ISMRP Jilid 26

 
Jilid 26

Dengan belati pusakanya Siang-koan Kie menyampok jatuh senjata gelap yang menyerang mukanya. Karena badannya memakai baju pusaka, ia tidak menghiraukan senjata gelap yang menyerang badannya.

Orang yang melakukan serangan dari dalam lobang itu agaknya sudah kehabisan akal, ia berkata sambil tertawa dingin: “Senjata rahasiaku ini bukan saja ada racunnya yang sangat berbisa, tetapi, juga khusus untuk memecahkan kekuatan tenaga dalam. Kalau kau hanya mengandalkan kepandaian ilmu silat saja, sekalipun kau sanggup menahan, tetapi juga tidak dapat bertahan sampai setengah jam. "

Dalam hati Siang-koan Kie merasa geli, tetapi mulutnya berkata: “Beberapa buah senjata rahasia saja, apa artinya? Tuhan menghendaki kita cinta kasih sesama manusia. Aku tidak ingin bertindak keterlaluan terhadap kalian, tetapi kalau kau tidak mau meletakkan senjatamu, jangan sesalkan perbuatanku, karena senjataku golok emas mengejutkan sukma ini tidak mengenal kasian."

Dari tempat gelap itu mendadak terdengar suara teriakan kaget: “Golok emas mengejutkan sukma?. Bukankah itu salah satu dari tiga pusaka rimba persilatan?. "

Lain suara menyambung: “Kau mempunyai golok emas mengejutkan sukma, badanmu tentu mengenakan baju rompi ulat sutra dari langit: Pantas kau tidak takut senjata rahasia."

Siang-koan Kie diam2 berpikir: “Orang yang sembunyi ditempat gelap ini ternnyata mengenal betul dengan tiga pusaka rimba persilatan, kalau begitu bukan orang sembarangan”

“Kalau kau sudah tahu tiga benda pusaka itu, apakah masih ingin mencoba lagi?"

Dari tempat gelap itu tiba2 terdengar suara elahan napas, kemudian berkata: “Kau ada membawa dua benda pusaka itu, sudah tentu bukan orang sembarangan, bolekah kau memberitahukan namamu yang terhormat?"

“Aku Siang-koan Kie, pendatang baru didunia Kang-ouw." jawabnya sederhana.

Lama sekali tidak mendengar jawaban, mungkin orang itu belum pernah mendengar nama itu.

Siang-koan Kie sudah tidak sabar, selagi hendak menanya, tiba2 terdengar suara perlahan: “Toheng, dalam rimba persilatan, tidak ada perbedaan tua atau muda, siapa yang kuat, dialah yang dianggap gagah. Umpama Toheng sendiri dan pinceng, sedikit banyak toh merupakan orang2 yang ada nama dalam rimba persilatan, tetapi kita toh dikurung oleh Kun-liong Ong sehingga beberapa puluh tahun ditempat ini”

Seorang lagi menjawab: “Perkataan Toheng memang benar. Sahabat ini bisa mempunyai tiga benda pusaka rimba persilatan, sudah tentu bukan orang sembarangan." Siang koan Kie mendengarkan pembicaraan dua orang itu, setelah pembicaraan itu berhenti. Tiba2 terdengar suara menggeleger, kemudian disusul oleh percikan api seperti beradunya dua batu besar.

Dari percikan sinar itu, Siang-koan Kie dapat melihat dua orang tua berambut panjang duduk di bawah dinding.

Terdengar suara datar menanya: “Saudara Siang-koan, pernakah kau melihat pinceng?"

Siang-koan Kie berpikir: “orang tua itu menyebutkan dirinya 'pinceng', sudah tentu ada satu paderi.

Maka ia lalu menyahut dengan suara nyaring: “Bagaimana sebutan taysu yang mulia”

“Pinceng Thian-bok, dari gereja Siao-lim-sie di gunung Siong-san."

“Ada seorang taysu bergelar Tiat-bok, apakah taysu kenal dengannya?"

“Itu adalah sutee pinceng. Apakah siecu kenal dengannya?" “Pernah bertemu beberapa kali, boanpwee kagum sekali

terhadap kepandaian ilmu siiatnya."

“Totiang yang ber-sama2 pinceng terkurung dalam satu kamar ini adalah sesepuh partay Kun-lun-pay, Ceng-leng Totiang."

“Jiwie locianpwee, maafkanlah kesasalahan boanpwee tadi, karena boanpwee tidak tahu kalau jiwie locianpwee."

“Pinceng dan Ceng-leng totiang, telah ditawan oleh manusia jahanam itu ditempat ini, sudah tidak tahu berapa lamanya, se-tidak2nya sudah lebih dari sepuluh tahun."

Ceng-leng Totiang berkata: “Siang-koan siecu sanggup menyambuti serangan tangan pinto dan Thian-bok taysu, suatu bukti bahwa Siang-koan siecu " Siang-koan Kie cepat memotong: “Boanpwee hanya mengandalkan keampuhan tiga pusaka rimba persilatan, tidak terhitung kepandaian yang sesungguhnya."

“Meskipun tiga pusaka itu besar sekali pengaruhnya, tetapi kau tadi sanggup menyambuti serangan sampai dua kali, sudah cukup untuk membuktikan bahwa siecu dapat memasuki tempat yang sangat berbahaya ini, tentunya bukan tidak ada sebabnya. Bolehkah kiranya siecu memberitahukan kepada kita?" berkata Thian-bok.

Siang-koan Kie menganggap dua orang tua itu dari golongan baik2, tidak perlu dibohongi, maka lalu menjawab: “Kun-liong Ong seorang jahat yang dosanya sudah bertumpuk2. Ia merupakan satu bencana besar bagi rimba persilatan. Dengan menggunakan pengaruhnya obat gaib, ia telah berhasil menundukkan banyak tokoh2 kuat rimba persilatan, mengabdi pada dirinya "

Bicara sampai disitu, ia berhenti sekonyong-konyong. “Melihat keadaan locianpwee berdua, agaknya tidak mirip dengan orang yang sudah makan obat gaibnya Kun-liong Ong."

“Meskipun kta tidak makan obatnya, tetapi penderitaan kita, jauh lebih hebat daripada orang2 yang diberi makan obat itu. " berkata Thian bok, tiba2 berteriak dan diam.

Siang-koan Kie yang sudah berada cukup dekat, telah dapat lihat keringat Thian-bok mengucur deras, keadaannya sangat menyedihkan.

Ia segera mengerti bahwa tubuh mereka pasti terkendali oleh benda yang mengikat, maka ia segera maju menghampiri dan berkata dengan suara perlahan: “Boanpwee ada membawa belati pusaka yang tajam luar biasa, mungkin dapat menolong locianpwee melepaskan belenggu totiang. " “Diatas punggungku...." berkata Thian bok, tetapi baru sampai disitu, ia sudah tidak tahan rasa sakitnya, hingga tidak dapat melanjutkan keterangannya.

Siang-koan Kie memutar ke belakang Thian-bok taysu, diam2 mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dan menggunakan senjata pusakanya.

Sebentar kemudian hanya terdengar suara beradunya benda yang lirih sekali, Thian-bok taysu tiba2 menarik napas dalam2 dan kemudian berkata: “Terima kasih atas pertolongan siecu."

Siang-koan Kie mengulangi perbuatannya dibelakang punegung Ceng-leng totiang. Tetapi satu kekuatan tenaga hebat menyanggah Siang-koan Kie, kemudian terdengar suara: “Tunggu dulu."'

“Kenapa? Apakah Totiang tidak terganggu?"

“Tali yang mengikat tubuh pinto, dihubungkan dengan pesawat dinding kamar ini, apabila tali terputus, mungkin akan membawa perubahan pada dinding kamar ini...." berkata Ceng-leng totiang, tetapi mendadak berhenti dan kemudian membentak: “Siapa?"

Siang-koan Kie   dengan   cepat   berkata:   “Masuklah....

kemudian dengan suara pelahan: “locianpwee ini mengalami nasib serupa dengan totiang berdua, juga ditembusi badannya oleh Kun-liong Ong, yang kemudian dirantai dengan kursi beroda dan disuruh menjaga pintu."

Sementara itu, orang tua rambut panjang itu sudah berada didepannya.

Thian-bok taysu yang saat itu sudah hilang rasa sakitnya, mengangkat muka mengawasi orang tua itu sejenak, memang benar, keadaannya serupa dengan dirinya. “Kalau tali yang mengikat tubuh totiang tidak disingkirkan, barangkali tidak bisa keluar dari dalam kamar ini." berkata Siang-koan Kie.

“Tali yang mengikat tubuhku ini, meskipun menyambung dengan dinding, tetapi tidak menimbulkan rasa sakit seperti Thian-bok taysu. Siang-koan siecu, bawalah saja Thian-bok taysu keluar!"

“Tidak, aku tahu maksudmu, kita sama2 dalam keadaan susah selama beberapa puluh tahun, bagaimana aku boleh meninggalkan kau sendirian disini?" berkata Thian-bok taysu.

“Taysu dikurung disini sudah beberapa puluh tahun, mengapa masih belum menginsafi soal takdir? Kalau pinto memaksa menyingkirkan tali yang mengikat tubuhku, apabila ada terjadi perobaban apa2 pada dinding kamar ini, bukankah Siang-koan siecu juga akan terkurung ditempat ini? Hal ini bagi pinto tidak ada faedahnya, tetapi bagi kalian semua merupakan bencana." berkata Ceng-leng Totiang sambil tertawa.

Siang-koan Kie diam2 membenarkan ucapan imam tua itu.

Ceng-leng totiang melanjutkan perkataannya: “Kalian lekas pergi, kepentingan rimba persilatan, lebih berharga daripada mati hidup pinto. Kalau benar taysu ada maksud hendak menolong pinto, rasanya juga belum perlu tergesa-gesa."

“Beberapa puluh tahun kita hidup bersama sama. "

berkata Thian bok taysu sambii menghela napas panjang.

“Orang yang mengantar makanan kita sudah akan datang, taysu masih menunggu apa lagi?" berkata Ceng-leng totiang.

Thian-bok taysu merangkapkan kedua tangannya dan berkata sambil memuji nama Budha: “Toheng selamat tinggal, pinceng akan berusaha sekuat tenaga, untuk menolong toheng supaja lekas keluar dari sini." “Kalau tidak beruntung pinto harus binasa disini. Tolong taysu beritahukah kepada ketua pinceng digunung Kun-lun- san." berkata Ceng-leng totiang.

“Nanti setelah boanpwee berhasil menemukan jalan rahasia kekamar racun, pasti akan balik menolong totiang." berkata Siang-koan Kie, lalu melanjutkan perjalanannya.

Thian-bok taysu mengambil tongkatnya dan berjalan dibelakang Siang-koan Kie.

Orang tua berbaju hitam itu tiba2 mendahului Siang-koan Kie dan berkata: “Biarlah aku siorang tua yang membuka jalan."

“Jangan menempuh bahaya, biarlah aku saja yang jalan didepan!" berkata Siang-koan Kie.

Tiga orang itu berjalan lagi kira2 tujuh delapan tombak, ternyata tidak menemukan rintangan apa2.

Siang-koan Kie berjalan sangat hati2, pikirannya melayang memikirkan keadaan jalan di bawah tanah itu.

Jalanan tiba2 membelok, setiap kira kira sepuluh langkah, terdapat satu tikungan, ketika tikungan terakhir, tiba2 nampak sinar terang.

Siang-kian Kie merandek dan mengangkat muka. Sinar itu ternyata keluar dari sebuah pintu batu yang setengah terbuka. Ia sangat girang, lalu berpaling dan berkata kepada Thian bok taysu dan orang tua itu: “Locianpwee, hati2 sedikit, jangan mengeluarkan suara, supaya tidak mengejutkan orang dalam rumah itu."

Dua orang tua itu sudah beberapa puluh tahun tidak melihai sinar matahari, tidak heran kalau sinar itu menyilaukan matanya.

Siang-koan Kie berjalan endap2 menuju ke kamar itu sambil pasang telinga. Sudah berada dekat dengan pintu yang setengah terbuka itu, tetapi ia tidak mendengar suara apa2.

Thian-bok taysu dan orang tua itu mengikuti di belakang Siang-koan Kie dalam keadaan siap-siaga.

Kesunyian dalam kamar itu sebaliknya membuat Siang- koan Kie merasa tidak tenang.

Lama ia menunggu diluar pintu, karena tertarik oleh perasaan ingin tahu, ia melongok kedalam.

Kamar itu luas, tetapi sedikit perlengkapannya. Di-tengah2 kamar digantung sebuah lampu. Di empat ujung kamar, tergantung sebuah mutiara sebesar biji buah lengkeng. Mutiara itu memancarkan sinar berkilauan, hingga kamar itu terang-benderang.

Sebuah balai kayu beralas permadani kuning, terletak didalam satu sudut. Diatas balai2 itu duduk seorang wanita yang rambutnya terurai dikedua pundaknya.

Wanita itu mengenakan pakaian warna hijau daun, kepalanya mendongak keatas, seolah2 sedang memikirkan apa2.

la duduk membelakangi pintu, hingga Siang-koan Kie tidak dapat melihat bagaimana parasnya. Tetepi dari bentuk badannya yang ramping, dapat diduga wanita itu tentunya berparas cantik.

Siang-koan Kie perdengar suara batuk2 kemudian berkata: “Disini Siang-koan Kie."

Tetapi wanita itu se-olah2 tidak mendengar perkataan Siang-koan Kie, ia masih duduk tanpa bergerak.

Siang-koan Kie tercengang, pikirnya: “perempuan ini tenang sekali, ada orang datang, sedikitpun tidak menghiraukan” “Nona, bolehkah aku numpang tanya...." demikian berkata pula dengan suara agak nyaring.

