Istana Kumala Putih Jilid 04

 
Jilid 04

Karena serangan ini begitu hebat dan cepat, siapapun tahu Lie Cit Nio sedang menghadapi bahaya besar. Diantara suara jeritan kaget, mendadak suara "trang" pedangnya si anak muda tampak sudah terlepas dan terbang dari tangannya.

Dalam kagetnya setengah mati, Lie Cit Nio coba melihat-lihat di sekitarnya, rupanya dia mencari siapa orangnya yang sudah menolong dirinya, ia lihat si hwesio gagu Kim Lo Han sedang mengawasi sambil tersenyum, ia mengira adalah hwesio ini yang menolong padanya, maka lantas maju untuk menghaturkan terima kasih

Kim Lo Han angkat lengan jubahnya, ia tidak menolak tapi juga tidak menerima hanya tetap tersenyum, sampai Lie Cit Nio merasa jengah sendiri.

Dilain pihak, anak sekolah berwajah putih itu nampaknya semakin pucat. Ia lalu memungut pedangnya yang terlepas dari tangannya, kemudian menoleh ke arah Kim Houw dengan mata melotot. Ia lihat Kim Houw tengah berdiri berendeng dengan si Imam palsu dan si Kacung baju merah, hingga ia sukar menduga siapa orangnya yang mempunyai kepandaian begitu tinggi !

Serangan si anak muda tadi, adalah serangan yang paling berbahaya dan juga merupakan ilmu simpanan dari golongannya. Serangan yang paling dahsyat dari dua belas jurus ilmu pedang "Eng Suan Kiam" atau ilmu pedang burung elang berputaran, namanya "Buan-hong-cut-souw" laba-laba keluar dari sarangnya. Ujung pedang dibikin menggetar sehingga menimbulkan sinar berkeredepan seperti hujan, sukar ditangkis, tapi toh ada orang yang menyerang dengan senjata rahasianya dengan tepat bahkan pedangnya sampai terlepas dari pegangannya. Betapa hebat ketajaman matanya dan kekuatan tenaga dalam orang itu sukar diukur, demikian pikirnya si anak muda.

Si Imam palsu yang biasanya suka gila-gilaan, sedang si Kacung baju merah yang roman dan sikapnya selalu dingin kecut, adalah dua orang yang paling sukar diduga kepandaiannya. Pada saat itu, tiba-tiba ia melihat Kim Houw menghampiri mereka, sebelum sampai sudah mengucapkan kata-kata: "Engko itu bagus sekali ilmu pedangnya, terutama gerakannya yang terakhir sungguh luar biasa bagusnya, siaute sungguh sangat kagum betul!"

Wajahnya si anak muda semakin kecut, sebab ia tidak nyana sama sekali kalau Kim houw dapat mengenali gerakan ilmu pedangnya. Tapi meski wajahnya cepat berobah, pulihnya juga cepat. Seketika itu ia lantas menghampiri dan menyekal tangan Kim Houw, sambil tersenyum ia berkata: "Adik kecil, kau ternyata dapat mengenali ilmu pedangku, benar-benar pandai."

Selagi bicara sembari ketawa-ketawa, satu tangannya sudah diulur sampai menyentuh dada orang entah apa sebabnya ia urungkan maksudnya. Tangan yang lain lalu menepuk-nepuk pundak Kim Houw, rupanya ia mendadak ingat bahwa bocah itu tak dapat dilukai karena memakai baju wasiat yang melindungi dirinya.

Selanjutnya, pemuda itu tidak berkata apa-apa lagi, terus berjalan keluar istana.

Kim Houw merasakan bahwa pemuda itu sangat misterius. Ketarik oleh perasaan herannya, lantas menanya kepada si Iman palsu: "To-ya mereka mengapa tadi berkelahi?"

Dengan wajah sungguh-sungguh si Iman palsu itu menarik Kim Houw ke samping. "Mereka bertengkar urusan kebakaran tadi malam. Tidak ada apa yang luar biasa, sebaliknya adalah kau yang harus hati-hati.

Pemuda seperti anak sekolah itu diluarnya saja manis tapi hatinya jahat dan kejam. Agaknya dengan kau ada ganjalan apa-apa, maka berurusan gerak tangannya itu adalah gerak itu yang dinamakan "Sam-im-ciu", tidak kepalang tanggung ganasnya, ia dapat melukai orang, sedang yang dilukai tidak merasa apa-apa. Selanjutnya lebih baik kau jangan bergaul terlalu rapat dengannya!" katanya dengan suara perlahan. Imam palsu ini biasanya seperti orang gila, setiap hari gawenya cuma senda gurau dan tertawa-tawa tidak hentinya. Kini mendadak telah berobah kebiasaannya dan berkata dengan sikap sungguh-sungguh. Sampai Kim Houw terheran-heran. Ilmu pukulan Sam-im-ciu itu ia juga tahu merupakan ilmu pukulan yang sangat lihay, karena dalam pelajaran silat Kauw Jin Kisu, segala ilmu silat dan pukulan yang tergolong paling lihay, tidak perduli dari cabang mana, yang telah ditulis terang serta diberikan penjelasan sejelas-jelasnya.

"To-ya, apakah kau pernah dengar Kauw Jin Kisu?" tanyanya dengan suara perlahan.

Imam palsu itu berpikir agak lama, akhirnya menyahuti sambil geleng kepala: "Belum pernah dengar, mengapa kau tanyakan tentang dia?"

"Kauw Jun Kisu adalah majikan dari Istana Kumala Putih ini!"

"Aaaa!" Imam palsu ini terperanjat, ia tarik tangan Kim Hauw pergi menghampiri Kim Lo Han. Selagi si Imam palsu hendak membuka mulut, Kim Lo Han sudah memberi hormat kepada Kim Hauw serta berkata: "Selamat Tiancu, kau telah berhasil mendapat pelajaran ilmu silat yang sangat luar biasa di kolong dunia ini!"

Kim Hauw buru-buru membalas hormat dan berkata: "Boanpwe cuma mendapatkan sedikit pelajaran yang tidak berarti, bagaimana bisa dipandang pelajaran luar biasa, selanjutnya boanpwe masih mengharapkan petunjuk dari Lohan-ya"

Kim Lo Han tertawa tergelak-gelak. Hari ini Kim Lo Han sudah buka mulut benar-benar ada bicara juga ada ketawanya, hingga semua orang pada mengerubung padanya.

"Dalam usia masih begini muda, tiancu sudah mengerti apa artinya merendah diri, di kemudian hari pasti akan menjadi orang besar." berkata Kim Lo Han gembira sekali. "Mengenai Kauw Jin Kisu, orang menyebut padanya Kui Kiecu (setan cerdik), ia merupakan seorang yang sangat luar biasa pandai di dalam dunia. Kabarnya ia adalah teturunan dari seorang wanita yang kawin dengan ular, pintarnya luar biasa, pengertiannya sangat tajam, ia adalah satu jago yang terkuat pada jamannya lima ratus tahun berselang. Hanya sayang ia mempunyai suatu cacat buruk, ialah doyan perempuan lagi wanita biasa yang tak mengerti ilmu silat atau yang ilmu silatnya belum cukup tinggi, kalau bertemu dengan dia pasti hanya mengantarkan jiwa saja."

"Tapi itu adalah pembawaan alam. Untuk mengobati penyakitnya itu, ia pernah pergi ke Tibet dan mengangkat ketua dari agama Lhama baju merah sebagai guru, untuk melatih mensucikan diri. Tapi ternyata ia tidak berhasil, paling akhir ketua agama Lhama itu ajak padanya ke utara, kabarnya pergi ke suatu tempat yang setiap tahun tertutup salju, mungkin bisa menyembuhkan penyakit histerisnya itu.

