Istana Kumala Putih Jilid 01

 
Jilid 01

Di daerah pegunungan Tiang Pek San daerah San See selatan, ada terdapat sebuah rimba lebat, rimba itu ada begitu luas di sekitarnya dikitari oleh puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi ke langit. Saking lebatnya rimba itu, membuat keadaan di situ sangat gelap, sunyi dan menyeramkan.

Didalam rimba tersebut ada terdapat sebuah istana yang sangat misterius, istana itu dinamakan ISTANA KUMALA PUTIH.

Anehnya didalam rimba persilatan, siapa saja tidak perduli ia adalah tokoh atau jago ternama di kalangan Kangouw, kalau

berbicara tentang istana itu, lantas pada ketakutan setengah mati. selama beberapa ratus tahun lamanya, banyak jago-jago dari berbagai golongan, baik dari kalangan hitam maupun putih. semua kepingin tahu rahasianya istana Kumala putih tersebut. tapi selama itu, tidak ada seorangpun yang berhasil membuka tabir yang menutupi rahasia istana dalam rimba tersebut, sebabnya, begitu mereka masuk ke dalam rimba, lantas tidak terdengar lagi kabar ceritanya.

Maka Istana Kumala Putih itu tetap merupakan satu rahasia bagi dunia persilatan. Dan rimba itu merupakan tempat keramat yang ditakuti oleh setiap orang. Suatu malam di musim dingin, salju turun sangat lebat, angin meniup kencang.

Pada saat itu, di depan batu nisan salah satu kuburan, ada seorang anak laki-laki tanggung berusia kira-kira 15 tahun, sedang mendekam di tanah, dia tidak menangis, juga tidak mengeluh, dia cuma berdoa "Ciok Yaya, aku tidak bisa menunggui kau lagi, aku mengawani kau sudah 3 tahun lamanya, untuk sementara aku cuma bisa mengawani kau sekian waktu saja, karena keluarga Ciok tidak mengijinkan aku tinggal lebih lama lagi, aku harus pergi! kemana saja aku pergi, aku mohon roh Yaya di alam baka, seperti juga dimasa hidup, tetap menyayangi diriku! melindungi aku!Ciok Yaya, aku hendak pergi, harap kau juga suka melindungi adik Bwee Ki

Peng, karena ia juga patut dikasihani seperti juga aku! Ia sudah tidak berayah, juga tidak beribu!

....Ciok Yaya.!"

Anak laki-laki itu, she Kim namanya Houw, sejak ia mengerti urusan, terus dibesarkan dibawah perlindungannya Ciok Yaya, ia tidak berayah, juga tidak beribu, tapi Ciok Yaya sayang sekali padanya. Ia bukannya tidak mempunyai ayah bunda, cuma, terhadap asal usulnya sendiri ia agak gelap! Ia juga sudah pernah menanyakan kepada Ciok Yaya, tapi Ciok Yaya belum pernah mau menceritakan asal usulnya. Sungguh tidak beruntung, Ciok yaya telah meninggal dunia dikala ia baru berumur 11 tahun. Kematiannya Ciok yaya, merupakan suatu pukulan yang hebat bagi dia, masa Ciok yaya masih hidup, ia boleh dibilang sangat dimanja dan bahkan lebih disayang dari pada cucunya Ciok yaya sendiri

Setelah Ciok yaya meninggal dunia, ia bukan saja sudah kehilangan orang yang menyayang padanya, bahkan kedudukannya lebih buruk dari pada anaknya seorang budak. Sudah 3 tahun itu, entah berapa banyak siksaan dan hinaan yang sudah ia terima. Terutama Ciok Liang boleh dikata sangat benci sekali padanya, karena dianggapnya telah merebut kasih sayang Ciok yaya. Dimasa Ciok yaya masih hidup, Ciok Liang tidak berani terhadap Kim Houw, tapi sekarang Ciok yaya sudah tiada, maka ia selalu mencari alasan untuk menyiksa Kim Houw. Begitu mendapat alasan, ia lantas menghajar dengan rotan. Tiada heran akhirnya Kim Houw tidak tahan lagi, ia harus meninggalkan Ciok..... Pada saat sedang hujan salju lebat dan angin meniup keras Kim Houw diam-diam mengunjungi kuburannya Ciok yaya untuk berpamitan. Di badannya cuma mengenakan selembar pakaian tipis yang sudah rombeng, tapi tahan berlutut di atas salju, sedikitpun tidak kelihatan menggigil, apakah disebabkan karena badannya yang kuat tidak takut hawa dingin? Bukan, itu adalah disebabkan karena kesengsaraan dalam hatinya ada lebih hebat beberapa puluh kali daripada dinginnya salju dan angin sehina ia melupakan itu semua.

Tiba-tiba dari belakang gundukan tanah yang sudah tertiup salju lebat, muncul seorang gadis berusia kira-kira hampir sebaya dengan Kim Houw, kalian kerudung warna merah darah yang sangat besar telah menutupi hampir seluruh kepala dan tubuhnya, hanya wajahnya yang berpotongan seperti buah apel yang kelihatan saat itu tampak merah pucat karena tiupan angin dingin.

Gadis cilik itu begitu muncul lantas berseru "Houw-jie aku tahu kau pasti ada di sini.!"

Kim Houw nampaknya terperanjat, mendadak ia angkat kepala, ketika sudah melihat tegas siapa yang berkata padanya, wajahnya segera berubah, agaknya ia benci sekali terhadap si gadis, sama sekali tidak mau ambil pusing, si gadis menghampiri, "Houw-jie, apakah Liang kembali memukul kau?" tanyanya.

Gadis itu agaknya dapat memahami perasaan Kim Houw, ia tahu kalau kini Kim Houw sedang ngadat kecuali yaya dimasa masih hidupnya, yang bisa mengubah adatnya.

Si gadis dengan tenang berdiri di sisinya Kim Houw yang sudah seperti kaku, sungguh heran mengapa ia justru menyukai bocah yang adatnya keras, angkuh dan sedikitpun tidak mengerti ilmu silat seperti Kim Houw ini? ia ingat, bagaimana ketika ayahnya mengantar ia ke Bwee Kee Cung, rumahnya keluarga Ciok, kothionya, untuk belajar ilmu silat, namanya saja belajar silat tapi sebetulnya supaya ia lebih dekat, dengan Liang Piauwkonya.!

Sungguh aneh bin ajaib, piauwkonya yang disebut Liang itu mempunyai potongan tubuh dan wajah yang menarik, gagah ganteng, juga mempunyai ayah yang namanya sangat terkenal di dunia persilatan, tapi ia tidak menyukai padanya.

Sebaliknya, terhadap Kim Houw, itu bocah miskin angkuh dan tidak mengerti ilmu silat, justru ia sukai, dia sendiri juga tidak tahu apa sebabnya. Selagi ia masih berdiri dengan bingung memikirkan soal tersebut, Kim Houw sudah berdiri, mungkin karena terlalu lama berlutut, kedua lututnya sudah kaku kedinginan, sehingga badannya sempoyongan.

Suatu kekuatan tenaga tiba-tiba dari samping menerjang dirinya yang mau roboh, Kim Houw tahu, itu ada tangannya si gadis yang sedang menunjang dirinya, ia lantas memutar tubuhnya dengan mendadak, dan berkata dengan suara kasar.

"Jangan kau sentuh diriku, aku benci kalian orang-orang keluarga Ciok !"

Gadis cilik itu kerutkan alisnya, tapi sebentar saja sudah balik seperti biasa, ia nampak tidak gusar sebaliknya malah ketawa seraya berkata :

"Houw-jie, betulkah kau benci orang-orangnya keluarga Ciok ? Termasuk Touw Peng Peng?"

