ISMRP Jilid 22

 
Jilid 22 

TENG SOAN berkata:

"Ia juga merupakan suatu bencana yang tak dapat dihindarkan, tetapi baiklah kita jangan bicarakan soal ini." Sehabis berkata demikian, kembali ia memejamkan matanya.

Siang-koan Kie memandang wajah Teng Soan yang pucat pasi, dalam hati timbul berbagai pertanyaan, tetapi ia tidak berani mengganggu lagi.

Hening cukup lama, masih belum tampak Koan Sam Seng balik kedalam kereta, tertarik oleh perasaan heran, Siang-koan Kie membuka pintu kereta dan melongok keluar, ternyata Koan Sam Seng sudah tidak tampak bayangannya.

Siang-koan Kie menutup lagi pintu keretanya berbagai kecurigaan semakin dalam pada perasaannya.....

Kereta yang sedang lari itu mendadak berhenti.

Diluar kereta tiba2 terdengar suara Koan Sam-seng berkata: "Teng sianseng dan saudara Siang-koan Kie silahkan turun untuk makan."

Siang-koan Kie membimbing Teng Soan turun dari kereta, kini ia baru tahu bahwa kereta itu berhenti didepan sebuah rumah gubuk yang dikitari oleh pohon bambu, Koan Sam-seng berdiri dipintu pekarangan, menyambut kedatangannya sambil tersenyum.

Keadaan badan Teng Soan agaknya semakin lemah, sambil menggelendot dipundak Siang-koan Kie berjalan masuk kedalam rumah.

Gubuk itu sangat luas dan bersih di-tengah2 ruangan terdapat meja makan yang sudah penuh hidangannya. Teng Soan mengawasi Koan Sam Seng sejenak berkata sambil tertawa.

"Alangkah besarnya perhatian Pangcu terhadap diriku." "Pangcu selalu perhatikan terhadap penyakit Teng

sianseng, ia juga takut Teng sianseng tidak mau beristirahat untuk merawat diri, barulah mengadakan persiapan secara diam2 seperti ini," berkata Koan Sam Seng.

"Saudara Koan, nanti kalau bertemu dengan pangcu, tolong sampaikan hormat dan terima kasihku."

"Teng sianseng telah berjasa besar terhadap golongan pengemis, semua orang golongan pengemis dari Pangcu sampai kebawah, tiada satu yang tidak menghormat dan cinta sianseng."

Teng Soan duduk dan makan sedikit, kemudian bangkit dan berkata: "Makan sedikit sudah cukup, aku tidak perlu makan banyak2, marilah kita lanjutkan perjalanan."

Koan Sam Seng berdiri dan memandang keluar kemudian berkata: "Waktu masih pagi, tidak perlu ter-gesa2."

Teng Soan per-lahan2 duduk lagi, menyandar dikursi sambil memejamkan mata.

Koan Sam-seng sangat khawatir, dalam hati berpikir; "Apabila sakit ditengah perjalanan, ini merupakan suatu urusan yang memusingkan kepala, sebaiknya selagi masih bisa bertahan, kita lekas melanjutkan perjalanan, asal sudah tiba ditempat peristirahatan, sekalipun jatuh sakit juga tidak apa2."

Ia percaya bahwa Auw-yang Thong pasti mengadakan persiapan cukup ditempat peritirahatan Teng Soan, maka ia segera bangkit dan berkata dengan suara perlahan:

"Apakah Teng Sianseng ingin berangkat sekarang?"

Teng Soan membuka matanya dan bersenyum, lalu berjalan keluar dengan dibimbing oleh Siang-koan Kie. Kereta itu berjalan siang malam, pada hari kedua diwaktu senja, kuda itu mendadak dihentikan.

Koan Sam-seng melompat turun, sebentar kemudian ia balik kembali bersama dua orang laki-laki yang menggotong sebuah tandu, Siang-koan Kie membimbing Teng Soan turun dari kereta untuk pindah ketandu, yang kemudian melanjutkan perjalanannya keatas bukit.

Diatas bukit itu melakukan perjalanan sejauh sepuluh pal lebih, sepanjang jalan dapat menyaksikan pemandangan alam yang indah permai diantara gerombolan pohon cemara dibawah puncak gunung yang mengalirkan air mancur, terdapat sebuah gubuk beratap hijau, gubuk itu bukan saja anggun dengan bentuknya yang istimewa, warna luar bangunan itu juga disesuaikan dengan luar bangunan itu juga disesuaikan dengan warna-warna pohon, jikalau tidak berada dekat gubuk itu, orang tidak dapat tahu bahwa itu ada sebuah bangunan buatan manusia.

Dua orang laki2 yang menggotong tandu itu, meletakkan tandunya dan berdiri disamping sambil meluruskan kedua tangannya, Koan Sam Seng membuka tirai tandu dan berkata dengan suara perlahan:

"Teng Sianseng, sudah sampai."

Teng Soan per-lahan2 turun dari tandu, mengangkat muka memandang keadaan disekitarnya, kemudian berkata sambil tertawa: "Suatu tempat untuk mengubur tulang yang indah sekali."

Koan Sam Seng tercengang, katanya; "Teng sianseng, kau. "

Teng Soan mengulapkan tangannya, memotong perkataan Koan Sam Seng yang belum habis:

"Aku minta tolong kepada saudara Koan supaya menyampaikan terima kasihku kepada Pangcu, katakan saja bahwa aku Teng Soan sangat berterima kasih atas kecintaan Pangcu."

"Semoga pemandangan alam diatas gunung yang sangat indah ini, lekas menyembuhkan kesehatan Teng sianseng, setengah tahun kemudian, siaote akan kembali untuk menyambut," berkata Koan Sam Seng.

"Semoga kita masih bisa berjumpa lagi."

"Siaote harus lekas pulang untuk mengabarkan kepada Pangcu, maka tidak bisa berdiam lama2."

"Selamat jalan, aku tidak dapat mengantar lebih jauh."

Koan Sam Seng setelah memberi hormat kemudian berlalu bersama dua orang laki2 yang membawa tandu tadi.

Siang-koan Kie mengadakan pemeriksaan keadaan dalam gubuk itu, ia membuka pintu kamar yang masih tertutup rapat.

Dari luar tiba2 terdengar suara yang amat merdu: "Hamba sekalian menyambut kedatangan Teng sianseng."

Empat pelayan perempuan yang masih sangat muda sekali, berdiri didepan pintu, mereka segera menghampiri Teng Soan dan Siang-koan Kie, kemudian berlutut dihadapannya.

"Kalian tak perlu menggunakan peraturan seperti ini, lekas bangun," berkata Teng Soan sambil mengulapkan tangannya.

Empat pelayan wanita itu segera bangun, setelah Siang- koan Kie masuk kedalam kamar, mereka lalu menutup pintu kamar.

Teng Soan menyaksikan tempat peristirahatannya yang dibangun demikian indah, tiba2 menarik napas dalam2, ia berpaling mengawasi Siang-koan Kie sejenak, kemudian berkata: "Saudara, kau lihat dalam rumah ini masih kekurangan apa?"

Untuk sesaat Siang-koan Kie merasa bingung, lama baru menjawab:

"Bangunannya cukup mewah, pemandangan alamnya indah permai, siaote sesungguhnya tidak melihat adanya kekurangan."

Empat pelayan perempuan yang mengikuti dibelakang mereka, seorang diantaranya segera berkata: "Persediaan bekal makanan cukup sekali untuk kita makan tujuh orang setengah tahun."

"Kita disini hanya ada enam orang, dari mana lebih satu orang?" bertanya Siang-koan Kie.

"Masih ada satu toasupoo yang sedang memasak didapur," menjawab pelayan yang kedua.

"Oh, kiranya begitu."

Pelayan yang ketiga berkata, "Dalam kamar obat diruangan rumah ini, tersedia berbagai obat untuk keperluan sianseng."

Pelayan keempat berkata: "Kita semua pandai menyanyi dan mainkan alat musik, setiap waktu dapat menghibur Sianseng."

Teng Soan per-lahan2 duduk disebuah kursi, ia berkata sambil tertawa hambar: "Kalian berempat, semuanya cantik2, berdiam di tempat sesunyi ini, apa tidak merasa kesepian?"

"Kita semua merasa bangga mendapat kehormatan melayani sianseng." Menjawab empat pelayan itu dengan serentak.

Teng Soan berkata kepada Siang-koan Kie: "Saudara apakah kau sudah melihat kekurangannya dalam rumah ini?"

"Belum." Teng Soan menghela napas panjang dan berkata: "Kekurangan sebuah peti mati."

Siang-koan Kie tertegun, lama baru bisa berkata; "Mengapa toako mengeluarkan perkataan yang tak baik ini?"

"Jikalau aku masih bisa hidup lebih setengah tahun, juga tidak akan menerima permintaan pangcu untuk beristirahat didalam gunung ini "

Melihat toakonya, berkata dengan sungguh2. Siang-koan Kie tidak tahu bagaimana harus menjawab, ia hanya dapat menghela napas panjang tidak berkata apa-apa.

"Apakah saudara merasa aku yang sudah mengetahui ajalku sudah akan tiba, mengapa tidak mau menggunakan sisa hidupku untuk melakukan pertempuran mati2an dengan Kun-liong Ong?"

Siang-koan Kie sesungguhnya memang mempunyai pikiran demikian, ia hanya tidak enak untuk mengutarakan, tetapi sebagai orang yang tidak biasa membohong, maka ia segera menjawab agak gelagapan:

"Ini, ini.   "

"Dua kali kita telah bertemu, Kun-liong Ong, sudah tahu bahwa kepintarannya sulit mengalahkan aku, orang itu sangat licik, ia berani maju, juga berani mundur, jikalau mengetahui suasana tidak menguntungkan bagi dirinya. segera mundur teratur, jiwaku hanya tinggal beberapa bulan yang sangat singkat saja, kalau bertempur dengannya mengadu kepintaran saja, mungkin masih sanggup tapi apabila harus melakukan pertempuran total bangkali tidak mampu melayani, dunia ini sangat luas, pergaruh Kun-liong Ong juga besar sekali ingin menumpas kekuatannya dalam waktu beberapa bulan, ini bukan sesuatu pekerjaan yang sangat mudah, maka aku harus baik2 menggunakan sisa hidupku yang sangat pendek ini." "Berdiam diatas gunung, suasananya memang agak tenang, mungkin tepat bagi toako untuk memulihkan kewarasan toako."

"Suruh aku beristirahat, ini terlalu bahaya, apabila Tuhan tidak menghendaki keinginan umatnya, dan penyakitnya tidak bisa sembuh, bukankah waktunya yang sangat singkat itu akan kuhabiskan dengan cuma2?"

"Dan maksud toako?"

"Maksudku bawa engkau kemari, bukan hanya untuk mengawani aku meliwati waktu ditempat yang sunyi ini, aku akan menggunakan sisa hidupku beberapa bulan ini, hendak mengatur rencana untuk membunuh Kun-liong Ong."

Sewaktu Teng Soan mengucapkan kata2 yang ter-akhir itu, matanya tiba2 bersinar terang semangatnya me-nyala2.

Siang-koan Kie menghela napas perlahan dan berkata: "Dalam perkataan toako ini, se-olah2 mengandung rahasia,

siaotee sesungguhnya tidak mengerti, meskipun toako merupakan orang terpandai pada dewasa ini, tetapi kita yang berdiam digunung sunyi. apakah mungkin dapat membinasakan kun-liong-Ong?. "

Berkata sampai disitu, agaknya ingat sesuatu persoalan penting, sejenak ia berdiam, lalu berkata lagi: "Apakah toako dapat menggunakan ilmu mencabut nyawa orang?"

Teng Soan tertawa ter-bahak2, katanya: "Ilmu mencabut nyawa, dalam dunia mungkin ada, tetapi toakomu mungkin belum mempelajari, sehingga pengetahuan yang dalam ilmu ini sedikit sekali."

Siang-koan Kie merasa jengah, ia menundukkan kepala dan berkata dengan suara perlahan:

"Siaote hanya mendengar orang cerita saja, maka siaote tanyakan kepada toako jangan anggap salah." "Segala pelajaran ilmu gaib, yang mengaburkan mata orang, entah berapa banyak orang didalam dunia ini yang dibingungkan oleh ilmu itu, didalam gunung2 yang indah pemandangannya, banyak tersiar bahwa di-tempat2 seperti itu terdapat orang2 mencucikan diri yang sudah menjadi dewa, jangan saudara yang belum banyak pengalaman sehingga mengajukan pertanyaan ini, sekalipun toakomu sendiri juga tidak dapat menjelaskan benar tidaknya cerita ini."

"Apa yang siaotee tidak mengerti dalam soal ini cerita tentang dewa2, memang sangat mustahil, tetapi kita yang berdiam didalam gunung ini, terpisah ribuan pal dengan Kun- liong Ong, dengan cara bagaimana toako hendak membunuhnya?"

"Ini suatu pertanyaan yang bagus, saudara, apakah kau pernah dengar kepandaian ilmu dewa manusia?"

"Manusia berkepandaian ilmu dewa?......" berkata Siang- koan Kie sambil menggelengkan kepala.

"Benar, manusia berilmu dewa, tetapi ini sesungguhnya bukan ilmu, melainkan kepintaran, manusia yang dapat menganalisa sesuatu kejadian dengan tepat, lalu merencanakan suatu rencana untuk melakukan pembunuhan terhadap musuhnya, kepintaran inilah yang dinamakan ilmu dewa."

"Aku sekarang sedikit mengerti."

Teng Soan perlahan2 berdiri dan berjalan kedepan jendela, ia mengangkat kepala dan menarik napas, kemudian berkata:

"Saudara, selama waktu ini, setiap saat ada kemungkinan aku akan mati, kau harus dengar kata2ku membantu aku melaksanakan rencana untuk pembasmi Kun-liong Ong."

"Toako perintahkan saja, siaote tidak akan menolak." "Toakomu masih ada suatu permintaan yang tidak pantas,

harap saudara tidak akan menolak." "Sekalipun terjun kedalam lautan api, siaote juga tidak akan menolak."

"Didalam waktu beberapa bulan pada akhir hidupku ini aku merasakan urusan bertumpuk-tumpuk melebihi biasa, aku tahu bahwa kekuatan badanku barangkali tidak sanggup melakukan pekerjaan berat ini, apabila aku tidak beruntung harus mati setengah jalan, harap saudara bantu aku menyelesaikan cita-citaku yang belum terlaksana ini."

Siang-koan Kie mengerti bahwa dalam keadaan seperti ini, setiap patah kata2 toakonya itu semua keluar dari nuraninya, maka ia segera bangkit untuk memberi hormat dan berkata:

"Siaote akan menyelesaikan dengan sepenuh tenaga."

