ISMRP Jilid 13

 
Jilid 13

ORANG BERJUBAH HIJAU itu tertawa dingin dan berkata: “Ramalan suhu tidak salah. "

Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula: “Kepintaranmu, sudah lama sudah merupakan duri dalam mataku, niatku hendak membunuhmu, bukan baru timbul hari ini. Sayang kau bersembunyi digolongan pengemis, hingga selama itu aku tidak dapat mencarimu untuk melaksanakan niatku, kebetulan hari ini kau datang sendiri."

“Meskipun siaote tiada berniat mencelakakan suheng, tetapi sudah lama siap siaga, apabila aku tidak mempunyai perhitungan dan rencana yang pasti tidak nanti aku berani datang sendiri menjumpai kau”

“Dalam rimba persilatan dewasa ini, kau terhitung sebagai rintangan terbesar dalam usahaku untuk menguasai rimba persilatan, kalau aku tidak menyingkirkan kau niscaya aku tidak akan enak makan enak tidur, tidak perduli diluar rumah ini kau sudah memasang jaring atau ranjau, juga tidak dapat menghalangi maksudku ini. Kita pernah belajar bersama-sama dalam satu perguruan, maka aku memberikan sedikit perlakuan baik terhadapmu, aku mengijinkan kau untuk mengeluarkan semua isi hatimu dan memilih cara kematianmu”

Ia membuka ikat pinggang sutera hijau, dengan cepat cepat digantungkan diatas panglari dan membuat satu lingkaran, kemudian menggeser sebuah kursi diletakkan di bawah gantungan tali ikat pinggang itu. Setelah itu mengeluarkan sebilah pedang pendek, diletakan diatas meja. Setelah selesai semua, lalu berkata:

“Kau ingin menggantung diri atau menggunakan pedang, boleh pilih sendiri. Pedang ini ada racunnya yang sangat berbisa. Begitu mengenai daging, orang akan binasa dengan segera. Apabila kau mempercayai aku, mati dengan menggunakan pedang akan mengurangi banyak penderitaan”

Lambat-lambat ia mundur dua langkah berkata pula: “Aku menunggu sebentar. Setelah waktu itu lewat dan kau masih belum turun tangan sendiri, terpaksa aku harus bertindak."

Teng Saan mengawasi tali ikat pinggang dan pedang pendek itu sebentar. Sambil mengerutkan alisnya kemudian berkata: “Bolehkah suheng membuka kedok kulit muka, supaya siaote dapat melihat wajahmu untuk penghabisan kali."

Orang berjubah hijau itu barpikir lama sekali, baru berkata “Baiklah!”

Kemudian membuka kedok kulit manusia yang menutupi mukanya. Dibalik kedok itu ternyata merupakan seraut muka berwarna merah matang. Di antara kedua pelipisnya tampak dua bekas tanda goresan sehingga membuat mukanya yang memang sudah buruk nampak semakin buruk.

Tang Soan tiba-tiba berlutut dan berkata: “Siaote dengan suheng bersama-sama berguru sudah sepuluhi tahun lamanya. Dengan kali ini baru dua kali melihat wajah suheng yang sebenarnya.”

“Ini juga merupakan yang penghabisan kali bagimu” demikian terdengar suara yang dingin dan seram sebagai jawaban.

Ketika Teng Soan mengangkat muka, potongan wajah jelek bewarna merah matang itu sudah tidak tampak. Orang berjubah hijau itu sudah mengenakan kedok kulit manusia kembali.

Tang Soan perlahan2 bangkit. Sambil mengawasi orang berjubah hijau itu, tangannya mengambil pedang pendek yang diletakkan di atas meja. “Hunus pedangmu” berkata orang berjubah hijau sambil tertawa.

Teng Soan menghunus pedang dari sarungnya. Pedang itu memancarkan sinar biru berkilauan. Lalu berkata: “Suheng, racun diatas pedang ini tampaknya sangat berbisa."

“Bukan saja sangat berbisa, pedang ini juga sangat tajam sekali. Cukup dengan ujung pedang, kau goreskan di daging, kematian dengan cepat mengakhiri hidupmu dengan cepat”

"Menurut apa yang siaote tahu, racun sangat berbisa serupa itu memang tidak menimbulkan rasa sakit bagi orang”

Orang berjubah hijau itu agaknya sudah tidak sabar lagi, katanya dengan suara galak “kau sebetulnya mau mati atau Tidak?”

Teng Soan dengan tangan kiri memegang pedang berbisa, tangan kanannya dari dalam saku mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih.

Mata orang berjubah hijau itu mengawasi kotak putih itu, kemudian berkata: “Dalam kotak itu bukankah terisi kitab lanjutan dari kitab Thian-kan peninggalan suhu?”

“Dugaan suheng tidak salah."

“Letakkan kotak itu dan mundur tiga langkah”.

Teng Soan menurut, ia meletakkan kotak putih itu seraya berkata: “Sesaat sebelum suhu menutup mata, kotak ini diberikan kepada siaotee dengan disertai pesanan, apabila suatu waktu kita suheng dan sutee bertengkar menjadi musuh, suruh aku buka kotak ini. Dalam lanjutan dari kitab Thian-kan ini, semua sudah ditulis bagaimana caranya harus menghadapi suheng...”

“Sudahkah kau membuka kotak itu?”

“Meskipun suheng seorang yang tidak mempunyai perasaan persaudaraan, tetapi siaote tidak boleh berlaku tidak menurut aturan selayaknya. Maka selama itu juga belum pernah membuka..." berkata Teng Soan sambil menggelengkan kepala. “Lapi pula siaotee juga menganggap tidak perlu membuka kotak ini.”

“Apakah kau mengandalkan kepintaranmu sendiri dan bertanding denganku dengan mengandalkan kepintaranmu sendiri?"

“Pertempuran antara saudara sendiri nampaknya sudah tidak dapat dielakkan, maka... siaotee terpaksa keluar sendiri."

“Kau sungguh berani.'' berkata orang berjubah hijau itu sambil melancarkan totokan jari tangan dari jarak jauh.

Teng Soan mengeluarkan seruan tertahan, badannya mundur dua langkah, kipas ditangan kirinya terjatuh ditanah, lengan tangan kirinya itu sudah diturunkan kebawah. Keringat dingin mengucur keluar, tetapi ia paksakan diri untuk bertahan, kemudian berkata: “Kepandaian suheng kian hari kian meningkat. Totokan jari tangan dari jarak jauh ini sudah melumpuhkan lengan kiriku."

“Aku hendak melumpuhkan kedua tanganmu dan memotong kedua pahamu."

Teng Soan agaknya sudah tidak sanggup lagi perlahan2 ia menggeser dua langkah menjatuhkan dirinya diatas kursi.

Orang berjubah hijau itu agaknya timbul perasaan tidak tega menyaksikan keadaan sutenya itu, tangan kanannya per- lahan2 diturunkan kembali.

Teng Soan mengeluarkan suara batuk2, kemudian menghapus keringat di jidatnya dan berkata: “Dalam kotak ini, entah isinya benar lanjutan kitab Thian kan atau bukan, siaotee kurang jelas, sebab selama itu siaotee belum pernah membukanya juga berat untuk membacanya” Mata orang berjubah hijau itu tampak pula napsunya ingin membunuh, katanya sambil tertawa dingin. “Apapun katamu, juga sudah tidak dapat menggerakkan hatiku"

Tangan kanannya bergerak, lagi satu serangan totokan meluncur keluar dari tangannya.

Teng Soan cepat sekali kedua kakinya menjejak tanah, sehingga orang berikut kursinya menjeblak kebelakang.

Dengan denikian, serangan orang berjubah hijau tadi mengenai tempat kosong, tetapi kemudian dengan cepat melompat, kaki kanannya menginjak dada Teng Soan, lalu berkata dengan nada suara dingin: “Meskipun kita mempunyai perikatan persaudaraan sepuluh tahun sebagai saudara dalam satu perguruan, tetapi keadaan pada dewasa ini jauh berlainan. hari ini jika aku tidak membinasakanmu, dikemudian hari pasti akan meninggakan suatu bahaya besar...”

“Jikalau suheng melancarkan serangan dari jarak jauh lagi, siaote mungkin hanya dapat duduk menunggu kematian. Tetapi dengan perbuatan suheng yang menyerbu diriku ini, sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang sangat bodoh."

“Apa kesalahanku?”.

“Sewaktu kau mendekati diriku, aku sudah turun tangan diam2 terhadap dirimu”

“Kau mengoceh."

“Siaotee selamanya tidak berkata sembarangan, bukankah suheng sudah tahu adatku?"

“Dengan apa kau dapat membuktikan bahwa aku sudah terkena serangan bokonganmu?”

“Harap suheng menggulung lengan bajumu yang kiri. Coba kau lihat sendiri” Orang berjubah hijau itu berpikir sejenak. Benar saja, ia mengangkat tangan kirinya menggulung lengan jubahnya. Lama ia periksa dengan cermat, tetapi sedikitpun tidak tampak adanya tanda apa2, hingga seketika itu ia menjadi marah. Selagi hendak bertindak lagi, kaki kanan yang menginjak dada Teng Soan tiba2 terasa kesemutan.

“Bukankah suheng sudah tahu bahwa siaotee tidak pandai ilmu silat?” demikian Teng Soan berkata sambil tertawa terbahak-bahak.

“Sudah sepuluh tahan lebih kita tidak bertemu muka, siapa tahu selama itu kau sudah belajar."

“Anggaplah aku sudah belajar, juga masih belum sanggup menandingi suheng.''

“Kau masih mempunyai pengertian mengetahui keadaanmu sendiri“

“Tetapi dalam soal mengadu otak dan siasat. Seperti juga dengan main catur, suheng selalu kalah terhadapku”

Orang berjubah hijau memperdengarkan suara dihidung, tidak menjawab.

Dengan menahan rasa sakitnya, Teng Soan berkata pula: “Kalau tadi suheng tidak turut perkataan siaotee, menggulung lengan jubah tangan kirinya, biar bagaimana siaote tidak mampu menyerang paha kananmu."

Orang berjubah hijau itu per-lahan2 mengangkat kaki kanan yang menginjak dada Teng seraya berkata: “Dengan senjata apa kau membokong aku?"

“Aku tidak paham ilmu silat, tidak tahu bagaimana caranya mengatur jalan pernapasan dan menyembuhkan luka, harap suheng sembuhkan dulu tangan kiriku, sudikah suheng berbuat demikian?'' Orang berjubah hijau itu kembali memperdengarkan suara dihidung, namun ia menerima baik permintaan Teng Soan, dengan tangannya ia mengangkat tangan kiri Teng Soan.

Teng Soan mengeluarkan suara keluhan tertahan, air keringat membasahi sekujur badannya.

“sekarang kau harus terangkan” berkata si orang jubah hijau

Teng Soan berkata sambil mengibas-ngibaskan kipasnya “kita dua saudara dalam perguruan sudah banyak tahun tidak bertemu. Hari ini kita bisa bertemu muka, juga terhitung suatu kejadian menggembirakan, mana kita boleh lewatkan cuma- cuma”

“Kau mau apa?”

“Siaote ingin minum beberapa cawan arak dengan suheng” “Kau tidak takut aku menaruh racun dalam arak?”

“Siaote tidak ingin hidup sendirian maka senang turut mati bersama suheng”

Dua orang itu mengadu lidah, masing2 mengeluarkan perkataan tajam. Oleh karena satu sama lain merupskan saudara dalam satu perguruan, maka kejadian yang sudah lalu masih meninggalkan kenangan yang sangat dalam lubuk hati mereka. Kesan yang agak tidak menyenangkan di masa lalu menambah rasa curiga bagi mereka.

Orang berjubah hijau berpikir sejenak, lalu berkata: “Mungkin suhu mewariskan kau pelajiaran rahasia yang belum pernah diberikan kepadaku"

“Suheng berguru kepada Suhu dengan membawa kepandaian yang suheng sudah punyai. Karena suhu sayang dengan bakat dan kepandaianmu, maka ia memberi pelajaran kepadamu. Dalam hal ilmu silat, kau sudah mendapat warisan kepandaian suhu seluruhnya. Dalam rimba persilatan dewasa ini, sulit dicari tandingannya."

“Tetapi dalam hal menggunakan racun berbisa, menggunakan siasat pertempuran, kau barang kali sudah mewariskan kepandaian suhu yang masih dirahasiakan bagiku”

Teng Soan tersenyum misterius, katanya: “Sepuluh tahun berselang sewaktu nama Kun Liong Ong baru mulai terkenal, siaotee sudah merasa curiga bahwa orang itu adalah kau. Hari ini, sepuluh tahun kemudian, telah terbukti bahwa dugaan ku itu tidak salah”

“Jikalau kau bisa terjun di kalangan kangouw pada sepuluh tahun berselang, keadaan dunia mungkin akan terbagi dua bagian. Sayang kau terlambat sepuluh tahun, beberapa tokoh2 kuat yang berkepandaian tinggi dalam kalangan kang ouw dewasa ini, beruntun sudah binasa dibawah tanganku, baik secara terang maupun secara menggelap. Sekarang ini di dalam rimba persilatan sudah tiada seorangpun yang sanggup melawan aku”

"Dua orang sesepuh Tuli dan Gagu dari golongan pengemis, mereka berdua berkepandaian agak sangat tinggi, cukup untuk menandingi suheng. Apalagi selama ini aku sudah berhasil memilih tenaga2 baik membentuk pasukan delapan orang hulu balang dan empatpuluh delapan orang pasukan berani mati. Meskipun kedudukan suheng sudah kokoh kuat, tetapi sayang kau mempunyai adat yang banyak curiga dan tidak suka orang berkepandaian tinggi darimu sehingga sulit untuk mendaparkan bantuan orang kuat yang benar2 dapat kau gunakan. Kau hanya menggunakan tangan besi, perbuatan tangan kejam dan pengaruhnya obat2an untuk membangun kekuatan besar. Tetapi apabila obat yang kau gunakan kepada mereka tidak berguna, orang2 itu tidak akan suka menjualkan tenaganya untukmu lagi " “Pada dewasa ini, orang yang dapat menggunakan obat racunku hanya kau seorang saja. Tetapi kau sudah berada dalam genggamanku. Hari ini kau tidak mungkin lagi bisa berlalu dari sini dalam keadaan hidup”

“Itu memang benar, apabila suheng hari ini hendak membunuh aku, sudah cukup dengan gerakan tangan saja. Tetapi setelah kau membunuh aku, dalam waktu duabelas jam kau akan menyusul aku ke alam baka”

“Aku tidak percaya kau sudah berhasil membokong diriku, apalagi aku sudah menggunakan kekuatanku untuk menutup semua jalan darah dipaha kananku. Paling2 aku hanya kehilangan sebuah paha saja."

“Apa bila siaotee tidak mempunyai cara untuk menaklukkan suheng, tidak nanti aku berani datang kemari seorang diri. Sekarang hanya ada dua cara untuk menyelesaikan persoalan antara kita berdua”

“Cara bagaimana?”

“Siaotee telah memenuhi undangan Auw yang Thong, pemimpin golongan pengemis untuk memberikan bantuan golongan pengemis dalam waktu sepuluh tahun. Sekarang waktunya tinggal satu bulan sudah akan habis. Jikalau kau mau lepas tangan tidak mau mencampuri dunia persilatan lagi, lalu mengasingkan diri ke tempat yang tenang, bukan saja dapat mempertahankan hubungan tapi aku sendiri juga suka mendirikan sebuah bangunan mewah untuk kediamanmu”

“Apabila suheng bersedia mengasingkan diri bersama siaote, tidak campur tangan lagi dalam urusan rimba persilatan sekalipun berdiam diri didalam rumah gubuk juga sudah merasa puas”

Orang berjubah hijau itu tiba-tiba tertawa dingin, memotong ucapan Teng Soan, katanya: "Tampaknya diantara kita berdua, harus ada salah satu yang mati” “Mungkin akan merupakan suatu tragedi yang tragis, meskipun kematiannya ada yang lebih dulu dengan belakangan sudah tentu siaote akan berangkat lebih dulu, Tetapi sebelum mayatku dingin, suheng juga akan merasakan rasanya kematian”

Teng Soan menarik napas panjang, kemudian berkata pula: “Siaote tidak bermaksud akan bermusuhan dengan suheng...”

