ISMRP Jilid 20

 
Jilid 20  

LAKI2 dari barisan aneh itu, setiap orang pucat pasi, dengan mata membelalak memandang Siang-koan Kie, sinar mata mereka menunjukkan tanda kaget, heran, marah jeri tetapi juga kagum.

Pemuda itu dengan seorang diri dan sebilah pedang telah masuk dan keluar ke dalam barisan mereka dengan seenaknya, barisan yang terdiri dari tigapuluh enam orang itu, seolah2 bukan merupakan apa-apa baginya.

Di hadapan Teng Soan, Siang-koan Kie berkata sambil memesut keringat di jidatnya. “Sungguh hebat barisan ini, aku telah terkena serangan pedang mereka sebanyak tigabelas tempat."

Teng Soan terperanjat, ia bertanya dengan wajah berobah: “Apakah kau terluka?”

“Meskipun tidak terluka, tapi tigabelas pedang itu, setiap pedang hampir menamatkan jiwaku, jika aku agak terlambat merobah gerak tipuku, barangkali tidak bisa keluar dari kepungan mereka."

Delapan laki2 itu mendengarkan penuturan Siang-koan Kie dengan perasaan kagum. Siang-koan Kie mengawasi sikap mereka ia khawatir bahwa ucapannya itu akan mempengaruhi semangat mereka, maka ia berkata pula sambil tertawa terbahak-bahak: “Barisan itu meskipun hebat, tapi tidak bisa berbuat apa2 terhadap aku. Apalagi ... dengan adanya semangat dan tekad kita beberapa orang ini, juga sudah cukup untuk menggetarkan mereka.”

Teng Soan bersenyum, dalam hatinya diam2 memuji bahwa pemuda gagah itu, ternyata juga mengerti bagaimana mengempos kawan2nya. Ia lalu berkata: “Kalau begitu mari kita menyerbu saja." Dalam hati Siang-koan Kie berpikir: ‘aku seorang diri saja demikian sulit, untuk menembus garis mereka, apabila membawa demikian banyak orang aih ... ‘

Walaupun dalam hatinya berpikir demikian tetapi dengan tanpa banyak pikir lagi ia sudah berseru: “Serbu!”

“Saudara Siang-koan di depan, tuan2 ikut disampingku, bertindak menurut perintahku,” berkata Teng Soan, sesungguhnya ia sudah menemukan ciri2nya dalam barisan itu, di bagian yang mana yang harus diserbu supaya dapat memecahkan barisan tersebut.

“Barisan itu mengandung banyak perobahan yang aneh bagaimana Sianseng boleh menempuh bahaya, menurut pikiranku, aku hendak membawa empat kawan untuk menyerbu lebih dulu, sianseng bergerak belakangan," berkata Siang-koan Kie dengan suara perlahan.

“Tidak apa kau jangan khawatir ... " berkata Teng Soan sambil tersenyum, kemudian berkata kepada laki2 yang berdiri di sekitarnya: “Setelah kita masuk ke dalam barisan, harap tuan2 turut perintahku, jangan bertindak sendiri2, supaya kita tidak tersesat.”

Delapan laki2 itu menerima baik pesan tersebut.

Teng Soan lalu bertindak sambil mengibaskan kipasnya. Siang-koan Kie maju selangkah,  berjalan di  muka Teng

Soan.

Dan delapan laki2 itu berjalalan melindungi Teng Soan.

Keberanian dan ketangkasan Siang-koan Kie, sudah meninggalkan kesan yang sangat dalam kepada musuhnya, maka ketika menampak ia menyerbu lagi dengan meliga pedang, barisan itu segera mengadakan perubahan. Teng Soan berkata dengan suara perlahan: “Saudara Siang-koan menyerang bagian timur, menduduki posisi di situ, lekas.”

Siang-koan Kie menujukan matanya ke arah timur, di situ tampak berdiri tiga orang, meskipun dalam hati merasa heran, tetapi ia sudah percaya benar kepada Teng Soan, maka tanpa ragu-ragu ia segera menyerbu ke arah timur itu.

Sungguh heran, ketika Siang-koan Kie menyerbu, perobahan gerakkan barisan itu, baru saja memutar setengah putaran, sedangkan di bagian timur itu, terdapat satu tempat kosong.

Teng Soan menggerakkan tangan kirinya, menyuruh dua laki2 yang berada di sebelah kirinya segera menyerbu.

Dua laki2 itu segera menerjang sambil memutar goloknya.

Gerakkan perobahan barisan musuh, juga baru saja membuka satu bagian terluang di tempat yang diserbu oleh dua orang itu, hingga dua laki2 itu dapat masuk ke dalam barisan tanpa mendapat rintangan.

Siao-yao Siucay berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara nyaring: “Saudara Siang-koan, kau sekarang dari bagian timur menyerbu ke utara.”

Dengan serentak Siang-koan Kie menyergap ke bagian utara.

Barisan itu setelah dua bagian sudah terjatuh di tangan lawan. Perubahannya tidak leluasa lagi, sewaktu Siang-koan Kie menyergap, kebetulan barisan sedang bergerak, setelah diserbu oleh Siang-koan Kie, seketika menjadi kalut, seorang musuh binasa di tangannya.

Karena gerakan barisan terhalang, sehingga bagian kepala dengan bagian ekor sudah tidak dapat bekerja sama satu sama lain, sedangkan bagian sayap, juga tidak berhasil mempertahankan kedudukannya, mereka tidak sanggup menahan serbuan Siang-koan Kie yang hebat itu.

Teng Soan kembali menyuruh dua orang yang berdiri di sisi kanannya untuk menyerbu.

Pada saat itu, Siang-koan Kie sudah menyerang musuh2nya dengan pedangnya, setelah berhasil memukul mundur musuh2nya, lalu menduduki tempat mereka.

Barisan musuh itu telah menjadi kalut, namun demikian mereka masih berusaha untuk mempertahankan kedudukannya, maka waktu dua laki-laki itu menyerbu, segera mendapat rintangan dari musuh.

Teng Soan yang sudah mengetahui bagaimana caranya harus memecahkan barisan itu, lalu berkata kepada Siang- koan Kie dengan suara nyaring: “Saudara Siang-koan lekas rebut kedudukan bagian tengah.”

Siang-koan Kie dengan cepat balik menyerang ke bagian tengah, ilmu pedangnya yang luar biasa dalam waktu singkat sudah berhasil melukai dua musuhnya.

Teng Soan mengeluarkan perintah lagi, sisa delapan laki- laki yang berada di kanan kirinya dengan serentak bergerak menyerbu.

Delapan orang itu semua sudah pernah ditolong oleh permaisuri Kun-liong Ong dari bahaya maut, maka ketika menyaksikan permaisurinya membakar diri, setiap orang menimpakan kemurkaan hatinya kepada oraug-orangnya Kun- liong Ong, dengan semangatnya yang menyala-nyala itu, mereka menyerbu ke barisan musuh bagaikan orang kalap.

Teng Soan yang paham segala macam ilmu barisan, dengan mudah mengetahui segala perobahan dan kelemahan barisan itu, maka ia perintahkan Siang-koan Kie mematahkan pusat gerakan barisan itu, setelah gerakkan barisan itu terhalang, dengan sendirinya orang-orangnya tidak leluasa lagi untuk mempertahankan kedudukannya, ketika diserbu oleh delapan laki-laki itu, barisan itu segera menjadi kalut.

Selama pertempuran berlangsung, tiba-tiba terdengar suara seorang berkata: “gerakan barisan telah terhalang, kita tidak perlu mempertahankan peraturan, lekas berpencaran menahan musuh.”

Orang-orang dalam barisan itu, segera berpencaran menghadapi musuh-musuhnya.

Setelah orang-orang itu berpencaran melawan musuh- musuhnya, benar saja kekuatannya malah bertambah, jalannya pertempuran makin sengit.

Delapan laki-laki yang ditugaskan melindungi Teng Soan, bertempur dengan musuh-musuhnya di sekitar Teng Soan.

Adalah Siang-koan Kie yang saat itu mengamuk bagaikan banteng terluka, dengan sebilah pedangnya ia berhasil merobohkan setiap musuh yang berani berhadapan dengannya.

Sikap Teng Soan tenang luar biasa, meskipun sekitarnya terjadi pertempuran demikian seru, ia seolah-olah tidak menghiraukan sama sekali, bahkan matanya memandang jauh keadaan sekitarnya.

Saat itu Siang-koan Kie kembali sudah berhasil merobohkan dua musuhnya lagi.

Karena ilmu pedangnya yang aneh luar biasa, sulit bagi musuh-musuhnya untuk menjaga hampir setiap gerakannya, sekalipun tidak minta korban, tetapi juga sudah membuat musuh-musuhnya repot sekali.

Teng Soan yang sementara itu mendongakkan kepala memandang gumpalan awan di angkasa, berkata kepada dirinya sendiri: “Aku harus menggunakan kesempatan yang singkat selama jiwaku masih ada ini, hendak menuntut balas dendam baginya ... ” Di medan pertempuran, diantara suara hentakkan dan bunyi beradunya pedang, kembali Siang-Koan Kie sudah berhasil merobohkan tiga lawannya.

Kegagahan pemuda itu telah menggetarkan hati musuh- musuhnya, hampir setiap orang tidak berani mendekatinya, hingga terpaksa mundur kucar-kacir

Barisan aneh yang dibentuk oleh Kun-liong Ong itu, di bawah serbuan Siang-koan Kie atas petunjuk Teng Soan, dalam waktu yang sangat singkat sekali, sudah pecah berantakan.

Delapan laki-laki yang melindungi Teng Soan, ketika menyaksikan ketangkasan pemuda itu, setiap orang merasa sangat kagum.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara siulan panjang, terdengar dari tempat yang agak jauh.

Wajah delapan laki2 itu serentak berobah, mata mereka ditujukan ke arah suara itu.

Teng Soan tersenyum hambar, ia mengawasi delapan laki2 itu sejenak, kamudian bertanya, “Apakah Kun-liong Ong datang sendiri?"

“Dugaan sianseng tepat, itu memang suara Kun-long Ong yang mungkin akan datang kemari,” menyahut delapan laki2 itu.

Siang-koan Kie tiba2 tertawa besar, sambil mementil pedangnya ia berkata, “Bagus sekali kalau ia datang sendiri, keinginanku juga tercapai.”

“Saudara Siang-koan ... " bertanya Teng Soan dengan suara perlahan sambil mengerutkan keningnya.

“Sianseng ada perintah apa?”

Mengapa saudara Siang-koan tertawa sambil menyentil pedang?” “Aku hendak bertempur mati-matian dengan Kun-long Ong.”

“Dengan tindakan saudara yang menuruti hawa Inapsu ini, apa manfaatnya bagi keadaan suluruhnya? Harus kau ketahui bahwa suasana hari ini diliputi banyak bahaya, maut mengancam dari segala pelosok, apabila kau menuruti hawa napsu, kesudahannya pasti tidak menguntungkan pihak kita sendiri ... ”

Siang-koan Kie tercengang, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Kita semua yang sekarang ada disini, dapat terlepas atau tidak dari bahaya maut, saudara Siang-koan merupakan orang terpenting yang memegang kunci, oleh karena itu, aku tidak boleh tidak harus memperingatkanmu, janganlah menuruti hawa napsu, supaya tidak membawa pengaruh hebat bagi tindakan kita, seorang laki2 gagah tanpa mempunyai pikiran sehat, itu bukan seorang gagah.”

Siang-koan Kie merasa seperti diguyur oleh air dingin. "Terima kasih atas nasehat sianseng.”

“Dalam hati Kun-liong Ong selalu mengandung rasa sedikit takut terhadap aku, hari ini aku hendak menggunakan kesempatan ini, memberikan kepadanya suatu kesan yang membingungkan ... ” berkata Teng Soan, kemudian berkata kepada delapan laki2 itu : “Tetapi saudara2 harus turut permtahku."

“Kita telah diperintahkan oleh permaisuri untuk melindungi Sianseng, asal sianseng ada perintah, kita tidak akan menolak,” menyahut delapan laki2 itu serentak.

“Sudah lama kalian hidup di bawah kekuasaan Kun-liong Ong, nanti apabila melihat padanya sedikit banyak tentu timbul rasa takut, apabila diketahui olehnya perasaan kalian itu, besar sekali akibatnya bagi kita.” Delapan laki2 itu diam2 membenarkan pendapat Teng Soan itu, maka semuanya bungkem.

“Dalam hati kalian masing2 tentunya masih tergores keadaan menyedihkan permaisuri kalian yang mati membakar diri itu."

Mendengar ucapan itu, kemarahan mereka telah meluap dengan serentak menjawab: “Peristiwa menyedihkan itu, masih tergores sangat dalam di dalam hati kita semua, yang rasanya tidak mungkin kita lupakan selama2nya."

Teng Soan mengawasi kepada musuh2 yang membentuk barisan aneh itu, saat itu ternyata sudah me ngundurkan diri entah kemana, ia memeriksa keadaan tempat itu sejenak, kemudian berkata kepada delapan laki2 itu. “Kalian masing2 mencari rumput dan kayu kering, lekas pergi dan lekas kembali, makin banyak makin baik.”

Delapan laki2 itu setelah menerima perintah itu segera berangkat.

Teng Soan lalu berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan: “Kita sudah terkurung di tempat ini oleh orang2 kuat yang dipimpin oleh Kun-liong Ong sendiri, jika dilihat keadaan sekitar tempat ini mudah dipertahankan susah diserang, apabila kita menerjang keluar dengan menempuh bahaya, ada lebih baik berdiam disini menantikan kedatangan bantuan."

Siang-koan Kie memandang kesekitarnya sebentar lalu berkata : “Tempat ini merupakan tanah datar yang sangat tidak mudah dipertahankan, sebaiknya kita mundur ke danau itu, untuk menahan musuh."

“Kun-liong Ong di empat penjuru tempat ini sudah memotong jalan mundur kita, apabila kita melawan mati2an, juga tidak sanggup menahan serangannya yang hebat, sebaiknya kita hadapi pada itu di tanah datar ini, mungkin akan menimbulkan kesangsiannya apa bila saat itu tiba, kita nanti bertindak dengan melihat gelagat, supaya memberikan kesan membingungkan baginya."

Perhitungan sianseng, selalu lebih unggul dari pada orang, siaute sesungguhnja sangat kagum.

Sementara itu delapan laki2 itu sudah kembali dengan membawa banyak kayu kering.

Teng Soan lalu berkata sambil tertawa: “Sebelum pertempuran besar berlangsung, sudah tentu ada saat ketenangan sementara, maka kita harus sayang kepada waktu yang sangat singkat ini.”

Ia berjalan mondar mandir, memberi petunjuk kepada mereka tempat2 yang harus mereka duduki.

Delapan laki2 itu menurut perintah Teng Soan, kayu dan rumput kering yang dibawanya itu tiba2 menjadi dua belas tumpukan kecil.

Dari dalam sakunya Teng Soan mengeluarkan dua belas bungkusan kecil berwarna merah, kemudian berkata sambil tertawa: “Apabila anak buah Kun-liong Ong menyerbu besar2an, kalian harus bertindak menurut perintahku, duabelas bungkus ini meskipun ada sedikit keanehan. tetapi bukan tidak ada pengaruhnya sama sekali, Kun-liong Ong adatnya banyak curiga, sebelum mengetahui dengan jelas, ia tidak akan maju atau memandang ringan musuhnya secara gegabah.”

Siang-koan Kie dan delapan laki-laki itu, tidak mengerti akal muslihat apa yang akan digunakan oleh Teng Soan, maka tiada seorangpun yang berani membuka mulut.

Teng Soan meletakkan duabelas bungkusan kecil itu ke dalam duabelas tumpukan kayu kering, ia mengukur lagi letaknya, kemudian memperbaiki tumpukan kayu dan rumput kering itu, setelah itu lambat2 ia mundur ke dalam tumpukan kayu dan rumput kering, lalu duduk bersila. Siang-koan Kie berkata kepada delapan laki-laki itu: “Mari kita juga beristirahat sebentar, untuk menantikan saat pertempuran besar itu tiba.

Delapan laki-laki itu sudah dikagumkan oleh ketangkasan Siang-koan Kie, maka semua menurut perkataannya.

Siang-koan Kie belakangan ini kekuatan tenaga dalamnya mendapat kemajuan banyak, meskipun habis pertempuran hebat, tetapi setelah mendapat waktu untuk beristirahat, sebentar saja sudah pulih kembali tenaganya, ia lalu membuka matanya mengawasi keadaan sekitarnya.

Di bawah sinar matahari, di tempat yang jauh, tiba-tiba tampak berkelebatnya titik bayangan merah, dan menuju ketempatnya.

Tempat di mana dilalui oleh bayangan merah itu, debu telah mengepul.

Bayangan merah itu makin lama-makin dekat, bahkan sudah tampak semakin tegas, kiranya adalah seorang gadis berpakaian merah yang menunggang kuda warna merah pula.

Rambutnya yang panjang terurai dikedua pundaknya, tertiup angin beterbangan, dipelana kudanya, tergantung sebilah pedang panjang, gaun merahnya itu hanya sebatas lutut, hingga paha kecilnya yang putih bersih tertampak nyata.

Kuda merah dengan penunggangnya yang berwarga merah itu, terus lari menuju ke tempat beberapa orang itu berdiri.

Siang-koan Kie segera melompat dan mambentak: “Berhenti." Kemudian melintangkan pedangnya.