"Kesudahannya, kepergiannya itu tidak ada kabar ceritanya. Tidak nyana kalau Istana Kumala Putih ini adalah buatannya, pantas dibagian belakang begitu dingin. Kepandaian ilmu silatnya memang benar-benar luar biasa dan tiada tandingannya, setiap gerak pukulan yang ia gunakan sangat berlainan dengan kebanyakan orang. Sekarang Tiancu telah dapatkan ilmu kepandaiannya, bukankah ini merupakan suatu kepandaian yang luar biasa?"

Kim Houw dan si Iman palsu pada terperanjat, karena mereka tadi bicara pelahan ketika menanyakan tentang dirinya Kauw Jin Kisu. Tiada nyana hwesio yang dikiranya gagu ini telah dapat dengar semuanya, malah belum sampai ditanyakan, ia sudah memberi penjelasan semuanya, hingga dapat ditarik kesimpulan bahwa hati hweesio itu kini sedang gembira sekali. Pada saat itu, pemuda yang mirip dengan anak sekolah tadi sudah balik dari luar, sambil menarik tangan Kim Houw ia berkata: "Adik Houw, aku hendak membicarakan soal pribadi dengan kau!"

Kim Houw adalah anak yang beradat keras tapi jujur. Melihat pemuda seperti anak sekolah itu bicaranya begitu sungguh-sungguh, ditambah lagi ketika baru pertama kali berteriak padanya sudah menunjukkan sikap yang manis luar biasa terhadap dirinya, maka tanpa ragu-ragu ia lantas mengikuti padanya keluar dari Istana Kumala Putih itu, apa yang tadi dipesan oleh Imam palsu, ia telah lupakan semuanya.

Begitu keluar dari istana, ucapan pertama yang dikeluarkan oleh si pemuda adalah teguran "Kim Houw, tahukah kau bahwa kita ini adalah saudara kandung?" katanya.

Kim Houw memang sudah mencurigai bahwa anak muda ini ada hubungan apa-apa dengan dirinya, karena kedua orang itu mirip satu sama lain. Mengingat ia sendiri begitu gelap terhadap asal usulnya, kini setelah mendengar perkataan anak muda itu, bagaimana hatinya tidak mau girang?

"Kalau begitu kau adalah kakakku? Oh, koko, bolehkah kau ceritakan semua urusan rumah tangga kita kepadaku? Kasihan sampai ayah bunda sendiri aku juga belum pernah lihat asal-usul dari mana diriku juga tidak tahu katanya kegirangan.

"Adikku keluarga kita sesungguhnya pernah mengalami suatu tragedi yang sangat hebat tapi di sini bukan tempatnya untuk kita bicara, kalau kau suka dengar, mari ikutlah aku," kata pemuda itu sambil menengok ke belakang, seolah-olah takut diketahui orang. Setelah berkata ia sudah lantas lompat melesat sejauh delapan tombak.

Ilmu mengentengi tubuh Kim Houw kini tidak di bawahnya si pemuda. Sudah tentu dengan mudah saja dapat menyusul. Tiba-tiba ia menoleh dan menjura dalam-dalam menghadap sebatang pohon dan berkata: "To-ya dan empek baju merah jangan kuatir! Kita hendak membicarakan soal rumah tangga, terima kasih atas perhatian empek berdua, Kim Houw sudah bisa menjaga diri sendiri!"

Sehabis berkata, tidak tahu dengan gerakan apa ia lakukan tubuhnya sudah melesat jauh menyusul si pemuda yang jalan duluan.

Memang sebenarnya di belakang pohon besar tadi ada bersembunyi si Imam palsu engan si Kacung baju merah, mereka berdua kuatirkan diri Kim Houw dianiaya oleh pemuda seperti anak sekolah itu, maka diam-diam telah membuntuti Kim Houw dan pemuda itu tahu dirinya dikuntit, maka dia telah membuka rahasia perhubungannya antara mereka berdua, maksudnya ialah supaya orang lain tidak mencampuri mereka membicarakan urusan rumah tangga.

Imam palsu dan si kacung baju merah itu merupakan tokoh-tokoh ternama seta mempunyai kedudukan tinggi, sudah tentu tidak mencuri dengar orang lain membicarakan soal rumah tinggal sendiri. Lagian setelah mengetahui bahwa kepandaian ilmu meringankan tubuh Kim Houw memang benar sudah mencapai tingkat yang sempurna, mereka anggap tidak perlu membuntuti terus.

Kim Houw karena barusan bicara dengan Imam palsu dan Kacung baju merah, hingga agak sedikit terlambat, sedang pemuda yang mengaku sebagai kakaknya itu sudah berada sejauh sepuluh tombak lebih. Ketika Kim Houw berhasil mengejar padanya, Istana Kumala Putih sudah di belakangnya. Kim Houw cepat lihat pemuda itu mendadak hentikan tindakannya. Ternyata dihalangi perjalanan oleh kedua orang hutan. Dia melihat keadaan sekitarnya, ternyata sudah didekat goa tempat ia melihat ilmu silat, ia kuatir dua orang hutan itu nanti menimbulkan onar, maka buru-buru mencegah dan berkata kepada pemuda iut; "Koko, aku ada mempunyai tempat yang sangat rahasia, mari ikut aku!" ia lantas menggandeng tangan si pemuda, masuk ke dalam goa.

Di dalam goa, pertama-tama yang dilihat oleh pemuda itu adalah gambar patkwa yang aneh yang ada diding goa, maka lantas menanya kepada Kim Houw: "Adik, apa gambar patkwa ini gambar petunjuk keluar dari rimba ini!"

Kim Houw yang tidak mempunyai syak wasangka tanpa ragu-ragu menjawab: "Koko, gambar ini belum lengkap, kau lihat di sini masih ada gambar patkwa lagi, dengan menurut petunjuk yang ada dalam gambar patkwa ini kita bisa keluar dari rimba. Ini ada dua lukisan yang aku sudah gabung menjadi satu, dengan adanya lukisan peta ini, semua orang yang ada di Istana Kumala Putih akan bisa bebas merdeka lagi." Sehabis bicara ia ketawa, hatinya sangat gembira.

Anak muda ini memeriksa dengan teliti, tiba-tiba mencium dengan hidungnya. Kim Houw mengira ia mengendus bau harum yang muncul dari kamar buku yang sangat aku rahasiakan, tapi baru saja ia memanggil; "Koko..." tiba-tiba sudah mendengar si pemuda berkata: "Adik goa ini kurang bersih, ada bau hawa apa-apa yang kurang enak, mari kita keluar saja! Aku ada tempat yang bagus, disana ada terdapat air terjun, suaranya keras, sekalipun kita bicara nyaring tidak takut ada orang yang mencuri dengar."

Tanpa menunggu Kim Houw setuju atau tidak, tahu-tahu dia sudah melesat keluar.

Kim Houw merasa agak heran, ia yang berdiam dalam goa ini hampir setahun lamanya belum pernah dapat mengendus hawa busuk, mengapa sang kakak itu baru masuk lantas mengatakan begitu? Dalam hatinya cuma berpikir mungkin sang kakak itu suka kebersihan, hawa itu mungkin keluar dari badannya orang hutan. Maka juga tidak pikir panjang lagi, lantas menyusul si pemuda tadi ke sebuah puncak gunung.

Di atas puncak gunung itu benar ada terdapat air terjun yang airnya mengalir ke bawah jurang. Kelihatannya seperti air terjun biasa yang lainnya, tapi suara tumpahan airnya menimbulkan suara berisik sekali.

Si pemuda itu duduk di atas sebuah batu di tepinya air terjun. Baru saja duduk, lantas menghela napas panjang, agaknya mempunyai kedudukan yang tidak bisa dilampiaskan.

Menyaksikan keadaan anak muda itu, Kim Houw lantas melompat menanya: "Koko, bukankah rumah tangga kita mengalami malapetaka, bagaimana ayah dan ibu..."

