ISMRP Jilid 30 Tamat

 
Jilid 30 (Tamat)

DALAM waktu sekejap, terjadilah suatu pertempuran dahsyat yang terbagi beberapa kelompok.

Nie Soat Kiao sementara itu sudah siap sedia dengan pedang terhunus, untuk memberi bantuan kepada Siang-koan Kie, apabila pemuda itu keteter.

Koo Pat Kie mengeluarkan seluruh kepandaiannya, pecutnya mengurung rapat Siang-koan Kie. Dengan sangat berani Siang-koan Kie menggunakan senjata pusakanya untuk melindungi dirinya, kalau mendapat kesempatan, lalu menerobos kurungan pecut musuhnya dengan senjatanya yang luar biasa tajamnya.

Satu kali, senjata Siang-koan Kie berhasil membabat pecut Koo Pat Kie, dan pecut itu tertabas tinggal setengah.

Nie Soat Kiao yang menyaksikan kejadian itu, lantas berseru ! “Koo Hauw-ya, diantara empat raja muda, kaulah yang terhitung paling pintar, sifatmu juga agak ramah kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Aku harap supaya kau pikir lagi masak2, asal kau terima baik, sejak hari ini, kau tidak akan bermusuhan lagi dengan orang2 golongan baik2, bukan saja kau akan kembali dalam keadaan utuh, aku juga akan mengijinkan kau bawa pulang pasukanmu ... “

“Pasukanku ini, sudah banyak mengalami pertempuran dengan orang2 golongan Siauw-lim, Kun-lun, Ceng-shia dan Ngo-bie. Meskipun tidak menang, tetapi dapat mengundurkan diri dalam keadaan utuh. Kalau golongan pengemis bisa mengurung aku Koo Pat Kie di tempat ini, aku ingin tahu, dengan menggunakan siasat apa sebetulnya?” menjawab Koo Pat Kie.

“Kau tidak mau dengar nasehatku, terpaksa kau harus menelan pil pahit dari perbuatanmu sendiri.”

Koo Pat Kie melemparkan senjata pecutnya berkata kepada Siang-koan Kie : “Kepandaianmu tinggi sekali, aku sangat kagum, sekarang aku ingin menggunakan sepasang tangan kosong, untuk menerima pelajaranmu lagi.”

“Aku juga akan menggunakan tangan kosong untuk memenuhi permintaanmu." jawab Siang-koan Kie.

Tanpa banyak cerita Koo Pat Kie menyerang Siang-koan Kie dengan tinjunya. Siang-koan Kie tidak menyingkir, sebaliknya menyambut tinju itu dengan tinju juga.

Koo Pat Kie menarik kembali serangannya, katanya, “Aku sudah banyak menghadapi musuh tangguh belum pernah melihat caramu mengadu tinju seperti ini?”

Setelah berkata demikian, ia melancaikan serangannya dengan menggunakan telapakan dan jari tangan.

Keduanya kembali saling menyerang dengan tangan kosong, namun demikian, pertempuran kali ini ternyata lebih dasyat dari pada yang duluan.

Pertempuran sudah berlangsung tiga atau empat puluh jurus, tetapi keadaan masih berimbang.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan jalannya pertempuran, diam2 merasa cemas, selagi hendak turun tangan membantu Siang-koan Kie, tiba2 terdengar seruan tertahan, dua orang yang sedang bertempur sengit mendadak terpencar mundur, keduanya terhuyung2.

Beberapa anak buah Koo Pat Kie yang berdiri menonton di tempat agak jauh, ketika melihat Koo Pat Kie terluka parah, tiba2 menyerbu, seorang membimbing Koo Pat Kie, beberapa yang lainnya menyerbu Siang-koan Kie.

Nie Suat Kiao yang sejak tadi sudah siap, dengan cepat melindungi dari serbuan anak buahnya Koo Pat Kie, tanyanya dengan suara perlahan : “Bagaimana keadaan lukamu?"

Sebelum Siang-koan Kie menjawab, seorang anak buah musuh sudah menyerang tulang rusuknya Siang-koan Kie dengan sebuah golok besar.

Nie Suat Kiao belum keburu menolong, sedangkan Siang- koan Kie yang hendak mengelakkan serangan itu, badannya berputaran dan akhirnya jatuh dalam pelukan Nie Suat Kiao. Dengan tangan kiri Nie Suat Kiao memeluk Siang-koan Kie, dengan tangan kanan yang memegang senjata pendek, menangkis serangan kedua penyerangnya itu. Di samping itu, kakinya juga melakukan satu tendangan kesikut orang itu, hingga goloknya terlepas.

Gadis kosen itu sambil melawan serangan musuhnya, masih tidak melupakan keadaan Siang-koan Kie, yang saat itu ternyata sedang memejamkan mata.

Dari jauh tiba2 terdengar suara siulan panjang kemudian disusul oleh munculnya Wan Hauw secara mendadak, yang menyerbu anak buah Koo Pa Kie.

Tanpa banyak bicara Wan Hauw menyambar orang yang tadi ditendang senjatanya oleh Nie Suat Kiao, kemudian dibantingnya, hingga mati seketika itu juga. Setelah itu ia menyerbu Koo Pat Kie. Enam atau tujuh anak buah Koo Pat Kie yang melindungi, segera menyambut serangan Wan Hauw. Dengan satu serangan Wan Hauw berhasil membuat terpental dua batang golok, satu disambarnya dan disambitkan ke arah Koo Pat Kie. sedang serangan tangannya ditujukan kepada orang2 yang melindungi.

Orang2 itu ketika Wan Hauw menyambitkan senjatanya, buru2 mendorong Koo Pat Kie yang sudah terluka. Tetapi oleh karenanya, golok yang disambitkan oleh Wan Hauw itu mengenakan orang itu, sehingga tertabas kutung.

Wan Hauw benar2 sudah kalap, ia menyambar salah seorang anak buah Koo Pat Kie, digunakan sebagai senjata, untuk menyerang orang2 yang melindungi Koo Pat Kie.

Koo Pat Kie setelah mendapat luka, tidak bisa memimpin pasukannya lagi, sedangkan Kim Goan Pa yang merupakan tangan kanannya, juga sudah dirubuhkan oleh Wan Hauw. Anak buahnya meskipun banyak, tetapi karena tidak ada yang memimpin, bagaimana sanggup melawan serangan anak buah golongan pengemis? Dalam keadaan demikian, terpaksa pada berusaha untuk lari.

Dua kacung dan lima anggauta pasakan berani mati, sebetulnya hendak mengejar, tetapi dilarang oleh Nie Suat Kiao.

“Semangat musuh telah runtuh, kita justru harus menggunakan kesempatan ini membasmi habis mereka, mengapa nona mencegah?”

Sementara itu Koo Pat Kie juga sudah kabur dengan dilindungi oleh anak buahnya.

“Kita hendak memberi pukulan kepada Kun-liong Ong, tetapi tidak boleh terlalu menyakiti hatinya ...?"

Pada saat itu, tiba2 Auw yang Thong datang bersama Koan SamSeng, Kiang Su Im dan Tiat-bok taysu serta Hui Kong Leang.

“Kedatanganku agak terlambat ... " berkata Auw-yang Thong setelah bertemu muka dengan Nie Soat Kiao, mendadak ia ingat Siang-koan Kie duduk bersemedi dengan memejamkan matanya.

Maka ia lalu menanya : “Dia kenapa?”

“Ia bertempur sengit dengan Koo Pat Kie, mendapat luka." menjawab Nie Soat Kiao.

“Bagaimana keadaan lukanya!”

Siang-koan Kie mendadak membuka mata dan menjawab : “Lukaku tidak berat, terima kasih atas perhatian pangcu, dan nona Nie.”

Kiang Su Im yang selalu tidak banyak bicara mendadak berkata : “Aku sebetulnya tidak pantas ikut bicara, tetapi ada beberapa hal aku tidak mengerti, sesungguhnya tidak enak kalau aku tidak tanyakan. Aku hanya ingin minta sedikit keterangan kepada nona.” “Kiang locianpwee ingin tanya apa, silahkan boan-pwee bersedia mendengarkan." berkata Nie Soat Kiao.

“Nona sungguh hebat, dalam satu gerakan, dengan beruntun menghancurkan pasukan2 raja2 muda Kun-liong Ong, aku sesungguhnya sangat kagum. Tetapi aku tidak mengerti, mengapa nona tidak mau mengejar musuh selagi kita mendapat kemenangan besar. Kecuali membunuh mati Tang peng hauw, yang lainnya nona sengaja lepaskan?'

“Pertanyaan yang tepat ... " berkata Nie Suat Kiao, “Orang yang mempunyai pikiran demikian barangkali bukan hanya locianpwee seorang saja Boanpwee justru orang dari istana Kun-liong Ong, hari ini tidak memberikan keterangan, barangkali akan menimbulkan perasaan curiga kepada saudara2.”

Semua orang saling berpandangan, tiada satu yang membuka mulut.

Nie Suat Kiao berkata pula sambil menghela napas panjang

: “Boanpwee seharusnya memberi keterangan kepada pangcu lebih dulu, tetapi selama beberapa hari ini keadaan sangat gawat, sehingga terus tidak ada waktu untuk boanpwee memberi keterangan kepada pangcu ... ”

“Dahulu sewaktu Teng sianseng masih hidup, juga tidak dimustikan setiap perkara harus dirundingkan dulu denganku, Asal adil, aku dan semua Saudara tentu bisa menerima." berkata Auw-yang Thong.

“Hamba ada mempunyai kepintaran apa, bagaimana dapat dibandingkan dengan Teng sianseng, berkata Nie Suat Kiao, matanya pelahan2 menyapu wajah semua orang yang ada di situ, “kita dalam beberapa hari ini terus menerus menghadapi pertempuran hebat, maksudnya ialah hendak memberi pukulan bathin kepada Kun-liong Ong ... Dengan demikian berarti, ia benar kerusakan, tetapi tidak berat ... ” Koan Sam Seng tiba2 bertanya : “Apa yang kita tidak mengerti ialah disini, mengapa harus berbuat demikian? Harus kita ketahui bahwa orang2 kita pada dewasa ini, boleh dikata sudah termasuk orang pilihan yang paling kuat. Kalau diulur waktunya, terhadap kita tidak menguntungkan. Apalagi nanti setelah Kiang tayhiap dan Tiat-bok taysu berlalu, maka kekuatan kita mau tidak mau pasti akan berkurang. Apakah harus menunggu sampai saat itu baru mengadakan pertempuran yang menentukan dengan Kun- liong Ong?'

"Kemenangan kita hari ini, bukanlah kemenangan dari tangan kita, melainkan kebetulan, mendapat bantuan orang lain ... " berkata Nie Suat Kiao.

“Orang2 kita banyak yang luka dan binasa, kemenangan ini sudah ditebus oleh banyak jiwa dari orang2 kita, mengapa bukan kemenangan yang didapatkan dari tangan kita?”

“Entah bantuan dari siapa yang nona maksudkan?”

Mata Nie Suat Kiao ditujukan ke arah Siang-koan Kie, katanya : “Dalam pertempuran melawan pasukan tiga raja muda itu, setiap pertempuran dilakukan dengan sepenuh tenaga oleh orang2 kita, tetapi apabila tiga raja muda itu kekuatannya digabung menjadi satu, aku ingin tanya apakah kita yakin benar dapat menangkan mereka?”

Mendengar pertanyaan demikian, semua orang diam.

Kemudian Koan Sam Seng baru menjawab : “Taruh kata mereka bergabung, kita juga belum tentu kalah.”

“Andaikata Kun liong menyerang dari belakang, bagaimana?”

“Keadaan menjadi bahaya."

“Jangan dilupa bahwa Kun-liong Ong masih mempunyai pasukan berkuda yang pandai bertempur setiap anggotanya berkepandaian tinggi, Di samping itu, anak buah Kun-liong Ong yang berada dalam istana jumlahnya tidak kurang dari enamratus jiwa, ditambah lagi dengan pasukan raja2 mudanya jumlahnya paling sedikit ada seribu jiwa. Jumlah ini jauh lebih besar dari pada jumlah orang-orang kita yang ada disini. Kun- liong Ong memanggil raja2 muda timur, selatan dan utara, sudah tentu akan mengepung kita, bukan saja membuat kita berada dalam kepungan, tetapi juga akan dibasmi sekaligus olehnya. Kun-liong Ong yang memegang pimpinan sendiri dalam pertempuran, pasukan raja2 muda dibagi menjadi tiga jalan untuk menyerang, sedangkan hingga sekarang kita masih belum melihat pasukan yang dipimpin sendiri oleh Kun- liong Ong.”

“Keterangan ini memang beralasan." berkata Auw yang Thong.

“Oleh karena itu, maka hamba berani memastikan bahwa Kun-liong Ong sekarang ini sudah tidak mempunyai orang kuat yang bisa digunakan, sehingga kita dengan mudah bisa mendapat kemenangan.”

“Penasehat kita ini benar2 pandai mengatur siasat, seharusnya mendapat pahala paling besar," berkata Hui Kiong Leang.

“Mengapa Kun-liong Ong sampai tidak ada orangnya yang kuat yang dapat digunakan?” bertanya Kiang Su Im.

“Inilah yang perlu boanpwee jelaskan, kemenangan terakhir dalam pertempuran kita dengan Kun-liong Ong, ada seorang yang dapat menentukan jalannya pertempuran ... ”

“Maksudmu Siang-koan Kie?" tanya Auw-yang Thong, yang seolah2 menyadari maksud Nie Soat Kiao

“Benar, ia bisa meniup seruling yang bisa membuat orangnya Kun-liong Ong menyerah, sebab, orang2 yang kuat dikumpulkan oleh Kun-liong Ong kecuali beberapa pemimpinnya, semua diberi makan obat olehnya supaya menuruti kehendaknya kalau kita membinasakan Koo Pit Kie dan Ang Tauw, Kun-liong Ong pasti akan merasa sendirian, dan jika ia melarikan diri oleh karena itu, kemana kita harus cari mereka? Dengan demikian berarti maksud kita untuk membasmi kejahatan belum tercapai, sudah meninggalkan bahaya bagi rimba persilatan dikemudian hari.”

“Hal ini kita benar2 belum menyadari." berkata Koan Sam Seng.

“Sekarang kita bagaimana harus menggempur istananya Kun-liong Ong, apakah perlu segera bergerak? Harap nona berikan putusannya!" Berkata Auw yang Thong.

“Menurut pikiran hamba, kita baik beristirahat tiga hari di tempat ini, supaya saudara2 kita yang mendapat luka, bisa merawat diri masing2.”

Auw yang Thong mengerti bahwa Nie Suat Kiao mengatur demikian, pasti ada maksudnya, maka ia menyetujui usulnya.

Meski masih ada banyak orang yang ingin tanya, tetapi ketika melihat pangcunya sudah menerima baik usul Siang- koan Kie, hingga tidak berani menanya lagi.

Nie Suat Kiao lalu mengeluarkan perintah, supaya orang2nya beristirahat.

Wan Hauw antarkan kesebuah kamar untuk merawat luka dalam tubuhnya, karena ia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna, setelah mengaso dua jam, kekuatan tenaganya sudah pulih kembali.

Nie Suat Kiao setelah membereskan urusannya, lalu pergi mencari Auw yang Thong.

Auw yang Thong agaknya sudah menduga kalau Nie Suat Kiao pasti akan berkunjung, sudah disediakan minuman teh.

Nie Suat Kiao duduk di atas kursi yang sudah disediakan, wajahnya mendadak berubah serius, katanya lambat2 : “Dalam pertempuran yang akan datang, pangcu mempunyai berapa persen keyakinan untuk mendapat kemenangan?” Setelah berpikir sejenak, Auw-yang Thong menjawab : “Tentang ini agak sulit aku dapat memastikan, tetapi kalau ditilik kekuatan kedua pihak, kita masih sanggup melakukan pertempuran besar2an dengannya.”

“Menurut pandangan hamba, agak berlainan dengan pandangan pangcu. Dalam pertempuran yang akan datang ini, ada menyangkut mati hidupnya Kun-liong Ong, maka ia pasti akan bertindak seganas mungkin tanpa pikirkan caranya. Maka dalam pertempuran ini, kesempatan bagi kita untuk merebut kemenangan sebetulnya kecil sekali, kita perlu merubah siasat!”

