ISMRP Jilid 16

 
Jilid 16

RUANGAN dalam rumah atap itu ada sebuah meja, yang sudah disediakan teh dan cawan, tiga orang itu duduk diatas bangku sekitar meja itu.

“Untuk menghindari supaya keadaan dalam rumah ini diintip oleh penghianat, biarlah kita bicara dalam keadaan gelap seperti ini...." berkata Teng Soan sambil tertawa. “Sekarang Pangcu sudah sadar, bolehkah saudara Touw memberitahukan kepadaku apa yang saudara ketahui tentang rencana Kun-liong Ong?" Touw Thian Gouw berpikir sejenak, baru berkata: “Menurut pikiranku, harap pangcu mengeluarkan perintah dulu untuk menangkap pengkhianat itu, supaya ia tidak mendapat kesempatan untuk kabur."

“Tidak apa, aku duga sebelum ia mendapat kabar kepastian tentang pangcu, tidak akan lari," berkata Teng Soan.

Touw Thian Gouw tidak berkata apa2 lagi, ia hanya menceritakan apa yang telah terjadi atas dirinya dan apa yang diketahui olehnya.

“Menurut keterangan saudara Touw ini, perempuan berbaju hijau yang memakai perhiasan mewah sudah tentu adalah nyonya Kun-liong Ong, tetapi perbuatannya agaknya memang sengaja membebaskan saudara Touw, inilah yang membuat siao-tee tidak habis mengerti," berkata Teng Soan heran. “Apa yang terjadi sesungguhnya sangat luar biasa, biarlah siaote pikir dulu."

Auw-yang Thong tahu benar kebiasaan penasehatnya itu, setiap kali menjumpai perkara yang sulit, sudah tentu memikir sambil memejamkan matanya, maka ia juga tidak berkata apa2 lagi.

Suasana dalam gubuk itu mendadak menjadi sunyi.

Meskipun Touw Thian Gouw adalah orang yang mengalami sendiri kejadian itu, tetapi terhadap perbuatan perempuan berbaju hijau yang membebaskan dirinya, ia juga tidak mengerti apa maksudnya. Ia hanya dapat menduga dengan pasti bahwa nyonya itu bukanlah penghianat Kun-liong Ong.

Tidak lama kemudian, Teng Soan tiba2 berkata: “Berdasar keterangan Touw tayhiap, perempuan cantik berbaju hijau itu, tidak salah memang istri Kun-liong Ong. "

“Apakah ia juga berhianat terhadap suaminya?" bertanya Auw-yang Thong. “Ia keadaannya berlainan dengan Pek Kong Po, tidak boleh disama ratakan. Menurut dugaan siao-tee ia bukanlah pengkhianat, tetapi ia memang mempunyai pengaruh besar terhadap Kun-liong Ong sehingga ia berani berbuat menurut kesukaan hatinya tanpa ragu2," berkata Teng Soan. “Ia sudah tahu bahwa saudara Touw adalah orang yang menjadi musuh suaminya yang menyusup kedalam pasukan pengawal baju hitam, tetapi ia sengaja membebaskan, se-olah2 melepas harimau pulang ke rimba. Andaikata benar Kun-liong Ong takut kepadanya, juga tidak sampai melakukan perbuatan demikian edan."

“Siaote juga memikirkan soal ini...." berkata Teng Soan, setelah berpikir agak lama, ia berkata pula. “Maka siaote merasa curiga bahwa antara ia dan kun-liong Ong, mungkin terselip hai-hal yang tidak menggembirakan. Pikiran wanita dan tindakannya, kadang2 tidak mengingat kepentingan umum, mungkin ia sengaja hendak mendongkolkan Kun-liong Ong, itupun bisa jadi. Pendek kata urusan ini hanya boleh dianggap sebagai kejadian gaib yang kebetulan, tidak boleh ditimbang dengan pertimbangan biasa."

Auw-yang Thong berkata sambil menggelengkan kepala “Kami selamanya menghargai pendapat sianseng, tetapi dalam hal ini, kami tidak sependapat dengan Sianseng."

“Siaote juga tahu bahwa pendapat siaote ini sulit dipercaya, tetapi kejadian ini tidak boleh dipandang sebagai kejadian biasa, bisa terjadi satu kali, tidak akan terulang lagi."

“Jikalau kita salah duga bahwa itu adalah kelemahan Kun- liong Ong, anggapan ini sangat keliru” berkata Teng Soan sambil tertawa.

Auw-yang Thong diam, tetapi ia belum dapat menyetujui seluruh pendapat penasehatnya.

Touw Thian Gouw tiba-tiba berkata: “Dengan kekejaman seperti Kun-liong Ong, apabila ia mengetahui aku kabur, pasti akan mengusut sebab-sebabnya, aku khawatir perempuan berbaju hijau itu. "

Teng Soan segera memotong. “Tentang ini saudara Touw tidak usah khawatir, apabila perempuan itu tidak yakin benar, ia pasti tidak berani membebaskan kau."

Auw-yang Thong tersenyum, kemudian berkata “Perobahan sifat manusia seperti ini, sudah tentu kita tidak dapat menduganya. Walaupun kami tidak sependapat dengan sianseng, tetapi untuk sementara, sesungguhnya juga belum dapat memikirkan apa sebabnya, maka urusan ini jangan kita perbincangkan lagi Kemudian ia menatap Tlouw Thian Gouw dan berkata pula: “Maukah saudara Touw menjelaskan lagi semua pengalaman itu, supaya kita dapat siap sedia suatu siasat untuk menghadapi tindakan Kun-liong Ong itu?"

Touw Thian Gouw berpikir sejenak, lalu menceritakan lagi semua pengalamannya

Auw-yang Thong sehabis mendengarkan ceritera, itu, berpaling dan berkata kepada Teng Soan: “Sianseng, Kun- liong Ong sudah mengerahkan semua anak buahnya yang terkuat, membentuk barisan apa yang dinamakan barisan sungai berdarah, jelas ia sudah bertekad akan mengadu kekuatan dengan kita”

“Benar....." menjawab Teng Soan ringkas. Ia yang selamanya suka banyak bicara tapi kali ini banyak diamnya.

“Menurut pikiran sianseng, apakah kita harus mengerahkan seluruh kekuatan tenaga golongan pengemis, bertempur mati2an dengan mereka?" bertanya Auw-yang Thong.

“Urusan ini sudah seperti anak panah yang diletakkan diujung busurnya tidak boleh tidak harus dilepaskan, tetapi siaotee pikir tidak perlu kita mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga golongan pengemis," “Kalau begitu, sianseng tentunya sudah mendapat rencana sebaik-baiknya."

“Dalam hal mengatur siasat pertempuran, siaote dengan Kun-liong Ong seperguruan, sudah tentu pengetahuan kita berimbang, hanya dia lebih menang dalam kepandaian ilmu silat."

“Tetapi sianseng sebaliknya menang dalam hal kepintaran memikir”

“Itu cuma bisa dikatakan lebih banyak membaca buku darinya."

Setelah berkata demikian, Teng Soan per-lahan2 bangkit dari tempat duduknya, berjalan mundar-mandir didalam ruangan, jelas ia sedang memikirkan suatu siasat untuk menghadapi lawannya.

Auw-yang Thong tahu bahwa penasehatnya itu sedang menggunakan pikirannya untuk mencari siasat maka juga tidak berani mengganggu.

Tiba2 Teng Soan merandek dan berkata: “Saudara Touw. "

“Ada perintah apa?" berkata Touw Thian Gouw.

“Entah kau masih ada keberanian untuk kembali ke rombongan pasukan pengawal baju hitam atau tidak?"

Touw Thian Gouw berpikir sejenak baru menjawab: “Untuk kembali kedalam pasukan pengawal baju hitam meskipun berbahaya, tetapi kalau memang diperlukan, siaote tidak akan menolak."

“Bahaya meskipun ada, tetapi apabila saudara Touw suka bertindak menurut siasat siaote niscaya tidak akan mendapat celaka!"

“Siaote ingin dengar siasat Sianseng." “Rahasia tidak boleh didengar oleh orang ketiga, harap saudara kemari dan dengar baik2"

Teng Soan lalu ber-bisik2 ditelinganya, Touw Thian Gouw mendengarkan sambil meng-angguk2 kepala, kemudian ia minta diri.

Setelah Touw Thian Goaw berlalu, Auw-yang Thong bertanya kepada Teng Soan, “Kau bicara apa dengannya?”

“Siaote memberitahukan kepadanya cara2nya untuk menghadapi bahaya."

Auw-yang Thong tahu benar tabiat penasehatnya itu, urusannya yang ia tidak mau memberi keterangan, ditanyapun tidak ada gunanya, maka ia tidak tanya2 lagi, ia bangkit dan berkata, “Diwaktu belakangan ini, sianseng jarang istirahat, seharusnya beristirahat dulu."

“Pangcu tunggu sebentar, masih ada beberapa hal siaote ingin memberitahukan kepada pangcu," berkata Teng Soan.

“Urusan apa?"

“Kun-liong Ong telah membentuk barisan sungai berdarah ditanah belukar yang luas itu maksudnya hendak sekaligus membasmi kita orang2 golongan pengemis."

“Kami percaya dengan kepandaian sianseng, pasti sudah mendapat siasat untuk memecahkan barisan itu."

“Nama barisan itu sangat aneh, apabila siaotee tidak pergi memeriksa tempat itu, siaote khawatir tidak berhasil membuat rencana dengan sempurna."

Auw-yang Thong terperanjat, ia bartanya: “Apakah sianseng hendak pergi seorang diri?"

“Menurut pikiran siaote, harap pangcu undang Tiat Bok Taysu dan Hui Kong Leang tay-hiap bersama Ciu Tay Cie dan Pek Kong Po untuk pergi bersama-sama." “Perbuatan Pek Kong Po yang hendak menghianati kita sudah diketahui oleh orang, apabila membawanya pergi ber- sama2. bukankah akan menambah bahaya”

“Justru karena itu, maka ia harus diikut sertakan, pangcu boleh berlagak tidak tahu, nanti siaotee yang diam2 menilik sepak terjangnya."

“Tengah malam buta seperti ini, mengundang Tiat Bok Taysu dan Hui Kong Liang, bukankah akan mengganggu mereka? Mengapa tidak memilih tenaga orang2 kuat dari golongan kita sendiri?"

“Dalam gubuk siao-yao yang siaote tinggalkan masih terdapat buku2 pelajaran banyak ilmu peninggalan siaotee. Apakah Kun-liong Ong sudah mempelajari semuanya atau belum, sekarang ini siaote masih belum tahu. Dilihat tindak tanduknya, kepandaiannya agaknya sudah banyak mendapat kemajuan, dapatkah siaote mengadu kepintaran dengannya, sekarang ini masih belum bisa diramalkan. Apalagi kalau diingat bahwa siaote tidak mengerti ilmu silat, ini sudah merupakan suatu kerugian besar bagi siaote.."

Teng Soan tiba2 menghela napas panjang, kemudian berkata pula: “Untuk dewasa ini, ada dua orang yang kepandaiannya dan kepintarannya masih diatas siaote. Apabila dua orang itu juga membantu Kun-liong Ong, maka bencana rimba persilatan kali ini, barangkali susah dihindarkan lagi"

“Dalam rimba persilatan dewasa ini, apakah masih ada orang yang lebih pintar dari pada sianseng?" bertanya Auw- yang Thong heran. “Dunia luas, tidak ada barang yang aneh siaote meskipun sudah mendapat hampir seluruh warisan kepandaian suhu. Tetapi suhu pernah berkata kepala siaote, bahwa diwaktu suhu berguru masih mempunyai seorang sutee telah diusir dari perguruan karena melanggar peraturan, kejadian itu pada sepuluh tahun berselang. Su-cow tiga hari dimuka sebelum menutup mata, tiba2 menerima sepucuk surat. Suhu yang sangat hati2, ketika menerima surat itu tidak berani membuka sendiri, lalu diberikannya kepada Sucow. Setelah membaca surat itu, sucow diam saja, surat itu kemudian dibakarnya, tetapi sepotong ujung surat yang tidak terbakar terjatuh dipembaringan. Waktu itu suhu tidak menaruh perhatian. Setelah Su-cow menutup mata, potongan ujung surat itu baru diketahuinya, surat itu ternyata dikirim oleh sutee suhu yang sudah diusir dari perguruan."

“Apakah kiranya ditulis dalam surat itu?"

“Dalam potongan kertas surat itu, kecuali tanda tangan namanya, tidak ada tulisan lainnya. Meskipun suhu bermaksud hendak mencari suteenya, tetapi didalam dunia yang luas ini kemana harus dicarinya? Beberapa puluh tahun kemudian terus masih belum mendapat kabar apa-apa. Hal ini adalah suhu yang menceritakan diwaktu omong-omong dengan siaotee. Dengan adanya suara suhu yang masih mengandung rasa duka, suhu agaknya tidak bisa melupakan suteenya itu....

Tadi Touw Tay-hiap telah menyebut tentang barisan sungai berdarah, sehingga tiba-tiba mengingatkan siaote kepada susiok itu”

“Kejadian beberapa puluh tahun yang lampau, mungkin susiokmu yang diusir dari perguruan itu, sekarang sudah tidak ada didunia lagi di dunia. Didunia bagaimana ada kejadian yang kebetulan serupa itu. Pertarungan sendiri antara kalian suheng dan sute yang masing2 berlainan pendiriannya, sudah merupakan suatu hal yang kebetulan. Apakah dua generasi dalam perguruanmu, harus mengadu kepintaran, hal ini sianseng agaknya terlalu banyak pikiran”

“Barangkali Kun-liong Ong juga sudah pernah dengar cerita tentang suteenya itu, sehingga kemudian dicarinya dan ditarik kedalam kancah pergolakan dalam dunia Kang-ouw ini!"

“Hal ini rasanya kecil sekali kemungkinan, harap sianseng jangan banyak pikiran..... harap sianseng tunggu dulu disini, kami hendak pergi, sebentar segera kembali." “Pangcu silahkan”

Auw-yang Thong keluar dari dalam rumah. Sebentar kemudian, ia balik kembali dan Hui Kong Leang dan lain2nya.

“Tengah malam batu telah menganggu tuan2 sekalian, siotee merasa sangat tidak enak”.

“Akh, tak apalah. Pangcu hendak menegakan keadilan dalam rimba persilatan, membasmi kawanan penjahat, sudah semestinya lolap memberi bantuan sepenuh tenaga, maka dengan suka rela lolap suka menerima perintah” berkata Tiat Bok Taysu.

Teng Soan mendongak keatas melihat cuaca, kemudian berkata: “Mari kita berangkat”

“Aku sudah suruh mereka menyiapkan kuda dan kereta, sebentar barangkali akan sampai”.

Sementara itu terdengar suara kaki kuda, kemudian Ciu Tay Cie lari tergesah2, begitu melihat Auw-yang Thong segera memberi hormat dan berkata: “Kuda, kereta dan tenaga sudah siap semua menantikan perintah pangcu dan Teng-ya "

“Bawa kemari kuda dan kereta, kita segera berangkat”

Ciu Tay Cie mengangkat kedua tangannya, ia menepuk tiga kali, dari tempat yang tidak jauh muncul beberapa ekor kuda dan satu kereta.

Rombongan itu dipimpin oleh Pek Kong Po.

Sikap Pek Kong Po sangat tenang, sebentar ia mengawasi keadaan sekitarnya, lalu berdiri disisi Auw-yang Thong dengan meluruskan kedua tangannya.

Teng Soan agaknya dikejutkan oleh sikap Pek-Kong Po yang sangat tenang itu.

Ia lalu naik ke kereta keledainya yang diperlengkapi berbagai macam pesawat rahasia. Auw-yang Thong sendiri naik kuda, ia mempersilahkan Tiat Bok Taysu dan Hui Kong Leang juga naik kuda.

Tiat Bok Taysu menolak, karena ia selamanya belum pernah naik kuda maka lebih suka berjalan kaki.

Pek Kong Po yang mempunyai julukan kaki sakti, lerus mengikuti dari belakang kuda Auw-yang Thong.

Tiat Bok Taysu berjalan dibelakangan kereta Teng Soan. Dibelakang Auw-yang Thong terpisah kira2 satu tombak,

diikuti oleh rombongan kuda yang dinaiki oleh Ciu Tay Cie dan delapan hulubalang golongan pengemis.

Teng Soan yang berada diatas kereta, sepanjang jalan matanya memperhatikan keadaan disekitarnya sehingga seorang cerdik pandai yang biasanya penuh dengan senyuman, waktu itu nampak diam. Pikirannya rupanya sedang bekerja keras.

Rombongan itu berjalan kira2 satu jam, pemandangan disekitarnya mendadak nampak banyak perobahan.