"Sebelum aku mendapat bukti yang nyata bahwa kau benar saudaraku, aku tidak berani sembarangan omong, sebab aku sendiri adalah seorang she Pek, sedang kau she Kim. Aku ingat ibu pernah mengatakan bahwa ketika kau dilahirkan, di belakang punggungmu ada terdapat tiga titik hitam yang merupakan gambar tiga ujung. Selain daripada itu, juga ada tanda lorengnya macan, boleh kau perlihatkan kepada engkomu? demikian kata si pemuda.

Kim Houw setelah mendengarkan keterangan engkonya itu, lantas berseru kaget dan lalu menubruk kepada engkonya sembari memanggil-manggil: "Engko, kau adalah engko kandungku sedikitpun tidak salah, kedua rupa tanda itu memang benar ada, betul ada..."

Dalam kegirangannya, Kim Houw melupakan segala apa. Ia buru-buru membuka bajunya yang butut, begitu pula baju wasiatnya seraya berkata: "Engko! Kau lihat..." ia berkata sambil menunjukkan gegernya. Pemuda yang mengaku she Pek itu lantas tersenyum, wajahnya yang memang sudah cakap, senyumnya itu menambah ketampanan dan kegagahannya.

"Adik aku sudah lihat tanda loreng macan, ini benar-benar luar biasa, tapi dimana tanda titik hitam?" ia coba meraba-raba digegernya Kim Houw.

Kim Houw sebetulnya cuma dengar dari Ciok yaya tentang tanda-tanda di atas dirinya itu hingga ia sendiri juga tidak tahu dimana letak sebetulnya tanda titik hitam itu?"

Selagi masih berpikir, tiba-tiba sang engko itu berseru: "Aaah...! Mengapa di dalam air terjun ini bisa terdapat ikan begitu besar?"

Kali ini Kim Houw benar-benar dibikin bingung oleh ucapannya sang engko itu, bagaimana orang sedang mencari tanda di badannya orang, matanya bisa memperhatikan keadaan di dalam air terjun? tapi meski dalam hati Kim Houw merasa heran, tidak urung menoleh juga ke arah air terjun.

Tiba-tiba ia merasakan suatu kekuatan tenaga yang tersembunyi yang begitu hebat mendorong ke punggungnya dalam keadaan ia tidak bersiaga, badan Kim Houw lantas melayang seperti layangan putus dan terjun ke bawah jurang air terjun.

Waktu dirinya mendekati air terjun, Kim Houw sebenarnya hendak mengerahkan ilmunya Han- bun-cao-khi, untuk menahan laju badannya yang melayang turun. Siapa nyana tatkala badannya diterjang oleh kekuatan air terjun, hawa dingin lantas menyerang tubuhnya, hingga ilmunya belum sampai dikerahkan badannya sudah meluncur turun ke dalam jurang tersebut. Lapat-lapat ia mendengar suara pemuda she Pek itu yang mengumpat sendirian :" Anak busuk.di dalam

jurang kau boleh menemukan ibumu yang hina itu.!"

Satu jam kemudian, setelah terjadinya peristiwa yang mengenaskan tersebut, dibagian belakang dari Istana Kumala Putih sudah dimasuki oleh seseorang. Orang itu adalah seorang pemuda yang berwajah putih bersih dengan dandanan seperti anak sekolah, dia adalah pemuda she Pek yang licik dan kejam itu.

Sudah satu tahun anak muda itu berdiam didalam Istana Kumala Putih, tapi belum pernah masuk kebagian belakang, karena dalam hal-hal yang belum aman benar-benar, selamanya ia tidak berani melakukannya.

Tapi kali ini, ia telah masuk. Ia menyampaikan kepada yang lain bahwa ia hendak coba-coba saja dulu, oleh karena ia sudah menemukan jalan keluar dari rimba keramat. Dan sebelum meninggalkan rimba ini, ia mau mencoba-coba dulu untuk memasuki ruangan belakang itu.

Ia menunjukkan sikap ketakutan, sebelum ia masuk ia berlagak melatih lwekangnya dulu, lalu setindak demi setindak masuk ke dalam.

Ruangan belakang Istana Kumala Putih itu keadaannya memang gelap seram. anak muda licik itu ketika berada didalam ruangan seperti juga seorang buta tapi setelah melalui jalanan yang gelap itu dari istana Kong Han Kiong, barulah ia mendapat sedikit penerangan, hingga matanya bisa melihat barang-barang apa saja yang terdapat di situ.

Kapan ketika ia kembali keluar, keadaannya membuat mata orang banyak terbelalak. Sekujur badan pemuda itu penuh dengan permata yang tidak ternilai harganya, dikedua tangannya masih menggenggam barang wasiat beraneka warna, begitu tiba di ruangan depan, ia lantas menggelar semua barang berharga itu di atas tanah. Semua orang yang melihat benda-benda itu kebanyakan pada ternganga mulutnya. Orang- orang itu adalah kawanan berandal, okpa yang kaya raya, entah berapa banyak barang permata yang sudah dipunyai atau pernah dilihat. Tapi tidak ada yang begitu bagus seperti barang permata yang dibawa keluar oleh anak muda itu. ia tidak heran semuanya pada merasa terheran-heran.

Anak muda ini setelah berantaki barang permata dari tangan dan badannya di tanah, lalu membuka rencengan mutiara yang dikalungkan pada lehernya, juga dari sakunya mengeluarkan batu giok, yang semuanya merupakan benda yang jarang ada di dunia.

Pemuda itu mundar-mandir sampai tiga empat kali ke ruang belakang, akhirnya berkata seorang diri: "Ah! Begitu banyaknya bagaimana aku bisa membawa keluar semua?"

Akhirnya pemuda itu menemukan satu akal. Lima buah peti mati yang terbikin dari kaca itu dibawa keluar semua, jenazah yang ada didalam diangkutnya keluar diganti isinya dengan barang permata. Tapi lima buah peti itu ternyata masih tidak cukup untuk mengisi barang-barang permata itu, hingga pemuda itu menghela napas dan berkata sendirian: "Betul-betul terlalu banyak, diambil tidak habis-habisnya."

Pada saat itu, banyak orang pada mengawasi padanya dengan sorot mata bertanya, karena menurut keterangan Kim Houw peti mati kaca itu didalamnya terdapat jenazah majikan dari istana ini, tidak nyana pemuda she Pek ini mempunyai nyali yang begitu besar dan amat serakah, sampai peti mati itu juga ikut diambilnya.

Pemuda she Pek itu setelah meletakkan barang-barangnya, lantas berkata dengan suara nyaring :" Tuan-tuan dan Locianpwe semuanya jangan kaget, barang ini bukan untuk aku seorang yang serakahi, tapi untuk semua orang. Cianpwe sekalian sudah sepuluh tahun lebih meninggalkan rumah tangga dan terkurung dalam Istana Kumala Putih ini, maka amatlah pantas jika membawa sedikit oleh-oleh keluar sebagai tanda mata. Cuma., aku dengar Cianpwe

sekalian pernah keluarkan perkataan bahwa siapa yang bisa masuk ke istana belakang, ia akan diangkat sebagai majikan Istana Kumala Putih ini, dan siapa yang bisa membawa keluar barang di ruangan belakang itu, Cianpwe sekalian akan menjadi hamba dari orang itu selama- lamanya.perkataan ini, apakah kini masih berlaku?"

Sehabis berkata ia sengaja tersenyum dan menyapu wajah setiap orang yang ada di situ. "Percuma saja kau menjadi orang dunia persilatan, apakah kau tidak tahu bahwa orang-orang

rimba persilatan itu selamanya mengutamakan kepercayaan, dan memegang teguh janjinya? Maka perkataan itu bukan saja baru beberapa puluh tahun, sekalipun seratus tahun kemudian juga masih berlaku!" berkata Lie Cit Nio.