“Dalam hatimu barangkali sudah mempunyai rencana yang sempurna?”

“Ini sudah lama hamba pikirkan, tetapi selalu tidak menemukan siasat yang sempurna. Oleh karena itu, maka hamba perlu datang kemari untuk minta pikiran pangcu.”

“Rencanamu untuk menghancurkan pasukan tiga raja muda Kun-liong Ong, telah berhasil gilang gemilang, sekalipun Teng sianseng sendiri, barangkali juga cuma begitu ... ”

“Bukan maksud hamba akan mengabaikan soal ini, sebetulnya sudah kehabisan akal, hamba sudah memikirkan tujuh atau delapan rencana, tetapi setelah hamba pikir lagi masak2, hanya dua yang tepat kita pakai, tetapi ini juga harus menempuh bahaya besar sekali.”

“Tidak perduli kau hendak menggunakan siasat yang mana, aku pasti akan mendukung ... ”

“Dua rencana itu, yang satu ialah, kita harus berserikat dengan sembilan partay besar, menggerakkan seluruh kekuatan rimba persilatan, mengepung istana Kun-liong Ong, kita kurung istana itu dengan kayu bakar, kemudian dibakarnya. Siasat ini mungkin agak kejam, tetapi kalau dijalankan dengan tepat, sekaligus dapat menyapu bahaya dikernudian hari.” “Dan siasat yang kedua?”

"Memilih tenaga yang terkuat, mengempur istananya tanpa memikirkan resikonya, tetapi hamba dapat memastikan bahwa tindakan demikian pasti akan meminta banyak korban jiwa, sedangkan kalah menangnya masih belum dapat dipastikan.”

“Menyerang dengan api meskipun baik, tetapi memakan banyak waktu. Siasat kedua meskipun lebih cepat, tetapi resikonya terlalu besar.”

“Justru itu maka hamba tidak bisa mengambil keputusan.”

Seorang anak buah golongan pengemis mendadak minta ketemu kepada pangcunya. Ia melaporkan bahwa ia telah menangkap seorang mata-mata Kun-liong Ong, mata2 itu katanya perlu menjumpai pangcu dan penacehat, untuk membicarakan soal penting.

“Apakah kau sudah menggeledah badannya?" tanya Nie Suat Kiao.

“Sudah, ia tidak membawa senjata atau barang yang mencurigakan.”

“Baiklah, kau bawa dia masuk.”

Orang itu lantas keluar, sebentar kemudian ia balik lagi bersama empat orang yang menggiring seorang tawanan.

Ketika Nie Suat Kiao melihat tawanan itu, lantas bangkit dari tempat duduknya, dan berkata sembari memberi hormat : “Oh, kiranya Touw Tayhiap, anak buah kita tidak tahu kalau tayhiap, harap supaya dimaafkan.”

Auw-yang Thong lalu memerintahkan supaya anak buah golongan pengemis yang membawa Touw Thian Gouw keluar semua.

Tawanan itu memang benar adalah Touw Thian Gouw yang menjadi mata2 di istana Kun-liong Ong untuk kepentingan golongan pengemis. “Ada urusan penting aku perlu sampaikan kepada pangcu, maka dengan menempuh bahaya aku datang kemari ... " berkata Touw Thian Gouw.

Mendadak menutup mulut, matanya mengawasi sekitarnya. “Touw tayhiap memerlukan apa?" tanya Auw-yang Thong. “Apakah kau ingin bertemu dengan Siang-koan Kie?" tanya

Nie Suat Kiao.

“Sebaiknya supaya minta ia juga datang kemari, Sebab urusan ini perlu sekali dengan tenaganya." berkata Touw Thian Gouw.

“Ia terluka, kini sedang beristirahat, barangkali tidak bisa datang." berkata Nie Suat Kiao.

Touw Thian Gouw terkejut, “apakah lukanya parah?

Bolehkah aku pergi melihat?”

“Lukanya meskipun tidak ringan, tetapi karena kekuatan tenaga dalam ia sudah sempurna, masih sanggup tahan. Kalau Touw tayhiap ada keperluan dengannya, katakan saja padaku sama saja." berkata Nie Suai Kiao.

“Tadi malam Kun-liong Ong memimpin sepasukan orang2 kuat, melakukan perjalanan malam, entah apa tujuannya? Aku sendiri juga merupakan salah satu orang yang dipilih, tetapi aku telah melarikan diri dan terus menuju kemari.”

Nie Suat Kiao berpikir sebentar, kemudian berkata : “Kun- liong Ong meski mengalamkan kekalahan hebat, tetapi kekuatannya masih belum boleh kita pandang ringan, seharusnya tidak akan lari!”

“Kalau benar2 ia membawa orang2 kepercayaannya, sembunyikan diri di dalam gunung, benar-benar sangat runyam.”

“Urusan ini ada hubungan apa dengan Siang-koan Kie?" tanya Nie Suat Kiao. “Kun-liong Ong telah mengadakan perundingan dengan seorang tua berjenggot panjang, aku diam2 mencuri dengar, dalam pembicaraan mereka telah menyebut2 nama saudara Siang-koan Kie.”

“Kecuali Siang-koan Kie, apakah ada menyebutkan nama pangcu?”

“Aku tidak dengar mereka membicarakan pangcu, suara mereka perlahan sekali, mungkin juga disebut, tetapi aku tak dengar.”

“Urusan ini aku sendiri juga kurang terang, tetap menurut dugaanku, pasti besar sekali sangkut pautnya. Coba Touw tayhiap pikir2 lagi, kecuali Siang-koan Kie, masih ada menyebut nama siapa?”

“Tidak ada.”

“Kalau begitu, terpaksa kita undang Siang-koan Kie datang." berkata Auw-yang Thong.

“Biarlah hamba sendiri yang pergi menengok, entah bagaimana keadaan lukanya?" berkata Nie Sua1 Kiao yang lantas berlalu.

Sebentar kemudian, ia sudah balik lagi bersama Siang-koan Kie.

Touw Thian Gouw menyongsong seraya berkata : “Apa luka saudara sudah sembuh?”

“Tidak halangan, apakah selama ini Touw toako baik2 saja?”

“Anak buah Kun-liong Ong, kebanyakan sudah diberi makan obat melupakan dirinya asal bisa berpura2 seperti orang linglung, tak mudah diketahui.”

“Touw toako dengar pembicaraan apa tentang diriku?” “Aku hanya dengar menyebut namamu, seperti hendak pergi kesatu tempat, yang ada hubungannya denganmu.”

Siang-koan Kie berpikir sejenak, tiba2 berseru : “Aku mengerti.”

“Urusan apa?" bertanya Auw-yang Thong. “Mereka hendak pergi kemakam Teng toako.”

“Teng sianseng sudah tiada, perlu apa Kun-liong Ong pergi kemakamnya?" bertanya Auw-yang Thong heran.

“Dimasa hidupnya Teng sianseng pernah berkata padaku, diwaktu Kun-liong Ong hendak berhasil dengan usahanya, atau mendapat pukulan hebat, pasti akan datang kemakamnya untuk mencari sesuatu barang." berkata Siang- koan Kie.

“Barang apa?" tanya Nie Suat Kiao.

“Barang apa adanya toako belum pernah menerangkan, tetapi ia beritahukan padaku, diwaktu Kun-liong Ung memasuki makam, juga berarti hari kematiannya ... " berkata Siang-koan Kie.

“Dalam pesan Teng sianseng apa masih menyebutkan soal itu?" tanya Auw-yang Thong.

“Sewaktu toako berkata padaku tentang Kun-liong Ong yang hendak masuk ke dalam makam, aku masih kurang yakin akan kebenarannya, maka aku tidak memberitahukan kepada pangcu.”

“Apakah dalam pesan Teng sianseng tidak menerangkan supaya pangcu mengirim orang2 kuat kemakamnya?" bertanya Nie Suat Kiao.

“Tidak, ia hanya menyuruh aku seorang yang masuk ke dalam makam ... " menjawab Siang-koan Kie. “Kau sendiri yang masuk ke dalam makam, melawan Kun- liong Ong dengan pasukannya? Kekuatanmu tentunya tak seimbang." berkata Touw Thian Gouw kaget.

“Teng sianseng seorang pandai luar biasa, ucapannya tak boleh dianggap sepele, ia tentu sudah mempunyai rencana yang baik." berkata Nie Suat Kiao.

“Seorang diri masuk ke dalam makam, aku juga merasa terlalu bahaya." berkata Auw-yang Thong.

Ia agaknya tak mau menyatakan pikirannya, bicara sampai di situ, mendadak bungkam, matanya menatap wajah Nie Suat Kiao, jelas bahwa ia menyerahkan persoalan ini kepada Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao berpikir sejenak, lalu bertanya kepada Siang- koan Kie dengan suara perlahan : “Apakah kau pernah pikirkan bagaimana kau harus berbuat.”

“Pesan toako, sudah tentu menjadi kewajibanku untuk melakukannya.”

“Kau hendak masuk kedalam makam seorang diri?” “Pesawat rahasia dalam makam, hanya aku seorang diri

yang mengawasi pembuatannya, kebanyakan aku masih ingat dengan baik, sudah tentu aku harus masuk.”

“Kalau aku mengutus seseorang, masuk bersama2 denganmu, apa kau tidak keberatan.”

Sejenak Siang-koan Kie ragu2, kemudian ia berkata : “Hal ini berarti melanggar pesan toako, menurut pikiranku, tidak usah saja.”

“Apakah dalam pesan Teng sianseng, pernah kata tidak boleh ada orang lain ikut serta bersamamu masuk ke dalam makam?”

“Ia suruh aku seorang diri yang masuk, ini sudah cukup jelas, sudah tentu tidak perlu diberi penjelasan lagi.” “Ia suruh kau seorang diri yang masuk, tentu ada maksudnya, tetapi menurut pikiranku, maksud itu tidak terlepas ... “ mata Nie Suat Kiao ditujukan kepada Auw-yang Thong, sambungnya, "kesatu ialah, barang yang akan dicari oleh Kun-liong Ong pasti barang sangat berharga, mungkin ada hubungannya dengan keadaan rimba persilatan yang akan datang ... ”

Siang-koan Kie tiba2 menyela : “Nona sebutkan tentang ini, sekarang aku ingat satu hal.”

“Apa?”

“Pada suatu hari ketika aku dengan toako membicarakan urusan dunia Kang ouw, toako agaknya pernah menyebutkan tiga benda pusaka rimba persilatan, karena waktu itu semangatnya kurang baik, baru bicara setengah sudah jatuh pingsan ... ”

“Dan selanjutnya, apakah ia tidak menyebutkan lagi?” “Selanjutnya,    keadaan    toako    semakin    memburuk,

perhatiannya   dipusatkan   kepembuatan   rencana   gambar

makamnya, sehingga tidak menyebutkan urusan itu lagi!”

“Kau pikirlah lagi baik2, terhadap tiga buah benda pusaka rimba persilatan itu, bagaimana anggapannya?”

Siang-koan Kie berpikir agak lama, kemudian berkata : “Waktu itu, ia sendiri sudah tahu harus menggunakan sisa hidupnya untuk menyelesaikan lukisan untuk pembuat makamnya, oleh karena itu ia menggunakan waktunya sebaik2nya, apa yang dikatakan aku kurang jelas, karena aku khawatir penyakitnya, hingga tidak mempunyai perhatian dalam soal itu, hanya samar2 masih ingat, ia seperti pernah kata bahwa barang yang terpenting diantara tiga benda pusaka itu, setelah toako meninggal dunia, barangkali tidak ada orang lagi yang tahu gunanya benda itu, sehingga barang yang sangat berharga, akan berubah menjadi barang buang2an.” “Apakah kau tahu barang apa yang ia maksudkan?” “Bicara sampai disitu, toako lantas jadí jatuh pingsan.”

Nie Suat Kiao berkata : “Dalam hal ini, sudah lama aku merasa curiga, kalau tiga benda pusaka itu hanya sebilah pedang pendek yang sangat tajam dan sebuah batu, agaknya tidak sampai menggemparkan rimba persilatan sedemikian rupa.”

"Teng sianseng seorang pintar yang berpengetahuan luas, dia agaknya sudah tahu hari kematiannya, sehingga membuat perjanjian denganku untuk sepuluh tahun. Tak disangka sebelum tercapai cita2nya, ia sudah meninggal lebih dulu. Aih! Andaikata waktu itu aku tidak memaksa ia memikul tugas seberat ini, dengan pengetahuannya yang sangat luas, keakhliannya dalam ilmu obat2an, mungkin bisa menemukan obat mujarab untuk memperpanjang umurnya." berkata Auw- yang Thong.

“Perkataan pangcu ini, telah mengingatkan aku kata2 toako sebelum menutup mata. Kata2nya itu sebetulnya tidak seharusnya kusampaikan, tetapi mendengar ucapan pangcu yang yang masih mengingat persahabatan lama, aku merasa tidak enak untuk tidak diutarakan." berkata Siang-koan Kie.

“Teng sianseng dalam golongan kita menjabat jabatan penasehat, ini sebetulnya agak merendahkan dirinya. Aku juga sudah pikirkan hendak menyerahkan kedudukkanku, tetapi ditolak dengan halus. Dengan kepandaiannya seperti dia, sepantasnya ia menduduki jabatan pemimpin. Aku pernah mengusulkan padanya, aku niat menggunakan pengaruh golongan pengemis, mengajak semua partay besar, untuk mengangkat dia sebagai pemimpin rimba persilatan, tetapi ia menolak dengan keras." berkata Auw-yang Thong.

“Aih! Perkataan toako meskipun merendah, tetapi juga sebenarnya. Dia pernah berkata padaku, cacadnya yang paling besar, ialah kelemahan hatinya. meskipun ia tahu kelemahannya. tetapi ia tidak sanggup merubah, sesungguhnyalah tidak dapat memegang jabatan sebagai pemimpin. Dia sebenarnya bisa membasmi Kun-liong Ong dalam waktu tiga tahun, tetapi ia tidak bisa melupakan persahabatan dan persaudaraannya dalam satu perguruan, sehingga tidak mau menurunkan tangan kejam. Dengan menggunakan waktu tujuh tahun, ia melatih pasukan berani matinya dan hulu balang, ia mengharap pasukan itu dapat menghalangi kekuatan pasukan Kun-liong Ong, supaya Kun- liong Ong mau melepaskan cita2nya hendak menguasai rimba persilatan. Kelemahan hatinya itu telah menciptakan malapetaka dalam rimba persilatan, banyak jiwa menjadi korbannya keganasan Kun-liong Ong. Setiap kali ia ingat akan ini, ia merasa malu terhadap pangcu dan orang2 yang menjadi korbannya Kun-liong Ong.”

“Sepuluh tahun ia mengabdi pada golongan pengemis, selama itu belum pernah membunuh satu orangpun, kebaikannya sudah mendapat pujian semua anggota golongan kita ... ”

“Berhati mulia, harus disertai tangan keras, tepat untuk mencegah kejahatan, membunuh satu kejahatan, lebih baik dari pada melakukan seratus kebaikan. Andaikata Teng sianseng lebih dulu beberapa tahun mau membasmi Kun-liong Ong, niscaya tidak akan terjadi kekeliruan seperti sekarang." berkata Nie Suat Kiao.

“Kun-liong Ong sudah satu malam berlalu dari istananya, kita tak boleh mengulur waktu lagi, pangcu seharusnya juga lekas mengambil langkah bagaimana untuk menghadapinya." berkata Touw Thian Gouw.

“Benar, kita juga tidak bisa menghambat waktu lagi, sebaiknya kita mendahului Kun-liong Ong datang kemakam Teng sianseng ... " berkata Nie Suat Kiao. “Hanya Siang-koan Kie seorang yang pergi, kedudukannya sangat luas, harap nona perintahkan lagi dua orang untuk membantu padanya." berkata Auw-yang Thong.

Setelah berpikir sejenak, Nie Suat Kiao berkata : “Dalam urusan ini sebaiknya hamba saja yang mengawaninya, entah bagaimana pikiran pangcu?”

