Istana Kumala Putih Jilid 03

 
Jilid 03

CIOK GOAN HONG, adalah seorang tua yang sudah berusia lima puluh empat tahun, tapi telah dipanggil bocah cilik oleh Imam palsu benar-benar keterlaluan. Tidak heran kalau Ciok Goan Hong kalap, lantas berseru keras, ia membabat dengan pedangnya.

Si Imam palsu geser sedikit badannya, sudah berhasil menyingkirkan serangan lawan. Baru saja ia hendak menggunakan ikat pinggangnya untuk melibat pedang lawannya, tiba-tiba dirasakan sangat ringan sekali, karena ikat pinggang yang nampaknya masih utuh itu, sebenarnya sudah lapuk, tidak tahan diayun oleh si Imam palsu dengan kekuatan tenaga dalamnya yang begitu hebat. Ikat pinggang itu kecuali bagian yang dipegang olehnya, yang lainnya sudah hancur beterbangan di udara. Si Imam palsu ketawa terpingkal-pingkal sedang Ciok Goan Hong tampak menjadi terkesima.

Ia tidak tahu kalau ikat pinggangnya si Imam palsu sudah rapuh dianggapnya orang sengaja hendak menunjukkan kekuatan tenaga dalamnya, supaya ia tahu gelagat dan mundur teratur. Sesungguhnya orang she Ciok juga terkejut, karena barang yang lemas seperti ikat pinggang dari kain itu tidak gampang patah apalagi hancur berkeping-keping itu, jika orang yang menggunakannya tidak mempunyai kekuatan tenaga dalam yang luar biasa. Ia yakin dirinya sendiri tidak mempunyai lwekang semacam itu.

Belum hilang kagetnya, mendadak ada angin kuat menyambar ke arah dadanya. Dalam kagetnya, ia lalu menangkis dengan pedangnya, suara "Trang" terdengar nyaring, tangan Ciok Goan Hong merasa kesemutan, pedangnya hampir terbang ke udara.

Disamping tercengang, Ciok Goan Hong merasakan lengan kanannya sakit, pedangnya lantas terlepas dari tangannya. Tapi belum sampai senjata itu tiba di tanah, lengan kiri Ciok Goan Hong tiba-tiba kelihatan sedikit memutar, untuk menyambuti pedangnya yang terlepas dari cekalan tangan kanannya. Ia memandang ke sekitarnya dengan sorot mata gusar, untuk mencari tahu siapa orangnya yang membokongnya.

Ketika matanya melihat Kim Houw sedang berdiri di sisi seorang nenek yang tangannya memegang satu tongkat berkepala ular, kembali dia dibikin heran, diam-diam berpikir: bocah ini ternyata belum binasa!

Dengan tiba-tiba Ciok Goan Hong gerakkan badannya, melompat ke depan Kim Hoow. "Kim Houw! Apa kau masih kenali aku?" bentak Ciok Goan Hong.

"Paman Ciok!" Kim Houw memberi hormat. "Houw-ji selamanya tidak akan melupakan budi kebaikan keluarga Ciok terhadap diri Houw-ji!"

"Kau kata tidak melupakan budi kebaikan keluarga Ciok, hmm! Mengapa kau menganjuri Touw Peng Peng berlaku kurang ajar kepada anakku?"

Kegagalan Ciok Goan Hong, bagi Kim Houw dahulu sudah merupakan soal biasa. Tapi kali ini adalah lain, Meski ia masih merasakan sedikit takut, tapi ia yang dilahirkan dengan sifat tidak kenal takut, maka berontaklah hatinya.

"Paman Ciok, mengapa paman menuduhku secara membabi buta?" ia menambah. "Baik! Sekarang aku tanya padamu, tahukah bahwa Touw Peng Peng itu adalah bakal

menantuku?"

"Hal ini aku tidak tahu!" Kim Houw agak terkejut.

"Apa? Kau berani mengatakan tidak tahu?" geramnya. "Kalau begitu kau memang sengaja hendak pungkiri dan tidak mau mengakui dosamu! Betul tidak?"

Melihat Ciok Goan Hong menuduh secara sewenang-wenang, Kim Houw mulai gusar, tapi tidak berani umbar kemarahannya.

"Paman Ciok, Ciok yaya dimasa hidupnya telah perlakukan aku begitu baik, budinya bagiku adalah seperti lautan dalamnya, bagaimana aku berani membohongi kau."

"Oleh karena kau sudah berbuat salah, sudah tentu tidak berani akui kalau kau tahu. Sekarang aku hendak tanya lagi, apakah menganjurkan Peng Peng mencuri baju wasiat keluarga Ciok yang dinamakan Hay-si-kua!? coba, kau jawab!" Mendengar pertanyaan itu, Kim Houw kagetnya bukan main.

"Hal ini aku lebih tidak tahu, bagaimana aku bisa berbuat yang begitu rendah?" jawabnya. Ciok Goan Hong gusar bukan main, ia ulur tangannya hendak mencengkeram kepala Kim

Houw.

"Binatang, semua kau tidak mau mengakui, lihat aku nanti bikin mampus kau!" bentaknya. Mendadak berkelebat bayangan tongkat dan Kim Coa Nio-nio sudah menghadang di depan

Kim Houw.

"Kau siapa? Berani berlaku banyak lagak di dalam Istana Kumala Putih? Melihat gerakanmu, kau bukan orang dari golongan sembarangan, apakah kau tidak tahu di sini ada istana yang berada di dalam rimba keramat?" Kim Coa Nio-nio menegur dengan pedas.

Ciok Goan Hong ketika menyaksikan tongkat si nenek melintang di depannya, ia merasakan seolah-olah ada kekuatan tenaga yang tersembunyi, mendorong mundur padanya. Bukan main terkejutnya, segera menginsyafi bahwa nenek di depan matanya itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang tidak dapat dijajaki.

"Bocah cilik ini telah mencuri barang wasiat keturunan kami, sudah sewajarnya kalau aku minta kembali kepadanya!" kata Ciok Goan Hong.

"Menangkap maling harus ada buktinya, kau bisa membuktikan?" Kau tidak boleh menuduh orang secara sembarangan!" Kim Coa Nio-nio tertawa mengejek.

"Aku adalah seorang yang mempunyai kedudukan tinggi di rimba persilatan, kalau tidak percaya aku boleh geledah badannya, bakal menantu sendiri yang mengatakan, apa masih salah? Ciok Goan Hong gusar.

Mendengar jawaban itu Kim Houw terperanjat. Kalau benar-benar Touw Peng Peng yang mengatakan, mungkin baju kaus yang diberikan Touw Peng Peng itu adalah benda wasiat keluarga Ciok. Sebagai seorang yang tidak mengerti bahayanya dunia Kang-ouw, ia buru-buru membuka baju luarnya yang sudah rombeng, hingga kelihatan baju kausnya.

"Paman Ciok, apa yang kau katakan baju wasiat itu adalah baju kaus ini?" ia menanya seraya memperlihatkan kaus yang dipakainya.

Melihat baju wasiat itu, Ciok Goan Hong lantas ketawa terbahak-bahak.

"Bagus ! Sekarang orang dan barang buktinya sudah ditemukan, apa kau masih mau mungkir? katanya.

Mendengar itu, Kim Houw tidak merasa ragu lagi. Ia buru-buru membuka baju luarnya sembari membuka mulutnya terus mendumel, "Aku tidak tahu baju kaus ini adalah wasiat keluarga Ciok.

Kalau benar kepunyaan paman, sekarang aku kembalikan padamu, tapi perlu aku jelaskan, bahwa baju ini adalah pemberian Touw Peng Peng, bukan aku yang mencuri, dan aku juga tidak menyuruh nona Peng Peng berbuat kejahatan semacam ini."

