ISMRP Jilid 21

 
Jilid 21

PANDANGAN mata Touw Thian Gouw juga dikaburkan oleh asap tebal itu, ia tidak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya, hanya dari telinganya terdengar suara seperti orang jatuh di tanah, waktu ia pasang mata benar-benar baru mengenali bahwa yang jatuh di tanah itu adalah Kim Goan Pa, tergeraklah hatinya, pikirnya: ‘nampaknya ilmu silat ada kalanya juga tidak ada gunanya, Teng Soan sebagai seorang yang lemah tidak pandai ilmu silat, tetapi kepandaiannya sesungguhnya tidak boleh dipandang ringan, pantas di dalam keadaan yang betapapun gawatnya, ia selalu tenang-tenang saja.’

Sementara itu terdengar suara Teng Soan berkata padanya: “Saudara Touw, lekas sambut ini."

Touw Thian Gouw mengulurkan tangannya, menyambut benda yang dilemparkan kepadanya, benda itu ternyata sebuah botol kecil, dalam herannya ia bertanya: “Sianseng, botol ini berisi apa?"

“Kau buka tutupnya, botol itu terisi air, pakailah untuk mencuci dua matamu," berkata Teng Soan.

Touw Thian Gouw mengerti bahwa air itu ada gunanya, maka ia juga tidak tanya2 lagi, lalu membuka tutup botolnya, airnya dibuang keluar untuk mencuci kedua matanya. Telinganya mendengar pula suara Teng Soan: “Saudara Touw, botol berisi air obat itu kau berikan kepada mereka, supaya mereka juga dapat mencuci matanya dengan air obat itu."

Touw Thian Gouw diam-diam berpikir: ‘orang ini, benar- benar terlalu banyak akalnya, entah khasiatnya air ini?’

Meskipun dalam hatinya berpikir demikian, tetapi ia melakukan apa yang diminta oleh Teng Soan air itu disampaikan kepada delapan orang bekas anak buah Kun- liong Ong.

Sebentar kemudian, sepasang mata Touw Thian Gouw mendadak dirasakan terang, asap yang semula pedas menusuk mata itu, kini tidak merupakan rintangan lagi, semua benda dapat dilihatnya dengan nyata.

Di luar terdengar riuh suara orang berteriak-teriak dan suara derap kaki kuda, tetapi karena asap tebal telah mengurung barisan batu itu, maka orang-orang itu tidak berani masuk ke dalam, takut akan terjebak.

Dengan tiba-tiba, seorang penunggang kuda melarikan kudanya denga pesat sambil menggerakkan tombaknya, siapa saja yang coba merintanginya, tidak ampun lagi diserangnya, tiada satupun yang dapat menahan, hingga dalam waktu sangat singkat, sudah berhasil merobohkan tiga orang.

Kuda itu ketika mendekati barisan batu, tiba2 berputar dan mundur lagi.

Touw Thian Gouw sudah dapat melihat dengan nyata bahwa penunggang kuda itu bukan lain dari pada Siang-koan Kie, sekujur badan pemuda gagah itu sudah penuh darah, maka ia segera berseru memanggilnya: “Apakah di sana saudara Siang-koan Kie? Lekas masuk untuk beristirahat sebentar. Dari luar terdengar pertanyaan Siang-koan Kie : “Apakah Teng sianseng tidak mendapat halangan suatu apa2”

“Sianseng tidak ada halangan suatu apa2, saudar jangan menuruti hawa napsu, bertempur terlalu lama, lekaslah masuk kedalam barisan.”

Siang-koan Kie tiba2 menggerakkan tombaknya, untuk menangkis serangan dari seorang pasukan berkuda serangan tombaknya diteruskan, ujung tombak menusuk kepala kuda orang itu.

Kuda itu kesakitan, setelah mengeluarkan suara meringkik, lalu melemparkan penunggangnya di atas tanah.

Seorang berbaju hitam ingin membokong Siang-koan Kie, pemuda itu mengeluarkan suara bentakan keras, tombak panjang dilontarkan, tidak ampun lagi senjata itu menembusi dada orang berbaju hitam itu hingga binasa seketika itu juga.

Selesai membereskan dua musuhnya, Siang-koan Kie melompat tinggi meninggalkan kudanya, kemudian melayang masuk ke dalam barisan batu.

Touw Thian Gouw buru2 menyambut, ia berkata sambi1 memberikan botol terisi air mujizat itu: “Saudara, lekas kau pakai air dalam botol ini, untuk menyuci dua matamu, hingga tidak usah takut matamu terhalang oleh asap tebal ini."

Siang-koan Kie menurut, setelah itu ia berkata sambil menghela napas panjang: “Siaute tidak ada gunanya, sehingga tidak mampu melindungi diri Bwee Cian Tay, kini telah tertanggap hidup oleh mereka.”

“Tertangkap oleh mereka, inilah yang paling baik, nanti kalau Kun-liong Ong melihat putrinya kita perlakukan demikian rupa, perasaan jerinya semakin bertambah, dan semakin tambah rasa jerinya, itu berarti kita semakin selamat," berkata Teng Soan sambil tertawa. Siang-koan Kie perlahan2 duduk di tanah seraya berkata: “Dalam pasukan anak buah Kui-liong Ong banyak terdapat orang yang berkepandaian sangat tinggi, benar saja tidak beleh dipandang ringan ... “

“Tetapi saudara Siang-koin Kie sebaliknya tidak bisa pergi datang dengan leluasa, ini juga sudara cukup menggemparkan mereka," berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Siaute tidak berani menerima pujian sianseng kedudukan kita sekarang ini sangat berbahaya, barisan ini sudah terkurung rapat, mungkin Kun-liong Ong akan datang sendiri

... "

Sementara itu di luar barisan suara riuh itu, mendadak berhenti, ketika Touw Thian Gouw pasang mata, di bawah empat lentera yang diangkat tinggi-tinggi, tampak berdiri seorang berbaju hijau, di muka dan belakang orang itu banyak berdiri orang berpakaian hitam.

Touw Thian Gouw berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Sianseng, nampak sikap agung orang itu, mungkin Kun-liong Ong datang sendiri!"

Teng Soan tersenyum dan berkata: “Benar, tidak perduli beberapa kali ia ganti rupa dan bagaimana pakaiannya, jangun harap bisa mengelabuhi mataku."

“Kepandaian mengenali diri seseorang ini, bolehkah sianseng menjelaskan kepada kita, supaya kita mendapat sedikit pengetahuan," berkata Siang-koan Kie.

“Perkara ini memang mudah kelihatannya, tetapi sukar dimengerti, asal saudara2 mau menggukan sedikit perhatian memperhatikan ciri2 seseorang, tidak sulit untuk membedakan mana yang tulen dan mana yang palsu," berkata Teng Soan sambi1 tertawa.

Siang-koan Kie seolah2 baru tersadar, ia berkata sambil mengangguk2kan kepala : “Ya, setiap orang ada mempunyai ciri2 pembawaan alam sendiri, jikalau kita bisa memperhatikan ciri2 itu, mudah untuk membedakan mana yang palsu dan mana yang tulen ... ”

Tiba-tiba terdengar suara Kun-liong Ong berkata : “Benarkah Teng Soan di dalam barisan?”

Jelas bahwa asap tebal itu telah merintangi pandangan mata Kun-liong Ong, sehingga ia juga tidak dapat melihat dengan jelas keadaan di dalam barisan.

Tujuh atau delapan orang berbaju hitam berkata dengan serentak : "Kita telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sedikitpun tidak salah."

Kun-liong Ong lalu mengibaskan tangannya, serentetan hujan anak panah meluncur dengan hebatnya ke dalam barisan.

Siang-koan Kie berkata dengan suara perlahan kepada Teng Soan. “Harap sianseng bertiarap di tanah, Kun-liong mulai melepaskan anak panah."

Teng Soan menganggukkan kepala, dan berkata kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan: “Saudara Touw harap perhatikan delapan orang yang menjaga barisan ini, asal musuh tidak menyerbu masuk, kita jangan bertindak apa- apa.”

Touw Thian Gouw berpaling, ia lihat delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong itu, masing-masing dengan golok ditangan, tetapi badannya tegak gemetar, jelaslah sudah, bahwa dalam hati dan perasaan orang2 itu diliputi oleh perasaan jeri dan emosi yang tebal. Ia mengerutkan alisnya dan berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan: “Saudara harap kau melindungi sianseng, perhatikan diri Kim Goan Pa, orang itu berhati jujur dan mempunyai tenaga sangat besar, sayang kalau dibinasakan, tetapi dibiarkan juga merupakan bencana, sebaiknya totok dulu kedua jalan darahnya jikalau perlu, tidak halangan membunuhnya lebih dulu, aku hendak mengawasi tindakan delapan orang itu.”

Tanpa menantikan jawaban Siang-koan Kie ia sudah berjalan dengan tindakan lebar.

Siang-koan Kie memandang Kim Goan Pa, lalu menotok lubang jalan darahnya, kemudian diseret kesamping dirinya.

Selama itu beberapa puluh batang anak panah sudah meluncur ke arah mereka.

Siang-koan Kie menghunus pedangnya dan berkata dengan suara perlahan: “Jikalau sianseng ingin melihat, harap sembunyi dibelakang diriku ... ”

Dengan pedang panjang itu ia gunakan untuk menangkis serangan anak panah yang meluncur deras.

Tiba-tiba terdengar suara Kun-liong Ong: “Tahan." Dan anak panah itu lantas berhenti.

Seorang berbaju hitam melompat ke dekat barisan batu dan berkata dengan suara nyaring: “Kun-liong Ong minta bicara dengan Teng Soan dari golongan pengemis.”

Touw Tnian Gouw bertanya kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Bagaimana kalau siaute saja yang mewakili sianseng keluar untuk menjumpainya?”

“Tidak perlu, aku akan menjumpai sendiri, harap saudara menunggu dalam barisan, apabila ada bahaya, nanti aku akan minta bantuan saudara ... “ berkata Teng Soan, kemudian memandang dan berkata kepada Siang-koan Kie: “Harap saudara Siang-koan Kie bantu melindungi aku.”

Siang-koan Kie melompat ke samping Teng Soan seraya berkata: “Sianseng jangan terlalu jauh meninggalkan barisan batu, supaya siaute keburu memberi pertolongan.”

Sambil menenteng pedang penuda gagah perkasa itu berjalan lebih dulu. Teng Soan mengikuti dari belakang dengan tindakan lambat2 berjalan keluar dari dalam barisan batu yang diliputi oleh kabut asap.

Tiba dihadapan Kun-liong Ong, Teng Soan lalu berkata sambil memberi hormat: “Kun-liong Ong ada keperluan apa?"

“Tahukah kau di mana sekarang kau berada?" demikian Kun-liong Ong balas menanya dengan nada suara dingin.

“Di suatu tempat yang terkurung ketat oleh barisan anak buah Kun-liong Ong.”

Kun-liong Ong tertawa menyeringai, kemudian berkata: “Aku masih ingat persaudaraan dalam satu perguruan pada masa yang lampau, maka aku memberikan kesempatan terakhir bagimu."

Teng Soan tertawa dingin, kemudian berkata: “Sayang aku sudah bertekad hendak membunuh dirimu.”

Kun-liong Ong tertawa terbahak2, lalu berkata: “Sekalipun kau mengerahkan seluruh kekuatan golongan pengemis, aku juga tidak takut apalagi kau sudah terkurung rapat olehku, sekalipun mempunyai sayap, kau juga tidak bisa terbang dari sini, sungguh berani mati kau masih berani mengeluarkan ucapan sombong itu.”

Dengan sikap sungguh2 Teng Soan berkata sepatah demi sepatah: “Kun-liong Ong kau tentunya sudah tahu bahwa aku selamanya belum pernah mengeluarkan ucapan yang aku sendiri belum yakin benar kesanggupanku.”

Sejenak Kun-liong Ong tercengang, kemudian tertawa bergelak2, lalu berkata: “Sayang, jalan hidupmu sudah buntu, kau tidak bisa hidup sampai besok pagi.”

“Itu masih belum tentu," sahut Teng Soan tenang. “Apakah kau percaya bahwa dengan membentuk barisan batu semacam ini, benar2 dapat merintangi maksudku?" bertanya Kun-liong Ong dingin.

“Kau tidak percaya, boleh coba sendiri."

Dengan kecepatan bagaikan kilat Kun-liong Ong bergerak mendekati teng Soan.”

Siang-koan Kie yang terus mengawasi gerak geriknya, ketika menyaksikan kegesitannya, diam2 juga terkejut, untung ia sangat waspada, dengan cepat ia menggunakan pedangnya, melindungi Teng Soan.

Kun-liong Ong dengan tangan kiri menahan pedang Siang- koan Kie, lima jari tangan kanannya tetap menyambar Teng Soan.

Siang-koan Kie menendang perut Kun-liong Ong jari tangan kiri digunakan untuk menotok jalan darah Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong terpaksa mengurungkan maksudnya, ia menarik kenbali tangannya sambil memiringkan badannya, dengan cara demikian ia telah terlepas dari tendangan kaki dan totokan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie diam2 dikejutkan oleh kepandaian manusia kejam itu, ia menarik kembali tangannya untuk menjaga serangan Kun-liong Ong, pedang di tangan kanannya diputar dengan cepat.

Dua orang itu meskipun bergebrak sementara, tetapi setiap serangan dilakukan dengan cepat dan sangat berbahaya, sehingga orang tidak dapat melihat dengan tegas bagaimana mereka bergerak, Kun-liong Ong yang sudah bertekad hendak menangkap Teng Soan tidak membalas serangan Siang-koan Kie, hanya dengan sangat lincah mengelakkan diri dari serangan pedang Siang-koan Kie.

Teng Soan yang menyaksikan Siang-koan Kie menggunakan pedang dan tangan, ternyata masih tidak berhasil menghalangi tindakan Kun-liong Ong, diam-diam juga terkejut, ia lalu menggunakan kipasnya untuk menotok Kun- liong Ong.

Sungguh aneh, Kun-liong Ong yang tidak takut dengan serangan pedang dan tangan Siang-koan Kie tetapi terhadap kipas Teng Soan, agaknya jeri sekali, sambil mengelakkan tubuhnya kebelakang, ia melompat mundur sampai sejauh lima kaki.

Siang-koan Kie melihat gerakkan kipas Teng Soan ternyata mengeluarkan sinar keredepan yang sebentar menghilang ditelan oleh kegelapan, sehingga diam-diam berpikir, nama Teng Soan, benar2 bukan nama kosong belaka, meskipun dia tidak pandai ilmu silat, tetapi sekujur badannya agak diperlengkapi oleh berbagai senjata untuk melindungi dirinya, dalam kipas yang sekecil ini, juga diperlengkapi obat mabuk dan senjata rahasia yang halus, entah masih ada apa lagi yang belum digunakan.

Selagi masih berpikir, Kun-liong Ong sudah melancarkan pula serangannya kepada Teng Soan.

Siang-koan Kie dengan cepat menyambut serangan itu.

Ia tidak menyangka Kun-liong Ong mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat hebat, maka ketika menyambut serangan itu, darahnya merasa berkurang, tanpa sadar sudah lompat mundur lima kaki.

Teng Soan buru2 mengeluarkan sebutir pel, dimasukkan kemulut Siang-koan Kie, lalu berkata dengan suara bisik2 ditelinganya: “Jangan terburu napsu, lekas makan pel ini.''

Siang-koan Kie menurut, ia menelan pel itu dan duduk di tanah, memejamkan matanya mengatur pernapasannya.

Dalam keadaan demikian, telinganya tiba2 mendengar suara bergeraknya orang, enam atau tujuh sosok bayangan orang menyerbu ke dalam barisan. Siang-koan Kie selagi hendak melompat bangun untuk merintangi orang-orang itu, Teng Soan tiba2 menggerakkan kipasnya.

Sebentar terdengar suara gedebukan, enam tujuh orang itu telah jatuh semua.

Siang-koan Kie menyaksikan orang2 yang jatuh di tanah itu, sedikitpun tidak mengeluarkan suara dari mulut, tetapi jiwanya sudah melayang semua, hingga diam2 terkejut.

Sementara itu telinganya mendengar suara Kun-liong Ong yang berkata: “Bagus sekali! Kau sudah menggunakan tangan kejam demikian rupa, maka jangan sesalkan kalau aku berlaku kejam juga.”

“Persaudaraan antara kita sudah putus, jikalau kau yakin bisa masuk ke dalam barisan batu ini, apa salahnya kau coba?” Menyahut Teng Soan dengan suara nyaring.

Kun-liong Ong agaknya naik darah oleh jawaban Teng Soan itu, ia berkata dengan suara bengis: “Orang lain takut senjata rahasiamu, tetapi aku tidak.”

Benar saja ia lalu bertindak menuju ke dalam barisan batu, tetapi ia berjalan lambat sekali, setiap langkah sangat hati2.

Siang-koan Kie mengerahkan kembali kekuatannya, berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Sianseng, harap masuk kedalan dulu, siaute hendak merintangi dia.”

“Jangan mengadu kekuatan dengannya, ilmu pedangmu, boleh kau gunakan untuk melawan," berkata Teng Soan dengan suara perlahan.

Siang-koan Kie menerima baik, pedangnya dilintangkan di atas dada ia sudah siap hendak menghadapi musuhnya.

Kun-liong Ong berjalan sampai dipinggir barisan batu, sejenak ia ragu2, kemudian berjalan masuk dengan tindakan lebar. Siang-koan Kie menggerakkan pedangnya, ia menyerang dari samping.

Mata Kun-liong Ong terbuka lebar, tetapi agaknya tidak melihat serangan pedang Siang-koan Kie itu, ketika pedang sudah hampir mengenai dirinya, ia baru mengelakkan, dengan tiba2 kakinya diangkat menendang pergelangan tangan Siang- koan Kie.

