ISMRP Jilid 15

 
Jilid 15

DENGAN mata terbuka lebar Siang-koan Kie bertanya: “Apa?" “Melukis alis dan menghias diri dalam kamar penganten, merupakan kesenangan hidup bagi seorang perempuan dalam seumur hidupnya. Tetapi dalam hidupku ini, belum pernah ada orang yang melukiskan alis buatku, sudikah kau melukiskan alis untukku?"

“Dalam pekerjaan seperti itu, aku sendiri juga belum mendapat pengalaman"

Tubuh Nie Suat Kiaow yang sedang duduk tiba2 bergoyang, peluh mulai mengalir dari mukanya, jelas bahwa dia sedang menahan rasa sakit dalam dirinya.

Namun ia mempunyai kekuatan fisik dan daya tahan luar biasa, hanya alisnya saja yang nampak terjengit, kemudian dengan lengan bajunya menghapus keringat yang membasahi mukanya lalu berkata: “Kemari lebih dekat sedikit."

Siang-koan Kie menurut, ia mendekati Nie Suat Kiao seraya berkata: “Apakah nona ingin aku menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk membantu kau melawan penderitaan yang sedang kau alami?"

“Tidak usah, didalam badanku ada sebotol obat kau ambillah sendiri!" berkata Nie Suat Kiao, tangan kirinya menunjuk tulang rusuk bagian kanan dai berkata pula: “Obat itu didalam sakuku ini."

Siang-koan Kie merasa kurang sopan meraba tubuh seorang gadis, dengan perasaan sangsi ia berkata: “Rasanya ini kurang pantas!"

“Kau ini benar-benar seorang pengecut, belum termasuk hitungan seorang laki-laki jantan, lekas sedikit," berkata Nie Suat Kiao gusar.

Siang-koan Kie diam-diam berpikir: “ya! Sebagai seorang gadis ia masih berani berbuat tanpa ragu-ragu dan malu-malu, sebaliknya dengan aku, seorang laki-laki, mengapa begini selalu ragu-ragu” Maka ia segera memasukkan tangan kanannya ke dalam saku Nie Suat Kiao untuk mengambil sebuah botol obat yang dimaksudkan. “Apakah ini?"

“Betul, bawalah, nanti kalau kau bertemu dengan orang- orang yang pernah menulis namanya didalam buku kematian keluarga Pan. Setiap orang kau berikan sebutir pel, itu dapat memunahkan racun dalam diri mereka."

Pada waktu terjadinya peristiwa itu, Siang-koan Kie sudah melupakan dirinya oleh pengaruh obat maka ia tidak tahu sama sekali, tetapi karena melihat keadaan Nie Suat Kiao yang sedang menahan penderitaan begitu hebat, tidak mau menanya lebih banyak, maka ia segera menerima baik permintaannya.

Nie Suat Kiao agaknya tidak suka menunjukkan sikap lemah dihadapan Siang-koan Kie, ia paksakan diri menahan rasa sakitnya, kemudian berkata kepada Siang-koan Kie: “Kau boleh pergi."

Siang-koan Kie diam2 berpikir: “Perempuan itu keras hati, ia lebih suka mati menanggung penderitaan, juga tidak suka menerima bantuan orang, tetapi dari perbuatannya yang menghadiahkan obat pemunah bagi para korbannya, jelas ia sudah berniat untuk menjadi seorang baik, terhadap orang begini, aku tidak boleh menghadapi menurut keadaan biasa, kalau aku hendak menolong harus menggunakan paksaan”

Sebagai seorang yang masih muda, apa yang dipikirkan, segera dilaksanakan, tiba2 ia menggerakkan jari tangannya menotok jalan darah Kian-kin-hiat Nie Suat Kiao.

“Kau hendak berbuat apa?" bertanya Nie Suat Kiao dengan badan gemetar.

“Aku hendak menolong jiwamu."

“Lekas buka totokanku, kau tidak dapat menolong aku." “Sekalipun tidak dapat, aku juga ingin mencobanya." Tanpa banyak bicara, Siang-koan Kie segera ulur tangan kirinya menyambar tubuh Nie Suat Kiao, kemudian berjalan keluar dengan tindakan lebar.

Luka-luka Nie Suat Kiao sedang bekerja, sekujur badannya dirasakan sakit, sehingga tidak mempunyai daya perlawanan sama sekali, apalagi Siang-koan Kie memondongnya dengan tenaga kuat, sehingga ia tidak bisa bergerak.

Siang-koan Kie sudah mengambil keputusan, tidak perduli apa yang dikatakan oleh Nie Suat Kiao. Ia mempercepat gerak kakinya, lari keluar perkampungan, sebentar sudah tiba disebuah pohon besar dimana telah menunggu Wan Hauw.

“Saudara Wan, lekas turun." demikian ia memanggil sambil mendongakkan kepala.

Wan Hauw yang sedang tidur nyenyak, ketika mendengar suara Siang-koan Kie, ia kucek2 matanya dan melompat turun. Begitu melihat Nie Suat Kiao, agaknya sudah melupakan rasa lapar dalam perutnya, sambil pentang lebar dua tangannya ia berkata: “Toako, biarlah aku yang menggendongnya!"

Siang-koan Kie berpikir sejenak, akhirnya diserahkannya Nie Suat Kiao kepada Wan Hauw seraya berkata: “Lukanya sangat berat, kau harus hati2 sedikit."

Wan Hauw dengan sangat hati2 mengulur dua tangannya menyambuti Nie Suat Kiao seraya berkata: “Toako jangan khawatir, aku akan menjaganya baik-baik."

Benar saja ia mengangkat Nie Suat Kiao dengan sikap yang hati-hati dan penuh kasih sayang.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan demikian, hatinya bercekat, pikirnya diam2: “Apakah saudaraku ini suka kepadanya?. ”

Ketika ia menyaksikan keadaan Nie Suat Kiao, saat itu ternyata sedang membuka setengah matanya mengawasi Wan Hauw, sepasang alisnya bergerak-gerak, sikapnya menunjukkan bahwa perasaannya pada waktu itu masih tenang. Terhadap Wan-Hauw juga tidak menunjukkan rasa benci.

Siang-koan Kie berkata sambil batuk-batuk ringan: “Saudara, dalam kampung itu diliputi suasana menyeramkan, meskipun ada barang makanan, tetapi aku tak berani makan, nampaknya hari ini kita terpaksa melakukan perjalanan dengan menahan lapar."

Wan Hauw sejak menggendong Nie Suat Kiao, agaknya sudah merasa puas, soal lapar sudah dilupakan sama sekali.

“Apa kata toako, sudah tentu tidak bisa salah lagi."

“Kita perlu melakukan perjalanan," berkata Siang-koan Kie dan segera berjalan lebih dulu.

Wan Hauw mergikuti dibelakang Siang-koan Kie sambil menggendong Nie Suat Kiao.

Dua orang itu sama2 mempunyai ilmu lari pesat yang sudah mahir sekali, dalam waktu singkat sudah lari jauh sepuluh pal lebih.

Selagi enak lari, tiba2 Wan Hauw berseru: “Toako, jangan lari lagi!"

“Ada apa?" bertanya Siang-koan Kie yang segera berhenti. “Keadaan ia nampaknya agak payah."

Siang-koan Kie mengawasi Nie Suat Kiao, yang saat itu mengalir darah dari mulutnya, sepasang matanya tertutup rapat, keadaannya sangat lemah.

Sambil menghela napas perlahan ia berkata: “lukanya sedang bekerja, lekas letakkan ditanah"

Wan Hauw menurut ia meletakan Nie Suat Kiao ditanah, lebih dulu Siang-koan Kie membuka totokan jalan darahnya, selagi hendak menyalurkan kekuatan tenaga dalam untuk membantu mengalinya darah, tiba2 membatalkan maksudnya dan berkata kepada Wan Hauw: “Saudara Wan bantulah dengan kekuatan tenaga dalammu untuk mengalirkan jalan darahnya, kita nanti pikirkan lagi cara untuk memberi pertolongan."

Wan Hauw menurut, ia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya melalui jalan darah Kian-kie-hiat.

Dibawah sinar bintang yang tidak terang, Siang-koan Kie tiba2 menyaksikan bahwa mata Wan Hauw pada saat itu sedang mengucurkan air mata.

Ini merupakan satu pertandaan yang sangat menakutkan, jelaslah sudah bahwa Wan Hauw yang berhati putih bersih dan belum mengerti kejahatan dalam dunia, tanpa disadari sudah terjatuh kedalam jaring asmara....

Betapakah ganjilnya keadaan ini? Yang perempuan cantik bagaikan bidadari, tetapi berhati bagaikan ular berbisa, sedangkan yang lelaki, berhati putih bersih dan jujur, tetapi bentuknya tidak sama dengan manusia normal diantara kedua pasangan ini, sebetulnya terpisah satu jarak yang jauh....

Siang-koan Kie diam2 memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, minta supaya saudaranya yang masih putih bersih ini jangan sampai terjerumus kedalam lubang asmara, sehingga tidak dapat menolong dirinya sendiri....

Wan Hauw yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sudah sempurna, dalam waktu singkat sudah berhasil membuat Nie Suat Kiao yang sudah hampir tidak ingat orang, tersadar lagi.

Wan Hauw menarik napas panjang, ia merangkapkan kedua tangannya, matanya mengawasi bintang dilangit, mulutnya kemak kemik entah apa yang dikatakannya.

Nie Suat Kiao per-lahan2 membuka matanya, ia menyaksikan dua pemuda itu sama2 menengadah kelangit, entah apa yang sedang dipikirkan? Siang-koan Kie duduk bersila, sedangkan Wan Hauw setengah berlutut didampingnya sambil kemak kemik dan merangkapkan kedua tangannya.

Ini merupakan sebuah gambaran yang sangat menarik, terhadap seorang yang baru kembali dari jurang kematian, tambah mempunyai daya penarik yang lebih kuat.

Ia menggeser tubuhnya setelah membersihkan tanda darah diujung bibirnya, ia berkata sambil tertawa: “Apakah yang kalian berdua sedang pikirkan?"

Siang-koan Kie dan Wan Hauw terkejut oleh pertanyaan itu, dua pasang mata menatap wajahnya

Wan Hauw yang menyaksikan Nie Suat Kiao sudah sadar lagi, bahkan bisa bicara, hatinya merasa sangat girang, tetapi semakin girang, ia semakin tidak tahu bagaimana harus berkata. Akhirnya ia hanya dapat bertanya sambil tertawa girang: “Apakah lukamu sudah baik?"

Nie Suat Kiao bangkit dan duduk ditanah. “Lukaku ini untuk se-lama2nya tidak dapat disembuhkan lagi."

Perasaan Wan Hauw seketika telah lenyap, ia berkata sambil menoleh kepada Siang-koan Kie: “Toako benarkah ucapannya itu?"

“Ia sudah kemasukan jarum beracun melekat tulang Kun- liong Ong...." menjawab Siang-koan Kie sambil menganggukan kepala dan menghela napas, perlahan.

“Apakah didalam dunia ini sudah tidak ada orang yang dapat menolougnya lagi?" bertanya Wan Hauw cemas.

“Tentang ini aku juga tidak tahu," menjawab Siang-koan Kie.

“Bagaimana suhu kita?" bertanya Wan Hauw sambil meng- garuk2 kupingnya. “Suhu banyak pengetahuan dan berkepandaian tinggi sekali, tetapi ia dapat mengeluarkan jarum racun itu atau tidak, aku juga belum tahu."

Wan Hauw tiba2 melompat berdiri dan berkata: “Toako baik-baik menjaga dia, aku hendak pergi mencari suhu untuk menyembuhkan lukanya."

“Jejak suhu tidak menentu, kemana kau harus mencari?"

Tetapi saat ini ia hanya mendengar jawaban Wan Hauw yang sudah jauh: “Harap toako baik-baik menjaganya "

Suara itu semakin lama semakin tidak kedengaran, sebentar kemudian sudah menghilang bersama orangnya.

Dibawah sinar bintang di-tengah2 tempat belukar, kembali tinggal Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiao berdua.

“Saudaramu itu, sesungguhnya seorang berhati baik?" berkata Nie Suat Kiao.

“Ia masih bersih dan jujur, menyaksikan kau menderita, ia seperti dirinya sendiri yang menderita."

“Akh! Sayang kebaikannya itu akan tersia-sia, kecuali ayah angkatku sendiri, dalam dunia pada dewasa ini sudah tidak ada orang lagi yang dapat menyembuhkan lukaku."

“Kali ia pergi, entah kapan bisa kembali, mari aku meniup seruling, untuk menghilangkan kerisauan dalam hatimu!"

“Sungguh tidak kusangka kau masih pandai meniup seruling!"

“Akh kau pandai menggoda. Kalau tiupanku ini tidak baik, harap nona jangan dibuat tertawaan."

Biji mata Nie Suat Kiaow berputaran, kemudian berkata: “Tunggu dulu, kau bimbing aku ketempat alang-alang yang lebat itu, nanti kau baru meniup seruling itu."

“Kenapa?" “Karena perbuataamu yang agak gegabah, sehingga membuat jarum beracun yang ayahku masukkan dalam diriku, lebih cepat bekerjanya, Jika ditilik keadaan seperti sekarang ini setiap waktu aku bisa binasa, mungkin sebelum kau meniup habis serulingmu, aku sudah binasa didalam alang-alang yang lebat itu. "

“Benarkah begitu hebat keadaanmu?" bertanya Siang-koan Kie terkejut.

“Ah! dalam soal seperti ini perlu apa aku harus membahongimu?"

Siang-koan Kie terpaksa menurut dan pondong tubuh Nie Suat Kiao, kemudian diletakkan ketempat yang tumbuh alang- alang lebat, lalu berkata dengan suara perlahan: “Aku juga sudah pernah mengalami bahaya maut, pada waktu itu keadaan lukaku boleh didikata tidak lebih ringan dari pada lukamu. Ayah angkatmu Kun-liong Ong pernah menyerang aku sehingga aku terjerumus kedalam suatu jurang yang dalam, tempat itu merupakan suatu tempat yang tidak pernah didatangi oleh manusia. Hanya mengandal harapan ingin hidupku yang sangat kuat, aku melalui bahaya itu."

Ia berhenti sejenak. lalu sambungnya: “Kau harus bertahan untuk hidup terus, setidak-tidaknya juga harus menunggu sampai saudaraku itu kembali."

“Saudaramu itu adalah seorang yang sangat baik."

“Aku mendapat suatu firasat, kalau kukatakan harap nona jangan marah."

“Katakanlah!"

“Saudaraku itu suka kepadamu. "

“Sayang aku sudah hampir mati," berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa. “Seperti katamu sendiri ia adalah seorang berhati baik, apabila tidak dapat melihat kau untuk penghabisan kali, pasti akan membuat penyesalan seumur hidupnya, ia akan merasa seperti kehilangan kesenangan dalam penghidupannya."

Nie Suat Kiao tersenyum getir, ia berkata dengan suara sedih: “Aku juga ingin menanyakan kau suatu hal."

“Hal apa?"

“Kau suka kepadaku atau tidak?"

Siang-koan Kie tidak menduga samasekali ia akan menanyakan secara blak-blakan seperti itu, sesaat ia melengak kemudian baru berkata: “Kau seorang gadis cantik, setiap orang lelaki seharusnya suka kepadamu, bukan cuma aku sendiri.... Tetapi. "

“Tetapi, kau tidak terlalu suka, demikianlah maksudmu?" “Maksudku hendak mengatakan bahwa hawa nafsu

membunuh nona terlalu berat, sifatnya masih agak liar apabila bisa berobah sedikit lemah lembut, niscaya kecantikanmu akan menjadi komplit.'

“Ah, kau terlalu memuji."

Siang-koan Kie mengangkat serulingnya seraya berkata: “Aku akan meniup seruling untuk kau dengar!"

Irama seruling mengalun keluar dari seruling.

Suara seruling itu mula2 perlahan kemudian meninggi, irama itu seolah-olah membangkitkan perasaan semangat orang yang sudah akan putus asa.

Nie Suat Kiao agaknya digerakkan semangatnya untuk hidup lagi oleh irama seruling itu. Tanpa di sadari ia sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk melawan luka- luka dalam tubuhnya. Siang-koan Kie yang belum dapat meniup irama itu sekaligus, terpaksa berhenti sementara.

Nie Suat Kiao bertanya sambil menarik napas panjang. “Irama yang kau tiup apa namanya?"

“Tidak ada namanya."

“Suara irama serulingmu itu, sangat menarik hati, apakah itu kau tiup secara sembarangan?"

“Apabila sudah ada namanya, tidak akan demikian menarik didengarnya."

Nie Suat Kiao tiba2 menarik napas panjang, lama ia baru berkata: “Bolehlah aku ingin minta tolong kepadamu sesuatu?"