"Itu bagus...." berkata Teng Soan sambil tertawa getir, "dalam banyak hal, barangkali aku tidak dapat memberi keterangan dengan jelas kepadamu, dalam hatimu mungkin akan timbul banyak pertanyaan, tetapi aku harap kau jangan bimbang, lakukanlah dengan sungguh-sungguh menurut pesanku."

Siang-koan Kie tercengang, dalam keadaan demikian, ia hanya menurut saja apa yang diminta oleh toakonya.

Teng Soan tiba2 berpaling mengawasi empat pelayan perempuan itu, kemudian berkata sambil tertawa: "Sudah berapa lama kalian berada disini?"

"Kira2 tiga bulan," menjawab seorang diantaranya.

Teng Soan berjalan menuju kedalam kamar, sambil berkata; "Saudara, aku hendak tidur sebentar."

"Toako silahkan," berkata Siang-koan Kie sambil mengawasi toakonya masuk kekamar, kemudian menutup pintunya.

Empat pelayan wanita itu semua agaknya sudah terlatih keras, meskipun bertugas melayani tetapi mereka tidak berani mengganggu sedikitpun juga, setelah menyaksikan Teng Soan hendak tidur segera salah seorang diantaranya duduk didekat pintu untuk menantikan perintah, dan yang tiga lagi berjalan menghampiri Siang-koan Kie, bertanya dengan suara perlahan:

"Kongcu, apabila ada keperluan, harap perintahkan saja!"

Siang-koan Kie mendadak merasa jengah ia buru-buru menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata: "Tidak perlu kalian membantu, aku sudah biasa kerja seorang diri, pergilah untuk beristirahat!"

Tiga pelayan wanita itu saling berpandangan dan tertawa, kemudian mengundurkan diri.

Siang-koan Kie berjalan menuju kekamarnya sendiri. Seorang pelayan perempuan itu mengikuti dibelakang

Siang-koan Kie, masuk kekamar tidur, ia bantu membereskan

tempat tidur dan berkata dengan suara perlahan: "Apakah kongcu ingin tidur sebentar?"

Siang-koan Kie memandang pelayan itu sejenak, ia melihat pelayan itu memang cantik, meskipun tidak dapat dibandingkan dengan kecantikan Nie Suat Kiao, tetapi juga cukup menarik.

Pelayan itu tiba2 berlutut hendak membukakan sepatu Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie buru2 meng-goyang2kan kepalanya dan berkata: "Tidak usah, tidak usah, biarlah aku buka sendiri, nona keluar saja."

Pelayan itu menyaksikan sikap Siang-koan Kie demikian rupa, tertawa geli. ia berkata; "Hamba bernama Suat Bwee, jikalau kongcu hendak perintahkan apa2, panggil saja namaku."

Mendengar itu Siang-koan Kie menganggukkan kepala. Pelayan wanita si Suat Bwee masih mengawasi kepadanya sejenak sambil bersenyum, kemudian baru berlalu sambil menutup pintu kamar.

Keesokan harinya, ketika Siang-koan Kie tersadar, sinar matahari sudah menyorot masuk kedalam kamarnya, maka ia buru2 melompat bangun dan membersihkan diri.

Karena mengingat keadaan Teng Soan, setelah selesai membersihkan diri, ia pergi kekamar tidur Teng Soan.

Karena ter-buru2, hampir ia bertubrukan dengan Suat Bwee yang kala itu hendak masuk kamarnya dengan membawa nampan teh.

Untuk menutupi rasa jengahnya, ia segera bertanya, "Bagaimana keadaan toakoku pagi ini?"

Suat Bwee tercengang oleh pertanyaan yang tiada ujung pangkalnya itu, sudah tentu tidak dapat menjawab dengan tepat akhirnya ia berkata:

"Kongcu, minum teh dulu."

"Baiklah," berkata Siang-koan Kie, tetapi ia meneruskan tindakan kakinya menuju kekamar Teng Soan.

Tiba didepan kamar Teng Soan, ia lihat Teng Soan masih repot menulis dimeja tulisnya, diatas meja tulisnya penuh dengan tumpukan kertas.

Ia merasa lega hati menyaksikan toakonya masih dapat melakukan pekerjaan, ia memperdengarkan suara batuk2 ringan, kemudian berkata: "Toako, pagi sekali sudah bangun."

Teng Soan menggunakan sapu tangan untuk membesut bibirnya, kemudian berpaling dan berkata:

"Saudara, kedatanganmu sangat kebetulan." Ia mempersilahkan Siang-koan Kie duduk, lalu mengambil tumpukan kertas bekas tulisannya, dengan cepat dibacanya, kemudian diberikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata:

"Saudara, kau boleh menggunakan waktu selama beberapa hari ini, untuk membaca habis semua tulisan ini, tulisan2 yang toakomu berikan tanda dengan tinta merah, kau harus pelajari dengan sabar dan harus mengerti benar semua isinya."

Sehabis berkata, napasnya memburu, ia memperdengarkan suara batuk2, kembali menggunakan sapu tangan memesut bibirnya.

Siang-koan Kie dapat melihat bahwa sapu tangan yang dipakai oleh Teng Soan terdapat tanda darah merah, hatinya bercekat, hingga tangannya yang me nambut gulungan kertas itu telah gemetar.

Teng Soan bersenyum dan berkata:

"Ini adalah akibat semestinya atas reaksi bekerja terlalu keras toakomu, jikalau darah itu bisa keluar, dada baru merasa ringan dan bisa bertahan lebih lama. kau tidak usah

khawatir, bacalah semua tulisan itu! Aku sekarang hendak tidur."

Siang-koan Kie tidak berani banyak bicara, setelah menyaksikan Teng Soan sudah tidur, lalu membaca tulisan2 itu.

Teng Soan dengan tidak memperdulikan kelemahan badannya sendiri, menggunakan seluruh sisa hidupnya, membuat rencana untuk membunuh Kun-liong Ong, ia telah menggunakan seluruh pikirannya sampai ia muntah darah dan jatuh pingsan.

Ketika ia sadar kembali dan menampak Siang-koan Kie sedang tekun membaca tulisan yang diberikan olehnya, perasaannya lega dan tanpa dirasa telah tidur pules. Siang-koan Kie selembar demi selembar membaca semua tulisan itu, sehingga tidak tahu lagi berapa lama telah berlalu.

Tiba2 ia mendengar suara panggilan yang sangat merdu: "Kongcu, sudah hampir malam, harap makan dulu."

Siang-koan Kie per-lahan2 membereskan tulisan2 yang telah dibacanya. ketika melihat cuaca diluar jendela, ternyata sudah hampir petang.

Suat Bwee yang kala itu berpakaian warna putih dalam sekejap telah berdiri didampingnya, pelayan yang biasanya ramai dengan senyumannya itu, agaknya terpengaruh oleh sikap Siang-koan Kie, sehingga menjadi pendiam.

Siang-koan Kie mengawasi Teng Soan yang masih tidur nyenyak, ia lalu bangkit dan minta Suat Bwee keluar, supaya tidak mengganggu ketenangan Teng Soan.

"Kongcu, harap dahar dulu, sudah satu hari Kongcu tidak makan nasi," berkata Suat Bwee dengan suara perlahan.

Siang-koan Kie membereskan kertas2nya kemudian berjalan keluar.

Suat Bwee terus mendampingi Siang-koan Kie kekamar makan, ia menyediakan arak dan hidangan serta melayani pemuda itu sampai selesai makan.

Pada saat itu, hari sudah gelap, dalam ruangan tengah dipasang dua pelita.

Siang-koan Kie yang agak mabuk karena pengaruhnya arak, berjalan keluar menuruti kemauan kakinya, setelah berjalan melalui sebuah jembatan kecil, lalu menuju kedalam taman.

Angin malam sepoi2 meniup gaun panjang Suat Bwee yang mengawasi Siang-koan Kie, Siang-koan Kie berpaling dan mengawasi kepadanya sejenak, lalu berkata dengan suara perlahan: "Tidurlah, aku ingin berada seorang diri untuk memikirkan sesuatu urusan."

"Hamba hendak mengawani saja, tidak nanti akan mengganggu Kongcu," berkata Suat Bwee sambil tertawa.

Siang-koan Kie tidak berkata apa2 lagi, ia duduk disebuah batu besar sambil bertopang dagu, pikirannya pada saat. itu melayang-layang kepada tulisan2 yang dibacanya selama satu hari tadi.

Pada saat itu, dari jauh samar2 terdengar suara seruling yang memecahkan kesunyian diwaktu malam itu.

Siang-koan Kie terkejut, ia tersadar dari lamunannya. Suara seruling itu sebentar terputus sebentar terdengar.

Siang-koan Kie mengawasi Suat Bwee sejenak, kemudian bertanya dengan suara perlahan: "Nona, apa kau sering dengar suara seruling yang ter-putus2 ini?"

Daerah pegunungan ini. sekitar kira2 sepuluh pal tidak terdapat jejak manusia, mana ada orang yang meniup seruling? Hamba belum pernah dengar." menjawab Suat Bwee sambil menggelengkan kepala.

Siang-koan Kie tercengang, ia bertanya pula: "Apa kau pernah sekolah?"

"Hamba sebetulnya keturunan dari orang terpelajar, tetapi sungguh tak beruntung, keluarga hamba tertimpa nasib malang. " menjawab Suat Bwee sambil menghela napas.

"Nanti jikalau toako pergi dari sini, aku akan memberikan hadiah kepadamu dan mengantarmu pulang ketempat asalmu, supaya bisa berkumpul lagi dengan keluargamu."

Suat Bwee tersenyum getir, kemudian berlutut dan berkata:

"Disini terlebih dahulu hambamu mengucapkan terima kasih...." ia berhenti sejenak dan menghela napas panjang, "hambamu sudah beberapa tahun meninggalkan rumah tangga dan hidup ter-lunta2, hamba tidak tahu apakah ibu dan adik hamba masih hidup atau tidak?"

"Kalau begitu dengan cara bagaimana kau bisa berada ditempat ini?"

"Semua ini boleh dikata atas kemauan takdir hamba mempunyai paras agak lumayan, juga pernah belajar sedikit ilmu surat, setelah hidup ter-lunta2, sebetulnya nasib hamba akan lebih celaka, dibuat permainan2 oleh pemuda2 hidung belang, tak disangka germo yang hamba tumpangi, menganggap hamba seorang yang mempunyai bakat baik sebagai penyanyi, maka diundangkanlah guru penyanyi, untuk mendidik hamba sebagai penyanyi..... oleh karena itu, meskipun hamba berada dikalangan pelacuran, tetapi masih tetap sebagai gadis yang masih suci."

"Oh, kiranya begitu."

"Hamba selain dididik menjadi penyanyi, juga dididik dengan cara bagaimana untuk memikat tetamu2, oleh karena kebiasaan hidup semacam itu, maka hingga saat ini kelakuan hamba sedikit banyak mungkin nampak seperti perempuan genit..."

"Kau baik, tiga nona yang lainnya itu, apakah dulu bersama denganmu?"

"Kita datang dari tempat yang berlainan, tetapi pendalaman dan nasib kita hampir serupa."

"Dengan cara bagaimana kalian bisa berada disini?"

"Germo yang mendidik hamba menjadi penyanyi, maksudnya tidak lain untuk mencarikan uang baginya, apabila ada orang yang berani menebus diri hamba dengan uang besar, sudah tentu germo itu akan menyerahkan diri hamba kepada orang yang memberikan uang kepadanya, begitulah hamba telah dibeli dan dibawa kemari dengan tebusan uang seribu tail perak."

"Aku sudah mengerti semua, malam hawa dingin harap kau pulang dulu untuk beristirahat."

"Kongcu tidak usah kasihani hamba, hamba telah dibeli dengan uang, maksudnya ialah supaya melayani kongcu se- baik2nya, sekalipun kongcu hendak ajak tidur, hamba juga tidak boleh menolak."

"Disini bukan rumah pelesiran, aku juga bukan seorang buaya, harap nona jangan khawatir," berkata Siang-koan Kie sambil tertawa.

"Hamba seorang yang bernasib buruk, bertemu dengan Kongcu, sesungguhnya sangat beruntung. "

Suara seruling mendadak mengalun tinggi, sehingga memotong perkataan Suat Bwee yang belum habis.

Siang-koan Kie melompat bangun dan berkata dengan suara perlahan:

"Suara seruling ini ada sedikit aneh, nona lekas pulang, aku hendak pergi memeriksa dari mana datangnya suara seruling itu."

Pada saat itu, suara seruling yang meninggi itu mendadak menurun lagi, terdengarnya samar2,

Suat Bwee memperhatikan suara seruling itu, kemudian berkata:

"Hamba mengerti sedikit tentang irama musik, suara seruling itu kedengarannya sangat mengharukan."

"Apakah masih ada perbedaannya yang lain?"

"Diwaktu malam sunyi seperti ini, meniup seruling yang berirama menyedihkan, orang yang meniup seruling itu tentunya seorang yang patah hati." "Mungkin seorang    jahat yang bermaksud hendak melakukan kejahatan. "

Suat Bwee tercengang:

"Mengapa?"

"Urusan dunia Kang-ouw, bagi orang perempuan dan anak2, sebaiknya jangan mengetahui..... malam sudah larut, pulanglah dulu beristirahat."

Setelah berkata demikian, Siang-koan Kie melompat melesat sejauh satu tombak, kemudian melesat lagi dan sebentar kemudian telah lenyap di tempat gelap.

Angin gunung meniup semakin kencang, suara seruling ter- putus2 itu terbawa jauh oleh tiupan angin.

Siang-koan Kie yang mencari suara seruling itu, tanpa dirasa sudah berjalan sejauh enam pal jalananan diatas gunung ber-liku2, kini terdengar suara air mancur yang turun dari atas gunung, menjadi paduan suara antara suara jatuhnya air dan suara seruling.

Siang-koan Kie telah berhadapan dengan sungai yang terdapat digunung itu, air sungai yang jernih tertujuh oleh sinar bintang, memancarkan sinar berkeredepan, di-tengah2 sungai itu terdapat sebuah batu besar, diatas batu besar itu duduk seorang berpakaian hitam rambutnya yang panjang terurai kebawah, tangannya memegang sebatang seruling yang sedang ditiupnya.

Terhadap kedatangan Siang-koan Kie, orang itu se-olah2 tidak mengetahui sama sekali.

Seruling itu mengeluarkan irama yang menyedihkan, se- olah2 sedang mencurahkan ratapan hati yang diderita oleh peniupnya.

Siang-koan Kie yang mendengarkan irama seruling itu, tanpa dirasa mangucurkan air mata suara seruling itu mendadak berhenti, kemudian disusul oleh pertanyaan yang diajukan oleh peniupnya secara tiba2:

"Siapa?"