Siang-koan Kie mengelakkan tendangan itu, kemudian memutar lagi pedangnya menyarang tiga bagian jalan darah Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong terpaksa mengerahkan seluruh kekuatannya, dengan mengikuti bergeraknya sinar pedang Siang-koan Kie ia menjatuhkan diri di belakang.

Siang-koan Kie dengan cepat merobah gerak pedangnya, ujung pedangnya digunakan untuk menotok ke bawah.

Tiba2 merasakan hembusan sambaran angin, waktu pedangnya meluncur kebawah Kun-liong Ong ternyata sudah menghilang, hingga diam2 ia terkejut.

Kiranya Kun-liong Ong menjatuhkan diri kebelakang tadi, kemudian memutar dengan cepat di belakang diri Siang-koan Kie, setelah ia melompat bangun, ia balas menyerang Siang- koan Kie.

Ketika serangan Siang-koan Kie mengenai tempat kosong Kun-liong Ong sudah berhasil melepaskan diri dari rintangannya, dan terus menyerbu kepada Teng Soan.

Tepat pada saat itu, sebatang pecut lemas, menyerang kepada Kun-liong Ong.

Karena dalam barisan batu itu diliputi oleh asap tebal, maka Kun-liong Ong hanya menggunakan telinganya, ia dapat merasakan dan mengenal ada senjata menyerang dirinya, maka mengibaskan tangan kanannya, dengan berani menyambar pecut itu. Touw Thian Gouw terpcranjat menyaksikan keberanian Kun-liong Ong, dengan cepat menarik kembali pecutnya, balik menyerang jalan darah di bagian rusuk Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong memperdengarkan suara tartawa dingin, sekaligus berkelit sampai tiga kali untuk mengelakkan serangan pecut Touw Thian Gouw dan serangan pedang Siang-koan Kie dari samping, sedang kakinya melangkah maju tiga kaki.

Gerakan yang sangat aneh ini, bukan saja Siang-koan Kie belum pernah melihatnya, sekalipun Touw Thian Gouw yang sudah banyak pengetahuan, juga terkejut menyaksikan kepandaian itu ia merasa bahwa gerakan Kun-liong Ong mengelakkan diri dari serangan musuh, sangat aneh dan luar biasa gesitnya, merupakan suatu kepandaian yang belum pernah dilihatnya.

Pada saat itu, Teng Soan sudah mundur ketengah-tengah barisan batu, terpisah dengan Kun-liong Ong masih ada sejarak kira2 tiga empat tombak.

Waktu pertama masuk ke dalam barisan batu itu Kun-liong Ong barangkali masih dapat mengandalkan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna, samar2 dapat melihat benda di dalam asap tebal itu, tetapi setelah mengalami pertempuran itu. sepasang matanya agaknya sudah tidak tahan dengan asap putih itu, hingga air matanya mengalir keluar dan akhirnya sepasang matanya dipejamkan.

Berulang-ulang Siang-koan Kie menyerang dengan pedangnya, tetapi ia khawatir Kun-liong Ong melukai Teng Soan, maka ia sudah mempersiapkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya hendak memberikan pukulan dahsyat kepada musuhnya.

Touw Thian Gouw juga sudah bertindak, jikalau perlu ia akan merintangi Kun-liong Ong dengan sepenuh tenaga, supaya Kun-liong Ong tidak melukai Teng Soan. Tak disangka Kun-liong Ong mendadak menghentikan tindakannya.

Suasana di dalam barisan batu kembali sunyi senyap.

Hanya di luar barisan tampak berkelebatnya banyak bayangan orang berbaju hitam, yang masih mengurung barisan batu dengan senjata terhunus.

Tiba2 terdengar suara Kun-liong Ong: “Teng Soan, apa kau kira bahwa barisan batumu yang tidak berarti ini, benar2 dapat menyulitkan aku?”

Teng Soan matanya berputaran, memberi isyarat kepada orang2nya supaya jangan bersuara.

Kun-liong Ong tiba2 mengeluarkan suara bentakan keras, suara itu bagaikan bunyi geledek, sehingga seorang dari pada delapan bekas anak buah Kun-liong Ong, telah dikejutkan oleh suara itu dan mengeluarkan suara, menunjukkan terkejutnya.

Kun-liong Ong tiba-tiba mengayunkan tangannya, orang tadi seketika jatuh roboh sambil mengeluarkan suara jeritan ngeri.

Siang-koan Kie terkejut, ia heran atas terjadinya kejadian itu, entah kepandaian apa yang digunakan oleh Kun-liong Ong untuk membinasakan orang itu?

Kun-liong Ong menggerakkan pula tangan kanannya, kembali terdengar suara jeritan ngeri lagi seorang roboh binasa.

Siang-koan Kie yang melihat dengan tegas bahwa serangan Kun-liong Ong itu tidak manggunakan senjata rahasia, semakin terkejut, diam-diam ia mengerahkan kekuatan tenaganya, hendak mencoba kekuatan Kun-liong Ong.

Teng Soan tiba-tiba bergerak dan berkata kepada Kun-liong Ong: “Hebat sekali kepandaianmu ... ” “Sekalipan kau sudah banyak pengetahuan, barang kali juga belum mengenal kepandaian apa yang kugunakan ini," berkata Kun-liong Ong dingin.

“Bagaimana seandainya aku dapat menyebutkan ilmu kepandaianmu itu?" berkata Teng Soan sambil tertawa dingin.

“Aku akan segera menarik kembali pasukanku    ”

Kun-liong Ong berkata sampai di situ, tiba2 bungkem. “Suheng, malam ini aku sudah tidak bersedia pulang lagi,"

berkata Teng Soan dingin.

“Melepaskan harimau pulang ke kandang, hal seperti ini aku juga tidak akan melakukan kesalahan lagi ... " berkata Kun-liong Ong, "katakanlah, kalau benar kau dapat menyebutkan nama ilmu kepandaianku ini. Malam ini aku tidak akan menggunakan ilmu kepandaian ini untuk menghadapi orang2mu.”

“Sebagai seorang laki-laki, harus dapat menepati janji, baiklah aku percaya kepadamu ”

“Lekas sebutkan! Jikalau tidak benar, kau harap mencoba seranganku ini.”

“Tangan mencabut nyawa," berkata Teng Soan sambil tertawa terbahak-bahak.

Untuk sesaat Kun-liong Ong tertegun, “apa? Bagaimana kau tahu nama ilmu kepandaian ini?'

“Seorang cerdik pandai sekalipun tidak keluar pintu, juga mengetahui urusan dunia, dalam hal kepanduan ilmu silat, aku memang tak dapat menandingi suheng, tetapi dalam hal pengetahuan aku percaya jauh lebih luas dari pada suheng ...


“Juga belum tentu." Sekalipun ia bercakap-cakap dengan Teng Soan tetapi matanya masih belum bisa melihat, hanya dari suara Teng Soan itu dapat mengenali dimana letak Teng Soan sedang berdiri.

Terhadap Teng Soan, manusia buas dan kejam itu agaknya masih merasa sedikit jeri, meskipun ia sudah mengetahui di mana letaknya Teng Soan, tetapi ia tidak berani bertindak.

“Baku hantam antara saudara sendiri, kini sudah tidak dapat dihindarkan lagi, aku juga tidak akan segan2 lagi terhadapmu, tetapi dalam hatiku masih ada beberapa hal yang hingga kini masih belum memengerti, aku ingin menggunakan kesempatan ini untuk menanyakan kepadamu.

“Katakanlah!"

“Aku juga tidak akan bertanya cuma-cuma, asal kau menjawab satu pertanyaanku, aku juga akan menjawab pertanyaanmu."

“Itu sangat adil, tanyalah lebih dulu!"

“Kau membunuh mati suhu dan memperkosa Su-moy, perkara ini kenar ataukah bohong!"

Kun-hong Ong terkejut pikirnya diam-diam, jikalau aku mengaku, kejadian itu, itu berarti mengakui dosaku sendiri, urusan ini sekalipun. Sudah diketahui banyak orang, namun aku juga tidak boleh mengaku terus terang.

Oleh karena berpikir demikian, maka segera menjawab: “Kau selalu dapat menebak segala kejadian se-olah2 dewa, apa yang kau duga sudah tentu tidak bisa salah."

“Apakah kau tidak berani mengakui?" berkata Teng Soan dingin.

“Dugaanmu tidak salah, apa kau masih belum mengerti ...

?" berkata Kun-liong Ong, ”sekarang adalah giliranku untuk bertanya kepadamu." “Silahkan!”

“Aku dengar kabar katanya kau sudah mendekati ajalmu, entah bisa hidup berapa lama lagi? Apakah sudah tidak ada obat yang dapat menolong jiwamu?”

Teng Soan tercengang. "Tiada obat yang dapat menolong lagi, mengenai hidupku paling lama satu tahun paling sedikit setengah tahun."

“Kau selamanya tidak pernah membohong, ucapanmu ini sudah tentu tidak bisa salah lagi, haha, aku boleh menunggu satu tahun, setelah kau memengerti, aku ingin meninggal, aku boleh melanjutkan lagi usahaku untuk menguasai rimba persilatan.”

“Aku lihat ambisimu, barangkali belum merasa puas hanya dapat menguasai rimba persilatan saja.”

"Jikalau kau mau membantuku merebut kekuasaan pemerintah, kau akan mendapat kedudukkan penasehat negara atau kedudukan sebagai raja muda.”

“Siaute tidak mempunyai rejeki demikian besar untuk menerima kedudukan itu.”

Kun-liong Ong tertawa bergelak-gelak. “Semua orang gagah di dalam dunia, hanya kau dan aku yang terhitung sama kuatnya, sayang cita2 kita berlainan, sehingga tidak bisa saling membantu, satu hari kau masih hidup, aku benar2 percaya belum dapat mempersatukan dunia, sungguh tak disangka Tuhan agaknya sengaja membantu aku, sehingga kau mendapat penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi, hem, aku sudah menunggu beberapa puluh tahun, apa salahnya menunggu satu dua tahun lagi."

“Aku bertanya kepadamu, untuk membunuh seseorang, membutuhkan waktu berapa lama?" Untuk sesaat Kun-liong Ong tidak dapat menyelami maksu yang terkandung dalam pertanyaannya itu, maka lalu menjawab: “Hanya dalam waktu sekejap mata saja."

”Untuk membunuh seseorang, hanya memerlukan sekejap mata saja, apalagi aku masih bisa hidup setahun, barangkali sebelum cita-citamu yang besar itu tercapai kau sudah mati terlebih dahulu."

“Diantara kita berdua, dalam hal ilmu peperangan dan siasat pertempuran, mungkin aku masih kalah terhadapmu, tetapi jikalau aku menghindarkan diri tidak bertempur denganmu, rasanya kau juga tidak bisa melukai aku ... kau muncul di duma Kang-ouw sudah hampir sepuluh tahun lamanya, kecuali membangun kekuatan golongan pengemis, yang sudah hampir runtuh, apa kau dapat berbuat terhadapku? Selama sepuluh tahun ini, hasilmu tokh cuma begitu saja apalagi dalam waktu satu tahun yang amat singkat sekali.

“Itu karena disebabkan aku masih mengingat tali persaudaraan kita berdua, sehingga selama itu aku tidak ingin berlaku kejam terhadapmu."

“Dalam ilmu siasat meskipun aku kalah darimu tetapi dalam hal kepandaian ilmu silat di dalam dunia ini siapa yang dapat menandingi aku?"

“Cara membunuh jiwa manusia, banyak sekali macamnya, mengapa harus menggunakan pedang atau golok?"

Sejenak Kun-liong Ong terkejut, tetapi secepat kilat ia berkata. “Apa, apakah asap putih dalam barisan ini mengandung racun?.. " tiba2 ia tertawa terbahak2, “apabila dalam barisan batumu ini benar-benar ada racunnya, yang mati terlebih dahulu barangkali bukan aku."

“Dosamu yang membunuh mati gurumu sendiri, sudah tidak dapat diampuni, perbuatanmu yang menipu, memancing dan kemudian memperkosa Su-moy, sekalipun kau dihukum matipun, tak cukup untuk menebus dosamu, selewatnya hari ini, apabila bertemu muka lagi, itu berarti saat kematianmu." berkata Teng Soan dengan bengis.

“Aku sudah mengerahkan semua anak buahku yang terkuat, untuk menutup jalan mundur diempat penjuru, sekalipun di dalam barisan batumu ini ada mempunyai banyak sekali perobahannya, juga tidak ada gunanya, karena kau tetap akan terkurung disini sampai mati, tetapi jikalau kau mau damai dan menghentikan peperangan pertempuran denganku, apapun syaratnya yang kau minta, tidak akan kutolak.”

“Kebaikanmu aku hanya terima didalam hati, apa yang akan dapat kuberitahukan kepadamu sekarang, sejak hari ini, kau harus berlaku hati2 melindungi jiwamu.”

“Kalau begitu kau sudah bertekad hendak bermusuhan denganku."

Teng Soan lambat2 duduk di tanah, dan menghilang kedalam barisan batu, tidak memperdulikan ocehan Kun-liong Ong.

Manusia buas kejam yang berambisi besar itu meskipun sangat tinggi kepandaiannya, tetapi didalam barisan batu yang diliputi oleh kabut asap putih itu, tidak berdaya sama sekali untuk membuka kedua matanya.

Pada saat itu, Kun-liong Ong sudah memeriksa bekas anak buah Kun-liong Ong yang terbinasa ternyata tidak terdapat tanda2 bekas terserang senjata rahasia, hingga dalam hatinya merasa semakin terheran-heran.

Tak disangka Kun-liong Ong dalam waktu singkat, dengan satu ayunan tangan, dapat membinasakan seorang berkepandaian cukup tinggi dari jarak enam tujuh kaki jauhnya dan dalam keadan kurang terang pandangan matanya karena tertutup oleh asap putih, apa yang paling mengherankan ialah, serangannya itu sedikitpun tidak menimbulkan suara. Kepandaian dan kekejaman orang itu sesungguhnya sudah mencapai ketaraf yang tinggi sekali, apabila Teng Soan sudah tidak ada, tentunya ia sudah tidak ada orang lagi yang ditakuti lagi, dengan demikian perbuatannya pasti semakin men-jadi2 entah berapa banyak orang kuat dalam rimba persilatan yang akan terbinasa di tangannya?

’Alangkah baiknya, jikalau aku dapat menyingkirkan manusia itu ...’ demikian Siang-koan Kie berpikir.

Ia bertekad hendak bertempur mati2an dengan Kun-liong Ong, tetapi ia tahu bahwa kepandaiannya sendiri masih belum dapat menandingi kepandaian musuhnya, namun demikian ia coba mencari-cari banyak alasan untuk memperkuat keyakinannya …

Lambat2 ia mengangkat pedangnya, kemudian dengan tiba2 pedang itu digunakan untuk menikam Kun-liong Ong.

Serangannya itu dilakukan dengan tenaga sepenuhnya, hingga menimbulkan suara hembusan angin.

Kun-liong Ong yang telinganya dapat menangkap suara hembusan angin itu, dalam hatinya diam2 juga terkejut, dengan cepat dia melompat sambil menggeblakan badannya kebelakang dan terus melesat keluar dari dalam barisan.

Karena ia berlaku tergesa2 sehingga sudah lupa bahwa dirinya berada di dalam barisan batu, begitu kakinya menginjak batu2 kecil, badannya melesat miring.

Tetapi seseorang berkepandaian sangat tinggi, sebelum badannya tiba di tanah, tiba2 melompat bangun, di tengah udara ia mengelakkan pinggangnya dan melompat miring sejauh tiga kaki menghindarkan serangan pedang itu.

Meskipun ia dapat mengelakan serangan pedang Siang- koan Kie yang hebat itu tanpa melihat dengan matanya tetapi ia tidak dapat lolos dari batu2 yang dipasang oleh Teng Soan di dalam barisannya itu, seketika itu juga kakinya terpeleset dan jatuh ke tanah.

Touw Thian Gouw mendadak berseru : ”Orang ini kalau dibiarkan, pasti akan merupakan bencana besar untuk kemudian hari.”

Dengan cepat ia menyerang Kun-liong Ong dengan senjata pedangnya.

Kun-liong Ong sesungguhnya memang hebat, ia bertiarap tanpa bergerak, dengan menggunakan telinga ia dapat mengenali letak musuhnya, ia diam2 mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, dengan satu gerakan tangan ia menyambar pecut Touw Thian Gouw.

-o0dw0o-

Bab 82

TOUW THIAN GOUW terkejut, ia buru2 menarik kembali serangannya.

Tak disangka Kun-liong Ong telah mengikut gerakan pecut, lompat melesat ketengah udara sambil melepaskan pecut yang dipegangnya, ia melesat tinggi lagi, ditengah udara ia berjumpalitan beberapa kali, kemudian melayang turun keluar barisan.

Touw Thian Gouw menarik napas panjang: “Kepandaian orang ini, benar2 sangat mengagumkan.”

Siang-koan Kie dengan pedang ditangan hendak mengejar Kun-liong Ong di luar barisan batu.

Teng Soan menghela napas panjang, kemudian melarang Siang-koan Kie bertindak.

Siang-koan Kie melompat kesamping Teng Soan. Teng Soan lalu berkata kepadanya: “Dewasa ini kau masih belum mampu menandinginya, jikalau kau mengejar keluar, itu berarti kau mengantar jiwa dengan cuma-cuma."

“Meskipun siaute belum sanggup mengalahkannya, tetapi siaute telah bertekad hendak menempurnya." berkata Siang- koan Kie.

“Dewasa ini, tidak peduli siapa, yang bertempur dengan Kun-liong Ong, dalam hati dan pikirannya, sudah pasti timbul sedikit rasa takut, dalam suatu pertempuran, perasaan takut itu merupakan satu penghalang besar, terlalu hati2, juga berarti menurunkan kepandaian ilmu silatnya ... " berkata Teng Soan sambil menganggukkan kepala.

