ISMRP Jilid 18

 
Jilid 18

Dua imam berbaju hitam yang tiba terdahulu itu, sedikitpun tidak mempunyai pengalamaan, apa yang terpikir dalam hatinya segera diwujudkan dalam sikapnya mereka nampaknya demikian tegang dengan berpencaran kekanan kiri, terus mengikuti dibelakang Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw.

Siang-koan Kie tersenyum dan berkata ;

„Dari suhu sudah lama aku dengar nama Yang-goan Totiang dari Bu-tong-pay, baik juga kita pergi mengunjunginya."

Touw Thian Gouw berpaling mengawasi dua-imam itu sejenak, lalu berkata sambil tertawa :

„Berdua Toheng, tidak perlu gelisah, kita tokh tidak akan lari."

Dua imam itu saling berpandangan sebentar, muka mereka merah seketika.

Yang Ceng dengan tindakan lebar ajak mereka, sehabis melalui jalan kuburan tua itu, dari jauh nampak sebuah kuil kecil yang sudah rusak keadaannya. Siang-koan Kie berpaling mengawasi imam yang berada dibelakangnya, lalu bertanya

“Ketua kalian berada dimana? Apakah masih jauh tempatnya?"

“Ketua kita sekarang berada didalam kuil kecil itu," menjawab imam tua itu sambil menunjuk kuil kecil yang sudah rusak keadaannya.

Sebentar kemudian tibalah mereka didepan kuil kecil yang sudah rusak itu.

Kuil kecil itu, didalamnya hanya terdapat tiga buah ruangan, begitu masuk pintu, segala apa yang ada didalam kuil bisa dilihat dengan nyata.

Seorang imam tua yang rambut dan jenggotnya sudah putih seluruhnya, duduk bersila disamping meja sembahyang, imam itu memejamkan dua matanya, sikapnya agung, sehingga menimbulkan rasa hormat bagi yang melihatnya,

“Jiwie harap tunggu sebentar, pinto hendak melaporkan diri. " berkata Yang Ceng Totiang dengan suara perlahan.

Imam tua yang duduk sambil memejamkan mata itu tiba2 membuka matanya dan berkata ;

„Tidak usah."

Yang Ceng buru2 berkata sambil merangkapkan kedua tangannya ;

“Siaote telah berhasil mengajak kemari dua orang yang kenal baik dengan gerakkan Kun-liong Ong. '”

imam tua itu bersenyum, kemudian berkata ; “Jiwie silahkan masuk!"

Touw Thian Gouw masuk lebih dulu, lalu di-ikuti oleh Siang- koan Kie, sesudah berada dihadapan imam itu sejarak kira2 lima kaki, mereka memberi hormat sambil berkata ; “Totiang "

“Pinto Yang Goan, belum tahu bagaimana sebutan Jiwie Congsu yang terhormat?" kata imam tua itu sambil tersenyum.

“Boanpwee Touw Thian Gouw," memperkena1kan dirinya sambil memberi hormat.

„Boanpwee Siang-koan Kie," berkata Siang-koan Kie sambil menghormat.

Yang Goan menganggukan kepala dan berkata sambil tertawa ;

“Didalam kuil bobrok tanah pegunungan yang sepi, sehingga tidak ada bangku yang dapat digunakan untuk tetamu duduk. Jiwie Congsu terpaksa pinto silahkan duduk dilantai saja!"

Siang-koan Kie dan Toaw Thian Gouw menurut duduk diatas lantai, Siang-koan Kie lalu berkata .

“Locianpwee undang kita datang kemari, entah ada keperluan apa?"

“Bukan untuk apa2, hanya minta sedikit keterangan dari Jiwie Congsu, " menjawab Yang Goan.

“Totiang silahkan saja," berkata Touw Thian Gouw.

Sepasang mata Yang Goan yang tajam menatap pakaian yang dikenakan oleh Touw Thian Gouw, kemudian berkata :

“Pinto karena usia sudah terlalu lanjut, sepuluh tahun berselang sudah mengundurkan diri, tidak mau mencampuri urusan dalam rimba persilatan lagi, tak disangka, dalam sepuluh tahun ini didalam rimba persilatan ternyata sudah terjadi perobahan yang sangat mengejutkan, bahkan ada banyak hal, yang langsung menyangkut diri pinto, oleh karena itu, terpaksa aku siorang tua yang sudah lama mengundurkan diri ini, mau tidak mau harus terjun lagi kedunia Kang- uow......Pinto lihat pakaian Tow Congsu sangat mirip dengan pakaian seragam pengawal baju hitam yang tersiar didalam dunia Kang-ouw, pinto tidak tahu apakah dugaan Pinto ini tepat atau salah?"

“Dugaan Totiang memang tidak salah, pakaian yang boanpwee pakai ini, memang pakaian seragam pasukan pengawal baju hitam," berkata Touw Thian Gouw terus terang.

„Kalau demikian halnya, jadi Touw Congsu adalah seorang yang mumpunyai kedudukan baik dibawah Kun-liong Ong," berkata Yang Goan sambil menganggukkan kepala.

”Jikalau boanpwee berkata, barangkali agak sulit Totiang mau percaya, meskipun boanpwee mengenakan pakaian seragam pengawal Kun-liong Ong akan tetapi bukanlah orangnya Kun-lioa Ong."

“Perkataanmu ini memang benar, Pinto tidak habis mengerti. "

Pada saat itu diluar kuil tiba2 terdengar suara Yang Ceng berkata ; “Sicu harap tunggu sebentar didalam kuil sedang ada tetamu ”

Dari pembicaraan Yang Ceng itu, jelas ada orang datang yang hendak langsung memasuki kuil tua itu.

Orang itu agaknya tidak mendengar atau tidak menghiraukan perkataan Yang Ceng tadi, karena segera disusul oleh suara Yang Ceng yang agak keras; Minta kau menunggu, kau dengar atau tidak?"

Kini terdengarlah suara jawaban orang itu yang dingin kaku; ”Sudah dengar, tetapi kau mau apa?"

Yang Ceng lalu berkata; “Sudah dengar tetapi kau tidak mau tunggu, ini berarti kau sengaja mencari ribut dengan Pinto." Suara Yang Ceng itu kedengarannya semakin dekat, mungkin orang itu hendak memaksa masuk hingga Yang Ceng terpaksa mengucapkan perkataaanya itu sambil mengejar.

Terdengar pula suaranya orang itu: “Kaki tangan tidak ada matanya, kau berani menghalang dihadapanku, apabila terluka ditanganku, kau jangan sesalkan aku."

Yang Goan yang mendengarkan pertengkaran mu-lut itu mengerutkan alisnya yang putih panjang, kemudian berkata kepada Yang Ceng;

„Yang Ceng, biarkan dia masuk."'

Tidak lama kemudian seorang tua berbaju hijau dengan mendukung seorang gadis berambut panjang yang terurai kebawah, berjalan masuk dengan tindakan lebar.

Siang-koan Kie segera dapat mengenali orang tua itu, adalah orang tua yang pernah berlindung dalam, tempat pertahanan golongan pengemis ditanah datar yang digunakan sebagai medan pertempuran dengan orang2 Kun-liong Ong, maka segera memberi hormat seraya berkata;

“Locianpwee."

Orang tua itu hanya menganggukkan kepala, matanya menatap Touw Thian Gouw, kemudian perdengarkan suara tertawa dingin, dan secara mendadak tangannya bergerak untuk menyerang.

Suatu kekualan tenaga dalam yang kuat, meluncur keluar dari tangannya.

Siang-koan Kie yang kebetulan duduk berhadapan dengan orang tua itu, sangat khawatir Touw Thian Gouw terluka ditangannya, maka buru-buru angkat tangannya untuk mencegah serangan itu. . Ketika kedua kekuatan tenaga saling beradu, Siang koan Kie merasa tergoncang hebat, sehingga tanpa dirasa sudah roboh kesamping,

Yang Goan dengan cepat mengulur tangannya menanggapi tubuh Siang-koan Kie, sehingga tidak jatuh.

Siang-koan Kie diam-diam mengagumi kekuatan tenaga orang tua itu.

Sementara itu orang tua itu sudah berkata sambil tertawa dingin;

„Bocah, kau ternyata sanggup menyambut serangan tanganku."

„Locianpwee terlalu memuji," berkata Siang-koan Kie sambil tersenyum.

Yang Goan Totiang tersenyum dan berkata;

“Kiang Tayhiap, ternyata juga ikut terlibat dalam pertikaian dunia Kang-ouw."

“Sudah aku dengar kau sudah mengundurkan diri, tidak mau tahu urusan dunia Kang-ouw lagi, sungguh tak kusangka, kau juga ikut2an dalam keramaian ini," berkata orang tua itu sambil tertawa;

“Pin-to seorang tidak berguna, dahulu karena kesalahan menanam bibit, sekarang buahnya itu meskipun pahit, mau tidak mau juga harus menerima," berkata Yang Goan sambil menghela napas,

Orang tua berbaju hijau itu tiba2 menghela napas panjang, ia meletakkan anak perempuannya dari dalam pondongannya.

Siang-koan Kie tiba-tiba bertanya :

“Apakah luka putri locianpwee sudah agak baik?' Orang tua itu tiba2 mengangkat muka, dengan sinar mata tajam menatap wajah Siang-koan Kie lama sekali, agaknya hendak marah.

Siang-koan Kie terpaksa harus waspada sedang dalam hatinya diam2 berpikir; ”Orang tua ini benar-benar sangat aneh, aku menanyakan secara baik, mengapa ia hendak marah?"

Orang tua itu berkata :

“Kau bocah ini, keberanianmu sungguh besar, apakah kau tidak takut setelah kau merasakan seranganku tadi?"

“Boanpwee bertanya dengan maksud baik......'” berkata Siang-koan Kie.

“Urusanku selamanya tidak ingin minta perhatian orang lain, dalam hal ini kau sudah melanggar pantanganku."

Siang-koan Kie terpaksa diam sementara dalam hatinya merasa geli menghadapi orang yang demikian aneh.

Yang Goan Totiang meskipun kenal baik dengan orang tua itu, tetapi tidak suka banyak bicara dengannya, ia berkata sambil mengawasi Siang-koan Kie:

“Touw Congsu ini, kalau benar bukan orangnya Kun-liong Ong, tetapi ia memakai pakaian seragam pengawal hitam, Pin- to sesungguhnya tidak habis mengerti apa sebabnya?"

“Orang-orang yang sedang bermusuhan, masing2 menggunaka akal muslihat, satu sama lain mengirim orang2nya yang pandai sebagai mata2 untuk mencari keterangan keadaan musuh, dalam hal ini Locianpwee tidak perlu khawatirkan dirinya," berkata Siang-koan Kie.

“Kun-liong Ong banyak akal bangsatnya, apabila Touw Congsu tidak dapat mengeluarkan bukti, Pinto sesungguhnya kurang percaya," berkata Yang Coan.

Orang tua berbaju hijau itu tiba2 berkata: “Toheng tidak perlu banyak curiga, orang ini adalah seorang yang namanya sangat terkenal diluar perbatasan daerah Tiong Goan, dia bukanlah anak buah Kun-liong Ong, apabila salah, semua ini aku siorang tua yang akau bertanggung jawab."

“Kalau Kiang tayhiap sudah berkata demikian bagaimana Pinto tidak percaya?" berkata Yang-Coan sambil tertawa.

Tiba2 terdengar suara sangat lemah yang keluar dari mulut gadis Itu;

“Aku haus, aku hendak minum air.. aku....aku.   "

Orang tua berbaju hijau itu terhadap orang lain meskipun sikapnya dingin, tetapi terhadap anaknya sendiri, demikian sayang, sambil didukungnya ya berkata:

“Anak baik, jangan merintih lagi......" kemudian ia mengangkat muka dan berkata:

“Tuan2 siapa yang membawa air?”

Touw Thian Gouw segera menyerahkan tempat airnya kepada Siang-koan Kie dan berkata padanya dengan suara perlahan;

“Saudara, kau berikanlah kepadanya."

Siang-koan Kie tercengang, tetapi ia segera menyambut tempat air yang diberikannya kemudian di serahkan kepada orang tua seraya berkata;

“Locianpwee "

Orang tua itu menyambut botol air yang diberikan, juga tanpa menyatakan terima kasih; segeraa memondong anaknya dan segera berdiri, kemudian berjalan keluar.

Siang-koan Kie mengawasi berlalunya orang tua itu, pikirannya sangat heran atas sifat aneh orang tua itu.

Yang Goan Totiang segera berkata; “Lam Ong Kiang Su Im, namanya sangat terkenal dengan sifatnya yang aneh itu, selama hidupnya, belum pernah mau menerima bantuan orang lain, ia selalu bertindak menuruti kesenangannya hatinya sendiri, tetapi orang ini kecuali perangainya yang aneh luar biasa dan dingin ketus tidak kenal aturan terhadap orang, namun tindak tanduknya, tidak menunjukkan kejahatan."

Siang-koan Kie segera bertanyi sambil tertawa:

“Sudah berapa lamakah locianpwee kenal dengannya?" “Sudah beberapa puluh tahun, tetapi kita sudah seperti

tidak kenal satu sama lain." berkata Yang Goan.

Siang-koan Kie tiba2 menghela napas panjang dan berkata;-

“Seorang yang mempunyai adat demikian aneh, dalam hidupnya tentu susah mendapat sahabat, ini juga merupakan suatu hal yang sangat menyedih-kan."

“Kejadian dalam dunia, kadang tidak seperti apa yang dipikir oleh minusia, seandai Pinto juga mempunyai adat aneh seperti Kiang Su Im itu, juga tidak sampai melakukan kesalahan besar seperti sekarang ini, yang membuat pinto sangat menyesal seumur hidup," berkata Yang Goan sambil menghela napas.

“Locianpwee seorang berkedudukan tinggi, nampaknya sangat terkeaal diseluruh rimba persilatan siapa yang tidak junjung tinggi locianpwee? Bagamana dapat disamakan dengan Kiang Su Im?"

“Justru karena hatiku terlalu lemah dan cinta kasihku terlalu tebal terhadap sesama manusia, sehingga membawa akibat sekarang ini, aih, kalau dipikir sesungguhnya sangat mengenaskan." “Sudikah kiranya locianpwee menceritakan sebab-sebab yang menimbulkan akibat itu, supaya boanpwee menambah sedikit pengetahuan?"

Sepasang mata Yang Goan tiba-tiba memancarkan sinar tajam, dengan bergiliran menyapu wajah Siang koan Kie dan Touw Thian Gouw, kemudian berkata;

“Pada empat puluh tahun berselang, jikalau bukan disebabkan kelemahan hati Pin-to yang menolong seorang terluka parah sudah harnpir mati ditepi jalan, maka rimba persilatan hari ini, sudah tentu tidak akan ada raja iblis yang menamakan diri Kun-liong Ong itu."

Siang-koan Kie tercengang, ia berkata;

“Kalau begitu Totiang pernah menolong jiwa orang yang menamakan diri Kun-liong Ong itu?"

“Jikalau bukan karena kesalahan Pinto yang, menolong dirinya, maka dalam dunia sekarang ini juga tidak ada Kun- liong Ong lagi........ ai Andaikata kala itu Pinto hanya menolong saja jiwanya dan tidak menurunkan kepandaian ilmu silat Bu-tong-pay kepadanya, mungkin juga tidak sampai kejadian seperti sekarang ini. Apa mau kala itu karena Pinto ingin menurunkan kepandaian pinto kepadanya, tanpa dirasa, orang itu sudah berdiam beberapa bulan digunung Bu-tong- san, karena bakatnya yang luar biasa, meskipun hanya beberapa bulan saja, tetapi ia sudah berhasil mempelajari banyak ilmu silat golongan Bu-tong, untung waktu itu Pinto segera ingat bahwa ia bukan orang golongan Bu-tong; bagaimana boleh diberi pelajaran ilmu silat Bu-tong seluruhnya, maka Pinto segera menghentikan dan pergi merantau. "

Siang-koan Kie terkejut, ia bertanya;

„Apakah orang itu adalah yang kemudian menamakan diri Kun-liong Ong?" “Waktu itu dalam dunia rimba persilatan belum ada orang yang bernama Kun-liong Ong, ia sebetulnya hanya seorang murid murtad dari golongan siao-liem-pay, yang dikejar dan dihajar hampir mampus oleh padri Siao-liem-sie, sehingga roboh ditepi jalan. "

Yang Goan mengliela napas panjang dan berkata pula; “Aih! Apabila kedatangan Pinto agak terlambat, !ia juga

sudah binasa karena luka lukanya atau sudah dimakan oleh

binatang buas”

“Apabila lukanya ringan, Pinto juga tidak akan bembawanya pulang untuk diberi pertolongan. Apa loleh buat ketika Pinto sedang berjalan dan karena melihat ia terluka parah dan sudah harnpir binasa, sebagai seorang yang menganut pelajaran agama Budha, Pinto tidak dapat berpeluk tangan menyaksikan begitu saja, oleh karena luka didalamnya terlalu hebat, bukanlah hanya dengan pertolongan obat- obatan saja yang dapat menyembuhkan, Pinto terpaksa menggunakan kekuatan tenaga dalam disalurkan kedalam badannya untuk menyembuhkan luka dalam dirinya, tak disangka maksud baik itu kemudian telah menimbulkan akibat seperti sekarang ini."

