ISMRP Jilid 24

 
Jilid 24 

WAN HAUW menyahut; "Sudah pergi."

"Kenapa? Kecuali kau, apa masih ada orang lain yang melihat dia?"

Mendengar pertanyaan itu Wan Hauw merasa heran, katanya;

"Kenapa? Apa toako ingin menemuinya? Tidak jauh ia pergi, besok kita akan mengadakan pertemuan lagi."

"Sebelum kau menjumpai dia beritahukan dahulu padaku." "Baiklah! Kalau ia ketemu denganku, aku nanti minta ia

tunggu sebentar, dan aku akan mencarimu lebih dulu." "Tetapi kau tidak boleh memberitahukan kepadanya." "Ini aku tahu."

Nie Suat Kiao selama itu berdiri mendengarkan pembicaraan mereka tidak campur mulut. Tiga orang itu berjalan sudah tujuh delapan pal jauhnya, tibalah disuatu jalan persimpangan tiga.

Nie Suat Kiao memeriksa keadaan disekitarnya tiba2 ia menghela napas dan berkata: "Tempat ini letaknya sangat strategis, jikalau kita berhasil memancing orangnya Kun-liong Ong ditempat ini, asal kita menutup jalan keluar empat penjuru, lalu kita lepaskan api ditiga penjuru memaksa mereka lari kelembah jurusan utara tidak susah untuk membasmi mereka sekaligus, dengan demikian kita berbasil memberi pukulan pertama lebih dahulu kepada Kun-liong Ong."

Siang-koan Kie tiba2 ingat waktu Teng Soan menutup mata, pernah meninggalkan padanya kitab ilmu peperangan yang ditulisnya sendiri, maka ia lalu berkata:

"Nona Nie, dalam pesan terakhir Teng Sianseng telah menunjuk kau meneruskan jabatannya dan meninggalkan kau kitab ilmu perang yang ditulisnya sendiri."

Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sejilib kitab dan diberikannya kepada Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao menyaksikan kelakuan sangat menghormat Siang-koan Kie terhadap dirinya dalam hati merasa geli, namun mulutnya berkata dengan suara dingin;

"Apakah dalam surat pesannya itu dia minta kau memberikan kitab ini padaku?"

Siang-koan Kie berpikir sejenak, kemudian menjawab: "Dihari hari biasanya, samar2 ada menyatakan maksud itu padaku."

Nie Suat Kiao menyambuti kitab itu tanpa dibaca, lalu dimasukkannya dalam sakunya, kemudian berkata:

"Teng Soan mempunyai perhitungan yang sangat jitu, tetapi ada satu hal yang ia telah lalai dan belum pernah diduganya."

"Apakah yang nona maksudkan?"

"Kau terhadap Teng Soan agaknya sangat menghargai sekali."

"Itu memang benar, aku sangat menjunjung tinggi dirinya, baik dalam hubungan pribadi mau-pun dalam hubungan umum, apabila aku menyebutkan sesuatu hal barangkali nona sendiri juga akan menghargainya." "Belum tentu, coba kau ceritakan."

"Dia menunjuk nona untuk melanjutkan jabatannya didalam golongan pengemis, pernyataan itu kalau dipikir pada saat itu bukankah akan dianggap sebagai lelucon? Tetapi siapa menduga, kau ternyata benar2 datang kemari setelah pembangunan kuburannya selesai, bahkan benar2 kau menjadi anggauta golongan pengemis dan meneruskan jabatannya."

Nie Suat Kiao berpikir sejenak dan berkata: "Dia masih meninggalan kata2 apa lagi?"

"Seingatku ia seperti pernah katakan, yang golongan pengemis dikemudian hari bisa berdiri dikalangan Kang-ouw atau tidak, besar sekali hubungannya denganmu."

"Yang kumaksudkan, apakah dia pernah memberitahukan padamu urusan kita berdua?"

"Ia pernah katakan bahwa nona diluarnya dingin tetapi dalam hatinya hangat, kau mengadakan pertempuran dengan Kun-liong Ong barangkali akan mengalami kerugian."

"Mengapa?"

"Sebab sedikit banyak kau akan teringat perhubunganmu antara anak dengan ayah, sehingga tidak bisa turun tangan lagi."

"Apa yang diramalkan meskipun hampir seluruhnya kena, tetapi ia tidak menduga bahwa aku su-dah mendapatkan tiga benda pusaka rimba persilatan."

Meskipun aku belum pernah dengar ia kata tetapi aku duga hal ini juga sudah berada dalam dugaannya, ia yakin benar bahwa nona tidak perduli mengalami kekalahan bagaimana hebatnya, tetapi pada akhirnya pasti berhasil merebut kemenangan." Nio Suat Kiao tiba2 mengerutkan keningnya dan bertanya; "Apakah tempat ini sudah ada orang sembunyi?"

"Ini "

Tiba2 terdengar suara orang tertawa, dari balik satu sudut lamping gunung, muncul seorang laki2 berpakaian hijau, mukanya ketus dingin, se-olah2 bangkai hidup, hingga nampaknya aneh dan menyeramkan.

Siang-koan Kie terkejut dan berseru:

„Kun-liong Ong.   "

Melihat musuh besarnya berada dihadapan matanya, Nie Suat Kiao juga terkejut, tetapi sebentar sudah tenang kembali.

Wajah Kun-liong Ong yang bagaikan mayat, hanya tampak biji matanya yang ber-api2, dengan sinar matanya yang tajam menatap wajah Nie Suat Kiao, kemudian berkata dengan suara dingin:

"Apa kau belum mati?"

Sikap Nie Suat Kiao sudah tenang kembali seperti biasa, atas pertanyaan itu, ia menjawab sambil tertawa hambar:

"Anak pungut Kun-liong Ong, sudah lama mati karena dibunuh oleh ayah angkatnya sendiri, yang pernah membesarkan dan mendidik sehingga dewasa. Yang sekarang masih hidup adalah Nie Suat Kiao. bukanlah anak pungutnya Kun-liong Ong lagi. Dia kini sudah menerima jabatan sebagai penasehat golongan pengemis yang dijunjung dan dihormati oleh beribu-ribu anggaotanya "

Kun-liong Ong mencebikan bibir dan berkata: "Kalau begitu, jadi Teng Soan benar2 sudah mati?"

"Sudah! Kau tidak percaya." "Orang itu banyak akal bangsatnya, masih hidup atau sudah mati, sulit orang untuk memastikan ke semua kuanggap sepi. "

Dengan mendadak Kun-liong Ong teringat kedudukan Nie Suat Kiao, ucapannya itu bukanlah merendahkan derajatnya sendiri. Maka ia lalu menutup mulut dan berkata sambil menggapai:

"Kau kemari."

Nie Suat Kiao yang pernah dibesarkan olehnya, dengan sendirinya masih belum lenyap pengaruh dan pembawa Kun- liong Ong terhadap dirinya, hingga tanpa sadar sudah berjalan menghampiri.

Siang-koan Kie yang menyaksikan bahwa Nie Suat Kiao kena pengaruh sinar mata Kun-liong Ong sehingga tidak sanggup menguasai diri sendiri, bukan kepalang terkejutnya, diam2 hatinya berpikir: 'dalam keadaan demikian, bagaimana Nie Suat Kiao bisa menggunakan kepandaian dan kepintarannya untuk melakukan pertandingan dimedan pertempuran? Toako yang biasanya bisa memperhitungkan segala perkara dengan jitu, kali ini mungkin akan terpeleset. '

Sementara dalam hatinya berpikir demikian, mulutnya sudah membentak dengan suara keras:

"Nona Nie mempunyai tugas berat, mendapat penghargaan sangat tinggi dari semua anggauta golongan pengemis, bagaimana boleh kau perlakukan sesukamu?"

Tangannya bergerak seketika, hembusan angin hebat meloncur kearah Kun-liong Ong.

Dengan tangan kirinya Kun-liong Ong menyambut serangan Siang-koan Kie, bersamaan dengan itu, orangnya sudah maju dua langkah, mendekati Nie Suat Kiao. Siang-koan Kie merasakan kesemutan bagian tangannya, seluruh kekuatan tenaganya se-olah2 lenyap seketika, ia mundur terhuyung-huyung hingga empat langkah baru berhasil mempertahankan kedudukannya.

Walaupun Kun-liong Ong berhasil memukul mundur dalam satu gebrakan, tetapi sepasang matanya sudah kehilangan cahayanya.

Dalam detik2 yang sangat kritis itu, pikiran Nie Suat Kiao mendadak pulih menjadi tenang lagi, dengan cepat ia lompat mundur, menjauhkan diri dari Kun-liong Ong.

Maka ketika tangan kanan Kun-liong Ong menepok kepundaknya, ternyata suyah terlambat.

Reaksi Wan Hauw yang agak lambat, setelah Siang-koan Kie mengadu kekuatan dengan Kun-liong Ong, ia baru tersadar. Dengan mengeluarkan geraman hebat, ia lompat menerjang Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong yang sudah memperhitungkan bahwa Nie Suat Kiao sudah binasa ditangannya, tak diduga terhalang masudnia oleh serangan siang-koan Kie, maka kemurkaannya lalu ditumpahkan kediri anak muda itu. Ia telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, selagi hendak menghajar Siang- koan Kie, Wan Hauw tiba2 menerjang dari tengah udara.

Keadaan telah memaksa ia harus menyambuti serangan Wan Hauw terlebih dulu, dengan tangan kanannya ia menyambuti serangan Wan Hauw.

Dengan kedua tangannya Wan Hauw melancarkan serangan kapada Kun-liong Ong.

Ketika kekuatan kedua fihak saling beradu, Wan Hauw perdengarkan suarania yang aneh, ditengah udara ia berjumpalitan sampai enam kali, kemudian melayang turun sejauh empat tombak. Siang-koun Kie diam2 terkejut menyaksikan hebatnya kekuatan Kun-liong Ong.

Sambil mengertak gigi ia kerahkan seluruh kekuatan tenaganya dan menyerang lagi. Kun-liong Ong menyambut dengan tangan kiri, kemudian badannya bergerak menerjang Nie Suat Kiao.

Namun serbuannya itu tidak berhasil, sementara itu Wan Hauw yang gagah berani sudah menyerang kembali dari samping, ia menggunakan kedua tangannya mengarah dua jalan darah lawannya.

Kun-liong Ong yang menyaksikan Siang-koan Kie dan Wan Hauw masing2 sanggup menyambut serangannya yang menggunakan kekuatan tenaga tujuh delapan bagian tanpa mendapat luka sedikitpun juga, diam2 juga merasa heran. Pikirnya; 'hari ini apabila tidak berhasil menyingkirkan dua anak muda, akan merupakan satu bahaya besar bagi diriku.'

Karena berpikir demikian, ia tidak menghiraukan Nie Soat Kiao lagi, dengan satu gerakan membalik ia menangkis serangan Wan Hauw, kemudian balas menendang dengan kakinya.

Wan Hauw yang mendapat kurnia Tuhan dengan keadaan fisiknya yang luar biasa dan keberanian dan kegagahannya melebihi manusia biasa, ditambah lagi dengan silatnya yang pemberani tidak takut dengan segala apa, ia bertempur dengan semangat me-nyala2. Tatkala ditendang bagian perutnya, dengan cepat ia mengelak, kemudian balas menyerang dengan tinjunya.

Kun-liong Ong tertawa dingin, lengan kirinya diputar bagaikan titiran, hingga dalam waktu singkat lengan tangan itu mendadak berubah menjadi beberapa puluh lengan, yang mengaburkan pandangan mata lawannya. Badannya turut memutar, mengelakkan serangan Wan Hauw, lengan tangannya menjadi beberapa puluh melakukan serangan dari samping.

Dihujani serangan dengan cara demikian, Wan Hauw agak cemas, tetapi sebagai seorang bodoh dan jujur yang tidak banyak akal, kedua tangannya diangkat menyerbu kelengan musuhnya.

Serbuan yang nekad itu ternyata berhasil.

Kiranya Wan Hauw yang tidak banyak pikiran apa2, tidak dibingungkan oleh tipu muslihat Kun-liong Ong, serangannya yang sangat berani itu telah berhasil mengenakan jalan darah Ciok-tie-hiat disikut Kun-liong Ong, hingga satu lengan Kun- liong Ong kesemutan seketika itu juga, dengan demikian, serangan selanjutnya tidak dapat dilancarkan lagi. Terpaksa ia lompat mundur.

Lengan kiri Kun-liong Ong terluka, dibawah serangan hebat dan gencar Wan Hauw, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk meghidupkan mengalirnya darah, terpaksa ia melawan dengan menggunakan satu tangan.

Siang-koan Kie yang dua kali menyambuti serangan keras Kun-liong Ong, meskipun tidak terluka tetapi darahnya dirasakan bergolak, maka ia tidak bisa membantu saudaranya. Dengan berdiri disamping, memulihkan kekuatan tangannya.

Ketika ia berpaling memandang kearah Nie Soat Kiao. gadis itu sedang berdiri tertegun menyaksikan pertempuran, wajahnya beberapa kali menunjukkan perubahan.

Itu adalah suatu pertempuran dahsyat yang jarang ada, Wan Hauw, yang berkelahi secara berani sekali, telah berhasil mengimbangi kepandaian Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong yang terluka satu lengannya, sudah tentu mempengaruni jalannya pertempuran, beberapa gerak tipu serangannya yang mematikan, ia tidak dapat mengimbangi. Tetapi sebagai seorang yang sudah pernah menghadapi banyak musuh besar dan banyak akalnya, meskipun dalam keadaan gusar, ia masih dapat memperhatikan keadaan musuh dan keadaan sendiri. Apabila Siang-koan Kie, dan Nie Suat Kiao turut menyerang dengan bergandengan tangan, keadaan segera tidak menguntungkan dirinya. Apalagi lengan kirinya masih terluka, tidak bisa menggunakan dua tangan untuk menghadapi musuh. Dengan demikian, nama baiknya yang dipupuk dengan susah payah, mungkin akan hancur dibawah tangan tiga anak muda itu.....

Sementara itu Siang-koan Kie selesai mengatur pernapasannya dan lambat2 masuk kedalam kalangan.

Kekejaman dan keganasan Kun-liong Ong, dalam kalangan Kang-ouw tak ada orang yang tidak tahu, tetapi ia seperti naga sakti didalam kabut, sebentar tampak sebentar menghilang, sehingga menimbulkan kesan semakin misteri. Oleh karenanya, maka dalam rimba persilatan, baru mendengar nama Kun-liong Ong saja, sudah panik dan ketakutan. Sekalipun ada yang berani menghadapinya, tetapi karena perasaannya sudah terpengaruh lebih dahulu, sedikit banyak juga mempengaruhi kepandaian ilmu silatnya, hingga tidak bisa bertempur secara resmi.

Keadaan demikian bukan cuma terdapat pada orang2 kelas dua atau tiga saja, sedangkan Auw-yang Thong sendiri, juga kena dihinggapi pengaruh demikian.

Tetapi bagi Siang-koan Kie, dan Wan Hauw, malah sebaliknya. Wan Hauw bodoh dan jujur, tidak mengerti apa artinya takut, sudah tentu perasaannya tidak bisa dipengaruhi oleh factor2 diatas. Sedangkan Siang-koan Kie ada menanam bibit rasa benci dan permusuhan sangat dalam terhadap Kun- liong Ong. Pengalaman pahit yang ditimbulkan atas perbuatan Kun-liong Ong, bibit kebencian sudah berakar dalam benaknya, bibit kebencian itulah yang mendorong padanya untuk melakukan pembalasan, juga merupakan tugas dan kewajibannya untuk menyingkirkan musuh besarnya itu.....