Kim Coa Nio-nio dan semua yang berada di situ, tidak nyana Kim Houw ada begitu jujur, maka dalam hati pada merasa cemas. Seketika itu mereka tidak mendapat suatu pikiran yang baik untuk memecahkan soal tersebut, tapi kini mereka baru tahu bahwa Kim Houw tidak mempan senjata tajam atau senjata rahasia, kiranya adalah menggunakan baju wasiat itu yang melindungi badannya.

Pada saat itu Kim Houw sudah membuka baju luarnya. Selagi hendak membuka baju kausnya, pundaknya tiba-tiba dirasakan seperti ditekan orang dengan kekuatan tenaga yang luar biasa besarnya, Kim Houw tidak mampu mempertahankan, sehingga duduk numprah di lantai.

Pundaknya tidak sakit, tapi pantatnya yang dirasakan nyeri, ia menoleh dengan mata melotot. Ternyata orang yang menekan dirinya itu si pemuda sekolahan yang wajahnya mirip benar dengan dirinya sendiri, siapa telah mengawasi padanya dengan senyumnya yang sangat simpatik, oleh karenanya maka amarahnya Kim Houw lenyap seketika.

"Adik kecil, siapa namamu ? Kau berasal dari mana?" tanya si pemuda anak sekolahan sembari membimbing bangun Kim Houw.

Anak muda sekolahan itu meski pernah membuat dirinya jatuh terduduk sampai pantatnya sakit, tapi karena sikapnya ramah dan manis budi bahasanya, bagi telinganya pertanyaan itu sungguh enak sekali. Selama beberapa hari ini, tidak pernah ada orang yang menanyakan dirinya begitu manis didengarnya, maka ia lantas menjawab dengan gembira: "Siaote bernama Kim Houw, tapi menyesal tak dapat menjelaskan asal usulku sendiri."

Pemuda sekolahan itu wajahnya menunjukkan sedikit perobahan, pada saat mana kembali terdengar suaranya Ciok Goan Hong: "Pek Siaohiap, dalam hal ini untuk sementara harap kau jangan turut campur tangan "

Pemuda sekolahan itu begitu cepat pula pulihnya, mendengar ucapan Ciok Goan hong lantas tersenyum

"Ciok Taihiap," katanya, "kau sudah lupa? Sebelum kita masuk ke istana ini, kita bertiga pernah bertanding untuk mengambil suatu keputusan, siapa yang kalah harus dengar kata atau turut perintah yang menang! Aku yang rendah memenangkan sejurus dari taihiap, apa sekarang kau hendak mungkir janji? Aku minta kau lepaskan urusan ini untuk sementara, sudikah kau ?"

"Ini urusan pribadiku. Pek Siaohiap" belum habis ucapan Ciok Goan Hong, anak muda itu

kelihatannya tidak senang. Ciok Goan Hong segera mundur setengah tindak, agaknya jeri benar terhadap anak muda itu.

Orang-orang yang berada disitu merasa heran menyaksikan kejadian tersebut. Ciok Goan Hong yang kelihatannya begitu garang, mengapa begitu takut dan hormat sekali terhadap anak muda yang masih ingusan? Mereka segera menduga bahwa anak muda itu tentu mempunyai kepandaian lebih atas daripada Ciok Goan Hong.

Mendadak Kim Houw lolos dari bawah tangannya si anak muda. Ia maju bertindak dua langkah dan berkata: "Siapa kepingin segala baju wasiatmu, ini kukembalikan padamu !"

Kembali ia hendak membuka baju kausnya, tapi si anak muda sekolahan itu kembali menepuk pundaknya dan berkata: "adik kecil jangan perdulikan dia, lekas pakai baju luarmu."

"Aaa-ya ! Bwee So-so, kau juga ada di sini? Bagaimana Bwee toako ? Banyak tahun kita tidak bertemu, apa ia ada baik?" tiba-tiba terdengar suaranya Ciok Goan Hong.

Ditegur secara mendadak oleh Ciok Goan hong, san Hua Sian Lie matanya lantas merah, hampir saja mengeluarkan air mata.

"Terima kasih atas perhatian Coiok toako ... dia ... diaaku tidak tahu dia ada dimana?"

jawabnya terputus-putus. "Bagaimana sih ? Apa Bwee toako, tidak bersama-sama dengan kau? Kalau begitu kemana dia larinya ?" tiba-tiba matanya berputaran, "Bwee soso, itu keponakan perempuanku si Bwee Peng, aaa... kalau aku katakan sungguh mengenaskan."

Mendengar ucapannya itu san Hua Sian Lie semakin sedih kelihatannya.

"Sedikit banyak aku sudah mengetahui, itu adalah ia sendiri bernasib buruk !" kata San Hua Sian Lie sembari menangis.

"Bwee soso, aku tidak tahu harus kukatakan atau tidak, cuma biar bagaimana akhirnya kau toh harus tahu juga. Anak cantik seperti bidadari itu, sebetulnya terlalu kasihan" kata Ciok Goan

Hong sambil melirik Kim Houw.

Kim Houw mengerti bahwa ucapan Ciok Goan hong itu ada udang dibalik batu. Dalam hati merasa cemas. Meski ia dengan Bwee Peng tahun ini baru sama-sama berusia lima belas tahun, tapi Bwee Peng agaknya lebih besar, nampaknya sudah seperti gadis dewasa, seperti kembang yang lagi mekar. Mereka berdua kenal sejak masih kanak-kanak, maka masih sayangnya boleh dikata sudah dipupuk sejak masih kanak-kanak itu.

Paman Ciok, maksudmu apa hendak mengatakan bahwa telah terjadi apa-apa dengan adik Peng ?" Kim Houw menanya.

"Hm, kau bocah ini kembali hendak berlagak tolol. Perbuatan yang kau lakukan sendiri, apakah masih tidak tahu ? Dalam usia begini muda, sungguh pintar kau main gila !?" kata Ciok Goan hong melototkan matanya.

Jawaban itu membuat Kim Houw melongo.

San Hua Sian Lie hatinya makin gelisah, air matanya mengalir semakin deras. "Ciok toako, apa sebetulnya yang telah terjadi? Coba ceritakan padaku." katanya.

Ciok Goan Hong pura-pura berpikir lama, baru menjawab : "Aku tahu bocah ini tidak berani cerita terus terang padamu, kau tahu apa sebabnya ia lari masuk ke dalam Istana Kumala Putih ini

? Bocah ini seharusnya dicincang, baru dapat melampiaskan sakit hatiku !"

San Hua Sian Lie nampak semakin tidak mengerti omongan Ciok Goan hong.

"Dia kata kau hendak mengejar dan membunuhnya sehingga dia masuk ke istana ini !" kata San Hua Sian Lie.

"Memang tidak salah ! Adalah aku yang suruh orang membunuh mati padanya, tapi tahukah kau apa sebabnya ?" kata Ciok Goan Hong, matanya menyapu ke arah semua orang. Ia lihat semua tengah mendengarkan ocehannya, tidak terkecuali Kim Houw.

Ia tahu bahwa ia sudah berhasil mempengaruhi perhatian semua orang, maka pura-pura batuk-batuk, wajahnya menunjukkan rasa sedih dan berkata pula sambil menuding Kim Houw: "Itu hari, keponakanku Bwee Peng sedang bermain di taman belakang, bocah ini juga tinggal di taman belakang, entah dengan akal apa, ia telah berhasil memancing Bwee Peng ke dalam kamarnya.

