ISMRP Jilid 19

 
Jilid 19

TENG SOAN tiba2 tertawa dan berkata: “Tetapi locianpwee tidak perlu gelisah, putrimu bukan saja jiwanya tidak dalam bahaya, tetapi malah dalam waktu tiga atau lima hari ini, pasti ada kabar tentang dirinya.”

Semangat Kiang Su Im terbangun, ia berkata dengan suara nyaring: “Bagaimana kau bisa mendapat tahu demikian?”

“Putrimu masih dalam keadaan sakit, apabila ada orang yang membunuhnya, pastilah sangat mudah sekali, tetapi orang itu lebih suka menempuh bahaya besar, telah membawanya kabur dan tidak membunuhnya seketika itu juga, hal ini sudah jelas, bahwa orang itu pasti mengandung maksud tertentu, yang ingin menggunakan jiwa putrimu untuk memeras locianpwee. Orang itu karena ada mengandung maksud hendak memeras locianpwee, sudah tentu akan memberi kabar kepada locianpwee, barulah mencapai maksudnya, berdasar atas ini, maka boanpwee dapat mengambil kesimpulan demikian.''

Kiang Su Im berpikir sebentar kemudian berkata sambil menghela napas panjang: “Kau menganalisa sesuatu urusan seperti menyaksikan dengan mata kepala sendiri, benar2 sangat mengagumkan, semoga ... ” Belum lagi habis ucapannya, dari luar terdengar suara nyaring. “Pangcu tiba!”

Selanjutnya, Auw-yang Thong, Koan Sam Seng Hui Kong Leang dan Tiat-bok Taysu masuk ke dalam kamar dengan sikap serius.

Teng Soan segera berbangkit dan tempat duduknya dan berkata sambil memberi hormat: “Tuan-tuan semua tentunya sudah letih.”

Auw-yang Thong menganggukkan kepala, kemudian memberi hormat kepada Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw, pandangan matanya segera beralih kepada Kiang Su Im, kemudian berkata sambil memberi hormat:

“Tak kusangka Lam Ong Kiang Tayhiap, ternyata sudi berkunjung ke tempat ini, nampaknya Teng sianseng besar pamornya."

Kiang Su Im memandang padanya dengan mata sayu, seolah2 tidak mendengar apa yang dikatakan, Koan Sam Seng segera menegur: “Kiang tayhiap!”

Kiang Su Im seperti baru sadar dari mimpinya, ia segera menyahut: “Oh, ada apa?”

“Apakah telinga Kiang tayhiap mendapat gangguan?" berkata Koan Sam Seng.

Kiang Su Im setelah mendengar pertanyaan itu, sejenak nampak tercengang kemudian berkata: “Pendengaranku baik.”

Teng Soan khawatir dua orang itu akan bentrok maka buru- buru berkata: “Kiang tayhiap ini karena kehilangan putrinya hatinya terluka, saudara harus berlaku sedikit sabar.”

Koan Sam Seng dan Teng Soan sama kedudukannya di dalam golongan pengemis, hanya tugasnya berlainan, tetapi karena Koan Sam Seng menjunjung tinggi dan menghormati perangai dan kepandaian Teng Soan, maka selalu menghargainya.

Setelah mendengar perkataan Teng Soan, ia segera memberi hormat kepada Kiang Su Im dan berkata sambil tertawa: “Kiang tayhiap, adakah selama ini baik2 saja? Teng sianseng bukan saja dapat meramal seperti dewa, tetapi juga pandai ilmu bintang, perhitungannya selalu jitu, mengapa tayhiap tidak minta dia melihat nasib putrimu?”

Kiang Su Im meski-pun merasakan perobahan sikap Koan Sam Seng ini, tetapi karena ia selalu mengingat keadaan putrinya, maka tidak mendapat kesempatan untuk memikirkan maksud yang terkandung dalam perkataan Koan Sam Seng, ia hanya mengangguk-anggukkan kepala dan berkata: “Terima kasih atas petunjukmu, kalau begitu minta Teng Sianseng coba melihat bagaimana nasib anakku.”

Orang tua yang sifatnya aneh itu, selamanya tidak menghiraukan adat istiadat dan tata cara umumnya, ia terus bicara soal anaknya sehingga kedatangan Auw-yang Thong dan lain-lainnya ia juga tidak menyapa. Untung ia adalah seorang bersifat aneh yang sudah sangat terkenal di kalangan Kang-ouw, maka Auw-yang Thong, Tiat-bok Taysu dan lain- lainnya juga tidak ambil di hati.

Teng Soan berkata sambil tersenyum: “Tentang ilmu bintang, meski-pun seluruhnya bukan tidak berdasar, tetapi juga tidak boleh dipercaya semuanya, apabila Kiang tayhiap pasti hendak mencoba, harap suka tunggu sebentar boanpwee pasti memenuhi permintaan cianpwee.”

“Aku merepotkan sianseng, asal aku dapat menemukan anakku, maka budimu kali ini, dikemudian hari aku pasti membalasnya," berkata Kiang Su Im sambil menarik napas.

“Ucapan locianpwee sungguh berat, hanya sumbangan sedikit tenaga yang tidak berarti, perlu apa ... " berkata Teng Soan kemudian mengawasi. Auw-yang Thong dan bertanya padanya: “Apakah pangcu melihat Kun-liong Ong?”

Auw-yang Thong menggelengkan kepala dan menghela napas panjang, kemudian menjawab: “Kun-liong Ong sangat kejam, jahat dan licin, mungkin di dalam dunia ini tidak ada duanya, tetapi kepandaian dan kepintarannya, sesungguhnya juga sangat mengagumkan.”

“Pangcu dapat melihat apa?" bertanya Teng Soan sambil mengibas2kan kipasnya.

“Aku dengan Tiat Bok taysu dan lain2nya ketika pergi mengejar, Kun-lion Ong sudah berlalu, tetapi di tempat itu ia meninggalkan sebuah barisan aneh, kalau dari jauh hanya merupakan gundukan beberapa buah gunung batu, di tempat itu ia meninggalkan sepucuk surat minta aku bersama Tiat-bok Taysu dan yang lain2nya menjumpainya di dalam barisan batu itu.

Semangat Teng Soan terbangun ketika, sepasang matanya memancarkan sinar aneh, katanya: “Ada kejadian serupa itu, apakah pangcu menurut dan memasuki barisan itu?”

“Aku sering mendengar sianseng membicarakan tentang barisan Pat-tin-touw Cu-kat Bu Hauw yang mempunyai perohahan aneh, sayang aku belum pernah mengalami sendiri, berapa gundukan gunung batu yang tidak berarti itu, tak disangka ketika kita masuk ke dalamnya hampir saja kami terbinasa di tempat itu ... ”

“Benarkah barisan batu itu mempunyai banyak perobahan demikian rupa?”

“Mula2 waktu kita masuk barisan itu, tidak merasakan apa2 yang aneh, tetapi setelah memasuki belum satu tombak, segera merasakan kejadian aneh, angin gunung dan hawa demak timbul dari dalam gundukan batu itu, dalam waktu sangat cepat kita sudah diliputi kabut tebal sehingga tidak dapat melihat keadaan di depan mata ... ” “Barisan Pat-tin-louw merupakan satu ilmu luar biasa yang diciptakan oleh Cu-kat sianseng, sudah hilang dari dunia, bagaimana Kun-liong Ong bisa mendapatkan rahasia ilmu itu?”

“Justru itulah yang menjadi pikiran,'' berkata Auw-yang Thong sambil menghela napas.

Teng Soan tiba2 mendongakkan kepala dan menarik napas panjang, kemudian berkata: “Apabila Kun-liong benar2 dapat membentuk barisan Pat-tin-touw peninggalan Cu-kiat sianseng itu aku si orang she Teng tidak sanggup menandingi lagi.”

Semua orang diam sambil menundukan kepala.

Orang2 kuat seperti Tiat-bok Taysu, Hui Kong Leang dan lain2nya, sejak mengalami pertempuran di atas tanah datar itu, sudah mengetahui bahwa di kalangan Kang-ouw terdapat banyak hal, yang sesungguhnya tidak dapat dibereskan hanya dengan kekuatan ilmu silat saja, kepintaran, kecerdasan otak dan kepandaian mengatur siasat, adakalanya lebih penting dari pada ilmu silat.

Terhadap Teng Soan mereka sudah timbul rasa hormat dan kagum, bukan saja semakin mendapat penghargaan lebih tinggi dari pangcunya, tetapi Tiat-bok Taysu juga merasa bahwa untuk menghadapi musuh kuat seperti Kun-liong Ong itu, sesungguhnya sudah tidak dapat dilawan hanya mengandalkan kekuatan Siao-liem saja. Selama beberapa hari ini apa yang dilihat dan didengarnya ia sudah merasakan bahwa anggota golongan pengemis, sebetulnya tidak lebih sedikit dari pada paderi kuil Siao-liem-sie. Dunia Kang-ouw selama terus seratus tahun selamanya selalu pandang Siao- liem-pay sebagai pusat dan jiwa rimba persilatan bukan saja kepandaian ilmu silatnya golongan itu yang tinggi sekali, tetapi juga karena jumlah anak muridnya yang banyak sekali, namun pengaruh dan kekuatan golongan pengemis pada saat ini agaknya sudah dapat merendengi kedudukkan Siao-liem-pay. Tetapi kekuatan Kun-liong Ong yang dipupuk olehnya selama beberapa puluh tahun, jumlah orang2 kuat yang dipunyainya, agaknya masih di atas golongan pengemis, dia bukan saja mengandalkan pengaruhnya obat untuk mengendalikan jiwa dan pikiran anak buahnya, tetapi ia juga menarik orang dari segala golongan tanpa pilih bulu dan tanpa pandang kelakuannya, kalau ditinjau dari kekuatan ilmu silatnya memang benar masih di atasnya golongan pengemis.

Kejadian ini merupakan suatu perubahan besar dalam rimba persilatan selama beberapa ratus tahun ini, Tiat-bok Taysu semakin memikir pikirannya semakin khawatir.

Kekuatan golongan pengemis agaknya sudah kalah setingkat dengan kekuatan Kun-liong Ong, yang membuat rencana dan menentukan nasib golongan pengemis, hanya mengandalkan Teng Soan seorang. Orang pelajar yang lembut dan berbadan lemah ini, bukan saja sudah menjadi tiang dalam golongan pengemis, tetapi juga sudah menjadi hakim luntuk memutuskan kebaikan dan kejahatan dalam rimba persilatan, kalah atau menangnya dalan mengadu kepintaran dengan Kun-liong Ong bukan hanya mempengaruhi mari hidupnya golongan pengemis, tetapi juga mempengaruhi nasib seluruh rimba persilatan, untuk menegakkan keadilan dan kebenaran serta dalam usaha membasmi kejahatan, semua tergantung di atas pundak pelajar yang tidak mengerti ilmu silat ini.

Demikian Teng Soan dalam pandangan mata Tiat-bok Taysu, demikian-pun penilaian Hui Kong Leang terhadapnya, tidak usah dikata buat Auw-yang Thong yang seolah2 menyerahkan semua nasib golongan pengemis di tangan penasehatnya itu. Maka, ketika Teng soan mengucapkan perkataan demikian, seketika itu lalu menimbulkan perasaan bingung bagi mereka. Teng Soan sendiri waktu ita memejamkan matanya lambat2 wajahnya sebeatar biru sebentar pucat, ada kalanya terlintas sedikit kemerah2an.

Mata Auw-yang Thong ditujukan kepada penasehatnya itu dengan penuh perhatian, ia tahu bahwa keletihan dapat merusak kesehatan badan Teng Soan, tetapi sekarang mau tidak mau kembali harus memutar otaknya yang mempunyai simpanan kepandaian melebihi manusia, untuk memecahkan soal rumit ini.

Ia yakin bahwa Teng Soan dalam waktu sangat singkat akan dapat menemukan jawaban persoalan sulit itu, tetapi hal itu akan menggunakan banyak pikiran dan tenaga sehingga mempengaruhi kesehatan badannya yang memang sudah lemah itu.

Tidak berapa lama, terdengar suara tarikan napas panjang Teng Soan, dan kemudian membuka matanya lamba-lambat.

Sepasang matanya memancarkan sinar yang tajam, di situ menunjukkan kecerdasan dan kepintaran penasehat dan pemikir yang luar biasa itu. Hal itu dengan wajahnya yang pucat merupakan suatu kontras yang sangat menyolok.

Auw-yang Thong menghela napas perlahan berkata: “Sianseng seharusnya beristirahat dulu ... “

“Terima kasih atas perhatian Pangcu ... “ berkata Teng Soan sambil bersenyum, “tuan-tuan setelah terjebak di dalam barisan Pat tin-touw itu, dengan cara bagaimana bisa keluar lagi?”

“Dalam barisan batu itu tertutup oleh kabut tebal sehingga merintangi pandangan mata kita, semua aku tidak menghiraukan, aku memulai membuka serangan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam, tak disangka seranganku itu membuat kabut semakin tebal, bersamaan dengan itu juga terdengar suaranya Kun-liong Ong ... " berkata Auw-yang Thong. Teng Soan tiba2 menyambung sambil tersenyum, “Bukankah ia memberitahukan kepada kalian sudah terjebak dalam barisan Pat-tin-touw peninggalan Cu-kat sianseng?”

Tiat-bok Taysu terperanjat, ia berkala, “Bagaimana sianseng tahu?”

”Apabila dugaan siaute tidak keliru, perkataan selanjutnya tentu mengucapkan, dalam keadaan sekarang ini, kalau aku hendak mencelakakan jiwa kalian, sesungguhnya sangat mudah.”

Hui Kong Leang lalu berkata dengan nada suara kagum: “Perkataan Sianseng ini, seolah-olah mendengar dan menyaksikan sendiri, benar-benar sangat mengagumkan.”

Teng Soan lambat-lambat mengalihkan pandangan matauya kepada Auw-yang Thong, kemudian berkata. “Apakah ia tidak menasehati pangcu supaya lekas mengundurkan diri, jangan campur tangan dalam pertikaian rimba persilatan kali ini? Oleh karena maksud dan tujuan Kun- liong Ong hanya untuk menghadapi sembilan partai besar dan untuk mengumpulkan orang-orang kuat dunia Kang-ouw yang tidak berpartai atau tidak bergolongan. Golongan pengemis seharusnya bekerja sama dengannya, karena merupakan suatu golongan yang hendak disingkirkan oleh sembilan partai besar. Menurut kemauannya, sekali-pun tidak bisa bekerja sama, setidak-tidaknya juga jangan mengganggu satu sama lainnya.”

“Dugaan sianseng ini sedikit-pun tidak salah," berkata Auw-yang Thong.

“Kun-liong Ong sehabis mengucapkan perkataan demikian, ia lalu memerintahkan orangnya membawa kalian keluar dari dalam barisan, dan setelah memberitahukan kepada kalian keluar dari dalam barisan, segera terjadi lagi suatu kejadian yang menggetarkan, untuk menarik perhatian kalian, supaya kalian tidak mendapat kesempatan menoleh untuk menyaksikan barisan itu.”

“Memang benar, Kun-liong Ong sehabis mengucapkan perkataan itu, lalu muncul dua gadis berpakaian hijau dengan tangan membawa kipas berbulu, jalan ke arah kita, dua gadis itu tanpa hentinya menggerak-gerakkan kipasnya berbulu, membawa keluar dari dalam barisan batu itu.”

“Apakah dapat melihat kejadian yang menggetarkan?”

“Ya, barisan batu itu dibentuk disebuah tempat yang dekat dengan lereng bukit yang tidak tinggi, setelah kita keluar dari barisan itu, tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri, di tempat suatu tikungan kira-kira setombak lebih, dipasang lima tonggak kayu, sepasang tiang itu menggantung diri seseorang, orang yang berada paling kiri sudah terluka oleh sebuah pisau yang disambitkan dari jarak jauh, keadaannya diwaktu itu, sesungguhnya, membuat kita tidak mendapat kesempatan untuk menengok kebelakang, karena kita segera memburu hendak menolong orang itu tak disangka ketika kita tiba di tempat tersebut dari empat penjuru segera dihujani anak panah dari orang-orang Kun-liong Ong yang disembunyikan di sekitar tempat itu, ia mungkin sudah tahu bahwa anak panah itu berhenti sendiri."

“Siapa2 yang digantungkan di atas tiang itu?" "Semua adalah anak murid golongan kita."

“Apakah empat orang yang masih hidup itu dapat ditolong dan dibawa kembali?"

“Semua binasa di bawah hujan anak panah."

“Siasat yang digunakan oleh Kun-liong Ong ini, sesungguhnya sangat kejam, sekali ... aku si orang she Teng merupakan bulu matanya, satu hari tidak dicabut, ia tidak akan merasa terang, tetapi karena ia hendak mencelakakan diri saute, telah membinasakan empat anak buah kita, yang tidak berdosa, hal ini membuatku merasa tidak tenang.”

“Maksud Teng Sianseng ... “

"Kun-liong Ong bermaksud memancing siaute pergi melihat barisan Pat-tin touw itu, benar atau tidak ilmu peninggalan dari Cu-kat sianseng, dan ia akan sembunyikan orang2nya yang kuat di sekitarnya ... "

Auw-yang Thong seperti baru tersadar ia berkata, “Ucapan sianseng ini memang benar, kabarnya Pat-tin-touw peninggalan Cu-kat sianseng mengandung banyak perobahan tidak ada habisnya, juga banyak mengandung ilmu gaib, tetapi barisan Pat-tin-touw yang dibentuk oleh Kun-liong Ong itu, hanya angin gunung dan kabut tebal yang ada di situ, kecuali menghalangi pandangan mata kita, tidak apa-apanya lagi yang aneh.”

Teng Soan berpikir sejenak, tiba2 dengan sikap tegas ia berkata: “Sekarang kita mau tidak mau harus menimpali akal busuknya itu, bertempur secara terang2an dengannya ... ”

Ia menarik napas dalam2, lalu berkata pula, “Selagi semangat dan tenagaku masih sanggup, baik juga melakukan pertempuran yang menentukan dengannya.”