“Kalau kau benar tidak akan bermusuhan denganku, itu berarti kau masih segan meninggalkan kekuasaanmu dan pengaruhnya. Apabila kau mau mengkhianati golonhan pengemis, aku akan memberikan tugas penting bagimu dan kita berdua bisa bekerja sama. Untuk menguasai rimba persilatan, sangat mudah sekali”

“Sejak dahulu kala, walaupun sudah banyak muncul orang kuat, tetapi belum pernah terjadi ada orang yang mampu menguasai rimba persilatan dengan seorang diri. Sebelum suhu menutup mata, telah meninggalkan pesan kepada siaote berwanti-wanti sekali sekali tidak boleh berpeluk tangan. Menyaksikan perbuatan suheng yang hendak melakukan kekejaman dikalangan Kang ouw. ”

“Tutup mulut!" bentak orang berjubah hijau itu dengan suara bengis “kau masih menyebut aku suheng. Kau harus tahu bahwa antara golongan tua dan golongan muda itu ada tingkatannya. Orang-orang rimba persilatan paling mengutamakan tingkatan. Apakah kau yang menjadi suteku berani memberikan pengajaran kepadaku tanpa memandang kepada orang yang lebih tua”

“Bagaimana siaote berani melanggar peraturan itu, sebetulnya karena siaote tidak berani melanggar pesan suhu”

”Terserah apa katamu, tetapi bagaimana aku bisa percaya?”

“Apabila siaote membawa pesan tertulis suhu, apakah suheng suka bertindak menurut pesan suhu itu?” “Aku tidak percaya ada kejadian serupa itu!”

Teng Soan tertawa hambar, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah sampul yang tertutup rapat dan diberikan kepada suhengnya.

Orang berjubah hijau itu membaca sebentar lalu dimasukkan kedalam sakunya dan berkata, dengan nada suara dingin: “Hanya dengan sepucuk surat ini susah membuat aku percaya. Rasanya suhu masih meninggalkan barang bukti lain”

”Meskipun ada barang bukti, sayang siaote tidak mambawanya. Sekalipun suheng membunuh akum juga tidak akan menemukan barang itu”

“Kau berani datang seorang diri menjumpai aku tentunya sudah ada persiapan. Apakah kau percaya aku tidak akan membunuhmu?"

“Dengan tekad mengorbankan jiwa jikalau aku datang kemari”

“Itu bagus, aku pasti akan memuaskan keinginanmu”

Teng Saan tiba2 menarik papas, air mata berlinang2 di matanya, dengan suara sedih dia berkata: “Siaote hendak datang kemari, memang sudah tahu susah sekali untuk menginsafkan suheng, tetapi tali persaudaraan dalam seperguruan selama sepuluh tahun lebih, siaote sesungguhnya tidak tega berdiam berpeluk tangan.''

Orang berjubah hijau itu tertawa besar, lalu berkata “Air mata sangat berharga bagi seorang laki2 jantan, bagaimana boleh sembarangan dikeluarkan. Apabila kau sudah tahu diri tidak ada harapan untuk hidup lagi, bukankah lebih lekas kau bebaskan jiwamu sendiri. Biarlah aku kehilangan sebuah paha, hari ini pasti kau akan kubunuh."

Wajah Teng Soan berubah, ia menghapus kering air matanya, lalu berkata: “Demikian rupa suheng mendesak siaote, terpaksa siaote akan melaksanakan pesan suhu” “Sekalipun semua tokoh kuat golongan pengemis dikerahkan diluar gedung ini, apa mereka bisa berbuat terhadap aku?”

“Suheng jangan omong besar, kau adalah orang yang mengerti ilmu silat, cobalah dulu pernapasanmu. Didalam tubuhmu kau merasakan perobahan apa-apa atau tidak?"

“Tidak perlu dicoba, aku sudah tahu, paha kananku terbokong olehmu, tetapi kau melalaikan kecerdikanku. Ketika aku merasa paha kananku terluka, aku sudah menutup jalau darahku... Apakah kau pikir hendak menyuruh aku mencoba menyelidiki racun dalam tubuhku supaya racun didalam paha kananku itu terbawa masuk kedalam jantung. Kau ternyata keliru, kau juga tidak pikir dulu aku orang macam apa, bagaimana dapat kau tipu?”

“Suheng menang seorang sangat cerdik, siaute sangat kagum."

Mata orang berjubah hijau itu ditujukan kepada kotak putih itu, kemudian berkata: “Benarkah lanjutan kitab Thian-kan berada didalam kotak itu?"

“Suheng boleh buka periksa sendiri, nanti akan tahu bahwa siaote tidak berbohong."

“Perhitungan manusia tidak bisa melawan perhitungan TUHAN, barang yang suhu turunkan kepadamu untuk menundukkan aku, telah kau antarkan sendiri kepadaku... Tetapi sekarang aku masih belum sempat membuka kotak itu. Kau matilah dengan perasaan tenang. Tidak perduli, apa isi kotak itu, aku pasti akan membukanya. sekalipun barang yang ada dalam kotak itu bisa membawa celaka pada diriku, aku juga akan membukanya”

“Suheng jangan coba2 berlaku pintar sendiri. Kalau kau merusak kotak itu, kau nanti akan menyesal sendiri." “Kau harus tahu bahwa aku berbuat segala hal belum pernah menyesal."

“Rahasia uutuk menundukkan kau yang suhu turunkan kepadaku tersimpan dalam kotak itu. Suheng hendak simpan atau merusaknya, terserah kepada suheng sendiri. Siaote tidak percaya dengan tidak adanya rahasia yang diturunkan oleh suhu, suheng benar2 bisa malang melintang tanpa ada tandingan”

“Bagus sekali. Adakah kau bermaksud supaya aku menghentikan usahaku?”

“Suhebg adalah orang yang tidak berperasaan sudah tentu tidak boleh sesalkan siaotee akan berlaku tidak sopan lagi!"

“Sayang kau tetap masih belum mendapat kesempatan menyingkir dari sini."

“Belum tentu."

“Kecuali kau sudah belajar ilmu masuk ke dalam tanah."

Teng Soan mengangkat tinggi2 kipas ditangannya, asap tebal tiba2 mengepul keluar dari kipasnya, dalam waktu sangat singkat sudah menutupi diri Teng Soan sekitar delapan kaki.

Orang berjubah hijau itu perdengarkan suara dihidung, katanya dengan sikap sombong: “Permainan anak kecil, kau juga berani pertunjukkan dihadapanku!"

Tangannya lalu bergerak melancarkan serangan kepada gumpalan asap tebal itu.

Serangan itu hebat sekali, di tengah2 gumpalan asap tebal itu terbuka satu lobang.

Tetapi Teng Soan se-olah2 sudah merat selagi asap tebal mengepul keluar, tidak kelihatan bayangannya, juga tidak terdengar suaranya. Orang berjubah hijau itu meskipun mulutnya tidak berkata apa2, tetapi dalam hatinya sangat terkejut pikirnya: “Apabila ia sampai kabur, terhadap rimba persilatan dikemudian hari, sesungguhnya membawa efek besar sekali”

Selagi masih berpikir, tiba-tiba terdengar suara Teng Soan: “Suheng lekas tutup pernapasanmu. Asap ini mengandung racun sangat berbisa”

Orang yang berjubah hijau itu memang sejak tadi sudah munutup pernapasannya. Kerahkan pandangan kedalam gumpalan asap itu, mencari jejak Teng Soan. Tangan kanannya sudah siap, begitu melihat Teng Soan segera diserangnya.

Dengan Teng Soan ia sudah sama2 berguru sepuluh tahun lebih. Ia tahu sutenya yang belajar lebih dahulu dari pada dirinya. Kecuali pelajaran ilmu silat, pelajaran berbagai ilmu kepandaian suhunya suhunya, sudah diwariskan oleh suhunya semua. Kecerdasan dan keberaniannya masih jauh lebih menang daripada ia sendiri. Dalam segala hal, ia sangat hati2, tidak akan menempuh bahaya. Maka saat itulah barangkali kesempatan satu2nya untuk menyingkirkan jiwa sutenya itu. Apabila kesempatan ini dilewatkan, untuk selanjutnya barangkali sudah tidak akan mendapat kesempatan lagi untuk membunuhnya..."

Suasana dalam ruangan itu mendadak menjadi sunyi, tetapi asap tebal yang mulai membuyar memenuhi ruangan, sedikitpun tidak tampak berkurang, bahkan sebaliknya, asap itu mulai meluap, tidak lama kemudian, hampir seluruh ruangan itu sudah dipenuhi oleh asap.

Orang berjubah hijau itu meskipun mempunyai pandangan mata melebihi manusia biasa, namun juga tidak berhasil menemukan jejak Teng Soan, maka disamping mencari-cari dengan matanya, ia juga melancarkan serangan jarak jauh dengan cara membabi buta. Karena serangan hebat yang membabi buta itu hingga semua barang termasuk meja dan kursi diruangan itu menjadi korban sasaran kemarahannya sehingga hancur berantakan.

Apa yang mengherankan, asap tebal itu meskipun nampak bergelombang atau terbuka ruangan akibat hembusan angin yang keluar dari tangan orang yang berjubah hijau itu, tetapi itu hanya sebentar saja dan kemudian menutupi lagi bahkan makin tebal asapnya.

Diantara gumpalan asap itu, terdengar suara Nie Suat Kiao yang sangat nyaring: “Ayah jangan kuatir. Aku sudah menjaga pintu ruangan. Ia tidak akan bisa lolos lagi”

Orang berjubah hijau itu berkata, “kau lemparkan api kedalam ruangan.”

Nie Suat Kiao menurut, sebentar kemudian, benar saja dalam ruangan itu tampak sinar api. Tetapi penerangan yang keluar dan api itu lemah sekali, sinarnya hanya dapat menerangi tempat itu sekitar tiga kaki saja.

Sinar api itu bagi mata orang biasa mungkin tidak ada gunanya, tetapi orang berjubah hijau tu dapat menggunakan matanya untuk melihat dengan tegas barang-barang sekitar setombak persegi.

Tetapi apa yang dilihatnya hanya meja kursi yang sudah hancur berantakan ditanah, sedangkan Teng Soan tidak tampak bayangannya entah kemana

Asap tebal yang memenuhi ruangan itu, pada akhirnya perlahan-lahan mulai menipis dan buyar. Barang-barang didalam ruangan kini mulai tampak nyata.

Hancuran meja kursi nampak berantakan di tanah, tetapi tidak tampak bayangan Teng Soan. Nie Suat Kiao yang menggunakan gaun berwarna putih perlahan-lahan berjalan masuk, ia memanggil ayah angkatnya dengan suara perlahan. “Ayah” Orang berjubah hijau dengan mata penasaran, memperdengarkan suara di hidung kemudian bertanya: “Kemana larinya sastrawan tadi?"

“Anak sejak tadi terus menjaga di pintu namun tidak nampak orang keluar dari ruangan”

Orang berjubah hijau berpikir sejenak, ia melompat masuk kedalam kamar dengan menggunakan satu kaki. Kini ia baru tahu bahwa jendela dalam kamar terbuka lebar. Dengan penuh kemarahan ia berkata “Sungguh gila mengapa aku tidak memikirkan ini”

“Semua ini ada salah anak yang kurang waspada, sehingga ia dapat lari dari jendela itu, tetapi rasanya ia belum pergi teralu jauh, mungkin masih keburu dikejar.''

Orang berjubah hijau itu menggelengkan kepala, perlahan2 ia berjalan menghampiri sebuah bangku, dan duduk diatasnya

“Paha kananku telah terserang secara mene gelap olehnya.”

Nie Suat Kiao buru2 berjongkok dan memeriksa kaki ayah angkarnya. Dipaha kecil kaki kanan menancap sebuah jarum mas yang ada kepalanya.

Nie Suat Kiao berkata sambil mengangkat muka mengawasi ayahnya: “Ayah, apakah jarum itu perlu dicabut?”

“Aku sudah menutup jalan darah paha kananku, sekalipun jarum itu mengandung racun juga tidak halangan. Kau cabut saja.”

Nie Suat Kiao lalu mencabut jarum mas itu.

Jarum mas itu panjangnya kira2 dua cun. Agak ganjil jarum mas itu mempunyai kepala, Apabila tidak ada kepalanya mungkin masuk semua ke dalam daging, sehingga tidak mudah mencabutnya. Nie Suat Kiao agaknya merasa heran mengapa jarum itu bukan jarum biasa, melainkan jarum pentul tapi perasaannya itu tidak berani menyatakan kepada ayahnya.

Orang berjubah hljau itu setelah menyambut jarum mas dari tangan anaknya, diperiksanya dengan teliti. Jarum itu memancarkan sinar yang gemerlapan. Bobotnya cukup berat, jelas terbuat dari emas murni, bahkan tidak seperti mengandung racun.

Tiba2 terdengar suara Nie Suat Kiao yang memperlihatkan keterkejutan. Dari bawah jendela mendapatkan sepotong kertas putih.

Orang berjubah hijau itu menyambuti kertas itu. Diatasnya terdapat tulisan:

“Inilah sebuah jarum mas yang khusus kubuat untuk melarikan diri. Siaote sudah menduga suheng pasti curiga jarum mas ini mengandung racun yang sangat berbisa. ”

Orang berjubah hijau itu sangat mendongkol, ia memaki kepada dirinya sendiri: “jikalau aku tadi segera turun tangan membinasakan dirinya, sudah tentu dia tidak bisa kabur. ”

Ia baca lagi lanjutan surat itu yang berbunyi:

“Sebetulnya jarum pentol mas itu, sedikitpun tidak mengandung racun, biar bagaimana, kita masih mempunyai hubungan persaudaraan sepuluh tahun lebih, bagaimana siaote tega hati menggunakan tangan ganas teehadap suheng. Pada dewasa ini berbagai partay besar rimba persilatan semua sudah menaruh perhatian atas perbuatan suheng. Apabila semua partay besar tergabung dengan golongan pengemis, ber-sama2 menghadapi suheng, bahayalah kedudukkan suheng! Harap suheng pikir masak2!’”

Orang berjubah hijau itu sehabis membaca surat itu, lalu drobeknya dan dilemparkan ditanah, sambil menengadah keatas ia berpikir, kemudian berkata: “Ia tidak paham ilmu silat. Untuk lari, bukan soal mudah.”

“Selagi asap tebal mengepul, ada orang menggunakan kesempatan itu masuk kedalam ruangan dan kemudian membawa kabur ia   melalui jendela itu.” Berkata Nia Suat Kiao.

Orang berjubah hijau itu mengawasi Nie Suat Kiao sejenak, lalu berkata: “Kejarlah segera, ia datang dengan mengendarai kereta, sudah tentu pulang dengan kereta itu juga”

Nie Suat Kiao menurut, ia lompat keluar melalui jendela.

-odwo-

Bab 50

ORANG BERJUBAH HIJAU itu menutup daun jendela dan duduk lagi dibangku memeriksa paha kanannya.

Bekas jarum itu, sedikitpun tidak terdapat warna matang biru. Ia tahu bahwa ucapan Teng Soan yang mengatakan jarum mas itu tidak mengandung racun rasanya memang benar.

Ia coba mengatur pernapasan, benar saja tubuhnya juga tidak terdapat tanda keracunan.

Mari kita mengikuti perjalanan Nie Suat Kiao. Setelah keluar dan gedung itu, ia balik ke depan memanggil Siang-koan Kie kemudian pergi mengejar bersama-sama.

Mendadak ia seperti merasa bahwa Siang Koan Kie itu kini sangat penting artinya bagi dirinya. Dua orang itu sekeluarnya dari pekarangen, benar saja mereka dapat menemukan sebuah kereta yang sedang lari kearah barat.

Nie Suat Kiao lebih dulu lari mengejar kereta itu. Siang koan Kie yang setiap gerak geriknya terpengaruh oleh obat, ketika melihat Nie Suat Kiao lari ia juga ikut lari.

Gerakan dua orang itu sama cepatnya. Kereta itu meskipun dilarikan sangat cepat, tidak urung dapat dikejarnya dalam waktu yang singkat saja.

Selagi Nie Suat Kiao hendak suruh berhentikan kereta itu, tiba2 merasakan hembusan angin lewat disampingnya.

Sedang telinganya mendengar suara orang tertawa dingin, sementara itu kereta yang sedang lari kencang itu mendadak berhenti.

Pada saat itn ia baru dapat lihat bahwa ayah angkatnya dengan tangan kiri menahan kereta sedangkan dua ekor kuda yang menarik kereta itu sudah roboh ditanah.

Nie Suat Kiao dengan cepat mengulur tangannya membuka tutup kereta, orang berjubah hijau itu buru2 melarangnya.

Nie Suat Kiao yang dilarang oleh ayahnya segera balik mundur.

Orang berjubah hijau itu perlahan2 melepaskan tangannya dan mundur lima langkah, kemudian berkata dengan nada suara dingin: “Kau sudah tidak bisa kabur lagi, lekas keluar."

Sementara itu ia sudah mengerahkan kekuatan tenaganya hendak melancarkan serangan dari jarak jauh.

Kereta itu yang mengalami getaran hebat, tirai yang menutup kereta masih nampak bergoyang-goyang tetapi tidak terdengar suara jawaban orang.

Orang berjubah hijau itu sudah akan melancarkan serangannya, tiba2 dibatalkan dan berkata dengan nada suara dingin: “Karena mengingat jarum emasmu itu tidak mengandung racun, maka hari ini aku membebaskan kau dari kematian, lekas keluar!”.