“Nona hendak turun tangan sendiri, inilah yang paling baik, tetapi urusan disini ... ”

“Aku pikir tak usah, aku seorang diri sudah cukup untuk menghadapi Kun-liong Ong." berkata Siang-koan Kie.

Touw Thian Gouw terkejut mendengar ucapan Siang-koan Kie, katanya : “Dengan seorang diri kau hendak menghadapi Kun-liong Ong dan orang2nya yang berjumlah puluhan itu.”

“Kalau ditilik dari kepandaian dan kekuatan tenaga, hanya satu Kun-liong Ong saja, aku memang belum sanggup menghadapi, tetapi gambar asli pembuatan makam Teng sianseng, aku sudah pelajari dengan matang, aku boleh menggunakan pesawat rahasia dalam makam, untuk menghadapi Kun-liong Ong, meskipun ia banyak pembantunya, juga tidak bisa berbuat apa2 terhadapku!" berkata Siang-koan Kie.

“Ini rasanya kurang sempurna ... " berkata Auw-yang Thong.

”Kalau kau yakin mempunyai itu kesanggupan, inilah yang paling baik. Teng sianseng sudah memasang pesawat rahasia, rasanya Kun-liong Ong juga tak bisa lolos dari perhitungan Teng sian seng. Hanya, sekarang waktunya sangat mendesak, kapan kau hendak berangkat." berkata Nie Suat Kiao.

“Sudah tentu makin lekas makin baik, sekarang juga aku hendak berangkat, tolong nona sampaikan kepada In chungcu dan Yap suhu, karena waktunya sangat mendesak, aku tidak bisa minta diri kepada mereka." berkata Siang-koan Kie. ”Pergilah dengan hati lega! Aku akan bantu kau mengatur kepentingan Ceng Peng Kongcu." berkata Nie Soat Kiao.

Siang-koan Kie yang sudah keluar pintu, tiba-tiba berpaling dan berkata : “Ada satu hal aku minta pertolongan pangcu dan nona Nie.”

“Urusan apa?" tanya Nie Soat Kiao.

“Harap pangcu kirim beberapa orang kuat, untuk mengantarkan Ceng Peng Kongcu pulang ke negaranya.”

“Baiklah! Aku akan berbuat menurut keinginanmu." berkata Nie Soat Kiao.

Touw Thian Gouw tiba2 berbangkit dan berkata kepada Siang-koan Kie : “Saudara, bolehkah aku pergi bersamamu?”

Siang-koan Kie bersangsi sejenak, akhirnya berkata : “Kalau toako ada itu maksud, siautee juga tidak keberatan.”

Tauw Thian Gouw lalu memberi hormat kepada Auw yang Thong, kemudian meninggalkan ruangan itu pergi menyusul Siang-koan Kie.

Setelah Touw Thian Gouw berlalu, Auw-yang Thong berkata : “Touw Thian Gouw meskipun seorang ternama di luar perbatasan, tetapi kepandaiannya masih belum sanggup melawan Kun-liong Ong, barang kali tidak bisa membantu Siang-koan Kie.”

“Kalau pangcu tetap menghendaki supaya mengirim orang untuk membantu Siang-koan Kie, pergi bersama2 dengannya, barangkali ia akan keberatan.” berkata Nie Soat Kiao.

“Meskipun Siang-koan Kie sudah menjadi anggota kita, tetapi aku tetap menganggap ia sebagai tetamu terhormat dalam perkumpulan, belum pernah anggap ia sebagai orang bawahan. Urusan ini sangat penting, kita tidak boleh membiarkan ia sorang diri menempuh bahaya, menghadapi Kun-liong Ong." “Benar, kita harus mengutus orang diam2 melindungi dirinya, tetapi orang itu harus seorang yang sangat cerdik, hanya boleh mengikuti secara diam2, jangan sampai diketahui olehnya.”

“Nona pikir harus mengutus siapa?"

“Orang itu pertama harus berkepandaian tinggi, dapat melawan Kun-liong Ong sampai seratus jurus ke atas, kedua harus mempunyai kecerdikan luar biasa, dapat bertindak dengan menyesuaikan keadaan.”

“Orang ini hanya nona sendiri yang paling tepat.”

“Menurut perhitungan hamba, meskipun Kun-liong Ong sudah meninggalkan istana, tetapi kita juga tidak perlu menggempur istananya itu.”

“Perkataanmu ini, mungkin ada sebabnya, tetapi ada beberapa yang aku kurang mengerti, Kun-liong Ong pergi jauh dari istananya, bukankah merupakan kesempatan paling baik, selagi istananya dalam keadaan kosong, kita boleh gempur, sekaligus menghancurkan sarangnya.”

“Pangcu dapat berpikir demikian, apakah Kun-liong Ong juga tidak bisa berpikir demikian? Ia berani meninggalkan istananya sesudah mengalami kekalahan besar, sudah tentu sudah ada persiapan. Kalau ini benar, bukankah kita akan tertipu olehnya?”

“Aku sangat kagum atas pikiranmu, dan sekarang bagaimana kita harus bertindak?”

“Menurut pikiran hamba, untuk menangkap penjahat paling baik menangkap kepalanya. Selagi tindakan kita, harus bergerak menurut jejak Kun-liong Ong. Asal kita bisa membunuh mati padanya, segala2nya akan menjadi beres.”

“Ini memang benar, sekarang bagaimana nona hendak mengatur?” “Urusan dismi, semua kita tugaskan kepada Koan Sam Seng, dengan dibantu oleh Hui Kong Leang dan semua kokcu tongcu. Sedapat mungkin pertahankan kekuatan kita, jangan melakukan pertempuran besar2an dengan musuh. Kalau bertemu dengan musuh kuat, harus mundur. Kita gunakan pasukan hulu balang dan pasukan berani mati sebagai inti, kemudian pangcu dan hamba, dan dibantu oleh In chuncu, terbagi menjadi tiga rombongan, pergi kemakam Teng sianseng. Tiba disana kita harus sembunyikan diri diempat penjuru, diam2 membantu Siang-koan Kie. Kalau tidak perlu kita jangan unjuk diri. Kalau Kun-liong Ong sudah dibikin tidak berdaya oleh pesawat rahasia Teng sianseng, itu sudah cukup, tetapi apabila ia kabur, dengan kekuatan kita yang tersembunyi, juga sudah cukup untuk menangkapnya hidup2.”

“Pendapatmu ini benar, tetapi orang2 tiga rombongan ini, bagaimana harus membaginya?”

“Harap pangcu bawa dua anggauta sesepuh dan Tiat-bok taysu berempat satu rombongan, In Chung-cu dengan Kiang Su Im, Yap lt Peng dan dua kacung menjadi satu rombongan. Hamba sendiri bersama Wan Hauw satu rombongan. Kita harus bertindak dengan segera. Sekalipun tidak dapat mendahului Siang-koan Kie, setidak-tidaknya juga harus tiba berbarengan, supaya bisa mengatur tempat.”

“Pembagian ini sangat tepat, harap kau keluarkan perintah atas namaku, supaya segera berangkat.”

Nie Suat Kiao memberi hormat, ketika hendak berlalu, ia berkata lagi : “Masih ada satu hal, harap pangcu beritahukan kepada Koan Sam Seng, supaya baik2 perlakukan Ceng Peng kongcu.”

Auw-yang Thong mengangguk sambil tertawa, “aku akan kirim lima anggauta pasukan berani mati untuk mengantar kesuatu tempat yang aman.” Nie Suat Kiao meninggalkan kamar Auw-yang Thong, bersama Wan Hauw berangkat lebih dulu.

Mereka tidak berani membuang waktu, siang dan malam terus berjalan, kecuali di waktu makan, hampir tidak mengaso sama sekali.

Disuatu senja, tibalah digunung tempat pemakaman Teng Soan.

Nie Suat Kiao memutari perkampungan bekas tinggal Teng Soan, kemudian lompat ke atas sebuah pohon besar, ia berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan : “Kita sekarang beristirahat dulu, malam ini mungkin akan terjadi sesuatu pertempuran hebat.”

Wan Hauw yang selalu menurut kata Nie Suat Kiao, tanpa banyak bicara ia lantas memejamkan matanya, tidur di atas pohon.

Ketika malam tiba, gubuk yang terdapat disudut makam Teng Soan, nampak terang sinar lampu. Nie Suat Kiao yang melihat sinar itu, mengerti bahwa Kua-liong Ong maupun Siang-koan Kie masih belum tiba.

Ia menghitung hitung perjalanan mereka, kalau berjalan tanpa mengaso, Kun-liong Ong mungkin malam ini bisa tiba, sedangkan Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw barangkali esok tengah hari baru sampai. Kalau Siang-koan Kie bisa tiba lebih dulu, ia dapat menggunakan pesawat rahasia Teng Soan untuk menghadapi Kun-liong Ong, tetapi kalau Kun-liong Ong yang tiba lebih dulu, ia akan memasang orang2nya di sekitar makam, hingga apabila Siang-koan Kie hendak masuk ke dalam maka, ia pasti akan bertempur mati2an dulu dengan orang2nya Kun-liong Ong. Dan apabila Kun-liong Ong turut turun tangan, lebih berbahaya bagi Siang-koan Kie. Hal ini memang sudah diperhitungkan oleh Nie Suat Kiao, tetapi karena Siang-koan Kie memaksa akan pergi sendirian, terpaksa ia akan berbuat sebisa-bisanya, untuk memberi bantuan.

Malam itu rembulan terang, di bawah sinar rembulan, tiba2 tampak berkelebatnya sesosok bayangan manusia, yang menghilang ke tempat gelap.

Nie Suat Kiao terkejut, pikirnya : ’apakah Kun-liong Ong sudah sampai lebih dulu?’

Ia mulai pasang mata, penerangan lampu dalam gubuk kecil itu ternyata masih menyala. Ia mulai curiga, sebab apabila Kun-liong Ong tiba lebih dulu, dua orang yang menjaga makam, pasti sudah dibunuh lebih dulu, bagaimana lampu dalam gubuk itu masih bisa menyala?

Waktu itu baru hampir jam satu tengah malam, menurut perhitungannya, tidak mungkin Kun-liong Ong sudah tiba lebih dulu. Tetapi siapakah bayangan orang itu?

Selagi memikirkan persoalan itu, tiba2 tertampak pula bayangan orang yang muncul dari tempat gelap.

Orang itu lambat2 mengitari makam Teng Soan, kembali menghilang ketempat gelap.

Kali ini Nie Suat Kiao sudah dapat melihat dengan tegas, meskipun tidak melihat mukanya, tetapi sudah dapat dipastikan bukanlah Kun-liong Ong, juga bukan Siang-koan Kie. Jalannya lambat2, sudah tentu tidak tergesa2.

Ia semakin memikir semakin curiga, tetapi tidak menemukan jawabannya.

Munculnya bayangan orang itu mengganggu pikiran Nie Suat Kiao. Setelah berpikir bolak-balik, akhirnya ia mengambil keputusan hendak menyelidiki sendiri. Ia berpaling dan menanya kepada Wan Hauw : “Apa kau sudah tidur?” Wan Hauw mendadak membuka matanya, berkata sambil tertawa : “Semangatku baik, sedikitpun tidak merasa mengantuk.”

“Bicara sedikit perlahan.”

“Tadi kau suruh aku tidur, maka aku terpaksa memejamkan mata.”

“Didekat makam Teng sianseng, ada orang memeriksa, aku akan pergi melihat, kau menunggu disini.”

“Sebaiknya aku pergi bersamamu, seorang diri kau pergi menempuh bahaya, bagaimana aku tega?”

“Kau disini menjaga kalau ada musuh datang aku perlu melihat, kalau aku menjumpai musuh, aku nanti panggil kau."

Wan Hauw terpaksa menurut. Dengan sangat hati2 Nie Suat Kiao menghampiri makam, tetapi tak menemukan apa2.

Ia menengok ke arah gubuk, sinar pelita ternyata masih menyala.

Ia diam2 merasa heran, karena orang yang ditugaskan menjaga makam itu, meskipun bukan terhitung orang kelas satu, tetapi kepandaiannya juga sudah cukup tinggi, bagaimana tidak mengetahui ada orang mendekati makam. Selagi hendak berjalan menuju ke gubuk, dari belakang makam Teng Soan mendadak muncul seseorang.

Nie Suat Kiao meskipun berani, tetapi tidak urung masih merasa jeri.

Orang itu mengenakan pakaian tukang batu, setelah melongok kesana sini akhirnya menghilang lagi ke tempat gelap.

Dengan sangat hati2 ia menyenderkan dirinya di dinding tembok, memikirkan bayangan orang yang bisa keluar masuk dengan bebas, ditempat gelap itu tentunya ada pintu rahasia. Dugaannya itu meskipun benar, tetapi kakinya merasa berat, tidak bisa melangkah. Selagi merasa heran, tiba2 terdengar desiran angin, sesosok bayangan orang lompat ke atas tembok.

Nie Suat Kiao dapat lihat dengan tegas bahwa bayangan orang itu berjenggot panjang, mengenakan pakaian warna hijau. Itulah Kun-liong Ong, tidak bisa salah lagi !

Kun-liong Ong memandang ke gubuk sejenak mendadak lompat melesat menyerbu ke gubuk.

Dari dalam gubuk terdengar suara orang menegur : “Siapa?" Api lantas dipadamkan.

Kemudian disusul suara jeritan orang, lalu suara bentakan, setelah itu disusul lagi suara pecahnya jendela dan sesosok tubuh manusia terlempar keluar, ternyata dalam keadaan sudah menjadi mayat.

Kun-liong Ong keluar lagi dengan mengempit seseorang, berjalan kedepan makam.

Dengan sangat hati2 Nie Suat Kiao lari sembunyi ke dalam gubuk, dari lubang jendela ia menyaksikan perbuatan Kun- liong Ong.

Orang yang dibawa oleh Kun-liong Ong itu diletakkan di depan makam Teng Soan, lalu ditanyanya dengan nada suara dingin : “Kalau kau tidak ingin merasakan siksaan hebat, jawablah terus terang semua pertanyaanku.”

Orang itu meskipun jalan darahnya sudah tertotok, tetapi ternyata masih keras kepala, ketika mendengar perkataan demikian, lantas membentak. “Anak buah golongan pengemis, tidak ada yang takut mati. Kalau kau hendak menyiksa, lakukanlah, tetapi kalau kau ingin aku menjawab pertanyaanmu, jangan harap.” Nie Soat Kiao terkejut menyaksikan sikap keras kepala orang itu, karena ia tahu benar kekejaman Kun-liong Ong, orang itu pasti disiksa hebat.

Dugaan Nie Soat Kiao benar, ketika menyaksikan orang tawanannya itu membandel, Kun-liong Ong lalu menyiksa dengan caranya yang sangat kejam.

Orang itu merintih, sekujur badannya kejang dan mengkerut, sebentar kemudian suara rintihan telah berubah menjadi suara jeritan yang mengerikan.

Nie Soat Kiao khawatirkan orang itu tidak tahan siksaan, hingga membuka rahasia ...

Kekhawatirannya lantas terbukti, orang yang tak tahan siksaan itu, akhirnya menyerah, minta dibebaskan dari siksaan dan bersedia memberikan keterangan.

Nie Soat Kiao sangat gelisah, tetapi kecuali menggempur Kun-liong Ong, sudah tidak ada jalan lain, untuk mencegah pengakuan orang itu. Orang itu setelah dibebaskan dari siksaan, terpaksa mengaku.

”Kita berdua hanya mendapat tugas untuk menjaga kuburan, kecuali setiap bulan mengatur sembayangan dua kali, sudah tidak tahu apa2 lagi." demikian katanya.

”Sekalipun kau mengaku tahu keadaan dalam makam, aku juga tidak percaya." berkata Kun-liong Ong sambil menganggukkan kepala.

”Kabarnya ketika makam ini selesai dibangun, ada duaratus tukang batu yang membuat kuburan ini, terkubur hidup2 dalam kuburan.”

Nie Soat Kiao sangat mendongkol mendengar pengakuan orang itu, ia sesalkan mengapa anak buah golongan pengemis ada yang demikian pengecut. Orang itu sudah berkata lagi : “Kita berdua yang bertugas menjaga kuburan ini, setiap tengah malam melakukan pemeriksaan, sering mendengar suara aneh dari dalam kamar

... ”

“Apakah itu ada suara orang2 dalam makam yang masih belum mati?" tanya Kun-liong Ong.

