Istana Kumala Putih Jilid 05

 
Jilid 05

Dan kalau barang itu kembali di tanganku, aku nanti minta kau kembalikan kepada Ciok-ya pemiliknya.

Hinaan yang aku terima hebat sekali, aku akan membereskan itu satu persatu dengan cara menggelap, aku tidak bisa membiarkan hal ini membikin noda nama baikku.

Akhirnya aku doakan kau supaya selalu bahagia. KIM HOUW.

Surat yang bunyinya panjang sekali itu sangat menggirangkan hatinya Peng Peng, tapi juga mengejutkan. Girang, karena mendapat kepastian bahwa Kim Houw masih hidup, malahan akan segera bertemu, terkejut karena dalam tempo 2 tahun saja, Kim Houw sudah berhasil mempunyai ilmu silat yang demikian tinggi, disamping itu, juga kematiannya Bwee Peng.

Berulang-ulang ia membaca surat itu, baru disimpan. Kemudian baju bulu dari monyet bulu emas hadiah dari Kim Houw juga dipakai dengan perasaan bangga dan girang.

Pada saat itu, tiba-tiba ia sadar bahwa hwesio berbadan tegap itu entah sejak kapan sudah berlalu dari depan matanya. Berbareng di istana terdengar suara ramai orang menyambut kedatangan ibunya Siao Pek Sin.

- ooo O ooo -

Dalam sebuah kamar besar yang dihias sangat mewah. Seorang ibu dengan anaknya sedang mengadakan pembicaraan yang agaknya sangat serius. Mereka adalah majikan Istana Kumala Putih Siao Pek Sin dengan ibunya.

Pada saat itu, Siao Pek Sin tiba-tiba bangkit dan berkata: "Ibu ! mengasolah ! ibu barusan melakukan perjalanan jauh, tentunya lelah"

Si Ibu sebaliknya menarik anaknya, hingga duduk lagi. "Sin-ji, kau jangan kesusu pergi dulu kau beritahukan kepada ibumu dulu, siapa itu Houw-ji?" tanya ibunya.

Siao Pek Sin berpikir sejenak, baru menjawab: "Ibu ! Houw-ji adalah anak yang belakang tubuhnya ada gambar guratan macan dan tiga buah tanda hitam !".

"Oh ! Dia adalah anaknya itu budak hina, bukankah kau sudah mengatakan bahwa dia sudah kecemplung ke dalam air terjun yang tingginya ada ribuan tombak? Mengapa masih mempunyai kawan yang mencari padanya?"

"Ibu !" wajah sang anak mengunjuk kecemasan. "Aku tadinya mengira dia sudah mati!

Tapi....tapi!"

Sang ibu mengusap-usap kepala anaknya. "Sin-ji itu adalah kau sendiri yang melakukan apa perlunya bersangsi ?."

Sang anak gelengkan kepala. "Anak tidak curiga kalau tidak karena urusan hari ini terjadinya terlalu mengherankan, luar biasa anehnya. Houw-ji itu terlalu banyak pengalaman gaibnya, maka aku kuatir " "Apa yang perlu ditakuti ? Apakah dengan kepandaian ilmu silatmu, ditambah lagi dengan bantuannya itu jago-jago dari rimba persilatan, masih takut cuma menghadapi satu bocah saja ? Kalau dihitung-hitung, dia masih lebih muda dua setengah tahun dari pada kau."

"Ibu !" Siao Pek Sin berpikir-pikir sejenak. "Ayah sebetulnya"

Sang ibu lantas memotong: "Sin-ji ! Aku tokh sudah aku katakan, sekali-kali jangan kau sebut- sebut tentang dia lagi, selamanya aku tidak akan memberitahukan hal-hal yang mengenai dirinya, urusan sudah tidak ada hubungannya sama sekali dengan kita orang." 

Menampaknya sang ibu gusar, Siao Pek Sin merasa takut. Namun ia tetap masih ingin tahu, apa sebabnya sang ibu itu begitu benci kepada ayahnya ? Ia beranikan diri menanya : "Ibu ! anak ingin tahu, ayah"

Si ibu wajahnya berobah seketika.

"Aku tidak ijinkan kau tanya lagi," jawabnya dengan gusar. "Aku sudah kata bahwa selamanya aku tidak akan memberitahukan padamu Dia mati atau hidup, atau tidak akan beritahukan padamu, ini suatu penghinaan bagi Pek-liong-po, juga bagi Ceng-kee-cee. Di Pek-liong-po ada Pek Leng dan di Ceng-kee-cee muncul satu Ceng Kim Jie, Pui ! Perempuan hina, aku tidak beritahukan padamu, tidak!"

Si ibu makin lama makin gusar, suaranya juga makin keras, dan akhirnya menjerit-jerit seperti orang kalap serta menangis di pembaringan !

Siao Pek Sin buru-buru menghampiri dan coba menghibur : "Ibu... ibu!

Si ibu mendorong anaknya, lantas bergulingan di pembaringan. Rambutnya terurai, bajunya awut-awutan, tapi mulutnya terus mengoceh tidak henti-hentinya: "Aku tidak bisa beritahukan padamu, tidak, tidak, itu perempuan hina" menjerit jerit sembari menangis. 

Tepat pada saat itu, dari luar pintu berkelebat masuk satu bayangan orang, potongan badannya gagah sekali, kepalanya memakai tudung persegi, mengenakan baju panjang dandanannya mirip dengan anak sekolah.

Siao Pek Sin ketika melihat anak muda itu, bukan main kagetnya, tanpa sadar mulutnya lantas berteriak : "Houw-ji .... kau "

Orang yang baru datang itu memang betul Kim Houw. Setahun tidak kelihatan, ia sekarang sudah merupakan seorang pemuda yang tinggi langsing, bahkan semakin gagah kelihatannya, dengan tenang menghampiri Siao Pek Sin, lalu berkata sambil tertawa: "Aku benar Houw-ji. Belum mati, juga tidak akan mati !"

Saat itu ibunya Siao Pek Sin masih bergulingan sembari berteriak-teriak : "Aku tidak beritahukan padamu, itu perempuan hina"

"Tidak beritahukan padanya, beritahukanlah padaku !" Kim Houw mengelak. "Siapa perempuan hina itu ? Apakah Ceng Kim Ce ? Siapa itu Ceng Kim Ce ?"

Suara Kim Houw tidak keras, tapi nyaring mengandung pengaruh begitu besar.

Ibu Siao Pek Sin dikejutkan oleh suaranya itu. Ia membalikkan badan dan lantas lompat bangun, matanya dibuka lebar-lebar. Di depannya tampak berdiri seorang muda yang mirip benar dengan anaknya sendiri, hanya agak gagahan sedikit dari pada anaknya. Ia lantas menanya dengan suara gugup : "Kau ....kau!"

Kim Houw berdiri tegak. "Aku adalah Houw-ji ! Hari ini ingin minta kau" jawabnya. Tapi baru

berkata sampai di sini tiba-tiba berhenti dan menoleh, kemudian membentak dengan suara keren: "Siao Pek Sin, kau jangan main gila. Sebelum urusan menjadi beres aku tidak akan mencelakakan dirimu, begitu pula setelah urusan menjadi terang, aku juga"

Siao Pek Sin sebetulnya bergerak perlahan-lahan, menuju ke dinding. Mendengar bentakan Kim Houw, lantas bersiul panjang, kemudian menerjang pada Kim Houw.