Tetapi dari dalam kereta tetap tidak mendapat jawaban. Nie Suat Kiao berkata dengan suara dingin, “mungkin kita telah tertipu, harap ayah melindungi, anak hendak membuka tirai kereta itu”

Orang berjubah hijau itu agaknya juga merasa gelagat tidak beres, setelah berpikir sejenak, lalu berkata: “Baiklah... coba kau buka!”

Dengan cepat Nie Suat Kiao bergerak, ia mengulur tangannya membuka tirai kereta, begitu tirai terbuka, ia segera melompat kesamping.

Orang berjubah hijau itu terus memasang mata, saat itu baru dapat melihat bahwa didalam kereta itu duduk dua orang. Yang satu adalah seorang kurus kering pertengahan umur dan seorang lainnya adalah seorang padri berjubah putih yang usianya sudah lanjut.

Padri itu yang turun keluar lebih dulu dari dalam kereta Orang laki2 pertengahan umur kurus kering itu, gerakannya

gesit sekaii. Ia melompat keluar rnengikuti jejak padri tua itu, dua pasang mata lalu ditujukan kepada orang berjubah hijau itu.

“Tuan adalah orang yang dapat nama julukan Kun-liong Ong, yang merupakan orang sangat misterius dalam rimba persilatan dewata ini?” bertanya padri tua itu.

Tetapi orang berjubah hijau itu tidak menjawab, ia hanya mengkedip-kedipkan sepasang matanya.

Padri tua itu berkata pula sambil merangkapkan kedua tangannya diatas dada “Lolap Tiat-bok, anak murid gereja Siao Lim-sie, di gunung siong-san."

“Sudah lama aku dengar nama besarmu" jawab orang berjubah hijau itu dingin.

Orang pertengahan umur kurus kering itu turut berkata: “Siaote Auw-yang Thong..." “Pemimpin golongan pengemis yang kenamaan” berkata orang berjubah hijau itu.

“Terimakasih atas pujianmu" berkata Auw-yang Thong

Tiat-bok taysu lalu berkata: “Nama tuan menggetarkan dunia Kang ouw tetapi jejakmu bagaikan naga sakti dalam kabut. Lolap merasa beruntung hari ini dapat ketemu denganmu”

Orang berjubah hijau itu tertawa dingin, kemudian berkata “Nama kuil Siao Lim-sie sudah terkenal jejaknya beberapa ratus tahun berselang, sedangkan golongan pengemis merupakan satu golongan yang sedang berpengaruh pada saat ini. Apabila bisa bergabung, ini akan merupakan suatu kejadian besar di dalam dunia Kang-ouw”

“Kekuatan tuan yang sangat misterius, sudah pentang sayap ke daerah selatan dan utara sungai Tian-kang, hari ini aku bisa bertemu, sesungguhnya. ” berkata Auw-yang Thong

sambil tersenyum. “Sayang tuan pakai kedok kulit manusia sehingga orang tidak dapat melihat wajah aslimu”'

“Tuan-tuan berdua kenalkah siapa aku ini?” “Kun-liong Ong” berkata Auw-yang Thong

“Kun-liong Ong bisa berubah rupa menjadi ratusan, tuan- tuan setelah melihatnya, barangkali juga susah mengenalinya”

“Sayang kali ini kau salah hitung, sehingga menunjukkan dirimu sendiri, hari ini setelah bertemu muka mau tidak mau aku ingin melihat wajah aslimu!", berkata Auw-yang Thong sambil tertawa hambar.

Orang berjubah bijau itu tertawa terbahak dan berkata: “Apakah dalam hati tuan2 juga merasa pasti menang dalam menghadapi persoalan dunia Kang ouw pada saat ini?” Tiat Bok taysu yang paling tidak pandai bicara, menghadapi pertanyaan tajam dari lawannya, tidak tahu harus bagaimana menjawab.

“Pertarungan di medan perang, bagaimana nasib kita, siapapun susah menduganya" berkata Auw-yang Thong sambil tertawa hambar “Bebeerapa propinsi daerah Tionggoan, sudah tersebar orang2 golongan pengemis. Asal aku mengeluarkan tanda, dalam waktu sangat singkat, sudah tigapuluh lebih bala bantuan yang segera datang”

Orang berjubah hijau itu berkata dengan nada suara dingin: “Ada Teng Soan yang membantumu membuat rencana. Perkataanmu ini mungkin bukan merupakan gertak sambal...”

Orang berjubah hijau itu mengedipkan mata, tiba2 berkata sambil tertawa: “Karena kealpaanku, kembali aku telah tertipu oleh akal liciknya. Hemm! Tapi ia juga mengabaikan empat orangku yang kuat yang kusiapkan di sekitar ruangan itu. Rasanya ia juga su.... (ngga bisa dibaca) diri dari penjagaan orangku itu. mungkin saat ini ia sudah terbinasa dalam ruangan."

Wajah Auw-yang Thong berubah, tetapi hanya sebentar saja sudah tenang kembali, katanya sambil tertawa: “Meskipun tuan seorang cerdik, tetap saja dalam permainan catur dengan penasehatku, kau selalu kalah satu set. Orang2mu yang kau siapkan disekitar ruangan itu, sudah diduga lebih dulu olehnya”

Tiat Bok taysu agaknya mendadak teringat suatu perkara besar, ia berkata dengan suara nyaring: “Kun-liong Ong, lolap teringat suatu perkara, ingin minta keterangan darimu”.

“Coba kau ceritakan." berkata orang berjubah hijau. “Selama sepuluh tahun ini, banyak tokoh rimba persilatan

telah lenyap tanpa bekas, apakah semua itu atas

perbuatanmu?” “Ini ada hubungan apa denganmu?”

“Lolap ingin mencari keterangan jejak seseorang” “Coba ceritakan, mungkin aku dapat memberitahu kau” “Lima orang gagah daerah Tiong-goan?”

“Sudah mati.''

“Pemimpin rimba persilatan In Kiu Liong?" “Juga sudah mati"

“Ceng-bok Taysu dari kuil Siao Lim sie apakah sudah mati di tanganmu?”

“Kalau iya, mau apa?”

“Murid murtad!” berteriak Tiat-bok Taysu, ia melancarkan serangannya kepada orang berjubah hijau itu.

Orang berjubah hijau itu memperdengarkan suara dihidung, masih tetap berdiri ditempatnya tanpa berserak, hanya dengan satu gerakan tangan, hembusan angin kuat meluncur dari tangannya itu.

Dengan demikian, hingga serangan Tiat bok Taysu tadi terbentur dengan kekuatan tenaga dalam orang berjubah hijau itu.

Auw-yang Thong terkejat, ia segera berkata kepada Tiat bok Taysu: “Taysu jangan bertindak dulu."

Tiat bok Taysu serangannya kebentur dengan kekuatan tenaga dalam orang berjubah hijau itu, diam-diam juga merasa terkejut.

Ketika mendengar ucapan Auw yang Thong, segera melompat kesarnping serata bertanya: “Pangcu ada urusan apa?”

Orang berjubah hijau itu tiba2 mendahului menyahut sambi tertawa dingin: “Satu adalah padri dari kuil Siao Lim sie dan yang lain adalah pemimpin golongan pengemis. Apabila kalian Ini bisa bergandengan tangan melawan aku, tidak perduli bagaimana kesudahannya, juga akan menjadi buah tutur ramai di kalangan Kang-ouw."

Setelah itu molancarkan serangan dari jarak jauh, Tangan kiri ditujukan kepada Tiat-bok Taysu, sedang jari tangan kanan menotok Auw yang Thong. Dua2nya melompat kesamping.

“Kalian takut?" bertanya orang berjubah hijau itu dingin. “Biar aku menanyakan dulu kepada Tiat Bok taysu, setelah

itu nanti bertempur lagi”

Orang berjubah hijau itu berpikir sejenak, lalu berkata: “Karena kalian sudah mengenal diriku, bolehlah aku berlaku royal sedikit, kau lekas bertanya kepadanya”

Auw-yang Thong berpaling mengawasi Bok Tiat taysu, ia menampak wajah Tiat Bok taysu dingin sekali, tubuhnya agak gemetar. Agaknya sedang berusaha menindas getaran dalam hatinya.

Orang berjubah hijau itu mendongakkan kepala, sikapnya sangat tenang, seolah-olah tidak memperhatikan keadaan Tiat Bok taysu.

“Bok taysu jangan marah dulu, dihadapan musuh tangguh, kita harus tetap berlaku tenang” berkata Auw-yang Thong dengan suara perlahan.

Tiat Bok taysu seorang beribadat tinggi, mendengar ucapan itu, segera dapat menenangi hatinya, sebentar kemudian sudah tenang kembali.

“Harap Pangcu suka menolong menjaga lolap. Hari ini lolap hendak membuat perhitungan dengan murid yang murtad ini" demikian paderi itu berkata. “Harap taysu jangan bertindak dulu” berkata Auw-yang Thong.

“Pangcu masih ada urusan apa?"

“Dari ucapan taysu, siaote dapat menarik kesimpulan bahwa taysu agaknya sudah mengetahui asal usulnya orang ini?”

“Dia adalah murid murtad kuil kita," menjawab Tiat Bok taysu sambil menghela napas panjang.

Auw-yang Thong terperanjat, “Apa? Dia murid murtad Siao Lim Sie?"

“Benar...” menjawab Tiat Bok taysu. Lalu berdiam sejenak, katanya pula tandas: “Harap Pangcu menahan pengikut2nya. Murid murtad yang jahat ini, biarlah lolap yang menghadapi sendiri. Lolap hendak menangkapnya hidup2 dan membawanya pulang kekuil Siao Lim Sie”

Orang berjubah hijau itu tiba2 tertawa terbahak2 dan berkata: ”Barangkali engkau bukan tandinganku, mengapa kau berani2 mengucapkan perkataan sesombong itu”

“Aku ingin lihat kau sebetulnya sudah dapat mencuri berapa macam ilmu silat simpanan Siao Lim sie?. Mengapa kau berani tidak pandang mata kepada orang tua?”

Orang berjubah hijau itu agaknya sudah mengakui bahwa dirinya memang benar keluaran Siao Lim-sie, sebab terhadap semua teguran Tiat Bok taysu, ia selalu tidak menjawab secara langsung. Sinar matanya dingin menatap Tiat Bok taysu dan Auw-yang Thong sejenak, lalu berkata: “Tidak perduli siapa diantara kalian yang maju terlebih dulu, itu tidak menjadi soal. Tetapi sebaiknya kalian maju berbareng”

Ia berhenti sejenak, “Selama tiga puluh tahun, aku belum pernah bertempur dengan orang lebih dari sepuluh jurus, dalam sepuluh jurus, pasti ada orang binasa ditanganku” Auw-yang Thong terus memperhatikan sepasang matanya orang itu, sebab hanya sepasang matanya itulah yang dapat digunakan untuk mengukur perasaan hatinya.

Auw yang Thong tahu bahwa padri itu menduduki tempat tinggi dalam gereja Siao Lim Sie, maka juga ia tak merintang lagi. Ia hanya berdiri sebagai penonton untuk menyaksikan pertempuran dahsyat yang akan berlangsung itu.

Orang berjubah hijau itu, sikapnya tetap tenang, agaknya tidak manghiraukan terhadap segala tuduhan Tiat Bok taysu.

Tiba2 terdengar suara yang amat merdu: “Ayah, bagaimana kalau anak yang menghadapi padri tua itu?"

“Padri tua ini, adalah salah satu orang kuat dari Siao Lim Sie, kepandaiannya tinggi. Anak jangan memandang ringan musuh”

Nie Suat Kiao melompat maju berdiri dihadapan orang berjubah hijau.

Tiat Bok taysu sudah mengerahkan kekuatan tenaganya sudah siap hendak melancarkan serangannya, tak disangka dirintangi oleh Nie Suat Kiao maka ia lalu berkata kepadanya: “Lolap bendak menangkap murid murtad Siao Lim Sie, tidak ingin turun tangan terhadap kau seorang wanita, lekas menyingkir!"

“Kalahkan dulu aku, nanti kau boleh melanjutkan tindakanmu." jawab Nie Suat Kiao dingin,

“Kalau nona benar2 ingin berkelahi, aku bersedia melayani beberapa jurus, bagaimana?'' kata Auw-yang Thong.

Dengan tanpa menoleh Nie Suat Kiao menjawab dengan rada suara dingin: “Tidak perduli siapa diantara kalian yang turun tangan, itu sama saja"

Kemudian ia berkata kepada Siang-koan Kie: “Kau tahan padri tua ini." Siang-koan Kie dengan cepat sudah bertindak juga sudah bergerak, menotok jalan darah depan dada Auw yang Thong.

Tiat Bok taysu segera bergerak menangkis serangan Siang- koan Kie.

Padri tua yang jarang menggunakan tangan besi itu, agaknya berusaha menindas kegusaran dalam hatinya. Namun demikian, ia terpaksa, menggunakan tangan agak keras untuk menghadapi serangan Siang-koan Kie yang hebat itu.

Tak disangka, serangan Siang koan Kie itu, meskipun agak keras, tetapi ia dapat menghadapi segala reaksi lawannya dengan cepat. Ketika menyaksikan Tiat Bok taysu juga menggunukan kekerasan, dengan cepat menarik kembali serangannya, sebaliknya menggunakan tangan kiri untuk menotok.

Tiat Bok taysu juga menggunakan tangan kiri menyambar pergelangan tangan Siang-koan Kie.

Dua orang itu meskipun baru bertempur dua jurus, tetapi sama2 gesit tincah, keduanya sama-sama menggunakan gerak tipu serangannya yang banyak mengandung perubahan.

Siang-koan Kie dengan cepat mengelakkan serangan Tiat Bok taysu kemudian kakinya menendang perut Tiat Bok taysu.

Tendangan itu meskipun nampaknya biasa saja tetapi menimbulkan kesan di luar dugaan bagi lawannya, seolah2 tendangan itu tidak seharusnya diakukan pada saat demikian.

Tiat Bok taysu mengerutkan alisnya, dengan cepat melompat mundur tiga langkah, kemudian melancarkan satu serangan dari jarak jauh.

Serangan itu sangat hebat, kekuatan tanaga dalamnya meluncur keluar dari tangannya itu.

Siang-koan Kie sejak makan obat yang merupakan simpanan kuil Siao-lim Sie, telah melupakan dirinya sendiri. Ia tidak perduli siapa lawannya. Ia sedikitpun tidak merasa takut, juga tidak perduli betapa hebat serangan lawannya, belum pernah ia coba menyingkir. Ketika menyaksikan Tiat Bok taysu melancarkan serangan yang hebat itu, ia segera menyambut dengan kekerasan.

Tiat Bok taysu yang mempunyai latihan lebih lama, membuat Siang-koan Kie terpental, sehingga badannya tergoyang-goyang.

Tetapi Siang-koan Kie yang gagah perkasa, hanya sebentar bergoyang badannya, kemudian maju lagi dan balas menyerang.

Semua mata orang-orang yang ada disitu ditujukan kepada mereka, seolah-olah sangat tertarik oleh pertempuran yang jarang terlihat itu.

Orang berjubah hijau itu agaknya menaruh perhatian istimewa terhadap setiap gerakan Siang-koan Kie. Sepasang matanya terus ditujukan kepadanya.

Dalam pertempuran sengit itu. tiba-tiba terdengar suara memuji nama Budha keluar dari mulut Tiat Bok Taysu kemudian disusul oleh satu serangan dengan totokan jari tangan.

Totokan yang digunakan oleh padri tua itu adalah ilmu totokan Kim-kong-cie, salah satu ilmu simpanan ampuh dari tujuhpuluh dua macam ilmu simpanan kuil Siao-lim Sie.

Tiat Bok Taysu mempunyai kekukuatan sudah sempurna. Ilmunya itu itu sudah dilatih selama tiga puluh tahun. Kekuatan serangan jari tangan itu dapat menembus batu atau legam.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan itu, tanpa dirasa sudah berdiri alisnya, bibirnya bergerak-gerak, tetapi tiada perkataan yang keluar dari mulutnya. Ia mendadak kuatirkan diri pemuda itu, sehingga hampir mengeluarkan jeritan.

Tetapi sejak kanan-kanak, ia hidup dalam suasana penuh rahasia, sehingga mempunyai kekuatan mengendalikan perasaannya melebihi manusia biasa. Suara jeritan menghambur keluar dari mulutnya dapat dicegah lagi.

Siang-koan Kie gesit sekali lompat kesamping dengan badan setengah memutar, ia berhasil mengelakkan serangan tersebut.

Nie Suat Kiao yang tadi merasa khawatir kini diam-diam memuji kepandaian pemuda itu.

Wajah orang berjubah hijau nampak sedikit berubah, jelas ia telah dikejutkan oleh kepandaian Siang-koan Kie yang luar biasa itu.

