ISMRP Jilid 29

 
Jilid 29

KUN-LIONG ONG berkata : “Aku tahu, untuk sementara toako tentu tidak dapat memberi keputusan. Tetapi tidak apa, toako boleh pilih pelahan2, siautee akan tunggu disini.”

Setelah berkata demikian, ia duduk di tanah sambil mengawasi orang2nya.

Siang-koan Kie diam2 berpikir : ‘saling menunggu demikian, entah sampai kapan ada keberesan?’ Ia lalu berkata kepada suhunya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga : “Suhu, biarlah teecu yang melawan dia, suhu boleh berusaha bawa pergi subo dan sumoy.”

Orang tua itu masih pejamkan matanya tetapi menggeleng2kan kepalanya.

“Siang-koan Kie, suhumu seumur hidupnya tidak ada yang dipikirkan, hanya terhadap istri dan putrinya, cintanya dalam sekali, kalau kau mau makan obatku melupakan diri, mereka akan tertolong." berkata Kun-liong Ong sambil tertawa dingin.

Siang-koan Kie menghampiri dengan pedang terhunus, katanya : “Kalau aku makan obat apa kau mau melepaskan subo dan sumoyku?”

“Benar, terimalah obat ini." menjawab Kun-liong Ong, kemudian melemparkan sebutir pel hitam kepada Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie menyambut pel itu dan berkata : “Kalau aku sudah makan pel ini, suhuku juga tidak perlu memusnakan kepandaian ilmu silatnya?”

“Ada urusan sudah sepantasnya murid yang harus mewakili suhunya, demi subo dan sumoymu, kau makan obat racun, tidak perduli bagaimana akibatnya, kau tetap mendapat nama harum.”

“Tidak perlu kau kata, aku juga bisa makan sendiri.” “Bagus, bagus. Kalau begitu kau lekas makan."

Siang-koin Kie memasukkan pel ke dalam mulutnya, tetapi di keluarkan lagi, katanya : “Kau tidak dapat dipercaya, bagaimana aku boleh mempercayaimu? Maka kau harus bebaskan dulu mereka."

“Aku tidak main2 denganmu." Siang-koan Kie diam2 merasa cemas, suhunya jelas sudah kena dipengaruhi oleh Kun-liong Ong, sedangkan In Kiu Liong tidak memberikan reaksi apa2, bagaimana pikiran suhengnya itu, susah diduga. Hanya ia seorang diri, bagaimana sanggup menghadapi Kun-liong Ong?

Selagi masih dalam keadaan bingung, tiba2 nampak seorang penunggang kuda berbaju hitam, lari mendatangi, tangannya mengacungkan sebuah bendera kuning terlukis sebuah naga.

Kun-liong Ong matanya mengawasi bendera itu sejenak, bentaknya dangan bengis : “Apa dalam istana terjadi kejadian!"

Penunggang kuda itu agaknya sudah terluka parah, bendera dalam tangannya terkulai, orangnya jatuh di tanah.

Siang-koan Kie pikir itu ada suatu kesempatan paling baik untuk menolong orang, sayang belum bersepakat dengan suhu atau suhengnya ...

Selagi masih berpikir bagaimana harus bertindak, telinganya mendengar suara In Kiu Liong : “Sutee, lekas kau lompat ke atas kereta, untuk menahan pasukan berkuda, lekas! lekas! ... ”

Kuda orang baju hitam yang sudah tidak terkendali, terus lari menerjang Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong agaknya menyadari bahwa keadaan tidak beres, ia terus lompat mengelakkan diri dan menyambar orang baju hitam yang terguling di tanah.

Tetapi orang itu cepat bagaikan kilat telah lompat ke atas kereta. Dengan kecepatan luar biasa pula, orang itu mengeluarkan sepasang tongkat besi, untuk menyampok ujung tombak yang ditujukan kepada dua wanita di atas kereta, Siang-koan Kie yang sudah siap setelah mendapat perintah dari suhengnya, begitu melihat orang baju hitam itu sudah berhasil membuyarkan tombak yang mengancam subo dan sumoynya, lantas lompat meleset setinggi dua tombak, kemudian melayang turun ke atas kereta.

Persamaan dengan bergeraknya Siang-koan Kie, In Kiu Liong juga lompat dengan mendadak, menyerbu Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong yang sedang lompat hendak menahan Siang-koan Kie, tiba2 tampak sesosok bayangan orang menyerbu dirinya, sebelum orangnya tiba, hembusan angin sudah menyambar lebih dulu.

Dengan tangan kanannya Kun-liong Ong menahan serangan In Kiu Liong. Ketika serangan kedua pihak saling beradu, masing2 terkejut. Kun-liong terdorong mundur satu langkah, sedangkan In Kiu Liong yang berada di tengah udara, terpaksa berjumpalitan sampai dua kali, baru melayang turun.

Tetapi begitu kakinya menginjak tanah, sudah menyerbu lagi.

Setelah mengadu kekuatan, Kun-liong Ong merasa bahwa kekuatan tenaga dalam orang itu sangat hebat, maka sambil menyambut serangan yang dilancarkan oleh In Kiu Liong, mulutnya membentak : “Kau siapa?"

In Kiu Liong tertawa dingin, tidak menjawab. Kedua tangannya terus bergerak, menyerang dengan hebat.

Dua tokoh kuat berkepandaian tinggi itu, begitu bergebrak, sudah mengeluarkan serangannya yang ganas.

Mari sekarang kita tengok kepada orang berbaju hitam yang menyingkirkan tombak yang mengancam dua wanita di atas kereta itu. Serangan orang itu berhasil tetapi pasukan berkuda yang mengitari kereta itu dalam waktu sangat singkat sudah menyerang dari berbagai penjuru.

Dengan kakinya orang baju hitam itu mematahkan kursi bambu yang diduduki oleh dua wanita itu, hingga mereka jatuh kedalam kereta, setelah itu ia menahan serbuan pasukan berkuda dengan sepasang tongkatnya.

Nampaknja agak berat orang baju hitam itu melawan pasukan berkuda Kun-liong Ong yang sudah terlatih baik, untung Siang-koan Kie sudah berada di atas kereta, senjata pusakanya yang luar biasa tajamnja itu, dalam waktu singkat sudah ber hasil menabas kutung banyak senjata musuhnya.

Orang baju hitam itu lalu membuka kain yang menutupi mukanya. Kemudian berkata : “Kie-ji, kepandaianmu ternyata sudah mencapai taraf demikian tinggi.”

Setelah mengetahui siapa orangnya, Siang-koan Kie lantas berseru : “Suhu ... ”

Orang berbaju hitam itu ternyata suhu Siang-koan Kie yang pertama Yap It Peng, yang menyaru.

“Sekarang keadaan sangat berbahaya, bukan waktunya untuk bicara, yang penting ialah dengan cara bagaimana kita hadapi musuh. Kita tidak boleh membiarkan subo dan sumoy dianiaya oleh mereka."

Sementara itu Siang-koan Kie yang menggerakkan senjatanya, kembali sudah berhasil memapas beberapa batang senjata musuhnya. Ketika mendengar ucapan suhunya, lalu menanya : “Suhu apa kau kata?”

“Orang tua seruling sakti itu, pernah memberi pelajaran ilmu silat padaku, dengan demikian, maka istrinya dan anaknya, bukankah subo dan sumoyku?"

Mendengar itu Siang-koan Kie tercengang, diam2 berpikir : ‘kalau kau angkat dia sebagai suhu, bagaimana antara aku denganmu?’

Pada saat itu, Yap It Peng sedang repot melayani musuh2nya dengan tongkatnya, ia segera memutar senjata pusakanya untuk membantu. Kembali beberapa batang tombak musuh sudah terkutung olehnya.

Tetapi karena tombak itu panjang, meskipun sudah terkutung, masih bisa digunakan.

Selagi pertempuran berlangsung, tiba2 terdengar suara siulan panjang.

Siang-koan Kie sudah tahu bahwa Kun-liong Ong banyak akalnya, maka ketika mendengar suara siulan itu, lantas pasang telinga.

Orang baju hitam yang tadi berduduk itu, samar2 tampak bergerak.

Siang-koan Kie terkejut, pikirnya : ‘suhu sudah memancing mereka datang kemari dengan menggunakan pengaruh serulingnya, apabila tidak dapat mengendalikan mereka, benar2 akan merupakan suatu bahaya.’

Suara siulan itu semakin meninggi, agaknya mengandung irama tertentu, sungguh aneh, orang2 baju hitam itu lantas pada bangun berdiri.

“Suhu, tolong tinggal disini menjaga subo dan sumoy, aku akan melukai beberapa pasukan berkuda ini.”

Tanpa menunggu jawaban suhunya, ia sudah lompat turun dari atas kereta.

Senjata yang tajam sebentar saja sudah meminta dua korban.

Ketika ia memandang ke arah Kun-liong Ong, ternyata sedang bertarung sengit dengan In Kiu Liong. Suara siulan itu ternyata keluar dari mulut Kun-liong Ong.

Dengan tiba2 suara seruling mengalun lagi ditengah udara, tercampur dengan suara siulan tadi. Orang2 baju hitam yang tadi berdiri, agaknya terombang ambing oleh dua jenis suara itu hingga mereka pada berdiri tertegun.

Sementara itu, suara seruling kedengarannya semakin nyaring, sedangkan suara siulan lama2 telah tertindas oleh suara seruling itu.

Orang2 baju hitam yang sudah pada berdiri, kini telah duduk lagi.

Pasukan berkuda yang terkenal keberaniannya, juga terpengaruh oleh suara seruling serangan mereka menjadi lambat.

Dalam medan pertempuran itu kini tinggal Kun-liong Ong dan In Kiu Liong yang masih bertempur mati2an.

Siang-koan Kie tiba2 berteriak sambil mengacungkan senjatanya : “Kun-liong Ong seorang jahat tidak kenal kasian, kita juga tidak perlu menggunakan peraturan dunia Kang-ouw, lebih lekas membasminya, lebih baik bagi rimba persilatan.”

Setelah berkata demikian, lalu lonpat tinggi dan menkam dari belakang.

Kun-liong Ong yang bertempur dengan In Kiu Liong, sudah seratus jurus lebih, ternyata masih dalam keadaan seri, hingga dalam hati diam2 sudah merasa heran. Tadi ia mengeluarkan suara siulan, maksudnya supaya anak buahnya membantu padanya, tak diduga bahwa maksudnya itu telah dihalangi oleh suara seruling yang ditiup oleh orang tua rambut putih, bahkan orang2nya sendiri yang kemudian kena dipengaruhi oleh suara seruling itu.

Orang tua peniup seruling sakti itu, sejak Siang-koan Kie dan Wan Hauw berlalu dari sampingnya, telah menolong In Kiu Liong yang waktu terluka parah dan kemudian diajak bersama-sama pergi ke gedung Kun-liong Ong. Di situ dengan secara menggelap memperhatikan gerak gerik Kun-liong Ong dan membujuk anak buahnya supaya memberontak. Di situlah ia mengetahui cara2 Kun-liong Ong mengendalikan anak buahnya, lalu dipelajarinya dan kemudian berhasil menguasai orang2 itu dengan irama serulingnya.

Sekarang kita balik kepada Siang-koan Kie, yang membantu In Kiu Liong mengepung Kun-liong Ong, ternyata sudah membuat repot Kun-liong Ong.

In Kiu Liong yang juga merupakan satu tokoh kenamaan, yang namanya berendeng dengan Kun-liong Ong dan Auw yang Thong, belakangan mendapat pelajaran lagi dari orang tua peniup seruling sakti, hingga kepandaiannya semakin hebat. Kebenciannya terhadap Kun-liong Ong yang sudah meluap, maka setiap serangannya dilakukan secara ganas. Dan kini setelah dibantu oleh Siang-koan Kie, sekalipun Kun- liong Ong mempunyai kepandaian tinggi sekali, juga tidak sanggup melawan dua orang kuat itu.

Pada saat itu, pasukan berkuda Kun-liong Ong sudah berhenti bergerak semua, Yap It Teng sudah berhasil membawa keluar dari tempat bahaya dan diantarkan kedepan orang tua peniup seruling sakti.

Orang tua rambut putih itu mengawasi istri dan anaknya sejenak, menghela napas dalam2 dan berkata : “Ia sudah keracunan terlalu dalam, tidak tahu masih bisa disembuhkan atau tidak.”

“Orang baik selalu dilindungi oleh Tuhan, semoga bisa sembuh lagi."'

Orang tua itu tersenyum, kembali meniup serulingnya.

Pasukan kuda Kun-liong Ong, semua sudah menghentikan gerakannya.

Dengan demikian, Kun-liong Ong tinggal seorang diri melawan In Kiu Liong dan Siang-koan Kie. Meskipun ia mahir berbagai ilmu silat, tetapi di samping dua lawan kuat itu masih ada pengaruhnya suara seruling yang mengacaukan pikirannya, sehingga menjadi agak bingung. Satu kali, pundaknya telah terpukul oleh In Kiu Liong, sehingga sempoyongan hampir jatuh.

Siang-koan Kie yang melihat kesempatan baik, membabat dari samping dengan senjata pusakanya. Kun-liong Ong menundukkan kepalanya, meskipun, lehernya masih utuh, tetapi rambutnya telah terpapas oleh senjata yang tajam itu.

Mengetahui keadaannya sendiri sudah seperti ikan dalam jaring, kalau tidak lekas2 menyingkir, pasti akan tertangkap oleh musuhnya.

Dengan menahan rasa sakit dan malunya, ia buru2 lompat kabur.

“Kau ingin kabur? Tidak bisa. Dosamu sudah meluap, hari ini adalah hari naasmu." demikianlah Siang-koan Kie membentak sambil mengejar.

Kun-liong Oag menggerakkan lengan jubahnya, dari dalam jubah mengeluarkan asap biru.

Karena Siang-koan Kie sangsi asap itu mengandung racun atau tidak, tidak berani mendekati. Ia menahan dirinya dan mundur sejauh dua tombak, ketika asap biru itu sudah buyar, Kun-liong Ong sudah tidak kelihatan bayangannya.

“In suheng, mari kita kejar." berkata Siang-koan Kie kepada suhengnya.

“Baik!" demikian In Kiu Liong menjawab, lalu bersama sama Siang-koan Kie pergi mengejar.

Tiba2 orang tua rambut putih itu berseru kepada mereka, supaya jangan mengejar, hingga mereka terpaksa batalkan maksudnya. “Ibarat binatang kelabang, sekalipun sudah mati juga masih utuh. Apalagi Kun-liong Ong hanya mengalami kekalahan baru untuk pertama kali dia masih mempunyai cukup tenaga, kalau kalian mengejar, mungkin akan terjatuh ketangan orang-orangnya yang tersembunyi." berkata orang tua itu sambil menghela napas.

“Suhu benar, terhadap orang yang banyak akalnya seperti dia itu, kita tidak boleh berlaku gegabah." berkata In Kiu Liong.

