ISMRP Jilid 14

 
Jilid 14

TIAT BOK TAYSU berkata sambil tertawa: “Baik dan buruk setengah2.”

“Taysu terlalu memuji. ” berkata Auw-yang Thong, “siaote

berusaha beberapa tahun, masih belum berhasil membersihkan anggota2 yang tidak baik dalam golongan pengemis, sehingga siaote mulai curiga kepada kepandaian sendiri, sebab seorang menteri yang bijaksana dapat membawa bahagia bagi rakyat seluruh negeri, satu perkumpulan orang miskin yang kecil saja, aku tidak berhasil mengurusnya dengan baik. ”

“Dengan adanya jiwa besar seperti Pangcu ini, barulah dapat menerima seorang yang mempunyai kepandaian seperti Teng Soan, barulah golongan pengemis mendapat nama baik dalam rimba persilatan disamping sembilan partai besar, nama itu bahkan kian hari kian meningkat, seolah2 hendak melampaui sembilan partai besar.”

“Oleh karena perlu menyelidiki perbuatan anggota golongan pengemis, aku jarang sekali berada di markas, sering seorang diri melakukan perjalanan dibeberapa propinsi daerah Tiong-goan. Ketika aku tiba dipropinsi An-hui utara, sering mendengar anak2 pada menyanyikan nyanyian anak2. Semula aku tidak ambil perhatian, apalagi lagu anak2 itu juga kurang jelas, tetapi iramanya sangat menarik bagi yang mendengarnya. ”'

“Suhu almarhum bukan saja berpengetahuan luas dalam segala ilmu, tetapi juga pandai irama musik” berkata Teng Soan.

“Aih! karena kelalaianku, hampir saja melewatkan kesempatan untuk berjumpa dengan sianseng, kalau bukan kepandaian suhu sianseng yang membuat nyanyian anak2 menjadi beberapa irama yang berlainan, mungkin akan membuat menyesal seumur hidupku...” berkata Auw-yang Thong, kemudian berpaling mengawasi Tiat Bok taysu dan berkata pula: “Ketika aku meninggalkan propinsi An-hui, sepanjang jalan sering berpapasan dengan anak2 gembala kerbau yang menyanyikan lagu itu, lagu itu sudah tidak asing lagi bagiku, karena iramanya berlainan, sehingga membuat orang yang mendengarkannya merasakan agak lain. ”

“Bagaimana perbedaannya?” bertanya Tiat Bok, taysu. “Irama itu membuat orang yang mendengarkannya, timbul

perasaan se-olah2 ada seorang pandai yang terbenam

kepandaiannya. ”

“Apakah Pangcu masih ingat maksud lagu itu?”

Auw-yang Thong berpikir agak lama, baru menjawab: “Kejadian itu terjadi pada sepuluh tahun berselang. Meskipun masih ingat garis besarnya, tetapi semua lagu sudah tidak ingat lagi. Baris pertama lagu itu berbunyi: “benua Sin-ciu nan indah, nampak timbul tanda kekacauan”

“Selama beberapa puluh tahun ini, boleh dikatakan merupakan masa yang paling tenang. Sepuluh tahun berselang, justru merupakan masa yang tentram aman. Orang itu bisa meramalkan keadaan dunia Kang-ouw hari ini pasti sepuluh tahun berselang. Sesungguhnya merupakan seorang berkepandaian hebat, apakah ilmu perhitungan manusia, benar2 dapat meramalkan apa yang belum terjadi?”

Teng Soan berkata sambil menghela napas “Siaote meskipun sudah menggunakan seluruh kepandaian, tetapi karena terbatas oleh bakatku dalam seumur hidupku ini, juga tidak sanggup mencapai kepandaian seperti suhu. Dari apa yang siaote ketahui pada waktu sekarang ini, ilmu perhitungan dan ilmu falak, cuma tepat untuk digunakan dalam siasat peperangan. Dalam siasat peperangan hanya memerlukan perhitungan yang cermat tentang kekuatan sendiri dan kekuatan musuh, sebaliknya dengan ilmu melihat muka dan tulang orang, dapat mengetahui watak baik jahat atau buas diri seseorang”

Tiat Bok taysu berkata sambil menganggukkan kepala: “Sekarang lolap paham ”

Kemudian berpaling dan bertanya kepada Auw-yang Thong: “Lanjutan nyanyian itu, apakah Pangcu masih ingat?”

“Ada beberapa patah kata, aku sudah tidak ingat. Hanya bagian terakhir aku masih ingat, begini:

“Sebuah gubuk bernama Siao yam, berada dipedalaman gunung Oey-san, siapa orang kiranya yang menjadi Lauw Hian Tik, mengundang sianseng yang berdiam digubuk itu” berkata Auw-yang Thong.

Ia berhenti sejenak dan disambungnya: “Nyanyian anak2 itu, tersebar di daerah beberapa ratusan pal, tetapi iramanya berlainan. Waktu itu aku tertarik, lalu mengambil keputusan pergi kegunung Oey san untuk mengadu untung.”

“Kalau bukan orang cerdas dan bijaksana seperti Pangcu, kepandaian Teng sianseng mungkin akan terbenam di dalam gubuk Siao yam itu untuk selama-lamanya.” “Daerah pedalaman gunung Oey-san itu, terdapat banyak puncak gunung, sedang gubuk yang dimaksudkan itu entah berada dimana. Didalam gunung itu aku menjelajah sepuluh hari lebih lamanya, masih belum menemukan tanda-tandanya, terpaksa aku mundur teratur. Setelah kembali ke gunung Kun- san, aku semakin memikir, semakin tidak enak, maka setelah istirahat beberapa hari, aku balik lagi kegunuug Oey-san, tetapi kali ini aku dengan membawa dua orang pengikut dan sedia bekal makanan dan minuman yang cukup, aku telah bertekad bulat untuk menemukan gubuk itu. Tuhan

ternyata tidak mengecewakan orang yang berhati sungguh2 hingga akhirnya aku menemukan Teng sianseng. ”

Pada saat itu seorang dari golongan pengemis gerak kakinya yang sangat pesat lari mendatangi.

Teng Soan lalu berkata sambil mengerutkan alisnya: “Orang yang baru datang itu bukankah Pek Kong Po?”

“Benar, ia sudah kembali dari selatan, entah kabar apa yang dibawanya?” menjawab Auw-yang Thong.

Sementara itu, orang yang baru datang itu sudah berada didepan meraka, memang benar adalah sikaki sakti Pek Kong Po.

Sekujur badannya penuh debu, sepatunya sudah hancur.

Ia memberi hormat kepada Auw-yang Thong dan Teng Soan.

Auw-yang Thong lalu bertanya: “Apakah kau sudah bertemu dengan In Chung-cu?”

“In Kiu Liong tidak bertemu, tetapi berjumpa dengan istrinya” menjawab Pek Kong Po.

Auw-yang Thong mengkerutkan alisnya dan berkata: “Nyonya In selamanya belum pernah menjumpai orang luar. Dengan orang seperti aku yang bersahabat akrab dengan In Kiu Liong, juga belum pernah bertemu dengannya. Bagaimana bisa melihatnya?”

“Hamba juga merasa heran. ”

Pek Kong Po agaknya merasa bahwa ucapannya itu tidak keruan, maka ia menerangkan pula, “Hamba setelah menerima perintah Pangcu, lalu menuju kegedung In Chung- cu. Setelah hamba menyampaikan kartu nama Pangcu, lalu minta bertemu dengan In Chuncu.”

“Apakah kau tak bertemu dengan In Chung-cu, lalu isterinya yang menyambutmu?”

“Orang yang menjaga pintu telah membawaku kedalam suatu ruangan untuk beristirahat. Ia hanya memberitahukan kepadaku bahwa kartu nama sudah disampaikan, tetapi kapan dapat memnemui, tidak bisa ditentukan, maka minta aku supaya menunggu.''

Auw yang Thong menganggukan kepala tidak berkata apa apa.

Pek Kong Po menyaksikan Pangcunya memperhatikan ceritanya, segera melanjutkan ceritanya lagi: “Aku sebetulnya berpikir In Chungcu itu betapapun sombongnya, tetapi aku dengan membawa kartu nama pangcu minta bertemu, tidak mungkin ia berani berlaku sombong lagi. Soal menunggu, aku pikir paling lama satu jam. Tak disangka sampai tiga jam lamanya sedikitpun tidak ada kabar apa apa. Waktu tengah hari dua orang pelayan perempuan masuk menghantarkan hidangan kepadaku, nampaknya masih perlu menunggu lagi. Karena melihat tingkahnya yang berani memandang rendah kepada Pangcu, seketika itu aku naik darah dan membalikkan meja makan yang penuh hidangan itu. ”

Ia mengawasi pangcunya, ternyata tidak tampak tanda gusar, maka ia berani melanjutkan penuturannya: “Karena perbuatanku itu, telah mengejutkan pengurus rumah tangga ia datang memberi keterangan. Katanya karena In Chung-cu sebenarnya sedang repot, tidak sempat menemui aku, bila aku tidak mau sabar menunggu, boleh pulang saja ”

Tiat Bok-taysu berkata: “O Mi To Hud, In Chung-cu itu, benar benar terlalu sombong.”

Auw-yang Thong tahu bahwa antara In Kiu Liong dan Siao lim sie pernah timbul perselisihan paham, maka ia hanya tersenyum dan berkata: “In Kiu Liong berkepandaian luar biasa. Dalam rimba persilatan dewasa ini, boleh dikata ia juga terhitung paling menonjol kepandaiannya.”

Teng Soan segera menyela: “Dan selanjutnya?”

Pek Kong Po menampak Teng Soan juga memperhatikan dirinya, semangatnya terbangun, katanya pula: “Aku mendengar keterangan itu semakin panas hati, seketika itu aku membikin onar, sehingga barang-barang dan pot-pot bunga di dalam ruangan itu kuhancurkan. Pengurus rumah tangga itu sebetulnya ingin mencegah, tetapi entah apa sebabnya, ia nampak sangat sabar, meminta aku menunggu setengah jam lagi. Karena maksudkui bikin ribut sudah tercapai, maka aku menghentikan perbuatanku. Orang itu ternyata pegang janjinya, setengah jam kemudian benar saja ia membawa aku masuk ke dalam ”

“Ditengah jalan ia berpesan apa kepadamu?” bertanya Teng Soan.

Pek Kong Po agaknya sedang meng-ingat2 kembali perkataan orang itu. Setelah berpikir sejenak lalu berkata: “Ia berkata bahwa nyonya Ia sebenarnya belum pernah menyambut tetamu, kalau aku nanti berjumpa dengannya, bicaranya pelan-pelan. Jangan mengejutkannya.”

“Apakah kau segera bertemu dengan nyonya?” bertanya Teng Soan. “Ia membawa aku melalui beberapa ruangan, sampai didalam, ia menyuruh masuk kedalam ruangan tetamu yang dihias indah, orang itu dengan cepat mengundurkan diri.”

“Setelah menunggu sebentar, lalu ada seorang pelayan perempuan menyuguhkan teh untukmu, betul tidak?” berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Pek Kong Po melongo, ia bertanya: “Bagaimana sianseng tahu?”

“Teh itu kau tidak minum?'' “Betul. ”

“Apabila kau minum teh itu, mungkin sudah tidak bisa pulang lagi.''

“Apakah teh itu ada racunnya?” “Aku hanya men-duga2 saja. ”

Auw-yang Thong mendadak berkata menghela napas ringan: “Dan selanjutnya bagaimana?”

“Benar seperti spa yang dikatakan oleh Teng sianseng, tidak lama setelah pengurus rumah tangga itu mengungurkan diri, benar saja ada seorang pelayan perempuan masuk sambil membawa teh. Setelah meletakkan diatas meja, pelayan itu keluar lagi tanpa berkata apa2”

Ia mengawasi Teng Soan sejenak, lalu berkata pula:

“Kala itu walaupun hatiku merasa cemas, tetapi karena berhadapan dengan seorang pelayan perempuan, tidak enak aku mengeluarkan perkataan kasar. Dengan mata melotot, aku mengawasi ia keluar dari ruangan dan terpaksa menunggu lagi dengan sabar. Tidak disangka aku harus menunggu hampir sampai satu jam, masih belum ada tanda apa2. Aku mulai naik darah sehingga ber-kaok2. Perbuatanku ternyata membawa hasil, belum lagi aku berhenti berkaok, tirai pintu ruangan telah terbuka. Dari ruangan lain muncul seorang nyonya yang memakai pakaian berkabung dengan diiringi oleh dua pelayan perempuan. ”

“Nyonya itu bagaimana rupanya?” bertanya Auw-yang Thong.

Pek Kong Po terkejut, katanya “Ini, ini. ” lama tidak dapat

melanjutkan, tetapi akhirnya ia berkata lagi: “Mukanya seperti tertutup oleh selapis kain sutra putih, sehingga tidak tampak jelas”

Teng Soan terkejut, katanya: “Kau pikir lagi, apa betul mukanya tertutup kain sutra putih?”

“Sedikitpun tidak salah,” jawabnya.

Teng Soan tiba-tiba memejamkan matanya sedang memikirkan persoalan yang sangat rumit.

“Dan selanjutnya?'' bertanya Auw yang Thong.

“Dari dalam saku ia mengeluarkan sepucuk surat, diberikan kepada pelayan perempuan kecil yang berada didumpingnya. Pelayan itu lalu mengantarkan surat itu kepadaku,” jawab Pek Kong Po, “ia memberitahukan kepadaku bahwa surat Pangcu sudah dibacanya semua. Hal yang hendak dlberitahukannya kepada pangcu, sudah tertulis dalam surat yang diberikan kepadaku itu. Ia menyuruhku supaya surat itu disampaikan kepada Pangcu, bahkan ia berpesan ber-wanti2 supaya hati2 dengan surat itu jangan sampai hilang”

Auw-yang Thong menyambut surat yang diberikan kepadanya oleh Pak Kong Po. Setelah itu, ia suruh orangnya itu beristirahat.

Pek Kong Po agaknya masih hendak berkata, tetapi akhirnya niatnya. Setelah memberi hormat kepada pangcu- nya, ia segera mengundurkan diri. Tiat Bok Taysu sengaja mendongakkan kepala mengawasi keatas, seakan akan tidak mau melihat surat yang berada ditangan Auw yang Thong itu.

Teng Soan tiba-2 mengibaskan kipasnya, sembil berkata: “Pangcu!”

Auw- yang Thong yang selagi hendak membuka surat itu, ketika mendengar panggilan Teng Soan, ia membataikan maksudnya dan bertanya: “Ada apa?”

“Hambamu ingin mengajukan sedikit permintaan, sudikah kiranya Pangcu mengijinkannya” bertanya Teng Soan.

“Sianseng ada urusan apa, katakan saja”

“Surat ditangan Pangcu itu, bolehkah kiranya diberikan kepada hambamu yang membaca dahulu?”

Permintaan itu benar-benar diluar dugaan Auw-yang Thong hingga sesaat ia nampak terkejut.

“tentang ini...” demikian pangcu itu berkata yang nampaknya merasa serba salah hingga lama kemudian baru berkata pula, “Jikalau sianseng pasti ingin melihat, sudah tentu aku tidak berkeberatan. Terhadap sianseng tidak ada rahasia yang aku perlu dirahasiakan”

Surat itu lalu diberikan kepada Teng Soan.

Teng Soan setelah menyambut surat itu, diterawangkan dengan sinar matahari, sejenak kemudian ia berkata: “Apakah Pangcu mengenali tulisan tangan nyonya ini?”

Auw-yang Thong menganggukkan kepala dengan mulut membungkam.

Teng Soan tiba2 perlahankan suaranya, katanya: “Apabila Pangcu suka mendengar nssehatku, surat ini sebaiknya jangan dibuka” “Mengapa....?” bertanya Auw-yang Thong, tetapi kemudian seperti baru sadar, katanya: “Aaah! Apakah sianseng khawatir surat ini ada racunnya?”

“Untuk sementara hambamu masih belum dapat memberi kepastian, tetapi surat ini terhadap pangcu hanya ada bahayanya, tidak ada gunanya, hal ini hambamu bisa memastikan. ”

Tiba2 ia memenggil Pek Kong Po dengan suara nyaring. Tidak kecewa Pek Kong Po mendapat julukan Naga Sakti.

Meskipun habis melakukan perjalanan sangat jauh, tetapi semangatnya masih baik, ia belum pergi mengaso, hanya berdiri disamping disuatu sudut sambil memejamkan mata, mengatur pernapasan. Ketika mendengar namanya dipanggil dipanggil oleh Teng Soan segera menghampiri seraya berkata: “Sianseng ada perintah apa?”

Teng Soan mengangsurkan surat ditangannya seraya berkata: “Kau simpan surat ini, jikalau tidak ada perintahku, siapapun dilarang membuka.''

Pek Kong Po terkejut, ia menyambut surat itu, kemudian bertanya: “Bagaimana kalau pangcu hendak melihat?”

Teng Soan tiba2 bangkit dan ia memberi hormat kepada pangcu nya sambil berkata “Dalam hal ini harap pangcu menjawab sendiri”

“Aku juga termasuk” berkata Auw-yang Thong sambil menghela napas.

Pek Kong Po menerima baik tugas, ia simpan lagi surat itu kedalam sakunya.

