ISMRP Jilid 12

 
Jilid 12 

DUA ORANG TUA berbaju abu2 itu belum lagi turun tangan, Tiat-bok Taysu sudah kehilangan tenaganya untuk memberi perlawanan, empat orang berbaju hitam dengan cepat maju menotok dua bagian jalan darahnya kemudian dibawa kabur......

Entah berapa lama telah berlalu, Tiat-bok Taysu tiba2 tersadar dari mabuknya. Ia hanya merasakan tempat dimana ia rebah, dingin sekali, dengan sendirinya ia hendak bangun berdiri.

Satu suara yang lembut tapi dingin, terdengar dari sampingnya: "jangan bergerak."

Tiat-bok Taysu membuka matanya, seketika ia terkejut, karena duabelas bilah ujung pisau yang tajam, ditujukan kepada semua bagian jalan darah terpenting disekujur badannya, juga kepada kaki tangan dan lehernya, asal ia bergerak segera terluka diujung pisau. Pisau2 tajam itu, bukan terpegang oleh manusia, melainkan menancap diatas sebuah lapisan besi selebar badan manusia, sedang ia sendiri rebah di-tengah2 besi seolah2 dalam kurungan, hanya bentuknya dan bayangannya agak berlainan.

Suara lembut dan dingin itu terdengar pula ditelingannya. "Asal aku menggerakkan pesawat yang mengendalikan alat

ini, segera akan ada kekuatan yang menggerakkan alat ini untuk menindih kau, sehingga dua belas ujung pisau itu akan menancap disemua jalan darah sekujur badanmu..."

Terdengar suara tertawa panjang, lalu dilanjutkan perkataannya:

"Dibawah alat ini, aku boleh menumpuk kayu dan kemudian kubakar, sehingga kau terbakar hidup2."

Tiat Bok taysu melirikkan matanya, sehingga ia dapat melihat bahwa orang yang berbicara itu adalah gadis cilik berbaju merah yang dijumpainya dilembah hitam itu.

"Lolap percaya kau memang dapat melakukan perbuatan itu. " demikian Tiat Bok taysu berkata.

"Kalau kau percaya itu bagus." berkata gadis cilik itu sambil tertawa.

"Kalian sebetulnya boleh mengambil jiwaku sejak tadi, tetapi mengapa kau lambat2an tak mau turun tangan, pasti masih memerlukan diri lolap."

"Dugaanmu tidak salah, tetapi aku juga sudah tahu bahwa kau tidak akan menghiraukan soal mati hidupmu, namun siksaan yang membuat orang tak bisa mati dan hidup, bukanlah setiap orang sanggup menerimanya."

Tiat Bok taysu terkejut mendengar ucapan itu, kalau benar gadis itu hendak memperlakukan dirinya demikian rupa, itu memang merupakan suatu siksaan yang paling hebat. Karena ia adalah seorang beribadat tinggi dan mempunyai ketenangan luar biasa, meskipun dalam hati merasa cemas, tetapi diluarnya masih tetap tenang.

"Sebelum aku majukan pertanyaan, bagaimana kalau lolap menanyakan dulu beberapa soal kepadamu?" demikian Tiat Bok taysu berkata.

Gadis cilik itu agaknya tidak menduga akan ditanya oleh paderi tua itu, untuk sesaat ia tercengang, kemudian berkata:

"Boleh saja kau ingin menanyakan apa?" "Bagaimana keadaan rimba hitam sekarang?" "Sudah merupakan sebidang tanah gersang." "Apakah kau sudah membakarnya?"

"Ya! Kubakar habis sebatang rumput pun tidak ketinggalan."

"Bagaimana dengan orang-orang rimba hitam? Sudah kabur ataukah kau bakar?"

Gadis cilik itu sikapnya sangat tenang, atas pertanyaan itu ia sambut dengan senyuman kemudian berkata:

"Asal dalam rimba hitam itu ada orang, sudah tentu tidak bisa kabur, api yang menyala itu, telah membakar apa yang ada dalam rimba seluas lima pal persegi itu, tiga hari tiga malam api itu belum padam, apabila disitu masih ada orang hidup itu akan merupakan suatu keajaiban."

"Usiamu meskipun masih terlalu muda, tetapi perbuatanmu terlalu ganas, api itu mungkin juga akan membakar mati encimu sendiri." berkata Tiat Bok taysu sambil menghela napas.

"Kalau sampai mati terbakar, ia harus sesalkan nasibnya sendiri yang mati dalam usia muda, aku toh tidak boleh hanya karena ia, hingga tidak membakar rimba ini." "Kau terlalu kejam, apakah diantara kalian bersaudara, sedikitpun tidak mempunyai perasaan persaudaraan?"

"Kau bertanya terlalu banyak."

Tiat Bok taysu tiba-tiba tergoncang pikirannya, suatu perasaan cemas yang belum pernah ada telah timbul dalam hatinya itu adalah suatu perasaan yang belum pernah timbul sejak dia menganut agama Buddha.

Ia menghela napas panjang, kemudian berkata sambil memejamkan matanya: "Lolap bersedia menjawab pertanyaanmu apa yang Lolap tahu, tetapi dalam agama Buddha mempunyai pantangan ketat, maka jawaban lolap sudah tentu hanya terbatas dalam urusan yang lolap tahu."

”Aku tidak minta kau bicara, asal kau sanggup dengan penderitaan badan, tidak usah berkata."

"Lolap selamanya berbuat baik, kalau toch memang harus menderita siksaan apa yang harus disesalkan."

"Aku bukan untuk mendengar kau berkotbah tidak perlu kau mensucikan diriku."

"O Mie Tho Hut! Baik atau jahat hanya tergantung pikiran seseorang sendiri. "

"Siapa mau mendengar ocehanmu, aku hanya ingin menanyakan kepada kau siapa2 orang yang turut dalam pertempuran dirimba hitam? Kalau kau salah jawab satu orang saja akan memotong satu jari tanganmu."

Pada saat itu tiba2 terdengar suara orang teriakan nyaring, kemudian disusul dengan perkataan:

"Budak perempuan kau terlalu sombong."

Tiat Bok taysu membuka matanya, ia melihat pemimpin golongan pengemis Auw-yang Thong berdiri kira2 dua tombak, dibelakangnya diikuti oleh sipengawal besi Ciu Tay Cie dan delapan orang anak buah golongan pengemis yang semuanya mengenakan ikat pinggang kulit selebar setengah kaki, diatas ikat pinggang itu tergatung duabelas buah senjata rahasia aneh yg bentuknya seperti binatang kelelawar.

Gadis cilik itu agaknya dikejutkan oleh munculnya Auw- yang Thong secara mendadak ini lama baru membuka suara:

"Kau siapa?''

"Budak apakah kau merupakan salah satu Kiuncu Kun-liong Ong?" berkata Auw-yang Thong sambil tertawa ber-gelak2.

"Aku sedang bertanya kepadamu, siapa kau suruh kau bertanya kepadaku?" berkata gadis itu gusar.

"Aku bukan seperti Tiat Bok taysu yang belas kasih, maka segala perkataanmu, sebaiknya berhati2 sedikit, sekalipun kau belum pernah melihat aku, seharusnya juga sudah pernah mendengar namanya orang yang berpakaian sepertiku ini."

Mata gadis kecil itu berputaran, katanya: "O, ya, aku sekarang tahu. Bukankah kalian orang2 dari golongan pengemis?"

"Kau membakar rimba hitam ini, kecuali membikin hangus rimba ini dengan cuma2, tidak ada seorangpun yang mati atau terluka...." berkata Auwyang Thong, kemudian berkata ia sambil mengawasi Tiat Bok taysu: "Meskipun kau mempunyai keberanian dan kepandaian untuk mengambil sesuatu keputusan, tetapi dimataku masih merupakan seorang gadis yang belum dewasa. Bukan aku hendak pandang tinggi kedudukan dan derajat sendiri, kalau tidak perlu sekali, aku masih belum perlu bertempur denganmu, asal kau membebaskan Tiat Bok taysu. "

Gadis cilik itu memperdengarkan suara tertawa dingin, katanya:

"Asal aku menggerakkan pesawatnya, pisau2 tajam di atas alat besi ini, segera menembusi tubuhnya." "Itu memang benar, tetapi begitu kau menggerakan pesawatnya, kau juga jangan harap bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup."

Ia tertawa terbahak-bahak kemudian berkata pula: "Didalam dunia Kang-ouw, golongan pengemis belum

pernah memberi hati kepada lawannya, jika kau tidak dengar nasehatku, hari ini mungkin tidak terhindar terjadinya penumpahan darah!"

Gadis cilik itu menatap wajah Auw-yang Thong, ia merasakan bahwa pemimpin golongan pengemis itu mempunyai kewibawaan besar sekali, setelah berpikir sejenak, akhirnya ia berkata:

"Mendengar perkataanmu, kau seperti berkedudukan sebagai pemimpin golongan pengemis?"

"Benar, aku adalah Auw-yang Thong......" menjawab Auw- yang Thong. "Kalau kau nanti bertemu dengan ayah angkatmu, katakan padanya bahwa Auw-yang Thong sudah lama ingin bertemu dengannya, dalam waktu tiga bulan, aku tunggu kedatangannya dimarkas kita digunung Kun-san."

"Kemana Kun-liong Ong sampai, disitu selain banjir darah, aku tak tahu berapa banyak jiwa kalian di Kun-san nanti yang akan menjadi korbannya?"

Melihat sikap gadis cilik itu yang demikian sengit, Auw-yang Thong tergetar juga perasaannya. Sebagai seorang kenamaan yang sudah banyak mengalami dan menghadapi musuh- musuh berkaliber besar, tetapi mendengar perbuatan musuh lalu tergetar perasaannya. Hal demikian belum pernah terjadi pada waktu-waktu sebelumnya. Entah apa sebabnya, ketika mendengar perkataan gadis cilik itu, hatinya tergoncang.

Gadis cilik itu memperdengarkan suara dihidung, kemudian melanjutkan perkataannya: "Markas golongan pengemis digunung Kun-san suatu waktu Kun-liong ong pasti akan pergi. Hanya menanti waktunya saja, yang tak dapat ditentukan oleh kalian."

"Ada kemungkinan kita orang-orang golongan pengemis yang akan mencarinya dulu, oleh karena kau tidak dapat mengambil keputusan dalam hal ini, maka urusan ini sementara jangan kita bicarakan saja..... Tetapi, keadaan pada dewasa ini, kau sudah berada dalam genggaman kita, juga tidak mampu kau melawanku. Sebaiknya kau bebaskan Tiat Bok taysu, supaya dapat menghindarkan pertumpahan darah."

Gadis itu berpikir sejenak baru berkata: "Mendengar perkataanmu ini, didalam rimba ini agaknya tiada seorangpun yang mati terbakar. Kalau itu betul, apakah enciku juga masih hidup?"

"Kau bebaskan dulu Tiat Bok taysu, aku nanti akan mengajakmu menjumpainya."

Gadis cilik itu tiba-tiba mengulur tangannya dan mengerakan pesawat yang mengendalikan alat siksa itu, dan alat besi jang diperlengkapi dengan pisau tajam itu perlahan- lahan telah terbuka sendiri.

Tiat Bok taysu lalu melompat bangun. Ia berkata kepada Auwyang Thong sambil merangkapkan kedua tangannya: "Terima kasih atas pertolongan Pangcu."

"Kedatanganku agak terlambat, sehingga Siansu mengalami sedikit penderitaan. Sesungguhnya aku merasa tak enak dihati." berkata Auw-yang thong.

Tiat Bok taysu mengalihkan pandangan matanya kepada delapan anak buah golongan pengemis yang berdiri berbaris dibelakang pemimpinnya itu, ia lalu bertanya:

"Apakah Hui-tayhiap dan orang2 rimba hitam ini semua sudah terlepas dari bahaya?" "kecuali mengalami sedikit kerusakan, kebakaran semua sudah berlalu dari tempat ini dalam keadaan selamat. Tentang losiansu......" berkata Auw-yang Thong, tiba2 ia merasa kelepasan omong. Buru2 menutup mulutnya.

Tiat Bok taysu menarik napas dan berkata:

"Kepandaian lolap kurang sempurna, sehingga dapat ditangkap hidup2. Hal ini tak dapat lolap salahkan orang lain!"

Gadis cilik itu tiba2 berkata dengan nada suara dingin:

"Aku sudah bebaskan padri tua ini, kaupun sudah seharusnya segera menepati janjimu! Bawalah pergi aku pada enciku."

Auwyang Thong meratap beberapa orang yang berdiri dibelakang gadis cilik itu, kemudian berkata sambil tertawa:

"Untuk membawamu pergi menengok encimu bukanlah soal sulit. Tetapi, aku tak tahu apakah kau mempunyai cukup keberanian?"

"Keberanian apa yang kau maksudkan!"

"Aku hanya dapat mengajak kau sendiri saja. Semua orang bawahanmu tak boleh ikut serta."

Gadis cilik itu nampak berpikir sejenak sebelum berkata, "Baiklah," akhirnya ia berkata, "aku akan pergi seorang

diri!"

Kemudian ia berkata kepada orang2nya: "Kalian semua tunggu aku di ini!"

Setelah itu dengan tindakan lebar ia berjalan menghampiri Auwyang Thong.

Tiat Bok Taysu yang sudah mengalami sendiri penderitaan dari akal muslihat gadis cilik itu, ketika melihat gadis cilik itu menghampiri Auw-yang Thong, buru2 berkata: "Auwyang pangcu, budak hina itu pandai menggunakan obat yang bisa memabukkan orang! Pangcu harap hati2 sedikit menghadapinya !"

Si pengawal besi Ciu Tay Cie yang berdiri dibelakang Auw- yang Thong tiba2 melangkah maju setapak, menghadang didepan Auwyang Thong. Sambil melambungkan perutnya yang gendut ia merintangi majunya gadis cilik itu seraya katanya;

"Jangan maju lebih jauh!''

"Kau mau apa?" hardik sigadis cilik itu dengan alis berdiri. "Betapa tinggi derajat Pangcuku, apakah kau kira dapat

dipersamakan dengan kau yang masih sebagai anak kemarin sore ini? Jangan kau berbuat dengan sesuka hatimu!"

Gadis cilik itu perdengarkan suara dari hidung, lalu menghentikan kakinya. Setelah mana ia berkata sambil mengeretakkan gigi:

"Satu hari kelak kau jatuh ditanganku, pasti akan kubelek perutmu yang gendut itu. "

"Perutku ini apakah semudah itu dapat dibelek? jikalau kau tidak percaya, marilah kita coba2 dahulu." berkata si Pengawal Besi sambil tertawa ter-bahak2.

Tiat Bok taysu terkejut mendengar perkataan si gendut itu, Ia buru2 memperingatkan:

"Budak perempuan itu berkepandaian tinggi, setiap turun tangan selalu menggunakan ilmunya yang bersifat ganas. Kau tidak boleh bertempur dengan dia."

Sebaliknya dengan Auwyang Thong, orang ini bersikap acuh tak acuh seolah2 tidak tahu menahu kejadian sekelilingnya, bahkan terhadap ucapan padri itupun ia tak memberikan reaksi sedikit juga. Gadis cilik per-lahan2 mengangkat tangan kanannya, ia berkata dengan nada suara dingin:

"Seranganku ini kalau sampai menghancurkan ususmu, jangan kau sesalkan aku."

"Aku yakin masih sanggup menerima beberapa kali seranganmu! Lekaslah turun tangan dengan sesuka hatimu." berkata Ciu Tay Cie sambil tertawa.

Gadis cilik itu meskipun sudah mengangkat tangannya, tetapi matanya menatap Auw-yang Thong, agaknya meminta persetujuan darinya dahulu sebelum ia turun tangan.

Auwyang Thong agaknyapun telah mengerti akan maksud gadis cilik itu yang segan turun tangan, maka ia lalu berkata sambil tersenyum:

"Itu salahku, sehingga orangku ini sampai begitu berani berlaku kurang sopan terhadap Kiuncu. Tidak halanganlah rasanya untuk Kiuntju ajar adat dia sekali ini, supaya lain kali jangan dia berani2 lagi."

Tiat Bok taysu yang mendengar perkataan Auw-yang Thong itu, dalam hatinya diam2 merasa cemas sendiri, tetapi ia tidak bisa melarang, ia hanya secara diam2 memuji nama Buddha.

Paras gadis cilik itu merah membara. Dari situ dapat dibayangkan betapa besar napsunya yang akan mencelakakan Sigendut itu. Matanya menatap perut Ciu Tay Cie yang gendut itu, karena perut yang gendut bulat bagaikan tambur itu, sehingga ia tak dapat menemukan ditempat mana bagian jalan darahnya.

Auw-yang Thong yang menyaksikan sikap sigadis cilik yang agaknya ragu2, lalu berkata dengan suara dingin:

"Jikalau kau tidak berani mencoba, kamipun takkan memaksamu! Bila kau berani main gila, itu sama artinya kau cari. " Belum lagi selesai ucapannya, sigadis cilik dengan suatu gerakan yang luar biasa hebat telah mengadakan penyerangan yang mengarah perut orang gendut dihadapannya.

Serangan tersebut menimbulkan suara keras ketika sampai pada sasarannya, terdengar bagaikan pukulan pada tambur besar. Tetapi Ciu Tay Cie tertawa ter-bahak2 benar saja sedikitpun, ia tak terluka.

Tiat bok Taysu yang menyaksikan kejadian aneh di depan matanya, mengerutkan  alisnya.

Dalam hati diam2 berpikir: "Kepandaian gadis ini sangat tinggi, pukulannya itu cukup keras, sungguh aneh mengapa Ciu Tay Cie tidak men dapat halangan suatu apa2."

Ciu Tay Cie menghentikan suara tertawanya kemudian berkata:

"Kau sudah memukul perutku sekali, sekarang haruslah aku balas menyerang atau tidak?"

Gadis cilik itu tercengang mendengar pertanyaan yang agak jenaka itu, ia tak tahu bagaimana harus menjawab.

Auw-yang Thong lalu berkata sambil tertawa; "Khuncu adalah seorang dari golongan tinggi bagaimana kau boleh melanggar sembarangan? Lekas menyingkir!"

Ciu Tay Cie minggir kesamping dua langkah sambil berkata: "Khuncu, silahkan,"

Auw-yang Thong membalikkan badannya seraya berkata sambil tertawa: "Aku akan jalan dimuka, harap Khuncu mengikuti jejakku."

Ia lalu berlalu dan jalan berendeng dengan Tiat-bok Taysu.

Gadis cilik itu ternyata sungguh berani. Dengan tak ragu2 ia mengikuti dari belakang. Sementara itu Ciu Tay Cie juga berjalan dibelakang gadis cilik itu. Sedangkan delapan orang anak buah golongan pengemis tiba2 berpencaran, masing2 mengeluarkan senjata rahasianya yg terikat disabuk pinggangnya.

Dengan sinar mata gusar mengawasi gadis cilik itu, asal ia berani sedikit bertindak gegabah, segera akan diserangnya lebih dahulu.

Sampai Auw-yang Thong dan gadis itu tidak kelihatan jejaknya, barulah delapan orang itu meninggalkan tempat tersebut.

