ISMRP Jilid 27

 
Jilid 27

WAN HAUW memeluk Nie Soat Kiao erat2, Nie Soat Kiao coba meronta, tetapi tidak berhasil melepaskan diri dari pelukan pemuda itu.

Wan Hauw yang bodoh tetapi jujur, dalam otaknya memang sudah lama terbayang bayangannya gadis itu. Karena pada hari2 biasanya Nie Soat Kiao berlaku angkuh dan dingin, hingga tidak berani memikirkan yang bukan2. Tetapi malam itu karena Nie Soat Kiao jatuhkan diri dalam pelukannya, sudah tentu membuatnya sangat girang.

Nie Soat Kiao yang sudah kena pengaruhnya arak obat, hawa napsunya berkobar, hingga membiarkan dirinya dipeluk dan dicium oleh Wan Hauw. Arak obat itu juga sudah menggelapkan pikirannya, hingga ia sudah tidak dapat membedakan siapa Wan Hauw dan siapa Siang-koan Kie.

Ini merupakan kesalahan yang mengenaskan. Wan Hauw yang bodoh, sudah lama jatuh cinta kepada Nie Soat Kiao, tetapi gadis itu sebetulnya cintakan Siang-koan Kie. Ini merupakan percintaan segi tiga yang sangat tidak enak bagi tiga pihak. Wan Hauw sudah nyata tidak dapat kendalikan napsunya, dengan sangat berani merobek baju Nie Saot Kiao dan digulingkannya kedalam sampan.

Sampan yang kecil itu tergoncang hebat, air muncrat membasahi muka Nie Soat Kiao.

Tersiram oleh air dingin, Nie Soat Kiao tersadar seketika.

Ketika menampak bajunya robek, dalam hati merasa malu dan cemas, dengan cepat ia gerakan jari tangannya, menotok jalan darah Wan Hauw.

Waktu itu, Wan Hauw sudah tidak bisa kendalikan pikiran sehatnya, karena Nie Soat Kiao meronta, dalam cemasnya segera menotok jalan darahnya.

Kedua2nya turun tangan berbareng, hingga satu sama lain terkena totokan dan rubuh dengan berbareng.

Sampan itu kehilangan kemudinya, terbawa oleh angin malam, terombang ambing ditengah danau.

Entah berapa lama sudah berlalu, Siang-koan Kie yang mendusin lebih dulu.

Pada saat itu, rembulan sudah selam, udara gelap, hanya bintang dilangit yang menerangi jagat.

Siang-koan Kie kucek2 matanya dan berduduk, ketika ia melihat keadaan Wan Hauw dan Nie Suat Kiao, bukan kepalang terkejutnya. Disamping itu, ia juga merasa gusar dan duka.

Lebih dulu ia benamkan kepalanya kedalam air, supaya otaknya jernih kembali.

Setelah itu, ia telah menyaksikan Nie Suat Kiao berada dalam keadaan hampir telanjang, lengan kirinya memeluk leher Wan Hauw. Keduanya tidur berdampingan.

Perasaan irih hati timbul dalam hatinya, ia berdiri menarik napas dalam2. Dalam otaknya terlintas suatu pikiran jahat. Lambat2 ia mengangkat tangannya. Asal ia menurunkan tangan itu, Nie Suat Kiao dan Wan Hauw kedua-duanya akan terbinasa dibawahi tangannya.

Kejadian dimasa yang lampau terbayang dalam otaknya. Ia ingat bagamana dirinya dihajar oleh Kun-liong Ong, sehingga terjatuh kedalam jurang.

Ia ingat ibu Wan Hauw, yang hidup dalam kesunyian dan berpenyakitan, bagaimana perempuan tua itu telah merawat dan melindungi dirinya....

Akhirnya ia menghela napas panjang, pikirannya yang sesat telah lenyap seketika. Ia membuka baju luarnya, diselimutkan kebadan dua orang, lalu ia sendiri menyender disampan dan tidur pulas.

Siang koan Kie terjaga oleh sinar matahari pagi yang menyinari mukanya. Ia melihat Nie Suat Kiao dan Wan Hauw agaknya masih tidur nyenyak.

Diam2 berpikir “disekitar danau ini entah ada berapa banyak orangnya Kun-liong Ong. Apabila keadaan mereka ini dilihat oleh orang2nya Kun-liong Ong atau orang2 golongan pengemis, bukanlah Nie Suat Kiao akan kehilangan muka?

Ia lalu mendorong Wan Hauw dan memanggil-manggil.

Tetapi mereka agaknya sedang tidur nyenyak, sedikitpun tidak menghiraukan panggilannya.

Siang-koan Kie sangat jengkel, ia pikir akan membiarkan mereka dalam keadaan demikian dan akan ditinggalkan begitu saja. Ia berdiri, tetapi tidak tega meninggalkan mereka.

Pikirnya lagi: “Apabila diketahui oleh orang2 golongan pengemis Nie Suat Kiao tentu tidak ada muka lagi menjabat penasehatnya. Kalau benar terjadi demikian, siapa lagi yang dapat menindas pengaruh Kun-liong-Ong? ”

Baik untuk kepentingan umum maupun kepentingan piibadi, ia seharusnya tidak boleh berpeluk tangan. Ia mulai perhatikan keadaan dua orang itu, meskipun sikapnya mesra, tetapi seperti tertotok jalan darahnya. Bukan kepalang terkejutnya, perasaan dengkinya lenyap seketika, dengan cepat ia membuka totokan jalan darah mereka.

Ia mengerti, apabila ia sendiri berada didalam sampan, bagaimana perasaan Nie Soat Kiao nanti maka bersamaan dengan menotok jalan darah mereka, ia sudah lompat terjun kedalam danau, dengan menggunakan ilmu jalan diatas air, ia berlalu meninggalkan sampan. 

Belum lama Siang-koan Kie berlalu, Nie Soat Kiao dan Wan Hauw telah mendusin.

Nie Soat Kiao membuka matanya, ketika menyaksikan keadaannya sendiri, lantas menjerit dan mendorong Wan Hauw.

Wan Hauw yang melihat Nie Soat Kiao marah, sudah ketakutan setengah mati, maka ketika didorong olehnya, ia juga tidak berani menyingkir atau melawan, hingga akhirnya terjatuh kedalam air.

Sesudah mendorong, Nie Soat Kiao baru insaf bahwa perbuatannya itu agak keterlaluan. Ia minum arak tidak, banyak semua kejadian semalam masih ingat semua pikirnya: “urusan ini sebetulnya tidak boleh menyalahkan dia”.

Maka ia lalu menghela napas panjang dan berkata: “Lekas naik ke sampan, mengapa kau tidak pertahankan dirimu?”

Wan Hauw lompat naik keatas sampan, katanya dengan gembira: “Kau sudah tidak marah lagi?”

Pikiran Nie Soat Kiao masih kalut, ia diam saja, tidak menjawab.

Wan Hauw menghela napas perlahan dan berkata, “Asal kau tidak marah, sekalipun kau memukul aku setiap hari, aku juga merasa girang.” Bibir Nie Soat Kiao ber-gerak2, tetapi tidak sepatah kata keluar dari mulutnya. Ia memandang air dalam danau, air mata mengalir bercucuran.

Tiba2 terdengar suara gelepak gelepuk dua kali, Wan Hauw menampar pipinya sendiri. Pukulannya itu sangat berat, hingga mulutnya mengeluarkan darah.

Nie Suat Kiao tidak tega hati, ia ulur tangannya, mengelus- elus pipinya yang bengap, katanya dengan suara bmah lembut: “Dalam hal ini tidak dapat menyalahkan kau mengapa kau siksa dirimu sendiri?”

“Aku kalau melihat kau masgul, dalam hati merasa sedih, aihl Asal. kau gembira, sekalipun aku sendiri harus menderita, juga rela.”

Nie Suat Kiao ulur tangannya, menggenggam tangan Wan Hauw, per-lahan2 jatuhkan dirinya kedalam pelukan Wan Hauw. Sambil mengawasi air didalam danau, ia berkata pula dengan suara lemah lembut: “Kita harus lekas berusaha menumpas Kun-liong Ong, supaya kita bisa mencari tempat yang sunyi untuk tempat tinggal kita, bagaimana pikiranmu?” “Apapun katamu sudah tentu baik.”

“Begitu baik kau perlakukan aku, aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu... “

“Asal kau hidup senang, itu sudah berarti membalas aku.” Sebuah bungkusan tiba2 jatuh kedalam sampan.

Nie Suat Kiao terperanjat, dalam otaknya segera terbayang pula bayangan Siang-koan Kie yang gagah tampan. Pikirannya terganggu lagi, airmata mengalir keluar. Pikirnya dalam hati: “kalau aku benar cintakan padanya, mengapa aku tidak menyerahkan diriku padanya. Sekalipun dikemudian hari ia berubah pikiran, aku juga akan rela menderita. Apabila tadi malam aku tidak menotok jalan darahnya bukankah sekarang dia sudah menjadi kepunyaaanku?. ” Wan Hauw mengambil bungkusan itu, ketika dibukanya.

Didalam terisi pakaian pria dan wanita, masing2 satu setel. Ia sangat girang dan berkata: “Barang ini pastilah toako yang mengantarkan. Aih! Didalam dunia ini, kecuali ibu, hanya suhu dan toako yang paling baik terhadap aku ”

Tiba2 ia menatap wajah Nie Suat Kiao dan bertanya: “Kau sedang memikirkan apa?”

Pertanyaan itu bagaikan ujung pedang menusuk ulu hati Nie Suat Kiao, ia paksakan diri untuk bersenyum, jawabnya: “Cintamu demikian besar terhadap diriku, sayang tadi malam kita men-sia2kan kesempatan baik, aku sedang berpikir akan melahirkan anak untukmu. ”

“Itu baik sekali.” berkata Wan Hauw girang.

“Dikemudan hari apabila kita tidak berada bersama2 dan kau memikirkan diriku, kau boleh memandang anakku. Ini berarti sudah melihat aku.” berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa getir.

Wan Hauw yang bodoh dan jujur, bagaimana dapat menyelami maksud yang terkandung dalam perkataan itu. Dalam girangnya, ia telah berjingkrak-jingkrak seperti kelakuan anak kecil.

Nie Suat Kiao membereskan rambut dan mengganti pakaian, lalu berkata: “lekas ganti pakaianmu.”

Wan Hauw menurut, sembari berpakaian ia berkata: “Hei, aku heran, mengapa toako pergi? Tadi malam ketika aku masuk kedalam sampan ini, rasanya toako juga berada disini.”

“Kau mengoyak pakaianku, ia telah pergi mencari ganti untuk kita.”

“Kalau begitu toako sudah meliiiat aku dalam keadaan telanjang” “Dia seorang laki2 budiman. Sekalipun melihat, juga hanya sepintas lalu saja, tidak nanti ia ambil perhatian.”

“Itu benar, toako memang seorang baik, sedang aku Wan Hauw Aiih! Bagaimanapun juga masih belum hilang sifat monyetku, sehingga melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan kau”.

Nie Suat Kiao sudah mengambil keputusan, pikirannya bahkan merasa tenang, katanya sambil tertawa hambar: “Urusan ini tidak boleh menyalahkan kau seorang saja. Aku sendiri juga bersalah. Bagaimanapun juga dikemudian hari aku juga akan menjadi isterimu, maka urusan ini kau tidak perlu pikirkan lagi.”

“Aih! entah apa sebabnya, aku selalu merasa tidak enak terhadap toako.”

Dalam hati Nie Suat Kiao berkata: “Kalau bukan karena kau, Siang-koan Kie sudah menjadi kekasihku”

Tetapi mulutnya menyahut: “Dalam hal apa kau merasa tidak enak terhadapnya?

“Toako rasanya juga suka padamu, tetapi ia terlalu baik terhadap aku. Ia tidak ingin aku susah hati. Aih! Memang sebenarnya, jika satu hari aku tidak melihat kau, aku merasa tidak enak makan tidak enak tidur. Kalau selamanya tidak dapat melihat kau, lebih baik aku mati saja.”

Entah bagaimana perasaan Nie Suat Kiao pada waktu itu, sesungguhnya tidak dapat dilukiskan dengan pena.

“Kau jangan memikirkan yang tidak2. Toakomu gagah dan tampan. Sesungguhnya merupakan idam2 an bagi setiap gadis. Apa kau khawatir dia tidak akan dapatkan pacar?” katanya sambil menghela napas.

“Perempuan memang banyak, tetapi perempuan yang begitu cantik seperti kau, barangkali sulit dicari keduanya.” “Itu dalam anggapanmu, toakomu belum tentu berpikiran demikian.”

“Benarkah ucapanmu ini?”

“Sudah tentu benar, mengapa aku perlu membohongi kau?”

“Syukurlah kalau begitu, selama beberapa hari ini, aku selalu khawatir, apabila toako juga cintakan kau, lebih baik aku mati saja.”

“Sudahlah jangan bicarakan soal itu, Kun-liong Ong sudah akan kembali karena terpancing akalku. Pertempuran besar sudah berada didepan mala, kita masih belum dapat meramalkan apakah dalam pertempuran ini kita akan dapat merebut kemenangan atau tidak?”

“Aku akan menyertai kau, Kun-liong Ong pasti tidak akan dapat melukai dirimu.”

Nie Soat Kiao per lahan2 melepaskan diri dan duduk disisi Wan Hauw.

“Mulai saat ini, aku tidak izinkan kau menyentuh diriku lagi, sehingga Kun-liong Ong berhasil kita basmi.” kata Nie Soat Kiao, lalu kembali pada sikapnya semula yang ketus dingin.

Wan Hauw yang gagah perkasa, seluruhnya sudah terjatuh dibawah pengaruh Nie Soat Kiao, katanya dengan sikap sungguh2: “Kalau aku dapat membunuh Kun-liong Oag?”

“Waktu itu aku akan menjadi istrimu, segalanya aku akan menuruti kau.”

“Bagus, bagus. ”

“Sekarang seharasnya sudah tiba waktunya.” berkata Nie Soat Kiao sambil membereskan rambutnya.

Dari jauh tiba2 terdengar suara terompet. Nie Seat Kiao pasang telinganya, mendadak ia lompat bangua dan berkata: “Lekas jalan! Kun-liong Ong sudah berada dalam jarak sepuluh pal.”

Dengan menggunakan ilmu berjalan diatas air ia lari menuju kepantai.

Wan Hauw bergerak lebih cepat. Dengan sekali lompat dan jumpalitan ditengah udara, sudah berada sejauh tiga tombak lebih, kemudian dengan dua kali lompatan saja, sudah mencapai pantai.

Nie Suat Kiao menepok tangan dua kali, dari semak2 muncul dua sampan. Dari sampan itu lompat keluar empat laki2 berpakaian ringkas, tanpa diminta oleh Nie Suat Kiao, laki2 itu lalu meniup terompetnya.

Dari tanah datar yang luas, nampak muncul beberapa puluh bayangan orang lari kearah Nie Suat Kiao. Dan air danau yang tenang itu mendadak muncul beberapa puluh sampan, didayung menuju ke pantai. Setelah itu, mereka meninggalkan sampan masing2 dan lari ketempat jauh.

Siangkoan Kie mendadak melayang turun dari atas pohon.