“Asal tenagaku dapat perlakukan aku pasti tidak akan menolak, katakanlah!"

“Kau jangan meniup serulingmu lagi, sebab irama serulingmu itu mengandung daya hidup, sehingga pikiranku menjadi kalut dan membangkitkan perasaanku terhadap penghidupan. Tetapi aku tahu bahwa harapan untuk hidupku sudah tidak ada, sekalipun aku mempunyai keinginan untuk hidup, itu hanya berarti menambah penderitaanku, ada lebih baik membiarkan aku melewatkan sisa hidupku dengan hati tenang!"

Siang-koan Kie terkejut, per-lahan2 menyimpan kembali serulingnya dan berkata: “Sudah ber-tahun2 kau mengikuti Kun-liong Ong, apakah tidak tahu obatnya untuk mengeluarkan jarum itu?"

“Ketika aku berada didalam kampung kecil itu, ayahku pernah mengutus orangnya mengirimkan obat pemunah, tetapi telah kutolak."

“Mengapa? Kau toh sudah ingin menjadi orang baik, mengapa demikian memandang ringan jiwamu sendiri?. " “ya, apakah kau inginkan aku menipu obat pemunahnya. "

berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa. “Apabila Kun-liong Ong itu demikian mudah ditipunya, ia juga tidak akan menjadi seorang penjahat besar yang dapat memimpin banyak orang2 dari golongan rimba hijau."

Siang-koan Kie sebetulnya ingin menghibur beberapa patah kata lagi, tetapi menghadapi seorang yang sudah putus asa dalam hidupnya, perkataan apapun juga, semua agaknya ber- lebih2an, maka ia terpaksa menghela napas, dan akhirnya berkata: “Karena begitu, menurut anggapanmu kau sudah pasti mati."

“Diwaktu menghadapi kematian, siapapun orangnya sudah tentu mempunyai sedikit perasaan takut tetapi perasaanku pada saat ini, sebaliknya sangat tenang, sedikitpun tidak merasa takut akan kematian."

“Soal kematian, cepat atau lambat datangnya, hanya tergantung kepada sang waktu saja, kalau kita menginsafi soal ini, juga tidak perlu merasa takut lagi."

“Sejak aku mengerti urusan, tiada satu detik tidak berada dalam penghidupan yang penuh hal2 yang sangat menakutkan. Setiap waktu, setiap tempat juga dapat dibinasakan. Ah! meskipun usiaku belum tua, tetapi dalam perjalanan hidupku ini, boleh dikata sudah kenyang dengan penderitaan hidup."

Siang-koan Kie tiba2 berdiri dan berkata: “Beristirahatlah dengan tenang. Aku harap kau berusaha sekuat tenaga, untuk memperpanjang kematianmu, menunggu pulangnya saudaraku, supaya ia dapat melihat kau. "

“Aku percaya saudaramu itu, setelah aku nanti nanti, pasti dapat membuatkan aku sebuah makam yang sangat indah," berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa.

“Aku sangat khawatir semua kesenangannya, akan mengikuti kau terkubur didalam tanah bersama-sama." “Orang yang berhati jujur dan baik seperti saudaramu itu. barangkali akan mencurahkan perasaan hatinya dengan sungguh2, ah! Sayang aku sudah tidak ada itu rejeki untuk menikmati."

“Semoga ia lekas pulang, dan dapat berkata-kata denganmu." berkata Siang-koan Kie sambil jalan per-lahan2, jalan baru beberapa tombak merandek dan berkata pula: “Beristirahatlah dengan tenang. Aku akan menjagamu disini."

Nie Suat Kiao tidak menjawab, ia memejamkan matanya, lalu menjatuhkan diri dalam alang2.

Lama Siang-koan Kie duduk menantikan Wan Hauw, tetapi masih belum nampak bayangan saudaranya itu pulang. Dalam hatinya diam2 berpikir: “saudaraku itu sangat jujur, ia dapat melakukan apa yang dikatakan, kemana ia harus mencari jejak suhu yang tidak menentu itu? Jikalau ia tidak terbuka pikirannya, harus pergi mencarinya suhu juga, jangan kata Nie Suat Kiao yang sudah terluka parah tidak dapat menunggunya, sedangkan aku sendiri juga tidak dapat menunggu terlalu lama "

Selagi pikirannya masih bekerja, tiba2 terdengar suara tindakan kaki orang, tidak lama kemudian terdengar pula suara dua orang yang sedang bicara.

Siang-koan Kie diam2 merasa heran kedatangan orang ditempat belukar diwaktu malam buta itu, maka ia segera merebahkan diri didalam alang alang yang lebat. Terdengar satu suara yang agak kasar: “Kali ini apabila bisa berhasil, maka semua orang kuat dalam rimba persilatan, barangkali akan digulung seluruhnya."

Terdengar seorang lain berkata sambil menghela napas: “Aku tidak percaya orang2 kuat dalam rimba persilatan semuanya dapat dipancing kedalam tanah belukar ini."

Suara itu seperti sudah pernah dikenal,   tetapi pada saat itu Siang-koan tidak ingat lagi siapa orangnya. Terdengar pula suaranya orang pertama: “Kali ini bukan saja empat raja muda sudah keluar semuanya bahkan banyak orang kuat dari istana Ong-ya sendiri, juga akan turut ambil bagian dalam pertempuran itu, apabila Ong-ya belum yakin benar akan kemenangannya, tidak nanti akan mengerahkan orang2 yang kuat, Ong-ya selalu berlaku sangat hati2, belum pernah gagal dalam gerakkannya."

Dalam otak Siang-koan Kie terus memikirkan orang yang suaranya pernah dikenalnya itu, berpikir beberapa lama, akhirnya ia baru ingat, bahwa suara itu adalah suara Touw Thian Gouw yang dikenalnya didalam rumah keluarga Pan....

Tindakan kaki itu terdengar semakin dekat, dua bayangan orang lewat disampingnya.

Siang-koan Kie menbuka matanya, ia melihat dua orang itu semua berpakaian warna hitam. Orang yang berjalan disebelah kanan, benar adalah Touw Thian Gouw, sedang yang sebelah kiri ada seorang yang bertubuh tinggi besar.

Pada saat Siang-koan Kie mengawasi dua orang itu, dua orang itu agaknya juga sudah melihat Siang-koan Kie hingga mereka berhenti.

Orang yang sebelah kiri segera menegurnya: “siapa?"

Siang-koan Kie mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya menutup pernapasannya.

Menghadapi orang2 Kun-liong Ong dia harus selalu waspada.

Touw Thian Gouw yang saat itu sudah melihat Siang-koan Kie, diam-diam terkejut.

Orang yang menegur tadi sudah mengeluarkan senjata goloknya, ia sudah siap hendak turun tangan, ketika mendengar seruan terkejut Touw Thian Gouw, segera berpaling dan bertanya: “Mengapa? Apakah kau kenal dengan orang ini?'' “Orang ini mirip dengan salah seorang saudara sepupuku."

Ia masih belum tahu Siang-koan Kie sudah pulih kembali ingatannya, dikiranya masih dalam keadaan linglung dan kesasar ditempat itu.

“Tidak perduli siapa dia, kita juga tidak bisa membiarkan dia hidup...." berkata orang itu sambil mengerutkan keningnya, “begini saja, kau turun tangan menotok jalan darah gagunya dan kau bikin cacat kedua tangannya, supaya mulutnya tidak bisa berkata dan tangannya tidak bisa melukis, biar jiwanya tinggal hidup."

“Cacat kedua tangannya dan gagu mulutnya, bukankah lebih baik dibinasakan saja?" berkata Touw Thian Gouw.

“Sudah berapa lama kau menjadi pasukan pengawal pakaian hitam didalam istana Ong-ya?” bertanya orang itu sambil berpaling mengawasi Touw Thian Gouw dengan perasaan heran.

“Siaute masuk belum lama”

“Orang seperti kau yang masih mengingat kepentingan pribadi, apabila diketahui oleh Ong-ya, pasti akan mendapat hukuman berat”

“Tetapi aku dapat membunuhmu supaya tutup mulut” “Apa kau sudah gila?” bertanya orang itu terkejut

“Dalam hidupmu itu entah sudah berapa banyak orang yang engkau bunuh?”

“Apakah kau tidak makan obat pemunah menurut waktu yang ditentukan!"

Orang itu karena mendengar perkataan Touw Thian Gouw yang tidak karuan, dianggapnya sudah lupa makan obat pemunah sehingga membuat kabur pikirannya. Touw Thian Gouw mendongakkan kepala mengawasi bintang dilangit, ia berkata sambil tertawa: “Mendengar nada pembicaraanmu ini, barangkali kau sudah pernah membunuh banyak orang”

Diluar dugaan tangannya sudah bergerak menyerang kearah dada orang itu.

Orang itu juga tidak menduga Touw Thian Gouw benar- benar menyerang dirinya, karena tidak berjaga-jaga, hampir saja dirinya roboh, ia buru2 mengatur pernapasannya dan mundur tiga langkah.

Touw Thian Gouw agaknya tahu bahwa serangannya itu belum dapat merobohkan lawannya, bersamaan dengan serangannya tangan kanan, tangan kirinya sudah meloloskan pecut masnya yang dibuat ikat pinggang. Dengan cepat pecut itu digunakan untuk menyerang.

Orang berbaju hitam itu menahan serangan pecut Touw Thian Gouw dengan goloknya sambil berseru: “Tahan."

“Tidak usah banyak mulut," berkata Touw Thian Gouw sambil tertawa dingin, sementara pecutnya menyerang semakin gencar.

Keadaan telah memaksa orang berbaju hitam itu tidak mendapat kesempatan untuk bicara ia terpaksa

ia menggunakan goloknya untuk menangkis serangan Touw Thian Gouw.

Dalam waktu singkat keduanya sudah saling menyerang hampir dua puluh jurus, meskipun Touw Thian Gouw lebih unggul, tetapi orang itu melawan dengan gigih, sehingga tidak mudah dirobohkannya.

Siang-koan Kie yang menyaksikan Touw Thian-Gouw sudah berada diatas angin, juga tak perlu turun tangan memberi bantuan, maka ia menyaksikan pertempuran itu sambil rebah ditempatnya. Selagi pertempuran berjalan seru, tiba terdengar suara bentakan orang. Dua sosok bayangan orang lari mendatangi.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan kedatangan dua orang itu lebih dulu menarik pecut emasnya.

Lawannya itu, agaknya sudah dipusingkan oleh tindakan Touw Thian Gouw tadi, tanpa melihat kedatangan dua orang itu. Ketika menyaksikan Touw Thian Gouw menarik kembali senjatanya, ia segera menyerang dengan hebatnya.

Sebatang rujung perak dari samping menahan serangan golok orang berbaju hitam itu, sehingga golok itu terpental dan terlepas dari tangannya.

Setelah goloknya terpental orang berbaju hitam itu baru mengetahui dihadapannya ada seorang tinggi besar sambil melintangkan ruyung peraknya dan memandang dirinya dengan wajah gusar, tidak jauh dibelakang diri orang itu berdiri empat orang laki2 berpakaian ringkas, yang melindungi seorang tua pendek kurus berpakaian abu2.

Orang tinggi besar yang membawa senjata ruyung perak itu berkata dengan nada suara dingin: “Bertengkar dengan orang sendiri, mengapa harus menggunakan senjata tajam untuk mengadu jiwa?”

“Ia yang menggunakan senjata lebih dulu, bagaimana aku yang disalahkan.” Menjawab orang berbaju hitam itu cemas.

Orang tinggi besar itu berpaling mengawasi Touw Thian Gouw sejenak, lalu berkata: “Meskipun kalian adalah pengawal berbaju hitam dari istana Ong-ya, tetapi dihadapan raja muda, juga tidak boleh tidak memandang kepada orang lain.”

Touw Thian Gouw meskipun tidak kenal dengani rombongan orang itu, tetapi ia sudah pernah mendengar bahwa anak buah Kun-liong Ong dipimpin oleh empat raja muda. Kecuali pasukan pengawal didalam istana sendiri, maka seketika itu mengunjuk hormat seraya berkata: “Hamba belum lama menjadi pasukan pengawal baju hitam, meskipun sudah pernah mendengar nama empat Kauw-ya, tetapi belum pernah menjumpainya.”

Orang tinggi besar mengawasi orang berbaju hitam dengan sikap dingin, kemudian berkata: “Pantas kau menghina dia, kiranya dia ada seorang baru”

Orang berbaju hitam itu buru2 membantah: “Jangan mendengar ocehannya ”

Tiba2 terdengar suara batuk2 orang tua pendek kurus itu, kemudian berkata: “Dihadapan kami, kau bicara begitu kasar, sudah terang kau sudah salah menghina orang baru, dan toh masih hendak menyangkal. He, orang2ku, tangkap dulu dia lalu kita kirim kepada Ong-ya supaya diberi hukuman.”

Orang tinggi besar bersenjata ruyung perak itu rnenyahut menerima baik perintah itu, kemudian berkata kepada orang berbaju hitam: “Kau hendak menyerahkan diri sendiri, ataukah aku yang harus turun tangan?”

Orang berbaju hitam itu mengerti bahwa dalam keadaan gusar seperti itu, tidak ada gunanya ia membantah kepada orang tua itu, maka dengan mata mengawasi orang tinggi besar bersenjata ruyung perak itu, ia berkata: “Koo Kauw-ya meskipun sekarang ini ada berkuasa, tetapi aku sebagai orang dari istana  Ong-ya ”

-odwo-

58

ORANG tinggi bersenjatakan ruyung perak itu tertawa dingin, kemudian berkata: “Kauw-ya sudah berani mengeluarkan perintah menangkap kau, sudah tentu sudah ada rencana untuk dihadapanku kepada Ong-ya, tidak perlu kau repot-repot capaikan hati, jikalau kau tidak mau menyerah, jangan sesalkan kalau aku nanti akan turun tangan sendiri.”

Orang berbaju hitam itu kenal baik dengan orang tinggi besar itu. Ia adalah orang kuat nomor satu dalam barisan pengawal raja muda bagian utara.

Pada tiga tahun berselang, ketika empat raja dari timur, selatan, barat dan utara berkumpul di istana, dari masing- masing pengawal yang dibawanya, dipilih setiap rombongan seorang untuk mengadu kekuatan. Orang itu memang sampai dua belas kali, sehingga mendapat pujian sebagai seorang kuat nomor satu dari Kun-liong Ong. Kecuali itu juga dihadiahkan sebuah bintang mas yang tidak dapat hukuman mati. Senjata ruyung perak ditangannya, mempunyai bobot seribu kaki lebih, hingga ia tahu bukan tandingan orang itu, maka seketika itu perlahan-lahan ia mengangkat kedua tangannya seraya berkata: “Hari ini apabila kau hendak menghukum aku, barangkali akan menimbulkan kemarahan seluruh pasukan pengawal baju hitam, hal itu akan menyulitkan dirimu sendiri.”

Orang tinggi besar itu mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, setelah puas tertawa ia berkata: “Aku Kim Coan Pa, dalam seumur hidupku, hanya mau mendengar perintah dua orang saja satu adalah Ong-ya dan yang kedua adaiah Kauw-ya. Kecuali dua orang ini, sekalipun jago2 seluruh dunia akan bermusuhan denganku, aku juga tidak akan takut”

Touw Thian Gouw yang mendengar perkataan orang itu diam-diam terkejut.

Sementara itu orang tua pendek kurus itu lalu berkata: “Lekas tangkap, aku justru ingin memberikan sedikit hajaran kepadanya, aku tidak percaya pasukan pengawal berbaju hitam istana, bagaimana bisa berbuat terhadap diriku?” Kim Goan Pa tiba-tiba mengangkat senjatanya dan berkata dengan suara gusar: “Jikalau kau tidak lekas mengikat tanganmu sendiri, keluarkanlah senjatamu!”

Orang berbaju hitam itu berpikir sejenak, lalu berjalan menghadap kepada orang tua pendek kurus sambil mengangkat tinggi tangannya.

Empat pengawal orang tua itu, segera mengeluarkan seutas tambang untuk mengikat tangan orang itu.

Touw Thian Gouw tahu apabila ia pergi begitu saja, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang tua itu, maka ia tetap berdiri tenang, untuk mencari pikirannnya bagaimana harus berbuat.

Sebagai seorang Kang-ouw kawakan yang sudah banyak pengalaman, ia tahu bahwa orang berbaju hitam itu pasti tidak manda begitu saja, apabila terbuka rahasianya, pasti akan menimbulkan kecurigaan raja muda, siorang tua pendek kurus itu.