Tiat Bak taysu yang menyaksikan itu merasa bingung, dalam hatinya diam2 berpikir: “orang pintar banyak yang beradat aneh, entah apa sebabnya ia tidak membolehkan Auw-yang Thong membuka surat itu?” Auw-yang Thong nampak sikapnya sangat murung. Setelah berpikir agak lama, tiba2 mendongakkan kepala dan menarik napas panjang.

Ia berbuat demikian se-olah2 hendak melampiaskan semua kerisauan yang ada dalam hatinya. Sikapnya yang tadi nampak bersedih lenyap seketika. Ia lalu berpaling dan berkata: “Sianseng, tentang diri Kun-liong Ong, sebagian besar aku sudah dengar dari keterangan sianseng tadi. Orang ini apabila dibiarkan, pasti akan membawa bencana bagi rimba persilatan. Tetapi ia demikian licik dan jahat. Hari ini apabila kehilangan kesempatan untuk membasminya, untuk selanjutnya barangkali susah mendapat kesempatan seperti ini lagi”

“Dalam pertempuran tadi, hambamu sudah memperhatikan dengan seksama. Jikalau pertempuran itu dilanjutkan, ia perlaha-lahan pasti akan dapat memahami segala perubahan2 gerakan barisan itu. Apabila ia mendapat kesempatan bertempur lebih lama, tidak susah untuk mengenali kegaibannya barisan itu.... Aku melupakan sesuatu hal, ia pernah tinggal ber sama2 denganku setahun lebih dalam gabuk Siao-yao. Selama waktu itu ia sudah berhasil mempelajari tujuh atau delapan bagian semua kepandaianku. Apabila ia mendapat kesempatan lebih lama lagi, niscaya dapat memahami kepandaianku seluruhnya, sehingga tidak mungkin lagi untuk menundukannya”

“Membasmi kejahatan, tidak perlu kita memandang peraturan. Apabila aku turun tangan sendiri ber-sama2 Tiat Bok taysu, apakah sekiranya dapat mengalahkan dia?”

“Menurut apa yang aku tahu, badannya ada membekal beberapa jenis senjata rahasia yang sangat beebisa. Dengan siasat serangan terus menerus tanpa berhenti dari barisan Kiu- kiong-tin, membuat ia tidak berdaya menggunakan senjata rahasianya. Tetapi apabila ia berhasil mengetahui rahasia barisan itu, atau ia berada dalam keadaan terdesak, maka ia pasti hendak menggunakan senjatanya yang sangat berbisa itu. Kesudahan dalam pertempuran tadi, mungkin kedua pihak jatuh korban.”

“Tetapi kita melepaskannya begitu saja, sesungguhnya terlalu sayang, apalagi sianseng sudah akan mengundurkan diri, dikemudian hari untuk menghadapinya lagi, golongan pengemis akan kalah dalam pertarungan mengadu kepintaran”

“Harap pangcu jangan khawatir, satu hari Kun-liong Ong belum dapat disingkirkan, hambamu tidak akan meninggalkan golongan pengemis”

Auw-yang Thong yang mendengar pernyataan bukan kepalang girangnya, maka ia sudah melupakan kedudukkannya sendiri, seketika itu segera menghormat kepada Teng Soan seraya berkata, “aku Auw-yang Thong atas nama seluruh keluarga golongan pengemis, disini mengucapkan terima kasih banyak kepada sianseng”

Teng Soan menjatuhkan diri, membalas hormat, seraya berkata: “Demikian besar kecintaan pangcu, bagaimana hambamu sanggup menerimanya?”.

Auw-yang Thong membimbing bangun Teng Soan, dengan air mata berlinang ia berkata: “Golongan pengemis mendapat kedudukan seperti hari ini, semua adalah jasa siauseng. Sepuluh tahun kita bekerja sama, Auw yang Thong sudah anggap sianseng sebagai mata dan tangan sendiri. Apabila sianseng pergi, maka itu berarti Auw-yang Thong akan kehilangan mata dan tangannya. ''

“Sangat berat ucapan pangcu ini bagiku”

Pada saat itu, empat puluh delapan pasukan berani mati didikan Teng Soan semua berlutut dihadapannya dan berkata dengan serentak: “Sianseng tidak akan meninggalkan golongan pengemis, sebetulnya merupakan suatu bahaya bagi kita semua.” Sambil mencekal tangan Teng Soan, Auw-yang Thong berkata: “Nanti setelah kita berhasil menyingkirkan Kun-liong Ong, Auw-yang Thong pasti akan mengundurkan diri bersama-sama sianseng untuk melewatkan sisa hidup kita dengan segala ketentraman ketenangan”

Sementara itu Teng Soan sudah memerintahkan empat puluh delapan pasukan berani mati itu bangun.

Tiat Bok taysu tiba2 berkata sambil merangkapkan kedua tangannya: “Lolap atas nama seluruh kawan rimba persilatan, mengucapkan banyak terima kasih kepada sianseng atas janji sianseng yang tidak akan meninggalkan golongan pengemis''

Teng Soan buru2 membalas hormat seraya berkata: “Siaote hanya seorang kutu buku yang tidak ada gunanya, bagaimana berani menerima pujian losiansu.”

Setelah itu ia mendongakku kepala dan berkata pula: “Mulai hari ini, Kun-liong Ong sudah menganggap kita golongan pengemis sebagai duri dalam matanya. Dalam rimba persilatan daerah Tionggoan, segara akan timbul pertumpahan darah. Dalam waktu sepuluh hari, Kun-liong Ong pasti akan mengerahkan semua bawahannya yang terpilih kuat, bertempur mati2an dengan kita orang pengemis...”.

Ucapannya itu demikian tegas, entah ia sengaja atau tidak ucapannya itu ditujukan kepada Tiat Bok taysu.

Auw yang Thong tiba2 berkata sambil mengerutkan alisnya: “Apakah Kun-liong Ong seorang berjiwa kecil?”'

“Dia memang seorang berjiwa kecil berhati kejam. Dalam keadaan seperti sekarang ia tidak sudi menerima kekalahan. Kekalahan yang bagaimana kecilnya ia pasti akan membalas dengan seluruh kekuatannya. Tetapi apabila ia mengetahui bahwa dirinya tidak sanggup menghadapi kekuatan lawannya, ia akan berdiam tidak bergerak untuk menantikan kesempatan. Sekarang dia sedang berada dalam kedudukan kemujurannya. Nama Kun-liong Ong sudah menimbulkan kegemparan didalam dunia Kang-ouw. Kekalahan yang dialami hari ini masih merupakan perkara kecil, tetapi kalau terbuka kedoknya itu akan menjadi perkara besar. Disamping itu ia juga akan dapat mengetahui bahwa musuh betul2 baginya bukanlah orang2 dari sembilan partay besar, melainkan kita orang gelongan pengemis....” berkata Teng Soan sambil mengganggukkan kepala.

“Kun-liong Ong hendak membasmi kita semua orang kuat dalam rimba persilatan. Untuk melawan musuh tangguh ini bukan hanya merupakan kewajiban golongan pengemis saja. Lolap sengaja hendak pulang ke Siauw-lim-sie untuk menyamipaikan keterangan kepada ketua, tetapi sekarang lolap batalkan niat itu. Lolap telah mengambil keputusan hendak berdiam disini, suka menerima perintah sianseng, untuk sama2 menerima perintah sianseng dan sama2 menghadapi musuh tangguh kita” berkata Tiat Bok taysu.

“Kepandaian ilmu silat Kun-liong Ong terlalu tinggi. Ia mempunyai kepandaian dari berbagai cabang dan golongan. Kecuali orang2 berkepandaian seperti losiansu dan pangcu kita, yang dapat melawan untuk sementara, barangkali susah didapat orang yang mampu mengatasi kepandaiannya. Losiansu suka berdiam disini, saiote mengucapkan sangat terima kasih. Tetapi jikalau karena ini sehingga menelantarkan urusan didalam kuil, siaotee harap jangan sampai begitu...” berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Siaote mempunyai satu cara yang baik bagi kedua belah pihak. Reputasi taysu dalam rimba persilatan, sesungguhnya sangat tinggi. Disini kecuali melawan musuh tangguh, juga boleh menghindarkan pertentangan sendiri antara kita orang2 dari 9 partay besar. Menurut laporan yang siaote terima dari berbagai tempat, beberapa partay besar kabarnya sudah mengutus orang2 yang terkuat ke daerah Tiong-goan. Hal ini siaote sesungguhnya belum mengerti dengan pasti apa maksudnya”. “Apakah kedatangan mereka itu hendak mencari jejak Kun- liong Ong?” berkata Tiat Bok taysu.

Kuo-liong Ong merupakan seorang yang sangat miterius. Ia dapat mangganti rupa sewaktu2. Jejaknya bukanlah sembarang orang dapat mencarinya” berkata Teng Soan sambil tertawa.

Tiba-tiba ia menghela napas perlahan, kemudian berkata pula: Orang-orang ini tanpa berjanji telah datang semua kedaerah Tiong-goan, sadah cukup menimbulkan perasaan bingung kepada kita. Dan yang lebih mengherankan ialah orang-orang itu akhirnya masing-masing hendak merahasiakan gerak geriknya sendiri, sedapat mungkin jangan sampai diketahui orang, tindak tanduk setiap orang, semua demikian rupa sehingga membuat kita tidak dapat menangkap maksud mereka yang sebenarnya”

“Betulkah ada kejadian serupa itu?”

“Kecuali orang-orang dari partay besar, masih ada orang- orang yang biasanya jarang menampilkan muka di kalangan Kang-ouw, juga pada datang kedaerah Tiong-goan. Maka pada dewasa ini, keadaan daerah Tiong-goan sebetulnya sudah diliputi oleh suasana gawat. ”

Tiat Bok taysu terbenam dalam lamunannya, dia berpikir beberapa lama, agaknya masih belum menemukan jawaban, terpaksa ia bertanya lagi: “Bagaimana menurut pandangan dan pikiran sianseng?”

“Kedatangan orang2 itu terlalu mendadak, untuk sementara, siapapun tidak dapat meraba apa maksud tujuannya, tetapi setidak-tidaknya kita masih dapat mengetahui sedikit. Menurut dugaan siaote, ini tentunya akal muslihat Kun-liong Ong”.

“Akal muslihat Kun-liong Ong?” bertanya Tiat Bok taysu heran. “Benar, Kun-liong Ong sudah cukup dengan menyiarkan desas-desus, akan menyuruh orang-orangnya yang dikirim menjadi mata2 didalam beberapa partay besar, sengaja memberikan keterangan yang bersifat pancingan, tidak susah untuk mengeruhkan keadaan, tetapi kesalahan satu2nya adalah ia belum menduga apabila aku berada di dalam golongan pengemis, yang sudah mengadakan persiapan hampir sepuluh tahun.”

“Lolap masih belum dapat memikirkan, dengan apa yang sianseng katakan sebagai pancingan yang dapat menarik perhatian para pemimpin partay besar sehingga mengutus orang2nya datang kemari?”

“Lolap ingin mendengar keterangan sianseng yang yang lebih jelas”

“Baiklah siaote menunjukkan perumpamaan. Taysu nanti tidak susah untuk mengerti sendiri”

“Diandaikan salah seorang murid kuil Siao-lim pay memberitahukan kepadamu bahwa ia mengetahui dimana adanya tiga benda pusaka yang sudah lama dikabarkan didalam dunia Kang-ouw, bagaimana Taysu harus menghadapi soal itu?”

“Dengan kedudukkan lolap didalam kuil, selain minta ijin kepada ketua untuk mengirim orang, juga akan turun tangan sendiri melakukan penyelidikan.”

“Akal muslihat Kun-liong Ong, rasanya tidak rasanya tidak demikian sederhana, dia pasti mengatur rencana supaya orang2 dari partay besar saling gontok-gontokan sendiri”.

“Pikiran dan uraian sianseng sesungguhnya sangat mengagumkan.”

Oleh karena itu, maka siaote minta losiansu berdiam disini. Dengan nama dan kedudukan losiansu didalam rimba persilatan, cukup untuk menghindarkan pertentangan antara orang2 partay besar itu“

“Pengaruh dan nama baik Auw-yang pangcu, bukankah jauh diatas lolap?....” berkata Tiat Bok taysu sambil melirik Auw-yang Thong.

“Siaote pikir rencana Kun-liong Ong yang akan membuat kekacauan ini, maksud dan tujuannya paling utama tentunya untuk menghadapi kita orang2 golongan pengemis”

“Kalau begini baiklah lolap menerima baik permintaan sianseng”

“Kita juga sudah tiba saatnya harus berangkat” berkata Teng Soan sambil melihat cuaca

”Kemana kita harus pergi?” bertanya Auw-yang Thong. “Aku   sudah   menunjuk   tempat   dimana   kita   harus

berkumpul. Pasukan tiga jurusan yang harus menghadapi

musuh. Entah dari jurusan mana yang berhasi!” berkata Teng Soan sambil tersenyum.

“Kita ini terhitung menang atau kalah? Orang berjumlah limapuluh lebih masih belum mampu menangkap musuh yang jumlahnya hanya tiga orang saja?” bertanya Tiat Bok taysu.

“Dalam mengadu kekuatan tenaga berkesudahan seri, tetapi dalam mengadu kecerdikan dan pikiran, kita menang setingkat. Tetapi dalam pertempuran itu kita masih belum berhasil menangkap diri Kun-liong Ong, itu ada kesalahan siaote seorang.''

“Sianseng masih coba menyalahkan diri sendirii. Hal ini membuat lolap merasa lebih malu” berkata Tiat Bok taysu.

“Maaf siaote akan berkata terus terang. Dalam mengadu ilmu silat mungkin losiansu dan pangcu kita, masih susah menandingi kepandaian Kun-liong Ong, maka siaote tidak mengharapkan Tay su dan pangcu kita merebut kemenangan atas dirinya dengan mengandalkan kekuatan tenaga. Kesempatan untuk menundukkan musuh, siaote masih mengharapkan kepada barisan gaib Kiu-kiong tin. Adalah diluar dugaan siaote mengenai kepandaian ilmu silat pemuda bermuka kuning itu...”

Tiat Bok taysu menganggukan kepala dan berkata: “Kepandaiannya pemuda itu rneskipun belum begitu sempurna seperti Kun-liong Ong, tetapi kegesitan dan kelincahannya, sesungguhnya tidak dibawah Kun-liong Ong.”

“Kalau bukan karena kepandaian ilmu silat pemuda itu yang keliwat tinggi, tidak mungkin Kun-liong Ong mendapat kesempatan untuk mempelajari segala perubahan dari gerakan barisan Kiu-kiong tin. Selagi ia masih belum berhasil memahami kaajaiban barisan itu, ia sudah ditundukkan oleh orang2 kita dengan pangaruhnya kekuatan barisan itu..” berkata Teng Soan.

Sambil menghela napas panjang, kemudian berkata lagi yang menyesali atas kekeliruaanya sendiri.

“Seharusnya aku lebih siang mengetahui kepandaiaian pemuda itu yang sangat tinggi sekali, tetapi meskipun aku sudah mendapat kabar mengenai kepandaiannya, dan toch masih meremehkan, sehingga mengalami kekalahan ini ”

“Sianseng tidak perlu menyesali diri sendiri, dalam pertempuran hari ini, kita sebetulnya belum kalah, setidak2nyai kita sudah berhasil membuka kedok Kun-liong Ong. ini juga berarti merupakan suatu pukulan baginya”

“Tetapi juga berarti suatu peringatan baginya, yang akan menimbulkan bencana besar bagi rimba persilatan.''

“Ialah kemauan takdir, yang tidak dapat dielakkan oleh tenaga manusia, sianseng sudah berjanji tidak akan meninggalkan dunia Kang-ouw, ini sudah merupakan suatu keuntungan besar bagi kawan2 rimba persilatan,” berkata Tiat Bok taysu. Teng Soan mendongakkan kepala melihat keadaan cuaca, kemudian berkata: “Kita tidak bisa berdiam lebih lama lagi disini. ”

Tiba2 ia berkata kepada Auw-yang Thong dengan suara perlahan sekali, kecuali Auw-yang Thong dan Tiat Bok taysu, orang lain tidak mendengar apa yang dikatakan olehnya.

-odwo-

Mari kita sekarang menengok kepada orang berjubah hijau setelah keluar dari kepungan barisan Kiu-kiong tin, lalu mengajak Nie Suat Kiao dan Siang-koan Kie kabur menuju keselatan.

Nie Suat Kiao menyaksikan tujuan orang berjubah hijau itu, sepanjang jalan sangat sepi, juga bukan merupakan jalan dari mana mereka datang tadi, meskipun dalam hati merasa curiga, tetapi ia tidak berani berkata.

Sudah sekian tahun ia hanya mengikuti Kun-liong Ong, hingga mengenal baik perangainya. Dalam hati merasa kbawatir terhadap keselamatan Siang-koan Kie.

Ia mulai berpikir, keadaan sangat berbahaya yang pernah dialaminya. Apabila Kun-liong Ong tidak ingin kekalahannya itu tidak tersiar keluar, besar kemungkinan ia akan membunuh Siang-koan Kie dan ia sendiri supaya berita itu jangan sampai tersiar keluar....

Selagi berpikir, Kun-liong Oug tiba2 menghentikan perjalanannya.