Ketika Siao Pek Sin baru bergerak ibunya sudah mengikat rambutnya dengan kain hijau, kemudian mencabut pedangnya yang berkilauan dan berseru: "Hm ! Benar saja belum mati, kalau begitu biarlah aku yang membunuh kau dengan tanganku sendiri, ini membuat aku tambah girang, Sin-ji kau mundur !"

Padahal Siao Pek Sin sudah tidak perlu mundur lagi, karena serangan tangannya Kim Houw sudah membuat ia terpental membentur dinding kamar.

Ibunya Siao Pek Sin sambil keluarkan seruan keras, badannya melesat, pedang di tangannya terus menikam dan membabat, selalu mengarah bagian terpenting di tubuh Kim Houw.

Anak muda gagah yang sedang bertempur itu apakah betul Kim Houw ? Memang betul, ia adalah Kim Houw. Tapi bagaimana ia tidak mati ?

Didalam rimba keramat di gunung Tiang Pek San, di bawahnya itu ada air terjun yang sangat curam, sebetulnya ada sebuah danau yang sangat dalam. Ketika Kim Houw didorong oleh Siao Pek Sin dan terjerumus ke jurang, terus terdampar oleh air terjun dan jatuh ke dalam danau.

Jika itu terjadi pada orang biasa, sekalipun mengerti ilmu silat, pasti sudah hancur tubuhnya dan jiwanya melayang seketika.

Kim Houw sendiri, kalau itu terjadi pada beberapa hari berselang, juga akan binasa.

Sudah maunya takdir, kebetulan ia habis menyingkirkan kalajengking berbisa, lalu kesalahan makan buah batu yang susah terdapat didalam dunia.

Buah batu itu tumbuh dari dalam batu tapi lemas dan licin. Khasiatnya kecuali dapat menambah kekuatan tenaga badan sendiri, juga bisa membuat semua otot-otot serta tulang-tulang menjadi keras dan ulet melebihi batu atau besi.

Tapi, jatuh dari tempat yang demikian tingginya meskipun badan Kim Houw tidak sampai hancur karena khasiatnya buah batu itu, namun otaknya tidak tahan getaran air terjun, maka begitu jatuh ia lantas pingsan.

Danau di bawah air terjun itu, kecuali bagian yang kejatuhan air, yang terus masuk ke dalam, bagian sekitarnya malah muncrat ke atas. Maka seketika bahan Kim Houw terdampar ke bawah, setelah tiba di permukaan air danau, lantas tergulung naik ke atas.

Selain dari pada itu, ketika Kim Houw diajak Siao Pek Sin, kedua binatang orang hutan itu tidak terpisah jauh dari mereka. Begitu melihat Kim Houw didorong orang ke dalam jurang kedua orang hutan itu lantas lompat turun dari tebing tinggi. Kebetulan Kim Houw baru saja timbul dari dalam air, dengan demikian dapat ditolong oleh kedua binatang yang setia itu. Untung ketika Kim Houw didorong oleh Siao Pek Sin, ia sudah menutup jalan pernapasannya hingga tidak sampai minum banyak air. Meski demikian, pingsannya lama juga hingga kedua orang hutan itu kelihatan sangat cemas.

Selagi kedua orang hutan itu dalam kebingungan tiba-tiba melihat sesosok bayangan orang yang meluncur turun dari atas, menghampiri mereka. Orang hutan betina berteriak nyaring seakan-akan mencegah kedatangan orang itu.

Orang yang muncul tiba-tiba itu adalah seorang hwesio yang kepalanya gundul kelimis. Badannya tegap, ketika menghadapi Kim Houw yang masih menggeletak di tanah, jauh-jauh sudah memberi hormat, kemudian dengan tindakan perlahan menghampiri. Wajahnya tampak heran sekali, agaknya tidak memperdulikan reaksi kedua orang hutan itu.

Orang hutan betina yang menyaksikan tingkah laku orang yang datang itu agaknya mengerti orang itu bukan orang jahat yang membahayakan Kim Houw, dengan sendirinya undurkan diri bersama anaknya.

Hwesio itu bukan lain si hwesio gagu Kim Lo Han.

Dulu, ketika ia lihat Kim Houw sama sekali tidak mengerti ilmu silat, ternyata bisa masuk ke dalam istana bagian belakang, serta masuk ke dalam istana Kong-han-kiong, ia lantas tahu bahwa dibadan bocah itu ada mempunyai benda wasiat yang melindungi dirinya. Ia juga menginsyafi pasti ada kekuatan gaib yang menuntun anak itu, karena sebagai bocah yang tidak mempunyai kepandaian ilmu silat sama sekali, tapi bisa memasuki rimba yang terkenal keramat itu, malah bisa masuk ke dalam istana yang selamanya sukar diinjak oleh manusia, mungkin ia akan menjadi majikan dari Istana Kumala Putih untuk hari kemudian.

Kim Lo han dimasa mudanya sudah menggetarkan rimba persilatan empat puluh tahun lamanya, ia berdiam dalam Istana Kumala Putih untuk memperdalam ilmu silatnya, dapat dibayangkan sendiri sampai dimana tingginya kepandaian hwesio itu. Ia dijuluki hwesio gagu, sebetulnya dia tidak suka bicara sembarangan, ia hanya buka mulut bicara kalau sangat perlu saja. Justru karena ia jarang bicara, maka ia dapat berpikir lebih banyak dari pada yang lainnya.

Sejak Kim Houw tiba di Istana Kumala Putih, semua apa yang terjadi atas dirinya, telah dapat dilihat dan dipikir olehnya dengan tenang. Terutama ketika Kim Houw baru keluar dari istana belakang, yang mengatakan dalam istana itu ada banyak barang pusaka, tapi Kim Houw tidak membawa keluar apa-apa, kecuali ikat pinggang dan seguci arak yang di pondong secara susah payah, membuktikan bahwa perbuatan Kim Houw ini menunjukkan jiwanya yang besar, tidak serakah dan setia kawan. Perbuatan Kim Houw ini benar-benar telah menggerakkan hati Kim Lo Han.

Selanjutnya ketika Kim Houw tahu bahwa baju wasiat yang ia pakai adalah barang kepunyaan keluarga Ciok, ia lantas buka dan mau dikembalikan kepada pemiliknya, semua ini bagi Kim Lo Han merupakan suatu bukti untuk menghargai kepribadiannya Kim Houw.

Sebaliknya Siao Pek Sin yang keluar dari istana belakang mengangkut banyak benda pusaka yang jarang dilihat oleh manusia. Kim Lo Han tambah bisa membedakan betapa rendahnya perbuatan si orang she Pek itu. Mulai saat itu, ia telah menduga Kim Houw pasti akan mengalami kesukaran. Ketika orang banyak pada bersujut memberi hormat kepada Siao Pek Sin, dan selagi Siao Pek Sin merasa bangga dan kegirangan, Kim Lo Han diam-diam meninggalkan Istana Kumala Putih mencari Kim Houw.

Ia mencari ubek-ubekan didalam hutan rimba yang keramat itu, akhirnya ia dapat menemukan Kim Houw telah dirubungi dua orang hutan badannya basah kuyup, menggeletak tidak jauh dari jatuhnya air terjun yang sangat curam, Kim Lohan segera mengerti duduk perkaranya. Tapi ketika memeriksa jalan pernafasan Kim Houw, ia telah melongo.

Nafas Kim Houw berjalan seperti biasa, begitu pula urat nadinya sedikitpun tidak ada tanda- tandanya yang menunjukkan ada terluka, namun Kim Houw masih berada dalam keadaan pingsan.

Kim Lo han terus berpikir, akhirnya telah diketemukan sebab musababnya, kiranya hanya otaknya terguncang.

