ISMRP Jilid 25

 
Jilid 25

Siang-koan Kie berpikir sejenak, kemudian berkata: “Kecerdikan penasehat kita, bukanlah orang2 sebagai kita ini yang dapat mengukurnya. Kalau ia sudah mengatur demikian, pasti ada yang mengandung maksud tertentu. Untuk menjaga sesuatu yang tidak diinginkan, sebaiknya taysu simpan obat ini."

Sek Bok taysu menerima itu ditelannya sebutir, sisanya disimpan dalam sakunya.

Siang-koan Kie meraba belati emas dalam sakunya, mengajak kedua kawannya berlalu.

Empat orang itu keluar dari dalam kuil, melanjutkan perjalanannya keistana Kun-liong Ong.

Siang-koan Kie yang sudah mendapat petunjuk dari Nie Suat Kiao, telah mengetahui bahwa istana itu berada diluar kota Kiu-kang, letaknya ditepi sungai. Dilihat sepintas lalu, merupakan satu perkampungan yang luas, juga mirip dengan perkampungan nelayan, tetapi keadaan yang sebenarnya, orang2 atau yang mirip dengan penduduk kampung itu, semua adalah anak buah Kun-liong Ong.

Dengan menurut petunjuk   Nie Suat Kiao, Siang-koan Kie pimpin tiga kawannya berjalan menuju kearah kampung itu.

Dibawah sinar bintang dilangit, tampak beberapa bangunan rumah yang dibangun disepanjang jalan yang menuju kekampung itu.

Selagi berjalan, tiba2 terdengar suara orang membentak: “Berhenti!"

Dari dalam rumah2 ditepi jalan itu muncul tujuh delapan orang, masing2 membawa senjata golok. Orang2 itu semuanya berpakaian warna hitam, mereka berdiri berbaris menghalang ditengah jalan.

Siang-koan Kie mengeluarkan sebuah plat perak, ditunjukkan kepada mereka.

Orang2 itu setelah melihat plat perak ditangan Siang-koan Kie, mata mereka ditujukan kepada dua kacung didamping Siang-koan Kie.

Dua kacung itu dengan serentak mengeluarkan plat dari dalam saku masing2, ditunjukkan kepada mereka.

Orang2 itu setelah menyaksikan plat perak ditangan dua kacung, kembali mengawasi Sek Bok taysu, karena melihat tangan paderi tua itu dirantai, segera memberi jalan kemudian kembali ke rumah masing2.

Siang-koan Kie menarik napas lega. Apabila orang2 itu tadi menegur dirinya, sudah tentu tidak bisa menjawab, hingga akan terbuka rahasianya.

Dengan pengalamannya yang pertama ini, mereka berlaku lebih hati2, dengan beruntun mereka melalui tujuh tempat penjagaan.

Menjeiang subuh, dari jauh mereka samar2 tampak sebuah bangunan megah, di-tengah2 perkampungan yang sangat luas itu.

Siang koan Kie berkata kepada dua kacung dengan suara periahan: “Kita sudah berada semakin dekat istana Kun-liong Ong, bahayanya juga semakin besar, masih untung bahwa anak buah Kun-liong Ong sebahagian besar sudah dikendalikan pikirannya oleh pengaruh obat. Betapapun tinggi kepandaian mereka, tetapi daya pikiran mereka sudah tidak seperti pikiran manusia biasa. Asal kita bisa menghadapi dengan tenang, rasanya tidak susah melalui pemeriksaan mereka dengan selamat. Setelah kita menjumpai orang yang dijanjikan, mungkin akan bekerja secara berpencaran untuk menyusup kegedung Kun-liong Ong. “Apa yang siaotee ketahui, sebaiknya akan kuberitahukan kepada saudara berdua."

Dua kacung itu mengangguk, selagi hendak menjawab, tiba2 menampak sebuah lampu merah, muncul didalam gelap, kemudian disusul oleh suara derap kaki kuda yang dilarikan kearah mereka berdiri.

Siang-koan Kie berkata sambil mengerutkan alisnya: “Entah orang macam apa yang keluar dari istana Kun liong Ong itu?"

“Apakah kita perlu menyingkir?" berkata Thio Hong. “Ditempat sekitar kita berdiri, mungkin ada banyak mata2

yang mengintai gerak gerik kita, asal kita sendiri tidak berlaku tenang, itu berarti membuka kedok sendiri." berkata Siang- koan Kie.

“Apakah kita harus menunggu disini, sampai diketahui oleh orang?” berkata dua kacung itu berbareng.

“Kita harus menghadapi segala kemungkinan dengan otak dingin. "

Sementara itu, lampu merah itu sudah berada semakin dekat, se-olah2 sedang terbang kearah mereka, sebentar kemudian sudah berada ditempat mereka.

Siang-koan Kie sudah cemas memikirkan bagaimana harus menghadapi, ketika menyaksikan di bawah sinar lampu merah itu, muncul beberapa bayangan orang yang berlutut ditepi jalan. Ia segera mengambil keputusan, apabila lampu merah itu sudah berada didepannya, ia juga akan turut berlutut ditepi jalan.

Sesaat kemudian, lampu merah itu sudah dekat dimana Siang-koan Kie berdiri, ia segera berdiri tekuk lututnya dan berlutut ditepi jalan. Kedua tangannya diangkat tinggi. Dua kacung itu meskipun dalam hati tidak senang, tetapi melihat Siang-koan Kie berlaku demikian, terpaksa menurut. Begitupun Sek Bok Taysu.

Penunggang kuda yang terdiri dari rombongan itu, adalah seorang laki2 berbaju hitam yang berbadan tegap, tangannya membawa lampu merah, dibelakangnya diikuti oleh delapan penunggang kuda yang melindungi seorang perempuan muda berkuda putih.

Siang-koan Kie diam2 memperhatikan orang2 itu. Gadis yang menunggang kuda putih itu, usianya kira2 baru empatbelas atau limabelas tahun. Dibawahi desiran angin malam dingin, cuma mengenakan pakaian pendek warna merah, hingga tampak nyata kedua lengannya yang putih halus. Dibelakang punggung gadis tanggung itu menyoren sebilah pedang kuno, dipinggangnya ada sebuah kantong, entah apa isinya.

Ketika kuda putih itu meliwati samping Siang-koan Kie, mendadak berhenti, hingga Siang-koan Kie terkejut dan buru2 menundukkan kepala.

Gadis itu perdengarkan suara dihidung, kemudian berkata: “Orang ini tidak tahu adat, ia berani mencuri melihat aku."

Siang-koan Kie diam2 terkejut, ia heran ketajaman pandangan mata gadis cilik itu.

Tiba2 terdengar suara “Tar!" pecut panjang di tangan gadis itu melayang dibadan Siang-koan Kie. Karena Siang-koan Kie tidak menduga akan diperlakukan demikian, hingga pecut itu mengenakan gegernya dengan telak. Rasa sakit tidak sanggup mempertahankan keadaannya yang sedang berlutut, hingga seketika itu juga lantas roboh ditanah.

Kemudian ia hanya mendengar suara tertawa nyaring, gadis berbaju merah itu sudah berlalu dari depannya.

Siang-koan Kie menahan rasa sakit dan amarahnya, mengawasi rombongan kuda itu menghilang di tempat gelap. Dua kacung itu pelahan2 bangkit dan menanya Siang-koan Kie dengan suara pelahan: “Saudara Siang-koan, apa lukamu berat?"

“Kita boleh merasa bersyukur telah berhasil lolos dari suatu ancaman berbahaya." menyahut Siang-koan Kie sambil bersenyum.

“Saudara Siang-koan mempunyai kesabaran luar biasa, seandai siaotee yang diperlakukan demikian barangkali sudah melawan." berkata Thio Hong.

“Kalau kita tidak bisa bersabar menghadapi perkara kecil, mungkin bisa mengganggu rencana kita. Didalam keadaan demikian, sekalipun menerima hinaan yang lebih hebat, siaotee juga harus bersabar" berkata Siang-koan Kie sambil bersenyum.

“Sudah dekat pagi, kita kudu lekas menjumpai orang yang akan menyambut kita, mari lekas jalan, jangan membuang banyak waktu. Kalau sudah terang tanah, kita nanti akan mengalami lebih banyak kesulitan" berkata Sek Bok taysu.

Siang-koan Kie menganggukkan kepala, setelah melihat arahnya ia berjalan lebih dulu.

Kini, sudah berada semakin dekat dengan perkampungan yang sangat luas itu, orang2 yang ber-jalan mundar mandir, semuanya membawa senjata. Orang2 itu sudah jelas adalah peronda istana itu. Yang mengherankan ialah orang itu ternyata tidak satupun yang menegur rombongan Siang-koan Kie.

Waktu pertama kali Siang-koan Kie menjumpai orang2 peronda malam itu, dalam hati masih merasa khawatir, tetapi karena tidak mendapat teguran, hatinya mulai lega.

Pelahan2 mereka sudah mendekati istana Kun-liong Ong, dalam keadaan gelap, ia hanya samar-melihat, dinding tembok yang mengitari mana itu, barangkali cuma sepuluh tombak lebih.

Siang-koan Kie mendongakkan kepali memandang bintang dilangit, kemudian berjalan membelok ke barat.

Benar saja, berjalan baru kira2 duapuluh tombak, tibalah disuatu rimba bambu yang sangat luas.

Diwaktu malam, rimba itu nampak semakin gelap. Siang- koan Kie berhenti ditepi rimba, bingung memikirkan harus masuk kerimba atau tidak.

Dari dalam rimba lebat itu tiba2 muncul sebuah tangan, menggapai kearah mereka.

Dengan hati2 sekali Siang-koan Kii berjalan ke rimba, tangan kanan merabah gagang belati emasnya.

Tangan yang diulur keluar dari dalam rimba itu tiba2 ditarik kembali pelahan2, kemudian terdengar suara yang sangat perlahan: “Menjelang pagi hari, rombongan pasukan berkuda sudah akan tiba, lekas kalian masuk kedalam rimba"

Siang-koan Kie berpikir: tidak perduli kawan atau lawan, berada dalam rimba biar bagaimana lebih sentosa daripada diluar.

Tanpa banyak pikir lagi, ia lantas masuk kedalam rimba.

Rimba itu ternyata lebat sekali, Siang-koan Kie terpaksa menggerakkan kedua tangannya untuk menyingkirkan daun2 dan tiang2 bambu yang malang melintang.

Sek Bok taysu dan dua kacung juga segera mengikuti jejak Siang-koan Kie.

Kira2 tiga kaki dihadapannya, Siang-koan Kie melihat seorang baju hitam, berjalan masuk seperti caranya membuka jalan. Meskipun terpisah hanya tiga kaki saja, tetapi karena banyak ranting bambu yang menghalangi jalan, agak susah memasuki rimba itu. Setelah berjalan kira2 enam tujuh tombak, keadaan mendadak berubah. Tempat itu agak luas, beberapa buah rumah kayu yang bentuknya pendek, berdiri terjejer bagaikan sarang tawon.

Orang berbaju hitam yang membuka jalan itu mendadak berhenti.

Siang-koan Kie dangan sangat hati2 memperhatikan rumah2 kayu itu, pintu jendelanya tertutup rapat, entah apa yang berada dalam rumah itu.

Thio Hong berkata dengan suara perlahan: “Kita ucapkan banyak2 terima kasih yang tuan sudah bawa kita masak kemari, entah apa sebabnya tuan tidak mau unjuk muka kepada kita?"

Orang berbaju hitam itu per-lahan2 membalikkan badannya dan berkata: “Harap saudara2 beristirahat satu hari didalam rumah kayu itu, besok malam aku akan datang menyambut lagi."

Siang-koan Kie menyaksikan orang itu ternyata memakai kedok warna hitam, kecuali dua lubang dibagian matanya, seluruh badan tertutup oleh kain hitam. Ia lalu menanya “Entah apa isinya dalam rumah kayu yang pendek bentuknya itu?"

“Orang " jawabnya singkat.

“Orang? siapa?"

“Sebagian besar orang2 yang melanggar peraturan Kun- liong Ong."

“Apakah hanya dengan rumah2 yang terbuat dari bahan kayu itu, dapat mengurung orang2 rimba persilatan?"

“Waktu sudah tidak banyak lagi aku tidak dapat menceritakan dengan jelas...." berkata orang itu. Tangannya menunjuk sebaris rumah kayu disebelah barat, “disana ada delapan petak rumah kosong. Saudara2 boleh pilih salah satu diantaranya untuk sembunyikan diri. Disini setiap hari, ada orang2 dari istana yang datang meronda. Mereka datang pada waktu2 pagi, tengah hari dan malam. Besok malam, selewatnya jam dua malam, aku akan datang untuk menjemput saudara2 lagi. Aku akan memberikan tanda tepokan tangan dua kali. Apabila tidak mendengar suara tepokan, jangan membuka pintu, atau melongok keluar."

“Bolehkah tuan membuka kedokmu?" bertanya Thio Hong sambil mendekati.

”Sekarang ini masih belum waktunya untuk kita bertemu muka. Kalau sudah tiba waktunya, tentu aku akan membuka kedokku, untuk kalian lihat...." berkata orang itu sambil tertawa dingin. “ronda bagian pagi, sudah akan tiba, lekas kalian sembunyi kedalam rumah itu”

Meskspun Siang-koan Kie dan kawan2nya merasa curiga terhadap tindak-tanduk orang itu, tetapi karena sepanjang jalan tidak menemukan kesalahan, untuk sesaat mereka masih merasa ragu2, baik masuk atau tidak.

Orang berkedok itu perdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata: “Kalau kalian tidak dengar perkataanku, kalian tidak akan terlepas dari mata2 atau peronda Kun-liong Ong. Bukan saja akan sia2 jerih payah kalian, bahkan jiwa kalian bisa tertolong atau tidak, masih menjadi suatu pertanyaan besar."

Siang-koan Kie setelah berpikir sejenak, akhirnya berkata: “Baiklah! Harap tuan berdiam disini sebentar. Aku hendak masuk dulu untuk mengadakan pemeriksaan lebih dulu"

Tanpa menunggu jawaban orang itu, ia sudah memutar tubuhnya dan masuk kedalam rumah.

Orang berkedok hitam itu agaknya sudah mengerti kalau Siang-koan Kie takut dirinya lari. Dengan alasan hendak menggunakan waktunya untuk memeriksa keadaan dalam rumah lebih dulu, diam2 suruh kawan2nya menilik tindak tanduknya. Apabila dalam rumah itu terdapat pesawat jebakan, kawan2 Siang-koan Kie akan turun tangan dengan segera. Maka ia juga tidak berkata apa2.

Rumah kayu yang pendek itu, keadaannya sempit sekali, nampaknya cukup untuk rebah satu orang saja.