Pemuda she Pek itu tersenyum simpul, dengan tindakan perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tengah ruangan. "Kalau benar ucapan itu masih berlaku, aku Pek Liong Po yang bergelar Siao Pek Sin (Dewa Putih Kecil), kini sudah bisa keluar dengan selamat dari istana ruang belakang ini, tetapi mengapa tidak ada satu orangpun yang menjungjung aku sebagai majikannya." demikian katanya.

Ucapan pemuda yang mengaku bernama Pek Liong Po dengan gelar Siao Pek sin itu telah mengejutkan semua orang yang ada di situ, tapi perkataannya itu memang mengandung kebenaran, bukan semacam paksaan. Tiba-tiba terdengar suara si Imam Palsu :" Siao Pek sin, kau apakan majikan kecil kami?"

"Kim Houw adalah adikku sendiri, bagaimana mungkin aku bisa berlaku jahat padanya? Karena kepandaiannya masih kurang sempurna, aku suruh ia berlatih lagi selama lima tahun lamanya, baru nanti turun gunung mencari aku lagi, apakah sebagai kakaknya aku melakukan kesalahan?" jawab Siao Pek Sin sambil tertawa. Jawaban ini membuat si Imam Palsu bungkam, maka akhirnya semua orang itu pada berlutut dan bersujud kepada majikan baru ini. Dalam rombongan itu cuma seorang yang tidak mau berlutut, orang itu diam-diam telah berlalu meninggalkan istana ketika banyak orang sedang berlutut, bahkan ia berlalu akan tidak balik lagi ke dalam Istana Kumala Putih itu. Siapa orang itu? Dia adalah si Hwesio Gagu Kim Lo Han! Hampir sepuluh hari lamanya orang-orang mencarinya namun tidak dapat menemukan bayangannya, akhirnya Siao Pek Sin tidak bisa menunggu lagi, maka ia lantas mengajak semua orang keluar dari rimba keramat itu sambil membawa barang- barang permatanya berikut lima buah peti mati yang sudah dipenuhi oleh permata-permata yang berharga.

Dengan adanya Siao Pek Sin sebagai pembuka jalan sambil mengikuti petunjuk peta itu, dan setelah menempuh perjalanan berliku-liku selama tiga hari tiga malam, akhirnya mereka dapat meninggalkan tempat yang sudah beberapa ratus tahun dipandang sebagai tempat yang sangat keramat itu.

Di tahun berikutnya, di atas gunung Kua cong San yang mempunyai pemandangan alam yang sangat permai, kembali muncul Istana Kumala Putih. Sebuah istana yang sangat megah, cuma tidak ada rimbanya yang penuh rahasia. Majikan istana itu adalah Siao Pek Sin yang usianya baru mencapai sembilan belas tahun.

Tapi sejak munculnya Istana Kumala Putih itu, di dunia Kangouw lantas timbul malapetaka hebat. Sebabnya ialah Majikan Istana Kemala Putih yang pernah menjadi penghuni dari Istana Kemala Putih didalam rimba keramat, mendatangi setiap golongan atau partai-partai persilatan dan meminta ketua dan murid-murid mereka untuk tunduk padanya. Dia ingin menjagoi dunia persilatan dan ingin menduduki kursi singgasana didalam rimba persilatan.

Dalam hal ini, kecuali tokoh-tokoh dunia Kangouw yang pernah bersumpah didalam Istana Kumala Putih, siapakah yang sudi menurut padanya?

Maka timbullah pertempuran hebat, darah mengalir membasahi daerah selatan dan utara sungai Tiangkang.

Dalam Istana kumala Putih di atas gunung Kua-cong-san. Pada suatu hari telah kedatangan seorang tamu wanita yang baru berusia kira-kira tujuh belas tahun. Nona ini parasnya sangat cantik, alisnya lentik, mulutnya kecil mungil, hidungnya mancung, ditambah dengan dandanan baju ringkasnya yang berwarna merah, membuat siapa saja yang melihat pasti akan terpesona.

Kedatangan nona itu diantar oleh penjaga dari istana tersebut, oleh karena ia menyatakan hendak bertemu dengan Majikan Istana Kumala Putih, Siao Pek Sin.

Begitu Nona itu tiba di puncak gunung, dari dalam istana sudah keluar perintah untuk mempersilahkan supaya nona itu masuk.

Si Jelita agaknya tidak merasa takut sedikitpun terhadap istana itu, dengan cepat ia masuk ke istana, lantas iapun dibikin tercengang dengan isi istana tersebut.

Istana itu kecuali pintu depannya, tidak ada daun jendelanya sama sekali, tapi hawa udara cukup banyak. Apa yang membuat orang heran, adalah batu-batu permata yang menghiasi pilar- pilar tiang. Hampir semua warna ada. Orang yang masuk ke dalam istana itu seolah-olah sedang memasuki istana kerajaan permata.

Nona itu tiba di pertengahan ruang istana, matanya segera dapat melihat seorang pemuda berwajah putih seperti anak sekolahan, usianya kira-kira baru sembilan belas tahun. Dikedua sisinya tampak sepuluh orang lebih yang usianya sudah lanjut semua, pemandangan ini membuat ia terheran-heran.

Sebetulnya, peristiwa Siao Pek Sin yang berhasil menemukan jalan keluar dari rimba keramat dan kemudian memimpin para jago persilatan itu, sudah menggegerkan dunia Kangouw. Dalam hati kecil nona itu, Siao Pek Sin itu adalah seorang kakek-kakek yang usianya sudah lanjut sekali. Di sepanjang jalan, malah ia diam-diam geli, mengapa orang tua yang memimpin para jago persilatan di Istana Kumala Putih itu mempunyai gelar seperti anak-anak.

Siapa mengira Siao Pek Sin yang dikiranya seorang kakek ternyata masih muda belia, pandai mengendalikan dan memimpin para jago tua yang usianya hampir tiga kali usianya sendiri itu.

Tatkala si nona mengamati lebih teliti lagi wajah Siao Pek Sin, hatinya bergoncang keras.

Alisnya yang panjang, matanya yang lebar dan tajam serta bersinar, hidungnya mancung, bibirnya serta sujen dikedua pipinya yang sangat menggiurkan setiap wanita, mengapa mirip benar dengan kekasihnya?

Cuma sang kekasih itu usianya hampir sebaya dengan dirinya sendiri, perawakannya juga tidak begitu tinggi, tapi mengapa parasnya begitu mirip?

Tiba-tiba ada orang yang memanggil namanya, sehingga si nona hampir melompat saking kagetnya.

"Peng Peng, apa perlumu datang kemari? Apa perlunya kau mencari Tiancu? tanya orang itu.

Nona baju merah itu memang bukan lain adalah Touw Peng Peng adanya. Ia tidak nyana bahwa didalam istana ini ada orang yang kenal padanya. Tatkala ia mencari siapa orang yang menegurnya, ia melihat diantara orang tua yang berdiri di sisi Siao Pek sin ternyata adalah Ciok Goan Hong.

"Kho-thio, kau ada di sini!" tanyanya heran.

"Ng! Kho-thio mu memang di sini!" Wajah Ciok Goan hong tampak diliputi perasaan duka," Peng Peng mari ke sini dan beri hormat kepada Tiancu kami." Sehabis berkata ia lantas berpaling kepada Siao Pek sin :" Tiancu, ia adalah she Touw dan namanya Peng Peng, nona ini calon menantuku.!"

"Kho-thio!" potong Peng Peng dengan wajah merah, "Engko Liang dan aku.   "

"Ciok-ya, ia nona yang cantik sekali, bukan?" Siao Pek sin memandang Ciok Goan Hong sejenak, memutuskan ucapan Peng Peng, "Nona Touw! Kau mencari aku ada urusan apa? Asal bisa menolong pasti aku bersedia untuk menolong kau!"