Oleh kerena itu maka setiap kali ia bertempur dengan Kun- liong Ong, bukan saja tidak merasa takut, bahkan rasa benci yang me-luap2, telah mengobarkan semangatnya untuk membinasakan musuh besarnya itu.

Kun-liong Ong disatu pihak harus menghadapi serangan hebat dari Wan Hauw, dilain fihak harus waspada terhadap Siang-koan Kie. Ketika melihat Siang-koan Kie menghampiri dengan mata berapi-api, agaknya tidak pandang mata dirinia, diam2 lalu berpikir: 'bocah ini mempunyai keberanian luar biasa, apabila kepandaiannya meningkat lagi, dikemudian hari akan merupakan perintang besar bagiku.'

Karena berpikir demikian, ia lalu menerjang lebih dulu kepada Siang-koan Kie.

Kun-liong Ong yang malang melintang dikalangan Kang- ouw selama beberapa puluh tahun, kecuali Teng Soan, dalam dunia ini tidak ada orang lagi yang ditakuti, sehingga membuatnya sangat sombong dan tidak pandang mata kepada siapapun juga.

Kesombongannya itu sudah berakar dalam sekali, meskipun berada dalam kesulitan, ia juga tidak bisa insyap. Meskipun malam itu ia tahu sedang berhadapan dengan tiga anak muda yang bakal membahayakan kedudukannya, tetapi ia masih bernapsu hendak menyingkirkan jiwa mereka tanpa memikirkan usahanya itu akan berhasil atau tidak.

Siang-koan Kie setelah mendapat waktu cukup untuk memulihkan kekuatannya, dengan tenaganya yang baru pulih ia menyambuti serangan Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong yang silih berganti menghadapi dua lawan sangat tangguh, apalagi satu lengan tangannya sudah terluka, maka sedikit banyak mempengaruhi kekuatan tenaganya. Dalam mengadu kekuatan itu, walaupun Siang-koan kie terdorong mundur dua langkah, tetapi Kun-liong Ong sendiri juga hampir tidak bisa berdiri tegak.

Siang-koan Kie sedikitpun tidak merasa keder, setelah memperbaiki posisinya, ia menyerang lagi.

Kesombongan Kun-liong Ong selama beberapa puluh tahun itu, untuk pertama kali mengalami keruntuhan, kenyataan yang dihadapinya, mau tidak mau harus insyaf, kini ia baru membuka matanya benar2 bahwa tiga anak muda dihadapannya itu, benar2 musuh yang paling tangguh.

Dua pemuda itu meskipun sudah menyambuti serangannya yang hebat, tetapi masih sanggup melawan secara gigih, bahkan, apabila dua pemuda itu maju ber-sama2, untuk melukai dirinya rasanya tidaklah susah.

Kini ia telah mengetahui bahwa dirinya berada dalam keadaan sangat berbahaya, dan keadaan buruk itu semakin bertambah.

Ia memang seorang yang sangat licik, setelah mengetahui keadaan sendiri dalam bahaya, maka timbullah pikirannya untuk kabur

Tetapi serangan Siang-koan Kie yang dilakukan secara nekad dan gencar membuatnya tidak mendapat kesempatan untuk melarikan diri.

Sedang dilain fihak. Wan Hauw sudah siap dengan seranganya yang hebat.

Nie Suat Kiao juga sudah pulih keadaannya seperti biasa, rasa takutnya per-lahan2 mulai lenyap.

Keadaan itu untuk pertama kali Kun-liong Ong merasakan bahwa kewibawaannya mendapat pukulan berat.

Rupa2 pikiran mengaduk dalam benaknya, oleh karenanya sehingga pukulannya agak lambat, Siang-koan Kie menggadakan kesempatan itu melancarkan satu serangan hebat dan telah mengenakan lengan kanannya.

Pukulan itu hebat sekali, Kun-liong Ong sampai terpaksa mundur jauh.

Siang-koan Kie mendadak menarik kembali serangannya dan tertawa ter-bahak2. Kun-liong Ong yang sebenarnya sudah hendak kabur, ketika mendengar suara tertawa Siang- koan Kie, bukan kepalang rasa malu dan marahnya, bentaknya dengan suara keras:

"Bocah kau ketawa apa?"

Siang-koan Kie berhenti tertawa dan berkata:

"Kun-liong Ong, kau tentunya dapat merasakan bahwa kau ternyata cuma begitu saja. satu waktu tokh bisa menerima gebukan juga."

"Kalian menggunakan taktik menggilir mengeroyok aku, kemenangan itu tidak berarti...," berkata Kun-liong Ong dingin.

"Nona Nie satu serangan pun belum pernah dikeluarkan, yang kau maksudkan dengan taktik bergiliran, hanya kita berdua saja, Hm! sebetulnya untuk menghadapi orang jahat dan kejam seperti kau ini. sudah lama seharusnya kita mengeroyok kau "

Kun-liong Ong bercekad, situasi pada saat itu memang tidak menguntungkan dirinya, kalau benar mereka mengeroyok padanya, lebih susah lagi untuk melarikan diri.

Menurut kebiasaan Kun-liong Ong, setiap kali melakukan perjalanan, sudah tentu membawa banyak pengikut, hanya kali ini, ia tidak membawa pengikut, karena daerah pegunungan yang tidak luas itu, hampir setiap jengkal terdapat pos penjagaan orang2 golongan pengemis, kalau banyak pengikut, sudah tentu akan menarik perhatian musuh. Kun-liong Ong yang selama itu merasa takut terhadap Teng Soan, meskipun ia membawa banyak pasukannya yang ditempatkan dikaki gunung selama duapuluh hari lebih, tetapi selama itu tidak berani maju sembarangan dan kali ini ia ingin seorang diri mengadakan penyelidikan kekuatan musuhnya, tak diduga bertemu dengan Siang-koan Kie Nie Suat Kiao dan Wan Hauw. Kalau hanya Siang-koan Kie dan Wan Hauw saja, Kun-liong Ong belum tentu mengunjukan diri dari tempat sembunyinya.

Sungguh diluar dugaannya bahwa Nie Suat Kiao yang sudah tusuk jarum beracun melekat tulang olehnya, juga sudah berada bersama dua pemuda itu.

Didalam alam pikirannya, Nie Suat Kiao tentunya masih seperti dulu, yang takut kepadanya, dan sudah tentu tidak berani melawan dirinya bahkan mungkin dibawah perintahnya, gadis itu akan turun tangan terhadap Siang-koan Kie dan Wan Hauw.

Namun apa yang kemudian terjadi, sesungguhnya jauh sekali diluar dugaannya, Nie Suat Kiao bukan saja sudah tidak mau dengar perintahnya, bahkan terang2an sudah memberontak terhadap dirinya.

Untuk menyelamatkan dirinya, Kun-liong Ong telah mengambil keputusan kabur. Demikianlah setelah mengucapkan perkataan sombong, ia sudah kabur dan menghilang kekaki gunung.

Wan Hauw nampaknya sangat penasaran, sambil mengacungkan tinjunya ia berkata:

"Toako, mari kita kejar!"

"Tidak perlu, aku sudah terluka dalam karena terpukul olehnya," berkata Siang-koan Kie sambil menggelengkan kepala.

Nie Suat Kiao menghampiri dan bertanya dengan suara lemah lembut: "Apakah lukamu parah?" Siang-koan Kie yang gagah dan tampan, sudah lama tercuri hati gadis kosen itu, meskipun ia coba mengendalikan perasaannya, tetapi saat itu tak dapat menguasai lagi, hingga tidak menghiraukan Wan Hauw berada didampingnya, ia telah unjukkan sikapnya yang mesra.

Demikian pula dalam hati Siang-koan Kie juga sudah tertanam benih cinta terhadap Nie Suat Kiao, tetapi untuk kepentingan saudaranya dan mengingat pesan Teng Soan pada saat sebelum menutup mata, ia harus dapat mengendalikan perasaannya untuk menerima siksaan penderitaan batin.

Nampak Siang-koan Kie lama tidak memberi jawaban, Nie Suat Kiao anggap bahwa luka pemuda itu sangat parah, hingga ia menghela napas dan berkata pula:

"Kekuatan tenaga Kun-liong Ong memang hebat, kau beberapa kali mengadu kekuatan dengannya, lukamu barangkali tidak ringan. Tidak baik kau berdiam lebih lama disini, mari kita mencari tempat yang lebih aman, aku bantu kau menyembuhkan lukamu."

Ia mengulurkan tangannya, membimbing Siang-koan Kie. Wan Hauw tiba2 menghampiri dengan tindakan, lebar,

katanya:

"Toako, mari aku gendong kau!" Tanpa menghiraukan Siang-koan Kie mau atau tidak, lantas digendongnya dan berjalan lebih dulu.

Nie Suat Kiao memburu dan mendahului Wan Hauw untuk menunjuk jalan, disuatu lembah yang tenang mereka berhenti.

Wan Hauw meletakkan Siang-koan Kie dan berkata sambil tertawa:

"Toako, nona Nie pandai mengobati orang sakit. " Sebetulnya ia hendak memuji kepandaian Nie Suat Kiao yang dapat menyembuhkan penyakit dalam, tetapi baru berkata dua patah, ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan.

Nie Suat Kiao memeriksa keadaan disekitarnya, lalu berkata.

"Saudara Wan, kau menjaga dimulut lembah tidak perduli siapa, semua dilarang masuk kedalam lembah, aku hendak menyembuhkan luka toakomu."

Wan Hauw menerima baik tugas itu, dengan cepat lari keluar.

Dalam lembah yang sunyi itu, kini tinggal Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiao berdua. Siang-koan Kie menghela napas panjang dan berkata:

"Lukaku tidak berat, aku yakin bahwa aku dapat menyembuhkan sendiri, maka tidak berani mengganggu kau."

Nie Suat Kiauw tertawa hambar dan berkata, "Aku tahu kau membohong."

"Juga tidak, aku memang benar2 dilukai oleh Kun-liong Ong."

"Tempat ini sunyi sepi tidak terdapat orang jalan, dalam pikiranmu ada perkataan apa yang ingin kau utarakan, katakan saja padaku."

Siang-koan Kie tercengang. "Aku mengharap dengan sangat supaya kau untuk sementara sudi berdiam dalam golongan pengemis dan mengeluarkan tenaga untuk menghindarkan rimba persilatan dari bencana besar."

"Bukankah aku sekarang sudah menjadi anggota golongan pengemis? Tetapi pada saat ini hanya kita berdua, tidak perlu membicarakan soal yangi menyangkut rimba persilatan, melainkan persoalan pribadi antara kita berdua." Sesaat itu Siang-koan Kie merasakan darahnya bergolak, hampir tidak sanggup mengendalikan meluapnya rasa cinta kasih yang tertekan dalam hatinya.

= = Halaman hilang = =

Terlalu jujur itu, baik Nie Suat Kiao maupun Siang-koan Kie sama2 merasa tidak enak. Nie Suat Kiao per-lahan2 berpaling dan bertanya:

"Siapa yang datang?"

"Aku tidak kenal, bukan Kun-liong Ong, juga bukan orang dari golongan pengemis."

Siang-koan Kie lompat bangun dan berkata: "Aneh, mari kita pergi, melihat."

"Lukamu sudah baik atau belum?" bertanya Nie Suat Kiao, meskipun pikirannya merasa tidak enak, namun ia masih bisa memikirkan lukanya Siang-koan Kie.

"Sesudah mengaso sebentar, aku merasa baikan. kita pergi lihat dulu siapa orang itu yang datang nanti kita bicarakan lagi."

Siang-koan Kie lalu bangkit dan berkata kepada Wan Hauw: "Saudara Wan, dimana orangnya?"

"Dilembah sana." jawabnya Wan Hauw. Ia telah berlalu lebih dahulu.

Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiauw mengikuti dibelakangnya.

Tiga orang itu mendaki puncak gunung, lalu memandang kebawah, benar saja mereka dapat lihat seorang yang mengenakan jubah merah, sedang bergerak dilembah bukit, tetapi karena terpisah terlalu jauh, mereka hanya dapat melihat samar-samar bentuknya orang itu, tidak melihat tegas roman mukanya. Tiba2 Wan Hauw berseru:

"Aaaaaa ! Aku sekarang ingat, itu adalah satu padri." "Padri? Tempat dekat2 sini tidak ada kuil, perlu apa paderi

datang kemari?" berkata Siang-koan Ki heran.

"Tidak salah lagi, aku melihatnya dengan tegas." berkata Wan Hauw tegas.

Wan Hauw yang dilahirkan dengan keadian fisiknya luar biasa, mempunyai pandangan mata melebihi manusia biasa. Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiauw tidak setajam seperti dia.

Nie Suat Kiauw pelahan2 menghela napas dan berkata: "Lembah yang sangat curam ini jarang didatangi manusia,

tempat itu barangkali sudah penuh ditumbuhi lumut, bagi manusia biasa, barangkali sukar jalan diatasnya "

"Benar, orang itu barangkali berkepandaian sangat tinggi," berkata Siang koan Kie.

"Menurut apa yang aku tahu, Kun-liong Ong mempunyai seorang sahabat dari golongan orang suci, orang itu adalah tokoh kuat golongan Bit-cong-pay dari Thibet. Orang itu termasuk golongan orang jahat, mungkin merupakan salah satu sahabat baik Kun-liong Ong..... Tetapi mungkin juga orang2 yang hendak membantu fihak kita, dari Siao lim- sie "

"Dua tokoh kuat dari Siao-lim sie, bersahabat karib dengan pangcu, aku dengar dari pembicaraan mereka, kedudukan dua paderi itu dalam kuil tidaklah rendah, mungkin juga, paderi itu dari golongan Siao-lim-pay yang membantu fihak kita, membasmi orang jahat."

"Tidak perduli siapa orang itu, sebelum kita mengetahui dengan pasti kawan ataukah lawan, kita tidak boleh tidak siap siaga."

"Perlukah mengabarkan kepada pangcu?" "Aku pikir lembah itu tentunya sudah ada orang yang menjaga."

Tiba2 Wan Hauw berseru : „Orang. "

-odwo-

Bab-94

NIE SUAT KIAO dan Siang-koan Kie mengawasi tempat yang ditundiuk oleh Wan Hauw benar saja melihat dua bayangan orang dengan gerakannya yang gesit sekali, lari mendatangi.

Nie Suat Kiao tersenyum dan berkata;

"Orang2 kita yang menjaga dipos penjagaan sudah bergerak, apabila orang yang datang itu adalah sahabat Kun- liong Ong, orang kuat dari golongan Bit-cong-pay, orang2 kita tidak sanggup melawan mereka. Apabila paderi dan Siao lim- sie, mungkin bisa terjadi salah faham, marilah kita turun dan pergi melihat!"

"Sekarang kita perlu turun?" Tanya Wan Hauw kepada Nie Suat Kiao.

"Turun, tetapi tidak boleh bertindak sembarangan, segala tindakan harus dengar perintahku dulu" Ucapan demikian sebetulnya patut diucapkan kepada orang golongan pengemis, tetapi setelah mengeluarkan perkataan itu, ia baru ingat bahwa Wan Hauw bukan anggauta golongan pengemis."

"Ucapanmu ini bukanlah sangat aneh? Sejak kapan aku tidak dengar perkataanmu? Menyahut Wan Hauw sambil menghela napas.

Nie Suat Kiao melengak, ia merasa bahwa Wan Haw berapa hari ini agaknya sudah banyak 'matang', hingga untuk sesaat lamanya ia tidak tahu bagaimana harus menghibur padanya, terpaksa ia bersenyum dan berkata: "O, ya! Kau memang selalu dengar kataku."

Wan Hauw seolah-olah menerima hadiah besar, dengan kegirangan ia pentang ked.ua tangannya, bagaikan burung terbang dan melayang turun kelembah yang sangat dalam itu.