Auw-yang Thong yang membawa gadis cilik itu, berjalan kira2 lima pal jauhnya, tibalah dihadapan sebuah rumah gubuk yang terkurung oleh pagar bambu.

Pintu pagar bambu terbuka. Seorang wanita pertengahan umur yang ayu menyambut kedatangannya sambil tersenyum.

Tiat Bok taysu terkejut bukan main melihat siapa adanya wanita itu. Ia berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat:

"Nyonya Ho!"

Sikap nyonya janda Ho yang agak genit itu agaknya telah banyak berubah. Ia tersenyum dan berkata:

"Losiansu, aku sekarang sudah menjadi anggota golongan pengemis. Atas kebaikan Pangcu aku kini telah diangkat sebagai Tongcu bagian hukum."

Auw-yang Thong berkata:

"Keputusan saudara Teng yang meninggalkan golongan pengemis, sudah cukup. Sebelum pergi ia tak dapat melupakan orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan penting dalam golongan kita. Orang2 yang akan menduduki jabatan2 itu semua diajukan atas usulnya. Mengenai Tongcu bagian hukum ini, juga atas usul yang sangat dari saudara Teng..... Sekarang, semua jabatan yang penting itu sudah terisi, mungkin waktu berlalunya semakin mendekat."

Orang kuat yang sangat berpengaruh didalam rimba persilatan daerah Tiong-goan itu, dalam pembicaraannya itu dipengaruhi oleh perasaan dukanya yang tidak terhingga, dari sikapnya saja sudah jelas mengunjukan betapa besar penghargaannya terhadap penasehatnya.

Tiat-bok Taysu berkata sambil menghela napas perlahan: "Sewaktu lolap masih berada digereja Siao-liem-sie, juga

pernah mendengar kepandaiannya Siao-yao Siucai Teng Soan, ia sudah mau membantu golonganmu, sehingga sepuluh tahun lebih lamanya, sudah tentu bukan tidak ada sebabnya, apabila Pangcu bisa menahan maksud hendak mengundurkan diri dengan secara yang sebaik-baiknya. mungkin ia dapat menarik kembali maksudnya."

"Golongan pengemis bisa mendapat kedudukkan seperti sekarang ini, sebahagian besar adalah berkat tenaga Teng Soan, apabila ia bertekad hendak mengundurkan diri, hal ini, bagi kita golongan pengemis sesungguhnya merupakan Suatu kerugian yang besar sekali," berkata Auwyang Thong sambil bersenyum.

Nyonya janda Ho tiba2 berkata:

"Oleh karena rencana si Siucay tua itu, sehingga rimba hitam yang diusahakan oleh suamiku dengan jerih payah, kini telah musnah dimakan api, dan aku jandanya ini mau tidak mau terseret lagi untuk terjun ke dunia kang-ouw, sedangkan ia sendiri hendak mengundurkan diri, sehingga memaksa aku untuk menduduki jabatan yang sekarang ini, nanti bila aku bertemu dengannya, aku pasti hendak minta penjelasan darinya."

Setelah itu ia mundur kesamping untuk memberi jalan kepada tetamunya. Auwyang Thong lalu mempersilahkan tetamunya masuk kedalam. Selagi Tiat Bok taysu hendak berjalan masuk, gadis cilik itu tiba2 bergerak mendahuluinya.

Dibelakang pagar bambu, terdapat sebuah taman bunga yang cukup luas, tiga buah bangunan atap yang sangat rapih bentuknya, berdiri di tengah2 taman bunga itu.

Didalam rumah itu nampak bergerak bayangan orang, tetapi tidak terdengar suaranya.

Gadis cilik itu tiba2 mempercepat gerak kakinya, dengan mendahului tuan rumahnya langsung menuju kesalah satu diantaranya.

Nyonya Ho yang menyaksikan tingkah laku gadis cilik itu, lalu berkata sambil tertawa dingin:

"Nona cilik, kau sedikitpun tidak mengenal aturan." Tangannya segera bergerak menyambar tangan kanan gadis itu.

Dengan satu gerakan yang amat gesit, gadis cilik itu dengan mudah dapat mengelakkan sambaran tangan nyonya Ho.

Tetapi karena itu, tindakannya agak terlambat, dengan demikian sehingga Tiat Bok taysu dapat menyusulnya, untuk masuk kedalam rumah.

Nyonya Ho yang menyaksikan semua itu, segera menggeser kakinya menghadang dihadapan gadis cilik itu, kemudian mempersilahkan Pangcunya masuk lebih dulu.

Dengan diikuti oleh Tiat Bok taysu, Auwyang Thong masuk kedalam rumah. Setelah itu, nyonya Ho lalu mempersilahkan gadis cilik itu masuk kedalam.

Gadis cilik itu mengawasi nonya Ho dengan sinar mata dingin, kemudian berkata: "kau ingat baik2 kejadian hari ini, dikemudian hari kau harus bayar atas perbuatanmu ini." "Urusan dikemudian hari, dikemudian hari saja kita bicarakan, sekarang kau sebaiknya hati2 sedikit, supaya tidak menyusahkan dirimu sendiri," berkata nyonja Ho,

Gadis cilik itu meskipun nakal, tetapi sangat cerdik dan mengenal gelagat, karena mengetahui dirinya hanya seorang diri, ia tahu harus mengandalkan perasaannya sendiri, maka ia lalu masuk kerumah tanpa berkata apa2.

Tiba didalam rumah, ia baru tahu bahwa di dalam rumah itu sudah penuh oleh manusia, disatu sudut sebelah barat, diatas bangku kayu, duduk seorang gadis berbaju putih dengan rambut yang panjang terurai dikedua pundaknya.

Gadis cilik itu lalu memburunya sambil berseru: "Enci!"

Gadis berbaju putih itu, bukan lain dari pada Nie Soat Kiao yang menyaru menjadi anak perempuan Pan-lo enghiong, waktu itu ia membuka matanya perlahan-perlahan dan berkata sambil tertawa hambar:

"Kau juga datang kemari!"

Gadis cilik itu tidak mengeluarkan perkataan lagi, hanya dengan sinar matanya tajam mengawasi diri Nie Soat Kiao, lama baru berkata:

"Adakah mereka tidak menyiksamu?"

"Tidak, mereka kecuali menotok beberapa bagian jalan darahku, masih belum menggunakan siksaan terhadap diriku," berkata Nie Soat Kiao.

"Apakah mereka pernah menanyakan kepadamu sesuatu urusan?"

"Sudah tentu ada."

"Apakah kau sudah menjawab sejujurnya?"

Nie Soat Kiao tiba-tiba buka lebar matanya menatap paras gadis cilik itu, kemudian berkata dengan nada suara dingin; "Apakah maksudmu dengan cara begini menanyai aku ini?"

Gadis cilik itu tidak bisa menjawab pertanyaan encinya mendadak berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong:

"Apakah ucapanmu tadi berlaku semua?"

"Satu laki-laki harus pepang semua janjinya bagaimana tidak berlaku?" berkata Auwyang Thong.

"Kalau begitu bagus, dengan seorang diri dan tangan kosong aku ikut kalian datang kemari, sudah tentu aku juga boleh pergi dengan bebas betul tidak?" bertanya gadis cilik itu sambil tersenyum.

"Tentang ini aku agaknya belum pernah memberi janji kepadamu, tetapi karena sekarang kau sudah majukan sendiri, jikalau aku tidak terima baik, agaknya kurang layak. "

"Jadi kau terima baik baik permintaanku!"

"Baiklah, aku terima baik permintaanmu.... tetapi, hanya untuk sekali ini saja, nanti setelah kau berlalu dari sini dan bergabung dengan orang-orangmu lagi, perjanjian ini sudah tidak berlaku lagi."

"Itu sudah tentu," berkata gadis cilik itu, kemudian dengan sekonyong-konyong ia berpaling dan berkata kepada Nie Soat Kiao:

"Jikalau enci membuka rahasia ayah, sekalipun adikmu berhasil menolong kau keluar dari sini, barangkali juga tidak luput dari hukuman ayah yang keras. "

"Siapa kata aku membocorkan rahasia?" berseru Nie Soat Kiao dengan suara tajam.

Sikap gadis cilik itu seperti biasa, sedikitpun tidak menunjukkan perasaan kasihan dengan tenang ia berkata sambil tersenyum: "Kalau kau tidak membocorkan rahasia, itulah yang paling baik....." tangannya dimasukan kedalam saku, lalu mengeluarkan sebutir obat pel, kemudian berkata pula: "Lekas makan obat ini! Supaya selanjutnya tidak usah dikhawatirkan kau akan membocorkan rahasia lagi."

Wajah Nie Soat Kiao berubah, sekujur badannya gemetaran, katanya:

"Bie-siem-wan?"

Gadis cilik itu menjawab sambil menganggukkan kepala: "Benar, tetapi enci harus mengerti, semua untuk

kebaikanmu, setelah kau makan obat ini ayah tidak akan

mencurigai kau membocorkan rahasia lagi, tidak peduli mereka menggunakan siksaan badan bagaimana beratnya terhadap kau, kau juga tidak usah khawatir."

Ujung jidat Nie Soat Kiao sudah basah dengan air peluh, suatu tanda bahwa dalam hatinya sangat takut dengan obat itu.

Gadis cilik itu berkata lagi dengan lemah lembut: "Aku tahu bahwa dengan mengandalkan kekuatan dan kepandaianku sendiri, aku tidak dapat menolongmu, apabila urusan ini dibiarkan terus, terhadap kau akan banyak ruginya dari pada untungnya, pikir saja, kalau makan obat ini, apakah bukan lebih baik dari pada menahan siksaan badan?"

Perkataan itu, keluar dari mulutnya seorang gadis belasan tahun, ternyata diucapkan dengan sikap begitu tenang, sedikitpun tidak ada tanda-tanda terpengaruh perasaannya, ini benar benar merupakan suatu kejadian yang aneh.

Nie Soat Kiao yang beradat sombong dan tinggi serta menganggap kematian sebagai soal biasa dengan perasaan gusar matanya mengawasi obat pel ditangan gadis cilik itu. Auw-yang Thong, Tiat Bok taysu dan lain2nya, semua tujukan perhatiannya kepada dua gadis itu, terutama terhadap perubahan sikap nie Soat Kiao.

Sikapnya yang semula nampak sangat tegang per-lahan2 pulih kembali, dengan memandang Auwyang Thong dan lainnya, gadis itu berkata sambil menghela napas perlahan:

"Baiklah. Masukan obat itu kedalam mulutku!"

Paras gadis cilik itu, mengunjukkan suatu senyuman, lalu berkata dangan suara lembut:

"Enci setelah makan obat ini, boleh istirahat disini dengan tenang, aku akan berusaha selekas mungkin untuk memberitahukan urusan ini kepada ayah, minta supaya dikirim orang kuat lekas menolong kau keluar dari sini."

Dengan gerakan lambat2 ia mengangsurkan obat itu kemulut Nie Soat Kiao.

Auw-yang Thong bergerak dengan cepat, ia berhasil merebut obat itu dari tangan gadis itu. Tindakan luar biasa cepatnya pemimpin golongan pengemis itu benar2 mengejutkan Tiat Bok taysu, pikirnya: 'orang ini bukan saja berkepandaian sangat tinggi, tetapi juga dapat mengambil keputusan dengan cepat.'

Gadis cilik itu meskipun sudah waspada, tetapi karena gerakan Auwyang Thong terlalu gesit, sehingga membuatnya tidak berdaya, Nie Soat Kiao agaknya juga tidak sudi makan obat itu, ia sengaja memperlambat membuka mulutnya, sewaktu membuka mulutnya, obat pel itu sudah berada ditangan Auwyang Thong, Auwyang Thong sekilas lintas mengawasi pel ditangannya, kemudian diberikan kepada Ciu Tay Cie seraya berkata:

"Simpanlah baik2. "

Kemudian matanya ditujukan kepada gadis cilik itu, lalu berkata padanya sambil tertawa dingin: "Aku hanya berjanji membawa kau bertemu dengan encimu, tetapi tidak mengijinkan kau berbuat sesukamu."

Gadis cilik itu meskipun usianya masih muda, tetapi ternyata sangat cerdik dan banyak akalnya, ia dapat memperhitungkan keadaan musuh dan keadaannya sendiri, matanya yang jernih berputaran menyapu keadaan disitu sebentar kemudian berkata sambil tersenyum: 

"Ini adalah urusan kita berdua saudara.   "

"Kau jangan lupa bahwa encimu sekarang sudah menjadi tawanan kita, apabila kau sudah tidak ada urusan penting, sebaiknya lekas berlalu dari sini!" berkata Auw-yang Thong sambil tertawa dingin.

"Bagaimana kalau aku tidak mau pergi?"

"Terpaksa aku tidak dapat melindungi keselamatanmu lagi!"

Gadis cilik itu agaknya mengerti dirinya tidak sanggup melawan musuh-musuhnya, maka ia terpaksa berlaku sabar, dengan menunjukkan sikap agak berat ia berkata:

"Baiklah, sekarang aku hendak pergi."

Auw-yang Thong berpaling dan berkata kepada Ciu Tay Cie: "Antar dia keluar."

Gadis cilik itu berjalan baru beberapa tindak tiba2 berpaling dan berkata kepada Nie Soat Kiao:

"Enci, pikirlah baik2, peribahasa mengatakan: siksaan hidup adalah yang paling hebat!"

"Adik jangan khawatir, lekas beritahukan kepada ayah, supaya lekas kirim orang untuk menolongku....." berkata Nie Soat Kiao sambil menganggukkan kepala.

"Aku pasti akan berusaha secepat mungkin untuk memberitahukan urusan ini kepada ayah, disamping itu aku akan mengumpulkan semua orang2 kita yg tersebar didaerah selatan dan daerah Tiong-goan, supaya lekas dapat menolong kau. "

"Kalau begitu aku menyusahkan dirimu saja."

"Tetapi jejak ayah selalu tidak menentu, sedang orang2 kita yang tersebar didaerah Tiong-goan dan selatan juga terlalu memencar, dalam waktu singkat mungkin tidak mudah diketemukan, jikalau kau merasa tidak tahan hidup lebih lama lagi, sebaiknya lekas berusaha menghabiskan jiwamu sendiri, biar bagaimana kalau sudah mati kita nanti toh akan menuntut balas untukmu."

Auw-yang Thong, Tiat Bok taysu dan lain2nya yang mendengarkan perkataan gadis cilik itu pada terkejut semua menganggap bahwa hati gadis cilik itu sangat kejam.

Nie Soat Kiao berkata dengan suara sedih: "Maksudmu aku sudah mengerti, kalau nanti aku merasa sudah tidak sanggup tahan siksaan, sudah tentu aku bisa berbuat seperti katamu."

"Kalau enci berbuat demikian, tidak ter-sia2 ayah mendidikmu "

Ciu Tay Cie yang beradat berangasan, sudah tidak sabar menunggu lebih lama, ia berkata dengan suara keras; "Perlu apa demikian ceriwis, lekas jalan."

Gadis cilik itu berpaling dan mendelikan matanya kepada Ciu Tay Cie, lalu berkata:

"Jalan ya jalan, tapi jangan galak."

"Kalau bukan karena perintah Pangcu, siapa sudi mengantar seorang gadis yang masih bau pupuk bawang ini."

Gadis cilik itu tidak berkata apa2 lagi, ia membalikkan badannya dan berjalan keluar.

Delapan pengawal golongan pengemis yang setiap orang dipinggangnya membawa senjata rahasia yang berbentuk aneh, ketika menyaksikan gadis cilik itu berjalan keluar, segera bergerak dengan cepat menghadang didepannya.

Ciu Tay Cie maju dua langkah, ia berkata kepada delapan pengawal itu sambil memberi hormat:

"Pangcu ada perintah suruh membebaskan dia, tolong supaya memberi jalan kepadanya."

Delapan orang itu meskipun minggir kesamping dua langkah untuk memberi jalan, tetapi di wajah setiap orang menunjukkan perasaan terpaksa.

Gadis cilik itu mengawasi delapan orang itu sejenak, hatinya mendadak tergerak, pikirnya: 'delapan orang ini seperti bukan anak buah golongan pengemis yang biasa.'

Kiranya delapan orang yg mengenakan pakaian warna abu2, bukan saja pakaiannya sama usianya juga sebaya satu sama lain, tinggi tubuhnya hampir sama, begitu pula gerak- gerik dan sikapnya mirip satu sama lain, jelas bahwa orang itu telah dididik dan dilatih secara keras.

Ciu Tay Cie yang mengajak keluar gadis cilik itu, berjalan kira-kira sepuluh tombak, tiba tiba berhenti dan berkata: "Aku siorang she Ciu tidak akan mengantar kau lagi."

Dengan tanpa menunggu jawaban gadis itu, ia sudah berjalan pulang.

Sementara itu Auw-yang Thong setelah gadis cilik itu berlalu, lalu berpaling dan berkata kepada Nie Soat Kiao: "Apakah gadis cilik tadi itu adikmu!'"

"Kita semua adalah anak pungut Kun-liong Ong sudah tentu merupakan saudara," menjawab Nie Soat Kiao.

"Hubungan antara kalian bersaudara, nampaknya sangat ruwet," Berkata Auw-yang Thong sambil tertawa dingin.

"Ia suruh aku makan obat, itu juga bermaksud baik, supaya aku tidak memberi keterangan kepada kalian karena tersiksa." Dalam mata Auwyang Thong yang sangat tajam, sudah dapat melihatnya betapa takutnya Nie Soat Kiao terhadap obat pel itu, ia berpaling dan berkata kepada Ciu Tay Cie yang baru kembali habis mengantar gadis cilik tadi: "Berikan obat pel itu kepadaku."

Ciu Tay-Cie lalu memberikan obat pel itu kepada Auwyang Thong.

Nie Soat Kiao ketika menyaksikan obat pel itu parasnya tiba-tiba berubah, tetapi ia masih berusaha menenangkan pikirannya, ia berpura-pura berlaku acuh tak acuh.

Auwyang Thong menghampiri Nie Soat Kiao, dengan sikap sungguh-sungguh berkata;

"Rahasia kekuatan Kun-liong Ong, tidak lain hanya mengandalkan kekuatan obat, untuk mengendalikan anak buahnya, obat pel ini tentunya mengandung racun yg besar pengaruhnya untuk mengendalikan anak  buahnya. "

Sementara itu ia sudah berada dihadapan Nie Soat Kiao, dengan kedua jari tangannya ia menjepit obat pel itu lalu dihadapkan kemulut Nie Soat Kiao.

Menghadapi ujian berat itu, paras dan sikap Nie Soat Kiao bertambah tidak karuan, air peluh bercucuran dijidatnya.

Tiat-bok Taysu tiba-tiba perdengarkan suara memuji nama Buddha kemudian berkata:

"Auw-yang Pangcu."

Auw-yang Thong berpaling sambil menyahut: "Losiansu ada urusan apa, katakanlah saja."

"Harap pangcu sabar sedikit, lolap masih hendak membawa gadis ini kegereja Siao-lim-sie," berkata Tiat-bok Taysu.

"Losiansu menghendaki demikian, bagaimana siaote berani tidak menurut. " Tiba-tiba lenyap senyum diatas wajahnya dan berkata pula: "Apabila Teng Soan berada disini, tidak sulit baginya untuk mencari tahu sifatnya obat ini."