Dalam suasana gelap, nampak alang2 dan semak semak ditanah datar yang luas seperti taburan benda yang berwana gelap, pada saat itu Teng Soan tiba-tiba berseru: “Inilah tempatnya."

Setelah itu ia memerintahkan kepada orangnya supaya menghentikan keretanya.

Auw-yang Thong menahan kudanya, ia bertanya dengan suara perlahan: “Apakah sianseng hendak berjalan kaki?"

“Tidak usah, rombongan barisan yang terdiri dari begini banyak orang sudah tentu tidak dapat mengelabui mata2 Kun- liong Ong," menjawab Teng Soan.

“Apakah sianseng sengaja supaya diketahui oleh mereka?" “Benar, aku ingin supaya Kun-liong Ong juga tahu bahwa kita sudah masuk kebagian dalam daerah datar ini."

Auw-yang Thong tahu benar kepandaian penasehatnya, tindakannya itu pasti ada maksudnya maka ia tidak bertanya lagi dan melompat turun dari kudanya jalan bersama2 kereta Teng Soan.

Teng Soan memerintahkan kusirnya menjalankan keretanya ketempat yang terdapat banyak gerombolan alang2.

Setiap jalan sepuluh tombak lebih, Teng Soan turun dari keretanya dan berhenti sebentar untuk memperhatikan tempatnya, kemudian menjalankan keretanya lagi.

Berjalan secara demikian, sudah tentu sangat lama, sehingga semua orang merasa tidak sabar, tetapi mereka juga tahu bahwa ia mempunyai kepandaian luar biasa. Tindakannya itu pasti ada maksudnya, maka sekalipun Auw- yang Thong sendiri juga tak berani membuka mulut, hanya mengikuti berjalan kegerombolan alang2 itu.

Berjalan demikian kira2 satu jam, nampaknya masih belum ada tanda2 untuk mengakhiri perjalanannya itu. Sedangkan barisan 'sungai berdarah' yang dibentuk oleh Kun-liong Ong, entah dibentuk di bagian mana?

Teng Soan sebentar2 menghentikan keretanya memeriksa keadaan tempat itu mungkin sudah memasuki daerah apa yang dinamakan 'barisan sungai berdarah' itu.

Pada waktu itu Tiat Bok taysu yang berjalan mengikuti kereta Teng Soan, ketika menyaksikan tanah belukar yang se- olah2 tidak tampak ujung pangkalnya, sikapnya mulai tidak tenang.

Ciu Tay Cie yang berperut gendut, dengan delapan orang dari pasukan hulu balang, sebaliknya tetap melindungi Teng Soan dengan sikapnya yang tenang. Auw-yang Thong yang berjalan dimuka, saban menoleh kebelakang untuk menyaksikan orang2nya tetapi karena hawa udara gelap, lagi terpisah tidak dekat, hingga tidak dapat melihat wajah tiap orang, ia hanya menyaksikan sikap Pek Kong Po yang tidak jauh dengan dirinya.

Tetapi Pek Kong Po tenang luar biasa, sedikit pun tidak ada tanda2 yang agak mencurigakan.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki orang berjalan tergesa-gesa. Hui Kong Leang segera menegur dengan suara keras: “Siapa?"

“Aku," demikian terdengar suara jawaban, dari dalam gerombolan alang-alang keluar seorang laki-laki setengah umur yang berpakaian sebagai imam.

la berhenti kira-kira setombak lebih dihadapan Auw-yang Thong kemudian bertanya dengan suara perlahan: “Siapa diantara kalian yang bernama Teng Soan?"

“Dalam dunia Kang-ouw dewasa ini, siapa yang berani memanggil Teng-ya dengan namanya saja? Apakah kau kira kau mempunyai derajat dan kedudukkan memanggil Teng-ya dengan namanya saja?” berkata Ciu Tay Cie gusar.

Teng Soan bersenyum dan berkata kepada Ciu Tay Cie dengan suara perlahan: “Jangan mencampuri urusan orang lain." Kemudian ia memberi hormat kepada imam itu seraya berkata: “Aku yang rendah adalah Teng Soan, ada keperluan apa?"

Imam itu agaknya masih belum padam hawa amarahnya, dengan sinar mata dingin ia memandang Ciu Tay Cie, kemudian berpaling dan berkata kepada Teng Soan: “Pinto membawa perintah untuk mengundang sianseng. "

Teng Soan agaknya tercengang mendengar jawaban itu. “Kau membawa perintah siapa? Ada urusan apa mencari aku?”. “Pinto datang hanya melakukan tugas, maaf tidak dapat memberitahukan nama orang yang memberi perintah."

“Jikalau kau tidak mau menyebutkan namanya pengundang aku rasanya juga tidak ada urusan penting," berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Apakah kau takut?'', berkata imam itu sambil tersenyum. “Apa katamu? Lekas pergi” berkata Auw-yang Thong

dengan nada suara dingin.

Imam itu memandang Auw-yang Thong sejenak lalu berkata, “Dilihat dari pakaian dan sikap bahasamu, kau tentunya Auw-yang pangcu dari golongan pengemis”

“Totiang sebetulnya dari partay mana? Harap suka memberitahukan terus terang, agar Auw-yang Thong jangan sampai berlaku kurang sopan terhadap sahabat,'' berkata Auw-yang Thong

Hui Kong Leang memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata: “Menghadapi orang seperti ini tidak perlu menggunakan perkataan banyak-banyak."

Dengan tindakan lebar ia menghampiri imam itu, lalu melancarkan serangan kearah dadanya.

Imam itu dengan cepat mundur dua langkah, mengelakkan serangan itu, kemudian menghunus pedangnya dan berkata dengan suara dingin: “Dilihat dirimu, jelas bukan golongan pengemis”.

“Apakah kau tidak kenal denganku?" berkata Hui Kong Leang, sementara itu kedua tangannya bergerak dengan beruntun melancarkan lima serangan.

Kepandaian imam itu agaknya juga tinggi, menggerakkan pedang ditangannya untuk menangkis serangan Hui Kong Leang. Tiat Bok Taysu menyaksikan gerakkan ilmu pedang imam itu agak mirip dengan ilmu pedang golongan Bu-tong-pay, maka segera berseru: “Tuan2 berhenti dulu lolap hendak bicara”

Hui Kong Leang lebih dulu menarik kembali serangannya mundur kesamping.

Tiat Bok Taysu memandang imam itu kemudian berkata sambil tertawa: “Adakah Toheng dari golongan Bu-tong-pay?"

Imam itu terkejut, tetapi sebentar sudah tenang kembali, jawabnya: “Benar, pinto memang dari golongan Bu-tong pay, losiansu apakah Tiat Bok Taysu dari Siao-lim-sie?"

Kali ini adalah Tiat Bok Taysu yang merasa heran, ia meng- amat2i imam itu, tetapi rasanya belum pernah bertemu maka, bagaimana ia bisa memanggil nama julukannya?

Pada saat itu delapan pasakan hulu balang yang melindungi Auw-yang hong dan Teng Soan sudah berpencaran sekitar imam itu.

Teng Soan tiba2 mengulapkan tangannya seraya memerintahkan delapan orang itu mundur, kemudian berkata kepada Auw-yang Thong dan Tiat Bok Taysu: “Pangcu, taysu, harap tunggu disini sebentar. Siaote hendak pergi bersama Totiang ini, sebentar akan kembali."

Auw-yang Thong terkejut, ia berkata: “Sianseng, ini agaknya terlalu berbahaya. "

“Pangcu jangan khawatir, siaote kira Totiang ini tidak nanti akan mencelakakan diriku," berkata Teng Soan sambil ketawa.

Auw-yang Thong masih penuh kecurigaan, tetapi Teng Soan sudah tunun dari keretanya dan ia menghampiri imam itu, kemudian berkata dengan suara perlahan “Mari kita jalan!"

Imam itu tersenyum, kemudian berkata: “Nama besar Teng sianseng, benar2 bukan siaran kosong belaka." Setelah itu lalu berjalan berdampingan dengan Teng Soan. Tiat Bok Taysu yang menyaksikan berlalunya dua orang itu,

lalu bertanya kepada Auw-yang Thong dengan suara pertahan: “Apakah pangcu kenal dengan Totiang itu tadi?"

“Tidak kenal," menjawab Auw-yang Thong sambil menggelengkan kepala.

“Apakah Teng sianseng merupakan orang berkepandaian tinggi yang tidak suka mengunjukkan kepandaiannya?"

“Menurut apa yang kutahu, ia memang tidak mengerti ilmu silat, sekalipun bisa, juga hanya tahu perobahan beberapa gerak tipu saja, tetapi tenaganya tidak dapat digunakan untuk melawan musuh”

“Kau membiarkan dia pergi seorang diri, bukankah mencelakakan dirinya?"

“Tidak halangan, meskipun tak paham ilmu silat, tetapi mempunyai kepintaran luar biasa, apabila ia yakin benar, tidak nanti ia akan bertindak sembarangan." berkata Auw-yang Thong sambil tertawa

Namun demikian dalam hatinya merasa cemas.

Tiat -bok Taysu dapat melihat sikap Auw-yang Thong itu, ia diam saja tidak bertanya lagi.

Auw-yang Thong mendongakkan kepala kemudian berkata: “Biarlah kita menunggu disini, sebentar lagi ia mungkin sudah kembali?"

Hui Kong Leang tiba2 berkata dengan nada suara dingin: “Padri tua, dari pada kita duduk menganggur, bagaimana kalau kita bertaruhan?"

“Lolap tidak mengerti pertaruhan. Apa yang dibuat pertaruhan?", bertanya Tiat Bok Taysu. “Pertaruhan ini berbeda dengan pertaruhan biasa, kita masing-masing menggunakan kecerdasan berpikir dan pengalaman, mari kita tebak Teng-ya bisa kembali atau tidak?"

“Tentang ini, Auw-yang pangcu tentunya lebih paham daripada kita."

“Itu bagus, kau boleh bersama Auw-yang pang-cu sebagai satu pihak, aku tebak dia tak akan kembali dalam keadaan selamat. Imam itu adalah satu orang yang diutus oleh Kun- liong Ong,"

“Hui tayhiap, kita pertaruhkan apa?" bertanya Auw yang Thong sambil bersenyum."

“Terserah kepada pangcu."

Auw-yang Thong berpikir sejenak, kemudian berkata: “Siaote percaya benar dengan kepintaran Teng Soan, tidaklah mungkin ia dapat dikibuli oleh orang. Selama sepuluh tahun lebih, siaote belum pernah nelihat ia melakukan tindakkan yang mengandung sifat menempuh bahaya. "

“Tetapi kali ini tidak sama, apakah kau melihat dengan mata kepala sendiri dia pergi dengan orang?"

“Siaote percaya dia tidak memerlukan bantuan kita, pasti bisa kembali dengan selamat."

“Kalau begitu mari kita bertaruh bagaimana?" “Pertaruhan apa terserah kehendak saudara Hui!"

Hui Kong Leang berpikir sejenak, ia berkata: “Apabila siaote kalah, siaote ingin mempertaruh jiwaku!"

Auw-yang Thong tersenyum, kemudian berkata: “Itu tidak perlu. Seseorang hanya mempunyai satu jiwa, sangat sayang apabila digunakan untuk bertaruh, menurut pikiran siaote, lebih baik kita pertaruhkan barang yang lain." “Habis bagaimana?"

“Apabila siaote kalah, segera mengundurkan dini dari kalangan Kang-ouw, untuk selamanya akan mengabdi kepada saudara Hui."

“Kalau begitu bagaimana siaote berani menerima.   dan

bagaimana pula kalau siaotee yang kalah?"

“Jikalau saudara Hui yang kalah harap saudara menjadi anggauta kita golongan pengemis untuk sepuluh tahun. Sepuluh tahun kemudian, siaotee akan kembalikan kebebasan saudara Hui."

“Baik! Demikianlah kita tetapkan, apabila siaote kalah, sepuluh tahun siaote akan turut perintah pangcu. Dalam sepuluh tahun ini tidak perduli harus terjun ke lauatan api atau jurang berlumpur siaote tidak akan menolak"

Orang-orang golongan pengemis yang mendengad Auw- yang Thong bertaruh dengan Hui Kong Leang, semua merasa khawatir jikalau pangcunya itu akan kalah.

Tanah datar belukar yang sangat luas itu, suasananya tiba- tiba menjadi sunyi, sedikitpun tidak terdengar suara apapun juga. Semua orang yang berada tempat itu, matanya ditujukan kearah tempat berlalunya Teng Soan, menantikan kedatangannya.

Hanya Hui Kong Leang yang duduk bersila sambil memejamkan matanya

Dalam kesunyian itu tiba-tiba terdengar suara bentakan beberapa kali yang timbul dari tempat dimana tadi Teng Soan menghilang.

Orang-orang golongan pengemis timbul gaduh. Ciu Tay Cie tiba2 berkata kepada Auw-yang Thong: “Pangcu mari kita pergi melihat." Hati Auw-yang Thong meskipun cemas, tetapi masih tenang, ia menjawab sambil tertawa: “Tidak perlu, dengan kecerdikan sianseng, sekali pun menjumpai bahaya, juga dapat meloloskan diri."

Hui Kong Leang tiba-tiba membuka matanya dan berkata: “Aku lebih suka mengalah dan menurut perintah pangcu sepuluh tahun, juga mengharap ia bisa kembali dengan selamat."

Sementara itu Ciu Tay Cie tiba2 berseru: “Dari mana sinar pedang itu?"

Semua mata ditujukan kearah yang ditunjuk oleh Ciu Tay Cie, memang benar disitu ada berkelebat sinar pedang, tetapi sebentar kemudian sudah lenyap.

Hui Kong Leang tiba2 melompat bangun tetapi kemudian duduk kembali.

Golongan pengemis mempunyai peraturan keras kalau tidak ada perintah dari pangcunya tiada seorangpun yang berani bergerak.

Tiat Bok Taysu yang memikirkan keselamatan Teng Soan, terpaksa berkata kepada Auw-yang Thong: “Auw-yang pangcu mari kita pergi melihat, pang-cu pikir bagaimana Lolap merasa bahwa disekitar kita agaknya ada banyak orang-2 dari rimba persilatan”

“Losiansu jangan khawatir, siaote percaya benar Teng sianseng pasti akan kembali dalam keadaan selamat."

“Sinar pedang ini, jelas adalah gerakan dari seorang jago pedang yang sudah dapat menyatukan dirinya dengan sinar pedang. Jago-jago pedang kenamaan pada dewasa ini, yang mempunyai kepandaian semacam itu, jumlahnya sesungguhnya tiada banyak," berkata Tiat Bok Taysu.

“Menurut taysu kira2 ada berapa orang yang bisa?” Tiat Bok Taysu berpikir dulu baru menjawab: “Kira2 tiga atau lima orang saja."

“Orang yang mempunyai kepandaian menyatukan dirinya dengan pedang, ilmunya meringankan tubuh pasti sudah sempurna sekali. Dalam waktu sekejap tadi ia pasti sudah pergi jauh sekali."

“Lolap sangat khawatirkan Teng sianseng.....” berkata Tiat Bok Taysu.

“Apabila ia dicelakakan orang, tentunya sudah lama ia meninggal, apabila ia dapat meloloskan diri seharusnya sudah kembali."

Tiat Bok Taysu mendongakkan kepala pengawasi awan yang berterbangan dilangit kemudian berkata: “Lolap sesungguhnya tidak setuju dengan pertaruhan tuan-tuan tadi."

“Hui-tay-hiap juga termasuk orang cerdik, jikalau bukan soal yang sulit sekali, bagaimana dapat memenangkan pertaruhannya?" berkata Auw yang Thong.

“Aku lihat belum tentu, aku yakin masih bisa menang. "

berkata Hui Kong Leang.

-odwo-

62

SEMENTARA itu tiba2 terdengar Cui Tay Cie berseru: “Ha!

Teng-ya kembali”.

Benar saja Teng Soan nampak berjalan kembali sambil mengibas-ngibaskan kipasnya.

Pada saat itu, sekujur badan Auw-yang Thong tiba2 sudah basah dengan keringat Teng Soan berjalan lambat2. Setiap tindak agaknya menggetarkan perasaan setiap orang, tidak lama kemudian, barulah berada kembali diantara mereka.

Auw-yang Thong yang lebih dulu menyongsongnya dan berkata dengan suara perlahan: “Apakah sianseng baik-baik saja?"

Teng Soan memberi hormat seraya berkata: “Terima kasih atas perhatian Pangcu "

Tiba2 ia berseru: “Pangcu kenapa."