Nie Suat Kuo kini baru mengetahui bahwa tempat, dimana ia berhenti ternyata merupakan suatu tanah pekuburan yang sangat sepi dan menyeramkan.

Dengan sinar mata tajam dan dingin Kun-liong Ong menatap wajah Nie Suat Kiao, kemudian bertanya: “Anak, bagaimana perlakuanku terhadap dirimu?” “Bagaikan ayah sendiri yang mencintai kepada anaknya.” jawah Nie Suat Kiao.

“Itu bagus, bertindaklah sendiri untuk membuat satu lobang.”

Nio Suat Kiao terperanjat, katanya: “Anak tidak membawa alat, bagaimana harus menggali lobang?''

“Jikalau kau mengerahkan kekuatan tenaga dalammu kepada kedua tanganmu, dengan kedua tangan itu kau gunakan untuk menggali, bukankah sama saja?”

Nie Suat Kiao tidak berkata apa2, ia terpaksa menurut. Dengan perlahan2 ia keluarkan sepasang tangannya yang putih halus, dibawah sinar rembulan, kulit tangan yang pulih halus itu campak bersemu merah, sepuluh jari tangannya yang runcing nampak sangat indahnya.

-odwo-

54

DENGAN hati sangat pilu, ia menarik napas sendiri dan per- lahan2 memusatkan kekuatan tenaga dalamnya diatas kedua tangannya

Sepuluh jarinya yang putih dan runcing seketika merah dan besar.

“Kepandaianmu nampaknya sudah rnendapatkan banyak kemajuan,”' berkata orang berjubah hijau itu. “Barangkali selama didalam rumah keluarga Pan, kau tidak melupakan latihanmu.”

“Itu memang benar,” menjawab Nie Suat Kiao sambil tertawa masam, “hanya selama beberapa tahun ini, tidak bisa selalu berdampingan dengan ayah, sehingga kurang pelajaran ilmu-ilmu yang ampuh.” “Sudah banyak yang kau pelajari   lekas kau menggali!”

Nie Suat Kiao menggerakkan kedua tangannya menggali lobang ditanah.

Tanah ditempat itu merupakan tanah campuran antara tanah liat dan dengan pasir, meskipun tidak terlalu keras tetapi pasir dan batu kerikil yang tajam meskipun Nie Suat Kiao sudah menggunakan kekuatan tenaga dalam, tetapi masih dibikin terluka oleh tajamnya batu, sehingga darah bercucuran ditangannya.

Namun demikian, ia melakukan terus pekerjaanya dengan pengharapan karena adanya luka2 akan mendapatkan rasa kasihan atau simpati dari ayahnya. Per-lahan2 ia mengangkat kepalanya dan berkata: “Kedua tangan anak sudah terluka”

Orang berjubah hijau itu hanya rnemperdengarkan suara dari hidung, kemudian menjawab dengan perasaan dingin: “Masih untung, apabila melukai urat2 jalan darahmu, barangkali kau sekarang sudah pingsan karena mengeluarkan terlalu banyak darah.”

“Ucapan ayah benar,” demikian Nie Suat Kiao menjawab dengan hati pilu.

Dengan cepat ia menundukkan kepalanya, melanjutkan pekerjaannya menggali ditanah. Jelaslah bahwa ia mengharap dengan bekerja keras ia dapat melupakan penderitaan batinnya dan perasaan gusarnya.

Ia mulai menganalisa pengalaman dan keadaan yang dihadapinya, ternyata penuh bahaya dan anaman maut....

Ia menyesal mengapa tidak dulu memberikan obat pemunah kepada Siang-koan Kie. Apabila Siang-koan Kie sudah makan obat pemunah, dengan kekuatan tenaga dua orang, saat itu ia masih dapat memberikan perlawanan terakhir kepada ayah angkatnya, sekalipun belum tentu bisa meloloskan diri dari cengkeraman tangan kejam ayah angkatnya, tetapi apabila pertempuran itu bisa menarik perhatian orang2 golongan pengemis, jelas masih ada harapan dau kesempatan hidup.

Ia tahu benar bahwa ayah angkatnya itu sangat kejam dan banyak curiga, maka selama menggali tanah tidak berani mengangkat kepalanya lagi, atau menghentikan pekerjaannya. Tidak lama kemudian, ia sudah berhasil menggali sebuah lobang yang dalamnya kira2 tiga kaki, dan panjangnya kira2 empat kaki dan lebarnya dua kaki.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara orang berjubah hijau itu: “Sudah cukup, sekarang kau boleh berhenti dan mengaso”

Nie Suat Kiao menghentikan pekerjaaannya. Perlahan-lahan ia berbangkit dan mundur dua langkah, berdiri disisi Siang- koan Kie.

Orang berjubah hijau itu berkata sambi mendongakkan kepala: “Anak, kau suruh orang itu rebah dalam lubang, lalu timbuni dengan tanah dan kubur hidup2”

Nie Saat Kiao agaknya sudah menduga bahwa ayah angkatnya itu hendak berkata demikian, maka sedikitpun tak merasa terkejut atau heran. Ia berpaling memandang Siang- koan Kie sejenak kemudian bertanya dengan suara perlahan: “Meskipun pikirannya terkendali, tetapi apabila disuruh rebah didalam lubang tanah, apakah ia mau menurut?”

“Kau suruh ia mendekati aku,” berkata orang berjubah hijau itu dingin.

Nie Suat Kiao tiba2 menggapaikan tangannya kepada Siang-koan Kie: “Pergilah kesana!”

Siang-koan Kie mengunjukkan tertawanya. Dengan tindakan perlahan ia berjalan kearah yang ditunjuk oleh Nie Suat Kiao.

Orang berjubah hijau itu diam2 mengerahkan tenaga dalamnya, perlahan2 mengangkat tangan kanannya. Asal Siang-koan Kie sudah berada di pinggir lubang, akan segera diserangnya. Pada saat yang sangat kritis itu, Nie Suat Kiao tiba2 saja timbul perasaan takut, apabila Siang-koan Kie sudah dibinasakan oleh ayahnya, kematian segera menimpa dirinya.

Satu keinginan untuk hidup, telah membangkitkan keberaniannya untuk melawan, tiba2 ia berkata dengan suara keras: “Ayah!”

Orang berjulah hijau itu agaknya tidak menduga bahwa Nie Suat Kiao berani bersikap demikian keras terhadap dirinya, hingga seketika itu ia merasa terkejut.

“Apakah kau sudah gila?” demikian ia menegur.

Nie Suat Kiao sudah menduga pasti bahwa saat itu susah untuk mengelakkan dirinya dari bahaya maut. Maka maksudnya hendak memberi perlawanan semakin kuat. Atas teguran ayahnya, ia menjawab dengan perkataan yang mengandung sindiran: “Anakmu tidak gila, hanya, mungkin tidak dapat melewati malam ini”

Orang berjubah hijau itu perlahan2 menurunkan tangan kanannya seraya berkata: “Dengan ucapanmu ini saja, sudah harus dihukum mati”

“Apabila ayah sudah tidak ingat hubungan kita antara ayah dengan anak, anak juga tidak akan mandah mati begitu saja”

“Aku tidak percaya kau berani melawan,” berkata sang ayah sambil tertawa dingin.

“Ayah mendesak terus menerus, anak sudah tidak ada jalan mundur lagi...”

Ia tiba-2 menarik napas panjang, dimukanya terlintas sikapnya yang ingin minta dikasihani, lalu sambungnya: “Apabila ayah memberikan jalan hidup bagi anak, anak juga mengasingkan diri ditempat yang sunyi, tidak akan terjun lagi dikalangan Kang-ouw.” “Bagus sekali kau berani tawar menawar denganku”

Nie Suat Kiao tiba2 menggapaikan tangannya kepada Siang-koan Kie dan berkata dengan suara yang nyaring: “Balik!”

Siang-koan Kia melompat mundur balik kearah Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao sudah siap, dengan cepat dari dalam sakunya mengeluarkan sebuah pil dan dimasukkan ke dalam mulut Siang-koan Kie.

Seumur hidupnya, orang berjubah hijau belum pernah mengira bahwa orang bawahannya sendiri, ternyata berani mengkhianati dirinya. Maka untuk sesaat lamanya ia berdiri ter-mangu2. Lama sekali baru berkata sambil tertawa ter- bahak2: “Perkataan beberapa adikmu ternyata tidak salah. Seharusnya siang2 aku membunuhmu”

“Orang2 golongan pengemis, tidak jauh dari sini. Apabila aku berteriak, ada kemungkinan mereka akan datang menolong” berkata Nie Suat Kiao dengan berani. Matanya mengawasi Siang-koan Kie dan sambungnya: “Aku sudah memberikan obat pemunah kepadanya. Dalam waktu sekejap, ia akan pulih kembali pikirannya”

Orang berjubah hijau itu berkata dengan kata mengandung maksud membunuh: “Sekarang aku memberi waktu lagi kepadamu untuk berpikir, kau ingin mati dengan menyerahkan diri ataukah melawan aku?”

Nio Suat Kiao merasa setiap patah kata ayahnya itu, seakan2 sebuah martil yang menohok hatinya. Untuk saat itu ia tidak tahu bagaiman harus menjawab.

Sinar mata yang tajam orang berjubah hijau itu, per-lahan2 langsir dari muka Siang-koan Kie dan kearah Nie Suat Kiao, kemudian berkata: “Kau pikir dulu masak2. ada beberapa orang yang memberontak kepadaku, bagaimana nasib mereka? Kalau tidak mati karena badan tersiksa, pasti mati dengan secara menyedihkan. Terhadap kau, oleh karena aku masih mengingat perhubungan antara ayah kepada anaknya maka aku sudah memberikan kau banyak kelonggaran”

Tiba2 ia mendongakan kepalanya dan berkata: “Bukankah kau cinta kepadanya? Ditilik dari kepandaian ilmu silatnya memang ada harganya untuk dicintai. Seseorang, tidak perduli lelaki atau perempuan, apabila bisa dikubur ber-sama2 dalam satu liang dengan kekasihnya, itu seharusnya merupakan suatu kejadian yang patut dibuat bangga...”

Nada suaranya orang itu, kedengarannya penuh rasa kasih sayang, sehingga dapat menggerakkan perasaan orang.

Nie Suat Kiao agaknya tergerak oleh perkataan itu. Dengan tanpa disadarinya, matanya mengawasi liang kubur itu.

Sementara itu terdengar pula perkataan ayah angkatnya: “Sekarang ini asal kau menotok jalan darah Beng bun-hiat dibelakang pungguugnya, segera dapat membuat ia rebah didalam lubang itu dengan tenang, kemudian kau bunuh diri sendiri bersama-sama ia rebah didalam satu lobang dan aku nanti akan mengubur baik2 kalian berdua”

Nie Suat Kiao tiba2 mengangkat kepalanya sambil menangis ia berkata: “Perkataan ayah tidak salah”

“Biar bagaimana aku sudah pernah merawat kau sebagai anak, bagaimanapun juga masih ada hubungan kasih sayang. Aku sebetulnya tidak tega turun tangan membunuh kau....

tetapi keadaan pada waktu ini, sudah menjadi demikian rupa sehingga tidak dapat aku pertahankan lagi”

Wajah Nie Suat Kiao berubah, katanya: “Baiklah! Bagaimanapun juga aku sudah susah untuk lolos dari tanganmu. Daripada mati kau bunuh, lebih baik aku bunuh diri sendiri” Matanya berputaran memandang wajah Siang-koan Kie, kemudian ia berkata sambil tertawa getir: “Marilah kita mati bersama-sama.”

Per-lahan2 ia mengangkat tangan kanannya.

Pada saat itu tiba2 terdengar siulan panjang. Sesosok bayangan orang cepat bagaikan kilat melayang turun dari udara, sebentar kemudian sudah berada dihadapan dua orang.

Lalu terdengar suara orang itu berkata: “Jangan ganggu toakoku.”

Nie Suat Kiao baru melihat bahwa orang yang berada dihadapan Siang-koan Kie ternyata seorang pemuda yang raut mukanya agak mirip dengan monyet.

Orang berjubah hijau itu agaknya dikejutkan oleh kedatangan orang yang sangat cepat itu, lalu menegurnya: “Kau siapa?”

Orang yang baru datang itu tidak lain dari pada Wan Hauw, meskipun ia sudah mengerti banyak perkataan orang, tetapi bicaranya sendiri masih belum lancar. Meskipun dalam hati mengerti, tetapi ia tidak dapat mengatakan dengan jelas. Atas pertanyaan orang berjubah hijau itu, ia hanya dapat menjawab: “Dia adalah toakoku, aku adalah adiknya”

Ia menganggap bahwa jawabannya itu sudah jelas, tegapi bagi orang lain, masih kurang dimengerti.

“Bagaimana dengan saudaramu?’ bertanya orang berjubah hijau itu dingin.

“Saudaraku, siapapun tidak boleh mengganggu” menjawab Wan Hauw, lalu dari belakang punggungnya mengambil sebatang seruling bambu yang segera ditiupnya. Orang berjubah hijau itu begitu dengar suara seruling segera merasa bahwa irama itu seperti tidak asing, agaknya sudah pernah mendengarnya.

Wan Hauw dengan sepasang matanya yang lebar, memandang muka Siang-koan Kie. Irama seruling yang ditiupnya makia lama semakin keras.

Orang berjubah hijau tiba2 berkata kepada Nie Suat Kiao dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara dalam telinga: “Kiao jie! Kau kerahkan kekuatan tenaga dalammu. Totoklah dalan darah Beng-bun-hiat di punggungnya, aku akan bebuskan kau dari kematian”

Oleh karena dengan Wan Hauw terpisah hanya kira2 tujuh kaki saja, apalagi mereka berdiri berhadap-hadapan, apabila ia bertindak sendiri, pasti akan dilihat oleh Wan Hauw. Justru karena Nie Suat Kiao berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, asal menjulurkan tangannya, ia dapat menotok jalan darah bagian mana saja.

Justru Nie Suat Kiao setelah mendengar irama seruling itu, pikirannya yang agak kalut tiba2 menjadi jernih.

Meskipun usianya masih muda, tetapi ia sudah banyak mengalami pahit getirnya penghidupan. Iapun cerdik dan banyak akalnya, maka atas anjuran ayahnya tadi, ia sengaja menjawab dengan suara keras: “Apabila ayah ingin membunuh dia?”

Siang-koan Kie yang sedang berdiri sambil memejamkan mata, tiba2 membuka lebar matanya. Sinar matanya tajam menatap Wan Hauw, kemudian menatap wajah Nie Suat Kiao. Alisnya bergerak2 agaknya sedang mengingat-2 kembali semua pengalamannya.

Wan Hauw tiba2 menurunkan serulingnya dan berkata dengan girang: “Toako.”

Nie Suat Kiao berkata dengan suara keras “Lekas minggir.’’ Wan Hauw ketika mendengar perkataan itu, tiba2 memondong Siang-koan Kie dan melompat kesamping sejauh tiga kaki.

Bersamaan dengan itu, hembusan angin yang keluar dari jari tangan orang berjubah hijau lewat disampingnya. Apabila Nie Suat Kiao tidak memperingatkan pada waktu yang tepat, dua orang itu pasti akan terkena serangan itu.

Orang berjubah hijau itu berkata dengan suara keras: “Bagus! Kau benar2 sudah berani mengkhianati aku.”

Nie Suat Kao berkata sambil tertawa getir: “tidak perduli aku berkhianat terhadap ayah atau tidak, kenyataannya aku sudah sulit untuk mendapat pengertian ayah. ”

Ia mengawasi Siang-koan Kie sejenak kemudian berkata pula: “Ayah sering memberi pelajaran kepadaku, juga menyelidiki keadaan musuh dan keadaan diri sendiri. Keadaan didepan mata sekarang ini sudah jelas. Asal kita bertiga bergandengan tangan, mungkin masih ada harapan hidup”

Siang-koan Kie nampaknya sudah pulih kembali ingatannya, ia berkata dengan suara perlahan: “Lepaskan aku.”

Wan Hauw menurut.

Dengan sinar mata yang tajam, Siang-koan Kie menatap wajah orang berjubah hijau itu kemudian menegurnya: “Apakah kita pernah bertemu muka?”

Orang berjubah hijau itu agaknya diingatkan kenangannya oleh pertanyaan Siang-koan Kie. Ia menganggukkan kepala dan menjawab: “Benar kita seperti sudah bertemu muka ”

Bardiam sejenak, lalu sambungnya: “Barang siapa yang pernah bertemu muka denganku, kebanyakan akan terbinasa ditanganku” Siang-koan Kie tiba2 melompat dan berkata: “Sekarang aku ingat, kau adalah orang berjubah hijau yang pernah memukul aku sehingga terjerumus kedalam jurang yang dalam.’’

Orang berjubah hijau itu memperdengarkan suara dari hidung, dengan cepat menghampirinya.

Tiba2 terdengar suara seruan Wan Hauw: “Jangan sentuh toakoku!”

Ucapannya itu disertai dengan gerakan tangannya yang digunakan untuk menyerang orang berjubah hijau.

Orang berjubah hijau itu memperdengarkan suara tertawa dingin, tangan kanannya yang digunakan untuk menyerang Siang-koan Kie telap tidak berubah, tangan kirinya digunakan untuk menyambut serangan Wan Hauw.