Gadis berbaju merah itu tertawa manis, tiba-tiba melompat turun dari atas kudanya sambil menyambar pedangnya yang tergantung di pelana, kemudian melayang ke hadapan Siang- koan Kie seraya berkata: “Jangan begitu galak akh! Kedatanganku juga tidak akan berkelahi dengan kalian." Siang-koan Kie khawatir gadis itu mengganggu Teng Soan, maka lebih dulu ia melangkah kemuka Teng Soan, kemudian baru berkata, “Kalau memang benar tidak mengandung maksud permusuhan, harap memberitahu keadaan dirimu.”

“Kau jangan tanyakan dulu aku ini siapa, aku hanya hendak mencari seseorang, kalau orang itu ada, nanti aku beritahukan kepadanya juga belum terlambat," berkata gadis berbaju merah itu.

“Siapakah yang nona hendak cari?" “Aku mencari Teng Soan."

Siang-koan Kie terkejut, sebelum ia membuka mulut, Teng Soan sudah bangkit berdiri dan berkata sambil tertawa: “Aku inilah Teng Soan, nona ada keperluan apa?”

Gadis berbaju merah itu bersenyum manis, kemudian berkata sambil menghormat: “Paman Teng ... ”

“Kau anak Kun-liong Ong, tetapi entah yang ke berapa?” bertanya Teng Soan sambil tertawa dan menganggukkan kepala."

“Aku anak yang ketiga." “Oh, jadi kau Sam Kongcu.”

“Namaku Bwee Cian Tay, paman Teng adalah orang tingkatan tua, panggil saja namaku.”

Ucapan, sikap dan gerak gerik gadis itu kekanak-kanakan.

“Apakah ayahmu yang mengutus kau untuk mencari aku?” “Ayah perintahkan aku mencari paman, ada sedikit urusan

yang perlu dibicarakan.”

“Dalam mata dan hati ayahmu masih ada seorang sute seperti aku ini, sesungguhuya sangat aneh.” “Ayah ingin bertemu muka dengan paman seorang diri, untuk merundingkan situasi dunia, ia minta aku kabarkan dulu kepada paman.”

“Dengan memandang mukamu suruhlah dia datang kemari.”

“Aku hendak balik memberi kabar kepada ayah, harap paman tunggu sebentar.”

Setelah itu, gadis itu melompat naik keatas kudanya dan berlalu dari hadapan Teng Soan.

Siang-koan Kie mengawasi gadis berbaju merah itu sampai tidak kelihatan, ia baru berkata kepada Teng Soan dengan mengerutkan alisnya: “Benarkah sianseng hendak mengadakan pembicaraan dengan Kun-liong Ong?”

“Aku sudah timbul hasrat untuk membunuh dia, kita omong2 satu kali, berarti menambah keyakinan bagiku untuk melaksanakan maksudku.”

“Kun-liong Ong jahat, kejam dan banyak akalnya, bagaimana kita tahu ia tidak mengandung maksud untuk membunuh sianseng?”

“Ia percaya bahwa kita sudah seperti burung dalam kurungan, yang tidak mungkin dapat terbang lagi, pada saat dan seperti ini, ia hendak menjumpai kita, sudah tentu ada mengandung maksud tertentu.”

Menampak kemauan yang tegas itu, Siang-koan Kie tidak berani menasehati lagi, diam2 ia mengambil keputusan, apabila Kun-liong Ong berani melakukan perbuatan yang tidak menguntungkan bagi Teng Soan, akan diserangnya mati2an.

Menunggu tidak antara lama, dari jauh nampak dua ekor kuda lari menghampiri, di atas kuda yang lari dimuka, adalah Bwee Cian Tay, di atas kuda kedua, duduk Kun-liong Ong yang mengenakan pakaian panjang berwarna hijau. Dua ekor kuda itu, setiba di tempat sejauh empat lima tombak, Kun-liong Ong dan gadis berbaju merah itu melompat turun dari atas kuda masing2.

Berjalan dekat empat tumpukan kayu kering, Kun-liong Ong tiba2 menghentikan kakinya, ia memeriksa keadaan sekitarnya sejenak, baru berjalan lagi lambat-lambat.

Teng Soan memejamkan matanya, kipasnya dipentang untuk melindungi dadanya, duduk bersila di atas rumput.

Siang-koan Kie berdiri di muka Teng Soan sambil melintangkan pedangnya, sepasang matanya terbuka lebar, memandang sepasang tangan Kun-liong Ong, asal menampak tangan atau jari Kun-liong Ong bergerak, akan segera diserangnya.

Kun-liong Ong berdiri sejauh enam tujun kaki, kemudian berkata kepada Teng Soan: “Sahabat-sahabat rimba persilatan, semua sudah tahu bahwa kita adalah suheng dan sute.”

Teng Soan membuka matanya, ia berkata samabil tertawa: “Tetapi mereka tidak tahu urusan suheng yang membunuh suhu.”

“Orang yang memaki aku, betapapun keji memakinya, juga tidak akan kuhiraukan, tetapi orang-orang yang kupilih menjadi anak buahku, aku suruh mereka setia ... " berkata Kun-liong Ong, matanya menyapu delapan laki-laki yang berdiri berbaris di belakang Teng Soan, kemudian berkata pula: “Seperti delapan orang ini semuanya harus dihukum mati.”

“Tahukah suheng bahwa mereka saat ini sudah mengabdi kepada golongan pengemis?" berkata Teng Soan sambil tertawa. Wajah Kun-liong Ong yang kecut dingin, tiba2 terlintas satu senyuman, kemudian berkata: “Dengan memandang muka sute, kali ini kuampuni dosa mereka.”

“Suheng mencari aku, adalah hanya dengan keperluan itu saja?”

“Masih ada soal lain ingin kurundingkan dengan sute.” “Aku bersedia mendengarkan.”

Sepasang mata Kun-liong Ong menatap wajah Teng Soan sejenak lalu berkata: “Aku lihat muka sute, seolah-olah menderita sakit keras, apabila dugaanku tidak meleset sute barangkali tidak lama hidup di dalam dunia.”

“Kalau benar mau apa?”

Kun-liong Ong mendadak tertawa terbahak2 dan berkata: “Dari daerah luar perbatasan aku telah menemukan sebuah obat som yang sudah hidup seribu tahun lamanya dengan tanaman Ho siu oh, dan macam obat ini merupakan barang mustika di dalam dunia, mungkin dapat menyembuhkan penyakit sute, maka aku ingin menghadiahkan dua rupa barang ini kepada sute.”

“Siaute percaya suheng benar mempunyai dua rupa benda itu, juga benar dapat menyembuhkan penyakit siaute, tetapi, usia siaute sudah tiba batasnya, hidup tambah lama beberapa tahun di dalam dunia, barangkali hanya menambah dosa saja, maka budi kebaikanmu ini aku terima di dalam hati, di sini siaute mengucapkan terima kasih.”

“Kedatanganku ini dengan hati sungguh2.”

“Namun sangat menyesal siaute tidak dapat memenuhi permintaan suheng.”

“Aku boleh mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw dan menyepi denganmu beberapa tahun nanti setelah kau meninggal dunia, barulah aku keluar lagi.” “Keadaan sudah menjadi begini rupa, diantara kita berdua, sudah seperti api dengan air, barangkali maksud suheng itu susah dilaksanakan.”

“Sekarang ini kau sendiri sudah berada di jalan buntu, sekalipun mempunyai sayap juga tidak bisa keluar dari kepunganku yang rapat ini.”

“Jikalau kau yakin, sekiranya dapat membinasakan aku, bukankah kedatanganmu ini tersia2 saja?”

“Dalam hatiku masih mengingat tali persaudaraan kita, aku tidak tega hati membinasakan kau di tempat tanah belukar ini.”

“Suheng telah membunuh suhu, memaksa istri membunuh diri, apakah dalam hatimu masih ada sutee seperti aku ini?”

“Jikalau aku memaksa kau mati lagi, maka di dalam dunia ini aku sudah tidak ada saudara lagi.”

“Tetapi satu hari aku masih hidup, berarti kau tidak dapat mencapai cita2mu untuk mengkangkangi rimba persilatan.”

“Apakah kau kira aku benar2 tidak bisa timbul kebaikan secara mendadak?”

“Suheng seharusnya tahu bahayanya melepaskan harimau pulang ke kandangnya, hari ini kalau tidak membunuh aku, di lain waktu akulah yang pasti akan membunuh kau.”

Sepasang mata Kun-liong, memancarkan sinar buas, katanya : “Kalau begitu, Sutee sudah bertekad hendak bermusuhan denganku?”

“Aku takkan berhenti sebelum aku mati, sudah tidak ada kesempatan lagi untuk berunding selama-lamanya ... ”

Kun-liong Ong berkata kepada gadis berbaju merah di sisinya : “Tay-jie, kau memberi hormat kepada paman Tengmu, mari kita pulang.” Bwee Cian Tay memandang Kun-liong Ong sejenak, lambat2 menghampiri Teng Soan, Siang-koan Kie segera merintangi seraya berkata: “Jangan bertindak lagi!"'

Bwee Cian Tay terkejut, lalu menghentikan tindakan kakinya.

Mata Teng Soan terus menatap muka Bwee Cian Tay, kemudian berkata sambil tertawa : “Biarlah dia kemari!”

“Tentang ini, bagaimana ... " berkata Siang-koan Kie terkejut.

“Tidak halangan!" berkata Teng Soan sambil tertawa. Siang-koan Kie terpaksa membiarkan gadis itu menghampiri

Teng Soan tetapi siap siaga.

Mata Bwee Cian Tay yang bulat bergerak2, lalu menghampiri Teng Soan.

Teng Soan lambat2 mengangkat kipas di tangannya lalu dilintangkan di depan dadanya.

Bwee Cian Tay menghentikan tindakan kaki, sepasang matanya memancarkan sinar aneh, mulutnya mengeluarkan perkataan : “Paman." lalu berlutut dihadapan Teng Soan.

Mata Teng Soan tidak berkisar dari wajah gadis ita, sahutnya sambil berkata hambar, “Tidak perlu memakai banyak peradatan.”

Bwee Cian Tay lambat2 mengangkat kepala, sepasang matanya yang jernih beradu dengan mata Teng Soan.

Ketika dua pasang mata itu saling beradu, gadis itu tiba2 memejamkan matanya, air mata mengalir turun, bibirnya bergerak2, mulutnya menyetuskan kata2 lembut: “Ibu beberapa kali memesan padaku, tidak boleh mencelakakan dirimu ... ” Meskipun Teng Soan tidak mengerti ilmu silat, tetapi ia mengerti banyak segi2nya ilmu itu, waktu bibir gadis itu bergerak2, ia sudah tahu bahwa si gadis bicara padanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ketelinga orang yang diajak bicara.

Meskipun ia mengarti, tetapi karena ia tidak mengerti ilmu silat, maka tidak dapat menjawab, terpaksa ia menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Sementara itu gadis itu melanjutkan kata2nya : “Ibu perlakukan aku seperti anak kandungnya sendiri, ia menyuruh aku berlaku baik terhadapmu sudah tentu aku tidak boleh tidak harus mentaati pesannya itu.”

Teng Soan menghela napas perlahan, ia ingin meagucapkan sesuatu, tetapi kemudian diurungkan.

Ia sebetulnya ingin memberitahukan padanya tentang kematian nyonya Kun-liong Ong, tetapi ia mendadak ingat, Kun-liong Ong berada dekat sekali, sedang ia sendiri tidak pandai ilmu silat, apabila ia mengeluarkan perkataan, tentu akan terdengar juga olehnya. 

Siang-koan Kie terus memperhatikan setiap gerak gerik gadis itu, apabila ada tanda2 turun tangan, segera diserangnya.

Mata gadis itu berkedip2 dua kali kemudian berkata : “Di dalam tanganku ada tigabelas batang jarum racun, jarum itu sangat halus, dalam waktu secepat kilat dapat kulontarkan, apabila jarum itu sangat berbisa, dengan cepat bisa membinasakan korbannya, ayah berkata padaku, bahwa kau tidak mahir ilmu silat, ia menyuruh aku mendekati dirimu, dengan menggunakan kesempatan selagi aku memberi hormat padamu melancarkan serangan dengan jarum berbisa, tetapi aku ingat pesan ibu aku tidak tega turun tangan, aih! Ayab meski-pun cinta aku, tetapi ia pegang peraturan terlalu teras, kali ini aku tak mau turun tangan terhadapmu, pasti akan mendapat hukuman berat, tetapi iku ingin balas budi ibu, tidak perduli bagaimana ayah menghukum aku, aku juga rela.”

Teng Soan tiba2 berkata : “Sudah waktumu untuk pulang."

Bwee Cian Tay terperanjat, tiba2 ia berdiri. Selagi gadis itu terdiri, Teng Soan tiba2 mengibaskan kipasnya, dan gadis itu lalu roboh di tanah.

“Kau mau apa?" menghardik Kun-liong Ong.

Teng Soan mengibaskan kipasnya dan berkata : “Siang- koan Kie kau sampaikan kepada Kun-liong Ong, katakan padanya bahwa aku siorang she Teng menahan putrinya, suruhlah ia datang minta sendiri kepadaku ... ”

Siang-koan Kie terkejut, ia bertanya : “Apa? Apakah orang ini yang menyaru sebagai Kun-liong Ong?”

“Benar, aku telah menduga bahwa Kun-liong Ong tidak nanti berani menempuh bahaya untuk datang sendiri di depanku berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Kun-liong Ong berkata sambil, tertawa dingin. “Kali ini barang kali kau akan salah menduga.”

Kedok kulit manusianya segera dibuka, tampaklah selembar muka aneh yang terdapat cacat bekas bacokan golok.

Teng Soan semula tercengang, tetapi kemudian tertawa hambar dan berkata: “Kau mengira bahwa kau sudah pandai menyaru tetapi nyatanya masih terdapat kesalahan … “

Dalam gusarnja Kun-liong Ong menghardik: “Di mana salahnya?"

Teng Soan mendadak bangkit, ia berkata sambil tersenyum: “Terletak pada pertanyaanmu ini,” lalu tertawa terbahak2, "Ia hanya menghendaki aku supaya menggerakan pasukanku yang tersembunyi, kemudian menyerbu sendiri dengan pembantu2nya yang pilihan tetapi sayang, akal busuknya itu tersia2 saja.” Orang itu agaknya mengetahui bahwa rahasianya telah terbuka, tidak dapat mengelabui lagi, dengan suara keras ia segera menyerbu.

Siang-koan Kie segera memutar pedangnya, dengan sinar pedangnya ia melindungi Teng Soan.

Sebentar terdengar suara jatuhnya senjata rahasia yang terpental jatuh oleh pedang Siang-koa Kie.

Ternyata orang itu ketika menyerbu, tangannya melontarkan serangan dengan senjata rahasia.

Pedang Siang-koan Kie setelah berhasil menggagalkan serangan keji orang itu, dengan satu gerak tipu "Menyusup ke dalam awan mengambil bintang", ujung pedang menggetar dan berubah me jadi tiga, mengarah tiga bagian jalan darah orang itu.

Kepandaian orang itu cukup tinggi, melihat gerakan Siang- koan Kie, segera mengetahui berhadapan dengan lawan tangguh, maka setelah serangan senjata rahasianya gagal, dengan cepat menghunus senjata pecutnya berkepala naga, yang terbuat dari emas lemas.

Gerakannya itu meskipun cukup gesit, tetapi Siang-koan Kie ternyata lebih geitt, baru saja pecut berada dalam tangannya dan belum sempat digunakan, serangan pedang Siang- koan Kie sudah sampai.

Orang itu memiringkan tubuhnya, mengelakkan serangan Siang-koan Kie, dengan pecutnya ia membabat Siang-koan Kie.

Sungguh hebat kepandaian Siang-koan Kie, begitu berhasil merebut posisi, tidak memberikan sedikit kesempatan juga kepada lawannya, gerak pedangnya seolah2 gelombang air laut, menggulung tanpa berhenti, sehingga orang itu terkurung dalam sinar pedang. Teng Soan jang menyaksikan serangan Siang-koan Kie demikian hebat dan ganas, dalam golongan pengemis, tak seorangpun yang mempunyai kepandaian serupa itu, sekalipun Auw-yang Thong sendiri barangkali juga belum tentu dapat mengalahkannya.

Orang yang menyaru sebagai Kun-liong Ong itu di bawah serangan hebat Siang-koan Kie, sudah tidak berkutik sama sekali. Percuma saja tangannya memegang senjata, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menggunakan, maka diam2 Teng Soan menghela napas, seorang pemuda yang demikian gagah, sungguh sayang apabila tidak dapat ditarik ke dalam golongan pengemis.

Sementara itu, serangan pedang Siang-koan Kie semakin lama semakin hebat, perubahan gerak tipunya juga semakin aneh. Orang itu tidak berdaya sama sekali untuk memperbaiki keadaannya yang bagaikan dibuat bulan2an Sian-koan Kie. Sekali2 ia mencoba membalas menyeraug, tetapi terdesak lagi, oleh serangan Siang-koan Kie.

Bab 78

Teng Soan mengibaskan kipasnya, berkata kepada dua laki2 di sisi kirinya dengan suara perlahan: “Lekas bawa nona itu kemiri, kita siap untuk menghadapi musuh. Kun-liong Ong yang asli mungkin akan segera datang dengan bantuannya yang kuat untuk menyerang kita.”

Dua laki2 itu segera membawa Bwee Cian Tay kepada Teng Soan,

Kun-liong Ong tiruan yang sedang bertempur dengan Siang-koan Kie, tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan tertahan, lengan kirinya terkena serangan pedang Siang-koan Kie, darah mengucur membasahi bajunya.

Teng Soan berseru kepada Siang-koan Kie, “Saudara Siang- koan Kie, jikalau bisa menangkap hidup, sebaiknya jangan melukai dirinya.” Siang-koan Kie saat itu sudah mengurung Kun-liong Ong tiruan itu di dalam sinar pedangnya, setiap waktu dapat menghabisi nyawanya, ketika mendengar suara Teng Soan, serangan pedangnya sengaja diperlambat, membiarkan lawannya terlepas dari ancaman bahaya.