Kim Lohan lalu menggunakan ilmunya yang tinggi Kim-kong cao-kang, kedua telapak tangannya ditempelkan dikedua pelipis Kim Houw, perlahan-lahan ia menggosok.

Lewat kira-kira dua jam, Kim Houw kelihatan perlahan-lahan membuka matanya. Tapi cuma membuka sebentar, lantas dipejamkan lagi.

Kim Lohan girang, ia tahu bahwa ilmunya berguna bagi pengobatan secara demikian hanya memerlukan waktu agak lama.

Kalau Kim Lohan merasa girang, adalah kedua binatang orang hutan itu tidak kalah girangnya.

Mereka kelihatan lompat-lompat, sedang yang kecil sembari menarik-narik tangan Kim Lohan, mulutnya tidak berhenti-hentinya cecuitan. Kim Lohan agaknya mengerti maksud kedua binatang itu. Ia lantas angguk-anggukkan kepala.

Selanjutnya, Kim Lohan lantas gendong Kim Houw, mengikuti di belakang kedua orang hutan itu sampai didalam goanya.

Setiap hari tiga kali Kim Lohan menggunakan ilmunya Kim kong coa kang mengobati Kim Houw. Lihat sepuluh hari lebih, Kim Houw baru mendusin betul. Tapi keadaannya masih seperti orang linglung, semua kejadian yang lalu ia tidak ingat sama sekali, hanya kepandaian ilmu silatnya yang tetap tidak berubah.

Hari itu, Kim Lohan ajak Kim Houw balik ke Istana Kumala Putih, tepat pada satu hari dimuka Siao Pek sin sudah keluar rimba bersama-sama orang yang pernah tinggal didalam Istana Kumala Putih.

Itu ada baiknya bagi Kim Houw, karena dalam keadaan sunyi, ada lebih baik untuk melatih ilmu silatnya. Pikir Kim Lohan, setelah Kim Houw sudah sadar betul-betul nanti baru diajak keluar rimba membuat perhitungan. Kim Lohan juga ajak kedua orang hutan itu tinggal bersama-sama dan suruh mencarikan makanan bagi Kim Houw.

Musim semi telah berlalu, diganti oleh musim kemarau.

Hari itu Kim Houw sehabis melatih ilmu silatnya, badannya merasa panas. Dengan seorang diri ia pergi ke sungai untuk mandi, tapi karena hawanya panas sekali, ia terus merendam dirinya dan berenang kesana kemari.

Selagi berenang bersenang-senang, tiba-tiba dengar suara gerujukan air terjun, ia berenang terus untuk mencari tahu darimana jatuhnya air itu. Suara itu makin lama makin keras kedengarannya!

Akhirnya ia menemukan air terjun dari puncaknya gunung, ia lantas mendarat dan mendaki.

Sampai di puncaknya, di atas sebuah batu besar ia menemukan ikat pinggang berwarna batu giok dan sebilah pedang pendek. Kim Houw pungut kedua benda itu, ia buat main sekian lama sembari duduk-duduk di atas batu.

Kedua benda itu memang kepunyaan Kim Houw yang ditinggalkan di dekat batu besar, Siao Pek Sin tidak tahu bahwa kedua benda itu adalah barang pusaka, tidak perhatikan kalau Kim Houw letakkan di atas batu, ia hanya perhatikan baju wasiatnya saja, maka kesudahannya kedua barang itu tidak dibawa.

Tak dinyana bahwa kedua benda itu akan diketemukan kembali oleh Kim Houw, bahkan membuka kembali ingatan Kim Houw.

Tiba-tiba Kim Houw terjun dari atas mengikuti air tumpah. Selama setengah tahun itu meski ingatannya hilang semua, tapi kepandaian imu silatnya bertambah dan buat batu yang kesalahan dimakan itu juga memperlihatkan khasiatnya yang luar biasa.

Bagi Kim Houw yang sengaja terjun mengikuti air tumpah itu tidak merupakan apa-apa, bukan saja tidak pingsan, malahan lompat-lompatan dengan gesit.

Sejak hilang ingatannya, belum pernah ia membuka mulut untuk bicara. Tapi setelah terjun mengikuti air tumpah, ia lantas bersiul panjang. Suaranya ternyata begitu nyaring mengaung, lama masih berkumandang di dalam lembah! Setelah merasa puas, ia lalu kembali ke istana dalam keadaan basah.

Di dalam Istana Kumala Putih, Kim Lo Han sedang duduk bersemedi, tiba-tiba dengar suara siulan begitu nyaring, dalam terperanjat ia lantas lompat bangun dan lari ke depan pintu, pikirnya, siapa lagi orang-orang dari rimba persilatan yang masuk ke istana ini.

Kim Lo Han berdiri belum lama, tiba-tiba melihatnya satu bayangan putih sudah lewat di sampingnya. "Lo Han-ya, kau" demikian tegur bayangan orang itu sudah masuk meleset ke istana.

Kim Lo Han yang menyaksikan gerakan itu gesitnya luar biasa, diam-diam merasa heran dan bertanya pada diri sendiri: siapakah gerangan orang ini? Mengapa ilmu mengentengi tubuhnya demikian sempurna? Istana ini benar-benar kembali kedatangan orang pandai luar biasa lagi.

Tapi ketika ia menoleh dan mengawasi ke dalam istana, di sana ternyata berdiri Kim Houw dengan pakaian yang basah kuyup, ia lantas berdiri ke sana.

"Lo Han-ya, apa artinya ini? Kemana mereka semua? Dimana Cek Ie-ya (si Kacung baju merah) dan Kee To-ya (Si Imam palsu).?" Kim Houw tiba-tiba menanya.

Kim Lo Han sangat girang, tapi kegirangannya tidak diperlihatkan di luar: "Mereka sudah keluar rimba semua!" demikian jawabnya.

"Sudah keluar semua?" Kim Houw terkejut. "Lo Han-ya, dan kau mengapa tidak turut keluar?"

Kim Lo Han lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi di dalam istana setelah Kim Houw dianiaya oleh Siao Pek Sin serta bagaimana ia dapat menolongi dirinya, akhirnya Kim Lo Han berkata: "Sekarang sudah! Asal kau sudah sembuh benar, kita juga boleh keluar dari sini!"

Kim Houw ketika mendengar keterangan Kim Lo Han bahwa hwesio tua itu pernah menolongi jiwanya, buru-buru ia berlutut di depannya sampai Kim Lo Han kelabakan.

"Kau adalah majikan istana ini, juga akan menjadi majikanku seumur hidup. Meski aku sekarang juga sudah tahu jalannya keluar dari rimba ini, tapi kalau bukan kau yang menemukan, aku tentu akan diam di sini seumur hidupku" demikian kata Kim Lo Han. Kim Houw tidak mau dihamba oleh Kim Lo Han, akhirnya kedua orang telah menjadi kawan karib, Kim Houw membahasakan Kim Lo Han Lo Han-ya dan Kim Lo Han bahasakan padanya Houw-ji (anak Houw).

Untuk sementara Kim Houw masih belum mau keluar dari rimba, ia mau melatih ilmu Han-bun- cao-khie didalam istana Khong Han Kiong yang hawanya sangat dingin. Oleh karenanya kedua orang itu berdiam lagi setengah tahun dalam istana itu.

Lain tahunnya, ketika salju sedang turun lebat, Kim Houw dan Kim Lo Han keluar dari rimba keramat itu.