Auw-yang Thong menjawab sambil tertawa: “Aku baik2 saja, untuk selanjutnya sianseng tidak boleh melakukan perbuatan yang sangat berbahaya seperti itu."

Teng Soan sangat terharu, ia berkata sambil mengeluarkan air mata: “Siaotee menurut."

“Bagus, bagus, sekarang golongan pengemis tambah lagi tenaga bantuan dari seorang yang mempunyai kepandaian tinggi ilmu silatnya dan kecerdasannya. "

Selagi hendak berkata lagi, tiba2 jatuh ditanah.

Ciu Tay Cie terperanjat, ia berseru sambil membimbing bangun Auw-yang Thong.

Teng Soan buru2 mencegahnya seraya berkata: “Jangan ganggu, lekas letakkan ditanah."

Ciu Tay Cie melengak, tetapi ia menurut, meletakkan tubuh Auw-yang Thong ditanah.

Dengan wajah suram Tiat Bok taysu bertanya: “Sianseng, apakah dia tidak halangan?"

“Taysu jangan khawatir, disebabkan menahan kekhawatiran yang sangat besar sehingga mengalirnya darah agak terganggu, setelah beristirahat sebentar, segera pulih kembali. " berkata Teng Soan, “Bolehkah taysu menceritakan

apa yang terjadi ketika siaote tadi berlalu?"

Tiat Bok taysu berpaling mengawasi Hui Kong Leang sejenak, lalu berkata: “Mereka tadi telah bartaruhan, apabila sianseng tidak bisa kembali, Auw-yang pangcu segera mengundurkan diri dari kalangan Kang-ouw, untuk menjadi budak Hui tay-hiap se-lama2nya. Tetapi sekarang sianseng sudah kembali dengan selamat, maka Hui tay-hiaplah nanti yang akan menjadi anggauta dan menurut segala perintah pangcu golongan pengemis selama sepuluh tahun. "

Teng Soan menarik napas perlahan-lahan dan berkata: “Pangcu karena memikiri keselamatanku, hatinya sangat cemas, tetapi diluarnya ia tetap tenang, tatkala melihat siaote kembali dalam keadaan selamat, pikirannya lega seketika, perobahan perasaan secara mendadak itu telah menimbulkan reaksi kepada jalannya darah, sehingga jatuh pingsan. "

Ia mengurut-urut bagian dada Auw-yang Thong, meskipun ia mengenali tempat bagian darah, tetapi karena kekuatan tenaga jari tangannya agak kurang, maka ia harus menggunakan banyak tenaga, sebentar saja sekujur badannya sudah mandi keringat.

Pada saat itu semua anak buah golongan pengemis sudah mengeruyung disekitar Auw-yang Thong dengan penuh perhatian.

Tidak antara lama, mulut Auw yang Thong mengeluarkan suara tarikan napas, matanya terbuka perlahan-lahan, kemudian bangun dan duduk, sambil mengawasi Teng Soan ia berkata: “Sianseng, imam pertengahan umur tadi apakah orang suruhan Kun-liong Ong?"

“Bukan, ia adalah orang dari Bu-tong-pay," menjawab Teng Soan sambil menggelengkan kepala

“Mengapa ia mengundang sianseng." “Mereka hendak bertanya kepadaku tentang khasiatnya semacam obat."

“Apakah kau sudah melihat pemimpin Bu-tong-pay?" “Tidak, disana cuma ada kita berdua."

Auw-yang Thong tidak menanya lagi, ia berpaling dan berkata kepada Hui Kong Leang sambil pemberi hormat: “Golongan pengemis sangat bersukur dan berterima kasih banyak-banyak kepada Tuhan yang Maha Esa telah mendapat bantuan tenaga Hui tay-hiap."

“Mulai saat ini, aku yang rendah sudah terhitung orang bawahan Pangcu. Apabila pangcu ada keperluan, silahkan perintahkan saja, siaote akan melakukan dengan sepenuh tenaga," berkata Hui Kong Leang.

Teng Soan berkata sambil kipasnya dan tertawa: “Apakah tuan-tuan sudah merasa lapar?"

Semua orang yang mendengar pertanyaan secara tiba-tiba itu, pada terkejut.

Ciu Tay Cie yang berkata lebih dulu sambil memberi hormat: “Teng-ya, hamba sesungguhnya memang sudah lapar”

“Baiklah, diatas keretaku itu, ada membawa bekal makanan, kau pergi ambil untuk dimakan bersama-sama," berkata Teng Soan.

“Sianseng, apakah disini kita masih perlu menunggu lama?" bertanya Auw-yang Thong heran

“Menurut pikiran siaote, lebih baik kita menunggu disini. "

“Menunggu apa?

“Menunggu kedatangan Kun-liong Ong. Tanah yang kita pijak sekarang ini, adalah pusat tanah dataran yang luas ini. Apabila Kun-liong Ong tidak berhasil menduduki tempat ini, maka barisan sungai berdarah tidak akan terbentuk."

“Apakah sianseng hendak melakukan pertempuran mati- matian disini dengannya?"

“Tidak perlu, aku hendak membentuk barisan kecil disini lebih dulu, tindakan ini seolah2 sebuah pisau tajam, menancap jantung barisan sungai berdarah itu”

“Kalau begitu, perlukah kita mengerahkan banyak tenaga?” “Hanya barisan delapan hulu balang saja sudah cukup."

Auw-yang Thong berpaling mengawasi delapan hulu balang itu sejenak tanpa berkata apa-apa, hanya dalam hatinya berpikir: “hanya delapan orang ini saja, bagaimana sanggup melawan anak buah Kun-liong Ong yang sangat kuat. ”

Teng Soan agaknya mengerti apa yang dipikir oleh Auw- yang Thong, ia bersenyum dan berkata: “Pangcu jangan khawatir. Barisan yang siaotee bentuk ini, adalah barisan yang wujudnya tersembunyi. Setiap orang mempunyai batas pergerakan tentu, dengan meminjam gerombolan alang2 yang lebat mtuk sembunyikan diri, mungkin dapat menghindarkan perhatian mata-mata Kun-liong Ong, sekaipun diketahui oleh mereka, juga tidak apa."

Sementara itu Ciu Tay Cie sudah kembali dengan membawa banyak barang makanan.

Teng Soan berkata kepada delapan orang pasukan hulu balang dengan suara rendah: “kalian makan kenyang dulu. Dalam waktu satu hari satu malam yang akan datang, barang kali susah untuk dapat makanan”

Selesai makan, Teng Soan mengajak mereka berlalu.

Tiat Bok Taysu memandang Auw-yang Thong dengan perasaan heran, kemudian bertanya: “Auw-yang Pangcu, Teng Sianseng rupanya sedang mengatur siasat, betulkah begitu?" “Dalam segala hal, sebelum dilakukan, ia belum pernah menceritakan lebih dulu...." berkata Auw-yang Thong, ia berpaling mengawasi Pek Kong Po, sikaki sakti itu sikapnya ternyata masih tenang2 saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa2. Pemimpin itu hatinya panas seketika, maka lalu memanggilnya sambil tertawa dingin, “Pek Kong Po, kau kemari”

Pek Kong Po menyahut sambil memberi hormat: “Pangcu ada perintah apa?"

“Bagaimana aku perlakukan kau?” “Baik sekali."

“Bagaimana nama golongan pengemis didalam kalangan Kang-ouw?"

“Bagaikan dewa bagi rakyat sengsara”

“Apakah perkataanmu ini keluar dari hati nuranimu yang sesungguhnya?"

“Semua keluar dari hati nurani hamba." “Kau pandai bicara!"

“Hamba tidak berani."

Wajah Auw-yang Thong berubah seketika, berkata: “Apabila aku suruh kau pergi mati, kau pergi atau tidak?"

“Sekalipun mati hamba juga tidak akan menolak." “Bagus! Sekarang kau boleh habiskan jiwamu sendiri."

Pek Kong Po terperanjat, ia berkata: “Entah hamba melanggar kesalahan apa, sehinggg pangcu demikian gusar”

Wajah Auw-yang Thong kembali berubah, ia bertanya dengan nada suara dingin: “Apakah aku harus menjelaskan dosamu, baru kau menerima salah?" Pek Kong Po mengawasi Ciu Tay Cie sejenak. Dari pinggangnya ia mengeluarkan sebilah pisau pendek.

Pada saat itu matahari sudah naik tinggi, pisau pendek itu memancarkan sinar ke-biru2an.

Tiat Bok taysu mengawasi pisau pendek itu sejenak, lalu berkata: “pisau pendek itu mengandung racun sangat berbisa."

Tiba2 terdengar suara bentakan orang: “Tahan."

Pek Kong Po menoleh, ia melihat Teng Soan berjalan menghampiri sambil me-ngibas2kan kipasnya.

Auw-yang Thong tiba2 mengulurkan tangan kanaannya seraya berkata: “Pek Kong Po berikan pisaumu padaku."

“Ini, ini....." jawab Pek Kong Po, dengan tanpa disadari mundur dua langkah.

Ciu Tay Cie tiba2 bergerak, tangannya mencekam pergelangan tangan Pek Kong Po seraya berkata: “Saudara Pek, kau dengar perintah pangcu atau tidak?"

Tangan kirinya dengan cepat merebut pisau pendek dari tangan Pek Kong Po, kemudian diserahkan kepada Auw-yang Thong dengan sikap sangat menghormat.

Auw-yang Thong menyambuti pisau pendek itu ia periksa dengan seksama, kemudian berkata sambil tertawa: “Senjata berbisa yang sangat bagus sekali, berikan padaku."

Pek Kong Po berpaling mengawasi Ciu Tay Cie sejenak kemudian menyerahkan sarung pisaunya kepada Auw-yang Thong.

Setelah menyambuti senjata itu Auw-yang Thong berkata kepada Teng Soan: “Sianseng, apakah kita masih perlu menunggu di sini terus?"

“Barangkali kita sudah tidak bisa keluar dari sini lagi." “Kenapa?"  

“Kita sudah terkurung oleh anak buah Kun-liong Ong."

“Betulkah ucapanmu ini?" bertanya Auw-yang Thong heran.

“Sudah tentu tidak salah." menjawab Teng Soan sambil tertawa. “hanya orang yang terkepung bukan melulu kita beberapa orang saja. "

Sementara itu tiba2 terdengar suara tindakan kaki yang lari tergesa-gesa, dua imam setengah umur datang menghampiri mereka dengan badan penuh darah.

Auw-yang Thong mengerutkan alisnya, ia menyambut kedatangan mereka sambil berkata:" Toheng ”

Dua imam itu agaknya juga tidak sanggup berdiri lebih lama, mata mereka memandang Auw-yang Thong tiba2 roboh ditanah.

Tiat Bok Taysu memeriksa keadaan mereka, kemudian berkata: “Luka mereka sangat parah."

“Kita telah beruntung sudah menyelidiki lebih dulu, apabila terlambat setindak, kekuatan Kun-liong Ong mungkin sudah memasuki pusat ini....” berkata Teng Soan sambil menghela napas, “Kun-liong Ong sudah mulai membasmi orang2 kuat rimba persilatan yang tersembunyi ditempat belukar ini. Apabila dugaan siaote tidak keliru, sebentar lagi, masih ada banyak orang terluka yang akan datang kemari."

“Apakah kita harus berdiam saja menantikan kedatangan musuh?" bertanya Auw-yang Thong.

“Siaote sudah mendapat laporan kilat, Kun-liong Ong telah merencanakan suatu akal keji untuk memancing orang banyak. Ia sudah berhasil memancing banyak orang kuat masuk ketanah belukar ini. Kali ini ia mengerahkan seluruh kekuatannya, dengan maksud orang-orang kuat yang berada disekitar tanah  belukar ini, terbasmi seluruhnya, kemudian membentuk barisan berdarah untuk mengadu kekuatannya dengan kita golongan pengemis...." berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Ia mendongak mengawasi awan dilangit, sejenak ia berpikir, kemudian berkata pula: “Tempat sekarang berpijak, adalah sebagai pusat dari tanah belukar seluas sepuluh pal ini. Kun-liong Ong ini menyerang dari delapan penjuru. Barang siapa yang terluka, dengan sendirinya lari ke tempat ini. Sebelum datang kemari siaote sudah memberikan perintah atas nama pangcu, minta supaya Koan Sam Seng pada sore hari ini, datang membawa bala bantuan dengan seluruh kekuatan tenaga golongan pengemis. Sioate ingin menggunakan barisan Pat-kwa-kiu-kiong-tin, lebih dulu menduduki jantung dari pada barisan sungai berdarah yang akan dibentuk oleh Kun-liong Ong supaya gerakan yang aneh dari barisan tersebut terhalang. Apabila sekarang kita mundur dari sini, bukan saja memberikan kesempatan baginya membentuk barisannya dengan leluasa, tetapi juga akan mengakibatkan orang2 kuat yang kerada ditempat sekitar ini, berada dalam kesulitan. Mereka bertindak sendiri-sendiri, satu sama lain tidak ada pengertian, sudah tentu akan dibasmi oleh Kun-liong Ong dengan sangat mudah”

Auw-yang Thong yang mendengarkan penguraian itu menganggukkan kepala sambil memberi pujian: “Perhitungan sianseng, sesungguhnya sangat mengagumkan."

“Pangcu jangan memuji dulu, kalau benar Kun-liong Ong sudah berhasil mengundang Susiok siaote itu, mungkin kita akan menghadapi kejadian yang lebih aneh. Apabila dugaan siaote ini tidak keliru, maka ludeslah semua usaha kita "

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda memutuskan pembicaraan Teng Soan.

Dua ekor kuda lari mendatangi kearah mereka, sedang dua penunggangnya, dua laki2 berpakaian ringkas, mendekam diatas kuda tanpa bergerak. Sekujur badan dua laki2 itu berlumuran darah.

“Lekas bantu mereka turun dari kudanya," demikian Auw- yang Thong memerintahkan kepada orang-orangnya.

Ciu Tay Cie dan Pek Kong Po dengan serentak bertindak membimbing dua orang itu turun dari kudanya.

Ternyata dua orang itu sudah putus nyawanya, darah dibadannya masih mengalir, jelas bahwa mereka mati belum lama.

Tiat Bok Taysu yang menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan itu, mulutnya tidak berhentinya memuji nama Buddha.

Teng Soan berkata dengan suara perlahan: “Taysu, membasmi kejahatan melakukan kebaikan, inilah waktunya yang tepat!"

Mata Tiat Bok Taysu tiba-tiba memancarkan sinar tajam, katanya: “Perkataan sianseng ini sesungguhnya sangat berharga."

“Losiansu adalah seorang beribadat tinggi, menyaksikan keadaan yang mengerikan ini, tentu mengerti bahwa sebagai orang rimba persilatan, semua tidak dapat menghindarkan diri tidak terlibat dalam segala pergolakan rimba persilatan."

“Apabila lolap bisa kembali ke gereja Siao-lim-sie, lolap pasti berusaha untuk minta kepada ketua Siao lim-sie supaya mengerahkan semua anak buahnya yang terkuat, untuk menolong bencana ini."

“Andaikata banar Siao-lim-sie dapat mengerahkan seluruh kekuatannya, kita tidak perlu takut kepada Kun-liong Ong lagi!"

Hui Kong Leang tiba2 berkata sambil menghela napas: “Ada orang datang lagi." Pada saat itu terdengar suara tindakkan kaki orang yang berat, seorang tinggi besar perlahan2 berjalan mengitari gerombolan alang-alang itu. Orang itu seperti mabuk arak, tindakannya sempoyongan. Kedua tangannya menekan perutnya, setindak demi setindak berjalan kearah mereka.

Teng Soan berpaling mengawasi Ciu Tay Cie sejenak, kemudian berkata: “Lekas bimbing dia, lihat masih bisa ditolong apa tidak?"

Ciu Tay Cie segera menghampiri orang itu dan menyambarnya.

Tindakan orang itu meskipun sempoyongan seperti orang mabuk, tetapi pikirannya masih sadar. Ketika Ciu Tay Cie menyambar dirinya, segera disambut dengan tinju.

Karena serangan yang tiba2 itu hampir mengenai perut Ciu Tay Cie

Ia mendapat julukan pengawal besi. Dalam golongan pengemis juga terhitung salah seorang kuat. Kecuali ilmu meringankan tubuhnya yang agak rendah dalam permainan kaki dan tangannya, sudah jarang tandingannya. Ketika diserang, ia segera membusungkan perutnya untuk menyambut serangan itu sedang tangan kanannya segera menyambar pergelangan tangan lawan.

Serangan orang itu agaknya sudah menggunakan seluruh kekuatan tenaganya. Tetapi ketika serangan itu mengenakan perut Ciu Tay Cie, sebaliknya ia sendiri rubuh terjengkang.