Setelah memutar otaknya, akhirnya ia mendapat suatu akal, dengan tiba2 ia berjalan kedepan orang tua pendek kurus itu lalu berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat: “Maaf, hamba sebagai orang baru yang belum lama ditugaskan diistana, sehingga belum kenal gelar Kauw-ya ”

“Aku siorang tua adalah raja muda utara Koo Pat Kie.” Berkata orang tua itu sambil mengurut jenggotnya.

“Koo Kauw-ya, hamba dengan saudara Thong itu meskipun ada sedikit perselisihan paham, sehingga hampir turun tangan, tetapi biar bagaimanapun juga merupakan sama2 orang Ong- ya didalam istana, hubungan satu sama lain bagaikan saudara sendiri, maka hamba mohon supaya Ong-ya membebaskannya, jangan sampai karena urusan kecil satu sama lain akan menanam bibit kebencian,” berkata Touw Thian Gouw. “Jiwamu itu sungguh besar.” Berkata Koo Pat Kie sambil mengerutkan alisnya.

“Sama2 orang satu pekerjaan, hamba tidak ingin menimbulkan onar.”

“Sudah berapa lama kau ditugaskan menjadi pasukan pengawal baju hitam?”

“Belum cukup tiga bulan.”

Orang berbaju hitam yang ditangkap itu selagi hendak memberi keterangan sebab musababnya terjadinya pertengkaran dengan Touw Thian Gouw. Ketika mendengar Touw Thian Gouw memintakan pembebasan dirinya, segera membatalkan maksudnya.

Koo Pat Kie berpaling mengawasi orang berbaju hitam itu sejenak lalu berkata: “Pasukan pengawal baju hitam, meskipun termasuk pengawal pengawal istana, tetapi aku tidak percaya dihadapan Ong-ya kedudukkannya lebih penting dari padaku, hem! Aku sebetulnya hendak menyerahkan kau kepada Ong-ya supaya diberikan hukuman yang setimpal. Karena mengingat baru pertama kali ini kau berbuat salah terhadapku, lagipula ada orang mintakan ampun untukmu, maka kuberi kelonggaran. ”

Berkata sampai disitu, ia berdiam sejenak, kemudian berkata kepada pengawalnya: “Buka ikatannya.”

Dua pengawainya segera membuka tambang yang mengikatnya.

Touw Thian Gouw mengambil golok orang itu yang tadi dilempar ditanah, kemudian diberikannya kepada orang itu seraya berkata: “Saudara Thong, maafkan kesalahan siaotee tadi.”

“Sudahlah,” berkata orang itu sambil menyambuti goloknya. Touw Thian Gouw melirik kearah dimana tadi Siang-koan Kie merebahkan diri, ternyata sudah tidak tampak bayangannya lagi, maka diam2 ia merasa girang, pikirnya: “apabila ia masih dalam keadaan lupa diri, tidak nanti ia mengetahui sedang menghadapi musuh kuat, sehingga perlu menyingkir”

Sementara itu ia sudah memberi hormat kepada Koo Pat Kie seraya berkata: “Terima kasih atas kebaikan Koo-ya.”

Setelah itu ia bersama orang berbaju hitam itu meninggalkan raja muda tersebut.

Sebentar saja, dua orang itu sudah berjalan setengah pal lebih, orang berbaju hitam itu tiba2 berhenti dan bertanya: “Dimana saudara sepupumu itu?”

“Entah kemana sudah pergi” menjawab Touw Thian Gouw. “Apakali ia mengerti ilmu silat?”

“Mengerti sedikit ilmu silat keturunan keluarga.”

“Sebentar kalau kita berjumpa dengan orang2 dari istana, se-kali2 jangan kau menyebut persoalan ini.”

Touw Thian Gouw pura2 terkejut, ia berkata dengan sikap ter-heran2: “Apa salahnya kita sebut? Apakah aku mempunyai seorang saudara sepupu juga melanggar peraturan?”

“Dalam rombongan pasukan pengawal berbaju hitam, selamanya Cuma tahu perintah Ong-ya yang menjalankan peraturan sangat keras. Kita tidak di perbolehkan mengenali keluarga kita. Kau timbulkan perasaanmu terhadap saudara sendiri, ini sudah berarti bertentangan dengan larangan dan peraturan dalam pasukan kita. Apabila itu didengar oleh komandan pasukan, kau pasti akan mendapat hukuman berat.”

Touw Thian Gauw memberi hormat dan berkata: “Terima kasih atas petunjuk saudara Tong, tadi karena menuruti hawa napsu, siaote berlaku kurang sopan terhadap saudara Thong, harap saudara suka memaafkan kesalahanku ini.”

“Apabila aku perhitungan denganmu, juga tidak akan memberitahukan kepadamu semua hal ini” berkata orang itu, kemudian mendadak seperti ingat sesuatu, ia berkata pula sambil menghela napas panjang.

“Kau seharusnya berusaha memberitahukan kepada saudaramu itu supaya lekas meninggalkan tempat ini....

sebab, duapuluh pal sekitar daerah ini, akan menjadi tempat pembunuhan kejam, raja muda Koo Pat Kie sudah tiba, mungkjn raja-raja muda, timur, selatan dan barat tidak lama kemudian jaga akan datang bersama-sama orangnya”

Touw Thiau Gouw menghela napas perlahan dan berkata: “Siaote meskipun sudah menjadi seorang pasukan pengawal baju hitam, tetapi selama itu selalu dibawah perintah Khuncu, terhadap urusan dalam istana, pengetahuanku sangat terbatas, mudah2 saudara Thong suka memberi petunjuk.”

“Pantas, karena kau belum lama menjadi pasukan pengawal berbaju hitam, lagipula dikerjakan di bawah perintah khungcu, sudah tentu, secara terbatas Pengetahuanmu terhadap urusan dalam istana. ”

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara siulan yang sebentar panjang sebentar pendek, agaknya berirama tertentu.

Orang she Thong itu berkata dengan suara perlahan: “Sudahkah kau melihat komandan dan wakil komandan pasukan kita?”

“Mungkin pernah lihatnya, tetapi sudah tidak ingat lagi.” “Mereka sudah datang. ”

Orang itu dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah sempritan, lalu ditiupnya, hingga bersahutan dengan suara siulan tadi. Sebentar kemudian, tiga ekor kuda dengan penunggangnya dengan cepat sudah lari mendatangi.

Penunggang kuda yang terdepan, kudanya putih, orangnya mengenakan berbaju hitam, tetapi memakai baju luar berwarna merah. Dua yang lainnya semua berpakaian berwarna hitam. Dari warna pakaian merah itu, diketahui bahwa orang-orang itu adalah pasukan pengawal baju hitam.

Penunggang kuda putih itu setelah berada di hadapan orang-orang she Thong dan Touw Thian Gouw lalu bertanya: “Siapa?”

“Pengawal luar gedung istana, Thong Luy,” menjawab orang she Thong itu dengan sikap menghormat.

Komandan itu matanya beralih kepada Touw Thian Gouw dan bertanya: “Dan kau pengawal luar istana atau dalam istana?”

“Hamba baru masuk kedalam pasukan pengawal baju hitam....” menjawab Touw Thian Gouw.

“Jawab pertanyaanku, tidak perlu berbelit-belit!” berkata komandan itu gusar.

“Harap tuan jangan marah dulu. Orang ini belum lama masuk bekerja, lagi pula dahulu di kerjakan dibawah perintah khuncu, hingga tidak mengetahui peraturan dalam pasukan,” berkata Thong Luy cemas.

Orang memakai baju luar berwarna merah itu memperdengarkan suara dihidung, matanya menatapi Touw Thian Gouw, kemudian bertanya: “Tahukah kau jejak Toa khuncu?”

“Hamba mendapat perintah untuk memberi bantuan si Khuncu, ditengah jalan berpapasan dengan orang-orang golongan pengemis. Setelah bertempur sengit, orang-orang yang hendak memberi bantuan itu, banyak yang luka atau binasa, hamba masih beruntung dapat melarikan diri, yang kemudian berjumpa dengan saudara Thong ini......” Berkata Touw Thian Gouw

Orang berbaju luar merah itu agaknya tidak sabar mendengarkan penuturan itu, ia berkata sambil mengulapkan tangannya: “Toa Kuncu sudah menghianati Ong-ya, sekarang Ong-ya sudah mengeluarkan perintah untuk menangkap.”

“Hamba tidak tahu soal ini.”

“Ong-ya sudah datang sendiri kemari, kini sedang mengadakan perundingan dengan empat raja muda. Karena Toa Khuncu sudah berkhianat, untuk sementara kau dengar perintah Thong Luy, nanti setelah aku bertemu dengan komandan pasukan, baru memberikan kau jawaban yang baru.”

Oleh karena Touw Thian Gouw sedikitpun tidak mengetahui keadaan dalam markas Kun-liong Ong yang dinamakan istana itu, maka terpaksa menurut.

Orang berbaju merah itu mendongakkan kepala melihat cuaca, kemudian berkata: “Sekarang masih belum jam dua, kalian segera pergi keutara, kira-kira sepuluh pal jauhnya, disitu ada sebuah tenrpat yang berimba lebat. Ditempat itu nanti ada orang yang akan menyambut kedatangan kalian, aku masih ada urusan penting yang hendak diurus, kalian berangkatlah dengan segera.”

Setelah memberikan perintah, orang itu melarikan kudanya kelain jurusan.

Dua penunggang kuda lainnyi mengikuti dibelakangnya.

Thong Luy yang menyaksikan tiga orang itu telah pergi jauh, baru berkata pada Toaw Thian Gouw: “Pasukan pengawal hitam itu, komandan dan wakil komandan, pengawal dalam dan pengawal luar, semua ditentukan kedudukannya menilik kepandaian ilmu silatnya. Kepandaian ilmu silat saudara Touw, jauh lebih tinggi dari pada kepandaianku, dalam waktu singkat, pasti akan mendapat kedudukan tinggi. Meskipun belum tentu dimasukkan kedalam barisan dua belas pengawal Ong-ya, tetapi pengawal bagian dalam, sudah pasti akan dapat.”

“Siaote belum lama masuk, segala-galanya masih mengharap petunjuk saudara dikemudian hari apabila ada kemajuan, pasti siaote tidak akan melupakan kebaikan saudara.”

“Pasukan pengawal berbaju hitam, meskipun setiap hari berkumpul, tetapi sedikitpun tidak mempunyai perasaan persahabatan. ”

“Bagi siaote, selalu janjung tinggi kebajikan, sedikit saja menerima budi orang, pasti berusaha untuk membalasnya.”

Thong Luy menghela napas perlahan, lama ia berdiam, kemudian baru berkata: “Tentang persahabatan kita ini, harap disimpan dalam hati, jangan sampai kelihatan diluar, sehingga diketahui oleh orang lain.”

“Siaote menurut saja.”

“Saudara karena sudah anggap siaote sebagai sahabat akrab, sudah tentu siaote hendak berusaha untuk membalas budimu ini ”

“Semoga saudara sudi menilik siaotee, supaya jangan sampai melanggar peraturan, hal ini siaotee sungguh berterima kasih.”

“Marilah kita omong2 sambil berjalan.   ”

Dua orang itu lalu berjalan menuju keutara.

Didalam perjalanan Thong Luy berkata: “Pasukan pengawal berbaju hitam itu, terbagi tiga tingkat, kecuali 12 orang pengawal yang selalu mengawal Ong-ya, yang lainnya dibagi ikatan pengawal dalam dan pengawal luar. ”

“Sama-sama pengawal, mengapa dibagi dalam dan luar?” “Pengawal bagian dalam boleh memasuki dalam istana dengan bebas, tetapi pengawal bagian luar tidak diperbolehkan, hanya boleh menjaga diluar istana.”

“Entah bagaimana caranya memilih pengawal bagian dalam itu?”

“Sebetulnya sangat sederhana, setiap dua tahun pasukan pengawal berbaju hitam itu, diadakan pertandingan ilmu silat satu kali. Yangg orangnya yakin mempunyai kepandaian cukup tinggi, boleh turut ambil bagian. Diwaktu bertanding, baik mati atau luka sudah saja. Bagi orang yang berkepandaian tinggi, dipilih menjadi pengawal yang baru selalu menyertai Ong-ya dan sisanya dipilih menja di pengawal bagian dalam, sisanya lagi barulah pengawal bagian luar”

“Ooo. Kiranya begitu.”

Thong Luy tersenyum, kemudian berkata: “Kecuali setiap dua tahun diadakan pertandingan ilmu silat, masih diadakan pertandingan yang tidak ditentukan waktunya, jikalau ada lowongan dalam duabelas pengawal Ong-ya, segera diadakan pilihan dari pasukan pengawal bagian dalam untuk mengisi lowongan itu. Jika dalam pengawal bagian dalam terdapat lowongan, diadakan pemilihan dari pasukan untuk mengisi lowongan tersebut.”

“Dan apabila pengawal bagian luar terdapat lowongan, darimana dicarinya untuk mengisi lowongan itu?”

“Pengawal bagian luar, jumlahnya tidak terbatas, barang siapa yang diterima menjadi orang-orangnya Ong-ya, semua dimasukkan dalam lowongan pengawal luar.”

Touw Thian Gouw yang mendengarkan keterangan orang itu, agaknya tahu banyak tentang keadaan orang-orang dalam istana, ini merupakan suatu kesempatan baginya untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang diri Kun-liong Ong, maka ia bertanya pula: “Pasukan pengawal luar tidak dibatasi, niscaya orangnya banyak sekali, kiranya pengawal bagian dalam, jumlahnya orangnya juja tidak ditentukan?”

“Pengawal bagian dalam, jumlahnya duapuluh empat orang, apabila ada satu yang mati, segera dicarikan gantinya dari pengawal bagian luar.”

Touw Thian Gouw khawatir akan menimbulkan kecurigaan, maka tidak berani banyak bertanya lagi.

Dua orang itu berjalan kira2 sepuluh pai, benar saja disitu terdapat rimba lebat.

Dari dalam rimba itu tiba2 terdengar orang menegur: “Siapa?”

Thong Luy menghentikan kakinya dan menjawab “Kap-it- bok, dari timur.”

Dari dalam rimba itu muncul dua orang berpakaian hitam, orang yang berjalan dimuka berkata dengan suara perlahan: “O, saudara Thong, mari lekas sembunyi kedalam rimba.”

“Ini adalah saudara Touw yang belum lama masuk dalam pasukan kita, ia ditaruh dibawah perintah Toa Kuncu ”

Orang itu menggoyangkan tangannya mencegah Thong Luy melanjutkan perkataannya, lalu berkata: “Toa Khuncu sudah mengkhianati Ong-ya, sebaiknya jangan sebut-sebut tentang dirinya.”

Thong Luy menganggukan kepala tidak menjawab, ia mengikuti orang itu berjalan kedalam rimba.

Touw Thian Gouw menganggukkan kepala memberi hormat kepada dua orang itu. Tak disangka dua orang itu tidak menghiraukan, hingga dalam hati berpikir: “keterangan Thong Luy sedikitpun tidak salah, diantara pengawal berbaju hitam sedikitpun tidak mempunyai perasaan persahabatan.

Tiba didalam rimba orang berbaju hitam itu berkata sambil menunjuk kepada dua buah pohon besar yang berada ditempat tujuh atau delapan kaki: “Kalian berdua berjaga dibelakang pohon itu.”

Thong Luy tidak bertanya lagi ia berjalan ke tampat yang ditunjuk sambil menarik tangan Touw Thian Gouw.

Setelah sembunyikan diri dibelakang pohon besar itu, Thong Luy berkata dengan suara perlahan: “Penjagaan dalam rimba ini keras sekali, mungkin Ong-ya akan tiba ”

Ia agaknya merasa bahwa perkataannya itu kurang jeias, maka setelah diam sejenak, ia berkata pula, “Gerak gerik Ong- ya, selalu sangat misterius. Ia kadang-kadang pergi seorang diri, beberapa bulan tidak pulang keistana. Dalam perjalanan itu tidak membawa pengawal seorangpun juga, tetapi ada kalnya mengadakan penjagaan sangat kuat, duabelas pengawalnya dibawa serta semuanya.”

“Tindakan Ong-ya, sudah tentu tidak dapat dimengerti oleh orang-orang seperti kita ini” berkata Touw Thian Gouw.

Ia tahu bahwa orang-orang yang dijadikan pengawal itu, semua sudah diberi obat untuk melupakan dirinya sendiri, jiwanya sudah dikendalikan, maka mereka sangat setia kepada Kun-liong Ong. Dalam rimba lebat itu, sudah penuh dengan mata2 Kun liong Ong. Apabila kurang hati-hati dalam pembicaraan mereka akan menimbulkan kecurigaannya.

Thong Luy memperdengarkan suara batuk perlahan kemudian berkata: “Harap saudara menjaga dibelakang pohon, siaotee hendak kesebelah kiri.”

“Silahkan.”