Auw-yang Thong bercekat segera berkata: “Kesehatan Sianseng sangat penting, Kun-liong Ong seorang jahat yang berkepandaian tinggi, apalagi ia sekarang sudah banyak pembantunya, tidak mudah dibasmi kekuatannya dalam waktu singkat, sianseng jangan pikirkan kesalahan yang tidak ada artinya ini, supaya jangan sampai menggunakan tenaga dan pikiran terlalu banyak.

Teng Soan tersenyum, wajahnya pucat terlintas perasaan gembira.

“Keadaan badan sianseng sangat lemah sebaiknya kita tarik kembali orang2 kita kepusat dulu setelah tenaga sianseng sudah pulih kembali, kita nanti bertempur mati2an lagi dengan Kun-liong Ong berkata Auw-yang Thong dengan perasaan terkejut.

“Kalau kita mundur, musuh pasti akan maju, ini berarti memberikan kesempatan baginya, api yang membakar tanah belukar seluas sepuluh pal itu, rasa ngerinya barangkah masih belum lenyap dari dalam hati Kun-liong Ong, kalau ia tidak berani maju secara gegabah itu disebabkan karena masih mengandung rasa jeri dalam hatinya terhadap kita golongan pengemis ... " berkata Teng Soan sambil menggelengkan kepala, “siaute sudah bertekat hendak mengadu kekuatan dengannya, apabila Tuhan melindungi kita dan kali ini berhasil dapat memberi pukulan hebat, kepada Kun-liong Ong, akan memberikan waktu seratus hari bagiku untuk beristirahat ... " agaknya ia merasa bahwa ucapannya itu sudah membocorkan rahasia alam, maka buru2 mengalihkan kesoal lain, ia lalu berpaling dan berkata kepada Kiang Su Im: “Tadi bukankah Kiang locianpwee minta boan-pwee memberikan sedikit pertunjukan untuk coba melihat nasib ... "

“Apabila aku dapat menemukan anakku, budi sianseng ini, akan kuingat untuk selama2nya," berkata Kiang Su Im.

“Tetapi ramalan ini barangkali tidak seluruhnya jitu, sehingga akan mengecewakan locianpwee, berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Kepandaian sianseng aku sudah tahu betul, sianseng tidak usah merendah diri."

Teng Soan mengeluarkan alat2nya untuk membuat ramalan dan mulai meramalkan nasib anak orang tua itu.

Semua orang gagah yang menyaksikan permainan itu tidak mengerti apa maksudnya. Hanya Kiang Su Im yang mengawasi Teng Soan dengan penuh perhatian dan perasaan tegang. Teng Soan dengan sikap sangat serius mainkan alat2nya tanpa berkata apa-apa.

Suasana dalam ruangan sangat sunyi, semua mata ditujukan kepada diri Teng Soan.

Sang waktu berlalu dengan cepat, Teng Soan masih tetap meng-goyang2kan alat2nya dengan sikap serus dan mulut bungkam.

Kiang Su Im yang selama itu menantikan dengan sabar, akhirnya tidak dapat kendalikan perasaannya sehingga ia menegur: "Teng sianseng, bagaimana ramalanmu? Apakah anakku masih hidup?”

“Menurut petunjuk dalam ramalan, puterimu ... " dan berkata kepada Teng Soan sambil menghela napas, dan mendadak menutup mulut lagi.

Kiang Su Im sangat cemas, ia menyambar Teng Soan dan brekata: “Apakah anakku sudah mati?"

Orang tua itu dalam cemasnya sudah berlaku kasar terhadap Teng Soan sebagai orang berbadan lemah, sudah tentu Teng Soan tidak bisa berbuat apa2, ia rasakan sekujur badannya sakit sekali, tetapi di hadapan banyak orang, ia tidak suka mengeluarkan suara, maka ia terpaksa menahan rasa sakitnya.

Auw-yang Thong yang menyaksikan kejadian demikian, lalu berkata sambil mengerutkan keningnya: “Kiang tayhiap, Teng sianseng tidak mengerti ilmu silat, bagaimana sanggup menahan perlakuanmu ini, kau ada urusan apa, seharusnya jangan bertindak demikian kasar, lepaskan dulu tanganmu nanti bicara lagi.”

Kiang Su Im yang ditegur demikian, pikirannya seketika jernih kembali, ia buru2 melepaskan tanganuya dan berkata: “Harap sianseng maafkan kelakuanku yang kasar ini.” “Kiang locianpwee gelisah karena kehilangan anak, bagaimana dapat disesalkan?" berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Apakah anakku dalam keadaan bahaya?”

“Harap Kiang locianpwee maatkan boanpwee hendak berkata terus terang, menurut ramalan ini, anakmu penuh bahaya, tetapi masih ada tanda hidup, ramalan semacam ini, sebelumnya boanpwee belum pernah menemukan, karena boanpwee tidak sanggup menentukan bahaya apa dalam ramalan ini, maka tadi sekian lama membungkem sambil berpikir.”

“Kalau begitu anaku sekarang dalam bahaya," berkata Kiang Su Im, tiba-tiba mengucurkan air mata.

“Baiknya dalam bahaya itu masih ada tanda hidup, berdasar ramalan ini, anakmu masih hidup, hanya berada dalam keadaan bahaya ... ”

“Sianseng tidak perlu menghibur aku ... ”

“Kiang locianpwee jangan khawatir, putrimu bukan saja masih hidup, bahkan bahaya itu hanya merupakan bahaya yang tidak membawa maut, boan pwee suka menjamin dengan jiwa, apabila anakmu tidak ada di dunia, locianpwee boleh cari boanpwee lagi ...”

“Sianseng, kematian adalah perkara besar, bagaimana kau boleh main-main?”

“Kiang locianpwee boleh legahkan hati, boanpwee selamanya tidak suka main-main." “Benarkah ucapanmu ini?”

“Bagaimana boanpwee berani permainkan locianpwee.” “Apabila anaku sudah tidak ada di dalam dunia, nanti Teng

sianseng jangan salahkan aku tidak memandang sahabat.” Auw-yang Thong tahu bahwa orang tua itu berani berkata juga berani berbuat, maka ia lalu berkata: “Urusan ramalan, bagaimana boleh digunakan untuk bertaruhan?”

Kiang Su Im tiba-tiba berpaling mengawasi Auw yang Thong seraya berkata: “Adakah Auw-yang pangcu mengkhawatirkan kematian Teng Sianseng?”

“Harap Kiang tay-hiap jangan salah paham, maksud siaute bukanlah hendak membela Teng sianseng, siaute hanya merasa bahwa kepandaian ilmu bintang, hanya merupakan suatu ilmu sangat dalam yang tidak mudah dimengerti, tidaklah tepat digunakan untuk bertaruhan.”

“Jikalau kau anggap jiwa Teng sianseng itu demikian berharga, apakah jiwa anaku juga tidak berharga?" berkata Kiang Su Im sambil tertawa dingin.

Auw-yang Thong sesungguhnya memang khawatir apabila Teng Soan kalah, dengan sifatnya yang aneh seperti Kiang Su Im itu, ia pasti tidak mau mengerti. Maka dengan hati sejujurnya mencegah dua orang itu melakukan pertaruhan, lalu berkata, Kiang tayhiap sudah tahu bahwa Teng Soan adalah orang golongan pengemis, perkara pertaruhan seharusnya juga berunding dulu denganku.”

Kiang Su Im mula-mula terkejut, kemudian berkata dengan suara keras: “Apabila anaku masih hidup, itu tidak apa, tetapi kalau sudah tidak ada, aku pasti mencari Teng Soan membuat perhitungan.”

Setelah itu ia berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Auw-yang Thong menyingkir memberikan jalan seraya berkata: “Kiang-tayhiap, apabila kau demikian serius, kelak harap kau mencari aku lebih dulu, itu sama juga.”

“Ditambah satu orang untuk mengganti jiwa anakku, bukankah itu terlalu banyak?” Koan Sam Seng dan Hui Kong Leang merasa tidak senang dengan ucapan sombong Kiang Su Im itu, mereka mengawasi dengan mata gusar.

Auw-yang Thong mengawasi berlalunya orang tua itu sambil kerkata: “Orang ini benar2 sangat sombong.”

Teng Soan tiba2 memburu seraya berkata: “Kiang tayhiap, tunggu dulu.”

Auw-yang Thong hendak mencegah, tetapi kemudian dibatalkan maksudnya.

Kiang Su Im merandek dan berpaling seraya berkata: “Kau masih ingin bertanya apalagi?”

“Jikalau anakmu sudah tidak ada di dunia, maka Kiang locianpwee hendak mengambil jiwa boanpwee, apakah itu berarti hendak membalas dendam karena locianpwee anggap boanpwee menipumu ... ”

“Benar.”

“Tetapi bagaimana andaikata anakmu masih hidup?”

Kiang Su Im tercengang, “aku pasti akan bawa anaku untuk menerima perintah Teng sianseng, asal Teng sianseng perintahkan apa, sekali-pun menyuruh aku terjun ke lautan api juga tidak akan menolak.”

“Baiklah! Demikian saja kita tetapkan, di dalam waktu sepuluh hari boanpwee pasti akan mencari kabar tentang diri anakmu.”

Kiang Su Im melongo, ia berjalan kembali dengan tindakan lambat-lambat.

Auw-yang Thong sangat gelisah, seketika itu ia lalu berkata: “Betapakah tingginya kepandaian Kiang-tayhiap, apakah ia sendiri tidak mampu mencari jejak anaknya? Mengapa sianseng perlu campur tangan?” “Pangcu jangan khawatir, hambamu sudah tentu mempunyai akal yang baik untuk mencari nona Kiang," berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Dengan sinar mata dingin Kiang Su Im mengawasi sejenak, kemudian berkata: “Aku bersedia menunggu sampai sepuluh hari.”

“Dalam waktu sepuluh hari boanpwee tentu dapat menemukan jejak anakmu, locianpwee jangan khawatir," berkata Teng Soan.

Dalam hati Auw-yang Thong meski-pun curiga, tetapi ia tahu benar bahwa Teng Soan tidak akan berbuat sesuatu yang belum yakin benar, ia tidak akan mudah berjanji apa yang ia tidak sanggup lakukan, mendengar kata-katanya yang tegas nyata, agaknya sudah mempunyai rencana masak-masak, maka ia tidak berkata apa-apa lagi.

Teng Soan menghela napas perlahan dan berkata: “Boanpwee selama hidupnya belum pernah mengeluarkan perkataan yang tidak akan terbukti, locianpwee tidak perlu gelisah, mulai hari ini dalam waktu sepuluh hari pasti mendapat kabar di mana adanya anakmu, locianpwee baik akan menunggu disini mau-pun nanti sepuluh hari datang lagi, terserah locianpwee sendiri.”

“Baik aku menunggu disini saja, setelah sepuluh hari batas waktu itu habis, apabila kau tidak bisa berhasil menemukan anakku ... "

“Saat itu apabila tidak berhasil menemukan jejak anakmu, Teng Soan akan mengganti dengan jiwa."

“Aku selamanya tidak suka main-main."

“Dalam rimba persilatan dewasa ini, ada beberapa orang yang berani main2 secara demikian dengan Kiang tay-hiap ... " berkata Teng Soan sambil tertawa, kemudian memerintahkan salah seorang anak buah golongan pengemis menyediakan kamar untuk orang tua itu.

Kiang Su Im yang beradat aneh, agaknya sudah tidak dapat menguasai diri sendiri, ia menurut diajak oleh orang berpakaian abu2 kekamarnya.

Auw-yang Thong mengawasi berlalunya Kiang Su Im, kemudian berkata kepada Teng Soan sambil menghela napas: “Sianseng memegang keselamatan golongan pengemis, tugas ini sangat berat, perbuatan Sianseng yang memandang kematian demikian ringan, sesungguhnya terlalu gegabah. Apalagi Kiang Su Im seorang yang beradat aneh dan sukar diajak bicara apabila dalam waktu sepuluh hari itu sianseng tidak dapat menemukan jejak nona Kiang, bagaimana?”

“Sampai di mana tingginya kepandaian ilmu silat Kiang Su Im ini?" bertanya Teng Soan sambil bersenyum.

“Tidak di bawah dua sesepuh golongan pengemis kita.” “Itulah, orang yang mempunyai kepandaian demikian

tinggi, apabila ditarik oleh Kun-liong Ong bukankah itu berarti

menambah satu musuh tangguh bagi golongan pengemis? … dan apabila ia berhasil kita tarik, hal ini bagi Kun-liong Ong akan berarti satu lawan berat.”

“Orang tua ini adatnya aneh dan tinggi serta sombong, hampir diketahui oleh semua orang sifatnya yang liar barangkali susah ditundukkan," berkata Hui Kong Leang.

“Bagaimana apabila dalam waktu sepuluh hari aku dapat menemukan anaknya?" berkata Teng Soan.

“Hal ini mungkin tidak mudah," berkata Hui Kong Leang. “Adu nasib ... ia sedang berduka karena anaknya, sehingga

pikirannya juga terpengaruh, apabila dibiarkan ia pergi begitu saja, akhirnya pasti akan ditarik oleh Kun-liong Ong.” “Ucapan sianseng ini meski-pun benar, tetapi menggunakan jiwa sebagai taruhan, sesungguhnya sangat berbahaya, aih! Mati hidup sianseng, bukan saja besar sangkut pautnya dengan hari depan golongan pengemis kita, ditinau dari keadaan dewasa ini, dunia rimba persilatan telah terancam bahaya kemusnahan, kejahatan merajalela, untuk menghindarkan itu semua tergantung kepada diri sianseng," berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan tiba2 menjura dan berkata: “Budi pangcu yang besar itu, sekali-pun mati Teng Soan juga belum bisa membalas, bagaimana tidak berani mempertaruhkan jiwa Teng Soan untuk kepentingan pangcu, sebab apabila Kiang Su Im sampai ditarik oleh Kun-liong Ong, akibatnya terlalu hebat

... “

“Maksud sianseng meski-pun baik, tetapi biar bagaimana terlalu berbahaya.”

“Sewaktu hambamu belajar ilmu kepada suhu mendapat ilmu bintang ini, hambamu terjunkan diri di dunia Kangouw, jarang sekali digunakan, kali ini hambamu coba untuk mencari jejak gadisnya Kiang Su Im …”

“Apakah di dalam dunia benar2 ada ilmu bintang yang dapat meramalkan kejadian yang sudah atau sebelum datang?" bertanya Tiat bok Taysu.

“Ilmu itu sangat luas, siaute meski-pun mendapat warisan suhu, tetapi karena terbatas kecerdasan siaute, tidak dapat mempelajari seluruhnya, harap agak mengerti sedikit, jikalau tidak terlalu salah sedikit banyak masih dapat menghitungnya.”

Auw-yang Thong menghela napas perlahan berkata, “Jikalau sianseng berkata demikian, tentunya sudah mempunyai gambaran yang jelas, semoga perhitungan sianseng tidak meleset, disini pasti akan aku ucapkan selamat kepadamu." "Terima kasih atas perhatian pangcu, tuan2 habis melakukan pertempuran sengit, tentunya sudah letih, harap beristirahat dulu!”

“Sianseng telah bekerja keras, menggunakan pikiran dan tenaga terlalu banyak, harap menjaga kesehatan baik2," berkata Tiat-bok Taysu.

“Terima kasih atas perhatian Taysu,” berkata Teng Soan sambil tersenyum, kemudian lambat-lambat berjalan keluar.

Tiatbok Taysu mengawasi berlalunya Teng Soan sehingga tidak tamtampak, ia menarik napas kemudian berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong: ”Teng sianseng sesungguhnya ia memerlukan banyak beristirahat, untuk merawat kesehatannya.”

“Aih, dalam segala hal ia harus melakukan sendiri. Setiap hari memutar otak, sehingga badannya makin lemah berkali2 aku menasehati, supaya jangan terlalu banyak bekerja, tetapi ia selalu hati2, kepintarannya juga melebihi manusia biasa, orang2 golongan kita asal mendapat kesulitan, baik urusan kecil ataupun urusan besar, suka sekali minta pertolongannya. " berkata Auw-yang Thong.

“Kepintaran dan kecerdasan orang ini, di mana kita dapat cari lagi? Pangcu dapat menggunakan kepintarannya, diharap supaya baik2 mendjaga kesehaatannja," berkata Hui Kong Leang.

“Entah sudah berapa banyak kali aku menasehatinja, supaja ia baik2 menyayangi dirinya menjaga kewarasannya, tetapi ia selalu tidak mau dengar hingga aku juga tidak bisa berbuat apa-apa."

“Pangcu harap maafkan lolap berkata secara terus terang, Teng Sianseng barangkali sudah ada penyakit dalam badannya karena terlalu banjak kerja, apabila tidak lekas berusaha menolongnya, barangkali. ....." berkata Tiat-bok Taysu, tetapi perkataan selanjutnja agaknya merasa berat mengeluarkannya.

“Aku juga mengkbawatirkan kesehatannya," berkata Auw- yang Thong.

“Ada suatu hal yang siaute tidak mengerti, ingin minta keterangan pangcu," berkata Hui Kong Leang.

“Katakanlah!" berkata Auw-yang Thong.

“Teng sianseng seorang pintar yang mempunyai kecerdasan luar biasa, untuk belajar ilmu silat rasanya tidak susah, mengapa pangcu tidak mengajarinya ilmu bersemedi untuk kesehatan badannya?” berkata Hui Kong Leang

“Meski-pun ia tidak mengerti ilmu silat, tetapi pengetahuannya tentang ilmu silat luas sekali, sesungguhnya tidak di bawahku ... ”

“Begitukah?" bertanya Hui Kong Leang heran.

“Sedikit-pun tidak salah, aku pernah berunding, sendiri dengannya merundingkan beberapa macam ilmu silat.”

