ISMRP Jilid 28

 
Jilid 28

KATA2 Nie Soat Kiao itu, benar saja membawa pengaruh besar, Kun-liong Ong tanpa berkata sepatahpun juga, sudah lompat kabur.

Siang-koan Kie mengawasi berlalunya musuh besarnya itu, tiba2 menghela napas panjang dan berkata : “Pangcu, nona Nie, mengapa lantaran jiwaku seorang, membuat kerugian seluruh rimba persilatan? Aku Siang-koan Kie sekalipun masih hidup, juga merasa tidak tenang.”

“Inilah perbedaannya antara pendekar dengan bajingan. Kalau golongan pengemis mempunyai mentaliteit seperti Kun- liong Ong, tidak perlu membuat perhitungan dengannya ... " berkata Auw-yang Thong.

“Kau tak perlu merasa tidak tenang, melepaskan Kun-liong Ong, bukan karena menolong jiwamu." berkata Nie Soat Kiao sambil bersenyum. “Terima kasih atas hiburanmu menolong aku secara demikian, Siang-koan Kie meskipun masih hidup, tetapi seperti sudah mati." berkata Siang-koan Kie sambil tertawa masam.

“Apa? Kau tidak percaya perkataanku?” “Aku bersedia mendengarkan uraianmu.”

“Pengaruh Kun-liong Ong sudah kuat, kamar racun di istananya belum hancur, pembantu2nya yang kuat2 masih ada, raja2 muda timur barat selatan dan utara, masing2 masih mempunyai banyak orang kuat, tersebar di mana2. Kalau hari ini kita membinasakan Kun-liong Ong, orang2 itu masing2 akan berebutan pengaruh sendiri2, akibatnya lebih besar daripada masih di bawah kekuasaan Kun-liong Ong."

“Itu memang benar." berkata Auw-yang Thong.

“Kalau kita ingin membasmi Kun-liong Ong sampai di akar- akarnya," sambungnya Nie Soat Kiao “kita harus membasmi juga pembantu2nya yang penting, untuk mencegah timbulnya bahaya di kemudian hari.”

“Memang begitu.”

“Oleh karenanya, maka aku melepaskan Kun-liong Ong. Seumur hidupnya Kun-liong Ong belum pernah mengalami kekalahan demikian hebat, olehnya pasti dianggap suatu hinaan besar. Sepulangnya ke istana, ia pasti memanggil empat raja muda dan mengerahkan semua kekuatan yang ada untuk melakukan pertempuran yang menentukan dengan kita dan untuk menebas kekalahannya hari ini.”

“Kalau ditilik kekuatan kedua pihak, entah bagaimana kesudahannya dalam pertempuran itu nanti?" tanya Auw-yang Thong.

“Ini seharusnya akan merupakan satu pertempuran paling hebat, kedua pihak akan jatuh banyak korban jiwa manusia. Kalau mengadu kekuatan sesungguhnya, kerugian musuh akan lebih besar daripada pihak kita. Mungkin banyak orang- orang kuat rimba persilatan yang akan gugur dalam pertempuran ini, maka menurut pendapat hamba, dalam pertempuran nanti, sebaiknya jangan menggunakan siasat mengadu kekuatan ... " berkata Nie Suat Kiao.

“Pendapatmu cocok dengan pikiranku. Apabila kita membiarkan Kun-liong Ong mengerahkan semua pembantunya yang kuat, melakukan pertempuran mati2an disini, golongan Pengemis sesungguhnya masih belum mempunyai keyakinan bisa merebut kemenangan. Aih Kekalahan besar pada setengah tahun berselang, pihak kita kehilangan banyak tenaga kuat. Delapan pasukan berani mati kita telah kehilangan tiga, Koan Sam Seng kutung sebelah tangannya. Dalam pertempuran itu Kun-liong Ong belum mengerahkan seluruh kekuatannya, apalagi kali ini ia akan mengerahkan seluruh kekuatannya, kita memang tidak perlu melakukan pertempuran mati2an." berkata Auw-yang Thong.

“Jikalau bukannya golongan Pengemis yang berani menentang Kun-liong Ong, keadaan rimba persilatan dewasa ini, mungkin sudah berlainan. Pangcu bukan saja merupakan pemimpin kita, sebetulnya juga merupakan juru selamat umat manusia di dunia.”

Sek-bok Taysu tiba2 berkata : “Terhadap kejahatan Kun- liong Ong yang mengancam ketentraman rimba persilatan, hanya golongan Pengemis yang berani menentang sendirian, ini sebetulnya tidak adil. Sekarang juga lolap hendak pulang ke gereja siau-lim-sie, menemui ketua lolap, untuk meminta supaya siau-lim-sie mengerahkan kekuatan, memberi bantuan pangcu.”

Thian-bok Taysu memandang Sek-bok Taysu sejenak, ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian dibatalkan.

“Jikalau taysu sudi menasehatkan ketua taysu, mengirim bantuan bagi kita, inilah yang paling baik." berkata Nie Suat Kiao. “Apabila lolap tidak berhasil dalam usaha lolap untuk minta ketua lolap mengirimkan bantuan, lolap tidak ada muka untuk bertemu lagi dengan Auw-yang pangcu atau nona ... " berkata Sek bok Taysu.

Thian-bok Taysu tiba2 menyelak : “Aku yang rendah di sini ada sebuah barang kepercayaan, yang ada hubungan erat dengan siau-lim-sie, tolong taysu bawakan.”

Sek-bok Taysu yang memang sudah merasa curiga terhadap Thian-bok Taysu, ketika mendengari perkataan itu lantas berpaling dan kemudian berkata, “Losicu ini membawa senjata tunggal golongan Buddha?'

Thian-bok taysu menghela napas dan berkata : “Mengenai riwayat diriku, sekarang masih belum perlu diterangkan, tetapi aku si orang tua memang ada hubungan erat dengan siau-lim- sie. Hari depan, masih panjang, setelah kita berhasil membasmi persekutuan Kun-liong Ong, aku si orang tua nanti akan menceritakan asal usul diriku.”

“Kalau begitu, pinceng juga tidak perlu memaksa." berkata Sek-bok taysu.

Thian-bok taysu menyerahkan sebuah bungkusan kain kuning yang terbungkus rapi, katanya : “Sebelum bertemu dengan ketua taysu, jangan dibuka.”

Sek bok taysu menyambut bungkusan itu, ternyata sangat berat, dalamnya seperti terisi barang logam.

“Ketua taysu yang sekarang bagaimana sebutan gelarnya?" tanya Thian-bok taysu.

“Sin-bok." jawabnya.

“Bagus, kalau ia melihat barang ini, pasti bisa mengenali, tidak mungkin akan menolak untuk mengirim bantuan, taysu boleh pulang dengan hati lega.” Sek-bok taysu lalu minta diri kepada Auw-yang Thong, Nie Soat Kiao dan Thian-bok taysu.

Setelah Sek-bok taysu berlalu, Nie Soat Kiao baru berkata kepada Thian-bok taysu : “Ketua gereja siau-lim sie, mempunyai kedudukan dan hak kekuasaan sangat tinggi, taysu tentunya sudah tahu.”

Thian-bok taysu menganggukkan kepala dan berkala : “Ya, nona, pinceng tahu.”

“Siau-lim-pay selamanya dipandang sebagai pemimpin golongan kebenaran dalam rimba, ini sudah dianggap sebagai salah satu tradisi selama beberapa ratus tahun. Setiap generasi, siau-lim-pay belum pernah mengeluarkan satu anak muridpun yang warisan seluruh ilmu kepandaian siau-lim-pay. Orang2 rimba persilatan juga tidak bisa mengukur sampai di mana sebetulnya kekuatan siau-lim-sie. Tetapi barisan Lo han- tin mereka, sebaliknya sangat tersohor.”

“Ya, nona, dengan menggunakan barisan Lo-han-tin golongan siau-lim-sie, untuk menghadapi Kun-liong Ong, seharusnya merupakan satu pikiran yang paling baik. Mereka tidak akan takut serangan bergelombang yang dilancarkan oleh anak buah Kun-liong Ong." berkata Thian-bok taysu.

“Kun-liong Ong mempunyai pasukan berkuda yang jumlahnya tigaratus enampuluh orang tenaga pilihan, mereka mempunyai kekuatan tenaga luar biasa, apakah barisan Lo- han-tin sanggup menahan serangannya?”

“Barisan Lo han-tin bisa dibikin kecil, tetapi juga bisa dibikin besar. Dengan delapanbelas orang bisa dibentuk, dengan tigaratus enampuluh orang juga bisa. Barisan itu bisa menghadapi musuh secara total atau berpisahan. Perubahannya ada delapanbelas macam, setiap bagian ada pemimpinnya sendiri2. Kalau Kun-liong mengeluarkan seluruh barisan berkudanya, mungkin bisa malang melintang dirimba persilatan, mungkin bisa membuat orang2 kuat tidak berdaya, tetapi tidak nanti bisa membobol pertahanan barisan Lo-han- tin ... ”

“Sayang Sin-bok taysu itu belum tentu mau mengerahkan seluruh kekuatan siau-lim sie untuk menghadapi Kun-liong Ong.”

“Pinceng kira ia tak sampai berlaku demikian.”

“Urusan ini menyangkut nasib seluruh rimba persilatan, salah bertindak satu kali saja bisa membawa kekalahan total.”

“Tentang ini pinceng mengerti.”

“Sebelum tertawan oleh Kun-liong Ong, apa kedudukan taysu di dalam siau-lim-sie?”

“Waktu itu pinceng mengembara kesegala tempat, jarang berdiam di Kuil."

“Aku tanyakan kedudukan taysu.”

“Pinceng adalah salah satu anggauta sesepuh dalam bagian penilik.”

“Sesepuh dalam bagian penilik, meskipun berkepandaian tinggi, tetapi juga tak lebih tinggi dari ketua.”

“Memang benar, nona agaknya tahu benar keadaan dalam siau-lim-sie.”

“Oleh karena itu, maka aku baru meragukan perkataanmu, kecuali apabila kedudukanmu lebih tinggi daripada ketua Sin- bok Taysu.”

Auw-yang Thong tiba-tiba menyelak : “Apa kedudukan Tiat- bok dan Kie-bok di dalam gereja?”

“Juga anggaota sesepuh bagian penilik, sangat dihargai oleh ketua." menjawab Thian-bok Taysu setelah berpikir sejenak. “Mereka berdua sahabat2 karib kami, sama2 prihatin atas nasib rimba persilatan yang menghadapi ancaman Kun-liong Ong, Tetapi mereka tidak berhasil membujuk ketuanya untuk mengerahkan seluruh kekuatan siau liem-sie, untuk melawan Kun-liong Ong ... ”

“Tiat-bok dan Kie-bok sutee, hanya mendapat penghargaan ketua, tidak bisa dibandingkan kedudukannya dengan pinceng.”

Mendengar keterangan itu. Auw yang Thong tidak menanya lagi. Ia berpaling dan berkata kepada Nie Suat Kiao : “Sekarang kita harus mengadakan persiapan selekas mungkin, supaya tidak kerupukan menghadapi serangan Kun-liong Ong.”

“Kun-liong Ong setelah mengalami kekalahannya kali ini, tidak nanti berani memandang ringan kepada kita, ia juga akan timbul rasa curiganya terhadap orang2nya sendiri, sekalipun terhadap orang2nya yang masih setia padanya. Kun- liong Ong sebetulnya mempunyai kepandaian yang tidak ada taranya, kecerdasan otak melebihi manusia biasa, sayang cacadnya, juga merupakan kelemahan yang paling besar, ialah terlalu banyak curiga, tidak mempercayai orang. Walaupun mempunyai kepandaian luar biasa, juga tidak dapat memperkembangkan dengan baik ... " berkata Nie Suat Kiao, matanya berputaran, memandang Siang-koan Kie sejenak dan berkata pula : “Siang-koan Kie dengan dikawani oleh Sek-bok Taysu dan dua kacung, berhasil memasuki istananya, kemudian keluar lagi dalam keadaan selamat. Perbuatannya itu pasti akan menimbulkan kecurigaan besar baginya. Untuk melakukan pemeriksaan itu saja, ia akan menggunakan banyak waktu.”

“Namun demikian, tidak salahnya kita siap sedia lebih dulu

... " berkata Auw-yang Thong. “Kita tidak dapat melakukan pertempuran besar2an dengannya ditempat datar yang luas ini." berkata Nie Suat Kiao sambil menganggukkan kepala.

“Menyingkiri yang berat, menghadapi yang ringan dan menyerang selagi musuh belum siap, inilah yang kita harus utamakan. Kun-liong Ong kenal baik keadaan disini, kita menyingkir dari sini, sudah tentu tidak salah lagi.”

“Bukan cuma karena ia kenal baik keadaan tempat ini, yang terpenting ialah dewasa ini dalam istana Kun-liong Ong dipusatkan pasukan berkudanya yang berjumlah tigaratus orang lebih, apabila pasukan berkuda itu digunakan untuk melakukan pertempuran dengan kita di tanah datar yang luas ini, sulit bagi kita untuk memberi perlawanan dengan baik.”

“Apakah kita harus mundur kedaerah pegunungan, baru melakukan pertempuran, dan melakukan serangan yang menentukan?”

“Soal ini kita perlu rundingkan lebih dulu dengan pangcu. Kita akan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga kita yang ada, membentuk barisan untuk mengadakan pertempuran besar2an dengannya, tetapi juga perlu memilih beberapa anggauta kita yang berkepandaian tinggi dan keberanian luar biasa, ditinggalkan disini untuk menghadapi Kun-liong Ong. Dengan demikian bisa mengacaukan pandangan musuh, supaya Kun-liong Ong tidak dapat menangkap kekuatan kita, juga bisa digunakan untuk melindungi pengunduran kita, jangan sampai dikejar olehnya."

“Semua anggauta kita, sudah mengagumi kau, kecuali Teng sianseng, kaulah merupakan satu2nya orang yang mendapat keperyayaan mereka. Kau boleh keluarkan perintah saja, tiada seorangpun yang berani membantah."

“Nah mari kita jalan! Kita pergi melihat dulu ke markas kita

... " berkata Nie Suat Kiao yang kemudian berkata kepada Siang-koan Kie : “Dua kacung, dengan kau dan dua orang yang kau bawa keluar dari istana Kun-liong Ong ”

“Mereka adalah Thian-bok Taysu dan Kim Goan To." menjawab Siang-koan Kie.

“Thian-bok laysu ... " sambungnya Auw-yang Thong, kemudian memandang Thian-bok Tayu seraya bertanya : “Taysukah?”

“Benar, itu adalah lolap sendiri." menjawab Thian-bok Taysu sambil memberi hormat.

“Sering mendengar dari mulut Tiat-bok Taysu dan Kie-bok Taysu dalam pembicaraan mereka sudah lama kami mengagumi, sungguh beruntung hari ini bisa bertemu.”

“Lolap telah ditawan oleh Kun-liong Ong selama beberapa puluh tahun, kini telah bisa melihat sinar matahari lagi, semua itu adalah berkat pertolongan orang siecu." berkata Thian-bok Taysu.

“Nama taysu sangat kesohor dalam rimba persilatan, kali ini berhasil terlepas dari bahaya, pasti dapat menahan pengaruh Kun-liong Ong. Harap taysu pindah ke markas kita, untuk merundingkan siasat melawan musuh ”

Thian-bok taysu memandang Siang-koan Kie dan berkata sambil tertawa : “Tidak usah, lolap ingin mengikuti sicu ini, untuk melakukan kewajiban ”

Auw-yang Thong masih hendak berkata, telah didahului oleh Nie Suat Kiao : “Kalau Thiat bok taysu ingin demikian, pangcu juga tidak perlu meminta lagi    " kemudian ia berkata

kepada Siang-koan Kie : "Siang-koan Kie, dua kacung dan lima anggota pasukan berani mati, untuk sementara kuserahkan di bawah pimpinanmu, kau berdiam disini untuk menyerang pasukan Kun-liong Ong dan mengacaukan pandangannya, supaya rombongan kita bisa undurkan diri ke tempat yang strategis, untuk melakukan pertempuran yang menentukan dengannya.”