Touw Peng Peng berpikir sejenak, lama tidak bisa menjawab. Dalam hatinya agak bersangsi, setelah hening sekian lamanya, ia baru menjawab sambil kertakkan giginya :" Aku ingin minta keterangan tentang diri seseorang, dia juga pernah masuk ke dalam Istana Kumala Putih ini. Tapi tidak tahu ia sekarang masih hidup atau sudah binasa, dan dimana dirinya, ikut keluar atau tidak, ia adalah seorang she."

Tiba-tiba suaranya dipotong dengan sebuah suara yang keras :" Peng Peng.    "

"Ciok-ya, kau jangan bikin takut padanya, biarlah dia bicara terus, aku ingin tahu siapa yang begitu berharga untuk dipikirkan olehnya?" Berkata Siao Pek sin sambil tersenyum. Taow Peng Peng sebetulnya sudah mau menutup mulutnya karena barusan sudah dibentak oleh Ciok Goan Hong, tapi kini setelah mendengar ucapan Siao Pek Sin, seketika itu nyalinya lantas besar, maka ia berkata lagi, "Orang yang aku ingin cari keterangannya adalah Kim Houw..."

Nama Kim Houw ketika masuk dalam telinganya Siao Pek Sin ia seolah-olah dipagut ular, hampir saja Siao Pek Sin lompat dari tempat duduknya. Wajahnya lantas berobah seketika, tapi sebentar saja sudah pulih kembali, perobahan itu terjadi dalam tempo sekejap saja, siapapun tidak ada yang perhatikan.

"Oh, ya! Aku lupa kau malah mencuri baju wasiat Hay-sie-kua untuk dia, betul tidak...?" katanya sambil tersenyum.

"Tidak!" Peng Peng memotong ucapannya, "aku tidak sengaja mencuri, aku pernah memberitahukan hal ini kepada Kho-thio, aku lakukan itu dengan tidak sengaja!"

Siao Pek Sin tertawa tergelak-gelak: "Biar bagaimana, adalah kau yang memberikan padanya, betul tidak? Sekarang, biarlah aku berikan padamu. Kim Houw masih hidup cuma dia tidak keluar, sebab kepandaiannya, belum cukup sempurna. Mungkin tidak lama lagi dia akan keluar mencari aku, bahkan aku boleh beritahukan terus terang padamu aku ini adalah kakak kandungnya Kim Houw!" katanya.

"Aaaa!" Peng Peng berseru kaget, "Pantas parasnya mirip benar!"

Tiba-tiba dalam ruangan besar yang begitu luar itu terdengar suaranya orang tertawa dingin.

Suara itu ada demikian halus, tapi berputaran di ruangan dan masuk telinga setiap orang yang ada di situ, begitu dingin seram kedengarannya, hingga membuat setiap yang mendengar pada berdiri bulu romanya.

Suara orang tertawa dingin itu telah merobah keadaan dalam istana itu. Berbareng dengan itu juga menggoyangkan hatinya para locianpwe yang sekarang mengabdi kepada Siao Pek Sin.

Mendadak terdengar suara orang membentak: "Siapa yang berani menyusup ke dalam Istana Kumala Putih ini, apakah sudah bosan hidup.?"

Suara bentakan itu keluar dari mulutnya seorang yang berdiri pertama di baris kiri Siao Pek sin, ia adalah pamannya Siao Pek Sin bernama Pek Kao. Kecuali ayahnya Siao Pek Sin: Pek Liong Yaya, adalah si paman ini kepandaiannya terhitung paling tinggi. Kedatangan sang paman adalah undangan Siao Pek Sin yang minta untuk membantu pekerjaan dalam istana itu.

Tapi, belum menutup mulutnya habis, suara benda yang enteng sekali menyambar lidahnya.

Meski benda itu enteng, tapi kekuatannya cukup hebat, Pek Kao diam-diam terkejut, cepat ia muntahkan, ternyata itu kulitnya bak-pao. Sungguh hebat kepandaian tamu tidak diundang itu, pikirnya.

Orang-orang yang berada di situ semuanya merupakan tokoh-tokoh terkemuka di dunia kangouw. Tatkala Pek Kao kena diserang secara menggelap, siapapun sudah lantas dapat tahu berkelebatnya bayangan putih secepat kilat, tapi tidak ada seorangpun yang tahu darimana datangnya bayangan itu.

Dalam Istana Kumala Putih itu tidak ada jendelanya, kecuali dua penglari dan beberapa batang tiang. Boleh dibilang sudah tidak ada tempat untuk orang menyembunyikan diri.

Pek Kao yang terhina begitu rupa, meski tahu bahwa orang yang jail tangan itu ada seorang yang berkepandaian luar biasa tingginya, ia penasaran sekali, maka ia lantas gerakkan badannya melesat ke atas penglari dan mulutnya membentak: "Kawanan tikus dari mana main sembunyi- sembunyi saja, tidak berani unjukkan diri. Kalau mempunyai nyali boleh keluar untuk coba-coba." Ucapannya dipotong oleh suatu tekanan yang luar biasa hebatnya menyambar dari muka. Pek Kao terperanjat, justru badannya sedang ada di udara, ia tidak berdaya menyambuti dengan kekuatan tangannya. Namun ia juga tidak mau menyerah mentah-mentah, sambil keluarkan bentakan kedua tangannya lantas mendorong ke atas, sayang serangannya ini hanya mengenakan tiang, sampai seluruh ruangan menggetar, batu dan pasir dari atas pada berhamburan. Kapan Pek Kao sudah berada di bawah lagi, ia cuma bisa mengawasi apa yang telah terjadi dengan mulut menganga.

Ternyata tenaga yang menindih padanya tadi, begitu lihat Pek Kao menyambut dengan sepenuh kekuatannya lantas ditarik dengan mendadak sehingga tangan Pek Kao menbentur tiang.

Keadaan itu membuat Pek Kao terpesona dan tidak berani unjuk kesombongan lagi.

Betapapun tebal kulit mukanya. Ia insyaf bahwa kekuatan orang yang sembunyi itu jauh lebih tinggi dari pada dirinya sendiri.

Pada saat itu, ada dua orang kelihatan berbareng lompat naik ke atas penglari. Mereka adalah Kim Coa Nio-nio dan si Kacung baju merah. Dua orang ini setelah berada di atas, matanya mencari kesana kemari, tapi satu bayangan setan pun tidak kelihatan. Mereka menganggap Pek Kao ketakutan oleh bayangannya sendiri, sebab dari atas tiang itu terlihat semua orang yang berada di ruangan.

Setelah terjadinya hal itu, semua orang pada diam memutar otak menduga-duga. Mereka tidak tahu orang yang sembunyi itu apa manusia atau setan. Ada suatu hal yang luar biasa, jika bayangan itu manusia biasa, masakah mempunyai kepandaian setinggi demikian hingga datang dan perginya tidak satu manusiapun yang dapat lihat ?

Tiba-tiba Siao Pek sin ketawa bergelak-gelak, ia kelihatannya tenang sekali: "Sahabat yang tidak mau unjukkan diri, perlu apa musti dipaksa ? Mari kita ke ruangan belakang, di sana sudah disediakan sedikit hidangan dan minuman untuk menyambut kedatangan nona Touw." Bicara sampai di sini ia menoleh dan berkata kepada Ciok Goan hong : "Ciok-ya, apa Lie Cit nio Lo- cianpwe sudah kembali?"

"Cit Nio masih belum kembali, mungkin dalam satu dua hari ini !" jawab ciok Goan Hong. "Harap Ciok-ya bersama Cek-ie (dimaksudkan si Kacung baju merah) pergi menyambut

padanya !"

"Baik Tiancu, sekarang juga kami hendak pergi, cuma" jawabnya sambil memutar tubuh.

