ISMRP Jilid 23

 
Jilid 23 

Dua kacung itu melongok melalui lobang dibawah tangan Siang-koan Kie, benar saja dapat melihat Teng Soan sedang duduk diatas kursi depan meja tulisnya, meja tulisnya penuh kertas berserakan dan buku2. Thio Hong menghela napas panjang, mundur dua langkah dan berkata kepada Siang-koan Kie sambil menjura;

"Maafkan kesalahanku."

"Aku juga tidak dapat menyalahkan saudara berdua, sedangkan aku sendiri juga salah," berkata Siang-koan Kie sambil tersenyum.

"Kita tadi bertempur, hanya karena mempertahankan pendirian masing2, yang penting ialah hendak mengetahui bahwa Teng-sianseng masih dalam keadaan selamat atau tidak, sekarang sudah nyata bahwa Teng-sianseng masih dalam keadaan sehat walafiat, sudah tentu kita tidak perlu bertempur lagi." berkata Thio Hong,

Kacung yang baru datang juga minta maaf kepada Siang- koan Kie, yang disambutnya dengan pernyataan maaf pula.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara siulan panjang.

Dua kacung itu ketika mendengar suara itu, wajah mereka berubah seketika, mereka buru2 memberi hormat kepada Siang-koan Kie seraya berkata:

"Lain hari kita berkunjung lagi."

Dengan cepat mereka lari keluar meninggalkan tempat tersebut.

Siang-koan Kie memandang bayangan mereka sehingga tidak tertampak, baru duduk dikursinya lagi.

Tidak lama kemudian Suat Bwee mendadak muncul dengan tangan membawa kain balut.

"Kongcu apakah lukamu perlu dibalut?" demikian ia menanya.

Siang-koan Kie merasa tidak enak menolak tawarannya, maka lalu berkata sambil menyodorkan tangannya;

"Tolong kau balut." Dengan sangat hati2 Suat Bwee membalut luka dilengan Siang-koan Kie.

Sepuluh hari telah berlalu dengan cepat, selama itu tidak tampak dua kacung itu datang berkunjung lagi, hingga suasana diperkampungan diatas gunung itu tenang tentram.

Empat pelayan wanita itu per-lahan2 mulai berani mendekati Siang-koan Kie lagi.

Dalam hati Siang-koan Kie meskipun masih diliputi berbagai pertanyaan, tetapi ia telah bertekad hendak menantikan toakonya sampai keluar, maka selama itu ia tidak mencari tahu apa2.

Pada suatu hari diwaktu tengah hari, selagi Siang-koan Kie masih duduk tenang diluar kamar toako-nya, Suat Bwee mendadak muncul dengan sikap tergesa-gesa dan berkata: "Kongcu, diluar ada orang ingin ketemu."

"Siapa?"

"Hamba tidak kenal."

Siang-koan Kie takut akan terpancing lagi, tidak berani meninggalkan tempatnya, setelah berpikir sejenak, lalu berkata;

"Berapa banyak orang yang datang?"

"Hamba tidak melihat jelas, kalau tidak salah, mungkin tujuh atau delapan orang."

"Dimana mereka sekarang berada?" "Masih menunggu diluar kampung."

"Apakah mereka diantar oleh dua kacung yang hari itu pernah datang kemari?"

"Tidak." "Minta pemimpin mereka datang menghadap, tetapi hanya seorang saja yang boleh masuk."

"Baik."

Siapakah rombongan orang itu? Sebelum orangnya datang, rupa2 pertanyaan timbul dalam hati Siang-koan Kie. Karena kepandaian dua kacung itu ia sudah tahu benar, apabila mereka bertempur dengan bergandengan tangan, bisa merupakan lawan terkuat, tetapi rombongan orang itu bisa masuk tanpa mendapat rintangan dari dua kacung itu, sesungguhnya tidak dapat dimengerti.

Selagi masih berpikir, Suat Bwee sudah balik dengan mengantar seorang laki2 pertengahan umur mengenakan pakaian baju panjang warna kelabu.

Sewaktu Siang-koan Kie melihat laki2 itu, seketika membelalakan matanya. Laki2 yang baru ditang itu bukan lain daripada Auw-yang pangcu sendiri.

Pangcu itu nampaknya letih sekali, wajahnya agak hitam, badannya agak kurusan.

Siang-koan Kie buru2 menyambut dan memberi hormat seraya berkata; "Siang-koan Kie menyambut kedatangan pangcu."

"Tidak usah banyak peraturan, apakah kesehatan Teng sianseng mendapat kemajuan?", berkata Auw-yang Thong.

"Ia sedang menggunakan sisa tenaganya   dan waktunya. "

"Apa? Apakah ia tidak beristirahat merawat kesehatannya?"

"Ia sendiri tahu bahwa dirinya tidak bisa hidup lama lagi, maka tidak mau menyia-nyiakan sisa hidupnya yang sangat berharga."

"Aii! Dimana sianseng berada? Bolehkah kau bawa aku menemui padanya?" Siang-koan Kie berpikir dulu, baru menjawab: "Sewaktu toako hendak memulai rencananya, pernah pesan berwanti- wanti kepada siaote, tidak perduli siapa saja, semua tidak boleh mengganggu dia, harap pangcu suka memaafkan."

"Golongan pengemis dalam pertempuran yang belum lama berselang terjadi, telah mengalami kekalahan besar, pasukan hulu balang dan pasukan berani mati mendapat kerusakan besar. Jeri payah sianseng selama sepuluh tahun, untuk memupuk kekuatan golongan pengemis, karena kesalahan perhitunganku, telah mendapat kerusakan besar. Maka kami harus menghadap sianseng, kesatu hendak minta advis padanya untuk menghadapi musuh itu, dan kedua ingin tanya rencana untuk membangun lagi kekuatan golongan pengemis...... Aih! Selama sianseng masih ada, masih tidak merasakan apa2, tidak diduga begitu ia pergi, golongan pengemis se-olah2 seekor kuda yang kehilangan mata dan telinga, selalu terjerumus dalam jebakan yang dipasang oleh Kun-liong Ong. Masih untung saudara2 dalam golongan pengemis semua berkelahi mati2an untuk mempertahankan nama baik golongan pengemis, setelah mengalami pertempuran selama empat hari empat malam, barulah bisa keluar dari kepungan musuh, tetapi besarnya kerugian, sesungguhnya merupakan satu kejadian yang belum pernah dialami oleh golongan pengemis. "

"Bagaimana sekarang keadaannya? Dimana sekarang Kun- liong Ong berada?"

"Itu ada satu pertempuran yang hebat sekali, Kun-liong Ong memasang jebakan disetiap langkah, hingga orang2 kita mendapat banyak kerusakan. Kita melakukan pertempuran selama duabelas jam, sedetikpun tidak mendapat mendapat kesempatan untuk mengaso. Difihak kita delapan orang mati dimedan pertempuran, duabelas orang terluka parah, sedangkan Koan Sam Seng kehilangan satu lengan, Hui Kong Leang terkena pukulan tangan Kun-iong Ong, terluka dalamnya, hingga sekarang masih belum bisa bangun "

Siang-koan Kie tiba2 ingat ucapan Teng Soan sebelum menyekap diri dalam kamar, ia pernah mengatakan bahwa golongan pengemis tidak dapat menghindarkan diri dari malapetaka, Auw-yang Thong yang pandai mengatur siasat akan berhadapan dimedan peperangan dengan Kun-liong Ong yang licik dan banyak akalnya. Mengingat ramalan itu lalu menarik napas panjang dan berkata:

"Aih! Urusan ini benar2 telah menjadi seperti apa yang diramalkan oleh toako."

Auw yang Thong terkejut, kemudian berkata sambil menghela napas: "Sianseng benar2 mempunyai kepandaian seperti dewa."

"Sekalipun pangcu ada urusan penting, sekarang ini barangkali juga tidak dapat menemukan Sian-seng."

Auw-yang Thong berpikir sejenak, kemudian berkata: "Urusan ini menyangkut nasib golongan pengemis,

bolehkah saudara Siang-koan supaya berusaha memberi kelonggaran sedikit, agar aku dapat segera menemui Teng sianseng."

Siang-koan Kie merasa serba salah, tetapi mengingat kewajibannya terpaksa ia berkata;

"Perintah pangcu sesungguhnya sangat berat bagi siaotee. Toako adalah orang dari golongan pengemis, dengan sendirinya tidak boleh menolak perintah pangcu, tetapi waktu ia hendak menutup diri dalam kamar ini, pernah pesan bar- wanti2 kepada siaotee, tidak perduli siapa semua tidak boleh mengganggu dia."

Auw-yang Thong terus berpikir dengan mulut membisu, tetapi wajahnya menujukkan sikap sangat duka. Siang-koan Kie dapat melihat dengan tegas betapa susahnya pangcu golongan pengemis itu. Tetapi ia juga tidak berdaya untuk menghibur, terpaksa berpaling kearah lain tidak berani mengganggunya. Akhirnya, Auw-yang Thong berkata sambil menarik napas panjang: 

"Golongan pengemis mengalami kerusuhan besar, hampir tidak bisa memberikan perlawanan kepada Kun-liong Ong. UntuK sementara terpaksa, kita mengundurkan diri tidak melanjutkan pertempuran. Akan tetapi, Kun-liong Ong terus mengejar dengan seluruh kekuatan yang ada, menurut situasi pada sekarang ini, kedudukanku sesungguhnya amat bahaya, apakah perlu mengerahkan seluruh kekuatan yang ada untuk memberikan perlawanan terakhir ataukah kita bubarkan orang2 kita, disebar ke dunia Kang-ouw untuk melakukan pertempuran gerilya sambil menunggu kesempatan untuk bangun lagi. Semua ini perlu kita bicarakan dulu dengan Teng Sianseng!"

Siang koan Kie sangat sulit kedudukannya, lama ia berpikir akhirnya berkata:

"Tentang ini.... Siaotee sendiri sesungguhnya tidak bisa menjawab, kedudukan siaotee menjadi serba salah, disatu pihak siaotee tidak boleh melanggar perintah toako, dilain pihak juga tidak bisa menerima permintaan pangcu."

"Bolehkah saudara Siang-koan menolong kami dan bawa kami keluar kamar Teng Sianseng?"

Sang-koan Kie merasa berat untuk menolak lagi permintaannya, terpaksa ia berkata: "Baiklah, tetapi siaotee punya satu permintaan, pangcu harus terima baik dahulu,"

"Saudara Siang-koan katakanlah saja."

"Sebelum kita dapat mengambil keputusan, pangcu tidak boleh mengganggu toako.... Karena antara pangcu dengan toako merupakan orang atasan dengan orang bawahan, sedangkan sioate dengan toako merupakan hubungan pribadi. Karena siaote menerima pesan, sudah tentu harus mentaati pesan itu. Siaotee sudah berjanji pada toako, dengan sendirinya harus dipenuhi dalam ini, harap pangcu supaya bisa mengerti."

"Ucapan saudara Siang-koan ini memang tidak salah, sebelum mendapat ijin dari kau, kami tidak akan mengganggu Sianseng."

"Jikalau begitu, disini siaotee ucapkan terima kasih lebih dahulu. Marilah, mari pangcu ikuti siaotee."

Siang-koan Kie membalikkan badan dan berjalan, ketika tiba didepan kamar Teng Soan yang pintunya tertutup, ia merandek dan berkata:

"Toako berdiam didalam kamar ini."

Auw-yang Thong mengawasi pintu kamar yang tertutup rapat, begitu juga jendelanya, dari dalam kamar tersebut tidak terdengar suara apa2. Wajah Siang-koan Kie juga berubah demikian rupa, perasaannya tegang, matanya memandang Auw-yang Thong tanpa berkedip.

Sementara itu Auw-yang Thong nampak meng-epal2 tangannya sambil mengawasi pintu kamar yang tertutup, ia berjalan mundar mandir didepan pintu kamar, keringat membasahi sekujur badannya.

Jelaslah sudah bahwa pemimpin golongan pengemis ini tengah berusaha mengendalikan perasaannya yang ingin menyerbu masuk kedalam kamar, keringat yang mengalir bercucuran menunjukkan betapa hebat penderitaan dalam hatinya, namun demikian, ia masih tidak berani mengeluarkan suara.

Siang-koan Kie diam2 merasa lega. Tetapi tidak urung pikirannya juga diliputi oleh ketegangan.

Akhirnya, Auw-yang Thong berjalan lagi sambil memesut keringat yang membasahi dahinya, Siang-koan Kie terus mengikuti, ternyata pemimpin itu berjalan ketempat dimana tadi ia masuk, kemudian berpaling dan berkata sambil menarik napas panjang;

"Hari ini aku baru tahu, walaupun dalam pertempuran kita telah menghadapi nasib antara hidup dan mati, namun ketegangan dalam hati tidak seperti terganggu pikiran, penderitaan seseorang yang hendak mengendalikan dan menekan perasaan yang bergolak, kalau bukan orang yang pernah alami, sesungguhnya tidak dapat membayangkan hebatnya penderitaan itu. Tetapi pada saat ini perasaanku merasa lega, sebab bagaimanapun juga aku belum sampai mengganggu Teng sianseng."

"Jiwa besar pangcu sesungguhnya tidak dipunyai oleh manusia biasa."

"Aku tadi ketika melihat pintu kamar yang tertutup rapat, meskipun dalam hati ingin menerjang masuk dan sengaja menerbitkan suara dari tindakan kakiku, hendak mengejutkan Teng seng, tetapi kemudian aku berpikir, Teng sianseng sedang berusaha keras dengan pikiran yang masih ada padanya membuat rencana untuk kepentingan golongan pengemis, jikalau aku mengganggunya, bukankah ini merupakan suatu dosa yang sangat besar?"

Siang-koan Kie yang menyaksikan sikap dan wajah Auw- yang Thong, per-lahan2 mulai berobah, agaknya sedang memikirkan suatu urusan yang tidak dapat diputuskan.

Tiba2 terdengar suara helaan napas panjang Auw-yang Thong, pemimpin ini kemudian per-lahan2 duduk diatas kursi.

Saat itu wajahnya telah berubah pucat, dahinya penuh dengan keringat dingin. Menyaksikan keadaan demikian Siang- koan Kie jadi terkejut, ia menanya dengan suara perlahan;

"Pangcu, kau kenapa?" Auw-yang Thong per-lahan2 membuka matanya dan menyahut: "Aku baik2 saja, hanya merasa sedikit lelah. Dengan mengambil istirahat sebentar tentu akan baik sendiri."

Siang-koan Kie ingin menghibur sepatah dua patah, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus memulainya.

Auw-yang Thong pejamkan matanya, sebentar kemudian tiba2 dibuka lagi dan berkata:

"Saudara Siang-koan, kau tidak usah khawatirkan diriku, aku akan beristirahat disini saja, terus terang aku beritahukan padamu, sudah tujuh hari tujuh malam aku belum mendapat kesempatan mengaso. Selama ini, aku merasakan badanku letih sekali, rasa2nya sudah tak sanggup lagi untuk bertahan diri. "

"Pangcu, silahkan mengaso disini."

Auw-yang Thong bersenyum, perlahan-lahan pejamkan matanya lagi.

Baru saja Siang-koan Kie hendak duduk mengaso, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki orang, Suat Bwee lari masuk tergesa-gesa.

Siang-koan Kie lalu menegurnya sambil kerutkan kening, "Ada urusan apa?"