Dua kacung dan lima anggota pasukan berani mati menerima baik tugas itu.

Nie Suat Kiao lalu memberi hormat dan berkata kepada Thian-bok Taysu dan Kim Goan To, “Harap dua locianpwee memberi bantuan seperlunya.”

Dua orang tua itu menerima baik permintaan itu.

Mata Nie Suat Kiao yang bening kembali menatap wajah Siang-koan Kie katanya : “Melakukan serangan terhadap musuh yang kuat yang penting ialah gerakan kita harus gesit dan tidak menentu tindakannya, supaya musuh susah menduga berapa besar kekuatan kita. Tidak boleh lalu menuruti hawa napsu, melakukan pertempuran mati2an dengan musuh. Tugasmu ini berat sekali, maka jangan sekali2 umbar amarahmu, jangan sampai dikobarkan keinginanmu untuk menjatuhkan musuh.”

“Aku akan ingat baik2 pesanan ini, apabila ada kesalahan bersedia menerima hukuman.”

Nie Suat Kiao menyerahkan senjata pusaka kepadanya seraya berkata : “Tugasmu berat sekali, tidak perlu kau terikat oleh peraturan atau tata tertip dunia Kang-ouw. Kau boleh bertindak menurut keadaan dan kekuatan musuh, sekarang kalian pergilah melakukan tugas kalian!”

Siang-koan Kie ragu2, tetapi kemudian menerimanya senjata pusaka yang diberikan kepadanya lalu berkata : “Kalau aku mendapat kabar penting, bagaimana harus memberi laporan?”

“Tugasmu adalah mengacaukan pandangan musuh, tidak perlu menempuh bahaya menyelidiki keadaan musuh ... " ia berhenti sejenak, “urusan selanjutnya, aku akan kirim orang untuk mencari kau, menyampaikan perintahku.” “Baiklah." Menjawab Siang-koan Kie dan lantas berlalu. “Tunggu dulu." berkata Nie Suat Kiao.

“Masih ada keperluan apa?" tanya Siang-koan Kie sambil berpaling.

“Sekarang kau hendak kemana?”

“Aku hendak pergi dulu ke kamar tawanan Kun-liong Ong, untuk membebaskan semua tawanan.”

“Pikiran dan tindakanmu ini telah menambah kepercayaanku, pergilah!”

Siang-koan Kie berlalu, diikuti oleh dua kacung, lima anggauta pasukan berani mati, Thian-bok tay-su dan Kim Goan To, menghilang di tanah datar yang luas.

Setelah Siang-koan Kie berlalu dari depan matanya, Nie Suat Kiao termenung memikiri nasibnya. “Kalau bukan Wan Hauw yang menyelip, setelah tugas membasmi Kun-liong Ong selesai, ia pasti akan ikut Siang-koan Kie dan hidup sebagai suami isteri. Apa mau Tuhan telah menentukan lain, hingga impiannya telah buyar bagaikan asap tertiup angin ... ”

Ketika ia berpaling mengawasi Wan Hauw, pemuda itu masih duduk bersemedi, di atas kepalanya mengepul hawa putih.

Atas kurnia Tuhan, pemuda itu memiliki keadaan fisik luar biasa, sehingga dalam waktu sangat singkat, sudah berhasil memulihkan tenaganya.

Auw-yang Thong tahu diantara Nie Suat Kiao, Siang-koan Kie dan Wan Hauw ada terjalin hubungan asmara yang sangat ruwet, maka ketika menyaksikan penasehatnya itu melamun, segera mengerti apa yang sedang dipikirkan.

“Nona Nie." demikian ia menegur dengan suara pelahan. Nie Suat Kiao seperti tergugah dari mimpinya, ia terkejut, buru2 menghapus air matanya yang mengalir keluar tanpa dirasa, kemudian menanya : “Pangcu ada perintah apa?”

“Kita harus mengadakan persiapan.” “Benar, sekarang kita harus berangkat.”

Wan Hauw tiba2 lompat bangun, membuka matanya mengawasi keadaan sekitarnya, kemudian berkata : “Kemana toako pergi?”

“Ia pergi lagi ke istana Kun-liong Ong ... " sahutnya Nie Soat Kiao.

“Aku harus pergi membantu toako." berkata Wan Hauw, yang dengan segera lari kabur hendak menyusul Siang-koan Kie.

Tetapi tidak lama kemudian, Wan Hauw sudah balik lagi. “Kenapa kau balik kembali?" demikian Nie Soat Kiao

menegur.

“Toako dan aku pergi semua, siapa yang melindungi kau?" jawabnya Wan Hauw sambil menatap wajah Nie Soat Kiao.

“Mari kita berangkat.” berkata Nie Soat Kiao sambil tertawa hambar, kemudian berlalu.

Auw-yang Thong bersiul panjang, dari tempat sekitarnya muncul beberapa orang berpakaian warna hijau, orang2 itu masing2 menuntun seekor kuda tinggi.

“Nona Nie, silahkan naik kuda!" berkata Auw yang Thong, “kita hendak menghadapi musuh tangguh. kau tidak boleh mengeluarkan banyak tenaga, mungkin sebelum kau mendapat waktu untuk beristirahat, Kun-liong Ong sudah datang menyerang.”

“Baiklah," berkata Nie Soat Kiao, lalu lompat keatas kuda. Auw-yang Thong juga naik keatas kudanya, tetapi Wan Hauw masih tetap berdiri di tempatnya.

“Saudara Wan, kau juga naik kuda." demikian Auw yang Thong berkata.

“Aku tidak bisa naik kuda." menjawab Wan Hauw.

Sementara itu Nie Soat Kiao sudah bedal kudanya, hingga kuda itu lari bagaikan terbang.

Wan Hauw membuka langkah, mengikuti kuda Kie Soat Kiao diantara jarak dua tiga kaki.

Auw-yang Thong menyusul, kuda mereka lari pesat sekali, dalam waktu singkat sudah mencapai perjalanan beberapa puluh pal.

Selama itu, Wan Hauw terus mengikuti kuda Nie Suat Kiao berjarak tetap tiga kaki, sikapnya biasa, sedikitpun tidak mengunjukkan tanda lelah. Auw yang Thong yang menyaksikan itu, diam2 mengagumi kekuatan napas pemuda itu.

Rombongan Auw-yang Thong tiba di depan sebuah tempat yang penuh tanaman bambu, di tengah2 pohon bambu yang lebat, samar2 tampak beberapa bangunan gubuk.

Auw-yang Thong menghentikan kudanya dan berkata : “Kita sudah sampai!”

Wan Hauw mendadak melesat menarik kuda yang ditunggangi Nie Soat Kiao, sehingga kuda itu tidak bisa lari lagi.

Nie Suat Kiao lompat turun dari atas kudanya, dari dalam gerombolan pohon bambu itu telah muncul anak buah golongan pengemis, yang menyambuti kuda mereka.

Auw-yang Thong bcrjalan dimuka, masuk ke dalam rimba bambu. Berjalan kira2 tujuh delapan tombak, di hadapan mereka tampak beberapa gubuk, yang sekitarnya terdapat banyak orang dengan senjata dipunggung masing masing.

Dengan mengajak Nie Suat Kiao dan Wan Hauw Auw-yang Thong berjalan menuju kesebuah gubuk yang berada di sebelah timur.

Dalam ruangan gubuk banyak orang, agaknya sedang merundingkan urusan penting.

Ketika Auw yang Thong berjalan masuk, orang-orang itu pada berdiri menyambut.

Koan Sam Seng yang tangannya kutung sebelah, mengeluarkan suara elahan napas panjang, kemudian berkata

: “Kedatangan pangcu sangat kebetulan, kita sedang dalam kesulitan ... ”

“Ada urusan apa?" tanya Auw-yang Thong.

“Kira2 sepuluh pal sebelah selatan, ada seratus lebih orang2 rimba persilatan, yang menyerang kemari, mereka sudah berhasil melewati empat pos penjagaan. Hamba sudah mengirim tiga puluh orang2 kita yang termasuk kuat, pergi membantu di samping itu, hamba juga sudah minta para sesepuh golongan kita, supaya datang berkumpul disini, untuk mengadakan perundingan."

“Siapa yang datang menyerang?” “Sekarang masih belum tahu ... “

“Pasti adalah salah satu dari empat raja muda Kun-liong Oug, yang datang membantu junjungannya." berkata Nie Suat Kiao.

“Dugaanmu mungkin tidak keliru. Sekarang kita harus bagaimana menahan serbuan musuh itu?"

Nie Suat Kiao berpikir dulu, baru menjawab : “Hamba akan pergi melihat dulu keadaan musuh harap pangcu segera menyusul dengan beberapa anggota kita yang terkuat. Andaikata kita dapat mematahkan serangan musuh sebelum kita undurkan diri, lebih dulu melakukan pembasmian orang- orangnya, kalau keadaan musuh sangat kuat, kita lantas mundur.”

“Terserah kehendak nona, aku akan mengumpulkan semua anak buah golongan pengemis dengan segera.”

Nie Suat Kiao memberi hormat dan berkata : “Hambamu akan berangkat dulu." Setelah itu ia berlalu dengan diikuti oleh Wan Hauw.

Auw-yang Thong berpaling dan berkata kepada Koan Sam Seng : “Bagaimana lukamu?”

“Hamba memakai obat buatan Teng sianseng yang pangcu berikan kepada hamba, lukanya sudah sembuh seluruhnya.”

“Kau membawa sisa pasukan hulu balang kita dan delapan anak buah kita yang paling kuat serta minta bantuan Tiat-bok taysu, segera berangkat, diam2 melindungi rona Nie. Jikalau perlu, kau harus berusaha melindungi nona Nie, walau harus korbankan beberapa orang kita, biar bagaimana jangan sampai nona Nie terluka.”

“Hamba menurut.”

“Dalam waktu satu jam, aku sudah dapat mengumpulkan anak buah kita yang terkuat, untuk pergi membantu.”

Koan Sam Seng membongkokkan badan memberi hormat, kemudian undurkan diri. Ia melakukan menurut tugas yang diberikan oleh pangcunya.

-odwo-

Mari kita sjak pembaca balik dulu kepada Siang-koan Kie yang pergi ke istana Kun liong bersama Thian-bok taysu, Kim Goan To, dua kacung dan lima anggauta pasukan berani mati. Dalam perjalanannya yang pertama, Siarg-koan Kie menaruh perhatian istimewa terhadap rumah tawanan yang berada didelam rimba bambu, maka ingatanna masih jelas. Ia ingin selagi Kun-liong Ong repot nemerika orang2nya yang mati dan sebelum membentuk bembali pasukan pengawalnya, ia hentak memasuki kamar tawanan itu.

Ia bukan cuma hendak membebaskan para tawanan itu saja, bahkan ada mengandung maksud yang lebih besar lagi. Dalam perjalanan yang pertama disana, ia pernah melihat gurunya yang pertama. Pikirnya, gurunya berada dalam kamar tawanan itu, pasti ada maksudnya. Mungkin, ia bisa mendapat bantuan gurunya yang sudah mengatur lebih dulu, selagi Kun- liong Ong masih belum memperbaiki kedudukannya, dengan serentak dapat ditangkap atau dibasmi.

Ini merupakan suatu pahala sangat besar bagi umat manusia, juga merupakan cita2 satu2nya baginya.

Setelah tugasnya selesai, ia akan mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw mengasingkan diri, menuntut penghidupan menyepi.

Ia sudah merasa bahwa ia sudah jatuh cinta kepada Nie Suat Kiao. Parasnya yang cantik, gaya yang menarik, senyumannya yang memikat hati dan sikapnya yang gagah selagi memberikan komando, sudah menggores sangat dalam dilubuk hatinya.

Kejadian di atas sampan pada malam itu, bagaikan gumpalan api yang membakar hatinya. Ia belum pernah menanyakan Nie Suat Kiao, sedangkan Nie Suat Kiao juga tidak memberi penjelasan kepadanya, ini merupakan suatu tanda, bahwa gadis itu sudah mengambil keputusan hendak menikah dengan Wan Hauw.

Siang-koan Kie anggap bahwa persoalan itu sudah gamblang, dengan sendirinya ia tidak mau menjadi perintang bagi mereka ... Karena pikirannya melamun, jalannya agak lambat.

Tiba2 terdengir suara terompet yang amat panjang dan nyaring, sehingga membuyarkan lamunan Siang-koan Kie.

Kim Goan To celingukkan, agaknya sedang mencari sesuatu, kemudian berkata : “Orang itu sembunyi di atas pohon, apa perlu kita bereskan?”

“Ya, kau bereskanlah, sebaiknya kau bunuh mati saja, supaya tidak bisa memberi tanda bahaya lagi, berkata Siang- koan Kie.

“Menurut pikiranku, sebaiknya kita menggunakan terompet itu, untuk melaporkan adanya bahaya dan untuk mengacaukan pikiran Kun-liong Ong." berkata Kim Goan To.

“Kim locianpwce atur sendiri sebagaimana baiknya." berkata Siang-koan Kie.

Kim Goan To menerima baik, ia berjalan memutar ke arah pohon besar itu.

Siang-koan Kie mencari-cari, tidak menemukan rimba bambu tempat tawanan, ia berkata kepada dua kacung dengan suara pelahan : “Saudara berdua apakah masih ingat rimba bambu yang dahulu kita masuki itu?”

Dua kacung itu berpikir dulu, baru menjawab : “Apa saudara hendak mencari rumah tawanan yang terbuat dari papan itu?”

“Benar.”

Dua kacung itu saling berpandangan sebentar baru menjawab sambil menggelengkan kepala : “Kita sendiri juga sudah tidak ingat lagi ...

Siang-koan Kie sebetulnya mempunyai kesan sangat dalam dengan rumah papan dalam rimba itu tetapi tadi karena pikirannya melamunkan dirinya Nie Suat Kiao, sehingga kesasar jalan, hingga tidak menemukan tempat yang dicari. Ingat kealpaannya, ia menghela napas sendiri

Dua kacung itu lalu berkata : “Saudara jangan cemas, kita berdua akan berusaha menangkap salah satu orangnya Kun- liong Ong, lalu minta keterangan padanya dengan secara paksa, apakah kita takut tidak dapat mengorek keterangan dari mulutnya?”

-odwo-

Bab 110

SELAGI Siang-koan Kie hendak menjawab, Thian-bok taysu tiba2 berkata : “Kita lekas sembunyikan diri!”

Mendengar seruan Thian-bok taysu, semua orang segera sembunyikan diri ke dalam semak2.

Siang-koan Kie pasang mata, dari jauh tampak beberapa ekor kuda lari ke arahnya, ia diam2 mengagumi ketajaman mata paderi tua itu.

Dua kacung merayap keluar dan berkata kepada Siang- koan Kie : “Bagaimana kalau kita berdua pergi menangkap salah satu diantara penunggang kuda itu?”

“Boleh sih boleh, tetapi harus hati2." menjawab Siang- koan Kie.

Dua kacung itu keluar dari tempat sembunyinya, mereka geser kakinya ke tempat yang agak jauh, supaya kalau serangannya tidak kena, akan diketahui tempat sembunyinya oleh musuh.

Tidak lama kemudian, empat atau lima penunggang kuda yang semuanya mengenakan pakaian warna hitam, sudah tiba di tempat sembunyi dua kacung itu.