Gerakannya itu dilakukan dengan kekuatan tenaga sepenuhnya, dengan pengharapan sekaligus dapat mematahkan tangan Wan Hauw. Diluar dugaannya bahwa tangan pemuda itu dirasakan keras bagaikan baja, sedikitpun tidak terganggu oleh serangannya, hingga dalam hati diam2 merasa terkejut.

Wan Hauw memperdengarkan suara siulan panjang, kedua tangannya bergerak dan menyerang bertubi-tubi.

Karena gegabahnya orang berjubah hijau itu telah memberikan kesempatan bagi Wan Hauw untuk merebut posisi lebih baik. Serangannya yang bertubi-tubi itu telah berhasil mendesak orang berjubah hijau mundur tiga langkah.

Nie Suat Kiao diam2 sudah mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, ia sudah siap untuk memberi bantuan kepada Wan Hauw, sebab selama hidupnya, ia belum pernah melihat ada orang yang dapat mengimbangi kepandaian dan kekuatan Kun-liong Ong dengan seorang diri. Orang berjubah hijau itu setelah terdesak mundur tiga empat kaki baru berhasil memperbaiki keadaannya. Ia tidak berani memandang ringan lawannya lagi. Dengan seluruh kekuatan tenaganya ia melakukan serangan pembalasan.

Serangan pembalasan itu, bukan saja sudah berhasil menahan serangan Wan Hauw yang hebat, bahkan sudah memperbaiki kedudukkannya sendiri.

Wan Hauw yang berkelahi dengan semangat menyala2, tiba2 melesat tinggi keatas. Ditengah udara ia berputaran dengan sikap kepala dibawah dan kaki diatas ia menukik menyerbu orang berjubah hijau.

Orang berjubah hijau itu mengangkat tangan kanannya, tetapi tangan kanan hendak menyentuh tangan kanan Wan Hauw yang penuh hiu.

Dengan cara itu ia hendak melukai Wan Hauw dengan kekuatan tenaga dalam yang hebat, maka kekuatan tenaga dalam yang dipusatkan ketelapak tangan kanan, dengan tiba2 mendorongnya.

Wan Hauw yang badannya menukik ditengah udara, ketika terdorong oleh kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat itu, tidak ampun lagi tubuhnya mental ketengah udara bagaikan layang2 putus talinya.

Siang-koan Kie terperanjat. Dia segera bergerak menghalangi orang berjubah hijau, tanpa bicara apa2 ia melakukan serangannya.

Orang berjubah hijau itu setelah mendorong Wan Hauw, agaknya sangat girang, dengan gaya totokan, ia hendak memaksa Siang-koan Kie menarik lagi serangannya, sedang tangan kirinya tiba2 melancarkan serangan dari jarak jauh kepada Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao ketika mengetahui Wan Hauw terpental ketengah udara oleh serangan orang berjubah hijau, sudah berpikir hendak turun tangan membantu Siang-koan Kie supaya Siang-koan Kie jangan sampai terluka. Karena itu berarti tinggal ia seorang dri, sudah tentu lebih susah kedudukannya. Ketika melihat dirinya diserang oleh orang berjubah hijau, segera menyambut dengan kedua tangannya.

Siang-koan Kie sementara itu serangannya ditujukan kesamping punggung lawannya, hingga mau tidak mau orang berjubah hijau itu harus menyambut dengan tangan kanannya.

Oleh karena tindakan Siang-koan Kie yang sangat cepat itu hingga orang berjubah hijau itu harus membagi tenaganya. Dengan demikian kekuatan tenaga yang digunakan untuk menyerang Nie Suat Kiao dengan sendirinya banyak berkurang.

Kesudahannya pertempuran segi tiga itu, membuat Siang- koan Kie dan Nie Suat Kuo sama-2 mundur satu langkah. Sedangkan orang berjubah hijau yang sudah mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sangat sempurna, meskipun menghadapi dua serangan musuh tangguh, masih unggul keadaannya. Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiao yang terdorong mundur oleh kekuatan tenaga dalam orang berjubah hijau itu, separuh badannya merasa kesemutan. Seandainya kekuatan tenaga orang berjubah hijau itu tidak terbagi dua, orang yang menyambut serangan itu pasti akan mampus seketika itu juga.

Meskipun dua orang itu tidak terluka, tetapi sebelum mengatur pernapasannya, mereka sudah tidak mempunyai kemampuan bertempur lagi.

Pada saat itu, asal orang berjubah hijau itu melancarkan serangannya lagi, dua orang itu akan terluka dibawah tangannya semua. Untung Wan Hauw tiba pada saat yang tepat. Dengan tinjunya, ia meninju orang berjubah hijau itu.

Mata orang berjubah hijau itu berputaran, dengan penuh napsu membunuh ia berkata sambil tertawa dingin: “Orang- orang kuat dalam rimba persilatan pada dewasa ini, yang dapat menyambut seranganku, aku harus membinasakannya baru merasa puas. Karena kau sanggup menyambut seranganku, maka hari ini kau jangan pikir bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup.’’

Selama berkata itu, tangan dan kakinya juga bergerak menyerang Wan Hauw dengan hebat, semua yang diarah merupakan jaian darah yang terpenting dalam tubuh manusia.

Wan Hauw dengan mengandalkan kekuatan badannya yang diwariskan oleh ayahnya dan gerak tipu serangannya yang aneh, indah, ia dapat menghadapi lawannya dengan berbagai cara, ternyata bisa bertahan sampai duapuluh jurus lebih.

Tetapi duapulub jurus kemudian, ia mulai repot melayani serangan lawannya.

Dalam suatu pertempuran sengit, orang berjubah hijau itu tiba2 melompat mundur sejauh lima kaki. Sedangkan Wan Hauw berdiri tertegun ditempatnya.

Siang-koan Kie yang menyaksikan gelagat tidak baik segera melompat menghampiri dan berkata dengan suara cemas: “Saudara Wan...”

Sepasang mata Wan Hauw yang seperti sudah kabur, per- lahan2 beralih kewajah Siang-koan Kie kemudian tertawa menyeringai. Setelah itu mulutnya mengeluarkan darah segar dan badannya jatuh ketanah.

Siang-koan Kie terkejut, dengan cepat ia menyambar badan Wan Hauw.

Ketika jari tangannya menyentuh badan Wan Hauw, hatinya tiba2 tergerak, dengan cepat tangannya itu ditarik kembali.

Ia lalu berpaling mengawasi orang berjubah hijau, yang saat itu sedang berdiri sambil memejamkan sepasang matanya. Nie Suat Kiao dengan tindakan tergesa-gesa menghampirinya, berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan: “Saudaramu terluka berat.”

Siang-koan Kie menganggukkan kepala, dengan suara nyaring ia bertanya kepada orang ber jubah hijau: “Apakah kau juga terluka?”’

Orang berjubah hijau itu tiba2 membuka matanya, ia berkata sambil tertawa dingin: “Kau hendak bunuh diri sendiri, ataukah aku yang harus turun tangan?”

Ucapan itu disertai dengan gerakan tangannya yang menyerang dada pemuda itu.

Siang-koan Kie tahu bahwa orang itu mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat hebat, maka tidak berani menyambut serangannya, dengan kedua jarinya, ia menotok jalan darah tangan orang berjubah hijau itu. Untuk menghindarkan tangan yang tertotok, orang berjubah hijau itu mau tidak mau menarik kembali serangannya, sebentar kemudian melakukan serangan dengan tangan kanan.

Siang-koan Kie bergerak dengan kedua tangaanya. Ia berhasil merebut kududukkan menyerang dalam waktu sekejap mata, ia sudah menghujani serangan dengan tangan dan kaki pada lawannya.

Orang berjubah hijau itu sebaliknya tidak membalas menyerang, ia hanya manutup atau mengelakkan setiap serangan Siang-koan Kie.

Nie Suat Kiao yang berdiri disamping menyaksikan pertempuran itu, parasnya ber-kali2 berubah. Agaknya sedang memikirkan persoalan rumit.

Orang berjubah hijau itu sambil menutup dan mengelakkan serangan Siang-koan Kie, diam2 memperhatikan gerak tipu yang digunakan oleh pemuda itu, agaknya ingin mencari kenangan2 yang sudah lama menghilang dari ingatannya..... Nie Suat setelah berpikir cukup lama, tiba-tiba balik menghampiri Wan Hauw dan kemudian dipondongnya.

Dalam tangannya sudah tersedia sebutir pil. Dengan cepat, pil itu dimasukkan kedalam mulut Wan Hauw. Setelah itu, ia meletakkan kembali Wan Hauw kemudian balik lagi ke tempat semula. Seluruh perhatian orang berjubah hijau itu, masih tetap ditujukan kepada setiap gerakan Siang-koan Kie. Matanya berkali-kali menunjukkan sinar kecurigaan, agaknya dari gerakan pemuda itu mengingatkan kepadanya kepada salah seorang sahabat lamanya.

Nie Suat Kiao diam2 menarik napas lega, ia berpaiing mengawasi jalannya pertempuran.

Orang berjubah hijau tiba2 melompat mundur tiga langkah dan berseru: “Tahan.”

Siang-koan Kie menurut, ia menghentikan serangannya kemudian bertanya: “Ada apa?”

Mata orang berjubah hijau ditujukan kepada Nie Suat Kiao, lalu bertanya kepadanya: “Kiauw jie! Apakah ia sudah pulih ingatannya?”

“Sudah pulih seluruhnya,” menjawab Nie Suat-Kiao.

Mata orang berjubah hijau lalu ditujukan kepada Wan Hauw yang rebah ditanah, kemudian dialihkan kewajah Siang- koan Kie, katanya: “Kepandaianmu dengan kepandaian pemuda itu ada banyak yang persamaan. Apakah kalian dapat pelajaran dari satu guru?”

“Kalau iya, mau apa?” demikian Siang-koan Kie balas menanya.

Mata orang berjubah hijau tiba2 memandang jauh, katanya: “Jikalau kau bisa memberitahukan kepadaku dimana adanya sekarang orang yang memberi pelajaran ilmu silat kepadamu itu, dalam pertempuran hari ini aku akan memberikan jalan hidup.” Siang koan Kie setelah pulih kembali semua ingatannya, yang dirasakan saat itu hanya kekuatan tenaganya banyak berkurang. Tangan dan kakinya masih merasa lelah, kekuatan tenaga dalamnya kurang sempurna sehingga setiap gerakannya dirasakan tidak leluasa seperti biasa. Ia tahu bahwa dalam pertempuran itu tidak menguntungkan bagi dirinya kecuali apabila ia sudah bertekad hendak mengadu jiwa. Maka ia terus mencari kemenangan dengan menggunakan akal. Sambil mengatur pernapasannya, otaknya diam-diam bekerja memikirkan caranya untuk melawan musuhnya. Sementara itu mulutnya menjawab: “Apakah kau kenal dengannya?”

“Tokoh2 kuat yang ada namanya dalam rimba persilatan, sebagian besar aku dapat menyebut namanya, tetapi mereka orang2 yang mengenal diriku hampir sudah tak ada. Asal kau dapat menerangkan bentuknya, aku dapat menyebut namanya”

Siang-koan Kie sementara itu dalam hatinya berpikir: “apabila aku menerangkan wajah dan keadaan suhu, mungkin ia akan melakukan tindakan yang tidak menguntungkan bagi suhu. Sebaiknya aku permainkan dirinya, memberikan satu kesan yang membingungkan supaya aku mendapat kesempatan yang cukup panjang untuk memulihkan kekuatan tenagaku”

“Suhu yang memberikan pelajaran padaku jarang sekali menampakkan muka dihadapan orang luar. Sekalipun aku beritahukan padamu, mungkin kau juga tak mengenalnya”

“Begitukah? Coba kau katakan!” berkata orang berjubah hijau itu.

Siang-koan Kie berkata sembarangan, tidak diduga bahwa orang berjubah hijau sudah menganggap benar keterangan pemuda itu, hingga Siang-koan Kie diam2 merasa khawatir, pikirnya: “celaka, seumur hidupku aku jarang berbohong. Apabila keterangan ini terdapat kelemahan, pasti akan diketahuinya”

Dalam cemasnya, tiba2 dia teringat pengalamannya di dalam gua yang diliputi kabut dan dua buah bangkai manusia yang dilihatnya didalam gua itu.

Tempat yang sangat misterius dan pengalamannya yang menyeramkan, terus berkesan dalam otak Siang-koan Kie, maka dbawah pertanyaan orang berjubah hijau yang terus mendesak ingatannya kembali pada pengalamanya itu.

Ia mendongakkan kepala mengawasi awan dilangit kemudian berkata dengan suara perlahan: “Orang yang mendidik aku. ”

Oleh karena ia jarang mambohong, maka ucapannya dirasakan kurang tepat, hingga membungkam tiba2.

Mata orang berjubah hijau itu terus ditujukan ke wajah Siang koan Kie. Sebagai orang yang sudah banyak berpengalaman, diam2 ia hendak menyelidiki perubahan sikap Siang-koan Kie, takut apabila dibohongi. Sikap tidak tenang Siang-koan Kie, telah menimbulkan salah duga manusia licik itu. Dianggapnya pemuda itu merasa tidak tenang hatinya karena membocorkan jejak gurunya, sehingga kecurigaannya mulai lenyap.

“Meskipun tidak terhitung jumlahnya orang yang kubunuh sehingga namaku dikenal sebagai orang yang terlalu kejam sehingga ditakuti oleh orang2 rimba persilatan, tetapi seumur hidupku, aku belum pernah mengingkari janjiku sendiri. Asal kau menerangkan bentuk suhumu, hari ini aku tidak mengganggu kalian.” Demikian katanya.

Siang-koan Kie menengok kepada Nie Suat Kiao. Gadis itu ternyata menunjukkan sikap penuh pengharapan, berkata gadis itu kepedanya “Lekas terangkan, apa yang dijanjikan oleh ayah, salalu dipenuhinya.” Orang berjubah hijau itu memperdengarkan suara dihidung, kemudian berkata: “Apakah kau juga berpikir akan mendapat ampun dariku?”

Siang-koan Kie tergerak hatinya, ia berkata dengan sikap sungguh2: “Apabila kau tidak mengijinkan ia berlalu bersama kita, sekalipun aku akan binasa dimedan pertempuran, juga tidak sudi menerangkan wajah suhu.’’

Orang berjubah hijau itu berpikir sejenak, kemudian berkata sambil mengawasi Nie Suat Kiao: “Kalau begitu menguntungkan kau budak hina ini ”

Matanya menatap kembali kewajah Siang-koan Kie dan sambungnya: “Katakanlah!”

“Aku masih ada satu syarat, jikalau kau sudah terima baik, aku baru mau menerangkan.’’

“Syarat apa?”

“Aku hanya dapat menerangkan wajahnya, tetapi kau tidak boleh menanyakan tempat sembunyinya.”

Orang berjubah hijau itu tertawa dingin, ia hendak marah, tetapi kemudian berpikir lalu berkata, “Aku terima baik permintaanmu.”

“Orang yang mendidik pelajaran ilmu silat kepadaku bukan Cuma seorang.”

“Bukan Cuma seorang, apakah dua orang?’’ “Betul, seorang laki2 dan seorang perempuan.” “Apakah mereka suami istri?”

Siang-koan Kie segera berpikir: “Dilihat dari keadaannya dua bangkai itu, tidak mirip suami istri”

Maka ia segera menjawab sambil menggelengkan kepala: “Bukan.’’ “Kalau begitu tentunya kakak beradik.”

Siang-koan Kie berpikir: “Tidak peduli mereka kakak beradik atau bukan, toch tidak ada salahnya dianggap sebagai kakak beradik, maka ia menganggukkan kepala sebagai jawaban.

“Bagaimana macamnya dua orang itu?”

“Meskipun mereka denganku mempunyai hubungan antara guru dengan murid, tetapi tidak ada ketentuan secara resmi...”

“Apakah mereka, tidak bisa menerima murid kepadamu secara resmi?”

Siang-koan Kie sebenarnya sedang pusing memikirkan bagaimana untuk memberi jawaban tepat atas pertanyaan itu, ketika mendengar perkataan orang itu, ia buru-buru menjawab: “Betul”’ sambil menganggukkan kepala.

“Laki-laki itu usianya kira2 empat puluhan dan yang perempuan sekitar tiga puluhan, betul tidak?”

Siang-koan Kie menganggukkan kepala.

Karena waktu itu meskipun ia menyaksikan keadaan dan pakaian dari mayat itu, tetapi mengenai usia mereka, ia tidak dapat menduga dengan pasti, maka atas perkataan orang berjubah hijau itu ia hanya bisa menganggukkan kepala.

Orang berjubah hijau itu tiba2 bertanya dengan suara nyaring: “Kedua orang itu bukankah berada digunung Pek- bhe-san?”

“Mereka sudah pesan wanti2 bahwa aku tidak boleh memberitahukan tempat tinggal mereka kepada siapapun juga”

“Bagaimana dandanan mereka?” Pertanyaan itu segera menimbulkan kenangan sedih Siang- koan Kie, hingga ia menarik napas panjang.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara geraman perlahan, Wan Hauw yang rebah ditanah tiba2 bangkit.

Orang berjubah hijau itu memandang Wan Hauw sejenak, mulutnya berkata: “Sungguh panjang umurmu.”