Kalau aku sedang di atas loteng aku dapat lihat mereka dengan tegas, tadinya aku anggap mereka toh masih anak-anak, tidak nanti berani berbuat yang tidak senonoh, maka tidak begitu ambil perhatian. Siapa nyana, sampai gelap aku dengar suara tangis yang memilukan, ketika aku melongok ke bawah kebetulan kulihat Bwe Peng keluar dari kamarnya bocah ini sembari menangis sesenggukan nampaknya ia hendak pulang ke rumahnya. Sampai saat itu aku masih belum tahu atau terpikir persoalannya yang begitu hebat. Pada keesokan harinya, aku telah dikabarkan bahwa Bwe Peng telah membunuh diri sendiri, aku kaget, segera mengunjungi rumahnya, aku lihat Bwe Peng benar-benar sudah binasa dengan jalan menggantung diri."

Kim Houw menggigil mendengar Ciok Goan mengarang cerita bohong.

"Kau bohong, kau dusta, Peng moay tidak mati, tidak mati." ia menjerit-jerit seperti kalap.

Baru saja ia menerjang, tiba-tiba ditarik oleh pemuda she Pek itu dan di ajak duduk di lantai. "Adik Hong, kau tenang dulu," katanya membujuk. "Jangan bikin ribut, tunggu dia bicara habis

dulu, baru bertindak !".

Ciong Goan memperdengarkan suara ketawa mengejek.

"Hm ! Buat apa aku membohong ? Hanya orang bersalah saja merasa ketakutan. Kau bocah telah mengeram satu hari anak gadis orang, apakah itu betul coba kau jawab!".

"Betul aku pernah berduaan" jawab Kim Houw dengan keras, "tetapi bukan berarti."

"Nah, ini kau sendiri mengaku! Aku toh tidak omong kosong bukan?. Kedua , aku lihat dia menangis, sesudah petang hari ini baru meninggalkan kamarmu ini juga bukan bohong bukan?" Ciok Goan Hong tidak menantikan Kim Houw bicara habis ia potong-potong serta menghujani pertanyaan. Kim Houw seorang jujur, tidak mengerti apa artinya licik, ia tampak mengangguk- anggukkan kepalannya.

"Itu juga ada, cuma oleh karena aku."

Ciong Giok Hong bergelak-gelak kembali memberikan waktu buat Kim Houw membela diri. "Kau sudah mengaku semuanya, apa masih mau mengatakan aku orang omong kosong?

Esok harinya ketika kematian Bwe Peng tersiar, ternyata disebabkan karena diperkosa kehormatannya olehmu, bagaimana susah aku tidak gusar dan ingin segera bunuh mati padamu ! Mana aku bisa membiarkan orang rendah macam kau berdiam di rumahku lebih lama lagi?"

Ciok Goan Hong nampaknya begitu napsu, agaknya yang diceritakan seperti terjadi sesungguhnya, sehingga semua tokoh-tokoh rimba persilatan itu mulai percaya dan pada mengawasi Kim Houw dengan mata tidak puas.

Tiba-tiba terdengar suara geramnya Kim Houw yang melompat dari duduknya sembari membentak dengan suara keras : "Kau bohong kau memfitnah orang, kau....kau"

"Blug !" kepalan San Hua Sie Lie bersarang di badan Kim Houw, hingga bocah cilik itu terlempar satu tombak lebih jauhnya. Untung badannya memakai baju wasiat, meski kena di hajar, tidak terluka. Ia juga tidak bermaksud melarikan diri, maka begitu bangun lantas menyeruduk lagi kepada Ciok Goan Hong. Ciok Goan Hong tetap berdiri dengan tenang, wajahnya menunjukkan sipat kekejaman dan kelicikannya.

"Buk !" kali ini kakinya San Hoa Sian Lie yang menendang, kembali Kim Houw dibikin jumpalitan seperti orang yang sedang main akrobat. jatuh berat, tetapi Kim Houw dengan menahan rasa sakitnya, coba merangkak bangun lagi. "Bila Bwek , kau bunuh aku saja ! Aku tidak nanti takut mati.!"

Perkataan "mati" baru saja keluar dari mulutnya tiba-tiba ia ingat perkataan Touw Peng Peng: "kematian ada yang di pandang enteng seperti bulu ayam, tetapi ada yang dipandang serta gunung Thaysan, sekali-kali jangan mengandalkan atau mengumbar keberanianmu." begitu

ingat dia lantas angkat kaki dan kabur.

Tapi, ia tidak pernah belajar ilmu lari cepat. Di hadapan para tokoh rimba persilatan begitu banyak bagaimana ia bisa lolos ? Belum berapa tindak pantatnya kembali kena tendang. Kali ini ternyata berat sekali, sampai badannya meluncur ke dalam rimba. Diwaktu jatuh, sekujur badannya dirasakan sakit, kepalanya pusing, matanya gelap dan akhirnya tidak ingat apa-apa lagi

Dikala mendusin, ia dapatkan dirinya tidur di dalam sebuah goa yang gelap. Tetapi Kim Houw masih bisa membedakan keadaan di situ, hanya belum bisa bangun karena saking keras jatuhnya tadi, otot-otot dan tulang pada sakit. Kalau ingat perkataan Ciok Goan Hong darahnya mendidih, tetapi sekarang apa daya ? Ia sendiri sedikitpun tidak mengerti ilmu silat !

Mengingat akan Bwe Peng, hatinya tiba-tiba merasa sedih, ia menjerit dan katannya pada diri sendiri : "Peng-moay, benarkah kau sudah mati ? Itu paman Ciok yang terkutuk, ia mungkin menjumpai kau ! Kau toh pernah mengatakan sendiri bahwa kau hendak menunggu sampai aku kembali.!"

Belum puas ia mengoceh sendiri, dari luar goa tampak dua bayangan, satu tinggi dan satu pendek. Ketika Kim Houw menegasi ternyata adalah orang utan betina ada membawa buahan dan waktu ia lihat Kim Houw sudah mendusin, lantas letakkan buah-buahannya dan berlutut di depannya, kemudian bersoja sampai dua kali. Kim Houw diam-diam merasa heran. Pikirnya tempo hari kau bersoja kepadaku, karena aku menolong jiwaku, mengapa kau menjura kepadaku?

"Mengapa kau bersoja kepadaku?" demikian ia menanyanya.

Orang hutan itu menunjuk ikat pinggang "urat naga" di pinggangnya Kim Houw sambil bercuitan.

Kim Houw mengerti bahwa yang di sujuti tadi ternyata ikat pinggang "urat naga" bekas kepunyaan majikan yang lama.

Selanjutnya orang hutan itu lantas menyerahkan buah-buahan kepada Kim Houw.

Menyaksikan buah-buahan yang merah dan hijau segar itu, Kim Houw melupakan rasa sakitnya hendak mengambil, tetapi baru saja mengangkat tangannya, lantas dirasakan amat sakit sehingga ia menjerit.

Orang hutan itu menampak Kim Houw menjerit hebat lalu lari keluar. Tidak lama balik sembari membawa biji buah merah sebesar lengkeng dan lantas dimasukkan ke dalam mulut, tanpa dikunyah sudah lantas masuk ke dalam perut, rasanya harum segar manis.

"Ini buah apa, mengapa rasanya begini enak?" tanya Kim Houw girang.

Sehabis menanya, ia merasa geli sendiri, bagaimana seekor binatang yang tidak bicara harus menjawab pertanyaan?

Tapi, rasa ingin makan lagi membuat ia berkata pula : "Buah ini enak sekali apa kau bisa ambilkan lagi untuk beberapa biji saja?"

Orang hutan itu mula-mula agak keberatan dan gelengkan kepalanya, tetapi kemudian mengangguk, sambil menggandeng tangan orang hutan kecil ia lantas keluar dari goa. Kim Houw menampak orang hutan itu menerima baik perintahnya, dianggapnya, akan segera balik kembali. Tidak nyana lama ia menunggu belum juga kelihatan mereka kembali, tiba-tiba ia lantas mengantuk dan lantas tidur pulas.