Dengan langkah lambat, ia menghampiri Nie Suat Kiao. kemudian berkata sambil memberi hormat: “Disini Siang-koan Kie menunggu perintah”

Sikap Nie Suat Kiao tidak selemah lembut seperti tadi malam, katanya dengan sikap dingin: “Kau bawa dua jago yang baru kita terima, berjalan bersama2 denganku.”

Siang-koan Kie menerima baik tugas itu, sementara itu dua kacung, Sek-kok taysu, Thian-bok taysu dan Kim Goan To, sudah berdiri berdampingan ditepi danau dan menganggukkan kepala kepadanya.

Tangan Thian-bok taysu tetap membawa senjata tongkatnya. Tongkat itu agaknya menarik perhatian Sek-bok taysu. Sebentar2 matanya ditujukan kearah tongkat itu. Tetapi waktu itu Thian-bok taysu rambutnya sudah panjang, pakaiannya compang camping. Meskipun Sek-bok taysu coba mengamat-amati dengan seksama, tetapi kecuali tongkatnya yang menarik perhatiannya, agaknya tidak menemukan tanda2 yang mencurigakan.

Dari jauh, terdengar suara siulan panjang, bercampur dengan suara terompet.

“Jalan!” demikian Nie Suat Kiao memberi perintah, yang lantas berjalan lebih dulu.

Semua mengikuti Nie Suat Kiao lari menuju ketanah datar yang luas.

Siang-koan Kie lari berendeng dengan dua kacung, ia tanya dengan suara pelahan: “Apakah saudara berdua sudah lama berlalu dari gedung Kun-liong Ong?”

“Waktu kita menunggu saudara, kita telah terjebak dan disekap dalam kamar gelap. Untung nona Nie segera datang menolong dan membebaskan kita.” berkata Thio Hong.

Siang-koan Kie diam2 berpikir: “kalau begitu, Nie Suat Kiao sudah menyebar banyak mata2nya di dalam gedung Kun-liong Ong. ”

Ketika rombongan itu tiba didekat rimba, Nie Suat Kiao berhenti dan berpaling serta berkata: “Tuan2 harap menunggu disini.”

Setelah itu ia sendiri masuk kedalam rimba. Semua orang ternyata mentaati perintahnya menunggu diluar rimba.

Siang-koan Kie memperhatikan keadaannya rimba itu, samar2 tampak sebuah gubuk, Nie Suat Kiao lari menuju kegubuk itu.

Menunggu kira kira seperempat jam, Nie Suat Kiao baru balik. Pada saat itu, ia sudah mengganti pakaiannya, ia berpakaian ringkas, kepalanya dibungkus dengan kain hijau, belakang punggungnya menyoren sebilah pedang panjang, kakinya memakai sepatu kulit, nampaknya semakin gagah dan cantik.

Siang-koan Kie lalu menyongsong dan berkata sambil mengembalikan senjata pusakanya: “Ini senjata nona!”

Nie Suat Kiao memandang senjatanya dan berkata: “Kau pakailah saja.”

Siang-koan Kie hendak menolak, tetapi Nie Suat Kiao sudah berjalan sambil berkata: “Mari kita lekas jalan. Kalau terlambat barangkali akan menggagalkan rencanaku”

Pada saat itu, suara terompet yang terdengar dari empat penjuru, mendadak sirap.

Mereka berjalan kira2 tujuh delapan pal, Nie Suat Kiao mendadak perlambat langkahnya dan berkata: “Harap tuan2 sembunyikan diri.”

Tempat itu adalah jalan raya yang sepi, dan samping jalan, penuh tumbuhan rumput alang2. Kecuali itu, sudah tidak ada tempat yang lebih baik untuk sembunyikan diri.

Oleh karenanya, rombongan orang2 itu terpaksa sembunyikan diri dalam rumput dan alang2 yang lebat itu.

Dari dalam sepatunya Nie Suat Kiao mengeluarkan sebuah sempritan dan ditiupnya, hingga mengeluarkan suara melengking.

Sebentar kemudian, nampak beberapa sosok bayangan orang dari jurusan barat lari menghampiri. Orang2 itu lari pesat sekali, sebentar saja sudah tampak nyata.

Nie Suat Kiao menyimpan sempritannya lagi dan sembunyikan diri didalam gerombolan alang2. Entah disengaja atau tidak, ia rebah didamping Siang-koan Kie.

Bayangan orang yang lari mendatangi itu, dengan cepat sudah berada ditempat mereka sembunyi.

Siang-koan Kie sudah siap hendak melakukan penyergapan sebab orang yang sembunyi disitu jumlahnya banyak, mudah dilihat. Daripada kepergok, lebih baik disergap lebih dulu.

Orang2 itu semuanya mengenakan kerudung hitam dimuka masing2, hanya tampak dua lobang di bagian matanya.

Siang-koan Kie diam2 menghitung jumlahnya orang2 itu, semuanya ada lima. Dilihat dari dandanannya, nyata bukan orang2 dari golongan pengemis. Selagi hendak mengajak Wan Hauw bertindak, orang yang berada d tengah, mendadak membuat tanda rahasia lingkaran diatas kepalanya, kemudian membuka kerudungnya.

Nie Suat Kiao menarik baju Siang-koan Kie, katanya dengan suara perlahan: “Bangun”

Nie Suat Kiao bangun lebih dulu, menyongsong orang2 berkerudung itu.

Siang-koan Kie terpaksa bangun. Ia mengikuti dibelakang Nie Suat Kiao dengan senjata ditangan.

Nie Suat Kiao membuat tanda rahasia dengan tangannya, lima orang itu berlutut semua. Siang-koan Kie diam2 berpikir: “Nie Suat Kiao dibesarkan dalam istana Kun-liong Ong, dengan sendirinya kenal baik dengan semua tanda rahasia”

Lima orang itu masih belum diketahui benar keadaannya, tetapi rupanya tidak bermaksud jahat.

“Dimana sekarang Ong-ya?” demikian Nie Suat Kiao bertanya kepada lima orang itu. “Berada disuatu tempat sejarak lima pal dari sini.” jawab salah satu diantara mereka.

“Mengapa tidak pergi?”

“Ong-ya sebetulnya sudah menuju kemari, tetapi karena melihat gelagat tidak beres, segara mundur lagi sepuluh pal”

“Sekarang berada dimana?”

“Di istana Sun-yangkiong, sedang mengatur komando.'' “Kalian pergilah!” demikian akhirnya Nie Suat Kiao

memerintahkan mereka berlalu.

Lima orang itu berbangkit dan lari balik ketempat mereka semula.

Siang-koan Kie menanya dengan suara pelahan: “Apakah orang2 itu setia kepada nona?”

“Aku pernah melepas budi kepada mereka. ”

Siang-koan Kie diam2 berpikir: “Kalau begitu ia sudah lebih dulu menaruh orang2nya dalam istana Kun-liong Ong”

“Sayang, aku sudah berusaha dengan susah payah, ternyata masih belum berhasil memancing musuh masuk perangkap” berkata Nie Suat Kiao sambil menghela napas.

“Kalau kita mengerahkan semua orang2 kita disini, terus menyerbu keistana Sun-yang-kiong, apakah Kun-liong Ong bisa keluar sendiri?”

“Meskipun bisa memaksa padanya turun tangan sendiri, tetapi itu akan merupakan satu pertempuran yang membawa banyak risiko.”

Sementara itu, dari jurusan utara mendadak tampak beberapa penunggang kuda lari mendatangi kearah mereka. Yang berada dimuda adalah Auw-yang Thong sendiri, dibelakangnya diikuti oleh lima laki2 tegap berpakaian abu2 yang masing2 membekal senjata golok terbang.

Lima laki2 itu adalah dari delapan pasukan gagah berani yang dibentuk oleh Teng Soan. Pasukan berani mati itu dua diantaranya telah gugur dan satu terluka, hingga hanya tinggal tiga orang yang masih dapat menyumbangkan tenaganya.

Nie Suat Kiao segera menyambut kedatangan pangcunya. Auw-yang Thong lompat turun dari kudanya dan berkata:

“Tidak usah banyak peraturan. Kau selama ini telah

menempuh banyak bahaya, kami selalu memikirkan keselamatanmu. ”

“Hambamu telah mengerahkan banyak tenaga, tetapi masih belum mendapat hasil apa2, sehingga mengecewakan pengharapan pangcu dan kawan2 semuanya, terutama terhadap Teng sianseng yang kini sudah bersemayam dialam baka.” berkata Nie Suat Kiao.

“Kun-liong Ong sangat jahat, kejam dan banyak akalnya. Sahabat2 dunia persilatan pada segan terhadapnya. Tetapi kau dalam beberapa bulan yang sangat singkat saja, sudah berhasil memperbaiki keadaan, bahkan berhasil merebut posisi yang menguntungkan, hingga Kun-liong Ong harus berlarian tanpa tujuan. Kepandaian semacam ini, mana orang lain dapat menandingi? Aih! Teng sianseng yang belum berhasil menyelesaikan tugasnya, sudah mangkat lebih dulu, sehingga meninggalkan usaha besarnya yang tertinggal setengah jalan. Jikalau bukan nona yang melanjutkan tugasnya itu, benar2 tidak tahu apa yang akan terjadi dirimba persilatan. Tenaga

yang nona butuhkan, sekarang kami sudah bawa semua untuk menunggu perintahmu.”

“Kun-liong Ong belum mendekati istananya, sudah dapat firasat tidak baik dan buru2 mengundurkan diri ke istana Sun yang-kioag. Dari sana ia mengeluarkan perintah dan mengumpulkan bala bantuan, sehingga semua usaha hamba ter-sia2 belaka.” berkata Nie Suat Kiao sambil menghela napas.

“Kun-liong Ong memang cerdik luar biasa, bagaimana kita boleh pandang sebagai musuh biasa? Kalau ia sudah undurkan diri ke istana Sun-yang-kiong, apakah kita perlu merubah siasat mengadakan pertempuran yang memutuskan dihadapan istana Sun-yang-kiong?” bertanya Auw-yang Thong.

Nie Suat Kiao berpikir sejenak, lalu berkata: “Pertempuran dengan musuh yang berada di jalan buntu, pasti akan mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga yang ada untuk melakukan pertempuran mati2an. Ini barangkali akan merupakan suatu pertempuran yang akan memakan banyak korban jiwa manusia, lagi pula. Menurut dugaan hamba, dalam pertempuran itu meskipun kita berhasil membasmi seluruh anak buah Kun-liong Ong, belum tentu dapat membekuk Kun-liong Ong sendiri.”

“Menurut pikiranmu?”

“Kalau tidak terpaksa, kita jangan menggunakan tenaga anak buah golongan kita untuk melakukan pertempuran mati2an dengan orang2 yang sudah makan obat melupakan diri.”

“Itu memang benar, semua terserah padamu, kita semua akan menurut perintahmu.”

“Pangcu adalah pemimpin kita, bagaimana boleh diperintah orang lain?”

“Jikalau perlu, aku sendiri juga akan menghadapi musuh.” “Lima saudara2 ini apakah juga orang2 golongan

pengemis?” “Mereka dari pasukan delapan orang berani mati, sayang kini tinggal enam dan yang satu terluka pula, hingga tidak dapat turut bertempur.”

“Hamba ingin memilih beberapa orang untuk keperluan rrenijari keterangan dimana Sun-yang-kiong.”

“Bolehkah aku menyertai kau?”

“Hamba tidak berani minta bantuan pangcu” berkata Nie Soat Kiao, kemudian berkata bisik2, entah ada iang dibicarakan.

Auw-yang Thong angguk anggukkan kepala dan berlalu, meninggalkan lima anak buahnya untuk keperluan Nie Soat Kiao.

Setelah Auw yang Thong pergi jauh, Siang-koan Kie lalu berkata kepada Nie Soat Kiao: “Kita perlu bertindak cepat, bagaimana kalau kita berangkat dengan segera?”

“Mengapa kau tergesa-gesa. Apakah kau khawatir tidak akan berkelahi?” berkata Nie Suat Kiao. Kemudian memberi tanda kepada orang2 yang sembunyikan diri, hingga sebentar kemudian orang2 itu pada keluar dari tempat persembunyiannya.

Siang-koan Kie mengawasi mereka sejenak, lalu berkata: “Dalam perjalanan kita ke istana Sun-ying-kiong ini, maksudnya hanya hendak mengadakan penyelidikan saja. Kalau membawa orang terlalu banyak, malah kurang leluasa dan mudah diketahui musuh. Menurut pikiranku, sebaiknya kita memilih beberapa diantara mereka untuk kawan nona.”

“Tidak perlu kau turut campur, aku mempunyai rencana sendiri.” berkata Nie Suat Kiao sambil bersenyum.

Siang-koan Kie diam, berjalan mengikuti Nie Suat Kiao. Rombongan orang yang dipimpin oleh Nie Soat kiao itu berjalan beberapa pal. Dari jauh nampak beberapa ujung bangunan rumah, terdapat diantara gerombolan pohon lebat.

Nie Suat Kiao tiba2 berhenti, berpaling dan berkata kepada lima pasukan berani mati: “Kalian berhenti disini membentuk barisan untuk menyambut kita.”

Lima orang dari pasukan berani mati itu segera memencarkan diri, membentuk barisan.

Jalan lagi sepuluh tombak lebih, Nie Suat Kiao meninggalkan Sek-bok taysu dan dua kacung di-tempat itu.

Ketika berjalan lagi dan tiba dipinggir rimba, kembali ia meninggalkan Thian-bok Taysu dan Kim Goan To.

Dengan demikian, kini tinggal ia sendiri, Siang-koan Kie dan Wan Hauw

Tidak ada setombak kedalam rimba, dari belakang pohon besar keluar beberapa laki2 berpakaian hitam bersenjata golok, menghadang ditengah jalan.

Nie Suat Kiao lalu berkata sambil memberi hormat: “Tolong sampaikan kepada Kun-liong Ong. Katakan saja bahwa kongcu yang dahulu di istana dan kini menjadi penasehat golongan pengemis, Nie Suat Kiao, ada urusan penting ingin bertemu dengannya.”

Seorang diantaranya mengawasi Nie Suat Kiao sejenak, lalu berkata: “Tunggu sebentar, aku akan melaporkan lebih dulu.”

Nie Suat Kiao berpaling dan menatap Siang-koan Kie, kemudian bertanya dengan suara lemah lembut: “Masih marahkah?”

“Mana hamba berani marah,” jawabnya yang ditanya. “Apa kau memakai rompi wasiat?”

“ya.” “Bagus, aku juga memakai baju wasiat, kalau sampai terjadi pertempuran dengan Kun-liong Ong, kau tidak usah memikirkan diriku... Ada lebih baik kau berusaha memperhatikan saudaramu.”

“Baik.” jawabnya sambil tundukkan kepala.

“Hidup manusia seperti mimpi, perjuangan hidup seperti main catur, kau harus bisa memikir dengan kepala dingin. ”

“Aku selalu bisa memikir. ” berkata Siang-koan Kie sambil

angkat muka, sepasang matanya tiba2 beradu dengan pandangan mata Wan Hauw. Memikirkan kejadian tadi malam, ia merasa malu terhadap dirinya sendiri.