Siao Pek Sin mengawasi Touw Peng Peng: "Ciok-ya." katanya sambil tersenyum, "tentang nona Touw aku mampu menjaganya. Kau tidak usah kuatir, kalau memang ia mau menjadi menantunya keluarga Ciok, tentu tidak bisa kabur ! Kau mungkin juga bisa kembali dalam satu dua hari ini saja, bukan ?" Ciok Goan hong mengangguk dan lantas berlalu.

Ruangan belakang istana ada sepuluh kali lipat lebih luas dari pada ruangan depan. Dikedua sisinya dibangun kamar-kamar mengitari sebuah taman yang luas, ditengah-tengah ada tanah lapangan yang luasnya ada beberapa bouw, seperti taman tapi juga boleh dikata seperti tempat melatih ilmu silat. Kecuali pohon-pohon tinggi besar yang mengitari bagian ini, masih terdapat kolam air mancur, dimana ada dipelihara ikan-ikan emas yang jumlahnya ada ribuan ekor.

Pada waktu itu, hari sudah jauh malam, rembulan telah memancarkan sinar yang terang benderang. Di tepinya kolam ikan tampak duduk sepasang pemuda-pemudi. Yang pria cukup tampan, sedang yang wanita cantik molek. Nampaknya yang pria tengah bicara tidak putus-putusnya, sedang wanitanya terus ketawa terpingkal-pingkal. Kelakuan mereka agak mirip dengan sepasang kekasih.

"Nona Touw, bolehkah aku panggil kau Peng Peng saja ?" kedengaran sang lelaki bicara. "Sudah tentu boleh! Sebab kau adalah kakaknya Houw-ji!"

Sepasang muda mudi itu adalah Siao Pek Sin dan Touw Peng Peng.

"Peng Peng, mengapa kau selalu suka menyebut nama Houw-ji saja?" tanya Siao Pek Sin. Kembali Peng Peng tertawa geli, "Sebab aku suka padanya, aku suka kepada Houw-ji!"

jawabnya secara terus terang.

Siao Pek Sin dalam hati merasa kaget, ia tidak menyangka nona ini begitu berani dan demikian tebal mukanya. Dengan tanpa tedeng aling-aling ia menyatakan isi hatinya. Dapat dibayangkan bahwa si nona adalah seorang gadis yang polos.

"Peng Peng, bukankah kau calon menantunya Ciok Goan Hong? Bagaimana boleh.?" kata

Siao Peng Sin dengan perasaan tidak senang.

"Mengapa tidak boleh?" memotong Touw Peng Peng. "Aku dengan Engko Liang sudah putus, sebab sejak semula memang aku tidak suka padanya!"

Siao Pek Sin yang dalam hal menghadapi berbagai kejadian didalam rimba persilatan selalu mempunyai daya untuk menundukkannya, tapi sekarang menghadapi nona Touw Peng Peng ini sama sekali mati kutu.

"Kalau kau tidak suka padanya, juga tidak seharusnya kau di hadapanku selalu menyebut- nyebut nama Houw-ji!" akhirnya ia dapat berkata juga.

Kembali Peng Peng memperdengarkan suara tawanya yang amat geli. "Aku hanya hendak mengingatkan kau, yang aku sukai adalah Houw-ji, harap kau jangan berpikir yang bukan- bukan." demikian katanya dengan berani.

Jawaban itu membuat Siao Pek Sin seolah-olah disambar geledek, sampai kepalanya dirasakan pengang, lama ia tidak bisa membuka mulutnya. Ia tidak menyangka nona Touw Peng Peng ini demikian lihay bicara, ia benar-benar bukan tandingannya. Ia mampu menghadapi jago yang mana saja dari rimba persilatan, tapi di hadapan nona ini, ia terpaksa mengaku kalah.

Siao Pek Sin mendadak mendapat suatu akal untuk menjajaki isi hati si gadis. "Peng Peng aku akan memberitahukan padamu suatu berita yang sangat tidak enak!" katanya.

Touw Peng Peng terkejut, ia tidak tahu ada berita apalagi akan keluar dari mulutnya sianak muda itu. Buru-buru ia mendesak "Siao Pek Sin, lekas kau katakan, berita apa yang tidak enak itu?"

Siao Pek Sin matanya jelalatan. Setelah mengetahui tidak ada satu orangpun yang berada disitu, baru ia menjawab :" Peng Peng, berita ini buat kau benar-benar bisa dikatakan tidak enak, ini adalah mengenai adikku, yaitu orang yang kau cintai, Houw-ji.....dia......dia." "Dia kenapa?" Touw Peng Peng nampaknya sudah tidak sabar lagi.

"Dia.dia telah binasa!" Siao Pek Sin pura-pura bersedih. "Houw-ji, dia sedikitpun tidak

mengerti ilmu silat, tapi dia adalah anak yang tidak kenal apa artinya takut, akhirnya telah binasa digigit oleh kalajengking berbisa!"

Siao Pek Sin sehabis memutarkan, melihat Touw Peng Peng lama tidak bergerak. Tatkala ia melirik, nona itu ternyata sudah semaput setelah mendengarkan ceritanya tadi. Ia tampak seperti orang yang linglung, duduk menjublek seolah-olah sebuah patung.

Siao Pek Sin girang, ia anggap inilah saatnya yang paling baik untuk menodai diri Peng Peng.

Karena keadaannya yang linglung, pasti Peng Peng tidak berdaya sama sekali.

Baru saja Siao Pek Sin meraba-raba Peng Peng dari belakang, tiba-tiba ia merasakan seperti ada senjata rahasia yang menyambar.

Siao Pek Sin buru-buru berkelit ke samping, senjata rahasia itu dengan perlahan-lahan mengenai jalan darah Leng-thay-hiat di belakang badan Peng Peng, sehingga Peng Peng terkejut seolah-olah baru sadar dari mimpinya, seketika itu ia lantas menangis sesenggukkan.

Siao Pek sin dibikin terheran-heran oleh kelihaian orang yang menyerang dengan senjata rahasia itu. Kepandaiannya yang demikian, benar-benar merupakan suatu kepandaian yang luar biasa. mungkin sukar dipercaya kebenarannya, sebab bagaimana senjata rahasia itu bisa mengenai jalan darah begitu tepat dalam jarak yang begitu jauh. Terutama ketika senjata itu baru terlepas dari tangan, meluncurnya begitu kuat, sampai siao Pek sin tidak berani menyambuti, tapi setelah mengenai tubuh belakang Peng Peng, kekuatannya lantas musnah dan Peng Peng tersadar dari lamunannya.

Dengan cepat Siao Pek Sin membalikkan badan, tapi di belakangnya cuma nampak bayangan pohon yang terkena sinar rembulan, dimana ada bayangan orang?

"Orang kuat darimana yang datang? Sudah berani menyatroni Istana kumala Putih, mengapa main sembunyi.?" demikian katanya dengan gemas.

Sebagai jawaban hanya terdengar suara orang ketawa dingin menyeramkan. Mungkin orang tidak akan percaya kalau itu suara manusia.

Berhenti suara ketawanya, lantas disusul oleh kata-katanya yang tidak kalah seramnya :" Siao Pek Sin, aku mana menyayangi jiwa seorang berhati binatang seperti kau ini? aku bicara dengan kau saja rasanya begitu malu, cuma aku harus memberikan kepadamu nona Peng Peng."

suaranya berobah dalam tapi kuat kedengarannya, seperti dari tempat beberapa puluh tombak jauhnya. Sepatah demi sepatah tegas, hingga Siao Pek sin mengetahui kalau orang itu bukan orang sembarangan. Tapi ia masih belum percaya kalau dirinya tidak mampu membuka kedok orang yang bersembunyi itu, dalam sekejap tubuhnya berkelebat dan melesat ke arah datangnya suara tadi.