"Setelah makan obat pel ini, orang akan kebilangan ingatannya, hingga mulai saat itu orang itu akan berobah menjadi orang linglung." berkata Nie Soat Kiao.

"Oleh karena itu maka nona begitu takut kepada pel obat itu."

Pada saat itu seorang berpakaian abu-abu tiba tiba masuk, dari jauh sudah memberi hormat kepada Auw-yang Thong kemudian berkata, "Teng-ya datang."

Semangat Auw-yang Thong terbangun seketika ia berkata sambil tertawa: "Silahkan ia masuk,"

Sementara itu dia sudah keluar menyambut tindakannya itu diikuti oleh nyonya Ho dan Tiat Bok taysu.

Sebuah kereta yang ditarik oleh keledai, nampak lari mendatanginya, dibelakang kereta diikuti oleh lima orang penunggang kuda.

Kereta itu berhenti dipagar bambu, dari dalam nampak keluar Teng Soan yang berpakaian seorang pelajar.

-odwo-

Bab-45

LIMA penunggang kuda dibelakang kereta itu, masing- masing adalah Koan Sim Seng, Kie Bok taysu, Hui Kong Leang, Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie.

Siao-yao siucai Teng Soan maju menghampiri pemimpinnya, ia hendak memberi hormat, tetapi buru-buru dicegah oleh Auw-yang Thong seraya berkata:

"Sian-seng tidak perlu banyak peraturan." "Hambamu menurut."

Kemudian ia mengawasi keadaan disekitarnya, lalu berkata pula sambil tertawa: "Bagaimana keadaan pertempuran dirimba hitam?"

"Dengan mengandalkan perhitungan yang tepat dari sianseng, hanya terluka beberapa pengawal Ho Tongcu saja," berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan mengawasi nyonya Ho, lalu berkata sambil memberi hormat:

"Ini adalah salahku siorang Teng yang kurang sempurna mengatur rencananya, sehingga Ho kongcu kehilangan beberapa pengawal, disini aku minta maaf sebesar-besarnya."

"Kau si siucai ini, kiranya sudah lama berusaha menarik diriku supaya terjun lagi kedunia Kang-ouw, aku tidak tahu apakah maksudmu nanti seratus tahun kemudian, bagaimana kau ada muka untuk menjumpai arwah suamiku di alam baka?" berkata nyonya Ho sambil menghela napas perlahan. Meskipun ucapannya itu mengandung teguran, tetapi ia masih tidak lupa untuk memberi hormat.

"Pangcu sangat suka kepada orang pandai haus sekali untuk mendapatkan tenaga orang yang benar2 pandai, Tongcu berkepandaian luar biasa, tidak kalah dengan orang lelaki, untuk menjabat bagian hukum, pasti dapat menertibkan segala hukum dalam golongan pengemis, semoga dapat memberi tauladan dalam rimba persilatan, rimba hitam meskipun baik dan cukup sentosa, tetapi bukan tempat yang ideal bagi kediaman nyonya untuk se-lama2nya......" berkata Teng Soan sambil tertawa.

"Kau tidak perlu memuji diriku begitu tinggi, sekarang aku sudah menjadi seorang yang sudah tidak mempunyai tempat tinggal, karena sudah menyanggupi untuk menjabat jabatan Tongcu bagian hukum pada Pangcu, sudah tentu aku akan menyumbangkan apa yang aku bisa tidak akan mempunyai pikiran lain."

Sementara itu Koan Sam Seng dan lain2nya semua sudah turun dari atas kuda masing2 dan memberi hormat kepada Auw-yang Thong. Tiat Bok taysu dan lain2nya, hanya Siang- koan Kie yang masih tetap duduk diatas kudanya dengan sikapnya seperti orang linglung.

Auwyang Thong mengawasi Siang-koan Kie sejenak, kemudian bertanya kepada Teng Soan; "Masih ada berapa orang, mereka kemana?"

Sebelum Teng Soan menjawab, sudah didahului oleh Koan Sam Seng:

"Dua jago pedang dari Ceng-sia-pay sudah diminta kembali oleh ketua Ceng-sia-pay Thay Lie Totiang, sedangkan pemuda yang mirip monyet itu, ditengah jalan mendadak kambuh adat liarnya, ia berhasil memutuskan tali yang membelenggu dirinya dan kabur "

"Apakah kalian tidak mengejar?" bertanya Auwyang Thong. Hui Kong Leang tiba2 menyelak:

"Pemuda itu gesit sekali gerakannya, siaotee jarang melihat orang yang mempunyai kegesitan serupa itu, siaotee ber- sama2 dengan saudara koan, Kie-bok Taysu, turun tangan menangkapnya, tetapi tidak berhasil merintangi tindakannya."

Kie bok Taysu berkata sambil menghela napas perlahan: "Perkataan Hui-tayhiap memang tidak salah kegesitan

pamuda itu, merupakan salah seorang kuat yang tak pernah kulihat selama hidupku."

"Ada kejadian serupa itu?" bertanya Auw-yang Thong heran. "Pangcu jangan chawatir, jikalau dugaan hamba tidak keliru, sebelum matahari terbenam ia akan datang sendiri kemari," berkata Teng Soan sambil tertawa.

Auw-yang Thong tidak bertanya lagi, ia mengalihkan pembicaraannya kelain soal: "Tuan2 sudah terlalu letih melakukan perjalanan demikian jauh, silahkan mengaso didalam, nanti kita bicara lagi."

Setelah itu dia mengajak semua tetamunya masuk kedalam.

Teng Soan berpaling kearah delapan laki2 berpakaian abu2, delapan laki2 itu agaknya sangat menjungjung tinggi Teng Soan, ketika Teng Soan menghampiri semua lalu berlutut ditanah

Teng Soan lalu berkata sambil tersenyum: "Kalian bangunlah."

Delapan orang itu menurut, mereka berbahasakan Teng Soan susiok.

"Nama empat puluh delapan pahlawan golongan pengemis, sudah terkenal dikalangan Kang-ouw, semoga nama kalian delapan hulu balang dapat mengejarnya, sehingga tidak mengecewakan harapan Pangcu dan harapanku," berkata Teng Soan sambil tertawa.

Delapan orang berpakaian abu2 itu menyahut dengan serentak:

"Didikan susiok selama 8 tahun sudah kita pahami seluruhnya, semoga dalam waktu singkat ini, kita mendapat kesempatan untuk menyumbangkan tenaga. "

Teng Soan mengerutkan alisnya, berkata dengan suara perlahan:

"Sedari dahulu kala, orang yang sombong pasti hancur, kalian baru keluar pintu, ternyata sudah berani mempunyai pikiran memandang rendah lawan, harus kalian ketahui bahwa didunia Kang-ouw banyak terdapat orang pandai, kalian belum mendirikan pahala apa2, bagaimana berani berlaku demikian sombong?"

Delapan orang itu menyahut sambil menundukkan kepala; "Teecu sekalian menerima pelajaran susiok."

Teng Soan tersenyum, dengan tindakan lambat2 berjalan kerumah. Didalam rumah sudah menunggu banyak orang.

Teng Soan duduk disamping Auw-yang Thong lalu berkata kepada ketuanya itu dengan suara perlahan: "Adakah Pangcu sudah berhasil menanyakan asal usul Kun-liong Ong?"

"Belum, ia menutup mulut rapat2, sesungguhnya kita tidak berdaya." berkata Auwyang Thong sambil menggelengkan kepala.

Hui Kong Leang berkata dengan nada suara dingin:

"Aku tidak percaya bahwa ia terbuat dari besi, biarlah aku yang mencobanya, ia mau menerangkan atau tidak."

Ia berbangkit dari tempat duduknya berjalan menghampiri Nie Suat Kiao.

Tiat Bok taysu tiba2 mengulur tangannya merintangi Hui Kong Leang seraya berkata: "Lolap sudah akan bawa pergi dari sini, untuk menunaikan tugas lolap kepada ketua gereja, apabila Hui-tayhiap menggunakan tangan besi sehingga melukainya, ditengah perjalanan mungkin akan menimbulkan banyak kesulitan."

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara tindakan kaki berat.

Dilain saat, tampak Siang-koan Kie berjalan masuk setindak demi setindak, kedua tangannya yang terikat oleh tali kuat, berada didepan dadanya, dengan sepasang mata terbuka lebar, mengawasi wajah Nie Suat Kiao, sikapnya nampak sangat agung, se-olah2 berjalan ditempat kosong yang tiada orangnya. Touw Thian GouW berdiri diambang pintu, mengawasi belakang Siang-koan Kie dengan perasaan kagum.

Muka Siang-koan Kie yang kuning, nampak tegas menundukkan kegusarannya, dengan tindakkan lambat2 ia berjalan menghampiri Nie Siat Kiao.

Sebentar terdengar suara bentakan keras, tali-tali yang mengikat kuat kedua tangan Sing-koan Kie telah terputus.

Kekuatan tenaga itu mengejutkan semua orang yang ada disitu, semua mata ditujukan kepadanya dengan sikap terheran-heran.

Setelah Siang-koan Kie memutuskan tali yang mengikat tangannya, matanya per-lahan2 menyapu keparas semua orang, kemudian dengan kecepatan bagaikan kilat ia menggunakan tangannya untuk membabat putus tali2 yang mengikat tubuh Nie Soat Kiao.

Demikian cepat gerakannya itu, sehingga meskipun orang lain hendak merintangi juga sudah tidak keburu.

Meskipun tali yang mengikat tubuh Nie Soat Kiao sudah putus, tetapi beberapa bagian jalan darahnya masih tertotok, sehingga tidak bisa bergerak, terpaksa ia menggunakan tangannya menggapai kearah Siang-koan Kie seraja berkata dengan suara rendah:

"Beberapa bagian jalan darahku telah tertotok, sehingga tidak bisa bergerak, sebaiknya kau gendong aku keluar."

Siang-koan Kie mendongak sebentar, lalu menganggukkan kepalanya, kemudian menarik tubuh Nie Soat Kiao dan digendongnya, setelah itu ia memutar tubuhnya dan berjalan keluar.

Semua orang menyaksikan ia membawa pergi Nie Suat Kiao, dalam hati merasa cemas, Tiat-bok taysu yang lebih dulu bergerak merintanginya seraya berkata : "Sicu hendak kemana?"

Dengan perasaan bingung Siang-koan Kie memandang Tiat Bok taysu sebentar, tiba2 mengangkat tangannya dan menyerang.

Tiat Bok taysu menyingkir kesamping, dengan tangan kanannya menyambar pergelangan tangan kanan Siang-koan Kie.

Keadaan Siang-koan Kie seperti orang bingung tetapi kepandaian ilmu silatnya belum lenyap, dengan suatu gaya yang bagus sekali ia mengelakkan sambaran tangan Tiat Bok taysu, kemudian mengerakkan kakinya balas memandang, sedangkan tinju ditangan kiri juga melancarkan satu serangan keras.

Tiat Bok taysu yang diserang secara demikian terpaksa mundur dua langkah.

Siang-koan Kie yang sudah berhasil merebut posisi baik, melancarkan serangannya ber-tubi2 sehingga Tiat-bok Taysu mau tidak mau harus mundur terus.

Hui Kong-leang yang menyaksikan Siang-koan Kie sudah akan menerobos keluar gubuk, dalam hati diam2 berpikir: 'apabila ia berhasil membawa keluar gadis itu, lebih sulit lagi untuk menangkapnya, jika saat ini tidak dirintangi, kira nanti akan tidak berdaya lagi.'

Setelah itu ia lalu melompat keluar, tanpa berkata apa2 sudah menyerang Siang-koan Kie. Siang-koan Kie mengibaskan tangannya menangkis serangan Hui Kong Leang, kemudian balas menyerang.

Dengan demikian berlangsunglah suatu pertempuran sengit dengan Tiat Bok Taysu dan Hui-kong Leang disatu pihak, Siang-koan Kie dilain pihak.

Pertempuran sudah berlangsung 15 jurus lebih, tetapi kedua belah pihak masih sama kuatnya. Suatu saat Siang-koan Kie tiba2 merobah gerak tipu serangnya, ia mengeluarkan dua kali serangan dengan suatu gerakan yang luar biasa anehnya, serangan itu lewat disamping telinga Tiat-bok taysu, dalam terkejutnya Tiat Bok taysu melompat mundur kekiri dua langkah.

Sedangkan Hui Kong Leang terkena pundak kirinya, sehingga melompat mundur empat langkah jikalau tidak keburu Tiat Bok taysu menahan punggungnya, mungkin ia tidak bisa berhenti.

Siang-koan Kie menggunakan kesempatan itu menerobos keluar.

Touw Thian Gouw yang berdiri didepan pintu segera memberi jalan membiarkan Siang-koan Kie berlalu, kemudian ia sendiri lari menyusul, Auw-yang Thong yang menyaksikan mereka tidak mampu merintangi perginya Siang-koan Kie lalu bertindak lebih dahulu keluar mengejar.

Hui Kong Leang segera menyusul dibelakangnya.

Siao yao-siucai Teng Soan buru2 lari kepintu, mengangkat tinggi kipasnya dan di-goyang2kan dua kali.

Pada saat itu Siang-koan Kie dengan Touw Thian Gouw sudah bertempur dengan 8 hulu balang yang merintangi mereka, 8 orang itu sangat gagah, meskipun ilmu silatnya masih belum sanggup menandingi Siang-koan Kie, tetapi dengan bekerja sama yang sangat baik sekali, mereka telah berhasil merintangi dua orang itu.

Ketika Auw-yang Thong dan Hui Koan Leang tiba ditempat tersebut, Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw terjepit di- tengah2.

Nie Suat Kiao yang berada digendongan Siang-koan Kie, tiba-tiba berkata ditelinga pemuda itu:

"Didepan ada musuh kuat yang merintangi perjalanan kita, dibelakang ada juga mengejar, lekaslah berusaha membuka totokanku, supaya aku dapat membantu kalian melawan musuh."

Selama ia berbicara, Auwyang Thong sudah tiba, sambil tertawa dingin pemimpin golongan pengemis itu melontarkan serangannya. Siang-koan Kie mendadak memutar tubuhnya, dengan tangan kanan ia menyambut serangan Auwyang Thong, kesudahannya dua duanya sama-sama mundur satu langkah. Touw Thian Gouw buru-buru lari menghampiri Siang- koan Kie sambil menyodorkan kedua tangannya yang masih terikat. Nie Soat Kiao yang berada diatas gendongan Siang- koan Kie, buru-buru berkata:

"Lekas putuskan tali yang mengikat tangannya, biar ia yang menahan musuh dari belakang dan kau Lekas berusaha membuka totokanku."

Dengan tangan kanan Siang-koan Kie melontarkan satu serangan hebat menyerang Auw-yang Thong, sedang tangan kirinya memutuskan tali yang mengikat Touw Thian Gouw. Setelah Touw thian Gouw bebas kedua tangannya segera mengeluarkan senjata pecutnya membuka serangannya dengan satu gerakan menyapu.

Auwyang Thong menyambut serangan Siang-koan Kie, badannya terpental mundur satu langkah, hingga dalam hati mengagumi kekuatan pemuda itu.

Sementara itu Touw Thian Gouw dengan senjata pecutnya yang pernah malang melintang di dunia Kang-ouw, untuk sementara sudah berhasil menahan musuhnya mengejar dari belakang.

Delapan hulu balang masing-masing sebetulnya sudah siap hendak menggunakan senjata rahasianya yang berbentuk aneh itu, tetapi setelah melihat Teng Soan menggoyang- goyangkan kipasnya,lalu membatalkan maksudnya.

Siang-koan Kie dengan cepat menurunkan Nie Soat Kiao dari atas punggungnya, kemudian membuka totokannya. Setelah totokannya terbuka, Nie Soat Kiao menarik napas lega dan lompat hendak menghadapi musuh-musuhnya.

Hui Kong Leang menyaksikan Tiat-bok dan Kie-bok Taysu berdiri disamping, agaknya tiada maksud turun-tangan, lalu berkata kepada mereka sambil tertawa dingin:

"Apakah losiansu berdua masih bermaksud hendak membawa pulang nona Nie itu?"

Auw-yang Thong menghadapi Touw Thia Gouw, tetapi Touw Thian Gouw yang namanya sudah lama tersohor itu, terutama senjata pecutnya, sulit diduga setiap gerakannya, maka beberapa kali ia bermaksud hendak merebut senjata dari tangannya, tetapi selama itu belum berbasil dengan usahanya.

Sementara itu Nie Soat Kiao yang sudah berdiri, nampak memejamkan matanya mengatur pernapasannya, ia sudah siap hendak menghadang musuh-musuhnya.

Hui Kong Leang lompat menerjang Siang-koan Kie, keduanya lalu bertempur lagi, ia sudah tahu bahwa pemuda itu tinggi sekali kepandaiannya, maka kali ini ia harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Kedua lawan itu bertempur dengan seru, sebentar saja empat puluh jurus sudah dilalui tetapi belum ada satu pihak yang nampak keteter.

Nie Suat Kiao setelah memperoleh kekuatannya, tiba2 membuka sepasang matanya dan mengeluarkan seruan:

"Lekas menerjang keluar! "

Siang-koan Kie lalu mengeluarkan bentakan keras, gerak tipu serangannya berubah dengan tiba-tiba, sekaligus melancarkan tiga kali serangan.

Tiga kali serangan itu bukan saja mengandung perobahan2 yang aneh, tetapi serangannya itu juga ditujukan ketempat yang harus dibela oleh lawannya, serangan itu membuat Hui Kong Leang terdesak mundur.

Kie Suat Kiao dan Touw Thian Gouw segera mengikuti dibelakangnya, menerjang keluar. Tiat Bok dan Kie bok taysu yang menyaksikan tiga orang itu sudah berhasil hendak keluar dari kepungan, hati mereka sangat cemas, Tiat Bok taysu segera bergerak merintangi Siang-koan Kie sambil melontarkan dua kali serangan.

Siang koan Kie ternyata gagah sekali, dengan sangat berani ia menyambut serangan Tiat Bok taysu.

Setelah dua lawan itu mengadu tenaga dengan kekerasan, ke-dua2nya sama-sama terpental mundur dua langkah, selagi Tiat Bok taysu mengatur pernapasannya, Siang-koan Kie sudah menyerang lagi dengan jari tangannya.

Tiat Bok taysu agaknya tidak menduga bahwa pemuda itu setelah mengadu kekuatan dua kali masih mempunyai tenaga melakukan serangan lagi. oleh karenanya maka gerakannya agak terlambat, Sehingga serangan Siang-koan Kie mengenai lengan tangan kanan, dan seketika itu juga separuh badan Tiat Bok taysu dirasakan kesemutan. Sementara itu Nie Suat Kiao juga sudah mulai bertempur dengan Kie Bok taysu, satu pihak bertekad hendak mempertahankan jiwanya, lain pihak juga bertekad hendak menangkap hidup lawannya, maka dua orang itu begitu turun tangan masing-masing sudah menggunakan gerak tipu mereka yang sangat berbahaya, satu sama lain ingin dapat menjatuhkan lawannya dalam tiga atau empat jurus.