Waktu ia mendusin lagi, dalam goa itu berubah terang. Kini ia tahu bahwa goa itu sebenarnya tidak gelap, hanya diwaktu ia datang justru diwaktu malam. Ia melihat orang hutan dan anaknya telah berlutut di sampingnya, tidak berkutik barang sedikit.

"Apa artinya ini?" tanya Kim Houw.

Wajah orang hutan nampak muram, kepalanya digoyang-goyangkan, Kim Houw tiba-tiba ingat kalau semalam mereka disuruh menceritakan buah lagi, rupanya tak berhasil, maka mereka berlaku demikian, takut dipersalahkan.

"Apakah tidak berhasil mendapatkan buah kecil lagi? itu toh bukan soal apa-apa bangunlah!

Aku tak akan salahkan kau !" kata Kim Houw.

Tanpa disengaja, ia kibaskan tangannya, heran semua rasa sakitnya mendadak hilang, Kim Houw girang bukan main dan lantas duduk, ternyata rasa sakitnya sudah lenyap semua. Diam- diam ia berpikir: mungkin ini adalah khasiatnya buah merah kecil itu, pantas susah dicari.

Kim Houw kini dapat kenyataan bahwa goa itu keadaannya sangat luas. Ada beberapa bagian yang terbikin oleh tangan manusia, ia mulai memeriksa dengan teliti. Tiba-tiba ia menemukan di salah satu dinding yang licin, ada terukir sebuah peta yang tidak utuh dengan di tengah-tengahnya terdapat garisan pecahan.

Garisan pecahan itu mendadak terbuka, lalu kelihatan sebuah pintu sempit mengeluarkan bau harum. Kim Houw dalam hati merasa heran dan menanya bagaimana membukanya pintu itu.

Tatkala menoleh, ia dapatkan orang hutan itu tangannya baru saja melepaskan satu gelang besi. Ia menduga bahwa gelang besi itu tentu adalah kunci rahasia pintu tersebut. Kalau orang hutan betina dapat membuka, pasti kamar goa itu bekas kamar majikannya.

Tanpa ragu-ragu Kim Houw lantas masuk ke dalam kamar batu itu, yang ternyata merupakan gudang kitab yang terdiri dari batu seluruhnya. Didalamnya tercatat segala macam kitab. Kim Houw sangat girang ia pikir majikan istana Kumala Putih itu dulunya tentu seorang yang pandai ilmu surat dan silat. Dipandang dari koleksi bukunya itu saja, kalau dibaca dengan sendirian setiap hari, mungkin tidak habis dalam waktu delapan atau sepuluh tahun.

Kim Houw sejak anak-anak sudah mendapat pelajaran ilmu surat, ingatannya juga sangat baik.

Pada saat itu didalam keadaan sulit, tiba-tiba menemukan kamar buku demikian, membuat ia segan keluar. Ia mengambil sejilid buku untuk dibaca, isinya ternyata sangat dalam sekali.

Kim Houw mempunyai semacam sifat makin tidak mengerti makin kepingin dipelajari, makin dalam artinya, semakin tebal keinginannya untuk meyakinkan. Ia coba membaca sejenak, dan merasa bingung sendiri, seolah-olah perlu di mulai dari permulaannya.

Kim Houw memeriksa keadaan kamar itu makin teliti, akhirnya menemukan bahwa di atas rak buku-buku ada tertulis banyak huruf yang merupakan susunan alfa betis dan urutan nomornya serta jenis buku-buku itu

Mata Kim Houw tiba-tiba terbelalak lebar kapan ia memeriksa sampai rak yang penghabisan, ia telah dapat sejilid buku yang berkalimat "PIE KIM SIN KUN" (ilmu pedang rahasia dan ilmu sakti), serta sejilid lagi berjudul "KING KANG AM KHI" (ilmu mengentengi tubuh dan senjata rahasia). Bukan main girangnya Kim Houw, ia buru-buru keluarkan dua buku itu dari raknya. Dalam buku itu selain teorinya ditulis dengan jelas, juga di berikan penjelasan prakteknya dengan rupa-rupa lukisan.

Tidak ayal lagi Kim Houw lantas membaca dan mempelajari ilmu silat menurut petunjuk dari dalam buku itu. Pelajaran yang dimulai yang cetek sampai kebagian yang dalam-dalam. Entah kebetulan atau karena ditakdirkan akan menjadi tokoh yang namanya cemerlang dan menggetarkan rimba persilatan, pokoknya Kim Houw secara aneh sudah memasuki kamar buku yang terbikin dari batu itu dan dapat mempelajari isi buku ilmu silat tinggi yang di tinggalkan oleh seorang aneh luar biasa di jaman dulu.

Buku-buku itu disimpan dalam kamar batu itu sedikitnya sudah ratusan tahun, tapi tidak ada yang robek atau yang rusak, itu disebabkan batu dalam kamar itu kering sekali. Apalagi ada bebauan harum yang entah dari mana keluarnya, bau harum itu agaknya seperti khusus ditaruh di situ untuk mengusir kutu-kutu buku.

Menyaksikan itu semua, Kim Houw dalam hati lantas berpikir: pantas di istana bagian belakang itu kecuali barang pertama dan batu giok, tidak terdapat apa-apa lagi, kiranya ada mempunyai tempat simpanan lain.

Musim dingin telah lewat, datanglah musim semi lalu disusul dengan musim panas. Tapi musim panas itu dengan cepat juga sudah berlalu.

Dan kini gilirannya musim rontok yang datang.

Kim Houw di dalam kamar batu itu, sudah satu tahun lamanya tanpa ia rasakan, kakinya tidak pernah melangkah keluar dari goa. Makan minumnya disediakan oleh dua orang hutan itu yang setia, selama satu tahun itu, semua buku yang ada di rak bagian buku peperangan dan ilmu silat, sudah ia pelajari sampai hafal betul-betul. Bukan saja dapat menghapalkan bahkan ia sudah pandai mainkan kepalanya dan mainkan pedang, setiap hari dalam waktu tertentu ia berlatih dengan kedua orang hutan itu.

Mula-mula Kim Houw selalu terdesak sejauh tiga empat jurus saja, tapi tiga bulan kemudian, Kim Houw sudah dapat mengimbangi kepandaiannya orang hutan betina itu. Dan setengah tahun kemudian, orang hutan betina itu tidak dapat mampu melawan Kim Houw sampai tiga puluh jurus.

Lewat beberapa bulan lagi, orang hutan betina dengan anaknya mengerubuti Kim Houw, belum sampai sepuluh jurus mereka sudah dikalahkan oleh Kim Houw.

Dari hasilnya latihan dengan orang hutan betina, Kim Houw dapat mengukur sendiri betapa majunya ilmu silatnya selama satu tahun itu. Ia pernah menyaksikan pertempuran sengit antara orang hutan itu dengan Lie Cit Nio. Pad kala itu orang hutan betina berkelahi mati-matian karena hendak membela jiwa anaknya dan Lie Cit Nio cuma mampu melawan dalam keadaan seri meskipun ia bersenjata pedang. Mungkin Lie Cit Nio ada mengandung lain maksud, sehingga tidak mau melukai padanya, tapi biar bagaimana kalau saja pertempuran dilakukan dengan tangan kosong, mungkin orang hutan betina itu bisa bertahan lebih lama lagi.