„Maksud locianpwee menolong jiwa orang, itu adalah suatu perbuatan luhur dan menjadi kewajiban bagi manusia, bagaimana dapat disalahkan?”

“KesaIahan yang tidak disengaja itu, masih dapat dimaafkan, tetapi kesalahan yang disengaja, itulah yang menjadikan sesal seumur hidup bagi Pinto."

“Apakah artinya ini? Boanpwee tidak mengerti."

“Setelah Pinto menolong jiwanya, seharusnya sudah saja, tak disangka pada setengah tahun kemudian ia telah datang kegunung Bu-tong-san, waktu itu Pinto sudah melihat bahwa hati orang itu kurang baik, tetapi karena Pinto merasa sayang akan bakatnya yang luarbiasa maka timbullah pikiran hendak menciptakan seorang luarbiasa bagi golongan Bu-tong-pay, Pinto ingin menarik ia menjadi murid Bu-tong-pay, lalu menurunkan kepandaian Pinto kepadanya, semangatnya belajar oran itu sesungguhnya patut dipuji, Pinto diam2 juga merasa girang, karena mengharap dikemudian hari ia akan mengangkat nama golongan Bu-tong-pai dirimba persilatan. Aih: Justru karena pikirannya yang ingin mengangkat nama baik golongan Bu- tong-pay dan kagum akan bakatnya, sehingga menciptakan kekeruhan seperti sekarang ini."

“Dia setiap hari dan malam mendapat didikan Totiang, apakah sedikitpun tidak merobah dirinya menuju kejalan yang baik."

“Jikalau ia berobah baik, tentunya tidak ada kejadian seperti hari ini. Sang waktu sangat pesat, sejak ia berada digunung Bu-tong-san tanpa dirasa dua tahun sudah berlalu, selama dua tahun itu, ia belum pernah turun gunung, ilmu silatnya mendapat kemajuan demikian pesat, ia sudah mewarisi harnpir delapan bagian seluruh kepandaian-ku. Selagi Pinto ingin menurunkan ilmu silat Thii kek-koan, ilmu simpanan Bu-tong-pay, tiba2 Pinto mendapat kunjungan dua padri dan Siao-liem-sie, dua padri itu berkedudukkan tinggi, maka Pinto undang mereka masuk kekuil, dalam psmbicaraan kedua padri itu segera menyalahkan Pinto yang tidak seharusnya menerima murid Siao-liem-sie yang murtad, waktu itu meskipun Pinto menyadari tetapi masih mencoba melindungi murid yang murtad itu." 

“Apakah karena itu sehiugga locianpwee menanam bibit permusuhan dengan Siao-liem-sie?"

“Tidak-tidak, masih untung sewaktu Pinto mendengar keterangan mereka dan lukisan wajah dan bentuk murid murtad itu ternyata sangat mirip dengan orang itu, waktu itu segera perintah orang upaya minta orang itu segera datang menghadap, asal ia dapat menjelaskan sebab-sebabnya meninggalkan Siao-liem-sie, Pinto scbetulnya sudah sedia untuk membela dirinya, tak disangka dicari kesana kemari, ternyata tidak berhasil diketemukan."

“Orang2 yang berbuat salah memang selalu ketakutan, mungkin ia sudah kabur."

“Kabur masih tidak apa, tidak seharusnya waktu ia turun gunung, telah membunuh seorang sutenya yang ditugaskan menjaga jalan keluar gunung itu."

“Kiranya begitu......." berkata Siang-koan Kie sambil mengerutkan slisnya.

“Kita partai Bu-tong pay sejak terjadinya itu, kejadian itu, Pinto juga tidak dapat menjelaskan duduk perkara sebenarnya kepada dua padri siao-lim-sie itu, Pinto terpaksa memberitahukan kepada mereka bahwa Pinto sudah menyuruh dia turun gunung untuk melakukan sesuatu pekerjaan, satu bulan kemudian pasti pulang, maka meminta dua padri itu datang lagi satu bulan kemudian.. ." berkata Yang Goan sambil menghela napas perlahan,

“Pinto sebetulnya berpikir bahwa dalam waktu satu bulan pasti dapat mengejar jejak murid yang jahat itu, baik tertangkap 'hidup maupun dibunuh mati, setidak2nya dapat menyelesaikan urusan ini kepada Siao-lim-sie, tak disangka apa yang terjadi dikemudian hari ternyata jauh diluar dugaan Pinto."

“Bagaimana, apakah tidak berhasil mengejar jejak orang itu?"

“Sudah berhasil mengejarnya, tak disangka ia telah memberi perlawanan, empat anak murid golongan bu tong pay terluka ditangannya. Bu-tong-pay terluka ditangannya. sewaktu Pinto mendengar kabar itu, terpaksa pergi mengejar sendiri, tetapi ia sudah merat. " 

“Kun-liong Ong memang sangat licik, hendak menangkap hidup dirinya, bukankah suatu perkara yang mudah. “Pinto merasa sedih menyaksikan anak murid golongan kita yang terbinasa dan terluka ditangannya apabila waktu sebelumnya Pinto tidak serakah dengan bakatnya, atau ingin mengangkat nama golongan Bu-tong-pay, sudah tentu tidak akan terjadi tragedi yang menyedihkan itu "

Imam tua itu agaknya merasa sangat pilu, lama ia berdiam, baru melanjutkan penuturannya;

“Waktunya padri Siao-lim-sie datang lagi untuk mengambil muridnya yang murtad semakin hari semakin dekat. Pinto sangat gelisah bagaimana harus menjawab kepada mereka? Tetapi anak murid yang Pinto kirim untuk menyelidiki jejaknya, tidak satupun yang kembali dengan membawa kabar yang sebenarnya, sehingga satu hari dimuka sebelum hari yang Pinto janjikan dengan dua padri Siao-lim-sie itu tiba, barulah Pinto menerima kabar yang dikirim oleh salah seorang murid dengan perantaraan burung dara pos, menurut laporan itu, katanya didaerah Khay-hong, telah muncul seseorang yaug menamakan diri Kun-liong Ong, oleh karena keadaaah sudah mendesak, Pinto terpaksa meninggalkan surat untuk dua padri Siao-lim-sie itu, menjelaskan duduk perkaranya, kemudian Pin- to turun gunung langsung menuju kekota Khay-hong. "

“Sudahkah Totiang menjumpai Kun-liong Ong? bertanya Siang-koan Kie.

„Meskipun Pinto tidak menemukan dia, dikota itu, tetapi soal mengenai adanya dia dikota Khay hong sedikitpun tidak salah." ‘Bagaimana locianpwee mengetahui dengan pasti?"

“Kedatangan Pinto terlambat setindak, dua murid Bu-tong- pay yang mengejar jejaknya, sudah mati terbunuh olehnya diluar kota Khay-hong."

Siang-koan Kie menghela napas panjang, kemudian berkata

:

“Orang ini benar2 berhati kejam bertangan ganas,

sesungguhnya jarang ada didalam dunia." “Sejak golongan kita mengalami banyak kematian, Pinto sudah mengeluarkan perintah kepada semua anak murid, siapa saja yang melihat murid durhaka itu, harus segera berusaha memberitahukan kepada Pinto, jangan bertindak sendiri mencoba menangkapnya, Pinto yakin kecuali Kun-liong Ong semua murid tidak ada satupun yang berani melawan perintah Pinto.

“Maka itu, kematian dua anak murid itu, sudah pasti bukan mereka yang bertindak sendiri.

Setelah Kun-liong Ong membinasakan mereka, mungkin ia sudah mengetahui ada orang yang mengintai jejaknya, maka ia segera membunuhnya.

Kematian dua orang itu menunjukan tanda yang tidak memberi perlawanan sedikitpun juga-tidak ada tanda darah, entah dibinasakan, dengan cara bagaimana?"

“Apakah lociapwee belum pernah melihat dia?'' Jenggot putih Yang Goan Totiang tiba2 nampak gemetar, mungkin hatinya tergoncang hebat, lama ia berpikir baru berkata ;

“Sudah."

Siang-koan Kie menyesal, ia tahu bahwa pertanyaan yang tidak sengaja itu, telah membangkitkan luka dalam hati Yang Goan Totiang, tetapi perkataan sudah terlanjur keluar, sudah tentu tidak dapat ditarik kembali.

Yang Goan Totiang mengurut2 jenggotnya yang panjang kemudian berkata :

“Ketika Pinto menyaksikan jenazah dua anak murid itu, kemurkaan Pinto harnpir tidak dapat terkendalikan, Pinto telah bertekad hendak mencari murid durhaka itu, tidak perduli keujung langit atau kedasar lautan.

Setelah pinto mengubur jenazah dua anak murid itu, dengan seorang diri Pinto melanjutkan perjalanan menuju keutara, tak disangka disungai Huang-ho Pinto telah berjumpa dengannya. Waktu itu orang yang menyeberang sungai jumlahnya terlalu banyak, Pinto meskipun harnpir tidak dapat mengendalikan perasaan hati, tetapi masih khawatir apabila sampai terjadi perkelahian sudah tentu akan menimbulkan banyak korban orang-orang ang tidak berdosa. Terpaksa Pinto membujuknya dengan perkataan manis supaya ia ikut Pinto pulang, tak disangka murid durhaka itu sudab mempunyai rencana sendiri, ia menerima baik permintaan   Pinto dan selagi berjalan dipantai sungai Huang-ho yang agak sepi, tiba- tiba ia menghunus pedangnya dan melawan Pinto. "

Siang-koan Kie dapat kenyataan dari sikapnya imam tua itu yang ternyata masih sangat marah dan' tidak dapat melupakan kejadian itu.

Lama sekali Yang Goan berdiam, sehingga Siang koan Kie dan Touw Thian Gouw tidak berani ber suara.

Entah berapa lama telah berlalu, baru terdengar suara helahan napas Yang Goan Totiang yang kemudian berkata;

“Tiga jam lebih Pinto bertempur dengan murid durhaka itu, sehingga lohor masih belum diketahui siapa yang menang dan yang kalah. ilmu silat yang dipelajari olehnya itu, ternyata terdiri dari banyak golongan, kecuali ilmu silat golongan Bu- tong dan Siao-hem, masih mempunyai kepandaian ilmu silat yang aneh-aneh, pinto terpaksa mengeluarkan kepandaian ilmu simpanan Bu-tong, Tay-kek Hui-kiam, untuk melawannya, sehingga tidak sampai terluka ditangannya, akan tetapi akhirnya ia masih bisa merat waktu hendak berlalu, ia menyerbarkan bubuk, sehingga Pinto yang tidak berjaga-jaga sudah kena menyedot bubuk yang ternyata mengandung racun. Pinto terpaksa melepaskan maksud yang hendak menangkap dirinya untuk sementara, lalu, pulang kegunung untuik mengobati racun yang masuk kedalam tubuh,    racun itu ternyata sangat jahat, Pinto makan obat pemunah racun yang sangat mujarab sampai sebelas butir, baru sembuh. Tetapi pada saat itu, murid durhaka itu sudah menghilang entah kemana, Pinto dan orang2 golongan siao-liem sie, pergi mencari bersama2 sudah beberipa tahun lamanya, masih belum berhasil meemukan jejaknya. setahun kemudian waktu Pinto pulang kegunung, kembali telah menyaksikan suatu peristiwa yang mengerikan. "

“Apakah Kun-liong Ong......," sambungnya. siang-koan Kie, tetapi tiba2 ia merasa bahwa ucapan itu akan menodakan nama baik Bu-tong-pay, maka buru2 ia menutup mulut.

“Waktu Pinto pulang, kuil Sam-goan-koan diatas unung telah terjadi peristiwa mengerikan, satu malam dimuka sebelum pinto tiba diatas gunung, orang yang pakai kedok dengan seorang diri dan sebila pedang ditangan, malam2 mendaki gunung Bu-tong-san, empat pelindung hukum Kuil Sam-wian-kuan, seorang terbunuh, tiga terluka, kemudian ia bisa berlalu dengan mudah dibawah kepungan anak murid Bu- tong pay. Dari gambaran yang diceritakan oleh beberapa anak murid kita, Pinto dapat menduga bahwa orang itu pasti adalah murid2 yang menamakan diri Kun-liong Ong itu, tak disangka karena cinta kasih sesama manusia yang ada dalam hati Pinto itu, akhirnya, mengakibatkan kejadian yang sangat menyedihkan itu.''

Melihat sikap padri tua itu, yang menunjukkan perasaan sedihnya, terhadap peristiwa itu tentu masih mengandung penyesalan yang sangat dalam, Siang koan Kie berpikir hendak mengatakan beberapa patah kata untuk menghibur hatinya yang terluka itu, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus membuka mulut, maka akhirnya ia membungkam saja sambil menghela napas Yang Goan Totiang mendongakan kepala mengawasi atap rumah katanya pula :

“Pinto masih ada suatu hal yang sangat menyulitkan sehingga kini masih tersimpan dalam hati, karena urusan ini Pinto selalu merasa tidak enak!''

“Totiang masih ada urusan apa, katakanlah semuanya, asal boanpwee sanggup, sudah tentu...." berkata Siang-koan Kie tiba2 ia merasa bahwa ia orang sebagai pemimpin Bu- tong-pay, sudah tentu berkedudukan tinggi, begitupun dalam partay itu tentunya terdapat banyak anak muridnya yang kuat„ bagaimana ia boleh menawarkan diri untuk memberi bantuan? Maka ia buru2 membalikan maksudnya, yang hampir dikeluarkan dari mulutnya.

Mata Yang Goan Totiang beralih kearah Siang-koan Kie, lama menatapnya kemudian berkata ;

“Rahasia ini sudah lama tersimpan dalam hati Pinto, belum pernah diberitahukan kepada siapa-pun juga. "

“Apabila hal itu mengenakan urusan yang bersifat rahasia bagi partay Totiang, boanpwee tidak berani turut campur mulut."

“Aih! Waktunya sudah tidak banyak lagi, Pinto tidak boleh tidak perlu menerangkan juga." berkata Yang Goan Totiang sambil menarik napas panjang,

“partay Bu-tong-pay, pada sepuluh tahun yang terakhir ini, sangat merasakan kekurangan orang yang berbakat baik, Pinto oleh karena mencari orang berbakat, pernah mengembara menjelajahi seluruh negeri, sepasang kaki Pinto ini sudah menginjak tanah2 pegunungan atau kota2 daerah selatan dan utara sungai Tiang-kang, tetapi orang yang berbakat baik diketemukan namun tidak bisa diminta, apakah yang Pinto dapat perbuat? Ketika Kun-liong menyatakan ingin menjadi murid Bu-tong dan kemudian Pinto menerimanya, sebahagian besar juga disebabkan karena mengharap kepada dirinya supaya dapat mempertahankan nama baik partay Bu- tong-pay. ”,

“Oh! Locianpwee ternyata mempunyai kesulitan seperti itu, sudah tentu tidak dapat disesalkan "

Sepasang mata Yang Goan Totiang yang tajam, terus mengawasi Siang-koan Kie dari atas sampai kebawah, kemudian mengangguk2kan kepala seraya berkata ; “Sebagai ketua atau pemimpin dari satu partay, dalam soal apakah yang paling kita utamakan? Tahukah kau?"

„Hal ini bagaimana boanpwee tahu......" menjawab Siang- koan Kie sambil menggelengkan kepala.

Menjaga nama baik partay, memimpin daam usaha untuk melanjutkan jiwa partay; dua soal ini sebetulnya juga merupakan satu, itu adalah harus mencari seorang yang berbakat dan cerdik serta berkelakuan baik dari antara para anggautanya, kemudian dididik dan diwarisi kepandaian simpanan dari partay itu, untuk melanjutkan bahkan meninggikan derajat partay itu."

“Pelajaran locianpwee sesungguhnya membuka pikiran boanpwee."

“Soal ini bagi satu partay yang mempunyai banyak tenaga kuat, bukanlah merupakan satu persoalan lagi, tetapi bagi partay yang kekurangan tenaga kuat, merupakan satu hal yang memusingkan kepala. Ada kalanya sampai berpuluh2 tahun tidak rnenemukan orang yang berbakat baik, dan keadaan serupa ini sering terjadi pada partay-persilatan besar. Partay Bu-tong-pay pernah mengalami satu masa yang sangat jaya, tetapi kemudian merosot lagi, sehingga pimpinan jatuh ditangan Pinto, keadaan ini bertambah gawat, nampaknya partay ini akan mengalami nasib keruntuhan. ”

“Aaaaaa! Hal serupa ini benar2 boanpwee belum pernah mendengarnya."

“Apalagi, partay kita masih menanam bibit permusuhan dengan seorang jahat kejam yang berupa Kun-liong Ong. Aih! Sekarang ini dalam partay Bu-tong kecuali Pinto seorang, sudah tidak ada orang lain lagi yang sanggup menandinginya. Kelak apabila Pinto meningggal dan ia datang menyerang keatas gunung, tidak sulit baginya untuk menghancurkan Bu- tong-pay. Aih.' Pinto sudah tidak mampu mencarikan orang yang dapat menggantikan kedudukan Pinto, juga tidak lagi dapat melindungi keselamatan atau keutuhan partay Bu-tong. Benar kita tidak tahu bagaimana harus menaruh muka terhadap para pemimpin partay kita yang sudah bersemayam dialam baka."