Siang-koan Kie yang masih terpengaruh oleh irama seruling, sehingga terbenam dalam lamunannya, ia tidak tahu sudah ditegur oleh peniupnya, juga tidak tahu dalam sekejap orang berpakaian hitam itu telah berdiri.

Dengan lengan bajunya ia memesut air matanya yang mengalir keluar, ketika ia mengarahkan kembali pandangan matanya kepada orang berpakaian hitam itu, tampak olehnya bahwa orang itu badannya kurus kering dan berdiri diatas batu, jikalau tidak karena jenggotnya yang panjang tertiup oleh angin, orang akan mengira bahwa orang berbaju hitam itu adalah seorang anak yang belum dewasa.

Orang berpakaian hitam itu tiba2 melompat dan melayang turun kedepan Siang-koan Kie, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

"Apakah kau tidak dengar pertanyaanku tadi?"

Siang-koan Kie mengangkat tangan memberi hprmat dan menjawab; "Boanpwee Siang-koan Kie, bolehkah boanpwee menanya nama locianpwee yang mulia?"

Orang berpakaian hitam itu memandang Siang-koan Kie sejenak, setelah menghela napas panjang, baru menyahut; "Namaku sudah lama tidak ada orang yang menyebut, kukatakan barangkali juga tidak ada orang yang tahu."

Dan gerakan orang itu yang sangat lincah, Siang-koan Kie mengetahui bahwa kepandaian ilmu silat orang itu termasuk salah seorang kuat, karena masih belum mengetahui asal usul orang itu, kawan ataukah lawan, tetapi kedatangannya yang secara mendadak pada saat itu dan dengan caranya yang seaneh itu, dengan sendirinya menimbulkan perasaan curiga, seandai tidak perlu bertindak, itu memang yang paling baik, tetapi seandai terpaksa harus bertindak, sudah tentu ia tidak dapat membiarkan orang itu tinggal hidup, supaya tidak membongkarkan rahasia dan tidak membahayakan keselamatan diri Teng Soan.

Oleh karena itu ia harus waspada, namun mulutnya masih berkata sambil tersenyum: "Locianpwee sudah lama berdiam disini ataukah baru pertama kali ini datang kemari?"

Orang berpakaian hitam itu sebetulnya sudah hendak berlalu, seketika mendengar pertanyaan Siang-koan Kie, mendadak merandek, sepasang matanya mengawasi Siang- koan Kie, kemudian berkata dengan nada agak kurang senang; "Dunia luas kemana saja aku tokh boleh pergi-"

"Kalau demikian halnya, Locianpwee tentunya baru kali ini datang kemari?"

"Kalau ya mau apa?"

-odwo-

Bab-86

DIAM-DIAM Siang-koan Kie berpikir; "Tindak tanduk orang ini sangat mencurigakan, sebaiknya jangan sampai ia keluar dari sini dalam keadaan hidup, karena aku belum mengetahui dia itu kawin atau lawan, sebaiknya kutangkap hidup2 saja, biar toako yang memeriksa sendiri.

Ia lalu mengerahkan kekuatan tenaganya, sambil tertawa dingin ia berkata: "Kedatangan locianpwee sungguh kebetulan."

"Kebetulan? Dan kau mau apa?" Berkata orang itu gusar. "Jikalau locianpwee tidak dapat menerangkan nama dan

asal usulnya, lalu hendak berada disini dengan sesukanya, barangkali tidak begitu mudah." Orang berpakaian hitam itu sejenak nampak tercengang, kemudian berkata dengan nada suara gusar; "Kau bocah ini apakah sudah terganggu pikiranmu? Mengapa perkataanmu tidak keruan?"

Melihat sikap bahasanya yang wajar dan tidak seperti dibikin-bikin, dalam hati Siang-koan Kie merasa menyesal terhadap dirinya sendiri, tetapi masih belum hilang rasa khawatirnya, setelah berpikir sejenak, lalu berkata sambil tertawa;

"Locianpwee berkepandaian sangat tinggi, tentunya salah seorang tokoh kuat dalam rimba persilatan tingkatan tua."

"Kau bocah ini sesungguhnya terlalu cerewet menanya orang tidak berhentinya."

Siang-koan Kie tidak memperdulikan orang tua itu yang telah marah, ia berkata se-olah2 kepada diri sendiri:

"Locianpwee seorang tokoh rimba persilatan, tentunya juga tokoh kuat yang bernama Kun-liong Ong."

"Kun-liong Ong, Kun-liong Ong.....nama ini seperti pernah dengar."

Siang-koan Kie mengerutkan alisnya, dalam hatinya diam2 berpikir: 'dilihat dari sikapnya, orang tua ini agaknya tidak berlaku pura2, dari golongan mana sebetulnya orang ini sesungguhnya susah diminta keterangannya.'

"Locianpwee tidak kenal dengan Kun-liong Ong, barang kali kenal dengan Auw-yang Thong."

Orang tua itu mendadak berobah sikapnya, mulutnya menggumam: "Auw-yang Thong..... Ya benar! Orang ini namanya sangat terkenal, merupakan seorang pemimpin dari golongan pengemis yang mempunyai kedudukan paling kuat dalam rimba persilatan dewasa ini. Jikalau aku tidak mematuhi pesan istriku, sudah lama aku mencarinya untuk membuat perhitungan." Siang-koan Kie tercengang, ia bertanya dengan perasaan heran; "Apa maksudmu ini?"

Selagi ia masih terheran, orang tua itu sudah melompat melesat dan sebentar kemudian sudah menghilang.

Ketika Siang-koan Kie tersadar dan coba mengejar, orang tua itu ternyata sudah tidak tampak bayangannya.

Ia menghela napas panjang dan mendongakkan kepala mengawasi bintang2 dilangit, lambat2 beru jalan sambil berpikir.

Makin berpikir makin banyak timbul pertanyaan dalam hatinya.

Dengan seorang diri ia berkata: 'dalam urusan ini terpaksa aku hendak menanya kepada toako, dengan kecerdasannya, mungkin dapat mencari keterangan.

Sementara itu ia sudah berada didekat rumah, dengan tindakan ter-gesa2 ia lari menuju kekamar Teng Soan.

Pintu kamar Teng Soan tertutup rapat, pelayan perempuannya duduk didepan pintu, begitu melihat Siang- koan Kie segara berdiri menyambut.

"Apakah toakoku tadi pernah tersadar?" bertanya Siang- koan Kie.

"Dia tidur nyenyak sekali, hamba sudah sediakan barang hidangan untuknya, karena takut kalau mendusin ia nanti lapar, maka hamba tidak berani berlalu," menjawab pelayan wanita itu.

Meskipun Siang-koan Kie ingin segera memberitahukan kepada Teng Soan tentang situa berpakaian hitam itu, tetapi kerena mengingat Teng Soan sedang tidur demikian nyenyak, maka ia tidak berani dan terpaksa menunggu dengan sabar.

"Jikalau toako sadar, harap segera beritahukan kepadaku." "Hamba menurut."

Siang-koan Kie dengan cepat balik kekamar sendiri, sementara itu Suat Bwee telah tertidur dengan tengkurap diatas meja, agaknya sedang tidur pulas.

Siang-koan Kie memperdengarkan suara batuk-batuk, kemudian berkata: "Malam sudah larut, kau tidak perlu menunggu aku."

Ia memanggil ber-ulang2, tetapi Suat Bwee tetap tidak terbangun, hati Siang-koan Kie timbul curiga, ia memegang tangan lengan kiri Suat Bwee, hidungnya segera mencium bau arak hingga hatinya merasa lega dan berkata kepada diri sendiri; "budak ini ternyata sudah mabuk."

Ia membiarkan Suat Bwee tidur, kemudian ia sendiri naik ketempat tidurnya.

Selama beberapa hari itu, Siang-koan Kie yang berada bersama-sama dengan Teng Soan, tindakannya semakin ber- hati2, ia rebah diatas pembaringan, makin berpikir makin merasa tidak beres, ia melompat bangun dan mengambil secangkir teh dingin yang kemudian diguyurkan dimuka Suat Bwee.

Suat Bwee terjaga dari tidurnya, per-lahan2 membuka matanya, setelah memandang Siang-koan Kie sejenak, mendadak menangis dan berkata;

"Siangkong telah tertipu.   "

Siang-koan Kie menjerit kaget, segera melompat keluar melalui jendela terus lari menuju kekamar Teng Soan.

Pelayan Teng Soan masih tetap duduk didepan pintu, rupanya sudah ngantuk, sehingga tidur sambil menyender dipintu, Siang-koan Kie memutar kebelakang jendela, ia mendorong daun jendela ternyata masih tertutup rapat, jelas bahwa dalam kamar itu masih ada orangnya. Keadaan itu membingungkan Siang-koan Kie, ia terpikir sejenak, kemudian mengetok jendela dan memanggil-manggil.

Dalam kamar terdengar suara perlahan, seperti suara orang membalikkan badan, kemudian tidur lagi.

Siang-koan Kie balik lagi kekamarnya ingin menanyakan kepada Suat Bwee, kemudian baru bertindak lagi.

Kepandaiannya menghadapi sesuatu urusan, ternyata sudah mendapat banyak kemajuan, berjalan beberapa tindak, segera merasakan keadaan tidak beres, hingga ia balik kembali.

Pada saat itu pelayan wanita yang berada didepan pintu agaknya sudah dikejutkan oleh suara ketukan jendela Siang- koan Kie tadi, ia mengucak-ngucak matanya dan bertanya:

"Apakah siangkong masih belum tidur?"

"Apakah toakoku tidur nyenyak?" Bertanya Siang-koan Kie, sementara matanya mengawasi pelayan itu untuk memeriksa sikapnya.

Pelayan itu agaknya sudah melihat sikap Siang-koan Kie yang agak aneh, ia segera menjawab:

"Sianseng tidur nyenyak sekali."

"Coba kau buka pintunya, aku hendak melihat sendiri." "Pintu dipalang dari dalam oleh Sianseng, hingga hamba

tidak dapat membuka, kalau Siangkong ingin masuk terpaksa memanggil dulu."

Siang-koan Kie tertawa dingin, tiba2 mengulurkan tangannya menyambar tangan pelayan perempuan itu dan ditekannya erat2.

Pelayan wanita itu menjerit kesakitan.

Siang-koan Kie mengerutkan alisnya, melepaskan tangan pelayan wanita itu, kemudian ia mengeraskan kekuatan tenaganya, mengetuk pintu kamar sehingga palang pintu patah dan segera ia melangkah masuk.

Ia lihat Teng Soan rebah miring dengan muka menghadap kedalam, tubuhnya tertutup oleh selimut.

Siang-koan Kie memandang dengan perasaan tegang, ia maju dua langkah dan memanggil dengan suara perlahan.

Teng Soan yang seperti sedang tidur pulas nampak bergerak sebentar tetapi tidur lagi.

Siang-koan Kie tidak berani mengganggu lagi, per-lahan2 mengundurkan diri, ketika ia tiba didepan pintu, ia lihat pelayan wanita itu berdiri bingung, dengan mata terbuka lebar mengawasi dirinya.

Siang-koan Kie menghela napas perlahan dan bertanya: "Apakah kau terluka?"

Pelayan wanita itu mengkedip-kedipkan matanya, dua butir air mata mengalir keluar, lama baru menjawab:

"Hamba masih sanggup bertahan, harap Siangkong jangan khawatir."

Siang-koan Kie memeriksa tangan yang bekas ditekannya tadi, tangan itu ternyata telah membengkak, ia merasa sangat menyesal atas perbuatannya yang terlalu gegabah, dengan suara perlahan ia berkata:

"Nona tahanlah sebentar, biarlah aku nanti menyembuhkan lukamu ini."

Pelayan wanita itu menganggukkan kepala dan mengulurkan tangannya dengan perasaan takut.

Siang-koan Kie menggerakkan tangannya menarik tangan pelayan wanita itu, sehingga pelayan itu menjerit kesakitan keringat dingin mengucur keluar dengan perasaan menyesal Siang-koan Kie menepuk-nepuk pundak pelayan wanita itu seraya berkata: "Sekarang kau sudah sembuh, pulanglah kekamarmu uatuk beristirahat, selama beberapa hari ini kau tidak bisa bekerja."

"Silahkan kongcu beristirahat, sebentar mereka tentu akan datang untuk menggantikan aku," berkata pelayan wanita itu.

Dengan perasaan menyesal Siang-koan Kie berjalan, baru berjalan kira2 sepuluh tindak lebih hatinya tiba2 tergerak, pikirnya: "Orang yang tidur miring benarkah toako? Mengapa suara jeritan Song Kiok yang demikian keras tidak menyadarkan dirinya?. . ."

Karena berpikir demikian, timbullah perasaan curiganya, ia buru2 lari balik kekamar Teng Soan,

Kali ini Siang-koan Kie tidak ragu2 lagi, ia menyalakan pelita diatas meja dan memanggilnya, "Toako bangunlah sebentar, siaotee ada urusan penting."

Tetapi yang rebah miring itu agaknya sedang tidur nyenyak, terhadap panggilan Siang-koan Kie, se-olah2 tidak dengar sama sekali.

Perasaan Siang-koan Kie mendadak tegang, mengulurkan tangan meraba pundak orang itu sambil memanggil: "Toako....Toako "

Orang itu memang benar Teng Soan, hingga perasaan Siang-koan Kie lega kembali.

Ia menarik napas dalam2, dalam hatinya merasa heran, mengapa toakonya itu yang biasanya sigapan, malam itu tidur sedemikian lelapnya?

Napas Teng Soan nampak tenang, tidak mengunjukkan tanda2 yang mencurigakan, juga tidak ada tanda2 sedang mabok arak.

Siang-koan Kie yang sekarang, bukan seperti Siang-koan Kie sewaktu baru terjun dikalangan Kang-ouw, Ia sudah mengerti banyak tentang segala akal bangsat dan kejahatan dalam dunia Kang-ouw. Sebentar ia berpikir, kemudian mengurut-urut perjalanan darah Teng Soan.

Sebab pada saat itu ia mendadak berpikir mungkin ada orang masuk kedalam kamar itu dan menotok jalan darah Teng Soan. Tak disangka, meskipun ia sudah mengurut hampir sekujur badan Teng Soan, tetapi sang toako itu masih tetap belum mau mendusin, hingga hatinya mulai cemas.

Perubahan yang terjadinya tidak ter-duga2 itu membuat Siang-koan Kie kelabakan, ia menghentikan usahanya dan memandang wajah Teng Soan dengan hati bingung.

Tiba2 terdengar suara perempuan menegur: "Kongcu, apakah Teng sianseng sudah terbangun?"

Siang-koan Kie se-olah2 baru tersadar dari mimpinya, ia berpaling, ia segera dapat lihat Song Kiok datang dengan membawa nampan yang berisi mangkok, yang masih mengepul.