Tadi kedengarannya sangat jelas bahwa suara itu berasal dari sebuah pohon yang lebat, dan selagi suara itu masih berkumandang ia sudah melesat ke pohon tersebut, tapi ia tertipu, karena suara itu sudah menghilang dan pindah ke sebelah kiri yang jauhnya kira-kira beberapa tombak. Suara itu terus berkumandang di telinganya.....

"Dilarang kau mengganggu seujung rambutnya saja! Kalau kau berpikiran yang bukan-bukan terhadap dirinya, hati-hatilah setiap saat aku bisa mengambil jiwa anjingmu!" demikian kata-kata itu yang terdengar sangat jelas. Siao Pek Sin bukan kepalang kagetnya, "Aku kira siapa, ternyata cuma seorang pengecut yang hanya bisa menggertak orang saja! Aku tidak percaya kalau tidak dapat memaksa kau untuk unjukkan diri." belum habis ia berkata, ia sudah melompat dengan cepat ke atas sebatang

pohon besar.

Gerakan itu dibarengi dengan gerakkan serangannya, tak lama kemudian terdengar suara gemuruh runtuhnya sebatang pohon. Dari atas pohon itu segera melompat keluar seseorang, Siao Pek Sin pun tertawa puas, tapi baru saja hendak mengucapkan kata-kata, lantas terdengar suara orang yang baru muncul tersebut: "Tiancu, aku adalah Ciok Goan Hong!"

"Ciok-ya mengapa berani melanggar perintah Tiancu.?" kata Siao Pek Sin dengan wajah

yang berobah seketika.

"Harap Tiancu jangan salah paham, Cit Nio sudah menyambut nyonya besar, sekarang sedang dalam perjalanan ke atas gunung. Saya hanya hendak menyampaikan berita ini terlebih dahulu kepada Tiancu, juga barusan saja tiba disini."

"Urusan anda begini kebetulan, sampai aku salah faham. Sekarang Ciok-ya siarkan kilat. Cari tahu siapa yang mendapat giliran menjaga hari ini, mengapa sampai tidak diketahui kedatangannya orang luar?"

Ciok Goan Hong undurkan diri setelah menerima titah. Siao Pek Sin segera menoleh mencari Peng Peng, tapi Peng Peng sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Ini membuat ia tambah heran lagi, nyata barusan karena hatinya keliwat tegang, sampai tidak tahu sejak kapan si nona itu telah berlalu dari sampingnya.

Tapi pada saat itu ia tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memikirkan soal si nona sebab ibunya telah sampai !

"Di depan Istana Kumala Putih berdiri berderet barisan obor, hingga istana itu keadaannya seperti siang hari. Siao Pek Sin memimpin tokoh-tokoh terkemuka dari rimba persilatan, semua berdiri menanti di mulut pintu. Tidak antara lama, tertampak kedatangannya sebuah tandu kecil mungil yang tengah digotong dan dibawa lari keatas gunung laksana terbang.

Siao Pek sin segera menyambut dan membuka kain yang menutupi tandu, ia lihat di dalam tandu duduk seorang wanita setengah tua, wajahnya tirus, tapi kelihatannya sangat agung.

"Ibu dalam perjalanan tentu terlalu letih !" kata Siao Pek sin.

Wanita itu ketawa, ia turun dari atas tandunya seraya berkata : "Sin-ji, ibumu tidak apa-apa, cuma Lie Cianpwe ini yang benar-benar letih sekali, kau wakili ibumu untuk mengucapkan terima kasih padanya."

Siao Pek Sin menurut dan lalu menghadapi Lie Cit Nio dan si Kacung baju merah yang berdiri di belakang tandu : "Jiwie terlalu cape, atas perintah ibu, Siao Pek Sin disini memberi hormat.

Silahkan jiwie mengaso di kamar belakang!" demikian katanya.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan si Kacung baju merah: "Siapa intip-intip di sini?"

mulutnya belum ditutup, orangnya sudah lompat melesat. Tapi, selagi badannya masih ditengah udara, lantas seorang wanita muda baju merah yang cantik sekali parasnya muncul dari belakang batu besar.

Ketika Siao Pek Sin menampak siapa orangnya lantas berseru: "Peng Peng, mengapa kau sembunyi disitu?" Touw Peng Peng cuma tersenyum, lalu menghampiri dan memberi hormat kepada ibunya Siao Pek Sin sembari memanggil dengan suara perlahan : "Bibi ..."

Nyonya setengah tua itu mengawasi Peng Peng, lalu menanya kepada Siao Pek Sin : "Mendengar panggilan kau kepada nona ini begitu mesra, Sin-ji siapa nona ini?"

Siao Pek sin melongok tidak dapat menjawab, ia tidak mengerti sikapnya Peng Peng, karena barusan ia menangis begitu sedihnya sekarang tampaknya seperti tidak ada kejadian apa-apa. Karena memikirkan soal ini, sampai tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya.

Akhirnya Touw Peng Peng sendiri yang buka suara untuk memperkenalkan dirinya : "Bibi, aku bernama Touw Peng Peng, adalah sahabatnya Houw-ji ..."

"Siapa itu Houw-ji ?" tanya ibunya Siao Pek Sin, sambil menatap wajah anaknya seolah-olah menantikan jawabannya.

Siao Pek Sin gugup.

"Itu," jawabnya, "soal ini nanti anakmu memberi keterangan dengan jelas kepadamu, sekarang masih banyak orang yang ingin melihat ibu ! Hari juga sudah dekat pagi, seharusnya mengaso dulu !"

Setelah satu sama lain pada memberi hormat, lalu bersama-sama masuk ke dalam istana. Hanya ada seorang yang tetap berdiri di depan pintu, siapa orang itu ? Ia adalah Touw Peng Peng.

Ia telah dibikin kaget oleh pertanyaan ibu Siao Pek Sin!

"Siapa itu Houw-jie ?" pertanyaan itu terus berputaran dalam otak Touw Peng Peng.

Siao Pek Sin adalah kakak sekandungnya Houw-ji, ibunya Siao Pek Sin juga seharusnya ibu Houw-ji, tapi bagaimana ada seorang ibu tidak mengenali anaknya sendiri ? pikirnya.

Pikiran itu terus mengaduk dalam otaknya Peng Peng. Barusan karena mendengar kabar tentang kematiannya Houw-ji, saking kagetnya sampai tidak ingat dirinya sendiri. Ia sadar oleh senjata rahasia seorang tidak dikenal dan lalu menangis tersedu-sedu setelah hilang linglungnya.

Selama dalam keadaan duka, segala perbuatan Siao Pek Sin sama sekali ia tidak tahu. Jauh- jauh ia melakukan perjalanan menuju Kua-cong-san, sebetulnya sudah tidak mengharap dapat kabar menyenangkan tentang diri Kim Houw. sebabnya ialah Kim Houw tidak mengerti ilmu silat, tapi ia berani memasuki Istana kumala Putih yang ditengah-tengah rimba keramat, yang ditakuti oleh semua orang gagah di dunia Kangouw, sudah tentu banyak bahayanya daripada selamat.

Siapa nyana, Siao Pek Sin di hadapan orang banyak telah memberitahukan padanya bahwa Kim Houw tidak mati, malahan masih melatih ilmu silat didalam rimba, bagaimana Peng Peng tidak menjadi girang ? Oleh karena itu, iapun sudah ambil keputusan hendak berdiam terus di Istana Kumala Putih itu untuk menunggu kedatangan Kim Houw.

Tapi, kemudian Siao Pek Sin tiba-tiba memberitahukan padanya lagi tentang kematian Kim Houw, bagaimana Peng Peng tidak bersedih hati ?

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia merasa seperti ada benda enteng disedapkan dalam tangannya, ia periksa ternyata selembar daun. Peng Peng menengok kesana sini, Siao Pek Sin tampak sedang marah-marah sendiri seperti orang gila di satu tempat beberapa puluh tumbak jauhnya dari dirinya. Mengetahui di depan dan di belakangnya tidak ada orang lain lagi, maka ia lantas lihat dengan teliti daun yang digenggam dalam tangannya itu.