“Apa yang harus ditakuti?" berkata Siang-koan Kie heran. “Sebab Kun-Iiang Ong memiliki ilmu kepandaian sangat

luas, setiap kali mengeluarkan gerak tipu serangannya, diluar

dugaan musuhnya, serangan itu kadang2 dapat mempengaruhi lawannya, barang siapa yang dapat melawan dia, kebanyakan orang yang namanya sudah tidak kenal, jikalau memikirkan namanya yang didapat dengan mudah itu, apabila terluka atau terbinasa ditangan Kun-liong Ong, maka nama baiknya itu berarti akan ludes, dengan demikian itu, berarti mempengaruhi banyak sekali kepada kepandaiannya.

”Pendapat Sianseng ini, siaute benar2 terbuka pikiran ... “ “Tetapi kau merupakan perintang paling besar baginya

pada   dewasa   ini   meskipun   kepandaian   dan   kekuatan

tenagamu masih kalah setingkat dengannya, tetapi ambisimu dan hasratmu merupakan bekal sangat berguna bagimu, dan yang paling mengherankan adalah gerak tipu kepandaianmu, seolah2 ditujukan untuk mengalahkan kepandaiannya, ada yang lebih menguntungkan kepadamu, ialah kau ternyata juga mempelajari berbagai kepandaian yang sangat luas, apabila kau pupuk baik kepandaianmu, tidak susah bagimu nanti akan mengadu tenaga dengannya.” “Betapa jauh perbedaan kepandaian siaute kalau dibandingkan dengan Kun- long Ong, siaute sendiri tidak dapat menyamainya, tetapi dalam hati siaute sedikitpun tidak merasa takut kepadanya ini adalah sesungguhnya," berkata Siang-koait Kie.

”Justru karena kau tidak takut kepadanya, maka ia merasa sedikit takut kepadamu."

“Tentang ini siaute sendiri tidak tahu."

”Oleh karena itu pula, maka setiap saat ia ingin, membunuhnya ... ambisi Kun-liong Ong besar sekali bukan saja ingin menguasai rimba persilatan, tetapi juga ingin menjadi raja, aih! Seorang seperti dia itu, kalau tidak lekas disingkirkan, itu berarti menambah bencana bagi dunia.”

“Sianseng seorang bijaksana, semoga dapat membuang jauh2 perasaan pribadi, untuk menyingkirkan bahaya bagi rakyat.”

“Selama sepuluh tahun lebih, aku terus memikirkan hubungan persaudaraan kita, sehingga turun tangan kejam terhadapnya. aku selalu masih mengharap supaya dia bisa insaf, maka selama itu, seluruh pikiran dan tenagaku kucurahkan untuk memupuk kekuatan golongan pengemis dengan pengharapan dapat membangun suatu kekuatan yang sangat besar, dalam rimba persilatan supaya dapat digunakan untuk merintangi, maksudnya hendak menguasai rimba persilatan tak disangka cita2 dan maksud baikku itu, telah mengurangi, usiaku sepuluh tahun ... “

“Teng Sianseng, benarkah penyakitmu itu tidak dapat disembuhkan?"

“Benar.”

“Kau tokh sudah tahu dihinggapi penyakit berat mengapa tidak berusaha mencari obatnya?" “Obat hanya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang tidak membawa akibat kematian tetapi penyakit ini, sudah tidak ada obat yang dapat menyembuhkan lagi.”

“Penyakit bisa terjadi timbul disetiap waktu, apalagi penyakit sianseng yang berat itu dengan cara bagaimana pula sianseng mengetahui hanya dapat hidup dalam waktu satu tahun saja?”

"Kita ibaratkan saja kegaiban alam, bagi orang yang sudah paham benar tentang ilmu alam, rontoknya sehelai daun pohon, dapat mengetahui musim kemarau akan tiba, begaitupun dengan aku yang mempunyai banyak sekali pengetahuan tentang ilmu tabib, aku merasakan penyakit apa dalam tubuhku, aku telah menghitung-hitung bahwa diriku paling lama tinggal satu tahun, sedikitnya setengah tahun.

“Kecerdikan dan kepandaian Kun-lioug Ong, dalam dunia ini tidak ada tandingannya, tetapi ia hanya takut kepada sianseng seorang saja, apabila sianseng tidak beruntung dan benar-benar meninggalkan duma ini maka sudah tidak ada orang lain lagi yang dapat menundukkannya.”

“Mengapi Kun-liong Ong mempuniai kecerdikan dan kepandaian melebihi manusia biasa tetapi dalam rimba persilatan dewasa ini bukannya sudah tidak ada orang yang tidak dapat mengalahkannya, dan orang2 ini semua ada hubungan sangat erat dengannya ... ” berkata Teng Soan sambil tertawa, sikapnya mendadak dirobah sungguh2.

Lambat2 berkata pula : “Saudara Siang-koan, jikalau kau rela hati mengurbankan kepentinganmu, pribadi, ingat kepentingan kepentingan banyak jiwa manusia, masing- masing mencurahkan kepandaian sendiri-sendiri, tidak susah untuk membinasakan Kun-liong Ong, tetapi jikalau kau tidak rela, akibatnya akan membahayakan rencanaku yang besar ini

... ” Siang-koan Kie tertegun, dengan ter-heran2 ia berkata. “Sianseng kau menilai diriku terlalu tinggi, kepintaranku tidak ada seujung kuku sianseng, sedang kepandaian ilmu silatku belum dapat menandingi Kun-liong Ong, hal ini ... "

Teng Soan tiba-tiba menjura dan berkata : ”Tidak demikian

... "

Siang-koan Kie buru2 melemparkan pedangnya untuk membalas hormat, kemudian berkata. “Sianseng, apakah artinya ini? Bukankah ini akan memberatkan siaute?"

“Suka duka saudara Siang-koan justru bertahan dengan bencana yang akan terjadi di rimba persilatan, apabila saudara Siang-koan tidak dapat memikirkan kepentingan seluruh rimba persilatan, dan hanya mengingat kepentingan sendiri, maka celakalah nasib seluruh rimba persilatan.'

“Sianseng, perkataanmu semakin lama semakin membingungkan aku.”

“Dalam hal ini, sesungguhnya sangat aneh … " berkata Teng Soan sambil menghela napas, tiba-tiba menatap wajah Siang-koan Kie, dan berkata pula dengan lambat-lambat, “Saudara Siang-koan Kie, ada suatu permintaan yang mungkin tidak patut, sudikah kiranya saudara suka terima baik permintaan ku ini?”

“Katakanlah, sekalipun suruh aku terjun kelautan api, siaute juga tidak akan menolak.”

“Kita telah sama-sama menderita, hal ini merupakan suatu kejadian yang susah ditemukan didalam dunia."

“Siaute merasa sangat beruntung, dapat mengikuti sianseng ... “

“Aku sudah tidak mempunyai ayah bunda, juga tidak mempunyai anak dan istri, seorang diri aku mengembara kematianku meskipun tidak ada yang dibuat pikiran, tetapi sedikit banyak menimbulkan perasaan sunyi dalam hati bagi seorang sebatang kara seperti aku ini.”

“Tentang ini ... ”

“Oleh karena itu, aku ingin mengangkat saudara denganmu ... ”

Siang-koan Kie tercengang, “Tentang ini bagaimana siaute sanggup menerima?”

“Saudara Siang-koan Kie, apabila kau sudi marilah kita melakukan upacara angkat saudara dengan sederhana di dalam barisan batu ini."

“Budi kecintaan sianseng ini, bagaimana siaute dapat membalasnya.”

Teng Soan mencari tiga batang ranting kering, ditancapkan di tanah, kemudian berlutut bersama-sama Siang-koan Kie.

Mereka menyebutkan usia masing-masing, setelah itu melakukan upacara angkat saudara, Teng Soan yang lebih tua sembilan belas tahun, sudah tentu menjadi saudara tuanya.

Touw Thian Gouw menyaksikan kejadian ini diam2 mengagumi tindakan Teng Soan. Karena siang-koan Kie meskipun menghormati Teng Soan tetapi itu hanya menghormati kepintarannya, meskipun ia mau dengar perkataan Teng Soan, tetapi dengan adanya ikatan tali persaudaraan itu, Teng Soan tidak perlu ragu-ragu lagi, ia dapat mengatakan apa saja yang pasti akan diturut oleh Siang-koan Kie untuk selamanya.

Setelah upacara selesai, Teng Soan nampaknya sangat gembira, ia berkata sambil tertawa: “Aku yang menjadi saudara tua ini tidak mempunyai barang apa2 untuk hadiah adiknya, apabila kita berhasil bisa terhindar dari kesusahan hari ini, saudaramu ini pasti akan menggunakan sebahagian besar waktunya untuk mewariskan apa yang aku pelajari untukmu." “Kecerdasan siaute barangkali tidak sanggup menerima pelajaran toako, sehingga mengecewakan harapan toako."

“Kepintaranmu tidak di bawah Kun-liong Ong, aku hanya khawatir, karena waktunya sangat terbatas barangkali tidak dapat mengajarkan kepadamu dengan teliti, tetap asal kau dapat memahami intinya dan kemudian hari kau pelajari sendiri, sendiri suatu hari kelak kau akan dapat menjatuhkan Kun-liong Ong."

“Kecintaan toako, siaute sangat berterima kasih.”

”Kita sudah menjadi saudara, selanjutnya tidak usah terlalu merendahkan diri."

Sementara itu, dari luar barisan batu tiba2 terdengar suara Kun-liong Ong: “Di tanah datar hari itu kau telah membakar orang2ku, sehingga rencanaku telah gagal, hari ini, aku hendak membalas dengan api dari langit untuk kau.”

Siang-koan Kie yang sementara itu tujukan pandangan mata keluar barisan, nampak banyak bayangan orang sedang bergerak mengumpulkan kayu kering di luar barisan batu, hingga seketika itu sangat terkejut, buru2 mengambil pedangnya serta berkata:

“Kun-liong Ong terlalu kejam, ia ingin membakar kita hidup2 di tempat ini, biarlah siaute keluar untuk bertempur dengannya."

“Sekarang ini kau masih belum dapat menandinginya, tidak boleh mengadu kekuatan dengannya.”

“Jikalau api itu berkobar bukankah kita akan terbakar hidup2 ditempat ini, dari pada duduk menunggu kematian lebih baik kita melawan.

Teng Soan berpikir sejerak, lalu berkata : “Jikalau kau ingin melawannya, bukannya tidak boleh, tetapi satu hal kau harus dengar kata2ku, apabila kau nanti mendengar suara panggilanku kau harus segera balik ke dalam barisan." “Siaute menurut.”

"Setelah itu Siang-koan Kie melompat keluar dan menantang Kun-liong Ong, dengan menyebut namanya saja.

Sikap menantang sambil melintangkan pedang dan memanggil nama Kun-liong Ong, selama beberapa puluh tahun ini, Siang-koan Kie merupakan orang yang pertama berani berbuat demikian terhadap Kun-liong Ong, sehingga mengejutkan anak buah Kun-liong Ong yang berada di situ. Sejenak kemudian baru terdengar suara bentakan salah seorang anak buah Kun-liong Ong : “Bocah, apa kau bosan hidup!”

Kun-liong Ong mengulapkan tangannya, mencegah anak buahnya itu bertindak, dengan tindakan lambat2 ia menghampiri siang-koan Kie dan berkata dengan suara dingin

: “Kau mau apa?”

”Aku hendak bertempur denganmu tiga ratus tiga ratus jurus saja," menjawab Siang-koan Kie sambil melambaikan pedangnya.

“Jikalau kau mampu melawan lima jurus dibawah tanganku aku akan memberikan satu jalan hidup bagimu," berkata Kun- liong Ong sambil tertawa dingin.

Siang-koan Kie tahu bahwa kepandaian lawannya itu jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri, bertempur satu lawan satu dengan orang kuat ini, bukan saja tidak boleh berlaku gegabah tetapi harus mengerahkan seluruh kepandaian dan pikiran, tidak boleh gugup atau cemas.

Dengan pedang dilintangkan di depan dadanya matanya ditujukan ke ujung pedang untuk memusatkan pikirannya.

Kun-liong Ong yang menyaksikan sikap pemuda itu, diam2 terkejut, karena sikap itu adalah sikap pembukaan dari ilmu pedang tertinggi golongan Bu-tong-pay, ia merasa heran mengapa pemuda itu dapat memahami ilmu pedang itu. Pikirannya itu hanya sekejap saja terlintas dalam otaknya, dengan cepat segera menyerbu dan melancarkan satu serangan.

Siang-koan Kie menggerakkan pedangnya, denga satu gerak tipu yang luar biasa menyerang lengan kiri Kun-liong Ong yang digunakan untuk melindungi dadanya, kemudian orangnya memutar mengikuti gerakan pedang, untuk menghindari serangan Kun-liong Ong.

Perobahan gerak tipu itu, ternyata bukan gerak tipu Bu- tong-pay.

Karena perubahan itu di luar dugaan, maka serangan pedang itu hampir menotok jalan darah lengan Kun-liong Ong.

Manusia buas itu menggeram, badannya terlompat mundur, tetapi dengan cepat sudah maju lagi dan melancarkan serangan dengan kedua tangaannya, untuk menahan pedang Siang-koan Kie sedang tangan kanannya menyerang dada Siang-koan Kie dengan gerak tipunya yang aneh.

Siang-koan Kie telah merasakan bahwa pedang di tangan kanannya seperti tersedot oleh semacan kekuatan tenaga yang sangat besar, sehingga tidak dapat digunakan dengan leluasa, juga tidak berdaya untuk serangan hebat lawannya, dalam kagetnya, ia terpaksa mundur.

Dengan susah payah ia baru berhasil mengelakan serangan Kun-liong Ong yang hebat itu, kemudian mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, untuk melakukan serangan pembalasan.

Serangan pembalasan itu telah berhasil menahan serangan Kun-liong Ong, bahkan sudah berhasil mendesak mundur lawannya.

Touw Thian Gouw waktu itu sudah berada di pinggir barisan batu, sudah siap siaga untuk memberi pertolongan apabila Siang-koan Kie terancam bahaya, ketika menyaksikan serangan pembalasan Siang-koan Kie itu, diam2 memuji hebatnya ilmu pedang pemuda itu.

Kun-liong Ong agaknya dapat merasakan bahwa ilmu pedangnya Siang-koan Kie itu, dalam gerak tipunya yang aneh itu mengandung kekuatan tenaga yang sangar hebat, yang mengherankan adalah gerak tipu ilmu pedang itu rupanya ditujukan kepada ilmu kepandaiannya sendiri, hingga dalam hati rasa terheran-heran.

Tetapi sebagai seorang yang kejam dan banyak akalnya, setelah merasakan gerak tipu Siang-koan Kie yaug aneh itu, ia tidak berani mendesak, kedua tangannya sengaja dilambatkan, untuk memancing Siang-koan Kie melakukan serangan, dengan demikian hingga ia dapat memperhatikan gerakan Siang-koan Kie.

Dua orang itu bertempur sepuluh jurus lebih, Kun-liong Ong mulai dapat memahami gerak tipu Siang-koan Kie, benar saja merupakan gerak tipu yang ditujukan untuk mematahkan kepandaiannya.

Kun-liong Ong dengan kecerdasannya yang luar biasa, sehingga dapat mempelajari rupa-rupa ilmu silat dari berbagai golongan, kemudian dikumpulkan dan menyiptakan sendiri suatu ilmu serangan tangan dan ilmu serangan pedang, ilmu kepandaiannya itu, selain digunakan untuk melakukan serangan, juga dapat digunakan untuk melindungi diri. Segala perobahannya yang susah diduga, tetapi Kun-liong Ong yang pernah menganggap dirinya sebagai seorang kuat tanpa tandingan, tak disangka bahwa kepandaian Siang-koan Kie itu, justru ditujukan untuk mematahkan kepandaiannya, Siang- koan Kie yang berulang2 berhasil menahan serangan Kun- liong Ong, keberaniannya semakin bertambah, gerak tipu yang aneh2 dengan beruntun dikeluarkan, sehingga Kun-liong Ong terpaksa makin mundur.

Kun-liong Ong diam2 berpikir, gerak tipu ilmu pedang bocah ini sangat aneh, agaknya memang sengaja diciptakan untuk menandingi dirinya hari ini apabila aku tidak dapat menyingkirkan dirinya, di kemudian hari pasti menjadi musuhku yang paling berbahaya.

Dengan demikian maka tekadnya hendak membunuh Siang-koan Kie semakin keras, serangannya tiba-tiba berobah dengan menggunakan dua rupa kekuatan yang sangat berlainan, untuk menyerang musuhnya.

Siang-koan Kie yang menyaksikan Kun-liong Ong dapat menggunakan dua rupa kepandaian yang sangat berlainan, diam2 merasa kagum, ia segera merobah ilmu pedangnya, kini ia menggunakan ilmu pedang Thay-khek Hui-kiam.

Ilmu pedang yang sangat ampuh dan sangat aneh gerakannya itu, karena perobahan gerak tipunya yang luar biasa dan aneh2, kadang2 memusingkan lawannya, tetapi Siang-koan Kie yang baru pertama menggunakan, harus menghadapi musuh kuat, sudah tentu belum dapat menperkembangkan seluruh gerak tipunya dengan baik.

Dengan cepat kedua orang itu sudah bertempur empat puluh jurus lagi.

Kun-liong Ong sangat gelisah, ia diam2 telah berpikir, ”apabila hari itu tidak dapat menangkan bocah ini, maka nama baiknya yang selama itu sangat ditakuti oleh lawannya, mungkin akan ludes ditangan musuhnya yang masih muda belia itu.”

Oleh karena itu, gerak tipu serangannya berulang kali berubah dalam waktu sangat singkat, ia telah merubah gerak tipu serangannya sampai dua belas macam yang satu sama lain jauh berlainan.