Sudah tentu, dari dalam istana Khong Han Kiong, Kim Houw juga mengambil sedikit barang oleh-oleh untuk adik Peng-nya. Itu adalah sepotong baju yang terbikin dari bulu monyet emas dan sebilah pedang emas yang sangat tajam untuk Peng peng. Ia berpikir, adik Peng-nya tidak mengerti ilmu silat, kalau memakai baju wasiat itu, dapat menjaga diri jangan sampai terluka, sedang Peng Peng yang mengerti ilmu silat, pedang itu adalah hadiah yang paling tepat.

Semua barang-barang itu telah ditinggal oleh Siao Pek Sin karena dianggap kurang berharga.

Kim Houw begitu keluar dari dalam rimba, kewajiban pertama yang dilakukan olehnya adalah menengok Bwee Peng, hal ini, dalam suratnya Kim Houw kepada Peng Peng sudah pernah ditulis dengan jelas, maka di sini tidak perlu diceritakan lagi. Kim Houw telah menemukan kuburannya Bwee Peng. ia menangis sedih sekali dan bersumpah pasti hendak menuntut balas untuk Bwee Peng. Kemudian ia mendatangi Istana Kumala Putih yang didirikan oleh Siao Pek Sin.

Selama itu Kim Lo Han terus tidak berpisah dengan dia. Hwesio tua itu sudah mengambil keputusan tidak akan berpisah untuk selama lamanya dengan Kim Houw.

Semua kejadian yang timbul diwaktu magrib dalam istana di gunung Kun-cong-san, adalah perbuatannya Kim Lo Han dan Kim Houw. Mereka sama sekali masuk ke dalam istana, mereka hanya berada di atas genteng di luar istana, satu di kanan satu di kiri, tapi perbuatannya itu sudah cukup membikin panik semua orang yang ada didalam istana.

Selama Kim Houw tidak melihat San Hua Sian Li dan si Imam palsu, ia heran, mengapa dari orang-orang yang dulu bebas menjadi penghuni Istana Kumala Putih didalam rimba keramat, cuma dua orang itu yang tidak ada, justru kedua orang itu yang merupakan orang-orang yang dibuat pikiran oleh Kim Houw.

Sudah tentu Kim Houw juga kangen pada Kim Coa-nio-nio dan si kacung baju merah cuma karena sudah melihat, kangennya itu lantas hilang.

Urusannya sendiri telah demikian mendesaknya, sehingga ia tidak sempat memikirkan soal yang lain, Ilmu ginkang Kim Houw, pada saat itu sudah mencapai taraf paling sempurna, ia sembunyikan diri di atas genteng siapapun jangan harap bisa lihat padanya.

Ia dengar pembicaraan antara Siao Pek Sin dengan ibunya, Ia sekarang mengerti bahwa ibu yang melahirkan dirinya mungkin itu wanita yang dikatakan ibu Siao Pek Sin sebagai perempuan hina. Ceng Kim Cu.

Sedang ayahnya mungkin adalah Pek Lin, barang kali ia sendiri dengan Siao Pek Sin saudara satu ayah tapi berlainan ibu. Ceng Kim Cu mungkin juga ada hubungannya dengan ibunya Siao Pek Sin sebab mereka sama-sama merupakan orang-orang dari Ceng Kee-cee. Karena ibunya Siao Pek Sin sudah kalap betul-betul, sehingga memaki maki kalang kabut maka Kim Houw sudah tidak dapat menahan sabarnya lagi dan akhirnya unjukkan dirinya.

Tidak nyana ibunya Siao Pek Sin demikian bencinya terhadap dirinya, pedangnya terus mencecar bagian-bagian yang berbahaya, karena Kim Houw anggap nyonya itu tingkatan tua, sengaja ia tidak mau melawan hanya dengan berputar putar ia menghindarkan diri dari setiap serangan, maka meski serangannya ibu Siao Pek Sin demikian cepat dan ganas sedikitpun tidak mampu menyentuh dirinya.

Sebentar saja pertempuran itu sudah berjalan dua puluh jurus lebih, Ibunya Siao Pek Sin makin lama makin gemes, serangannya juga makin gencar dan ganas. Kim Houw masih tetap berputaran, sama sekali tidak balas menyerang.

Siao Pek Sin saat itu sudah berdiri di bawah dinding, tapi tidak berani ambil tindakan apa-apa sebab ibunya dengan Kim Houw bertarung begitu rapat. Nampaknya Kim Houw sama sekali tidak mengeluarkan tenaga sedang ibunya sudah tersengal-sengal napasnya. Sebagai anaknya, bagaimana ia dapat membiarkan ibunya dihina begitu rupa?

Maka ia juga lantas menghunus pedang panjangnya, turut mengerubuti Kim Houw.

Pedang pusaka Siao Pek Sin baru saja dipegang dalam tangannya, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin Kim Houw, kemudian disusul oleh suara bentakannya: "Lepas Tangan!"

Ujung pedang lantas terjepit antara kedua jari tangan Kim Houw, tidak tahu dengan cara bagaimana bergeraknya, tiba-tiba Siau Pek Sin merasakan suatu kekuatan tenaga yang menyerang melalui ujung pedang. Tadinya Siao Pek Sin hendak memberi perlawanan dengan kekuatan tenaga dalamnya, supaya bisa memberi bantuan.

Siapa Nyana, Siao Pek Sin baru saja mengerahkan tenaganya, tiba-tiba tangannya dirasakan sakit, pedangnya tidak dapat dikuasai lagi, hingga akhirnya direbut oleh Kim Houw.

Kim Houw setelah berhasil merebut pedang Siao Pek Sin, lalu diputar dan tepat menghalangi majunya Pek Kao yang saat itu hendak menerjang masuk dari luar.

Kim Houw tahu bahwa siulan Siao Pek Sin tadi tentunya akan mengejutkan orang lain. Ia pikir, dalam waktu pendek tentu tidak akan berhasil mengorek keterangan, apa pula setelah kedatangannya itu diketahui orang, sudah tentu ia tidak bisa berdiam lama-lama lagi.

Ia lantas bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu, Ia toh sudah mendapat dengar tentang Pek Liong-po dan Ceng-kee-cee, dari kedua tempat itu rasanya tidak sukar untuk mendapatkan keterangan.

Tapi, selagi ia hendak berlalu, dari luar telah muncul tiga orang berbareng, mereka adalah Pek-Kao-nya, Cek Ie-ya dan Ciok Goan Hong.

Cek-Ie-ya dan Ciok Goan Hong sudah tentu mengenali Kim Houw. Mereka merasa heran, katanya Kim Houw adik kandung Sioa Pek Sin dan ibunya Siao Pek Sin seharusnya juga ibunya Kim Houw, tapi mengapa ibu dan anak itu bertempur demikian sengit. apakah Kim Houw sudah tidak mengenali budi ibunya lagi?

Pek Kao tidak kenal Kim Houw, ia cuma tahu bahwa anak muda itu parasnya mirip benar dengan Siao Pek Sin, maka seketika itu juga tercengang.

Tiba-tiba terdengan Siao Pek Sin berkata: "Paman paman, kalian harap tangkap bocah ini. Ia berani menyelundup kemari hendak melakukan pembunuhan terhadap kami, maksudnya hendak merebut kedudukan majikan Istana Kumala Putih ini, bahkan hendak menganiaya ibunya sendiri.

Karena mendengar keterangan Siao Pek Sin itu, tiga orang itu marah sekali. Pek Kao dalam hati mengerti sendiri, ia adalah pamannya Siao Pek Sin, bagaimana tidak tahu persoalan dalam rumah tangganya keluarga Siao Pek Sin? Maka ia lantas maju paling depan, dengan memutar senjata pecutnya Kao Theng-pian yang sudah beberapa puluh tahun membuat ia terkenal turut menyerbu menyerang Kim Houw.