“Itu aku tidak tahu, semula kita merasa takut hampir setiap malam tidak dapat tidur, kita bergadang sambil minum arak ... ”

“Aku tidak percaya adanya setan, aku sudah banyak membunuh orang, belum pernah melihat setan, suara dari dalam kamar itu, pasti suaranya orang2 yang belum mati.”

“Tetapi lama kelamaan, kita sudah biasa, hingga tidak heran lagi!”

“Aku tanya bagaimana caranya masuk kedalam makam, kau tidak perlu bicara soal setan.”

“Pada suatu hari, ketika aku meronda bersama kawanku diwaktu siang hari, telah mendengar suara aneh dari dalam kuburan, seolah2 suara tangisan banyak orang. Dengan senjata terhunus aku dan kawanku membuka pintu rahasia, ingin masuk ke dalam makam untuk memeriksa ... ”

“Jadi, makam raksasa ini masih ada pintu rahasianya, lekas bawa aku pergi periksa ... ”

“Lepaskan aku, nanti kubawa kau melihat pintu rahasia itu.”

Kun-liong Ong benar saja lantas melepaskan tangannya. Orang itu menunjuk kesuatu tempat yang agak gelap,

katanya : “Pintu rahasia itu ada disana, kau ikut dibelakangku,

jangan sampai menginjak pesawat rahasia.” Setelah berkata demikian, orang itu berjalan menuju ke tempat gelap dan berdiri di atas tanah yang banyak rumputnya.

Kun-liong Ong juga tidak tahu bahwa keterangan orang itu benar atau bohong tetapi dalam keadaan demikian, ia terpaksa menurut kehendaknya.

“Kau harus hati2, di tempat ini terdapat banyak pesawat rahasia yang di buat menurut rencana Teng sianseng." berkata orang itu.

Kun-liong Ong belum sempat mengikuti jejak orang itu, telah melihat orang itu mendadak lompat dan membenturkan kepalanya kebatu nisan kuburan Teng Soan.

Karena terjadinya kejadian itu di luar dugaannya sama sekali, Kun-liong Ong sudah tidak keburu mencegah.

Orang itu yang membenturkan kepalanya dengan batu, telah binasa seketika itu juga.

Kun-liong Ong cuma bisa mengawasi dengan hati mendelu, sebentar kemudian, ia baru mengangkat kakinya menendang bangkai orang itu, tetapi hawa amarahnya agaknya masih belum reda, kembali ia menendang batu nisan diatas kuburan Teng Soan.

Tendangan yang sangat kuat itu telah membuat batu nisan tersebut berantakan, dari bekas tempat batu mengeluarkan air mancur.

Kun-liong Ong yang memang merasa takut terhadap Teng Soan, ketika menyaksikan air mancur itu, sangat kaget, buru2 lompat mundur.

Air mancur itu menyembur kira2 dalam waktu sepeminuman air teh, baru berhenti.

Lama setelah berhentinya air mancur, Kun-liong Ong baru berani menghampiri. Bekas batu nisan itu ternyata kosong, di dalamnya masih terdapat kolam air, dalam air terdapat tulisan empat huruf yang berbunyi : “Barang siapa yang mematahkan batu nisan ini akan mati.”

Kun-liong Ong tertegun, hawa amarahnya timbul lagi, kembali ia menendang dengan kakinya, bekas tempat batu itu menjadi berantakan. Diantara reruntuh batu tampak sebuah kotak yang terbuat dari batu giok. Ia menginjak kotak itu, sehingga hancur.

Sejilid kitab yang terbungkus kain sutra putih, tertampak dihadapan matanya.

Ia pungut bungkusan itu, di atas kain sutra terdapat tulisan

: “Kitab pusaka siau-yao, dihadiahkan kepada orang yang berjodoh.”

Ia robek kain sutra, dan membuka kain lembaran kitab itu, seketika itu berdiri kesima.

Kiranya isi dalam kitab itu adalah hal2 yang telah diketahuinya, hanya agak dalam sedikit, hal2 yang diuraikan dalam kitab itu, dahulu ia suka menggunakan waktu sangat lama baru dimengerti, tetapi dalam kitab itu ia dapatkan jawabannya.

Kitab itu terbagi menjadi empat bagian, bagian pertama adalah siasat, kedua siasat peperangan ke tiga ilmu silat dan keempat mengenai penggunaan racun.

Ia duduk di tanah membaca kitab itu, tetapi begitu sampai di bagian terpenting, telah terputus, bagian yang terpenting itu ternyata sudah dirobek oleh tangan orang.

Namun demikian, ia masih terus membaca selembar demi selembar.

Ketika membaca sampai di bagian terakhir, disitu terdapat tulisan yang berbunyi : “Sobekan2 kitab ini dan bagian lanjutan kitab siau-yao, kusimpan di bawah bantal jenazahku.” Kun-liong Ong mendongakkan kepala, matanya memandang rembulan, katanya kepada diri sendiri : “Ia telah menghadiahkan kitab ini kepada Teng Soan, sedangkan aku hanya mendapat pelajaran sedikit saja. Hm! Kalau aku membunuh dia, sedikitpun tidak salah.”

-odwo-

Bab 118

NIE SUAT KIAO yang bersembunyi didalam gubuk, tahu benar keadaan Kun-liong Ong, perkataan yang diucapkan olehnya, ditujukan kepada suhunya yang dibunuhnya sendiri.

Sebagai seorang cerdik, setelah membaca tulisan itu, Kun- liong Ong sudah tahu bahwa Teng soan sudah mengadakan persiapan, memancing dirinya masuk ke dalam makamnya.

Ia berjalan mundar mandir sambil menggendong tangan, agaknya sedang memikirkan dengan cara bagaimana untuk mendapatkan sobekan kitab.

Pengikutnya Kun-liong Ong, hingga saat itu masih belum tertampak, hal ini menimbulkan pikiran baru bagi Nie Suat Kiao, apakah Kun-liong Ong tergesa-gesa hendak sampai lebih dulu, sehingga para pengikutnya tidak dapat mengikuti jejaknya?

Ia khawatir Kun-liong Ong akan berubah pikiran, tidak mau masuk ke dalam makam, kalau benar demikian, maka usahanya hendak mengepung penjahat besar ini akan tersia2 saja.

Tiba2 ia melihat Kun-liong Ong berlutut di hadapan makam, mulutnya kemak kemik, entah apa yang dikatakan.

Setelah itu, mendadak berdiri dan memutari makam, kemudian balik ke tempatnya semula. Ia menarik napas panjang, kemudian berkata : “Aih! Kalau saat ini ada satu anak buahku atau musuhku, aku bisa paksa padanya masuk kedalam makam, untuk membuka jalan, dengan demikian aku tidak perlu menempuh bahaya sendirian.”

Nie Suat Kiao yang menyaksikan sikap Kun-liong Ong, diam2 hatinya merasa lega, karena penjahat itu agaknya sudah mengambil keputusan hendak masuk ke dalam makam.

Tiba2 terdengar suara bentakan Kun-liong Ong : Siapa?”

Nie Suat Kiao terkejut, ia kira dirinya kepergok, maka diam2 menyiapkan tenaganya. Tetapi kemudian terdengar pula suara orang tertawa nyaring, yang disusul oleh kata2nya

: “Aku si orang tua adalah Pao Kie Hian, kau siapa?”

Nie Suat Kiao kembali tercengang, siapakah Pao Kie Hian itu? Mengapa tengah malam buta mendatangi kuburan Teng Soan?

Saat itu muncul seorang tua berjenggok panjang putih, tangannya membawa tongkat.

Melihat orang tua itu menghampiri, Kun-liong Ong lantas membentak : “Aku ada disini, tua bangka lekas berhenti."

Orang tua yang mengaku Pao Kie Hian itu mendadak tertawa terbahak2. “Aku si orang tua sudah lama mendengar kebuasanmu, malam ini aku rasa beruntung dapat berjumpa denganmu."

“Tua bangka kau ngaco belo, apakah kau sudah bosan hidup?”

“Belum tentu, kalau kita bertanding, masih belum tahu siapa yang akan mati?”

Kun-liong Ong sangat marah, ia melompat menyerbu si orang tua.

“Bagus!" demikian orang tua itu berseru dan menyambuti serangannya. Ketika kekuatan kedua pihak saling beradu, Kun-liong Ong masih tetap berdiri di tempatnya. Sedangkan Pao Kie Hian sudah mundur dua langkah.

Tetapi orang tua itu sangat jujur ia belum mengakui kekuatan Kun-liong Ong, sedikitpun tidak marah, sebaliknya malah tertawa terbahak2.

“Nama Kun-liong Ong, benar bukan nama kosong, malam ini aku si tua bangka benar2 menghadapi musuh tangguh.”

Kun-liong Ong sudah mengangkat tangannya hendak menyerang orang tua, tetapi ketika mendengar perkataan itu, lantas mengurungkan maksudnya.

“Kau bukan tandinganku, aku juga tidak akan membunuhmu." demikian katanya.

“Bagus, bagus! Kalau ingin berunding untuk bekerja sama denganku, itulah yang paling baik! Tetapi syarat utama untuk bekerja sama, kedua pihak harus adil.”

“Siapa akan bicara soal bekerja sama denganmu? ....

tengah malam buta, apa perlunya kau datang kemari?"

“Dan kau sendiri, mengapa berada di sini?" Demikian Pao Kie Hian balas menanya sambil tertawa terbahak2.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan gayanya oran tua itu mengurut jenggotnya, mendadak teringat dirinya seseorang

....

Sementara itu terdengar suaranya Kun-liong Ong, “Apa kau hendak mencuri kitab pusaka Teng Soan dalam makam ini?”

“Benar.”

“Tahukah kau ini tempat apa?"

“Aku si orang tua belum pernah berhubungan dengan orang2 rimba persilatan, tidak perduli tempat apa, aku bisa saja sampai." “Tahukah kau bahwa barang pusaka dalam makam, sudah menjadi milikku."

“Barang orang yang sudah mati, siapapun boleh mengambil, sebelum berada ditangan, sudah tentu tidak boleh dikatakan menjadi milikmu."

“Kalau aku sekarang membunuh kau lebih dulu, bukankah kau tidak mendapatkan apa2, bahkan kehilangan jiwamu?”

“Itu masih belum temu."

“Tidak percaya kau boleh coba, tetapi seorang hanya mempunyai selembar jiwa, ini bukan main2 lho!"

“Menurut akhli nujum, aku seharusnya bisa hidup sampai berumur delapanpuluh delapan tahun, sekarang baru tujuhpuluh tahun, jadi aku masih bisa hidup delapanbelas tahun lagi. bagaimana bisa mati?"

“Kalau kau tidak ingin mati, masih ada lain cara."

“Kalau masih ada cara damai, itu paling baik, aku paling tidak suka main senjata segala."

Kata2 orang tua itu agak jenaka, hingga membingungkan Kun-liong Ong yang terkenal cerdik, setelah berpikir lama, akhirnya ia berkata :

“Satu2nya jalan damai, ialah kita harus membuang perasaan permusuhan, lain bekerja sama, masuk kedalam makam, mengambil barang peninggalan Teng Soan ..."

“Boleh, boleh, aku si orang tua paling suka bekerja sama dengan damai, tetapi kita juga perlu bicara dulu, kita harus jujur dan adil, kalau ada yang main gila, sebaiknya bekerja sendiri2.”

“Aku bekerja sama dengan orang, selamanya belum pernah berlaku adil.” “Bagus! kalau begitu kau pasti membiarkan orang lain bekerja lebih dulu?”

“Kalau bukan karena sekarang ini aku membutuhkan tenaga, dengan ucapanmu ini, sudah pasti aku bunuh.”

“Karena sekarang ini kau membutuhkan orang, maka bicaramu harus merendah sedikit.”

“Terhadap kau aku sudah cukup merendah.” “Ceritakan dulu, bagaimana caramu itu?”

“Semua harta benda yang berupa uang dan emas intan, semua akan menjadi milikmu, yang lainnya adalah milikku.”

“Cara ini cukup adil, baiklah aku terima.”

Kun-liong Ong tidak menduga bahwa usulnya itu diterima dengan mudah, tetapi sebagai orang yang banyak curiga, ia masih belum hilang rasa curiganya, katanya dengan nada dingin : “Dengan susah payah kau datang kemari, apakah hanya untuk mendapatkan harta benda dari dalam makam itu saja?”

“Bukan begitu, kalau aku hanya tamak harta benda, juga tidak perlu susah2 datang kemari, cari saja ke rumahnya seorang kaya, curi uangnya, bukankah lebih mudah?”

“Kalau begitu mengapa kau terima baik usulku?”

“Sudah lama aku dengar kepintaran Teng Soan, dalam makamnya ini pasti ada barang peninggalannya, maka aku ingin mencuri barang peninggalannya itu.”

“Kalau begitu kau tadi menipu aku?”

“Juga bukan, sebelum mengambil barang peninggalan Teng Soan aku bekerja sama denganmu secara jujur, tetapi setelah mengambil barangnya, lain lagi.”

Kun-liong Ong berpikir sejenak, kemudian berkata : “Baiklah! Kita tetapkan seperti tadi, setelah kita mengambil barang peninggalan Teng Soan, aku ijinkan kau merebut dari tanganku, tetapi sebelum berhasil mendapatkan barang itu, untuk sementara kau harus dengar perintahku.”

“Sudah tentu.”

Kun-liong Ong diam2 berpikir : ”orang ini bicaranya seperti orang gila, tapi karena saat ini aku sedang membutuhkan tenaga untuk sementara kubiarkan saja, nanti setelah dapatkan barangnya baru kubunuh ... “

“Sekarang kau cari dulu pintu masuknya." demikian ia memberikan perintahnya.

Kun-liong Ong sebetulnya hendak menyulitkan orang tua itu, tak disangkanya bahwa orang tua itu menerima perintah dengan senang hati, bahkan segera dijalankannya.

Pao Kie Hian memutari makam, sebentar kemudian menghilang di tempat gelap, lama tidak muncul lagi, hingga menimbulkan kecurigaannya. Tiba2 terdengar suara Pao Kie Hian : “Pintu ada disini, lekas kemari.”

Kun-liong Ong diam2 merasa heran, dengan tindakkan lebar ia menghampiri, benar saja orang tua itu sudah berada di depan pintu yang sudah terbuka.

Dalam pintu itu gelap gulita, tidak kelihatan apa-apa. “Harap kau jalan dulu." berkata Kun-liong Ong.

“Aku sendiri juga belum pernah masuk, kalau salah jalan, harap supaya dimaafkan.”

Demikianlah dua orang itu masuk ke dalam lobang yang gelap gulita, pintu besi yang terbuka lebar, pelahan2 menutup kembali.

Nie Suat Kiao pelahan2 keluar dari tempat sembunyinya, berjalan mengitari kuburan. Ia mencari sangat hati2, tetapi tidak menemukan dimana letaknya pintu itu tadi. Kecuali batu nisan yang sudah hancur, yang lainnya semua masih utuh.

Di atas tembok tiba2 muncul satu bayangan orang, lompat masuk ke pekuburan.

Desiran angin mengejutkan Nie Suat Kiao, karena sudah tidak keburu menyingkir, terpaksa diam saja dan memandang orang itu.

Orang itu tiba2 memberi hormat kepadanya dan berkata : “Nona Nie, kau ternyata cepat sekali.”

Nie Suat Kiao kini baru dapat tahu bahwa orang itu adalah Touw Thian Gouw.

“Kedatangan kalian juga cukup cepat." Jawabnya sambil bersenyum.

“Kita memotong jalan, terus berjalan siang hari malam.” “Di mana Siang-koan Kie?”

“Dengan seorang diri ia datang kemari dengan jalan menyaru, apa nona tidak lihat?”

“Dia pandai benar menyaru, hampir aku tidak mengenali ...


“Entah ke mana dia sekarang?”

“Dia sudah masuk ke dalam makan bersama Kun-liong

Ong.”

“Dia pergi seorang diri?”

