Istana Kumala Putih Jilid 08

 
Jilid 08

Ia tahu benar bahwa makanan itu ada racunnya, mengapa suruh ia makan? Dan kini malah mengatakan, kalau ia makan paha ayamnya, si nona juga akan dahar mienya; apa maksudnya ini? Baru saja nona Kie menutup mulutnya, dari belakang tiba-tiba muncul seorang tua tinggi besar. Begitu muncul, orang tua itu lantas menyeret dirinya Hui-thian Leng Kauw sembari berkata, "Tidak ada gunanya, apa dengan duduk saja di tanah perkara bisa beres?" 

Pada saat itu, semua orang tiba-tiba dengar suara orang yang sedang menghirup kuah mie serta suara mulut bercakap-cakap. Suara itu keluar dari luar jendela, agaknya orang itu sedang menikmati makanan yang lezat.

Kali ini Kim Houw kaget benar-benar! Siapa itu orang yang berada di luar jendela? Mengapa ia sendiri tidak tahu? Dapat diduga bahwa orang itu ilmunya mengentengi tubuh sudah mencapai tingkat puncaknya.

Pantas mangkok mie tadi ketika dilemparkan keluar tidak ada suaranya jatuh di tanah, kalau begitu ada orang yang menyambuti.

Kim Houw ingat bahwa mie itu ada racunnya, kalau dimakan, bukankah orang itu nanti akan binasa? Tapi siapa orang itu, baik atau jahat? Ia sendiri masih belum tahu.

Ia lalu tongolkan kepalanya keluar jendela, segera dapat dilihat di bawah daun jendela ada seorang pengemis tua yang wajahnya kotor dan rambut sudah putih serta awut-awutan. Mangkok mie itu ternyata berada dalam tangannya, sedang dimakan dengan lahapnya, sedang di tangannya nampak memegang paha yang sedang digerogoti.

Kim Houw menyaksikan kejadian itu, dalam hatinya merasa cemas. Meski ia seorang pengemis, tapi toh masih harus disayangi jiwanya. Maka buru-buru berkata, "Lo Pek, mie itu ada racunnya..."

Pengemis tua itu menjawab tanpa menoleh, "Kalau tidak ada racunnya belum tentu aku mau makan! Sudah tentu setengah abad aku hidup sengsara di dunia, mati ada lebih baik. Cepat mati cepat naik ke surga, lebih lekas mati lekas bebas!"

Kim Houw merasa pilu, "Lopek, aku di sini ada obat pemunah racun, masuklah ke dalam!"

Pengemis itu dongakkan kepalanya, ia memandang lama kepada Kim Houw. Rambutnya yang awut-awutan hampir separuh menutupi wajahnya, hingga Kim Houw tidak dapat melihat dengan tegas wajah yang sebenarnya.

Tapi, dalam hati Kim Houw tiba-tiba tercekat, karena sepasang matanya pengemis itu ternyata memancarkan sorot mata tajam. Kim Houw baru insyaf bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang luar biasa!

Tiba-tiba dari mulutnya pengemis itu meluncur benda putih dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar pada kedua biji mata Kim Houw.

Bukan kepalang kagetnya Kim Houw, dengan cepat ia lantas ayun tangannya, benda putih tadi segera berada dalam tangannya. Tapi meski ia berhasil menyambuti benda putih itu, tangannya sendiri juga masih terasa sakit.

Tatkala ia periksa, benda putih itu ternyata cuma dua potong tulang ayam.

Kim Houw diam-diam merasa kaget, ia tidak nyana bahwa pengemis tua itu ada mempunyai kepandaian begitu tinggi, bahkan mungkin masih lebih tinggi setingkat dari pada Tang Lo Han. Tiba-tiba ia dengar suara jeritan nona Kie. Kim Houw dengan cepat balik ke dalam ruangan. Urat nadi tangan nona Kie sudah kena dicekal oleh orang tua tinggi besar yang baru keluar dari belakang, sedang tangan lainnya mengancam jalan darah Leng-tai-hiat di belakang si nona.

"Bocah, kalau kau berani bergerak sedikit saja, aku lantas antar dia ke akhirat," demikian orang tua itu berkata sambil ketawa mengejek pada Kim Houw. Kim Houw terkejut tak dapat melindungi dirinya si nona.

"Hai, lekas tolong aku! Kalau aku tadi tahu kau tidak mau menolong diriku, sebaiknya aku makan saja mie yang ada racunnya itu. Mungkin tidak akan mengalami hinaan begini rupa," si nona tiba-tiba berkata dengan nyaring.

Kim Houw merasa seperti dipagut ular, tiba-tiba ia ingat dua potong tulang halus yang dilontarkan oleh pengemis tua tadi. Ia mau menggunakan dua potong tulang yang masih berada dalam tangannya untuk menyerang dengan tiba-tiba.

Ketika tangannya Kim Houw mengayun, segera dengar "Ouw", lalu disusul melesatnya suatu bayangan putih, dengan kecepatan tinggi bagaikan kilat sudah berada dalam pelukannya sendiri. Hal ini benar di luar dugaannya.

Untuk menghadapi orang-orang dunia rimba persilatan yang betapapun tinggi kepandaiannya, Kim Houw belum pernah merasa takut atau jeri, tapi menghadapi nona Kie yang jatuhkan diri dalam pelukannya, membuat kelabakan dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. 

Buat ia, kecuali Bwee Peng, ketika pada saat hendak ditinggalkan, pernah menangis dalam pelukannya melihat ia terluka, sehabis itu belum pernah ia disentuh oleh kaum wanita. Apa mau nona Kie dengan tidak malu-malu lagi, di hadapannya begitu banyak orang ia rebahkan kepalanya pada badannya, bagaimana Kim Houw tidak merasa jauh dan berdebar hatinya?

Suara benturan mendadak terdengar saling menyusul, empat orang itu menerjang Kim Houw dengan berbareng.

Kim Houw meski menyanggupi nona Kie untuk memberi pertolongan, tapi dalam keadaan demikian, sudah tentu ia tidak dapat mengelakkan lagi. Mendadak ia ayun satu tangannya, melancarkan ilmunya Han-bun-cao-khie, yang sangat ampuh. Gelombang hawa dingin itu meluncur dan merupakan tembok dinding yang sangat kokoh, menghalangi majunya empat orang itu.

Kemudian Kim Houw dorong perlahan dada si nona, maksudnya ialah supaya nona itu menyingkir dan ia bisa leluasa menghadapi empat musuhnya.

Tidak nyana tangannya telah mendorong bagian yang empuk lunak dan membal. Ia kira nona itu mempunyai ilmu lwekang yang sangat tinggi, sehingga dapat membuat dirinya begitu lunak dan licin. Untuk mencoba ada berapa tinggi kepandaian si nona, dengan tidak banyak pikir, Kim Houw ulur lagi tangannya mendorong.

Tiba-tiba Kim Houw ingat sesuatu yang tidak beres, dalam kagetnya, ia lantas tarik kembali tangannya. Kim Houw salah alamat mau mendorong dada kena dorong benda empuk lunak dan membal... buah dada si nona.

Pada saat itu, selembar wajah si nona berubah menjadi merah, dengan tidak berkata apa-apa, sudah lepaskan dirinya dari pelukan Kim Houw dan memutar berdiri di belakang anak muda itu. Tepat pada saat itu juga empat orang tua dari golongan Ceng-hong-kauw itu sudah menerjang lagi dengan berbareng. Kim Houw tidak bermaksud untuk melukai lawannya, maka tidak digunakan sepenuhnya ilmu Han-bun-cao-khie yang ia anggap kelewat lihay.