Dengan cepat Ciu Tay Cie menyambar tubuh orang itu, lalu dibawanya kehadapan Teng Soan, kemudian diletakkan ditanah.

Wajah orang itu sudah pucat pasi. Lubang hidung dan telinganya masih mengalir darah. Luka dalamnya nampaknya sudah tidak mudah ditolong lagi. Teng Soan yang menyaksikan itu, telah meng-goyang2kan kepalanya dan berkata: “Orang ini sudah tidak dapat ditolong lagi. Mendapat serangan pukulan sangat berat, dengan sisa tenaganya yang masih ada ia mencoba hendak lari, tetapi cuma dapat bertahan sampai disini saja...”

Sementara itu terdengar pula suara tindakan kaki dua orang imam yang masmg2 membawa pedang tetapi sekujur badannya sudah penuh darah, lari mendatangi.

Hui Kong Leang dan Pek Kong Po segera menyongsong dan membimbingnya jangan sampai jatuh.

Teng Soan menyaksikan luka2 dibadan dua imam itu, lalu berkata: “Lekas rebahkan mereka. Walaupun terluka parah, namun masih dapat ditolong."

Ia lalu mengeluarkan dua butir obat dan dimasukkan dalam mulut mereka

Auw-yang Thong berkata dengan suara perlahan: “Sianseng, orang kita sangat sedikit, sekarang harus menampung demikian banyak orang yang terluka ini rasanya kurang tepat. Seandainya Kun-liong Ong dan orang2nya menyerang kita dari berbagai penjuru, klta sendiri akan repot menyambut musuh. Bagaimana ada tenaga mengurus mereka?"

“Siaote sudah berkeputusan untuk berdiam disini. Selain untuk memecahkan barisan sungai berdarah, juga hendak menolong orang2 yang terluka seperti ini. Kun-liong Ong yang melakukan pembunuhan sedangkan pangcu yang menolong. Dua perbuatan itu, bukankah merupakan suatu kontras yang nyata. Bukankah suatu perbuatan yang sangat mulia. Rakyat dibeberapa daerah Tiong Goan, semua memandang pang-cu sebagai Buddha hidup. Asalkan kita dapat melewati saat yang krisis ini, maka perbuatan pangcu yang sangat mulia ini, niscaya menjadi ujian bagi orang2 rimba persilatan dan semua pertikaian dldunla Kang-ouw, pasti akan mudah di bereskan oleh pangcu” berkata Teng Soan sambil tersenyum.

“Seorang gagah yang mempunyai jiwa besar dan berhati penuh cinta kasih seperti sianseng ini berapakah jumlahnya didalam dunia? Auw-yang Thong sungguh sangat bersyukur mendapat bantuan sianseng” berkata Auw-yang Thong sambil menghela napas perlahan

“Menolong sesama manusia, memang merupakan kewajiban bagi kita, pangcu tidak perlu memberikan pujian demikian tinggi."

Pada saat itu tiba2 Ciu Tay Cie berseru: “Ada orang datang lagi."

Teng Soan menengok, benar saja ada seorang tua berpakaian panjang warna biru, sedang jalan kearah mereka.

Tangan orang tua itu memondong seorang wanita yang mengenakan pakaian berwarna biru hijau.

Ciu Tay Cie maju menyongsong dan menegurnya: “Sahabat, tidak dapat melanjutkan perjalanan”

Orang tua itu dengan sikap keren dan dingin memandang Ciu Tay Cie sejenak, se-konyong2 menghela napas panjang, kemudian berkata: “Anakku ini terluka parah, perlu mendapatkan tempat yang tenang untuk mengobati lukanya."

Teng Soan maju menghampiri dan berkata sambil memberi hormat: “Locianpwee, parah sekalikah luka putrimu?"

Orang tua itu menganggukkan kepalanya lambat dan berkata: “Ia sudah pingsan, perlu mendapat pertolongan dengan segera."

“Boanpwee mengerti sedikit ilmu tabib, bolehkah boanpwee bantu menolongnya?" Orang tua itu menjawab sambil menggelengkan kepala: “Tidak usah, aku dapat mengobati sendiri, tetapi harus mencari tempat yang tenang."

“Sekitar tanah datar ini, semua sudah diliputi oleh suasana pembunuhan, barang kali sudah tidak mudah untuk mencari tempat yang tenang ”

Teng Soan mengawasi beberapa orang yang rebah ditanah, ada yang sudah menjadi mayat, ada yang masih dalam keadaan terluka parah, kemudian berkata pula: “Tempat ini meskipun agak ribut suasananya, tetapi merupakan satu2nya tempat yang aman disekitar tanah datar ini. Jikalau loncianpwee tidak anggap tempat ini terlalu ramai, lebih baik locianpwe mengobati putrimu disini saja."

Orang tua itu mengawasi keadaan disekitarnya, sebentar lalu memandangi putrinya yang berada dalam pondongannya, kemudian berkata sambil menghela napas: “Semua ini karena ketidak becusan ayahmu sendiri yang tidak dapat melindungi keselamatanmu, sehingga kau harus mengalami penderitaan ini”

Pada saat itu dari jauh tiba2 terdengar suara orang saling bentak.

Wajah orang tua itu berubah seketika, dua matanya memancarkan sinar ber-api2, badannya gemetar, agaknya sedang berusaha menindas hawa amarahnya.

Teng Soan berkata dengan suara perlahan: “Harap locianpwee bersabar sedikit, penting adalah mengobati luka putrimu. Beberapa tombak di luar daerah sekitar ini, kita sudah pasang orang yang sangat kuat untuk menahan musuh betapapun tangguhnya musuh itu, tidak mudah menembus barisan kuat kita. Pada saat ini, waktu adalah sangat berharga, locianpwee seharusnya dapat menggunakan kesempatan yang ada untuk menolong puterimu." Amarah orarg tua itu perlahan-lahan mulai reda, ia menyahut sambil menganggukan kepala: “Terima kasih atas kebaikan Saudara”

Ia berjalan beberapa tombak untuk mencari tempat yang terdapat banyak alang2, lalu meletakkan puterinya disana.

Sifatnya yang keras dan tinggi hati, sekali lagi sangat nyata. Didalam keadaan dan suasana yang sangat berbahaya seperti itu, ia berjalan ter-gesa2 melalui samping Hui Kong Leang dan Tiat Bok Taysu, tetapi sedikitpun tidak menghiraukan mereka, agaknya tidak melihat adanya orang2 itu.

Teng Soan berkata dengan suara nyaring: “Locianpwee, jikalau memerlukan obat panggillah boanpwee."

“Tidak usah!" jawab orang tua itu dengan suara perlahan.

Auw-yang Thong berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan: “Dengan beruntun ada beberapa orang yang terluka datang ketempat ini, mungkin tidak lama lagi orang2 Kun- liong Ong juga segera datang kemari, sianseng sebaiknya jangan menempuh bahaya."

“Terima kasih, atas perhatian pangcu, sioate dapat menjaga diri sendiri."

Hui Kong Leang tiba2 bertanya kepada Auw yang Thong: “Apakah pangcu kenal dengan orang tua itu tadi?"

“Masih sangat asing, belum pernah melihatnya” menjawab Auw-yang Thong sambil menggelengkan kepala.

“Orang ini rupanya seperti Lam-ong Sin...." berkata Hui Kong Leang.

Tiba2 suara tajam memutus perkataan Hui Kong Leang.

Seorang wanita setengah umur dengan rambut terurai dan badan penuh darah lari mendatangi. Auw-yang hong segera memerintahkan Pek Kong Po supaya menolong perempuan itu.

Pek Kong Po lalu membimbing perempuan itu dan dihadapkan Auw-yang Thong.

Sekujur badan perempuan itu terdapat banyak luka, sudah tidak mudah ditolong lagi.

Perempuan itu memandang Auw-yang Thong sejenak, kemudian berkata: “Adakah kau pangcu golongan pengemis?"

“Aku yang rendah benar adalah Auw-yang Thong. "

menjawab Auw-yang Thong.

“Auw-yang pangcu...." berkata perempuan itu tetapi baru saja mengucapkan sepatah kata, tiba2 matanya melotot dan napasnya sudah berhenti.

Orang tua berbaju hijau yang bersembunyi di dalam gerombolan alang2 tiba2 menongolkan kepalanya mengawasi perempuan itu sebentar, lalu sembunyi lagi.

Dengan wajah penuh amarah Auw-yang Thong berkata: “Sianseng, orang2nya Kun-liong Ong sesungguhnya kejam sekali. Terhadap kaum wanita dan anak-anak juga turun tangan demikian kejam."

“Ada semacam obat yang sangat ajaib. Obat itu asal dimakan, orang yang makan segera kehilangan sifat kemanusiannya dan berubah menjadi seorang yang gemar membunuh”

Tiba2 terdengar pula suara beradunya senjata tajam.

Teng Soan segera berkata, “Orang2nya Kun-liong Ong sudah tiba. Pangcu, Hui-tay-hiap, lekas menjaga empat penjuru tempat kita sekarang berpijak. Aku tadi sudah memerintahkan delapan hulubalang, apabila menjumpai musuh kuat yang tidak sanggup melawan, segera mundur dan mambentuk barisan gaib Kiu-kiong-tin, untuk melawan musuh dengan kekuatan tenaga bersama."

“Harap sianseng menjaga diri baik2, "berkata Auw-yang Thong segera lari kearah datangnya suara beradu senjata itu.

Begitu juga Hui Kong Leang, segera bergerak mengikuti pangcunya.

Auw-yang Thong mengawasi Pek Kong To dan Ciu Tay Cie sejenak, lalu berkata kepada mereka: “Kalian lekas bawa orang2 yang terluka kedalam alang2, dikumpulkan disatu tempat”

“Bagaimana dengan yang mati?”

“kita tidak dapat mengurusnya lagi” menjawab Teng Soan.

Sementara itu suara bentakan orang ber-ulang2 disekitar tempat itu.

Teng Soan mengibaskan kipasnya, keretanya yang berhenti ditempat sejauh satu tombak lebih, tiba2 berjalan kearahnya, tetapi orang berpakaian hitam yang menjalankan kereta itu masih duduk tenang ditempatnya tanpa bergerak.

Hui Kong Leang yang tadi mengikuti Auw-yang Thong, tiba2 balik kembali dan berkata, “Sianseng, orang2 Kun-liong Ong sudah mengurang kita dari berbagai penjuru”

Teng Soan berkata sambil meng-angguk2an kepala: “pertempuran ini tidak dapat dihindarkan lagi. Mati hidupnya golongan pengemis, tergantung dalam pertempuran kali ini.”

“Maksud pangcu, karena orang2 kita tersebar luas, hingga suruh aku minta tanya kepada Sianseng, bolehkah kiranya ditarik dan terkumpul disuatu tempat?" bertanya Hai Kong Leang.

“Aku sudah memberitahukan kepada orang2 yang kupasang disekitar ini, apabila berjumpa musuh tangguh, jangan dilawan dengan kekerasan, kita sudah tentu dapat mundur kedalam barisan pat-kwa tin. Asal Hui-tayhiap dapat memberi bantuan tapat pada waktunya, supaya jangan ada yang terluka, itu sudah cukup." berkata Teng Soan sambil tertawa.

Kemudian ia menghela napas perlahan dan berkata pula: “Ini suatu pertempuran dahsyat yang kekuatan semua pihak selisih jauh sekali. Dalam waktu tiga jam, kita tidak mudah mendapat bantuan, tetapi orang2 Kun-liong Ong yang turut ambil bagian dalam pertempuran itu, jumlahnya semakin lama semakin banyak. Pasukan delapan hulu halang dari pihak kita harus dijaga jangan sampai ada satu yang terluka atau binasa. Sebab terluka seorang saja, seluruh barisan akan kehilangan imbangan kekuatan. Tetapi dengan adanya Pangcu, Hui- tayhiap dan Tiat Bok Taysu bertiga, yang harus memberi bantuan pada saat yang tepat, rasanya dapat melindungi pasukan kita itu."

“Sianseng tentunya suduh atur lebih dulu, sekarang aku perlu segera memberi kabar kepada pangcu." berkata Hui Kong Leang yang segera balik untuk menemui Auw-yang pangcu

Pada saat itu Ciu Tay Cie tiba2 ber-teriak2: “Teng-ya awas!"

Dengan tindakan lebar sigendut itu lari menuju keutara.

Teng Soan segera dapat lihat dua orang berpakaian hitam dengan tangan membawa sendjata, sedang menyerbu barisan delapan hulu halang.

Pek Kong Po tiba-tiba berhenti dan berkata: “Teng-ya, keadaan sangat berbahaya, tambah...”

Teng Soan tiba-tiba mengibaskan kipasnya dan berkata: “Mundur."

Pek Kong Po terkejut, tanpa disadari ia sudah mundur selangkah. Sementara itu terdengar suara bentakan Ciu Tai Cie bagaikan geledek: “Bangsat, sambutlah tangan tuan besarmu. ”

Kepalan tangan kanannya segera meninju, sebentar kemudian terdengar suara jeritan tertahan yang keluar dari seorang berpakaian hitam, orang itu kemudian roboh ditanah.

Ciu Tay Cie terperanjat menyaksikan orang yang tidak ada gunanya itu.

Sebelum ia bertindak lebih jauh, seorang berpakaian hitam yang lain sudah menikam perutnya.

Ciu Tay Cie yang nampaknya sangat bodoh, tetapi sesungguhnya sangat lincah gerakannya. Dengan miring kesamping ia menghindarkan serangan lawannya, kemudian balas menyerang dengan tinju kirinya.

Tetapi sebelum tinjunya bersarang didada lawannya, orang itu sudah roboh tercelentang.

Ciu Tay Cie segera merebut senjata orang itu, ia balik kepada Teng Soan dan berkata sambil tertawa: “Teng-ya, orangnya Kun-liong Ong ternyata cuma gentong kosong, mereka tidak sanggup menyambut seranganku."

Teng Soan tertawa hambar, ia naik keatas kereta, kemudian berkata dan memberi hormat: “Terima kasih atas bantuan locianpwee."

Ciu Tay Cie yang mendengar itu tercengang ia mengawasi orang yang dipukul jatuh tadi. Dua orang itu ternyata sudah memejamkan matanya, mukanya pucat pasi, agaknya bukan mati karena terkena serangannya maka timbullah kecurigaan dalam hatinya.

63 TETAPI pikirannya yang sederhana, sesaat itu tak mengerti apa sebabnya. Ia mengawasi sambil berpikir lama. Tiba-tiba berseru sambil menepuk kepalanya sendiri. “Aku mengerti, aku mengerti...”

Dengan tindakan lebar ia berjalan kearah alang2 itu seraya berkata: “Hai! Apakah tadi kau yang membantu aku siorang she Ciu?"

Dari tengah-tengah alang2 lebat itu menongol kepalanya orang tua berbaju hijau itu, sambil mengulapkan tangannya orang tua itu berkata, “Pergi."

Setelah itu ia menghilang lagi kedalam gerombolan alang2 ditempat itu.

Ciu Tay Cie tercengang ia berkata: “Hem! Sungguh sombong kau"

“Jangan mengganggu orang yang sedang mengobati orang sakit, lekas balik" berkata Teng Soan dengan suara perlahan.

“Kepandaian orang tua berbaju hijau itu hebat sekali. "

Teng Soan menggoyang-goyangkan tangannya melarang ia berkata lagi: “Jangan mencampuri urusan orang lain. "

Pada saat itu ditengah udara nampak berkelebat snar putih bersama bayangan putih yang meluncur kearah Teng Soan.

Teng Soan tidak mengerti ilmu silat, meskipun tahu bahwa itu adalah berkelebatnya sinar senjata tajam, tetapi ia tidak dapat mengelakkan diri.

Ciu Tay Cie meskipun sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya, tetapi ilmu meringankan tubuhnya, boleh dikata tidak mengerti samasekali. Sekalipun ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri meluncurnya sinar putih itu, tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam saat yang sangat kritis itu, segumpal kekuatan tenaga dalam tiba2 meluncur kearah sinar putih itu. Hembusan tenaga dalam itu ketika beradu dengan sinar putih itu, sinar putih itu segera terpental dan jatuh ditanah.

Teng Soan mengawasi golok terbang yang terjatuh ditanah itu sambil tertawa menyeringai kemudian ia berpaling dan berkata kepada Tiat Bok Tay “Jikalau bukan karena serangan jarak jauh losiansu, tepat pada saatnya, Teng Soan pasti akan terluka oleh golok terbang itu."