“Ya, tetapi ia kenal baik keadaan dalam makam dan segala pesawat rahasianya, sekalipun kepandaian Kun-liong Ong lebih tinggi dari padanya, juga belum tentu dapat mengalahkan dia. Yang kita takuti ialah apabila Kun-liong Ong dapat mengenali dan diam2 turun tangan kejam ... ” “Kun-liong Ong melakukan perjalanan siang hari malam, tetapi pengikutnya satu pun tidak tertampak, mungkin tertinggal jauh. Inilah merupakan kesempatan, yang paling baik, kalau hari ini tidak dapat menangkap dia, di kemudian hari barangkali sudah tidak ada kegempalan lagi. Aku bersedia mengikuti nona masuk ke dalam makam, kesatu untuk membantu saudara Siang-koan Kie, kedua kita akan menggunakan kesempatan ini menangkap Kun-liong Ong, bagaimana pikiran nona?”

“Teng sianseng seorang pintar luar biasa, pesawat dalam makam ini, tentunya sudah diatur sangat rapi, kalau kita masuk kedalam, bukan saja tidak ada gunanya, bahkan membuat Kun lion Ong semakin curiga. Ini berarti lebih menyusahkan Siang-koan Kie."

“Menurut pikiran nona?”

“Menurut pikiranku, pertama kita harus berusaha memutuskan jalan mundur Kun-liong Ong. kemudian memilih jalan yang pasti dilalui olehnya, kita sembunyikan orang2 kita, lalu dikeroyoknya supaya ia tidak dapat melawan.”

“Meskipun itu benar, tetapi kita juga memperhatikan keselamatan saudara Siang-koan.”

“Tidak apa, kukira ia dapat melindungi dirinya sendiri."

Mulut Touw Thian Gouw bungkam, tetapi dalam hatinya memikirkan bagaimana supaya bisa masuk kedalam makam.

Tiba2 terdengar suara Wan Hauw : “Lekas sembunyi, ada orang datang.”

“Touw tayhiap, mari ikut aku." berkata Nie Suat Kiao pelahan, lantas mas ke dalam gubuk.

Baru saja mereka sembunyikan diri, orang yang datang itu sudah melompati pagar. Orang itu ternyata seorang tua berjenggot putih panjang, belakangnya menyoren sebilah pedang, ia adalah paman perguruannya Kun-liong Ong.

Orang tua itu memandang keadaan disekitarnya sejenak, matanya ditujukan ke arah gubuk, tiba2 berkata sambil tertawa dingin, “Aku ini orang apa, bagaimana bisa dikelabuhi? Lekas keluar.”

Ia angkat tangan kanannya, beberapa puluh orang baju hitam, lompat masuk melalui tembok dinding.

Touw Thian Gouw sudah hampir tidak tahan, ia membuka pecutnya, hendak lompat keluar, Nie Suat Kiao buru2 mencegahnya dan berkata : “Touw tayhiap jangan gegabah."

Orang tua itu memerintankan orang2nya supaya mengadakan penggeledahan ke rumah gubuk.

Empat atau lima orang baju hitam, lantas bergerak menuju ke gubuk itu.

Nie Suat Kiao berpikir, dari pada ke pergok, lebih baik unjukan diri.

Ia lalu ajak Touw Thian Gouw keluar.

Ketika orang2 baju hitam itu mendekati gubuk, Nie Suat Kiao telah muncul secara mendadak, hingga orang2 itu merandek.

Nie Suat Kiao menghampiri orang tua itu dan berkata sambil memberi hormat : “Thay susiok baik.”

“Hanya kau seorang diri disini?” tanya orang tua itu dingin. “Dengan beberapa kawan."

“Di mana Ong-yamu?”

“Tadi ada disini, tetapi sekarang dia sudah bukan ayahku lagi, hubungan kita sudah lama putus, sekarang kita berdiri sebagai musuh.” Orang tua itu tertawa dingin : “Sekarang dia ada di mana?" “Masuk kemakam Teng sianseng."

“Masuk dari pintu mana.”

“Dalam makam terdapat banyak pesawat rahasia, Kun- liong Ong mudah masuk tetapi tidak mudah keluar.”

Orang tua itu tiba2 memerintahkan orang2nya supaya menangkap Nie Suat Kiao.

Dua orang berbaju hitam lantas bergerak menyerbu Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao mundur dua langkah, tangannya menggapai, dari lubang jendela lompat keluar Touw Thian Gouw, dengan senjata pecutnya menyambar seorang diantaranya.

Nie Soat Kiao berkata kepada orang tua itu, “Locianpwee sebaiknya berlaku sedikit manis ... “

“Budak hina, kau berani tidak pandang mata aku? Malam ini kalau kutangkap hidup2 ... ”

“Tempat ini tempat apa? Waktu ini waktu apa? Apakah kau kira kau bisa berlaku gagah2an? Mengingat sudah lama kita kenal, sedangkan kau juga tidak terlalu banyak melakukan kejahatan, kuberikan kau satu jalan hidup, lekas pergi!”

Orang tua itu yang tadi berlaku demikian galak setelah didamprat oleh Nie Suat Kiao, mendadak menjadi tenang, matanya mencari2 kemudian menanya : “Apakah Auw-yang Thong juga berada disini?"

Nie Suat Kiao tahu benar orang itu sangat licin, maka lalu menjawab : “Apa salahnya kuberitahukan padamu? Auw-yang pangcu tidak ada disini.”

Orang tua itu menganggukkan kepala, mulutnya berkata : “Auw-yang Thong tidak ada disini, kau juga berani berlaku demikian kurang ajar terhadap aku?” “Dalam golongan pengemis terdapat banyak orang berkepandaian tinggi, Auw-yang Thong meskipun merupakan pemimpin, tetapi kalau ditilik dari kepandaiannya, dalam golongan pengemis belum terhitung paling kuat.”

Orang tua itu tertawa terbahak2, "Kalau demikian halnya selama empat minggu ini kau sudah menyembunyikan banyak orang kuat disini?"

“Kalau kau tidak percaya, boleh coba saja.”

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara gemuruk, kuburan Teng Soan mendadak menggetar.

Nie Suat Kiao diam2 merasa cemas, ia kawatirkan nasib Siang-koan Kie yang menyaru menjadi Pao Kie Hian akan bersama Kun-liong Ong terpendam dalam kuburan Teng Soan. Namun demikian mulutnya masih berkata : “Kun-liong Ong sudah menyentuh pesawat rahasia dalam kuburan, barangkali akan terkubur hidup2.”

Orang tua itu melengak, “kalau Teng Soan ada mempunyai maksud demikian, Kun-liong Ong memang sulit akan terhindar dari bencana.”

“Kalau benar Kun-liong Ong terkubur hidup-hidup, bagi locianpwee, ini merupakan ketika yang paling baik ... ”

“Apa artinya perkataanmu ini?”

“Meskipun kau ada susioknya Kun-liong Ong, tetapi aku tahu di dalam tubuhmu ia juga sudah menusukkan jarum beracun secara diam2, hingga sudah terkendalikan olehnya, maka itu, meskipun kau masih pernah menjadi pamannya, tetapi mau tidak mau harus tunduk di bawah perintahnya.”

“Apa kau berani pastikan bahwa Kun-liong Ong binasa di dalam kuburan?” “Ia binasa di dalam kuburan atau tidak, aku tidak berani memastikan, tetapi di masa hidupnya Teng sianseng pernah berkata suruh dia mati dalam kuburannya ... ”

“Tak usah kau katakan lagi, kalau benar Teng Soan ada berkata demikian, Kun-liong Ong sudah pasti mati.”

Nie Suat Kiao diam berpikir : “Teng Soan benar2 hebat, orang yang tahu benar kepandaiannya, semakin percaya kepada dirinya.”

“Kau bisa tahu kalau tubuhku dimasuki jarum beracun oleh Kun-liong Ong, tetapi barangkali tidak tahu kalau aku juga pandai menyembuhkan.”

Menampak sikap orang tua itu yang sangat gembira, dalam hatinya lantas timbul curiga, katanya lambat2 : “Mengeluarkan sendiri jarum beracun dari dalam tubuh, apa herannya? Aku lebih dulu sudah melakukannya.”

“Kau adalah seorang yang kecerdikannya hanya di bawah Teng Soan, yang selama ini aku pernah lihat. Sayang kau adalah seorang perempuan, mudah terjirat oleh asmara, tidak bisa melakukan pekerjaan besar.”

Nie Soat Kiao mengerti bahwa orang itu sudah timbul hasrat, setelah Kun-liong Oug mati, ia akan meneruskan usahanya. Kalau begitu, ia juga akan merupakan satu bahaya, maka harus berusaha untuk menyingkirkan lebih dulu.

Orang tua itu berkata pula : “Kun-liong Ong terlalu kejam melakukan orang bawahannya, meskipun mempunyai kepandaian, sekalipun tidak mati dalam kuburan, juga tidak menjagoi rimba persilatan ... ”

“Meskipun Kun-liong Ong kurang bijaksana terhadap bawahannya, tetapi ketangkasannya, kekejamannya, jarang ada yang menyamai selama beberapa ratus tahun ini.”

“Walaupun demikian, tetapi faktor utama untuk mendapat succes, adalah mempunyai kebijaksanaan terhadap bawahannya. Coba lihat, Kun-liong Ong meski berhasil mengumpulkan banyak orang kuat dari rimba persilatan, banyak orang pintar yang dapat digunakan tetapi orang itu setelah berada di dalam tangannya, kalau tidak diberi makan obat yang melupakan dirinya, ialah dimasuki jarum beracun dalam tubuhnya, dipaksa supaya menurut segala permtahnya. Dalam keadaan demikian, bagaimana orang2 itu bisa mengeluarkan kepandaiannya, untuk mengabdi kepada dirinya. Bukankah ini seperti orang mimpi di waktu tengah hari?”

“Kalau begitu, kau sendiri juga menipu Kun-liong Ong'?” “Sudah tentu, burung sudah habis, senjata harus disimpan,

kalau aku membantu ia lebih cepat mewujudkan cita2 untuk menguasai dunia, barangkali aku juga lekas tamat riwayat hidupku.”

“Kalau aku mengadukan ke teranganmu ini kepada Kun- liong Ong ... ”

“Tidak apa, kau dengannya sudah menjadi musuh, bagaimana ia mau percaya perkataanmu? Lagi pula, kalau Teng Soan benar2 kandung hendak bermaksud membunuh dia, sekarang ia sudah tak bisa keluar lagi ... ”

Orang tua itu dengan terus terang mengutarakan maksudnya : “Sekarang kita sesungguhnya mendapat kesempatan baik untuk menguasai rimba persilatan, asal kau suka bekerja sama denganku, dalam waktu tiga hari tiga malam, aku tanggung seluruh rimba persilatan akan terjadi perubahan besar.”

“Aku ingin mendengar rencanamu.”

“Ini adalah suatu rencana besar, sebelum kau menerima baik usulku, sudah tentu aku tidak dapat memberi keterangan.” “Maksudmu, apakah hendak menyaru menjadi Kun-liong Ong, lalu mengeluarkan perintah atas namanya membasmi semua orang2 Kang-ouw, supaya kau bisa menjagoi?”

“Ini hanya salah satu diantaranya saja, aku hendak membuat rencana, untuk, memaksa orang2 golongan pengemis, juga mau dengar perintahku."

“Kepandaian dan kecerdikan, tokh tidak di bawahmu, tetapi golongan pengemis masih sanggup mengadakan perlawanan sampai beberapa puluh tahun apa kau yakin mendapat menangkan Kun-liong Ong?”

“Kun-liong Ong tindakannya itu terlalu sangat kejam, sekalipun dapat menarik orang banyak, tetapi ia tidak dapat menggunakan kepandaiannya, tetapi tidak demikian dengan aku, aku hendak berusaha supaya mereka suka membantu usahaku dengan hati senang.”

“Orang2 itu semua sudah makan obat melupakan diri Kun- liong Ong, bagaimana kau sanggup membuat mereka pulih kembali ingatannya?”

“Tentang ini tidak perlu kau pikirkan ... ”

Pada waktu itu, mendadak terdengar suara jeritan ngeri, dua orang berpakaian hitam yang bertempur dengan Touw Thian Gouw, tiba2 mundur terhuyung2, kemudian jatuh rubuh di tanah dan binasa seketika itu juga.

Nie Soat Kiao yang menyaksikan kepandaian Touw Thian Gouw, dalam waktu segebrakan berhasil membunuh dua lawannya, diam2 mengagumi kepandaiannya. Juga memperkuat keyakinannya untuk merebut kemenangan.

Tiba2 ia mengaung panjang.

Orang tua itu tertawa dingin dan menegur padanya : “Kau berbuat apa?” “Aku memerintahkan orang2 yang tersembunyi di sekitar tempat ini, supaya siap, jangan melepaskan kau.”

“Sebelum tiba disini, aku sudah mengadakan pemeriksaan, kalau benar ada orang sembunyi, tidak mungkin bisa lolos dari mataku.”

“Apa kau tidak percaya?” “Betul.”

“Sekarang aku unjukan buktinya.”

Sehabis berkata demikian, Nie Suat Kiao menggapai ke arah pohon.

Bagaikan burung garuda raksasa, Wan Hauw melayang turun dari atas pohon.

“Lekas tangkap orang ini." demikian Nie Suat Kiao memberi perintah.

”Wan Hauw menerima baik perintah itu dengan cepat menyerbu si orang tua.”

-odwo-

Bab 120

DUA orang yang melindungi orang tua itu, merintangi Wan Hauw dengan menggunakan goloknya, tetapi disampok oleh tangan Wan Hauw yang kuat, dua orang itu lantas terpental jatuh.

Touw Thian Gouw juga bergerak, dengan pecutnya ia menotok orang tua itu.

Seorang baju hitam, dengan goloknya menangkis pecut Touw Thian Gouw.

Nie Suat Kiao menghunus pedangnya, berkata kepada orang tua itu : “Pikiranmu meskipun tidak salah, tetapi barangkali sudah tidak ada kesempatan untuk melaksanakan cita2mu.”

Pedangnya segera bergerak menikam seorang berbaju hitam yang melindungi si orang tua.

Orang tua itu menggunakan pedangnya untuk melindungi dadanya, memerintahkan orang2nya supaya membagi tiga kelompok, sedangkan tangan kirinya mengeluarkan selumpritan dan ditiupnya.

Nie Suat Kiao yang berhasil melukai seorang baju hitam, menyerukan kepada Touw Thian Gouw dan Wan Hauw supaya menghabiskan lawan2nya, sebelum bala bantuan tiba. Wan Hauw lantas mengamuk, dalam waktu sekejapan sudah merubuhkan dua orang.

Orang2 yang melindungi orang tua itu, sebagian besar sudah terluka atau binasa, sisanya masih harus bertarung menghadapi Nie Suat Kiao, Wan Hauw dan Touw Thian Gouw. Namun demikian, orang tua itu masih tidak mau turun tangan, ia masih berdiri sebagai penonton dengan sikap tenang.

Pada saat itu, raja muda barat Touw Bouw, mendadak muncul di depan si orang tua.

Nie Suat Kiao tahu bahwa orang she Touw itu sangat kejam, diantara empat raja, terhitung yang paling kuat, maka suruh Touw Thian Gouw melayani musuh yang agak jauh, sedang yang dekat akan dilayani sendiri dengan Wan Hauw.

Tidak lama kemudian, dari pihak musuh datang lagi seorang yang kepalanya botak, matanya tinggal satu.

Di belakang orang kepala botak itu, ada tigapuluh lebih orang2 berpakaian hitam.

Rombongan orang2 itu begitu tiba, lantas mengambil sikap mengurung kepada Nie Suat Kiao bertiga. Nie Suat Kiao lantas menegur : “Apakah Touw hauw-ya ingin mendapat kemenangan dengan mengandalkan jumlah orangmu yang banyak ini?”

“Aku dengar kabar bahwa toa kongcu telah berkhianat terhadap Kun-liong Ong, selama itu aku masih belum mau percaya, tetapi hari ini setelah mengetahui sendiri, baru percaya omongan itu," berkata Touw Bouw.

“Toa kongcu sudah lama dibunuh mati oleh Kun-liong Ong dengan menggunakan jarum beracun, Nie Suat Kiao yang sekarang berada disini sudah putus semua hubungannya dengan Kun-liong Ong.”