Siang-koan Kie berseru: "Saudara Wan, hati-hati!"

Tetapi Wan Hauw hanya menarik kembali kedua kakinya sejenak, kemudian jungkir balik dua kali ditengah udara, kemudian tangannya menyambar sebuah pohon cemara yang tumbuh dilamping gunung, ia menjungkir balik lagi, Lalu melepaskan pegangannya kepada pohon cemara, hingga badannya melayang turun lagi

Turun dengan cara demikian itu pesat sekali, dalam waktu sangat singkat, ia sudah berhasil menginjakkan kakinya ditanah.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu, berkata sambil tertawa getir:

"Saudara Wan mempunyai bakat pembawaan alam sendiri, tidak dapat dibandingkan dengan kita."

Sehabis berkata demikian lalu melompat turun kedalam jurang.

Perbuatannya itu diikuti oleh Nie Suat Kiao.

Pada saat itu, paderi berbaju merah itu sudah berada kira2 sepuluh tombak dihadapan mereka, benar saja, ia adalah seorang paderi yang memakai jubah merah.

Wan Hauw berpaling mengawasi Nie Suat Kiao sejenak. lalu lompat untuk menyambut kedatangan paderi itu seraya berkata:

"Berhenti."

Orang yang batu datang itu masih belum diketahui dengan jelas, kawan ataukah lawan, karena khawatir Wan Hauw berlaku sembrono, sehingga melukai orang, maka buru2 menyusul mengikutinya.

Padri jubah merah itu berdiri dengan satu tangan melintang didada, lalu memberi hormat kepada Wan Hauw, kemudian berkata:

"Apakah siecu dari golongan pengemis?"

"Bagus! Aku masih belum menanya kau......" berkata Wan Hauw, tetapi ucapan selanjutnya ia tidak tahu harus diucapkan bagaimana? Maka lantas diam.

Siang-koan Kie lalu maju memberi hormat dan berkata: "Taysupoh, apakah datang dari perbatasan Thibet?"

Paderi baju merah itu bersenyum dan menyahut: "Pinceng dari Siao-lim-sie digunung Siong-San."

"Gereja Siao-lim-sie digunung Siong-san, selalu dipandang sebagai tempat kramat oleh sahabat2 rimba persilatan, maafkan aku yang rendah terlambat menyambut kedatangan taysupoh."

"O mie To Hud, bagaimana pinceng berani menerima penghormatan demikian besar......" berkata padri itu, kemudian berdiam sejenak, dan... "Adakah siecu dari golongan pengemis?"

Dari pembicaraannya, Siang-koan Kie mengetahui bahwa paderi itu jarang melakukan perjalanan kedunia Kang-ouw. ia bersenyum dan menjawab: "Benar, entah siapa yang taysupoh ingin cari?"

"Pinceng adalah Sek-bok, kedatangan pinceng hendak bertemu dengan Auw-yang pangcu."

"Hanya taysu seorang diri yang datang?"

"Pinceng datang bersama tiga sutee, karena melihat siecu sekalian turun gunung menyambut, pinceng sekalian khawatir akan terbit salah faham, maka hanya pinceng sendiri yang lebih dulu memberi keterangan."

"Bolehkah taysu minta mereka keluar untuk bertemu denganku?"

"Sudah tentu boleh."

Sek-bok lalu berseru memanggil para suteenya keluar dari tempat persembunyiannya. Tiga paderi berjubah merah muncul keluar berjalan lambat kearah mereka.

Nie Suat Kiao sejak berada dilembah itu, sepatah kata tidak keluar dari mulutnya, ia berdiri dan memperhatikan keadaan dengan tenang.

Tiga padri yang baru datang itu berhenti dan berdiri dibelakang Sek-bok, Sek-bok taysu lalu berkata sambil menunjuk tiga sutenya:

"Ini adalah sutee pinceng semua, Jin-bok, Cie-bok dan Hoat-bok."

Siang-koan Kie berkata sambil menyoja: "Aku yang sendiri Siang-koan Kie."

Nie Soat Kiao setelah mengawasi empat padri itu, lalu men- cari2 disekitarnya, ternyata tidak tertampak orang2 dari golongan pengemis, hingga diam2 merasa heran, Ia berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan:

"Dimana itu orang yang tadi kau lihat?"

Wan Hauw mengawasi keadaan disekitar lembah itu, lalu menjawab:

"Tidak tampak."

Sek Bok taysu sementara itu lalu berkata: "Pinceng sekalian mendapat perintah, ada urusan penting harus dapat menemui Auw-yang pangcu, harap siecu sekalian tolong melaporkan." Siang-koan Kie merasa bingung, karena dimana adanya Auw-yang pangcu sekarang, ia sendiri juga tidak tahu, bagaimana harus melaporkan?

Maka ia lalu berkata sambil menunjuk Nie-Soat Kiao:

"Nona ini adalah penasehat kita sekarang, kecuali pangcu, yang berkedudukan paling tinggi dalam golongan kita, segala urusan berada ditangan nona ini, apabila taysu ada urusan bicarakan saja padanya, sama juga."

Sek-bok menatap wajah Nie Soat Kiao, kemudian berkata lambat2. "Terimalah hormat pinceng."

"Taysu ada urusan apa?" berkata Nie Soat Kiao.

"Disini ada surat ketua kita, yang perlu kita sampaikan kepada pangcu."

"Surat itu entah menyangkut urusan umum ataukah pribadi?"

"Hal ini pinceng sendiri juga kurang terang, maka harus disampaikan kepada pangcu sendiri."'

"Apakah taysu sekalian pasti hendak menjumpai pangcu?" "Peraturan geredia Siao-lim-sie keras sekali, perintah ketua

tak satupun yang berani mengabaikan. harap lie-sicu suka maafkan."

"Kalau begitu harap taysu sekalian suka menunggu disini sebentar."

Sek-bok taysu yang berpikiran agak panjang! masih tidak merasakan apa2, tetapi Cie Bok dan Hoat Bok, nampaknya tidak sabaran, dengan serentak mereka berkata:

"Pinceng dari jauh datang kemari, dengan cara demikian kau orang perlakukan tetamu, bukankah sudah melanggar peraturan rimba persilatan?" "Kita sekarang sedang berhadapan dengan Kun-liong Ong bersama pasukannya yang kuat, kedua fihak setiip saat bisa terjadi pertempuran sengit, jalanan gunung ini sempit dan sukar dilalui manusia, maka siaoli tidak berani meminta taysu sekalian menempuh bahaya, siaoli pikir hendak kirim orang untuk mengundang pangtiu kemari supaya pangcu kemari, mengadakan pertemuan disini dengan taysu sekalian. Sebelum pangcu tiba, biarlah siaoli yang menemani taysu sekalian." berkata Nie Soat Kiao sambil tertawa. Kemudian berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie:

"Kau perintahkan orang2 golongan kita melepaskan tanda rahasia, minta pangcu datang kemari."

Siang-koan Kie dengan sikap menghormat memberi hormat kepada Nie Suat Kiao, kemudian berlalu, namun dalam hati merasa cemas, karena ia tidak tahu dimana orang2 golongan pengemis menyembunyikan diri.

Berjalan beberapa tombak, tiba didepan sebuah batu besar, dalam hatinya lalu berpikir: "Ia suruh aku perintahkan orang2 golongan pengemis yang sembunyi tidak keruan tempatnia, ini merupakan satu tugas yang sangat sulit, tetapi aku juga tidak dapat menghilangkan mukanya didepan tetamunya."

Dengan cepat ia menghilang dibelakang batu besar itu, untuk menyingkirkan perhatian empat paderi itu.

Baru saja memutari batu itu, tiba2 melihat berkelebatnya sinar pedang, dari dalam gerombolan rumput, tiba2 muncul dua kacungnya Auw-yang Thong.

Bukan kepalang girangnya Siang-koan Kie, ia berkata kepada mereka dengan suara perlahan:

"Sudah lamakah saudara2 berada disini?"

Kacung kiri Thio Hong menjawab sambil bersenyum:

"Kita orang telah mendapat perintah untuk menjaga lembah ini, kita berada disini sudah hampir setengah hari." Siang-koan Kie diam2 berpikir; 'Nie Suat Kiao benar2 mempunyai kepandaian seperti toako. entah bagaimana ia mengetahui bahwa disini ada pos penjagaan yang tersembunyi?'

Ia lalu berkata sambil memberi hormat: "Nona Nie ada perintah, minta supaya saudara2 mengirim tanda rahasia untuk melaporkan kepada pangcu, bahwa Sek-bok taysu berempat dari gereja Siao-lim-sie telah datang kemari."

Thio Hong berkata dengan suara perlahan:

"Sebelum menutup mata Teng sianseng ada meninggalkan tiga pucuk wasiat, minta pelayannya menyampaikan kepada kita berdua saudara, tiga pucuk surat wasiat itu masing2 diberi nomor urut, kita berdua saudara membuka surat wasiat nomor satu, dalam surat itu kecuali membentangkan cara2nya bagaimana harus melawan musuh, juga minta supaya surat yang lainnya disampaikan kepada saudara Siang-koan."

Siang-koan Kie diam2 merasa heran, mengapa toakonya harus minjam tangan dua kacung itu untuk menyampaikan surat kepadanya? Mengapa tidak disampaikan langsung kepadanya?

Sementara itu Thio Hong sudah berkata lagi:

"Dalam suratnya yang ditujukan kepada kita, Teng sianseng menjelaskan, bahwa sebelum nona Nie masuk menjadi anggauta golongan kita, surat wasiat ini tidak boleh diserahkan kepada saudara."

"Andaikata nona Nie tidak mau masuk menjadi anggauta golongan pengemis, dua surat itu juga tidak perlu kalian sampaikan kepadaku, betul tidak?"

Kacung kanan Lie Sin berkata:

"Dalam surat Teng sianseng yang ditujukan kepada kita itu sudah dijelaskan, apabila nona Nie tidak mau masuk menjadi anggauta, Teng sianseng suruh kita menyerahkan surat wasiat itu kepada pangcu. "

"Apa yang ditulis dalam suratnya itu? Apakah saudara2 sudah pernah baca?"

"Sudah," jawab Thio Hong, "surat itu minta pangcu mengerahkan seluruh kekuatan yang ada dalam golongan kita, minta supaya dua sesepuh kita si Gagu dan si Tuli turut ambil bagian, kemudian mengirim surat tantangan kepada Kun-liong Ong, supaya mengadakan pertempuran yang memuluskan dihadapan kuburan Teng sianseng. Dalam dua surat yang lain, juga tidak perlu disampaikan kepada kau lagi. Kalau pertempuran besar itu sudah dimulai, surat itu lalu dibakar dihadapan kuburan "

Sehabis berkata demikian dua kacung itu memutar badan dan membunyikan siulan panjang.

Suara siulan itu segera mendapat sambutan dari sana sini, seolah2 mempunyai irama tertentu, yang tidak dimengerti olehnya. Selagi hendak balik memberi lapor kepada Nie Suat Kiao. Thio Hong tiba2 berkata padanya:

"Saudara Siang-koan, siaotee tadi menyaksikan saudara dengan saudara Wan itu bertempur melawan Kun-liong Ong, kita sesungguhnya sangat kagum."

"Apa? Apakah kalian tadi telah menyaksikan?"

"Oleh karena terpisah agak jauh, kita tidak bisa melihat dengan nyata....." berkata Thia Hong sambil bersenyum, "dalam lembah ini, semua ada duabelas orang kita yang menjaga dipos masing2 yang tersembunyi, mereka semua dibawah komando kita berdua saudara, apabila saudara memerlukan bantuan kita, perintahkan saja."

"Pangcu ternyata pintar mengatur siasat, semuanya sudah diatur dengan sempurna. " "Kalau semua itu diatur oleh pangcu, siaote juga tidak perlu banyaK mulut untuk memberitahukan kepadamu."

"Kalau begitu, siapa yang memerintahkan kepada kalian?" "Teng Sianseng "

Siang-koan Kie tercengang. "Teng sianseng sudah meninggal dunia beberapa bulan, bagaimana bisa memberi perintah?"

"Perintah itu disampaikan dalam surat wasiatnya yang ditujukan untuk kita."

Kacung kanan Lie Sin lalu menyelak: "Sekarang nona Nie sudah menjadi anggota kita, maka dua pucuk surat wasiat ini sudah selayaknya kita berikan padamu."

Sementara itu Thio Hong sudah mengeluarkan dua pucuk surat dan diberikannya kepada Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie menerima surat itu dan diperiksanya dengan teliti, kecuali nomornya, tidak ada tanggalnya yang menunjukkan kapan harus dibukanya surat itu, hingga ia merasa agak heran, lalu bertanya:

"Surat ini tidak diberikan petunyuk tanggalnya untuk membuka, hingga siaotee tidak tahu kapan baru boleh dibaca?"

"Waktu pelayan Teng sianseng menyampaikan surat ini, pernah meninggalkan dua pesan."

"Pesan apa?"

"Jikalau saudara berada dalam jalan buntu, bukalah surat yang kedua, dan kalau saudara terganggu asmara, bukalah surat yang nomor tiga." berkata Thio Hong.

Siang-koan Kie menyimpan suratnya, setelah mengucapkan terima kasih, lantas minta diri. Kembali ditempatnya, ia lihat Nie Suat Kiao sedang duduk bersemedi ditengah jalan, Wan Hauw berdiri disampingnya dengan mata terbuka mengawasi empat paderi itu.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan demikian diam2 berpikir: 'Siao-lim-sie didalam rimba persilatan selalu dipandang sebagai partay terbesar dan pimpinan dalam golongan kebenaran, dengan sikap demikian kita perlakukan paderi utusan gereja itu, bukankah berarti satu perhinaan?

Karena berpikir demikian, pikirannya merasa tidak enak sendiri. Ia ingin meminta maaf kepada empat pederi itu, tetapi melihat sikap agung Nie Suat Kiao, ia tidak berani buka mulut.

Dalam keadaan demikian, ia terpaksa menunggu tetapi empat paderi itu, kecuali Sek-bok, tiga yang lainnya, agaknya tidak sabar menunggu lagi. Mereka saling berpandangan sejenak, kemudian maju menghampiri Nie Suat Kiao dengan tiba-tiba.

Nie Suat Kiao mendadak membuka mata dan berkata dengan suara dingin:

"Berhenti."

Gadis cantik bertubuh langsing itu tak disangka mempunyai wibawa demikian besar, tiga paderi yang ditegur secara demikian, benar2 tidak berani melanjutkan langkahnya lagi.

"Demikian bengis nona menegur, entah ditujukan kepada siapa?" tanya Jin-bok sambil tertawa dingin.

Nie Soat Kiao bangkit lompat, ia balik menanya dengan suara dingin:

"Aku ingin tanya, ini tempat apa? Bagaimana taysu sekalian boleh bertindak sembarangan?"

"Pinceng sekalian bukan orang dari golongan pengemis, sekalipun Auw-yang Thong sendiri, melihat pinceng, juga tidak berani berlaku demikian sombong.." berkata Cie Bok gusar. Nie Soat Kiao tertawa dingin, katanya lambat2:

"Pangcu kita berhati lapang, terhadap siapa saja, selalu berlaku merendah, tetapi tidak demikian dengan aku, aku harus pegang keras peraturan, aku hanya kenal benar atau salah, tidak pandang bulu."

"Walaupun peraturan golongan pengemis terlalu keras, tetapi juga tidak boleh digunakan terhadap orang diluar golongannya." berkata Hoat Bok sambil mengerutkan kening.

"Tidak perduli siapa, asal sudah memasuki daerah terlarang kita, semuanya harus tunduk peraturan kita."

"Bagaimana kalau pinceng tidak mau tunduk?" berkata Jin Bok.

"Terpaksa aku bertindak."