Sebaliknya dengan Siang-koan Kie, ia dengan tekun menggunakan ilmu pedangnya, betapapun hebatnya serangan Kun-liong Ong, selalu tidak berhasil menembus gerakan pedang Siang-koan Kie yang sangat rapat. Setelah pertempuran berlangsung limabelas jurus lagi, Kun- liong Ong mulai berkobar hawa amarahnya, dengan tiba2 ia mundur tiga langkah, kemudian melancarkan dua kali serangan.

Siang-koan Kie tahu bahwa kekuatan tenaga Kun-liong Ong hebat sekali, tidak dapat dilawan dengan kekerasan, tetapi karena serangan itu sudah mengancam dirinya, jikalau ia tidak menyambut dengan kekerasan, terpaksa melompat mundur ke dalam barisan.

Karena ia merasa ragu2, serangan hebat musuhnya telah mengancam lebih dekat.

Keadaan telah memaksa, Siang-koan Kie sudah tidak mendapat kesempatan mundur lagi, terpaksa ia menangkis dengan tangan kiri, dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam sepenuhnya.

Dua macam kekuatan tenaga dalam yang tidak nampak saling beradu, Siang-koan Kie tiba2 merasakan tergoncang hatinya, tanpa dirasa sudah mundur tiga langkah.

Kekuatan tenaga hebat yang mendorong mundur Siang- koan Kie, telah menimbulkan perasaan penasaran anak muda itu, diam2 memusatkan kekuatan tenaganya, melancarkan satu serangan.

Kun-liong Ong tersenyum, tangannya bergerak menyambut serangan Siang-koan Kie.

Ketika kedua kekuatan saling beradu, Siarg-koan Kie tidak dapat menguasai dirinya lagi, telah mundur dua langkah, tiba2 terdengar suara Teng Soan: “Saudara, lekas mundur ke dalam barisan, jangan terjebak oleh akal busuknya hendak memancing kau.”

Siang-koan Kie ketika mendengar seruan Teng Soan itu, segera memutar tubuhnya, dan lari ke dalam barisan batu. “Bocah, jikalau kau sanggup menyambut seranganku lagi, aku akan segera tarik kembali pasukanku dan memberi jalan hidup bagi kalian ... " berkata Kun-liong Ong gusar, kemudian melancarkan serangan ke dalam barisan.

Siang-koan Kie yang teringat janjinya dengan Teng Soan, tidak mau menyambuti serangan Kun-liong Ong itu.

Serangan Kun-liong Ong yang hebat itu, telah menimbulkan hembusan angin hebat, sehingga kabut asap putih yang meliputi barisan tertiup sebagian.

Manusia buas itu agaknya sudah mendapat firasat bahwa pemuda gagah itu akan merupakan musuhnya terkuat di kemudian hari, apabila tidak lekas disingkirkan, pasti akan meninggalkan satu bencana dikemudian hari, maka ia telah berkeputusan hendak membinasakan Siang-koan Kie dengan membarengi serangannya tadi, orangnya sudah menyerbu ke dalam barisan lagi.

Siang-koan Kie ketika melompat masuk ke dalam barisan segera dikejar oleh Kun-liong Ong.

Teng Soan tiba2 membentak dengan nada suara dingin : “Coba kau sambut kipasku ini.”

Kipasnya segera bergerak, menotok ke arah Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong yang terkenal buas dan kekuatannya, selamanya tidak pandang mata kepada siapa-pun juga. Hanya terhadap Teng Soan ia merasa takut sekali, ketika mendengar suara bentakan Teng Soan, segera melompat keluar lagi dari dalam barisan.

Asap putih yang meliputi tempat barisan batu itu, seperti kabut di pagi hari, tebal dan tidak membuyar, setelah tertembus oleh serangan tangan Kun-liong Ong hanya sekejap saja nampak buyar, tetapi dengan cepat sudah pulih kembali.

Dari jauh terdengar suara Kun-liong Ong yang telah murka

: “Lekas bakar.” Sebentar kemudian, dari berbagai penjuru nampak berkobarnya api, hawa panas menyerbu ke dalam barisan batu.

Touw Thian Gouw dan orang2 bekas anak buah Kun-liong Ong, dengan berlindung di bawah asap tebal, lari ke pinggir barisan untuk menahan meluasnya api.

Dengan tiba2 sinar api sudah menyerbu ke dalam barisan.

Ketika itu, obor api yang banyak sekali jumlahnya sudah mulai menyerbu ke dalam barisan. Obor api itu dilemparkan dari berbagai penjuru ke dalam barisan batu, sehingga merepotkan Siang-koan Kie, ada beberapa puluh batang obor api, telah terjatuh ke dalam barisan, sehingga menimbulkan kebakaran.

Obor itu ternyata terbuat dari kayu dan rumput kering yang direndam dalam minyak sehingga mudah terbakar, kalau sudah berobah, tidak gampang padam.

Dalam barisan batu yang diliputi oleh asap tebal itu, kini nampak api berkobar.

Touw Thian Gouw menggerakkan pecutnya, dua batang obor tergulung oleh pecut dan dilempar keluar, tetapi karena jumlah obor terlalu banyak, hingga ia merasa kewalahan.

Didalam kabut asap itu, tiba2 tampak sinar berkilauan, setelah itu lalu disusul oleh hujan anak panah yang ditujukan ke dalam barisan batu itu.

Touw Thian Gouw dengan menggunakan pecutnya menghalau serangan anak panah itu, sedangkan Siang-koan Kie dengan cepat mundur dua langkah, melindungi Teng Soan, pedang yang diputar sedemikian rupa, sehingga anak panah itu tidak berdaya menembusi sinar pedang.

Sebentar kemudian, bebeapa puluh batang obor dilemparkan lagi ke dalam barisan batu. Dalam keadaan demikian, tiba2 terdengar suara tertawa Kun-liong Ong, yang kemudian disusul oleh kata2nya : “Teng Soan, ini adalah kesempatan yang terakhir, jikalau kau masih tetap membandel, asal aku mengeluarkan perintah, dalamn waktu sekejap mata saja, kau segera terbakar hidup2 bersama orang2mu yang ada didalam barisan batu."

Siang-koan Kie mengawasi keadaan di sekitar sejenak, ia tahu bahwa apa yang diucapkan dari manusia buas itu memang benar, maka ia segera berkata : “Toako, ucapan Kun-liong Ong benar, apabila kita tetap bertahan didalam barisan batu ini sudah tentu akan terbakar hidup2, sebaliknya kita menerjang keluar, mengadu jiwa dengan mereka, mungkin dapat membuka jalan keluar.”

Diwajah Teng Soan yang selama tenang, juga menunjukkan tanda agak cemas, memang benar, Kun-liong Ong mungkin dapat membakar dirinya hidup2, jelaslah sudah bahwa perkembangan selanjutnya sesungguhnya diluar dugaannya.

“Kita berada di dalam barisan batu ini, memang ada kemungkinan akan terbakar hidup2 tetapi apabila kita melangkah keluar setapak saja, kematian kita barangkali lebih menyedihkan … " berkata Teng Soan sambil menghela napas.

Di wajahnya yang murung, tiba2 terlintas satu senyuman getir kemudian ia berkata pula : “Akan tetapi, apa itu juga mungkin akan mendatangkan bala bantuan dari golongan pengemis."

Sementara itu terdengar pula suara Kun-liong Opng : “Sekarang aku akan menabuh tambur sebagai tanda, jikalau tambur sudah berbunyi tigakali kau masih belum keluar untuk menyerah aku akan segera membakar barisan batumu itu."

Benar saja ketika itu terdengar bunyi suara tambur.

Siang-koan Kie, TouwThian Gouw dan delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong, semua berada dalam ketegangan. Sebab sebagian besar tempat itu. sudah terbakar oleh api obor asal Kun-long Ong melempar api lagi, semua orang yang ada di dalam barisan, mau tidak mau hampir tidak bisa keluar dari dalam barisan itu ....

Sementara itu terdengar pula bunyi tambur.

Siang-koan Kie berkata sambil mengacungkan pedangnya: “Barisan batu ini tidak seberapa luas, apabila dibiarkan orang2 Kun-liong Ong melemparkan api dalam waktu sangat singkat, tempat ini pasti aka menjadi lautan api, tetapi apabila kita masing2 berpijak disuatu tempat menahan api yang dilemparkan masuk itu, meskipun belum tentu dapat menahan semuanya, tetapi setidak2nya dapat menghambat waktu berkobarnya api.”

Sebelum ada orang yang menjawab, suara tambur yang ketiga kalinya telah terdengar.

Baru saja suara tambur itu sirap, di luar barisan terdengar suara orang berteriak, api obor berhamburan dilemparkan ke dalam barisan.

Siang-koan Kie memutar pedangnya, menghalau obor yang berterbangan di dalam barisan, dalam keadaan sibuk itu ia minta kepada Teng Soan supaya sembunyi di bawah tumpukan batu.

Teng Soan berkata sambil tersenyum: “Saudara, legakanlah hatimu, toakomu sudah tentu dapat melindungi diri sendiri.”

Pada saat itu, dalam barisan batu itu sudah penuh dengan api obor, sebagian besar sudah terbakar.

Dengan berkobarnya api itu, hingga asap tebal itu tidak dapat menutupi Siang-koan Kie dan lain2nya, benda2 dalam barisan mulai tertampak nyata.

Dalam keadaan demikian, serangan anak panah, laksana hujan yang ditujukan kedalam barisan. Di bawah hujan anak panah, dua orang bekas anak buah Kun-liong Ong roboh binasa dan kemdian badannya terbakar.

Karena obor yang dilemparkan ke dalam barisan batu kian lama semakin banyak, sehingga api berkobar semakin besar, seluruh barisan sudah terkurung oleh api.

Siang-koan Kie sudah memutar pedangnya untuk menyampok api dan anak panah yang meluncur berhamburan, meskipun ia gagal tetapi dengan sendiri bagaimana dapat menahan menjalarnya api yang demikian pesat?

Kembali terdengar suara jeritan orang, bekas anak buah Kun-liong Ong, kembali terbinasa dua orang. Dengan demikian, hingga sisa tinggal empat orang yang masih hidup, dibantu dengan Touw Thian Gouw, dengan payah sekali berusaha membasmi api itu.

Diluar barisan terdengar pula suaranya Kun-liong Ong : “Teng Sute, ini adalah kesempatan yang terakhir bagimu, jikalau kau menerima baik permintaanku, untuk bekerja sama2 membangun rimba persilatan, sudah tentu mudah sekali, begitupun untuk menggulingkan pemerintah juga tidak sulit, tetapi bila kau tidak mau dengar nasehatku terakhir ini, kau akan terkubur dalam lautan api."

Siang-koan Kie yang menyaksikan api itu sudah menjalar sangat luas, sehingga sudah tidak ada tempat untuk berpijak, apabila keadaan demikian itu berlangsung terus, akibitnya sudah tentu seperti apa yang dikatakan oleh Kun-liong Ong. akan terbakar hidup2 didalam barisan, maka ia lalu berkata : “Teng toako, Touw toako, barisan batu ini sudah menjadi lautan api, kita tidak dapat pertahankan lagi, bagaimana kalau kita menerjang keluar saja?"

Pada saat itu, hanya tempat dimana Teng Soan berdiam, yang hanya seluas kira-kira setengah meter persegi, masih belum terbakar, ini disebabkan karena lindungan Siang-koan Kie, sehingga semua api yarg jatuh di tempat itu dapat dipadamkan oleh pemuda itu, kedua karena Touw Thian Gouw dan lain-lainnya, semua memusatkan perhatiannya kepada keselamatan Teng Soan, sehingga mereka menyapu bersih semua api yang dekat ditempat itu tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.

Pada saat itu, Teng Soan telah mengeluarkan obat untuk menyadarkan Kim Goan Pa.

Orang gagah luar biasa ini, ketika membuka matanya, seketika menjadi bingung. Teng Soan berkata dengan suara perlahan: “Kim-liong Ong hendak membakar kita hidup2, sekarang kita sudah terkurung oleh api karena aku tidak tega melihat kau mengalami nasib seperti kita … “

Kim Goan Pa menyambar senjata ruyungnya yang berada di sampingnya, ia merasakan panas sekali, hingga hampir terlepas lagi dari tangannya.

Pada saat itu, dua batang anak panah menyambar dan mengenakan kopiah di atas kepalanya.

Teng Soan berkata pula: “Kau lekas berlalu dari sini, kalau kau berlaku ayal2an nanti akan terlambat.”

Kim Goan Pa menyaksikan di sekitarnya sudah terkurung oleh api, orang-orang yang berada di dalam barisan api, semua repot berusaha memadamkan api, ia tidak mau tinggal diam, ruyungnya digunakan untuk membantu mereka memadamkan api.

Kim Goan Pa seorang jujur, waktu Teng Soan menyadarkan dia dan memberikan obat pemunah racun, pikiranriya jernih kembali, sebagai seorang gagah yang berhati jujur, ia merasa berutang budi kepada Teng Soan, maka sekalipun Teng Soan menyuruh dia melarikan diri menyingkirkan diri dari bahaya, tetapi sebaliknya ia malah membantu Toaw Thian Gouw dan lain-lainnya memadamkan api. Tiba-tiba anak panah menyambar ke arahnya, Siang-koan Kie yang menyaksikan itu lalu buru2 berseru: “Awas anak panah!”

Kim Goan Pa yang bertubuh tinggi besar, ketika mendengar seruan Siang-koan Kie, sudah tidak keburu menyingkir, hingga empat batang anak panah mengenakan dirinya. Tetapi ia rupa-rupanya berkulit badak, apalagi empat batang anak panah itu tidak mengenakan tempat berbahaya, sebagi seorang yang berangasan, empat batang anak panah itu tambah menimbulkan kemurkaannya, maka bagaikan seorang kalap, ia menerjang keluar sambil memutar senjatanya.

Siang-koan Kie terbangun lagi semangatnya, setelah minta Touw Thian Gouw melindungi Teng Soan ia melompat keluar sambil memutar pedangnya, mengikuti jejak Kim Goan Pa.

Pada saat itu, serombongan pengawal baju hitam, justru menyerbu ke dalam barisan. Tidak ampun lagi, Kim Goan Pa lalu menyapu dengan ruyungnya.

Ia mempunyai tenaga sangat kuat, apalagi pengawal baju hitam itu semua tahu bahwa Kim Goan Pa adalah orang sendiri, hingga meteka tidak menduga akan diserang, maka ruyungnya itu sudah minta banyak korban dari pengawal baju hitam.

Kim Goan Pa yang sudah seperti banteng ketaton. ia mengamuk demikian rupa, hingga tidak sedikit orang yang binasa di bawah ruyungnya.

Tiba2 terdengar suara orang membentak dengan nada sangat dingin: “Kalian mundur.”

Seorang tua kurus kering berpakaian hitam, telah muncul dari antara orang banyak itu kemudian berkata dengan suara bengis: “Kim Goan Pa, apa kau sudah gila? Lekas letakkan senjatamu untuk menerima hukuman.” Orang tua itu meskipun kurus kering, tetapi suaranya bagaikan geledek.

Kim Goan Pa tercengang, orang tua itu tiba-tiba melancarkan serangannya.

Siang-koan kie yang menyaksikan perbuatan itu, segera membentak dengan suara gusar.

“Bangsat tua, kau sungguh tidak tahu malu.”

Dengan cepat ia mengangkat tangannya menyambut serangan orang tua itu.

Kedua kekuatan mereka saling beradu, lalu menimbulkan suara menderu, hingga batu-batu pada beterbangan.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara siulan panjang, Siang-koan Kie semangatnya terbangun seketika, ia lalu berseru kepada Touw Thian Gouw: “Touw toako, bala bantuan kita telah tiba, harap dijaga baik2 diri Teng toako ... ”

Sementara itu dua belas pasukan berkuda dan serombongan barisan pengawal baju hitam, telah menyerbu barisan batu dari beberapa jurusan.

Kini keadaan telah mendesak hingga Touw Thian Gouw melepaskan usahanya memadamkan api, lalu balik menghadapi musuh.

Siang-koan Kie yang mengingat keselamatan Teng Soan, melompat balik lagi kedalam barisan, pedangnya bergerak tiga kali, dua orang berbaju hitam telah roboh binasa.

Jumlah anak buah Kun-liong Ong terlalu banyak, Siang- koan Kie meskipun gagah, juga tidak berhasil membinasakan semua musuhnya, maka akhirnya ia terkurung rapat.

Pada saat itu Touw Thian Gouw bersama empat orang bekas anak buah Kun-liong Ong berusaha keras melindungi Teng Soan, apa mau dua dari empat orang itu terluka parah dan roboh, hingga orang-orang yang melindungi Teng Soan, kekuatannya banyak berkurang begitupun api yang membakar tempat itu juga mulai menjalar lagi.

Seorang pasukan berkuda tiba2 menyerbu dan menikam Teng Soan dengan tombak panjangnya.

-odwo-

Bab 83

TOUW THIAN GOUW dengan tenaga sepenuhnya menahan serangan tombak pasukan berkuda itu.

Karena ia harus meghadapi banyak musuh, meskipun ia berhasil menggagalkan serangan pasukan berkuda tadi, tetapi lengan tangan kirinya sendiri terkena bacokan golok musuhnya.

Sebagai seorang Kang-ouw ulung, sekalipun dalam keadaan demikian berbahaya, sedikitpun tidak panik, dengan menahan rasa sakitnya, kakinya bergerak menendang orang yang menyerang dirinya, tidak ampun lagi orang itu terjatuh di dalam api.

Tiba2 terdengar suara Teng Soan: “Saudara Touw, hiante, kalian boleh menerjang keluar jangan hiraukan aku lagi.”

Dengan cepat ia pentang kipasnya, dua orang berbaju hitam yang berada dekat dengannya telah roboh binasa tanpa mengeluarkan suara.

Siang-koan Kie mengamuk benar2, setiap kali pedangnya bergerak, selalu meminta korban. Tetapi anak buah Kun-liong Ong itu semua agaknya tidak takut mati, setiap kali roboh seorang, dua orang segera maju lagi, dengan demikian hingga Siang-koan Kie repot sekali menghadapi musuh-musuhnya itu.