“Hari ini kalau aku bisa menangkap kau hidup2, pasti akan mendapat anugerah Ong-ya.”

“Cita2mu ini barangkali tidak mudah tercapai, sebaliknya malah akan kehilangan jiwamu.”

“Aku dengar kabar bahwa raja2 muda timur, selatan dan utara, semua sudah terpukul hancur oleh golongan pengemis, tetapi aku masih tidak percaya ... ”

“Kenyataan memang demikian, kau tidak percaya juga harus percaya.”

Touw Bouw memandang ke sekitarnya, tidak terdapat tanda2 ada orang tersembunyi, maka lalu berkata sambil tertawa dingin : “Apakah toa kongcu yakin, mampu menandingi aku.”

“Kepandaian tidak ada batasnya, Touw hauw-ya apa juga sudah percaya benar ketinggian kepandaianmu sendiri?”

Nie Suat Kiao berani menantang Touw hauw-ya, karena ia yakin bahwa Auw-yang Thong tidak lama lagi pasti akan tiba. Sedapat mungkin ia berusaha untuk memperlambat waktu, supaya bala bantuan Auw-yang Thong keburu sampai. Touw Bouw berkata dengan nada suara dingin : “Baik. Kau yakin sanggup melawan aku, coba saja.”

Mendadak ia maju dan melancarkan satu serangan.

Wan Hauw tiba2 lompat maju merintangi di depan Nie Suat Kiao, dengan tangan kanan ia menyambut serangan Touw Bouw.

Raja muda dari barat itu sesungguhnya tidak menduga bahwa pemuda yang rupanya setengah monyet itu mempunyai kekuatan tenaga demikian hebat, kesudahannya mengadu kekuatan tenaga itu, telah membuat dirinya mundur selangkah.

Nie Suat Kiao khawatir Touw Bouw menjadi kalap, dan mengadakan pengeroyokan dengan orang2nya yang berjumlah banyak, maka buru-buru berseru : “Lekas mundur, aku hendak turun tangan sendiri.”

Wan Hauw yang selalu mendengar kata Nie Suat Kiao, tidak berani membantah, dengan cepat ia undurkan diri.

Tidak menantikan Touw Bouw membuka mulut, Nie Suat Kiao sudah berkata lebih dulu : “Touw hauw-ya kita coba bertanding dalam seratus jurus, lihat siapa yang lebih unggul.”

Touw Bouw juga tidak banyak bicara, ia maju dan menyerang.

Nie Suat Kiao menggunakan tangan kiri menangkis serangan Touw Bouw, pedang di tangan kanannya dimasukan kembali ke dalam sarungnya, lalu berkata sambil tertawa : “Hauw-ya merendahkan diri, tidak mau menggunakan senjata, aku juga akan melayani dengan tangan kosong.”

“Toa kongcu, kau terlalu percaya kepada kepandaianmu sendiri.”

Setelah berkata demikian, ia melancarkan serangan beruntun dengan dua tangan. Nie Suat Kiao menutup rapat dirinya, tetapi tidak banyak balas menyerang. Tiga kali Touw Bouw menyerang, ia baru membalas satu kali.

Dalam babak permulaan itu, Nie Suat Kiao berada di bawah angin, di luar dugaan, setelah bertempur beberapa puluh jurus, Touw Bouw masih belum bisa menguasai keadaan. Sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman, ia tahu bahwa Nie Suat Kiao sengaja menyimpan tenaga, untuk melakukan serangan pembalasan.

Sementara itu, Nie Suat Kiao juga merasakan tekanan berat dari Touw Bouw, kalau tidak berusaha melakukan serangan pembalasan, barangkali susah bertahan lebih lama. Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaganya, melakukan serangan pembalasan.

Orang tua jenggot putih, masih tetap berdiri sebagai penonton, tetapi matanya saban2 ditujukan ke arah kuburan, agaknya tidak menghiraukan jalannya pertempuran.

Mendadak terdengar suara gemuruh, kuburan yang menonjol tinggi dari permukaan tanah itu, telah roboh, suara bagaikan geludug, terus menderu dari dalam tanah.

Nie Soat Kiao juga merasakan getaran tanah, seluruh tempat itu agaknya sudah tergoncang, bagaikan ada tanah gugur.

Touw Bouw menarik kembali serangannya dan bertanya : “Apa sebetulnya yang telah terjadi?”

Orang tua jenggot putih yang sedang meningkatkan perhatiannya kepada kuburan itu, seolah2 tidak mendengar pertanyaan Touw Bouw.

Nie Soat Kiao meski tidak membuka mulut, tetapi ia diam2 mengkhawatirkan diri Siang-koan Kie yang berada di dalam kuburan bersama Kun-liom Ong.

Suara gemuruh itu pelahan2 telah sirap. Touw Bauw menghentikan serangannya, matanya mengawasi kuburan tersebut.

Nie Soat Kiao yang memang sengaja hendak mengulur waktu, sudah tentu lebih suka diam.

Orang tua jenggot putih itu tiba2 berseru : “Oh, kiranya begitu," dan dengan tiba2 pula lari memutari tanah kuburan, kemudian menghilang.

Touw Boaw merasa heran, ia menanya kepada Nie Soat kiao : “Kemana ia pergi?”

“Ia penasaran kalau Kun-liong Ong mengangkangi sendiri benda peninggalan Teng Soan, maka ia masuk ke dalam kuburan." jawab Nie Soat Kiao.

“Dalam kuburan Teng Soan, sebetulnya ada barang apa?” “Barang pusaka yang tidak ternilai harganya, kepandaian

ilmu silat, siasat peperangan, ilmu menggunakan racun dan

lain2.”

Touw Bouw tertawa terbahak2, “Benar2 sangat menarik, kalau aku dapat menangkap kau hidup2, tentu dapat membawaku ke dalam kuburan itu.”

Dengan kecepatan bagaikan kilat tangannya bergerak menyambar tubuh Nie Soat Kiao.

Dua orang itu kembali melakukan pertempuran sengit.

Wan Hauw yang menyaksikan Nie Soat Kiao dalam keadaan bahaya, hatinya tidak tenang, ia bertanya kepada Touw Thian Gouw. “Bolehkah aku membantu nona Nie?”

Touw Thian Gouw yang mengerti Nie Soat Kio sengaja mengulur waktu, tetapi tak dapat menjelaskan kepada Wan Hauw, terpaksa menggelengkan kepala dan menjawab : “Tidak boleh."

“Kenapa.” “Nona Nie tidak ada tanda2 akan kalah, kalau kau menggantikan dia, bukankah akan dianggap bahwa ia tak sanggup melawan musuhnya?”

Alasan itu meskipun kurang kuat, tetapi Wan Hauw yang tidak bisa banyak berpikir, menganggapnya benar saja.

Sementara itu, Touw Bouw yang tidak berhasil menangkap lawannya, dalam hati juga merasa cemas. Diam2 ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, tangan kanannya mendadak berubah merah, dengan mata bengis berkata : “Apakah kau berani menyambut seranganku tangan pasir berbisa?”

Nie Soat Kiao tahu bahwa tangan pasir berbisa orang she Touw itu sangat ganas, mana demikian bodoh mau menyambut? Dengan cepat ia lompat mundur dan berkata sambil tertawa. “Sudah lama aku dengar ilmumu tangan pasir berbisa yang sangat ganas, tak disangka hari ini setelah aku melihatnya sendiri, ternyata hanya begitu saja.”

Touw Bouw penasaran, tetapi sebelum bertindak tiba2 terdengar suara nyaring : “Saudara Touw, kau jangan tertipu oleh budak hina yang sangat licik ini ... ”

Suara itu dibarengi oleh munculnya seorang pemuda berpakaian panjang.

Nie Soat Kiao setelah melihat orang itu, ternyata adalah raja muda selatan Ang Tauw.

“Saudara Ang, harap kau menghadapi dua orang itu, biarlah budak ini aku sendiri yang menghadapi.”

Wan Hauw yang tangannya sudah gatal, tanpa menunggu lawannya bergerak, sudah diserbu lebih dulu.

Touw Thian Gouw juga bergerak hendak membantu Nie Soat Kiao, ia berseru : “Nona Nie, pada waktu dan tempat seperti ini, kita tidak boleh memaksakan diri, sebaliknya mundur dulu ... ” Kalau ia tidak memberi peringatan itu, mungkin Touw Bouw tidak mengerti maksud Nie Soat Kiao yang hendak mengulur waktu, tetapi dengan suruhan Touw Thian Gouw ini, sebaliknya telah menyadarkan Touw Bouw, sembari bertempur, tangannya menggapai, hingga dalam waktu sekejap, orang2nya sudah mengurung rapat Nie Soat Kiao.

Ang Tauw yang diserang oleh Wan Hauw, melakukan perlawanan dengan menggunakan senjata kipas dan belati.

Yang terberat adalah Touw Thian Gouw, ia harus mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, untuk menghadapi musuh2nya yang menyerang dari berbagai penjuru.

Karena jumlah musuh lebih banyak, orang2 pihak Nie Soat Kiao pelahan2 mulai terjepit.

Touw Thian Gouw yang menghadapi musuh dari berbagai penjuru, yang terluka lebih dulu, namun demikian, ia masih melawan terus tidak mau menyerah.

Kemudian disusul oleh Nie Soat Kiao, ia terkena pukulan Touw Bouw, dengan keadaan sempoyongan, ia terjatuh sejauh tiga kaki.

Tetapi dengan cepat ia lompat bangun, kembali melakukan perlawanan.

Wan Hauw yang menyaksikan Nie Soat Kiao terluka, matanya merah membara, serangannya semakin ganas, hingga Ang Tauw terpaksa melawan sembari mundur.

Sayang kegagahan Wan Hauw seorang, sudah tidak sanggup memperbaiki keadaan, Nie Soat Kiao dan Touw Thian Gouw sudah mula keteter, tidak sanggup memberi perlawanan lagi.

Dalam keadaan sangat kritis, tiba terdengar suara orang tertawa dan kemudian suara kata2nya : “Nona Nie, tidak usah takut, bala bantuan golongan pengemis sudah tiba seluruhnya.”

Suara itu adalah suaranya ketua golongan pengemis Auw- yang Thong.

Belum lagi habis kata2nya, sesosok bayangan orang bagaikan burung garuda menyambar mangsanya, menyambuti serangan tangan berbisa Touw Bouw.

Touw Bouw terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang menyambuti serangannya ternyata bukan Nie Soat Kiao, melainkan seorang tua berambut putih, berpakaian panjang warna hijau.

Ia lebih terkejut lagi, karena orang tua itu setelah menyambuti serangannya seolah2 tak terjadi apa2. Dalam kagetnya, ia lalu menegur : “Kau siapa?”

“Lam-ong Kiam Su Im, ingin mencoba tanganmu, pasir berbisa." jawabnya dingin.

Kemudian dengan sikapnya yang memandang rendah kepada musuhnya, balas menyerang dengan hebat, semua serangannya, ditujukan ke tempat yang berbahaya.

Sementara itu terdengar pula suara Auw-yang Thong : “Pertempuran hari ini, menyangkut nasib seluruh rimba persilatan, saudara jangan ragu2 turun tangan.”

Setelah perintah itu keluar, musuh yang mengepung Touw Thian Gouw, satu persatu roboh, bagaikan daun tertiup angin, sebentar saja, sudah hampir separuh lebih yang binasa.

Touw Thian Gouw yang sudah mata gelap, pecutnya hampir saja menghajar Tiat-bok taysu, hingga paderi tua itu terpaksa menangkis serangannya seraya berkata : ”Touwsicu, beristirahatlah dulu, musuh2 disini biarlah lolap bersama In chungcu yang membereskan.” Kiranya orang yang membantu Touw Thian Gouw membinasakan banyak musuh tadi adalah Tiat-bok taysu dan In Kiu Liong.

Touw Thian Gouw setelah mendengar perkataan demikian, lalu undurkan diri.

Dalam waktu sangat singkat sekali, musuh2 yang mengepung Touw Thian Gouw tadi, sudah disapu bersih oleh In Kiu Liong dan Tiat-bok taysu.

Dalam medan pertempuran kini tinggal dua rombongan, ialah Kiang Su Im yang bertempur dengan Touw Bouw dan Wan Hauw yang menghadapi Ang Tauw.

Auw-yang Thong yang saat itu sudah tiba dimedan pertempuran, segera menghampiri Nie Suat Kiao dan menanyakan Kun-liong Ong.

“Kun-liong Ong sudah masuk ke dalam kuburan Teng sianseng." demikian Nie Suat Kiao menjawab.

“Dan Siang-koan Kie?" tanya pula Auw-yang Thong terkejut.

”Dua orang sama2 masuk ke dalam kuburan, bahkan sudah menggerakkan pesawat rahasia, hanya, aku tidak tahu pesawat itu sengaja digerakkan ataukah mereka menyentuh.”

“Apa ada orang yang menyertai Kun-liong Ong?”

“Tidak ada, mungkin ia tidak ingin ada orang yang mengetahui bahwa kepandaian Teng sianseng jauh lebih tinggi dari padanya, mungkin juga takut ada orang yang ingin mendapatkan barang peninggalan Teng sianseng. Tetapi, setelah Kun-liong Ong dan Siang-koan Kie masuk ke dalam, ada seorang lagi yang menyusul masuk.”

“Siapa?"'

“Susioknya Kun-liong Ong, yang dengan sukanya sendiri, mau mengabdi Kepada Kun-liong Ong.” “Kemenangan pihak kita sudah hampir menjadi kenyataan, kalau dua raja muda ini nanti juga sudah binasa, hanya tinggal Kun-liong Ong seorang diri, tidak peduli betapapun tinggi kepandaiannya, juga tidak sanggup menembus kepungan kita

... ”

“Kita hanya khawatirkan mereka dapat mengambil barang peninggalan Teng sianseng.”

“Kepandian Kun-liong Ong bagaimana mampu menandingi kepandaian Teng sianseng. Bagaimanapun ia berusaha, tidak mungkin dapat mengambil barang Teng sianseng. Nona sekarang boleh beristirahat dulu, nanti mungkin masih perlu menghadapi Kun-liong Ong, biar bagiamana kali ini kita tidak boleh membiarkan Kun-lioug Ong lolos lagi.”

Selagi Nie Suat Kiao hendak pergi beristirahat, tiba2 terdengar suara saling bentak, Kiang Su Im mundur terhuyung2, sedangkan Touw Bouw menekap perut dengan kedua tangannya, matanya beringas ia berdiri tanpa bergerak. Sebentar kemudian mulutnya menyemburkan darah, badannya rubuh di tanah.

Melihat Touw Bouw rubuh, Kiang Su Im tertawa terbahak2, ia menghampiri kuburan Teng Soan, berdiri di hadapan kuburan dan berkata sambil memberi hormat : “Aku ucapkan terima kasih kepada Teng sianseng, yang sudah memberi resep untuk anakku, sehingga penyakitnya sudah sembuh. Hari ini aku telah membunuh salah seorang raja muda Kun- liong Ong sebagai persembahan atas pertolongan sianseng ... ”

Setelah itu, tanpa menunggu reaksi Auw-yang Thong ia sudah lompat melalui pagar tembok dan sebentar kemudian sudah menghilang.

Auw yang Thong tak menduga orang tua itu akan pergi, sejenak ia tertegun, kemudian berkata dengan suara nyaring : “Kiang tayhiap ! ... ” Nie Suat Kiao mendadak berkata : “Pangcu tak usah panggil dia lagi, biarlah dia pergi ... ”

“Ia agaknya juga terluka    ”

“Memang benar, bahkan lukanya agak parah, maka itu ia tak mau berdiam disini. Kau panggil ia balik, sebaliknya akan membuat ia merasa tak enak.”

“Ia terluka parah, dengan seorang diri diperjalanan, bagaimana aku dapat mendiamkan begitu saja?”

“Tidak apa, meskipun lukanya tidak ringan, tetapi bukan terluka di bagian penting, dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah demikian sempurna, asal mendapat waktu cukup untuk beristirahat, tidak susah untuk menyembuhkan dirinya.”