Ketika menampak ke empat lawannya itu ternyata sangat bandel, ia lalu menggunakan tipu pukulannya yang dinamakan burung kepinis terbang berputaran, yang terdiri dari delapan belas jurus dan yang dianggap paling lunak dari semua ilmu yang pernah dipelajarinya untuk melayani orang tua itu.

Tapi di matanya empat orang tua itu, tipu-tipu pukulan Kim Houw itu hampir setiap jurus merupakan tipu-tipu serangan yang aneh dan luar biasa. Empat orang tua itu meski bukan tokoh nomor satu dari golongan Ceng-hong-kauw, tapi dalam tingkatan kedua termasuk orang-orang yang kuat. Namun bagaimanapun mereka berusaha dan mengeluarkan semua kemampuannya, semua serangannya sedikitpun tidak menyentuh ujung baju Kim Houw.

Sekejap saja pertempuran sudah berjalan kira-kira sepuluh jurus lebih. Kim Houw tetap gunakan tipu pukulan itu-itu saja, tidak berganti. Ia hanya bermaksud supaya empat orang itu mengerti sendiri kelemahannya dan lantas mundur.

Tapi mendadak orang tua tinggi besar itu bersiul, mereka segera mundur dengan berbareng, kemudian disusul dengan tertebarnya bayangan tanda hitam diikuti bau amis, mengurung kepala Kim Houw.

Kim Houw ketika nampak bayangan hitam dan hidungnya mencium bau amis, segera mengetahui bahwa benda itu ada racunnya, dalam hati lantas merasa gusar.

"Bangsat kejam, aku tidak akan ampuni kau lagi," bentak Kim Houw.

Diam-diam ia kerahkan ilmu Han-bun-cao-khie, lalu mendorong tangannya ia pukul balik benda hitam itu.

Tanda hitam beracun itu telah dilontarkan oleh orang tua tinggi besar, mampu menggunakan senjatanya yang istimewa serupa itu sudah tentu mengerti caranya untuk menghindarkan jika diserang. Ketika menampak senjatanya dipukul balik, ia lantas menyingkirkan dirinya untuk mengelakkan serangan berbalik itu.

Tiba-tiba di depan matanya ada berkelebatan bayangan putih.

Ia masih belum tahu benda putih apa itu, tiba-tiba matanya dibikin kesima oleh sinar berkilauan, kemudian disusul rasa dingin di kedua daun telinganya serta rasa kesakitan. Ia baru mau angkat tangan kanannya, tapi rasa sakit telah dirasakan menusuk ulu hatinya, hingga matanya menjadi gelap dan tidak ingat lagi apa yang telah terjadi.

Kim Houw tidak ada maksud untuk membunuh itu orang tua, ia hanya mengambil daun telinga dan lima jari tangannya, supaya di kemudian hari ia tidak ada muka lagi untuk ketemu orang serta tidak bisa menggunakan senjata yang beracun itu untuk melukai orang.

Kim Houw telah menggunakan Ngo-heng-kiam pemberian Peng Peng untuk memapas daun kuping dan memotong jari tangan orang tua itu. Karena semuanya itu dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, tiga kawannya masih belum tahu apa sebetulnya yang telah terjadi tahu-tahu orang tua itu sudah rubuh di tanah dalam keadaan pingsan!

Dari luar jendela tiba-tiba lompat masuk salah satu bayangan orang. Semua orang pada dibikin kaget oleh munculnya orang itu. Ia ternyata adalah pengemis tua yang barusan makan mie beracun di bawah jendela. Matanya yang tajam pengemis tua itu dengan tidak berkedip memandang pedang pendek di tangan Kim Houw, kemudian menanya dengan suara setengah membentak, "Bocah cilik, Tiong Ciu Khek pernah apa dengan kau?"

Kim Houw meski sudah tahu bahwa pengemis tua itu ada seorang luar biasa, tapi dalam hatinya tidak puas dengan segala sepak terjangnya pengemis itu, karena dengan tanpa sebab pengemis itu telah menyerang matanya dengan tulang ayam, kalau ia tidak mempunyai kepandaian tinggi, bukankah kini matanya sudah menjadi buta?

Sekalipun tulang ayam itu ia sendiri juga gunakan untuk menolong nona Kie dari bahaya, tapi hanya suatu hal yang kebetulan saja. Ia tidak merasa berhutang budi terhadap pengemis itu. Kini pengemis tua itu telah menanya asal usulnya dengan secara demikian kasar. Kim Houw yang paling tidak suka dengan perlakuan kasar, meski sudah tahu pengemis itu berkepandaian tinggi tapi ia tidak takut. Maka ia lalu menyahut, "Tiong Ciu Khek pernah apa dengan aku? Kau tidak usah perduli."

"Anak busuk, kau berani tidak pandang mata kepadaku? Lihat wasiatku."

Kata-kata si pengemis tua disusul dengan suara pekiknya yang aneh, kemudian menggerakkan tangannya, dari situ segera meluncur dengan cepat sebuah benda kuning.

Kim Houw lalu menyambuti benda kuning itu dengan tangannya, tatkala ia periksa, ternyata itu sepatu rumputnya si pengemis yang kotor dan bau.

Kim Houw gusar, ia lalu ayun tangannya, sepatu busuk itu dikirim kembali kepada penyerangnya.

Pengemis tua itu ketawa terbahak-bahak, orang tidak tahu dengan cara bagaimana ia bergerak, tahu-tahu badannya sudah melesat ke atas, dengan kakinya dilonjorkan, tepat sekali sepatu itu sudah berada di kakinya lagi.

"Sepatu saktiku ini, sekalipun kau mempunyai banyak emas juga tidak mampu beli. Orang lain susah untuk mendapatkan, tapi kau tidak sudi, nyata kau ada anak kemarin sore yang baru muncul... maka tidak kenal barang..." demikian mulutnya mengoceh tidak hentinya.

Kim Houw sejak meninggalkan Istana Kumala Putih di rimba keramat, baru pertama kali ini dipermainkan oleh orang. Meski hati merasa mendongkol, tapi ketika mendengar perkataan si pengemis tua yang seperti sudah miring otaknya, ia lantas tidak mau ambil pusing.

Sejak munculnya si pengemis tua itu, orang-orang dari Ceng-hong-kauw sudah pada kabur, Kim Houw juga tidak merintangi perginya mereka.

"Akhirnya ada orang yang kenal barang juga, aku kata sepatu sakti masa benar-benar sudah tidak ada gunanya...?" si pengemis itu tiba-tiba berkata sambil tertawa.

Mau tidak mau hati Kim Houw merasa curiga juga. Betulkah sepatu butut itu ada riwayatnya sendiri? Pada saat itu, dari ruangan belakang telah muncul satu orang dan ketika berada di ruangan tengah, segera berlutut di depannya pengemis tua itu.

Kim Houw yang menyaksikan hal itu, dalam hatinya merasa heran, terutama setelah mengetahui bahwa orang itu ternyata Tan Eng sendiri. Sambil meletakkan sepatu butut di atas kepalanya, Tan Eng berlutut di tanah. Badannya lurus, matanya mengawasi tanah, wajahnya pucat pasi, sedikitpun tidak berani bergerak. Kemudian si botak juga turut berlutut di belakang gurunya.