Siang-koan Kie memeriksa sebentar, merasa heran, karena tidak ada apa2nya yang luar biasa. Bagi orang yang mengerti sedikit ilmu silat saja, rasanya tidak susah menghancurkan rumah itu dengan satu tangan saja. Tetapi menurut keterangan orang berkedok hitam itu tadi, katanya didalam rumah demikian, ada terkurung banyak orang. Entah bagaimana orangnya yang rela dikurung dalam rumah demikian dan tidak berusaha untuk kabur?

“Kau sudah periksa dengan baik atau belum?” demikian ia dengar suara orang berkedok hitam itu.

Siang-koan Kie balik kembali dan berkata kepada dua kacung itu dengan suara perlahan: “Rumah itu mungkin baik sekali untuk kita sembunyikan diri"

“Apakah kau tidak melihat tanda2 yang mencurigakan?" tania Thio Hong.

“Tidak. Andaikata ada tentunya juga berada di bawah tanah rumah itu” menjawab Siang koan Kie.

“Marilah kita duduk semalam dirumah itu, nanti kita bicarakan lagi." berkata Thio Hong

Siang-koan Kie mengadakan perjanjian cara perhubungan dengan kawan2nya kemudian memasuki rumah kayu yang bentuknya pendek itu.

Orang berkedok hitam itu sementara itu sudah menghilang entah kemana perginya. Tidak lama kemudian, dalam rimba itu terdengar suara tindakan kaki orang. Agaknya ada banyak orang hendak berjalan masuk. Siang-koan Kie berempat meskipun berkepandaian tinggi, tetapi mereka tidak bisa melongok keluar. Hanya dengan daya pendengaran mereka untuk memperhatikan tindakan2 orang2 diluar rumah kayu, mereka tahu bahwa orang2 itu sudah berada dekat dengan rumah yang mereka gunakan untuk sembunyikan diri.

Tlba2 terdengar suara yang amat nyaring: “Ong-ya telah mengeluarkan perintah kilat supaya memperkeras penjagaan di tempat2 penting. Mungkin ada musuh yang menyelundup masuk. Aku pikir malam ini kita perlu mengadakan pemeriksaan tawanan dalam ruman ini satu persatu”.

Siang-koan Kie terkejut, pikirnya: “celaka, apabila mereka mengadakan pemeriksaan satu persatu, mungkin kita akan kepergok”

Cepat siap sedia dengan belati emasnya, apabila dipergoki oleh mereka, ia akan bunuh semua orang2 itu, jangan ada satupun yang hidup.

Sementara itu, terdengar pula orang yang menyahut: “Sudahlah! Tempat tawanan seperti ini, mana mungkin ada orang yang berani masuk? Aku pikir tldak perlu kita repot mengadakan pemeriksaan dengan teliti.''

Orang yang suaranya nyaring tadi tidak terdengar pula suaranya, mungkin dapat menyetujui usul kawannya. Hati Siang-koan Kie merasa lega. Kini ia mendapat kesempatan untuk memperhatikan keadaannya rumah pendek sempit itu. Ia meraba-raba dindingnya, ternyata terbuat dari papan, satu sama lain berdampingan dindingnya.

Ia ingin memeriksa keadaan dirumah yang lain. Selagi hendak membuka pintu, dari rumah yang tidak jauh, pintunya mendadak terbuka dan tampak satu kepala yang berambut panjang. Rambut dan jenggot kepala orang itu sudah putih seluruhnya. Orang itu hanya melongok keluar sebentar, dengan cepat sudah menghilang lagi.

Siang-koan Kie terperanjat, hatinya berdebar keras. Ia hampir berteriak memanggil “Suhu."

Ia menutup pintu lagi, pikirannya bekerja keras. Karena kepala orang berambut putih itu sangat mirip dengan gurunya yang pertama. Tetapi ia heran dengan kepandaian gurunya, rasanya tidak mungkin dapat tertangkap oleh orang2nya Kun- liong Ong. Apakah ia datang atas kemauannya sendiri? Apakah sama dengan maksudnya sendiri yang hendak menggunakan rumah itu untuk tempat sembunyi?

Ia berpikir keras tetapi tidak menemukan jawabannya.

Ia sudah ingin keluar dari rumah itu, untuk pergi menanyakan sendiri.

Tetapi mengingat tugasnya yang berat, ia terpaksa kendalikan perasaannya.

Siang-koan Kie sudah bertekad bulat hendak menghancurkan kamar racun Kun-liong Ong. Sekalipun harus korbankan jiwanya sendiri, ia juga rela.

Meskipun ia berusaha hendak menangkan pikirannya, tetapi perasaannya yang bergolak demikian hebat, tidak mudah ditenangkan. Munculnya secara mendadak gurunya yang pertama memberi didikan ilmu silat padanya, apalagi dalam keadaan sebagai tawanan, bukan saja diluar dugaannya, tetapi juga tidak habis dimengerti. Pikiran itu selalu mengganggu perasaannya. Ia menggunakan kesabaran luar biasa, namun tetap tidak dapat mengendalikan perasaannya. Tanpa disadari, ia telah membuka pintu pelahan2 dan melongok keluar.

Dari dalam sebuah rumah kayu petak yang berada diseberangnya, nampak sebuah tangan diulur keluar. Siang-koan Kie terkejut, karena rumah itu bukanlah yang didiami oleh gurunya. Jelas bahwa tawanan dalam rumah itu, sedang melakukan gerakan apa-apa.

Tangan yang diulur keluar itu makin lama lama makin panjang, dan akhirnya menjangkau kerumah disisinya yang didiami oleh gurunya. Orang itu didorong pelahan, dari dalam rumah itu juga nampak diulur keluar sebuah tangan, kedua tangan saling berjabatan.

Siang-koan Kie berpikir: “dua tangan yang berjabatan itu agaknya sedang menyalurkan kekuatan tenaga dalam untuk memberi kekuatan kepada yang lain. Apakah salah satu diantara dua orang itu dalam keadaan terluka?”

Apabila orang yang tertawan itu masih bisa menyalurkan kekuatan sama lain, ini berarti bahwa telinga dan pandangan mata orang2 itu masih sempurna, dengan sendirinya mereka sudah dengar dan mungkin melihat apa yang diperbuat olehnya.

Selagi masih melamun, tiba2 terdengar pula suara tindakan kaki orang. Dua tangan yang sedang berjabatan itu dengan cepat ditarik masuk lagi terkejut. ia buru2 menutup pintunya.

Siang-koan Kie terkejut, ia buru2 menutup pintunya.

Suara tindakan kaki itu makin lama makin dekat, seseorang agaknya berhenti dihadapan rumah yang disinggahi.

Ia menahan napas, telinganya ditempelkan dipintu, tangan kanannya menggenggam gagang senjata, siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi orang itu agaknya sengaja hendak menggoda Siang- koan Kie, ia diam saja dihadapan rumah.

Lama Siang-koan Kie menempelkan telinganya dipintu, tidak mendengar suara apa2, hatinya semakin cemas. Ia ingin membuka pintu, tetapi tidak tahu siapa yang berada didepan rumah itu. Ia terpaksa menahan sabar, tatapi akhirnya tidak tahan juga, dengan sangat hati2 ia membuka daun pintu untuk mengintip.

Pada waktu itu, matahari sudah naik tinggi, ketika daun pintu terbuka sedikit, sinar matahari segera menyorot masuk.

Sinar matahari itu menyilaukan matanya, apabila pada saat itu ada orang yang menyerang dirinya Siang-koan Kie pasti tidak berdaya.

Dalam keadaan demikian tiba2 terdengar suara tepokan tangan dua kali.

Siang-koan Kie berpikir: “Bukankah itu tanda rahasia yang hendak diberikan olehi orang tadi kepadaku? Mengapa demikian cepat sudah kembali?”

Meskipun dalam hatinya berpikir demikian, tetapi orangnya sudah melompat keluar.

Bersamaan dengan itu, dua kacung dan Sek Bok Taysu juga sudah lompat keluar.

Dalam anggapan Siang-koan, Kie masih tetap menganggap bahwa didepan rumah tentu ada orang ternyata tidak tampak bayangan seorang jua.

Selagi berdiri tertegun ter-heran2 memikirkan kejadian itu, tiba2 terdengar suara dingin: “Dalam rumah kayu ini, tidak boleh berdiam lebih dari dua jam. Satu menit lebih lama dalam rumah itu raii tambah bahaya satu menit. Mulai saat ini sehingga sebelum matahari silam, barangkali tidak ada orang mengadakan pemeriksaan lagi. Kalian boleh mengadakan gerakan disekiitar tempat ini. Sebaiknya kalian dapat menggunakan kesempatan ini sembunyikan diri kedalam rimba bambu ini. Beristirahat dan atur pernapasan dengan baik. Malam nanti mungkin akan terjadi pertempuran sengit”

Siang-koan Kie angkat muka, ia lihat dijalanan masuk kerimba itu, ada berdiri seorang berpakaian hitam dan memakai kedok kulit manusia. Orang itu setelah mengucapkan perkataan demikian lantas berlalu tanpa memberi kesempatan bagi Siang-koan Kie untuk menanya.

Thio Hong dengan cepat menegurnya: “Aku yang berdiam dalam rumah itu, kecuali merasa susah bernapas, tidak ada perasaan apa2 lagi”

Sek Bok taysu juga berkata: “Pinceng hanya merasakan ada sedikit hawa tidak enak yang menusuk kedalam tubuh, sehinggi menimbulkan suatu perasaan yang sangat aneh"

“Aku juga merasakan demikian." berkata Lis Sun.

“Kita pergi kesalah satu rumah menanyakan salah satu orang yang sudah agak lama berada disini, bukankah akan mendapat jawaban dengan segera." berkata Thio Hong.

Siang koan Kie anggap bahwa usul Thio Hong itu benar, dengan mendadak ia berjalan menuju ke rumah diseberangnya.

Sek Bok Taysu bertiga mengira ia akan pergi menemui seseorang, tak diduga setelah Siang-koan Kie berada didepan rumah itu, lantas berlutut, dengan sikap sangat menghormat ia bersujud sampai tiga kali, kemudian baru mengetok pintunya dengan perlahan.

Perbuatan Siang-koan Kie itu mengherankan dua kacung dan Sek Bok Taysu, dengan cepat ia menghampiri.

Siang-koan Kie semula menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, memanggil gurunya, tetapi tidak mendengar jawaban dari dalam kemudian ia mengetok dengan pelahan, juga tidak ada reaksi apa2, hingga diam2 merasa heran. Selagi hendak mendorong pintunya, dua kacung dan Sek Bok Taysu sudah berada disampingnya.

“Apakah saudara Siang-koan tahu siapa yang berada didalam rumah ini?" bertanya Thio Hong. Siang-koan Kie teringat sifat suhunya yang dingin, mungkin merasa tidak senang dibuka rahasianya dihadapan orang banyak, maka buru2 menjawab: “Tidak ada apa2, saudara "

Dalam keadaan demikian, Siang-koang Kie sungguh berat untuk memberi keterangan, maka tidak dapat melanjutkan kata2nya.

Sek Bok taysu berkata sambil tertawa: “Kalau Siang-koan Kie siecu merasa keberatan untuk memberi keterangan, kita juga tidak perlu menanya lebih jauh sebaliknya ada satu persoalan yang penting yang sekarang perlu harus dirundingkan."

“Persoalan apa? Mari kita runcingkan bersama” berkata Siang-koan Kie.

“Itu orang berpakaian hitam yang memberi petunjuk kepada kita, apakah siecu sekalian merasa ada perbedaan dengan orang biasa?" berkata Sek Bok taysu.

“Siaotee juga merasa demikian."', berkata Thio Hong. “Coba Thio siecu terangkan dulu kecurigaan siecu, kalau

ada kekurangan, nanti pinceng yang memberi tambahan" berkata Sek Bok taysu.

Thio Hong setelah berpikir sejenak, lalu berkata: “Aku rasa dua paha kaki orang itu seperti bercacad, jalannya agak kaku bagaikan bangkai hidup"

“Benar." berkata Sek Bok taysu. “Suaranya sangat aneh, agaknya seperti dibikin-bikin."

“Sudah cukup, hanya dua rupa ciri itu saja, tidak susah bagi kita untuk mengadakan penyelidikan” berkata Sek Bok taysu.

“Yah! Apakah orang itu setelah menyaru, lalu mengadakan pertemuan dengan kita?" Berkata Siang-koan Kie.

“Dari keadaannya pinceng berani menduga bahwa orang itu adalah orang bertubuh pendek yang ditambah tinggi bagian kakinya, hingga waktu berjalan agak kaku, kurang leluasa." berkata Sek Bok taysu.

“Benar, keterangan taysu ini mengingatkan siaotee kepada oraag yang menjumpai kita dikuil tua itu. Dua orang itu mempunyai ciri tersendiri. Tetapi satu sama lain agak mirip, baik potongan badannya maupun tingkah lakunya. Bedanya hanya yang satu pendek yang lain tinggi” berkata Siang-koan Kie sambil menganggukkan kepala.

“Suaranya di bikin2 bengis dan kasar, mungkin hendak menutupi suara aslinya. Orang itu mungkin orang yang kita kenal, maka perlu berhati-hati menutupi keadaan sendiri, supaya jangan kita ketahui" berkata Thio Hong.

Suatu pikiran terlintas dalam otak Siang-koan Kie, mungkinkah orang itu "dia" yang menyaru?

Tetapi sebelum mendapat bukti, ia tidak berani menyatakan pikirannya itu kepada kawan2nya, maka ia lantas bersenyum dan berkata: “Tidak perduli orang itu siapa, kita harus dengar perkataannya, mungkin ia sudah mendapat perintah dari penasehat kita."

“Sepanjang perjalanan kita tidak menemukan kesalahan. Jikalau kita hendak menyusup keistana Kun-liong Ong, mau tidak mau harus menurut petunjuknya." berkata Thio Hong.

“Kita Sekarang sudah berapa dekat diistana Kun-liong Ong, se-kali2 jangan berlaku gegabah, sehingga merusak rencana kita, kita harus lekas sembunyikan diri." berkata Sek Bok taysu. “Berada dalam rumah kayu itu memang lebih aman, tetapi kita tidak bisa berdiam lebih lama lagi"

Siang-koan Kie pasang mata, dijurusan utara ada sebidang tanah yang banyak tumbuh rumputnya tinggi2, lalu berkata kepada mereka dengin suara perlahan: “Mari kita sembunyikan diri kedalam semak semak rumput tinggi itu." Thio Hong bergerak lebih dulu, sambil berjalan ia berkata: “Hati2 jangan menginjak rusak tumpukan rumput, sehingga meninggalkan bekas."

Ia melesat lompat dan melayang turun kedalam gerombolan rumput.

Empat orang itu baru saja menyembunyikan diri didalam rumput, empat orang berpakaian hitam yang meronda berjalan melalui tempat itu.

