadi abu, aku juga kenal.

Dia adalah mempunyai banyak pembantu barangkali sebentar akan tiba Cu Pek-ya!"

Orang tua itu mengurut-urut jenggotnya yang panjang.

"Cu Hoa, kau tidak usah kuatir, ada aku si Sepatu Dewa Cu Su di sini, rasanya tidak mungkin dia bisa lolos dari tanganku."

Kim Houw terkejut. Julukan "Sepatu Dewa" rasanya sudah pernah ia dengar, tapi entah dimana ia sudah tidak ingat lagi.

Orang tua yang menyebut dirinya Cu Su dengan julukannya si Sepatu Dewa, bukan lain adalah ketua dari Partai Sepatu Rumput.

Setahun yang lalu ketika ia lewat di daerah Shoatang selatan mengunjungi sahabat karibnya Sun Put Wie alias naga terbang di atas rumput, kebetulan menghadapi peristiwa darah di perkampungan sun-kee-cung, yang ditimbulkan oleh Siao Pek Sin bersama kawan-kawannya. Sun Put Wie dan seluruh keluarga telah mati terbunuh, kecuali cucunya, Sun Cu Hoa. Ia dengan cerdik menyembunyikan diri di belakang suatu papan merek hingga terhindar dari malapetaka, meskipun demikian ia mengalami penderitaan batin yang sangat hebat.

Setelah Sie Pek Sin berlalu, Cu Su baru tiba ia hanya terlambat sedikit saja. Ia berduka dan tidak bisa berbuat lain daripada bawa Sun Cu Hoa ke gunung Teng-lai-san, untuk digembleng dalam ilmu silat dan di elakang hari dapat menuntut balas kepada musuhnya.

Tidak disangka, dengan tidak disengaja Kim Houw telah kesasar jalan sampai di lembah kediamannya mereka. Sun Cu Hoa anggap Kim Houw sebagai Siao Pek Sin, musuh besarnya, bagaimana dia mau mengerti. Diam-diam Kim Houw sesalkan, kenapa mempunyai wajah mirip dengan Siao Pek Sin dan tidak melanjutkan penyamarannya sebagai orang gembel (pengemis).

"Siao Pek Sin," kata Cu Su dingin, "Kaburnya di dalam Istana Kumala Putih, semua tokoh rimba persilatan dan ketua pelbagai partai persilatan, masing-masing telah menurunkan kepandaiannya kepadamu, bolehkah kau unjukkan beberapa rupa saja kepada aku si orang pegunungan yang tidak mau memasuki istana keramat itu ?

Aku ingin coba-coba apakah aku mampu menyambuti atau tidak, supaya aku juga bisa mengukur tenagaku apakah ada harganya untuk menjadi guru silat atau tidak ?"

Kim Houw mendengar perkataan orang tua itu, dalam hati merasa mendongkol, gemas terhadap Siao Pek Sin membuat (Kim Houw) yang wajahnya mirip dengan manusia berhati binatang itu telah terlibat dalam banyak kesulitan.

"Harap Cianpwe sudi percaya keteranganku, aku sebetulnya bukan Siao Pek Sin, bahkan aku sekarang tengah mencari. "

Ia sebetulnya ingin memberi penjelasan kepada mereka dan ajak mereka sama-sama ke Ceng-kee-cee, supaya duduk perkara menjadi terang kalau Siao Pek Sin sudah dibekuk. Siapa tahu, Cu Su justru tidak memberikan kesempatan kepadanya, dengan suara keras ia sudah memotong perkataan Kim Houw: Apa? Apa aku si Sepatu Dewa Cu Su masih tidak ada harganya bertanding dengan kau?" Kim Houw mengerti percuma saja ia memberi keterangan. Tiba-tiba timbul pikiran untuk menggunakan caranya yang pernah dilakukan terhadap si pengemis tua Tok Kai, ajak Cu Su turut ke Ceng-kee-cee.

Siapa nyana, si orang tua itu seolah-olah mengerti maksud hatinya, sebelum Kim Houw bisa bergerak lebih dulu, menghadang perjalanannya.

"Kalau kau tidak mau unjukkan kepandaianmu untuk diperlihatkan padaku, jangan harap kau bisa keluar dari lembah ini dengan mudah. Tidak percaya? Kau boleh coba!" demikian katanya.

Kim Houw menyaksikan gerak badan si orang tua yang demikian gesit, rupanya tidak di bawahnya sendiri, dalam hati juga merasa kaget. Ia tahu ia harus unjukkan kepandaiannya baru dapat membikin takluk orang tua itu.

"Cianpwe paksa Boanpwe unjukkan kejelekan, Boanpwe terpaksa menurut, silahkan Cianpwe membuka serangan lebih dulu!" katanya dengan sikap hormat.

Menurut kelaziman, Cu Su seharusnya siang-siang sudah turun tangan untuk menuntut balas sakit hati sahabatnya, tapi karena ia mengingat bahwa Siao Pek Sin dalam usianya begitu muda mampu menduduki kedudukan Tiancu di Istana Kumala Putih, sudah tentu bukan sembarangan. Khabarnya Siao Pek Sin juga dapat pelajaran rupa-rupa dari tokoh-tokoh rimba persilatan yang tadinya terkurung dalam Istana keramat itu, lebih-lebih tidak boleh di pandang ringan.

Apalagi ia ingat bahwa dalam pertempuran antara tokoh terkuat, perlu sekali segala ketenangan pikiran. Dikuatirkan jika sedikit saja tidak bisa mengendalikan hawa amarahnya, mudah ia tergelincir. Jika sampai demikian halnya, bukan saja tidak berhasil menuntut balas sakit hati untuk sahabat karibnya, jiwanya sendiri ada soal kecil, tapi keturunan satu-satunya dari keluarga Sun, mungkin tidak lolos dari kematian.

Maka terpaksa ia menindas perasaan sendiri, dan paksa Kim Houw turun tangan. Siapa tahu Kim Houw bukan Siao Pek Sin, hingga ia tidak turun tangan tanpa sebab. Akhirnya Cu Su terpaksa turun tangan lebih dulu menyerang Kim Houw.

Kim Houw melihat serangan Cu Su demikian dahsyat, kekuatan anginnya saja sampai menderu-deru, ia mengerti kalau orang tua ini sangat lihay.

Ia tidak berani berlaku ayal, dengan cepat ia menyambuti dengan ilmunya Han-bun-cao-khie.

Suara beradunya dua kekuatan tenaga telah terdengar nyaring seperti guntur. Pasir dan debu pada beterbangan. Sun Cu Hoa yang berdiri sejauh kira-kira tiga tombak terpaksa mundur kira-kira satu tombak lebih, karena terdampar oleh angin pukulan mereka.

Serangan Cu Su tadi, meski dilakukan dengan tenaga sepenuhnya, tapi setelah kedua tangan saling beradu, ia juga merasa kaget, sebab kekuatan telapak tangan lawannya yang masih muda itu dirasakan keras bercampur lunak, bahkan seperti dapat digunakan menurut kemauan hatinya. Meski kekuatannya sendiri ditambah seratus persen, mungkin masih belum mampu membikin bergerak kaki lawan.

