ISMRP Jilid 17

 
Jilid 17

TETAPI penyerangan semacam itu, hanya dapat digunakan menghadapi musuh secara berhadap-hadapan, dengan mengandalkan jumlahnya orang banyak dan senjata cukup, kedua faktor itu digabung menyadi satu, melakukan penyerbuan secara kilat, tetapi taktik barisan Pat-kwat-tin yang menghindarkan serangan besaran, sebaliknya melakukan serangan dari dua sayap, menyebabkan serangan besar- besaran Kun-liong-Ong itu, tidak ada gunanya sama sekali- Beberapa kali melakukan penyerbuan tetap tidak membawa hasil, bahkan kehilangan beberapa puluh jiwa.

Auw-yang Thong, Tiat-bok Taysu, Ciu Tay Cie dan lain2nya. semua menempatkan diri dibelakang delapan hulu balang, siap sedia untuk memberi bantuan.

Sementara itu suara seruling itu mendadak mengalun tinggi iramanya. Kun-liong Ong yang buas dan ganas, hati dan pikirannya agaknya sudah terpengaruh oleh suara irama seruling itu, sehingga tidak tetap. Tiba-tiba ia memutar tubuhnya lambat-lambat menghilang kedalam gerombalan alang-alang yang lebat.

Barisan anak buah Kun-liong Ong yang semula menyerbu lawannya secara nekad,   agaknya juga sudah dipengaruhi oleh irama seruling itu, wajah setiap orang menunjukkan perasaan yang bingung, mereka semua menghentikan serangannya dan pasang 'telinga untuk menikmati irama seruling itu

Dari dalam kereta terdengar suaranya Teng Soan:

„Anak buah Kun-liong Ong itu, semua sudah dikendalikan perasaannya oleh pengaruhnya obat, „ pada saat ini pikiran mereka tidak tenang, jelas

bahwa obatyang mengendalikan pikirannya itu, mendadak sudah hilang hasiatnya. Apabila kita dapat menyadarkan mereka, tenaga orang-orang itu mungkin dapat kita gunakan."

Kata2nya itu diucapkan dengan suara nyaring, agaknyja sengaja    supaya    semua    orang    dapat     men dengarnya.

Auw-yang Thong buru-buru mundur kesamping kereta dan berkata;

„Apakah sianseng sudah mendapatkan suatu cara untuk memulihkan pikiran waras orang-orang itu?" „Sekalipun ada obatnya yang dapat memulihkan pikiran dan perasaan mereka, tetapi kita juga tidak dapat menyuruh mereka makan," berkata Teng-Soan.

Pada waktu itu, pasukan anak buah Kun-liong Ong yang mengurung barisan Pat-kwat-tin itu, semua sudah menurunkan senjatanya, pada duduk lesuh ditanah.

Dengan demikian, hingga semua serangan telah berhenti, suasana dimedan pertempuran itu menyadi sunyi kembali, hanya suara seruling yang mengalun diudara, yang memecahkan kesunyian itu.

Tiba-tiba terdengar suara nafiri yang menghalau suara seruling itu. Kalau suara seruling itu membawakan irama yang penuh ketenangan dan perdamaian, sebaliknya dengan suara nafiri itu, membawakan suara yang penuh hawa napsu dan angkara murka.

Anak buah Kun.-liong Ong yang   mendengarkan suara nafiri itu, beberapa diantaranya berusaha untuk berdiri.

Jelaslah sudah bahwa suara seruling Siang-koan Kie tadi, membuat mereka. kehilangan semangatnya untuk bertempur, sedangkan suara nafiri itu, telah membangkitkan kembali napsu pertempuran mereka.

Dibawah pengaruh pergulatan dua macam irama yang bertentangan sifatnya itu, membuat semua anak buah Kun- liong Ong berubah tidak karuan perasannya. Sebentar kehilangan semangatnya bertempur, sebentar lagi timbul napsunya untuk melakukan pembunuhan secara ganas.

Siang-koan Kie tiba-tiba berbangkit dan berjalan mondar- mandir sambil meniup serulingnya.

Tindakkan kakinya mula-mula ringan, tetapi kemudian lambat-lambat berubah berat, diatas jidatnya sudah basah dengan air keringat. Suara nafiri itu dari lambat telah berubah menyadi kencang, napsu pembunuhan semakin tebal.

Pada saat itu, anak buah Kun-liong Ong yang semula terpengaruh oleh irama seruling, sehingga kehilangan semangatnya bertempur, tiba-tiba bangun lagi semangatnya, mereka bergerakkan senjatanya menyerang musuhnya.

Suara seruling Siang koan Kie semakin menghilang, keringat sudah membasahi sekujur badannya, gerak kakinya sangat lambat, nampaknya sudah tidak sanggup bertahan lebih lama lagi.

Auw-yang Thong dan Tiat bok Taysu, meskipun semua merupakan orang-orang terkuat dalam rimba persilatan pada dewasa itu, tetapi menghadapi pertandingan dengan menggunakan irama seruling dan nafiri itu, semua tidak berdaya. Meskipun mereka ingin membantu, tetapi tidak mempunyai kepandain semacam itu untuk memberikan bantuannya.

Selagi pikiran mereka bingung memikirkan bagaimana harus membantu Siang-koan Kie, tindakan Siang-koan Kie tiba-tiba sempoyongan dan kemudian duduk ditanah.

Tanpa banyak pikir lagi Auw-yang Thong segera menghampiri dan mengulur tangan kanannya ditempelkan dibelakang punggung Siang-koan kie dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam sendiri disalurkan kedalam tubuh Siang-koan Kie melalui jalan darah Beng-bun-hiat, sementara mulutnya berkata kepada Tiat-bok Taysu dengan suara perlahan:

“Tolong siansu bantu delapan hulubalang itu untuk menyambut serangan musuh."

Ternyata pada saat itu orang2 Kun-liong Ong sudah melakukan serangan yang lebih hebat lagi, meskipun beberapa puluh diantaranya sudah terbinasa ditangan delapan hulubalang, tetapi karena orangnya itu sudah berubah ganas sifatnya karena pengarui obat, setiap orang agaknya sudah tidak takut mati sudah melupakan dirinya sendiri.

Dengan demikian barisan Pat-kwat-tin yang terdiri dari delapan hulubalang itu, perlahan-lahain mulai kewalahan.

Pada saat itulah Tiat-bok Taysu sudah turun tangan mempertahankan kedudukan barisan Pat kwat-tin dibagian sayap selatan. Karena bagian itulah yang diserang paling hebat oleh musuhnya..

Bantuan Tiat-bok Taysu itu besar sekali paedahnya, setelah beberapa puluh jiwa melayang dibawah senjatanya, serangan musuh mulai kendor.

Suara seruling Siang-koan tiba-tiba mengalun lagi, agaknya sedang berusaha untuk menindas suara nafiri itu.

Pada saat itu, Auw-yang Thong yang sudah tenang pikirannya, telah memasang telinganya dengan "seksama, sehingga ia dapat merasakan bahwa irama seruling itu kadang2 sudah berhasil mengalutkan suara nafiri itu.

Tetapi setelah nafiri itu memperdengarkan suaranya tajam, suara itu telah menutup suara seruling.

Setiap kali terjadi perobahan semacjam itu, suara seruling itu se-olah2 tenggelam dalam lautan, sehingga bagaikan orang yang terdampar oleh arusnya gelombang air laut, sebentar tenggelam sebentar timbul.

Setelah lama mendengarkan kedua irama itu, Auw-yang Thong lama2 dapat merasakan bahwa pergulatan antara dua macam suara itu, sebetulnya jauh lebih hebat menghamburkan kekuatan tenaga dalam daripada pertempuran dengan menggunakan senjata.

Pertempuran secara demikian berlangsung terus, akhirnya Siang-koan Kie mulai tidak tahan lagi, meskipun Auw-yang Thong membantu dengan kekuatan tenaga dalamnya, juga masih tiaak sanggup bertahan. Masih untung suara nafiri yang nyaring itu, mendadak silam dan tidak kedengaran lagi.

Siang-koan khie juga menghentikan tiupan serulingnya, ia menarik napas panyang per-lahan2 jatuh rebah ditanah.

Auw-yang Thong yang turut membantu dengan menyalurkan tenaga dalamnya kedalam tubuh Siang koan Kie, saat itu juga merasa letih.

Keadaan Siang-koan Kie sangat menyedihkan, wajahnya pucat pasi, bibirnya biru napasnya sangat lemah, agaknya sedang tidur pulas.

Auw-yang Thong menghela napas panyang, dari dalam sakunya ia mengambil sebutir obat pel, kemudian diberikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata ;

„Saudara Siang-koan, makanlah obat ini."

Siang-koan Kie perlahan-lahan membuka matanya-ia mengunjukkan senyum hambar, kemudian dipejamkan lagi. Bibirnya bergerak-gerak agaknya hendak berkata apa-apa, tetapi akhirnya diurungkan lagi.

Sementara itu serangan anak buah Kun-Liong-Ong semakin hebat, suara beradunya senjata terdengar nyata.

Tiba-tiba Ciu Tay Cie berseru :

„Pangcu, musuh menyerbu semakin hebat, kalau kita tetap mempertahankan tanah sejengkal ini bukankah seperti menantikan kematian sambil berduduk? "

Auw-yang Thong juga sudah tahu bahwa musuh yang jumlahnya banyak itu, melakukan serangan semakin hebat.

Tetapi sebagai satu pemimpin dari satu golongan sudah tentu mempunyai ketenangan untuk menghadapi segala bahaya, maka sedikitpun ia tidak merasa goyah pendiriannya. Atas perkataan sigendut tadi ia segera menyawab: „Masih ingatkah kau peraturan dari golongan pengemis kita?"

Ciu Tay Cie melengak, ia menyawab :

„Hamba ingat."

Auw-yang Thong tidak memperdulikannya lagi ia membimbing bangun Siang-koan Kie, pel ditangannya dimasukan kedalam mulutnya.

Siang-koan Kie membuka kedua matanya, ia tersenjum dan menganggukkan kepala sebagai tanda untuk mengucapkan terima kasihnya.

Sementara itu tiba2 terdengar suara jeritan tertahan, kemudian terdengar suara geraman Ciu Tay Cie : “Hai, kawanan bangsat, hari ini tuan besarmu hendak mengadu jiwa dengan kalian."

Auw-yang Thong yang mendongakkan kepala kearah barisan, segera melihat dari barisan delapan hulubalang, dua orang sudah terluka; yang satu lukanya agak ringan, tapi lain agak berat, orang itu rebah ditanah, separuh dari badannya penuh darah.

Karena adanya dua orang yang terluka itu, gerakan barisan Pat-kwa tin juga terpengaruh sehingga lebih berat menghadapi musuhnya.

Sedangkan serangan pihak musuh semakin gencar dan hebat. Perobahan gerakan barisan Pat-kwa-tin meskipun sangat mujizat tetapi juga tidak sanggup menahan tekanan hebat, apalagi barisan itu hanya tinggal enam orang, yang terluka ringan meskipun masih bisa melakukan pertempuran, tetapi biar bagaimana toh kurang leluasa.

Dalam keadaan yang demikian. salah seorang dari delapan hulubalang, kembali sudah mendapat luka dan roboh ditanah. Musuh yang menyerbu semakin hebat, seolah-olah arus gelombang air laut yang sedang mengamuk.

Tiat-bok Taysu dan Ciu Tay Cie, meskipun sudah mem bantu dengan sepenuh tenaga, tetapi hanya dapat menahan untuk sementara, tidak sanggup memperbaiki keadaan seluruhnya.

Auw-yang Thong tiba-tiba menghela napas, berkata kepada

-Siang-koan Kie dengan suara perlahan :

„Harap saudara mengatur sendiri pernapasanmu dan beristirahatlah dengan tenang."

Setelah itu melompat meleset untuk menahan serangan musuh.

Dari dalam kereta tiba2 terdengar suara Teng Soan: “Lekas robah barisan menyadi barisan Liang-gie dan Su-

Chio, Lalu membuka satu lobang."

Pada waktu itu, barisan delapan hulubalang itu hanya tinggal lima orang yang tidak terluka, tetapi keadaan mereka jelas sudah letih sekali, ketika mendengar perintah Teng Soan segera menggerakan barisanya.

Terdengar pula suaranya Teng Soan:

"pangcu, Taysu lekas tolong dua orang yang terluka itu."

Auw-yang Thong dan Tiat-bok Taysu ketika mendengar perkataan teng Soan itu, segera beritindak. Auw-yang Thong melancarkan dua kali serangan, ia berhasil mendesak mundur musuhnya, sedangkan Tiat bok Taysu menggunakan golok dan pedangrnya, dan berhasil membinasakan dua musuhnya . setelah itu mereka menolong dua hulu balang yang terluka.

Auw-yang Thong dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna, dalam keadaan seperti itu, sudah menyerang setiap musuh tanpa kenal kasihan, sehingga barang siapa yang diserangnya tidak ampun lagi roboh binasa. Dengan bantuan Auw-yang Thong, Tiat-bok Taysu, Ciu Tay Cie dan lain2nya, hingga barisan Pat-kwa -tin itu dengan cepat sudah brubah menyadi dua rupa barisan seperti apa yang dikatakan oleh Teng Soan,

Dari dalam kereta terdengar pula suaranya Teng-Soan;

„Pangcu yangan menghamburkan tenaga. Harap simpan untuk lain keperluan. Apabi a serangan orang2 itu tidak membawa kemenangan Kun-liong-Ong, manusia buas itu pasti akan pimpin sendiri melakukan serangan lebih hebat. Pangcu sebagai orang yang memimpin pertemparan ini, jikalau tidak perlu sekali, jangan sembarangan keluarkan tenaga. "

Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula: “Pangcu harap mundur dulu, biarkan hamba bantu sendiri yang menghadapi mereka:"

Auw-yang Thong yang mendengar perkataan itu diam2 merasa heran, orang yang yang berdiam dan duduk berlindung didalam kereta, bagaimana dapat melawan musuh-

Meskipun pikirannea berpikir demikian, tetapi ia tahu benar bahwa penasehatnya itu tidak pernah mengeluarkan perkataan sembarangan. Apa yang dikatakan sudah tentu ia menunjukkan dengan kemujijatan. Maka ia segera membawa orang yang terluka dan melompat kesamping.

Barisan yang sudah dirobah tadi, meskipun kurang lincah untuk menghadapi serangan musuh tetapi lebih kokoh untuk mempertahankan diri. sewaktu Auw-yang Thong minggir kesamping, barisan itu segera mengosongkan satu bagian.

Auw-yang Thong dan Tiat-bok Taysu meskipun tahu ia masih ada cukup waktu dan tenaganya tetapi mereka berdiri tenang dan membiarkan tempat dalam keadaan kosong.

Musuh yang menyerang segera menyerbu masuk di-tempat kosong itu. rombongan pasukan itu dipimpin oleh dua orang yang membawa senjata tombak panyang dan dua orang yang bersenjata golok.

Salah seorang yang bersenjata tombak langsung menuju dan menikam Tiat-bok Taysu.

Ciu Tay Cie menyerang dari samping, hingga orang yang menyerang itu terhalang olehnya.

Kawan orang yang bersenjata tombak itu segera memburu dan memberi bantuan, keduanya lalu mengengeroyok Ciu lay Cie.

Teng Soan yang berada didalam kereta segera memerintahkan Ciu Tay Cie lekas mundur.

Ciu lay Cie yang sangat menghormati Teng Soan, walaupun ia masih sengit terhadap musuhnya, toch tidak berani menolak perintah ini:.

Dari dalam kereta Teng Soan tiba-tiba memuntahkan air berbau harum yang mancur bagaikan air hujan yang menyembur.

Semburan air itu mencapai tempat seluas beberapa tombak hingga semua anak buah Kun liong Ong yang berada disekitar barisan Pat-kwat-tin, setiap orang terkena semburan air itu.

Empat orang yang memimpin rombongan yang menyerbu bagian kosong barisan Pat-kwat-tin, karena berada paling dekat, muka mereka masing-masing   terkena semprotan air itu. Air itu dirasakan dingin menyusup kesekujur badannya, hingga mereka tidak berani maju lagi dan menarik mundur barisannya.

Apa mau barisan itu telah kebentur sendiri dengan barisan yang hendak menyerbu masuk, sehingga mereka baku hantam sendiri. Dengan demikian banyak orang yang binasa ditangan kawan sendiri. Tiat-bok taysu yang menyaksikan pertempuran hebat. antara kawan sendiri itu, diam-diam merasa ngeri;

Karena itu kembali memuntakan senjata anak panah untuk menyerang musuh-musuhnya, barang siapa yang terkena panah beracun itu, segera roboh tidak bisa bangun lagi.

Auw-yang Thong yang menjaksikan dalam kereta Teng Soan itu, ternyata diperlengkapi senjata demikian ampuh, diam-diam merasa malu sendiri. Meskipun sudah sepuluh tahun penasehatnya itu mengabdi kepada dirinya, tetapi ia belum tahu bahwa keretanya ita mempunyai perlengkapan pesawat demikian aneh.

Musuh yang menyerbu dalam waktu sekejap banyak yang luka atau binasa, sehingga serangannya mandek dan akhirnya mundur sejauh tiga tombak.

Auw-yang Thong mendongakkan kepala melihat keadaan cuaca, dalam hatinya diam-diam berpikir: tiga jam sudah berlalu, mengapa Koan Sam Seng dan bala bantuannya belum nampak datang.