“Mereka masih hidup, sesungguhnya di luar dugaanku. Perhitungan Kun-liong Ong, ternyata jauh di atasku. Aih! mau tidak mau aku terpaksa merubah rencanaku semula, aku hendak menolong mereka lebih dulu." berkata orang tua itu sambil memandang anak dan isterinya.

In Kiu Liong diam2 merasa khawatir atas pernyataan suhunya itu, karena orang yang dapat mengimbangi kekuatan dan kepandaian Kun-liong Ong, jumlahnya tidak seberapa, dan satu2nya orang yang sanggup menundukkan manusia jahat itu, hanya orang tua itu saja, kalau ia mau pergi, bukankah sudah tidak ada orang yang dapat menundukkannya?

Namun demikian ia juga tidak berani menghalangi maksud suhunya, yang hendak menolong jiwa isterinya dan anaknya. Maka ia diam saja.

Yap It Peng karena melihat In Kiu Liong diam, ia juga tidak berani buka mulut.

Hanya Siang-koan Kie yang kerani menyatakan pikirannya, katanya : “Suhu hendak menyembuhkan subo dan sumoy ini memang sudah seharusnya. Tetapi dewasa ini hanya irama seruling suhu yang bisa menundukkan Kun-liong Ong, kalau suhu pergi dan meninggalkan keadaan yang masih murat marit ini, siapakah yang sanggup membereskan?”

“Kau bersama In chuncu dan Yap tayhiap.” jawab suhunya. Meskipun dua jago tua itu sudah mengangkat suhu kepada orang tua itu, tetapi orang tua itu tidak mau menerima hingga masih menyebut mereka chungcu dan tayhiap.

“Suhu, ada sedikit pertanyaan teecu ingin mengutarakan, apakah suhu tidak keberatan?" berkata In Kiu Liong.

“Katakanlah!”

“Kun-liong Ong meskipun berkepandaian tinggi dan mahir ilmu silat dari berbagai cabang, tetapi teecu sejak mendapat pelajaran suhu, rasanya sudah cukup untuk menghadapi dia. Yang ditakuti adalah orang2nya yang sudah diberi makan obat lupa diri, orang2 itu sudah seperti masih hidup, tidak takut mati, semua telah mengabdikan diri kepadanya, bahkan diantara mereka terdapat banyak orang kuat. Menghadapi orang2 itu, teecu sebetulnya tidak berdaya, sekalipun golongan Pengemis mengerahkan seluruh kekuatan orang2nya, barangkali juga tidak sanggup melawan. Kun-liong Ong yang mengalamkan kekalahan berulang2 tentunya bertambah buas, dalam maktu dekat, pasti akan melakukan penyerangan besar2an. Karena waktunya sudah mendesak, sekalipun teecu sekalian bersama orang2 golongan Pengemis bisa mendapat bantuan sembilan partay besar tetapi dalam pertempuran itu, pasti akan memakan banyak korban jiwa manusia. Apakah suhu tega hati melihat rimba persilatan mengalami bencana hebat itu?”

Orang tua itu memandang In Kiu Liong bertiga sejenak, lalu berkata : “Tahukah kamu, apa sebabnya aku menurunkan seluruh kepandaianku yang kupelajari hampir seumur hidupku kepada kau bertiga?”

“Teecu tidak tahu,” jawab dengan serentak mereka. “Tentang   kepandaian   ilmu   silatku,   kekuatan   tenaga

dalamku, mungkin masih di atas Kun-liong Ong, tetapi dua kakiku sudah cacat, tidak bisa bergerak secara leluasa, sesungguhnya tidak sanggup bertempur dengannya. Karena aku ingin minta kamu mewakili aku melawan Kun-liong Ong, barulah aku menurunkan kepandaianku kepada kalian. Tetapi waktunya sudah tidak mengizinkan aku untuk mencari seorang murid yang benar2 dapat mewarisi seluruh kepandaianku, dan kalian semua sudah mempunyai dasar baik, asal menurunkan pelajaran gerak tipu sudah cukup. Apalagi kau, In chungcu, namamu sudah lebih dulu terkenal dikalangan Kang-ouw ... "

“Itu hanya nama kosong belaka, bagaimana dapat dibandingkan dengan suhu?"

“Kun-liong Ong belum pernah mengadu kepandaian denganku, dalam hatinya masih selalu merasa jeri terhadapku, tetapi kalau ia sudah berhadapan satu kali saja denganku, ia tidak akan merasa takut lagi ... " berkata orang tua itu ketika menampak orang tua itu sambil menghela napas, matanya memandang In Kiu Liong, Yap It Peng dan Siang-koan Kie, bergantian, lalu berkata lagi : “Sekarang, dengan bergantian aku menurunkan kepada kalian serupa kepandaian, yang merupakan kepandaian simpananku ... "

“Demikian besar budi suhu kepada kita, bagaimana teecu sekalian dapat membalasnya?" dengan serentak In Kiu Liong bertiga berkata.

Orang tua itu memandang Siang-koan Kie sejenak ia berkata padanya.

“Kie-jie, kau sangat cerdas, juga mengerti irama musik, serulingku ini aku wariskan padamu."

“Teecu tidak mengerti irama ... “ jawab Siang-koan Kie. “Aku akan ajarkan kau caranya untuk menundukkan

orang2nya Kun-liong Ong, itu hanya beberapa rupa irama

saja, tidak begitu sulit, cepat dipelajari, hanya, kalau mencapai taraf yang sempurna dan menurut keinginan hati, itu akan terbentuk kepada bakat dan ketekunanmu sendiri ... ” Wajah orang tua itu terlintas suatu perasaan gembira, katanya pula : “Dalam hidupku, sering aku membuat kesalahan dalam menilai orang. Kesalahan yang terbesar ialah persahabatanku dengan Kun-liong Ong. Kesalahan itu akibatnya kurasakan sampai sekarang. Tetapi terhadap kepandaian ilmu silat dan irama, aku mempunyai bakat istimewa. Aku pernah menikmati kehidupan yang paling manis dan bahagia dengan istriku, tetapi aku juga pernah mengalami penghidupan yang paling pahit, dalam kuil tua didaerah pegunungan yang paling sepi itu, setiap hari aku berkawan dengan binatang2 buas dan burung hutan serta beberapa bangkainya paderi ... ”

Siang-koan Kie sebetulnya ingin menanya, tetapi ketika menampak orang tua itu sangat gembira, ia batalkan maksudnya.

“Kepandaian ilmu silatku, sebagian besar terdiri dari kepandaian orang lain, yang kemudian kurubah dan terciptalah menjadi kepandaian yang kumiliki sekarang ini ... " berkata pula orang tua itu.

“Kepandaian suhu sudah tidak ada taranya, kita sedikitpun tidak dapat meniru.”

“Tidak. Aku tidak merasa bangga dengan kepandaian ciptaanku itu ... " katanya sambil mengunjukkan serulingnya, “hanya seruling inilah yang menjadi kebanggaanku, irama serulingku ini mungkin yang akan terus hidup ... ”

In Kiu Liong mengawasi seruling itu, tidak ada apa-apanya yang aneh.

Orang tua itu berkata lagi sambil menunjuk serulingnya : “Seruling ini nampaknya tidak ada apa2nya yang aneh, tetapi sebetulnya hampir seluruh hidupku aku curahkan kepada seruling ini, kecuali bagian yang tertampak dari luar, dalam seruling ini masih ada satu batang lagi yang kunamakan seruling rangkap.” “Apa dulu juga suhu suka meniup seruling?" tanya Siang- koan Kie.

“Sudah tentu suka, kalau tidak mengapa orang memberi julukan aku Dewa seruling? Seruling ini ada mempunyai tiga syarat penting, kesatu, kalau orang yang meniup tidak mempunyai kekuatan tenaga dalam sudah sempurna tidak akan sanggup meniup dengan baik, kedua dengan berbareng seruling ini dapat mengeluarkan dua macam suara yang berlainan, dan ketiga, ia dapat digunakan menjadi semacam senjata yang aneh.”

Orang tua itu membuat main serulingnya, matanya mengawasi Siang-koan Kie, katanya, “Hari ini kuturunkan pelajaran meniup seruling ini kepadamu, aku harap kau dapat meneruskan cita2ku, untuk selanjutnya, di dunia Kang-ouw sudah tidak ada seorang yang bernama Dewa seruling lagi ... ”

“Suhu, kau ... " berkata In Kiu Liong cemas.

Orang tua itu menggoyangkan tangannya, melarang In Kiu Liong melanjutkan kata2nya seraya berkata : “Aku tidak akan bunuh diri ... ”

Ia memandang istri dan anaknya sejenak, “aku akan bawa mereka ke suatu tempat yang jauh dari manusia, aku akan berusaha untuk menyembuhkan mereka. Kita bertiga selanjutnya akan menuntut penghidupan yang tenang tentram, bebas dari gangguan manusia. Andaikata usahaku tidak berhasil, aku juga akan selalu menemani mereka sehingga akhir hayatku, tidak akan meninggalkan mereka lagi.”

“Kecintaan suhu yang sedemikian besar, sesungguhnya dapat kita dibuat teladan." berkata Siang-koan Kie.

“Aku harap sebelum hari gelap sudah bisa berangkat, waktu tinggal sedikit, lekas kamu duduk, masing2 mengatur sendiri pernapasanmu, buang semua pikiran, aku hendak menurunkan pelajaranku kepada kau secara bergantian.” “Suhu, bagaimana dengan orang2 baju hitam itu?" tanya In Kiu Liong.

“Tadi ketika Kun-liong Ong mengeluarkan siulan, hendak menguasai kembali orang2 itu, aku belum mau membalas dengan irama serulingku, maksudku ialah ingin mempelajari dulu suara siulannya itu.”

“Kalau suhu dapat menemukan iramanya dan suhu menggunakan irama seruling mengendalikan mereka, maka anak buah Kun-liong Ong yang jumlahnya ribuan jiwa itu bukankah akan dapat kita gunakan?”

“Benar! Aku juga sedang memikirkan itu." jawab Dewa seruling sambil, menganggukkan kepala, “Hanya, sekarang ini masih belum mempunyai pegangan, kalau pendengaranku keliru, bisa membawa akibat buruk. Maka lebih baik totok dulu jalan darah mereka.”

In Kiu Liong, Yap It Peng dan Siang-koai Kie dengan serentak turun tangan, menotok jalan darah orang2 itu.

Dewa seruling menurunkan kepada In Kiu Liong sembilan macam gerak tipu serangan tangan, menurunkan kepada Yap It Peng lima jurus ilmu golok.

Mendadak ia lompat bangun, dengan menggunakan tangan sebagai gantinya kaki, ia berjalan ke sebuah pohon besar yang berada sejauh beberapa tombak. Dengan tiba2 ia lompat ke atas pohon, kemudian menggapai dan berkata kepada Siang- koan Kie.

“Kie-jie kau kemari.”

Siang-koan Kie menghampiri dan melompat ke atas pohon. “Dari atas pohon ini, kita bisa memandang jauh, juga lebih

tenang. Disini paling baik untuk belajar meniup seruling." berkata Dewa seruling.

“Suhu benar." jawab Siang-koan Kie. “Sekarang kita mulai, aku akan mengajarkan dulu ilmu menyembuhkan luka.”

Siang-koan Kie mendengarkan dengan penuh perhatian, karena ia memang sudah mempunyai dasar baik, lagi pula sudah mempunyai bakat, maka cepat mendapat kemajuan.

Dewa seruling dongakkan kepala melihat keadaan cuaca, katanya dengan girang : “Nampaknya, diwaktu malam aku sudah bisa berangkat.”

“Apa pelajaran teecu sudah mendapat kemajuan?”

“Sudah, bahkan lebih pesat dari apa yang kukira. Nanti tengah malam, aku bersama subo dan sumoymu, barangkali sudah berada sejauh seratus pal lebih.”

Wajah orang tua itu nampak sangat gembira sehabis berkata, tertawa terbahak-bahak.

Meniup seruling yang nampaknya sangat mudah, ternyata harus menggunakan banyak tenaga. Siang-koan Kie ketika meniup, baru sebentar saja, napasnya sudah memburu, terpaksa menghentikan tiupannya, pada saat itulah mendadak matanya dapat lihat beberapa bayangan orang, dari sebelah barat lari mendatangi. Ia terkejut, pikirnya : “Orang2 itu entah kawan atau lawan? Ceng Peng kongcu masih belum sadar, sedangkan In suheng dan Yap suhu sedang bertekun mempelajari ilmu silat yang baru didapatkan ... “

Beberapa socok bayangan orang itu dengan cepat sudah berada beberapa tombak jauhnya.

Kini dapat dilihat dengan tegas, mereka itu adalah dua kacung dan Thian-bok taysu serta lima anggauta pasukan berani mati. Dalam girangnya ia lantas berseru : “Siautee Siang-koan Kie ada disini."

Dua kacung menghentikan langkahnya, mereka mendongak ke atas pohon, lalu berkata : “Saudara Siang-koan!" Siang-koan Kie lompat turun, katanya : “Siautee ada disini.” “Untung kita bertemu dengan kau,” berkata dua kacung. “Ada kejadian apa?”

“Kalau tidak menemukan kau, kita dua bersaudara juga tidak bisa kembali menemui pangcu lagi." berkata Thio Hong.

“Nona Nie telah menggerakan seluruh kekuatan golongan kita, bertempur dengan pasukan raja muda Tong-peng-hauw yang datang membantu Kun-liong Ong.”

“Pihak mana yang menang.”

“Sudah tentu pihak kita yang menang. Nona Nie pandai mengatur siasat, ia pasang pasukan tersembunyi, lebih dulu membasmi beberapa orang kuat dalam pasukan raja muda Tong-peng-hauw, kemudian melakukan pertempuran yang menentukan. Orang2 dipihak kita, semuanya bertempur dengan gagah berani, hingga mendapat kemenangan besar. Raja muda Tong-peng-hauw sendiri dengan anak buahnya yang tinggal enam tujuh orang, berhasil melarikan diri.”

-odwo-

Bab 114

“Pertempuran kali ini hebat sekali, bukan saja sudah menghancurkan pasukan raja muda Tong-peng hauw, tetapi juga merupakan kemenangan paling besar selama berhadapan dengan Kun-liong Ong. Setelah pertempuran ini, kepercayaan saudara2 kita terhadap kekuatan sendiri semakin besar, semangatnya semakin tinggi ... " berkata Lie Sin.

“Saudara, pangcu suruh kita mencari kau, setelah menemukan, suruh kita ajak saudara kemarkas kita sementara." berkata Thio Hong. Siang-koan Kie memandang beberapa bekas pengawal Kun-liong Ong yang menggeletak di tanah dengan hati mendelu, pikirnya : ’orang2 ini mungkin ada yang jahat dan pantas mendapat hukuman, tetapi juga ada yang baik, yang banya dijadikan kambing hitam. Kalau bunuh tanpa memilih bulu, rasanya terlalu kejam. Tetapi kalau kita bebaskan mereka, dikhawatirkan akan digunakan lagi oleh Kun-liong Ong.’