Si Sepatu Dewa Cu Su adalah ketua dari partai Sepatu Rumput, bagaimana ia tidak mengerti gelagat ?

Cu Su heran, lawannya lebih tinggi lweekangnya, tapi tidak mengakibatkan apa-apa atas dirinya, maka ia segera mengerti kalau pihak lawan itu sengaja tidak turun tangan jahat. Sekalipun demikian, ia masih penasaran melepaskan keinginannya untuk menuntut balas bagi sahabatnya. Tapi dalam hatinya mulai kuatirkan Sun Cu Hoa. Sebab anak muda ini benar-benar adalah Siao Pek Sin, sakit hati Sun Cu Hoa biar bagaimana sukar untuk dibalas. Ia mengerti sekalipun melatih diri lagi sampai beberapa puluh tahun, jangan harap dapat menangkan lawannya yang berkepandaian hebat itu.

Cu Su umpatkan perasaan kedernya.

"Bagus!" katanya. "Tidak kecewa kau menjadi Tiancu dari Istana Kumala Putih. Mari kita coba- coba lagi dua jurus!" berbareng ia menggunakan lengan bajunya untuk menyerang Kim Houw.

Melihat Cu Su masih ngotot, Kim Houw tidak bisa berbuat lain, terpaksa ia melayani orang tua

itu.

Sebentar saja, dua orang itu sudah bertempur sepuluh jurus lebih.

Ilmu silat Kao-jih Kiesu dari Istana Kumala Putih, pada seratus tahun berselang sudah lama menjagoi di dunia persilatan. Ia malang melintang di dunia belum pernah menemukan tandingan. Bagaimana Cu Su dapat melayani kepandaian Kim Houw, satu-satunya orang yang mendapat warisan sejati kepandaian ilmu silat itu ?

Kim How ada seorang sopan, meskipun ia didesak terus-terusan oleh Cu Su, tidak pernah mengeluarkan kata-kata jahat atau kotor memaki pada lawan dan ia tidak mau menggunakan tangan kejam.

Dalam pertempuran, senjata lengan baju Cu Su seolah-olah terhalang oleh kekuatan gaib, tidak bisa digunakan seperti biasanya. Mendadak orang tua itu lompat mundur dan berkata kepada muridnya : "Cu Hoa, ambilkan senjataku!"

Kim Houw mendengar itu, buru-buru berkata: "Cianpwe, harap jangan menggunakan senjata aku"

"Apa aku harus menerima kematian dengan konyol? Lihat, kawanmu sudah datang semua," Cu Su memotong ucapannya Kim Houw.

Berbareng dengan ucapannya orang tua itu dari atas pohon melayang dua orang, Kim Houw girang, karena dua orang itu adalah Kim Lo Han dan To Kai.

Dengan kedatangan dua orang ini, semua urusan gampang dibereskan, pikir Kim Houw.

To Kai begitu menginjak tanah, lantas memberi hormat kepada Cu Su dan berkata : "Pangcu selama kita berpisah apa ada baik ? Pengemis tua selalu memikirkan dirimu, sahabat ini adalah Kim Lo Han dari gereja Hoat-kak-sie di gunung Lie-lian-san, pangcu tentunya juga sudah pernah dengar !"

Selanjutnya ia berpaling kepada Kim Lo Han.

"Toa Ha-siang, ini adalah Pangcu dari partai kita sepatu rumput," Tok Kai perkenalkan ketuanya.

Cu Su heran, ia tidak nyana si pengemis tua Tok Kai juga datang ke tempat persembunyiannya. Diam-diam ia merasa jengah, terpaksa ia menemui dan memberi hormat kepada Kim Lo Han. Setelah masing-masing menceritakan persoalannya, baru tahu kalau Kim Houw memang bukan Siao Pek Sin.

Selanjutnya Tiong Ciu Khek Touw Hoa bersama si botak juga sampai di situ.

Tiong Ciu Khek pada satu hari di muka telah bertemu dengan Tok Kai. Dalam perjalanannya di gunung itu, mereka juga ada kesasar dan secara tidak sengaja pada menuju ke lembah itu.

Diantara mereka, hanya Sun Cu Hoa yang tetap tidak mau percaya. Ia anggap Kim Houw dengan Siao Pek Sin sekalipun mirip satu sama lain, tidaklah sampai begitu mirip seolah-olah pinang dibelah dua. Ia sejak kanak-kanak mempunyai sepasang mata yang tajam, ketajamannya melebihi manusia biasa.

Sepatu Dewa Cu Su setelah mendengar keterangan Tok Kai, sudah tentu lantas percaya, ia segera ajak para tamunya masuk ke dalam gubuknya.

Gubuknya meski kecil tapi cukup perabot rumah tangganya. Sebentar kemudian Cu Hoa sudah mencari hidangan dan dua guci arak untuk tetamunya.

Orang-orang itu sembari makan dan minum membicarakan rencananya untuk memasuki Ceng kee-cee !

Cu Su yang mendengar mereka hendak masuk ke Ceng kee-cee, lantas berkata: "Ji-tee kau mempunyai kedudukan sebagai Hu-pangcu (wakil ketua) dari partai Sepatu Rumput, apa masih belum mengetahui jalan ke Ceng-kee-cee itu ada sangat berbahaya ? Apa kau masih tidak tahu kalau dua Iblis tua suami-istri dari Ceng-kee-cee itu sangat lihay? Dengan cara demikian masuk ke Ceng-kee cee, bukan saja tidak dapat menolong orang yang kau maksudkan tepat pada waktunya, bahkan mungkin kau akan korbankan jiwamu di sana."

Tok Ki ketawa terbahak-bahak.

"Pangcu, kemana keberanian dan kegagahanmu diwaktu muda mengapa sekarang sudah musnah semua? Lo ceng mo (Iblis tua) suami istri meski mempunyai kepandaian ilmu silat tinggi luar biasa, tapi itu hanya menurut desas-desus saja, aku masih belum menyaksikan dengan mata sendiri. Untuk menolong cucu perempuan Touw-lauko, sekalipun harus mengorbankan jiwa, aku tidak merasa sayang," demikian jawabnya.

Cu Su kerutkan alisnya.

"Adatmu itu, sampai sekarang masih belum berubah. Kau selalu tidak mau mengalah kepada siapa juga!"

Tok Kai masih tetap ketawa bergelak-gelak.

"Bagaimana harus mengalah? Lo ceng-mo dengan kedudukannya yang strategis, paling bantar cuma terkenal karena racunnya, apakah Sin Hoa Tok Kai ada seorang yang takut racun? Semua racun di dalam dunia, paling berbisa ialah Ho teng ang, racun seperti racun ular, kelabang atau kalajengking apa artinya? Kim siauhiap ada Bak Tha yang selalu mendampingi badannya dan segala racun yang bagaimana bisa juga dapat ditolong olehnya!"

"Mengetahui keadaan sendiri dan mengetahui keadaan lawan. Baru bisa mendapat kemenangan dalam segala pertempuran. Ada suatu pepatah berkata: sebelum pikirkan kemenangannya, lebih dulu pikirkanlah kekalahannya. Dalam segala hal harus mempunyai rencana yang sempurna, sekali turun tangan, jangan sampai gagal," Cu Su menyatakan pendapatnya.