Selama satu tahun itu sudah tentu Kim Houw juga tidak lupa melatih ilmu "Han-bun-cao-khie" menurut petunjuknya si Kacung baju merah. Cuma dalam ilmu ini saja, ia selalu merasakan kurang puas, oleh karena ia bisa mengalahkan orang hutan itu, semata-mata cuma mengandalkan kecepatan dan kecerdikannya, Kalau mau dikatakan hendak ada kekuatan tenaga sudah tentu orang hutan itu lebih unggul daripadanya, ia tahu ini adalah karena lweekangnya (tenaga dalam) masih kurang sempurna. Hari itu, malam sudah meliputi jagat, Kim Houw masih tekun melatih ilmunya "Han-bun-cao- khie", tiba-tiba terdengar suara meraungnya orang hutan. Ia terkejut, dengan cepat melompat keluar dari goa. Terlihat olehnya sinar api merah membara di malam hari yang gelap itu tampak lebih marong. Pikirnya; ini mungkin perbuatan para locianpwe yang di dalam Istana Kumala Putih, yang ingin membakar istana berikut rimbanya supaya mereka bisa bebas keluar.

Dalam hal ini, ia merasa tidak enak untuk merintangi, karena siapakah yang mau dikurung terus menerus di dalam rimba? Orangnya tidak kepingin bebas?

Tapi, api yang berkobar keras itu ternyata cuma sekejap saja, lantas padam, dalam hati Kim Houw lantas timbul pikiran: sekalipun mempunyai ilmu silat yang bisa menjagoi jagat, tapi, jika bisa keluar dari rimba ini, juga percuma saja.

Kim Houw tiba-tiba ingat bahwa setiap buku yang pernah ia baca, di halaman pertama selalu dibubuhi catatan kalajengking beracun melindungi rimba, belajar juga tidak ada gunanya. Ia tahu ini adalah maksudnya majikan Istana Kumala Putih itu yang menulis sebagai peringatan supaya orang jangan belajar ilmu silatnya. Mula-mula Kim houw tidak ambil perhatian terhadap tulisan atau catatan itu, tapi kini kalau diingat-ingat memang ada mengandung arti dalam.

Kim Houw mulai berpikir tentang kalajengking berbisa itu, kemudian dihubungkan dengan perkataan kalajengking berbisa melindungi rimba. Mengapa Kalajengking itu setiap hari karena dirinya didalam goa, apakah betul sedang melindungi serupa pusaka yang diartikan pusaka alam oleh Kim Coa nio-nio.

Karena ingat ucapannya Kim Coa Nio-nio itu, ia lalu bersiul panjang.

Dari jauh segera muncul si orang hutan besar dan kecil yang lompat-lompatan menghampiri Kim Houw.

"Dahulu kau telah dibikin luka oleh kabutnya binatang kalajengking berbisa, dimana adanya binatang itu? Sekarang kau antar aku kesana. Aku akan berusaha menyingkirkan binatang yang berbahaya itu, sekalian menuntut balas buat kau." kata Kim Houw kepada si orang hutan betina.

Orang hutan itu mendengar perkataan Kim Houw hendak menyingkirkan kalajengking berbisa, lantas berjingkrak-jingkrak kegirangan, dengan cepat ia ajak Kim Houw kesana.

Kim Houw yang setiap hari melatih ilmu mengentengi tubuh didalam goa, tidak tahu sampai dimana kemajuannya. Kini setelah berlari-lari di rimba terbuka dan coba berlomba dengan orang hutan, baru tahu kalau ilmu mengentengi tubuhnya tidak di bawah orang hutan yang mempunyai kepandaian lari cepat karena pembawaan alam.

Tiba di tebing lebar yang curam, kedua orang hutan itu berdiri jauh-jauh, tidak berani datang dekat. Selagi Kim Houw hendak lompat maju untuk memeriksa, orang hutan betina itu tiba-tiba mencekal lengannya, mulutnya cecowetan tidak berhenti-henti, tangannya menuding-nuding ikat pinggang "urat naga" dan pedang pusaka. Rupanya ia menyuruh supaya Kim houw menggunakan barang-barang pusakanya tersebut. Kim Houw tersenyum, ia lantas melakukan seperti apa yang dikehendaki oleh orang hutan itu.

Kim houw menghunus pedang pendeknya, diantara sinar terang pedangnya itu, ia telah dapat kenyataan bahwa kabut dimulut goa itu ternyata lebih gelap daripada yang dilihatnya dulu, kabut putih itu seolah-olah berbentuk benda yang menutupi mulut goa.

Kim Houw setelah menghunus pedangnya, kemudian membuka ikat pinggangnya sedang Bak- tha ia isap dalam mulutnya. Ia tahu bahwa nyali hitam itu bisa menolak hawa racun dan kabut beracun itu sukar menyerang badannya kalau ia isap bak-tha dalam mulutnya. Apa yang ia pikir memang benar, tapi ia masih lupa, bahwa racunnya kalajengking itu ternyata sudah memenuhi hampir seluruh pelosok dalam goa itu, sudah lihat ada asap tebal menyembur. Ia lalu menahan napas dan siap menerjang masuk.

Tiba-tiba matanya dirasakan gatal, air mata mengucur keluar tanpa tertahan. Kim Houw terkejut, dan oleh karena kagetnya ini napasnya lantas buyar, tiba-tiba badannya sempoyongan, dadanya merasa mual, matanya gelap, hampir saja ia jatuh rubuh.

Kim Houw insyaf kalajengking itu sangat lihay, maka lantas buru-buru lompat mundur jauh- jauh. Kapan kakinya menginjak tanah, dirasakan lemas sekali dan ia lantas duduk numprah di tanah.

Sampai di situ Kim Houw baru kaget benar-benar untung ada Bak-tha yang melindungi dirinya, hingga sebentar saja tenaga dan kesehatannya sudah pulih kembali.

Tetapi pada saat ia berbangkit hidung Kim Houw tiba-tiba mengendus bau harum. Tatkala mendongak, ia melihat orang hutan betina itu, bersama anaknya sedang membakar serupa rumput yang mengeluarkan bau harum.

Kim Houw tidak mengerti maksudnya. Dia lihat orang hutan itu menggapai padanya, segera ia lompat menghampiri dan menanya: "Ada apa?" Ia sudah cukup bergaul dengan orang hutan betina itu, sudah dapat memahami segala gerak-gerik tangan orang hutan itu bila sedang mengerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri sekian lamanya, ia lantas menanyakan: "Apa kau mau kata bahwa kalajengking itu hendak kau pancing keluar dengan rumput itu" mengangguk berulang-ulang, kemudian memberi tanda dengan gerakan tangannya lagi.

"Aaa! Kau maksudkan bahwa Bak-tha ini tidak seharusnya aku isap dalam mulut, semestinya menggerakkan ikat pinggang "urat naga" untuk membikin buyar kabut beracun itu, supaya aku tidak terkena racun, betul tidak?"

Orang hutan itu kembali mengangguk, lantas menumpuk rumput lagi di atas api unggun, kemudian baru ia ajak anaknya menyingkir jauh-jauh ke atas sebuah pohon besar dan mengintai dengan matanya yang sipit merah.

Kim Houw tahu bahwa orang hutan itu dahulunya pernah kena serangannya racun kabut yang sangat berbisa, agaknya sudah merasa jeri.

Dalam waktu sekejap saja, api unggun itu sudah marong betul, bau harum mengepul mengikuti aliran masuk ke mulut goa, tiba-tiba kabut tebal di mulut goa itu lantas mulai buyar dan masuk ke dalam. Sebentar saja keadaan sudah bersih, bau harum itu terus masuk ke dalam goa. Sampai di situ Kim houw baru mengerti kalau binatang kalajengking itu senang dengan rumput harum itu.

Lewat lagi sejenak, rumput itu sudah hampir terbakar habis, harumnya juga mulai berkurang tapi kalajengkingnya masih tetap belum mau keluar dari goa, pikir Kim Houw : binatang itu licin sekali.

Akhirnya, rumput itu sudah terbakar habis benar-benar, harumnya juga lenyap, Kim houw memandang ke arah goa, nampak mulut goa itu perlahan-lahan diliputi lagi oleh kabut tebal. Ia memanggil orang hutan, tidak lama kedua orang hutan itu sudah membawa lagi setumpuk rumput.