Kun-liong Ong tiruan yang sudah tidak berdaya di bawah serangan Siang-koan Kie yang hebat, begitu lihat ada kesempatan yang baik, segera menotok Siang-koan Kie dengan pecutnya.

Dengan satu gerekan yang manis, Siang-koan Kie berhasil menggagalkan serangan lawannya, tangan kananya mendadak menyerbu menyerang pundak orang itu.

Siang-koan Kie yang sudah mendapat kemajuan pesat, serangannya itu meskipun hanya menggunakan lima bagian kekuatan tenaganya, tetapi lawannya ternyata sudah tidak sanggup menerima, sambil mengeluarkan suara seruan tertahan, Kun-liong Ong tiruan itu mundur lima langkah dan kemudian jatuh roboh di tanah.

Siang-koan Kie dengan cepat maju selangkah, menotok jalan darah lawannya, kemudian diangkatnya dan diletakkan dihadapan Teng Soan seraya berkata. “Sianseng hendak berbuat apa dengan orang ini?”

Teng Soan memandang Siang-koan Kie sejenak, bertkata sanmbil tertawa, “Saudara Sang-koan sungguh hebat, siaute sangat kagum.”

“Sianseng terlalu memuji," berkata Siang-koan Kie sambil bersenyum.

Totoklah di kedua jalan darahnya, supaya ia jangan sampai mendusin dan kabur.”

“Sianseng jangan khawatir, siaute sudah menotok padanya dengan tangan berat, tidak mungkin ia bisa kabur lagi." Teng Soan tiba-tiba menghela napas dan berkata: “Kau beristirahatlah baik-baik untuk memulihkan kekuatan tenagamu, apabila dugaanku tidak keliru, tidak sampai setengah jam, Kun-long Ong pasti akan datang menyerang.”

“Kita sekarang sudah terkurung ditempat ini, meskipun siaute tahu kepandaian siute sendiri masih susah menandingi Kun-ling Ong, namun siaute bersedia melayani padanya hingga titik darah penghabisan." menjawab Siang-koan Kie dengan gagah.

Teng Soan berdiri, berpaling dan berkata kepada delapan laki-laki bekas orang-orangnya Kun-liong Ong: “Su-moyku telah menyerahkan kalian kepadaku, dengan sendirinya aku akan berusaha untuk melindungi keselamatan kalian, tetapi keadaan pada dewasa ini, sesungguhnya sangat birbahaya hanya dengan mengandelkan kekuatan tenaga kita beberapa orang saja, rasanya agak sulit untuk menghadapi orang-orang Kun-liong Ong yang jumlahnya ratusan banyaknya itu ... ”

“Kita bersedia melawan mereka hingga titik darah yang penghabisan." menjawab delapan orang itu serentak.

“Benda yang terlalu keras malah mudah patah, untuk melawan musuh tangguh ini, aku harus menggunakan siasat, meskipun belum tentu dapat menolong nasib kita, tetapi setidak-tidaknya bisa menalukkan pikiran musuh sehingga harus membayar dengan mahal," berkata Teng Soan sambil bersenyum.

“Kita menurut perintah sianseng saja.”

Sekarang waktunya sudah mendesak, meskipun aku paham berbagai ilmu-gaib, tetapi juga tidak mungkin dalam waktu singkat ini, untuk membuat saudara2 selalu ingat gerakan perubahan ... tetapi aku ada mempanyai beberapa macam perobahan gerak kaki, asal saudara-saudara mengingat baik- baik, nanti apabila berhadapan dengan musuh, gunakanlah perobahan gerak kaki itu untuk menakar kedudukan satu sama lain, sedikit banyak pasti ada gunanya.”

Setelah itu, Teng Soan lalu memberi beberapa petunjuk dari beberapa gerak tipu menukar kedudukan kepada delapan orang itu.

Dengan caranya yang paling sederhana, ia mengajarkan kepada delapan orang itu, supaya setiap orang dapat mengingatnya dengan baik.

Di dalam saat yang sangat kritis itu, setiap orang mempelajari dengan tekun dan bersemangat, hingga dalam waktu sangat singkat sekali, masing2 sudah ingat dengan baik.

Teng Soan yang menyaksikan bahwa delapan orang itu berhasil mengingat baik. pelajaran yang diberikan lalu berkata sambil tersenyum: “Harap saudara-saudara beristirahat sebentar, siap untuk menghadapi musuh.”

Sang waktu tilah berlalu dalam suasana tenang menunggu kira-kira seperempat jam, masih belum tampak Kun-liong Ong datang menyerang.

Siang-koan Kie mendongakkan kepala menarik napas dalam-dalam, ia membolang balingkan pedang ditangannya, di bawah sinar matahari sore, pedang yang terbuat dari baja murni itu, terdapat banyak gumpalan, dalam hati pemuda itu berpikir: ‘kalau begitu aku ternyata sudah membunuh amat banyak orang ... ’

Kembali ia menghela napas lalu meletakkan pedangnya.

Pemuda gagah perkasa itu agaknya sudah tidak sabar menantikan datangnya musuh.

Kekuatan badan Teng Soan agaknya sudah tidak sanggup duduk terlalu lama, maka ia segera merebahkan diri tidur di tanah rerumputan. Ia diam memperhatikan keadaan delapan laki2 yang berada di sekitarnya, wajah mereka sebentar nampak biru sebentar putih, meskipun mereka sedang duduk dan memejamkan mata, tetapi dalam hati mereka agaknya tergoncang hebat.

Teng Soan mengawasi gumpalan awan putih di atas angkasa, dalam hatinya memikirkan siasat untuk menghadapi keadaan kritis itu, sang waktu agaknya tidak menguntungkan dirinya, delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong itu, meskipun pernah menerima budi nyonya Kun-liong Ong tetapi mereka yang sudah lama berada di bawah kekuasaan Kun- liong Ong, kesunyian yang panjang itu membuat mereka mengenangkan kembali banyak hal2 yang lalu, dari sikap mereka samar2 tertampak kemerosotan semangat bertempur mereka, apabila demikian itu dibiarkan berlangsung terus, mungkin ...

Tiba2 terdengar suara Siang-koan Kie yang menyentil pedang di tangannya, kemudian pemuda itu berkata: “Sianseng, marilah kita menerjang keluar, mungkin Kun-liong Ong sengaja main sandiwara, mungkin di sekitar tempat ini tidak terdapat bahaya."

Teng Soan tiba2 bangun dan duduk, kipas ditangan kirinya perlahan2 digunakan untuk menepuk tangan kanannya, kemudian berkata: “Aku lupa bahwa dia si orang tua sudah muncul.”

“Sianseng, apa kata Sianseng tadi ... " bertanya Siang- koan Kie heran.

Dalam kesunyiannya menantikan kedatangan musuh itu, berbagai pikiran timbul dalam otak anak muda itu, tanpa menunggu jawaban Teng Soan ia sudah berkata lagi: “Sianseng, kita tokh tidak bisa menunggu terus menerus seperti ini, matahari sudah hampir selam, tempat ini juga tidak terdapat barang makanan dan minuman, keadaan fisik dan semangat kita, akan terpengaruh selama waktu menunggu ini.” Teng Soan tiba2 tersenyum dan berkata: “Kuhaturkan selamat kepadamu saudara Siang-koan Kie.”

Siang-koan Kie bingung terheran2, ia bertanya “Apakah perkataanku tadi salah?"

“Tidak, ada yang kumaksudkan ialah kau ternyata sudah tahu bagaimana menggunakan kecerdasanmu, kekhawatiran memang merupakan suatu kesempatan yang baik bagi orang mengasah otak."

Siang-koan Kie baru sadar, ia berkata sambil menganggukkan kepala: “Ucapan sianseng memang benar, selama waktu menunggu ini, aku rasakan seolah2 bertahun2 sehingga pikiranku memikirkan terlalu banyak urusan.”

“Jikalau kau dapat mengumpulkan semua apa yang kau pikirkan itu sehingga menjadi satu soal kemudian kau hubungkan satu sama lain apa yang kau telah pikir itu, lalu kau bikin analisa dan menarik kesimpulannya, untuk mencari taktik keluarnya, itulah yang dinamakan siasat … ” berkata Teng Soan sambil tertawa, semangatnya seolah2 mendadak terbangun, sambil mengibas2kan kipasnya ia berkata pula : “Setiap siasat yang sudah dipikirkan terlebih dahulu, ada kalanya mungkin masih terdapat banyak kekeliruan, maka kita harusmengadakan koreksi dan perobahan selama kita melaksanakan siasat ini, dengan melihat gelagat yang kita hadapi."

Siang-koan Kie mendengar keterangan itu dengan penuh perhatian.

“Aku telah menjumpai musuh paling kuat selama hidupku ini," berkata Teng Soan.

“Oh, siapakah itu?" bertanya Siang-koan Kie.

“Dalam soal tingkatan, dia itu seharusnya masih pernah paman guruku.” “Suhengnya telah terbunuh oleh Kun-liong Ong, orang itu tidak berusaha menuntut balas sebaliknya malah membantu Kun-liong Ong. Ini sesungguhnya keterlaluan.”

“Dalam hal ini mungkin ada sebab lain."

Siang-koan Kie masih ingin berkata lagi, tetapi kemudian berpikir bahwa orang itu masih menjadi orang tingkatan tua Teng Soan, bagaimana ia boleh menghinanya? Maka ia tidak berkata apa-apa lagi.

Biji mata Teng Soan berputaran menyapu delapan laki-laki itu sejenak, kemudian berkata: “Kun-liong Ong hingga saat ini masih belum melakukan serangannya, pasti sedang mengatur rencana yang lebih keji … “

Siang-koan Kie tiba2 menyentil pedangnya dan berkata : "Sianseng, ia tidak datang menyerang, mengapa kita tidak menerjang keluar?"

Mereka lebih dulu sudah memasang jebakan di sekitar tempat ini, menantikan kita masuk perangkap mereka."

“Walaupun demikian, kita juga tidak boleh menunggu terus menerus seperti ini."

Teng Soan mendongakkan kepala, lama ia berpikir, kemudian baru berkata: “Hari sudah hampir gelap, nanti setelah malam tiba, kita memikirkan lagi bagaimana harus keluar dari sini."

Musuh berada di tempat gelap, sedangkan kita berada ditempat terang, di waktu malam, bukankah keadaan kita makin berbahaya?”

“Bagus, kau sudah mulai dapat memikir banyak.” “Masih perlu mendapat banyak petunjuk sianseng.” “Kita hendak merobah yang terang menjadi gelap.” “Kita selalu di bawah pengawasan mereka di dalam gelap, mana mudah mencapai maksud ini?”

“Kalau dipikir memang merasa susah, tetapi kalau dilakukan tidak sesusah seperti apa yang kita pikir.”

“Selama siaute mengikuti sianseng, dalam waktu satu hari ini siaute mendapat banyak pengertian.”

“Setiap orang diberi kecerdasan oleh Tuhan yang Maha Esa, guru atau sahabat yang baik hanya merupakan suatu alat yang membimbing kau bagaimana harus menggunakan kecerdasanmu.”

“Berbicara dengan Sianseng, membawa banyak faedah seperti belajar sepuluh tahun, pepatah orang kuno itu, sesungguhnya memang tepat.”

“Pada saat ini waktu sesungguhnya sangat berharga, harap saudara2 beristirahat baik2, setelah malam tiba, kita barangkali akan mengadakan pertempuran besar2an dengan musuh.”

Siang-koan Kie tidak berkata apa2 lagi, ia memejamkan dua matanya untuk beristirahat.

Teng Soan juga rebah telentang di tanah, matanya memandang kumpulan awan putih di angkasa.

Matahari perlahan2 sudah condong kebarat, keindahan alam di waktu senja meliputi tanah belukar yang penuh bahaya itu.

Angin malam meniup, semakin kencang, sehingga dalam gubuk di sekitar tempat itu bergoyang-goyang mengeluarkan suara berisik.

Siang-koan Kie merasa seperti tertekan jiwanya oleh suasana kesunyian itu, tanpa disadari ia melompat berdiri sambil memainkan pedang. Delapan laki2 bekas anak buah Kun-liong Ong, sudah sejak tadi hampir tidak tahan mengendapkan perasaannya yang timbul karena rasa takut terhadap bekas atasannya, kini telah menyaksikan Siang-koan Kie memainkan pedang, segera bergerak dengan serentak memainkan senjata masing2.

Siang-koan Kie yang menyaksikan orang-orang itu bergerak memainkan senjata, segera menegurnya dengan perasaan heran: “Kalian mau apa? Apakah sudah gila?”

Teng Soan berkata sambil tersenyum: “Jangan perdulikan mereka, biarlah mereka umbar kedukaan dalam hatinya!”

“Mengapa? Dengan berteriak-teriak saja juga sudah cukup perlu apa demikian jingkrak2 sambil memainkan senjata, bukankah itu seperti kelakuannya orang gila? ... " berkata Siang-koan Kie heran.

“Aih! Kedukaan mereka, bagaimana boleh disamakan dengan kau? ... ”

“Kesabaran dan ketabahan sianseng, sesungguhnya sangat mengagumkan, dalam suasana mencekam seperti ini sianseng ternyata tidak terganggu pikirannya ... ”

Delapan orang itu semakin lama semakin bersemangat, seolah-olah sedang melakukan pertempuran benar-benar.

Siang-koan Kie takut senjata orang-orang itu nanti melukai Teng Soan, maka segera mencegahnya.

Delapan orang itu ketika mendengar suara seruan Siang- koan Kie, bukan saja tidak menghentikan gerakkannya, sebaliknya malah semakin cepat gerakannya.

Teng Soau berdiri lambat2 dan berkata sambil tertawa: “Mereka sudah lama di bawah tekanan pengaruh Kun-liong Ong, dalam hati mereka sudah timbul perasaan takut yang tidak terhingga, dan sekarang menurut mereka melawan orang yang biasa ditakuti, perasaan takut di dalam hatinya sudah tentu besar sekali, apalagi terganggu oleh kesunyian suasana, perasaan khawatir dan takut itu seketika telah meledak, maka jangan perdulikan mereka, biarlah mereka rasakan semua kesusahan hatinya.”

Siang-koan Kie tidak berkata apa-apa lagi, ia menghampiri Teng Soan untuk melindunginya.

Tidak lama kemudian, delapan orang itu semua sudah mandi keringat, mungkin karena sudah lelah perlahan2 mulai berhenti.

Pikiran mereka perlahan2 juga mulai jernih kembali, mata mereka ditujukan kepada Siang-koan Kie, lalu membersihkan keringat di badannya.

“Kalian sudah letih?" bertanya Teng Soan sambil tertawa. “Masih baik, kita merasa malu," menjawab delapan orang

itu serentak.

“Apakah keberanian kalian sudah pulih kembali?” “Kita sekalipun mati juga tidak akan menyesal.” “Bagus! Mari kita siap untuk berangkat.”

“Kita menuuggu perintah sianseng.”

“Ini adalah suatu perjalanan yang sangat sulit ... " berkata Teng Soan dengan sungguh2.

Sinar api tiba2 tampak di tengah udara, terpisah kira2 tiga tombak di tempat mereka berdiri, api itu meledak berubah menjadi gumpalan api meluncur ke tanah dan kemudian menimbulkan kebakaran.

“Api apakah itu?" bertanya Siang-koan Kie heran.

“Itu adalah panah berapi, suhu kecuali paham ilmu gaib, juga banyak pengertiannya tentang berbagai senjata yang mengandung api, panah berapi itu, pasti adalah ciptaannya susiokku itu.” Siang-koan Kie menyaksikan api yang jatuh dari angkasa itu, lantas berkobar hebat, karena ia khawatir akan meluas, segera mengayunkan tangannya. Api yang belum meluas itu setelah kesambar kekuatan tenaga dalam Siang-koan Kie, seketika lalu padam.

“Saudara Siang-koan membaka jalan lebih dulu, kita menerjang ke sebelah barat," berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Siang-koan Kie menurut, ia bertindak dengan tindakan lebar.

Teng Soan tiba2 memanggilnya : “Tunggu dulu.”

“Sianseng masih ada perintah apa?" bertanya Siang-koan Kie.

“Harap saudara Siang-koan membuka baju luarmu.” “Untuk apa membuka baju luar?" bertanya Siang-koan Kie

heran.

Walaupun demikian ia membuka juga baju luarnya.

Teng Soan menyambut baju luar Siang-koan Kie, ditanggalkannya di atas tiang kayu kering. Kemudian ia sendiri juga membuka baju panjangnya, demikian pula delapan laki2 bekas anak buah Kun-liong Ong itu, juga satu persatu disuruh membuka pakaian luarnya, ditanggalkan di atas tiang kayu kering, kemudian berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan : “Kau menerjang kebarat dengan membawa empat orang, bertindaklah sesukamu, sebaiknya kau bunuh mati semua orang yang kau jumpai, untuk membingungkan mereka ... ”

“Apakah sianseng tidak akan berlalu?”

“Kun-liong Ong sudah mempunyai persiapan sempurna, mana mungkin membiarkan kita menerjang keluar dengan mudah.” “Apakah kita harus duduk menunggu kematian begini saja?”

“Bagaimana kesudahannya, sekarang ini masih susah diramalkan. Tetapi bertahan disini, sesungguhnya lehih banyak kesempatan untuk hidup dari pada menerjang keluar dengan kekerasan, apabila tindakan kita itu di luar dugaan Kun-liong Ong sebaliknya akan menimbulkan kecurigaannya. Sekarang ini kekuatan kita sangat lemah, sesungguhnya tidak dapat digunakan untuk mengadu kekerasan dengannya, dari pada mengadu tenaga, ada lebih baik mengadu kepintaran dengannya.”