Perkataan "Touw Peng Peng" itu diucapkan lebih tandas, agaknya sengaja memperingatkan kepada Kim Houw bahwa ia seorang she Touw bukan she Ciok, orang she Ciok yang berdosa terhadap kau, tapi orang Touw tidak,

Di luar dugaannya, Kim Houw cuma menyahut "Ng!" lantas diam. Gadis cilik yang menyebut dirinya Touw Peng Peng itu bercekat hatinya, suatu pikiran bagaikan kilat terlintas dalam otaknya : benar! aku justru menyukai adatnya yang keras itu.

"Baiklah! Taruh kata aku juga kau hitung orangnya keluarga Ciok, yah sudah, tapi kau sekarang berlutut di depan keluarga Ciok apa perlunya? Kau" demikian kata Touw Peng

Peng sambil tersenyum manis.

"Kecuali Ciok yaya" dengan cepat Kim Houw mengoreksi ucapannya sendiri.

"Tidak patut kalau Ciok yaya juga dibenci, karena Ciok yaya melindunginya sehingga dewasa, budi Ciok yaya baginya ada sebesar gunung, meski Ciok Yaya tidak memberi pelajaran ilmu silat padanya, tapi memberi pelajaran ilmu surat sudah cukup dalam.

Touw Peng Peng tetap berdiri sambil tersenyum, tiba-tiba ia ulur jarinya menotok, Kim Houw mendadak merasakan gelap matanya dan lantas hilang ingatannya.

Dengan gesit ia pondong Kim Houw dikembalikan ke pondok si pemuda.

Entah sudah berapa lama telah berlalu Kim Houw mendusin dari pingsannya, belum sampai membuka mata, ia sudah rasakan kalau dirinya telah rebah di atas pembaringan yang terdiri dari rumput kering, ternyata ia sudah berada di pondoknya.

Dirinya dipeluk oleh seorang yang sedang menangis sesenggukan. Isak tangisnya itu sungguh luar biasa mengharukan Kim Houw terkejut, ia ingat kembali apa yang telah terjadi pada waktu tengah malam di hadapan kuburan Ciok yaya, tapi ia tidak mau percaya bahwa yang menangis memeluk dirinya itu adalah Touw Peng Peng, karena Touw Peng Peng selamanya belum pernah menangis.

Mendadak ia pentang lebar matanya, wanita yang mendekam di atas dadanya itu agaknya sudah merasa Kim Houw sudah sadar dan baru saja menengok ke arahnya, segera 2 pasang mata saling bentrok, dua duanya lantas berseru kaget: Peng Moay  "

"Houw-ko,!"

"Peng-moy, kau kenapa .....?" tanya Kim Houwapakah ia kembali di belakang kediaman

keluarga Ciok, di rumah gubuk pendek reyot ?

"Houw-ko, tadi malam aku dengar kau telah dipukuli oleh Ciok siauya... eh bukanitu buaya

keparat, aku sakit hati benar, entah bagaimana keadaanmu, hatiku sangat cemas. Hari ini satu hari aku tidak lihat kau keluar, diwaktu senja, aku minta tolong empek tua yang menjaga pintu di taman belakang untuk memberikan aku masuk. Siapa nyana keadaanmu telah begitu rupa, sehingga membuat aku kaget setengah mati, aku dorong dan ku panggil-panggil, tapi kau tidak menjawab, maka aku lantas menangis.... Houw-ko," Kim Houw mengawasi si gadis, lama baru

bisa menyahut : "Peng-moay, kemarin malam aku sebetulnya hendak berlalu dari Bwee-Kwee Cung, karena aku sudah tidak tahan menderita lebih lama lagi, tapi sekarang setelah melihat kau, aku tidak tega meninggalkan kau lagi, sebabnya ialah kau patut dikasihani daripada aku, aku harus tetap tinggal di sini untuk menjagamu aku hanya menyesal dan gemas mengapa mereka tidak mau mengajarkan aku ilmu silat."

Gadis yang disebut Peng-moay ini bernama Bwee Kee Peng, usianya sebaya dengan Kim Houw dan Touw Peng Peng. Ayahnya sebetulnya adalah cungcu dari Cwee Kee Cung itu, namanya terkenal di kalangan kang-ouw, ia merupakan salah satu pendekar ternama di rimba persilatan, Bwee Seng, bergelar Kiam Seng atau malaikat berpedang, ibunya bernama Lui Sie, puteri tunggal Lui Kong yang namanya juga menggetarkan jagat di kalangan hitam pada masa itu. Siapa nyana, tahun kedua setelah Bwee Kee Peng dilahirkan, ayah bundanya telah menghilang, hingga akhirnya tidak ada kabar ceritanya.

Bwee Kee Peng hidup bersama neneknya dengan harta dan rumah rumah peninggalan orang tuanya, beberapa tahun lamanya mengharap pulangnya mereka apa lacur ketika Bwee Kee Peng berusia 6 tahun, telah terjadi kebakaran besar di rumahnya semua barang peninggalan orang tuanya habis dimakan api.

Tinggal Bwee Kee Peng dan neneknya yang satu masih bocah yang belum mengerti apa-apa, sedang yang lain, sudah lanjut usianya, dalam dunia yang sifatnya kejam ini, siapa yang mau ulurkan tangannya untuk memberi pertolongan ?

Terpaksa hidup mereka sebisa-bisanya asal tidak mati kelaparan.

Dari neneknya, Bwee Kee Peng tentu saja tahu kedudukan ayah bundanya di dunia kang-ouw, dan kini, begitu mendengar Kim Houw hendak berlalu, namun tidak tega meninggalkan padanya, segera berkata : "Houw -ko, kau harus pergi, tidak seharusnya kau memikirkan diriku, semoga kau diluaran bisa menemukan guru silat yang pandai dan nanti pulang dengan bekal kepandaian ilmu silat yang berarti, untuk menghajar itu semua anjing-anjing buduk yang tidak mempunyai kemanusiaan. Sekalipun juga aku minta kau mencari keterangan perihal ayah bundaku, ayahku bernama Bwee Seng, gelarnya Kiam Seng atau malaikat pedang, ibuku gelarnya San Hoa sian Lie atau dewi penyebar bunga, kau tentunya tidak bisa lupa bukan ? Untuk kepentinganmu sendiri dan juga untuk aku, apa yang masih buat pikiran? Sementara mengenai diriku Bwee Peng, asal kau percaya, kau boleh pergi dengan hati lapang!"

Bicara sampai di situ, dari jauh tiba-tiba terdengar suara orang berjalan mendatangi, Kim Houw terkejut lalu meminta supaya Bwee Peng lekas pergi, katanya : "Peng moay lekas pergi, urusanku besok pagi kita bicarakan lagi, kalau sampai diketahui orangnya keluarga Ciok, kau tentu di dampratnya!"

Sehabis berkata ia lantas dorong Bwee Peng keluar pintu.

Baru saja Bwee Peng berjalan, di luar pintu ada berkelebat satu bayangan hitam, bayangan itu mengenakan pakaian ringkas warna hitam, ikat kepalanya juga hitam, Kim Houw belum pernah melihatnya, maka ia lantas menegur : "Siapa ?"

Bayangan hitam itu berkelebat, tahu-tahu sudah berada di depan Kim Houw, lalu menarik kain hitam yang menutupi wajahnya, segera tampak wajahnya yang bundar seperti buah apel, ternyata ia bukan lain Touw Peng Peng adanya.

"Hou-jie, lekas ikut aku," kata si nona tergesa-gesa, "Liang piau-ko barusan berkata kepada kothia, bahwa ia akan mencelakakan dirimu untuk kepentingannya di kemudian hari. Baik kau lekas berlalu dari sini. Aku sebetulnya tidak ingin kau pergi, tapi sekarang keadaannya memaksa kau harus angkat kaki dari tempat ini."

Sehabis berkata, ia lantas sambar tangan Kim Houw diajak lari ke luar pintu.

Baru saja ia tiba di depan pintu kamar, Touw Peng Peng tiba-tiba merandek dan berkata dengan suara kaget: "Celaka, Liang piauw-ko sudah datang, sekarang bagaimana baiknya ?"