Empat orang itu tidak berani bernapas, tempat dimana Sek Bok taysu dan dua kacung sembunyikan diri keadaannya lebat, hingga mata mereka tidak bisa memandang keluar, hanya tempat dimana Siang-koan Kie sembunyi, dapat melihat keadaan diluar.

Tampak olehnya seorang gadis kecil langsing berbaju merah, mirip dengan gadis yang dijumpainya tadi malam, hanya saat itu ia mengenakau gaun panjang, tidak seperti semalam yang mengenakan pakaian pendek.

Selagi ia masih memperhatikan keadaan gadis itu, benar adakah gadis tadi malam atau bukan, tiba gadis itu memberi perintah supaya berhenti di tempat itu.

-oodwoo-

98

EMPAT laki2 berbaju hitam itu mendadak menghunus golok dari belakang punggungnya dan mundur dibelakang gadis berbaju merah.

Siang-koan Kie diam2 merasa heran, ia tidak mengerti apa yang dilakukan oleh gadis itu.

Karena ia khawatir jejuknya diketahui oleh gadis itu, ia bermaksud hendak bertindak lebih dulu, diam2 ia menyampaikan maksudnya itu kepada tiga kawannya. Gadis baju merah itu berjongkok dan mengadakan pemeriksaan disalah satu rumah kayu, tiba2 dibuka pintunya, tangannya bergerak. Dari dalam rumah itu menyeret keluar tubuhnya seseorang, kemudian diletakkan ditanah.

Dibawah sinar matahari, tampak nyata orang itu badannya kurus kering, matanya tertutup rapat, rupanya sudah hampir mati.

Yang mengherankan ialah: orang itu setelah ditarik keluar, kedua tangannya bergerak-gerak seperti bukan maunya sendiri, agaknya hendak balik kedalam rumah. Napasnya lemah, namun masih berusaha hendak merayap bangun.

Gadis itu bertindak kelain rumah, kembali mengeluarkan orang dari dalamnya yang serupa keadaannya.

Empat laki2 berbaju hitam itu mendadak bergerak dengan serentak, menekan dua orang yang baru dikeluarkan dari dalam rumah kayu.

Gadis itu meng-amat2i wajah dua orang kurus kering itu sejenak, kemudian berkata: “Tidak salah! Bawa pergi.”

Empat laki2 berbaju hitam itu segera menggotong pergi dua orang kurus kering itu.

Siang-koan Kie menyaksikan semua kejadian itu dengan hati bergidik, pikirnya diam2: “Orang2 yang dikurung dalam rumah petak kayu ini, tidak diberi makan dan minum, juga tidak mau pergi. Meskipun badannya habis sehingga tinggal kulit membusuk tulang, ternyata tidak mati. Apakah orang2 itu lebih dulu diberi makan obat, baru dimasukan dalam rumah ini?”

Meskipun ia tidak tahu apa sebabnya orang2 yang dikurung dalam rumah itu tidak mau lari, tetapi karena sudah disaksikannya, bagaimana bisa tinggal diam? Darah mudanya mendidih, ia bangkit seketika. Dua kacung dan Sek Bok taysu karena tidak melihat apa yang telah terjadi diluar, tetapi ketika menampak Siang-koan Kie berdiri, mereka juga segera berdiri.

Selama beberapa hari berada bersama-sama, Sek bok taysu sudah tidak mengandung permusuhan terhadap Siang-koan Kie. Ia berjalan menghampiri dan menanya dengan suara pelahan: “Apakah orang itu tadi sudah pergi?”

“Sudah, tetapi aku akan menghancurkan semua rumah kayu ini!” jawabnya Siang-koan Kie dengan bernapsu.

Thio Hong terkejut mendengar jawaban tanyanya: “Kenapa?”

“Terlalu kejam....” jawab Siang-koan Kie, lalu menceritakan apa yang telah disaksikannya tadi.

Sek Bok taysu menghela napas kemudian berkata: “Kalau kau menghancurkan rumah ini satu persatu, mungkin juga menghancurkan jiwa penghuninya. Menurut pikiran pinceng, dalam rumah ini mungkin ada semacam racun aneh. Semua orang yang berada didalam rumah ini, setelah melalui beberapa waktu, akan terkena racun yang tidak tertampak itu, hingga orang2 itu lebih suka berada di dalam rumah, tidak merasakan lapar, sudah tentu tidak memikirkan untuk lari.”

“Entah racun apa yang mempunyai pengaruh demikian jahat?” bertanya Siang-koan Kie.

“Tentang ini sebelum pinceng mendapatkan keterangan pasti, tidak berani menentukan.”

“Saudara Siang-koan Kie berjiwa luhur dan mempunyai rasa cinta kasih terhadap sesamanya. Untuk menolong orang2 yang bernasib malang ini, memang sudah seharusnya, tetapi keadaan kita sendiri pada dewasa ini, sebetulnya kurang tepat apabila melakukan sesuatu tindakan diluar tugas kita karena ini berarti mengeprak rumput, membuat kaget ular. Lagi pula orang2 ini terkurung dalam rumah ini, entah sudah berapa lama? Untuk menolong mereka, rasanya belum perlu kita bertindak tergesa gesa.” Berkata Thio Hong.

Siang-koan Kie karena menuruti hawa napsu, telah melupakan tugasnya. Setelah mendengar perkataa Thio Hong, lalu berkata sambil menganggukkan kepala: “Kalau tidak sabar dalam perkara kecil, memang dapat merusak rencana besar. Saudara2 harap sembunyikan diri dulu ditempat ini. Aku ingin melihat keadaan orang2 yang terkurung dalam rumah itu.”

Ia berhenti sejenak, “andaikata terjadi apa2 atas diriku, saudara2 tidak perlu unjukkan diri untuk memberi bantuan, karena itu berarti akan menunjukkan tempat sembunyi kita.”

Setelah berpesan demikian, ia berjalan dengan tindakan lebar menuju kerumah papan. Ia ingat bahwa gadis baju merah tadi ketika mendekati rumah itu, telah berjongkok. Maka ia juga berbuat demikian dan memperhatikan keadaan disitu. Benar saja dibagian bawah papan pintu terdapat tulisan: Kang-han Pan-giok-siang, lima huruf kecil.

Siang koan Kie mendadak ingat semua kejadian ketika ia menyaru orang dari golongan pengemis yang masuk kegedung keluarga Pan, tak disangka bahwa orang tua yang menimbulkan kegemparan itu kini masih hidup.

Tiba2 ia merasakan hawa aneh timbul dari papan pintu. Hawa aneh itu menimbulkan perasaan padanya ingin memasuki rumah itu. Untung ia sadar dengan cepat, hingga buru2 geser kakinya, menghindarkan bau itu. Baru saja ia mundur, orang tinggi berbaju hitam itu mendadak muncul.

Orang itu menggapai pada Siang-koan Kie dengan berdiri tegak ditempatnya.

Siang-koan Kie yang mengetahui siapa adanya orang mistirius itu, dengan cepat menghampiri. Ia menduga bahwa tempat dimana orang aneh itu berdiri, agak jauh dari tempat sembunyi dua kacung dan Sek Bok taysu, hingga tidak khawatir dilihat oleh mereka. Setelah berhadapan dengan orang aneh itu, ia segera menegur: “Siapakah tuan?”

Orang aneh itu agaknya tidak menduga akan ditegur demikian, sejenak nampak terkejut, tetapi dengan cepat ia menjawab dengan suara dingin: “Saat ini belum tiba waktunya untuk aku memperlihatkan wajah asliku”

Siang-koan Kie sudah bertekad hendak membuka kedok orang aneh itu. Maka selagi orang itu menjawab pertanyaannya, dengan menggunakan ilmu Kin-na-chiu-hoat, tangannya menyambar pergelangan tangan orang itu.

Orang itu tak menduga dirinya hendak ditangkap hampir tersambar tangannya oleh Siang-koan Kie.

Tetapi ia ternyata sangat gesit, tangannya dibalikkan. Dua jari tangannya balas menotok tangan Siang-koan Kie.

Gerakan yang dilakukan secara cepat dan aneh itu, bukan saja membebaskan dirinya dari bahaya tetapi Siang-koan Kie juga terpaksa lompat mundur.

Tetapi dengan perbuatannya orang itu, juga sudah menunjukkan dirinya. Siang-koan Kie sudah melihat jari tangan yang putih halus itu, ternyata jari tangannya seorang wanita, maka seketika itu juga ia segera memberi hormat seraya berkata: “Kau bukankah nona Nie. ”

Orang itu tidak menyangkal, ia menjawab sambil bersenyum: “Benar, dugaanmu jitu. Tetapi saat ini aku masih belum boleh unjukkan muka kepada kalian, sebaiknya kau juga merahasiakan diriku kepada mereka.”

“Ini aku mengerti, tetapi entah kenapa kita boleh masuk kegedung Kun-liong Ong?”

“Sekarang aku beritahukan kepadamu, bahwa tempat banyak rumput dimana kalian sembunyikan diri, kira2 lima atau tujuh tombak sebelah barat, aku sudah sediakan empat setel pakaian dan barang-barang keperluan lainnya. Lekas kalian ganti pakaian, kemudian keluar dari rimba bambu ini, berlakulah setenang mungkin, masuklah kegedung Kun liong Ong.”

“Diwaktu tengah hari ini?”

“Ya, hari ini meraka sebahagian besar pada beristirahat. Menurut kebiasaan dalam istana setiap hari ini, mereka mengadakan pesta2 dan beristirahat. Maka paling mudah menyusup, tetapi juga terlalu gegabah”

“Baiklah, aku akan ingat baik2”

“Lekas ganti pakaian, aku akan menjaga disini.”

Siang koan Kie menurut, ia balik dan ajak dua kacung serta Sek Bok taysu pergi ketempat yang ditunjuk, dan benar saja disitu terdapat empat setel pakaian.

Empat orang itu setelah ganti pakaian, dengan cepat meninggalkan rimba itu, pelahan2 menuju kegedung Kun-liong Ong.

Pakaian yang mereka pakai itu justru pakaian yang biasa dipakai oleh pasukan pengawal istana, maka sepanjang jalan meskipun berpapasan dengan banyak orang, bukan saja tidak ada yang menegur, orang2 dari istana Kun-liong Ong itu bahkan berlaku menghormat terhadap mereka.

Thio Hong berkata dengan suara perlahan: “Pakaian yang kita pakai ini, agaknya pakaiannya orang yang tidak rendah jabatannya.”

“Kalau kita sudah berada dalam istana, barang kali tidak mendapat perlakuan seperti ini lagi. Apabila kita tidak bisa berkumpul jadi satu, bagaimana baiknya?” berkata Siang-koan Kie.

“Kita menetapkan suatu tanda rahasia untuk mengadakan perhubungan.” Berkata Sek Bok taysu, “Siaotee juga berpikir demikian, tetapi tanda rahasia kha ini, harus ditetapkan oleh masing2 sendiri, tidak boleh menggunakan tanda rahasia golongan Siao-lim-sie atau golongan pengemis, supaja jangan diketahui oleh musuh.” Berkata Siang-koan Kie.

“Benar.” Berkata Sek Bok taysu.

“Aku sudah mendapatkan beberapa rupa, tetapi entah dapat digunakan atau tidak?”

Saat itu, gedung megah kediaman Kun-liong Ong sudah tertampak dengan nyata, mereka berdiri di tempat kira2 duapuluh tombak saja dari gedung itu.

Empat orang itu memperlambat jalannya, Sek Bok taysu yang berjalan lebih dulu, karena ia bertubuh tinggi besar, hingga dapat mengalingi Siang koan Kie.

Dalam kesempatan itu Siang-koan Kie memberi tahukan kepada mereka tanda rahasia penghubung yang akan digunakan oleh mereka.

Tiba didepan pintu gedung, Siang-koan Kie berjalan mendahului kawan2nya.

Hendak memasuki gedung megah itu harus melalui pintu besar bertingkat tujuh, dikedua sisi pintu ada enambelas orang berpakaian hitam yang berdiri menjaga. Delapan tersenjata golok, delapan bersenjata tombak panjang.

Tatkala Siang-koan Kie menginjak tangga terakhir, empat tombak tiba2 menikam dirinya.

Dua kacung terkejut, selagi hendak maju memberi pertolongan, empat tembak tiba2 ditarik kembali.

Siang-koan Kie merasa bersukur bahwa ia masih dapat mengendalikan perasaannya apabila ia tadi menangkis atau melawan serangan itu, barangkali akan terbuka kedoknya. Sementara itu, enambelas orang berbaju hitam itu mengawasi padanya dengan sikap menyeramkan se olah2 tidak mempunyai perasaan.

Siang-koan Kie lalu mengerti bahwa orang2 itu meskipun berkepandaian tinggi, tetapi semua sudah dikendalikan pikirannya oleh pengaruh obat, hingga sulit untuk membedakan orang yang datang itu kawan ataukah lawan.

Yang menyulitkan Siang-koan Kie pada waktu itu, ialah dengan cara bagaimana supaya orang2 itu benar2 tidak akan merintangi tindakannya.

Meskipun hatinya cemas, tetapi sikapnya tetap tenang, sambi bersenyum ia berjalan lambat2 masuk kedalam.

Benar saja kekuatiran yang dipikir oleh Siang-koan Kie telah terbukti.

Orang2 itu dengan mendadak menggerakkan goloknya dan menyerang padanya.

Siang-koan Kie sudah siap sedia, apabila perlu ia harus turun tangan.

Tetapi serangan yang dilakukan secara mendadak itu, selagi hendak menyentuh dirinya, tiba2 ditarik kembali.

Seorang yang berada diujung kiri, tiba2 mengulurkan tangannya.

Siang-koan Kie mendadak ingat perak pemberian Nie Soat Kiao, ia segera mengeluarkan benda itu dan disodorkan kepada orang berbaju hitam itu

Orang itu setelah menyambuti plat perak itu, mengawasi sejenak kepada empat orang.

Siang-koan Kie mempercepat langkahnya, masuki kedalam istana.

Dua kacung dan Sek Bok Taysu mengikuti dibelakangnya. Berada didalam gedung, pemandangan nampak berubah. Tanaman bunga beraneka warna, memenuhi taman dihalaman gedung yang sangat luas.

Siang-koan Kie tidak mendapat keterangan dari Nie Soat Kiao, bagaimana harus bertindak setelah berada didalam. Ia hanya mengandal ingatan dari keterangan yang dipetakan tentang keadaan dalam gedung, terus berjalan menuja kebelakang.

Ia mengharap lekas menemukan kamar tempat racun yang digunakan untuk mengendalikan anak buah Kun-liong Ong, dan berusaha untuk mendapatkan caranya memunahkan racun itu. Asal usaha itu berhasil, racun yang mempunyai pengaruh muzijat itu segera dapat dimusnahkan.