Ia segera teringat bahwa sekitar tempat itu sudah terkurung rapat oleh anak buah Kun-liong Ong dengan kekuatannya yang sangat besar, Koan Sam Seng yang hanya membawa pasukan berani mati dan beberapa orang kuat lainnya, rasanya juga sulit untuk ;menembus barisan itu.

Ia lalu berjalan kesamping kereta dan berkata dengan suara perlahan:

“Dalam kereta Sianseng ini ternyata mempunyai perlengkapan demikian banyak senjata rahasia, sesungguhnya diluar dugaanku."

Situasi hari ini, jumlah musuh terlalu banyak sedang pihak kita terlalu sedikit, baik kekuatan tenaga maupun jumlah manusia, mereka jauh lebih kuat dari pada kita. Senjata rahasia dalam kereeta ini, sebetulnya hendak siaote gunakan untuk menjaga diri, tetapi keadaan sudah memaksa, ter-

paksa siaote gunakan untuk melawan musuh. berkata Teng Soan.

“Sekarang kita berada dalm kepungan rapat rang-orang Kun-liong Ong, sekalipun Koam Sam Seng datang dengan membawa bala bantuan barangkali juga tidak sanggup menembus barisan musuh."

“Kehawatiran pangcu memang beralasan, hanya dengan mengandalkan tenaga Koan Sam Seng dan empat puluh delapan orang pasukan berani mati, memang sulit untuk menembus barisan  Kun-liong-ong "

“Kalau begitu kita yang mempertahankan kedudukan kita dengan susah payah ini, sudah tidak ada harapan untuk mendapat bantuan dari luar."

“itu juga tidak benar, apabila saudara Koan dan pasukan berani mati menyerang dari timur ke barat, sedang orang2 dari Siao-liem-si menyerang dari barat terus ketimur, maka anak buah Kui Hong Ong meskipun jumlahnya lebih banyak, juga tidak sanggup menahan musuh yang menyerang serentak dari dua pihak."

Auw-yang Thong diam, sementara dalam hatinnya berpikir: Dia selalu tepat perhitungan, tetapi hinya ini mungkin akan salah hitung. Apabila Kun-liong Ong memerintahkan lagi anak buahnya melakukan serangan besar-besaran, maka pasukan hulubalang kita pasti banyak yang korban.

Begitupun dengan Tiat bok Taysu, Ciu Tay Cie dan lain- lainnya, juga akan keletihan. Kalau sampai pada waktu bala bantuan masih belum tiba, maka semua orang sudah tidak mempunyai tenaga untuk meloloskan diri dari kepungan ini, akhirnya pasti binasa ditangan musuh. Kekhaawatiran didalam hatinya itu tidak diutarakan, tetapi Teng Soan agaknya sudah mengetahui perasaannya itu, maka lalu berkata sambil menghela napas;

„Apabila kita meninggalkan tempat ini, Kun-liong Ong pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menduduki sejengkal tanah yang merupakan pusat ini, .dalam waktu tidak usah satu jam, pasti akan berhasil membentuk barisan sungai berdarah. Asal ia berhasil membentuk barisan itu, maka ia dapat berbuat sesukanya- Dengan demikian, kita bukan saja akan kehilangan kesempatan untuk melakukan perlawanan, tetapi juga susah men-dapatkan tenaga yang dapat menginbangi kekuatan musuh jikalau kekuatan kita golongan pengemis sudah musnah, maka orang2 kuat dari golongan Siao-liem dan Bu-tong juga akan dibasmi dalam barisan sungai berdarah ini."

"Demikian pentingkah sejengkal tanah yang tidak lebih dari beberapa tombak luasnya ini?"

„Penting sekali, nasib rimba persilatan beberapa ratus tahun kemudian, akan ditetapkan oleh kesudahan dalam pertempuran merebut sejengkal tanah ini."

Auw-yang Thong tercengang : “jikalau sian-seng anggap tempat ini demikian penting, kita tidak boleh tidak harus mempertahankannya sehingga tetesan darah yang terakhir."

„Siaote yakin bahwa perhitungan siaote itu tidak salah, Kun-liong Ong membentuk barisan sungai berdarah ini, meskipun ditujukan kepada kita, tetapi kita golongan pengemis bukan merupakan tujuannya yang utama"

“Ini sungguh aneh, kalau Kun-liong Ong sudah anggap kita golongan pengemis sebagai musuh yang terkuat, mengapa bukan tujuan mereka yang utama?"

„Ia hendak menggunakan barrisan sungai berdarah ini untuk membasmi lebih dulu sebagian orang kuat rimba persilatan, kemudian digunakan untuk menghadapi kita." „Tanah belukar semacam ini, bukan merupakan tempat strategis yang perlu diperebutkan, juga tidak ada barang apa2 yang dibuat perebutan, sekalipun Kun-liong Ong bermaksud hendak membasmi orang2 kuat rimba persilatan, tetapi orang-orang itu belum tentu mau datang kemari."

“Ia bisa menggunakan akal untuk memancing beberapa orang, mernasuki daerah tanah datar ini, orang2 yang terluka dan binasa tadi, bukankah pangcu sudah saksikan sendiri. angkatan tua orang orang itu tadi, semua merupakan tujuan yang di arah oleh Kun-liong Ong"

Sementara itu terdengar pula suara beradunya senjata dari sana sini.

Bersamaan dengan ini dari berbagai penjuru nampak musuh menyerbu.

Auw-yang Thong yang menyaksikan itu, sesaat berdiri terpaku. Tiba2 ia mengeluarkan suara nyaring, sehingga suara beradunya senjata itu hanmpir tertindas oleh suaranya itu.

Pada saat itu Hui Kong Leang mendadak membuka matanya, ia memandang kesekitarnya, sesaat itu juga melengak.

Sebagai seorang kekuatan tenaga dalamnya sudah sempurna, setelah makan obat Auw-yang Thong dan istirahat sejenak, tenaganya sudah pulih kembali.

Ia perdengarkan suara tertawa dingin kemudi berkata : “bagus! Mari kita boleh melakukan pembunuhan sepuas-

puasnya,”

Tiba-tiba ia lompat melesat turun kepinggir garis barisan pat-kwa-tin dari tanah ia mengambil sebatang tonmbak dan sebilah golok besar, kemudian berdiri ditengah jalan dengan sikap yang keren. Auw-yang thong buru-buru menghampiri dan bertanya padanya:

“apakah saudara ini sudah sembuh?”

“terimah kasih atas perhatian pangcu, luka siaotee sudah sembuh seluruhnya, “ menjawab hui kong lenag sambil memberi hormat.

Sementara itu siang-koan kie juga bangkit, dengan tangfan membawa pedang berjalan keluar barisan.

Dalam waktu sekejap mata sudah berada dimulut barisan, pedang masih berada ditangan kanannya, sedang tangan kiri memungut sebatang tombak.

Auw-yang thong tahu bahwa keadaan telah memaksa harus bertempur untuk mempertahankan kedudukannya, maka ia juga memungut sebilah golok besar dari tanah. Senjata-senjata itu merupakan senjata-senajta yang ditinggalkan oleh anak buah Kun Liong Ong yang binasa karena anak panah beracun teng-soan.

Selagi semua sudah siap hendak menggempur musuhnya, tiba2 terdengar suara Teng-soan

“Tuan2 lekas mundur, simpanlah kekuatan tenaga tuan2 untuk menghadapi pertempuran yang menentukan dengan Kun-liong 0ng dan empat raja mudanya Menghadapi orang2 bawahannja yang tidak berarti ini, berarti membuang tenaga cuma2, bukanlah terlalu sayang?"

Auw-yang Thong mengerti bahwa penasehatnya itu sudah mempunyai rencana yang sempurna untuk menghadapi musuhnya, maka segera perintahkan orang2nya mundur kebelakang kereta.

Pada waktu itu musuh sudah menyerbu dari berbagai penjuru.

Terdengar pula suara Teng Soan; “Keadaan telah memaksa, losiansu, maka siote hendak melakukan pembunuhan besar2an ditempat ini"

Kereta itu tiba2 memperdengarkan suara tambur dan genderang, barisan hulu balang sekitar kereta itu, semua segera bertiarap ditanah.

Kereta itu mulai melakukan pergerakan lambat, benda halus yang memancarkan-sinar berkeredepan, bagaikan hujan menyembur keluar dari dalam kereta itu.

Hampir bersamaan pada saat itu, barisan musuh yang menyerbu dari berbagai penjuru, segera roboh bagaikan tersapu angin puyuh.

Dalam waktu yang sangat singkat, anak buah Kun-liong Ong yang menyerbu dari setengahnya telah binasa sehingga tidak dapat menyerbu lagi.

Kereta yang bergerak berputaran itu, mendadak berhenti, sinar putih yang menyembur keluar juga berhenti.

Auw-yang Thong yang menyaksikan kejadian itu menghela napas panjang dan berkata;

“Sudah beberapa puluh tahun aku berkecimpungan didunia Kang-ouw, sudah banyak mengalami pertempuran hebat, tetapi belum pernah menyaksikan kematian yang menyedihkan."

Dari dalam kereta terdengar suara Teng Soan. “Kun-liong Ong sebetulnya hendak menggunakan orang2nya yang berkepandaian agak rendah dengan dibantu oleh pengaruhnya obat, lebih dulu melakukan serangan dengan seluruh kekuatan tenaga. setelah pihak kita kehabisan tenaga dan sudah letih, ia baru mengeluarkan orang2nya yang terkuat untuk membasmi kita semua. "

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula sambil tertawa; “Tetapi perhitungan manusia tidak seperti perhitungan Tuhan, ia samasekali tidak menduga bahwa aku Teng Soan sudan menyediakan kereta yang diperlengkapi oleh berbagai senjata beracun yang sangat berbisa, untuk menghadapi rencananya sehingga perhitungannya itu menjadi kalang kabut. ”

Pada saat itu datang pula serombongan orang berpakaian hitam yang jumlahnya kira-kira dua puluh lebih.

Tangan kanan orang-orang itu membawa senjata tombak dan golok sedangkan tangan kiri mereka memegang perisai.

Hui Kong Leang berkata sambil tertawa dingin:

„Persediaan mereka sungguh lengkap he."

Ia lalu mengambil sebuah tombak yang ditinggalkan oleh pasukan Kun-liong Ong, diletakkan disampingnya.

Tiat-bok Taysu tertarik oleh senjata senjata yang berserakan ditanah itu, ia lalu berkata:

“Senjata senjata ini cukup untuk menghadapi musuh, sungguh sayang kalau ditinggalkan  disini."

Ia lalu memunguti senjata2 itu, dengan dibantu oleh Auw- yang Thong, Siang-koan Kie, Ciu Tay Cie dan lain-lainnya, hingga dalam waktu sangat singkat, senjata2 yang ditinggalkan oleh musuh itu semua sudah dikumpulkan disekitar kereta.

Barisan Pat-kwat-tin yang Sudah terluka tiga orang, terpaksa dirobah menjadi barisan Tiang-gie-pan Su-chio, untuk mempertahankan kedudukannya.

Hui Kong Leang yang menyaksikan banyak bangkai musuh bergeletakkan ditanah, berkata sambil menghela napas:

“Dahulu dalam dunia Kang-ouw ramai dibicarakan tentang kecerdikan Teng-Soan, waktu itu aku masih kurang percaya, tetapi hari ini setelah kusaksikan sendiri, kecerdikannya benar- benar diluar dugaanku.

Bangkai-bangkai yang menggeletak ditanah ini, di- masa hidupnya setiap orang sedikitnya sudah menggunakan waktu berpuluh-puluh tahun untuk berlatih, sehingga mendapatkan kepandaian ilmu silat itu, meskipun hasilnya berlainan, tetapi setidak-tidaknya merupakan orang2 yang mempunyai kepandaian yang berarti, jika hendak membasmi mereka dalam wak tu sekejap mata sesungguhnya tidaklah mudah, bahkan tidak mungkin samasekali. Aih! Teng Soan seorang pelajar yang tidak bertenaga, hanya dengan keretanya yang diperlengkapi pesawat senjata rahasia, dalam waktu sekejap mata sudah membinasakan orang orang kuat yang jumlahnya hampir seratus jiwa, bukankah itu merupakan suatu perbuatan yang sangat mengagumkan bagi kita yang   belajar   ilmu silat."

„0 Mie Tho Hud, semoga hati Kung-liong Ong tergerak dan mendorong anak buahnya untuk mengantarkan jiwa.." berkata Tiat-bok Taysu

Auw-yang Thong tiba2 berkata sambil tertawa; “Taysu sebagai orang yang penuh cinta kasih terhadap sesamanya, tetapi sayang Kun-liong Ong sifatnya gemar membunuh, ditilik dari keadaan yang kita hadapi sekarang ini, kita terpaksa harus menggunakan tindakan membunuh untuk menghentikan pembunuhan."

Setelah itu tangan kanannya bergerak, tombak ditangannya meluncur kearah seorang berbaju hitam.

Orang yang diserang itu ternyata tidak menyingkir, ia menggunakan perisainya untuk menyambut serangan itu.

Perisai itu entah terbuat dari bahan apa, nampaknya kokoh kuat, tombak yang dilontarkan oleh Auw-yang Thong ternyata tidak berhasil menembusinya. Tetapi orang itu mundur terhujung-hujung oleh tenaga Auw-yang Thong yang kuat. Siang-koan Kie tiba2 berpaling dan berkata kepada Auw- yang Thong ;

“Auw-yang pangcu, apabila kita dapat menang-kap satu atau dua dari mereka, mungkin dapat mengetahui rahasia Kun-liong Ong."

„Orang-orang Kun-liong Ong semua sudah diberi obat yang mengendalikan pikirannya, bagaimana kita dapat korek keterangan dari mulut mereka?" berkata Tiat-bok Taysu.

„Barisan pengawal berbaju hitam ini tugasnya ialah mengawal gedung yang dinamakan istana Kun- liong Ong itu, sedikit banyak harus mempunyai kesadaran sekalipun diberi makan obat, dosisnya juga tidak berat," berkata Siang-koan Kie.

„Itu memang benar, sesungguhnya kita harus dapat menangkap hidup2 satu atau dua diantara mereka, untuk ditanya keterangan supaya menambah pengetahuan kita," berkata Hui Kong Leang.

„Biarlah aku pergi menangkap salah seorang di antara mereka," berkata Siang-koan Kie, kemudiai berdjalan keluar.

Hui Kong Leang berkata kepada Auw-yan Thong ;

,,Orang ini meskipun berkepandaian sangat tinggi tetapi dengan seorang diri   agaknya   sangat berbahaya biarlah siaote ikut membantu." „Harap berlaku hati2," berkata Auw- yang Thong

Hui Kong Leang sambil membawa sebilah golok besar mengikuti Siang-koan Kie.

Orang-orang berbaju hitam itu ketika melihai mereka berdua segera berhenti.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tetabuhan yang sangat halus dan menawan hati. Sesaat kemudian, sebuah tandu kecil berwarna putih perak, muncul di dalam suasana jang amat tegang itu, tandu itu dikawal oleh ernpat pelayan wanita. Serombongan peniup alat musik, mengikuti dibelakang tandu itu.

Orang-orang berbaju hitam yang menyaksikan kedatangan tandu itu, tiba2 minggir kesamping membuka satu jalan. Tandu putih kecil itu dengan melalui rombongan orang2 berbadju hitam terus maju mendekati barisan.

-odwo-

Bab 66

SIANG KOAN KIE mengangkat tombak ditangannya dan berkata dengan suara keras: “Jangan maju lagi!"

Empat pelayan wanita yang mengawal tandu itu, masing- masing segera menghunus pedangnya.

Siang-koan Kie berpaling kearah Auw-yang Thong dan bertanya;

„Bagaimana?"

Empat pelayan wanita yang mengawal tandu itu maju terus dengan pedang terhunus, sudah tiba didepan Siang-koan Kie. Jikalau Siang-koan Kie tidak bertindak, ia harus mundur kebelakang.

Empat pengawal wanita itu semuanya berparas cantik, pedang ditangannya jauh lebih pendek dari pedang biasa. Mereka nampaknya lemah gemulai, asal Siang-koan Kie bertindak, mungkin mereka akan terluka, namun Siang-koan Kie agak bingung menghadapi pengawal wanita itu sehingga untuk sesaat lamanya, ia tidak tahu bagaimana harus ber- tindak.

Hui Kong Leang berkata sambil tertawa dingin : „Kun-liong Ong banyak akal bangsatnya, jangan kena tertipu olehnya." Ia segera menyodorkan tombaknja, menikam pada salah satu pengawal itu jang berada diujungj kanan.

Pengawal wanita tjantik yang ditikam itu segera. menggerakkan pedangnya untuk menangkis tombakl Hui Kong Leang.

Hui Kong Leang diam2 berpikir: “Ini bukanka berarti kau mencari susah sendiri? Betapakah beratnya tombakku ini, bagaimana kau dapat menangkisdengan pedangmu?”

Sementara itu pedang dan tombak sudah saling beradu. Apa yang terjadi sesungguhnya diluar dugaan hui Kong

Leang, ia merasa bahwa tombak ditanganja setelah beradu

dengan pedang wanita itu, seperti ada semacam kekuatan tenaga gaib yang mencul buat tombaknja tidak bergerak, hingga diam2 ia sangat terkedjut.