"Sikap liesicu ini sangat keterlaluan, pinceng ingin minta sedikit pelajaran," berkata Jin Bok kemudian mengerahkan kekuatan tenaganya dan menerjang maju.

Nie Soat Kiao mengangkat tangannya, melancarkan satu serangan. Jin Bok menyambut serangan sambil tertawa dingin.

Siang koan Kie tidak menduga akan terjadi demikian, untuk sesaat ia merasa bingung, karena tidak bisa turun tangan memberi bantuan kepada Nie Soat Kiao, juga tidak bisa melarang Nie Soat Kiao berbuat demikian.

Ia mengharap supaya Sek Bok taysu turun tangan melarang suteenya, untuk mencegah penumpahan darah.

Tetapi ia kecewa, Sek Bok masih berdiam diri ditempatnya, nampaknya tidak ada maksud melarang suteenya.

Hoat Bok dan Cie Bok lebih gila lagi, mereka nampaknya sudah siap2 untuk membantu kawannya. Wan Hauw mengepal tangannya dengan mata melotot, mengawasi jalannya pertempuran, asal melihat Nie Soat Kiao keteter atau minta bantuan kepadanya, segera bertindak.

Sementara itu, Nie Soat Kiao dan Jin Bok sudah bertempur empat lima jurus, dengan gerakannya yang gesit dan lincah, Nie Soat Kiao berhasil menahan majunya Jin Bok.

Tetapi serangan Jin Bok makin lama makin hebat, tiga empat jurus layi, serangannya menimbulkan suara menderu- deru.

Selagi pertempuran berlangsung seru, tiba2 terdegar suara bentakan orang:

"Tahan."

Siang-koan Kie berpaling, ia segera dapat lihat bahwa Auw- yang Thong tengah menghampiri bersama empat anak buahnya, hingga diam2 menarik napas lega. Ia berseru dengan suara nyaring:

"Pangcu datang!"

Pada waktu itu, Jin-bok taysu sedang melancarkan satu serangan hebat kepada Nie Suat Kiao.

Siang-koan Kie yang menyaksikan perbuatan paderi itu, diam2 merasa gusar, sebab dengan seruannya, dan tokh masih menggunakan serangannya yang ganas.....

Nie Suat Kiao yang diserang dengan ganas, berhasil mengelakkan diri dan lompat menyingkir sejauh delapan kaki

Jin-bok masih ingin menyerang terus, Auw-yang Thong buru2 merintangi dan berkata sambil memberi hormat :

"Aku yang rendah Auw-yang Thong. kedatangan taysu sekalian ada keperluan apa?"

Jin-bok taysu terpaksa menarik kembali serangannya, ia mengawasi Auw-yang Thong sejenak lalu berkata: "Pinceng Jin bok, datang dari gereja Siao-lim-sie digunung Siong-san."

"Siao-lim-pay sebagai pemimpin rimba persilatan, dihormati oleh setiap orang, disini aku yang rendah minta maaf se- besar2nya atas kelambatanku datang menyambut." berkata Auw-yang Thong sambil memberi hormat.

Meskipun hawa amarah Jin-bok masih belum reda, tetapi berhadapan dengan ketua golongan pengemis yang namanya sangat kesohor itu, terpaksa mengendalikan hawa amarahnya, ia berkata sambil mengawasi Nie Suat Kiao:

"Lie-siecu ini kepandaian tinggi sekali, pinceng tidak mendapat kesempatan banyak untuk belajar kenal dengan kepandaiannya, sesungguhnya sangat menyesal sekali."

"Dia adalah penasehat golongan kami, harap taysu memandang diriku yang rendah, jangan taysu buat pikiran."

Jin-bok terpaksa undurkan diri, walaupun dalam hatinya masih sangat penasaran.

Nie Suat Kiao tidak menghiraukan sikap paderi tua itu, dengan sikap dingin masih tetap berdiri ditempatnya.

Sek-bok taysu dengan melalui para suteenya, menghampiri Auw-yang Thong dan berkata sambil merangkapkan keYua tangannya:

"Pinceng Sek-bok."

"Tiat-bok taysu adalah sahabat karibku, taysu kiranya kenal?" berkata Auw-yang Thong.

"Itu adalah suheng pinceng." jawabnya setelah berpikir sejenak.

"Suheng taysu juga berada disini, apakah taysu ingin menjumpai?" Wajah Sek-bok mendadak berubah, setelah berpikir sejenak, kemudian berkata:

"Pinceng sekalian datang dengan membawa perintah, hendak menemui pangcu, untuk menyampaikan surat rahasia ketua pinceng. Kini ketua pinceng masih menunggu kabar. Oleh karena tergesa-gesa, barangkali tidak banyak waktu untuk bicara lebih banyak."

Ucapannya itu merupakan Suatu tanda bahwa ia tidak ingin menjumpai suhengnya.

"Dimana surat ketua taysu?" Berkata Auw-yang Thong sambil bersenyum.

Sek-bok dari dalam sakunya mengeluarkan sepucuk surat dan diserahkan kepada Auw-yang Thong seraya berkata;

"Ketua pinceng pesan, bahwa surat ini sangat penting, sebaiknya jangan sampai dilihat oleh orang ketiga."

Auw-yang Thong melihat sampul surat itu dilakban rapi, diatasnya ditulis namanya dengan huruf besar, selagi hendak membuka, tiba2 terdengar suara Nie Suat Kiao berkata;

"Pangcu, tunggu dulu."

"Kenapa?" Tanya Auw-yang Thong sambil berpaling menatap wajah Nie Suat Kiao.

"Kejahatan dan kepalsuan dunia Kang-ouw, kita harus waspada!"

Auw-yang Thong lalu berkata kepada Sek-bok taysu sambil tertawa: "Surat ini telah kuterima, harap taysu kabarkan kepada ketua taysu..

"Tetapi pinceng harus memberi kabar lebih jelas dari pangcu dengan segera." Auw-yang Thong memeriksa sampul surat itu, ternyata tidak ada tanda2 yang mencurigakan, hingga ia sendiri juga merasa serba salah.

Teng Soan sebelum menutup mata telah menunjuk Nie Suat Kiao sebagai penggantinya, sudah tentu sudah dipertimbangkan dengan masak2. Auw-yang Thong yang sangat menghargai kepandaian Teng Soan, semasa hidupnya selalu mendengar segala nasehatnya. Meskipun Teng Soan kini sudah tiada, tetapi terhadapnya masih tetap menjunjung tinggi. Maka terhadap Nie Suat Kiao yang ditunjuk sebagai penggantinya, ia juga menaruh kepercayaan penuh. Kalau nona itu berani melarang, sudah tentu ada sebabnya.....

Karena berpikiran demikian, maka akhirnya ia sambil bersenyum:

"Disini kurang tepat untuk membuka surat penting, taysu boleh kabarkan saja kepada ketua taysu, katakan saja bahwa aku Auw-yang Thong akan bertindak menurut pesannya."

"Pinceng harus memberi kabar dengan segera, apabila pangcu ragu2 menerimanya surat itu harap pangcu kembalikan saja, biarlah pinceng bawa kembali kepada ketua." Berkata Sek-bok.

Siao-lim-sie sebagai satu partay persilatan kenamaan dalam dunia Kang-ouw, perbuatan Auw-yang Thong itu merupakan suatu perbuatan yang kurang hormat terhadap Siao-lim-sie. Apabila Sek-bok taysu nanti bawa pulang surat itu dan mengeluarkan kata2 yang bersifat mengadu domba dihadapan ketuanya, barangkali akan menimbulkan salah faham. Maka saat itu Auw-yang Thong merasa susah untuk mengambil tindakan, sehingga lama tidak bisa menjawab.

Sepasang mata Nie Suat Kiao terus menatap wajah Sek-bok taysu, agaknya hendak mencari keterangan yang sebenarnya dari wajah paderi itu. Siang-koan Kie juga merasa bahwa perbuatan Nie Suat Kiao itu agak keterlaluan, meskipun tindakkan empat paderi itu juga sangat mencurigakan, namun tidaklah pantas diperlakukan secara kurang sopan.

Tetapi ia tahu kedudukannya dalam golongan pengemis jauh dibawah Nie Suat Kiao, hingga tidak dapat mengemukakan pendapatnya, maka terpaksa diam.

Nie Suat Kiao saat itu berjalan lambat2 menghampiri Auw- yang Thong, matanya mengawasi Sek-bok, Hoat-bok sekalian, katanya dengan suara dingin:

"Sudah lama aku tahu bahwa paderi dari gereja Siao-lim- sie, semuanya mentaati dan patuh dengan pelajaran Buddha, hingga setiap orang berperangai halus, tetapi adat berangasan seperti taysu sekalian, sesungguhnya membuat orang tiuriga."

"Dalam hal apa lie-siecu merasa curiga?" bertanya Sek-bok. "Tadi aku sudah menerima sedikit pelajaran tangan dari

taysu itu, memang benar keluaran gereja Siao-hm-sie.   "

"Kalau sudah tahu bahwa kita dari Siao-lim-sie, mengapa masih curiga?"

"Taysu sekalian barangkali sudah kehilangan akal budinya sendiri karena pengaruh obat Kun-liong Ong." berkata Nie Suat Kiao bengis.

Auw-yang Thong diam2 merasa cemas, ia khawatir tindakan Nie Suat Kiao akan menimbulkan kerewelan dengan Siao-lim-sie......

Sementara itu wajah Sek-bok, Hoat-bok dan lain2nya berubah seketika, mereka memandang Nie Suat Kiao dengan perasaan hampa.

Nie Suat Kiao mendadak berubah sikapnya, dengan lemah lembut ia berkata: "Taysu sekalian adalah orang2 beribadat tinggi, meskipun kena akal muslihat Kun-liong Ong, tetapi bagaimanapun juga masih bisa mempertahankan sedikit kejernihan "

Wajah empat paderi itu sebentar2 menunjukan perubahan tidak menentu, sebentar marah sebentar seperti orang bingung.

Nie Suat Kiao berkata pula;

"Taysu sekalian mendapat perintah dari ketua taysu, datang kemari dengan membawa tugas berat, apabila terkena akal muslihatnya Kun-liong Ong, hal itu bukan saja akan merugikan golongan kita, tetapi Siao-lim-sie sendiri juga akan tercemar namanya. "

Dengan tiba2 ia menggerakkan tangannya, menotok jalan darah dialas alis Sek-bok. Gerakkannya itu dilakukan cepat sekali, hingga Auw-yang Thong tidak keburu mencegah.

Sek-bok Taysu yang sedang dalam keadaan bingung, dan tidak berjaga-jaga, telah ditotok dengan telak, hingga badarnya ter-huyung2, kemudian rubuh ditanah.

Hoat-bok, Jin-bok dan Cie-bok menyaksikan suhengnia jatuh, sikapnya seperti orang bingung mendadak lenyap, dengan serentak mereka mengeluarkan suara bentakan keras, ketiganya mengeluarkan serangan dengan berbareng kepada Nie Suat Kiao.

Auw-yang Thong yang menyaksikan sikap Nie Suat Kiao sebentar berubah tidak menentu, dalam hati juga merasa heran. Karena ia bekas anak angkat Kun-liong Ong, meskipun diangkatnya sebagai nasehat atas usul Teng Soan, tetapi apakah sudah terlepas dan pengaruh Kun-liong Ong seluruhnya atau belum, masih merupakan satu pertanyaan.....

Dengan gerakannya yang gesit dan lincah, Nie Suat Kiao berhasil lolos dari kepungan dan serangan tiga paderi dari Siao-lim-sie itu. Wan Hauw yang sejak tadi menyaksikan dari samping, ketika melihat Nie Suat Kiao dikepung, tiba2 membentak dengan suara keras dan menyerbu Hoat-bok.

Cie-bok dan Jin-bok dengan cepat bertindak menyerang Wan Hauw dari kanan dan kiri. Wan Hauw dengan keiua tangan menyambut serangan dari dua paderi itu, dengan kaki ia menendang Hoat-bok.

Nie Suat Kiao lalu perintahkan kepada Siang-koan Kie: "Lekas turun tangan, bantu saudaramu, sebaiknya kau

tangkap hidup2 saja, jangan kau lukai, supaya tidak menimbulkan permusuhan dengan Siao-lim-sie."

Siang-koan Kie meskipun tidak ingin turun tangan, tetapi mendapat perintah dari atasannya, terpaksa bertindak membantu Wan Hauw melawan tiga paderi.

Nie Suat Kiao berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong: "Pangcu, apakah pangcu merasa curiga atas tindakan hambamu ini?"

Auw-yang Thong tidak menduga akan ditanya secara terus terang demikian rupa, hingga untuk sesaat tercengang dan tidak bisa menjawab. Tetapi akhirnya menjawab juga:

"Kami hanya merasa bahwa sebelum kita dapat membuktikan kedatangan beberapa taysu ini ada mengandung maksud baik, tidak perlu menanam bibit permusuhan dengan Siao-lim-sie!"

"Kalau begitu, pangcu tidak percaya kepada hambamu." berkata Nie Suat Kiao dingin.

"Ini, ini.   "

Sebagai seorang yang berhati lapang, Auw-yang Thong tidak suka membohong, didesak demikian oleh Nie Suat Kiao, ia tidak bisa menjawab. Nie Suat Kiao mendongakan kepala dan menarik napas panjang, kemudian berkata:

"Kalau pangcu tidak percaya, tidak halangan menarik kembali hak dan tugas yang pangcu berikan kepada hamba. "

"Kami memakai orang, selamanya tidak pernah banyak curiga, kami hanya tidak ingin tanam bibit permusuhan dengan Siao-lim-sie, bukanlah maksud kami hendak mencampuri hak nona."

Nie Suat Kiao menyaksikan jalannya pertempuran, tenyata Wan Hauw dan Siang-koan Kie sudah berhasil menguasai keadaan, tiga paderi itu seorang sudah terdesak oleh serangan dua pemuda gagah tangkas itu. Maka ia lalu berkata lambat2;

"Jikalau dugaanku tidak keliru. tiga paderi itu sudah digunakan oleh Kun-liong Ong. "

"Apakah nona mencurigakan asal usul mereka?"

"Empat paderi itu memang benar orang dari Siao-lim-sie, hanya mereka sudah diberi makan obat melupakan diri oleh Kun-liong Ong, hingga akal budinya sudah terpengaruh olehnya, tanpa disadari sudah dipergunakan oleh Kun-liong Ong. "

"Walaupun demikian, kita juga tidak boleh menyusahkan orang yang tidak berdosa, apalagi harus menanam bibit permusuhan dengan Siao-lim-sie. Karena semua ini adalah perbuatannya Kun-liong Ong."

"Maksud dan tujuan Kun-liong Ong, bukan cuma begitu saja. "

Auw-yang Thong memperhatikan gerak tipu tiga paderi itu, tidak salah memang gerak tipu dari Siao-liem-pay, bahkan tidak mengunjukan terpengaruh pikirannya, maka ia lalu berkata: "Menurut pandanganku, sesungguhnya tidak dapat tanda2 bahwa mereka terkena obat Kun-liong Ong.

Nie Suat Kiao tertawa dingin dan berkata:

"Pangcu sudah memberikan hak dan kekuasaan kepada hamba, sebaiknya jangan campur tangan urusan hamba."

-odwo-

Bab-95

AUWYANG THONG melengak, ia ingin berkata, tetapi kemudian diurungkan, hanya hatinya merasa cemas. Pikirnya: 'kerusakan golongan kita, hanya kini belum berhasil memperbaiki, sedangkan bala bantuan dari berbagai cabang yang kuminta, masih belum datang. Tapi Kun-liong Ong sudah datang mengancam lagi. Satu2nya partay, apabila kita melukai orangnya, bukankah akan bermusuhan dengan Siao-lim-pay?