Wanita itu berpaling, dengan mata sayu memandang Siang-koan Kie, kemudian berkata: “Apakah kau bicara denganku?"

Paras wanita itu ternyata sudah banyak kerutnya, satu tanda bahwa usianya sudah tua, tetapi masih nampak kecantikannya, kulitnya juga putih halus, dimasa mudanya tentu cantik sekali.

“Benar, aku bicara denganmu."

Wanita itu menarik napas panjang, kembali membalikkan badarnya, tidak menghiraukan Siang koan Kie.

“Aku ingin minta tanya, apakah kau pernah melihat Kun- liong Ong?" demikian Siang koan Kie berkata.

Nama Kun-liong Ong agaknya mempunyai pengaruh besar sekali. Wanita itu mendadak balikkan badarnya, matanya menatap wajah Siang-koan Kie sekian lama, kemudian menanya: “Tahukah kau, kapan ia pulang?"

Siang-koan Kie tidak tahu benar, siapa adanya perempuan tua itu, maka ia tidak berani berlaku gegabah. Lambat2 ia berjalan mendekati perempuan itu.

Dari sudut kamar itu tiba2 terdengar suara merdu: “Ada urusan apa, kalian boleh bicara dengan aku."

Siang-koan Kie berpaling, disalah satu sudut nampak berdiri seorang wanita muda berpakaian warna hijau.

Perempuan muda itu kakinya tidak memakai sepatu, rambutnya terurai dikedua pundaknya, pakaiannya banyak bagian terdapat lobang2 atau tambalan, jelas bahwa pakaian itu sudah dipakai lama tidak diganti, namun demikian, masih tidak mengurangi kecantikannya. “Nona tentunya penghuni kamar ini?" demikian Siang-koan Kie menanya dengan ramah.

“Sejak aku sudah ingat urusan, bersama ibuku aku berdiam dikamar ini, mau dikata bahwa kamar ini tempat tawanan kita berdua juga boleh, anggap kita sebagai penghuni kamar ini jugi tidak halangan." berkata perempuan muda itu.

“Apakah itu ibumu?" bertanya Siang-koan Kie sambil mengawasi perempuan diatas balai.

“ya, itu adalah ibuku."

“Dan keteranganmu, kau agaknya juga dikurung disini oleh Kun-liong Ong?"

“Mulai kecil aku dibesarkan dalam kamar ini, belum pernah aku meninggalkan tempat ini, juga memang tidak bisa pergi dari sini."

“Tahukah nona riwayat dirimu sendiri?"

“Tidak tahu, bahkan selanjutnnya juga tidak bisa tahu." “Kenapa?"

“Sebab ibuku sudah gila. Dulu, usiaku masih kecil, ia tidak mau memberitahukan padaku, hanya bicara sedikit tentang kejahatan dalam dunia. Setelah aku dewasa, ia telah gila, hingga tidak bisa memberitahukan padaku lagi."

Siang-koan Kie anggap tidak ada gunanya untuk menanya lagi, maka lantas minta diri. Selagi hendak berjalan, perempuan muda itu mendadak berseru: “Jangan pergi dulu."

“Nona masih ada keperluan apa?" Demikian Siang koan Kie menanya sambil berpaling.

“Ibuku meski dihinggapi penyakit gila, tetapi tidak berat. Ada kalanya, pikirannya jernih, kalau kau mau menunggu sebentar, mungkin kau dapat menanyakan padanya tentang riwayat diri kita. “Tetapi kita masih ada banyak urusan, tidak bisa menunggu disini terlalu lama."

“Apakah menunggu sebentar saja juga keberatan?" berkata perempuan muda itu dengan suara sedih.

Sebelum Siang-koan Kie menyahut, perempuan muda itu sudah berkata lagi: “Suruh sahabat2mu itu masuk, aku ada barang2 bagus akan kuperlihatkan kepada kalian."

Thian-bok taysu yang berdiri dipintu berkata: “Siang-koan siecu, jangan sembrono, oranganya Kun-liong Ong, semuanya banyak akal bangsat, kita harus hati2”

Siang koan Kie pikir bahwa nasehat paderi tua itu memang benar, maka ia lalu berkata: “Nona tidak perlu capek hati, aku masih ada urusan lain yang perlu dibereskan, biarlah aku pergi dulu."

Perempuan muda itu cemas, buru2 mengejar keluar.

Tetapi Siang-koan Kie lebih cepat, sebentar saja sudah keluar dari kamar itu.

Perempuan muda itu mengejar sampai diambang pintu, mendadak berhenti.

Sekelebatan saja Siang-koan Kie sudah dapat lihat bahwa belakang tubuh perempuan muda itu ada benda berkeredapan, hatinya tergerak, katanya kepada diri sendiri: “Oh, perempuan ini juga diikat oleh seutas tali halus."

Sementara itu ia sudah berada diluar kamar.

Thian-bok taysu berkata dengan suara pelahan: “Dua liesiecu ini juga ditawan oleh Kun-liong Ong."

“Tetapi kalau dibandingkan dengan kita, mereka jauh lebih bebas." Berkata orang tua baju hitam itu.

“Orang2nya Kun-liong Ong kalau bukan dimusnahkan ingatannya oleh obat gaib, tentu dikendalikan alat kejam. Sebegitu lekas pengaruh obat itu lenyap atau alat pengikat itu disingkirkan, kekuatan dan pengaruh Kun-liong Ong pasti runtuh." berkata Siang-koan Kie.

“Pinceng dengan sekuat tenaga, bersedia membantu usaha Siang-koan siecu," berkata Thian-bok taysu.

“Sepak terjang Kun-liong Ong selama beberapa puluh tahun ini, sangat bertentangan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa, merupakan bencana bagi rimba persilatan. Locianpwee sekalian tertawan dalam kamar gelap, masih belum tahu keadaan diluar. Selama beberapa puluh tahun ini, entah berapa banyak tokoh2 rimba persilatan yang teraniaya olehnya. Banyak kejahatan dan kekejaman yang dilakukan olehnya, hingga dunia persilatan se-olah2 menghadapi hari kiamat. Kalau kita tidak lekas memusnahkan kamar racun yang digunakan untuk melakukan segala kejahatan itu, tidak usah tiga tahun, ia benar2 akan menguasai rimba persilatan."

Selama itu, ia sudah berjalan sepuluh tombak lebih dan melalui dua tikungan.

Jalanan mulai gelap lagi. Thian-bok taysu maju kedepan dan berkata: “Biarlah Pinceng yang membuka jalan. "

ia berhenti sejenak. “Meskipun Kun-liong Ong sudah berhasil menawan aku beberapa puluh tahun lamanya, tetapi kepandaian pinceng, masih belum hilang selama beberapa puluh tahun itu, pinceng terus berlatih, hingga kepandaian pinceng bertambah maju."

Siang koan Kie tahu bahwa paderi tua itu berkepandaian tinggi, maka diuga tidak mencegah, ia berjalan dibelakangnya untuk memberi bantuan jika perlu.

Berjalan lagi kira2 beberapa tombak, tiba-tiba mendengar suara yang sangat aneh. Thian-bok taysu merandek, ia pasang telinga, suara itu seperti suara ratap tangis orang perempuan. Karena terpisah sangat jauh, hingga tidak dapat mendengar apa yang dikatakan. Siang-koan Kie juga dengar suara itu, katanya sambil menghela napas: “Entah siapa perempuan itu, rupa2nya ditawan oleh Kun-liong Ong didalam kamar ini, dan sudah banyak tahun tidak melihat sinarnya matahari. "

“Penghidupan dalam tawanan yang tidak mendapat lihat sinar matahari ini, sesungguhnya lebih hebat daripada kematian. Pinceng sejak usia tujuh tahun sudah mencukur rambut dan menuntut penghidupan suci digunung Siong-san. Pinceng yakin sudah cukup teguh iman pinceng tetapi sewaktu dikeram dalam kamar gelap ini, juga masih merasakan berat penderitaan itu. "

Tiba2 terdengar suara orang tertawa dingin, memutuskan pembicaraan Thian-bok taysu, kemudian terdengar suara orang bicara: “Dalam waktu se-peminuman secangkir teh, kalian boleh pilih jalan mana yang kalian hendak ambil. Diatas meja batu, ada obat pil ajaib yang dapat melupakan diri sendiri. Kalau menelan satu butir, kalian bisa melupakan asal- usul diri sendiri. Kepandaian ilmu silat kalian tidak lemah, aku dapat memberi jaminan kepada kalian, tidak akan menuncut kesalahan kalian yang sudah lalu”

Suara itu keluar dari dinding atas, membingungkan yang mendengarkan.

Siang-koan Kie maju dua langkah, berada di depan Thian- bok taysu, katanya: “Dari suaramu, kau agaknya mempunyai kedudukan tidak rendah, mengapa kau tidak mau keluar menemui kita?"

“Saat ini aku agak repot, tidak ada waktu untuk menemui kalian...." jawab suara  itu.

“Apa kau takut?" Berkata Siang-kom Kie.

Orang itu marah mendengar peikataan Siang-koan Kie, bentaknya. “Teng Soan juga masih pandang mata padaku, apalagi kamu. Aku akan membereskan urusanku sebentar, dalam waktu satu jam, aku akan menemui kamu lagi." Sehabis berkata demikian, jalanan yang gelap itu, mendadak terang benderang.

Sejauh kira2 tiga tombak dihadapan Siang-koan Kie, jalanan telah terhalang oleh dinding tembok, rupa-rupanya itu ada jalan penghabisan.

Ketika ia menengok kebelakang, entah sejak kapan, dibelakangnya juga terhalang oleh tembok.

Dekat dinding didepannya terdapat sebuah meja batu, di atas meja ada sebuah botol.

Siang-koan Kie dengan sangat berani menghampiri meja batu itu, dibawah botol terdapat sepotong kertas yang ada tulisannya: “Pil melupakan diri."

Dalam botol itu berisi tiga butir pil.

Siang-koan Kie mengambil botol itu, sebutir pil diletakkan diatas tangannya, ia periksa dengan teliti, katanya sambil menghela napas: “Hanya mengandal sebutir pil kecil ini, Kun- liong Ong bisa malang melintang didunia Kang-ouw dan membuat kejahatan yang tidak ada taranya”

Ia masukan lagi pil itu kedalam botol, setelah ditutupnya, lalu dimasukkan kedalam sakunya, kemudian berpaling dan berkata kepada Thian-bok taysu: “Orang yang bicara tadi, lagunya sombong sekali, kiranya mempunyai kedudukan tidak rendah. Kalau kita bisa ber sama2 menundukkan dia, mungkin kita bisa jalan dalam jalanan ini dengan leluasa. "

Thian-bok taysu mundur beberapa langkah, menyender kedinding dan berkata dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga: “Nampaknya dalam jalanan ini, kalau bukan jalan yang menuju kekamar racun Kun-liog Ong, tentunya juga suatu tempat yang sangat penting“

“Masih ada satu hal yang sangat aneh, orang2 yang berada dalam jalanan dibawah tanah ini semua seperti belum pernah diberi makan obat melupakan diri, setiap orang masih berpikiran jernih." berkata Siang-koan Kie.

“Menurut pengalaman pinceng, orang2 dalam jalanan ini semuanya barangkali terikat oleh benda kuat seperti pinceng, hingga mereka tidak berani memikirkan untuk lari. Dengan sendirinya tidak berani timbul pikiran untuk melawan."

“Apabila kita berhasil menyingkirkan benda kejam yang mengikat mereka, setiap orang akan menjadi musuh besar Kun-liong Ong."

“Memang benar, tetapi sayang!" “Sayang apa?"

“Pinceng lupa bahwa siecu ada membekal benda pusaka, kalau tadi pinceng ingat, kita bisa menolong dua wanita itu lebih dulu."

Siang koan Kie bersenyum dan berkata: “Perempuan tua itu sudah gila, dalam kamar itu juga hanya mereka berdua, sekalipun mempunyai kepandaian luar biasa, juga tidak mampu menurunkan kepada anaknya. Kita menolong mereka, belum tentu dapat menolong kita. Lebih baik kita menunggu sampai kita membersihkan jalanan ini, nanti kalau kita kembali menolong mereka, rasanya juga telum terlambat. Soal yang

paling penting dewasa ini, adalah menghadapi musuh kuat yang segera akan muncul. Kini masih ada sedikit waktu, marilah kita gunakan se-baik2nya untuk mengatur pernapasan kita."

Sehabis berkata demikian, ia lalu pejamkan matanya.

Pembicaraan itu dilakukan dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, hingga tidak dapat didengar oleh orang ketiga. Orang tua baju hitam itu meski berada didekat mereka, juga tidak tahu apa yang mereka sedang bicarakan. Thian-bok taysu berpaling dan bertanya kepada orang tua baju hitam itu: “Siapakah nama siecu yang mulia?"

“Siaotee Kim Goan To, yang dalam dunia Kang ouw mendapat nama julukan kepalan besi."

“Oh, kiranya Kim tayhiap, pinceng dahulu sebelum tertawan oleh Kun-liong Ong, sering mendengar nama Kim tayhiap."

“Taysu terlalu memuji, bolehkah siaotee menanya gelar taysu?"

“Pinceng Thian-bok taysu."

Pada saat itu, Siang-koan Kie tiba2 membuka matanya, ia berkata dengan suara perlahan: “Ini adalah saat tenang sebelum hujan angin tiba, harap locianpwee berdua menggunakan waktu se-baik2nya, sebentar kemudian mungkin kita akan menghadapi suatu pertempuran mati2an."

Dua orang tua itu sangat mengagumi Siang-koan Kie, maka ketika mendengar perkataan itu, benar saja lantas memejamkan mata mereka.

Sebentar kemudian, sinar terang itu mendadak padam, tetapi sejenak kemudian terang lagi.

Sementara itu, dalam kamar sempit itu sudah tambah satu orang.