Kim Houw tadi hanya mengalah terhadap ibunya Siao Pek Sin, maka ia tidak turun tangan.

Tapi kini setelah mendengar ucapan Siao Pek Sin yang memutar balik duduk perkaranya, bagaimanapun ia tidak bisa bersabar lagi. Hanya pada saat itu sudah tentu ia tidak bisa membantah ucapan Siao Pek Sin, begitu lihat Pek Kao maju menyerang, ia lantas keluarkan kepandaiannya. Di bawah serangan dua macam senjata dan berkelebatnya sinar hijau dan putih, tiba-tiba terdengar suara "Plak, plak" dua kali, sinar pedang dan bayangan pecut tiba-tiba hilang lenyap. Ibunya Siao Pek Sin dan Pek Kao kedua-duanya terlempar jatuh sampai membentur dinding kamar. Sedang Kim Houw dengan tangan kiri memegang pecut dan tangan kanan memegang pedang, berdiri tegak ditengah ruangan sambil tertawa dingin.

Mendadak benda-benda berhamburan menyambar ke arah Kim Houw tapi ia masih berdiri tegak ditempatnya, hanya pedang di tangannya tampak berputaran laksana kitiran. Dalam tempo sekejap saja, benda-benda berkeredepan itu sudah tersampok jatuh di tanah seluruhnya.

Benda-benda berkeredepan itu ternyata menyambar dari pesawat rahasia yang dipasang didalam dinding oleh Siao Pek Sin. Benda-benda itu merupakan senjata rahasia yang sangat lihai, karena selain jumlahnya banyak, tenaga serangannya juga hebat. Siapa nyana senjata ampuh itu telah dipecahkan dengan mudah sekali oleh Kim Houw, tidak heran kalau orang-orang yang menyaksikan pada kagum dan melotot ternganga.

Tiba-tiba terdengar ejekan Ciok Goan Hong: "Sekalipun memiliki ilmu silat yang sudah tak ada tandingannya dalam dunia, selamanya kau tidak akan mendapat penghargaan orang. Di atas namamu Kim Houw telah penuh noda, sekalipun kau menyebur ke dalam laut juga tidak bisa mencuci bersih nodamu, kecuali nona Bwe Peng hidup kembali."

Kim Houw merasa sangat gusar. Ia sejak kecil mengasihani dan mencintai Bwee Peng, siapa nyana Bwee Peng mengalami nasib sedemikian buruk, malahan noda itu dilimpahkan keatas dirinya.

Memang bagi Bwee Peng, apa gunanya Kim Houw mempunyai kepandaian tinggi tidak ada bandingannya, karena rohnya Bwee Peng yang mati penasaran biar bagaimanapun toh tidak bisa hidup kembali.

Dengan menahan kesedihannya Kim houw menjawab: "Sekarang aku tidak akan berbantahan dengan kalian, aku yakin, pasti pada suatu hari peristiwa ini akan dapat dibikin terang. aku akan menggunakan segenap jiwa ragaku untuk menuntut balas atas kematian adik Peng, dengan darahku akan mencuci noda di atas namaku."

Setelah berkata, setindak demi setindak Kim Houw berjalan keluar.

tiba-tiba terdengar suara ibu Siao Pek sin yang sangat nyaring: "Aku mau membunuhnya! Dia telah merampas suamiku, dia telah merampas kekasihku, dia telah merampas kebahagiaanku untuk selama-lamanya.oh!" Kim houw terus berjalan tanpa menoleh. Sementara Cek Ie-ya dan Ciok Goan Hong cuma bisa mengawasi dengan mendelu. Saat itu di luar kamar sudah berdiri banyak orang, diantara mereka ada sepasang manusia aneh dari Lam-hay, Kim Coa Nio-nio dan lainnya. Pendeknya, semua orang bekas penghuni Istana Kumala Putih dirimba keramat telah datang dengan lengkap.

San Hua Sian Li berdiri menggelendot di dada ayahnya, ia sedang menangis dengan sedih, barangkali semua kejadian barusan telah dilihat dan didengar semua olehnya.

Kee To-ya (Imam Palsu) juga ada, tapi agaknya masih belum sadar dari mabuknya. Ia ini terhadap majikan istana Siao Pek Sin selalu masih merasa sangsi. Setelah keluar dari Istana Kumala Putih didalam rimba keramat, semua sepak terjang Siao Pek Sin selalu mengecewakannya, hanya untuk mentaati sumpahnya saja sehingga ia tidak mau pergi begitu saja. Oleh karena itu setiap hari ia terus mabuk mabukan.

Justru Kim Houw sedang melangkah meninggalkan tempat itu dalam remang-remang dilihatnya si Imam Palsu.

"Astaga! Siao-tiancu, si anak baik" katanya," Kau juga sudah keluar, ha ha ha ha! Sungguh hebat kepandaianmu! Mari sambuti serangan toayamu, serangan toayamu ini dinamakan Sin- liong-cut-hay (Naga sakti keluar dari laut)."

Dengan mendadak ia buktikan serangannya, tapi badannya sempoyongan, agaknya kepalanya berat dan kakinya enteng, hingga tidak bisa berdiri tetap namun sambaran angin serangannya hebat dan luar biasa.

Kim Houw tahu ia sedang mabuk, sudah tentu ia tidak mau meladeni. Ia hanya berkelit menghindarkan serangan, kemudian memutar ke belakang badan si Imam palsu, sambil mengulurkan tangannya ia hendak membimbingnya.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan :" Anak busuk, kau berani ganggu dia!" kata-kata ini dibarengi oleh kekuatan angin yang dahsyat.

Kim Houw tidak usah menoleh, sudah tahu kalau yang datang adalah senjata peluru dari To Pa thian. Ia yang pernah mendengar kehebatan senjata To Pa Thian, sekarang ingin mencoba senjata itu sebetulnya sampai dimana kekuatannya.

Ia menantikan sampai angin yang kuat itu mendekati dirinya, baru memutar tubuhnya dengan tiba-tiba dan telunjuk jarinya menyentil peluru tersebut.

Serangan dengan telunjuk jari ini, adalah ilmu pelajaran Kouw jin Kiesu yang disebut Ciok-cie- kang. Kekuatan dari sentilan jari itu luar biasa hebatnya. Kim Houw pikir hendak menguji kekuatan jarinya itu, mana lebih hebat dibandingkan dengan kekuatan peluru dari To Pa Thian.

Siapa nyana, begitu jari itu menyentuh peluru, tiba-tiba terdengar suara "tar" yang amat nyaring, kemudian disusul oleh melesatnya beberapa puluh peluru kecil yang meledak dari induk peluru To Pa Thian.

Kim Houw terkejut, kiranya peluru yang dinamakan Cu-bo-cin-tan atau peluru sakti induk dan anaknya itu, didalamnya tersimpan peluru-peluru kecil.

Kim Houw buru-buru melesat ke atas sampai beberapa tombak tingginya. Semua orang yang sudah pernah melihat kepandaiannya, tahu kalau senjata peluru itu tidak akan mampu melukai dirinya. Tapi justru Kee To-ya yang masih dalam keadaan mabuk terancam bahaya, bagaimana bisa ia menghindarkan serangan peluru itu? Semua orang berseru kaget mendengar suara "tar" dari pecahnya peluru To Pa Thian.

Terlebih-lebih pemiliknya sendiri, ia turun tangan bermaksud hendak menolong Kee To-ya, tidak tahunya malah mau mencelakakannya.

Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar mengejutkan semua orang, beberapa puluh butir peluru kecil itu semuanya telah terpukul jatuh di tanah, sedang Kee To-ya sendiri sudah tidak kelihatan batang hidungnya.

Sampai di sini, semua orang baru ingat bahwa ketika Kim Houw lompat melesat ke atas, Kee To-ya juga dijambretnya sekalian, maka semua mata lantas ditujukan ke arah dimana Kim Houw tadi mendarat turun.

Di sana, di suatu tempat yang di sinari rembulan telah tergeletak Kee To-ya yang masih tidur mendengkur dan belum sadar dari mabuknya. Sedang Kim Houw sendiri entah kemana perginya.

Kim Houw meninggalkan sekian banyak orang yang terheran-heran dan pergi menemui Kim Lo Han, tiba-tiba didengarnya suara orang memanggil namanya: "Houw-ji! Houw-ji!"

Ia terkejut, karena suara itu dikenalinya sebagai suara Touw Peng Peng. Untuk sementara ia masih belum ingin bertemu dengan si nona, namun nampaknya si nona khusus menungguinya di sini. Kalau ia tidak meladeni sama sekali dan berlalu begitu saja entah bagaimana sedihnya Touw Peng Peng nanti. Maka akhirnya ia menunggu.

Kim Houw pikir, meski ia sendiri tidak menyukainya, tapi biar bagaimanapun si nona itu pernah melepas budi padanya. Kalau tidak ada pedang Ngo heng-kiam dan baju wasiat pemberian nona itu, bagaimana ia bisa seperti sekarang ini? Mungkin kini sudah tinggal tulang-tulangnya saja didalam rimba keramat itu.

Belum habis ia melamun, sudah terlihat berkelebatnya bayangan merah. Di depannya tampak berdiri seorang nona cantik bagaikan bidadari, nona itu ketawa manis terhadap dirinya.

"Houw-ji, dua tahun tidak bertemu, rupanya kau sudah tidak mengenali aku lagi!" demikian seru si nona.

Ya, hanya dua tahun ia sendiri sudah besar, Peng Peng juga sudah besar, malah lebih cantik daripada dulu, tidak lagi seperti anak-anak yang nakal.

Hanya sifat si nona yang polos masih tidak berubah. Dari pembicaraan dan ketawanya, masih tetap tidak kenal sudah atau sedih.

Tiba-tiba Peng Peng memonyongkan mulutnya." Houw-ji, kau kenapa?" ia menegasi Kim Houw.

Kim Houw baru merasa kalau sikapnya agak berubah, maka buru-buru ia menjawab :" Nona Touw." Ia seolah-olah baru sadar dari lamunannya.

"Apa? Aku tidak mengizinkan kau memanggil aku begitu lagi!" memotong Peng Peng dengan cepat sedang alisnya tampak berdiri.

Kim Houw tercengang "Nona Peng Peng." katanya gelagapan.

Touw Peng Peng memelototkan matanya, agaknya gusar. Tapi ia seperti mendadak ingat sesuatu. Apakah yang diingatnya? Ia ingat apa sebabnya Kim Houw agak takut padanya, tidak lain karena Bwee Peng mempunyai sifat yang lemah lembut dan menyayangi Kim Houw. Sekarang ia mengerti, kalau mau merebut hatinya Kim Houw, agar ia mau berbalik mencintai dirinya. ia harus bisa berlaku lemah lembut seperti Bwee Peng. Maka ia lantas pejamkan matanya yang melotot kemudian mengucurkan air matanya hingga meleleh dikedua pipinya.

"Houw-ji, benarkah kau begitu asing terhadapku?" tanyanya.

Kim Houw sudah bersedia untuk didamprat oleh Peng Peng, sekalipun Peng Peng memukul dan memakinya, buat ia tidak berarti apa-apa, sebab Peng Peng pernah menanam budi pada dirinya.

Tapi Peng Peng mendadak berubah sifatnya, ini bukan saja mengherankannya bahkan membuatnya gelagapan.

"Peng Peng! Maafkan aku!" demikian katanya.

Seruan Kim Houw itu ternyata lebih manjur dari pada segala obat, di wajah Peng Peng lantas tersungging senyuman yang menawan hati.

"Apa yang harus dimaafkan? Kalau sejak tadi kau bersikap seperti itu, bukankah lebih baik?" katanya.

Kim Houw tidak nyana bahwa perubahan nona itu sedemikian cepatnya. "Peng Peng, kenapa mesti begitu? Kau tahu hatiku, sejak awal sudah."

Tanpa menunggu Kim Houw bicara sampai habis Peng Peng sudah nyeletuk: "Kau jangan perdulikan aku, asal aku suka, aku senang sudah cukup. aku tidak bisa memikirkan terlalu banyak. Houw-ji, sekarang kau hendak kemana? Apakah hendak meninggalkan tempat ini?" 

"Aku bersiap hendak melakukan perjalanan jauh!"

Ia menyatakan demikian, supaya Peng Peng jangan ikut. Siapa sangka, Peng Peng sedikitpun tidak menanyakan berapa jauhnya, malah berkata: "Kalau begitu mari kita berangkat! Aku juga ikut!"

Kim Houw tercengang agak lama, lalu berkata :" Peng Peng, untuk apa kau ikut?"

"Aku tidak mempunyai urusan apa-apa! aku cuma ingin ikut kau, kau ke timur aku ikut kau ke timur dan jika kau ke barat akupun ikut ke barat."

"Ah! Peng Peng, urusanku ini adalah urusan besar bukannya main-main. Kau pulang saja dulu, setelah urusanku selesai, nanti kutengok kau lagi!"

"Nanti apa kau hanya menengok aku saja? Tidak! aku seorang diri meninggalkan rumah, dengan menempuh perjalanan yang begini jauh untuk mencarimu. Apa maksudnya? Untung Tuhan masih kasihan padaku, akhirnya dapat bertemu dengan mu, tidak sangka kau. "

Peng Peng meski seorang gadis yang adatnya keras, tapi dalam kedukaannya ia juga bisa bersedih. Ketika bicara sampai di situ, ia tidak mampu menahan rasa sedih dalam hatinya, hingga akhirnya menangis, air matanya sampai membasahi kedua pipinya.

Kim Houw dimasa kanak-kanak ketika masih sering bergaul dengan Bwee Peng, justru paling takut kalau Bwee Peng menangis. Dan kini, ketika mendengar suara tangisan Peng Peng, ia juga merasa takut. Maka lantas buru-buru ia membujuk: "Peng Peng! Peng Peng! Harap kau jangan menangis, aku terima baik permintaanmu, cuma aku harap."

Air mata wanita adalah senjata, siapapun tidak akan membantah filsafat ini, tapi kekuatan cinta juga dapat mempengaruhi apapun juga tidak dapat disangkal lagi. coba lihat, karena cinta membuat Peng Peng rela melakukan perjalanan sangat jauh dengan seorang diri saja, maksudnya ialah cuma ingin mencari tahu tentang mati hidupnya sang kekasih.

Kini, dalam kesedihan tangisnya, hanya mendengar sepatah janji Kim Houw saja, ia lantas dari menangis berubah menjadi tertawa: "Houw-ji, kau tidak usah kuatirkan diriku, aku mempunyai seekor kuda hebat yang setiap harinya bisa menempuh perjalanan ribuan lie, kau tunggulah di sini, aku akan segera kembali."

Belum habis perkataannya, bayangannya sudah melesat masuk ke dalam istana.

Houw-ji cuma bisa menggeleng-geleng kepala, terhadap nona yang berandalan ini, Kim Houw benar-benar tidak berdaya.