Siang-koan Kie setelah mengawasi Wan Hauw sejenak, baru menjawab “Dandanan kedua locianpwee yang memberi pelajaran ilmu silat kepadaku itu, sama dengan orang biasa”

“Jikalau bukan kedua orang itu yang menolong kau, setelah kuhajar kau jatuh ke dalam jurang, pasti kau sudah hancur lebur badan dan tulang2mu.”

-odwo-

55

SEBELUM Siang-koan Kie menjawab, tiba2 dalam hatinya berpikir: “apabila aku mengaku ditolong oleh dua orang itu, tidak bedanya seperti memberitahukan padanya tempat mereka”

Oleh karenanya maka ia tidak segera menjawab dan mengalihkan pembicaraannya kepada persoalan lain: “Urusan yang kita bicarakan kini telah selesai, kita juga hendak pergi.”

Orang berjubah hijau itu matanya tiba2 dialihkan kepada Nie Suat Kiao katanya: “Kiao-jie, kau kemari.”

Nie Suat terperanjat, tetapi ia menghampiri dengan tindakan perlahan.

Orang berjubah hijau itu berkata padanya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga: “Benarkah kau hendak meninggalkan aku?” “Anak, anak....” hanya itu saja yang keluar dari mulut Nie Suat Kiao, karena hatinya merasa cemas, maka tidak dapat malanjutkan kata2nya lagi.

“Sekarang, kau mendapat kesempatan untuk menebus dosamu....” berkata orang berjubah hijau. sejenak ia berdiam, lalu sambungnya: “Kau harus mengerti, apabila aku berniat membunuh mereka, kalian semua tidak akan bisa hidup lagi sampai pagi hari.”

“Anak mengucapkan terima kasih yang mana ayah tidak sampai turun tangan kejam.”

“Kau sekarang boleh berjalan ber-sama2 dengan mereka, tetapi tiap tiba disuatu tempat kau harus meninggalkan tanda rahasia, mengerti?”

“Anak ingat.”

“Bagus, kau boleh pergi.''

Nie Saat Kiao per-lahan2 memutar tubuhnya, selagi kakinya hendak melangkah, tangan kanannya tiba2 dirasakan kejang, hingga seketika itu wajahnya berubah.

Ketika ia berpaling, orang berjubah hijau ternyata sudah pergi, hingga ia memanggil dengan suara nyaring: “Ayah harap tunggu sebentar, anak masih ada sedikit urusan.”

Dari jauh terdengar suara jawaban ayah angkatnya: “Pergilah dengan hati lega, asal kau berbuat menurut pesanku, sudah tentu ada orang yang setiap hari datang pada waktunya untuk memberi obat pemunah kepadamu...“

Sebelum habis perkataannya, sudah tidak kelihatan bayangannya.

Siang-kong Kie berpaling mengawasi Nie Suat Kiao sejenak, ia juga tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap gadis itu, entah mendongkol ataukah benci. Ia hanya menggelengkan kepala dan menarik napas, kemudian berjongkok disamping Wan Hauw dan bertanya kepadanya: “Saudara Wan, apakah lukamu agak parah?”

Wan Hauw per-lahan2 mengangkat kepalanya dan bertanya: “Apakah orang berjubah hijau itu sudah pergi?”

“Sudah!” menjawab Siang-koan Kie.

Wan Hauw per-lahan2 bangkit dan duduk di tanah, lalu berkata sambil menunjuk Nie Suat Kiao: “Perempuan itu memberi aku sebutir pel obat”

Sebagai orang yang jujur dan berhati putih bersih selalu ingat kepada orang yang melepas budi kepada dirinya.

Siang-koan Kie memandang Nie Suat Kiao seraya berkata: “Aku benar2 tidak tahu harus menganggapmu sebagai apa, kawahkah? Lawankah?”

Nie Suat Kiao tiba2 membalikkan badan dan menghampiri seraya berkata: “Kawan atau lawan, biarlah kau sendiri yang menentukan. Apabila kalian tidak sudi jalan ber-sama2 denganku, aku akan segera meninggalkan kalian.”

“Kau hendak kemana?'' bertanya Siang-koan Kie.

“Kau tidak  usah perduli, sedari anak2 aku sudah hidup sebatang kara, diwaktu dewasa suka hidup menyendiri, apapun aku tidak takut...” menjawab Nie Suat Kiao.

“Hanya takut kepada orang berjubah hijau itu?” berkata Siang-koan Kie.

Nie Suat Kiao melembungkan dada dan berkata “Dia terhadap aku mempunyai budi sebagai ayah angkat yang membesarkan dan mendidik aku, sudah tentu aku takut kepadanya.''

Siang-koan Kie berpikir sejenak, kemudian berkata: “Jikalau aku ingat perbuatanmu yang menggunakan obat membuat aku lupa terhadap diri sendiri. Aku masih merasa gemas.” “Demikian juga dengan aku, jikalau aku tahu lebih dulu bahwa kau sedikitpun tidak merasakan rasa berterima kasih terhadap aku, tidak nanti aku akan memberikan kau obat pemunah”

Wan Hauw yang menyaksikan dua anak muda bertengkar mulut, buru buru berkata: “perempuan ini sangat baik, baik sekali...”

Ia sebetulnya hendak mengatakan bahwa Nie Suat Kiao pernah melepas budi kepadanya, tetapi karena belum pandai benar bicara, maka, untuk dapat menyampaikan maksudnya dalam kata- kata.

Siang-koan Kie yang sudah bergaul lama dengannya, merupakan satu-satunya kawan yang mengerti dirinya, maka segera berkata sambil menganggukkan kepala:

“Aku tahu, kau lekas pejamkan matamu untuk memulihkan tenagamu, kita hendak lekas pergi dari sini”.

Wan Hauw munurut, ia mulai memejamkan mata dan mengatur pernapasannya.

Siang-koan Kie berpaling mengawasi Nie Suat Kiao yang saat itu juga sedang mengawasinya. Maka dua pasang mata saling beradu, satu sama lain timbul perasaan aneh dalam hatinya. Nie Suat Kiao tiba2 membalikkan badannya dan berkata: “Kalau saudaramu sudah cukup waktu mengaso, lekas tinggalkan tempat ini”

“Apakah kau tidak ikut bersama2 dengan kami?” bertanya Siang-koan Kie.

“Tidak, kalau aku ikut kalian, kalian tidak akan terlepas dari kejaran ayah angkatku. Apalagi badanku sudah terkena senjata rahasia berbisa. Dalam waktu dua belas jam, racun akan mulai bekerja!” berkata Nie Suat Kiao.

Oleh karena ia berdiri membelakangi Siang-koan Kie, maka hanya terdengar, suaranya, tidak tampak sikap dimukanya. “Jikalau kau sudah tahu, mengapa tidak lekas berdaya untuk menyembuhkan sendiri?”

“Kecuali ayah angkatku, dalam dunia pada dewasa ini, tidak tahu siapa yang masih bisa mengobati luka racun ini.”

“Kau terluka karena senjata rahasia apa?” “Jarum beracun melekat tulang.”

Siang-koan Kie terkejut, katanya: “Aku hanya dengar namanya senjata rahasia semacam itu, sudah cukup menimbulkan perasaan kejam dan ngeri”

“Orang2 ayah yang menduduki kedudukan penting, sebagian besar dalam tubuh mereka tertanam jarum beracun serupa ini, hanya orang tidak tahu”

Siang-koan Kie tahu bahwa ia sendiri tidak mampu menolong, maka tidak menanyakan soal jarum itu lagi. ia berkata sambil menuding Wan Hauw: “Mari kita pergi, harap nona baik2 menjaga diri”

Ia merasa jikalau bersama-sama dengan gadis itu, mungkin tidak lepas dari pengintaian mata2nya Kun-liong Ong, maka ia tidak ingin jalan bersama-sama dengannya.

Nie Suat Kiao berkata sambil tertawa. “Kau pintar, dengan tidak berjalan bersama, mungkin kau dapat menyembunyikan jejakmu”

“Aku telah kau bikin mabuk oleh obat, sehingga untuk beberapa waktu lamanya harus hidup sebagai orang linglung ”

“Ini memang betul, aku telah mengekang dirimu, tetapi juga membebaskan kau, kalau bukan aku yang berani menempuh bahaya memberikan kau makan obat pemunah, hingga saat ini kau masih dalam keadaan linglung”

“Sebagai seorang laki2 jangan hanya mengingat budi orang, tidak mengingat kesalahan orang, aku tidak akan mempersoalkan lagi urusanmu yang sudah menggunakan obat membikin mabok diriku”

“Semua kejadian didunia Kang-ouw, ada kalanya memang sulit untuk membedakan antara kawan dan lawan, tetapi seseorang....” Nie Suat Kiao berkata sampai disitu, tiba2 merubah pembicaraannya “Ada orang datang, lekas kita sembunyikan diri”

“Didalam dunia yang seluas ini, dimana saja sudah tentu ada orang jalan, mengapa kita harus sembunyi?”

“Keadaan di waktu ini berlainan, apa lagi di tempat sesunyi seperti ini....” berkata Nie Suat Kiao yang lebih dulu menyembunyikan diri didalam gerombolan pohon yang lebat.

Siang-koan Kie meskipun mulutnya tidak setuju, tetapi didalam hatinya se-olah2 mendapat firasat bahwa ditempat dan pada saat seperti itu, orang yang datang pasti bukan orang biasa maka ia juga segera menarik Wan Hauw untuk sembunyi.

Tiga orang itu baru saja manyembunyikan diri, empat orang menunggang kuda sudah tiba di tempat tersebut.

Yang berjalan dimuka adalah seorang tua berusia limapuluhan tahun, jenggotnya hitam panjang sampai menutupi dada. Sinar matanya tajam. Dari situ dapat diketahui bahwa orang tua itu adalah seorang berkepandaian tinggi dan mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sempurna. Tiga yang lainnya berpakaian ringkas berwarna biru. Diatas punggung masing2 membawa senjata tajam berbagai jenis.

Siang-koan Kie mengawasi Nie Suat Kiao. Gadis itu ternyata sedang memasang mata kepada orang berjenggot hitam itu.

Orang tua berjenggot itu mengawasi keadaan disekitarnya, tiba2 ia berkata: “satu tempat yang bagus sekali.” Tiga orang berbaju biru itu, tiada satu yang berani membuka mulut, kemudian terdengar suaranya orang tua itu: “Berikan aku kertas dan alat tulis.”

Salah satu diantara tiga orang berbaju biru itu segera mengambil kertas dan alat tulisnya, lalu diberikan kepadanya.

Senyum diwajah tua itu tiba2 lenyap, agaknya menemukan apa2 yang mengejutkan, matanya berputaran ke arah timur dan selatan dengan mulut membungkam.

Sebentar kemudian orang tua itu tersenyum dan berkata kepada orang yang memberikan alat lukis kepadanya: “Pasanglah alat2 untuk melukis.”

Dua orang yang lainnya segera bertindak. Dari kuda mereka menurunkan beberapa batang kayu dan papan meja, dengan cepat dipasang sehingga merupakan sebuah meja berbentuk persegi panjang.

Orang yang memberikan alat tulis itu, kembali mengambil sebuah bangku yang ditaruh diatas punggung kuda, diletakkan dibelakang meja.

Siang-koan Kie menyaksikan kejadian itu merasa heran, pikirnya: “tempat ini bukan merupakan suatu tempat yang indah, entah apa yang akan dilukis orang itu?”

Ketika ia menengok mengawasi Nie Suat Kiao, gadis itu ternyata masih mengawasi segala tindak tanduk orang tua itu dengan penuh perhatian.

Orang tua itu dengan cepat sudah melukis diatas kertasnya, tiba2 ia berhenti, kemudian mendongakkan kepala untuk memikir, sebentar kemudian lalu melukis lagi.

Siang-koan Kie meskipun ingin mengetahui apa yang dilukis oleh orang tua itu tetapi karena takut diketahui jejaknya oleh orang tua itu, maka tidak berani melongok keluar. Setelah lukisan selesai, tiga orang itu membenahkan lagi alat lukis2 kemudian melompat keatas kuda masing2 dan berjalan lagi ber-sama2 orang tua itu.

Setelah mereka berlalu, Siang-koan Kie baru menarik napas lega, kemudian berdiri dan berkata: “Saudara Wan mari kita jalan”

Berkali-kali ia memanggil, tetapi tidak mendengar jawaban Wan Hauw, hingga ia mengira Wan Hauw pingsan karena lukanya. Dalam terkejut ia segera berpaling mengawasi, ternyata masih bertelentang sambil memandang ke langit dengan mata terbuka lebar. Diwajahnya tampak tersenyum, agaknya hatinya sedang memikirkan urusan yang menggembirakan.

Sejak ia kenal dengan Wan Hauw belum pernah nampak begitu gembira seperti hari ini. Maka saat itu ia tidak berani mengganggu lagi.

Pada saat itu, Nie Suat Kiao sudah berada disampingnya.

Siang-koan Kie diam2 sudah siap, tetapi diluarnya ia masih bersikap tenang.

“Mengapa kau merasa tegang?” bertanya Nie Suat Kiao sambil tertawa.

“Satu kali pernah dipagut ular, tiga tahun masih takut melihat tambang. Aku takut kalau kau akan menggunakan obat untuk melupakan diriku lagi.” menjawab Siang-koan Kie.

“Apabila aku hendak membokong kalian, sekalipun kau sudah waspada juga tidak dapat menghindarkan serangan gelapku”

“Jikalau aku dengan saudara Wan berdua menghadapi kau, tidak sampai seratus jurus kau pasti binasa ditangan kita”. “Sayang dalam dunia ini hanya dua yang kutakuti. Kecuali dua orang itu, sekalipun golok atau pedang diatas leherku, aku yakin masih bisa luput dari bahaya”.

“Dan salah satu diantaranya orang itu tentu dia adalah ayah angkatmu sendiri Kun-liong Ong?”

“Benar, dan yang satunya lagi, tahukah kau siapa dia?'' “Betapapun juga, toh bukan salah satu dari antara kita

bersaudara''

“Meskipun bukan kalian bersaudara, tetapi berada didekat kalian”

Siang-koan Kie terkejut, dengan sendirinya ia celingukan mengawasi keadaan sekitarnya.

Tiba-tiba pergelangan tangan kanannya dirasakan sudah tergenggam ditangan orang lain.

Kemudian terdengar suara cekikikan Nie Suat Kiao, dan katanya: “Pengalaman dalam dunia Kang ouw masih terlalu jauh berkurang.”

“Dengan akal iicik, apakah itu perbuatan seorang jantan?” berkata Siang-koan Kie dingin.

“Anggaplah kau seorang jantan, seorang jago kuat. tetapi

apabila aku akan binasa kan kau dengan pedangku, dalam waktu sekejap mata kau sudah berubah menjadi setan gentayangan. ” berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa hambar.

Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula dengan sikap sungguh-sungguh: “Dalam dunia Kang ouw orang yang menggunakan akal licik seperti aku ini, boleh dikatakan dimana saja dapat diketemukan. Dalam medan peperangan, dalam menghadapi pergulatan mati dengan hidup, siapa yang lengah, tentu akan binasa atau setidak tidaknya luka. hem....

orang yang bodoh seperti kau ini, benar-benar menggunakan jiwa seperti barang permainan. ” “Dengan sikapmu seperti ini, kau hendak mengajar siapa?” berkata Siang-koan Kie gusar.

“Mengajar kau! Menerima pelajaran satu kali beratti mendapat satu kali kepintaran. Dengan adanya pelajaranku kali ini, mungkin kau dapat hidup beberapa tahun lagi.”

“mati hidupku, tidak perlu kau perhatikan” berkata Siang koan Kie sambil menghela napas.

“Seseorang dalam hidupnya hanya mati satu kali...” berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa, tiba-tiba melepaskan tangan Siang koan Kie dan berkata pula: “Sayang kita sudah tidak bisa hidup lebih lama lagi”

Setelah berkata demkian ia memutar tubuhnya dan berlalu dengan tindakan perlahan2.

Siang-koan Kie tiba2 timbul perasaan kasihan terhadap gadis itu, pikirnya meskipun ia pernah menggunakan obat membikin lupa diriku, tetapi ia kemudian menghidupkan aku lagi.

Perasaan itu membangkitkan pikirannya sebagai seorang laki2 harus menolong kepada yang lemah, maka ia lalu berseru: “Tunggu dulu!”

Nie Siat Kiao tiba2 berhenti, ia membalikkan badan dan bertanya: “Ada apa?''

“Apakah kau sudah diusir oleh Kun-liong Kun?” “Kalau iya mau apa?”

“Dengan seorang diri kau hendak kemana?”

“Dunia cukup luas, dimana saja ada tempat untuk meneduh.”

“Dengan seorang diri, terlalu bahaya bagimu, sebaiknya untuk sementara kau jalan ber-sama2 kita, bagaimana?” “Apakah kau hendak melindungi aku?' berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa terkekeh-kekeh. “Aku lihat sebaiknya kau jaga dirimu sendiri!'

“Hem! Manusia tidak kenal budi,” berkata Siang-koan Kie gusar.

“Apa kau mengira bahwa kau sendiri seorang kesatria?” “Jalan ber-sama2 kita dua saudaramu, setidak-tidaknya

agak aman bagimu.”