Mendadak terlihat olehnya sebaris huruf kecil di atas daun itu, di bawah terangnya sinar rembulan ia dapat kenyataan bahwa huruf-huruf kecil itu dicacah dengan jarum, bunyinya ialah "Houw-ji dalam keadaan sehat," Hal ini benar-benar aneh.

"Belum mati!" "Terkena racun" "Dalam keadaan sehat !" Semua merupakan suatu teka-teki entah mana yang boleh dipercaya ? Tapi bagi orang yang suka optimistis, selamanya suka memikirkan ke jurusan yang baik saja sedang bagi orang yang pesimistis sebaliknya suka memikirkan ke jurusan yang buruk saja. Sifat Touw Peng Peng termasuk yang disebut pertama maka ia percaya ke jurusan yang baik, ia percaya Kim Houw belum mati.

Tiba-tiba ia bengong sendirian memikirkan itu semua, ia melihat Ko-thionya yang muncul secara mendadak, maka ia lantas sembunyikan diri dan kemudian berlalu dengan diam-diam.

Tiba-tiba di depan matanya Peng Peng berkelebat satu bayangan orang. Bayangan itu merupakan bayangannya seorang yang berbadan tegap, di atas kepalanya ada memancarkan sinar emas. Larinya bagaikan terbang, sebentar saja sudah berada di suatu tempat beberapa tombak jauhnya.

Selama di dalam Istana Kumala Putih ini Touw Peng Peng belum pernah lihat seorang pun yang badannya begitu tegap. Ketika melihat bayangan orang itu melompat ke luar dari istana, ia juga menyusul segera.

Ia lihat orang itu yang diatasnya ada sinar emas ternyata belum pergi jauh, agaknya memang bermaksud menunggunya, maka Peng Peng lantas lari menghampiri.

Ketika ia sudah berada dekat sekali, Peng Peng baru dapat tahu kalau orang itu adalah seorang hwesio yang kepalanya gundul kelimis. Sinar emas yang berkeredepan di atas kepalanya ternyata sebuah kotak emas kecil. Saat itu si hwesio sudah berhenti dan menoleh, ia turunkan kotak emas itu dari atas kepalanya dan diserahkan kepada Peng Peng serunya berkata: "Ini adalah pesan Kim Houw supaya aku menyerahkannya kepadamu..."

Mendengar ucapan hwesio itu. Peng Peng tertegun, lalu menjerit: "Kim Houw...?"

"Benar! Kim Houw! Aku tidak suka bicara, setelah kau lihat isinya kotak tentu akan mengerti sendiri! Lohap adalah Ah-ceng Kim Lo Han."

Mendengar keterangan Kim Lo Han, Peng Peng lalu menyambuti kotak itu. Tatkala ia buka, isinya ternyata sepucuk surat. Begitu lihat tulisan di atas sampul, Peng Peng segera kenali tulisannya Kim Hauw, maka lantas buka dan baca isinya yang berbunyi sebagai berikut: "Peng Peng, Budi kebaikanmu terhadapku, seumur hidupku aku juga tidak bisa membalas habis, cuma hanya untuk sementara aku minta supaya kau suka memaafkan yang aku belum bisa menemui kau, karena masih ada persoalan yang sangat besar, yang harus ku bereskan sendiri. Peng Peng, setelah kita berpisah apakah kau pernah lihat adik Bwee Peng? Itu nona yang kau sering kasihani, sering kau bantu dan tidak mengijinkan orang lain menghina padanya?"

Membaca sampai di sini dalam hari Peng Peng timbul rasa cemburu, karena ia tahu bahwa Kim Houw selalu memperhatikan adik Peng-nya itu, si nona cilik yang cantik dan lemah lembut serta tidak seperti dirinya yang berandalan beradat keras! Tapi tatkala ia membaca seterusnya, hatinya goncang dan kedua tangannya gemetar! Hampir saja surat yang dipegangnya jatuh, ternyata bunyinya adalah:

"Peng Peng, tahukah kau? Adik Peng sudah binasa, benar-benar sudah binasa... Dia seperti setangkai bunga cempaka di dalam rimba yang sedang mekarnya, tapi belum terbuka, sudah dipetik oleh satu tangan setan yang jahat, akhirnya layu dan rontok! Di dalam Istana Kumala Putih, aku telah bertemu dengan ibunya adik Peng. Koh-tio mu telah memberitahukan padaku, bahwa adik Peng telah binasa, aku selalu tidak mau percaya, karena dia telah berjanji hendak menantikan kedatanganku. Ketika itu Koh-tio mu telah menimpakan segala dosanya di atas pundakku hingga aku telah dihajar oleh ibunya adik Peng, sungguh membuatku penasaran! Tapi, aku tidak menggerutu, juga tidak membenci dia, karena aku tahu, asal aku masih ada umur bisa keluar dari Istana Kumala Putih, aku pasti dapat membongkar perkara itu.

Siapa nyana, selanjutnya aku telah dianiaya orang, sebab-sebabnya aku dianiaya sampai sekarang masih menjadi teka-teki. Untung Tuhan Maha Adil, aku tidak mati, malahan berhasil melatih ilmu silat dan berhasil pula keluar dari dalam rimba yang keramat itu. 

Sayang ketika aku tiba di Bwee Kee Cung dan mencari tahu keadaan adik Peng, telah mendapat kabar bahwa dia betul sudah binasa dengan jalan menggantung diri. Aku telah menemukan suatu malam pada hari ketiga setelah aku berlalu, adik Peng, dia... telah dianiayai hebat, penjahatnya bahkan memberitahukan padanya, bahwa aku Kim Houw sudah binasa. Adik Peng rupanya pikir, dengan matinya aku Kim houw musnahlah semua pengharapannya, maka dia telah menempuh jalan pendek. Kasihan......

Aku telah ambil putusan hendak menuntut balas untuk Bwee Peng, sebab tidak bisa tinggal diam atas kematiannya yang membuat penasaran itu.

Aku pikir harus pergi ke Bwee Kee Cung.

Karena cuma keluarga Ciok yang mengerti ilmu silat dan aku curigai kematian adik Bwee Peng karena gara-garanya.

Siapa nyana, keluarga Ciok ternyata sudah pindah ke Ciat Kang khabarnya pada setahun yang lalu. dalam keadaan apa boleh buat, aku menyusup ke Ciat Kang.

Di tengah jalan aku pernah lihat kau. Justru melihat kau, membuat aku jadi terkenang kepada dirinya adik Bwe Peng. Peng Peng, kau juga ada seorang yang terhitung menyukai adik Bwee Peng, apakah kau tidak bisa keluarkan sedikit tenaga untuknya ? Tolong bantu cari tahu itu manusia yang berhati binatang, bagaimana bisa menganiaya seorang wanita yang begitu lemah?

Siapa dia ? Aku tidak bisa melepaskan dia, aku akan mengorek isi hatinya, akan kulihat nyalinya, apakah bedanya dengan manusia biasa ?

Apakah darahnya ada begitu dingin ?

Mengenai dirimu, Peng Peng, bahwa Siao Pek Sin kakak kandungku atau bukan nanti setelah bertemu dengan ibunya baru bisa ketahuan semuanya.

Cuma kau harus berhati-hati, sebab Siao Pek Sin itu hatinya lebih jahat dan lebih berbisa dari pada ular yang paling jahat dan paling berbisa. Berikut ini aku lampirkan sepotong baju yang terbikin dari bulunya binatang monyet berbulu emas, khasiatnya masih jauh bedanya dengan baju wasiat Hay-sie-kua, tapi tokh ada lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.

Baju wasiat Hay-sie-kua diperdayai orang dan belum bisa direbut kembali. Aku percaya dalam beberapa hari ini pasti kau dapat khabar.