Sementara itu, Wan Hauw yang menghadapi Ang Tauw, juga sudah meningkat ke babak yang menentukan. Wan Hauw yang seolah2 tak mengerti apa artinya lelah, semakin lama semakin gagah sebaliknya dengan Ang Tauw, nyata benar perbedaannya, ia sudah mulai kehabisan tenaga, kipas dan belati di kedua tangannya, gerakannya sudah mulai mengendur.

Ketika Touw Bouw rubuh binasa, ia sudah niat kabur, tetapi karena Wan Hauw menghujani serangan demikian gencar dan rapat, ia tidak mendapat kesempatan untuk melepaskan diri.

Satu saat, mendadak terdengar Wan Hauw mengaung, tangannya malancarkan serangan, Ang Tauw terdorong mundur oleh hembusan angin serangan Wan Hauw. Belum lagi ia berhasil memperbaiki posisinya, serangan kedua Wan Hauw sudah menyusul dan begitu seterusnya sehingga delapan kali. Ang Tauw yang sudah tidak bisa melawan sama sekali, dihajar oleh Wan Hauw, sehingga mulutnya menyemburkan darah dan binasa seketika itu juga.

Auw-yang Thong setelah menyaksikan Wan Hauw membinasakan musuhnya, ia berpaling dan berkata kepada Nie Soat Kiao : “Dalam pertempuran yang akan datang, besar sekali sangkut pautnya dengan nasib seluruh rimba persilatan, nona barangkali sudah mempunyai rencana konkrit.”

“Sebelum membagi orang2nya, ada beberapa patah kata aku ingin menerangkan dulu." berkata Nie Soat Kiao, “dengan kekuatan kita sekarang, sekalipun Kun-liong Ong mempunyai kepandaian tinggi, juga tidak sanggup menghadapi lawan kuat demikian banyak. Tetapi binatang yang sudah kepepet, tokh masih bisa melawan mati2an, apalagi manusia! Kalau Kun- liong Ong sudah berada dalam keadaan kejepit, kita harus hati2 menghadapinya, menurut apa yang aku tahu, ia ada mempunyai beberapa macam obat dan senjata rahasia yang sangat ampuh, yang belum pernah digunakan. Maka kita harus waspada jangan sampai ia mendapat kesempatan menggunakan senjatanya yang terampuh."

“Tahukah nona apa namanya senjata itu?"

“Aku hanya dengar ia kata, tetapi senjata apa dan bagaimana macamnya, belum pernah melihat."

“Baiklah! Sekarang harap nona yang mengatur orang2nya."

Nie Soat Kiao memeriksa keadaan tempat itu, lalu menentukan barisannya. Ia menyuruh Wan Hauw menyingkirkan semua mayat keluar barisan.

Auw-yang Thong mendadak menanya : “Siang-koan Kie dengan seorang diri, barang kali agak susah menghadapi Kun- liong Ong, apakah kita perlu masuk ke dalam kuburan?"

“Tidak perlu!” jawabnya Nie Soat Kiao.

Auw-yang Thong lalu memerintahkan semua orang2nya supaya bersembunyi ke tempat gelap.

Fajar menyingsing, tetapi kuburan Teng Soan masih belum tampak gerakan apa2. Kun-liong Ong dengan Siang-koan Kie yang menyaru menjadi orang tua Pao Kie Hian, masih belum ada kabar beritanya.

Ketika matahari sudah naik tinggi, kuburan itu masih tetap tenang, seperti biasa.

Auw-yang Thong mulai gelisah, ia berkata kepada Nie Soat Kiao : “Aku lihat ada gelagat tidak beres, sebaiknya kita masuk ke dalam kuburan!"

“Tunggu sampai matahari silam, kalau Siang-koan Kie dan Kun-liong Ong masih tetap belum keluar, kita harus berusaha untuk masuk ke dalam.”

Belum habis kata2nya, kuburan itu mendadak goncang lagi, suara guntur terdengar berulang2.

Auw-yang Thong mengawasi kuburan yang tergoncang hebat, menghela napas perlahan dan berkata : “Dengan melihat keadaan kuburan ini saja, pesawat dalam kuburan, pasti amat dahsyat, mungkin Kun-liong Ong sudah terkubur hidup2.”

Nie Soat Kiao sebetulnya juga sudah mempunyai pikiran demikian, hanya, ia tidak berani mengutarakan, begitu mendengar ucapan Auw-yang Thong tanpa sadar ia sudah mengucurkan air mata. Katanya : “Semoga Thian melindunginya, Siang-koan Kie bisa keluar dalam keadaan selamat.”

Gadis yang gagah perkasa itu, mempunyai kepintaran luar biasa, pengetahuannya dalam ilmu peperangan dan mengatur siasat, jarang orang mampu menandingi. Ia juga memiliki ketenangan luar biasa, tetapi biar bagaimana adalah seorang wanita, kelemahan hati wanita masih tetap ada.

Auw yang Thong yang melihat perubahan sikap penasehatnya, diam2 telah mengambil keputusan, apabila urusan telah selesai, ia akan merekokkan gadis itu kepada Siang- koan Kie.

“Pembuatan kuburan ini, semua diawasi oleh Siang-koan Kie, terhadap semua pesawat rahasia dalam kuburan, tentunya sudah tahu betul, nona tidak usah khawatir." demikian Auw-yang Thong berkata.

“Pangcu maafkan kelakuan hamba, betapapun kuatnya Nie Soat Kiao, tetap ada satu perempuan.”

“Orang yang gagah perkasa, di samping sifatnya yang jantan, masih mempunyai ciri yang merupakan tebal perasaanya. Nona juga merupakan satu jago betina, sudah tentu tidak terluput ... ”

Suara gemuruh terdengar lagi, kuburan Teng Soan mendadak terbuka satu pintu.

Auw-yang Thong mengawasi pintu yang terbuka itu, berkata dengan perasaan terharu : “Teng sianseng di masa hidupnya berhati mulia, tetapi pada saat menghadapi akhir hayatnya, sifatnya mendadak berubah, melakukan suatu perbuatan yang sangat kejam."

“Perbuatan apa?" tanya Nie Suat Kiao.

“Ia meninggalkan pesan kepada Siang-koan Kie, supaya membangun satu kuburan, dan mengubur hidup2 duaratus tukang batu." berkata Auw-yang Thong sambil menunjuk kuburan.

Selagi Nie Suat Kiao hendak menjawab, tiba2 nampak berkelebatnya sesosok bayangan orang, lari keluar dari pintu kuburan.

Tangan orang itu membawa sebuah kotak kayu, badannya berlumuran darah. Nie Suat Kiao setelah melihat orang itu, lantas berseru : “Kun-liong Ong!" Kemudian lompat melesat menyerbu padanya.

Auw-yang Thong juga segera melancarkan satu serangan dari jarak jauh.

Dengan mengibaskan lengan jubahnya orang itu mengelakkan serangan Auw-yang Thong, sementara itu Nie Suat Kiao sudah menggunakan jari tangannya menotok padanya.

Kun-liong Ong miringkan badannya, mengelakkan totokan Nie Suat Kiao, dengan menggunakan kaki kanan, ia balas menendang.

Nie Suat Kiao lompat mundur dan berkata : “Raja muda barat Touw Bouw sudah binasa, begitupun dengan raja muda selatan Ang Tauw, dua pasukan yang kau telah kerahkan lebih dulu, semua sudah berantakan. Betapapun tinggi kepandaianmu, hari ini juga tidak akan bisa lolos dari tangan kita."

Kun-liong Ong terkejut, ia memandang keadaan sekitarnya, memang benar tampak banyak orang yang menghampiri padanya. Seorang pertengahan umur yang memakai pakaian panjang warna biru, memberi hormat seraya berkata : “Kun- liong Ong, masih kenalkah kau dengan sahabat lamamu In Kiu Liong?”

Seorang padri tua yang berdiri di sebelah kanannya segera menyambung : “Murid murtad yang membunuh guru sendiri, apakah kau masih kenal, siapakah lolap ini? O Mie To Hud, semoga arwah suheng membantu siaute membunuh murid murtad ini, untuk mencuci noda gereja Siau-liem-sie.”

Orang tua berjenggot panjang yang berada di belakang paderi itu, juga lantas berkata : “Kepala dari lima jago dari daerah Tiong-goan, Yap It Peng, sekarang akan menagih hutang jiwa empat suteenya.” Auw yang Thong tertawa terbahak2 dan berkata : “Kun- liong Ong, dalam hidupmu kau terlalu banyak membunuh jiwa manusia, kejahatanmu sudah memuncak, hari ini kau harus membayar semua hutangrmu. Kau hendak turun tangan sendiri ataukah perlu aku yang membereskan?”

“Kejahatan orang ini sudah melewati batas, kalau dibiarkan ia membunuh diri, sesungguhnya terlalu enak baginya." berkata Yap It Peng.

Kun-liong Ong yang badannya berlumuran darah, terus berdiri tanpa bergerak seperti sebuah patung.

In Kiu Liong melancarkan serangannya. Orang itu lantas rubuh, kotak di tangannya jatuh ke tanah. Orang itu tidak bisa bangun lagi sedang badannya menggelinding balik kedalam kuburan.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan itu, lalu berkata sambil menghela napas : “Kun-liong Ong sungguh licin.”

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu bingung termangu-mangu.

“Apa artinya ini? Apakah orang itu bukan Kun-liong Ong?" berkata Auw-yang Thong.

“Bukan, orang itu hanya penggantinya Kun-liong Ong yang didapatkan dari orang2 yang masih hidup dalam kuburan." berkata Nie Suat Kiao.

Yap It Peng hendak mengambil kotak yang terjatuh di tanah, tetapi dicegah oleh Nie Suat Kiao.

“Kenapa?" tanya Yap It Peng.

“Dalam kotak itu mungkin ada senjata rahasianya." berkala Nie Suat Kiao.

Auw-yang Thong mengambil sebuah batu kecil, disambitkan ke arah kotak, ketika batu itu membentur kotak, kotak itu terlobang, tetapi tidak ada perubahan apa2. Auw-yang Thong mengerutkan keningnya, ia berkata kepada Nie Suat Kiao dengan suara pelahan : “Biarlah aku yang memeriksanya.”

“Mungkin hamba yang terlalu banyak curiga, tetapi kita berlaku hati2 tidak ada salahnya ...”

Belum lagi menutup mulut, tiba2 terdengar suara dan dari kotak itu menyemburkan api dan asap tebal.

Yap It Peng dan lain2nya baru mengagumi ketelitian gadis itu.

”Aku ingin masuk ke dalam kuburan, harap Pangcu memimpin keadaan disini." berkata Nie Soat Kiao.

”Jangan, kalau perlu masuk, biarlah aku sendiri yang masuk ke dalam ... " berkata Auw-yang Thong.

“Pangcu sebagai ketua, bagaimana boleh pergi menempuh bahaya? Hamba dengan dibantu oleh Wan Hauw, sekalipun berjumpa dengan Kun-liong Ong, juga tidak perlu takut.”

“Tetapi kau perlu memimpin pertempuran, mengepung Kun-liong Ong, kalah atau menang tergantung dalam pertempuran ini. Kau tidak perlu tergesa-gesa.”

Tiba2 terdengar Wan Hauw berkata : “Kalian tidak perlu masuk ke dalam, toakoku sudah hampir keluar!”

Pada saat itu, Nie Soat Kiao samar2 mendengar suara seruling, dari jarak agak jauh, pelahan2 semakin dekat.

Kuburan Teng Soan kembali mengeluarkan suara gemuruh, dari dalam lobang tertampak sinar merah, seolah2 dalam kuburan itu terjadi kebakaran.

Sesaat kemudian, dari dalam lobang itu muncul dua bayangan orang. Yang satu adalah seorang berpakaian panjang warna hijau, dengan tangan menenteng pedang, dia bukan lain daripada Kun-liong Ong. Yang pertama Nie Soat Kiao sudah kena dikibuli oleh Kun- liong Ong, sehingga hampir membawa banyak korban jiwa, maka kali ini ia melihat dengan hati2.

Kun-liong Ong dengan mata jelalatan, mengawasi keadaan sekitarnya, matanya mendadak beringas, katanya : “Hari ini kalau aku keluar dari sini, lebih dulu akan membasmi orang2 golongan pengemis sehingga tidak ada satupun yang hidup.”

“Hari ini barang kali kau sudah tidak bisa keluar dari sini." berkata Auw-yang Thong.

Kun-liong Ong tidak menyahut, matanya dipejamkan, agaknya sedang mengatur pernapasannya.

Nie Soat Kiao terus memikiri Siang-koan Kie, ketika menampak pemuda itu belum keluar, lalu menunya kepada Wan Hauw : “Mengapa toakomu masih belum keluar?"

“Aku tadi dengar serulingnya dan suaranya, tidak bisa salah lagi ... " sahutnya Wan Hauw.

Saat itu, dari dalam lubang kembali muncul dirinya seseorang, yang sangat aneh rupanya, mukanya tidak karuan, jenggotnya juga tinggal sebelah, tangannya memegang senjata emas.

Wan Hauw yang menyaksikan orang itu, lantas menanya kepada Nie Soat Kiao : “Siapa dia? Mengapa bentuknya begitu aneh?"

“Dia adalah toakomu." sahutnya Nie Soat Kiao sambil tertawa geli.

“Ah, tidak mirip dengan toako ... ”

Orang aneh itu tiba2 tertawa terbahak2 dan berkata : “Kun- liong Ong, kau sudah bertempur setengah hari denganku, kau juga sudah merasakan banyak bogem mentahku, tahukah aku ini siapa?” Kun-liong Ong tiba2 membuka matanya dan berkata, “Kau adalah Siang-koan Kie, aku sudah tahu.”

Orang itu menyabuti jenggotnya, kembalilah wajah aslinya, memang benar adalah Siang-koan Kie.

Auw-yang Thong segera mengeluarkan komandonya, semua orang2 golongan pengemis lalu mengambil posisi mengurung.

Siang-koan Kie menjaga dimulut pintu kuburan, menutup jalan mundur Kun-liong Ong.

“Kun-liong Ong, sekarang kau hendak menyerah atau melawan?" bertanya Auw-yang Thong.

Kun-liong Ong diam saja, matanya berputaran, kini ia telah mendapat kenyataan bahwa orang yang mengepung dirinya, semua terdiri dari tokoh2 kuat yang sudah kenamaan, jangan kata maju berbareng, satu lawan satu saja, ia barangkali masih belum sanggup menghadapi.

Beberapa puluh tahun lamanya ia malang melintang di dunia Kang-ouw, selama itu belum pernah menemukan tandingan. Ia tidak menduga bahwa hari itu dengan seorang diri ia dikepung oleh orang2 golongan pengemis, sedang satu pengikutpun tidak ada. Walaupun ia seorang kejam dan sudah banyak membinasakan orang, tidak urung masih merasa gentar.

Dengan mata mengawasi Nie Suat Kiao ia bertanya : “Apakah Ang Tauw dan Touw Bouw tidak pernah datang?”

“Mereka sudah kau masuki jarum melekat tulang, bagaimana berani melanggar perintahmu? Sayang kau terlambat datang, hingga tidak tahu keberangkatan mereka." berkata Nie Suat Kiao.

“Apa kau ingin melihat bangkainya?" tanya Auw-yang Thong. “Tidak perlu ... " jawabnya singkat.

Auw-yang Thong menantang Kun-liong Ong bertempur satu lawan satu, tetapi dicegah oleh Nie Suat Kiao.

Sementara itu, Tiat-bok taysu yang melihat gelagat tidak beres, buru2 maju seraya berkata : “Kun-liong Ong seorang jahat kekejamannya tidak ada taranya, kita tidak perlu memakai aturan terhadapnya, lolap ingin mencoba kepandaiannya lebih dulu ... ”

Tanpa menantikan jawaban Kun-liong Ong, sudah melakukan penyerangan dengan menggunakan senjata tongkatnya.

Serangan itu ditangkis oleh Kun-liong Ong dengan pedangnya.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan pertempuran itu, ternyata masih satu lawan satu, lalu berkata : “Kedatangan tuan2 disini, kalau bukan menagih hutang, ialah membalas dendam. Sekarang tidak mau turun tangan, tunggu kapan lagi?”

In Kiu Liong yang pertama2 mendukung Nie Suat Kiao itu katanya : “Benar, dahulu ketika Kun-liong Ong melukai diriku, juga dengan cara pengecut.”

