Istana Kumala Putih Jilid 06

 
Jilid 06

Orang banyak ada di luar pintu itu, sedikitpun tidak berani mengeluarkan suara, keadaan sama dengan orang-orang yang berada didalam. Tapi ketika Kim Houw dan Kim LO Han berjalan keluar, orang banyak itu lantas pada minggir untuk memberi jalan

Kim Lo Han dan Kim Houw lantas menduga ada apa-apa, mereka tahu bahwa kejadian itu pasti ada sebab-sebabnya, maka tidak berani berdiam lama-lama di situ dan terus berlalu cepat.

Dengan cepat mereka sudah melewati dua tikungan karena mengetahui masih ada banyak orang yang memperhatikan mereka, maka tidak berani menoleh sama sekali. Setelah meninggalkan tempat ramai, baru pada kerahkan ilmunya untuk menyingkir kesalah satu rumah penduduk.

Tiba-tiba terdengar suara riuh di sana sini: "Hut ya sudah terbang ke langit!" kemudian disusul oleh bentakan keras: "Mau apa kamu ribut-ribut tidak karuan? Apa sudah tidak kepingin hidup?" Karena mendengar suara bentakan itu. Orang ramai itu lantas bubaran, suasana juga lantas sirap !

Kim Houw mengawasi Kim Lo Han, hwesio tua itu tampak kerutkan alisnya.

Kim LO Han kali ini berobah kebiasaannya, ia lantas berkata: "kalau tidak ada angin, sudah tentu tidak timbul ombak segala kejadian tentu ada sebabnya. Ini bukan suatu soal yang kebetulan saja didalamnya pasti ada apa apanya. Melihat sikapnya orang-orang yang demikian ketakutan, mungkin telah terjadi suatu kejahatan besar dalam kota ini. Aku si hwesio tua kalau tidak tahu ya sudah, tapi sekarang setelah mengetahui, bagaimana aku bisa tinggal diam? Mereka tadi berteriak terbang ke langit? Menghilang? Semua itu merupakan tipu muslihat saja yang cuma bisa mengakali rakyat yang bocah."

Kim Houw jarang dengan Kim Lo Han mengucapkan begitu banyak perkataan, maka ia lantas mengetahui bahwa hwesio tua itu sedang gusar. Sebagai seorang yang beribadat yang sudah mencapai kesempurnaannya, dan toh masih bisa gusar, bisa diduga bahwa soal itu tentu bukan soal remeh.

"Melihat keadaan hari ini, rasanya kau tidak baik untuk unjukkan diri secara terang-terangan, sekarang biarlah aku pergi menyelidiki" kata Kim Houw

Kim Lo Han lantas mencari tempat untuk sembunyikan diri, sedang Kim Houw balik lagi ke dalam kota untuk mencari keterangan .

Baru saja Kim Houw keluar dari mulut gang, sudah dengar suara riuh dan tambur. Orang- orang itu pada berseru: "Dewa penyebar rejeki telah datang! Minggir! Minggir!"

Kim Houw mendongak, dari jauh mendatangi sebuah joli besar. Di atas joli duduk seorang anak muda cakap dengan dandanannya yang sangat mewah, pinggangnya menyoren pedang emas. Dia sebetulnya bukan duduk tapi berdiri di atas joli, membiarkan dirinya digoyang-goyang di atas joli, tapi berdirinya mantap, sikapnya gagah sekali.

Tatkala Kim Houw sudah lihat tegas wajahnya, dalam hati merasa kaget, ternyata anak muda yang berdiri di atas joli tersebut adalah anaknya Ciok Goan Hong, Ciok Liang!

Dalam hati Kim Houw merasa heran, mengapa Ciok Liang bisa berada di sini dan menjadi dewa penyebar rejeki segala ? Meski dalam hati merasa heran tapi ia juga girang, sebab ia memang sedang mencari pemuda itu, untuk menanyai tentang kematian Bwee Peng, keluarga Ciok tidak terlepas dari kecurigaan dan Ciok Liang merupakan seorang yang paling dicurigai oleh Kim Houw.

Ia kuatir dirinya nanti di kenal oleh Ciok Liang, maka buru-buru dengan tangannya menutupi wajahnya dan masuk ke dalam rombongan orang banyak, maksudnya setelah joli Ciok Liang berlalu, ia akan mengikuti dari jauh.

Siapa nyana setelah joli Ciok Liang berlalu, di belakangnya masih ada lagi lain joli besar yang dipikul delapan orang, tetapi joli ini tirainya diturunkan, entah siapa yang berada didalamnya?

Dikedua sisi joli tersebut ada puluhan orang laki-laki berbadan besar yang mengawal, setiap orang di pinggangnya pada menyoren golok atau pedang.

Diantara riuhnya suara orang banyak itu Kim Houw tiba-tiba dengar suara tangis seorang wanita. Ia coba pasang kupingnya, dan dapat kepastian bahwa suara tangisan itu datang dari dalam joli. Selagi berada dalam keheran-heranan, kembali dengar pembicaraan seorang laki-laki itu berkata dengan suara rendah kepada kawannya: "Tukang perahu benar-benar kurang ajar, hampir saja ketinggalan waktu, aku sudah kepingin bunuh mati saja padanya."

"Siau-ong, kau bicara hati-hati sedikit!" menasehati kawannya. "Takut apa? Sudah sampai di tempat sendiri takuti siapa lagi?"

"Kau jangan salahkan orang, dari Liong-yu Ie Kian-tek, mau dikata dekat tidak dekat jauh juga tidak. Orang telah melakukan perjalanan siang malam tanpa mengaso, sudah boleh dibilang hampir menjual jiwanya."

Sampai di sini, kedua orang yang sedang bicara itu mendadak berhenti. Kim Houw hatinya berdebaran. Mungkinkah wanita dalam joli itu si nona baju merah seperti apa yang dikatakan oleh Thio sam ?

Tidak perduli betul atau tidak, ikuti saja dulu habis perkara. Begitu pikir Kim Houw. Maka lantas mengikuti orang di belakang joli itu.

Tidak antara lama, rombongan itu sudah sampai keluar kota dan sesampai di sini, sudah tidak ada orang yang berani mengikuti lagi, cuma Kim Houw seorang yang masih mengukuti dari jauh.

Malam itu, langit gelap. Hanya bintang-bintang saja yang masih menyinari bumi, sedang rombongan orang yang memikul joli itu satupun tidak ada yang memasang obor, suara dan gembreng sudah tidak dibunyikan lagi. Ciok Liang juga sudah duduk, tidak berdiri dengan sikap yang gagah seperti tadi siang. Joli itu jalannya lebih cepat dari pada siang harinya.