Sesaat lamanya ia tidak bisa mengambil keputusan.

Thian-bok taysu tiba2 berkata : “Siang-koan siauhiap, apakah kau merasa sulit untuk menyelesaikan persoalan orang2 itu?”

“Memang benar, entah bagaimana pikiran tay-su!”

“Nona Nie dari orangnya Kun-liong Ong, mungkin mengerti bagaimana harus menyelesaikan soal ini ... sebaiknya kita serahkan mereka kepadanya.”

Tetapi Siang-koan Kie masih khawatir, karena orang2 itu biasanya ditugaskan oleh Kun-liong Ong sebagai pengawalnya, sekalipun bukan orang2 termasuk golongan kelas satu, tetapi kepandaian mereka tentunya tidak rendah ...

Selagi masih bingung untuk mengambil kepastian, tiba2 terdengar suara suhunya : “Kie-jie, orang2 ini kau boleh kendalikan dengan irama seruling yang sangat sederhana, bawalah mereka pergi! Sekarang ini aku ingin segera membawa subo dan sumoymu berlalu dari tempat ini, kita juga tidak perlu bertemu lagi.”

In Kiu Liong menghampiri Siang-koan Kie dan berkata padanya : “Suhu tadi memberitahukan kepadaku, supaya kita lekas berlalu dari sini.”

“Aku juga sudah diberitahukan, tetapi aku merasa sulit.” “Nampaknya suhu sudah bertekad hendak pergi, hingga

tidak bisa kita tahan lagi. Kita masih banyak waktu, setelah berhasil membasmi Kun-liong Ong, kita masih bisa pergi mencari. Pada saat dan keadaan seperti sekarang ini, kita tidak boleh mengabaikan permintaannya.”

“Baiklah, mari kita berangkat, apakah suheng hendak berjalan bersama kita?”

“Aku juga seharusnya pergi menjumpai Auw-yang pangcu, marilah kita jalan bersama2.”

“Apakah kita harus bawa serta Ceng Peng kongcu?”

“Dia sudah mengalami penderitan cukup berat, kiranya sudah pandang tawar segala permusuhan yang sudah lalu. Suhengmu juga percaya masih mempunyai cukup kesabaran, taruh kata dimaki atau dipukuli olehnya aku juga masih sanggup terima, lalu sutee yang menjadi orang pertengahan untuk mendamaikan, rasanya tidak susah untuk menghapus permusuhan kita. Bawalah sekalian!" berkata In Kiu Liong, ia berhenti sejenak, “suhu tidak mau kita jumpai, kita tidak boleh memaksa, tetapi terhadap subo, kita harus mohon diri.”

“Suheng benar." jawab Siang-koan Kie.

Keduanya lalu berjalan menghampiri perempuan setengah tua yang duduk seperti orang linglung. Mereka berlutut dan berkata : “Subo, terimalah hormat sutee sekalian.”

Perempuan itu memandang mereka sejenak, kembali mendongakkan kepalanya.

Yap It Peng yang menyaksikan mereka minta diri kepada subonya, juga turut berlutut. Setelah itu, Siang-koan Kie membuka totokan Ceng Peng kongcu, sedangkan In Kiu Liong dan Yap It Peng lalu lompat ke arah orang2 baju hitam, membuka totokan mereka.

Ceng Peng kongcu membuka matanya, ia memandang keadaan sekitarnya sejenak, kemudian berkata : “Apa Kun- liong Ong sudah kabur?” “Sudah, kita hendak pergi kepada golongan Pengemis, bagaimana pikiranmu?”

“Aku ikut kau pergi, kemana kau hendak pergi, aku akan beserta denganmu.”

“Baik, mari kita berangkat." katanya, lalu meniup serulingnya.

Sungguh heran, orang2 baju hitan itu ketika mendengar irama seruling itu segera menghampiri.

In Kiu Liong berkata kepada Yap It Peng : “Yap-heng, Siang-koan sutee baru saja mendapat pelajaran seruling dari suhu, barangkali belum cukup sempurna, orang2 itu masih gelap pikirannya, kalau sampai tidak terandalkan, pasti akan menerbitkan keonaran besar. Mari kita jaga mereka, apabila ada orang yang berani bergerak, kita binasakan saja.”

“Siautee menurut." jawab Yap It Peng.

Dua kacung yang membuka jalan dimuka, Siang-koan Kie mengikuti di belakangnya sambil meniup seruling, Ceng Peng kongcu berjalan di belakang Siang-koan Kie, Thian-bok taysu dan lima anggota pasukan berani mati di belakang, sedangkan In Kiu Liong dan Yap it Peng berada dikedua sisi orang2 baju hitam.

Siang-koan Kie berjalan sambil meniup seruling, sebentar2 menoleh ke atas pohon, agaknya merasa berat meninggalkan suhunya.

Tiba2 terdengar suara suhunya : “Kie jie, jangan terlalu banyak pikiran, lekas jalan! Semoga kau dapat melanjutkan kepandaian ilmu irama seruling suhumu, dapat mendirikan pahala bagi rimba persilatan.”

Hati Siang-koan Kie merasa pilu, air matanya mengalir keluar. Ceng Peng kongcu yang menyaksikan itu merasa heran, tanyanya : “Mengapa kau menangis?”

Kiranya orang tua tadi menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga yang hanya dapat didengar olen Siang- koan Kie sendiri.

Karena waktu itu Siang-koan Kie sedang meniup seruling tidak dapat menjawab pertanyaan Ceng Peng kongcu, juga tidak bisa menggunakan tangannya untuk menghapus air matanya, maka Ceng Peng kongcu lalu mengeluarkan sapu tangannya membantu Siang-koan Kie menghapus air matanya.

Rombongan orang2 itu berjalan sudah sepuluh pal lebih, ternyata tidak ada orang2 Kun-liong Ong yang mencegat.

Siang-koan Kie meniup serulingnya semakin gapa, orang2 baju hitam itu yang dikendalikan oleh suara seruling, semua sangat jinak, mereka berjalan menjadi empat rombongan.

Pelahan2 Siang-koan Kie merasa kehabisan tenaga, suara serulingnya mulai menurun.

Ceng Peng kongcu yang dapat dengar suara napas Siang- koan Kie, lalu berkata : “Sudah tak usah meniup lagi, beristirahat sebentar.”

Siang-koan Kie juga merasa tidak sanggup meniup lagi, ia menurut nasehat Ceng Peng kongcu.

Ceng Peng kongcu nampaknya sangat girang, menampak pemuda itu mau dengar perkataannya.

Sementara itu kacung Thio Hong mendadak menghampiri Siang-koan Kie dan berkata sambil menunjuk kerimba yang masih agak jauh.

“Sudah akan sampai, dalam rimba itu adalah tempat markas kita sementara.” Dari kedua sisi jalan, yang terdapat banyak rumput alang2, bergerak2 bayangan orang, beberapa puluh orang2 berpakaian abu2, berdiri dari tempat persembunyiannya.

Thio Hong mengerti bahwa mereka telah mencurigai kepada orang2 baju hitam yang berjalan di belakangnya, maka buru2 berkata kepada mereka : “Saudara2, orang2 ini adalah tawanan kita, yang sudah kita tundukkan, harap saudara jangan khawatir, kembalilah ke tempat saudara sendiri!”

Mendengar keterangan itu, orang2 itu benar saja balik lagi ke tempat persembunyiannya.

Berjalalan lagi kira2 tiga pal, mereka disambut oleh tigapulah enam orang. Mereka itu adalah sisa dari empatpuluh delapan pasukan hulu balang, yang terkenal kuat dalam barisan golongan Pengemis.

Kacung kiri dan kanan menjongsong mereka, dengan mereka berbicara beberapa patah kata, kemudian balik lagi dan berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan : “Empatpuluh delapan pasukan hulu balang setelah pertempuran dahsyat hari itu, beberapa diantaranya terluka parah dan kini sudah dibawa pulang kemarkas besar. Kini tinggal tiga puluh enam yang dapat membantu kita. Pasukan ini dididik oleh Teng sianseng sendiri, disiplinnya keras, semua anggauta golongan kita sangat menghargai mereka."

„Apakah mereka tidak mengijinkan kita lewat?"' tanya Siang-koan Kie.

“Kata mereka, tidak jauh dari sini, adalah markas kita sementara, orang2 Kun-liong Ong ini harus tinggal disini, sebelum mendapat ijin nona Nie, tidak boleh masuk … " berkata Thio Hong.

“Tetapi kalau mereka didiamkan disini, bukankah sangat membahayakan? Tidak ada serulingnya saudara Siang-koan Kie yang kendalikan mereka, berarti orang kita berkawan dengan kawanan binatang buas." sambung Lie Sin.

“Tetapi disiplin tigapuluh enam pasukan hulu balang sangat keras, mereka tidak mengijinkan, sesungguhnya juga menyulitkan kita." berkata Thio Hong sambil menghela napas.

“Kita sebetulnya juga tidak dapat menialahkan mereka ....

" berkata Siang-koan Kie.

Tiba2 terdengar suara orang berseru dengan suara tajam nyaring : “Toako, kau sudah pulang!”

Sesosok bayangan orang, bagaikan burung elang turun dari tengah udara, sebentar kemudian sudah berada di tengah2 orang banyak, ia itu adalah Wan Hauw.

Pemuda darah campuran antara manusia dan orang hutan ini, agaknya masih mengandung permusuhan dan dendam sakit hati terhadap orang2nya Kun-liong Ong, dengan mata beringas menyapu orang2 berpakaian hitam itu sejenak, agaknya sudah ingin menghajar mereka.

“Saudara, apakah nona Nie ada baik?” tanya Siang-koan Kie dengan suara perlahan.

“Dia, baik baik saja, kita sering omong2 tentang toako.”

Siang-koan Kie tertawa menyeringai, sambil berpaling ke arah orang2 baju hitam ia berkata : “Orang2 ini sudah kehilangan kepandaiannya untuk memberi perlawanan, tidak perlu menghiraukan mereka.”

“Orang-orang ini bukankah pasukan pengawal Kun-liong Ong?”

“Benar, tetapi sudah kutundukkan." “Ada kejadian serupa itu?”

Wan Hauw menghampiri salah seorang yang berada paling depan. Orang itu membuka lebar sepasang matanya, meskipun melihat Wan Hauw menghampiri dirinya, tetapi masih tetap berdiri tanpa bergerak.

Wan Hauw mengangkat tangan kanannya, menyerang orang itu.

Sebentar kemudian terdengar suara keluhan tertahan, orang itu terpental tinggi dan jatuh di tempat sejauh satu tombak lebih, mulutnya mengeluarkan darah dan binasa seketika itu juga.

Yang lainnya meskipun sudah seperti orang pikun, tetapi terhadap kematian, sedikit banyak merasakan jeri, hingga timbul sedikit reaksi.

Wan Hauw gerakkan pula tangannya, dengan beruntun ia menghajar orang2 itu, dalam waktu singkat, kira2 limabelas orang sudah binasa di tangannya.

Siang-koan Kie tidak dapat membenarkan perbuatan Wan Hauw itu, selagi hendak mencegah, pemuda itu sudah menghampiri dan berkata : “Orang2 itu mengapa tidak melakukan perlawanan?”

“Mereka sudah dikendalikan oleh seruling saudara Siang- koan." berkata Tliio Hong.

“Aku tidak percaya!" Berkata Wan Hauw.

“Kalau tidak percaya, nanti kuperlihatkan padamu!" berkata Siang-koan Kie, lalu meniup serulingnya.

Orang2 bekas anak buah Kun-liong Ong itu setelah mendengar suara seruling, benar saja lantas pada duduk.

Wan Hauw merasa sangat heran, ia mengawasi dengan perasaan heran, kemudian dengan mendadak ia berseru : “Aku beritahukan kepada nona Nie ... “

Dengan cepat ia sudah lompat pergi. In Kiu Liong tiba2 menghampiri Siang-koan Ki seraya berkata : “Sutee, bagaimana kalau kita biarkan mereka duduk disini saja?”

“Siautee tidak tahu, entah bagaimana dengan mereka setelah duduk terlalu lama?” berkata Siang-koan Kie.

“Mari kita pergi menjumpai pangcu dulu, disini sudah ada tigapuluh saudara dan barisan hulu balang yang menjaga, sekalipun ada kejadian apa-apa, juga tidak akan menjadi bahaya!" berkata Thio Hong.

Siang-koan Kie dapat menerima usul itu, lalu mengajak In Kiu Liong dan Yap It Peng berlalu.

Setelah memasuki rimba, beberapa bangunan rumah gubuk terbentang dihadapan mata.

Ciu Tay Cie dengan perutnya yang gendut, nampak jalan menghampiri katanya : “Pangcu tidak sempat datang menyambut, beliau minta aku ajak saudara2 masuk.”

“Dimana sekarang pangcu berada?" tanya Siang-koan Kie. ”Didalam rumah gubuk itu." jawab Ciu Tay Cie sambil

menunjuk sebuah rumah yang berada sejauh kira2 delapan tombak.

Siang-koan Kie menoleh kearah In Kiu Liong, sebelum membuka mulut, In Kiu Liong sudah berkata lebih dulu : “Sutee, mari kita kesana!"

Diantara orang2 itu, adalah In Kiu Liong yang kedudukannya paling tinggi. Orang2 rimba persilatan, kebanyakan mengutamakan persahabatan dan tingkatan, tak disangka In Kiu Liong setelah mengalami peristiwa. Kali ini, tidak pandang gengsi dan kedudukan lagi.

“Suheng sungguh bijaksana, siautee sangat kagum." berkata Siang-koan Kie. “Nama besar kadang2 menyesatkan orang, dulu kalau tidak karena disesatkan oleh nama besar yang kosong, dunia Kang-ouw juga tidak sampai terjadi perubahan seperti hari ini." berkata In Kiu Liong sambil tertawa.

Sebentar kemudian, rombongan orang itu berjalan menuju ke rumah gubuk itu.

Dalam gubuk itu sudah ada banyak orang, mereka agaknya sedang merundingkan apa2.

Diantara hadirin itu, Siang-koan Kie dapat mengenali Auw- yang Thong, Koan Sam Seng, Hui Kong Leang, Nyonya Ho, Kiang Su Im, Thiat-bok taysu, Nie Suat Kiao dan Wan Hauw. Masih ada lima orang laki2 berusia kira2 empatpuluhan dan dua laki2 yang usianya sudah lanjut, ia tidak kenal.