-odwo-

106

Ia coba empos semangatnya, sambil bersenyum berkata kepada Wan Hauw: “Saudara Wan.”

“Toako ada perintah apa?” balas tanya Wan Hauw. “Sebentar kita akan bertemu muka dengan Kun-liong Ong,

ini berarti kita juga akan terkurung rapat oleh orang2nya.” “ya, tetapi aku sedikitpun tidak merasa takut.”

“Kun-liong Ong seorang kejam dan banyak akalnya, merupakan seorang jahat berkaliber besar”

“Aku tahu”

“Sebentar kalau kita bertempur dengan orang2nya Kun- liong Ong, kau jangan ragu, keluarkanlah seluruh kepandaianmu. Supaya Kun-liong Ong juga kenal kepandaian kita. ”

Wan Hauw seperti ingat sesuatu, katanya: “Toako, kalau begitu bukankah akan membunuh banyak orang?” “Benar, tetapi kalau kita tidak membunuh, orang lain yang akan membunuh kita.”

“Siaotee ingat pesan toako.”

Seorang berpakaian hitam tiba2 datang dengan tindakan ter-gesa2, kemudian berkata: “Ong-ya undang nona bertiga masuk“

Gedung yang dinamakan istana Sun-yang-kiong itu, mau dikatakan besar juga tidak besar, mau dikata kecilpun tidak kecil. Kecuali dua halaman yang terdapat didepan dan belakang gedung, semu-anya cuma terdapat tiga buah bangunan gedung.

Laki2 berpakaian hitam itu ajak tetamunya melewati gedung pertama dan tibalah digedong kedua.

Dibagian luar terdapat sebuah tempat setinggi dua kaki, yang merupakan satu bangsal. Tempat tinggi itu terbuat dari batu warna hijau.

Diatas tempat itu terdapat satu kursi kebesaran, diatasnya duduk seorang laki mengenakan jubah hijau, diluarnya tertutup oleh kain kuning.

Orang itu mempunyai kesan sangat dalam, dalam hati Nie Suat Kiao. Tanpa perhatian, sikap dan dandanan orang itu, sudah cukup mengenalnya. Ia bukan lain daripada Kun-liong Ong.

Kali ini Kun-liong Ong ternyata sangat berani. ia duduk ditempat tinggi tanpa seorang pengawal yang menyertai.

Nie Suat Kiao memandang keadaan disekitarnya sejenak, kemudian berjalan ketangga yang naik ketempat itu.

“Penasehat golongan pengemis, disini menjumpai Ong-ya.” demikian katanya. “Bagus” berkata Kun-liong Ong dingin, “kau ternyata sudah melanjutkan jabatan Teng Soan sebagai penasehat golongan pengemis.”

“Terlebih dahulu, atas nama Nie Suat Kiao yang pernah dibesarkan olehmu, aku mengucapkan banyak2 terima kasih atas budimu.”

“Jadi anak mau melawan ayah.”

“Semua ini karena terpaksa, harap ayah maafkan.”

Kun-liong Ong mendadak ulur tangannya menyambar tangan Nie Soat Kiao Nie. Nie Soat Kiao meskipun berlutut, tetapi diam2 telah waspada memperhatikan gerak-gerik Kun- liong Ong. Ketika tangannya menyambar dengan cepat melompat mundur sejauh lima kaki dengan sikap masih tetap.

“Bagus.” berkata Kun-liong Ong sambil tertawa dingin, “kepandaianmu ternyata sudah banyak maju.”

Kembali tangannya bergerak menotok jalan darah Nie Soat Kiao.

Nie Soat Kiao Mengebutkan lengan bajunya menahan totokan jari tangan Kun-liong Ong.

Orangnya menggeser kepinggir lima kaki, katanya: “Ayah sudah pergunakan jarum beracun menusukkan kebadan anak. Benda yang sangat berbisa ini, didalam anggapan ayah, tentunya sudah tidak tertolong lagi. Dengan demikian, ayah tentunya juga sudah menganggap bahwa anak yang ayah besarkan itu, sudah mati”

“Tetapi kau sekarang toh masih hidup seger bugar, bahkan berani memusuhi aku.” berkata Kun-liong Ong dingin.

Nie Suat Kiao lompat bangun dan berkata sambil tertawa: “Aku sudah berlutut dihadapanmu untuk mengucapkan terima kasihku atas buaimu yang membesarkan diriku. Mulai sekarang, tali ikatan antara anak dengan ayah sudah putus.” “Nyalimu sungguh besar.” berkata Kun-liong Ong sambil tertawa dingin.

“Untuk selanjutnya kita akan merupakan musuh bebuyutan.

Masing2 akan menggunakan segala kemampuan yang ada, baik kepandaian ilmu silat maupun kecerdikan otak, mencari keputusan dimedan pertempuran”

“Apa kau kira bahwa kau bisa keluar dari sini dalam keadaan selamat?”

“Tahukah kau bahwa setiap orang yang berani datang kegoa macan, sudah tentu sudah mempunyai persiapan. Jikalau tidak, bagaimana aku berani gegabah datang kemari?”

Kun liong Ong mendadak bangkit dengan sinar matanya yang dingin menatap wajah Nie Suat Kiao.

Wan Hauw dengan cepat bergerak, mendekati Nie Suai Kiao. Dengan sinar mata berapi api memandang Kun-liong Ong.

Siang-koan Kie menghunus senjata pusakanya belati emas, ia berkata sambil membulang-balingkan senjatanya: “Aku telah dipesan oleh Teng Soan, untuk mengambil balok kepalamu, akan digunakan untuk sasajen dihadapan kuburannya”

Kun-liong Ong tidak menghiraukan Siang-koan Kie, matanya tetap ditujukan kepada Nie Suat Kiao, katanya: “Kau seharusnya membawa orang lebih banyak, didalam golongan pengemis tidak banyak orang yang berkepandaian tinggi.'

“Tidak perlu kau bercapek hati, aku sudah mempunyai persiapan sangat rapi.”

“Itu bagus.”

Dengan mendadak Kun-liong Ong melambaikan tangannya.

Dari empat penjuru tempat yang tinggi itu, dalam waktu singkat sudah muncul empat atau lima puluh orang berpakaian hitam, mengurung Nie Suat Kiao bertiga.

Sepintas lalu Siang-koan Kie menyapu orang2 itu dalam hatinya berpikir: “begini banyak orang. Apabila mereka bergerak dengan serentak, tidak mudah keluar dari istana Sun-yang kiong ini”

Nie Suat Kiao tiba2 membereskan rambutnya yang panjang dan tertawa terbahak-bahak.

“Mengapa kau tertawa?” tegur Kun-liong Ong gusar “Sebelum orang2 ini unjukkan diri aku masih merasa

khawatir, entah dengan cara bagaimana kau hendak

menghadapi aku. Tetapi sekarang hatiku sebaliknya merasa lega. ”

Kun-liong Ong agaknya tersadar bahwa tindak kannya itu keliru. Karena ia selamanya dapat menyembunyikan perasaannya. Dibalik wajahnya yang memakai kedok kulit manusia, maka perasaannya tidak diperlihatkan kepada Nie Suat Kiao karena ini berarti akan menambah keyakinan gadis itu”

Ia mengeluarkan suara batuk2 ringan, mengendalikan hawa amarahnya, kemudian berkata: “Apa kau anggap bahwa aku sudah tidak sanggup menahan kau didalam istana ini?”

“Aku sudah mempunyai persiapan cukup. Golongan pengemis akan mengerahkan seluruh kekuatan yang ada, melindungi jiwaku. ” katanya dengan suara lantang, kembali

ia tertawa terbahak2. “Mereka sudah kehilangan Teng Soan, tidak akan membiarkan aku terganggu oleh siapa pun jua ”

Kun-liong Ong tenang kembali pikirannya, walaupun hawa amarahnya masih berkobar.

Pelahan2 matanya beralih kearah Siang-koan Kie dan Wan Hauw, katanya dingin: “Apakah hanya mereka berdua?. Aku tidak percaya pengawalku yang jumlahnya demikian banyak tidak sanggup menghadapi mereka berdua. Asal orang2ku berhasil mengurung mereka sampai lima puluh jurus saja, aku bisa dengan mudah menangkap kau.”

Nie Suat Kias tertawa menyeringai dan berkata: “Kita berpisah sudah cukup lama, jarum beracun yang kau pernah katakan sebagai senjata berbisa yang tidak ada obatnya, toh masih tidak bisa berbuat apa2 terhadap diriku. ”

Selagi hendak membuka mulut, Nie Suat Kiao sudah mendahului berkata lagi: “Ini berarti, bahwa selama waktu itu, aku telah menemukan kejadian ajaib. Sudah bisa mengeluarkan jarum berbisa dari tubuhku mungkin juga mendapat pelajaran ilmu silat yang aneh, kalau kau tidak percaya, boleh coba!”

Sementara itu Siang-koan Kie masih tujukan perhatiannya kepada orang2 berbaju hitam disekitarnya. Otaknya berputar memikirkan bagaimana harus melepaskan diri dari kepungan mereka.

Kun-liong Ong yang sudah pernah merasakan bogem siang- koan Kie dan Wan Hauw, tahu benar bahwa ilmu kepandaian dua pemuda itu, agaknya memang ditujukan untuk menghadapi dirinya. Dengan demikian, maka iblis yang pernah malang-melintang didunia Kang-ouw tanpa kenal takut, kini telah kehilangan kepercayaan. Ia ragu2, tidak berani mengeluarkan perintah kepada orang2nya melakukan serangan.

Nie Suat Kiao tertawa dingin dan berkata puia: “Karena kau tidak menahan sabar, sehingga mengacaukan rencanamu sendiri, kau pulang terlalu cepat”

Dengan berani ia memandang muka Kun-liong Ong yang bagaikan bangkai hidup itu, katanya dengan suara lantang: “Orang2 kuat yang dipimpin oleh raja2 muda timur, barat, selatan dan utara, masih berada di tempat yang jauhnya ratusan pal. Dalam tempo satu hari satu malam, mereka tidak keburu datang untuk menolong kau. Istanamu meskipun letaknya agak dekat, sayang tidak ada orang yang memimpin, hingga mereka juga tidak akan datang untuk menolongmu.

Aku bisa lolos dari tanganmu apa kau kira ini tidak ada pengaruhnya bagi orang lain? Sekarang ini, kau sudah berada dalam keadaan terpencil, orang2mu sudah meninggalkan kau”

“Bwee Cian Tai...” berkata Kun-liong Ong.

Nie Suat Kiao tidak membiarkan ia melanjutkan katanya, sudah dipotong: “Kita sudah bertemu muka dengannya”

“Aku tidak percaya ia berani mengkhianati aku”

“Kecuali kalau ia juga kau berikan makan obat melupakan diri. Ketahuilah kau, kekuasaan dan kewibawaanmu, kau bangun diatas perbuatanmu yang kejam, maka itu, kau tidak berani memberi kebebasan kepada orang2 bawahanmu.

Sekalipun orang2 yang terdekat seperti anak2 angkatmu dan istrimu, begitu juga keadaannya. Bwee Cian Tai memang tidak berani mengkhianati kau tetapi setelah ia bertemu denganku, lain lagi keadaannya. Ong-ya, kau harus mengerti, kau adalah seorang yang tidak bisa memerintah orang2 yang berpikiran waras dan sadar. Kau tahu sendiri, Bwee Cian Tai masih mempunyai kesadaran berpikir ”

“Tidak ada orang yang mempunyai nasib seperti kau.

Meskipun aku sudah lama tahu bahwa kau sangat licin, sayang aku tidak lebih dulu membunuhmu”

Nie Suat Kiao bercekat, ia berpikir sejenak, baru berkata: “Apa kau juga memasukan jarum beracun melekat tulang dalam tubuh Bwee Cian Tai?”

“Kenapa?”

“Aku dapat mengeluarkan jarum beracun dari tubuhku, sudah tentu dapat menolong dia”

Sinar mata buas tampak dimata Kun-liong Ong tetapi sebentar lenyap kembali, akhirnya ia terpaksa menindas perasaannya sendiri dengan sabar berkata: “Bwee Cian Tai, dia tidak seperti kau. Dia menerima budiku, dia tahu bagaimana harus membalas budi itu”

Kun-liong Ong tahu bahwa mengulur waktu menguntungkan dirinya.

Sebaliknya dengan Nie Suat Kiao, setelah mengetahui bahwa pengawal Kun-liong Ong hanya kira-kira limapuluh orang, ia tahu bahwa lekas dibereskan menguntungkan pihaknya. Maka ia berkata: “Kalau kau tidak memasukan jarum beracun dalam tubuhnya, bagaimana dia bisa setia kepadamu? Dalam banyak hal, orang2 yang menganggap dirinya pintar, kadang2 menjadi keblinger”

Ia berusaha supaya Kun-liong Ong marah dan turun tangan lebih dulu, tetapi Kun-liong Ong ternyata tidak kena terpancing.

Dengan tenang Nie Suat Kiao berkata lagi sambil tertawa: “Kamar racun yang kau gunakan untuk kendalikan orang2mu. ”

“Kenapa?. ”

“Kokoh luar biasa, penuh pesawat jebakan . “Kiranya kau juga tidak sanggup mendobrak”

“Apa kau masih ingat dalam kamar racun itu ada seorang Thian-bok taysu?”

Kun-liong Ong berpikir sejenak, agaknya sedang memikirkan nama orang yang ditanyakan itu, mendadak ia lompat bangun dan bertanya “Dia kenapa?”

“Sekarang berada diluar istana Sun yang-kiong ini, apa kau ingin menjumpai?”

Kun liong Ong tiba2 kebutkan lengan jubahnya. Beberapa batang jarum berbisa yang halus dan berkeredapan, menyerang tubuh Nie Suat Kiao. Nie Suat Kiao hanya memalingkan mukanya, mengelakkan jarum itu dan membiarkan jarum2 itu menyerang tubuhnya.

Kun-liong Ong tiba2 tertawa ter-bahak2 dan berkata: “Kau bisa mengelakkan serangan jarum beracunku, tetapi kau lupa caranya aku menyerang, kadang2 diluar dugaan orang.”

“Sayang, jarummu kali ini kurang keras bisanya barangkali tidak dapat melukai aku.”

Mendadak ia menggoyangkan badannya, jarum yang menancap dibadannya itu semua terjatuh di tanah.

Keadaan itu mengejutkan Kun-liong Ong, kami sekali baru bisa membuka mulut: “Kau, kau dapat pelajaran ilmu kepandaian apa lagi?”

“Suruh orang2mu beristirahat dulu sebentar, dalam pertempuran kelas tinggi, mereka tidak bisa campur tangan, bahkan akan merepotkan saja”

Kun-liong Ong agaknya sudah jatuh dibawah pengaruh Nie Suat Kiao. Meskipun ia selamanya malang mellntang tanpa tandingan, tetapi sekarang ia telah dijatuhkan Nie Suat Kiao yang pandai mengatur siasat.

Hilanglah ketenangannya, juga timbullah kebuasannya. Ia memikirkan kamar racunnya yang digunakan untuk mengendalikan orang2nya itu merupakan pusat kekuasaannya.