Namun demikian, ia juga tidak dapat merintatangi tindakan Nie Suat Kiao.....

Sementara itu Nie Suat Kiao sudah memerintahkan Wan Hauw dan Siang-koan Kie jangan ragu-ragu katanya:

"Kalian boleh bertempur dengan sungguh2, jangan ragu2. Dalam tigapuluh jurus, harus dapat menangkap hidup2 tiga paderi itu."

Wan Hauw yang selamanya pandang Nie Suat Kiao sebagai bidadarinya, ketika mendengar perkataan itu, lantas melakukan serangannya semakin hebat.

Tetapi Siang-koan Kie masih tetap ragu2, ia tidak mau bertempur dengan sepenuh tenaga. Nie Suat Kiao yang bermata tajam, dua jurus kemudian, sudah dapat lihat gerakan Siang-koan Kie tidak dilakukan dengan sepenuh tenaga, dengan demikian, bukan saja tidak berhasil menjatuhkan lawannya, bahkan mempengaruhi gerakkan Wan Hauw, maka lalu berkata dengan suara bengis.

"Siang-koan Kie, kau tidak bertempur dengan sepenuh tenaga, perbuatanmu ini berarti melanggar perintah atasan, maka harus dihukum menurut peraturan perkumpulan. Nanti setelah tiga paderi itu tertangkap, hukuman itu segera dijalankan."

Siang-koan Kie terkejut, ia tahu bahwa maksud dalam hatinya sudah diketahui oleh Nie Suat Kiao, maka ia segera merubah gerak tipunya dan menyerang dengan sepenuh tenaga.

Dengan demikian, keadaan pertempuran itu lantas berubah.

Tiga paderi itu nampak keteter, sama sekali tidak berdaya. Sek-bok yang sudah berhasil membuka totokannya sendiri, ketika menampak tiga suteenya terdesak mundur, segera maju memberi bantuan. Ia melancarkan satu serangan kedada Siang-koan Kie.

Ketika Siang-koan Kie menyambuti serangan itu, tangannya dirasakan kesemutan mundur satu langkah.

Dilain fihak, Sek-bok juga terpental mundur oleh kekuatan Siang-koan Kie, hingga diam2 mengagumi kekuatan pemuda itu.

Sebentar kemudian, berdua sudah bertarung lagi. Masing2 kini bertempur sungguh2, hingga untuk sesaat belum mendapat ketentuan siapa yang akan menang.

Tetapi Nie Suat Kiao sudah melihat bahwa fihaknya Siang- koan Kie dan Wan Hauw yang semula sudah akan merebut kemenangan., sejak Sek-bok turun tangan, keadaan lantas berubah, kalau ia tidak turun tangan sendiri, mungkin tidak mudah merebut kemenangan. Auw-yang Thong yang selama itu berdiri sebagai penonton, dalam hatinya diam2 berpikir;

"Paderi dari Siao-lim-sie, umumnya mempunyai perangai sangat baik, empat paderi itu, semua memakai gelar nama 'Bok', dengan sendirinya merupakan orang2 setingkat dengan Tiat-bok Taysu. Kini Tiat-bok Taysu masih merawat lukanya, mengapa aku tidak meminta ia menjumpai mereka?”

Selagi berpikir, Sek-bok tiba2 sudah merubah gerak tipu serangannya, kini ia menggunakan gerak tipu Siao-lim-pay, yang terkenal ampuhnya, Lo-han-koan-hoat, yang terdiri dari delapan belas jurus.

Gerak tipu itu merupakan gerak tipu serangan keras, kalau yang menggunakan belum mempunyai kekuatan tenaga cukup sempurna, tidak dapat menggunakan untuk menyerang lawannya.

Serangan Sek-bok yang menggunakan gerak tipu Lo-han- koan, makin lama makin hebat.

Siang-koan Kie segera dapat merasakan itu, ia harus menggunakan seluruh kekuatan tenaga baru dapat mengimbangi kekuatan serangan Sek-bok.

Sungguh tidak mengecewakan gerak tipu Lo-han-koan menjadi ilmu simpanan Siao-lim-pay, keistimewaannya gerak tipu itu, semakin lama semakin nampak hebatnya. Siang-koan Kie yang semula masih dapat mengimbangi, lama2 merasa kewalahan, dibawah desakan hebat Sek-bok, ia sudah tidak mendapat kesempatan untuk melancarkan serangannya, maka hanya berada difihak yang harus menerima gebukan saja.

Sebaliknya dengan Wan Hauw, meskipun menghadapi tiga lawan, tetapi ia berada diatas angin.

Auw-yang Thong yang menyaksikan keadaan demikian, tidak bisa tinggal diam lagi, ia lalu mengeluarkan siulan panjang. Dari belakang batu besar, segera muncul si kacung Thio Hong.

Selagi Auw-yang Thong hendak memerintahkan Thio Hong untuk memanggil Tiat-bok taysu datang, Nie Suat Kiao sudah berkata lebih dahulu:

"Siang-koan Kie sudah agak berat menghadapi lawannya, kau pergi bantu padanya."

Thio Hong menerima baik perintah itu, ia segera maju dan melakukan serangan dengan pedangnya.

Sek-bok taysu menggunakan serangan membalik menyingkirKan ancaman Thio Hong.

Tetapi dengan demikian, Siang-koan Kie mendapatkan kesempatan untuk melepaskan diri dari tekanan serangan Sek- bok dan melakukan serangan pembalasan. Setelah berhasil balas menyerang, ia minta Thio Hong undurkan diri.

Thio Hong mengerti bahwa bantuan yang tidak diminta oleh orang yang bersangkutan, memang agak menyinggung perasaan, maka ketika mendengar permintaan Siang-koan Kie, ia segera mengundurkan diri.

Siang-koan Kie yang sudah dapat memahami gerak tipu Lo- han-koan, pe-lahan2 bisa mendesak mundur lawannya, hingga kini empat paderi itu kembali sudah keteter lagi.

Siang-koan Kie yang berkelahi dengan semangat ber- kobar2, telah berhasil memukul pundak kiri Sek-Bok, hingga setengah badan padri itu dirasakan kejang. Siang-koan Kie melanjutkan serangannya, jari tangannya menotok jalan darah 'Leng thay-hiat', hingga Sek-bok seketika itu roboh ditanah.

Setelah merobohkan lawannya, Siang-koan Kie undurkan diri dan menyaksikan pertandingan Wan Hauw yang menghadapi tiga lawan. Tidak lama kemudian, Wan Hauw juga berhasil menjatuhkan Cie-bok taysu.

Dengan demikian, hingga tinggal Jin-bok dan Hoat-bok yang masih berhadapan dengan Wan Hauw. Dibawah serangan hebat Wan Hauw, dua padri itu semakin terdesak kedudukannya.

Auw-yang Thong ingin menghentikan pertempuran itu, tetapi ia takut Wan Hauw tidak mau menurut, karena ia bukan anggota golongan pengemis, boleh tidak mau dengar perintahnya.

Pada saat itu. Siang-koan Kie tiba2 melompat meleset, dengan jari tangan kedua tangannya, ia menotok rubuh dua lawan Wan Hauw.

Sementara itu Wan Hauw juga sudah menjambret leher Jin- bok, Auw-yang Thong yang menyaksikan kejadian itu, sangat ckawatir pemuda itu membinasakan lawannya, dengan demikian, berarti menanam bibit permusuhan dengan Siao- lim-sie, maka buru2 mencegahnya.

Nie Suat Kiao mengerti maksud Auw-yang Thong, dengan cepat ia bertindak menotok jalan darah Jin-bok dan berkata kepada Wan Hauw:

"Lepaskan."

Wan Hauw menurut, ia melepaskan Jin-bok dan minggir kesamping.

Nie Suat Kiao lalu memerintahkan Siang-koan Kie supaya mengumpulkan jadi satu empat padri dari Siao-lim-sie itu.

Setelah itu Nie Suat Kiao minta melihat surat dari ketua Siauw-lim-sie yang diserahkan oleh Sek-bok taysu tadi.

Setelah membaca surat, Nie Suat Kiao berkata kepada Siang-koan Kie: "Diantara empat padri ini, adalah Sek-bok taysu yang berkepandaian paling tinggi, juga merupakan pemimpin dari rombongan mereka, kau buka totokannya setengah badan, aku hendak menanyakan padanya."

Siang-koan Kie menurut, ia membuka totokan bagian atas badan Sek Bok.

Auw-yang Thong tiba2 ingat, justru karena Nie Suat Kiao bekas anak angkat Kun-liong Ong, hingga mengetahui banyak segala akal muslihat manusia jahat itu, Teng Soan mengajukan dia sebagai penggantinya, hal ini mungkin merupakan satu faktor yang sangat penting. Maka saat itu ia tidak membuka suara lagi, akan menyaksikan bagaimana Nie Suat Kiao bertindak lebih jauh.

Nie Suat Kiao kembalikan surat ketua Siao-lim-sie kepada Sek-bok dan berkata sambil tertawa:

"Surat dalam sampul ini adalah tulisan tangan ketua taysu sendiri, sekarang harap taysu baca sendiri, bagaimana?"

Sek-bok taysu menyambuti sampul tersebut, wajahnya berubah seketika, matanya menatap Nie Suat Kiao, katanya lambat2: "Pinceng tidak dapat membaca surat ini."

Nie Suat Kiao mengawasi Auw-yang Thong sejenak, lalu berkata kepada Sek-bok:

"Diantara taysu berempat, tiga antaranya sudah terkena pengaruhnya obat Kun-liong Ong, hingga sudah tidak ingat kepada diri sendiri, karena perasaan dan pikiran sudah terpengaruh oleh Kun-liong Ong. Hanya taysu seorang yang masih jernih pikirannya, betul tidak?"

"Meskipun Pinceng belum makan obat Kun-liong Ong. tetapi sudah ditusuk jarum beracun melekat tulang olehnya."

"Dan karena itu maka kau mudah diperalat oleh Kun-liong Ong, hendak menggunakan surat ini Untuk mencelakakan diri pangcu kita." "Pinceng melakukan perbuatan itu karena dalam keadaan terpaksa."

"Aku tahu, jarum beracun melekat tulang Kun-liong Ong itu, juga pernah direndam dengan racun sangat berbisa, meskipun pikiran masih jernih tetapi tetap sudah tidak mampu kendalikan perasaan sendiri, sedangkan obat yang diberikan kepada mereka bertiga, juga berlainan dosisnia, hingga agak sukar dilihat dengan nyata."

"Dugaan nona memang benar "

"Andaikata jalan darah dan urat nadi dalam tubuhmu tidak tertutup oleh totokan jalan darah, racun dari jarum tidak bisa dibatasi disatu bagian saja, hingga pikiranmu tidak sesadar seperti sekarang."

Sek-bok taysu berpikir sejenaK, kemudian berkata: "Pada saat ini, pinceng agaknya juga sudah seperti sedia kala."

Nie Suat Kiao tiba2 menarik pedang dari pinggang Thio Hong, digunakan untuk menyontek sampul surat dari tangan Sek-bok taysu, kemudian berkata sambil tertawa:

"Benarkah taysu tidak tahu isinya dalam surat ini?"

"Surat ini ditulis oleh ketua pinceng sendiri, tetapi setelah pinceng berempat tertangkap oleh Kun-liong Ong, surat ini sudah dibuka olehnya, isinya sudah dirubah atau tidak pinceng sesungguhnya tidak tahu."

Nie Suat Kiao membeber surat itu diatas sebuah batu besar, lalu berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong:

"Pangcu kenal baik dengan ketua Siao-lim-sie, apakah mengenali tulisannya?"

"Perhubungan kita tidak begitu erat, sekalipun pernah melihat tulisannya, tetapi sudah lama lupa." berkata Auw-yang Thong. "Tetapi ini juga bukan soal sulit, Tiat-bok taysu sekarang berada disini, asal minta ia datang, tidak susah untuk mengenali tulisan ketuanya."

Nie Suat Kiao tiba2 mengunjukan sikap sangat serius, katanya;

"Dahulu dimasa hidupnya, bagaimana Teng sianseng melakukan tugasnya? Dan bagaimana pangcu berlaku terhadapnya?"

"Selalu menurut."

"Dan bagaimana pangcu terhadap hambamu ini?" "Sama juga menghormatinya."

"Kalau pangcu merasa keberatan karena asal usul diriku, sekarang ini masih keburu."

"Kami memakai orang, selalu percaya, apalagi terhadap orang yang diusulkan oleh Teng sianseng, walaupun nona tidak memikirkan kepentingan golongan pengemis kita, tetapi seharusnya juga mengeluarkan tenaga untuk menghindarkan rimba persilatan dari malapetaka."

Nie Suat Kiao tiba2 berpaling dan bertanya kepada Thio Hong:

"Apakah kau membawa korek api?"

Thio Hong menyerahkan korek api, diserahkan kepada Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao lalu membakar surat dari ketua Siao-lim-sie itu berikut sampulnya. Auw-yang Thong benar2 mempunyai kesabaran luar biasa, ia menyaksikan semua perbuatan Nie Suat Kiao sambil tersenyum, sikapnya tenang2 saja.

Nie Suat Kiao kembalikan pedang dan korek apinya kepada Thio Hong, kemudian berkata kepada Siang-koan Kie:

"Tahukah kesalahanmu?" "Hamba tahu, sekarang bersedia menerima hukuman." Berkata Siang-koan Kie,

Nie Suat Kiao berkata kepada Thio Hong:

"Tinggalkan Sek-bok seorang, tiga paderi yang lainnya kau bawa pulang keatas gunung, menunggu kedatanganku."

Thio Hong menurut, ia menggapai tiga anak buah golongan pengemis, masing2 disuruh membawa pulang seorang.

"Disini sudah tidak ada urusanmu, pergilah!" berkata Nie Suat Kiao kepada Thio Hong.

Setelah Thio Hong berlalu, Nie Suat Kiao berkata kepada Siang-koan Kie sambil menunjuk Sek-bok taysu:

"Kau gendong dia."

Setelah berkata demikian, ia berlalu lebih dulu.

Auw-yang Thong merasa tidak enak, tetapi tidak berdaya, ia bertanya kepada Nie Suat Kiao:

"Apakah kami perlu ikut?"

"Sudah tentu pangcu turut memeriksa urusan ini."

Auw-yang Thong bersenyum, ia berjalan dibelakang Siang- koan Kie.

Disuatu tempat yang tersembunyi letaknya, Nie Soat Kiao berhenti.

Siang-koan Kie yang berjalan dibelakangnya sambil menggendong diri Sek-bok taysu, diam2 merasa khawatir, karena sifat Nie Soat Kiao yang susah diduga, ia tidak tahu bagaimana akan memeriksa paderi itu.

Berjalan lagi beberapa tombak jauhnya, jalan itu merupakan jalan buntu. Nie Soat Kiao berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie: "Sudah kau letakkan!" Siang-koan Kie menurut, meletakkan tubuh Sek-bok taysu, mundur kebelakang Auw-yang Thong.

Ia khawatir Nie Soat Kiao akan aniaya Sek-bok taysu, apabila benar, ia akan minta supaya Auw-yang Thong mencegah.

Nie Soat Kiao berjongkok didepan Sek-bok taysu, membuka totokannya, kemudian dari dalam sakunya ia mengeluarkan sepotong besi semberani dan bertanya kepada Sek-bok taysu:

"Dibagian mana Kun-liong Ong menusuk jarum beracun melekat tulang?"

Sek-bok taysu yang sudah terbuka totokannya, racun dari jarum itu lantas bekerja, dengan mendadak ia lompat bangun, matanya bergerak sebentar, lalu, dengan tiba2 menyerang Nie Soat Kiao.