“Apabila ada urusan, aku nanti akan panggil kau”

Touw Than Gouw sembunyi dibelakang pohon besar itu, ia memejamkan kedua matanya untuk mengatur pernapasannya.

Tiba-tiba terdengar derak kaki kuda. Touw Thian Gouw membuka matanya, ia segera dapat melihat dua ekor kuda, dengan dilarikan pesat mendatangi kearahnya.

Dari dalam rimba terdengar suara orang yang menegur: “Siapa?”

Kemudian disusul oleh berkelebatnya sepuluh lebih bayangan orang yang lompat keluar dari dalam rimba.

Dua penunggang kuda itu berhenti dan kemudian lompat turun dari atas kudanya masing2.

Penunggang kuda itu barangkali tidak rendah kedudukannya. Sepuluh orang lebih yang melompat keluar dari dalam rimba, semua maju mengerumuni, diantaranya menyambut dua ekor kuda, dan dibawanya kedalam rimba yang lainnya mengajak dua orang itu memutar kedalam rimba melalui jalanan kecil yang terdapat dirimba itu.

Touw Thian Gouw tldak tahu berkedudukannya dua orang itu. Sayang karena keadaan malam itu sangat gelap sehingga ia tidak dapat melihat tegas kedua orang itu.

Dalam waktu singkat sudah ada beberapa orang lagi yang keluar menyambut tidak putus2. Dua orang barangkali mempunyai kedudukan tinggi, sebab orang2 yang keluar menyambut berlaku hormat sekali kepada mereka,

Touw Thian Gouw diam2 menghitung jumlah orang itu, ternyata sudah sepuluh lebih hingga menimbulkan keheranan, sebab empat raja muda, orang2 nya hanya lima atau tujuh orang saja, terdapat penghormatan begitu banyak orang....

Diam-diam ia mengambil keputusan apabila ada datang lagi ia juga akan keluar untuk melihat bagaimana orangnya.

Pada saat itu tiba2 tampak sesosok bayangan putih lari mendatangi. Orang2 dalam rimba segera keluar menyambut. Touw Thian Gouw juga mengikuti rombongan orang2 ltu keluar dari dalam rimba.

Bayangan putih itu setelah berada didekat rimba berenti, kiranya adalah sebuah tandu kecil yang tertutup dengan kain berwarna putih perak. Tandu digotong oleh empat orang wanita yang bertubuh kuat.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan itu, diam2 berpikir sambil mengerutkan alisnya “entah berkedudukan apa orang itu, dalam gelap gulita seperti ini, ia duduk didalam tandu yang memakai tutup warna putih, bukankah itu tidak akan menimbulkan perhatian orang?” 

Orang-orang berbaju hitam yang keluar menyambut, semua berlutut dihadapan tandu itu, Touw Thian Gouw juga turut berlutut.

Tandu itu masih tertutup, orang yang didalam tandu agaknya masih belum tahu ada yang menyambut.

Touw Thian Gouw yang merasa heran, saat ia mendongakkan kepalanya. Tiba2 bajunya merasa ditarik dari belakang.

Sebagai seorang cerdik dan banyak pengalaman tanpa menoleh ia sudah tahu bahwa itu adalah perbuatan Thong Luy, maka ia segera menundukkan kepalanya lagi.

Hingga tandu kecil itu berlalu dan orang2 yang berlutut sudah pada bangun, ia baru ikut bangun.

Begitu Touw Thian Gouw berdiri, Thong Luy sudah mengajaknya berjalan kelain tempat.

Berjalan kedalam sejauh lima enam tombak, Thong Luy baru berhenti dan berkata dengan suara perlahan: “Untung aku tadi berada dibelakangmu, apabila orang lain yang melihat barangkali kau sudah dibinasakan diluar rimba ini.” Touw Thian Gouw meskipun mengerti tetapi pura-pura bertanya: “Kenapa?”

“Tahukah kau siapa orangnya yang duduk didalam tandu kecil itu?”

“Tidak tahu.”

“Orang yang berada didalam tandu kecil itu adalah istri Ong-ya.”

“Istri Ong-ya?”

“Benar, peraturan dalam istana keras sekali, terutama seorang yang berkedudukan sebagai nyonya rumah, lebih2 bukan orang biasa yang biasa melihatnya. Meskipun pengawal dalam istana juga belum pernah melihat wajah nyonya Ong- ya.”

“Kiranya begitu, terima kasih.”

“Oleh karena itu, maka nyonya Ong-ya membuat sebuah tandu khusus warna putih perak, tidak perduli siapapun asal melihat tanda kecil itu, semua harus menundukkan kepala, tidak boleh melihat.”

“Peraturan serupa ini, bagaimana aku tahu? Jikalau bukan saudara yang memberi keterangan sekalipun mati aku juga masih tidak mengerti.”

“Sejak siaote menjadi pengawal diistana pada dua tahun berselang, belum pernah melihat nyonya Ong-ya meninggalkan istana barang selangkah, entah, apa sebabnya malam ini tiba disini, tampaknya. ”

Tiba-tiba ia bungkem, mungkin tiba2 sadar tidak seharusnya ia berkata terlalu banyak, kemudian ie berkata pula sambil mengulapkan tangannya: “Saudara Touw berdiam disini, jangan berlalu, siaote akan pergi sebentar segera kembali” Tanpa menunggu jawaban Touw Thian Gouw, dia sudah berjalan dengan tergesa-gesa.

Touw Thian Gouw berdiri, sementara dalam hatinya berpikir “pasukan pengawal ini agaknya dipengaruhi oleh semacam perasaan seram yang sangat misterius, diantara mereka sendiri satu sama lain pada tidak tenang dan selalu siap siaga. ”

Selagi masih berpikir, tiba2 terdengar suara siulan, kemudian disusul suara tindakan kaki orang banyak, beberapa orang pengawal baju hitam berjalan masuk kedalam rimba. Touw Thian Gauw juga mengikuti rombongan itu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi.

Berjalan kira2 duapuluh tombak lebih, tibalah dihadapan sebuah kuil yang terkurung oleh pagar tembok berwarna merah.

Pintu kuil itu setengah terbuka tetapi tidak tampak sinar lampu dari dalam, juga tidak terdengar suaranya.

Beberapa orang rombongan pengawal berbaju hitam itu, dengan cepat segera memencarkan diri keluar kuil.

Gerakan mereka agaknya sudah terlatih baik, hanya sepintas lalu saja memeriksa keadaan kuil itu, mereka segera memilih tempat masing-masing untuk sembunyikan diri, dalam waktu sekejap saja, orang-orang yang berjumlah sepuluh lebih itu, sudah tidak tampak barang seorangpun juga.

Dengan pengalamannya yang luas didunia Kang ouw, Touw Thian Couw telah menginsafi bahwa, tindakkan kali ini ternyata salah. Dari gerak-gerik, orang itu, ia dapat menduga pasti bahwa orang ini tentunya pegawai bagian dalam, seperti apa yang dikatakan oleh Thong Luy......

Ia tahu apabila ia sendiri masih tetap berdiri di-tempatnya pasti akan menimbulkan kecurigaan orang, orang itu, maka dengan cepat ia lari kesamping pintu kuil untuk sembunyi tempat gelap.

Ia sangat cerdik karena waktu orang-orang itu berpencaran memilih tempat masing-masing untuk sembunyikan diri, hanya disamping pintu itu tidak ada orang jaga, maka ia memilih tempat itu.

Tidak lama diantaranya, dari dalam kuil tiba-tiba terdengar suara orang bertanya: “Apakah penjagaan sudah selesai diatur?”

Dari luar terdengar suara orang yang menyahut: “sudah selesai.”

Dari dalam kuil tampak sinar lampu, Touw Thian Gouw tanpa sadar sudah melongok kedalam, ia segera melihat seorang berbaju hitam membawa lampu lentera.

Berbagai pelosok dalam kuil itu segera menyusul beberapa lampu penerang, sehingga keadaan dalam kuil itu menjadi terang benderang.

Touw Thian Gouw menyaksikan pula bahwa dalam pekarangan kuil itu ada berdiri banyak orang, sedangkan tandu kecil putih perak itu berada dihadapan pendopo.

Satu suara yang berat keluar dari dalam pendopo: “Nyonya telah tiba, semua menyingkir. ”

Semua orang yang berada didalam pekarangan itu segera berlutut dan menundukan kepala.

Touw Thian Gouw setelah ragu2 sejenak, ketika orang banyak itu sedang berlutut, diam2 menyelinap masuk kedalam dan turut berlutut.

Ia lebih dulu sudah memperhatikan keadaan dalam pekaiang itu ia memilih disuatu sudut yang paling baik untuk mengintai. Sebentar kemudian, tandu itu terbuka tirainya, seorang wanita baju hijau dengan perhiasan permata yang sangat mewah, turun dari tandu terus masuk pendopo.

Meskipun keadaan terang, tetapi karena wanita itu berjalan tanpa menoleh, maka ia tidak dapat melihat bagaimana rupanya.

Setelah wanita itu menghilang dibalik pendopo orang banyak itu baru berdiri.

Touw Thian Gouw diam-diam memperhatikan keadaan orang-orang itu, ternyata satu sama lain bersikap dingin, seolah-olah tidak kenal, maka lalu memberanikan diri untuk melakukan pengintaiannya lebih lanjut.

Orang-orang itu jumlahnya banyak sekali, sebentar2 bergerak. Touw Thian Gouw menggunakan kesempatan diwaktu orang2 itu, ia geser kakinya keluar pendopo.

Dalam pendopo itu keadaan terang benderang, tetapi tidak terdengar suara orang bicara.

Antara pendopo dengan pekarangan itu meskipun terpisah tidak jauh, tetapi tempat itu tidak terdapat seorangpun tidak, apabila ada orang berjalan melalui tempat itu, pisti diketahuinya.

Oleh karenanya, maka Touw Thian Gouw tidak berani berjalan lagi, terpaksa ia harus nantikan kesempatan lain yang lebih baik.

Sebentar kemudian, tiba2 terdengar suara orang berkata: “Raja muda bagian timur telah tiba.”

Rombongan orang2 berbaju hitam itu bergerak! Kebelakang untuk membuka satu jalan.

Dua laki2 berbadan tegap, masuk dan setelah tiba diluar pendopo lalu minggir kesamping tepat berada didepan Touw Thian Gouw, sehingga merintangi pandangannya, hanya dalam keadaan samar2 ia melihat seorang tua berjubah panjang berjalan masuk kedalam pendopo.

Touw Thian Gouw menggeser kesamping dua langkah, untuk mendapat tempat yang lebih terang.

Sebentar lagi, terdengar pula suara orang berkata: “Raja Muda selatan telah tiba.”

Hampir bersamaan dengan itu, dua bocah laki2 berpakaian hijau berjalan masuk dibelakang dua bocah itu, tampak mengikuti seorang pemuda berpakaian warna biru.

Pemuda itu usianya kira2 duapuluh lima tahun, wajahnya tampan, perawakkannya tegap gagah.

Dua anak kecil berpakaian hijau itu masing2 dipunggungnya membawa sebilah pedang panjang, ketika didepan pintu pendopo mereka minggir ke samping, pemuda berpakaian biru itu terus masuk kedalam.

Touw Thian Gouw dalam hati berpikir, empat raja muda pembantu Kun-liong Ong itu, pasti berkepandaian sangat tinggi. Pemuda itu masih muda sekali usianya, ternyata sudah menjadi salah satu raja muda. Jikalau bukan karena berkepandaian sangat tinggi, tentunya adalah seorang jahat dan kejam.

Selagi masih berpikir, terdengar pula suara orang: “Raja Muda barat dan utara tiba bersama.”

Seorang laki2 tinggi besar dengan membawa senjata tombak perak berjalan masuk lebih dahulu kemudian seorang laki2 tua pendek kurus dan seorang lelaki setengah umur berkepala botak dan bermata satu, berjalan masuk bersama.

-odwo-

59 TOUW THIAN GOUW khawatir dirinya dilihat oleh Kim Goan Pa. Laki2 yang bersenjata tombak perak itu, maka buru-buru mundur dan menyusup didalam rombongan orang banyak.

Pada saat itu orang dihadapannya pada berlutut, maka ia buru2 juga berlutut, lengan bajunya digunakannya untuk menutupi kepalanya.

Sebentar kemudian seorang barjubah hijau, dengan gerakkannya yang gesit berjalan masuk ke dalam pendopo.

Orang itu wajahnya dingin seperti tidak berperasaan sama sekali, tetapi dari tindakan kakinya yang ringan gesit, dapat diduga bahwa orang juga berkepandaian tinggi sekali.

Dari dalam pendopo terdengar suara nyaring, “Harap tuan2 duduk ditempatnya masing2”

Semua orang dalam pekarangan itu, lalu duduk bersila ditempat masing2.

Touw Thian Gouw matanya menyapu kepada orang-orang itu. Orang-orang yang berada dibarisan kanan dan kiri, masing-masing berpakaian yang berwarna biru dan berpakaian pendek berwarna kuning, sudah terang bukan dari golongan istana. Oleh karenanya maka ia mulai berani, kakinya perlahan-lahan digeser, kepalanya melongok kedalam pendopo.

Pendopo itu dihias dengan baik, dihadapan meja topekong terdapat sebuah meja persegi panjang, diatas meja teralas oleh sepotong kain sutra berwarna kuning. Sebuah pedupaan yang terbuat dan batu kumala, terletak diatas meja. Pedupaan itu mengeluarkan asap yang memenuhi pendopo itu.

Orang berjubah hijau yang bukan lain dari Kun-liong Ong. Orang nampak duduk berjajar dengan seorang perempuan cantik berbaju hijau pula. Perempuan cantik berbaju hijau itu, diatas kepalanya terdapat sebuah topi yang khusus dibuatnya, wajahnya cantik tertutup oleh kerudung sutra tipis berwarna kuning.

Dikedua sisi meja ia duduk empat raja muda. Kecuali empat raja muda itu, masih ada lagi serang laki-laki tua berjenggot panjang dan berpakaian baju panjang duduk disamping Kun- liong Ong,

Touw Thian Gouw diam2 merasa heran, entah apa kedudukkan orang tua itu? Mengapa agaknya lebih tinggi dari pada empat raja muda. Kun-Jiong Ong tiba2 menoleh, tangannya menggapai, dua orang berbaju hitam segera menghampiri.

Kun-liong Ong membuka mulutnya, entah apa yang dikatakan dua orang itu, tetapi dua orang itu segera berjalan keluar.

Dua orang itu berhenti diatas tangga batu, memandang keluar sebentar, tiba2 berjalan kearah Touw Thian Gouw.

Ketika Touw Thian Gouw mengetahui gelagat tidak baik, dua orang itu sudah berada dihadapannya.

Seorang yang berada disebelah kiri menggapaikan tangannya seraya berkata: “Kau kemari!"

Touw Thian Gouw meskipun mengerti orang itu memanggil dirinya, tetapi ia pura2 tidak tahu, ia sengaja memandang kesana kemari dengan mata berputaran.

Orang yang sebelah kanan mengerutkan alisnya, ia masuk selangkah, tangannya menyambar Touw Thian Gouw seraya berkata: “Kau belagak gila, ataukah benar2 tidak dengar?"

Touw Thian Gouw merasakan betapa kuatnya tenaga orang itu, dalam hati terkejut, ia terpaksa berdiri.

Seorang yang sebelah kiri lalu berkata: “Ong-ya suruh kau masuk kedalam." Touw Thian Gouw tahu bahwa disekitar kuil itu penjagaan sangat kuat, tidak memungkinkan ia kabur terpaksa ia mengikuti dua orang itu naik ketangga batu, terus masuk kedalam pendopo. Dua orang berbaju hitam berdiri berdampingan didepan pintu pendopo.

Orang berjubah hijau itu berkata sambil tertawa dingin: “Apakah kau pengawal dalam istana?"

Touw Thian Gouw tadi sewaktu berjalan masuk ke pendopo, sudah memikirkan jawabannya pertanyaan Kun- liong Ong. Ia memang seorang cerdik, ditambah dengan pengalamannya didalam dunia Kang-ouw yang sudah luas, melihat sepintas lalu saja, ia sudah tahu tidak dapat membohong dengan dalih apapun juga. Untuk membohongi orang berjubah hijau itu, maka ia segera menjawab: “Hamba adalah pengawal bagian luar."

“Kau menjawab pertanyaanku tanpa kelakuan sopan, benar-benar kau tidak pandang tata tertib dalam istanaku” berkata orang berbaju hijau itu.

Touw Thian Gouw mengangkat tangan memberi hormat sambil menundukkan kepala, kemudian berkata: “Hamba belum lama menjadi pengawal istana sehingga tidak mengerti peraturan dalam istana."

“Kapan kau masuk barisan pengawal berbaju hitam?" “Hamba masuk barisan pengawal berbaju hitam, belum

cukup tiga bulan."