“Siaute percaya sianseng pasti sudah mempunyai rencana luar biasa untuk mengalahkan dia.”

Seketika itu juga Siang-koan Kie memilih empat orang dan terus menerjang ke sebelah barat.

Teng Soan berkata dengan suara rendah kepada empat laki-laki lainnya : “Kematian seseorang, setengah tergantung kepada dirinya sendiri, setengah tergantung takdir Tuhan asal kematian itu dengan sewajarnya, dan hati tenang, juga tidak perlu ditakuti.”

Empat laki2 memberi hormat dengan sikap menghormat sekali.

Teng Soan menyuruh dua di antaranya membawa orang yang menyaru sebagai Kun-liong Ong dan Bwee Cian Tay, kemudian berkata dengan suara perlahan, “Mari kalian ikut aku.”

Ia berjalan lebih dahulu menuju ke sebuah tempat yang penuh tumpukan batu, kemudian berkata pula sambil menunjuk batu2 yang berserakan di tanah. “Saudara2 singkirkan batu2 di tanah itu!” Dua laki2 itu meskipun tidak mengerti maksudnya, tetapi mereka menurut dan memunguti batu2 yang berserakan di tanah itu.

Teng Soan sambil berjongkok menunjukkan tempat di mana batu2 itu harus diletakkan.

Dua laki2 itu melakukan seperti apa yang ditunjuk oleh Teng Soan, tidak antara lama pekerjaan itu sudah selesai.

Teng Soan berdiri dan mundur beberapa langkah ia menyuruh empat laki2 itu turun tangan semua memindahkan batu-batu lainnya.

Empat laki2 itu agaknya juga mengerti bahwa pekerjaan menyingkirkan batu2 yang agaknya ringan dan tidak berarti itu sebetulnya mempunyai hubungan erat dengan nasib mereka, maka semua melakukannya dengan sungguh2 dan sepenuh tenaga, tidak antara lama batu2 itu sudah menjadi barisan batu menurut apa yang ditunjuk oleh Teng Soan.

Teng Soan membawa empat orang itu, mengitari barisan batu yang dibentuknya itu seputaran lalu berkata sambil menunjuk setumpukan batu kecil yang berada disampingnya : “Tumpukan batu ini boleh digunakan sebagai senjata rahasia untuk menjaga diri.”

Teng Soan mengajak pula mereka berjalan mengitari barisan batu yang sudah berbentuk itu, lalu menunjuk mereka tempat2 yang harus dijaga dan bagaimana harus menghadapi serangan musuh katanya : “Setiap orang harus menjaga di posnya sendiri2, batu2 kecil itu memang dapat digunakan sebagai senjata rahasia, tetapi jika tidak perlu betul jangan menggunakan sembarangan, terlebih2 tumpukan batu yang digunakan sebagai barisan itu, tidak boleh diambil sembarangan supaya tidak kehilangan khasiatnya.”

Empat laki2 itu menganggukkan kepala, satu di antaranya bertanya : “Sianseng bagaimanakah kegunaannya barisan batu ini? Apakah namanya?” Teng Soan berpikir sejenak, baru berkata sambil tertawa : “Barisan batu ini kubentuk menurut barisan Pat tin-touw dari Cu-kat sianseng di jaman Sam-kok, hanya diadakan sedikit perobahaan, nanti apabila saudara-saudara bertempur dengan orang2nya Kun-liong Ong menyerang, cukup menjaga di pos masing-masing jangan mundur setapakpun juga, maka Kun- liong Ong tidak akan dapat memasuki barisan ini.”

Seorang lagi bertanya : “Hamba pernah dengar bahwa barisan Pat-tin-touw itu sangat gaib dan mengandung banyak perobahan, khasiatnya yang luar biasa dapat mengundurkan musuh yang menyerang, tidak tahu bagaimana dengan barisan sianseng ini, apakah juga ada khasiatnya demikian?”

“Ini susah dikatakan, tetapi apabila saudara2 mempertahankan dengan kokoh kedudukkan saudara masing2, sekalipun Kun-liong Ong menyerang dengan puluhan ribu tentara juga susah menembusi barisan ini.”

“Kita menurut perintah sianseng," berkata empat orang itu serentak.

“Tidak perduli apa yang terjadi di luar barisan, saudara2 jangan hiraukan, asal musuh tidak menyerbu masuk, sekali2 jangan keluar dari barisan batu ... andaikata barisan batu ini dibobolkan oleh musuh dan tidak dapat dipertahankan lagi, saudara2 mengundurkan diri, jangan lupa gerak kaki yang kuajarkan kepada kalian itu.”

Empat laki2 itu semua menganggukkan kepala sebagai tanda sudah mengerti.

“Saudara2 ingit baik2 perkataanku sudah tentu ada gunanya, sekarang masing2 siaplah diposnya sendiri2 ... " berkata pula Teng Soan sambil tertawa.

Suara jeritan ngeri tiba2 terdengar dari tempat yang agak jauh, memecahkan suasana yang sunyi itu. Teng Soan berkata sambil menghela napas, “Dia sudah bertempur dengan musuh.”

Dalam suasana yang sunyi itu samar2 terdengar suara beradunya senjata tajam.

Teng Soan meski di luarnya nampak tenang, tetapi dalam hatinya juga merasa cemas, kematian Su-moy, telah membangkitkan perasaan sedih dan kenangan terhadap gurunya, juga memperkuat hasratnya hendak membinasakan Kun-liong Ong, manusia yang tidak berbudi dan tidak berperikemanusiaan itu, bukan saja sudah membinasakan gurunya sendiri, tetapi juga menganiaya istrinya, begitu juga hampir setiap kejahatan di dalam dunia ini, ia selalu mengambil bagian. Teng Soan yang selama itu belum pernah memikirkan soal mati hidupnya sendiri, mendadak bahwa ia sendiri seharusnya tidak boleh mati, setidak2nya sebelum ia berhasil merencanakan suatu rencana untuk menyingkirkan Kun-liong Ong, tidak boleh mati.

Kemurkaan yang tersimpan dalam hatinya itu, telah menimbulkan hasrat hidup baginya, ia mulai berusaha, bagaimana baru bisa mempertahankan hidupnya lebih lama.

Selagi berpikir, di bawah kakinya tiba2 merasakan ada benda bergerak, diam2 ia terkejut, karena dianggapnya itu adalah sebangsa binatang ular, maka buru2 berdiri.

Dugaan itu ternyata keliru, tetapi ia merasa telah menyentuh barang bergerak, namun yang bergerak itu bukanlah ular, melainkan manusia, Bwee Cian Tay.

Di bawah sinar bintang di langit, gadis itu nampak biji matanya bergerak-gerak, gadis cantik yang masih kanak2 itu, ternyata mempunyai kepandaian sangat tinggi, yang dapat membuka sendiri totokannya.

Dalam otak Teng Soan memikirkan bagaimana caranya untuk menghadapi gadis itu, ia tahu bahwa ia sendiri tidak pandai ilmu silat, apabila membiarkan Bwee Cian Tay sadar terus, ia sendiri sudah pasti tidak dapat menundukkannya ... ”

Selagi masih dalam keadaan ragu2 gadis itu mendadak sudah bangun duduk.

Gadis yang masih putih bersih dan kanak2an itu setelah terbokong serangan gesit, agaknya menjadi dewasa dengan tiba2, ia duduk dan menyapu keadaan di sekitarnya sejenak, kemudian matanya lambat2 ditujukan kepada Teng Soan dan berkata: “Di mana ayahku?”

Teng Soan mengerti bahwa keadaan pada saat itu, apabila kesalahan omong atau perasaannya terpengaruh oleh ketegangan, dapat membawa akibat kematian baginya, maka dengan sikap sangat tenang sekali ia tersenyum dan berkata, “Orang yang menyaru sebagai ayahmu itu, sekarang ada di sampingmu.”

Bwee Cian Tay berpaling mengawasi Kun-liong Ong tiruan itu sejenak, kemudian berkata sambil menghela napas panjang: “Benar saja orang lain yang menyaru ... “

Ia mendongakkan kepala memandang bintang2 di langit, pikirannya terbenam dalam lamunan.

Jelaslah sudah, bahwa dalam alam pikirannya yang masih putih bersih, telah timbul berbagai pertanyaan, setelah pengalamannya hari itu, segala kejadian yang lalu dan persoalan yang baru, bertumpuk-tumpuk timbul di dalam hatinya.

Teng Soan takut mengganggu gadis itu, sehingga menimbulkan kemarahannya, maka ia selama itu dimn saja. Tidak berani bertanya.

Tiba2 terdesgar suara panggilan Siang-koan Kie, sianseng, sianseng ... ”

Bwee Cian Tay matarya mencari-cari, segera tampak olehnya beberapa bayangan orang berdiri di suatu tempat sejauh setombak lebih, ia lalu berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Paman Teng, apakah itu orang2 yang mengikuti paman, mengapa tidak menyuruh mereka masuk ke dalam barisan batu ini?”

“Baiklah aku akan panggil mereka masuk." berkata Teng Soan.

Selagi hendak menggapai, gadis itu tiba2 berkat pula : “Tunggu dulu, apakah paman kenal dengan ibu Suriku?”

“Ayahmu menganggap dirinya seorang agung ia telah mengangkat dirinya sebagai raja, istri dan selirnya banyak sekali, entah yang mana yang satu nona maksudkan?" berkata Teng Soan sambil tersenyum.

“Istri dan selir ayah meskipun banyak, tetapi yang diangkat sebagai permaisuri hanya satu ... saja aku ingat urusan, aku sering berada di samping ibuku, juga sering mendengar ceritanya tentang dirimu.”

Teng Soan mengawasi Siang-koan Kie yang berdiri di luar barisan sejenak, kemudian berkata : “Ia membicarakan apa saja tentang diriku?”

“Dahulu kalau ibu membicarakan tentang dirimu agaknya penuh rasa benci, bahkan berulang kali pesan kepadaku, menyuruh aku kalau sudah dewasa dan bertemu denganmu, jangan melepaskan legitu saja, ia berkata bahwa kau adalah seorang berhati binatang tidak boleh dipercaya ... ”

Teng Soan tertawa terbahak2 dan berkata : “Bagus sekali, semua kejahatan di dalam dunia ini, boleh saja ditimpakan di dalam dunia ini.”

“Tetapi waktu belakangan ini, ibu tidak memaki kau lagi, sebaliknya malah menyatakan kau sebagai seorang yang sangat baik, ia kata bahwa dahulu ia tertipu oleh orang, salah anggap kepribadianmu, belakangan setelah ia mengetahui apa yang sebetulnya yang terjadi, ia baru tahu bahwa kau adalah seorang yang baik dan jujur.”

Teng Soan menghela napas perlahan, ia hendak berkata apa2, tetapi kemudian diurungkan.

Bwee Cian Tay juga menghela napas dan berkata pula: “Maka itu, ibu berpesan kepadaku lagi, apabila aku bertemu denganmu, jangan mengganggu kau.”

“Aih, selama beberapa hari ini, apakah kau pernah melihat ibumu?”

“Tidak, sudah lama aku tidak melihatnya, tiga bulan berselang, ayah mendadak panggil aku, sejak saat itu, aku tidak melihat ibu lagi."

“Aku hendak memberitahukan kepadamu suatu kabar buruk, ibumu itu kini sudah tiada."

Bwee Cian Tay terkejut, ia bertanya: “Benarkah ucapanmu ini?"

“Aku selamanya tidak mau bohong."

Bwee Cian Tay tiba2 bangun berdiri dan berkata: “Apakah paman pernah melihat ibu?"

“Sewaktu ibumu membakar diri, meskipun aku berada di situ, tetapi karena terhalang oleh keadaan dan peraturan, apalagi sudah bertekad hendak menghabisi jiwanya, maka meskipun aku ada maksud ingin memberi pertolongan, tetapi tidak dapat melaksanakan maksud itu.”

“Di mana sekarang jenazah ibuku, lekas paman bawa aku pergi melinat," berkata Bwee Cian Tay sambil mengis.

“Kau kendalikan perasaanmu dulu, keadaan pada saat ini sangat berbahaya ... ”

Tiba2 terdengar suara Siang-koan Kie bicara: “Siaute merasa beruntung, tidak mengecewakan perintah Sianseng, orang2 Kun-liong Ong asal memperlihatkan muka saja, semua sudah kubasmi.”

Teng Soan bangkit dan berkata: “Kau tentunya sudah letih, mari lekas masuk ke dalam barisan batu ini untuk beristirahat

... ”

Sementara itu, ditengah udara tiba2 tampak beberapa batang panah api, yang melayang turun ke tempat di mana Teng Soan berada.

Teng Soan ajak Siang-koan Kie masuk kedalam barisan batu, api itu setelah tiba di tanah menimbulkan suara ledakan ringan, kemudian menyala berkobar-kobar.

Dengan beruntun terdengar beberapa kali suara ledakan ringan, api yang jatuh di tanah itu berobah menjadi lima sinar api bagaikan lilin menyala, sehingga menerangi tempat di sekitar itu.

Pada saat itu, Teng Soan sudah membawa Siang-koan Kie dan lain2nya masuk ke dalam barisan batu, bahkan sudah memberikan tugas kepada empat orang yang ikut Siang-koan Kie tadi, hanya tinggal Siang-koan Kie yang berada di sampingnya.

Angin malam meniup santer sehingga api itu terus berkobar.

Dari tengah udara tiba2 berterbangan anak panah bagaikan hujan, terus meluncur kepada benda2 yang diterangi oleh api itu.

Teng Soan menyaksikan meluncurnya anak panah bagaikan hujan itu, menghela napas perlahan dan berkata: “Di bawah hujan anak panah ini, sekalipun orang berkepandaian tinggi, juga tidak sanggup menahan.

Siang-koan Kie menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa, “Kalau bukan sianseng yang mempunyai pikiran cerdik, maka kita sekarang ini barangkali sudah menjadi setan di bawah hujan panah itu.”

Teng Soan berpaling mengawasi Bwee Cian Tay sejenak, kemudian berkata: “Ayahmu tidak memperdulikan keselamatan diri anak buahnya yang menyaru sebagai dirinya, hingga dibinasakan sekalian, itu masih dapat dimengerti, tetapi mengapa kau sampai punya keselamatan juga tidak dipedulikan lagi.”

Bab 79

BWEE CIAN TAY tersenyum getir dan berkata: “Terhadap isteri2nya dan kepada kita beberapa saudara, ayah terhadapku memang agak sayang.”

“Tetapi sejak kau dipanggil, perlakuan terhadapmu apakah lebih sayang?”

“Memang betul! Bagaimana kau bisa tahu?”

“Teng sianseng kalau menduga suatu perkara, bagaikan dewa yang selalu tepat," berkata Siang-koan Kie.

Teng Soan tersenyum dan berkata: “Tetapi sekarang kau lihat, perbuataunya yang tidak memperdulikan mati hidupmu, menghujani anak panah seganas itu, dalam hatimu apakah merasa heran?”

Bwee Cian Tay menganggukkan kepala dan berkata: “Ya! Ayah seharusnya tahu bahwa aku ada di dalam barisan ini, masih belum berhasil keluar dengan selamat, serangan panah bagaikan hujan itu, bukankah akan membinasakan aku sekalian?”

“Hasrat Kun-liong Ong hendak membinasakan kau, barangkali tidak di bawah hasratnya akan membunuh aku.”

“Kenapa? Ayah tokh sangat sayang terhadapku!”

“Sebab ia sudah anggap ibumu itu, memberitahukan kepadamu banyak rahasia.” Bwee Cian Tay diam.

Mata Teng Soan perlahan2 beralih ke tempat yang terbakar itu, ia berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan: “Akal kita untuk meloloskan diri ini meskipun untuk sementara dapat mengelabuhi Kun-liong Ong, tetapi kebuasan dan kekejamannya, tidak nanti akan sudah begitu saja.”

Sementara itu, terdengar pula beberapa kali suara ledakan, asap api menjilat tinggi batu dan rumput pada beterbangan.

Teng Soan berkata sambil tersenyum: “Siasat yang kuatur untuk menghadapi Kun-liong Ong, tak disangka telah berobah menjadi suatu kegaiban yang menjadikan teka-teki nasib kita bagi mereka.”

Siang-koan Kie mengawasi api dan asap yang menjulang tinggi itu dengan termangu2, kemudian ia berkata: “Sianseng, apabila saat ini kita masih berada di tempat semula, barangkali tak seorangpun yang bisa hidup.”

Teng Soan menghela napas perlahan dan berkata: “Bencana besar masih belum lalu, bahaya masih selalu mengintai kita.”

Bwee Cian Tay berpaling mengawasi Kun-liong Ong tiruan yang berada di samping sejenak kemudian berkata: “Paman Teng, aku hendak pergi.”

“Kau hendak kemana?”

“Aku hendak mencari ayah, untuk menanyakan kepadanya mengapa dia menipu aku?”

“Jikalan kau pasti hendak menemuinya, sebaiknya kau jangan menyebutkan urusan ibumu.”

“Kenapa?”

“Dari pembicaraanmu, Kun-liong Ong agaknya masih sayang terhadapmu, kalian antara ayah dan anak sudah berkumpul sepuluh tahun lebih, Kun-liong Ong meskipun jahat, tetapi sedikit banyak masih mempunyai perasaan, apabila kau tidak menyebut urusan ibumu, meskipun dia ada kandung maksud untuk membunuh kau, juga tidak dapat turun tangan, apabila kau berlaku hati2, mungkin tidak ada halangan bagi jiwamu, tetapi apabila menyebut urusan ibumu Kun-liong Ong barangkali tidak akan membiarkan kau hidup lagi.”