“OIeh karena itu sampai perlu totiang meninggalkan pertapaan dan terjun lagi kedunia Kang-ouw untuk mengejar jejak Kun-Yiong Ong," berkata Touw Thian Gouw.

“Kali ini Pinto muncul lagi kedunia Kang-ouw sebetulnya mengandung dua maksud :

Kesatu melanjutkan cita2 Pinto yang belum tercapai untuk mencari seorang yang dapat melanjutkan kehidupan partay Bu-tong-pay dan kedua mencari murid yang murtad itu untuk melakukan pertempuran yang menentukan, agar partay Bu- tong pay terhindar dari ancaman angkara murka. ,"

berkata Yang Goan totiang.

Matanya perlahan-lahan beralih pula kewajah ,Siang-koan Kie, kemudian berkata sambil menarik napas ;

“Akan tetapi, nampaknya kedua maksud Pinto ini semua ini tidak akan tercapai. "

”Locianpwee tidak perlu cemas, partay Bu-tong, merupakan salah satu partay persilatan golongan kebenaran terbesar pada masa ini, dalam rimba persilatan mempunyai reputasi sangat baik. Asal totiang menemukan orang yang berbakat baik, orang itu tidak nanti akan menolak mentah2 kehendak totiang yang Iuhur ini," berkata Siang-koan Kie.

“Orang baik sukar dicari, atau lebih tepat kalau dikatakan sukar dipinta, sudah beberapa puluh tahun lemanya Pinto berkecimpungan didalam rimba persilatan, entah berapa banyak orang yang Pinto sudah lihat atau kenal, tetapi kecuali Kun-liong Ong seorang, selama itu belum menemukan seorangpun yang berbakat baik untuk dapat menerima warisan kepandaian Pinto....." berkata Yang Goan totiang sambil menghela napas, "namun demikian Tuhan agaknya tidak memutuskan pengharapan pinto. "

Siang-koan Kie terkejut, dengan cepat memotongnya ; “Apa? Totiang. "

Tiba2 ia merasa bahwa ucapan yang akan dikeluarkan itu terlalu ceroboh, buru2 menutup mulut

Yang Goan totiang berkata sambil mengangguk kan kepala

;

“Pinto sudah mendapat firasat bahwa dalam tubuh pinto

sudah terjadi perobahan, mungkin tidak dapat mempertahankan nyawa Pinto untuk sepuluh hari lagi, sehingga sudah tidak ada harapan menemukan Kun-liong Ong untuk membuat perhitungan akan dosanya."

Touw Thian Gouw berkata sambil mengangguk anggukkan kepala :

“Cita2 totiang ini, memang benar susah akan tercapai, jangankan Kun-liong Ong itu jejaknya selalu sangat dirahasiakan, sehingga sulit diketemukan, sekalipun dapat melihatnya, barangkali totiang juga sulit mendekatinya. Pengawal berbaju hitam setiap orang mempunyai kepandaian istimewa. Terlebih2 duabelas pengawal pribadi Kun-liong Ong setiap orang mempunyai kepandaian luar biasa tingginya. Orang2 ini apabila maju ber-sama2 sudali cukup memusingkan totiang. Kun-liong Ong ingin bertempur sendiri atau menyerahkan lawannya kepada pengawalnya, hanya ia sendiri yang tahu. Maka sekalipun totiang dapat menemukannya, apa gunanya!"

“Pinto juga tahu bahwa Kun-liong Ong kini sudah kokoh kedudukannya, sekalipun Pinto mengerahkan seluruh anak murid Bu-tong-pay, juga belum tentu dapat menangkapnya, aih! Tetapi, betapapun juga kita juga harus tetap berusaha se- hingga detik pinto terakhir. " Kemudian padri tua itu menoleh dan berkata kepada Yang Ceng yang menjaga dipintu:

“Kalian menjaga keras keadaan sekitar kuil ini, asal ada orang datang, lekas beritahukan kepadaku."

Yang Ceng yang mendengar perintah itu, segera berlalu untuk menjalankan tugasnya.

Yang Goan totiang mengulurkan tangannya lambat2 dan berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan:

“Kau coba rabah tangan Pinto, kau rasakan dingin atau tidak?"

Siang-koan Kie mengulurkan tangannya dan meraba tangan Yang Goan kemudian berkata:

“Ah, tidak!"

Mendadak lima jari tangannya tergenggam erat oleh tangan Yang Goan totiang.

Siang-koan Kie merasakan bahwa genggaman itu semakin kuat, sehingga ia tidak berdaya sama sekali.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan itu semua nampak terkejut dan terheran2, katanya;

„Totiang, apakah maksudmu ini?"

-oo0dw0oo-

Bab 70

WAJAH kedua orang itu sernua nampak rnerah, bahkan keringat mulai mengucur keluar, jelaslah sudah, bahwa kedua orang itu sedang mengadu kekuatan tenaga dalam, yang perlahan2 mulai meningkat kebabak yang sangat penting.

Touw Thian Gouw mendadak berdiri, ia berkata dengan nada gusar; “Apa maksud tindakan totiang ini?"

Yang Goan totiang bersenyum, sekonyong2 melepaskan tangan Siang-koan Kie dan berkata;

“Touw tayhiap jangan salah paham, Pinto hanya ingin mencoba kekuatan tenaga dalam Siang-koan siaohiap."

“Boanpwee sekali2 tidak sanggup menandingi kekuatan tenaga dalam totiang." berkata Siang-koan Kie.

Dengan sikap serius Yang Goan Totiang berkata:

“Kekuatan tenaga dalam Siang-koan siaohiap, sudah cukup untuk digunakan mempelajari ilmu pedang Thay-kek Hui-kiam, ilmu simpanan partay kita.”

Siang-koan Kie masih tidak mengerti apa yang terkandung dalam ucapan Yang Goan Totiang, maka ia hanya berkata sambil tertawa;

“Totiang terlalu memuji."

Tidak demikian dengin Touw Thim Gouw yang merupakan seorang Kang-ouw kawakan, dari tindakan dan perkataan Yang Goan Totiang, sedikit banyak ia sudah dapat menyelami maksud yang terkandung dalam hati pemimpin partay Bu- tong-pay itu.

Lambat2 ia duduk lagi kemudian berkata;

“Adakah Totiang timbul keinginan untuk mewariskan pelajaran simpanan itu?"

“Dewasa ini dalam murid golongan partay Bu-tong-pay, tiada terdapat seorangpun yang mempunyai bakat demikian bagus untuk mempelajari ilmu pedang simpanan itu, apabila Pinto meninggal dunia, ilmu pedang ini, akan kandas dan hilang jangan Pinto, untuk menjaga supaya ilmu kepandaian simpanan Bu-tong ini jangan sampai lenyap dari dunia, satu2nya jalan hanya Pinto mewariskan ilmu pedang ini kepada Siang-koan siaohiap......." berkata Yang Goan Totiang sambil menarik napas dalam.

Siangkoan Kie buru2 berkata;

“Tentang ini, bagaimana   boanpwee   sanggup menerima. "

“Siang-koan siaohiap jangan salah paham dengan maksud Pinto, orang yang berbakat baik seperti kau ini, didalam dunia tidak banyak jumlahnya. Dalam usia yang masih sangat muda sekali, kekuatan tenaga dalammu sudah demikian sempurna, sudah tentu kau sudah mempunyai guru yang terlebih dulu mendidikmu, untuk merebut murid orang, Pinto tidak akan berbuat demikian. Oleh karena itu, meskipun Pinto ada maksud hendak mewariskan kepandaian Pinto, namun ini bukan berarti Pinto bermaksud mengambil kau sebagai murid.”

“Kalau begitu kecintaan Totiang ini sungguh sangat berat bagi boanpwee."

“Pinto sudah tahu bahwa Pinto tidak dapat hidup lebih lama dari sepuluh hari, maka dalam sepuluh hari ini, Pinto hendak menggunakan sebaik2-nya untuk menurunkan ilmu pedang simpanan partay Bu-tong ini kepadamu, Pinto tidak berani merebut murid orang dan memaksamu menjadi murid golongan Bu-tong-pay, hanya ada tiga syarat. Pinto mengharap dengan sangat supaya siaohiap suka menerima baik."

Siang-koan Kie masih hendak menolak, tetapi Touw Thian Gouw buru2 berkata;

“Tiga syarat apa yang Totiang maksud?"

“Pertama, setelah berhasil mewarisi kepandaian ilmu ini, tidak boleh diturunkan kepada orang lain sekalipun anak atau istrinya sendiri, juga tidak terkecuali." “Itu sudah seharusnya, dan syarat yang kedua?" berkata Touw Thian Gouw sambil mengangguk kan kepala.

“Kedua, diharuskan sewaktu-waktu memberi pertolongan kepada partay Bu-tong, untuk menjaga keselamatan kuil Sam- goan-koan,"

“Itupun seharusnya, dan ketiga?"

“Dikemudian hari apabila partai Bu-tong menerima murid yang berbakat baik dan cerdik serta berkelakuan baik, maka Siang-koan siaohiap harus meneruskan ilmu pedang ini kepada murid itu."

“Tiga syarat ini semuanya merupakan suatu keharusan." Siang-koan Kie bangkit dan berkata sambil memberi hormat:

“Kecintaan Totiang ini, kalau boanpwee menolak itu berarti kurang hormat, tetapi kalau menerima sesungguhnya merasa malu terhadap diri sendiri. "

Yang Goan Totiang berkata sambil menarik napas dalam: “Meskipun Pinto tidak berani mengatakan bahwa ilmu

pedang tay-kek-hui-kiam ini, adalah ilmu pedang yang tertingi,

tetapi setidak-tidaknya, merupakan salah satu ilmu pedang terampuh dalam ilmu pedang dirimba persilatan. Ilmu pedang golongan tinggi ini, nampaknya tidak seberapa, tetapi memerlukan kekuatan tenaga dalam yang hebat, ini adalah suatu ilmu pedang yang paling susah dipelajari, kecuali tergantung dari gurunya, juga diharuskan orang yang berbakat sangat baik dan sudah mempunyai dasar kekuatan tenaga dalam yang sempurna, tentang kekuatan tenaga dalammu dan kecerdasan-mu, merupakan salah satu bakat terbaik untuk belajar ilmu pedang; batas waktu sepuluh hari ini meskipun sangat pendek, mungkin tidak dapat mempelajari seluruh rahasianya, tetapi asal kau sudah hafal benar, dikemudian hari apabila kau rajin melatih, dalam waktu satu tahun sudah tentu akan mencapai tingkat yang sudah sempurna........"   ia   berdiam   sejenak,   “kau   tidak   perlu mengucapkan terima kasih kepada Pinto, sebab kau hanya ditugaskan untuk melindungi ilmu pedang warisan ini, jangan sampai musnah didalam dunia, seharusnya justru Pinto yang mengucapkan terima kasih kepada Kamu."

Siang-koan Kie memberi hormat lagi, dengan sikap sungguh-sungghh ia berkata;

“ApabiIa Siang-koan Kie tidak binasa, dalam waktu duapuuh tahun, pasti hendak berusaha untuk mencari orang berbakat yang boleh diwarisi ilmu pedang ini, apabila boanpwee tidak menepati janji itu, biarlah dikutuk oleh Tuhan."

Yang Goan Totiang buru-buru mengeluarkan tangannya membimbing Siang-koan Kie seraya berkata;

“Perlu apa sampai bersumpah demikian berat apabila Pinto tidak percaya kepadamu, juga tidak akan berani menurunkan pelajaran ini."

Touw Thian Gouw tiba-tiba melambaikan tangannya dan berkata kepada Siang-koan Kie:

“Saudaraku, aku hendak pergi, marilah antar aku kedepan."

Tanpa menunggu jawaban Siang-koan Kie, ia sudah bangun dan berjalan keluar.

Siang-koan Kie buru-buru mengejar dan berjalan berendeng sampai diluar pekarangan.

Touw Thian Gouw menghentikan kakinya dan| berkata: “llmu pedang Tay-kek-hui-kiam dari partay Bui tong ini.

merupakan salah satu ilmu pedang ternama dalam rimba persilatan, apabila saudara dapat mewarisi ilmu pedang ini, kau dapat menandingi kepandaian Kun-liong Ong, inilah suatu kesempatan yang paling baik, kau harus belajar dengan sungguh-sungguh." “Terima kasih atas petunjukan toako."

Touw Thian Gouw tersenyum dan berkata pula;

“Aku seorang yang mempunyai sifat aneh, selamanya tidak suka bergaul dengan orang, tetapi denganmu, sungguh heran mengapa begitu melihatmu, aku merasa simpati..........? Ia berhenti sejenak," kau berdiam disini untuk belajar ilmu pedang itu, sepuluh hari kemudian, aku akan datang lagi untuk mencari kau, sebelum kita berjumpa kau jangan pergi."

Siang-koan Kie mengangkat tangan memberi hormat, lama ia berpikir, kemudian baru berkata:

“Toaw toako maaf siaote tidak dapat mengantar lebih jauh."

Touw Thian Gouw yang sudah lama berkecimpung didalam dunia Kang-ouw dan sudah banyak pengetahuannya, ketika menyaksikan sikap Siang-koan Kie, ia merasa agak heran, maka segera bertanya;

„Saudara, kau agaknya ada apa2 yang mengganggu pikiranmu?"

„Siaote merasa..........", menjawab Siang-koan Kie dengan suara perlahan.

Touw Thian Gouw dengan cepat memotongdan berkata dengan sungguh-sungguh;

“Orang belajar ilmu pedang paling pantang pikirannya bercabang, apalagi kau hanya mempunyai waktu sepuluh hari saja, apabila kau kealpaan satu atau dua jurus saja, nanti akan meninggalkan suatu kemenyesalan besar seumur hidupumu, segala urusan untuk sementara kau tinggalkan, kau gunakan seluruh pikiranmu untuk mempelajari ilmu pe- dang itu, setelah berhasil pelajaranmu, kita tokh masih ada waktu untuk dibicarakan lagi."

“Siaote akan ingat baik-baik." Touw Thian Gouw berjalan beberapa langkah berhenti lagi dan berkata pula dengan suara nyaring:

“Tenangkanlah pikiranmu, apabila ada urusan apa-apa, aku nanti bisa datang untuk memberi kabar kepadamu."

Suaranya itu tidak lama lalu menghilang dengan orangnya.

Siang-koan Kie memandang sambil berdiri ter-paku, ia menarik napas dalam-dalam, kemudian balik lagi kedalam kuil.

Yang Goan Totiang berdiri didepan meja sem-bahyang dengan wajahnya yang sangat agung .

Siang-koan Kie buru2 menghampiri dan berlutut dihadapannya seraya berkata;

“Teecu memberi hormat kepada Totiang." Yang Goan Totiang tersenyum dan berkata:

“Waktu tidak banyak, bagi kita sangat berharga, kau lekas bangun, perhatikanlah Pinto hendak melakukan pertunjukan ilmu pedang itu."'

Siang-koan Kie baru saja berdiri, Yang Goan Totiang sudah menghunus pedangnya dan lambat-lambat melakukan gerakan tikaman, Siang-koan Kie tidak keburu berpikir lagi, terpaksa memusatkan semua perhatiannya untuk menyaksikan gerakan Yang Goan Totiang.

Yang Goan Totiang sejurus demi sejurus melakukan pelajaran ilmu pedang itu, gerakannya sangat lambat, sehingga dapat disaksikan dengan jelas.

Siang-koan Kie yang menyaksikan dengan seluruh perhatian, setiap gerakkan diingatnya baik-baik.

Dalam waktu kira-kira setengah jam, Yang Goan Totiang sudah selesai dengan pelajaran ilmu pedang itu, ia memasukkan pedang kedalam sarungnya, lalu berkata sambil tersenyum: “Apakah kau sudah mengerti?"

“Sebahagian besar dari semua gerakan itu, boanpwee dapat mengerti, hanya ada sebagian yang nampaknya sangat dalam sekali, masih belum dapat dipahami," menjawab Siang koan Kie.

“Kau dapat mengerti sebahagiaan besar, ini sesungguhnya tidak mudah, mari, aku akan segera mulai menurunkan pelajaran ini kepadamu, waktu sepuluh hari itu, sesungguhnya sangat pendek sekali, sekalipun kau mempunyai kecerdasan otak luar biasa, barangkali juga tidak mudah untuk mengingat seluruhnya, tetapi perobahan gerakan ilmu pedang ini, seolah- olah sebuah perahu berantai, apabila kau kurang hgat sedikit bagian kepala dan ekor, masih dapat digunakan untuk menghadapi musuh, tetapi apabila kau lupa beberapa gerakan penting dibagian tengah ini, dapat mempengaruhi seluruh gerakan, sehingga sangat sulit untuk mengeluarkan seluruh kepandaian."