Keadaan Teng Soan semakin berbahaya, Touw Thian Gouw yang bertempur dalam keadaan luka hampir tidak sanggup lagi menghadapi musuh2nya, sisa dua orang. Lekas anak buah Kun-liong Ong, satu diantaranya binasa, musuh sisanya yang terakhir juga sudah roboh dalam keadaan terluka parah.

Teng Soan menghela napas, dari dalam sakunya ia mengambil sebutir pel, lambat2 dimasukan kedalam mulutnya, setelah itu ia mengangkat kipasnya ditujukan kepada dua pasukan berkuda yang hendak menyerang dirinya, dua buah jarum beracun yang sangat halus melesat keluar dari kipasnya, dan dua pasukan berkuda itu telah roboh binasa tanpa mengeluarkan suara.

Dengan tenang Teng Soan membersihkan pakaiannya, kemudian duduk lagi di tanah, asal ia menggigit pel yang berada dalam mulutnya, seketika itu juga jiwanya akan melayang, ia telah mengambil keputusan untuk menghabiskan jiwanya sendiri, karena ia tidak mau tertangkap hidup2 oleh Kun-liong Ong.

Teng Soan yang selalu ber-hati2 dan tak pernah gagal dengan rencananya, agaknya telah mengetahui bahwa rencananya ini akan gagal, andaikata ia mau dengar nasihat Siang-koan Kie, meninggalkan tempat itu diwaktu gelap, mungkin dapat menemukan jalan hidup, tetapi ia terlalu percaya kepada kepintarannya sendiri, dan kini terpaksa akan mangakhiri jiwanya sendiri dengan menelan pel beracun ...

Dalam saat yang sangat keritis itu, mendadak ia menyaksikan bahwa pasukan pengawal baju hitam yang mengurung Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw, telah mundur dalam keadaan kalut.

Di bawah sinar api, ia melihat Auw-yang Thong menyerbu pasukan orang berbaju hitam dengan badan mandi darah.

Dibelakangnya diikuti oleh Koan Sam Seng dan Hui Kong Leang.

Dua orang gagah itu badannya juga penuh darah, disini dapat diduga betapa hebat mereka telah bertempur melawan musuh-musuhnya. Auw-yang Thong telah berada di dalam barisan segera menegur, “Sianseng, apakah kau baik2 saja?"

“Pangcu, hambamu baik," berkata Teng Soan sambil berdiri memberi hormat.

Auw-yang Thong berdiri sempoyongan, ia berkata sambil menengadah. “Terima kasih banyak2 kepada Tuhan Yang Maha Esa telah melindungi sianseng ... ”

Tiba-tiba ia menyemburkan darah segar dari mulutnya.

Koan Sam Seng dengan cepat bertindak memberi pertolongan seraya berkata: “Pangcu, pangcu.”

Auw-yang Thong perlahan2 mendorong Koan Sam Seng seraya berkata: “Jangan hiraukan aku, aku tidak apa2, aku dapat melihat lagi Teng sianseng, hatiku merasa sangat gembira ... ”

Ia segera menggenggam tangan Teng Soan.

Teng Soan meskipun tenang2 saja tetapi dalam keadaan demikian, ia juga mengalirkan air mata, katanya: “Pangcu, jagalah kesembuhan dirimu, lekas mengatur pernapasanmu.”

“Aku tidak apa2, hanya sedikit luka yang tidak berarti, karena kekhawatiran yang mencekam hatiku, barulah aku tadi menyemburkan darah.”

Pada saat itu empat puluh delapan pasukan berani mati yang mengikuti Auw-yang Thong masih bertempur sengit dengan pasukan berkuda dan pengawal baju hitam Kun-liong Ong.

Tetapi keadaan per-lahan2 mulai baik lagi, empat puluh delapan pasukan berani mati, sesuai dengan nama pasukan itu, setiap orang bertempur dengan keberanian luar biasa, hingga berhasil membinasakan dan mengusir keluar musuh2nya yang sudah masuk ke dalam barisan batu. Hui Kong Leang yang sifatnya sombong dan tinggi hati, saat itu agaknya juga mengagumi Teng Soan, ia berkata sambil memberi hormat: “Sejak sianseng pergi pangcu tidak enak makan tidak enak tidur, sehingga saat ini, ia belum pernah dapat tidur dengan enak.” 

“Kecintaan pangcu, hambamu Teng Soan sekali pun hancur lebur badannya juga belum cukup untuk membalas budi itu," berkata Teng Soan.

“Sianseng terlalu merendah, golongan pengemis jikalau tidak mengandalkan kepintaran sianseng, bagaimana mendapat kedudukkan seperti sekarang ini? Jikalau mau dikata bahwa aku Auw-yang Thong pilih kasih terhadap Sianseng, itu berkat jasa sianseng yang diberikan kepada semua orang dari golongan pengemis.”

“Saudara Teng tidak mendapat halangan apa2, pangcu seharusnya juga sudah merasa lega, lekas mengatur pernapasan pangcu, kita masih perlu menerobos kepungan rapat Kun-liong Ong,” berkata Koan Sam Seng.

Auw-yang Thong menganggukkan kepala, lalu memejamkan kedua matanya, mengatur pernapasan.

Touw Thian Gouw tiba2 sempoyongan dan jatuh duduk di tanah.

Pada saat itu pasukan berkuda dan pengawal berbaju hitam yang mengepung Siang-koan Kie sudah dilayani oleh empatpuluh delapan pasukan berani mati, Siang-koan Kie ketika menyaksikan kecintaan Auw-yang Thong yang sedemikian besar terhadap Teng Soan, hatinya merasa terharu, ia berdiri terpaku, sehingga melupakan Touw Thian Gouw yang terluka parah.

Ketika Touw Thian Gouw jatuh, ia baru sadar, dengan cepat menghampiri dan membimbingnya sambil berseru: “Touw toako ... ” Teng Soan menghela napas dan berkata: “Jangan ganggu, dia terluka parah.”

Benar saja, Siang-koan Kie tidak berani bertindak lebih jauh, ia melepaskan Touw Thian Gouw lagi.

Teng Soan membuang obat beracun yang berada dalam mulutnya, kemudian lambat2 menghampiri Touw Thian Gouw, untuk memeriksa keadaan lukanya.

Luka bacokan golok di pundak belakang Touw Thian Gouw, hampir mematahkan tulang rusuknya, sekujur badannya sudah penuh darah, kecuali luka bekas bacokan golok itu yang paling berat masih terdapat beberapa luka ringan dibadannya.

Pada saat itu api yang berkobar di dalam barisan batu, meskipun belum padam seluruhnya tetapi banyak yang sudah disingkirkan oleh orang2 golongan pengemis, api itu masih menyala ditempat sejauh dua tombak.

Siang-koan Kie bertanya dengan suara perlahan: “Toako, apakah lukanya parah?”

“Parah, tetapi tidak membahayakan jiwanya," menjawab Teng Soan.

“Apakah lengan tangannya bisa bercacat?”

“Sekarang masih belum dapat dipastikan, tetapi kau jangan khawatir, toakomu akan berusaha sedapat mungkin untuk menyembuhkan lukanya.”

Pada saat itu, Auw-yang Thong sudah pulih kembali tenaganya, ia berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Sianseng, Kun liong Ong membentuk seluas sepuluh pal, daerah sepuluh pal ini, semua ada orangnya yang akan mencegat kita, pertempuran untuk menerjang keluar kepungan itu, barangkali akan merupakan suatu pertempuran yang terhebat.” Teng Soan pejamkan mata untuk berpikir, setelah sekian lama beipikir, baru berkata dengai lambat-lambat: “Perhatian Pangcu, hambamu sangat berterima kasih, tetapi keadaan dewasa ini, sesungguhnya tidak menguntungkan bagi kita, apabila kita memaksakan diri untuk menerjang keluar.”

“Bagaimana pikiran sianseng?"

“Menurut pikiran hamba, lebih baik kita melakukan penyerangan anak buah Kun-liong Ong yang ada disini untuk mengacaukan lebih dulu pikiran Kun-liong Ong.”

“Perhitungan sianseng tentunya tidak salah lagi, baiklah kita menurut pikiran sianseng.”

Teng Soan berkata kepada Siang-koan Kie sambil menepuk pundaknya: “Saudaraku!"

“Ada apa?" bertanya Siang-koan Kie.

“Apakah kau masih mempunyai cukup tenaga untuk bertempur lagi?"

“Kekuatan tenagaku kini sudah pulih kembali.”

“Itu bagus, nanti setelah terang tanah, aku ingin supaya orang2 gagah dalam golongan pengemis, dapat menyaksikan kegagahan saudara.”

“Apa yang toako perintahkan, adikmu pasti akan melakukan sebaik-baiknya.”

Pertempuran di luar barisan sudah hampir selesai, empat puluh delapan pasukan berani mati yang terlatih baik, paling cocok untuk melakukan pertempuran jarak dekat, dan pertempuran total, jumlah pasukan berkuda dan pengawal baju hitam, sebetulnya lebih banyak dari pada pasukan berani mati tetapi dalam pertempuran hebat itu, sebahagian besar sudah terbinasa di tangan pasukan berani mati. Setelah pertempuran sengit itu berhenti, suasana tenang kembali, disana sini banjir darah dan sisa sisa bangkai manusia yang binasa.

Cuaca perlahan2 mulai terang, hari hampir terang.

Empat puluh delapan pasukan berani mati, sehabis melakukan pertempuran hebat, semua nampak letih, tetapi mereka masih tetap menjaga empat penjuru dan beristirahat secara bergilir.

Dalam pertempuran sengit itu, agaknya menimbulkan kerugian besar sekali bagi Kun-liong Ong, sehingga matahari sudah naik tinggi, tidak tampak lagi gerakan Kun-liong Ong.

Orang-orang golongan pengemis, setelah mendapat waktu beristirahat, semangatnya sebahagian besar sudah pulih kembali.

Auw-yang Thong yang menyaksikan keadaan sunyi ini tidak melihat lagi orang2 Kun-liong Ong di daerah sekitar itu, rupanya mereka telah mundur secara diam-diam.

Ia melihat Teng Soan pada saat itu sedang tidur nyenyak, di bawah sinar matahari, nampak tegas wajah Teng Soan yang pucat pasi, sedikitpun tidak ada darahnya.

Orang cerdik pandai yang berbadan lemah itu, dengan mengandalkan kecerdasan dan kepintarannya, telah menerjunkau diri di dalam kalangan Kang-ouw, sekalipun mengalami banyak bahaya, tetapi selalu terhindar dari bahaya itu, hanya kesehatan badannya yang makin lama makin lemah, memberikan perasaan pilu bagi setiap orang yang mengetahuinya.

Koan Sam Seng setelah menyaksikan keadaan di sekitarnya sejenak, lalu berkata kepada pangcunya: “Pangcu jika dilihat keadaan di sekitar ini, Kun liong Ong agaknya sudah menarik mundur pasukannya ... ” Auw-yang Thong mengulapkan tangannya, mencegah Koan Sam Seng melanjutkan kata2nja lalu berkata dengan suara perlahan : “Jangan berisik, biarlah Teng sianseng dapat tidur dengan nyenyak.”

Perlahan2 ia membuka baju panjangnja yang penuh tanda darah, dikerundungkan dibadan Teng Soan.

Perhatian dan kecintaannja terhadap Teng Soan sangat mengharukan orang2 golongan pengemis, Hui Kong Leang jang terkenal tinggi hati, juga dipengaruhi perasaannya oleh perhatian pangcunya demikian besar itu, ia berkata sambil menghela napas perlahan : “Pangcu dengan Teng sianseng, dapat dikata satu pasangan yang setimpal, jika tidak ada jiwa besar pangcu, rasanya tidak dapat memanfaatkan kepintaran Teng Sianseng yang luar biasa."

Golongan pengemis mendapat kedudukkan seperti hari ini, sesungguhnya adalah jasa Teng sian-ong, apabila bukan saja mempunyai kecerdikan otak dan kepintaran luar biasa, tetapi juga berhati jujur, tidak perduli siapapun orangnya, asal sudah bergaul dengannya cukup lama, pasti akan timbul rasa simpatik dan hormatnya," berkata Auw yang Thong sambil bersenyum.

“Jiwa besar pangcu, lebih2 mengagumkan kita semua orang2 rimba persilatan," berkata Hui Koan Leang.

Auw-yang Thong hanya tersenyum tidak menjawab.

Sang waktu perlahan2 telah berlalu, Teng Soan, yang agaknya sudah terlalu letih tidur demikian nyenyak, ketika ia tersadar, mata hari sudah naik tinggi.

Selama itu, Siang-koan Kie sudah membalut luka-lukanya Touw Thian Gouw dan membiarkannya benstirahat mengatur pernapasannya.

Semua orang gagah yang ada di situ terus duduk menantikan tersadarnya Teng Soan. Auw-yang Thong berjalan mundar mandir, tatkala menampak Teng Soan telah mendusin, segera menanya dengan suara perlahan : “Apakah sianseng sudah cukup beristirahat?”

Teng Soan perlahan2 menyingkirkan baju panjang Auw- yang Thong yang menutupi tubuhnya kemudian berkata : “Kecintaan pangcu, sampai mati Teng Soan susah membalas.”

“Semua orang golongan pengemis, tiada yang tidak mencintaimu dan menjunjung kau," berkata Auw-yang Thong sambil tertawa.

Teng Soan menghela napas perlahan, ia banglit dan berkata memberi hormat : “Saudara-saudara tentunya sudah lama menunggu aku, hal ini aku merasa tidak enak, disini lebih dulu aku minta maaf sebesar-besarnya.”

Semua orang membalas hormat sambil mengucapkan terima kasih.

Auw-yang Thong berkata sambil tertawa: “Sianseng tidak perlu merendah diri, urusan sekecil ini, tidak berarti apa-apa.

Koan Sam Seng lalu berkata : “Saudara Teng, selama dua tiga jam yang telah lalu, tidak tampak gerakkan apa2 lagi dari Kun-liong Ong, apakah ia sudah menarik mundur pasukannya?”

Teng Soan mendongak sambil berpikir, kemudian menjawab: “Ditilik dari keadaan pada saat ini, Kun-liong Ong tidak nanti menarik mundur pasukannya, kecuali ada timbul kejadian2 di luar dugaan kita ...”

Orang pintar itu untuk sementara agaknya belum juga dapat memikirkan apa sebabnya keadaan mendadak menjadi sunyi.

Auw-yang Thong tahu kebiasaan penasehatnya itu, setiap kali menjumpai persoalan yang sangat sulit, selalu putar otak dan memusatkan pikiran, sebelum menemukan jawabannya, ia tidak akan berhenti berpikir, maka ia tidak berani mengganggu.

Sebentar kemudian, wajah Teng Soan terlintas suatu perasaan seperti orang bingung, ia bertanya2 kepada dirinya sendiri: “mungkinkah dia?”

Auw-yang Thong terus memperhatikan setiap gerak-gerik Teng Soan, pergaulannya selama sepuluh tahun membuatnya kenal baik semua kebiasaan dan perangai penasehatnya itu.

Setiap kali memutar otak untuk memecahkan persoalan yang sangat rumit, jarang sekali menemu kan kegagalan, dan setiap kali menemukan pemecahannya, dibibirnya pasti tersungging suatu senyuman, senyuman itu juga memberikan suatu keyakinan bagi Auw-yang Thong, maka segala putusan Teng Soan Auw-yang Thong belum pernah menolaknya, adakalanya, jikalau kedua orang itu berlainan pendapat, Auw- yang Thong selalu dipihaknya mengalah dan menurut pikiran Teng Soan, kebiasaan itu telah menimbulkan kepercayaan yang kuat bagi Auw-yan Thong kepada Teng Soan, kepercayaan itu perlahan2 telah berobah menjadi suatu sandaran ...

Auw-yang Thong yang mempunyai kecerdasan dan gagah luar biasa, telah berjumpa dengan Teng Soan yang mempunyai kepintaran dan kecerdasan otak luarbasa, sehingga kecerdasanna sendiri tanpa disadari telah tertutup oleh kecerdasan Teng Soan, tetapi kepandaiannya sebagai suatu pimpinan, bukan saja tidak mempunyai perasaan dengki sedikitpun terhadap penasehatnya itu bahkan sebaliknya, ia sendiri suka mengalah dan mengandalkan kepandaian penasehatnya.

Pergaulan selama sepuluh tahunan, hubungan mereka melebihi saudara sendiri, jikalau tidak mendapat pasangan seorang seperti Auw yang Thong yang berjiwa besar, kepintaran Teng Soan mungkin hilang lenyap terbawa mati, dan jika tidak ada Teng Soan yang mempunyai kepintaran luar biasa yang memupuk golongan pengemis, maka golongan pengemis juga tidak akan menjadi sesuatu kekuatan besar rimba persilatan, kedua manusia luar biasa itu, mereka dapat saling menghormat dan saling mencinta, itulah yang menjadikan Auw-yang Thong dan golongan pengemisnya mendapat kedudukan seperti sekarang ini. Orang-orang rimba persilatan setiap kali membicarakan kedua orang itu tiada satupun yang tidak memuji mereka.

Hanya dalam waktu sepuluh tahun, bukan saja menempatkan golongan pengemis kesuatu kedudukan yang sangat tinggi di dalam rimba persilatan, bahkan menjadi lawan satu-satunya Kun-liong Ong yang tertangguh. Orang-orang kuat dalam rimba persilatan, kecuali yang sudah ditarik, oleh Kun liong Ong, yang lainnya hampir semuanya masuk golongan pengemis.

Dalam ingatan Auw-yang Thong, setiap kali sehabis memikirkan persolaan rumit, Teng Soan pasti menunjukan senyumnya, dan senyum itu merupakan satu tanda kemenangannya.