Rembulan terang, udara jernih, malam sudah menjelang pagi.

Kim Houw masih berdiri ditempat semula, kepalanya mendongak memandang rembulan yang sudah mulai mendoyong ke arah barat. Pikirannya kalut, sebentar muncul bayangannya Peng Peng dengan tingkah lakunya yang berandalan, suara ketawanya yang seperti tidak mengenal apa artinya kesedihan. Ia anggap tuhan tidak adil, yang satu begitu mengenaskan, yang lain ada sangat gembira.

Tiba-tiba terdengar suara orang menegur: "Houw-ji, kau kenapa?"

Kim Houw terperanjat, ia cepat menoleh. Di belakangnya ternyata telah berdiri Kim Lo Han. Dengan wajah kemalu-maluan ia menjawab :" Lo Han-ya! Houw-ji tidak kenapa-napa!" "Houw-ji, aku berada di belakangmu sudah setengah harian, kau sama sekali tidak

menyadarinya. Ini sebelumnya belum pernah terjadi, keadaanmu seperti orang bingung.ah! Aku

bukan seorang yang suka mencampuri urusan orang lain cuma buat kau ada pengecualian. Kau agaknya seperti sedang menantikan orang ! Tapi, apa sebabnya sampai sekarang ia masih belum datang ?"

Ucapan Kim Lo Han ini telah menyadarkan Kim Houw. Memang benar, sudah dua jam lebih lamanya ia menunggu, mengapa Peng Peng masih belum balik ? Kalau dilihat dari sikap Peng Peng tadi yang tergesa-gesa, tidak semestinya ia sampai sekarang belum muncul. Apakah masuknya keistana telah diketahui oleh Siao Pek Sin, sehingga tertangkap.

Memikir sampai di situ, dengan tidak di rasa Kim Houw lantas mengucurkan keringat dingin. "Lo Han-ya, tolong kau tunggu aku di sini sebentar, aku akan masuk ke istana untuk

menyelidik !"

Tanpa menunggu jawaban Kim Lo Han cepat ia sudah gerakkan tubuhnya melesat ke istana.

Tapi setelah ia berputaran sejenak di istana, dalam hati lantas bercekat. Ternyata dalam istana itu keadaannya sepi sunyi, satu bayangan manusia saja tidak kelihatan, sekali pun si Imam palsu yang suka mabuk-mabukan juga tidak nampak mata hidungnya. Bagian depan Istana Kumala Putih cuma merupakan satu ruangan yang luas. Diwaktu malam memang tidak ada orang. Kim Houw masuk terus, siapa nyana ditengah-tengah ruangan di atas kursi singgasana, tengah duduk seorang tua, yang bukan lain adalah Pek Kao-ya dari Pek-liong- po.

Begitu melihat Kim Houw, orang tua itu lantas berkata dengan suara nyaring : "Aku adalah Pek Kao, adik Pek Liong-ya dari Pek liong-po, juga menjadi pamannya Pek Sin. Kini telah mendapat titah Tiancu, hari ini untuk sementara mewakili menjalankan tugasnya Tiancu."

Bicara sampai di situ, ia lantas turun dari tempat duduknya dan menghampiri Kim Houw sembari menjura memberi hormat.

"Siau-hiap ini malam-malam masuk kemari sebetulnya ada urusan apa, harap suka memberi penjelasan !." demikian katanya.

Pek Kao dengan sikap dan caranya memperkenalkan dirinya, sudah tentu ada maksudnya, bagaimana Kim Houw tidak tahu ? Tapi karena Pek Kao masih pamannya Siao Pek Sin. Ia tidak berani berlaku sembarangan. Mesti masih belum mengetahui jelas asal usul diri sendiri, tapi dalam keadaan demikian Pek Kao-ya ada begitu sopan dan memakai aturan, maka Kim Houw lantas buru-buru membalas hormat seraya berkata : "Tolong tanya, Tiancu sekarang ada dimana ?"

Dengan tenang Pek Kao mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya dan diangsurkan kepada Kim Houw seraya berkata : "Tiancu sudah pergi ke Se-cuan. Waktu mau berangkat ia ada meninggalkan surat ini harap Siau-hiap baca sendiri. Semua hal sudah dijelaskan dalam surat, maaf, aku tidak bisa mengawani Siau-hiap terlalu lama !"

Sehabis berkata Pek Kao lantas keluar dari ruangan.

Kim Houw tahu tidak ada gunanya menahan, maka ia biarkan orang tua itu berlalu lantas membuka dan baca bunyi surat itu :

"Kim Houw! Kau dengan aku adalah musuh turunan. Atas perintah ibu, kalau kau belum binasa, aku belum mau sudah. Nona Peng Peng sudah ikut aku dalam perjalanan ke Su-coan meski ia tidak suka, tapi, di bawah paksaan orang banyak, bagaimana ia bisa lari ? Tidak senang mau apa lagi ?

Kim Houw ! Apa kau cinta kepadanya ? Dia memang pantas disebut seorang cantik seperti bidadari ! Benarkah kau cinta dia ? Dia memang seorang anak dara yang sangat menarik !

Kami akan melakukan perjalanan yang jauh, kudanya yang bagus itu sangat kebetulan bagi kami. Tujuan kami yang terakhir adalah Ceng-kee-cee di bukit Teng lay san. kalau kau sudah sampai dibukit itu dapat menanya kepada siapa saja, tidak ada seorangpun yang tidak tahu.

Sukakah kau kunjungi Ceng-kee-cee, untuk Peng-Peng?

Nanti tanggal lima bulan lima diwaktu lohor, Ceng-kee-cee akan mengadakan acara sembahyang besar. Barang-barang yang dipakai untuk upacara itu ialah kerbau hidup, tapi tahun ini mungkin akan diganti dengan manusia hidup, malahan yang akan dikorbankan adalah satu nona manis !

Kalau sebelum tanggal lima bulan lima lohor kau tidak muncul harap kau jangan sesalkan aku nona Peng Peng akan digunakan untuk sajian hidup dalam upacara sembahyang itu ! Bagaimana? Untuk dirinya nona Peng Peng segeralah datang ! Kami menantikan kedatanganmu dengan segala hormat, mudah-mudahan kau tidak mendapat halangan apa-apa didalam perjalanan."

Siao Pek sin.

Surat itu yang bunyinya agak panjang, meski ditulis secara lunak, tapi setiap perkataan merupakan suatu tusukan dalam hati Kim Houw.

Cintakah Kim Houw kepada Peng Peng ? la sendiri juga tidak tahu. Tapi nyatanya setelah membaca surat itu, ia lantas berlalu dari istana dan menemui Kim Lo Han diajak ke Se-cuan.

Di sepanjang jalan ia selalu mencari keterangan, maksudnya ialah apa bisa ketemukan sebelum tiba di Su-coan, berarti mengurangi penderitaannya Peng Peng.

Tapi, jalanan yang menjurus ke Su-coan ada banyak sekali, mereka tidak tahu harus ambil jalan yang mana.

Turun dari gunung Kua-coan-san, melalui beberapa desa, malam itu mereka telah tiba di kota Yu-liang-shia.

Kim Houw hendak menanyakan keterangan kepada orang-orang di kota, tapi belum membuka mulut, Kim Lo Han sudah mencegah.

"Houw-ji kau jangan sebutkan jumlahnya mereka, kalau mereka jalan berpencaran, bagaimana

? Kau tanya, saja satu atau dua diantaranya !" demikian kata Kim Lo Han.