Wan Hauw yang melindungi Nie Soat Kiao, dengan cepat ulur tangan kirinya menyambar tangan Sek-bok taysu, tangan kanannya mencekal leher dan kakinya melakukan tendangan, hingga Sek-bok taysu roboh seketika.

Nie Soat Kiao menghela napas pelahan, berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong:

"Pangcu sudah menyaksikan sendiri."

"Sudah, tetapi pikirannya terpengaruh oleh obatnya Kun- liong Ong, hingga tidak mampu mengendalikan sendiri, jangan turun tangan terlalu berat."

"Pangcu salah mengerti maksud hamba." "Aku ingin minta sedikit keterangan."

"Anak buah Kun-liong Ong, setiap orang tidak takut mati, ini bukan berarti bahwa sifat mereka gagah berani atau buas, melainkan pikirannya, dikendalikan oleh pengaruhnya obat, sehingga tidak mampu menguasai diri sendiri " "Hal ini memang aku sudah tahu."

"Dan Sek-bok taysu ini, hanya merupakan salah satu orang yang terkena racun paling ringan dan tokh masih tidak sanggup mengendalikan pikirannya sendiri. Bagaimana dengan orang yang diberi obat lebih berat? Semua hidup orang2 itu akan mengabdi terus kepada Kun-liong Ong. Anak buah kita golongan pengemis, meskipun setiap orang menyinta dan menghormat kepada pangcu serta bersedia berkorban bagi ketuanya, tetapi mereka masih tetap sebagai manusia biasa, yang terdiri dari darah dan daging. Kalau mereka disuruh mengadu jiwa dengan anak buah Kun-liong Ong yang pikirannya terkendali oleh kekuatan obat, bukan saja sulit untuk mendapat kemenangan, tetapi perbuatan itu diuga terlalu kejam,"

Auw-yang Thong tercengang mendengar uraian demikian, lama ia tidak bisa berkata.

"Ancaman bencana sudah menjadi kenyataan, kita hanya dapat berbuat sekuat tenaga untuk menumpas bencana itu, berhasil atau tidak, terserah kepada Tuhan Yang Maha Esa."

Nie Suat Kiao menarik napas panjang dan berkata:

"Teng sianseng seorang luar biasa, hamba merasa tidak ada seujung kukunya, sewaktu hamba menerima jabatan ini, sudah memikirKan persoalan ini, sekalipun kita mendapat bantuan golongan Siao-lim-sie dan beberapa partay besar lainnya, tetapi dalam pertempuran besar yang akan kita hadapi ini, barangkali juga akan kehilangan banyak jiwa, bahkan masih belum tentu kita dapat merebut kemenangan. Kun-liong Ong seorang jahat, kejam dan pandai menggunakan racun, asal ia bisa lolos, dikemudian hari masih tetap akan menjadi ancaman besar bagi dunia rimba persilatan."

"Tentang ini, semasa Teng Sianseng masih hidup masih belum mendapatkan suatu rencana yang sempurna untuk menghadapinya. Apalagi kepandaianku sendiri sudah tidak perlu dikatakan lagi."

"Hamba mempunyai suatu akal. "

"Benar" bertanya Auw-yang Thong yang kegirangan. "Bagaimana hamba berani membohongi pangcu."

Karena terlalu girang, Auw-yang Thong sampai melupakan kedudukannya sendiri, ia telah menjura dalam2 kepada penasehatnya dan berkata:

"Apabila benar dapat menghindarkan rimba persilatan dari ancaman malapetaka ini, kami bersedia menyerahkan kedudukan pangcu. "

Nie Soat Kiao memotong sambil tertawa: "Kepandaian dan kecerdikan Kun-liong Ong melebihi manusia biasa, pada dewasa ini, kecuali Teng sianseng, barangkali belum ada orang yang dapat menandingi kepintarannya. Hamba hanya menjalankan kewajiban dan tugas dengan kemampuan yang ada. lagi pula, hamba masuk menjadi anggauta golongan pengemis, sedikitpun tidak mempunyai pikiran untuk mendapat kedudukan apalagi menguasai dunia Kang-ouw. Hamba hanya ingin mencurahkan semua pikiran dan tenaga untuk menunaikan tugas dan membalas budi Teng sianseng. Meskipun belum tentu dapat mengimbangi kepintaran dan kepandaian Kun-liong Ong, tetapi hamba juga tidak akan mengecewakan Teng sianseng yang bersemayam didalam Syorga, maka hamba tidak hanya menerima tugas begitu saja. "

"Nona berjiwa jantan, kita sebagai orang laki2, sesungguhnya juga merasa malu."

"Hanya, ada satu hal hamba ingin menjelaskan kepada pangcu, harap pangcu suka menerima baik permintaan hamba."

"Apa yang aku dapat lakukan, sudah tentu dapat kuterima." "Andaikata hamba tidak dapat melaksanakan tugas yang diberikan oleh Teng sianseng hamba akan mengakhiri hidup hamba. Tetapi andaikata tidak mengecewakan pengharapan pangcu dan berhasil menumpas kejahatan Kun-liong Ong, satu hari setelah Kun-liong Ong menerima hukumannya, hamba minta pangcu kembalikan kebebasan hamba. Karena hamba hanya seorang perempuan, tidak ingin selamanya berkelana dalam dunia Kang-ouw."

Untuk seketika lamanya Auw-yang Thong tertegun, kemudian berkata:

"Urusan ini dikemudian hari kita bicarakan lagi. Aku nanti akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyelesaikan soal ini."

"Namun hasrat hamba sudah tetap, harap pangcu suka menerima baik permintaan hamba ini."

Auw-yang Thong menghela napas panjang dan berkata: "Berikan waktu beberapa hari untuk aku berpikir, nanti aku

akan memberikan jawaban bagaimana?"

Nie Suat Kiao tidak enak mendesak lagi, pembicaraannya dialihkan kepersoalan yang mengenai Kun-liong Ong:

"Menurut apa yang hamba tahu. apabila hendak menumpas kekuatan Kun-liong Ong, hanya ada satu jalan!"

Auw-yang Thong mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak mengganggu pembicaraannya.

"Jalan itu adalah kita harus berusaha untuk melenyapkan racun yang menyerang dalam tubuh anak buahnya."

"Untuk melaksanakan itu meskipun agak sulit, tetapi juga merupakan soal yang menjadi pokok kekuatan Kun-liong Ong, barangkali ia sudah siap siaga lebih dulu."

"Meskipun Kun-liong Ong pandai menggunakan racun, tetapi dengan seorang diri, juga tidak mungkin mencapai semuanya. Menurut apa yang hamba tahu, dalam istananya, telah dibangun satu kamar rahasia, khusus untuk menyimpan racun, asal kita berhasil masuk kekamar rahasia itu, tidak susah untuk mengetahui cara2 Kun-liong Ong menggunakan racunnya."

Siang-koan Kie tiba2 nyeletuk: "Apakah nona pernah masuk kekamar itu?"

"Kecuali Kun-liong Ong sendiri, barangkali tidak ada orang lain yang masuk kekamar itu, Kalau tokh ada, barangkali juga orang yang menjaga kamar itu. Tetapi begitu masuk kedalam, jangan harap bisa keluar lagi dalam keadaan hidup. Maka cara2nya Kun-liong Ong menggunakan racun tidak tersiar kedunia Kang-ouw."

"Dalam urusan ini mungkin nona sudah mempunya rencana?" berkata Auw-yang Thong,

Nie Suat Kiao memandang Sek-bok taysu sejenak, kemudian berkata:

"Aku hendak pinjam tenaga taysu ini, masuk keistana Kun- liong Ong, hanya ada satu hal yang agak sulit, yang belum dapat hamba pecahkan.

"Asal itu dapat dilakukan oleh orang2 kita golongan pengemis, kita akan membantu dengan sekuat tenaga."

"Kun-liong Ong bisa malang melintang didunia Kang-ouw dan menjagoi rimba persilatan, kamar rahasia tempat menyimpan racun itu sebetulnya merupakan factor paling penting. Asal kita bisa menghancurkan kamar itu, ini berarti memberi pukulan hebat lebih dulu padanya, tetapi harus memilih orang yang mempunyai keberanian, ketangkasan dan kecerdikan luar biasa serta berani menempuh bahaya kematian, baru ada harapan akan berhasil."

"Nona boleh pilih sendiri diantara anak buah golongan pengemis." "Tetapi hamba belum kenal baik keadaan anak buah pangcu."

"Kami bolehkan pilihkan dulu orang2 terkuat dari golongan kita, dan nona boleh mengadakan pilihan lagi. Entah

memerlukan berapa banyak orang?"

"Yang menyusup kedalam tiga orang, yang membantu diluar paling sedikit enam orang."

Auw-yang Thong mengerutkan keningnya, otaknya bekerja keras.

"Tiga orang yang ditugaskan menyusup kedalam, sebaiknya mempunyai kepandaian dan kekuatan yang sanggup menyambuti serangan Kun-liong Ong, paling sedikit sampai limapuluh jurus keatas. Setidak-tidaknya, tiga orang itu kalau bersatu, juga dapat melawan sampai limapuluh jurus keatas."

"Dalam golongan kita. barangkali belum ada orang yang mempunyai kepandaian dan kekuatan demikian, terpaksa kita mencari tenaga diantara Tiga kokcu dan satu tongcu dalam golongan kita, atau sahabat dari golongan kita."

"Orang yang membantu diluar, asal berkepandaian tinggi sudah cukup. Tetapi yang menyusup kedalam, sebaiknya orang yang jarang muncul didunia Kang-ouw, Ini mudah menyaru dan mudah mengelabui orang2 Kun-liong Ong "

berkata Nie Suat Kiao sambil melirik Siang-koan Kie.

Meskipun ia mengerti bahwa Siang-koan Kie adalah satu2nya orang yang paling tepat untuk melakukan tugas itu, tetapi ia juga tahu bahwa tugas itu terlalu berbahaya, maka ia tidak bisa membuka mulut menunjuk dia.

Auw-yang Thong juga sudah memikirkan dirinya pemuda itu tetapi ia tahu bahwa Siang-koan Kie masih belum menjadi anggaota golongan pengemis secara resmi, sudah tentu tidak dapat ia menunjuk. Siang-koan Kie mendadak berkata: "Bolehkah siaotee kiranya yang melakukan tugas itu?"

Mata Nie Suat Kiao yang jeli tajam menatap Wajah Siang- koan Kie sekian lama, lalu katanya: "Kau merupakan seorang yang paling tepat."

"Kalau pangcu merestui, siaote bersedia menyusup keistana Kun-liong Ong."

Nie Suat Kiao berkata kepada Auw-yang Thong: "Pangcu sudah cukup memilih dua orang kuat untuk mengawani dia."

Auw-yang Thong berpikir sejenak, tiba2 berkata: "Ada dua kacungku itu rasanya orang yang paling tepat untuk membantu Siang-koan Kie."

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie; "Dua orang itu sudah pernah bertanding dengan kau, kau

merasa bagaimana kepandaiannya?"

"Dua orang itu kalau tergabung, mempunyai kedahsyatan tersendiri, sesungguhnya tidak dibawah kepandaianku."

"Kalau begitu, kita tetapkan saja dua kacung kanan dan kiri yang membantu Siang-koan Kie.

Urusan ini makin sedikit orang tahu makin baik. Sebaiknya pangcu dapat memanggil mereka dengan segera."

"Baiklah, aku akan panggil mereka datang,"

Nie Suat Kiao tiba2 mengulur tangannya dan menotok jalan darah Sek-bok taysu, lalu berkata sambil menatap wajah Siang-koan Kie: "Kau sudah mengambil keputusan hendak pergi?"

"Sudah!....." jawab Siangkoan Kie. "Suhuku yang memberi pelajaran padaku yang pertama, telah terluka ditangan Ang Gie, si manusia tangan seribu, tetapi peristiwa agak rumit, hanya dari apa yang kemudian aku dapat selidiki, urusan ini ada hubungan erat dengan usaha Kun-liong Ong yang hendak menjagoi rimba persilatan..."

"Ang Thian Gie?"

"Benar, nona kenal dengan orang itu?"

"Kenal, dia adalah salah satu orang kepercayaannya Kun- liong Ong, dalam kamar racun hanya ia satu2nya orang yang bisa keluar masuk dengan bebas."

"Sebab musabab kematian suhuku yang pertama, mempunyai latar belakang sangat ruwet, hanya orang itu yang tahu."

"Kalau kau sudah berkeputusan hendak pergi, berkata Nie Suat Kiao dengan suara rendah, aku juga tidak akan merintangi, tetapi dalam perjalanan ini sangat berbahaya, kau tentunya sudah tahu. Aku ada benda yang dapat kau gunakan untuk menjaga diri, dan sebuah senjata yang tajamnya luar biasa, kau bawalah. "

Sehabis berkata demikian, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sepotong benda berwarna biru yang mengeluarkan cahaya berkeredapan, dan sebilah belati pendek bergagang emas.

Siang-koang Kie merasa sudah pernah melihat benda itu, tetapi saat itu ia sudah tidak ingat dimana pernah melihatnya.

Kie Suat Kiao bersenyum dan berkata: "Lekas kau simpan, sebaiknya barang ini jangan sampai diketahui oleh orang lain."

Meski dalam hati Siang-koan Kie merasa curiga, tetapi ia menyimpan benda itu.

"Apakah kau kenal dengan benda ini?" Tanya Nie Suat Kiao. "Rasanya pernah melihat, tetapi tidak tahu asal usulnya." "Tiga pusaka rimba persilatan, apakah kau pernah dengar

orang kata?" "Tiga pusaka rimba persilatan?"

"Benar, ini adalah dua dari tiga pusaka itu, belati pendek itu namanya belati mengejutkan sukma.

-odwo-

Bab-96

SIANGKOAN KIE mendadak ingat pengalamannya sendiri dimasa yang lampau, hari itu dengan tidak disengaja, telah masuk kedalam kamar batu digua diatas gunung, dalam kamar batu itu ia pernah melihat benda itu, maka ia lantas berseru:

"Aaa! Aku tahu, apakah bukan saudara Wan yang ajak kau kedalam gua didekat tempat tinggalnya itu?"

"Ya! Dengan susah payah dan menggunakan berbagai akal muslihat Kun-liong Ong hendak mendapatkan benda ini, tak diduga-duga telah kudapatkan......segala peristiwa dalam rimba persilatan yang ada hubungannya dengan tiga benda pusaka ini, terlalu banyak, hingga tak dapat aku menceritakan satu persatu, dikemudian hari apabila ada kesempatan aku akan ceritakan lagi! Sekarang aku akan menceritakan padamu bagaimana harus menggunakan benda ini."

"Dalam gua itu ada dua jenazah manusia, yang satu, yang memakai pakaian warna merah, rasanya seperti seorang wanita. "

"Tiga pusaka itu adalah belati tadi itu, rompi ulat sutra dan sekantong mutiara pancawarna Ngo-bong Sincu. "

"Kantong emas yang tergenggam dalam tangan jenazah wanita itu entah benda apa?"

"Itu adalah mutiara pancawarna Ngo-bong Sin-cu." Selagi Siang-koan Kie hendak menanyakan lagi, tiba2 melihat Auw-yang Thong sudah balik dengan diikuti oleh dua kacungnya kanan dan kiri.

Siang-koan Kie sudah tahu bagaimana tajamnya belati pusaka itu, hanya rompi ulat sutra ia masih belum tahu sampai dimana khasiatnya. Dua benda pusaka yang tidak ternilai harganya itu telah diberikan kepadanya, dari sini dapat dimengerti bagaimana besar perhatian Nie Suat Kiao terhadap dirinya.

Tanpa sadar ia memegang gadis itu, diluar dugaannya gadis itu juga sedang mengawasi dirinya, ketika matanya beradu dengan pandangan mata gadis itu, ia buru2 melengos.

