Istana Kumala Putih Jilid 02

 
Jilid 02

"OH! TUHAN" San Hua Sian Lie berseru dan air matanya segera mengalir deras. Ia mengeluh sambil menangis: "Seng-ko, kau.kau benar-benar terlalu kejam. Oleh karena ayah aku telah

memasuki Istana Kumala Putih ini, kau.kau ternyata juga begitu tega meninggalkan anak

perempuan kita satu-satunya, sepuluh tahun lebih.ah! Ini bagaimana orang bisa percaya?"

Tiba-tiba terdengar suara orang berseru, suara seperti geledek, sampai Kim Houw hampir melompat jauh.

"Bocah tolol, mau apa menangis? Apa itu juga ada harganya untuk ditangisi." demikian terdengar suara orang tadi yang berada di belakangnya Kim Houw. Di luar dugaan, San Hua Sian Lie bukan saja terus menangis tidak hentinya, malahan lari ke belakang Kim Houw. Tatkala Kim Houw menengok, di belakangnya ada seorang tua berbadan tinggi besar seolah-olah raksasa, San Hua Sian Lie yang berada di dalam pelukannya, kepalanya cuma mencapai di dadanya, ia masih terus menangis, seolah-olah sedang mengigau ia berkata dengan terisak-isak: "Ayah! Cucu perempuanmu yang patut dikasihani!"

To Pa Thian sejak Kim Houw menyebutkan namanya juga lantas hentikan pertempurannya dengan Lie Cit Nio, ia mengerti sekarang telah salah lihat, bocah ini memang benar bukan Siaw Pek Sin yang pada tiga tahun berselang pernah menipunya...

Sebuah bangunan istana sangat mentereng yang dibangun menurut keadaannya gunung- gunung, berdiri dengan megahnya. Istana itu dibuat dari bahan yang hampir seluruhnya dari batu kumala, tidak ada sedikitpun yang menggunakan kayu atau bahan lainnya, juga dibikin dari batu kumala.

Batu-batu kumala itu sedikitpun tidak ada cacatnya agaknya seperti batu khusus keluaran gunung Tiang Pek San itu.

Kim Houw mengikuti San Hua Sian Lie dan Lie Cit Nio, berjalan menuju istana yang megah itu, di depan pintu istana ia dapat lihat papan nama dan tiga kata yang terbikin dari batu kumala juga: Istana Batu Kumala.

Kim Houw meski kenal apa artinya istana itu tapi tidak tahu bahwa tiga kata itu ada berapa misteriusnya bagi dunia persilatan. Tatkala berada di dalam istana, di segala pelosok ia bisa lihat batu-batu mutiara yang warna warni menghiasi istana tersebut.

Dalam istana itu juga agak istimewa, di ruangan depan kecuali satu ruangan yang sangat luas, masih terdapat banyak kamar-kamar yang agaknya khusus disediakan untuk orang menginap, tapi keadaan ruangan dibagian belakang ada berlainan, gelap dan menyeramkan maka tidak tahu ada yang tahu berapa dalam dan luasnya.

Orang-orang yang berpakaian rombeng dan tadinya mengitari Kim Houw, masing-masing pada masuk ke kamarnya, tidak ada satu pun yang berani masuk kebagian belakang, menampak keadaan demikian, Kim Houw berkata: "Bibi Bwe, bagian belakang mengapa keadaannya begitu gelap dan tidak ada yang tinggal?"

San Hua Sian Lie mengawasi Kim Houw sejenak, akhirnya gelengkan kepala dan menjawab: "Inilah bagian yang misterius dari istana ini, sepuluh tahun berselang, ketika itu aku juga mempunyai perasaan seperti kau, mengapa tidak ada orang yang berdiam di bagian belakang ini? Menurut keterangan mereka, ruang bagian belakang ini terlalu lembab dan dingin, orang tidak tahan berdiam lama di situ, aku tidak percaya, malam itu diam-diam aku mencuri masuk ke situ, siapa nyana baru berjalan kira-kira tiga tumbak jauhnya, darah sekujur badanku seolah-olah seperti beku, badanku dirasakan seperti kaku kedinginan, sekalipun yang mempunyai kekuatan tenaga dalam cukup sempurna, juga tidak dapat menahan dinginnya yang sangat meresap ke tulang-tulang. Untung ayah lantas menggunakan tambang untuk menarik aku keluar dari situ, sehingga terhindar dari kematian."

Kalau hanya soal dingin saja, bagi Kim Houw sudah tidak asing lagi, karena ia tahu betul apa artinya kedinginan. Di Bwee Kee Cung, sudah melewati tiga kali musim dingin hanya dengan selembar pakaian tipis dan sudah rombeng, ada kalanya ia tidak bisa tidur beberapa malam karena kedinginan.

"Sudah tahu kalau tidak berhasil menemukan rahasianya istana ini, mengapa banyak orang itu masih harus berdiam di sini, tidak mau keluar?" Apakah masih ada rahasianya lagi atau menantikan munculnya keajaiban?" menanya Kim Houw pula. "Ah!" San Hua Sian Lie menghela napas, "di sini termasuk aku sendiri, semuanya ada dua orang, kecuali aku yang berkepandaian paling rendah, yang lainnya kebanyakan tokoh-tokoh terkenal atau ketua partai persilatan yang pada kira-kira tiga puluh tahun berselang merupakan jago-jago yang kenamaan di dunia Kangouw. Apa kau kira mereka tidak ingin keluar dan mandah kelaparan dan kedinginan di sini?"

"Tapi, siapa yang bisa melangkah keluar setapak saja dari daerah kira-kira beberapa puluh li di seputaran istana ini? Di sini seolah-olah cuma ada jalan masuk, tapi tidak ada jalan keluar! Mereka sudah memeras otak, membuang waktu beberapa puluh tahun lamanya, toh masih tetap tidak bisa keluar dari tempat berbahaya ini."

"Dengan kampak memotong-motong kayunya, dengan tanda kode, dengan akal apa saja sudah pernah digunakan, tapi akhirnya sia-sia saja. Dengan api, pohon-pohon besar itu tidak mempan dibakar, dengan kampak, pohon-pohon itu terlalu besar untuk dapat dirubuhkan begitu gampang, dengan kode, lebih celaka lagi, asal kau membiluk, tanda itu lantas kelihatan dimana- mana, entah dewa atau setan ataukah itu orang hutan busuk yang berbuat!"

Kim Houw yang tadinya mendengarkan dengan asyik, tatkala San Hua Sian Lie maki orang hutan busuk, hatinya merasa tertusuk, masih untuk wanita itu adalah ibunya Bwee Peng, kalau lain orang mungkin sudah diajak bertengkar.

Kim Houw lantas berdiam, tapi San Hua Sian Lie masih meneruskan kisahnya:

"Di sini, setiap orang adalah tokoh terkemuka dari dunia Kang-ouw, oleh karena itu ingin menyelidiki rahasia terbesar dari dunia Kangouw, maka mereka memasuki Istana Kumala Putih ini."

"Siapa tahu, masuk gampang, tapi keluar sudah kau lihat, itu hwesio berbadan besar dan berwajah kuning, ia adalah Kim Lo Han yang bergelar Paderi Gagu dari gereja Hoan Kak Sie di gunung Kie Lian san. Entah sudah berapa tahun lamanya dia berdiam di sini, mungkin sudah lebih dari empat puluh tahun, karena itu Lato Kiesu dari An-leng yang berbadan kecil pendek, datang di sini sudah empat puluh tahun lamanya, tapi Kim Lo Han sudah lebih dulu berdiam di sini."

"Paderi gagu Kim Lo Han itu bukan benar-benar gagu, ia cuma tidak sembarangan membuka mulut, dalam satu tahun mungkin tidak dapat dengar sekali ia bicara."

"Selain mereka berdua, masih ada Lie Cit nio dan si peluru sakti To Pa thian serta Imam palsu yang lagaknya seperti orang gila, Imam palsu ini yang paling nakal, ia paling suka menggoda orang, tapi hatinya paling baik."