Kim Houw coba mengamat-amati gerak kaki orang-orang itu, meski jalannya cepat tapi dimata Kim Houw, kecepatan itu tiada artinya.

Dengan tiba-tiba, suara tangisan kembali terdengar, dan kali ini ratapannya nampak memilukan hati.

Mendadak Kim Houw ingat, bahwa Peng Peng kabarnya hendak dinikahkan dengan Ciok Liang. Mengingat ini, makin besar dugaannya pasti wajah nona baju merah dalam joli itu adalah Peng Peng.

Meski Kim Houw tidak cinta Peng Peng, tapi pada saat itu hatinya mendadak timbul suatu perasaan jelas, entah hati yang dinamakan cemburu atau bukan ia sendiri juga tidak mengerti pikirannya hanya ingin segera dapat tahu siapa nona baju merah itu.

Begitu berpikir ia lantas bertindak. Tidak kesulitan bagaimana ia bergerak. Tahu-tahu sesosok bayangan putih sudah melesat bagaikan anak panah ke arah joli.

Orang-orang yang sedang enak lari-lari tiba-tiba dikejutkan oleh berkelebatnya bayangan putih, kemudian joli kedua seperti tersingkap sebentar oleh angin keras dan bayangan putih itu sudah lenyap lagi !

Orang-orang yang mengawal di samping dan belakang joli pada ketakutan. Kecuali bayangan putih dan bergerak sebentar tirai joli itu, tidak terjadi peristiwa apa-apa lagi.

Justru mereka belum hilang kagetnya, kembali terlihat berkelebatnya bayangan putih tadi. Kali ini tirai joli tersingkap tinggi, barang dengan itu nona dalam joli terdengar menjerit ketakutan !

Sekarang, biar bagaimana tidak bisa ditinggal diam lagi, maka seorang diantaranya yang berhati tabah membentak keras: "Siapa yang berani main gila di sini?" Berbareng dengan bentakan itu, dari belakangnya lantas meluncur sebatang panah bersuara, kemudian disusul mengaungnya anak panah sinar panah.

Dari dalam rimba yang tidak jauh dari situ,, saling susul melompat keluar tiga orang dengan gerakan gesit sekali. Sekejap saja mereka sudah merasa diantara rombongan orang-orang itu. Seorang diantara orang badannya kurus tinggi menegur: "ada kejadian apa ?"

Orang yang membentak dengan suara keras tadi lantas menceritakan apa yang mereka telah lihat. Orang tinggi kurus itu ketika mendengar tangisan dalam joli masih ada lantas tahu tidak terjadi apa-apa dengan orang didalam joli. Meski dalam hati merasa kaget dan heran, tapi mulutnya mentertawakan "Kalau sudah tidak apa-apa, lekas masuk! Hui-ya sedang menanti !"

Maka, dua joli lantas diangkat lagi dan dibawa lari ke dalam rimba.

Ciok Liang yang duduk dalam joli pertama, lagaknya seperti raja, segala kejadian demikian agaknya tidak perlu ia turut capaikan hati.

Apa yang terjadi dengan joli kedua itu, adalah perbuatan Kim Houw.

Ketika untuk pertama kali ia menyingkap tirai joli, memang dapat lihat adanya seorang nona yang memakai baju merah dan nona itu memang benar diikat kaki tangannya cuma kepalanya tertutup oleh kain merah, maka Kim Houw tidak dapat melihat wajahnya. Terpaksa dia balik dengan perasaan kecewa karena masih penasaran, ia telah bertindak lagi. Kali ini Kim Houw menggunakan ilmu jari tangan Tan-cie-kang untuk menyingkap kain merah yang mengerudungi wajah si nona hingga nona itu menjerit kaget. Mendengar suara jeritan itu Kim Houw tidak usah melihat wajah si nona baju merah itu bukan Peng Peng. Ia merasa girang, tapi ia juga merasa kecewa.

Girang karena nona itu ternyata bukan Peng Peng, dengan demikian tidak mungkin Peng Peng bisa dinikahkan dengan Ciok Liang. Kecewa, karena nona itu bukan Peng Peng yang sedang ia kejar siang malam tanpa mengaso.

Karena sudah terang bukan Peng Peng, Kim Houw tidak punya alasan untuk membikin ribut, maka ia lantas sembunyikan diri. Setelah orang-orang itu masuk ke dalam rimba ia baru muncul lagi.

Tempat berdiri Kim Houw terpisah kira-kira tiga puluh tombak lebih dari rimba, tapi ia sangsi akan mengejar terus, sebab barusan ketika orang-orang itu melepaskan anak panah dari rimba lantas muncul tiga orang, hingga dapat diduga bahwa dalam rimba itu pasti ada pasukan tersembunyi, mungkin suatu perkumpulan rahasia semacam Pang-hwee.

Selagi Kim Houw memikirkan cara untuk memasuki rimba itu, supaya tidak diketahui oleh penghuni rimba, dari samping kiri rimba tiba-tiba ada api berkobar, rupa-rupanya seperti ada orang yang sengaja hendak membakar rimba tersebut.

Sekejap saja, dalam rimba lantas terdengar suara riuh. Kim Houw pikir, ini adalah saatnya yang paling bagus untuk masuk ke rimba......

Rimba itu meski banyak pohon, tetapi daunnya agak jarang, maka meski dengan sinarnya bintang yang kelap-kelip di langit saja juga sudah cukup untuk menerangi ke dalam rimba. Kuatir dirinya diketahui orang, ia tidak berani berjalan di atas tanah, hanya lompat-lompat seperti monyet diantara cabang-cabang pohon, terus menyusup kebagian dalamnya.

-ooo000ooo- Setelah berada didalam, Kim Houw baru mengetahui bahwa di situ ternyata ada sebuah kelenteng besar dengan pekarangan yang Ditengah-tengah pintu ada papan merknya yang tertulis dengan huruf besar: "HOAT HOA SIE".

Dilihat dari bentuk bangunan yang masih baru pula begitu huruf emasnya yang bersinar, Kim Houw segera menduga bahwa kelenteng itu tentunya belum lama didirikan.

Melihat bahan-bahan bangunan yang digunakan sehingga merupakan satu bangunan yang megah, kelenteng itu pasti dibangun dengan uang yang tidak sedikit jumlahnya.