Siang-koan Kie setelah berhasil menotok Tiat Bok taysu, tangannya balik menyerang pundak kiri Kie Bok taysu.

Sewaktu ia melancarkan serangannya itu, sebelumnya tidak memberikan isyarat atau tanda apa2, dengan kepandaiannya demikian tinggi seperti Kie Bok taysu, juga baru setengah setelah serangan itu sudah hampir mengenai dirinya, tetapi karena sedang menghadapi serangan hebat dari Nie Suat Kiao, maka sudah tidak berdaya mengeluarkan tangannya untuk menyambut serangan pemuda itu, terpaksa mengerahkan kekuatan tangannya kepundak kirinya untuk menerima pukulan.

Serangan itu ternyata sangat berat, sehingga Kie Bok taysu mundur ter-huyung2, dengan demikian ia tidak berhasil merintangi tiga orang itu lagi.

Nie Suat Kiao yang bergerak lebih dulu menerjang keluar, lalu disusul oleh Touw Thian

Gouw, Siang-koan Kie memutar tubuhnya, dengan sepenuh tenaga melancarkan serangan dari jarak agak jauh untuk merintangi Auw-yang Thong.

Auw-yang Thong sesungguhnya tidak menduga dengan orang2 berkepandaian tinggi seperti Tiat Bok taysu dan Kie Bok taysu, ternyata tidak berhasil menahan berlalunya tiga orang itu, tatkala kedua padri itu masing2 sudah terlena serangan Sian-koan Kie, ia yang berusaha hendak menolong ternjata sudah terlambat, dan tiga orang itu sudah menerobos keluar.

Sebelum pergi Siang-koan Kie telah melancarkan serangan dari jarak jauh, kembali membuat Auw-yang Thong dan Hui Kong Leang terhambat, sehingga Nie Suat Kiao, Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie sudah lari sejauh beberapa tombak, dengan ilmu meringankan tubuh seperti tiga orang itu, sudah tentu sudah tidak mudah dikejar lagi.

Auw-yang Thong hanya dapat menyaksikan berlalunya tiga orang itu dengan hati mengkal, tiba2 ia teringat kepada delapan hulu balangnya, mengapa mereka berpeluk tangan tidak berusaha merintangi berlalunya tiga orang itu? Apa bila delapan hulu balang itu juga turun tangan membantu Tiat Bok taysu, se-tidak2nya masih dapat menghambat berlalunya tiga orang itu. Ia segera mengawasi kedelapan hulu balang itu, ternyata mereka berdiri tegak dengan sikap yang gagah. Delapan orang itu agaknya sudah mengerti maksud Auw-yang Thong dan satu sama lain berpandangan sejenak, semuanya pada menundukkan kepala.

Sementara itu Teng Soan juga sudah tiba di tempat tersebut ia lalu berkata kepada Auw-yang Thong:

"Pang-cu jangan bingung, tiga orang itu meskipun sudah kabur, tetapi juga belum jauh, kalau kita kirim orang untuk mengejar, tidak susah menemukan jejak mereka, sesudah itu kita nanti berusaha mengepungnya lagi."

Auw-yang Thong yang sangat cerdas segera mengerti bahwa Teng Soan yang selamanya tak pernah berkata sembarangan, perkataannya itu pasti ada maksudnya, maka seketika itu juga ia lalu membatalkan maksudnya yang hendak menegur delapan hulu balangnya, kemudian berkata kepada Tiat bok Taysu:

"Auw-yang Thong merasa malu sehingga taysu tidak berhasil membawa gadis itu kegunung Siong-san, disini aku minta maaf sebesar-besarnya."

"Ini juga merupakan suatu kejadian yang tidak ter-duga2, bagaimana kita dapat menyalahkan Pangcu...." berkata Tiat Bok taysu.

Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula:

"Tidak disangka pemuda bermuka kuning itu mempunyai kepandaian yang demikian tinggi dan kekuatan tenaganya hebat sekali, sehingga dapat memutuskan tali yang mengikat tangannya."

"Kekuatan tenaganya itu siaotee sesungguhnya sangat kagum." berkata Hui Kong Leang.

"Benar, kepandaian itu sesungguhnya diluar dugaan kita orang semua, sehingga mereka bisa terlepas, tetapi hal ini disebabkan karena siaotee terlalu memandang ringan kekuatan musuh sehingga membuat suatu penyesalan besar." berkata Auw-yang Thong.

Hui Kong Leang tiba2 menarik napas panjang dan berkata; "Ombak sungai Thian-kang yang belakang mendorong yang depan, generasi baru menggantikan orang lama, sepuluh tahun aku menutup diri, dalam rimba persilatan ternyata sudah terjadi perubahan banyak sekali. "

Ia mengangkat tangannya me-raba2 rambut kepalanya yang sudah beruban, kemudian berkata pula: "Aku sudah tua."

Tiat Bok taysu agaknya juga merasa pilu oleh keluhan Hui Kong Leang katanya:

"Lolap seharusnya pulang kekuil Siauw-lim Sie untuk bertapa sepuluh tahun lagi."

Orang2 kuat dan yang namanya sudah kesohor dikalangan kang-ouw itu, semua agaknya sudah dikejutkan oleh kepandaian Siang-koan Kie, sehingga mereka hampir berputus asa, sampaipun Auw Yang Thong sendiri juga terpengaruh perasaannya.

Hanya Teng Soan seorang yang nampak masih tetap optimis, ia berkata sambil tersenyum:

"Saudara-saudara jangan merasa sedih karena usia tua, siaotee sendiri meskipun tidak mengerti ilmu silat, tetapi juga masih dapat memahami, bahwa soal kepandaian ilmu silat itu terus maju menurut proses menurut bakat dan kecerdasan seseorang, pemuda bermuka kuning itu, meskipun termasuk salah seorang terkuat, tetapi asal masing-masing bertempur dengan tekad yang bulat dan sepenuh tenaga, barangkali tidak sanggup melawan saudara-saudara "

"Kita semua sudah merupakan orang-orang tua yang berusia empatpuluh tahun keatas, sedikitnya juga limapuluh tahun keatas, tetapi pemuda itu dilihat baru berusia duapuluhan,

Kita hitung saja andaikata sejak ia dilahirkan sudah mulai belajar ilmu silat, paling banter juga cuma duapuluh tahun. Tetapi kita sebagai lawannya, paling sedikit juga sudah mempunyai latihan tenaga tigapuluh tahun....." berkata Hui Kong Leang sambil tertawa getir.

"Soal ilmu silat, yang terpenting adalah bakat dan guru yang mendidiknya, tidak ada tukang pandai yang mengukirnya, sekalipun batu kumala juga tidak bisa dijadikan apa2, jikalau tidak keras, betapapun seorang wanita juga tidak bisa menyulap barang lain menjadi nasi. Pemuda itu ada mempunyai kepandaian demikian tinggi, asal usulnya pasti dapat kita usut, apabila ia berasal dari didikan Dewa seruling yang beberapa puluh tahun berselang namanya pernah menggemparkan dunia rimba persilatan, bukankah kepandaiannya itu tidak mengherankan lagi?" berkata Teng Soan sambil tertawa.

"Ya, apabila ia adalah murid Dewa seruling dengan usianya yang masih demikian muda dapat menandingi kita, itu memang tidak mengherankan. " berkata Hui Kong Leang.

"Ucapan siaote tadi hanya merupakan dugaan saja, karena mukanya dipulas dengan obat yang merobah warna kulitnya sehingga menutup wajah aslinya, mungkin usianya tidak terpaut jauh dengan saudara-saudara," berkata Teng Soan sambil tersenyum,

"Sekalipun lolap harus menerima teguran ketua, juga akan mengusut soal ini sampai menjadi terang." berkata Tiat Bok taysu, yang agaknya sudah mengurungkan maksudnya hendak pulang kegunung Siong-san lekas2.

"Dua ratus pal disekitar daerah ini semua ada mata2 kita, tidak sampai satu hari, kita pasti mendapat berita kemana larinya ketiga orang itu." berkata Auw-yang Thong. "Touw Thian Gouw dan pemuda bermuka kuning itu, semua sudah satu hari lebih tidak makan dan minum, lagipula tadi habis melakukan pertempuran hebat, tentunya mereka sudah lapar dan dahaga, menurut dugaan Siaotee, mereka pasti berhenti didalam daerah tiga puluh pal untuk mencari makanan." berkata Tang Soan.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyelidiki ke-tempat2 arah mereka lari?" bertanya Hui kong Leang.

"Menurut pandanganku, gadis berbaju putih itu sudah bukan merupakan orang penting, kita tangkap hidup padanya tidak ada artinya, lebih baik kita lepas untuk penyelidikan mata2 kita. " berkata Teng Soan sambil me-ngipas2.

Hui Kong Leang menepok pahanya dan berkata sambil mengacungkan ibu jarinya: "Ha! Si sucay ini pikirannya memang lebih tinggi satu tingkat dari yang lainnya."

Auw-yang Thong mendadak baru tersadar, diam-diam berkata: 'kalau begitu delapan hulu balang tadi berpeluk tangan kiranya ada maksudnya.'

Sementara itu terdengar pula ucapan Teng Soan: "Dalam beberapa hari ini dengan beruntun siaote menerima laporan kilat dari berbagai tempat, ada beberapa orang-orang rimba persilatan yang belum pernah menangguhkan diri didaerah Tiong-goan, mendadak pada muncul datang ketempat ini, tingkah laku orang-orang itu sangat aneh, adakalanya melakukan perjalanan tergesa gesa, adakalanya berdiam satu hari tidak pergi dari tempat kediamannya. "

"Kelakuan demikian memang agak luar biasa, kita tidak boleh tidak harus berjaga-jaga." berkata Tiat-bok Taysu.

"Menurut dugaan siaote orang-orang itu pasti mendapat perintah untuk bergerak secara diam-diam, segala tindak tanduknya hanya menurut perintah atasannya, dewasa ini yang penting bagi kita, ialah harus menyelidiki lebih dulu orang yang mengeluarkan perintah dibelakang layar itu. "

berkata Teng Soan sambil tertawa.

Ia berhenti sejenak dan berkata pula: "Oleh karena itu, maka siaote pikir daripada kita menahan gadis berbaju putih itu, atau membawa pulang kegunung Siong-san oleh kedua siansu, sebaiknya kita lepaskan saja, lalu dengan diam-diam mengutus orang untuk mengintai gerak-geriknya, kedudukan gadis itu dibawah kekuasaan Kun-liong Ong tentunya tidak rendah, orang yang bisa berhubungan dengannya, pasti bukan orang sembarangan."

"Ia berkepandaian sangat tinggi, lagi pula dapat bantuan Touw Thian Goaw dan pemuda muka kuning itu, kita beberapa orang masih tidak sanggup merintanginya, apalagi orang lain..." berkata Hui Kong Leang. Ia sebetulnya hendak berkata anak buahnya golongan pengemis, tetap ia merasa bahwa perkataan itu terlalu tidak enak pemimpin golongan pengemis, maka buru2 dirobahnya.

"Dalam urusan ini, kita orang2 golongan pengemis sudah mengeluarkan semua orang-orang yang kuat, dua pengawal Pangcu Co-tong dan Yu-tong meskipun sudah pulang kemarin tetapi delapan hulu balang dan empatpuluh delapan pahlawan, semua sudah dikerahkan." berkata Teng Soan sambil tersenyum, "Selain dari pada itu......dengan adanya bantuan saudara-saudara sekalipun berjumpa dengan musuh yang kuat, juga tidak sampai dikalahkan."

"Tadi lolap dengar keterangan saudara Koan, ketua Ceng- sia-pay Thay-hie-totiang, sudah turun gunung sendiri, apakah tidak berjumpa?" bertanya Tiat Bok taysu.

"Itu memang benar, dengan derajat dan kedudukan sebagai pemimpin, Thay-hie-totiang telah turun gunung sendiri, sudah tentu ini bukan perkara kecil, nampaknya dalam waktu dekat, ini daerah Tiong-goan akan terjadi suatu kejadian besar," berkata Teng Soan. "Bagaimana keadaan luka dipundak sutee?"

"Tidak menjadi halangan," menjawab Kie Bok taysu.

"Sutee segera berangkat untuk memberi kabar kepada ketua kita, laporkan segala yang terjadi disini, dan mintakan ampun terhambatnya siaoheng disini." berkata Tiat Bok taysu setelah berpikir sejenak.

"Siaote, sekarang juga akan berangkat," berkata Kie Bok taysu kemudian memberi hormat kepada Auw-yang Thong dan kemudian berlalu dengan tindakan lebar.

Auw-yang Thong mengawasinya berlalunya Kie Bok taysu sampai jauh, baru berkata sambil menghela napas:

"Sutee losiansu itu kepandaiannya tinggi sekali dengan berlalunya ia, berarti kekurangan seorang tenaga yang dapat diandalkan bagi pihak kita."

"Selama lolap berada disini untuk menunggu kabar, sudah tentu akan lolap menyumbangkan

semua tenaga lolap, untuk membantu Pangcu." berkata Tiat Bok Taysu.

"Terima kasih atas bantuan losiansu," berkata Auw-yang Thong sambil memberi hormat.

"Disini bukan tempat kita untuk berbicara mari kita balik dan duduk didalam rumah." berkata Teng Soan sambil tertawa.

Setelah semua orang sudah masuk kedalam rumah dan duduk ketempat masing2, Teng Soan mulai membuka suaranya:

"Menurut laporan kilat yang kita terima dari berbagai pihak, rimba persilatan daerah Tiong-goan, samar2 sudah diliputi oleh suasana tegang, nampaknya kedatangan orang2 itu semua ditujukan kepada kita golongan pengemis." "Gerak-gerik orang-orang itu, apakah semua sudah dibawah pengawasan orang orang kita?" bertanya Auw-yang thong.

"Hamba sudah mengirim orang diam2 untuk menyelidiki gerak-gerik mereka, setiap waktu ada laporan kilat. "

berkata Teng Soan sambil tertawa.

"Bagaimana kalau maksud mereka ditujukan kepada markas kita digunung Khun-san?"

"Pangcu tidak usah khawatir, hamba sudah mengirim orang untuk memberitahukan kepada orang2 kita yang berada dimarkas digunung khun-san supaya siap siaga."

"Itu bagus."

Mari kita sekarang balik kepada Siang-koan Kie, Touw Thian Gouw dan Nie Suat Kiao, dalam waktu singkat, mereka sudah lari 10 pal lebih barulah mengendurkan, tindakan kakinya.

Nie Suat Kiao ketika berpaling tidak dapat melihat ada orang mengejar, lalu berhenti dan berkata dengan nada suara dingin:

"Beberapa propinsi daerah Tiong-goan, semua terdapat mata2 golongan pengemis, kita berjalan lagi beberapa puluh pal juga tidak bisa terlepas dari pengintaian mereka.

Siang-koan Kie yang seperti orang linglung ketika melihat gadis itu berhenti, ia juga berhenti.

Touw Thian Gouw selagi hendak berkata, tiba2 menyaksikan sikap Siang-koan Kie itu, hingga perkataanya terpaksa ia telan kembali.

Nie Soat Kiao menatap Wajah kedua orang itu, selagi hendak mengatakan sesuatu, tiba2 ia ingat bahwa dua orang itu sudah makan obat yang melupakan dirinya sendiri, maka ia mengurungkan maksudnya hendak menegur mereka. Pada saat itu ia sudah balik kembali dengan sikapnya selaku pemimpin yang memberi perintah kepada orang2 itu.

Siang-koan Kie berpaling dan mengawasi Touw Thian Gouw sejenak, dibibirnya tersungging satu senyuman hambar, seperti orang yang pernah berkenalan, kemudian berjalan dibelakang Nie Suat Kiao.

Touw Thian Gouw berjalan dibelakang Siang Koan Kie, dalam hati merasa heran, mengapa siang-koan Kie yang berada dalam keadaan linglung, masih bisa turut perintah gadis itu.

Sementara itu mereka bertiga sudah tiba dihadapan pekarangan sebuah rumah besar. Nie Suat Kiao tiba2 menghentikan kakinya, ia mengamati keadaan rumah dan pekarangan itu sejenak, kemudian berkata kepada dirinya sendiri:

"Tempat ini baik untuk kita sembunyikan diri untuk sementara waktu, orang2 golongan pengemis pasti tidak akan menduga bahwa kita bisa bersembunyi dirumah petani kaya ini,"

Adalah sebuah rumah besar yang berdiri mencil di-tengah2 tanah belukar, beberapa puluh tombak sebelah timur rumah itu, ada sebuah perkampungan kecil.

Nie Suat Kiao setelah merapikan rambutnya, lalu mengetuk pintu yang bercat hitam.

Tidak berapa lama, pintu itu terbuka lebar seorang muda berusia dua puluh tahunan, berdiri diambang pintu.

Ia agaknya dikejutkan Nie Suat Kiao, hingga sepasang matanya terus menatap wajah Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao yang selama itu bersikap dingin, tiba2 tersenyum dan berkata: "Kita adalah orang-orang yang melakukan perjalanan, tadi malam kita telah bertemu dengan kawanan begal, kuda tunggang kita dan semua barang telah dirampok habis, maka kita ingin menumpang dua hari dirumahmu, apakah kiranya tidak keberatan? "

"Kita disini orangnya tidak banyak, kamar yang kosong cukup tersedia, nona bertiga boleh tinggal sesuka hati." berkata pemuda itu sambil menganggukan kepala.

"Itu bagus sekali. " berkata Nie Soat Kiao sambil tertawa.

Pemuda itu seperti seorang tertegun, sebelum ia membuka mulut, Nie Soat Kiao sudah berkata lagi:

"Dari budi bahasamu yang sopan santun nampak kau ada seorang pelajar."

"Ayah almarhum dahulu memang pernah bersekolah.   "

"Apa? Apakah ayahmu sudah meninggal dunia?" "Sudah meninggal beberapa tahun lamanya!"

"Kalau begitu, dalam rumahmu yang besar ini hanya didiami oleh kau dan ibumu dua orang saja?"

"Ayah dimasa tuanya menganut agama Buddha, selama itu tidak pernah keluar dari dalam kamar, semua urusan rumah tangga diserahkan kepadaku "

"Entah gadis siapa yang mempunyai rejeki besar, bisa menikah dengan keluarga seperti kalian Ini?", bertanya Nie Suat Kiao sambil tertawa manis, ia berhenti sejenak kemudian bertanya pula:

"Sudahkah kau beristri?"

"Kalau aku katakan sesungguhnya sangat malu, dalam usiaku seperti sekarang ini masih belum beristri, ibu juga karenanya sering mengomeli aku sebagai anak yang tidak berbakti," berkata pemuda itu sambil tertawa dan menggelengkan kepala.

"Oh! Tentunya pandanganmu terlalu tinggi," berkata Nie Soat Kiao. -odwo-

Bab-46

PEMUDA ITU tiba-tiba menatap wajah Nie Suat Kiao demikian rupa, lalu berkata sambil tertawa:

"Apabila ada gadis yang berparas seperti nona." Ia seperti merasa bahwa disitu masih ada Touw Thian Gouw dan Siang Koan Kie hinggaa tidak boleh mengeluarkan perkataan sembarangan, maka mendadak lalu bungkam.