Siang-koan Kie sementara itu; berkata : „Lekas berhenti, apabila kalian berani madju lagi jangan sesalkan aku berlaku kurang sopan."

Ternyata pengawal yang berhasil menahan serangnan Hui Kong Leang tadi, mendadak sudah majuh lagi empat lima langkah, hingga berada semakin dekat dengan Siang-koan Kie.

Maka Siang-koan Kie perlu memberi peringatan

Tandu kecil putih itu benar saja segera berhenti, terpisah beberapa langkah didepan Siang-koan Kie dan lain-lainnja.

Dua wanita jang memikul tandu, setelah meletakkan tandunya, segera mengundurkan diri dan berdiri dibelakang tandu.

Beberapa wanita jang bernyali besar itu, agaknya tidak menghiraukan adanya Auw-yang Thong dam lain2nya tokoh terkuat, mereka jalan seenaknya, saja Seolah2 jalan dijalan raya, nampaknya juga seperti tidak ada persediaan sama sekali. Dua pengawal wanita berbaju hijau segera bertindak membuka tirai yang menutupi tandu itu.

Seorang wanita berpakaian hitam yang mukanya tertutup oleh kerudung kain sutra, perlahan- keluar dari dalam tandu.

Wanita itu tidak membawa senyaata apa2, bahkan gaunnya yang panyang sampai ketanah sehingga menutupi kedua kakinya, kecuali tampak potongan tubuhnya yang kecil langsing dan kedua tangannya yang putih halus, sekujur badannya tertutup olenh kain hitam

Auw-yang Thong mempertikan gerak gerik waniita itu, siikapnya tenang luar biasa, dari sikapnya itu mengunjukkan bahwa wanita itu pasti dari golongan agung.

Siang-koan Kie yang masih berdarah muda, ketika menyaksikan sikap wanita yang se-olah2 tidak memandang dirinya, hatinya sangat panas. la lain mengancam dengan pedangnya seraya berkata ; "berhenti!"

Wanita itu seolah-olah juga terpengaruh oleh sikap Siang- koan Kie yang keras, ia menghentikan tindakan kakinya dan berkata dengan nada suara dingin :

“Bangkai-bangkai manusia yang berserakan ditempat ini, apakah semua kalian yang bunuh?"

„Kalau ya, kau mau apa?" berkata Siang-koan Kie.

„Tahukah kau bahwa membunuh orang harus mengganti jiwa. " berkata wanita itu, tetap dingin, " Kun-liong sudah

cukup kejam, tetapi ia belum pernah sekaligus membinasakan begitu. banyak orang!”

“Dimedan peperangan rnemang sudah semestinnya ada yang luka atau binasa. Kalau benar Kun-liong Ong ada seorang dan cinta sesamanya tidak seharusnya ia mengutus orang orang yang sudah diberi makan obat melupakan dirinya, datang menyerbu kemari hanya untuk mengantarkan jiwa ..” Wanita itu segera memotong perkataan Siang koan Kie yang belum habis

“Dengan sekaligus kalian sudah membunuh begitu banyak jiwa, ini sudah cukup kejam."

Setelah itu ia bertindak maju lagi.

Siang-koan Kie membentak dengan suara keras

„jangan maju lagi."

la tidak ingin melukai seorarg wanita, yang nampak sangat lemah, meskipun melihat wanita itu masih berjalan maju, tetapi ia tidak berani, bertindak, terpaksa merintangkan pedangnya sambil menbentak ;

Tetapi wanita itu se-olah2 tidak menghiraukan ancaman Siang-koan Kie, ia masih berjalan perlahan-lahan.

Siang-koau Kie sudah terdesak sehingga mundur beberapa langkah, dalam hatinya merasa mendongkol, tiba2 mendorong dengan tangan kanannya, ujung pedang mengancam depan dada wanita itu.

Wanita itu sejak turun dari tandu dan berjalan menghampiri Siang-koan Kie, sikapnya tenang dan sopan santun, agaknya bukan orang gagah, maka Siang-koan Kie setelah keluarkan ancamannya itu, dalarn hati juga merasa menyesal khawatir apabila ujung pedang itu benar2 melukai dirinya.

Selagi masih belum dapat mengambil keputusan tindakan selanjutnya, pergelangan tangannya tiba2 dirasakan kejang, beberapa jari tangan yang putih halus, sudah mencekat pergelangan tangan kanan yang memegang pedang.

Siang-koan Kie tidak menduga bahwa wanita itu bisa bergerak begitu gesit, dalam terkejut dan herannya, ia diam2 mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya hendak meronta, selain dari pada itu ia sudah siap menyerang musuh dengan tonbak ditangan kirinya. Tetapi ia merasakan bahwa jari tangan yang memegang pergelangan tangannya itu semakin keyang, darahnya balik mengallr kedalam, sehingga tangannya tidak kuat memeggang pedangnya lagi.

Wanita itu berkata sambil tertawa dingin : “Kalau kau tidak melepaskan pedangmu, awas dalam badanmu nanti akan terluka parah."

Wanita itu mengulur tangan kirinya hendak merampas pedang ditangan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie tiba2 mengiraukan suara bentakan keras, tangan kirinya digunakan untuk menyerang dada wanita itu.

Wanita itu agaknya juga tidak menduga bahwa dengan kanannya yang sudah dikuasai olehnya, dan tokh masih mempunyai tenaga demikian hebat, sehingga serangan Siang- koan Kie hampir mengenai dirinya. Untung ia cepat mengelakkan diri, sehinggga serangan Siang-koan Kie lewat kesamping.

Serangan Siang-koan Kie mengenai tempat kosong, sebaliknya jalan darahnya dirasakan terhalang sehingga kekuatan tenaganya lenyap seketika

Hui Kong Leang yang menyaksikan semua kemudian ini, segera menggerakkan tampaknya menyerang wanita itu.

Dari samping muncul dua pengawal wanita, dengan pedang masing2 untuk menangkis tombak Hui Kong Leang.

Hui Kong Leang yang sudah ada pengalama yang terdahulu, kali ini tidak berani lagi berlaga gegabah. Diam'2 ia memusaatkan kekuatan tenaga dalamnya keujung tombak, sehingga tekanan tombak itu semakin hebat; dalam anggapannya. Meskipun belum tentu melukai dua pengawal wanita itu, tapi setidak2nya dapat membikin terpental pedangnya dua pengawal Wanita itu. Tak disangka apa yang terjadi sungguh diluar dugaannya tombak panjang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam hebat itu, begitu beradu denginn dua bilah pedang, tiba-tiba melesat kesamping.

Dua pedang pengawal wanita itu, agaknya mengandung semacam kekuatan gaib, karena begitu berat dengan tembaknya, tiba-tiba merasa bahwa tenaga dalam yang disalurKan diatas tombak, ternyata belum sampai digunakan, dengan mudah sudah meleset kesamping.

Dua pengawal wanita itu setelah menyingkiirkan tombak Hui Kong Leang, segera maju rnenikam dada dan paha Hui Kong Leang.

Pada saat itu, dua pengawal wanita itu juga berada dekat sekali dengan Hui kong Leang, karena tombak Hui Kong Leang terlalu panjang, tidak luasa untuk pertempuran jarak pendek terpaksa melornpat mundur empat langkah.

Tetapi dua pengawal wanita itu terus mengikuti bagaikan bayangan.

Tiat-bok Taysu tidak bisa tinggal diam, ia seja memutar goloknya dan membabat dari samping

Dua pengawal wanita itu melihat hebatnya terancam golok itu, rnereka tidak berani menangkis dengan pedangnya, dua- duanya lantas lompat mundur.

Hui Kong Leang menggunakan kesempatan itu, melancarkan Serangannya lagi. Ia sudah tahu bahwa dua pengawal wanita itu berkepandaian tinggi, sehingga serangannya itu tidak mengenal kasihan ia terus cecar dua wanita itu dengan serangan yang tepat.

Serangan Hui Kong Leang semakin hebat, hanya sinar berkelebatan yang timbul dari ujung tornbaknya, menaahan majunya dua pengawal wanita itu sehingga setindakpun tidak bisa maju lagi. Pada saat itu pasukan pengawal Kun-liong Ong yang semuanya mengenakan pakaian baju hitam dan membawa senyata golok dan perisai, jumlahnya tampak banyak.

Tetapi lima hulu balang golongan pengemis, juga menggunakan kesempatan itu untuk beristirahat dan mengatur pernapasan, yang terluka juga mendapat kesempatan untuk rnengobati luka2nya.

Waktunya meskipun hanya sedikit, tetapi bagi ke lima hula balang yang habis melakukan pertempuran lama dan sudah letih sekali, sesungguhnya banyak berguna. Lima hulu balang itu setelah mendapat waktu untuk beristirahat, masing2 mengeluarkan ransum keringnya untuk dimakan, sehingga tenaga dan semangat rnereka sudah pulih kernbali.

Sebaliknya dengan Auw-yang Thong ia tidak ingin beristirahat sama sekaii, dengan diarn2 ia mendekati Siang- koan Kie. la yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Siang- koan Kie dikendalikan oleh wanita itu sehingga kehilangan daya perlawanannya, mau tidak mau ia harus turun tangan sendiri untuk memberi bantuan.

Wanita baju hitam itu setelah berhasil menguasai diri Siang-koan Kie ia juga tidak berani maju lagi, matanya celingukkan mengawasi kesana kemari, agaknya ada yang dicari.

Auw-yang Thong perlahan2 mengangkat tangannya, diam2 mengancam beberapa bagian jalan dar rah wanita itu kemudian berkata:

“Nyonya! Lekas lepaskan tangannya."

Wanita itu agaknya tidak mcnghiraukan perkataan dan ancaman Auw-yang Thong, kepalanya bentarpun tidak menoleh.

Auw-yang Thong berkata pula; “Kita hanya terpisah tidak Iebih dari tiga kaki aku sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalamku untuk mengancam seluruh bagian jalan darah diri nyonya, setiap waktu aku dapat menotok jalan darahmu, meskipun kau berkepandaian tinggi, juga sulit untuk menghindarkan diri.

Wanita itu perlahan2 palingkan mukanya yang tertutup oleh kain kerudung, tangannya diangkat perlahan2, sewaktu tangan itu terangkat sampai kebatas dada, jari tangannya tiba-tiba menotok jalan darah Auw-yang Thong.

Dari jari tangan itu menghembuskan angin yang langsung menuju badan Auw-yang Thong.

Auw-yang Thong sedikitpun tidak menduga wanita itu akan menyerang dirinya secara demikian kejam, dalam keadaan terpaksa, ia menutup dengan talapakan tangannya.

Tetapi dengan demikian, persiapan Auw-yang Thong tadi telah digagalkan seluruhnya.

Wanita itu telah melancarkan serangannya dengan jari tangan, lalu berkata:

“Diatas dunia pada dewasa ini, aku tadinya mengira hanya Kun-liong Ong seorrang saja yang mempunyai sifat sangat kejam, tak disangka orang rimba persilatan sekarang ini serupa saja, baiklah kalian boleh saling bunuh sendiri."

Ia segera melepaskan tangan kanan Siang-koan-Kie, perlahan2 memutar tubuhnya dan hendak kembali ketandunya.

PengaWal wanita yang masih bertempur dengan Hui Kong Leang dan Tiat-bok Taysu, ketika menyaksikan Wanita itu sudah menghentikan gerakannya, masing2 segera menarik kembali serangannya dan mundur kebelakang Wanita berbaju hitam.

Pada Saat itu terdengar suara Teng Soan dari dalam keretanya; “Nyonya berhenti dulu." Wanita itu agaknya terkejut, tetapi ia menurut dan segera menghentikan kakinya.

Terdengar pula suara Teng Soan;

„Kita orang terkurung ditempat ini, tempat yang dapat kita gunakan untuk melindungi jiwa kita, hanya seluas satu tombak persegi saja. Perintah Kun-liong Ong sangat keras, ternyatanya dalam jumlah yang besar hendak menyerang dengan maksud untuk membasmi kita semua, kecuali kita orang menyerah dan mernberikan kepala kita dipenggal, jikalau tidak ingin demikian maka kita harus melawan dengan mati2an."

Wanita itu perlahan2 berpaling dan berkata :

“Perkataanmu ini juga tidak salah, aih? Tetapi bangkai manusia yang tertumpuk bagaikan gunung ini, badan mereka sebagian sudah bengkak dan matang biru agaknya tidak terluka oleh senyata tajam."

„Kematian mereka itu disebabkan karena jarum beracun," berkata Teng Soan.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara seorang perernpuan berseru : „Ibu suri"

Seorang gadis berpakaian warna putih muncul dan ber-lari2 dari dalam gerombolan semak-semak.

Siang-koan Kie telah mengenali gadis itu, ternyata adalah Nie Soat Kiao yang tadi dalam keadaan hampir binasa.

Tak disangka haliwa orang tua berbaju hijau itu benar2 mempunyai kesanggupan mnyembuhkan Nie Soat Kiao, sehingga pulih kembali kesehatannya dalam waktu yang sangat singkat saja

Wanita baju hitam itu sedikitpun tidak menoleh, tetapi dari pendengarannya ia sudah dapat mengenali suaranya Nie Soat Kiao maka ia segera berkata ; „Apakah kau Suat Kiao?"'

Nie Suat Kiao yang sudah berada dihadapai wanita itu segera menjawab :

“Benar anak sendiri, disini anak mengucapkan selamat kepada ibu."

Setelah itu ia lalu berlutut dihadapannya.

Wanita itu per-lahan2 mengulur tangannya membimbing bangun Nie Suat Kiao seraya berkata;

“Kabarnya kau sudah menghianati ayah angkatmu, benarkah ada kejadian demikian?"

“Ayah sudah memasukkan jarum beracun melekat tulang kedalam tubuh anak."

Wanita itu tiba2 menghela napas panjang dan berkata :

„Menyaksikan bangkai manusia bertumpuk2 dan darah merah membanjir bagaikan air sungai, aku sesungguhnya tidak mengerti siapa yang salah dan yang benar dalam pertikaian dirimba persilatan ini?”

„0 Mi Tho Hud, kejahatan yang sudah berakar tidak mudah diinsafkan, lolap sekalian terpaksa menggunakan kekerasan untuk menghentikan kejahatan-kejahatannya," berkata Tiat- bok Taysu sambil merangkapkan kedua tangannya.

Wanita itu dengan suara lemah lembut berkita pada Nie Suat Kiao:

“Anak bolehkah kau ikut aku pulang?"

Nie Suat Kiao sejenak nampak ragu-ragu akhirnya berkata:

„Anak tidak ingin pulang."

Wanita itu melepaskan Nie Soat Kiao dan berkata;

„Setiap orang mempanyai cita-cita sendiri, aku juga tidak memaksamu " Ia berdiam, kemudian berkata pula sambil menarik napas; “Banyak jiwa telah berkorban, suatu tanda bahaya maksud

membanta kedua pihak sudah tak terkendalikan lagi, aku juga tidak ingin mencegah atau merintangi ayahmu lagi. Ach!

Dia memang seorang tidak baik, sepasang tangaunya yang berdarah telah menciptakan dosa beritumpuk tumpuk; tetapi orang-orang yang sebagai lawannya itu dalam waktu sekejap mata dapat membunuh demikian banyak jiwa manusia, rupanya juga bukan prang baik-baik."

„Orang-orang ini semua merupakan pendekar-perdekar kenamaan didunia Kang-ouw pada dewasa ini mereka merupakan kesatria-kesatria tulen, kalau mereka sampai melakukan pembunuhan sekian banyak orang, sesungguhnya karena keadaan terpaksa”. berkata Nie Soat Kiao, matanya kemudian menyapu orang berbaju hitam yang masih mengambil sikap pengurung, lalu berkata pula:

„Coba ibu lihat sendiri, asal ibu meninggalkan tempat ini, orang-orang berbaju hitam yang masing-masing membawa golok dan penrisai itu, Segera menyerbu dari berbagai penjuru. Orang-orang yang diserbu itu, oleh karena hanya membela    diri    sudah    tentu    terpaksa     bertindak berikan perlawanan."

Wanita itu kemudian lama berpikir kemudian baru berkata; “Perkataanmu juga tidak salah."

“Pada dewasa ini, hanya ibu seorang saja yang dapat menasehati ayah berbuat sewenang-wenang juga hanya perkataan ibu, yang ia tidak berani tidak rnenurut, Apabila ibu dapat memberi nasehat ayah, supaja menarik kembali orang- orangnya maka terhindarlah bencana besar yang akan menimpa nasib orang-orang itu. " berkata Nie Suat Kiao. Sementara itu tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda, kemudian tampak beberapa penunggang kuda lari kearah mereka.

Rombongan penunggang kuda itu adalah Kun-liong Ong bersama beberapa pengikutnya.

Dibelakang Kun-liong Ong, adalah seorang tua berusia kira- kira lima puluh tahun yang berjenggot panjang sampai kedadanya.

Nie suat Kiao begitu melihat Kun-liong Ong perasaan jeri timbul dalam hatinya, ia lalu berkata kepada wanita babaju hitam itu dengan suara perlalhan:

“Ibu selamat tinggal anak hendak pergi.”

Setelah itu dengan cepat ia mengundurkan diri. Sepasang mata Kun-liong Ong terus menatap Nie Suat Kiao, mukanya yang sedikitpun tidak menujukkan sesuatu perasaan, hanya nampak berkerenyut beberapa kali. Kemudian ia berkata dengan suara nyaring:

„Teng Soan, kau lihat siapa ini yang datang?"