Pada saat itu, pintu kelenteng telah terbuka lebar, orang yang mondar-mandir nampak tidak hentinya, tapi jumlah hwesio kepala gundul sebaliknya sedikit sekali, hanya kadang-kadang saja bisa terlihat beberapa hwesio kecil.

Api berkobar disamping rimba, mungkin sudah dapat dipadamkan. Orang yang mundar mandir di pintu kelenteng juga mulai sedikit, suara riuh tadi juga sudah mulai siap.

Kim Houw menantikan kesempatan baik lompat masuk ke dalam kelenteng melalui tembok belakang. Ia menduga pasti bahwa kelenteng ini tentunya bukan tempat beribadat yang sebenarnya, hanya digunakan sebagai samaran untuk suatu perbuatan jahat !

Tempat dimana Kim Houw turun, adalah disamping gunung-gunung menyembunyikan diri sejenak, ia melihat tidak ada gerakan apa-apa, lalu mengerahkan ilmunya mengentengi tubuh yang luar biasa, terbang melesat ke ruang belakang.

Genteng atas ruangan belakang ini dilapisi dengan kapur putih, maka diwaktu malam juga bisa kelihatan nyata. Kim Houw kebetulan menggunakan pakaian putih, maka tempat itu merupakan suatu tempat persembunyian yang paling tepat baginya.

Kim Houw coba geser sedikit satu genteng untuk melihat keadaan dalamnya, ternyata dalam ruangan belakang itu lampunya menyala besar, hingga keadaannya terang benderang seperti siang hari, Ditengah-tengah ruangan ada tempat duduk piranti bersemedi, diatasnya duduk seorang hwesio tua kira-kira berusia enam puluh tahun, dengan bentuk badan yang besar tegap serta wajah yang kereng. Ia memakai baju paderi warna merah tua, tangannya memang serenceng tasbih, dikedua sisinya berdiri delapan hwesio kecil yang baru berusia kira-kira dua belas tahun lima belas tahun.

Ketika Kim Houw melihat wajahnya hwesio itu, dalam hati merasa kaget, karena wajah si hwesio sangat mirip benar dengan Kim Lo Han, cuma badannya agak gemuk sedikit sedang Kim Lo Han sedikit lebih tinggi dari padanya, kalau bukan orang yang sudah kenal betul, dalam sekelebat susah mengenali atau membedakan yang mana Kim Lo Han.

Tiba-tiba hwesio itu menanya dengan suara perlahan: "Guat Sim, sudah jam berapa?"

Suara itu perlahan dan halus sekali, tapi Kim Houw yang berada jauh di atas genteng masih dapat dengar tegas, bisa dibayangkan betapa tingginya kekuatan tenaga dalam hwesio itu.

Kim Houw terkejut! Kalau dibanding Lwekang hwesio ini, mungkin tidak di bawah si imam palsu atau tokoh-tokoh lainnya dalam Istana Kumala Putih di rimba keramat.

"Suhu sudah jam sepuluh!" terdengar si hwesio kecil menjawab. Hwee shio kerutkan alis yang tebal. Tepat pada saat itu joli yang dinaiki oleh Ciok Liang baru saja tiba. Ciok Liang dengan dandanannya yang sangat mewah masuk ke ruangan menghampiri si hwesio dan nampaknya ia tidak takut, tidak juga merasa hormat. Dengan suara nyaring ia berkata: "Suhu, muridmu bawa pulang satu nona cantik, dia adalah yang pada delapan belas tahun yang lalu lahirnya bersama dengan hari lahirku. Suhu! Lekas berikan pelajaran ilmu Bie-im tay-hoat kepadaku!"

Kim Houw kaget mendengar itu, bukan main kagetnya. Murid menemui guru dengan cara yang tidak memakai adat, ini saja sudah jarang tertampak, apalagi minta pelajaran ilmu yang sangat jahat dan ganas itu!

Ilmu Bie-im-tay-hoat membutuhkan sari kekuatan seorang gadis remaja, dengan menggunakan ilmu yang menyesatkan gadis yang dijadikan korban. Sari maniknya disedot untuk menambahkan tenaga si laki, tapi syaratnya sangat berat. Pertama, si gadis harus seorang yang lahir bebarengan tanggal dan jamnya sama dengan si lelaki.

Kedua gadis harus masih remaja benar-benar dan setelah sari kekuatan si gadis tersedot habis, gadis itu segera binasa. Ketika waktu mengambil sari kekuatan wanita itu harus dilakukan pada waktu yang tepat, hari, bulan dan jamnya menurut yang sudah digariskan, malam itu jatuh malam yang paling gelap dalam tahun itu.

Tiga syarat itu, satupun tidak boleh di abaikan kalau tidak akan gagal.

Pelajaran ilmu jahat itu, dalam bukunya Kouw-jin Kiesu juga ada tulis, maka Kim Houw tahu.

Bagaimana ia tidak terkejut, karena ilmu demikian jarang sekali orang yang mempelajarinya. Tetapi masih ada lagi kejadian yang mengherankan dan mengejutkan Kim Houw.

Ciok Liang sehabis berkata, lantas berjalan ke sisinya si hwesio, ia lalu tekuk lututnya, tetapi bukannya berlutut, melainkan merebahkan badannya ke dalam pelukan si hwesio.

Hwesio itu nampaknya girang sekali, mulutnya perdengarkan ketawanya yang bergelak-gelak. Ciok Liang agaknya terlalu dimanja oleh gurunya, dengan tangannya yang besar segede kipas,

hwesio itu mengusap-usap wajahnya Ciok Liang.

"Muridku yang baik, waktu masih belum sampai! Bagaimana kau tergesa-gesa demikian rupa? Tentang ilmu Bie-im-tay-hoat aku sudah berjanji padamu, tidak nanti aku mungkir janjiku, perlu apa kau begitu kesusu"

Ciok Liang cuma berkata "ng.ng" saja sembari melendot di dada sang guru, lagaknya sangat

aleman sekali.

Kim Houw yang menyaksikan tingkah laku Ciok Liang yang sangat memalukan itu, hatinya merasa panas. Selagi hendak melompat turun untuk menghajar mereka, mendadak ia berbalik pikirannya, sebab ia lantas ingat bahwa bagaimanapun mereka tidak akan lolos dari kemana.

Terdengar hwesio itu kembali ketawa dan berkata: "Sudahlah! aku terima baik permintaanmu, cuma aku harus lihat dulu gadis itu, cantik atau tidak untuk menjadi muridku?"