Tidak antara lama, api unggun menyala lagi! Harumnya tersebar pula! Kabut tebal dimulut goa sekali lagi tersapu bersih. Kim Houw pikir, binatang tadi tidak keluar, kali ini rasanya juga tidak mau keluar. Tahun yang lalu, dirinya sedikit pun tidak mengerti ilmu silat berani memasuki goa yang berbahaya itu. Tapi kenapa sekarang justru selama setahun ini ia sudah mengerti ilmu silat cukup tinggi, sebaliknya malah menjadi penakut?

Diam-diam ia maki dirinya sendiri yang tidak ada gunanya. Begitulah, keberaniannya mendadak telah timbul seketika. Dengan tangan kanan memegang ikat pinggang dan tangan kiri memegang pedang, sekali lompat ia terus masuk ke dalam goa.

Dengan sangat hati-hati sekali ia menyusuri goa itu, baru berjalan kira-kira satu tombak lebih, lantas dapat lihat sepasang sinar hijau dari matanya binatang itu. Kemudian menampak lebih tegas bentuknya itu binatang kalajengking berbisa, ternyata badannya memanjang ada sebesar baskom, 4 pasang kakinya dikedua sisi badannya menunjang tanah, bagian depan ada 2 sapit besar, bagian belakang ekornya merupakan gaetan panjang.

Binatang itu rupa-rupanya sudah mengetahui ada orang menyatroni dirinya. Dengan ditunjang oleh 8 kakinya, badannya sebentar naik sebentar turun, ekornya yang seperti gaetan itu berputar- putar, rupanya sedang pasang aksi untuk melayani musuhnya.

Kim Houw setelah mendapat lihat dengan tegas bentuk binatang berbisa itu, dalam hati merasa jerih. Karena binatang kalajengking umumnya tidak sampai setengah dim panjangnya, sedang binatang yang ada di depannya hanya badan bagian depannya saja sudah lebih dari satu kaki, kalau diukur seluruhnya dengan bagian ekor, mungkin lebih dari tiga kaki panjangnya.

Saat itu, binatang beracun itu menunjukkan gerakan hendak menyerang. Kim Houw memegang erat-erat kedua senjatanya, ia maju dengan perlahan. Mendadak matanya melihat pada bagian bawah badan binatang itu ada benda serupa tumbuhan rumput yang tumbuh di atas batu besar, sedang pada batu besar itu ada terdapat banyak guratan seperti lukisan peta.

Hati Kim Houw melonjak kegirangan. Ia lantas ingat catatan "kalajengking berbisa melindungi rimba" yang terdapat dalam lembar pertama di setiap buku pelajaran ilmu silat, mungkinkah baru ini adalah petanya rimba keramat ini? Demikian ia bertanya dalam hari kecilnya sendiri.

Selagi Kim Houw memandang dengan kesima, kabut tebal sekonyong-konyong menyembur ke depan mukanya, sampai ia terperanjat hampir lompat mundur, ia buru-buru putar ikat pinggang "urat naga" nya. Heran, ikat pinggang mukjijat itu begitu bergerak membuat kabut tebal lantas buyar, nyali hitam (Bak tha) seperti mengeluarkan sinar terang, hingga kabut berbisa itu tidak mampu mendekati dirinya. Dengan demikian hati Kim Houw mulai mantap, ia maju semakin dekat.

Sang kalajengking agaknya mengerti bahwa kabut beracunnya tidak mampu melukai lawannya. Dengan mengeluarkan suara aneh, badannya mendadak berobah menjadi panjang dan besar luar biasa, sapitnya sebentar ditarik masuk, Sungguh mengerikan sebab sapit itu saja panjangnya sudah beberapa kaki.

Kim Houw lantas merandek, karena perobahan bentuk binatang itu benar-benar menakutkan. Diantara berkeredepannya sinar hijau seluruh badannya seperti diliputi oleh hawa beracun yang tidak kelihatan bentuknya. Tapi tatkala mata Kim Houw bersentuhan dengan gambar seperti peta tadi, nyalinya besar lagi.

Untuk menolong dirinya para locianpwe yang sudah dikeram sekian lama dalam Istana Kumala Putih ini, untuk kebersihan dan kebebasan dirinya sendiri, ia rela kalau meski binasa di bawah kakinya binatang luar biasa itu. Sehabis berpikir demikian, Kim Houw lalu bersiul panjang. Suaranya berkumandang didalam goa. Binatang berbisa itu agaknya mengerti dirinya terancam, dengan mendadak ia lompat dan menerkam Kim Houw.

Kim Houw tidak duga binatang itu bergerak lebih dulu, dengan cepat ia lantas geser dirinya, pedang pendeknya dengan kecepatan bagaikan kilat menusuk ke arah perut binatang itu.

Serangan itu dilakukan dengan menempuh bahaya besar, untuk mengenai sasaran dengan tepat. Binatang itu merasa kesakitan, ekornya yang seperti gaetan panjang menyabet dada Kim Houw. Suatu serangan di luar dugaan Kim Houw tidak heran kalau dengan letak mengenai dadanya. Ia tidak kita bahwa ekor kalajengking itu merupakan suatu senjata yang sangat berbahaya, karena mengetahui bahwa ekor binatang itu sangat berbisa, maka ia lantas buru-buru lompat mundur.

Kim Houw memikirkan dadanya yang bekas diserang, ternyata tidak ada perobahan apa-apa.

Ia segera mengerti bahwa khasiatnya baju wasiat yang menolong jiwanya. Ia jadi ingat dirinya Touw Peng Peng, beberapa kali ia menemukan bahaya selalu lolos karena dilindungi oleh baju wasiat itu, kelak entah bagaimana ia harus membalas budinya nona itu?

Sang kalajengking kembali menyemburkan kabutnya yang berbisa bahkan nampaknya kali ini lebih hebat. Kim Houw buru-buru putar ikat pinggangnya yang mukjijat, tapi celaka ia tidak bisa dibandingkan dengan kejadian semula, karena kini sudah tertutup jalan keluarnya oleh kabut tebal.

Keadaan Kim Houw benar-benar sangat berbahaya sekali, ikat pinggangnya putar semakin gencar, tapi tidak berhasil menghalau kabut yang sangat tebal itu. Ia tahu dirinya dalam keadaan sangat berbahaya, jika tidak lekas bertindak dengan tepat, sudah tak ada harapan bisa keluar lagi. Celaka kabut itu makin lama makin tebal, sampai ia tidak bisa mengenali kedudukannya sendiri.

Binatang berbisa itu juga sudah menghilang entah kemana.

Kim Houw selama belajar silat sendiri, baru pertama ini digunakan untuk bertempur benar- benar, maka ia telah kehilangan ketenangannya. Sebentar kemudian, ia rasakan kepalanya pusing, kakinya lemas, lalu jatuh duduk.

Melihat lawannya rubuh, binatang berbisa itu perlahan-lahan mendekati Kim Houw, kalau saja ia berhasil mencapai tujuannya tamatlah riwayatnya Kim Houw.

Dalam keadaan setengah sadar setengah tidak, Kim Houw tiba-tiba ingat pedang pendeknya.

Barusan sudah berhasil mengenakan perutnya, binatang itu sedikitnya juga sudah terluka. Kini melihat binatang itu sudah mendekati dirinya dengan mendadak ia ayun tangannya, sinar pedang berkelebat menyilaukan mata dan ujungnya lantas menancap dimata sang kalajengking.

Binatang itu setelah keluarkan rintihan dan berkelejetan sebentar, lantas tidak berkutik lagi.

Sampai di situ Kim Houw baru bisa bernapas lega, tapi kabut tebal itu sudah menyerang dengan hebat membuatnya tidak tahan lagi dan jatuh rubuh tidak ingat orang.