"Memangnya kenapa ?" kata Kim Houw gusar, "Paling banter mati, apa kau kira Kim Houw ada seorang yang takut mati ? Biar saja mereka datang !" Touw Peng Peng kenal baik adatnya Kim Houw jika pada saat itu ia ladeni, terang ada satu perbuatan yang gelo, oleh karena cintanya yang besar dan untuk kepentingan jiwa orang yang dicintainya, maka ia tidak ambil pusing perkataan Kim Houw yang ketus, sebenarnya Touw Peng Peng pun seorang perempuan berhati keras, apa yang ingin diperbuat, ia lantas bertindak, tidak seorangpun yang dapat merintangi.

Si nona bertindak cepat, pintu ia palang dari dalam kemudian membuka daun jendela dan akhirnya ia totok dirinya Kim Houw, sehingga menjadi lemas. Mengapa ia menotok Kim Houw karena supaya Kim Houw melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa ia tidak membohongi padanya, dan ia mau Kim Houw segera mengerti jangan hanya ingin mati saja untuk menghadapi mereka.

Touw Peng Peng lalu panggul Kim Houw dan lompat ke luar dari jendela, tapi belum berdiri tegak di atas payon rumah, pintu rumah yang sudah reyot itu terdengar di gedor orang dengan keras.

Jangan pandang Touw Peng Peng Cuma satu gadis cilik yang badannya kecil langsing, meski dengan menggendong Kim Houw, ia masih bisa lari bagaikan terbang dan sebentar saja sudah berada jauh.

Tapi baru saja keluar dari Bwe Kee Cung, ia dengar suara ribut-ribut orang mengejar. Dalam cemasnya ia lantas robah tujuannya. Ia lari menuju ke belakang gunung-gunungan di belakang Bwee Kee Cung.

Sebentar saja ia sudah berada ditengah-tengah gunung, tapi tatkala ia menoleh kebawah, lantas dilihatnya ada beberapa bayangan orang sedang mengejar, nampaknya mereka itu ilmu mengentengi tubuhnya masih di atas dirinya sendiri.

Dalam keadaan yang sangat penting itu, tiba-tiba ia mendapatkan satu akal, ia lari setengah merayap memutar ke belakang gunung.

Setelah mana, tiba-tiba terdengar suara aneh beberapa kali saling sahut-sahutan, Touw Peng Peng lalu letakkan Kim Houw dan melepaskan totokannya, dengan suara keren dan sungguh- sungguh ia berkata: "Houw-jie, keadaan ini kau sudah lihat sendiri, juga sudah dengar semuanya, jangan kau berlagak gagah-gagahan! Sekarang, untuk sementara waktu kau harus sembunyikan dirimu di belakang batu besar ini, tunggu setelah aku pancing mereka berlalu dari sini, kau boleh masuk ke dalam gunung dan sembunyi diantara batu-batu itu kira-kira tiga atau lima hari lamanya, baru berdaya melarikan diri." Ia lalu menyerahkan satu bungkusan kecil kepada Kim Houw. "Ini sedikit bekal makanan kering yang aku sudah sediakan untuk keperluanmu di perjalanan, barang kali cukup tiga-lima hari! Kalau aku berhasil memancing mereka pergi, aku nanti akan datang menemui kau lagi!"

Sehabis meninggalkan pesannya, ia lantas lompat melesat sejauh tiga tombak.

Entah bagaimana perasaan dalam hati Kim Houw pada saat itu, mungkin ia sendiri juga ia tidak dapat mengatakan. Nona Peng Peng itu biasanya memang baik sekali padanya, tapi ia jemu terhadap nona cilik itu, namun hari ini keadaannya ada berlainan, apa yang dilakukan oleh Peng Peng, semata-mata hanya untuk menolong jiwanya.

Kini, Peng Peng sudah berlalu dari depan matanya, ia memandang bayangannya, sampai ucapan terima kasih saja belum sempat dikeluarkan. Tapi entah kenapa disengaja atau kebetulan, tatkala Kim Houw sedang mengawasi padanya dengan perasaan bingung, Touw Peng Peng tiba- tiba merandek dan menoleh kepadanya, bahkan dengan jari tangannya ia memberikan petunjuk, supaya lekas menyembunyikan dirinya. Kim Houw mengangguk, dalam hati merasa tidak enak. Selagi ia hendak mengucapkan terima kasihnya, tiba-tiba terdengar suitan yang amat nyaring, berbareng dengan itu, Kim Houw buru- buru sembunyikan diri di belakang batu.

Serentetan suara suitan makin lama makin jauh dan akhirnya tidak kedengaran lagi, Kim Houw lantas kabur ke dalam gunung. Sejak kanak-kanak ia belum pernah berlatih ilmu silat, di bawah pengawasan Ciok yaya, ia boleh dibilang terlalu dimanja. Keadaannya lebih senang daripada beberapa anak-anak keluarga beruang, cuma badannya lemah, apa mau kali ini ia harus melarikan diri demi menyelamatkan jiwanya, entah dari mana datangnya kekuatan, sekaligus ia bisa berlari sampai di atas gunung. Semalaman suntuk ia lari, dua buah gunung ia sudah lalui, kini tibalah di tepi sungai kecil di suatu lembah, keadaan Kim Houw waktu itu sangat mengenaskan sekali, lapar dahaga dan letih, sekujur badannya dirasakan lemas, ia sudah tidak kuat lagi, hingga harus duduk numprah di tanah.

Tiba-tiba ia ingat bungkusan pemberian Touw Peng Peng yang diikat di pinggangnya, buru- buru ia buka bungkusan itu kecuali makanan kering masih ada dua potong uang emas dan uang receh. Ini semua tidak mengherankan, apa yang aneh ialah terdapat sebilah pedang pendek berukuran kira-kira tujuh dim dan sepotong baju semacam kaus kutang, warnanya hitam jengat.

Setelah kenyang makan, Kim Houw baru memeriksa pedang pendek itu, begitu dikeluarkan dari serangkanya, senjata itu memancarkan warna warni yang luar biasa.

Kim Houw hendak mencoba betapa tajamnya pedang pendek itu, dengan sepenuh tenaga ia tabaskan pada sebuah pohon sebesar mangkok, siapa nyana karena menggunakan tenaga keliwat besar, badannya lantas ngusruk dan nyelonong terus, apakah sebabnya? Ini karena tajamnya pedang itu, pohon yang sebesar mangkok itu telah tertabas tanpa terasa, sehingga Kim Houw tidak mampu mencegah nyelonongnya badan sendiri.

Pohon besar itu lantas rubuh seketika itu juga.

Kim Houw girang sekali, kiranya itu adalah sebilah pedang mestika. Maka dengan sangat hati- hati ia selipkan pedang itu di pinggangnya, pikirnya, pedang itu bisa digunakan untuk menjaga keselamatannya.

Angin gunung saat itu meniup santer, Kim Houw merasa kedinginan. Karena badannya sudah basah dengan keringat, membuat baju rombeng Kim Houw seolah-olah habis direndam air, hingga ketika tertiup angin, rasa dingin dirasakan seperti merasap ke dalam tulang sumsum.

Tatkala melihat baju warna hitam yang seperti kaus. Kim Houw lalu membuka baju luarnya dan pakai baju kaus hitam itu dibagian dalam. Baru saja baju menempel di badannya, dada dan gegernya dirasakan ada yang hangat yang menyusuri seluruh badannya, sehingga tidak merasakan dingin lagi.

Kim Houw mulai curiga, mungkinkah itu baju wasiat ? Mengapa Peng Peng memberi kedua barang wasiat itu kepadanya ?

Saat itu cuaca sudah mulai terang, Kim Houw mencari tempat yang agak teduh untuk merebahkan dirinya.

Begitu mendusin, ternyata matahari sudah mendoyong ke barat dan burung-burung sudah pulang ke sarangnya.

Kim Houw dahar lagi sampai kenyang betul, baru melanjutkan perjalanan ke dalam gunung.