Sesaat kemudian terdengar suata tertawanya Nie suat Kiao yang demikian mengiurkan, kemudian berkata:

"Dalam rumah besar ini apakah kecuali kalian ibu dan anak, masih ada orang tua lain yang tinggal?"

"Ada dua pegawai kebun, yang berdiam di dekat kandang kambing, tetapi kini masih belum pulang dari ladang, didalam rumah ini hanya tinggal kita ibu dan anak."

"Apakah kau bisa bawa aku menengok ibumu!"

Pemuda itu berpikir sejenak lalu berpaling mengawasi Touw Thian Goaw dan Siang-koan Kie dan kemudian berkata:

"Jikalau dua tuan ini pergi bersama-sama kita dalam rumah barangkali agak kurang enak!"

"Kalau begitu kalian tunggu disini saja." berkata Nie Soat Kiao kepada Siang-koan Kie, dan Touw Thian Gouw, kemudian berjalan bersama dengan pemuda itu masuk kerumah. Touw Thian Gouw yang menyaksikan dua orang itu sudah masuk kedalam rumah, diam2 baru berkata: "hem, bocah itu mencari mampus sendiri. "

Ia sebetulnya masih merasa sedikit simpati terhadap pemuda itu, selagi memikirkan caranya hendak menolong, karena menyaksikan kelakuannya itu, dalam hati timbul rasa mual, maka ia tidak mau ambil pusing lagi.

Tidak lama setelah Nie Suat Kiao masuk kerumah ia nampak Keluar lagi, dengan muka berseri-seri ia berkata: "Kalian boleh masuk!"

Siang-koan Kie lalu berjalan dengan tindakan lebar, Touw Thian Gouw mengikuti dibelakangnya, diam2 memperhatikan keadaan disekitarnya.

Disitu terdapat sebuah gedung besar dengan pekarangan yang luas, tembok2nya masih baru, agaknya belum lama dibangun, Touw Thian Gouw yang menyaksikan keadaan gedung itu, hatinya bercuriga, pikirnya: 'dalam perkampungan terpencil seperti ini, bangunan rumah yang sangat besar ini sesungguhnya jarang terdapat.'

Sementara itu ia sudah tiba didepan ruangan besar.

Pintu menuju keruangan itu tertutup rapat, juga tidak tampak seorangpun yang keluar menyambut. Menghadapi keadaan yang demikian, diam2 terkejut, ia mengkhawatirkan penghuni rumah itu sudah dibinasakan oleh Nie Soat-kiao.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka, Nie Suat Kiao muncul dari dalam. Pada saat itu dalam ruangan besar itu sudah terdapat sepuluh lebih laki2 berpakaian ringkas yang berdiri berbaris, mereka memberi hormat kepada Nie Suat Kiao.

Pemuda yang membuka pintu itu, berdiri diujung paling kanan, nampaknya ia seperti kepala dari rombongan orang2 itu.

Terkejut Touw Thian Gouw yang menyaksikan keadaan demikian, pikirnya; 'Kun-liong Ong benar2 seorang lihai, dipusatnya pengaruh orang2 pengemis, ia berani membangun rumah yang menyolok sebagai tempat untuk menjalankan perintahnya.' Nie Suat Kiao dengan tindakan lambat2 berjalan menuju kesebuah kursi ditengah-tengah ruangan, sinar mata yang tajam, lambat2 mengwasi orang2 yang berdiri berbaris itu, kemudian bertanya:

"Dimana sekarang jejak Kuncu keempat?"

Pemuda yang menyaru sebagai pemuda petani dan yang tadi membuka pintu segera menyahut, "Kami baru saja mendapat kabar, dari Sie-kuncu yang dikirim melalui burung merpati, mereka dengan rombongannya semua telah berada dalam pengintaian orang2 golongan pengemis, sebelum berhasil, menyingkirkan orang2 itu, tidak akan kembali. "

"Oh, ada kejadian serupa itu, mengapa orang-orang yang mengintai itu tidak lekas disingkirkan?" berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa dingin.

"Dalam suratnya Sie Kuncu sudah, berjanji nanti malam sebelum malam tiba ia akan bertindak, sekaligus hendak membasmi mata2 golongan pengemis itu, tadi aku sudah mengirim orang untuk memberi bantuan," berkata pemuda itu.

"Mata-mata golongan pengemis, mempunyai kecerdikan dan telinga yang tajam, apabila kau sampai membocorkan rahasia tempat ini, sesungguhnya merupakan Suatu kerugian yang sangat besar."

"Orang-orang yang hamba kirimkan, semua sudah hamba suruh menyaru sebagai petani, mereka pergi dengan berpencaran, tidak nanti akan menimbulKan perhatian mata- mata itu."

"Dalam golongan pengemis ada seorang yang sangat lihay sekali, ia adalah Siao-yao siucay Teng Soan, orang itu bukan saja cerdik dan banyak akalnya, tetapi juga jitu dugaannya, rencana yang kau lakukan itu, mungkin tidak dapat mengelabui matanya....suatu kesalahan besar, tidak seharusnya kau membangun rumah begini besar, bangunan yang besar diantara gubuk-gubuk petani miskin, dapat menimbulkan perhatian orang. Dan kesalahan kedua, tidak seharusnya kau memilih tempat ditepi jalan raya ini, yang dapat menimbulkan perasaan curiga orang. "

Dengan muka yang masam dingin ia mengeluarkan kata2 dengan nada pedas terhadap pemuda itu, setelah merasa puas, ia berkata lagi: "Perut kita sudah lapar, lekas sediakan makanan."

Kemudian sambil mengawasi diri pemuda yang tadi membuka pintu itu ia berkata: "Kau dibawah perintah raja muda siapa, siapakah namamu?"

"Hamba benama Tan Cian, dibawah perintah raja muda timur Tang Peng Kauw."

"Diantara raja muda Tang Peng Kauw terkenal kegagahannya, kau dihargakan olehnya untuk melakukan tugas seberat ini, kiranya kepandaianmu tentu agak istimewa."

"Khuncu terlalu memuji, hamba meskipun mendapat kepercayaan Kauw-ya, tetapi sesungguhnya merasa sangat malu masih belum bisa membalas budi kebaikan Kiuw-ya itu. "

"Apakah disini ada kamar yang tenang, kita hendak beristirahat disini."

"Tidak usah Khuncu perintahkan, hamba sudah siapkan tiga kamar yang tenang keadaannya hanya disuatu tempat yang jauh dari kota, tidak keburu untuk manyediakan "

Nie Suat Kiao tidak menunggu sampai selesai pemuda itu mengucapkan perkataannya, sudah menyelak:

"Jikalau tidak ada urusan penting, jangan menggangu kita." Setelah itu lalu bangkit berjalan keluar.

Tan Ciang lalu menghampiri seraya berkata; "Biarlah hamba yang mengantar Khuncu." Nie Suat Kiao bertiga mengikuti Tan Ciang berjalan melalui pekarangan dalam, tibalah disebuah ruangan yang sunyi, didalam ruangan yang luas itu, terdapat tiga buah kamar.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan kamar itu terawat bersih dan tenang keadaannya, kemudian berkata sambil tersenyum:

"Apakah kamar ini tempat kediamanmu?"

"Hamba bagaimana berani mendiami kamar ini? Kamar ini kamar yang disediakan khusus untuk tempat penginapan Kauw-ya?"

"Apakah Tang Peng Kauw pernah menginap disini?"

"Kauw-ya banyak pekerjaan, hanya beristirahat sebentar saja dikamar sudah pergi lagi,"

Sementara itu sudah ada orang yang mengantarkan barang hidangan.

Nie Suat Kiao dan Touw Thian Gouw bertiga, perutnya sudah lama lapar, ketika melihat barang hidangan yang sangat lezat, segera duduk bersantap. Sedangkan Tan Ciang terus mengawasi sambil berdiri disamping dengan sikapnya yang sangat sopan. Nie Suat Kiao tidak mempersilahkan ia duduk, juga tidak suruh ia pergi, setelah bertiga makan kenyang, baru menyuruh Tan Ciang memerintahkan orang2nya untuk membawa pergi sisa hidangan itu.

Dikamar yang tenang itu kini hanya tinggal Nie Suat Kiao, Siang-koan Kie dan Touw Thian gouw bertiga.

Nie Suat Kiao tiba2 menghampiri Siang-koan Kie, tangannya yang putih halus menepuk pundak Siang-koan Kie dan berkata dengan suara perlahan:

"Kepandaianmu bagus sekali, kalau bukan kau, kita berlima barang kali masih berada dalam tangan orang2 golongan pengemis. Siang-koan Kie pertama agak tertegun, kemudian hanya tertawa menyeringai,

Touw Thian Gouw yang menyaksikan keadaan demikian diam2 menghela napas, pikirnya tidak disangka obat melupakan diri yang dimakan begitu mujijat pengaruhnya, apa bila tidak lekas dipulihkan ingatannya, lama kelamaan, mungkin badannja juga akan terganggu oleh pengaruhnya obat.

Selagi masih melamun sendiri, tiba2 terdengar tarikan napas panjang Nie Suat Kiao, diparasnya gadis itu terlintas suatu perasaan sayang dan kasihan, ia menarik Siang-koan Kie duduk berdekatan disebuah bangku panjang.

Touw Thian Gouw sejak ber-pura2 kemasukan obat racun dan mengabdi dibawah perintah Nie Suat Kiao, untuk pertama kali ia mendengar tarikan napas panjang gadis itu, juga pertama kali ia menyaksikan gadis itu menunjukan sikap sayang dan kasihan. Siang-koan Kie masih tetap dengan sikapnya seperti orang linglung, ia tidak mempunyai perasaan gembira, juga tidak mempunyai perasaan duka, kecuali makan, terhadap segala urusan agaknya tidak ambil perhatian lagi.

Nie Suat Kiao dedikitpun tidak merasa malu2, dihadapan Toaw Thian Gouw ia berlaku demikian mesra terhadap Siang- koan Kie, sambil memegang tangan pemuda itu ia berkata:

"Kepandaian ilmu silatmu dan gerak tipu seranganmu merupakan tersendiri, entah dari mana kau mempelajari ilmu silatmu?"

Kali ini Siang-koan Kie agak mengerti pertanyaan gadis itu, sepasang alisnya ber-gerak2, lama ia berpikir, baru menjaWab: '

"Didalam sebuah kuil besar." "Tentunya gereja Siao-liem-sie bukan?" Siang-koan Kie semula menganggukkan kepala tetapi dengan cepat menggelengkan kepalanya dan menjawab: "Itu sebuah kuil yang besar dan luas, tetapi orang orang dalam kuil itu, semua sudah menjadi tengkorak."

"Apa?"

"Semua sudah jadi tengkorak! " demikian Siang koan Kie

mengulangi keterangannya tetapi masih belum dapat menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.

Nie Suat Kiao menghela napas perlahan. "Aku harus memberikanmu sedikit obat pemunah."

Demikian katanya gadis itu. Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam botol itu mengeluarkan sebutir pel berwarna putih, pel itu berada ditanganya, lama ia berpikir kemudian dimasukan lagi kedalam botol.

Tiba-tiba ia batalkan maksud semula, tidak memberikan Siang-koan Kie makan obat pemunah racun.

Tidak lama kemudian Siang-koan Kie sudah tertidur diatas bangku panjang itu. Touw Thian Gouw juga buru2 memejamkan matanya, pura2 tidur pulas, tetapi ia diam-diam memperhatikan pel yang disimpan dalam botol itu dan memperhatikan segala gerak geriknya.

Ia melihat gadis itu berjalan masuk kedalam kamar, sebentar lagi ia keluar sambil membawa Selimut, setelah itu ia mengambil dua bangku panjang lagi diletakkan disamping bangku Siang-koan Kie supaya dapat tidur lebih enak, kemudian menyelimuti tubuh Siang-koan Kie dengan sangat hati2, setelah itu baru balik kedalam kamarnya sendiri.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan semua kejadian itu, diam2 merasa geli. Pikirnya: 'aku Touw Thian Gouw sudah tentu tidak mempunyai rejeki begitu besar ' Sementara itu Nie Suat Kiao keluar lagi dari kamarnya dengan membawa sebuah bantal, lalu ditaruh dibawah kepala Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie agaknya sangat letih, meskipun beberapa kali digeser tuhuhnya oleh Nie Suat Kiao tetapi tetap tidak berasa.

Setelah meletakkan kepala Siang-koan Kie diatas bantal, gadis itu nampak menguap, nampaknya ia juga sudah merasa letih.

Lambat-lambat ia berjalan, tiba2 kembali lagi dan duduk disamping Siang-koan Kie dari dalam sakunya ia mengeluarkan sehelai sapu tangan, dengan sangat hati2 menggosok muka Siang-koan Kie.

Touw Thian Gouw diam2 terkejut, pikirnya: 'perempnan ini benar2 sangat lihay, ia sudah mengetahui muka Siang-koan Kie dipoles oleh obat.'

Sementara itu Nie Suat Kiao sudah memeriksa badan Siang-koan Kie.

Touw-Thian Gouw diam2 mengeluh, pikirnya: 'Habislah, Apabila dari dalam badan Siang-koan Kie ia dapat menemukan obat yang digunakan untuk memulihkan wajah yang semula, barangkali rahasiaku sendiri juga akan terbuka.' Karena ia pernah memberikan obat untuk memulihkan warna asli dimukanya kepada Siang-koan Kie, ia juga melihat obat itu sudah disimpan dalam saku Siang-koan Kie, maka dalam dugaannya setelah diperiksa oleh Nie Saat Kiao, obat itu pasti akan diketemukan.

Tetapi apa yang terjadi sesungguhnya diluar dugaannya, sekian lama Nie Saat Kiao menggeledah badan Siang-koan Kie, tetapi tak mendapatkan apa2.

Terdengar suara gadis itu yang berkata sambil menarik napas perlahan: "sungguh aneh ..." Jelaslah sudah bahwa gadis itu sudah menduga pasti Siang- koan Kie telah mengunakan obat untuk merubah warna kulit mukanya, hanya ia masih belum dapat membuktikannya.

Touw thian Gouw yang menyaksikan Nie Suat Kiao tak berhasil menemukan obat dari dalam badan Siang-koan Kie, dengan tanpa sadar juga meraba pada sakunya sendiri.

Apa yang terjadi sangat mengherankannya, hampir saja ia menjerit. Karena obat yang disimpan didalam sakunya ternyata juga dalam sekejap telah lenyap.

Kini tak perlu dipikir lagi, Nie Suat Kiao tidak berhasil menemukan obat dibadan Siang-koan Kie, sudah terang obat itu pasti diambil oleh orang lain.

Obat itu tidak mudah pembuatannya, beberapa antara bahan ramuannya hanya terdapat digunung Tiang-pek-san yang letaknya diluar daerah perbatasan, untuk membuat obat itu, mau tidak mau harus pergi kegunung itu untuk mencari bahan ramuannya.

Touw Thian Gouw dalam hati mengeluh, apa bila ia tidak berhasil membuat obat yang dapat memulihkan warna asalnya, maka muka kuning Siang-koan Kie tidak akan pulih lagi untuk selama-lamanya.

Nie Suat Kiao yang tidak berhasil mencari rahasia yang diliputi diri Siang-koan Kie agaknya masih penasaran, matanya berputaran mengawasi Touw Thian Gouw, setelah berpikir sejenak ia menghampirinya.

Touw Thian Gouw diam-diam mempersiapkan tenaganya, namun ia masih berpura-pura tidur pulas.

Nie Soat Kiao setelah berada didekat Touw Thian Gouw lebih dulu ia mengambil senjata pecut dari badannya, kemudian dengan sikap sangat hati2 mulai menggeledah sekujur badannya. Ia menggeledah dengan cermat setiap bagian yang diduga bisa digunakan untuk menyimpan barang, semua digeledahnya, tetapi tidak menemukan apa-apa.

Dengan perassan kecewa ia bangkit dan berkata kepada diri sendir: "Heran!"

Touw Thian Gouw dengan sangat hati-hati mengintip gerak-gerik gadis itu, ia lihat gadis itu berdiri membelakangi dirinya, bahkan sedikitpun tidak berjaga-jaga, asal ia berani, dengan hanya mengulurkan tangan saja segera dapat menotok jalan darahnya.

Ia sangat mengkhawatirkan diri Siang-koan Kie yang lama dalam keadaan tidak ingat diri karena pengaruhnya obat, mungkin obat itu dapat mempengaruhi keadaan fisiknya, beberapa kali ia berpikir hendak bertindak menotok jalan darah gadis itu, lalu mengambil obat pemunah supaya dapat digunakan untuk menyadarkan diri Siang-koan Kie, tetapi setiap kali hendak turun tangan, hatinya merasa ragu-ragu dan achirnya tertunda.

Nie Suat Kiao mendongakkan kepala, berdiri seperti seorang yang sedang berpikir keras, kemudian dengan tindakkan lambat2 berjalan masuk kekamar.

Keadaan dalam ruangan itu mendadak menjadi sunyi, hanya suara mengoroknya Siang-koan Kie yang memecahkan kesunyian itu.

Touw Thian Gouw memejamkan matanya, ia mengharap dapat tidur sebentar, supaya dapat memulihkan tenaganya, juga jangan sampai menimbulkan perasaan curiga gadis itu.

Ia mengerti dengan kecerdikannya Nie Suat Kiao, asal ia menemukan sedikit hal2 yang mencurigakan pasti akan menimbulkan perhatiannya.

Dari dalam kamar sebentar2 terdengar suara helaan napas perlahan, terang bahwa gadis itu juga tidak bisa tidur. Benar saja, tidak lama kemudian, Nie Suat Kiao keluar lagi dari kamarnya, matanya menatap Touw Thian Gouw sejenak, kemudian lambat2 berjalan menghampiri Siang-koan Kie dan duduk disampingnya, dengan mata yang tajam ia memandang wajah Siang-koan Kie, lalu berkata kepada dirinya sendiri:

"Sudah jelas ia memakai obat untuk memoles mukanya, mengapa tidak terdapat obat yang dapat digunakan untuk menghapus warna itu?"

Kiranya Siang-koan Kie yang baru pertama kali itu menggunakan obat untuk memoles kulit mukanya, sehingga perbuatannya itu kurang cermat, dibagian bawah telinganya masih belum terpoles sehingga tampak warna kulit aslinya, di tambah lagi dengan warna kulit tangannya yang putih bersih, dengan sendirinya hal itu menimbulkan kecurigaan Nie Suat Kiao yang memang sangat cerdas.

Setelah ia meng-amat2i wajah Siang-koan Kie dengan cermat, ia telah menduga pasti bahwa pemuda itu ada memakai obat untuk menutupi wajah aslinya.

Menurut kebiasaan dalam rimba persilatan, barang siapa yang menggunakan obat untuk merubah mukanya, pada dirinya orang itu pasti ada membawa obat untuk memulihkan wajah aslinya.

Oleh karena itu, ketika ia tidak mendapatkan obat untuk memulihkan warna asli dari badan Siang-koan Kie, dalam hatinya timbul perasaan curiga sangat besar.

Touw Thian Gouw diam2 memperhatikan setiap perobahan sikap gadis itu, diparas gadis itu beberapa kali nampak napasnya hendak melakukan kejahatan, tetapi beberapa kali tenang kembali, nyata sekali bahwa dalam hati gadis itu timbul pertarungan hebat antara maksud jahat dan maksud baik.