Pikirannya mulai jernih lagi, ia menanya sambil mengawasi mangkok dalam nampan: "Apa yang kau bawa?"

"Sarang burung dengan jinsom," jawabnya Song Kiok. "Apa malam ini kau terus tidak meninggalkan tempat ini?" "Budakmu selalu menjaga diluar pintu kamar."

"Apa kau pernah dengar ada suara apa2 dari kamar Teng sianseng?"

Song Kiok berpikir dulu sejenak, baru menjawab: "Tidak." "Kau pikir lagi dengan tenang, dengar suara apa atau

tidak?"

Song Kiok berpikir lagi sekian lamy, kemudian menjawab lambat2: "Hamba sebetulnya tidak dengar suara apa2."

"Teng sianseng belum tersadar, kau keluarlah dulu!" Song Kiok yang sudah merasa takut kepada Siang-koan Kie, buru2 lari keluar.

Mata Siang-koan Kie berputaran mengawasi keadaan dalam kamar, kemudian berjalan menghampiri pembaringan dan memondong tubuh Teng Soan lalu mundur kembali dan meletakkan tubuh Teng Soan diatas kursi panjang. Sambil mengawasi pembaringan ia berkata:

"Main sembunyi-sembunyian, apakah itu ada perbuatannya seorang gagah?"

Sambil mengerahkan kekuatan tenaganya, ia menghampiri pembaringan dengan lambat2, terpisah kira2 selangkah, tiba2 menendang dengan kakinya untuk membalikkan pembaringan itu.

Sesosok bayangan manusia, dengan cepat melesat keluar dari bawah pembaringan dan menikam dada Siang-koan Kie dengan sebilah pedang.

Siang-koan Kie yang sudah siap sedia, gesit sekali ia mengelak, kemudian balas menyerang.

Gerakan orang itu sangat lincah, sewaktu mengetahui serangannya tidak berhasil, buru2 merubah gerakan serangannya.

Siang-koan Kie khawatir orang itu merat, tidak berani mundur, ia pentang lima jari tangan kanannya menyambar pergelangan tangan oiang itu sambil mengamat-amati muka orang.

Orang itu bertubuh kecil langsing, memakai pakaian warna hitam, mukanya tertutup oleh kerudung kain hitam, hanya tertampak dua biji matanya, tangannya membawa sebilah pedang.

Mengetahui pergelangan tangannya diarah, dengan cepat orang itu menarik kembali pedangnya, kemudian serangannya ditujukan kepada tiga jalan darah depan dada Siang-koan Kie. Kemurkaan telah mempengaruhi gerakan Siang-koan Kie, apalagi orang itu sangat licin dan ganas serangannya, ketika agak lambat gerakan Siang-koan Kie, lengan baju Siang-koan Kie telah robek oleh ujung pedang orang itu dan mengenakan kulit dagingnya sehingga mengeluarkan darah.

Tetapi luka itu sebaliknya malah menenangkan hati Siang- koan Kie, dengan tangan kiri ia menyerang urat nadi tangan kanan yang memegang pedang, sedang tangan kanannya berusaha merebut  pedangnya.

Orang itu yang bertubuh kecil langsing itu ternyata berkepandaian sangat tinggi gerak tipunya sangat aneh, serangannya ber-gerak2 kebawah dan keatas, mengarah jalan darah Siang-koan Kie.

Siang koan Kie sudah menginsapi telah berhadapan dengan seorang lawan yang berkepandaian tinggi, karena ruangan dalam kamar itu sempit, tidak mudah mengelakan setiap serangan, apalagi ia sendiri tidak membawa senjata, ini lebih dulu sudah merugikan dirinya, sehingga tidak mudah untuk menjatuhkan lawannya. yang perlu pada waktu itu adalah menjaga supaya musuh menggelap itu jangan sampai kabur.

Oleh karena itu, maka ia lalu merubah gerak tipu ilmu silatnya, ia tidak buru2 mencapai kemenangan, dengan menggunakan kepalan dan jari tangan, menutup setiap serangan lawannya yang melakukan sangat ganas. Untung Teng Soan sudah disingkirkan dari pembaringan, asal ia berhasil membuat lawannya tidak dapat keluar kamar, atau mencelakakan diri Teng Soan, sudah cukup.

Kepandaian Siang-koan Kie yang pada waktu itu sudah tergolong orang terkuat, dengan caranya demikian, meskipun lawannya menggunakan senjata juga tidak berdaya, sebaliknya hampir tidak bisa menggerakkan pedangnya. Pertempuran sengit itu sebentar saja sudah berjalan empat puluh jurus lebih. Siang-koan Kie yang berkelahi dengan tenang, pelahan2 dapat menguasai keadaan.

Orang pakaian hitam yang lama tidak dapat menjatuhkan lawannya, hatinya mulai cemas, dengan pedangnya ia menangkis, serangan tangan Siang-koan Kie, kemudian melompat melesat keatas pembaringan

Siang-koan Kie lalu mengancam padanya:

"Apabila kau tak melepaskan senjatamu dan menyerahkan diri jangan sesalkan aku menggunakan tangan kejam."

Mata orang itu memandang Siang-koan Kie tanpa kata apa2 dalam hatinya agaknya sedang mempertimbangkan bahwa ucapan anak muda itu mungkin bukan gertakan belaka.

"Aku sudah tahu kau siapa....." berkata pula Siang-koan Kie, kemudian lompat menerjang.

Orang baju hitam itu tiba2 menyambut Siang-koan Kie dengan satu tikaman.

Siang-koan Kie sudah memikirkan suatu siasat untuk menghadapi musuhnya, dengan badan diudara kedua kakinya tiba2 ditekuk dan sambil mengapung melancarkan satu serangan hebat keatas kepala musuhnya, sedang tangan kanannya menyambar pergelangan tangan kanannya.

Lawannya yang cuma memperhatikan serangan diatas kepalanya, tidak menduga pergelangan tangannya terancam ketika tangannya merasakan kesemutan, baru tahu maksud tujuan anak muda itu, tetapi suduh terlambat.

Siang-koan Kie mencekal erat pergelangan tangan itu hingga pedang ditangan lawannya terlepas dan jatuh ditanah. Tangan kiri Siang-koan Kie dengan cepat membuka kerudung kain hitam yang menutupi muka lawannya itu. Dibalik keredung kain hitam itu, nampak sepotong muka yang putih halus dan ke-merah2an.

Muka itu ternyata adalah potongan muka seorang wanita muda.

Siang-koan Kie berkata sambil tertawi dingin: "Apakah kau utusan Kun-liong Ong?"

Wanita itu agaknya menderita kesakitan, ia mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepala.

"Kalau kau tidak mau mengaku terus terang, itu berarti kau mencari susah sendiri, aku hendak menotok jalan darahmu, supaya peredaran darahmu berbalik arah."

"Kau menekan erat urat nadiku, aku tidak bisa bicara."

Siang-koan Kie melepaskan tangan kanannya, tangan kirinya dengan cepat menotok jalan darah 'Ciok-tiat-hiat', kemudian berkata dengan nada suara dingin:

"Selama hidupku aku belum pernah turun tangan kejam terhadap seorang perempuan, tetapi kau terlalu menggemaskan, mungkin malam ini aku terpaksa akan turun tangan kejam terhadapmu."

Wanita itu menghela napas panjang dan berkata lambat- lambat:

"Aku ada membawa senjata, apabila aku ada niat hendak membunuh Teng Soan tidak perlu banyak susah."

Siang-koan Kie tercengang, ia beranggapan bahwa ucapan wanita itu memang benar, sejenak ia berdiam, kemudian berkata:

"Kalau kau memang tidak berniat hendak mencelakakan dirinya, mengapa tengah malam buta kau sembunyi dikamarnya? Bahkan membawa senjata tajam dan memakai kerudung muka? Siapa mau percaya keteranganmu?" "Kedatanganku hendak menolong dia," berkata wanita itu sambil mengawasi Teng Soan.

"Kau bohong."

"Tidak, itu adalah sebenarnya. Tubuhnya yang memang sudah lemah, bagaimana sanggup bertahan gangguan pikirannya lagi? Apabila ia bisa melepaskan gangguan dalam pikirannya dan beristirahat dengan tenang, mungkin ada harapan hidup lebih lama..."

"Mengapa kau hendak menolong dia? Bagaimana kau tahu dia berada disini?"

"Kedatanganku ini hanya atas perintah." "Atas perintah siapa?"

"Auw-yang pangcu."

"Mengapa aku tidak pernah dengar Auw-yang pangcu mengatakan demikian?"

"Auw-yang pangcu perintahkan aku supaya bekerja secara menggelap, jangan membuka rahasia."

"Mana buktinya?"

"Sekarang aku ada membawa tanda emas Auw-yang pangcu."

"Coba kau perlihatkan kepadaku."

"Kau telah menotok jalan darahku 'Ciok-tie-hiat' aku tidak bisa bergerak."

Siang-koan Kie pikir wanita itu tokh tidak bisa kabur lagi, maka lalu membuka totokkannya.

Wanita itu mengeluarkan sebuah tanda emas bentuk bundar dan diserahkan kepada Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie menyambut tanda emas itu, ia meng-amat2i sebentar, diatas tanda emas itu terdapat ukiran seorang laki2 tua membawa tongkat bambu dengan pakaian cumpang- camping.

Karena ia belum pernah melihat tanda serupa itu, ia tidak dapat membedakan tanda itu tulen atau palsu, setelah lama berpikir akhirnya berkata:

"Aku bukan orang dari golongan pengemis, juga tidak mengenal tanda ini palsu atau tulen sekalipun tanda ini betul milik Auw-yang pangcu, aku juga tidak dimastikan harus tunduk kepada tanda ini."

"Habis kau hendak berbuat bagaimana?"

"Aku akan menunggu sampai toako mendusin, untuk mengenali tanda ini. Sebelum dipastikan tulen atau palsu, terpaksa aku minta kau menunggu disini,"

Wanita itu sudah tidak berdaya, ia memandang Siang-koan Kie sejenak, kemudian duduk sambil memungut pedang ditanah,

Siang-koan Kie berkata:

"Kau menggunakan obat apa, sehingga toakoku kehilangan kesadarannya? Apakah kau dapat menyadarkan kembali?"

”Obat itu adalah semacam obat tidur, supaya ia bisa tidur dengan nyenyak, apabila waktunya belum tiba, siapapun tidak dapat menyadarkan!"

"Entah berapa lama baru bisa tersadar?" "Besok tengah hari."

"Besok tengah hari apabila toako masih belum tersadar, kau juga jangan harap bisa hidup lagi."

"Kau hendak berbuat apa terhadap diriku, kalau dia tidak bisa tersadar, sekalipun kau membunuh mati aku, juga tidak bisa menghidupkan jiwanya.” Siang-koan Kie kembali menotok jalan darah perempuan itu, kemudian membereskan tempat tidur yang jungkir balik dan berantakan, setelah itu ia pondong dan letakkan kembali tubuh Teng Soan diatas pembaringan.

Perempuan itu karena ditotok jalan darahnya, hingga tidak bisa bergerak, tetapi mulutnya masih bisa bicara

"Tanpa pikir panjang kau sudah perlakukan demikian terhadap diriku, kau nanti barangkali akan menyesal sendiri atas perbuatanmu yang gegabah ini," demikian katanya.

"Tidak apa, kalau toakoku bisa tersadar lagi, aku nanti minta maaf kepadamu."

Wanita itu tidak berkata apa2 lagi, ia duduk sambil menyendar didinding.

Siang-koan Kie duduk bersila didepan Teng Soan sambil memejamkan matanya.

Suasana sunyi senyap, dalam kamar itu hanya terdengar suara napas mereka2.

Otak Siang-koan Kie terus bekerja memikirkan ucapan wanita itu. Ia sudah banyak belajar memikir dari Teng Soan bagaimana harus memikirkan, menganalisa sesuatu perkara, maka ia mulai menganalisa setiap kata wanita itu.

Ia telah menarik kesimpulan bahwa keterangan wanita itu yang mengatakan dirinya bukan orangnya Kun-liong Ong, agaknya dapat dipercaya. Tanda emas itu mungkin juga benar barang kepercayaannya Auw-yang pangcu. Wanita itu ada utusannya Auw-yang pangcu, mungkin juga benar, bahkan ia sudah lama berdiam dalam kampung digunung ini dan sudah lama dikenali oleh empat pelayan wanita disini.....

Ia semula menaruh prasangka bahwa wanita itu adalah salah satu dari empat pelayan dari sini. tetapi setelah dibuka kerudungnya, barulah tahu bahwa dugaannya itu tidak benar. Pelahan2 ia membuka matanya, memperhatikan sikap wanita itu, sikap wanita ia ternyata tenang sekali, agaknya ada yang diandalkan, suatu bukti bahwa wanita itu benar adalah utusannya Auw-yang Thong.

Apa yang ia tidak mengerti adalah maksud sebenarnya kedatangan wanita itu, apabila benar ingin menenangkan pikiran Teng Soan, tokh boleh berunding secara baik dengannya untuk menggunakan obat tidur, mengapa dilakukan secara menggelap hingga menimbulkan salah faham? Andaikata hendak bermaksud mencelakakan dirinya, juga tidak perlu menggunakan obat tidur.

Selagi ia terpancing keluar oleh suara seruling, wanita itu sebetulnya mempunyai cukup waktu untuk membunuh atau membawa kabur Teng Soan, tetapi ia tidak berbuat demikian, sebaliknya sembunyi dibawah tempat tidur, apa sebabnya?

Pikiran itu telah mengganggu otaknya, sehingga tidak tahu sudah berapa lama telah berlalu, tahu2 pelita dalam kamar telah padam.

-odwo-

Bab-87

SIANG-KOAN KIE terkejut, buru2 membuka matanya dan berkata dengan nada suara dingin:

"Kalau kau coba hendak main gila, hendak merat dalam kegelapan ini, itu berarti mencari penyakit sendiri. Sekalipun kehilangan nyawamu, juga tidak boleh sesalkan aku."

"Kalau aku ada pikiran hendak kabur, juga tidak perlu menunggu sampai sekarang."

"Masih lama datangnya pagi, sebaiknya kau beristirahat secukupnya." "Kau telah menotok jalan darahku, peredaran darahku tidak bisa lancar, bagaimana aku dapat beristirahat dengan baik?"

Pada saat itu, terdengar suara barang bergerak, pintu kamar mendadak terbuka.

Siang-koan Kie menyambar pedang yang direbutnya dari wanita baju hitam itu sambil menegur:

"Siapa?"

"Angin," demikian ia mendengar suara jawaban dari wanita baju hitam.