Dalam gunung itu sebetulnya masih ada jalanan kecil, tapi jalanan itu sering terputus, meski demikian, untuk menghindarkan pengejaran, Kim Houw memilih jalan kecil itu juga. Di suatu jalanan, di dekat satu pohon besar dan sebuah papan yang tertulis : "Dilarang lewat!"

Kalau disiang hari, Kim Houw tentunya bisa melihat papan larangan itu dan mungkin tidak berani berjalan terus, apa mau justru ia jalan diwaktu malam, malah berjalan terus dengan cepatnya.

Baru saja menikung di suatu jalanan di depan matanya terbentang rimba yang lebat, rimba itu mungkin belum pernah didatangi oleh manusia, karena tampaknya begitu lebat dan seram, pohon- pohon besar terdapat dimana-mana.

Kali ini Kim Houw dapat lihat sebaris tulisan yang memancarkan sinar berkeredepan di atas sebuah pohon besar, tulisan itu terdiri dari dua puluh huruf, yang artinya sebagai berikut :

"Istana Kumala Putih di gunung Thay-Pek, bisa pergi tidak bisa kembali, kalau bukan orang yang berkepentingan, silahkan segera balik kembali."

Dua puluh huruf yang berkeredepan itu benar-benar mengejutkan Kim Houw, ia tahu benar bahwa jalanan itu ada buntu, tapi di dalam gunung belukar itu, siapa tahu jalanan mana yang lapang atau yang buntu,

Tiba-tiba ia mendengar suara orang yang sedang memaki-maki. Suara itu Kim Houw kenal betul ada suara Souw Cuan Hui, murid ketiga dari Ciok Goan Hong, ayahnya Ciok Liang.

Souw Cuan Hui lebih tua empat-lima tahun daripada Kim Houw, ia benci sekali kepada Kim Houw, karena Kim Houw pernah pergoki perbuatannya yang hendak memperkosa seorang wanita muda dan perbuatannya itu diberitahukan kepada Ciok Goan Hong, sehingga Souw Cuan Hui didamprat dan dihajar habis-habisan oleh gurunya. Kalau tidak karena biasanya ia pandai bermuka-muka, perbuatannya itu mungkin mengakibatkan ia dibikin musnah kepandaiannya atau diusir dari perguruan maka terhadap Kim Houw, Souw Cuan Hui bencinya setengah mati, saban- saban ia mencari kesempatan untuk membalas sakit hatinya itu.

Kali ini, guna mencari Kim Houw sampai dapat ditemukan, meski semua orang pada pulang hanya ia seorang yang berdaya mencarinya. Ia bertekad untuk mendapatkan Kim Houw ia takkan merasa puas kalau belum membinasakan dirinya itu anak tanggung.

Ia tahu Kim Houw tidak mengerti ilmu silat, ia pikir, asal diketemukan jejaknya, Kim Houw pasti tidak lolos dari tangannya.

Di depan rimba keramat yang dalamnya ada Istana Kumala Putih itu. Souw Cuan Hui sedang mundar-mandir di bawah pohon besar. Seperti dijelaskan di sebelah atas, istana yang disebut Istana Kumala Putih itu sejak beberapa ratus tahun lamanya masih tetap merupakan suatu rahasia besar dalam rimba persilatan. Banyak orang yang pada pergi mencari tahu tapi tidak bisa keluar lagi dari rimba keramat itu, membikin orang tidak habis mengerti, hingga rahasia itu tetap tinggal rahasia gelap.

Kini Kim Houw berada dalam keadaan terjepit, bagaimana tidak ketakutan mendengar suara Souw Cuan Hui ?

Huruf yang berkeredepan di depan matanya itu menarik perhatiannya, pikirnya daripada mati konyol lebih baik masuk ke dalam rimba, mungkin masih ada harapan untuk hidup.

Begitulah, ia lantas angkat kaki dan hendak lari ke dalam rimba. Tapi baru saja bergerak, gusarnya sudah didengar oleh Souw Cuan Hui. Begitu ada suara Kim Houw hendak kabur sambil berseru lantas mengejar, namun yang dikejar sudah masuk ke dalam rimba. Karena ia sendiri tidak berani memasuki rimba yang dipandang sangat keramat itu, lalu melepaskan senjata rahasia.

Senjata rahasianya itu semacam burung walet yang terbikin dari besi, waktu dilancarkan tidak kedengaran suaranya, tapi kalau mengenakan sasarannya, bagian mulut senjata yang berbentuk burung walet itu lantas mengeluarkan sebuah jarum beracun, siapa terkena tidak bisa di tolong lagi jiwanya, ini adalah senjata rahasia tunggal ciptaan Ciok Goan Hong.

Souw Cuan Hui yang melihat dengan mata kepala sendiri Kim Houw memasuki rimba keramat itu, meski sudah tahu benar bahwa Kim Houw pasti mati di dalam rimba itu, tapi toh dia masih berlaku kejam menyerang dengan senjata rahasianya.

Suara "pluk" terdengar nyaring, senjata rahasia itu mengenai tepat digegernya Kim Houw, badan Kim Houw kelihatan sempoyongan tapi sebentar kemudian sudah lenyap di dalam rimba Souw Cuan Hui yang telah menyaksikan kejadian itu dengan tegas, dalam hati merasa girang, ia lantas balik untuk mengabarkan kepada gurunya.

Souw Cuan Hui tiba di Bwee Kee Ceng, kedapatan Touw Peng Peng sedang ribut mulut dengan Ciok Liang, ia tidak perduli lantas saja menimbrung dengan girang serta bangga ia berkata

: "Sutee, aku ada membawa kabar baik."

Ciok Liang yang sedang kewalahan menghadapi saudara misannya itu, menampak kedatangan Souw Cuan Hui, seolah-olah menemukan pertolongan, maka buru-buru hentikan pertengkaran dan menanya: "Kabar baik apa ? Apakah kau sudah membinasakan si bocah Kim Houw itu ?"

"Membinasakan sih belum, cuma saja aku sudah berhasil menimpuk padanya dengan senjata rahasia "si burung walet!"

Suara "plak" tiba-tiba terdengar nyaring satu tamparan telak mampir di pipi Souw Cuan Hui, sehingga kepalanya puyeng, mata berkunang kunang. Karena tidak tahu apa sebabnya, maka ia lalu menanya : "Nona Peng, mengapa kau pukul aku ?"

"Mengapa kau menggunakan senjata rahasia "Siburung walet" untuk menyerang satu bocah yang tidak mengerti ilmu silat?" jawab Touw Peng peng dengan gemesnya.

Tamparan Touw Peng Peng tadi ternyata keras sekali, ujung mulut Souw Cuan Hui nampak mengalirkan darah, tapi ia takut kepada nona itu, cuma kerutkan keningnya sambil mengusap- usap bekas yang ditampar tadi.

"Sebetulnya andaikata kau tidak menggunakan senjata rahasia menyerang, dia juga akan binasa, karena ia sudah lari masuk ke dalam rimba keramat yang ditakuti oleh semua orang-orang dunia rimba persilatan!" katanya mendongkol.

Mendengar keterangan itu, sekujur badan Touw Peng Peng gemetar, dengan suara keras ia menanya : "Apa ? apa di belakang gunung itu ada rimba keramat yang didalamnya ada Istana Kumala Putih ? Mengapa aku datang sudah beberapa tahun di sini tidak pernah dengar kalian mengatakan ? Adakah kalian sengaja menyembunyikan ?

"Peng Moay," Ciok Liang membuka mulut ini bukan kami hendak merahasiakan terhadap kau, sebetulnya ayah yang pesan tidak boleh menceritakan aku pikir siapa yang berani melanggar pesannya?" Tidak menunggu keterangan Ciok Liang, Touw Peng Peng sudah lari masuk ke dalam kamar. Tapi baru saja melangkah beberapa tindak tiba-tiba terdengar suaranya Ciok Liang yang berkata kepada Souw Cuan Hui : "Souw-suko, aku justru tidak takut senjata rahasia itu kau percaya tidak

?"