“Ditambah tiga orang lagi juga tidak berdaya mengelakkan usaha ayahku yang hendak melakuhan pembunuhan secara menggelap.... Hanya jarum beracun yang berada didalam tubuhku saja... kau sudah tidak berdaya untuk menolong,”

Siang-koan Kie melongo, ia diam dalam seribu bahasa.

Nie Suat Kiao menghela napas perlahan, ia berkata lagi: “Orang yang hendak mati, semua perkataannya juga baik. Dalam sepuluh pal persegi di tempat ini, dalam waktu dekat akan menjadi medan perang yang mengerikan. Sebaiknya kalian jangan datang ketempat ini lagi.”

“Mengapa begitu?”

“Tahukah kau apa yang dilukis orang tua itu tadi?” “Apakah sebuah lukisan juga ada gunanya?''

“Kau seorang yang sangat gegabah, juga berani berkelana di dunia Kang-ouw, sekalipun kau mempunyai seratus lembar jiwa, juga akan musnah semuanya”

Meskipun Siang-koan Kie merasa curiga kepada perbuatan orang tua itu tadi, tetapi mulutnya tidak mau mengalah. Ia balas mengejek: “Didalam dunia apabila banyak curiga seperi kau ini, bukankah akan menjadi kalut...?”

“Aku sekarang hendak tanya kepadamu, bagaimana anggapanmu tentang pemandangan alam ditempat ini?”. Tergeraklah hati Siang-koan Kie, pikirnya: “demikian ia menanyakan aku tentu ia sudah mengetahui maksud yang dilukis oleh orang tua, mengapa aku tidak ber-pura2 bodoh untuk menyelidiki maksud yang sebenarnya”

Satelah pura2 mengawasi keadaan sekitarnya ia baru menjawab: “Tanah belukar yang sepi sunyi“

“Tempat seperti ini, ada pemandangan apa yang akan dilukis?”

“Awan putih langit biru, membentang tak ada ujung pangkalnya, meskipun tidak ada pemandangan alam hijau indah, tetapi ada tanah datar luas”

“Kau pandai membantah. Beberapa patah katamu ini, meskipun karanganmu sendiri, tetapi masih terhitung karangan yang baik juga. Nampaknya kau ini masih boleh diajar...” berkata Nie Suat Kiao, lalu mendongakkan kepala berpikir sejenak, lalu berkata pula “Bagaimanapun juga aku sudah tidak bisa tinggal lama lagi di dunia, baiklah aku beritahukan kepadamu, ayah angkatku masih biarkan kalian berdua tinggal hidup, bahkan tidak membokong kalian dengan senjata jarum beracunnya,   tak lain dan tak bukan karena ingin dirimu untuk menjadi jejak seseorang. Meskipun aku tidak tahu siapa adanya orang itu, tetapi aku tahu benar mati hidupnya orang itu besar sekali sangkut paut dengannya. Ia hendak mengerahkan semua mata2 dan anak buahnya yang tersebar dimana-mana untuk mengintai jejak kalian”

“Hal ini aku juga sudah pikirkan”

“Karena dapat memikirkan soal itu baik sekali sebelum dapat menemukan orang itu, untuk sementara jiwa kalian tidak akan ada bahaya. Tetapi begitu ditemukan jejak orang itu, kalian tidak bisa hidup lagi...”

“Kau sangat pintar. Ditilik dari kecerdikanmu, aku harus mengalah. Tetapi apa yang aku tidak mengerti, kalau kau sudah tahu kekejaman dan kejahatan Kun-liong Ong, mengapa tidak mau melepaskan diri dari genggamannya”

“Apa kau suruh aku mengkhianati ayah angkatku?”

“Kalau ia memang seorang jahat, apakah kau juga harus membantu kejahatan?''

“Jangan kata cuma anak angkatnya, sekalipun anaknya sendiri ia juga tidak percaya. Barang siapa yang berada dalam kekuasaannya, semua akan dikendalikannya dengan berbagai cara. Tentang ini sangat panjang ceritanya, tetapi aku adalah orang yang tidak suka dipengaruhi oleh kekerasan. Meskipun tahu tidak ada harapan, tetapi juga harus berusaha. Tetapi ini adalah urusanku sendiri, aku tidak ingin minta bantuan orang lain. Apalagi orang lain juga tidak bisa membantu.... Di tanah datar yang luas ini, tidak lama lagi akan menjadi medan perang dan tempat pembunuhan besar2an yang tidak ada taranya lagi. Aku tidak tahu entah berapa banyak orang2 kuat rimba peralatan yang akan menjadi korban dan mengucurkan darah di tempat ini. Jikalau kau mempunyai hati hendak menolong sesama manusia, sebaiknya kau lekas memberitahukan berita ini kepada pangcu golongan pengemis, minta ia mengirim anak buahnya untuk berusaha mencegah orang2 kuat rimba persilatan yang akan berkumpul ditempat ini supaya jangan memasuki sepuluh pal persegi sekitar tanah datar ini, mungkin dapat menghindarkan bencana ini”

“Berita yang tidak ada ujung pangkalnya ini, apakah nona tidak pikir menimbulkan perasaaan curiga orang”

“Kalau begitu kau tidak usah kabarkan”

“Meskipun aku sendiri percaya kepada nona, tetapi aku khawatir orang lain tidak mau percaya     omonganku. ”

berkata Siang-koan Kie yang agaknya merasa gentingnya keadaan, maka ia lalu menghela napas, kemudian berkata pula: “Jikalau nona ada maksud hendak menolong orang, sudilah kiranya nona menceritakan agak jelas semua rahasia yang menyangkut dalam urusan ini, supaya nanti kalau aku menyampaikan berita ini, juga dapat menarik perhatian mereka.”

“Ucapanmu ini juga ada benarnya” berkata Nie Suat Kiao sambil mengedipkan matanya, “Orang2 kuat dan berkepandaian tinggi yang berhasil ditarik oleh ayah angkatku itu, meskipun jumlahnya tidak terhitung, tetapi yang paling menonjol hanya ada dua orang, satu adalah seorang tua yang sudah bercacad, tatapi merupakan satu ahli dalam segala racun, ia juga berkepandaian sangat tinggi, satu lagi adalah itu orang tua berjenggot panjang yang kau pernah saksikan tadi yang sedang melukis. Orang tua bercacad ahli racun itu, aku sendiri juga belum pernah melihat terhadap orang itu hingga sekarang aku masih bersangsi. Tetapi orang tua pandai melukis itu, memang benar2 ada seorang yang berkepandaian luar biasa. Ia jarang menampakkan diri didunia Kang-ouw. Istana kediaman ayah dan gedung disekitarnya, semua dibuat menurut rencananya. Ia bukan saja satu ahli bangunan, tetapi juga pandai sekali menggunakan api sebagai senjata yang paling ampuh. Dengan munculnya ia secara tiba2 diatas tanah bukanlah soal biasa”

“Apakah ia sanggup membuat tanah datar yang sangat luas ini menjadi lautan api?”

“Ia memang tidak mempunyai kepandaian dalam waktu sekejap untuk merubah tempat ini menjadi lautan api, tetapi ia tadi melukis tempat ini memang betul2 ada maksudnya. Setelah ia mengukur luasnya dataran ini segera berlalu, sudah tentu dalam otaknya sudah mendapat satu pikiran matang.''

“Hanya beberapa patah keterangan ini, bagaimana pangcu golongan pengemis mau percaya?”

“Percaya atau tidak, itu bukan urusanku, asal kau bisa menyampaikan keterangan ini, sudah berarti menunaikan tugasmu..... aku masih ada waktu satu hari untuk hidup, seharusnya juga ber-siap2 untuk urusan selanjutnya.” Setelah berkata demikian, Nie Suat Kiao memutar tubuhnya dan berjalan pergi.

“Tunggu dulu,'' berkata Siang-koan Kie dengan suara nyaring.

“Kau ini benar2 sangat ceriwis.” “Apakah nona ingin bantuan orang?”

“Tidak usah,” jawabnya tanpa menoleh, tiba-tiba mempercepat gerakannya dan sebentar saja sudah menghilang.

Siang-koan Kie menarik napas, ia berpaling memanggil Wan Hauw, “Saudara Wan.”

Ia menampak Wan Hauw sedang mengacungkan kedua tangannya dan saling menepukm agaknya sedang melakukan latihan dengan tekun, sehingga tidak mendengar panggilan Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie memanggil lagi dengan suara yang keras: “Saudara Wan.”

Karena suara itu nyaring Wan Hauw menghentikan gerakannnya dan bertanya: “Apakah toako memanggil aku?”

Siang-koau Kie bercekat, ia bertanya dengan suara rendah: “Sudah berapa kali aku memanggilmu, kau sedang memikirkan apa?” bertanya Siang-koan Kie sambil tersenyum.

“Aih! Urusanku hari ini terlalu banyak sekali. Aku teringat kepada suhu yang mengajarkan ilmu silat kepadaku, dan itu....

itu. ”

Matanya menatap Siang-koan Kie, tiba2 terdiam

Siang-koan Kie memperhatikan sikapnya. Ia merasa sangat heran, dalam ketakutannya, bercampur perasaan malu. Jelaslah bahwa Wan Hauw malu untuk mengatakan sesuatu apa yang terkandung di dalam hatinya, maka ia segera berkata sambil mengerutkan alisnya: “Katakanlah! Apa yang kau akan maksudkan, katakan saja terus terang, salah juga tidak apa”

“Itu.... itu.... perempuan yang memakai baju putih. ”

berkata Wan Hauw dengan suara tidak lancar, perkataan selanjutnya, agaknya tidak menemukan istilah yang tepat untuk dikatakan.

“Perempuan baju putih itu bagaimana?” “la baik sekali, baik sekali ”

Siang-koan Kie terkejut, diam-diam berpikir: “secara mendadak, mengeluarkan perkataan semacam ini, entah apa maksudnya, apakah ia tiba2 jatuh cinta kepada Nie Suat Kiao?”

Jikalau diingat ayah Wan Hauw ialah orang hutan itu yang dahulu biasa merampok seorang perempuan baik2 yang kemudian diambil sebagai istri dugaannya itu agaknya tidak akan meleset.

Untuk sesaat lamanya. Siang-koan Kie tidak tahu bagaimana harus menghibur saudaranya itu, terpaksa menjawab sembarangan: “ya, ia baik sekali.”

Wan Hauw agaknya dengan mendadak mengingat sesuatu urusan penting, ia melompat bangun dari dalam sakunya mengeluarkan sebatang seruling pendek seraya berkata: “Seruling ini....” lalu memberikan seruling itu kepada Siang- koan Kie.

Siang-koan Kie menyambuti seruling itu sambil berkata “Apakah seruling ini suhu yang memberikan kepadamu?”

“Benar, suhu yang memberikan kepadaku”

“Kalau begitu kau simpan hati2,” bertanya Siang-koan Kie sambil tersenyum. “Suhu suruh aku memberikan kepadamu....” berkata Wan Hauw sambil menggeleng-gelengku kepala.

“Suhu sekarang berada dimana?” bertanya Siang-koan Kie cemas.

“Aku tidak tahu, ia sudah pergi.....” menjawab Wan Hauw dan dalam sakunya mengeluarkan sepucuk surat, diberikan kepada Siang-koan Kie. “toako baca surat ini”

Siang-koan Kie menyambut surat itu dan segera dibacanya, surat itu ternyata tertulis:

“Seluruh pelajaranku sudah tertera dalam not irama ini. Karena tidak ada nama yang tepat, untuk sementara tanpa nama. Jikalau dapat memahami makna dalam not irama ini berarti sudah mendapat seluruh pelajaranku, pelajarilah baik- baik.”

Dibelakang tulisan yang pendek itu, tertulis not irama musik.

Siang koan Kie yang memang paham musik, telah membacanya sebentar sudah dapat memahami, maka ia segera meniup seruling itu.

Irama seruling mengalun ditengah udara yang bebas.

Not yang tertera dalam surat itu, perubahannya terlalu cepat, untuk sementara tidak mudah di pelajari, hingga suara yang keluar dari seruling, masih kurang memuaskan.

Wan Hauw mendengarkan sejenak, tiba tiba mengambil seruling dari tangan Siang-koan Kie dan ditiupnya sendiri.

Sungguh aneh seruling itu ditiup oleh Wan Hauw dapat mengeluarkan suara yang menarik.

Siang-koan Kie memperhatikan tekukan irama bagian yang sulit, agaknya hanya berputaran diantara dua tiga suara saja, tetapi ternyata mengandung perubahan irama yang amat gaib..... Ia mendengarkan lagi dengan penuh perhatian, agaknya disadarkan seketika oleh irama itu, ia melompat men-jingkrak2 sambil tertawa besar, kemudian berkata: “Aku mengerti, aku mengerti. ”

Wan Hauw tiba2 menghentikan tiupannya dan berkata: “Toako, toako. ”

Siang-koan Kie masih melompat-lompat sendiri sambil bergerak tangan dan kakinya

Wan Hauw belum pernah menyaksikan Siang-koan Kie berlaku demikian, maka untuk sesaat ia berdiri tertegun, tanpa bisa berbuat apa2....

Sementara itu gerakan Siang-koan Kie makin lama makin cepat, hembusan angin yang keluar dari tangannya juga semakin keras.

Wan Hauw meskipun tidak pandai bicara, sehingga tidak dapat menyampaikan maksud hatinya, tetapi ia adalah seorang yang berpikiran cerdas. Tadi pembicaraan antara Siang koan Kie dengan Nie Suat Kiao, ia juga dengar hampir seluruhnya, hanya diam2 mempelajari maksud perkataan dua orang itu, ia tahu bahwa Siang-koan Kie pernah dibikin mabuk sehingga melupakan dirinya sendiri oleh pengaruhnya obat. Saat itu ketika ia melihat sikap Siang-koan Kie yang aneh itu, dianggap pikirannya mulai kalut lagi oleh pengaruhnya obat, hingga dalam hati merasa takut.

Ia yang menganggap Siang-koan Kie sebagai orang ketiga yang dijunjung dan dihormati dalam hidupnya, maka setelah beberapa kali dipanggil tidak digubris, ia semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa2. Hanya gerak2kan kepala dan telinganya.

Siang-koan Kie memainkan tinju dan gerak kakinya semakin cepat, gerakkannya semakin gesit. Wan Hauw mendelikkan sepasang matanya, pikirannya tidak keruan, karena sudah tidak berdaya maka pikirnya hendak dipeluk dengan menggunakan tenaganya yang kuat.

Ia adalah seorang yang begitu berpikir segera bertindak, dengan cepat ia sudah bergerak menubruk dan memeluk Siang-koan Kie.

Sebentar tampak berkelebatnya bayangan orang ternyata Siang-koan Kie sudah mengelakkan diri dan tinjunya mengenakan pundak kanan Wan Hauw. Serangannya tidak disengaja itu demikian cukup hebat, sehingga Wan Hauw mundur ter-huyung2 sampai empat lima langkah.

Karena Siang-koan Kie adalah salah satu orang yang dihormati olehnya, maka sekalipun ia sendiri sudah diserang, hanya dalam hatinya saja merasa ter-heran2, sambil membuka lebar matanya ia ber-tanya2 kepada dirinya sendiri: “Mengapa toako memukul aku?”

Hatinya semakin cemas. Dalam keadaan tidak berdaya, ia memanggil lagi dengan suara nyaring: “Toako. ”

Siang-koan Kie masih tetap pusatkan seluruh perhatiannya kepada gerakan kaki tangannya, terhadap panggilan Wan Hauw, sedikitpun tidak menghiraukan.

Wan Hauw mendongakkan kepala mengawasi awan dilangit, tiba2 melesat tinggi, kemudian melayang turun melalui kepala Siang-koan Kie dan turun dibelakangnya.

Bersamaan dengan itu kedua tangannya bergerak dari belakang memeluk diri Siang-koan Kie.

Karena Wan Hauw sejak dilahirkan memang sudah mempunyai tenaga besar, apalagi pelukannya itu ia sudah menggunakan seluruh tenaganya, maka waktu Siang-koan Kie coba meronta lalu terdengar suara Wan Hauw yang menunjukkan kecemasan hatinya. Siang-koan Kie lalu berkata dengan suara cemas: “Saudara, lekas lepaskan aku. ”

Tetapi Wan Hauw memeluk semakin ketat yang seraya berkata: “Tidak.''

“Lekas lepaskan, aku hendak bicara dengan mu. ” berkata

Siang koan Kie cemas.

Wan Hauw yang selalu dengar kata Siang-koan Kie, segera melepaskan tangannya dan bertanya sambil membuka lebar matanya: “Toako, kau kenapa?'*'

Siang-koan Kie berkata dengan suara gembira: “Saudara, aku sudah mengerti, aku sudah mengerti ”

Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula sambil tertawa: “Aku sangat gembira. ”

Wan Hauw tidak mengerti apa yang dimaksudkan, ia hanya mengawasi Siang-koan Kie dengan sikap ter-heran2

Siang koan Kie tadi karena dari irama seruling, per-lahan2 telah memahami sesuatu pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi, maka dengan tekun ia melatihnya. Karena seluruh perhatiannya dipusatkan kepada pelajarannya itu, dalam hati sangat gembira. Ketika menyaksikan sikap Wan Hauw memandang dirinya dengan rasa bingung, ia tahu bahwa saudaranya itu tidak dapat memahami perasaannya sendiri, ia sebetulnya ingin menceritakan, tetapi kemudian takut kalau saudaranya itu tidak mengerti, maka setelah berpikir, akhirnya berkata: “Pesan suhu aku sudah mengerti semua. ''

Wan Huaw menganggukkan kepala beberapa kali lalu berkata: “Pantas. toako begitu gembira.”