"Pintu dan jendela ruangan tengah tertutup rapat semua, dari mana datangnya. angin." Siang-koan Kie berkata sambil membulang-balingkan pedang ditangannya: "Tidak peduli siapa yang datang, tidak peduli apa maksudmu sembunyi didalam kamar ini, asal ada terjadi perubahan apa2, diantara kita bertiga, kaulah yang mati lebih dulu."

Terdengar suara tertawa dingin, kemudian disusul oleh kata2nya: "Belum tentu."

"Untuk penghabisan kali aku peringatkan kepadamu, didalam keadaan begini, besar kemungkinan aku bisa turun tangan mengambil nyawamu. Kecuali kau benar2 ingin mampus, tidak perlu kau main gila atau menimbulkan kemarahanku. "

Sementara itu, sesosok bayangan orang, entah sejak kapan sudah berdiri didepan pintu kamar. Orang itu juga mengenakan kerudung kain hitam hanya bagian kedua matanya yang terdapat lubang.

"Siapa?" demikian Siang-koan Kie menegur setelah menenangkan pikirannya.

"Aku!" jawaban dari seorang wanita, yang kemudian bertindak masuk.

"Jangan maju!" bentaknya Siang-koan Kie. Orang itu benar saja lalu berhenti.

"Kita satu sama lain tidak saling mengenal, ada keperluan apa kau tengah malam buta datang kemari?" bertanya Siang- koan Kie sambil mengancam dengan pedangnya.

Perempuan itu tiba2 menghela napas dan balas menanya: "Mengapa dalam kamarmu ini tidak ada penerangan lampu?"

"Lampunya sudah kehabisan minyak, sejak tadi sudah padam."

"Aku haus sekali, apa ada air untuk aku minum?" bertanya pula wanita itu sambil menerjang maju.

Siang-koan Kie khawatir perempuan itu akan menyerang Teng Soan, dari tempat ia duduk melancarkan satu serangan jarak jauh, kemudian meloncat turun.

Gerakan perempuan itu pesat sekali, juga tidak mengelakkan serangan Siang-koan Kie, hingga serangan itu mengenakan dirinya dengan telak dan roboh ditanah.

Siang-koan Kie menjambret tubuh perempuan baju hitam yang masih tetap duduk tidak berdaya, dibentaknya dengan suara keras:

"Apakah artinya ini? Lekas jawab!"

"Bagaimana? Apakah kau takut?" demikian wanita itu balas bertanya dengan nada suara dingin.

"Kalau kau tidak mau menjawab sebenarnya jangan sesalkan aku nanti akan menghukum kau."

Wanita itu tiba2 menghela napas panjang, kemudian berkata:

"Dia telah terluka, kau lekas panggil orang masuk dan menyalakan lampu, periksalah lukanya, aku nanti akan menceritakan kepadamu." Siang-koan Kie segera memanggil Suat Bwee supaya menyalakan lampu.

Sebentar kemudian, lampu sudah menyala, tetapi orang yang menyalakan lampu itu bukannya Suat Bwee.

Siang-koan Kie memandang perempuan yang terluka itu, ternyata sudah roboh pingsan, sebilah pedang menancap dibelakang punggungnya lukanya mengeluarkan banyak darah."

Siang koan Kie suruh pelayan yang menyalakan lampu itu menyingkir agak jauh. kemudian berkata kepada wanita baju hitam itu:

"Sekarang kau boleh ceritakan!"

Wanita itu menengadah mengawasi Siang-koan Kie, kemudian berkata sambil menunjuk perempuan yang terluka:

"Kau lihat apakah ia masih ada harapan hidup?"

Siang-koan Kie memandang sejenak, berkata sambil menggelengkan kepala: "Lukanya terlalu parah, harapan hidupnya sedikit sekali."

"Kau mau menolong atau tidak?"

"Sekarang aku tidak mempunyai waktu untuk menolong, sekalipun mau, barangkali juga sulit menolong jiwanya Apa

maksud kalian sebenarnya, meskipun aku tidak mengerti seluruhnya, tetapi sudah terang bahwa kalian bukan musuh dari luar, sebelum aku dan toako datang kemari, kalian sudah sembunyi digunung ini. "

"Dugaanmu tidak salah, teruskanlah." jawab perempuan itu sambil menganggukkan kepala.

"Aku pikir, ketika Auw-yang pangcu membangun rumah digunung ini, tentunya dirahasiakan, empat pelayan Lan, Lian, Kiok dan Bwee bisa terpilih untuk bertugas disini, dari manapun asal usulnya, tetapi setidak-tidaknya pasti dilakukan seorang lebih dulu..... Kalian berdua bisa menyusup kemari, kalau tidak mendapat izin dari Auw-yang pangcu. tentunya berkomplotan dengan empat pelayan itu. "

Wanita itu memandang lawannya yang rebah menggeletak ditanah sejenak, kemudian berkata:

"Nampaknya memang benar ia sudah tidak ada harapan lagi. Apabila ia benar2 mati, dalam urusan ini hanya aku seorang yang tahu "

"Kalau aku menggunakan kekerasan mengompas Lan, Lian, Kiok dan Bwee, salah satu diantara mereka pasti akan mengaku."

"Walaupun mereka mengetahui sedikit, tetapi itu juga sangat terbatas. "

"Orang2 yang diam diperkampungan ini, siapa pun tak terlepas dari pertanggungan jawab, siapa pun tidak boleh berlalu dari sini. Aku tidak percaya kalau tidak dapat menerangkan persoalan ini."

Suasana dalam kamar itu mendadak menjadi sunyi, otak Siang-koan Kie dipenuhi oleh berbagai pertanyaan. Meski belum lama ia mengikuti Teng Soan, tetapi sudah mengerti bagaimana harus menggunakan pikiran untuk mengasah otaknya.

Per-tama2, ia mencurigai Auw-yang Thong. Teng Soan menggunakan kepintarannya, telah berhasil mendidik pasukan berani mati dan pasukan hulu balang untuk golongan pengemis.

Pasukan ini terdiri orang2 bukan saja berkepandaian tinggi, tetapi juga mempunyai keberanian luar biasa. Golongan pengemis bisa mendapatkan kedudukan seperti sekarang, dua angkatan itu mempunyai andalan sangat besar. Auw-yang Thong diluarnya meskipun sangat menghormati Teng Soan, tetapi dalam hatinya siapa yang tahu? Namanya ia sebagai pemimpin golongan pengemis, tetapi kenyataannya, segala urusan jatuh kepundak Teng Soan, hingga kedudukannya hampir menyerupai pemimpin. Mungkin lantaran itu, hingga Auw-yang Thong perlu menyingkirkan Teng Soan.

Tetapi kemudian ia berpikir lagi, Teng Soan tidak gemar nama dan kedudukan ia curahkan semua tenaga dan pikirannya, membangun kekuatan golongan pengemis, sedikitpun tidak mempunyai pikiran untuk kepentingannya sendiri, apalagi badannya sangat lemah, tidak mungkin Auw- yang Thong hendak mencelakakan dirinya selagi Teng Soan dalam keadaan kurang sehat......

Pikirannya telah beralih kepada diri Koan Sam-seng dalam golongan penyemis sama tingginya, tetapi Teng Soan lebih dihargai oleh orang2 golongan pengemis, apakah tidak bisa jadi karena sebab iri hati ia akan mencelakakan diri Teng Soan....

Satu persatu orang yang mempunyai kedudukan digolongan pengemis ditinjaunya, tetapi tidak menemukan jawabannya.

Entah berapa lama ia sudah mengasah otaknya, tiba2 terdengar suara tindakan kaki, dan Suat Bwee sudah muncul diambang pintu bertanya kepadanya; "Kongcu, apakah aku boleh masuk?"

Siang-koan Kie yang pada saat itu sudah mencurigai setiap orang dalam perkampungan itu, tidak mengijinkan orang masuk kedalam kamarnya, maka ia berkata:

"Ada urusan apa? Kau katakan diluar saja, tidak perlu masuk."

"Apakah kongcu juga mencurigai kita?"

"Apa yang telah terjadi malam ini, mau tidak mau membuatku curiga...." Berkata sampai disitu, Siang-koan Kie mendadak teringat urusan penting, dengan cepat melompat menyambar lampu dari tangan Siong Kiok, sedang jari tangan kanan menotok jalan darah pelayan itu.

Siong Kiok menjerit ketakutan, badannya mendadak dirasakan lemas, duduk numprah ditanah.

Suat Bwee ketakutan setengah mati, ia hendak menjerit, tetapi kemudian diurungkan dan membalikkan badan hendak berlalu. Siang-koan Kie berkata kepadanya;

"Kau sampaikan ucapanku kepada semua orang yang ada disini, siapapun tidak boleh keluar dari gunung, apabila ada yang mau main gila, nanti akan merasakan siksaan yang paling kejam.

Suat Bwee menerima baik pesan itu, sebentar kemudian balik kembali bersama Chiu Lan, He Lian dan seorang laki2 pertengahan umur.

"Semua orang yang ada disini sudah hamba panggil, menunggu perintah kongcu."

Siang-koan Kie berkata lebih dulu kepada laki2 pertengahan umur itu:

"Siapa namamu? Apakah kau kenal dengan Teng- sianseng?"

"Hamba bernama Thio Tay Gie, pekerjaan sebagai tukang masak. ", menjawab laki2 itu.

"Didalam golongan pengemis kau dibawah perintah siapa?" "Hamba selalu mengikuti pangcu."

"Apa kau pernah melihat Teng sianseng?"

"Kedudukan Teng-sianseng dalam golongan pengemis tinggi sekali, setiap orang dalam golongan pengemis kenal kepadanya. Meskipun hamba seorang kasar, tetapi juga sangat hormat terhadap Teng-sianseng. Oleh karena itu, maka pangcu kirim hamba kemari, hamba menerimanya dengan senang hati."

Siang-koan Kie yang sudah ruwet pikirannya, tidak mau banyak bicara dengannya, ia menotok jalan darah tukang masak itu dan berkata kepadanya:

"Aku harap kau suka sabar menunggu sampai besok tengah hari, setelah Teng-sianseng tersadar, aku nanti buka lagi totokanmu. "

Kemudian ia menggapai kepada Suat Bwee dan lainnya: "Kalian masuk semua!"

Suat Bwee masuk lebih dulu dengan sikap tenang, agaknya tidak merasa takut Siang-koan Kie lalu menotok jalan darahnya hingga pelayan itu rubuh ditanah, begitupun Chun Lan dan Hee Lian, juga mengalami nasib serupa.

Siang-koan Kie yang sudah hilap karena terjadinya kejadian yang menimpah diri Teng Soan, setelah menotok semua orang yang ada disitu, lalu berkata:

„Tidak perlu kalian turut dalam persekutuan yang mencelakakan diri Teng-sianseng atau tidak, apabila sampai besok tengah hari Teng-sianseng belum mendusin, kalian juga jangan harap bisa hidup lagi."

Orang2 itu meski tertotok jalan darahnya, tetapi dalam hati masing2 masih mengerti, mulutnya juga masih bisa bicara, tetapi terhadap ucapan Sang-koan Kie, mereka merasa susah untuk menjawab, maka semua diam saja.

Siang-koan Kie duduk ditepi pembaringan, pikirannya kalut. Ia mulai merasa bahwa dirinya sangat bodoh, baru menghadapi soal demikian, ia sudah tidak berdaya. Andai kata Teng Soan yang menghadapi, mungkin sudah terpecahkan. Malam itu telah diliwatkan dengan penuh kesunyian dan keseraman, akhirnya sinar mata hari pagi masuk kedalam kamar melalui lobang2 jendela.

Siang-koan Kie bangkit dan membuka daun jendela, angin pagi yang meniup masuk, membuat otaknya jernih kembali.

Ia menarik napas dalam dan berpaling kearah Teng Soan, yang ternyata masih tidur nyenyak.

Meskipun ia sudah berusaha untuk menenangkan pikirannya, tetapi tidak berhasil menindas perasaannya yang bergolak, sambil mengawasi wanita baju hitam ia berkata dengan suara keras:

"Hei, kau kata tengah hari Teng-sianseng bisa mendusin, apakah itu benar?"

Wanita baju hitam itu mengawasi kawannya yang roboh dengan pedang dibelakang punggungnya, nampaknya sudah putus jiwanya, hingga timbul perasaan marahnya.

"Dia sebetulnya masih dapat ditolong, tetapi kau telah terlantarkan jiwanya."

Siang koan Kie terkejut, "Apa kau katakan," "Kau terlantarkan jiwanya."

"Bagaimana aku terlantarkan jiwanya?"

"Luka pedang dibelakang punggungnya, bukan tidak bisa ditolong, karena kau menotok jalan darahku, hingga aku tidak bisa memberi pertolongan, sedangkan kau sendiri juga tidak mau menolong, bukankah kau yang terlantarkan jiwanya?"

Siang koan Kye mengawasi wanita yang rebah ditanah dan berkata: "Kau maksudkan dia?"

"Sudah tentu dia."

"Tetapi aku tanya tentang Teng-sianseng." "Kau tidak perlu cemas, sekarang masih belum tengah hari."

"Kalau sampai tengah hari ia masih belum tersadar, kalian jangan harap bisa hidup."

Sementara itu, empat pelayan wanita dan tukang masak laki2 setengah umur, semua mendengarkan pembicaraan dua orang itu dengan mata terbuka lebar.

Siang-koan Kie teringat sesuatu, ia menanya kepada tukang masak sambil menunjuk wanita baju hitam:

"Apakah kau kenal perempuan ini?"

Tukang masak itu memandang wanita itu sejenak, menjawab sambil menggelengkan kepala:

"Belum pernah lihat."

Siang-koan Kie semakin bingung, tetapi ia tidak banyak bertanya lagi, karena ia tahu bahwa keadaan yang sangat ruwet itu, ia merasa tidak sanggup memecahkan, terpaksa menunggu sehingga Teng Soan mendusin baru dibicarakan lagi.

Meskipun matahari belum naik tinggi, tetapi Siang-koan Kie sudah anggap terlalu lama untuk menunggu.

Makin mendekati tengah hari, perasaan Siang-koan Kie semakin tegang, sebab nasibnya Teng Soan akan segera ditetapkan. Apabila Teng Soan tidak mendusin lagi, sekalipun ia bunuh mati semua orang yang ada didalam kamar, juga tidak ada artinya.

Tengah hari telah tiba, tetapi Teng Soan masih belum mendusin.

Dengan menahan amarah, Siang-koan Kie mengambil pedang diatas pembaringan, kemudian berkata dengan nada suara dingin: "Apabila toako tidak bisa tersadar, kalian akan mengganti jiwanya, mungkin kematian kalian ini tidak seharusnya, tetapi sebab2 dari kematian kalian ini bukanlah aku. . .." Sambil menunjuk wanita baju hitam ia berkata lagi: "Pembunuh yang sebenarnya adalah dia."