"Kau lihat, itu wanita yang duduk di ujung sana, ia adalah Kim Coa Nio-nio. tongkat kepala ular di tangannya dalamnya kosong terisi oleh seekor ular emas kecil, kalau dilepaskan untuk melukai orang, cepatnya bagaikan kilat. Ular emas itu sangat berbisa, kalau sudah melukai orang tidak ada obatnya. Kim coa Nio-nio itu seorang yang berada di tengah-tengah antara kejahatan dan kebaikan, perbuatannya selalu menurut kehendak hatinya."

"Masih ada lagi si Kacung baju merah, usianya sudah ada delapan puluh tahun, tapi tingginya hampir sama dengan kau, kesukaannya memakai baju berwarna merah!"

Bicara sampai di sini si Kacung baju merah tampak baru keluar dari kamarnya, dengan wajah dingin memandang San Hoa sian Lie dan Kim Houw sejenak, lantas keluar dari istana. Kim Houw menampak si Kacung baju merah itu wajahnya mirip kanak-kanak, tingginya benar- benar hampir sama dengan ia sendiri, cuma sepasang matanya yang dingin. Bajunya yang merah sekarang sudah hampir berobah menjadi putih, bahkan sudah banyak lobangnya.

San Hoa Sian Li menyambung pula: "Hari ini yang belum kelihatan hanya sepasang manusia kukoay dari daerah luar, mereka berdua bulan ini mendapat tugas untuk mencari makanan"

baru bicara sampai di sini, dari luar terdengar suara sorak girang, dua manusia hitam bagaikan baru bara, sambil memikul seekor kijang yang sudah dipanggang, kelihatan berjalan masuk dengan lenggang kangkung.

Dua orang ini bentuk wajahnya sangat luar biasa, matanya lebar hidungnya gepeng, giginya yang putih panjang pada menonjol keluar, usianya sudah enam puluh tahun ke atas. Mereka letakkan hidangan yang berupa seekor kijang itu di atas sebuah meja batu, kemudian berkata: "Lie Cit Nio, hari ini adalah kau yang keluar! Ada kabar apa?"

Ia menunggu sekian lama, tidak mendapat jawaban sudah tahu kalau tidak ada hasil apa-apa.

Terdengar suaranya si Imam palsu yang gila-gilaan: "Hari ini ada arak, hari ini kita mabuk- mabukan!"

"Hai, Imam palsu! Kau jangan mengoceh arak-arak saja, tenggorokanku sudah merasa gatal, aku nanti potong badanmu dan hirup darahmu mungkin baru bisa puas, aku yakin dalam darahmu pasti masih ada rasa araknya!"

Itulah suara Lui Kong, ayahnya San Hua Sian Lie, tapi si Imam palsu tidak mau menyerah mentah-mentah, ia lantas menjawab dengan perkataan yang jail:

"Lui Kong, minum saja air kencingku ! Dalam air kencingku ini masih ada rasa arak peninggalan sepuluh tahun berselang, kalau kau tidak percaya boleh coba-coba aku tidak mendustai kau !"

Lui Kong mendongkol, dengan cepat menerjang padanya, tapi si Imam palsu itu ternyata bergerak lebih gesit. Begitu melihat serangan Lui Kong hampir sampai, ia sudah memutar tubuhnya, sebentar saja sudah tidak kelihatan bayangannya ....

Malam itu Kim Houw yang sedang tidur nyenyak didalam kamar, tiba-tiba terdengar suara orang hutan berbunyi, suara orang hutan bagi yang lainnya sudah merupakan barang biasa, tidak ada apa-apanya yang aneh, tapi Kim Houw yang mendengarkan itu hatinya berdebar-debar, ia buru-buru bangun dan keluar dari istana. Begitu keluar dari pintu istana lantas lari dengan cepatnya, menuju ke arah datangnya suara itu.

Suara itu makin lama makin dekat, tapi Kim Houw ternyata sudah melalui banyak jalan yang berliku-liku, begitu tiba di pinggir rimba, napasnya sudah tersengal-sengal.

Setelah mengaso sebentar, ia meneruskan perjalanannya untuk mencari suara tadi, di satu tikungan sebuah pohon besar ia lihat Lie Cit nio memegang pedang pusakanya sedang bertempur sengit dengan seekor orang hutan betina. Orang hutan betina itu, biar bagaimana adalah seekor binatang, tapi masih bukan tandingannya Lie cit Nio. Cuma karena kulit dan bulunya yang tebal, golok atau pedang biasa saja tidak mudah melukainya, saat itu kelihatan ia menyerang lawannya dengan hebat sedikitpun tidak kelihatan jeri, Kim Houw diam-diam merasa heran.

Tiba-tiba ia lihat di sebuah pohon di belakangnya Lie Cit Nio, ada seekor orang hutan kecil yang terikat di situ, sampai di sini, Kim Houw baru sadar, kiranya orang hutan betina itu karena hendak membela anaknya sampai mati-matian. "Orang hutan busuk, kali ini aku tidak gampang-gampang lepaskan anakmu, kecuali kalau kau mau antar kita orang keluar dari rimba ini, kalau tidak aku akan bunuh mati padanya persis seperti orang hutan yang tua itu !" demikian Lie cit Nio berkata kepada si orang hutan.

Orang hutan betina itu menjerit-jerit, suaranya sangat mengenaskan, agaknya seperti meratap supaya Lie cit Nio tidak berbuat kejam. Kim Houw yang mendengar suara itu hatinya merasa tidak tega, diam-diam ia memutar ke belakang Lie Cit nio, dengan mendadak menghunus pedang pusakanya, lalu memotong tali-tali yang digunakan untuk mengikat si orang hutan kecil.

Tapi tatkala ia menghunus pedang pendeknya, sinarnya yang terang benderang telah mengejutkan Lie Cit Nio dan orang hutan betina, orang hutan betina itu tadinya mengira Kim Houw hendak membunuh anaknya, dengan suaranya yang aneh, menubruk ke arah Kim Houw, sebaliknya Lie Cit Nio dibikin kesima oleh pemandangan itu.

Selagi Lie Cit Nio masih dalam keadaan kesima, orang hutan betina itu sudah menghilang ke dalam rimba sembari menggendong anaknya. Lie Cit nio sambil ketawa dingin mengawasi Kim Houw, bocah cilik yang tadinya ia anggap tidak mengerti ilmu silat sama sekali, maka seketika itu lantas menjadi gusar, lalu berkata dengan suara bengis: "Hm! Aku kira siapa yang berani membebaskan tawananku, kiranya kau si telur busuk kecil! Kalau begitu ucapannya To Pa Thian sedikitpun tidak salah, kau ternyata adalah orang yang begitu macam, aku lihat di tanganmu ada memegang pusaka Ngo Heng Kiam, tentunya kau keturunan Tiong ciu Khek, aku si nenek tua benar-benar harus mengorek biji mataku sendiri, tidak dapat mengenali orang, telur busuk, kita tidak usah membangkit-bangkit urusan tadi pagi, sekarang aku ingin coba berapa tinggi kepandaianmu, berani membebaskan tawananku?"

Kim Houw membebaskan anak orang hutan, hanya karena ia pernah ditolong jiwanya oleh orang hutan betina, untuk membalas budinya orang hutan, makanya berani berbuat begitu nekad, tapi ia tidak nyana dan tidak pikirkan apa akibatnya atas perbuatannya itu. Kini setelah ditegor secara bengis oleh Lie Cit Nio, ia baru sadar, tidak mampu menjawab, ia juga tidak tahu siapa itu orang yang disebut Tiong Ciu Khek oleh Lie Cit Nio, dan tatkala Lie Cit Nio menantang dirinya, ia semakin tidak berdaya, sehingga berdiri kesima.

"Bagus! Usiamu yang masih begitu muda kau pandai jual lagak To Pa Thian katakan kepandaianmu lihai sekali, sebaliknya aku ingin coba-coba, sampai dimana sebetulnya kepandaianmu? Kalau kau tidak mau turun tangan lebih dulu jagalah seranganku!" kata Lie Cit Nio dengan suara dingin.