Auw-yang Thong ketika menampak kedatangan Siang-koan Kie, lantas bangkit dari tempat duduknya dan berkata : “Tuan2 ini apakah ... ”

Saat itu yang ikut Siang-koan Kie masuk ke dalam gubuk hanya In Kiu Liong dan Yap It Peng serta Ceng Peng kongcu, sementara Thian-bok taysu dan lima anggauta pasukan berani mati serta dua kacung, lebih suka berada di luar.

Siang-koan Kie membongkokkan badan memberi hormat kepada Auw-yang Thong, kemudian perkenalkan dirinya In Kiu Liong.

Auw-yang Thong bangkit dari tempat duduknya, berkata sambil memandang In Kiu Liong : “Saudara In, apakah selama ini baik-baik saja? Siautee pernah mengirim orang pergi menengok saudara.”

“Pangcu lanjutkanlah perundinganmu, jangan lantaran siautee nanti menghambat waktumu yang berharga." berkata In Kiu Liong.

Pada waktu itu semua hadirin lantas pada berdiri. Kiang Su Im yang adatnya aneh dan tinggi hati, juga turut berdiri. Hanya dua laki2 yang sudah lanjut usianya itu, yang tetap duduk tanpa bergerak.

Auw-yang Thong berkata sambil mengawasi dua orang tua itu dengan sikapnya yang sangat menghormat : “Dua locianpwee ini adalah dua anggauta sesepuh golongan kita yang masih sehat ... ”

“Kejahatan dalam dunia Kang-ouw sudah meraja lela, sehingga jiwie locianpwee terpaksa turun tangan sendiri." berkata In Kiu Liong.

Dua anggauta sesepuh golongan pengemis itu, meskipun mereka tuli dan gagu, tetapi pandangan mata mereka masih baik. Sambil bersenyum ia menganggukkan kepala kepada In Kiu Liong.

Auw-yang Thong memperkenalkan In Kiu Liong kepada para hadirin, tiga laki2 yang usianya kira2 empatpuluhan itu adalah tiga anggauta pelindung hukum dimarkas besar golongan pengemis digunung Kun-san.

Tiga orang itu mempunyai nama dan kedudukan baik, memahami ilmu silat di atas tanah dan di atas air, tetapi jarang sekali meninggalkan pos dan tugasnya di gunung Kun- san. Kini ternyata turun gunung semuanya, untuk memenuhi undangan Auw-yang Thong, dengan demikian berarti golongan pengemis sudah mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghadapi Kun-liong Ong.

Dalam rombongan itu, adalah Nie Soat Kiao dan Wan Hauw yang termuda usianya, tetapi Nie Soat Kiao adalah penasehat Auw-yang Thong, sedangkan Wan Hauw merupakan tetamu agung dalam golongan pengemis.

In Kiu Liong setelah memberi hormat kepada para hadirin, berjalan menghampiri Wan Hauw seraya berkata : “Wan sutee, aku sering dengar suhu bicarakan tentang kepandaianmu yang luar biasa, kini setelah aku melihat sendiri, ternyata benar.” “Siapa adalah suteemu?" demikian Wan Hauw menanya. “Kaulah! Wan sutee," menjawab In Kiu Liong sambil

tertawa.

“Toako, apakah ucapannya itu benar?" tanya Wan Hauw kepada Siang-koan Kie.

“Benar, meskipun In suheng lebih lambat dari kita berguru kepada suhu, tetapi karena ia berguru dengan membawa kepandaian, bisa kita anggap sebagai suheng yang datang belakangan." berkata Siang-koan Kie sambil tertawa.

“Kalau toako berkata demikian, sudah tentu tidak bisa salah lagi." berkata Wan Hauw, yang lalu memberi hormat dan berkata kepada In Kiu Liong : “In suheng.”

In Kiu Liong bersenyum, ia duduk disamping Wan Hauw dan berkata : “Bolehkah siautee duduk disini sebagai peninjau?”

“Sutee tentu boleh!" jawab Auw-yang Thong.

Siang-koan Kie kembali perkenalkan Yap It Peng kepada Auw yang Thong.

Karena Yao it Peng juga merupakan salah satu tokoh yang sudah lama kesohor namanya maka Koan Sam Seng buru2 mempersilahkan padanya duduk ditempatnya.

Selagi Siang-koan Kie perkenalkan Ceng Peng kongcu kepada Auw yang Thong, gadis itu mendadak menjerit, matanya mendongak memandang ke atas.

Nie Suat Kiao mengawasi padanya sejenak, lalu bertanya kepada Siang-koan Kie : “Siapa nona ini?”

“Ceng Peng kongcu ... " jawabnya Siang-koan Kie. Sementara itu Ceng Peng kongcu mendadak menyerbu In

Kiu Liong dengan sikap kalap. Wan Hauw lompat bangun hendak menyambut kedatangan nona itu, tetapi dicegah oleh In Kiu Liong.

Perbuatan gadis itu mengejutkan semua orang yang ada di situ.

Karena mereka tahu bahwa gadis itu sudah tentu bukan tandingan In Kiu Liong, tetapi sungguh heran, mengapa In Kiu Liong tidak balas menyerang, bahkan seperti membiarkan dirinya diserang. Karena orang2 tidak tahu ada permusuhan apa diantara mereka berdua, maka juga tidak bisa campur tangan.

Ceng Peng kongcu ketika melihat In Kiu Liong tidak mau membalas, segera menghunus belatinya untuk menikam.

In Kiu Liong miringkan tubuhnya, mengelakkan serangannya katanya : “Nona jangan salah paham, suhumu dan saudaramu, semua bukan aku yang membunuh … “

Sementara itu Siang-koan Kie sudah menyerbu, tangannya mencekal pergelangan tangan Ceng Peng kongcu.

Ceng Peng kongcu mendadak menangis ratapnya : “Lepaskan tanganku, aku tahu bahwa kepandaianku selisih

sangat jauh dengannya, selama hidupku kini sudah tidak ada harapan untuk membunuh dia, kalian orang2 suku Han ... ”

In Kiu Liong berkata sambil mengawasi Siang-koan Kie : “Sutee, kau lepaskan tangannya, sakit hatinya kalau tidak dikeluarkan, barangkali pikirannya tidak bisa tenang."

“Suheng hati2, belatinya itu sangat tajam, jangan sampai dia melukai kau."

Sehabis berkata demikian, ia melepaskan tangan Ceng Peng kongcu.

Apa yang terjadi selanjutnya, benar2 di luar dugaan Siang- koan Kie. Tak di-sangka2, Ceng Peng kongcu sudah membalikkan belatinya, untuk menikam dadanya sendiri sambil kemak-kemik mulutnya : “Ayah, maafkan anakmu yang tidak berbakti ...“

In Kiu Liong dengan cepat bertindak, merebut belati di tangan Ceng Peng kongcu, katanya sambil menghela napas : “Dendam sakit hati kongcu belum terbalas, bagaimana akan bunuh diri?"

“Seumur hidupku aku tidak dapat melawan kau, mana bisa menuntut balas?" berkata Ceng Peng kongcu gusar.

“Aku akan bantu kau sepenuh tenaga." “Kau bantu aku menuntut balas?. "

“Benar, suhumu dan saudaramu meskipun dahulu mengadakan perjanjian denganku, datang ke daerah Tiong- goan untuk mengadakan pertandingan tetapi yang membunuh mereka adalah Kun-liong Ong.”

Lama Ceng Peng kongcu berpikir, mulutnya terus membungkam.

“Bukan saja suhumu dan orang bawahannya," berkata lagi In Kiu Liong, “semua mati di tangan Kun-liong Ong, tetapi orangku sendiri yang datang turut ambil bagian dalam pertandingan itu, semua juga terbinasa di tangannya. Orang yang lolos dari bahaya maut, hanialah kongcu dan aku sendiri."

Sementara itu tangannya pelahan2 melepaskan tangan Ceng Peng kongcu.

Ceng Peng kongcu menyimpan kembali belatinya, bertanya sambil memandang In Kiu Liong. “Apakah ucapamnu ini semua benar?"

“Harap kongcu ingat2 lagi baik2 keadaan pada waktu itu tentunya akan percaya omonganku."

“Benarkah kau hendak bantu aku menuntut balas?" “Benar, aku membantu dan menuntut balas, juga berarti membalas dendam untuk diriku sendiri, setelah kita membinasakan musuh kita, aku masih akan ikut kongcu ke Thibet, untuk memberi penjelasan duduk perkara yang sebenarnya."

Setelah berpikir, Ceng Peng kongcu mendekati Siang-koan Kie dengan mulut membungkam, jelas di dalam hatinya diam2 sudah percaya keterangan In Kiu Liong.

Auw-yang Thong lantas berdiri dan berkata kepada Ceng Peng kongcu : ”In chungcu sudah memberikan janjinja, nona sekarang boleh legakan hati. Sekarang kita masih perlu merundingkan berbagai persoalan penting, harap nona suka duduk."

Ceng Peng kongcu melihat di salah satu sudut ada dua kursi kosong, lalu menarik tangan Siang-koan Kie berjalan menuju ke kursi yang kosong itu.

Berjalan baru tiga langkah, Siang-koan Kie tiba2 menarik tangannya, dan berkata dengan suara perlahan. “Nona kau duduklah sendiri, aku hendak keluar untuk menemui beberapa sahabat.”

”Kalau begitu aku akan ikut kau keluar saja”. Berkata Ceng Peng kongcu dengan suara lemah lembut.

“Nona tidak usah ikut aku keluar, kau adalah tetamu, seharusnya duduk di dalam.”

“Kalau kau tidak mau duduk, aku juga tidak mau.” jawabnya sambil bersenyum, lalu mengikuti Siang-koan Kie berjalan keluar.

Pada waktu itu, dua kacung bersama Thian-bok taysu dan Ciu Tay Cie, semua menjaga di depan pintu, agaknya sedang menantikan kabar dari dalam. Siang-koan Kie mendadak teringat kepada Kim Goan To, ia bertanya kepada dua kacung. “Apakah saudara2 tidak melihat Kim locianpwe?”

“Bukankah ia tadi pergi besama dengan saudara?” demikian Thio Hong balas menanya.

“Ia membawa sebuah rumah papan, tidak keburu sembunyi, apakah berpapasan dengan orang2nya Kun-liong Ong?”

Menurut pikiran siautee, Kim locianpwee adalah seorang gagah, tidak mungkin begitu mudah terjatuh di tangan musuh. Entah siapa orang yang ia bawa?”

“Juga seorang nona.”

“Kita berdua saudara tidak pernah melihatnya.”

“Ini adalah kesalahan siaute, yang tidak dapat melindungi dengan baik."

Siang-koan Kie berjalan dan duduk di bawah pohon. Ceng Peng kongcu mengikuti, duduk di sampingnya.

Siang-koan Kie sedang memikirkan diri Kim Goan To, hingga ia tak merasa Ceng Peng kongcu duduk di sampingnya.

Tiba2 terdengar suara derap kaki kuda, yang lari sangat pesat.

Sekitar rimba itu, terjaga keras oleh orang2 golongan Pengemis, kalau penunggang kuda itu bukannya orang dari golongan pengemis, tidak mudah masuk ke dalam rimba.

Sementara itu, penunggang kuda itu sudah lari kegubuk.

Ciu Tay Cie maju merintangi dan menegurnya dengan suara keras. “Ada urusan apa!”

Penunggang kuda itu mendadak mengeluarkan mendadak mengeluarkan sepucuk surat, baru mengeluarkan perkataan : “Surat ... “ orangnya sudah jatuh terpelanting ke bawah kuda. Ciu Tay Cie buru2 memberi pertolongan, tetapi orang itu sudah mati.

Siang-koan Kie menghela napas dan berkata : “Orang itu terkena serangan tangan berat, hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya, untuk melindungi jantungnya, tetapi setelah menyelesaikan tugasnya, rupanya tidak sanggup bertahan lagi.”

Ciu Tay Cie memeriksa suratnya, di atas sampul tertulis Disampaikan kepada Auw-yang pangcu. Tidak tertulis pengirimnya.

Ketika ia memeriksa lebih jauh, seketika berdiri tertegun. “Saudara Ciu, apa yang telah terjadi?" tanya Siang-koan

Kie.

“Dia bukan orang golongan kita, hanya mengenakan pakaian golongan kita dan menunggang kuda kita.” jawab Ciu Tay Cie sambil menunjuk orang yang sudah mati.

Siang-koan Kie maju memeriksa, dibalik baju warna abu2, ternyata terdapat pakaian ringkas.

“Aneh." demikian ia berkata.

Pada waktu itu, perundingan dalam gubuk, baru saja bubar, Auw yang Thong dan Nie Suat Kiao keluar dari dalam gubuk dengan jalan berendeng,

Dua orang penting itu dengan wajah serius merundingkan sesuatu dengan suara perlahan, ketika mendengar perkataan Siang-koan Kie, lalu bertanya : “Ada urusan apa?”

“Orang ini bukan anggauta golongan kita, tetapi memakai pakaian seragam kita, dan menunggang kuda kita." demikian Ciu Tay Cie memberi keterangan.

“Berikan padaku surat itu." berkata Nie Soat Kiao. Meskipun Nie Soat Kiao belum lama menjabat kedudukan penasehat dalam golongan pengemis, tetapi jasa2nya sangat besar. Dalam pertempurannya dengan Kun-liong Ong belum lama berselang ia sudah memukul hancur pasukan raja muda Tong-peng-houw. Maka mendapat penghargaan sangat tinggi oleh pangcu dan semua anggauta golongan pengemis.

Sampul surat itu meskipun tertulis dan dituju kan kepada Auw-yang pangcu, tetapi Ciu Tay Cie masih memberikan surat itu kepadanya.

Nie Soat Kiao melihat surat itu sejenak, lalu diberikan kepada Auw-yang pangcu seraya berkata : “Surat untuk pangcu.”

Ketika Auw-yang Thong membaca surat itu, wajahnya berubah seketika.

-odwo-

Bab 115

SEMUA orang yang ada di situ segera mengetahui bahwa surat itu sangat penting.

Nie Soat Kiao setelah membaca surat itu, juga mengerutkan alisnya.

“Bagaimana pikiran pangcu?" demikian ia menanya dengan suara pelahan.

“Urusan sudah jadi begini, aku tokh tidak boleh lantaran urusan pribadiku sehingga mengganggu kepentingan umum. Semua harus berjalan menurut rencana kita semula." Menjawab Auw-yang Thngo mendadak berlalu.

“Pangcu ... ”

“Nona jangan pikirkan urusanku, terlebih2 jangan merubah rencana kita.” “Pangcu harap tunggu dulu sebentar, dengarlah dulu omonganku.”

Auw-yang Thong agaknya sangat risau, tidak tenang seperti hari2 biasa, jelaslah sudah bahwa ada sesuatu yang penting, yang mengganggu pikirannya. Ia coba kendalikan perasaannya, menghentikan langkahnya dan bertanya : “Kau ada mempunyai pikiran bagaimana?" 