-odwo-

56 SIANG-KOAN KIE memahami kembali semua pelajaran yang baru didapat kedalam otaknya, namun dalam hatinya masih ingat pesan Nie Suat Kiao, maka pikirnya diam2: “kalau dilihat sikapnya waktu ia bicara, tidak mirip membohongi aku, apalagi urusan ini besar sekali hubungannya dengan seluruh rimba persilatan, sebaiknya dipercaya daripada tidak. Biarlah aku sampaikan pesan itu kepada golongan pengemis”

Setelah mengambil keputusan lalu menarik tangan Wan Hauw sambil berkata: “Saudara, mari kita pergi”

Wan Hauw me-ngedip2kan matanya dan bertanya: “Toako, kita hendak pergi kemana. ?''

Siang koan Kie terkejut, pikirnya: “ya, kemana ia harus mencari pangcu golongan pengemis?”

Matanya memandang tanah datar yang luas, untuk sesaat ia benar2 tidak tahu harus pergi kemana?

Wan Hauw tiba2 menarik lengan Siang-koan Kie seraya berkata: “Toako, ada orang datang.”

Siang-koan Kie tahu bahwa saudaranya itu mempunyai daya pendengaran dan penglihatan sangat tajam, maka segera sembunyikan diri bersamanya.

Tidak lama kemudian, dari sebelah selatan, tampak muncul dua bayangan orang.

Dari tempat sembunyinya Siang-koan Kie memperhatikan gerak-gerik dua orang itu. Ia melihat dua orang itu berjalan berdampingan. Orang yang sebelah kiri bentuk badannya tinggi kurus, diatas kepalanya nampak rambutnya yang disanggul, orang itu mengenakan pakaian jubah panjang, dipinggangnya terikat ikat pinggang kain berwarna merah, tangan kanannya membawa sebatang tongkat berkepala ular, raut mukanya yang panjang, nampaknya sangat menyeramkan. Orang yang berjalan sebelah kanan, berusia kira kira enam puluh tahun, kepalanya botak klimis tidak berkumis atau berjenggot, bentuk badannya pendek gemuk, mukanya merah, ia memakai jubah merah, dibelakang punggungnya terdapat sepasang senjatanya yang seperti roda.

Wan Hauw yang menyaksikan bentuk dan keadaan aneh dua orang itu, lalu tertawa dan berkata: “Dua orang itu sangat lucu...”

Siang-koan Kie hendak mencegah tetapi sudah tidak keburu, untung dua orang itu agaknya sedang berjalan tergesa gesa, hingga tidak dengar perkataan Wan Hauw. Sebentar kemudian dua orang itu sudah berjalan menuju ke utara.

Selagi hendak keluar dari tempat sembunyinya Siang-koan Kie dan Wan Hauw dari timur selatan terdengar pula suara tindakan kaki sangat berat. Tidak berapa lama, tertampak delapan padri berpakaian jubah putih yang ssdang mengiring seorang padri tua berbadan tinggi besar dengan pakaiannya yang berwarna merah, Rombongan padri itu juga berjalan menuju keutara. Dengan munculnya dua orang yang bentuknya aneh dan sembilan padri, tentu saja segera menimbulkan perhatian dan kecurigaan Siang-koan kie.

Setelah rombongan orang2 itu berlalu, Siang-koan Kie ajak Wan Hauw keluar dari tempat sembunyinya. Karena tertarik oleh perasaan heran, ia juga berjalan menuju keutara sambil menarik Wan Hauw.

Berjalan belum sampai tiga pal tiba2 terdengar suara derap kaki kuda, yang lari mendatangi dari sebelah barat. Siang- koan Kie dengan cepat mengajak Wan Hauw sembunyi, lalu mengintai rombongan kuda itu.

Seekor kuda berbulu kuning, lari mendatangi dengan pesatnya. Penunggang kuda itu adalah seorang laki2 pertengahan umur berpakaian ringkas berwarna hitam. Meskipun badannya sudah mandi keringat, tetapi pecut ditangannya digerakkan tidak hentinya, nampak ia sangat gelisah.

Kuda berbulu kuning itu, agaknya sudah melakukan perjalanan terlalu jauh, badannya mandi keringat, mulutnya sudah berbusa.

Wan Hauw yang sudah lama berdiam dihutan dan mengenal baik sifat segala binatang, ketika menyaksikan keadaan kuda itu, lalu berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan: “Toako, kasihan kuda itu sudah mati. ”

Belum lagi habis ucapannya, benar saja kuda itu lalu jatuh ngusruk ditanah.

Tidak lama kemudian, empat ekor kuda, dengan penunggangnyaa empat laki2 yang semuanya berpakaian ringkas berwarna hitam dengan cepat lari mendatangi.

Orang yang kudanya mati itu, selagi hendak melarikan diri ketika menampak empat penunggang kuda yang mengejar telah tiba dibelakangnya, sebaliknya malah berdiri sambil menghunus pedang panjangnya siap menantikan kedatangan musuh.

Ketika empat penunggang kuda itu tiba dihadapannya, satu diantaranya berkata sambil tertawa dingin: “Lekas letakkan senjatamu dan ikut kita pulang, apakah masih perlu kita harus turun tangan sendiri?”.

“Kalian jangan mendesak keterlaluan...” berkata orang itu sambil melintangkan pedangnya.

“Seorang penunggang lain berkata: “Kau rupanya belum merasa puas apabila belum merasakan tangan besi. ”

Orang yang berkata lebih dulu tadi lalu membentak: “Jikalau kau tidak meletakkan senjatamu dan ikut kita pulang, jangan sesalkan kita tidak mengingat perhubungan lama ” Orang itu agaknya tahu sudah tidak ada gunanya banyak bicara, muka segera mengarahkan pedangnya, melesat dan menikam kepada orang yang berada paling depan.

Penunggang kuda itu menggerakan pecutnya menyambut pedang ditangan orang itu. Tiga penunggang yang lainnya bergerak dengan serentak menyerang kepada orang itu, hingga sebentar kemudian orang itu sudah roboh ditanah dengan badan berlumuran darah.

Wan Hauw yang menyaksikan itu merasa tidak senang, sambil meraba serulingnya ia hendak lompat keluar memberi bantuan.

Tiba2 terdengar orang yang menunggang kuda itu berkata dengan nada suara dingin: “Kau berani mati menghianati Ong- ya,”

Tidak lama kemudian, empat orang penunggang kuda itu melompat turan dari kudanya mengerumuni orang yang rebah tertelentang ditanah itu, satu diantaranya berkata: “Kita empat orang diutus untuk mengejar kau. Menarut pendapatku setiap orang membawa pulang barang2 yang ada padanya, sebagai bukti untuk diserahkan kepada Ong ya. ”

Tanpa menunggu jawaban tiga kawannya, ia sudah menghunus belatinya mengiris daun telinga sebelah kanan korbannya. Seorang lagi selagi hendak bertindak, Wan Hauw yang menyaksikan itu sudah tidak dapat menahan diri, ia meronta dari pegangan Siang-koan Kie hendak keluar dari tempat sembunyinya.

Tepat pada saat itu, tiba2 terdengar suara orang berseru: “Siancay, siancay. ”

Lima orang imam sudah berdiri dihadapan empat orang berbaju hitam yang hendak melakukan perbuatan ganas itu.

Satu diantaranya yang mengenakan jubah kuning, dengan sinar matanya tajam berkata dengan nada suara dingin: “Tuhan selamanya berbelas kasih terhadap manusia, tidak dsangka tuan2 berempat begitu ganas terhadap sesamanya. ”

Orang berbaju hitam itu berkata sambil mendelikkan matanya: “Toaya lekas melanjutkan perjalananmu. Terhadap urusan kita sebaiknya kau jangan turut campur tangan. ”

Imam itu tertawa dingin dan berkata: “Ditengah hari bolong perbuatan kejam seperti ini, siapapun boleh campur tangan. Apalagi kita sebagai orang2 beribadat seharusnya berhati kasihan terhadap sesamanya. ”

Empat orang berpakaian hitam itu, satu lain berpandangan sejenak, lalu memencar dan mengambil sikap bermusuhan dengan imam2 itu.

Lima imam itu ketika menyaksikan gerakan empat orang itu, juga segera memencarkan diri. Masing2 menghunus senjatanya.

Empat orang berpakaian hitam itu saling berunding. Seorang yang berdiri disebelah barat selatan dan berkata: “Kulihat barisan pedang To-tiang ini, kalau tidak salah pasti dari golongan Bu-tong pay?”

Lima imam itu kecuali satu yang memakai jubah berwarna kuning, yang lainnya, semua mengenakan jubah warna hijau, usianya juga lebih muda dari imam berjubah kuning itu. Jelas bahwa imam berubah kuning itu, adalah sebagai kepala dari rombongan.

“Pandangan matamu tidak salah. Pinto sekalian memang orang2 dari Bu tong pay”

Orang berbaju hitam itu ketika mendengar jawaban itu, dengan serentak mundur semua lalu dengan cepat melompat keatas kuda masing-masing untuk kabur.

Lima imam imam itu sudah jelas masih kurang pengalaman menghadapi orang2 yang sudah menghadapl pertempuran tetapi diluar dugaannya lawan tiba2 kabur. Mereka ternyata masih belum dapat menduga maksud yang sebenarnya dari orang2 itu.

Empat penunggang kuda itu cepat sekali membedal kudanya. Dalam waktu sekejapan sudah lari sejauh satu pal lebih.

Imam berjubah kuning itu hanya menyaksikan atas berlalunya orang2 itu. Dengan perasaan heran kemudian berkata kepada kawan-kawannya: “Tidak perlu dikejar, sekalipun dikejar juga percuma.” lalu berpaling mengawasi orang yang terluka itu, kemudian bertanya dengan suara perlahan, “Apakah lukamu berat?”

Orang yang terluka itu dengan susah payah menjawab: “Dalam tubuhku sudah terluka parah, terang tidak bisa hidup lagi. ”

Ia berusaha hendak duduk, tetapi karena lukanya terlalu parah, sebelum berduduk ia sudah rubuh lagi.

Ia ulur tangannya dengan susah payah ia berkata: “Totiang, tolong bimbing aku, supaya aku bisa duduk.”

Imam berjubah kuning itu meskipun ada maksud hendak menolong orang, tetapi agaknya masih memikirkan sesuatu hingga lama sekali, baru ulur tangannya, menarik tangan kiri orang itu membantu kepadanya duduk ditanah.

Orang itu agaknya hendak berkata apa2, tetapi karena menyaksikan tindakan imam itu yang agaknya bersangsi, tiba2 berobah pikirannya. Ia hanya berkata sambil memberi hormat: “Terima kasih atas pertolongan Totiang sekalian, hanya karena lukaku terlalu parah sudah tidak bisa hidup lama lagi, barang kali tidak dapat membalas budi To-tiang sekalian.

“Pinto sekalian menolong sicu, tidak ingin balasan,” berkata imam berjubah kuning itu. “To-tiang se-kali2 tidak ingin menerima balasan, sebaiknya lekas melanjurkan perjalanan To tiang. Aku yang rendah terluka parah, tidak bisa mengantar To-tiang sekalian”

Imam berjubah kuning itu mengerutkan alisnya dan berjalan lebih dahulu.

Empat imam berjubah hijau karena menyaksikan imam berjubah kuning itu berlalu tanpa menghiraukan orang yaag terluka itu, juga ikut pergi.

Orang terluka itu mengawasi berlalunya lima imam itu, kemudian mendongakkan kepala dan tertawa, lalu berkata kepada diri sendiri: “Sepuluh pal tanah belukar, akan menjadi lautan berdarah. ”

Tiba2 mulutnya menyemburkan darah dan roboh lagi ditanah.

Siang-koan Kie yang menyaksikan kejadian yang mengenaskan itu, dalam hatinya merasa pilu.

Tiba2 terdengar elahan napas panjang Wan Hauw kemudian berkata: “Toako, orang itu sudah mati atau belum? Mari kita tolong dia.''

Siang koan Kie segera melompat keluar dan menghampiri orang terluka itu lalu bertanya: “Apakah luka saudara berat?”

Beberapa kali ia bertanya, tetapi tidak dapat diawaban dari orang itu, ia lalu ulur tangan kanannya memegang pundak orang itu. Tangan kirinya bergerak beberapa kali untuk menggerakkan napas orang itu, jantungnya yang sudah hampir berhenti, tiba2 bergerak lagi.

Sebentar kemudian orang yang terluka parah itu mengeluarkan suara tarikan napas, lalu membuka matanya per-lahan2 menatap wajah Siang-koan Kie, sambil mengulurkan tangan kanannya mulutnya berkata: “Sepuluh pal tanah belukar, akan menjadi lautan darah. ” Suaranya tiba2 menjadi perlahan, sehingga tidak terdengar nyata.

Siang-koan Kie buru2 membimbing tubuhnya, kemudian bertanya: “Apa kau katakan?”

Orang terluka itu dengan susah payah berkata: “Didalam tanah belukar ini, nanti segera akan berobah menjadi tempat pembunuhan kejam sangat mengerikan. ”

“Mengapa?. ” bertanya Siang-koan Kie.

“Sebab, sebab Kun-liong... Ong.....” orang itu baru berkata sampai disitu tiba2 badannya berkelojotan dan jiwanya sudah melayang.

Siang-koan Kie masih mencoba berusaha untuk menghidupkan lagi, tetapi karena lukanya, usaha Siang-koan Kie tidak berhasil.

Ia mengawasi jenazah orang itu sambil menarik napas, otaknya masih memikirkan perkataan orang itu.

“Toako, apakah orang itu sudah mati?” bertanya Wan Hauw.

“Sudah tidak tertolong lagi. Aku sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi karena lukanya terlalu parah siapapun tidak bisa menoiong lagi,” berkata Siang-koan Kie.

“Kalau begitu mari kita kubur jenazahnya” “Terserah pikiran saudara.''

Wan Hauw tersenyum ia segera menggerakkan dua tangannya untuk menggali tanah, sebentar kemudian ditanah itu terdapat suatu liang kubur.

Siang-koan Kie yang menyaksikan gerakan Wan Hauw, kepandaiannya agaknya sudah mendapat kemajuan, hatinya tiba-tiba tergerak. Selesai menggali lubang, Wan Hauw lalu menggendong jenazah orang itu dan dikuburnya.

Setelah itu ia berkata kepada Siang-koan Kie: “Toako, aku teringat sesuatu, tidak tahu aku harus ceritakan kepadamu atau tidak?”

“Urusan apa? Kau katakan saja.”

“Ketika aku masih berdiam didalam lembah, sering melihat harimau dan harimau kumbang saling bertempur mati-matian, begitu juga ular ular besar, pada bertempur dengan bangsanya sendiri, tetapi sebaliknya dengan ibu yang duduk diam dirumah sehingga tidak menyaksikan itu semua. Aku tadinya mengira antara manusia dengan manusia itu tidak bisa berkelahi, tetapi diantaranya kalau sudah berkelahi demikian hebat”

“Binatang berkelahi berebut makanan, semata-mata hanya untuk perut, tetapi antara manusia dengan manusia, kecuali berebut harta kekayaan dan kedudukkan, masih tambah berebutan nama. Maka antara baik dengan jahat, juga seperti air dengan api yang tidak bisa disatukan”

Wan Hauw setengah mengerti setengah tidak menganggukkan kepala dan kemudian mendongakkan kepala agaknya memikirkan perkataan Siang-koan Kie lagi.

Siang-koan Kie menarik napas perlahan lalu berkata: “Saudara Wan kau tidak usah memikirkan soal itu tadi, Urusan ini sangat ruwet. Untuk sementara kau barangkali tidak bisa mengerti, dikemudian hari aku akan menjelaskan kepadamu lagi, sekarang kita masih perlu melakukan perjalanan.”

Setelah itu ia berjalan lebih dulu. Wan Hauw mengikuti dibelakangnya.

Jalan belum berapa jauh ia berkata: “Aku teringat satu hal lagi, ingin bertanya kepadamu.'' Siang-koan Kie diam-diam merasa heran, hari itu saudaranya itu agaknya terlalu banyak yang dipikirkan, namun demikian ia segera menjawab sambil tersenyum: “Katakanlah, mari kita bicara sambil berjalan.”

Wan Hauw agaknya sedang mencari kata-kata yang tepat, setelah berpikir baru berkata: “Toako, perempuan berbaju putih itu dengan merupakan sahabat ataukah musuh?”

Siang-koan Kie agaknya tidak menduga Wan Hauw mengajukan pertanyaan demikian, sejenak ia tercengang baru menjawab: “Sekarang ia bukan musuh kita, tetapi juga tidak bisa dianggap sahabat.”

“Apakah selanjutnya masih bisa bertemu lagi dengannya?”

Siang-koan Kie merasa bahwa pertanyaan saudaranya itu semakin susah dijawab. Setelah ber pikir sejenak baru berkata: “Ini susah dikata, apabila ia tidak mati akan bisa bertemu lagi.”