“Hal ini benar-benar menyulitkan aku," berkata gadis itu sambil menghela napas panjang. Ia lalu melangkah keluar diri dalam barisan batu.

Waktu itu, api yarg membakar rumput di tanah, sudah mulai menjalar, hingga tanah datar, yang luas itu di mana- mana terbit kebakaran.

Siang-koan Kie menghunus pedangnya dan bertanya kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Sianseng, perlukah merintangi tindakannya?”

“Biarkan ia pergi!" menjawab Teng Soan sambil mengelengkan kepala.

“Apabila ia bertemu dengan Kun-liong Ong dan menceritakan kekuatan pertahanan kita, bukankah usaha sianseng ini akan tersia-sia saja?”

“Aku kira dia tidak akan menceritakan, namun demikian kita juga perlu sedia.”

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, sepuluh ekor lebih kuda dengan penunggangnya dengan cepat menghampiri, di bawah sinar api, tampak tegas semua penunggangnya pada membawa senjata tombak panjang.

Bwee Cian Tay yang berjalan lambat-lambat, tiba-tiba memutar tubuhnya dan lari balik ke dalam barisan batu.

“Mengapa nona balik lagi?" menegur Teng Soan sambil lersenyum. “Aku pikir ucapanmu benar, ayah sudah lama bermaksud hendak membinasakan aku.”

Teng Soan merasa sulit untuk menyatakan pikirannya, maka ia hanya diam saja.

Gadis itu tiba-tiba menarik napas dalam-dalam dan berkata: “Orang-orang yang datang menunggang kuda ini, adalah sebagian dari tujupuluh dua pasukan berkuda, pasukan itu dapat dibandingkan dengan pasukan pengawal baju hitam ... ”

“Mengapa dinamakan tujupuluh dua pasukan berkuda?" bertanya Sian-koan Kie.

Bwee Cian Tay memandang Siang-koan Kie sejenak, lalu berkata: “Tujupuluh dua pasukan berkuda, ialah tujuh puluh dua orang yang dipilih oleh rakyat dari dalam anak buahnya yang terkuat, pasukan itu dididik sendiri oleh ayah, bagaimana caranya bertempur dengan menggunakan tombak, mereka juga memakai pakaian yang terbuat dari bahan yang tidak dapat ditembus oleh senjata tajam, meskipun jumlahnya hanya tujuhpuluh dua orang tetapi daya tempur mereka, tidak kalah dengan pasukan berkuda yang jumlahnya sangat besar.”

Pasukan berkuda menunggang kuda dan menggunakan senjata panjang, pasukan berbaju hitam digunakan untuk pertempuran jarak dekat, melatih pasukan berkuda, agaknya bukan ditujukan kepada orang-orang rimba persilatan, nampaknya Kun-liong Ong benar-benar mengandung maksud hendak berontak terhadap pemerintah!" berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Pasukan pengawal berbaju hitam, sering mengikuti ayah sebagai pelindung. Tetapi pasukan berkuda itu, sebaliknya ditugaskan untuk menjaga istana, entah sejak kapan dikirim kemari ... ”

“Ayahmu menganggap aku sebagai duri dalam matanya, sebelum berhasil membunuhku, ia tidak akan enak makan, tidak enak tidur," berkata Teng Soan sambil tersenyum. “Paman dengan ayah tokh masih saudara dalam satu perguruan, bagaimana sedikitpun tidak mempunyai perasaan persaudaraan?”

“Hal ini harus ditanyakan kepada ayahmu sendiri, ayahmu tidak mengijinkan aku hidup layak, selalu mendesakku, baru merasa puas setelah aku mati ... ”

“Aih! Baku hantam antara saudara dalam satu perguruan, juga merupakan satu tragedi yang menyedihkan ... ”

Dari sinar api, tampak Wajah dan sikap Bwee Cian Tay ketika bicara mengunjukkan kedukaannya, hingga Teng Soan menarik napas dalam-dalam, kemudian berkata: “Diantara beberapa putri Kun-liong Ong, barangkali hanya kau yang mempunyai hati paling baik."

“Mereka semua berlaku baik terhadapku."

“Sudahkah kau melihat encimu Nie Suat Kiao?” bertanya Siang-koan Kie sambil tertawa dingin.”

“Sudah sih sudah, tetapi aku sudah tidak begitu ingat lagi. Aih! Sewaktu ia diistana, aku masih kecil, tidak tahu apa2, setelah aku dewasa, ia ditugaskan oleh ayah ke suatu tempat jauh, sehingga tidak bisa bertemu lagi. Tetapi dalam hati kecilku aku merasa ia baik sekali terhadapku … “

“Kumaksudkan, dalam beberapa hari ini apakah kau pernah melihat encimu itu." berkata Siang-koan Kie.

“Tidak, sudah beberapa tahun aku tidak ketemu dengannya.”

“Jikalau dalam waktu paling belakang ini kau dapat melihatnya, niscaya kau tahu sampai di mana kejahatan ayahmu itu.”

Bwce Cian Tay meskipun dibesarkan dalam keluarga Kun- liong Ong yang penuh kejahatan kekejaman dan misteri, tetapi watak dan pribadinya jauh berlainan dengan Nie Suat Kiao. Nie Suat Kiao cerdik, tenang keras hati dan banyak akalnya, selalu bercuriga terhadap sesuatu yang dihadapinya. Tetapi Bwee Cian Tay berhati lapang, suka terus terang dan kekanak2an, seolah2 tidak mengerti kejahatan dalam dunia ...

Matanya yang bulat besar, membelalak terhadap wajah Siang-koan Kie, lama baru berkata, “Mengapa? Apakah ayahku itu bisa mencekakakan anaknya sendiri?”

Dalam istana Kun-liong Ong, ternyata bisa mendidik orang seperti kau, sesungguhnya merupakan suatu keganjilan besar," berkata Siang-koan Kie sambil menghela napas.

Suara bentakan keras yang terdengar secara mendadak, telah memutuskan percakapan mereka.

Beberapa pasukan berkuda yang bersenjata tombak, demikian pesat melarikan kudanya menyerbu kedalam gumpalan api yang sedang mengamuk, dengan tombaknya, menyontek baju panjang Teng Soan yang ditanggalkan ditiang kayu kering.

“Celaka, akal kita telah diketahui oleh mereka," berkata Siang-koan Kie.

“Sebetulnya tidak perlu memeriksa ke dalam gumpalan api, dari luar juga seharusnya bisa diketahui ... " berkata Teng Soan.

Dua diantara pasukan berkuda yang menyerbu ke dalam api itu, mendadak melarikan kudanya menyerbu ke dalam barisan batu.

Siang-koau Kie lalu berkata sambil mengayunkan pedangnya: “Siautee akan keluar menyambut mereka, untuk mencoba sampai di mana tangguhnya pasukan berkuda Kun- liong Ong ... ”

“Mereka pandai bertempur di atas kuda, badan mereka juga memakai pakaian lapis besi yang tidak takut senjata tajam, maka itu, kita semua namakan mereka pasukan berkuda baju besi," berkata Bwee Cian Tay.

Selagi Siang-koan Kie hendak melangkah keluar dari barisan batu, tiba2 dicegahnya oleh Teng Soan, “Tunggu dulu.”

Siang-koan Kie terkejut, dan menghentikan tindakkannya, sementara hatinya berpikir: ‘Ya, mengapa aku begitu gila, meninggalkan ia seorang diri, sedangkan gadis itu masih tidak diketahui bagaimana pikirannya?’

Teng Soan berkata pula kepadanya dengan suara perlahan: “Mereka masih belum mengetahui bahwa kita bersembunyi di dalam barisan batu ini ... ”

Sementara itu suara derap kaki kuda, terdengar nyata dari dalam barisan batu itu, hingga Teng Soan lalu diam.

Satu diantaranya barisan kuda itu, selagi hendak menyerbu kedalam barisan batu, tiba-tiba menghentikan kudanya dan putar balik ke arah kiri, sebentar saja sudah tak kelihatan.

Sedangkan barisan kuda yang menerjang api tadi juga sudah tidak tampak lagi.

Teng Soan menarik napas dalam-dalam, diam2 memuji kegesitan barisan berkuda itu. Kemudian ia berkata kepada Siang-koan Kie: “Dalam keadaan seperti ini jikalau tidak terpaksa, kita jangan bertempur dengan musuh, supaya kekuatan kita tidak diketahui olehnya."

Siang-koan Kie berkata dengan suara rendah sambil menatap wajah Bwee Cian Tay: “Sianseng apakah kau hendak melepaskan ia pulang?”

“Biarkan saja apa yang ia suka, kita tidak usah perdulikannya," menjawab Teng Soan.

“Jangan-jangan ia nanti akan dibunuh oleh Kun-liong Ong.” Bwee Cian Tay agaknya mengerti bahwa mereka sedang membicarakan dirinya, maka lalu berkata: “Sebelum aku datang kemari, ayah pernah memberitahukan kepadaku.”

“Memberitahukan apa kepadamu?" bertanya Siang-koan Kie.

“Ia berkata paman Teng tidak pandai ilmu silat, asal aku turun tangan, pasti binasa di bawah serangan senjata jarum beracunku, ayah berkata bahwa tindakanku itu semata-mata untuk membalas dendam ibu ... " berkata Bwee Cian Tay, “Aih! Ia hanya tahu kebencian ibu kepada paman Teng, sebaliknya tidak tahu bahwa ibu diam-diam sudah berpesan kepadaku, apapun yang akan terjadi, se kali-kali tidak boleh aku mencelakakan diri paman Teng ... ”

Dan akhirnya kau dengar perkataan ibumu."

“Apa? Hingga sekarang kau masih belum tahu sendiri?" berkata Bwee Cian Tay sambil menganggukkan kepala.

“Sekarang, kita sedang berhadapan sebagai musuh dengan Kun-liong Ong, maka seharusnya nona menentukan tindakan selanjutnya, supaya sebentar lagi apabila kita sudah bertempur dengan Kun-liong Ong kedudukkan nona menjadi serba salah.”

Lama Bwee Cian Tay berpikir, akhirnya berkata dengan suara sedih : “Kalau begitu sebaiknya aku menyingkir jauh2.”

Sementara itu terdengar pula suara derap kaki kuda, empat ekor kuda dilarikan dengan cepat ke arah barisan batu.

Empat penunggang kuda ini, tangan kiri memegang tombak, tangan kanan memegang lembing. Kedatangan mereka agaknya ditujukan kepada barisan batu.

Di belakang empat penunggang kuda itu, diikuti oleh duabelas orang pasukan pengawal baju hitam yang masing2 memegang senjata golok. Bwee Cian Tay yang sudah akan bertindak keluar, ketika melihat empat penunggang kuda dan duabelas pasukan pengawal berbaju hitam, yang sedang mencari dirinya, pikirannya mulai bimbang, hingga menghentikan langkahnya.

Siang-koan Kie berkata kepadanya degan suara perlahan, “Harap nona tunggu sebentar nanti boleh jalan lagi.”

Bwe Cian Tay menurut, ia duduk di dalam batu barisan.

Siang-koan Kie berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan : “Sianseng, apabila orang yang menyerang itu menyerbu ke dalam barisan, mau tidak mau persembunyian kita ini tentu akan diketahui oleh mereka, maka siaute pikir akan memberi pikiran lebih dulu supaya mengejutkan mereka, bagaimana pikiran sianseng?"

“Pertempuran sudah tidak dapat dihindarkan lagi, mereka juga sudah mendapat firasat bahwa kita bersembunyi di dalam tumpukan batu ini … " berkata Teng Soan.

Siang-koan Kie mengambil sebutir batu, digenggam dalam tangannya seraja berkata : “Senjata2 rahasia dari alam ini, pasti akan merupakan suatu pukulan tidak ringan bagi Kun- liong Ong. "

Sejenak ia berhenti, kemudian berbisik2 di telinga Teng Soan : “Selagi siaute bertempur dengan musuh, bagaimana seandainya gadis ini nanti turun tangan kepada sianseng? Maka siaute ingin menotok dulu jalan darahnya, bagaimana pikiran sianseng?"

Teng Soan menggelengkan kepala sambil tersenyum.

Tiba-tiba nampak berkelebat sinar senjata tajam, sebatang lembing menyambar dan mengenakan tumpukan batu yang berada di depan Siang-koan Kie sehingga menimbulkan suara keras, batu-batu itu terbang berhamburan.

Siang-koan Kie menggerakkan tangan kirinja menyampok jatuh sebutir batu yang terbang ke arah Teng Soan, kemudian lompat melesat sambil mengeluarkan suara bentakan keras, dengan tangan dengan tangan kanannya memegang pedang, batu di tangan kirinya disambitkan, sebentar ia sudah melompat keluar dari dalam batu, kembali dengan tangan kirinya menyambar lembing yang disambitkan oleh musuhnya dan dilemparkan kembali.

Batu yang disambitkan lebih dulu, meluncur ke arah penunggang kuda yang berada paling depan orang itu menghentikan kudanya sambil mengelakkan serangan batu tersebut, tetapi ia tidak menduga bahwa lembing yang disambitkan belakangan menyusul dengan cepat, sehingga dengan tepat mengenakan kepala kudanya. Tidak ampun lagi kuda itu lalu rubuh dan mati seketika itu juga.

Orang itu menggeram dan melompat turun dari kudanya, dengan kedua tangannya, memegang tombak terus menyerbu ke dalam barisan batu.

Siang-koan Kie sudah menggunakan ilmunya meringankan tubuh, melesat tinggi ke tengah udara, lalu melakukan serangan dari atas.

Orang itu menyambut Siang-koan Kie dengan tombaknya, tak disangka Siang-koan Kie sudah memikirkan bagaimana harus menghadapi musuhnya, maka sebelum tombak musuhnya mendekati dirinya, gerakan pedangnya sudah berobah, dengan pedang ia menangkis ujung tombak, menyerang musuhnya dengan tinju tangan kiri.

Musuhnya tergetar kena tinju Siang-koan Kie, dengan terhuyung-huyung mundur lima langkah.

Tetapi Siang-koan Kie juga merasakan bahwa tinjunya itu seperti menghantam besi keras, hingga diam-diam terkejut, tetapi kemudian ia mendadak ingat ucapan Bwee Cian Tay, bahwa pasukan berkuda itu mengenakan baju berlapis besi.

Sementara itu, seorang lagi dari pasukan berkuda itu telah menyerangnya dengan tombak panjang. Siang-koan Kie sedikitpun tidak merasa takut, ia tidak menyingkir atau mengelak, kekuatan tenaga dalamnya dipusatkan ke senjata pedangnya, dengan pedang itu ia menangkis tombak musuhnya.

Setelah terdengar suara beradunya dua senjata, tombak di tangan musuhnya ternyata tertangkis dan hampir terlepas dari tangannya.

Serbuan orang itu terlalu cepat, ia juga tidak menduga Siang-koan Kie berani menggunakan senjata pendek untuk menahan senjata panjangnya, maka seketika itu hampir tidak dapat mengendalikan kudanya, hingga kuda itu nyelonong terus.

Siang-koan Kie terus menekan tombak musuhnya dengan pedang, sementara tangan kirinya menghantam kepala kuda.

Orang itu ternyata mahir sekali main di atas kuda, ketika melihat gelagat tidak baik, tiba2 menjepit perut kuda dengan kedua pahanya, hingga kuda yang terlatih baik itu, mendadak mengangkat tinggi sepasang kaki depan menerjang Siang- koan Kie.

Sambil putar tubuhnya Siang-koan Kie mengelakkan serbuan kuda, sedang pedang di tangan kanannya didorong dan kemudian membabat musuhnya.

Orang itu meskipun ada tombak di tangannya, tetapi tombak yang panjang itu, hanya tepat digunakan untuk pertempuran di atas kuda, pertempuran jarak dekat, malah kurang leluasa, tetapi berkat kepandaian ilmu silatnya yang cukup tinggi, dengan satu gerakan luar biasa, ia telah sembunyikan badannya di bawah perut kuda sambil melakukan pertempuran.

Dua orang itu bertempur sangat cepat Siang-koan Kie telah melakukan serangan tiga kali masin belum menjatuhkan lawannya, dalam hati juga diam-diam terkejut. Lagi dua orang dari pasukan berkuda, datang menyerbu dengan berbareng, dua tombak menusuk ke arah dada Siang- koan Kie.

Siang-koan Kie mengeluarkan seluruh kepandaiannya, sambil mengeluarkan suara keras pedangnya diputar bagaikan titiran, kemudian lompat setinggi satu tombak, dengan demikian hingga dua ekor kuda itu lewat di bawah kakinya.

Siang-koan Kie sungguh berani sekali, tetapi ia juga tidak memperhitungkan dengan matang sampai di mana kecepatan larinya kuda itu, setelah dua ekor kuda itu lewat di bawah kakinya, ia segera turun lagi, dengan pedangnya balik menikam belakang punggung satu diantaranya.

Pedang itu mengenakan lengan baju orang tersebut, sehingga baju itu itu robek oleh ujung pedang.

Siang-koan Kie diam2 sesalkan perbuatannya sendiri, ia seharusnya mengarah kepalanya, tidak seharusnya menyerang bagian badannya yang terlindung oleh lapisan besi.

Sementara itu dua ekor kuda itu sudah berada beberapa tombak jauhnya.

Serombongan pasukan pengawal berbaju hitam segera menyerbu padanya, dengan tujuh atau delapan batang golok tajam.

Siang-koan Kie kembali memutar pedangnya, untuk melindungi dirinya.

Setelah terdengar suara beradunya senjata yang nyaring, senjata dari tujuh delapan orang baju hitam, telah dapat disingkirkan oleh pedang Siang-koan Kie.