Ia benar-benar putar pedangnya, dengan pelahan ambil gerakan menikam tepat dibatas alis lawannya, inilah pembukaan ilmu pedang Lie Cit Nio yang dinamakan "It Bie Kiam" gerakannya itu tampaknya lambat sekali sebetulnya mengandung banyak perobahan, asal lawannya bergerak, tidak perlu hendak berkelit atau menangkis, ilmu pedang itu menyerang secara bertubi-tubi, terus mengikuti jejak sang lawan.

Tapi, kali ini salah hitung, ia kira Kim Houw mempunyai kepandaian tinggi sekali, maka begitu bergerak lantas membuka serangannya "It Bie Kiam"

Di luar dugaannya, begitu nampak ujung pedang sudah dekat depan dada Kim Houw, bocah itu masih berdiri mendelong, sedikitpun tidak bergerak, dengan demikian maka ilmu pedang "It Bie Kiam" Lie Cit Nio sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Lie Cit Nio lalu berpikir: "Tidak perduli kau pura-pura atau benar-benar, kuberikan hajaran dulu habis perkara!"

Begitu berpikir, ia lantas bergerak, "Sret!" ujung pedang menggurat dada Kim Houw, sampai baju kapasnya yang tipis robek dan kapasnya berhamburan keluar. Serangannya Lie Cit Nio sudah diperhitungkan baik-baik tapi lagi-lagi telah terjadi hal-hal yang luar biasa di luar dugaannya. Ia sudah anggap kali ini dada Kim Houw akan menyemburkan darah, tapi kenyataannya tidak demikian! Kejadian ini mengejutkan, apakah sang bocah siluman yang menjelma? demikian ia tanya kepada diri sendiri.

Selagi masih terbenam dalam kebingungan di belakangnya tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek, Lie Cit Nio segera menoleh, di belakangnya berdiri si kacung baju merah yang tingginya hampir sama dengan Kim Houw.

Lie Cit Nio membalas dengan ketawa dingin, kemudian berkata: "Manusia yang tidak mirip dengan potongan manusia! apa yang kau ketawai?"

"Lie Cit Nio, kau yang usianya sudah begitu lanjut, ternyata juga berpikiran seperti anak-anak, kau seorang yang namanya sudah cukup terkenal, perlu apa masih menghina satu bocah, apakah tidak malu terhadap dirimu sendiri?" demikian ujar si kacung baju merah itu.

"Oh ya, Tiong Ciu Khek dengan kau rasanya masih ada sedikit hubungan sekarang aku tidak cari orang dari tingkatan muda aku akan cari saja kau, apa kau berani bertanding denganku?"

Selagi si Kacung baju merah hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara orang ketawa besar, kemudian disusul oleh munculnya bayangan orang, segera ternyata adalah si Imam palsu yang kelakuannya gila-gilaan.

Begitu tiba Imam palsu itu lantas mulai mengoceh: "Aku kata, Lie Cit Nio, semua orang toh sudah mendekati ajalnya, apa yang perlu diributi? kalau kita tidak bercekcok, di jalanan ke akhirat nanti mungkin masih ada sobat untuk dijadikan kawan, perlu apa harus mencari tambahan musuh...?"

"Manusia gila" dengan gusar Lie Cit Nio memotong, "kau tak usah memaki orang secara putar- putaran, kalau kau kepingin mati lekaslah bunuh diri sendiri, aku meski sudah tua, tapi masih ingin mempertahankan jiwaku sampai aku bisa keluar dari Istama Kumala Putih ini, untuk melihat-lihat keadaan dunia beberapa tahun lagi!"

"Ahaaa!" si Imam palsu cengar-cengir "Lie Cit Nio, aku si Imam palsu benar-benar kepingin mati, tapi anehnya tidak mau mati-mati juga, Cit Nio, berbuatlah sedikit kebajikan, tusuklah aku sampai mati!"

Lie Cit Nio diejek demikian rupa oleh si Imam palsu, sampai rasanya mau menangis. Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara: "ting, ting, ting", Lie Cit Nio berseru: "Enci Kim Coa! Enci Kim Coa...!"

Kim Coa Nio-nio mengikuti arahnya suara masuk ke dalam rimba.

"Adik Cit, kau jangan ladeni orang gila, mari kita pergi, ada suatu hari, pasti akan rasakan Kim- jie-ku." setelah berkata dari dalam rimba.

Baru saja kedua wanita itu berlalu, Imam palsu juga berjalan keluar setelah lebih dulu tertawa terbahak-bahak.

Kim Houw yang menyaksikan orang-orang itu meski bersama-sama berada dalam Istana Kumala Putih, tapi agaknya tidak akur satu sama lain, maka dalam hati merasa sangat heran, tiba- tiba terdengar suara si Kacung baju merah berkata: "Kim Houw, Tiong Ciu Khek masih pernah apa dengan kau?" Lagi-lagi Tiong Ciu Khek, Kim Houw sama sekali tidak kenal dengan orang yang dimaksudkan.

Ia lihat wajahnya Kacung baju merah itu sudah tidak begitu dingin kecut seperti biasanya, maka lantas menjawab: "Cianpwee, aku tidak kenal Tiong Ciu Khek, namanya saja baru hari ini aku dengar?"

"Kau tidak kenal Tiong Ciu Khek?" tanya si Kacung baju merah dengan wajah heran, "Kalau begitu pedang Ngo heng Kiam di tanganmu itu kau dapatkan dari mana?"

"Ini pemberian dari satu nona, namanya Touw Peng Peng!"

"Ahaaa! nona Touw Peng Peng itu barang kali cucu perempuan Tiong Ciu Khek, Touw pao-ko, cuma sejak 20 tahun lebih berselang, Touw lou-ko sudah pindah ke kanglam bagaimana kau bisa kenal dengan cucu perempuannya?"

Dengan ringkas Kim Houw menuturkan bagaimana Touw Peng Peng bisa berada di Bwee Kee Cung, si kacung baju merah itu kini baru percaya, lalu ajak Kim Houw pulang ke Istana Kumala Putih.

Dalam beberapa hari saja, Kim Houw sudah kenal dengan semua penghuni dalam Istana Kumala Putih itu, malah kadang-kadang suka turun tangan mengadu kekuatan. Yang paling ribut adalah antara Lie Cit Nio dengan To Pa Thian, sedang si Imam palsu yang gila-gilaan itu hampir setiap ada orang cekcok selalu ada bagiannya, cuma mulutnya saja yang kelewat jail, jika benar hendak berkelahi, cuma beberapa gebrakan saja ia sudah kabur.

Diantara orang-orang itu, cuma paderi gagu Kim Lo Han yang tidak ada suaranya, setiap hari duduk bersemedi sambil pejamkan mata, segala urusan sama sekali tidak mau tahu. Kim Houw pernah dengan ia bicara sepatah saja.

Hari itu, Kim Houw menyatakan kepada San Hua Sian Lie, bahwa ia sedikitpun tidak mengerti ilmu silat ia ingin angkat San Hua Sian Li sebagai guru supaya suka memberi pelajaran ilmu silat padanya, agar bisa digunakan untuk melawan musuh dan menjaga diri, siapa nyana permintaannya itu telah membuat San Hua Sian Lie tak senang, katanya: "Selama belum bisa keluar dari Istana Kumala Putih dengan rimbanya yang keramat itu, siapapun tidak ada yang mempunyai kegembiraan untuk membicarakan soal ilmu silat, juga tidak mempunyai kesempatan untuk memberi pelajaran kepada orang lain, apa kau tidak tahu, selama beberapa hari ini, siapa yang menanyakan kau mengerti ilmu silat atau tidak? Toh tidak! Ini berarti, kau mengerti ilmu silat atau tidak di dalam Istana Kumala Putih ini tidak berarti apa-apa, untuk sementara lebih baik jangan ungkat-ungkit soal ini lagi...!"