Ucapan ini, tidak bisa dibantah oleh Tok Kai, semua orang juga anggap itu memang benar.

Si botak yang duduk di dekat pintu, tiba-tiba berbangkit, badannya lantas lemas dan rubuh di tanah.

Semua orang menyaksikan itu pada terperanjat. Sebabnya, seorang yang tanpa sebab, tiba- tiba diserang penyakit, penyakit itu tentunya keras dan berbahaya.

Su Cu Hoa yang duduk di sisinya si botak juga mendadak menjerit kaget, tapi baru saja hendak mengatakan sesuatu, lantas berbangkis dan kemudian juga rubuh di tanah.

Dengan demikian, semua orang segera menyadari adanya bahaya, Tiong Ciu Khek pertama- tama yang membuka pintu hendak menerjang keluar, tapi ketika pintu terbuka, segumpal asap lantas menyerbu masuk. Tiong Ciu Khek yang pertama menjadi korban, ia berbangkis beberapa kali, lantas rubuh di tanah.

Perubahan yang terjadi secara mendadak sudah tentu mengejutkan semua orang, apalagi asap tebal masuk bergulung-gulung, hingga keadaan menjadi gelap!

Sin Hua Tok Kai berseru dengan nyaring "Dalam asap ada racunnya, lekas tutup jalan pernapasan."

Berbareng ia lantas menerjang keluar. Ia tidak kuatirkan dirinya sendiri, karena tidak takut racun segala racun tidak mempan padanya. Tapi begitu keluar dari gubuk, mulutnya lantas ternganga, matanya terbuka lebar!

Seluruh lembah telah diliputi oleh kabut asap tebal, mata manusia tidak dapat melihat benda dalam jarak satu tombak. Apalagi asap itu nampaknya makin banyak dan makin tebal. Justru lembah itu merupakan lembah yang tertutup dari empat penjuru, maka asap itu terus berkumpul disitu-situ juga.

Tok Kai buru-buru balik ke dalam gubuk segera menampak Cu Su dan Kim Lo Han sedang duduk bersemedi. Dengan jalan demikian meski tidak sampai dibikin celaka oleh asap beracun itu, tapi keadaannya tidak beda banyak dengan Tiong Ciu Khek yang benar-benar kena asap beracun, yang kini sedang menggeletak di tanah tidak ingat orang.

Diantara mereka kecuali ia sendiri, adalah Kim Houw yang kelihatan tidak apa-apa. Apa sebabnya bocah itu dapat menahan serangan asap beracun? Apakah dia juga tidak takut racun?

Ketika itu Kim Houw tengah repot lari kesana kemari, Bak-tha nya di rendam dalam arak, setiap orang ia beri minum arak rendaman Bak-tha itu secawan.

Tapi begitu mendusin baru saja membuka matanya, lantas pingsan kembali. Sebab selama dalam keadaan demikian, mereka tidak menutup jalan pernapasannya!

Tok Kai memandang Kim Houw sejenak, lalu berkata: "Siauhiap, jangan membuang waktu, percuma saja. Dengan melihat keadaanmu mungkin kau juga tidak takut asap beracun ini. Kita sekarang harus mencari daya upaya menerjang keluar dari kepungan asap beracun ini lebih dulu, atau berdaya menyerang orang-orang yang akan menyerbu kemari, untuk menyelamatkan diri kita semua." Memang benar Kim Houw tidak takut asap beracun itu, sebab buah batu yang ia makan dalam goa justru matang di bawah asap racun binatang kalajengking beracun.

Tok Kai geleng-gelengkan kepala: "Menahan musuh dan menolong kawan, sama pentingnya.

Melihat keadaan sekarang, dua soal ini tidak dapat dilakukan berbareng. Apakah kita baik menyerang keluar dulu, untuk mencegah bertambah asap beracun, kemudian kita menolong mereka dengan perlahan-lahan," kata Tok Kai.

"Keluar menyerang musuh cuma bisa dilakukan oleh seorang saja, karena seorang lagi harus menunggu untuk melindungi rumah ini dan bokongan musuh. Melindungi rumah ada berat, keluar menyerang musuh agak ringan. Biarlah Kim Houw pilih yang ringan saja, harap cianpwe menjaga rumah, bagaimana ?" kata Kim Houw.

Tok Kai tadi pernah menyaksikan pertempuran antara Kim Houw dengan Cu Su, tipu-tipu pukulan yang digunakan oleh Kim Houw, meskipun nampaknya kurang ganas, tapi kedahsyatannya benar-benar sangat mengagumkan. Maka terhadap anak muda itu ia diam-diam juga sangat kagum.

Kini mendengar perkataannya, terang sebetulnya Kim Houw sendiri yang hendak memikul tugas berat, tapi diputar balik dan ini hanya bermaksud hendak memberi muka kepada orang yang tingkatannya lebih tua, maka Tok Kai diam-diam merasa tambah suka terhadap kepribadiannya Kim Houw.

"Baiklah, aku si pengemis tua bisa jaga rumah, tapi kau sendiri juga harus hati-hati. Untuk kepentingan nasib kita bersama, untuk sementara jangan pergi jauh-jauh, juga tidak perlu terlalu murah hati terhadap musuh. Dalam keadaan demikian, kalau bukan dia yang mati pasti kita yang mampus. Kau boleh kira-kira sendiri dan sekarang pergilah! Jika ada bahaya lekas memberi tanda!"

"Terima kasih atas nasehat Cianpwe," kata Kim Houw sambil memberi hormat.

"Apa pakai Cianpwe-cianpwe segala, kedengarannya sangat menjemukan, lekaslah pergi." Dengan tidak banyak bicara, Kim Houw sudah melesat keluar.

Saat itu di luar pintu asap nampak makin tebal, tapi mata Kim Houw yang sangat tajam masih dapat melihat dengan tegas keadaan jarak tiga tombak jauhnya.

Ia berdiri sejenak untuk memeriksa keadaan, ia lihat asap itu masuk dari mulut lembah, maka segera mengetahui bahwa musuh-musuhnya itu tentu di mulut lembah ia lantas bergerak menuju ke arah itu.

Baru berjalan kira-kira sepuluh tombak lebih jauhnya, tiba-tiba ia disambut oleh beberapa puluh batang anak panah, yang melesat dengan cepat ke arah dirinya.

Begitu dengar suara menyambarnya anak panah, Kim Houw segera mengetahui datangnya bahaya, maka ia lantas keluarkan senjata Ngo-heng-kiamnya dan pecutnya Bak-tha Liong Kin. Masing-masing digenggam di tangan kanan dan kirinya.

Ketika beberapa puluh batang anak panah sudah datang dekat, Kim Houw putar kedua tangannya. Begitu cepat datangnya anak panah begitu cepat pula dikirim kembali oleh Kim Houw, hingga sebentar saja sudah lenyap.

Setelah serangan anak panah itu berhenti Kim Houw lompat maju, sekejap saja kembali ia sudah berada sejauh beberapa puluh tombak.

Tiba-tiba ia dengar suara bentakan orang, beberapa butir Gin bong gemerlapan menyambar padanya.