Nie Suat Kiao mengharapkan bahwa kata2nya itu dapat mengobarkan kemarahan Kun-ling Ong, supaya timbul pikirannya untuk pulang keistananya

Kun-liong Ong juga sebenarnya sudah mulai tidak sanggup kendalikan perasaannya, ia mulai mempertimbangkan kekuatannya sendiri. Apabila ia seorang diri, dengan mengandalkan kepandaiannya, menerjang keluar dari kepungan orang2 golongan pengemis, rasanya tidak menjadi soal. Tetapi semua pengawalnya itu, meskipun kepandaian mereka cukup tinggi, tetapi biar bagaima masih belum mampu melawan orang2 kuat golongan pengemis. Maka dengan membawa orang demikian banyak, barangkali tambah menyulitkan dirinya.

Sambil menatap wajah Nie Suat Kiao ia berkata: “Apa kau juga berani melawan aku seorang diri?”

Nie Suat Kiao terkejut, ia tahu bahwa Kun-liong Ong sudah masuk perangkapnya.

Tetapi ia harus menempuh bahaya bertempur dengannya seorang diri.

Ia mengingat kembali ilmu kepandaiannya yang dipelajari ber-sama2 dengan Wan Hauw selama berdiam diatas gunung, kemudian angkat muka dan berkata sambil tertawa hambar: “Kalau Ong-ya ingin menguji kepandaianku, aku bersedia mengiringi kehendakmu.”

“Baik, beginilah kita tetapkan ” berkata Kun-liong Ong,

matanya mengawasi Wan Hauw dai Siang-koan Kie, lalu berkata pula: “Suruh mereka mundur.”

“Bagaimana dengan pengawalmu?”

Kun-liong Ong melambaikan tangannya, pengawal baju hitam yang berada disekitar tempat tinggi, tiba2 undurkan diri.

Siang-koan Kie menyerahkan senjata pusakanya kepada Nie Suat Kiao seraya berkata: “Kau akan bertempur dengannya. Aku tahu, sekalipun kau tidak bisa menangkan dia, tetapi dengan senjata ini ditanganmu, juga tidak akan kalah ditangannya.”

“Benarkah?” tanya Nie Soat Kiao sambil bersenyum manis, perkataan Sian-koan Kie agaknya memberi semangat dan kepercayaan tidak sedikit.

“Benar, tetapi yang penting adalah kau harus singkirkan dulu perasaan takutmu. Kepandaianku sendiri, sebetulnya belum sebanding dengannya, tetapi karena aku tidak mempunyai perasaan takut terhadapnya, maka setiap kali kita bertempur, ia selalu tidak berhasil menangkan aku. Itu disebabkan karena hawaku menangkan padanya lebih dulu, se-tidak2nya, aku tidak mempunyai perasaan takut terhadapnya. ”

“Aku tidak takut dia!” berkata Nie Suat Kiao sambi! menyambut pedang pusaka dari tangan Siang-koan Kie, “kalian mundur sedikit jauh.”

Siang-koan Kie dan Wan Hauw saling berpandangan sebentar, pelahan2 undurkan diri.

“Aku memberikan kesempatan padamu menyerang lebih dulu tiga jurus.” berkata Kun-liong Ong dingin, matanya mengawasi pedang emas ditangan Nie Suat Kiao.

Rasa takut yang ber-tahun2 mencekam hati Nie Suat Kiao, sekali berhadapan muka, sekalipun seorang pintar seperti ia, juga masih merasa gentar. Ia berlaga membereskan rambutnya, sedapat mungkin menekan perasaan takutnya. Ia coba berlaku tenang, katanya sambil tertawa: “Kau seharusnya juga mengeluarkan senjatamu! Golok emasku ini mempunyai ketajaman luar biasa.”

“Kalau kau sanggup bertahan sampai tigapuluh jurus, aku nanti baru menggunakan senjata” berkata Kun-liong Ong gusar, “lekas turan tangan, kalau tidak kau nanti akan kehilangan kesempatan baik.”

“Baiklah!” Nie Suat Kiao menerima baik. Goloknya lalu diputar, dengan satu gerakan 'Naga pentang kuku' menotok jalan darah Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong tidak berkelit atau menyingkir, dengan tangan kanannya ia coba merebut tangan Nie Suat Kiao yang memegang senjata. Tetapi setengah jalan tiba2 lompat mundur dan berkata: “Aku lupa telah memberikan kesempatan padamu untuk menyerang lebih dulu sampai tiga jurus, seranganmu ini tidak dihitung.”

“Senjataku ini luar biasa tajamnya, kau jangan menyentuhnya.” berkata Nie Suat Kiao, kembali memutar senjatanya, sekaligus melancarkan tiga serangan.

Serangannya itu mengandung kekuatan sangat hebat, ternyata bukan ilmu silat yang diajarkan oleh Kun-liong Ong.

Manusia buas itu diam2 terkejut, ia mulai percaya bahwa bekas anak pungutnya itu benar2 menemukan kejadian gaib.

Sementara itu serangan Nie Suat Kiao telah dilakukan semakin gencar.

Kun-liong Ong karena memberikan kesempatan kepada Nie Suat Kiao menyerang lebih dulu sampai tiga jurus, dengan demikian hingga ia tidak mendapat kesempatan untuk melakukan serangan pembalasan, maka terpaksa mundur terus hingga tujuh atau delapan kaki jauhnya.

Nie Suat Kiao semakin besar kepercayaannya, ia menarik kembali serangannya dan berkata sambil tertawa terkekeh- kekeh: “Kalau kau tidak menggunakan senjata. barangkali sudah tidak mendapat kesempatan lagi.”

Kun-liong Ong tidak menjawab, jari tangannya melancarkan satu totokan.

Hembusan angin keluar dari jari tangannya, menuju kearah jalan darah 'Hian-kit-hiat' didada Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao mengelak, sebelum senjatanya balas menyerang, Kun-liong Ong sudah merangsak maju. Tangan kanannya menyerang kepala, tangan kiri menotok empat jalan darah penting Nie Suat Kiao.

Dua serangan yang dilakukan dengan dua tangan itu, menggunakan gerak tipu serangan yang sangat berlainan sifatnya. Nie Suat Kiao terkejut, senjata pusakanya diputar untuk melindungi dirinya.

Kun-liong Ong sudah perhitungkan bahwa serangannya itu sekalipun tidak berhasil mengenakan sasarannya, tetapi se- tidak2nya dapat memaksa Nie Suat Kiao lompat mundur.

Tidak disangka Nie Suat Kiao menutup dirinya dengan sinar pedang seningga malah ia sendiri yang dipaksa menarik kembali serangannya.

Setelah berhasil membatalkan serangan Kun-liong Ong, Nie Suat h iao merobah gerak tipunya, deag-lan beruntun menyerang sehingga tiga kali.

Serangannya itu tidak ganas, tetapi setiap gerakan mengandung banyak perubahan yang tidak mudah ditangkis oleh lawannya.

Kun-liong Ong terdesak mundur oleh serangan Nie Suat Kiao, bukan kepalang marahnya. Selagi hendak menurunkan tangan kejam, agar dapat menangkap atau melukai dirinya, tak disangka bahwa serangan yang digunakan oleh Nie Suat Kiao ternyata merupakan gerak tipu yang belum pernah disaksikan atau dikenalnya. Kun-liong Ong sebetulnya luas pengetahuannya dalam gerak tipu ilmu silat berbagai golongan. Tetapi gerak tipu yang digunakan oleh Nie Suat Kiao itu, adalah gerak tipu yang baru pertama kali dilihatnya, sudah tentu membuat ia terheran-heran.

Kepercayaannya mulai goyah, ia juga mulai berpikir dan memperhitungkan orang kuat yang berada dibelakang Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao setelah berhasil mendesak mundur Kun-liong Ong, kepercayaan atas dirinya sendiri semakin besar. Ia menarik kembali serangannya seraja berkata sambil tertawa: “Ong-ya keluarkan senjatamu!” Kun-liong Ong diam saja, meskipun tidak dapat diketahui bagaimana perobahan mukanya yang berkedok kulit manusia, tetapi dan sikapnya dapat diketahui bahwa semangatnya sudah mulai menurun.

Perlahan2 ia membuka jubahnya, mengeluarkan sebuah benda hitam bagaikan ulat bentuknya, ia kibaskan dan keluarlah sebatang pecut lemas.

“Kepandaian ilmu silatmu, jauh diluar dugaanku ”

demikian ia berkata.

“Aku tadi sudah minta kau mengeluarkan senjatamu, tetapi kau tidak mau dengar.” berkata Niel Soat Kiao sambil tertawa.

Sementara dalam hatinya diam2 telah waspada. Dalam ingatannya, Kun-liong Ong setiap kali menghadapi musuh2nya, belum pernah menggunakan senjata. Senjata pecut lemas bagaikan ulat ini entah bagaimana cara menggunakannya?

Mata Kun liong Ong tertambat oleh senjata luari biasa Nie Soat Kiao, sambil menatap senjata di tangan gadis itu, Kun- liong Ong berkata pelahan2: “Aku hendak menanya sesuatu hal, apa kau mau menjawab terus terang?”

“Si!ahkanl”

“Senjata untuk bertempur, kebanyakan terbuat dari besi atau baja, tetapi golokmu ini, mengapa terbuat dari emas?”

“Apa yang kau pikirkan belum tentu seperti apa yang kau tanyakan. Apa yang kau ingin tanyakan, tentunya adalah: mengapa senjata ini demikian tajam?”

“Anggaplah begitu.”

“Senjata emasku ini ada riwayatnya. ”

“Apakah bukan golok emas mengejutkan sukma.” “Tidak salah ” Kan-liong Ong menghela napas panjang, katanya: “Golok emas sudah muncul, dua pusaka lainnya pasti juga muncul bersama golok emas.”

“Tiga pusaka rimba persilatan memang sudah keluar semua.”

Dengan sinar mata aneh Kun-liong Ong memandang Nie Suat Kiao, berkata dengan menggunakan nada suara lemah lembut yang ia belum pernah gunakan: “Anak, dibawah tanganku, ada banyak orang orang kuat rimba persilatan, tetapi kalau ditilik dari kepintaran dan keberanian, kau terhitung yang teratas ”

Nie Suat Kiao melengak, katanya: “Terima kasih alas pujianmu, aku tidak sanggup menerima.” Ia tertawa dingin “oleh karenanya, maka kau harus membunuh aku baru puas.”

“Aku telah berusaha sekian lama, membangun istana dan mengumpulkan banyak orang kuat, ini bukan semata-mata untuk merebut kedudukan di rimba persilatan saja.”

“Aku tahu, kau bermaksud hendak merebut kekuasaan dalam pemerintahan”

“Itu benar! Kalau cita2ku ini tercapai, satu2nya orang yang dapat menggantikan kedudukanku sebagai kaisar, adalah kau sendiri. ”

“Ucapanmu ini bukankah sudah terlambat?”

“Kalau tiga benda pusaka rimba persilatan itu tidak keluar, usaha besar ayahmu ini, belum berani menentukan hasilnya. Aih! Anak, kau hanya mengetahui bahwa tiga benda pusaka rimba persilatan ini sebagai senjata bagi orang2 rimba persilatan, tetapi kau tidak tahu khasiat lainnya yang jauh lebih besar.” Ia batuk2 dan berdiam sejenak, “dalam dunia ini, orang yang mengetahui khasiat sebenarnya tiga benda pusaka ini, sekarang ini hanya tinggal ayahmu seorang”

“Bagaimana dengan Teng Soan?” Tanya Siang-koan Kie. Kun-liong Ong tidak menghiraukan, matanya tetap menatap wajah Nie Suat Kiao, katanya: “Anak, kau mengerti, selama beberapa puluh tahun ini, aku telah berusaha untuk mencari dimana adanya tiga benda pusaka itu, bukan semata-mata hanya golok, emas yang tajam itu saja...”

Nie Suat Kiao merasa tertarik oleh penuturan Kun-liong Ong, pikirnya: “Aku juga sudah pernah memeriksa dengan seksama tiga benda pusaka itu mengapa tidak dapat menemukan tanda2 yang mencurigakan?”

Kun-liong Ong berkata pula: “Mungkin Teng Soan juga mengerti kegunaannya tiga benda pusaka itu, tetapi ayahmu berani memastikan, dia tidak akan mau memberitahukan padamu terus terang.” ia tertawa terbahak-bahak, “aku tidak tahu apakah penilaianku ini betul atau tidak?”

Memang benar dalam surat peninggalan Teng Soan tidak menyebutkan tentang tiga benda pusaka rimba persilatan itu.

“Tetapi aku boleh beritahukan padamu,” berkata pula Kun- liong Ong, “siapa yang memiliki tiga benda pusaka itu, dialah yang akan mendapat kedudukan tertinggi dalam dunia ” ia

menghela napas pelahan, “seumur hidupku aku berusaha untuk mendapatkan benda itu, sehingga hari tuaku masih belum berhasil menemukan. Anak, kau harus tahu, sekarang aku sudah tua, ambisiku pelahan2 mulai hilang. Sekalipun aku berhasil merebut kedudukan yang paling agung itu, juga hanya beberapa tahun saja. Aku tidak mempunyai keturunan. Adikmu Cian Tai adalah anak perempuan yang masih ke- kanak2an, tidak bisa memegang kewajiban penting. Aku pikir bulak-balik, hanya kaulah adanya anak yang dapat meneruskan kedudukanku”.

“Tetapi bagaimana andaikata aku mati dibawah luka beracunmu hari itu?”

“Tidak mungkin, anak. Aku akan mencarimu dimana2 sampai berhasil menemukan dan menyembuhkannya.” Siang-koan Kie yang melihat sikap Nie Suat Kiao nampak lunak, diam2 merasa cemas, katanya: “Jangan hiraukan kata2nya.''

Kun-liong Ong memandang Siang-koan Kie dengan sikap dingin, katanya: “Kita berbicara sebagai ayah dan anak, tidak perlu kau campur mulut.”

Ketika pandangan mata Siang-koan Kie beradu dengan mata Kun-liong Ong, seketika merasa tergoncang pikirannya, hingga ia berseru: “Ilmu menyesatkan pikiran.”

-odwo-

107

SEMENTARA itu, ia telah dengar suara Nie Soat Kiao yang menasehati Kun-liong Ong supaya menghentikan usahanya hendak menguasai dunia mungkin akan terhindar dari kematian. Ia lalu berpikir “kalau begitu ia belum terpengaruh ilmu menyesatkan pikiran oleh Kun-liong Ong”.

Ketika ia mengawasi keadaan Nie Suat Kiao, sepasang mata gadis itu memancarkan sinar aneh, sikapnya lemah lembut, kembali ia berpikir: “oh, jadi mereka berbicara sambil mengadu kepandaian, masing2 telah menggunakan ilmu untuk menyesatkan pikiran lawannya”.

“Anak, apa kau hendak menggunakan ilmu untuk menyesatkan pikiranku?” demikian Kun-liong Ong bertanya.

“Sama-sama.” berkata Nie Suat Kiao.

“Kau tidak mau dengar nasehatku, terpaksa aku akan bunuh kau lebih dulu, untuk menyingkirkan satu musuh tangguh.”