Dari dalam kereta terdengar suara jawaban Teng Soan: “san Su-siok, selama ini apakah Su-siok dalam keadaaan

baik? Disini siaotit Teng Soan memberi hormat."

Orang tua berjenggot panyang itu berkata dengan nada suara dingin:

“mengapa kau tidak keluar menjumpai aku?" Teng Soan menyawab;

„Siaotit tidak paham ilmu silat. tentang ini Sam-susiok tentunya sudah mengetahuinya, jikalau siaotit berdiri diatas kereta yang terlindung ini, hanya suliengku itu saja belum tentu membiarkan siaotit begitu saja." Orang tua itu agaknya merasa tidak senang mendengar jawaban Teng Soan itu, ia berkata;

“Melihat orang tingkatan tua, kau masih tidak mau turun kereta untuk rnenyambut, ini berarti bahwa didalam matamu sudah tidak pandang aku siorang tua lagi "

„Tuduhan Su-siok ini sesungguhnya terlalu berat, bagaimana siaotit berani berbuat demikian."

Orang tut itu meaggeram dengan suara keras;

“Karena kau sudah berlaku kurang ajar, maka jangan sesalkan kalau aku tidak memandangmu lagi"

la lalu mengeluarkan sebutir peluru berwarna merah, kemudian disambitkan kekereta Teng Soan.

Auw-yang Thong sebetulnya hendak turun tangan untuk merintangi, tetapi karna mendengar Teng Soan bahasakan orang tua itu Su-siok, pikirannya ragu-ragu. ketika menyaksikan peluru berwarna merah itu melayang kekereta ia juga tidak mencegah.

Sebentar terdengar suara ledakan, peluru itu ternyata sudah meledak dan menimbulkan api berkobar tinggi.

Api itu sangat ganas, dengan cepat sudah membakar rumput alang-alang Secara luas, dalam waktu sekejap mata saja api sudah menjalar kemana-mana.

Auw yang Thong terkejut, diam-diam berpikir, senjata semacam ini ini sungguh ganas, apa bila mengenakan badan orang, bukankah sangat membahayakan bagaimana kita harus mencari daya upaya untuk mencegah

Semenntara itu orang tua sudah mengambil sebutir lagi dan digenggam ditangannya.

Auw-yang Thong telah menyaksikan bahwa separuh atap kereta Teng Soan sudah terbakar, apabila disambit lagi pasti musnah. Maka ia segera mengambil sebatang tombak dan maju menghampiri tombaknya segera menusuk dada orang tua itu.

Karena berkat tindakannya yang cepat dan tepat.belum orang tua itu melemparkan pelurunya, Datang tombak Auw- yang Thong sudah mengancam dirinya.

Dalam pada itu, terdengar suara geraman Kun liong Ong, tangan kanannya segera bergerak, dengan kecepatan luar biasa, ia berhasil menyambar tombak ia berhasil menyambar tombak Auw yang thong yang hendak menikam orang tua itu.

Kejadian itu berlangsung sangat cepat dan tidak di-duga2, hingga mengejutkan semua orang yang ada disitu

Kun-liong Ong setelah berhasil menyambar ujung tombak Auw-yang Thong, lalu membentak dengan suara keras;

„Lepaskan!"

„Tidak bisa." Jawab Auw-yang Thong sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalam untuk memperttahankan senyatanya.

Kun-liong Ong yang tidak berhasil merebut senyata Auw- yang Thong tiba2 mendorongnya, kakinya juga melakukan satu tendangan.

Auw-yang Thong yang didorong dan ditendang sedemikian rupa, terpaksa mundur demikian rupa, mundur kira2 dua langkah, tetapi sebelurn berdiri tegak, kaki kanan Kun-liong Ong sudah mengancam lagi.

Dalam keadaan demikian, Auw-yang Thong mengelakan tangan kirinya untuk rnembacok kaki itu.

Kun-liong Ong buru2 tarik mundur kaki kanan, kemudian menendang dengan kaki kirinya, geran kaki itu dinarnakan Wan-lian-huan-tui. Dalam waktu singkat, dapat menendang dengan beruntun, sehingga Auw-yang Thong terpaksa mundur lagi tiga langkah. Pada saat itu api yang membakar kereta Teng soan sudah dipadamkan oleh lima hulu balang golongan pengemis, tak disangka api itu ternyata tidak demikian mudah dipadamkan, asal masih tinggal sedikit sajanya masih bisa rnenyala lagi.

Hui Kong Leang tidak mau tinggal diam, dengan golok ditangan ia menyerang orang tua jenggot panyang itu.

Pemuda baju biru yang berada dibelakang orang tua itu, segera melompat keluar, dengan kipas ditangan kiri ia menangkis serangan golok Hui Kong leang, tangan kanannya dari dalam saku mengambil sebuah benda berkeredepan disambitkan kepada hui Kong Leang.

Hui Kong Leang terpaksa melompat mundur untuk mengelakkan serangan benda berkeredapan itu. pemuda baju biru itu segera menarik kembali bendanya yang berkeredepan itu.

Apa sebetulnya benda berkeredepan yang dahsyat itu, sesungguhnya tidak diketahui jelas oleh Hui Kong Leang.

Siang-koan Kie tiba2 mengaung dengan suaranya yang nyaring dan panjang, pedang panjang ditangan kanannya diangkat tinggi-tinggi.

Gerakkan yang belum pernah tampak dalam silat rimba persilatan, telah mengherankan semua orang yang ada disitu, hanya Kun liong Ong seorang saja yang agaknya mengetahui gerakan sehingga hatinya timbul goncangan hebat, dengan demikian tendangan kakinya mulai lambat.

Auw-yang Thong menggunakan kesempatan membalas menyerang dengan tangan dan kakinya, ternyata berhasil mendesak Kun-liong Ong sampai mundur dua langkah.

Dua orang itu masing-masing dengan menggunakan tangan kanan saling berkutatan mernpertahankan senjata tombaknya, hanya menggunakan tangan dan sepasang kaki masing2 untuk menyerang, namun demikian serangan itu sangat hebat dan berbahaya.

Mata Kun-liong Ong terus ditujukan kepada diri Siang-koan Kie, karena demikian, hingga berapa kali hampir terdesak oleh Auw-yang Thong

Dilain pihak pemuda berbaju biru itu setelah berhasil mendesak mundur Hui Kong Leang, segera mengejarnya sambil menyerang dengan senjata kipasnya.

Hui Kong Leang menggunakan golok besarnya untuk menangkis dan balas menyerang tangan pemuda itu.

Sementara itu Siang-koan Kie telah mengangkat kaki kirinya, seolah-olah burung garuda yang pentang sayap hendak terbang keangkasa. Pemuda baju biru itu tiba2 menutup kipasnya, dengan cepat melompat mundur, sementara mulutnya berkata;

“Hui Kong Leang awas dengan senyata terbangku."

Tangan kirinya segera diayun, dari lengan bajunya melesat keluar benda yang mengeluarkan sinar berkeredapan.

Hui Kong Leang hanya merasakan benda yang beterbangan itu menghembuskan hawa dingin, bagaikan biang lalat yang melingkar mengancam kepalanya, hingga dalam hatinya diam2 mengeluh.

Pada saat itu, sebuah sinar pedang tiba2 meneryang kebenda itu, setelah mernperdengarkan suara beradunya senyata, benda terbang berkeredapan tadi terpental dan berputaran diudara sedang sinar putih dari pedang, dengan cepat meluncur kearah orang tua berjenggot panyang.

Kun-liong Ong mengeluarkan suara bentakan keras ia mengangkat tangannya melakukan serangan keudara, untuk menyerang sinar pedang itu dengan kekuatan tenaga dalam yang keluar dari tangannya. Auw-yang Thong menggunakan kesempatan itu melancarkan serangannya, Kun-liong Ong tidak ke-buru menangkis, terpaksa melepaskan tombak yang digenggamnya, kemudian melompat mundur.

Orang tua berjenggot panyang itu matanya terus menatap sinar pedang itu tanpa menggeser kakinya, ia tetap berdiri ditempatnya sambil merangkapkan kedua tangannya diatas dadanya.

Sinar pedang itu ketika diserang oleh kekuatan tenaga dalam Kun-liong Ong, gerakannya agak terhambat.

Orang tua beryenggot itu tiba2 mengeluarkan suara keras kedua tangannya mendorong keluar, untuk menyerang sinar pedang itu.

Sinar putih pedang itu lenyap seketika, kemudian diri Siang-koan Kie bagaikan layang-layang putus talinya, Siang- koan Kie yungkir balik beberapa kali ditengah udara, kemudian melayang turun.

Nie Suat Kiao menyeyakkan kakinya ditanah badannya melesat tinggi, dengan cepat ia sudah menyambut Siang-koan Kie kedaiam pelukkannya.

Auw-yang Thong mengeluarkan suara bentakan keras, dengan sepenuh tenaga ia menyambitkan tombak panyang kearah orang tua beryenggot panyang.

Orang tua beryenggot panyang itu setelah menyerang sinar pedang Siang-koan Kie tadi agaknya sudah menggunakan kekuatan tenaga terlalu banyak hingga gerakkannya agak lambat, dengan dernikian maka tombak yang disambitkan oleh Auw-yang Thong tadi telah berhasil merobek lengan yubahnya.

Tombak masih meluncur terus dan menembus seorang pengawal bayu hitam yang sial sehingga yiwanya melayang seketika itu yuga. Tiat-bok Taysu yuga tidak tinggal diam, dua tombaknya dengan berbareng dilontarkan kearah orang tua berjenggot panjang itu.

Sementara itu Auw-yang Thong yang sudah menyambitkan tombaknya, mengambil sebilah golok besar lagi, maju menyerang orang tua itu.

Kun-liong Ong tidak membiarkan Su-sioknya menghadapi lawan-lawannya sendirian, ia mengam-bil sebatang tombak, begitu pula orang tua itu juga mengambil sebatang tombak untuk menghadapi lawannya.

Auw-yang Thong yang sudah menyerbu, bagaikan Harimau kelaparan yang menyerbu mangsanya.

Kun-liong Ong segera menahan seranganya dan uberberkata dengan suara keras ;

„Auw-yang Thong, beranikah kau bertempur satu lawan satu denganku?"

Dengan kedudukannya Auw-yang Thong sebaga pemimpin dari satu golongan, sudah. tent u tidak akan menolak tantangan itu, maka ia memperdengarkan suara tertawa dingin, selagi hendak menjawab, tiba2 terdengar suara mengaung.

Pada saat itu lima orang hulu balang, masing-masing sudah menggunakan baju luarnya untuk menumpas api yang membakar kereta Teng Soan.

Suara mengaung itu agaknya sangat dekat, bahkan seperti berada dibelakang Kun-liong, maka mau tidak mau Kun-liong Ong terpaksa menoleh ke-belakang.

Auw-yang Thong menggunakan kesempatan itu, menyerang dengan goloknya. Tiba-tiba terdengar suara bentakan halus : „Tahan!" Tanpa menoleh Auw yang Thong agaknya sudah mengenali suara itu siapa, dengan cepat ia tarik mundur serangannya.

Kun-liong Ong mengangkat tinggi tangan kanannya, membuat satu lingkaran, kemudian menunjuk keedepan, pengawal baju hitam, itu segera bergerak maju

Jelas bahwa suara mengaung yang ada dibelakang dirinya tadi, sudah mempengaruhi begitu besar pikiran Kun-liong Ong.

Pasukan pengawal baju hitam itu yang sudah bergerak maju, semua mengangkat tinggi perisai ditangan kirinya, seolah2 membuat dinding besi yang kokoh kekar.

Tiba2 terdengar suara Teng Soan berkata ;

„Bala bantuan kita sudah tiba, sudah cukup bagi tuan2 untuk menahan sementara waktu majunya musuh kita."

Suara mengaung tadi, dengan tiba2 sudah berada dibelakang diri pasukan pengawal baju hitam.

Sebentar terdengar suara jeritan orang, seorang pengawal baju hitam, sudah disambar dadanya dari belakang, kemudian dilemparkan jauh2.

Auw-yang Thong mengawasi ketempat itu, kini ia dapat melihat bahwa orang itu dilemparkan oleh seorang dengan tenaganya yang sangat kuat, orang yang baru datang itu bukan lain dari pada Wan Hauw yang sering mengikuti Siang- koan Kie.

Wan Hauw bagaikan orang mengamuk, tangannya bergerak menyambar setiap orang pengawal baju hitam lalu dilemparkannya, sekenanya, seorang lagi ia lemparkan kearah Kun-liong Ong.

Kun-liong Ong yang menyaksikan kejadian itu, ia berkata sendiri : „Orang ini mempunyai tenaga sangat besar, gerak tipu ilmu silatnya sangat aneh kalau aku dapat merggunakan kesempatan ini, bisa menyingkirkan dia lebih dahulu, tidak perduli dengan cara apa saja, dan siapa saja yang berhasil menangkapnya akan kuberi hadiah besar. ”

Sementara itu tangan kirinya sudah bergerak untuk menyambut orang yang dilemparkan kearahnya tadi.

Wan Hauw yang sangat gagah dan bertenaga besar, dimana tangannya bergerak, disitu segera ada orang yang jatuh korban.

Gerakannya gesit sekali, jarang tampak didalam rimba persilatan, orang pengawal baju hitamyang coba hendak merintanginya, meskipun semua orang sudah mengeluarkan seluruh tenaga, juga tidak berhasil merintangi majunya pemada itu. Dalam waktu yang sangat singkat beberapa puluh pengawal baju hitam sudah rubuh ditangannya.

Tetapi karena perintah Kun-liong Ong yang keras, pengawal baju hitam itu meskipun sudah banyak yang mati atau terluka, namun mereka masih tetap berusaha hendak msenangkap Wan Hauw.

Wan Hauw yang menyaksikan dirinya terkepung semakin rapat, diam2 juga merasa cemas. Dalam hatinya berpikir ”apabila berkelahi secara demikian, entah baru kapan dapat keluar dari kepungan musuh ini?

Seketika itu ia menyerang, kemudian badannya melesat setinggi dua tombak, ditengah udara ia berjumpalitin dua kali, kemudian melesat keluar melalui kepala2 orang yang mengurung dirinya.

-odwo-

Bab 67

MATA Kun-liong Ong terus ditujukan kepada Wan Hauw tanpa berkedip. Orang2 terkuat kenamaaan seperti Auw-yang Thong, Tiat-bok Taysu dan lain2nya, ia tidak pandang dimata, tetapi terhadap Wan Hauw dan Siang-koan Kie agaknya merasa sedikit jeri. Ia ingin supaya lekas dapat membinasakan dua pemuda itu, ketika melihat Wan Hauw melayang melalui diatas kepalanya, ia segera mengayunkan tangan kanannya, menyerang Wan Hauw dengan hebat.

Wan Hauw yang meskipun nampaknya ketolol2an, sebetulnya sangat gesit dan lincah gerak geriknya, meskipun berada ditengah udara, ia masih dapat memperhatikan keadaan disekitarnya, ketika melihat dirinya diserang oleh Kun-liong Ong, segera disambut dengan tangannya.

Tatkala dua kekuatan saling beradu, ia sudah melesat tinggi lagi dan kemudian melompat turun kedalam rombongan golongan pengemis.

Pada saat ia melayang turun, anak panah yang dilepaskan oleh orang2nya Kun-liong Ong menyebar dengan hebatnya, tetapi Wan Hauw sudah berhasil mengelakkannya, hingga tak sebatangpun yang mengenai dirinya.

Setelah berada ditanah mata Wan Hauw berputaran mengawasi setiap orang yang ada disitu, kemudian menghampiri Siang-koan Kie.

Pada saat itu Siang-koan Kie sudah diletakan ditanah oleh Nie Suat Kiao dan sedang diurut padannya.

Wan Hauw sambil berjongkok bertanya dengan suara cemas ;

„Nona Nie, apakah luka toako para.    "

Kie Suat Kiao segera menyawab :

“Tidak apa, beristirahat sebentar sudah baik kembali, ia telah bertempur melawan musuh2nya yang sangat tangguh, hingga dalam tubuhnya tergoncang.”

Wan Hauw meskipun kalau bicara tidak terang, tetapi perkataan. orang lain dia mengerti seluruhnya. Sambil menganggukkan kepalanya ia mengulurkan tangannya untuk mengurut-urut dada Siang-Koan Kie.

Nie Suat Kiao yang dalam keadaan cemas hendak menolong jiwa Siang-koan Kie, meskipun di-bawah matanya orang banyak, ia juga tidak memperdulikan kata2 orang lain, dengan sangat berani ia menyambut dan memeluk tubuh Siang-koan Kie, kemudian diurut-urut dadanya.

Setelah Wan Hauw datang barulah ia serahkan Siang-koan Kie kepadanya, kemudian per-lahan2 ia mengundurkan diri.

Wan Hauw mengangkat kepala memandang Nie Soat Kiao sejenak, kemudian berkata: “Nona Nie, tunggu sebentar."

Nie Suat Kiao agak tercengang, namun ia segera menghentikan tindakan kakinya. Wan Hauw kembali menundukkan kepala dan mengurut2 dada Siang-koan Kie lagi.

Pada waktu itu pengawal berbaju hitam Kun-liong Ong yang mengurung mereka, tiba2 bergerak mundur.

Majunya pasukan orang2 tadi bagaikan arus gelombang air laut, tetapi mundurnya juga bagaikan air ditiup angin sebsntar saja sudah tidak tampak bayangannya.