Siang-koan Kie menurut, ia menghampiri sambil menghunus pedangnya, dengan mengikuti setiap gerakkan Yang Goan Totiang, ia mulai melakukan pelajarannya.

Mula-mula ia tidak merasakan terlalu sulit, tetapi semakin dipelajari ia merasa semakin dalam dan banyak sekali perobahannya, sehingga sulit dimengerti seluruhnya.

Karena ia belajar dengan tekun, tanpa dirasa hari sudah mulai gelap.

Yang Goan Totiang menyimpan pedangnya dan krkata sambil tertawa:

“Kita hanya menggunakan waktu setengah hari saja, tetapi kau sudah banyak yang ingat, nampaknya waktu sepuluh hari ini mungkin aku dapat menurunkan seluruh kepandaiaa ilmu pedang ini." ”Teecu sangat bodoh, sehingga Totiang mengeluarkan terlalu banyak tenaga," berkata Siang-koan-kie

“Kau tidak usah merendahkan diri, kecepatan kemajuanmu, sesungguhuya diluar dugaanku, sekarang sudah malam, mari kita makan dan beristirahat, aku nanti akan menurunkan pelajaran latihan ilmu kekuatan tenaga dalam golongan Yu-tong kepadamu."

“Demikian besar kecintaan Totiang, sesungguhnya boanpwee susah untuk membalas budi yang besar ini."

“Kau jangan pikirkan semua itu, aku menurunkan ilmu pedang kepadamu, maksud yang utama adahh supaya ilmu simpanan golongan Bu-tong ini ada orang yang meneruskan, sehingga tidak sampai terlenyap, dan kedua adalah untuk melindungi keselamatan golongan Bu tong” berkata Yang Goan Totiang, kemudian tangannya menepuk tigakali.

Tidak lama kemudian, Yang Ceng Totiang muncul dengan tangan membawa nampan yang berisi hidangan, lalu diletakkan dihadapan Yang Goan Totiang.

Yang Goau Totiang berpaling dan berkata kepa da Siang- koan Kie;

“Kiranya perutmu juga sudah lapar, mari .kita makan..........", ia berhenti sejenak, lalu berkata kepada Yang Ceng Totiang;

“Suhengmu hendak merundingkan urusan penting dengan Siang-koan siaohiap, dalam waktu sepuluh hari ini, apabila suhengmu tidak panggil, siapapun tidak boleh masuk, juga tidak boleh mengintip."

Yang Ceng terima baik pesan itu, ia segera mengundurkan diri, namun sebentar2 ia masih berpaling mengawasi Siang- koan Kie, jelas bahwa dalam hati imam itu, merasa heran terhadap urusan ini, ia tidak dapat menduga, mengapa suhengnya yang sebagai pemimpin partai itu harus pergunakan waktu sampai sepuluh hari lamanya untuk berunding dengan seorang anak muda yang belum terkenal ini, bahkan melarang orang masuk atau mengintip.

Namun demikian, ia tidak berani bertanya kepada suhengnya.

Yang Goan Totiang agaknya dapat mengerti pikiran suteenya itu namun ia tidak menghiraukan, setelah suteenya itu keluar ia baru berkata kepada Siang-koan Kie;

“Keistimewaan ilnu pedang ini, adalah mengharuskan orang yang menggunakannya mengeluarkan seluruh kepandaian dan kekuatan tenaga dalam, sering melatih ilmu pedang ini, akan menambah banyak kemajuan bagi kekuatan tenaga dalam orang yang melatih, tetapi bagi orang yang kekuatan tenaga dalamnya semakin sempurna, tiap kali menggunakan, kekuatan tenaga dalamnya yang digunakan juga semakin besar; rahasia dalam hal ini, tidak dapat dipahami hanya dengan sepatah dua patah kata saja, nanti setelah kau sudah paham seluruhnya ilmu pedang ini, dengan sendirinya dapat mengerti sebab-sebabnya........tadi waktu aku mengajarkan ilmu pedang ini kepadamu, sudah merasakan bahwa dalam diriku sudah ada perobahan, dapat hidup sampai sepuluh hari atau tidak, masih susah diduga, oleh karena itu, aku ingin sebelum kematianku tiba, dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalamku yang sudah mempunyai latihan berpuluh-puluh tahun, sedapat mungkin aku lekas menurunkan pelajaran ini kepadamu "

Siang-koan Kie buru2 berkata:

”Locianpwee, apabila badanmu merasa kurang enak, sebaiknya beristirahat beberapa hari dulu, nanti setelah enak locianpwee mulai pelajarannya lagi, perlu apa harus memaksa diri?"

“Dalam dunia tidak ada pesta yang tidak berahir, tidak ada manusia yang tidak mati, aku sudah hidup seratus tahun, kematian hanya soal waktu saja, urusan ini tidak perlu kau pikirkan, yang penting adalah kau harus menerima baik permintaanku”

“Silahkan locianpwee perintahkan saja, apa yang boanpwee dapat lakukan, pasti tidak menolak."

“Aku melihat bahwa pikiranmu, agaknya masih terganggu oleh urusan besar yang tidak dapat di-singkirkan."

Siang-koan Kie terkejut, ia hendak berkata tetapi kemudian maksudnya itu dibatalkan.

“Kau tidak perlu memberitahukan kepadaku uusan apa yang mengganggu pikiranmu itu, tetapi aku mengharap selama kau belajar ilmu pedang dalam beberapa hari ini, untuk sementara kau dapat menyingkirkan seluruhnya apa yang mengganggu pikiranmu, bertekunlah dengan pelajarann yang waktunya sangat singkat itu."

“Pesan locianpwee, sudah tentu boanpwee akan turut." “Itu   bagus,   sekarang   beristirahatlah   dulu   dengan

memejamkan matamu, bersihkanlah pikiranmu dari segala

gangguan, aku akan mengajarkan hafalannya lebih dulu kepadamu, kemudian akan memberikan pelajaran setahap demi setahap."

Siang-koan Kie menurut, memejamkan matanya mengatur pernapasannya dan rnenjernihkan pikirannya.

Tatkala ia sudah sadar lagi Yang Goan Totiang segera memulai dengan pelajaran hafalannya, kemudian pedangnya memberi petunjuk bagaimana paranya menggunakan pelajaran itu.

Sang waktu berlalu cepat sekali, sebentar saja tujuh hari sudah berlalu, selama tujuh hari itu Yang Goan Totiang memberikan pelajarannya dengan keras, kecuali Waktu makan dan beristirahat hampir seluruh waktunya digunakan untuk menurunkan pelajaran ilmu pedang itu kepada Siang-koan Kie. Meskipun Siang-koan Kie mempunyai kecerdasan luar biasa tetapi karena pelajaran ilmu pedang Thay-kek-hui-kiam itu sangat dalam, ia merasa samakin lama semakin ruwet dan sulit dimengerti.

Hingga hari kedelapan waktu tengah hari, Siang koan Kie baru dapat mengingat seluruhnya perobahan2 gerakkan ilmu pedang yang sangat Sulit.

Tetapi keadaan Yang Goan Totiang sudah seperti pelita yang kehabisan minyak sehabis menurunkan pelajaran bagian terakhir, napasnya tiba-tiba tersengal-sengal.

Siang-koan Kie terkejut yang menyaksikan keadaan itu, ia buru2 membimbingnya untuk duduk kemudian bertanya ;

“Locianpwee kenapa?"

“Batas umurku sudah habis, tetapi aku Sudah habis, tetapi aku sudah boleh merasa puas karena cita2ku telah tercapai, ilmu pedang Thay-kek hui-kiam ini akan terus hidup didalam dunia. ''

Ia bersenyum, kemudian berkata pula sambil ltienggapaikan tangannya ;

“Lekas undang mereka masuk."

Siang-koan Kie sebagai seorang yang tebal perasaannya, tanpa dirasa airmata mengalir keluar dari matanya.

”Apabila Totiang tidak memberi pelajaran ilmu pedang kepada boanpwee, sehingga menghamburkan kekuatan tenaga dalam   tidak   sedikit   juga   tidak   simpai   seperti ini. "

“Lekas panggil mereka masuk, kalau tidak barangkali sudah tidak keburu."

Siang-koan Kie tidak berani bertanya lagi, ia buru2 lari keluar untuk mencari Yang Ceng. Ketika dua orang itu balik kembali masuk kedalam kuil, Yang Goan Totiang sedang duduk bersila sambil memejamkan matanya.

Mereka tidak berani mengganggu, berdiri disamping dengan meluruskan kedua tangannya

Wajah Yang Goan Totiang, timbul warna merah, napasnya yang tadi memburu, sudah tidak terdengar lagi, sikapnya tenang sekali tidak nampak tanda2 yang mencurigakan.

Yang Ceng Totiang memandang Siang-koan Kie sejenak, bibirnya ber-gerak2, tetapi tidak sepatah kata keluar dari mulutnya, agaknya takut mengganggu Yang Goan Totiang.

Dua orang itu menunggu cukup lama, Yang Goaii Totiang tiba2 membuka matanya dan tersenyum, kemudian berkata kepada Yang Ceng dengan suara perlahan :

“Siang-koan siaohiap ini, adalah sahabat erat suhengmu, dikemudian hari apabila ia datang dikuil kita Sam-goan-koan, harus disambut dengan baik."

“Sutee menerima baik pesan suheng," berkata Yang Ceng, Yang Goan tiba2 menahela napas dan berkata :

”Didalam dunia tiada ada pesta yang tidak berakhir, nanti setelah aku meninggal, kaulah yang mewakili aku memimpin partai Bu-tong. "

Yang Ceng terkejut, dan berkata: “Mengapa suheng mengeluarkan perkataan seperti ini?"

‘Batas umur suhengmu sudah habis, sekarang suhengmu hendak berangkat kelain dunia, urusan dalam partay, aku serahkan kepada sutee."

Yang Ceng agaknya terharu mendengar ucapan terakhir suhengnya itu, ia berdiri terpaku ditempatnya dengan mata terbuka dan mulut terkancing. sehingga tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya- Yang Goan Totiang dengan bibir tersungging senyuman berkata pula ;

“Setelah aku nanti mati, kalian segera bawa pulang jenazahku kekuil Sam-goan-koan, kalian harus menutup rapat2 rahasia kematianku ini, jangan sampai tersiar keluar, juga tidak perlu mengubur dengan peraturan partay"

“Tentang ini. ”

“Apabila kalian mengubur dengan menggunakan upacara besar, hal ini pasti akan menimbulkan banyak perhatian orang."

“Sutee ingat pesan suheng ini."

Yang Goan lambat2 memejamkan matanya dan berkata: “Kalian berdua masing2 supaya membawa diri baik-baik."

Se-konyong2 Yang Goan menundukkan kepala lambat- lambat.

Yang Ceng segera berseru; “Suheng! Suheng "

Beberapa kali ia memanggil, namun tidak mendapat jawaban, ketika ia meraba badannya ternyata sudah putus nyawanya.

Seorang pemimpin besar dari partay rimba persilatan, dengan demikian telah meninggalkan dunianya secara tenang.

Perasaan duka timbul dalam hati Siang-koan Kie, air mata mengalir keluar dengan derasnya, ia segera menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan jenazah Yang Goan seraya berkata ;

“Antara Totiang dengan boanpwee, meskipun tidak ada namanya sebagai guru dengan murid, tetapi hal itu sudah menjadi kenyataan, selama jiwa boanpwee masih ada, tidak akan melupakan budi Totiang yang memberi pelajaran kepada boanpwee." Yang Ceng menyusut air matanya yang keluar, berkata dengan suara perlahan :

“Pesan terakhir Ciang-bun-jin kami, suruh kita segera membawa pulang jenazahnya kegunung Siang-koan Kie siaohiap dikemudian hari apabila kebetulan meliwati gunung Bu-tong-san, jangan lupa mampir kekuil Sam-goan-koan."

“Dalam waktu setahun, aku yang rendah pasti akan datang kekuil Sam-goan-koan untuk mengunjungi Totiang," berkata Siang-koan Kie dengan mengendalikan perasaan sedihnya.

“Pinto tidak berani meminta terlalu banyak, kedatangan siaohiap pasti akan Pinto sambut dengan tangan terbuka."

Setelah itu memondong jenazah Yang Goad Totiang dan berjalan dengan tindakan lebar.

Siang-koan Kie bangkit, ia mengejar keluar, tetapi hanya menyaksikan Yang Ceng sedang lari dengan cepatnya bersama dua imam yang menjaga diluar kuil.

Siang-koan Kie menyaksikan berlalunya tiga imam itu sehingga menghilang dari depan matanya, dalam hatinya timbul perasa tidak keruan, dalam otak-nya masih tegas terbayang bagaimana Yang Goan Totiang memberikan pelajaran kepadanya ilmu pedang Thay-kek-hui kiam, tetapi orang yang baru saja bersamanya beberapa hari dimuka memberi pelajaran kepadanya itu, kini ternyata sudah tidak ada. Hidup matinya seseorang, ternyata demikian mudah semua nama baik dan kemashuran dimasa hidup telah ikut terbawa kedalam tanah. 

Siang-koan Kie berdiri termenung dengan sikap keperti seorang yang kehilangan semangatnya, entah perapa berapa lama telah berlalu, matahari sudah terbenam kebarat, sehingga dilangit timbul awan perah diwaktu senja.

Sekonyong-konyong terdengar suara seorang yang memanggilnya ; “Saudara Siang-koan."

Siang-koan Kie seperti orang baru tersadar dari mimpinya, ia berpaling, segera menampak diri Touw yang berdiri ditempat sejauh satu tombak yang mengawasi dirinya sambil tersenyum. Ia lalu menyapanya sambil menarik napas panjang.

“Touw toako----      "

Tanpa dapat ditahan lagi, air mata mengalir kedua membasahi pipinya.

Touw Thian Gouw mengerutkan alisnya, lambat2 menghampirinya dan berkata padanya dengan suara perlahan

;

“Saudara kenapa?"

“Yang Goan Totiang sudah wafat," demikian menjawab Siang-koan Kie.

Touw Thian Goaw agaknya masih tidak percaya pendengarannya sendiri, tetapi itu memang benar ia telah mendengar dengan jelas, sehingga tidak enak untuk menanya lagi, dengan suara agak gelagapan ia berkata ;

“Apa Yang Goan Totiang sudah wafat?" “Ya,

“Dimana jenazahnya? aku hendak memberi hormat untuk terakhir kali."

“Sudah dibawa pulang kegunung Bu-tong-san. aih! Touw toako....." berkata Siang-koan Kie. setelah berpikir lama, ia baru berkata pula ;

“Tentang kematian Yang Goan Totiang ini harap toako rahasiakan, karena kematiannya ini, besar sekali hubungannya dengan nasib partay Bu-tong."

Setelah berpikir agak lama Touw Thian Gouw bertanya ; “Apakah sudah selesai menurunkan ilmu pedangThay-kek- hui-kiam kepadamu?"

“Ilmu pedang itu itu meskipun sudah diturunkan semua, tetapi justru karena itu merupakan salah satu sebab menjadikan kematian; sehingga siaote merasa sangat tidak enak."

“Saudara juga tidak perlu berpikir demikia Yang Goan Totiang sudah tahu dirinya akan mati maka ia mencari dan memilih orang untuk menurunkan kepandaiannya, asal kau tidak mengecewakan harapannya menurunkan kepandaian ilmunya itu, sudah cukup."

“Siaote sekarang teringat pesan Yang Goan To tiang, siaote merasa tugas itu besar sekali, mungkin tenaga siaote tidak dapat memenuhi keinginanya.'' Touw Thian Gouw mendongakan kepala mengawasi gumpalan awan putih diatas langit, kemudian berkata ;

“Kita, orang yang bergerak dilapangan Kang-ouw, ibarat awan yang bergerak diangkasa bebas, tidak mempunyai tetap tinggal menetap, dimana saja kita harus menempatkan diri, banyak hal sebetulnya tidak dapat dilakukan dengan tenaga satu dua orang saja. "

Pada saat itu suara mengaung yang panjang telah terdengar ditelinga mereka, sehingga memutuskan pembicaraan Touw Thian Gouw.

Siang-koan Kie wajahnya berubah tiba2 ia segera berkata ; “Sungguh aneh!'”

“Ada apa? Kun-liong Ong dan orang2 golongan pengemis masih saling berhadapan ditempat dekat sini, meskipun tanah datar seluas sepuluh pal itu sudah terbakar gundul, tetapi belum membakar kekuatan Kun-liong Ong, perhitungan dan siasat serta kepandaian Siaoyao-siucai, barulah merupakan yang terpandai dalam rimba persilatan dewasa ini akan tetapi Kun-liong Ong agaknya juga mempunyai banyak tenaga kuat, hanya kedua pihak sekarang ini dari pertempuran secara terang sudah berubah meujadi pertempuran diam2, kedua pihak agaknya sedang mengumpulkan kekuatan masing2 mungkin dalam waktu dekat, akan melakukan pertempuran yang menentukan lagi, suara mengaung tadi apa yang dibuat heran?"