Pakaian orang itu sangat aneh, sekujur badannya gemerlapan, pakaiannya itu mungkin terbuat dari logam putih.

Topi diatas kepalanya menutupi kepalanya sampai kemuka, kecuali lobang dibagian kedua matanya, semuanya tertutup oleh topi logam putih.

Siang-koan Kie belum pernah menyaksikan pakaian begitu aneh, maka ia mengerutkan keningnya. Ia diam2 berpikir: “ia memakai pakaian demikian berat, pasti ada gunanya” Ia berlaku sangat hati2, tangannya menggenggam belati pusakanya.

Thian-bok taysu dan Kira Coan To, dahulu juga merupakan orang2 kenamaan dalam duina Kang-ouw, banyak pengalaman dan banyak pengetahuan, mereka dengan cepat memencarkan diri, masing2 menempati posisi yang kuat.

Dua biji mala orang berpakaian aneh itu nampak berputaran, kemudian terdengar suara tertawanya, setelah itu baru terdengar kata2nya: “Melihat roman dan keadaan kalian berdua, sudah tidak salah kalau orang2 yang berhianat."

“Kalau benar kau mau apa?" berkata Thian-bok taysu sambil tertawa dingin, kemudian menyerang dengan tongkatnya.

Ditangan orang aneh itu membawa ruyung panjang, dibagian ujungnya terdapat banyak duri tajam, tangan kirinya membawa sebuah botol warna hijau.

Dengan ruyung itu ia menangkis serangan Thian-bok tayeu, mulutnya mengeluarkan perkataan: “Tahan."

Siang-koan Kie maju dan berkata dengan suara perlahan: “Taysu, harap mundur dulu."

-oodwoo-

102

THIAN-BOK TAYSU menurut, ia mundur ke belakang Siang- koan Kie, dalam hatinya memuji kekuatan tenaga orang aneh itu.

Perhatian Siang-koan Kie ditujukan kepada botol yang aneh itu, dengan belati melindungi dada, ia maju menghampiri orang aneh itu, kira2 sejarak empat kaki ia berhenti dan berkata: “Kau tadi menyebut nama Teng Soan, tentunya kenal padanya?” “Bukan Cuma kenal saja, kalau ia bertemu denganku, bahkan masih bahasakan aku paman guru”

“Kalau begitu, kau tentunya juga menjadi paman guru Kun- liong Ong?”

“Benar, apakah kau golongan pengemis?” “Kedatanganku justru atas perintah Teng Soan”

Sepasang mata orang aneh itu ber-gerak2, lama baru berkata: “Mereka berdua saudara dalam satu perguruan, masing2 mempunyai kepandaian dan kepintaran sendiri2, sukar hidup bersama dalam rimba persilatan.”

“Locianpwee adalah orang tingkatan tua mereka berdua, sudah tentu tahu bagaimana watak mereka masing2?”

Orang aneh itu berpikir lama, tidak menjawab.

Siang-koan Kie berkata pula: “Dua2 keluaran satu perguruan, tetapi watak dan sepak terjangnya sangat berlainan. Teng Soan lemah lembut, ramah tamah dan cinta kasih kepada sesamanya. Kepandaian dan kecerdasan otaknya dalam rimba persilatan dewasa ini, jarang orang yang dapat menandingi. Tetapi kepandaiannya itu digunakan untuk usaha menolong sesama manusia, boleh dikata seorang yang sangat bijaksana. Kun-liong Ong berhati jahat dan kejam serta banyak curiga, ia tidak segan2 membunuh gurunya dan merampas anak perempuannya, sekedar hanya untuk menuruti keinginannya hendak menguasai dunia. Dewasa ini meskipun ia sudah berhasil membangun sesuatu kekuatan besar, tetapi orang2nya, kebanyakan karena terpaksa, hingga mau mengabdi. Walaupun kau sendiri adalah paman gurunya, tetapi, rasanya juga belum tentu kau setuju seratus persen sepak terjangnya ”

“Apakah semua ini Teng Soan yang memberitahukan padamu?” “Sebagian ya, sebagian kusaksikan dengan mata kepala sendiri.”

“Omongan orang, bagaimana boleh dipercaya...” berkata orang aneh itu, tiba2 mengacungkan botol dalam tangannya dan berkata pula dengan nada suara dingin: “dalam botol ini, terisi asap beracun yang bisa memabukan orang, khasiatnya tidak kalah dengan pil melupakan diri. Asal aku menghancurkan botol ini, dalam ruangan ini segera terkurung oleh asap, tidak perduli   bagaimana tinggi kepandaianmu, juga tidak mampu melawan asap ini.”

Siang-koan Kie terkejut, benar dagaannya bahwa dalam botol itu terisi racun sangat berbisa.

Orang aneh itu berkata pula: “Aku siorang tua, meskipun setiap hari bermain dengan racun, tetapi menghadapi racun semacam ini juga masih merasa jeri, maka aku harus memakai pakaian logam...”

“Asap beracun itu meskipun dahsyat, tetapi apabila bertemu dengan ilmu kepandaian tinggi yang dapat menutup napas selama dua jam, tidaklah susah untuk menghindarkan. Apalagi dalam waktu setengah jam ini, kita sudah akan membinasakanmu.”

“Terlalu sombong kau, anak muda,” berkata orang aneh itu sambil tertawa dingin, “sekalipun aku tidak menggunakan senjata beracun ini, kalian juga masih bukan tandinganku.”

Siang-koan Kie diam2 berpikir: “orang ini adalah paman guru Kun-liong Ong, sudah tentu tidak rendah kepandaian dan kepintarannya. Cacat satu2nya ialah adatnya terlalu sombong, anggap dirinya sendiri terlalu tinggi, mudah naik darah, maka aku harus memakai akal, supaya ia jangan sampai menggunakan asap beracunnya”

Ia sengaja tertawa dingin, kemudian berkata: “Apakah kau tidak percaya omonganku?” “Kalau aku menangkan kalian dengan menggunakan senjata, boleh kalian anggap bukan suatu kemenangan.”

Orang aneh itu benar saja lantas meletakkan rujung dan botol di tangannya.

Siang-koan Kie diam2 merasa girang, ia lalu mengacungkan belati ditangannya dan berkata: “Locianpwee awas, senjata ditanganku ini, adalah sebilah senjata pusaka, yang tajamnya luar biasa ”

“Sekalipun senjata pusaka, aku juga tidak takut, lekas turun tangan.”

“Aku menggunakan senjata, ini berarti sudah merupakan satu keuntungan bagiku, maka sebaik-nya locianpwee turun tangan lebih dulu.”

“Kalau begitu hati2lah kau,” berkata orang aneh itu sambil tertawa dingin, kemudian melancarkan serangan dengan tangan kosong.

Siang-koan Kie sudah siap, ia bermaksud hendak menguji kekuatan tenaga orang tua itu, maka serangan itu disambuti dengan tangan kosong juga.

Ketika kekuatan kedua pihak saling beradu, Siang koan Kie tahu bahwa dia sudah berhadapan dengan lawan sangat tangguh, untung ia sudah siap. Begitu mengadu kekuatan, segera lompat mundur dua langkah, dan balas menyerang dengan tangan kiri.

Orang tua itu agaknya tidak menduga Siang-koan Kie yang masih demikian muda, mempunyai kekuatan tenaga demikian hebat, bukan kepalang kagetnya. Karena ia mengenakan baju logam, tidak seperti Siang-koan Kie, dengan mudah dapat mengontrol gerakannya, terpaksa ia menyambuti serangan itu. Orang lain tidak melihat bagaimana perubahan sikapnya, tetapi ia sendiri tahu betapa hebat serangan pemuda itu, sebelah tangannya dirasakan kejang, dadanya bergolak. Tetapi Siang-koan Kie sendiri yang menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya, ketika menyaksikan orang aneh itu tidak bergeming, dalam hati juga terkejut. Dianggapnya orang aneh itu tenaganya kuat sekali. Mau tidak mau harus dilawan dengan menggunakan senjata pusakanya.

Kedua fihak sama2 saling menduga-duga kekuatan lawannya, hingga tidak ada yang melakukan serangan lebih dulu.

Selag dua orang itu sedang mengadu kekuatan tenaga dengan hebatnya, Thian-bok taysu tiba2 maju menghampiri dan menyambar botol yang ditinggalkan oleh orang aneh itu tadi, kemudian balik lagi ketempatnya.

Orang aneh itu sedang menghadapi serangan hebat Siang- koan Kie, ia tidak tahu kalau botolnya sudah diambil orang.

Mengadu kekuatan berjalan terus, Siang-koan Kie mendadak insyaf bahwa dengan mengulur waktu secara demikian, sangat merugikan bagi dirinya, maka ia lalu berkata: “Locianpwee, sekarang silahkan mencoba senjata golok mengejutkan sukma ditanganku ini.”

Orang aneh itu karena tangannya juga terbungkus oleh logam, kalau bertempur selalu menggunakan kekerasan, karena tidak leluasa menggerakkan kedua tangannya, ketika mendengar nama golok emas itu, ia tidak berani merampas senjata lawannya dengan kekerasan, dengan mendadak ia menyingkir kesamping.

Thian-bok taysu mengira orang aneh itu memergoki perbuatannya, dengan cepat menotok dengan menggunakan tongkatnya.

Orang aneh itu memperdengar suara aneh, tangannya menangkis tongkat Thian-bok taysu. Kim Goan To juga segera maju, ia mengambil ruyung orang aneh itu tadi, dan digunakan untuk menghajar belakang punggungnya.

Meskipun Siang-koan Kie merasa bahwa pertempuran cara demikian agak kurang adil, tetapi dalam keadaan demikian, apabila tidak berhasil menundukkan orang aneh itu, apalagi orang itu sampai keluar dari ruangan itu, lebih besar bahayanya, maka ia tidak mencegah perbuatan dua kawannya.

Karena orang itu sekujur badannya tertutup rapat oleh bahan logam, tidak mudah ditembusi oleh senjata tajam. Maka ketika rujung Kim Goan To menghajar punggunanya, orang itu se olah2 tidak berasa, diam2 juga merasa heran, dengan cepat lompat mundur tiga langkah.

Tepat pada saat itu, Siang-koan Kie sudah maju menyerang dengan senjata pusakanya, karena senjata itu tidak mengunjukkan keistimewaannya, orang itu telah lupa, dengan tangan kanan menyambar senjata dari tangan Siang-koan Kie.

Karena tangannya memakai sarung tangan yang terbuat dari bahan logam, senjata biasa tidak dapat melukai kulitnya, tetapi tidak demikian dengan senjata pusaka Siang koan Kie. Ketika tangannya menyentuh senjata itu, tangan itu putus seketika, hingga darah mengucur keluar.

Orang itu menjerit kesakitan dan lantas lari ke belakang.

Thian-bok taysu menyerang dengan tongkatnya, tetapi orang itu masih bisa menangkis dengan tangannya yang tidak terluka, kemudian lari menuju kedinding.

Ia menerjang dinding batu, penerangan dalam ruangan padam seketika.

Siang-koan Kie sambil berseru: “mari kita kejar.”

Lebih dulu melompat menerjang kearah orang aneh itu. Tetapi ia membentur dinding batu, sementara itu orang aneh sudah menghilang entah kemana.

Thian-bok taysu sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman ia kuatir Siang-koan Kie terjebak, maka lantas berseru: “Siang-koan siecu ”

Setelah melihat Siang-koan Kie kembali ia bertanya pula: “Kemana orang itu?”

“Sudah merat. Dinding sakitar ini, semua ada pintu rahasianya, hanya kita tidak mengerti cara membukanya.” Menjawab Siang-koan Kie.

“Bukan maksud pinceng menakuti siecu, dalam keadaan seperti sekarang ini, kita sebetulnya tidak berdiam lebih lama disini. Kita harus berusaha lekas meninggalkan tempat ini, orang tadi sudah terluka, dan sekarang sudah meloloskan diri, sudah tentu akan membalas dendam.”

“Apakah Siang koan siaohiap membawa korek api?” tanya Kim Goan To.

“Cuma ada satu, maka tidak berani menggunakan jikalau tidak perlu betul”

“Kita sudah tahu kemana arahnya ia lari, pintu rahasia itu sudah tentu ditempat sekitar sini saja. Mari kita selidiki dengan teliti, rasanya tidak sulit untuk mencarinya”

“Itu menang benar, sudah beberapa puluh tahun pinceng disekap oleh Kun-liong Ong. Satu2nya kepandaian yang mendapat keniajuan paling pesat, ialah sepasang mataku ini, tanpa menggunakan penerangan api, pinceng masin bisa melihat segala benda dalam jarak delapan kaki.” Berkata Thian-bok taysu.

Siang-koan Kie mundur selangkah dan berkata: “Coba taysu periksa dengan seksama.” Thian-bok taysu maju selangkah, ia menggunakan pandangan matanya yang tajam melihat keadaan dihadapannya.

Dinding itu ternyata rata dan licin, sedikitpun tidak terdapat tanda2 yang mencurigakan, hingga ia mengerutkan alisnya dan berkata: “Heran!”

“Apakah taysu tidak ada tanda2 yang mencurigakan?” bertanya Siang-koan Kie.

“Kita telah menyaksikan ia tadi menghilang di tempat ini, sudah tentu tidak bisa salah.” Berkata Kim Goan To. Kemudian dengan kepalan tangannya yang menggempur dinding itu.

Thian-bok taysu minggir kesamping, Kim Goan To rasanya masih belum puas menggunakan kepalan tangannya, kembali menggunakan ruyung besinya untuk menggempur dinding. Walaupun dinding itu rusak dan terdapat banyak lobang, tetapi tidak terdapat adanya pintu rahasia.