Thio Hong memperhatikan keadaan penunggang kuda itu, lalu berkata kepada Lie Sin dengan suara pelahan : “Kita serang mereka dengan senjata dan tangan kosong dengan berbareng, tangan kiri untuk menotok jalan darah salah satu diantara lima orang itu, sedang pedang di tangan kanan kita gunakan untuk menikam orang lain. Mungkin, sekaligus kita bisa membereskan lima orang, ini.”

Lie Sin menerima baik usul itu, dua2nya melesat tinggi, kemudian menyerang turun.

Pedang mereka ditujukan kesasarannya yang agak jauh, tangan kiri menotok jalan darah orang yang paling dekat.

Orang2 berbaju hitam itu adalah sebagian dari pengawal Kun-liong Ong, diantara mereka, ada juga yang berkepandaian tinggi sekali, tetapi karena sudah diberi makan obat melupakan dirinya sendiri oleh Kun-liong Ong, maka keadaannya sudah seperti linglung, dengan demikian gerakannya juga kurang gesit, reaksinya sangat lambat.

Serangan mendadak dua kacung itu berhasil baik, dua musuhnya yang diserang dengan pedang mati seketika, dua orang lagi tertotok jalan darah mereka, hanya seorang saja yang ingin melarikan diri.

Tetapi Thio Hong tidak memberikan kesempatan padanya untuk melarikan diri, dengan cepat sudah menyerang dengan pedangnya.

Orang itu juga menghunus pedangnya, hingga terjadilah suatu pertempuran dahsyat dengan Thio Hong.

Mendapat perlawanan gigih, Thio Hong agak cemas, karena itu berarti menunjukkan tempat sembunyinya sendiri. Thio Houg melakukan serangan lebih hebat, tetapi orang itu tetap melawan dengan gigih.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu, lalu minta Thian-bok taysu dan lain2nya supaya tetap berdiam di tempat sembunyinya, ia hendak memberi bantuan pada Thio Hong. Ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil berseru : “Saudara Thio, minggirlah dulu, siaute hendak mengambil jiwanya.”

Thio Hong lalu mundur setelah mendepak lawannya. Siang- koan Kie menyerbu dengan senjata pusakanya.

Orang itu menggunakan senjatanya untuk menangkis serangan Siang-koan Kie.

Senjata Siang-koan Kie adalah senjata pusaka yang luar biasa tajamnya, tidak ampun lagi orang itu lantas terpapas kutung bersama senjatanya.

Sementara itu terdengar pula suara terompet tadi, ternyata masih tetap dari atas pohon.

Siang-koan Kie lalu minta dua kacung membawa dua orang yang masih hidup, ke tempat sembunyinya Thian-bok taysu dan lain2nya, sedang ia sendiri hendak pergi menengok Kim Goan To.

Tanpa menantikan jawaban dua kacung, Siang-koan Kie sudah bergerak menuju keatas pohon.

Terpisah sejarak kira2 dua tiga tombak, tampak Kim Goan To datang menghampiri.

“Apa yang telah terjadi?" tanya Siang-koan Kie pelahan. “Serombongan pengawal baju hitam yang jumlahnya kira2

beberapa puluh orang, datang dengan menunggang kuda.”

“Bagaimana dengan musuh yang berada di atas pohon?” “Aku sudah totok jalan darahnya, aku sebetulnya hendak

menanyakan dari mana suara terompet itu, tak disangka ia tidak mau memberi keterangan, bahkan sikapnya keras sekali, terpaksa kutotok jalan darah kematiannya.”

“Dan suara terompet tadi siapa yang meniup?” “Aku. Meskipun aku tidak tahu kode mereka, tetapi aku pikir hendak menghalau pikiran mereka, maka kutiup sekenanya, mungkin dapat mengacaukan pikiran mereka.”

“Dan, bagaimana reaksi musuh?" tanya Siang-koan Kie sambil bersenyum.

“Sungguh tak disangka pengawal baju hitam itu setelah mendengar suara terompetku, nampaknya seperti bingung. Mereka berhenti dan berkumpul disatu tempat, agaknya sedang mengadakan perundingan.”

“Mungkin mereka tidak mengenali tanda bunyi terompet, sehingga perlu mengadakan perundingan, selagi mereka dalam kebingungan, mari kita serbu.”

“Aku tadi ketika berada di atas pohon besar itu telah melihat sebuah rimba bambu.”

“Di mana?”

“Di sebelah timur, tetapi harus melalui pengawal baju hitam itu.”

Siang-koan Kie berpikir, kemudian berkata : “Locianpwee taksir berapa jumlahnya rombongan pengawal itu.”

“Sekurang2nya empatpuluhan.”

“Kun-lioug Ong memang seorang pemimpin besar, sehabis mengalami kekalahan hebat, tokh masih bisa perhatikan perubahan keadaan, sedikitpun tidak mengunjukan ketegangan ... ”

Sementara itu, Thian-bok taysu dan lain2nya sesudah berkumpul dengan Siang-koan Kie dengan berlindung di semak2 yang banyak terdapat di situ.

“Kalau menurut pikiran lolap, tidak halangan kita melakukan pertempuran secara terang2an dengan rombongan pengawal baju hitam itu. Setelah kita berhasil melukai beberapa diantaranya. Kemudian dengan gerakan secepat mungkin berlalu dari tempat ini, ini rasanya sangat bermanfaat dalam usaha kita untuk mengacau pikiran Kun-liong Ong." berkata Thian-bok taysu.

Siang-koan Kie yang pikirannya selalu mengingat tawanan2 dalam rumah papan itu, lantas menjawab : “Menurut apa yang boanpwee tahu, didalam rimba bambu itu Kun-liong Ong menawan banyak orang, orang2 itu semua merupakan orang2 yang ditakuti olehnya, kalau kita bisa membebaskan para tawanan itu, Kun-liong Ong pasti kelabakan.”

“Sudah tentu kita akan melakukan apa yang siauhiap anggap baik.”

“Menurut pikiran boanpwee, minta taysu membawa lima anggota pasukan berani mati dan dua kacung, melakukan penyergapan kilat terhadap rombongan pengawal baju hitam itu, dan boanpwee sendiri dengan Kim locianpwee, selama pertempuran itu berlangsung, akan memutar dan lari ke rimba bambu.”

“Siauhiap hanya membawa Kim-heng seorang diri, rasanya kekurangan tenaga, seandainya dirimba itu menjumpai serangan hebat, bukankah akan menghambat usaha kita? Menurut pikiran lolap, sebaiknya siauhiap membawa lebih banyak pembantu ... ”

“Tujuan utama boanpwee dengan Kim locianpwee ke rimba bambu itu, adalah untuk membebaskan para tawanan dalam rumah papan itu, orangnya makin sedikit makin baik. Sebaliknya dengan taysu, yang harus menghadapi musuh tangguh, sudah tentu dengan kekuatan tenaga lebih kuat ada lebih baik.”

“Kalau tugas sudah selesai kita harus berkumpul di mana?" tanya Thio Hong.

“Dalam pertempuran dengan orang berjumlah banyak, untuk mempertahankan kedudukan saja kadang sampai berhari2, maka menurut pikiranku sebaiknya jangan menetapkan suatu tempat untuk kita berkumpul. Ini juga berarti menghindari serangan musuh." berkata Kim Goan To.

Thio Hong berpikir, kemudian membuat goresan beberapa tanda di atas tanah, katanya dengan suara pelahan : “Apakah tuan2 sudah jelas? ... Ini adalah tanda rahasia perkumpulan kita golongan pengemis, harap tuan2 ingat baik2.”

“Aku ingat, sekarang aku hendak berjalan lebih dulu." berkata Siang-koan Kie dan berlalu lebih dulu dengan Kim Goan To.

“Kita harus mendekati mereka, saudara berlima tunggu dulu disini membentuk barisan, lolap dengan saudara Thio dan Lie berdua hendak menyerbu dan memancing mereka kemari, kemudian saudara2 boleh menghantamnya. Pertempuran ini sekalipun tidak bisa membasmi mereka, setidak2nya juga harus memberi pukulan berat bagi mereka.”

Lima anggauta pasukan berani mati menerima baik tugas itu, serta merta membentuk barisan.

Thian-bok taysu setelah menyaksikan barisan itu selesai dibentuk, lalu bersama dua kacung pergi menyerbu musuh.

Kedua pihak berhadapan semakin dekat, satu sama lain sudah saling melihat.

Thian-bok taysu memeriksa keadaan sekitarnya sebentar, lalu berhenti dan berkata : “Tempat ini terdapat banyak rumput panjang, keadaan ini menguntungkan pihak kita, tidak perlu maju lagi.”

Dua kacung menurut, mereka berdiri di kedua samping Thian-bok taysu.

Di luar dugaan mereka, rombongan pengawal baju hitam itu juga berhenti, tidak maju lagi. “Keadaan nampaknya tidak beres, pengawal baju hitam Kun-liong Ong, selamanya jika melihat orang lantas menyerbu, tetapi mengapa kali ini tidak?" berkata Thio Hong.

“Benar, pengawal baju hitam itu semuanya sudah diberi makan obat melupakan diri oleh Kun-liong Ong, hingga semuanya seperti orang bodoh. Orang2 itu dilihat dari luarnya saja sudah dapat dibedakan perbedaannya dengan orang biasa ... .” berkata Thian-bok taysu. “Kalau orang2 ini belum diberi makan obat melupakan diri, mungkin agak sukar kita hadapi.”

Sebab rombongan pengawal baju hitam itu jumlahnya tidak kurang dari limapuluh orang, Thian-bok taysu khawatir hanya dengan kekuatan pihaknya sendiri yang hanya terdiri dari delapan orang saja, sulit untuk merebut kemenangan. Pertempuran ini akan merupakan satu pertempuran yang sangat mengerikan.

Dua kacung itu saling berpandangan sejenak, lalu berkata : “Taysu, tolong taysu menjaga disini, kita ingin mencoba kekuatan mereka.”

“Jangan gegabah, taruh kata kita bisa membunuh sepuluh jiwa, sedangkan dipihak kita kehilangan satu jiwa, juga masih belum cukup. Jikalau tidak yakin benar, sebaiknya jangan menempuh bahaya.”

Sementara itu rombongan pasukan pengawal itu sudah turun dari kuda masing2, dan membentuk barisan.

Thian-bok taysu semakin heran, pikirnya, ‘mereka berjumlah banyak, seharusnya berani melakukan penyergapan terhadap musuhnya, setidak-tidaknya juga harus mengurung kita. Mengapa mereka tidak bertindak demikian, sebaliknya membentuk barisan? Apakah setelah mengalami kekalahannya kali ini, Kun-liong Ong memerintahkan orang2nya harus berlaku hati2?’ Belum hilang pikirannya, tiga orang berpakaian hitam, telah menyerbu dengan menunggang kuda.

Semangat dua kacung terbangun seketika, mereka berkata

: “Kita tangkap tiga orang ini lebih dulu.”

Tiga penunggang kuda itu berada kira2 satu tombak di dekat Thian-bok taysu, mendadak berhenti, mereka memandang Thian-bok taysu dan dua kacung, kemudian bertanya : “Tuan2 bertiga dari golongan mana?”

Thian-bok taysu lama memandang tiga orang itu, kemudian balas menanya : “Apakah tuan2 dari pasukan baju hitam Kun- liong Ong?”

Tiga orang itu usianya sudah lebih dari empat puluh tahun, satu diantaranya menjawab dengan dingin : “Kita menanya lebih dulu, tuan2 belum memberi jawaban, bagaimana balas menanya?”

“Dua kacung kanan dan kiri dari golongan pengemis, dan tuan ini ... " berkata Thio Hong gusar. Ia mengawasi Thian- bok taysu, tidak tahu bagaimana harus meneruskan.

Tiga orang itu mengunjukan sikap girang, tanyanya seremak : “Apakah Auw-yang pangcu ada?"

Thio Hong melengak, katanya : “Ada urusan apa tuan2 mencari Auw-yang pangcu?”

Seorang yang berada di tengah2, yang agaknya menjadi pemimpin mereka, pelahan2 mengeluarkan sepucuk surat dari dalam sakunya, kemudian berkata : “Aku mendapat petunjuk dari seseorang, untuk disampaikan kepada Auw yang pangcu.”

“Bagaimana kalau aku lihat dulu, surat itu dari siapa?" berkata Thio Hong.

Orang itu menarik kembali tangannya dan berkata : “Surat ini harus diserahkan langsung kepada Auw-yang pangcu.” Thio Hong merasa serba salah, pikirnya : ‘kita masih belum tahu jelas keadaan orang ini, pangcu sudah berlalu atau belum, aku sendiri juga tidak tahu ... ‘

Orang itu berkata pula : “Kita datang atas petunjuk seorang pandai, harap saudara jangan banyak curiga.”

Thio Hong berunding dulu dengan Lie Sin dengan suara pelahan, kemudian baru menjawab : “Siautee Thio Hong, pangcu kita adalah seorang budiman, siapa saja yang mengunjunginya, semua disambut dengan hormat. Hanya, karena sekarang ini kita sedang berhadapan dengan Kun-liong Ong, urusan pangcu terlalu banyak, kita sendiri juga tidak tahu di mana jejaknya sekarang ... ”

“Orang pandai yang dahulu menulis surat ini, telah berulang2 memesan kita, surat ini harus disampaikan langgsung kepada Auw-yang pangcu. Harap saudara memaafkan kita, nanti setelah kita berhasil menjumpai Auw- yang pangcu sendiri, akan kita sampaikan sendiri." berkata orang itu sambil mengerutkah alisnya. Kemudian putar kudanya balik ke rombongannya sendiri.

Setelah berkumpul kerombongannya, pasukan berkuda itu lantas berlalu.

Thio Hong mengawasi berlalunya pasukan berkuda itu dengan hati bingung, katanya : “Urusan ini sesungguhnya sangat mengherankan, kita benar2 tidak dapat memikirkan.”

“Taysu sudah banyak pengalaman, bagaimana pikiran taysu?" Tanya Lie Sin.

“Menurut pikiran lolap, orang2 itu nampaknia bukan berpura2. Kun-liong Ong sangat licik dan banyak curiga, tidak mungkin ia menaruh orang2nya yang belum diberi makan obat melupakan diri ke dalam pasukan pengawalnya." berkata Thian-bok taysu. “Tetapi urusan ini terjadinya secara tidak terduga2, sesungguhnya sangat membingungkan. Aih! Apabila nona Nie ada disini, tidak sulit untuk mengetahui keadaan sebenarnya." berkata Thio Hong.

“Nona Nie seorang pintar luar biasa, sudah tentu tidak bisa dibandingkan dengan kita." berkata Thian-bok taysu.

Sekarang mari kita tengok kepada Siang-koan Kie yang pergi bersama Kim Goan To, setelah berhasil memutar dari belakang rombongan pasukan baju hitam, terus lari menuju ketimur.

Berjalan kira2 tiga pal, pemandangan di depan matanya mendadak berubah, di situ hanya sebidang tanah datar yang sudah tidak ada rumputnya untuk berlindung.

“Barangkali sulit bagi kita untuk sembunyikati diri." berkata Kim Goan To tiba2 dengan suara perlahan.

“Sudah sampai disini, terpaksa harus coba, kalau kita berjalan tergesa2, pasti akan menimbulkan perasaan curiga mata2nya Kun-liong Ong, ada lebih baik kita berjalan secara terang2an, mungkin dapat mengelabuhi mata mereka." berkata Siang-koan Kie.

“Aku pikir juga begitu.”