"Teng Sianseng, ia.   "

Auw-yang Thong tiba-tiba membuka matanya dan bertanya dengan nada cemas; "Teng Sianseng kenapa?"

"Teng Sianseng telah pingsan. " jawab Suat Bwee.

Siang-koan Kie lompat bangun, sambil menyekal tangan Suat Bwee ia berkata: "Sekarang bagaimana, mengapa kau berani lancang2 masuk kekamar?"

Karena hatinya cemas dan gusar, tanpa sadar ia sudah menggunakan tenaga terlalu kuat. Suat Bwee merasakan tangan yang dicekal itu seperti mau remuk tulangnya, sekujur badannya gemetaran, katanya dengan suara cemas;

"Kongcu, kau lepaskan dulu tanganku! Ucapanku tadi.....

masih belum habis."

Siang-koan Kie melepaskan tangannya sambil berkata; "Lekas kau jelaskan duduk perkara yang sebenarnya, apabila ada terjadi apa2 atas diri Teng Sianseng, kau juga jangan harap bisa hidup."

"Betapa besar sekalipun nyali hamba, juga sekali-kali tidak berani masuk  secara  lancang  kekamar  Teng Sianseng "

Menjawab Suat Bwee sambil menangis.

"Dan mana kau tahu kalau Teng Sianseng jatuh pingsan?" "Teng Sianseng sendiri yang membuka pintu kamar dan

berjalan keluar, ia memanggil Kongcu tetapi baru memanggil

sekali sudah jatuh pingsan."

"Oooo, kalau begitu aku berlaku salah terhadapmu."

Auw-yang Thong agaknya sudah melupakan keletihan dirinya sendiri, mendadak melompat bangun bersama Siang- koan Kie lalu berjalan dengan ter-gesa2 menuju kekamar Teng Soan.

Ketika dua orang ini tiba didepan kamar Teng Soan, segera berdiri terpaku.

Teng Soan masih duduk diatas meja tulisnya, diatas meja tulis tersebut penuh dengan tumpukan kertas yang sudah dilukis, diantaranya terdapat selembar kira2 tiga kaki persegi, agaknya yang terbaru yang baru selesai dilukisnya. Lukisan ini belum sempat disingkirkan rupanya sehingga sebagian besar kecipratan darah yang keluar dari mulutnya. Siang-koan Kie setelah sadar apa yang terjadi lalu menjerit, buru2 menghampiri seraya katanya: "Toako, kau kenapa?"

Beberapa kali ia memanggil tidak terdengar jawaban apa2 sehingga hatinya bertambah cemas. Ia lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, mengurut jalan darah Beng-bun- hiat dibelakang punggung Teng Soan, tangan kirinya memeriksa pernapasan Teng Soan, ternyata masih hidup.

Usaha Siang-koan Kie telah berhasil baik. Sebentar kemudian terdengar suara tarikan napas perlahan, Teng Soan sudah mulai sadar. Siang-koan Kie dengan cepat brrkata:

"Toako, sadarlah! Auw-yang pangcu telah datang menengoki kau!"

Teng Soan yang masih dalam keadaan antara sadar dan tiada tiba2 membuka matanya dan berkata:

"Ow! Auw-yang pangcu sudah datang?"

Auw-yang Thoug buru2 menyahut: "Sianseng sudah terlalu letih."

Mata Teng Soan yang sayu nampak berputaran agaknya pandangan matanya sudah kabur, dengan menggunakan daya pendengarannya, ia mendekat Auw-yang Thong, kemudian berkata:

"Pandangan mata hambaku sudah kabur, tidak dapat melihat benda sejarak  satu kaki lebih, sehingga hambamu tidak tahu kalau Pangcu datang, harap supaya Pangcu memaafkan."

Auw-yang Thong yang menyaksikan bahwa penasehatnya itu telah berubah sedemikian rupa, hatinya merasa sangat terharu, hingga air matanya tidak dapat dicegah, mengalir keluar dari sela2 kedua matanya.

"Sianseng tidak usah merendahkan diri, lekas pejamkan matamu, untuk beristirahat lagi sebentar, sekalipun mau mengarungi lautan, aku juga akan mencarikan obat supaya mata sianseng bisa melihat seperti biasa,"

„Itu rasanya tidak perlu, sekalipun didalam dunia ini benar ada obat manjur yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati, juga tidak bisa memperpanjang umurku, pangcu tidak perlu menyusahkan hati......." berkata Teng Soan sambil tertawa hambar, "Kedatangan pangcu sangat kebetulan, selagi hambamu masih keadaan sadar, ada beberapa patah kata sangat penting ingin hamba bicarakan dengan pangcu."

Kedatangan Auw-yang Thong sebenarnya hendak minta advis kepada penasehatnya itu, tetapi menyaksikan keadaan yang sangat mengenaskan itu, hatinya sudah hancur luluh, bagaimana berani membuka mulut? Ketika mendengar ucapan panasehatnya, segera berkata:

"Sianseng boleh ceritakan dengan tenang, aku bersedia mendengarkan."

"Pangcu diangan putus asa kemenangan Kun-liong Ong yang diperoleh kali ini, tidak mempengaruhi keadaan dunia Kang-ouw."

"Sianseng kau.   "

"Pangcu tidak usah membohongi aku lagi, sekarang ini keadaan hamba sudah seperti lampu kehabisan minyak, setiap saat bisa padam. Tetapi sebelum hambamu menutup mata, masih bisa pertahankan kejernihannya, pangcu ada pertanyaan apa2 silahkan saja."

Auw-yang Thong tahu bahwa ucapan Teng Soan itu memang benar, maka lalu berkata:

"Karena rencanaku yang kurang sempurna, kita telah kalah ditangan Kun-liong Ong, sehingga menderita kerusakan hebat."

"Bagaimana kerusakan difihak Kun-liong Ong?!" "Orang2 kita sering terjebak oleh jebakan yang sudah diatur oleh Kun-liong Ong, sehingga tidak mempunyai kekuatan melakukan serangan pembalasan, juga agak sukar memusatkan kekuatan kita untuk melakukan pertempuran yang memastikan dengannya. Aih! Kalau bukan karena kebijaksanaan sianseng yang menjadikan anak buah kita setiap orang semangatnya bagaikan banteng, dalam pertempuran ini golongan pengemis barangkali sudah runtuh "

"Hamba sudah tahu." memotong Teng Soan, "hambamu barangkali tidak bisa tahan terlalu lama hingga tidak dapat mendengar terlalu banyak keterangan pangcu....." Sehabis berkata, ia batuk2 dan menyemburkan darah.

Siang-koan Kie segera memburu hendak menolong, tetapi dicegah oleh Teng Soan.

"Sampai beberapa lama hambamu dapat bertahan ini tidak bisa diduga, harap pangcu perhatikan keterangan hambamu."

"Sianseng boleh lanjutkan."

"Nanti setelah hamba menutup mata, pangcu harus dapat menggunakan kepandaian dua orang sebaiknya, sebagai ganti hambamu."

"Siapa dua orang yang sianseng maksudkan?"

"Nie Suat Kiao dan Siang-koan Kie..... Dalam hal mengadu kepintaran otak dan siasat pertempuran, Nio Suat Kiao merupakan satu2nya orang yang mampu menandingi Kun- liong Ong. Tetapi dia sudah lama dibawah pengaruh Kun-liong Ong, sulit untuk berhadapan secara terang2an dimedan perang dengan orang yang bekas ayah angkatnya, maka harus dibantu oleh Siang-koan Kie, yang memberikan dorongan dan keberanian. "

"Aku akan ingat baik pesan sianseng ini." "Nie Suat Kiao meski seorang perempuan, tetapi baik kepandaian ilmu silatnya maupun kepintaran dan kecerdasan otaknya, tidak dibawah kaum lelaki. Apabila pangcu tidak menggunakan kebijaksanaan terhadap orang bawahan memperlakukan dia, barangkali ia mau mencurahkan tenaganya dengan hati rela."

"Orang yang sianseng ajukan, sudah tentu akan kami perlakukan dengan segala kehormatan, seperti apa yang kami lakukan terhadap sianseng."

"Setelah hamba mati, urusan selanjutnya hambamu sudah serahkan kepada Siang-koan Kie, pangcu tidak perlu capai hati, asal pangcu kirim beberapa orang yang mengurus keuangan sudah cukup tetapi orang2 itu harus mendengar perintah Siang-koan Kie.”

"Sianseng jangan khawatir, sekalipun golongan pengemis harus menghabiskan harta kekayaannya, aku juga tidak sayang."

"Dahulu waktu kakek moyang golongan pengemis mendirikan golongan pengemis telah bersumpah tidak akan mengumpulkan harta kekayaan dunia, andaikata mendapatkan harta yang tidak halal, juga harus di-bagi2kan kepada orang miskin. Oleh karena itu, maka dinamakan golongan miskin atau golongan pengemis. Tetapi nanti setelah hamba menutup mata, memperlukan biaya sangat besar sekali, sekalipun semua kekayaan golongan pengemis yang sekarang ada, barangkali juga tidak cukup."

"Garis besarnya saja, sianseng kira2 membutuhkan berapa jumlahnya?"

"Ditaksir secara kasar, sedikitnya membutuhkan sejumlah tiga juta tail perak lebih."

Auw-yang Thong terkejut. "Jumlah sedemikian besar, sesungguhnya memang sulit bagi kita dapat menyediakan, kami harus berusaha dengan jalan lain, harap sianseng jangan khawatir."

"Aku hendak membuat kuburanku yang besar sekali diatas gunung ini. "

"Sianseng sudah mencurahkan banyak tenaga dan pikiran untuk kepentingan golongan pengemis, sesudah menutup mata membangun kuburan besar untuk peringatan bagi generasi muda, itu sudah seharusnya."

Teng Soan hanya tertawa hambar, juga tidak memberi keterangan bagaimana bentuknya kuburan yang akan dibangun itu, katanya:

"Masih ada satu hal lagi, harap pangcu terima baik, itu adalah siapa yang turut campur dalam urusan ini, harus turut printah Siang-koan Kie."

"Ini juga bukan soal sulit, aku nanti segera mengeluarkan perintah, siapa2 anak buah golongan pengemis yang ia dapat menggunakan, boleh pilih sendiri."

"Untuk membangun kuburan besar ini, tidak perlu menggunakan tenaga dari orang2 golongan pengemis."

"Kenapa?"

"Diatas lukisan itu hamba sudah menjelaskan bagaimana caranya membangun bangunan itu, dengan Siang-koan Kie seorang saja sebagai pengawas, sudah cukup."

"Membangun sebuah kuburan besar, bukankah memerlukan banyak tenaga? Dalam golongan kita, tidak kurang orang2 yang mempunyai pengertian tentang bangunan, jadi tidak perlu menggunakan orang dari luar."

Teng Soan tiba2 menghela napas panjang dan berkata: "Dalam   seumur   hidupku,   belum   pernah   melakukan

perbuatan yang keterlaluan, tetapi kali ini karena keadaan memaksa. apa boleh buat harus melakukan juga. Harap pangcu keluarkan perintah mencari seratus tukang batu, limapuluh tukang besi, dan limapuluh tukang kayu. Orang2 ini sebaiknya dipilih dari orang2 jahat dan buas perangainya, yang sepantasnya mendapat hukuman mati."

Auw-yang Thong tercengang. "Mengapa orang-orang itu harus orang2 jahat dan yang pantas mendapat hukuman mati?"

"Dengan terus terang, semua orang atau tukang2 itu, menurut rencana pembangunan kuburanku itu, mereka juga sudah bisa hidup lagi."

"Apakah mereka harus dibunuh mati semua?"

"Meskipun tidak dibunuh mati, tetapi juga tidak bisa hidup lagi..... kuburan ini, rencananya sangat aneh, siapa2 yang menggali lobang untuk pembangunan ini, bagaikan binatang2 ulat sutra yang mengurung dirinya sendiri, maka setelah bangunan selesai, mereka juga terkurung dalam kuburan. Persediaan barang makanan dalam kuburan cukup untuk mereka dalam waktu tiga tahun lamanya."

Siang-koan Kie yang mendengarkan juga terkejut.

-odwo-

Bab-90

SIANG-KOAN KIE melengak, tetapi ia tidak menanya lagi. "Biar bagaimana, Nie Suat Kiao dengan Kun-liong Ong

dalam satu masa pernah mempunyai hubungan anak dengan

ayah, meskipun Kun-liong Ong sudah mengandung maksud hendak membunuh Nie Suat Kiao, tetapi bagi Nie Suat Kiao sendiri barangkali tiada maksud membunuh ayahnya. Ini merupakan perbedaan watak yang sangat berlainan, maka itu, kedudukan mereka didunia Kang-ouw untuk selanjutnya, barangkali akan merupakan satu imbangan. Keadaan demikian itu apabila berlangsung terus, entah sampai kapan baru berakhir? Apabila sebelum aku mati tidak dapat mengatur suatu jebakan bagi Kun-liong Ong, dalam tigapuluh tahun yang mendatang ini, umat manusia didalam dunia tidak akan menikmati perdamaian, bahkan akan dirundung oleh malapelaka hebat."

"Duaratus orang mudah dicari, tetapi mereka belum tentu semuanya ada orang jahat yang harus mendapat hukuman mati.

"Apabila dalam waktu tiga tahun Kun-liong Ong tidak datang membongkar kuburan itu, duaratus orang itu bukankah akan terkubur hidup2 dalam kuburanmu?" berkata Siang-koan Kie.

"Dimasa hidup aku membiarkan Kun-liong Ong menjagoi sampai duapuluh tahun, apabila diwaktu mati aku masih tidak tega menurunkan tangan kejam terhadapnya, akibatnya pasti akan merupakan bencana besar bagi rimba persilatan selama tigapuluh tahun."

"Karena sianseng sudah bertekad hendak melaksanakan maksud sianseng, maka kami akan segera mengeluarkan perintah."

"Masih ada satu hal, harap pangcu ingat baik2." "Masih ada apa lagi? Sianseng jelaskan saja."

"Situasi pada dewasa ini, sudah sulit untuk melakukan peperangan total terhadap Kun-liong Ong, pangcu sebaiknya bisa menyingkirkan diri untuk menghindarkan pertempuran besar."

"Hal ini aku akan ingat."

"Selama waktu itu, masih ada satu hal yang sangat sulit." "Hal apa?" "Kuburanku yang akan dibangun secara besar itu, menurut perhitungan hamba, secepatnya masih harus memakan waktu kira2 setengah tahun."

"Dan tiga tahun kemudian bagaimana? Duaratus orang itu bukankah akan terkubur hidup2 dalam kuburan itu."

"Tidak usah tiga tahun, Kun-liong Ong pasti akan datang untuk membongkar kuburanku itu, maka mati hidupnya orang2 itu, juga terserah kepada nasib mereka sendiri."

Selagi memberi keterangan itu, Teng Soan tiba2 batuk2 hingga terpaksa menunda keterangannya, setelah batuknya reda, ia melanjutkan lagi:

"Selama waktu itu, apabila didengar oleh Kun-liong Ong dan datang mencarinya sampai disini, bukan saja semua usahaku akan ter-sia2, bahkan selama beberapa puluh tahun yang akan datang, sudah tidak ada orang lagi yang mampu menundukkan padanya."

"Kami akan mengumpulkan semua anak buah golongan pengemis yang terkuat, melakukan penjagaan disemua jalan penting yang menuju keatas gunung ini, untuk mencegah gangguan Kun-liong Ong."