"Suhu, ia sangat galak! Dalam perjalanan, ia disenggol saja tidak mau. Sesudah diikat kaki tangannya, aku hendak menciumnya hampir saja kena digigit" kata Ciok Liang.

Si hwesio mengiringkan kupingnya untuk dengar kentongan, kemudian berkata: "Muridku nanti sudah jam satu tengah malam, kau boleh lakukan!" "Suhu ia sangat galak bagaimana? Aku tidak suka kalau diikat atau ditotok jalan darahnya karena dengan demikian seperti tidur dengan seorang mati, sedikitpun tidak ada artinya" kata Ciok Liang sambil lompat duduk.

Hwesio itu rupanya sangat geli suara tertawanya semakin nyaring, lama sekali baru bisa berkata: "Muridku yang baik, rupanya dalam soal wanita kau mempunyai banyak pengalaman, apakah kau pernah mencuri anak gadis orang? Beritahukan kepada suhumu, apakah gadis itu pandai silat?"

"Gadis itu tidak pandai silat. Tapi, aku masih ingat dia melawan hebat sekali, maka aku lantas totok jalan darahnya, dia lantas seperti orang mati, mana aku bisa gembira? Maka aku lantas buka totokannya. Aku membiarkan dia meronta-ronta hebat, lebih hebat lebih menyenangkan.

Sebabnya, biar bagaimana ia adalah perempuan lemah, sebentar saja sudah kehabisan tenaga, maka akhirnya dia membiarkan dirinya aku perbuat sesukaku! Kejadian itu di kampung halamanku pada dua tahun berselang."

Baru saja bicara sampai di situ, hwesio itu tiba-tiba kebutkan lengan bajunya seraya membentak: "siapa berani main gila didalam gereja Hoat-hoa-sie? Bukan lekas keluar untuk menerima kematian?"

Suara pekikan hebat telah terdengar, kemudian disusul oleh berkelebatnya satu bayangan putih. Sekejap saja di ruangan itu sudah muncul seorang anak muda berbadan tegap dan berpakaian putih, hanya wajahnya yang tampan penuh dengan kedukaan dan air mata. Dengan suara yang gemas dan di ucapkan sepatah demi sepatah, pemuda itu berkata: "Ciok Liang, aku ingin tanya kepada kau ini, satu manusia yang lebih rendah dari binatang, adik Peng dengan kau ada permusuhan apa? mengapa kau perlakukan begitu rupa? Hari ini, aku hendak menagih hutang darahmu kepada Adik Peng!"

Ciok Liang masih belum sempat menjawab, di luar tiba-tiba terdengar jeritan ngeri, kemudian disusul oleh suara ketawa panjang dan nyaring. Segera dalam ruangan itu tambah seorang tua berusia kira-kira lima puluh tahun. jenggotnya panjang, dengan pedang Ceng-kong kiam orang tua itu menuding si hwesio sembari berkata: "Hoat-hut, kau juga tidak dengar-dengar dulu, apakah gadisnya aku seorang she Pao, juga boleh kau buat permainan? Lekas bebaskan anak perempuanku, kalau tidak, bunuh! aku nanti suruh kau rasakan sendiri tajamnya pedang Ceng- kong-kiam ku ini!"

Sebetulnya saat itu Kim Houw sudah hampir turun tangan menghajar Ciok Liang, tidak nyana maksudnya digagalkan oleh munculnya orang tua itu.

Oleh karena kedatangan orang tua itu hendak minta anaknya yang di rampas oleh Ciok Liang, maka Kim Houw terpaksa mengalah dan urungkan serangannya terhadap Ciok Liang.

Si hwesio sedikitpun tidak keder, sembari ketawa bergelak-gelak ia berkata: "Oh! itu anak perempuan yang di ketemukan oleh muridku, kiranya adalah anak perempuanmu. Kalau begitu benar-benar aku keterlaluan. Tapi menurut paras keterangan muridku, anak perempuanmu itu parasnya cantik sekali, kalau aku tahu lebih dulu, mungkin aku si hwesio tidak akan perdulikan perjalanan jauh, datang sendiri ke kota Liong-yu, untuk aku pakai sendiri bukankah menggembirakan?"

Orang tua she Pao itu gusarnya bukan main, tanpa banyak bicara lagi, ia lantas menyerang si hwesio dengan pedangnya.

Si hwesio sangat jumawa itu telah berani berlaku begitu sombong terhadap lawannya, sudah tentu bukan orang sembarangan. Maka ujung pedang sudah dekat di dadanya. ia lantas egoskan diri sembari menggulung pedang orang she Pao dengan lengan bajunya. Kemudian si hwesio lantas berkata sembari tertawa: "Pao Sie Jin kau juga seorang yang terkenal di dunia kangouw, mengapa begitu tidak mengenal selatan, berani-berani kau unjuk diri lagi di gereja Hoat Hoa Sie? Apa kau kira aku si hwesio boleh kau perlakukan sembarangan?"

Selain ucapan itu, lengan jubahnya lantas di kebutkan! Poa Sie Jin rasakan lengannya sakit sekali, pedang panjangnya lantas melayang ke udara dan terus menancap di atas penglari.

Baru segebrak saja Poa Sie Jin sudah tidak berdaya, kecuali merasa sangat malu, orangnya cuma berdiri kesima ditengah ruangan, sedang si hwesio lalu perdengarkan suara ketawanya yang panjang.

Tetapi belum habis tertawanya, dari luar terdengar suara yang amat nyaring: "Tang.....Lo.Han!"

Baru saja dengar di sebut namanya saja, hwesio itu lantas berhenti ketawa, matanya mendelik segede jengkol, mengawasi ke arah pintu dengan tidak berkedip.

Di depan ada puluhan orang yang menjaga saat itu tiba-tiba bergerak menjadi dua rombongan, tampak Kim Lo Han dengan tindakan yang mantap, setindak demi setindak berjalan masuk.

Si hwesio tiba-tiba terperanjat badannya gemetar dengan suara terputus-putus ia berkata: "Kim......Lo....toa.....Heng?.......kau...kau...tidak..?"