“Kekuatan tenaga orang yang melancarkan golok terbang ini, sesungguhnya hebat sekali. Jikalau jugaan lolap tidak keliru, orang yang melancarkan golok terbang ini tentu berada sejauh lima tombak lebih......" berkata Tiat Bok Tay sambil menghela napas. “Teng sianseng memegang kunci keselamatan rimba persilatan. Lolap mengharap dengan sangat supaya sianseng dapat menjaga keselamatan sendiri. Duduk diatas kereta memang dapat melihat keadaan di sekiranya, dapat menyaksikan adanya sesuatu parobahan, tetapi berada di tempat setinggi itu, merupakan suatu sasaran yang terlalu menyolok. ”

“Terimakasih atas perhatian siansu," berkata Teng Soan sambil tertawa dan memberi hormat kemudian masuk kedalam keretanya.

Dari jauh terdengar suara Auw-yang Thong berkata: “Ciu Tay Cie, kau bertugas menjaga keselamatan Teng sianseng. Apabila ada terjadi apa2 atas diri sianseng, kau jangan ketemu aku lagi."

Ciu Tay Cie menerima baik tugas itu, ia berdiri didepan kereta Teng Soan.

Tiat Bok Taysu tiba2 menghampiri kereta Teng Soan dan berkata dengan suara perlahan: “Sianseng, anak buah Kun- liong Ong sudah berada dekat disekitar ini? Bahkan tadi sudah terdengar nyata suara beradunya senjata, tetapi mengapa sekarang mendadak tenang kembali?” “Selagi menghadapi hujan angin ribut, sudah tentu ada ketenangan. Anak buah Kun-liong Ong bukan saja sudah berada disini bahkan jumlahnya banyak sekali. Diantaranya juga terdapat orang2 kuat yang tidak sedikit. Tidak antara lama, pasti akan melancarkan serangan yang hebat”

Sementara itu dari semak2 tampak gerakan bayangan orang yang berjalan mundur.

Teng Soan berkata dengan suara perlahan: “Taysu, anak buah Kun-liong Ong sudah mulai mendesak, delapan hulubalang golongan pengemis. Sudah menggeser mundur. "

Tiba-tiba Auw-yang Thong dan Hui Kong Leang sudah melompat kedepan kereta Teng Soan.

“Barisan yang sianseng bentuk, memakan tempat yang berapa luas?”

Teng Soan berpikir sejenak, baru menjawab: “Dengan kereta siaote ini sebagai pusat, memakan tempat kira2 dua tombak persegi."

“Dengan dibantu oleh Tiat Bok Taysu dan Hui tay-hiap dengan sepenuh tenaga, mungkin dapat bertahan untuk sementara” berkata Auw-yang Thong sambil menganggukkan Kepala.

Hui Kong Leang tiba2 tertawa terbahak-bahak, “Sekarang ini aku siorang she Hui sudah merupakan salah satu anggota golongan pengemis. Pangcu ada perintah apa, silahkan perintahkan saja”

Sementara itu, barisan delapan hulubalang per-lahan2 bergerak mundur, ditangan mereka semua sudah memegang senjata.

Tiba-tiba terdengar suara orang berkata dengan suara nyaring: “Siapakah diantara kalian yang menjadi pangcu golongan pengemis? Harap maju menjawab." Auw-yang Thong berpaling mengawasi Tiat Bok Taysu sambil tersenyum, selagi hendak membuka, sudah didahului oleh Hui Kong Leang: “Siapa yang demikian kurang ajar. Pangcu kita adalah seorang berderajat tinggi, bagaimana kau boleh perintah sesukanya?. Kalau kau bicara majulah kemari!"

Terdengar pula suara orang itu: “Aku siorang tua adalah Koo Pat Kie, salah seorang raja muda Kun-liong Ong”

“Ada raja muda segala, jikalau kau hendak menjumpai pangcu kita, kau harus menurut peraturan dunia Kang ouw, datang sendiri untuk menemuinya." membentak Hui Kong Leang

“Hem, kau sudah terkurung rapat oleh kita tetapi masih tak tahu diri.... apabila bukan karena perintah Ong-ya, tadi2 aku sudah perintahkan untuk menggempur."

“Kau mempunyai kepandaian apa, boleh keluarkan semua."

Suara itu berhenti sekian lama kemudian terdengar pula “Baiklah! Sebagai orang yang bertugas, apa boleh buat aku harus menjumpainya. Sekarang juga aku hendak pergi."

Auw-yang Thong mengawasi Teng Soan sejenak lalu berkata: “Sianseng, keadaan sekarang ini, kita seolah-olah seperti ikan dalam jaring, tetapi mengapa Kun-liong Ong tidak mau mengeluarkan perintah menyerang? Sebaliknya kirim orang untuk berunding dengan kita?"

“Kun-liong Ong tidak menduga kita berani menempuh bahaya seperti ini” menjawab Teng Soan sambil tersenyum.

Tiat Bok Taysu tiba2 berkata: “Utusan Kun-liong Ong sudah sampai."

Seorang laki2 tinggi tegap dengan senjata ruyung perak dipundaknya telah datang menghampiri dengan tindakan lebar. Pada saat itu delapan hulu balang masing2 sudah mundur ketempatnya sendiri2 untuk membentuk barisan.

Auw-yang Thong segera memerintahkan Ciu Tay Cie untuk menyambut utusan Kun-liong Ong.

Dibelakang laki2 tegap itu mengikuti seorang tua pendek kurus.

Laki2 tegap itu tiba2 mengangkat senjata di tangannya seraya berkata: “Minggir."

Ciu Tay Cie diam2 juga memuji laki2 yang gagah itu, ia maju menyambut sambil berkata pada delapan hulu balang: “Pangcu keluarkan perintah untuk menyambut tetamu, kalian minggirlah."

Barisan delapan orang itu per-lahan2 bergerak menjadi dua, sehingga di-tengah2 terbuka satu jalanan.

Lelaki tegap itu mengawasi Ciu Tay Cie sejenak, se- konyong2 minggir kesamping.

Orang tua pendek kurus berjalan dengan tindakan lambat masuk kedalam barisan.

Ciu Tay Cie memberi hormat dan berkata dan berkata pada laki2 tegap itu “Bolehkah aku numpang tanya nama saudara?"

“Aku yang rendah Kim Goan Pa" menjawab laki-laki tegap itu.

“Nama itu sungguh tepat dengan orangnya, siaote sendiri bernama Ciu Tay Cie," berkata Ciu Tay Cie.

Kim Goan Pa tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata: “Sudah lama aku mendengar kabar nama besar pengawal besi dari golongan pengemis, sungguh beruntung hari ini aku bisa beremu muka dengan saudara. "

“Ah, saudara terlalu memuji." “Menurut apa yang tersiar dikalangan Kang-ouw, katanya kau merupakan salah seorang pengawal yang paling kuat. Aku sesungguhnya tidak percaya, sebentar lagi kita perlu mengadu kekuatan."

“Aku bersedia mengiringi kehendakmu."

“Bagus! Nanti kita boleh mengadu kepandaian dengan tangan kosong ataupun senjata, terserah kehendakmu."

Setelah itu ia berjalan memasuki barisan mengikuti orang tua pendek kurus tadi.

Ciu Tay Cie yang berjalan dibelakangnya, matanya mengawasi senjata ruyung peraknya yang bulat besar itu, dalam hatinya diam-diam berpikir: “orang ini bisa menggunakan senjata yang begini berat, tenaganya pasti besar sekali, aku harus hati-hati menghadapinya”

Orang tua pendek kurus berjalan ke depan Auw-yang Thong sejarak tiga langkah baru berhenti, kemudian memberi hormat dan berkata: “Aku yang rendah Koo Pat Kie, raja muda dari utara. Atas perintah Ong-ya datang menjumpai pangcu untuk mengadakan perundingan."

“Kami bersedia mendengarkan," menjawab Auw yang Thong dengan sikap agung.

Mata Koo Pat Kie berputaran mengawasi orang orang disekitarnya, kemudian berkata: “Kalian semua sudah terkurung ditempat ini, bagaikan ikan dalam jaring."

“Tentang ini tidak perlu kau memberi peringatan” berkata Auw-yang Thong dingin

“Diempat penjuru tempat kalian berpijak, sudah terkurung oleh obat peledak dan kain kering. Apabila kita membakarnya, maka keadaan sekitar ini segera terkurung oleh api. Kecuali tuan2 mempunyai sayap yang bisa terbang keangkasa, sudah tidak dapat lolos dari bencana ini." Auw-yang Thong yang mendengarkan diam2 juga terkejut, apabila benar demikian adanya, sesungguhnya sangat menakutkan, namun demikian ia masih tetap berlaku tenang, sambil tertawa ia berkata: “Dengan api membakar alang2 ditanah datar seluas sepuluh pal ini, sesungguhnya merupakan satu hal yang bagus sekali. "

“Namun demikian Ong-ya sesungguhnya tidak ingin tuan- tuan dibakar hidup2, maka perintahkan aku yang rendah datang kemari menjumpai pangcu"

“Kalau benar demikian halnya, Kun-liong Ong masih merupakan seorang yang baik hati "

“Ucapanku ini, setiap patah kata keluar dari hati sanubariku, harap pangcu jangan anggap begitu saja"

Auw-yang Thong berpaling mengawasi Teng Soan sejenak, kemudian mengawasi Ko Pat Kie, setelah itu haru berkata: “Tolong sampaikan jawabanku pada Kun-liong Ong, katakan saja bahwa kami sangat berterima kasih atas kebaikannya."

“Kalau begitu, jadi Pangcu sudah bertekad hendak mempertahankan tempat ini?"

Hui Kong Leang tiba2 menyela dengan suara keras: “Pembicaraanmu sebetulnya sudah habis atau belum? Pangcu kita bukan orang sembarangan, mana ada waktu menemani kau ngobrol disini?"

Sinar mata Ko Pat Kie yang tajam menyapu keadaan sekitarnya, tiba2 tertawa terbahak-bahak, kemudian berpaling dan berkata kepada Kim Goan Pa: “Mari kita pulang."

Auw-yang Thong mengawasi berlalunya Koo Pat Kie dengan mulut bungkam.

Teng Soan tiba2 berkata dengan suara perlahan: “Orang ini setelah kembali, Kun-liong Ong pasti mengeluarkan perintah melakukan serangan. ” “Sianseng, kedatangan orang ini sangat mencurigakan," berkata Auw-yang Thong.

“Satu hari kita belum mundur, maka barisan sungai berdarah itu, Kun-liong Ong tidak dapat membentuknya. Ia kirim utusan menjumpai pangcu.... maksudnya, kesatu untuk melihat kekuatan kita, dan kedua hendak membujuk dengan perkataan manis, supaya kita angkat kaki dari sini."

Pada saat itu tiba2 terdengar suara siulan tajam.

Suara ita segera disambut oleh orang2 yang bersembunyi disekitarnya.

Teng Soan tiba2 berkata kepada kusirnya: “Lepaskan keledai kita, biarlah ia melarikan diri"

Sang kusir itu tidak berkata apa2, tetapi ia menurut dan membuka tali keledainya.

Teng Soan berkata dengan suara nyaring “Pangcu, Tiat Bok Taysu, harap membantu delapan hulubalang dengan tenaga sepenuhnya, jangan hiraukan diriku lagi."

Auw-yang Thong berpaling dan berkata: “Sianseng. "

Teng Soan menggerakkan pesawat diatas kereta itu mengeluarkan suara bergeraknya pesawat. Empat buah papan, lambat-lambat bergerak keatas mengalingi diri Teng Soan.

Tiat Bok Taysu yang menyaksikan itu berdiri melongo, ia berkata: “Dizaman dahulu Khong Bieng pernah menggunakan kuda dan kerbau kayu sebagai alat peperangan. Hal ini merupakan suatu kegaiban hingga saat dan sianseng dengan keretanya yang dapat melindungi keselamatan ini. "

Pada saat itu, barisan anak panah tiba2 membuka serangannya.

Tiat-bok Taysu menggunakan lengan jubahnya yang lebar untuk menyambut serangan anak panah demikianpun Auw- yang Thong, Hui Kong Leang, Ciu Tay Cie, Pek Kong Po dan lain2nya, masing2 menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menyambut serangan anak panah itu. Tiba-tiba dari dalam kereta yang sudah dilindungi papan itu terdengar suara Teng Soan: “Pangcu dan taysu, sebaiknya menggunakan senjata. Pertempuran ini sungguh hebat. "

Anak panah yang menyambar bagaikan hujan itu sudah terhalang oleh kekuatan tenaga dalam betapa orang itu, seolah-olah kebentur dengan tembok dinding yang tidak berwujud, pada jatuh di tanah.

Pada saat itu serangan anak panah nampak semakin gencar.

Hui Kong Leang yang lebih dulu mengetahui gelagat tidak baik, ia berkata dengan suara nyaring: “Pangcu, kita tidak boleh terpancing oleh akal muslihat musuh, jangan lagi menggunakan kekuatan tenaga dalam menyambut anak panah ini, kita harus gunakan senjata tajam."

Mereka benar2 tidak menggunakan kekuatan tenaga dalam lagi, masing-masing pada menyingkir.

Sebentar kemudian terdengar suara nyaring beberapa puluh batang anak panah menghujani kareta Teng Soan.

Papan yang melindungi kereta Teng Soan itu nyata amat kuat, sehingga tidak dapat ditembusi oleh anak panah.

Dari dalam kereta terdengar pula suaranya Teng Soan: “Harap tuan2 menggunakan senjata untuk menghadapi musuh"

Sementara itu terdengar pula suara pesawat rahasia dalam kereta Teng Soan bagian belakang kereta itu tiba2 terbuka dua lobang kira-kira dua kaki garis tengahnya. Dari dalam lobang itu perlahan2 bergerak sebuah papan yang diatasnya penuh dengan beberapa jenis senjata tajam. Auw-yang Thong sungguh tidak menduga bahwa kereta itu mempunyai perlengkapan demikian rupa. Meskipun hatinya merasa heran, tetapi diluarnya masih berlaku tenang. Ia bergerak lebih dulu mengambil sebilah pedang panjang seraya berkata: “Saudara-saudara apabila lupa membawa senjata, silahkan pilih sendiri."

Tiat Bok Taysu dan Hui Kong Leang tidak membawa senjata, tetapi pada saat itu mereka tidak berani berlaku gegabah, hingga masing memilih senjata yang cocok bagi mereka

Hui Kong Leang berkata sambil menarik napas perlahan: “Nampaknya kereta Teng Soan ini masih ada khasiat lagi "

Dari dalam kereta terdengar suara Teng Soan “Kereta ini belum terhitung seberapa gaib, tetapi di dalam keretaku ini ada tersembunyi dua belas cabang senjata rahasia. Senjata rahasia ini termasuk asap racun, api, air beracun, jarum dan paku yang sangat berbisa. Kalau bukan dalam keadaan terpaksa tidak akan digunakan secara sembarangan."

Sementara itu dari jurusan selatan terdengar suara siulan tajam, beberapa puluh orang berpakaian hitam dengan masing2 membawa senjata tajam itu menerjang.

Barisan Pat-kwat-tin delapan hulu halang juga mulai bergerak, tetapi barisan itu per-lahan2 mulai memperkecil.

Hui Kong Leang tiba2 menarik tangan Pek Kong Po seraya berkata: “Jalan, mari kita bantu mereka."

Pek Kong Po terkejut, ia berkata: “Terima kasih atas penghargaanmu, biarlah kuamabil senjata dulu." Ia lalu mengambil dua bilah pedang panjang dan dua batang senjata yang berbentuk alat tulis.

“Seorang diri mengapa kau membawa senjata sedemikian banyak?" bertanya Hui Kong Leang. Sebelum Pek Kong Po menjawab, sudah terdengar suara beradunya senjata tajam, musuh yang menyerang dari selatan, ternyata sudah menyerbu berteriak-teriak. Orang2 itu sambil bergandengan tangan menyerang dengan hebat. Dengan caranya itu sehingga merupakan satu barisan berantai yang sangat kokoh.

Barisan Pat-kwat-tin delapan hulubalang itu, sesungguhnya mempunyai gerakan2 dan perobahan-perobahan yang aneh. Barisan itu bukan saja merupakan suatu benteng yang kokoh kuat, bahkan tiap gerakannya demikian sempurna, sehingga tidak mudah ditembus lawannya.

Tetapi serbuan musuh yang bagaikan banteng terluka tanpa menghiraukan jiwanya sendiri itu telah merepotkan barisan itu sendiri.

Barisan Kun-liong Ong itu, ternyata terdiri dari barisan berantai satu sama lain, meskipun ada banyak yang luka atau binasa, namun satu sama lain saling terikat sehingga gerakannya tidak leluasa lagi.

Barisan hulubalang, jelas sudah terpengaruh oleh barisan luar biasa itu, sehingga gerakannya tidak leluasa lagi.