Siang-koan Kie memeriksa keadaan sekitarnya sebentar, mendadak bangkit dan berjalan dengan tindakan lebar, katanya : “Kim locianpwee harap berada sejarak kira2 satu tombak dengan boanpwee, supaya kalau ada orang menyerang tidak sampai kerepotan.”

“Siauhiap memegang kunci keselamatan orang banyak, bagaimana boleh menempuh bahaya? Biarlah aku si orang tua yang membuka jalan ... ”

“Kim locianpwee berada di belakang boanpwee juga sama saja.” Kim Goan To tidak berani membantah lagi, diam2 mempersiapkan kekuatan tenaganya, dengan Siang-koan Kie berjalan terpisah kira2 satu tombak.

Di luar dugaan, berjalan sepanjang tanah datar luas ini, ternyata tidak ada orang yang mencegat atau merintangi, kadang2 tampak bangkai manusia menggeletak di tanah, agaknya sebelum mereka tiba sudah ada orang berjalan lebih dulu, yang membersihkan pos2 penjagaan Kun-liong Ong.

Siang-koan Kie mempercepat langkahnya, sekaligus berjalan kira2 lima pal, benar saja, di depan matanya, tampak sebuah rimba bambu.

Ia periksa dulu dengan teliti, rimba bambu itu ternyata tempat di mana dahulu ia pernah berjumpa dengan gurunya.

Dengan hati berdebar keras, ia berjalan masuk ke dalam rimba dengan tindakan lebar.

Rumah2 papan yang berada di dalam rimba bambu itu, masih tetap keadaannya seperti sedia kala.

Siang-koan Kie menghela napas, hatinya merasa lega, katanya dengan suara perlahan : “Kim locianpwee, rumah2 petak papan ini, adalah tempat Kun-liong Ong untuk menyekap tawanannya, biasanya terjaga keras, tetapi hari ini jauh berlainan, harap locianpwee waspada.”

Setelah itu, ia menghampiri sebuah rumah dan menarik pintunya.

“Siauhiap, jangan berlaku gegabah," demikian Kim Goan To memberi peringatan.

“Mengapa?" tanya Siang-koan Kie sambil menarik kembali tangannya.

“Kun-liong Ong pandai menggunakan senjata gelap beracun, rumah2 kecil ini, kalau benar seperti apa yang siauhiap katakan, mungkin ada orang yang mengintai secara sembunyi. Coba siauhiap gunakan senjata pusaka siauhiap, jangan menyentuh pintu dengan tangan.”

Siang-koan Kie berpikir, akhirnya membenarkan pendapat Kim Goan To. Ia menggunakan senjata pusakanya untuk membuka pintu, sedang orangnya lompat kesamping.

Pintu itu tergoncang hebat, pelahan2 tenang lagi.

Siang-koan Kie melongok ke dalam, dalam rumah tampak seorang terlentang di tanah, matanya dipejamkan, agaknya sedang tidur nyenyak, sedikitpun tidak bergerak.

Kim Goan To lompat maju dan berkata : “Siauhiap, apa yang telah terjadi?”

“Di dalam ada rebah seseorang.”

Kim Goan To menundukkan kepala memeriksa keadaan orang itu, lalu berkata, “Pakaian orang ini, warnanya masih jelas, rupa2nya belum lama berada dalam rumah ini.”

Siang-koan Kie menyontek dengan senjata pusakanya, hingga rumah itu hancur.

Kini ia dapat menyaksikan lebih nyata, orang yang rebah menggeletak di tanah itu ternyata seorang laki-laki pertengahan umur, usianya tidak lebih dari empatpuluh tahun, di atas bibirnya terdapat kumis pendek, hidungnya masih bisa bernapas.

Dengan ujung goloknya Kim Goan To menyentuh dada orang itu, katanya dengan nada suara dingin : “Tuan sudah mati ataukah masih hidup? Kalau sudah mati, kutusuk dadamu dengan golok ini juga tidak menjadi soal. Kalau masih hidup lekaslah buka matamu, tidak perlu kau berlagak demikian rupa. Hm, permainan sandiwara Kun-liong Ong, sudah terlalu banyak aku saksikan.”

Orang yang rebah menggeletak itu masih tetap menutup matanya rapat, sedikitpun tidak bergerak. “Aku akan bantu dia dengan pertolongan tenagaku." berkata Siang-koan Kie, lalu mengulurkan tangannya hendak mengangkat kepala orang itu.

“Tidak boleh digerakan." berkata Kim Goan To. “Kenapa?”

“Kun-liong Ong banyak akalnya, orang ini mati benar atau bohongan, masih susah diduga. Kalau kita tidak hiati2, pasti akan terperosok akal busuknya.”

“Menurut pikiran locianpwee?”

“Menurut pikiranku, lebih baik kesalahan membunuh seratus jiwa dari pada melepaskan satu orang.”

“Kalau kita juga berlaku demikian, apa bedanya dengan Kun-liong Ong?”

Kim Goan To melengak, katanya sambil memberi hormat : “Aku kesalahan omong, terima kasih atas nasehatmu.”

“Kim locianpwee, tolong bawa orang ini kebawah sinar matahari, kita akan membongkar semua gubuk ini.”

Kim Goan To tidak berani membantah lagi, ia bawa orang itu kebawah sinar matahari, setelah itu ia mengikuti di belakang Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie menggerakan senjata pusakanya, membongkar rumah yang kedua.

Dalam rumah itu terdapat seorang kurus kering, yang sedang meringkuk di tanah.

“Apa artinya ini?" tarya Kim Goan To kaget.

“Boanpwee pikir kemujijatan ini terletak digubuk ini." berkata Siang-koan Kie, kembali menggerakkan senjata pusakanya, dalam waktu singkat, ia sudah berhasil merubuhkan empatbelas gubuk. Kim Goan To memeriksa satu persatu penghuninya, semuanya telah berubah kurus kering, tetapi apa yang mengherankan, orang2 itu ternyata masih bisa bernapas.

Siang-koan Kie setelah merubuhkan demikian banyak rumah gubuk itu, pikirannya mulai merasa takut, ia bertekad hendak mencari gurunya, tetapi sekarang, ia tidak berani segera membongkar gubuk yang dalam ingatannya telah ditinggali oleh gurunya.

“Lekas rebah!" demikian suara bentakan terdengar dari mulut Kim Goan To.

Siang-koan Kie terkejut, ketika ia berpaling, segera menampak seorang kurus kering, lambat bangkit berdiri.

Sepasang matanya yang tadi tertutup rapat, kini tiba2 terbuka lebar, dari matanya itu memancarkan sinar aneh.

Kim Goan To mendadak maju selangkah dan mendorong orang itu.

Orang kurus kering itu mengelak, ternyata berhasil mengelakkan dorongan Kim Goan To.

Kim Goan To tercengang, katanya : “Siang-koan siauhiap, sekarang kita bagaimana harus berbuat?”

Belum lagi Siang-koan Kie menjawab, orang2 kurus kering yang meringkuk di tanah itu satu persatu nampak berusaha hendak bangkit berdiri.

Dengan demikian, Siang-koan Kie juga sudah merasa tidak sabar lagi. Sambil mengangkat senjatanya ia berkata : “Kalau keadaan memaksa, kita terpaksa bertindak terhadap mereka.”

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara tangisan sangat aneh, orang2 bekas penghuni rumah gubuk yang kurus kering itu, mendadak semuanya bangkit berdiri, setiap orang mengunjukkan sikap seperti ketagihan madat, kakinya berjingkrak-jingkrak, tangannya menari-nari, mulutnya bernyanyi-nyanyi, satu sama lain berebut lari menuju ke rumah yang belum dirubuhkan, mereka saling berebut membuka pintu untuk masuk ke dalam.

Kejadian yang luar biasa itu, mengherankan Siang-koan Kie dan Kim Goan To yang menyaksikan. Orang2 yang badannya sudah kurus kering sama tinggal kulit membungkus tulang, nampaknya sudah tidak bertenaga, tetapi selama berebut masuk ke dalam gubuk, gerakkannya sangat gesit jauh berbeda dengan keadaan luarnya.

Sehingga semua orang itu sudah masuk ke dalam gubuk, Kim Goan To baru membuka mulut, ia berkata sambil menghela napas : “Ini sebetulnya merupakan suatu kejadian yang tidak masuk diakal.”

“Kalau dugaan boanpwee tidak keliru, dalam rumah gubuk itu, pasti ada obatnya yang mengandung daya penarik seperti candu, karena obat itu bekerjanya lambat, orang2 yang berada di dalam rumah itu telah kemasukan racun obat tanpa terasa, tetapi lama kelamaan seperti orang yang mengisap madat, sehingga kalau tidak ngisap menjadi ketagihan.”

“Dugaanmu ini memang benar ... " berkata Kim Goan To, mendadak ia melihat orang yang pakaiannya masih baru itu ternyata masih menggeletak di tanah, maka ia buru2 menghampiri dan berkata : “Orang ini masih tetap rebah disitu, barangkali racunnya belum dalam."

“Coba locianpwee periksa jalan darahnya, apakah dia tertotok jalan darahnya atau tidak?”

Kim Goan To menurut, ia melakukan seperti apa yang diminta oleh Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie diam2 menghitung jumlahnya rumah gubuk dari papan itu, ternyata semua berjumlah tigapuluh buah lebih. Dalam hatinya berpikir : ‘Apabila dalam rumah ini ada yang tidur dengan limabelas rumah yang sudah dirubuhkan maka orang2 yang tertawan dalam rumah2 ini jumlahnya meliputi jumlah empatpuluh lima orang lebih. Orang2 ini kemasukan racun sudah terlalu dalam, keadaan badannya tentunya sudah banyak terjadi perubahan. Betapapun tinggi kepandaian ilmu silat mereka, barangkali juga tidak bisa digunakan untuk bertempur lagi. Tetapi kalau aku berhasil membebaskan orang2 ini, sedikit banyak dapat menggoncangkan pikiran Kun-liong Ong.’

Sementara itu Kim Goan To masih repot mencoba menyadarkan orang yang masih tidak ingat diri itu. Tetapi orang itu ternyata masih memejamkan matanya tanpa bergerak.

Siang-koan Kie menghampiri dan berkata dengan suara perlahan, “Orang ini mungkin pingsan karena obat beracun, atau ditotok jalan darahnya oleh orangnya Kun-liong Ong dengan menggunakan ilmunya tunggal. Bagi kita yang penting sekarang ini adalah tugas kita sendiri, jangan lantaran dia satu orang, sehingga melantarkan waktu kita.”

Kim Goan To meletakkan orang itu di tanah, lalu berkata sambil menghapus keringatnya : “Siang-koan siauhiap benar.”

“Tolong locianpwee kumpulkan reruntuh rumah2 gubuk itu dan bakarlah." berkata Siang-koan Kie sambil bersenyum.

Kim Goan To tidak cerita, ia kumpulkan reruntuh rumah2 itu dan dibakarnya.

“Kim locianpwee, harap hati2 jangan sampai apinya menjalar sehingga membakar bambu, boanpwee sekarang hendak membebaskan para tawanan itu." berkata Siang-koan Kie.

Kali ini perhitungan tindakannya dengan sebaik-baiknya, setiap kali membuka pintu dengan senjata pusakanya, tangan kirinya segera bertindak menotok jalan darah penghuninya, kemudian melemparkan rumahnya ke dalam api. Perbuatannya itu dilakukan gesit sekali, dalam waktu singkat, ia sudah berhasil merubuhkan dan membakar sebagian besar rumah2 gubuk itu, hanya tinggal empat buah yang belum dibakar.

Ia masih ingat dengan baik, gurunya mendiami baris kedua dari empat rumah yang belum dirubuhkan itu, sedang barisan ketiga didiami oleh Im chungcu yang mukanya samar2 masih diingat.

Menghadapi suatu rahasia besar yang hendak diungkapnya ini, hatinya mendadak merasa ragu2.

Mengenai diri Kun-liong Ong, betulkah orang yang pernah merampas istri saudara angkatnya dan kemudian mencelakakan diri saudara angkatnya itu? Rahasia ini dengan cepat sudah akan terbuka.

Perkara ini apabila tersiar dalam kalangan Kang-ouw, pasti akan menimbulkan reaksi hebat, rasa benci terhadap Kun- liong Ong pasti semakin hebat.

Lagi tentang Im chungcu In Kiu Liong, bagaimana kemudian telah menghilang secara misterius setelah pertempuran hebat dengan paderi dari Thibet?

Pertempuran itu merupakan suatu pertempuran paling hebat yang ia pernah saksikan. Itu adalah pertama kalinya menyaksikan pertempuran yang demikian dasyat dan pembunuh yang demikian kejam tanpa prikemanusiaan.

Bagaimana lima jago daerah Tionggoan dan gurunya yang pertama telah binasa karena racun, semua kejadian yang mengerikan itu telah terbayang kembali dalam otaknya.

Semua peristiwa yang sudah lalu itu, telah berkesan sangat dalam sekali dalam benaknya, tetapi karena selama itu kejadian yang aneh2 telah terjadi saling menyusul, sehingga tidak mendapat kesempatan untuk mengadakan penyelidikan. Kalau dipikir, peristiwa itu semua ada hubungannya dengan diri Kun-liong Ong, kalau tidak berhasil menangkap Kun-liong Ong, urusan itu juga akan tetap tinggal suatu teka teki bagi generasi yang akan datang.

Dalam sejarah rimba persilatan, ini merupakan suatu kejadian yang paling mengenaskan dan paling menegangkan dan paling hebat, kalau tidak lekas dibasmi, orang2 kuat dalam rimba persilatan akan dihabiskan oleh Kun-liong Ong semua, dan seluruh rimba persilatan juga akan mengalami kiamat.

-odwo-

Bab 111

Orang2 berbagai partay besar dirimba persilatan kalau bukan diberi makan obat melupakan diri oleh Kun-liong Ong, ialah dibasmi sampai keakar2nya.

Semua apa yang telah terjadi di masa lampau penuh tanda tanya, sedangkan yang akan datang masih merupakan satu teka-teki besar.

Teng Soan seorang pintar luar biasa, ia bertentangan dengan Kun-liong Ong selama sepuluh tahun lebih, sehingga saat ia menutup mata, masih dalam keadaan seri.

Kini cita2 Teng Soan diteruskan oleh Nie Suat Kiao, gadis luar biasa ini, meskipun mempunyai kepintaran dan kecerdasan otak melebihi kaum pria, tetapi kepintarannya masih belum dapat dibandingkan dengan Teng Soan. Hanya dalam soal ilmu silat, keganasan dan ketelengasan, ia menang daripada Teng Soan. Dalam beberapa kali pertempuran dengan Kun-liong Ong, telah menghasilkan kemenangan yang gilang gemilang. Dalam hal ini, ia nampaknya masih di atas Teng Soan. Ia telah berhasil membinasakan atau melukai banyak anak buah Kun-liong Ong, tetapi golongan pengemis juga kehilangan tidak sedikit anggautanya.

Kim Goan To yang berdiri di samping Siang-koan Kie, dengan perasaan bingung memandang sianak muda, yang kadang2 mengepal-ngepal kepelannya sendiri, kadang2 seperti orang jengkel, entah apa yang sedang dipikirkan.

Ia sebelumnya tidak berani mengganggu pemuda itu, tetapi akhirnya tokh tidak dapat mengendalikan perasaannya, maka lalu menanya : “Siang-koan siauhiap, kau kenapa?”

Siang-koan Kie seolah-olah tergugah dari mimpinya, ia memandang Kim Goan To sejenak, kemudian membuka rumah gubuk yang pertama.

Melihat sikap Siang-koan Kie yang sangat hati2 sekali ketika membuka rumah itu, Kim Goan To tergerak pikirannya. Apakah di dalam beberapa rumah ini ada berdiam salah seorang anggauta familinya. Demikian orang tua itu berpikir dalam hatinya sendiri.