Kim Lo Han menyebut dengan suara dingin: "Siang-siang aku sudah menduga yang menimbulkan urusan adalah kau, tapi aku masih berharap bukan kau, tidak hanya betul-betul adalah kau! Kalau siang-siang aku sudah mengetahui kau yang timbulkan keji benar-benar aku lebih suka binasa didalam Istana Kumala Putih, supaya tidak lihat kawanan yang rusak nama baik Budha seperti kau ini kau.. kaulekas kau bikin mampus habis riwayatmu sendiri! Kau berani

menggunakan nama suhu untuk mendirikan gereja, ini sudah suatu perbuatan dosa yang sangat besar beberapa puluh tahun lamanya, aku tidak meneruskan latihanku, sehingga hari ini masih belum mencapai puncak kesempurnaannya, aku tidak ada muka untuk menemui suhu dialam baka, tidak nyana di kelenteng Hoat Hoa Sie, telah muncul seorang pengrusak nama baik Budha seperti kau ini."

Bicara sampai di situ. Kim Lo Han rupanya terlalu menahan gusar sedang hatinya berkasihan kepada adik seperguruannya, mulutnya menyemburkan darah hidup keadaannya sungguh sangat mengharukan sekali.

Tidak dinyana, Tang Lo Han sebaliknya bukan saja sudah tidak perdulikan hubungan persaudaraan malah tertawa bergelak-gelak sambil berkata: "Kim Lo Han ! Toa suheng apa kau belum berhasil dalam hatimu? Kalau diingat, lalu dengan ilmu Kim-kong-ceng-khie bagaimana kau telah menjagoi di gereja Hoat-kak-sie di gunung Kie Lian San? Tapi sekarang, aku sutemu, sebaliknya sudah berhasil melatih ilmu itu sampai ke puncak kesempurnaannya, apakah kau tidak percaya? Kalau tidak percaya kau boleh coba-coba sambuti seranganku. Dengan menggunakan lima persen dari kekuatan tenaga saja, pasti aku bisa suruh kau menyusul suhu di akhirat.

Pada empat puluh tahun berselang, di dalam gereja Hoat-kak-sie di gunung Kie Lian San, Kim Lo Han merupakan satu paderi beribadat yang terkenal budiman dan gagah perkasa. Diantara orang-orang dalam tingkatannya, bukan saja ia terhitung orang yang paling kuat dan berkepandaian ilmu silat paling tinggi, juga orang yang tingkatan lebih atas dari padanya, sebagian banyak yang tidak mampu menandinginya.

Sayang, karena sepatah kata suhunya sebelum menutup mata, ia telah mensia-siakan kepandaian untuk seumur hidupnya. Diwaktu hendak menutup mata, Suhunya pernah berkata: "Usiaku, sampai di sini sudah mencapai akhirnya. Hanya, dalam seumur hidupku, ada satu penyesalan, yang membuat aku mati tidak meram, soal itu adalah Istana Kumala Putih di gunung Tiang Pek San yang sebegitu jauh masih belum dapat kesempatan untuk memasukinya. Bukan Suhumu takut masuk ke situ, tapi disebabkan Suhumu setelah menjabat ketua gereja Hoat-kak-sie tidak berani bertindak sembarangan, supaya tidak menodakan namanya. Hari ini aku sudah tidak tahan bisa tahan, mudah-mudahan kalian bisa melanjutkan cita-citaku ini, supaya aku nanti bisa merasa puas dialam baka"

Sebetulnya, kedudukan ketua Hoat-kak-sie dan Ciang-bun-jin partainya, akan diserahkan kepada Kim Lo Han. Tapi, oleh karena Kim Lo Han hendak mewujudkan cita-cita gurunya, setelah mengubur jenasah gurunya. Kim Lo Han lantas meninggalkan gereja Hoat-kak-sie. Dalam suratnya ia pernah meninggalkan pesan, apabila dalam waktu dua tahun ia masih belum kembali, harap ji-sutenya Gin Lo Han menjabat Ciang-bun-jin dan ia sendiri lantas masuk ke dalam Istana Kumala Putih di rimba keramat.

Setelah berada didalam Istana Kumala Putih, ia telah menyaksikan tokoh-tokoh kangouw telah mati satu persatu didalam istana, maka hatinya lantas mulai dingin, ambekannya juga mulai lenyap!

Tidak dinyana, dihari tuanya ia masih bisa keluar dari istana itu, maka terhadap Kim Houw ia bukan main merasa amat berterima kasih.

Lebih tidak dinyana bahwa daerah Kanglam ini ia telah menemukan Sutenya, Tang lo Han, yang pada masa mudanya paling tiada menaati peraturan. Justru raut mukanya adalah mirip dengannya maka sang Sute ini sering menyusahkan dirinya.

Dan sekarang, ternyata sang sute itu berani menantang dirinya. Kalau bukan karena Kim Lo Han telah mengatakan bahwa selama empat puluh tahun ia alpakan latihannya ilmunya, Tang Lo Han sebetulnya tidak berani berlaku sembarangan terhadap Suhengnya ini. Sebab dimasa mudanya, Suheng itu kepandaiannya jauh lebih tinggi daripada dirinya.

Dulu Hoat-hoa siansu ada memungut tiga murid, cuma dalam beberapa tahun saja ia sudah dapat lihat bahwa Tang Lo Han bukan seorang murid baik, maka segala ilmu simpanannya hanya diturunkan kepada kedua murid lainnya, ialah Kim Lo Han dan Gin Lo Han. melihat lihat dan kelakuan sang murid Hoat-hoa siansu meramalkan bahwa Tang Lo Han kelak kemudian hari pasti akan membawa bencana bagi Hoat-kak-sie.

Ketika Hoat-hoa siansu wafat, dan Kim Lo Han memasuki Istana Kumala Putih, didalam rimba keramat, dalam gereja cuma tinggal Gin Lo Han dan Tang Lo Han dua orang.

Tang Lo Han yang mengandung maksud jahat, dengan kelakuan dan perkataan manis ia berhasil menipu suhengnya yang berhati jujur, hingga dapat juga mempelajari ilmu kepandaian gurunya yang dinamakan Kim-kong-can-khie. Dalam tempo kira-kira tiga puluh tahun saja sudah berhasil mendapatkan pelajaran itu seluruhnya, hingga kekuatannya berimbang dengan Gin Lo Han.

Sesudah mempunyai kekuatan yang dibuat andalan. Tang Lo Han mulai berlaku menurut kemauan sang hati ia berserikat dengan kawanan buaya di kalangan Kangouw, dari situ ia juga dapat mempelajari beberapa rupa kepandaian kejahatan.

Perbuatannya itu telah menimbulkan amarahnya Gin Lo Han, dalam gusarnya ia lantas usul keluar Tang Lo Han dari perguruan. Bagi Tang Lo Han, pengusiran tidak menjadi soal, maka ia lantas kabur ke Kang-lam.