Tiat Bok taysu yang tak berhasil dengan serangannya, segera bergerak maju satu langkah. Ia tidak memberikan kesempatan bagi Siang-koan Kie balas menyerang dengan beruntun ia lancarkan dua kali serangan.

Siang-koan Kie yang harus mengelakkan serangan hebat tadi, terpaksa kehilangan kesempatannya untuk merebut posisi, sehingga hanya selalu bisa mengikuti gerakan lawannya, ketika diserang secara beruntun ia terpaksa menangkis dengan kedua tangannya.

Padri tua yang biasanya tidak menggunakan tangan besi, agaknya sudah marah benar2. Setiap gerangannya tidak menaruh belas kasihan lagi.

Auw-yang Thong yang sudah lama mendengar nama dan kedudukan Tiat Bok Taysu didalam gereja Siauw-lim-sie maka ia menaruh perhatian besar terhadap kepandaiannya.

Dalam waktu yang sangat singkat pertempuran itu sudah berlangsung hampir lima puluh jurus. Serangan Tiat Bok taysu yang hebat memang mengagumkan Auw-yang Thong, tetapi kepandaian Siang-koan Kie yang sangat aneh dan gerak badannya yang sangat gesit lincah terutama usianya yang masih muda sekali, lebih menarik perhatiannya.

Tiat Bok taysun yang sudah berhasil merebut posisi baik, tetapi masih belum berhasil memaksa Siang-koan Kie menyerah atau terluka, lama kelamaan sebaliknya posisi perlahan2 direbut oleh Siang-koan Kie.

Orang berjubah hijau itu yang agaknya sudah tidak sabar menghentikan pertempuran itu.

Tiat Bok taysu yang lebih dulu menghentikan serangannya, melompat keluar dari kalangan.

Siang-koan Kie hendak mengejar, tetapi dicegah oleh Nie Suat Kiao dan menyuruh mengundurkan diri kesampingnya.

Gadis itu agaknya sudah melihat gelagat tidak baik. Orang berjubah hijau itu agaknya sudah bertekat hendak membunuh Siang-koan Kie, sebab sepasang matanya terus ditujukan kepada pemuda itu.

Gadis itu sudah lama mengikuti Kun-liong Ong, mengetahui benar watak dan tabiatnya. Hanya dari sepasang matanya itulah yang dapat dikelabui apa yang sedang dipikirkan ayahnya.

Orang berjubah hijau itu ketika menyaksikan Siang-koan Kie berdiri dibelakang Nie Suat Kiao, untuk sementara benar2 tidak berdaya turun tangan, maka ia alihkan pandangan mata ke arah Tiat Bok taysu.

Tiat Bok taysu berkata sambil tertawa dingin “Murid murtad yang durhaka, apakah kau ingin bertempur dengan lolap?".

“Kau masih belum dapat menandingi aku. Kalau tidak percaya kau beleh coba menyerang aku beberapa jurus." jawab orang berjubah hijau itu dingin. “Betulkah ada kejadian serupa itu?" berkata Tiat Bok taysu gusar dan segera melompat melancarkan dua kali serangan dengan beruntun.

Orang berjubah hijau itu memperdengarkan suara dari hidungya. Badannya dimiringkan, tangan kiri diletakkan di depan dada, tangan kanan menyanggah keatas.

Serangan tangan kiri Tiat Bok taysu yang di lancarkan lebih dulu. Ketika berada didekat badan orang terjubah hijau itu, tiba2 merandek dan kekuatan tenaga dalam yang terkandung di jari tangannya itu dengan cepat meluncur keluar dan menyerang depan dada orang berjubah hijau itu. Sedangkan tangan kirinya bergerak dari samping menyerang pergelangan tangan lawan.

Tangan kiri orang berjubah hijau dengan mendadak diputar menjambat tangan kiri Tiat Bok taysu, sedang lima jari tangan dipentang juga menyambar jalan darah lawan.

Gerakan dua orang itu benar2 menggunakan taktik dan kekuatan serta tipu2 yang aneh. Agiknya keduanya sama2 mengandung maksud hendak mengadu kekerasan. Tangan kiri Tiat Bok taysu yang mengandung kekuatan hebat itu kemudian didorong maju.

Terlebih dulu terasa beradunya dua kekuatan kedua kalinya. Kuda2 Tiat Bok taysu agak tergoncang. Badannya tergoncang dua kali.

Orang berjubah hijau itu hanya tergoncang pundaknya, tetapi kedua pihak masih sama2 dapat mempertahankan kedudukannya masing2.

Ketika mengadu kekuatan untuk kedua kalinya, tempat dimana dua lawan itu berpijak, nampak melesak sedalam satu chun. Tangan kiri kedua orang itu menempel satu sama lain, hingga badan dua orang yang berhadapan itu dengan sendirinya nampak miring.

Karena pengaruh tangan kirinya yang saling menempel, mengadu kekuatan tenaga dalam itu sehingga tangan kanan masing2 hendak menyambar pergelangan tangan sudah tidak berhasil semuanya.

Ini kembali ada suatu pertempuran luar biasa yang jarang tampak. Dengan tangan kiri kedua pihak saling menempel tetapi tangan kanan saling dengan segala gerak tipu yang aneh2

Karena jarak pertempuran dekat sekali, serangan tangan kedua pihak dapat menjangkau jalan darah penting lawannya, hingga dapat menambah bahaya bagi mereka.

Auw-yang Thong dan Nie Suat Kiao semua, menunjukkan perhatiannya kepada dua orang itu.

Serangan tangan kanan kedua pihak, perlahan-lahan mulai lambat gerakannya. Agaknya dua orang itu sama2 merasakan hampir kehabisan tenaga.

Sebentar kemudian hanya terdengar suara nafas mereka yang sudah mulai memburu. Di atas kepala Tiat Bok taysu yang licin, juga sudah mulai keluar keringat.

Sebaliknya dengan orang berubah hijau itu, meskipun tampaknya juga memburu, tetapi tidak tampak mengeluarkan keringat.

Jelaslah sudah bahwa dalam pertempuran mengadu tenaga dalam itu, orang berbaju hijau itu sudah berada diatas angin.

Keringat diatas kepala Tiat Bok taysu makin mengucur deras, wajahnya juga sudah berubah pucat.

Auw yang Thong yang menyaksikan keadaan itu diam-diam merasa cemas. Pikirnya: “Tiat Bok taysu adalah seorang kenamaan. Kalau aku turun tangan menggantikan dia, mungkin dia tidak akan menerima, tetapi keadaannya sudah jelas. Apabila tidak diganti, nampaknya ia sudah tak sanggup bertahan lagi”

Otaknya bekerja keras, tetapi untuk sementara ia tidak dapat mengambil keputusan.

Tiba-tiba orang berjubah hijau itu badannya mendoyong kedepan, tangan kirinya yang menempel dengan tangan Tiat Bok taysu juga di dorong maju setengah kaki.

Badan Tiat Bok taysu bergerak sebentar tapi badan itu akhirnya terdesak mundur dua kaki oleh lawannya.

Keadaan semakin jelas. Tiat Bok taysu kedudukannya bertambah buruk. Apabila tidak di ganti dengan segera, setiap saat bisa kehabisan tenaga dan mungkin dapat membawa akibat kematian.

Menghadapi kejadian yang sangat gawat itu, Auw-yang Thong sudah tidak dapat memikirkah nama baik Tiat Bok taysu lagi. Sambil mengeluarkan suara batuk2 ia menghampiri Tiat Bok taysu.

Orang berjubah hijau yang tadi memperhatikan perubahan wajah Tiat Bok taysu, tiba2 alihkan perhatiannya kewajah Auw-yang Thong. Dengan mengeluarkan suara dari hidung, tangan kirinya tiba-tiba mendorong lagi.

Tiat Bok taysu yang sudah payah keadaannya, bagaimana sanggup menerima pukulan itu. Ia mengeluarkan seruan tertahan, darah hidup menyembur keluar dari mulutnya, badannya rubuh kebelakang.

Untung Auw-yang Thong tiba pada saat tepat. Ia mengulur tangan kanannya menekan belakang punggung Tiat-bok Taysu. Hawa panas meluncur keluar terus masuk ketubuh Tiat-bok Taysu melalui jalan darah Beng-bun-hiat. Tiat-bok Taysu yang memang sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya, begitu mendapat Auw-yang Thong ia bisa bangun lagi.

Orang berjubah hijau menampak korban ditolong oleh Auw- yang Thong, seketika itu naik darah. Katanya sambil tertawa dingin: “Tadi aku sudah suruh kalian berdua maju berbareng. Tak disangka kalian hendak mempertahankan derajat sendiri. Apakah sekarang tidak agak terlambat?”

Auw-yang Thong tidak menghiraukan hinaan itu. Dengan perlahan tangannya menepok jalan darah Beng bun hiat Tiat Bok taysu dan berkata dengan suara perlahan: “Losiancu paling penting jagalah kesehatan badanmu baik2. Jangan sampai terpancing oleh mulut jahat, sehingga siancu menggunakan banyak tenaga”

Setelah itu dia maju dua langkah berada dimuka Tiat bok taysu.

Orang berjubah hijau itu mengulur tangan kanannya. Dengan dua jari tangan menotok kedepan dada Auw-yang Thong.

Auw-yang Thong sudah menyaksikan kekalahan Tiat bok taysu, mana ia berani gegabah, dengan mengebaskan tangan kiri, ia membacok pergelangan tangan orang berjubah hijau itu.

Orang berjubah hijau itu tarik kembali tangan kirinya.

Sambil tertawa dingin, kemudian menyerang lagi.

Karena gerakan itu dilakukan demikian cepat, sehingga Auw-yang Thong terpaksa melompat mundur tiga langkah.

Serangan orang berjubah hijau itu mendadak berubah. Ia melancarkan serangan hebat dengan kedua tangannya.

Serangan itu dilakukan dengan beruntun, Auw-yang Thong tidak berhasil menemukan tempat luang dari serangan yang cepat itu, maka ia hanya dapat menangkis saja. Tiat Bok Taysu yang masih mengatur pernapasannya, diam-diam telah berpikir: “kepandaian yang digunakan oleh murid durhaka ini ternyata tidak menggunakan kepandaian golongan Siao-lim-sie. Tetapi semua gerak tipu yang digunakan sangat aneh. Entah dia dapat belajar dari mana? Apakah aku salah melihat orang?”

Ketika ia angkat muka, orang berjubah hijau itu kembali sudah bertarung dengan Auw-yang Thong. Pertarungan itu sengit sekali. Serangan kedua pihak semua merupakan serangan ganas yang setiap saat bisa minta korban.

Auw-yang Thong yang berkepandaian tinggi dan berotak cerdas, ditambah dengan pengalaman menghadapi musuh tangguh. Dalam pertimbangan dan perhitungannya untuk menilai kekuatan lawan, mempunyai pandangan yang cepat. Tadi ia sudah menyaksikan kepandaian orarig berjubah hijau yang sudah dapat menjatuhkan Tiat-bok Taysu. Ia mengerti apabila ia menggunakan seluruh kekuatan tenaganya untuk mengadu kekerasan dengan orang itu, mungkin dapat menghabiskan tenaga lawan yang tadi sudah digunakan untuk menghadapi Tiat Bok taysu, tetapi itu bukanlah suatu siasat yang paling baik, sebaiknya ia terus bertahan untuk mengetahui gerak tipu ilmu silat yang digunakan oleh orang itu. Dari ilmu silatnya mungkin dapat diketahui asal-usul golongannya.

Pikiran itu meskipun baik, tetapi perhitungannya terhadap kekuatan lawannya ternyata meleset. Orang berjubah hijau itu terus menghujani dirinya dengan berbagai serengannya yang hebat dan aneh-aneh. Serangan itu termasuk serangan ilmu silat Siao-lim-sie, Bu-tong pay, Kun-luu-pay dan lain2...

Gerakan tipu serangan aneh yang tidak hubungan satu sama lain ini, ternyata dapat digunakan oleh orang berjubah itu dengan sebaik-2nya

Jelaslah sudah bahwa orang itu mahir betul berbagai ilmu silat dari berbagai golongan itu. Auw-yang Thong yang semula hendak menyelidiki asal usul dari kepandaian ilmu silat itu sebaliknya telah didesak oleh serangan lawannya sampai sedemikian rupa, sehingga mau tidak mau memberikan perlawaaan dengan sepenuh tenaga.

-odwo-

Bab 51

DUA ORANG ita sudah bertempur kira2. Meski diluarnya masih belum diketahui siapa yang lebih unggul, tetapi itu berarti si Pangcu sudah terdesak. Dia bukan saja tidak berhasil menemukan ciri ilmu silat yang digunakan oleh orang itu, bahkan sudah disibukkan oleh serangan aneh-aneh yang dilancarkan oleh orang itu.

Selama hidupnya entah berapa banyak orang kuat yang sudah dihadapi oleh Auw-yang Thong tetapi belum pernah menghadapi musuh tangguh seperti hari ini. Ia merasa bahwa setiap serangan musuhnya seolah olah menggunakan bahyak tenaga dan pikirannya untuk menghadapinya. Ada kalanya karena terpaksa, ia harus menggunakan taktik keras lawan keras.

Tetapi orang berjubah hijau itu agaknya bermaksud hendak mempermainkan dirinya. Kalau dilihat melawan kekerasan, segera kembali serangannya. Sebaliknya menyerang dengan tangan yang lain selalu tidak memberi kesempatan baginya untuk beristirahat.

Pertempuran berlangsung limapuluh jurus lagi. Auw-yang Thong telah menemukan musuh tangguh yang belum pernah dihadapinya. Ia juga mengerti apabila pertempuran itu berlangsurg terus, baginya tidak ada kesempatan untuk merebut kemenangan.

Tetapi dia adalah seorang sangat cerdik. Tidak seperti Tiat Bok taysu yang jujur, ketika mengetahui musuhnya tidak dapat ditundukkan dengan kekuatan, segera merubah siasatnya. Ia menutup rapat dirinya dan tidak melakukan serangan terhadap musuhnya.

Nie Suat Kiao meskipun sudah tahu bahwa ayah angkatnya itu berkepandaian sangat tinggi tetapi selama itu belum pernah menyaksikan ayahnya berkelahi dengan orang. Maka hari ini mi ketika menyaksikan ayahnya, benar saja memang luar biasa. Apabila pertandingan dilangsungkan, tidak sampai seratus jurus, Auw-yang Thong pasti kalah.

Orang berjubah hijau itu, meskipun sudah membayangkan kemenangannya, tetapi Auw-yang Thong yang mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sempurna, lagi pula sudah banyak pengalamannya menghadapi musuh kuat, meskipun menghadapi musuh seperti ia, namun gerak tipunya serangannya sedikitpun tidak kalut. Apalagi setelah merubah siasat, dirinya tertutup sangat rapat.

“Kau sudah tidak berdaya. kalau tidak mau menyerah, segera terluka dibawah tanganku." Berkata orang berjubah hijau itu dingin.

Tetapi Auw-yang Thong tidak menghiraukan ejekan orang itu, ia ganda dengan satu senyuman hambar.

Orang berjubah hijau itu lalu berkata kepada Nie Suat Kiao: “Selagi padri itu masih belum pulih kembali kekuatan tenaganya, kau bawa ia menyerang. Tidak perduli dengan cara apapun yang penting kau harus berhasil menjatuhkannya. Lekas  bertindak."

Nie Suat Kiao terima baik perintah ayah angkatnya, sambil menggapaikan Siang-koan Kie, ia menyerbu Tiat Bok taysu.

Siang-koan Kie yang bergerak belakangan, tetapi serangannya sampai lebih dulu. Dengan satu gerak tipu mendaki gunung melangkah laut menyerang dada Tiat Bok taysu. Sedangkan Nie Suat Kiao yang menyerang dari samping, serangannya ditujukan kebagian iga kanan. Tiat Bok taysu yang sedang mengatur pernapasan, ketika melihat serangan hebat kedua orang itu, terpaksa menghentikan usahanya dan menyambut serangan dua orang itu.

Siang-koan Kie masih tetap dengan serangannya yang ganas. Serangan itu seolah olah gempuran barang berat. Gempuran dirasakan hebat sekali oleh Tiat Bok taysu.

Serangan dua orang itu, kekuatannya tidak di bawah orang berjubah hijau itu. Tiat Bok tay su yang belum pulih kembali kekuatannya, baru sepuluh jurus, sudah merasa berat.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara seruling mengalun di udara.

Siang-koan Kie yang sedang menyerang hebat, ketika mendengar suara seruling itu, tiba-tiba terkejut dan menghentikan serangannya.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan Tiat Bok tay sudah akan jatuh, mendadak Siang koan Kie menghentikan serangannya, maka ia segera perintahkan supaya ia menyerang lagi.

Mata sayu Siang-koan Kie berputaran dua kali, menatap wajah Nie Suat Kiao, sebentar kemudian ia menggeleng- gelengkan kepala, tiba-tiba memutar tubuhnya dan lompat menerjang orang yang berjubah hijau itu. Tinjunya digunakan menyerang orang itu.