Siang-koan Kie pelahan2 membuka rumah gubuk itu, ia memandang sejenak kedalam, dengan cepat ditutup lagi.

Kim Goan To merasa heran, lalu menanya, “Siauhiap, apakah dalam rumah itu tidak ada penghuninya?”

“Ada, tetapi kita tidak boleh …” dijawabnya pelahan. “Kenapa? Coba aku Iihat,” berkata Kim Goan To, lalu ulur

tangannya membuka rumah itu. Siang-koan Kie mencegah

dan berkata : “Dalam rumah gubuk ini berdiam seorang nona, kita sebagai seorang laki2, bagaimana boleh mengintip kaum wanita?”

Kim Goan To meskipun tidak berkata apa2, tetapi dalam hati merasa penasaran. Pikir nya : ‘orang2 ini sudah seperti jerangkong, bagaimana bisa membedakan lelaki atau perempuan? Sekalipun bisa dibedakan, seharusnya juga perlu diperiksa dengan teliti. Kau hanya melihat sepintas lalu saja, bagaimana sudah dapat memastikan kalau orang perempuan?’

Siang-koan Kie pelahan2 mendekati rumah yang kedua, dengan laku sangat menghormat ia menjura seraya berkata : “Teecu Siang-koan Kie, disini menghadap suhu.”

Kim Goan To semakin heran, pikirnya, ‘mengapa suhunya berada disini?’

Beberapa kali Siang-koan Kie memanggil, tetapi tidak mendapat jawaban, hingga pikirannya mulai cemas. Ia ulur tangannya meraba rumah itu, katanya : “Suhu, maafkan teecu bertindak lancang.”

Dengan menambah kekuatan tenaganya ia membuka atap rumah, hingga terbuka.

Ia melongok ke dalam, di situ ternyata cuma terdapat selembar selimut merah tidak ada orangnya.

Siang-koan Kie menghela napas panjang, berjalan menuju ke rumah ketiga.

Perasaannya mulai tegang, apabila rumah itu juga kosong.

Sekarang cuma tinggal satu, ia berjalan perlahan2 menghampiri rumah gubuk yang tinggal satu2nya, juga dengan sangat hati2 ia membuka atap.

Selagi hendak melongok ke dalam, dari dalam rumah mendadak meuongol dirinya seseorang.

Kim Goan To yang berada di belakang Siang-koan Kie, belum melihat tegas apa yang telah terjadi, sudah mengangkat tangannya melakukan penyerangan.

Siang-koan Kie hendak mencegah, tetapi sudah tidak keburu.

Orang yang berdiri dalam rumah itu juga mengangkat tangannya, menyambut serangan Kim Goan To. Kesudahannya, Kim Goan To terdorong mundur satu langkah.

Siang-koan Kie dengan cepat menyambar dari samping, menyekap pergelangan tangan orang itu.

Sebelum tangannya menyentuh pergelangan tangan orang itu, ia sudah berseru dan lompat mundur, kemudian berlutut dihadapan orang itu sambil berkata, “Kie jie disini menghadap suhu.”

Kim Goan To diam2 berpikir : ‘kiranya benar bahwa suhunya berada disini.’

Ia memandang orang itu, yang berambut dan berjenggot putih, tubuh yang kurus kering tertutup oleh pakaiannya warna hijau, mukanya yang pucat, bagaikan habis sembuh dari sakit.

Setelah memandang muka orang itu, Kim Goan To lalu berpikir, orang tua ini seperti Yap It Peng, salah satu dari lima jago dari daerah Tionggoan yang dahulu namanya sangat terkenal.

Ia segera memberanikan diri untuk menanya : “Adakah tuan seorang she Yap?”

Saat itu, orang tua baju hijau itu sudah melangkah keluar dari dalam rumah, membimbing bangun Siang-koan Kie seraya berkata : “Anak, kau bangun, tentang urusanmu aku sudah dengar semua ... " kemudian ia berpaling dan berkata kepada Kim Goan To : “Siautee benar memang seorang she Yap, entah she apa tuan Sendiri?”

“Siautee Kim Goan To dari kota Cee lam, saudara Yap bukankah salah satu dari lima jago daerah Tiong-goan yang berapa puluh tahun namanya sangat terkenal di daerah Tiong- goan?” “Siautee memang benar Yap It Peng, melihat keadaan saudara Kim, siautee benar2 sudah tidak dapat mengenali lagi.”

“Panjang ceritanya, siautee telah tertawan oleh Kun-liong Ong, yang kemudian ditugaskan untuk menjaga kamar beracunnya. Kalau bukan Siang-koan siauhiap ini yang datang memberi pertolongan, dalam sisa hidup siaute ini, barangkali tidak akan dapat melihat sinar matahari lagi.”

“Saudara terlalu memuji dia," berkata Yap It Peng sambil bersenyum.

Kim Goan To berpaling mengawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu berkata : “Saudara Yap ini dengan aku sudah beberapa puluh tahun tidak bertemu muka ... ”

Mendadak ia melihat bahwa Siang-koan Kie masih berlutut di tanah, maka buru2 menutup mulut. Sementara itu Siang- koan Kie sudah menyahut : “Kim locianpwee ... ”

Kim Goan To buru2 menyahut : “Anggap aku seperti biasa, kita masing2 sudah berkenalan lama ... " kemudian berkata kepada Yap It Peng : “Saudara Yap, kepandaian muridmu rupanya melebihi kepandaianmu, sekarang ia merupakan orang terpenting dalam rimba persilatan, siautee sendiri pernah menerima budinya ”

“Saudara Kim jangan memuji terlalu tinggi, aku hanya merupakan gurunya yang pertama memberikan kepandaian dasar baginya. Kepandaian yang dimiliki sekarang, didapatkan dari lain guru, bukan dari pelajaranku ... " berkata Yap It Peng, kemudian menatap dan berkata kepada Siang-koan Kie

: “Kie jie, lekas bangun.”

Siang-koan Kie lalu berdiri seraya berkata : “Bagaimana suhu bisa berada dalam rumah ini?” “Panjang ceritanya, sekarang bukan waktunya untuk menerangkan. Kau telah musnahkan semua rumah2 gubuk ini, orang ini barangkali tidak akan bisa hidup lagi!”

“Teecu hanya ingin membebaskan mereka, untuk mengaburkan pikiran Kun-liong Ong, tidak disangka bisa membahayakan jiwa mereka?”

“Sekalipun kau tidak musnahkan rumahnya, mereka barangkali juga tidak bisa hidup lebih lama.”

“Teecu sudah membuat kesalahan, sekarang bagaimana dengan orang2 ini?”

“Kau sudah terlanjur memusnakan rumah2 mereka, terpaksa kita akan menggunakan sisa hidup mereka, untuk mengacau pikiran Kun-liong Ong.”

Meskipun dalam hati Siang-koan Kie diliputi banyak pertanyaan, tetapi dalam keadaan seperti itu, ia tak dapat menanya.

Ia lalu bertindak menotok jalan darah beberapa orang bekas penghuni rumah gubuk itu.

“Orang2 ini meskipun kekuatan tenaganya tinggal terbatas, tetapi keinginan hidup masih belum lenyap. Setelah kau hidupkan jalan darahnya, kita sebaiknya lekas berlalu dari sini, supaya mereka tidak balik menyerbu kita." berkata Yap It Peng dengan suara perlahan.

Siang-koan Kie menurut, dalam waktu sangat singkat ia sudah berhasil membuka jalan darah mereka.

Pada saat itu, orang pertama dibebaskan jalan darahnya, sudah bangkit dan membuka sepasang matanya memandang keadaan di sekitarnya.

Sewaktu Yap It Peng melangkah keluar dari rumahnya, rumahnya itu ditariknya dan dilemparkan ke dalam api yang masih menyala. Rumah yang lainnya juga dilemparkan ke dalam api oleh Kim Goan To.

Hanya tinggal sebuah rumah papan di atas tanah yang luas itu.

Api berkobar keras, tanah kosong yang dikitari oleh pohon bambu itu, apabila api itu sampai menjilat kepohon bambu, pasti akan mengakibatkan kebakaran besar.

Yap It Peng yang berjalan keluar dari dalam rimba lebih dulu, katanya kepada muridnya : “Kie-jie, lekas keluar, jangan sampai terkurung oleh orang2 itu.”

Siang-koan Kie baru sadar bahwa orang2 yang dibebaskan itu benar semua memandang padanya dengan sikap marah, bahkan sedang berusaha hendak mengurung dirinya.

Walaupun ia tidak takut dengan orang2 yang badannya kurus kering itu, tetapi mengingat akibat pertempuran yang akan membawa korban jiwa orang2 yang tidak berdosa, hatinya merasa cemas sendiri. Maka ia lalu suruh Kim Goan To supaya lekas membawa pergi rumah yang masih belum dibakarnya.

Kim Goan To sebetulnya sudah akan berlalu, ketika mendengar permintaan Siang-koan Kie, sejenak ia tercengang, tetapi kemudian menyambar rumah itu dan dipanggulnya, kemudian dibawa lari.

Di luar dugaannya bahwa perbuatannya itu telah menimbulkan kericuhan, orang2 bekas penghuni rumah gubuk yang kurus kering, semua mengejar Kim Goan To.

Siang-koan Kie sementara itu sudah berada di dalam rimba bambu, tetapi ketika menampak orang2 itu mengejar Kim Goan To, ia lalu lompat balik mencegat ditepi rimba sambil berkata : “Kim locianpwee, lekas keluar melalui jalan kecil.” Kim Goan To masuk ke dalam rimba melalui samping Siang-koan Kie, dan pemuda itu lalu berusaha mencegah perbuatan orang2 itu yang hendak mengejar Kim Goan To.

Jalan kecil itu merupakan jalan dari dalam rimba, hanya dapat dilalui oleh satu orang saja, maka dengan seorang diri sambil memanggul rumah papan, Kim Goan To masih bisa melalui jalanan itu.

Dengan senjata pusakanya Siang-koan Kie membabat beberapa batang pohon bambu, untuk mencegah orang2 yang mengejar. Usahanya itu ternyata membawa hasil besar, ketika ia bersama Kim Goan To keluar dari dalam rimba, orang2 itu tidak berhasil mengejarnya.

“Semua gara2nya rumah gubuk ini mengakibatkan orang2 itu mengejar, bagaimana kalau kita lemparkan saja rumah ini

... " berkata Kim Goa To.

“Kita justru hendak memancing mereka keluar dari dalam rimba, supaya mereka berlari-larian ke berbagai penjuru, untuk mengacaukan pikiran Kun-liong Ong.”

Selama berjalan Kim Goan To telah merasakan bahwa rumah itu berat sekali, bukanlah bobotnya seorang kurus kering yang hanya kulit membungkus tulang, tetapi karena dalam hatinya terus mengingat bahwa dalam rumah itu berisi seorang perempuan, ia juga tidak berani membuka untuk melihatnya. Ia lalu berpaling dan menanya kepada Siang-koan Kie : “Siang-koan siauhiap, penghuni dalam rumah ini apakah juga harus dibawa?”

Siang-koan Kie angkat kepala, dilihatnya kira2 sepuluh tombak dari tempat itu, ada sebuah rumah atap yang letaknya menyendiri, ia lalu berkata : “Orang dalam rumah ini tolong locianpwee bawa dan masukan ke dalam rumah di depan itu, tetapi harus bawa serta rumah gubuk ini, supaya orang2 yang mengejar itu tetap mengejar, dengan demikian hingga orang2 itu akan menarik perhatian anak buah Kun-liong Ong, dan kalau hal ini sampai ditelinga Kun-liong Ong, pasti besar sekali gunanya.”

“Pikiran siauhiap ini baik sekali." berkata Kim Goan To. Setelah itu ia gotong lagi rumah gubuk itu dan lari melanjutkan perjalanannya.

Dengan senjata di tangan Siang-koan Kie mengikuti di belakang Kim Goan To sambil sebentar-sebentar menengok kebelakang.

Dekat rumah gubuk, baru lihat orang-orang kurus kering itu lari keluar dari dalam rimba.

Menyaksikan itu Siang-koan Kie diam2 menghela napas, pikirnya : ‘betapapun tinggi kepandaian seseorang, kalau disiksa secara demikian, juga tidak sanggup bertahan.’

Mendadak pikirannya teringat kepada dua suhunya dan In chungcu, mereka juga berada dalam rumah gubuk itu, tetapi nampaknya tidak keracunan, kalau begitu racun dalam rumah gubuk itu bukannya tidak bisa dipunahkan.

Sementara itu ia sudah tiba dirumah atap, sedangkan orang2 yang mengejar itu masih berada di tempat sejauh sepuluh tombak lebih, sudah tentu Kim Goan To masih mempunyai banyak waktu untuk melepaskan orang dalam rumah yang dipikulnya.

Dari dalam rumah atap tiba2 terdengar suara Kim Goan To yang mengunjukkan perasaan kagetnya dan kemudian nampak lari keluar.

“Apakah orang dalam gubuk papan itu sudah dikeluarkan?" tanya Siang-koan Kie.

Kim Goan To menjawab sambil menggelengkan kepala : “Pikirannya masih jernih.”

“Apakah locianpwee sudah melihat dengan tegas?” “Sudah, kulitnya putih lalu parasnya cantik molek, aku tidak tega meninggalkan ia seorang diri ke dalam rumah atap itu ... ”

“Apakah ia tidak berpakaian?”

“Hanya selembar kutang merah yang menempel di badannya.”

“Kalau kita meletakkan rumah papan ini di dekat istana Kun-liong Ong, Kim locianpwee yang bendak menolong dia, bukankah berarti mencelakakan dirinya?”

Kim Goan To melengak, katanya : “Sudikah kiranya siauhiap memenuhi permintaanku?”

“Permintaan apa?”

“Antarkan dulu nona ini ke suatu tempat yang aman, kemudian kita bawa rumah papan itu ke dekat istana Kun- liong Ong ... ”

“Pada saat dan tempat seperti sekarang ini, seratus pal sekitar daerah ini, sulit untuk mendapatkan suatu tempat yang aman. Mungkin kita dapat membawanya ke suatu tempat yang tidak ada manusianya, tetapi ia bisa hidup atau tidak, masih merupakan satu pertanyaan.”

Sementara itu orang2 kurus kering bekas penghuni rumah2 papan itu sudah akan tiba.

Siang-koan Kie putar otak sambil pasang mata ternyata Yap It Peng sudah tidak tampak bayangannya. Ia lalu berkata dengan suara perlahan : “Kim locianpwee, kita harus berjalan cepat sedikit.”

Kim Goan To menurut, ia mempercepat tindakan kakinya.

Siang-koan Kie melihat arah yang dituju oleh Kim Goan To ternyata daerah yang dikuasai golongan pengemis, lalu berpikir : ‘ia hanya melihat sepintas lalu parasnya penghuni rumah papan itu, entah apa sebabnya ia bertekad hendak menolong jiwanya? Nampaknya kalau aku akan mencegah, ia pasti tidak mau dengar. Tetapi apabila orang yang sudah hampir mati ini dibawa ke markas golongan pengemis, agak berabe juga.’

Karena berpikir demikian, maka ia lalu mengejar Kim Goan To dan berkata padanya dengan suara perlahan : “Kim locianpwee, bagaimana kalau kita bekerja secara berpencaran?”

“Maksudmu?”

“Boanpwee yang bawa rumah papan ini untuk memancing orang2 bekas penghuninya itu ke istana Kun-liong Ong ... ”

“Tetapi bagaimana dengan gadis yang berada di dalam rumah ini?”