Selama beberapa hari berkumpul, ia sudah tahu bahwa gadis itu adalah seorang yang sangat kejam, setiap waktu dapat melakukan pembunuhan menuruti keinginan sendiri, ia dapat membunuh seseorang dengan hati dingin dan tangan ganas, kalau dibanding dengan parasnya yang cantik, sifatnya itu merupakan suatu kontras yang nyata.

Diam2 Touw Thian Gouw mengerahkan tenaganya, matanya terbuka sedikit, mengawasi setiap gerak gerik gadis itu, apabila ia hendak mencelakan diri Siang-koan Kie, segera diserangnya lebih dulu.

Tetapi apa yang terjadi selanjutnya kembali diluar dugaannya, Nie Suat Kiao setelah berpikir, se-konyong2 membentangkan kedua tangannya, ia memondong tubuh Siang-koan Kie dan dibawa masuk kedalam kamar.

Touw Thian Gouw terperanjat, pikinya: 'Apabila ia membunuh Siang-koan Kie didalam kamar, ini sangat sulit baginya, aku sekarang sedang berlagak tidur, sudah tentu aku tidak dapat mengikutinya masuk kekamar.'

Sementara itu Nie Suat Kiao sudah memondong Siang-koan kedalam kamar.

Sebagai seorang Kang-ouw kawakan yang sudah banyak pengalaman, hanya sebentar saja hatinya tergoncang, tetapi kemudian dengan cepat tenang kembali.

Ia dapat menarik kesimpulan dengan cepat, apabila gadis itu bermaksud membunuh Siang-koan Kie, sudah tentu tidak perlu membawa ia kedalam kamar baru dibunuh, oleh karena itu maka pikirannya menjadi tenang.

Ia menutup pernapasannya, diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, pikirannya dipusatkan untuk mendengarkan tindakan gadis itu, dalam suasana sesunyi itu, sekalipun ada sebuah jarum jatuh ditanah juga bisa kedengaran.

Tetapi sejak Nie Suat Kiao membawa Siang-koan Kie kedalam kamar, ternyata tidak terdengar suara apa-apa. Ia menunggu beberapa lama, tetapi keadaan dalam kamar itu masih sunyi senyap.

Touw Thian Gouw yang sudah lama kecimpungan didunia Kang-ouw, akhirnya tidak bisa sabar lagi, dalam hatinya berpikir: 'Apabila ia menyekek leher Siang-koan Kie, hal itu dapat mengambil jiwa orang tanpa menimbulkan suara.' Berpikir sampai disitu, pikirannja mulai kalut lagi, sulit baginya untuk ber-pura2 tidur, sepasang matanya terbuka lebar mengawasi keadaan sekitarnya sejenak, kemudian bangkit.

Dengan tindakan perlahan dan hati-hati sekali ia berjalan menuju kekamar gadis itu.

Ia segera dapat melihat Siang-koan Kie rebah terlentang diatas pembaringan masih dalam keadaan pulas, sedangkan gadis itu duduk menghadapi jendela, matanya memandang tanaman pohon, diluar jendela, entah apa yang sedang dipikirkan.

Rambutnya yang hitam pekat dan panjang terurai di kedua pundaknya.

Dari bentuk belakang tubuhnya nampak ketenangan gadis itu, gadis cantik yang berhati bagaikan ular berbisa itu, dalam waktu sekejap itu seolah-olah sudah berubah sifatnya sebagai gadis cantik yang lemah lembut.

Entah pemandangan diluar jendela yang menimbulkan kenang-kenangan indah yang sudah lalu, ataukah mendadak teringat hal yang menyedihkan, gadis itu tiba-tiba menarik napas, perlahan-lahan ia memutar tubuhnya, membuka selimut dan dengan sangat hati-hati diselimutkan kebadan Siang-koan Kie.

Touw Thian Goaw diam-diam merasa heran mengapa gadis itu mendadak demikian sayang dan cinta terhadap Siang-koan Kie? Selagi pikirannya bekerja memikirkan soal itu, tiba2 terdengar suara tindakan kaki.

Nie Suat Kiao yang mempunyai pendengaran sangat tajam, ketika mendengar suara itu, tiba-tiba berpaling.

Touw Tbian Gouw hendak menyingkir, tetapi sudah tidak keburu.

Ia takut rahasianya diketahui oleh Nie Suat Kiao, dan kemudian menganggap Siang-koan Kie juga berpura-pura, lalu mendadak berbuat jahat kepada dirinya, maka dengan cepat ia lalu lompat masuk kedalam kamar.

Nie Suat Kiao mengawasi Touw Thian Gouw sejenak, lalu berkata kepadanya: "Angkatlah dia lekas."

Touw Tnian Gouw tidak sempat memikirkan apa maksudnyja dalam perintahnya itu, dengan cepat ia memondong tubuh Siang-koan Kie.

Sementara itu suara kaki itu sudah berada di belakang dirinya dan berhenti.

Ketika ia berpaling, segera dapat melihat seorang berpakaian hitam berdiri diambang pintu.

Wajah orang itu sama dengan warna pakaiannya, hitam bagaikan pantat kuali dibawah janggutnya terdapat jenggot panjang, sepasang matanya yang tajam, memancarkan sinarnya yang seolah-olah hendak menembusi isi hati orang.

Nie Suat Kiao juga mengawasi orang itu dengan matanya tajam, keduanya saling berpandangan, tiada sepatah katapun keluar dari mulut masing-masing.

Keduanya berpandangan agak lama, kemudian baru terdengar suara orang hitam itu yang berkata:

"Khuncu, kau tentunya terlalu letih." "Kauw-ya, apakah kau baik-baik saja, kita tidak bertemu muka barangkali sudah hampir empat tahun."

Orang hitam itu menunjukan tertawanya dan berkata: "Dengan kepandaian dan kecerdikan Khuncu yang luar

biasa, pergi menyelidiki tiga macam benda pusaka, tentunya sudah berhasil, disini kami mengucapkan selamat lebih dahulu."

"Meskipun aku belum berhasil dalam usahaku untuk menyelidiki tiga macam benda pusaka itu, tetapi orang yang menyimpan tiga benda pusaka itu sudah kuberitahukan kepada ayah." berkata Nie Suat Kiao.

"Itu   sudah   terhitung   suatu   hasil   yang   lumayan.   "

berkata orang hitam ini, matanya lalu ditujukan kepada Touw Thian gouw, kemudian berkata pula: "Apakah ini pengawal Khuncu yang baru?"'

"Kauw-ya salah menduga, meskipun dia orang baru, tetapi bukan pengawalku!"

"Biar bagaimana ia juga bukan orang dibawah perintahku." "Dia adalah orang baru yang ditaruh sebagai pengawal

dalam ayah."

"Oooooo, kiranya adalah pengawal Ong-ya, kepandaiannya tentu tidak jelek!"

"Dia adalah sipecuri sakti dari daerah perbatasan, Touw Thian Gouw yang namanya sangat tersohor itu."

"Baru mendapat sedikit nama, dalam barisan Ong-ya, masih belum terhitung orang kuat golongan kelas satu."

Meskipun Touw Thian Gouw dalam hati sangat mendongkol, tetapi diluarnya mau tidak mau harus tetap berlagak seperti orang linglung. Nie Suat Kiao dengan tenang merapikan rambutnya, yang terurai dikedua pundaknya, kemudian berkata: "Kauw-ya memegang jabatan penting bagaimana masih ada waktu datang kemari?"

Orang hitam itu berjalan kesamping Touw Thian Gouw, matanya mengawasi Siang-koan Kie, ia berkata, tetapi tidak menjawab pertanyaan gadis itu:

"Apakah orang ini juga orang baru yang dijadikan pengawal Ong-ya?"

"Kembali Kauw-ya menduga keliru, orang ini adalah pengawal yang baru kuterima."

Orang hitam itu tiba-tiba mengulur tangannya yang kurus kering, diam2 tangannya hendak menotok Siang-Koan Kie.

Nie Suat Kiao dengan cepat bergerak, ia menggunakan tusuk kondenya sebagai senjata, menotok jalan darah orang hitam itu seraya berkata dengan nada suara dingin:

"Kauw-ya harap hargakan diri sedikit."

Orang hitam itu menarik kembali tangannya ia berkata sambil tertawa dingin: "Tahukah Khuncu ini tempat apa?"

"Hanya merupakan salah satu cabang kecil saja." "Tahukah kau apa sebabnya aku datang kemari?" "Melakukan perjalanan rutin."

"Aku membawa perintah Ong-ya untuk mengurus suatu persoalan besar."

"Meskipun Kauw-ya membawa perintah Ong-ya, tetapi juga tidak boleh bertindak melukai orangku, harap kau mundur dulu selangkah, ada urusan apa nanti kita bicara lagi."

"Apakah kau hendak melawanku?" "Tusuk Kondeku ini ada racunnya yang sangat berbisa, sekalipun Kauw-ya hendak turun tangan, barangkali juga tidak keburu lagi."

Karena jalan darah orang hitam itu terancam, terpaksa ia mundur dua langkah.

Nie Suat Kiao berkata kepada Touw Thian Gouw: "Lekas letakan dia diatas pembaringan, sebentar kita tolong lagi."

Touw Thiau Gouw diam2 berpikir: 'apa yang ditolong?

Apakah ia terluka?'

Meskipun dalam hati berpikiran demikian, tetapi ia menurut dan meletakkan Sian-koan Kie diatas pembaringan.

Nie Suat Kiao menggulung rambutnya dan memakai tusuk kondenya, kemudian berkata: "Kauw-ya ada urusan apa? Sekarang boleh ceritakan."

"Urusan mengenai tertangkapnya Khuncu, sudah diketahui oleh Ong-ya."

"Ong-ya seorang pintar, mata2nya tersebar di-mana2, sudah tentu tahu, ini tidak aneh."

"Oleh karena Ong-ya masih banyak urusan, hingga tidak dapat bertindak sendiri, beliau memberi perintah surat dengan perantaraan garuda sakti menyuruh aku menyelidiki urusan ini, dan lekas melaporkan."

"Sie khuncu sudah datang kemari lebih dulu ia membawa obat pemberian Ong-ya suruh aku makan."

"Dan kau sudah makan atau belum?"

"Kalau aku makan, segala urusan yang lalu akan terlupa semua. "

"Apa? Kau tidak mau makan? Hem, besar sekali keberanianmu."

"Perintah Ong-ya bagaimana aku berani menolak?" "Kau sebetulnya sudah makan atau belum?"

"Kalau aku sudah makan obat itu, sekarang juga aku tidak bisa bicara disini denganmu?"

Orang hitam yang kecil kurus itu, menarik napas perlahan, kemudian berkata: "Kalau begitu, kau belum makan obat itu?"

"Waktu itu si Khuncu paksa aku makan, karena aku berada ditangan musuh, mati tidak hiduppun tidak, maka aku pikir hendak memakannya selagi aku hendak makan obat itu, obat telah dirampas oleh Auw-yang Thong, pemimpin golongan pengemis, dan sie Khuncu sendiri dibawah tekanan berat musuh yang berjumlah lebih banyak, achirnya terusir keluar."

"Dimana sekarang adanya si Khuncu?" "Bagaimana aku tahu?"

"Kabarnya si Khuncu telah tertangkap, entah benar atau tidak?"

"Soal tertangkap memang benar, tetapi dengan cara Kauw- ya menanyakan ini, entah apa maksudnya?"

"Kenapa? Apakah Khuncu merasa kedudukan kita berlainan, sehingga aku tidak berhak untuk bertanya?"

"Raja-raja muda timur, barat, selatan dan utara, meskipun kedudukannya tinggi dan besar kekuasaannya, tetapi kalau mau dikata ada hak untuk menyelidiki urusanku belum tentu kau mempunjai hak yang demikian itu!"

Orang hitam itu tertawa ter-bahak2, kemudian berkata: "Khuncu berdiam dirumah orang kaya, sudah beberapa

tahun belum pulang keistana, kau barangkali belum tahu beberapa peraturan dalam istana sudah dirobah."

"Meskipun aku berdiam dirumah keluarga Pan tetapi sering menerima surat dari Ong-ya, mengenai urusan dalam istana, meskipun tidak berani mengetahui dengan jelas, tetapi setiap ada perobaban besar, aku selalu diberitahukan, dalam perobahan peraturan, tidak ada suatu ketetapan menyatakan diriku dibawah perintahmu Teng Pong Kauw Kauw-ya

meskipun mendudukki kedudukan pertama diantara empat raja muda, tetapi ini belum berarti aku harus mengalah kepadamu."

Orang hitam itu agaknya tersinggung oleh perkataan tajam gadis itu, matanya mendelik dan berkata dengan suara keras:

"Apakah hak dan kedudukanku tidak lebih tinggi dari pada kau budak perempuan ini?"

Dalam gusarnya ia sudah menggunakan perkataan budak perempuan, setelah perkataan itu keluar dari mulutnya ia baru merasa terlalu kasar sehingga lalu bungkam.

"Ber-ulang2 aku masih menghargai dan menyebut kau Kauw-ya, tetapi kau dengan mengandalkan usiamu yang sudah tua dan kedudukanmu sebagai raja muda kau mangeluarkan perkataan yang tidak sopan "

Orang hitam itu sebetulnya sudah merasa kalau sudah terlepas omong, tetapi didamprat secara demikian oleh Nie Suat Kiao, seketika itu wajahnya lalu berubah, katanya:

"Aku memegang peraturan hukum, peraturan itu harus kujalankan dengan keras, aku tidak kenal saudara atau famili, meskipun kau merupakan anak yang tersayang oleh Ong-ya, tetapi apabila melanggar hukum, aku tetap memperlakukan kau menurut hukum."

"Sayang aku tidak melanggar hukum."

"Khuncu telah tertangkap dan tertawan oleh musuh, beberapa hari lamanya berada ditangan musuh, sedikit banyak sudah tentu membuka rahasia kita."

"Kau jangan sembarangan menuduh orang." "Sebab aku adalah orang yang memegang peraturan hukum, tidak boleh tidak timbul kecurigaan."

Siang-koan Kie yang berada dalam pondongan Touw thian Gouw, agaknya dikejutkan oleh suara ribut2 itu, mendadak membuka matanya dan melompat turun dari pondongan, dengan sinar mata dingin ia mengawasi orang berwajah hitam itu, kemudian mundur kesamping Nie Suat Kiao.

Orang berwajah hitam itu mengawasi Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie bergiliran, kemudian berkata dengan nada suara dingin: "Atas nama pemegang hukum Ong-ya, aku minta Khuncu mengikat tanganmu sendiri."

Setelah berkata demikian, ia mengeluarkan seutas rantai mas dan dilemparkan kepada Nie suat Kiao.

Dengan wajah bengis dari sinar mata dingin orang berwajah hitam itu berkata kepada Nie Suat Kiao: "Sekali lagi aku minta kau mengikat tanganmu sendiri, jikalau tidak, terpaksa aku nanti akan turun tangan sendiri."

Nie Suat Kiao tiba2 menunjukkan sikap serius, tetapi bercampur perasaan kejam, dengan nada suara dingin ia berkata:

"Kauw-ya menggunakan hukum sebagai pemegang hukum, dengan sengaja menjatuhkan dosa kepada orang yang tidak bersalah, apakah kau tidak memikirkan akibatnya dikemudian hari?"

Orang berwajah hitam itu ketika mendengar pertanyaan itu wajahnya berubah seketika, tetapi setelah berpikir sejenak, ia menunjukkan lagi sikap bengisnya, dengan suara keras ia membentak:

"Jangan banyak bicara, lekas ikat tanganmu sendiri!"

Nie Suat Kiao mundur selangkah, ia berdiri tertegun tidak menjawab perkataan orang, dengan sinar matanya dingin mengawasi orang berwajah hitam itu tampak berkesit. Orang berwajah hitam itu, mengambil lagi rantai mas yang berada ditanah kemudian dilemparkan keleher Nie Suat Kiao.

-odwo-

Bab-47

NIE SUAT KIAO berdiri tegak tanpa bergerak, juga tidak berusaha untuk menangkis, ia membiarkan rantai itu dikalungkan dilehernya oleh orang berwajah hitam itu, kunci rantai yang berbentuk bundar telur, mengatup sendirinya.

Setelah itu ia berpaling dan berkata kepada siang-koan Kie dengan suara perlahan:

"Mengapa masih belum turun tangan!"

Siang-koan Kie agaknya baru tersadar, dengan cepat melompat maju untuk menyerang orang berwajah hitam itu.

Orang berwajah hitam itu sambil berusaha menangkis serangan Siang-koan Kie, mulutnya berteriak-teriak:

"Khuncu lekas suruh dia hentikan serangannya, jikalau ia berani maju lagi, aku terpaksa akan menggunakan senjata untuk membereskannya."

Nie Suat Kiao memainkan biji matanya, bibirnya tersungging senyuman hambar, ia berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan:

"Hentikan tindakanmu."

Siang-koan Kie benar saja menghentikan serangannya, ia mundur kesamping Nie Suat Kiao.

Orang berwajah hitam itu tidak menduga bahwa seorang pengawal yang belum terkenal saja sudah mempunyai kepandaian demikian hebat, apalagi terhadap Touw thian Gouw yang sudah kenamaan, dengan sendirinya tidak berani memandang ringan lagi. "Pengawal Khuncu ini, kepandaiannya benar2 hebat, aku merasa gembira Khuncu mendapat pengawal seperti dia."

"Dimana ayahku sekarang? Kapan kita dapat menemuinya?" bertanya Nie Suat Kiao dingin,

"Jejak Ong-ya tidak nenentu, mungkin tidak mudah untuk dijumpai."

"Kalau benar jejak ayah tidak menentu, apa maksudnya kau merantai diriku? Lekas buka rantainya."

Khuncu sudah terikat oleh rantai hukuman terpaksa Khuncu sabar untuk sementara."

"Jikalau kau tidak membuka rantai ini, aku akan bertindak sendiri. "

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki berjalan mendatangi.

Orang berwajah hitam itu berkata sambil tertawa: "Ada orang datang, harap Khuncu masuk kamar dulu sebentar."

Nie Suat Kiao tertawa dingin, kemudian berjalan masuk kelain kamar.

Siang-koan Kie mengikuti Nie Suat Kiao masuk kedalam kamar, sedangkan Touw Thian Gouw berdiri diambang pintu.

Orang yang baru datang itu kulitnya agak kehitam-hitaman, ia adalah penghuni rumah besar itu.

Orang itu ketika melihat orang berwajah hitam, segera menjatuhkan diri dan berlutut dihadapannya seraya berkata: "Kapan Kauw-ya datang, mengapa hamba tidak mengetahui ?"

"Kau banngun! Apakah sudah ada kabar dari sie Khuncu?" berkata orang berwajah hitam itu.

Orang itu berbangkit, sambil meluluskan tangannya ia berkata: "Baru saya menerima berita dari sie Khuncu, yang minta hamba mengumpulkan orang2 disini dan segera dikirim untuk memberi bantuan, tetapi hamba hanya ditugaskan disini juga mempunyai kewajiban yang sangat penting, maka tidak bisa mengambil keputusan, hamba sebetulnya ingin minta pikiran Khuncu, tidak disangka Kauw-ya ada disini."