Mendengar keterangan itu. Kim Houw diam-diam kagum kepada Kim Lo Han. Tidak lama ia lantas menanya kepada salah satu orang yang sedang berjalan: "Paman, numpang tanya apa kau pernah melihat seorang nona baju merah yang menunggang seekor kuda kecil bulu merah lewat di sini ? Nona itu mungkin masih membawa beberapa pengiringnya."

Apa lacur orang yang ditanya itu justru si Thio Sam yang terkenal doyan mengobrol. Ia seorang pengangguran, kerjanya cuma mengobrol yang bukan-bukan supaya dapat sedikit minuman atau hidangan kalau menemukan tetamu yang royal. Ketika menampak Kim Houw yang berdandan seperti anak sekolah dan menanyakan dirinya satu nona, pikirannya lantas bekerja cepat, dan mulutnya lantas menjawab tanpa dipikir lagi ; "Aa ! ada ! ya ada nona begituan."

Kim Houw sangat girang.

"Dimana Mereka berjalan menjurus kemana" "Oh! seperti ya.... tapi juga seperti akan."

Kim Houw semakin gelisah tapi Kim Lo han yang mesti tidak suka bicara, tapi mengerti banyak urusan. Melihat tingkah lakunya Thio Sam ia lantas mengerti. Lalu mengeluarkan sedikit yang recehan, diserahkan dalam tangan Kim Houw, serta memberi isyarat dengan matanya, hingga Kim Houw lantas mengerti maksudnya.

"Paman ini sedikit uang untuk minum teh!" kata Kim Houw sembari berikan uangnya kepada Thio Sam. Thio Sam melihat persenan begitu besar hatinya girang, tapi bicaranya masih sengaja diputar- putar.

"Siangkong, bukannya aku tidak mau omong terus terang, sebetulnya aku ada sedikit kuatir, karena pengikutnya nona baju merah itu hampir semuanya pada membawa senjata tajam. Coba pikir, kalau perbuatanku ini diketahui, bukankah jiwaku nanti akan melayang... oh, ya siangkong, satu diantara orang-orang itu parasnya cakap seperti Siangkong..."

Mendengar perkataannya, Kim Houw tidak banyak rewel lantas memberikan uang lagi padanya, kali ini ia memberikan lima tahil yang perak. Tapi Thio Sam rupa-rupanya masih menginginkan lebih banyak lagi, ia ajak Kim Houw kesalahan yang kecil. kemudian mulai keterangannya yang disusun rapi: "Ah! nona baju merah itu sungguh kasihan, sekujur badannya diikat seperti lepat mulutnya juga disumpal..." padahal semuanya itu keterangannya Thio Sam sendiri karena ia sengaja mengulur waktu. Tidak nyana Kim Houw tidak mau mengerti dengan mendadak ia jepit tangan Thio Sam dengan kedua jari, hingga si orang she Thio itu menjerit-jerit kesakitan.

Kim Houw tidak perdulikan padanya, ia bukan saja merasa cemas dirinya Peng Peng juga merasa gemas terhadap Thio Sam yang begitu rendah, maka bukan saja lantas kendorkan cekelannya bahkan semakin keras.

"Siangkong, ampun... ampun.. aku nanti omong terus terang...!" demikian Thio Sam terus meratap minta diampuni.

"Aku cuma tanya kau, kemana mereka pergi? Jalanan mana yang diambil?" kata Kim Houw gusar.

Thio Sam kesakitan setengah mati, sampai hampir terkencing-kencing, terpaksa ia menjawab sekena-kenanya: "Mereka ambil jalan air kabarnya akan ke Tong-lo terus ke Hang-ciu, mungkin akan pesiar ke telaga See ouw..... aduh.... aku Thio Sam."

Kim Houw lantas lepaskan tangannya, karena maksudnya cuma mau tahu mereka menuju ke mana. Siapa tahu jawaban Thio Sam telah mengatakan mereka ambil jalan air, hingga terpaksa Kim Houw menoleh kepada Kim Lo Han maksudnya hendak menanyakan pikirannya, tapi Kim Lo Han tidak menjawab, ia hanya gelengkan kepala, maka dua orang itu lantas keluar dari gang dan masuk ke rumah makan.

Setelah menangsal perut, Kim Houw menanya kepada Kim Lo Han: "Lo Han-ya, apa tidak baik kalau kita kejar terus? Meski agaknya tidak masuk di akal, tapi ini hanya jalan satu-satunya untuk mengikuti mereka, kalau perahunya berjalan tidak ada halangan, esok pagi-paginya rasanya bisa menyandak, kau pikir benar tidak?"

Kim Lo Han hanya manggut-manggut saja, maka mereka berdua lantas pergi ke tepi sungai untuk mencari perahu. Setiap kali menemukan perahu, Kim Houw lantas keluarkan ginkangnya melayang ke atas perahu untuk pergi memeriksa, setelah mendapat kepastian bukan orang yang dicari ia tinggalkan lagi.

Oleh karena itu, maka perjalanannya agak lambat. Meski demikian, satu malam itu juga sudah melalui ratusan lie dan pada esok paginya sudah memasuki kota Lan-ko.

Kalau di waktu malam dua orang itu bisa mengeluarkan ginkangnya untuk lari cepat serta bisa berbuat sesukanya, tapi di waktu siang hari mereka tidak dapat berbuat seperti itu, maka terpaksa menyewa satu perahu kecil untuk melanjutkan perjalanan mencari Peng Peng. Diwaktu petang, perahu itu sudah tiba di Kian-tek, keduanya lantas meninggalkan perahu untuk masuk ke kota. Karena perutnya sudah pada keroncongan, mereka lantas mencari rumah makan untuk tangsal perut.

Ketika itu keadaan dalam rumah makan sedang ramainya, hampir tidak ada tempat kosong.

Tapi ketika mereka baru saja melangkah ke pintu, lantas sudah banyak orang yang pada menoleh ke arahnya. Sebentar saja, di sana sini ramai kasak-kusuk sambil memandang mereka dan apa yang mengherankan, ketika orang-orang itu setelah mengawasi mereka berdua, lantas pada diam tidak berani membuka mulut lagi.

Sebentar saja, rumah makan yang begitu ramainya berubah menjadi sunyi, sampai semua pelayan dan tukang masak juga pada berhenti melakukan tugasnya.

Hal ini, bukan saja membuat heran, sekalipun Kim Lo Han yang sudah banyak pengalaman juga tidak mengerti apa sebabnya.

Dua orang itu berdiri diambang pintu, mundur salah, majupun salah, maka terpaksa berdiri terus menyaksikan gerakan mereka.

Tiba-tiba kasir rumah makan itu maju menghampiri Kim Lo Han dan Kim Houw, sembari memberi hormat ia berkata dengan suara ketakutan: "Hut-ya rumah makan kami terlalu kecil, tidak ada arak dan hidangan yang enak untuk melayani Hut-ya, harap Hut-ya suka maafkan, tua bangka di sini minta maaf sebanyak-banyaknya!" sehabis berkata orang itu segera hendak berlutut.

Kim Lo Han buru-buru memimpin bangun padanya, berkata dengan suara yang lembut: "Sicu tidak punya kesalahan, sekarang marilah kita pergi saja."

Perkataan dan perbuatan Kim Lo Han itu rupa-rupanya membikin heran semua orang yang ada di situ, Kim Lo Han memberi isyarat kepada Kim Houw, lantas meninggalkan rumah makan tersebut.

Tidak nyana, dalam waktu sekejap itu, di depan pintu juga sudah berkerumun banyak orang. Dari sikap dan wajah orang-orang itu semuanya menandakan keheranan, kembali mereka dibikin melengak.