“Sewaktu Kun-liong Ong membangun tempat ini, tentunya sudah menggunakan banyak pikiran dan tenaga, pesawat2 dan pintu2 rahasia barangkali diatur dengan demikian sempurna, dengan menggunakan kekerasan saja untuk menghancurkan tempat ini, barangkali tidak ada faedahnya.” Berkata Siang-koan Kie.

Kim Goan To sangat menghargai Siang-koan Kie, ketika mendengar perkataan itu, lekas ia undurkan diri dan berkata: “Ditangan Siang-koan siaohiap ada mempunyai senjata pusaka, mengapa tidak mau coba?”

“Sekarang mungkin hanya dengan jalan ini saja.” Berkata Siang-koan Kie, lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, senjatanya ditusukan kedinding.

Dinding itu kokoh kuat, senjata Siang-koan Kie meskipun sudah masuk kedalam, tetapi sudah menggunakan tenaga sangat besar, hingga diam2 merasa heran. Tapi ketika ia menarik keluar ujung belati dari dinding, dalam suasana gelap itu tiba2 berkelebat sinar berkeredepan.

Siang-koan Kie terkejut, ketika ia periksa dengan seksama, ujung senjatanya, warna emasnya sudah berubah menjadi putih berkilauan.

Selagi ia masih memikirkan kejadian yang mengherankan itu, dinding itu mendadak terbuka, sinar lampu mencorot keluar.

Thian-bok taysu dengan tongkat berjalan masuk lebih dulu.

Siang-koan Kie berjalan dibelakangnya, kemudian diikuti oleh Kim Goan To.

Jalanan selebar kira2 empat lima tombak, membujur menuju keruangan yang luas. Dalam ruangan itu terang benderang dengan sinar lampu, tetapi semua pintu yang dicat warna hitam tertutup rapat.

Thian-bok taysu terus menuju kedepan pintu hitam itu, ia menggempur dengan tongkatnya. Pintu itu ternyata tidak terkunci, begitu digempur oleh Thian-bok taysu, segera terbuka. Dibalik pintu itu kembali terdapat ruangan yang dalam tetapi tidak luas lebarnya hanya kira2 satu tombak saja, tetapi dalamnya kira2 ada enam tombak.

Setiap lima kaki, terdapat sebuah lampu, lampu2 demikian semuanya berjumlah duapuluh empat buah, lampu2 itu memancarkan sinar terang sekali.

Thian-bok taysu berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie: “Siang-koan siecu, apakah kita perlu masuk?”

“Kalau tidak masuk gua harimau, bagaimana bisa dapat anak harimau?” menjawab Siang-koan Kie.

Dengan tongkat melintang didada, Thian-bok taysu masuk lebih dulu. Kim Goan To yang menyaksikan perlengkapan agak aneh dalam ruangan itu, sebetulnya ingin mencegah, tetapi ia rasa kurang pantas, selagi masih ragu, karena Siang-koan Kie sudah berjalan masuk, tanpa sadar ia juga sudah turut masuk.

Barti saja kakinya melangkah masuk, pintu itu mendadak tertutup sendiri.

Thian-bok taysu sebagai seorang yang sudah banyak makan asam garam dunia Kang-ouw, dengan cepat menghentikan kakinya dan berseru: “Lekas mundur!”

Siang-koan Kie menampak dalam ruangan itu tidak ada apa2nya yang aneh, lalu menanya: “Kenapa?”

“Dalam kamar ini tidak beres.....” menjawab Thian-bok taysu.

Belum lagi habis kata2nya, duapuluh buah lampu itu mendadak mengeluarkan asap biru.

Kim Goan To lantas berseru: “Siang-koan siaohiap lekas mundur, asap biru ini sangat ganas, Begitu menyambar badan orang, tidak mudah dipadamkan ”

Sementara itu, asap yang keluar dari lampu itu semakin tebal, bahkan tercampur percikan api yang menyala, sebentar saja, dalam ruangan itu sudah dipenuhi oleh asap dan api.

Thian-bok taysu yang berada paling depan, ketika melihat asap dan api menyerbu kedirinya, tanpa ayal lagi telah mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, mengebutkan tangannya kearah asap yang hendak menyerbu dirinya.

Asap dan api yang kesambar kekuatan tenaga Thian-bok taysu, meskipun dirinya terhindar, tetapi api berkobar semakin hebat.

Kim Goan To melompat didepan Siang-koan Kie seraya berkata: “Siang-koan siaohiap, lekas buka pintu kamar.” Selama-mulutnya bicara, tangannya juga bekerja mencegah menyalanya api.

Asap dan api yang berkobar itu meskipun tidak bisa mendekati diri mereka bertiga, tetapi berkobarnya api yang dikipasi, berkobar semakin tinggi.

Siang-koan Kie pikir memang sudah tidak ada lain jalan, kecuali membuka pintu hitam itu dan untuk sementara terpaksa harus undurkan diri dulu.

Ia lalu menggerakkan senjatanya menggempur pintu hitam yang kokoh kuat itu.

Sebentar kemudian, pintu itu terbuka, ia lantas lompat keluar sambil menyerukan kepada dua kawannya supaya lekas keluar.

Thian-bok taysu dan Kim Goan To yang masih berusaha menahan majunya asap dan api, ketika mendengar seruan Siang-koan Kie, buru2 lompat keluar sambil mengeluarkan serangan untuk menahan majunya api.

Keluar dari kamar, dua orang itu sudah bermandikan keringat.

“Siang-koan siecu, kita tidak dapat melewati kamar yang penuh asap dan api itu, sekarang harus bagaimana?’” bertanya Thian-bok taysu.

Siang-koan Kie bergikir sejenak, kamudian menjawab: “Jalan dibawah tanah ini penuh pesawat rahasia. Apabila hanya dengan mengandalkan diri kita menerjang dengan kekerasan, ini berarti mengantarkan jiwa dengan Cuma2. Kalau sudah tidak ada jalan lain, kita boleh coba menggunakan akal keji ”

“yah, akal keji....” berkata Kim Goan To sambil menepok pahanya. “Apakah siecu hendak menggempur dengan api juga?” bertanya Thian-bok taysu.

“Sekarang ini boanpwee masih belum dapat memikirkan cara yang mana lebih baik, penggunaan api atau air. ”

menjawab Siang-koan Kie.

“Partay Siao-lim-pay, selama beberapa ratus tahun merupakan satu partay terbesar yang kenamaan dalam rimba persilatan. Ilmu silatnya yang terampuh, yang tersiar didunia luar saja sebanyak tujuhpuluh dua macam. Menurut apa yang boanpwee tahu, kepandaian ilmu silat golongan Siao-lim-pay, meskipun dapat dikatakan suatu ilmu golongan tinggi, tetapi belum tentu itu merupakan ilmu terampuh dari golongan Siao- lim. Menurut tradisi rimba persilatan, ilmu setiap partay tidak boleh diturunkan kepada orang luar. Kun-liong Ong meskipun mempunyai kepandaian dari berbagai golongan, tetapi kalau mau dikata bahwa kepandaiannnya itu sudahi tanpa tandingan, belum tentu benar. Tetapi ia toh bisa malang melintang didunia Kang-ouw selama beberapa puluh tahun, sesungguhnya juga tidak mudah. Menurut pikiran boanpwee, orang2 yang menamakan diri sebagai orang2 golongan baik, selalu mengutamakan kebajikan, tidak mau sembarangan menggunakan tangan kejam. Ini merupakan satu kelemahan yang memberikan kesempatan bagi Kun-liong Ong. ”

“Pendapat siecu ini memang benar, untuk menghadapi seorang seperti Kun-liong Ong, mau tidak mau harus menggunakan tangan kejam.” Berkata Thian-bok taysu.

“Baiklah. Cianpwee berdua harap ikut boanpwee untuk sementara berlalu dari tempat ini. Kalau kita dapat menginsafkan semua orang2 yang berada dalam rumah hitam ini, itulah yang paling baik, tetapi kalau tidak bisa, terpaksa kita basmi sekalian.”

“Pinceng ada satu permintaan, bolehkah kiranya siecu suka pertimbangkan?” berkata Thian-bok tay-su. “Taysu katakan saja, kalau bisa, sudah tentu tidak keberatan.”

“Pinceng dengan Ceng-leng totiang, sama2 disekap dalam rumah hitam ini oleh Kun-liong Ong, selama beberapa pulun tahun kita berdiam ber-sama2 maka pinceng mengharap supaya siecu suka menolong keluar dia dari sini.”

“Boanpwee bersedia menolong, tetapi mungkin tidak dapat dilakukan.”

“Siecu mempunyat senjata pusaka yang amat tajam, untuk menolong dia bukan soal sulit, apalagi kepandaian totiang itu masih diatas pinceng. Kalau dia bisa bebas, akan merupakan satu tenaga bantuan yang sangat berharga.”

“Boanpwee bersedia membantu.”

Beberapa orang itu balik kembali dengan mengingat-ingat jalan masuknya.

Jalanan yang gelap itu memang banyak rahasianya. Kalau diwaktu masuk mereka tidak menemukan rintangan, tidaklah demikian diwaktu keluar, mereka telah menemukan rintangan sangat berat.

Siang-koan Kie memikirkan janjinya dengan Sek-bok taysu dan dua kacung, dengan senjata pusakanya yang tajam luar biasa, ia dapat menerobos keluar setelah melalui lima tempat rintangan saat itu baru tiba dimatia Ceng-leng totiang disekap.

Thian-bok taysu masuk lebih dulu dan berkata dengan suara nyaring: “Toheng, Siang-koan siecu sudah mengambil keputusan hendak.... dengan  Kun-liong Ong. ’’

Tiba2 ia merasakan gelagat tidak beres, hingga tidak melanjutkan kata2nya, sementara tangannya menyambar tubuh Ceng-leng totiang.

Tubuh imam dari Kun-lun-pay itu ternyata sudah kaku dingin, agaknya sudah lama meninggal. Siang koan Kie berdiri didampingnya, telah menyaksikan semua kejadian itu, ia menghela napas panjang dan berkata: “Taysu tidak usah bersedih, orang yang sudah mati tidak bisa hidup lagi, apalagi orang2 yang binasa dhangan Kun-liong Ong, entah berapa banyak jumlahnya. Ceng-leng totiang hanya merupakan salah satu diantaranya. ”

“Seandai ia tidak menolak pertolonganmu, ia sudah bebas dari sini, juga tidak sampai mengalami nasib seperti ini.” Berkata Thian-bok taysu sambil berjalan keluar.

Tiba dipintu masuk, pintu itu sudah tertutup. Siang-koan Kie kembali harus menggunakan senjata pusaka ditangannya, baru berhasil mendobrak pintu batu yang tebal itu.

Tiga sosok bangkai manusia rebah terlentang di tengah jalan yang sempit. Satu diantaranya sekujur badannya matang biru, dua yang lainnya keadaannya lebih mengerikan, kedua kaki dan tangannya telah terkutung. Kim Goan To yang menyaksikan tiga bangkai itu lantas menjura dan berkata: “Saudara2, bersemayamlah yang tenang, asal siao-te masih bisa bernapas, pasti akan menuntut balas dendam saudara2.”

Siang-koan Kie yang sudah ingin menjumpai tiga kawannya, lompat meleset lebih dulu kedepan pintu.

Kali ini ia sudah tambah pengalamannya, begitu tiba didepan pintu, segera menyontek dengan belati pusakanya.

Ketika pintu terbuka, dua batang anak panah beracun menyambar masuk.

Thian-bok Taysu dan Kim Goan To terperanjat, dengan cepat melompat maju, tapi Siang-koan Kie mencegah katanya: “Locianpwee tak usah gugup, beberapa batang anak panah, tidak bisa berbuat apa2 terhadap boanpwee.”

Dua orang itu kemudian menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dua batang anak panah meluncur kedada Siang-koan Kie tetapi sedikitpun tidak melukai dagingnya, hingga dalam hati bertambah kagum.

Keluar dari pintu, angin meniup sepoi-sepoi, udara gelap, hanya bintang2 dilangit yang menerangi jagat.

“Tak disangka pinceng masih bisa melihat bintang dilangit.”, kata Thian-boK taysu dengan suara terharu.

“Gedung bertingkat itu adalah gedungnya Kun-liong Ong.” Kata Siang-koan Kie.

Kim Goan To mengawasi keadaan disekitarnya, kemudian berkata: “Bangunan ini sungguh megah, dibandingkan dengan kediamanku dikota Cu-lam jauh lebih hebat.”

Siang koan Kie tahu bahwa jago dari Cu-lam itu sudah terkenang rumah tangganya, sebelum ditawan oleh Kun-liong Ong, ia mungkin juga pernah hidup senang didalam gedungnya yang megah. Maka ia lantas berkata sambil bersenyum: “Kelak setelah tugas boanpwee membunuh Kun- liong Ong selesai, pasti akan berkunjung ke kediaman locianpwee dikota Cu-lam.”

“Sudah beberapa puluh tahun tidak mendengar kabar apa2, entah bagaimana keadaan rumah tanggaku” kata Kim Goan To sambil tertawa menyeringai.

“Heran!” Thian-bok Taysu tiba2 berkata kepada diri sendiri. “Ada urusan apa?” Tanya Siang-koan Kie.

“Perbuatan kita dijalan bawah tanah tadi, apa betul tiada orang yang tahu?”

“Dekat2 kita berdiri ini, mungkin sudah ada orang yang mengintai” Kata Siang-koan Kie.

Thian-bok taysu dan Kim Goan To pasang mata untuk mencari cari ditempat yang gelap itu, namun tidak nampak apa2. “Sekarang ini kita masih belum tahu benar musuh berada dimana, sedang musuh tahu kedudukan kita, maka kita harus berlaku hati2” berkata Siang-koan Kie dengan suara perlahan.

Sementara itu mereka sudah mendekati jeruji besi.

Siang-koan Kie tahu bahwa jeruji besi itu dipoles racun, maka mencegah kedua kawannya supaya jangan menyentuhnya pada saat itu tiba2 berkelebat sinar terang, beberapa buah senjata rahasia menyambar kearah mereka.