Senjata rahasia Gin-bong itu sangat kecil dan halus bentuknya, datangnya cepat bagikan kilat menyambar, tapi kedua senjata pusaka Kim Houw diputar demikian rupa rapatnya hingga tetesan airpun tidak menembus.

TIba-tiba ia melesat setinggi delapan tombak, matanya mendadak terang, hawa duara dirasakan segar. Kim Houw merasa girang, ia lalu menduga bahwa asap beracun itu ternyata tidak dapat mumbul ke atas, paling tinggi mungkin cuma lima tombak saja.

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa bergelak-gelak, kemudian disusul dengan ucapannya: "Binatang cilik, kau ternyata tidak takut asap beracun! Sekarang kau kasih kau rasakan lihaynya bom api.

Kim Houw segera melayang turun, karena suara itu ia kenali adalah suara Siao Pek Sin sendiri. Baru saja kaki Kim Houw menginjak tanah, ia sudah lompat melesat ke atas lagi, menuju ke dinding lembah dari mana datangnya suara tadi. Mata Kim Houw lantas mencari diantara dinding lembah itu.

Apakah ia salah dengar? Sedikitpun tidak, tapi Kim Houw tidak melihat bayangan seorangpun juga. Entah dimana sembunyinya Siao Pek Sin.

Peletikan lelatu api tiba-tiba meluncur dari atas kepalanya, kemudian disusul oleh suara ledakan keras. Kim Houw tundukkan kepala untuk melihat apa yang telah terjadi, di bawah kakinya ternyata sudah mengepul asap tebal kemudian berobah tiba-tiba menjadi bara yang mengeluarkan sinar hijau. Api itu ternyata sudah membakar kakinya.

Bukan main kagetnya Kim Houw. Ia lalu berdaya menahan lajunya badan sendiri yang melayang turun dengan cepatnya, sepatunya yang rombeng ia lepaskan dari kakinya, dengan meminjam kekuatan di atas sepatunya yang terlepas ini, ia melesat lagi ke atas kira-kira dua tombak tingginya, kemudian dengan gaya miring ia melesat lagi beberapa tombak jauhnya.

Dengan demikian ia lolos dari bahaya.

Tidak nyana, baru saja badannya meluncur turun, disampingnya kembali terdengar suara ledakan api yang bersinar hijau itu kembali menyala. Betapapun tinggi kepandaian Kim Houw, oleh karena badannya masih belum berdiri tegak, hendak menyingkir dari bahaya itu juga tidak keburu.

Sebentar saja, di atas badan Kim Houw sudah terbakar oleh api yang sangat mujijat itu Kim Houw buru-buru melompat lagi, tapi begitu badannya bergerak, api yang membakar di badannya lantaran kena asap telah menyala makin hebat.

Saat itu Kim Houw bukan cuma kaget, tapi juga bingung. Cepat ia jatuhkan dirinya bergulingan di tanah, barulah api dapat dibikin padam. Hanya pakaiannya dan rambutnya yang awut-awutan terbakar sedikit sedang kulitnya tidak terluka.

Sampai pada saat itu Kim Houw masih belum menyadari, bahwa dirinya selama setengah tahun melatih ilmu Han Bun Cao Kie di istana Kumala Putih, membuat darah dagingnya mempunyai daya tahan hawa dingin dan tidak takut hawa dingin dan hawa panas. Maka ketika ia dikurung oleh api dari bom peledak itu, kulitnya sedikitpun tidak terluka atau hangus. Kalau orang lain, mungkin sudah pada melepuh kesakitan.

Hal lain yang menguntungkan dirinya ialah sifatnya itu api sendiri, mesti hebat panasnya, tapi menyalanya sangat perlahan. Mungkin ini disebabkan asap tebal, kurang hawa udara dan kurang angin.

Baru saja Kim Houw lolos dari bahaya kebakar, tiba-tiba ia merasa di belakangnya ada samberan angin, cepat ia putar balik dirinya, suatu benda putih berkelebat di depan matanya dan hampir menyentuh dadanya, gerakannya cepat sekali, Kim Houw tidak banyak pikir menghunus pedang Ngo-heng-kiamnya untuk memapas benda putih itu, ternyata ada sebilah pedang tajam. Senjata pecut ditangan kanannya juga ia gunakan untuk balas menyerang ke arah dada si penyerang tadi Ngo-heng-kiam adalah pedang pusaka yang tajamnya luar biasa, maka sama sekali sudah tidak memberikan kesempatan lawannya untuk menarik kembali serangan pedangnya. Pedang pusaka itu begitu membentur pedang lawan lantas terpapas menjadi dua potong. Serangan pecut Kim Houw boleh dikata dilakukan dengan berbareng. Dia benci kepada lawanannya yang sangat telengas itu, tidak sepatutnya membokong dengan cara demikian rendah. Maka ia turun tangan agak berat.

Sekali Kim Houw niat melukai lawannya sukar bagi lawan dapat menyingkir dari tangannya.

Segera terdengar suara merintih, kemudian disusul rubuhnya tubuh lawannya.

Kim Houw masih belum sempat lihat tegas siapa lawannya yang terluka itu, di belakangnya mendengar ada suara orang yang membentak, sedang samberan anginnya sudah sampai di gegernya. Dalam keadaan gelap, karena asap tadi, Kim Houw cuma bisa berkelit, ke depan, kemudian lompat melesat sejauh tiga tombak.

Tapi, selagi badannya belum memutar balik angin serangan sang lawan sudah sampai. Kim Houw ingat perkataan Tok Kai: "Kalau bukan dia yang mati adalah kita yang mampus." Didesak demikian rupa, sudah tidak ada jalan lain baginya kecuali turun tangan kejam. Maka ia lantas membalik dengan mendadak dan menyerang dengan pecutnya.

Suara jeritan ngeri terdengar, lalu disusul oleh rubuhnya badan lawannya. Kim Houw coba tenangkan pikirannya, ia lihat bahwa dua orang yang rubuh itu ternyata tidak bergerak lagi, hatinya tiba-tiba merasa duka. Ini bukan karena mengasihi lawannya yang bernasib malang itu, tapi karena untuk pertama kalinya ia melukai orang begitu berat, sejak ia muncul di dunia kangouw.

Ketika ia menghampiri serta mengetahui tegas wajahnya dua orang yang terluka itu, keringat dingin lantas mengucur, matanya terbelalak dan hatinya hancur luluh! Dua orang yang menjadi korban senjatanya itu adalah Lie Cit Nio dan To Pa Thian yang dulu pernah bersama-sama menjadi penghuni Istana Kumala Putih.

Kepandaian Lie Cit Nio pernah ia saksikan sekalipun tidak dapat menandingi senjata pecutnya Bak-tha Liong-kin, rasanya tidak mungkin hanya dalam satu jurus saja sudah rubuh di tangannya.

To Pa Thian lebih-lebih membuat orang tidak habis pikir. Senjata istimewa yang sudah lama terkenal dalam kalangan Kangouw, Cu Bo in tan, ternyata tidak digunakan, sebaliknya menggunakan tangan kosong untuk menyerang, apa yang lebih aneh, seorang tokoh rimba persilatan yang sudah kawakan, maka ada demikian tolol sampai menjaga serangan membalik lawannya saja tidak mengerti.