“Sungguh aneh, ia mempunyai pengetahuan luas tentang ilmu silat, mengapa tidak mau belajar.”

“Aih! Setiap kali aku menasehatinya supaya belajar ilmu silat untuk menguatkan dirinya ia selalu ketawa tidak mau menjawab.”

“Keadaan pada waktu sekarang ini, tidak dapat ditolong dengan hanya mempelajari ilmu silat melulu, sebaiknya pangcu perhatikan kesehatan badannya," berkata Tiat-bok Taysu.

-odwo-

Bab 74 Beberapa orang itu setelah berunding soal kesehatan badan Teng Soan beberapa lamanya, baru berlalu dan kembali ke masing-masing pondoknya untuk beristirahat.

Auw-yang Thong yang selalu memikir kesehatan Teng Soan, tidak kembali ke pondoknya sebaliknya pergi kepondok Teng Soan.

Dua anak buah golongan pengemis yang menjaga di depan pintu, begitu melihat pangcunya, segera menghampiri untuk memberi hormat.

“Apakah sianseng sudah tidur?" bertanya Auw-yang Thong. “Sianseng sedang menantikan kedatangan pangcu,"

mienjawab dua orang itu dengan serentak.

Auw-yang Thong sejenak nampak tercengang, dalam hatinya diam-diam merasa heran mengapa Teng Soan mengetahui ia hendak berkunjung.

Ketika ia hendak melangkah masuk ke dalam kamar, ternyata Teng Soan nampak sedang tidur.

Auw-yaug Thong tidak berani mengganggu, ia berdiri disampingnya dengan sabar.

Entah berapa lama kemudian, Teng Soan perlahan- perlahan membuka matanya, ia menoleh memandang Auw- yang Thong sejenak, lalu berkata: “Sudah lama pangcu datang?”

“Baru saja tiba," berkata Auw-yang Thong.

“Maafkan dosa hambamu yang tidak menyambut sebagaimana layaknya.”

Auw-yang Thong menarik sebuah bangku dan duduk, kemudian berkata: “Ah! Kita tokh bukan orang luar.”

“Ada beberapa soal penting, sudah lama hambamu ingin merundingkan dengan pangcu.” “Sianseng katakan saja, aku bersedia untuk membantu.” “Ini ada beberapa persoalan piibadi."

Auw-yang Thong tercengang.

"Apa? Apakah sianseng ingin mengundurkan diri lagi?”

“Ini saat apa? Bagaimana hambamu timbul pikiran untuk undurkan diri lagi?”

“Kecuali soal ini, aku selalu menurut kehendak sianseng.”

Teng Soan meletakkan kipas di tangannya, ia menarik napas dalam2, wajahnya yang pucat, nampak semakin pucat, keadaannya nampak sangat letih sekali.

Dalam waktu yang sangat singkat itu, Auw-yang Thong mendadak timbul perasaan bahwa Teng Soan yang biasanya tenang dan gembira, sudah banyak lebih tua.

Suaranya yang bening juga sudah berubah menjadi parau, katanya: “Pangcu, adakah pangcu merasakan keadaan hambamu agak berlainan?”

“Oleh karena urusan dalam golongan pengemis, Sianseng telah menggunakan banyak tenaga dan pikiran, sehingga badanmu kian hari kian lemah, justru karena itu aku sendiri setiap hari merasa tidak enak.”

“Aku memang sudah ditakdirkan tidak bisa panjang umur, pada waktu itu sudah merasakan bahwa akhir hidupku sudah akan tiba ... nampaknya, sudah tidak sanggup menahan setengah tahun lagi.”

Auw-yang Thong terkejut. "Sianseng sendiri mengerti ilmu tabib dan obat-obatan, rasanya pasti tahu obat untuk menyembuhkan kesehatanmu, aku pasti akan mencurahkan semua tenaga, untuk mencarikan obat yang manjur itu bagimu.” Teng Som sambil tersenyum pahit berkata dengan suara lembut: “Obat hanya menumbuhkan penyakit yang tidak membawa kematian, tetapi bagi hambamu yang sudah habis batas umurnya, bagaimana nyawa dapat disambung dengan obat? Maka pangcu tidak perlu susah hati.”

“Dalam hal ini meski-pun aku tidak membunuh sianseng, tetapi jikalau sianseng meninggal itu berarti disebabkan karenaku. Andaikata waktu itu aku tidak minta sianseng turun gunung, maka penghidupan sianseng di atas gunung yang aman tentram, tidak sampai mengakibatkan sianseng harus bekerja keras sehingga penyembuhan sianseng terganggu.”

“Bukan begitu, pangcu tahu bahwa Kun-liong Ong tidak akan melepaskanku begitu saja, jikalau bukan pangcu yang menolong, saat ini hambamu barangkali cuma tinggal tulang dan tengkoraknya saja!”

“Di atas pundak sianseng terpikul beban berat untuk menegakkan keadilan dan kebenaran rimba persilatan serta membasmi segala kejahatan, bagaimana boleh membicarakan soal mati dengan mudah?.. "

“Pangcu seorang gagah berjiwa besar bagaimana boleh karena kematian hambamu seorang, lalu berputus asa ... hambamu ini karena menanggung budi pangcu, dalam hidupku ini, sudah menyumbangkan semua kepintaran dan jiwa raga untuk mencari banyak orang pandai dan kuat bagi golongan pengemis, beberapa anggauta kita yang menduduki kedudukan penting, semua merupakan orang-orang luarbiasa, umpama Koan Sam Seng adalah seorang setia dan jujur, hanya disebabkan karena kepandaian dan kecerdasan pangcu yang melebihi manusia, maka kepandaian maupun kepintaran orang2 itu tidak kelihatan menonjol, sebetulnya mereka itu semuanya dapat ditugaskan untuk suatu tugas berat, aih ... selama beberapa tahun ini segala urusan pangcu selalu menanyakan dan merundingkan dengan hambamu sehingga lambat laun menjadi kebiasaan, pangcu sendiri juga merasakan dirinya kecil, tidak sanggup melakukan pekerjaan besar, Cu-kat sianseng dizaman tiga negeri Sam Kok merupakan suatu contoh, namun hambamu yang mengetahui itu tetap sudah melanggarnya ... "

“Belum tentu semua itu betul, kepintaran dan kecerdasan sianseng, bagaimana dapat dibandingkan denganku, justru karena itu, sudah tentu aku harus mengandalkan sianseng.”

“Walau-pun demikian, tetapi Kun-liong Ong adalah seorang yang cerdik, licin, jahat dan kejam, sesungguhnya merupakan lawan yang sangat berbahaya dan berat ditandingi, beberapa orang2 kita yang memegang jabatan penting, meskipun semuanya merupakan orang2 kuat dan dapat melakukan pekerjaan besar, tetapi mereka itu jikalau hendak menghadapi Kun-liong Ong, sesungguhnya masih selisih jauh. Namun demikian hambamu selama ini diam2 telah menemukan dua orang yang dapat mengimbangi kepandaian Kun-liong Ong.”

Auw-yang Thong yang seolah2 sudah merasa jeri terhadap pengaruh kekuatan Kun-liong Ong, lalu berkata dengan wajah murung: “Kecuali sianseng, aku sebetulnya tidak melihat seorangpun yang dapat mengimbangi kecerdikan Kun-liong Ong.”

“Dua orang itu, pangcu sudah pernah melihat semuanya,” berkata Teng Soan sambil bersenyum.

Auw-yang Thong terkejut. “Siapa?"

“Mengadu kekuatan dengan tenaga mau-pun kepandaian ilmu silat, orang yang dapat mengalahkan Kun-liong Ong, untuk dewasa ini hanya Siang-koan Kie seorang ... ”

“Siang-koan Kie ... " berkata Auw-yang Thong heran, “bagaimana ia dapat menandingi Kun-liong Ong? Hal ini aku tidak sependapat dengan sianseng.”

“Menurut apa yang hambamu ketahui, kepandaian ilmu silat yang dipelajari oleh Siang-koan Kie, ada banyak bagian agaknya ditujukan untuk menundukkan Kun-liong Ong, apalagi gerak tipu llmu silatnya yang dimiliki sangat banyak macamnya dan terlalu sulit bagi orang lain, semua ini justru merupakan kepandaian untuk mengalahkan kepandaian Kun- liong Ong, dewasa ini meski-pun ia belum sanggup menandingi Kun-liong Ong tetapi tidak berapa lama lagi, ia pasti dapat mengimbanginya dan melakukan pertempuran yang memutuskan, hambamu dapat memastikan, dikemudian orang-orang yang dapat mengalahkan Kun-liong Ong dengan kepandaian ilmu silat, di dalam dunia ini hanya ada dua orang

..."

“Kecuali Siang-koan Kie, masih ada satu lagi?”

“Kecuali Siang-koan Kie, alalah Wan Hau yang bentuknya seperti manusia setengah seperti binatang monyet, ia dilahirkan dengan keadaan fisiknya yang aneh, mempunyai kekuatan tenaga raksasa melebihi manusia biasa, nampaknya sangat bodoh tetapi sesungguhnya mempunyai bakat terbaik untuk belajar ilmu silat, suksesnya dalam ilmu silat, kemudian hari pemuda itu pasti tidak di bawahnya Siang-koan Kie."

Auw-yang Thong berdiam sambil berpikir, jelas bahwa ia sedang menganalisa keterangan Teng Soan itu.

Teng Soan mengibas-ngibaskan kipasnya dan berkata pula: “Sementara itu orang yang dapat mengimbangi Kun-liong Ong dalam kepintaran, kecerdasan otot dan siasat atau akal, hingga dewasa ini, hambamu baru menemukan pada diri Nie Suat Kiao seorang.”

Ucapan itu sangat mengejutkan dan mengherankan Auw- yang Thong, sehingga hampir tidak percaya terhadap pendengarannya sendiri.

“Nie Suat Kiao?" demikian ia bertanya.

“Benar, ia dibesarkan disamping Kun-liong Ong, sehingga mengenal baik semua sifat, watak, keganasan dan kekejaman Kun-liong Ong, kecerdasan otaknya barangkali masih di atas hambamu, hamba sudah tahu tidak bisa hidup lama di dalam dunia, maka semua peladjaran yang hamba punyai, sudah hamba tulis dalam satu kitab tetapi selama itu belum menemukan seorangpun yang dapat hamba turunkan pelajaran itu. Karena urusan ini hamba sangat prihatin, aih! Untung sebelum ajalku sampai sudah dapat menemukan Nie Suat Kiao, yang menjadi persoalan sekarang ini ialah, dengan cara bagaimana supaya kita dapat menariknya untuk kita gunakan.”

“Di mana sekarang jejaknya Nie Suat Kiao, kita semua tidak tahu, kemana harus mencarinya?"

“Teng Soan tiba-tiba menatap wajah Auw-yang Thong sekian lama diam saja.

Auw-yang Thong merasa tidak enak, maka segera bertanya. “Sianseng, adakah salah pada diriku?”

"Apabila pangcu ingin menarik Nie Suat Kiao, harus berlaku dan bersikap hormat terhadapnya, setidak-tidaknya sama seperti apa yang pangcu lakuan terhadap hambamu.”

Auw-yang Thong terperanjat. "Benarkah sianseng mengajukan Nie Suat Kiao?"

“Urusan ini ada menyangkut kepentingan dan kedamaian golongan pengemis, bagaimana hambamu berani main-main?"

Sekarang ini sebaiknya Sianseng merawat diri sendiri dahulu, untuk membicarakan soal ini rasanya masih terlalu pagi.”

Teng Soan perlahan-perlahan bangkit dan berkata sambil tertawa. “Hambamu, hanya ingin supaya dalam hati pangcu ebih dahulu sudah mendapat suatu gambaran, bukan berarti dilaksanakan sekarang juga."

Auw-yang Thong sudah melihat gelagat Teng Soan ingin minta ia berlalu, maka ia lalu bangkit dan berkata dengan suara perlahan: “Apabila sianseng dapat menemukan putri Kiang Su Im, itu lebih baik, tetapi seandai tidak juga jangan terlalu banjak dipikir."

“Hambamu sudah berani mengeluarkan perkataan sudah tentu akan hambamu wujudkan dengan mencurahkan sepenuh tenaga.”

“Namun demikian, kesehatan sianseng harus diperhatikan!” “Silahkan pangcu beristirahat, hambamu tidak mengantar

lagi.”

Auw-yang Thong menarik napas dalam2 dengan hati sangat duka ia meninggalkan penasehatnya.

Teng Soan setelah mengantar keluar pangcunya lalu mandi, tukar pakaian dan menutup pintu kemudian mengeluarkan alat nujumnya, alat2 tulis dan kertas, mulai dengan nujumannya sambil menuliskan di atas kertas.

Meskipun ia nampaknya sangat letih, tetapi dalam melakukan pekerjaannya, nampaknya sangat bersemangat.

Dengan cara demikian ia meliwati malam itu hingga menjelang subuh, ia baru tidur.

Ketika ia mendusin, Auw-yang Thong sudah berdiri di belakangnya sambil menggendong kedua tangannya, wajahnya nampak sangat murung, tatkala nampak Teng Soan mendusin, segera ditegurnya sambil menghela napas: “Sianseng, nampaknya kau tidak tidur semalam suntuk?”

“Hambamu sudah berhasil menujumkan di mana jejak nona Kiang," menjawab Teng Soan sambil bersenyum.

Auw-yang Thong tercengang, kemudian berkata sambil menggeleng2kan kepala: “Dalam hati dan mataku, kesehatan sianseng lebih penting dari segala-galanya.”

“Sekarang kita harus mencari dua orang kuat dalam golongan kita, untuk mencari jejak nona Kiang.” Auw-yang Thong mengalihkan pandangan matanya ke atas meja, di situ terdapat empat atau lima helai kertas penuh dengan tulisan dan lukisan bundaran Teng Soan, tetapi ia tidak mengerti apa maksudnya.

Sambil mengawasi kertas di atas meja itu Teng Soan berkata pula: “Ini adalah hasil percobaan ilmu nujumku, entah manjur atau tidak? Aih! Apabila kita beruntung dapat menemukan putri Kiang Su Im, golongan pengemis kita akan tambah satu tenaga seorang kuat.”

Menyaksikan sikap penasehatnya demikian gembira, pemimpin golongan pengemis itu dalam hatinya merasa girang tercampur sedih. Ia merasa kasihan akan kesehatan badannya yang semakin memburuk, sebaliknya merasa kagum akan keuletan dan kesetiannya.

“Sianseng, beritahukan padaku hasil nujummu itu, supaya aku bisa pergi sendiri," demikian ia berkata sambil menghela napas ringan.

“Dalam hal ini, masih terdapat banyak tanda tanya yang hamba belum dapat pecahkan, perlu dihitung lagi setelah tiba di tempatnya. Harap pangcu tinggal disini untuk memegang pimpinan, hambamu akan pergi sendiri.”

“Semalam suntuk sianseng tidak tidur, barangkali terlalu letih melakukan perjalanan jauh, apabila perlu betul sianseng harus pergi sendiri, juga harus beristirahat satu dua hari dulu baru berangkat.”

“Kita tidak boleh berlaku ayal, barangkali akan terjadi perubahan, nanti setelah hambamu berhasil menemukan nona Kiang, barulah beristirahat, bukankah sama saja?”

Mendengar kata2nya yang tegas, Auw-yang Thong tidak dapat mencegah lagi, ia berkata sambil menghela napas: “Karena Sianseng sudah bertekad bulat hendak pergi, aku juga tidak bisa mencegah, orang2 yang sianseng hendak bawa serta, harap sianseng pilih sendiri.” “Aku ajak Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw sudah cukup ... ”

“Dua orang ini bukan orang2 golongan kita, sianseng ajak mereka jalan bersama-sama, bukankah terlalu gegabah?”

“Tidak halangan, hambamu akan menggunakan kesempatan ini, hendak berusaha untuk membujuk Touw Thian Gouw, supaya ia suka masuk kepada golongan kita.”

“Sianseng telah bekerja keras untuk kepentingan golongan pengemis, semua orang golongan pengemis sangat berterima kasih, tetapi kesehatanmu kian hari makin lemah, juga menjadi pikiran semua orang dari golongan pengemis. Diharap supaya sianseng baik2 menjaga kewarasan diri sendiri, ingatlah mati hidup golongan pengemis tergantung di tangan sianseng.”

“Kun-liong Ong saat ini tidak bergerak, pasti sedang mengatur siasat keji. Ketenangan pada waktu ini merupakan suatu ketenangan sejenak menjelang angin taupan datang. Nanti setelah hambamu pergi, harap pangcu berlaku hati2, selambat-lambatnya tujuh hari, secepat-cepatnya lima hari, hambamu pasti sudah kembali.”

Dengan perasaan berat, Auw-yang Thong menuruti kehendaknya.

Teng Soan menyuruh orang menyediakan kuda, dengan membawa Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw sebagai pengawal ia melakukan perjalanannya mencari anak perempuan Kiang Su Im.

Bertiga terburu-buru melakukan perjalanan, dalam waktu singkat sudah mencapai tiga atau empat puluh pal, Touw Thian Gouw yang tidak dapat kendalikan perasaan herannya, lalu bertanya kepada Teng Soan dengan suara perlahan. “Sianseng tidak mau membawa orang2 golongan pengemis, sebaliknya mengajak kita berdua, apakah mengandung maksud tertentu?” “Dengan adanya dua saudara yang menyertaiku, siaute merasa aman," menjawab Teng Soan sambil tersenyum.

“Tindakan sianseng ini, membuat siaute berat tanggung jawabnya!''

“Asal kita tidak berjumpa dengan orang2nya Kun-liong Ong, dengan kepandaian saudara berdua, sudah cukup untuk menghadapi segala sesuatu.”

Siang-koan Kie yang sejak tadi diam saja, tiba2 berkata: “Siaute sebaliknya mengharap bisa berjumpa dengan Kun- liong Ong sendiri.”