Kim Houw merasa terheran-heran. Melihat gerakannya Tan Eng ada begitu gesit waktu dari ruangan belakang, tentunya ia bukan orang sembarangan. Kalau dibanding dengan empat orang tua dari golongan Ceng-hong-kauw tadi rupanya Tan Eng masih lebih unggul. Herannya terhadap si pengemis tua jorok itu, sebaliknya ia begitu takut dan hormat sekali. Dalam hal itu pasti ada sebabnya.

"Aa... ya... ya...! paman gemuk ini kau... kau kenapa?" si pengemis berlagak kaget, sambil mundur berulang-ulang.

Si gemuk Tan Eng masih tetap berlutut tidak bergerak, mendadak dari sakunya mengeluarkan satu pisau pendek, sembari acungkan pisau ini di atas dada sendiri, ia berkata dengan suara terharu, "Tan Eng tahu dosa sendiri yang terlalu besar hingga tidak dapat ampunan dari Hu Pangcu. Hanya Tan Eng ada mempunyai seorang murid si botak ini rasanya masih boleh dididik. Kalau Hu Pangcu masih mengingat sedikit pahala Tan Eng di masa yang lampau dan sudi mendidik muridku ini, roh Tan Eng di alam baka tidak nanti melupakan budi yang besar ini."

Sampai di sini, si pengemis itu tidak berlagak lagi. Tiba-tiba ia keluarkan bentakan keras, rambutnya yang putih pada berdiri, sehingga kelihatan wajah yang merah segar seperti anak bayi. Matanya memancarkan sinar yang tajam.

Kim Houw terperanjat, ia tidak nyana bahwa pengemis tua itu ilmunya demikian tinggi, benar- benar sukar dipercaya.

Jika dirinya tidak kesalahan makan buah batu yang merupakan barang wasiat dalam kalangan rimba persilatan, untuk mendapatkan kepandaian ilmu seperti si pengemis tua itu, entah harus makan berapa puluh tahun latihan baru dapat dicapai.

Pengemis tua itu setelah keluarkan bentakan, lama sekali baru berkata, "Hm! Hm.. kau ternyata masih mengenali aku. Lantaran kau, melihat aku tidak lantas berusaha kabur, maka kuberikan kau mati dalam keadaan utuh...!"

Kata-kata pengemis tua itu sangat dingin bengis tapi berwibawa, sampai Kim Houw yang mendengarnya juga merasa kagum.

Si pengemis belum lagi sempat melanjutkan perkataannya, Kie Yong Yong mendadak menarik tangan Kim Houw, "Hai! Maukah kau menolong dia? Paman Tan ada seorang baik!" demikian katanya.

"Ini adalah urusan dalam partai mereka sendiri. Orang luar tidak boleh campur tangan sembarangan. Apa lagi atas kemauan sendiri!" jawab Kim Houw sambil kerutkan alisnya.

"Tapi mengapa kau mau tolong aku? Aku juga orangnya Ceng-hong-kauw yang tersangkut urusan dalam partai!" kata pula si nona sambil monyongkan mulutnya.

"Toh kau sendiri yang minta! Apa aku...!" Kim Houw terkejut.

Saat itu, si pengemis sedang membentak, "Semua urusan sudah diselesaikan atau belum?

Pergilah!" Tan Eng masih bisa unjukkan senyumannya, lalu letakkan pisaunya. Lebih dulu ia manggut- manggut tiga kali kepada si pengemis, kemudian mengawasi si botak yang berlutut di sampingnya. Lalu mengambil pisaunya lagi. Pada saat itu nona Kie sudah berteriak memanggil-manggil padanya, "Paman Tan...!"

Tapi Tan Eng tidak menggubris, ia angkat tangan kanannya, pisaunya ditujukan kepadanya, siap untuk segera ditubleskan.

Mendadak si botak menubruk gurunya, kedua tangannya memeluk lengan suhunya. Mulutnya memanggil dengan suara pilu, "Suhu... suhu..."

Tan Eng kibaskan lengannya, air matanya mengalir deras. Tapi ia masih tidak urungkan niatnya, dengan satu tangan ia mendorong si botak sehingga terpental jauh sedang pisau di tangannya masih tetap ditujukan kepada dadanya.

Dalam keadaan begitu kritis, tiba-tiba sebuah benda kuning menyamber dengan cepat lalu disusul dengan suara "trang", pisau Tan Eng terpental jatuh jauh sekali, tapi lengan Tan Eng sendiri terbentur oleh benda kuning itu sampai jatuh bergulingan.

Pisau kecil meski sudah jatuh di tanah tapi ujungnya sudah mengenakan sedikit dada Tan Eng, maka dari luka itu lantas mengeluarkan darah.

Tan Eng sama sekali tidak perdulikan luka di dadanya, ia cepat merayap bangun. Dengan kedua tangannya ia menjemput sepatu butut yang barusan memukul lengannya sehingga terguling dengan sikap yang hormat sekali ia menghampiri si pengemis tua, ketika berada di depannya ia lalu letakkan sepatu itu di tanah.

Tiba-tiba si pengemis tua itu berkata, "Hukuman mati boleh dibebaskan, tapi hukuman hidup tidak. Di pucuk gunung Thai-san, kau harus bertapa menghadap tembok sepuluh tahun lamanya, kemudian pergi ke gunung Biauw-san untuk mencari bahan obat-obatan. Kalau kau berlaku salah sudah tidak dapat ampunan lagi! Lekas bangun, mengucapkan terima kasih kepada tuan penolongmu."

Tan Eng bingung, kepada siapa ia harus mengucapkan terima kasihnya? Ia ingat barusan nona Kie memanggil kepadanya dua kali, mungkin karena itu ia terhindar dari kematian. Maka ia lantas menyatakan terima kasihnya kepada nona Kie! Tidak nyana nona Kie lantas ketawa geli dan menyingkir ke belakang Kim Houw.

Tan Eng segera ingat bahwa suara "trang" tadi dengan sepatu butut adalah dua soal, maka seketika itu lantas insyaf bahwa orang yang benar-benar telah menolong jiwanya adalah Kim Houw. Ia pun segera mengucapkan terima kasih kepada anak muda itu.

Kim Houw sudah kata tidak akan turut campur tangan, tapi mengapa ia turun tangan juga? Ada sebabnya. Mata Kim Houw terus mengawasi segala gerak-gerik si pengemis. Ketika menyaksikan kegagahannya Tan Eng yang anggap kematian bukan soal apa-apa, si pengemis tua itu rupa- rupanya mulai lemas hatinya. Biar bagaimana Tan Eng pernah menjadi salah satu tokoh terkenal dalam golongan Sepatu Rumput, yang pada beberapa puluh tahun berselang namanya pernah menggetarkan dunia rimba persilatan. Cuma lantaran peraturan-peraturan yang terlalu keras dalam partai tersebut serta tidak sembarangan menerima anggota, pada beberapa tahun belakangan ini tidak nampak kemajuan dan sudah tersusul terkenalnya oleh partai Ceng-hong- kauw.

Itu kejadian pada sepuluh tahun berselang, si gemuk Tan Eng melanggar suatu perkara kecil saja dan apa mau perkara itu menjadi suatu kesalahan paham yang sangat hebat, hingga menimbulkan insiden dan dengan salah satu tokoh kuat dari partai lain. Dalam gusarnya Tan Eng lantas sembunyikan dirinya, sepuluh tahun lebih tidak pernah unjukan muka di dunia Kangouw. Perbuatan Tan Eng itu, serupa dosanya dengan melarikan diri dari partainya, maka hanya dalam setahun ia merasa menyesal atas perbuatannya cuma menuruti panasnya hati. Tengah ia hendak kembali kepada partainya untuk menebus dosanya, ia telah menemukan seorang anak yang terlunta-lunta, anak itu adalah si botak.