“Harap locianpwee bawa kepada golongan Pengemis, serahkan kepada nona Nie. Nona Nie Suat Kiao dahulu berkedudukan tinggi dalam istana Kun-liong Ong, tentunya tahu siapa dan apa kedudukannya nona ini dalam istana Kun- liong Ong."

Kim Goan To berpikir, kemudian berkata : “Bagaimana aku dapat membiarkan siauhiap menempuh bahaya, sebaiknya aku yang memancing musuh, siauhiap yang pergi menolong nona ini ”

Mendengar jawaban itu Siang-koan Kie diam2 menghela napas, ia tahu bahwa Kim Goan To sudah bertekad hendak menolong jiwa gadis itu, maka ia lalu berkata : “Tugas kita sama beratnya, harap locianpwee jangan merendahkan diri.”

Dengan cepat tangannya menyambar rumah papan diatas punggung Kim Goan To.

Rumah papan itu bentuknya mirip dengan sebuah peti besar, yang bisa dibawa dan diletakkan dengan sesukanya. Kim Goan To buru2 berkata : “Tidak bisa, gadis ini pakaiannya sedikit sekali, bahkan hampir seperti telanjang, apabila berjalan dengan membawa seorang perempuan hampir telanjang, apa nanti orang kata?”

“Tentang ini loanpwee sudah pikirkan." berkata Siang-koan Kie, lalu menyerahkan sepotong baju panjang. “Pakaian ini kuambil dari badannya seorang yang sudah mati, maka masih ada tanda darahnya yang masih belum kering, terpaksa kugunakan untuk menutupi tubuh nona ini.”

Kim Goan To meletakkan rumahnya, Siang-koan Kie membeber bajunya, atap rumahnya dibuka, kemudian dibalikkan, sebentar terdengar suara keluhan pelahan.

Siang-koan Kie mengangkat kembali rumah papan itu dan dipanggulnya, setelah memberi pesan kepada Knn Goan To, ia lari menuju ke gedung Kun-liong Ong.

Kim Goan To mengambil baju hijau yang membungkus tubuh gadis setengah telanjang itu, lantas kabur.

Orang2 kurus kering bekas penghuni rumah papan itu benar saja pada memburu ke arah rumah papan yang dipanggul oleh Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie sengaja memperlambat langkahnya dengan orang2 yang mengejar itu terpisah satu jarak tertentu. Tangan kiri mengempit rumah papan, tangan kanan membawa senjata pusakanya. Gedung Kun-liong Ong sudah tertampak, tetapi anehnya tidak ada orang yang coba merintangi perjalanannya.

Selama ini Siang-koan Kie sudah mendapat pelajaran banyak, lalu menghadapi keadaan yang tidak wajar, ia semakin berlaku hati2.

Ia berhenti, diam2 mengerahkan kekuatan tenaganya ke tangan kanan, rumah papan di tangan kirinya lalu dihantam sehingga hancur berantakan.

Setelah menghancurkan rumah papan itu, ia lari balik meninggalkan tempat itu. Ketiga ia menoleh ke belakang, rombongan orang-orang bekas penghuni rumah papan itu lari serabutan menuju ke rumah yang sudah hancur.

Ia diam2 menghela napas panjang, dengan jalan memutar ia lari balik untuk menyusul Kim Goan To.

Di atas tanah datar yang luas, nampak sunyi, tetapi bagi Siang-koan Kie penuh ketegangan.

Dalam suasana sunyi itu mendadak terdengar suara seruling.

Dari jurusan selatan, udara nampak merah, nampaknya api masih berkobar keras.

Siang-koan Kie mengerti bahwa api yang membakar rumah papan tadi sudah mulai membakar rimba bambu yang sangat luas itu.

Suara seruling itu kedengarannya semakin mengharukan, Siang-koan Kie setelah pasang telinga, pikirannya tergerak, ia anggap bahwa suara seruling itu pasti seruling yang ditiup oleh suhunya, kalau dicari menurut arahnya suara itu, pasti dapat menemui gurunya.

Ia lalu berjalan menuju ke arah suara seruling itu.

Berjalan kira2 tiga pal, suara seruling itu mendadak semakin jauh, dan kemudian tidak menentu arahuya.

Siang-koan Kie berhenti berjalan, ia duduk di tanah. Semangatnya mulai menurun, ia merasakan bahwa hidup manusia banyak dukanya daripada sukanya, sekalipun hidup ratusan tahun juga tidak ada kesenangannya.

Suara seruling yang membawakan irama sentimentil itu, bagaikan senjata tajam menusuk ulu hati.

Tempat di mana Siang-koan Kie duduk itu adalah sebuah jalan kecil yang terdapat banyak rumput. Pelahan2 ia meletakkan senjatanya di tanah, selagi hendak rebahkan diri di atas rumput, tiba-tiba terdengar suara orang menangis yang menyayat hati.

Suara tangisan itu menyadarkan pikiran Siang-koan Kie, ia mendadak bangkit. Tertampak olehnya seorang wanita baju merah, dengan dua tangan menyekap muka, berjalan mendatangi sambil menangis. Mungkin karena sedihnya, wanita itu tidak tahu Siang-koan Kie berada di situ.

Siang-koan Kie yang sebetulnya sudah terpengaruh pikirannya oleh suara seruling tadi, kini semangatnya mendadak terbangun lagi.

Suara seruling juga berhenti secara mendadak, wanita baju merah itu juga berhenti menangis, ia menghela napas panjang dan duduk diatas rumput sambil mengeringkan airmatanya dengan sapu tangan.

Siang-koan Kie memandang wanita itu sejenak, rasanya pernah kenal, tetapi ia sudah tidak ingat di mana pernah melihat.

Wanita itu mendadak bangkit, kemudian menegur Siang- koan Kie : “Kau siapa?”

Di luar dugaan Siang-koan Kie, pertanyaannya dibarengi dengan satu tamparan.

Siang-koan Kie yang tidak menduga diperlakukan demikian, hampir saja kena ditampar, dalam keadaan gugup ia buru2 lompat mundur sejauh delapan kaki.

Wanita baju merah itu terus memburu, dengan beruntun melancarkan serangan sampai empat kali.

Siang-koan Kie sudah siap, dengan mudah dapat mengelakkan serangan itu, katanya, “Nona, sabar dulu.”

“Kenapa, apa kau takut?” Siang-koan Kie tersenyum, katanya, “Kau nampaknya bukan anak buah Kun-liong Ong?"

Mata wanita baju merah yang bundar, lebar dan jeli, menatap wajah Siang-koan Kie, kemudian berkata : “Aku juga seperti sudah pernah melihat kau.”

“Ya! Aku juga merasa seperti tidak asing dengan nona.” Wanita itu nampak berpikir, kemudian berkata : “Tadi,

apakah kau yang menolong aku?”

“Bukan." jawabnya Siang-koan Kie sambil menggelengkan kepala.

Wanita itu mendadak menghela napas dan berkata : “Kalian orang2 suku Han banyak yang palsu dan banyak akal busuk, kita tidak perlu bicara lagi.”

Setelah berkata demikian, lalu membalikan badannya, hendak berlalu.

Tergerak hati Siang-koan Kie mendengar ucapan perempuan itu, peristiwa pembunuhan besar2an yang terjadi di depan kuil tua pada beberapa tahun berselang, mendadak terbayang di dalam otaknya ”

Sementara itu, gadis baju merah itu sudah berada sejauh beberapa tombak, bajunya yang berwarna merah, sudah akan menghilang ke dalam gerombolan rumput yang lebat, maka ia lalu berseru : “Nona, tunggu dulu.”

Dan kemudian lompat menyusul.

“Ada apa?" tanya si gadis baju merah sambil menghentikan langkahnya.

“Kau bukan orang daerah Tiong-goan?”

“Bukan, kalian orang2 suku Han, banyak palsu dan banyak akal, mana ada yang baik, aku hendak pulang. Untuk selanjutnya, aku tidak akan menginjak daerah Tiong goan lagi.”

“Nona, aku sekarang ingat, kita bukankah pernah melihat di sebuah kuil tua?”

Biji mata gadis itu berputaran, katanya : “Aaaa! Masih ada seorang tua yang seluruh rambut dan jenggotnya sudah putih dan seekor harimau serta seekor burung besar.”

“Benar!”

Gadis itu mendadak menghela napas panjang dan berkata : “Sudah berapa lama sejak kita saling bertemu di kuil tua itu?”

“Sudah empat tahun lebih!”

“Kalau begitu aku telah tertawan oleh mereka empat tahun lamanya!”

Siang-koan Kie memandang gadis itu sejenak, dalam hatinya timbul rasa curiga, pikirnya diam2 : ‘Kalau ia benar2 telah disekap empat tahun lamanya oleh Kun-liong Ong, seharusnya sudah tidak karuan macamnya. Bagaimana masih demikian cantik?’

“Kau melihat apa?" demikian gadis itu menegur.

Siang-koan Kie bersenyum, “nona masih seperti empat tahun berselang keadaannya ... " ia berhenti sejenak, “sekarang ini di tempat ini sedang berlangsung suatu pertempuran antara golongan kebenaran dengan golongan sesat, sedang pakaian nona, mudah dianggap sebagai musuh oleh dua pihak. Meskipun kepandaian nona sangat tinggi, juga sukar berlalu dari sini.”

Gadis itu setelah mengalami penderitaan selama empat tahun, tidak selincah dan polos seperti pada empat tahun berselang, ketika mendengar ucapan Siang-koan Kie, alisnya dikerutkan kemudian berkata : “Orang2 kita sudah mati semuanya, hanya tinggal aku seorang yang masih hidup. Aih! Aku harus berusaha melindungi nyawaku, supaya bisa pulang untuk memberitahukan kepada mereka ... ”

Pelahan2 ia angkat kepala, matanya menatap wajah Siang- koan Kie, katanya : “Dapatkah kau menolong aku? Maukah kau membawa aku keluar dari tempat berbahaya ini?”

Siang-koan Kie sebetulnya hendak menguji gadis itu, apakah dia mata2nya Kun-liong Ong atau bukan. Maka ketika mendengar pertanyaan itu, ia lantas tertawa hambar dan berkata : “Kalau nona ingin keluar dari tempat berbahaya ini, untuk sementara harus dengar kataku dan berjalan bersamaku

... ”

“Itu sudah tentu.”

“Tetapi sekarang ini kita masih belum dapat mengantar kau keluar dari daerah ini, pada saat dan keadaan seperti sekarang ini, nona seorang diri dengan dandanannya demikian, tidaklah demikian terlepas dari inceran mata2 Kun- liong Ong, dan akibatnya pasti akan tertangkap lagi olehnya.”

“Sekalipun menempuh bahaya besar, aku juga harus pulang.”

Mendengar kata2nya yang masih jelas, tidak mirip dengan orang yang sudah diberi makan obat melupakan diri oleh Kun- liong Ong.

“Sekarang hanya ada satu jalan, nona harus berjalan dan bergerak bersama2 kita, setelah keluar dari daerah berbahaya, nanti nona baru berangkat pulang.”

Gadis itu berpikir, kemudian berkata : “Aih! Aku sudah tidak bisa berpikir terlalu banyak, terpaksa menurut kehendakmu.”

Mendengar jawaban itu, Siang-koan Kie teringat kejadian empat tahun berselang, waktu itu, gadis ini nampaknya masih kekanak2an, gesit dan lincah, agaknya tidak tahu segala apa2, tetapi sekarang, keberaniannya itu telah lenyap. Pelahan2 ia membalikkan badan dan berjalan dengan langkah lebar, namun diam2 telah siap.

Di belakangnya terdengar tindakan kaki, gadis baju merah itu benar berjalan di belakangnya.

Siang-koan Kie mulai mempercepat langkahnya, gadis baju merah itu juga demikian pula. Menampak kepandaian gadis itu sempurna, kecurigaan Siang-koan Kie semakin besar. Mendadak ia berhenti dan minggir ke samping, kemudian tangan kanannya bergerak menyambar pergelangan tangan gadis itu.

Gadis itu yang tidak menduga sama sekali akan tindakan pemuda itu, hingga sebentar kemudian sudah berada di bawah kekuasaannya.

Dengan mata menatap wajah gadis itu, Siang-koun Kie berkata lambat2 : “Waktu empat tahun itu kan tidak pendek?”

Gadis itu memandang Siang-koan Kie dengan pikiran heran, jawabnya : “Benar, empat tahun itu kurasakan lama sekali, lebih lama dari apa yang aku pikir.”

“Kalau begitu selama itu pikiranmu masih tetap jernih?” “Dalam waktu empat tahun itu, aku mengalami banyak

kejadian, semua merupakan kejadian2 yang aku belum pernah alami.”

“Selama itu Kun-liong Ong bagaimana perlakukan kau?"' Gadis yang digenggam tangannya oleh Siang-koan Kie,

setengah badannya merasa kesemutan, tidak bisa bergerak.

Ia menghela napas panjang dan berkata : “Apa kau ingin menanya banyak?”

“Benar, ada banyak urusan aku ingin menanya padamu.” “Kau mencekal erat tanganku, sekujur badanku merasa

tidak bertenaga, bagaimana kau bisa bicara banyak denganku?” “Aku tanya, selama beberapa tahun ini Kun-liong Ong bagaimana perlakukan kau?”

-odwo-

Bab 112

GADIS baju merah itu mengerutkan keningnya kemudian berkata, “Ia sekap aku di dalam satu kamar gelap yang kokoh kuat, meskipun aku sudah berusaha sekuat tenaga, masih juga tidak berhasil melarikan diri.”

“Apa ia tidak memberi makan barang apa2 padamu?” “Tidak, mereka perlakukan aku baik sekali.”

“Seumur hidupnya Kun-liong Ong belum pernah perlakukan orang secara baik, kalau ia perlakukan kau begitu baik, tentunya ada maksudnya.”

“Mereka telah menawan aku di kamar gelap, setiap hari aku tidak dapat melihat sinar matahari, apa ini boleh dikata baik?”

“Bagi Kun-liong Ong, ini adalah yang cukup baik.”

“Kalian orang2 suku Han, benar2 sukar dimengerti, Kun- liong Ong menawan aku begitu lama, air mataku sampai hampir kering, tetapi kalau aku beritahukan padamu, kau malah tidak mau percaya.”

“Bukan aku tidak mau percaya padamu, yang tidak kupercaya ialah Kun-liong Ong.”

“Kun-liong Ong memang seorang jahat, aku juga tidak percaya padanya.”

Siang-koan Kie diam2 berpikir : ‘dilihat dari sikap bicaranya, gadis ini masih jujur, nampaknya tidak berpura2, apakah benar Kun-liong Ong demikian mudah melepaskan dirinya?’ Siang-koan Kie mempunyai kesan sangat jelek sekali terhadap Kun-liong Ong, dalam anggapannya, Kun-liong Ong tidak sedemikian mudah melepaskan orang2 yang ditangkapnya. Maka ia lantas tertawa dingin dan berkata : “Meskipun nona pandai berpura2, tetapi aku bukanlah seorang yang mudah dibohongi. Haha ! Aku kenal baik sifatnya Kun- liong Ong."

Gadis itu agak marah, katanya : “Heran! Apa katamu?

Mengapa aku perlu membohongi kau?”

Siang-koan Kie melengak. “Bukankah Kun-liong Ong sengaja melepaskan kau menjadi mata2?”

“Oh, jadi kau takut Kun-liong Ong untuk aku sebagai mata2nya, sehingga kau perlakukan aku demikian rupa? Kalau begitu aku tidak sesalkan kau.”

Siang-koan Kie pelahan2 melepaskan tangannya dan berkata : “Maafkan perbuatanku, melihat sikapmu, memang tidak mirip seorang yang berpura2. Tetapi sudah berapa tahun Kun-liong Ong menyekap kau, ternyata kau masih sehat dan baik2 saja, ini benar2 sangat aneh!”