Sejak pembicaraan itu, Kim Houw telah menemukan kesepian, San Hua Sian Lie tidak mau bicara dengannya lagi, begitu pula yang lain-lainnya, ini benar-benar mengenaskan, ia tidak mengira bahwa akibat dari pembicaraannya itu ada begitu hebat. Yang paling celaka dengan beruntun selama tiga hari, satu orang pun tidak ada yang ajak bicara padanya.

Dalam hati Kim Houw merasa gemas, ia kira karena mengaku dirinya tidak mengerti ilmu silat, maka telah dihina oleh mereka, malam itu, Kim Houw sudah tidak sanggup memikul penderitaan batinnya lagi, ia hendak pergi mencari si orang hutan yang pernah menolong dirinya, meski di dalam musim dingin tapi Kim Houw tidak takut.

Pada saat hendak meninggalkan istana itu, tiba-tiba ia ingat istana bagian belakang, yang menurut kabar bisa membikin orang mati beku, ia ingat sejak mengenakan baju wasiat pemberian Touw Peng Peng, ia mencoba memasuki ruangan itu, asal sendiri waspada, begitu menampak adanya bahaya lantas bisa undurkan diri, Ia percaya tidak nanti bisa celaka di situ, sebetulnya andaikata benar-benar ia haru binasa di situ apa yang dibuat keberatan, ia toh hanya seorang diri, tiada sanak tiada kadang. Karena berpikir demikian, Kim Houw lantas putar tubuhnya dan berjalan masuk ke ruangan belakang, baru berjalan kira-kira satu tumbak lebih, dengan tidak disengaja ia menoleh ke belakang, menampak sebelas orang itu dengan sepasang matanya pada ditujukan pada dirinya, tapi tidak ada satupun yang berani membuka suara.

Kim Houw berjalan sudah cukup jauh, tetap tidak merasakan apa-apa, hatinya mulai besar, pikirnya bukankah kalian tidak berani masuk? Sekarang coba lihat aku!

Berjalan lagi kira-kira empat-lima tumbak di dalam tetap gelap gulita, tiba-tiba terdengar suara orang menjerit. Ia lalu menoleh, tidak jauh di belakangnya ada jatuh menggeletak di tanah tubuhnya si Kacung baju merah yang tinggi badannya hampir sama dengan dirinya sendiri, sedang badannya masih kelihatan menggigil hebat, sepasang matanya memandang dengan sorot mata minta dikasihani.

Kim Houw terperanjat, mengapa ia sendiri sedikitpun tidak merasa dingin.

Untuk menolong si Kacung baju merah, Kim Houw buru-buru balik dan pondong dirinya yang masih seperti anak-anak itu, pada saat mana sepuluh orang terkemuka dari rimba persilatan yang masih berada di depan ruangan, semua pada mengawasi padanya dengan sorot mata terheran- heran, karena siapapun tahu kalau Kim Houw sedikitpun tidak mengerti ilmu silat, apalagi ilmu khikangnya atau lwekang, sungguh tidak habis dipikir, entah dengan ilmu apa ia mampu menahan serangan hawa yang begitu dinging?

Setelah letakkan si Kacung baju merah, Kim Houw balik lagi, bahkan makin jalan makin jauh dan makin dalam.

Akhirnya toh, bayangan Kim Houw lenyap dari pandangan.

Tokoh-tokoh rimba persilatan itu pada terheran-heran, terperanjat, karena mereka pernah menetapkan suatu peraturan, siapa yang berhasil mendapatkan rahasianya Istana Kumala Putih bagian belakang ini, mereka akan akui padanya sebagai Tuannya Istana Kumala Putih ini, dan jika bisa menolong mereka keluar dari Istana itu, mereka akan menurunkan pelajaran atau kepandaian masing-masing kepadanya dan akan dijunjung sebagai majikannya untuk selama-lamanya...

Kim Houw telah berhasil masuk ke dalam Istana Kumala Putih bagian belakang dengan membawa pedang pendeknya yang bisa memancarkan sinar terang, ia dapat memeriksa segala keadaan dalam istana itu.

Ia sedikitpun tidak merasa dingin, ia sendiri tidak tahu bahwa baju wasiat yang dipakainya adalah baju wasiat "Hay-si-kua" pusaka keturunan keluarga Ciok. "Hay-si-kua" nama sejenis binatang dalam air, ukuran badannya biasanya cuma kira-kira lima dim, tapi "Hay-si-kua" ini panjangnya ada satu kaki enam dim, bulat seperti sebuah drum, "Hay-si-kua" yang sudah jadi semacam siluman, seribu tahun berselang, oleh seorang paderi sakti telah dipancing keluar dari bawah es, kemudian dibunuh dan dibeset kulitnya untuk dibikin baju kaus.

Baju kaus "Hay-si-kua" ini, entah sejak kapan jatuh di tangannya keluarga Ciok sehingga menjadi pusaka turun temurun, Ciok Goan Hong cuma tahu bahwa baju itu lemas seperti baja, tidak mempan senjata tajam, kalau dipakai dibadan di musim dingin merasa hangat, tapi kalau di musim panas mempunyai khasiat seperti di atas, juga tidak takut panasnya api.

Kim Houw yang tanpa disengaja telah mendapatkan baju wasiat itu boleh dikata memang jodoh, juga boleh dikata memang peruntungannya atau kemauan Tuhan, sehingga saat itu, ia masih belum tahu bahwa baju wasiatnya itu masih beberapa kali menghindarkan dirinya dari bahaya kematian. Pada saat itu, dengan tangan membawa pedang pendek, Kim Houw sudah memasuki kebagian tengah dari ruangan belakang Istana Kumala Putih itu, ia mendapat kenyataan bahwa keadaan ruangan belakang ini tidak berbeda dengan ruangan depan, hanya kamarnya yang cuma ada empat buah, bahkan luar biasa luasnya, dalam kamar semuanya diperlengkapi dengan tempat tidur, kursi meja dan lain-lainnya, kursi mejanya merupakan barang-barang yang jarang terlihat didalam dunia.

Apa yang mengherankan ialah dalam ruangan yang begitu luas, tidak bisa didapatkan sedikitpun benda yang bersinar. Kim Houw coba merabah-rabah kasur dan kelambu, ternyata dingin seperti besi, ia coba tekan ternyata barang-barang itu pun dilapisi dengan benda yang tipis, yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

Di ruangan belakang, Kim Houw telah dikejutkan oleh mayat manusia yang menggeletak di tanah, mayat-mayat itu keadaannya masih seperti orang hidup, seolah-olah baru meninggal belum lama, melihat keadaan demikian, meski hatinya agak merasa takut, tapi badannya tidak merasakan perobahan apa-apa.

Setelah melalui ruangan belakang, angin dingin telah meniup, meski tidak begitu kencang, ia rasakan mukanya dingin sekali.

Kini Kim Houw baru merasakan hawa dingin, tapi ia tidak tahu, kalau ia tidak mengenakan baju wasiat "Hay-si-kua" yang melindungi badannya, sekalipun ia keturunan dewa, hanya angin itu saja sudah cukup untuk merobah dirinya menjadi manusia es.

Ia baru saja keluar dari ruangan belakang lantas merasa bahwa dirinya sudah memasuki sebuah goa, sebuah goa yang besar dan luas, sekitarnya merupakan dinding putih, dalam goa itu masih ada satu istana kecil.

Istana itu kunamakan Istana "Kong Han Kiong", dalam hati Kim Houw diam-diam merasa geli, didalam goa mana ada Istana Kong Han Cu?

Di sini, karena seputarnya nampak putih, hingga tidak memerlukan penerangan sinar pedang pendeknya lagi, maka ia lantas simpan kembali senjata ini. Siapa tahu baru saja pedang itu dimasukkan dalam sarungnya, dalam goa lantas timbul suatu pemandangan ajaib.