Mungkin karena sudah berjodoh, begitu melihat si botak, Tan Eng lantas saja merasa kasihan dan tidak bisa berpisah begitu saja. Maka akhirnya ia bawa bocah itu menetap di tepi danau Pek- cui-ouw.

Tidak dinyana, sepuluh tahun kemudian pengemis tua itu dapat menemukan dirinya di danau

itu!

Pengemis tua itu adalah wakil ketua partai Sepatu Rumput. Anggotanya banyak terdiri dari macam-macam golongan manusia tersebar luas di kalangan Kangouw. Ketuanya adalah si Sepatu Dewa Cu Su.

Cu Su suka mengembara, hingga tidak ketentuan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, maka segala pekerjaan dalam partai, semua telah jatuh di pundaknya wakil ketua, ialah si Sepatu Sakti Tok Kai (pengemis beracun). Nama ini didapatkan karena sepasang sepatu di kakinya di kala menghadapi musuh bisa digunakan sebagai senjata yang berterbangan mengarah sasarannya, seperti juga ada dewa yang membantu. Kedua, sejak masih kanak-kanak ia sudah menjadi pengemis. Di masa kanak-kanak dengan tidak sengaja ia telah makan buah Tok-liong-tho, semacam buah ajaib yang bisa memunahkan dan kebal segala racun, maka perutnya baik badannya tidak takut segala racun, hingga akhirnya mendapat gelar Sin-hoi-tok-kai yang berarti pengemis beracun dengan sepatu saktinya.

Tok Kai yang timbul rasa kasihannya terhadap Tan Eng, sepatu di kakinya lantas terbang, tapi ketika sepatunya terlepas dari kakinya ternyata sudah agak terlambat. Sedangkan Kim Houw yang sejak tadi diam-diam memperhatikan si pengemis tua itu, ketika mengetahui si pengemis hendak memberi pertolongan, segera mengambil senjata rahasianya Tok-kiat-cu dan segera mendahului gerakan si pengemis, senjatanya membentur pisau kecil di tangan Tan Eng pada waktunya yang sangat tepat.

Si botak sudah membawa obat luka diberikan kepada gurunya.

Pengemis beracun itu lantas menghampiri Kim Houw, kepada ia menanya, "Bocah, siapa gurumu?"

Kim Houw merasakan bahwa perkataan si pengemis itu masih agak kasar, ia sebetulnya ingin tidak menjawab. Untuk menghormati sikapnya barusan yang telah turun tangan merebut jiwa Tan Eng dari bahaya maut, terpaksa ia menjawab, "Suhuku sudah lama wafat, sebagai murid ada pantangan menyebut nama gurunya secara sembarangan. Maka harap dimaafkan kalau aku tidak bisa memberitahukan nama Suhu!"

Tok Kai gusar, dengan cepat ulur tangannya menjambret Kim Houw. "Apa? Sudah wafat? Kau ada Tiong Ciu Khek punya...," katanya sengit.

Kim Houw adalah seorang yang mempunyai kepandaian luar biasa, bagaimana ia bisa disergap begitu mudah oleh si pengemis? Ia hanya menggeser sedikit, orangnya sudah melesat jauh. Meski bisa loloskan diri, namun dalam hati merasa mendongkol. "Suhu sudah wafat ada hubungannya apa dengan kau? Siapa adanya Tiong Ciu Khek? Aku sendiripun tidak tahu," katanya. Si pengemis beracun ini sudah tahu kalau anak muda di depannya itu adalah seorang luar biasa. Tadi karena dalam keadaan cemas, ia sudah lupakan dirinya sendiri sehingga menjambret secara sembarangan, sudah tentu tidak berhasil. Namun, setelah mendengar jawaban Kim Houw, ia sendiri juga melongo.

"Tiong Ciu Khek kau tidak tahu? Kalau begitu darimana kau dapatkan itu pedang Ngo-heng- kiam?" kata si pengemis setelah berpikir.

Kini Kim Houw baru mengerti duduk perkaranya. Kiranya adalah itu pedang pendek yang menjadi gara-gara.

"Tentang pedang Ngo-heng-kiam ini, sudah tentu ada asal usulnya, aku hanya tidak mengerti, ada hubungan apa sebetulnya Locianpwe dengan pedang ini? Kawan? Atau lawan...?"

"Anak busuk, urusan yang aku si pengemis beracun tanyakan, kau masih berani tawar menawar, hari ini kalau kau tidak diberi hajaran, kau benar-benar tidak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi!" si pengemis membentak dengan sengit, lalu dorongkan tangannya menyerang Kim Houw.

Kim Houw belum kenal siapa adanya pengemis bobrokan itu, tapi selama satu bagian, ia telah dihadapkan dengan rupa-rupa kejadian yang ganjil, setelah bentrokan dengan orang-orang Ceng- hong-kauw, kini ia tidak mau tanam bibit permusuhan dengan pengemis itu lagi.

Maka, Kim Houw menantikan setelah serangan si pengemis itu sudah hampir mengena dadanya, ia baru keluarkan ilmunya mengentengi tubuh seolah-olah daun kering, maka ketika terdorong oleh serangan anginnya si pengemis tua siang-siang sudah melesat melalui lubang jendela, kira-kira sejauh delapan tumbak baru ia menginjak tanah. Kembali ia gerakkan badannya sebentar saja sudah menghilang. Hanya suaranya saja masih kedengaran.

"Pedang Ngo-heng-kiam ada barang pemberian dari salah satu sahabat, yang kini berada di Ceng kee-cee di Sicuan. Sin-hoi Tok-kai kalau kau mempunyai nyali, kau boleh susul aku. Asal sudah sampai di Ceng kee-cee, kau nanti mengerti sendiri..."

Tidak menunggu sampai habis, Tok Kai sudah menjambret dirinya si botak, dengan cepat mengejar Kim Houw setelah memesan Tan Eng. "Tan Eng, kau harus taati perintahku, kalau kau berani melanggar, akibatnya kau akan rasakan sendiri! Si botak mengikuti aku, sudah tentu aku atau sendiri, tidak usah kau kuatirkan!"

Dengan berlalunya Kim Houw dan Tok Kai, Kie Yong Yong merasa cemas. Ia segera bersuit, sebentar kuda hitamnya sudah lari keluar dari belakang.

Nona Kie lantas cemplak dan kaburkan kudanya untuk menyusul mereka.

* * *

Selat Bu hiap merupakan selat yang paling berbahaya di sungai Tiang-kang. Di situ ada terdapat gunung Bu-san dengan dua belas puncaknya yang berdiri berderet-deret.

Hari ini di puncak Sin-lie-hong, salah satu dari dua belas puncak gunung Cu-san, ada kedatangan seekor kuda tinggi besar berwarna hitam. Di atas kuda itu duduk seorang nona yang wajahnya cantik menarik, namun nampak muram. Hari itu sudah lewat tengah hari, si nona nampaknya sudah sangat letih, begitu pula kuda tunggangannya, nyata ia habis melalui perjalanan amat jauh.

Nona itu adalah nona Kie Yong Yong. Kala itu ia sedang melakukan perjalanan ke barat.