"Sudah tentu! Siapa tidak tahu bahwa keluarga Ciok mempunyai warisan baju wasiat Hay-si- kua?"

Touw Peng-peng tertarik oleh pembicaraan mereka, terutama tentang baju wasiat, maka ia lantas perlahankan tindakannya dan pasang kuping, tapi Ciok Liang seperti sengaja hendak mempermainkan padanya, ia lantas bungkam.

Touw Peng Peng adalah gadis yang suka dengan hal-hal yang aneh, kalau ia belum tahu betul, takkan merasa puas, meski dalam hati sedang memikirkan jiwanya Kim Houw, tapi ia ingin tahu apa yang dinamakan baju wasiat tadi. Ia putar tubuhnya dan menghampiri Ciok Liang.

"Liang piau-ko, apakah itu baju wasiat "Hay-si-kua"?" ia menanya sambil unjukkan ketawanya yang manis.

Ciok Liang menampak Peng Peng tertawa, hatinya lemas seketika, maka lantas menjawab dengan cepat: "Hay-si-kua adalah binatang laut, panjangnya 5 cun, bentuknya bulan seperti bumbung, badannya lemas tapi ulet."

"Oh! Aku kira benda wasiat apa?" memotong Peng Peng sudah tidak sabaran.

"Peng-moay, ucapanku belum selesai, Hay-si-kua adalah wasiat keturunan keluarga Ciok, apa kau kira barang sembarangan? Kau tidak percaya, aku tunjukkan kau. "Hay-si-kua" adalah sepotong baju serupa kaus kutang, tapi khasiatnya luar biasa, ia dapat melindungi badan dari serangan segala senjata tajam atau segala pedang dan golok pusaka"

Touw Peng Peng dibikin terkejut oleh keterangan Ciok Liang itu.

"Betulkah ada barang begitu aneh? Kalau begitu kau lekas ambil untuk aku saksikan!"

"Baik! kau tunggu saja di sini. Souw suheng kau juga tunggu sebentar, aku akan tunjukkan kau sekalian" kata Ciok Liang sambil ketawa puas.

Touw Peng Peng dan Souw Cuan Hui menunggu sekian lamanya, belum juga nampak Ciok Liang muncul, tiba-tiba mereka dengar suara ribut-ribut di dalam kamar. Peng Peng buru-buru lari masuk, ia segera dapat lihat Ciok Liang sedang berlutut di depan ayahnya dengan badan menggigil dan wajah pucat seperti mayat, Goan Hong sendiri wajahnya juga pucat, nampak amat gusar.

Peng-peng tidak tahu apa yang telah terjadi, biasanya ia sangat disayang oleh Ciok Goan Hong, maka ia berani menghampiri dan menanya sambil memegang lengan Ciok Goan Hong: "Kothio! Apa yang telah terjadi sampai kau begitu gusar?"

Kalau di waktu biasa, Ciok Goan Hong biar bagaimana marah, asal menampak bakal menantu kecil ini, hawa amarahnya lantas lenyap sebagian, tapi kali ini tidak demikian, ia hanya memandang Peng Peng sejenak, lantas memaki dengan suara keras: "Bangsat cilik ini, betul-betul akan bikin aku mati berdiri, ia telah hilangkan baju wasiat Hay-si-kua milik keturunan keluarga Ciok, coba kau pikir keterlaluan apa tidak?"

Mendengar keterangan itu, hampir saja Touw Peng Peng lompat karena hilangnya baju wasiat itu mungkin ada perbuatannya sendiri, soalnya ketika ia dengar Ciok Liang hendak mencelakakan jiwa Kim Houw ia buru-buru memberitahukan kepada Kim Houw supaya lekas kabur. Tatkala ia berjalan melalui kamarnya Ciok Liang, dengan tiba-tiba ia ingat baju Kim Houw yang tipis dan sudah rombeng, kalau ia kabur, dalam keadaan udara buruk dan dingin seperti ini, sekalipun tidak mati kelaparan, mungkin Kim Houw juga mati kedinginan.

Justru bajunya sendiri tidak dapat dipakai oleh Kim Houw, ia ingat badannya Ciok Liang hampir sama dengan Kim Houw, maka ia lantas masuk ke kamar Ciok Liang untuk mengambil sepotong baju.

Apa mau di kamar itu tidak ada sepotongpun pakaian yang agak tebal yang mampu menahan hawa dingin, dalam keadaan mendesak ia telah membuka koper Ciok Liang.

Kala itu keadaan kamar gelap, tangan Touw Peng Peng dapat meraba benda halus lemas dan hangat, ternyata adalah baju kaus, maka tanpa melihat lagi ia lantas bawa kabur.

Kini ketika dengar kabar baju wasiat keluarga Ciok telah hilang, mengapa ia tidak terkejut? Tiba-tiba Ciok Liang yang berlutut di depan ayahnya berkata dengan suara gemetar: "Ayah,

dalam rumah kita tentunya ada maling dalam. Baju itu sebetulnya selalu anak pakai, tapi setelah

bulan yang lalu, karena di bawah ketiak anak sakit bisul, maka tidak bisa pakai dan lalu disimpan, masakan hanya dalam waktu setengah bulan saja lantas hilang.?"

"Plakkk!" tangan Ciok Goan Hong mampir di pipi Ciok Liang lalu disusul dengan tendangan kaki, hingga Ciok Liang berjumpalitan di tanah.

Touw Peng Peng pada saat itu diam-diam sudah menyingkir, ia bukan takut atau menyesal karena kesalahan tangan sudah ambil baju wasiat keluarga Ciok, hanya sangat gelisah akan keselamatan jiwa Kim Houw. Perginya Kim Houw ke dalam rimba keramat itu, boleh dikata disebabkan karena ia yang menganjurkan supaya Kim Houw melarikan diri, meski ada baju wasiat untuk melindungi diri hingga tidak takut senjata rahasianya Souw Cuan Hui, tapi Istana Kumala Putih itu adalah istana keramat yang menakutkan. Tidak dinyana Kim Houw berani masuk ke situ, ia juga tidak menduga bahwa istana yang menggetarkan dunia Kang-ouw itu ternyata dekat tempat kediamannya sendiri!

Hati Touw Peng Peng sangat tidak tentram.

Malam itu, sesosok bayangan hitam keluar dari Bwee Kee Cung, bayangan itu meski kecil langsing, tapi gerakannya gesit sekali, sebentar saja sudah berada di kaki gunung.

Bayangan itu adalah Touw Peng Peng, ia berdandan ringkas, belakang punggungnya menggemblok sebilah pedang panjang, pinggangnya diikati satu buntelan, agaknya akan melakukan perjalanan jauh tapi ketika berhenti di bawah kaki gunung, tiba-tiba matanya dapat melihat seorang tua baju putih sedang duduk di bawah sebuah pohon besar. Orang tua itu ternyata adalah Ciok Goan Hong yang sedang mengawasi gerak-geriknya dengan sorot mata tajam, lama baru kedengaran suaranya menghela napas panjang, kemudian berkata: "Peng Peng, aku tahu dalam berapa hari ini hatimu agak risau, bukankah kau hendak pergi? Mari! aku antar kau pulang ke Kanglam, aku juga sudah lama tidak mengunjungi Kanglam sekalian hendak menjumpai beberapa sahabat dari dunia Kangouw"

"Tidak" jawab Peng Peng cemas. Ia cuma mengeluarkan perkataan itu saja lantas bungkam. Dengan alasan apa ia menolak? Tak ada! Seorang gadis yang baru mangkat dewasa, apa yang berani ia ucapkan di hadapan bakal mertuanya?

"Kothio!" terdorong oleh perasaan hatinya yang menggelora akhirnya ia buka mulut juga: "Mengapa Istana Kumala Putih dalam rimba keramat itu begitu ditakuti orang.?" "Peng Peng" Ciok Goan Hong tiba-tiba membentak keras: "Aku tidak ijinkan kau omong sembarangan!"