Dalam tanah datar itu suasananya kembali sunyi senyap, darah merah dibawah sinar matahari seolah-olah memancarkan sinarnya yang mengerikan bangkai manusia bertumpuk2 dan berserakan di mana2.

Auw-yang Thong yang menyaksikan pemandangai itu menarik napas panjang dan berkita;

„Suatu pembunuhan yang sangat kejam."

Dari dalam kereta terdengar suara Teng Soan bertanya; “Tuan siaotee ingin bertanya, apabila Kun-liong Ong,

dengan   anak   buahnya   yang   berjumlah   besar   datang menyerang lagi, apakah masih mempunyai tenaga untuk melawan?"

Auw-yang Thong terkejut mendengar perkataa demikian, ia balik bertanya;

„Sianseng, apakah maksudnya pertanyaanmu ini?

„Ada satu hal, yang ternyata diluar dugaan siaotee apabila membuat satu kesalahan, mungkin mempengaruhi seluruh siasat kita."

„Hal apakah itu?"

„Wanita berbaju hitam itu tadi"

„Apa? Apakah kepandaian wanita itu lebih hebat dari pada Kun-liong Ong?" bertanya Hui Koi Leang.

Kereta yang terlindung rapat itu tiba2 mengeluakan suara keresekan, papan tebal yang melindungi kereta itu, tiba2 bergerak sendiri dan terbuka satu pintu, Teng Soan muncul dari dalam dan turun dari kereta dengan tangan memegang kipas.

Ia nampaknya sangat letih, agaknya sudah menggunakan tenaga terlalu banyak.

Auw-yang Thong buru2 menyambut, ia bertanya dengan suara rendah:

„Apakah sianseng kenal dengan wanita berbaju hitam itu tadi?"

„Meskipun siaote belum pernah melihat wajah aslinya, tetapi siaote menduga pasti adalah dia." menyawab Teng Soan dengan serius.

„Siapa?"

Teng Soan mendongakkan kepala, ia berpikir lama tidak menyawab, agaknya sedang memikirkan suatu persoalan yang gawat. Sementara itu Siang-koan Kie sudah bangkit duduk sambil menarik napas panyang, kemudian berkata kepada Wan Hauw:

“Saudara Wan kapan kau kembali?"

Wan Hauw tertawa kemudian menyawab;

„Belum lama berselang"

Ia berdiri. dari dalam sakunya mengeluarkan sebutir pel dan berkata pula; “Ini pel obat nona Nie."

Kemudian ia berjalan menghampiri Nie Suat Kiao sambil mengulur tangannya memberikan pel itu kepadanya.

Nie Suat Kiao nampak ragu2 sejenak, kemudian ia menyambut pel, itu dan berkata:

“Jarum beracun didalam tubuhku. sudah dikeluarkan oleh locianpwee itu, obat ini sudah tidak perlu lagi "

Dari dalam gerombolan datang2, tiba2 terdengar suara helahan napas berat, kemudian muncul seorang tua berbaju hijau, dengan dua tangan memondong seorang gadis yang rambutnya terurai kebawah.

Wajah orang tua itu nampak sangat sedih, air mata mengalir keluar.

Auw-yang Thong buru2 memberi hormat dan berkata: “Locianpwee, apakah penyakit nona ini sudah banyak

baik?"

Sinar mata tajam orang tua itu, per-lahan2 menyapu muka semua orang sejenak tiba2 mendongakkan kepala dan berkata:

„Aku telah menolong banyak jiwa orang, tetapi siapakah yang dapat menolong jiwa anakku...” Teng Soan yang mendengar suara itu, seperti disadarkan dari mimpinya, ia berkata dengan suara nyaring:

“Bolehkah boanpwee memeriksa penyakit putrimu?"

Orang tua berbaju hijau itu matanya perlahan perlahan ditujukan kepada Teng Soan, kemudian berkala dengan nada suara dingin;

„Dalam dunia pada dewasa ini, jumlahnya sedikit sekali, orang yang mempunyai kepandaian dalam hal ilmu tabib, yang melebihi kepandaianku siorang tua "

Teng Soan berkata sambil tertawa hambar;

“Tentang penyakit putrimu, locianpwee sendiri juga merasa sudah tidak sanggup menyembuhkan, mengapa locianpwee tidak mengijinkan boanpwee untuk memeriksanya sebentar?"

Orang tua berbaju hijau itu berpikir sejenak, akhirnya meletakkan tubuh gadisnya diatas rumput.

Angin meniup sepoi-sepoi, bau amis yang berat menusuk hidung semua orang.

Teng Soan menggoyang-goyangkan kipasnya, ia coba berusaha untuk mengempos semangatnya, matanya ditujukan keparas muka gadis itu.

Gadis itu masih memejamkan dua matanya, agaknya sedang tidur nyenyak, meskipun mukanya pucat pasi, tetapi tidak mmgurangi kecantikkannya. Raut mukanya bagaikan telur, hidungnya mancung, alisnya lentik, semua itu seperti ciptaan dari seorang pelukis yang pandai.

Teng Soan meletakkan kipasnya, tangan kirinya memegang sebelah tangan gadis itu, tangan kanannya memeriksa nadi dilain tangan gadis itu.

Mata orang tua berbaju hijau itu terus menatap wajah Teng Soan, agaknya sedang mengawasi segala gerak geriknya, nampaknya, apabila Teng Soan melakukan gerakan yang kurang pantas atau timbal pikiran jahat, segera diserangnya.

Teng Soan perlahan-perlahan memejamkan matanya, kepalanya selalu digeleng-gelengkan, pikirannya agaknya bekerja keras.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba ia membuka matanya mengawasi orang tua itu sambil berkata:

„Gerakan nadi putrimu, sudah lama menunjukkan kurang wajar, jikalau tidak menggunakan obat ajaib, mungkin susah disembuhkan."

„Obat ajaib tidak sukar, tetapi aku khawatir kelemahan badannya tidak sanggup bertahan lebih lama," berkata orang tua itu.

“Boanpwee ada perkataan yang mungkin kurang tepat, entah. harus boanpwee ucapkan atau tidak?"

”Katakanlah!"

“Jika dilihat keadaannya. putrimu ini bukan saja terluka bagian dalamnya, tetapi juga sebelum ia terluka, sudah mendapat sakit berat."

Orang tua itu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata:

“Memang benar, badannya sangat lemah, tetapi senang sekali berpesiar kegunung2 atau tempat-tempat pesiar yang terkenal, oleh karena aku tidak ingin ia tidak senang, maka aku bawa ia pergi pesiar keseluruh pelosok dunia, tak kusangka ia tidak sanggup menahan keletihan dalam perjalanan, sehingga mendapat penyakit berat."

Teng Soan matanya berputaran mengawasi sekelilingnya sejenak lalu mendongakkan kepala untuk berpikir.kemudian berkata:

„Apabila locianpwee percaya kepada boanpwee, boanpwee sanggup menggunakan ilmu tusukkan jarum mas, supaya jiwanya yang dalam keadaan berbahaya, dapat bertahan lebih lama.”

Orang tua itu diam saja tidak berkata apa-apa sikap diwajahnya sangat tenang, jelas bahwa didalam hatinya sedang timbul pergolakkan hebat.

Teng Soan berkata pula sambil mengkibas-kibaskan kipasnya:

„Aih! Menurut pandangan boanpwee, putrimu paling-paling dapat bertahan dua hari saja, itu juga harus mengandal bantuan kekuatan tenaga dalam locianpwee yang sudah sempurna, apabila tidak mendapat bantuan locianpwee, barangkali empat jam saja juga tidak sanggup bertahan lagi."

Orang tua itu per-lahan2 mengangkat kepala matanya mengawasi Teng Soan, kemudian berkata.

„Caramu mengobati dengan jarum emas itu apakah dapat menjamin anakku hidup beberapa hari lagi?"

Teng Soan berpikir sejenak, kemudian berkata:

“HaI ini susah dikatakan, untuk tiga atau lima hari tidak menyadi soal, apabila tusukan itu tepat, mungkin dapat tahan delapan atau sepuluh hari."'

„Baiklah, kalau kau memang sudah yakin dapat memperpanyang jiwa anakku, cobalah turun tangan dengan segera, tetapi apabila tusukan jarum itu membahayakan jiwa anakku, maka kau juga harus mengganti dengan jiwamu."

Auw-yang Thong yang mendengar perkataan itu mengerutkan alisnya, dalam hatinya berpikir untuk menyembuhkan orang sakit, bagaimana harus menggantikan orang sakit, bagaimana pula mengganti dengan jiwa?

Meskipun ia percaya benar kepandaian ilmu tabib Teng Soan, tetapi jika dilihat dari sikap orang tua itu, agaknya tak seorang yang berani berkata dan berani berbuat. Seandainya ada sedikit kesalahan, bukankah akan menimbulkan onar besar?

Selagi hendak mencegah, Teng Soan sudah menyahut sambil menganggukkan kepala;

“Baiklah! Demikian kita tetapkan, boanpwee yakin bahwa dengan ilmu tusukan jarum boanpwee, setidak2nya dapat memperpanyang tiga hari jiwa putrimu."

Kemudian ia mengeluarkan jarum masnya dari dalam kotaknya, lalu mulailah melakukan pekerjaannya.

Orang tua itu berkata dengan nada suara dingin; “Kau harus berlaku hati2”

Kemudian kepalanya menengadah memandang awan dilangit.

Teng Soan mengerti bahwa orang tua itu sayang sekali kepada anaknya ini, maka ia tidak berani menyaksikan.

Teng Soan menggerakkan tangannya, tiga buah jarum mas, ditusukan kebadan gadis itu.

Orang tua itu memperdengarkan suara batuk! kering, kemudian bertanya;

„Sudah selesai atau belum?"

”Jarum sudah masuk kebagian jalan darah” menjawab Teng Soan.

Orang tua menundukkan kepala, ketika matanya dapat lihat tiga jarum mas yang menancap di badan putrinya, tubuhnya menggetar, buru2 mengangkat kepalanya lagi seraya berkata;

“Mengapa jarum itu tidak dicabut lagi?"

“Tunggu setelah pernapasannya sudah sempurna jarum itu baru boleh dicabut." menjawab Teng Soan, “Locianpwee lihatlah tempat jalan darah yang boanpwee tusuk itu tepat atau tidak." Orang tua itu perlahan-perlahan mengawasi bagian dimana jarum mas itu menancap, kemudian, buru-buru berpaling pula dan berkata;

„Tempatnya memang tepat, tetapi jarum itu yang menancap dibagian tempat jalan darah, barangkali dapat merintangi mengalirnya darah, sebaiknya lekas dicabut."

”Locianpwee jangan lupa perjanjian kita, apabila putrimu binasa dibawah jarumku, boanpwee masih harus mengganti jiwa," berkata Teng Soan

Orang tua itu tercengang, dia tidak berkata apa-apa

Teng Soan mencabut sebuah jarum dari badan gadis itu, tetapi kemudian dengan cepat ditusukkan lagi kelain bagian.

Dengan cara yang demikian, dalam waktu singkat sudah menusuk dua belas lobang jalan darah.

Orang tua berbaju hijau itu selama itu tidak berani menyaksikan, hanya dari sikapnya menunjukan perhatiannya yang sangat besar.

Setelah selesai, Teng Soan perlahan-perlahan mencabut semua jarum itu dan disimpannya kembali dalam kotak, kemudian berkata; „Locianpwee, tugas boanpwee sudah selesai."

”Apa semua berjalan baik ?" bertanya orang tua itu. matanya mengawasi anaknya, dari wajahnya yang murung tampak sedikit tanda senyum, setelah itu ia memondong putrinya itu lagi.

Tusukan jarum mas Teng Soan, agaknya membawa hasil baik, gadis yang berada didalam pondongan orang tua itu, tiba-tiba membuka matanya.

Namun mata itu tidak bersinar, mukanya yang tidak bercahaya mengunjukkan keletihannya, sebentar membuka matanya itu, kemudian dipejamkan lagi Orang tua itu menganggukkan kepala kepada Teng soan, sebagai tanda pernyataan terima kasih, kemudian sambil memondong anaknya berlalu dengan tindakan tergesa-gesa.

Auw-yang Thong tiba-tiba berkata sambil memberi hormat

;

”Locianpwee harap suka tunggu sebentar, Auw-Yang Thong

ingin bicara."

Orang tua itu berhenti dan berpaling seraya berkata:

“Aku situa bangka meskipun sudah tidak mau Campur tangan urusan dunia Kang-ouw lagi, namun demikian, juga sudah lama mendengar nama besar Auw-yang Pangcu, entah pangcu ingin bicara apa denganku "

„Auw-yang Thong sesungguhnya hanya mendapat nama kosong saja, tidak ada harganya mendapat pujian locianpwee................" berkata Auw-yang Thong, “dalam pertempuran tadi. Kun-liong 0ng mendadak menarik mundur pasukannya sebelum mengalami kekalahan, jelaslah sudah bahwa ia mengandung maksud tertentu, locianpwee dengan seorang diri, apalagi harus menjaga keselamatan jiwa putrimu, apabila Kun-liong Ong menyusahkan atau mencegat ditengah jalan, sekalipun locianpwee tidak takut, tetapi bagi putrimu tidak baik untuk diajak menempuh bahaya demikian "

Sejenak orang tua itu nampak tercengang, kemudian berkata:

“Perkataan pangcu ini meskipun benar, tetapi penyakit anakku yang sudah berat, seharusnya lekas dicarikan obat untuk menyembuhkan penyakitnya kalau aku tertahan waktuku disini, barangkali akan lebih buruk akibatnya bagi kesehatannya!”

Ia menghela napas panjang, kemudian berkata pula:

„Sudah tentu, apabila bukan Teng Sianseng punya tusukan jarum mas yang memperpanjang nyawa anakku, sekalipun dalam dunia ini ada obat yang mujarab, juga tidak keburu untuk menolong."

Dalam perkataan itu, ia agaknya sudah ada tujuan dalam pikirannya untuk mendapatkan obat yang diperlukannya itu.

Auw-yang Thong berpikir sejenak, lalu berkata; „Harap locianpwee rnau tunggu sebentar, Auw yang Thong hendak berunding dulu dengan Teng Sianseng, apakah kiranya ada jalan yang lebih baik."

Ia lalu berpaling dan berkata kepada Teng Soan;

„Sianseng, persediaan makanan dan air minum sudah tidak banyak, apabila kita harus bertahan terus seperti sekarang ini, entah masih perlu berapa lama lagi. "

“Maksud pangcu?" Bertanya Teng Soan sambil.

“Bala bantuan kita hingga sekarang belum tiba, ada kemungkinan sudah mendapat halangan, orang orang dari berbagai partai besar, juga tidak mendapat tanda-tanda terkurung dalam barisan ini, menurut pikiranku, sebaiknya kita melindungi lociapwe itu membuka jalan keluar, kemudian menyusun kekuatan lagi untuk mengadu kekuatan dengan kun-liong Ong," berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan segera berkata sambil menggelengkan kepala dan menghela napas. ”Siaote tidak setuju dengan pendapat pangcu, karena ketenangan ini, hanya merupakan kesunyian sementara sebelum angin topan tiba. Sebelum tengah malam, tempat seluas puluhan pal ini pasti akan terjadi peristiwa hebat, apabila kita sekarang meninggalkan tempat yang menyadi pusat dari daerah seluas ini, itu berarti membantu Kun-liong Ong berhasil menyiptakan bahkan sungai berdarahnya. Untuk pergi memang mudah, tetapi hendak kembali lagi sangat susah. Sekalipun kita mengerahkan seluruh kekuatan tenaga golongan pengemis, jika hendak merebut kembali tempat ini, barangkali tidak mudah lagi." Auw-yang Thong agaknya belum mau percaya,” seraya. menyapu keadaan disekitarnya, lalu berkata.

“Benarkah demikian penting tempat sejengkal tanah ini?"

Teng Soan tiba-tiba menghampiri orang tua berbaju hijau itu dan berkata kepadanya sambil memberi hormat;

“Locianpwee, sebaiknya locianpwee berdiam di ni untuk sementara waktu dulu, menurut perhitungan boanpwee, jikalau kita bisa bertahan untuk melewati malam ini, maka seluruh rencana Kun liong Ong akan berantakan, pertempuran malam ini sangat penting artinya untuk menentukan nasib rimba persilatan dikemudian hari."

Orang tua itu berpikir agak lama, kemudian berkata : “Tetapi anakku dalam keadaan berbahaya, yang

memerlukan pertolongan obat mujizat dengan segera, walaupun aku sendiri ada maksud berdiam disini untuk memberi bantuan tenaga, tetapi keadaan telah memaksa, sehingga aku tidak dapat menuhi permintaanmu."

Auw-yang Thong berkata sambil mengerutkan keningnya :

„Locianpwee jangan salah paham, boanpwee Teng Soan mengerti apa yang hendak dikatakan selanjutnya oleh pangcunya, merupakan perkatan yang mungkin tidak enak didengar, maka buat  menyambungnya;

„Pangcu kita minta locianpwee berdiam diri untuk sementara, juga karena memikirkan keadaan putrimu."