“Pangcu memegang peranan sangat penting, kita sudah dekat waktunya untuk mengadakan pertempuran yang menentukan. Semangat bertempur anak buah kita sedang meningkat, kita dapat menggunakan kesempatan ini, pergi menggempur Kun-liong Ong, rasanya tidak susah untuk meruntuhkan perlawanan musuh kita, tetapi dalam pertempuran ini masih mengandalkan pengaruh pangcu ... " berkata Nie Soat Kiao, mendadak memperlahan suaranya, ia masih berkata beberapa patah dengan suara sangat pelahan, Auw yang Thoang sambil menghela napas panjang lalu menundukkan kepala.

Pada waktu itu, In Kiu Liong, Kiang Su Im dan lain2nya, berdiri di suatu tempat sejarak tujuh delapan kaki. Mereka memandang Auw-yang Thong dengan perasaan heran jelaslah bahwa mereka juga sudah mengetahui ada terjadi sesuatu yang penting tetapi tiada satu yang berani menanya.

Sebentar kemudian, Auw yang Thong baru menjawab sambil menganggukkan kepala : “Baiklah, tolong nona berunding dengannya."

“Hamba percaya tidak akan mengecewakan pangcu," berkata Nie Suat Kiao sambil bersenium.

“Harap rencana nona ini tidak sampai gagal."

Nie Suat Kiao lalu berkata kepada orang2 yang ada di situ : “Saudara2 harap beristirahat dahulu, kita nanti akan berangkat menurut rencana yang sudah ditetapkan, jangan salah.” Orang2 itu rupanya sangat menghargai Nie Suat Kiao, mereka benar saja lantas bubaran.

Siang-koan Kie mendapat tempat satu kamar dengan In Kiu Liong dan Yap It Peng, selagi hendak bersemedi, seorang anak buah golongan pengemis mendadak datang.

“Ada urusan apa?" demikian In Kiu Liong menanya.

“Atas perintah penasehat kita, minta Siang-koan suheng datang menghadap.”

“Tolong sutee tunjuk tempatnya." berkata Siang-koan Kie, yang segera ikut serta orang yang memanggil.

Setelah melalui sebuah gubuk lain, orang itu berkata sambil menunjuk salah satu gubuk yang terdapat di situ.

“Gubuk itu adalah kediaman penasehat kita, harap suheng pergi sendiri !”

“Terima kasih." jawab Siang-koan Kie, segera berjalan menuju kegubuk yang ditunjuk.

Nie Suat Kiao ternyata sudah menunggu diambang pintu, begitu melihat siang-koan Kie, ia lantas tertawa dan berkata sambil ajak padanya masuk ke dalam : “Sekarang kita bicara urusan pribadi, kau tak usah anggap aku sebagai penasehatnya golongan pengemis.”

“Apakah hanya untuk membicarakan urusan pribadi nona panggil aku kemari?”

“Meskipun urusan pribadi, tetapi juga tidak boleh meninggalkan kepentingan urusan umum. Kini kita mengadakan pertemuan secara pribadi, aku adalah seorang perempuan, dan kau sebagai laki2, aku secara pribadi ingin merundingkan sesuatu denganmu.”

“Urusan apa? Apa yang aku sanggup melakukan, aku akan memberi bantuanku.” “Aku menghendaki supaya kau menyaru sebagai Auw-yang pangcu, mewakili ia pergi memenuhi janji.”

“Kepandaian pangcu jauh lebih tinggi dari padaku, apakah masih perlu aku yang mewakili dengan menyaru?”

“Urusan ini besar sekali sangkut pautnya, barangkali ia tidak bisa berlaku tenang.”

“Sebetulnya urusan apa?”

“Dalam dunia tidak ada orang sempurna seratus persen, bagaimana baiknya seseorang, dalam hidupnya, sekali2 juga bisa melakukan kesalahan.”

“Bolehkah kau bicara lebih jelas?”

“Hakekatnya, apa yang aku tahu barangkali tidak lebih banyak dari apa yang kau tahu. Sudah berbulan2 kau mengikuti Teng sianseng, seharusnya tahu lebih banyak daripadaku. Apalagi urusan ini adalah urusan rahasia yang menyangkut diri pangcu pribadi, kecerdasanmu cukup untuk mengambil keputusanmu sendiri, namun setelah tiba waktunya, kau boleh bertindak melihat gelagat, hanya dalam melakukan tugasmu ini kau harus utamakan kepentingan pangcu untuk menyingkirkan satu bahaya.”

“Aku akan berbuat sebaik mungkin.”

“Duduklah, aku akan bantu merubah mukamu, supaya mirip benar dengan pangcu.”

Dengan sangat hati2 Nie Suat Kiao 'memale' muka Siang- koan Kie, sehingga mirip dengan Auw-yang Thong, kemudian mengambil sepotong baju panjang warna abu2, suruh ia tukar pakaian, katanya : “Jalan ke barat kira2 dua puluh pal, ada sebuah rumah petani, di sana ada seorang perempuan tua. Kau berikan padanya sepuluh tail perak, kemudian beritahukan padanya untuk mencari sebuah peti mati, dia nanti akan bawa kau pergi.” “Aku ingat." jawab Siang-koan Kie, segera membalikkan badan hendak berlalu.

Nie Suat Kiao menghela napas, katanya dengan suara pelahan : “Apa kau masih ingin bicara apa2 denganku?”

Siang-koan Kie semula terkejut, tetapi kemudian unjukan senyum hambar, jawabnya : “Setelah tugasmu membasmi Kun-liong Ong selesai, apakah kau masih akan bertugas dalam golongan pengemis?”

“Kun-liong Ong pagi hari binasa, sebelum petang aku akan meninggalkan golongan pengemis.”

“Kau akan bawa serta saudara Wan? Kuharap kau perlakukan baik2 padanya.”

Nie Soat Kiao tiba2 mengucurkan airmata. Katanya : “Hanya itu saja yang kau ucapkan?”

“Ya, hanya itu saja, kau perlakukan baik kepada saudara Wan-ku, aku juga turut merasakan.”

Dengan menahan perasaan sedihnya Nie Soat Kiao berkata

: “Untuk kau, biar bagaimana aku akan perlakukan padanya dengan baik ... ”

“Kuucapkan terima kasih padamu lebih dulu." berkata Siang-koan Kie sambil memberi hormat, tiba2 hatinya merasa pilu, airmata mengalir keluar tanpa dapat dicegah, maka buru2 membalikkan badannya, dan berlalu.

Nie Soat Kiao buru2 menahannya : “Jangan pergi dulu, aku masih ingin tanya padamu.”

Siang-koan Kie merandek, tetapi ia tidak menoleh. “Kau perintahkan saja, aku bersedia mendengarkan.” “Kau menangis?” “Mendengar perkataanmu yang bersedia hendak perlakukan baik kepada saudaraku, aku merasa sangat girang, sehingga air mata mengalir keluar.”

“Itu bagus, nanti setelah Kun-liong Ong binasa, aku lebih dulu akan mengeluarkan perintah, supaya kau meninggalkan golongan pengemis, pergilah ke daerah barat untuk membuka dunia baru, menjadi menantu raja disana ... ”

Siang-koan Kie merasa seperti ditikam oleh senjata tajam, sekujur badannya gemetar, tetapi ia masih bisa menjawab : “Terima kasih atas kebaikanmu.”

“Kau harus baik2 mencintai padanya ... ”

“Jangan khawatir, kalau sudah tidak ada urusan yang penting, kuhendak pergi.”

“Kuberitahukan satu hal padamu, percaya atau tidak, terserah padamu. Aku masih tetap putih bersih, nah, pergilah!”

Hati Siang-koan Kie bercekat, sejenak ia tertegun, kemudian melanjutkan perjalanannya.

Di belakangnya masih terdengar suara isak tangis dari Nie Soat Kiao.

Suara tangisan gadis itu membangkitkan kepedihan hati padanya, hingga air matanya mengucur deras.

Dengan hati hancur luluh ia berjalan sambil menundukkan kepala dan menekap muka. Suara tangisan Nie Soat Kiao pelahan tertinggal jauh.

Dengan cepat ia sudah berjalan sepuluh pal lebih, menurut petunjuk Nie Soat Kiao, benar saja ia dapat menemukan rumah seorang petani. Di situ benar saja ia melihat seorang perempuan tua duduk di depan pintu.

Mata perempuan tua itu sudah lamur, Siang-koan Kie berada tidak jauh dihadapan matanya, ternyata tidak diketahui, ia masih mengguman sendiri : “Seharusnya sudah datang, matahari tokh sudah akan terbenam.”

Siaug-koan Kie menghampiri, memberi hormat dan memberikan sepuluh tail perak seraya berkata : “Toanio, boanpwee ingin mencari sebuah peti mati.”

Perempuan tua itu mengangkat kepala, memandang Siang- koan Kie sejenak, kemudian berkata : “Benar saja ada kejadian demikian aneh." Ia menyambut pemberian Siang- koan Kie dan berdiri, “mari kau ikut aku!”

Siang-koan Kie mengikuti di belakangnya, memutari sebuah rimba, di atas tanah belukar, terdapat sebuah rumah gubuk yang sudah bobrok.

Perempuan tua itu berkata sambil menunjuk rumah bobrok

: “Disana ada sebuah peti mati kosong, kau ambillah sendiri!”

“Terima kasih!" berkata Siang-koan Kie, lalu berjalan menghampiri rumah itu.

Rumah gubuk itu meskipun di luarnya nampak bobrok, tetapi dalamnya teratur bersih, disalah satu sudut dalam ruangan, benar saja ada sebuah peti mati.

Siang-koan Kie membuka tutupnya, ternyata kosong melompong. Ia menutup lagi, disatu sudut ia duduk bersemedi.

Matahari sudah mendoyong kebarat, hari mulai gelap.

Siang-koan Kie dengan sabar menunggu, hingga jam satu tengah malam, benar saja terdengar suara tindakan kaki orang. Ia buru2 bangun dan berdiri membelakangi.

Suara tindakan kaki itu semakin dekat, kemudianan masuk ke dalam rumah.

Dari suara tindakan kaki, ia dapat mengenali bahwa yang datang itu adalah dua orang. Beberapa kemudian tiba2 mendengar suara orang menegur

: “Auw-yang Thong, apakah kau masih ingat aku?”

Siang-koan Kie perlahan2 membalikkan badannya, tampak orang yang menegur dirinya itu, mengenakan pakaian warna hitam, rambutnya panjang, menutup kedua pundaknya, badannya kurus kering, tangaunya membawa seruling. Tergeraklah hatinya, “Orang ini bukankah orang yang meniup seruling di gunung tempat toako merawat sakit pada setengah tahun berselang?" demikian pikirnya.

Sebentar kemudian ia dengar suara halus : “Pangcu.”

Seorang perempuan muda berpakaian warna hitam, berdiri di samping laki2 tua itu. Siang-koan Kie merasa tak asing lagi dengan wajah perempuan muda itu, seperti pernah melihat, tetapi entah di mana ia sudah lupa.

“Auw-yang Thong, mengapa kau tak bicara?" demikian laki2 berambut panjang itu menegur pula dengan nada suara dingin.

Tetapi Siang-koan Kie tetap diam.

“Memang benar, sewaktu ia hendak menutup mata, pernah pesan padaku, supaya jangan mencari kau untuk membuat perhitungan, oleh karena itu, maka aku tahan sabar sampai sekian tahun lamanya." demikian laki2 kurus itu menggumam sendiri.

Siang-koan Kie tidak tahu urusan apa yang diperbincangkan oleh orang tua itu, sudah tentu tidak berani membuka mulut.

“Tetapi kalau suruh aku bersabar seumur hidupku, aku juga tak rela," berkata pula orang tua itu.

“Kalau begitu kau mau apa?" tanya Siang-koan Kie dengan meniru suara Auw-yang Thong.

“Disini ada sebuah peti mati, malam ini antara kita berdua harus ada salah satu yang mati!” Siang-koan Kie berpikir : “orang ini tidak mempunyai permusuhan apa2 denganku, kalau benar harus menuruti permintaannya, bagaimana kesudahannya nanti?”

Perempuan muda itu membuka lebar2 matanya, agaknya sedang memperhatikan pembiicaraan mereka, sesaat mendadak buka mulut : “Pangcu adalah seorang besar, seorang ksatria dalam rimba persilatan, banyak orang menjunjung tinggi, aku hendak tanya padamu sepatah kata saja, tentunya kau takkan membohongiku !”

“Tanialah!" demikian akhirnya Siang-koan Kie berkata. “Apakah ibuku mati di tanganmu?”

Siang-koan Kie tercengang mendengar pertanyaan itu, karena ia sedikitpun tak tahu persoalan pribadi Auw-yang Thong dengan dua orang ini, bagaimana ia harus menjawab?

“Aku tahu pangcu takkan membohongiku." berkata pula perempuan muda itu.

Siang-koan Kie merasa cemas, dalam keadaan demikian, ia menjawab sekenanya : “Tidak.”

Baru saja menutup mulut, tiba2 terdengar suara orang tua itu : “Kau seorang pembohong besar yang sangat licik ... "

Setelah itu, ia menyerang dengan serulingnya.

Siang-koan Kie mengelak, ia teringat pesan Nie Suat Kiao, tetapi kalau ia harus menyingkirkan ancaman bahaya bagi Auw yang Thong, ini berarti harus membunuh mati orang tua ini ...

Sulit baginya untuk mengambil keputusan, apakah ia harus membunuh mati orang tua ini atau tidak?

Selagi masih berpikir, orang tua itu sudah menghampiri dengan menghujani serangan bertubi2 dengan serulingnya. Didesak demikian, Siang-koan Kie terpaksa memberikan perlawanan, senjata emasnya dihunus untuk melawan seruling orang tua itu.

Serangan orang tua itu sangat aneh, namun demikian, ia tak berdaya menghadapi ilmu silat Siangkoan Kie, terutama senjata pusakanya yang amat tajam.

Kalau Siang-koan Kie bermaksud hendak membunuh orang tua itu, dengan mudah ia dapat melakukannya, tetapi ia tidak berbuat demikian, karena perasaannya tidak mengijinkan membunuh cara semberono. Maka setiap kali orang tua terancam jiwanya, ia lantas menarik kembali serangannya.

Orang tua itu nampaknya sangat penasaran, ia bertempur secara kalap. Satu kali Siang-koan Kie yang tak tega turun tangan, pundaknya telah kena bogem mentah.

Serangan itu membangkitkan amarah Siang-koan Kie, ia kini tidak pikirkan lagi untuk melindungi jiwa orang tua itu. Gerak tipunya dirubah, ia mulai melakukan serangan pembalasan. Setelah berhasil mengelakkan serangan orang tua itu, senjatanya sudah berada di atas leher si orang tua.

Tiba terdengar suara jeritan perempuan muda itu : “Pangcu kasihanilah jiwanya!"