Hui Kong Leang melompat lagi, sebelum kakinya menginjak tanah, ia sudah melancarkan sera ngan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam

Barisan anak buah Kun-liong Ong segera tertahan oleh serangan Hui Kong Leang. Barisan itu meskipun hebat serangannya, tetapi juga ada cacadnya, karena orang2 yang mati dan terluka parah, semua masih terikat dengan yang masih hidup sehingga merupakan satu beban berat bagi yang masih hidup. Sudah tentu mempengaruhi gerakan mereka. Maka ketika diserang hebat oleh Hui Leang, segera timbul kekacauan.

Senjata golok besar Hui Kong Leang terus diputar demikian rupa, banyak korban yang jatuh di tangannya. Dengan demikian barisan yang terdiri dari dua puluh orang lebih yang terikat itu, setengahnya sudah binasa atau terluka, sehingga kekuatannya banyak berkurang.

Dari jauh terdengar suara siulan, barisan itu tiba2 ditarik mundur.

Medan pertempuran mendadak sunyi, ditempat itu hanya tampak darah merah dan potongan tangan atau kaki orang- orang yang menjadi korban.

Auw-yang Thong menarik napas panjang dan berkata: “Sianseng, dengan cara demikian kejam Kun-liong Ong menggunakan anak buahnya. Pertempuran ini baik menang atau kalah, semua akan merupakan suatu mala petaka yang sangat menakutkan. "

Dari dalam kereta terdengar jawaban Teng Soan: “Orang- orang itu semua telah diberi obat berbisa oleh Kun-liong Ong hingga tidak takut mati, jalan satu2nya ialah berusaha mereka lekas sadar."

Tiba-tiba terdengar suara nyaring, segumpal sinar pedang dengan cepat meluncur kearah dimana orang orang golongan pengemis berada.

Dari gerombolan semak2 bergerak beberapa bayangan hitam, merintangi majunya sinar pedang itu.

Karena terpisah agak jauh, lagi pula alang2 itu sangat lebat, sehingga tidak nampak jelas keadaan pertempuran, hanya tampak bergeraknya bayangan2 orang dan senjata, dapat diduga bahwa pertempuran itu sengit sekali.

Auw-yang Thong menarik napas panjang dan berkata: “Entah siapa orang itu, yang telah dikurung rapat oleh anak buah Kun-liong Ong?"

Saat itu hanya tampak berkelebatnya sinar pedang jyang sebentar2 melesat tinggi dan sebentar2 berputar, hingga bayangan hitam yang mengurung itu, terdesak semakin kocar- kacir keadaannya.

Hui Kong Leang segera berkata: Ilmu pedang orang itu, sudah termasuk golongan yang sudah tidak ada taranya, sudah tentu merupakan salah seorang ternama dari rimba persilatan."

“O Mi To Hut, semoga ia dapat memecahkan barisan yang mengurung dirinya itu, supaya menggagalkan kepungan anak buah Kun-liong Ong," berkata Tiat Bok Taysu.

Sementara itu terdengar pula suara siulan panjang, sinar pedang itu tiba2 terlepas dari kepungan dan lari kearah Auw- yang pangcu.

Bayangan hitam itu terus mengejar dibelakangnya.

Dari gerombolan alang2 muncul pula serombongan bayangan hitam yang merintangi maju orang itu, sehingga orang itu terkepung lagi.

Tetapi tidak lama kemudian, orang itu sudah berhasil lolos lagi dari kepungan.

Hui Kong Leang yang menyaksikan kejadian itu, menghela napas panjang dan berkata: “Orang itu bukan saja mahir ilmu pedangnya, tetapi hebat juga kekuatan tenaga dalamnya, dengan beruntun melakukan pertempuran demikian sengit, masih bisa lolos dari kepungan musuhnya."

Sementara itu dari dalam gerombolan alang alang kembali muncul beberapa puluh orang mengurung orang itu lagi.

Auw-yang Thong tiba2 berpaling dan berkata: “Taysu, kepandaian orang itu sangat tinggi sekali. Sungguh sayang apabila terluka ditangan orang2 Kun-liong Ong, mari kita bantu padanya, entah bagaimana pikiran Taysu?”.

“Lolap juga bermaksud begitu," menjawab Tiat Bok Taysu. “Baik mari kita jalan!" Hui Kong Leang tiba2 melintangkan tangannya dan berkata: “Kedudukkan pangcu sangat penting bagaimana boleh menempuh bahaya secara sembarangan, biarlah hambamu yang pergi bersama-sama dengan Tiat bok Taysu."

“Kita tidak perlu pergi lagi, orang itu sudah berhasil lolos dari kepungan," berkata Tiat-bok Taysu.

Benar saja orang itu sudah berhasil menembus barisan orang-orang yang mengepung dirinya, dan kini sudah berada tidak jauh sehingga dapat dilihat dengan tegas oleh Auw-yang Thong dan lain-lainnya.

Orang itu berpakaian baju berwarna hijau, tangan kanannya membawa senjata pedang, tangan kirinya memondong seorang perempuan berbaju putih yang rambutnya terurai kebawah.

Badan perempuan berbaju putih itu sudah penuh kecipratan darah.

Perempuan itu mengalingi wajah orang itu sehingga Auw- yang Thong dan lain2nya tidak dapat menduga berapa usianya orang itu.

Gerakan orang itu gesit sekali, dalam waktu sekejapan sudah berada dua atau tiga tombak didepan Auw-yang Thong.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras, dua sosok bayangan orang melayang turun dari tengah udara merintangi majunya orang itu.

Orang itu segera menggerakkan pedangnya, melakukan serangan terhadap dua orang yang merintangi di depannya.

Dua orang yang merintangi itu, seorang memegang golok besar, dan seorang lagi menggunakan senjata yang bentuknya seperti alat tulis.

Ketika diserang oleh orang itu, dua orang itu balas menyerang dengan serentak, ketika senjata dua pihak saling beradu orang berpakaian hijau itu nampak mundur dua langkah. Dua orang yang merintangi itu, nampaknya merupakan orang-orang yang berkepandaian tinggi.

Orang berbaju hijau itu meskipun sudah beberapa kali bertempur sengit, tapi agaknya belum tertampak tanda-tanda lelah, gerakkan pedangnya masih menunjukkan hebatnya kekuatan tenaganya. Sayang, kekuatan dua orang yang merintangi itu terlalu kuat, mereka tetap menahan majunya orang itu.

Ini merupakan suatu pertempuran hebat, bukan saja kedua pihak masing2 sudah mengeluarkan gerak tipunya yang luar biasa, tapi kekuatan tenaga dalam mereka nampaknya juga berimbang, sudah beberapa puluh jurus mereka bertempur, masih belum tertampak pihak mana yang lebih unggul.

Auw-yang Thong yang menyaksikan pertempuran itu, diam2 juga terkejut, ia tidak tahu berkedudukan apa dua orang yang merintangi orang berbaju hiijau itu didalam kalangan anak buah Kun-liong Ong....

Selagi berpikir, tiba-tiba terdengar suara siulan tajam, dari gerombolan alang2 kembali muncul beberapa bayangan orang dan mulai mengepung orang berpakaian hijau itu.

Tiat Bok Taysu berkata sambil menghela napas panjang: “Dengan jumlah yang banyak, anak buah Kun liong Ong itu menghadapi satu orang, apalagi orang itu masih memondong tubuh seorang perempuan, nampaknya kita tidak boleh menonton dengan peluk tangan begini saja. "

Pada saat itu pedang orang berbaju hijau itu tiba2 memancarkan sinarnya, sehingga tempat sekitar tujuh delapan kaki terkurung oleh sinar pedang itu.

Sebentar pula terdengar suara jeritan ngeri, satu kepala manusia terbang dari gumpalan sinar pedang itu. Kepala itu ternyata ada kepalanya orang bersenjata golok besar tadi.

Orang berbaju hijau itu kakinya bergerak, hingga tubuh orang yang sudah tidak berkepala itu menerjang membentur orang-orang disekitarnya. Saat itu terdengar suara bentakan keras orang berbaju hijau itu: “siapa yang merintangi aku, akan mampus!"

Suaranya itu disusul dengan gerak serangannya yang hebat.

Serangan itu dilakukan demikian hebat, sehingga orang2 yang berada disekitarnya tidak berhasil merintanginya.

Hui Kong Leang tanpa sadar sudah mengeluarkan pujian dari mulutnya.

Sebelum menutup mulutnya orang berbaju hijau itu sudah tiba didepan barisan Pat-kwat-tin.

Auw-yang Thong segera mengeluarkan perintah: “Biar ia masuk."

Orang berbaju hijau itu melompat masuk kedalam barisan Pat-kwat-tin tanpa rintangan.

Auw-yang Thong lalu memberi hormat dan berkata: “Silahkan tuan beristirahat dulu sebentar."

Orang itu lambat2 meletakkan pedang panjangnya, kemudian dengan sangat hati2 ia meletakkan perempuan berbaju putih diatas tanah yang terdapat banyak alang2, kemudian membalas hormat.

Kini Auw-yang Thong baru dapat lihat bahwa orang itu ternyata masih muda belia, usianya barangkali tidak lebih dari duapuluh tahun, wajahnya tampan, perawakkannya tegap, meskipun habis melakukan pertempuran sengit, tetapi tidak tertampak tanda kelelahan, hingga dalam hati merasa sangat kagum. Ia lalu berkata sambil tersenyum: “Ilmu pedang saudara, merupakan salah-satu tokoh terkuat dan beberapa orang yang Auw-yang Thong pernah saksikan."

64

ORANG itu menjura memberi hormat dan berkata: “Ditilik dari sikap dan, dandanan sianseng, tentulah Auw-yang pangcu yang namanya sangat dihormati oleh sahabat2 rimba persilatan."

Orang itu meskipun sudah beberapa kali pernah bertemu muka dengan Auw-yang Thong, tetapi waktu itu terkena pengaruhnya obat, pikirannya tidak jernih, apalagi mukanya sudah berobah karena dipoles dengan obat berwarna, maka satu sama lain sudah tidak mengenali lagi.

“Aku yang rendah benar adalah Auw-yang Thong, dan tuan ini siapa?" berkata Auw-yang Thong.

“Aku yang rendah Siang-koan Kie......" menjawab orang itu sambil memberi hormat.

Tiba-tiba terdengar suara Hui Kong Leang dengan suaranya yang nyaring: “Anak perempuan ini bukankah Khuncu yang menyamar sebagai anak perempuan Pan lo-eng-hiong?"

“Benar, akan tetapi, ia sekarang sudah menjadi orang yang mengkhianati Kun-liong Ong. ” menjawab Siang-koan Kie.

“Apakah ia telah mendapat bahaya yang kemudian telah saudara tolong?" bertanya Auw-yang Thong

“Urusan ini panjang sekali ceritanya, tetapi apabila tidak kuceritakan, barangkali akan menimbulkan kecurigaan tuan- tuan...."berkata Siang-koan Kie sambil menarik napas panjang, kemudian ia menceritakan semua apa yang telah terjadi. “Ada seorang pemuda yang mukanya mirip dengan monyet, entah dimana adanya sekarang?" bertanya Tiat Bok Taysu.

“Dia adalah suteeku sendiri, namanya Wan Hauw."

“llmu meringankan tubuhnya, merupakan salah seorang yang sangat mahir dalam ilmu itu, yang lolap pernah jumpai."

“Taysu terlalu memuji, kepandaian orang2 angkatan muda yang belum berarti apa2 masih mengharap banyak bantuan dari tuan2 golongan tingkatan tua "

Sementara itu mata Siang-koan Kie berputaran mengawasi keadaan disekitarnya.

Ciu Tay Cie merasa tidak senang, ia menegur dengan suara nyaring: “Apa yang kau lihat?"

“Apakah Teng sianseng penasehat dari golongan tuan2 tidak ada disini?"

“Ada keperluan apa, kau katakan saja kepadaku juga sama saja," berkata Auw-yang Thong

“Nona ini terluka parah, sudah lama aku dengar ilmu tabib Sianseng, sangat terkenal dalam rimba persilatan, aku ingin minta pertolongannya untuk memeriksa nona ini, masih dapat ditolong atau tidak?"

Auw-yang Thong mengalihkan pandangan matanya kearah kereta kemudian berkata: “Dalam keadaan seperti sekarang ini, barangkali tidak begitu baik."

Pada saat itu tiba2 terdengar suara siulan, beberapa puluh orang berpakaian hitam menyerbu ke dalam barisan Pat-kwat- tin.

Orang berada paling depan adalah seorang tegap dan tinggi besar, tangannya membawa senjata ruyung perak, sikapnya gagah sekali. Ciu Tay Cie dengan cepat mengambil sebatang ruyung besi dari dalam kereta Teng Soan, kemudian berkata kepada Auw- yang Thong: “Senjata orang itu sangat berat ia pasti mempunyai kekuatan tenaga sangat besar, bagaimana kalau hamba yang pergi menghadapinya?" 

“Kau jangan berlaku gegabah, kau harus jaga jangan sampai barisan hulu balang itu terjadi perobahan," berkata Auw-yang Thong sambil menganggukkan kepala.

Ciu Tay Cie menyahut baik, kemudian sambil menenteng senjatanya maju menyambuti musuh.

Siang-koan Kie mengawasi gadis baju putih itu yang memejamkan matanya, ia menghela napas panjang kemudian berkata: “Kita hendak pergi."

Auw-yang Thong terperanjat, dan berkata: “Saudara Siang- koan tunggu dulu."

“Ada urusan apa?" bertanya Siang-koau Kie sambil berpaling.

“Ilmu pedang saudara Siang-koan, merupakan ilmu pedang terbaik dari apa yang pernah siaote saksikan. "

“Kalau pangcu ingin memberi nasehat, aku bersedia mendengarkan, orang yang terluka, keadaannya sangat berbahaya, mari aku tidak dapat menunggu terlalu lama”.

“Kepandaian ilmu silat dan ilmu pedang saudara, meskipun sudah mencapai ketaraf yang tidak ada taranya, tetapi kalau mau digunakan untuk menghadapi orang2 Kun-liong Ong dalam waktu yang agak lama, barangkali terlalu banyak menghamburkan tenaga, apalagi kau masih membawa orang sakit yang demikian berat."

“Aku tidak boleh tidak harus menyediakan seluruh tenaga dan kekuatan yang masih ada. Sedapat mungkin memperpanjang nyawanya untuk menantikan kedatangan saudaraku itu, supaya mereka dapat berjumpa untuk penghabisan kali“

“Dia sebetulnya terluka karena apa? Bolehkah aku memeriksanya sebentar? Mungkin aku dapat membantu sedikit tenaga."

“Ia telah terkena jarum beracun melekat tulang." “Namanya saja begitu hebat, sudah pasti adalah perbuatan

Kun-liong Ong!"

“Memang benar, dia sebetulnya boleh bersetia terus kepada ayah angkatnya, karena dengan demikian ia akan mendapat ampun dari ayah angkatnya juga tidak sampai mengalami penderitaan karena jarum beracun itu, tetapi ia lebih suka menderita, juga tidak ingin mendirikan pahala untuk menebus dosanya."

Auw-yang Thong memeriksa badan perempuan itu tetapi tidak menemukan sedikitpun tanda luka, hingga hatinya mulai cemas, katanya “Nampaknya kita terpaksa minta Teng sianseg yang memeriksanya."

Tiba2 dari dalam gerombolan alang2 terdengar suara berat: “Luka apa, bolehkah kuperiksa?"

Siang-koan Kie berpaling, dari dalam gerombolan alang2 yang lebat, menongol satu kepala yang berambut dan berjenggot putih seluruhnya.

Wajah orang itu nampak keren, meskipun cuma menongolkan kepalanya, tetapi sudah cukup menyeramkan.

Siang-koan Kie tahu bahwa Nie Suat Kiao keadaannya sudah seperti pelita yang sudah akan habis minyaknya. Sekalipun dia sendiri bermaksud hendak menyembuhkan dengan tanpa menghiraukan harus menempuh segala bahaya, tetapi Nie Suat Kiao yang terluka parah nampaknya sudah tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Dalam keadaan demikian maka ketika ia mendengar perkataan orang tua itu, segera menghampirinya.

Orang tua berbaju hijau itu mengulurkan kedua tangannya, menyambut tubuh Nie Siiat Kiao, kemudian masuk lagi kedalam gerombolan alang2.

Sementara itu Ciu Tay Cie sudah mulai bertarung dengan Kim Goan Pa yang membawa senjata ruyung perak.

Keduanya sama-sama menggunakan senjata berat, sama- sama mempunyai tenaga besar, tidaklah heran kalau pertempuran itu merupakan suatu pertempuran keras lawan keras hingga suara beradunya dua senjata terdengar dimana- mana.