"Apabila pangcu berbuat demikian, ini tidak ubahnya pangcu sudah memberitahukan kepada Kun-liong Ong tempat rahasia ini."

"Habis bagaimana?"

"Disatu fihak, pangcu harus menghindarkan diri jangan melakukan pertempuran langsung secara besar-besaran dengan Kun-liong Ong. Dilain fihak hendaknya berlagak memperluas pengaruh golongan pengemis dan menyiarkan desas desus hendak melakukan pembalasan terhadap Kun- liong Ong dengan menggerakkan seluruh kekuatan yang ada. Lalu mengutus orang untuk mengadakan hubungan dengan sembilan partay besar rimba persilatan dan harus dapat meyakinkan kepada mereka bahwa pertempuran menumpas Kun-liong Ong itu adalah mutlak."

"Aku akan ingat baik2."

Teng Soan sudah terlalu letih, badannya gemetaran dan jatuh duduk diatas kursi.

Siang-koan Kie cepat2 membimbing dan berkata: "Toako beristirahat dulu sebentar, nanti bicara lagi."

"Aku sudah tidak bisa bicara terlalu banyak, barangkali tinggal beberapa puluh kata saja. "

"Perkataan sianseng, setiap patah merupakan emas, masih ada apa lagi? Harap teruskan!" berkata Auw-yang Thong.

"Dua kacungmu itu, dapat digunakan tugas berat, pangcu boleh memberi mereka kedudukan yang lebih tinggi."

"Aku ingat."

"Kiang Su Im berkepandaian luar biasa, tetapi adatnya terlalu sombong, kalau pangcu ingin menggunakan tenaganya, boleh mengadakan persahabatan dan perlakukan padanya sebagai sahabat yang paling akrab, sudah tentu ia akan mengeluarkan tenaga bagi kita."

"Aku akan melakukan menurut pesan sianseng."

"Aku sudah minta Sian-koan Kie membantu pangcu, tetapi ia hanya berstatus sebagai tamu, dapat membantu dari samping, tidak boleh menjadi anggota pengemis secara resmi. "

Lagi2 batuk keras menghalangi Teng Soan berbicara, ia terpaksa menghentikan pembicaraannya.

Siang-koan Kie memberi pertolongan dengan menyalurkan kekuatan tenaga dalam melalui jalan darah 'Beng-bun- hiat'nya. Kekuatan tenaga dalam Siang-koan Kie itu memberi tenaga pula kepada Teng Soan, semangatnya terbangun lagi, hingga dapat melanjutkan kata-katanya:

"Berita tentang kematianku, sebaiknya untuk sementara dirahasiakan dulu."

"Pesan sianseng, semua akan kulakukan sebaik-baiknya, harap sianseng jangan khawatir."

Teng Soan tiba2 mencekal lengan Siang-koan Kie dan berkata kepadanya:

"Saudaraku, keadaan rimba persilatan pada tiga puluh tahun kemudian, ada mempunyai hubungan sangat erat denganmu, kau harus dapat memikirkan nasib sahabat2 rimba persilatan."

"Toako jangan khawatir, siaotee akan ingat baik-baik." sahut Siang-koan Kie.

"Bagus, sekarang bimbinglah aku ketempat tidur."

Siang-koan Kie menurut, ia bimbing toakonya ketempat tidur, tetapi ia merasa bahwa seluruh berat badan Teng Soan berada diatas dirinya, sepasang kaki Teng Soan sudah tikak bisa jalan, ia lalu berkata sambil menghela napas:

"Toako, mari aku gendong kau naik keatas pembaringan!" Baru saja ia meletakkan Teng Soan diatas pembaringan,

napasnya sudah berhenti.

Auw-yang-Thong sudah melihat gelagat tidak beres, buru2 menghampiri dan berkata:

"Saudara Siang-koan, sianseng sudah....." baru berkata sampai disitu, tenggorokannya mendadak terkancing, hingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Siang-koan Kie menenangkan pikirannya yang kalut, dengan cepat membimbing Auw-yang Thong yang hampir rubuh seraya berkata:

"Pangcu, baik jaga diri sendiri,"

"Aku baik2 saja bagaimana dengan Teng sianseng?" "Napasnya sudah berhenti, sekalipun menggunakan obat

yang paling manjur didalam dunia juga tidak bisa menghidupkan nyawanya lagi."

Auw-yang Thong seperti terbang semangatnya, ia berdiri terpaku, katanya lambat2:

"Aku telah kehilangan satu sahabat karib, dunia kehilangan satu orang pandai, apakah ini berarti bahwa Tuhan hendak menumpas golongan pengemis?"

Kematian Teng Soan, merupakan satu pukulan hebat bagi Auw-yang Tnong, sekalipun ia ada seorang jago kenamaan yang sudah banyak pengalaman, juga tidak sanggup mengalami penderitaan itu, hingga sesaat hampir jatuh pingsan.

Siang-koan Kie memberi pertolongan dengan menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya melalui jalan darah "Hian-kie-hiat' dibadan Auw-yang Thong seraya berkata:

"Pangcu harap berpikir pan dang, ribuan anak buah golongan pengemis, semua masih memerlukan pimpinanmu."

Auw-yang Thong menghela napas panjang dan berkata; "Terima kasih atas nasehatmu, aku tidak apa2, duduk

sebentar, sudah pulih kembali kesehatanku, barang2 peninggalan sianseng, tolong saudara beres kan, mungkin ada banyak diantaranya yang tidak boleh dilihat oleh orang lain."

"Harap pangcu beristirahat dengan hati tenang." Auw-yang Thong sebetulnya sudah tidak sanggup menahan penderitaan itu, ia duduk didalam kamar Teng Soan, memejamkan matanya.

Siang-koan Kie memandang jenazah Teng Soan dengan hati pilu setelah memberi hormat untuk penghabisan kali, lalu menutupi jenazah toakonya itu.

Siang-koan Kie sangat menghargakan toakonya yang mempunyai kecerdasan otak yang luar biasa itu, tetapi terhadap perbuatannya yang terakhir, yang menyekap dalam kamar selama setengah bulan, ia juga merasa heran.

Selesai menutupi jenazah toakonya, ia lalu keluar untuk membereskan semua barang peninggalan toakonya.

Diatas meja tulisnya penuh tumpukan buku dan kertas2 penuh dengan lukisan, setiap lukisan penuh dengan tulisan huruf kecil2, lukisan itu dibuat sangat hati2 dan rapi sekali, ada beberapa lembar nampak agak kusut.

Dengan penuh perhatian Siang-koang Kie memeriksa lukisan2 itu, semua lukisan itu sudah diberikuti nomor berurut.

Lukisan itu ternyata merupakan sebuah lukisan atau pola pembangunan sebuah kuburan raksasa setiap bagian diberikan keterangan sangat jelas.

Meskipun ia tidak mengerti soal pembangunan, tetapi karena diatas lukisan itu sudah ada penjelasannya, tidaklah susah dimengerti olehnya.

Entah sudah berapa lama ia mempelajari lukisan itu, tiba2 terdengar suara Auw-yang Thong:

„Saudara Siang-koan, bagaimana kalau kita makan dulu?"

Hari ternyata sudah gelap, entah sejak kapan dan entah siapa yang menyalakan lilin diatas meja. Siang-koan Kie membereskan semua kertas2 diatas meja, dikumpulkan menjadi satu, kemudian baru menerima baik tawaran makan Auw-yang Thong.

"Apakah saudara Koan sudah periksa barang peninggalan Teng sianseng?" tanya Auw-yang Thong

"Sebagian besar sudah."

"Kuburan itu entah kapan hendak mulai dibangun." "Makin cepat makin baik."

Selama bicara mereka sudah berjalan sampai diruangan makan, diatas meja sudah disediakan barang hidangan dan minuman.

Empat pelayan wanita Lan, Lian, Kiok dan Bwee berdiri melayani.

Dua kacung kanan dan kiri berdiri berdampingan ketika melihat pangcunya masuk keruangan, dengan serentak memberi hormat.

Auw-yang Thong ajak mereka makan ber-sama2. Sembari makan Siang-koan Kie menuturkan apa yang dilihatnya dari lukisan Teng Soan, katanya: "Semasa hidupnya, Teng siangseng ada seorang arif bijaksana dan penuh cinta kasih, tetapi dalam lukisan peninggalannya itu, ternyata mengandung napsu membunuh "

"Aih! Kalau dari dulu ia mau berlaku kejam kejahatan Kun- liong Ong barang kali tidak sampai merajalela seperti sekarang ini."

Siang-koan Kie menghela napas, tidak menyahut. Setelah hening cukup lama, Auw-yang Thong baru berkata:

"Penguburan jenazah Teng siangseng, aku akan perintahkan orang lain untuk mengurusnya, saudara Siang- koan Kie tidak perlu capek hati, Disini aku akan berdiam satu hari esok pagi akan berangkat kelain tempat. Apabila saudara ada keperuan apa. harap membuka daftar, asal aku sanggup pasti akan kupenuhkan."

"Nanti setelah siaote memeriksa dengan teliti semua tulisan toako, akan melaporkan kepada pangcu."

"Saudara atur sebaiknya saja."

Selesai dahar, Siang-koan Kie mengambil barang peninggalan Teng Soan, balik kekamarnya sendiri.

Dalam kamar, ia bolak-balik membuka lembaran lukisan Teng Soan. Setelah menghafalkan semua isinya, tiba2 timbul perasaan tidak enak, pikirnya:

"Apabila aku benar2 harus mewujutkan rencana pembuatan kuburan ini, maka duaratus jiwa orang2 yang membuat kuburan ini, semua akan terkurung didalamnya. Apabila orang2 memang, benar2 dari golongan penjahat, tidak apa, tetapi didalam waktu sesingkat itu, darimana bisa dapatkan sedemikian jumlahnya orang jahat? Mungkin, anak buah golongan pengemis karena terpaksa harus memenuhi perintah pangcu, akan sembarangan membawa orang yang tidak berdosa. "

Siang-koan Kie yang berhati mulia, meskipun menghargai pribadi Teng Soan, tetapi dalam hal ini, ia tidak dapat menyetujui rencana toakonya yang dianggapnya terlalu kejam, maka sesaat lamanya ia tidak bisa mengambil keputusan, ia berpikir keras sambil menghadapi pelita.

Tiba2 terdengar suara tindakan kaki, tidak lama Suat Bwee muncul diambang pintu.

Pelayan wanita itu tidak berani lancang masuk, ia berkata dengan suara halus sambil berdiri diambang pintu;

"Apakah kongcu ingin makanan kecil?"

"Mengapa kau tidak berani masuk?" Tanya Siang-koan Kie sambil menghela napas. "Hamba tidak berani mengganggu kongcu." Jawabnya. "Tidak apa, kau masuk saja!"

Suat Bwee berjalan masuk dan meletakkan nampannya diatas meja, kemudian berkata: "Mangkok ini terisi wedang biji teratai, harap kongcu makan dulu selagi masih panas2."

Siang-koan Kie melihat bahwa pelayan wanita itu masih mempunyai rasa takut yang sangat kuat terhadap dirinya. ia teringat bahwa selama beberapa hari itu tindakannya memang agak kasar terhadap para pelayan, maka sekarang kalau mengingat ia merasa tidak enak sendiri. Sambil menghela napas ia berkata;

"Karena penyakit Teng Sianseng berat sekali, selama beberapa hari ini pikiranku juga terganggu, tanpa kusadari ucapan dan tindakanku ada sedikit kasar, harap kau jangan buat pikiran."

"Bagaimana hamba berani membenci Kongcu?" "Kalau begitu kau makanlah wedang biji teratai ini!"

Suat Bwee terkejut. Dengan cepat ia berkata; "Mana hamba berani?"

"Aku masih belum merasa lapar, kalau dibuang sangat sayang. Kau makan tokh sama saja, bukan?"

Suat Bwee menggeleng-gelengkan kepala, sambil menutup mangkoknya ia berkata; "Hamba akan menunggu diluar, kalau Kongcu sudah lapar harap panggil saja hamba."

Selama itu Siang-koan Kie menggunakan waktunya untuk mempelajari rencana2 pembuatan kuburan toakonya, Teng Soan sudah menduga bahwa Siang-koan Kie merasa berat menghadapi tindakannya terhadap duaratus orang yang membangun kuburan itu. maka didalam surat keterangannya ia sengaja meninggalkan banyak keterangan mengenai itu. Ia kata bahwa kejahatan Kun-liong Ong tidak dapat diukur oleh pikiran manusia, ia belum merasa puas dengan mendapat kedudukan sebagai pemimpin rimba persilatan, apabila usahanya berhasil ia akan memperluas usahanya untuk merebut kekuasaan negara, dengan demikian rakyat dan orang2 rimba persilatanlah yang akan mengalami penderitaan hebat.

Kepandaian Auw-yang Thong meskipun belum sanggup melawan Kun-liong Ong, tetapi ia ada seorang berjiwa besar, dalam rimba persilatan dewasa ini sebetulnya merupakan satu2nya orang yang dapat mengimbangi kekuatan Kun-liong Ong. Dalam suratnya itu dikatakan pula kepada Siang-koan Kie, harus membantunya dengan sepenuh tenaga. Dalam suratnya itu juga dikatakan, bahwa seorang kesatria yang menjadi pujaan orang banyak, dalam kehidupan pribadinya kebanyakan sunyi dan banyak penderitaan hidup, setiap orang yang mengutamakan kepentingan sendiri, tidak akan dapat melakukan pekerjaan besar yang menguntungkan orang banyak. Duaratus jiwa orang2 yang turut ambil bagian membangun kuburan raksasa itu meskipun akan terkurung hidup2 didalamnya, tetapi itu belum berarti bahwa harapan hidup mereka sudah putus sama sekali, didalam perhitungannya dalam satu tahun Kun-liong Ong pasti akan menemukan kuburan itu "

Siang-koan Kie yang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada rencana besar itu, tanpa dirasa sudah mempelajari semalam suntuk.

Menjelang dipagi hari itu Suat Bwee masuk kekamar lagi, dengan tangan membawa nampan ia berdiri disuatu sudut, matanya terus mengawasi Siang-koan Kie dengan mata masih dirasakan ngantuk, katanya:

"Sudah menjelang pagi, apa Kongcu belum merasa lapar?" Siang-koan Kie meletakkan lukisan yang baru dipelajarinya,

ia berkata sambil tertawa: "O, ya, kini sudah terang tanah, perutku memang merasa sedikit lapar."

Suat Bwee berjalan lambat2 mendekati Siang-koan Kie seraya berkata: "Harap Kongcu makan bubur panas ini dulu. nanti hambamu akan mengambil lagi dari dapur."

Siang koan Kie berkata sambil geleng2kan kepala: "Semangkok bubur ini saja sudah cukup, kau pergilah

beritahukan pangcu, katakan saja sebentar lagi aku akan

menemuinya."

"Auw-yang pangcu sudah lama pergi." Menjawab Suat Bwee.

"Kapan ia pergi?" Bertanya Siang-koan Kie terkejut.

"Tadi pada pagi2 jam lima subuh, pangcu melihat Kongcu sedang tekun mempelajari lukisan itu, sehingga tidak berani mengganggu, ia minta hambamu menyampaikan kepergiannya."

"Ia masih meninggalkan pesan apa lagi"

"Katanya, ia sudah memberikan perintah kilat kepada semua anak buahnya untuk mencari tukang, selambat- lambatnya sepuluh hari secepatnya seminggu tukang2 itu akan datang."

"Ow, hanya itu saja?"