Sungguh suatu hal yang sangat kebetulan di Kanglam ia telah ketemu dengan Ciok Liang yang karena ketakutan disebabkan dosanya telah meninggalkan rumah tangganya dan kabur ke Kanglam.

Ciok Liang sebetulnya ada bersama-sama dengan Souw Coan Hui, murid ayahnya. Tapi Souw Coan Hui telah lenyap tanpa bekas di waktu tengah malam ketika melakukan perbuatan tak senonoh terhadap satu wanita cantik, maka Ciok Liang melanjutkan perjalanannya seorang diri, dengan cara kebetulan ia berjumpa dengan Tang Lo Han.

Dengan mendemonstrasikan beberapa kepandaiannya yang luar biasa, Tang Lo Han sudah dapat menaklukkan hati Ciok Liang, maka keduanya lantas menjadi akrab. Ciok Liang minta diajari kepandaiannya, sudah tentu ia harus ambil-ambil hatinya si hwesio, untuk mana ia harus korbankan segala-galanya.

Mereka lalu menetap di kota Kian-tek. Dengan sedikit muslihat saja, Tang Lo Han sudah dapat memperdayai penduduk yang bodoh, mereka pandang padanya sebagai Budha hidup.

Hari itu, didalam gereja Hoat-hoa-sie Tang Lo Han juga tidak kira bakal bertemu dengan Toa- suhengnya yang paling ditakuti pada beberapa puluh tahun berselang.

Tapi, ketika mendengar keterangan Suhengnya bahwa ia telah melalaikan kepandaiannya, diam-diam ia merasa girang, maka akhirnya, sekalipun tidak bisa merebut kemenangan untuk melarikan diri saja, dengan mengandalkan pesawat-pesawat rahasia yang di pasang dalam gereja itu biasanya masih mudah.

Saat itu, Kim Lohan bukan saja sudah muntahkan darah, tetapi juga mengucurkan air mata karena sedihnya, "Lolap sekalipun harus mengorbankan jiwa, juga akan berdaya untuk membasmi kau, manusia macam binatang!" demikian katanya sengit.

Mendengar itu. Tang Lo Han tertawa bergelak-gelak: "Marilah pertempuran antara saudara dalam seperguruan, biar bagaimana toh tak dapat dielakkan."

Belum menutup mulutnya. Tang Lo Han sudah membuka serangannya.

Serangan yang dielakkan dengan tiba-tiba kekuatan hebat sekali, suara samberan angin saja sampai terdengar jauh.

Dalam keadaan gusar dan cemas, Kim Lo Han hatinya sudah kalut. Ia bersedih karena perbuatan durhaka dari Sutenya itu

Ia lebih sedih kebodohan sendiri. sebab ilmu Kim-kong-cou-khie itu kalau sudah dilatih sampai di puncaknya, bukan main hebatnya, segala apa dapat dihancurkan dengan segera. Ia tahu benar, jika sang Sute itu sudah melatih mencapai kesempurnaannya, meski ia sendiri menyambuti dengan secara nekad, akhirnya pasti binasa atau setidaknya terluka parah.

Tapi dalam keadaan demikian, ia tidak boleh tidak menerima tantangan Sutenya, maka terpaksa ia sodorkan tangannya, untuk menyambuti serangan Tang Lo Han.

Tiba-tiba terdengar suara menjerit "Aduh" Tang Lo Han mengepal-kepal kedua tangannya badannya agak gemetar. Saat itu terdengar suara ketawanya Kim Houw yang muncul dari samping.

"Tang Lo Han! Seranganmu ini ternyata tidak tahan satu jari tanganku, apa masih ada muka menganggap dirimu sebagai jago, orang kuat atau segala apa lagi?" katanya.

Munculnya Kim Houw dengan tiba-tiba membikin kaget Tang Lo Han, bukan karena apa, sebab sejak semula Tang lo Han sudah anggap sepi kepada bocah itu! Dan sekarang tidak dinyana bahwa bocah yang tidak di pandang mata ternyata mempunyai kekuatan yang sangat hebat, bukan saja sudah memunahkan ilmu Kim-kong-cau-khie bahkan kekuatan Lwekang Kim Houw yang mulus sudah menembus telapak tangannya, sampai hwesio itu badannya menggigil, bagaimana ia tidak jadi terkejut dan terheran-heran?

Tapi biar bagaimana ia masih belum mau percaya bahwa serangan jari tangan itu keluar dari tangan si bocah. Namun dalam ruangan itu hanya ada tiga orang, Pao Sie Jin seorang bekas pecundangnya Kim Lo Han Suhengnya, sedang Hoat-kak-sie di Kie-lian-san tidak mempunyai kepandaian semacam itu, Siapa lagi kalau bukan bocah itu?

Akhirnya Tang Lo Han tertawa dingin, kemudian berkata dengan setengah mengejek: "Bocah!

Apa kau sedang bicara?"

Kim Houw tertawa maju mendekati. "Hwesio, baik-baik kendalikan mulutmu! Apa kau benar tidak dengar aku sedang bicara?" demikian katanya.

Waktu dengar hwesio itu panggil bocah kepadanya, Kim Houw sebetulnya hendak balas memaki, tapi mengingat itu Sutenya Kim Lo Han, maka ia lantas urungkan niatnya.

"Houw-ji, untuk Lo Han-ya dan kebaikannya penduduk di sini, kau singkirkan padanya! Dia kelewat jahat dan licik, sekali-kali jangan kasih lolos. Kalau tidak, di kemudian hari sukar untuk mencari kembali padanya." tiba-tiba Kim Lo Han berbicara.

Kim Houw tetapkan hatinya, ia berpaling kepada Kim Lo Han, sembari senyum ia menjawab: "Lo Han-ya kau tak usah kuatir, ia tidak akan lolos dari tanganku!"

Belum habis ucapan Kim Houw, tiba-tiba merasakan suatu kekuatan tenaga yang sangat hebat menyambar ke arah dadanya!

Diserang dengan cara tiba-tiba itu, asal ia mau sedikit mengegos, sebetulnya bisa menghindarkan serangan lawan, tapi, Kim Lo Han dan Pao Sie Jin yang berdiri di belakang dirinya, pasti akan dibikin terluka oleh serangan Kim-kong-cu-khie itu

Maka, tanpa banyak pikir lagi, Kim Houw lantas menyambuti dengan satu tangan. Ia menggunakan ilmunya yang paling luar biasa didalam di dunia Han-bun-can-khie.