Entah sudah berapa lama telah berlalu tiba-tiba ia disadarkan oleh bau harum yang menusuk ke dalam hidungnya, ia lantas bangkit dan sadar perlahan-lahan. Cuma oleh karena matanya terangsang oleh kabut beracun untuk sementara tidak bisa melek.

Dalam kebingungan, Kim Houw meraba-raba mencari Bak tha dan ikat pinggangnya, untuk mengusir racun dari badannya. Ia meraba-raba setengah harian, ikat pinggangnya tidak diketemukan, ia hanya dapatkan benda bundar, dianggapnya itu adalah Bak tha, maka dengan tidak pikir lagi lantas dimasukkan ke dalam mulutnya.

Tapi benda bundar itu ternyata bukan Bak tha, benda itu mirip dengan buah kecil merah yang diberikan oleh orang hutan betina ketika ia dalam keadaan tidak sadar. Benda itu ternyata besar sekali, tapi begitu masuk dalam mulut lantas lumer dan sebentar saja sudah masuk ke dalam perutnya.

"Bukan main girangnya Kim Houw, karena dalam waktu sekejap itu, otaknya sudah terang seperti biasa, mata juga sudah tidak melek. Tapi apa yang mengherankan selama sedetik itu, dalam perutnya seperti ada apa-apa yang rasanya seperti mau mendobrak keluar.

Kim Houw terperanjat, ia buru-buru duduk bersemedi menggunakan ilmunya "Han-bun-coa- khi" untuk menindas, tapi makin ditindas makin kuat dan makin keras perlawanan dalam perutnya itu.

Dalam keheranannya Kim Houw tiba-tiba ingat dalam ilmu "Han-bun-coa-khi", ada serupa kekuatan yang bisa digunakan untuk menarik kekuatan dalam (lwekang), maka ia lantas menggunakannya untuk menyalurkan hawa dingin dalam perutnya dengan "Han-bun-coa-khi" ke dalam badan sendiri.

Satu harian setelah ia bertekun bersemedi secara demikian, tulang-tulang dan otot-otot sekujur badannya tiba-tiba berkerotokan, hawa panas dalam perutnya sudah lenyap, tapi badannya dirasakan amat letih, tanpa dirasa ia sudah tidur kepulesan.

Entah berapa lama telah berlalu, Kim Houw tiba-tiba seperti merasa ada orang sedang memeriksa jalan pernapasannya. Ia kaget dan lantas melompat bangun, karena saking bernafsu melompat badannya sampai membentur dinding atas.

Ia lihat Kim Coa Nio-nio tengah berdiri di depannya, tangannya memegang pedang pendeknya yang bersinar sedang mengawasi padanya dengan roman heran.

"Tiancu", kata Kim Coa Nio-nio satu tahun tidak bertemu, banyak perobahan telah terjadi pada diri Tiancu. Aku si nenek sudah bertahun-tahun menginginkan binatang berbisa itu, namun selalu tidak berhasil mendekatinya, tidak nyata sekarang tiancu telah berhasil membunuh mati padanya, tiancu bolehlah binatang berbisa ini tiancu berikan kepada aku si nenek tua?"

Kim Houw mendapat kenyataan bahwa Kim Coa Nio-nio ini agaknya tidak percaya ucapan Ciok Goan Hong yang pandang rendah dirinya, dalam hari diam-diam merasa girang maka lantas buru-buru menjawab: "Kim Coa Nio-nio, ambillah kalau kau mau, binatang itu bagi aku juga tidak ada gunanya."

Mendengar ucapan Kim Houw, Kim Coa Nio-nio seolah-olah merasa muda dua puluh tahun lagi, sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan ia menyeret bangkainya kalajengking berbisa keluar dari goa! Baru saja hendak keluar, ia lalu ingat bahwa pedang Kim Houw masih dalam tangannya, maka ia lantas taruh di atas kepalanya dan balik lagi untuk mengembalikan kepada pemiliknya.

"Kau pakai saja!" kata Kim Houw.

"Senjata semacam ini, tidak cocok buat aku." jawab si nenek yang lantas menyerahkan dan kemudian berlalu.

Sekarang Kim Houw mulai memeriksa gambar peta di atas batu, ternyata juga tidak utuh, keadaannya sama dengan gambar yang terdapat di kamar buku dalam goa.

Tiba-tiba timbul satu pikiran, kalau kedua gambar ini dijadikan satu, apa mungkin jadi sebuah peta yang utuh? Mengingat sampai di situ, ia lantas mengamat-amati dan mengingat gambar itu di otaknya, ia memeriksa lagi keadaan di sekitarnya, tapi kecuali gambar peta tidak ada apa-apa lagi. Baru saja Kim Houw keluar dari dalam goa sudah disambut dengan gembira oleh kedua orang hutan yang selalu menunggu dari jauh.

Kedua orang hutan itu nampaknya sangat setia terhadap Kim Houw. Melihat bocah itu keluar dengan selamat, girangnya bukan main, mereka berjingkrak-jingkrak sambil menuding ke tebing lembah. Kapan Kim Houw menengok ia lihat Kim Coa Nio-nio juga sudah lihat Kim Houw, ia lantas berkata sambil melemparkan satu kantong kecil: "Tiancu, benda ini seharusnya menjadi kepunyaanmu!"

Kim Houw menyambuti dengan tangan tatkala ia buka, kantong itu ternyata berisi beberapa butir mutiara hitam sebesar kacang hijau.

"Tiancu, itu dada mutiara binatang berbisa ini, kalau dipakai untuk senjata rahasia, akan merupakan salah satu senjata mukjijat dalam rimba persilatan," menerangkan Kim Coa Nio-nio.

"Terima kasih" katanya.

Dalam hati Kim Houw diam-diam berpikir: ini boleh juga, senjata tajam dan senjata rahasia semua sudah ada, asal bisa keluar dari Istana Kumala Putih ini, untuk mendapat nama di dunia Kang-ouw, rasanya tidak sukar!

Bersama kedua kawannya orang hutan itu, Kim Houw mengerahkan ilmu mengentengi tubuh balik ke dalam goanya.

Suatu keajaiban telah terjadi, hampir saja Kim Houw tidak percaya pada dirinya sendiri, karena dengan seenaknya saja ia melompat, tahu-tahu sudah mencapai jarak puluhan tombak jauhnya.

Sekarang ia baru tahu bahwa buah keras yang ia makan selagi dalam keadaan setengah sadar, tentunya itu benda wasiat alam yang dikatakan oleh Kim Coa Nio-nio.

Sekembalinya ke dalam goa, Kim Houw mulai mencoba mengaturkan gambar peta yang diingat-ingat dalam otaknya dengan gambar peta di atas dinding, satu gambar peta yang utuh lantas terlukis di atas dinding. Kim Houw sangat girang, ia kuatir bisa lupa, maka lantas menggunakan jarinya perlahan-lahan menggurat di atas batu.

Akhirnya gambar peta yang tidak utuh itu kini merupakan satu peta yang sempurna. Sehabis melukis di atas batu, Kim Houw tidak lantas hapus, karena sebagai orang jujur ia pikir di kemudian hari jika ada siapa yang terkurung dalam Istana Kumala Putih, asal mendapat lihat gambar peta ini pasti bisa keluar dari rimba.

Setelah dapatkan petunjuknya jalan keluar Kim Houw lantas bersiap-siap hendak meninggalkan rimba keramat itu. Ia telah utarakan maksudnya kepada dua orang hutan kawannya. Mereka pada heran, agaknya tidak mau percaya tapi kemudian mengutarakan perasaan berat ditinggalkan oleh Kim Houw.