Peng Peng belum pernah melihat Kothionya marah demikian rupa, sekalipun ketika sedang kehilangan baju wasiatnya juga tidak murka seperti sekarang ketika mendengar disebutnya Istana Kumala Putih.

Tapi apa yang ia bisa buat? kabur? tidak mungkin lagi. Ia cuma bisa bersedih dalam hati dan menangis.

Akhirnya ia mengikuti Ciok Goan Hong meninggalkan Bwee Kee Cun dan untuk sementara Bwee Kee Cung boleh merasa tentram.

Ketika Kim Houw lari masuk ke dalam rimba keramat itu dan diserang dengan senjata rahasia oleh Souw Cuan Hui, meski piau itu mengenai tepat punggungnya, ternyata ia tidak merasakan apa-apa.

Disaat itu badannya sempoyongan karena kakinya kebetulan menginjak batu kerikil, tapi Souw Cuan Hui anggap ia kena serangan senjata rahasianya padahal Kim Houw sedikitpun tidak terluka.

Namun begitu tiba didalam rimba, macam-macam kesengsaraan telah menimpa dirinya.

Dalam rimba itu meski ada jalanan kecil berliku-liku, tapi keadaannya ada begitu gelap, terutama tanahnya yang lembab dan licin, kalau tidak hati-hati bisa terpeleset.

Apa yang menakutkan dalam rimba itu adalah suara angin yang menderu-deru dan dibarengi suara binatang-binatang liar dalam rimba, membuat siapa yang mendengar pada berdiri bulu tengkuknya.

Untung Kim Houw bernyali besar, lagi pula karena Kim Houw memakai baju wasiat pemberian Touw Peng-peng, masa sedikitpun tidak merasa dingin.

Tiba-tiba ia merasa bajunya seperti ditarik orang. Kejadian yang datangnya secara tiba-tiba dan tanpa suara itu, betapapun besarnya nyali Kim Houw, juga ketakutan setengah mati. Ia tidak tahu siapa yang menarik, orang atau setan? Memedi ataukah binatang? Tiba-tiba ia memutar tubuhnya, "sret" bajunya yang sudah rombeng ditambah satu lubang besar lagi.

"Siapa" akhirnya Kim Houw besarkan nyalinya membentak dengan suara keras. Bentaknya itu tidak mendapat jawaban apa-apa, ini membuat Kim Houw semakin ketakutan, dalam ketakutannya, ia segera menghunus pedang pendeknya.

Begitu pedang pendek keluar dari sarungnya, lantas memancarkan sinar yang gemerlapan dan keadaan disekitar ia berdiri lantas nampak terang. Bukan main girangnya.

Ia sesalkan diri sendiri mengapa tidak ingat pedang pendeknya itu dari tadi.

Kim Houw memeriksa apa yang telah terjadi pada dirinya, ternyata hanya pohon berduri yang menyangkut bajunya, hingga diam-diam merasa geli sendiri.

Dengan adanya penerangan dari sinar pedang pendek itu, dia bisa berjalan lebih leluasa tapi akar-akar pohon yang tumbuh malang melintang dan jalanan kecil berliku-liku seolah-olah tidak kelihatan ujung pangkalnya. Entah berapa lama dan jauh ia berjalan, kalau perutnya terasa lapar ia makan rangsum keringnya, kalau letih, ia duduk mengaso sebentar, cuma pedang pusaka di tangannya sebentarpun tidak pernah terlepas dari pegangannya.

Akhirnya rangsum keringnya bawaannya sudah habis, Kim Houw mulai gelisah, berbareng dengan itu, hidungnya dapat endus bau amis. Pengalaman dimasa kanak-kanak telah mengisikkan padanya, bau amis itu adalah ular yang sedang keluar mencari makan, benar saja segera ia melihat berekor-ekor ular pada tonjolkan kepalanya, mulutnya pada menganga, tapi tidak ada satu yang berani mendekati dirinya.

Selanjutnya, di belakang lerotan ular, ia lihat sepasang lampu mencorong dengan sinarnya yang hijau. Dalam rimba lebat yang terkenal keramat itu, tanpa pikir Kim Houw juga tahu bahwa benda-benda seperti lampu itu adalah sepasang mata binatang buas.

Pada saat itu, sekalipun tidak takut ia akhirnya menjerit juga, ini bukan barang mainan maka ia lantas angkat kaki dan kabur sekencang-kencangnya.

Entah sudah berapa lama berlari, matanya tiba-tiba melihat titik putih, Kim Houw lalu menghampiri, tapi apa yang dilihat olehnya, hampir saja membuat ia jatuh pingsan.

Apa sebetulnya yang terjadi? titik putih itu ternyata adalah duri yang membuat robek bajunya!

Sedang yang dilihat Kim Houw adalah kapas bajunya yang menyangkut di atas duri tersebut, bagaimana Kim Houw tidak kaget, karena perjalanan yang dilakukannya demikian jauh dan entah sudah berapa lamanya itu ternyata hanya berputar-putar di situ-situ juga.

Kim Houw bingung, entah berapa lama ia berdiam dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang mengharukan, mungkin suaranya binatang monyet sedang menangis.

Ia menoleh, itu ular dan mata binatang buas masih tetap mengikuti di belakangnya, tapi ia tidak merasa takut lagi, pikirnya lebih baik kalian telan diriku, aku tahu aku sudah tidak bisa keluar dari sini lagi.

Meski Kim Houw sudah agak putus asa, tapi kakinya tetap berjalan, ia menggunakan penerangan sinar pedang untuk mencari jalan sangat hati-hati, tidak berani lari-larian lagi.

Akhirnya dalam keadaan lapar dan letih, Kim Houw rubuh pingsan.

Entah berapa lama sang waktu telah berlalu, Kim Houw tiba-tiba merasakan badannya bergerak, pahanya seperti tertusuk duri, begitu membuka matanya ia dapatkan dirinya sedang didorong oleh seekor orang hutan besar. Lantaran kaget ketakutan, kembali ia jatuh pingsan.

Lama sekali ia dalam keadaan tidak ingat orang, tiba-tiba ia rasakan barang cair manis dan hangat perlahan-lahan mengalir ke dalam mulutnya. Ia tidak tahu barang apa itu, cuma menelan saja, karena barang cair itu kecuali manis juga sangat harum baunya.

Perlahan-lahan ia membuka matanya, dan dapatkan dirinya berada dalam pelukan seekor orang hutan besar, barang cair manis yang masuk di tenggorokannya itu ternyata air susu orang hutan betina yang sedang memeluki dirinya.

Dalam hati Kim Houw mengerti bahwa orang hutan itu mau menyusui dirinya, dan tidak bermaksud jahat, tapi ketika melihat muka orang hutan yang menyeramkan, hampir saja ia pingsan lagi. Dalam keadaan lapar dan letih, air susu itu merupakan minuman yang lezat bagi Kim Houw, maka ia mengisap dengan bernapsu sekali. Perbuatan Kim Houw itu agaknya menyenangkan hati si orang hutan, dengan tangannya yang besar menepuk-nepuk gegernya Kim Houw.

Perlakuan orang hutan itu penuh welas asih, tidak beda dengan tingkah laku seorang ibu terhadap anaknya. Kim Houw sejak kanak-kanak belum pernah merasai kasih sayangnya ibu, perbuatan orang hutan itu membikin tergerak hatinya, ia seolah-olah sedang berada di pangkuan ibunya sendiri.

Setelah menyusu sepuas hati, Kim houw mendadak berhenti, ia dongakkan kepalanya mengawasi dengan air mata mengembeng. Sekarang ia tidak takut lagi memandang orang hutan yang sangat menakutkan itu, bahkan memeluk erat-erat sambil menangis terisak-isak.

Orang hutan besar yang berbulu panjang itu agaknya mengerti perasaan hati Kim Houw, ia membiarkannya menangis sepuas-puasnya, malah mengusap-usap kepala Kim Houw dengan penuh kasih sayang.