Dengan sangat marah orang berjubah hijau itu membentak sambil menangkis serangan tersebut.

Siang-koan Kie yang tidak berhasil dengan serangannya, segera menggunakan kaki dan tangannya untuk melancarkan serangannya lagi.

Auw-yang Thong dengan kedudukannya sebagai seorang pemimpin, ketika menyaksikan Siang-koan Kie menyerbu dan menyerang hebat orang berjubah hijau itu, terpaksa menghentikan serangannya dan mundur kebelakang.... Dalam alam pikirannya, Siang-koan Kie terang bukanlah tandingan orang berjubah hijau itu, maka ia masih tetap waspada untuk turun tangan setiap waktu diperlukan.

Setelah Siang-koan Kie berbalik menyerang orang berbaju hijau itu, bahaya yang mengancam Tiat Bok taysu, seketika lalu berkurang. Meskipun tenaganya belum kembali seluruhnya, tetapi karena kesempurnaan keadaan fisiknya, ia masih bisa bertempur dengan Nie Suat Kiao sambil mengatur jalan pernapasannya. limabelas jurus kemudian, ia sudah berhasil memperbaiki kedudukannya dan melakukan serangan pembalasan. Padri tua yang biasanya berlaku kasih sayang agaknya sudah memahami situasi pada hari itu. Jikalau ia tidak menggunakan tangan kejam untuk menjatuhkan musuhnya, pasti dirinya sendiri yang akan dirobohkan, maka ia tak berlaku sungkan lagi terhadap lawannya. Tangan kanannya menggunakan ilmu silat Lo-han Ciang dari golongan Siao-lim sie yang terkenal kerasnya, tangan kirinya menantikan kesempatan untuk melancarkan serangan dengan jari tangannya Kim Kong-cie, dua tiga jurus lagi. Keadaa telah terbalik, ia sudah berhasil mendesak Nie Suat Kiao hampir tak bisa berkutik.

Dilain pihak orang berjubah hijau yang bertempur dengan Siang-koan Kie, perlahan juga mulai seru.

Orang berjubah hijau meskipun banyak pengetahuannya tentang ilmu silat barbagai golongan. Tetapi ilmu silat yang digunakan olah Siang-koan Kie terdiri dari ilmu silat campuran berbagai golongan, terutama kelincahan gerak badannya, disesuaikan begitu rupa dengan setiap serangan. Setiap melancarkan serangan badannya juga bergerak, sehingga sang lawan menjadi repot untuk menghadapi serangan yang aneh itu.

Auw-yang Thong yang menyaksikan dua orang itu bertempur sudah tiga puluh jurus tetapi masih tetap dalam keadaan begitu juga, tiada yang menang dan yang kalah, hingga diam2 merasa heran. Pikirnya entah dari golongan mana pemuda ini, mengapa dapat mengimbangi kepandaian orang berjubah hijau ini.

Suara seruling yang mengalun di udara, tiba2 berubah, dari perlahan berubah menjadi cepat, seolah-olah mengandung irama dalam medan pertempuran.

Serangan Siang-koan Kie juga berubah cepat mengikuti irama seruling itu, serangan itu nampak semakin hebat.

Sejak saat itu keadaan pertempuran telah mengalami perubahan besar. Siang-koan Kie meskpun belum ada tanda2 bisa menjatuhkan lawan, tetapi untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah, masih memerlukan waktu yang sangat panjang. Sebaliknya dengan Tiat Bok taysu, karena dengan beruntun, menggunakan ilmu simpanan golongan Siao-lim-sie, ia telah berbasil menguasai keadaan.

Selagi pertempuran berjalan dengan sengitnya, orang berjubah hijau itu tiba2 lompat mundur sambil berseru:

“Tahan...!"

Siang-koan Kie hanya mengunjukkan sikap tak wajar, kemudian menyerang lagi

Orang berjubah hijau itu dengan satu serangan yang mengandung kekuatan tenaga dalam sangat hebat menahan serangan Siang-koan Kie, kemudian berseru kepada Nie Suat Kiao: “Kiao jie, lekas mundur!”.

Nie Suat Kiao meskipun sudah keteter, tetapi ia masih bisa memberi perlawanan. Ketika mendengar seruan orang berjubah hijau itu, segera ia melompat mundur kesamping orang berjubah hijau itu.

Tiat Bok taysu meskipun sudah berhasil menguasai keadaan, tetapi belum berhasil menjatuhkan lawannya, maka ia juga tak mengejar. Hanya Siang-koan Kie yang tetap galak, dengan secara ganas ia menyerbu orang berjubah hijau itu.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan keadaan demikian, segera mengerutkan alisnya dan menahan Siang-koan Kie seraya berseru:

“Tahan!”

Tetapi Siang-koan Kie yang sedang melancarkan serangannya, bagaikan seorang gila, tidak menghiraukan seruan Nie Suit Kiao, sehingga mau tidak mau Nie Suat Kiao terpaksa menyambut serangan pemuda itu.

Tak disangkanya serangan Siang-koan Kie demikian hebat. Nie Suat Kiao yang menyambut serangan itu terpental mundur tiga langkah.

Orang berjubah hijau itu mundur selangkah dan berkata dengan suara perlahan: “Kau pancing dia melakukan serangan”

Nie Suat Kiao tahu benar keganasan ayah angkatnya itu. Ia perintahkan dirinya memancing Siang-koan Kie turun tangan, terang sekali sudah bermaksud hendak melukai pemuda itu dengan menggunakan kesempatan itu. Maka seketika itu ia terkejut, tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Siang-koan Kie yang sudah lama berada bersama2 dengan Nie Suat Kiao. Meskipun pengaruh obat sudah melupakan dirinya, tetapi dalam pikirannya, dengan tanpa dirasa, terbayang suara dan senyuman Nie Suat Kiao. Ketika menyaksikan Nie Suat Kiao terpental mundur oleh serangannya, seketika itu juga tertegun.

Pada saat itu, suara seruling itu mendadak berhenti. Dengan berhentinya suara seruling itu, pikiran Siang-koan

Kie yang mulai agak jernih, balik kembali seperti orang linglung. Orang berjubah hijau itu karena Nie Suat Kiao tidak menurut perintahnya, kekuatan tenaga yang telah disiapkan untuk membinasakan Siang-koan Kie, tidak dapat dilancarkan. Ia hanya mengawasi Nie Suat Kiao sejenak dengan perasaan gemas....

Pada saat itu, itu, dari beberapa pohon besar, sawah ladang dan gerombolan alang2 yang ada disekitar itu, muncul beberapa puluh orang. Orang2 itu membawa berbagai jenis senjata tajam. Dibelakang punggungnya masing terdapat sebuah bungkusan kuning yang mungkin juga menyimpan senjata.

Orang berjubah hijau itu melihat orang2 itu tidak segera maju, sebaliknya masing2 berdiri ditempat masing, merupakan suatu jaring mengurung dirinya. Mereka itu ternyata berjumlah Empat puluh deiapan orang.

Auw-yang Thong lalu berkata sambil tertawa, “Kun-liong Ong ”

Orang berjubah hijau itu hanya memperdengarkan suara dihidung, tidak memberi jawab.

Auw-yang Thong yang agaknya hendak meneriaki Kun- liong Ong, melanjutkan perkataannya: “Kududukan tuan sudah jelas. Sekalipun tuan berlagak tuli berpura2 gagu, juga tidak dapat menutupi kedudukanmu."

Mata orang berjubah hijau itu berputaran memperhatikan keadaan sekitarnya. Terhadap ucapan Auw yang Thong se- olah2 tidak mendengar.

Auw-yang Thong tersenyum dan berkata pula: “Sekarang ini kau sudah berada dalam kepungan rapat, tidak perduli kau siapa, juga sulit meloloskan diri.''

“Barangkali kau belum tentu dapat menyulitkan aku," menjawab orang berjubah hijau dingin. “Nama empatpuluh delapan pasukan berani mati golongan pengemis, kiranya kau juga sudah pernah dengar bukan?"

“Itu hanya pasukan dari segala manusia-manusia kecil yang tidak ada namanya, bagaimana kalau mereka dibandingkan dengan kepandaianmu”

“Jikalau mereka disuruh melawan kau satu lawan satu, aku juga tahu mereka bukan tandinganmu. Tetapi apabila empat puluh delapan orang menghadapi dengan bersama, kau barangkali juga tidak sanggup melawan mereka”.

“Merubuhkan satu diantaranya dapat mempengaruhi seluruh pasukan, mereka turun tangan semua juga belum tentu dapat menggertak aku”

“Empatpuluh delapan orang gagah pasukan berani mati ini, mereka selalu bertempur berbareng. Dengan cara mereka bertempur itu juga bukan terhitung mengerubut musuh dengan jumlah banyak "

Dalam hati orang berjubah hijau itu agaknya hanya merasa khawatir terhadap Siang-koan Kie. Dengan sinar mata dingin mengawasi kepadanya sejenak, lalu berkata kepada Nie Suat Kiao: “Apabila ia melancarkan serangan dengan berbareng, kau hadapi sendiri padanya, yang lainnya biarlah aku yang menghadapi sudah cukup”

“Ia biasa menurut perintah anak, entah apa sebabnya, sekarang mendadak tidak dengar perintah lagi?” berkata Nie Suat Kiao.

“Itu adalah gara-garanya suara seruling tadi. Kau harus berlaku hati-hati. Aku khawatir kena pengaruh suara seruling itu, barangkali ia tidak akan mengenal kau lagi."

“Anak mengerti."

Pada saat itu lingkaran empatpuluh delapan orang pasukan berani mati, per-lahan2 dipeketat mengurung dua orang itu. Orang berjubah hijau itu berkata kepada Nie Suat Kiao dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga: “Pertempuran hari ini, tidak perduli siapa yang kalah dan siapa yang menang, akan merupakan pembunuhan hebat. Jika kau membawa senjata, boleh kau gunakan untuk menghadapi musuh. Bala bantuan kita paling cepat satu jam lagi baru bisa sampai. Selama waktu harus bertahan terus untuk melewati masa yang sulit ini. Jikalau kau membekal senjata berbisa, kau boleh gunakan sesukamu, biar menentukan kekuatan kedua pihak."

“Anak menurut!”

Orang berjubah hijau itu mengawasi keadaan sekitarnya, tiba2 ia mundur dua langkah seraya berkata:

*Pa hari ini akan merupakan suatu hari,rjtuk

“Lekas cari tempat yang dibelakangnya ada dibuat sandaran. Barisan yang mereka gunakan ini dinamakan barisan Kiu-kiong-tin yang mengandung banyak perubahan2 aneh”

“Jalan mundur sudah terpegat oleh mereka" berkata Nie Suat Kiao.

Orang berjubah hijau itu agaknya sudah di kejutkan barisan itu. Ia tidak berani berlaku gegabah dan sombong seperti dulu lagi. Biji matanya terus berputaran, agaknya sedang mencari bagian yang paling lemah dari barisan itu, supaya mudah diserangnya.

Auw-yang Thong berkata dengan suara nyaring: “Kecuali empat puluh delapan orang pasukan berani mati, masih ada lagi ratusan anak buah kita yang terdidik baik, yang bersembunyi di sekitar tempat ini untuk merintangi bala bantuanmu”

“Barisan Kiu-kiong tin yang tak ada artinya ini, apa mereka bisa berbuat terhadapku Namun demikian, dalam hati orang berjubah hijau itu diam2 sangat khawatir. Ia mengerti bahwa pasukan berani mati pasti hasil ciptaan dan didikan Teng Soan. Bahkan barisan itu se-mata2 ditujukan kepada dirinya. Selain daripada itu, mungkin masih ada lain cara yang akan digunakan untuk mempersulit kedudukannya sendiri...

Auw-yang Thong ketika mendengar orang itu dapat menyebut nama barisannya, diam2 juga terkejut dan mengagumi kepandaian orang jubah hijau itu.

Untuk sesaat lamanya, kedua pihak saling bungkam.

Nie Suat Kiao menggunakan kesempatan dari dalam sakunya mengeluarkan sepotong tangan, digenggam dalam tangannya.

Setelah hening beberapa lama, Auw-yang Thong berkata sambil menggapaikan tangannya kepada orang berjubah hijau itu: “Kun-liong Ong...”

“Tidak usah kau menunjukkan sikap ramah. Kau boleh perintahkan anak buahmu menggerakkan barisan ini.'' jawab Kun-iiong Ong dingin.

“Kau bisa menyebutkan nama barisan ini, sudah tentu tahu kemujijatannya. Barisan ini apabila sudah bergerak, segera melancarkan terus menerus tanpa putus. Kalau bukan kau yang terluka, tentunya empat puluh delapan orang yang akan binasa seluruhnya. Oleh karena itu, maka sebelum barisan itu digerakkan, aku ingin menerangkan beberapa kata lebih dahulu." Berkata Auw-yang Thong sambil tertawa.

Orang berjubah hijau itu agaknya digerakkan hatinya oleh Auw-yang Thong, setelah berpikir sejenak lalu berkata: “Kau hendak berkata apa?”.

Dengan sinar mata yang tajam, Auw-yang Thong mengawasi wajah orang berjubah hijau, katanya: “Meskipun kau tidak mengakui dirimu Kun-liong Ong, tetapi kenyataan telah membuktikan bahwa dugaanku itu tidak akan salah”

“Kalau ya mau apa?'' berkata orang berbaju ijau itu tertawa dingin.

“Dalam rimba persilatan setiap generasi muncul orang2 yang berkepandaian luar biasa. Tetapi selama beberapa ratus tahun ini ada berapa orang yang dapat menguasai rimba persilatan? Kau dengan mengandalkan pengaruh obat, telah mengumpulkan banyak orang kuat rimba persilatan untuk mengabdikan diri kepadamu, sehingga membuat nama Kun- liong Ong, menjadi suatu mitos yang misterius didalam rimba persilatan”

Orang berjubah hijau itu berkata dengan suara gusar: “Bolak balik kau selalu mengeluarkan perkataan yang tidak karuan juntrungannya...”

Berkata sampai disitu, ia mendadak mengeluarkan suara keras, serentak dengan itu tangannya juga bergerak menyerang Auw-yang Thong.

Auw-yang Thong dengan gagah menyambut serangan orang berjubah hijau itu.

Oleh karena kedua pihak sama-2 mengerahkan seluruh kekuatan, orang berjubah hijau itu terpental mundur satu langkah, tetapi ia menggunakan kesempatan itu kakinya menggeser ke suatu tempat yang merupakan segitiga dengan kedudukan Nie Suat Kiao dan Siang-koan Kie.

Auw-yang Thong yang menyambut serangan orang berjubah hijau itu, lalu melompat mundur satu tombak lebih karena ia khawatir akar merintangi gerak perobahan barisannya.

Suara orang berjubah hijau yang biasanya dingin, tiba2 berobah lemah lembut, berkata kepada Nie Suat Kiao, “Kiao jie, kau coba masih dapat menguasai hati dan pikiran pemuda itu atau tidak?"

“Anak sudah siap. Apabila sudah tidak bisa menguasai dirinya, terpaksa menggunakan obat puyer yang dapat merengggut jiwa orang dalam waktu lima hari untuk menghadapi dia” berkata Nie Suat Kiao

Orang berjubah hijau itu agaknya merasa puas terhadap jawaban Nie Suat Kiao. Wajahnya yang dingin tersungging satu senyuman, demikian berkata, “Itu bagus. Beberapa adikmu, semua menggangap aku terlalu sayang terhadap dirimu. Hari ini aku telah membuktikan bahwa pandangan dahulu terhadapmu tidak salah”.

“Anak telah menerima budi ayah, bagaimana berani tidak membalas budi itu!" berkata  Nie Suat Kiao.

Orang berjubah hijau itu mengeluarkan suara batuk2 ringan, memperingatkan Nie Suat Kiao supaya berlaku hati2 kemudian berkata: “Sekarang ini kita sudah terkurung dalam barisan Kiu kiong tin, perubahan2 gerakan barisan ini tidak mengherankan, tetapi barisan yang dicampur dengan ilmu gaib, jauh berlainan keadaannya dengan barisan Kiu-kiong-tin biasa..."

“Ayah berpengetahuan sangat luas, apakah terhadap barisan ini....” berkata Nie Suat Kiao. Ia sebetulnya hendak mengatakan apakah ayahnya sudah tidak sanggup memecahkan barisan itu, tetapi belum sampai dikeluarkan, tiba2 merasa tidak patut, maka lalu diurungkannya.

“Kau coba dulu pemuda itu masih bisa dikendalikan atau tidak. Kalau masih dapat digunakan, gunakanlah. Apabila sudah tidak dapat dikendalikan lagi, singkirkan saja supaya tidak menjadikan beban kita."

Nie Suat Kiao diam-diam menghela napas. Ia mengacungkan tangannya menggapai Siang-koan Kie sambil berseru: "kemari” Mata Siang-koai Kie yang tidak bercahaya mengawasi tangan Nie Suat Kiao, kemudian berjalan menghampiri.