Sudah tentu maksudnya ialah mengejar Kim Houw.

Tapi, berhari-hari ia tanpa mengaso, ternyata tidak melihat bayangan Kim Houw, sekalipun si pengemis tua itu, ia juga tidak dapat diketemukan.

Kuda hitam itu mendadak berhenti, Kie Yong Yong mendongak, di atas bukit kira-kira tegap wajah mereka memperlihatkan ketawanya yang aneh!

"Seekor kuda yang bagus sekali! Aku Ma Lao Liok mau kudanya!" tiba-tiba seorang berwajah hitam yang berdiri di kiri berkata.

"Hah! Satu nona yang cantik sekali. Aku Ong Lao Cit mau orangnya!" kata orang berwajah putih bersih yang berdiri di kanan.

"Kudanya bagus, orangnya juga cantik. Aku Ouw Lao Pat mau semuanya!"

Tiga laki-laki itu pada ngoceh semua semaunya, mereka anggap seolah-olah si nona sebagai barang rebutan. Kie Yong Yong yang mendengarkan sejak tadi amarahnya lantas meluap. Ia majukan kudanya, dengan tidak banyak rewel lalu ayun pecutnya menyambuk ketiga laki-laki ceriwis itu, hingga sebentar saja mereka masing-masing telah peroleh tanda di mukanya bekas cambuk jalan-jalan, dari situ darah mengalir keluar tiada hentinya.

Ketiga laki-laki itu dalam gugupnya masih belum mengetahui dari mana datangnya pecut. Setelah terluka baru tahu kalau itu adalah perbuatannya si nona. Dalam kaget dan gusarnya, mereka lantas pada mencabut golok masing-masing untuk membabat kaki kuda dan orangnya.

Tapi, mereka tidak nyana kalau hari itu telah bertemu dengan si iblis cantik Kie Yong Yong, yang terkenal gagah, kejam dan ganas. Sudah tentu mereka tidak berdaya sama sekali. Ketika golok mereka baru saja hendak membabat, sudah disambar dengan cepat oleh pecut, bukan saja goloknya lantas terlepas, tangannya juga lantas kesemutan.

Menyusul mana, "tar, tar," berbunyi tak hentinya, seolah-olah bunyi petasan, dan setiap kali si nona menyambuk, pasti melukai tiga orang dengan berbareng.

Hari itu Kie Yong Yong menunjukkan tingkah lakunya yang luar biasa. Kalau pada waktu biasanya menghadapi manusia yang demikian ceriwis, dengan tanpa ampun lagi satu persatu ditabas batang lehernya.

Tapi hari itu ia tidak berbuat demikian. Seolah-olah lakunya orang mendendam sakit hati, ia menggunakan tiga orang itu sebagai sasaran untuk melampiaskan sakit hatinya. Dengan duduk di atas kudanya, ia mencambuk dengan pecutnya berulang-ulang, sampai ketiga laki-laki itu wajahnya berlumuran darah dan badannya bergulingan di tanah. Tapi si iblis cantik masih belum puas kelihatannya.

Tiba-tiba di belakangnya terdengar suara orang berkata sambil tertawa terbahak-bahak, "Bagus, bagus, bagus sekali cukup buas, cukup ganas! Itu baru pantas menjadi hujin nyonya kepala berandalku!"

Berbareng dengan itu, dari rimba sebelah kiri telah muncul sepuluh laki-laki tegap, mereka lalu mengurung Kie Yong Yong dengan golok dan pedang terhunus, seolah-olah sedang menghadapi musuh tangguh. Kemudian dari dalam rimba kembali muncul tiga orang laki-laki. Di tengah-tengah ada seorang yang berusia kira-kira tiga puluh tahun dan mempunyai potongan badan kekar gagah dan wajahnya tampan. Di sebelah kanan kirinya diiringi oleh dua orang tua pendek kate.

Kie Yong Yong menyaksikan keadaan demikian dalam hati agak keder. Ia sendiri meski tidak perlu takuti itu semua golok dan pedang, tapi kuda tunggangannya tentu tidak berdaya mengelakkan itu semua senjata tajam.

Laki-laki tampan itu tiba-tiba berjalan menghampiri nona, dengan laku sangat hormat ia menjura seraya berkata, "Numpang tanya nama nona yang terhormat, aku yang rendah adalah Leng In. Oleh sahabat-sahabat rimba persilatan, telah diberi gelar Sin Tiauw. Leng In mempunyai kediaman yang nyaman di atas puncak gunung Sin-lie-hong ini, sudikah nona turun kuda untuk beristirahat sebentar di kediaman Leng In?"

Leng In sangat sopan budi bahasanya, dengan kata-katanya yang duluan tertawa terbahak- bahak seperti ada dua orang!

Kie Yong Yong menampak Leng In menghampiri dalam hati diam-diam sudah merasa girang karena menangkap berandal harus menangkap kepalanya. Asal Sin tiauw Leng In tertangkap, betapapun ganas anak buahnya tidak usah ditakuti lagi.

Ketika menampak Leng In menanya dengan sopan, ia lantas anggap itu ada kesempatan paling baik untuk membekuk padanya. Maka ia lantas buru-buru turun dari kudanya, lebih dulu ia tersenyum kepadanya Leng In, kemudian baru menjawab, "Siauw moay, Kie Yong Yong! Orang- orang pada menamakan iblis cantik..."

Lega dan senyuman telah membikin lemas Leng In, maka belum semua habis ucapan Kie Yong Yong, Leng In memotong, "Ouw...! Kiranya nona adalah yang mendapat gelar iblis cantik dan yang namanya menggetarkan daerah Inhui? Aku Leng In sudah lama sangat mengagumi..."

Melihat orang she Leng itu terus bicara sambil bungkukkan badannya, nona Kie anggap inilah kesempatan paling baik, maka ia lantas bertindak dengan jari tangannya ia menotok jalan darah Kian-kie-hiat Leng In.

Di luar dugaannya, sebelum jarinya mengenai sasarannya, Leng In sudah egoskan badannya dengan gesit. Sembari ketawa terbahak-bahak ia lompat mundur satu tombak lebih. Kegesitannya orang she Leng itu benar-benar mengejutkan si nona.

"Iblis cantik, percuma saja semua usahamu! Lebih baik ikut aku naik gunung jadi isteriku, ada jauh lebih baik daripada keluyuran. Malah aku jamin kau akan menikmati hidup bahagia," kata Leng In.

Kie Yong Yong tahu, dengan gagalnya gerakannya tadi, sudah tidak ada gunanya untuk bicara banyak-banyak. Sekarang ia ingin coba kepandaiannya ilmu silat, untuk menundukkan padanya mungkin masih bisa terlolos dari situ. Maka tanpa banyak bicara lagi, ia lantas menghunus pedangnya dan berkata, "Leng Cecu, kalau kau bisa menangkan pedang di tangan nonamu, baru kita boleh berunding lagi, kalau tidak, seumur hidupmu ini jangan kau pikirkan yang bukan-bukan lagi!"

"Apa susahnya? Dalam sepuluh jurus kalau aku tidak dapat paksa nona lepaskan pedang di tanganmu, aku Leng In dengan lantas bebaskan nona untuk berlalu dari sini!" jawab Leng In sambil ketawa terbahak-bahak. Baru saja Leng In menutup mulutnya, tiba-tiba terdengar suara orang berjalan kaki naik ke puncak gunung. Suara tindakan kaki itu membuat Leng In sangat kaget, sebaliknya Kie Yong Yong lantas berseru dengan girang, "Kongkong pengemis, kongkong pengemis! Ayo kemari!"