Sementara itu, Auw-yang Thong sudah berada dihadapannya bersama dua kacungnya.

Dua kacung itu memberi hormat kepada Nie Suat Kiao menurut peraturan dalam golongan. Kemudian berdiri kesamping sambil meluruskan kedua tangannya.

Nie Suat Kiao mengawasi dua kacung itu sejenak, kemudian berkata: "Ada suatu tugas yang sangat berbahaya, aku minta dua saudara untuk melaksanakan."

"Nona perintahkan saja, kita tidak akan menolak." jawabnya dengan serentak.

"Tugas ini sangat berat, bukan saja ada hubungannya erat sekali dengan nasib golongan pengemis dikemudian hari, tetapi juga ada sangkut pautnya dengan bencana besar yang mengancam rimba persilatan. Maka hanya boleh berhasil, tidak boleh gagal."

Thio Hong menyahut sambil memberi hormat:

„Kita akan melakukan dengin se-baik2nya, apabila sampai gagal, hanya kematian kita akan menebus kesalahan kita." "Itu bagus. " berkata Nie Suat Kiao, kemudian dari dalam

sakunya mengeluarkan tiga butir warna merah, "pel ini sangat berbisa, kalau ditelan, dalam waktu sekejap mata dapat merenggut nyawa yang makan. Saudara2 masing2 boleh bawa sebutir."

Siang-koan Kie bertiga hampir dengan serentak mengambil pel itu.

Nie Suat Kiao berkata pula: "Racun ini sangat berbisa, kalau tidak berada dalam keadaan buntu betul2, jangan sembarangan makan."

Siang-koan Kie bertiga menerima baik pesan itu.

Nie Suat Kiao mendongakkan kepala dan berkata sambil menarik napas panjang: "Dalam istana Kun-liong Ong, banyak terdapat orang yang berkepandaian tinggi, orang2 itu sebagian besar terkendali pikirannya oleh obat, hingga keberaniannya luar biasa, sekalipun terluka parah asal masih mempunyai sedikit tenaga, juga akan melawan terus, sampai tidak bisa bernapas. Keberanian dan kebuasan orang2 itu, sudah cukup untuk menguncupkan hati orang " sejenak ia

berdiam, "kalian kalau tidak perlu betul2, sebaiknya jangan mengadu kekuatan dengan mereka. Tetapi kalau terpaksa bertempur dengan mereka, kalian harus menurunkan tangan kejam, lebih kejam lebih baik, jangan ada pikiran merasa kasihan terhadap mereka, karena orang2 itu sudah kehilangan pikiran dan perasaannya, tidak takut mati, peraturan dunia Kang-ouw, bagi mereka tidak ada gunanya."

Tiga orang itu menerima baik pesan itu.

Siang-koan Kie berkata lambat2: "Sekarang ini ada satu hal agak sulit, ialah dengan cara bagaimana kita harus menyusup kedalam istana Kun-liong Ong."

"Daerah sekitar sepuluh pal istana itu, terjaga sangat keras sekali. Orang yang berkepandaian bagaimana tingginya, jugi sukar menyusup kedalam," berkata Nie Suat Kiao, kemudian matanya menatap wajah Sek-bok taysu, maka kita mau tidak mau akan meminjam tenaga taysu ini."

Auw-yang Thong menyerutkan keningnya, ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya dibatalkan.

Nie Suat Kiao agaknya sudah menduga maksud pangcu itu, ia bersenyum dan berkata:

"Pangcu tak usah khawatir, perbuatan kita ini ada menyangkut nasib seluruh rimba persilatan, sekalipun nanti diketahui oleh ketua gereja Siao-lim-sie, juga tidak akan menegur mereka."

Banyak sudah ia berkata, tetapi masih belum menerangkan bagaimana caranya menyusup keistana Kun-liong Ong.

Auw-yang Thong berkata sambil menghela napas:

"Ketua Siao-lim sie yang sekarang, adatnya agak keras dan tinggi hati, aku sebetulnya tidak ia ingin karena urusan kecil lalu timbul perselisihan paham dengannya."

"Tidak halangan, ia bisa menjabat jabatan ketua, sudah tentu mempunyai kecerdikan, adatnya tinggi, hanya kurang pengalaman, dikemudian hari kita coba berusaha untuk memberi peringatan satu kali, mungkin bisa berubah." berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa, agaknya itu ada urusan yang sangat mudah.

Auw-yang Thong hanya menghela napas, tidak bicara.

Nie Suat Kiao mengeluarkan sebuah besi semberani, mengeluarkan jarum dari tubuh Sek-bok taysu, kemudian membuka totokannya.

Sebentar kemudian, Sek-bok taysu mendadak bangun dan berduduk.

Paderi berkepandaian tinggi yang terkendalikan pikirannya oleh jarum beracun itu, begitu lekas jarum terangkat dari dalam tubuhnya, segera pulih kembali pikirannya, ia menarik napas dalam2, lalu bangkit dan memberi hormat kepada Auw- yang Thong dan berkata kepada Nie Suat Kiao dengan suara rendah:

"Terima kasih atas pertolongan Lie-siecu."

"Tiga kawan taysu yang datang bersama taysu, kini sudah dibawa kesuatu tempat yang baik untuk menyembuhkan luka dalamnya, mereka terkena racun agak berat, harus mendapat perawatan agak lama, baru bisa pulih kembali kekuatannya." berkata Nie Suat Kiao sambil bersenyum.

"Pinceng berempat telah mendapat perintah untuk mengantarkan surat, tak disangka telah tertangkap oleh Kun- liong Ong. Tetapi peraturan gereja keras sekali, sedangkan ketua pinceng sekarang masih menantikan balasannya."

"Apabila jarum beracun dalam tubuh taysu sekarang ini belum dikeluarkan, apakah masih memikirkan soal balasan?"

"Ini, ini. "

"Sekarang ini orang2 kuat Kun-liong Ong telah tersebar diman-mana, sekalipun taysu mempunyai keinginan hendak pulang ke-Siao-lim-sie, barangkali juga tidak dapat meloloskan diri dari incaran orang2nya Kun-liong Ong itu."

Sek-bok taysu teringat pengalamannya sewaktu terpegat oleh orangnya Kun-liong Ong, ia membenarkan pendapat Nie Suat Kiao.

"Dunia Kang-ouw pada dewasa ini, telah diliputi oleh ancaman bahaya, kalau golongan pengemis tidak beruntung dapat dihancurkan oleh Kun-liong Ong, tujuan Kun-liong Ong untuk selanjutnya adalah gereja siao-lim-sie, berkata pula Nie Suat Kiao.

"Mungkin benar."

"Oleh karena itu, maka aku pikir hendak minta taysu melakukan tugas besar untuk kepentingan golongan taysu sendiri, golongan pengemis dan seluruh rimba persilatan. Apakah kiranya taysu tidak keberatan?"

"Tugas apa yang kiranya dapat pinceng lakukan?" "Sebetulnya sangat sederhana, asal taysu bertindak

menurut rencana yang sudah kubuat."

"Kalau begitu, baiklah lie-siecu terangkan rencana itu." "Tetapi dalam hal ini masih ada sedikit persoalan, minta

pengertian taysu."

"Persoalan apa?"

"Kekejaman Kun-liong Ong, taysu sudah tahu sendiri, hingga tidak perlu aku jelaskan lagi. Kali ini apabila taysu pergi begitu saja, tidak perduli bagaimana taysu hendak berpura- pura masih belum hilang racunnya, juga tidak dapat mengelabuhi sepasang mata Kun-liong Ong."

Sek-bok taysu terperanjat, katanya; "Harus bagaimana?

Apakah masih perlu pincerg diberi racun lagi?"

"Untuk kepentingan kuil taysu sendiri dan untuk kepentingan golongan kita serta seluruh rimba persilatan, terpaksa aku hendak menyusahkan taysu sekali saja."

Auw-yang Thong terkejut mendengar ucapan itu, namun demikian, ia juga tak dapat merintangi, terpaksa diam saja sambil mengerutkan alisnya.

"Dari dalam sakunya Nie Suai Kiao mengambil sebuah botol, mengeluarkan sebutir pil dan diberikan kepada Sek-bok taysu seraya berkata:

"Harap taysu makan obat ini, taysu tidak usah khawatir akan diketahui oleh Kun-liong Ong."

Sek-bok taysu berpaling kearah Auw-yang Thong, agaknya ingin mengutipkan sesuatu, tetapi kemudian diurungkan. Ia mengulurkan tangannya menyambuti pil itu dan berkata: "Jiwa pinceng ini adalah liesicu yang menolong, kukembalikan kepada liesicu juga tak halangan." Setelah berkata demikian ia menelan pil yang diberikan kepadanya.

Auw-yang Thong melengos, diam2 menghela napas.

Nie Suat Kiao bersenyum dan berkata dengan suara perlahan: "Diluarnya taysu dalam perjalanan ini merupakan pemimpin rombongan, tetapi dibelakangnya dikendalikan oleh golongan kita."

"Pinceng sudah menelan obat beracun, hidup atau mati pinceng berada ditanganmu, apakah pinceng bisa berobah pikiran?"

"Taysu salah faham, Kun-liong Ong banyak akal bangsatnya, dalam perjalanan ini, bukan saja akan bertanding kekuatan tenaga, tetapi juga akan mengadu otak dan kepintaran, taysu seorang yang jujur, bagaimana dapat menandingi Kun-liong Ong?"

"Sek-bok taysu diam2 berpikir: "Itu memang benar."

Maka ia segera berkata: "Baiklah! Apakah liesicu hendak pergi sendiri?"

"Aku tidak pergi, taysu sudah cukup menurut perintahnya saja." berkata Nie Suat Kiao sambil menunjuk Siang-koan Kie.

Sek-bok taysu memandang Siang-koan Kie sejenak, kemudian berkata: "Selagi obat beracun yang pinceng telan masih belum bekerja, mari kita lekas berangkat!"

"Tidak apa obat yang taysu makan dalam waktu tiga hari tiga malam, masih belum bekerja."

Sek-bok taysu setengah percaya setengah tidak hingga dia diam saja.

Nie Suat Kiauw berkata kepada Siang-koan Kie: "Kau ada membawa obat pemunah racun, setiap dua belas jam kau berikan taysu satu butir, sesudah tujuh butir racunnya akan hilang dengan sendirinya.

Namun demikian, mulutnya menerima baik akan perintah itu.

Sek-bok taysu berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie: "Pangcumu dengan ketua pinceng, ada mempunyai perhubungan yang sangat dalam meskipun Pinceng tidak tahu apa yang ditulis dalam suratnya yang minta pinceng sampaikan pada pangcumu, tetapi yang sudah pasti ialah suruh pinceng berempat membantu golonganmu, patut disesalkan karena kurang pandainya pinceng sekalian, sehingga tertangkap oleh Kun-liong Ong dan dibikin mabuk pikiran pinceng semua. Meskipun pinceng sekalian tidak takut mati juga tidak mempunyai kekuatan untuk melawan, tetapi perbuatan liesiecu kali ini dapat dibandingkan dengan perbuatan Kun-liong Ong! Namun demikian, karena mengingat nasib seluruh rimba persilatan, pinceng rela berkorban bahkan suka menyediakan tenaga, maka liesiecu perintahkan saja!"

Ucapan itu sangat tidak enak bagi Auw-yang Thong, tetapi kenyataan sudah terjadi, juga sudah cdak bisa ditarik kembali, maka ia terpakaa seperti tidak dengar.

Nie Suat Kiao juga tidak merasa tersinggung hatinya, bahkan membongkokkan badan memberi hormat dan berkata sambil tertawa:

"Semangat jantan taysu sekalian, atas nama seluruh golongan pengemis, Siaolie mengucapkan banyak terima kasih."

"Pinceng sudah makan obat liesiecu, mau tidak mau harus berbuat demikian."

Nie Suat Kiao tersenyum, ia tidak mau beri penjelasan lagi, hanya berkata sambil menunjuk kearah puncak gunung tinggi yang berada jauh didepannya. "Jam satu malam nanti, taysu berempat harap mengadakan pertemuan diatas puncak gunung itu. Siaolie akan membawa barang2 keperluan untuk Taysu sekalian, dan akan memberitahukan lagi bagaimana harus bertindak."

Kemudian ia berkata kepada Auw-yang Thong: "Pangcu mari kita pergi!"

Auw-yang Thong menurut dengan tidak berkata apa2, agaknya merasa tidak puas terhadap sepak terjangnya Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao tidak menghiraukan akan pangcunya, sambil mengajak Wan Hauw ia berlalu bersama Auw-yang Thong.

Setelah Nie Suat Kiao berlalu, Thio Hong berkata kepada Siang koan Kie:

"Saudara Siang-koan, sekarang masih ada banyak waktu untuk menunggu sampai jam satu tengah malam. Mari kita menunggu disini saja."

Siang koan Kie semula tidak mempunyai pikiran apa", tetapi setelah mendengar perkataan Thio Hong, pikirannya lalu bekerja. Kemudian berkata:

"Ia suruh kita mengawasi puncak gunung tinggi itu, tempat ini letaknya sangat tersembunyi, tetapi berhadap-hadapan dengan puncak gunung itu, jikalau kita mengarahkan pandangan kita, bisa dapat melihat sesuatu gerakan diatas puncak gunung itu."

Ucapannya itu meskipun agak tidak masuk diakal tetapi dua kacung itu tidak berani membantah. Sebaliknya dengan Sek- bok taysu ia berkata sambil tertawa dingin:

"Pinceng sudah lama mendengar kabar tentang diri Auw- yang pangcu, kabarnya ada seorang jujur dan berjiwa jantan, tak diduga ternyata begitu saja, tampaknya sama juga dengan Kun-liong Ong..... Dua kacung Auw-yang Thong yang sangat menghargai dan menghormat pangcunya, ketika mendengar perkataan itu sangat marah, bentaknya dengan serentak:

"Kau kepala gundul ini, kalau bicara harus hati2 sedikit. Kau membuka mulut seenaknya, hati2 kau nanti akan menerima gebukan."

"Pinceng sudah berani menelan obat beracun tanpa ragu2, ini berarti bahwa soal hidup mati Pinceng, sudah tidak pinceng hiraukan. Bagaimana dapat kau takut2i? Hm! kalian berdua kalau tidak senang, boleh saja coba2."

Thio Hong mendadak lompat bangun dan berkata: "Aku ingin mencoba beberapa jurus."

Siang koan Kie buru2 menarik tangan Thio Hong dan berkata padanya sambil tartawa getir:

"Sudahlah, dalam hati taysu ini masih penuh hawa amarah, biarkan saja ia obral marahnya, jangan kau anggap sungguh2."

Thio Hong diam2 membenarkan pikiran Siang koan Kie, maka lalu berkata: "Saudara Siang-koan benar, dalam keadaan demikian, kita seharusnya juga berlaku sabar."

Dengan demikian, Thio Hong tidak menghiraukan Sek-bok taysu lagi, bersama Lie Sin dan Siang-koan Kie, mereka berduduk bersila untuk bersemedi.

Siang-koan Kie meski diluarnya sedang bersemedi mengatur pernapasannya, tetapi hatinya masih tidak tenang memikirkan maksud Nie Suat Kiao. Namun bagaimanapun ia berpikir, masih tidak dapat menangkap maksud gadis cerdik itu.

Sek-bok taysu sementara itu yang masih memikirkan nasibnya, semakin lama semakin tidak karuan pikirannya. Setelah hening cukup lama, perut mereka mulai merasa lapar. Namun demikian, tiada satu diantara mereka yang membuka mulut untuk menyatakan.

Hingga hampir jam satu malam, Siang-koan Kie mendadak lompat bangun dan berkata: "Jalan! Mari kita pergi melihat kepuncak gunung itu."