Ilmu Han Bun Cau Khie ini adalah ilmu gabungan tenaga keras dan lemas. Kalau keras, tenaga itu kerasnya tidak ada bandingannya, kalau lemas, lemasnya melebihi air. Kim Houw dalam gugupnya cuma mampu keluarkan tiga bagian kekuatan tenaganya yang lemas.

Tapi, meski hanya dengan tiga bagian ternyata sudah mampu memunahkan serangan Tang Lo Han yang hebatnya luar biasa itu.

Tang Lo Han mendadak ketawa bergelak -gelak. "Aku kata, kau si bocah sekalipun belajar ilmu silat sejak dilahirkan oleh ibumu, misalnya bakatmu memang baik serta ditambah dengan latihan beberapa tahun tidak mungkin berani menyambuti seranganku. Kau rupanya dapat sedikit pelajaran ilmu hitam atau ilmu setan. Apakah kau benar-benar berani menyambuti seranganku sampai tiga kali? hanya tiga kali saja, pasti aku kirim kau untuk menemui leluhurmu di akhirat!" Kim Houw sudah ambil keputusan untuk bikin hwesio ini takluk benar-benar.

"Hwesio, jangan kata cuma tiga kali sekalipun tiga puluh kali aku juga tidak gentar!" katanya. "Bocah busuk, jangan sombong, sambutlah seranganku!" dengan gemas Tang Lo Han segera

melonjorkan tangannya.

Tang lo Han selamanya menggunakan kekuatan yang sipatnya keras, serangannya itu juga tidak terlepas dari kekerasan.

Kim Houw dengan tenaga menyambuti sesuatu kekuatan tenaga yang tidak kelihatan telah meluncur dari tangannya kedua Lwekang saling bertemu, setelah perdengarkan suara "Bleder" angin kuat lantas berterbangan ke empat penjuru.

Kedua pihak sama kuatnya, masing-masing belum perlihatkan perobahan apa-apa.

"Cuma saja, sambuti seranganku yang kedua!" kata si hwesio sambil ketawa bergelak-gelak.

Tiba-tiba sepasang mata mendelik, alisnya berdiri, kini ia mendorong dengan telapak tangannya. Serangan itu nampaknya dilakukan dengan kekuatan sepenuhnya, sebentar terdengar angin menderu-deru, seolah-olah gelombang arus hebat yang datang menggulung-gulung ke arah Kim Houw. Dalam hati kecilnya Tang Lo Han sudah membayangkan, kali ini Kim Houw pasti akan hancur lebur berkeping-keping.

Kim Lo Han yang berdiri disamping, ketika melihat kekuatan dahsyat itu diam-diam juga terkejut. Memang, ilmu Kim-kong-cao-kie itu adalah ilmu kepandaian Tang Lo Han yang paling dibanggakan, Kim Lo Han sendiri juga merasa tidak sanggup menandingi Sutenya itu.

Tapi, Kim Houw nampaknya masih tenang-tenang saja, seperti ketika menghadapi serangan pertama. Ia sodorkan tangannya dengan tenang, tapi kali ini berlainan dengan duluan, karena suatu kekuatan yang tersembunyi telah berputaran di udara, seolah-olah hendak membikin padam obor api yang menyala keras. Sebentar saja, kedua kekuatan dari tangan itu sudah saling bertemu lagi.

Suara "Blang" yang amat keras terdengar anginnya yang hebat telah membikin padam lilin yang menerangi ruangan.

"Tang Lo Han, masih ada satu kali lagi!" kata Kim Houw dingin.

Tang Lo Han menampak Kim Houw ternyata sama sekali tidak bergeming menghadapi serangan yang terhadap itu, dalam hati merasa tidak habis mengerti. Tidak usah dikatakan lagi betapa terkejutnya.

Ia lalu tarik kedua tangannya dengan bergelak-gelak dan berkata: "Bocah, kau benar-benar mempunyai ilmu gaib. Sekarang begini saja, serangan ketiga kita hapuskan saja, mari kita mengadu kekuatan Lwekang, bagaimana? Bocah ! Beranikah kau?"

Kim Houw mengerti, dalam segala ucapannya Tang Lo Han yang licik, sebetulnya hendak membikin panas hatinya, tapi Kim Houw ingin membikin hwesio ini takluk benar-benar, maka sekalipun di tantang untuk bertanding saja, ia juga tidak ingin menolak.

Namun, kali ini mendengar tantangan Tang Lo Han, jadi sangat melengak keheranan. Barusan mengadu kekuatan telapak tangan, bukankah mengadu kekuatan Lwekang? Jika Lweekangnya kurang sempurna telapak tangan tidak nanti mampu mengeluarkan angin kuat, bagi semua orang yang mengerti ilmu silat sudah tentu mengetahui ini.

Dan kini, Tang Lo Han setelah dua kali mengadu kekuatan telapak tangan, sudah tahu kalau ia tidak mampu menandingi kekuatan lawannya, namun ia berani majukan usul untuk mengadu kekuatan tenaga Lwekang, ini bukan berarti mencari jalan mampus sendiri?

Hakekatnya di dunia mana ada orang begitu tolol? Kim Houw mengatakan Tang Lo Han licik, terang tentunya tantangan itu ada mengandung akal busuk, Kim Houw seorang yang mempunyai kepandaian ilmu silat dan kekuatan Lwekang yang luar biasa, meski tahu Tang Lo Han main gila ia juga tidak takut. Maka lantas menyahut: "Hwesio, Lo Han-ya tadi mengatakan suruh kau mati.

Tuhan juga tidak mengijinkan kau hidup lebih lama lagi. Kau ingin bertanding dengan cara apa saja aku bersedia, terserah padamu, aku pasti melayani!"

Tang Lo Han memperlihatkan tertawanya yang seram, tanpa banyak bicara lagi tangan kirinya lalu disodorkan dengan perlahan! Kim Houw menggunakan tangan kanan menyambuti.

Selagi kedua telapak tangan hamper beradu satu sama lain, mendadak mata Kim Houw yang tajam melihat cincin yang bersinar.

Sinar hitam pada jari manisnya tangan kiri Tang Lo Han.

Kim Houw terkesiap, ia menduga pasti pada cincin itu telah ada racunnya.

Tepat pada saat Kim Houw sangsi untuk mengurungkan serangannya, tangan Tang Lo Han sudah menempel ditangan Kim Houw.