Pintu masuk istana Kong Han Kiong itu bentuknya seperti bundar dan telah mengeluarkan sinar perak yang indah sekali. Di atas dinding ada sinar bintang berkelap-kelip, dan apa yang aneh ialah di bawahnya pintu bundar itu telah menyemburkan halimun tipis, seolah-olah awan di langit, keadaan itu membuat Kim Houw kesima, ia sangsi apakah dirinya sedang berada di planit rembulan ?

Disaat itu, Kim Houw tiba-tiba ingat dirinya Bwee Peng, karena si nona ini tidak pernah berkata padanya bahwa ia telah melamun pergi ke rembulan, maka ia pikir betapa girangnya kalau Bwee Peng berada juga bersama ia saat itu.

Lain bayangan tiba-tiba berkelebat di otaknya, itu adalah bayangan Touw Peng Peng. Ia berpikir lagi: "Aku benar-benar merasa tidak enak terhadap nona Peng Peng, tidak nyana ia begitu baik memperlakukan aku. Bukan saja sudah menolong jiwaku, bahkan ia sudah memberikan aku benda-benda wasiat yang tidak ternilai harganya ini."

Entah berapa lama sang tempo sudah berlalu, Kim Houw baru sadar dari lamunannya. Ia merasakan tangan dan kakinya sudah menginjak halimun tipis tadi, terus berjalan masuk ke dalam istana Kong Han Kiong. Setelah berada di dalam istana itu, matanya terbelalak karena pemandangan yang terbentang di depan matanya, yaitu lima buah peti mati yang berbaris ditengah-tengah ruangan. Peti mati itu bukan terbikin dari kayu biasa melainkan dari bahan putih seperti kaca, di dalam peti terbaring jenazah seorang laki-laki, yang lainnya semua orang perempuan semua mengenakan pakaian model kuno.

Kim Houw memeriksa satu persatu, makin melihat makin heran, karena diwajahnya setiap jenazah semua menunjukkan senyuman, seolah-olah mereka tengah tidur nyenyak, mana mirip dengan orang yang sudah mati beberapa ratus atau mungkin beberapa ribu tahun lamanya ?

Selanjutnya, Kim Houw memeriksa lagi keadaan dalam istana itu, ia menemukan banyak batu permata yang jarang ada di dalam dunia, satu kekayaan yang mungkin tidak ada bandingannya, tapi ia tidak tertarik dan tidak mau ambil sebutir pun. Waktu ia hendak berlalu matanya dapat lihat di atas meja sembahyang ada satu ikat pinggang yang terbikin dari bahan sutra putih, di satu ujung ada terikat sebutir mutiara hitam, dilain ujung ada sebuah batu giok persegi. Kim Houw berpikir: "Aku sudah masuk kemari, tidak bisa balik kembali dengan tangan kosong jika aku kembali dengan tangan hampa, mereka tentunya tidak akan percaya bila aku ceritakan pengalaman ini."

Ia lalu menghampiri dan menjura di depan nya lima peti mati yang terbikin dari bahan kaca itu sembari berkata: "Boanpwe Kim Houw, kedatangan Boanpwe kemari bukan karena harta, tapi sebaliknya boanpwe juga tidak bisa kembali dengan tangan kosong, maka Boanpwe agak lancang tangan, mohon Cianpwe menghadiahkan sebuah ikat pinggang ini sebagai tanda peringatan!"

Baru saja dia tutup mulutnya, dalam goa itu terdengar suara berkumandang, "Sebagai peringatan."

Kim Houw girang, ia lantas ambil ikat pinggang itu dan dilibatkan pada pinggangnya sendiri, lalu menjura lagi dan berlalu.

Kim Houw tadi sudah coba menyentuh banyak benda yang ada di situ, semua umumnya keras dingin seperti besi, tapi heran ikat pinggang itu ternyata masih tetap lemas, juga tidak ada rasa dingin.

Sekeluarnya dari Istana Kong Han Kiong, Kim Houw kembali lagi ke dalam goa bagian belakang Istana, tapi goa itu ternyata adalah goa buntu. Cuma dari bawahnya goa, ada beberapa lobang kecil yang menembus siliran angin. Hingga Kim houw sampai menggigil dan lantas lari keluar.

San Hua sian Lie dan sebelas tokoh dunia persilatan lainnya, dengan mata tidak terkesiap menjaga di pintu masuk dari istana bagian belakang, sampai pun Hay Lam siang Koay yang bertugas mencari barang makanan juga tidak mau berlalu. Tapi mereka tidak usah menunggu lama, hanya menunggu satu hari saja akhirnya mereka telah mendapat lihat setitik sinar sedang bergerak.

Si Kacung baju merah dan Kim Coa Nio-nio telah berteriak dengan berbareng karena mata mereka yang paling tajam.

"Astaga! bocah itu benar-benar ada pelindungnya, ia ternyata tidak binasa!"

"Hai dia malah membawa barang apa itu? Aaaaagaknya seperti satu guci arak!"

"Apa? Guci arak?" si Imam palsu dan Lui Kong berseru berbareng. Memang benar seguci arak, entah dari mana datangnya kekuatan. Kim Houw tatkala hendak berlalu dari goa itu ia bisa memanggul seguci arak, dengan sempoyongan keluar dari Istana belakang.

Belum tiba di pintu Istana depan, Imam palsu sudah tidak sabar, dengan loncat ia menyerbu guci arak yang dipanggul oleh Kim Houw. karena ia menggunakan tenaga terlalu kuat, membuat Kim Houw sempoyongan hampir jatuh terlentang di lantai. Tapi Kim Houw tidak gusar, karena ia akan menjelaskan rahasianya dalam istana rimba itu, yang sudah lama merupakan suatu teka-teki bagi mereka.

Kecuali si Imam palsu dan Lui Kong yang repot membuka guci arak untuk segera diminum, yang lainnya pada mengerumuni Kim Houw minta ia menceritakan keadaannya Istana belakang itu.

Baru saja Kim Houw hendak mulai, Imam palsu tiba-tiba berseru: "Bocah cilik, bagaimana semua menjadi es?"

"Aku lupa memberitahukan kepadamu di dalam istana itu semua barang seperti es, kalau kau gunakan api untuk menggarang mungkin akan jadi arak yang harum, tapi aku tidak berani menjamin, karena arak itu bukan aku yang bikin !"

Selanjutnya Kim Houw lalu menceritakan dengan jelas apa yang ia lihat dan dengar dalam istana itu, ketika ia bercerita kebagian masuk dalam Istana Kong Han Kiong, si hwesio gagu (Ah ceng) yang sepanjang tahun belum pernah buka mulut, tiba-tiba telah membuka mulutnya dan berkata dengan suaranya yang nyaring seperti genta: "Kim Lo Ah Ceng dari gereja Hoat Kak Sie di gunung Kie Lian-san menjumpai majikan baru dari Istana Kumala Putih!" sehabis berkata, ia lantas berlutut di hadapannya Kim Houw.

Perbuatan Kim Lo Han ini telah membuat semua orang pada terheran-heran.

Sebetulnya cerita Kim Houw tadi masih sebagian orang yang merasa sangsi akan kebenarannya tapi dengan kelakuannya Kim Lo Han itu, tidak seorang yang berani tidak percaya.

Dengan tidak resmi si paderi gagu itu merupakan kepala dari rombongan sebelas orang itu, sebabnya karena ia merupakan orang yang paling lama berdiam di Istana Kumala Putih itu.

Orang-orang yang lebih dulu masuk dari ia, setelah binasa adalah paderi gagu itu yang mengurusi jenazahnya, jumlahnya paling sedikit sudah sepuluh orang, kini Kim Lo han telah berlutut, inilah peraturan yang ia sendiri telah tetapkan, siapa yang berani tidak mentaati?

Maka sekejap saja, semua orang sudah lantas pada berlutut, suara tiancu, tiancu atau majikan, majikan ! terdengar riuh, hingga membuat Kim Houw kelabakan.

Akhirnya, ia juga mengikuti orang banyak turut berlutut untuk membalas hormat, sesudah itu, ia lantas menarik tangan San hua Sian Lie untuk menanyakan sebab musababnya.