Tapi ia belum pernah menyaksikan Teng Soan setelah berpikir lama, wajahnya masih menunjukan kebingungan, jelaslah sudah bahwa dalam persoalan Kun-liong Ong itu, ia belum dapat menemukan pemecahannya, maka ia segera bertanya dengan perasaan heran: “Sianseng, siapakah yang sianseng maksudkan dengan dia itu?”

“Su-moyku," menjawab Teng Soan sambil menghela napas perlahan.

“Su-moy sianseng? Di mana sekarang dia berada?”

“Sudah meninggal, ia meninggal di tangan Kun-liong Ong, meskipun ia bukan seorang yang banyak akalnya, tetapi di bawah didikan suhu, juga merupakan seorang wanita yang tidak dapat dibandingkan dengan wanita biasa ... ” “Sejak dahulu kala, banyak manusia-manusia jahat dalam rimba persilatan, tetapi belum pernah ada orang demikian kejam dan jahat seperti Kun-liong Ong, bukan saja sudah membinasakan suhunya sendiri, sampaipun terhadap perempuan yang lemah, juga tidak segan turun-tangan.”

“Su-moyku itu telah timbul salah paham terhadapku, sehingga membenci diriku selama beberapa puluh tahun tetapi setelah ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, ajalnya sudah hampir tiba, karena Kun-liong Ong sudah memasukkan jarum beracun dalam tubuhnya, sehingga ia sudah tidak mungkin tertolong lagi, dalam keadaan demikian, Kun-liong Ong sengaja memberikan kesempatan baginya untuk menjumpai aku ... ”

Berkata sampai di situ, diwajahnya pucat pasi beberapa kali berkerenyit, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Sejak Auw-yang Thong kenal Teng Soan, belum pernah menyaksikan ia berlaku demikian maka seketika itu ia mengerutkan keningnya, beberapa kali bibirnya bergerak, tetapi tidak sepatahpun perkataan yang keluar dari mulutnya.

Semua mata orang yang ada di situ, ditujukan kepada Teng Soan, mereka terheran-heran menyaksikan kelakuan sangat aneh orang pintar itu.

Tidak lama kemudian, Teng Soan baru berhenti tertawa, kemudian berkata: “Apabila yang menggunakan kepintarannya, mengatur suatu siasat yang mengejutkan, hal itu sudah cukup merepotkan Kun-liong Ong ... tetapi hal itu seperti apa yang aku duga atau bukan, yang sudah nyata, Kun-liong Ong memang benar sudah menarik mundur pasukannya, jika ditilik sifat Kun-liong Ong, tidak nanti ia demikian mudah melepaskan kesempatan membunuh diriku.”

“Apakah tidak mungkin Kun-liong Ong mempunyai rencana lain?" Bertanya Koan Sam Seng. “Tidak mungkin, dewasa ini musuh paling dibenci dalam hatinya justru kita golongan pengemis, pangcu dan aku sendiri, merupakan duri dalam matanya, ia harus disingkirkan baru merasa puas, tidak mungkin ia rela begitu saja melepaskan kesempatan kali ini ... kecuali telah terjadi sesuatu yang mengejutkan dirinya, sehingga ia terpaksa diam- diam menarik mundur pasukannya. Ditilik dari keadaan sekarang ini, ditarik mundurnya pasukan Kun-liong Ong, juga tidak perlu dilakukan lagi,” berkata Teng Soan.

“Jikalau benar Kun-liong Ong sudah tarik mundur pasukannya, kita tidak perlu berdiam disini lagi, semua orang golongan pengemis, mengharap supaya Sian-seng bisa pulang dengan selamat.”

“Masih ada suatu urusan yang hamba belum selesaikan.” “Urusan apa? Apakah demikian perlu harus Sian-seng

selesaikan sendiri?”

“Apakah pangcu masih ingat untuk apa hamba datang kemari?”

“Untuk mencari nona Kiang.”

“Benar, apabila tidak bisa membawa pulang nona Kiang, apabila batas waktu itu tiba, bagaimana harus menjawab kepada Kiang Su Im?”

Auw-yang Thong tercengang: “Habis? Apakah sianseng sudah menemukan jejak nona Kiang?”

“Su-moyku telah memberitahukan kepadaku, dengan menggunakan suatu cara yang berbelit2, ia telah sembunyikan nona Kiang ke suatu tempat yang sangat rahasia, bagi siapa yang tidak mengetahui cara2 untuk menjumpai nona itu, selamanya tidak akan menemukan. Dan cara2 itu bukan cuma memerlukan kecerdasan otak dan keberanian, tetapi juga memerlukan suatu sikap yang sungguh2, untuk mendapat kepercayaan orang yang kita hendak jumpai itu!” “Dengan cara bagaimana, ia mengatur rencana yang berbelit-belit itu?”

“Jikalau caranya itu sederhana, bagi kita yang mencari memang mudah, tapi cara itu tidak dapat mengelabui Kun- liong Ong ... ”

Aku benar2 terbatas pengetahuanku, aku hanya menganalisa satu pihak saja, tidak memperhatikan pihak yang lain ... " berkata Auw-yang Thong sambil tertawa, kemudian berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie: “Saudara Siang- koan Kie, kali ini kau pergi melindungi Teng sianseng, baik menemukan nona Kiang atau tidak, kau harus menasehatkan Teng sianseng supaya lekas pulang untuk beristirahat, kau tahu bahwa kesehatan Teng sianseng ... " tiba2 ia menghela napas dan tutup mulut.

“Sekalipun pangcu tidak pesan aku, aku, juga harus hati2,” berkata Siang-koan kie.

Sinar matahari menyinari bangkai2 yang berserakan di tanah, juga menyinari muka empat puluh delapan barisan berani mati yang sudah letih, pertempuran sudah berhenti, pasukan berani mati yang gagah berani itu, semangatnya juga sudah mulai kendor, hanya Siang-koan Kie yang masih tetap berkobar2 semangatnya, badan pemuda itu seolah-olah terdiri dari baja, kemauannya yang keras seolah2 tidak bisa roboh untuk selama-lamanya.

Teng Soan tiba2 berkata: “Harap pangcu pulang dulu, hambamu hendak pergi melakukan tugas.” Kemudian berkata sambil menepuk pundak Siang-koan Kie. “Saudaraku, mari kita pergi!”

Setelah itu ia berjalan lebih dulu meninggalkan Auw-yang Thong dan lain-lainnya

Semua orang golongan pengemis, yang menyaksikan seorang sastrawan yang berbadan lemah karena urusan golongan pengemis, harus melakukan tugas demikian berat, setiap orang merasa cemas dan khawatir.

Hui Kong Leang mendongakkan kepala dan menarik napas panjang dan berkata: “Semoga badan Teng sianseng selalu sehat.”

“Semoga demikian," berkata Auw-yang Thong sambil menganggukkan kepala.

Siang-koan Kie mengikuti Teng Soan keluar dari daerah bekas pertempuran itu, berjalan menuju kebarat.

Lama mereka berjalan tanpa ada yang membuat suara, angin musim kemarau tiba2 menghembus menyiarkan bau buah korma yang harum, semangat Siang-koan Kie terbangun seketika, katanya: “Pohon kurma sudah berbuah, suatu tanda bahwa musim kemarau sudah akan berakhir! Musim dingin sudah akan tiba.”

Bibirnya tersungging senyuman getir, nada suaranya mengandung rasa kesedihan. Tiba2 mulutnya merasa haus, ia lalu berkata pula: “Pohon kurma sudah berbuah, kita juga merasa haus, marilah kita makan sepuas-puasnya.

Dengan tindakkan lebar ia berjalan menuju kerimba pohon kurma.

Badannya yang kuat, semangatnya yang menyala2 justru merupakan suatu kontras yang nyata, dengan keadaan Teng Soan, tetapi meskipun keadaan di luar mereka jauh berlainan tetapi dalam hati sama2 berkemauan keras.

Didalam rimba pohon kurma itu, tampak seorang laki2 tukang buah berpakaian hijau dengan tenang melakukan pekerjaannya memotongi tangkai pohon, meskipun di luarnya ia sedang bekerja, tetapi sikapnya se-olah2 sedang menantikan sesuatu. Siang-Koan Kie memperhatikan kelakuan tukang buah itu, dalam hatinya mau menduga bihwa tukang buah itu tentunya adalah itu orang yang harus dijumpainya.

Tukang buah itu sekilas memandang kepadanya, Siang- koan Kie lalu menegur padanya: “Toako, bolehkah aku menumpang bertanya, buah didalam rimba ini ada berapa banyak?"'

Tukang buah itu agaknya terkejut, sehingga gunting di tangan jatuh di tanah, kemudian ia menjawab: “Sama ... sama banyaknya dengan ... rambut di atas kepalamu.”

Perkataan terakhir itu diucapkan agak gugup, sikapnya menunjukkan perasaan tegang.

Siang-koan Kie menghentikan tindakan kakinya dalam hatinya timbul rasa curiga, ia berpaling dan berkata kepada Teng Soan: “Toako, orang ini nampaknya demikian tegang mungkinkah ada terjadi perobahan apa-apa?”

“Kau dapat memperhatikan perobahan ini, penilaianmu terhadap sesuatu ternyata sudah banyak maju, akan tetapi ... " berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Kemudian ia melambatkan tangan kepada tukang buah itu, sebagai syarat supaya ia menunggu sebentar, lalu berkata pula: “Su-moyku oleh karena hendak menghindari perhatian mata2 Kun-liong Ong, orang2 yang digunakan pasti bukan orang2 dari golongan Kang-ouw orang2 ini tentunya dari rakyat biasa yang jujur dan diberinya dengan uang. Hanya orang2 semacam inilah yang bisa memegang rahasia dengan setia.

Mata2 Kun-liong Ong sekalipun banyak, juga tidak akan mencurigai terhadap orang2 semacam ini.

“Benar," berkata Siang-koan Kie sambil menganggukkan kepala. Tukang buah yang terdiri dari rakyat baik2 ini, dalam hidupnya belum pernah mengalami kejadian besar, juga belum pernah mengalami gelombang penghidupan dan kini dengan mendadak harus berhadapan dengan perkara Kang- ouw yang sangat misterius ini, tugas berat yang dipikulnya itu, sedikit banyak menimbulkan perasaan takut dalam hatinya, mungkin juga selama memikul tugas itu, mereka tidak enak makan dan tidak enak tidur, setiap hari ia harus menunggu ditepi rimba buah kurma ini, menantikan orang yang menanyakan padanya ada berapa banyak buah kurma di dalam rimba, sehingga hari ini, tentunya ia sudah menunggu banyak hari, kita dapat bayangkan sendiri betapa gelisahnya selama beberapa hari itu, dengan sendirinya perasaannya sangat tegang, ketika dengan mendadak mendengar pertanyaanmu, dalam keadaan terkejut sudah tentu ia merasa gugup, sehingga gunting di tangannya terjatuh di tanah tanpa disadari.

Keterangan itu menunjukkan betapa tajamnya ia menganalisa sesuatu urusan, bukan hanya itu saja bahkan demikian mendalam kepada pikiran orang lain.

Siang-koan Kie tiba-tiba menarik napas panjang, lalu berkata sambil tertawa: “Penilaian toako sesungguhnya tidak ada taranya.''

Ia sebetulnya tidak biasa memuji orang, tetapi perkataan itu diucapkan dengan sikap yang wajar, suatu tanda bahwa ucapan itu timbul dari dalam hati nuraninya.

Teng Soan tersenyum, dengan tindakan lebar ia menghampiri tukang buah itu dan berkata kepadanya dengan suara lemah lembut: “Kau tentunya sudah menunggu lama sekali, bolehkah sekarang kau ajak kita pergi?”

Pada wajah tukang buah yang berwarna coklat itu, tampak senyuman yang sejujurnya, kemudian tukang buah itu berkata: “Tuan-tuan mari ikut aku.” Tanpa memperdulikan guntingnya yang terjatuh ditanah, ia mengajak Teng Soan dan Siang-koan Kie berjalan melalui rimba pohon kurma itu.

Keluar dari rimba itu terdapat tanah belukar yang luas, tukang buah itu mengajak mereka berjalan terus menuju ke sebuah bukit kecil, setelah melalui dua tempat tikungan di atas bukit, terlihatlah sebuah bangunan gubuk yang dibangun di atas bukit.

Tukang buah itu berjalan menghampiri gubuk itu dan berkata dengan suara nyaring: “Ma Citko, ada tamu datang hendak membeli kayu bakar.”

“Hendak beli berapa pikul?" demikian terdengar jawaban seorang tua yang agak kasar dari dalam gubuk itu.

“Delapan pikul," jawab si tukang buah.

Sebentar kemudian, seorang tua bongkok dengan pakaiannya compang-camping keluar dari gubuk dan berkata sambil mengacungkan tangannya: “Kuucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, kalian akhimya datang juga, aku si orang tua sudah menunggu sekian lama rasanya seperti sudah bertahun-tahun.”

“Aku juga harus mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, tugasku akhirnya kuselesaikan dengan baik," berkata tukang buah itu sambil tertawa.

Dua orang itu jelas menunjukan betapa gembiranya karena sudah menunaikan tugasnya dengan baik, dan dengan demikian mereka boleh melakukan pekerjaannya sendiri yang lama.

Teng Soan memandang Siang-koan Kie sambil tersenyum, kemudian berkata: “Saudara, kau antar pulanglah sahabat ini!”

-o0dw0o- Bab 84

ORANG TUA BONGKOK itu yang seolah-olah sudah tidak sabar menunggu, ketika mendengar perkataan Teng Soan, segera berkata: “Lekas-lekas!”

Tukang buah itu juga segera memberi hormat kepada Teng Soan, kemudian berpaling dan mengucapkan terima kasih kepada Siang-koan Kie, setelah itu keduanya berlalu meninggalkan gubuk itu.

Sebentar kemudian, orang tua bongkok itu berjalan mundar mandir di dalam rimba di atas bukit, saban2 menarik napas.

Teng Soan berdiri menyandar di bawah pohon, mengawasinya, kemudian berkata sambil tertawa: “Paman tidak usah cemas, saudaraku itu bisa berjalan seperti terbang, sebentar pasti akan kembali.”

Benar saja, baru saja Teng Soan menutup mulut, Siang- koan Kie sudah berada di sampingnya.

Orang tua bongkok itu agaknya sangat kagum, kembali ia mengucapkan terima kasihnya.

“Kau jangan mengucapkan terima kasih saja, lekas bawa kita!" berkata Siang-koan Kie.

Orang itu lalu mengunci pintu gubuknya, mengajak mereka berjalan. Tidak antara lama tibalah disebuah gardu peranti minum teh yang berada di tepi sungai, di dalam gardu itu juga terdapat seorang tua bongkok, dua orang tua itu agaknya telah saling mengenal, begitu bertemu muka, keduanya berbicara dengan sangat gembira, hingga seperti sudah lupa kepada dua tetamunya.

Gardu itu terletak ditepi sungai yang terdapat perahu nelayan, yang saat itu sedang mundar mandir di atas air. Siang-koan Kie yang menunggu sekian lama, belum melihat tanda2 orang tua tukang kayu itu pergi melanjutkan perjalanannya, maka segera menegurnya: “Tugas paman sudah selesai, sekarang boleh pulang untuk beristirahat.”

Sebelum orang tua tukang kayu menjawab, orang tua lainnya memelototkan matanya dan berkata: “Apakah dia minum teh dulu juga tidak boleh? Kau siapa? Mengapa mencampuri urusannya?”

Siang-koan Kie melongo, ia tidak bisa berbuat apa2, terpaksa menunggu orang tua itu yang sudah minum teh dan mengobrol lagi. Setelah itu baru berlalu, sedang mulutnya masih menggumam: “Ya Allah, lain kali aku tidak mau melakukan pekerjaan semacam ini lagi.”

Siang-koan Kie tersenyum getir sambil menggelengkan kepala, bersama Teng Soan berjalan ke tepi sungai dan berseru: “Aku mau beli ikan!”

Perahu nelayan dipermukaan air, benar saja segera menghampirinya, Siang-koan Kie memperhatikan semua nelayan yang menghampiri itu, untuk mencari nelayan bermata satu dan tidak berbaju, benar saja ia menemukan nelayan yang dicarinya itu, lalu bertanya dengan suara nyaring: “Berapa harganya tujuh ekor ikan?”

Nelayan bermata satu itu, kulit badannya berwarna coklat, meskipun bentuk badannya pendek kecil tetapi padat, ketika mendengar suara Siang-koan Kie, sesaat agaknya juga tercengang, tetapi dengan cepat ia menyahut: “Delapan ekor ikan harganya tiga tail perak.”

Karena perkataan itu diucapkan sangat cepat sehingga Siang-koan Kie hampir tidak dengar jelas, Teng Soan segera tertawa, tetapi kemudian berkata sambil menghela napas: “Kembali seorang yang sangat jujur, Sumoy-ku itu sebetulnya seorang yang tidak banyak akalnya tetapi di bawah permainan nasibnya yang buruk, ia telah memperkembangkan kecerdikannya, untuk mengatur rencana demikian rapi.”

Setelah perahu itu merapat kepantai, Siang-koan Kie, lalu bimbing Teng Soan naik kedalam perahu, tanpa lanyak bicara tukang perahu bermata satu itu mendayung perahunya menuju keselatan.

Berlayar kira2 setengah jam, perahu itu menuju kesuatu jalan persimpangan, beberapa buah perahu nelayan ditambat dipantai, pantai itu ternyata merupakan pantai nelayan.

Tukang perahu bermata satu itu setelah merapatkan perahunya dipantai, juga segera meninggalkan tetamunya dan berlalu lagi. Orang2 itu agaknya mengetahui tugas masing2 yang dipikulnya sangat misterius, maka mereka agaknya tidak ingin terlibat dalam persoalan yang sangat mistirius itu, maka setelah tugasnya selesai, buru2 berlalu.