Setelah kedua tangan saling menempel Kim Houw lantas merasa jari tangannya kesemutan. Dalam kagetnya buru-buru ia mengerahkan khikangnya menutup jalan darah tangan kanannya, untuk menjaga jangan sampai racunnya menjalar. Berbarengan dengan itu sepasang matanya lantas bernyala-nyala memandang Tang Lo Han.

Kalau Kim Houw terkejut, Tang Lo Han sendiri tidak kalah terkejutnya melihat Kim Houw tenang-tenang saja, cincin itu bernama Lo-sat-kim-hoan, terbikin dari emas hitam dikasi dengan batu giok. Ditengah-tengah batu giok ada emas tusuk konde yang menonjol sedikit dari permukaan batu dan di atas emas ini ada racun yang berbisa. Kalau cincin itu menempel pada kulit manusia, tanpa ampun lagi orang yang kena di tempel itu lantas binasa seketika juga.

Cincin berbisa itu Tang Lo Han dapatkan dari seorang Lhama Tibet. Entah beberapa banyak jiwa yang melayang sudah kena racunnya benda celaka itu dan Tang Lo Han menggunakan itu belum pernah mengalami kegagalan. Heran hati terhadap Kim Houw, mengapa cincin itu tidak memperlihatkan khasiatnya? Tang Lo Han tahu kekuatan Lweekangnya masih kalah daripada lawannya, tapi ia menantang adu kekuatan lwekang, maksudnya ialah hendak menggunakan cincinnya yang beracun itu untuk menghabiskan jiwa lawannya. Melihat maksudnya gagal lalu ia merobah haluan.

Ia lalu keluarkan serenceng tasbih yang terbikin dari batu giok, kira-kira tiga kaki panjangnya. Sekali mengayun tangannya, tasbih itu meluncur mengarah jalan darah Kian-kie-hiat Kim Houw.

Gerakan Tang Lo Han yang pengecut ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa. Tapi Kim Houw yang sudah sangat gusar karena kecurangan lawan, telah mengambil keputusan tidak memberi hati lagi, ia bergerak lebih cepat hingga tasbih itu terbang membalik dengan cepat sekali. Berbareng dengan itu, jari tangan Kim Houw yang menggunakan Cao-kie-sin-kangnya telah menyerang dada Tang Lo Han, hingga hwesio berbadan gemuk itu lantas terbang terpental sejauh kira-kira tiga tombak dan apa hancur justru tiang batu yang menyambuti tubuhnya.

Kekuatan serangan Kim Houw hampir-hampir membuat orang tidak percaya, karena palang batu yang besarnya sepelukan tangan orang itu dibentur tubuh Tang Lo Han menjadi hancur dan gereja itu tergoncang. Dari sini bisa dibayangkan betapa gusarnya Kim Houw terhadap Tang Lo Han.

Tang Lo Han yang sudah terkena serangan boleh dibilang jiwanya setengah melayang, ditambah kebentur lagi dengan tiang batu, makin tidak ada harapan untuk hidup lagi.

Tidak nyana selagi badannya membentur tiang, tasbihnya yang terbang membalik karena serangan pembalasan Kim Houw tadi, dengan tepat mengenai batok kepalanya yang kelimis hingga kepalanya menjadi hancur berantakan.

Kim Lo Han menjerit, bagaikan terbang cepatnya ia menghampiri. Biar bagaimana mereka berdua pernah menjadi saudara seperguruan, meski Tang Lo Han harus menerima kebinasaan karena dosanya tidak urung Kim Lo Han keluarkan air matanya juga.

"Sute!.....Sute!" demikian ia meratap sesenggukan.

Kim Houw lantas menubruk sembari berkata: "Lo Han-ya maafkan aku! aku sudah tidak bisa menahan sabar."

"Houw-ji aku tidak salahkan kau!" jawab Kim Lo Han masih menangis.

Tiba-tiba Kim Houw memutar tubuhnya dan membentak: "Ciok Liang! Jangan bergerak!"

Ciok Liang menyaksikan Kim Houw bagaimana telah membinasakan gurunya. Sungguh ia tidak nyana, anak yang sering ia pukul dan hina dalam waktu dua tahun saja sudah mempunyai kepandaian begitu tinggi maka sejak tadi ia sudah dibikin kesima. Tadinya ia masih mengharapkan cincin Lo-sat-kim-hoan dari gurunya bisa membinasakan jiwanya Kim Houw, siapa kira tidak memenuhi pengharapannya, bahkan gurunya sendiri yang melayang jiwanya. Kini ketika melihat Kim Houw sedang menghibur Kim Lo Han ia anggap itu suatu kesempatan baik untuk mengangkat kaki.

Tidak nyana perbuatannya itu masih diketahui juga oleh Kim Houw. Tapi, karena saat itu ia sudah melangkah keluar pintu gereja, sudah tentu tidak perduli akan panggilan Kim Houw, bahkan percepat gerakannya dan buru-buru melesat keluar.

Tiba-tiba depan matanya berkelebat bayangan putih. Ciok Liang segera mengerti apa akibatnya, mendadak gegernya dirasakan seperti dipegang oleh suatu tenaga yang kuat, kemudian badannya terangkat naik. Telinganya dengar ucapan Kim Houw: "Ciok Liang, apa kau masih pikirkan hendak mabur? Kalau tidak bunuh mati kau, rasanya tidak dapat melampiaskan rasa sakit hatiku."

Ciok Liang yang sudah diangkat tinggi-tinggi badannya oleh Kim Houw, semangatnya sudah terbang melayang. Tapi ia seorang yang licik dan banyak akalnya, dalam keadaan genting seperti ini ia masih bisa memikirkan akalnya untuk meloloskan diri. Dengan badannya menggigil dan wajah ketakutan, ia berkata dengan suara yang mengharukan: "Houw-ji, aku ingat ketika kau masih di Bwee-kee-cung, rasanya aku cuma dua kali saja memukul kau, apakah dosa itu harus kutebus dengan kematian?" "Binatang, apa kau kira aku masih mengingati kau pernah memukul dua kali pada diriku?

Sekarang aku hendak tanya padamu, tentang kematian adik Peng, kau tokh sudah katakan sendiri itu masih kau anggap mati penasaran?"

Ciok Liang pura-pura menjerit kaget: "Houw-ji! Oh, Houw-ji! ini adalah suatu kenistaan yang sangat hebat, kau lepaskan aku dulu, biarlah nanti kuceritakan padamu dengan jelas. Kau pikir waktu itu aku baru berusia kira-kira 16 tahun..."