Melalui halaman muka yang luas, tibalah disuatu tempat simpang tiga.

Tiga buah pintu berbentuk bundar yang berada ditengah, kanan dan kiri, menghalang depan mereka

Bentuk pintu itu serupa satu sama lain, hingga untuk sesaat Siang-koan Kie dan kawau2nya menjadi bingung.

Sek Bok taysu setelah berpikir, majukan usul pada Siang- koan Kie: “Kita masing2 memasuki sebuah pintu, sebelum matahari terbenam, kita bertemu lagi ditempat ini, siecu pikir bagaimana?”

“Usul taysu baik sekali.” Berkata Thio Hong.

Meskipun Siang koan Kie merasa bahwa dengan cara demikian berarti bahwa kekuatan mereka di-pencar-pencar dan agak berbahaya, tetapi ia juga tidak mau mengunjukan kelemahannya, maka setelah berpikir sejenak, lalu berkata: “Baiklah! Taysu berjalan dikiri, saudara Thio dan saudara Lie masuk dipintu kanan, siaotee sendiri masuk pintu tengah. Sebelum subuh kita bertemu disini.” Sek Bok taysu terima baik pembagian tugas itu, ia berjalan lebih dulu memasuki pintu sebelah kiri. Kemudian muncul Thio Hong dan Lie Sun yang berjalan menuju kepintu kanan.

Setelah mereka bertiga sudah tidak kelihatan, Siang-koan Kie baru masuk kepintu tengah.

Dibalik pintu itu kembali merupakan Suatu taman bunga dan bangunan yang indah bentuknya, tetapi keadaannya sepi sunyi.

Setelah melalui dua lapis taman bunga, tiba2 terdengar suara wanita bercakap-cakap dengan suara merdu.

Empat wanita berpakaian pelajan istana berjalan kearahnya sambil bercakap-cakap dan tertawa tawa, Siang-koan Kie hendak menyingkir, tetapi sudah tidak keburu.

Wanita yang berjalan paling depan tiba2 menggapai padanya sambil berkata: “Hei! Kau kemari!”

Siang-koan Kie diam2 mengeluh tetapi ia terpaksa maju menghampiri, tiba kira2 empat lima kali didepan wanita itu ia berhenti dan menanya: “Nona2 ada keperluan apa?”

Wanita itu mengamat-amati Siang-koan Kie sejenak, tiba2 berseru: “Bagus! Nyalimu sungguh besar, kau berani sem barangan masuk kedalam taman istana”

Siang-koan Kie tidak tahu bagaimana harus menjawab, untuk sesaat ia berdiri bingung.

“Tahukah, kau apa hukumannya orang yang berani lancang masuk ketaman istana?” berkata pula wanita itu.

Siang koan Kie matanya berputaran, kecuali empat wanita itu, sudah tidak ada orang lain lagi. Maka lantas berpikir: “kalau aku bertindak cepat, mungkin dapat menotok jalan darah mereka, tetapi dengan hilangnya mereka secara mendadak mungkin juga bisa menimbulkan kericuhan. Dengan susah payah aku sudah masuk kemari, sebelum berhasil mendapatkan kabar apa2, bagaimana harus menempuh bahaya?”

Beberapa kali pikirannya bekerja akhirnya berkata: “Baru pertama ini hamba masuk keistana, hingga tidak tahu aturan dalam istana, harap enci2 sekalian suka maafkan.”

Wanita yang berjalan paling depan itu berpaling mengawasi tiga kawannya sejenak, lalu berkata sambil bersenyum: “Enak sekali kau bicara! Hm! Orang baru sudah berani lancang masuk kedalam istana, apa kau sudah bosan hidup?”

Dengan menahan hawa amarahnya, Siang-koan Kie menyahut sambil tertawa, “Hamba hanya tertarik oleh pemandangan dalam taman ini, sehingga kesasar jalan dan tidak tahu sudah masuk ketempat terlarang, harap enci maafkan, sekarang juga hamba hendak undurkan diri.”

Benar saja, ia lantas memutar badannya dan berjalan keluar.

“Tunggu dulu!” demikian ia dengar suara menahan, dua wanita sudah berada dihadapannya.

Menyaksikan kegesitan dua wanita itu, Siang-koan Kie diam2 juga terperanjat. Pikirnya: “untung aku tadi tidak sembarangan bertindak, ditilik dari gerakan mereka, rasanya tidak mudah ditundukkan”

Dua wanita itu menegur dengan berbareng: “Dengan cara bagaimana kau bisa masuk kemari?”

“Aku masuk dari pintu bundar itu.”

Dua wanita itu saling berpandangan sejenak, lalu bersenyum dan berkata: “Apa tidak ada orang merintangi?”

Melihat sikap dan kelakuan empat wanita itu, ternyata jauh berlainan dengan orang2 Kun-liong Ong yang sudah diberi makan obat. Wanita2 itu nampaknya lincah pikirannya tidak terpengaruh oleh obat. “Tidak ada orang yang merintangi aku.” Jawabnya dingin.

Seorang diantara mereka berkata sambil tertawa: “Enci2 apakah sudah lupa hari ini hari apa?”

“Oh iya, hari ini adalah hari peringatan berdirinya istana ini, hari gembira satu2nya bagi mereka setiap tahun, kalau begitu kita tidak boleh salahkan mereka.”

Siang-koan Kie diam2 berpikir: “Nie Soat Kiao memilih hari ini suruh kita masuk keistana, sungguh bagus perhitungannya. Pantas Teng toako berani mengusulkan dia sebagai penggantinya, kepintarannya memang benar2 luar biasa”

Wanita itu berkata pula: “Hei! Dengan secara lancang kau masuk kedalam istana, kau tidak kepergok oleh penjaganya2 hitung2 peruntunganmu yang bagus. Lekas keluar. Apakah kau menunggu sampai tertangkap oleh penjaga dan bersedia dikorek biji matamu, dipotong pahamu?”

Siang-koan Kie pura2 berlaku kaget, katanya: “Terima kasih atas peringatan enci2.”

Baru saja ia hendak berlalu, terdengar pula suara perempian yang minta ia berhenti.

Siang-koan Kie terpaksa menurut, ia berhenti dan berkata kepada wanita itu sambil memberi hormat: “Enci masih ada keperluan apa?”

Wanita yang berdiri disebelah kanan berkata: “Sekarang ini adalah waktunya penjaga keraton meronda, kalau kau lari selanang selonong, pasti akan tertangkap oleh mereka.”

“Hamba orang baru, dengan tidak disengaja telah kesasar masuk kemari, harap enci2 suka memberikan petunjuk bagaimana baiknya, hamba disini terlebih dahulu mengucapkan banyak terima kasih”

Wanita yang berdiri paling belakang berkata: “Orang ini juga patut dikasihani, mari kita tolong padanya.” Wanita yang berada paling depan berkata sambil menganggukkan kepala: “Mereka sudah akan tiba, kalau pergi sudah tidak tertolong lagi, lekas kau sembunyi kedalam gerombolan pohon bunga itu.”

Tidak jauh dari situ, memang benar ada gerombolan pohon bunga yang sangat lebat, baik sekali untuk tempat sembunyi, maka ia buru2 lari ke-tempat itu untuk sembunyikan diri.

Empat wanita itu kasak kusuk sendiri, undurkan diri kepinggir jalan, kembali ber-cakap2 dan bersenda gurau dengan riang gembira.

Dari tempat sembunyinya Siang-koan Kie masih dapat melihat keadaan diluar. Saat itu tampak serombongan laki2 berpakaian perlente berjalan mendatangi.

Rombongan laki2 itu cepat sekali sudah berada ditempat empat wanita itu berdiri.

Mendadak terdengar suara anjing menyalak, hingga rombongan laki2 itu berhenti dengan tiba2. Siang-koan Kie terkejut, ia tidak sangka rombongan peronda itu ada membawa anjing buru. Karena khawatir akan kepergok, maka ia telah siap sedia untuk segala kemungkinan. Telinganya tiba2 mendengar suara serak: “Nona2 apakah melihat ada orang asing datang kemari?”

Orang itu suaranya masih jelas, agaknya belum makan obat Kun-liong Ong.

Kini terdengar suara jawaban empat wanita itu: “Tidak lihat.”

Terdengar pula suara serak: “Dua binatang anjing ini sudah terlatih baik, apabila tidak mengendus hawa orang asing, tidak menyalak demikian rupa. Nona2 tidak melihat, mungkin benar, tetapi ada orang asing menyelundup masuk, ini sudah pasti. Harap nona2 rnenyingkir dulu, kita hendak mengadakan pemeriksaan disini.” Siang-koan Kie yang berada diternpat sembunyinya, diam2 merasa cemas. Ia harus memikirkan bagaimana untuk menggagalkan usaha mereka.

Ditempat tersembunyi, kira2 terpisah beberapa puluh tombak, ada sebuah bangunan bertingkat, jendelanya terbuka, hanya tertutup oleh tirai.

Ia sudah memperhitungkan keadaannya, satu2nya tempat yang dapat digunakan untuk sembunyikan dirinya, adalah tempat itu, maka ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa. Secara diam2 meninggalkan tempat itu, dan lari menuju kebangunan tinggi.

Dibelakangnya terdengar suara aning menyalak tidak henti2nya.

Karena itu adalah satu2nya kesempatan untuk melarikan diri, sekalipun terlihat oleh orang2 itu juga tidak memperdulikan lagi.

Berada dibawah bangunan tinggi itu, ia segera lompat melesat kelobang jendela, ternyata tidak menimbulkan suara sedikiipun juga.

Bau harum semerbak menusuk hidungnya. Kamal darimana dia masuk ternyata adalah kamarnya kaum Hawa.

Karena keadaan mendesak, terpaksa ia sembunyikan diri di-tengah2 antara tirai jendela dan dinding tembok, tangannya tidak terlepas dari gagang belati pusakanya.

Seorang perempuan bersanggul tinggi dan berpakaian kuning, sedang duduk menghadapi kaca rias

Ketika memandang kearah itu, kagetnya bukan main, karena didalam cermin, tertampak bayangan sendiri.

Perempuan itu ternyata tenang sekali, dengan ringan membereskan rambut dikepalanya ia menegur tanpa menoleh: “Siapa?” Siang-koan Kie yang sudah kepergok jejaknya terpaksa bertindak keluar.

Meskipun diluarnya tenang2 saja, tetapi diam2 sudah mengerahkan kekuatan tangannya, asal perempuan itu bergerak atau berteriak, segera diserangnya.

Perempuan itu lambat2 berpaling memandang Siang-koan Kie sejenak, mendadak bersenyum.

Perempuan itu meskipun sudah setengah tua, tetapi kecantikannya belum lenyap, tertawanya masih cukup menggiurkan hati lelaki.

Siang-koan Kie sesungguhnya tidak menduga bahwa perempuan itu bukan saja tidak terkejut atau menegur, bahkan tersenyum terhadapnya, hingga untuk sesaat ia tertegun dan merandek.

Adalah perempuan itu yang membuka mulut lagi berkata padanya: “Lekas tutup daun jendela dan pasang palang pintunya”

Siang-koan Kie terperanjat, tetapi ia menurut apa yang diminta oleh perempuan itu, kemudian berkata sambil memberi hormat: “Aku yang rendah sedang menghindarkan diri dari pengejaran orang, sehingga kesasar masuk dalam kamar nyonya, harap supaya nyonya sudi memaafkan.”

Perempuan itu per-lahan2 bangkit dan berkata: “Nyalimu sungguh besar, kau berani memasuki istana, tahukah kau apa hukumannya apabila tertangkap oleh mereka?”

“Paling banter korban satu nyawa, manusia hidup didalam dunia, toh tidak luput dari kematian. Soal kematian sudah tidak kuanggap apa2 lagi”.

Perempuan itu agaknya tidak menduga akan mendapat jawaban demikian tegas dan berani. Untuk sesaat ia tertegun, kemudian berkata: “Apakah kau orang baru dalam istana ini?” Siang-koan Kie diam2 berpikir: “karena aku sedang dikejar keras, sebaiknya aku mengobrol disini dengannya, perempuan ini agaknya ada pengaruh juga”

Karena berpikir demikian, maka ia lalu menyahut: “Dugaan nyonya tidak salah, aku memang baru saja dipindahkan kemari.”

Perempuan itu agaknya ingat sesuatu, sepasang matanya terbuka lebar, dengan sinar tajam ia menatap wajah Siang- koan Kie, kemudian menanya dengan suara dingin: “Kau sebetulnya siapa? Lekas jawab dengan sejujurnya. ”

Siang-koan Kie yang sudah pikir masak2, tersenyum hambar, kemudian berkata: “Nyonya tidak usah banyak curiga, aku telah mendapat kemurahan hati Ong-ya, hingga tidak diberi makan obat.”

Wajah perempuan itu mendadak berubah, ia maju menghampiri, kemudian berlutut dihadapan Siang-koan Kie seraya berkata: “Hamba mendoakan keselamatan Ong-ya.”

Siang-koan Kie bingung mendengar perkataan itu, tetapi bibirnya tersenyum dan kemudian berkata sambil tertawa: “Nyonya tidak perlu banyak peradatan, lekas bangun”.

“Nanti kalau ketemu Ong-ya lagi, tolong sampaikan hormat hamba.”

“Sudah tentu, nyonya jangan khawatir.” Demikian jawabnya, meskipun dalam hati merasa geli.

Perempuan itu pelahan2 bangkit, perasaan tegangnya lenyap seketika, dan kini ramai lagi dengan senyumnya yang menggiurkan, katanya: “Kapan Ong-ya akan pulang?”

Kembali Siang-koan Kie dibingungkan oleh pertanyaan itu, karena ia sendiri juga tidak tahu dimana adanya Kun-liong Ong sekarang. Namun demikian, ia terpaksa menjawab sembarangan: “Kalau esok lusa tidak pulang, mungkin dua atau tiga hari lagi pasti pulang.” Perempuan itu mempersilahkan Siang-koan Kie duduk, kemudian berkata: “Tuan utusan datang dari jauh, harap duduk dulu.”

“Aku tidak letih, nyonya tidak usah merendah.” Menjawab Siang-koan Kie sambil menggoyang2kan tangannya.

“Apakah tuan tadi pernah datang kekamar lainnya?” “Tidak! Begitu pulang aku lantas datang kemari?” “Terima kasih atas perhatianmu.”

“Terima kasih kembali.”

Dalam hati Siang-koan Kie heran, ia tidak dapat meraba maksud yang terkandung dalam hati nyonya itu.

Perempuan itu berkata pula: “Sudah berapa lama tuan mengikuti didamping Ong-ya?”