Sinar mata Kun-liong Ong yang dingin berputaran diwajah Touw Thian Gouw, kemudian berkata dengan nada suara dingin: “Apakah kau kira aku dapat kau bohongi?"

Touw Thian Gouw buru2 menyahut: “Keterangan hamba semuanya benar."

Kun-liong Ong mengangkat tangannya, jari tangannya segera mengeluarkan hembusan angin dari jauh menyerang jalan darah Touw Thian Gouw. Touw Thian Gouw melihat Kun-liong Ong menyerang dirinya dengan menggunakan ilmu totokan jalan darah dari jarak jauh, tetapi ia tidak berani mengelakkan, terpaksa menyerahkan dirinya ditotok sehingga jatuh roboh ditanah.

Kun-liong Ong lalu memerintahkan kepada dua orang berbaju hitam supaya menahan dulu Touw Thian Gouw, dan sebentar setelah selesai berunding akan diperiksa lagi.

Touw Thian Gouw meskipun sudah tertotok jalan darahnya, tetapi otaknya masih jernih ia merasa dirinya digotong dan dilemparkan kesuatu sudut didalam pendopo itu, waktu itu nasibnya sudah berada ditangan lawan, maka ia rnemejamkan dua matanya, diam2 mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, mencoba membuka sendiri totokannya.

Tiba-tiba telinganya mendengar satu suara yang sangat tinggi: “Aku sudah menghitung baik arah angin yang bakal meniup badanmu sendiri, asal bisa memancing mereka masuk kedalam barisan gaib yang kita pasang, tidak susah untuk membasmi mereka sekaligus, gambar peta ini, adalah gambar tanah belukar itu, harap saudara Ong periksa sendiri”

Hati Touw Thian Gouw tergerak oleh ucapan itu, ia membuka matanya.

Ia melihat orang tua yang duduk disamping Kun-liong Ong, dari dalam sakunya mengeluarkan sehelai lukisan dalam kain putih, diberikan kepada Kun-liong Ong,

Kun-liong Ong menyambut lukisan itu, diperiksanya dengan teliti, ia meletakkannya diatas meja, lalu berpaling dan berkata kepada raja muda utara Koo Pat Kie: “Kecuali orang2 dari partai Bu-tong-pay, masih ada orang2 dari mana lagi yang bisa datang?"

“Menurut apa yang hamba tahu, kecuali orang Bu-tong- pay, masih ada beberapa orang kuat dari Siao-liem-pay dan Ngo-bie-pay yang akan datang," berkata Koo Pat Kie. Kun-liong Ong menganggukkan kepala, matanya, ditujukan lagi pada raja muda selatan, kemudian bertanya: “Apakah sudah berhasil menemukan mata2 yang kita kirimkan ke golongan pengemis?"

“Sudah," jawab raja muda selatan itu.

“Bagus, bawa ia kemari untuk aku tanya." berkata Kun- liong Ong.

Touw Thian Gouw terperanjat, pikirnya: “dengan peraturan yang keras golongan pengemis dan kepandaian penasehatnya yang luar biasa itu, tetapi toh masih bisa kemasukan mata2 Kun-liong Ong. Urusan ini sungguh hebat, entah siapakah orangnya itu?

Pada saat itu pemuda berbaju biru yang duduk ditempat raja muda selatan, nampak berdiri, kemudian berjalan keluar, tidak lama kemudian, ia sudah masuk lagi dengan membawa saorang laki2 yang matanya tertutup oleh kain hitam.

Kun-liong Ong memandang laki2 itu sebentar lalu berkata: “Buka kain hitam yang menutupi matamu."

Laki-laki itu menurut, dan ia membuka sendiri kain hitam yang menutup matanya, tampak wajahnya yang berwarna sawo matang, ternyata adalah si Kaki Sakti Pek Kong Po yang sering mengikuti disamping Auw-yang Thong.

Bukan kepalang terkejut Touw Thian Gouw, ia sungguh tidak menduga bahwa orang itu ternyata adalah mata2 Kun- liong Ong yang dikirim kedalam golongan pengemis......

Kun-liong Ong berpaling dan berkata kepada orang tua berjenggot panjang itu. “Harap saudara tolong tanyakan kepadanya."

Orang tua itu lalu menggapai Pek Kong Po pa bertanya: “Kau kemari." Pek Kong Po menurut, ia berkata dengan suara perlahan: “Disini banyak orang, kurang tepat untuk bicara”

Orang tua itu berdiri dan berkata: “Mari kita bicara dibelakang meja toapekong.”

Ia bergerak berjalan lebih dahulu menuju ke ruangan belakang toapekong.

Kun-liong Ong mengawasi berlalunya dua orang itu sejenak, tangannya dengan perlahan menepuk meja, kemudian berkata: “Dalam dunia Kang-ouw pada dewasa ini, yang benar-benar dapat mengimbangi kekuatan kita, bukan lagi orang-orang dari sembilan partay besar, melainkan orang- orang golongan pengemis yang pada waktu paling belakang ini besar sekali pengaruhnya.”

Tiba-tiba ia berdiam, sinar matanya menyapu wajah empat raja muda, kemudian berkata pula dengan nada suara dingin:

“Golongan pengemis mempunyai banyak tenaga orang kuat, terutama penasehatnya yang bernama Teng Soan dengan gelarnya Siao-yao-siucay, adala orang ahli pemikir, organisatoris dan akhli siasat yang mempunyai kecerdikan luar biasa, baik dalam pertempuran kekuatan tenaga maupun mengadu siasat kepintaran, semua dapat mengimbangi kekuatan kita. Saudara-saudara berempat, masing-masing mempunyai kepandaian ilmu-silat luar biasa. Hal ini kami ketahui dan selalu menjunjung tinggi, maka dalam pertempuran kali ini, semoga berhasil mendapat kemenangan total, dengan sekaligus dapat membasmi orang-orang kuat dalam golongan pengemis. "

Raja muda utara Koo Pat Kie tiba2 berkata, “Ong-ya kalau memang benar2 sudah berkata hendak mengadu kekuatan dengan golongan pengemis, sebaiknya mengundang mereka dan mengadakan pertandingan secara laki-laki, dengan mengandalkan kepandaian masing-masing."  “Ini merupakan suatu tindakan yang paling bodoh dengan jalan bertanding mengadu kekuatan. Meskipun bisa diketahui siapa yang lebih unggul dan siapa yang asor dalam waktu satu hari, tetapi kedua pihak, semua akan mengalami kerusakan besar. Meskipun sembilan partai besar belum pernah kebentrok langsung dengan kita, tetapi semua sudah bersiap siap untuk menghadapi kita. Dengan demikian, maka pertandingan itu pasti akan menggemparkan dunia Kang ouw. Apabila sembilan partay besar masing2 mengirim orang orang yang kuat membantu Auw-yang Thong, maka siapa yang akan keluar sebagai pemenang susah diduga "

Bicara sampai disitu tiba2 berhenti, dari badannya mengeluarkan empat sampul tertutup lalu berkata pula: “Dalam empat sampul ini, sudah tertulis jelas apa yang kalian harus lakukan, asal kalian dapat melakukan dengan baik, maka tidaklah sukar untuk membasmi orang2 golongan pengemis."

Raja muda selatan dengan sinar mata tajam mengawasi sampul itu, tanpa sadar sudah mengeluarkan perkataan: “barisan sungai berdarah."

“Benar, barisan sungai berdarah. Aku hendak membentuk barisan sungai berdarah ini. Diatas tanah datar seluas sepuluh pal, kalian berempat mssing-masing menduduki pos di satu bagian” berkata Kun-liong Ong.

“Perhitungan dan rencana Ong-ya, dalam dunia ini susah dicari tandingannya, untuk membuat rencana ini pasti sudah dipikir masak-masak lebih dulu, kita pasti mendukungnya dengan penuh tenaga” berkata raja muda selatan.

“Itulah sebabnya maka kami percayakan tugas ini kepada saudara berempat”

Empat Raja muda itu semua bangkit dari tempat duduknya untuk memberi hormat sambil mengucapkan terima kasih. “Dalam sampul itu, sudah dijelaskan, nanti saudara2 setelah membacanya pasti mengerti sendiri, sekarang waktu sudah hampir pagi, kalian juga perlu harus mengatur orang2 kalian, “berkata Kun-liong Ong.

Empat raja muda itu memberi hormat lagi, kemudian mengundurkan diri.

Touw Thian Gouw yang mendengar pembicaraan itu diam2 terkejut, pikirnya: “Ternyata Kun-liong Ong sudah mempersiapkan rencana keji, hendak membasmi golongan pengemis, entah bagaimana dengan Auw-yang Thong, apakah ia mengetahui urusan ini? Bagaimana aku harus berusaha untuk memberitahukan kepadanya?

Sementara itu ia terdengar pula Kun-liong Ong berkata: “Didalam sampul itu, terkecuali menjelaskan tugas dan pekerjaan yang saudara2 akan lakukan, masih terdapat lukisan peta tempat itu, asal kalian dapat melakukan menurut garis2 dan waktu yang ditentukan, barisan sungai berdarah itu nanti akan menunjukkan bukti kehebatannya."

Empat raja muda itu yang sebetulnya sudah berada dipintu pendopo, ketika mendengar perkataan itu, dengan serentak menghentikan kakinya, hingga selesai ucapan Kun-liong Ong, baru keluar dari pendopo.

Sebentar kemudian, diluar terdengar suara tindakan kaki orang banyak yang perlahan2 menghilang, itu adalah empat raja muda yang sudah meninggalkan tempat itu bersama orang-orangnya.

Touw Thian Gouw yang diletakkan disatu sudut dalam pendopo, tidak dapat melihat keadaan diluar, hanya dari suara tindakkan kaki orang itu, ia dapat menduganya bahva empat raja muda itu sudah berlalu.

Kun-liong Ong setelah menyaksikan berlalunya tempat raja mada itu, ia berkata dengan suara perlahan kepada istrinya, kemudian berlalu dengan tergesa-gesa. Dalam pendopo itu suasana mendadak menjadi sunyi. Tujuh atau delapan orang berbaju hitam tersebar di berbagai sudut dalam ruangan itu, penjagaan nampaknya masih keras, tetapi suasana sunyi senyap.

yang paling mengherankan Touw Thian Gouw adalah orang tua berjubah panjang itu, setelah mengajak Pek Kong Po kebelakang meja toapekong, lama belum muncul keluar, meskipun dalam ruangan itu sunyi senyap, tetapi tidak terdengar suara pembicaraan mereka. Ia memikirkan soal penghianatan Pek Kong Po terhadap golongan pengemis, sehingga melupakan dirinya sendiri.

Dan lagi perempuan berbaju hijau yang katanya adalah istri Kun-liong Ong, sejak masuk kedalam kuil itu, bukan saja belum pernah dengar sepatah kata dari mulutnya, bahkan sejak ia duduk, bergerak sajapun tidak.

Entah berapa lama telah berlalu, perempuan itu tiba-tiba mengangkat tangannya dan berkata dengan suara perlahan: “Kalian padamkan api itu, keluarlah semua! Aku hendak duduk seorang diri."

Entah karena orang-orang berbaju hitam itu sudah melupakan Touw Thian Gouw, ataukah karena wibawa perempuan itu, sehingga orang-orang itu tidak berani bertanya, beberapa orang itu bertindak dengan serentak memadamkan penerangan lampu, kemudian keluar dari pendopo.

Dalam ruangan itu mendadak gelap gulita.

Touw Thian Gouw menyandarkan kepalanya di dinding, sambil berpikir: “Perempuan ini pasti istri Kun-liong Ong. Orang kejam dan buas semacam Kun-liong Ong, mengapa demikian hormat terhadap istrinya?. ”

Selagi berpikir, tiba2 terdengar suara seruling mengalun diudara. Touw Thian Gouw yang memperhatikan suara seruling itu ternyata keluar dari arah dimana perempuan itu duduk.

Suara seruling itu, semula memperdengarkan lagu irama kesedihan, sebentar kemudian lagu semakin menjedihkan, se- olah2 ratapan tangis dari seorang yang tertimpa oleh perasaan duka.

Tanpa sadar Touw Thian Gouw timbul rasa simpatinya, sehingga tanpa sadar pula ia sudah berkata sambil menghela napas: “Irama seruling nyonya ini sangat menawan hati. "

Suara seruling itu mendadak berhenti, keadaan dalam ruangan itu sunyi kembali.

Tetapi sebentar kemudian suara seruling itu terdengar lagi, kali ini iramanya tidak demikian menyedihkan seperti semula.

Touw Thian Gouw diam2 memperhatikan irama itu, dakam hati timbul semacam perasaan ia pun mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengimbangi irama seruling itu.

Pada saat itu, irama seruling itu tiba2 berubah dalam dan rendah samar2 seperti membangkitkan napsu hidup manusia. Touw Thian Gouw bukan saja sudah dibangkitkan keinginannya hidup jadi sangat kuat, tetapi juga dibangkitkan kecerdasannya oleh suara seruling itu.

Sesaat kemudian, ia tiba2 merasakan bahwa totokan jalan darahnya terbuka sendiri darah mengalir seperti biasa.

Pikirannya per-lahan2 mulai jernih sebagai seorang Kang- ouw yang sudah ulung, meskipun totokan jalan darahnya sudah terbuka, tetapi ia masih belum berani melakukan tindakan gegabah, ia membuka matanya, untuk men-cari2 didalam kegelapan itu.

Ketika suara seruling itu berhenti lagi, suasana dalam ruangan kembali sunyi senyap, hanya diluar kuil samar2 terdengar suara bergoyangnya daun2 di atas pohon yang tertiup angin. Touw Thian Gouw mempunyai daya pemandangan luar biasa, apalagi setelah berada dalam kegelapan begitu lama, ia tambah dapat menyesuaikan dalam gelap, didalam ruangan yang gelap itu, kecuali perempuan berbaju hijau itu, agaknya sudah tidak ada orang lain lagi.

Dari suara seruling itu, Touw Thian Gouw sudah merasakan apa sebabnya perempuan itu ditakuti dan dihormati demikian rupa oleh Kun-liong Ong. Dalam hal ini agaknya banyak segi2 dan sebab-sebabnya. Bukan hanya lantaran ia seorang wanita, sedangkan pakaian dan dandanan perempuan itu, nampaknya menambahkan banyak misteri atas dirinya.

Meskipun Touw Thian Gouw tidak dapat menduga duga pasti apa sebabnya perempuan itu hendak menolong dirinya, tetapi ia yakin benar bahwa suara seruling itu dengan sengaja membantu dirinya untuk membuka totokan jalan darahnya, perlahan ia bangkit dari tempatnya, kakinya digeser dua langkah, untuk memperhatikan perempuan itu melakukan tindakan apa.

Apa yang terjadi sesungguhnya diluar dugaannya, bersamaan pada saat ia menggeser kakinya, perempuan itu juga bangun perlahan-perlahan dari tempat duduknya, berjalan menuju belakang tepekong

Tindakkannya itu tiba-tiba mengingatkan Touw Thian Gouw kepada satu hal, orang tua berjenggot hitam itu setelah mengajak Pek Kong Po ke ruangan belakang itu, selama itu belum nampak keluar lagi, kalau begitu belakang meja tepekong itu, sudah pasti ada jalan rahasia yang menembus entah kemana.

la tidak dapat memastikan tindakkan apa selanjutnya yang dilakukan oleh perempuan itu setelah masuk diruangan belakang itu, apakah ia sengaja menunjukan jalan baginya untuk melarikan diri? Tetapi ia percaya meskipun perempuan itu memakai kerudung sutra tipis, rasanya juga tidak dapat menghalangi daya pandangan perempuan itu, segala gerak- gerik dirinya pasti tidak akan lolos dari mata perempuan itu.

Diluar pendopo banyak pengawal baju hitam yang: menjaga, diluar kuil penjagaan semakin keras, apabila benar dibelakang meja toapekong itu adalah jalan yang menembus keluar, ini adalah suatu kesempatan yang baik baginya untuk meloloskan diri dari bahaya.

Touw Thian Gouw coba mengatur pernapasannya, ia merasa kekuatan tenaga dan kepandaiannya sudah pulih kembali seluruhnya, maka perlahan-perlahan ia menggeser kakinya menuju kebelakang meja toapekong itu.

Ditempat itu benar saja sudah tidak tampak jejak perempuan itu, begitu pula orang tua berjenggot hitam itu dan Pek Khong Po.

Sejenak Touw Thian Gouw merasa sangsi,, kemudian berjalan maju, dibelakang sebuah patung tinggi besar ia menemukan sebuah lobang goa selebar tiga kaki persegi, dalam goa itu ada tangga batu yang merupakan kebawah, selagi ia hendak berjalan turun, tiba-tiba berpikir: “Apabila lobang ini bukan jalan keluar pasti adalah kamar rahasia.