"Ya, sehabis meninggalkan pesannya lantas berlalu dengan tergesa-gesa."

"Sudah tentu, kalau kau sudah lelah, pergilah untuk beristirahat!"

"Hambamu tadi sudah tidur sebentar, Kongcu semalam suntuk terus membaca, seharusnya juga mengambil istirahat."

"Tolong kau tutup pintu kamar, aku benar-benar ingin rebahan." Sehabis berkata demikian Siang-koan Kie rebahan dipembaringan tanpa membuka pakaian lagi, Suat Bwee setelah menyelimuti badannya, lalu meninggalkannya.

Siang-koan Kie begitu rebah dipembaringan, otaknya terus memikirkan rupa2 hal, yang aneh2 dalam surat peninggalan Teng Soan, sudah tentu ia tidak bisa pulas.

Keadaan demikian berlangsung terus hingga beberapa hari lamanya. Pada suatu hari, diwaktu tengah hari Suat Bwee datang dengan ter-gesa2 untuk memberitahukan bahwa dua kacung Auw-yang Thong minta bertemu dengannya.

Siang-koan Kie semenjak bertempur dengan dua anak itu, ia merasa kagum akan kepandaian mereka, maka ia lantas suruh Suat Bwee membawa mereka masuk.

Baru Suat Bwee membalik badan, dua kacung itu ternyata sudah bertindak masuk dengan bergandengan.

Dua orang itu memberi hormat seraya berkata: "Kami telah mendapat perintah dari pangcu untuk membawa duaratus tukang yang harus dikerjakan disini."

"Pekerjaan ini harus segera dimulai. Suruh mereka masuk, sementara saudara berdua, siaote tidak berani mengganggu."

Ucapan itu sebetulnya mengandung maksud merendahkan diri, siapa sangka kedua kacung tersebut sudah diperintah oleh Auw-yang Thong supaya dalam segala hal tidak boleh bertengkar dengan Siang-koan Kie, maka ketika mendengar ucapan Siang-koan Kie, mereka segera mengundurkan diri.

Sebentar kemudian. Dua ratus tukang kayu, dan tukang batu, semua masuk kedalam perkampungan yang kecil itu.

Dengan menurut rencana besar yang telah digariskan oleh Teng Soan dalam surat wasiatnya Siang-koan Kie memulai pekerjaannya, orang2 itu meskipun sudah mempunyai banyak pengalaman, terapi biar bagaimana masih kurang cerdik, ada juga yang sengaja menyeleweng atau mengambil siasat ulur waktu.

Dengan sendirian saja Siang-koan Kie harus mundar mandir kesana kemari mengurus demikian banyaknya orang, sudah tentu merasa berat. Juga tidak dapat memberi komando kepada mereka dengan baik.

Waktu tiga hari berlalu dengan amat cepat. Siang-Koan Kie memeriksa hasil tukang2nya, ternyata belum kelihatan apa2, hingga hatinya merasa cemas. Apabila kejadian begini terus menerus berlangsung, mungkin akan menghambat waktu terlalu lama.

Kalau biasanya, toakonya mempunyai perhitungan yang tepat sekali, waktu untuk membangun kuburan yang ditetapkan dalam surat peninggalannya sudah jelas se- lambat2nya tak boleh lebih dari waktu setahun. Tetapi apabila ditilik dari pekerjaan pertukang sekarang mungkin akan memakan waktu lebih lama daripada yang telah ditetapkan.

Tetapi untuk mempercepat waktu, tidak dapat menggunakan paksaan. Soalnya kini terletak pada cara2 pekerja yang harus dikontrol.

Selagi siang-koan Kie menghadapi kesulitan demikian tiba2 dilihatnya Suat Bwee datang dengan teh dicangkir. Suatu pikiran timbul dalam pikirannya, ia segera minta pelayan memanggil tiga kawannya uniuk menemuinya.

Suat Bwee nampak bersangsi sebentar, ia sebetulnya ingin menanyakan untuk keperluan apa memanggil mereka, tetapi niatnya diurungkan karena tidak berani. Ia lantas berjalan keluar akan menjalankan perintah sang Kongcu tersebut.

Sebentar kemudian empat pelayan wanita yang diminta datang telah berkumpul semua dalam kamar. Siang-koan Kie memberitahukan bagaimana lambatnya orang2 bekerja, ia lalu minta bantuan mereka untuk bertindak sebagai mandor.

Empat orang pelayan wanita itu kesemuanya adalah orang2 cerdik. Setelah mendapat keterangan cukup jelas dari Siang- koan Kie, mereka lantas dapat melakukan tugas mereka dengan amat baik.

Benar saja, pekerjaan dibawah pengawasan empat pelayan wanita cantik hasilnya berlipat ganda sampai beberapa kali, semua pekerjaan berjalan lancar menurut waktu yang telah direncanakan dalam surat peninggalan Teng Soan.

Tidak diketahui apakah Auw-yang Thong ada kirim orang kesitu atau tidak, tetapi selama tiga bulan itu tidak terlihat orang2 dari golongan pengemis yang datang, Kun-liong Ong agaknya juga tidak mendapat tahu khabar itu, pendek kata, waktu tiga bulan telah dilalui dengan selamat.

Sedangkan pekerjaan untuk membangun kuburan dibawah pengawasan Siang-koan Kie dibantu oleh empat pelayan cantik sebagai mandor ternyata sudah selesai tujuh sampai delapan bagian.

Dengan cepat setengah bulan kembali berlalu.

Hanya Siang-koan Kie yang mengerti, pada saat pekerjaan itu selesai nanti, pesawat akan bergerak sendiri, dan orang2 pekerja itu akan mengawani jenazah Leng Soan tertutup dalam kuburan.

Jenazah Teng Soan sudah dibawa pergi oleh Auw-yang Thong ketika ia berlalu dari situ, dan kini selagi ia menghadapi taraf akan selesainya pembangunan, masih belum terlihat jenazah Teng Soan dibawa kembali, bahkan selama tiga- empat bulan itu tidak terlihat juga seorangpun dari golongan pengemis yang datang. Keganjilan ini sesungguhnya diluar dugaan Siang-koan Kie. Selagi Siang-koan Kie merasa gelisah tiba2 terdengar suara salah seorang pelayannya yang memberitahukan tentang kedatangan Auw-yang Thong.

Siang-koan Kie segera menanyakan dimana Auw-yang pangcu berada pada ketika itu, yang lalu dijawab Suat Bwee, bahwa Auw-yang pangcu kini masih menunggu diluar kampung.

"Apakah hanya Auw-yang pangcu sendiri yang datang?" bertanya Siang-koan Kie bangkit berdiri.

"Masih ada peti jenazah Teng sianseng.. jawab Suat Bwee.

Siang-koan Kie segera lari keluar perkampungan. Dari jauh telah terlihat Auw-yang Thong yang berdiri menggendong dua tangannya, diwajah orang itu nampak keletihannya, terang habis melakukan perjalanan jarak jauh.

Siang-koan Kie segera maju menghampiri dan berkata sambil memberi hormat; "Siaote tidak tahu kedatangan Pangcu, maaf, atas keterlambatanku menyambut."

Auw-yang Thong tersenyum katanya: "Saudara Siang-koan, oleh karena urusan kami golongan pengemis saudara telah bekerja siang malam, disini kuhaturkan terima kasih sebanyak- banyaknya."

Siang koan Kie menjawab dengan merendahkan diri: "Sekarang ini pekerjaan membangun kuburan sudah akan selesai, apakah jenazah toako ada pangcu bawa?"

"Jenazah Teng Sianseng sudah tiba, kapan hendak dikebumikan?" berkata Auw-yang Thong sambil menunjuk kesebuah rimba.

"Sekarang ini sudah boleh dimulai penguburannya."

Auw-yang Thong menarik napas dalam2, lalu mengacungkan tangannya menggapaikan orang2nya. Sebentar dalam rimba lalu keluar suara siulan panjang susul-menyusul, tak lama kemudian dari dalamnya muncul sebuah peti mati yang digotong sepuluh orang lebih.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu merasa heran dalam hati, ia lalu bertanya:

"Pangcu, apakah peti mati itu sudah dicat?"

"Itu adalah sebuah peti mati yang terbuat dari pada kayu kumala, kabarnya itu ada batu kumala yang mengandung hawa dingin, hingga dapat melindungi kerusakan tubuh manusia."

"Ow! Pangcu dapat memikirkan cara penguburan sedemikian sempurna?"

"Sewaktu berlalu dari sini, telah kupikir apabii jenazah Teng Sianseng ditinggal disini terlalu lama barangkali tidak tahan lama dan akan rusak. Maka itu, aku pergi, telah kubawa sekalian jenazah Teng Sianseng."

"Apa yang pangcu pikirkan sesungguhnya sangatah sempurna."

Sementara itu peti mati putih telah digotong dan telah mendekati pintu masuk perkampungan.

Siang-koan Kie lebih dahulu menjura kehadapan peti mati, baru kemudian mengamat-amati.

Ternyata, adalah batu kumala putih yang sangat bersih!

Orang2 yang menggotong peti mati semua adalah orang2 terkuat dari golongan pengemis, mereka semua mengenakan pakaian berkabung warna putih.

Auw-yang Thong memandang Siang-koan Kie sejurus, kemudian berkata: "Saudara Siang-koan, kami mempunyai sedikit permintaan yang agaknya kurang pantas buat saudara, apakah kiranya saudara Siang-koan dapat menerimanya?"

"Pangcu, silakah katakan saja."

"Kami ingin turut mengawal peti jenazah Teng Sianseng sampai penguburan."

"Dalam surat peninggalan toako tidak pernah disebutnya soal ini. Apabila pangcu bermaksud akan masuk kedalam kuburan itu, dengan sendirinya tidak dapat Siaotee merintangi."

"Kalau begitu tolonglah saudara Siang-koan ajak kami masuk."

Siang-koan Kie memandang peti mati sekali lagi kemudian berkata: "Kecuali pangcu, sebaiknya jangan ada orang lain lagi yang ikut."

Auw-yang Thong mengangguk, ia lalu memerintahkan anak buah golongan pengemis yang turut berkabung semua mundur kedalam rimba, kemudian turun tangan sendiri mengangkat ujung peti jenazah dan minta Siang-koan Kie mengangkat ujung yang lainnya-

Dua orang itu memang mempunyai kekuatan yang amat besar, peti jenazah yang sedemikian berat bagi mereka tidaklah, ada artinya sama sekali.

Siang-koan Kie yang sudah mempelajari sehingga apal benar seluk-beluk dalam kuburan raksasa itu, dengan amat mudahnya telah mencapai tempat dimana yang ditunjuk dalam surat Teng Soan sebagai tempat terbaik untuk meletakkan peti mati.

Sepanjang jalan Auw-yang Thong selalu pasang mata memperhatikan keadaan seputarnya, tetapi kecuali merasakan jalannya yang ber-liku2, tidak melihat adanya pesawat rahasia, maka diam2 ia merasa heran. Pikirannya itu lalu diutarakan kepada Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie menjawab:

"Kepandaian toako tak dapat dibandingkan dengan manusia biasa. Dalam kuburan ini diperlengkapi pesawat ber-lapis2, tetapi harus pada waktu selesainya pembangunan daun pintu besi terakhir tertutup barulah pesawat itu akan berjalan sendiri."

Auw-yang Thong melengak. Ia tahu benar kepandaian Teng Soan, dengan setulusnya mempercayai keterangan Siang-koan Kie. Namun demikian, karena sepanjang jalan. ia tidak melihat adanya tanda2 pesawat, bagaimanapun juga herannya masih belum lenyap. Sebab apabila benar dalam kuburan itu diperlengkapi dengan pesawat, mengapa sedikitpun tidak tampak tanda2nya?

-odwo-

Bab-91

SEMENTARA dalam hati berpikir demikian, tangan dan kakinya tidak berhenti, menggeser dan meletakkan peti jenazah ketempatnya, kemudian menjura dihadapannya.

Siang-koan Kie juga menjura didepan peti mati, selesai upacara, keduanya mengundurkan diri.

Keluar dari dalam kuburan, Auw-yang Thong berkata dengan suara perlahan: "Kuburan ini kapan bisa selesai?"

"Nanti jam satu tengah malam, sudah boleh di tutup." "Mengapa harus pilih waktu tengah malam?"

"Dalam surat peninggalan toako ada pesan demikian. Pekerjaan pembangunan ini dikerjakan diwaktu siang hari, diwaktu malam tidak bekerja. Tetapi kalau akan menutup kuburan harus dilakukan diwaktu seliwatnya tengah malam, mungkin ada sebab2nya." "Kepandaian Sianseng, bukankah kita manusia biasa yang dapat memikirkannya."

Siang-koan Kie mendadak ingat sesuatu, lalu berkata dengan suara perlahan:

"Sekarang pekerjaan sudah hampir selesai, nanti malam, kuburan boleh ditutup, tetapi persediaan ransum dalam kuburan, agaknya tidak cukup untuk tiga tahun. Dengan cara bagaimana kita harus berusaha supaya ransum ini bisa dimasukkan kedalam?"

"Sekarang masih ada cukup waktu ransum sudah sedia dibawah gunung, baik kita suruh orang angkut kemari saja."

"Pekerjaan sudah selesai, semua orang tahu apabila ransum yang jumlahnya demikian besar diangkut kemari dan dimasukan kedalam kuburan, bukankah akan menimbulkan kecurigaan para tukang kayu itu?"

"Kalau begitu, kita perlu mencari akal lagi." "Bagaimana pikiran pangcu?"

"Semua orang yang bekerja disini, sudah anggap kau sebadai perencana dan kepala pembuatan kuburan raksasa ini, apabila kau berada didalam kuburan dan mengatur tempatnya untuk menyimpan ransum, karena kau berada ber- sama2 dengan mereka, mungkin dapat menghilangkan rasa curiga mereka."

"Kita terpaksa cuma bisa berbuat demikian."

Auw-yang Thong lalu mengeluarkan perintah, suruh anak buah golongan pengemis mengangkat rangsum kedepan kuburan.

Siang-koan Kie masuk kedalamnya, mengatur orang- orangnya mengangkut ransum itu kedalam kuburan menurut tempat yang sudah ditentukan dalam surat wasiat Teng Soan. Diantara orang2 itu meski ada yang timbul rasa curiga, tetapi karena mereka melihat Siang-koan Kie berada diantara mereka, kecurigaannya perlahan-lahan hilang sendiri.

Waktu malam tiba, dalam kuburan itu gelap-gulita, hingga perlu dipasang pelita.

Diwaktu biasa, tidak tampak ada apa2 yang mengherankan, tetapi kini setelah keadaan gelap diterangi oleh sinar lampu, dalam kuburan itu banyak menunjukkan pandangan yang sangat berbeda dari biasanya. Jalanan didalam kuburan yang memang ber-liku2, kini nampak semakin membingungkan.

Siang-koan Kie per-lahan2 mengundurkan diri mendekati pintu keluar.

Ketika menyaksikan semua ransum sudah dibawa masuk, waktunya menutup pintu juga sudah semakin mendekat, pikirannya semakin tidak enak.

Waktu ransum yang terakhir diangkut masuk, tetapi diluar masih ada beberapa orang yang tidak mau masuk.

Siang-koan Kie menghampiri mereka dan berkata dengan suara berat: "Mengapa kalian tidak mau membantu mengangkut ransum ini, apa perlunya berdiri disini?"