Siang-koan Kie dengan lengan baju tangan kiri melindungi mukanya, malah maju memapaki senjata rahasia itu. Sebagian besar senjata rahasia itu jatuh ke tanah. Setelah mengenai tubuh Siang-koan Kie, dengan demikian Thian-bok taysu dan Kim Goan To tidak mendapat luka apa2.

“Disekitar tempat kita ini agaknya sudah terkurung oleh musuh.” Demikian Siang-koan Kie berkata.

Tiba2 terdengar suara orang tertawa dingin, kemudian disusul oleh kata2: “Kalian dapat mengelakkan senjata rahasia ‘belalang terbang’ suatu bukti bahwa kepandaian kalian cukup tinggi.”

Selagi Siang-koan Kie bingung, tiba2 tampak sinar merah, kemudian disusul oleh sinar lampu warna kuning, yang disorotkan kearah mereka. Kembali terdengar suara orang bicara: “Kalian masih belum mau melemparkan senjata kalian, apakah hendak melawan?”

Siang-koan Kie menguasai keadaan disekitainya, kemudian berkata kepada dua kawannya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga: “Locianpwee, harap siap, begitu boanpwee bertindak, harap locianpwee menahan serangan senjata rahasia, nanti kita pikirkan lagi bagaimana harus melawan musuh.”

Thian-bok taysu dan Kim Goan To menerima baik, masing2 sudah siap hendak melakukan tugasnya. Siang-koan Kie meskipun tidak takut, tetapi ia juga tidak berani gegabah. Ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, tiba2 membentak dan menyerbu kearah sinar lampu itu sambil memusar belati pusakanya.

Bersama dengan bergeraknya Siang-koan Kie, dari arah sinar lampu itu menyambar keluar senjata rahasia halus berkeredapan.

Siang-koan Kie tahu bahwa senjata rahasia halus itu sukar disambuti, maka ia menggunakan senjata pusakanya untuk menangkis dan menggunakan lengan baju kiri untuk melindungi mukanya.

-oodwoo-

103

TERDENGAR pula suara orang berkata sambil tertawa dingin: “Senjata rahasia jarum beracun ini, khusus untuk memusnahkan kekuatan tenaga dalam. Kau. ”

Belum lagi habis ketawanya, Siang-koan Kie sudah mendekati lampu yang mengeluarkan sinar kuning itu, kemudian menggerakkan senjata ditangannya.

Tiba2 terdengar dua kali suara jeritan, dua orang sudah terluka oleh senjata pusaka itu.

Musuh yang melepaskan senjata rahasia ditempat sembunyiannya, ketika menyaksikan Siang-koan Kie yang dihujani oleh senjata rahasia se-olah2 tidak terjadi apa2, bukan kepalang terkejutnya.

Tnian-bok taysu dan Kim Goan To juga sudah mengikuti jejak Siang-koan Kie, masing2 mengerahkan kekuatan tenaganya untuk menyambuti serangan jarum beracun yang menyambar bagaikan hujan. Jarum beracun yang halus bentuknya itu meskipun sangat berbisa, Tetapi ringan bobotnya, hingga dengan mudah jatuh ditanah.

Sebentar saja. Siang-koan Kie bertiga sudah berhasil membinasakan musuh yang tadi tidak menampakkan diri.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara nafiri, semua penerangan lampu digedung Kuu-liong Ong, padam seketika.

Pekarangan taman yang sangat luas telah menjadi gelap gulita.

Dalam suasana gelap itu Siang koan Kie mengajak dua kawannya, mencari jalan keluar.

Apa yang mengherankan ialah, selama mencari jalan keluar itu, Siang-koan Kie tidak menjumpai orang yang merintangi tindakannya.

Ketika ia tiba ditetnpat yang sudah dijanjikan dengan Sek- bok Taysu dan dua kacung, ternyata tidak menampak bayangannya tiga orang itu.

Waktu itu kira2 sudah jam dua malam, tiga orang seharusnya sudah ada disitu, karena kini tidak nampak mungkin sudah terjadi apa2 atas diri mereka.

Thian-bok Taysu dan Kim Goan To yang menyaksikan sikap Siang-koan Kie seperti orang bingung, tidak berani menanya.

Dengan tiba2 terdengar suara seorang wanita yang sangat halus: “Sek-bok Taysu dan dua kacung sudah tertangkap. Sekarang ini meskipun sekitar tempat ini banyak terdapat orang2 kuat, tetapi entah apa sebabnya mereka tidak bertindak, mungkin mempunyai rencana lain. ”

Suara itu seperti suara Nie Suat Kiao, tetapi hanya terdengar suaranya, tidak tampak orangnya. Disekitar tempat itu, benar ada tanda2 yang mencurigakan. Dibawah pohon bunga sekitar tempat itu, samar2 seperti berdiri orang2 berpakaian hitam, karena cuaca gelap, apalagi orang2 itu semua tidak bergerak, kalau tidak diperhatikan tidak akan terlihat.

Siang-koan Kie lompat melesat menyerbu kearah orang- orang itu.

Tetapi bayangan orang2 itu tetap berdiri tanpa bergerak. Siang-koan Kie diam2 merasa heran, dengan tangan kiri ia menyambar satu diantaranya. Namun orang2 itu tetap tidak bergerak atau menyingkir.

Hati Siang-koan Kie tergerak, selagi tangannya hendak menyentuh badan itu, mendadak ditarik kembali dan mundur dua tangkah, kemudian menegur: “Siapa? Kalau kau masih berlagak pilon, jangan sesal aku nanti akan menggunakan tangan besi.”

Sementara itu, Kim Goan To mendadak menggunakan ruyungnya menghajar orang itu.

Tiba2 terdengar suara nyaring, ruyung Kim Goan To seperti mengenai benda lunak, tetapi orang yang dipukul tetap tidak bergerak.

Kim Goat To yang sudah banyak pengalaman, lantas berseru: “Itu bukan manusia, lekas mundur ”

Siang-koan Kie juga tahu bahwa Kun-liong Ong banyak akal bangsatnya. Ketika mendengar seruan kim Goan To, buru2 lompat mundur. Namun demikian, ternyata masih agak terlambat, benda yang diserang oleh Kim Goan To mengeluarkan sinar biru, menyambar kearah mereka.

Dengan menggunakan senjata pusakanya Siang-koan Kie menangkis gumpalan sinar biru yang menyerbu dirinya. Ketika sinar itu kebentur senjata pusaka Siang-koan Kie menyemburkan banyak sinar biru. Pada saat itu, dari belakang pohon bunga muncul banyak orang berpakaian hitam, yang dandanannya sangat aneh.

Orang2 itu sekujur badannya terbungkus dengan kain hitam, dibagian lobang kedua matanya ditutup oleh kaca.

Siang-koan Kie diam2 menghitung jumlahnya orang2 itu, semuanya berjumlah duapuluh empat orang. Mereka membuat satu lingkaran, mengurung Siang-koan Kie bertiga.

Thian-bok Taysu yang memperhatikan keadaan orang2 itu, dapat lihat bahwa tangan setiap orang membawa bumbung hitam sebesar mangkok, panjangnya kira2 tiga kaki.

Sebagai orang yang sudah banyak pengalaman ia segera waspada, dan dengan suara perlahan berkata kepada Kim Goan To: “Dandanan dan benda yang dibawa oleh orang2 ini sungguh aneh, kita tidak boleh membiarkan Siang-koan siecu menempuh bahaya seorang diri, tolong kau menjaga dibelakang, pinceng hendak mencoba benda apa yang mereka pakai sebagai senjata itu.”

“Sebaiknya Taysu yang menjaga dibelakang, biarlah siaotee yang mencobanya.” Kata Kim Goan To.

Mereka saling berebut siapa yang harus bertindak, sementara itu sudah terdengar suara Siang-koan Kie: “Locianpwee tak usah berebut, dalam bumbung yang dibawa oleh orang2 itu adalah api beracun yang sangat jahat. Locianpwee tidak boleh berlaku gegabah. Sebaiknya kita lekas mundur, untuk berunding dulu.”

Sikap Siang-koan Kie ini mengherankan Thian-bok taysu, karena pemuda gagah yang sifatnya agak agresif itu, mengapa mendadak berubah sabar. Ia tidak tahu bahwa perubahan sikap Siang-koan Kie itu, sebetulnya atas petunjuk Nie Suat Kiao.

Kaiena sebelum Siang-koan Kie bertindak lebih jauh, telinganya mendadak menangkap suara yang sangat halus, yang ia kenali adalah suaranya Nie Suat Kiao: “Bumbung ditangan orang2 itu, dalamnya berisi bahan2 yang mudah terbakar. Senjata pusaka dan rompi wasiatmu tidak dapat digunakan untuk melawan senjata itu, lekas berusaha merintangi mereka turun tangan dan lekas melarikan diri”

Dari suaranya ia dapat tahu bahwa arah datangnya suara itu ternyata dari rombongan orang2 baju hitam itu, tapi ia tidak dapat mengetahui dengan tempat mana satu orangnya.

Pada saat itu, orang2 yang sudah mengurung Siang-koan Kie bertiga, mereka hanya tujukan mulut bumbung kearah tiga orang, tetapi tiada satupun yang bertindak.

Dengan senjata melintang dimukanya, Siang-koan Kie berkata kepada Thian-bok taysu dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga: “Locianpwee berdua harap siap sedia. Apabila boanpwee bergerak, locianpwee berdua ikut menerjang dibelakang boanpwee”

Thian-bok taysu dan Kim Goan To lalu lompat kebelakang Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie memperhatikan keadaan orang2 berbaju hitam itu. Kecuali dari bentuk tubuh mereka, yang mungkin dapat dibedakan, sulit untuk mengetahui bagaimana orangnya.

Tetapi ia mengerti, bahwa dalam jumlah duapuluh empat orang ini, ada satu Nie Suat Kiao dan seorang lagi yang bertindak selaku pemimpin. Asal orang yang menjadi pemimpin rombongan itu mengeluarkan perintah, orang2 itu segera menyemburkan api beracunnya kearah dirinya.

Dilain fihak, Nie Suat Kiao tidak berani bicara mungkin takut dirinya kepergok.

Dalam keadaan demikian, Siang-koan Kie Cuma bisa menggunakan akal dan kecerdasan otaknya, untuk memikirkan dengan cara bagaimana supaja bisa teilolos dari bahaya itu.

Selama ia mengikuti Teng Soan, banyak belajar memikir dan berlaku tenang, sekalipun menghadapi bahaya besar. Maka setelah memikirkan dengan tenang, dan menduga pasti bahwa dalam rombongan itu ada salah seorang yang bertindak sebagai pemimpin. Ia lalu mengambil keputusan hendak membekuk pemimpinnya lebih dulu.

Dengan tenang ia memasang mata, ia mendapatkan empat orang yang mencurigakan. Empat orang itu tubuhnya kecil langsing, jauh berlainan dengan yang lainnya.

Dua berdiri di sebelah barat. Dari suara Nie Suat Kiao yang tadi disampaikan kepadanya, ia dapat memastikan bahwa salah satu diantara dua orang itu, pastilah Nie Suat Kiao.

Satu berdiri disebelah utara dan satu lagi disebelah timur. Ia tidak dapat memastikan dari empat orang ini, kecuali satu yang ia duga adalah Nie Suat Kiao, tiga yang lainnya entah yang mana yang bertindak selaku pemimpin.

Siang-koan Kie sebetulnya ingin bertindak selagi orang2 itu melancarkan serangan kepadanya, apa mau orang2 itu tidak mau bergerak, hingga berbalik menyulitkan padanya.

Ia mencari2 dulu jalan yang baik untuk undurkan diri, kemudian berkata kepada dua kawannya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga: “Locianpwee berdua harap perhatikan orang2 yang tubuhnya kecil dan berdiri diutara dan timur. Begitu boanpwee bertindak, harap locianpwee berserak menyerbu mereka. Thian-bok taysu menyerang ketimur dan Kim locianpwee menyerang keutara. Serangan dari selatan boleh ditangkis dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam, kalau kita sudah keluar dari kepungan mereka, segera berkumpul karah timur laut, kira2 tujuh atau delapan tombak dari sini, ada sebuah tempat, disana kita nanti bisa padamkan api yang mungkin akan membakar tubuh kita.”

Kim Goan To yang mendengarkan komando Siang-koan Kie, semakin kagum.

Tidak lama kemudian, Siang-koan Kie membulang balingkan senjata emasnya, hingga memancar-kan sinar gemerlapan. Ia se-olah2 hendak menyerbu orang2 yang mengurung dirinya, akan tetapi diam2 ia memperhatikan empat orang yang bertubuh kecil itu. Ia mengharap dari reaksi mereka, dapat menemukan sedikit titik terang.

Tetapi empat orang itu tidak menunjukkan reaksi apa2, se- olah2 sudah mengerti maksud anak muda itu. Dengan demikian, terpaksa ia hendak menyerbu dengan kekerasan.

Selagi hendak bergerak, tiba2 merubah rencananya.

Ia berpaling dan berkata kepada Thian-bok taysu dan Kim Goan To: “Locianpwee ingat, begitu boanpwee bergerak untuk menghalau mereka, harap locianpwee berdua segera rnenerjang keluar, untuk mengacaukau pertahanan mereka, kemudian mencari tempat yang dapat digunakan untuk menyembunyikan diri, lalu menyerang mereka dengan senjata rahasia.”

Tanpa menunggu jawaban dua kawannya, dengan mendadak ia bergerak menyerbu kepada orang bertubuh kecil yang berdiri disebelah timur.

Karena ia menduga pasti bahwa Nie Suat Kiao berada disebelah barat, orang yang diserbu itu tidak perduli pemimpinnya atau bukan, yang sudah pasti ialah bukan Nie Suat Kiao, maka serangannya itu dilakukan dengan cepat dan ganas.