Itu merupakan suatu pilihan baginya untuk mencari jalan hidup atau mati, apabila lobang itu merupakan suatu jalan, maka ada harapan baginya untuk hidup, tetapi apabila itu merupakan satu kamar rahasia, maka sudah tidak ada lagi harapan untuk hidup lagi baginya.

Karena sudah tidak ada pilihan lain, maka setelah berpikir sejenak, ia lalu berjalan turun kedalam lobang sambil siap siaga, apabila menemukan musuh, hendak diserangnya dengan seluruh tenaga.

Tangga batu itu kurang lebih cuma tujuh tingkat, sebentar saja ia sudah berada di tempat teratas, disitu terdapat sebuah lorong yang lebarnya kira-kira empat kaki, menuju kebelakang. Berjalan kira-kira sejauh sepuluh tombak, jalan dibawah tanah itu tiba-tiba menanjak keatas, ketika ia mengangkat kepala, samar-samar nampak sinar bintang, ternyata sudah sampai dimulut lobang goa.

Kali ini ia dapat lolos dari tempat bahaya dengan mudah, sesungguhnya diluar dugaannya, dengan cepat ia berjalan keluar dari mulut goa yang tertutup oleh rumput dan alang2, kemudian menyembunyikan diri didalam alang-alang, ia memandang keadaan disekitarnya, nampaknya seperti ditepi rimba.

Ia tahu bahwa disekitar tempat itu, masih ada penjagaan kuat, dari pada lari, lebih baik keluar secara terus terang, dengan dandanannya sebagai pegawai itu, mungkin dapat mengelabui mata orang2 yang menjaga.

Selagi hendak berjalan, dipundak kirinyaa tiba-tiba merasakan ditekan oleh satu tangan yang kuat. Tindakan tiba- tiba dan tanpa suara itu agaknya dilakukan oleh orang yang selama sembunyi didalam alang-alang itu.

Touw Thian Gouw yang sudah pernah menghadapi banyak musuh tangguh, hanya sejenak ia terkejut lalu tenang lagi, ia tidak meronta, juga tidak melawan. Per-lahan2 ia membalikkan kepalanya dibawah sinar bintang matanya dapat melihat dengan tegas, bahwa itu ada satu tangan yang putih halus, lima jari tangannya yang runcing, mencekam erat tulang pandaknya, tangan itu ternyata tangan seorang perempuan.

Karena tangan itu mencekam erat tulang pundaknya sehingga Touw Thian Gouw tidak dapat menggerakkan badannya, kecuali tangannya yang putih halus, ia tidak dapat melihat apa-apa lagi. Tetapi telinganya dapat menangkap suara tindakan kaki yang dari jauh terdengar semakin dekat, agaknya ada orang jalan mendatangi. Touw Thian Gouw merasa cemas, karena pada saat itu ia sudah berada ditempat terbuka, apabila orang itu berjalan kearahnya pasti akan terlihat. Tanpa disadari ia sudah memutar balik badannya dan mundur kebelakang.

Kali ini tangannya putih halus itu tidak merintangi perbuatannya, sehingga ia dapat menyembunyikan diri kedalam alang-alang. Ia hanya merasa bahwa badannya itu menyentuh badan orang, bau harum menusuk telinganya.

Pada saat itu dua orang berbaju hitam berjalan melalui samping alang-alang itu menuju kedalam rimba.

Touw Thian Gouw menggerakkan badannya, kemudian berkata dengan suara perlahan: “Terima kasih atas petunjuk nyonya."

Tangan halus yang berada dipundaknya sudah di tarik kembali, tetapi tidak terdengar suara jawaban apa-apa.

Touw Thian Gouw per-lahan2 bangun berdiri dan berkata pula: “Budi nyonya, dikemudian hari aku pasti membalasnya, sekarang aku minta diri."

Ia berkata banyak, tetapi selama itu belum pernah menoleh, setelah itu ia berjalan dengan tindakan lebar.

Selama ia berjalan itu, ia menampak banyak orang berbaju hitam berdiri dibelakang pohon atau dipinggir semak-semak, tetapi tiada seorangpun yang merintangi atau menegur dirinya.

Touw Thian Gouw berjalan dengan tindakan lebar seolah- olah tidak ada kejadian apa, dengan demikian ia telah berhasil mengelabui mata orang-orang yang melakukan penjagaan itu.

Tidak lama kemudian semakin jauh ia meninggalkan tempat itu, lalu mempercepat tindakan kakinya. Sekejap saja ia berjalan kira2 tujuh pal setelah ditaksirnya sudah keluar dari tempat yang terjaga keras itu, ia berani lagi. Malam itu cuaca gelap, hanya sinar bintang2 di-langit yang menyinari jagat.

Touw Thian Gouw setelah lari cukup jauh tiba2 berhenti, pikirnya: “Dengan dandananku seperti ini, apabila berjumpa dengan orang2 golongan pengemis, pasti akan menimbulkan salah paham, masih tidak apa jika aku menemukan tempat kediaman Auw-yang Thong, tetapi apabila berjumpa dengan orangnya yang tidak mau dengar keteranganku, ini akan menimbulkan kerewelan. Sebaiknya aku menantikan sampai terang tanah, lebih dulu aku harus berusaha mencari rumah seorang penduduk desa, setelah berpakaian lalu berusaha lagi untuk menyampaikan maksud Kun-liong Ong yang hendak membasmi golongan pengemis.

Ia lalu mencari tempat dibawah pohon besar, disitu ia duduk sambil pejamkan mata untuk memulihkan tenaganya.

Ditengah malam buta dan keadaan sesunyi itu, tiba-tiba terdengar suara pakaian tertiup angin.

Suara itu sebetulnya tidak nyaring, tetapi bagi Touw Thian Gouw yang mempunyai daya pendengaran yang luar biasa, apalagi didalam keadaan sunyi maka dapat didengarnya dengan jelas.

Ketika ia membuka mata, sesosok bayangan tinggi besar, lari bagaikan terbang diatas jalan kecil sejauh dua tombak dari tempat duduknya. Kecepatan jalan orang itu sesungguhnya sangat mengagumkan, caranya berjalan jauh berbeda dengan orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh, maka ia segera teringat dirinya Pek Kong Po. Pikirnya: “Orang ini berjalan pesat sekali, juga berlainan dengan orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh, sudah pasti adalah Pek Kong Po. Ia selalu mengikuti Auw-yang Thong, mengapa aku tidak membuntutinya. ” Demikian ia berpikir, segera berbangkit dan dengan menggunakan ilmunya meringankan tubuh ia mengejar bayangan itu.

Semula ia tidak merasakan apa2, tetapi sebentar kemudian ia sudah merasa lelah, ia merasa kecepatan orang itu, sesungguhnya luarbiasa, sehingga ia harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya baru dapat mengejar.

Namun demikian, akhirnya ia ketinggalan juga, maka hanya dapat menyaksikan bayangan Pek Kong Po yang makin lama makin jauh dan akhirnya menghilang ketempat gelap.

Sambil mengagumi kecepatan Pek Kong Po, Touw Thian Gouw melanjutkan pengejarannya.

Ketika ia sudah kehilangan tujuan orang yang dikejar, terpaksa mengejar menurut dugaan dan ancer2nya sendiri.

Selagi mengejar menurut dugaan dan bingung, tiba2 terdengar suara orang menegurnya: “Siapa?"

Touw Thian Gouw menduga orang yang menegur itu pasti orang-orangnya golongan pengemis, yang sedang melakukan penjagaan ditempat gelap. Tetapi ia takut menemukan orang- orangnya Kun-liong Ong, maka ia diam saja, dau lari menuju kearah suara itu tadi.

Dari tempat gelap tiba2 melompat keluar seorang berpakaian abu2 dengan tangan membawa seujata golok menghadang dihadapannya.

Dari pakaian orang itu segera dapat dikenali adalah orang golongan pengemis.

Orang itu memandang Touw Thian Gouw dengan sinar mata dingin, kemudian berkata: “Melihat dandanan saudara, mirip sekali dengan pasukan pengawal baju hitam Kun-liong Ong," Touw Thian Gouw lebih dulu mengangkat tangan memberi hormat, kemudian berkata: “Apakah kau orang dari golongan pengemis?"

“Benar, saudara ada urusan apa?"

“Aku hendak menjumpai Auw-yang pangcu." Orang itu terkejut. “Kau siapa?"

“Aku yang rendah seorang she Touw."

“Apabila saudara hendak menjumpai pangcu, harap letakkan senjatamu."

Touw Thian Gouw yang mendengar perkataan itu, sejenak ragu2, kemudian menyerahkan sanjata pecutnya.

Orang itu menyambut senjata Touw Thian Gouwj kemudian berkata: “Pangcu kita meskipun baik budi, kepada siapa saja yang hendak menemuinya, selalu tidak pernah ditolaknya, tetapi keadaan pada saat ini agak berlainan, terpaksa aku minta saudara suka berlaku untuk menyesuaikan diri."

“Bagaimana caranya yang kau maksudkan?" “Mengikat kedua tanganmu."

“Apabila aku tidak suka diikat?"

“Kau sudah berada didalam kepungan yang rapat, kalau kau tidak suka diikat, juga tidak bisa mengundurkan diri dalam keadaan utuh."

Touw Thian Gouw memandang keadaan sekitarnya, ternyata tidak nampak bayangan orang.

“Apakah kau tidak percaya?" bertanya orang itu, kemudian membunyikan suara siulan.

Beberapa bayangan orang muncul dari berbagal penjuru mengurung Touw Thian Gouw. Orang itu berkata pula: “Kau menyerahkan senjatamu kepadaku, tentunya pandai menggunakan tangan kosong."

Touw Thian Gouw yang menyaksikan dirinya terkurung, lalu mengangkat tinggi kedua tangannya seraya berkata: “Memasuki daerah orang harus menurut peraturan dan kebiasaan daerah itu, silahkan tuan mengikat tanganku."

Orang itu lalu mengeluarkan seutas tali untuk mengikat tangan Touw Thian Gouw, kemudian berkata sambil tertawa: “Sekarang kita boleh pergi."

Orang-orang yang mengurung Touw Thian Gouw tadi, segera memencarkan diri dan menghilang lagi ditempat gelap.

Touw Thian Gouw dengan tangan terikat berjalan dibelakang orang berbaju abu2 itu. Setelah melalui sebuah jalanan kecil, dan sunyi tibalah di depan sebuah rumah atap, orang itu lalu menepuk tangannya tiga kali.

Ketika pintu rumah itu terbuka, dari dalam muncul seorang tinggi besar dengan muka sawo matang, yang bukan lain dari pada Pek Kong Po.

Touw Thian Gouw terkejut, pikirnya: “orang ini selalu berada disamping Auw-yang Thong, apabila ia menghendaki jiwa pangcunya, benar-benar mudah sekali turun tangan.

Pek Kong Po membuka matanya lebar-lebar ia memandang Touw Thian Gouw sesaat lamanya, baru berkata dengan nada suara dingin: “Orang ini adalah anggauta pasukan baju hitam Kun-liong Ong, bawa keluar dan bunuh saja."

“Dia sudah berlaku menurut peraturan golongan kita hendak menjumpai pangcu dengan tangan terikat...." berkata orang yang membawa Touw Thian Gouw itu.

“Kalau begitu kau korek dulu biji matanya” pemotong Pek Kong Po.

“Ini " berkata orang itu terkejut. “Tidak perlu ini itu, apabila pangcu menyalahkan kau, akulah yang tanggung jawab."

Touw Thian Gouw diam2 siap sedia, ia berkata dengan nada suara dingin: “Pek Kong Po, apakah kau takut aku membuka rahasiamu dihadapan Auw-yang pangcu?"

Perkataan itu mengejutkan orang berbaju abu2 itu, ia berpaling dan bertanya kepada Touw Thian Gouw: “Apa kau katakan?"

Touw Thian Gouw menjawab sambil tertawa terbahak- bahak: “Pek Kong Po takut aku membuka rahasianya dihadapan pangcu, tentu saja hendak membunuh aku."

Selama ia berkata, sepasang matanya terus menatap Pek Keng Po, takut ia menyerang secara tiba2.

Tetapi apa yang terjadi ternyata diluar dugaan, Pek Kong Po bukan saja tidak marah atau turun tangan, sikapnya malah nampak lunak, sambil tertawa hambar ia berkata: “Orang ini sudah gila, sudah lama aku dengar orang-orang Kun-liong Ong semua diberi makan obat yang melupakan dirinya, apabila tidak makan obat pemunah pada waktunya, orang2 itu akan mati dalam keadaan hancur luluh sekujur badannya, maka barang siapa yang diterima sebagai pembantu Kun-liong Ong, seumur hidupnya tidak berani berlaku khianat, cerita itu nampaknya tidak bohong."

-odwo-

60

ORANG berbaju abu-abu itu yang mendengarkan pertengkaran sengit antara dua orang itu, merasa terheran- heran, setelah berpikir sejenak, kemudian berkata: “Saudara Pek sudah banyak tahun mengikuti pangcu, sekalipun Kun- liong Ong menggunakan siasat hendak memecah belah antara kita, juga susah berhasil, apalagi kecerdikan pangcu lebih daripada manusia biasa, pandangannya juga sangat tajam, orang ini minta bertemu, mungkin ada urusan penting, apa salahnya kalau saudara Pek memberitahukan kepada pangcu dulu."

“Kalau begitu, biarlah kau tinggalkan dia di sini!"

Orang berbaju abu2 itu lalu menyerahkan pecut mas Touw Thian Gouw kepada Pek Kong Po seraya berkata: “Pecut mas ini kuserahkan sekalian kepadamu."

Setelah Pek Kong Po menyambut pecut itu, orang berbaju abu2 itu lalu berlalu.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan keadaan demikian, ia beranggapan tidak ada gunanya bicara lagi, maka ia lalu diam dan siap sedia untuk menjaga segala kemungkinan.

Pek Kong Po menunggu sampai orang berbaju abu2 itu sudah pergi jauh, ia baru berkata sambil tertawa dingin: “Tali yang mengikat kepada dua tanganmu itu, terbuat dari urat sapi dan rambut manusia, jikalau kau ingin memutuskan dengan mengerahkan tenaga dalammu, itu berarti mencari kesulitan sendiri”

“Sekalipun ikatanku tidak terlepas, kau juga belum tentu dapat melukai diriku," berkata Touw Thian Gouw menantang.

“Kau sungguh sombong, aku tidak percaya kau mempunyai ketangkasan semacam itu," berkata Pek Kong Po sambil tertawa.

“Kau mendapat nama julukan kaki sakti, barangkali kau tidak khawatir aku lari, tetapi kau dapat mencelakakan diriku atau tidak, kau boleh coba saja. Tetapi sebelum kita bertindak, aku ingin minta keterangan dua soal darimu."

“Katakanlah."

“Nama Auw-yang Pangcu sudah termasjhur didalam dunia, kepandaiannya sangat tinggi, tetapi mengapa daya pendengarannya begitu kurang? Suara tertawaku tadi, dalam waktu malam yang sunyi ini, tentu dapat didengar sejauh beberapa pal, mengapa ia tidak dengar?"

“Akalmu pintar sekali, sayang kedatanganmu sudah terlambat."

“Apa? Apakah Auw-yang pangcu. "

“Ia sedang tidur nyenyak."

Touw Thian Gouw tiba2 mendongakkan kepala dan menarik napas, kemudian berkata: “Orang berkata kepandaian Teng Soan sebagai ahli pemikir, dapat dijajarkan namanya dengan Khong Beng dizaman Sam-kok, tetapi nampaknya itu hanya nama kosong belaka "

“Mengapa kau berkata demikian?"

“Jikalau Teng Soan benar mempunyai kepintaran semacam itu, seharusnya siang2 ia tahu akal muslihatmu yang sangat keji."

“Sayang selanjutnya kau sudah tidak mendapat kesempatan untuk melihat Teng Soan lagi," berkata Pek Kong Po sambil tertawa dingin, kemudian membabat Touw Thian Gouw dengan pecut masnya.

Touw Thian Gouw yang sudah siap sedia, melompat setinggi empat kaki, menghindarkan serangan tersebut, kemudian menendang dengan kakinya.

Pek Kong Po agaknya tidak menduga Touw Thian Gouw yang terikat kedua tangannya, masih dapat melakukan pembalasan dengan menggunakan kakinya, hampir saja ia kena tertendang, dalam keadaan repot ia melompat mundur beberapa kaki.

Namun ia tidak tahu bahwa gerak tipu Touw Thian Gouw itu, adalah ilmu simpanannya yang jarang digunakan, jika tidak terancam jiwanya. Setelah melakukan tendangan yang pertama, tendangan yang kedua segera menyusul.

Pek Kong Po mulai terdesak dan mundur dua langkah untuk menghindari serangan tersebut.