Setelah menangis sepuas-puasnya, Kim Houw lalu melepaskan tangannya dan berkata kepada si orang hutan:

"Aku akan bicara, apa kau dapat mengerti maksudku?"

Begitu Kim Houw membuka mulut, orang hutan itu agaknya sangat girang, ia menepuk-nepuk dengan keras lalu anggukan kepalanya, untuk menunjukkan bahwa ia dapat memahami maksud perkataan Kim Houw.

Kim Houw sangat girang, lalu meneruskan berkata: "Bolehkah kau antar aku keluar dari rimba ini?"

Di luar dugaan, perkataan Kim Houw itu telah mengejutkan si orang hutan, yang lantas berlutut di tanah sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang besar, sepasang matanya yang merah laksana api menunjukkan sikap minta dikasihani.

Kim Houw tidak mengerti apa maksudnya, maka lantas meraung: "Siapa yang melarang orang tidak boleh keluar dari rimba ini?"

Orang hutan itu ulur tangannya sambil menunjuk-nunjuk ke langit, kemudian ke dalam rimba. Kali ini Kim Houw mengerti, orang hutan itu menunjuk ke dalam rimba, pasti ada rahasia apa-

apa, maka lantas berkata: "Kalau begitu, bolehkah kau antar aku masuk ke dalam rimba?"

Orang hutan itu kali ini tidak kelihatan bersedih lagi, bahkan tampak begitu girang, sampai lompat-lompatan setinggi satu tumbak. Tapi sewaktu turun di belakang Kim Houw, ia berteriak- teriak dan wajahnya menunjukkan ketakutan.

Kim Houw menoleh, kiranya pedang pendek yang memancarkan sinar berkeredepan yang membuat si orang hutan ketakutan, ia lantas pungut pedangnya itu.

Kalau tadi ia bisa melihat dengan tegas wajahnya si orang hutan, tapi kini setelah ia memungut pedangnya, orang hutan itu lantas lompat menyingkir dan mulutnya cecuwitan, agaknya takut benar terhadap pedang pendek itu. Kim Houw adalah anak yang cerdas, segala gerak-gerik orang hutan itu dapat ia pahami maksudnya, maka lantas berkata: "Kalau tidak ada sinarnya pedang pusaka ini, aku tidak bisa berjalan!"

Tapi orang hutan itu masih tetap berdiri jauh-jauh sambil berteriak-teriak, ia goyangkan tangannya.

Kim Houw terpaksa memasukkan pedang ke dalam sarungnya, begitu pedang itu masuk ke dalam sarungnya, sinar terang lantas lenyap, keadaan dalam rimba kembali gelap seperti semula.

Tiba-tiba Kim Houw merasa dirinya seperti berada di punggungnya orang hutan tadi yang lalu dibawa pergi dengan cepat sekali.

Orang hutan itu mempunyai kaki dan tangan sangat panjang, ia bisa lari bagaikan terbang, sebentar saja sudah melalui beberapa puluh tumbak jauhnya. Kim Houw yang digendong di atas punggungnya, seolah-olah terbang di atas awan, kedua telinganya cuma dengar suara menderunya angin, saking takutnya ia peluk leher orang hutan itu erat-erat, kedua matanya dipejamkan, sebetulnya meski tidak dipejamkan ia juga tidak bisa melihat apa-apa karena gelapnya keadaan di situ.

Tiba-tiba orang hutan itu hentikan larinya, Kim Houw membuka matanya, ternyata ia masih belum keluar dari dalam rimba, cuma sudah kelihatan sedikit sinar terang, hawa udaranya juga sedikit bersih.

Kim Houw turun dari gendongan orang hutan lantas lari keluar rimba, tapi tiba-tiba terdengar suara si orang hutan, Kim Houw lalu hentikan tindakannya. Ia lihat orang hutan itu agaknya menunjukkan perasaan berat untuk berpisah dengannya.

Hati Kim Houw tergerak benar-benar, ia lalu lari balik dan memeluk dirinya orang hutan sambil menangis sedih.

Lama baru Kim Houw berdiri dengan perlahan seraya berkata: "Aku bisa datang lagi untuk menengok kau!". Sehabis berkata, ia berjalan sambil saban-saban menoleh ke luar rimba.

Lama ia tidak melihat sinar matahari, begitu lihat, bukan main rasa girangnya.

Saat itu udara terang, matahari sedang teriknya, tapi di mata Kim Houw matahari itu tampaknya segar dan hangat.

Mendadak ia dengar suara siulan nyaring melengking memecahkan kesunyian dalam rimba, segera di depan Kim Houw telah muncul seorang wanita yang pipinya telah keriputan.

Badan nenek itu cuma mengenakan sepotong pakaian tipis, bahkan sudah robek tidak keruan, hanya di belakang punggungnya ada menggemblok sebilah pedang panjang. Matanya memancarkan sinar tajam, rupanya ia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang cukup sempurna, dengan sikap dan wajahnya yang dingin si nenek mengawasi Kim Houw sejenak, lalu berkata: "Kau si bocah cilik, apa baru masuk dari luar rimba?"

Kim Houw yang dipandang oleh si nenek dengan sorot matanya yang tajam, membuat sekujur badannya dirasakan tidak enak.

"Benar, aku telah kesasar jalan di dalam rimba, adalah itu orang hutan besar yang antar aku kemari!" jawabnya. "Orang hutan besar?" Si nenek mengawasi Kim Houw dengan sorot mata terheran-heran, "Apa kau tidak menemukan bahaya? Nampaknya kau tidak mengerti ilmu silat!"

Selagi Kim Houw hendak menjawab, kembali tampak berkelebatannya beberapa bayangan orang di kanan kirinya si nenek. Berbareng sudah muncul tujuh-delapan orang laki-laki dan perempuan yang usianya sudah lanjut semua. Di antara mereka ada seorang hwesio juga ada paderi wanita. Keadaannya sama dengan si nenek tadi, pakaian yang menempel di badan masing- masing sudah pada sobek tidak karuan, hingga keadaannya mirip seperti pengemis. Mereka itu ada yang membawa senjata tajam, tapi juga ada yang bertangan kosong, namun tidak ada satupun yang kelihatannya takut hawa dingin. Sikap mereka nampaknya gagah-gagah, hanya wajahnya sangat menyeramkan.

Kim Houw belum pernah berhadapan dengan orang dunia Kangouw serupa itu, tapi ia tidak takut. Dalam suasana tegang yang menyeramkan itu, tiba-tiba dipecahkan oleh suara "Ting Tang". Kim Houw menoleh, ia lihat seorang tua berambut putih dengan mendatangi membawa empat buah pelor baja sebesar kepalan tangan tengah diadu-adukan satu sama lain sehingga mengeluarkan suara tadi.

Kim Houw baru saja dikejutkan oleh pemandangan aneh itu, atau benda tersebut sudah melayang menyerang padanya, justru jarak antara ia dengan orang tua itu hanya satu tumbak lebih sedikit, sekalipun orang yang pandai ilmu silat, juga masih susah untuk berkelit, apalagi seorang bocah yang tidak mengerti ilmu silat seperti Kim Houw.

Pelor baja itu nampaknya segera akan mengenai dadanya.

Tiba-tiba berkelebat sinar perak, ujung pedang tepat menyambut pelor baja tersebut di depan dada Kim Houw, hingga pelor itu meluncur jatuh.

"Bang!" serangan yang kedua segera menyusul tepat mengarah dada Kim Houw sampai Kim Houw jungkir balik di tanah. Segera terdengar suara yang aneh dari si orang tua: "Lie Cit Nio, apa kau tidak tahu bahwa aku Cu-no-sin-tan (si tangan pelor sakti) To Pa Thian dengan empat buah peluru di sepasang tanganku belum pernah meleset.?"