Kie Yong Yong tadi mengira si pengemis itu Tok Kai yang datang, karena jika benar ia, meski baru saja sekali bertemu muka, ia masih percaya si pengemis tua itu masih mau turun tangan memberi bantuan padanya. Siapa nyana pengemis yang baru datang itu ternyata bukan Tok Kai, sebaliknya ada seorang bertubuh tinggi, hingga hatinya merasa kecewa!

Saat itu si pengemis sudah datang dekat. Ia seperti buta matanya, hingga tidak melihat kawanan berandalan itu pada berdiri berbaris dengan senjata terhunus, malah memaksa masuk ke dalam kalangan.

"Pengemis busuk, kau mau cari mampus!" seorang berandalan tiba-tiba berseru, sambil ayun goloknya menyerang bengis.

Si pengemis berteriak-teriak sembari mendekap kepalanya dengan kedua tangan, langkah kakinya sempoyongan agaknya seperti orang ketakutan, tapi dengan cepat telah menghindarkan serangan golok berandal tadi, entah dengan jalan bagaimana tahu-tahu sudah berada di tengah- tengah kalangan.

Itu suara teriak, itu gerak-gerik waktu menghindarkan serangannya kawanan berandalan dan itu gerak kakinya yang sempoyongan, Kie Yong Yong agaknya sudah pernah dengar dan lihat, tapi entah di mana, dalam otaknya saat itu belum dapat ingat siapa orangnya.

Leng In yang menyaksikan semua itu, wajahnya lantas berobah seketika, sambil ketawa dingin ia menegur, "Orang pandai dari mana yang telah mengunjungi kediaman kami? Maafkan Leng In terlambat menyambut, harap supaya suka menunjukkan wajahmu yang asli!"

Pengemis itu jalan pincang-pincang, menghampiri sampai suatu jarak tidak jauh dari Kie Yong Yong dan Leng In. Kelakuannya macam orang yang matanya rusak. Setiap orang ia pandang sekian lamanya, seolah-olah tidak dengar pertanyaan Leng In.

Akhirnya mana si pengemis itu memandang Kie Yong Yong. Kali ini ia mengawasi lebih lama dari kepala sampai ke kaki, kembali dari kaki balik ke kepala.

Karena pengemis itu tidak menggubris pertanyaannya, Leng In merasa tidak senang.

Ditambah lagi dengan tingkah lakunya si pengemis yang ceriwis, membikin Leng In tidak tahan lebih lama.

"Manusia keparat, apakah kau sengaja hendak mencari setori? Aku Sin-tiauw Leng In, apa kau kira boleh kau permainkan begitu saja? Mari, mari! Kita coba hari ini aku juga akan gempur kau!" bentaknya sengit.

Tidak nyana, pengemis itu seolah-olah tuli, sedikitpun tidak mengunjuk reaksi apa-apa atas bentaknya Leng In, matanya masih tetap mengawasi nona Kie seperti lakunya orang yang baru kenal wajah perempuan.

Kalau biasanya Kie Yong Yong yang diperlakukan demikian, ia pasti sudah naik darah. Tapi hari ini, meski perlakuan pengemis itu agak melewati batas kesopanan, tapi karena si pengemis itu dapat membikin Leng In gusar, ia anggap mungkin sebentar ia bisa membebaskan dirinya dari kesulitan. Maka, bukan saja tidak marah malah ia tunjukkan ketawanya serta sikapnya yang memikat hati, membiarkan dirinya dipandang sepuas-puasnya oleh si pengemis. Namun dalam hati tengah mencari akal bagaimana supaya ia bisa meloloskan diri dari situ. Si pengemis itu lagaknya semakin ceriwis. Rupanya sudah tergiur benar-benar, tangannya menggaruk-garuk kepalanya hingga rambutnya semakin awut-awutan.

Leng In yang sudah panas hatinya, sembari keluarkan bentakan keras ia melesat ke atas, seolah-olah burung rajawali yang hendak menerkam mangsanya, ia menyerang si pengemis yang dianggapnya amat kurang ajar itu.

Sin-tiauw Leng In di waktu masih kanak-kanak mendapat didikan dari seseorang aneh, setelah dewasa telah mewarisi kepandaiannya ilmu silat yang luar biasa terutama ilmu silat sembilan jurus gerakan burung garuda yang paling hebat. Namanya sudah menggetarkan dunia Kangouw, oleh karena ilmu silatnya gerakan garuda itu, maka ia dapat gelaran Sin-tiauw atau garuda sakti.

Biasanya kalau tidak menemukan lawan yang terlalu tinggi kepandaiannya, ia tidak menggunakan ilmu silatnya yang ampuh itu. Sebabnya ialah ilmu silat tersebut terlalu ganas, begitu gerak pasti melukai orang.

Tapi hari itu, begitu bergerak ia lantas menggunakan tipu serangannya yang paling ganas itu. Gerak pembukaan yang dilakukan secara melesat terbang dan kemudian turun menerkam, ada merupakan serangan yang paling berbahaya dari serangan lain-lainnya. Asal sudah turun menerkam, dalam jarak sekitar delapan tumbak persegi, jangan harap lawannya bisa terlolos dari serangannya.

Di luar dugaan si pengemis itu seolah-olah tidak tahu bahaya, hingga nona Kie sendiri yang menyaksikan dari samping, hatinya berdebar-debar. Ia sangsi apakah pengemis itu memang berlagak gila atau benar-benar tidak mengerti ilmu silat?

Tengah nona Kie itu masih bersangsi, serangan tangan Leng In sudah mengancam batok kepala si pengemis.

Pengemis aneh itu seperti dikejutkan oleh apa-apa, kembali berteriak-teriak sembari mendekap kepalanya dengan kedua tangannya. Tapi kali ini ia tidak sempoyongan lagi, ia seolah- olah tersambar angin dari serangannya tangan Leng In, yang lantas jatuh terpelanting ke tanah.

Setelah si pengemis rubuh, Leng In tidak mengejar, sebaliknya melesat mumbul lagi ke atas dan untuk kedua kalinya ia menerkam si pengemis yang menggeletak di tanah.

Kie Yong Yong yang belum muncul lama di dunia Kangouw, maka ia tidak dikenal namanya si Garuda sakti, lebih tidak tahu lagi serangannya yang berbahaya itu. Ketika menyaksikan si pengemis jatuh terluka, dalam hati merasa tidak tega. Kini ketika mengetahui Leng In masih hendak melakukan serangan lagi, kalau dibiarkan saja si pengemis itu pasti akan binasa.

Dalam gugupnya, ia tidak memikir atau mengukur kekuatannya sendiri lagi, dengan tiba-tiba ia angkat pedangnya, sambil menerjang iapun membentak, "Lihat pedang..."

Tapi pedang belum mengenakan sasarannya, tangannya sudah dirasakan kesemutan, dan pedangnya terbang di udara, sedang di belakang gegernya terkena tendangan kaki yang hebat, seketika itu kepalanya lantas dirasakan berputaran, matanya gelap, mulutnya menyemburkan darah segar.

Tapi, dalam keadaan setengah sadar, ia seperti melihat ketika dirinya tengah kena tendangan dan akan rubuh, si pengemis itu seolah-olah seekor binatang kalong raksasa, dari tanah terbang mendorong dirinya sehingga ia terpental tinggi ke udara, kemudian disambar oleh tangan yang kuat dan turun persis pada pelana kuda tunggangannya si nona. Sekali kedut lesnya, kuda itu segera angkat kaki kabur.