Teng Soan dan Siang-koan Kie setelah mendarat dipantai, Teng Soan meskipun sudah merasa letih, tetapi karena sudah dekat dengan tempat tujuannya, maka semangatnya terbangun lagi.

Kampung nelayan itu tidak seberapa luas, saat itu hari masih siang, tetapi keadaan dalam kampung sangat sepi sunyi.

Siang-koan Kie berkata sambil tertawa: “Untung kampung nelayan ini tidak luas, jika tidak karena kita harus mencari nenek berambut putih itu? Semoga nenek berambut putih dalam kampung ini cuma seorang saja, dengan demikian mudah kita carinya.”

Kampung nelayan itu hanya beberapa puluh pintu keluarga saja, setiap pintu rumah mereka masih terbuka lebar, beberapa wanita yang berbadan kuat, sedang merajut jaringnya di depan pintu masing2. beberapa nelayan tua, sedang mengisap pipa tembakaunya dengan tenang, penghidupan mereka meskipun sengsara, tetapi nampaknya sangat tenteram.

Teng Soan dan Siang-koan Kie berjalan seputaran di alam kampung itu sambil melongok ke kanan ke kiri, ternyata tidak menemukan nenek berambut putih yang dicari.

Siang-koan Kie sudah mulai gelisah, ia berkata sambil mengerutkan alisnya: “Apa kita salah cari?"

Tiba2 ia melihat di luar kampung itu masih ada sebuah rumah, depan rumah itu ramai dengan orang, ia lalu menghampiri bersama Teng Soan, orang itu menunjukkan sikap sedih, agaknya sedang menghadapi peristiwa sedih. Dalam rumah terdapat beberapa bunga dan tirai kain putih, dibalik tirai itu ada sebuah peti mati. Siang-koan Kie merasa tertarik, ia menanyakan kepada seorang nelayan pertengahan umur, “Toako, bolehkah aku numpang tanya keluarga siapa yang sedang kesusahan ini?”

Nelayan itu mengawasi kepadanya dengan sinar mata heran, kemudian baru menjawab: “Seorang nenek tua dari keluarga Ciu, tuan2 rupanya datang dari tempat jauh, apakah famili keluarga Ciu?”

Siang-koan Kie menggeleng2kan kepala, tetapi mulutnya buru2 bertanya, “Nenek keluarga Ciu yang mana? Apakah sudah lanjut sekali usianya? Apakah nenek yang rambutnya sudah putih semuanya?”

“Betul, rambut nenek tua itu sudah putih semuanya, ia hidup sengsara dalam banyak tahun pada dua hari berselang

... ”

Wajah Siang-koan Kie berubah, dengan cepat memotongnya: “Di dalam kampungmu ini, kecuali nenek Ciu masih ada lagi lain nenek yang rambutnya sudah putih seluruhnya?” Nelayan pertengahan umur itu melengak, dalam hati sangat heran, tetapi ia menjawab dengan sikap wajar: “Hanya dia seorang saja."

Siang-koan Kie tercengang, ia tidak bisa berkata apa2 lagi, dengan perasaan heran nelayan itu mengawasinya, kemudian berlalu dengan mulut menggumam.

Siang-koan Kie dengan bingung mengawasi peti mati itu, mulutnya menggumam sendiri: “kita datang terlambat ... ”

Lama sekali, ia baru berpaling dan berkata ke pada Teng Soan: “Toako, sekarang bagaimana? Nampaknya perhitungan manusia tidak sesuai dengan perhitungan Tuhan, bagaimanapun rapinya, ternyata tidak berguna semuanya.”

Teng Soan berpikir sejenak, lama baru berkata lambat- lambat: “Nenek tua itu meskipun sudah meninggal, tetapi Su- moyku sudah menyerahkan tugas penting itu ditangannya, sudah pasti nenek itu merupakan orang yang jujur dan boleh dipercaya, sebelum menutup mata juga sudah pasti menyerahkan tugas rahasia ini kepada keturunannya yang boleh dipercaya.”

“Tetapi siapakah orangnya yang ditinggali pesan itu? dengan cara bagaimana kita harus mencari?”

Teng Soan terus berpikir tidak menjawab.

Jelaslah sudah bahwa Teng Soan yang cerdik pandai itu, untuk sesaat juga kehilangan akal, dua pasang mata ditujukan kepaka peti mati yang membujur ditengah ruangan gubuk itu.

Siang-koan Kie menghela napas perlahan, kemudian berkata kepada diri sendiri: “Ia sudah mati dengan membawa rahasia yang tidak terungkap untuk selama-lamanya ... ”

Tiba-tiba nampak tirai kain putih itu terbuka, dari dalam berjalan keluar seorang gadis kecil dengan rambut dikepang. Gadis kecil itu berusia kira2 delapan belas tahun, ia mengenakan pakaian berkabung, wajahnya masih menunjukkan rasa duka, dikedua pipinya masih terdapat tanda air mata.

Ia mengangkat lengan bajunya untuk mengeringkan tanda air mata dikedua pipinya, sepasang matanya ditujukan kepada Teng Soan dan Siang-koan Kie.

Semangat Teng Soan terbangun, ia berkata kepada Siang- koan Kie dengan suara perlahan, “Saudara, dari nona ini mungkin dapat menemukan keterangan tentang diri nona Kiang.”

Benar saja, gadis kecil itu mengawasi mereka sejenak, lalu bertarya: “Apakah tuan2 mencari nenekku?"

“Ya! Sayang nenek Ciu sudah meninggal,” berkata Siang- koan Kie, “waktu nenek meninggalkan dunia, apakah ada meninggikan pesan kepada nona?”

Gadis itu menganggukkan kepala, tidak menjawab.

Teng Soan tersenyum dan berkata: “nona, bolehkah aku numpang tanya, jala ini ada berapa lobang?”

Gadis itu mendadak terperanjat, ia mengawasi keadaan di luar sebentar, baru menjawab: “Tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga."

“Kita datang kemari atas perintah permaisuri,” berkata Siang-koan Kie.

Gadis nelayan itu nampak sedang berusaha menenangkan pikirannya, lama baru bertanya: “Permaisuri bernama apa?”

Siang-koan Kie mengeluarkan tiga telunjuk jarinya, kemudian dibolak balik dua kali.

Gadis nelayan itu pentang matanya lebar-lebar mengawasi gerakan Siang-koan Kie, ketika menyaksikan pemuda itu melakukan gerakan demikian, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sepotong tusuk konde yang terbuat dari batu Giok, diberikannya kepada Siang-koan Kie seraya berkata: “Nenekku meninggalkan benda ini, suruh aku memberikan kepada orang yang diutus oleh permaisuri.”

Siang-koan Kie menyambut tusuk konde itu seraya mengucapkan terima kasih.

Gadis nelayan itu berkata pula: “Kalian berjalan menuju ketimur, sesudah berjalan kira-kira lima pal, disana ada sebidang tanah datar, di tanah datar itu terdapat banyak gembala kambing.”

“Terima kasih atas petunjuk nona," berkata Siang-koan Kie, kemudian berpaling dan berkata kepada Teng Soan: “Toako mari kita pergi!”

Teng Soan mengeluarkan sebuah potongan bambu sebesar mata uang, diberikannya kepada gadis nelayan seraya berkata: “Nona, terimalah tanda mata ini, sebulan kemudian, ada orang yang datang mengambil, jika nona ada urusan apa2, minta saja kepada orang itu supaya mengurusinya.”

Gadis nelayan itu nampak ragu-ragu sejenak, barulah menyambuti potongan bambu itu.

Teng Soan dan Siang-koan Kie meninggalkan kampung nelayan itu dan berjalan menuju ketimur.

Badan Teng Soan yang sangat lemah, berjalan tidak jauh, sudah merasa letih, air keringat mengalir turun.

Siang-koan Kie berhenti sambil berjongkok ia berkata: “Bagaimana kalau aku gendong kau untuk melanjutkan perjalanan kita?”

Teng Soan menerima baik usul saudaranya, dan Siang-koan Kie setelah menggendong Teng Soan berjalan dengan cepat, dalam waktu singkat, benar saja sudah tiba di sebidang tanah datar. Tanah datar itu kira-kira seluas seratus hektar, di tempat itu benar saja ada beberapa puluh anak gembala yang sedang menggembala kambing.

Siang-koan kie berseru: “Aku mau beli kambing! Aku mau beli kambing!”

Seorang anak laki-laki berusia kira-kira tigabelas tahun, berjalan menghampiri, sepasang matanya mengawasi Teng Soan dan Siang-koan Kie, sikapnya menunjukan rasa takut, tetapi akhirnya ia berjalan menghadap Siang-koan Kie.

Kiang koan Kie memeriksa keadaan sekitarnya sejenak, beberapa anak gembala kambing itu, mengawasinya dengan sinar mata heran, agaknya kedatangan dua orang itu dianggapnya sebagai suatu peristiwa janggal,

Teng Soan dengan ramah tamah berkata kepada mereka: “Adik-adik kecil, jangan takut, aku ingin menanyakan kepada kalian, berapa harganya seekor kambing?”

“Tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga."'

Si wajah anak itu terlintas perasaan gembira, kemudian mengguman sendiri: “Aa! Kalian akhirnya datang juga, aku menantikan kedatangan kalian sudah lama sekali!”

Siang-koan Kie mengeluarkan tusuk konde batu giok yang diberikan oleh gadis nelayan itu kemudian diletakkan di tangan dan menanyakan kepada anak gembala itu: “Adik kecil, kenalkah kau benda ini?"

Anak gembala itu memandang tusuk konde sejenak, lalu berkata, “mari aku ajak kalian pergi ... ”

Tanpa menunggu jawaban kedua tamunya, ia sudah berjalan lebih dahulu.

Beberapa anak gembala yang lainnya, semua menyaksikan kelakuan tiga orang itu dengan mata terbuka lebar Setelah melalui tanah datar yang luas itu, tibalah mereka disuatu bukit yang mempunyai jalan berliku-liku, di bawah bukit terdapat sebuah rimba.

Anak gembala itu berpaling kebelakang, ketika mengetahui kawan-kawannya tidak mengejar, baru menggapaikan tangan kepada Teng Soan dan siang-koan Kie seraya berkata: “Silahkan masuk!”

Lebih dahulu ia masuk kedalam rimba.

Siang-koan Kie sambil membimbing Teng Soan berjalan masuk ke dalam rimba, tidak antara lama anak gembala itu tiba-tiba berheuti dan berkata sambil menunjuk sebuah gubuk yang dikitari oleh pohon lebat: “Disana, di dalam gubuk itu, kalian pergilah!”

“Adik kecil, siapakah namamu?" bertanya Teng Soan sambil tertawa.

“Tidak usah menanyakan aku, nanti sore aku sudah akan berlalu dari sini, orang itu memberikan aku banyak uang, suruh aku menantikan kedatangan kalian, dan sekarang kalian sudah datang, maka aku sudah boleh pergi.”

Tanpa menunggu jawaban Teng Soan lagi, ia sudah membalikkan badan dan lari.

“Mari kita pergi kesana," berkata Siang-koan Kie yang segera berjalan menuju ke gubuk itu.

Pintu gubuk itu tertutup rapat, di depan pintu duduk seorang perempuan tua berambut putih, tongkat bambu dilintangkan di tangannya sambil memejamkan mata.

Siang-koan Kie dengan membawa tusuk konde batu Giok berjalan menghampiri dan berkata dengan suara perlahan : “Locianpwee."

Nenek tua itu membuka matanya mengawas Siang-koan Kie sejenak, pandangannya ditujukan kepada tusuk konde batu Giok itu, kemudian ia berdiri, dari dalam sakunya mengeluarkan sepotong tusuk konde yang dibawa oleh Siang- koan Kie,ternyata dua potong tusuk konde itu memang asalnya satu.

Siang-koan Kie berkata dengan suara perlahan : “Kita berdua datang kemari atas perintah permaisuri, hendak menjumpai nona Kiang.”

“Penyakitnya berat sekali, sudah beberapa hari ia tidak mau makan.”

“Kalau begitu tolong Locianpwee lekas ajak kita menjumpainya,” berkata Teng Soan.

“Apa? Apakah kalian dapat menyembuhkan penyakitnya?” “Aku mengerti sedikit ilmu tabib,” berkata Teng Soan.

Nenek tua itu tidak banyak menanya lagi, lalu mengajak kedua tamunya masuk kedalam gubuk.

Di salah satu sudut di dalam gubuk itu terdapat satu bale2, di atas bale2 rebah terlentang seseorang dengan badan tertutup leh kain selimut.

Orang itu agaknya tidak mengetahui kedatangan Teng Soan dan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie perlahan2 menghampiri bale2 dan memanggil dengan suara perlahan : “Nona Kiang, Nona Kiang

... ”

Ia memanggil berulang2, tetapi orang yang rebah terlentang dan berselimut itu, sedikitpun tidak bergerak.

“Bagaimana? Coba kau raba masih bernapas atau tidak?" Berkata Teng Soan.

Siang-koan Kie lalu meraba badan orang yang tidur terlentang itu, sebentar kemudian ia menjawab, “Napasnya masih ada, tetapi lemah sekali.” “Kau gendong dia berlalu dulu dari rumah ini, aku nanti akan periksa jalan nadinya.”

Siang-koan Kie menurut, ia mengangkat tubuh nona itu bersama selimutnya, kemudian dipondongnya dan dibawa keluar.

Teng Soan setelah berada di luar bersama-sama Siang- koan Kie, lalu berkata kepadanya dengan suara perlahan: “Saudara, coba kau letakkan, aku hendak memeriksa nadinya.”

Gerakan nadi nona itu ternyata lemah sekali, seolah-olah orangnya sudah mendekati ajalnya, Teng Soan dalam hatinya merasa pilu, ia mengawasi nenek tua itu sejenak. kemudian berkata: “Mengapa kalian tidak menasehati dia untuk makan barang sedikit?”

Nenek itu menarik napas dan berkata: “Ia tiba disini sudah dalam keadaan demikian.”

Teng Soan berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie: “Kita tidak dapat berangkat dengan segera, harus berdiam di dekat-dekat sini kira2 dua hari, aku hendak memberikan beberapa obat dulu kepada nona Kiang ini, nanti baru melanjutkan perjalanan kita, apabila kita berlaku tergesa-gesa, barangkali kita tidak dapat membawanya pulang.”

Siang-koan Kie sambil memondong tubuh nona Kiang, mencari tempat tersembunyi, kemudian meletakkannya di tanah, di bawah sinar matahari, wajah nona itu nampak pucat pasi, badannya kurus sekali.

Nenek itu tetap mengikuti dibelakang Siang-koan Kie.

Teng Soan memandang nenek itu sejenak lalu berkata kepadanya, “Kenalkah kau dengan permaisuri Kun-liong Ong?”

Nenek itu sesaat tercengang, kemudian baru menjawab: “Orangnya tidak kenal, tetapi aku pernah dengar orang cerita tentang dirinya.” “Siapa yang menyuruh kau menjaga disini?”

“Aku hanya menerima bayaran untuk melakukan tugas ini.”

“Tugasmu sudah selesai, sekarang kau boleh pergi," berkata Teng Soan setelah berpikir sejenak.

Nenek itu berpikir sejenak, nampaknya hendak mengatakan sesuatu, tetapi dibatalkan, kemudian memutar tubuhnya dan berjalan lambat-lambat meninggalkan Teng Soan.

Siang-koan Kie mengawasi berlalunya nenek itu, kemudian berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Toako, nenek itu terang mempunyai kepandaian ilmu silat, rasanya bukan seorang yang dibayar untuk melakukan tugas itu, dalam hal ini mungkin ia membohong.”

“Memang benar, tetapi ia sudah bosan dengan penghidupan dunia Kang-ouw yang banyak bahaya, maka ia berkata pura-pura tidak kenal dengan permaisuri Kun-liong Ong, agaknya ia sudah akan meninggalkan penghidupan dalam dunia Kangouw untuk selama-lamanya.”

Siang-koan Kie tercengang, katanya: “Toako sesungguhnya sangat teliti sekali menilai sesuatu urusan.”

“Saudara hanya melihat ia mempunyai kepandaian ilmu silat, barangkali belum mengetahui gerak-geriknya seperti orang tua yang sebetulnya dibikin-bikin, apabila dugaanku tidak keliru, dia mungkin salah seorang pelayan permaisuri Kun-liong Ong, mungkin juga sewaktu Su-moyku mengutus ia datang kemari, sudah mengijinkannya, apabila tugas yang sudah selesai, boleh meninggalkan penghidupan dunia Kang- ouw.”

Pada saat itu nenek tua yang sudah hampir tidak kelihatan, tiba-tiba balik kembali dan berjalan lambat-lambat.

Siang-koan Kie diam-diam sudah siap, tetapi di luarnya tidak mengunjukkan perobahan apa2, sepasang matanya ditujukkannya kepada nenek itu, untuk menjaga apabila melakukan serangan dengan mendadak.

Nenek itu ketika berada di depan mereka, lalu berhenti dan bertanya lambat-lambat: “Ada suatu hal aku ingin bertanya kepada kalian berdua!”

“Aku selalu bersedia untuk mendengar pertanyaanmu," berkata Teng Soan.

“Apakah permaisuri Kun-liong Ong baik2 saja?”

Sebelum Teng Soan menjawab, Siang-koan Kie sudah mendahuluinya: “Permaisuri Kun-liong Ong sudah meninggal

... “

Badan perempuan tua itu mendadak gemetar, jelas bahwa perasaannya tergoncang hebat setelah mendengar kabar buruk itu.