Orang itu agaknya juga merasakan betapa hebat serangannya anak muda itu, dengan cepat mundur dua langkah, ia tidak berani menyambuti serangannya itu. Mengetahui orang yang diserang mundur, senjata Siang- koan Kie berbalik kearah kanan, sedangkan tangan kirinya digunakan untuk menotok orang yang berdiri dikiri.

Semua serangan itu dilakukan dengan cepat dan ganas pula. Senjata pusakanya yang amat ampuh itu sudah mengambil satu korban, orang yang berdiri disebelah kanan, badannya kesambar sehingga terkutung batas pinggang.

Sedang orang yang berdiri disebelah kiri, juga terkena totokannya, hingga jatuh rubuh.

Sementara itu yang lainnya juga sudah bergerak semua, bumbung ditangan mereka diangkat dan ditujukan kearah Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie tahu bahwa kalau ia tidak memancing orang2 itu menyemburkan apinya, Thian-bok taysu dan Kim Goan To tidak mendapat kesempatan menerjang keluar, maka ia lalu menyerbu orang2 itu sambil memutar senjata belatinya.

Benar seperti apa yang sudah diperhitungkan oleh Siang- koan Kie, dari mulut bumbung itu segera rnenyemburkan api warna biru kearah dirinya.

Thian-bok taysu dan Kim Goan To juga lantas bergerak dengan senjata masing2. Api yang menyembur keluar dari mulut bumbung itu menimbulkan pemandangan luar biasa dimalam yang gelap itu.

Senjata pusaka ditangan Siang-koan Kie begitu menyentuh api itu, segera menimbulkan percikan api yang mengurung Siang-koan Kie.

Kim Goan To dengan menggunakan ruyung besinya, menghajar orang2 yang rnenyemburkan api kearah Siang- koan Kie, sedang ia sendiri menerjang keluar.

Meskipun gerakannya itu gesit luar biasa, tetapi badannya masih kesambar api yang sangat ganas itu. Thian-bok taysu pada saat itu juga sudah menerjang keluar.

Orang2 baju hitam itu karena mengenakan pakaian tahan api yang agak berat, meskipun mereka tidak takut terbakar, tetapi gerakannya kurang leluasa.

Kun-liong Ong melatih pasukan berapi ini, sebetulnya hendak digunakan untuk menghadapi pertempuran total dengan orang2 dari sembilan partay besar. Pakaian mereka dibuat secara khusus, bukan saja bisa tahan api, juga tidak mempan senjata tajam.

Siang koan Kie yang menyerbu dengan senjata pusakanya, berhasil menerjang keluar kira2 sejauh satu tombak, baru kakinya menginjak tanah, tetapi senjata pusakanya sudah penuh api warna biru, sedangkan sekujur badannya juga sudah terbakar.

Pada waktu itu, Thian-bok taysu dan Kim Goan To sudah berhasil keluar dari kepungan, Kim Goan To bergulingan ditanah, baru berhasil memadamkan api yang membakar badannya, hanya dibagian punggungmu terdapat sedikit luka.

Siang-koan Kie yang memakai rompi wasiat di badannya, masih terlindung dari kebakaran, untuk memadamkan api yang membakar bajunya, ia bergulingan kearah Thian-bok taysu.

Orang2 berbaju hitam itu juga tidak mengejar mereka, bahkan mundur ketempat semula.

Dalam malam yang sunyi itu, tiba2 terdengar suara kuda. Beberapa puluh penunggang kuda dengan senjata tombak ditangan lari kearah Siang-koan Kie bertiga.

Siang-koan Kie yang masih kebakar bajunya, meskipun sudah bergulingan ditanah, tetapi apinya masih beium padam.

Thian-bok taysu lalu menahan majunya pasukan berkuda itu, ia berkata kepada Kim Goan To: “Kim siecu, harap bantu Siang-koan sicu memadamkan api dibadannya, pinceng hendak menahan orang2 itu.”

Kim Goan To membuat satu lobang ditanah, memasukan Siang-koan Kie didalamnya, kemudian diuruk dengan tanah, dengan demikian, barulah api yang membakar badannya itu padam.

Pada saat itu, Thian-bok taysu sudah mulai bertarung dengan musuh berkuda. Orang2 itu menunggang kuda dengan pakaian berlapis baja, senjata mereka tombak panjang dan berat, serangannya juga dilakukan dengan cepat. Thian- bok taysu yang baru menangkis tiga orang, sudah merasa berat.

Sementara itu, api di badan Siang koan Kie sudah padam, ia segera lompat bangun. Baru saja ia berdiri, telah menyaksikan Thian-bok taysu dalam bahaya, ia lalu putar senjata pusakanya, membabat tombak yang menyerang Thian-bok taysu.

Ketika dua senjata itu beradu, tombak panjang itu lantas terkutung menjadi dua potong. Namun demikian, tangan Siang-koan Kie masih merasa kesemutan, hingga diam2 ia juga memuji kekuatan tenaga musuhnya.

Kira Goan To saat itu juga sudah datang, ia segera menanyakan Thian-bok taysu, “apakah terlukai”

“Tidak apa2, aku hanya menggunakan tenaga terlalu banyak ” menjawab Thian-bok taysu.

Ia segera melihat tiga musuh sedang menyerbu Siang-koan Kie.

Thian-bok taysu hendak bergerak, tetapi dicegah oleh Kim Goan To, katanya: “Taysu harap beristirahat dulu, biarlah siaotee yang membantu Siang-koan siaohiap”.

Sementara itu Siang-koan Kie juga sudah siap hendak menghadapi tiga musuh itu, tadi ia sudah tahu bahwa musuh2nya itu bertenaga besar, maka ia tidak berani memandang ringan.

Ketika tombak musuh menyerang dirinya, Siang-koan Kie berkelit dulu untuk mengelakkan serangan itu, kemudian hendak menyerang dengan senjata pusakanya. Tetapi sebelum maksudnya dilaksanakan, ruyung Kim Goan To sudah membabat dari samping.

Kim Goan To berhasil menyambuti tombak musuhnya, tetapi ia sendiri terpental mundur sampai lima langkah.

Sebelum Kim Goan To berhasil memperbaiki posisinya, serangan musuh sudah mengancam lagi. Meskipun tangan Kim Goan To masih merasakan sakit, tetapi ia masih melawan mati2an.

Ia merasakan sangat berat, ruyungnya tidak berhasil menahan lajunya tombak, hingga meluncur kearah dada Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie lalu membabat dengan belati pusakanya. Hingga tombak itu terpapas kutung. Dengan tangan kiri Siang- koan Kie menyambar senjata musuhnya, ketika itu seorang musuh datang menyerbu lagi. Ia lalu menyambitkan senjata ditangannya, ujung tombak mengenakan dengan tepat kedada musuh itu, tetapi orang itu hanya ber-goyang2 sebentar diatas kudanya, masih tetap menyerbu dirinya.

Siang-koan Kie segera mengetahui bahwa musuh2nya mengenakah pakaian berlapis baja, maka segera mencari akal untuk menghadapinya.

Pada saat itu, kembali tiga musuh datang menyerbu dengan berendeng, ia lalu berkata kepada Kim Goan To: “Kita lekas mundur.”

Sambil menyambar tubuh Thian-bok taysu. Siang-koan Kie lompat mundur lebih dulu. Tiga musuhnya yang menyerbu dengan menunggang kuda itu, meskipun mereka tahu Siang-koan Kie bertiga lompat menyingkir kekiri, tetapi karena pakaian mereka sangat berat, hingga tidak leluasa gerakannya, apalagi kuda mereka larinya pesat, hingga tidak keburu mengendalikan.

Siang-koan Kie meletakkan Thian-bok taysu, kemudian bertanya: “Bagaimada luka taysu?”

Thian-bok taysu lompat bangun dan menjawab: “Pinceng setelah mengatur pernapasan sebentar, sekarang sudah pulih kembali kekuatan tenaga pinceng.”

“Serangan orang2 ini terlalu ganas, kita tidak boleh melawan dengan kekerasan.” Berkata Kim Goan To sambil menyerahkan tongkat kepada Thian bok taysu.

“Pasukan2 penunggang kuda ini meskipun gagah berani dan tidak takut senjata tajam, tetapi mereka kehilangan kemampuan untuk bergerak leluasa. Dengan senjata pusakaku, ditambah dengan locianpwee berdua, rasanya tidak susah menghadapi mereka. ”

Suara siulan aneh, tiba2 memutuskan perkataan Siang- koan Kie.

Suara itu kemudian disusul oleh berkelebatnya oleh sinar api diempat penjuru, sebentar saja tempat itu terang oleh sinar api.

Siang koan Kie mengawasi keadaan disekitarnya, untuk sesaat ia berdiri tertegun.

Kiranya pada Waktu sangat singkat itu, dirinya sudah berada dalam kurungan orang2 berbaju hitam dan beberapa puluh pasukan berkuda.

Siang-koan Kie lalu berpaling dan berkata kepada dua kawannya: “Kita, se-bisa2nya harus bertahan terus, jangan menggunakan kekerasan melawan musuh2 berkuda. Senjata boanpwee sangat tajam, dapat digunakan untuk melumpuhkan senjata musuh. Asal locianpwee tetap bertahan menghadapi serangan2 orang2 berbaju hitam itu, mungkin kita dapat melawan sampai beberapa jam. ”’

Kemudian ia mendongakkan kepala memandang keadaan udara, lalu berkata kepada diri sendiri: “Mungkin bala bantuan kita juga sudah akan datang.”

Semangat Kim Goan To terbangun seketika, katanya: “Apa?

Kita masih ada bala bantuan?”

“yah, waktu boanpwee datang kemari, pernah mengadakan perjanjian dengan golongan pengemis, malam ini mereka akan mengerahkan semua anggotanya yang terkuat, datang kemari untuk memberi bantuan.” Berkata Siang-koan Kie.

“Golongan pengemis merupakan satu golongan yang sangat besar dan berpengaruh dalam rimba persilatan, sudah tentu akan pegang teguh janjinya. Kalau pemimpin golongan pengemis sudah berjanji denganmu, sudah tentu mereka akan datang.” Berkata Kim Goan To.

“Boanpwee pikir, nanti jam tiga, mungkin mereka sudah tiba.” Berkata Siang-koan Kie sambil bersenyum.

-odwo-

104

SEBETULNYA ia sudah bersepakat dengan Nie Soat Kiao dan Auw-yang Thong, akan mengadakan penyerangan dari dalam dan luar dengan serentak, untuk memusnahkan istana Kun-liong Ong dan memusnahkan kamar racun, yang merupakan pusatnya semua kejahatan. Kalau berhasil mendapatkan obat pemunah dan menolong anak buahnya dan diberi makan obat, itulah paling baik. Sekalipun maksudnya itu tidak tercapai, juga sudah cukup untuk menggetarkan Kun- liong Ong. Apa yang dikatakan olehnya tentang perjanjian itu memang benar, tetapi bukanlah malam itu. Oleh karena hendak membakar semangat dua kawannya, terpaksa ia membohong.

Sementara itu, musuh mengurung semakin ketat.

Siang-koan Kie berkata kepada Kim Goan To dengan suara perlahan: “Kim locianpwee sudah tak ada senjata, biarlah boanpwee merebut beberapa batang tombak mereka untuk senjata locianpwee”

Dengan tiba2 ia melesat kesalah satu musuhnya yang naik diatas kuda.

Orang itu menyambut kedatangan Siang-koan Kie dengan satu tusukan tombak, tetapi Siang-koan Kie sudah memikirkan bagaimana harus memperdayai musuhnya. Dengan gagang senjatanya ia menangkis tikaman musuhnya, tangan kinnya diulur untuk merebut senjata dan tangan musuhnya.

Musuhnya yang bertenaga kuat itu mengibaskan tombaknya, dengan pengharapan supaya Siang-koan Kie terpental jatuh. Tak diduga Siang-koan Kie yang melesat tinggi, segera melepaskan tangannya, kemudian merebut tombak dari salah satu penunggang kuda yang berada dibelakang orang pertama.

Musuhnya yang berpakaian lapis baja itu, tidak mudah mengelakkan diri terpaksa mengulurkan tangan kirinya, menyambuti serangan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie membabat dengan belati pusakanya, tidak ampun lagi lengan orang itu lantas terpapas putus, hingga terjatuh dari atas kudanya sambil mengeluarkan suara jeritan ngeri.

Siang-koan Kie dengan cepat menyambar tombak dalam tangannya, setelah itu ia lompat balik menyerahkan tombak itu kepada Kim Goan To.

Kim Goan To segera menggunakan senjata tombak itu, menikam salah seorang pasukan berkuda, tetapi musuh itu tak menghiraukan serangan Kim Goan To, sebaliknya dengan senjata tombaknya menikam dada Kim Goan To.

Thian-bok taysu yang sudah siap, segera menangkis serangan musuhnya dengan tongkatnya.

Ketika ujung tombak Kim Goan To mengenakan tubuh musuhnya, tangannya dirasakan kesemutan, hingga diam2 merasa heran. Meskipun musuhnya tak tertembus dadanya oleh tombak Kim Goau To, tetapi karena hebatnya serangan itu, musuhnya terjungkal dari atas kudanya.

Karena orang ttu memakai pakaian yang berat, tidak mudah bergerak, hingga lama tidak bisa bangun berdiri.

Sementara itu, senjata musuh sudah mengancam Siang- koan Kie bertiga dari berbagai jurusan, namun mereka tidak segera turun tangan, agaknya sedang menantikan komando dari atasannya.

Siang-koan Kie diam2 menghela napas, ia pikir malam itu mungkin tidak mudah meloloskan diri dari kepungan itu.