“Memang dia mempunyai maksud jahat, tetapi aku terus menolak, diapun tidak berdaya."

“Dia mempunyai maksud jahat apa?”

Pipi gadis itu merah seketika, katanya, “Ia hendak memperistri aku, kemudian, ia akan membawa aku pulang ke rumahku, dinegaraku akan mencari beberapa orang kuat untuk membantu usahanya.”

“Oh, kiranya begitu ... ”

Sementara itu mendadak ia melihat tanda rahasia yang ditinggalkan oleh dua kacung, yang menuju kebarat.

Gadis itu setelah mengikuti Siang-koan Kie berjalan, tiba2 menanya : “Kau hendak kemana?” “Mencari orang.”

Gadis itu tidak menanya apa2 lagi, dari dalam badannya mengeluarkan sebilah belati, lalu digenggamnya sambil berjalan.

Rumput alang2 setinggi pinggang, terbentang sepanjang jalan agaknya tidak ada batas-batasnya. Siang-koan Kie yang sudah berjalan kira2 tiga empat pal, masih berada di tengah2 rumput alang2 juga tidak tampak lagi tanda rahasia yang ditinggalkan oleh dua kacung.

Ia bercuriga, hingga berhenti di tengah2 padang rumput itu.

“Mengapa kau tidak jalan?" tanya gadis baju merah itu. “Mari kita berhenti mengaso sebentar." jawabnya.

Gadis itu memandang Siang-koan Kie dengan perasaan heran, katanya sambil berduduk : “Nanti setelah kau antarkan aku dari tempat berbahaya ini, belati ini aku berikan padamu."'

Belati yang memancarkan sinar berkilauan itu, tentunya bukan senjata sembarangan, Siang-koan Kie memandang sejenak, lalu berkata sambil tertawa hambar : “Kau pakai sendiri, aku tidak mau.”

“Belati ini tajam sekali, sebetulnya yang paling disayang- sayang oleh ayahnya, kala ini aku datang ke daerah Tiong goan, belati ini diberikan padaku."'

Siangkoan Kie yang sedang memikirkan dua kacung mengapa menuju ke jalan yang banyak rumput alang2 ini, tidak memperhatikan omongan gadis itu.

“Kau tidak mau belati ini, habis mau apa?" tanya pula gadis itu.

Kembali Siang-koan Kie tidak menjawab, hingga gadis itu merasa heran. “Mengapa kau tidak menjawab? Apa kau malu?" demikian tegurnya.

Mulut Siang-koan Kie meski membungkam, tetapi otaknya terus bekerja.

“Oh ya! Apa kau suka aku, tetapi merasa malu untuk mengatakan?”

Siang-koan Kie yang sudah dapat memecahkan urusan yang dipikir dalam otaknya, dalam girangnya ia sudah berkata sendiri sambil menganggukkan kepala : “Benar, benar, pasti begitu.”

“Kalau kau benar2 suka aku, baiklah kau ikut aku sama2 menjumpai ayah." berkata gadis baju merah itu sambil tertawa. “Ayah cuma mempunyai satu anak perempuan aku sendiri, kalau kau minta diriku, dikemudian hari kau adalah pemimpin suku kita, kau mau atau tidak?”

Siang-koan Kie terkejut, katanya : “Apa katamu?”

“Ayahku adalah raja negara Uighur, aku juga berkedudukkan sebagai putri, kalian orang2 suku Han meskipun licik, terapi juga ada yang baik. Ayahku pernah menerima budi orang suku Han, kau mau berdiam disana, ayah mungkin dapat menerima lamaranmu.”

Siang-koan Kie mendadak berbangkit, menjura dalam2 dan berkata : “Terima kasih atas kebaikanmu, tetapi aku.”

“Aku tahu kau ada seorang baik ... ”

“Nona jangan salah mengerti, aku maksudkan ialah atas kebaikanmu aku terima di dalam hati. Kau adalah seorang gadis baik, tetapi kau salah melihat orang.”

“Tidak mungkin, meskipun kau berlaku lebih galak, tetapi aku lihat hatimu baik ... ”

Siang-koan Kie mendadak lompat sambil mengayunkan senjata pusakanya. Sebentar terdengar suara beradunya dan terjatuhnya benda logam, sebilah golok terbang tertabas kutung oleh senjata pusaka Siang-koan Kie dan jatuh di tanah.

Gadis baju merah itu melongo, tiba2 bersenyum dan berkata : “Kalau bukan kau yang turun tangan menolong aku, kini aku pasti sudah terluka oleh golok terbang ini.”

Siang-koan Kie menggelengkan kepala, memberi tanda supaya gadis itu jangan bicara lagi, sedang ia sendiri memasang mata memandang ke sekitar tempat itu.

Tetapi sekian lama tidak tampak orang muncul.

Gadis baju merah itu melongok sebentar, kemudian berkata, “Kau bernama siapa?”

“Namaku Siang-koan Kie.”

“Di dalam kalangan kita aku dipanggil Ceng Peng kongcu, kau panggil aku Ceng peng saja sudah cukup.”

Tiba2 terdengar suara desiran angin, dua bilah golok terbang melesat keluar dari dalam gerombolan rumput alang2, menyerang Siang-koan Kie.

Pemuda itu sudah siap juga, dengan senjata pusakanya ia menyampok jatuh golok terbang yang menyerang dirinya.

“Penyerangnya berada di sebelah kiri darimu         ”

demikian Ceng Peng kongcu berseru.

Tanpa gadis itu memberitahukan, Siang-koan Kie juga sudah lihat di mana sembunyinya orang yang melakukan penyerangan gelap itu, ia memperingatkan supaya gadis itu berhati-hati, kemudian melesat ke arah tempat sembunyinya orang itu. Ia sangat berani, meskipun tahu tempat itu sangat berbahaya, ia berjalan terus tanpa ragu2. Berjalan kira2 dua tombak lebih, ia masih tak menemukan orang yang menyerang dirinya tadi. Ia berhenti dan berpikir : ‘tanah ini sangat luas, memang baik bagi kita untuk sembunyikan diri,  tetapi kalau Kun-liong Ong menggunakan rumput yang lebat ini untuk memasang perangkap, lalu memancing orang2 golongan pengemis menyerbu kemari, tentu akan terjadi pembunuhan kejam lagi. Sebaiknya kubakar saja rumput ini, andaikata Kun-liong Ong belum memasang perangkap, dengan terbakarnya tempat ini, berarti merintangi maksudnya hendak menggunakan tempat ini. Apabila tempat ini ada orangnya, api akan membakar habis mereka.’

Setelah berpikir demikian, ia lalu berpaling dan berkata pada Ceng Peng kongcu : “Kongcu, harap kau mengikuti gerakanku, aku hendak membakar tempat ini.”

Ceng Peng kongcu menurut, ia berjalan menghampiri Siang-koan Kie seraya berkata : “Apa tanah belukar ini ada orang2nya Kun-liong Ong yang sembunyi?”

“Benar ... ”

Baru saja Siang-koan Kie menjawab, dari gerombolan rumput anak panah berhamburan ke arah mereka.

Siang-koan Kie menggerakkan senjata pusakanya untuk menyampok jatuh anak panah. Ia berkepandaian tinggi, pula ia memakai rompi wasiat melindungi dirinya, meskipun tidak takut anak panah, tetapi karena anak panah menyambar berhamburan, diam2 juga kuwatirkan dirinya Ceng Peng kongcu.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan, dalam kagetnya Siang- koan Kie menengok ternyata Ceng Peng kongcu sudah terkena dua batang anak panah.

Gadis dari daerah barat ini, ternyata berhati bagaikan baja, meskipun badannya sudah terkena dua batang anak panah, tetapi masih pertahankan kedudukannya dengan gigih, sambil menahan rasa sakit ia menggerakkan belatinya untuk menyampok anak panah yang menyambar dirinya. Siang-koan Kie dengan sengit menghalaukan semua acak panah, ia berkata dengan suara perlahan : “Kongcu harap lekas bertiarap di tanah ... ”

“Belatiku ini meskipun tajam, tetapi terlalu kecil, andaikata aku mempunyai sebilah pedang panjang, mereka pasti tidak dapat mencelakai diriku." berkata Ceng Peng kongcu sambil menghela napas.

Sementara itu, di sekitar mereka berdiri, mendadak muncul banyak orang berpakaian hitam, Siang-koau Kie yang menyaksikan itu baru sadar, bahwa mereka sudah berada di situ dengan sembunyi dilobang tanah sudah tentu tidak mudah dicari.

Terdengar pula suara jeritan Ceng Peng kongcu, yang terkena sebatang anak panah lagi.

Siang-koan Kie merasa cemas, tetapi ditempat belukar seperti itu, di bawah kepungan barisan anak panah, apalagi harus melindungi diri Ceng Peng kongcu yang sudah terluka, mau tidak mau merasa bingung juga.

Dalam keadaan demikian, mendadak terdengar suara seruling mengaluni diudara.

Sungguh heran, anak panah yang menyerang berhamburan, mendadak berhenti.

Dan orang berbaju hitam itu semua tidak melakukan penyerangan lagi, mereka berdiri bagaikan patung sambil mendengarkan irama seruling itu.

Irama seruling itu makin lama makin nyaring, orang2 baju hitam agaknya terpengaruh oleh irama seruling itu, sikap mereka seperti orang bodoh.

Siang-koan Kie berpaling dan berkata kepada Ceng Peng Kongcu : “Kongcu, apakah lukamu parah?” “Aku terkena tiga panah, sebatang mengenakan bagian penting, barangkali tidak bisa melanjutkan perjalanan." menjawab Ceng Peng kongcu.

Siang-koan Kie memeriksa bagian yang terkena anak panah, sebatang mengenakan pundak belakang, sebatang mengenakan lengan kiri dan sebatang lagi tepat di atas buah dada. Ia merasa tidak enak, karena kalau ia tidak ajak kemari, gadis itu tentu tidak terkena panah.

Suara seruling itu mendadak berubah iramanya, orang2 baju hitam yang berdiri disekitarnya, mendadak memutar badan, semua berjalan menuju keutara, senjata di tangan mereka semua dilempar ke tanah.

Ceng Peng Kongcu merasa heran menyaksikan perbuatan orang2 baju hitam itu, tanyanya : “Mengapa mereka berhenti menyerang? Kalau mereka meneruskan penyerangannya, aku pasti akan binasa di bawah hujan anak panah.”

“Mereka terpengaruh oleh irama seruling tadi, tidak mau bermusuhan dengan kita lagi ... ”

Ceng Peng Kongcu menatap wajah Siang-koan Kie dan berkata, “Empat tahun berselang, aku dan kakak bersama orang2 kuat dari daerah Thibet, telah datang ke daerah Tiong- goan untuk memenuhi janji, tak diduga seluruh anggauta kita ludes, hanya tinggal aku seorang. Daerah Tiong-goan banyak orang berkepandaian tinggi, kita orang2 dari Thibet tidak sanggup melawan ... " ia berhenti sejenak, “aku ada suatu permintaan, tidak tahu kau suka dengar atau tidak?”

“Katakan saja, aku bersedia mendengarkan."

“Aih! Dalam rombongan kita itu dahulu semuanya ada berapa puluh orang, seluruhnya terdiri dari orang2 kuat daerah barat ... ” Siang-koan Kie mendadak ingat sesuatu, lalu memotong : “Kau adalah putri negara Uighur, bagaimana bisa kenal dengan paderi Lhama Thibet?”

“Kakakku menjadi muridnya pelindung hukum kaum Lhama Thibet, maka aku juga ikut kakakku belajar ilmu silat ... ”

“Apa kau cuma mempunyai seorang kakak lelaki saja?” “Aku lupa memberitahukan padamu, ayah bundaku cuma

melahirkan aku seorang, aku saja, kakak lelakiku itu adalah anak pungut ayah, yang kemudian dikirim ke Thibet untuk belajar ilmu silat. Harapan ayah, supaya ia nanti memimpin pasukan negara Uighur. Tak diduga kemudian terlibat dalam pertikaian rimba persilatan, ia mengikut gurunya untuk memenuhi perjanjian, yang ternyata kemudian binasa di kampung orang.”

Siang-koan Kie melihat wajah nona itu semakin pucat, ia tahu bahwa luka nona itu sangat parah, maka mencegah padanya jangan bicara terlalu hanyak, kemudian minta ia beristirahat, akan dicabut anak panah yang menancap di tubuhnya.

Ceng Peng kongcu menurut, ia duduk, sikapnya tenang. Siang-koan Kie mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya,

lebih dulu ia mencabut anak panah yang menancap di lengan kirinya, lalu dengan cepat lukanya dibungkus. Setelah itu ia mencabut anak panah yang menancap di pundak belakang, tetapi anak panah yang menancap di atas buah dada, ia tidak berani mencabut.

Sebab, ketika ia memeriksa anak panah itu, telah menancap sangat dalam, hampir mengenakan jantung, kalau dicabut, mungkin dapat mengganggu jantungnya, maka ia tidak berani mencabut sembarangan. Ceng Peng kongcu duduk sambil pejamkan kedua matanya, setelah menunggu lama belum menampak Siang-koan Kie mencabut anak panah didadanya, lalu membuka mata dan menanya : “Mengapa kau masih belum bertindak?”

“Disini tidak ada obat ... " jawab Siang-koan Kie sambil menghela napas.

“Apa karena melihat lukaku agak parah, hingga kau tidak berani turun tangan?”

“Meskipun lukanya tidak ringan, tetapi masih belum membahayakan jiwa. Hanya, aku tidak mengerti ilmu tabib, tidak berani sembarangan turun tangan. Harap nona sabar dulu, aku akan bawa kau mencari seseorang ... ”

“Aku tahu bahwa anak panah ini menancap dalam hampir mengenakan jantung, sekarang ini aku merasa bahwa kekuatan tenagaku sudah tidak ada, barangkali tidak kuat berjalan ... ”

“Aku akan gendong kau ... !”

“Dengan begini, bukankah akan membikin capek kau?” berkata Ceng Peng kongcu yang segera pentang dua tangannya.

Siang-koan Kie memeriksa dulu keadaan disekitarnya dan mencari arahnya, kemudian membakar tempat itu. Setelah itu ia menggendong tubuh Ceng Peng kongcu lari menuju ke barat.

Api menjalar sangat cepat, sebentar saja tanah datar yang penuh rumput alang2 itu sudah berubah menjadi lautan api.

Siang-koan Kie mengeluarkan seluruh tenaga, lari secepat kilat, untuk keluar dari daerah yang kebakaran itu.

Setelah tiba di tempat aman, Siang-koan Kie meletakkan Ceng Peng kongcu, dilihatnya dengan seksama, gadis itu ternyata masih memejamkan matanya, mukanya pucat pasi, napasnya lemah, kalau tidak keburu ditolong, barangkali membahayakan jiwanya.

Tiba2 ia dengar suara seruling, mengalun diudara.

Hati Siang-koan Kie tergerak, ia gendong lagi tubuh Ceng Peng kongcu, berjalan ke arah dari mana datangnya suara seruling itu.

Ia telah menemukan suatu tempat agak rendah yang terkurung oleh tanggul.

Beberapa ratus orang berpakaian hitam, duduk berbaris di tempat itu, mereka pada memejamkan mata, mulutnya kemak kemik, entah apa yang dikatakan.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu, diam2 terkejut, pikirnya, “apakah ini bukan anak buah Kun-liong Ong? Mengapa berada disini ... ”

Suara seruling itu mendadak berhenti, dari jauh terdengar suara orang : “Anak, lekas kemari, sudah lama kita tidak bertemu.”