Touw Thian Gouw dengan beruntun melakukan sampai enam kali, sehingga membuat Pek Kong Po sangat repot.

Tetapi setelah melakukan tendangan yang keenam Touw Thian Gouw sendiri juga jatuh dari udara. Pek Kong Po melemparkan senjatanya, ia balas menyerang dengan bertangan kosong, mulutnya mengejek dengan perkataan: “Jikalau aku menangkan kau dengan menggunakan senjata, dalam hatimu tentu tidak puas”

Sambil mengelakkan serangan Pek Kong Po, Touw Thian Gouw diam2 mencari kesempatan untuk balas menyerang.

Ia mengerti bahwa dalam keadaan demikan, serangannya itu harus dilakukan dengan tepat, dan harus tepat pula mengenakan sasarannya, mengulur waktu, tidak menguntungkan dirinya sendiri. Tetapi kepandaian lawannya itu, agaknya tidak dibawah dirinya, kegesitan dan kelincahannya, sekalipun ia sendiri dalam keadaan bebas, juga tidak mudah mengalahkan. Apalagi dalam keadaan terikat kedua tangannya, jikalau tidak lekas berusaha mencari kemenangan, akhirnya pasti akan terluka ditangan lawannya.

Ia berlaku pura2 sudah mulai lelah, tindakannya lambat.

Pek Kong Po berkata sambil tertawa dingin: “Perlukah aku membuka ikatanmu?"

Ia berkata sambil melancarkan serangannya.

Touw Thian Gouw mengelakkan diri kesamping, Pek Kong Po merangsak terus, tangan kirinya menyerang pundak Touw Thian Gouw, baru saja Pek Kong Po menyentuh pundaknya, Touw Thian Gouw sudah menjatuhkan diri. Pek Keng Po melengak, ia mengulurkan tangannya hendak menotok jalan darah pundak kiri Touw Thian Gouw.

Touw Thian Gouw memperdengarkan suara tertawa dingin, tiba2 melompat bangun, kaki kanannya secepat kilat menendang jalan darah Ciek-tie-hiat dilengan kanan Pek Kong Po

Pek Kong Po memusatkantenaga dalam, badannya lompat mundur lima langkah.

Tetapi Touw Thian Gouw setelah melancarkan tendangan itu, orangnya segera mengejar dan kakinya menendang dengan beruntun.

Ditendang secara beruntun, Pek Kong Po terpaksa mundur terus2an, tetapi ia tidak berhasil menghindarkan serangan Touw Thian Gouw yang dilakukan sangat gencar, akhirnya jalan darah Kian-kie-hiatnya kena ditendang, sehingga jatuh terjengkang ditanah.

Touw Thian Gouw tertawa ia berdiri disampingnya. Touw Thian Gouw berkata dengan suara bangga: “Bagaimana, asal aku menendang lagi, tulang2mu dan isi perutmu akan hancur dengan segera. "

“Disekitar tempat ini sudah terkurung rapat oleh orang- orang golongan pengemis, kau berhasil, membinasakan aku, tetapi kau sendiri juga tidak akan lolos dari tangan mereka."

“Ada satu hal aku tidak mengerti, aku ingin minta sedikit keterangan darimu, “berkata Touw Thian Gouw sambil menarik napas panjang.

“Soal apa? Kau tanyakan saja!"

“Auw-yang pangcu berlaku baik terhadapmu, aku tidak menyangka kau bisa mengkhianati dirinya."

“Pemandangan setiap orang sangat berlainan, begitupun pengalaman masing2, apa yang dibuat heran " Mengapa kata-katanya yang sedikitpun tidak menunjukan tanda2 yang mengherankan, Touw Thian Gouw merasa curiga, lalu bertanya: “Apakah kau sudah makan obat yang diberikan oleh Kun-liong Ong?"

Pek Kong Po tiba-tiba merasa seperti sedang menderita hebat, dengan alis dikerutkan ia berkata: “Jangan tanya aku lagi, pengalaman setiap orang berlainan. Aku mengkhianati Auw-yang pangcu, juga karena terpaksa."

Touw Thian Gouw berpikir sejenak, lalu berkata: “Baiklah, kau sekarang bawa aku menjumpai Auw-yang pangcu, aku akan segera membuka totokanmu."

“Tidak perlu kau menjumpai, hal ini tidak ada gunanya. "

“Apakah kau sudah membunuhnya?"

Pek Kong Po sekonyong2 memejamkan matanya dan berkata: “Mulai saat ini, aku tidak akan menjawab pertanyaan lagi."

Touw Thian Gouw berpikir sejenak, lalu berkata: “Berapa luas gubuk ini, sekalipun kau tidak mau mengajak aku, aku juga bisa mencari sendiri."

Ia lalu memondong tubuh Pek Kong Po kesatu tempat gelap, kemudian berkata pula: “Karena kau tidak ingin bicara, maka aku akan menotok jalan darah gagumu."

Bibir Pek Kong Po bergerak2, namun tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.

Touw Thian Gouw setelah menendang jalan darah gagu Pek Kong Po, ia masuk kedalam untuk mencari sendiri.

Dalam gubuk yang cukup luas itu, keadaannya sunyi senyap tidak terdengar suara apa-apa.

Pintu-pintu kamar dalam rumah itu semua tertutup. Touw Thian Gouw setelah melakukan pemeriksaan sebentar, langsung berjalan menuju kekamar sebelah utara. Ia mendorong pintu dengan menggunakan pundaknya, kepalanya melongok kedalam. Dalam kamar yang keadaannya agak gelap itu samar2 dapat lihat diatas bale-bale kayu, rebah seseorang yang mukanya menghadap kedalam.

Touw Thian Gouw mengeluarkan suara batuk-batuk perlahan, kemudian memanggilnya: “Apakah Auw-yang pangcu sendiri yang ada didalam kamar?"

Ia mengulangi pertanyaannya beberapa kali, tetapi tak terdengar jawaban.

Touw Thian Gouw ragu2 sejenak, akhirnya melangkah masuk kedalam kamar sambil berkata dengan suara nyaring: “Auw-yang pangcu, maafkan dosaku yang lancang masuk kedalam kamarmu!"

Orang yang merebahkan diri dibale2 itu, agaknya sedang tidur nyenyak, hingga tidak menampak reaksi apa2.

Keadaan serupa itu menimbulkan firasat jelek dalam hati Touw Thian Gouw, pikirnya: “tidak perduli Auw-yang pangcu atau bukan yang sudah terang pasti adalah salah satu dari orang golongan pengemis. Bagi seorang yang berkepandaian tinggi, meskipun sedang tidur nyenyak, juga tidak sampai begini keadaannya”

Sementara itu ia sudah maju mendekati bale.

Orang tidur miring itu, sebelah mukanya terletak dibantal sehingga Touw Thian Gouw belum dapat melihat tegas orang itu Auw-yang pangcu atau bukan.

Per-lahan2 ia menggunakan tangannya yang terikat membalikkan tubuh orang itu.

Kini ia baru lihat bahwa orang itu benar adalah Auw-yang pangcu, tetapi tidak terdapat luka2 apa dibadannya, napasnya lemah, matanya dipejamkan. Touw Thian Gouw meletakkan tangannya didada Auw-yang pangcu, ia masih merasakan getaran lemah dari jantungnya.

Oleh karena tangannya terikat, ia tidak dapat memeriksa Auw-yang Thong tertotok jalan darahnya atau tidak? Ataukah karena mabuk obat?

Selagi dalam keadaan bingung, tiba2 terdengar suara tindakan kaki orang, dua orang berbaju abu-abu berdiri diambang pintu.

Satu diantara dua orang itu segera menegur: “Siapa?" Kemudian orang itu menyalakan api.

Touw Thian Gouw segera meajawab: “Kedatangan saudara2 berdua sangat kebetulan, pangcu kalian telah dikhianati oleh orangnya sendiri, sekarang dalam keadaan tidak ingat diri. "

Dua orang itu ketika mendengar perkataan itu, bagaikan disambar geledek, penerangan api ditangannya tiba2 terlepas jatuh, hingga keadaan menjadi gelap lagi.

Touw Thian Gouw menghela napas perlahan dan berkata: “Saudara2 jangan khawatir. Pangcu kalian meskipun dalam keadaan tidak ingat diri, tetapi nyawanya belum putus. Aku tadi sudah periksa dengan teliti, badannya tidak terdapat luka apa2, maka kalau bukan mabuk karena pengaruh obat, tentu ditotok jalan darahnya."

Seorang lainnya berkata: “Saudara siapa? Mengapa di waktu malam buta seperti ini datang kekamar pangcu?"

“Apakah saudara2 tidak melihat kedua tanganku sudah terikat?"

Orang yang berdiri sebelah kiri berkata: “Apabila tidak karena melihat kedua tanganmu terikat, dari tadi niscaya kita sudah bertindak terhadapmu." “Silahkan saudara2 masuk periksa sendiri, pangcu barangkali masih dapat ditolong," berkata Touw Thian Gouw sambil tersenyum.

“Harap saudara keluar dulu."

Touw Thian Gouw segera berjalan keluar.

Dua orang itu minggir kesamping menyilahkan Touw Thian Gouw keluar.

Ketika ia melangkah keluar, tiba2 merasa gelagat tidak enak, hingga membatalkan maksudnya.

Sebagai seorang Kang-ouw kawakan yang sudah banyak pengalaman, dalam pikirannya segera timbul kecurigaan, ada kemungkinan bahwa dua orang itu adalah komplotnya Pek Kong Po, yang disuruh mengawasi Auw-yang pangcu.

Ia lalu balik lagi kedalam kamar, berdiri di depan bale.

Orang berbaju abu2 itu sudah memungut lagi korek apinya yang jatuh ditanah, lalu dinyalakan lagi dan memandang Touw Thian Gouw dengan gusar, kemudian menegurnya: “Apa maksud tindakan saudara ini?"

“Aku hendak melindungi jiwa pangcu kalian!'' Berkata Touw Thian Gouw sambil tertawa dingin, kemudian bertanya: “Apakah saudara2 orang kepercayaan Pek Kong Po?"

Pertanyaan itu diajukan secara tiba2, hingga mengejutkan dua orang itu, lalu menjawab dengan serentak: “Kita semua adalah orang2 kepercayaan pangcu!"

“Itu lebih bagus, kalian jikalau ingin menolong jiwa pangcumu, lekaslah buka tali yang mengikat tanganku!"

“Dengan berbuat demikian, apakah kau tidak takut mati?" “Dengan orang seperti aku, bisa mati2 bersama-sama

dengan Auw-yang pangcu yang namanya kesohor didunia, sesungguhnya merupakan suatu kejadian yang patut dibanggakan, apa yang perlu aku takuti?"

Dua orang itu melengak, mereka saling berpandangan dan berunding sebentar, orang yang sebelah kiri lalu berkata: “Tidak susah kau minta kita membuka ikatanmu, tetapi apabila kau menggunakan cara itu untuk balas memaksa kita, bagaimana?"

“Aku cuma mempunyai dua pemintaan, apabila saudara2 sudi menerimanya, aku tidak akan menggunakan jiwa Auw- yang pangcu, untuk memaksa kalian menyerah."

“Dua permintaan apa? Coba kau terangkan."

“Kesatu siapa minta kalian membuka ikatan tanganku, kedua aku ingin minta berjumpa dengan penasehat kalian Teng Soan. Asal aku sudah bertemu dengan Teng Soan, ijinkanlah aku bicara beberapa patah dengannya, sesudah itu bagaimana kalian hendak berbuat terhadap aku, terserah, aku tidak akan melawan."

“Dalam hal ini bagaimana kita dapat mempercayaimu?" “Seorang laki-laki harus menjunjung tinggi kepercayaan,

apakah kalian ingin aku bersumpah. "

Dari luar tiba-tiba terdengar suara orang menyahut sambil tertawa dingin: “Jiwa sendiri sudah tidak mau, apakah masih takut melanggar sumpah?"

Touw Thian Gouw merasa seperti tidak asing dengan suara itu, tetapi ia tidak ingat siapa orangnya.

Tatkala ia berpaling, ia melihat seorang tinggi besar berjalan masuk kedalam kamar, orang itu bukan lain dari pada Pek Kong Po.

Dibelakangnya mengikuti Ciu Tay Cie yang perutnya gendut, mungkin Ciu Tay Cie baru pulang dan melihat Pek Kong Po dalam keadaan tertotok jalan darahnya, lalu dibukanya.

Touw Thian Gouw dalam hati mengeluh, sebab Pek Kong Po yang sudah diketahui rahasianya, pasti akan berusaha membunuh dirinya.

Pek Kong Po dan Ciu Tay Cie, keduanya merupakan pengawal yang paling dipercaya oleh Auw-yang Thong. Dua orang itu sering berada disamping Auw-yang Thong. Orang2 golongan pengemis begitu melihat dua orang itu, segera mengetahui bahwa Pangcunya tentu juga datang. Maka dua orang yang datang duluan tadi ketika melihat Pek Kong Po dan Ciu Tay Cie masuk kedalam kamar, segera minggir untuk memberikan jalan kepada mereka.

“Orang inilah yang tadi menotok diriku," berkata Pek Kong Po kepada Ciu Tay Cie sambil menunjuk Touw Thian Gouw.

Ciu Tay Cie membusungkan perutnya, berkata dengan suara keras kepada Touw Thian Gouw. “Kemarilah kau, mari bertanding lebih dulu denganku duaratus jurus saja. "

Touw Thian Gouw tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Aku sudah menyatakan dua keinginanku kepada orang2 golongan pengemis. Dua saudara ini sedang mempertimbangkan permintaanku, nampaknya mereka susah mengambil keputusan."

Ciu Tay Cie membentak dengan suara keras: “Kalau kau tidak mau kemari, aku nanti akan jewer kupingmu."

Touw Thian Gouw yang mendengar perkataan sigendut itu, sudah mengetahui bahwa sigendut adalah seorang kasar, segala perkataannya dan tindak tanduknya, selalu berterus terang, maka diberi peringatan, supaya tidak berani berlaku sembrono, ia lalu berkata dengan nada suara dingin: “Sayang jiwa pangcumu masih berada dltanganku. Jikalau kau berani menggunakan tangan atau kakimu, aku akan binasakan pangcumu lebih dulu.” Ciu Tay Cie benar saja tidak berani bertindak, tetapi ia sudah sudah lama mengikuti Auw-yang Thong. Kesetiannya pada pangcunya begitu besar. Maka setelah memikir sejenak, ia lalu berkata: “Kau sebetulnya mau apa?"

“Buka dulu ikatanku, lalu kembalikan senjataku."

Ciu Tay Cie mengkhawatirkan keselamatan Auw-yang Thong, maka ia segera mengambil pecut mas dari tangan Pek Kong to seraya berkata: "sebagai seorang laki2 kau harus pegang teguh janjimu setelah kukembalikan senjatam dan membuka totokanmu. Aku masih harus mengantar kau meninggalkan tempat ini, harap kau pegang tegah janjimu itu, tidak boleh menyusahkan pangcu”

“Aku masih ada satu permintaan, aku minta kau bawa aku menjumpai Teng Soan.

Ciu Tay Cie berpikir sejenak lalu berkata: “Baiklah!

Demikianlah kita tetapkan."

Dengan tindakan lebar, ia menghampiri Touw Thian Gouw, lalu membuka ikatan tangannya, kemudian mundur lima langkah dan berkata: “Sekarang kau boleh keluar."

Touw Thian Gouw memandang Auw-yang Theng sejenak, ia menghela napas dan berkata: “Pangcu yang selama itu mendapat nama baik, tak disangka terluka ditangan orangnya sendiri”

Perkataan itu diucapkan dengan sungguh2, bukan di-buat2, hingga Ciu Tay Cie dan dua orang baju abu2 yang mendengarnya semua terkejut, tanyanya dengan serentak: “Apa kau katakan?"

Touw Thian Gouw menyimpan senjatanya baru menjawab: “Kuceritakan kepada kalian juga tidak mengerti persoalannya" Kemudian ia memondong tubuh Au-yang Thong yang masih dalam keadaan pingsan, lalu berkata pula: “aku minta kalian bawa aku menjumpai Teng Soan”  “Kau letakkan pangcu kita, aku pergi bersamamu, toh sama saja," berkata Ciu Tay Cie.

Sementara itu terdengar suara rame2. Diluar gubuk itu sudah berkumpul banyak orang2 anak buah golongan pengemis .