Ia maju selangkah dan berkata kepada Tiat-bok taysu : “Taysu, maafkan tindakanku, siautee hendak menuntut balas kepada Kun-liong Ong.”

Keterangan itu sebetulnya tidak perlu, sebab begitu melangkah maju, ia sudah melancarkan serangannya.

Tiat-bok taysu mengarti maksiud In Kiu Liong, dengan cepat memberi kesempatan kepadanya untuk mengepung Kun-liong Ong.

Dengan demikian, Kun-liong Ong kini harus menghadapi dua lawan kuat, hingga agak kewalahan. Sebentar kemudian tiba2 terdengar suara keluhan tertahan yang keluar dari mulut Kun-liong Ong, kemudian mundur tiga langkah.

In Kiu Liong lalu berkata dengan nada suara dingin : “Kun- liong Ong, dahulu ketika aku mengadakan perjanjian dengan orang kuat dari golongan Bit-cong-pay, aku undang kau untuk membantu, tetapi kau sebaliknya membokong aku, dalam waktu singkat kau sudah membunuh dua sesepuh partay Ceng-sia pay, Mao san Iti-cin, sedang dari golongan. Bit-cong, kau telah membinasakan beberapa puluh orang2nya. Tetapi kau tidak menduga bahwa aku masih hidup, dan hari ini aku In Kiu Liong hendak menuntut balas terhadapmu.”

Kun-liong Ong tadi telah patah satu tulang rusuknya oleh serangan In Kiu Liong, ia menahan rasa sakitnya, hingga tidak menjawab perkataan In Kiu Liong,

Siang-koan Kie tiba2 teringat kejadian di masa lampau, ketika masih belajar ilmu silat dengan orang tua peniup seruling dikuil tua, maka lalu menanya : “In toako siautee ingat. Suatu kejadian yang aneh, apakah toako tahu?”

“Katakan saja, kalau suhengmu tahu, pasti akan menjawabnya." berkata In Kiu Liong.

“Sewaktu siautee masih mengikuti suhu belajar ilmu silat di atas loteng kuil tua, telah menemukan beberapa paderi dalam kuil tua itu mati dalam kamar semedinya. Dalam kuil yang besar itu, kecuali suhu, tidak ada seorang lain yang hidup, entah apa sebabnya.”

“Paderi dalam kuil itu adalah suhengmu yang menempatkan mereka di situ, bagaimana mereka bisa menemukan ajalnya?” berkata In Kiu Liong.

Kun-liong Ong tiba2 berkata : “Tidak perlu heran, mereka semua telah mati keracunan oleh racun yang bekerjanya lambat, aku telah masukan semacam racun dalam air dan makanan mereka, barang siapa yang makan atau minum air, tidak ada yang akan hidup.”

“Begitu? Kalau kau tidak mengaku, kematian para paderi itu, bukankah akan menjadi suatu teka teki dalam kalangan Kang ouw?” berkata Siang-koan Kie.

“Kun-liong Ong, perbuatanmu selamanya sangat ganas, kalau kau membasmi satu orang, kau habiskan sampai keakar2nya. Aku In Kiu Liong bisa terhindar dari kematian, tahukah kau apa sebabnya?” bertanya In Kiu Liong.

“Dahulu, kau telah mengadakan perjanjian denganku, untuk menguasai rimba persilatan, dengan sungai Tiang-kang sebagai batas, dunia Kang-ouw akan kau bagi menjadi dua, masing2 menguasai selatan dan utara, tetapi kau ternyata sudah menjual Auw yang Thong. Dengan sifatmu yang licik dan kejam ini, kalau aku tidak membinasakan kau lebih dulu, dikemudian hari pasti kau lalap." berkata Kun-liong Ong dingin.

“Perkara yang sudah lalu, biarlah ia berlalu, hari ini aku orang she In hendak menuntut balas atas kematian beberapa sahabatku." berkata In Kiu Liong, yang segera melancarkan serangannya yang hebat.

Kun-liong Ong menyambuti serangan itu dengan pedangnya.

Meskipun Kun-liong Ong memegang senjata, tetapi karena tulang rusuknya patah satu, gerakannya kurang leluasa, hingga dalam pertempuran dengan In Kiu Liong, keadaannya jadi berimbang. Pertempuran sudah berjalan duaratus jurus, masih belum ada yang kalah atau menang.

“In Cungcu, hari ini kalau Kun-liong Ong bisa kabur dikemudian hari dunia Kang-ouw tidak bisa aman lagi ..." berkata Auw yang Thong dengan suara nyaring. “Terhadap manusia buas seperti dia, kita tidak perlu memakai peraturan dunia Kang-ouw." berkata Yap It Peng, yang segera mengangkat tongkatnya menyerang Kun-liong Ong.

Dengan demikian, Kun-liong Ong kini berada dalam kepungan empat orang kuat, hingga ia bertambah ripuh.

Nie Suat Kiao yang menonton disamping, dapat lihat tangan kiri Kim-liong Ong dimasukan kedalam saku, maka buru2 berseru : “Awas ia akan menggunakan senjata rahasia.”

Dengan tangan kosong, Auw yang Thong mengirim satu serangan, tepat mengenakan sikut kiri Kun-liong Ong, hingga tulang sikutnja hancur seketika dan tangan yang dimasukan kedalam saku tidak bisa diangkat lagi.

In Kiu Liong yang menyaksikan Auw-yang Thong berhasil serangannya, dengan sangat sangat berani tangannya mencekal pergelangan tangan kanan Kun-liong Ong yang memegang pedang, kemudian dengan menggunakan seluruh kekuatan tenaganja, merebut senjatanya.

Sementara itu, tongkat Yap It Peng juga sudah menghajar paha kirinya.

Kun-liong Ong agaknya sudah tidak mempunyai kemampuan untuk memberi perlawanan, sambil menggeram, ia angkat kaki kirinya, dengan satu kaki ia masih coba melawan.

Selagi Auw yang Thong hendak mengirim satu serangan ke dada Kun-liong Ong, hendak menamatkan jiwanya. Nie Suat Kiao mendadak berseru : ”Pangcu jangan ... ”

Tinju Auw-yang Thong yang sudah akan menyentuh dada Kun-liong Ong, terpaksa ditariknya kembali dan mundur beberapa langkah.

“Locianpwee sekalian lekas mundur … ”, demikian serunya Nia Suat Kiao. In Kiu Liong, Yap It Peng dan Tiat-bok taysu masing2 mundur beberapa langkah.

Kun-liong Ong yang menyaksikan semuanya pada mundur, badannya tergoyang-goyang, dengan satu kaki ia menunjang badannya, berdiri tanpa bergerak.

Setelah beristirahat sejenak, Kun-liong Ong mendadak lompat dengan satu kakinya menyerbu Auw-yang Thong.

Nie Suat Kiao kembali berseru : “Jangan memberikan kesempatan padanya mendekati locianpwee sekalian.”

Auw-yang Thong dan lain2nya segera lompat mundur, menjauhkan diri dari Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong seakan-akan sudah kehabisan tenaganya, ia menghela napas panjang, kemudian jatuh terlentang di tanah.

Saat itu, Siang-koan Kie baru mendapat kesempatan untuk melaporkan tugasnya kepada Auw-yang Thong.

Sambil menggenggam tangan Siang-koan Kie, Auw-yang Thong bertanya, “Apa kau sudah melihat jenazah Teng sian- seng?”

“Dihadapan jenazah Teng toako, hamba telah bertempur sengit dengan Kun-liong Ong, selagi hamba dalam keadaan sulit, Teng toako mendadak mengunjukkan arwahnya, di ujung peti toako, tiba2 muncul beberapa huruf yang berbunyi

: “Saat kematian Kun-liong Ong sudah tiba.”

Peringatan itu agaknya memberi pukulan bathin Kun-liong Ong, dalam keadaan bingung, telah hamba serang dengan telak. Tetapi ia mengenakan pakaian kulit, meskipun terkena serangan hamba, masih berhasil merampas tiga jilid kitab toako. Selanjutnya kita melakukan pertempuran lagi sambil kejar2an. Berulang-ulang hamba menggerakkan pesawat rahasia toako, duabelas kali ia terjebak, juga terluka sampai duabelas kali, tapi ia tidak bertahan lama, barangkali ada hubungannya dengan badannya yang sudah terluka.” “Kelihatannya, Kun-liong Ong memang sudah terluka parah." berkata In Kiu Liong.

“Kun-liong Ong sudah kehabisan tenaga, ini adalah kesempatan paling baik untuk menangkap dirinya hidup2, aku hendak menotok jalan darahnya lebih dulu." berkata Auw- yang Thong yang segera berjalan menghampiri Kun-liong Ong.

“Pangcu, jangan gegabah ... " tiba2 Nie Suat Kiao mencegah.

Sementara itu, Kun-liong Ong mendadak lompat bangun, tangan kanannya dengan cepat dimasukan ke dalam saku, mengambil sebuah kotak kecil dan dibuka tutupnya, dari dalam kolak itu keluar beberapa butir pil warna hitam, kemudian dimasukan kedalam mulutnya.

Auw yang Thong mengerutkan keningnya, bertanya kepada Nie Soat Kiao dengan suara pelahan. “Obat apa yang diminumnya?"

“Menurut dugaanku, tidak mungkin itu ada obat berbisa, kita harus hati2." jawab Nie Soat Kiao.

“Kabarnya ada semacam obat aneh, kalau dimakan, dapat menggerakkan kekuatan tenaga murni yang tak terhingga, tetapi itu hanya kabar saja." berkata In Kiu Liong.

Kun-liong Ong mendadak lompat bangun dengan satu kakinya, katanya dingin : “Memang benar, dalam dunia memang ada obat itu, kalian belum pernah melihat, itu adalah kebodohan kalian sendiri.”

Kemudian dengan sangat licik ia menantang Auw-yang Thong bertempur satu lawan satu.

Siang-koan Kie khawatir Auw-yang Thong akan menerima baik tantangan itu, buru2 berkata : “Kau mengandalkan kekuatan obat, tidak terhitung kepandaian murni, tidak perlu bertempur satu lawan satu denganmu.” Kun-liong Ong marah, tanpa banyak bicara ia lantas menyerbu Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie segera menyambuti dengan tangannya, tetapi seketika itu ia lantas terdorong mundur beberapa langkah, dadanya dirasakan bergolak, ia lantas berseru : “Khasiatnya obat sudah mulai berjalan, tidak boleh mengadu kekuatan dengannya."

Sehabis melancarkan serangannya, Kun-liong Ong semakin kalap, sambil mengeluarkan suara bentakan, ia balik menyerbu Auw yang Thong.

In Kiu Liong dengan cepat maju, menyambut serangan itu.

Ketika kedua kekuatan saling beradu, In Kiu Liong segera merasakan hebatnya serangan itu, tetapi keadaan sudah tidak mengijinkan ia mundur, terpaksa mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, untuk melawan kekuatan itu.

Berbareng pada saat itu, Auw yang Thong juga melancarkan serangan, ditujukan kepada pergelangan tangan kanan Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong yang sudah makan obat, meskipun tenaganya bertambah, tetapi mata dan telinganya sudah tidak demikian tajam lagi, ketika serangan Auw yang Thong sampai, ia tidak tahu bagaimana harus menyingkir. Justru karena itu, hingga serangannya sendiri yang ditujukan kepada In Kiu Liong, mendadak merandek.

Kesempatan itu digunakan oleh In Kiu Liong untuk lompat mundur. Begitupun juga Auw yang Thong.

Sekujur badan Kun-hong Ong berkerenyit, giginya keretakan, sikapnya nampak sangat menderita.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu sangat heran, mengapa ia bisa berubah demikian. Nie Suat Kiao yang lebih tahu, lalu berkata sambil menghela napas : ”Ia telah makan obat melampaui batas, sehingga tubuhnya keracunan. Aih! Seumur hidup ia menggunakan racun untuk mencelakakan diri orang, tak disangka pada akhirnya ia sendiri juga mati keracunan.”

Tubuh Kun-liong Ong kini berhenti gemetar matanya mendelik, dengan sangat ganas menyerbu setiap lawannya.

Yap It Peng mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, menyambuti serangannya, Siang-koan Kie berseru hendak mencegah tetapi sudah tidak keburu, terpaksa juga memancarkan serangan untuk membantu suhunya.

Tetapi dengan kekuatan mereka berdua, masih juga tidak sanggup menahan serangan Kun-liong Ong, begitu kekuatan kedua pihak saling beradu, mereka lantas terdorong mundur empat lima langkah.

Wan Hauw yang menyaksikan itu, juga tidak mau tinggal diam, ia mengirim satu serangan.

Dengan kekuatan mereka bertiga, baru berhasil menahan serangan hebat dari Kun-liong Ong, namun demikian Yap It Peng yang berada paling depan yang menderita paling hebat, hingga mulutnya menyemburkan darah.

Tiat-bok taysu mengerahkan kekuatan tenaga dalam, memancarkan serangan dari jarak jauh, tetapi begitu terbentur dengan kekuatan Kun-liong Ong, lantas mundur dua langkah, darahnya dirasakan bergolak.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan pertempuran itu, telah melihat kedua tangan Kun-liong Ong mendadak berubah merah membara, maka lalu berseru : “Tidak boleh mengadu kekuatan dengannya, kita berpencaran menyerang padanya dari berbagai penjuru, supaya ia repot sendiri sehingga kekuatan tenaganya tidak mendapat kesempatan dikeluarkan.” Semua orang yang tahu benar kepintaran gadis itu, segera berpencar dan melakukan serangan dari berbagai penjuru.

Dengan demikian, Kun-liong Ong benar2 lantas menjadi repot, ia sudah patah satu tangan, kakinya terluka sebelah, hingga gerakannya tidak leluasa, sedangkan lawan2nya tidak mau mengadu kekuatan, hingga dengan satu kaki menunjang badannya, ia harus berputaran bagaikan gangsing.

Kun-liong Ong agaknya sudah tidak sanggup menderita lebih lama, mendadak tangannya bergerak menyerang sebuah pohon besar.

Pohon sebesar itu, telah roboh berikut akar2nya. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu pada terheran-heran.

Kun-liong Ong kembali mengalihkan serangannya ke sebuah batu besar itu juga hancur berantakan, tetapi tangannya sendiri juga berlumuran darah.

Ia kini sudah seperti orang gila, berjingkrak-jingkrak dengan satu kakinya berlari putar-putaran, apa saja yang diketemukan, lalu diserangnya, darahnya mengecer disepanjang jalan.

Sebentar kemudian, ia mendadak berhenti, dengan tangannya yang berlumuran darah, mendadak ditancapkan ke dadanya sendiri, ketika tangannya di tarik kembali, ususnya juga ikut keluar.

Auw yang Thong dan lain lainnya menghampiri, bangkai Kun-liong Ong masih berkelojotan, tidak lama bemudian baru diam. Dengan demikian, tamatlah riwayatnya seorang jahat yang hendak merebut kekuasaan secara kekerasan dan kekejaman.

Dengan kematiannya Kun-liong Ong, tugas tokoh2 rimba persilatan juga telah selesai.

In Kiu Liong bersama Yap It Peng yang lebih dulu minta diri kepada Auw-yang Thong, mereka sudah mengambil keputusan akan mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw, untuk mengasingkan diri ke tempat yang sunyi dan tenang.

Tiat-bok taysu juga minta diri, bersama Thian-bok taysu pulang kegereja Siau-lim-sie di gunung Siong-san.

Nie Suat Kiao menepati janjinya kepada Siang-koan Kie, minta kepada Auw yang Thong supaya dibebaskan keanggautaannya dari golongan pengemis, supaya menjadi orang bebas, dan selanjutnya harus mengantarkan Ceng Peng kongcu pulang ke negaranya.

Setelah itu, ia sendiri juga mengundurkan diri dari jabatannya, bersama Wan Hauw pulang ke gunung.

Dua tahun kemudian, di kalangan Kang-ouw, telah timbul suatu kejadian gaib, setiap kali akan timbul pertikaian, lalu terdengar suara seruling yang mengalun di udara, yang mengherankan ialah orang2 yang bersangkutan ketika mendengar suara seruling itu, lantas menghentikan permusuhan hidup damai ... ”

TAMAT