Namun perkataan orang tua tadi sangat menyinggung perasaan Auw-yang Thong, maka ia masih melanjutkan perkataan yang dipotong oleh Teng Soan tadi, katanya :

“Apabila locianpwee sudah pasti hendak pergi juga Auw- yang        Thong        boleh        perintahkan         orang untuk mengantar." Teng Soan khawatir dua orang itu timbul percekcokan, maka buru2 berkata pula :

„locianpwee sekalipun gagah dan berkepandaian sangat tinggi, tetapi putrimu yang masih belum sembuh dari sakitnya, tidak boleh dikejutkan lagi, bagaimanakah anggapan Iocianpwee tentang perkataan boanpwee ini?"

Orang tua itu sebetulnya sudah akan marah karena ucapan Auw-yang Thong tadi, tetapi setelah mendengar perkataan Teng Soan, marahnya itu padam lagi, setelah berpikir sejenak lalu berkata ;

„Tusukan jarum Sianseng tadi, benarkah dapat memperpanyang hidup anakku sampai tiga hari?"

„Locianpwee yangan khawatir, boanpwee yakin tiga hari itu bisa lebih tidak bisa kurang," menyahut Teng Soan.

Orang tua itu mendongakkan kepalanya dan berkata kepada dirinya sendiri; „Apabila besok pagi sekali aku berangkat, hari ketiga sebelum matahari menyelam, sudah tentu sudah sampai, baiklah malam ini aku berdiam disini dulu."

Teng Soan berkata ;

,.Apa yang akan terjadi malam ini, sesungguhnya sangat penting, apabila rencana boanpwee sampai gaga!, mungkin akan menimbulkan psrtumpahan darah yang lebih hebat "

Matanya menyapu wajah semua orang yang ada disitu, kemudian berkata pula ;

„sekarang ini waktu kita sangat berharga, harap saudara2 dapat menggunakan waktu kita yang ada sekarang ini, beristirahatlah secukupnya,mempersiapkan tenaga untuk menghadapi pertempuran besar yang akan berlangsung." Semua orang agaknya sangat menghargai pikiran orang yang cerdik pandai itu, benar saja semua pada duduk bersila untuk mengatur pernapasan masing-masing.

Matahari sudah menyelam kebarat, sisa sinar matahari menimbulkan suatu pemandangan yang indah diwaktu senja.

Sayang pemandangan yang sangat indah itu hanya sepintas lalu saja, sebentar sudah diganti dengan kegelapan.

Hanya bintang2 dilangit, yang menyinari seluruh jagat yang sudah gelap itu.

Teng Soan yang dapat tidur sebentar, semangatnya timbul kembali, ketika ia membuka matanya, orang2 itu sudah selesai mengatur pernapasannya dan bangkit sambil memandang keadaan sekitamya.

Tiba2 dari sebelah timur timbul sinar merah yang meluncur keangkasa, kemudian timbul suara ledakan, setelah terpencar beberapa titik merah, sinar itu lenyap kembali.

Auw-yang Thong bertanya kepada Teng Soan dengan suara perlahan :

„Sianseng, apakah itu tanda dimulainya pergerakan?"

„Ledakkan benda semacam kembang api itu, bukan tidak ada sebabnya, tetapi menurut dugaan siaote, kembang api itu bukan yang dilepaskan oleh anak buah Kun-liong Ong," berkata Teng Soan.

Auw-yang Thong menghampin Teng Soan, mereka berjalan berdampingan kira2 lima kaki, baru berkata dengan suara perlahan;

“Bekal ransum dan air minum kita sudah habis, untuk satu malam tidak makan dan tidak minum masih boleh, tetapi apabila tidak ada esok tidak ada yang dimakan dan diminum, barangkali akan mempengaruhi kekuatan mereka. Tidak apa, didalam kereta itu, masih ada persedian ransum kering dan air minum, hanya jumlahnya tidak banyak, jikalau tidak perlu benar, sebaiknya yangan diberitahukan kepada mereka," berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Rencana sianseng sesungguhnya sangat sempurna" berkata Auw-yang Thong, setelah berdiam sejenak ia berkata pula ;

„Siapakah sebetulnya wanita berpakaian hitam yang memakai kerudung itu? Kabarnya ia seorang berkepandaian sangat tinggi yang dapat mempengaruhi diri Kun-liong Ong."

Teng Soan mendongakkan kepala mengawasi bintang2 dilangit, agaknya tidak mendengarkan pertanyaan Auw-yang Thong itu sehingga tidak dijawab.

Sinar kembang api merah tadi dengan beruntun timbul lagi diangkasa sampai tiga kali, pemandangan semacam itu menimbulkan tanda tanya dalam hati setiap orang.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara mengaung, kemudian sesosok bayangan hitam lari menuju kearah Auw- yang Thong.

Cepat sekali bayangan hitam itu sudah tiba sejarak satu tombak dihadapan barisan hulu balang, Teng Soan sementara itu sudah dapat melihat bahwa belakang bayangan hitam mengepul asap, maka segera memerintahkan orang2nya ;

„Lekas tahan maju orang itu!"

Auw-yang Thong dan Tiat-bok Taysu ketika mendengar seruan Teng Soan itu, segera melompat keluar, selagi hendak turun tangan, tiba2 berkelebat sinar putih, sebatang tombak panyang meluncur dan menembusi dada orang yang berpakaian hitam itu. Setelah orang itu roboh, segera terdengar suara ledakan.

Teng Soan berkata sambil menarik napas panjang ; ”Memasang obat peledak dibadan manusia hidup, ini sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang sangat kejam, akh! Tak diduga ia dapat memikirkan cara sekejam itu!"

Tiat-bok Taysu agaknya tidak percaya ucapan Teng Soan itu, ia bertanya ;

”Sianseng, apakah Kun-liong Ong membekali obat peledak dibadan orang yang tadi lari kemari itu?"

„Benar, ini adalah suatu siasat yang sangat kejam tetapi juga bagus sekali, apabila kita tidak dapat menahan majunya orang itu, setelah orang itu berada diantara kita, entah berapa banyak jiwa yang akan melayang dibawan ledakan obat peledak itu?"

Kini telah nampak nyata bahwa orang itu sudah hancur menjadi berkeping-keping.

Auw-yang Thong bertanya kepada penasehatnya;

„Mengapa Sianseng mengetahui orang itu ada membawa bahan peledak?"

”Kun-liong Ong dengan caranya yang jahat itu, barangkali sudah percaya benar akan berhasil, maka ia mengabaikan bagian yang kecil, apabila ia berlaku sedikit hati-hati, supaya orang yang lari itu dibelakang badannya tidak mengeluarkan asap, maka kita orang yang ada disini, mungkin ditanganya sudah separuhnya terluka. "

Kemudian matanya berputaran, lalu menatap wajah Nie Suat Kiao dan berkata pula;

“Sekarang kita harus berterima kasih kepada nona ini, apabila ia tidak bermata jeli dan bertindak gesit, dengan sebatang tombak menembusi dada itu, barangkali kita tidak keburu menahan majunya orang itu." „Bagi lolap sendiri mungkin tidak gampang2 turun tangan. " berkata Tiat-bok Taysu.

“Soalnya adalah waktunya sudah sangat mendesak, siaotee tidak mendapat kesempatan untuk memberi penjelasan, terlambat sedikit saja, orang itu sudah menyerbu ditempat kita," berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Auw-yang Thong memberi hormat kepada Nie Suat Kiao berkata ;

„Terima kasih atas bantuan nona sehingga kita terhindar dari bencana."

“Siao-lie sangat berterima kasih atas perlindungan pangcu, sudalah seharusnya untuk membalas budi, bantuanku yang tidak berarti, harap yangan dipikirkan    " berkata Nie Suat Kiao. sejenak ia berdiam, matanya mengawasi Teng Soan lalu berkata pula :

”Menurut apa yang Siao-lie tahu, Kun-liong Ong selama hidupnya belum pernah melakukan suatu perbaatan yang tidak berhasil, satu kali gagal, ia coba lagi dan coba lagi demikian seterusnya sehingga mencapai maksudnya

baru berhenti. ia sesungguhnya juga mempunyai kecerdikan yang melebihi manusia biasa, begitupun keberaniannya, tetapi yang paling ganas adalah setiap hendak mencapai cita2nya, ia lakukan tanpa perdulikan caranya kejam atau ganas, sifat inilah yang tidak ada bagi orang lain jikalau rencananya kali ini gagal rencana selanjutnya pasti lebih kejam."

„Terima kasih atas petunjuk nona, kalau begitu kita harus hati2," berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan membuka pintu keretanya ia berkata kepada orang tua berbaju hijau itu dengan suara perlahan :

“putrimu dalam keadaan sakit, tidak baik locianpwee bawa-bawa menempuh bahaya, harap locianpwee meletakkannya didalam kereta ini." Orang tua itu nampak ragu2 sejenak, tetapi akhirnya meletakkan anaknya kedalam kereta.

Sementara itu Teng Soan duduk menyandar disudut didalam kereta itu.

Cuaca semakin gelap, suasana disitu semakin sunyi.

Tiba-tiba dari berbagai penjuru terdengar suara keresekan, juga tercium bau sangat amis.

Auw-yang Thong segera melompat berdiri dan berkata ; “UIar!"

Seruan itu mengejutkan semua orang yang ads disitu, hingga masing-masing mengambil senjata sendiri-sendiri.

Ditanah yang terdapat rumput dan alang2 tepat banyak ular berbisa yang tidak terhitung banyak jumlahnya sedang bergerak maju kearah mereka.

Auw-yang Thong menggerakkan goloknya untuk membacok beberapa ular yang berada didekanya sambil memerintahkan orang-orangnya bergerak dengan cepat.

Semua orang bergerak untuk membasmi kawanan ular berbisa itu hanya Nie Suat Kiao yang tetap berdiri tenang ditempatnya.

Orang-orang itu meskipun sudah bergerak dengan cepat, tetapi karena jumlah ular terlalu banyak akhirnya agak kewalahan.

Nie Soat Kiao berpaling dan berkata kepada Teng Soan ; “Apakah sianseng takut ular?"

Dengan cepat ia ayun goloknya untuk membabat dua ekor ular yang mendekati Teng Soan, “Kun-liong Ong melepaskan demikian banyak ular berbisa, maksudnya ialah hendak mengacaukan barisan kita'" berkata Teng Soan.

Nie Soat Kiauw menggerakkan goloknya setelah membinasakan semua ular yang berada didekatnya lalu berkata dengan suara perlahan ;

„Apabila sekarang Kun-liong One mengeluarkan perintah untuk menghujani anak panah kepada kita, barangkali orang2 kita yang sebagian besar repot menghadapi ular berbisa, pasti terluka, oleh senyata anak panah.

„Pendapat nona bagaimana?"

„Kun-liong Ong setiap kali menyerang kepada musuhnya, selalu dengan cara berlainan sehingga tidak dapat diduga oleh lawannya."

„Tetapi bagi nona yang sudah tahu benar sifat Kun-liong Ong, agaknya sudah mempunyai rencana yang sempurna."

Untuk kepentingan sesama manusia, terpaksa kita menggunakan akal ganas untuk menghadapi- keganasannya."

„Kita menggunakan api." berkata Teng Soan dengan suara perlahan.

„Benar, kita harus menggunakan api untuk membakar rumput dan alang2 ditempat ini, bukan saja menggagalkan barisan sungai berdarah Kun-liong Ong, tetapi juga untuk menolong nasib seluruh rimba persilatan."

„Cara ini baik sekali, kita hanya chawatir Kun liong Ong sudah mempunyai persiapan untuk menhadapi siasat kita ini."

“Kau coba nyalakan api dulu untuk memegat jalannya kawanan ular berbisa, karena pertempuran dengan cara demikian, pasti banyak orang yang terluka."

Sementara itu tiba2 terdengar suara Ciu Tay Cie yang berteriak2 mungkin karena terpagut oleh ular berbisa. Nie Suat Kiao buru2 berkata kepada Teng Soan

“Orang itu barangkali terpagut ular, mari kita lekas lihat jangan sampai bisanya menjalar."

“Nona benar" berkata Teng Soan, kemudian berkata kepada Ciu Tay Cie ;

„Ciu Tay Cie, apakah kau terpagut ular?"

Ciu Tay Cie paling mengagumi Teng Som, maka ia tidak berani membohong, ia menjawab terus terang ;

“Tidak apa, kulitku tebal bagaikan kulit badak, sekalipun dipagut oleh ular berbisa juga tidak a-kan mencelakakan jiwaku."

Nie Suat Kiao diam2 mengagumi kebandelan orang itu, ia berkata dengan suara perlahan kepada Teng Soan :

“Lekas suruh dia kemari, untuk kita periksa lukanya."

„Apakah nona dapat menyembuhkan bisa ular?”

„Kita periksa dulu."

„Ciu Tay Tiie, kau lekas kemari."

-odwo-

Bab 68

CIU TAY CIE segera menghampiri seraya bertanya ;

„Sianseng ada perintah apa?"

„Kau terluka bagian mana?"

„Dibagian kaki, karena hamba kurang hati2 telah menginyak seakor ular, sehingga dipangutnya."

”Coba kuperiksa." Pada saat itu sebatang anak panah tiba2 menyambar diatas kepala Ciu Tay Cie.

Untung Nie Soat Kiao dapat lihat itu, dengan cepat ayun goloknya untuk menyapok jatuh anak panah itu.

Teng Soan mengerutkan keningnya seraya berkata: “Ditanah kita diserang oleh kawanan ular berbisa, dan kini harus menghadapi serangan anak panah, benar2 sulit untuk mengelakkan."

Sementara itu anak panah semakin gencar dilepas dari berbagai penjuru.

Nie Soat Kiao membolak-balikkan goloknya untuk menangkis anak panah itu agaknya ditujukan kepada Teng Soan.

Auw-yang Thong yang menyaksikan kejadian itu segera melompat menghampiri Teng Soan seraya berkata :

„Harap sianseng lekas naik keatas kereta untuk menghindarkan serangan anak panah Kun-Iiong Ong, kali ini nampaknya lebih hebat daripada yang duluan."

„jikalau dia memang demikian jahat dan kejam, siaote terpaksa akan membalas dengan kejahatan tanpa pandang persaudaraan lagi," berkata Teng Soan setelah berpikir sejenak.

Auw-yang Thong tercengang mendengar jawaan demikian, ia bertanya :

„Apa maksud ucapan sianseng ini?"

„Siaote hendak membakar tanah datar seluas sepuluh pal ini, harap pangcu lekas keluarkan pentah, pertama supaya berusaha mengusir ular2 itu dan waspada serangan anak panah, kedua semua rumput alang2 dan tumbuh2an yang mudah terbakar dalam daerah sekitar tiga tombak ditempat kita berpijak supaya dibabat habis." „Sekalipun kita berhasil membakar tempat itu tetapi rasanya juga tidak mungkin cepat meluas apalagi Kun-liong Ong yang banyak sekali anak buaahnya, sudah tentu tidak akan tinggal diam."

“Terus terang, waktu siaote memasuki daerah ini untuk mengadakan pemeriksaan, diam2 sudah memerintahkan orang untuk rnemasang surnbu bahan api yang mudah terbakar, asal kita sundut sumbu itu, sudah cukup untuk menimbuikan api daerah semua dengan serentak, apalagi daerah ini dapat banyak rumput kering yang mudah terbakar dalam waktu singkat sudah pasti akan menjadi lautan api. "

Ia lalu mengeluarkan korek api dan menyulut salah satu sudut yang terdapat dibawah kereta, benar saja sumbu itu segera menyala dengan cepat dalam waktu singkat tiga batang sumbu sudah menjalar seluas sepuluh kaki lebih, api itu mebimbulkan kebakaran dibeberapa tempat, dan akhirnya meluas kegerombolan rumput dan alang2 itu.

Auw-yang Thong terkejut menyaksikan kejadian itu, ia berkata :

“Jadi sianseng sudah mengadakan persiapan lebih dulu?"

„Harap pangcu lekas keluarkan perintah untuk memmbersihkan semak disekitar kita, jangan sampai api itu membakar diri kita sendiri."

”Untuk menyingkirkan semak2 itu tidak susah tetapi untuk mengusir kawanan ular itu tidaklah mudah, apalagi setelah tempat ini timbul kebakaran, kawanan ular itu pasti menyerbu masuk kemari, ini semakin sulit bagi kita untuk menghadapi."

Selagi Teng Soan hendak menyawab, sebatang anak panah melayang diatas kepalanya, sehingga topinya terlepas jatuh.

Nie Kie Suat Kiao segera memutar goloknya untuk melindungi Teng Soan dari serangan anak panah. Pada saat itu, orang2 golongan pengemis, selain harus melawan serangan ular berbisa, masih harus menyaga serangan anak panah musuh, orang2 berkepandaian tinggi seperti Auw-yang Thong, Tiat-bok Taysu, Hui Kong Leang, dan lainnya, juga agak repot.

Untung api yang sudah disunlut oleh Teng Soan sudah membawa hasil sangat baik, api itu menjalar sangat cepat, kebakaran terjadi di-mana2.

Tanah datar yang sangat luas dan yang sudah lama sekali tidak ada orang yang menggarap itu, dengan sendirinya banyak semak2 yang mudah terbakar, begitu terkena api segera menyala, sehingga daerah seluas sepuluh pal persegi itu, dalam waktu sekejap mata sudah berubah menjadi lautan api.

Pasukan anak panah yang sembunyi disemak2 sekitar tempat itu, terpaksa lari keluar untuk menghindarkan diri dari serangan api, mereka lari berebutan untuk menyelamatkan diri masing2

Dengan demikian maka ancaman serangan anak panah sudah tidak ada lagi.