Orang2 itu agaknya merasa takut kepada Siang-koan Kie, mendengar teguran demikian, buru2 tadi masuk kedalam kuburan, hanya tinggal satu orang yang bertubuh kurus kering masih berdiri tegak ditempatnya.

"Mengapa kau berdiri saja?" demikian Siang-koan Kie menegur.

"Aku masih ingin hidup lebih lama." jawabnya orang itu. Siang-koan Kie terkejut mendengar jawaban demikian,

pikirnya diam2: 'apabila ucapan itu didengar oleh yang lainnya, barangkali akan menimbulkan curiga.' Maka ia melirihkan suaranya: "Apa artinya dari perkataanmu ini."

"Sepuluh tahun berselang aku pernah ikut mengubur hidup2 sepasang anak laki2 dan perempuan yang usianya belasan tahun, untuk mengawal seorang kaya yang meninggal dunia. Waktu itu, kalau aku ada pikiran hendak menolong mereka diam2, tidaklah susah. Tetapi aku karena tertarik oleh upah yang besar, aku telah tegakan hati mengubur hidup sepasang anak yang. tidak berdosa."

Siang-koan Kie melongo, berbagai pikiran timbul dalam otaknya.

Orang itu berkata pula: "Waktu, aku ikut dalam pekerjaan membangun kuburan itu, dikamar sebelah yang terpisah oleh selapis pintu besi, diuga tertimbun ransum untuk tiga tahun, maka malam ini ketika aku menyaksikan ransum2 yang diangkut kedalam kuburan, segera terkenang kembali kejadian yang sudah lalu itu."

"Kenapa? Apakah kau merasa curiga bahwa kalian duaratus orang akan terkubur dalam kuburan ini semua?"

"Dalam hidupku ini, entah berapa banyak kejahatan yang aku lakukan. Dahulu, aku sering membongkar kuburan orang mati, mencuri barang2nya, entah berapa banyak keluarga orang2 mati itu yang menyumpahi aku, tetapi aku tidak menghiraukan itu semua. Hanya terhadap perbuatanku yang mengkubur hidup2 sepasang anak laki2 dan perempuan itu, yang tidak bisa. aku lupakan untuk selama-lamanya."

"Mengapa kau tidak lantas membuka kuburan itu untuk membebaskan dua anak itu?"

"Orang2 yang diwaktu mati harus disertai orang hidup sebagai kawan atau budak, kebanyakan terdiri dari orang2 kaya yang banyak sekali harta bendanya, orang2 semacam itu sudah tentu mempunyai banyak uang membayar orang untuk melakukan penjagaan dikuburannya. Apalagi kuburan itu terbuat dari batu2 pualam yang kokoh kuat, bukan tenaga manusia yang dapat membongkarnya dalam waktu sangat singkat..... Aku pikir, mungkin ini adalah pembalasan yang Maha Esa, aku dulu pernah mengubur hidup2 sepasang anak, dan sekarang harus mengubur diri sendiri dalam kuburan ini, yang turut membuatnya sendiri."

Sehabis berkata demikian, ia berjalan lambat2 menuju kedalam kuburan. Siang-koan Kie memandang bayangan orang itu, mengikuti dibelakananya.

Pikirannya pada waktu itu sudah kalut, tindakan kakinya juga seperti seorang yang sudah kehabisan tenaga. Waktu itu apabila orang2 itu mendadak berontak dan melarikan diri, mungkin ia akan membiarkan mereka kabur tanpa banyak pikir lagi.

Suara ribut2 tindakan kaki orang banyak, telah menyadarkan ia dari lamunannya. Serombongan tukang2 membangun kuburan itu, mendadak lari keluar dari dalam kuburan, mereka agaknya sudah mendadak firasat buruk, hingga saling berebut melarikan diri.

Siang-koan Kie sejenak merasa terkejut menyaksikan kejadian, tetapi ia bisa bertindak dengan cepat, tanpa banyak pikir lagi ia lalu menarik pintu besi.

Suara jeritan terdengar riuh, kemudian disusul oleh suara hiruk pikuk dan suara kaki tangan yang menggedor pintu besi.

Suara itu bagaikan ketukan palu yang mengetuk ulu hati Siang-koan Kie, otaknya kosong melompong, matanya terbayang bagaimana duaratus orang tu telah terkubur hidup2.

Tiba2 pintu besi itu bergerak lagi suara bergeraknya pintu ada sedemikian keras, dan sebentar kemudian suara geduran mendadak sirap. Pikiran Siang-koan Kie per-lahan2 tenang kembali, ia tahu bahwa pesawat dalam kuburan itu sudah bekerja dan orang2 yang berkerumun dipintu kuburan, semua sudah mundur kedalam.

Ia menarik napas dalam2, tatkala ia berpaling, tampak Auw-yang Thong berdiri dari tempatnya sejauh kira2 delapan kaki, lalu berkata sambil menghela napas panjang:

"Siaotee telah menjadi satu algojo yang sangat kejam untuk sekali ini, duaratus jiwa terkubur hidup2 didalam kuburan."

"Saudara Siang-koan Kie tidak perlu menyesalkan diri sendiri, Teng sianseng yang selama hidupnya tidak pernah melakukan kejahatan, kali ini ia berbuat demikian, pasti ada sebabnya, sekalipun duaratus orang itu benar akan mati hidup dalam kuburan, rasanya juga tidak mati cuma2."

Kembali Siang-koan Kie menarik napas dalam2 mulutnya membungkam.

"Saudara Siang-koan karena mengatur pembangunan kuburan ini, sudah beberapa bulan tiada mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sekarang setelah tugas selesai, juga seharusnya merasa bersyukur. Aku sudah sediakan perjamuan bagi saudara, mari kita makan bersama- sama."

"Bagaimana siaotee sanggup menerima anugerah pangcu?"

"Saudara tidak perlu merendah, nanti dalam perjamuan, ada beberapa persoalan aku masih ingin bicarakan dengan saudara."

"Dalam urusan penting siaotee tidak berani campur mulut, tetapi apa yang siaotee tahu pasti akan menjawabnya."

"Kalau begitu, marilah kita jalan!" Siang-koan Kie mengikuti Auw-yang Thong berjalan keluar dari perkampungan diatas gunung itu, terus menuju kesebuah rimba.

Dalam rimba itu ada sebidang tanah kosong, disitu benar saja sudah disediakan meja perjamuan lengkap dengan segala perabotan makan dan hidangan serta minumannya.

Siang-koan Kie mengawasi keadaan disekitarnya, ternyata tidak melihat ada orang lain, maka lalu menanya:

"Apa? Apakah hanya kita berdua saja?"

"Sebelum terang tanah, aku hendak pergi lagi, maka aku ingin menggunakan waktuku yang amat singkat ini, untuk merundingkan urusan penting dengan saudara."

"Dalam hal ini siaotee barangkali akan mengecewakan pangcu."

"Saudara, tidak perlu merendahkan diri, kau telah berjasa besar bagi golongan pengemis, aku masih merasa hutang budi besar kepadamu."

"Dengan Teng toako siaotee terikat hubungan saudara, sudah seharusnya siaotee melanjutkan cita2nya yang belum terlaksana."

"Terus terang, kecuali aku sendiri, orang2 kuat dari golongan pengemis, sebagian besar sudah kupusatkan ditempat ini."

"Apakah Kun-liong Ong sudah mencari dan datang kemari?"

"Walaupun belum sampai mendapat gangguan dari Kun- liong Ong, tetapi saudara Siang-koan Kie sedang melakukan tugas berat untuk kita golongan pengemis. Selama itu, meskipun aku sering datang kemari, tetapi karena khawatir akan mengganggu kau, maka tidak berani menjumpaimu."

"Apa? Apakah selama ini pangcu sering datang?" "Dugaanmu tidak salah, dua bulan berselang, empat raja muda Kun-liong Ong, tiba2 muncul dengan beberapa pembantunya yang kuat, untung aku sudah siap sedia, hingga bisa mengerahkan semua tenaga, mencegat mereka, beberapa kali kita berhadapan dengan musuh tangguh, mereka setapakpun tidak dapat melangkah dari garis depan kita, kedua fihak masih mempertahankan kedudukan masing2."

"Apakah musuh hingga sekarang masih belum ditarik mundur?"

"Bukan saja belum ditarik mundur, bahkan Kun-liong Ong sudah datang sendiri. Kabarnya, setelah ia mendengar berita kematian Teng Sianseng, waktu itu ia tertawa besar dan berkata dengan sombongnya: 'Untuk selanjutnya didalam dunia ini sudah tidak ada orang lagi yang dapat menandingi diriku'."

Siang-koan Kie berpikir sejenak, kemudian berkata: "Ucapannya itu meskipun agak sombong, tetapi sebagian

memang benar..... Dan setelah Kun-liong Ong berada disini, apakah sudah pernah bertempur dengan orang2 golongan pengemis?"

"Dia agaknya takut terjebak oleh Teng Sianseng, maka tidak berani masuk terlalu dalam."

"Kalau begitu, kedudukan kita dengannya saat ini masih tetap berhadap-hadapan?"

"Aku sudah minta bantuan kepada dua orang tingkatan tua golongan pengemis, yang sudah mengasingkan diri sekian lama dan tidak menyampuri urusan dunia Kang-ouw, apabila keadaan memaksa, kita tarpaksa melakukan pertempuran total dengan Kun-liong Ong. " "Dalam urusan ini kita tidak boleh berlaku gegabah, siaotee pikir tindakan Kun-liong Ong ini barangkali sudah dipikirkan oleh toako, entah sudah dibuatkan rencananya atau tidak?"

"Justru karena itu, maka aku akan rundingkan denganmu, sebelum menutup mata, atau dalam surat peninggalan Teng sianseng, apakah pernah membicarakan denganmu atau meninggalkan rencananya untuk menghadapi Kun-liong Ong itu?"

Lama Siang-koan Kie berpikir, kemudian berkata: "Tentang ini siaotee sudah tidak ingat lagi, biarlah siaotee pikir lagi sebentar."

"Dimasa hidupnya, sianseng perhitungannya belum pernah meleset. Aih! Andai ia bisa hidup beberapa tahun lagi. "

Pada saat itu tiba2 terdengar siulan panjang. Wajah Auw- yang Thong berubah, katanya:

"Suara itu datangnya seperti dari pos penjagaan ketiga, apakah Kun-liong Ong sudah naik keatas gunung?. "

Sementara itu sesosok bayangan orang berkelebat lari kearah mereka.

Kedatangan orang cepat sekali, sebentar saja sudah berada dihadapan Auw-yang Thong, orang itu bukan lain daripada si kacung kiri Thio Hong.

"Apa ada kabar penting?" tanya Auw-yang Thong sambil mengerutkan keningnya.

"Ada orang berusaha naik keatas gunung karena udara gelap, kita tidak tahu siapa....." demikian Thio Hong memberikan laporannya.

"Kalau sudah tidak tahu jelas siapa orangnya, mengapa tidak dirintangi?" "Menurut kabar yang hamba dengar, orang itu agaknya berkepandaian tinggi sekali, hingga tiada orang yang sanggup merintangi."

"Tahukah berapa banyak orang yang datang itu?"

"Agaknya cuma dua tiga orang saja. Kabarnya? orang itu gesit sekali gerakkannya."

Pada saat itu, angin gunung meniup kencang, hingga awan gelap tersapu bersih, rembulan memancarkan sinarnya lagi.

Auw-yang Thong mengambil cawan arak dari mejanya dan berkata kepada Siang-koan Kie: "Saudara Siang-koan, marilah kita minum kering."

Siang-koan Kie setelah mengucapkan terima kasih lalu tenggak araknya sampai kering.

"Awan gelap telah tersapu bersih, kini keadaan terang benderang, Tuhan agaknya membantu kita, harap saudara Siang-koan duduk dulu sebentar, aku hendak pergi melihat, entah siapakah yang datang?"

"Mengapa pangcu tidak ajak siaote pergi bersama-sama." "Sudah berapa bulan saudara tidak dapat beristirahat

dengan tenang, aku sebetulnya tidak ingin mengganggu lagi."

"Kalau pangcu pergi, siaote berdiam seorang diri disini, juga merasa tidak enak, ada lebih baik siaotee turut pangcu."

"Kalau begitu, marilah kita sama2 pergi melihat."

Thio Hong yang bertindak sebagai penunjuk jalan, bertiga meninggalkan tempat tersebut.

Saat itu rembulan terang, salju diatas gunung nampak ke- putih2an, dari jauh seperti tanah berlapis kapas putih.

Tiba2 dari kaki gunung sebelah kiri terdengar suara siulan panjang. Auw-yang Thong berkata sambil menunjuk tempat dari mana datangnya suara itu: "Ditempat itu aku sudah memasang dua belas pos2 penjagaan menggelap, dari suara itu, orang agaknya sudah memasuki enam pos penjagaan."

Karena tidak menampak Kun-liong Ong datang melakukan penyerangan, perasaan khawatir Auw-yang Thong lenyap seketika, ia memilih tempat yang ayak tinggi letaknya, memeriksa keadaan disekitarnya.

Siang-koan Kie berdiri disamping Auw-yang Thong, dengan pandangan matanya yang tajam, ia memandang disekiiarnya untuk mencari-cari apabila ada tanda2 yang mencurigakan.

Tiba2 terdengar pula suara siulan, Siang-koan Kie kini telah mendengar nyata, bahwa suara itu datangnya dari arah yang terpisah kira2 beberapa puluh tombak dari suara yang duluan.

Suara itu kemudian terdengar saling susul.

Jelaslah sudah bahwa anak buah golongan pengemis yang bersembunyi disekitar lembah gunung sudah dapat melihat jejak musuh, tetapi mereka tidak berhasil merintanginya, hingga memberi tanda dengan suara siulan yang sudah ditentukan iramanya.

Auw-yang Thong berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie:

"Entah siapa yang mempunyai kepandaian demikian tinggi, beberapa pos penjagaan ternyata tidak berhasil merintanginya. Aih, orang itu apabila orang2nya Kun-liong Ong, walaupun bukan Kun-liong Ong sendiri, ditilik dari ilmunya meringankan tubuh, sudah cukup untuk menandingi aku."

Suara siulan itu berbunyi semakin gencar dan semakin dekat. Kemudian terdengar suara bentakan orang:

"Siapa!" Yang sangat nyata, agaknya datang dari tempat penjagaan tidak jauh dari situ.

Auw-yang Thong meskipun sikapnya masih tenang2 saja, tapi dalam hatinya penuh ketegangan.

"Cepat sekali kedatangan orang itu, dua belas pos penjagaan sampai tidak berhasil merintangi, nampaknya orang itu sedang menuju kemari."

"Dugaan pangcu memang benar." berkata Siang-koan Kie.

Dibawah sinar rembulan, tampak beberapa sosok bayangan orang muncul dari tempat gelap dengan pedang terhunus.

Jelaslah bahwa orang2 golongan pengemis yang ditugaskan menjaga disekitar gunung itu, ketika menampak musuh datang semakin dekat, segera merintanginya dengan gigih.

Siang-koan Kie dapat lihat dengan nyata bahwa orang dari golongan pengemis yang berusaha merintangi majunya musuh, jumlahnya ada enam orang.

Auw-yang Thong dengan sikap serius menyaksikan orang2nya yang sedang menghadapi musuh.

Tiba2 sesosok bayangan orang lompat melesat menyerbu kedalam barisan orang dari golongan pengemis.

"Sungguh berani." demikian Auw-yang Thong memuji tanpa sadar.