Tiba2 telinganya mendengar suara orang perempuan tertawa, seorang perempuan muda berpakaian merah lari mendatangi, menuju kedepannya.

Ketika ia mengetahui siapa adanya perempuan itu, alisnya dikerutkan, sebelum ia membuka mulut perempuan berbaju merah itu sudah berkata lebih dulu: “Heh! Aku kira kau siapa? Tak disangka kalau kau ?

“Benar, aku Siang-koan Kie, nona Bwee tak disangka kita bertemu lagi disini." berkata Siang-koan Kie.

Perempuan muda berbaju merah itu adalah Bwee Cian Tai. “Tidak perlu kau berlaku manis terhadapku, sedikitpun tidak

ada gunanya, biar bagaimana, malam ini sulit bagimu untuk keluar dari kepungan barisan yang ketat ini." berkata perempuan itu sambil tertawa dingin. “Rasanya belum tentu." berkata Siang-koan Kie.

Ia lalu berpaling dan berkata kepada dua kawannya: “Locianpwee, dalam pertempuran kali ini, jangan memforsir tenaga, kita harus sediakan tenaga untuk menunggu kedatangan bala bantuan."

Ucapannya itu samar2 sudah menyatakan kepada dua kawannya bahwa malam ini mereka harus berusaha untuk meloloskan diri.

Kim Goan To tiba2 menanya dengan suara perlahan: “Siang-koan siaohiap, apakah kau membawa persediaan ransum kering? Aku sudah merasa lapar."

Mendengar pertanyaan itu, Siang-koan Kie dan Thian-bok taysu juga lantas merasa lapar.

Siang-koan Kie menjawab sambil bersenyum: “Ransum?

Sayang sudah habis."

Saat itu terdengar suara tertawa Bwee Cian Tai, tangannya bergerak memberi komando, sedang orangnya dengannya cepat lompat mundur.

Empat atau lima batang tombak, dari berbagai penjuru menikam Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie menggunakan gerak tipu Thai-kek Hui-kiam. Dengan mudah menangkis semua serangan yang ditujukan kepada dirinya, tangan kirinya menyambar tombak dari tangan musuhnya, ditujukan kepada musuhnya berkuda.

Ia mengerti bahwa pasukan berkuda yang mengenakan baju berlapis baja itu terdiri dari orang2 bertenaga besar, hingga tidak mudah ditembusi. Apabila ia berhasil menyingkirkan sebagian saja, mungkin ada harapan untuk keluar dari kepungan.

Ia sudah bertekad hendak membunuh sebanyak mungkin pasukan berkuda, setelah ia berhasil mencekal tombak ditangan musuhnya, belati di tangan kanannya lalu menikam kedada lawannya, dengan cepat ujung belati menembus kedalam dada pasukan kuda itu, sehingga musuhnya mati seketika itu juga.

Setelah berhasil membinasakan satu musuh, semangatnya lantas terbangun, belati ditangannya bergerak terus untuk mencari korban.

Orang2 berbaju hitam yang menghujani serangan dari berbagai penjuru, ternyata sedikitpun tidak melukai badannya anak muda itu, semua merasa heran, ketika Siang-koan Kie melakukan serangan dengan secara ganas, mereka lalu menangkis dengan senjata masing2.

Sebentar kemudian, terdengar suara beradunya senjata tajam, senjata orang2 itu pada terpapas kutung, hingga berterbangan diudara.

Siang-koan Kie semakin bersemangat, ia mengamuk dalam kalangan orang2 berbaju hitam, hingga banyak korban yang jatuh bergelimpangan tanpa kaki atau tangan.

Thian bok taysu dan Kim Goan To juga tidak mau ketinggalan, mereka dengan senjata masing2 menyerbu kekalangan musuh yang sudah mulai kacau balau karena serbuan Siang-koan Kie.

Selagi pertempuran berlangsung sengit, tiba2 terdengar suara nafiri, pasukan kuda yang mengepung Siang-koan Kie bertiga, mendadak memutar kuda masing2, pada mengundurkan diri.

Selagi pasukan berkuda mengundurkan diri, dari empat penjuru tiba2 muncul sebuah lentera.

Orang2 berbaju hitam yang menyerbu dari empat penjuru, jumlahnya semakin banyak. Karena orang2 itu sudah diberi makan obat oleh Kun-liong Ong, pikirannya sudah gelap. Mereka hanya menurut perintah dari suara nafiri itu, tidak takut mati, meskipun sudah banyak jumlahnya yang mati disenjata Siang-koan Kie, tetapi mereka masih menyerbu tanpa kenal takut.

Sementara itu Kim Goan To yang bertempur dengan tangan kosong, keadaannya paling berbahaya.

Thian-bok taysu keadaannya masih mendingan, untuk sementara masih sanggup menghadapi musuhnya yang berjumlah lebih banyak, tetapi untuk keluar dari kepungan, barangkali juga tidak mudah.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan dua kawannya, lalu mengambil keputusan hendak menolong Kim Goan To lebih dulu. Dengan cepat ia menyerbu kepada musuh yang mengeroyok Kim Goan To. Senjata pusakanya yang tajam luar biasa, sebentar saja sudah membuat senjata musuhnya terpapas kutung, namun demikian, ia masih belum berhasil menolong keluar Kim Goan To.

Dilain fihak, Kim Goan To yang menyaksikan kedatangan Siang-koan Kie. semangatnya terbangun lagi, ia berkelahi mati2an, kepelannya sudah meminta banyak korban.

Siang-koan Kie masih mengkhawatirkan keadaan Kim Goan To yang sudah tidak mempunyai senjata, maka sembari bertempur ia berusaha hendak merebut senjata dari salah satu musuhnya. Demikianlah tangan kirinya coba merebut sebilah golok dari tangan yang berada disebelah kirinya.

Dengan satu gerak tipu Kin-na-chiu-hoat, ia berhasil merebut senjata golok bianto dari tangan musuhnya, tetapi mendadak merasa ada orang menyerang dari belakang. Dengan cepat ia membalikkan badan, dibelakangnya ternyata ada berdiri dua orang berpakaian hitam, seorang membawa senjata pecut, yang lainnya membawa senjata sepasang roda yang dinamakan Jit-gwat-lun. Dua orang itu agaknya mempunyai kedudukan tinggi dalam rombongan orang2 berbaju hitam, karena ketika dua orang itu muncul, yang lainnya segera undurkan diri.

Siang-koan Kie dengan cepat memberikan golok yang dapat merebut dari tangan musuh kepada Kim Goan To seraya berkata dengan suara perlahan: “Kim locianpwee, harap pakai senjata ini."

Kim Goan To meskipun sudah terlepas dari bahaya, tetapi badannya sudah terdapat banyak luka? ketika ia menyainbuti golok dari tangan Siang-koan Kie, badannya sudah sempoyongan hampir jatuh ditanah.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan demikian, buru2 memberikan obat pil yang sangat manjur kepadanya.

Kim Goan To setelah menelan pil itu, lalu mengatur pernapasannya, dengan dilindungi oleh Siang-koan Kie.

Dua orang berpakaian hitam yang baru tiba itu terus mengawasi Siang-koan Kie dengan sinar mata dingin. Setelah Kim Goan To menelan obatnya, orang yang bersenjata pecut itu baru menegur dengan nada suara dingin: “Siapa namamu?"

Dalam hati Siang-koan Kie merasa heran, mengapa ada musuh menanya secara demikian?

Namun demikian ia menjawab juga: “Aku Siang-koan Kie." Orang yang bersenjatakan sepasang roda itu lalu menanya:

“Apa kau yakin ada mempunyai kesanggupan menerjang

kepungan ini?"

Siang-koan Kie mengawasi keadaan sekitarnya, orang2 baju hitam yang mengepung dirinya ternyata bertambah banyak, tapi ia tidak gentar, jawabnya dengan gagah: “Kalau hanya aku seorang saja, untuk menerjang keluar dari kepungan ini, tidak berarti apa2." Dua orang itu saling berpandanean sejenak, orang yang bersenjata sepasang roda itu mendadak maju selangkah dan menyerang dengan senjatanya.

Dengan senjata pusakanya Siang-koan Kie menyambuti serangan orang itu, ia mengharap dapat menjatuhkan dua musuhnya itu dengan cepat, sebab dengan jatuhnya dua musuh yang rupanya menjadi pemimpin rombongan ini, mungkin bisa meloloskan diri dari kepungan.

Tak diduga, sebelum senjatanya menyentuh senjata musuhnya, orang itu sudah menarik kembali serangannya dan berkata dengan suara perlahan: “Sebentar lagi, kalian akan menjumpai tigabelas pasukan Kun-liong Ong yang paling kuat. Kalau pasukan itu sudah datang, sekalipun kita ada maksud hendak menolong kalian, juga tidak bisa lagi."

Selama bicara, serangan orang itu diteruskan, tetapi serangan itu nampaknya meski hebat, hanya merupakan satu gertakan saja, yang tidak dapat melukai lawannya.

Siang-koan Kie merasa heran, ia lalu menanya: “Bagaimana pikiranmu?"

“Satu2nya jalan ialah kita pura2 kalah dan lari. Kalian mengejar dari belakang, mungkin bisa terlepas dari kepungan pasukan baju hitam ini"

Siang-koan Kie lalu berpikir: “asal bisa terlepas dari kepungan orang2 ini, tidak perduli apa akal mereka, asal kita berlaku hati2, sudah cukup"

“Akal ini baik sekali." demikian ia menjawab.

Orang itu tiba2 melakukan serangan dengan senjata rodanya, sedang mulutnya berkaok: “Senjata orang ini tajam sekali. Loji, lekas kau maju memberi bantuan."

Kawannya yang disebut loji, lalu memutar senjata pecutnya, dengan cepat menyerang Kim Goan To. Kim Goan To waktu itu sebetulnya sedang dikerubuti oleh lima orang, ketika orang itu menyerang dengan pecutnya, lima musuh yang mengerubuti dirinya segera mengundurkan diri.

Kim Goan To menyambuti pecut orang tua itu dengan goloknya, sementara mulutnya berkata: “Bagus, bagus, bertempur satu lawan satu, sekalipun kalah, aku, aku siorang she Kim juga merasa puas”

Orang itu memainkan pecutnya demikian rupa, hingga badan Kim Goan To seolah2 terkurung rapat oleh pecut. Selagi Kim Goan To repot melayani serangan musuhnya, orang itu mendadak berkata dengan suara perlahan: “Nanti kalau aku menerjang keluar, harap mengikuti dibelakangku."

“Bagaimana dengan Siang-koan Kie?" tanya Kim Goan To sambil mengerutkan keningnya.

“Ia sudah ada orang yang mengajak keluar, kau tak usah khawatir."

“Masih ada Thian-bok taysu, sebaiknya juga kita tolong sekalian."

“Kita hanya mendapat perintah untuk menolong orang, bisa menolong berapa banyak, masih susah diduga. Lekas jalan, kalau kau tak lekas bertindak, mungkin akan terlambat."

Sehabis berkata demikian, orang itu benar saja mengundurkan diri sambil memutar pecutnya, sedang Kim Goan To mengikuti dibelakangnya. Dua orang itu pura2 kejar2an, orang lain tidak tahu bahwa mereka sebetulnya sedang main sandiwara.

Dilain pihak, orang yang bersenjatakan sepasang roda itu juga sudah membawa Siang-koan Kie keluar dari kepungan.

Sikap orang2 baju hitam itu sungguh mengherankan, meskipun mereka melihat dua orang itu kalah dan keluar dari kepungan, tetapi tiada seorangpun yang turun tangan memberi bantuan. Dalam waktu sangat singkat, Siang-koan Kie dan Kim Goan To sudah berada jauh dari kepungan orang2 baju hitam.

Orang yang bersenjata sepasang roda itu itu berkata padanya: “Kalian berdua boleh berjalan menuju ke barat. Tidak sampai dua pal, sudah keluar dari gedung Kun-liong Ong."

“Atas pertolongan kalian, aku haturkan banyak2 terima kasih. Tetapi aku masih mempunyai satu kawan, harap kalian tolong sekalian."

Orang yang bersenjatakan pecut itu berpikir sejenak, lalu berkata: “Kalian boleh berangkat dulu, kita nanti akan berusaha untuk menolong dia."

Setelah itu, bersama kawannya balik kepada rombongannya.

Siang-koan Kie khawatirkan nasib Thian-bok taysu, ia mengawasi keadaan disekitarnya sebentar, lalu berkata kepada Kim Goan To: “Locianpwee harap sembunyikan diri disini dulu, boanpwee hendak pergi menolong Thian-bok taysu."

Selagi memikirkan dengan cara bagaimana untuk mengikuti jejak dua orang tadi, telah menampak dua orang itu sudah balik kembali bersama Thian-bok taysu.

Ia lalu memberi hormat seraya berkata: “Budi tuan2 berdua, aku selalu akan ingat, dikemudian hari aku pasti akan membalas."

“Kita hanya menjalankan tugas saja, saudara2 boleh berangkat." berkata orang yang bersenjata pecut sambil bersenyum.

“Siaotee masih mempunyai tiga kawan, yang masih terkurung dalam gedung Kun-liong Ong." berkata Siang-koan Kie. “Kalian bertiga sudah bisa meloloskan diri, ini sudah merupakan satu keberuntungan, perlu apa masih memikirkan yang lainnya?" berkata orang yang bersenjata sepasang roda sambil angkat pundak.

“Kalian lekas jalan....kira2 lima pal dari gedung Kun-liong Ong, disana nanti ada orang akan menyambut. Mungkin kawanmu itu sudah meloloskan diri lebih dulu dan menantikan kalian." berkata orang yang bersenjata pecut, tanpa memberikan kesempatan bagi Siang-koan Kie, ia sudah lari balik kerombongannya.