Akan tetapi, kawanan ular sebaliknya pada menyerbu ketempat dimana orang2 golongan pengemis itu berdiri karena hanya itulah tempat satu-satunya yang tidak terbakar.

Dalam waktu malam yang gelap, cahaya api yang membakar tanah yang sangat luas itu tertampak di-mana2, hal ini memberikan kesempatan baik bagi orang2 golongan pengemis untuk membasmi kawanan ular. Tetapi karena ular itu jumlahnya terlalu banyak, tidak mudah terbasmi habis. Selagi mereka sangit repot menghadapi kawanan ular itu Teng Soan telah datang sambil membawa sekantong bubuk belerang, ia berkata ; “Kalian lekas menggunakan bubuk belerang ini untuk mengusir ular."

Mereka menurut segera menaburkan bubuk belerang kepada kawanan ular berbisa yang datang menyerbu.

Benar saja kawanan ular yang takut oleh belerang, pada lari mundur lagi, mereka lebih suka mati terbakar tidak berani maju lagi.

Api membakar semakin besar, sehingga menimbulkan hawa panas bagi orang2 yang berlindung ditempat sekitar tiga tombak persegi itu.

Nie Suat Kiao diam2 berpikir ; ”apabila angin besar meniup secara mendadak, tidak perduli dari arah mana datangnya angin itu, kita orang yang berada di-tengah2 lautan api ini, sedikitnya pasti ada setengahnya yang terluka...........

Pada saat itu, semua orang yang berada ditempat kosong di-tengah2 lautan api itu, agaknya juga merasa ngeri menysksikan api yang demikian besar membakar ditempat sekitarnya.

Namun demikian, karena semak2 yang mudah terbakar itu tidak tahan lama, maka meskipun apinya besar, tetapi dalam waktu singkat dibeberapa bagian yang terbakar lebih dahulu, apinya sudah mulai sirap, hanya meninggalkan bekas dan abunya.

Setelah beberapa bagian apinya mulai sirap Teng Soan berkata kepada Auw-yang Thong :

„Pangcu, jeri payah Kun-liong Ong yang merencanakan siasat ini, kini telah buyar seluruhnya, kebakaran besar ini meskipun sudah menggagalkan rencana Kun-liong Ong yang hendak membentuk barisan sungai berdarah, sehingga menolong banyak jiwa sahabat2 rimba persilatan, tetapi kita sudah menanam permusuhan dengan Kun-liong Ong "

Tiat-bok Taysu segera berkata; „0 Mi Tho Hut, yang menyadi korban bencana , ini adalah penghuni daerah seluas sepuluh pal ini, , seperti burung2, dan hewan2 serta serangga2 yang tidak berdosa apa-apa,"

Pada saat itu Ciu Tay Cie yang diobati oleh Nie Suat Kiao sudah dapat diatasi racunnya, sehingga tidak sampai meluas.

Sementara orang tua berbaju hijau itu setelah api hampir sirap seluruhnya, tiba2 menghampiri kereta Teng Soan dan berkata ;

„Harap buka pintu kereta "

Teng Soan segera menghampiri dan membuka pintu keretanya.

Orang tua itu memondong gadisnya seraya berkata ;

„Aku siorang tua seumur hidupku belum pernah menerima budi orang, kali ini atas perlindungan kalian semua, aku merasa berterima kasih, dikemudian hari budi ini aku pasti akan membalas, sampai disini aku hendak minta diri."

Hanya itu saja ucapan yang dikeluarkan oleh orang tua itu, tanpa menuggu jawaban Auw-yang Thong, ia sudah lari meninggalkan tempat tersebut

Auw-yang Thong selagi hendak membuka mulut, telah dicegah oleh Teng Soan katanya;

„Biarkan dia pergi, orang seperti dia itu, sudah biasa bertindak menuruti kehendak hati sendiri, kalau kita berlaku terlalu merendah terhadapnya, sebaliknya menimbulkan perasaan tidak senangnya!"

„Kalau aku tidak salah lihat, orang ini sangat mirip dengan Lam Ong Kiang Su Im, yang sudah lama namanya tersiar seperti dalam dongengan. Berkata Auw-yang Thong.

„Siaote juga ingat seperti dia”, berkata Hui Kong Leang. „Betul atau bukan, tidak ada pentingnya, kita harus siap untuk meninggalkan tempat ini," berkata Teng Soan.

Auw-yang Thong mulai memeriksa orang-orangnya, delapan barisan hulu balang, dua orang terluka parah, tiga orang terluka ringan; Ciu Tay Cie kakinya terpagut ular; sedangkan Pek Kong Po tidak tampak bayangannya, entah ia sudah kabur selagi berlangsung pertempuran atau entah kemana sementara beberapa orang terluka yang ditolongnya semua sudah binasa dalam pertempuran atau terpagut oleh ular berbisa.

Lima orang dari barisan hulu balang yang terluka, jikalau tidak dilindungi mati matian oleh tiga kawannya, barangkali juga tidak tertolong lagi

Auw-yang Thong memandang jenazah2 orang-orang yang melarikan diri kepadanya tadi dengan hati pilu ia berkata;

“Kita tidak dapat melindungi keselamatan mereka, sehingga tidak satupun yang tertolong jiwanya..."

Teng Soan segera berkata;

“Pangcu„tidak perlu sesalkan diri sendiri, orang orang yang kita tolong tadi memang sudah terluka parah, sekalipun ada obat yang sangat mujarab, juga belum tentu dapat menolong jiwanya, apalagi kita sendiri sedang repot menghadapi serang- an Kun-liong Ong."

Hui Kong Leang berkata:

“Kuda2 tunggangan kita semua sudah dikejutkan dan kabur entah kemana oleh kebakaran besar tadi, bagaimana Sianseng harus melakukan perjalanan ini?"

„Siaote boleh berjalan bersama-sama dengan tuan-tuan," berkata Teng Soan.

“Dalam kereta Sianseng ini terdapat perlengkapan yang sangat sempurna, bukan saja senyata rahasia tetapi juga rangsum makanan dan minuman, sesungguhnya sangat sayang kalau ditinggalkan begitu saja," berkata Hui Kong Leang.

„Rahasia dan kegunaan kereta ini, sudah diketahui oleh Kun-liong Ong, sekarang sudah tidak berguna lagi," berkata Teng Soan sambil tertawa, lalu membuka pintu kereta, setelah memeriksanya sebentar, ia berkata pula; “Mari kita jalan.''

Kusir kereta yang selama itu bersembunyi dibawah kereta, selagi semua orang repot menghadari musuh, ia agaknya tidak mau ambil pusing, terus bersembunyi tanpa bergerak. setelah Teng Soan memutar pesawat dalam kereta, ia baru keluar dan bangun berdiri, tetapi segera berpaling, mengarahkan pandangannya ketempat lain, agaknya takut mukanya diketahui orang.

Auw-yang Thong segera mengajak semua orang-orangnya meninggalkan tempat itu.

Pada saat itu dibeberapa bagian daerah yang luas itu, api masih berkobar keras, nampaknya daerah yang sangat luas itu dan yang penuh se mak-semak semua akan musnah termakan api.

Orang-orang golongan pengemis itu dengan jalan melalui bekas-bekas yang habis terbakar kira"' dua jam baru keluar dari daerah kebakaran itu.

Teng Soan berkata sambil menunjuk kesuatu tempat yang agak tinggi;

„Apabila dugaan siaote tidak keliru, orang-orang yang dipimpin oleh saudara Koan, kini sedang menantikan kita ditempat yang tinggi itu."

“Kalau begitu, mari kita lekas menuju kesana” berkata Auw-yang Thong. Rombongan Auw-yang Thong itu ketika mendaki ditempat yang tinggi itu, benar saja segera di sambut oleh Koan Sam Seng bersama empatpuluh delapan pasukan berani mati.

Koan Sam Seng berkata sambil memberi hormat. “Kedatangan hamba agak terlambat, hanya lihat lautan

api, sehingga tidak dapat maju untuk memberi bantuan, harap pangcu amipuni dosa hamba.

Auw-yang Thong tersenyum dan berkata : “Kedatanganmu sangat kebetulan."

Ia agaknya mendadak teringat soal penting. setelah berdiam sejenak, bertanya pula ;

„Apakah kalian pernah berjumpa dengan orang orang Kun- liong Ong?"

“Didalam perjalanan kita, meskipun juga berjumpa dengan beberapa orang-orangnya Kun-liong Ong yang ditugaskan untuk menyaga atau meronda, tetapi semuanya sudah hamba binasakan dengan bantuan empatpuluh delapan pasukan berani mati, tidak seorangpun yang hidup," berkata Koan Sam Seng.

„Tempat ini indah pemandangan alamnya, kita sudah sangat letih habis lama bertempur, sebaiknya beristirahat dulu ditempat ini, kemudian berjalaa lagi, bagaimana pikiran saudara-saudara?"

Karena semua orang memang sudah merasa letih maka ketika mendengar usul Auw-yang Thong itu, segera diterima baik oleh yang lain-lainnya.

Koan Sam Seng yang menyaksikan keadaan orang orang itu, memang benar semua sudah sangat letih, maka ia segera memerintahkan orang-orangnya menyediakan makanan dan minuman yang dibawanya. Semua orang sehabis makan dan beristirahat cukup lana, semangatnya sudah pulih kembali.

5ementara itu Koan Sam Seng sudah menyuruh orang mencarikan kuda untuk Teng Soan.

Auw-yang Thong yang menyaksikan semua orang sudah segar lagi, lalu bangkit dan berkata sambil tertawa;

“Kita golongan pengemis mempunyai cabang yang letaknya kurang lebih tigapuluh pal dari sini, harap saudara- saudara sekalian beristrirahat dulu satu dua hari disana, setelah cukup tenaga, kita nanti pikirkan lagi untuk menghadapi Kun-Liong Ong."

Nie Suat Kiao segera bangkit dan berkata:

„Siaolie merasa sangat bersukur dan berterima kasih atas perlindungan Pangcu. sehingga terhindar dari bahaya maut, sebetulnya siaohe ingin mengikuti jejak-pangcu, untuk menyumbangkan tenaga, tetapi Kun-liong Ong adalah ayah angkat Siaolie, dengan sendirinya siaolie pernah mengikuti segala rencanaya yang dirundingkan oleh Kun-liong Ong, sehingga ti dak sedikit yang siaolie ketahui, apabila siaolie mengikuti perjalanan pangcu, mau tidak mau pasti membocorkan rahasia itu.

“Meskipun Kun-liong Ong seorang yang sangat jahat dan kejam sekali, tetapi biar bagaimana ia masih ada ikatan perhubungan ayah dengan anak terhadap Siaolie, Siaolie juga merasa masih menanggung budi, maka tidaklah pantas jikalau sampai membocorkan semua rahasia. Tentang budi pangcu yang sudah melindungi jiwa Siaoiie, apabila Siaolie masih hidup, dikemudian hari pasti hendak mernbalas budi ini, Sekarang siaolie ingin minta diri."

Setelah itu ia memberi hormat kepada Auw-yang Thong dan berlalu meninggalkan tempat itu.

Auw-yang Thong buru-buru membalas hormat dan berkata: „Nona dapat membedakan budi dengan.musuh, hal ini Auw-yang Thong sangat kagum, tetapi pada saat dan tempat seperti ini, bukanlah waktunya bagi nona untuk berjalan seorang diri, Kun-liong Ong dan bebeberapa ratus anak buahnya, sekarang ini masih belum pergi jauh, apabila nona berjalan seorang diri sudah tentu akan berjumpa dengan mereka, menurut pikiranku, harap nona tinggal dulu beberapa hari. nanti baru berjalan lagi, Auw-yang Thong pasti tidak akan menahan nona. Sementara nona ingin turut ambil bagian merundingkan rencana kita untuk menghadapi Kun-liong Ong atau tidak, Auw-Yang Thong tidak berani memaksa."

Nie Suat Kiao menghentikan tindakan kakinya, setelah mendengarkaa perkataan Auw-yang Thong ia baru berkata lagi :

“Budi kebaikan pangcu, siaolie menerima didalam hati, siaotie tidak berani menyulitkan pangcu."

Auw-yang Thong masih ingin menahannya, Teng-Soan sadah berkata;

„Kalau nona ingin pergi, sudah tentu pangcu kita tidak dapat menahannya, semoga nona baik-baik dalam perjalanan."

Nie Suat Kiao bersenyum dan berkata;

“Kecerdikan sianseng membaat rencana dan mengatur siasat, dalam dunia ini sukar dicari tandingannya, untuk mengamankan rimba persdatan, rasanya tidak sulit bagi sianseng, semoga sianseng menggunakan kepandaian sianseng yang ada, dapat mengamankan keadaan rimba persilatan "

“Nona terlalu memuji, Teng Soan sudah tahu bahwa takdir Tuhan tidak dapat dilawan, Teng Soan sudah ditakdirkan tidak bisa berumur panyang, maka segala urusan besar dalam rimba persilatan dikemudian hari, masih perlu mendapat bantuan nona." Nie Suat Kiao semula tercengang, tetapi kemudian ia berkata sambil bersenyum:

“Sianseng yangan main-main, siaolie hanya seorang wanita lemah, bagaimana dapat memikul tugas seberat itu?"

“Dalam urusan kecil kita dapat mengetahui perkara besar, dari ucapan nona ini, Teng Soan sudah mengetahui ambisi nona, yang besar."

Nie Suat Kiao menunduk memberi hormat seraya berkata;

„Semoga sianseng selain dilindungi Tuhan." Setelah itu ia memutar tubuhnya dan berlalu.

Teng Soan berkata;

„Kejahatan nampaknya semakin merajalela, Teng Soan mengharap dengan sangat nona dapat menetapkan pendiriannya, dapat membedakan kebenaran dan kejahatan, janganlah digoyahkan oleh perasaan pribadi, janganlah putus asa dulu karena menghadapi percobaan berat."

Pada saat itu Wan Hauw tiba2 berdiri dan mengikuti Nie Suat Kiao berlalu. Demikianpun Siang-koan Kie, juga segera menyusulnya.

Wan Hauw baru berjalan beberapa tindak, tiba-tiba seperti ingat diri Siang-koan Kie ia menghentikan kakinya dan membalikkan badannya.

Siang-koan Kie yang sudah berada dibelakang dirinya segera bertanya dengan suara perlahan:

“Saudara, kau hendak kemana?"

Wan Hauw meiighela napas panjang, lama baru dapat menjawab:

„Aku sedang hendak berkata kepada toako, maksudnya hendak mengikuti nona Nie. " Ia kurang lancar bicaranya, agak berat untuk mengutarakan isi hatinya, hanya dari sikapnya telah menunjukkan keteguhan hatinya.

Siang-koan Kie menengok kearah Nie Suat Kiao! ternyata sudah berada sejauh tujuh atau delapan tombak, sejenak ia berpikir, kemudian berkata;

„Saudara, apakah kau sudah bertemu dengan suhu?" “Sudah", jawabnya sambil menganggukkan kepala.

„Dimana sekarang suhu berada?"

“Sudah pergi lagi! Aku juga tidak tahu kemana suhu pergi. Tetapi kalau toako ingin mencarinya, masih ada suatu jalan!"

„Bagaimana?"

“Diwaktu tengah malam yang sunyi, toako boleh jalan menyusuri sepanyang jalan sambil meniup seruling, nanti kalau suhu mendengar suara seruIing itu sudah tentu bisa mencari toako.”

Sementara itu Nie Suat Kiao sudah berjalan semakin jauh, maka Wan Hauw segera berkata :

“ia sudah hampir tidak kelihatan, mari kita susul"

“Baiklah, berkata Siang-koan Kie kemudian memutar tubuhnya dan memberi hormat kepada Auw-yang Thong dan lain2nya. Setelah itu ia menyusul Wan Hauw.

Nie Suat Kiao terus berjalan dengan kecepatan biasa. Wan Hauw dan Siang-koan Kie sebentar saja sudah dapat menyusulnya.

Wan Hauw tiba2 memperlambat gerak kakinya dan berada terpisah sejaiak empat lima kaki di-belakang Nie Suat Kiao, Siang-koan Kie diam-diam memperhatikan tingkah laku Wan Hauw, dari wajahnya yang nampak sedih dan murung, jelas bahwa pikirannya telah terganggu. Nie Suat Kiao agaknya tidak tahu dirinya di-ikuti orang, selama itu ia terus berjalan tanpa me-noleh.

Tiga orang itu terus berjalan tanpa ada yang bicara, hingga hanya kedengaran suara tindakan kaki rnereka.

Setelah berjalan kira2 sepuluh pal lebih, Kie Soat Kiao baru berhenti dan berdiri dibawah sebuah pohon besar, sambil mengawasi dua pemuda itu ia menegurnya”

“Perlu apa kalian mengikuti aku? Apakah tidak takut berjumpa dengan Kun-liong Ong?"

Wan Hauw agaknya ingin menjawab, bibirnya bergerak2, tetapi tidak tahu bagaimana harus berkata, maka akhirnya diam saja sambii menundukkan kepalanya.

Siang-koan Kie segera menjawab :

„Dengan seorang diri, apakah nona tidak takut kalau berjumpa dengan Kun-liong Ong?"

“Aku seorang diri, paling banter dibunuh olehnya, berjumpa juga tidak apa," berkata Nie Suat Kiao.