“Rupanya saudara Siang-koan sudah bernapsu benar hendak melawan dia," berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Bukan maksud siaute hendak mendapat nama, siaute hanya ingin dapat melakukan suatu pertandingan yang menentukan dengannya, agar cita2ku tercapai.”

“Kalau kau benar2 dapat menjatuhkan Kun-liong Ong, kejadian ini pasti akan menggemparkan rimba persilatan, walaupun kau sendiri tidak ingin mendapat nama, tetapi dengan sendirinya namamu akan terkenal dengan suatu kenyataan yang nyata.”

Sementara itu tibalah mereka kesebuah rimba.

Teng Soan menghentikan kudanya seraya berkata: “Inilah tempatnya Kiang Su Im kehilangan anak perempuannya."

Siang-koan Kie memperhatikan keadaan tempat itu, memang benar disebelah timur rimba itu, terdapat sebuah danau seluas kira2 lima tombak persegi. Tidak jauh dari danau itu, terdapat beberapa buah gubuk.

“Sianseng, apakah kita perlu masuk?”

Teng Soan perlahan2 turun dari atas kudanya, setelah menambat kudanya di suatu tempat tersembunyi, lalu berkata kepada Toaw Thian Gouw dengan suara perlahan: “Kiang Su Im yang kehilangan anaknya secara mendadak, pikirannya lalu menjadi kalut, sehingga tidak ingat untuk mengadakan pemeriksaan keadaan di sekitarnya, sebetulnya pada waktu itu anak perempuannya masih disembunyikan disebuah tempat hanya beberapa puluh tombak dari tempatnya beberapa rumah gubuk itu paling mencurigakan, mari kita pergi melihatnya."

Siang-koan Kie berkata sambil menunjuk beberapa bangunan rumah didekat danau: “Toako harap memutar di belakang gubuk itu sembunyi didekatnya, siaute hendak berjalan bersama Teng sianseng, apabila ada terjadi apa-apa supaya toako bisa lekas kembali memberi kabar."

Touw Thian Gouw berpikir sejenak, ia pergi menuju ketempat yang ditunjuk oleh Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie maju selangkah, berada di depan Teng Soan, kemudian berkata: “Siautee hendak berjalan dimuka."

Teng Soan mengerti bahwa pemuda itu akan melindungi dirinya, maka diam saja, sambil bersenyum ia mengikuti dibelakangnya.

Dua orang itu setelah mengitari danau, lalu langsung menuju kesalah satu gubuk.

Rumah itu dikelilingi oleh pagar bambu, pintu pagar masih tertutup rapat.

Siang-koan Kie dengan sangat hati2 berjalan mendekati pintu pagar, tiba2 ia berhenti, berpaling dan berkata kepada Teng Soan: “Sianseng, apakah kita perlu masuk?”

“Lihat-lihat saja boleh juga, menjawab Teng Soan sambil tertawa.

“Harap sianseng mengikuti di belakangku, jangan terpisah terlalu jauh, supaya kalau ada musuh menyerang, jangan sampai siaute tidak keburu menolong.” Tiba dimuka pintu gubuk, Siang-koan Kie mengetuk duakali sambil berkata. “Apakah di dalam ada orang?”

Dari dalam terdengar suara jawaban seorang tua: “Siapa?”

Bersamaan dengan itu, pintu telah terbuka dari dalam nampak seorang tua dengan tangan memegang tongkat berjalan lambat-lambat.

Siang-koan Kie mengerutkan keningnya, ia bertanya dengan suara perlahan: “Adakah nenek seorang diri saja dirumah?”

“Kalian tamu-tamu yang lewat disini, apakah memerlukan minum karena haus di jalanan?" menjawab perempuan tua itu, tetapi bukan jawaban yang ditanya oleh Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie yang kali ini jalan sama-sama Teng Soan, tiba2 berubah sangat hati2, ia merasa bahwa suara nenek tua itu masih bening lembut bukan suara seorang perempuan jang sudah berusia lanjut.

Ia berpaling mengawasi Teng Soan, Teng soan balas memandang kepadanja sambil tersenjum tanpa berkata apa- apa, agaknja ia hendak melihat bagaimana Siang-koan Kie menghadapi persoalan itu.

Siang-koan Kie memperdengarkan suara batuknya biji matanya berputaran, mengawasi keadaan sekitarnya.

Gubuk itu terdapat dua kamar tidur, karena pintunya tertutup oleh tirai, tidak tampak tegas apa yang ada di dalamnya, hanya dalam hatinya saja bertanya-tanya kepada dirinya sendiri: apakah kamar ini ada tersembunyi orang?

Mata nenek tua rambut putih itu menatap wajah Siang- koan Kie, kemudian dialihkan pandangan matanya kepada Teng Soan.

Kedua fihak saling membisu, hingga suasana dalam gubuk itu nampak sunyi. Siang-koan Kie tiba2 memperdengar suara tertawa dingin, memecahkan kesunyian, kemudian berkata: “Penyaruanmu meskipun mirip, sayang kau tidak dapat mengelabuhi mataku.''

“Ucapanmu ini, aku sesungguhnya tidak mengerti," berkata perempuan tua itu sambil menggelengkan kepala.

Siang-koan Kie berkata sambil mengulurkan tangannya: “Tongkatmu ini boleh juga!"

Dengan cepat tangan itu menyambar tongkat si perempuan tua.

Perempuan tua itu, tongkatnya tersambar oleh Siang-koan Kie, orangnya rubuh di tanah.

Kejadian itu di luar dugaan Siang-koan Kie, hingga untuk sesaat ia merasa sangat malu lalu melepaskan tongkatnya dan membimbing bangun perempuan tua itu.

Teng Soan buru-buru berseru: “Saudara Siang-koan awas

… “

Penasehat yang pintar itu meskipun segera mengetahui apa yang akan dilakukan oleh perempuan tua itu, tetapi sudah terlambat, baru saja perkataannya keluar dari mulutnya, tangan perempuan tua itu sudah berhasil menyambar pergelangan tangan Siang-koan Kie, setelah itu ia melompat berdiri dan berkata kepada Teng Soan dengan nada suara dingin: “Tutup mulutmu, kalau kau berani membuka mulut aku segera memutuskan urat nadimu.”

“Meskipun Teng Soan tidak mengerti ilmu silat, tetapi ia mempunyai ketenangan luar biasa, sambil tertawa hambar ia berkata: “Penyaruanmu meskipun mirip, sayang kau tidak dapat mengelabuhi mataku.”

“Aku tahu bahwa berdiri dirumah atap orang, tidak boleh tidak harus menundukkan kepala, kau jangan khawatir." Kekuatan tenaga perempuan tua ini ternyata cukup hebat, ketika Siang-koan Kie tergenggam pergelangan tangannya, separoh badannya segera dirasakan kejang, tidak bisa bergerak. Tetapi selama itu, karena beberapa kali berhadapan dengan musuh kuat hingga pengalamannya bertambah banyak. Ketika mengetahui pergelangan tangannya tergenggam di tangan orang ia tidak berontak lagi. Di luarnya tidak mengunjukkan sikap apa2, tetapi diam2 mengerahkan kekuatan tenaga dalam, untuk mencari kesempatan yang baik, walaupun tangannya tidak bisa terlepas dari nenek tua itu, bagaimanapun juga ia harus berusaha untuk balas menyerang, bahkan jikalau perlu mati bersama-sama.

Mata perempuan tua itu terus menatap wajah Teng Soan, sambil memperdengarkan suara tertawa dingin, perempuan tua itu bertanya : “Dilihat dari dandananmu ini, kau tentunya Teng Soan, yang mempunyai julukan Siao-yao-siucay itu. Betul tidak?”

“Benar," menjawab Teng Soan sambil tertawa.

“Dalam dunia Kang-ouw tersiar kabar kau tidak paham ilmu silat, hanya dengan mengandalkan kepintaran dan kecerdikanmu kau mengalahkan lawan-lawanmu," berkata perempuan tua itu dengan nada suara dingin.

“Kabar angin belum tentu dapat dipercaya.” “Hem! Kau nampaknya tenang sekali.”

“Kita sudah terjebak, sekalipun minta pertolongan, juga belum tentu dapat menolong.”

“Sudah lama aku dengari tentang kepintaranmu hari ini aku ingin melihat dengan cara bagaimana kau dapat lolos dari sini

... !” berkata perempuan tua itu, kemudian berkata kepada orangnya yang tersembunyi di dalam rumah: “Kalian tidak lekas keluar, masih tunggu apa lagi?” Sesaat kemudian terdengar tindakkan kaki orang2 dari dua kamar, muncul empat laki2 tegap, ia menyerbu Teng Soan.

Siang-koan Kie yang menyaksikan kejadian itu merasa gelisah, tiba2 ia mengeluarkan suara bentakan keras, semua kekuatan tenaga dalam dipusatkan ketangan kanannya, kemudian menyerang perut perempuan tua itu.

Perempuan tua itu hanya pusatkan kekuatannya untuk memegang tangan Siang-koan Kie supaya jangan dapat melepaskan diri, tak disangka pemuda itu telah menyerang dirinya, dalam terkejutnya dengan cepat ia melompat mundur dua langkah.

Siang-koan Kie yang mengingat keselamatan diri Teng Soan, sebaliknya tidak menghiraukan jiwanya sendiri dengan satu tendangan kaki, ia dapat menendang tongkat perempuan tua dan tongkat itu terus meluncur ke arah seorang dari empat laki2 itu dengan kecepatan hebat, sesaat kemudian terdengar suara jeritan ngeri yang keluar dari mulut laki2 itu ternyata tongkat itu sudah menembusi dadanya, sehingga roboh seketika itu juga.

Tiga yang lainnya ketika menyaksikan Siang-koan Kie hanya dengan tendangan kaki dapat menembusi dada kawannya dengan tongkat bambu, hingga seketika berdiri tertegun.

Perempuan tua itu juga terkejut, diam-diam merasa jeri.

Teng Soan lalu berkata sambil mengawasi tiga laki2 yang berdiri tertegun itu: “Apakah kalian pernah dengar bahwa di dalam golongan pengemis ada seorang bernama Teng Soan?”

“Nama itu sudah lama tersohor di dunia Kang-ouw, tidak seorangpun tidak tahu," menjawab salah seorang dari pada tiga laki-laki itu.

Perempuan itu menambah kekuatan tenaganya ketangan yang mencekal pergelangan tangan Siang-koan Kie, sehingga badan Siang-koan Kie dirasakan kesemutan, sebetulnya ia dapat menggunakan kesempatan itu untuk mencecer lawannya, mendesak perempuan tua itu, melepaskan tangannya, tetapi karena ia harus menolong jiwa Teng Soan sehingga kehilangan kesempatan yang baik itu.

Mata Teng Soan berputaran, ia lihat jidat Siang-koan Kie sudah berkeringatan, ia tahu bahwa pemuda itu tidak dapat melepaskan tangannya dari genggaman tangan perempuan tua itu, segera berkata sambil menggoyang2kan kipasnya: “Apakah tuan2 ingin berkenalan dengan Teng Soan? Aku inilah orangnya.”

“Teng Soan tidak mengerti ilmu silat, tidak mempunyai kekuatan tenaga, mengapa kalian tidak lekas turun tangan? Masih tunggu apa lagi?”

Tiga laki2 itu saling berpandangan sejenak, lalu menyerbu Teng Soan.

Teng Soan tertawa bergelak2 dan berkata: “Jangan bergerak! Kalian kira Teng Soan itu orang apa? Kalau tidak sanggup menghadapi kalian beberapa manusia kecil yang tidak ternama, mana masih ada muka untuk bertanding dengan Kun-liong Ong?”

Tanpa sadar tiga laki2 itu menghentikan tindakkannya. Perempuan tua itu yang menyaksikan keadaan demikian,

segera membentak: “Manusia tidak berguna, jikalau kalian tidak mau segera turun tangan, hati2 dengan batok kepala kalian ... ”

Teng Soan terus mengibas-ngibaskan kipasnya, dan berkata dengan suara hambar: “Siapa yang tidak takut mati, boleh maju."

Salah seorang diantara mereka lalu berkata: “Nampaknya kau seorang lemah yang tidak bertenaga, apakah kau sanggup menahan tinjuku?” Dengan tindakan lebar laki-laki itu menghampiri kepadanya. Tetapi belum lagi bergerak tangannya, tiba-tiba sudah jatuh terlentang di tanah.

Dua laki-laki lain yang sudah akan bertindak, ketika melihat kawannya itu roboh, dengan serentak lalu berhenti.

“Mengapa kalian tidak berani maju lagi?" bertanya Teng Soan sambil tersenyum.

Perempuan tua itu dengan kedua tangan mencekam pergelangan tangan siang-koan Kie. namu pandangan matanya ditujukan kepada Teng Soan, ketika, menyaksikan salah seorang orangnya roboh tanpa mengeluarkan suara, ia tidak tahu masih hidup ataukah sudah mati? Sesaat perasaannya tergoncang, diam2 mengagumi kepandaian Teng Soan, sehingga tidak mendesak lagi kepada orang2nya, sebaliknya malah berkata: “Teng Soan banyak akalnya, kalian harus berhati2 jangan sampai tertipu olehnya.”

“Takutkah kalian berdua? Mengapi tidak berani maju lagi?" berkata Teng Soan sambil tertawa terbahak2, sedang kipas di tangannya tiba2 dikibaskan ke barat.

Laki2 yang berdiri disebelah barat tiba2 berbangkis dan jatuh rubuh di tanah.

Teng Soan mengibaskan lagi kipasnya ke arah timur, lelaki yang disebelah timur juga roboh seketika itu juga.

Empat orang laki2 yang keluar diri tempat sembunyinya tadi, satu mati di tangan Siang-koan Kie tiga sudah roboh tanpa bersuara, hingga bahaya yang mengancam Teng Soan, dengan sendirinya telah lenyap. Ia lalu menghampiri perempuan tua itu seraya berkata sambil bersenyum: “Dalam rumah ini masih ada beberapa banyak orang yang tersembunyi, suruhlah mereka keluar semuanya."

Perempuan tua itu meskipun hatinya agak gentar, tetapi di luarnya masih bersikap dingin denga suara perlahan2 ia berkata: “Kau jangan sombong, hari ini kalau kau pikir bisa berlalu dari smi dalam keadaan hidup, barang kali sulit sekali."

Teng Soan masih menjawab dengan sikap tenang dan wajah ramai senjum: “Kun-liong Ong telah memperhitungkan bahwa aku pasti akan datang kemari, sudah tentu aku tidak ingin ia kecewa."

“Di sekitar danau ini, sudah ada beberapa puluh orang kuat yang menantikan kedatanganmu, sekali pun golongan pengemis datang bala bantuan mungkin juga tidak terburu lagi," berkata perempuan tua itu dingin.

Teng Soan menghentikan kakinya, kipas di tangannya dikibas2kan, hanya tersenjum tidak berkata apa-apa.

Perempuan tua itu menunggu lama, masih nampak Teng Soan tidak bicara, ia lalu berkata pula. “Tetapi kali ini yang memancing kalian datang kemari, bukanlah siasat Kun-liong Ong."

“Hal ini sesungguhnya di luar dugaanku."

Tiba-tiba terdengar suara geraman Siang-koan Kie, tangannya meronta dan terlepas dari genggaman tangan perempuan tua itu, setelah itu lalu menyerangnya.

Perempuan tua itu agaknya tidak menduga Siang-koan Kie dapat melepaskan diri, seketika itu ia tercengang, sehingga diserang oleh Siang-koan Kie, baru tersadar dan dengan cepat melompat mundur.

“Saudara Siang-koan jangan bertindak dulu,” berkata Teng Soan.

Siang-koan Kie menarik kembali serangannya, kemudian melompat mundur dan berdiri di sisi Teng Soan.

Perempuan tua itu dengan berdiri termanggu2 mengawasi Siang-koan Kie sambil mengguman: “Kepandaian ilmu apa yang kau gunakan, sehingga dapat melepaskan diri dari genggaman tanganku?"

Siang-koan Kie hanya tertawa dingin tidak menjawab.

Teng Soan menghentikan gerakannya mengibaskan kipasnya kemudian berkata lambat-lambat: “Kalau benar Kun- liong Ong tidak mengetahui soal ini dan siapakah orang yang memancing aku datang kemari?”

Perempuan tua itu segera melepaskan rambut putih dari atas kepalanya, sehingga rambut palsu itu terangkat dan sebagai gantinya rambut hitam jengat, yang ada di atas kepalanya ia menggunakan pula lengan baju untuk menghapus mukanya sehingga wajah yang tadi kelihatan berkeriputan seperti nenek2 kini telah pulih kembali wajah aslinya, yang merupakan wajah cantik jelita dari seorang gadis berusia kira2 delapanbelas tahun.

“Nona pandai sekali menyaru, sayang suaramu belum berubah, apabila suaramu itu kau robah agak serak, barangkali kita juga tidak dapat membuka rahasia penyamaranmu ini," berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Gadis itu setelah pulih kembali keadaan semulanya, tidak lagi merasa ragu2, dengan suara lemah lembut ia berkata: “Kau sadarkan dulu orang2ku yang kau jatuhkan itu.”

“Tidak perlu, barangkali tidak lama lagi, mereka akan mendusin sendiri,” berkata Teng Soan sambil bersenyum, "aku ingin menanyakan sesuatu hal kepada nona, apakah kiranya kau dapa memberi keterangan?"

“Urusan apa?”

“Ada seorang gadis seorang she Kiang, apakah ia masih berada di tempat ini?"

Gadis itu berpikir sejenak, baru menjawab, “Ia berbadan lemah dan berpenyakitan, untung nyonyaku kasihan padanya, sehingga dibawanya." “Nyonyamu itu sesungguhnya juga sangat gegabah, seandai hari ini yang datang itu bukannya aku bagaimana?"

“Apakah kau kira nyonyaku tidak bisa keluar?"

“Aku juga pikirkan soal itu, entah masih ada berapa lama lagi nyonyamu baru datang kemari?"