Saat itu Kim Houw bukan saja terperanjat tapi juga merasa heran.Ia lalu berjongkok dan

memeriksa luka kedua orang itu. Satu luka di depan dada, satu lagi luka di bawah ketiaknya. Semua merupakan luka-luka yang bisa membahayakan jiwanya, nampaknya sudah tidak ada harapan hidup lagi.

Lie Cit Nio dan To Pa Thian meski sudah tidak bisa bergerak, tapi masih belum putus jiwanya.

Mereka membuka lebar matanya mengawasinya Kim Houw sambil tersenyum puas. Dari mulut masing-masing mengeluarkan sebutir obat pil.

"Kim-tiancu, kaulah adalah Tiancu istana Kumala Putih yang tulen. Kami tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan kau duduk di atas kursi singgasana Istana Kumala Putih, sungguh adalah suatu penyesalan yang besar, sekarang demi mati di dalam tanganmu kami rela dan merasa puas. Semoga kau lekas berhasil menumpas itu binatang she Pek serumah tangga dan duduk di kursi singgasana dalam Istana Kumala Putih. Kim-tiancu, kau jangan berduka, kami yang tidak sudi membantu kejahatan tapi tidak mempunyai hak untuk mengambil keputusan sendiri terpaksa meminjam tanganmu untuk mengembalikan kebebasan kami, maka tak usah kau bersusah hati."

Dengan susah payah Lie Cit Nio telah mengucapkan perkataannya. Napasnya memburu. "Dua butir obat pil ini dapat memusnahkan racun, asap beracun. Lekas ambil untuk menolong

jiwa kawan-kawanmu! Kematian buat kami adalah lebih baik daripada hidup terkekang. Harap tenangkan pikiranmu, semoga Tuhan melindungi kau, Tiancu."

Saat itu pipi Kim Houw sudah basah dengan air mata. Banyak kata-kata yang diucapkan, tapi tidak mampu dikeluarkan dari mulutnya. Hatinya pedih, mulutnya terkancing.

Mendadak ia ingat dirinya Peng Peng, lantas menanya : "Tahukah Jiwie, dimana nona Peng Peng sekarang berada."

Lie Cit Nio dan To Pa Thian, karena lukanya mengucurkan banyak darah, saat itu keadaannya sudah seperti pelita yang sudah kering minyaknya. Lama sekali mereka baru membuka mulut, Kim Houw cuma menangkap satu kata saja :"........Pek. "

"........Pek."

Pek? Hanya satu kata Pek. Ia coba menanya lagi, tapi keduanya sudah pejamkan mata dan menarik napas yang penghabisan.

Kim Houw makin sedih, air matanya mengucur makin deras. Pada saat itu, segumpal api telah menyambar dengan pesat. Kim Houw yang sudah tahu lihaynya api itu, ia tidak berani gegabah lagi. Dua orang sudah binasa, ia tolong lagi juga tidak berguna. Terpaksa ia mengambil dua butir obat pilnya dan lantas terbang melesat. Baru saja Kim Houw menyingkir. Suara peletok telah terdengar, sebentar saja jenasahnya Lie Cit Nio dan To Pa Thian sudah terbakar habis. Kim Houw berlutut dari jauh, memberi hormat yang terakhir kalinya kepada sahabatnya yang tidak beruntung lagi.

Dua butir obat itu, sedikitnya dapat menolong dua kawannya sudah ada empat orang untuk menolong lagi tiga orang lebih mudah.

Baru saja Kim Houw bangkit, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras yang menusuk telinganya. Kim Houw segera kenali itu adalah suaranya si pengemis tua. Ia terkejut, buru-buru meninggalkan tempat itu lari balik ke gubuknya Cu Su.

Sebentar saja ia sudah tiba. Rumah yang terbuat dari bahan bambu itu ternyata sudah terbakar oleh api ajaib itu, sebelah pintunya sudah terbakar habis. Melihat keadaan demikian, Kim Houw hampir terbang semangatnya. Ia tidak perdulikan dahsyatnya api hijau itu, lalu lompat menerjang ke dalam gubuk. Belum sempat ia tancap kakinya, setengah dari gubuk bambu itu ternyata sudah rubuh, mau menimpah dirinya Tiong Ciu Khek, Sun Cu Hoa dan si botak yang sedang pingsan.

To Kai baru mau menyingkirkan Kim Lo Han dan Cu Su masih belum keburu menyingkirkan ketiga orang itu, gubuknya sudah roboh, baiknya pada saat itu Kim Houw kebetulan menerobos masuk.

Tapi ketika Kim Houw mengambil dua butir pil dari mulut Lie Cit Nio dan To Pa Thia, ia simpan dalam saku dan pedangnya Ngo Heng kiam dimasukkan dalam sarungnya. Kini nampak gubuk bambu itu rubuh dan mau menimpa Tiong Ciu Khek bertiga dengan tanpa banyak pikir lagi ia lantas ayun tangan kirinya mengeluarkan serangan Han Bun-cao-khie yang ampuh, hingga gubuk yang sedang rubuh itu dibikin terbang balik, sedang pecut Bak-tha Liong-kin ditangan kanannya diputar untuk membasmi api yang beterbangan di tanah.

Ilmu Han-bun-cao-khie Kim Houw merupakan suatu ilmu pukulan yang paling dahsyat dalam dunia persilatan, apalagi ia kerahkan tenaganya seratus persen. Maaf bukan saja gubuk itu yang sedang rubuh itu sudah dibikin terbang, sebagian yang belum rubuh juga terguncang keras.

Ini betul-betul di luar dugaan Kim Houw.

"Kakek Pengemis, lekas bawa orang-orang keluar gubuk!" teriak Kim Houw pada Tok Kai.

Ia sendiri lantas menyambar ketiga orang itu untuk di bawa keluar dari gubuk yang hendak runtuh itu.

Si pengemis tua bisa bertindak cepat juga, dengan satu tangan satu orang, ia kempit Kim Lo Han dan Cu Su keluar dari gubuk. Mereka baru saja keluar, gubuk itu sudah ambruk seluruhnya.

Dalam keadaan sangat berbahaya seperti itu, si pengemis tua ternyata masih bisa berkelakar. "Haha, kakek pengemis, sebutan ini sungguh bagus sekali. Pengemis tua yang seumur

hidupnya belum pernah mempunyai mantu perempuan, sebaliknya sudah menjadi kakek. Mempunyai cucu yang begitu tinggi kepandaiannya kakek ini benar-benar boleh merasa bangga!" katanya sambil ketawa.

Kim Houw tidak mau ambil pusing, ia keluarkan dua butir obat pilnya, tapi tidak tahu harus diberikan kepada siapa ?

Selagi masih bingung si pengemis tua sudah menghampiri dan berkata : "Apakah ini obat pemusnah asap beracun ?"

"Benar, cuma tidak tahu harus siapa yang harus ditolong lebih dulu ?"