Wanita baju hitam itu mengedipkan matanya, dengan cepat dipejamkannya, tidak sepatah kata-pun keluar dari mulutnya.

Sebab dia sudah mengetahui bahwa Siang-koan Kie pada saat itu sudah gelap mata, sepatah kata saja dapat mengakibatkan jiwanya melayang.

Siang-koan Kie turun dari pembaringan, menghampiri wanita berbaju hitam sambil mengacungkan pedang ditangannya.

Wanita baju hitam itu menyaksikan sikap Siang-koan Kie yang penuh napsu membunuh, menunjukkan rasa ketakutan, ia berkata dengan suara perlahan: "Bolehkah kau menunggu lagi sebentar? Teng-sianseng sudah akan tersadar."

"Aku tidak bisa menunda lagi," jawabnya dingin.

Mata wanita itu ditujukan kepada Teng Soan, kemudian berkata: "Lihatlah! Dia sudah tersadar."

Siang-koan Kie berpaling, benar saja Teng Soan saat itu sudah bergerak membalikkan badan dan menggerakkan kedua tangannya.

Semua mata kini ditujukan kepada Teng Soan, sebab nasib mereka tergantung ditangannya, apakah ia bisa tersadar pada waktunya atau tidak.

Teng Soan menghela napas perlahan, kemudian membuka matanya. Siang-koan Kie melemparkan pedang ditangannya dan menghampiri toakonya.

Teng Soan mengawasi keadaan disekitarnya, kemudian duduk diatas pembaringan. Siang-koan Kie yang masih diliputi berbagai pertanyaan, dengan cepat bertanya: "Toako, apakah artinya ini?"

Teng Soan bersenyum, berkata dengan suara perlahan: "Apa? Kau telah menotok jalan darah mereka?"

"Andai kata toako terlambat seperempat jam lagi mendusin, orang2 ini semua akan binasa diujung pedangku."

Teng Soan tiba2 alihkan pandangan matanya kearah wanita yang menggeletak ditanah, kemudian lompat turun dan berkata dengan heran:

"Apa? Dia sudah mati?"

Siang-koan Kie tercengang, ia merasa suatu pertanyaan timbul lagi dalam otaknya.

"Toako, bagaimana sebetulnya semua ini?"

Teng Soan sudah jongkok memeriksa tubuh wanita yang menggeletak ditanah itu, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala:

"Sudah tidak bisa ditolong lagi."

Biji matanya berputaran, jelas ia juga sedang memutar otak untuk memikirkan semua kejadian ini.

Wanita baju hitam yang duluk menyender di-dinding itu berkata sambil menghela napas: "Dia sebetulnya masih bisa tertolong, tetapi Siangkong ini sudah mengabaikannya,"

Teng Soan mengangkat muka, memandang Siang-koan Kie sejenak kemudian berkata:

"Dia terluka di tangan siapa?"

"Hal ini siaote sendiri juga kurang jelas, sewaktu ia masuk kekamar ini, dibelakang punggung nampaknya sudah terkena serangan pedang, mungkin pedang itu menancap sangat dalam....." berkata Siang-koan Kie sambil mengerutkan keningnya. Wanita yang duduk menyender didinding itu berkata: "Apabila kau tidak menyerangnya, dia tidak mati segera."

"Andaikata benar aku yang membunuh kau mau apa?"

Teng Soan bersenyum dan berkata; "Saudara, tidak perlu marah, kau buka totokan mereka, orang2 ini semua tidak berdosa."

"Toako, selama satu malam ini, apa yang telah terjadi, sudah cukup memusingkan, bagaimanakah yang sebenarnya?"

"Perkara ini nampaknya sangat ruwet, tetapi kalau sudah terungkap rahasianya, hanya begitu saja, kau buka dulu totokan mereka, kita nanti rundingkan per-lahan2."

Siang-koan Kie menurut, ia membuka totokan mereka.

Si tukang masak yang berkata lebih dulu kepada Teng Soan:

"Sianseng, apakah sebetulnya yang telah terjadi, aku si Thio juga terbawa-bawa mendapat perlakuan demikian?"

"Kau kembali kedapur, buatkan aku semangkok mie, perutku sudah lapar," bernata Teng Soan, yang tidak langsung menjawab pertanyyannya.

Orang she Thio itu meskipun merasa keberatan karena ia ingin keadaan yang sebenarnya, tetapi ia menghormat sekali terhadap Teng Soan, maka perintahnya itu tidak berani membantah, terpaksa berjalan keluar.

Siang-koan Kie khawatir wanita baju hitam itu akan melakukan serangan terhadap Teng Soan secara mendadak, diam2 perhatikan segala tindakannya.

Wanita baju hitam itu setelah terbuka totokannya, lalu lari menghampiri kawannya yang menggeletak ditanah. air mata mengalir bercucuran, katanya dengan suara terisak-isak:

"Adik! Kematianmu sangat mengecewakan!" Siang-koan Kie yang menyaksikan itu semakin bingung, ketika ia mengawasi keadaan Teng Soan, sang togko itu ternyata sudah duduk diatas kursi dengan tenang, membiarkan wanita itu menangis terus.

Empat pelayan wanita itu berdiri disamping dengan meluruskan tangan mereka, tidak satu yang buka suara.

Wanita baju hitam itu setelah menangis sepuasnya, tiba2 mengangkat tubuh kawannya yang sudah menjadi mayat dan diperiksanya sejenak, wajahnya mendadak berubah dan katanya lambat2:

"Mereka benar2 sudah membunuh adikku....." matanya memandang Siang-koan Kie dan berkata kepadanya: "Anggapanku terhadap kau keliru, adalah luka pedang dibelakang punggungnya itu yang mengakibatkan kematiannya."

"Apa? Kau seolah-olah sudah tahu ia terluka ditangan siapa?" berkata Siang-koan Kie.

"Aku tahu." berkata wanita itu sambil menganggukkan kepala.

"Ditangan siapa?"

Wanita itu mengalihkan pandangan matanya kearah Teng Soan dan berkata perlahan-lahan:

"Tahukah sianseng.   "

Teng Soan menggoyangkan tangannya mencegah wanita itu bicara lebih lanjut, katanya;

"Aku sudah mengerti semua, kalian juga beristirahat lebih dulu, aku merasa menyesal atas kematian adikmu, apabila kematian itu karena aku, sudah tentu aku akan memikirkan bagaimana untuk selanjutnya supaya arwah adikmu tidak penasaran, dan yang hidup bisa mendapatkan kembali kemerdekaannya yang telah hilang, untuk menuntut penghidupan bebas."

Wanita baju hitam itu menghela napas, dengan memondong jenazah adiknya ia berlalu dari kamar, dengan diikuti oleh empat pelayan wanita Lan, Lian, Kiok dan Bwee. Kini dalam kamar tinggal Siangkoan Kie dan Teng Soan berdua.

"Toako, apakah sebetulnya yang tersembunyi dibalik layar semua kejadian ini?"

"Ini sebetulnya suatu perkara yang sederhana karena jahatnya hati manusia, sehingga menjadi ruwet tidak keruan."

"Siapakah dua wanita baju hitam yang mendadak muncul dalam perkampungan ini?"

"Sebagai usaha untuk mencegah kejadian sesuatu yang mungkin terjadi, pada tiga tahun berselang Auw-yang pangcu sudah mengutus orangnya berdiam didalam salah satu lembah digunung ini, membuat beberapa obat yang sangat manjur untukku. "

"Aaa! Dugaanku ternyata tidak keliru, benar saja Auw-yang pangcu."

"Ia sebetulnya bermaksud baik, karena ia tahu bahwa kondisi badanku tidak sanggup memikul tugas terlalu berat, satu hari kelak pasti akan jatuh sakit. Tetapi bagi aku sendiri tidak terlalu menghiraukan badanku sendiri, selama itu aku sengaja berlaku sedemikian rupa, sehingga mereka sukar untuk menduganya. Tetapi bagaimanapun juga tidak dapat mengelabuhi mata Auw-yang pangcu, diam2 ia mengundang banyak tabib pandai, mempelajari penyakitku dan mencarikan obat manjur, untukku. "

-odwo- Bab-88  

SIANG-KOAN KIE tiba2 mengerutkan alisnya dan berkata: "Ada satu hal yang selama itu selalu tidak dapat siaote

pecahkan."

"Urusan apa?"

"Walaupun toako tidak gemar ilmu silat, tetapi tentunya mengerti bahwa belajar ilmu silat itu berguna untuk kesehatan manusia, apabila toako mempunyai sedikit dasar kepandaian itu, kesehatan toako rasanya tidak sampai sedemikian lemah."

"Aku adalah seorang yang sudah hampir mati, aku beritahukan padamu juga tidak halangan, pertumbuhan badanku kurang sempurna, tulang dan urat2ku terlalu lemah, kondisi badan semacam ini tidak cocok untuk belajar ilmu silat, apabila kita paksakan diri, bahayanya lerlalu besar. Dulu suhu sendiri masih tidak berani memaksaku belajar ilmu silat, apalagi orang lain?"

"Oh, demikiankah halnya?"

"Itu adalah keadaanku yang sebenarnya, saudara, didalam dunia tidak ada orang yang sempurna seratus persen, setiap orang mempunyai cacatnya sendiri2."

"Ucapan toako memang benar."

"Saudara, kau harus tahu, sebagai manusia, kita tidak dapat mengelakkan kodrat alam, sesuatu yang kita anggap sudah baik, memuaskan, kadang2 terbentur dengan kebaikan lain lagi. Betapapun cerdik pandainya seseorang, juga tidak akan dapat mengadakan pemilihan, apabila berhadapan dengan dua hal yang sama baiknya, juga tidak dapat memiliki kedua-duanya. Sama halnya dengan terputarnya bumi, ada waktu siang, ada waktu malam. Seorang yang namanya sangat terkenal dan hampir diketahui oleh setiap orang, dalam kehidupan pribadinya, mungkin penuh kesunyian " Siang-koan Kie dapat merasakan bahwa dalam ucapan Teng Soan ini mengandung penuh rasa duka, hingga diam2 hatinya tergerak, ketika ia mengawasinya, sepasang mata toakonya itu ternyata sudah mengembang air mata.

Ini adaiah suatu kejadian yang belum pernah terjadi sejak ia berkenalan dengan Teng Soan. Sebagai seorang pintar dan berpikiran luas, meski-pun dalam keadaan bagaimana, ia selalu menunjukan muka berseri-seri, tetapi sekarang, agaknya tidak dapat mengendalikan kesedihan dalam hatinya, sehingga mengucurkan air mata.

Teng Soan agaknya menyadari sikapnya yang tidak sewajarnya itu, sambil memesut air matanya ia melanjutkan kata2nya.

"Apabila kondisi badanku tidak mempunyai cacat seperti aku katakan tadi, apabila aku bisa belajar ilmu silat, maka keadaan rimba persilatan pada dewasa ini, barangkali akan lain coraknya..."

Siang-koan Kie mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak menyelak.

"Waktu itu," berkata pula Teng Soan, "mungkin aku tidak bisa berlaku tenang seperti sekarang ini, mungkin juga tidak sudi bernaung dibawah pengaruh siapapun juga dan mungkin sudah lama aku mencari jalan sendiri untuk membunuh Kun- liong Ong."

"Ucapan toako benar," berkata Siang-koan Kie sambil menghela napas, "setiap manusia memang ada cacatnya."

"Kau dapat berpikir demikian, itu bagus sekali, saudara, kini kita sudah angkat saudara, dalam hubungan pribadi, kau adalah satu2nya saudaraku dalam dunia ini, meskipun dengan Auw-yang Pangcu aku sudah berkumpul sepuluh tahun lebih, tetapi itu merupakan pergaulan umum, kita satu sama lain saling mempercayai, tetapi antara aku dengannya belum pernah berbicara urusan pribadi." Siang-koan Kie yang mendengarkan perkataan itu, merasa setengah mengerti setengah tidak, terpaksa ia kerkata:

"Toako ingin perintahkan apa, katakan saja."

Teng Soan melongok keluar jendela, mendadak berdiri dan berkata:

"Jalan! Mari kita ketaman bunga, nanti kuceritakan lagi. Dengan secara bebas ini kita berbicara urusan dunia Kang- ouw, waktunya hanya setengah hari ini saja."

Siang-koan Kie terperanjat: "Apa? Toako, kau     "

"Saudara jangan khawatir, cita2ku belum tercapai, bagaimana aku rela meninggalkan begitu saja?"

"Maaf, siaote seorang bodoh, tidak mengerti ucapan toako."

"Nanti, mulai tengah malam hari ini, toakomu akan menutup pintu untuk mempelajari dan menyelesaikan sebuah lukisan. "

"Kira2 memerlukan waktu berapa lama?"

"Se-lambat2nya satu bulan, se-cepat2nya sepuluh hari." "Untuk apa melukis lukisan?"

"Aku ingin, setelah aku mati, akan meninggalkan lubang jebakan yang dapat menundukkan Kun-liong Ong, barulah aku merasa puas."

"Setelah toako menyelesaikan lukisan itu, kita berdua bukankah masih ada waktu untuk berkumpul lagi?"

"Rencana ini akan menghabiskan semua sisa tenagaku, setelah lukisan itu selesai, sekalipun aku tidak mati, juga sudah terlalu payah. "

"Bolehkah toako memperpanjang waktunya untuk menyelesaikan lukisan itu, umpamanya waktu sepuluh hari diperpanjang menjadi tiga bulan? Dengan demikian mungkin dapat mempertahankan keadaan kesehatan toako."

"Andaikata aku tidak bisa hidup lebih dari tiga bulan, bukankah akan menggagalkan rencanaku ini?

"Bolehkah siaotee melindungi didampingmu supaya jangan terjadi lagi kejadian yang baru saja toako alami?"

"Jikalau kau melindungi aku dan berdiam ber-sama2 dalam satu kamar, barangkali akan meng'ganggu pikiranku."

"Peristiwa yang baru kita alami, sudah cukup mendebarkan hati siaote, andaikata terjadi lagi kejadian serupa itu dan siaotee tidak keburu memberi pertolongan, bukankah akan menjadi penyesalan  bagi siaote seumur hidup?"

"Tempat peristirahatanku yang sangat rahasia ini orang yang tahu jumlahnya sedikit sekali dalam waktu satu bulan, tidak akan ada orang yang datang mencari."

"Apakah Auw-yang Pangcu ada maksud "

Mendadak ia merasa bahwa ucapannya itu terlalu gegabah, maka segera bungkam.