“Cepat, barangkali tidak usah setengah jam.”

Teng Soan berpaling dan berkata kepada Siang-koan Kie : “Kita juga harus menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat sebentar."

Ia berjalan ke satu sudut dan duduk di atas sebuah kursi sambil memejamkan matanya.

-odwo-

Bab 75

DI LUARNYA Teng Soan menunjukkan sikap acuh tak acuh, tetapi sebetulnya ia sudah merasa letih sekali, maka ketika mendengar keterangan gadis itu, menunggu kira2 setengah jam, justru itulah yang diharapkan Teng Soan, kesempatan itu digunakan sebaik2nya, untuk beristirahat dan siap sedia untuk menghadapi kesulitan yang mengancam dirinya.

Siang-koan Kie mengikuti dan berdiri di samping Teng Soan. Ia tiba2 merasa bahwa kewajibannya sendiri sangat berat, maka juga memejamkan matanya untuk bersemedi, guna menghadapi kemungkinan adanya pertempuran hebat.

Gadis itu mengawasi dua orang sejenak, dalam hatinya berpikir: ‘dua orang ini sungguh berani, di bawah pengawasan dan bahaya demikian rupa, ternyata masih bisa berlaku tenang.’

Entah berapa lama telah berlalu, tiba2 terdengar suara merdu, sehingga mengejutkan mereka. Sesaat kemudian, dalam gubuk itu muncul delapan perempuan2 muda yang mengenakan pakaian beraneka ragam, di tangan setiap orang memegang sebilah pedang.

Siang-koan Kie segera berdiri di depan Teng Soan kali ini ia tidak berani berlaku gegabah lagi, kali ini ia tidak berani berlaku gegabah lagi, pedang panjangnya dihunus keluar.

Ia memandang rombongan perempuan muda itu sejenak tanpa bicara, tetapi diam2 sudah menggeser kakinya, menempatkan dirinya kesuatu posisi yang baik untuk menghadapi musuh2nya.

Rombongan perempuan muda itu juga mengawasi Siang- koan Kie dengan sikap dingin.

Teng Soan masih tetap memejamkan matanya duduk menyender dinding, agaknya sedang tidur nyenyak.

Siang-koan Kie tiba2 teringat diri Touw Thian Gouw, sudah beberapa lamanya mengapa tidak muncul, apakah mendapat halangan?

Bagaimanapun juga, ia bukanlah seorang Kang-ouw kawakan apa yang dipikir, selalu tak dapat dikendalikan oleh perasaannya, maka segera menanya kepada rombongan perempuan muda itu. “Hai! Apakah kalian tadi melihat seorang laki2 yang bersenjatakan pecut emas?”

Berulang2 ia bertanya, tetapi tidak seorangpun yang menjawab.

Ia segera naik pitam, dengan suara keras ia membentaknya. “Apakah kalian sudah tuli semuanya?”

Seorang diantara rombongan perempuan muda itu, yang rupanya sudah agak banyak pengalaman, dengan sinar mata dingin mengawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu berkata, “Kau memaki siapa?”

“Pertanyaanku tadi kalian dengar atau tidak?” “Kalau dengar mau apa?”

“Kalau sudah dengar, mengapa kalian tidak menjawab?' “Tidak sudi mengurusi segala urusan demikian."

Siang-koan Kie melengak, ia tidak tahu bagaimana harus membuka mulut.

Sementara itu, Teng Soan telah tersadar dari pulasnya karena mendengar suara ribut itu, ia berkata kepada Siang- koan Kie dengan suara perlahan: “Jangan pedulikan mereka.”

Lambat-lambat Siang-koan Kie menurunkan pedangnya, ia berdiri tegak tanpa menghiraukan rombongan perempuan muda itu lagi. Liwat lagi sejenak tiba-tiba terdengar suara: “Nyonya tiba.”

Rombongan perempuan muda itu, semua segera berlutut di tanah, pedang mereka diletakkan di atas kepala.

Teng Soan perlahan-perlahan berbangkit, ia berkata kepada Siang-koan Kie: “Saudara Siang-koan, jikalau tidak terpaksa, sebaiknya jangan menggunakan kekerasan.”

Siang-koan Kie memasukkan pedangnya ke dalam sarung, kemudian berkata: “Siaute nanti akan tunggu perintah sianseng dulu baru bertindak.”

Teng Soan menganggukkan kepala sambil tersenyum.

Sementara itu dari dalam rumah nampak seorang wanita berpakaian putih, mukanya tertutup oleh kain sutra jarang yang berwarna hijau, lambat-lambat jalan menghampiri.

Sikap wanita itu sangat agung, ia berjalan dengan tenang tidak menghiraukan rombongan wanita muda yang menyambutnya dengan berlutut, sebaliknya langsung menghampiri Teng Soan dan Siang-koan Kie. Tiba dihadapan mereka, wanita itu membuka mulut bertanya, “Diantara kalian berdua, mana satu yang bernama Teng Soan?”

“Akulah yang bernama Teng Soan." menjawab Teng Soan sambil membuka kipasnya.

“Sudah lama kudengar namamu yang besar, orang2 rimba persilatan dewasa ini, hanya kaulah yang dapat menandingi kepintaran suamiku," berkata wanita baju putih itu.

“Terima kasih atas pujian nyonya, tetapi aku merasa sangat malu," berkata Teng Soan sambil tertawa hambar.

Wanita berbaju putih itu perlahan-perlahan membuka kerudung yang menutupi mukanya, kemudian berkata dengan suara perlahan: “Kau pandanglah aku dengan seksama, kenalkah kau?”

Teng Soan memandang dan memperhatikan muka perempuan itu, ternyata adalah seraut wajah cantik jelita, namun ia merasa agak asing, ia memutar otak mencari-cari bayangan setiap wanita yang di kenalnya, ia merasa wajah yang cantik itu entah di mana pernah melihatnya, ia sudah tidak dapat mengingat kembali, maka lalu menjawab sambil menggelengkan kepala. “Nyonya, maafkan mataku ini sudah lamur, aku sudah tidak ingat lagi di mana pemah melihat nyonya?”

“Benarkah kau sudah tidak ingat lagi?" bertanya wanita itu sambil tersenyum.

Waktu ia tersenyum, kedua pipinya nampak dua buah lobang yang dalam.

Hati Teng Soan tergerak, samar-samar ia ingat memang rasanya sudah pernah kenal, tetapi kalau ia pikir lagi, sebaliknya merasa asing, maka ia menjawab dengan tegas: “Benar, aku yakin apabila aku pernah melihat nyonya, pasti dapat mengingatnya.” Wanita itu perlahan-perlahan menurunkan lagi kain kerudungnya seraya berkata. “Jawabanmu itu merupakan suatu jawaban mutlak ataukah benar-benar tidak pernah melihat? … " ia berhenti sejenak, "Aih! Hari ini kau sudah dapat mencari ketempat ini, benar-benar pintar sekali, kalau begitu, suamiku itu benar-benar tidak dapat menandingi kepintaranmu?”

“Apakah nyonya memang bermaksud hendak menemui aku?”

“Aku hanya ingin menanyaimu tiga soal saja."

“Baiklah, aku bersedia menjawabnya, katakanlah lebih dulu soal yang pertama!”

“Benarkah kau hendak menentang suamiku?”

“Aku ingin mendapat penjelasan lebih dulu, yang nyonya maksudkan dengan suamimu itu apakah Kun-liong Ong?”

“Aku adalah permaisuri Kun-liong Ong?”

“Dengan Kun-liong Ong pribadi aku tidak mempunyai permusuhan apa2, tetapi untuk kepentingan rimba Persilatan, diantara kita berdua kini merupakan musuh satu sama lain.”

“Sayang kau sudah tidak dapat hidup lebih lama lagi, setelah kau binasa, siapa lagi yang dapat menandingi suamiku?”

Teng Soan terkejut, namun dilahirnya masih mengunjukkan sikap tenang, katanya : “Perkataan nyonya ini, apakah merupakan pertanyaan yang kedua?”

“Boleh juga!" menjawab perempuan itu sambil menganggukkan kepala.

“Kun-liong Ong seharusnya tahu bagaimana kepandaianku dalam ilmu ketabiban, dunia cukup luas, anak buah golongan pengemis cukup banyak, apakah tidak bisa mendapatkan obat manjur untuk menyambung jiwaku?" Perempuan berbaju putih itu berpikir sejenak, kemudian bertanya : “Marilah kita bicarakan soal yang terakhir, ini juga merupakan soal yang terpenting."

“Katakanlah, aku bersedia mendengarkan."

Perempuan berbaju putih itu menarik napas dalam2 dan berkata : “Kulihat rimba persilatan, tidak lama lagi akan terjadi suatu bencana besar, meskipun aku menjadi istri Kun-liong Ong, tetapi tidak menyetujui sepak terjangnya."

Teng Soan tertawa hambar, tidak menjawab.

Perempuan berbaju putih itu berkata pula, “Aku dilahirkan sebagai seorang perempuan, tidak mampu merintangi sepak terjang suamiku."

“Memberi nasehat dengan perkataan baik, mungkin dapat membatalkan keinginannya untuk menguasai rimba persilatan

... "

“Kau dengan Kun-liong Ong pernah belajar bersama2 dalam satu perguruan, apakah kau masih belum tahu watak perangainya? Aih! Ia seorang keras kepala dan menuruti hati sendiri, selamanya tidak pernah mau dengar nasehat orang.”

Teng Soan diam2 merasa heran, entah bagaima ia mengetahui bahwa dirinya pernah belajar bersama2 dengan Kun-liong Ong, wanita misterius ini nampaknya mengetahui banyak tentang diri orang cerdik pandai itu.

“Kun-liong Ong tidak memberitahukan kepadaku bahwa kalian pernah belajar bersama2 dalam satu perguruan …”

“Dan mengapa nyonya mengetahui aku keluaran satu perguruan dengan Kun-liong Ong?”

“Apa yang dibuat heran," berkata nyonya berbaju putih itu sambil menarik napas panjang, ”seperti halnya kenal baik denganmu, tetapi kau merasa asing.” Teng Soan yang selama itu merupakan seorang cerdik pandai, kini seolah2 tenggelam dalam kabut, beberapa pertanyaan perempuan berbaju putih itu membuatnya sangat bingung, ia tidak tahu bagaimana harus menjawab.

“Ingatkah kau besok hari apa?" bertanya perempuan berbaju putih itu dengan suara sedih.

Teng Soan tercengang, ia berkata : “Besok adalah hari wafat suhu."

“Aku tidak menduga kau bisa datang, dalam hatiku kesempatan ini hampir tisak ada, tetapi kau ternyata sudah datang, aih! Apalagi kau tidak datang, maka seumur hidup kita, sudah tidak ada kesempatan untuk menjumpai lagi.”

Teng Soan sekujur badannya merasa panas, keringat mengalir membasahi badannya, ia mengibas2 kan kipasnya seraya berkata : “Perkataan nyonya ini, aku tidak mengetahui, aih … “

Perempuan berbaju putih itu tertawa hambar dan berkata : “Ini mudah sekali, apabila aku sudah mati, bukankah kita tidak akan ketemu lagi untuk selama-lamanya?”

Teng Soan memeras otak beberapa lama, untuk memikirkan siapa sebetulnya perempuan misterius ini? Ia juga tidak dapat menyelami maksud dalam setiap perkataan nyonya itu, maka sesaat lamanya, ia berdiam saja.

Perempuan berbaju putih itu menantikan jawaban Teng Soan, karena Teng Soan tidak menjawab, ia lalu berkata pula: “Aih! bagaimanapun juga, badanmu yang lemas itu sudah tidak mungkin bertahan lebih lama untuk menghadapi soal itu, maka kau harus lekas mencari orang yang dapat mewarisi kepandaianmu hal ini bukan saja semua kepandaian akan tetapi hidup di dalam rimba persilatan, tetapi juga dapat melanjutkan cita2mu yang belum selesai, sayang orang berbakat baik di dalam dunia Kang-ouw tak mudah ditemukan, kau harus sedia payung sebelum hujan, supaya tidak ribut setelah menghadapi kesulitan.”

Teng Soan yang dikenal sebagai seorang berotak cerdas dan dapat memecahkan segala kesulitan tak diduga hari itu menghadapi persoalan rumit yang membuatnya hampir seperti orang bingung, ketika mendengar perkataan itu, dalam hatinya berpikir : ’apabila membiarkan ia terus menerus memajukan pertanyaan, dan aku tak dapat menjawabnya, bukankah persoalan ini akan menjadi berlarut2. Maka aku harus ganti bertanya berapa soal supaya mendapat kesempatan selagi ia berpikir, aku dapat menganalisa perkataannya ...’

Setelah berpikir demikian, ia tidak menantikan perempuan berbaju putih itu mengajukan pertanyaan lebih lanjut, tiba2 ia balik menanya : “Kedatanganku kemari hanya ingin minta keterangan, apakah penyakit nona Kiang sudah agak baik?"

“Kau maksudkan nona Kiang yang berbadan lemah, dan setiap hari harus bergulat dengan penyakit itu?”

Teng Soan pada saat itu sedang mengingat2 kembali semua apa yang sudah lalu, untuk mencari2 bayangan perempuan misterius itu, belum lagi berhasil menemukan, sudah balas ditanya maka ia segera menjawab : “Benar.”

“Meskipun gadis itu berbadan lemah dan tidak bertenaga, tetapi ayahnya, Kiang Su Im, merupakan salah seorang terkuat dalam rimba persilatan dewasa ini.

Teng Soan tiba2 terlintas suatu ingatan, dengan cepat sudah pulih kembali sikapnya seperti biasa, ia berkata sambil tertawa, “Apakah nyonya bermaksud hendak menyerahkan nona Kiang kepadaku, supaya lekas bertemu lagi dengan ayahnya?”

Ia mendahului mengajukan pertanyaan, supaya tidak dirisaukan oleh pertanyaan2 sulit yang akan diajukan oleh perempuan berbaju putih itu. Benar saja, perempuan itu berpikir lama baru menjawab, “Sudah tentu akan kuserahkan kepadamu, tetapi lebih dulu kau harus menebak siapa aku ini?”

Teng Soan tiba2 mengunjukkan sikap serius, berkata sambil menghormat : “Oleh karena pekerjaan bertumpuk2, sehingga sulit untuk mendapatkan kesempatan, sudah lama sekali aku tidak datang kekuburan suhu."

Diam2 Teng Soan memperhatikan sikap nyonya itu, benar saja kerudungnya yang menutupi wajahnya nampak bergoyang, jelaslah bahwa perempuan itu sedang mengalami kedukaan hebat.

Teng Soan diam2 menganggukkan kepala tetapi ia masih takut dugaannya itu keliru, maka ia bertanya : “Apakah Kun- liong Ong pernah berziarah kekuburan suhu?”

“Mula2 beberapa tahun, ia masih ada pikiran setiap tahun pergi berziarah kekuburan suhunya, tetapi sepuluh tahun belakangan ini, agaknya repot dengan pekerjaan, sudah lama tidak pernah berziarah dikuburan ayah ... ”

Teng Soan gemetar, wajahnya berobah seketika.

Perempuan berbaju putih itu agaknya mengetahui sudah telanjur, maka segera mamerintahkan semua pelayannya : “Kalian pergi semua! Jaga sekitar rumah ini tidak perduli siapapun, semua dilarang mendekat gubuk ini dalam jarak tiga tombak.”

Beberapa pelayan perempuan itu segera mengundurkan diri.

Perempuan berbaju putih itu membuka kerudungnya dan berkata dengan suara sedih : “Ada suatu hal, barangkali hingga saat ini, kau masih belum mengerti.”

“Hal apa?" bertanya Teng Soan sambil menghela napas panjang. Mata perempuan itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak kemudian membatalkan maksudnya yang hendak berkata.

Teng Soan mengibas-ngibaskan kipasnya dan berkata: “Nyonya katakan saja, saudara Siang-koan Kie ini adalah sahabat karibku.”

“Apakah sampai sekarang ini kau masih panggil aku nyonya?”

“Karena kedulukkanmu sekarang ini adalah permaisuri Kun-liong Ong.”

“Kun-liong Ong telah menipu aku ... ”

“Sewaktu suhu masih hidup agaknya pernah berkata kepadaku satu kali ... " berkata Teng Soan, tetapi kemudian diam.

“Mengatakan soal apa?” “Tentang diri sumoy.”

Perempuan itu tersenyam getir, dari dalam sakunya mengeluarkan gelang batu giok, katanya: “Kenalkah kau dengan benda ini?”

Ia lalu mengulurkan tangannya menyerahkan gelang itu kepada Teng Soan.

Teng Soan menyambut gelang itu, air matanya mengalir bercucuran, ia berkata: “Melihat barangnya teringat kepada pemiliknya, ini adalah barang peninggalan ibuku yang ditinggalkan kepadaku.”

“Tahukah kau mengapa barang ini berada di tanganku?” “Sewaktu suhu masih hidup, pernah minta barang ini,

tetapi dengan cara bagaimana bisa berada Di tangan Su-moy, Suhengmu sesungguhnya tidak mengerti.” “Ayahku telah memberikan gelang ini padaku, ayah pernah memberitahukan kepadaku bahwa gelang ini sebagai tanda mata pertunangan.”

Hati Teng Soan berdebar keras, ia berkata : “Tetapi suhengmu belum pernah mendengar suhu membicarakan soal ini.”

Perempuan berbaju putih itu tiba-tiba menangis dan berkata : “Ayahku meskipun belum pernah memberitahukan kepadamu, tetapi pernah berkata kepadaku tentang urusan ini, katanya setelah kau menyelesaikan pelajaranmu, aku akan dinikahkan denganmu, tak disangka bencana telah menimpa kita, perobahan terjadi secara mendadak, ayah telah dibinasakan oleh Kun-liong Ong, aih! Setelah ia membinasakan ayah, semua dosanya telah ditimpakan di atas dirimu, kemudian ia menipu aku supaya menyersihkan diriku kepadanya ... ”

“Soal membinasakan suhu ini, meskipun sudah lama aku tahu, tetapi tentang urusan menipu diri sumoy, ini aku tidak tahu semua.”