“Bukan itu yang siaote maksudkan, siaote merasa suara itu mirip dengan "

“Mirip dengan orang kuat golongan kelas satu lagi kau maksudkan? Haha, tahukah saudara orang orang yang berkumpul sekitar tempat ini, meskipun bukan seluruhnya merupakan orang terkuat dalam rimba persilatan, tetapi sedikitnya ada tujuh atau delapan persen "

Siang-koan Kie meng-geleng2kan kepalanya dan berkata : “Kataku suara itu mirip dengan suara saudara Wan Hauw

itu, ia pergi Sudah sepuluh hari lebih bagaimana masih berada ditempat sekitar in;?"

“Kalau begitu mengapa kita tidak pergi menengok saja?" “Mari kita pergi lihat!" berkata Siang-koan Kie yang sergera

bergerak lari menuju kesuara itu.

Setelah melalui sebuah rimba lebat, dari jauh nampak serombongan orang berpakaian hitam sedang mengeroyok seorang, sinar golok dan pedangnya berkelibatan, agaknya sedang berlangsung suatu pertempuran sengit.

-odwo-

Bab 71

SLANG KOAN KIE berpaling memandang yuw Thian Gouw dan berkata : “Rombongan orang2 berpakaian hitam itu sudah jelas pasukan pengawal baju hitam Kun-liong ong, kau mengenakan pakaian seragam mereka, tidak baik untuk pergi kesana, untuk sementara harap toako sembunyi dan menantikan siaote didalam rimba ini, siaotee hendak pergi melihat apa yang telah terjadi disana."

“Apabila kau menemukan tandingan yang sulit Untuk hadapi, harap kau panggil aku," berkata kw Thian Gouw.

Siang-koan Kie segera menghunus pedangnya dan lari menuju kemedan pertempuran itu Benar saja, orang yang sedang dikeroyok itu memang Wan Hauw.

Dengan sepasang tangan kosong, Wan Hauw menahan musuh2 yang mengeroyok dirinya, hembusan angin yang keluar dari kedua tangannya, merupakan dinding kuat yang susah ditembusi oleh musuh-musuhnya. Beberapa puluh orang berpakaian hitam, percuma saja dengan senjata mereka, seorangpun tidak mampu mendekati dirinya. Dibawah perlindungan sangat kuat Wan Hauw, narnpak Nie Suat Kiao yang duduk bersila dengan paras pucat pasi, peluh sudah membasahi dahinya, agaknya sedang melakukan pernapasan dengan menahan penderitaan hebat.

Siang-koan Kie terperanjat, pikirnya ; ”apakah nona yang bernasib malang ini telah menderita luka parah lagi?”

Sementara berpikir pedang ditangannya sudal bergerak melancarkan serangan.

Rombongan pengawal baju hitam itu meskipur sebagian besar terdiri dari orang2 yang berkepandaian tinggi, tetapi mengeroyok Wan Hauw seorang diri saja sudah merasa kewalahan, kini di ambil dengan kedatangan Siang-koan Kie, bagaimana mereka sanggup bertahan? Dalam waktu sangat sing kat, Siang-koan Kie sudah berhasil membobolkan kepungan mereka. Sambil membentak dengan suara keras, Wan Hauw melancarkan satu serangan hebat, seorang diantara orang2 yang mengepung dirinya itu telah jatuh tersungkur dan binasa seketika itu juga Siang-koan Kie yang menyerbu masuk, juga sudah berhasil membinasakan satu musuh.

Yang lainnya mungkin tahu bahwa pihaknya tidak sanggup memberi perlawanan, dengan serentak mengundurkan diri.

Wan Hauw mengawasi berlalunya rombongai pengawal baju hitam itu, tetapi tidak mengejar Perlahan2 ia berpaling kearah Siang-koan Kie, ke mudian berkata;

“Toako, kita telah bertemu lagi."

“Saudara, kita berpisahan sudah sepuluh hari lebih, mengapa kau masih berada disini?", demikian Siang-koan Kie balas bertanya.

Wan Hauw mengawasi Nie Suat Kiao sejenak, kemudian menjawab;

“Dia tidak mau pergi, katanya hendak berdiam disini dulu untuk menantikan kedatangan seseorang!"

“Menantikan kedatangan seseorang? siapa?"

“Mana aku tahu? Dia suruh aku menunggu, terpaksa aku berdiam disini juga."

Siang-koan Kie bertanya-tanya kepada diri sendiri; Setan ini entah mempunyai maksud apa lagi? Apakah ia masih belum cukup dengan penderitaan yang diterima dari Kun-liong Ong? Namun demikian, ia juga tidak berani bertanya, maka disimpannya didalam hati, hendak menantikan kesempatan yang lebih baik.

Sementara itu rombongan pengawal baju hitam tadi, sudah kabur semuanya.

Disebidang tanah yang kosong itu kini hanya tinggal Siang- koan Kie, Wan Hauw dan Nie Suat Kiao. Suasana nampak sunyi, lama baru terdengar suara Siang- koan Kie yang amat perlahan:

“Nona Nie."

Nie Suat Kiao perlahan membuka matanya, ia memandang Siang-koan Kie sejenak kemudian bertanya;

“Ada apa?"

“Apakah nona hendak menantikan seseorang?" “Benar!"

“Siapa?"

Nie Suat Kiao tiba2 berdiri, ia berkata. lambat lambat; “Orang itu adalah kau sendiri, aku tahu didalam sepuluh

hari, tidak boleh tidak aku harus bertemu denganmu." Siang-koan Kie ternganga, ia berkata;

“Bukankah ini terlalu berbayai? Apabila aku tidak lantaran ada urusan sehingga waktuku tertambat sepuluh hari, mungkin kita tidak dapat bertemu”.

“Tidak perduli apa sebabnya, bagaimanapun ju ga apa yang kupikir itu tokh tidak salah.

Siang-koan Kie bertanya sambil tertawa menyeringai; “Ada urusan apa kau menunggu aku?"

Nie Suat Kiao memperdengarkan suara batuk perlahan, kemudian baru berkata:

“Bukankah kau minta aku menurut perkataan saudaramu?" “Ya!"

Penderitaan yang terkilas diwajah Nie Suat Kiao tadi, seketika telah lenyap dan diganti dengan cahaya terang yang samar2 tampak diatas keningnya, ia bertanya pula; “Menurut keterangan saudaramu ini, katanya ditempat kediamannya, ada sebilah golok mas, apakah itu benar?"

“Kenapa?"

“Katanya itu adalah sebilah golok yang paling baik didalam dunia."

Siang-koan Kie terkejut, tiba2 ia teringat apa yang dilihatnya didalam gua digunung Pek-ma-san, Wan Hauw berasal dari daerah pegunungan itu, dengan sendirinya tahu bahwa didalam gua itu terdapat dua jenazah laki2 dan wanita, waktu itu ia masih bodoh tidak mengerti apa-apa, tetapi semua keadaan didalam gua itu, meninggalkan kesan yang sangat dalam didalam otaknya, semua itu kini timbul kembali dalam ingatannya. "

Sepasang mata Nie Suat Kiao, terus ditujukan diwajah Siang-koan Kie, katanya:

“Apa yang kau sedang pikir? Mengapa kau tidak bicara?" Siang-koan Kie hanya mengeluarkan sepatah kata

Namun pikirannya masih terkenang apa yang di- saksikannya didalam gua itu, golok mas didalam gua itu kelihatannya seperti puntul, sebetulnya tajam luar biasa, samar2 ia masih ingat diatas gagang golok itu terukir beberapa huruf yang berbunyi; ’golok mengejutkan sukma, dapat menghancurkan apapun juga.’

“Apakah kau sudah berobah menjadi seorang gagu?", bertanya pula Nie Suat Kiao.

Siang-koan Kie seperti baru sadar dari mimpi-nya, ia menjawab tetapi bukan apa yang ditanya oleh sinona;

“Benar, disana memang betul ada sebuah golok mas, saudaraku itu tidak akan menipu kau!"

Nie Suat Kiao menggeleng-gelengkan kepala, ia berkata sambil menarik napas: “Benarkah kau mengharap supaya aku ikut pergi dengan saudaramu?"

Siang-koan Kie hanya melongo, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Kepalanya mendongak memandang gumpalan awan putih diangkasa.

Telinganya tiba2 mendengar suara Nie Suat Kiao yang tegas nyaring;

‘Aku sudah memikir sepuluh hari sepuluh malam lamanya, sekarang aku percaya, bahwa kau benar2 ingin aku ikut pergi dengan saudaramu."

Ia mengulurkan tangannya yang putih halus untuk membereskan rambutnya yang terurai dikedua pundaknya, dibawah penerangan sinar matahari, wajahnya nampak kemerah-merahan, hingga nampak nyata kecantikannya, duka yang tadi meliputi mukanya, kini juga mendadak lenyap, samar2 nampak sikapnya yang kemalu-maluan.

Dalam hati Siang-koan Kie diam2 memuji: ”benar-benar seorang yang sangat cantik, suruh ia menjadi kawan hidup saudara Wanku itu, sesungguhnya sangat berat baginya.”

Sementara itu Wan Hauw berjongkok jauh2 ditempat kira2 satu tombak lebih, sepasang matanya terbuka memandang kepadanya, dari sinar mata itu, menunjukkan perasaan rendah diri, didalam hati sanubarinya, agaknya juga tahu bahwa keadaan diri sendiri yang jelek. sesungguhnya tidak pantas menjadi kawan hidup Nie Suat Kiao.

Siang-koan Kie memperdengarkan suara batuk2 ringan, kemudian berkata;

“Nona Nie."

“Ada apa.     " bertanya Nie Suat Kiao sambil tersenyum.

"Aih! Dalam beberapa hari ini aku telah merasa bahwa diriku banyak berobah, aku juga memikirkan bahwa sebagai seorang perempuan, betapapun gagahnya harus menikah juga. "

Perasaan malu tiba2 timbul, hingga tidak me-lanjutkan kata-katanya.

Perasaan aneh mendadak timbul dalam hati Siang-koan Kie, ia bertanya ;

“Bagaimana apabila apa yang kukatakan itu semua adalah keadaan sebenarnya?"

Wajah Nie Suat Kiao mendadak berubah, ia kerkata : “Supaya aku pergi bersama saudaramu?"

“Dia telah dilahirkan sebagai seorang gagah, lagi pula mendapat warisan kepandaian dari seorang guru pandai, apabila mendapat kesempatan, ia pasti akan menjadi seorang kuat tanpa tandingan, apalagi jika dibantu dengan kepintaran dan kecerdikan nona, tidak sulit akan menjadi satu pendekar kenamaan di kemudian hari untuk membasmi segala kejahatan didalam rimba persilatan. "

“Aku menantikan kedatanganmu sehingga sepuluh hari lamanya dengan menempuh segala bahaya maksudku hanya ingin mendengar sepatah dua katah perkataanmu "

Dua butir air mata mengalir keluar tar “Aku sudah berkata, diulangi lagi saja."

“Sekali lagi kukatakan, jangan sala hatimu sendiri, katakanlah yang

“Harap nona baik2 menjaga sa' menjawab Siang-koan Kie, sampa dak terdiam.

“Mengapa kau tidak melanjutkan

‘Hanya itu saja, kuucapkan seratus kali, juga sama saja." Paras Nie Suat Kiao yang merah, pucat, badannya ter- huyung2 hampir ditanah.

Siang-koan Kie menarik napas panjang dian memanggil Wan Hauw ;

“Saudara Wan, lekas kemari."

Wan Hauw berbangkit per-lahan2 menghan seraya berkata

;

“Toako panggil aku?"

“Lekas bimbing nona ini, ia masih kurang sehat

keadaannya, dikemudian hari kau harus baik2 memperlakukannya."

Wan Hauw mengulurkan kedua tangannya, tetapi dengan cepat ditariknya kembali.

Dia gagah dan suka berkelahi, lagi pula sanga berani tanpa kenal takut kepada siapapun juga, tetapi terhadap Nie Suat Kiao ia sangat takut sekali.

Rasa pilu timbul dalam hati Siang-koan Kie, ia buru2 menoleh, dua butir air mata mengalir keluar dari kelopak matanya.

Telinganya telah mendengar kata2 Nie Suat Kiao yang menyayat hati ;

“Apakah kau kira aku tidak berani niengikuti dia?"

Siang-koan Kie per-lahan2 menoleh kearahnya, ia berkata sambil menghormat ;

‘Aku mengharap supaya nona baik2 mengawasi saudaraku itu, selama siang-koan Kie masih hidup selalu akan mengingat budimu ini."

Nie Suat Kiao tiba-tiba menentang kedua tangannya, air mata mengalir bercucuran, sambil mengawasi Wan Hauw ia berkata dengan suara perlahan: “Lekas kemari."

Wan Hauw menurut, ia menghampiri dengan takut-takut, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

“Lekas gendong aku," berkata Nie Suat Kiao.

Wan Hauw baru berani mengulurkan kedua tangannya untuk memondong tubuh Nie Suat Kiao.

Sambil melendot dipundak Wan Hauw, Nie Suat Kiao berkata dengan suara perlahan;

“Apakah kau hendak bawa aku pergi mengambil golok mas itu?"

“Ya! Golok itu tidak sama dengan golok yang ada didalam dunia."

“mari lekas jalan!"

“Aku hendak mengucapkan beberapa patah kata jagan toako, baru berangkat, bolehkah?"

“Tidak usah, setelah kita pergi, selamanya aku tidak ingin melihat dia lagi " Wan Hauw tercengang;

“Tetapi toako memperlakukan aku baik sekali," “Aku dapat memperlakukan kau lebih baik." “Tetapi toako, toako "

Wan Hauw merasa sangat terharu, perkataannya tak dapat menyampaikan maksudnya hanya beberapa patah kata toako saja yang keluar dari mulut, tidak ada kata-kata lain yang dapat diucapkan.

“Saudara Wan, kalian pergilah, nanti jikalau kau bertemu suhu, jangan lupa sampaikan hormatku" berkata Siang-koan Kie sambil melambaikan tangannya. Wan Hauw sejenak merasa terkejut. Tibaa2 mengeluarkan suara mengaung, kemudian melompat melesat dan lari sekencang-kencangnya.

Siang-koan Kie mengawasi berlalunya dua orang itu, dalam hatinya timbul perasaan tidak keruan, rasa pilu yang mendadak telah memukul hebat perasaannya, sehingga tanpa dirasa mulutnya sudah menyemburkan darah segar.

Perlahan-lahan ia duduk, kemudian menutup latanya untuk mengatur pernapasannya. ia hanya merasa pikirannya terlalu kalut, susah ditenangkan lagi, ia tidak sanggup mengusir semua perasaan yang menggangu pikirannya, tanpa disadarinya matanya sudah penuh dengan air mata-

Dalam keadaan demikian tiba-tiba terdengar suara tarikan napas panjang; kemudian disusul oleh Touw Thian Gouw ber-bisik2 pada Siang-koan Kie :

“Saudara, didalam keadaan demikian, aku mengharap dengan sangat supaya kamu suka dengar perkataanku, aku hendak membuka totokaanmu, tetapi bagaimanapun juga kau harus menahan sabar, jika tidak dipergoki musuh jangan bertindak apa2."

Setelah itu ia lalu membuka totokan Siang-koan Kie dan mengurut badannya,

Siang-koan Kie menarik napas dalam2, kemudian berkata ; “Entah nona Nie dan saudaraku itu, sudah dapat

meloloskan diri atau tidak?"

“Mereka sudah lama berhasil menghindari penyelidikan pasukan berbaju hitam itu, saat itu mungkin sudah berada sejauh beberapa puluh pal" berkata Touw Thian Gouw.

Siang-koan Kie kembali menarik napas, ia menyandarkan dirinya disebuah dahan besar sambil memejamkan matanya. Jelas bahwa keadaan penyakitnya bertambah keras. Touw Thian Gouw bertanya dengan suara perlahan : “Saudara sedihkah hatimu?', Siang-koan Kie

menganggukan kepala tidak menjawab.

Touw Thian Gouw meraba dahinya, bukan kepalang terkejutnya, karena dahi Siang-koan Kie yang tadi panas membara, kini telah berubah dingin.

Ia mengamat2i muka Siang-koan Kie yang tadi merah, kini sudah berubah menjadi pucat pasi.

Suara beradunya senjata terdengar semakin hebat.

Pengalamannya yang laas, mernbuat Touw Thian Gouw segera dapat mengenali dari suara itu bahwa dalam rimba itu sedang berlangsung pertempuran sengit, hingga seketika itu hatinya merasa sangat girang, ia berkata dengan suara perlahan ;

“Saudara harap kau bersabar lagi sebentar, rombongan ini pengawal baju itu agaknya sudah berjumpa dengan orang2 kuat dari golongan pengemis.." belum lagi habis perkataannya, tiba2 terdengar suara siulan gencar, suatu tanda bahwa rombongan pengawal baju hitam itu mengundurkan diri.

Seorang laki2 tinggi besar berpakaian abu2, dengan tangan menenteng pedang berjalan lebih dulu memasuki rimba hijau, laki2 itu bukan lain daripada Koan Sam Seng dari golongan pengemis,

Dibelakang dirinya diikuti oleh beberapa puluh orang.