"Saudara tidak perlu banyak curiga, Auw-yang Thong memperlakukan aku baik sekali, untuk menyembuhkan penyakitku, ia diam2 pernah mengutus orang2nya yang terkuat, mengundang banyak tabib kenamaan, orang2 ini kini berdiam disuatu tempat yang sangat rahasia dibawah kaki gunung ini. Orang yang ditugaskan untuk memikul kewajiban ini adalah dua kacungnya yang selalu berada didampingnya, kecuali Auw-yang pangcu sendiri, barangkah Koan Sam Seng juga tidak tahu...... Apabila dugaanku tidak keliru, Auw-yang pangcu semalam seharusnya sudah datang, tetapi hingga kini masih belum muncul, pasti telah terjadi suatu peristiwa besar. Aih, peristiwa ini barangkali mempengaruhi kekuatan golongan pengemis...... Saudara, nanti setelah toakomu meninggal, orang yang mampu menundukkan Kun-liong Ong dalam dunia rimba persilatan pada dewasa ini, jumlahnya sebetulnya tidak banyak, maka, sebelum aku menutup mata, aku harus membuat suatu rencana untuk menumpas orang jahat itu, tetapi kau harus membantu aku."

"Siaotee harus bantu melaksanakan?"

"Benar, beberapa soal yang harus dilakukan selanjutnya, semua akan meminta bantuanmu."

"Dengan kepintaranku yang tidak seberapa, bagaimana sanggup memikul tugas seberat itu?"

"Meskipun kepintaranmu masih belum bisa menandingi Kun-liong Ong, tetapi dalam barisan orang-orang rimba persilatan pada dewasa ini, kepandaian dan kepintaranmu juga terhitung salah seorang golongan kelas tinggi."

"Baiklah, toako perintahkan saja, siaotee akan lakukan sekuat tenaga, siaotee tidak akan pikirkan berhasil atau gagal."

"Nanti malam setelah aku menutup pintu, tidak perduli siapa, tidak boleh mengganggu aku, semua harus kau larang masuk."

"Bagaimana kalau Auw-yang Pangcu yang datang?" "Juga tidak kecualian."

"Ini siaotee akan ingat baik2, toako masih ada pesan apalagi?"

"Setelah lukisan itu selesai, aku nanti akan menerangkan secara terperinci apa yang kau harus lakukan, harap kau menurut garis maksudku yang sudah kutetapi, jangan mengadakan perubahan."

"Siaotee menurut."

"Setelah aku mati, golongan pengemis tidak akan sanggup melawan Kun-liong Ong. Aku sesungguhnya tidak rela bahwa jasaku selama sepuluh tahun dalam golongan pengemis, dihancurkan oleh Kun-liong Ong, maka aku perlu mencari seorang yang dapat melanjutkan kedudukanku."

"Apakah toako sudah menemukan orangnya?"

"Sudah, tetapi orang itu kalau bukan aku yang mengundang, barangkali tidak mau masuk menjadi anggauta golongan pengemis, untuk menghadapi Kun-liong Ong."

"Kenalkah siaotee dengan orang itu?"

"Bukan saja kenal, hubungan kalian bahkan lebih erat dari hubungan denganku."

"Sahabat siaotee yang mempunyai kepintaran seperti itu, siaotee benar2 tidak dapat memikirkan siapa orangnya."

"Hubunganmu dengannya sangat ganjil,"

"Apakah yang toako maksudkan itu adalah Nie Suat Kiao?" "Benar, dia adalah satu2nya orang yang pernah Melihat,

yang dapat mengimbangi kepintaran Kun-liong Ong, kekurangannya ialah dalam siasat ketentaraan, apabila ia faham siasat militer tinggal makan atau mengatur tentara, untuk melawan Kun-liong Ong, bukanlah susah."

Perasaan sedih timbul dalam hati Siang-koan Kie, perlahan- lahan menundukkan kepala.

"Dengannya siaotee tidak mempunyai hubungan terlalu erat, barangkali ia tidak mau dengar perkataanku."

"Nie Suat Kiao hidup dalam kalangan manusia jahat, kejam banyak akal busuk, hingga membuatnya menjadi seorang yang tahan uji dan sanggup menanggung penderitaan lahir bathin. Tetapi ia sudah lama berada dibawah kekuasaan Kun- liong Dng, hal itu juga menimbulkan rasa takut yang sangat kuat terhadap Kun-liong Ong, meskipun ia mempunyai kemampuan untuk bertanding kepintaran dengan Kun-liong Ong, tetapi kekurangan keberanian, dalam hal ini perlu mendapat bantuanmu."

"Tugas semacam ini, siaotee sesungguhnya merasa berat untuk melaksanakannya."

"Dalam hal ini saudara tidak perlu susah hati, waktunya sudah tiba dengan sendirinya kau nanti bisa memberi nasehat kepadanya." Berkata sampai disitu. Teng Soan menengadah, memandang awan dilangit, kemudian berkata pula dengan nada suara sedih: "Cuma, kau harus memberikan pengorbanan besar sekali, supaya ia bisa memusatkan seluruh kepintaran dan kepandaiannya untuk mendapatkan kemenangan."

"Maaf, siaotee tidak mengerti maksud Toako entah pengorbanan apa yang siaotee harus berikan?"

"Berupa penderitaan bathin, karena engkau akan mengenangkan dirinya untuk selama-lamanya."

Siang-koan Kie melongo, ia tidak tahu bagaimana harus menyahut.

Teng Soan menghela napas pelahan dan berkata,

"Nie Suat Kiau sejak anak2 hidup dalam penderitaan, keadaan dan suasana yang demikian buruk, dalam dirinya telah tumbuh kesabaran luar biasa, setiap kali menemui kesulitan dapat menimbang dengan perhitungan yang matang, tetapi apabila ia tenggelam dalam penghidupan yang penuh cinta kasih dan bahagia, ambisinya segera tenggelam dan timbullah rasa takut kepada penderitaan..... Saudara, aku tidak dapat menceriterakan lanjutannya. "

Sikap Siang-koan Kie berubah, jelaslah sudah bahwa hatinya tergoncang hebat lama sekali ia baru bisa membuka suara lagi :

"Siaotee akan ingat baik-baik." "Aku telah menyusahkan saudara, tetapi guna menolong nasib sesama manusia, agar terhindar dari malapetaka, pengorbanan itu sesungguhnya ada harganya. . ."

"Kalau tugas sudah selesai dan Kun-liong Ong sudah menerima hukumannya, siaotee akan mensucikan diri, tidak akan campur tangan dalam urusan duniawi lagi."

"Aku lihat kau tidak ada jodoh dengan Buddha." "Apakah aku harus korbankan jiwaku?"

"Kau bukan seorang yang berumur pendek."

"Kalau begitu siaotee benar tidak tahu harus bagaimana selanjutnya?"

"Kau akan harus sanggup menderita bathin dalam waktu yang cukup lama, untuk mengobarkan hatinya yang suka menang sendiri, agar dapat melahirkan pahala besar."

Dalam hati Siang-koan Kie mendadak timbul rasa cinta kuat sekali terhadap Nie Suat Kiao, hingga tanpa sadar ia telah menundukkan Kepala.

Sambil memandang bunga2 yang ditaman, Teng Soan berkata dengan suara rendah:

"Saudara, aku tahu, dalam hatimu sudah timbul rasa cinta yang sangat kuat terhadap Nie Suat Kiao."

Siang-koan Kie buru2 menyahut; "Toako   " tapi hanya itu

saja yang keluar dari mulutnya, perkataan selanjutnya mendadak kandas ditenggorokan.

"Hanya, kau tidak ingin berebut dengan Wan Hauw, Aih! Ini ada suatu pertandingan dalam perang asmara yang tidak seimbang keadaannya, Wan Hauw kecuali kepandaian ilmu silatnya yang masih bisa mengimbangi kau, dalam hal kepintaran dan peran muka, semuanya tidak sebanding denganmu. Tetapi, justru inilah yang merupakan titik syarat bagi kemenangannya. " Pada saat itu, tiba2 seekor burung elang besar sekali terbang diatas kepala mereka dengan suaranya yang nyaring.

Teng Soan mengawasi burung elang yang terbang diangkasa itu sehingga menghilang dari pandangan, baru berkata lagi,

"Saudara Wan Hauw-mu ini, orangnya jujur, tetapi bodoh dan tidak mengerti bagaimana harus menggunakan akal. ia juga tidak mengerti bagaimana harus mengalah, dalam hatinya sudah tumbuh rasa cinta terhadap Nie Suat Kiao, ia menunjukkan rasa cinta kasihnya menurut ukuran perasaannya sendiri, jadi sedikitpun tidak tercampur sikap atau kelakuan berpura2."

"Ucapan toako memang benar."

"Maka dalam pertandingan dimedan asmara ini saudara sudah berada dalam posisi yang pasti kalah kecuali kalau kau bisa berubah menjadi burung elang yang baru saja terbang liwat diatas kepala kita, melupakan prikemanusian. "

"Toako jangan meneruskan......" Siang-koan Kie mendadak berseru nyaring.

Mata Teng Soan menatap wajah Siang-koan Kie sejenak, kemudian berkata: "Saudara, tenanglah sedikit, kalau tengah malam nanti tiba, aku sudah akan menyekap diri didalam kamar, tempat itu adalah tempatku untuk mengubur sisa hidupku, mungkin kau tidak akan mendengar suaraku lagi."

Siang-koan Kie terperanjat, "Toako maafkan kesalahanku." "Ada orang lain yang lebih menderita daripada kau?." "Siapa?"

"Nie Suat Kiao. Bagi dia, semakin tinggi kepandaian ilmu

silat, semakin hebat penderitaai dalam hatinya."

"Toako, tak usah kau katakan lagi, bagi siaote sendiri, sekalipun menderita lahir bathin, siaote juga masih memikirkan untuk kepentingan nasib sesama dalam rimba persilatan."

"Itu saja masih belum cukup."

"Habis, siaote masih harus berbuat apa lagi?"

"Supaya Nie Suat Kiao mau melakukan pekerjaan besar bagi golongan pengemis, kau harus menggerakkan hatinya dengan cinta kasihmu Supaya ia mau bertempur menghadapi Kun-liong Ong, kau harus memberi keberanian kepadanya.....

kau harus sanggup menahan penderitaan bathin dihadapan seorang yang kau cintai "

"Dalam hal ini siaote barangkali sulit mengendalikan perasaan. "

"Tetapi kau harus kendalikan dirimu dengan kekerasan hati, ketika kau ingat bahwa keselamatan beribu-ribu jiwa manusia tergantung dalam dirimu dan keputusanmu, kau akan dapat melupakan penderitaan sendiri. Aih! Saudaraku, penghidupan manusia yang tiada penggorbanan, tidak akan meninggalkan kenangan yang mengesankan dalam hidupnya."

"Siaote mengerti."

"Ini mungkin merupakan percakapan terakhir bagi kita berdua, kalau kau merasa ada kesulitan atau masih ada pertanyaan, baik kau ceritakan saja!"

Dengan menindas kesedihan dalam hatinya, Siapg-koan Kie memaksakan diri untuk bergembira, ia tidak suka pada saat terakhir bagi saudaranya yang penuh bahagia itu, menambah kesusahan baginya.

Malam itu dua saudara angkat itu selalu membicarakan bagian2 yang menyenangkan dalam kehidupan manusia, tidak pernah membicarakan bagian yang mengandung rasa duka.

Malam mulai larut, Teng Soan berjalan lambat menuju kekamarnya, dengan diikuti oleh Siang-koan Kie. Ketika melangkah masuk kedalam kamarnya Teng Soan berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie sambil tertawa;

"Saudara tidak usah masuk."

Siang-koan Kie tahu bahwa kali ini ia masuk kedalam kamarnya, apakah selanjutnya masih bisa berjumpa lagi, masih merupakan satu pertanyaan. Mengingat itu, kesedihan timbul dalam hatinya.

"Waktu masih pagi, bagaimana kalau kita omong2 lagi?", demikian ia berkata.

"Saudara, kau masih ingin mengatakan apa lagi?" "Mengenai persoalan yang menyangkut dua wanita baju

hitam itu tadi, toako masih belum menerangkan, siaotee merasa bahwa tanggung jawab siaotee yang melindungi keselamatan toako sangat berat, maka kejadian itu membuat hatiku selalu tidak enak, andaikata terulang lagi kejadian serupa itu dan siaote tidak keburu memberi pertolongan, bukankah akan menjadikan kemenyesalan seumur hidup bagi siaotee?"

"Kalau dugaanku tidak salah, Auw-yang pangcu dalam waktu sepuluh hari ini tentu akan datang kemari. ", berkata

Teng Soan sambil menghela napas, "dua kacungnya itu meskipun belum menemui kita, tetapi aku pikir mereka pasti mendapat tugas untuk melindungi kita, mungkin masih ada banyak orang2 kuat dari golongan pengemis yang menyaru sebagai petani, penebang kayu atau pemburu binatang gunung yang tersebar disekitar pegunungan ini, sementara mengenai dua wanita itu, sudah tentu ada orang bawahannya dua kacung itu, mereka hanya merupakan orang2 yang bertugas melakukan kewajibannya "

Siang koan Kie terkejut, katanya: "Apa? Apakah masih ada orang2 dalam golongan pengemis yang hendak mencelakakan diri toako?” "Nanti setelah Auw-yang paagcu tiba disini, segala sesuatunya tentu bisa dijelaskan aku melupakan seorang yang sudah tidak lama lagi berada didunla ini, sekalipun ada orang yang bermaksud tidak baik terhadapku, aku juga tidak menghiraukan."

Siang-koan Kie menghela napas, tidak menyahut.

Teng Soan per-lahan2 menutup pintu kamar dan berkata dengan suara rendah:

"Saudara, mulai saat ini, kau jangan mengganggu aku lagi."

"Bagaimana dengan makanan dan minuman untuk toako?" "Aku sudah sediakan dalam kamar, aku dapat memasak

dan makan sendiri, tidak perlu menyusahkan orang lain."

Sambil menghormat menghadap pintu kamar yang sudah tertutup, Siang-koan Kie berkata:

"Toako baik2 merawat diri, siaotee akan menjaga diluar kamar, apabila ada keperluan, panggil saja sudah cukup."

Setelah itu, ia mengambil sebuah kursi ditaruh diluar pintu kamar Teng Soan, lalu dia duduk diatasnya.

Empat pelayan wanita itu meskipun masih tetap mengantar makanan minuman untuk Siang-koan Kie secara bergilir, tetapi mereka sudah tidak sedemikian lincah gesit seperti pertama kali Siang-koan Kie datang, mereka telah berubah menjadi pendiam, terhadap pemuda itu, agaknya sudah timbul rasa takut yang sangat mendalam.

Tiga hari dengan cepat telah berlalu, dalam kamar dimana Teng Soan mencekap diri kecuali penerangan lilin yang menyala siang hari malam, tidak terdengar suara apa-apa.