Kiranya Teng Soan meskipun mempunyai kecerdasan otak luar biasa, tetapi ketika ia masih belajar ilmu kepandaian, seluruh pikirannya dipusatkan kepada pelajarannya, tentang urusan rumah tangga suhunya ia tidak banyak perhatian, maka meskipun mempunyai Su-moy yang cantik jelita itu, ia juga tidak tahu.

Perempuan itu menarik napas dalam-dalam kemudian berkata : “Waktu itu, aku telah tertipu oleh perkataannya yang manis, dalam hati membenci dirimu, siang malam aku mendesak padanya membunuh kau untuk membalas sakit hati ayah, tetapi permintaanku itu selalu dielakkannya dengan mulut manis, ia berkata kau sudah lari entah kemana sehingga tidak mudah untuk diketemukan lagi, kasihan sepuluh tahun lamanya aku telah tertipu, selama itu aku membantu padanya untuk merencanakan segala cita-citanya, menarik tenaga orang2 kuat, untuk menuntut balas ayah ... ”

Teng Soan tertawa hambar dan berkata: “Apakah ia telah memberitahukan kepadamu bahwa aku sudah mengabdi kepada golongan pengemis untuk melindungi diriku, betul tidak?”

“Betul, ia berkata bahwa pemimpin golongan pengemis Auw-yang pangcu berkepandain sangat tinggi, anak buahnya sangat banyak, kekuatannya melebihi partai2 besar lainya yang ada pada dewasa ini, karena kau berlindung di bawah bendera golongan pengemis, tidak mudah lagi menangkapmu dalam keadaan hidup, kalau hendak membunuh kau, lebih dulu harus dapat membasmi golongan pengemis, aih! Antara kita berdua meskipun terhitung saudara seperguruan, tetapi satu sama lain belum pernah bertemu muka, hanya dari ayah saja pernah menggambarkan keadaanmu, ayah berkata bahwa kau sudah ditakdirkan tidak berumur panjang, karena itu sudah takdir Tuhan yang Maha Esa, kau tidak bisa hidup lebih dari empat puluh tahun.”

“Perkataan suhu memang tidak salah, siauheng-mu juga sudah merasa bahwa usianya sudah hampir habis.”

“Aih, tak disangka orang mempunyai kepandaian luar biasa seperti ayah, ternyata juga tidak dapat membedakan orang yang baik dan orang yang jahat.”

“Kun-liong Ong mempunyai bakat luar biasa, bukan saja berbakat baik untuk melatih ilmu silat tetapi kepintaran dan kecerdikannya juga tidak di bawahku, apalagi ia berhati kejam, pandai berpura2, waktu ia datang berguru kepada suhu, kepandaian ilmu silatnya sudah tidak di bawah suhu meskipun sudah merasakan bahwa ia seorang berambisi besar, tetapi karena mengingat pertalian antara guru dan murid, suhu tidak tega menyingkirkan dirinya.” “Tak disangka karena kesayangan ayah terhadap bakatnya telah berakhir dengan suatu tragedi yang sangat menyedihkan. Ia telah membangun gedung sebagai istana mengumpulkan banyak tenaga kuat, mengangkat raja muda, tindakannya itu seperti pemberontak, meskipun aku sendiri lambat laun tidak suka dengan sepak terjangnya, tetapi selama itu aku masih belum tahu bahwa dia justru musuh besarku yang membunuh ayah, aku masih tekun membantunya dengan pengharapan supaya lekas dapat menangkap hidup dirimu ... ”

“Dengan kepandaian dan kepintaran di dalam ilmu silat dan ilmu surat, apabila digunakan kejalan yang benar, tidak susah baginya menjadi seorang kuat untuk memimpin negara

... ”

Perempuan itu mendadak memotong perkataannya dan berkata: “Pada waktu ini, waktu kita sangat berharga, mari kita membicarakan soal yang lebih penting.”

“Soal yang lebih penting ... ”

“Biarlah aku yang menerangkan! Aku hendak membeber semua apa yang tersimpan dalam hatiku.”

“Aku bersedia mendengarkan.”

“Sehingga pada tahun yang lalu aku baru merasa curiga terhadap semua keterangannya, ia seorang kejam dan sangat berhati2 dalam segala perkataannya, selama itu tidak menunjukan apa2 yang dapat menimbulkan kecurigaan lebih besar, sehingga pada beberapa hari berselang, aku baru dengar perkataannya yang diucapkan setelah ia mabok arak ia katakan urusannya dan perbuatannya yang membunuh suhunya sendiri, sudah tentu itu adalah perbuatanku yang sengaja membuat ia mabuk … ”

Perempuan itu melirik kepada Teng Soan yang saat itu mendengarkan dengan penuh perhatian, maka berkata pula: “Waktu itu aku seharusnya segera turun tangan kejam, menghabisi jiwanya, tetapi aku masih ingat hubungan suami isteri selama sepuluh tahun, kalau aku membunuh dirinya, aku pasti akan berdosa sebagai seorang yang mengambil jiwa suaminya sendiri … “

Teng Soan masih tetap berdiri dan mendengarkan dengan tenang.

Perempuan itu menarik napas dalam-dalam katanya pula: “Karena kebimbanganku itu, aku telah kehilangan kesempatan untuk menyingkirkan jiwanya sebaliknya telah dianiaya olehnya ... ”

Kali ini, Teng Soan tidak bisa diam lagi, ia berseru terkejut dan berkata: “Sebaliknya telah dianiaya olehnya? Kau ... “

“Ia telah menusuk dua belas jarum di bagian jalan darahku yang terpenting, maka aku sudah tidak bisa hidup lagi sampai tengah malam ini.”

“Su-moy, coba kau perlihatkan luka2mu itu kepadaku, masih dapat ditolong atau tidak?”

Perempuan berbaju putih itu menunjukan senyum getir, ia berkata dengan suara sedih: “Sudah tidak ada gunanya, aku tidak berani mengganggu pikiran suheng, sekalipun ayahku masih hidup lagi, juga sudah tidak dapat menolong jiwaku ... " ia berhenti sejenak, “sebelum aku berangkat nanti, aku dapat membuka ikatan dalam hatiku, menjelaskan isi hatiku, ini sudah cukup ... ”

Dari luar gubuk tiba2 terdengar suara dua kali bentakan orang.

Nyonya itu segera berkata : “Ada orang datang, hanya tidak tahu entah orang golongan mana?”

“Kuduga ia pasti bukan orang dari golongan petinggi." berkata Teng Soan. “Aih! Aku sesungguhnya mengharapkan Kun-liong Ong sendiri yang datang.”

Teng Soan semula terkejut, kemudian tersenyum dan berkata : “Kenapa?”

“Aku ingin supaya ia tahu bahwa di dalam dunia ini sudah ada orang yang menghianati dirinya.”

Suara bentakan tadi terdengar berulang2 dengan diselingi oleh suara beradunya senjata.

Teng Soan tiba2 ingat maksud dan tujuan perjalanannya ini, ia mendongakkan kepala dan menarik napas dalam2, kemudian berkata: “Apakah nona Kiang itu kau sudah bawa ke mari?”

“Sudah, tetapi aku takut suamiku yang tidak boleh dipercaya itu, nanti akan mengingkari janjinya, tiba-tiba berobah pikirannya, maka sudah ku sembunyikan.”

“Kau sembunyikan?”

“Benar, sudah kusembunyikan, tempat sembunyian itu sangat rahasia, tidak nanti Kun-liong Ong dapat menemukan

... ”

“Jauhkan tempat itu?" bertanya Teng Soan dengan perasaan cemas.

“Tidak jauh hanya di sekitar tempat ini saja.”

Di luar gubuk tiba2 terdengar suara jeritan ngeri, suara itu sangat tajam, seolah-olah keluar dari mulut seorang perempuan.

“Pelayan Su-moy telah terluka seorang, suatu bukti bahwa orang yang datang itu berkepandaian tinggi,” Berkata Teng Soan.

“Siaute ingin keluar untuk melihatnya,” berkata Siang-koan Kie. “Tidak usah," berkata nyonya berbaju putih itu, “diantara pelayanku itu, ada dua orang yang suda terpengaruh oleh obat Kun-liong Ong, ia sering memberitahukan segala urusanku pada Kun-liong Ong, selama itu Kun-liong Ong mengira aku tidak mengetahui urusan ini, sebetulnya sudah lama aku tahu, oleh karena mereka kena pengaruhnya obat, hingga perbuatan mereka itu bukan atas kemauan sendiri, dan waktu itu, aku sendiri juga tidak mengkhianati Kun-liong Ong, maka aku membiarkan mereka dan pura-pura berlaku tidak tahu, tetapi keadaan hari ini berlainan, diam2 aku sudah pesan beberapa pelayan kepercayaanku, supaya menggunakan kesempatan ini untuk membunuh dua pelayan itu ... ”

“Kenapa?”

“Aku tidak berdaya, menuntut balas dendam musuhku dengan tangan sendiri, aku ingin setelah aku mati, mempermainkannya sebentar, aku tidak berdaya mengambil jiwanya, tetapi biar bagaimana aku juga akan berusaha membuatnya tidak enak makan tidak enak tidur ... "

Sementara itu suara beradunya senjata terdengar semakin gencar, barangkali di luar gubuk itu sedang berlangsung suatu pertempuran sengit.

Nyonya Kun-liong Ong nampak sedikit perobahan di wajahnya, sesaat ia berhenti penuturannya, untuk memasang telinga, kemudian ia melanjutkan lagi sambil menghela napas panjang : “Kalau kita perhatikan suara beradunya senjata itu, jumlah orang yang datang menyerang agaknya tidak sedikit, apakah itu orang2nya Kun-liong Ong yang datang?”

“Mungkin," berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Paras nyonya itu nampak sangat murung, ia berkata sambil menghela napas, “Aku sudah berusaha merahasiakan tindakanku tak disangka, tidak dapat lolos dari matanya.” “Meskipun Su-moy juga merupakan seorang wanita jantan, pintar dan cerdik, tetapi baik kepandaian ilmu silat, maupun akal muslihat, tidak dapat dibandingkan dengan Kun-liong Ong.”

”Sebetulnya kedatangan semua di tempat ini, aku sudah tahu Kun-liong Ong pasti akan datang juga.”

Nyonya Kun-liong Ong berdiri kememek, sementara itu dari luar terdengar suara bentakan orang, “Kalian kawanan pelayan yang tidak berarti ini, benarkah sudah tidak menghendaki jiwa kalian sendiri?”

Dari suara itu menunjukkan bahwa orang itu berkepandaian tinggi.

Selanjutnya terdengar suara jeritan, seorang wanita yang sangat mengerikan.

“Kembali selembar jiwa telah melayang di tangan orang2nya Kun-liong Ong, Su-moy, apakah kau tidak khawatir?" bertanya Teng Soan sambil menghela napas.

“Jiwaku cuma tinggal beberapa jam saja, seorang yang sudah seperti aku ini, sudah tidak apa2 yang dikhawatirkan lagi!" menjawab nyonya Kun-liong Ong sambil tertawa getir.

“Tetapi enam pelayan wanita itu ... ”

“Enam pelayanku itu semua sudah mengikuti aku lama sekali, meskipun kedudukan kita berlainan tetapi hubungan perasaan kita sudah seperti saudara sendiri, apabila aku mati, mereka juga tidak bisa hidup lagi ... ”

Di luar gubuk terdengar suara jeritan ngeri yang keluar dari mulut seorang laki2, kemudian terdengar suara seorang menghardik: “Perempuan hina, kau benar2 hendak mengadu jiwa?”

Terdengar suara seorang wanita menjawab: “Kita bertempur sampai orang yang terakhir orang yang terakhir itu meskipun hanya tinggal satu lengan saja, juga hendak melawan terus, asal kita masih bisa bernapas, kalian bangsa- bangsa budak ini, jangan harap bisa masuk ke dalam gubuk ini … ”

Selanjutnya disusul oleh suara saling bentak terputus- putus.

Teng Soan sangat kagum akan kegagahan dan kesetiaan kawanan pelayan itu.

“Keadaan sudah terlalu gawat, soal mati hidupku sudah tidak kupikirkan lagi, tetapi masih ada ... " berkata nyonya Kun-liong Ong dengan suara sedih, tangannya tiba2 menyusut air mata yang mengalir keluar, hingga tidak melanjutkan kata- katanya.

“Ada apa?" bertanya Teng Soan.

Nyonya itu per lahan2 menundukkan kepala dan berkata, “Aku hanya khawatirkan keselamatanmu.”

Teng Soan mendongakkan kepala dan tertawa, kemudian bertanya, “Hidup atau mati soal kecil, apa yang perlu dikhawatirkan! Apalagi ... orang2 itu meskipun dapat memasuki gubuk ini, juga belum tentu dapat membunuh aku!”

“Aku tahu, meskipun kau tak bertenaga, tetapi mempunyai keberanian luar biasa, aku belum pernah mengira ada orang lemah seperti kau ini, ternyata mempunyai keberanian seorang jantan yang gagah perkasa!"

“Su-moy terlalu memuji.” “Tetapi ... "

“Tetapi apa?”

“Gubuk ini sebetulnya adalah suatu jebakan yang telah kuatur, meskipun aku tidak dapat memastikan ia datang kemari, tetapi justru kaulah yang sengaja kupancing kemari, apabila terjadi apa2 atas dirimu, bagaimana aku berani untuk menemui arwah ayahku di alam baka?”

“Walaupun demikian, itu juga aku yang datang sendiri masuk perangkap, bagaimana dapat menyesalkan Su-moy?”

“Jikalau kecerdasan agak kurang, atau keberanianmu tidak sebesar itu, barangkah tidak dapat mencari sampai disini, juga akan terjadi kejadian seperti sekarang ini ...” berkata nyonya itu sambil menghela napas.

-odwo-

Bab 76

MEREKA berdua berbicara seenaknya di bawah ancaman bahaya serbuan manusia ganas, sedangkan Siang koin Kie juga terus duduk disamping, mendengarkan pembicaraan mereka dengan tenang agaknya tidak menghiraukan bahaya yang mengancam itu.

Ketika mendengar sampai di situ, tiba-tiba ia berkata : “Ada suatu hal yang aku tidak dapat percaya.”

“Hal apa?” bertanya Teng Soan.

“Benarkah sianseng dari ilmu nujum, telah menunjukkan harus datang ketempat ini?" berkata Siang-koan Kie.

“Itu hanya merupakan suatu urusan yang asal harus sengaja menerangkan dihadapan orang, satu ilmu nujum, mungkin dapat menujumkan bahaya atau keberuntungan seseorang, bagaimana dapat menujumkan tempatnya begitu tepat!”

“Kau pandai meramalkan apa yang akan terjadi, seharusnya tahu bagaimana harus menyingkir dari bahaya, juga tidak seharusnya datang kemari, berkata nyonya Kun- liong Ong sambil menghela napas. “Selama belum pernah aku menghiraukan kepentingan diriku sendiri, maka aku juga belum pernah menujumkan diriku sendiri.”

“Kau pandai melihat nasib orang, bodoh terhadab diri sendiri, seumur hidupmu kau selalu mengabdi untuk kepentingan orang lain, sampai sekarang seharusnya kau juga bisa memikirkan dirimu sendiri bagaimana harus keluar dari gangguan ini?”

Sebelum Teng Soan menjawab Siang-koan Kie sudah berkata dengan suara nyaring. “Sekalipun di luar banyak tentara, aku juga akan mengantar Teng sianseng keluar dari sini dalam keadaan selamat.”

Wajah nyonya Kun-liong Ong yang murung terlintas suatu senyuman, kemudian berkata, “Seorang jago muda yang gagah perkasa, suhengku mempunyai kepintaran seperti Cu- kat sianseng, kau juga mempunyai keuletan dan keberanian seperti Cu To hiong, sebelum ajalku tiba aku dapat melihat dua laki2 seperti kalian, rasanya juga tidak sia2 dalam hidupku ini."

“Nyonya terlalu memuji ...” berkata Siang-koan Kie.

Baru saja Siang-koan Kie menutup mulut, tiba2 terdengar suara bentakan bengis yang sudah berada diambang pintu.

Siang-koan Kie membalikkan badan dan menyerbu keluar, seorang laki2 berpakaian ringkas dengan badan berlumuran darah berdiri diambang pintu Siang-koan Kie segera membentak. “Balik!”

Selagi hendak melancarkan serangannya, tak disangka laki2 itu sudah roboh di tanah, sebilah pedang panjang menancap dibelakang punggungnya.

Tatkala ia berpaling, nyonya Kun-liong Ong sudah berdiri dari tempatnya sedangkan Teng Soan dengan sikap tidak berobah, masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak. Siang-koan Kie diam2 memuji ketabahan Teng Soan.

Sementara itu nyonya Kun-liong Ong sudah mendekati jendela, biji matanya berputaran wajahnya berobah, ia berkata sambil menghela napas : “Hanya sebentar saja, mereka sudah menyerbu masuk.”

Kirarya ia yang menyaksikan pertempuran dari jendela, merasa terkejut menyaksikan bahwa pelayannya hanya tinggal tiga orang saja.

Tiga pelayan itu dengan sangat berani dan gagah sekali melawan musuhnya yang berjumlah kira2 delapan orang, keadaannya nampak letih sekali. Seorang pelayan yang sudah roboh di tanah tiba2 bangkit dan mengambil sebilah pedang panjang kemudian menyerbu lawannya?

Pelayan perempuan itu bukan saja sekujur badannya sudah mandi darah, rambutnya sudah tak keruan, tetapi lengan kirinya juga sudah tidak bisa bergerak, hanya mengandalkan semangat dan keberaniannya tanpa menghiraukan keadaannya sendiri ia melawan musuhnya secara nekad, musuhnya agaknya tidak menduga bahwa dalam keadaan parah pelayan itu masih berani melawan mati-matian, sehingga saat itu menjadi tertegun dan sudah lupa menyingkir.