“Bukannya aku tidak percaya kepada saudara, sebetulnya karena orang2 dalam golonganmu banyak. Apabila aku meletakkan Auw-yang Pangcu, barangkali segera dikurung oleh orang banyak. Tentang jiwaku sendiri, meskipun sudah tak kuhiraukan, tetapi hal ini membawa kerugian besar bagi golongan pengemis sendiri. Maka aku minta saudara Ciu suka memaafkan”

“Seseorang yang perkataannya sudah tidak bisa dipercaya, bagaimana masih mempunyai muka didalam dunia?” berkata Pek Kong Po dengan nada dingin, kemudian dengan tiba2 maju menjerang

Touw Thian Couw menendang dengan kakinya, mendesak mundur Pek Kong Po, kemudian membentaknya: “Orang yang berkhianat kepada golongannya sendiri untuk mencari hidup senang, diantara kita berdua entah siapa yang tidak mempunyai muka didalam dunia?"

Pek Kong Po sudah tahu betapa lihaynya permainan kaki Touw Thian Gouw, apalagi ditangannya masih memondong Auw-yang Thong sebagai barang tawanan. Apabila ia menggunakan kekerasan, pasti akan dirintangi oleh Ciu Tay Cie, maka terpaksa menarik kembali serangannya.

Touw Thian Gouw tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Pek Kong Po, bolehkah kau pergi bersama aku menjumpai penasehatmu Teng Soan?"

Ciu Tay Cie merasa heran mendengar perkataan itu, ia berpaling dan berkata kepada Pek Kong Po: “saudara Pek, apakah artinya ini?" “Orang ini sudah gila, tak seorang mengerti apa yang dikatakannya”

“Benar, barang siapa yang mengabdi kepada Kun-liong Ong, semua diberikan semacam obat yang dapat melupakan dirinya. Orang ini adalah orang Kun-liong Ong, sudah tentu tidak terkecuali..."

Touw Thian Gouw khawatir akan Ciu Tay Cie dapat dipermainkan oleh Pek Kong Po, dan ia bertindak sembrono terhadap dirinya. Apabila benar akan terjadi demikian, keadaan akan menjadi runyam karena ia sendiri tidak bisa benar2 mencelakakan diri Auw-yang Thong pada akhirnya pasti akan terdesak oleh orang2 golongan pengemis. Jumlah lawan banyak tidak mudah dihadapi. Baginya sendiri soal kematiannya masih merupakan soal kecil, akan tetapi barisan sungai berdarah yang akan dibentuk oleh Kun-liong Ong, entah akan menelan berapa banyak koiban orang2 kuat rimba persilatan?

Ia merasa cemas sekali, sambil memondong tubuh Auw- yang Thong ia berkata dengan suara lantang: “Pangcu kalian telah dibokong dan dikhianati oleh orangnya sendiri, sudah cukup lama dalam keadaan tidak ingat diri. Apabila tidak lekas menemukan penasehat kalian, barangkali sangat berbahaya bagi keselamatannya."

“Apa? penghianat?" Ciu Tay Cie terkejut.

Mata Touw Thian Gouw memandang Pek Kong Fo sebentar, lalu berkata: “Diantara saudara2, ada seorang pengkhianat yang menjadi mata2 Kun-liong Ong, orang itu telah membokong pangcu kalian."

“Siapa?" bertanya Ciu Tay Cie.

“Pada waktu dan tempat seperti ini, sekalipun aku menyebutkan namanya, saudara2 juga tidak akan percaya. Sebaiknya setelah kita menjumpai penasehat kalian Teng Soan, nanti kita bicarakan lagi” Ciu Tay Cie mengawasi dua orang berbaju abu-abu itu sejenak, lalu berpaling dan berkata kepada Pek Kong Po: “Orang ini kalau benar adalah mata2 Kun-liong Ong yang dikirim untuk membunuh pangcu, sesudah berhasil menawannya, mengapa tidak segera turun tangan? Dalam hal ini pasti mengandung sebab yang lain, sebaiknya kita bawa ia menjumpai Teng-ya."

“Pangcu sebetulnya masih hidup atau sudah mati, kita sendiri masih belum jelas, orang ini selalu menyatakan hendak berjumpa dengan Teng-ya barangkali mengandung maksud tertentu," berkata Pek Kong Po.

Ciu Tay Cie yang tidak bisa berpikir, setelah mendengar perkataan itu, segera berkata: “Benar, kalau bukan saudara Pek yang mengingatkan aku, aku hampir terjebak dalam akal busuknya."

“Pangcu kalian masih bernapas, jikalau tidak percaya, kalian boleh periksa sendiri," berkata Touw Thian Gouw Sambil tertawa dingin.

Pek Kong Po dengan suara sangat perlahan berkata kepada Ciu Tay Cie: “Biarlah siaote yang memeriksa sendiri, apabila pangcu benar2 masih bernapas, kita boleh membawanya menjumpai Teng-ya."

Dengan tindakan lebar ia berjalan menghampiri Touw Thian Gouw.

Touw Thian Gouw segera membentaknya dengan suara keras: “Jangan bertindak, empat orang dalam kamar ini, siapa saja boleh memeriksa, hanya kau seorang tidak kuijinkan."

Ciu Tay Cie maju mendekati sambil membusungkan dada, “ini tempat apa? Cara bagaimana kau dapat memilih orang?"

Touw Thian Gouw menggerakkan kakinya, mendesak mundur Pek  Kong  Po  yang hendak  mendekati  dirinya lalu berkata: “Pangcumu apabila sampai dijamah oleh Pek Kong Po, sekalipun tidak mati juga akan terluka parah."

“Apakah artinya perkataanmu ini?" Bertanya Ciu Tay Cie sambil mendekati Touw Thian Gouw.

“Periksalah dadanya dan lubang hidungnya, masih bernapas atau tidak?", berkata Touw Thian Gouw, tetapi matanya terus ditujukan kepada Pek Kong Po, mengawasi segala gerak geriknya.

Ciu Tay Cie mengulur tangannya memeriksa dada Auw- yang Thong, benar saja masih merasakan denyutan jantungnya, selesai memeriksa, ia berkata sambil mengerutkan alisnya: “Dengan meggunakan obat apa kau melukai pangcu kita?"

“Betapa tinggi kepandaian pangcu kalian, sekalipun aku bermaksud hendak mencelakakan dirinya juga sulit mendekatinya, kecuali menggunakan obat berbisa dengan cara tidak terduga-duga sudah tidak ada lain jalan yang dapat mencelakannya," berkata Touw Thian Gouw sambil tertawa.

“Ucapan ini juga ada benarnya, mari kuajak kau menjumpai Teng-ya”

Dengan tangan kiri Touw Thian Gouw menggendong Auw- yang Thong, tangan kanan memegang senjata pecut kemudian ia berkata: “Saudara2 sebaiknya terpisah sejarak tiga kaki denganku, supaya tidak sampai terbokong secara tiba-tiba. "

Matanya lalu menatap Pek Kong po dan berkata pula: “Sebaiknya kau jangan coba2 main gila."

“Saudara Pek, orang ini agaknya selalu bermusuhan denganmu," berkata Ciu Tay Cie sambil mengerutkan alisnya.

“Sekarang pangcu berada ditangannya, meskipun siaote membencinya, tetapi juga tidak bisa berbuat apa2” berkata Pek Kong Po. Dengan mengikuti Ciu Tay Cie dan lain-lainnya, Touw Thian Gouw berjalan keluar, diruangan luar terdapat banyak anak buah golongan pengemis, setiap orang memandangnya dengan sinar mata gusar, mereka setiap orang membawa senjata, seolah-olah sedang menghadapi musuh besar.

Ciu Tay Cie mengangkat kedua tangannya dan menepok dua kali, kemudian berkata: “Saudara2 jangan bertindak secara gegabah, jangan sampai melukai pangcu,"

Orang-orang itu setelah mendengar keterangan itu, benar saja semua mengundurkan diri.

Dengan tindakan lebar Ciu Tay Cie berjalan keluar dari gubuk itu, berjalan keutara kira2 sepuluh tombak, tibalah didepan sebuah gubuk yang bentuknya sangat sederhana.

Seorang laki2 berpakaian panjang dengan tangan membawa kipas, duduk diatas bangku bambu, disampingnya ada berdiri dua orang berpakaian abu-abu.

Orang itu mendongakkan kepala memandang ke langit, agaknya sedang berpikir keras, sehingga tidak mengetahui kedatangan orarig-orang itu.

Dari jauh Ciu Tay Cie mengangkat tangan memberi hormat seraya berkata: “Teng-ya "

Orang itu per-lahan2 berpaling mengawasi Ciu Tay Cie dan lain2nya sejenak, lalu bertanya: “Ada apa?"

“Saudara ini hendak menjumpai Teng-ya   " menjawab Ciu

Tay Cie,

Touw Thian Gouw maju dua langkah sambil memperkenalkan dirinya. “Aku yang rendah Touw Thian Gouw."

Teng Soan mengawasi Auw-yang Thong yang berada ditangan Touw Thian Gouw sejenak, lalu berkata: “Silahkan duduk." “Pangcu kalian terluka parah harap sianseng memeriksanya lebih dahulu keadaannya." berkata Touw Thian Gouw.

Teng Soan memandang Touw Thian Guow sejenak, kemudian berkata kepada Ciu Tay Cie dan lain-lainnya: “Kalian semua keluar dulu."

“Orang ini menggunakan jiwa pangcu memeras kita supaya kita menuruti kehendaknya, harap sianseng ber-hati2 terhadapnya," berkata Pek Kong Po.

“Aku tahu, kalian pergilah," berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Ciu Tay Cie meskipun tahu Teng Soan tidak paham ilmu silat, tetapi terhadap kecerdikan dan kepintaran menilai sesuatu perkara, mempunyai pantangan yang tajam, maka ia segera berpaling dan pkata kepada Pek Kong Po: “Perkataan Teng-ya, selalu tidak akan salah mari kita keluar."

Setelah berkata demikian, ia berjalan lebih dahulu keluar dari dalam gubuk itu segera diikuti oleh yang lain-lainnya.

Dengan demikian, hingga dalam gubuk itu hanya tinggal Touw Thian Gouw dan Teng Soan bersama Auw-yang Thong yang masih dalam keadaan pingsan.

Touw Thian Gouw mulai bicara sambil tertawa “Khong Beng seumur hidupnya berlaku sangat hati2. Sianseng yang sudah dapat dipandang seperti Khong Beng, aku heran mengapa sangat gegabah."

“Seorang yang sudah kesohor namanya seperti saudara, apakah merupakan seorang yang suka membokong orang?" berkata Teng Soan sambil tersenyum.

“Bagaimana sianseng dapat mengenali diriku?" berkata Touw Thian Gouw terkejut.

Teng Soan hanya tertawa menyeringai, tidak menjawab Touw Thian Gouw perlahan-perlahan meletakkan Auw-yang Thong diatas bangku, kemudian berkata: “Pangcumu telah dibokong oleh orang, lukanya tidak ringan, harap sianseng periksa sebentar, masih dapat ditolong jiwanya atau tidak?"

Teng Soan memandang Auw-yang Thong sejenak, lalu berkata sambil tertawa: “Tidak apa, ia hanya mabuk karena pengaruhnya obat, begitu mabuk hilang, orangnya pasti segera sadar kembali."

Touw Thian Gouw mendengar jawabannya yang agaknya tidak memperhatikan keselamatannya pangcunya, dalam hati merasa heran, ia melengak sebentar, kemudian berkata: “Aku lihat sikap sianseng, agaknya tidak memperhatikan keselamatan jiwa pangcu!"

“Kau dengan mengenakan pakaian barisan pengawal baju hitam Kun-liong Ong, telah datang kemari dengan menempuh bahaya, entah ada keperluan apa?", demikian Teng Soan balas menanya.

Perasaan gusar tiba-tiba terlintas dalam otak Touw Thian Gouw, ia berkata dengan nada suara dingin: “Auw-yang pangcu adalah seorang gagah yang berjiwa besar. Sungguh tidak disangka bahwa orang-orang bawahannya, semua merupakan seorang kecil hanya diluarnya saja kelihatan setia...”

“Bagus, dengan menempuh bahaya besar kau datang kemari, apakah hanya hendak memaki kami dengan perkataanmu itu saja?", berkata Teng Soan sambil tersenyum.

“Meskipun aku dengan Auw-yang pangcu tidak ada hubungan apa2, tetapi aku merasa sangat sayang."

Teng Soan berkata sambil mengibaskan kipasnya. “Saudara Touw mengenakan pakaian pengawal baju hitam, tetapi pembicaraan sedikitpun tidak ada tanda2 sepertl orang yang sudah makan obat berbisa." “Apabila aku sudah makan obat berbisa Kun liong Ong, barangkali juga tidak bisa datang kemari."

“Kalau begitu kau juga tidak bisa menemui aku dalam keadaan hidup” berkata Teng Soan sambil tertawa. Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula: “Saudara Touw bermaksud baik, tetapi sayang bahwa perbuatanmu ini telah merusak seluruh rencana kita. Dengan demikian, barangkali membuat sia2 semua jerih payahku."

“Perkataan sianseng ini, aku sesungguhnya tidak mengerti, “berkata Touw Thian Gouw heran.

“Seperti apa yang saudara kata, Auw-yang Pangcu seorang gagah, bagi orang biasa bagaimana dapat membokong?"

“Perkataan Sianseng, aku semakin lama semakin bingung”

“Apakah Saudara TouW kenal dengan Auw-yang Pangcu?”

Pertanyaan itu menggerakan hati Touw Thian Gouw, maka ia segera bertanya: “Apakah orang ini menyaru sebagai pangcu?. Rencana Sianseng ini benar2 sangat bagus sebab tanpa demikian kita tidak dapat mengetahui adanya pengkhianat didalam kalangan sendiri...”

Teng Soan berkata sambil menggelengkan kepala “Menggunakan orang lain menyaru menjadi Auw-yang pangcu, mungkin dapat mengelabuhi saudara, tetapi tidak dapat mengelabuhi mata Pek Kong Po yang setiap hari mendampingi dirinya”

“Memang benar, inilah yang membuat aku tidak habis pikir."

“Orang ini bukan saja adalah Auw-yang pangcu sendiri, juga benar2 sudah terkena obat racut yang diberikan oleh Pek Kong Po."

“Akal sianseng ini meskipun baik, tetapi terlalu bahaya, apabila Pek Kong Po menggunakan kesempatan ini menurunkan tangan jahat, bukankah Auw-yang pangcu akan menguburkan jiwanya secara mengecewakan?"

“Perkataan saudara memang benar, sayang pikiranmu untuk menilai urusan, aku tidak dapat menyetujui!"

Ia menggoyang-goyang kipasnya, matanya mengawasi Auw-yang Thong sambil menghela napasnya perlahan.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan sikap Teng Soan, benar2 merasa bingung, ia berkata sambil membuka lebar matanya, “Auw-yang pangcu dalam keadaan bahaya, tetapi sianseng tidak lekas memberi pertolongan, entah apa maksudnya?"

Teng Soan menunjukan sikap kurang senang, ia berkata dengan suara lambat-lambat. “Tengah malam buta saudara datang kemari, apakah ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengan pangcu?"

Touw Thian Gouw yang ditanya demikian sejenak tidak bisa menjawab, sesaat kemudian ia baru berkata: “Sianseng tentunya juga sedia obat pemunah! Harap Sianseng tolong pangcu dulu, aku ingin bicara sebentar, segera kembali."

Teng Soan tidak menjawab, ia menghampiri Auw-yang Thong, dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah botol kecil, mengeluarkan dua butir pel, dimasukkan kemulut Auw-yang Thong.

Setengah jam kemudian, Auw-yang Thong menarik napas panjang, kemudian bangun dan berdiri, dan berkata kepada Teng Soan sambil tertawa: “Rencana sianseng, benar2 bagus sekali. "

Kemudian pandangannya dialihkan kearah Touw Thian Gouw, lalu memberi hormat seraya, berkata: “Touw Tayhiap”

Touw Thian Gouw membalas hormat dan berkata: “Jiwa pangcu hampir dikorbankan oleh bawahanmu sendiri." “Hati manusia memang tidak bisa dilihat, sungguh tidak disangka Pek Kong Po yang sudah mengikuti aku sepuluh tahun lamanya, ternyata juga menjadi orang Kun-liong Ong," berkata Auw-yang Thong sambil menghela napas.

Teng Soan berkata sambil mengibas-ngibaskan kipasnya: “Aku kira Pek Kong Po pasti merasa tidak tenang, ia pasti akan balik kembali untuk mengintai, mari kita bicara didalam saja."

Auw-yang Thong bersenyum sambil menganggukkan kepala, ia masuk kedalam lebih dulu, diikuti oleh Teng Soan dan Touw Thian Gouw.

Bagaimana Auw-yang Thong dan Teng Soan membasmi pengkhianat yang ada didalam golongannya sendiri?

Apakah kedatangan Touw Thian Gouw dapat membantu golongan pengemis memecahkan barisan sungai berdarah yang dibentuk oleh Kun-liong Ong?

Bacalah dalam bagian lanjutannya!

-oo0dw0oo-