Kawanan begal lalu menggunakan panah menyerang hingga anak panah terbang berhamburan seperti air hujan, si pengemis dengan obat-abitkan karung ke bawah dan ke atas, berhasil melindungi dirinya dan si nona serta kuda tunggangannya. Sekejap saja ia berhasil sudah menerobos keluar dari kepungan.

Kuda hitam itu memang kuda jempolan, meski badannya masih letih, tapi dalam keadaan hendak menolong jiwa majikannya ia dapat lari lebih kencang dari biasanya.

Tapi jalanan gunung tidak rata, si iblis cantik yang dikocok keras di atas kuda, kemudian lantas tidak ingat orang.

Entah berapa lama telah berlalu, Kie Yong Yong dalam keadaan pingsan tiba-tiba merasakan barang dingin masuk ke tenggorokannya. Kapan ia membuka matanya lantas mengetahui bahwa dirinya dalam pelukan si pengemis. Melihat badan dan pakaian yang kotor, hati si nona merasa malu.

Tapi, bagaimanapun orang yang di luarnya sangat jorok itu adalah tuan penolongnya. Meski pada waktu baru bertemu kelakuannya amat ceriwis, seperti lakunya buaya perempuan, namun kini nyata tidak demikian. Tangan yang memondong dirinya, seolah-olah takut menyentuh terlalu kencang, hingga hati si nona mulai sedikit lega.

Tapi baru saja mulai tenang, tiba-tiba tangan si pengemis yang kotor itu telah meraba dadanya, dalam kagetnya hampir saja si nona pingsan lagi.

Siapa nyana, tangan itu baru saja menempel di dadanya, lantas merasakan ada hawa hangat mengalir melalui tangan itu terus ke dalam dadanya dan rasa nyeri di dalam dada perlahan-lahan mulai lenyap!

Setengah jam kemudian, rasa sakitnya sudah lenyap sama sekali. Saat itu, hawa hangat dalam tangan tiba-tiba berobah menjadi dingin. Kie Yong Yong merasa kedinginan sebentar, tapi kemudian lantas dirasakan segar.

Kie Yong Yong girang, dalam hatinya berpikir, pengemis ini meski miskin tapi kepandaiannya tidak dapat diukur betapa tingginya. Oleh karena rambutnya menutupi wajahnya, ia tidak dapat melihat bagaimana macamnya orang miskin yang aneh itu.

Ketarik oleh perasaan ingin tahu, ia lalu tidak perdulikan keadaan dirinya yang baru saja pulih kesehatannya, dengan menggunakan seluruh kekuatannya yang ada, ia meniup rambut si pengemis.

Perbuatan itu adalah di luar dugaan si pengemis, maka seketika itu juga lantas dikenali wajah aslinya.

"... Kiranya kau.!" Teriak Kie Yong Yong dengan penuh kegirangan setelah mengenali siapa

adanya tuan penolongnya itu.

Dan seketika itu juga lantas jatuhkan dirinya ke dalam pelukan si pengemis, tangannya memeluk kencang pinggang, seolah-olah kuatir kalau-kalau tuan penolongnya itu akan meninggalkan dirinya.

Kini ia tidak merasa jijik lagi terhadap badan dan pakaiannya yang kotor, seluruh wajahnya disesapkan dalam dada si pengemis dengan sikapnya yang sangat aleman.

Siapa sebetulnya si pengemis itu? Dia bukan lain adalah Kim Houw yang menyaru. Mengapa Kim Houw menyaru sebagai pengemis? Apa sebabnya?

Sejak meninggalkan kedai nasi di tepi danau Pek-kui-pouw Kim Houw lalu kerahkan ilmu mengentengi tubuh kabur ke barat.

Ia tahu bahwa si pengemis tua Tok Kai, pasti akan menyusul ke Ceng-kee-cee, maka ia terus kabur tanpa mengaso, sesudah berjalan kira-kira ratusan lie, ia baru kendorkan kakinya.

Selama beberapa hari itu, Kim Houw tidak menemukan Kim Lo Han, juga tidak lihat si pengemis tua ada mengejar padanya, begitu pula bayangan Siao Pek Sin.

Tapi ada satu soal yang membuat Kim Houw sakit kepala. Itu adalah pada setiap pintu kota, selalu menemukan gambarnya sendiri yang dipancang tinggi dengan diberi keterangan kedosaannya serta hadiah yang akan diberikan bagi siapa yang bisa membekuk padanya. 

Kim Houw tidak mengerti duduk perkara, tapi setelah mencari keterangan ia segera mengerti.

Kembali itu adalah perbuatan Siao Pek Sin yang hendak mencelakakan dirinya.

Sebab Siao Pek Sin mengetahui bahwa Kim Houw pasti mengejar di belakangnya, maka setiap tiba di satu kota, pasti mengganggu wanita-wanita muda, setelah dicemarkan kehormatannya, wanita-wanita itu lantas dibunuh mati. Dan sesudah melakukan perbuatan durhaka itu, ia sengaja tinggalkan namanya Kim Houw di atas tembok kamar.

Kim Houw tahu, bahwa Siao Pek Sin berbuat demikian maksudnya ialah supaya membangkitkan marahnya rakyat serta orang-orang gagah di rimba persilatan terhadap dirinya, supaya ia tidak bisa tancap kaki di dunia Kangouw.

Sudah dua kali Kim Houw hampir tertangkap oleh polisi, hanya berkat kepandaiannya ia bisa meloloskan diri dari cengkeramannya polisi. Walaupun bagaimana ia susah untuk membantah, karena wajahnya memang mirip benar dengan Siao Pek Sin.

Di bawah keadaan demikian, terpaksa Kim Houw menyaru. Oleh karena belum mempunyai pengalaman menyaru, ia hanya ingat dirinya Tok Kai, maka selanjutnya lantas menyaru sebagai pengemis.

Setelah wajahnya berobah, benar saja tidak mengalami kesulitan lagi. Apa lagi, karena hampir seluruh wajahnya tertutup rambut, siapapun tidak dapat mengenali. Ia pikir dengan keadaan demikian ada lebih mudah memasuki Ceng-kee-cee.

Hari itu, ia kebetulan berada di puncak gunung Sin-lie-hong untuk menangkap binatang guna tangsal perut, tiba-tiba dengar suara jeritan-jeritan keras, itu adalah suaranya ketiga kawanan berandal yang dicambuki oleh Kie Yong Yong.

Ketika ia memburu ke tempat kejadian, ternyata keadaannya sudah lain. Kini ia telah menyaksikan nona Kie yang sedang terkurung oleh kawanan penjahat.

Begitu lihat dirinya si nona, hati Kim Houw tercekat. Ia tidak pulang? Dan mengapa dia berada di sini? Tanyanya pada diri sendiri.

Tapi ketika ia lihat Leng In dengan banyak anak buahnya mengurung seorang wanita, hatinya panas, maka dalam keadaan yang sangat kritis, ia lantas unjukkan diri dengan lagaknya seperti orang gila. Ia sebetulnya hendak permainkan dirinya Leng In, kemudian diberi peringatan keras. Tidak nyana nona Kie berani turun tangan memberi bantuan, sehingga akhirnya membikin luka diri sendiri.