San Hua Sian Lie ceritakan padanya bahwa peraturan itu telah ditetapkan oleh semua orang yang ada di Istana Kumala Putih, bagi siapa yang berhasil memasuki Istana bagian belakang, semua akan menjunjung padanya sebagai majikan Istana Kumala Putih ini ....

Selanjutnya, San Hua Sian Lie itu berkata: "Cuma, Tiancu setelah berhasil menduduki kursi kerajaan dalam istana Kumala Putih ini, harus mempunyai kewibawaan sebagai majikan juga harus bisa memecahkan segala kesulitan yang dialami oleh orang-orang bawahannya. Kalau kau dapat membawa keluar kami semua dari rimba keramat yang mengarungi Istana ini, bukan saja kami akan mengajarkan semua kepandaian yang kami punyai malah seumur hidup kami akan menghamba kepadamu".

Baru saja San Hua sian Lie habis berkata, disana Kim Lo Han sudah membuka mulut untuk kedua kalinya: "Lima puluh tahun berselang, ada seorang locianpwe yang masuk ke dalam istana itu di belakang Istana itu ada sebuah istana lagi yang bernama Istana "Kong Han Kiong." Ia hanya lihat tiga huruf "Kong Han Kiong" saja, segera sudah tidak tahan oleh dinginnya hawa yang menghembus dari situ dan lantas keluar lagi, ketika berada di Istana yang kedua, locianpwe itu keadaannya sudah berbahaya sekali. Oleh sebab itu maka tadi ketika Tiancu menyebut Kong Han Kiong, aku Kim Lo Han lantas berani memastikan kalau keteranganmu itu tidak salah. Aku masih ingat benar tentang Istana Kong Han Kiong itu, tapi aku belum pernah mengatakan kepada siapa pun juga!"

Semua orang setelah mendengarkan keterangan Kim Lo Han, baru kelihatannya tunduk benar- benar.

Selanjutnya, Kim Houw lalu menuturkan segala apa yang pernah diketemukan dan disaksikan dalam Istana "Kong Han Kiong" itu, akhirnya, ia membuka ikat pinggang sutra yang dapat dia ambil dari dalam Istana itu dan diperlihatkan kepada mereka.

"Ini adalah ikat pinggang yang mungkin paling tidak berharga diantara begitu banyak barang- barang berharga" demikian katanya.

"Tidak! Tiancu, kau salah terka!" kata Lao toa dari Siang Koay yang kebetulan jatuh gilirannya untuk memeriksa benda itu, "Ikat pinggang ini, nampaknya meski tidak ada apa-apanya yang aneh, tapi sebetulnya benda yang terbuat dari urat ular yang dinamakan Teng Coa, sejenis ular yang cuma bisa didapatkan di dasar laut. Urat ini adanya di bagian bawah tenggorokan oleh karena urat ular itu setiap seratus tahun cuma tumbuh satu dim, maka ikat pinggang yang terdiri dari uratnya Teng Coa yang berusia beberapa ribu tahun tuanyaOleh karena ular Teng coa itu

juga dianggap sebagai sejenis dengan naga, maka ada orang yang menamakan "Liong Kin" atau urat naga. Tiancu jangan pandang rendah padanya, kelak jika ilmu silat Tiancu berhasil mendapatkan kemajuan, Tiancu nanti akan tahu sendiri betapa faedahnya urat naga ini bagi Tiancu. Tadi Tiancu mengatakan benda yang paling tidak berharga diantara begitu banyak barang- barang berharga, sebaliknya aku akan mengatakan bahwa tumpukan barang permata, seperti gunung tingginya juga tidak bisa menandingi harganya ikat pinggang ini."

Saat itu, ikat pinggang tersebut sudah berada di tangannya seorang Kie-su, ia adalah seorang terkaya di daerah Koan-goa, barang permata apa saja yang ia belum pernah lihat? Tapi ketika ia mendengar keterangannya siang Koay yang begitu pandang tinggi ikat pinggang yang terbikin dari urat naga ini, lantas ia memeriksa dengan teliti sekali. Oleh karena saking telitinya, sampai ia menemukan lain benda yang tadinya tidak diperhatikan oleh yang lainnya.

"Bak-tah! (nyali hitam) diantara kalian siapa yang pernah liat Bak-tah?" demikian ia berseru

kaget dan menanya kepada yang lainnya.

Siapa yang pernah lihat Bak-tah? Orang-orang yang ada di situ kecuali Kim Houw, hampir semuanya adalah orang yang sudah berusia tujuh-delapan puluh tahunan, sekalipun belum pernah melihat, tapi semuanya sudah pernah dengar. Bak-tah, adalah nyalinya ular hitam yang dinamakan Thie-bak, ular ini langka sekali di dunia, apalagi nyalinya, hampir semua kekuatan ular tersebut berpusat pada nyalinya. Ular Thie-bak ini sangat licin dan nekad, begitu merasa dirinya dalam bahaya dan sukar lolos, segera ia bikin hancur nyalinya sendiri hingga binasa.

Seandainya bisa mengeluarkan nyalinya ular Thie-bak itu, kapan tertiup angin, nyali itu lantas beku dan berubah menjadi keras laksana baja, yang tidak dapat dibelah dengan pisau, batu, golok atau barang tajam lainnya. Khasiatnya nyali ular ini dapat menolak segala penyakit berbisa, tidak perduli racun jenis apa saja di dalam dunia jika menggunakan nyali ular itu direndam air segelas, dalam waktu satu jam lebih, racunnya pasti terbasmi habis.

"Apa itu nyali Bak-tah segala? Aku justru tidak percaya, coba lantas bisa ketahuan!" Kim Coa Nio-nio tiba-tiba berseru.

Sang Kie-su meski dikejutkan oleh penemuannya tentang nyali ular Bak-tah itu, namun juga cuma berdasarkan atas pengalaman dan pendengarannya saja, sehingga tidak mempunyai pegangan yang pasti tentang kebenarannya. Karena tahu bahwa dalam gagang tongkatnya Kim Coa Nio-nio itu ada tersimpan ular emas sangat berbisa, ia juga kepingin membuktikan sendiri, maka ia lantas buru-buru serahkan ikat pinggang urat naga itu kepadanya.

Kim Coa Nio-nio menyambuti, tapi nampaknya acuh tak acuh, lantas barang itu diletakkan di atas kepala tongkatnya, tangan kanannya membuka pesawat rahasianya, kepala tongkat kelihatan terbuka sedikit, mulutnya Kim Coa Nio-nio kelihatan meniup-niup.

Tidak antara lama, di kepala tongkat itu tiba-tiba kelihatan muncul kepalanya seekor ular emas sebesar jari tangan, lidahnya yang halus seperti jarum tampak bergoyang-goyang tak berhenti.

Tatkala dapat lihat nyali ular Thi-bak diujung ikat pinggang urat naga, ular itu segera melesat keluar, badannya panjangnya cuma tujuh-delapan dim, dengan kencangnya melibat ikat pinggang tersebut, sedang kepalanya menghadap ke arah nyali hitam itu dan lidahnya tidak berhenti- hentinya menjilati, girangnya seolah-olah menemui makanan yang tak tersangka-sangka.

Menyaksikan kejadian itu, Kim Coa nio-nio terperanjat, ia buru-buru tarik kembali ular emasnya ke dalam tongkatnya, karena ular emas itu paling suka nyalinya ular thie-bak, tapi ia juga musuhnya yang paling berbahaya jika ular emas itu dibiarkan menjilat terus setengah jam saja, ia segera tamat riwayatnya.

Kim Coa Nio-nio serahkan kembali ikat pinggang mujizat itu kepada Kie-su sambil anggukan kepalanya suatu tanda bahwa benda itu memang benar nyalinya ular Thie-bak.