Waktu itu Siang-koan Kie sudah timbul napsunya membunuh, ia berpendirian apabila berhasil membunuh satu musuh, berarti keuntungan mengurangi satu lawan baginya, maka setelah menyingkirkan senjata lawan2nya, pedangnya diputar demikian rupa balas menyerang lawannya. Di bawah serangan hebat, tiba2 terdengar suara jeritan ngeri, seorang baju hitam jatuh roboh di tanah.

Yang lainnya agaknya tidak menduga bahwa serangan pedang Siang-koan Kie itu sedemikian hebat maka semua dikejutkan oleh jatuhnya kawan sendiri.

Siang-koan Kie setelah berhasil membinasakan satu musuh, serangan kedua menyusul lebih hebat.

Perobahan gerak tipu serangan pedangnya sangat aneh dan susah diduga oleh lawannya, apalagi dalam keadaan sebenarnya seperti itu, ia menyerang musuhnya tanpa kenal kasihan, maka setiap melakukan serangan pasti berhasil menjatuhkan satu musuh, begitulah dengan serangannya, yang kedua itu seorang lagi telah binasa di ujung pedangnya.

Dua kali serangan, Siang-koan Kie sudah meminta dua korban, perbuatan itu sudah tentu mengejutkan yang lain2nya hingga pada mundur.

Pada saat itu, dua orang pasukan berkuda, sudah berhasil menyerbu masuk ke dalam barisan batu, dan mulai bertempur dengan orang2 bekas Kun-liong Ong yang sembunyi di dalam barisan batu.

Delapan orang yang bekas anak buah Kun-liong Ong, dahulu juga pernah menjadi pasukan pengawal baju hitam, hingga mereka tahu benar kekejaman Kun-liong Ong, sebelum bertempur, hati mereka masih dipengaruhi oleh rasa takut apabila tertangkap kembali, tetapi setelah bertempur, pikiran mereka malah menjadi tenang, sebab dari pada tertangkap kembali oleh Kun-liong Ong ada lebih baik mati di medan perang, maka mereka semua melawan musuh2nya dengan tanpa menghiraukan jiwanya sendiri.

Barisan batu yang dibentuk oleh Teng Soan untuk menahan musuhnya yang tangguh ini, meskipun belum dapat dibandingkan dengan barisan Pat-tin-touw yang diciptakan oleh Cu-kat Bu-hok di jaman Sam kok, tetapi setiap orang yang menjaga di setiap pos, semua bisa menghadapi musuh atau saling menolong dengan baik.

Sementara itu musuh yang menyerbu masuk ke dalam barisan mendadak merasakan suatu perasaan ganjil, batu2 yang berserakan ditanah, dirasakan sebagai suatu rintangan besar sehingga mereka tidak bisa bertempur dengan leluasa.

Itulah kegaiban di dalam barisan batu itu, meski pun kekuatan musuh lebih besar, tetapi dengan adanya rintangun itu membuat gerakkan mereka terhalang sehingga mudah diganyang.

Bwee Cian Tay dan Teng Soan duduk berdampingan di dalam barisan batu, gadis itu yang menyaksikan Siang-koan Kie demikian gagah, diam2 merasa kagum, ia berkata kepada Teng Soan sambil menghela napas ringan: “Kepandain pemuda itu sungguh hebat, serangan pedangnya luar biasa, jumlah pasukan baju hitam meskipun banyak, barangkali juga tidak sanggup melawan serangan.”

Teng Soan hanya tersenyum saja, tidak menjawab.

“Aku telah menerima baik pesan ibuku, tidak akan mengganggu dirimu," berkata pula Bwee Cian Tay, "tetapi Kun-liong Ong denganku masih belum putus hubungan antara ayah dengan anak, dengan demikian maka aku tidak dapat mengawasi anak buahnya terbinasa di tangan orang-orang sambil berpeluk tangan.”

Teng Soan lambat2 mengangkat kipasnya, berkata sambil tersenyum: “Hal ini terserah kepada nona sendiri ... ”

“Jangan gerakkan kipasmu," berkata Bwee Cian Tay sambil melompat bangun.

Teng Soan perlahan2 meletakan kipasnya dan berkata: “Apa nona yakin kepandaian nona dapat menangkan Siang- koan Kie.” Bwee Cian Tay yang sudah pernah dibikin tidak berdaya oleh kipas itu, maka ketika melihat Teng Soan mengangkat kipasnya, ia segera minta supaya jangan digerakkan.

Sementara itu Siang-koan Kie sudah berhasil membinasakan satu musuhnya lagi.

Bwee Cian Tay yang menyakakan kegagahan Siang-koan Kie, alisnya dikerutkan kemudian menjawab: “Aku tidak tahu, tetapi dia memang benarw sangat gagah dan mahir sekali ilmu pedangnya.”

“Kita sudah terkurung disini oleh ayahmu, di tempat sekitar ini sudah terkurung rapat oleh anak buah ayahmu, untuk melepaskan dari kepungan ini sudah tentu tidak mudah, nona ingin bantu ayahmu itu, memang seharusnya, aku tidak akan menghalangi, kalau nona ingin tertindak bertindaklah.”

Bwee Cian Tay berpaling menatap wajah Teng Soan dan berkata: “Ada satu hal yang aku masih merasa tidak mengerti, maka aku ingin menanyamu?"

“Hal apa?”

“Kau dengan ayah bukankah saudara dalan seperguruan?” “Benar.”

“Bagaimana kepandaian ilmu silat ayah?”

“Orang terkuat nomor satu dalam rimba persilatan, dalam pertempuran satu dengan satu susah dicari orang yang mampu melawan kepandaiannya.”

“Tetapi mengapa kau tidak pandai ilmu silat?''

“Ilmu silat dan siasat, masing2 ada batasnya, yang kupelajari adalah ilmu siasat dan pertempuran, bagaimana caranya melawan musuh2 tangguh.”

“Tetapi aku sering dengar kata ayah bahwa dalam dunia pada dewasa ini, hanya kau seorang yang merupakan satu2nya musuh paling kuat, apa yang dimaksud dengan ucapan itu?”

“Dalam kepandaian ilmu silat, aku tidak sanggup melawan ayahmu, tetapi dalam ilmu siasat dan memakai tenaga orang, ayahmu harus mengaku kalah terhadapku, dengan demikian sehingga kita menjadi seri dan lawan setimpal ... ”

“Aih, ayahku mempunyai banyak anak buah yang berkepandaian tinggi, dengan mengutus seorang saja untuk membunuh kau, bukankah ia sudah tidak akan ada tandingannya?”

“Ketika kita masih sama2 belajar, ia sudah bermaksud hendak membunuhku, tetapi selama beberapa puluh tahun ini, ia selalu tidak berhasil maksudnya itu.”

“Ini yang aku tidak mengerti.”

“Akal dan ilmu siasat, ada kalanya dapat menangkan ilmu silat.”

Sementara itu terdengar pula suara jeritan ngeri, orang2 dari pasukan baju hitam kembali ada seorang binasa di ujung pedang Siang-koan Kie, sisanya empat orang masih bertempur mati2an dengan Siang-koan Kie.

Bwee Cian Tay tiba2 maju selangkah, sambil mengangkat tangan kanannya ia berkata: “Aku hendak meayingkirkan seorang lawan tangguh bagi ayah.”

Teng Soan berkata bersenyum: “Sudah berapa puluh tahun ayahmu ingin membinasakanku, tetapi selalu tak berhasil, apa kau yakin kau lebih kuat daripada ayahmu?”

Wajah Bwee Cian Tay beberapa kali berobah, akhirnya lambat2 menurunkan tangannya dan berkata, “Aku tidak boleh mengingkari pesan ibuku.” Dengan tiba2 melompat melesat, dengan satu gerakan yang sangat lincah dan gesit sekali melompat keluar dari dalam barisan batu.

Begitu kakinya menginjak tanah lagi, tangannya menyambar sebilah golok yang terletak di tanah, dengan golok di tangan ia terus menyerbu Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie meskipun sedang menghadapi empat musuh kuat, tetapi mata dan telinganya sangat tajam, ketika dari belakang terdengar suara sambaran senjata, segera membalikkan tangannya untuk menangkis dengan pedangnya.

Golok dan pedang saling beradu, sehingga menimbulkan suara nyaring.

Serangan golok Bwee Cian Tay yang ditangkis oleh pedang Siang-koan Kie, seketika itu mundur beberapa langkah, tangannya kesemutan, goloknya dirasakan mau terlepas dari tangannya di situlah ia baru mengagumi benar kekuatan tenaga Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie setelah berhasil mengundurkan Bwee Cian Tay, pedangnya digunakan untuk menyerang lagi pasukan baju hitam yang coba menyerangnya, dengan gerak pedangnya yang luar biasa itu, sebentar saja sudah berhasil membuat empat musuhnya hampir tidak berdaya.

Bwee Cian Tay mengatur pernapasannya sejenak lalu menyerbu lagi.

Siang-koan Kie memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian memutar pedangnya, ia juga mengurung Bwee Cian Tay ke dalam lingkaran sinar pedangnya.

Gerakan pedangnya meskipun sudah tidak sehebat seperti tadi, tetapi masih tetap lincah dan ganas, hingga Bwee Cian Tay dan empat orang pasukan baju hitam yang terkurung dalam sinar pedang itu semua tidak berdaya melepaskan diri dari lingkaran sinar pedang. Pada saat itu Bwee Cian Tay baru merasa telah menemukan satu lawan tangguh yang belum pernah dihadapi pada waktu sebelumnya, maka ia buru-buru memusatkan semua pikirannya, untuk menggunakan ilmu pedangnya Thian-ceng-sin-kiang yang terdiri dari tiga puluh jurus.

Meskipun ia tidak menggunakan pedang, dan mengunakan golok sebagai gantinya pedang, sehingga mempengaruhi gerakan dan perobahannya, tetapi karena ilmu pedang itu merupakan satu ilmu pedang yang aneh dan ganas, maka masih merupakan satu ilmu pedang yang terhebat, sehingga dapat menahan juga serangan pedang Siang-koan Kie.

Orang-orang pasukan baju hitam, semua sudak tidak berdaya menghadapi ilmu pedang Siang-koan Kie yang nampaknya sederhana tetapi sebetulnya sangat ganas, hingga mereka tidak tahu bagaimana harus melawan.

Selagi mereka berada dalam kesulitan, gerakan golok Bwee Cian Tay mendadak berobah bagaikan air banjir yang membobol tanggul, sinar golaknya berkelebatan untuk menahan serangan pedang Siang-koan Kie yang ganas.

Karena serangan pedang Siang-koan Kie tertahan, maka beberapa orang pasukan baju hitam baru berhasil melepaskan diri dari kurungan pedang Siang-koan Kie dan mulai balas menyerang.

Sambil menahan serangan Bwee Cian Tay, Siang-koan Kie memuji: “Ilmu golok nona bagus sekali!”

“Aku jarang menggunakan golok, hingga sekarang merasakan kurang leluasa," berkata Bwee Cian Tay.

“Mengapa kau tidak mengganti senjatamu?”

“Seranganmu tertalu gencar, aku merasa susah keluar dari ancaman seranganmu.”

Siang-koan Kie tiba-tiba memperlambat serangannya seraya berkata: “Nah, nona boleh tukar dengan pedang!” “Apa kau bermaksud ingin mengadu kepandaian denganku?”

“Ilmu pedang nona, pasti merupakan warisan kepandaian ayahmu, dengan demikian aku dapat menyaksikan kepandaian ayahmu dari kepandaianmu.”

“Kepandaian ayah jauh lebih tinggi entah berapa ribu ganda diri kepindaianku, kau ingin dari diriku untuk mengetahui kepandaian ayah, mana begitu mudah?”

Siang-koan Kie mendesak mundur beberapa orang pasukan baju hitam yang menyerangnya, kemudian berkata: “Aku ingin menggunakan kesempatan ini hendak mengadu pedang dengan nona, tetapi orang2 baju hitam ini, merupakan rintangan yang menjemukan, maka aku ingin menyingkirkan mereka lebih dulu.”

Setelah berkata demikian, serangannya tiba2 berbalik ditujukan kepada pasukan baju hitam.

Bab 80

GERAKAN pedangnya itu sangat aneh, merupakan gerak menotok tetapi juga mirip gerak membabat, ujung pedang ditujukan kepada seorang diantaranya.

Orang itu meskipun melihat pedang mengancam dirinya, tetapi ia berdiri diam, golok di tangannya diangkat tinggi sebatas dada tetapi ia tidak tahu bagaimana harus menangkis serangan pemuda itu.

Orang itu ternyata karena melihat gerakan serangan yang aneh itu, hingga tidak tahu bagaimana menangkisnya, maka terpaksa berdiri diam sambil melintangkan pedangnya untuk melihat gelagat.

Serangan pedang Siang-koan Kie dari lambat mendadak menjadi cepat, sinar putih berkelebat dan ujung pedang menyerang kepala orang itu. Orang berbaju hitam itu mengangkat tinggi goloknya untuk menangkis pedang Siang-koan Kie tak disangka gerakan Siang-koan Kie ternyata lebih cepat, ketika golok orang itu diangkat tinggi, pedang Siang-koan Kie lebih dulu sudah meluncur melewati bawah goloknya, hingga orang itu tubuhnya terbelah menjadi dua.

Bwee Cian Tay yang menyaksikan kejadian itu, berkata sambil menghela napas, “Satu serangan yang ganas sekali.”

Siang-koan Kie yang mendengar ucapan itu terkejut, tak disadari ia menoleh mengawasinya, gadis itu berdiri sambil melintangkan goloknya, sikapnya menunjukkan rasa terkejut bercampur kagum, hingga dalam hati anak muda itu merasa heran, maka segera menanyanya, “Kenalkah nona dengan gerak tipu ini."

“Tidak, tetapi gerak tipu itu banyak mirip dengan retak tipu yang pernah kupelajari,'' menjawab gadis itu sambil menggelengkan kepala.

“Banyak bagiannya yang mirip? Dan bagian mana yang berlainan?”

“Perobahan gerakan pedangmu, jauh lebih ganas.” “Ilmu pedang nona, apa juga pelajaran dari ayahmu?”

“Sebagian besar dari ayah ... " mendadak gadis itu menutup mulut.

Siang-koan Kie yang menyaksikan sikap dan ucapan gadis itu, ternyata masih belum terlepas, dari sifat kekanak2kan, dibandingkan dengan Nie-Suat Kiao, jauh sekali perbedaannya.

“Nona, lekas ganti senjatamu," demikian Siang-koan Kie berkata sambil bersenyum.

Pada saat itu pasukan berbaju hitam itu, hanya tinggal dua orang yang masih hidup, tetapi dua orang itu sudah dibikin keder oleh ilmu pedang Siang-koan Kie yang sangat ganas itu. hingga tidak berani lagi melakukan serangannya.

Bwee Cian Tay mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak, lalu berkata: “Aih! Diantara orang2 yang sudah mati ini, tak seorangpun yang menggunakan pedang, nampaknya aku sudah tidak dapat mengganti senjataku.”

Siang-koan Kie yang sudah bertekad hendak menguji kepandaian gadis itu, supaya dapat digunakan untuk mempelajari kepandaian Kun-liong Ong segera memberikan pedangnya, seraya berkata: “Nona boleh menggunakan pedangku ini, dan aku akan menggunakan golok, mari kita mencoba mengadu kepandaian, bagaimana coba pikir?”

Bwee Cian Tay berpikir sejenak, kemudian ia menyambut pedang Siang-koan Kie dan menyerahkan goloknya sendiri.

Siang-koan Kie setelah menyambut golok dari tangan gadis itu, segera memulai membuka serangannya sambil berkata: “Nona, awas!”

Dengan satu gerak tipu gelombang ombak menggempur batu cadas, golok itu digunakan untuk menyerang sebagai pedang.

Bwee Cian Tay membabat dengan pedangnya, badannya turut memutar untuk mengelakan serangan goloknya.

Siang-koan Kie lompat menyingkir untuk menghindarkan serangan pedang kemudian dengan beruntun menyerang lagi sampai tiga kali.

Pedang Bwee Cian Tay tiba2 diputar sedemikian rupa, terus menyerbu dalam sinar golok Siang-koan Kie, dua senjata itu memperdengarkan suara nyaring, Siang-koan Kie tiba2 menarik kembali goloknya dan melompat mundur seraya berkata: “Ilmu pedang nona, benar saja luar biasa.”

Kemudian ia memutar goloknya dan maju menyerang lagi. Bwee Cian Tay menyambut serangan golok Siang-koan Kie dengan pedangnya hingga terdengar pula suara nyaring yang terbit diri beradunya dua senjata itu.

Pada saat itu delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong, sudah berhasil melukai dua orang pasukan berkuda yang menyerbu ke dalam barisan batu.

Dua orang itu meskipun memakai baju lapis besi yang tidak takut golok atau pedang, tetapi karena di bawah kakinya terhalang oleh barisan batu gerakan mereka tidak leluasa, maka akhirnya telah jatuh di tanah dalam keadaan terluka.

Teng Soan mendongakan kepala melihat cuaca diam2 menghela napas dan berkata kepada dirinya sendiri: “Pertempuran ini bagaimana kesudahannya, barangkali tergantung di tangan Tuhan saja ... “

Sesosok bayangan orang tiba2 muncul mendekati barisan batu.

Delapan orang dalam barisan batu itu, semua sudah mendapat perintah Teng Soan, tidak boleh sembarangan meninggalkan barisan batu, meskipun mereka melihat ada seorang berbaju hitam menghampiri, juga tidak ditegurnya, mereka menantikan sehingga orang itu masuk, baru akan diserangnya.