Sikap Teng Soan tenang-tenang saja, seolah2 tidak terjadi apa-apa, ia berkata sambil mengibas-ngibaskan kipasnya: “Barang siapa yang berani bermusuhan dengan Kun-liong Ong, semua tidak akan terhindar dari tangan jahatnya, nona sudah akan meninggalkan penghidupan dunia Kang-ouw, apakah masih hendak melibatkan diri dalam perkelahian dunia Kangouw?.. ”

Perempuan tua itu tiba-tiba menundukkan kepalanya, air matanya mengucur keluar. Teng Soan menarik napas dalam2 dan berkata: “Pergilah, untuk selanjutnya hiduplah dengan tentram, jangan terlibat lagi pertikaian dunia Kang-ouw, aih! Kepandaian ilmu silatmu itu, juga tidak cukup kau gunakan untuk menuntut balas terhadap Kun-liong Ong.”

Perempuan tua itu memesut air matanya, lambat2 berjalan meninggalkan kedua tetamunya sambil menggumam sendiri.

Setelah perempuan itu pergi jauh, Siang-koan Kie baru berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan, “Toako, kita tak boleh berdiam disini lama2, marilah kita pergi.”

Teng Soan mengeluarkan sebuah botol dan mengambil tiga butir pel seraya berkata: “Saudara, pel ini kita berikan dulu kepadanya satu butir, dengan tiga butir pel ini, bisa menjaga supaya penyakitnya jangan berubah, nanti kita akan melanjutkan perjalanan kita.”

Siang-koan Kie mengetahui bahwa toakonya itu ternyata sudah berobah pendiriannya semula segera memondong nona Kiang yang tinggal napasnya saja, untuk melakukan perjalanan pulang.

Dua orang itu setelah keluar dari dalam rimba, melaujutkan perjalanannya, hingga hari senja, mereka telah berpapasan dengan orang2 golongan Pengemis yang diutus untuk mencari mereka.

Orang2 golongan pengemis itu sudah menyiapkan kereta dan kuda, begitu bertemu dengan Teng Soan, segera menyilahkan Teng Soan dan nona Kiang itu naik kedalam kereta, sedangkan Siang-koan Kie berjalan dengan naik kuda.

Mereka melanjutkan perjalanan pulang, kira2 jam empat hampir subuh, sudah tiba di luar perkampungan di mana didirikan markas golongan pengemis untuk sementara, pada saat itu Auw-yang Thong bersama Koan Sam Seng dan lain2nya anak buah golongan pengemis, sudah menyambut penasehatnya itu di luar perkampungan,

Teng Soan buru2 melompat keluar dari keretanya, ia berkata kepada pangcunya sambil menghormat, “Penyambutan pangcu ini, bagaimana hambamu sanggup menerima?”

“Sudah beberapa hari sianseng melakukan perjalanan tentunya sudah lemah, lekaslah beristirahat.” Teng Soan menghela napis panjang, tanpa berkata apa2 ia berjalan menuju kekampung.

Siang-koan Kie berkata sambil memberi hormat: “Pangcu, nona Kiang sekarang berada di dalam kereta, tetapi penyakitnya sangat berat, sebaiknya minta Kiang tayhiap sendiri yana membawa pulang, aih! Toako sebetulnya ingin mengobati dulu penyakitnya di dalam rimba, satu dua hari kemudian baru dibawa pulang, tetapi kemudian toako berubah pikiraunya, dengan menggunakan khasiat obat pel-nya, menjaga supaya penyakit nona Kiang jangan sampai terjadi perobahan, namun menurut pendapat siaute, penyakit nona Kiang ini sudah seperti pelita yang hampir kehabisan minyak, barangkali ... ”

Mendadak ia merasa bahwa ucapan selanjutnya tidak pantas diucapkan terus terang, maka ia buru-buru menutup mulut.

“Kiang Su Im karena memikiri anaknya, pikirannya menjadi kalut, setiap hari mengacau hingga kami terpaksa menotok jalan darannya ... “ berkata Auw-yang Thong sambil menghela napas.

Sementara itu dua anak buah golongan pengemis datang dengan menggotong felbet.

Siang-koan Kie yang sudah selesai tugasnya, tiba2 teringat kepada Touw Thian Gouw maka lalu bertanya: “Pangcu, apakah luka-luka Touw toako sudah sembuh?”

“Luka Touw toako sudah mulai sembuh, harap saudara Siang-koan Kie jangan pikirkan.”

Pada saat itu, dua anak buah golongan pengemis sudah berada dekat kereta.

Auw-yang Thong membuka totokan Kiang Su Im, tetapi diam2 ia telah waspada, karena khawatir orang tua itu pikirannya belum jernih, mungkin berlaku gila2an. Kiang Su Im yang sudah terbuka totokannya, tiba-tiba menghela napas panjang dan lompat bangun sepasang matanya berputaran mengawasi keadaan sekelilingnya, kemudian dengan tiba2 tangannya menyambar Auw-yang Thong, mulutnya berseru, “Bocah Teng Soan itu sudah pulang atau belum lekas kembalikan anakku.”

Auw-yang Thong mengelakkan diri menghindarkan tangan Kiang Su Im, lalu berkata: “Anakmu kini berada di dalam kereta, hanya penyakitnya sangat berat. Kiang-tayhiap, tenanglah pikiranmu, nanti kau boleh lihat sendiri.”

Orang tua itu benar saja mulai tenang pikirannya, per- lahan2 menghampiri kereta.

Siang-koan Kie yang menyaksikan tindakan kaki orang tua itu ternyata gemetar, berkata kepadanya dengan suara perlahan: “Anakmu masih sangat lemah, harap Kiang tay-hiap hati2 sedikit.”

Tangan Kiang Su Im yang sudah akan membuka pmtu kereta, tiba2 gemetaran, hingga mengurungkan maksudnya, ia berpaling mengawasi Siang-koan kie sejenak, kemudian baru membuka pintu kereta.

Pikirannya yang kalut, kini agaknya telah menjadi jernih secara mendadak, perlahan2 mengulurkan kedua tangannya, mengangkat tubuh anaknya dari dalam kereta.

Ia memandang wajah anaknya sambil menghela napas, wajahnya yang semula nampak murung, mendadak menjadi terang.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu diam2 merasa heran, karena sikap Kiang Su Im itu agaknya tidak menghawatirkan nasib anaknya.

Auw-yang Thong berkata sambil memberi hormat: “Hawa udara malam kurang baik bagi orang sakit, harap Kiang tay- hiap lekas bawa pulang anakmu, Teng sianseng kita pandai ilmu obat-obatan, besok pagi minta ia supaya mengobati anakmu.”

Kiang Su Im agaknya sudah pulih kembali pikirannya, ia berkata sambil menghela napas: “Budi pangcu, aku mengucapkan banyak banyak terima kasih.”

Sambil memondong anaknya ia berjalan dengan tindakan lebar.

Auw-yang Thong berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan, “Sudah beberapa hari saudara Siang-koan Kie menjaga keselamatan Teng sianseng, sekalipun orang berurat kawat bertulang besi, juga merasa lelah, malam ini harap saudara beristirahat dengan baik!”

“Semangat boanpwee masih baik, harap pangcu utus orang membawa siaute pergi menengok keadaan Touw toako.”

Auw-yang Thong mengamat2i wajah Siang-koan Kie, benar saja sedikitpun tidak mengunjukkan rasa lelah, hingga dalam hatinya diam2: ‘memuji pemuda ini usianya masih muda sekali tetapi kekuatan tenaga dalamnya sudah mempunyai dasar sangat- kuat.’

“Luka Touw tay-hiap sangat parah, dimalam buta seperti ini, sebaiknya jangan diganggu, besok saja saudara Siang- koan Kie pergi menengok," demikian ia berkata sambil tertawa.

“Baiklah." berkata Siang-koan Kie sambil menganggukkan kepala, dan kemudian berlalu.

Setelah Siang-koan Kie berlalu, Auw-yang Thong berkata kepada Koan San Seng: “Keadaan badan sianseng, nampaknya semakin memburuk, apabila tidak diberikan kesempatan untuk beristirahat barangkali tidak dapat tahan lagi.'' “Hamba juga mempunyai perasaan demikian," menjawab Koan Sam Seng.

“Supaya ia dapat beristirahat dengan tenang, aku telah mengambil keputusan untuk mengantar ia ke-suatu tempat yang sunyi dan indah pemandangan alamnya, untuk menghindarkan keruwetan pikirannya, sayang, kita sedang menghadapi musuh tangguh, setiap waktu bisa terjadi pertempuran besar-besaran, tindakkanku memberikan kesempatan Teng sianseng beristirahat, meskipun mengandung bahaya, tetapi setelah kupertimbangkan masak2, aku merasa sebaiknya mengirim ia ketempat yang tenang untuk beristirahat, aku sudah memerintahkan ketiga kok-cu dan seorang tongcu, supaya masing2 memilih sepuluh orang anak buah yang terkuat untuk datang kemari ... ”

“Apa? Apakah pangcu sudah berkeputusan hendak melakukan pertempuran yang menentukan dengan Kun-liong Ong?”

“Setelah Teng sianseng pergi, tiada orang yang dapat memberi komando, sudah tentu kurang tepat melakukan pertempuran besar-besaran dengan Kun-liong Ong, maksudku ialah hendak melakukan penggempuran sebagai siasat untuk mengundurkan diri, kemudian kita pusatkan seluruh kekuatan untuk membasmi sebagian besar anak buahnya, supaya manusia jahat itu menjadi bingung menghadapi siasat kita, dengan demikian mungkin memperlambat usahanya untuk menguasai rimba persilatan.”

“Siasat ini baik sekali, tetapi tentang maksud kita mengirim Teng sianseng pergi beristirahat sebaiknya dirahasiakan, supaya jangan sampai bocor.”

“Oleh karena itu, maka aku ingin minta kau supaya menolong ... " berkata Auw-yang Thong sambil menghela napas, "Teng sianseng meskipun di luarnya lemah lembut, tetapi di dalamnya keras, jikalau ia tidak mau beristirahat, kita sesungguhnya tidak bisa memaksa, oleh karena itu, aku minta pertolonganmu, aku sudah membuat dua pucuk surat, kau antar ketempat yang kumaksudkan tadi, setiba disana kau baru berikan kepadanya.”

“Hamba menerima baik perintah pangcu .... ” Berkata Koan Sam Seng sambil memberi hormat, “tetapi jikalau hamba dan Teng sianseng berlalu dari tempat ini, sedangkan tiga kokcu dan seorang tongcu yang pangcu panggil, masih belum tiba, dengan seorang diri pangcu harus menghadapi Kun-liong Ong, hamba sesungguhnya tidak tenang.”

“Tidak halangan, delapan hulubalang dan empatpuluh delapan pasukan berani mati, sudah lama mempunyai pengalaman dalam pertempuran besar, inti pasukan golongan pengemis, boleh dikata sudah berpindah disini, orang2ku semua sudah dilatih dengan baik oleh Teng sianseng, hingga dapat menghadapi musuh tanpa diragukan ketangkasannya, tidak perlu aku merasa khawatir, apalagi pasukan tiga kokcu dengan seorang Tongcu sudah akan tiba, maka urusan disini sebetulnya tidak perlu dikhawatirkan ... " kesehatan Teng sianseng makin lama makin memburuk aku bersama saudara Koan, seharusnya sama2 bertanggung jawab, dia memang seorang luarbiasa, tetapi kita telah mengabaikan bahwa ia adalah seorang pelajar yang lemah, dengan badannya yang lemah harus memikul tugas berat demikian rupa, sudah tentu tidak ada tempatnya aih! Apabila lebih siang kita dapat memikirkan hal itu, juga tidak akan membuat ia sampai demikian rupa.”

“Pangcu benar.”

“Semoga tuhan melindungi, supaya Teng sianseng yang mendapat kesempatan beristirahat, lekas pulih kembali kesehatannya.”

Sementara itu mereka sudah berjalan menuju kesebuah bukit. Keesokan harinya, diwaktu tengah hari Auw-yang Thong mengajak Koan Sam seng pergi menengok Teng Soan.

Setelah dapat tidur hampir satu malam, semangat Teng Soan baik-baik, begitu melihat pangcunya, segera menyambut dan memberi hormat.

“Apakah sianseng merasa enak?" bertanya Auw-yang Thong sambil tersenyum.

“Terima kasih atas perhatian pangcu, hamba merasa banyak baik.”

“Aku pikir ada beberapa persoalan besar, yang ingin merundingkan dengan sianseng.”

“Pangcu katakan saja.”

“Perkara ini besar sekali hubungannya dengan nasib golongan pengemis dikemudian hari, sianseng meskipun mempunyai kepandaian luar biasa, barang kali juga harus berpikir dulu, baru dapat mengambil keputusan, oleh karena itu, maka aku minta saudara Koan, untuk mengantar sianseng kesuatu tempat yang sunyi, supaya berdiam beberapa hari disana dan tidak akan diganggu oleh keramaian, dengan demikian Sianseng dapat membuat rencana dengan tenang.”

“Pangcu benar, entah kapan hamba harus berangkat?” Auw-yang Thong sesungguhnya tidak menduga bahwa

Teng Soan dapat menerima usulnya demikian mudah, sejenak ia nampak tercengang, kemudian berkata: "Lebih lekas lebih baik, aku ingin supaya sianseng segera berangkat.”

“Hamba menurut ... " berkata Teng Soan sambil tertawa, ia berjalan kemeja tulisnya untuk mengambil sebuah kantong yang sudah tertutup rapat bersama tiga lembar resep obat, “resep obat ini untuk nona kiang, obatnya harus dimakan menurut aturan yang tertera dalam resep itu, dan kantong ini harap pangcu simpan baik2 sebulan ke mudian baru dibuka, sekali2 jangan dibuka lebih dahulu.” Auw-yang Thong yang menyaksikan ketenangan penasehatnya itu, seolah2 segala apa yang akan terjadi, semua sudah di dalam dugaannya, hingga diam-diam merasa heran.

“Sianseng harap segera berangkat.” “Hamba menurut.”

Kereta sudah tersedia, untuk meringankan kesunyian sianseng diperjalanan, aku mengutus Koan Sam Seng mengawani Sianseng.”

“Hamba ada suatu permintaan yang mungkin kurang tepat.”

“Silahkan, asal kami dapat melakukan, tidak akan kami tolak!”

“Aku minta supaya Siang-koan Kie mengawani aku.”

Auw-yang Thong berpikir sejenak, lalu berkata. “Dia bukan orang golongan pengemis, kita agak berat ... ”

“Asal pangcu terima baik permintaan hamba untuk mengajak ia jalan bersama2 Siang-koan Kie pribadi tidak nanti akan menolak.”

Auw-yang Thong menghela napas perlahan: “Kalau sianseng sudah bermaksud demikian, aku juga tidak akan menolak ... ”

Kemudian ia berkata kepada salah seorang anak buahnya yang menjaga dipintu: “Kau panggil Siang-koan tay-hiap.”

Sebentar kemudian, Siang-koan Kie telah tiba.

Sebelum Siang-koan Kie membuka mulut, Teng Soan berkata lebih dahulu: “Saudara aku minta supaya saudara ikut aku untuk mengurus suatu perkara besar.”

“Perintah toako, siaute tidak akan menolak.” “Diluar, kereta dan kuda siap, kita harus segera berangkat.”

Siang-koan Kie tercengang. “Mengapa demikian tergesa- gesa?”

“Lebih cepat lebih baik.”

Siang-koan Kie memberi hormat dan berkata kepada Auw- yang Thong: “Tolong pangcu beritahukan kepada Touw toako katakan saja bahwa siaute ikut Teng toako pergi.”

“Saudara Siang-koan jangan khawatir.”

Teng Soan mengulurkan tangannya diletakkan di-pundak Siang-koan Kie, kemudian berkata: “Saudara bimbing aku keluar.”

Di luar gubuk sudah menunggu sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda, seorang kusir berpakaian hitam sudah menunggu di atas kereta.

Siang- koan Kie membimbing Teng Soan naik kereta dengan diikuti oleh Koan Sam Seng dan Auw-yang Thong.

“Harap sianseng baik2 diperjalanan, aku tidak mengantar jauh2.”

“Harap pangcu jangan kecil hati, jika ditilik kekuatan kita.

Sesungguhnya tidak di bawah Kun-liong Ong.”

“Sianseng jangan khawatir, aku akan berusaha dan bertekad bulat untuk menghadapi Kun-liong Ong.”

Teng Soan memerintahkan kusirnya menjalankan keretanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada pangcunya.

Kereta itu berjalan kira2 sepuluh pal, Koan Sam Seng yang mengantar tiba2 mengeluarkan sepucuk sampul lalu dibukanya dan dibaca, kemudian dibakar, setelah itu berkata kepada kusir kereta: “Jalan kebarat.” Kusir itu menjalankan keretanya menurut permintaan Koan Sam Seng.

Sementara itu Teng Soan yang duduk dalam kereta sambil menyandar nampaknya sedang tidur pulas.

Siang-koan Kie yang menyaksikan perbuatan Koan Sam Seng tadi, meskipun dalam hatinya merasa heran tetapi ia tidak mau menanya, maka juga pejamkan matanya pura2 tidur.

Entah berapa lama telah berlalu kereta berjalan bergoyang2, ternyata sudah mulai berjalan di atas jalanan yang tidak rata.

Koan Sam Seng tiba2 membuka tutup kereta dan melompat keluar.

Siang-koan Kie berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan, “Toako, mereka entah sedang berbuat apa, sikapnya sangat aneh, apakah mengandung maksud ... ”

Teng Soan masih pejamkan matanya, menjawab sambil bersenyum: “Mereka sedang menghindarkan mata2 Kun-liong Ong, dan hendak mengantar kita kesuatu tempat yang sunyi untuk beristirahat.”

“Sekalipun demikian, juga tidak perlu berlaku demikian, sehingga menimbulkan kecurigaan orang.”

“Kita tidak boleh menyatahkan mereka, mereka sesungguhnya bermaksud baik, sayang pangcu sudah salah hitungan dalam satu perkara ... ”

“Perkara apa?" bertanya Siang-koan Kie heran.

Kemanakah Teng Soan akan dibawa? Dan apakah yang akan terjadi selanjutnya?

Silahkan baca lanjutannya.

-ooodw0oo-