Tidak ampun lagi senjata di tangan pelayan perempuan itu mengenakan sasarannya dengan tepat, hingga musuhnya itu roboh dan mati seketika itu juga.

Pelayan wanita itu setelah membacok roboh lawannya, ia sendiri juga jatuh roboh karena kehabisan tenaga.

Njonja Kun-liong Ong yang berdiri di dekat jedela menyaksikan semua kejadian itu mangucurkan air mata.

Siang-koan Kie mendadak berpaling dan bertanya kepada nyonya itu : “Apakah nyonya masih ingin bicara dengan Teng sianseng." Nyonya Kun-liog Ong menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Biarlah aku yang rendah keluar sebentar untuk menghadapi mereka, supaya nyonya bisa bicara dengan tenang!” berkata Siang-koan Kie.

“Kau ditugaskan melindungi keselamatan Teng sianseng, sebaiknya jangan menempuh bahaya!” berkata nyonya Kun- liong Ong sambil menghela napas.

“Nyonya jangan khawatir, biar aku yang rendah nanti membunuh beberapa manusia jahat itu supaya pengawal nyonya tidak akan menghadapi musuh terlalu banyak, sebentar aku akan balik kembali," berkata Siang-koan Kie tegas, segera lompat melesat melalui lobang jendela, kemudian dengan sebilah pedang yang disambarnya dari salah seorang bangkai musuh, lalu menyerbu kemedan pertempuran.

Nyonya Kun-liong Ong yang menyaksikan gerakan Siang- koan Kie, memuji kepandaian dan keberaniannya, kemudian berpaling dan berkata kepad Teng Soan: “Tak kusangka kau mendapatkan seorang pembantu demikian hebat ..."

“Dia adalah naganya dalam kalangan manusia ..., hanya sangat menyesal golongan pengemis tidak mempunyai rejeki mendapatkan orang yang berbakat demikian baik," berkata Teng Soan.

Nyonya Kun-liong Ong melengak, katanya: “Dia bukan orang golongan pengemis, tetapi mau berbuat mati-matian demikian rupa untukmu ... aih, ini benar-benar merupakan suatu kejadian yang amat ganjil!"

Sementara itu dari luar, berulang-ulang terdengar suara jeritan ngeri yang keluar dari mulut beberapa laki2, belum lagi suara jeritan sirap, Siang-koan Kie sudah balik masuk melalui lubang jendela, kemudian berkata sambil tertawa. “Di sana juga cuma tinggal tiga orang saja, nyonya boleh bicara tanpa khawatir apa-apa ..."

Pedang di tangannya berlumuran darah, tetapi pakaian yang menempel dibadannya sedikitpun tidak kecipratan darah, mungkin karena ia mainkan pedangnya terlalu cepat."

Seketika nyonya Kun-liong Ong tertegun menyaksikan kegagahan Siang-koan Kie, ia berkata dengan nada terheran- heran. “Ucapanku masih belum habis, apakah kau sudah membinasakan empat lima orang banyaknya?"

“Aku yang rendah tidak berani merebut pahala orang, dua diantara mereka terbunuh oleh pelayan nyonya ..." berkata Siang-koan Kie.

Pada saat itu di luar terdengar suara derap kaki kuda kembali laki2 tegap melompat turun dari kuda masing2, Siang- koan Kie dengan cepat berkata : “Suasana menjadi gawat, apabila ada perkataan penting, harap nyonya lekas jelaskan kepada Teng sianseng."

Setelah itu ia melompat ke luar lagi melalui jendela. Dengan sikap serius nyonya Kun-liong Ong berkata: “Kun-

liong Ong bertekad hendak menarik diri Kiang Su Im, supaya membantu kepadanya, maka sudah lama merencanakan suatu siasat hendak menculik gadis Kiang Su Im, akan digunakan sebagai barang pemeras, supaya Kiang Su Im mau mendengar perintahnya.”

Karena suasana sudah gawat, maka nyonya itu memberitahukan maksud suaminya dan pokok pangkalnya dari lenyapnya anak perempuan Kiang Su Im.

Teng Soan mendengarkan penuturan itu dengan penuh perhatian, sama sekali tidak mengajukan pertanyaan.

Nyonya Kun-lioug Ong berkata pula: “Setelah aku mengetahui rencana keji itu lalu berusaha menculik anak perempuan Kiang Su Im lebih dulu, selain untuk menggagalkan rencana jahatnya itu, juga dengan terjadinya kejadian ini, supaya ia selalu memikiri soal ini, sehingga mengalutkan pikirannya.”

Ia menarik napas perlahan, kemudian melanjutkan kata- katanya: “Sekarang aku sudah sembunyikan nona Kiang ke suatu tempat yang aman, bagaimanapun juga tidak dapat menemukan lagi, tempat itu sekarang kuberitahukan kepadamu, kalau kau nanti benar terjatuh di tangannya juga boleh menggunakan untuk memaksa ia, supaya ia tidak berani mengambil jiwamu!”

“Orang seperti Kun-liong Ong, lebih suka tidak menemukan nona Kiang selama-lamanya, juga tidak mungkin mau melepaskan aku begitu saja," berkata Teng Soan sambil tertawa dan menggelengkan kepala.

Nyonya Kun-liong Ong melengak, ia berkata sambil menghela napas: “Tetapi bagaimanapun juga, tempat itu kau harus ingat baik-baik.”

“Seharusnya memang begitu.”

“Tempat ini kecuali aku, tidak ada orang lain yang mengetahui, sebab aku sesungguhnya tidak percaya kepada siapapun yang dapat menutup mulut dihadapan Kun-liong Ong," berkata nyonya Kun-liong Ong sambil melongok keluar jendela, kemudian berkata lagi sambil menghela napas: “Tempat itu adalah ... ”

“Tunggu dulu, harap Su-moy panggil pulang Siang-koan Kie dan nanti baru kau ceritakan.”

“Kenapa?”

“Hari ini apabila terjadi apa-apa atas diriku, agar supaya Siang-koan Kie juga bisa pergi mencarinya, jikalau tidak, rahasia ini bukankah akan terpendam selama-lamanya?” “Kau memang selalu sangat hati-hati, sifatmu ini benar- benar tidak ada bagi orang lain ... " berkata nyonya Kun-liong Ong, kemudian berpaling dan memanggil Siang-koan Kie.

“Siang-koan Kie, lekas kembali!”

Sesaat kemudian Siang-koan Kie sudah melompat masuk dari jendela, kini pakaiannya sudah kecipratan banyak darah, dahinya juga berkeringatan, sambil menghapus keringatnya ia bertanya: “Ada urusan apa?”

“Dengarlah, dari sini jalan terus menuju kebarat, di situ terdapat sebuah rimba pohon palem, di dalam rimba pohon palem itu ada berdiam seorang tukang buah, setelah kau tiba disana, kau harus menanyakan kepadanya dengan kata-kata: “buah palem dalam rimbamu ini ada berapa banyak? Jikalau dia menjawabnya, “sama dengan jumlah rambut di atas kepalamu!" maka kau segera minta ia ajak kau pergi," berkata nyonya Kun-liong Ong.

“Apakah itu perjalanan yang menuju tempat sembunyinya nyonya Kiang?”

Nyonya Kun-liong Ong menjawab sambil menggelengkan kepala: “Ia akan membawa kau pergi mencari seorang tukang kayu, tukang kayu itu adalah seorang tua bongkok, setelah kau bertemu dengannya, segera minta kepadanya mengantar pulang tukang buah, kemudian tukang buah itu akan membawa kau kesebuah tempat minum teh, ingat, tempat minum teh itu di depannya ada sebuah sungai kecil, dalam sungai itu terdapat banyak ikan, setiap hari ada banyak perahu penangkap ikan yang mondar mandir di situ, kau menunggu setelah tukang kayu itu berlalu kemudian berdiri dipinggir sungai sambil berkaok-kaok mau beli ikan, saat itu pasti ada banyak perahu ikan yang menghampiri kau, tetapi kau harus mencari seorang nelayan yang matanya picak sebelah, lalu kau menanyakan kepadanya: “Tujuh ekor ikan berapa harganya?" apabila ia menjawabmu: “Tiga tail perak untuk delapan ekor!" maka kau harus segera melompat naik keatas perahunya!”

Siang-koan Kie yang mendengarkan keterangan itu demikian melit, diam2 mengerutkan alisnya.

“Kun-liong Ong banyak akal dan sangat kejam." berkata pula nyonya Kun-liong Ong. “Ia sudah mewarisi banyak kepandaian ayah, meskipun tidak sepintar Teng suheng, tetapi orang2 rimba persilatan yang dapat menandingi kepintarannya, sudah tidak ada lagi, jikalau tidak diatur demikian, bagaimana dapat mengelabui mata2 anak buahnya yang tersebar luas di mana2 ... ”

Sementara itu dengan sekonyong2 Siang-koan Kie mengeluarkan suara bentakan keras kemudian melompat melesat melalui lubang jendela.

Teng Soan dan nyonya Kun-liong Ong memandang keluar, telah nampak pemuda itu sedang mainkan pedangnya demikian rupa, di mana sinar pedang berkelebat, di situ terjatuh korban, dalam waktu singkat, sudah merobohkan tiga orang.

Tiga pelayan yang tadi ditinggalkan melawan tiga laki2 itu sebetulnya sudah hampir jatuh, ketika menyaksikan kegagahan Siang-koan Kie menjatuhkan lawan2nya, semangatnya mendadak terbangun, dengan demikian sehingga mereka dapat menguasai keadaan lagi.

Nyonya Kun-liong Ong berkata kepada Teng Soan: “Pemuda ini sangat gagah berani dan berkepandaian tinggi sekali, orang2 berpakaian hitam itu, semua merupakan orang kuat dari barisan pengawal baju hitam Kun liong Ong, sungguh heran dalam waktu sekejap saja, ia sudah berhasil merobohkan tiga orang.”

Pada saat itu Siang-koan Kie sudah balik kembali ke dalam gubuk, pedangnya masih banyak tanda darah. Teng Soan sambil menengadah berkata pada Su-moy: “Su- moy, lekas kau jelaskan, Kun-liong Ong sudah mulai mengatur barisan aneh di sekitar gubuk ini.”

“Nampaknya ia masih belum ada maksud untuk mengambil jiwamu sekarang.”

“Caranya itu ada lebih ganas dan kejam dari pada membunuh.”

Siang-koan Kie meskipun tidak mengerti, tetapi ia tidak berani bertanya.

“Hem, hem? Ia bermaksud supaya kita ternoda dan nama baik ayah tercacat, kejahatan orang itu, sesungguhnya jarang ada di dalam dunia ” berkata nyonya Kun-liong Ong sambil

tersenyum getir, “Nelayan mata satu itu, akan bawa kalian ke suatu perkampungan nelayan, di situ ada seorang perempuan tua berambut putih, kau segera menanyakan kepadanya jaring ikan ada berapa banyak lobang, jikalau ia menjawabmu, tiga ribu tiga ratus tigapuluh tiga, maka kau segera beritahukan kepadanya: kita datang atas perintah permasuri. Jikalau ia menanyakan kepadamu berapa usia permaisuri, kau segera acungkan tiga jari tanganmu, lalu bolak balikan dua kali, kemudian kau perhatikan lagi bagaimana reaksinya, jikalau ia mengambil sepotong tusuk konde dari dalam sakunya, maka kau harus terima dan simpan baik2, kemudian lari menuju ketimur, kira2 empat lima pal, di situ ada tanah datar yang luas, tanah datar itu banyak arak2 gembala kambing, maka kau harus memanggil: beli kambing tiga kali, apabila ada orang datang menanyamu, berapa harganya seekor kambing, kau harus menjawab tigaribu tigaratus tigapuluh tiga, maka ia akan bawa kau kesuatu tempat rahasia. dengan sepotong tusuk konde itu, kau akan dapat menjumpai nona Kiang.”

“Sudah jelaskah kau?” bertanya Teng Soan kepada Siang- koan Kie dengan suara perlahan.

“Sudah jelas.” ”Apabila terjadi apa-apa atas diriku, kau harus dapat menolong nona Kiang dan bawa pulang kepada golongan pengemis, kau serahkan kepada Pangcu.”

“Mengapa sianseng mengucapkan perkataan demikian, Siang-koan Kie masih bisa hidup satu detik, dapat menjamin sianseng tidak ada halangan apa2, sekalipun Kun-liong Ong datang sendiri, Siang-koan Kie juga akan melawannya mati- matian, apabila kita harus mati, aku juga akan mati dihadapan sianseng.”

Mata Teng Soan berputaran memandang keadaan di luar rumah, kemudian berkata: “Kun-liong Ong ingin mengurung kita disini."

“Semua itu adalah salahku, sehingga menyusahkan suheng," berkata nyonya Kun-liong Ong dengan suara duka.

“Aku rela datang sendiri, bagaimana dapat menyalahkan semua?", berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Pada saat itu, rombongan orang berbaju hitam yang hendak menyerbu gubuk itu, tiba-tiba mengundurkan diri dengan meninggalkan beberapa puluh kawannya yang sudah menggeletak menjadi bangkai.

Nyonya Kun-liong Ong tiba-tiba menepok dengan tangannya hingga tiga kali, dari dua sisi kamar dalam gubuk itu, telah muncul delapan orang berbadan tegap, orang-orang itu semua membawa senjata tajam, setelah memberi hormat kepada nyonya Kun-liong Ong, lalu berdiri disamping sambil meluruskan dua tangannya.

Teng Soan mengawasi delapan orang itu sejenak, kemudian bertanya: “Orang-orang ini apakah orang-orang kepercayaanmu semua?”

“Orang2 ini semua adalah tawanan yang hendak dihukum mati oleh Kun-liong Ong, lalu kutolongnya dan kuberikan obat pemunah racun untuk memunahkan racun dalam tubuhnya dalam pikiran ku, mereka seharusnya adalah orang2 kepercayaanku.”

Delapan orang itu semua memberi hormat dengan membongkokkan badan kemudian berkata: "Asal permaisuri ada perintah sekalipun disuruh mati kita juga tidak akan menolak.”

Nyonya Kun-liong Ong sambil menatap Teng Soa berkata dengan sikap sungguh-sungguh: “Sudah waktunya suheng harus pergi, selagi barisan Kun-liong Ong masih belum kokoh, kalian mungkin dapat menerjang keluar.”

Teng Soan berpikir sejenak, kemudian berkata. “Apakah Su-moy hendak diam disini?”

“Jangan kata aku sudah dimasuki jarum beracun oleh Kun- liong Ong, sehingga sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi, sekalipun aku dapat melarikan diri, juga tidak bisa pergi bersama-sama dengan kalian!”

“Su-moy benar, ia hendak mengurung kita di tempat ini, kemudian ia akan berusaha supaya hal ini tersiar luas di kalangan rimba persilatan, sehingga dapat menimbulkan prasangka bahwa diantara aku dengan Su-moy melakukan perbuatan durhaka sehingga menodai nama baik Su-moy.

“Oleh karena itu maka aku minta suheng lekas berlalu dari sini, supaya akal keji itu tidak tercapai maksudnya.”

“Meskipun aku tahu semua kejahatannya, tetapi bagaimanapun juga aku tidak dapat melupakan tali persaudaraan kita, maka selama itu aku tidak tega lurun tangan kejam terhadapnya tetapi melihat kelakuannya hari ini, jelas ia sudah tidak mempunyai prikemanusian, jikalau aku tidak membunuh bangsat itu, bagaimana aku harus menghadap kepada arwah suhu di alam baka?”

“Aku harya dapat mengatakan kejahatannya, tetapi tidak boleh mengeritik artinya dengan perkataan tajam ... “ berkata nyonya Kun-liong Ong sambil tertawa sedih, sejenak ia berdiam kemudian ia berkata pula : “Suheng harus lekas pergi, aku sudah merupakan orang yang sudah tidak dapat ditolong jiwa-ku lagi, barangkali juga akan kutolak.”

“Kalau begitu suhengmu kini mohon diri," berkata Teng Soan sambil menarik napas, kemudian membalikan badannya bertindak keluar.

Siang-koan Kie maju selangkah, ia jalan mendahului Teng Soan.

Nyonya Kun-liong Ong berseru : “Suheng tunggu dulu.” “Su-moy masih ada pesan apa lagi?” bertanya Teng Soan.

“Aku sudah sediakan delapan orang untuk melindungi dan mengantar suheng ... " berkata nyonya Kun-liong Ong, kemudian berpaling dan berkata kepada delapan laki2 tegap itu : “Kalian apabila menjumpai pertempuran sengit boleh turun tangan kejam sesuka hati kalian.”

“Kita semua sudah menerima budi permaisuri, sudah tentu membalas budi itu dengan jiwa kita,” menjawab delapan laki2 itu serentak.

“Apabila kalian beruntung masih bisa lolos dari kepungan, boleh ikut suhengku mengabdi kepada golongan pengemis!”

Delapan laki2 itu saling berpandangan sebentar satu diantaranya berkata sambil menundukan kepala, “Apakah permaisuri ingin kita berangkat dengan segera?”

Nyonya Kun-liong Ong menganggukan kepala dengan sedih dan berkata : “Di dalam dunia tak ada perjamuan yang tidak berakhir, kalian sekarang harus pergi!”

Laki2 itu dengan wajah murung dan suara sedih berkata, “Hari ini kita pergi, barangkali dikemudian hari sudah tidak dapat menemukan permasuri lagi, kita telah menerima budi besar, harap sudi menerima hormat kita yang penghabisan ...” Setelah itu delapan laki2 itu dengan serentak menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan nyonya Kun-liong Ong.

Nyonya Kun-liong Ong sekian lama mengawasi mereka dengan hati pilu, kemudian berkata dengan suara sedih : “Aku telah menolong kalian dari kematian, tetapi sekarang menyuruh kalian pergi menghadapi maut …, aih! Semoga kalian semua dapat keluar dari sini dengan selamat, supaya arwahku di dalam dunia nanti juga merasa tenang.”