Nie Suat Kiao seolah2 terbebas dari tanggung jawab berat, setelah menarik napas lega ia berkata: “Sukurlah, ia masih dapat anak kendalikan."

“Kalau kau masih dapat kendalikannya, lekas suruhlah ia balik ketempatnya. Kita melawan musuh dari tiga bagian" berkata orang berjubah hijau itu.

Nie Suat Kiao lalu menggerakan tangannya menyuruh Siang-koan Kie balik ketempat semula.

Siang-koan Kie pada saat itu benar saja selalu menurut perintah Nie Suat Kiao, ia melompat balik ketempatnya semula.

Orang berjubah hijau itu berkata: “Pada babak permulaan, barisan Kiu-kiong tin ini akan membuka serangannya bagaikan menyerbunya ombak air laut. Serangan itu meskipun mengejutkan, tetapi apabila kita bisa menghadapinya dengan tenang, tidak sukar untuk melalui saat yang hebat ini. Kita masing2 berpijak kepada tempat sendiri, kita harus saling mengerti untuk menyambut serangan musuh..."

Belum selesai ucapannya, barisan itu sudah bergerak menerjang.

Semula tiga batang tombak menikam tiga orang itu.

Orang berjubah hijau mengelakkan serangan itu dengan tangan kiri, tangan kanan balas menyerang penyerangannya.

Tetapi penyerang itu sudah melompat minggir kekiri, mengelakkan serangan orang berjubah hijau

Nie Suat Kiao tiba2 melompat kesamping mengelakkan tikaman yang datang dari lawannya. Belum lagi ia membalas, penyerangnya sudah melompat kesamping. Sebaliknya dengan Siang-koan Kie, ia telah menggunakan ilmu merebut senjata musuh dengan tangan kosong. Dengan tangan kirinya ia menyambar tombak yang menikam dirinya.

Penyerang itu agaknya dengan tujuan tidak mesti mengenakan sasarannya, sebab setelah melancarkan serangannya, segera melompat kesamping. Tetapi setelah penyerang pertama menyingkir datang menyusul lagi penyerang lain dengan menggunakan dua batang tombak.

Orang berjubah hijau tiba-tiba berseru: “Kiao-jie lekas minggir kesamping kiri."

Nie Suat Kiao menyabat sambil berkelit mengelakkan serangan dua tombak, lalu melompat ke samping kiri orang berjubah hijau.

Kedudukan segitiga yang semula, dengan adanya perubahan itu, kini telah berubah menjadi, Siang-koan Kie seorang diri yang harus menghadapi serangan dari tiga jurusan dengan seorang diri dibawah serangan musuh.

Nie Suat Kiao mengawasi orang berjubah hijau sejenak, ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kemudian dibatalkan.

Orang berjubah hijau itu berkata sambil tertawa dingin: “Kau nampaknya sangat memperhatikan dirinya!''

Setelah itu dengan kekuatan tenaga tangan kosong ia menangkis dua tombak yang menyerang.

“Pada saat ini kita sedang membutuhkan tenaga orang. Pihak kita hanya tiga orang saja, perbedaan dengan jumlah musuh jauh sekali. Klta lebih satu orang berarti tambah satu tenaga. Meskipun mati hidup anak tidak perlu dihiraukan, tetapi ayah bagaimana boleh menghadapi musuh seorang diri?”' berkata Nie Suat Kiao.

“Tidak apa. Kepandaian bocah itu terdiri dari gabungan intinya kepandaian ilmu silat berbagai golongan. Apabila kita mengeluarkan serangan pada waktu yang tepat untuk membantu dia, tidak nanti ia terjatuh ketangan musuh. Barisan ini, sekarang hanya merupakan serangan permulaan. Sebentar kemudian, pasti akan ada serangan yang lebih hebat. Meskipun ia lebih dulu yang harus menghadapi serangan hebat, tetapi hanya akan mengalami terkejut, tidak ada bahaya. Dalam hidupku, jarang sekali membantu orang benar, tetapi hari ini aku harus membantu ia dengan sepenuh tenaga!"

Sementara itu serangan dari barisan yang aneh itu sudah dimulai dengan gerakan dari berbagai jurusan. Senjata tombak dan golok bergerak maju mengurung lawannya.

Siang-koan Kie berdiri kokoh ditempatnya. Dengan tangan, jari tangan, tinju dan kadang juga kakinya, cepat bagaikan kilat mengelakkan atau menyambut setiap serangan musuhnya.

Orang berjubah hijau itu benar juga membantu Siang-koan Kie dengan sepenuh tenaga. Tangan kanannya dengan ber- tubi2 melancarkan serangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam sangat hebat untuk menahan serangan musuh, sedang tangan kiri melancarkan serangan pembalasan untuk melindungi sayap Siang-koan Kie.

Nie Suat Kiao dengan seorang diri bertahan dibagian belakang, meskipun tugasnya agak berat tetapi tidak mengalami pertempuran dahsyat.

Barisan Kiu-kiong-tiu itu sebetulnya mengutamakan kedudukan defensif. Betapa kuat serangan musuh, selalu dapat dipertahankan tetapi kini telah digunakan untuk melakukan serangan hebat, itu adalah berkat kepandaian Teng Soan yang mengaturnya. Ia bagi barisan itu menjadi dua kelompok, dengan duapuluh empat tenaga menjaga barisan, sedangkan dua puluh empat yang lain bertugas menggempur, apabila serangannya tidak berhasil, harus balik kedalam barisan dengan segera. Dengan cara bergiliran menyerang musuhnya ini, membuat seluruh barisan itu terus berputar tidak berhentinya. Dengan demikian sehingga musuhnya tidak mendapat kesempatan untuk mengaso, juga membuat musuh tidak mengetahui gerakan perubahan itu.

Tetapl yang merupakan cacad yang paling besar itu ialah gerakan yang sangat dahsyat itu hanya bisa dipusatkan kesatu tempat saja. Tidak bisa digunakan untuk menghadapi keseluruhannya.

Dengan demikian maka ini berarti menguntungkan siasat orang berjubah hijau itu. Ia menyuruh Siang koan Kie menghadapi serangan serangan musuh seorang diri, sedang ia sendiri bersembunyi dibelakangnya, sehingga sedikitpun tidak mengalami bahaya.

Auw-yang Thong yang menyaksikan jalannya pertempuran, tiba2 angkat dua tangannya dan menepuk dua kali.

Tujuan serangan barisan itu, tiba2 berubah dan diarahkan kepada orang berjubah hijau.

Siang koan Kie yang habis menghadapi serangan hebat itu, sudah merasakan sangat letih, karena serangan musuh dilancarkan terus menerus tanpa berhenti, hingga ia juga tidak bisa berhenti. Beberapa kali orang berjubah hijau itu mencoba berusaha untuk menyuruh mundur, tapi tidak berdaya sama sekali.

Dengan adanya perubahan mendadak itu, kini orang berjubah hijau itu mau tidak mau harus menggantikan kedudukkan Siang-koan Kie menghadapi musuh yang menyerangnya.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan itu segera membantu ayah angkatnya dengan sepenuh tenaga.

Pada saat itu sebuah tombak bergerak dengan cepat menikam dada Nie Suat Kiao. Orang berjubah hijau yang berada dalam keadaan gawat itu, agaknya timbul perasaan malu. Dengan suara keras ia memperingatkan anaknya “Kiao-ji awas!"

Kemudian mengulur tangan kanannya menyambar tombak yang hendak menikam Nie Suat Kia tadi.

Orang yang melakukan serangan dengan tombak tadi, sebetulnya sehabis melancarkan serangan, ia harus melompat minggir ke samping, Tetapi karena tombaknya tersambar oleh orang berjubah hijau dengan sendirinya badannya mendoyong kedepan.

Karena itu, maka seluruh barisan terhalang serangannya, hingga serangannya itu berubah menjadi perlahan.

Nie Suat Kiao melancarkan dari samping, menyerang orang yang memegang tombak itu. Tanpa ampun lagi orang itu rubuh.

Sebentar nampak berkelebatnya sinar terang. Sebuah golok disodorkan untuk menahan dirinya yang rubuh itu.

Orang berjubah hijau itu berhasil merebut tombak dari tangan orang itu.

Tetapi bersamaan dengan itu, empat batang tombak menyerang dengan serentak, sehingga Nie Suat Kiao dan orang berjubah hijau itu terpaksa melepaskan kesempatan untuk membinasakan musuhnya.

Barisan itu kembali keadaanya, melancarkan kembali serangannya dengan ber-tubi2 bahkan gerakannya nampak semakin lancar. Kadang2 golok dan tombak menyerang serentak, kadang2 empat golok menyerang serentak pada satu bagian disusul dengan serangan senjata tombak.

Pertempuran itu berlangsung kira2 satu jam. Perubahan gerakan barisan itu semakin lama semakin aneh. Nie Suat Kiao meskipun dapat perlindungan ayah angkatnya, tetapi keadaan fisiknya, tidak mengijinkan melakukan pertempuran terus menerus tanpa istirahat itu. Badannya sudah mandii keringat, nafasnya ter-engah2.

Gerakan Siang-koan Kie juga tidak seperti semula ganasnya. Serangannya mulai perlahan.

Diantara tiga   orang itu agaknya hanya orang berjubah hijau itu yang masih mempunyai kesanggupan bertempur lagi. Siang-koan Kie sudah tampak letih sekali, sedangkan Nie Suat Kiao hampir tidak sanggup pertahankan diri.

Tetapi serangan dari barisan itu tetap hebat seperti semula.

Keadaan kini sudah jelas, apabila pertempuran itu berlangsung terus, Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiao pasti akan kehabisan tenaga, se-tidak2nya luka dibawah senjata lawannya.

Yang mengherankan adalah sikap empatpuluh delapan orang dalem pasukan itu, agaknya tiada maksud untuk melukai Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiao. Mereka agaknya ingin melelahkan mereka. Beberapa kali ujung tombak atau golok sudah mendekati badannya, tetapi selalu ditarik kembali.

Pertempuran itu berlangsung lagi kira2 seperempat jam. Nie Suat Kiao yang lebih dulu kepayahan, sehingga ia harus duduk lesu ditanah.

Orang berjubah hijau itu sebetulnya berdiri dibelakang Nie Suat Kiao sambil melancarkan serangannya. Setelah Nie Suat Kiao duduk, dengan sendirinya senjata itu ditujukan kepadanya, tetapi orang berjubah hijau yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sudah sempurna menghadapi semua serangan dengan berani, bahkan melakukan serangan pembalasan dengan hebat. Karena hebat serangan itu, maka serangan musuhnya terdesak sejauh tujuh kakt, tidak berhasil mendekati dirinya. Tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring, “Tahan!"

-odwo-

Bab 52

SERANGAN barisan Kiu-kiong-tin itu serentak berhenti.

Teng Soan yang memakai pakaian berwarna biru dan tangan membawa kipas, berjalan lambat-lambat kedalam barisan.

Ia berhenti didepan orang berjubah hijau sejauh tujuh tombak, dari situ ia angkat tangan memberi hormat seraja berkata: “Ong-ya. ”

Orang berjubah hijau itu mengawasi Teng Soan sejenak kemudian berkata dengan suara dingin: “Apakah kau kira barisan Kiu-kiong-tin yang tidak berarti ini, benar2 dapat mengurung aku?"

“Barisan ini meskipun belum tentu dapat mengurung kau ”

berkata Teng Soan sambil tersenyum, matanya mengawasi Siang-koan Kie dan Nie Suat Kiao sejenak, lalu berkata pula: “Tetapi dua orang pengikutmu ini, rasanya sudah tidak mudah lagi untuk keluar dari barisan ini."

“Sekalipun mereka sudah tiada tenaga bertempur lagi, tetapi dibawah perlindunganku, kalian juga jangan harap dapat melukai mereka. Jikalau kau tidak percaya, coba kau keluarkan perintah!'' berkata orang berjubah hijau itu.

Ia adalah seorang keras kepala, meskipun berada dalam kedudukan betapapun buruknya, tetap tak mau menunjukkan kelemahannya.

“Ada satu hal yang siaotee minta maaf terlebih dulu kepada Ong ya." berkata Teng Soan sambil tertawa hambar. Ia selalu menggunakan perkataan 'Ong-ya’ membahasakan orang berjubah hijau itu, kecuali mengandung arti mencemooh dan menghina, terang juga sudah memutuskan hubungan persaudaraannya.

“Apakah kau merasa bahwa dengan keadaan seperti ini, kau kira sudah pasti menang?" bertanya orang berjubah hijau itu.

“Siaote tidak berani berpikir demikian. Kita berdua bertarung mengadu kecerdikan pikiran. Jikalau salah satu belum ada yang binasa, barangkali sulit untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang”

“Tidak sampai seperempat jam lagi, bala bantuanku sudah akan tiba... ini seharusnya merupakan satu pertempuran total, kalau bukan orang2 golongan pengemis yang akan kehilangan semua orang kuatnya, adalah orang2ku yang akan musnah”

“Sekalipun empatpuluh delapan orang pasukan berani mati golongan pengemis habis seluiubnya, tetapi asal pengorbanan itu dapat menghasilkan ketenteraman rimba persilatan, dengan korban beberapa puluh jiwa tetapi dapat menolong ribuan jiwa manusia, kematian itu masih ada harganya. "

“Sukakah kau dengan ilmu serangan dengan tangan kosong yang dapat mengambil jiwa dalam sepuluh langkah?"

“Meskipun siaote tidak paham ilmu silat, tetapi suhu juga pernah menyebut ilmu kepandaian semacam itu. "

“Bagus kalau kau sudah pernah dengar, dan kau sekarang hanya terpisah sejarak tujuh langkah dihadapanku.”

“Kiri kanan dan belakang diriku, semua adalah orang2 yang melindungi aku, sekalipun kau melancarkan serangan, belum tentu dapat melukai diriku”

Orang berjubah hijau itu perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya, tetapi sebelum melancarkan serangannya, tiba-tiba tampak berkelebatnya bayangan dan laki-laki bersenjata golok, tiba2 sudah menghadang di muka Teng Soan.

Orang berjubah hijau itu dengan kecepatan luar biasa menyambar badan Nie Suat Kiao, kemudian diangkatnya, sedang tangan kirinya dengan cepat menepuk jalan darah beng-bun-hiat dibelakang punggungnya.

Tepukan itu seolah2 memberikan injeksi tenaga dalam badannya. Badan Nie Suat Kiao yang juga letih, tiba2 bergerak dan berdiri tegak.

Teng Soan berkata sambil menarik napas panjang: “Sekalipun kau tidak sayang menggunakan kekuatan tenagamu uutuk menolong jiwanya, barangkali juga belum bisa manerjang keluar barisan ini."

Orang berjubah hijau itu tertawa dingin kemudian tangannya menepuk punggung Siang-koan Kie.

Tiba2 ia merasakan serangan hebat yang dilancarkan dari samping menggagalkan perbuatan orang berjubah hijau itu.

Orang berjubah hijau itu menoleh, tampak olehnya Auw- yang Thong lambat2 sedang menarik kembali tangan kanannya. Jelaslah sudah bahwa serangan dari samping itu dilakukan olehnya.

Sementara itu terdengar suara Teng Soan yang berkata: “Ong-ya kau harus berlaku hati2. Barisan Kiu-kiong-tin ini apabila bergerak lagi sebelum mendapat kepastian siapa yang kalah dan siapa yang menang, tidak akan berhenti. "

Pada saat itu terdengar suara siulan panjang yang memutuskan ucapan Teng Soan yang belum selesai.

Orang berjubah hijau itu mendadak tertawa ter-bahak2 dan berkata: “Bala bantuanku sudah tiba, sebentar lagi akan terjadi perubahan besar” Dilain pihak, mendadak Nie Suat Kiao bertindak menyerbu kedalam barisan, tangannya menyambar sebatang tombak.

Tindakan Nie Suat Kiao itu adalah atas petunjuk orang berjubah hijau itu yang diberikan dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga. Ketika melihat gadis itu berhasil ia segera ikut menyerbu.

Barisan Kiu-kiong-tin yang mengandung banyak perubahan2 yang sukar diduga oleh musuhnya. Karena seorang diantaranya bergeraknya terganggu, sehingga gerakan seluruh barisan juga terhalang.

Gerakan orang berjubah hijau itu gesit sekali. Dengan cepat ia menendang golok ditangan salah satu musuhnya yang menghalang di hadapan Teng Soan, sedang tangan kirinya bergerak menyerang orang yang berada disebelah kanannya.

Dalam waktu sekejap saja orang berjubah hijau itu sudah berada disamping Teng Soan. Dengan cepat tangannya sudah menyambar pergelangan tangan kiri Teng Soan.

Karena cepatnya tindakan itu, orang2 golongan pengemis yang berada disekitarnya sudah tidak keburu menolong.