Tertarik oleh perasaan heran, beberapa kali Siang-koan Kie berjalan mundar mandir dibawah jendela kamar, ia ingin mengintip apa sebetulnya yang dilakukan oleh saudara angkatnya itu? Tetapi jendela itu tertutup rapat, tidak dapat ditembusi oleh mata manusia.

Hari keempat diwaktu tengah hari, Suat Bwee datang menghampiri Siang-koan Kie dengan tindakan ter-gesa2, setelah memberi hormat, lalu berkata:

"Ada orang ingin menemui Teng-sianseng."

"Siapa?" bertanya Siang-koan Kie dengan suara lemah lembut.

"Tidak kenal," menjawab Suat Bwee sambil menggelengkan kepala,

"Lelaki atau perempuan?"

"Seorang laki2 dan seorang wanita."

Siang-koan Kie mendadak melompat dari tempat duduknya dan berkata: "Bawa mereka masuk menjumpai aku."

Suat Bwee berlalu dan sebentar kemudian ia sudah balik dengan membawa dua orang.

Siang-koan Kie melihat dua orang itu benar2 seorang laki2 dan seorang wanita.

Yang laki2,berusia kira2 enambelas tahun, dibelakang punggungnya terselip sebilah pedang pusaka. Yang perempuan berpakaian warna hitam, parasnya cantik. usianya kira2 delapan belas tahun, tangannya membawa sebuah kotak yang terbuat dari batu kumala.

Siang-koan Kie segera teringat ucapan Teng Soan bahwa diperkampungan ini tersembunyi dua kacung Auw-yang Thong yang berkepandaian sangat tinggi......

Sementara dalam hatinya berpikir demikian, mulutnya sudah bertanya: "Saudara, dari mana dan hendak mencari siapa? "Kami hendak mencari Teng sianseng," menjawabanak laki2 yang berdiri disebelah kiri.

"Teng sianseng tidak bisa menemui tamu."

Anak laki2 itu berpaling sejenak kepada kawan wanitanya dan berkata: "Apakah tuan ini yang kau maksudkan?"

"Benar," menjawab wanita itu.

Mata anak laki2 itu menatap wajah Siang-koan Kie, dan berkata: "Siapakah nama tuan yang mulia?"

"Aku Siang-koan Kie," menjawab Siang-koan Kie sambil mengerutkan keningnya.

"Dengan Teng sianseng tuan ada hubungan apa?"

"Teng sianseng adalah saudara angkatku...." sejenak Siang-koan Kie berdiam. "Saudara2 ini siapa? Bolehkah saudara memberitahukan kepadaku?"

"Aku yang rendah Thio Hong salah satu kacung Auw-yang pangcu...." sahutnya dengan sinar mata mengandung rasa curiga ia menatap wajah Siang-koan Kie. "Kita rasanya belum pernah bertemu muka?"

"Didalam golongan pengemis siaotee masih merupakan tetamu."

Kacung Thio Hong meskipun usianya belum dewasa, tetapi menghadapi sesuatu perkara sudah seperti orang tua yang banyak pengalaman. Sejenak ia berpikir, kemudian berkata pula;

"Kami, karena pertama belum menerima perintah pangcu dan kedua belum menerima penjelasan Teng sianseng, sesungguhnya tidak bisa percaya begitu saja atas keterangan tuan."

"Demikianpun bagiku, nama dua kacung dalam golongan pengemis meskipun sudah terkenal, sayang aku belum pernah bertemu muka dengan mereka, meskipun kau menyebut diri sebagai kacungnya Auw-yang pangcu, namun aku juga tidak mau penyaya begitu saja."

"Perempuan ini sudah bertemu muka denganmu, kau tentunya masih menyenalnya?" berkata Thio Hong sambil menunjuk wanita disisinya.

"Kalau kau ada keperluan apa2, tanya saja kepadaku sama saja. Teng sianseng kini sedang menutup diri sedang merencanakan satu rencana besar, barangkali memerlukan waktu sepuluh atau limabelas hari, selama itu mungkin tidak bisa menemui kalian."

"Tuan bukan orang dari golongan pengemis, ucapan tuan ini bukankah berarti melanggar hak orang lain?"

"Aku bertindak atas nama saudara angkatku, Teng sianseng atas permintaannya sendiri, aku menerima tugas ini se-mata2 berdasar hubungan pribadi kita. Jangan kata saudara, sekalipun Auw-yang pangcu sendiri, juga harus menunggu sampai batas waktunya habis, barulah boleh bertemu dengannya."

Wajah Thio Hong berubah, "Betapapun pandainya kau putar lidah, juga sulit bagiku percaya begitu saja."

"Kenyataannya memang begitu, kalau kau tidak percaya aku juga tidak bisa berbuat apa2."

Thio Hong menghunus pedangnya dan berkata;

"Sebelum bertemu muka dengan Teng sianseng, aku tidak bisa tinggal diam."

Siang-koan Kie melihat Thio Hong menggunakan pedang dengan tangan kiri, ia baru insyaf mengapa kacung ini mendapat julukan kacung kiri. Dalam dunia rimba persilatan, orang yang menggunakan senjata dengan tangan kiri, biasanya agak sulit dilayani..... Sementara ia sudah siap sedia, sedangkan mulutnya mengeluarkan perkataan: "Meskipun aku bukan orang dari golongan pengemis, tetapi dengan Teng sianseng mempunyai hubungan saudara, dengan demikian antara kita berarti masih merupakan orang2 satu haluan, perlu apa karena sepatah perkataan saja lantas hendak mengadu jiwa?"

"Meskipun kau sudah membunuh orang yang kuutus untuk mengantar obat, tetapi mengingat karena tujuanmu hendak melindungi Teng sianseng, maka aku tidak menarik panjang persoalan ini."

"Tengah malam buta menyelinap dikamar orang, apalagi tindakannya seperti pencuri, andaikata kau sendiri yang bertugas menjaga kamar, barangkali juga akan bertindak."

"Oleh karena itu, aku tidak perlu menarik panjang persoalannya. "

"Apakah maksud sebetulnya kedatanganmu hari ini?"

"Aku tidak perlu membohong, aku sebetulnya mendapat perintah rahasia dari Auw-yang pangcu, harus melindungi Teng sianseng secara rahasia. Selama beberapa hari ini aku diam2 mengadakan pengamatan, selama itu belum pernah bertemu dengan Teng sianseng, hingga belum lega rasanya. Karena keadaan memaksa, terpaksa aku datang mengganggu, apabila tidak dapat menemui Teng sianseng, persoalannya barangkali tidak mudah dibereskan.!"

"Jangankan saudara, sekalipun Auw-yang pangcu sendiri, juga tidak dapat menemuinya."

"Apabila aku bisa menemui Teng sianseng, sepatah kata Teng sianseng, sudah cukup untuk kita turut. Apabila tidak ketemu dengannya, sekalipun mulutmu sampai berbusa, orang juga tidak akan percaya."

"Kau tidak percaya, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa." "Bagaimana kalau aku tetap menghendaki akan bertemu dengannya?" berkata Thio Hong sambil membulang-balingkan pedangnya.

"Aku berada disini karena harus melindungi Teng sianseng, harap saudara percaya omonganku."

"Maaf, aku tidak mau terima keteranganmu."

Siang-koan Kie memperdengarkan suara tertawa dingin, per-lahan2 membalikkan badannya, tidak mau meladeni Thio Hong lagi.

Sikapnya yang dingin ini, oleh Thio Hong dianggapnya satu hinaan besar, maka seketika itu ia lantas naik darah dan membentaknya dengan suara keras:

"Berhenti!"

"Kau mau apa?" bertanya Siang-koan Kie sambil berpaling dan tertawa.

"Kalau kau tetap tidak mengizinkan aku menemui Teng sianseng, mungkin hari ini akan terjadi penumpahan darah. "

"Bagaimana? Kau ingin berkelahi?"

"Keadaan memaksa, aku terpaksa bertindak dengan kekerasan,"

"Sudah lama aku dengar nama kacung kanan kirinya Auw- yang pangcu, tentunya berkepandaian sangat tinggi."

"Kalau kau tidak percaya, boleh coba sendiri nama itu nama kosong atau berisi?"

Keduanya saling mengotot, suasana mulai tegang pertempuran agaknya tidak dapat dielakkan lagi.

"Keluarkan senjatamu," demikian Thio Hong menantang. "Dengan sepasang tangan kosong aku ingin mencoba kepandaianmu."

"Kau sungguh sombong," berkata Thio Hong, pedangnya lantas bergerak membabat lawannya-

Karena ia menggunakan senjata dengan tangan kiri, gerak tipunya juga berlainan dari biasanya, hingga membingungkan lawannya.

Siang-koan Kie tidak berani berlaku gegabah, ketika ujung pedang sudah dekat pada dirinya, ia baru melonpat mundur dua langkah, mengelakan serangan itu, tetapi kemudian maju lagi, tangannya bergerak menyerang pergelangan tangan Thio Hong yang memegang senjata.

Dalam waktu singkat, dua orang itu sudah saling menyerang duapuluh jurus lebih, serangan Thio Hong meskipun gencar rapat, tetapi semua terhalang oleh tangkisan tangan Siang-koan Kie yang tidak kalah rapatnya, sehingga tidak berhasil diterobosnya.

Wanita berbaju hitam yang membawa kotak batu kumala itu berdiri disamping, menyaksikan jalannya pertempuran, seolah tidak ada hubungan dengannya.

Tiba2 berkelebat sesosok bayangan orang, kembali muncul seorang anak laki2 berusia kira2 lima belas atau enam belas tahunan, dengan pedang dibelakang punggungnya. Ia menyaksikan pertempuran itu sejenak, kemudian bertanya:

"Perlukah siaotee campur tangan?"

Thio Hong yang mendengar perkataan itu. sedikitpun tidak menghiraukan, agaknya sudah tahu siapa orangnya, dengan suara lantang ia menyahut,

"Kita bekerja harus melihat persoalannya berat atau ringan, betapakah pentingnya keselamatan jiwa Teng sianseng? Perlu apa masih mematuhi peraturan dunia Kang-ouw yang mati?" Pemuda itu tanpa berkata apa2 lagi, tangan kanannya menghunus pedang, membantu sikacung kiri mengeroyok Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie melihat dandanan bocah itu sama dengan Thio Hong, bedanya hanya menggunakan pedang dengan tangan kanan, maka segera mengetahui bahwa bocah itu tentu kacung kanan dari golongan pengemis.

Ia sudah merasakan bahwa kepandaian ilmu pedang Thio Hong cukup tinggi, kepandaian bocah yang baru datang itu tentunya selisih tidak jauh, maka ia khawatir apabila mereka maju serentak, sedikit kekeliruan saja bisa membawa akibat fatal. Ia lalu mengambil keputusan, sebelum mereka berhasil dengan taktik kerjasamanya yang rapi, dengan gerakan cepat bagaikan kilat, merebut atau melepaskan salah satu pedang dari tangan lawannya.

Ketika kacung yang baru datang itu melancarkan serangan pedangnya, dengan satu gerakan yang sangat manis ia mengelakkan serangan tersebut, tangan lain dengan satu gerakan nerobos dibawah sikut lawannya, menyerang tangan kacung kanan yang memegang pedang.

Gerak tipu merebut senjata lawan dengan tangan kosong itu, dilakukan dengan cara sangat berlainan dengan gerak tipu serupa itu yang dimiliki oleh berbagai partai, apalagi Siang- koan Kie bertindak terlalu cepat, hingga pedang ditangan lawannya berhasil disentil dan terbang ketengah udara.

Meskipun gerakan Siang-koan Kie itu berhasil, tetapi ia sendiri juga terluka sedikit dibagian lengannya. Dan pada saat itu, pedang Thio Hong sudah mengancam mukanya, sedangkan tangan kacung yang baru datang juga sudah memegang sebilah belati pendek, yang digunakan untuk menikam perutnya.

Siang-koan Kie terkejut, dengan cepat ia melompat mundur dan berseru; "Saudara' tunggu sebentar, aku ingin bicara."

"Apa kau merasa tidak sanggup melawan kita?" berkata Thio Hong sambil menarik kembali pedangnya.

Siang-koan Kie tidak menghiraukan ucapannya yang mengandung ejekan itu, katanya: "Kepandaian kalian tinggi sekali, hal ini aku sudah merasakan, tetapi kita satu sama lain tidak ada permusuhan apa2, sudah tentu tidak perlu bertempur mati2an dengan mengadu jiwa, aku hanya ingin menjelaskan duduknya perkara yang sebenarnya."

"Katakanlah    kita bersedia mendengarkan."

"Teng sianseng memang benar menyekap diri dalam kamar ini. melukis sebuah lukisan, meskipun aku tidak dapat menjelaskan lukisan apa yang dikerjakan, tetapi lukisan itu menyangkut nasib golongan pengemis kalian dan ada hubungannya pula dengan bencana yang mengancam seluruh rimba persilatan. Sebelum ia manyekap diri, pernah pesan berwanti-wanti kepadaku, tidak perduli siapa, tidak boleh mengganggunya. Walaupun pangcu sendiri yang datang, juga tidak boleh menemui secara langsung. kedatanganku

kemari, bukan saja atas undangan Teng sianseng, tetapi juga sudah mendapat persetujuan, bahkan sudah mengadakan perjanjian dengan pangcu kalian, untuk melindungi keselamatan Teng sianseng, dan kemudian oleh Koan Sam Seng diantar kemari."

"Apapun yang kau kata, sebelum kita menemui Teng sianseng, juga tidak akan percaya."

Wajah Siang-koan Kie berubah, setelah berpikir sejenak, akhirnya ia berkata: "Apakah kalian berdua pasti hendak melihatnya?"

"Sebelum kita berhasil melihat Teng sianseng? hari ini pasti ada salah satu pihak yang akan binasa."

Setelah berpikir, Sian koan Kie lalu berkata: "Baiklah! Kalian pasti hendak melihat, tetapi harus menurut perkataanku."

"Asal kau dapat membuktikan bahwa Teng sianseng masih hidup, kita akan menurut."

"Kalau begitu, marilah kalian ikut aku."

Dua kacung itu saling berpandangan sejenak kemudian berjalan mengikuti Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie ajak mereka mendekati kamar Teng Soan, berjalan pelahan2 dan berkata kepada mereka dengan suara rendah:

"Teng sianseng berada dalam kamar ini."

Kamar itu tertutup rapat, baik pintunya maupun jendelanya, dua kacung yang menyaksikan keadaan demikian lalu berkata:

"Bagaimana kita dapat membuktikan bahwa Teng sianseng memang berada didalam kamar ini?"

Siang-koan Kie mengerahkan kekuatan tenaganya tangannya menolak daun jendela dan berkata:

"Harap kalian melongok kedalam melalui lobang dibawah tanganku ini."

-oo0dw0oo-