Sebentar terlihat bergeraknya bayangan orang, dua bayangan nampak keluar dari rombongan dan lari menuju keperkampungan.

Dua orang itu bergerak sangat gesit, dalam waktu sekejap mata, sudah berhasil menjatuhkan orang-orang yang coba merintangi diri.

Wajah Auw-yang Thong berubah, katanya dengan, suara berat: "Aku hendak menemui orang itu." Baru saja ucapan itu keluar dari mulutnya, orangnya sudah lompat melesat menyambut kedatangan orang itu.

"Pangcu tunggu dulu, siaotee ikut." demikian Siang-koan Kie berseru, kemudian menyusul Auw-yang Thong.

Kedua fihak bergerak sama cepatnya, sebentar saja sudah saling berhadapan, dari antara orang yang datang itu, tiba2 terdengar suara:

"Toako."

Siang-koan Kie sudah mendapat kenyataan bahwa orang yang baru datang itu adalah Wan Hauw.

Ia juga merasa girang, maka segera menyambutnya sambil berseru; "Saudara, apa kau datang seorang diri......." sejenak ia berdiam, dalam hatinya berpikir; 'aku tadi melihat ada dua orang, perlu apa aku harus menanya lagi. '

Sementara itu, sesosok bayangan orang dengan cepat sudah berada disamping Wan Hauw dan berkata:

"Masih ada aku, kita datang hendak menengok Siang-koan toako."

Siang-koan Kie memberi hormat dan berkata sambil tertawa: "Nona Nie."

Nie Soat Kiauw bersenyum manis, tidak menyahut.

Auw-yang Thong berkata kepada anak buahnya yang berdiri disekitar tempat itu: "Dua saudara ini, semuanya adalah tetamu terhormat dari golongan pengemis kita, kalian lekas mundur, masing2 melakukan tugas ditempat sendiri."

Orang2 itu lalu mengundurkan diri, hingga dalam waktu sekejap sudah pada kembali ketempat masing2.

"Kami tidak tahu kedatangan saudara berdua ." berkata Auw-yang Thong sambil memberi hormat. "Mari kuperkenalkan. . .." berkata Siang-koan Kie sambil menarik tangan Wan Hauw: "Saudara Wan, ini adalah Auw- yang pangcu."

Wan Hauw memberi hormat dan berkata: "Auw-yang pangcu."

Baru beberapa bulan ia pergi, bicaranya sudah banyak lancar.

"Kita sudah bertemu beberapa kali, mungkin saudara masih ingat." berkata Auw-yang Thong sambil membalas hormat.

"Ya, ya, masih ingat. "

Bicaranya meski sudah agak lancar, tetapi jika terlalu banyak bicara, masih gelagapan.

Siang-koan Kie berkata sambil menunjuk Nie Soat Kiao. "Ini adalah nona Nie Soat Kiao."

Auw-yang Thong segera ingat pesan Teng Soan, maka buru2 memberi hormat dan berkata: "Nona Nie, kami sudah lama dengar dan mengagumi nama nona."

Nie Soat Kiao terkejut, tetapi hanya sesaat saja, sudah tenang kembali, katanya sambil tertawa:

"Siaoli sudah lama dengar pangcu, sungguh beruntung malam ini bisa berjumpa."

"Dirimba ini sudah sedia sedikit arak dan barang hidangan, bagaimana kalau kita mengobrol disana sambil minum2?" berkata Auw-yang Thong.

Nie Suat Kiao memandang Siang-koan Kie seyenak, sambil tertawa; "Aku hendak memberitahukan padamu suatu berita "

"Berita apa?" tanya Siang-koan Kie. "Aku sekarang boleh tidak usah mati, jarum pelekat tulang itu sudah berhasil kukeluarkan."

"Kuhaturkan selamat padamu-" berkata Siang-kaon Kie.

Nie Soat Kiao tiba2 menghela napas dan berkata; "Berdiam digunung tenang dan tentram, siaolie sebetulnya tidak ingin terjun kedunia yang ramai lagi, tetapi saudaramu Wan itu. dan aku sendiri selalu masih ingat dirimu. "

Wan Hauw tiba2 memotong ucapan Nie Soat Kiao, katanya; "Benar, benar, nona Nie selalu teringat kau, tidak bisa melupakan. "

Sebagai seorang jujur, Wan Hauw tidak bisa berpura-pura, ia berkata apa adanya sejujurnya.

Muka Nie Suat Kiao merah mendadak, katanya: "Mengapa kau mengoceh tidak karuan?"

Wan Hauw melengak, ia merasa bingung, tidak bisa menjawab.

Auw-yang Thong kuatir pembicaraan menjadi melantur tidak karuan, buru2 ajak tetamunya kedalam rimba untuk minum arak.

Dengan menarik tangan Wan Hauw, Siang-koan Kie berkata:

"Saudara, mari kita minum arak."

Ketika empat orang itu tiba dalam rimba, diatas meja sudah disediakan barang makanan dan minuman.

Setelah masing2 memilih tempat duduk, Auw-yang Thong bertanya; "Kali ini nona turun gunung, entah hendak menuju kemana?"

"Siaolie ibarat layangan yang putus talinya dalam dunia yang bebas ini, belum menentukan jejaknya." Menjawab Nie Suat Kiao. "Kalau nona tidak merasa bahwa kekuatan golongan pengemis terlalu Kecil, kami merasa senang apabila nona sudi tinggal dalam golongan kami." berkata Auw-yang Thong.

Nie Suat Kiao semula terkejut, kemudian tertawa dan berkata: "Dewasa ini golongan pengemis sedang berhadap- hadapan dengan sedangkan aku adalah anak pungut Kun- liong Ong>'

"Kami tidak berani memaksa nona melawan kekuatan Kun- liong Ong."

Nie Suat Kiao berpikir sejenak, tiba2 muka, matanya menatap Siang-koan tanya padanya:

"Saudara Siang-koan, adikmu ingin ajukan beberapa pertanyaan. entah itu pantas atau tidak?"

"Katakan saja, aku bersedia mendengarkan," Jawab Siang- koan Kie.

"Apakah saudara Siang-koan sudah masuk menjadi anggauta golongan pengemis?"

Auw-yang Thong buru2 mendahului menjawab, "Saudara Siang-koan Kie masih berkedudukan sebagai tamu, mau pergi atau berdiam disini, terserah dia sendiri. Dia mempunyai kebebasan untuk memilih."

"Bagaimana andaikata Siaolie berdiam disini?"

"Sudan tentu sama dengan saudara Siang-koan, terserah kesenangan nona sendiri."

Nie Suat Kiao mengawasi Siang-koan Kie dan berkata sambil tertawa: "Aku dengan saudaramu Wan. pulang ketempat kelahirannya, disana aku menemukan jenazah dua orang luar biasa dari tingkatan tua."

Siang-koan Kie tiba2 teringat belati emas dan jaring sutra didalam goa waktu itu, meskipun ia tidak berani menjamah jenazah itu, namun demikiarn hal itu terus berkesan dalam otaknya, dan kini setelah mendengar perkataan Nie Suat Kiao, apa yang pernah disaksikannya itu telah terbayang kembali.

Nie Suat Kiao melanjutkan penuturannya: "Aku dengar cerita saudaramu, katanya kau sudah pernah melihat dua jenazah itu."

"Memang benar, karena itu ada jenazah orang2 dari tingkatan tua, aku tidak berani mengganggunya."

"Kau ternyata seorang ksatria jantan." "Ah, kau pandai memuji orang."

"Apakah kau pernah melihat barang peninggalan yang berada disamping jenazah itu?"

"Ya, pernah melihat, tetapi aku tidak tahu asal usulnya." "Benda itu menjadi kesukaan setiap orang, baiklah tidak

usah kukatakan."

Auw-yang Thong tiba2 bangkit dari tempat duduknya dan berkata: "Aku hendak pergi sebentar, kalian duduk saja dulu."

"Silahkan." berkata Nie Suat Kiao.

Auw-yang Tnong tersenyum meninggalkan tetamunya. Ditempat yang luas itu kini tinggal Siang-koan Kie, Nie Suat

Kiao dan Wan Hauw bertiga.

Wan Hauw berhati jujur, meskipun selalu memikirkan Siang-koan Kie, tetapi ketika bertemu muka, ia tidak tahu bagaimana harus menyatakan perasaannya. Sedangkan Nie Suat Kiao sekalipun dalam hati banyak kata2 ingin dicurahkan, tetapi saat itu juga mendadak menjadi bungkam.

Dengan demikian, hingga bertiga duduk berdiam bagaikan patung.

Akhirnya Wan Hauw yang memecahkan kesunyian, ia berkata: "Toako, ketika kita berdiam didalam gunung penghidupan itu meskipun senang, tetapi hatiku selalu memikirkan kau."

Karena bicaranya masih kurang lancar, ia tidak dapat mencapaikan maksud dalam hatinya.

"Oh, demikian dengan aku, juga selalu memikirkan kalian." berkata Siang-koan Kie.

Nie Suat Kiao tiba2 tersenyum dan berkata, "Kita datang kemari mencari kau, tahukah kau apa sebabnya!"

Siang-koan Kie berpikir sejenak, kemudian berkasa sambil tertawa:

"Tidak tahu."

"Keadaan dunia Kang-ouw pada dewasa ini, hanya Kun- liong Ong dan golongan pengemis yang paling kuat. Dua jago yang sama kuatnya, sudah tentu tidak bisa hidup bersama, dan sudah tentu pula akan timbul pertempuran. Dua musuh yang kekuatannya berimbang itu, barangkali tidak cukup dengan waktu dua atau tiga tahun untuk mendapatkan keputusan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Menurut perhitungan, Kun-liong Ong lebih kuat sedikit, tetapi fihak golongan pengemis diam2 mendapat bantuan dari golongan sembilan partay besar. "

Bersambung. Bab-92

NIE SOAT KIAO menengadah memandang rembulan dilangit, menarik napas panjang, kemudian berkata pula:

"Kau bukan orang dari golongan pengemis, juga bukan anak buah Kun-liong Ong, perlu apa turut campur urusan ini, sebaiknya hidup diatas gunung bersama-sama kita, menuntut penghidupan tenang tenteram."

"Kedatanganmu sudah terlambat." Berkata Siang-koan Kie sambil menghela napas. "Bagaimana terlambat?"

"Teng Soan, yang dipandang sebagai tiang dan pahlawan golongan pengemis sudah meninggal dunia "

"Teng Soan sudah meninggal dunia, ada hubungan apa denganmu?"

"Disaat ia akan menutup mata, ia telah meminta padaku supaya aku membantu golongan pengemis melawan kekuatan Kun-liong Ong."

"Apa kau telah terima baik akan permintaannya?"

"Sudah tentu telah kuterima, atas kebaikan kalian berdua, terpaksa aku tidak dapat memenuhi."

"Orang yang paling ditakuti oleh Kun-liong Ong justru Teng Soan, dan kini Teng Soan sudah meninggal, dalam dunia ini barang kali sudah tidak ada orang lain lagi yang mampu menundukkan Kun-liong Ong."

"Ada sih ada, tetapi, barangkali orang itu tidak mau melepaskan penghidupannya yang tenang, untuk menceburkan diri lagi kedalam dunia Kang-ouw."

"Siapa orangnya yang kau maksudkan itu?" "Orang itu adalah kau sendiri."

Nie Suat Kiao tersenyum kemudian berkata: "Aku mempunyai kepandaian apa, sampai mendapat penghargaan begitu tinggi?"

"Kecuali kau, didalam dunia ini susah dicari orang yang sanggup melawan Kun-liong Ong."

"Perlu apa kau bersenda gurau demikian rupa padaku?" "Ucapan ini dengan se-jujur2nya aku tidak bersenda gurau

denganmu." "Hemmm! aku tahu, pasti adalah Teng Soan itu yang mengoceh tidak karuan, sehingga perlu me-rembet2 diriku."

"Dimasa hidupnya ia sebagai seorang yang bijaksana, diwaktu mati ia akan menjadi pahlawan, kepintarannya dan kecerdikkannya, jarang ada didunia Kang Ouw, kita seharusnya menghargainya sebagai seorang pahlawan kebenaran."

"Pahlawan kebenaran, Ya, Pahlawan kebenaran. Ada lantaran apa hubunganmu pribadi dengan Teng Soan maka kau berdiam digolongan pengemis?"

"Dia tidak memaksaku untuk tinggal digolongan pengemis, sekalipun sekarang ini aku berada digolongan pengemis, itu juga atas dasar kerelaanku sendiri."

"Kau, tidak mau menuntut penghidupan yang tenang dan tentram perlu apa menceburkan diri dalam kekeruhan dunia Kang-ouw ini?'

"Jikalau setiap orang semua berpikir seperti kau bukankah rimba persilatan ini se-olah2 kita berikan kepada Kun-liong Ong sehingga ia merajalela dan berlaku se-wenang2. "

"Orang yang terlibat dalam kancah pertikaian dan berebut nama dan harta, itu adalah karena ambisinya yang terlalu besar, kau yang tidak ingin berebut nama dan kekayaan untuk apa kau berbuat bagi kepentingannya orang lain?"

"Umpama Teng toako yang hanya merupakan seorang pelajar yang lemah, sedikitpun belum pernah belajar ilmu silat, ia berdiam dalam tempat pengasingan dirinya dan menuntut penghidupan diatas gunung yang tinggi, setiap hari pekerjaannya hanya bertekun membaca atau pesiar dengan binatang-binatang hutan, jauh sekali pikirannya untuk mencampuri urusan dunia Kang-ouw, tetapi mengapa Kun- liong Ong masih tidak mau melepaskannya..... Apalagi kau dimatanya Kun-liong Ong sudah dipandang sebagai penghianat, satu hari apabila Kun-liong Ong berhasil merebut kekuasaan rimba persilatan, sekalipun kau sembunyi diujung langit, ia barangkali juga masih tetap akan mencari sampai dapat."

"Apabila aku mendapat kesempatan belajar tiga tahun lagi, sekalipun Kun-liong Ong dapat menundukkan aku, aku juga tidak takut."

"Tiga tahun?"    "

"Ya, waktu tiga tahun sudahlah cukup, tidak perduli dunia Kang-ouw ada perubahan apa, semua tidak akan mempengaruhi kita."

Siang-koan Kie nampaknya bingung, katanya lambat2: "Aku tidak percaya Kun-liong Ong tidak akan mencari kau."

"Walaupun Kun-liong Ong dapat menemukanku, dia tidak akan tahu diri dan mundur dengan sendirinya."

"Maaf aku tidak mengerti maksud dalam perkataanmu itu." "Aku dengar saudara Wanmu pernah berkata kepadaku,

katanya kau sudah pernah melihat tiga benda pusaka rimba persilatan."

"Tidak pernah kejadian seperti itu." Berkata Siang-koan Kie sambil menggelengkan kepala.

"Aku lantaran mencari jejak tiga benda pusaka itu harus menyaru dan menyusup kegedung keluarga Pan "

"Perkara ini, sudah lama aku tahu."

"Dibawah perintah dan paksaan ayah angkatku Kun-liong Ong, aku telah menggunakan berbagai akal untuk mencari tiga benda pusaka itu, orang2 keluarga Pan dari atas hingga kebawah, telah kukompres dengan berbagai cara dan kekerasan, sehingga timbul kacau balau, tetapi sebegitu jauh tidak berhasil menemukan benda itu." "Apakah kau sudah menemukan tiga benda itu dengan tanpa disengaja?"