Orang berbaju hitam itu agaknya juga mengetahui hebatnya barisan batu itu, terpisah sejauh empat lima kaki dari barisan batu, orang itu berhenti dan memanggil dengan suara perlahan: “Teng Sianseng.”

Teng Soan melongok keluar, ia lihat sesosok bayangan hitam berada tidak jauh di luar barisan batu, tetapi tidak menampak tegas muka orang itu, maka ia balas menanya: “Siapa?” Orang itu menyahut: “Touw Thian Gouw, ada urusan penting ingin siaute bicarakan dengan sianseng, bolehkah siaute masuk sebentar?”

“Oh saudara Touw? Lekas masuk ke dalam barisan.”

Touw Thian Gouw dengan cepat menggerakkan kakinya.

Sebentar kemudian sudah berada di dalam barisan batu.

Dua bayangan orang coba merintangi majunya Touw Thian Gouw.

Teng Soan buru2 berkata sambil mengibaskan tangannya: “Kalian minggir.”

Dua orang itu menurut dan mengundurkan diri, Touw Thian Gouw dengan cepat menghampiri Teng Soan dan berkata: “Apakah sianseng masih belum pergi?”

“Jangan tergesa2, ada urusan apa ceritakanlah dengan sabar.”

“Kun-liong Ong sudah mengumpulkan orang2nya yang terkuat, bersama pasukan berkuda mengurung tempat ini, asal ia mengeluarkan perintah, orang2 itu segera bergerak, waktu pada saat ini sangat berharga sekali, jikalau sianseng tidak lekas pergi, barangkali tidak keburu lagi.”

Teng Soan dengan tenang mengibas2kan kipasnya dan berkata sambil tertawa: “Tempat ini sudah terkurung rapat oleh orang2nya Kun- liong Ong, bagaimana masih bisa lari?”

“Tidak jauh dari sini, ada sebuah sungai besar, sungai itu dapat dilalui oleh perahu layar, asal sianseng bisa sampai ke tepi sungai itu, lalu naik perahu, mungkin bisa terlolos dari kepungan Kun-liong Ong.”

“Sungai itu berapa jauh terpisah dari sini?”

“Kira-kira masih perjalanan empat atau lima pal.” Teng Soan tersenyum dan berkata: “Kau tahu, Kun-liong Ong pasti juga tahu.”

“Siaute yang mendengar kabar itu, dengan menempuh bahaya jiwa siaute datang kemari, tetapi sian-seng ternyata tidak mau meninggalkan tempat ini, apakah harus duduk saja menantikan datangnya kematian?”

Teng Soan berpikir sejenak baru menjawab: “Duduk menantikan datangnya bala bantuan, harapan hidup lebih besar dari pada menembus kepungan yang sangat berbahaya ini.”

Touw Thian Gouw menghela napas perlahan, ia berkata dengan suara rendah: “Tujuan Kua-liong Ong hanya diri sianseng seorang, ia sudah menggunakan bantuan burung dara pos mengirim perintah kepada semua anak buahnya, jikalau tidak dapat menangkap hidup-hidup sianseng, boleh dibinasakan dengan cara apa saja.”

Teng Soan tersenyum dan berkata: “Apakah Kun-liong Ong belum tiba? Dia sudah beberapa puluh tahun ingin membinasakanku, tetapi sehingga kini maksud itu mungkin tak akan terlaksana untuk selama-lamanya.”

Touw Thian Gouw menyaksikan sikap Teng soan yang tenang saja, seolah-olah sudah ada yang diandalkan sehingga tidak perlu merasa takut, diam2 terkejut, ia berkata sambil menghela napas, “sekalipun sianseng sudah mempunyai rencana yang sempurna, tetapi juga tidak usah menempuh bahaya keterlaluan, menurut kabar yang saaute dapat, Kun- liong Ong sudah mengerahkan sebagian besar pasukannya, disebar di sekitar tempat ini, untuk menahan datangnya bala bantuan, empat raja muda telah datang dan memimpin sendiri pasukannya, menjaga di empat penjuru, selain mencegah datangnya bala bantuan, juga untuk merintangi keluarnya Sianseng dari sini ... ” Tong Soan hanya mengibas-ngibaskan kipasnya, tidak menjawab.

Touw Thian Gouw berkata pula, “Sianseng merupakan tiang, baik bagi golongan pengemis maupun bagi rimba persilatan, apabila ada terjadi apa2 atas diri sianseng, maka siaute akan menanggung dosa yang tidak akan ditebus oleh jiwa, dari pada kita duduk diam manda diri dikepung, akan lebih baik selagi mereka belum berhasil memperkuat kedudukkannya, kita menerjang keluar, siaute ada mempunyai rencana untuk meloloskan diri, harap sianseng coba pertimbangkan.”

“Adakah kau ingin menukar pakaian denganku?” bertanya Teng Soan sambil tertawa.

“Benar, akal ini meskipun merupakan suatu yang biasa saja, tetapi mereka mungkin tidak berpikir sampai di situ, siaute akan memakai pakaian sianseng dengan nembawa Siang-koan Kie ... " berkata Touw Thian Gouw, matanya menyapu sejenak kepada delapan orang anak buah bekas Kun-liong Ong kenudian sambungnya: “Apabila orang2 ini, semua boleh dipercaya, separoh di antaranya, boleh disuruh melindungi sianseng, yang empat lagi boleh ikut siaute menerjang keluar ke arah timur, untuk mengacaukan perhatian musuh, sedangkan sianseng boleh menggunakan kesempatan ini menerjang keluar melalui arah barat, mungkin kita dapat ... ”

“Kau menyaru sebagai Teng Soan, akal ini memang bagus, tetapi tidak perlu melarikan diri.”

“Kenapa?”

“Kau harus ketahui bahwa Kun-liong Ong mempunyai kecerdasan berpikir melebihi manusia biasa, dalam kecerdikkan dan mengatur siasat, dengan aku hanya selisih sedikit saja, dalam hal kekejaman tindakannya, aku harus mengaku kalah, tetapi ia melanggar suatu kesalahan besar, tanpa disadarinya.”

“Kesalahan apa?”

“Sombong, keangkuhannya terlalu besar," berkata Teng Soan dengan suara perlahan. "seseorang jikalau terlalu sombong, kecerdikannya sering tertutup, apabila dia pada saat tempat seperti sekarang ini, datang sendiri cukup dengan beberapa pembantunya yang kuat saja, baik menangkap hidup atau membunuh mati, aku tidak akan bisa lolos dari tangannya, tetapi ia tidak berbuat demikian, disuatu pihak ia ingin membunuh aku, tetapi dilain pihak ia ingin menangkap aku hidup aku sebagai umpan, untuk memancing dan membasmi orang2 kuat golongan pengemis.”

“Kebimbangannya itu, memberikan kesempatan bagiku ...


Berkata sampai disitu, tiba2 menghela napas, “Satu hal

lagi, ialah peraturannya terlalu keras, terlalu banyak campur tangan urusan orang, sehingga anak buahnya yang bagaimana pandaipun tidak dapat memperkembangkan kecerdasan dan kepandaiannya dalam segala hal harus menunggu perintahnya, aih! Dalam hal ini, aku lebih unggul dari padanya ... tetapi kali ini aku mendahului bertindak, dalam perjalananku ini, aku sengaja, tidak meninggalkan pesan kepada Auw-yang Pangcu, maksudku ialah memberikan kesempatan bagi Auw-yang pangcu supaya menggunakan kecerdikan berpikir, Kun-liong Ong menghadapi golongan pengemis, di dalam harus berhadapan denganku untuk mengadu kecerdikan otak, di luar harus menghadapi Auw- yang pangcu dengan kekuatan tenaga, meskipun pihak kita sudah mendapat keuntungan dalam strategi, tetapi bagaimana kesudahannya, masih belum dapat kita ramalkan ... ”

Tiba2 terdengar suara kuda meringkik, empat batang obor nampak lari mendatangi. Touw Thian Gouw berkata dengan suara cemas: “Keadaan sudah terlalu gawat! Jikalau sianseng tidak lekas tukar pakaian, mungkin mereka akan segera menyerbu, keadaan malam ini kita tidak boleh bandingkan dengan keadaan di tanah datar tempo hari.”

“Baiklah! Bukalah baju luarmu," berkata Teng Soan, kemudian dari dalam saku mengeluarkan sebungkus bungkusan kecil dan dua lembar kedok kulit manusia, “kau mengenakan kedok kulit ini dan memakai pakaian dalam bungkusan ini.”

Touw Thian Gouw menurut, ketika ia membuka bungkusan itu di dalamnya terdapat dua potong pakaian sutra berwarna biru dan dua buah kipas, ia heran dan menanya: “Apa? Jadi sianseng sudah mempunyai persiapan?”

“Kun-liong Ong bisa berubah menjadi beberapa rupa, tetapi aku Teng Soan selama itu, tetap dengan keadaanku yang asli, hari ini aku hendak meniru perbuatannya," berkata Teng Soan sambil tertawa.

Touw Thian Gouw tidak berkata apa2 lagi, ia mengenakan kedok kulit dan menukar bajunya lalu mengambil sebuah kipas dan bertanya: “Bagaimana dengan sepotong pakaian yang lain ini?”

“Untuk dipakai oleh Siang-koan Kie."

“Aih! Kecerdikan sianseng, sesungguhuya sangat mengagumkan.”

“Sebetulnya juga tidak terhitung aneh, aku melainkan lebih dulu dapat memikirkan soal ini dari pada kalian."

Ketika Touw Thian Gouw melongok keluar ia melihat Siang- koan Kie sedang bertempur sengit dengan Bwee Cian Tay, ia lalu berkata sambil mengerutkan alisnya: “Dia sedang bertempur sengit dengan anak dara itu, kelihatannya dalam waktu dua tiga puluh jurus belum tentu bisa mendapat kemenangan, bagaimana kalau siaute membantunya?”

“Tidak perlu, kepandaian gadis itu meskipun tinggi, tetapi masih bukan tandingan Siang-koan Kie, saudara Touw boleh lihat sendiri saja!”

Benar saja, ketika Siang-koan Kie melihat datangnya empat penunggang kuda yang lari mendatangi dengan membawa obor itu, hatinya merasa cemas, dengan mengeluarkan suara bentakkan keras, gerakkan golok di tangannya mendadak berobah, ia menyerang tiga kali dengan beruntun dan berhasil membuat pedang di tangannya Bwee Cian Tay terpental terbang.

Bwee Cian Tay yang diserang demikian hebat dengan gerak tipunya yang aneh dan kekuatan tenaga sangat besar, seketika menjadi gugup, dan akhirnya ketika golok Siang-koan Kie membentur pedangnya, tanpa dirasa pedang telah terlepas dari tangannya, sehingga ia berdiri tertegun.

Selagi ia masih belum tahu tindakan apa yang akan diambil selanjutnya, tangan kiri Siang-koan Kie dengan cepat sudah menotok jalan darahnya.

Setelah Siang-koan Kie berhasil menotok Bwee Cian Tay, badannya mendadak memutar, golok di tangan kanannya disambitkan.

Dan orang berbaju hitam yang sama sekali tidak menduga Siang-koan Kie berbuat demikian satu telah tertabas putung badannya, dan satunya lagi baru saja hendak melarikan diri, sudah diserbu oleh Siang-koan Kie, sehingga juga binasa di tangannya.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan kepandaian luarbiasa yang diunjukkan oleh Siang-koan Kie, diam-diam merasa terkejut, ia sungguh tak menyangka bahwa kepandaian pemuda itu demikian hebat. Belum, lagi lenyap rasa takutnya, Siang-koan Kie sudah melompat masuk ke dalam barisan batu sambil menenteng pedangnya dan mengempit tubuh Bwee Cian Tay, ketika menyaksikan Teng Soan berdiri berdampingan, sejenak ia melongok, kemudian bertanya: “Sianseng, apa artinya ini?”

Teng Soan bersenyum dan berkata, “Lekas letakkan dia, kau juga mengganti pakaianmu dengan pakaian panjang!”

Siang-koan Kie semula terperanjat, kemudian mengawasi sejenak kepada Bwee Cian Tay yang berada dalam kepitan, lalu berkata sambil tertawa: “Sebaiknya biar saja ia yang pakai!”

“Cara ini meskipun bagus, tetapi kalau nanti ia sadar, pasti akan membencimu setengah mati," berkata Teng Soan.

“Biar saja ia membenci aku," berkata Siang-koan Kie sambil tertawa, ia lalu mengambil baju panjang kain sutra berwarna biru itu, selagi hendak dikenakan di badan Bwee Cian Tay, tiba-tiba ia mengurungkan maksudnya, ia melompat keluar dari barisan batu seraya berkata: ”Siaute hendak membereskan dulu empat orang dari barisan berkuda itu.”

Sambil menenteng pedangnya, ia menyerbu empat penunggang kuda yang membawa obor itu.

Touw Thian Gouw berkata sambil tertawa: “Saudara Siaug- koan kulitnya masih tipis, biarlah siaute yang mengenakan pakaian ini.”

Pada saat itu, empat penunggang kuda yang membawa obor itu sudah berada sejarak kira2 sepuluh tombak dari barisan batu.

Siang-koan Kie dengan gerakan bagaikan terbang menyambut kedatangan mereka, terpisah kira2 masih satu tombak di depan barisan berkuda itu, tiba2 melesat tinggi, dengan badan pedang tergabung menjadi satu, menyerbu kepada mereka. Ketika pedangnya bergerak, lalu terdengar suara jeritan ngeri, seorang yang berada paling depan sudah roboh terguling dari atas kudanya.

Teng Soan dengan mengibas2kan kipasnya berkata dengan pujiannya: “Sungguh seorang gagah jago yang luar biasa.”

Touw Thian Gouw yang selagi mengenakan pakaian untuk Bwee Cian Tay, segera menyahut: “Sejak aku pertama menjumpainya sehingga sekarang, kepandaian ilmu silatnya, agaknya mendapat kemajuan pesat sekali, setiap kali bertempur dengan musuh, kepandaiannya mendapat kemajuan tidak sedikit.”

“Siaute meskipun tidak pandai ilmu silat, tetapi masih ingat banyak tentang berbagai hafalan ilmu silat yang aneh, apabila kita berhasil terlepas dari bahaya hari ini, siaute pasti menurunkan kapandaian ilmu itu kepada saudara2 sekalian, sebagai hadiah atas perlindungan saudara2 hari ini.”

Dalam hati Touw Thian Gouw diam2 berpikir, “Tidak tahu hari ini kita bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup atau tidak?”

Ia yang sudah lama berkecimpungan di dunia Kang-ouw walaupun pengalamannya banyak bertambah, tetapi sipatnya sebagai seorang jantan yang dimiliki sejak dilahirkan, tanpa dirasa mulai berkurang banyak, ketika menyaksikan pengaruh dan wibawa Kun-liong Ong mengerahkan pasukannya, dalam hatinya diam2 telah membuat perhitungan bagaimanapun juga, ia merasa sulit sekali untuk meloloskan diri dari kepungan yang rapat itu, maka ia lalu menghela napas panjang dan berkata: “Banyak perhitungan orang cerdik pandai, sekali-sekali pasti ada yang meleset, sianseng semula hidup berlaku sangat hati2, tetapi malam ini, ternyata sudah dikuasai lebih dulu oleh Kun-liong Ong dengan kawan siaute dan saudara Siang-koan datang kemari, tindakan ini, lebih terlalu gegabah ... ” Teng Soan hanya mengibas2kan kipasnya sambil tersenyum, tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya, di dalam hati orang cerdik pandai itu agaknya sudah mempunyai rencana masak2, tetapi juga seolah-olah gampang dengan soal mati hidupnya.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan ketenangan luar biasa Teng Soan, tiba2 merasa malu sendiri, ia keluarkan suara batuk2 dan berkata pula: “Hidup atau mati merupakan soal sepele, siaute juga tidak memikirkan, hanya bagi sianseng ... ”

Teng Soan tiba2 mengangkat kipasnya dan berkata sambil menunjuk Siang-koan Kie: “Kwan ie, seorang pahlawan kenamaan di jaman Sam Kok dahulu, dengan seorang diri dan seekor kuda serta sembilan golok, menyerbu ke dalam pasukan musuh, sebelum arah yang ditinggalkannya masih belum dingin, ia sudah balik kembali sambil menenteng batok kepala seorang jago perang dari lawan, hari ini aku menyadikan kegagahan Siang-koan Kie, sesungguhnya dapat dibandingkan kegagahannya dengan pahlawan kenamaan di jaman dahulu itu.”

Ketika Touw Thian Gouw berpaling ke arah Siang-koan Kie, ia telah menyaksikan pemuda itu sudah balik kembali sambil menenteng pedangnya, sedangkan empat musuhnya dari pasukan berkuda yang hendak menyerbu barisan batu, semua sudah menggeletak di tanah menjadi bangkai, empat obor yang dibawanya, jatuh berserakan di tanah, apinya menyala membakar tempat di sekitarnya.

Touw Thian Gouw mengambil dua butir batu, disambitkan ke arah obor itu, hingga dua obor itu telah padam, ia mengulangi lagi perbuatan seperti tadi, hingga empat obor itu padam seluruhnya, pada saat itu Siang-koan Kie sudah balik kedalam barisan batu, lambat-lambat meletakkan pedangnya dan berkata sambil menghela napas: “Anak buah Kun-liong Ong terlalu banyak jumlahnya, setiap orang berkepandaian tinggi, harapan untuk menembus kepungan ini, nampaknya tipis sekali.”

Sudah beberapa puluh anak buah Kun-liong Ong mati di bawah tangannya, orang lain memuji dan mengagumi kegagahannya, namun ia sendiri merasa agak putus asa menghadapi musuh yang terlalu banyak jumlahnya.