Orang berwajah hitam itu berpikir sejenak baru berkata: "Apakah surat dari sie Khuncu itu ada ditanganmu?"

"Ada, apakah Kauw-ya hendak baca?" menjawab orang itu dengan sikap menghormat.

"Berikanlah padaku."

Orang itu mengeluarkan surat dari dalam badannya lalu diberikan kepada orang berwajah hitam itu.

Kertas tulis itu berbentuk kecil, diatasnya ditulis dengan huruf2 kecil yang sangat rapat.

Orang berwajah hitam itu setelah membaca surat itu, wajahnya mendadak berubah, tanyanya: "Kedudukan mereka sangat berbahaya, tidak boleh tidak kita harus lekas menolong mereka supaya terlepas dari kepungan musuh, jikalau sampai terlambat barangkali akan menimbulkan perubahan besar!"

Orang itu agaknya tidak tahu bagaimana harus menjawab perkataan orang berwajah hitam itu, ia hanya berdiri tegak sambil menundukkan kepala.

Orang berwajah hitam itu berpikir sejenak, lalu berkata dengan nada suara dingin: "Tan Ciang. "

Orang itu menjawab sambil membungkukkan badan: "Hamba menunggu perintah Kauw-ya."

"Beberapa banyak orangmu disini yang dapat digunakan?" "Hamba sudah memilih sepuluh orang diantara orang-orang

bawahan hamba yang termasuk kuat, sepuluh orang itu hamba sudah kirim untuk membantu si Khuncu, sekarang yang masih ada, mungkin tidak banyak jumlahnya yang dapat digunakan."

Orang berwajah hitam itu kembali berpikir, kemudian berkata: "Kau pilihkan dua orang yang gesit dan mengerti keadaan tempat dekat-dekat disini, aku hendak pergi menyambut si Khuncu sendiri."

"Hamba menurut...." menjawab Tan Ciang dan segera berlalu, tetapi baru beberapa tindak tiba-tiba berpaling dan berkata: "Jie Khuncu sekarang ada disini, apakah Kauw-ya sudah bertemu dengannya?"

"Sudah." jawab orang berwajah hitam itu singkat.

Tan Ciang yang menyaksikan sikap demikian itu tidak berani membuka mulut lagi, lekas ia mengundurkan diri.

Setelah Tan Ciang berlalu, orang berwajah hitam baru mengawasi Touw Thian Gouw yang berdiri diambang pintu kamar seraya berkata:

"Minta khuncu keluar."

Touw Thian Gouw diam2 berpikir: 'segala kawan kurcaci dan berandal dari kalangan Kang-ouw. telah menyebut dirinya Kauw-ya Khuncu segala, sesungguhnya sangat memuakkan, aku Touw Thian Gouw apakah juga harus turut mereka memanggil orang ini Kauw-ya?'

Ia tidak sudi memanggil sebutan yang berarti raja muda itu, tetapi sesaat itu ia tidak tahu bagaimana harus menyebut Nie Suat Kiao, lama ia berpikir, masih belum tahu bagaimana harus memanggilnya, maka ia pura2 tidak mendengar, dengan sikap dingin mengawasi orang berwajah hitam itu.

Orang berwajah hitam melihat Touw Thian Gouw tidak menjalankan perintahnya, lalu marah, katanya dengan suara bengis: "Aku minta kau panggil sie Khuncu, dengar atau tidak?" Dalam hati Touw Thian Gouw merasa geli, sedang mulutnya menjawab dengan nada suara dingin.

"Kau bicara kepada siapa?"

"Bicara denganmu, apakah telingamu tuli, matamu sudah buta?"

Sebelum Touw Thian Gouw menjawab Nie Suat Kiao sudah memburu kedepan pintu dan berkata: "Mereka semua sudah makan obat yang melupakan diri, kecuali ayah angkatku, barang kali hanya mau dengar perkataanku seorang saja."

Siang-koan Kie berdiri dibelakang Nie Suat kiao, dengan sinar mata baringas mengawasi orang berwajah hitam itu.

"Khuncu jangan terlalu pandang diri sendiri terlalu tinggi." berkata orang berwajah hitam itu sambil tertawa dingin, "Kalau aku sudah marah, biar aku dimaki oleh Ong-ya, aku akan membuat kau menderita lebih dulu, nanti kita bicara lagi."

"Kauw-ya kecuali hak rantai hukuman yang diberikan oleh ayah ini, masih ada hak apa yang akan menundukkan aku?" bertanya Nie Suat Kiao sambil teriawa ter-kekeh2.

"Barang siapa yang dikenakan rantai hukuman ini, sudah dianggap sebagai tawanan hukuman, karena aku memegang kekuasaan dalam badan hukum, sudah tentu berhak untuk menjatuhkan hukuman."

"Empat raja muda dari timur, barat, selatan dan utara, meskipun masing2 mempunyai kekuasaan besar, tetapi kalau mau dikata bahwa hak kekuasaannya, berlaku kepada orang2 dalam istana, apalagi kalau menjatuhkan dosa kepada Khuncu tanpa bukti kesalahannya, barang kali kau tidak dapat melakukan, itu."

"Rantai mas sudah berada dibadanmu, segala kepandaiannu, tidak dapat kau gunakan lagi, hal ini kiranya kau juga tahu." "Benar, tentang ini aku juga pernah dengar, tetapi jikalau Kauw-ya tidak bisa menyingkirkan dua pengawalku ini, barang kali sulit bagimu untuk membunuh aku. "

Orang berwajah hitam itu belum lagi menjawab, Tan Ciang yang tadi telah berlalu tiba-tiba lari masuk dengan tergesa- gesa, katanya dengan suara gugup:

"Kauw-ya "

Orang berwajah hitam itu mengawasi Tan Ciang sejenak, bertanya dengan nada suara dingin:

"Ada urusan apa?'

"Hamba ada utusan penting yang hendak dilaporkan."

Orang berwajah hitam itu menyaksikan sikap Tan Ciang yang nampaknya sangat bingung, merasa tertarik juga, katanya dengan suara perlahan:

"ceritakanlah!"

"Baru saja menerima surat dari si Khuncu yang dikirim melalui burung garuda sakti, katanya mereka sudah terkepung oleh orang2 kuat golongan pengemis, nampaknya sulit untuk menghindarkan suatu pertempuran hebat."

Orang berwajah hitam itu ketika mendengar keterangan Tan Ciang, alisnya dikerutkan, ia berkata: "Kini sampaikan perintahku kepada orang2mu semua orang-orang kuat kau kerahkan, akan kupimpin sendiri untuk menolong si Khuncu."

"Hamba setelah menerima surat, dari si Khuncu, kembali telah menerima laporan mata-mata kita dari luar perkampungan, mereka telah melihat ada musuh-musuh tangguh yang mengintai kediaman kita."

"Tahukah orang dari golongan mana?"

"Menurut laporan, orangnya bercampuran, hingga belum diketahui orang dari golongan mana." "Aku tahu."'

Tan Ciang masih berdiri tegak sambil meluruskan kedua tangannya untuk menantikan perintah orang berwajah hitam itu, tetapi sudah menunggu sekian lama, masih tidak dengar sepatah Katapun yang keluar dari mulutnya, tatkala ia mengangkat muka, segera menyaksikan orang berwajah hitam itu berdiri sambil berpikir, agaknya. sedang memikirkan persoalan sulit, sehingga ia tidak berani menggangu lagi dan diam-diam mengundurkan diri.

Touw Thian Gouw yang brdiri diambang pintu, meskipun dilahirnya tidak menunjukkan perobahan apa-apa dan berlaku seperti tidak memperhatikan pembicaraan dua orang itu, tetapi otaknya terus berputar, diam2 berpikir: "yang dimaksudkan oleh Tan Ciang itu mungkin mata-mata golongan pengemis, karena mengetahui keadaan rumah ini yang mencurigakan, sehingga golongan pengemis merasa perlu mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, mungkin Auw- yang Thong, Tiat-bok taysu dan lain-lainnya sudah mengejar sampai disini. Tetapi tidak perduli siapa yang datang, dalam waktu yang tidak lama, tempat ini pasti akan menjadi medan pertempuran, tetapi keadaan Siang-koan Kie nampaknya semakin tidak beres kalau tidak lekas makan obat untuk menghilangkan racun yang dapat melupakan dirinya, mungkin akan berobah semacam penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi. Gadis itu kini sudah dibelenggu, sudah tentu tidak bisa menggunakan kepandaiannya, asal aku menotok jalan darahnya, selagi tidak berjaga2 sudah tentu dapat mengambil obat pemunah dalam kantongnya."

Setelah mengambil Keputusan demikian matanya melirik kearah Nie Suat Kiao.

Ia melihat Nie Suat Kiao memejamkan matanya berdiri dekat jendela, wajahnya sebentar menunjukkan sikap girang, sebentar nampak gusar, entah apa yang sedang dipikirkan. Tiba-tiba ia melihat Siang-koan Kie yang berdiri sejarak empat kaki, tangannya bergerak melancarkan suatu serangan.

Touw Thian Gouw dengan cepat berpaling ke arah serangan yang ditujukan oleh Siang-koan Kie, ia melihat orang berwajah hitam itu melompat menyingkir, apabila Siang-koan Kie tidak turun tangan cepat pada waktunya, mungkin ia sendiri sudah terluka dibawah tangan orang berwajah hitam itu.

Siang-koan Kie yang tidak berhasil dengan serangannya itu, lalu melompat keluar untuk mengejar dan melontarkan serangannya lagi.

Nie Suat Kiao mengawasi Touw Thian Gouw dan berkata kepadanya dengan suara perlahan: "Kau kemari!"

Touw Thian Gouw tercengang, pikirnya: 'ia bicara denganku selamanya dengan menggunakan nada suara memerintah orang, tetapi mengapa sekarang mendadak berubah agak lunak?'

Dengan perasaan agak heran ia menghampiri gadis itu.

Kira-kira tiga kaki didepan Nie Suat Kiao ia berhenti dan berkata: "Khuncu ada perintah apa?"

"Pikiranmu masih jernih, obat melupakan diri ayah yang tidak ada keduanya dalam dunia, ternyata tidak dapat menyesatkan pikiranmu!" berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa dingin.

Mata Touw Thian Gouw terbuka lebar, katanya: "Khuncu sungguh tajam pandangannya. "

"Sudah lama aku merasa curiga terhadap dirimu!"

Touw Thian Gouw mendengar suara hembusan angin diluar kamar, ia tahu bahwa Siang-koan Kie sedang bertempur sengit dengan orang berwajah hitam itu, hingga hatinya mulai berani, ia maju dua langkah dan berkata; "Aku sekarang asal mengulurkan tanganku, sudah cukup untuk membuat kau tidak berdaya."

"Pemuda muka kuning itu meskipun ia adalah kawanmu, tetapi hati dan pikirannya semua sudah kukendalikan, tidak nanti ia mau turun tangan membantu kau......" berkata Nie Suat Kiao dingin.

Ia melongok keluar jendela, kemudian berkata pula dengan nada suara tetap dingin: "cukup dengan satu perkataan, mereka segera berhenti bertempur, dan menghadapi kau semua."

"Itu memang benar, tetapi perkataan itu, juga mungkin bisa mendatangkan bahaya besar bagi dirimu sendiri

"Belum tentu, coba kau lihat!"

Touw Thian Gouw benar saja menoleh kebelakangnya.

Bersamaan pada saat itu, ia merasakan suatu hembusan angin, Nie Suat Kiao tiba-tiba sudah lompat melesat keluar dari kamar.

Touw thian Gouw diam2 memaki: 'sungguh licin.' Kemudian ia melompat mengejar gadis itu.

Tiba2 terdengar suara bentakan nyaring Nie Siat Kiao. "Jangan berkelahi lagi!"

Suaranya yang nyaring merdu itu, agaknya mengandung daya penarik besar sekali terhadap Siang-koan Kie, pemuda yang sedang bertempur sengit itu benar saja lalu menghentikan serangannya dan melompat keluar dari kalangan.

Mata orang berwajah hitam itu berputaran mengawasi Siang-koan kie dan Nie Suat Kiao, kemudian berkata: "Si khuncu sudah berada dalam bahaya, sangat memerlukan bantuan kita." Nie Suat Kiao memperdengarkan suara dihidung, Sikapnya acuh tak acuh.

Orang berwajah hitam berkata pula: "Tempat ini juga sudah menjadi perhatian mata2 golongan pengemis, mungkin tidak lama kemudian, ada musuh tangguh akan datang kemari."

Nie Suat Kiao berpaling mengawasi Touw thian Gouw sejenak, katanya dengan nada suara dingin:

"Sudah tahu!"

Orang berwajah hitam itu menggumam sendiri, kemudian berkata: "Maka aku sudah ambil keputusan lebih dulu akan membuka rantai hukum dibadanmu, untuk menghadapi musuh kita, setelah itu nanti ini ditindak lagi menurut hukum."

Touw Thian Gouw diam2 mengerahkan kekuatan tenaganya, ia sudah siap, begitu Nie Suat-kiao membuka rahasia dirinya, segera bertindak lebih dahulu.

Nie Suat Kiao tiba2 tertawa besar, kemudian berkata dengan nada suara dingin:

"Yang merantai aku adalah kau sendiri, dan sekarang yang akan membuka rantai hukum ini juga atas kemauanmu sendiri. "

"Dalam hal kita menghadapi dua bahaya, kita harus memilih mana yang ringan sudah tentu aku sudah mempunyai pertimbangan sendiri, tidak usah kau banyak pikiran." berkata orang berwajah hitam itu dingin.

"Menjatuhkan hukuman kepada orang memang mudah, tetapi membebaskan agak susah, kau pikir sementara hendak membebaskan hukumanku kau hendak menggunakan tenagaku untuk melawan musuh kuat, dan setelah musuh kuat itu berlalu, kau akan menjatuhkan hukuman lagi pada diriku, caramu ini bagus sekali hee." "Perjalananku kali ini, oleh karena merahasiakan diri, tidak membawa pengikut."

"Sayang aku tidak dapat digunakan sebagai orang bawahanmu "

"Aku adalah seorang pejabat tinggi yang berhak menghadapi dan mengurus segala persoalan, khuncu meskipun putri Ong-ya, tetapi apabila hendak berbicara soal derajat dan kedudukan, kau seharusnya masih harus mengalah sedikit terhadapku."

Nie Suat Kiao berpikir sejenak, kemudian berkata: "Baiklah!

Buka dulu rantai mas ini."

Orang berwajah hitam itu mergeluarkan sebuah kunci mas, matanya sebentar2 mengawasi Siang-koan Kie, ia takut pemuda itu akan turun tangan dengan tiba2. Tindakan orang ini nampak sangat hati2 sekali, jelas bahwa kepandaian Siang- koan Kie yang luar biasa itu telah ia membuat harus bersikap waspada.

Nie Suat Kiao tertawa manis dan berkata: "Kauw-ya tidak usah khawatir, jikalau tidak ada perintahku, ia tidak akan berani menyerang kau!"

Orang berwajah hitam itu memperdengarkan suara dari hidung, lalu menghampiri dengan hati lega.

Nie Suat Kiao mengulurkan kedua tangannya, menantikan orang berwajah hitam itu membuka rantai hukumannya.

Touw Thian Gouw yang berdiri dibelakangnya meskipun lahirnya seperti tidak terjadi apa2, tetapi pikirannya bekerja keras karena perbuatannya sudah diketahui oleh Nie Siat Kiao, apabila gadis itu terbebas dari alat belenggunya, keadaan akan berobah lagi, nanti setelah ia bebas, ia tidak akan takut lagi terhadap dirinya, apakah ia membuka rahasia atau bertindak terhadap dirinya, masih sulit untuk diduga Sedangkan gadis itu tinggi sekali kepandaiannya, lagi pula banyak akalnya, dalam keadaan sudah bebas ia juga akan merupakan lawan kuat bagi orang orang golongan pengemis yang akan datang kemari.

Saat itu ia hanya berada terpisah tiga kaki dengan gadis itu, apabila ia mau turun tangan kejam, memang dapat menyerang bagian berbahaya tubuh gadis itu.

Lama sekali ia bergulat dengan pikirannya sendiri, beberapa kali ia ingin melakukan serangan tiba2, tetapi ia entah bagaimana ia tidak melakukan itu, se-olah2 ada kekuatan gaib yang melarangnya .

Selama ia masih ragu-ragu, rantai mas dileher gadis itu, sudah dibuka oleh orang berwajah hitam.

Nie Suat Kiao berpaling mengawasi Touw Thian Gouw, lalu berkata sambil tertawa hambar:

"Masih untung!"

Touw Thian gouw yang mendengar ucapan itu berlagak seperti tidak dengar, dengan wajah tidak berobah masih berdiri ditempatnya.

Orang berwajah hitam itu sudah menyimpan lagi rantai hukumannya, ia berkata sambil tertawa hambar:

"Aku sering dengar pembicaraan orang2, diantara empat Khuncu, kaulah yang berkepandaian paling tinggi, juga paling disayang oleh Ong-ya."

"Kauw-ya terlalu memuji," berkata Nie Suat Kiao sambil tersenyum. "Ketiga adikku itu masing-masing mempunyai kepintarannya sendiri-sendiri, semua juga disayang oleh Ong- ya."

"Ucapan ini memang betul," berkata orang berwajah hitam itu agak terkejut.

"Sudah tiba waktunya kita harus berkerja dengan tugas masing-masing, kau bawa orang pergi menolong si Khuncu, aku berdiam di sini untuk menghadapi musuh yang akan datang kemari."

Orang berwajah hitam itu berpikir sejenak,kemudian berkata: "Tempat ini kalau benar sudah diketahui oleh orang- orang golongan pengemis, sudah tidak penting bagi kita, menurut pikiranku, semua orang yang ada disini, termasuk Khuncu, seluruhnya pergi menolong si Khuncu, kemudian kita membakar rumah ini, atau tinggalkan begitu saja supaya mereka tidak mudah menduganya."

"Rencanamu ini meskipun baik, tetapi sebelum mengetahui keadaan sebenarnya, apabila kita membakar begitu saja rumah yang kita bangun dengan susah payah ini, bukankah sangat sayang. "

Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula:

"Ayah sering memberi nasehat kepadaku, dalam menghadapi segala urusan tidak toleh bertindak tergesa- gesa. "

Bicara sampai disitu, diluar kamar tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki, sesosok bayangan orang masuk kedalam dengan tindakan ter-gesa2.

Kedatangan orang itu cepat sekali, setelah berada didalam kamar, baru tahu bahwa ia melainkan seorang kanak-kanak berwajah putih tampan berpakaian warna biru. Bocah itu baru berusia kurang lebih empatbelas tahun, tetapi kelihatannya bisa berlaku seperti orang tua.

Ia berdiri diruangan, matanya mengawasi orang berwajah hitam dan Nie Suat Kiao, kemudian berkata:

"Khuncu, apakah baik baik saja?"

Setelah itu ia membengkokkan badannya memberi hormat, kemudian menanyakan keselamatan orang berwajah hitam itu. Nie Suat Kiao dan orang berwajah hitam itu, agaknya dikejutkan oleh kedatangan bocah yang secara mendadak itu.