Sambil menggendong Ceng Peng kongcu Siang-koan Kie berjalan ke arah suara itu.

Di bawah satu pohon besar, duduk berdampingan dua orang. Orang yang duduk di sebelah kiri, tangannya memegang seruling, orang tua itu bukan lain dari pada guru Siang-koan Kie yang mengajar ilmu silatnya di dalam kuil tua.

Orang yang duduk di sebelah kanan, mengenakan pakaian warna hitam, mukanya seperti tidak asing, tetapi saat itu ia tidak ingat di mana pernah bertemu.

Siang-koan Kie meletakkan Ceng Peng kongcu, lalu berlutut dihadapan orang tua itu seraya berkata : ”Suhu, teecu datang menghadap.”

Orang tua itu bersenyum dan berkata sambil menunjuk orang baju hitam di sebelahnya : “Ini adalah In chungcu In Kiu Liong, yang namanya sangat kesohor, lekas kau memberi hormat.”

“In locianpwee, Siang-koan Kie datang menghadap," berkata Siang-koan Kie sambil memberi hormat.

In Kiu Liong bangkit membalas hormat dan berkata : “Untuk selanjutnya, kita harus bersebutan suheng dan sutee

... ”

Orang tua itu mendadak melototkan matanya dan berkata : “Siapa menerima kau sebagai murid? Semua orang ingin berguru padaku, bukankah aku nanti bakal tidak mempunyai sahabat.”

In Kiu Liong hanya bersenyum, ia berkata kepada Siang- koan Kie sambil memandang Ceng Peng kongcu : “Sutee, siapakah nona itu?"

Mendengar dirinya disebut sutee oleh In Kiu Liong, seorang tingkatan tua yang namanya sudah terkenal sejak beberapa puluh tahun berselang, Siang-koan Kie terkejut, ia buru2 berkata : “In locianpwee ... ”

“Suhu tadi hanya main2 saja, mengapa sutee anggap benar?”

Siang-koan Kie anggap menyebut In Kiu Liong locianpwee memang sudah sepantasnya, tetapi kalau benar ia sudah angkat suhunya menjadi suhu, sebutan suheng itu juga sudah semestinya.

Ketika berpaling kepada suhunya, orang tua itu ternyata masih duduk sambil pejamkan mata, agaknya sedang tidur nyenyak.

Ia berpaling lagi ke arah In Kiu Liong dan berkata : “Suheng.” “Kalau ditilik dari waktunya berguru, aku seharusnya menjadi suteemu, karena aku belakangan menjadi murid ... " berkata In Kiu Liong sambil bersenyum.

“Kau berkata demikian, aku juga tidak mau menyebut kau suheng lagi." berkata Siang-koan Kie sambil tertawa.

“Baiklah! Aku yang mengalah ... " berkata In Kiu Liong, yang lantas bangkit dan jongkok di depan Ceng Peng kongcu untuk memeriksa lukanya, kemudian berkata pula, “nona ini lukanya cukup parah.”

“Siautee sudah tidak berdaya, apakah suheng dapat menolongnya.”

“Aku nanti akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kau, sekarang kau totok jalan darahnya.”

Ceng Peng kongcu mendadak membuka matanya dan berkata : “Tidak perlu kau totok jalan darahku, aku tidak takut sakit.”

“Luka nona dekat dengan jantung, waktu dicabut anak panah itu, sangat berbahaya, sedikit bergerak saja, bisa berakibat batal, sebaiknya ditotok jalan darahmu.”

Siang-koan Kie menurut, ia menotok tiga jalan darah di tubuh Ceng Peng kongcu.

In Kiu Liong mengeluarkan sebuah botol kecil memberikan dua butir pil kepada Siang-koan Kie seraya berkata : “Sutee, suhengmu hanya bertugas mencabut anak panah, tidak turut memberi obat, ini adalah tugasmu.”

“Sudah tentu sutee nanti yang memberikan obat.”

In Kiu Liong bersenyum, tangan kiri menekan dada Ceng Peng kongcu, dua jari tangan kanan menjepit gagang panah, sebelum melakukan tugasnya, ia berkata kepada Siang-koan Kie : “Sutee, aku akan menggunakan tenaga dalam, untuk menahan mengalirnya darah, supaya darah di jantung tidak mengalir keluar, setelah anak panah dicabut, kau lekas hancurkan sebutir pel tadi dan borehkan dilukanya.”

Siang-koan Kie menurut, ia hancurkan sebutir pel di tangannya seraya berkata : “Siautee sudah siap.”

Ketika jari tangan In Kiu Liong mencabut keluar anak panah itu, benar saja, luka di dada Ceng Peng kongcu tidak mengucurkan darah.

Dengan cepat Siang-koan Kie memborehkan obat pil yang sudah menjadi bubuk ke luka bekas anak panah tadi.

“Sekarang sudah tidak ada halangan, biarlah ia istirahat sebentar, baru dibuka totokkannya, nanti kau berikan pil di tanganmu untuk dimakan, kemudian kita bantu menyalurkan kekuatan tenaga padanya.

“Kalau bukan suheng yang turun tangan, jika ia binasa karena luka2nya, siautee akan berdosa terhadapnya.”

In Kiu Liong mengamat2i lagi wajah Ceng Peng kongcu, lalu berkata : “Sutee, maafkan suhengmu, nona ini tokh bukan orang suku Han?”

“Dia suku Uighur ... " jawab Siang-koan Kie, yang mendadak teringat peristiwa penumpahan darah di kuil tua, hingga ia tidak meneruskan kata2nya.

“Aku kenal dengannya, mungkin ia sudah tidak mengenali aku lagi.”

“Suheng ada mempunyai permusuhan dalam dengannya?” “Tidak," jawab In Kiu Liong sambil menggelengkan kepala,

"semua permusuhan itu adalah urusan yang sudah lalu. Dan sekarang musuh satu2nya bagi kita adalah Kun-liong Ong ... ”

Ia tertawa hambar, menengok orang tua di sisinya sejenak, lalu sambungnya : “Kun-liong Ong juga musuh besar suhu."

“Tentang ini siautee tahu." In Kiu Liong memandang Ceng Peng kongcu sejenak dan berkata : “Nanti setelah ia mendusin, kau jangan beritahukan padanya siapa adanya aku. Aku pikir ia tentunya masih membenci aku.”

Meskipun Siang-koan Kie tidak tahu sebab musababnya pertikaian itu, tetapi ia telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri pertempuran dahsyat kedua pihak, yang berakhir dengan kehancuran total, maka ia segera menerima baik pesan itu.

In Kiu Liong berkata pula sambil tertawa hambar : “Obat suhengmu ini, dahulu adalah kepunyaan Mao-san It-cin, sangat manjur untuk menyembuhkan luka luar. Sebentar ia pasti akan sembuh, suhengmu setelah mengalami peristiwa yang hampir mengorbankan jiwa itu, sudah lama tidak memikirkan permusuhan pribadi. Kecuali Kun-liong Ong, terhadap siapa saja, aku sudah tidak mempunyai perasaan benci. Tetapi nona ini, suhengmu khawatir masih ingat dendamnya yang lama, maka jangan kau beritahukan padanya tentang diriku." 

“Siautee akan ingat pesan suheng."

In Kiu Liong kembali mengambil dua butir pil diberikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata : “Kau simpan baik- baik!”

Siang-koan Kie baru saja menyimpan pil itu, tiba2 dengar suara ringkikan kuda.

Beberapa pasukan berkuda, dengan mengiring seorang berjubah hijau, lari menghampiri.

“Kun-liong Ong." bentaknya Siang-koan Kie sambil menghunus senjatanya.

Orang tua rambut putih yang duduk memejamkan matanya itu mendadak membuka mata. In Kiu Liong juga lantas berdiri dan berkata kepada Siang- koan Kie dengan suara pelahan : “Mari kita menghadapi pasukan berkuda, Kun-liong Ong kita serahkan kepada suhu!”

Ketika Kun-liong Ong tiba dihadapan mereka, mendadak berhenti, matanya memandang barisan berkudanya sejenak, lalu mengulapkan tangannya.

Pasukan berkuda itu lantas berpencaran dan berbaris di kedua samping, di tengah-tengah tampak sebuah kereta.

Kereta itu sudah dibuka tutupnya, di atas kereta terdapat dua buah kursi bambu, di atas kursi duduk dua wanita dalam keadaan terikat.

Wanita yang duduk di samping kiri, parasnya pucat, rambutnya sudah beruban, meskipun mukanya sudah banyak keriputnya, tetapi dari potongan muka itu, samar2 masih kelihatan tanda2 bahwa di masa mudanya wanita itu pasti berparas cantik.

Yang duduk di sebelah kanan adalah seorang gadis berusia kira2 delapanbelas tahun, kulitnya putih halus, parasnya cantik, hanya sikapnya ada sedikit bodoh.

Siang-koan Kie merasa seperti sudah kenal dengan dua wanita itu, samar2 masih ingat di mana pernah ketemu.

Kun-liong Ong yang selamanya sangat sombong kini telah berubah 180 derajat, dengan berlaku sangat menghormat, ia menjura terhadap orang tua rambut putih kemudian berkata : “Toako, apakah selama ini baik2 saja?"

Orang tua itu memandang padanya dengan sinar mata tajam dan mengandung rasa benci.

Ketika matanya beralih ke atas kereta, wajahnya berubah dengan mendadak, pelahan2 matanya dipejamkan lagi.

Di bawah sinar matahari, nampak tegas bahwa air mata orang tua itu mengalir turun, membasahi kedua belah pipinya. Hati Siang-koan Kie tergerak, ia ingat penuturan suhunya di kuil tua, apakah dua wanita itu adalah subo dan sumoynya yang tertawan oleh Kun-liong Ong?

Mendadak terdengar suara tertawanya Kun-liong Ong yang kemudian berkata : “Aku seharusnya ingat bahwa toako masih hidup, tetapi ingatanku itu timbul agak terlambat, hingga usahaku yang kuusahakan dengan susah payah, hampir hancur berantakan.”

“Bagaimana dengan mereka?" Tanya orang tua itu sambil pejamkan mata.

“Semuanya baik, keponakan perempuanku semakin besar makin nyata kecantikannya.”

“Mengapa kau tidak membunuh mereka?"

“Kalau siautee membunuh mereka, barangkali tidak dapat menundukkan toako.”

Orang tua itu mendadak membuka matanya, katanya dengan suara bengis : “Apakah kau ingin menggunakan mereka untuk memaksa aku?"

“Memang demikian maksud siautee."

“Sekalipun mereka masih hidup di dalam dunia, tetapi sudah lama mereka kau siksa sehingga sudah tak berupa manusia lagi. Hidup juga sudah seperi orang tidak berguna, adalah baik kau binasakan saja, kemudian aku bunuh kau untuk menuntut balas dendam.”

“Toako ada seorang berbudi, tentunya tidak akan tega menyaksikan toaso mati tercincang? Lagi pula keponakanku perempuan si Hong Tay, kini sudah menjadi gadis remaja, kalau mati bukankah sangat sayang?”

Hawa amarah Siang-koan Kie meluap, ia lompat sambil mengacungkan senjatanya, bentaknya dengan suara gusar : “Tutup mulut, kau binatang yang sudah bertumpuk-tumpuk dosamu, kau kemari, mari kita bertempur tiga ratus jurus.”

“Benar, aku telah melakukan kejahatan yang tak ada taranya, tetapi kau masih belum sanggup melawan aku sendirian.”

Siang-koan Kie dengan tanpa banyak bicara, lantas menerjang dengan senjatanya.

Kun-liong Ong tertawa dingin bentaknya, “Jangan bergerak, kalau kau berani maju satu langkah saja, aku bunuh mereka lebih dulu.”

Siang-koan Kie melengak, ia hentikan tindakkannya, ketika menengok kepada suhunya orang tua itu nampak gemetar, airmata mengalir turun, ia tertegun. Lalu tarik kembali serangannya, perlahan2 ia urungkan diri dan berdiri di samping suhunya.

In Kiu Liong sejak munculnya Kun-liong Ong sengaja berpaling, tidak mau berhadapan langsung dengannya, karena khawatir masih dikenali.

“Siautee dengan toako sudah hampir duapuluh tahun tidak bertemu muka, kepandaian kita berdua, entah siapa yang lebih unggul, sekarang masih belum diketahui ... " berkata Kun-liong Ong.

“Seumur hidupmu, jangan harap kau dapat menangkan aku," berkata orang tua itu.

“Untuk mengadu kekuatan tenaga, kita berdua mungkin berimbang, tetapi kalau mengadu kapintaran otak, biar bagaimana toako masih kalah terhadapku ... ”

“Kau manusia tak berbudi, jahat dan kejam, segala perbuatanmu hanya kau utamakan untuk mencapai maksudmu, tanpa memandang cara. Segala apa kau dapat melakukan, apa yang kau dapat banggakan?" berkata Siang- koan Kie. “Kau adalah seorang tingkatan muda, tidak pantas bicara denganku.”

Siang-koan Kie sangat mendongkol, ia sudah ingin menerjang dan menggempur padanya, tetapi subo dan sumoynya yang terikat diatas kereta, semua dibawah ancamau Kun-liong Ong, asal Kun-liong Ong mengeluarkan perintah, mereka akan binasa diujung tombak pasukan berkuda. Meskipun suhunya membungkam, tetapi cinta kasih antara suami isteri, biar bagaimana tentu tidak tega melihat isterinya disiksa sampai mati.

Apabila tidak dapat mengendalikan emosinya dan menerjang Kun-liong Ong. sehingga mencelakakan diri subo dan sumoynya, bukankah akan merupakan suatu kemenyesalan besar dalam hidupnya. Karena memikir demikian, maka ia tepaksa kendalikan amarahnya.

“Sekalipun sembilan party besar rimba persilatan, semua memusuhi diriku, aku juga tidak takut tetapi kalau toako akan menyulitkan siautee, keadaan akan menjadi sangat berlainan

... Sekarang ada dua jalan, toako boleh pilih sendiri.”

“Dua jalan bagaimana?” Tanya orang tua itu dengan badan gemetaran.

“Jalan kesatu, kita putuskan persaudaraan kita, toaso dan keponakanku yang cantik ini, akan kubunuh, dan kita berdua mengadu kekuatan dengan mengandal kepandaian sendiri- sendiri.”

“Jalan kedua?” tanya orang tua itu sambil mengawasi istri dan anaknya.

“Sudah tentu jauh lebih lunak, siautee akan menyerahkan toaso dan keponakan kepada toako untuk dibawa pulang ... ”

“Benarkah?”

“Sudah tentu benar, tetapi, juga bukan tidak ada syaratnya

... ” “Katakanlah!”

Kun-liong Ong memandang Siang-koan Kie sejenak, kemudian berkata : “Harap toako musnakan kepandaian toako sendiri, kemudian undurkan diri dari rimba persilatan. Bawa pergi toaso dan putrimu, kesuatu tempat yang jarang diinjak manusia, menuntut hidupmu yang tenang dan aman ... " Kemudian menunjuk kepada Siang-koan Kie. “Apakah toako yang memberi pelajaran ilmu silat kepada anak muda ini?”

“Kalau ia mau apa? Kau manusia berkedok binatang, suhu sudah lama tidak anggap kau sebagai saudara." berkata Siang-koan Kie sengit.

“Kalau benar murid toako, maka harus makan obatku yang melupakan diri sendiri, seumur hidup bekerja untukku, jadi tidak tersia2 toako memberi pelajaran padanya.”

Hati Siang-koan Kie tertegun ketika mendengar syarat yang kejam itu.

Orang tua rambut putih itu pejamkan matanya tidak menjawab.

-ooo0dw0ooo-