Touw Thian Gouw khawatir Siang-koan Kie merasa ngeri menghadapi musuhnya yang terlalu kuat, sehingga semangatnya menurun, maka buru2 berkata: “Saudara gagah sekali, tidak perlu banyak merendahkan diri.”

“Bukankah ini Touw Toako? Kapan kau kembali?" bertanya Siang-koan Kie girang.

Kiranya tadi selagi ia bertempur sengit dengan Bwee Cian Tay, maka tidak tahu kedatangan Tow Thian Gouw.

“Toakomu waktu mencari2 ke rumah gubuk di sebelah kiri kita, sudah melihat gelagat tidak baik hatku tiba2 terbuka, daripada aku berjalan bersamamu dan Teng sianseng, ada lebih baik berusaha balik lagi ke rombongan pasukan baju hitam Kun-liong Ong, untuk mencari keterangan, apabila nasib baik dapat mengetahui rencana keji Kun-liong Ong, kita juga bisa siap sedia lebih dulu untuk menghadapinya ... " berkata Touw Thian Gouw.

“Kalau begitu Touw toako apakah pernah mendengar rencana keji Kun-liong Ong? Aih! Mati hidup kita tidak perlu dipikirkan, tetapi Teng Sianseng adalah orang yang memegang nasib rimba persilatan dewasa ini, apabila ada terjadi apa2, bukan saja kita tidak dapat menemui Auw-yang pangcu, tetapi juga tidak ada muka menjumpai sahabat2 rimba persilatan.”

“Itu memang benar, apapun juga yang terjadi kita harus berusaha sekuat tenaga untuk melindungi Teng sianseng, supaya bisa berlalu dari sini dalam keadaan selamat.” Teng Soan tersenyum dan berkata: “Saudara2 jangan khawatir, bala bantuan dari golongan pengemis, akan segera tiba, apabila dugaanku tidak keliru, usaha Kun-liong Ong kali ini mungkin akan sia2 lagi.”

Sementara itu tiba2 terdengar suara genderang dan tambur, yang amat riuh, dari berbagai penjuru dengan berbareng tampak banyak obor.

Di bawah sinar penerangan obor, dari jauh tampak sebuah panji besar yang tertulis dengan huruf2 besar ‘TANGKAP HIDUP TENG SOAN’, berkibar tertiup angin.

Di bawah angin santer dan suara gemuruh, musuh dalam jumlah besar datang mengurung dari berbagai penjuru.

Serbuan musuh itu bagaikan badai mengamuk, susah diduga berapa banyak jumlahnya.

Siang-koan Kie tergerak hatinya, ia berkata kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan: “Tolong Touw toako melindungi diri sianseng siaute hendak membikin kacau barisan mereka lebih dulu.”

Dengan cepat ia melompat keluar dari dalam barisan batu, menyambar dua ekor kuda.

Teng Soan berkata sambil tersenyum: “Saudara Siang-koan Kie meskipun gagah, tetapi tindakan itu juga terlalu berbahaya.”

“Saudara kau hendak berbuat apa?”

“Aku hendak membikin kalut barisan mereka, juga ingin mencoba apa maksud Kun-liong Ong, betul hendak membinasakan Teng Soan atau tidak menjawab Siang-koan Kie.”

Touw Thian Gouw agaknya masih kurang paham, tetapi Siang-koan Kie sudah mengempit tubuh Bwe Cian Tay, kemudian melompat keluar. Pada saat itu, Bwee Cian Tay sudah memakai pakaian panjang, mukanya mengenakan kedok kulit manusia, Siang- koan Kie meletakkan ia di atas pelana kuda, tali kuda diikatkan dengan tangan kirinya, tubuh gadis itu nampak mendukung ke depan, kipas di tangan kanannya setengah terbuka menutup setengah mukanya, Siang-koan Kie memasukkan pedang ke dalam sarungnya, mengambil sebatang tombak panjang, melompat naik keatas seekor kuda yang lain.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan kelakuan pemuda itu terkejut dan terheran2, tanyanya: “Saudara, kau hendak berbuat apa?"

“Aku hendak menyerbu pasukan anak buah Kun-liong Ong

... ”

“Hanya dengan seorang diri?"

Siang-koan Kie berpaling ke arah Bwee Cian Tay sejenak lalu berkata: “Dia akan mengawani aku ..." sejenak ia berhenti, "apabila siaute beruntung dapat mengacaukan anak buah Kun-liong Ong itu, Touw toako dan delapan saudara ini supaya melindungi Teng sianseng, lekas berlalu dari sini untuk kabur.”

“Harap saudara berlaku hati-hati," berkata Touw Thian Gouw sambil menghela napas. “Touw toako jangan khawatir."

Pemuda itu lalu bedal kudanya menyerbu musuh.

Touw Thian Gouw berpaling dan berkata kepada Teng Soan: “Teng Sianseng, perlukah kita menggunakan kesempatan ini kabur dari sini?”

“Saudara Touw jangan khawatir, menurut pikiranku, bala bantuan kuat dari golongan pengemis, sudah akan tiba.”

“Menurut apa yang aku tahu, Kun-liong Ong sudah memasang orang-orangnya yang kuat, menutup jalan di sekitar tempat ini.” “Apabila mereka tidak menutup empat penjuru jalan ini, mungkin golongan pengemis tidak sampai mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya untuk datang kemari.”

“Perhitungan sianseng siaute sangat kagum, kalau kita harus bertahan di tempat ini, setidak-tidaknya perlu memahami lebih dahulu perobahan barisan batu ini, dalam hal ini harap sianseng suka memberikan petunjuknya.”

“Saudara Touw benar-benar sangat cermat .... ” berkata Teng Soan sambil tersenyum, lalu dengan tenang menjelaskan bagaimana perobahannya dan khasiatnya menahan musuh dari barisan batu ini.

Touw Thian Gouw merdengarkan dengan penuh perhatian, bagian yang masih kurang paham, ditanyakan pula berulang- ulang.

Pada saat itu, Siang-koan Kie sudah mulai bertempur dengan anak buah Kun-liong Ong.

Di bawah penerangan sinar obor, tampak Siang-koan Kie memutar tombaknya demikian rupa, siapa saja yang menghadapinya lantas rubuh bagaikan daun tertiup angin.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan ketangkasan pemuda itu, tanpa sadar timbul semangatnya, ia berpaling mengawasi delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong itu sejenak, lalu berkata: “Saudara-saudara, keadaan hari ini, kita sudah tidak boleh tinggal diam, apabila tertangkap hidup oleh Kun- liong Ong siksaan dan penderitaan apa yang kita akan alami, kiranya saudara-saudara sudah mengetahui dan merasakan sendiri ... ”

Delapan orang itu semua mengangukkan kepala dengan serentak.

Touw Thian Gouw berpikir sejenak, kemudian berkata pula: “Daripada kita hidup terhina dan tersesat, lebih baik kita mengadu jiwa dengannya.” Delapan orang itu agaknya terpengaruh oleh semangat jantan Touw Thian Gouw, dengan serentak mereka menyahut: “Ucapan saudara memang benar, bagi kita, lebih suka mati di tempat ini, juga tidak sudi tertangkap hidup oleh Kun-liong Ong.”

Touw Thian Gouw berpaling mengawasi orang yang menyaru, sebagai Kun-liong Ong itu sejenak lalu bertanya: “Sianseng, siapa orang ini?”

“Orang yang menyamar menjadi Kun-liong Ong," menjawab Teng Soan.

“Kalau dibiarkan ia hidup, akhirnya pasti akan menjadi bencana," berkata Touw Thian Gouw.

Kemudian dengan golok di tangannya, ia tabas putung orang itu, bangkainya dilemparkan keluar dari barisan batu.

Teng Soan mengawasi Touw Thian Gouw, terhadap perbuatan jago itu, ia tidak melarang atau menyetujui.

Touw Thian Gouw setelah melemparkan Kun-liong Ong tiruan itu, lalu berkata dengan suara keras kepada delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong, “Bala bantuan yang kuat dari golongan pengemis, di bawah pimpinan Koan Sam Seng, tiga Kok-cu, dan empat puluh delapan pasukan berani mati yang namanya sudah sangat terkenal itu, sudah mulai bertempur dengan anak buah Kun-liong Ong, satu pasukan lagi, dibawah pimpinan Auw-yang pangcu sendiri dengan dibantu oleh delapan hulubalang, sudah datang menyerbu dari lain bagian, saudara2 asal dapat menggunakan barisan batu ini sebagai pelindung, menahan Kun-liong Ong satu jam saja, bala bantuan itu pasti keburu menyelamatkan kita ... “

Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula: “Harus diketahui bahwa situasi pada sekarang ini, kecuali berbuat demikian, sudah tidak ada jalan hidup lain, dari pada tertangkap hidup, lebih baik kita mengadu jiwa mati bersama- sama.” Ucapan yang menyala-nyala dan bersemangat itu telah mengobarkan semangat delapan orang itu, hingga semua menyahut dengan serentak: “Benar.”

Touw Thian Gouw yang menyaksikan orang-orang itu sudah berkobar semangatnya, agak hilang kekhawatirannya, ia berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan, “Nasib sianseng dan golongan pengemis, semua tergantung dalam pertempuran ini, aih! Golongan pengemis dapat menentang kekuatan Kun-liong Ong atau tidak, semua tergantung rencana sianseng, kalah menangnya golongan pengemis, ada mempunyai hubungan erat dengan nasib seluruh rimba persilatan, maka kedudukan sianseng sesungguhnya terlalu kecil sekalipun siaute harus korbankan jiwa, juga akan mempertahankan jiwa sianseng ... ”

Teng Soan menghela napas perlahan, selagi hendak menjawat, Touw Thian Gouw berkata pula, “Ada satu hal siaute ingin minta bantuan sianseng, harap sianseng tidak menolaknya.”

“Kau katakanlah!”

Touw Thian Gouw melongok keluar, obor yang berkobar dan suara orang berteriak-teriak, ternyata sudah berada dekat sekali dengan barisan batu, sedangkan Siang-koan Kie yang menyerbu kedalam barisan berkuda, telah menunjukkan keberanian dan kegagahannya, namun dengan seorang diri, biar bagaimana rada berat melawan musuhnya yang berjumlah jauh lebih banyak. Anak buah Kun-liong Ong menyerang dari berbagai penjuru bagaikan arusnya gelombang air laut. Betapapun gagahnya Siang-koan Kie, juga cuma dapat menghadapi musuhnya dari satu fihak saja.

Touw Thian Gouw agak khawatir, dengan suara perlahan ia berkata: “Sianseng tidak pandai ilmu silat, agak kurang baik memperlihatkan diri di dalam barisan batu, hal ini berarti memberi kesempatan baik bagi musuh.” “Apa kau ingin aku rebahkan diri di dalam barisan?" bertanya Teng Soan sambil tertawa.

“Itulah maksud siaute.”

“Baiklah," berkata Teng Soan sambil tertawa, kemudian rebahkan diri di dalam barisan.

Hampir bersamaan dengan itu, barisan anak buah Kun- liong Ong sudah menyerbu barisan.

Sebatang tombak panjang menusuk sebuah tumpukkan batu.

Dilain saat, sebilah golok gemerlapan terbang melayang, menangkis tombak itu.

Baru bertempur segebrakan, anak buah Kun-liong Ong sudah menyerbu bagaikan gelombang air laut menyerang dengan senjata tombak dan golok.

Delapan orang bekas anak buah Kun-liong Ong yang ditugaskan menjaga barisan tersebut, serentak menyambut kedatangan musuh dengan mempertahankan kedudukan masing-masing.

Touw Thian Gouw dengan tangan kanan memegang kipas dan tangan kiri memegang pecut berdiri mengomando pertempuran itu.

Pada saat itu, anak buah Kun-liong Ong yang sangat kuat, sudah mengepung barisan batu dari berbagai penjuru, api obor berkobar sehingga menerangi tempat seluas sepuluh tombak.

Tetapi mereka tidak berhasil menyerbu masuk ke dalam barisan, karena kalau mereka mendekati barisan batu itu, merasakan ada banyak rintangan yang mengganggu gerakan mereka, sehingga dengan mudah terpukul mundur lagi.

Touw Thian Gouw tahu, banyak mata ditujukan kepadanya dengan sorot mata penasaran, setiap orang agaknya sangat bernapsu hendak menangkapnya hidup2 tetapi tiada seorangpun yang berani bertindak. Jelas bahwa maksud Kun- liong Ong hendak menangkap hidup, Teng Soan memang benar.

Dari dalam barisan mendadak terdengar suara bentakan keras, seorang bertubuh tinggi besar, dengan tangan membawa ruyung perak, keluar dari dalam barisan dengan tindakan gesit.

Melihat senjatanya yang bulat besar, Touw Thian Gouw diam2 terperanjat, ia dapat menduga bahwa orang itu pasti bertenaga besar.

Selagi berpikir, orang itu sudah menyerbu dekat barisan batu dan melancarkan serangan dengan senjatanya yang berat itu.

Tenaga orang itu ternyata sangat kuat sekali, serangannya menimbulkan hembusan angin hebat.

Seorang dari dalam barisan batu coba menahan serangan itu dengan senjata goloknya, tetapi goloknya terpental terbang, orangnya mundur terhuyung-huyung.

Seorang kawannya memperingatkan kepada orang bekas anak buah Kun-liong Ong yang terpental goloknya: “Saudara Lo, hati2, orang ini adalah Kim Goan Pa, orang kuat nomor satu dari raja dari Koo Pat Kie, jangan pandang ringan lawan.”

Sementara itu, Kim Goan Pa yang sudah memukul mundur lawannya, dengan tindakan lebar masuk ke dalam barisan batu.

Selagi kakinya baru mau melangkah, dari samping disambut oleh serangan golok dari bekas anak buah Kun-long Ong, tetapi Kim Goan Pa membalas serangan itu.

Karena kegagahan Kim Goan Pa sudah dikenal baik oleh hampir semua anak buah Kun-liong Ong maka bekas anak buah Kun-liong Ong ketika melihat Kim Goan Pa memutar ruyungnya, segera mundur teratur.

Kim Goan Pa setelah memukul lawannya yang kedua, melanjutkan usahanya hendak masuk kedalam barisan batu, kemudian dengan tiba2 kakinya menendang tumpukan batu, tetapi badannya segera mengusruk kedepan.

Tiga bilah golok dengan berbareng menyerang dirinya.

Betapapun gagahnya Kim Goan Pa, karena kakinya merasa terhalang, terpaksa lompat mundur.

Delapan bekas anak buah Kun-liong Ong yang menyaksikan kegaibannya barisan batu itu, semangatnya bangun seketika.

Kim Goan Pa yang terdesak keluar dari dalam barisan batu, sangat mendongkol, menampak batu2 berserakan di tanah dan tumpukkan2 batu lainnya, lalu melampiaskan hawa amarahnya kepada batu2 itu, dengan senjata ruyungnya ia menyapu batu2 itu, hingga berterbangan di udara.

Touw Thian Gouw terperanjat, pikirnya: ‘apabila barisan batu ini dihancurkan oleh orang kasar ini, tentu akan kehilangan khasiatnya, sedangkan jumlah musuh terlalu banyak jumlahnya, bagaimana kita dapat melawan ... ‘

Sementara itu, Kim Goan Pa kembali menggunakan ruyungnya untuk menyapu tumpukan batu2 itu, sehingga terbuka satu ruang yang lebar.

Touw Thian Gouw terkejut, dengan cepat menyerang Kim Goan Pa dengan pecutuya.

Tiba2 terdengar suara Teng Soan: “Saudara Touw, orang itu mempunyai tenaga sangat besar, tidak boleh dilawan dengan kekerasan, biarlah dia masuk ke dalam.”

Touw Thian Gouw tercengang, “Biarkan dia masuk ke dalam ... " demikian katanya, pergelangan tangannya tiba2 dirasakan kesemutan, pecut di tangannya hampir terlepas, hingga hatinya semakin terkejut.

Pada saat itu, delapan bekas anak buah yang ditugaskan menjaga barisan batu itu, sebagian besar sudah meninggalkan posnya, hendak mengeroyok menahan majunya Kim Goan Pa.

Tetapi karena orang2 yang menjaga itu kacau balau sendiri, hingga hampir menggoyahkan seluruh kedudukan barusan batu itu. Empat orang berbaju hitam, sudah berhasil menerobos masuk ke dalam barisan batu.

Touw Thian Gouw memutar pecutnya demikian rupa, ia telah berhasil merubuhkan salah seorang yang menyerbu masuk itu, sementara mulutnya berteriak-teriak kepada kawan2nya yang menjaga barisan, supaya jangan meninggalkan posnya.

Delapan bekas anak buah Kun-liong Ong, semua sudah bertekad bulat hendak mempertahankan barisan batu itu hingga titik darah penghabisan, ketika mendengar seruan Touw Thian Gouw, segera kembali kekedudukan masing2 untuk balas menyerang orang2 yang menyerbu masuk, sehingga terdesak keluar lagi.

Sementara itu, Kim Goan Pa sudah berhasil masuk ke dalam barisan batu tanpa rintangan.

Teng Soan yang rebah di dalam barisan, saat itu sudah berdiri, ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya, disambitkan ke tanah.

Sebentar kemudian terdengar suara ledakan nyaring, asap tebal mengepul tinggi, dalam waktu sangat singkat, asap tebal itu sudah meliputi seluruh tempat dalam barisan batu itu.

Di bawah lindungan asap tebal, Teng Soan mengibaskan kipasnya, Kim Goan Pa segera rubuh di tanah tanpa sadarkan dirinya lagi. Apakah Teng Soan bisa terlolos dari kepungan Kun-liong Ong?

Bagaimana nasib Siang-koan Kie dengan Bwee Cian Tay? Silahkan pembaca mengikuti kisah selanjutnya.

-oo0dw0oo-