“Jangan omong besar dulu, sekarang ini masih belum tahu siapa yang akan menang dan siapa yang kalah?” Kun-liong Ong tiba2 menggerakan pecut ditangannya, sehingga mengeluarkan suara meraung. Ujung pecut digunakan untuk menotok dada Nie Suat Kiao.

Dengan golok emasnya Nie Suat Kiao membabat pecut itu, mulutnya berkata dengan nada suara dingin: “Golok emas ini tidak takut barang keras, aku tidak tahu dapat membabat kutung pecutmu atau tidak?”

Kun-liong Ong menarik kembali serangannya, tetapi tidak memberi kesempatan bagi Nie Suat Kiao untuk melancarkan serangan pembalasan. Serangan hebat menyusul. Pecut menggulung, mengeluarkan suara aneh.

Nie Suat Kiao juga memutar senajata pusaka-nya, untuk melindungi dirinya. Dengan sangat hati2 ia menutup rapat2 dirinya. Setengah tahun lamanya ia mendapat pelajaran pelajaran ilmu silat dari Wan Hauw. Beberapa gerak tipu diantaranya mempunyai daya luar biasa. Tetapi kepandaian ilma silat Nie Suat Kiao hampir seluruhnya didapatkan dari ayahnya itu, maka dalam pertempuran itu sebagian besar menggunakan gerak tipu dari satu golongan. Tetapi setiap kali Kun-liong Ong mengeluarkan kepandaiannya yang terampuh, yang dapat membinasakan Nie Suat Kiao, gadis itu lalu mengeluarkan beberapa ilmu yang didapat dari Wan Hauw, untuk menggagalkan serangan.

Dengan demikian, pertempuran itu menjadi berimbang.

Dalam waktu singkat, pertempuran sudah berjalan limapuluh jurus lebih.

Kun-liong Ong yang sekian lamanya belum berhasil menangkan pertempuran, hatinya mulai cemas. Serangan pecutnya semakin hebat dan ganas.

Nie Suat Kiao mulai merasakan tekanan amat berat. Ia tahu bahwa ayahnya sudah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya kedalam pecut. Ia juga tahu apabila pertempuran itu berlangsung lebih lama lagi, pasti akan merugikan dirinya. Oleh karena itu, ia telah berusaha untuk undurkan diri. “Kau sudah tidak ingat budi ayahmu, sudah tentu tidak

dapat menyalahkan aku kalau akan membunuh kau.” demikian Kun-liong Ong berkata, pecutnya bergerak menyerang Nie Soat Kiao dari berbagai penjuru.

Dalam keadaan agak gugup, Nie Soat Kiao terpaksa menggunakan senjata pusakanya untuk melindungi dirinya dan serangan pecut.

Kun liong Ong karena melihat Nie Suat Kiao kembali menggunakan senjatanya untuk melindungi diri, diam2 ia sudah memikirkan bagaimana harus mematahkan pertahanan Nie Suat Kiao.

Diam2 ia kerahkan kekuatan tenaga dalamnya ke jari tangan kiri. Ketika Nie Suat Kiao sedang repot menangkis serangan pecutnya, tiba2 angin menghembus keluar dari jari tangan kirinya kearah jalan darah 'Kian-kin hiat' dipundak kenan gadis itu.

Serangan itu dilancarkan sscara tidak terduga-duga. Ketika Nie Suat Kiao mengetahui, ternyata sudah terlambat. Dalam keadaan tergesa-gesa ia miringkan badannya untuk mengelakkan serangan tersebut.

Namun demikian, toh masih terlambat. Pundak kanannya seperti dihantam oleh martil, sebelah tangannya semper seketika.

Golok emas ditangannya juga terjatuh ditanah!

Kun-liong Ong tertawa dingin, ujung pecut mengancam ulu hati Nie Suat Kiao.

Wan Hauw yang menyaksikan Nie Suat Kiao dalam bahaya, lalu mengeluarkan bentakan keras, tinjunya melayang kebadan Kun-liong Ong. Kun liong Ong yang demikian kuat, juga tidak berani menyambut serangan Wan Hauw. Ia lompat kesamping, mengelakkan serangan hebat itu.

Siang-koan Kie sementara itu juga sudah lompat dan membimbing bangun Nie Suat Kiao, tanyanya dengan suara pelahan: “Parahkah lukamu?”

Paras Nie Suat Kiao pucat pasi, tetapi ia masih berusaha meronta dari dalam pelukan Siang-koan Kie, katanya: “Aku baik2 saja, lekas ambil golok emas itu.”

Pecut Kun-liong Ong saat itu hendak menggulung senjata golok emas yang menggeletak ditanah.

Siang koan Kie lompat maju sambil membentak keras, menyerang Kun-liong Ong dengan tangan kirinya, tangan kanan hendak merebut golok emas dari ujung pecut Kun-liong Ong.

Meskipun ia tahu bahwa perbuatannya itu sangat berbahaya, tetapi ia khawatir senjata pusaka itu terjatuh ditangan Kun liong Ong, ini berarti akan lebih berbahaya. Maka sekalipun ia tahu, tetapi toh berusaha merebutnya tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.

Kun liong Ong tertawa dingin, pecut ditangannya bergerak hendak memapas tangan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie tahu bahwa senjata itu sangat tajam, maka ia mengelakkan serangan itu. Sementara tangan kirnya menyerang dengan sepenuh tenaga.

Kun liong Ong memutar golok diujung pecut, menggagalkan serangan tangan kiri Siang-koan Kie.

Meskipun berkali2 Siang-koan Kie dalam keadaan sangat berbahaya, tetapi ia gagah dan berani menyerang musuhnya tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, mendesak Kun liong Ong sedemikian rupa, sehingga tidak mendapat kesempatan mengambil senjata dari ujung pecutnya. Kepandaian Kun-liong Ong memang hebat, meskipun tangannya tidak bisa mengambil senjata pusaka diujung pecutnya, tetapi ia dapat menggunakan senjata pusaka itu untuk menghadapi lawarnya seperti tergenggam dalam tangannya

.

Wan Hauw sangat penasaran, ia menggeram dan kembali menyerang Kun liong Ong dari samping kiri.

Wan Hauw bertenaga kuat, setiap serangannya bagaikan palu godam menggempur batu.

Sebaliknya dengan Siang-koan Kie, ia hanya tujukan perhatiannya dalam usahanya merebut senjata pusaka dari ujung pecut Kun-liong Ong.

Dilahir Kun-liong Ong masih tenang2 saja, tapi dalam hati?

Hanya Tuhan saja yang tahu.

Dengan turun tangannya dua jago muda itu, mau tidak mau ia harus mengeluarkan seluruh kepandaiaunya untuk menghadapi mereka.

Dalam pertempuran sengit itu, Kun-liong Ong tiba-tiba menggunakan tinju tangan kirinya untuk menyambut serangan Wan Hauw.

Wan Hauw terdorong mundur tiga langkah, tetapi pemuda itu gagah sekali. Ia hanya berhenti sejenak, kemudian maju menyerang lagi.

Kun-liong Ong meskipun dalam hati mengeluh, tapi karena mukanya mengenakan kedok kulit manusia, sehingga tidak dapat dilihat adanya perubahan.

Wan Hauw dan Siang-koan Kie sudah mandi keringat, napasnya memburu. Sebaliknya dengan Kun-liong Ong, ia tidak mengunjukkan perubahan apa2. Sebetulnya Kun-liong Ong juga sudah letih dan mandi keringat, tetapi karena kekuatan tenaga dalamnya sudah sempurna, ia dapat lebih bertahan.

Wan Hauw mempunyai kondisi badan berlainan dengan manusia biasa. Meskipun sudah mandi keringat, tetapi masih tetap gagah. Kalau sedang penasaran, ia menyerang musuhnya seperti seorang keranjingan.

Demikian pula dengan Siang-koan Kie, meskipun juga sudah mandi keringat, tetapi semangatnya tetap me-luap2. Serangannya masih tetap gesit dan gencar.

Dalam pertempuran itu, Kun-liong Ong terus berusaha hendak mengambil senjata pusaka diujung pecutnya, tetapi selalu tidak berhasil, karena selalu terhalang oleh Siang koan Kie yang mencegah padanya mencapai maksudnya.

Kun liong Ong tahu bahwa usahanya hendak mengambil senjata pusaka dari ujung pecutnya tak akan berhasil. Ia juga tahu bahwa usahanya malah mempengaruhi gerak tipunya ilmu pecut, sehingga tidak dapat digunakan dengan baik.

Diam2 ia lalu kerahkan kekuatan tenaga dalamnya kedalam pecut dan pecut itu mendadak berubah menjadi keras dan lempang, hingga dengan demikian senjata pusaka itu kembali terjatuh di tanah.

Bersamaan pada saat itu, serangan Kun-liong Ong nampak semakin hebat dan ganas hingga tidak memberi kesempatan bagi Siang-koan Kie atau Wan Hauw untuk merebut senjata itu.

Selama pertempuran berlangsung, Kun-liong Ong tiba2 mengeluarkan suara siulan dan pengawalnya baju hitam yang sembunyi disekitarnya, muncul semua.

Sementara itu, Nie Soat Kiao yang sudah beristirahat cukup lama, kekuatan tenaganya sudah pulih kembali. Ia melihat senjata pusaka itu jatuh dibawah kaki tiga orang yang sedang bertempur sengit, tetapi ketiganya sama2 tidak mendapat kesempatan untuk mengambil, sedangkan pasukan pengawal baju hitam, sudah maju menyerang. Dalam cemasnya ia lalu berseru: ”Kalau kalian berhasil mendesak mundur ia dua langkah saja, aku bisa ambil senjata pusaka itu”

Wan Hauw menggeram, benar saja ia melancarkan satu serangan hebat.

Serangan itu bukan saja hebat, yang diarah bahkan tempat yang berbahaya. Apabila Kun liong Ong tidak menyingkir, itu berarti bahwa dirinya akan dihajar oleh pemuda gagah itu.

Tetapi bagi Wan Hauw sendiri, yang melancarkan serangan demikian nekad, juga sudah menempatkan dirinya dalam posisi sangat berbahaya.

Siang-koan Kie dapat menyaksikan itu, terpaksa ia berusaha sekuat tenaga untuk melindungi saudaranya itu. Ia mengeluarkan serangan dengan dua tangan, untuk menutup bagian Wan Hauw yang terluang.

Karena perbuatannya itu, ujung pecut Kun-liong Ong telah melukai pundak Siang-koan Kie, sehingga mengeluarkan banyak darah

Dilain pihak, Kun-liong Ong dengan menggunakan tangan kiri, menyambut serangan Wan Hauw.

Karena dengan berbareng ia menyambut serangan dari dua fihak, tidak dapat mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya kesatu pihak saja, dengan demikian, ia ber-sama2 Wan Hauw masing2 terdorong mundur dua langkah.

Nie Soat Kiao menggunakan kesempatan baik itu. Dengan sangat berani ia mengaet dengan ujung kakinya dan kemudian berada dalam tangannya. Tangan kanan Nie Soat Kiao masih belum dapat digunakan untuk bertempur. Dengan menggunakan tangan kiri yang memegang senjata pusaka, lari menerjang keluar sambil berseru: “Mari kita menerjang keluar!”

Sementara itu Kun-liong Ong setelah mengadu tenaga dengan Wan Hauw, darahnya juga merasa bergolak, ia harus beristirahat dulu, baru bisa melakukan pertempuran lagi.

Apabila dipaksakan barangkali akan mengakibatkan luka bagian dalam tubuhnya. Oleh karena itu, ia juga tidak berani bertindak lagi, diam2 berusaha memulihkan tenaga.

Dilain fihak, Wan Hauw telah terluka bagian malam. Luka ini mungkin lebih hebat daripada Kun-liong Ong. Tetapi berhubung dengan kondisi badan yang berlainan dengan manusia biasa, ia masih sanggup bertahan, bahkan masih sanggup melakukan serangan.

Sebelum serangannya itu sampai, hembusan angin yang keluar dari serangannya telah mengenakan dada seorang pengawal baju hitam, hingga orang itu rubuh seketika.

Siang-koan Kie yang terluka pundaknya, dengan cepat merobek bajunya untuk membungkus luka-luka, kemudian lari keluar.

Nie Suat Kiao melancarkan serangan dengan senjata pusakanya sambil memperhatikan Siang-koan Kie dan Wan Hauw. Katanya: “Serangan kalian boleh tujukan kepada orang yang berada didepanku, kita perlu menerjang ke luar”.

Dua pemuda itu menurut, mereka tujukan serangannya kearah pengawal baju hitam coba merintangi perjalanan Nie Suat Kiao.

Banyak korban telah jatuh, terbukalah jalan keluar, hingga mereka terus lari menuju kerimba

Thian-bok Taysu dan Kim Goan To sudah menyambut dengan semangat berkobar. Mereka merintangi orang2 baju hitam yang mengajar Nie Suat Kiao bertiga. Berjalan kira2 tiga tambak, Nie Suat Kiao baru berhenti dan mengajak dua kawannya mengaso. Pada saat itulah, Wan Hauw baru mengeluarkan darah dari mulutnya.

Nie Suat Kiao mengeluarkan sebutir pil, diberikan kepada Wan Hauw seraya berkata: “Makan obat ini dan beristirahat sambil mengatur pernapasanmu, kau masih perlu menahan kedatangan Kun-liong Ong”

Wan Hauw tertawa menyeringai, kemudian duduk bersemedi.

Nie Suat Kiao melihat darah bercucuran dipundak Siang- koan Kie, lalu menegurnya sambil mengerutkan alis: “Kau tidak memakai rompi wasiat?”

“Aku berikan kepada Wan Hauw, supaya dipakainya.

Karena ia gagah berani, justru merupakan orang yang paling ditakuti oleh Kun-liong Ong” jawabnya yang ditanya.

Nie Suat Kiao berpikir, kemudian berkata: “Aku mengerti maksudmu, mengapa kau tidak lebih dulu memberitahukan padaku?”

“Lukaku ringan, tidak perlu dikhawatirkan sebaliknya kau sendiri yang terkena serangannya bagaimana keadaanmu?”

“Kalau mendapat kesempatan lagi untuk beristirahat, akan pulih kembali tenagaku. Aku memakai baju wasiat untuk melindungi badanku, lukanya tidak seberapa.”

Siang-koan Kie tidak menanya lagi, ia membuka bajunya, membungkus lukanya.

Nie Suat Kiao membantu padanya membungkus lukanya, sehingga darah berhenti mengucur, ia baru duduk sambil memejamkan mata.

Sementara itu Thian-bok Taysu dan Kim Goan To yang merintangi majunya pengawal baju hitam, sudah mulai bergebrak. Thian-bok Taysu mengeluarkan kepandaian ilmunya seratus delapan jurus Lo-han-ciang hoat, sebentar saja, tongkatnya sudah merubuhkan banyak orang.

Kini Goan To dengan menggunakan dua rupa senjata golok dan tombak, dapat mengimbangi Thian-bok Taysu dengan baik, hingga pengawal baju hitam itu tidak bisa maju.

Nie Suat Kiao yang sudah beristirahat cukup, pelan2 berdiri dan menanya kepada Siang-koan Kie dan Wan Hauw: “Bagaimana keadaan luka kalian?”