Kim Goan Pa ternyata sangat gagah. Ia memainkan ruyungnya demikian rupa, kalau bukan Ciu Tay Yang bertenaga besar, lawannya itu pasti sudah lama remuk kepalanya.

Pada saat itu, matahari sudah naik tinggi, dibawah teriknya sinar matahari, rombongun anak buah Kun-liong Ong bagaikan gelombang air laut menyerbu dari empat penjuru.

Auw-yang Thong mengawasi keadaan itu sejenak, ia meng- hitung2 sebentar, kemudian berkata sambil menggelengkan kepala dan menghela napas: “Dalam sejarah rimba persilatan, pertempuran besar seperti ini, barangkali merupakan yang pertama kali, kali ini musuh mungkin mengerahkan orang beberapa ratus jiwa banyaknya."

Dari dalam kereta terdengar suara Teng Soan berkata: “Jumlah musuh meskipun banyak, juga pasti hendak menyerbu tanpa menghiraukan banyaknya korban. Namun ada barisan delapan hulu balang yang dapat menahannya untuk sementara. Lama kelamaan barisan itu mungkin tidak dapat menahan serbuan musuh, maka masih minta bantuan Taysu dan Ciu Tay Cie.... Biar bagaimana, kita harus mencegah jangan sampai barisan delapan hulu balang itu ada yang terluka, apabila ada seorang saja yang binasa atau terluka, niscaya seluruh barisan akan tergoncang."

“Kami sekalian sudah tentu akan membantu sedapat mungkin kepada delapan hulu balang kita. Tetapi dalam pertempuran, senjata itu tidak ada matanya, rasanya tidaklah mungkin kalau mau menghindarkan jatuhnya korban, maka sebaiknya sianseng lekas mengatur rencana yang lebih baik," berkata Auw-yang Thong.

“Pangcu ber-sama2 yang lain sedapat mungkin bantu mempertahankan kedudukkan barisan delapan hulu Lalang, biarlah siaote yang mengatur pergerakan barisan...." berkata Teng Soan.

Ia menghela napas panjang kemudian berkata pula: “Kun- liong Ong agaknya sudah mengetahui perubahan dari gerakan barisan itu, maka ia mulai menyerbu, serangan itu agaknya sudah mempengaruhi keadaan barisan kita, maka apabila ada kesalahan sedikit, akan mengakibatkan hancurnya seluruh barisan. Untung aku sudah menduga lebih dulu, dengan mengandalkan barisan itu saja, tidak mungkin mengelabui mata Kun-liong Ong, maka diam2 aku sudah mengadakan banyak perubahan. Kecuali ada dua orang saja yang binasa dalam barisan kita itu, sehingga sulit mempertahankan kedudukannya. Jikalau tidak, betapapun besar jumkahnya orang-orang Kun-liong Ong, juga tidak mampu menembus garis barisan kita itu."

Pada saat itu tiba2 terdengar suara lonceng yang amat nyaring.

Barisan dari delapan hulubalang itu, tiba2 sudah mulai diperkecil, dalam waktu singkat cuma tinggal satu lingkaran yang tidak lebih diri dua tombak.

Ditengah-tengah tempat kosong lingkaran itu, ada sebuah kereta dan tumpukan mayat manusia. Suara baradunya senjata bersama suara berteriaknya orang banyak, menambah tegangnya suasasan.

Sementara itu terdengar pula suaranya Teng Soan: “Harap pangcu lekas keluarkan perintah, semua anak buah kita golongan pengemis, tidak boleh menerjang barisan atau menyarang musuh dengan sesuka hatinya."

Auw-yang Thong segera keluarkan perintah kepada Ciu Tay Cie supaya lekas kembali.

Ciu Tay Cie yang baru menyambut serangan Kun Goan Pa, ketika mendengar panggilan pangcunya lalu berkata: “Pangcu sedang memanggil aku entah ada keperluan apa? Sebentar kita bertempur lagi."

“Baik, aku juga masih ingin mendapat keputusan dari pertempuran ini."

Ciu Tay Cie lalu meninggalkan lawannya dan balik pada pangcunya.

Begitu ia mundur, delapan hulubalang itu mulai bergerak untuk menutup jalannya yang terluang.

Kini Goan Pa dengan tangan memegang senjata, matanya memandang kepada barisan delapan hulubalang itu, ia mengharap bisa menemukan lowongan untuk diserbu.

Tak disangka barisan itu demikian kokoh kuat, sedikitpun tidak ada tempat luang untuk diserbunya.

Pada saat itu sekitar barisan delapan hulubalang itu, sudah penuh dengan musuh yang berjumlah lebih banyak.

Yang mengherankan adalah musuh yang jumlahnya begitu banyak tidak segara turun tangan, agaknya sedang menunggu perintah lebih jauh.

Tetapi itu hanya kesunyian sebelum hujan angin tiba, sebentar lagi akan berlangsung suatu pembunuhan besar2an yang tidak ada taranya. Auw-yang Thong sendiri meskipun diluarnya nampak tenang, tetapi ketika menyaksikan jumlah musuh yang begitu banyak, dalam hati juga diam2 merasa khawatir.

Pada saat itu Ciu Tay Cie tiba2 bertanya: “Entah ada keperluan apa pangcu panggil pulang hamba?"

“Pada waktu ini, jumlah musuh terlalu banyak, sedang pihak kita sedikit sakali, maka kita tidak boleh melawan dengan kekerasan, Kepandaian dan gerak tipu orang itu tadi mirip denganmu, hanya ilmu silat yang mengutamakan kekerasan, apabila pertempuran dilanjutkan terus, pasti ada salah, satu yang binasa atau se-tidak2nya terluka parah. "

Tiba2 terdengar suara derap kaki kuda, beberapa ekor kuda lari mandatangi.

Penunggang kuda yang berada paling depan, adalah seorang berpakaian panjang barwarna hijau, orang itu wajahnya pucat kuning. Kecuali dua biji matanya yang bergerak berputaran, mukanya sedikitpun tidak mengandung perasaan apa2.

Dari dalam kereta tiba2 terdengar suara Teng Soan: “Kun- liong Ong telah tiba."

Auw-yang Thong mengawasi rombongan penunggang kuda itu, dibelakang orang berpakaian hijau itu, diikuti oleh tujuh atau delapan penunggang kuda raja muda Koo Pat Kie yang tadi membawa perintah atasannya, juga terdapat dalam rombongan itu.

Hui Kong Leang berkata kepada Auw-yang Thong dengan suara perlahan: “Pangcu orang2 ini mungkin orang2 penting Kun liong Ong, empat raja muda mungkin ada diantaranya."

“Benar, mereka telah datang sendiri untuk menghampiri kita dan melihat keadaan barisan, jelas tekad mereka hendak mengadu kekuatan dengan kita sudah bulat," berkata Auw- yang Thong. Hui Kong Leang meskipun termasuk orang gagah yang tidak kenal takut, tetapi ketika menyaksikan jumlah musuh yang lebih besar dari pihak-nya sendiri, dalam hati juga timbul perasaan jeri, ia berkata sambil tertawa menyeringai: “Kun- liong Ong sudah datang dengan pembantunya yang penting, itulah yang paling baik. Apabila kedua pihak sama2 mengeluarkan orang2 penting untuk mengadu jiwa, rasanya dapat menghindarkan bencana yang lebih besar. "

Bicara sampai disitu, ia b-rdiam sejenak, kemudian berpaling dan berkata kepada Tiat Bok Taysu: “Padri tua, aku hendak menantang kepada pembantu Kun-liong Ong yang terkuat. Apakah kau berani coba-coba. "

Tiat Bok Taysu mengawasi musuh2nya sebentar kemudian berkata: “Usia lolap sudah hampir delapan puluh tahun. Apakah kau kira lolap takut mati?. "

Dalam tangannya yang sudah menggenggam senjata golok, kini mengambil lagi sebilah pedang panjang lalu sambungnya: “Orang2 rimba persilatan kata orang2 golongan Siao-lim-sie tidak bisa menggunakan pedang, hari iai lolap coba memecahkan kebiasaan itu, untuk mencoba kekuatan musuh”

Dengan tindakan lebar padri itu menerjang ke luar. “Losiansu tunggu dulu," demikian Auw yang Thong

mencegahnya.

“Pangcu ada urusan apa?" bertanya Tiat-bok Tay su sambil menoleh.

“Jumlah musuh terlalu banyak sedangkan pihak kita sedikit sekali, kekuatan ini sungguh tidak seimbang, apabila kita mengadu kekerasan dengan musuh, kita lebih dulu kalah tenaga......

Hui Kong Leang menyela: “Justru karena kekuatan antara kedua pihak selisih jauh, barulah siaote sengaja menantang orang orang penting dari mereka, asal kita berhasil menjatuhkan beberapa diantaranya, sudah cukup untuk membikin jeri lawannya. Biarlah siaote sama Tiat Bok Taysu yang menantang Kun-liong Ong, baik menang maupun kalah setidak-tidaknya dapat menghambat gerakan musuh."

“Tentang ini, izinkan kami lebih dulu berunding dengan Teng sianseng baru mengambil keputusan."

Jelas bahwa Auw-yang Thong sudah tertarik oleh usul Hui Keng Leang itu.

Dari dalam kereta terdengar suara Teng Soan berkata: “Siasat ini meskipun baik, tetapi bukan merupakan suatu siasat yang terbaik. Bukan aku Hendak membesar-besarkan kekuatan orang lain, tuan-tuan berdua meskipun merupakan tokoh tokoh terkuat dari rimba persilatan, tetapi untuk menghadapi Kun liong Ong, siaote rasa belun mempunyai keyakinan untuk mendapat kemenangan. Apalagi, Kun-liong Ong juga belum tentu turun tangan sendiri. Bukan kali lebih baik simpan tenaga kita, supaya dapat digunakan untuk membantu delapan hulu balang. Asal barisan Pat-kwat-tin ini, tidak sampai dibobolkan oleh musuh, maka kita semua yang ada disini, untuk sementara tidak usah khawatir "

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula: “Tetapi apabila tuan-tuan bisa menghambat waktu Kun-liong Ong, ini sangat menguntungkan untuk jalannya pertempuran."

Mata Auw-yang Thong sebentar memandang Hui Kong Leang, sebentar lagi beralih kepada Tiat Bok Taysu, kemudian berkata: “Mengukur kekuatan musuh dan menilai sesuatu urusan, Teng sianseng belum pernah meleset. Karena ia tidak setuju dengan usul ini, tentunya sudah mendapat siasat lain."

“Lolap selamanya mengakui kecerdikan Teng Sianseng, kalau ia berkata tidak boleh, sudah tentu tidak akan salah lagi," bertata Tiat Bok Taysu.

Beberapa ekor kuda yang berjalan mengitari barisan Pat- kwat-tin, tiba-tiba berhenti. Orang berjubah hijau itu tiba-tiba mengacungkan tangannya dan berkata dengan suara nyaring: “Auw-yang Thong, suruh Teng Soan keluar. "

“Ada urusan apa? Kau bicara denganku sama juga," berkata auw-yang Thong.

“Kuberitahukan kepadamu belum tentu kau mengerti, bukankah seperti menabuh kecapi dihadapan kerbau” berkata Kun-liong Ong dingin.

“Kun-liong Ong, demikian kau menghina kami. Apakah kau tidak merasa itu terlalu sombong?'' berkata Auw-yang Thong gusar.

Kun-liong Ong hanya bersenyum, kemudian berkata: “Bukan menghina kau, Auw-yang pangcu. Aku hendak memberitahukan kepada Teng Soan bahwa segala perubahan rahasia barisan Pat-kwat-tin ini, sudah kuketahui semua, bahkan sudah menemukan caranya untuk memecahkan. Aku minta supaya ia tarik kembali barisan ini, jngann sampai seluruh anak buahnya terbasmi habis."

“Hal ini aku dapat menjawabnya, kau boleh kerahkan seluruh kekuatan untuk menerjang barisan ini...." berkata Auw-yang Thong sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku sudah tahu bahwa bicara denganmu tidak ada gunanya, benar saja tidak salah"

Sementara itu suara siulan yang tajam telah memecahkan suasana sunyi ditanah dataran itu. Musuh yang berada disekitar tempat itu, tiba2 menggerakkan senjata, sudah siap hendak bertindak.

Hui Kong Leang mengawasi Auw-yang Thong sejenak lalu berkata: “Maaf pangcu, siaote masih mengangap perlu menentang Kun-liong Ong"

Jago dari gunung Oey-san ini seumur hidupnya belum pernah terkekang, ia sudah biasa berkelana seorang diri dengan bebas, segala tindak tanduknya selalu menuruti kehendak hatinya sendiri. Maka tanpa menunggu jawaban Auw-yang Thong ia sudah berseru dengan suara keras: “Kun- liong Ong, kau jangan pergi!"

Kun-liong Ong yang sebetulnya sudah berjalan beberapa tombak, ketika mendengar perkataan Hui Kong Leang itu, mendadak hentikan kudanya dan bertanya dengan nada suara dingin: “Siapa?"

“Kun-liong Ong, apakah mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah orangmu yang banyak itu sudah menjadi kebiasaanmu?" berkata Hui Kong Leang sambil tertawa terbahak-bahak.

Wajah Kun-liong Ong yang dingin dan pucat, tidak tampak tanda2nya kalau girang atau marah. Hanya dari nada suaranya menunjukkan bahwa ia sedang murka, jawabnya: “Apakah kau berani melawan aku?"

“Untuk melawan kau, paling banter mati dimedan perang, mengapa tidak berani."

“Kalau begitu kau ternyata ada seorang yang bisa berpikir."

“Siapa yang akan menang dan siapa jaag akan kalah, sekarang masih susah diduga, kau jangan berlaku sombong dulu"

“Hui Kong Leang, bukan maksudku memandang rendah pada dirimu. Dengan sesungguhnya kau bukanlah tandinganku. Ha ha... jikalau kau tidak percaya, aku hendak suruh seorang pembantuku, dia sudah cukup untuk menghadapi kau."

Hui Kong Leang berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong: “Hamba minta izin untuk menghadapi musuh, harap pangcu keluarkan perintah."

Auw-yang Thong berkata sambil mengerutkan keningnya: “Menang atau kalah belum cukup untuk mengukur martabat seseorang. Harap saudara Hui hati2 menghadapi musuh, jangan pikirkan untuk merebut kemenangan saja."

“Hamba mengerti," berkata Hui Kong Leang, kemudian dengan menghunus goloknya maju menghampiri Kun-licng Ong.

Tiat Bok Taysu lalu berkata: “Lolap siap hendak membantu Hui Tay-hiap."

Dengan golok ditangan kiri dan pedang ditangan kanan, Tiat Bok Taysu mengikuti Hui Kong Leang.

Auw-yang Thong mengawasi berlalunya dua orang itu sambil menarik napas panjang, kemudian berpaling dan berkata kepada Teng Soan yang berada didalam kereta: “Sianseng, keadaan sudah sangat mendesak, tidak boleh tidak kita harus melakukan pertempuran ini."

Dari dalam kereta terdengar suara jawaban Teng Soan: “siaote mengerti perasaan pangcu, tetapi dalam keadaan demikian apa boleh buat "

“Hui Tay-hiap baru saja menjadi anggota kita, hingga belum hilang sifat tinggi hati. Tiat Bok Taysu adalah seorang beribadat tinggi dari Siao-liem-sie, apabila aku tidak turun tangan sendiri membantu mereka, dikemudian hari pasti akan menjadi buah mulut sahabat-sahabat rimba persilatan."

“Keadaan sudah telanjur, pangcu terpaksa harus bertindak juga, hanya, sedapat mungkin kita harus berusaha mengulur waktu, untuk menantikan kedatangan bala bantuan."

“Aku minta sianseng yang mengatur semuanya," berkata Auw-yang Thong, kemudian dengan membawa Ciu Tay Cie, keluar dari barisan Pat-kwat-tin.

Pada saat itu Hui Kong Leang dan Tiat Bok Taysu sudah berdiri berhadapan dengan orang yang disuruh oleh Kun-liong Ong. Sedangkan Kun-liong Ong sendiri agaknya tidak bermaksud turut bertempur, ia berdiri sebagai penonton. Perhatiannya agaknya dipusatkan kepada barisan Pat-kwat-tin itu. Jelas bahwa ia sudah mengetahui barisan Pat-kwat-tin itu, kecuali perubahan gerakannya yang biasa agaknya masih mengandung banyak perubahan aneh yang belum pernah dikenalnya.

Pada saat itu dua orangnya Kun-liong Ong berkata dengan nada suara dingin: “Tuan-tuan berdua hendak maju serentak, atau satu lawan satu?"