Dengan cepat Siang-koan Kie menarik kembali senjatanya, kemudian membersihkan jenggot dan kumisnya, sehingga balik asal, katanya : “Aku bukan Auw-yang Thong.”

Orang tua itu yang sudah pasti mati, tidak memberi perlawanan, tak disangka Siang-koan Kie menarik kembali senjatanya, dan ketika mendengar perkataannya, ia tertegun ketika melihat wajah si-pemuda yang tampan.

“Jadi kau bukan Auw-yang Thong,” demikian tegurnya. “Aku bukan Auw-yang pangcu, melainkan salah satu dari

anak buahnya.” “Oh, kau pasti adalah Siang-koan tayhiap!" demikian perempuan muda itu mendadak berseru.

“Benar, mengapa nona kenal aku?” tanya Siang-koan Kie sambil mengerutkan alisnya.

“Kita dulu pernah bertemu muka di tempat Teng sianseng merawat sakit.”

“Ow, ya, benar, tadi waktu aku melihatmu, juga merasa seperti pernah melihat.”

Orang tua itu berkata dengan suara gusar, “Kau bukan Auw-yang Thong, mengapa mau mewakili dia pergi memenuhi permintaanku?"

”Aku adalah anak buah golongan pengemis, maka harus memenuhi perintah pangcu ....

”Apa Auw-yang Thong yang perintahkan kau datang kemari?”

”Di dalam golongan pengemis, aku cuma merupakan seorang kecil yang tak berarti, siapa saja diantara Kokcu, Tongcu atau Tocu yang memberi perintah, aku harus menurut

... Kalau kau sudah tahu bukan tandinganku, sekarang kau boleh bunuh diri saja!"

“Siang-koan tayhiap, sudikah kau dengar omongku dulu?" berkata perempuan muda berbaju hitam itu.

“Nona tak usah minta padaku, keadaan malam ini sudah tak bisa dirundingkan lagi, kalau bukan ia yang mati, akulah yang harus pulang dengan tanpa bernyawa.”

“Kau boleh bawa pulang aku untuk memberi keterangan.” “Tetapi harus ditambah dengan batok kepalanya!" berkata

Siang-koan Kie, kemudian kepada orang tua itu berkata pula :

“Aku akan menghitung sampai sepuluh, kalau kau belum menghabiskan jiwamu sendiri, terpaksa aku turun tangan sendiri.” Orang tua itu mendadak meniup serulingnya.

Siang-koan Kie baru menghitung sampai lima telinganya mendengar suara seruling dengan iramanya yang menyedihkan.

Siang-koan Kie mengurungkan maksudnya, katanya : “Mari aku temani kau meniup.”

Ia mengeluarkan serulingnya dan ditiupnya.

Suara serulingnya yang bernada gembira dan bersemangat, tercampur dalam suara serulingnya siorang tua.

Dua irama yang berlainan, tercampur menjadi satu, merupakan paduan suara yang kontras.

Irama yang keluar dari seruling orang tua berambut panjang itu, hanya itu saja tidak ada perobahan sedikitpun.

Tetapi setiap kali ia meniup, setiap kali bertambah sedih kedengarannya. Siang-koan Kie mendengarkan beberapa kali, lantas bisa menghapalkan iramanya, ia telah melupakan bahwa diri sendiri juga sedang meniup seruling, sudah mengikuti iramanya orang tua itu.

Pelahan2 ia telah terpengaruh oleh irama seruling yang memilukan hati itu, hingga air matanya mengalir keluar.

Suara seruling itu mendadak berhenti, Siang-koan Kie menggunakan lengan bajunya untuk memesut kering airmatanya, kemudian berkata : “Kepandaian locianpwee meniup seruling, lebih tinggi daripada boanpwee, sesungguhnya sangat mengagumkan.”

Setelah mengadu ilmu meniup seruling itu, permusuhan kedua pihak lenyap seketika.

“Irama itu tadi menyedihkan, betul tidak?" tanya orang tua rambut panjang sambil menghela napas.

“Memilukan." jawabnya Siang-koan Kie singkat. “Kepandaianmu meniup seruling, juga dibawahku. Asal kau menerima baik permintaanku, supaya cita2ku tercapai, aku akan mengajarkan irama ini kepadamu.”

“Boanpwee dapat melakukan atau tidak, harap locianpwee jelaskan dulu, supaya boanpwee bisa pertimbangkan.”

“Andaikata Teng Soan masih hidup, cita2ku itu barangkali sudah tercapai, sehingga tidak sampai terjadi kejadian seperti sekarang ini.”

“Apa locianpwee pernah melihat Teng Soan? “Belum ... ”

“Kau belum pernah bertemu muka, bagaimana kau tahu kalau ia dapat memenuhi permintaanmu?”

“Meskipun dia belum bertemu muka, tetapi aku sudah pernah mengikuti Teng sianseng beberapa bulan lamanya, adikku malam itu telah mati dikamar Teng sianseng, bukankah kau sudah lihat sendiri?" berkata perempuan yang berdiri di sampingnya.

“Memang betul ada kejadian serupa itu.” “Tahukah siapa orang itu?”

“Tidak tahu.”

“Dia adalah anak perempuannya." berkata perempuan baju hitam itu sambil menunjuk orang tua.

“Taruh kata benar anaknya, ada hubungan apa dengan pangcu? Dan ada hubungan apa pula dengan Teng Soan?”

“Apa kau ingin dengar kisahnya persoalan ini?" bertanya orang tua rambut panjang.

“Aku bersedia mendengarkan.”

“Pangcu golongan pengemis yang terdahulu, sebelum menutup mata, telah mendidik Auw-yang Thong dengan sepenuh tenaga, semua orang golongan pengemis tahu bahwa ia yang akan menggantikan kedudukan pangcu apabila pangcu tua menutup mata. Tetapi di luar dugaan sewaktu pangcu yang lama hendak menutup mata, tiba2 berubah pikirannya, ia menunjuk orang lain, untuk menggantikan kedudukannya ... ”

Siang-koan Kie terkejut, tanyanya : “Sungguh aneh, pangcu tua itu telah menggunakan waktu banyak tahun untuk mendidik Auw-yang pangcu, mengapa sewaktu hendak menutup mata, mendadak berubah pikirannya?”

“Sebab sebelum mati ia telah menemukan suatu rahasia yang menyangkut diri Auw-yang Thong, maka lalu berubah pikirannya.”

“Sebab sebelum mati ia telah menemukan suatu rahasia yang menyangkut diri Auw-yang Thong, maka lalu berubah pikirannya.”

“Bagaimana keadaan penyakit pangcu tua pada waktu itu?”

“Meskipun pikirannya masih jernih, tetapi sudah tidak bisa bergerak, seperti juga sudah tidak bernyawa.”

“Pangcu tua sudah tidak bisa mengusut urusan itu, sudah tentu ada orang lain yang mengadu dengan maksud memfitnah ... ”

“Bukan pitnahan, melainkan ada buktinya, pangcu tua sebetulnya sayang sekali kepada Auw-yang Thong, kalau bukan melihat buktinya, juga tidak akan membebaskan tugas dan kedudukan Auw-yang Thong.”

“Siapa orang itu? Ada hubungan apa denganmu?” “Orang itu adalah aku sendiri ... ”

Siang-koan Kie tiba2 menotok dengan jari tangannya, mengenakan jalan darah orang tua itu, katanya sambil tertawa dingin : “Aku juga sudah menduga kau ... " tiba2 ia menghela napas, “locianpwee, pulanglah dengan tenang, untuk kepentingan rimba persilatan, dengan jalan ini biarlah namamu tinggal harum ... “

“Kau tidak perlu membunuh aku, aku sudah tidak bisa hidup lebih lama lagi! Aku dapat bertahan sampai beberapa puluh tahun, untuk menyelidiki sepak terjang Auw-yang Thong, mengapa tidak boleh melihat lagi untuk beberapa hari saja?”

“Waktunya tidak banyak, kau masih ada pesan apa? Lekas kau jelaskan!”

“Kau masih ingat irama serulingku?” “Masih!”

“Bagus! Dalam kantong kiriku ada satu bungkusan, nanti setelah aku mati, kau boleh bawa pulang dan periksalah dengan teliti, nanti kau akan menemukan mengapa Auw-yang Thong bisa menduduki jabatan pemimpin? Mengapa aku terlunta2 di kalangan kang-ouw? Semoga kau tidak mengecewakan aku, sekarang aku hendak pergi.”

Setelah mengucapkan perkataan demikian, orang tua itu mendadak pejamkan matanya.

Ditunggu sekian lama, orang tua itu tidak bergerak, hingga Siang-koan Kie merasa heran. Ia berjongkok untuk memeriksa, ternyata sudah tak bernyawa.

Siang-koan Kie lalu berpaling dan bertanya kepada perempuan muda berbaju hitam : “Benarkah dia sudah mati.”

“Dia sudah lama sakit keras, hal ini dia sudah beritahukan padaku, katanya persoalan ini tidak bisa diulur lagi. Beberapa kali ia ingin menjumpai Auw-yung Thong, tetapi tak berhasil, maka ia menggunakan akal ini, untuk memancing ia datang kemari.” “Siapakah itu orang yang menyaru sebagai anak buah golongan kita?”

“Itu aku tak tahu, aku hanya tahu ia telah mendapatkan itu akal, bagaimana dilaksanakannya, aku kurang terang ... ”

Perempuan muda itu mendadak berlulut dihadapan mayat orang tua rambut panjang, kemudian bangkit dan berkata lambat2 : “Tolong kau kubur jenazahnya, meskipun ia agak gila, tetapi bukan orang jahat. Kita semua tahu bahwa dalam badannya ia membawa sebuah bungkusan yang mengandung rahasia sangat berharga, tetapi entah apa isinya? Kau beleh cari sendiri, sekarang aku hendak pergi!”

Siang-koan Kie tak menduga bahwa persoalan itu demikian mudah diselesaikan. Ketika mendengar ucapan nona itu, sejenak ia tertegun, sebelum nona itu berlalu dicegahnya dan berkata : “Nona tunggu dulu, aku ingin bertanya.”

“Ada urusan apa?" balas tanya nona itu, meskipun sedapat2nya dia hendak kendalikan perasaannya, tetapi tak dapat menahan mengalirnya air mata.

“Kau pernah apa dengannya?”

“Sudah dibilang! Boleh dikata ayah angkatku, juga boleh dikata suhengku.”

“Bolehkah nona memberitahukan riwayat diri nona?” “Seorang yang bernasib malang, baiklah jangan

dibicarakan!" Sahutnya nona itu, tiba2 memalingkan badan dan lari dengan pesat.

Siang-koan Kie menarik napas panjang, lalu memondong jenazah orang tua dan dimasukkan ke dalam peti mati. Dicarinya bungkusan dalam saku orang tua itu, benar saja ia menemukan sebuah bungkusan kain hitam, lalu dimasukannya kedalam sakunya sendiri, setelah itu ia menjura dalam2 kepada orang tua itu lalu menutup peti matinya. Selesai mengubur jenazah orang tua itu, dengan cepat ia pulang untuk memberi laporan kepada Nie Suat Kiao.

-odwo-

Bab 116.

PADA waktu itu, Nie Soat Kiao sudah menukar pakaiannya dengan pakaian ringkas warna hitam, di atas punggungnya menyoren sebilah pedang panjang,

Ia berdiri di luar pintu, nampaknya sedang menantikan kedatangan Siang-koan Kie.

Ketika menampak Siang-koan Kie kembali, dengan wajah berseri2 ia menanya : “Bagaimana?”

“Untung tidak mengecewakan.” “Syukurlah, dan orangnya?” “Sudah mati ... ”

Ia lalu mengeluarkan bungkusan kain hitam dari dalam sakunya, sebetulnya hendak diberikan pada Nie Soat Kiao, tetapi mendadak pikirannya berubah, ia pura2 mengibas2kan tangannya membersihkan badannya.

Nie Soat Kiao membuka matanya lebar2, menatap wajah Siang-koan Kie, tanyanya lambat2 : “Masih ada urusan apa lagi?”

“Tidak ada.”

“Apa kau merasa letih? Apa kau ingin beristirahat?” “Terima kasih atas perhatianmu, aku masih belum merasa

letih.”

“Hubungan kita rupanya semakin renggang ... " berkata Nie Soat Kiao dengan sedih, “kongcu itu aku sudah antarkan ke suatu tempat yang sentosa, kau tidak usah memikirkan keselamatannya! Kalau kau tak ingin mengaso, marilah ikut aku.”

“Bolehkah aku menanya, kemana kau hendak pergi?”

“Kita hendak menghadapi suatu pertempuran besar, diwaktu hidup, Teng sianseng juga tahu, bagaimana juga, tak mungkin menghindarkan satu pertempuran besar2an, oleh karenanya, maka ia telah melatih pasukan hulu balang dan pasukan berani mati untuk golongan pengemis. Meskipun pasukan itu kini sudah kurang lengkap, tetapi mereka masih merupakan pasukan inti untuk menghadapi pertempuran total. Malam ini, aku akan serahkan pasukan berani mati di bawah pimpinanmu dengan dibantu oleh dua kacung … “

“Nampaknya, tugasku sangat berat!"

“Tidak terlalu berat, yang paling berat adalah Auw-yang pangcu sendiri, ia harus membawa Kiang Su Im! Koan Sam Seng dan Hui Kong Leang serta dua anggota sesepuh golongan kita dan beberapa orang kuat, sekaligus hendak mematahkan perlawanan musuh, kemudian langsung menuju ke markasnya untuk membunuh biang keladinya."

“Dan kau sendiri?"

"Aku akan membawa tigapuluh enam pasukan hulu balang dan Tiat-bok taysu serta Thian-bok taysu, untuk membantu Auw-yang pangcu."

"Dan saudara Wan? ... "

Sebelum Nie Soat Kiao, telah mendengar jawaban Wan Hauw yang disertai suara tertawanya nyaring : “Sudah tentu siautee akan melindungi nona Nie!”

Orangnya lalu muncul dari dalam rimba.

“Di tangan nona, ada memegang nasib seluruh golongan pengemis, sebetulnya kurang tepat menghadapi musuh, tetapi malam ini nona Nie hendak memimpin pasukan sendiri, kita tahu bahwa pertempuran ini sangat penting artinya, maka kau harus melindungi dirinya.”

“Toako jangan kawatir, tidak peduli siapa, kalau hendak melukai nona Nie, lebih dulu harus bisa membunuh aku Wan Hauw." jawab Wan Hauw.

“Itu bagus!” berkata Siang-koan Kie, kemudian kepada Nie Soat Kiao : “Bagaimana dengan tugasku? Harap nona berikan perintah.”

“Kecuali dua kacung dan lima barisan berani mati aku akan berikan padamu tigapuluh orang untuk membantu, menahan kedatangan bala bantuan musuh yang mungkin akan datang kemudian.”