“Aku hanya luka dibagian luar saja, tidak ada artinya” menjawab Siang-koan Kie.

“Aku sudah bisa bertempur dengan mereka.” berkata Wan Hauw.

“Bagus! Kalian sebaiknya lekas mengatur pernapasan lagi. Aku kira, kita mundur ketempat penjagaannya pasukan berani mati kita. Disana mungkin kekuatan tenaga kalian sudah pulih. Disana kita harus mengerahkan seluruh kekuatan tenaga untuk membasmi pengawal baju hitam itu. ”

Kemudian Nie Suat Kiao berseru kepada Thian-bok Taysu dan Kim Goan To: “Simpan tenaga, jangan memforsir, kita perlu mundur.”

Kim Goan To lalu mendekati dan berkata dengan suara pelahan kepada Thian-bok Taysu: “Kita harus mundur!”

Thian bok Taysu waktu itu sedang menghujani serangan dengan ilmu pukulannya, Lo han-ciang-hoat, hingga pengawal baju hitam yang dekat padanya pada rubuh atau terdesak mundur, kesempatan itu digunakan oleh Thian-bok Taysu dan Kim Goan To untuk undurkan diri.

Sementara itu Siang-koan Kie tertanya kepada Nie Suat Kiao dengan suara pelahan: “Mengapa tidak tampak Kun-liong Ong turun tangan?” “Aku kira ia juga seperti kita, sedang mengatur kembali pernapasannya.”

Ketika Thian-bok taysu dan Kim Goan To undurkan diri, pasukan pengawal baju hitam itu segera menyerbu.

Nie Suat K iao berkata kepada Wan Hauw: “Kau serang mereka dengan menggunakan serangan jarak jauh, untuk merintangi majunya mereka, dengan demikian, kita tidak akan berada dalam kepungan mereka.”

Wan Hauw menurut, dengan beruntun empat kali ia melancarkan serangannya dari jarak jauh.

Pasukan pengawal baju hitam yang menyerang dari samping, tertahan majunya oleh serangan Wan Hauw, sedangkan orang yang mengejar Thian bok taysu dan Kim Goan To, juga tertahan oleh serangan Thian-bok taysu yang dilancarkan sambil mengundurkan diri.

Nie Suat Kiao dan Siang-koan Kie undurkan diri, meninggalkan Wan Hauw, Thian-bok taysu dan Kim Goan To mundur belakangan.

Diatas tanah rumput yang luas, sudah menunggu Sek-bok taysu dan dua kacung. Ketika rombongan terakhir yang terdiri dari Wan Hauw, Thian-bok taysu dan Kim Goan To tiba ditempat itu, pasukan pengawal baju hitam segera disambut oleh dua kacung.

Dua kacung yang sudah biasa bekerja sama itu, tanpa menunggu perintah Nie Suat Kiao, sudah menghalau majunya pasukan pengawal baju hitam. Apalagi setelah Sek-bok taysu turut bertempur membantu mereka, banyak musuh jatuh ditangan mereka. Dengan demikian, mereka bisa bertempur sambil undurkan diri. Selama mundur sejarak sepuluh tombak lebih, dua kacung itu dengan gerak tipunya yang istimewa, sudah berhasil melukai lima orang kuat dalam rombongan baju hitam, bahkan luka itu sangat parah, hingga mereka tidak bisa bertempur lagi. Kali ini Nie Suat Kiao mengajak Wan Hauw undurkan diri lebih dulu, meninggalkan Siang-koan Kie bersama Thian-bok taysu dan Kim Goan To, membantu Sek-bok taysu dan dua kacung.

Siang-koan Kie yang menyaksikan jalannya pertempuran, berkata kepada Thian-bok taysu: “Sebaiknya kita jangan melukai orang lagi, supaya mereka agak kendor persiapannya, dengan demikian kita bisa melakukan serangan kepada mereka secara tidak terduga.”

Kembali mundur sepuluh tombak lebih, kini telah tampak barisan yang dibentak oleh lima jago, dari pasukan berani mati.

Nie Suat Kiao berkata dengan suara perlahan: “Kalian lekas mundur kedalam barisan untuk beristirahat, supaya ada tenaga untuk melakukan serangan pembalasan,”

Sek-bok taysu dan dua kacung menurut, mereka undurkan diri kedalam barisan.

Lima jago dari pasukan berani mati itu menggerakkan senjata masing2 menyambut kedatangan pasukan baju hitam,

Siang-koan Kie diam2 menghitung jumlahnya orang dalam pasukan baju hitam, ternyata cuma tinggal kurang lebih tigapuluh orang saja. Kalau dipihaknya sendiri bertindak semua, tidak sulit untuk membasmi pasukan baju hitam itu.

Nie Suat Kiao juga mempunyai kesan demikian. Hal ini menambah keyakinannya. Walaupun tidak dapat membinasakan Kun-liong Ong, se-tidak2nya sudah memberi pukulan hebat kepadanya.

la lalu menanya kepada Sek-bok Taysu, Thian-bok Taysu, Kim Goan To dan dua kacung: “Apakah kalian semua masih sanggup bertempur lagi?”

“Sanggup“ jawabnya serentak. “Bagus! Kalau begitu, kalian siaplah untuk melakukan serangan. Kalian boleh melakukan serangan dengan senjata apa saja, lebih banyak membunuh mereka lebih baik ”

Kemudian Nie Saat Kiao berkata kepida Wan Hauw dan Siang koan Kie: “Kalian tidak perlu ikut bertempur, sediakan untuk menghadapi Kun liong Ong.”

“Apakan kau sudah siap hendak menangkap Kun-liong Ong?” tanya Siang-koan Kie dengan suara perlahan.

“Semoga gerakan kita ini akan berhasil, ini berarti mengirit banyak waktu dan tenaga, juga mengurangi banyak korban. Tetapi harapan ini mungkin tidak akan berwujud, karena meskipun aku pernah belajar ilmu silat dengannya, tetapi masih belum dapat menjajaki sampai dimana dalam ilmu silatnya. Kita menghadapi dengan tenaga tiga orang, barangkali masih belum tentu bisa menjatuhkannya.”

“Kalau tadi dalam pertempuran diistana Sun-yang kiong, Kun liong Ong sudah mengeluarkan seluruh tenaga, rasanya tidak susah untuk menjatuhkan dia.” berkata Siang-koan Kie.

“Dalam pertempuran diistana Su-yang-kiong tadi, hasil yang paling baik ialah membuat Kun-liong Ong kehilangan kepercayaan atas dirinya sendiri, juga melenyapkan rasa takutku yang mencekam hati selama ber-tahun2. Mulai saat ini, aku benar2 boleh memberanikan diri untuk menghadapinya dengan apa saja.”

“Kalau begitu dalam pertempuran tadi, lebih dulu sudah mengalahkan Kun-liong Ong punya kepercayaan atas dirinya sendiri.”

“Benar, dengan hilangnya kepercayaan atas dirinya sendiri, itu berarti kita tambah kepercayaan. Ini sangat penting, bukan saja mengendorkan semangat bertempur musuh, tetapi juga mengorbankan semangat fihak kita.” Sementara itu Thian-bok taysu, Sek-bok taysu, Kim Goan lo dan dua kacung, masing2 sudah pulih kembali kekuatan tenaganya setelah mendapat cukup waktu beristirahat. Semua bangkit berdiri, siap untuk mengangkat senjata lagi.

Wan Hauw tiba2 bangkit dan berkata: “aku akan pergi membunuh beberapa orang baju hitam dulu.

Keadaan fisik Wan Hauw yang luar biasa dan keberaniannya yang seakan2 tidak tahu apa artinya takut, tidak dimiliki oleh orang biasa. Meskipun terluka parah, tetapi bisa sembuh dalam waktu singkat.

Nie Suoat Kiao selaku pemimpin, tugasnya sangatn berat, meskipun dalam hati ingin mencegah, tetapi tidak dapat mengatakan.

Dengan semangat menyala2 dan sangat gembira sekali Wan Hauw berkata: “Aku sudah sembuh, tidak percaya. Aku akan pergi membunuh dua musuh untuk kuperlihatkan kepadamu”

Setengah bergurau ia lompat melesat, ditengah udara ia berputaran. Bagaikan seekor burung garuda, ia menukik kedalam rombongan pasukan pengawal baju hitam.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu menghela napas panjang.

“Mengapa kau menghela napas?” tanya Nie Soat Kiao. “Aku belajar ilmu silat lebih dulu sepuluh tahun daripada

saudara Wan, tetapi hasilnya kalah jauh. Apabila saudara Wan

dapat penilikan darimu, hasilnya dikemudian hari benar2 akan merupakan satu pendekar yang tidak pernah ada pada sebelumnya.”

“Ia mempunyai keadaan fisik yang jauh berbeda dengan manusia biasa, ilmunya meringankan tubuh dan ketangkasannya serta keberaniannya, tidak bisa dibandingkan dengan orang biasa. Sayang ia hanya mempelajari ilmu silat golongan keras, tidak dapat mempelajari ilmu silat bagian yang lemas. Apabila kau mau mempelajari ilmu menenangkan pikiran golongan tertinggi, duapuluh tahun kemudian, ia belum tentu bisa mengalahkan kau.”

Sementara itu Wan Hauw sudah menyerbu ke rombongan pasukan pengawal baju hitam. Kedua saingannya bergerak, telah berhasil memukul mundur empat orang yang menyerang dirinya. Kemudian serangannya dirubah menjadi satu gerak menerkam, telah berhasii menyambar leher dua orang baju hitam.

Pada saat itu, pasukan pengawal baju hitam yang berada disekitarnya sudah maju mengurung lagi.

Wan Hauw dengan tangan menenteng dua orang baju hitam, hendak digunakan untuk menyerang orang2 yang mengurung dirinya, hingga orang2 terpaksa mundur.

Sambil tetap menenteng dua korbannya, Wan Hauw lompat balik kepihaknya sendiri.

Dua korbannya ternyata sudah hampir tidak bisa bernapas.

Wan Hauw semula anggap bahwa perbuatannya itu pasti akan mendapat pujian Nie Suat Kiao, kak disangka ketika ia balik kembali kedalam barisannya, telah disambut dengan muka masam dan omelan oleh gadis idam2annya itu.

Wan Hauw sangat penasarannya marahnya ditimpakan kepada dua korbannya. Sekali meremes, dua korbannya itu lantas menjerit dan kemudian melayang jwanya.

Dua kacung juga sudah bertindak, pedangnya sudah melukai satu korban.

Tindakannya itu segera disusul oleh Thian-bok taysu dan lain2nya.

Lima anggauta pasukan berani mati yang banyak pengalaman dan terdidik serta berdisiplin baik, meskipun tahu kemenangan sudah berada dipihaknya tetapi barisannya sedikitpun tidak mengunjukkan perubahan.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan itu, diam2 memuji kepandaian Teng Soan.

Sementara itu dari medan pertempuran sebentar2 terdengar suara jeritan ngeri.

Pasukan pengawal baju hitam yang datang menyerbu, banyak yang terluka atau binasa ditangan rombongan Thian- bok taysu. Orang dari pasukan pengawal baju hitam yang berjumlah hampir tiga puluh orang, sebagian besar sudah roboh binasa hingga sisanya tinggal tidak seberapa. Tetapi mereka ternyata masih bertempur dengan berani, seolah-olah tidak memikirkan untuk keselamatan jiwanya sendiri.

Sek-bok taysu sebagai seorang beribadat yang mengutamakan cinta kasih sesama umat Tuhan, tidak tega melihat keadaan mengenaskan itu, ia menarik kembali tongkatnya, diam2 memuji nama Budha.

Tetapi di lain saat pundaknya tiba2 dirasakan sakit, ternyata musuhnya telah menggunakan kesempatan itu membacok padanya, hingga mengucurkan banyak darah.

Mendadak ia ingat bahwa dalam medan pertempuran tidak boleh mempunyai rasa kasihan terhadap musuhnya......

la masih belum bertindak apa2, kembali terdengar suara desiran angin, dua bilah golok menyerang dari dua sampingnya.

Sek-bok taysu gusar, dengan menahan rasa sakitnya, senjata tongkatnya diputar lagi untuk menghajar musuhnya.

-odwo-

108 Golok yang menyerang Sek-bok Taysu dari samping, semua telah terpukul jatuh oleh tongkatnya. Paderi tua berilmu tinggi itu agaknya sudah hilang sabarnya. Dengan satu gerakan ia sudah melukai dua korban yang tadi membokong dirinya.

Dipihaknya Thian-bok taysu, dua kacung dan Kim Goan To, semua telah mengeluarkan seluruh kepandaian masing2.

Dalam waktu sekejap, sisa pasukan pengawal baju hitam itu sudah hampir ditumpas habis.

Dalam pertempuran menghadapi musuh2 se-olah2 orang gila itu, Thian bok taysu dan dua kacung agak terpengaruh pikirannya, mereka hampir tidak tega turun tangan, hingga gerakannya agak pelahan. Hanya anggauta pasukan berani mati, yang sejak semula tetap tenang tetapi gigih, sehingga Nie Suat Kiao semakin kagum terhadap Teng Soan.

Siang-koan Kie saat itu menyaksikan jalannya pertempuran dengan diam saja, seakan akan sedang memikirkan sasuatu. Nie Suat Kiao lalu menegur padanya sambil bersenyum: “Kau sedang memikirkan apa?”

“Aku sedang memikirkan Teng toako yang sudah tiada, meskipun ia tidak pandai ilmu silat, tetapi telah berhasil menciptakan satu pasukan kuat untuk golongan pengemis. Kepandaian ilmu silat lima orang itu meskipun belum terhitung tinggi, tetapi setiap menghadapi musuh, selalu tenang dan tidak gentar. Sekalipun saudara Wan Hauw juga tidak bisa berlaku demikian.”

“Benar, Teng sianseng sebetulnya seorang pintar luar biasa. Sayang Tuhan tidak memberi umur panjang kepadanya. ” berkata Nie Suat Kiao sambil menghela napas.

“Pandangan Teng toako ternyata tepat, sebelum meninggal, ia telah menyerahkan tugas untuk mengamankan rimba persilatan kepadamu. ”

“Tugas ini meskipun berat, tetapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya.” Sambung Nie Suat Kiao, “untung dimasa hidupnya Teng Sianseng sudah memasang biji kuat. Asal aku melakukan menurut petunjuknya, mungkin tidak mengecewakan pengharapannya.”

“Dalam ingatanku, dimasa hidup Teng toako pernah berkata, bahwa rencana untuk menundukkan Kun-liong Ong, agaknya tersimpan dalam kuburannya. ”

“Oleh karena iiu, maka ia suruh kau yang mengawasi dalam pembuatan kuburannya.” sambung Nie Soat Kiao sambil bersenyum.

“Tetapi, aku lihat kau seperti bermaksud hendak mekkukan pertempuran yang menentukan didekat istana Kun-liong Ong.”

“Dalam istana Kun-liong Ong, ada banyak orang kuat rimba persilatan. ”

Sementara itu, dari jauh terdengar suara siulan panjang.

Suara itu datang dari arah rimba, sebentar saja sudah tiba ketempat pertempuran. Hampir bersamaan dengan datangnya suara siulan itu, terdengar suara keluhan tertahan. Kim Goan To yang berada paling depan, menjadi sasaran pertama, badannya terbang melayang ketengah udara.