“Betapapun banyak akal muslihatmu, kali ini kau sudah tidak bisa lagi terlepas dari tanganku” berkata orang berjubah hijau sambil tertawa bergelak-gelak.

Teng Soan meskipun sudah berada ditangan orang berjubah hijau, tetapi sedikitpun tidak menunjukkan rasa terkejut atau takut, ia masih berkata sambil tertawa hambar: “Apabila siaote tidak mempunyai tekad berkorban, tidak nanti berani menempuh bahaya mendekati musuh."

“Betapapun pintarnya lidah kau, juga tidak dapat menggerakkan hatiku," jawab orang berjubah hijau itu dingin.

“Asal tanganmu bergerak, kau dapat membunuhku segera tetapi mengapa kau tidak segera turun tangan?”. “Apa kau kira aku tidak berani?”

Teng Soan tiba2 tertawa hambar, katanya: “Belalang hendak menangkap tonggeret, di belakangnya ada bururg gereja menunggu, kau harus melihat bahaya yang mengancam dirimu sendiri."

Orang berjubah hijau itu menengok ke belakang, benar saja ia melihat Auw-yang Thong dergan sebatang tombak ditangannya, sedang mengancam jalan darah Beng bun-hiat dibelakang punggungnya.

Apabila ia turun tangan membinasakan Teng Soan, mata senjata tombak ditangan Auw-yang Thong itu segera menotok jalan darah Beng-bun-hiatnya.

Karena jalan darah itu merupakan salah satu jalan kematian bagi manusia, betapapun tinggi kepandaian orang itu, juga tidak berhasil menghindarkan kematiannya. Apalagi Auw-yang Thong yang dikenalnya sebagai seorang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sudah sempurna. Dengan satu gerakan saja sudah cukup akan mengirim dia ke lain dunia.

Orang berjubah hijau itu dalam terkejut nya terpaksa membatalkan maksudnya yang jahat, dengan suara perlahan ia berkata kepada Teng Soan: “Lekas perintahkan orang2mu menarik senjatanya. Jikalau tidak, aku akan membunuhmu dengan segera."

“Tidak perduli kemana saja, siaote akan mengiringi kehendakmu, sekalipun ke jalan kematian, juga tidak akan menolak"

Orang berjubah hiljau itu tidak menjawab perkataan Teng Soan, Biji matanya berputaran untuk mencari akal dengan cara bagaimana supaya bisa melepaskan diri. Saat itu Auw-yang Thong lalu berkata dengan nada suara dingin: “Tombak ditanganku ini, asal aku dorong ke depan, pasti dapat menembusi jalan darah Beng-bun-hiat mu”.

“Asal aku bertenaga sedikit saja, segera dapat meremukkan tulang tangannya." jawab orang berjubah hijau.

Dua orang itu meskipun sama2 mengucapkan perkataan keji, tetapi siapapun tidak ada yang berani bertindak lebih dulu.

Keadaan demikian kira2 berlangsung beberapa menit, tetapi barisan Kiu-kiong-tin itu, menggunakan kesempatan itu, mulai bergerak lagi membuat kepungan yang ketat.

Auw-yang Thong menyaksikan Teng Soan menahan penderitaan dengan menggertak gigi, dalam hati merasa tidak enak. Diam2 ia menarik napas kemudian berkata dengan suara nyaring: “Kun-liong Ong. "

Orang berjubah hijau itu memikirkan caranya untuk meloloskan diri dengan memperhatikan perubaban2 barisan itu, tetapi barisan Kiu-kiong-tin yang sudah dirubah oleh Teng Soan, jauh berbeda dengan barisan Kiu kiong-tin biasa. Orang berdjubah hijau itu memikirkan sekian lama, masih belum dapat jalan untuk memecahkan. Selagi berada dalam kesulitan, ia mendengar suara panggilan Auw-yang Thong, seketika itu lalu berpaling. Matanya menatap Auw-yang Thong, tetapi tidak menjawab.

“Situasi hari ini, sudah jelas bahwa kau sudah berada dalam kepungan orang2 kita. Jangan kata tombak ditanganku ini segera dapat memindahkan jiwamu. Andaikata senjataku ini tidak dapat mengambil jiwamu, kau juga tidak bisa keluar dari daiam barisan yang gaib ini...”' berkata pula Auw-yang Thong.

Orang berjubah hijau itu tertawa dingin memotong perkataan Auw-yang Thong, ia berkata: “Aku tidak suka mendengar khotbah dari mulutmu, ada urusan apa lekas kau terangkan."

“Kalian dengan jumlah orang sedikit menghadapi orang banyak, dengan sendirinya tidak sanggup. Kami selamanya tidak suka membinasakan orang yang baru pertama kali bermusuhan dengan kita. Asal kau lebih dulu membebaskan Teng Soan kita juga akau membebaskan kalian bertiga dari kepungan ini."

Selagi Teng Soan hendak mencegahnya tetapi sudah didahului oleh jawaban orang berjubah hijau itu: “Baiklah! Aku akan membebaskan lebih dulu penasehatmu."

Setelah itu, benar saja ia melepaskan Teng Soan lebih dulu. Auw-yang Thong sungguh tidak menduga orang berjubah hijau itu bertindak begitu cepat, terpaksa ia perintahkan barisannya membuka jalan bagi mereka.

Orang berjubah hijau itu mundur dua langkah sambil menarik tangan Nie Suat Kiao ia berjalan dengan tindakan lebar.

Nie Suat Kiao berkata sambil menoleh kepada Siang-koan Kie: “Perlukah membawa dia sekalian?"

“Sekarang musuh kuat sedang menantikan kesempatan menyerang kita, tidak perlu membawa dia lagi."

“Kalau dia tinggal disini bukankah akan menambah kekuatan musuh?"

Orang berjubah hijau itu berpikir sejenak, lalu ia berkata: “Baiklah, bawalah dia."

Nie Suat Kiao lalu menggapaikan tangarnya pada Siang- koan Kie dan berkata: “Kemari”.

Siang-koan Kie benar saja menurut, la!u rnenghampiri kepadanya. Teng Soan setelah terlepas tangannya lalu berkata sambil tersenyum: “Perpisahan hari ini, entah kapan kita bisa bertemu lagi. Disini siaote tidak bisa mengantarnya”.

“Kalau berjumpa lagi aku pasti akan hajar mampus kau," jawab orang berjubah hijau dingin.

“Soal ini barangkali tidak semudah seperti apa yang kau inginkan...” berkata Teng Soan sambil tertawa hambar.

“Sayang usahamu kali ini sia-sia belaka,'' berkata orang berjubah hijau itu sambi tertawa terbahak -bahak.

“Sepuluh tahun lamanya kita telah berguru bersama2, tidak bisa tidak kita harus ingat tali persaudaraan kita. Hari ini apabila siaote tidak datang sendiri, mungkin kau tidak dapat meloloskan diri dari kepungan barisan ini."

“Aku semula berpikir situasi dunia Kang-uow akan berubah tiga tahun kemudian. Saat itu orang-orang penting berbagai partay besar sebahagian besar sudah binasa, dalam waktu peralihan, sudah tentu mudah bagiku untuk menguasainya”

“Tetapi dengan munculnya akiu, kau terpaksa harus merubah rencananya...”

“Benar, kau sudah berusaha sepuluh tahun lebih, sudah tentu kau sudah membuat banyak cara untuk menggagalkan usahaku."

“Dugaan Ong ya sungguh jitu, sedikitpun tidak salah. Barisan Kiu kiong-tin ini hanya merupakan salah satu diantara rencanaku untuk menghadapi kau"

“Betapapun pandainya kau mengatur siasat, tapi sudah tidak dapat menghindarkan malapetaka ini. Asal aku mengeluarkan perintah, dalam waktu satu malam saja, sudah cukup membuat orang2 kuat dan kepala berbagai partai besar, semua mati terkena racun...” “Belalang yang hendak menangkap tonggoret, sering melalaikan dibelakangnya ada burung gereja yang menantikan mangsanya. Empat raja muda Ong-ya dan dua pengawalmu, apakah kau kira mereka semua sudi berkorban untukmu?"

Orang berjubah hijau itu agaknya digerakkan hatinya oleh perkataan Teng Soan itu. Sepasang matanya tajam menatap Teng Soan, katanya dengan nada suara dingin: “Apabila kau tega turun tangan, aku percaya kau mempunyai kekuatan semacam itu, untuk memasang mata-mata sekitarku”

“Untuk kepentingan sesama nasib kawan2 rimba persilatan, tidak boleh tidak siaote akan menghalangi perbuatanmu menggunakan siasat kejam."

“Aku seharusnya membunuhmu pada sepuluh tahun berselang sewaktu kau di dalam gubukku di gunung Oey-san. Tak disangka karena pikiranku tidak tega hati pada waktu itu, telah menanam bibit bencana untuk hari ini”

“Kesempatanmu untuk membunuh aku sudah berlalu. Ikatan persaudaraan kita dalam satu perguruan hari ini sudah putus. Karena mengingat kau tadi masih menaruh kasihan tidak membunuhku, maka siaote hari ini juga akan membuka jalan hidup bagimu. Tetapi untuk selanjutnya, kita seperti air dengan api, yang tidak bisa bersatu lagi. Hidup mati dan menang atau kalah, masing2 mengandalkan kepandaian menggunakan siasat. Harap kau jaga baik2 hari depanmu, maafkan aku tidak bisa mengantar lagi”

Sekali lagi orang berjubah hijau itu menatap wajah Auw- yang Thong dan Teng Soan, kemudian berlalu dengan diikuti oleh Nie Suat Kiao dan Siang-koan Kie.

Tiat-bok Taysu tiba2 berkata sambil menarik napas panjang: Murid jahanam yang murtad!”

Auw-yang Thong berkata kepada Teng Soan dengan suara tertahan: “Benarkah kita melepaskan dia begitu saja?" “Barisan Kiu-kiong-tin sudah tidak sanggup mengepung dia. Kalau pertempuran diianjutkan lagi, sudah tentu ia dapat mencari jalan keluar, sebaiknya kita lepaskan dia, supaya dalam hatinya terus merasa tidak tenteram" jawab Teng Soan sambil tertawa kecil.

“Kepandaian orang itu sesungguhnya sangat hebat, agaknya terdiri dari kepandaian berbagai golongan, boleh dikata merupakan orang kuat pertama yang kutemukan dalam rimba persilatan”

Tiat-bok Taysu se-olah2 dengan mendadak teringat suatu urusan penting, ia menyatakan hendak puang ke Siao-lim-sie, tapi dicegah oleh Teng Soan.

“Losiansu, jangan pergi dulu, siaote ingin meminta sedikit keterangan” demikian Teng Soan berkata

“Dalam rimba persilatan sudah ramai membicarakan tentang kepandaian sianseng. Hanya dengan seorang sastrawan yang tidak paham ilmu siiat berada di tengah kalangan Kang-ouw, hari ini lolap menyaksikan dengan mata kepala sendiri, baru tahu bahwa kabar itu ternyata masih belum cukup mengunjukkan kepandaian sianseng" berkata Tiat-bok taysu.

“Losiansu terlalu memuji, siaote hanya seorang pelajar yang lemah, sepertinya lebih tepat berkawan dengan buku2 untuk melewati hari2ku, dimana berani timbul pikiran untuk mengatur didalam rimba persilatan...” berkata Teng Soan memandang ke arah depan dengan menarik napas.

Ia menoleh kepada Auw-yang Thong dan berkata pula, “Kesatu, karena kebaikan Auw-yang pangcu yang membuat siaote berat untuk menolaknya dan kedua karena dosa suhengku ini yang terlalu banyak, serta tidak dapat menantang perintah suhu, sehingga siaote tidak bisa berpeluk tangan dan terpaksa hanya dengan tangan yang tidak mempunyai kekuatan apa2, siaote melibatkan diri ke dalam pertikaian dunia Kang-ouw”

Auw-yang Thong berkata sambil menarik napas dalam2: “Perjanjian sepuluh tahun sudah akan habis. Karena ucapan itu keluar dari Auw-yau Thong sendiri, sudah tentu tidak bisa ditarik kembali. Maksud sianseng untuk mengasingkan diri sudah dekat, namun demikian, toh masih belum bisa mengaso dengan tenang, bahkan masih menerjunkan diri kedalam dunia Kang ouw untuk menghadapi banyak kesulitan. Mengingat ini Auw-yang Thong merasa malu kepada diri sendiri”

Teng Soan memandang ke arah depan dengan mulut membungkam.

Tiat Bok taysu sebetulnya ingin menanyakan Teng Soan ada urusan apa, tetapi setelah menyaksikan keadaan demikian, ia merasa berat untuk menanyakan, maka ia hanya berkata: “Lolap ingin mengatakan beberapa patah kata yang tidak pantas, harap sianseng jangan kecil hati."

“Losiansu katakan aaja." berkata Teng Soan.

“Pada waktu rimba persilatan sedang banyak urusan, Kun- liong Ong yang mempunyai kepandaian ilmu silat berbagai golongan, apalagi banyak akal busuknya, sehingga membuat orang semakin sulit menjaganya. Jikalau bukan orang berkepandaian sianseng, tidak sanggup merintangi maksud jahatnya, apabila sianseng mengundurkan diri, agaknya. "

Ia sebetulnya kurang pandai berbicara, maka berkata sampai disitu, ia tidak tahu bagaimana harus mengutarakan pikirannya.

Auw yang Thong menyambungnya dengan suara perlahan: “Sianseng. " Tetapi juga hanya itu saja yang keluar dari muiutnya. Tenggorokannya agaknya tersumbat oleh perasaan terharunya.

“Pangcu ada urusan apa?" bertanya Teng Soan.

“Dalam pertempuran dengan Kun-liong Ong hari ini’, berkata Auw-yang Thong. “telah membuktikan bahwa nasib golongan pengemis tidak bisa dipisahkan lagi dengan Sianseng. Keadaan pada dewasa ini, sudah nampak nyata tanda2nya kekacauan. Apabila sianseng kukuh dengan niatmu untuk mengundurkan diri, bukan saja golongan pengemis akan mengalami kehancuran. Seluruh rimba persilatan juga tidak akan terhindar dari malapetaka... Ouw-yang Thong sungguh beruntung telah menemukan sianseng, tetapi sangat menyesai dalam saat dunia sedang terancam napsu bunuh membunuh, sianseng sudah akan mengundurkan diri”

“Lolap tidak pandai membujuk atau menasehati orang. Golongan pengemis muncul di dunia Kang ouw, meskipun belum lama waktunya, tetapi jasa2nya sesungguhnya besar sekali. Auw-yang Thong Pangcu sudah lama dipandang sebagai dewa oleh orang banyak. Sayang dalam saat yang amat genting ini sianseng hendak mengundurkan diri.

Saat itu tiba2 terdengar beberapa kali suitan panjang, memutuskan perkataan Tiat Bok taysu.

Auw yang Thong berpaling kearah suara dan berkata: “Bala bantuan Kun-liong Ong sudah datang”

Teng Soan berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa: “Gertak sambal saja. Kalau benar dia mempunyai bala bantuan yang akan datang, tidak mungkin ia berlalu begitu saja.''

Auw-yang Thong selalu mengagumi penasehatnya itu. Ketika mendengar jawaban itu, lalu mengalihkan pembicaraannya kelain soal. “Sianseng dengan Kun-liong Ong itu apa sudah kenal lama?” “Bukan hanya kenal saja, kita bahkan kita dalam pernah lama sama2 berguru dalam satu perguruan....” menjawab Teng Soan sambil menghela nafas.

Lama ia berpikir sambil mendongakan kepala, kemudian berkata pula: “urusan ini sudah lama berada dalam hatiku. Hari ini aku akan mengatakan kepada pangcu berdua”

Auw-yang Thong berpaling dan berkata kepada Tiat-bok Taysu: “Jikalau losiansu sekiranya dapat menunda urusan siansu, kita boleh sama-sama mendengarkan penuturan tentang asal-usul diri Kun-liong Ong”

“Tadi sewaktu lolap melihat Kun-liong Ong, tiba-tiba teringat peristiwa menyedihkan yang terjadi dikuil Siao-lim sie pada beberapa puluh tahun berselang, maka buru buru ingin pulang untuk menyelidiki rahasia diri Kua-liong Ong. Apabila Teng sianiseng dapat menceritakan sedikit tentang dirinya yang mungkin dapat membuktikan seperti apa yang lolap pikirkan, rasanya tidak susah untuk mengetahui asal-usul yang sebenarnya"

“Dalam dunia ini, kecuali aku, barangkali sedikit sekali jumlahnya orang yang mengetahui asal usul dirinya...” Teng Soan berkata sampai disitu lalu diam agaknya sedang memikirkan bagaimana harus memulai penuturannya. Lama ia baru berkata lagi: “Berbicara soal persahabatan kita dalam perguruan, juga sangat aneh. Aku yang lebih dulu berguru beberapa tahun darinya, tetapi ia yang datang belakangan sebaliknya menjadi suheng”

“Menurut peraturan rimba persilatan, kebanyakan orang menentukan urutan sebutan menurut siapa yang masuk menjadi murid lebih dulu dan siapa yang belakangan. Jarang sekali ditentukan menurut usianya" berkata Tiat Bok taysu

“Disatu pihak sudah tentu disebabkan karena usianya yang jauh lebih tua dari usiaku. Tetapi yang paling penting ialah didalam segala-2nya ia lebih menang daripadaku. Ia seorang yang mempunyai bakat dan kecerdasan otak yang luar biasa, baik dalam hal ilmu siasat maupun ilmu silat semuanya menunjukkan kecerdikannya yang luar biasa. Suhu almarhum meskipun sudah tahu bahwa ia ada seorang mengandung berbahaya, pasti akan menjadi seorang jahat. Tetapi karena disebabkan kondisi badanku tidak cocok untuk belajar ilmu silat, sekalipun aku belajar sungguh2, juga tidak akan mencapai tingkat sempurna. Suhu tidak ingin seluruh kepandaiannya akan lenyap begitu saja, maka dia menerima dia menjadi murid dan menurunkan semua kepandaian ilmu silatnya."