Untuk menjawab pertanyaan itu, Siang-koan Kie harus berpikir masak2 lebih dulu, karena perempuan itu agaknya adalah satu selir tersayang Kun liong Ong, dengan sendirinya kenal banyak anak buahnya, apabila ia mengatakan orang baru, barangkali tidak dapat mengelabui matanya. Maka setelah berpikir agak lama. Akhirnya berkata: “Belum cukup dua bulan.”

“Oh, kalau begitu, tentunya orang kepercayaan baru Ong- ya. Apakah kau juga kenal dengan tuan Teng didamping Ong- ya itu?”

“Kita berkenalan belum lama.” Demikian Siang-koan Kie menjawab sekenanya.

Perempuan itu berjalan mendekati, orangnya belum sampai, bau harum bedak sudah menusuk hidung Siang-koan Kie.

Perempuan itu karena melihat Siang-koan Kii yang lunak dan menarik hati, tingkah lakunya bertambah berani, ia berada dekat  sekali  dengan Siang  koan Kie  dan menanya sambil menundukkan kepala, “Engko kecil, siapa namamu?”

Hati Siang-koan Kie berdebaran keras, karena iai sekarang sudah mengerti apa maksud dan tujuan perempuan itu....

-oodwoo-

99

PEREMPUAN itu lama tidak mendapat jawaban Siang-koan Kie, bertanya pula: “Kau sedang memikirkan apa?"

Siang-koan Kie tidak berani memandang muka perempuan itu, ia pelan2 bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kedepan jendela, matanya ditujukan keluar.

Beberapa laki2 berpakaian hitam dengan senjata ditangan, sedang mengadakan pemeriksaan dalam taman bunga.

Seorang tinggi kurus, dengan tangan memegang rantai yang mengikat, dileher seekor anjing bulu putih, tengah berbicara dengan empat wanita, sambil berjalan menuju keloteng dimana ia berada.

Hati Siang-koan Kie merasa cemas, karena apabila anjing itu dapat mencium au orang asing, sudah tentu dapat menemukan jejaknya. Dengan demikian, pertempuran sengit pasti tidak akan dapat dihindarkan lagi. Meskipun ia tidak takut, tetapi itu berarti me nyia2kan maksud tujuannya memasuki gedung Kun-liong Ong....

Selagi berpikir bagaimana harus menghadapi soal itu, satu tangan halus tiba2 merasa diletakkan diatas pundaknya, bau harum menusuk hidungnya.

Ia berpaling, perempuan baju kuning tadi menatap wajahnya dengan senyum manis, sikapnya jelas menunjukkan kegenitan, lima jari tangannya yang berada diatas pundaknya, menekan semakin keras. Siang-koan Kie diam2 terkejut, ia mengerahkan kekuatan tenaganya, untuk menutup semua jalan darahnya, ber-jaga2 apabila perempuan itu turun tangan jahat.

Perempuan itu mendadak menarik kembali tangannya, dan berkata sambil bersenyum: “Adik kecil, kau rupanya terlalu banyak curiga!"

Belum lagi Siang-koan Kie menjawab, tiba2 terdengar suara serak: “Pengawal dalam istana Ciauw 'ljiong disini, ada urusan penting hendak melaporkan kepada Hong Ho."

Senyum dibibir perempuan itu lenyap seketika, dengan sikap dingin memandang Siang-koan Kie sejenak, kemudian berjalan pelan2 kedekat jendela, daun jendela ditolak dan kepalanya melongok kebawah.

Siang-koan Kie dengan cepat bertindak, jari tangannya menekan jalan darah 'Beng-bun-hiat' di belakang punggung perempuan itu, katanya dengan suara perlahan: “Kalau nyonya ingin mati, asal aku menekan jari tanganku, dengan segera dapat mematahkan urat nadimu."

Perempuan itu tertawa ter-kekeh2, hingga Siang-koan Kie merasa heran sendiri. Kalau ia mau, dengan satu tekanan saja sudah cukup untuk membinasakan jiwa perempuan itu, tetapi dengan demikian, itu berarti menunjukkan jejaknya sendiri....

Selagi berpikir, perempuan itu mendadak berkata: ”Apakah dibawah sana komandan Ciauw?"

“Hamba Ciauw Ciong." demikian terdengar suara jawaban serak.

“Ada keperluan apa kau datang kemari?"

“Kalau tidak ada urusan sudah tentu tidak berani menggangu Hong Ho... Tadi ketika hamba meronda didalam istana, telah melihat ada orang menyusup kedalam, jejak orang itu sudah diketahui oleh anjing peliharaan kita hingga kita kejar sampai kemari. " “Kalau begitu, jadi kalian mengira aku sudah sembunyikan dia?"

“Buat menduga demikian hamba tidak berani, tetapi binatang kita yang mempunyai daya mencium bau luar biasa, bukanlah binatang anjing biasa, anjing kita ini ketika tiba di tempat ini, telah berhenti dengan mendadak "

“Dan oleh karena itu, hingga kalian curiga kepadaku?" “Maksud hamba khawatir kalau Hong Ho tidak tahu, atau

orang itu sudah masuk ketempat Hong Ho diluar tahu Hong Ho sendiri. "

“Menurut pikiranmu bagaimana?"

“Hamba ingin naik keatas untuk mengadakan pemeriksaan" “Bagus sekali! Jadi kau tidak percaya dengan

keteranganku?"

“Tentang ini hamba tidak berani, tetapi hamba ada bertugas dalam keamanan dalam istana, tidak berani melalaikan tugas yang diberikan oleh Ong-ya, harap Hong Ho memaafkan."

“Kalau begitu, kau sudah bertekad hendak melakukan pemeriksaan?"

“Tugas dan kewajiban telah memaksa hamba berbuat demikian, sekalipun Hong Ho menganggap bahwa perbuatan hamba itu tidak benar, hamba juga terpaksa menerima hukuman Hong Ho."

Sampai disitu, pembcaraan itu telah berhenti.

Perempuan itu pelan2 berpaling, menutup pintu jendela, matanya menatap Wajah Siang-koan Kie, sikapnya yang genit lenyap seketika, katanya lambat-lambat: “Kau sebetulnya siapa?" Siang-koan Kie pelan2 menarik kembali jari tangan yang diletakkan dijalan darah belakang punggung perempuan itu jawabnya: “Aku bukan orangnya Kun-liong Ong!"

“Akhirnya toh kau bicara teras terang juga” berkata perempuan itu dengan serius.

“Aku sudah ketelanjur masuk kemari, terpaksa akan menyulitkan kau sedikit. Aku ingin pinjam kamarmu ini, hendak kugunakan sebagai medan pertempuran untuk membasmi orang2 yang mengejar aku itu"

Dengan sikap tenang luar biasa perempuan itu berkata: “Bagaimana? Apa kau ingin membunuh aku lebih dulu?"

“Kalau aku bermaksud demikian, itu berarti tidak ada bedanya dengan Kun-liong Ong. " menjawab Siang-koan Kie,

sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula: “Tetapi urusan sudah sampai disini, terpaksa aku akan menotok jalan darahmu lebih dulu. Setelah orang2 itu habis kubasmi, aku nanti akan membebaskan kau berlalu dari sini!"

Perempuan itu tertawa dingin, kemudian berkata: “Dibawah pengejaran orang2 Kun-liong Ong, siapa yang masin bisa lolos dalam keadaan hidup? Pikiranmu ini sesungguhnya terlalu kekanak-kanakan!"

“Apa? Apakah kau juga sudah diberi makan obat oleh Kun- liong Ong?"

“Kun-liong Ong tidak akan memperlakukan selirnya seperti anak buahnya, yang harus diberi makan obat, supaya mematuhi segala perintahnya. Coba kau pikir sendiri, orang2 yang diberi makan obat olehnya, bagaimana jadinya? Kalau hal itu digunakan kepada orang perempuan, sekalipun mempunyai kecantikan luar biasa, juga tidak ada bedanya dengan lilin yang tidak ada rasanya”

Siang-koan Kie melongo, katanya: “Kalau begitu, kau rela menjadi selirnya?" “Penghidupan dalam istana, seolah-olah burung dalam sangkar emas. Sekalipun diuruk dengan makanan enak dan pakaian mewah apa artinya? Siapakah yang tidak ingin kebebasan?"

“Mengapa kau tidak kabur?" “Aku tidak dapat kabur"

“Apakah lantaran penjagaan dalam istana terlalu kuat, sehingga kau tidak dapat kabur?"

“Meskipun penjagaan sangat kuat, tetapi itu bukan berarti sudah tidak ada kesempatan untuk kabur. Kau bisa menyusup kemari, apakah kau juga tidak bisa keluar?''

“Kalau kau benar2 tidak makan obatnya, juga tidak takut penjagaan keras, mengapa tidak lari?"

Perempuan itu mendadak mengangkat tinggi gaunnya yang panjang, sehingga sepasang kaki dan pahanya yang putih tertampak nyata, katanya: “Adik kecil, kau lihatlah sendiri dengan seksama."

Ketika perempuan itu tadi mengangkat gaunnya, ia melengos. Tetapi setelah mendengar ucapan itu, ia berpaling lagi, dan setelah melihat keadaan perempuan itu, darahnya meluap seketika.

Sepasang kaki putih halus perempuan itu, ternyata terikat oleh seutas rantai halus yang menyambung satu sama lain melalui tulang pipekutnya, dan ujung yang lain entah menyambung kemana.

Perempuan itu berkata dengan nada suara pilu: “Rantai ini meskipun kecil halus, tetapi kuat dan kokoh luar biasa, tidak mudah diputuskan oleh senjata tajam "

“Jadi, dengan rantai halus inikah kau dikeram dalam kamar ini?” “Bukan cuma aku saja, perempuan yang menjadi selirnya Kun-liong Ong, barangkah mengalami nasib sama denganku."

“Ini benar2 merupakan satu kekejaman yang aku belum pernah dengar. "

“Komandan Ciauw Ciong tadi adalah salah satu orang kepercayaan Kun-liong Ong. Meskipun aku sendiri adalah selir kesayangannya Kun-liong Ong tetapi juga tidak bisa mencegah ia untuk melakukan penggeledahan diatas loteng ini. Apabila ia menemukan jejakmu, kita sama2 akan binasa. Aku yang sudah hidup terkurung sekian lamanya, soal mati hidupku sudah kuanggap sepi, tetapi kau masih muda belia, harapan hari depanmu masih banyak, tidak seharusnya kau mengorbankan jiwa secara begini, lekaslah kau kabur!"

Siang koan Kie mendadak menghunus belati pusakanya, dengan satu gerakan saja, rantai halus di kaki perempuan itu sudah putus. Ia menyimpan lagi belatinya dan berkata: “Tidak perduli bagaimana kelakuanmu pada waktu yang lampau? Selanjutnya kau denganku kawan ataukah lawan, tetapi hanya bantuanmu kali ini, sudah seharusnya aku memutuskan rantai belenggumu ini. "

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara pintu digedor orang. Perempuan itu menggandeng tangan Siang-koan Kie,

dlajaknya sembunyi dibelakang kelambu, dan berkata dengan suara pelahan: “Terima kasih atas bantuanmu yang sudah membebaskan diriku, aku juga akan membalas budimu ini dengan kematian. Untuk sementara kau sembunyi baik2 aku akan persilahkan mereka masuk lebih dulu."

Setelah itu, dengan cepat ia lari menuju belakang pintu.

Pintu terbuka, dari luar nampak masuk seorang laki2 kurus tinggi. Dengan sikapnya yang menggairahkan perempuan itu berkata sambil tertawa: “Apakah komandan Ciauw tadi melihat ada mata-mata yang masuk kekamarku?"

“Tentang ini hamba memang tidak melihat, tetapi anjing buru itu telah mengejar sampai kemari, terpaksa hamba mengadakan pemeriksaan disini!"

“Tahukah kau mengapa kau menyebut aku Hong Ho?" “Heh, heh, hamba mendengar cerita pelayan2 istana yang

sudi gawe, katanya kau mempunyai daya penarik luar biasa, maka meskipun parasmu cuma lumayan saja, tetapi merupakan orang yang paling disayang oleh Ong-ya "

“Itu ada ucapan perempuan2 yang bukan2 saja, kau jangan percaya." berkata perempuan itu dengan sikapnya yang lebih menarik.

Ciauw Ciong mendadak pejamkan matanya, kemudian berkata sambil melengos: “Harap Hong Ho minggir kesamping, hamba akan melakukan penggeledahan."

Perempuan itu pelahan2 meletakkan jari tangannya dipergelangan tangan Ciauw Ciong, katanya dengan suara lemah lembut: “Tahukah kau kapan Ong-ya akan pulang?"

Ciauw Ciong yang mandah dipegang tangannya merasakan jari tangan yang halus itu seolah2 ada setromnya, mengalir menyusuri seluruh badarnya, hatinya bergoncang.

“Hamba tidak tahu." demikian jawabnya. “Aku kira dalam tiga atau lima hari belum tentu bisa pulang. lni, ini. "

“Kau telah memasuki kamarku, nanti kalau Ong-ya pulang dan kalau aku memberitahukan padanya bahwa kau telah menggoda aku, apakah dosamu?"

Sementara itu, jari tangannya mendadak mencekal kencang urat nadi Ciauw Ciong. Ciauw Ciong tidak menduga selagi dirayu sehingga semangatnya terbang me-layang2, perempuan itu mendadak bertindak mencekal pergelangan tangannya. Dalam kagetnya, pikirannya jernih kembali, kemudian dengan menggunakan sikutnya ia menyodok tulang rusuk perempuan itu.

Perempuan itu juga tidak menduga, komandan itu setelah urat nadinya dikuasai masin bisa menyerang dirinya. Karena tidak ber-jaga2, ketika tulang rusuknya diserang, wajahnya berubah seketika, badannya mundur tiga langkah.

Tetapi tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Ciauw Ciong.

Semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat dan tepat pada saat perempuan itu disodok tulang rusuknya, Siang koan Kie sudah lompat keluar menyerang komandan itu.

Ciauw Ciong cakup tangkas, meskipun pergelangan tangan dikuasai oleh perempuan itu tetapi ia masih dapat melawan dengan tangan kirinya.

Karena serangan Siang-koan Kie itu hampir menggunakan tenaga sepenuhnya, bagaimana Ciauw Ciong sanggup menyambuti serangannya? Maka tidak ampun lagi seketika juga dadanya seperti terpukul hebat, darah keluar dari mulutnya.

Siang-koan Kie khawatir ia berteriak minta tolong, dengan cepat menotok jalan darahnya.

Perempuan itu melepaskan tangannya, hingga Ciauw Ciong jatuh terkapar ditanah.

Siang-koan Kie menanya kepada perempuan itu dengan suara pelahan: “Apakah nyonya terluka?"

“Masih untung, hanya patah satu tulang rusuk saja." “Perlukah bantuanku?"

“Kalau kau mau, tolonglah sembuhkan!"' Siang-koan Kie terpaksa memeriksa luka perempuan itu. Benar saja patah satu tulang rusuknya. Maka dengan cepat disambungnya.