“Lekas menolong orang.” demikian Nie Soat Kiao mengeluarkan perintah.

Wan Hauw segera lompat melesat, menyambar tubuh Kim Goan To yang hendak melayang jatuh, kemudian didukungnya ketanah.

Semua orang telah dikejutkan oleh kejadian yang tidak terduga2 itu, hanya lima anggauta pasukan berani mati yang masih tetap tenang menghadapi musuhnya. Kemudian dari medan pertempuran meleset lima benda tajam, menyerang kearah seorang laki2 berjubah hijau.

Ini adalah pertama kalinya pasukan berani mati menggunakan tombak menyerang lawannya. Tetapi laki2 jubah hijau itu ternyata tinggi sekali kepandaian dan kekuatannya, dengan satu tangan ia menjatuhkan lima tombak yang menyerang dirinya.

Laki2 jubah hijau itu berdiri ditempat sejauh enam tujuh kaki, sepasang matanya memancarkan sinar tajam yang menakutkan.

Lima auggauta pasukan berani mati maju menyerbu berbareng dengan serangan tombaknya, hingga sebentar saja laki2 jubah hijau itu sudah terkurung rapat.

Laki2 jubah hijau itu tertawa dingin, dengan beruntun mengeluarkan dua kali serangan tangan kosongnya, lima anggota pasukan berani mati itu hampir tidak dapat mempertahankan kedudukan mereka, tetapi laki2 itu masih belum berhasil mematahkan kepungan lima orang cari barisan berani mati itu.

Nie Soat Kian memandang Kim Goan To, mulutnya mengeluarkan darah, sepasang matanya tertutup rapat, Nampaknya terluka parah. Ia lalu mengeluarkan sebutir pil, dimasukkan kedalam mulut Kim Goan To, katanya dengan suara pelahan: “Dalam badannya terluka parah, lekas letakkan diatas rumput, jangan sampai ia kena goncangan lagi. Kita menghadapi Kun-liong Ong lebih dulu, nanti baru menolong padanya.”

Pada waktu itu Thian-bok Taysu, Sek-bok Taysu dan dua kacung, sudah mengangkat senjata masing2 hendak maju menyerang, tetapi tetap melihat lima anggata pasukan berani mati sudah mengepung ketat Kun-liong Ong, barisannya berputar cepat sekali, hingga merintangi Thian-bok Taysu dan kawannya dalam usahanya untuk menyerang Kun-liong Ong.

Barisan lima anggauta pasukan berani mati itu mengepung Kun-liong Ong sedemikian rapat, namun demikian, mereka tidak berbasil mendekati manusia buas itu. Nie Suat Kiao berkata kepada Siang-koan Kie dan Wan Hauw dengan suara perlahan: “Lima anggauta pasukan berani mati itu meskipun sudah terlatih baik, tetapi masih bukan tandingan Kun-liong Ong. Asal ia berhasil mematahkan barisan pedang, lima orang itu pasti tidak terhindar dari kematian.

Ditilik dari keadaannya lima orang itu agaknya sudah mengeluarkan seluruh kepandaian mereka, dan toh masih belum juga berhasil mendekati Kun-liong Ong. Maka kita perlu lekas turun tangan, untuk menggantikan mereka.”

Wan Hauw tertawa dan berkata: “Sekarang aku boleh bertempur lagi?”

Karena tadi ia habis diomeli oleh Nie Suai Kiao, dalam hati masih merasa jeri.

“Boleh.” demikian Nie Suat Kiao menjawab.

Wan Hauw lompat meleset, mulutnya mengeluarkan suara siulan aneh, terus menyerbu Kun liong Ong.

Dalam hidupnya Kun-liong Ong entah berapa banyak musuh sudah dihadapi, tetapi Wan Hauw merupakan musuh paling tangguh satuanya selama hidupnya. Maka ketika mendengar suara siulan Wan Hauw dan diserbu secara mendadak, ia tidak berani berlaku gegabah, dengan satu tangan ia menyerang Wan Hauw.

Wan Hauw paling senang berantam dengan cara keras lawan keras. ketika menampak Kun-liong Ong melancarkan serangan terhadap dirinya, ia tidak mau menyingkir, bahkan menyambut dengan dua tangan dengan diri terapung ditengah udara.

Ketika kekuatan kedua fihak saling beradu, badan Wan Hauw yang sedang menukik turun mumbul lagi keatas.

Sementara itu barisan lima anggauta pasukan berani mati sudah ditarik mundur. Siang koan Kie mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya kedalam dua tangannya, terus menyerbu Kun liong Ong, ia sudah siap hendak melakukan pertempuran jarak dekat dengan musuh besarnya itu.

Kun-liong Ong meskipun ingin melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga, hendak membinasakan Wan Hauw lebih dulu, tak disangka Siang-koan Kie sudah merapat dirinya demikian rupa, nampaknya juga hendak melakukan pertempuran mati2an.

Keadaan telah memaksa ia harus batalkan maksudnya hendak membinasakan Wan Hauw, dengan serangan jari tangan ia menyerang dada Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie sudah berada dekat dengan Kun-liong Ong. Karena ia sudah siap, maka ketika jari tangan Kun liong Ong mengancam dirinya, segera balas menyambar pergelangan tangannya.

Kun liong Ong mengadah ke belakang, kakinya mundur lima kali, katanya sambil tertawa dingin: “Dalam pertempuran d jarak dekat seperti ini, kalau kau dapat menyambuti serangmanu sampai limapuluh jurus, aku akan menyerah dan mandah kau ikat.”

“Aku tahu bahwa aku belum sanggup mengalahkan kau, tidak begitu bodoh aku mengadaka perjanjian denganmu.”

“Rasanya kau juga tidak mempunyai itu keberanian.” berkata Kun-liong Ong sambil tertawa dingin, kemudian tangannya bergerak melakukan serangan kearah beberapa bagian terpenting di anggota badan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie terperanjat, diam2 berpikir: “bangsat tua ini benar2 paham segala macam ilmu silat. Serangannya ini sangat aneh. Orang sulit menduga bagian mana yang diarah”

Ia mengeluarkan seluruh kepandaiannya, balas menotok tenggorokan Kun-liong Ong Hembusan angin yang keluar dari jari tangannya, sudah mengancam tenggorokan Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong diam2 juga tetkejut, pikirnya: “bocah ini benar2 sukar dihadapi.

Demikian dalam hatinya berpikir, tangannya mem bacokdan kemudian menotok jalan darah 'Ciok tie-hiat'.

Dengan sangat agresif dan siasat keras lawan keras, Siang- koan Kiie memaksa Kun-liong Ong menarik kembali serangannya, kemudian dengan tangan kiri, ia membabat tulang rusuk kanan Kun-liong Ong,

Kun-liong Ong menarik kembali tangan kanannya. Dengan sikut kanan, ia menutup tangan kiri Siang-koan Kie. Tangan kirinya melancarkan serangan pembalasan. Dengan beruntun ia menyerang sampai tiga kali. Kakinya melakukan tendangan tiga kali.

Siang-koan Kie mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Dengan serangan tangan kosong dan totokan jari yang sangat berani, baru berhasil mengelakkan serangan Kun-liong Ong.

Pertempuran itu bukan saja merupakan satu pertempuran mengadu kepandaian, tetapi juga sangat berbahaya. Asal agak lambat membuat perubahan gerakan atau salah siasat mengelakkan serangan lawannya, seketika bisa mati disitu juga.

Ketika pertempuran berjalan empatpuluh jurus, Siang-koan Kie mulai merasa agak berat. Meskipun ilmu silat yang dipelajari itu khusus ditujukan untuk mematahkam ilmu silat Kun-liong Ong, tetapi karena pengetahuan Kun-liong Ong tentang ilmu silat sangat luas sekali. Dengan ilmu silatnya yang terdiri dari berbagai cabang atau golongan di rimba persilatan, apalagi kekuatan tenaga dalamnya yang sudah mempunyai latihan beberapa puluh tahun, maka selama duapuluh jurus, Siang-koan Kie masih sanggup melawan.

Selewatnya duapuluh jurus, ia sudah mulai kewalahan. Nie Suat Kiao dapat melihat Siang-koan Kie berada dalam keadaan bahaya, tetapi Wan Hauw tetap berdiri sebagai penonton, nampaknya tidak ada maksud untuk memberi bantuan. Ia merasa heran dan gusar, lalu menghampiri dan menegur padanya: “Mengapa kau tidak turun tangan?”

“Toako adalah seorang jago sejati. Kalau aku bantu dia mengeroyok Kun liong Ong, barangkali ia nanti akan merasa tidak senang“ berkata Wan Hauw.

“Ini adalah suatu pertempuran antara mati dengan hidup, apalagi sebelumnya juga belum mengadakan perjanjian perlu apa kau masih mau pegang aturan?”

“Kalau begitu, aku harus membantu toako.” berkata Wan Hauw, kemudian lompat melesat menyerbu Kun liong Ong.

Kun-liong Ong marah sekali ketika diserbu Wan Hauw dari belakang, katanya: “Kalau kamu hendak mengeroyok aku, jangan malu2, majulah semua!”

Sementara itu tangan kanannya menyerang Wan Hauw. Tetapi serangannya itu seperti mengenakan barang keras.

Badan Kun-liong Ong tergoncang, sedangkan Wan Hauw juga terdorong mundur sampai lima langkah.

Wan Hauw yang gagah berani, setelah memperbaiki posisinya, sudah maju menyerang lagi, sementara mulutnya berkaok-kaok: “Toako, kau mengaso dulu sebentar, biarlah siautee yang melawan dia.”

Meskipun kepandaian Kun-liong Ong masih diatas Wan Hauw, tetapi hatinya gentar atas keberanian Wan Hauw. Ketika melihat Wan Hauw menyerang dengan hebat, ia tidak berani menyambl serangannya.

Siang-koan Kie berpikir: hari ini apabila dapat membekuk Kun-liong Ong, bukan saja akan merupakan satu saja yang sangat besar, tetapi jugi mengurangi korban jiwa tidak sedikit. Ia memeriksa keadaan disekitarnya, hatinya semakin mantap.

Sebab, pasukan pengawal baju hitam yang melindungi Kun liong Ong, semua sudah dibasmi habis. Hanya linigat Kun- liong Ong seorang diri. Apabila ia bersama Wan Hauw melayani dengan sepenuh tenaga, apalagi jika dibantu oleh Nie Suat Kiao, dua kacung dan lain2nya. untuk menangkap hidup atau mati kepada manusia buas ini, rasanya bukan tidak mungkin.

Pikiran itu segera dilaksanakan, ia melancarkan serangan hebat sambil berseru: “Kejahatan Kun-liong Ong sudah bertunpuic-tumpuk. Sudah beberapa puluh tahun melakukan kejahatan dalam rimba persilatan. Entah berapa banyak jiwa yang mati dibawah tangannya. Terhadap orang jahat seperti ia ini, tidak perlu mengindahkan tata tertib dunia Kang-ouw.”

Kun-liong Ong yang menghadapi dua lawan tangguh itu, sudah mulai kewalahan, apalagi setelah mendengar perkataan Siang-koan Kie itu, hingga dalam hati mulai kewatir. Pikirnya: kalau mereka benar2 akan mengepung aku, benar2 sangat berbahaya.

Ia sesungguhnya tidak menduga, bahwa ssbagai orang kuat yang sudah beberapa tahun pernah malang melintang di kalangan Kang-ouw tanpa tandingan, selagi usahanya hendak menguasahi rimba persilatan sudah akan terwujud, mendadak muncul dua anak muda yang berwujud Siang-koan Kie dan Wan Hauw, yang berani menentang padanya. Yang lebih mengenaskan, Nie Suat Kiao yang dibesarkan dan didik olehnya sendiri sehingga dewasa, ternyata juga turut kepada pihak yang menentang dirinya.

Kini ia rnau tidak mau harus mengeluarkan semua kepandaiannya, untuk menghadapi lawannya.

Ia tahu bahwa bahaya maut sudah mengintai dirinya, maka ia mengambil keputusan untuk melakukan tindakan nekad. Ia melancarkan serangan beruntun kepada Siang-koan Kie dan Wan Hauw, ketika dua pemuda itu terpaksa mundur, dengan cepat tangannya mengambil sebutir pel dari dalam sakunya, lalu ditelannya.

Entah obat apa yang ditclannya, tetapi setelah menelan obat itu, semangatnya mendadak terbangun, tangan kanannya menghadapi serangan Wan Hauw yang hebat, sedang tangan kirinya digunakan untuk menghadapi Siang- koan Kie.

Wan Hauw dan Siang-koan Kie setelah mengadu kekuatan beberapa kali dengan Kun-liong Ong, dapat merasakan bahwa kekuatan tenaga manusia jahat itu mendadak bertambah berlipat ganda.

Siang-koan Kie lalu berseru: “Hari ini apabila Kun-liong Ong berhasil meloloskan diri, dikemudian hari barangkali susah mendapat kesempatan sebaik ini lagi!”

Semua orang yang semula masih ragu2 turun tangan, kini setelah mendengar ucapan itu, lalu maju semua.

Thian-bok Taysu dengan tongkat menyerang Kun-liong Ong, mulutnya berkata: “Kau murid murtad yang durhaka, dengan mulut manis kau pancing aku untuk mengadakan pertemuan dikuil tua, tidak tahunya kau membokong aku dan kemudian menawan aku selama beberapa puluh tahun, apakah kau masih ingat?”

“Dalam perjuangan, apa salah menggunakan akal jahat, bahkan semakin jahat, semakin baik. Waktu itu aku masih belum tahu aku dapat melawan kau atau tidak, maka aku harus membokong“ berkata Kun-liong Ong sambil mengelakkan serangan Thian-bok Taysu

Sek-bok Taysu juga sudah bertindak, ia menyerang dari samping. Kun-liong Ong mengangkat kaki, menendang tangan kanan paderi tua itu, hingga Sek bok Taysu terpaksa menarik kembali serangannya. Wan Hauw yang rupanya sudah marah, mendadak melesat tinggi, kemudian menukik turun dan menyerbu Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong menggunakan tangan kiri, jari tangan kanan dan kaki kanan, dengan serentak melancarkan serangan kepada Siang-koan Kie, Thian-bok Taysu, dan Sek-bok Taysu, hingga tiga lawannya itu terpaksa mundur.

Kun-liong Ong mendadak menarik kembali serangannya, kemudian sambil menengadah ia menyambuti serangan Wan Hauw yang dilancarkan dari atas.

Dua pihak sama2 menggunakan kekerasan, sama sama memusatkan tennga kekuatan dikedua tangannya, tidak heran ketika keduanya saling beradu, lalu mengeluarkan suara hebat.

Sebentar kemudian terdengar suara tajam. Badan Wan Hauw yang menukik turun mendadak melesat tinggi keatas, ditengah udara berjumpalitan beberapa kali, kemudian melayang turun.

Dipihaknya Kun-liong Ong juga mundur tiga langkah.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan itu, dengan cepat lompat melesat kearah Wan Hauw jatuh, ia pentang tangan kirinya, untuk menyambar badan Wan Hauw yang jatuh turun kebawah.