Si pengemis tua lalu menyambuti dua butir obat pil itu, ia endus-endus di hidungnya kemudian berkata: "Dalam segala hal kita harus bisa timbang mana yang berat dan mana yang ringan. Dua bocah cilik ini tidak guna dibikin mendusin. Tiong Ciu Khek Touw-toako terserang racun paling hebat, setelah dibikin mendusin mungkin belum mampu melindungi dirinya. Hanya Pangcu kami dengan Kim Lo Han, sehingga masih belum terkena racun, setelah mendusin bisa melawan musuh dan juga bisa menolong orang. Kau anggap usulku ini bagaimana ?"

Pertanyaan si pengemis tua yang terakhir belum mendapat jawaban, dua butir pil itu sudah dijejalkan dalam mulutnya Cu Su dan Kim Houw mengangguk sebagai tanda setuju usulnya itu, Cu Su dan Kim Lo Han sudah pada mendusin. Cu Su dan Kim Lo Han setelah mendusin tidak perlu membuka mulut, sudah tahu apa yang menyaksikan dengan hati panas. Tapi dengan cepat sudah panggul dirinya Sun Cu Hoa.

Kim Houw selagi hendak menggendong si botak, Kim Lo Han sudah lompat menghampiri serta berkata: "Houw-ji kau membuka jalan bocah ini biarlah aku yang bawa!"

Kim Houw semula tidak ingin Kim Lo Han menggendong anak muda, tapi kemudian menganggap membuka jalan adalah satu tugas yang lebih penting, terpaksa serahkan si botak kepada Kim Lo Han ia sendiri lantas tampil lebih dulu menerjang keluar.

Belum jauh orang-orang itu keluar dari tempat yang sangat berbahaya itu, di belakang gegernya terdengar suara peletak-peletok dengan beruntun. Di depan lembah juga terdengar suara dentuman hebat.

Kim Houw yang sudah merasakan lihaynya senjata meledak itu dalam hati merasa kalut, tiba- tiba terdengar suara Cu Su berkata. "Kim-siauhiap, mari ikut aku!"

Kim Houw lantas balik kembali, Cu Su sudah menerjang keluar dari samping.

Kim Houw tahu bahwa Cu Su sudah lama berdiam di lembah tersebut, sudah tentu tahu baik keadaan di sekitarnya, maka lantas lari mengikuti di belakangnya.

Cu Su mungkin karena asap terlalu tebal, matanya tidak bisa melihat jauh. Di tebing sebelah kiri lembah ia mencari jalan agak lama, baru diketemukan suatu lembah yang agak rendah.

Ia menghampiri sebuah batu besar, lalu mendorong dengan kuat ketika batu itu tergeser, di belakangnya terdapat pintu goa.

Mendadak disamping batu terdengar suara ledakan, api hijau lantas berkobar hebat Kim Houw yang berada paling dekat, tapi ia menyingkir paling cepat hingga badannya tidak sampai terbakar. Tidak demikian dengan Kim Lo Han dan si pengemis tua, dua orang ini keadaannya sangat mengenaskan, sebentar saja pakaiannya dan si botak yang digendongnya di gegernya semua sudah terbakar!

Masih untung bagi mereka, saat itu pintu goa tertampak jelas, maka Kim Lo Han dan Tok Kai segera melompat masuk. Kim Lo Han letakkan si botak, lalu bergulingan di tanah hingga padam apinya, begitu pula dengan Tok Kai.

Kim Houw dan Cu Su menolong Tiong Ciu Khek dan si botak Sun Cu Hoa dari kebakaran, sekalipun setelah apinya padam, Kim Lo Han dan To Kai bukan saja bajunya habis terbakar kulitnya juga pada melepuh. Si pengemis lagi lucu, separuh rambutnya terbakar habis. 

Tiong Ciu Khek dan si botak lukanya jug tidak ringan, kalau Kim Lo Han dan Tok Kai pada luka di bagian dadanya, Tiong Ciu Khek dan si botak terluka dibagian gegerkan. Semua kulit pada melepuh.

Luka terkena senjata tajam mudah diobati tapi tidak demikian dengan luka terbakar. Luka itu tidak memerlukan pil atau obat dalam, hanya memerlukan waktu sedikit lama, baru bisa sembuh.

Goa itu, mulutnya cuma setinggi orang berdiri, tapi di dalamnya sangat luas, ternyata itu adalah gudang tempat Cu Sun menyimpan barang makanan. Didalam tidak ada penerangan, tapi entah darimana masuknya angin. Dengan demikian maka asap beracun itu tidak bisa masuk, sedang asap yang berada dalam goa, lantas lenyap tertiup angin. Cu Su lalu menggunakan obat pil untuk menolong orang-orang yang pingsan. Tiong Ciu Khek begitu mendusin lantas melompat bangun tapi karena badannya bergerak, luka-luka melepuh di badannya lantas pecah, hingga menimbulkan rasa sakit yang tak terkira. Sekalipun ia mempunyai kepandaian tinggi, juga harus kerutkan alis menahan rasa sakit.

Si pengemis yang lukanya paling berat, tapi ia sifatnya selalu gembira. Dalam keadaan demikian, ia masih bisa bersenda gurau. Melihat sikapnya Tiong Ciu Khek yang gelisah, lantas ia tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: "Touw-lauko! Tenanglah sedikit, hari ini kita semua mengalami hari naas. Belum mendekat Geng-kee-cee, semua sudah menjadi anjing buduk, bulu dan kulitnya saja sudah tidak utuh lagi!"

Tiong Ciu Khek angkat tangannya hendak menghunus pedangnya, tapi alisnya lantas dikerutkan, mungkin lukanya pecah lagi, sehingga menimbulkan rasa sakit.

"Ceng-kee-cee! Iblis tua kalau aku tidak mampu mengubrak-abrik seranganmu, nama Tiong Ciu Khek selanjutnya boleh dihapus dari dunia Kangouw!"

"Ah! Pengemis tua yang begini tua", katanya kali ini tawanya getir. Masih harus merasakan siksaan begini rupa! Touw-lauko tentang kau tak usah bicara lagi, dalam dunia Kangouw selamanya akan tercantum namamu. Cuma belum tentu kau berhasil menerjang ke luar aku si pengemis tua tidak usah dikata lagi. Sekarang lihat cucuku ini saja.Ah! Kau jangan bikin repot

pengemis tua saja, orang-orang dari Istana Kumala Putih diantaranya siapa yang kau mampu menandingi? Imam Palsu ? Kacung Baju Merah? Kim Coa Nio-nio atau Lui Kong ?"

Pengemis itu mengoceh sendirian, seolah-olah lupa akan rasa sakitnya, sampai Tiong Ciu Khek merasa mendongkol. Tapi itu memang sebenarnya, Tiong Ciu Khek diam-diam juga mengakui.

Si Kacung baju merah usianya lebih muda dua tahun dari dirinya, dengan siapa ia mempunyai hubungan yang akrab, meski belum pernah mengadu tenaga, tapi dalam hati sudah merasa ia bukan tandingan si Kacung Baju Merah.

Sementara itu, yang lain-lainnya seperti Imam Palsu, Kim Coa Nio-nio, Lui-kong dan masih ada lagi sepasang manusia aneh dari Hay-Lam, semua tidak boleh dianggap remeh. Meski belum tentu jatuh ditangan mereka, tapi kalau bertanding satu lawan satu, terhadap satu saja diantara mereka belum tentu bisa merebut kemenangan.