Siang-koan Kie mengawasi berlalunya dua orang itu, pikirannya mendadak melayang kepada Nie Suat Kiao. Gadis itu agaknya terus melindungi dirinya secara menggelap. Kali ini bisa lolos dan kepungan pengawal baju hitam, sudah tentu adalah perbuatannya.

Selama itu, ia tidak pernah memikirkan Nie Suat Kiao yang cantik dan banyak akalnya itu, karena ia sudah rela untuk memberikan kesempatan bagi Wan Hauw, yang mencintai gadis itu dengan setulus hati. Justru karena cintanya Wan Hauw itulah, yang membuat Siang-koan Kie harus menderita lahir bathin.

Ia semakin menderita, karena dipihaknya Nie Suat Kiao sendiri justru cinta kepada dirinya. Diwaktu biasa, ia masih dapat melupakan. Tetapi kini, setelah teringat dirinya gadis itu, penderitaan dalam hatinya timbul lagi, tanpa dapat dikuasai-nya....

Siang-koan Kie termenung-menung mengenangkan kejadian yang sudah lalu, ia telah lupa dirinya berada dimana.

Thian-bok taysu agaknya menyadari bahaya yang mengancam dirinya, lalu menegurnya: “Siang-koan siecu. "

Siang-koan Kie seolah-olah baru tersadar dari mimpinya, ia dongakkan kepala. Dari tempat sejauh sepuluh tombak lebih, nampak penerangan obor. Beberapa puluh orang berpakaian warna merah, sedang lari kearahnya. Karena jumlah orang itu ada tigabelas orang, tentunya adalah pasukan Kun-liong Ong yang paling kuat, yang pernah dikatakan oleh orang bersenjata sepasang roda tadi, maka ia lalu berkata kepada Thian-bok taysu: “Mari kita jalan! Setelah keluar dari gedung Kun liong Ong, nanti kita pikirkan lagi."

Tiga orang itu dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh, lari menuju ke barat.

Sepanjang jalan benar saja jarang mendapat rintangan, Siang-koan Kie yang memikirkan supaja lekas2 keluar dari bahaya, begitu mendapat rintangan, segera disambut dengan senjata pusakanya.

Keluar dari gedung Kun-liong Ong, ia berjalan lima pal lagi, tibalah ditepinya sebuah danau.

Ia berdiri tertegun ditepi danau, keadaan itu ternyata jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh dua orang yang menolong dirinya tadi.

Ia semula anggap bahwa dua orang itu adalah atas perintah Nie Suat Kiao, yang disuruh menolong dirinya, tetapi kini, mau tidak mau ia harus berpikir lagi, mungkin itu adalah akal muslihatnya Kun-liong Ong yang sengaja memancing dirinya sampai disitu.

Setelah berpikir, ia berkata kepada dua kawannya: “Kim locianpwee dan Taysu, apakah locianpwe berdua bisa berenang?"

Dari tengah2 danau tiba2 terdengar suara orang tirtawa, kemudian disusul oleh kata2nya: “Tidak mememerlukan kepandaian berenang, marilah beristirahat diatas perahu!"

“Siapa?" Demikian Thian-bok taysu menegur sambil mengangkat tongkatnya.

Sebentar kemudian nampak sebuah sampan muncul dari tempat gelap didayung Ketepi. Dibawah sinar bintang dilangit, nampak nyata seorang wanita mada berpakaian hijau dengan rambut yang panjang terurai kedua pundaknya, sedang mendayung sampan kearah mereka.

“Siang-koan siaohiap, Kun-liong Ong banyak akalnya kejam, kita jangan sampai terjebak lagi." berkata Kim Goan To.

“Kim locianpwee jangan kawatir, nona ini adalah orang yang menyambut kita." berkata Siang-koan Kie sambil menganggukkan kepala.

Sementara itu, perempuan muda berbaju hijau itu sudah lompat ke pantai.

Siang-koan Kie lalu memperkenalkan Thian-bok taysu kepada perempuan muda itu: “Ini adalah Thian-bok taysu dari Siao-lim-sie."

Kemudian berkata pula sambil menunjuk Kim Goan To: “Dan ini adalah Kim Goan To locianpwee dari kota Cee-lam."

Gadis berpakaian hijau itu menganggukkan kepala kepada Thian-bok taysu, dan berkata sambil tertawa: “Taysu berdua sudah bertempur satu malam suntuk, tentunya sudah letih sekali, aku sudah menyediakan hidangan dan pakaian. "

Setelah itu ia menepok tangannya dua kali, dari gerombolan pohon teratai muncul pula dua buah sampan.

“Siang-koan sicu, lisicu ini...." berkata Thian-bok taysu dengan suara pelahan.

“Penasehat dari golongan pengemis." jawabnya Siang-koan Kie.

Thian-bok taysu dan Kim Goan To yang sudah tertawan beberapa puluh tahun oleh Kun-hog Ong, sudah tentu tidak kenal nama jago2 yang baru muncul, tetapi ia segera memberi hormat seraya berkata: “Terima kasih atas penyambutan lisicu."

Setelah itu ia lompat kedalam sampan yang didayung oleh seorang laki2 berbadan tegap.

Gadis berbaju hijau itu berkata: “Didalam sampan sudah disediakan barang hidangan, kalian sudah bertempur satu malam   suntuk, tentunya sudah letih sekali. Sekarang kita tidak perlu bicara soal pertempuran, kita boleh menikmati hawa malam yang segar."

Tiba2 ia ulur tangannya dan menarik tangan Siang-koan Kie, kemudian lompat kedalam sampan.

Gadis berbaju hijau itu adalah Nie Soat Kiao, yang menyaru sebagai gadis nelayan, berpakaian baju pendek warna hijau, celana panjang yang saat itu yang digulung tinggi hingga tertampik kakinya yang putih halus.

Sampannya itu didayung sendiri, setelah melalui banyak daun2 teratai, didayung menuju ke tengah danau.

Ditengah danau, Nie Suat Kiao berhenti mendayung. Setelah membereskan rambutnya yang terurai dikedua pundaknya, ia berkata sambil tertawa: “Hidangan ini adalah buatanku sendiri, coba kau makan, mencocoki dengan seleramu atau tidak?"

Siang-koan Kie memakan sepotong, memang benar enak, maka lalu memuji: “Nona pandai mengatur siasat peperangan, kegagahanmu tidak kalah dengan kaum pria, bahkan lebih unggul dalam siasat menghadapi musuh yang banyak akalnya, sungguh tak disangka jaga pandai memasak"

“Ucapan ini dengan sejujurnya ataukah asal keluar dari mulut saja?" berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa.

“Sudah tentu dengan sejujurnya." Nie Suat Kiao pelahan2 angkat muka, memandang keangkasa, katanya dengan suara pelahan: “Manusia beberapa lama bisa hidup bahagia? Biarlah malam ini kita bersuka ria, janganlah kau sia2kan waktu yang sangat indah ini."

Siang koan Kie terkejut, katanya: “Nona, kau.   "

Nie Suat Kiao perdengarkan suara ketawanya yang menawan hati, katanya: “Malam gembira, mana boleh tidak ada arak?”

Kemudian ia mengeluarkan sebotol arak dan berkata pula: “Siang-koan Kie, kau berani minum arak?"

“Meskipun aku tidak gemar arak, tetapi juga tidak boleh mengabaikan kebaikanmu."

“Tahukah kau ini arak apa?" “Paling banter arak beracun."

Nie Suat Kiao tersenyum, jari tangannya menyentil tutup botol, hingga jatuh kedalam danau, arak lalu ditenggaknya.

Nie Suat Kiao yang cantik dan agak tinggi hati malam itu seolah2 berubah sifatnya ia tertawa dengan bebas, sikapnya sangat menggiurkan, bagaikan sepasang kekasih yang sedang ber-cumbu2an.

Untuk sesaat lamanya Siang-koan Kie berada dalam kebingungan, ia tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Nie Suat Kiao kembali menenggak arak dan berkata: “Manusia hidup berapa lama? Diwaktu gembira, sukakah kau mendengarkan aku menyanyi?”

Siang-koan Kie menampak kedua pipi Nie Suat Kiao merah semeringah, biji matanya berputaran, tingkah lakunya seperti perempuan nakal yang sudah ulung memikat hati lelaki. Saat itu pelahan2 membuka kancing bajunya, hingga bukan kepalang terkejutnya Siang-koan Kie. Ia ulur tangannya merebut botol dari tangannya, berkata dengan suara perlahan: “Apa sebetulnya yang terisi dalam botol ini?"

“Arak!"

Memang benar Siang-koan Kie segera dapat mengendus bau arak yang keluar dari mulut botol, bau itu wangi sekali.

Dengan tangan kiri menutup dadanya yang setengah terbuka, Nie Suat Kiao memainkan matanya Yang jeli, katanya sambil tertawa: “Kau berani minum?"

“Mengapa tidak?" berkata Siang-koan Kie dan segera menenggaknya.

“Tahukah kau arak apa yang kau minum itu?" “Tidak tahu."

“Arak itu bernama Kiu-coan-lie-jie-hong."

“Belum pernah dengar, paling banter malam ini aku akan mabok." kembali ia tenggak araknya.

“Arak dapat mengacaukan pikiran, arak ini keras sekali, kau tidak boleh minum lagi." berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa.

“Sebotol arak, bagaimana dapat mengacaukan pikiranku? Aku tidak percaya." berkata Siang-koan Kie, kemudian menenggak habis arak dalam botol.

Nie Suat Kiao hendak mencegah, tetapi sudah tidak keburu, katanya dengan cemas: “Secawan arak ini saja sudah cukup melunakkan hati yang keras bagaikan baja, kau minum setengah botol lebih, bagaimana sanggup tahan."

Tangannya dengan cepat merebut botol dari tangan Siang- koan Kie.

Tetapi, bayangan Siang-koan Kie yang sudah lama bersarang dalam lubuk hatinya, malam itu ketika berhadapan sendirian dengan pemuda yang selalu mengganggu hatinya, pertahanannya akhirnya telah runtuh. Apalagi pengaruh arak yang sifatnya keras itu, se-olah2 suatu dorongan, membuat ia melupakan segala galanya. Bukan botol yang disambar, melainkan tangan Siang-koan Kie!

Siang-koan Kie yang juga sudah terpengaruh oleh arak. Ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Nie Suat Kiao, timbullah reaksinya dengan segera. Hawa panas dirasakan membakar dirinya, hingga otaknya dan pikirannya menjadi gelap.

“Aku sebetulnya hendak membantu kekuatan tenagamu, tak disangka malah mencelakakan dirimu...." berkata Nie Suat Kiao cemas.

Pikirannya masih jernih, kata2nya juga cukup jelas, tetapi jari tangannya yang menggenggam tangan Siang-koan Kie, mencekal semakin kencang.

Pengaruh arak bekerja semakin cepat, Siang-koan Kie per- lahan2 melupakan dirinya.

Per-lahan2 ia mengangkat muka, dengan sepasang matanya ia memandang liar paras Nie Suat Kiao.

Dengan mendadak ia membalikkan tangannya yang dipegang oleh Nie Suat Kiao, balas memegang lengan gadis itu, kemudian ditariknya, hingga tubuh Nie Suat Kiao berada dalam pelukannya.

Nie Suat Kiao masih mempunyai sedikit kesadaran, samar2 masih ingat bahwa dirinya tidak boleh melakukan perbuatan yang akan membuat kemenyesalan seumur hidupnya. Tetapi, meskipun hatinya ingat, namun membiarkan dirinya dipeluk erat oleh Siang-koan Kie, tidak mau meronta.

Pengaruh arak obat itu per-lahan2 agaknya membakar hawa napsu dua muda mudi itu, sehingga membuat melupakan diri sendiri....

Sampan telah kehilangan kemudi tertiup oleh angin malam dan terombang-ambing ditengah danau. Suara siulan panjang, terdengar nyata dimalam yang sunyi itu, membuat Nie Suat Kiao yang tenggelam dalam pengaruh arak obat, pulih kembali sedikit kesadarannya.

Suara siulan yang sudah tidak asing baginya, meskipun dalam keadaan kalut pikirannya, juga bisa mengenali itu suara siapa.

Dipermukaan air danau, ia nampak bayangannya sendiri yang cantik, dalam keadaan kusut dan setengah telanjang, hingga tertampak tegas kulit tubuhnya yang putih halus.

Dengan perasaan malu ia menutup bajunya, tangannya menotok jalan darah Siang-koan Kie. Setelah membereskan rambutnya yang kusut, ia lalu berseru nyaring: “Saudara Wan."

Sesosok bayangan manusia, dengan berjalan melayang ditengah danau, sebentar kemudian sudah berada diatas sampan.

Orang yang baru datang itu bukan lain daripada Wan Hauw. Ia membuka matanya yang lebar memandang Nie Suat Kiao sejenak kemudian memandang Siang-koan Kie, katanya: “Toakoku ini kenapa?"

“Dia mabok arak." jawabnya Nie Suat Kiao.

“Biarlah dia tidur dengan nyenyak! Selama beberapa hari ini, dia tentunya sangat letih”

Sehabis berkata, ia ulur tangannya hendak menotok jalan darah Siang-koan Kie.

“Jangan, aku sudah menotok jalan darahnya." demikian Nie Suat Kiao mencegah.

“Baiklah! Mari kita duduk disini mengawani dia." berkata Wan Hauw sambil bersenyum.

Nie Suat Kiao berusaha untuk mengendalikan hawa nafsunya yang berkobar karena pengaruh arak, tetapi hawa napsu itu timbul kembali, hingga tanpa sadar ia sudah senderkan kepalanya ke dada Wan Hauw.

Bagaimanakah Nie Suat Kiao membereskan percintaannya segi tiga yang ruwet ini?

Bagaimana kesudahannya pertempuran antara golongan pengemis dengan Kun-liong Ong? Silahkan pembaca membaca bagian lanjutannya.

-oo0dw0oo-