Siang-koan Kie berpikir sejenak, lalu berkata : “Aku memang tidak bisa berjalan ber-sama2 nona, karena aku ada urusan penting yang harus diselesaikan. "

“Sebaiknya kau lekas selesaikan urusanmu, berjalan bersama-sama, sesungguhnya kurang enak."

„Aku hanya ingin nona menerima baik permintaanku, sesudah itu aku akan segera pergi."

„Kau terhadap aku pernah melepas budi karena menolong jiwaku, apa yang aku dapat lakukan aku pasti menerimanya, katakanlah saja!"

Siang-koan Kie berkata sambil mengawasi Wan-Hauw: ”Saudaraku ini sifatnya bodoh tetapi jujur, namun demikian

mempunyai bakat sangat baik bila dididik secara benar, kepandaian ilmu silatnya pasti dapat mencapai kesuatu taraf yang tidak ada taranya."

Nie Suat Kiao selama mendengarkan perkataan

Siang-koan Kie terus mengerutkan keningnya setelah itu baru berkata;

„Hal ini ada hubungan apa denganku?"

“Karena ia seorang jujur dan masih berhati putih bersih, sehingga tidak mengerti kejahatan manusia, harap nona suka mengawasi dirinya."

Nie Suat Kiao memandang Wan Hauw sejenak-kemudian berkata:

“Aku tidak mau memperdulikan urusan orang lain."

Sehabis berkata demikian, ia lalu memutar tubuhnya dan berjalan lagi. Siang-koan Kie buru-buru berkata: “Nona tunggu sebentar."

Nie Suat Kiao berhenti dan berpaling sambil berkata dengan nada suara dingin:

„Aku sudah berkata tidak mau perduli, kau ini benar-benar terlalu ceriwis."

Siang-koan Kie memberi hormat seraya berkata; “Saudaraku ini kelihatannya meskipun tolol, tetapi hatinya

jujur, dan keras pula keinginannya, apa yang ia pikirkan, tidak

mudah tergoyah; ia ingin mengikuti nona, ini berarti sudah bulat tekadnya untuk melindungi diri nona dari segala bahaya, meskipun aku dapat paksa dia tidak berbuat demikian, tetapi akhirnya pasti akan merusak hatinya dan penghidupannya. Dari perbuatannya yang mencarikan obat untukmu, ketika nona dalam keadaan tidak ingat orang, dapat dibuktikan bahwa perkataanku ini bukan perkataan kosong." Nie Suat Kiao menundukkan kepala untuk berpikir, tiba-tiba ia angkat muka dan berkata;

„Baiklah! Aku terima baik permintaanmu."

Dibawah sinar matahari nampak nyata sepasang mata nona itu berkaca-kaca, namun ia agaknya takut dilihat oleh Siang- koan Kie, maka buru-buru memutar tubuhnya dan berlalu dengan cepat.

Siang-koan Kie berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat;

„Kujunjung tinggi janji nona, saudaraku ini kuserahkan kepadamu."

Nie Suat Kiao seolah-olah tidak mendengar, berjalan lambat2 tanpa menoleh, angin sepoi meniup gaunnya yang putih.

Wan Hauw mengawasi berlalunya Nie Suat Kiao kemudian dengan tiba2 ia menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan Siang-koan Kie seraya kerkata:

„Toako,toako       "

Mendadak tenggorokkannya seperti tersumbat, hanya itu saja yang keluar dari mulutnya.

Siang-koan Kie buru2 membimbing bangun dan berkata ;

„Saudara Wan, lekas bangun, nona Nie sudah terlalu jauh. Waktu masih panjang, dikemudian hari kita tokh masih ada waktu untuk berjumpa lagi."

„Begitu baik toako perlakukan diriku, seumur hidupku Wan Hauw tidak akan melupakan budi toako ini."

Siangkoan Kie tiba-tiba merasa pilu, hampir saja ia mengeluarkan airmata, tetapi ditahannya jangan sampai keluar. Kemudian ia berkata sambil mengulapkan tangannya; ”Saudara, lekaslah pergi! Nona Nie sudah hampir tidak kelihatan."

„Selamat tinggal toako," berkata Wan Hauw, ia segera bangkit dan berlalu menyusul Nie Suat Kiao.

Mengawasi berlalunya dua bayangan itu, Siang-koan Kie seperti kehi'angan apa-apa, ia berdiri terpaku sambil menarik napas panyang, lama baru berlalu meninggalkan tempat itu.

Ia menuju kearah timur.

Wan Hauw dan Nie Suat Kiao berjalan menuju ke utara, disebelah selatan berkumpul orang2 golongan pengemis, sedangkan disebelah barat sisa api yang membakar semak- semak masih belum padam seluruhnya, hanya dibagian timur yang tidak kelihatan bayangan manusia.

Siang-koan Kie berjalan lambatlambat, pikirannya kusut, hatinya kosong; bayangan Nie Suat Kiao yang cantik molek dan luwes, selalu terbayang di otaknya- Diwaktu biasa, ia tidak merasakan itu,tetapi sekarang, gadis cantik kosen itu ternyata mendapat tempat sangat penting dalam hatinya. Kini ia merasakan betapa pentingnya gadis itu bagi dirinya, tetapi gadis itu bukan saja sudah berlalu dari depan matanya, bahkan sudah diberikan kepada saudaranya. Cinta kasih yang tumbuh tanpa disadarinya itu, ia harus simpan kedalam hatinya untuk selama-lamanya

Karena pikirannya terganggu, sehingga daya pantangan dan pendengarannya juga terpengaruh

Tiba-tiba dibelakang terdengar suara yang menegur kepadanya : “Saudara Siang-koan”

Siang-koan Kie agak terkejut, dengan cepat ia nenoleu kebelakang, matanya segera tertumbuk dengan seorang laki- laki berpakaian warna hitam, ia bukan lain daripada si Pecut sakti Touw Thian

Ia memberi hormat sambil tersenyum dan berkata; “Touw toako"

Touw Thian Gouw menghela napas perlahan dan berkata :

„Disini bukan tempat yang aman untuk kita bicara."

Dengan menarik tangan Siang-koan Kie, Touw Thian Gouw lari menuju kelain tempat.

Berlari-larian kira-kira enam tujuh pal, tibalah disuatu tempat yang terdapat banyak kuburan tua Touw Thian Gouw ajak Siang-koan Kie kesuatu tempat tersembunyi dibelakang sebuah makam tua yang terdapat banyak pohon besar, kemudian berkata :

„Dalam keadaan sangat berbahaya seperti sekarang ini, setiap saat setiap tempat kita dapat diserang secara tiba2 oleh musuh. Aku Iihat saudara seperti sedang memikirkan apa2, sedikitpun tidak pikir kan menjaga diri sendiri; Saudaramu ini ingin mengucapkan sepatah dua patah kata yang mungkin kurang pantas, harap saudara jangan kecil hati.'

„Toako katakan saja," berkata Siang-koan Kie sambil tersenyum

„Apabila saudara tadi bukan bertemu dengan aku tetapi berjumpa dengan Kun-liong Ong, atau anak buahnya, coba saudara pikir, bagaimana akana terjadi atas diri saudara!"

„ Paling banter mereka akan membunuhku," jawab Siang- koan Kie sambil tertawa hambar.

Touw Thian Gouw tercengang, ia berkata

„Saudara, apakah artinya perkataanmu ini?'

Siang-koan Kie tiba2 seperti baru sadar dari mimpinya, ia menjawab sambil memberi hormat

„Pikiran siaote sedang kusut, sehingga kelakuanku sudah menyimpang dari kebiasaan, harap toaki jangan memasukkannya dihati." “Kau se-olah2 terganggu oleh persoalan rumit."

Siang-koan Kie menghela napas panyang, lama baru berkata ;

“Kita orang yang berkecimpung dalam dunia Kang-ouw, tidak luput dari ancaman bahaya, soal Kematian, juga kita tidak perlu hiraukan. Tetapi kalau sampai dalam keadaan melamun seperti keadaan saudara tadi, apabila terbokong oleh musuh sehingga jiwa melayang, kematian serupa itu sesungguhnya sangat mengecewakan sekali "

“Siaote mengarti kesalahan siaote," berkata Siang koan Kie sambil memberi hormat.

“Toakomu ini sebagian besar hidup berkecimpung dalam dunia Kang-ouw, apakah mungkin mata kelilipan pasir tidak berasa? Sikap saudara yang termenung2 dan berjalan seorang diri dengan tindakan limbung, sudah tentu sedang terganggu pikiranmu. Apabila dugaanku tidak keliru, saudara pasti terlibat dalam urusan asmara."

„Bagaimana kau tahu?" Bertanya Siang-koan Kie heran. “Toakomu sudah hidup begini tua, apakah kau kira hidupku

itu percuma?"

Siang-koan Kie berdiam sambil menundukkan kepala, akhirnya ia berkata ;

„Siaote sangat malu dan menyesal sampai menimbulkan perhatian toako."

„Kesatria yang bagaimana kuat imannya, juga tidak sanggup menahan gempuran asmara saudara."

Siang-koan Kie tiba2 mengangkat muka, sepasang matanya memancarkan sinar tajam.

“Touw toako, mengorbankan kepentingan sendiri untuk keberuntungan orang lain, apakah itu perbuatan seorang gagah?" “Mengorbankan diri untuk keberuntungan orang lain, bukan saja sifat luhur seorang jantan, tetapi juga suatu perbuatan mulia yang patut dipuji."

Semangat Siang-koan Kie mendadak terbangun, ia menghormat dalam2, kemudian berkata ;

„Terima kasih atas keterangan toako, siaotee baru mengerti”

Kemudian ia mendongakkan kepalanya memandang gumpalan awan dilangit, lalu tertawa terba-hak-bahak.

Touw Thian Gouw meskipun sudah banyak penglaaman hidup, tetapi juga dikejutkan dan meresa heran melihat kelakuan Siang-koan Kie yang mendadak tertawa ter-bahak2 itu.

Lama ia baru bertanya ;

„Hiantee, mengapa kau tertawa?"

Siang-koan Kie berhenti tertawa, sambil mengawasi Touw Thian Gouw ia berkata ;

„Siaotee pikir seseorang hidup dalam dunia..."

Ucapan itu diputuskan oleh suara tindakan o rang, hingga Touw Thian Gouw dengan cepat menarik tangan Siang-koan Kie, diajak sembunyi di tempat yang lebih aman.

Tidak berapa lama, dua imam berjenggot panjang yang memakai jubah berwarna hijau dengan tangan membawa pedang panjang, tiba ditempat itu.

Satu diantaranya setelah mengawasi disekitar sebentar, lalu berkata ;

„Sungguh aneh, nyata aku tadi dengar suara tertawa yang datangnya dari tempat ini. mengapa tidak tampak orangnya?"

Yang satunya segera menjawab : „Suara tertawanya itu sangat nyaring, sehingga dapat didengar dengan nyata, tidak mungkin kita salah dengar. Menurut pikiran siaotee, orang itu mungkin sembunyi ditempat dekat2 sini saja, mari kita coba cari."

“Sudahlah, kalau orang itu sembunyi, sudah tentu melihat kedatangan kita, tetapi ia tidak mau keluar menemui kita, jelas bahwa ia tidak ingin berkenalan dengan kita, perlu apa kita harus paksa orang menjumpai kita?"

Touw Thian Gouw diam2 berpikir ; kalau ditilik dari pembicaraan dua imam itu, nampaknya orang-orang golongan kebenaran. apalagi kelihatannya jarang keluar dikalangan Kang-ouw.

Sementara itu, nampak datang lagi seorang imam yang usianya lebih tua, jenggotnya sudah bewarna dua, namun sepasang matanya memancarkan sinar tajam, hingga dapat diduga bahwa imam tua itu berkepandaian sangat tinggi.

Dua imam yang lebih dulu, segera memberi hormat kepada imam tua itu yang lakunya sangat menghormat sekali.

Imam tua itu menganggukkan kepala dan berkata sambil bersenyum ;

“Jiwie sutee, berhasilkah kalian menemukan orang yang tertawa tadi?"

„Ketika kita disini, orang itu sudah tidak ada mungkin tidak suka bertemu dengan kita" menyawab dua iman itu dengan serentak.

Imam tua itu matanya berputaran dua kali, kemudian dengan tiba-tiba berkata :

“Tuan-tuan berdua, silahkan keluar sebentar." Dua imam yang lebih dulu tadi merasa heran atas perkataan imam tua itu. Belum Ienyap perasaan heran mereka, dari satu tempat tersembunyi Yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri, muncul Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie.

Touw Thian Gouw Ia!u berkata sambil memberi hormat;

„Totiang, selamat berternu."

Imam tua itu memandang mereka bergiliran, lalu berkata sambil tertawa ;

„Jiwie congcu."

Dua imam yang tiba lebih dulu itu diam-diam memuji kepandaian suhengnya yang mempunyai daya pemandangan sangat tajam.

Siang-koan Kie juga memberi hormat seraya berkata

„Bolehkah boanpwee bertanya, apakah ketiga totiang ini" Imam tua itu segera menjawab :

„Pinto bertiga datang dari gunung Bu-tong-san."

„Kalau begitu, boanpwee minta maaf se-besar2nya atas kelakuan boanpwee tadi," berkata Siang-koan Kie. „Partay Bu- tong-pay sudah lama mendapat nama baik dikalangan Kang- ouw sehingga sangat dihormati"

„Ah, congcu terlalu memuji" berkata imam tua itu, matanya berputaran diatas diri

Touw Thian Gouw, kemudian berkata pula ;

„Jiwie congsu dari golongan mana, sudikah kiranya memberi tahukan kepada pinto?"

Touw Thian Gouw mengerti bahwa imam itu timbul curiga karena melihat pakaiannya maka buru- menjawab ;

„Siaotee Touw Thian Gouw." Tiga imam itu agaknya jarang berkelana didunia Kang-ouw, hingga agaknya belum pernah dengar nama Touw Thian Gouw. Mereka tertawa dan kemudian berkata ;

“Touw tayhiap."

Siang-koan kie berkata sambil memberi hormat:

“boanpwee Siang-koan Kie, pendatang baru di dunia kang- ouw, masih mengharap petunjuk ciapwe sekalian."

Imam tua itu berkata :

“Siang-koan tayhiap...sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula:

“Jiwie kiranya sudah lama berkelana didunia iang-ouw, pinto ingin menanya dirinya seseorang, entah jiwie kenal atau tidak?"

“Siapa?" bertanya Touw Thian Gouw. Siang-koan Kie tiba2 bertanya :

“Bolehkah boanpwee bertanya nama locianpwee yang mulia?"

“Pinto Yang Ceng...." menjawab imam tua itu, "apakah jiwie kenal dengan seorang yang mempunyai nama julukan Kun-liong Ong?"

“Boleh dikata kenal boleh dikata tidak," menyawab Touw Thian Gouw.

“Apa artinya perkataanmu ini?" Bertanya imam ia itu heran.

„Meskipun siaote sudah pernah melihat Kun-liong Ong, tetapi belum pernah melihat wajah aslinya; Bukan hanya siaote seorang saja, sekalipun orang gagah dalam rimba persilatan dewasa ini, benar2 pernah melihat wajah aslinya, jumlahnya juga tidak banyak." “Pinto jarang keluar pintu, terhadap urusan dalam dunia Kang-ouw, banyak yang tidak tahu atau dengar, sebaiknya Touw tayhiap memberi keterangan yang lebih jelas."

„Sepanjang tahun Kun-liong Ong mengenakan kedok kulit manusia, untuk menutupi wajah aslinya. Tiada seorangpun yang pernah melihat wajah aslinya itu, juga tiada seorang yang dapat menngetahui peraSaannya dari sikap wajahnya itu."

„Oo, kiranya begitu," berkata Yang Ceng, Siang-koan Kie diam2 berpikir ; “imam ini sudah demikian tua, tetapi masih belum tahu keadaan dalam dunia Kang-ouw, sesungguhnya sangat mengherankan.”

Sementara itu Yang Ceng sudah berkata ;

”Pinto pernah dengar orang kata, bahwa anak buah Kun- liong Ong, ada yang disebut sebagai pengawal pribadinya, yang disebut sebagai pengawal berbaju hitam. Rombongan orang2 itu baik waktu siang maupun diwaktu malam, selalu memakai seragam berwarna hitam." 

„Itu memang benar, dan pakaian yang siaotee pakai ini, justru pakaian dari pasukan pengawal baju hitam itu"

Wajah Yang Ceng berubah seketika, ia berkata ;

„Kalau begitu, jiwie tentunya orang2nya Ki liong Ong?"

Touw Thian Gouw berpikir sejenak, baru berkata sambil tertawa ; “Apakah totiang hendak mencari Kun-liong Ong”

„Kalau jiwie benar adalah orang2nya Kun-Iiong Ong, harap ikut pinto," berkata Yang Ceng denyan sikap serius.

„Kemana?" bertanya Siang-koan Kie. “Untuk menjumpai ketua pinto."

“Baiklah, harap totiang menunjukkan jalannya” berkata Touw Thian Gouw tanpa ragu2. Yang Ceng totiang sambil memberi isyarat kepada kedua sutenya, lalu berjalan lebih dulu.

Untuk apakah sebetulnya Yang Ceng mengajak Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie menjumpai ketuanya? Dan bagaimana kesudahannya pertempuran antara Kun-liong Ong dengan orang2 golongan pengemis?

Silahkan pembaca mengikuti jalan cerita selanjutnya.

-oo0dw0oo-