Kemudian, si pengemis lalu menceritakan apa yang telah terjadi barusan ketika Tiong Ciu Khek dalam pingsan.

Pada saat itu, Kim Houw duduk dengan tenang seorang diri, apa yang diucapkan oleh si pengemis tua sepatah katapun tidak masuk ke telinganya. Apa yang dipikirkan ialah soal dimana adanya Peng-peng sekarang ?

Keterangan Lie Cit Nio dan To Pa Thian yang cuma menyebutkan "Pek" saja, sudah cukup membikin pusing kepalanya. Ia heran mengapa mereka tidak mengatakan "Ceng" sebaliknya mengatakan "Pek?" apa mereka maksudkan bahwa Peng Peng sudah dibikin celaka oleh Siao Pek Sin?

Dengan seorang diri ia duduk termenung pikirannya bekerja keras. Tok Kai menggodanya sebagai cucunya, dia juga tidak dengar. Pikirannya cuma memikirkan Peng Peng serta Kie Yong Yong yang dicemarkan oleh Siao Pek Sin, tapi kemudian ditimpahkan kedosaannya kepada dirinya. Tiba-tiba pundak kirinya di tepok orang, tepokan itu demikian berat. Kalau Kim Houw tidak cepat bergerak dan pundaknya agak menggeser setengah dim pundak itu tentu sudah hancur tulang-tulangnya.

Kim Houw masih belum lihat siapa orangnya, cuma hatinya merasa heran. Ketika ia berpaling, di belakangnya berdiri Sun Cu Hoa yang nampaknya tidak hiraukan lukanya. Kim Houw merasa heran, apakah ia masih belum hilang salah mengertinya?

"Cu Pek-ya sedang menanya kau ? Apa kau sudah tuli ?." kata Sun Cu Hoa.

Belum habis ucapan Sun Cu Hoa, Cu Su sudah membentak padanya: "Cu Hoa ! Kau berani berlaku kurang ajar terhadap siauhiap?"

Dengan air mata berlinang ia tundukkan kepala.

"Cu Pek-ya kesanku terhadap dia kelewat jelek sekali. Siapa suruh dia mempunyai wajah yang mirip sekali dengan musuh turunanku Siao Pek Sin ? Aku tidak tahan, aku kepingin makan dagingnya, hirup darahnya.  " Cu Hoa seperti kalap.

"Cu Hoa, kau berani melanggar perintahku?." Cu Su memotong dengan bentakan.

Sun Cu Hoa lalu berlutut di depan Cu Su air matanya mengalir deras.

Kim Houw menyaksikan keadaan demikian lalu berkata kepada Cu Su: "Cu-cianpwe jangan kau salahkan dia. Kita harus sesalkan perbuatan Siao Pek Sin yang menggemaskan. Aku juga benci terhadap diri sendiri mengapa aku mempunyai bentuk rupa yang mirip padanya. Aku sebetulnya ingin menggores wajahku dengan pedang supaya gampang dikenali."

Kim Houw pimpin bangun Sun Cu Hoa tidak nyana anak muda itu keras adatnya, bagaimanapun dibujuk, ia tidak mau meladeni ketika Kim Houw bimbing lagi, Sun Cu Hoa balikkan badan, tangannya menyerang dada Kim Houw.

Perobahan yang terjadi secara mendadak, sungguh tidak dinyana oleh Kim Houw, tapi sebagai seorang yang mempunyai kepandaian luar biasa, serangan itu tidak berarti apa-apa baginya.

Kim Houw sengaja tidak mau berkelit ia antapi dirinya diserang, agaknya membiarkan Sun Cu Hoa untuk melampiaskan kebenciannya yang dilimpahkan pada dirinya.

Tapi tidak demikian dengan Cu Su, orang tua itu gusar sekali karena Sun Cu Hoa tidak dengar perkataannya. Ia menggunakan lengan bajunya untuk menghajar Sun Cu Hoa, mulutnya membentak: "Binatang, dia adalah tuan penolong kau dan aku. Kau seorang murid tidak dengar kata suhunya lagi merupakan seorang yang tidak berbudi, kebaikan dibalas dengan kejahatan, buat apa kau menjadi orang ?"

Lengan bajunya lantas meluncur menyerang lengan kiri Sun Cu Hoa.

Sun Cu Hoa agaknya tidak ambil pusing sedikitpun tidak menggeser dari tempatnya.

Serangan Cu Su tidak boleh dipandang ringan kalau itu mengenai lengan Cu Hoa, lengan itu pasti patah. Kim Houw tiba-tiba melesat dari samping, ia tidak menyentuh Sun Cu Hoa lagi, tapi menggunakan jari tangannya menotok lengan baju Cu Su, sehingga Sun Cu Hoa terhindar dari malapetaka. Kemudian berkata kepada Cu Su.

"Cu-cianpwe, harap jangan salahkan dia. Dia sebetulnya tidak bersalah. Orang yang telah mengalami bencana rumah tangganya, bagaimana tidak berduka? Bagaimana tidak benci ? Aku dapat memahami perasaannya, aku tidak akan sesalkan dia."

Baru berkata sampai ke situ, tiba-tiba terdengar suara guntur, tanah sampai tergoncangkan dalam goa keadaannya mendadak gelap gulita. Kim Houw yang bisa melihat dalam keadaan gelap seperti diwaktu siang hari lantas tujukan ke pintu goa, pintu itu ternyata tertutup oleh sebuah batu besar.

Mulut goa tidak seberapa besar, sudah tentu orang tidak dapat melihat batu itu ada seberapa besarnya ? Tapi dilihat dari jatuhnya dan suaranya yang seperti guntur serta tanah yang masuk di pintu goa, besarnya batu itu sudah dapat dibayangkan sendiri berapa besarnya.

Kim Houw buru-buru mendekati pintu goa, dengan kedua tangannya ia mencoba mendorong, tapi ternyata tidak bergeming. Ia terkejut buru-buru menggunakan ilmunya Han-bun-cao-khie, lantas mendorong lagi.

Tenaga yang keluar dari ilmunya Han-bun-cao-khie itu, hebatnya tidak terlukiskan. Tapi batu itu hanya tergoyang sedikit, Kim Houw sudah merasa lega. Sebab jika masih bisa bergerak, tandanya masih bisa disingkirkan. Maka ia lalu mengerahkan lagi tenaganya, kembali mendorong.

Kali ini batu besar itu benar-benar tergeser satu lobang yang cukup untuk meloloskan diri seorang telah terlihat.

Tapi, ilmu silat Han-bun-cao-khie itu paling banyak meminta kekuatan tenaga dalam. Kim Houw telah membikin batu besar itu berkisar telah menggunakan tenaga lebih dari separuhnya. Dalam kepungan musuh ia tidak berani sembarangan menggunakan tenaga separuhnya, sebab seandainya Siao Pek Sin dan kawan-kawannya muncul dengan mendadak, di sini semua pada terluka, jika yang ketinggalan kehabisan tenaga bukankah akan menerima kematian tanpa bisa berdaya ?