"Bala bantuan musuh yang datang itu, apakah juga anak buah Kun-liong Ong?”

"Raja muda utara Koo Pat Kie, dia merupapakan seorang yang paling licik dan paling berbahaya diantara empat raja muda Kun-liong Ong, kau harus hati2 menghadapinya.”

“Baik."

Kun-liong Ong menggunakan berbagai akal, suruh empat raja muda itu keluar semua membatu istananya, tetapi ia telah mengabaikan keadaan dan Kondisi yang lain, empat raja muda itu tidak mungkin datang bersamaan waktunya. Inilah justru memberikan kesempatan yang paling baik bagi kita untuk menghancurkan satu persatu! Dengan tenaga yang masih segar untuk menghadapi musuh yang sudah lelah, kita lebih dulu sudah memiliki syarat yang menguntungkan. Diantara empat raja muda, Koo Pat Kielah yang pinter dan paling licik, kau jangan terlalu memandang ringan padanya."

“Aku akan bertindak sebaik mungkin.”

“Apabila bala bantuan raja muda utara itu tiba, kau boleh mengambil keputusan sendiri, baik menghadapinya secara langsung, ataukah memancing mereka, kemudian ... " dengan suara rendah Nie Suat Kiao memberi pesan kepada Siang- koan Kie, kemudian berlalu.

“Nona, tunggu sebentar ... " berkata Siang-koan Kie.

“Ada urusan apa, lekas, sekarang waktu kita sudah tidak banyak.”

“Andaikata pasukan raja muda utara tidak datang, bagaimana aku harus berbuat?”

“Jaga diposmu yang semula, siap membasmi anak buah raja muda selatan yang hendak kabur.”

“Baik.”

“Mereka semua berada di tanah datar kira2 lima puluh tombak dari sini, menantikan kedatanganmu, lekas pergi kesana!”

Siang-koan Kie menurut, berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Nie Suat Kiao, benar saja disitu sudah menunggu banyak orang.

Dua kacung kanan dan kiri yang menyambut kedatangannya lebih dulu.

“Saudara Siang-koan, kita mendapat tugas untuk mengikuti saudara lagi ..."

“Saudara terlalu merendah ..." berkata Siang-koan Kie sambil berpaling mengawasi lima anggauta pasukan berani mati, "sudah waktunya kita harus berangkat.”

“Kita harus menuju kemana?" tanya dua kacung. “Ikutlah aku.”

Ia berjalan lebih dulu, dengan diikuti oleh dua kacung dan lain2nya.

Berjalan sepuluh pal lebih, Siang-koan Kie berhenti, ia memeriksa keadaan di situ, kemudian berkata : “Disini saja kita menantikan dan mencegat pasukan raja muda Koo Pat Kie yang mungkin akan datang membantu Kun-liong Ong.”

Lima anggauta pasukan berani mati lantas menghunus senjata masing2, bersama tigapuluh anak buah golongan pengemis, membentuk satu barisan.

Siang-koan Kie duduk di tanah, ia pesan kepada dua kacung, bahwa ia perlu beristirahat dulu, apabila ada gerakan apa2 segera bangunkan.

Tadi Siang-koan Kie tidak memikirkan apa2 tetapi kini setelah beristirahat, pikirannya kembali kepada bungkusan hitam peninggalan orang tua rambut panjang, apakah ia harus serahkan kepada Auw-yang Thong atau Nie Suat Kiao? Ataukah diperiksanya lebih dulu? 

Meskipun itu bukan soal rumit, tetapi itu ia tidak bisa mengambil keputusan.

Bungkusan kecil itu kalau benar ada hubungannya dengan Auw-yang Thong, pasti akan menyangkut seluruh rimba persilatan ...

Sementara itu dua kacung mendadak menghampiri dan berkata padanya dengan suara perlahan. ”Agak jauh dari sini, ada tanda2 gerakan musuh apakah kita perlu kirim orang pergi periksa?"'

“Tidak usah, tempat yang kita jaga ini adalah tempat yang harus dilalui oleh bala bantuan musuh. Kalau mereka tidak melalui tempat ini, jangan perdulikan."

“Baiklah.”

“Tunggu dulu, ada sedikit urusan aku ingin minta keterangan darimu.”

“Entah urusan apa?”

“Pangcu kita bagaimana kelakuannya?” Thio Hong semula tercengang, kemudian berkata. “Tinggi ilmu silat dan ilmu surat, arief bijaksana.”

“Kumaksudkan kepribadiannya?” “Berhati-hati dan tegas tindakkannya.” “Baiklah, terima kasih.”

Mendadak terdengar suara tindakan kaki orang yang berjalan mendatangi ke arah mereka.

Siang-koan Kie lompat bangun, dengan membawa dua kacung, menyambut kedatangan orang2 itu.

Barisan pasukan berani mati bersama tigapuluh anak buah golongan pengemis, berada ditempat sembunyinya, sedikitpun tidak mengeluarkan suara.

Siang-koan Kie menampak tiga orang berjalan ke arahnya, ia lalu perintahkan dua kacung supaya mundur.

Tiga orang itu bagaikan bangkai hidup, berjalan terus tanpa menghiraukan orang di depan matanya.

Siang-koan Kie membentak dengan suara keras memerintahkan orang2 itu berhenti, tetapi tiga orang itu hanya berhenti sebentar, lalu berjalan lagi.

Kini Siang-koan Kie sudah dapat melihat dengan tegas, bahwa tiga orang itu mengenakan pakaian petani, datang dengan tangan kosong, tidak mirip orang2 rimba persilatan.

Tiga orang itu semakin mendekat, Siang-koan Kie yang sudah siap sedia, lalu menyerang orang yang berjalan dimuka.

Orang itu ternyata tidak menyingkir, agaknya tidak tahu kalau dirinya diserang.

Ketika serangan Siang-koan Kie hampir mengenakan dada orang itu, mendadak ditarik kembali, mulutnya membentak : “Lekas mundur ... ” Tetapi belum lagi menutup mulut, orang2 itu mendadak menyerang dirinya.

Siang-koan Kie terkejut, buru2 lompat kesamping.

Thio Hong menikam dengan pedangnya, tepat mengenakan dada orang itu.

Tiba2 terdengar suara ledakan, orang itu jatuh rubuh, diantara darah yang menyembur dari luka2nya, memancarkan bau aneh, Thio Hong yang berada paling dekat dengan orang itu, segera mengetahui gelagat tidak beres, ia berseru : “Awas obat mabok ... " belum sempat lompat mundur, sudah jatuh di tanah.

Lie Sin dengan cepat melancarkan satu serangan jarak jauh.

Orang kedua yang membawa sebuah benda itu rubuh seketika, tetapi benda yang dibawanya ketika jatuh di tanah lantas meledak.

Dari benda yang meledak itu menyemburkan asap dan api. Siang-koan Kie bertindak cepat, dengan tangan mengempit

Thio Hong, ia lompat sejauh satu tombak sambil perintahkan Lie Sin supaya bertiarap.

Badan orang itu agaknya dipoles dengan minyak yang mudah terbakar, begitu terkena api, lantas berkobar. Orang yang terbakar itu mendadak lompat bangun dan mengejar Siang-koan Kie dan kawan2nya.

Siang-koan Kie menyambar pedang dari tangan Thio Hong, disambitkan kepada orang itu. Pedang menembusi orang itu, terdengar pula suara ledakan, api berhamburan di sekitar tempat itu dan meluas sampai delapan kaki persegi.

Ternyata di tubuh orang itu sudah dibekali obat peledak, setelah api membakar habis, obat itu meledak. Kalau bukan Siang-koan Kie melontarkar pedang untuk membinasakan orang itu, mungkin akan melukai banyak orang.

Orang ketiga membawa ruyung besar, dengan senjata itu ia mengamuk.

Lie Sin yang hendak menyambut serangan orang itu, tiba2 mendengar teriakan Siang-koan Kie : “Jangan sambuti ruyungnya, lekas menyingkir.”

Lie Sin ternyata masih keburu lompat mundur.

Barisan lima anggauta pasukan berani mati juga mengundurkan diri dengan serentak.

Siang-koan Kie memancing orang bersenjatakan ruyung yang sedang mengamuk, dengan berlari2an ia pancing orang itu ke dalam rimba dan ketika orang itu membabat Siang-koan Kie dengan ruyungnya, dapat dielakkan oleh Siang-koan Kie, hingga ruyung itu mengenakan sebuah pohon besar.

Ruyung itu patah tengahnya, dari ruyung yang patah itu menyemburkan air beracun bagaikan hujan.

Siang-koan Kie dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam menyerang ke arah air beracun, hingga air itu berbalik menyembur ke badan orang itu.

Orang itu gemetaran badannya, sebentar kemudian mendadak roboh di tanah

“Kun-liong Ong sudah kehabisan akal, hingga perlu menggunakan cara yang kejam seperti ini. Orang2 itu pikirannya memang sudah dikendalikan oleh pengaruhnya obat, mereka sudah tidak menghiraukan soal kematian, tetapi apakah saudara kita dalam golongan pengemis, harus mengadu jiwa dengan mereka ... " berkata Siang-koan Kie sambil menghela napas. “Ucapan saudara Siang-koan Kie memang benar, kalau kita mengadu kekerasan, pasti menimbulkan korban banyak jiwa diantaranya saudara2 kita sendiri ... " berkata Thio Hong.

“Kalau Kun-liong Ong benar2 menggunakan akal selicik dan kejam itu, dalam pertempuran ini pasti akan menimbulkan banyak korban jiwa, saudara2 kita yang jumlahnya lebih dari limaratus jiwa, mungkin sebagian besar akan menjadi korban keganasan. Maka kita harus berusaha untuk mengabarkan kepada pangcu, supaya mengadakan persiapan." berkata Lie Sin.

“Sekarang ini pergi memberitahukan kepada pangcu atau nona Nie, barangkali sudah tidak keburu. Menurut pikiranku, sebaiknya kita berusaha sendiri, memancing mereka masuk perangkap, kemudian ditangkapnya hidup2 ... ”

“Bagaimana rencana saudara?”

“Diantara orang2 kita yang ada disini, kita adakan pilihan duabelas orang, dibagi keempat penjuru, sedangkan aku akan meniup seruling untuk menjinakan mereka. Saudara2 boleh sembunyi ditempat gelap, kemudian melakukan serangan. Dua belas orang itu kuserahkan di bawah pimpinan saudara berdua. Pohon besar ini boleh digunakan sebagai alingan untuk sembunyikan diri. Sisanya biar dipimpin oleh lima saudara dari pasukan berani mati, tetapi menjaga di jalan penting, selain mencegat yang melarikan diri, juga harus mencegah datangnya bala bantuan musuh. Kita memberi bantuan kepada mereka melihat gelagat.”

“Rencana ini bagus sekali." berkata Tliio Hong, segera memilih duabelas orang dipencar keempat penjuru.

Siang-koan Kie sementara itu lompat ke atas pohon, meniup serulingnya.

Sebentar kemudian, benar saja ada banyak bayangan hitam, berjalan menuju ke dalam rimba. Orang2 itu semua mengenakan pakaian petani, ada yang membawa senjata, tetapi juga ada yang bertangan kosong.

Dua kacung yang sembunyi di belakang pohon, dengan cepat bergerak menyerbu orang2 itu dengan menotok jalan darah mereka.

Dalam waktu hanya setengah jam, orang2 yang terpancing oleh irama seruling Siang-koan Kie, sudah mencapai jumlah tujuhpuluh orang.

Orang2 itu benar saja semuanya pada membekal obat peledak dibadan mereka, untuk membinasakan musuh bersama2 mereka sendiri.

Kembali setengah jam telah berlalu, tidak tampak ada orang yang datang lagi. Siang-koan Kie menghentikan tiupan seruling, lompat turun dari atas pohon kemudian duduk bersemedi untuk memulihkan tenaganya.

Dua kacung mengadakan pemeriksaan dibadan setiap orang yang tertangkap, semua obat peledak yang mereka bawa diambilnya, lalu berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan : “Apa kita harus berbuat terhadap orang2 ini. Dibunuh terlalu kejam, didiamkan berarti meninggalkan bencana.”

Sebelum Siang-koan Kie menjawab, tiba2 terdengar suara beradunya senjata.

Dua kacung itu telah menyaksikan Siang-koan Kie masih belum hilang keringatnya, hingga mereka memilih empat orang untuk melindungi, mereka membawa sepuluh orang keluar dari dalam rimba.

Sementara itu anak buah golongan pengemis yang dipimpin oleh lima anggota pasukan berani mati bertempur dengan musuh yang berpakaian hitam. Satu diantaranya terdapat seorang tinggi besar sedang memutar senjatanya yaitu ruyung perak gemerlapan. Orang itu gagah sekali, lima anggota pasukan berani mati menggerakan barisannya menghadapi orang itu secara bergiliran.

Orang itu bertenaga besar, siapa yang kebentur dengan ruyungnya lantas terpental mundur.

Lima pasukan berani mati golongan pengemis, kesohor dalam pertempuran keras lawan keras, barisan yang di bawah pimpinan mereka, meskipun menghadapi banyak bahaya, tetapi mereka tidak mau mundur setapakpun juga.

Dua kacung selagi keluar dari rimba, tiba2 tampak delapan obor menerangi tempat itu.

Empat laki2 dengan senjata golok di tangan, melindungi seorang laki2 tua pendek kurus, berjalan lambat2 menghampin dua kacung.

“Orang tua itu adalah raja muda utara Koo Pak Kie ... " berkata Thio Hong dengan suara pelahan.

“Jikalau malam ini kita berhasil bisa menangkap hidup2 orang tua ini, akan merupakan satu pahala sangat besar." berkata Lie Sin.

“Empat raja muda Kun-liong Ong, setiap orang mempunyai kepandaian istimewa. Orang-orang ini dahulu sebetulnya merupakan jago2 yang menguasai disuatu tempat, setiap orang mempunyai ambisi besar, entah bagaimana kemudian dapat ditundukkan oleh Kun-liong Ong? Dan diangkat sebagai raja muda? Keadaan malam ini sudah jelas, kita harus menggunakan akal untuk merebut kemenangan.”

Tiba2 terdengar suara jeritan ngeri, salah satu anak buah golongan pengemis terbinasa di tangan orang bersenjatakan ruyung perak.

Lie Sin yang menyaksikan kejadian itu, lantas berkata : “Tidak bisa, kita harus bereskan orang yang bersenyatakan ruyung perak itu lebih dulu.” Koo Pat Kie mempunyai daya pendengaran sangat tajam, pembicaraan dua kacung itu, asal sedikit nyaring, segera dapat didengarnya.

Ia mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah utara, di belakang dirinya segera muncul beberapa puluh orang berpakaian hitam, menyerbu ke tempat di mana dua kacung berada.

Thio Hong yang sedang memikirkan rencana untuk menangkap musuhnya, tiba2 sudah diserbu. Lie Sin menyambut serbuan musuh dengan empat kawannya, terjadilah suatu pertempuran sengit.