Touw Thian Gouw Sarnbil memondong Siang-koan Kie lompat turun dari atas pohon.

Karena ia memakai pakaian seragam pengawal baju hitam maka begitu menginjak tanah, segera dikurung oleh orang2 golongan pengemis Koan Sain Seng dapat mengenali diri Touw Thian Gouw, maka lalu berkata ;

“Apakah ini bukan saudara Touw? Mengapa mengenakan pakaian demikian?"

Touw Thian Gouw tersenyum, ia juga tidak memberi keterangan, hanya berkata sambil menunjuk Siang-koan Kie yang berada dalam pondongan.

“Saudaraku sakit keras, perlu mencari obat, sudah lama siaote dengar Teng sianseng pandai sekali ilmu obat maka saudara Koan supaya suka bawa siaote kesana, segala- galanya nanti setelah bertemu dengan Teng sianseng akan siaote ceritakan semua"

Koan Sam Seng memandang Siang-koan Kie sejenak, pemuda itu nampak sedang pejamkan matanya, wajahnya pucat, penyakitnya agaknya memang benar sangat keras, setelah berpikir sejenak ia lalu berkata;

“Aku memang sedang diminta oleh Teng sianseng membawa empat puluh delapan pasukan berani mati untuk merebut rimba ini, sekarang rombongan pengawal baju hitam itu, meskipun semua sudah diusir dari sini tetapi aku masih perlu tinggal disini untuk mengatur orang2ku, untuk sementara barangkali sulit membagi diriku......." ia berhenti sejenak, "begini saja Dari empat puluh delapan pasukan berani mati itu akan kupilih empat orang untuk membawa kalian berdua menjumpai Teng sianseng."

-odwo-

Bab 72

TOUW THIAN GOUW mengerti bahwa empat orang anggauta pengemis itu, meskipun dikatakan sebagai pengantar, sebetulnya disuruh mengawasi gerak geriknya, tetapi dibawah keadaan demikian sudah tentu ia juga tidak dapat menyalahkan tindakan Koan Sam Seng itu, maka ia lalu memberi hormat seraya berkata :

“Terima kasih atas bantuan saudara."

“Penasehat kita Teng Sianseng, pengetahuannya dan ilmu obat2annya serta memeriksa orang sakit, sesungguhnya memang pandai, saudara Touw ini, rasanya tidak sulit disembuhkan penyakitnya," berkata Koan Sam Seng sambil tertawa.

Touw Thian Gouw dibawah kawalan empat orang dari golongan pengemis, setelah melalui rimba itu, lari menuju ketanah datar yang luas, berjalan kira2 setengah jam, dari jauh telah tampak suatu perkampungan kecil.

Dua dari antara empat pengawal itu tiba2 memperlambat gerak kakinya, berjalan kedalam perkampungan kecil.

Touw Thian Gouw mengawasi Siang-koan Kie yang berada dalam pondongannya, pemuda itu memejamkan matanya, agaknya sedang tidur nyenyak sekalipun lari demikian jauh dan lama ternyata sedikitpun tidak tersadar. Keadaan ini sangat mengherankan Touw Thian Gouw. 

Dua orang golongan pengemis lagi yang mengikuti dibelakang Touw Thian Gouw, mendadak berkata dengan suara perlahan ;

“Harap tuan tunggu disini sebentar, mereka sedang memberi lapor lebih dahulu."

Tidak berapa lama, nampak muncul Teng Soan yang datang menyambut dengan diikuti oleh dua orang dari golongan pengemis tadi, orang cerdik dan pandai itu segera berkata sambil tertawa;

“Kedatangan Touw tayhiap sangat kebetulan, mari masuk kedalam perkampungan ini." Mata Teng Soan berputaran menatap wajah Siang-koan Kie seraya berkata :

“Kenapa, apakah ia terluka?”

“Ia sedang dihinggapi penyakit, tolong sianseng memeriksa badannya," berkata Touw Thian Gouw.

“Silahkan masuk dulu," berkata Teng Soan yang, segera memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu.

Touw Thian Gouw mengikuti dibelakangnya, menuju kesebuah gubuk yang dikitari oleh pagar bambu.

Disebuah ruangan yang cukup luas dalam gubuk itu, terdapat sebuah meja kayu merah. diatas meja itu penuh tumpukan kertas dan alat2 tulis.

Teng Soan setelah mengajak tetamunya duduk, lalu memerintahkan dua orang tadi keluar.

Teng Soan meletakkan kipasnya diatas meja se raya berkata:

“Menolong orang seperti menolong kebakaran biarlah siaote periksa dulu nadinya."

“Penyakitnya datangnya secara mendadak dan aneh sekali, barangkali bukan penyakit biasa "

Teng Soan hanya menganggukkan kepala tidak mengucapkan apa2, ia memegang dan memeriksa getaran nadi Siang-koan Kie sambil memejamkan natanya.

Lama sekali, baru membuka matanya dan berkata; “Penyakitnya memang benar agak berat."

„Apakah masih dapat ditolong?"

„Tidak ada bahaya bagi jiwanya, tetapi memerlukan waktu yang cukup untuk mengobatinya.

“Tolong Sianseng memberikan obatnya." ”Diperkampungan yang sepi ini, mana ada toko obat, terpaksa siaote akan meniberikannya lebih dulu beberapa butir obat pel buatan siaote sendiri, untuk sekedar memberi bantuan tenaga, kemudian siaote akan menyuruh orang membelikan obatnya."

“Semua terserah kepada Sianseng."

”Saudara jangan khawatir," berkata Teng Soan, lalu mengeluarkan dua butir obat pel lebih dulu ia mencairkan dengan air panas, lalu memasukan dalam mulut Siang-koan Kie, kemudian ia bertanya kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan;

“Penyakit saudara Siang-koan ini, rupanya seperti disebabkan kerena terganggu pikirannya dan menggunakan tenaga terlalu banyak serta terkena angin dingin pula. "

“Keterangan Sianseng ini semua benar, selama berapa hari ini, ia memang benar-benar terlalu letih."

“Ada sedikit yang siaote masih kurang mengerti, harap saudara memberi keterangan sebenar-benar-

“Apa yang siaote tahu sudah tentu siaote akan beritahukan,"

“Itu adalah yang paling baik, saudara Siang-koan Kie ini, didalam waktu beberapa hari ini, apakah mengalami kejadian yang melukai hatinya?"'

“Memang ada, aih! Jiwa jantannya berlawanan dengan hati sanubarinya dan perasaannya yang halus, selalu bertindak untuk kebaikan orang lain, sedang ia sendiri, mandah hatinya menderita dan hancur luluh."

“Apakah artinya perkataanmu ini?"

Touw Thian Gouw terpaksa menceritakan semua nya apa yang dialami oleh Siang-koan Kie, tetapi tentang pengalamannya belajar ilmu pedang dikuil tua itu, ia sengaja tidak diceritakan.

“Benar-benar seorang gagah yang berjiwa besar dan berhati mulia, pantas ia seolah-olah sudah tidak ingin hidup, tidak mau menggunakan kekuatan tenaganya untuk melawan penyakit."

“Benarkah disebabkan karena urusan asmara itu?"

“Dalam pemeriksaanku, gerak nadinya meskipun lemah tetapi tidak berbahaya, penyakitnya nampak berat, tetapi kekuatan tenaga dalamnya tidak terganggu."

“Kalau demikian halnya, ia ternyata suka kepada nona Nie itu, sehingga pikirannya terganggu dan hendak menutup jalan hidupnya sendiri."

Teng Sian berpikir sejenak, tiba2 mengangka kepala dan berkata ;

“Menurut pikiran siaotee, tindakan saudara Siang koan ini, bukan saja menunjukkan jiwa kesatrianya yang besar, tetapi juga ingin supaya nona Nie itu dapat hidup dengan saudara Wannya "

“Dugaan Sianseng sangat jitu, mungkin Sian seng masih mempunyai pikiran diluar dugaan siaotee, bolehkah kiranya Sianseng memberi keterangan lebih jelas?"

“Siaote mengerti sedikit tentang ilmu bintang, nona Nie itu dibalik kecantikan parasnya, mempunyai sifat keras bagaikan baja, sifatnya tidak kalah dengan sifat seorang jantan, seharusnya ia mempunyai watak sebagai seorang pemimpin."

“seorang wanita dapat memimpin satu golongan, jikalau tidak mempunyai kepintaran dan kepandaian luarbiasa, sesungguhnya tidak mudah, keterangan sianseng ini memang benar." “Nie Suat Kiao mempunyai sifat dan bakat seorang pemimpin yang memegang kekuasaan, kemauannya keras, lagi pula pintar dan cerdas, semua ini masih diatas saudara Siang-koan, apabila mereka menjadi suami istri, nona ini mau tidak mau pasti tunduk kepada suaminya, bahkan mungkin meninggalkan pelajaran ilmu silatnya dan mengganti dengan pekerjaan sebagai istri yang bijaksana, bukankah ini berarti tidak akan menyiakan kecerdasan dan kepandaiannya?........

Didalam dunia tiada satu urusan yang semuanya baik, begitu pula dengan manusia, tidak ada yang sempurna seratus persen, Nie Suat Kiao seorang gadis cantik mendapat suami sebagai Wan Hauw, penghidupan suami istri mungkin kurang kesenangan, tetapi terhadap kepandaian ilmu silat mereka akan memberi banyak bantuan, Wan Hauw yang dilahirkan dengan pembawaannya, sehingga menjagoi seorang yang bertenaga, meskipun diluarnya kelihatan buruk, namun didalamnya cerdik, oleh karena ia sendiri mengerti bahwa paras yang jelek tidaklah pantas menjadi kawan hidup gadis cantik seperti Nie Suat Kiao, dengan sendirinya ia akan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mempertinggi kepandaian ilmu silatnya, hal ini akan mendorong padanya menjadi seorang yang gagah yang mungkin susah dicari tandingannya."

“Keterangan Sianseng ini, benar2 sangat mengagumkan." “Nie Suat Kiao ada seorang yang keras kepala dan tinggi

hati, meskipun rasa tidak pantas mendapat suami jelek, tetapi ia juga pasti akan melakukan kewajiban sebagai istri tidak akan berlaku serong, didalam keadaan demikian, bagaimana harus melewatkan harinya? Wan Hauw tidak bisa berlaku ramah dan lemah lembut, sedang ia sendiri juga tidak dapat berlaku lemah lembut pula, dengan sendirinya pasti akan curahkan seluruh pikiran kepada segala ilmu siasat. Kecerdikan nona itu untuk menganalisa sesuatu urusan sesungguhnya tidak dibawah siaote, apabila bisa mendapatkan. " “Sianseng hampir tidak ada waktu untuk beristirahat, hari ini Sianseng nampak agak kurus, kalau siaote boleh mengutarakan pikiran siaote yang agak gegabah, siaote melihat keadaan Sianseng. "

Teng Soan per-lahan2 bangkit lalu berkata;

“Terima kasih atas perhatian saudara, hari sudah akan gelap, saudara Touw juga seharusnya beristirahat dulu."

Touw Thian Gouw menarik napas perlahan, ia bangkit dan memberi hormat, kemudian lambat berjalan keluar.

Tiba diambang pintu, tiba2 ia merandek dan berkata; “Keselamatan Siang-koan Kie kuserahkan kepada Teng

Sianseng."

“Saudara jangan khawatir, begitu nanti pikiran saudara Siang-koan sudah jernih kembali, siaote pasti akan berusaha sedapat mungkin untuk menasihatkannya, supaya ia terbuka pikirannya."

Touw Thian Gouw baru melangkah keluar, sudah disambut oleh seorang anggauta golongan pengemis, diajak kesuatu tempat peristirahatannya.

Selama beberapa hari ini, Touw Thian Gouw tidak ada waktu untuk beristirahat, karena ia harus hati2 terhadap Kun- liong Ong, jangan sampai rahasianya diketahui oleh orang- orangnya, ia juga harus berlaku hati2 jangan sampai menimbulkan Salah paham dari orang2 golongan pengemis, sebab dengan pakaian seragamnya pengawal berbaju hitam, bila kurang hati2 dapat menimbulkan akibat tidak enak bagi dirinya, tetapi ia juga harus mengadakan perhubungan dengan orang2 dari barisan pengawal baju hitam untuk mencari gerak geriK kun-liong Ong.

Masih untung orang-orangnya Kun-liong Ong sebagian besar sudah diberi obat yang membuat lupa dirinya, sehingga hubungan satu sama lain sangat dingin, kecuali beberapa anggauta penting, kebanyakkan satu sama lain seperti tidak saling kenal mengenal, dengan pengalamannya yang luas didunia Kang-ouw, Touw Thian Gouw berada diantara mereka, dengan segala kecerdikannya, ternyata berhasil menempatkan diri dengan selamat sampai sepuluh hari lebih, tetapi selama itu, ia harus memutar otak dan menggunakan tenaga yang tidak sedikit sehingga dirasakan terlalu berat, kini setelah mendapatkan tempat yang aman untuk beristirahat, maka semua tegangan yang dirasakan selama itu, telah lenyap seluruhnya tanpa disadari ia sudah tertidur pulas. Entah berapa lama telah berlalu, waktu ia tersadar, matahari sudah naik tinggi, tetapi ia tidak tahu apakah itu matahari terbit ataukah selam?

Suara batuk2 perlahan terdengar diluar kamar, lalu nampak muncul dirinya Teng Soan yang berjalan masuk lambat2 sambil membawa kipas yang selalu tidak terlepas dari tangannya.

Touw Thian Gouw buru2 bangkit dan menyambutnya seraya berkata:

“Maafkan kehiapan siaote yang tidak keluar me-nyambut."

Teng Soan berkata sambil menggelengkan kepala serta tertawa;

“Untuk kepentingan kita, saudara telah menempuh bahaya, memberikan banyak info tentang gerakan Kun-Iiong Ong, pangcu kita dan siaote sendiri, sangat berterima kasih atas bantuan saudara ini."

“Sumbangan sedikit tenaga yang tidak berarti, untuk apa Sianseng anggap begitu tinggi.”

Ketika melihat wajah Teng Soan yang pucat samar2 menunjukan tanda letih, diam2 ia merasa malu sendiri, pikirnya : ”dia seorang yang sama sekali tidak mempunyai kepandaian ilmu silat, badannya lemah, akan tetapi semangat bekerja menyala2 bagaikan baja, sesungguhnya jarang ada.” Teng Soan menarik napas dalam2 dan berkata dengan sikap serius :

“Siaote tadi ingin membangunkan saudara, tetapi karena melihat saudara sedang tidur nyenyak, siaote tidak berani mengganggu, maka siaote menunggu disini "

Mendengar kata2 itu, Touw Thian Gouw terkejut, ia bertanya ;

“Sianseng ada keperluan apa?"

”Penyakit sahabatmu terjadi perobahan, ini diluar dugaan siaote "

Touw Thian Gouw terperanjat, katanya ; „Apakah sakitnya bertambah keras?"

“Hingga saat ini, pikirannya belum pernah jernih." “Apakah membahayakan bagi jiwanya”

“Sekarang masih susah dikata, harap saudara pergi menengoknya!"

“Tolong Sianseng ajak siaote."

Teng Soan membalikkan badannya, lalu berjalan keluar dengan tindakan lebar Touw Thian Gouw mengikuti dibelakangnya, berjalan kira2 tujuh delapan tombak masuklah ke-sebuah gubuk yang dibangun disebuah pohon besar.

Gubuk itu meskipun kecil, tetapi dalamnya sangat bersih, didalam sebuah kamar, terdapat sebuah balai kayu, diatas balai itu rebah Siang-koan Kie yang masih memejamkan matanya.

Touw Thian Gouw segera memanggilnya : “Saudara, apakah penyakitmu berat?" Suara itu meskipun cukup nyaring, tetapi Siang kom Kie seperti tidak mendengar, ia masih memejamkan matanya tanpa bergerak.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan keadaan de mikian, diam2 juga terkejut.

Teng Soan yang berada disampingnya berkata dengan suara perlahan ;

“Sakit pikiran harus diobati dengan pikiran pula! saudara Touw coba ingat2 urusan apa yang kiranya masih tidak bisa terlepas dari pikiran sahabatmu ini, coba saudara mengingatkan dengan kata2 yang mengenakan tepat urusan itu, hal ini lebih mustajab dari segala obat yang bagaimanapun manjurnya."

Touw Thian Gouw mengangguk2an kepala, dan berkata ; “Pendapat Sianseng ini memang tepat."

Setelah itu ia lalu duduk dipinggir balai sambil putar otaknya.

Teng Soan mengawasi mereka sejenak, tidak berkata apa2, kemudian berlalu dengan diam-diam.

Sebentar kemudian, Touw Thian Gouw yang selama itu sedang berpikir sambil pejamkan matanya, tiba2 wajahnya mengunjukan senyum girang lain membuka matanya dan menepuk nepuk pundak Siang-koan Kie seraya berkata ;

“Saudara, mendusinlah, aku hendak bicara denganmu " “Tidak perlu bicara lagi, aku sudah tidak bisa hidup lebih

lama," rnenjawab Siang-koan Kie hambar.