Sepasang mata Wan Hauw menutup rapat, mulutnya mengeluarkan darah.

Siang-koan Kie tidak mau men-sia2kan kesempatan itu.

Selagi Kun-liong Ong masih belum memperbaiki kedudukkanrja, ia menyerang tulang rusuk kanannya.

Diluar dugaan, Kun-liong Ong yang nampaknya belum kembali kekuatan tenaganya. Ketika diserang oleh Siana-koan Kie, ternyata tidak menyingkir atau berkelit. Siang-koan Kie mempercepat serangannya, pikirnya, serangannya itu sekalipun tidak dapat membinasakan Kun- liong Ong, se-tidak2nya juga akan mematahkan tulang rusuknya.

Selagi tangan Siang-koan Kie hendak mengenakan sasarannya, Kun liong Ong mendadak mundur selangkah, sedangkan tangan Siang-koan Kie yang mengenakan badan Kun-liong Ong, seolah2 membentur barang keras. Ia segera merasakan gelagat tidak beres, buru2 berusaha menarik kembali serangannya.

Namun demikian, ternyata sudah agak terlambat. Kun-liong Ong memutar pergelangan tangan badannya, dan berhasil menyambar tangan kanan Siang-koan Kie.

Pada waktu itu, golok Kim Goan To sedang menikam dari samping kiri.

Kun-liong Ong menarik badan Siang-koan Kie, hendak digunakan untuk menyambut serangan Kim Goan To.

Kim Goan To terkejut, dengan cepat lompat keluar dari kalangan. Thian bok taysu dan Sek-bok Taysu masing2 melakukan serangan dari depan dan belakang, mengarah lutut dan ulu hati.

Kun-liong Ong tertawa dingin, tangannya menarik Siang- koan Kie yang sudah tidak berdaya kemudian dibalikkan kebelakang, untuk menahan serangan dari belakang. Setelah itu ia melompat sambi! menarik tangan Siang-koan Kie untuk mengelakkan serangan Sek-bok Taysu dari depan.

Urat nadi Siang-koan Kie sudah dikuasai oleh Kun-liong Ong, sehingga kehilangan kemampuannya untuk memberi perlawanan. Ia membiarkan dirinya digunakan sebagai senjata oleh Kun-liong Ong, untuk menghadapi serangan2 Thian-bok Taysu, Sek-bok taysu, Kim Goan To dan dua kacung. Orang itu karena kekhawatiran akan melukai Siang-koan Kie, dengan sendirinya tidak berani melanjutkan serangan. Namun demikian, ketika melihat Kun-liong Ong hendak melarikan diri, lima anggota pasukan berani mati dengan cepat sudah maju mengurung.

Kun-liong Ong tertawa dingin, lalu mencekal kaki Siang- koan Kie, kembali menggunakan badan anak muda itu sebagai senjata untuk menghadapi lawan2nya.

Lima pasukan berani mati itu terpaksa mundur, tetapi masih tetap dengan posisinya yang mengurung.

Sementara itu, Nie Suat Kiao sedang repot menolong Wan Hauw, ia memberikan sebutir pel, dimasakkan kedalam mtilutnya, kemudian berkata: “Kau atur sendiri jalan pernapasanmu, jangan memikirkan urusan lain. Aku hendak pergi menolong toakomu.”

Ia melompat sambil mengacungkan senjata pusakanya dan orang2nya mundur.

Waktu itu Kun-liong Ong sedang memaksa lima anggauta pasukan berani mati mengundurkan diri kearah utara, jelas bahwa maksud Kun-liong Ong adalah hendak melarikan diri.

Nie Suat Kiao memutar senjata pusakanya, menahan usaha Kun-liong Ong yang hendak melarikan diri. Katanya dengan nada suara dingin: “Kau makan obat kuat Cin-sin tan, khasiatnya mungkin sudah akan hilang, disepanjang jalan yang menuju keistanamu, aku sudah memasang tigabelas rintangan tidak mungkin kau akan bisa lolos.”

Kun liong Ong mengendurkan cekalan pada Siang-koan Kie, jawabnya dingin: “Aku menggunakan dia sebagai senjata, kamu tentu tidak berani sembarangan menyerang aku”

“Mati kau satu orang, berarti menolong ribuan jiwa manusia, nasib rimba persilatan juga akan terhindar dari kehancuran. Kendatipun Siang-koan Kie turut mati bersamamu, juga akan dihormat oleh kawan2 rimba persilatan untuk se-lama2nya, namanya tetap abadi ” berkata Nie Suat

Kiao sambil tertawa.

Sedapat mungkin ia menindas perasaannya yang tegang, menunggu jawaban Kun liong Ong.

Thian-bok Taysu dan Kim Goan To yang pernah menerima budi Siang-koan Kie, kalau bukan Siang-koan Kie yang mengeluarkan mereka, dua orang itu masih tetap berada dalam kamar tawanan di bawah tanah yang gelap gulita

Mereka merasa menanggung budi besar sekal hingga menimbulkan hasrat sangat kuat untuk memberi pertolongan, sekalipun harus mengorbankan jiwa sendiri.

Mata Kun-liong Ong menyapu keadaan sekitarnya, lalu menghela napas panjang. Diam2 mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, untuk menghadapi musuh2nya.

Sejak ia turun tangan, sehingga saat itu, baru mendapat kesempatan untuk mengaso.

Kedua pihak saling berhadapan cukup lama, masing2 tidak mengeluarkan suara. Thian-bok, Sek-bok, Kim Goan To dan dua kacung, masing2 sudah mengerahkan kekuatan tenaganya. Asal Nie Suat Kiao mengeluarkan perintah, segera menyerbu Kun-liong Ong tanpa menghiraukan jiwa sendiri.

Dalam Keheningan, ternyata penuh ketegangan.

Akhirnya Nie Suat Kiao tidak sabar lagi, perlahan-perlahan ia angkat senjatanya dan berkata dengan nada suara dingin: “Kau sudah terluka parah, susah untuk melawan serangan kita beramai.”

Kun-liong Ong diam2 menarik napas, jawabnya dengan nada suara tetap angkuh: “Kalau aku melepakan dia, bagaimana?” “Kalau kau benar2 hendak melepaskan dia, aku juga akan membiarkan kau undurkan diri dengan selamat.”

“Biar aku bawa keluar dulu dari daerah yang terkurung oleh orang2 golongan pengemis, baru kubebaskan dia.

Bagaimana?”

“Tidak bisa, Kau selalu tidak pegang kepercayaan. Siapa akan percaya omonganmu? Daripada kau lolos, lebih baik dia mati bersamamu.”

“Sayang ucapanmu juga tidak akan kupercaya, apalagi kau juga belum tentu dapat mewakili Auw yang Thong,”

“Kalau begitu bagaimana kau baru mau percaya?” “Auw-yang Thong dihormati dan dihargai orang banyak

karena selalu pegang percaya, aku menghendaki supaya dia sendiri yang memberikan janji“

“Ini juga bukan soal susah, kalau aku tidak buktikan, barang kali kau belum merasa puas” berkata Nie Soat Kiao. Kemudian mengeluarkan sempritan dari dalam sakunya dan ditiupnya.

Suara sempritan itu sebentar panjang dan sebentar pendek, seolah2 mengandung irama tertentu

Dari jauh terdengar suara sempriian yang serupa, se-olah memberi sahutan yang keluar dari mulut Nie Soat Kiao,

Nie Soat Kiao lalu menghentikan tiupannya dan berkata: “Suara sempritan tadi, apa tidak cukup untuk menghalau pikiran anak buahmu?”

“Tak kusangka kau dapat memikirkan cara semacam itu.

Hm, seharusnya aku bunuh mati kau dulu. ”

“Dalam permainan catur, salah langkah satu set, berarti kekalahan total. Apa kau sekarang merasa menyesal?” “Bagaimana perkembangan selanjutnya, tiada seorangpun yang tahu. Sekarang kau gembira, bukankah itu terlalu pagi?”

“Se-tidak2nya dalam pertempuran hari ini, adalah kekalahanmu yang paling hebat dalam hidupmu.”

“Terhadap kau aku pernah membesarkan dan mendidik seperti anak sendiri, tak kusangka telah memelihara seorang yang menjadi musuh besarku.”

“Ayah bundaku yang telah susah2 melahirkan diriku, semua telah binasa ditanganmu, apakah aku tidak boleh menuntut balas dendam?. ”

Sejenak ia berhenti, “aku telah mendirikan pahala tidak sedikit untuk kau. Aku pergi menempuh bahaya maut dan menanggung dosa besar, semua itu se-mata2 hendak membalas budimu yang membesarkan diriku. Dua kali kau turun tangan membunuh aku, ternyata gagal semua.

Hubungan anak dan ayah kini sudah putus, sekarang aku datang untuk menuntut balas dendam sakit hati ayah bundaku, juga untuk menyingkirkan satu bahaya besar bagi dunia rimba persilatan.”

“Kau satu bocah yang masih ingusan, bagaimana dapat melawan aku? Hari ini karena salah perhitungan, aku telah terkurung, ini merupakan satu kesempatan yang paling baik bagimu untuk membinasakan daiku. Sayang, kau seorang perempuan berhati lemah, lantaran satu Siang-koan Kie kau rela melepaskan aku. Kesempatanmu kini telah lenyap, barangkali untuk selanjutnya kau tidak akan mendapatkan kesempatan sebaik ini lagi.”

“Kepergianku dari bawah kekuasaanmu, telah menimbulkan reaksi hebat dalam anak buahmu, mereka telah timbul pikiran hendak melepaskan diri dari pengaruhmu. Apabila berita ini tersiar keluar, pasti akan merupakan bencana bagimu, bukan saja anak2 pungutmu dan selir2mu akan meninggalkan, tetapi juga raja2 muda timur, barat, selatan dan utara, akan memberontak terhadapmu.”

Kun-liong Ong merasa seperti diguyur air dingin, ia diam saja.

Kata2 Nie Suat Kiao itu menimbulkan rasa takut tidak sedikit bagi dia, kalau tidak karena mukanya memakai kedok kulit manusia, orang tentunya dapat lihat bagaimana perubahan dimukanya.

Nie Suat Kiao dapat menduga bahwa bekas ayahnya itu sedang memikirkan suatu urusan besar, hingga diam2 merasa girang.

Pada saat itu, suata sempritan yang berirama itu terdengar pula.

Semangat Nie Suat kiao terbangun, katanya: “Auw-yang pangcu akan tiba.”

Kun-liong Ong angkat muka, tiba2 melihat seekor kuda lari pesat kearahnya.

Sebentar kemudian, kuda itu Sudah berhenti diantara orang banyak. Penunggangnya bukan lain daripada pemimpin golongan Pengemis Auw-yang Thong.

Sinar matanya yang tajam memandang keadaan disekitarnya sebentar, lalu berkata lambat2 kepada Nie Suat Kiao: “Ada urusan penting apa kau minta aku datang?”

“Harap pangcu memberi putusan satu perkara penting” jawab Nie Suat Kiao.

Auw-yang Thong lompat turun dari atas kudanya, matanya mengawasi Siang-koan Kie yang berada dalam kekuasaannya Kun-liong Ong, katanya: “Urusan apa?”

“Kun-liong Ong sudah terluka parah bagian dalamnya.

Tanpa menggunakan tigabelas rintangan pihak orang2 kita, dengan kekuatan kita pada saat ini, sudah cukup untuk menundukkan dia...”

“Tetapi bagaimana dengan Siang-koan Kie?” “Biar Siang-koan Kie turut dia pergi.” “Kecuali ini, apa sudah tidak ada jalan lain?”

“Masih ada, asal kau melepaskan aku, untuk ditukar dengan jiwa Siang-koan Kie.” berkata Kun-liong Ong.

“Apakah Siang-koan Kie terluka?”

“Hanya kugenggam urat nadinya, tidak terluka apa2.” “Kau orang yang tidak bisa dipercaya, semua ucapanmu,

susah dipercaya.”

“Kau menghendaki cara bagaimana baru mau percaya?” “Kau lepaskan dulu Siang-koan Kie, kita akan periksa

terluka atau tidak. Setelah itu, baru kita mengizinkan kau berlalu dari sini.”

“Tetapi bagaimana aku bisa percaya kau?”

“Dengan namaku Auw-yang Thong sebagai jaminan, apa masih tidak cukup?”

Kun-liong Ong dongakkan kepala, tertawa terbahak-bahak. “Auw-yang Thong, sejak aku berkelana didunia Kang-ouw, belum pernah mengalami kekalahan demikian mengenaskan. Apabila kau melepaskan aku pulang, bukankah berarti melepas singa pulang kandang? Apakah kau nanti tidak menyesal?”

“Aku Auw-yang Thong bisa membuka suara dihadapan sahabat2 rimba persilatan, hanya karena aku selalu bisa pegang janji dan bisa dipercaya”

Kun-liong Ong tundukkan kepala, tidak berkata apa2. Auw-yang Thong berkata pula: “Hari ini sekalipun aku melepaskan kau, tetapi kemudian hari juga masih tidak akan terluput dari kebinasaan.”

Kun-liong Ong pelahan2 melepaskan Siang-koan Kie, kemudian berkata: “Auw-yang Thong, kau periksa sendiri, dia terluka atau tidak?”

Siang-koan Kie sudah kehilangan tenaga, tetapi mata dan telinganya masih sempurna, pembicaraan orang2 itu ia dapat dengar dengan jelas. Setelah terbebas, ia memberi hormat kepada Auw-yang Thong seraya berkata: “Pangcu, mengapa lantaran aku satu orang, menyusahkan banyak sahabat rimba persilatan?”

“Kau coba atur pernapasanmu, badanmu terluka atau tidak?” jawabnya lain.

Siang-koan Kie menurut, ia bernapas sebentar, baru menjawab: “Tidak.”

“Kau coba lagi, kemasukan racun atau tidak?”

Siang-koan Kie coba bernapas lagi, kemudian menjawab: “Tidak.”

“Perbuatanmu ini bukankah akan merendahkan derajatmu sendiri?” berkata Kun-liong Ong dingin.

“Terhadap orang lain semua aku percaya, tetapi terhadap kau tidak. Mau tidak mau harus berlaku hati2.”

Kun-liong Ong masih hendak berkata lagi, tetapi kemudian diurungkan.

Auw-yang Thong tertawa dingin, kemudian berkata: “Sekarang kan boleh pergi.”

Mata Kun-liong Ong mengunjukkan kegusaran hebat, katanya gemas: “Dalam waktu sepuluh hari, aku pasti akan datang membunuh kalian semua. Semua orang yang, ada disini, tidak satupun yang bisa hidup.” “Sekarang ini kalau kita hendak membunuh kau, sebetulnya mudah sekali. Kau tidak lekas pergi, apakah masih menunggu sampai Auw-yang Thong pangcu berubah pikiran? Biar satu kali kehilangan kepercayaan, asal dapat membinasakan dirimu.”

Betulkah setelah Kun-liong Ong terlepas dari kepungan orang2 golongan pengemis, dalam waktu sepuluh hari melakukan serangan pembalasan?

Bagaimanakah kesudahannya percintaan segi tiga antara Siang-koan Kie, Wan Hauw dan Nie Soat Kiao?

-ooo0dw0ooo-