"Benar, saudara Wanmu mengajak aku pesiar kesuatu tempat, tak kuduga bahwa tiga benda pusaka yang menggemparkan iimba persilatan, ternyata berada didalam gua batu itu "

"Kau maksudkan, apakah dalam goa dimana ada terdapat goa jenazah dari tingkatan tua itu?"

"Benar, beberapa puluh tahun berselang, mereka berdua sama2 merupakan orang kuat dalam rimba persilatan yang namanya menggemparkan dunia Kang Ouw, oleh karena satu sama lain ingin mendapatkan sendiri benda2 pusaka itu, sehingga terjadilah saling membunuh sendiri."

"Itu adalah suatu tempat yang penuh misteri."

"Benar, air kolam didalam lembah gunung itu agaknya sudah mendapat hawa majijat dari alam, benar2 merupakan suatu tempat yang baik untuk mengasingkan diri, kita disana. "

Nie Suat Kiao melihat Siang-koan Kie tersenyum, ia tidak melanjutkan ucapannya karena ia merasa terseleo lidah dengan mengucapkan perkataan kita, hingga pipinya merah seketika, sambil setengah bergurau ia menegur:

"Kenapa kau ketawa? Kau ini nakal sekali."

"Kau teruskanlah! Aku sedang enak mendengarkan." "Tempat itu sebetulnya merupakan tempat yang sangat

baik, jikalau kita perbaiki, meskipun kita tidak boleh katakan seperti indahnya taman firdaus, tetapi untuk tempat tinggal sesungguhnya tepat sekali, hanya saudara Wan-mu sering menyebut-nyebutkan, aku. "

Tiba2 Nie Suat Kiao merasa malu, hingga menundukkan kepalanya. Dibawah penerangan sinar rembulan, Siang-koan Kie dapat menampak tegas bagaimana paras Nie Suat Kiao nampak ke- malu2an, sehingga seperti anak gadis yang sedang berhadapan dengan kekaasihnya, hingga sesaat itu pikirannya tergoncang, dalam hatinya berpikir: 'Orang perempuan benar2 gampang berubah, setengah tahun berselang ia masih merupakan seorang iblis perempuan yang sangat kejam dan hati dingin serta bertangan ganas, tak disangka sekarang ia telah berubah demikian lemah lembut dan pemaluan.'

Nie Suat Kiao yang tengah melirik kepada Siang-koan Kie, telah melihat pemuda itu sedang memandang dirinya demikian rupa, dalam hati timbullah suatu perasaan manis yang belum pernah ia rasakan pikirnya diam2; 'Kiranya dia terhadapku bukan tidak ada perhatian sama sekali. '

Pada saat itu tiba2 terdengar Wan Hauw membuka mulut: "Toako, marilah pulang ber-sama2 kita, nona Nie sering2 menyebut namamu, jikalau kau menerima baik permintaan kita, kita boleh tinggal ber-sama2, pasti sangat gembira."

Dengan susah payah ia baru dapat mengeluarkan serentetan perkataannya itu, yang dianggapnya cukup baik dan mengharap dapat menggerakkan hati Siang-koan Kie,

Siang-koan Kie menarik napas panjang, ia dongakkan kepala memandang bulan dilangit, dengan suara agak parau ia berkata:

"Aku merasa berterima kasih atas kebaikan kalian berdua." Nie Suat Kiao yang semenjak tadi memperlihatkan Siang-

koan Kie, telah melihat bahwa diwajahnya menunjukkan beberapa kali perubahan, hingga hatinya merasa cemas, tanyanya:

"Apa? Apakah kau ada maksud hendak merebut kedudukan didunia Kang-ouw, dan hendak melakukan pekerjaan besar dalam rimba persilatan?" Siang-koan Kie menghela napas. Belum lagi ia menjawab sudah didahului oleh Nie Suat Kiao.

"Sekalipun kau ada maksud hendak mencari nama, tetapi dewasa ini saatnya belum tepat, baikyna untuk sementara kau berdiam dulu dengan kita ditempat yang indah ini, berlatih beberapa tahun lagi kepandaianmu, barulah keluar lagi rasanya juga masih belum terlambat. Bukan aku ngomong besar, waktu tiga tahun kutanggung kepandaianmu akan mendapat kemajuan besar, untuk melawan Kun-liong Ong bukanlah soal besar, ditambah lagi dengan bantuanku dan bantuan Wan Hauw untuk menjagoi rimba persilatan hanya soal waktu lagi saja."

"Nona Nie, kau telah salah paham. Aku tidak mempunyai ambisi demikian besar."

"Apakah kau benar2 hendak membantu golongan pengemis, yang berarti bekerja untuk kepentingan orang lain?"

"Aku sudah menianggupi Teng toako untuk membantu golongan pengemis, apakah harus kutarik kembali janjiku?"

"Sekalipun kau bermaksud demikian, tetapi tenagamu tidak sanggup untuk mencapai maksudmu."

Siang-koan Kie mendadak bangkit dan menjura dalam2, kemudian kerkata: "Justru karena itulah maka perlu aku minta bantuanmu."

Nie Suat Kiao meng-geleng2kan kepala dan ber-kata:

"Baik mengenai soal tipu muslihat dan siasat peperangan, maupun kepandaian ilmu silat, dewasa ini aku masih bukan tandingan Kun-liong Ong."

Siang-koan Kie merasa bahwa tugas untuk mewujudkan pesan terakhir Teng Soan sangatlah berat baginya. Malam itu, apabila tidak berhasil membujuk Nie Suat Kiao menerima baik permintaannya dan membiarkan ia berlalu, entah berapa lama baru bisa bertemu lagi. Tetapi, suruh ia minta rasanya berat, maka ia merasa serba salah, sehingga berdiri tertegun bagaikan patung.

Nie Suat Kiao memandangnya sekian lama, kemudian menegur padanya:

"Kau kenapa?"

"Aih! Aku memang sudah tahu nona sudah lama berada disamping Kun-liong Ong, se-tidak2nya sudah dipengaruhi oleh wibawanya sehingga masih merasa takut. Jadi, semua perkataanku tadi sebetulnya merasa ber-lebih2an."

"Hei, bagus sekali! Kau pikir hendak menggunakan akal untuk memancingku?"

"Pendirianmu sudah teguh, sekalipun dipancing dengan akal apapun rupanya tak akan ada gunanya"

"Kau bisa mengerti, itu bagus?"

Siang-koan Kie tiba tertawa ter-bahak2, suara tertawanya itu sampai mengejutkan burung2 didalam rimba hingga pada berterbangan.

"Mengapa kau ketawa?"

"Perhitungan toakoku itu, selamanya belum sering meleset, tak disangka perhitungannya yang terakhir sesaat hendak menutup mata, ternyata keliru!"

"Apa dia kata?"

"Dia kata, bahwa dalam dunia pada dewasa ini hanya kecerdikan dan kepandaian nona, yang dapat mengimbangi kepandaian dan kepintaran Kun-liong Ong."

"Demikian tinggi Teng sianseng menghargai diriku, aku merasa sangat beruntung?"

"Tetapi dia sudah salah hitung dalam satu perkara." "Perkara apa?"

"Keberanianmu. Dia telah lupa bahwa kau dibesarkan dalam bawah asuhan Kun-liong Ong, kepandaian ilmu silatmu adalah warisannya, kepintaran dan akal mengatur siasat adalah didikannya."

"Kepandaian ilmu silatku memang dia yang mendidik, tetapi kalau tidak mendapat petunjuk dari orang2 lain, susah untuk mengatasi dia. Tetapi kepintaran dan kecerdasan sesuatu orang, tergantung dari bakat dan otaknya sendiri, asal mengerti caranya mengatur siasat peperangan, untuk mengimbangi kepintarannya, bukanlah soal susah."

"Golongan pengemis mempunyai banyak tenaga orang kuat, dalam hal mengadu kekuatan, belum tentu dikalahkan oleh Kun-liong Ong."

Sebagai manusia biasa, Nie Suat Kiao tidak bisa terlepas dari pengaruh perasaan ingin mendapat menang dari semua lawannya, ambisinya per-lahan2 berkobar oleh kata2 Siang- koan Kie, katanya sambil tertawa:

"Pertempuran antara golongan dengan golongan partay dengan partay, tidak dapat dibandingkan dengan pertandingan perseorangan, pertempuran yang menggunakan berbagai senjata, sampaipun air atau api dan senjata gelap yang aneh2, semua ini tergantung kepandaian mengatur siasat, jikalau dengan mengandalkan kekuatan seseorang, itu berarti cuma mencari mati sendiri."

"Betapapun kuatnya kau, juga hanya seorang wanita saja. Untuk merundingkan siasat diatas kertas, mungkin cukup banyak pengetahuanmu, tetapi apabila berhadapan dengan musuh benar2 dimedan perang, barangkali susah untuk bertanding dengan kaum pria."

"Kau tidak perlu mengobarkan napsuku dengan omong kosong," "Pertemuan kita malam ini, aku belum tahu kapan bisa bertemu lagi. Kau akan mengasingkan diri dari dunia Kang- ouw, pembicaraan kita ini hanya merupakan pembicaraan iseng untuk melewatkan waktu senggang saja. Sebetulnya Auw-yang Thong juga belum tentu benar2 suka menyerahkan nasib seluruh anak buahnya ditangan seorang wanita."

"Kalau begitu dia belum kenal baik sesuatu orang. "

"Mustahil, aku tidak percaya dengan mengandalkan kau seorang wanita lemah, benar2 bisa memimpin ratusan bahkan ribuan orang gagah dari golongan pengemis."

"Sayang kau bukan Auw-yang Thong." "Kalau aku Auw-yang Thong bagaimana?"

"Kalau Auw-yang Thong, aku akan meminjam hakmu untuk menjalankan pimpinan selama beberapa bulan saja. "

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara tertawa ber-gelak2, kemudian disusul oleh kata2nya:

"Nona Nie tak perlu meminjam, tanda perintah pelat emas golongan pengemis, semua sudah berada disini,"

Sementara itu, Auw-yang Thong telah berjalan menghampiri, dalam tangannya membawa sebuah kotak yang terisi plat emas. Nie Suat Kiao terkejut, katanya:

"Bagaimana pangcu demikian sungguh2? Siaolie hanya main2 saja."

Dengan kedua tangan mengangkat tinggi kotak yang dibawanya Auw-yang Thong berkata:

"Dalam kotak ini terisi sembilan muka plat tembaga, boleh digunakan untuk memerintahkan semua anak buah golongan pengemis termasuk empat puluh delapan pasukan berani mati dan pasukan hulu balang. Dan tiga plat emas ini, adalah tanda perintah tertinggi dalam golongan pengemis kita, termasuk aku Auw-yang Thong sendiri dan dua anggauta sesepuh si Gagu dan si Tuli, juga harus dengar perintah ini."

Nie Suat Kiao berkata sambil menggelengkan kepala: "Ini bagaimana aku berani terima? Sebaiknya pangcu tarik kembali!"

Siang-koan Kie sementara itu berpikir: "pada saat dan keadaan seperti ini, apabila ia menolak lagi, barangkali susah mendapat kesempatan lagi untuk mengajak dia membantu golongan pengemis."

Ia lalu berkata dengan sikap sangat menghormat: "Dengan kedudukan Auw-yang pangcu selaku pemimpin, tidaklah mungkin akan menggunakan tanda kekuasaannya yang sedemikian tinggi untuk ber-main2 denganmu?"

"Justru karena tanda kekuasaan plat mas yang sangat berharga itu, maka aku tidak berani menerimanya." berkata Nie Suat Kiao.

"Apa? Apakah ucapan yang baru saja keluar dari mulutmu tadi, sudah kau lupakan!"

"Demikian serius kau anggap?"

"Perkara besar dalam rimba persilatan, bagaimana boleh dibuat main2?"

Nie Suat Kiao menyaksikan sikap Siang-koan Kie demikian serius dan setiap patah kata2nya demikian sungguh2, ia merasa mendongkol, tetapi juga merasa geli. Setelah berpikir sejenak, akhiraya berkata:

"Dengan kedudukan apa kau menegur demikian rupa kepadaku?"

Siang-koan Kie melongo, tidak bisa menjawab,

"Kau bukan orang dari golongan pengemis, dengan hak dan kedudukan apa kau berlaku demikian serius?" Berkata Nie Suat Kiao. "Atas perantaraan toakoku, aku masuk menjadi anggauta golongan pengemis."

"Benarkan keteranganmu ini?"

"Hanya, karena Auw-yang pangcu merendahkan diri, baru mengatakan padamu bahwa aku masih berstatus sebagai tetamu."

"Kalau aku memerintahkan kau melakukan sesuatu tugas, harus menggunakan tanda kekuasaan plat tembaga atau plat emas?"

Sang-koan Kie bingung tidak bisa menjawab, ia berpaling memandang Auw-yang Thong.

Auw-yang Thong lalu berkata: "Dengan berkedudukan sebagai tetamu, saudara Siang-koan mencurahkan tenaga membantu golongan pengemis, andaikata ia benar2 suka masuk menyadi anggauta kita, seharusnya juga perlakukan dia menduduki kedudukan tinggi."

"Aku hanya ingin menanya padanya, dengan perintah tanda emas ini atau tidak?"

Siang-koan Kie diam2 berpikir: "Perempuan ini benar2 lihay, aku memancing padanya masuk perangkap, kini sebaliknya malah ia menyeret aku masuk kedalam perangkapnya, nampaknya aku tidak dapat terlepas lagi."

"Sudah tentu harus menurut, sekalipun terjun kelautan api, juga tidak boleh menolak." Demikian katanya.

Nie Suat Kiao memandang plat emas didalam kotaknya bertanya pada Auw-yang Thong dengan suara perlahan:

"Kalau memerintahkan anggauta yang menjabat kedudukan tinggi, harus menggunakan tanda emas atau tembaga?"

Auw-yang Thong memandang siang-koan Kie sejenak, dalam hati makin merasa serba salah karena Siang-koan Kie didalam golongan pengemis kedudukannya masih sebagai tetamu, baik tanda emas maupun tembaga, dia boleh tidak menghiraukan, maka sesaat itu ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Nie Suat Kiao tersenyum dan berkata: "Pangcu simpan kembali tanda emasmu ini, Siaolie hendak minta diri."

Matanya mengawasi Siang-koan Kie dan berkata padanya; "Sia-sia semua usahamu, tetapi aku masih tetap berterima

kasih atas budimu yang pernah menolong jiwaku ditempat

kediaman kita, selamanya terbuka pintu untukmu, jikalau kau sudah merasa bosan penghidupan dunia Kang-ouw, datanglah kesana." Ia berdiam sejenak, "Atau jikalau kau ada maksud untuk memperkembangkan kepandaianmu, atau mendirikan partai sendiri, untuk mencari nama didunia Kang-ouw, aku dan saudara Wanmu, semua akan turun gunung untuk membantumu, sekalipun mati kita tidak akan menyesal."

Siang-koan Kie merasa cemas karena memikirkan pesan Teng Soan, dan pesan itu rupanya akan gagal, maka ia buru2 berkata kepada Auw-yang Thong:

"Pangcu tidak usah terlalu memandang muka diriku, siaotee sudah menjadi anggauta mana boleh tidak menurut perintah?"

Auw-yang Thong diam2 mengeluh, kemudian berkata: "Untuk memerintahkan orang2 berkedudukkan tinggi dalam

golongan kita harus menggunakan tanda plat mas."