Dengan kesaksian Kim Coa Nio-nio ini, semua orang kembali dibikin tercengang, kecuali Kim Houw yang tidak mengerti apa-apa, ia cuma tahu bahwa "urat naga" itu bisa digunakan untuk senjata menjaga diri, maka ia suka padanya. Tentang khasiatnya nyali ular Thie-bak itu, ia tidak tahu, akhirnya adalah San Hua Sian Lie yang memberitahukan padanya, ia baru mengerti apa sebabnya semua orang itu pada merasa terheran-heran terhadap barang kecil hitam itu.

Hari sudah malam, arak yang sudah dipanasi oleh si Imam palsu dan Lui Kong juga sudah panas, seluruh ruangan Istana Kumala Putih itu kini telah penuh dengan harumnya arak. Sekejap saja, si Imam Palsu dan Lui Kong sudah mabok tidak ingat daratan, yang lainnya minum tidak banyak, cuma Kim Lo Han dan Kim Houw yang tidak minum.

Malam itu, dengan diam-diam si Kacung baju merah ajak Kim Houw keluar, di tepi sungai mereka duduk. Si kacung baju merah kembali minta Kim Houw perlihatkan ikat pinggang "urat naga" nya.

"Ikat pinggang ini merupakan benda mustika semuanya, kalau mataku belum lamur, baru giok persegi itu rasanya lebih berharga dari pada "urat baga" dan "nyali ular Thiebak", tunggu aku buktikan dulu," demikian katanya, lalu menyelupkan batu giok itu ke dalam air sungai. Begitu batu giok itu terendam di air sungai, lantas memancarkan sinarnya yang putih terang luar biasa indahnya, sampai dasar sungai juga kelihatan terang. "Nyata mataku masih belum lamur, Tiancu, apakah kau dapat lihat, dibalik bayangan batu giok itu ada terdapat tulisan beberapa huruf kecil? Coba kau lihat dengan teliti... Itu huruf-huruf kecil seperti jarum, apa kau dapat lihat?"

Kim Houw pandang dengan seksama, tulisan itu merupakan huruf-huruf kecil seperti kepala jarum, bunyinya ternyata seperti berikut: "Langit dan bumi menetapkan permulaan, benda menciptakan Im dan Yang, kalau otak jernih dan terang, darah dan kekuatan senantiasa terpelihara..."

"Aaa! Aku lihat! Aku sudah lihat!" berseru Kim Houw.

Si Kacung baju merah juga merasa girang Kim Houw dapat lihat huruf-huruf itu.

"Bagus kau sudah lihat huruf-huruf itu, kau harus bisa ingat baik-baik dan hapalkan sampai matang." demikian pesannya.

Buat soal lain, mungkin Kim Houw masih ragu-ragu tapi tentang menghapalkan tulisan, baginya sangat mudah sekali, beberapa puluh huruf itu sekejapan sudah masuk semua diotaknya.

Si Kacung baju merah serahkan kembali ikat pinggang mujizat itu kepada Kim Houw. "Sepanjang apa yang aku tahu, batu giok ini namanya Han Bun Giok dan beberapa puluh

huruf kecil itu ada mengandung pengertian tentang ilmu tenaga dalam yang luar biasa tingginya, namanya Han Bun Ciaw-khi. Aku tanggung dalam waktu tiga tahun ilmu tenaga dalammu Han Bun Ciaw-khi dapat menandingi separuh dari orang-orang yang ada di dalam Istana ini. Untuk membalas budimu yang menolong jiwaku tempo hari, aku akan ajarkan ilmu itu kepadamu, asal kau belajar dengan betul. Cuma kau harus melatih terus, tidak boleh berhenti," kata si Kacung baju merah, dan kemudian menjelaskan bagaimana caranya mempelajari ilmu tenaga dalam yang dimaksudkan itu.

Selanjutnya, ia mengajarkan Kim Houw caranya bersemedi, dengan tidak bosan-bosannya ia memberi petunjuk sampai dibagian sekecil-kecilnya.

Akhirnya, si Kacung baju merah itu berkata: "Sungguh kebetulan adalah kau yang mempelajari Ilmu Han Bun Ciaw-khi ini, sebab kalau orang tidak mempunyai kekuatan untuk menahan hawa dingin, sekalipun hendak belajar juga tidak mungkin bisa. Sejak hari ini, paling baik setiap pagi dan sore kau pergi kebagian belakang dari Istana Kumala Putih ini, kau harus mencari tempat yang paling dingin hawanya, duduk dan memilih ilmumu menurut petunjukku, hasilnya akan berlipat ganda."

Sehabis berkata, si Kacung baju merah itu berlalu meninggalkan Kim Houw sendiri di tepi sungai.

Kim Houw mencoba sendiri rendam batu gioknya ke dalam air, tapi kali ini ternyata sudah tidak memancarkan sinarnya lagi, begitu pula hurufnya tidak kelihatan sama sekali, hingga Kim Houw diam-diam merasa heran.

Ia tidak tahu bahwa batu giok tadi dapat mengeluarkan sinar terang, adalah di Kacung baju merah yang menggunakan kekuatan tenaga dalamnya, untuk memaksa batu giok itu memancarkan sinar.

Si Kacung baju merah dimasa anak-anak pernah mendengar penuturan dari sucounya, hingga ia mengerti rahasianya supaya batu giok itu dapat memancarkan sinarnya. Kalau bukan karena kebetulan si Kacung baju merah mengerti rahasianya itu, ilmu Han Bun Ciaw-khi mungkin akan lenyap dari muka bumi untuk selama-lamanya.

Perbuatan Kim Houw tadi hanya ketarik oleh pikiran yang kepingin tahu saja, setelah mengetahui bahwa batu giok itu sudah tidak bisa memancarkan sinarnya lagi, ia lantas simpan kembali. Ia bersyukur karena beberapa huruf kecil yang terdapat dalam batu giok itu sudah dihafalkan seluruhnya.

Tepat pada saat itu, di belakangnya terdengar suara berkeresekan, Kim Houw menoleh, ia melihat orang hutan kecil yang beberapa hari lalu pernah ia tolong jiwanya, tengah menggapai- gapaikan tangan ke arahnya. Ia lalu menghampiri, selagi hendak menanya apa yang telah terjadi, orang hutan kecil itu agaknya sudah tidak sabaran, dengan agak gelisah ia menarik tangan Kim Houw diajak masuk ke dalam rimba.

Kim Houw dibikin bingung oleh kelakuan orang hutan kecil itu, tapi menampak sikapnya yang begitu gelisah ia membiarkan dirinya dituntun.

Kim Houw diajak berputar-putar didalam rimba, sampai kepalanya merasa pusing, tapi binatang kecil itu masih belum mau berhenti.

Berjalan kira-kira setengah jam lagi, tiba-tiba Kim Houw melihat orang hutan betina itu rebah di bawah sebuah pohon besar. Wajahnya pucat, napasnya memburu, sekujur badannya gemetaran, ia kaget, lantas menghampiri.

Kim Houw yang tidak mengerti apa-apa, mana bisa memberikan pertolongan? Ia cuma dapat lihat kedua matanya binatang itu membelalak, oleh karena tidak bisa bicara, ditanya pun percuma.

Selagi kebingungan, ia lihat matanya orang hutan betina itu mengawasi ikat pinggang mujijat di pinggangnya, Kim Houw segera mengerti apa maksudnya. Buru-buru ia membuka ikat pinggangnya, orang hutan betina itu matanya dialihkan kepada orang hutan kecil, gerakan mana dapat dimengerti oleh Kim Houw segera ia menyerahkan ikat pinggangnya kepada anak orang hutan itu.

Si kecil setelah menyambuti ikat pinggangnya Kim Houw, di bawah ibunya, akhirnya berhasil memasukkan nyali ular Thio-bak yang ada di ujung ikat pinggang ke dalam mulut ibunya.

Nyali ular itu begitu masuk ke dalam mulut, binatang itu segera pejamkan kedua matanya, cuma sekejap saja, napasnya sudah mulai kelihatan reda, liwat lagi sejenak, badannya tidak gemetaran lagi! Kini Kim Houw baru mengerti bahwa orang hutan itu pasti terkena racun jahat.