Memikir sampai di situ, Kim Houw lalu hentikan gerakannya dan duduk mengaso. Siapa nyana, belum sampai meninggalkan pintu goa, tiba-tiba terdengar suara "Bang!" batu besar itu menggetar hebat disusul oleh goncangan amat dahsyat. Kim Houw yang sudah kehilangan separuh tenaganya dan selagi tidak berjaga-jaga, tubuhnya lantas terpental. Ketika tiba di tanah mulutnya mengeluarkan darah, kepalanya berputaran, matanya gelap, kemudian tidak ingat orang lagi.

Di luar goa suara gemuruh menggelindingnya batu-batu besar telah membikin pekak telinga.

Ternyata dari atas puncak gunung kembali ada sebuah batu raksasa telah menggelinding dan membentur batu besar yang menutup pintu goa. Dua buah batu yang beratnya ribuan kati saling bentur, sudah tentu menerbitkan goncangan hebat. Kim Houw sekalipun tidak terluka juga tidak tahan, apalagi sekarang kehilangan separuh tenaganya.

Kawan-kawan yang lainnya meski pada terluka, tapi keadaannya masih sadar. Melihat keadaan demikian, semua pada terperanjat, apalagi ketika menyaksikan Kim Houw menyemburkan banyak darah dari mulutnya serta berada dalam keadaan pingsan.

Satu-satunya orang yang tidak terluka adalah Cu Su. Ia nampaknya paling bingung, maka lantas buru-buru berkata kepada Sutenya : "Jite ! Lekas keluarkan pilmu !" "Pangcu, pilku baru saja habis, sekarang bagaimana ?" jawab Tok Kai dengan wajah suram.

Mendengar keterangan itu, Cu Su wajahnya pucat seketika. Ia sendiri selamanya tidak pernah membawa-bawa obat. Obat pilnya Tok-kai sebetulnya sangat mujarab, tapi kini telah habis. Apa daya ?

Tiba-tiba ia ingat dirinya Kim Lo Han dan Tiong Ciu Khek, maka lantas menanyakan pada mereka. Siapa nyana Kim Lo Han dan Tiong Ciu Khek, adatnya sama ia sendiri dibadannya belum pernah tersedia obat-obatan maka terpaksa gelengkan kepala sebagai jawabnya. Semua agaknya sudah tidak berdaya sama sekali.

Pada saat itu di luar tiba-tiba terdengar suara "sis..sis" yang semakin lama semakin dekat.

Bau amis masuk ke dalam goa. Cu Su sudah lama tinggal di situ agaknya tahu sedang menghadapi apa, maka lantas berseru : "Ular....ular....beracun...

Orang-orang dalam goa meski semua pada melepuh terbakar tapi lukanya tidak berat.

Si pengemis tua mendengar adanya ular, tanpa hiraukan rasa sakit di lukanya, dengan cepat lantas lompat bangun.

"Ular ? Di sini ada kakek moyangnya ular, takut apa ? Mari ikut aku !" demikian katanya.

Tok Kai saja berjalan di mulut goa, suara "sis, sis" terdengar makin dekat. Tiba-tiba dilihatnya kepala ular nyelusup masuk dari pintu goa, semua merupakan ular-ular aneh yang tidak diketahui namanya ia lantas berseru kaget . "Aaaa, celaka nenek moyangnya ular juga harus menyerah kepada cucu-cucunya! Lihat, semua ular yang aneh bentuknya ini, belum pernah aku si pengemis tua melihatnya..."

Selagi mereka berada dalam keadaan sangat berbahaya, tiba-tiba terdengar suara bunyi burung menyeramkan, suara itu berlainan dengan burung-burung lainnya nyaring dan tajam, sehingga memekakkan telinga.

Tapi suara burung itu justru telah membuat ular-ular yang sedang bergerak maju itu pada berhenti bergerak. Tok Kai menyaksikan keadaan demikian terheran-heran.

"Ini burung apa ? Mengapa aku si pengemis tua belum pernah lihat ? Bagaimana ia bisa membikin ular-ular aneh itu tidak berani bergerak ? Benar-benar sangat mengherankan !" demikian katanya.

Barusan ketika Tok Kai menyaksikan ular-ular yang bentuknya aneh itu, meski di mulutnya mengatakan tidak jeri, tapi dalam hatinya merasa bergidik, sebabnya ialah suatu jenis ular ada mempunyai sifat dan keganasannya sendiri-sendiri. Jika tidak mengetahui sifat dan keganasannya, agak sukar orang menangkapnya kadang-kadang orang yang hendak menangkapnya kena digigit.

Kini suara burung itu membuat takut ular-ular itu, sampai seorang yang banyak pengetahuannya tentang ular seperti Tok-Kai merasa sangat heran. Ia lalu memungut sebuah batu kecil, dengan segera ia menimpuk ke badannya ular.

Ular yang kena ditimpuk nampaknya kesakitan dan berlompatan. Tapi heran, begitu tiba di tanah masih tetap tidak berani bergerak.

Seekor burung tiba-tiba terbang berputaran di atasnya ular-ular itu. Bentuknya seperti burung gagak, bulunya juga hitam, tapi mengkilap lebih bagus dari pada burung gagak. Meski sekujur badannya hitam jengat, tapi patuk dan kukunya putih bersih, sepasang matanya bersinar kuning emas. Suaranya menakutkan bagi siapa yang mendengarnya, begitu berpengaruh suaranya yang aneh itu hingga kawanan ular pada ketakutan.

Burung itu terbang turun tidak hinggap di tanah, tapi terbang rendah berputaran dengan patuknya yang putih telah menggurat setiap perut ular.

Sang burung rupanya tidak bermaksud menyapok daging ular itu. Hanya untuk main-main saja. Kalau melihat ular-ular pada berkelojotan, tampaknya ia sangat gembira.

Ular-ular itu mati dalam keadaan perutnya terbelah, sang burung masih tetap berputaran masih tetap menggurat-gurat perut ular yang masih tersisa, sedang senang ia bermain. Mendadak ke arahnya menyamber benda bersinar kuning emas. Burung itu perdengarkan suaranya yang seram lalu terbang mumbul setinggi sepuluh tumbak, lebih, lalu berputaran tidak terbang pergi.

Ia jeri menghadapi sinar kuning itu, tapi rupanya masih penasaran tidak mau menyerah mentah-mentah.

Sinar emas itu ternyata adalah ular emas yang dilepaskan dari tongkat Kim Coa Nio-nio. Ular emas itu badannya cuma lima atau tujuh cun panjangnya, meski badannya bentuknya kecil, tapi kecil-kecil cabe rawit. Gerakannya gesit ketika menyambar cepatnya bagaikan kilat.

Saat itu, si ular emas dongakkan kepalanya, matanya mencorong tajam terus mengawasi burung hitam yang berada di udara. Lidahnya yang merah bergerak-gerak mengikuti gerakan sang burung kecil cabe rawit. Gerakannya gesit tapi ketiga menyambar cepatnya bagaikan kilat.

Saat itu, si ular emas dongakkan kepalanya, matanya mencorong tajam terus mengawasi burung hitam yang berada di udara, lidahnya yang merah bergerak-gerak mengikuti gerakan sang burung.