Touw Thian Gouw terperanjat, ternyata pemuda itu sudah tidak mempunyai keinginan hidup iagi, ia lalu memperdengarkan suara batuk-batuk, kemudian berkata pula: “Kau nampaknya sudah putus harapan dan membiarkan penyakitmu bertambah berat, apakah itu disebabkan lantaran nona Nie itu?"

Siang-koan Kie agaknya mendengar nyata semua perkataan yang diucapkan oleh Touw Thian Gouw, namun ia hanya mengunjukkan senyum pahit tidak berkata apa-apa.

Touw Thian Gouw menarik napas perlahan, katanya: “Saudara, tidak dapat menjauhkan diri dari gangguan

asmara, memang merupakan suatu penderitaan bathin yang sangat hebat bagi manusia. tetapi kau jangan berbuat demikian, bukankah akan mengecewakan pengharapan Yang Goan Totiang yang mewariskan kau ilmu pedang Thay-kek- hui-hiam, betapakah besarnya tangguug jawab ini? Apa-lagi kau sudah menerima baik permintaan Yang Goan Totiang, hendak menggunakan seluruh tenaga-mu untuk melindungi keselamatan partai Bu-tong? Aih! saudara, seorang laki-laki jantan yang sudah menyanggupi sesuatu permintaan orang, harus dapat memenuhinya, bagaimana hanya karena wanita lalu menelantarkan kewajiban besar ini?"

Siang-koan Kie mendadak membuka lebar matanya, dengan sinar mata yang tajam menatap wajah sahabatnya itu, kemudian berkata;

“Kalau begitu aku tidak boleh mati."

“Bukan saja tidak boleh, bahkan itu tidak seharusnya."

Siang koan Kie memejamkan matanya, air matanya mengalir keluar, katanya:

“Tidak seharusnya aku menerima baik permintaan Yang Goan Totiang mempelajari ilmu pedang Thay-kek hui- kiam. "

“Tetapi sekarang sudah terlambat, dalam dunia pada dewasa ini, kecuali kau, sudah tidak ada orang keduanya yang dapat menggunakan ilmu pedang Tliay-kek-hui-kiam." Siang-koan Kie tiba-tiba lompat bangun, ia mengibas- ngibaskan keringat badannya, kemudian berkata;

“Touw toako, penyakitku sudah sembuh, aku minta kau supaya menerima baik satu permintaanku."

‘Jangankan satu, sepuluh atau seratus perkarapun, toakomu sudah tidak akan menolak."

“Demikianlah kita tetapkan."

“Aku sudah menerima baik, kau seharusnya memberitahukan kepadaku permintaan apa yang kau ingin aku Lakukan?"

“Bawalah aku mencari Kun-liong Ong;"

“Mencari Kun-liong Ong?" bertanya Touw Thian Gouw terkejut.

“Benar, aku hendak menantangnya dengan seorang diri."

Touw Thian Gouw buru-buru menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala;

“Kau jangan gegabah, jangan kata empat raja muda itu yang masing-masing mempunyai kepandaian tinggi sendiri- sendiri, hanya barisan pengawal baju hitam, sudah cukup memusingkan dirimu. " ia berhenti sejenak," barangkali kita

untuk melihat muka Kun-liong Ong saja, juga susah, apa lagi hendak bertempur dengannya.”

“Apabila ia ada seorang yang mudah diciari, siaote juga tidak berani minta pertolongan toako.”

Thouw Thian Gauw menampak sinar matanya mengandung keinginan keras dari kemauannya, berpikir agak lama baru berkata ;

“Baiklah, toakomu nanti akan berusaha mencarikan untukmu." “Siaote masih mempunyai suatu permintaan yang mungkin kurang pantas."

“Katakanlah!"

“Sebelum kita pergi, harap Touw toako pegang rahasia, jangan sampai bocor."

“Mati dimedan pertempuran, biar bagaimana lebih baik daripada mati dipembaringan, aku terima baik permintaanmu."

Pada saat itu tiba2 terdengar suara orang tertawa, kemudian disusul oleh munculnya Teng soan dihadapan mereka. sambil bersenyum gembira orang cerdik pandai itu berkata ,

“Sepatah kata Touw tayhiap, sudah cukup meringankan sebegian besar beban siaote "

“didepan sianseng ini apa perlunya?" bertanya Touw Thian Gouw.

“karena Touw tayhiap sudah membawa saudara siang-koan kie datang kemari, itu berarti hidup mati saudara Siang-koan Kie menjadi tanggung jawabku, apalagi. "

Siang-koan Kie sangat terharu mendengar jawaban itu, ia buru-buru berkata ;

“Perhatian Sianseng yang begitu besar terhadap diriku, kuucapkan banyak2 terima kasih!"

“Aku tadi sudah mengeluarkan omongan besar, rnengatakan bahwa penyakit saudara Siang-koan pasti tidak halangan, tak kusangka penyakit Siang-koan meski dapat ditolong, tetapi penyakit dalam pikirannya, sudah tidak tertoloug," berkata Teng Soan sambil bersenyum,

“jikalau saudara Siang-koan sendiri sudah putus harapan untuk hidup, sekalipun aku pandai mengobati juga tidak ada gunanya, maka selama beberapa hari ini, kedua pundakku seolah2 dibebani pikulan yang sangat berat hati dan perasaan terganggu semakin hebat: hingga hari ini, dengan beberapa patah kata Touw tay hiap, telah membangkitkan semangat hidup saudara Siang-koan, asal makan obat lagi beberapa ha- ri, penyakit saudara Siang-koan segera sembuh!"

“Kepandaian Teng Sianseng sesunggulmya sangat mengagumkan," berkata Touw Thian Gouw sambil memberi hormat.

“Sembuhnya penyakit saudara Siang-koan, semua adalah jasa Touw tay-hiap. " berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Sianseng terlalu merendahkan diri!"

“Bukan begitu, obatku hanya dapat menolong sakit saudara siang-koan, tetapi ucapan Touw tay-hiap sudah menolong penghidupan hatinya, mempunyai raga tetapi tidak mempunyai hati, meskipun hidup seperti juga mati. Jikalau semangat hidup berkobar kembali sekalipun tidak diobati juga bisa hidup."

“Kalau begitu, siaote ingin mengucapkan beberapa patah kata untuk menasehati Sianseng!"

“Siaote bersedia mendengar.”'

“Badan Sianseng kian hari nampak semakin kurus, wajah ya juga nampak pucat, tentunya disebabkan karena Sianseng terlalu banyak pekerjaan terlalu banyak menggunakan pikiran sehingga nampak tanda2 agak kurang sehat!"

Teng Souu menarik napas panjang kemudian ber kata dengan lambat2 ;

“Makan sedikit bekerja banyak, siaotee juga tahu sudah tidak lama hidup dalam dunia!"

Touw Thian Gouw diam2 menghela napas, sebelum ia membuka mulut, sudah didahului oleh Siang-koan Kie ;

“Sianseng merupakan tiang dalam rimba persilatan pada dewasa ini, sesuatu tindakan dapat membawa akibat nasib seluruh rimba persilatan, selagi dunia diliputi oleh kabut bahaya seperti sekarang ini, sianseng bagumanapun juga tidak boleh mati!"

“Hidup atau mati tergantung kepada Tuhan, soal mati hidupku, bagaimana dapat kukuasai, sendiri? Hanya. atas

perhatian yang begitu besar dari kalian berdua, sesungguhnya membuatku merasa sangat benerima kasih."

„Namun demikian, tetapi Sianseng juga seharusnya menjaga diri sendiri, jangan terlalu menforsir tenaga dan pikiran, sedapatnya berusaha supaya mendapat waktu untuk beristirahat,......."' berkata Touw Thian Gouw sambil menarik napas.

Teng Soan diam, tiba2 mengangkat muka dan berkata ; “Kalian berdua pernahkah mendengar ucapan : bekerja

keras sehingga ajal tiba, yang termasyhur itu!"

Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie saling berpandangan sebentar, sesaat itu perasaannya seperti tertindih, tiada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Karena dua orang itu sudah timbul rasa kagum dan menjunjung tinggi kepada Teng Soan, maka kematian Teng Soan menjadi perhatian mereka.

“Siaotee seorang biasa, meskipun tidak berani menyamakan diri sebagai Cu-kat sianseng dari jaman tiga negara (Samkok), tetapi berada dalam zaman dan keadaan seperti sekarang ini, menempatkan siaotee kesuatu kedudukkan yang tidak beda dengan Cu-kat sianseng, siaotee telah menerima budi pangcu, juga hanya............." mendadak ia menarik napas panjang dan tiada berkata Iagi. Suasana didalam kamar itu tiba2 berobah gawat, Walaupun Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw berusaha hendak memecahkan kegawatan dan kesunyian itu, tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan. Lama sekali, tiba2 nampak Teng Soan bersenyum dan berkata dengm lambat2 ;

“Tetapi kalian jangan khawitir sekalipun siaotee mati, tetapi itu bukan berarti tidak ada gantinya, maka siaotee juga sudah merasa lega."

“Kepandaian dan kepintaran Sianseng, untuk dewasa ini belum ada yang duanya, siaotee sudah menjelajah keseluruh tempat, sesungguhnya belum pernah menemukan ada orang yang dapat menggantikan Sianseng," berkata Touw thian Gouw.

"Orang yang siaotee maksudkan itu bukan saja kecerdikannya dan kepandaiannya tidak dibawah siaotee, bahkan masih diatas siaotee, cuma sayang ”

la berpaling dan menatap wajah Siang-koan kie sejenak, tiba2 bungkam.

Hati Touw Thian Gouw tergerak, diam-diam bertanya-tanya kepada diri sendiri; orang yang dimaksudkan oleh Teng sianseng ini, mungkinkah dia?.

Sementara itu dua anak buah golongan pengemis telah rnasuk dengan membawa nampan yang penuh hidangan.

Teng Soan Ialu berkata sambil tertawa:

“Sedikit hidangan ala kadarnya, bukan berarti apa-apa, silakan saudara makan sebagai ucapan selamat atas sembuhnya saudara Siang-koan."

Dua anak buah golongan pengemis itu setelah mempersiapkan hidangan diatas meja, lalu berlalu.

Teng Soan mempersilahkan Touw Thian Gouw dan Siang- koan Kie duduk ditempat masing2, sudah tentu mereka tidak dapat menolaknya Selama beberapa bulan, Touw Thian Gouw belum pernah mendapat makanan dan minuman arak yang begitu baik, maka ia segera makan dan minum sepuas-puasnya.

“Sudah lama siaotee tidak merasakan minuman arak, siaote sangat berterima kasih mendapat kehormatan Sianseng yang begini besar," demikian ia berkata,

“Pangcu kita sebetulnya hendak datang untuk melayani sendiri, tetapi karena baru saja menerima kabar sangat penting, terpaksa harus pergi sendiri dengan tergesa-gesa, anak buahnya yang berkepandaian tinggi, sebahagian besar sudah ikut serta, maka hanya tinggal siaote seorang diri yang dapat mengawani kalian berdua, tetapi siaote selamanya jarang minum arak, harap kalian berdua minum sendiri sepuas-puasnya," berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Apakah pangcu menerima laporan tentang pergerakan kun-liong Ong?," bertanya Touw Thian Gouw.

“Benar, pada pagi-pagi hari ini, Kun-liong Ong telah muncul disuatu tempat yang terpisah kira2 lima pal dari sini, nampaknya sangat tergesa-gesa dengan cepat sudah menghilang lagi..........

“Apakah pangcu hendak pergi menyelidiki?"

“Kun-Iiong Ong telah muncul dengan tiba-tiba sudah tentu hendak mengatur suatu siasat sangat penting, maka Pangcu terpaksa pergi sendiri dengan membawa pembantunya yang terkuat. "

Sementara itu seorang anak buah golongan pengemis masuk kekamar dengan membawa setumpuk pakaian yang segera diserahkan dan berkata kepada Teng Soan:

“Teng-ya, pakaian sudah sedia."

“Letakkan disana dan pergilah!" berkata Teng Soan sambil menganggukkan kepala dan menunjuk kebalai-balai: Orang itu setelah meletakkan bungkusan pakaian itu lalu berlalu.

Teng Soan lalu berkata kepada Siang-koan Kie:

“Pakaian saudara Siang-koan sudah basah seluruhnya, tukarlah dengan yang baru itu."

“Terima kasih atas kecintaan dan perhatian Sianseng," berkata Siang-'toan Kie yang scgera mengambil bungkusan pakaian itu dan mengundurkan diri kekamar lain untuk ganti pakaian.

Setelah Siang-koan Kie berlalu, Touw Thian Gouw berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan :

“Sianseng menilai sesuatu perkara, belum pernah meleset, maka tidak perlu siaote banyak bicara, tetapi ada beberapa perkataan siaote yang barangkali kurang tepat, makan seperti tulang dalam tenggorokkan, belum merasa lega kalau belum dikeluarkan."

“saudara terangkan saja."

„Orang2 kuat dalam golongan pengemis telah ikut serta semua kepada Auw-yang pangcu untuk mengejar jejak Kun- liong Ong, sedangkan penjagaan ditempat ini tidak diperkuat, bukankah itu berarti suatu kelemahan? Apabila Kun-liong Ong menggunakan siasat memancing Harimau meninggalkan guanya, lalu ia menggunakan kesempatan ini menyerang dengan satu pasukan yang kuat, bukankah "

Touw Thian Gouw berkata sampai disitu tibas merasa bahwa ucapan selanjutnya terlalu tidak enak, maka segera menutup mulut.

Teng Soan berkata sambil menganggukan kepala. “KeKhawatiran saudara memang pada tempatnya tetapi

siaote kira Kun-liong Ong sebelum jelas mengetahui kekuatan keadaan kita, tentu tidak berani berlaku gegabah, apalagi Kun-liong Ong tentu tidak mau menyerah mentah2 dan mengundurkan diri begitu saja setelah gagal usahanya hendak membasmi kita; Ia seorang berkepandaian tinggi dan mempunyai ketajaman otak luar biasa, ia sudah anggap dirinya sebagai orang terkuat dalam rimba persilatan dewasa ini, kekalahannya itu pasti merasa penasaran dan membangkitkan ambisinya yang selalu ingin menang saja, ia pasti hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengadu kekuatan secara terang2an dengan golongan pengemis."

Ia mengangkat cawannya, setelah diminum kering ia berkata pula sambil tertawa ;

“Tetapi kesombongannya dan ambisinya yang besar, setelah mengalami kekalahan besar, dengan terbakarnya habis tanah datar seluas sepuluh pal yang hendak digunakan untuk menjebak kita, membuat ia tidak berani berlaku gegabah dan memandang ringan kekuatan musuhnya "

Seorang anak buah golongan pengemis tiba2 lari masuk, setelah berkata sebentar dengan suara perlahan kepada Teng Soan, ber.lalu lagi tergesa2.

Teng Soan mengerutkan alisnya, ia berkata kepada dirinya sendiri';

“Hal ini agak runyam."

Touw Thian Gouw yang coba hendak berlaku sabar, tetapi karena tertarik oleh perkataan Teng Soan itu, maka akhirnya bertanya ;

“Sian-seng, apakah ada anak buah golongan pengemis yang menemukan jejak orangnya Kun-liong Ong?. "

Siang-koan Kie segera berkata ;

“Tidak apa, biarlah siaote dan Touw toako yang menghadapi lebih dahulu."

Teng Soan lalu berkata sambil tersenyum : “Orang gagah paling takut menghadapi penyakit, saudara Hang-koan meskipun pikirannya sudah jernih, tetapi kekuatan badannya masih belum pulih kembali, sekalipun benar ada orang-nya Kun-liong Ong datang. menyerang juga tidak perlu segera bertindak, apalagi orang yang datang itu bukanlah orangnya Kun-liong Ong."

“Apa sebetulnya yang telah terjadi?", bertanya Touw Thian Gouw.

“Kenalkah saudara dengan orang yang bernama Kiang Su im itu," bertanya Teng Soan.

“Nama itu sudah pernah dengar, tetapi belum kenal orangnya," jawab Touw Thian Gouw"

“Nah, orang itu entah mengalami kejadian apa yang menyedihkan hatinya, sering bergelandangan di-tempat dekat2 ini seperti lakunya seorang gila, anak buah kita yang bertugas menjaga keamanan sekitar daerah ini, entah sudah berapa banyak jumlahnya yang terluka ditangannya.

“Apakah Sianseng hendak kirim orang untuk menghadapinya?"

“Orang ini berkepandaian tinggi sekali, apalagi dalam keadaan sedang terpengaruh pikirannya, sekalipun ingin mengutus orang untuk menghadapinya, juga tidak dapat menemukan orang yang dapat mengimbangi kepandaiannya."

“Apakah ia sekarang muncul lagi?"

“Bukan saja sudah muncul, bahkan sudah melukai beberapa anak buah kita."

“Kalau begitu siaote ingin pergi menengok." Siang-koan Kie tiba2 berdiri dan berkata;

“Jalan! Aku ikut sama toako!"

“Silakan duduk dulu......" berkata Teng Soan sambil menggelengkan kepala. Sementara itu suara bentakan keras terdengar di luar kamar:

“Siapa yang membawa pergi anakku Siapa yang membawa pergi anakku?. "

Suaranya itu mengandung penuh rasa duka sehingga kedengarannya sangat mengharukan.