“Harap nyonya beristirahat sebentar. "

“Tak usah” jawabnya, “lekas kau pakai pakaian Ciauw Ciong."

Siang-koan Kie ragu2, tetapi kemudian ia menurut dan memakai pakaian Ciauw Ciong.

Perempuan itu berkata pula: “Menurut apa yang aku tahu, pengawal dalam istana, banyak yang berkepandaian tinggi. Kalau kau mengganti pakaianmu dengan pakaiannya, bisa berjalan dengan leluasa dalam daerah terlarang didalam istana. Asal kau tidak berjumpa dengan komandan pasukan yang lain, tiada orang yang akan merintangi kau lagi."

“Apakah pengawal2 yang mengikuti Ciauw Ciong tidak satupun yang mengenali komandannya?"

“Kun-liong Ong menganggap dirinya terlalu pintar, orang2 yang dijadikan pengawal itu semuanya diberi obat linglung, dengan demikian memang mereka mentaati perintahnya, tidak akan berubah untuk se-lama2nya. Tetapi obat itu juga memusnakan pikiran mereka untuk dapat membedakan kawan dan lawan, asal kau suruh mereka pergi dan ber laku sedikit hati2 sudah tentu tidak akan ketahuan.''

“Terima kasih atas bantuanmu, kini aku mohon diri." berkata Siang-koan Kie, dan setelah itu ia hendak berlalu.

“Tunggu dulu. ”

“Masih ada keperluan apa?”

Perempuan itu menghampiri dan berkata padanya sambil tertawa: “Pengawal dibawah loteng, semuanya sudah lama mengikuti Ciauw Ciong. Meskipun mereka sudah diberi makan obat linglung, tetapi karena lama bergaul, se-tidak2nya masih meninggalkan kesan sedikit, apalagi kau masih belum mengerti cara-caranya membubarkan mereka, kau tunggu sebentar, biarlah aku yang suruh mereka pergi."

Siang-koan Kie anggap bahwa ucapan nyonya itu memang benar, maka ia menurut.

Perempuan itu tersenyum, ia berjalan kejendela dan berkata kepada para pengawal: “Komandan Ciauw suruh kalian undurkan diri”

Para pengawal itu benar saja lantas undurkan diri sambil membawa anjing burunya.

Perempuan itu agaknya tidak menduga dengan demikian mudah sudah berhasil menyuruh pergi orang2 itu, hingga untuk sesaat lamanya ia berdiri tertegun.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan demikian, tanyanya dengan suara pelahan: “Bagaimana?"

“Sudah pergi. " jawabnya pelahan, “tidak kusangka istana

yang penjagaannya demikian keras, ternyata masih ada banyak lobangnya "

“Budi kebaikanmu hari ini yang sudah menolong diriku, aku akan ingat se-lama2nya. Dikemudian hari apabila ada jodoh, aku pasti akan membalasnya. Nyonya, aku mohon diri dan baik2lah menjaga dirimu."

Selagi hendak berlalu, tiba2 terdengar suara tindakan kaki. “Siapa?" menegur perempuan itu sambil mengerutkan

alisnya.

Dari luar terdengar jawaban seorang wanita: “Hamba Heng Wha. Atas perintah Thian Ho hamba datang kemari, ada urusan penting perlu hamba sampaikan”.

Perempuan itu berkata kepada Siang-koan Kie, “Lekas kau pergi, tidak perlu tahu urusanku” Siang-koan Kie menendang tubuh Ciauw Ciong kebawah pembaringan, kemudian ia sendiri sembunyikan diri dibelakang tirai, katanya: “Nyonya suruh dia masuk, apabila ia ada mengandung maksud jahat, aku nanti bantu nyonya menyingkirkan jiwanya."

Perempuan itu tampak ragu2, tetapi kemudian ia berjalan menuju kedinding tembok, tangannya bergerak, dinding itu mendadak terbuka satu lobang pintu.

Seorang perempuan muda berpakaian pelayan masuk sambil menundukkan kepala kemudian memberi hormat dihadapan perempuan baju kuning itu.

Perempuan baju kuning menanyakan maksud kedatangan pelayan wanita itu, lalu menutup kembali pintunya.

“Tadi Thian Ho menerima laporan dari berbagai pihak, bahwa dalam istana kemasukan beberapa mata2 musuh"

“Tentang ini, aku sendiri masih belum tahu."

“Thian Ho telah perintahkan hamba datang kemari untuk memberitahukan kepada Hong Ho harap supaya wasapada” berkata pelayan itu, matanya berputaran mengawasi keadaan dalam kamar.

“Sudah tahu...." jawabnya dingin, kemudian ”Kau melihat apa?"

pelayaan itu ternyata cerdik sekali, ia agaknya sudah mendapat tahu gelagat tidak beres, dengan mendadak bertindak ke pembaringan. Dari bawah pembaringan, ia menarik keluar tubuh Ciauw Ciong.

Perempuan yang disebut Hong-ho itu, karena mengetahui rahasianya telah terbuka, tiba2 membentak: “Budak, kau kurang ajar!"

Dengan cepat melakukan serangan.

Pelayan itu lompat menyingkir, tetapi ia tidak membalas. Siang-koan Kie dengan cepat lompat keluar dari tempat sembunyinya, menyerang pelayan itu.

Karena ia khawatir pelayan itu akan menggagalkan seluruh usahanya, maka ia melakukan serangannya dengan ganas, setiap serangannya ditujukan kearah jalan darah berbahaya.

Tetapi pelayan wanita itu ternyata sangat lincah, hal itu diluar dugaan Siang-koan Kie, apalagi setelah wanita itu berhasil mengelakkan setiap serangannya yang ganas.

Siang-koan Kie mempercepat serangannya, tiba2 mendengar suara halus: “Jangan bertempur lagi, lekas undurkan diri, urusan disini biarlah aku yang membereskan."

Suara itu jelas keluar dari mulut Nie Suat Kiao.

Siang-koan Kie juga menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga, katanya: “Hong Ho ini adalah seorang yang akan kembali dari jalan sesat. Kalau dapat digunakan, gunakanlah. Tetapi kalau tidak, biarkanlah ia melarikan diri”

Setelah itu, ia lompat keluar melalui jendela. Ia kini berada disuatu tempat yang indah tetapi agak aneh suasananya, dengan tiba2 ia dengar suara keresekan, Dari dalam gerombolan pohon bunga muncul empat laki2 berpakaian hitam, masing2 membawa senjata golok besar.

Siang-koan Kie yang sudah siap sedia, berjalan dengan tenang.

Empat laki2 itu memandang kepadanya sejenak, kemudian mundur kesamping dengan sikap menghormat.

Siang-koan Kie tahu bahwa itu adalah aturan dalam istana, karena ia tidak tahu bagaimana caranya membalas hormat, maka buru2 berlalu.

Melalui beberapa tikungan, ia melihat sebuah bangunan bertingkat yang dikitari oleh pagar besi, yang sangat menyolok bangunan itu adalah selurah dinding dan gentengnya dicat warna hitam. Pintu masuk terpancang sebuah papan yang tertulis dengan huruf besar:

“Siapa lancang masuk selangkah saja, akan dihukum cincang”

Tertarik oleh larangan itu, Siang-koan Kie mendekati pintu besi itu, ternyata mengandung warna biru. Suatu tanda bahwa besi itu dipoles dengan racun sangat berbisa.

Ia mau menduga bahwa bangunan itu tentunya tempat yang dinamakan kamar racun.

Selagi ia hendak melompat melalui dinding besi itu, sebuah anak panah tiba2 menyambar kearahnya

Gesit sekali ia menyambar anak panah itu dengan tangan kanannya.

Diluar dugaannya, anak panah itu ternyata demikian kuat, meskipun ia berhasil menyambarnya, tetapi karena kuatnya serangan, anak panah itu lolos dari tangannya dan meiuncur kedadanya, kalau ia tidak memakai rompi wasiat pemberian Nie Suat Kiao yang tidak mempan senjata tajam, badannya sudah tertembus oleh anak panah itu.

Sementara itu, sebatang anak panah kembali meluncur kearahnya.

Kali ini karena ia sudah siap sedia, maka dengan kekuatan tenaga penuh ia menyambuti anak panah itu, bahkan tanpa banyak pikir lagi, ia sudah melesat melompati pagar besi dan berjalan masuk kedalam bangunan misteri itu.

Pintu yang tertutup rapat itu dirantai dengan rantai besar. Menyaksikan itu, ia diam2 berpikir: “menurut keterangan Nie Suat Kiao, kamar racun kabarnya dijaga keras, tetapi kamar ini dikunci dari luar, mungkin hanya suatu tempat menyimpan barang saja. Tetapi karena tertarik oleh keadaan yang aneh bangunan itu, ia telah mengambil keputusan hendak melakukan penyelidikan.

Selagi tangannya hendak menarik rantai besi yang besar itu, tiba2 ingat bahwa rantai besi itu tentunya juga dipoles oleh racun berbisa, maka ia urungkan maksudnya, kemudian menggunakan belati pusakanya untuk memotong rantai besi itu.

Rantai besi itu dengan mudah dapat diputuskan tanpa ragu2 ia menggunakan belati pusakanya untuk membabat segala rintangan yang ada didalam rumah itu.

Dibalik pintu yang tertutup rapat itu ternyata masih terdapat tiga lapis pintu jeruji besi sebesar jeriji tangan, tetapi semua telah terpapas oleh belati pusaka yang tajamnya luar biasa itu.

la mencari siapa orangnya yang melepaskan anak panah itu. Semua pintu dan jendela bangunan, ternyata tertutup rapat, keadaan sunyi senyap.

Ruangan gelap gulita, hingga mata Siang-koan Kie tidak melihat apa-apa. Ia tidak berani melangkah masuk lagi, berdiri diam sambil mengatur pernapasannya.

Ia membuka mata, kali ini samar2 dapat lihat benda2 dalam ruangan itu.

Kamar itu ternyata dicat dengan warna hitam juga, karena semua bagian tertutup rapat, hingga keadaan menjadi gelap.

Meskipun Siang-koan Kie sudah menutup pernapasannya, tetapi ia masih dapat merasakan bahwa hawa dalam ruangan itu tidak lembab, mungkin diperlengkapi lobang hawa khusus untuk ruangan tersebut.

Dengan tiba2 dari satu sudut ruangan yang gelap itu terdengar suara berat dan dingin: “Siapa begitu berani kau masuk kerumah hitam ini? Tahukah bahwa selama beberapa puluh tahun, tiada seorangpun yang masuk kerumah ini bisa keluar dalam keadaan hidup?"

”Aku telah masuk kemari dengan tidak disengaja. Tuan siapa? Bolehkah keluar sebentar untuk menjumpai aku?" menjawab Siang-koan Kie sambil siap sedia.

Sebentar terdengar suara terputarnya roda, dari satu sudut tiba2 muncul sebuah kursi beroda. Seorang tua berpakaian hitam duduk diatasnya.

Pada waktu itu, Siang koan Kie sudah bisa me lihat dengan tegas bahwa orang tua yang duduk di atas kursi itu ternyata seorang laki2 berambut dan berjenggot panjang.

Siang-koan Kie sudah mendapat banyak pengalaman, ia tahu bahwa Kun-liong Ong banyak sekali akal jahatnya, maka munculnya orang tua itu terus menarik perhatiannya. Ia mengharap dapat menemukan apa2, apakah orang tua itu sudah diberi makan obat atau belum?

Dari sinar mata orang tua itu, tidak mirip dengan orang yang sudah diberi makan obat melupakan diri oleh Kun-liong Ong.

Kini orang tua itu membuka mulut lagi: “Kau bocah ini perlu apa terus memandang aku saja?"

“Sudah berapa lama locianpwee berdiam didalam ruangan gelap ini?" menanya Siang-koan Kie.

“Hm, sudah lama daripada umurmu."

Siang-koan Kie diam2 berpikir “ruangan ini tidak seberapa luas, mengapa orang tua ini harus duduk dikursi beroda? Apakah pahanya bercacad?”

“Locianpwee duduk diatas kursi beroda, apakah paha locianpwee kurang sehat?" demikian tanyanya.

“Siapa sudi melayani kau membicarakan soal ini? Kau terlalu cerewet! Perlu apa kau masuk ke kamar ini?' “Aku datang kemari karena mendapat perintah." “Perintah siapa?"

“Kun-liong Ong."

Orang tua itu mendadak tertawa ter-bahak2: “Bagus! Kau berani membohongi aku si orang tua, nyalimu besar sekali."

Hang-koan Kie mendadak tertawa. “Mengapa locianpwee tahu kalau boanpwee membohong?"

“Sudah berapa puluh tahun lamanya Kun-liong Ong belum pernah mengutus orang datang kemari, apakah kau dikecualikan?"

“Tidak perduli aku diutus oleh Kun-liong Ong ataukah aku datang atas kehendakku sendiri, hal ini tidak penting. Sudah sekian tahun lamanya locianpwee berdiam dikamar yang gelap ini, tanpa mendapat penerangan sinar matahari, mungkin ada sebabnya?"

Wajah orang tua itu berubah, katanya dengan suara dingin: “Kau bocah yang masih belum mengerti apa2 ini, sebaiknya ini jangan mencampuri urusan orang lain."

“Jikalau dugaan hoanpwee tidak keliru, locianpwee berdiam dalam kamar ini, pasti sedang melatih sesuatu ilmu silat aneh "

-oodwoo-

100

SUDAH beberapa puluh tahun orang tua itu berdiam dikamar gelap itu, mustahil ia tidak mau meninggalkan tempat itu. Tetapi mengapa ia tidak mau keluar? Sebab2nya itu_sudah tentu ia tidak dapat memberitahukan kepada Siang- koan Kie, maka setelah berpikir sekian lama, akhirnya berkata: “Dari nada pembicaraanmu, kedatanganmu ini agaknya mempunyai tugas khusus untuk mencari jejak aku dan beberapa orang lagi?"

Siang-koan Kie yang mendengar ucapan itu diam2 berpikir “apakah dalam ruangan ini masih ada orang lain?”

Ia memandang keadaan disekitarnya, ternyata gelap gulita, tidak tertampak bayangan orang.

Orang tua itu kembali tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Kau tidak perlu mencari mereka. Dalam rumahku ini, dimana saja terdapat pesawat jebakan. Asal pesawat itu digerakkan, bagi orang yang tidak mengerti, susah keluar dari sini”

“Apa? Apakah locianpwee ingin menahan boanpwee?"

Orang tua itu mendadak menggerakkan kursi rodanya dan berkata dengan suara dingin: “Tidak perduli siapa, yang beiani memasuki rumah hitam ini, hanya mempunyai pilihan dua jalan, ialah mati atau tidak bisa keluar dari sini untuk selama lamanya”

“Apakah locianpwee hendak mempersulitkan boanpwee?" demikian akhirnya Siang-koan Kie menanya terus. Ia sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Orang tua itu mendadak ulur tangan kanannya, menyambar Siang-koan Kie dengan kecepatan bagaikan kilat.