"Bagaimana andaikata minta Pangcu keluar sendiri untuk menghadapi musuh,"

"Sama juga, harus menggunakan tanda plat emas."

Nie Suat Kiao mengambil plat emas dari kotak dan berkata:

"Jikalau aku mengeluarkan perintah dengan tanda kekuasaan plat emas ini, minta kau menyerahkan kedudukan pangcumu, bagaimana?" "Dalam hal ini..... harus mengadakan rapat para kokcu, Tongcu dan anggauta sesepuh. untuk membicarakan soal ini, setelah diambil keputusan, lalu mengadakan lagi rapat anggauta, untuk memilih seorang dianggap memenuhi syarat serta dapat diterima oleh semua anggauta, untuk memegang jabatan pemimpin."

"Demikian ber-belit2 prosedurnya?"

"Ini adalah peraturan yang sudah ditetapkan oleh golongan pengemis sejak diberdirikannya,"

"Jikalau aku menggunakan perintah tanda emas ini, untuk memerintahkan salah satu anggauta mati?"

"Kecuali aku sendiri, yang lainnya semua harus menurut perintah."

Nie Suat Kiao mengangkat tinggi tanda emas itu keatas, dan berkata dengan suara nyaring:

"Siang-koan Kie dengar perintah!"

Siang-koan Kie diam2 mengeluh, tetapi ia tidak berani menolak, dengan tindakan lebar ia maju dan berkata sambil membongkokkan badan memberi hormat:

"Teecu Siang-koan Kie. menunggu perintah."

Nie Soat Kiao mengawasi dan berkata kepada Auw-yang Thong: "Aku akan menerima dua belas tanda kekuasaan ini, entah apa kedududkanku dalam golongan pengemis?"

"Menggantikan jabatan Teng Soan, selaku penasehat dalam golongan pengemis."

"Sampai dimana hak dan kekuasaan seorang sebagai penasebat?"

"Berkuasa atas duabelas tanda perintah, kedudukannya hanya dibawah ketua seorang saja."

"Kalau begitu, kedudukan itu tinggi sekali." "Dibawah seorang, tatapi diatasnya ribuan orang." "Bagaimana andai ada anggota yang tidak mau menurut

perintahnya?"

"Peraturan dalam golongan kita sangat keras, belum pernah ada anak buannya yang berani melawan perintah, barang siapa yang berani melawan perintah, barang siapa yang melanggar peraturan atau menentang perintah, harus mendapat hukuman berat."

Nie Soat Kiao dengan mendadak mengeluarkan perintahnya.

"Siang-koan Kie mulai saat ini diangkat sebagai pelindung pribadi penasehat golongan pengemis, didalam bertugas sebagai petugas, diluar bertindak sebagai kusir kereta atau kuda."

Siang-koan Kie melengak, ia berkata sambil membongkokkan badan; "Siang-koan Kie menerima baik perintah itu."

Pelahan2 ia menerima tanda perintah plat mas, kemudian diterimakan kembali dengan kedua tangannya.

Nie Soat Kiao menerima kembali tanda itu, lalu dimasukan kedalam kotak, sambil mengawasi Auw-yang Thong ia berkata:

"Pangcu, bolehkah aku minta sedikit keterangan untuk orang yang masuk menjadi anggota, masih memerlukan tata cara apa lagi?"

"Nona menggantikan jabatan penasehat dalam perkumpulan, kedudukan itu hanya dibawah ketua maka harus melakukan upacara bersumpah." menjawab Auw-yang Thong.

Nie Soat Kiao menghela napas perlahan, menerima kotak dari tangan Auw-yang Thong dan berkata: "Terserah bagaimana pangcu hendak mengaturnya, siaoli menurut."

"Malam ini sudah agak larut, sebaiknya nona lekas beristirahat, besok setelah aku siapkan, kuundang nona untuk melakukan upacara sembahyang dihadapan cowsu kita."

"Kalau begitu, silahkan pangcu beristirahat dulu."

Auw-yang Thong bersenyum dan berlalu meninggalkan mereka.

Nie Suat Kiao pura2 tidak melihat, ia mendongakan kepala memandang rembulan dilangit, setelah Auw-yang Thong sudah tidak kelihatan bayangannya, baru berkata:

"Malam sudah larut, kita juga harus beristirahat."

Siang-koan Kie sebetulnya ingin mengutarakan apa2, tetapi mendadak merasa berat untuk mengeluarkan, hingga maksudnya dibatalkan. Ia berlalu dengan tindakan lebar,

Tiba2 terdengar suara NieSuat Kiao; "Tunggu dulu." Siang-koan Kie merandak, berpaling dan menanya: "Ada perintah apa?"

"Kita hendak mengaso." "Baiklah, hamba siapkan."

Nie Suat Kiao berjalan menghampiri dengan tindakan perlahan sambil berkata; "Tahukah apa kedudukanmu sekarang?"

"Pelindung pribadi penasehat golongan pengemis, Nie Suat Kiao. "

"Dan masih merangkap tugas menyediakan terapat tidur, pesuruh dan tukang kereta." "Terserah apa katamu! Besok setelah kau sudah menjadi anggauta golongan pengemis dengan resmi, kau katakan lagi." Demikian Siang-koan Kie berkata sendiri.

Nie Suat Kiao bersenyum dan berjalan mendahului Siang- koan Kie.

Siang-koan Kie dan Wan Hauw mengikuti dibelakangnya, masuk keperkampungan. Empat pelayan wanita muda itu sudah menyiapkan tempat tidur untuk mereka bertiga.

Esok pagi2 sekali, baru saja Nie Suat Kiao bangun, Suat Bwee sudah membawa air untuk cuci muka, katanya:

"Auw-yang pangcu sudah menyiapkan meja sembahyang, dengan beberapa pembantunya yang diandalkan, sudah lama menunggu kedatangan nona."

"Minta mereka tunggu lagi sebentar! Aku masih akan makan sarapan pagi." Berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa.

Soat Bwee undurkan diri kesamping untuk menunggu.

Nie Suat Kiao agaknya sengaja supaya Auw-yang Thong dan lain2nya menunggu lama, ia menyuci mukanya lambat2, begitupun dahar sarapan paginya, semua itu dilakukan hampir memakan waktu kira2 satu jam.

Ia pikir kalau menunggu terlalu lama, Auw-yang Thong seharusnya suruh orang memanggil, tetapi ia kecele. Satu jam telah berlalu, ternyata tiada orang yang datang, sementara Soat Bwee masih berdiri disamping dengan meluruskan kedua tangannya.

Sinar matahari pagi sudah masuk kedalam kamar, Nie Soat Kiao baru bangkit lambat2 dan berkata kepada Soat Bwee:

"Antar aku pergi!"

Setelah melalui lorong panjang, tibalah disuatu ruangan luas yang cukup untuk kira2 seratus orang. Dalam ruangan itu dipasang delapan lilin merah, lilin yang demikian besar, ternyata sudah tinggal pendek, mungkin sudah dinyalakan kelewat lama.

Auw-yang Thong dengan beberapa puluh orang2nya yang terkuat, berdiri berbaris, pemimpin itu sedikitpun tidak mengunjukan rasa marah, agaknya tidak menghiraukan perbuatan Nie Suat Kiao yang agaknya sengaja memperlambat datang.

Nie Suat Kiao mengawasi barisan orang2 itu, ia telah melihat Siang-koan Kie juga berada diantara orang banyak itu, hanya Wan Hauw tidak tertampak, entah kemana perginya.

Selagi masih memikirkan diri Wan Hauw, tiba2 terdengar suara Auw-yang Thong:

"Nona Nie, meja sembahyang sudah siap."

Nie Suat Kiao meskipun dalam hatinya masih memikirkan Wan Hauw, tetapi mulutnya  menjawab:

"Bagaimana caranya melakukan upacara sumpah?"

"Diatas meja sembahyang ini ada patung dari sucow kita golongan pengemis, asal nona menghadap sucow kita, mengucapkan sumpah, sudah terhitung menjadi anggauta kita."

"Demikian sederhana?"

"Sucow kita adalah seorang berhati lapang, berjiwa besar, tidak menghiraukan peraturan yang sifatnya tetek bengek."

Nie Suat Kiao tiba2 membalikkan badan, terus berjalan menuju kemeja sembahyang.

Asal ia melakukan upacara sembahyang didepan meja itu, dengan terang atau dengan diam2 membacakan sumpahnya, sudah dianggap sebagai anggota golongan pengemis. Tetapi setelah ia berdiri dihadapan meja sembahyang, mendadak memanggil Siang-koan Kie:

"Siang-koan Kie, kau kemari."

Siang-koan Kie mengerutkan alisnya, buru2 menghampiri dan berkata: "Ada perintah apa?"

"Kau melakukan sumpah dulu didepan sucow."

Siang-koan Kie tercengang dan berkata: "Aku sudah menjadi anggauta."

"Aku hendak menyaksikan sekali lagi kau melakukan upacara sumpah." berkata Nie Suat Kiao kemudian mengawasi dan berkata kepada Auw-yang Thong, "Pangcu, bagi anggauta golongan pengemis kalau melakukan lebih dari satu kali upacara sumpah dihadapan sucow, apakah itu terhitung suatu pelanggaran?"

"Sudah tentu tidak." jawab Auw-yang Thong.

"Nah, kau sudah dengar sendiri." berkata Nie-Soat Kiao kepada Siang-koan Kie.

Dengan apa boleh buat, Siang-koan Kie melakukan upacara sumpah dihadapan meja sembahyang,

Nie Soat Kiao lalu berkata: "Mulai saat ini, kau sudah terhitung salah satu anggota resmi dari golongan pengemis."

Siang koan Kie diam menghela napas dan berkata: "Nona ada perintah apa, teecu bersedia mendengarkan."

Perasaan sedih agaknya timbul dengan mendadak dalam hati Nie Soat Kiao, katanya lambat: "Akhirnya kau berhasil menyeret diriku kedalam kericuhan ini."

"Setelah tugas besar ini selesai, nona masih bisa kembali kegoa alam yang indah itu, untuk menuntut penghidupan yang tenang tentram." berkata Siang-koan Kie sambil tertawa masam. Auw-yang Thong juga berkata sambil menjura: "Kami juga merasa beruntung mendapatkan pembantu yang arif bijaksana bagi golongan pengemis, Koan Sam Seng lukanya masih belum sembuh, sehingga tidak bisa datang, begitupun kepala2 bagian dan kepala2 cabang, semua tidak keburu datang, dikemudian hari kami akan atur suatu pertemuan besar, mengundang mereka untuk bertemu dengan nona."

"Kita sedang berhadapan dengan musuh tangguh tuan2 dari berbagai bagian dan cabang, masing2 mempunyai tugas penting sendiri2, hingga tidak mesti mengadakan pertemuan yang tidak penting, berkata Nie Soat Kiao.

"Tetapi peraturan sesuatu golongan kita tidak boleh anggap ringan."

"Kalau pangcu berkata demikian, hambamu akan menurut saja. Sewaktu hamba dalam perjalanan kegunung ini, telah melihat pasukan pengawal baju hitam dan pasukan berkuda Kuo-liong Ong, muncul ditempat terpisah beberapa pal dari sini, soal ini sangat penting, mungkin Kun-liong Ong sendiri sudah datang ketempat itu, karena pangcu sudah menyerahkan tugas berat bagi hamba, sudah tentu hamba akan mengeluarkan sepenuh tenaga bekerja untuk golongan kita, kini hamba perlu untuk mengadakan pemeriksaan musuh,"

"Perlukah kami menunjuk seseorang untuk membantu?" "Tak usah, aku akan membawa Siang-koan Kie dan Wan

Hauw berdua sudah cukup." Sehabis berkata demikian ia berjalan keluar.

"Kami akan menunagu diperkampungan."

Nie Suat Kiao berpaling memberi hormat dan berkata: "Sebelum matahari terbenam aku akan kembali untuk memberi laporan." Auw-yang Thong menyaksikan berlalunya tiga orang itu, setelah pergi jauh, lalu berkata kepada semua anggaota golongan pengemis yang berada disitu:

"Nie Suat Kiao adalah orang yang ditunjuk oleh Teng sianseng sebagai penggantinya, hari ini ia mau menerima jabatan tersebut, ini adalah keberuntungan kita golongan pengemis dikemudian hari kami harap saudara2 suka pandang dia seperti juga terhadap Teng Sianseng."

Walaupun pemimpin golongan pengemis itu memberikan pesan demikian, tetapi diantara anggauta golongan pengemis, banyak yang merasa kurang puas karena seorang wanita yang demikian muda usianya apalagi bekas orangnya Kun-liong Ong, mengapa diberikan tugas dan kedudukan begitu tinggi dalam golongan pengemis, tetapi ketika mendengar bahwa dia teah ditunjuk oleh Teng Soan penasaran itu lenyap seketika.

Karena kepintaran dan kepribadian Teng Soan didalam golongan pengemis, sudah mendapat penghargaan tinggi dari semua anggauta golongan pengemis, didalam golongan pengemis ia dipandang sebagai dewa, mendengar bahwa Nie Suat Kiao ditunjuk oleh Teng Soan dalam surat wasiatnya, dengan sendirinya semua merasa tunduk, maka dengan serentak saat itu menyatakan dukungannya.

Auw-yang Thong lalu minta masing2 kembali ke posnya sendiri2 untuk melakukan penjagaan keras, jikalau tidak ada perintah, tidak boleh meninggalkan posnya.

Semua anggota golongan pengemis yang ada disitu menerima baik perintah yang diberikan oleh pemimpinnya setelah masing2 memberi hormat menurut peraturan dalam golongan, lantas pulang ketempat masing-masing.

Sekarang kita balik kepada Nie Soat Kiao. Dibawah perlindungan Siang-koan Kie dan Wan Hauw, meninggalkan perkampungan itu untuk mengadakan penyelidikan keadaan musuhnya, dalam perjalanan ia bertanya kepada Wan Hauw: "Kau tadi pergi kemana? Mengapa tidak tampak berada dalam rombongan orang banyak?"

"Aku telah bertemu dengan seorang sahabat, kita melakukan pembicaraan maka datang terlambat." Menjawab Wan Hauw sambil tertawa cengar-cengir.

Siang-koan Kie yang mendengar jawaban Wan Hauw dalam hati merasa heran, entah siapa sahabatnya itu? Andaikata benar, juga tentnya bukan orang dari golongan pengemis, maka ia lalu bertanya;

"Siapakah sahabatmu itu?"

"Kau tidak mengenalnya." Jawab Wan Hauw.

Siang-koan Kie melengek, katanya: "Apakah sahabatmu itu orang dari golongan pengemis?"

"Tentang ini aku sendiri juga kurang terang."

Siang-koan Kie tidak berdaya menghadapi Wan Hauw, setelah berpikir sejenak lalu berkata:

"Orang itu bagaimana macamnya? Tentunya kau pasti masih mengetahui."

"entang macamnya, sudah tentu masih ingat."

"Cobalah kau ceritakan per-lahan2! Tetapi kau pikir dulu baik2 jangan sampai salah."

"Dia bentuknya pendek. . .Kurus, jelek sekali." "Dia mengenakan pakaian apa?"

"Pakaian warna hitam."

Siang-koan Kie terkejut. "Apa ia berambut panjang?" "Benar, bagaimana kau mengetahuinya?"

"Apakah ditangannya ada membawa sebatang seruling tembaga?" "Ya benar! Kalau begitu kau tentunya sudah pernah melihatnya."

"Dimana sekarang orang itu?"

-oo0dw0oo-