Binatang itu tiba-tiba lompat bangun dengan kedua tangannya ia letakkan ikat pinggang itu diatas kepalanya, lalu berlutut di depan Kim Houw sambil cecuitan, Kim Houw membimbing bangun padanya, tapi mana bisa bergerak?

Kim Houw anggap binatang itu tentunya merasa berterima kasih kepada ikat pinggangnya yang mujijat itu, tapi ia juga heran, bagaimana binatang itu bisa tahu kalau Bak-tha bisa menghilangkan racun?

"Apakah kau terkena racun?" tanya Kim Houw sambil ambil ikat pinggangnya.

Orang hutan itu berbangkit dan ajak Kim Houw ke satu lembah yang curam, di sana terdapat sebuah goa, di mulutnya goa itu penuh kabut asap, hingga tidak bisa dilihat bagaimana keadaan dalam goa itu. Kim Houw diajak menuju ke goa tersebut tapi masih terpisah masih sejauh tak kira-kira berapa tumbak jauhnya, orang hutan itu tidak berani maju lagi, cuma menuding mulut goa sambil cecuitan. Kim Houw ternyata bernyali besar, tanpa pikir panjang lagi lantas masuk dengan sendirian.

Terpisah dari mulut goa kira-kira dua tumbak jauhnya, tiba-tiba terdengar suara jeritan kaget, dari atas melayang turun sesosok bayangan orang yang merintangi majunya Kim Houw, orang itu ternyata Kim Coa Nio-nio.

"Tiancu lekas mundur," kata Kim Coa Nio-nio dengan paras kuatir. "Dalam goa ini ada binatang kalajengking besar yang sangat berbisa, orang hutan itu baru kena hawa racunnya saja sudah hampir binasa. Kalau saja terkena diantuk, Bak-cha Tiancu meski adalah barang mustika yang bisa memusnahkan segala macam racun, mungkin juga sudah tidak keburu menolong.

Sudah banyak tahun aku belum berhasil menyingkirkan binatang berbisa itu."

Kim Coa Nio-nio yang Kim Houw kenal sebagai seorang yang sudah bisa main-main dengan ular beracun, dan toh masih kelihatan begitu takut, dalam hati mengerti kalau dalam goa itu benar- benar ada binatang sangat beracun, maka lantas hendak balik mencari orang hutan tadi, tapi si orang hutan bersama anaknya melihat Kim Coa Nio-nio sudah lari jauh-jauh.

Dengan sangat hati-hati Kim Coa Nio-nio melindungi Kim Houw, matanya memandang ke arah goa yang dipenuhi kabut tebal, lewat sejenak, ia baru berkata kepada Kim Houw: "Tiancu, menurut yang aku tahu, binatang kalajengking itu masih belum jadi, barangkali masih memerlukan waktu beberapa puluh tahun lagi, baru berani berbuat jahat. Tapi dalam goa yang didiami oleh binatang berbisa itu, pasti ada benda mustikanya yang luar biasa, kalau tidak, tidak nantinya binatang itu memilih tempat yang berada di lembah curam ini."

Melihat Kim Coa Nio-nio berkata begitu sungguh-sungguh, Kim Houw lalu menjawab sambil tertawa: "Kim Coa Nio-nio, di istana Kong Han Kiong, benda mustika ada bertumpuk-tumpuk seperti gunung, segala barang permata, mutiara luar biasa menakjubkan dan tidak ternilai harganya. Kau inginkan apa? Sembarang waktu aku bisa bawa kau kesana, barangkali apa yang kau dapat sebutkan namanya, di sana juga ada."

Kim Coa Nio-nio tahu kalau Kim Houw salah faham.

"Kau karena usiamu masih kelewat muda, pengalamanmu dalam dunia Kang-ouw masih kurang. Benda mustika yang kau katakan tadi bagi kita orang yang mempunyai kepandaian ilmu silat sama sekali tidak dipandang dimata. Mustika yang ku maksudkan, adalah barang mustika yang diciptakan oleh kekuatan hawanya alam. Untuk orang-orang yang meyakinkan ilmu silat, barang mustika itu ada banyak faedahnya. Binatang kalajengking menunggu barang pusaka dari alam itu bukan tidak ada maksudnya, karena kalau barang mustika itu sudah "matang" betul-betul, ditelan olehnya bisa menambah kecepatannya supaya lekas "jadi" dan lalu keluar untuk mengganas. Cuma kita masih belum tahu benda mustika apa sebetulnya yang ada didalam goa itu? Jika dilihat kabut tebal dimulut goa yang selama beberapa hari ini tertampak nyata, orang hutan itu mungkin juga tahu, maka ia ingin menyerbu ke dalam goa untuk merampas, sayang tidak berhasil, bahkan dirinya sendiri yang terluka kena racun."

Baru pertama kali ini Kim Houw mendengar namanya barang mustika dari alam, ia tak tahu apa artinya barang demikian. Ia tidak menanyakan lebih jauh, bersama Kim Coa Nio-nio ia balik ke dalam istana.

Mereka berdua baru berjalan beberapa tindak dari pintu istana mendadak terdengar suara saling bentak amat riuh. Kadang-kadang diselingi dengan suara beradunya senjata tajam. sehingga mereka terkejut. Kim Coa Nio-nio tahu bahwa Kim Houw tak mengerti ilmu mengentengkan tubuh, maka ia lantas kempit sang bocah dan dibawa kabur laksana terbang. Sebentar saja mereka sudah sampai di dalam istana.

Pada saat itu, di depan pintu istana ada tiga pasang orang sedang bertempur. Satu pemuda seperti anak sekolah yang berwajah putih bersih, berusia kira-kira delapan belas tahun, wajahnya mirip dengan Kim Houw, tangannya memegang sebilah pedang yang diperlengkapi dengan gaetan, sedang bertempur sengit dengan To Pa Thian. Sikapnya tenang, gerakannya cepat bagaikan mengalirnya air dan jalannya awan.

Orang kedua adalah satu lelaki berbadan pendek kate, berusia kira-kira empat puluh tahun lebih. Meski orangnya pendek kate, tapi potongannya rapi, ia tengah bertanding dengan Lie Cit Nio.

Pasangan ketiga yang mengejutkan dan mendebarkan hati Kim Houw, apa sebabnya? Kiranya orang itu adalah Ciok Goan Hong, jenggotnya yang putih dengan baju panjangnya yang berwarna putih pula tengah beterbangan, tampak matanya melotot, wajahnya merah padam, agaknya sedang kalap.

Ternyata tandingan Ciok Goan Hong ini adalah si Imam palsu, yang lakunya seperti orang setengah gila. Caranya berkelahi tidak mirip dengan orang tengah berkelahi, tapi lebih pantas kalau dikatakan sedang mempermainkan lawannya, sampai Ciok Goan Hong merasakan dadanya seperti mau meledak.

"Imam busuk, kepandaian tanganmu aku orang tua sudah mengenal baik, sekarang kita adu senjata tajam untuk menentukan siapa yang lebih unggul!" tiba-tiba Ciok Goan Hong berseru dan segera menghunus pedangnya.

Si Imam palsu menampak Ciok Goan Hong mendadak menghunus pedangnya dan menantang itu pedang, lantas menyahut dengan ejekannya: "Imam palsu seumur hidupnya belum pernah menggunakan senjata tajam, dengan senjata apa aku dapat bertanding dengan kau?"

Ia tundukkan kepala seperti sedang berpikir keras, tapi juga seperti tengah mencari senjata apa yang cocok untuk dipakai.

Tiba-tiba menampak Kim Coa Nio-nio berdiri disamping dengan Kim Houw, ikat pinggang Kim Houw tengah mengeluarkan sinar dan benda itu telah menarik perhatiannya.

"Baiklah! Imam palsu sekarang hendak menggunakan ikat pinggangnya saja, untuk main-main dengan kau bocah cilik yang baru datang ke istana ini!" demikian katanya sembari membuka ikat pinggangnya.