“Suhumu sudah berhasil mendidik orang seperti dia, apakah tidak memikirkan bagaimana akibatnya setelah menurunkan pelajaran kepadanya?" berkata Tiat Bok taysu.

“Satu pertanyaan yang tepat, dalam permulaan dua tahun, karena suhu merasa susah mencari orang berbakat yang dapat mewariskan kepandaiannya, maka menerima ia menjadi murid. Tetapi setelah mengetahui bahwa sudah sulit untuk merubah hatinya yang kejam, ternyata sudah terlambat. Karena keadaan memaksa, suhu terpaksa melanjutkan pelajarannya kepadanya. Hanya dalam soal siasat dan akal tipu, tidak diturunkan kepadanya sama sekali”.

Wajah Tiat Bok taysu tiba tiba berobah, katanya: “Apakah ia menggunakan akal keji memaksa suhumu manurunkan kepandaiannya?”

“Dugaan taysu tepat, tetapi entah dengaia menggunakan akal apa ia paksa suhu menurutkan pelajarannya, sehingga saat ini, aku masih belum berhasil menemukan. Tetapi dari tanda2 telah membuktikan bahwa suhu memang terpaksa karena keadaan, sehiagga mau tidak mau menurunkan kepandaiannya. Keadaan pada waktu itu, kaiau kupikirkan lagi sesungguhnya sangat berbahaya. Sebabnya ia tidak mau mencelakakan diriku, bukan lain karena aku tidak paham ilmu silat. Dalam pikirannya seorang pelajar yang tidak bertenaga, toh tidak mungkin akan berani berebut kekuasaan dalam rimba persilatan. Kedua karena pelajaran ilmu gaib dan siasat peperangan yang suhu berikan kepadanya banyak yang dirahasiakan, sehingga membuat ia merasa setengah paham setangah tidak. Ini memungkinkan kesempatan bagiku untuk tinggal hidup, karena ia ingin mempelajari itu ini denganku, maka ia harus membiarkan aku tinggal hidup...”

“Memaksa suhu dan menghina sute untuk mendapat ilmu kepandaian, hatinya orang ini benar-benar terlalu kejam," berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan berkata sambil mengipaskan kipasnya: “Pada suatu hari mendadak ia pergi tanpa pamitan, entah kemana pergi. Suhu menggunakan kesempatan itu memanggil aku menghadap. Suhu memberitahukan kepadaku bahwa kematiannya sudah dekat, pesan tertuiis yang sudah dibuatnya lebih dulu, diberikannya kepadaku, suruh aku segera meningggalkan tempat itu, dan pergi ke gubuk Siao yao di gunung Oey-san. Serta menyuruh aku supaya pesan tertulisnya itu disimpan di tempat tersembunyi, tidek boleh dibuka sembarangan sampai aku meninggalkan gubuk itu dan merasa sudah berada ditempat aman baru boleh dibuka."

Tiat-bok taysu bertanya: “Setelah kau berpisah dengan suhumu waktu itu, apakah tidak bertemu lagi?"

“Aku selamaoja menghargai suhu, meskipun merasa bahwa ucapannya itu mengandung maksud dalam, tetapi tidak berani bertanya. Waktu itu lalu menyimpan pesan tertulis itu dan minta diri kepada suhu, pergi ketempat yang ditunjuk. Tempat itu dahulu merupakan tempat belajar suhu, didalamnya terdapat terdapat banyak buku. Disana aku membaca buku itu setahun lebih lamanya, tetapi dalam pikirannya terus tidak dapat melupakan keselamatan suhu. ”

“Apakah suhengmu tidak mencari kau” tanya Tiat Bok taysu. “Mula2 memang tidak, tetapi setahun kemudian, keinginanku untuk mengetahui nasib suhu tak dapat dicegah lagi. Selagi hendak berangkat pergi menengok suhu, suhengku itu tiba2 datang kegubukku. Ia hanya memberitahukan tentang kabar kematian suhu dan sebelum menutup mata suhu memberitahukan kepadanya bahwa aku berada gubuk itu mengurus buku2 peninggalan suhu maka ia datang menengokku. Meskipun aku sudah tahu bahwa suhu sudah dekat ajalnya tetapi setelah mendengar kabar itu, aku tidak dapat kendalikan perasaanku, hingga aku menangis dengan sedih.''

Teng Soan agaknya masih teringat kesedihannya pada waktu itu, hingga air matanya mengalir keluar. Setelah menghapus air mata, ia berkata pula: “Meskipun aku merasa sedih atas kematian suhu, tetapi pikiranku belum kalut seluruhnya. Aku diam2 memperhatikan sikap suheng, ternyata sedikitpun tidak nampak berduka”

“Waktu itu apabila ia bermaksud membunuh kau, maka dunia rimba persilatan sekarang ini entah bagaimana nasibnya” berkata Auw-yang Thong.

“Aku lihat ia sedikltpun tidak mempunyai rasa sedih, bahkan seakan2 mengandung maksud jahat, maka dalam hatiku timbul kecurigaan. Seketika itu aku berhenti menangis. Ketika ia melihat aku berhenti menangis, sikapnya perlahan- lahan mulai lunak. Setelah itu ia menanyakan kepadaku tentang beberapa rahasia ilmu gaib dan siasat peperangan. Pada waktu itu aku tahu ia tidak bermaksud baik. Jawaban yang tidak tepat, ada kemungkinan dapat membawa kematian diriku, tetapi apabila aku pura2 tidak tahu, mungkin akan menimbulkan kecurigaannya, juga membahayakan diriku. Tetapi apabila aku menjawab terus terang, mungkin juga akan menimbulkan iri hatinya. Setelah kupikir masak2, dengan menggunakan waktu satu jam aku menjawab pertanyaannya, sehingga ia membatalkan maksudnya untuk membunuh aku. Karena ia merasa aku dapat membantu dirinya, juga merasa kepandaianku biasa saja, maka ia mulai menetapkan pelarangan kepadaku membatasi pergerakanku, tidak boleh kaluar lebih dari seratus tindak dari dalam gubukku..."

“Setelah membunuh suhunya lalu mengurung sutenya, orang itu benar2 sangat kejam."

“Meskipun aku mengerti bahwa disekitar gubukku itu dipasang pesawat rahasia, tetapi terhadap larangan itu aku coba menentangnya. Semula ia hanya tersenyum tidak menjawab, tetapi kemudian menimbulkan kemarahannya. Ia tatap dengan maksudnya dan mengancam aku, apabila berani melanggar larangannya, segera menemukan kematianku. Setelah itu ia lalu berlalu.

“Dan selanjutnya apakah kau dikurung dalam gubuk?” bertanya Tiat Bok taysu.

“Benar, setiap satu atau dua bulan, ia datang sekali. Setiapkali datang selalu menganjukan beberapa pertanyaan, dirundingkan denganku. Meskipun aku tidak paham ilmu silat, tetapi aku ingat banyak pelajaran yang tertulis dalam kitab ilmu silat soal yang dirundingkan itu banyak sekali. Setiap soal aku memberikan jawabannya tiga rupa. Dalam mata hatiku aku selalu melihat bagaimana reaksinya. Jikalau tidak begitu penting ia hanya bersenyum saja, tetapi kalau jawabanku itu bagus ia melulu memberi pujian atau mengawasi aku dengan hati dengki....

“Ada beberapa lama sianseng berada dalam bahaya itu?” “Setahun lebih. Selama waktu itu, beberapa kali ia timbul

pikiran hendak membunuh aku, tetapi karena ketenanganku

sehingga ia membatalkan sendiri maksudnya. Tetapi aku mengerti keadaan tidak mungkin lebih dari tiga tahun maka aku juga mulai menyiapkan urusan sesudah aku mati. Gubuk itu terletak dibagian dalam gunung Oey-san, jarang didatangi oleh manusia, dengan sendirinya susah minta pertolongan juga tidak tahu minta pertolongan kepada siapa. Aku lalu mulai membuat barisan aneh. Disamping itu, setiap kali mengadakan perundingan denganku, aku simpan baik2 dan kuberikan ia pemecahannya supaya di lain hari, jika ada orang berjodoh, dapat digunakan untuk menghadapinya...”

Pada suat itu tiba2 terdengar suara terompet yang memutuskan pembicaraan Teng Soan.

Tiat Bok taysu berpaling dan bertanya kepada Auw-yang Thong. “Auw-yang pangcu, apakah suara terompet itu dari orang golonganmu?"

“Bukan." jawab Auw-yang Thong sambil menggelengkan kepala.

“Kalau begitu adalah bala bantuan Kun-liong Ong yang datang?” bertanya Tiat Bok taysu.

“Taysu jangan khawatir. Aku tahu benar keadaannya. Apabila ia benar2 datang bala bantuan, tidak mungkin membunyikan tanda terompet lebih dahulu” berkata Teng Soan.

Tiat Bok taysu tibt2 menghela napas dan berkata: “Wajah asli suhengmu apakah sianseng pernah melihatnya?"

“Ya." menjawab Teng Soan sambil menganggukkan kepala. “Diatas dahi kanannya apakah ada tanda codet bekas golok

yang sangat dalam?"

“Benar, bagaimana taysu tahu?''

“Murid durhaka, benar saja dia... Beberapa puluh tahun berselang, dalam kuil Siauw-lim-sie kita terjadi peristiwa pembunuhan yang dilakukan seorang murid kepada suhu-nya. Murid durhaka yang melarikan dlri itu, karena hendak mempelajari semacam kepandaian ilmu simpanan Siauw-lim- sie telah memaksa suheng lolap Ceng Bok taysu sehingga binasa. “Dia memang seorang berhati kejam, jikalau bukan Auw- yang Pangcu yang datang kegubukku itu, barangkali aku sudah binasa ditangannya. Keadaan waktu itu, hampir membuatku putus haapan. Kecuali membaca buku melewatkan hari, aku sudah tidak dapat memikirkan apa-2, tetapi dari sikap dan pembicaraannya aku tahu ia masih belum mempunyai ketatapan untuk membunuh aku, mungkin ia masih sayang karena masih ada gunanya baginya... Sejak dahulu, pertikaian antara saudara dalam seperguruan, kebanyakan terjadi karena salah paham atau menuruti hati yang panas, tetapi antara aku dan suheng tidak terdapat sebab2 demikian. Maksudnya hendak mengurung aku, hanja ingin supaya didalam dunia ini tidak ada orang lagi yang berkepandaian lebih tinggi darinya..."

“Kalau ia hendak menanyakan banyak persoalan darimu, mengapa setiap kali datang hanya merundingkannya sebentar saja?”.

Dalam waktu yang sangat pendek itu, ia tidak sampai dibikin pusing oleh persoalan yang ruwet itu, ia selalu hendak tetap berada dalam keadaan jernih. Dalam waktu setengah tahun itu, dengan caranya demikian itu ia telah berhasil mengorek kepandaian diriku kira2 tujuh delapan bagian...”

“Apabila aku lekas datang kegubuk wiauscn» itu barangkali sianseng tidak sampai mengalami nasib seburuk itu!", bertata Airw-yan Thong

Teng Soan tertawa hambar, sambungnya: “Keadaan semakin lama semakin buruk, asal lewat beberapa lagi, dengan kecerdikannya, ia pasti dapat mengorek semua kepandaianku, yang memang mengerti baik ilmu silat. Apabila dapat mempelajari semua kepandaianku, maka didalam dunia Kang ouw sudah tidak ada orang yang dapat menundukkannya. Aku ingat, aku disuruh berdiam di gubuk itu, pasti ada maksudnya juga pernah mempertimbangkan nasibku. Dengan seorang yang tidak bertenaga sama sekali seperti aku ini, kecuali lari, sudah tentu tidak bisa melawannya. Tetapi ia menduga demikian sempurna, sekalipun hendak lari juga tidak mudah. Aku percaya perhitungan suhu suruh aku berdiam digubuk itu, pasti sudah mengatur jalan untukku keluar dari bahaya. Tetapi keadaan pada saat itu telah memaksaku pikir hendak mati bersama2nya...”

“Kau seorang yang tidak mengerti ilmu silat sama sekali, bagaimana bisa mati bersama-sama dengan seorang kuat seperti itu?”

“Itu memang benar, ini sebetulnya merupakan suatu soal yang sangat sukar didalam gubuk itu. Kecuali kitab sudah tidak ada apa2 lagi, aku juga tidak bisa keluar dari gubuk itu, maka sekalipun aku mempunyai pikiran demikian, juga tidak mudah kulakukan. Aku pernah memikirkan satu hari satu malam, akhirnya kutemukan suatu akal”

“Apabila lolap yang menghadapi nasib seperti itu, satu tahunpun tidak dapat memikirkan cara yang baik."

“Karena dalam gubuk itu hanya ada buku2 saja, maka kecuali bakar dengan api, sudah bak ada akal yang lebih baik lagi."

“Dengan kepandaian seperti dia, sekalipun terkurung dalam api, juga tidak susah meloloskan diri, kecuali menumpuk bahan kering sepanjang sepuluh pal dan membakar seluruh gunung..."

“Aku juga sudah memikirkan itu apabila tidak mengurung dia dalam gubuk itu, lalu membakarnya, juga susah berhasil....

Dalam gubuk, meski banyak buku dapat digunakan, tetapi ia sangat cerdik. Apabila ia melihat tanda mencurigakan, dia tidak mau masuk sembarangan ”

“Apakah sianseng hendak menggunakan buku-buku itu membentuk suatu barisan ajaib, lalu mengurungnya lebih dulu kedalam barisan, kemudian membakarnya?" bertanya Auw- yang Thong.

“Benar, tetapi suhengku banyak bercuriga apalagi sangat hati2. Jikalau aku membuat barisan lebih dulu, ia pasti tidak akan terjebak maka aku menggunakan kesempatan selagi berunding dengannya, aku diam2 menggeser buku buku itu, kemudian mengurungnya, aku segera membakarnya hingga sama2 mati dalam gubuk itu. Tetapi perhitungan manusia tidak seperti kehendak Tuhan. Selagi aku hendak mengambil keputusan hendak membakar gubuk itu, suhengku itu ternyata tidak datang lagi, selama tiga bulan tidak ada kabar beritanya.''

“O Mi To Hud, lelap bersukur kepada Tuhan” berkata Tiat Bok taysu

Teng Soan tersenyum dan berkata pula: “Pada bulan keempat permulaan bulan itu pangcu tiba digubukku dan membawa aku keluar dari gunung Oey-san. Sewaktu hendak berangkat, didalam gubuk iiu aku bentuk satu barisan aneh, yang kupasang dengan bahan bakar. Ada orang masuk, kedalam barisan itu dan menyentuh pesawatnya, pasti akan terbakar hidup2."

Tiat Bok taysu berkata sambil mengawasi Auw-yang Thong: “Ada suatu hal lolap tidak mengerti "

Auw-yang Thong tersenyum dan berkata: “Apakah taysu heran mengapa siaotee mendadak bisa datang kegubuk itu? Betul tidak?”.

“Benar. tentang Teng sianseng terkurung dalam gubuk itu, jarang sekali orang mengetahui, bagaimana Pangcu bisa mengetahui?"

“Untuk membicarakan ini aku akan mulai cerita. Pada sepuluh tahun lebih berselang, waktu itu siaotee meskipun sudah sepuluh tahun menjabat pimpinan golongan pengemis, tetapi kaadaannya masih belum beres. Meskipun siao tee coba menindasnya, tetapi karena kebiasaan yang sudah melekat dan dengan seorang diri siaetoe tidak mencapai tempat demikian luas sedangkan anggota golongan pengemis tersebar di mana-mana golongan pengemis pada waktu itu."

Entah bagaimana golongan pengemis melanjutkan perjuangannya menghadapi Kun-liong Ong?

-oo0dw0oo-