Dua orang berpakaian abu-abu dengan sikap ter-gesa-gesa lari masuk dan berkata kepada Teng Soan:

“Teng-ya, orang itu sudah masuk kedalam kampung, perlukah kita bertindak menyegahnya?"

Teng Soan mendengarkan dengan sikap tenang, kemudian berkata;

“ia telah kehilangan anaknya, karena pikirannya bingung sehingga menjadi gila, kalau tidak lekas diobati, barangkali akan gila benar-benar, pancinglah ia Supaya masuk kemari!"

Dua orang itu terkejut, katanya;

“Teng-ya, orang itu terlalu tinggi kepandaiannya, apalagi perkataannya tidak keruan, tidak dapat di-ajak bicara seperti orang biasa, kalau ia sampai menyerbu kemari, sesungguhnya terlalu berbahaya.."

“Tidak halangan, berusahalah supaya dapat memancing ia kemari!"

Dua orang itu tidak berani melawan perintah terpaksa mengundurkan diri dengan perasaan khawatir.

Teng Soan berkata dengan suara perlahan;

“Nanti kalau Kiang Su Im itu masuk kemari, kalian sebaiknya jangan bertindak........” sambil menatap Siang-koan Kie ia berkata pula;

“Saudara siang-koan masih belum sembuh betul, jangan menggunakan banyak tenaga dulu. sementara itu kembali ada seorang berpakaian abu-abu yang masuk sambil membawa mangkok berisi obat yang sudah dimasak.

Teng Soan dengan tangan kiri menyambat mangkok obat, meletakkan kipas yang dipegang oleh tangan kanannya, kemudian dengan kedua tangan diberikannya mangkok obat itu kepada Siang-koan-Kie seraya berkata:

“Saudara Siang-koan, minumlah obat ini. "

Siang-koan Kie terperanjat, katanya;

“Siaotee tidak berani merepotkan Sianseng sampai begini."

Ia buru-buru bangkit dan menyambut mangkok itu sambil memberi hormat, kemudian diminumnya.

“Hanya obat untuk mengasir hawa dingin dalam tubuh saja, tidak perlu dipantang, mari! minumlah secawan arak ini"

Siang-koan Kie buru-buru meletakkan mangkoknya dan menyambut cawan yang sudah penuh arak sambil berkata;

“Perlakuan Sianseng terhadap Siang-koan Kie, sesungguhnya membuat Siang-koan Kie merasa sangat malu."

“Mungkin siaote masih ada suatu urusan penting yang ingin minta pertolongan saudara Siang-koan!" berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Apakah yang siaote dapat lakukan, pasti tidak akan menolaknya."

“Terima kasih."

“Entah sianseng ada keperluan apa?"

“Pada saat ini keadaan masih belum jelas, agaknya terlalu pagi kalau siaote katakan."

Siang-koan Kie tahu benar bahwa orang cerdik pandai itu tidak mau mengeluarkan perkataan yang belum yakin benar, maka juga tidak ada gunanya ditanya lagi. Tiba-tiba terdengar suara rintihan aneh, seorang tua berpakaian warna hijau dengan rambut kusud berjalan masuk dengan rindakan lebar.

Muka orang tua itu basah dengan air mata, pakaian nya terdapat banyak tanah kotor.

Dengan munculnya orang tua itu, dari kedua samping pintu kamar tiba-tiba muncul beberapa puluh orang berpakaian warna abu-abu, segera berdiri berbaris hendak merintangi orang tua itu.

Touw Thian Gouw diam-diam berpikir tempat ini nampaknya sedikitpun tidak ada penjagaan, tetapi sebetulnya terjaga kuat, dimana-mana ada orang yang sembunyi dan bisa bertindak sewaktu2 ”

“Biarkan dia masuk, karena pikirannya masih belum jernih", demikian Teng soan berkata kepada anak buah golongan pengemis yang hendak merintangi orang tua itu.

Mendengar perintah itu, orang-orang itu segera menyingkir mundur membiarkan orang tua itu masuk.

Seolah-olah tidak melihat adanya orang-orang yang coba merintanginya itu, orang tua itu berjalan dengan tindakan lebar terus menuju kekamar. Touw thian Gouw melihat sikap dan keadaan orang tua itu, takut ia akan turun tangan dengan tiba2 menyerang Teng Soan, hingga hatinya merasa cemas, ia menggeser kakinya dihadapan teng Soan. Anak buah golongan pengemis yang ditugaskan menjaga dipintu masing2 memperhatikan gerak-gerik orang tua itu dengen sikap tegang, asal bergerak sedikit saja, mereka akan segera bergerak dengan serentak.

Orang tua itu matanya berputaran kemudian memandang Siang-koan Kie, tiba2 ulur tangannya mengambil poci arak diatas meja dan ditenggaknya sehingga kosong. Sesudah menghabiskan sepoci arak, pikirannya se-olah2 agak jernih, ia membereskan rambutnya yang tak karuan, lalu menyambar sepasang sumpit dan makan dengan lahapnya,

Orang tua itu agaknya sudah lama tidak pernah makan, karena begitu melihat hidangan nampaknya sangat bernapsu, dalam waktu sangat singkat barang hidangan semeja sudah disapu bersih.

Teng Soan hanya mengawasi semua perbuatan orang tua itu dengan tenang, dengan mulut membungkam.

Orang tua itu kemudian meletakkan mangkok dan sumpitnya, lalu menatap wajah Teng Soan sejenak dan berkata ;

“Apakah anak perempuanku sudah mati?"

“Putrimu masih hidup baik2, "menjawab Teng Soan lambat-lambat.

Orang tua itu mengedip2kan matanya, kemudian bertanya dengan sinar mata tajam ;

“Benarkah ucapanmu ini?"

“Aku selamanya belum pernah membohong."

Orang tua itu tiba2 tertawa besar, kemudian berkata ; “Dimana sekarang anakku itu?"

“Beristirahatlah dulu sebentar, setelah keadaanmu nanti pulih kembali dan pikiranmu jernih, kita bicara lagi."

Orang tua itu agaknya sudah dapat mengendalikan pikirannya sendiri, lambat2 ia memejamkan matanya dan duduk.

Teng Soan memerintahkan orang2 yang menjaga diluar pintu supaya meninggalkan tempat itu. Karena keadaan bahaya sudah lalu, orang2 itu kemudian berlalu dan sembunyi lagi, ketempat masing-masing. “Penjagaan Sianseng sangat tertib, benar2 sedikitpun tidak tampak kalau ada penjagaan demikian kuat," berkata Touw Thian Gouw.

“Kun liong Ong anggap dirinya pandai menggunakan siasat melakukan serangan tiba2 jikalau aku tidak berjaga2 dan berhati2 dalam segala tindakkan, barangkali benar2 akan tertangkap hidup olehnya......" berkata Teng Toan sambil tersenyum,

”Orang tua ini entah memerlukan waktu berapa lama untuk beristirahat, mari kita juga boleh mengaso sebentar!"

la segera memejamkan matanya dan duduk tengkurap diatas meja.

Karena selama beberapa bulan sedikit sekali waktunya untuk beristirahat dengan tenang, sehingga waktunya untuk tidur hampir tidak ada, tanpa di-rasa Teng Soan dalam waktu sangat singkat itu benar2 sudah tertidur dengan nyenyak, itu disebabkan karena ia tahu benar kepandaian dan kekuatan Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw, sudah cukup untuk melindungi dirinya, maka hatinya merasa lega.

Kiang Su Im, ialah orang tua berbaju hijau itu, sejak kehilangan anak perempuan satu-satunya yang paling disayang, karena gusarnya sehingga berobah menjadi gila, setiap hari ia keluyuran ke-mana2 untuk mencari sambil berkaok-kaok, tidak ingat makan juga tidak ingat tidur, hanya mengandelkan latihan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna, ia baru sanggup bertahan sehingga tidak jatuh. Kini setelah mendengar keterangan Teng Soan bahwa anaknya masih hidup didalam dunia, dianggapnya Teng Soan benar2 mengetahui jejak anaknya, karena hatinya merasa lega, apalagi sudah kenyang makan dan minum, maka lalu tertidur demikian nyenyaknya.

Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw saling mengawasi sejenak, kemudian Siang-koan Kie berkata; “Touw toako, karena urusan siaote kau telah repot demikian rupa sehingga tidak dapat waktu untuk tidur, sebaiknya kau tidur sebentar!"

“Saudara kau baru sembuh dari penyakit, justru memerlukan mengaso, disini sudah ada aku yang mengawasi, kiranya sudah cukup!", berkata Touw Thian Gouw sambil tersenyum.

Keduanya saling mendorong, hingga akhirnya siapapun tidak ada yang tidur, dengan mata terbuka lebar menjaga Teng Soan dan Kiang su Im.

Kiang Su Im yang sudah tidur kira2 dua jam lamanya, tiba2 lornpat bangun dan berseru;

“Cui-jie, kau ada dimana?"

Dengan sinar mata yang tajam ia mengawasi keadaan disekitarnya, kemudian dengan tiba-tiba ia memegang pundak Teng Soan dan berkata dengan suara bengis;

“Orang she Teng, dimana anakku berada?" Orang tua yang bertenaga kuat itu, dalam keadaan begitu cemas, sudah tentu cengkeraman dipundak itu dirasakan hebat sekali bagi Teng soan, maka ia segera tersadar, pundaknya dirasakan sakit, tetapi sikapnya sedikitpun tidak berobah, bahkan masih dapat menjawab sambil tersenyum;

“Jejak putri locianpwee, bagaimana aku bisa tahu?"

“Tadi kau katakan sudah tahu, mengapa sekarang mengatakan tidak tahu?", berkata Kiang Su im dengan nada suara gusar, tangannya mencengkeram pundak Teng Soan semakin kencang, meskipun Teng soan masih tersenyum- senyum, tetapi dahinya sudah penuh keringat dingin.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu mengerutkan alisnya dan berkata dengan suara gusar; “Kiang tay-hiap, sekalipun kau sedang cemas, seharusnya suka lepaskan dulu tanganmu dan bicaralah   dengan sopan. "

Touw Thian Gouw juga berdiri sambil memperhatikan gerak gerik orang tua itu.

Kiang Su Im setelah makan kenyang dan tidur pulas, pikirannya agaknya sudah jernih kembali, ketika mendengar perkataan itu ia melengak, agak nya juga merasa bahwa perbuatannya itu keliru, maka segera melepaskan tangannya dan berkata:

“Lekas jawab!"

Pundak Teng Soan masih sakit sekali, tetapi ia tidak merabanya sedikitpun juga, bahkan masih menjawab dengan sikap keras :

“Karena aku ingin supaya cianpwee jangan sampai terlalu khawatir, dan supaya pulih pikiran cianpwee yang jernih maka. "

Wajah Kiang Su Im berubah, ia segera memotong perkataan Teng Soan ;

“Maka kau baru mengatakan bahwa Cu-jie masih hidup, apakah maksudmu hanya untuk menghibur aku saja?"

“Kini locianpwre benar2 sudah sadar!" berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Tangan Kiang Su Im gemetar, kemudian duduk diatas bangku dan berkata dengan menghela napas panjang ;

“KaIau begitu apakah Ciu-jie benar-benar sudah mati?" “Tidak,   apa   yang   tadi   kukatakan,   meskipun   untuk

menghibur   locianpwee   tetapi   kuucapkan   perkataan   itu

berdasar suatu kenyataan," berkata Teng Soan dengan sungguh sungguh. Kiang Su Im nampak sangat girang, ia bertanya;

“Kau sebetulnya berdasar suatu kenyataan apa? Coba lekas terangkan, aku ingin mendengarnya!"

“Andaikata nona Kiang meninggal, jenazahnya pasti masih berada disamping locianpwee."

“Lalu?"

“Coba pikir, dengan kepandaian locianpwee, pembunuh itu apabila hendak mencari kesempatan membunuh nona Kiang, sedikit banyak pasti gemetar, mana begitu berani menyingkirkan bangkai-nya itu. "

Kiang Su Im lalu menepuk maji dan berkata;

“Ya benar, sekalipun mereka mempunyai keberanian, juga sudah tidak mendapat kesempatan lagi. "

Teng Soan setelah berpikir sejenak, lalu berkata sambil mengerutkan alisnya ;

“Waktu putri locianpwee hilang, bagaimana keadaan waktu itu? Apabila locianpwee sudi men-ceritakan padaku mungkin aku dapat memikirkan persoalan ini!"

“Sudah lama aku dengar namamu yang sangat terkenal dalam ilmu ramalan, apabila kau mau memberi petunjuk, aku sangat berterima kasih ke-padamu," berkata orang tua itu, yang pikirannya ternyata sudah jernih, hingga sikapnya dan perka-taannya juga sudah sopan,

Siang-koan Kie diam2 mengagumi Teng Soan, karena dengan sepatah duapatah kata saja sudah dapat menggerakkan hati Kiang Su Im yang adatnya sangat aneh itu, bahkan berlaku hormat terhadap-nya.

Touw Thian Gouw juga berpikir; orang kata bagaimana anehnya adat Kiang Su Im, tetapi karena kehilangan putrinya yang tersayang, sampai berlaku dem.kian hormat terhadap Teng Soan, ke-sayangan seorang bapak atau ibu kepada anaknya benar2 besar sekali.

Pemikiran dua orang itu berlainan, karena penghidupan dan pengalaman mereka juga berlainan.

Kiang Su Im berkata pula sambil menghela napas panjang; “Anakku itu sangat lemah, lama berada dalam keadaan

sakit,    selama    hidupnya,    hampir    tiap    hari    berada

dipembaringan, dalam usia sangat lanjut aku dapatkan anak itu, sudah tentu sangat aku sayangi, maka dalam keadaan baik seperti ini, aku membawanya keluar pesiar keberbagai tempat. Tak kusangka ia tidak tahan angin, hingga diperjalanan jatuh sakit Iagi, bahkan sakitnya sangat berat, hari itu aku tiba ditepi sebuah danau, ia tiba2 ingin makan kupikan segar, aku tidak tega menolak permintaannya, maka turun kedanau untuk menangkap ikan."

“Cinta kasih locianpwee yang demikian besar terhadap anakmu, benar2 harus didengar oleh anak2 yang tidak berbakti kepada orang tuanya." berkata Teng Soan sambil menghela napas.

“Aku turun kedanau, menangkap ikan dan keluar Iagi dari danau hanya dalam waktu sangat singkat saja, tak disangka2 bahwa dalam waktu sangat singkat itu, sudah terjadi perubahan besar, ketika aku kembali ketepi danau dengan menenteng ikan, anakku itu sudah tidak ada. Waktu itu......aih, perasaanku pada waktu itu, tidak dapat dilukiskan dengan kata2 apapun juga."

Teng Soan setelah mendengarkan sekian lama, baru berkata dengan lambat2;

“Dalam waktu sesingkat itu, orang dapat membawa lari putrimu dari tempat yang tidak jauh dari pengamatan dan pendengaran locianpwee, dalam rimba persilatan dewasa ini, siapakah orang-nya yang mempunyai kepandaian setinggi itu?" Kiang Su Im berpikir lama sekali, kemudian baru berkata; “Auw-yang pangcu dari golongan pengemis, kepandaian

ilmu silatnya merupakan tersendiri, aku sudah lama mengaguminya!"

“Pangcu kita memang mempunyai kepandaian setinggi itu, tetapi bagaimana perangai dan sepak terjang Auw-yang pangcu, locianpwee seharusnya sudah mengetahui dengan jelas, apakah ia dapat melakukan perbuatan semacam itu?"

“Auw yang pangcu seorang jantan yang berjiwa besar, hal ini sudah diketahui oleh semua orang, memang benar tidak akan melakukan perbuatan serendah itu. Kecuali Auw-yang pangcu, hanya Kun-liong Ong yang mempunyai kepandaian yang demikian tinggi."

”Orang ini meskipun mungkin bisa berbuat demikian, tetapi sementara ini boanpwee juga tidak bisa memberi kepastian. "

“Kenapa?"

“Orang itu meskipun sepak terjangnya sangat kejam dan tanpak pilih cara, hingga apapun dapat ia lakukannya, akan tetapi ia juga tidak nanti terus menerus mengikuti jejak locianpwee, untuk menantikan kesempatan bisa turun tangan."

“Kalau begitu, kau telah menganggap bahwa orang yang membawa lari anakku itu, pasti terus menerus mengikuti jejakku."

“Kejadian sesuatu hal meskipun kadang2 bisa kebetulan, tetapi kalau dipikir lebih dalam, kenya-taannya mungkin memang begitu."

“Orang yang dapat mengikuti jejakku tanpa aku ketahui, dalam dunia Kang-ouw boleh dikata sedikit sekali jumlahnya." Orang tua itu menundukan kepalanya untuk berpikir lagi, tetapi semakin memikir hatinya semakin cemas.

Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw khawatir gilanya akan kumat lagi, diam2 menggeser kakinya, berdiri ditempat yang cocok untuk melindungi Teng Soan.

-oo-dw-oo-