Siang-koan kie diam2 berpikir “orang tua ini patut dikasiani, entah apa sebabnya ia tidak berani menentang Kun-liong Ong”

Sementara berpikir, tangan kirinya menyambuti serangan orang tua itu.

Kedua kedua tangan saling beradu, darah Siang-koan Kie terasa bergoiak, tanpa sadar sudah mundur tiga langkah.

Sedangkan kursi roda orang tua itu juga terdorong mundur oleh kekuatan tenaga Siang-koan Kie hingga dalam hati orang tua itu diam2 juga terkejut. Satelah memperbaiki posisinya lagi, Siang-koan Kie berkata: “Kekuatan tenaga locianpwee ternyata hebat sekali, boanpwee sesungguhnya tidak sanggup melawan. "

“Didalam rumah hitam ini, aku sudah pernah menjumpai beberapa orang kuat, tetapi yang sanggup menyambuti seranganku, tidak banyak. Kau bocah, sesudah menyambuti seranganku ternyata seperti tidak terjadi apa2, sesungguhnya sangat mengagumkan”

Siang-koan Kie diam2 berpikir “orang ini agaknya tidak berani menentang perintah Kun-liong Ong untuk mencari keterangan keadaan dalam kamar ini, mau tidak mau harus melakukan suatu pertempuran sengit”

Selagi masih berpikir, tiba2 terdengar suara terompet sangat gencar.

Orang tua tang duduk diatas kursi roda itu wajahnya mendadak berubah, katanya: “Bocah, kau bukanlah orang dari Kun liong Ong, bagus benar! Hampir saja aku si orang tua kena kau akali."

Selama itu Siang-koan Kie terus berpikir, akhirnya ia telah mengambil keputusan, dari pada membohongi orang tua itu, lebih baik omong terus terang tentang maksud kedatangannya.

“Memang benar, aku bukanlah orangnya Kun-liong Ong, kedatanganku ini adalah hendak membebaskan orang2 rimba persilatan yang diberi obat dan terpengaruh oleh Kun-liong Ong."

Orang itu lalu mengayunkan tangannya kearah pintu besi yang setengah terbuka, dan pintu itu lalu menutup lagi.

Dalam kamar kembali menjadi gelap, kini terdengar suara orang tua itu menegur: “Kau sebetulnya siapa? Harap menjawab terus terang?" “Boanpwee Siang-koan Kie, ingin minta sedikit keterangan dari locianpwee."

“Coba kau ceritakan."

“Pertanyaan pertama sangat sederhana, benarkah rumah hitam ini kamar racunnya Kun-liong Ong?"

“Dan pertanyaan yang kedua?”

“Locianpwee sudah lama berdiam disini, tentunya tahu banyak keadaan dalam kamar racun ini, dalam hal ini boanpwee ingin minta sedikit keterangan."

“Menyesal sekali, dua soal ini sedikitpun tak ada hubungannya denganku."

“Mengapa dapat dikatakan tak ada hubungannya? Apabila locianpwee sudi membantu boanpwee memusnahkan kamar racun ini, orang2 yang terkurung disini akan bebas semua."

Orang tua itu berpikir sejenak, kemudian berkata: “Sekalipun aku memberitahukan padamu dimana adanya kamar racun itu, kau juga tidak bisa masuk kedalam. Sekalipun bisa masuk, juga tidak bisa keluar!"

“Boanpwee sudah tidak memikirkan soal mati hidup boanpwee. Asal bisa memusnahkan kamar racun itu, sekalipun harus korbankan jiwa, juga tidak apa."

“Rumah hitam ini adalah tempat yang menuju lamar itu."

Bukan kepalang girangnya Siang-koan Kie mendapat keterangan itu. “Entah dengan cara bagaimana bisa mencapai kamar itu?"

“Didalam rumah hitam ini, ada satu pintu rahasia yang menuju kekamar racun itu. Asal kau membuka pintu rahasia itu, kau akan dapat mencapai kekamar racun. Menurut apa yang aku tahu, jalanan yang menuju kekamar racun itu, setiap bagian dijaga oleh seorang yang berkepandaian tinggi. Sekalipun aku memberitahukan padamu juga tidak mudah kau menembusnya."

Sementara itu, terdengar pula suara roda menggelinding, tiga buah kursi beroda muncul dengan tiba2, mengurung Siang-koan Kie.

Orang2 yang duduk diatas kursi beroda itu, semuanya mirip dengan orang tua pertama yang ia jumpai, semuanya berambut dan berjenggot panjang dan awut-awutan. Pakaian yang menempel di badannya sudah robek2, entah sudah berapa lama orang2 itu duduk diatas kursinya.

Dari sinar mata mereka, Siang-koan Kie mengetahui bahwa orang2 tua itu semuanya berkepandaian tinggi dan mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna.

Hanya itu saja yang dijumpai Siang-koan Kie dalam rumah hitam mistirius itu.

Dalam keadaan demikian, tiba2 terdengar suara orang tertawa, yang keluar dari salah satu sudut dalam ruangan gelap itu.

Siang-koan Kie diam2 berpikir “kalau begitu, dalam kamar ini bukan cuma empat orang tua ini saja”.

Suara tertawa itu mendadak berhenti, lalu diganti dengan suara dingin: “Bocah, sejak dahulu, siapa yang masuk kedalam rumah hitam ini, ada mempunyai dua pilihan, itu adalah mati atau hidup!"

“Apa yang kau maksudkan dengan jalan hidup! Dan apa pula yang kau maksudkan dengan jalan mati?" Tanya Siang- koan Kie.

Terdengar jawaban dari suara itu tadi: “Yang mati mudah sekali, jalan hidup banyaK liku2nya. Diantara mereka berempat, kau harus memlih salah satu, bertanding denganmu. Kau harus  membunuhnya, dan kau nanti akan menggantikan tempatnya." Mata Siang-koan Kie berputaran mengawasi empat orang tua itu, menyaksikan sikap mereka yang diam saja, agaknya membenarkan perkataan orang yang tidak mau tampakkan diri itu.

Tiba2 ia mengeluarkan belati pusakanya dan diputar, hingga dalam keadaan gelap itu tampak sinar berkilauan, ia berkata dengan suara nyaring: “Locianpwee sekalian berada didalam rumah ini bukankah sudah cukup lama?"

Empat orang tua itu memandang Siang-koan Kie dengan sinar mata dingin, tidak menjawab pertanyaannya.

Siang koan Kie berkata pula: “Dari keadaan locianpwee berempat, tidak mirip dengan orang yang sudah diberi makan obat melupakan diri Kun-liong Ong, tetapi mengapa mandah diperbudak, sudah tentu terpengaruh oleh sebab2 tertentu....

Apabila locianpwee sudi memberitahukan sebab2nya, boanpwee mungkin dapat menyumbang sedikit tenaga."

Tiba2 terdengar suara orang tertawa dingin, wajah empat orang tua itu berubah dengan mendadak, kemudian dengan serentak menyerang Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie sudah siap. Ketika empat orang tua itu melancarkan serangan, dengan cepat lompat mundur sejauh lima kaki.

Empat orang tua itu menempati empat penjuru, masing2 melancarkan serangan jarak jauh. Ketika Siang-koan Kie lompat menyingkir, hembusan angin yang keluar dari serangan tangan empat orang tua itu, saling beradu sendiri. Karena kekuatan tenaga berimbang, sehingga menimbulkan putaran angin hebat.

Siang-koan Kie menduga bahwa orang yang berbicara ditempat tersembunyi itulah, yang merupakan 'otak' setiap gerakan orang2 ini, dan empat orang ini hanya merupakan 'alat' atau orang2 yang telah dikendalikan olehnya. Maka itu, daripada bertempur mati2an dengan empat orang tua yang tidak penting kedudukannya, lebih baik mencari orang yang menjadi otak itu. Maka dengan belati terhunus ia menyerbu kearah dari mana orang itu mengeluarkan suara.

Dalam keadaan yang gelap gulita seperti itu, mencari orang secara membabi buta, sudah tentu tidak mudah menemukan.

Tetapi dengan penuh keyakinan, ia tidak dibingungkan oleh akal busuk orang itu, belati pusakanya ditusukkan kedinding tembok yang hitam gelap itu.

Belati pusaka yang mempunyai ketajaman luar biasa itu, telah menembus dinding tembok batu demikian dalam, hampir cuma tinggal gagangnya saja.

Siang-koan Kie diam2 memuji belatinya itu dan kemudian ditariknya kembali.

Dan apa yang terjadi? Dari lobang dinding itu menyembur darah panas, hingga membasahi sekujur badannya.

Siang-koan Kie berseru tertahan, ia sudah anggap bahwa dalam dinding itu diperlengkapi racun berbisa, barang cair itu dianggapnya barang beracun.

Sementara itu, empat orang diatas kursi beroda itu telah bergerak kearahnya.

Siang-koan Kie tidak merasakan apa2, seketika cair itu diciumnya, ternyata bau darah manusia, hingga nyalinya bertambah besar.

Sambil berseru: Jangan sentuh senjataku." Ia membalingkan belatinya didepan empat orang tua itu.

Mendengar suara pemuda itu, empat orang tua itu benar saja lantas merandak, kemudian masing2 dikeluarkan senjatanya yang berupa pecut panjang.

Tetapi sebelum bertempur, Siang-koan kie membentak dengan suara keras: “Tahan, aku ingin bicara dulu." Empat orang tua yang semula hendak melakukan serangan dengan senjata pecut masing2, ketika mendengar suara bentakan Siang-koan Kie, benar saja mengurungkan maksudnya.

Siang-koan Kie berkata dengan nada suara dingin: “Orang yang menguasai kalian dengan sembunyi itu, sudah kubunuh, sekarang ini kalian berempat semua   sudah bebas ”

Empat orang tua itu terkejut mendengar keterangan itu atau sama lain saling berpandangan.

Siang-koan Kie berkata pula: “Dia sembunyikan diri dibalik dinding, tetapi senjata ditanganku ini, adalah paling tajam oidalam dunia, jangan kata dinding batu saja, sekalipun dinding besi, juga bisa ditembusi. Aku lihat kalian berempat bukannya orang2 yang dipengaruhi oleh kekuatan obat gaib Kun-liong Ong, sudah tentu dikendalikan orang yang sembunyi dibalik dinding itu."

Empat orang tua itu diam saja, Siang-koan Kie berkata pula: “Aku bukannya takut terhadap kalian, dan sengaja me- nakut2i. Kalau kalian tidak pencaya, boleh coba sendiri."

Orang tua yang berada didepan memberanikan diri bertanya: “Benarkah keterangan siaohiap ini?"

Empat orang tua itu lalu melemparkan pecut masing2 dan berkata: “Terima kasih atas pertolongan siaohiap."

Siang-koan Kie merasa heran mengapa empat orang tua itu tidak mau turun dari kursi berodanya, katanya: “Apakah locianpwee berempat diikat dengan kursi beroda ini?”

Salah seorang diantara mereka menjawab: “Kita dirantai dengan kursi ini sudah sepuluh tahun lebih lamanya. Kita hanya ditugaskan untuk menjaga rumah hitam ini." “Entah cara bagaimana mereka membuat locianpwee sekalian tidak berdaya? Harap locianpwee memperi sedikit keterangan, mungkin aku dapat memberi pertolongan."

Orang tua itu menghela napas, menarik tinggi baju hitamnya dan berkata: “Kalau siaohiap mempunyai daya pandangan mata luar biasa, sekalipun tidak menggunakan lampu, juga bisa melihat."

Siang-koan Kie yang melihat keadaan orang itu, diam2 mengutuk kekejaman Kun-liong Ong.

Dibagian paha orang tua itu, ternyata dilobangi dan dimasuki semacam benang yang sangat halus tetapi kokoh kuat. Benang itu diikatkan dengan tiang2 kursi beroda yang didudukinya.

“Benang ini meskipun halus, tetapi ulet, sekalipun pedang pusaka, barangkali juga belum tentu dapat memutuskannya." demikian orang tua itu berkata

“Senjata belatiku ini, dapat memotong barangi logam bagaikan tanah, harap locianpwee sabar sebentar, aku hendak mencobanya." berkata Siang-koan Kie.

Ia lalu menggunakan belati ditangannya, memotong benang yang mengikat orang tua itu, benar saja, benang itu telah putus.

Perbuatan itu dilanjutkan terhadap tiga yang lainnya.

Siang-koan Kie mempersilahkan empat orang tua itu supaya menggerakkan badan, agar otot2nya berjalan seperti biasa.

“Masih ada satu bagian ditubuh kita yang belum leluasa” berkata empat orang tua itu dengan serentak.

“Bagian mana?" bertanya Siang-kaan Kie.

Orang tua yang berada diujung paling kanan, merupakan erang tua yang usianya paling muda diantara mereka. Ia menarik tinggi pakaian panjangnya dan berkata sambil menunjukkan bagian yang dimaksudkan: “Disini."

Siang-koan Kie telah melihat bahwa tulang pipa mereka juga ditusuk dengan lobang dan dimasuki benang sutra halus. Ia lalu menggunakan belatinya untuk memotong benang itu, kemudian bertanya: “Apa masih ada lagi?"

“Tidak ada." jawabnya empat orang tua itu, dan keempatnya lantas berdiam.

Satu diantara mereka mendadak jatuh berduduk ditanah, tapi tiga yang lainnya bisa berjalan memutari ruangan yang gelap itu.

Siang koan Kie menghampiri orang tua yang duduk ditanah itu seraya berkata: “Kau kenapa?"

“Kedua pahaku sudah bercacat, untuk selanjutnya barangkali aku tidak bisa jalan lagi....." Menjawab orang tua itu.

“Tetapi mengapa mereka tiga orang bisa jalan?”

“Ketika Kun liong Ong memerintahkan orangnya untuk melobangi kedua pahaku, lobang itu agak miring, sehingga melukai jalan darah dipahaku”

“Aku bimbing kau, coba berjalan beberapa langkah, mungkin karena duduk terlalu lama, hingga pahamu menjadi kaku."

Orang tua itu berdiri, tetapi ia duduk lagi di atas kursnya dan berkata: “Tak usah."

Dengan kursi berodanya itu ia berputar-putaran didalam ruangan.

Siang-koan Kie menyaksikan tiga orang tua lainnya itu meskipun masih berjalan, tetapi agak sempoyongan, seperti anak yang baru belajar jalan. Siang-koan kie menggunakan kesempatan itu untuk menanya keterangan kepada mereka tentang kamar racun.