Kim Houw juga merasakan bahwa selama satu tahun ini baik sekali hubungannya dengan kedua orang hutan itu, terutama disebabkan dalam perhubungan persahabatan mereka ada terselip hutang budi karena masing-masing pernah tertolong jiwanya.

Kim Houw juga bukan orang yang tidak berperasaan maka akhirnya ia berjanji, sekalipun sudah keluar dari rimba itu, tapi sekali-kali ia pasti akan datang menyambangi mereka.

Dua orang hutan itu nampaknya sangat girang, Kim Houw lalu ambil selamat berpisah dengan mereka. Diwaktu subuh, Kim Houw sudah tiba di depan Istana Kumal Putih maksudnya mengunjungi istana itu, ia ingin mengajak semua orang orang tua dari kalangan rimba persilatan untuk meninggalkan istana itu.

Siapa nyana, orang yang pertama ia ketemukan ialah Lui Kong. Orang tua itu adatnya berangasan, begitu lihat Kim Houw, ia lantas menyerang dengan tangannya yang kuat sembari berseru: "Kuhajar mampus kau binatang cilik!"

Di luar dugaan, bocah itu tahu-tahu sudah menghilang dari depan matanya, hingga diam-diam ia merasa heran.

Lui Kong pada beberapa tahun berselang namanya sudah terkenal di kalangan rimba persilatan, ia adalah salah seorang yang dianggap sebagai iblis di golongan hitam. Oleh karena adatnya terlalu berangasan, orang telah percaya padanya hingga ia masuk ke dalam Istana Kumala Putih.

Tapi, sekalipun ia seorang yang sudah terkenal namanya, belum pernah mengalami kejadian serupa itu, dengan cara bagaimana Kim Houw menghilang dari depan matanya, mengapa ia sedikitpun tidak tahu?

Tiba-tiba di dalam istana terdengar suara ricuh, Lui Kong menoleh, ia dapatkan Kim Houw yang barusan menghilang dari depan matanya, ternyata sudah berada di dalam. Hal ini membuat Lui Kong tidak habis pikir.

Dari dalam istana itu disusul suara bentakan dan makian San Hua Sian Lie, kadang-kadang diselingi dengan helaan napas.

"Bocah itu apa betul tidak apa-apa, katanya malah mendapat pelajaran ilmu silat luar biasa.." demikian Lui Kong menanya pada diri sendiri.

Lui Kong sudah kalap benar dan lantas lompat masuk, tapi Kim Houw diam-diam sudah melalui banyak orang dan menyelusup keruangan dalam.

Tiba di ruangan belakang, lalu ia memasuki istana Kong Han Kiong dan bersujut di depan peti jenasah yang berada ditengah-tengah. Sehabis bersujut ia berbangkit dengan perlahan, tepat pada saat ia sedang berdiri, matanya tiba-tiba dapat lihat sebaris huruf kecil-kecil di ujung kepala peti mati yang terbikin dari kaca itu. Huruf itu kecil sekali. Kalau tidak diperhatikan bentuk- bentuknya niscaya tidak akan kelihatan.

Huruf itu bunyinya: KUBURAN KAUW JIN KIESU, Majikan Istana Kumala Putih.

Kim Houw girang menemukan tulisan itu karena kalau tidak, ia selamanya tidak akan mengetahui nama gurunya, ini akan merupakan suatu penyesalan baginya.

Akhirnya Kim Houw balik lagi ke istana Kong Han Kiong, tempat yang merupakan sumbernya hawa dingin. Di sini ia lantas duduk bersila, ia ingat waktu pertama kali datang ke situ, meski memakai baju wasiat yang melindungi dirinya, masih tidak tahan serangannya angin dingin yang meniup di situ sehingga badannya menggigil. Kini, kecuali dilindungi baju wasiat, iapun berkepandaian ilmu silat, bahkan lwekang (tenaga dalam) dan gwakangnya (tenaga luarnya) juga sudah cukup sempurna, maka sedikitpun ia tidak merasakan dingin.

Maksudnya ia duduk bersila, adalah menurut pesannya si Kacung baju merah, yang mengajarkan ia ilmu "Han-bun-coa-khi". Jika ilmu itu dilatih ditempat ini, hasilnya berlipat ganda. Tapi kali ini ia tidak merasakan ada perobahan apa-apa atas dirinya, pikirnya mungkin disebabkan karena baju wasiat, jika dibuka baju wasiatnya entah bagaimana perasaannya.

Ia sudah akan mencoba-coba, tapi baru saja hendak membuka baju luarnya, dari istana bagian depan terdengar suara jeritan orang. Kim Houw terkejut, ia buru-buru lompat keluar. Segera dilihatnya bahwa orang-orang itu sedang berkumpul di dalam istana, ditengah-tengah ruangan tampak dua orang sedang bertempur, satu diantaranya adalah Lie Cit Nio. Nyonya ini tengah mengucurkan airmata, tapi wajahnya kelihatan sedang gusar sekali.

Orang yang menjadi lawannya adalah itu anak sekolahan yang mukanya mirip dengan dirinya sendiri. Kim Houw diam-diam merasa heran, apa sebabnya dua orang itu bertempur begitu hebat dan sengit?

Tiba-tiba ia lihat bekas tanda darah berketel-ketel di lantai, dilain sudut ia menampak To Pa Thian sudah kutung sebelah lengannya, tengah diberi pertolongan oleh Kim Coa Nio-nio dan si Kacung baju merah.

Bukan main kagetnya Kim Houw, tidak nyana bahwa urusan telah berobah begitu hebat. Terhadap anak sekolah berwajah putih itu Kim Houw mempunyai kesan baik. Menyaksikan permainan pedangnya si anak muda, dapat dinilai lebih tinggi dari Lie Cit Nio. Tapi Lie Cit Nio tidak tahu diri, ia terus ngotot hendak melukai si anak muda, untuk menuntut balas To Pa Thian.

Munculnya Kim Houw, agaknya tidak ada orang yang perhatikan padanya. Ia tahu bahwa pemuda wajah putih itu tidak ada maksud turun tangan jahat terhadap Lie Cit Nio, sebab kalau ia mau, dalam tiga jurus saja Lie Cit Nio pasti sudah terluka.

Ia tidak mengharap anak muda itu tanpa sebab melukai banyak orang sehingga menambah musuh, maka diam-diam ia mengambil beberapa mutiara hitam siap memberi pertolongan apabila Lie Cit Nio dalam bahaya.

Pada saat itu, anak sekolahan itu tiba-tiba berkata: Lie cianpwe, aku sudah mengalah terus menerus. Kalau cianpwe masih tetap mendesak, jangan sesalkan kalau aku nanti turun tangan kejam!"

Baru habis berkata, Lie Cit Nio tiba-tiba membentak dengan suara keras, pedangnya tiba-tiba berobah dengan beruntun menyerang tiga kali. Serangannya ini dilancarkan demikian dahsyat, telah membuat si anak muda terpaksa mundur sampai tujuh-delapan tumbak.

"Omong saja gede, ada serangan ini saja kau tidak mau menyambuti!" seru Lie Cit Nio mengejek.

Anak muda sekolah itu tiba-tiba tersenyum dengan perlahan ia maju menghampiri.

Pedang di tangannya mendadak menjadi dingin, sebentar saja hawa dingin ini memenuhi ruangan istana. Dalam sekejap ia sudah melancarkan serangan berantai yang membuat Lu Cit Nio kelabakan. Serangan terakhir pemuda anak sekolah itu merupakan suatu lompatan ke atas bersama pedangnya, kemudian menukik terus menukik.

Gerakan ini adalah suatu serangan yang paling berbahaya, ujung pedangnya bergetar, sinarnya yang berkeredepan seperti air hujan yang turun dari langit, sekujur badan si pemuda terkurung dalam hujan dari ujung pedangnya.