Bibir Wan Hauw bergerak-gerak, tetapi tidak berkata apa- apa.

Siang-koan Kie khawatir sandaranya itu akan mengajukan pertanyaan yang sulit lagi, maka lalu mempercepat gerak kakinya untuk melakukan perjalanan.

Kedua pemuda itu sama-sama mempunyai ilmu lari pesat luar biasa, tidak antara lama mereka sudah berjalan sepuluh pal lebih.

Diwaktu senja mereka sudah keluar dari tanah belukar itu dan tiba disebuah perkampungan.

Siang-koan Kie melambatkan tindakannya dan bertanya kepada saudaranya: “Saudara Wan, apakah perutmu sudah lapar?”

“Aku sudah lama lapar. Hai, tempat ini tidak ada buah2an,” berkata Wan Hauw. “Kau tunggu aku diluar kampung, aku akan masuk kampung membeli barang makanan, sebentar segera kembali.”

Wan Hauw berkata sambil mengunjuk sebuah pohon besar: “Aku tunggu kau tidur diatas pobon besar itu”

Kata-kata Wan Hauw yang masih belum meninggalkan kebiasaan lamanya, membuat Siang koan Kie tersenyum.

“Baiklah! Kau jangan pergi terlalu jauh” demikian Siang- koan Kie berkata dan segera berjalan menuju kekampung.

Itu adalah sebuah perkampungan kecil, seluruh penduduknya hanya beberapa puluh pintu saja, bangunan rumab juga sangat sederhana.

Siang-koaa Kie memilih sebuah diantaranya yang agak baik, ia mengetok pintunya dengan perlahan. Sebentar dari dalam terdengar suara batuk2, pintu rumah terbuka, diambang pintu berdiri seorang perempuan tua.

Siang-koan Kie lalu memberi hormat seraya berkata: “Ibu, aku sedang melakukan perjalanan yang kebetulan lewat disini. Karena perut merasa lapar, aku ingin membeli sedikit barang hidangan.''

“Barang barang dirumah kita sudah terjual habis, harap tuan tanya ke lain rumah,” menjawab perempuan tua itu dan menutup pintunya lagi

Siang-koan Kie tercengang, ia merasa heran sikap perempuan tua itu yang kurang sopan terhadap tetamu. Ia lalu pergi kelain rumah lagi.

Kini ia menjumpai seorang gadis berusia kira-kira tujuhbelas tahun.

Gadis itu pakaiannya sudah lama, rambutnya dikepang panjang wajahnya menunjukkan rasa duka. “Mengganggu nona sedikit, aku ingin membeli sedikit barang makanan....” berkata Siang koan Kie sambil memberi hormat.

“Kita disini bukan rumah makan, dari mana ada jual barang makanan?” menjawab gadis itu sambil menggelengkan kepala.

Tanpa menantikan reaksi Siang-koan Kie pintunya sudah ditutup lagi.

Siang Noan Kie yang mendapat perlakuan demikian, hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. Ia heran mengapa adat penduduk kampung itu semua demikian buruk....

Sementara itu ia sudah berjalan dan mengetuk pintu lain rumah lagi.

Kini ia berhadapan dengan seorang parempuan berusia tigapuluhan tahun.

Perempuan itu segera menjawab: “Dirumah kita sudah tidak ada beras dan sayur, mana ada barang lebih untuk dijual.”

Setelah itu lalu menutup piatu. Kali ini Siang-koan Kie coba mendorong tangannya hingga perempuan itu terdorong mundur tiga langkah dengan badan sempoyongan.

“Aku beli berang dengan uang, mengapa kalian tidak mau menjual?” berkata Siang koan Kie dingin.

“Kita sendiri tidak mempunyai barang makanan untuk dimakan, mana ada barang untuk di jual kepada orang lain,” menjawab perempuan itu.

“Setidak tidaknya toh masih ada ayam atau binatang piaraan lain, aku hendak membeli dua ekor saja”

“Tidak ada.” “Aku tidak percaya ada kejadian demikian. Aku hendak masuk untuk melihat sendiri” berkata Siang-koan Kie gusar

Perempuan itu tiba-tiba mengangkat dua tangannya mencegah Siang-koan Kie seraya berkata: “Tidak boleh, didalam ada orang sakit”

Siang-koan Kie hentikan kakinya, setelah berpikir sejenak, ia berkata lambat2: “Kalau begitu.... aku hendak melihat orang sakit itu”'

Ia ulur tangannya mendorong perempuan itu.

Perempuan itu tampak gusar, ia berkata dengan suara keras: “Dengan hak apa kau hendak paksa masuk ke rumah orang?”

Tangannya segera bergerak dengan tanpa sadar hendak memegang pergelangan tangan Siang-koan Kie.

Gerakannya itu nampaknya sangat tajam dan seperti tidak disengaja, tetapi sebaliknya mengandung gerak tipu pelajaran ilmu silat yang sangat tinggi, karena tempat yang diarah justru merupakan tempat yang Siang koan Kie mau tidak mau harus menghindarkan.

Siang-koan Kie melompat menyingkir tiga kaki, dalam hati merasa ter-heran2, katanya: “Kau ternyata juga seorang yang mendapat latihan”

Karena ia tidak pandai bicara, maka perkataannya itu agak kurang tepat.

“Apa mendapat latihan? Aku tidak mengerti.” berkata perempuan itu dingin.

“Benarkah kau tidak mengerti perkataanku?”

“Mengerti atau tidak, tidak seharusnya kau berlaku tidak sopan seperti itu. Jikalau kau se-orang baik2, bagaimana kau dapat mengambil barangku dengan paksa?. Jikalau aku seorang jahat, didalam barang makanan itu, kuberikan sedikit racun baru kuberikan padamu, apakah kau tahu?”

Setelah itu baru menutup lagi pintunya.

Siang-koan Kie tercengang, kembali harus berdiri seperti patung, keheranannya semakin memuncak, entah rahasia apa yang meliputi perkampungan itu?

Selagi masih berdiri melamun, dibelakangnya terdengar suara orang batuk2 yang kemudian menegurnya: “Apakah tuan sudah lapar?”

Siang-koan Kie membalikkan badannya, di depan pintu seberang rumah, berdiri seorang laki2 berambut putih yang sedang mengawasi dirinya sambil tersenyum.

Ia lalu menjawab: “Benar, aku sebetulnya sudah lapar” “Jikalau tuan tidak pandang rendah perkampungan ini yang

tidak dapat menyediakan barang hidangan baik, silahkan

masuk dalam rumahku untuk makan dua mangkok bubur.” berkata laki2 tua itu sambil tersenyum.

“Kalau begitu kuucapkan terima kasih lebih dulu” berkata Siang-koan Kie yang segera berjalan menghampiri, tetapi kemudian tiba2 ia dapat melihat matanya orang tua itu ada memancarkan sinar yang menunjukkan kelicikannya, maka ia pikir harus waspada.

Karena berpikir demikian, ia lalu merandek.

Laki2 tua itu berkata pula: “Manusia bukanlah besi, bagaimana dapat menahan lapar. Tuan tidak usah malu. Orang yang keluar pintu, toh tidak selalu membekal barang hidangan cukup.”

Siang-koan Kie kemudian berpikir: “Karena orang lain tidak kenal denganku, mengapa harus mencelakakan diriku?”

Ia lalu bertindak masuk kedalam rumah orang tua itu. Dalam rumah itu diperlengkapi perabot rumah tangga sangat sederhana, laki2 tua itu masuk kedalam untuk mengambil makanan.

Siang-koan Kie yang duduk menunggu diruangan, tiba2 dari dalam ruangan kamar terdengar suara tertawa dingin, kemudian menegurnya. “Apakah kau sudah datang?”

Suara itu rasanya pernah dikenal oleh Siang-koan Kie, tetapi sesaat itu ia sudah tidak ingat siapa adanya orang itu.

Ia sebetulnya bisa masuk kedalam kamar itu, tetapi pengalamannya didunia Kang ouw selama ini telah berhasil mengendalikan dirinya tidak berbuat menuruti kemauan hati.

Ia berlaku seolah olah tidak mendengar, tetapi otaknya terus memikirkan siapa orangnya itu.

Sebentar kemudian laki2 tua yang masuk ke dapur itu sudah keluar lagi sambil membawa satu mangkok besar yang terisi penuh bubur dan diberikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata: “Aku tidak pandai masak, didalam rumah masih ada semangkok bubur ini, harap tuan makan seadanya”

Siang-koan Kie yang sudah siap siaga menyerbu bubur itu sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Selagi hendak dimakan, tiba2 seperti ingat sesuatu, lalu bertanya: “To-tiang, apakah rumah ini hanya tinggal To-tiang seorang diri saja?”

Sementara itu mangkoknya diletakkan diataa meja.

Mata orang tua itu berputaran, kemudian menjawab sambil menghela napas: “Betul, dalam rumah ini hanya aku seorang diri saja. ”

Siang-koan Kie tersenyum, selagi hendak membuka mulut, orang tua itu sudah berkata lagi. “Tetapi tadi baru saja kedatangan seorang tetemu wanita ”

“Tetamu wanita?” “Ya, tetamu itu bahkan sedang sakit berat. Aku lihat keadaannya sangat menyedihkan maka aku terima ia tinggal di sini..... Dalam perkampungan ini kecuali aku situa bangka, orang lain kebanyakan tidak suka mencari pusing menerima tetamu dari luar.”

“Oh! apakah To-tiang suka memberitahukan apa sebabnya?”

Orang tua itu berpikir sejenak, baru berkata: “Sebabnya terlalu ruwet, tetapi ringkasnya, aku sudah berusia lanjut, soal hidup atau mati sudah tak kuhiraukan lagi. Maka aku berani berbuat yang orang lain tidak berani melakukan.”

Siang-koan Kie meskipun merasa lapar, tetapi ia menahan perasaannya, katanya: “Aku dahulu pernah belajar sediklt ilmu tabib, terhadap penyakit aku yakin dapat mengobati. Harap Lo-tiang bawa aku menemui nona itu, mungkin dapat menolongnya.”

Orang tua itu mengurut jenggotnya yang putih, sambil berpikir, kemudian baru berkata: “Nona itu, dikamar belakang dirimu, kau masuklah sendiri.”

Siang-Loan Kio perlahan-lahan mendorong pintu kamar seraya berkata: “Apakah penyakit nona agak berat”

Tetapi ia merasa pintu itu tertutup rapat, sehingga io harus menggunakan tenaga lebih banyak untuk mendorong.

Setelah pintu terbuka, ia merasa juga bahwa perbuatannya itu terlalu gebabah, maka lantas merandek dan berkata: “Nona maafkan perbuatanku yang gegabah.”

Setelah berada didalam kamar itu, ia baru lihat bahwa orang yang sakit itu bukan lain dari pada Nie Suat Kiao, yang saat itu duduk bersila diatas pembaringan sambil memejamkan mata. Gadis itu sesengguhnya mempunyai ketenangan yang luar biasa, meskipun tahu ada orang masuk tetapi ia masih tetap berduduk tanpa bergerak atau membuka matanya.

Siang-koan Kie menghela napas perlahan lalu berkata: “Kiranya adalah kau.”

“Buat musuh memang sempit jalanannya...” berkata Nie Suat Kiao.

“Aku hendak pergi lagi,'' berkata Siang-koan Kie yang hendak malangkah keluar lagi.

Nie Suat Kiao berkata dengan nada suara dingin: “Tunggu dulu!”

Siang-koan Kie terpaksa membatalkan maksudnya, ia berkata: “Kau terluka parah, sudah tentu tidak sanggup melawan aku, akupun tiada maksud berkelahi dengan kau.”

Nie Suat Kie kembali membuka matanya, ia berkata sambil tertawa: “Kau toh sudah datang kemari, apa salahnya berdiam sebentar. Kau tahu aku sudah terluka dan tidak sanggup melawan kau, kau takut apa?”

“Didalam perkampungan ini terlalu banyak hal-hal yang aneh. Penduduknya semua bersikap dingin. Seluruh kampung agaknya diliputi suasana seram...”

“Apakah kau takut?”

“Sewaktu aku belajar iimu silat, aku berdiam disebuah kuil tua, ditempat yang jarang di datangi oleh manusia. Dalam kuil itu, setiap kamar terdapat sebuah tengkorak. Setiap hati aku bergaul dengan tengkorak itu, aku berdiam disitu beberapa tahun lamanya, tapi belum pernah merasa takut. Kampung ini meskipun penuh hawa seram tapi kalau mau dikata aku takut itu sangat mustahil. ”

Nio Suat Kiao memotongnya sambil tetawa dingin: “Tengkorak yang sudah tidak ada darah dagingnya, apa yang perlu ditakuti? Sekalipun setan, juga merupakan setan mati. Yang ditakuti justru setan hidup. Kampung ini di-mana2 terdapat setan hidup, bagaimana kau dapat bandingkan keadaannya dengan kuil tua itu?”

Siang koan Kie terperanjat, ia terdiam memikirkan perkataan gadis itu, yang se-olah2 mengandung maksud sangat dalam.

Sebagai seorang cerdik, cepat Siang-koan Kie dapat menyadari ucapan gadis itu, maka ia segera memberi hormat sambil mengucapkan terima kasih, kemudian menghampirinya dan berkata dengan suara perlahan: “Meskipun kau pernah menggunakan obat untuk membikin lupa diriku, tetapi dalam hatiku tidak membenci kau. ”

Nie Suat Kiao tertawa menyeringai dan berkata: “Sekalipun membenciku, aku bisa berbuat apa? Hmm”

Siang-koan Kie mukanya merasa panas, lama ia berpikir baru bisa berkata. “Sekalipun kau pernah tinggal dan berkawan dengan kawanan iblis serta membantu melakukan kejahatan. ”

“Bagus kau memaki begitu. Hmm, lekas pergi”

“Aku ingin mengeluarkan sedikit tenaga bagi nona. Harap kau tidak menolak, atau kalau nona ingin apa2 silahkan bilang saja”

Nie Suat Kiao mengangkat tangannya membereskan rambutnya lalu berkata samboil tertawa. “Seluruh kampung dipenuhi oleh hawa setan hanya dalam kamar ini yang tenteram tenang bagaikan musim semi. Jikalau kau ingin berbuat apa2 untukku. Nah, aku minta kau iukiskan alisku.”

Siang-koan Kie berkata sambi menggelengkan kepala: “Nona main2. Sayang dalam hal ini aku belum mempunyai pengalamannya” “Siapa main2 denganmu, aku berkata dengan sesungguhnya. Percaya atau tidak terserah kepadamu sendiri”

“Nona sedang menghadapi bahaya maut, tetapi masih bisa bersenda gurau. Benarkah didalam dunia sekarang ini sudah tidak ada orang yang dapat mengeluarkan jarum beracun dari dalam badanmu?'”

“Kau se-olah2 sangat perhatikan jiwaku, betul tidak?”

“Aku mendapat firasat bahwa mati hidupmu agaknya membawa pengaruh sangat besar bagi keadaan seluruh rimba persilatan. ”

“Kau terlalu memuji, betulkah soal mati hidupku itu ada demikian penting?”

“Ditilik dari keadaan pada dewasa ini saja, orang yang mengetahui keadaan Kun-liong Ong hanya nona seorang saja. ”

“Ini juga belum tentu”

“Sebaiknya nona jangan memotong pembicaraanku, dengarkanlah keteranganku dulu!''

“Tahukah kau bahwa saat ini betapa berharganya bagiku? Apa yang aku dengar adalah urusan-urusan yang menggembirakan. Aku tidak ingin dengar lagi segala kerewelan dalam rimba persilatan yang memusingkan kepala, sebab aku sudah akan meninggalkan dunia yang fana ini, untuk pergi kelain dunia, Saat terakhir sebelum aku meninggalkan dunia ini, aku mengharap tidak lagi diganggu oleh segala kekesalan.”

“Bagaimana supaya nona merasa gembira?”

Nie Suat Kiao berpikir, kemudian berkata: “Segala kedukaan dan penderitaan dalam dunia hampir semua sudah kualami. Dalam hidupku ini kesenangan yang kucicipi sesungguhnya sedikit sekali. Maka, aku pikir sesaat sebelum aku mati, aku harus berbuat sesukanya yang menggembirakan hatiku. Pikiran seperti ini, rasanya toh tidak keterlaluan bukan?”

“Tidak, entah kesenangan apa yang kau inginkan?”

Nie Suat Kiao bersenyum manis, lalu berkata: ‘Pribahasa berkata hidup manusia yang paling menyenangkan adalah di waktu malam pernikahan. Aku pikir ingin mencari tukang musik dan ingin sekali menjadi pengantin...”

Siang-koan Kie melongo, ia berkata. “Aaa! pikiran dan keinginanmu semacam ini sesungguhnya diluar dugaan orang!”

“Tidak perduli urusan apa asal bisa membuat aku senang, aku akan kulakukan”

“Sayang di dalam kampung yang kecil dan sangat misterius ini, barangkali sangat sulit untuk mencari tukang musik.”

“Kalau begitu tidak usah pakai upacara pernikahan, baiklah kita melakukan perkawinan didalam kamar ini saja!”

Betulkah Nie Saat Kiao melakukan pernikahan dengan Siang-koan Kie? Bagaimana tindakan dua orang itu selanjutnya?

Silahkan baca bagian jilid lima belas.

-oo0dw0oo-