Thio Hong yang sebetulnya hendak mencegah, tetapi sudah tidak keburu, terpaksa menyerbu keluar, dengan satu gerakan ganas, ia berhasil melukai seorang musuh.

Empat orang yang mengikuti dibelakangnya, juga menjerbu musuh yang datang menyerang.

Anak buah Koo Pat Kie yang menyerbu kerimba, setelah disambut serangan hebat oleh dua kacung dan kawan2nya, karena mereka tidak tahu ada beberapa banyak musuh dalam rimba, lantas mundur.

Koo Pat Kie agaknya sudah pusatkan seluruh perhatiannya ke arah timur, ketika melihat keadaan pertempuran di tepi rimba, kembali memerintahkan anak buahnya memberi bantuan.

Thio Hong memperhatikan keadaan musuh, ia telah mengetahui bahwa Koo Pat Kie membagi pasukannya menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari duabelas orang, dikepalai oleh seorang yang bertindak sebagai pemimpin.

Ketika bala bantuan kelompok kedua tiba, musuh kelompok pertama lantas melancarkan serang pembalasan. Pihak golongan pengemis meskipun orangnya berjumlah lebih sedikit dari lawannya, tetapi karena serangan mereka tinggi, sehingga membuat musuhnya kewalahan.

Pertempuran sudah berlangsung cukup lama, kedua pihak masih berimbang, tetapi pihak golongan pengemis sudah kehilangan dua orang yang mati, dua lagi terluka parah. Sisanya sepuluh orang, empat diantaranya sudah tak dapat ikut bertempur. Untung dua kacung yang berkepandaian tinggi itu terus melawan dengan gigih, sehingga dapat mempertahankan posisinya.

Pertempuran antara anak buah yang dipimpin oleh Koo Pat Kie sendiri yang melawan pasukan berani mati, nampaknya semakin sengit. Kim Goan Pa dengan senjata ruyung peraknya yang berat, barang siapa yang berani membentur senjatanya, kalau tidak terlepas senjatanya, tentu terpukul mundur orangnya.

Untung lima anggota pasukan berani mati tetap melawan dengan gigih, meskipun terancam bahaya masih dapat memimpin barisannya dengan baik, sedikitpun tidak goyah.

Mari sekarang kita tengok kepada Siang-koan Kie yang beristirahat di dalam rimba, telinganya diganggu oleh beradunya senjata tajam di luar rimba, maka setelah kekuatan tenaganya pulih kembali, ia lantas lompat bangun, dengan senjata pusaka di tangan, ia keluar dari rimba, dengan diikuti oleh empat anak buah golongan pengemis yang ditugaskan melindungi dirinya.

Ketika menyaksikan jumlah musuh yang lebih banyak, tanpa banyak bicara ia segera menyerbu musuh2 yang bertempur dengan dua kacung.

Ia bertempur bagaikan banteng mengamuk, dalam waktu sekejapan sudah berhasil merubuhkan beberapa musuhnya.

Musuh yang menyaksikan Siang-koan Kie demikian gagah, lantas pada mundur. Siang-koan Kie lalu menyuruh dua kacung membawa kawan2nya yang terluka, sedang ia sendiri dengan lima anggota pasukkan berani mati.

Setelah dua kelompok bergabung menjadi satu, Siang-koan Kie dengan menggunakan gerak terjang luar biasa, berhasil memukul mundur Kim Goan Pa, dengan demikian tekanan musuh kepada barisan pasukan berani mati, segera berkurang.

Kim Goan Pa yang terkenal gagah, setelah dipukul mundur oleh Siang-koan Kie, hawa amarahnya meluap, ia berteriak2 seperti orang kalap, senjatanya diputar demikian rupa, menyerbu lawannya.

Siang-koan Kie terkejut, pikirnya, “menghadapi musuh yang seperti orang kalap, sesungguhnya berat, apa lagi senjata Kim Goan Pa adalah senjata berat, tak boleh dilawan dengan kekerasan.

Oleh karena itu, maka ia memerintahkan kepada kawan2nya supaya mundur.

Sebetulnya ia tidak perlu mengeluarkan perintah itu, karena lima anggota pasukan berani mati juga sudah tahu bahwa dipihaknya tak ada orang yang sanggup menyambuti serangan Kim Goan Pa, maka segera menggerakkan barisannya untuk mundur.

Koo Pat Kie tahu bahwa antara orang2 golongan pengemis yang bertempur dengan anak buahnya, hanya Siang-koan Kie dan dua kacung yang paling kuat, ketika menyaksikan bagaimana tiga pemuda itu berhasil memperbaiki kedudukannya, dalam hati merasa cemas, karena waktu perjanjiannya dengan raja muda selatan sudah hampir tiba, kalau bertempur terus secara demikian, mungkin akan menggagalkan rencananya.

Untuk menolong pasukannya, ia terpaksa turun tangan sendiri. Melihat pemimpinnya turun tangan sendiri, anak buahnya lantas menyerbu musuhnya lagi dengan secara ganas.

Siang-koan Kie yang menyaksikan perubahan itu, lalu berkata kepada dua kacung dengan suara perlahan : “Kalau membiarkan orang2 ini mendekati luar barisan, tekanan akan menjadi semakin berat, barangkali kita tidak sanggup menahan. Kalian boleh menyerang dengan gerak mengacip dari kedua sayap kanan dan kiri, menahan musuh berbadan tinggi besar itu, aku akan melawan Koo Pat Kie.

Tanpa menunggu jawaban dua kacung, ia sudah lompat melesat menyerang Koo Pat Kie.

Dari jauh tiba2 terdengar suara siulan panjang, menggema diangkasa, tidak antara lama, sesosok bayangan orang, dengan kecepatan bagaikan peluru kendali, sudah tiba dimedan pertempuran.

Siang-koan Kie lantas berseru : “Saudara Wan, lekas tahan musuh tinggi besar yang bersenjata ruyung perak itu.”

Wan Hauw dengan tangan kosong, menerima baik tugas itu. Mendadak tangannya menyambar seorang musuh yang berbaju hitam, digunakan sebagai senjata, menyapu Kim Goan Pa.

Kim Goan Pa menyambut dengan ruyungnya, hingga orang itu tertabas kutung pinggangnya.

Wan Hauw menggunakan kesempatan itu, dua tangannya bergerak merebut senjata Kim Goan Pa.

Dua lawan sama2 bertenaga besar, mereka saling mengadu kekuatan dengan saling tarik, ternyata sama kuatnya.

Sementara itu, Koo Pat Kie yang melihat Siang-koan Kie menyerang dari tengah udara, lalu menyambut dengan senjata pecutnya. Siang-koan Kie yang tadi bicara dengan Wan Hauw, hampir saja terlibat oleh pecut Koo Pat Kie. Dalam keadaan tergesa- gesa, ia menyerang musuhnya dengan satu gerak dari samping.

Koo Pat Kie sudah menyaksikan senjata Siang-koan Kie itu sudah menabas kutung senjata anak buahnya, hingga mengetahui bahwa senjata itu adalah senjata pusaka, maka tidak berani menyambuti. Ia tarik kembali serangannya, untuk mengelakkan senjata Siang-koan Kie, setelah itu, pecutnya menyerang samping.

Ia hanya menggunakan pergelangan tangan, dapat memainkan senjata pecutnya itu demikian hebat, sesungguhnya sangat mengagumkan.

Siang-koan Kie tidak menduga musuhnya dapat mainkan senjata pecutnya demikian sempurna, hampir saja dirinya terkena serangannya, dalam kagetnya, ia buru2 lompat mundur dengan jalan jumpalitan.

Koo Pat Kie meneruskan serangannya, ujung pecut menotok jalan darah Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie menggunakan senjata pusakanya membabat pecut musuhnya, di samping itu ia juga menggunakan senjatanya untuk mengancam badan Koo Pat Kie.

Dalam pertempuran itu, keduanya sama2 menggunakan gerak tipu yang sangat lincah, mereka saling menyerang dengan menggunakan gerak tipu serangan yang mengandung banyak perubahan.

Selagi pertempuran berlangsung dengan sengit, di sekitar tempat itu mendadak diterangi oleh banyak obor.

Obor api itu berpencaran keempat penjuru, tapi berhenti di tempat yang agak jauh. Koo Pat Kie terkejut ketika menyaksikan itu, pikirnya : “Orang2 golongan pengemis entah gunakan siasat apa?”

Belum lenyap pikirannya, matanya menampak empat anak buah golongan pengemis, mengiring seorang perempuan muda berpakaian warna hijau, datang menuju ke medan perang.

Perempuan berbaju hijau itu adalah Nie Soat Kiao, setelah tiba dimedan pertempuran, segera memerintahkan orang2nya menghentikan pertempuran.

Siang-koan Kie dan Wan Hauw yang mengundurkan diri lebih dulu, mentaati perintahnya.

Nie Suat Kiao menatap wadiah Koo Pat Kie, katanya : “Koo Pat Kie, Koo Hauw-ya, apakah kau masih mengenali aku?”

“Toa-kongcu, mengapa aku tak kenal?”

“Benar, mengingat persahabatan diwaktu yang lalu, aku hendak memberi nasihat beberapa patah kata padamu.”

“Emm! Apakah kau hendak membujuk aku supaya menyerah?”

“Bukan begitu, Koo Hauw-ya seorang gagah serta pandai, seharusnya bukan orang yang menjadi begundal orang.”

“Kau terlalu memuji.”

“Nasehat yang aku ingin sampaikan padamu, ialah kepandaianmu cukup untuk kau berdiri sendiri, mengapa kau rela menjadi budak?”

“Aku juga ingin memberi nasihat padamu, ialah Ong-ya cukup baik perlakukan dirimu, mengapa kau menghianati padanya?”

Nie Suat Kiao tertawa ter kekeh2, katanya : “Itu disebabkan karena aku tidak takut mati, Dia telah masukan jarum berbisa melekat tulang ke dalam tubuhku, sayang ia menggunakan akal, masih belum berhasil membinasakan diriku ... ”

Ia mengangkat muka, menatap wajah Koo Pat Kie, katanya lagi : “Koo Hauw-ya tidak berani meninggalkan Kun-liong Ong, disebabkan karena kerelaan hatimu ataukah juga sudah dimasukan jarum melekat tulang oleh Kun-liong Ong, sehingga kau takut sudah tidak ada obatnya dan terpaksa mengabdi kepada dirinya?”

Koo Pat Kie perdengarkan suara batuk2, tetapi tidak menjawab.

“Tan peng-kauw sudah binasa dimedan perang," sambung Nie Soat Kiao, “Lam-bin-kauw mengalami kekalahan hebat, pasukannya hancur berantakan. Kalau kau yakin lebih kuat dari mereka, boleh coba bagaimana akibatnya?”

“Sebelum matahari silam, aku masih mengadakan perhubungan dengan Ang Tauw, aku tidak percaya dalam waktu setengah malam tentaranya bisa ludes.”

“Dalam pertempuran kita mengutamakan gerak cepat, dengan kecepatan bagaikan kilat, dalam waktu setengah jam, aku sudah menghancurkan pasukan Ang Tauw, hanya ia sendiri berhasil meloloskan dirinya tetapi ia tidak akan lolos dari tanganku ... ”

Koo Pat Kie tertawa terbahak2, katanya : “Sudah lama aku mendengar kepintaran toakongcu, dalam pertempuran malam ini, aku baru percaya kebenaranya. Kita masih belum apa2, kongcu sudah menggunakan siasat untuk menggertak lebih dulu, kau ingin menundukkan pasukanku tanpa pertempuran, tetapi sayang, kau terlalu pandang ringan aku.”

“Kalau kau tidak mau percaya, aku juga tidak bisa berbuat apa2. Baiklah! Kau boleh perintahkan anak buahmu mengadakan pertempuran besar2an, kau nanti akan tahu sendiri bahwa golongan pengemis sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan.” Mata Koo Pat Kie berputaran, dilihatnya banyak obor api di sekitar tempat itu, jelas bahwa Nie Soat Kiao sudah mengurung ketat tempat itu. Maka dalam pertempuran itu seandai pihaknya sendiri yang kalah, barangkali tidak bisa keluar dari kepungan.

Terdengar suara Nie Soat Kiao yang berkata : “Koo Pat Kie, kau sudah terkurung rapat di tempat ini, mau damai atau mau perang, tergantung pada putusanmu sendiri.”

Ucapannya sengaja diucapkan dengan suara nyaring, supaya anak buah Koo Pat Kie bisa mendengarkan.

Koo Pat Kie tertawa dingin, katanya : “Dengan akal menyesatkan pikiran anak buahku, apa kau kira dapat mempengaruhi aku Koo Pat Kie? Aku ingin mencoba kepandaianmu.”

Koo Pat Kie memang seorang sangat licin, ia mengerti bahwa keadaan di tempat itu tidak menguntungkan pihaknya, apabila diulur lagi, mungkin semangat anak buahnya akan menurun, dengan demikian pasti akan hancur. Maka ia hendak menundukkan Nie Soat Kiao lebih dulu. Sehabis mengeluarkan perkataan demikian, pecutnya sudah bergerak melakukan serangan.

Selagi Nie Soat Kiao hendak menyambut serangannya, senjata Siang-koan Kie sudah menangkis pecut Koo Pat Kie, dan menggantikan Nie Soat Kiao.

Koo Pat Kie terpaksa tarik kembali serangannya, kemudian berbalik menyerang Siang-koan Kie.

Dua musuh lama itu kembali melakukan pertempuran yang lebih hebat daripada yang semula.

Wan Hauw yang menyaksikan pertempuran itu, tiba2 lompat tinggi ke atas sebuah pohon, dengan tenaganya seperti kerbau, ia telah mencabut pohon itu sampai keakar2nya, kemudian digunakan untuk menyapu musuhnya. Kim Goan Pa menyambut serangan Wan Hauw dengan ruyungnya, benturan antara dua senjata berat itu menimbulkan suara gemuruh.

Nie Soat Kiao yang sudah mengetahui baik keadaan tempat itu, tiba2 memerintahkan kepada dua kacung : “Bubarkan barisan, melakukan serangan. Kalian berdua, masing2 membawa sepuluh orang, menyerang dari dua sayap.”

Dua orang itu menerima tugas itu.

Nie Soat Kiao berkata pula kepada lima anggauta pasukan berani mati : “Kalian berlima, membawa sisa orang yang ada disini, melakukan penyerangan dari muka. Sekarang kita harus berusaha untuk menguasai keadaan.”

Lima orang itu benar saja lantas menyerang dari muka. Bagaimana kesudahannya pertempuran hebat ini?

Rahasia apakah sebetulnya pada diri Auw-yang Thong?

Silahkan pembaca mengikuti jalannya cerita dalam jilid ke 30.

O-oo^dw^oo-O

(Bersambung)