Kini, setelah dirinya dikenali nona Kie, ia tidak bisa singkirkan dirinya lagi. Tapi sikap yang menggairahkan dari si nona, membuat ia merasa ripuh.

"Nona Kie! Kau... kau..." demikian yang ia hanya mampu katakan.

"Aku tidak mau kau banyak bicara... eh, mengapa kau tahu kalau aku she Kie?" katanya Kie Yong Yong yang lantas mengawasi wajahnya Kim Houw.

Kim Houw merasa jengah, "Paman Tan memberitahukan padaku!"

Kie Yong Yong ketawa manis, "Apa paman Tan juga memberitahukan bahwa aku ini mempunyai gelar si iblis cantik?... ia pasti juga beritahukan padamu, bahwa namaku adalah Yong Yong, betul tidak? Mengapa kau tidak panggil namaku Yong Yong saja? Tidak... tidak benar, nampaknya aku lebih tua daripadamu, kau harus panggil aku enci Yong...! Benar! Kau panggil enci Yong saja padaku, panggillah, mengapa tidak mau?"

Suaranya Kie Yong Yong itu ada begitu empuk merdu, sikapnya masih kekanak-kanakan. Sebentar saja sikap kikuk dan malu lantas lenyap, pada saat itu Kim Houw juga lantas timbul pikirannya yang seperti kanak-kanak.

"Tidak! Aku lebih tua dari kau, aku cuma mau panggil kau adik dan kau harus panggil aku engko!"

"Tidak! Aku lebih tua darimu, aku lebih tua, tahun ini usiaku delapan belas tahun empat bulan sepuluh hari, aku pasti lebih tua dari kau!"

Kim Houw sebetulnya belum berusia, oleh karena ia kepingin menjadi engko, terpaksa membual, "Tahun ini aku masuk usia delapan belas enam bulan, cuma kurang dua hari saja, aku seharusnya menjadi engkomu!" demikian katanya.

Nona Kie cekikikan. "Aaaa! Kau nakal! Kau tertipu olehku. Baiklah kau menjadi engkoku! Hei!

Aku..."

Kim Houw pura-pura gusar, "Terhadap engko bagaimana hei, hei! Apa artinya itu?"

Kie Yong Yong merasa jengah, kembali kepalanya disesapkan dalam dada Kim Houw. "Aku tidak perduli! Kau toh tidak memberitahukan namamu!"

"Namaku Kim Houw! Kau harus ingat baik-baik."

"Engko Houw...!" Agaknya merasa jengah, kepalanya ditundukkan. Telinganya mendengar suara Kim Houw yang memanggil padanya, "Adik Yong!" suara itu enak sekali didengarnya, begitu manis, begitu meresap, hingga seketika itu hatinya merasa sangat gembira.

"Engko Houw, kau jalan begitu jauh, apa perlunya kau hendak pergi ke Ceng-kee-cee?" si nona menanya.

Kim Houw sebetulnya hanya ketarik oleh sikap dan lagaknya Kie Yong Yong yang seperti kanak-kanak, hingga menimbulkan rasa sukanya. Ia sendiri yang baru berangkat dewasa, namun hati kanak-kanaknya masih ada, maka ia bisa bersenda gurau seperti lagaknya anak-anaknya. Kini setelah mendengar pertanyaan nona Kie, lalu ingat dirinya Peng Peng yang masih berada dalam kesulitan. Hatinya seketika itu seperti dipagut ular, lama sekali baru bisa menjawab, "Kepergianku adalah untuk menolong jiwa satu orang...!"

Terkejutnya Kim Houw agaknya sudah dirasakan oleh Kie Yong Yong. Belum sampai Kim Houw memberikan penjelasannya si nona sudah mendahului menghibur, "Engko Houw, apa pertanyaanku ada salah? Hatimu nampak berduka!"

Menyaksikan kelakuan Kie Yong Yong, Kim Houw mengerti bahwa nona itu mulai perhatikan dirinya, maka rasa simpatinya terhadap si nona semakin besar. Dengan tanpa sadar ia lantas peluk erat-erat dirinya si nona.

"Adik Yong, pertanyaanmu tidak salah, adalah aku sendiri yang tiba-tiba ingat sesuatu hal yang segera mendukakan hatiku!" demikian kata Kim Houw.

Kie Yong Yong juga memeluk lebih erat dirinya Kim Houw.

"Dahulu adatku keras, juga jahat. Tapi dengan mendadak aku telah menemukan bahwa diriku banyak berubah, berubah menjadi demikian lemah tidak bertenaga. Aku merasa seolah-olah harus mempunyai senderan, baru ada keberanian untuk hidup. Dimasa yang lampau, aku merasa bahwa dalam segala hal aku lebih unggul dari orang lain kupandang rendah di bawah kakiku. Tapi hari ini, aku telah berubah begitu rupa aku meragukan kekuatanku, aku menyangsikan diriku sendiri. Aku merasa aku demikian kecil dan patut dikasihani, seolah-olah sebutir pasir yang selalu diinjak-injak oleh kaki... engko Houw, dapatkah kau memberitahukan padaku, apa sebabnya?"

Dalam soal demikian Kim Houw juga tidak jelas apa sebabnya, lagi siapa suruh menjadi kakaknya Kie Yong Yong? Sebagai seorang kakak, sudah tentu lebih banyak mengetahui daripada adiknya, sudah tentu harus mampu menjawab pertanyaan adiknya?

Kim Houw terpaksa putar otak, untuk memikirkan bagaimana harus menjawab pertanyaan adiknya. Mendadak ia ingat bukunya Kao-ji-kiesu, di dalam ada tertulis suatu perkataan yang berbunyi "Kosong tidak ada suatu apa-apa", maka ia lantas menjawab, "Baik Yong moay, mungkin dahulu karena hatimu kosong, sedang..."

Mendadak ia merasa bahwa perkataannya itu ada penyakitnya, serta betapa hebat akibat yang ditimbulkan oleh perkataan itu, maka ia tidak melanjutkan...

Tidak nyana si nona lantas tepuk tangannya dan berkata dengan suara girang, "Engko Houw benar! Benar sekali! Aku pun merasa demikian! Kau benar-benar hebat, apa saja kau lebih hebat dari aku, aku... aku..."

Karena kegirangan si nona agaknya sudah lupa daratan, ia peluk dan ciumi Kim Houw begitu rupa, sampai Kim Houw kelabakan...

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa dingin, kedua orang itu kaget lantas menengok. Di belakang pohon besar sejarak kira-kira sepuluh tumbak jauhnya telah muncul seorang Hwesio yang kepalanya klimis dan badan tegap.

Kim Houw begitu melihat siapa adanya lantas berseru, "Lo Han ya! Lo Han-ya!"

Hwesio itu memang benar adanya Kim Lo-han, tapi ia tidak menyahut panggilan Kim Houw, sebaliknya membentak dengan ketus, "Siapa ada kau punya Lo Han ya? Aku mengaku dulu mataku telah buta!" Kim Houw bukan main kagetnya, ia lalu mendorong tubuhnya Kie Yong Yong ke samping, lalu tanyanya pula, "Lo Han-ya, kau kenapa?"

Kim Lo Han ketawa bergelak-gelak, tapi tertawanya itu penuh rasa duka.

"Ah-ceng Kim Lo Han, dulu pernah bersumpah akan mengikuti kau seumur hidupnya. Sungguh tidak nyana bahwa kau adalah manusia yang tidak lebih sebagai manusia berhati binatang dan gemar paras cantik.