“Hanya omong saja tidak ada gunanya, siapa yang akan mati segera dapat diketahui." Berkata Hui Kong Leang sambil tertawa dingin.

“Aku si tua bangka ingin main-main tigaratus jurus denganmu."

Orang tua itu adalah Koo Pat Kie yang belum lama berselang pernah membujuk Auw-yang Thong.

“Aku bersedia meluluskan kehendakmu," berkata Hui Kong Leang sambil tertawa dingin.

Dua orang itu sebaya usianya, perawakannya juga hampir sama, semua merupakan orang2 berbentuk pendek kurus.

Koo Pat Kie memandang Hui Kong Leang sejenak tiba2 bergerak tangannya melontarkan satu serangan.

Hui Kong Leang lompat melesat kesamping sejauh lima kaki, sambil membentak: “Keluarkan senjatamu, nanti baru bertempur."

“Aku rasa tidak perlu menggunakan senjata."

Dengan cepat orang tua itu melancarkan serangan lagi.

Hui Kong Leang segera merasakan hebatnya serangan itu, dalam hatinya berpikir: orang ini sungguh hebat kekuatan tenaga dalamnya. Ia segera memusatkan seluruh kekuatan tenaganya ditangan kanan umuk menyambut serangan Koo Pat Kie.

Setelah kedua kekuatan saling beradu, keduanya sama- sama mundur dua langkah.

Koo Pat Kie agaknya tidak menduga Hui Kong Leang sanggup menyambuti serangannya, apalagi kekuatannya ternyata juga berimbang, ia lalu berkata sambil memandang Hui Kong Leang. “Bagaimana? Beranikah menyambuti seranganku lagi?"

“Coba saja, mengapa tidak berani?"

Koo Pat Kie membuat satu lingkaran ditanah, kemudian berkata: “Kita masing2 membuat lingkaran semacam ini sebagai batas, kemudian sama2 melontarkan serangan. Siapa yang terdorong keluar dari lingkaran ini akan dihitung sebagai yang kalah."

Hui Kong Leang menerima baik cara pertempuran itu. Dengan goloknya ia membuat lingkaran yang sama besarnya, kemudian berdiri ditengah-tengahnya, siap untuk melakukan pertandingan.

Koo Pat Kie mengeluarkan suara bentakan keras, kemudian melontarkan serangan dari dua tangannya.

Serangan itu dilakukan dengan beruntun sampai delapan kali.

Hui Kong Leang dapat merasakan bahwa serangan orang tua itu makin lama makin berat, sehingga diam2 terkejat. Pikirnya: “pantas orang ini begini sombong, kiranya mempunyai kekuatan yang begitu berarti. Nampaknya dalam pertempuran ini sedikit sekali kesempatanku untuk mendapat kemenangan”.

Seteiah berpikir, tiba2 terdengar suara bentakan Koo Pat Kie: “Bagaimana? Masih berani melawan aku dengan menggunakan senjata?" Wajah Hui Kong Leang berubah, diam2 ia memusatkan tenaga dalamnya, tangan kanannya diangkat lambat2, dibawah sinar matahari telapakan tangan dan jari tangan Hui Kong Leang sudah berubah menjadi merah.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara Kun-lion Ong: “Hati-hati ia hendak menggunakan serangan tangan berpasir merah."

“Ong-ya jangan khawatir." demikian Koo Pat Kie menyahut.

Hui Kong Leang berkata sambil tertawa dingin: “Beranikah kau menyambut seranganku?"

Dengan cepat tangannya sudah bergerak melancarkan serangan hebat.

“Mengapa tidak berani?"' berkata Koo Pat Kie sambil mengangkat tangan kanannya, benar saja sudah menyambut serangan Hui Kong Leang.

Beradunya dua kekuatan itu menimbulkan angin berputaran disekitar tempat itu.

Hui Kong Leang tiba-tiba maju selangkah, ia melancarkan serangan yang kedua.

Koo Pat Kie mengerutkan alisnya, kembali menyambut serangan itu.

Kali ini Koo Pat Kie segera merasakan gelagat tidak beres, ia merasa kekuatan tenaga Hui Kong Leang yang hebat itu, ternyata mengandung aliran hawa panas yang kuat sekali mendesak disisinya.

Hui Kong Leang berkata lagi: “Beranikah kau menyambut seranganku lagi?"

Tangan kanannya diangkat tinggi, melontarkan serangan yang ditujukan kearah dada lawannya.

Ia hanya menggunakan satu tangan kanannya untuk menyerang musuhnya. Meskipun serangannya dilancarkan tiga kali dengan beruntun, tetapi mengandung banyak perobahan gerak tipu. Dengan kekuatan tenaga Koo Pat Kie, sebetulnya masih cukup waktu untuk menghadapi, tetapi diejek terus menerus oleh Hui Kong Leang, sulit baginya untuk mengundurkan diri. Meskipun ia tahu bahwa serangan tangan berpasir merah itu adalah semacam ilmu dari golongan hitam, apa lagi serangan satu lebih berat, dari yang lain, tetapi ia masih secara tanpa sadar menyambut serangan lawannya.

Ketika ia merasakan ada aliran hawa panas mendesak dirinya, ia sudah tidak keburu menyingkir. Tanpa ampun lagi orang tua itu segera terdorong mundur tiga langkah.

Kun-liong Ong dengan cepat sudah maju memberi pertolongan, dengan jari tangan menotok jalan darah Ciok tie hiat dilengan kanan Koo Pat Kie sambil berkata: “Lekas atur pernapasanmu."

Hui Kong Leang tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Kun-liong Ong, beranikah kau menyambut seranganku?"

“Kalau kau memang hendak mencari mampus sendiri, boleh coba saja," berkata Kun-liong Ong sambil tertawa dingin.

“Aku tidak percaya kau sanggup menyambut seranganku," berkata Hai Kong Leang gusar, lalu melontarkah serangannya.

Kun-liong Ong memperdengarkan suara dihidung lalu mengangkat tangan kanannya, dengan cepit menyambut serangan Hui Kong Leang.

Ketika dua kekuatan tangan saling beradu, telah timbul suara nyaring.

Sesaat itu juga terdengar suara keluhan tertahan Hui Kong Leang, tiba2 mundur terhuyung hujung,

Auw-yang Thong segera maju dan membimbing Hui Kong Leang, disamping itu juga mengeluarkan sebutir obat pel dan menyuruh Hui Kong Leang segera memakannya. Hui Kong Leang dengan muka pucat pasi dan keringat dingin membasahi badannya, menelan pel yang diberikan oleh Auw-yang Thong.

Kun liong Ong berkata sambil tertawa dingin: “Auw-yang Thong apakah kau ingin mengadu kekuatan denganku?"

Sebelum Auw-yang Thong menjawab, sudah didahului oleh Tiat Bok Taysu: “Lolap ingin mencoba kepandaianmu"

Dengan dua rupa senjatanya Tiat Bok Taysu melakukan serangannya.

Kun-liong Ong se-konyong2 melompat kesamping jari tangan kanannya bergerak menotok jalan darah In-tay-hiat Tiat Bok Taysu. Tangan kirinya menggunakan ilmu serangan Kin-na-chiu-hoat, menyambar pergelangan tangan padri tua itu.

Tiat Bok Taysu terdesak mundur dua langkah. Ia merasakan bahwa serangan pembalasan Kun-liong Ong itu, justru menutup semua gerakannya, hingga percuma saja ia mempunyai senjata, ternyata tidak dapat digunakan sama sekali. Kini ia baru diam2 mengagumi kepandaian kepala penjahat itu.

Auw-yang Thong segera memerintahkan Ciu Tay Cie membawa Hui Kong Leang kedalam barisan.

Sementara itu Kun-liong Ong sudah membuka serangannya yang hebat, sehingga Tiat Bok Taysu keteter mundur.

Auw-yang Thong menyaksikan gelagat tidak baik. Tiat Bok Taysu yang terdesak mundur nampaknya sudah tidak mampu melakukan serangan pembalasan. Apabila pertempuran itu dilanjutkan, mungkin akan mengalami kesulitan yang lebih besar, oleh karena jumlah orang yang selisih sangat banyak dengan musuhnya, biar bagaimana pihaknya sendiri tidak boleh ada yang mati atau luka. Diam diam ia lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, siap hendak menggantikan kedudukkan Tiat Bok Taysu.

Pada saat itu, semua anak buah Kun-liong Ong sudah mengeluarkan senjata masing2 agaknya sudah ingin melakukan serangan total.

Orang2 Kun-liong Ong yang mengurung barisan Pat-kwat- tin nampaknya juga sudah siap. Asal Kun-liong Ong mengeluarkan perintah atau sudah berhasil merobohkan lawannya, orang2 itu segera bertindak melakukan serangan.

Tiba2 terdengar suara seruling yang mengalun diantara suara beradunya senjata.

Kun-liong Ong selelah mendengar suara seruling itu, perasaan hatinya tergoncang, serangan tangannya juga melambat.

Tiat Bok Taysu menggunakan kesempatan itu melakukan serangan pembalasan. Dengan beruntun tiga kali ia menghujani musuhnya dengan dua macam senjata, sehingga berhasil merebut inisiatif.

Suara seruling semakin lama semakin tinggi dan semakin nyata.

Auw-yang Thong dengan perasaan heran mencari-cari dari mana suara seruling itu. Akhirnya ia dapat lihat bahwa orang yang meniup seruling itu ternyata adalah Siang-koan Kie.

Irama seruling itu kedengarannya sangat menyedihkan, tetapi kesedihannya itu, samar2 mengandung napsu membunuh, agaknya seperti seorang yang mengandung rasa benci dan ingin menuntut balas dendam.

Dibawah serangan Tiat Bok Taysu yang hebat itu, Kun-liong terpaksa mundur terus menerus.

Suara seruling itu tiba2 berubah iramanya seolah-olah ada seorang yang menyerang musuhnya dengan ganas..... Sungguh aneh irama seruling itu dapat memberikan kesan berlainan kepada orang yang mendengarnya.

Tiat Bok Taysu dengan semangat yang berkobar-kobar dengan mengikuti irama seruling, ia bertempur semakin gagah, sebaliknya dengan Kun-liong Ong, karena peraaaannya terpengaruh oleh irama seruling itu semangatnya menurun, serangannya kurang lancar.

Dilain pihak Auw-yang Thong sudah siap. Apabila Tiat Bok Taysu keteter, ia segera turun tangan.

Tetapi perkembangan yang telah terjadi, ternyata diluar dugaan Auw-yang Thong, Tiat Bok Taysu agaknya mendapat dorongan semangat berlipat-lipat dari irama seruling. Bukan saja sudah berhasil mempertahankan kedudukannya bahkan sudah dapat melancarkan serangan pembalasan dengan hebatnya.

Selagi pertempuran berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan Kun-kiong Ong, kedua tangannya melancarkan dua kali serangan, kemudian lompat mundur.

Seorang muda berbaju biru berusia kira-kira dua puluh lima tahun, tiba-tiba melompat bangun keluar. Dengan senjata kipas ditangan, maju menyambut Tiat Bok Taysu.

Kun-liong Ong mengacungkan tangannya, seorang laki laki berpakaian ringkas warna hitam, tiba-tiba mengeluarkan sumpritan dan segera ditiupnya.

Suara sumpritan tajam itu bercampur dengan suara seruling.

Anak buah Kun-liong Ong yang berada diempat penjuru tanah datar itu segera menggerakkan senjatanya hendak melakukan serangan.

Auw-yang hong berkata kepada Tiat Bok Taysu dengan suara perlahan: “Taysu, musuh mungkin sudah mulai menyerang, apabila kita harus menghadapi musuh dari dua pihak, kita harus pikir-pikir dulu kekuatan tenaga sendiri, sebaliknya kita lekas kembali kedalam barisan kita sendiri”

Sementara itu Tiat Bok Taysu sudah mulai bertempur dengan orang muda berpakaian biru itu.

Pemuda berpakaian biru itu yang usianya nampak masih muda tetapi gerak tipu serangan kipasnya, ternyata sangat ganas.

Serangannya itu bukan saja sudah berhasil menahan serangan Tiat Bok Taysu yang hebat, bahkan sudah dapat balas menyerang.

Tiat Bok Taysu diam2 berpikir: “anak buah Kun-liong Ong semua agaknya berkepandaian agak tinggi, kepandaian pemuda ini sudah begini hebat entah apa kedudukannya?”

Sembari berpikir ia melakukan serangan lebih hebat, hingga pemuda itu terdesak mundur.

Setelah itu ia sendiri juga melompat kesamping Auw-yang Thong seraya berkata: “Pangcu benar, musuh jumlahnya lebih banyak dan pihak kita sangat sedikit, sudah tentu kita tidak akan membiarkan diserang oleh musuh dari dua pihak."

Pemuda berbaju biru itu tidak mengejar lagi, hanya mengawasi Tiat Bok Taysu dengan sinar mata yang dingin.

Pada saat itu terdengar suaranya Ciu Tay Cie: “Teng-ya minta pangcu dan taysu, lekas mundur kedalam barisan, sama2 melawan musuh."

Auw-yang Thong segera mengajak Tiat Bok Taysu balik kedalam barisannya sendiri.

Pada saat itu pasukan anak buah Kun-liong Ong sudah mulai menyerang dari empat penjuru. Pemuda yang bersenjatakan kipas itu hendak mengejar Tiat Bok Taysu, tetapi icegah oleh Kun-liong Ong. Pemuda itu berkata: “Ong-ya sering berkata, bahwa dalam rimba persilatan dewasa ini, hanya golongan pengemis yang mempunyai kekuatan melawan kita. Sekarang kita sudah berhasil mengurung beberapa anggota penting dari golongan pengemis, mengapa tidak segera bertindak menumpas mereka?"

“Teng Soan seumur hirdupnya tidak mau melakukan pekerjaan yang ia belum yakin benar akan berhasil, maka aku sangat bercuriga atas barisannya yang dibentuk itu. Aih! Apabila kita menggempur dengan seluruh kekuatan, lalu menghadapi peruobahan secara tiba2, bukankah kita sudah tidak keburu menolong diri?...." berkata Kun-liong Ong. “Ia membentuk barisan itu, tidak seluruhnya mirip dengan barisan Pat-kwat-tin. "

Pandangannya tiba-tiba dialihkan kepada kereta Teng Soan, kemudian berkata pula: “Teng Soan itu bukan saja banyak akalnya, tetapi juga pandai membuat berbagai pesawat rahasia yang dapat mengeluarkan serangan senjata rahasia halus bentuknya tetapi sangat berbisa, sesungguhnya sulit untuk dijaga. Diatas keretanya ini mungkin diperlengkapi berbagai pesawat. Jikalau kau tidak percaya, boleh suruh orang mencobanya."

“Kalau Ong-ya berkata demikian, sudah tentu tidak bisa salah lagi."

“Oleh karena itu, daripada kita menyerang dengan seluruh tenaga, ada lebih baik berdiam untuk melihat gelagat. Barisan sungai berdarah sudah dibentuk. Sekalipun diserang musuh kuat, juga dapat menahan, apalagi aku sudah memerintahkan orang untuk mengumpulkan kayju kering, jika perlu kita boleh bakar daerah seluruh sepuluh pal persegi.

Pemuda itu tidak berkata apa2 lagi, lalu mundur dibelakang Kun-liong Ong. Pada saat itu pasukan Kun-liong Ong sudah mulai menyerbu barisan Pat-kwat-tin.

Barisan delapan hulubalang itu tiba2 bergerak dengan cepat. Dengan menggunakan perubahan-perubahan gerakannya yang aneh dan siasat menyerang dari samping, sudah berhasil membinasakan orang-orang yang maju menyerang.

Barisan anak buah Kun-liong Ong itu sangat aneh, setiap rombongan terdiri dari tiga puluh orang, senjata tombak dan golok dipusatkan untuk menghadapi musuh dari depan, dikedua sisi dibantu oleh pasukan yang menggunakan pedang.

Untung Teng Soan sudah dapat menduganya lebih dulu bahwa Kun-liong Ong ada kemungkinan hendak paksa menyerbu barisannya. Pertempuran secara demikian akan menimbulkan banyak korban, tetapi juga merupakan satu- satunya cara untuk membobol barisannya sendiri. Dengan mengandalkan jumlah orangnya yang banyak dan tanpa menghiraukan jumlah jatuhnya korban, barisan yang dipaksa maju menyerbu barisan Pat-kwat-tin, maksudnya ialah hendak menutup perobahan gerakan itu, tidak perduli betapa anehnya perubahan gerakan itu, juga tidak akan dapat digunakan lagi

-oo@dewi@oo-