Empat orang tua itu setelah berpikir lama, akhirnya berkata: “Ketika Kun-liong Ong menempatkan kita didalam ruangan ini dengan mengikat kita dengan kursi beroda, hanya memberitahukan kepada kita tugas yang harus kita lakukan. ia suruh kita menurut segala perintah orang yang akan memberi perintah secara sembunyi. Sebetulnya mati hidup kita, tergantung dengan orang yang iidak nampakkan diri itu. Maka mau tidak mau harus dengar perintahnya. Selama beberapa puluh tahun, kita hanya dengar suaranya, tetap tidak tampak orangnya "

Siang-koan Kie meski tidak ingin tahu riwayat mereka, tetapi ia masih mendengarkan dengan sabar.

“Oleh karena itu” demikian mereka melanjutkan penuturannya “meskipun kita disekap dalam gedung Kun-liong Ong beberapa puluh tahun lamanya, tetapi sedikitpun tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Kita hanya melihat Kun-liong Ong sering keluar masuk dalam ruangan ini, maka rumah hitam ini sekalipun bukan kamar racun yang kau maksudkan itu, tetapi juga merupakan salah satu tempat penting."

“Dari mana dia masuk?''

“Disebelah ujung kanan dinding, agaknya ada satu pintu rahasia, setiap kali dia masuk dari situ, tetapi kita tidak tahu bagaimana cara membukanya."

“Kalau memang benar ada pintu rahasia, aku akan mencoba dengan senjata pusakaku."

Dengan senjata terhunus Siang-koan Kie berjalan menuju ketempat yang ditunjuk oleh orang tua itu, dinding itu kemudian ditusuknya.

Dengan mudah dinding tembok itu dapat ditembusi senjatanya. Dibalik dinding itu ternyata kosong, andaikata bukan pintu rahasia, tentunya juga ruangan kosong. Ia lalu mengorek dinding itu, hingga membuat satu lubang kecil.

la mengintip kedalam, tetapi keadaan gelap, ia pasang mata benar2, baru dapat lihat samar2 bahwa ditempat yang gelap itu ada sebuah jalan yang menuju kebawah tanah.

Sementara itu, empat orang tua itu sudah berada dibeiakangnya, mengawasi dirinya dengan penuh perhatian.

Daya pandangan empat orang tua itu karena sunah lama berada dalam kegelapan, hingga bisa melihat benda disekitarnya lebih awas daripada Siang-koan Kie. Ketika menyaksikan belati ditangan pemuda itu, dengan serentak memberi pujian.

“Locianpwee sudah bebas, kini selagi Kun-liong Ong belum pulang, lekas berusaha melarikan diri!" berkata Siang-koan Kie sambil bersenyum.

Orang tua yang duduk diatas kursinya itu menyahut: “Kedua pahaku sudah cacat, hingga, tidak bisa jalan lagi. Aku ingin berdiam disini untuk membantu siaohiap "

Tiga yang lainnya berkata dengan serentak: “Kalau bukan siaohiap yang menolong, kita semu seumur hidup akan berada didalam kamar gelap seperti neraka ini. Budi ini bagaimana kita tidak akan membalas? Maka kita juga akan tetap disini untuk menunggu perintah siaohiap."

Siang-koan Kie memang memerlukan bantuan, maka lalu berkata: “Kalau begitu, boanpwee tidak keberatan locianpwee sekalian tetap disini. Menurut dugaan boanpwee, kedatangan boanpwee dikamar ini, sudah tentu tidak dapai mengelabuhi mata2 Kun-liong Ong yang tersebar di-mana2. Bagaimana locianpwee berempat disini menahan serangan mereka?"

“Kita bersedia mengeluarkan sisa tenaga yang masih ada untuk membantu siaohiap." Oiang tua yang berdiri dikiri mendadak maju dua langkah dan berkata: “Untuk menahan serangan mereka, tiga orang saja sudah cukup. Aku ingin mengikut siaohiap ini masuk jalan kebawah tanah itu, apakah siaohiap tidak keberatan?"

Setelah berpikir sejenak, Siang-koan Kie menjawab: “Begitu juga boleh."

Dengan tindakan lebar ia berjalan keruangan dibalik dinding yang ditembus itu.

Benar saja disitu terdapat satu jalanan yang menuju kebawah tanah, meskipun gelap, tetapi tidak lembab. Jelas bahwa jalanan itu sering dilalui oleh manusia.

Orang tua yang mengikuti dibelakangnya mendadak berkata: “Siaohiap mempunyai tugas berat, tidak boleh menempuh bahaya, biarlah aku siorang tua yang membuka jalan."

Siang-koan Kie hendak mencegah, tetapi orang tua itu sudah berada dimukanya, dengan satu tangan melindungi dada, ia berjalan dengan tabah.

Jalan beberapa puluh tombak, jalanan dibawah tanah itu terbelah menjadi dua, orang tua itu berpaling mengawasi Siang-koan Kie sejenak, kemudian berkata: “Siaohiap, kita harus mengambil jalan yang mana?"

Siang-koan Kie mengawasi jalan simpangan itu, kemudian mengambil keputusan dengan tiba2, katanya: “Belok kekiri."

Orang tua itu menurut, ia berjalan membelok kekiri.

Selagi berjalan, Siang-koan Kie mendadak ingat janjinya dengan dua kacung dan Sek Bok taysu, kini berada didalam kegelapan, hingga tidak tahu waktu lagi....

Nie Suat Kiao sudah menyusup kegedung Kun-liong Ong, tetapi mengapa tidak mau membantu menggempur kamar racun? Ia dibesarkan dalam gudang itu. dengan sendirinya tahu keadaan dalam gedung, se-tidak2nya juga harus memberitahukan padanya bagaimana memasuki kamar racun itu, sehingga sudah melupakan dirinya berada dalam keadaan sangat berbahaya.

Mendadak terdengar suara seruhan tertahan, sesosok tubuh menghalang didepannya.

Siang-koan Kie dikejutkan oleh kejadian yang tidak ter- duga2 itu, dengan cepat ia menahan tubuh itu, lalu terdengar suara orang tua itu: “Siaohiap, didepan.... ada bahaya ”

Siang-koan Kie tersadar dengan mendadak, ia minta supaya orang tua itu jangan bicara. Setelah itu ia mundur beberapa langkah, jari tangan kanannya diletakkan jalan darah Hian kie-hiat tubuh orang tua itu, lalu berkata: “Aku bantu kau mempertahankan kekuatan tenagamu, lekas berusaha menahan lukamu."

Orang tua itu menyahut dengan suara lemah: “Lepaskan aku. Salah satu diantara tiga kawanku itu, ada membekal obat manjur. Harap siaohiap tunggu disini, jangan maju sembarangan. "

Orang tua itu melepaskan diri dan berjalan maju.

Siang-koan Kie sangat menyesal atas kejadian itu, karena apabila orang tua itu tidak berjalan dimuka, sudah tentu tidak mengalami nasib demikian. Ia lalu ingat bahwa dirinya memakai baju wasiat yang tidak mempan senjata tajam, seharusnya ia tadi tidak mengizinkan orang tua itu berjalan dimuka.

Sementara itu, telinganya mendengar suara tindakan kaki berat. Maka ia segera menegur: “Siapa?"

Dari satu sudut terdengar suara jawaban: “Siaohiap disitu?

Disini aku siorang tua”

Suara tindakan kaki tadi lenyap dan sesosok bayangan orang lari meuuju kearahnya. Siang-koan Kie berkata: “Obat kawanmu itu manjur sekali, begitu cepat kau sudah sembuh lagi."

Orang tua itu menyahut: “Dia sudah mati. "

“Dia sudah mati?. " tanya Siang-koan Kie kaget.

Katanya empat orang tua itu sama pakaiannya, umur mereka juga sebaya, begitu juga rambut dan jenggot mereka, sama2 panjangnya, sehingga Siang-koan Kie tidak dapat membedakan.

Orang tua itu berkata pula sambil menghela napas panjang: “Ia terkena satu pukulan tangan, juga terkena serangan senjata gelap. Dengan sisa kekuatan tenaganya ia coba lari keluar, tetapi baru mengatakan sepatah dua patah kata saja, sudah melayang jiwanya” 

“Mengapa ia tidak memberitahukan padaku?"

“Ia takut siaohiap menempuh bahaya seorang diri, hingga lari keluar minta kita yang bantu membuka jalan."

Siang-koan Kie diam saja, perasaannya tidak enak, lama ia berpikir, kemudian baru berkata. “Baiklah! Kau sudah datang, marilah ikut aku, tapi aku berjalan didepanmu, jangan berpisah terlalu jauh."

“Maksud kedatanganku ini, justru hendak membuka jalan, supaja kalau ada orang melepaskan senjata gelap, biarlah aku yang menghadapi lebih dulu, dan Siaohiap bisa siap sedia."

“Tidak halangan, aku ada mempunyai akal untuk menghindarkan diri dari serangan senjata gelap. Tidak perlu kau menempuh bahaya demikian besar."

Siang-koan Kie baru berjalan, tetapi orang tua itu hendak mendahulunya

Siang-koan Kie sudah menduga, maka tangannya dengan cepat menyambar pergelangan tangan orang tua itu seraya berkata: “Kalau kau tidak mau dengar perkataanku, lekas keluar lagi, kalau tidak aku akan menotok jalan darahmu."

“Siaohiap, lepaskanlah tanganmu, aku menurut demikian” orang tua itu meratap.

“Siapkan senjatamu. kalau ada senjata gelap, supaya kau

bisa gunakan untuk menangkis. Mari kita jalan."

Ia kini tidak berani gegabah lagi. Dengan hati2 dan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya ia berjalan lambat2, belati pusakanya tidak terlepas dari tangannya.

Tiba2 dari tempat gelap itu menyambar keluar kekuatan sangat hebat kearahnya.

Serangan hebat itu tidak mengeluarkan suara. Ketika sudah dekat dengan badan, Siang-koan Kie baru merasa, hingga buru2 menggunakan tangannya untuk menyambut.

Selagi tangannya menyambuti serangan hebat, didada dan tulang rusuknya mendadak merasa tertumbuk oleh benda halus, hingga menimbulkan sedikit rasa nyeri.

Siang-koan Kie terkejut, ia tahu bahwa itu adalah senjata rahasia yang dilancarkan secara menggelap. Untung ia memakai baju rompi wasiat pemberian Nie Suat Kiao.

Tiba2 ia ingat kepada orang tua yang berada dibelakangnya. Kalau ia maju lagi, serangan itu pasti akan dilakukan lagi, maka ia lantas mundur mencegah orang tua itu, kemudian berkata padanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga: “Didepan ada orang menyerang dengan senjata gelap, jangan maju lagi."

Orang tua itu sebaliknya tidak merasa gentar, sambil melembungkan dadanya ia menyahut: “Biarlah aku situa bangka ini yang membuka jalan."

Siang-koan Kie terpaksa melarang orang tua itu dan berkata: “Jangan berlaku gegabah, lekas mundur. Kau menjaga disini, dengar panggilanku." Ia segera lompat menerjang.

Tiba2 ia merasakan hembusan kekuatan yang menyambar dari samping.

Siang-koan Kie yang sudah siap sedia, menyampok dengan tangannya. Ia juga melindungi panca indranya.

Kembali ia merasakan ada benda halus yang meluncur kearah badannya.

Serangan benda halus itu meski cepat, tetapi Siang-koan Kie bergerak lebih cepat. Sebentar saja ia sudah menerjang sejauh dua tombak lebih. Ia berdiri menunggu, tetapi tidak ada reaksi apa2. Dihadapannya hanya gelap gulita, tidak kelihatan apa2, hingga dalam hatinya diam2 berpikir: “Sungguh aneh! Serangan tangan kosong dan senjata tadi asaknya dilepaskan dar, sekitar tempat ini. Mengapa dlsini tidak terdapat tanda apa2?”

Ia maju terus menyusuri dinding.

Ia sudah bertekad hendak membunuh orang yang melakukan serangan gelap itu, tetepi sebegitu jauh tidak menemukan rintangan apa2 lagi. Selagi menyusuri jalan, beberapa kaki dihadapannya tiba2 dapat lihat sebuah lobang yang melesak kedinding.

Siang-koan Kie tersadar, serangan tadi tentunya dilancarkan dari dalam lobang itu.

Karena ia mengetahui bahwa tempat itu penuh pesawat jebakan, maka ia berlaku sangat hati2 sekali.

Ia telah mendengar suara orang bernapas, tetapi suara itu halus sekali, jelas orang yang kerkepandaian sangat tinggi.

Siang-koan Kie lalu menegur: “Kau mempunyai kepandaian dan kekuatan tenaga demikian besar, mengapa tidak mau keluar se-cara terang2an?. Dengan sembunyikan diri ditempat gelap, kau melakukan serangan, apakah itu uda perbuatannya orang gagah?”

Mendadak terdengar suara orang tertawa dingin, dari dalam lobang itu nampak sebuah tangan menyambar senjata ditangan Siang koan Kie, kemudian dlsusul oleh suara orang dengan nada sangat dingin: “Aku siorang tua dalam keadaan terpaksa, apakah kau kira aku takut padamu "

Senjata Siang-koan Kie sangat tajam, tangan orang tua itu begitu menyentuh belati Siang-koaa Kie, lantas terputus, hingga darah mengucur keluar. Mulut orang tua itu mengeluarkan suara jeritan.

Siang-koan Kie menarik kembali senjatanya, kemudian menerjang masuk sambil miringkan badannya.

Satu serangan hebat kembali meluncur keluar dari dalam lobang itu.

Siang-koan Kie yang sudah siap, dengan tangan kiri ia menyambuti serangan itu.

Serangan itu ternyata hebat, ketika beradu dengan tenaga Siang-koan Kie, pemuda itu lantas terpental mundur.

Siang-koan Kie terkejut, ia tidak tahu entah siapa yang mempunyai kekuatan tenaga demikian hebat?

Sebentar ia mundur, tetapi setelah memulihkan tenaganya, ia maju lagi.

Kembali satu hembusan angin hebat keluar dari lobang itu.

Siang-koan Kie sudah siap, dengan tangan kiri ia menyambuti serangan itu.

Ketika kekuatan kedua fihak saling beradu, dalam jalanan itu terbit suara gempuran hebat.

Setelah itu, tiba2 berkelebat sinar terang, menyambar kearah Siang-koan Kie. Siang-koan Kie menggerakkan belati pusakanya. Senjata tajam yang menyerang kearahnya tadi telah terpapas buntung, hingga jatuh ditanah.

Tetapi dengan jatuhnya senjata itu, mendadak terdengar suara men-deru2, beberapa senjata rahasia menyerang kearahnya dengan dahsyat.

Siapakah orangnya yang menyerang Siang-koan Kie dari dalam lobang dinding itu?

Berhasilkah Siang-koan Kie menemukan kamar racun Kun- liong Ong?

-oo0dw0oo-