"To Pa Thian, kau ini si tua bangka, apa tidak tahu bahwa ia adalah bocah yang tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti ilmu silat? Ia dengan kau toh tidak mempunyai permusuhan apa-apa, mengapa kau turun tangan begitu ganas? Kalau berani kau boleh coba-coba dengan aku Li Cit Nio, aku tanggung pelurumu akan berobah peluru lempung yang tidak ada gunanya."

"Li Cit Nio, kali ini kau dibikin kabur matamu, kau kira ia tidak mengerti ilmu silat, sebetulnya ia mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, bahkan amat licin, kalau tidak karena gara-garanya bocah ini, aku tidak akan kemari, kalau belum berhasil membunuhnya, hatiku masih sangat penasaran"

"To Pa Thian, kau benar-benar tidak tahu malu, sudah kena dikibuli oleh anak kecil, toh masih ada muka buat menceritakan.apa perlunya kau masih menjadi ketua partai persilatan, aku

sendiri masih merasa malu!"

"Li Cit Nio, kau jangan jumawa, ada satu hari nanti kau akan mengalami kesukaran sendiri."

Belum habis ucapan To Pa Thian, tiba-tiba terdengar suara sorak sorai riuh, apa yang telah terjadi? Kiranya Kim Houw diserang oleh To Pa Thian dengan peluru, setelah jungkir balik lantas berbangkit lagi, hal ini benar-benar membuat To Pa Thian sendiri sampai bingung terlongong- longong. Empat buah peluru bajanya sudah pernah menggetarkan dunia Kang-ouw, membuat namanya terkenal, karena pelurunya begitu keluar dari tangannya belum pernah meleset, kekuatannya juga sangat hebat, siapa yang kena, perutnya akan dibikin bolong hingga sukar mendapat pertolongan.

Bocah cilik itu meski tinggi ilmu silatnya, juga tidak mungkin tidak terluka barang sedikit?

Bagaimana ia tidak kaget? Hanya satu hal, sekarang mendapat alasan untuk mengejek Lie Cit Nio, maka lantas berkata: "Lie Cit Nio, apa kau tidak salah kata? Kau ini yang dinamakan seorang yang sudi gawe"

Wanita yang disebut Lie Cit Nio itu, pada saat mana juga terheran-heran. Ia selamanya anggap belum pernah salah melihat orang, kalau dilihat dari luarnya bocah itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat, namun bagaimana tahan serangan pelurunya To Pa Thian yang namanya sudah menggetarkan dunia Kang-ouw, ini benar-benar aneh!

Tapi kenyataannya memang begitu, Kim Houw memang benar-benar tidak berlaku bahkan masih memandang To Pa Thian dengan mata melotot, kemudian ia membentak dengan suara keras: "Aku dengan kau tidak mempunyai permusuhan apa-apa, mengapa bertemu lantas menyerang aku dengan peluru?"

Dibentak secara kasar oleh Kim How, To Pa Thian lantas gusar: "Bocah busuk, masih mau berlagak, kau berani kata tidak ada permusuhan dengan aku?" katanya.

Tiba-tiba terdengar suara orang nyaring seperti genta, sembari dibarengi dengan ucapannya yang mengandung ejekan: "Lau To, hari ini kau kesandung batu!"

Wajah To Pa Thian seperti kepiting direbus, dengan gemas ia berkata kepada Kim Houw: "Aku tidak mempunyai tempo untuk adu mulut dengan kau, kuhajar dulu nanti kita bicara lagi", belum rapat mulutnya, tangan kanannya sudah bergerak menjambret Kim Houw.

Lie Cit Nio tiba-tiba lintangkan pedangnya sambil berkata: "Ia adalah aku yang menemukan, aku berhak mengatakan apa yang aku suka, siapa hendak menganiaya lebih dulu harus mampu melewati aku dulu!"

To Pa Thian tidak menduga bahwa Lie Cit Nio benar-benar hendak menghalangi maksudnya, hatinya panas seketika, maka lantas menyerang Lie Cit Nio dengan bengis sekali.

Lie Cit Nio ketawa dingin, dengan satu gerakan "Burung garuda pentang sayap," ia putar pedang pusakanya, tangannya bergerak mengarah biji mata, pedangnya menikam perut, gerakannya dilakukan sangat cepat bagaikan kilat, sehingga To Pa Thian terpaksa harus tarik kembali serangannya.

"Berkelahi ya berkelahi, apa aku kira aku takuti kau...?" demikian katanya gusar.

Dalam sekejap saja, To Pa Thian sudah melancarkan tiga jurus serangan, tapi Lie Cit Nio sejuruspun tidak mencoba untuk mengelakkan. Kepandaian dan adatnya nyonya tua ini, justru termasuk golongan keras, ia tidak pernah mengerti apa artinya mundur atau berkelit, dengan cara balas menyerang ia menghentikan serangan lawannya, hampir berbareng dalam saat itu juga sudah balas menyerang tiga jurus.

Bertempur secara demikian, memang jarang tertampak di dalam dunia persilatan, juga sangat berbahaya karena setiap jurus serangan bisa mengakibatkan hancur kedua-duanya.

Kim Houw yang berdiri di samping telah dibikin terperangah oleh keadaan yang hebat itu, dulu ketika masih di Bwee Kee Cung, ia juga pernah menyaksikan Touw Peng Peng melatih silat dengan piau-ko nya tapi mana ada begini hebat? Selagi menonton dengan asyiknya, seorang wanita setengah umur berparas cantik tapi pakaiannya juga rombeng seperti yang lain-lainnya, muncul dari rombongan orang banyak dan mendekati Kim Houw.

"Adik kecil, kau datang dari mana? Apa kau tahu di dunia Kang-ouw selama belakangan ini pernah terjadi apa-apa? Dan apa maksudmu datang kemari?"

Kim Houw sejak tadi tidak pernah lihat wanita cantik itu, maka begitu melihat, ia langsung tercengang wajahnya wanita ini agaknya sudah pernah dilihat, tapi entah dimana? Terutama suaranya yang lemah lembut, benar-benar memikat hatinya, sampai pertanyaan wanita tadi ia seolah-olah tidak mendengarnya... makin lama Kim Houw mengawasi, makin mirip dengan orang yang pernah dikenal, akhirnya ia beranikan diri untuk menanyanya: "Numpang tanya, apakah cianpwee..."

Baru separuh bicara matanya telah dapat lihat wajah dingin kaku dari wanita cantik itu, ia tercekat, maka tidak berani melanjutkan pertanyaannya.

Wanita itu yang sebetulnya sedang mendengarkan pertanyaan Kim Houw, tapi mendadak Kim Houw urungkan maksudnya, lalu menanya: "Kau hendak tanya apa? Tanyalah saja, di sini tidak ada seorangpun bisa mencelakakan dirimu!"

Keterangan wanita itu menambah keberanian Kim Houw.

"Apakah cianpwe adalah... San Hua Sian Lie...?" demikian tanyanya.

"Betul!" jawab wanita cantik itu, lalu memeluk Kim Houw, dengan air mata berlinang-linang ia menanya: "Adik kecil, kau siapa? Mencari aku ada urusan apa?"

Kim Houw tidak nyana dapat menemukan ibu kekasihnya dengan demikian mudahnya, ia lantas melepaskan diri dari pelukan wanita cantik itu, kemudian berlutut di depannya, di belakangnya tiba-tiba terdengar orang berkata: "Tiada ada gunanya, ternyata cuma binatang yang bisa angguk-anggukkan kepala saja."

Kim Houw tidak mau ambil pusing jengekan itu, dengan girang ia berkata kepada San Hua Sian Lie: "Namaku Kim Houw, aku datang dari Bwee Kee Cung, nona Peng Peng pernah pesan aku supaya mencarikan ayah bundanya yang sudah sepuluh tahun lebih tidak ada kabar beritanya."

"Apa?" San Hua Sian Lie berseru kaget, "mencari ayah bundanya?"

"Benar, ayah bundanya, ayah bernama Bwee Seng gelarnya pedang malaikat, ibunya. "