Mereka berempat lalu terangkat menuju kepuncak gunung. Malam itu gelap, hanya bintang2 yang menyinari jagat,

Empat orang itu selagi mendaki puncak gunung hidung mereka segera dapat mencium bau arak makanan. Diatas puncak nampak berkelebat bayangan orang, agaknya sudah berada diatas lebih dulu.

Siang-koan Kie naik lebih dulu, ia segera mendapat lihat dua meja penjamuan penuh dengan barang hidangan dan minuman. Auw-yang Thong dan Nie Suat Kiao sudah menunggu. Disekiiar tempat itu banyak anak buah golongan pengemis.

Nie Suat Kiao bangkit, menganggukkan kepala dan berkata kepada Sek-bok taysu: "Taysu, silahkan duduk."

Sek-bok taysu yang masih ingat gadis itu tadi memberikan racun padanya, lalu menjawab dengan sikap dingin:

"Tidak usah, Lie-siecu masih ada apa lagi, lekas beritahukan."

Nie Suat Kiao bersenyum dan berkata:

"Barang hidangan yang disediakan malam ini, semuanya merupakan barang hidangan istimewa, taysu mungkin juga sudah lapar, makanlah dulu sedikit, nanti kita bicarakan lagi."

Sek-bok menyaksikan barang hidangan itu semua terdiri dari barang yang tidak bernyawa. ia mengerti bahwa barang hidangan itu disediakan khusus untuknya, apalagi perutnya memang juga sudah merasa lapar, maka ia menerima baik tawaran itu.

Nie Suat Kiao duduk menemani dengan sikap ramah tamah.

Selesai dahar, sudah waktunya untuk berangkat melakukan tugas masing2. Nie Suat Kiao segera memerintahkan anak buah golongan pengemis untuk membereskan meja perjamuan, kemudian diantara anak buah golongan pengemis, memberikan dua bungkusan kuning kepada Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao lalu berkata sambil menghela napas: "Saudara2 kali ini pergi, semua orang dari golongan

pengemis,    dengan    penuh    pengharapan    menantikan

kembalinya saudara2 dengan berhasil gemilang. Karena dengan demikian berarti bahwa saudara2 telah membebaskan ratusan bahkan ribuan orang2 yang diperbudak oleh Kun-liong Ong. Dan tugas itu bisa berbasil atau tidak? Hanya tergantung ditangan saudara2 "

Siang-koan Kie dengan semangatnya yang me-luap2, berkata sambil memberi hormat:

"Dalam menjalankan tugas ini, apabila kita tidak berhasil sudah tentu tidak ada muka untuk bertemu lagi dengan saudara2......" '

"Apabila kita tidak berhasil melakukan tugas kita, akan kita tinggalkan nyawa kita dikampung orang," berkata kacung kanan dan kiri.

Sek-bok taysu mendadak berbangkit dan berkata; "Perhatian lie-siecu terhadap nasib seluruh rimba

persilatan, pinceng tidak akan menyesal meskipun harus korbankan jiwa."

"Jiwa jantan saudara2, sesungguhnya sangat mengagumkan. " berkata Nie Suat Kiao.

Auw-yang Thong tiba2 berkata: "Berhasil atau tidaknya perjalanan saudara2 kali ini, ada mempunyai hubungan erat dengan seluruh rimba persilatan, kami akan mengerahkan seluruh kekuatan golongan pengemis, untuk menyusul jejak kalian dan memberi bantuan sepenuhnya."

Nie Suat Kiao membuka bungkusan kuning yang diterima dari tangan anak buah golongan pengemis, kemudian berkata:

"Kun-liong Ong seorang yang banyak curiga, dalam perjalanan saudara2 ini, harus berusaha mengganti rupa, dalam bungkusan ini ada tiga buah kedok kulit manusia dan pakaian seragam pasukan pengawal baju hitam, kalian boleh bawa......" Setelah itu ia berpaling dan berkata kepada Sek- bok taysu: "Taysu, maafkan siaolie terpaksa menyusahkan taysu sedikit."

"Tidak apa, katakan saja."

"Taysu akan memakai alat orang hukuman, berlagak seperti orang yang tertangkap, dan Siang-koan Kie akan menyaru sebagai orang pengawal yang mengantar taysu keistana, dalam perjalanan ini meskipun bisa mengelabuhi mata orang lain, tetapi tidak dapat membohongi Kun-liong Ong, seandai ditengan jalan Kun-liong Ong....." Mendadak Nie Suat Kiao bangkit dan berbisik-bisik ditelinga Sek-bok taysu.

Sek-bok taysu menganggukkan kepala ber-ulang2 sambil mengucapkan, "Pinceng ingat."

Nie Suat Kiao mengeluarkan sebuah botol diserahkan kepada Siang-koan Kie dan berkata dengan suara perlahan:

"Ini adalah obat pemunah Sek-bok taysu, simpanlah baik2, setiap duabelas jam, kau berikan sebutir."

"Kita dengan Siao-lim-sie, sama2 berada disatu garis, sama2 menjadi musuhnya Kun-liong Ong mengapa harus menggunakan kekuatan obat untuk mengendalikan padanya?" berkata Siang-koan Kie sambil menggelengkan kepala. Nie Suat Kiao hanya bersenyum. tidak menyahut, kemudian mengeluarkan sebuah peta, dibeber diatas batu.

"Ini adalah peta istana Kun-liong Ong, sudah beberapa tahun aku berlalu dari sana, mungkin sudah ada perubahan, tetapi aku pikir itu tidak banyak."

Siang-koan Kie bertiga mendengarkan penjelasan Nie Suat Kiao dengan penuh perhatian, lalu diberitahukan lagi tanda2 rahasia yang harus digunakan untuk mengadakan perhubungan.

Setelah itu, lalu memerintahkan mereka berangkat. Sehabis mendapat keterangan itu, pandangan Siang-koan Kie terhadap Nie Suat Kiao kini telah berubah, ia memberi hormat lebih dulu. baru pergi.

Jalan baru beberapa pal jauhnya, sudah keluar dari daerah kekuasaan golongan pengemis, Sek-bok taysu mengacungkan kedua tangannya minta Siang-koan Kie mengenakan alat orang hukuman.

Thio Hong menggunakan rantai perak untuk merantai kedua tangan Sek-bok taysu, dan Siang-koan Kie memberikan sebutir pil kepadanya.

Empat orang itu berjalan lagi beberapa pal, tibalah dikaki gunung. Tiba2 menampak berkelebat beberapa bayangan orang, dari pinggir jalan lompat keluar empat orang berpakaian hitam, masing2 membawa senjata golok, merintangi perjalanan mereka.

Empat orang berpakaian hitam itu memandang Siang-koan Kie memandang Sek-bok taysu sejenak, tanpa bicara apa2, menghilang lagi kedalam rimba.

Thio Hong menggunakan pecut ditangannya untuk memecut badan Sek-bok taysu, melanjutkan perjalanan lagi.

Itu ada merupakan suatu perjalanan yang penuh keganjilan, apa yang mereka lihat dan dengar, hampir semuanya tidak masuk diakal. Mereka telah berpapasan dengan banyak pengawal berpakaian hitam, merintangi perjalanan mereka dengan senjata terhunus. Dua kacung itu agaknya tidak sanggup kendalikan perasaannya, beberapa kali hendak bertindak terhadap orang itu, tetapi selalu dicegah oleh Siang-koan Kie.

Apa yang mengherankan adalah orang2 berpakaian hitam itu hanya menggunakan pandangan mata mereka yang dingin buas, dipandangnya rombongan Siang-koan Kie itu sejenak, lalu menghilang lagi dalam rimba tidak menanya juga tidak perkenalkan namanya sendiri.

Kejadian tidak sewajarnya itu, pertama-tama tidak menimbulkan perasaan apa2, tetapi setelah beberapa kali mengalami, lalu menimbulkan rasa seram.

Berjalan lagi tidak lama, sudah mulai terang tanah, rombongan Siang-koan Kie itu juga baru keluar dari daerah pegunungan dan mulai menginyak jalan raya.

Thio Hong menghela napas pelahan dan berkata;

"Diwaktu siang hari seperti ini, pengawal baju hitam Kun- liong Ong, barangkali tidak akan merintangi perjalanan kita lagi!"

Siang-koan Kie memandang Sek-bok taysu sejenak menganggap bahwa rantai borgolan ditangannya, mungkin akan menimbulkan perhatian banyak orang jalan, maka ia berkata dengan suara perlahan:

"Mari kita buka dulu rantai taysu, nanti melanjutkan perjalanan lagi."

"Kun-liong Ong banyak akalnya, meskipun disiang hari, barangkali juga ada orang2nya yang memperhatikan kita, biarkan saja, tidak usah dibuka." Berkata Sek-bok taysu sambil menggeleng-gelengkaa kepala. Siang-koan Kie melihat keadaan cuaca dan coba meng- hitung2 waktunya, kemudian berkata: "Apabila kita jalan tanpa mengaso, diwaktu senja, mungkin sudah tiba didaerah Kiu- kang."

Sebelum berangkat, Nie Soat Kiao pernah memberitahukan kepada Siang-koan Kie, tempat2 yang harus dilalui dan kota2 yang disinggahi, tetapi dua kacung dan Sek-bok taysu tidak diberitahukan, hingga mereka tidak tahu tempat mana yang mereka akan tuju. Karena Siang-koan Kie tidak mau memberi keterangan, mereka juga tidak merasa tidak enak untuk menanya.

Perjalanan disiang hari, benar saja tidak ada orang2 Kun- liong Ong yang mengintai. Diwaktu senja, benar saja seperti apa yang sudah diperhitungkan oleh Siang-koan Kie, mereka telah tiba didaerah Yiu-kang.

Siang-koan Kie tidak mau menginap dirumah penginapan, sebaliknya mencari sebuah kuil tua terletak diluar kota untuk bermalam.

Kuil tua itu berada ditempat yang sunyi, keadaannya sudah setengah rusak, agaknya sudah lama tidak dirawat.

Lie Sien merasa agak heran, selagi hendak menanya, telah dicegah oleh Thio Hong.

Sementara itu Siang-koan Kie sudah mengunjukan kelakuannya yang aneh, ia menempelkan telinganya ditanah, agaknya sedang memperhatikan suara apa-apa. Katania: "Perintah penasehat kita, suruh kita disini tunggu kedatangan seseorang."

"Menunggu siapa?" tanya Thio Hong.

"Aku sendiri juga tidak tahu," Jawab Siang-koan Kie sambil menggelengkan kepala. "Kuil tua ini keadaannya sudah rusak sekali rupa2nya sudah lama tidak dirawat, apakah saudara Siang-koan Kie tidak salah dengar?"

"Tidak, apa yang diberitahukan padaku adalah kuil tua ini, bahkan dikatakan bahwa sebelum bertemu tidak boleh pergi."

Dua kacung itu tidak berkata apa2 lagi, tetapi sikap mereka jelas mengunjukkan perasaan tidak percaya.

Sek-bok taysu sejak tadi diam saja, setelah berada dalam kuil lantas duduk bersemedi.

Cuaca pe-lahan2 mulai gelap angin malam meniup kencang, keadaan dalam kuil tua itu nampak suram.

Dalam keadaan demikian, tiba2 terdengar suara tindakan kaki, agaknya ada seseorang berjalan menuju kependopo kuil. Yang mengherankan ialah tindakan kaki itu, ketika dekat pendopo mendadak berhenti.

Perasaan Siang-koan Kie dan dua kacung mulai tegang, sampaipun Sek-bok taysu yang memejamkan mata, juga membuka matanya melongok keluar.

Thio Hong yang tidak sabaran, lantas menegur: „Siapa?" Diluar terdengar suara orang menyahut: „Aku."

Kemudian berkelebat sesosok bayangan orang, seorang berpakaian warna hitam masuk kedalam.

Orang itu tinggi kurus, jalannya juga ber-goyang2 seperti tidak tetap, suaranya tajam, tidak mirip suara orang lelaki, tetapi juga tidak mirip dengan perempuan.

Siang-koan Kie pelahan2 menghampiri dan berkata sambil memberi hormat; "Locianpwee seorang she Thio?"

"Aku she Ong," jawabnya dingin.

"Aku yang rendah telah mendapat perintah datang kemari, harap locianpwee suka memberi petunjuk." Orang berbaju hitam itu mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya, diberikan kepada Siang-koan Kie, kemudian membalikkan badan dan keluar dari kuil tua itu.

Thio Hong mengawasi berlalunya orarg aneh itu. lalu berkata kepada diri sendiri; "Orang ini sakit pinggang, hingga jalannya tidak tetap."

"Menurut pandangan pinceng, dia agaknya ber-pura2 berlaku demikian." sambungnya Sek-bok taysu.

"Mungkin benar, tetapi entah apa sebabnya? harus berbuat demikian." berkata Thio Hong.

Siang-koan Kie meletakan bungkusan barang yang berada ditangannya ditengah pendopo, katanya: "Saudara2 masing2 berjaga sendiri2, aku hendak membuka bungkusan ini. entah apa isinya?"

Thio Hong menghunus pedangnya seraya berkata" "Apakah aku boleh menolong saudara Siang-koan membuka bungkusan ini?"

Siang-koan Kie menganggukkan kepala.

Thio Hong diam2 mengerahkan tenaganya, dengan satu sontekan, bungkusan itu sudah terbuka.

Tidak ada reaksi apa2, empat orang itu menghampiri bungkusan tersebut, isinya ternyata cuma tiga buah plat perak dan sepucuk surat.

Dengan menggunakan ujung pedang Thio Hong menyungkirkan tiga plat perak itu, mengambil suratnya. Diatas kertas putih itu terdapat tulisan:.

"Berangkat dengan segera, sebelum jam lima pagi, harus sudah tiba disuatu tempat tigapuluh tombak sebelah barat istana Kun-liong Ong, disana ada sebuah rimba bambu, didalam rimba itu nanti ada orang yang akan menyambut. Dalam perjalanan ini pasti ada orang yang mencegat. Kalian perlihatkan plat perak, mereka akan melepaskan kalian, perhatikan jangan salah."

Surat itu tidak ada tanda tangan, hanya terdapat tanda rahasia golongan pengemis.

Lie Sin berkata:

"Orang yang datang tadi kalau orang dari golongan pengemis, sebetulnya tidak perlu berlaku demikian misteri. Kalau bukan orang golongan kita bagaimana mengetahui tanda rahasia kita. Aku lihat dalam urusan ini, kita harus pikir dulu masak-masak, jangan tertipu oleh Kun-liong Ong."

Siang-koan Kie mengambil sepotong plat perak diperiksa sebentar, sebuah diberikan kepada Thio Hong, sebuah lagi diberikan kepada Lie Sin, katanya:

"Sudah sampai disini, kita tidak boleh berhenti setengah jalan, kita berlaku hati2 saja."

"Paling kita lawan terang2an, apa yang harus ditakuti?" berkata Thio Hong.

Siang-koan Kie mengeluarkan obat pemunah, diberikan kepada Sek-bok taysu seraya berkata:

"Obat pemunah ini harap taysu simpan sendiri, apabila kita diketahui oleh orang2nya Kun-liong Ong, mau tidak mau tentu akan terjadi pertempuran sengit, sekalipun kita bisa masuk kedalam istana Kun-liong Ong dengan selamat, barangkali juga susah berkumpul. Kalau obat itu berada ditanganku, barangkali menyulitkan taysu."

"Pinceng tadi diam2 mengerahkan tenaga untuk mencoba, sedikitpun tidak ada tanda2 keracunan, apaKah penasehat kalian mempunyai cara lain dalam hal menggunakan racun?" bertanya Sek-bok taysu.

-oo0dw0oo-