“Kita semua sudah siap berkorban untuk permaisuri, sekalipun mendapat kesempatan hidup juga akan kutinggalkan jiwaku ini untuk mengadu jiwa dengan Kun-liong Ong," menyahut delapan orang itu serentak.

“Hingga sekarang ini, aku baru mengetahui kesetiaan hati kalian," berkata nyonya Kun-liong Ong kemudian menatap Teng Soan dan berkata kepadanya dengan suara perlahan, “Harap suheng baik2 menjaga diri ... ”

Tiba2 ia melengos, cepat masuk ke sebuah kamar diseblah kiri badannya gemetar jelas bahwa dalam hati nyonya agung itu, sedang mengalami penderitaan hebat, tetapi sehingga hilang bayangannya, ia tidak menoleh lagi.

Di luar jendela samar2 terdengar suara tangisan sedih dari tiga orang pelayan, dalam suasana yang penuh dengan bahaya maut, ditambah lagi dengan suasana menyedihkan, sehingga keadaan itu nampak semakin sunyi dan menyedihkan.

Delapan laki2 itu masih berlutut di tanah, tidak satupun yang berani mengangkat muka, sebab delapan laki2 itu gagah dan setia itu, lebih suka hancur lebur badannya, tetapi juga tidak suka mengucurkan air mata.

Siang-koan Kie berdiri diambang pintu, dengan telapak sepatunya ia menghapus darah di atas pedangnya, angin gunung meniup bajunya yang panuh dengan darah manusia. Mata Teng Soan menatap Siang-koan Kie sejenak tiba2 menarik napas dalam2, kemudian berkata kepada delapan laki2 itu. “Tuan2 sudikah disini menunggu aku sebentar biarlah aku mengantarkan Su-moy lebih dahulu?”

Semua orang tahu, bahwa saat itu waktunya sangat mendesak, lebih lekas berlalu dari situ lebih baik, namun demikian, orang2 itu semua agaknya lebih suka berdiam di situ, maka ketika mendengar pertanyaan Teng Soan, semua mengangukkan kepala sebagai jawaban.

Wajah Teng Soan yang serius, terlintas satu senyuman masam, sambil membereskan pakaiannya masuk menuju ke kamar sebelah kiri.

Dalam kamar itu sekitarnya terpancang kain sutra putih yang hampir sampai ke tanah, di tengah2 kamar terdapat sebuah peti mati, membujur dalam keadaan setengah terbuka.

Sekitar peti mati itu, juga ditumpuki banyak sutra putih dan lain2nya, hingga untuk sesaat orang tak dapat menduga apa sebetulnya itu.

Permaisuri Kun-liong Ong sudah mengenakan jubah panjang berwarna putih, sedang berlutut menghadapi dinding, agaknya tengah berdoa.

Rambutnya panjang dan hitam terurai di atas pundaknya yang diselubungi kain putih, rambut di atas pundaknya naik turun bagaikan ombak di laut, di dalam kamar yang tidak ada anginnya, keadaan itu menjadi suatu bukti bagaimana tergoncangnya pikirannya.

Begitu masuk dalam kamar, Teng Soan rasakan kesunyian dan keseraman suasana di dalam kamar itu, hatinya pedih seperti ditusuk oleh belati.

Lama, lama sekali, perempuan yang menamakan diri permaisuri Kun-liong Ong itu, lambat2 berpaling ke arah Teng Soan, meskipun air matanya sudah dipupus, tetapi itu masih belum melenyapkan tanda kebencian dalam hatinya, bibirnya tersungging suatu senyum sedih, kemudian berkata : “Mengapa suheng masih belum pergi?”

“Pertemuan kita sangat singkat, sekarang Su-moy sudah akan pergi mendahului suhengmu, jikalau suhengmu tidak mengantar sendiri, dalau hati merasa sungguh tidak enak," menjawab Teng Soan sedih.

“Keadaan demikian gawat, berdiam disini lebih lama satu detik, berarti menambah bahaya satu detik, apakah suheng tidak tahu?”

Teng Soan hanya berdiri terpaku dengan mulut bungkem.

Nyonya Kun-liong Ong menarik napas panjang katanya berkata : “Kalau suheng hendak bertekad begitu, aku juga tidak bisa memaksa, tetapi ... aih! Walaupun demikian, suheng juga tidak dapat menahan satu jam lagi ... ”

“Apakah ini berarti bahwa nyawa Su-moy hanya tinggal dalam waktu satu jam saja?" menanya Teng Soan terkejut.

“Bagiku, waktu satu jam itu kurasa terlalu lama ... " menjawab nyonya Kun-liong Ong sambil tertawa getir.

Ketenangan sikapnya itu, seolah2 sudah tidak mempunyai perasaan sayang terhadap jiwanya sendiri, wajahnya yang pucat pasi, menunjukkan ketenangan yang luar biasa, hanya sepasang biji matanya, yang nampak sekikis sinar kehidupannya, sehingga di atas wajahnya yang pucat, nampak mengandung banyak misteri.

Teng Soan dengan sangat pilu maju beberapa langkah, ia meraba2 barang2 yang menutupi kain sutra putih itu, ternyata merupakan kayu2 kering yang mudah terbakar.

Sepasang matanya yang tajam, tiba2 menunjukkan cahaya pudar, sebagai tanda bagaimana ia telah menahan kesedihan dalam hatinya, lambat ia mengangkat muka dan berkata: “Su- moy ... apakah ... apakah kau ... hendak membakar diri?” “Dimasa hidup aku tidak dapat mempertahankan kesucianku tetapi di waktu mati, aku harus mati secara bersih

... ", menjawab nyonya Kun-liong Ong sambil menundukkan kepala.

Ia mengulur tangannya dan meraba-raba kain sutera putih yang menutupi tumpukan kayu itu, dengan suara menggetar ia berkata pula: “Aku ingin api yang membara ini akan membakar diriku menjadi abu dan berterbangan kemana saja, supaya badanku tidak disentuh oleh manusia di dalam dunia ini.”

“Tetapi ..., tetapi ... “ berkata Teng Soan dengan suara gemetar.

Laki2 cerdik pandai yang sudah biasa memerintah utusan orang2 kuat dalam rimba persilatan dan menentukan sesuatu perkara besar selagi menghadapi keadaan gawat, belum pernah menunjukkan sikap gentar, tetapi pada saat itu suaranya sudah menjadi gemetar.

“Aku lebih suka badanku menjadi abu, juga tidak boleh diraba oleh Kun-liong Ong ... sejak ia memberi pengakuannya sesudah mabuk arak, kenistaanku selama beberapa puluh tahun, bagaikan cambuk yang setiap waktu memecut hatiku, kata2 dan gerak gerik setiap harinya semua itu meninggalkan kesan yang pahit getir dalam hatiku ”

Ia mengucapkan kata-katanya itu makin lama makin bernapsu, ketika bicara sampai di situ, tubuhnya gemetar hebat, wajahnya tiba2 terlintas suatu perasaan nyeri yang agaknya hendak ditahan sedapat mungkin.

“Su-moy, kau kenapa?" berseru Teng Soan.

Wajah nyonya itu perlahan2 nampak tenang kembali, di bibirnya tersungging suatu senyuman getir, katanya dengan suara perlahan: “Tuhan tahu penderitaan batinku, sekarang sudah memanggil aku supaya lekas pulang.” Sementara itu ia telah jalan dan masuk ke dalam peti yang setengah terbuka itu, matanya perlahan-perlahan dipejamkan, kemudian berkata sambil bersenyum getir: „Terima kasih suheng telah mengantar aku berangkat, aku ... ", tenggorokannya mendadak seperti terkancing, sehingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi.

Teng Soan berdiri sambil menundukkan kepala, ia berkata dengan suara sedih: ”Suhengmu sangat menyesal tidak mempunyai kekuatan untuk menentang nasibmu yang buruk ini, sehingga harus menyaksikan keberangkatan Su-moy secara menyedihkan ini ... kau ... aih, suhengmu sesungguhnya tidak ada muka untuk menjumpai arwah suhu dialam baka.”

Nyonya Kun-liong Ong dengan menahan kepedihan dalam hatinya, berkata sambil tersenyum: “Sekarang aku akan berangkat, selamanya aku akan bebas dan penderitaan hidup ini suheng seharusnya merasa gembira ... ", tiba2 ia melambaikan tangannya dan berkata pula : “Suheng, kau pergilah. Aku ... hendak ... tidur ... ”

Setelah itu lambat2 merebahkan dirinya ke dalam peti. Teng Soan setelah berdiri termanggu2, tiba-tiba menjerit :

“Suhengmu memohon diri!"

Setelah itu ia memutar tubuhnya dan keluar dari kamar.

Keadaan di luar kamar sunyi senyap, di depan laki2 tegap tadi, masih berdiri menghadap dikamar sambil meluruskan tangannya.

Siang-koan Kie juga masih berdiri didekat pintu, pedang di taNgannya sudah digosok mengkilat.

Teng Soan begitu keluar dari dalam kamar, segera disambut oleh pandangan mata sembilan orang itu dengan perasaan sedih. Ia tidak berani menghentikan kakinnya, hanya mengangguk2an kepala kepada mereka kemudian berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Siang-koan Kie lalu berkata kepada delapan laki-laki itu : “Saudara2, mari kita pergi ... “

Sambil menenteng pedangnya ia berjalan lebih dahulu, kemudan diikuti oleh delapan laki2 itu.

Tiga pelayan wanita nyonya Kun-liong Ong, bukan saja sekujur badannya sudah penuh darah, sikapnya juga sudah berobah murung, agaknya sudah kehabisan tenaga.

Rombongan pengawal baju hitam, meskipun semua sudah kabur sembunyikan diri, tetapi di dalam rimba sebelah barat, kadang2 nampak berkelebatnya sinar dari senjata tajam, di atas tanah datar, tumbuhan alang2 tertiup angin sehingga bergoyang-goyang tidak berhentinya, di situ, di dalam tumbuhan alang2 yang lebat suka tersembunyi ancaman bahaya, hanya danau yang letaknya disebelah timur, yang nampaknya tenang, agaknya tidak terdapat tanda2 bahaya.

Ketika Siang-koan Kie jalan di depan tiga pelayan wanita itu, ia berkata kepada mereka : “Nona2 mari ikut kita untuk mengejar keluar!”

Tiga pelayan itu memandang kepadanya sejenak lalu menyahut : “Apakah permaisuri sudah pergi?”

Mereka bertiga agaknya bersatu hati, hampir bersamaan mengajukan pertanyaan yang sama.

Siang-koan Kie menghela napas panjang dan menganggukkan kepala.

Tiga pelayan itu berpandangan satu sama lain, wajah mereka sangat sedih, sesaat itu seperti orang bingung, seolah2 kehilangan semangat. Salah satu diantaranya, sebaliknya malah bersenyum sedih kemudian berkata : “Permaisuri kita sudah pergi, kita juga sudah tidak mempunyai tugas lagi!”

Setelah itu, tiba2 menghunus pedangnya dan ditabaskan kepada lehernya sendiri.

Siang-koan Kie menjerit terkejut, tetapi sudah tidak keburu menolong hingga nyawa pelayan yang setia itu melayang seketika itu juga, untuk pergi menyusul junjungannya.

Dua pelayan lagi tiba2 berseru serentak : “Enci tunggu kita, kita juga akan berangkat!"

Setelah berkata demikian, secepat kilat menghunus pedang mereka dan menghabiskan jiwanya sendiri.

Terjadinya perobahan itu demikian mendadak, bukan saja mengejutkan Teng Soan dan delapan laki2 itu, sekalipun Siang-koan Kie yang sangat gesit, juga tidak keburu turun tangan, sehingga berdiri terpaku beberapa lamanya!

Lama sekali ia baru bisa mengeluarkan suara : “Kalian sungguh setia, hanya perbuatan kalian ini sangat bodoh, kalau tokh mau mati, mengapa tidak mengadu jiwa dengan musuh2 kalian supaya mereka juga berkorban beberapa jiwa.”

Tiba-tiba terdengar suara letusan nyaring, api berkobar di dalam gubuk itu ...

Api berkobar sangat hebat, dalam waktu sekejap mata saja sudah menelan gubuk itu, jelas bahwa nyonya Kun-liong Ong, sebelumnya sudah menanam bahan peledak dan yang mudah terbakar untuk membakar mayatnya.

Dengan demikian, telah mengakhiri jiwanya seorang wanita cantik yang nasibnya sangat malang itu.

Teng Soan perlahan-lahan menundukkan kepalanya sambil mendoa: “Su-moy, semoga arwahmu bisa bersemayam dengan tenang dialam baka, aku ... .. aku ... ," hatinya merasa sangat pilu sehingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

Siang-koan Kie tiba-tiba lompat melesat sambil berseru: “Saudara-saudara, mari ikut aku menerjang ke luar, untuk menyikat musuh-musuh kita dan menuntut balas dendam permaisuri.”

Delapan laki-laki itu berteriak dengan serentak, “Mari serbu musuh kita!”

Dengan napsu berkobar dan semangatnya menyala-nyala sembilan orang itu hendak menggempur musuh-musuhnya.

Delapan laki-laki itu mengikuti Teng Soan yang berjalan dibelakang Siang-koan Kie menuju kel tanah datar dengan masing-masing senjata di tangan. Siang-koan Kie berjalan sambil membolang balingkan batang pedangnya, mulutnya berkaok kaok: ”Dengar orang-orang Kun-liong Ong, siapa yang memiliki keberanian, silahkan keluar menghadapi kita."

Belum lagi menutup mulutnya, tanah datar yang disangka nya tidak ada orangnya itu, tiba2 terdengar suara tertawa terbahak-bahak dengan dibarengi kata-kata: “Orang yang akan mengantarkan jiwa sudah datang.”

Diantara gelak tertawa, dalam semak-semak tiba-tiba lompat keluar tiga puluh enam laki-laki berpakaian hitam, dengan pedang panjang di tangan masing-masing.

Tempat berdiri tigapuluh enam laki-laki itu, nampaknya tidak teratur, tetapi sebetulnya menurut baris yang sudah ditetapkan, jarak antara mereka berdiri, tidak sampai tiga- kaki, jarak sedekat itu dapat dicapai oleh gerakan senjata.

Teng Soan memandang mereka sejenak, kemudian berkata: “Tuan-tuan tunggu sebentar, biarlah aku periksa dulu kunci perobahan barisan ini, jikalau kita berhasil memecahkan kuncinya, barulah tuan-tuan menyerbu.” Delapan laki-laki itu berhenti bertindak, mata mereka mengawasi setiap tindakkan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie memutar pedangnya, sehingga dirinya seolah-olah terkurung oleh sinar pedang, dengan caranya itu ia menyerbu ke dalam barisan aneh itu.

Dua diantara laki-laki itu, setelah mengeluarkan suara bentakan keras, lalu menyambut kedatangan Siang-koan Kie dengan suatu gerakan mengacip.

Sebentar terdengar suara beradunya senjata, pedang Siang-koan Kie telah berhasil membuat terpental dua pedang kedua lawannya, tanpa menghentikan kakinya. ia terus menyerbu ketiga laki-laki, pedangnya mengarah pergelangan tangan tiga laki-laki itu.

Laki2 ketiga itu mengelakkan diri tidak balas menyerang, setelah ia menyingkir, pedang dari laki-laki keempat telah menikam rusuk Siang-koan Kie dari sebelah kiri.

Pedang Siang-koan Kie diputar membalik, gagang pedang digunakan untuk menotok jalan da rah Ciok-tie-hiat dibadan laki2 keempat, ujung pedang digunakan untuk menikam laki2 yang kelima, sedangkan gerakannya digunakan menyerbu laki2 yang keenam, sementara itu kakinya menendang pinggul laki2 yang ketiga, semua gerakan itu dilakukan cepat sekali.

Dengan satu gerakan ia melancarkan serangan terhadap empat orang, bagaikan empat serangan orang berkepandaian tinggi, yang dilancarkan dengan serentak.

Akibat serangan itu menimbulkan reaksi yang berlainan, ada yang berseru terkejut, ada yang terheran-heran, ada juga suara beradunya pedang, kemudian sebilah pedang lawannya terpental jatuh di tanah.

Bagaikan harimau kelaparan Siang-koan Kie mengamuk demikian rupa, pedangnya diputar bagaikan titiran, terus menyerbu musuh-musuhnya. Anak buah Kun-liong Ong itu, semuanya merupakan tenaga pilihan di kalangan Kang-ouw mereka juga sudah banyak berpengalaman, tetapi belum pernah menyaksikan jago muda yang demikian tangkas dan gagah perkasa.

Karena serangan Siang-koan Kie yang hebat itu hingga barisan aneh itu sebentar saja sudah jadi kalut.

Teng Soan dengan penuh perhatian, memperhatikan segala perobahan yang terjadi dalam barisan itu, ia berdiri bagaikan patung, hingga setiap perubahan barisan itu, satupun tidak ada yang lolos dari matanya.

Delapan laki2 itu hanya menyaksikan berkelebatnya sinar pedang dan pertempuran sengit itu, hampir tidak bisa bernapas.

Selama pertempuran sengit itu berlangsung, tiba2 terdengar suara siulan yang nyaring.

Siang-koan Kie melesat tinggi dari dalam barisan, kemudian berjumpalitan di tengah udara, setelah itu lalu menukik dan melayang turun ke tanah.

Waktu kakinya menginjak tanah, napasnya terengah- engah, badannya sudah basah kuyup sedang pakaiannya penuh darah merah, dibahagian lengan terdapat banyak lobang.

Dapatkah Siang-koan Kie melindungi Teng Soan keluar dari tempat yang penuh bahaya itu?

Dapatkah putri Kiang Su Im ditolong dan dibawa pulang kepada ayahnya?

Silahkan membaca bagian lanjutannya.

-oo0dw0oo-