"Apakah Ong-ya juga sudah datang?" bertanya orang berwajah hitam itu.

"Ong-ya sebetulnya tidak bisa datang kemari," menjawab bocah itu sambil tersenyum, "Tetapi karena ia memikirkan keselamatan diri Khuncu, dalam kesibukannya ia memaksakan diri untuk datang kemari."

"Entah dimana Ong-ya sekarang berada?" "Ong-ya sebentar lagi akan tiba."

"Kalau begitu mari kita lekas pergi menyambut."

"Ong-ya dalam perjalanannya ini hanya membawa tiga pengawal saja, dalam perjalanan tidak merepotkan orang- orang dari cabang, tidak perlu disambut lagi."

Nie Suat Kiao tiba tiba berpaling mengawasi Touw Thian Gouw kemudian berkata kepada bocah itu: "Ini adalah pengiwal yang Ong-ya baru dapatkan."

Bocah itu mengawasi Touw Thian Gouw dari atas sampai kebawah, kemudian berkata: "Entah bagaimana kepandaiannya?"

"Hanya kepandaian diri orang golongan kelas dua atau tiga saja, tidak dapat digunakan untuk melakukan tugas berat."

Bocah itu menghampiri Touw Thian Gouw tangannya menyambar pergelangan tangan kirinya.

Touw Thian Gouw memutar tubuhnya, mengelakan serangan itu.

Bocah itu mendengarkan suara dingin, dengan jari tangannya menotok dada Touw Thian Gouw.

Touw Thian Gouw merasakan bahwa serangan bocah itu sangat hebat, ia menyingkir sambil berpikir: 'orang2 ini sangat kejam terhadap diriku, entah apa maksudnya? Apakah Nie Suat kiao sudah memberi isyarat kepada bocah itu supaya menyingkirkan diriku?'

Oleh karena itu, tiba2 timbul pikirannya hendak melakukan perlawanan, cepat ia membalas menyerang.

Bocah itu lompat kesanping tiga langkah, untuk mengelakkan serangan tiga langkah, untuk mengelakan serangan Touw Thian Gouw, tetapi kemudian maju menyerang lagi.

Keduanya kemudian bertempur didalam ruangan itu, dalam waktu singkat, pertempuran sudah berlangsung tigapuluh jurus lebih.

Bocah itu tiba2 melompat keluar dan ruangan, kemudian berkata kepada nie Suat Kiao sambil tertawa:

"Kepandaian orang ini bagus sekali, rasanya bukan orang yang tak ternama."

"Kalau aku sebutkan mungkin Kauw-ya juga tahu, orang ini adalah si Pecut Sakti dari daerah perbatasan yang bernama Touw Thian Gouw." berkata Nie Suat Kiao sambil tertawa hambar.

Bocah itu meskipun nampaknya belum dewasa, tetapi banyak yang ia ketahui, seketika itu ia tersenyum dan berkata: "Pantas ia berkepandaian demikian tinggi..."

Touw Thian Gouw yang mendengar perkataan itu, bocah itu seolah2 kenal baik kepada dirinya maka ia lalu melihat lagi sekali kearahnya.

Hingga saat itu orang berwajah hitam itu baru mendapat kesempatan untuk bicara, ia berkata kepada bocah cilik itu sambil tertawa:

"Sie Khuncu sudah berada dalam kepungan musuh, keadaannya sangat bahaya, tempat ini juga sudah diketahui oleh mata2 golongan pengemis entah kapan Ong-ya akan tiba?. "

"Oh, ada kejadian demikian? Kalau begitu kita tidak usah menantikan kedatangan Ong-ya, sebaiknya lekas pergi menolong Sie Khuncu."

"Adikku yang keempat itu, sangat cerdik dan banyak akalnya, tidak nanti ia akan melawan musuh2nya dengan kekerasan, untuk sementara waktu, masih tidak akan ada bahaya apa2, kalian tidak usah khawatir, apalagi ayah sudah datang, lebih baik kita menunggu kedatangannya. supaya ayah sendiri yang mengatur orang2nya, siapa yang harus pergi menolong " berkata Nie Suat Kiao.

Orang berwajah hitam itu agaknya sangat khawatirkan keselamatan Si Kuncu, tidak menunggu Nie Suat Kiao sampai menutup mulut,sudah berkata:

"Khuncu, maksudmu ini aku tidak berani memberi persetujuan, karena Si Khuncu mengirim surat minta bala bantuan dengan perantaraan burung garuda, sudah tentu keadaannya sangat berbahaya."

Nie Suat Kiao berpikir sejenak, lalu berkata:

"Begini saja, disini biarlah aku yang menjaganya untuk menyambut kedatangan musuh, dan kalian berdua pergi menolong si Kuncu, bagaimana pikiranmu?"

Bocah itu mengawasi Touw Thian Gouw sejenak, kemudian berkata: "Aku ingin membawa orang ini pergi ber-sama, bagaimana pikiran Khuncu?"

"Baiklah! Orang ini adalah pengawal baru ayah yang untuk sementara diberikan kepadaku sebagai pengawal, kau bawa ia pergi, harap jaga baik2 dirinya, apabila ada apa2, barangkali sulit bagiku untuk mempertanggung jawabkan kepada ayah."

"Khuncu jangan khawatir, jikalau Ong-ya menyalahkan Khuncu sudah tentu aku yang bertanggung jawab. " berkata bocah itu, kemudian berpaling dia berkata kepada orang berwajah hitam: "Tahukah Kauw-ya dimana si Khuncu terkepung?"

"Tan Ciang sudah mengerahkan semua tenaga yang ada diasini, sekarang sedang menunggu perintah....." berkata orang berwajah hitam itu sambil menganggukkan kepala.

"Dalam waktu dua jam Ong-ya bisa tiba disini, harap Khuncu beritahukan jejak kita kepada Ong-ya."

"Jangan chawatir." berkata Nie Suat Kiao.

Bocah itu berkata sambil mengajak Touw Thian Gouw: "Mari kita berangkat!"

Touw Thian Gouw masih berdiri tegak sambil mengawasi Nie Suat kiao.

"Kau ikutlah!" berkata Nie Saat Kiao sambil melambaikan tangannya.

Suaranya itu begitu lemah lembut, parasnya juga mengunjukkan senyuman yang belum pernah perlihatkan.

Mata Touw Thian Gouw lambat-lambat beralih kewajah Siang-koan Kie sementara dalam hatinya berpikir: "setelah aku pergi, entah bagaimana dengan dia?"

Terhadap diri pemuda itu, ia merasa seolah-olah menanggung kewajiban berat, terhadap keselamatannya, ia merasa erat sekali hubungannya dengan dirinya sendiri.

Tetapi keadaan pada waktu itu, sudah tidak sempat lagi baginya untuk banyak berpikir, meskipun dengan perasaan berat, ia terpaksa harus meninggalkannya juga.

Tiba-tiba terdengar suara Nie Suat Kiao yang lemah lembut: "Pergilah dengan perasaan tenang! Mereka akan baik- baik menjagamu." Orang berwajah hitam dan bocah berbaju biru itu, sudah lama menunggu didepan pintu begitu melihat Touw Thian Gouw keluar, segera meninggalkan ruangan tersebut dan pergi menjalankan tugasnya.

Dalam ruangan yang sunyi itu hanya tinggal Nie Suat Kiao dan Siang-koan Kie berdua, suasana sunyi senyap.

Nie Suat Kiao mengawasi berlalunya tigea orang itu, sebentar kemudian ia berdiri disamping Siang-koan Kie dan berkata dengan suara lemah lembut

"Duduklah."

Siang-koan Kie yang sudah kehilangan seluruh perasaan dan ingatannya dalam segala hal menuruti saja perintah Nie Suat Kiao.

Nie Suat Kiao mengeluarkan dua butir pel dari dalam botol, yang diambil dari dalam sakunya, tetapi tidak segera diberikan kepada Siang-koan Kie, diletakkannya pel itu dalam tangannya, lama ia tidak berkata apa2, agaknya sedang mikirkan persoalan rumit.

Mata Siang-koan Kie terus memandang pel ditangan gadis itu.

Nie Suat Kiao mendadak menarik napas, kemudian berkata: "Ayahku sudah akan tiba, aku tak boleh memberikan obat pemunah ini kepadamu, tunggulah saja."

Siang-koan Kie entah dapat memahami ucapan gadis itu atau tidak? Ia hanya menganggukkan kepalanya.

Nie Suat Kiao memasukan kembali pel itu ke dalam botol lagi, lambat2 berjalan ke jendela matanya memandang gumpalan awan putih diangkasa sambil membungkam.

Parasnya yang pada waktu biasanya nampak dingin, tiba2 nampak gelisah, jelaslah bahwa pikirannya sedang diliputi oleh suatu persoalan rumit. Siang-koan Kie dalam keadaan masih tetap linglung duduk diatas bangku, matanya memandang belakang gadis itu.

”Pengaruh obat mujijat, telah membuat otak pemuda yang cerdas tangkas itu, telah kehilangan ingatan dan sifat aslinya, ia sudah tidak mempunyai perasaan untuk membedakan siapa lawan dan siapa kawan, ia telah berobah menjadi pengganti Nie Suat Kiao, dalam segala hal menuruti saja kehendaknya."

Tiba-tiba suatu suara yang amat dingin mendengung memecahkan suasana yang sunyi itu:

"Anak! Kau sedang memikirkan apa?"

Ucapan yang mengandung kemesraan itu, tetapi kedengarannya sedikit pun tidak menimbulkan perasaan mesra, bahkan sebaliknya telah menimbulkan perasaan tidak enak.

Nie Suat Kiao dengan cepat berpaling, seorang berwajah dingin berpakaian jubah berwarna hijau, berdiri dipintu kamar.

Raut mukanya sebetulnya tidak menakutkan, hanya nampaknya sangat dingin agaknya sedikitpun tidak berperasaan, dilihatnya seperti orang yang baru bangkit dari peti mati.

Nie Suat Kiao diam-diam bergidik, tetapi ia tetap menghampiri dan berseru:

"Ayah! Aku. "

Orang berjubah hijau itu bergerak bibirnya seraut kulit mukanya juga turut bergerak, kemudian terdengar perkataan yang keluar dari mulutnya:

"Kau telah banyak menderita, bahkan sudah kehilangan sebilah pedang yang sangat berharga."

Nie Suat Kiao berlutut dihadapan orang itu seraya berkata: "Anakmu tidak dapat menunaikan tugas yang ayah berikan, anak merasa telah berdosa." Orang berjubah hijau itu mengulur tangannya membimbing Nie Suat Kiao bangun, sinar matanya tajam beralih kepada Siang-koan Kie, ia mengawasi dari atas sampai kebawah nampaknya teliti sekali, lama baru bertanya:

"Siapakah orang ini?"

"Dia adalah pengawal anakmu yang baru anak terima didalam keluarga Pan, apakah ada apa yang kurang beres?" menjawab Nie Suat Kiao.

"Dia memakai obat untuk mengganti wajah aslinya?" "Pandangan ayah memang tidak salah, orang ini memang

benar memakai-obat untuk merobah wajah aslinya, tetapi

setelah anak mengetahui lalu menggeledah sekujur badannya namun tidak dapat menemukan obat yang digunakan untuk memulihkan wajah aslinya..... anak dengan orang ini pernah terjatuh ditangan orang-orang golongan pengemis, anak pikir obat itu tentu sudah diambil oleh orang-orang golongan pengemis."

"Coba kau ceritakan dengan jelas bagaimana kau tertangkap dan bagaimana kau dapat meloloskan diri."

"Baiklah."

Nie Suat Kiao lalu menceritakan semua apa yang telah terjadi atas dirinya.

-odwo-

Bab-48

Karena ia tahu benar kepandaian ayah angkatnya itu, maka tidak berani membohong, apa yang dikatakan semua menurut kejadian yang sebenarnya.

Orang berjubah hijau itu setelah mendengar penuturan anak angkatnya, tiba2 tersenyum dan kemudian berkata: "Bagus, bagus! Sepatahpun tidak ada yang salah."

Nie Suat Kiao tahu saat yang paling kritis sudah dilalui, namun masih belum lenyap rasa takutnya.

"Anak, betapapun besar keberanianmu, tidak berani membohongi ayah." demikian ia berkata.

"Karena tertangkapnya kau, hampir saja menggagalkan seluruh rencanaku, apabila kau bisa menemukan tiga barang pusaka itu diatas diri situa bangka she Pan itu, jasamu ini bolehlah kau gunakan untuk menebus dosamu."

Nie Suat Kiao yang mendengar itu nyalinya kuncup lagi, diam2 berpikir: 'telah beberapa tahun aku menderita, menempuh bahaya menyaru sebagai anak perempuannya orang she Pan itu, berapa banyak hinaan dan kesulitan telah aku pikul, sekalipun tidak berhasil menemukan tiga barang pusaka itu, tetapi tugas yang sangat sulit dan berat ini, seharusnya juga mendapat sedikit pujian.'

"Apakah hatimu kurang puas?" demikian orang berjubah hijau itu berkata sambil tertawa dingin.

Nie Suat Kiao merasa seperti disambar petir, dengan tanpa sadar hatinya berdebaran, buru2 menjawabnya:

"Anak telah menerima budi ayah yang sudah membesarkan dan mendidik, bagaimana berani merasa tidak puas atas keputusan ayah."

"Kalau kau mengerti itu, sudah cukup, terhadap siapapun aku selamanya berlaku keras dan bengis, tetapi terhadap empat kakak beradik, aku merasa sudah kendor, apabila kalian setiap orang mengerti dan mengetahui kelakuanku terhadap kalian, tidak berubah kesetiaan hati kalian, sudah tentu aku akan pandang lain terhadap kalian tetapi jikalau timbul pikiran yang bukan2, hukuman yang akan kalian terima sudah tentu lebih berat daripada orang lain." "Setiap perkataan ayah selalu diikuti oleh tindakan, hal ini anak sudah lama mawas diri, belum pernah berani memikirkan yang bukan-bukan, untuk main gila. "

Ia menghela napas perlahan, kemudian berkata pula:

"Tadi Tang Peng Kauw telah menggunakan rantai hukum mas pemberian ayah, dirantaikan kepada diri anak, anak melihat rantai itu seperti juga melihat ayah, maka tidak berani melakukan tindakan perlawanan."

Orang berjubah hijau itu tertawa hambar dan berkata: "Jikalau kau tidak kehilangan pedang yang sangat berharga

itu, sekalipun Tang Peng Kauw mempunyai alat hukum

pemberianku, juga tidak berani menghukum kau secara lancang."

Nie Suat Kiao tiba-tiba mengangkat mukanya, ia berkata sambil mengucurkan air mata:

"Kalau pedang itu memang demikian penting anak bersedia balik lagi ke markas golongan pengemis bersama orang yang anak baru terima ini, tidak perduli secara terang atau menggelap, biar bagaimana anak akan ambil kembali pedang itu."

Orang berjubah hijau itu menggelengkan kepala, tetapi tidak menjawab, matanya ditujukan kepada Siang-koan Kie.

Ia merasa seperti sudah kenal dengan pemuda itu, agaknya pernah melihat entah dimana, tetapi sesaat itu ia malah tidak ingat lagi, ia memandang beberapa lama, namun tetap tidak ingat,

Siang-koan Kie karena pengaruh obat mujijat sudah berobah seperti orang linglung, ia tidak merasa gembira, juga tidak mempunyai rara takut.

Orang berjubah hijau itu menatap dirinya tajam2 ia juga mengawasi orang berjubah hijau itu dengan mata melotot. Nie Suat Kiao diam-diam pasang mata, ia memperhatikan setiap perubahan sikap ayah angkatnya, tetapi ia hanya menyaksikan sang ayah itu mengkedip-kedipkan matanya.

Meskipun mukanya seperti bangkai hidup, tidak melihat adanya perubahan yang aneh, tetapi sepasang matanya yang bergerak-gerak, mengesankan kepadanya bahWa dalam hati ayah itu telah berguncang hebat, hingga ia diam-diam merasa heran, pikirannya: 'ayah selamanya bisa berlaku tenang, tidak perduli menghadapi persoalan apa, ia selalu dapat menghadapi dengan tenang, setidak-tidaknya belum pernah di unjukan dimuka, tetapi kali ini keadaannya jauh berbeda dari biasanya, apakah pemuda ini ada sangkut pautnya dengannya?"

Sementara itu orang berjubah hijau itu sudah menghampiri Siang-koan Kie.

Hati Nie Suat Kiao tiba-tiba berdebar keras, dengan tanpa sadar matanya ditujukan kepada ayah angkatnya.

Ia mengerti ayah angkatnya itu mungkin dapat mengambil jiwa Siang-koan Kie dengan hanya satu gerakan tangan saja, biasanya ayah itu kalau membunuh orang seperti memintas satu semut, sedikitpun tidak mengunjukan tanda tanda lebih dulu.

Tiada seorangpun dapat melihat dari sikapnya bahwa ia mengandung maksud akan membunuh atau tidak, mukanya yang dingin bagaikan muka orang mati, gembira atau marah tidak ada perbedaannya.

Hati dan pikiran Siang-koan Kie meskipun sudah dipengaruhi oleh pengaruhnya obat, tetapi panca indranya masih dapat digunakan, sepasang matanya juga ditujukan kepada orang berjubah hijau itu.

Hati Nie Suat Kiao mulai timbul pertentangan hebat, ia tidak berani melawan kekuasaan ayahnya, tetapi ia juga tidak ingin Siang-koan Kie terbinasa ditangan ayahnya. Tiba-tiba ia merasa bahwa pemuda muka kuning berbadan kekar itu, sudah mendapat tempat penting dalam hatinya, diwaktu biasa ia tidak berasa, tetapi setelah menghadapi bahaya maut, tiba-tiba menimbulkan penderitaan batin yang sangat dalam.

Asal ia mau mengangkat tangannya saja, segera dapat memerintahkan Siang-koan Kie melawan ayah angkatnya.

Menurut sifatnya, dalam seumur hidup, ia belum pernah mencurahkan perhatiannya begitu besar tehadap diri orang lain, tidak disangka bahwa perhatian itu telah menimbulkan penderitaan bathin bagi dirinya sendiri.

Sementara itu Orang berjubah hijau itu pelahan2 mengangkat tangan kanannya diletakkan keatas pundak Siang-koan Kie, kemudian berkata dengan nada suara dingin: "Apakah kau kenal aku?"

Saat itu asal ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, seketika itu juga dapat membinasakan diri Siang-koan Kie, tetapi ia tidak berbuat demikian.

Siang-koan Kie yang diperlakukan demikian hanya menggelengkan kepala dan tertawa kering.

Orang berjubah hijau itu tiba2 berpaling mengawasi Nie Suat Kiao sejenak kemudian bertanya:

"Apakah ia makan obat agak berat?"

Nie Suat Kiao buru2 menenangkan pikirannya dan berkata. "Orang ini tinggi sekali kepandaiannya, tidak mudah dikendalikan, anak tidak berani berlaku gegabah, maka anak berikan obat kepadanya yang agak berat."

"Kau suruh dia coba main2 beberapa jurus denganku, aku hendak melihat bagaimana kepandaiannya?"

Nie Suat Kiao sangat cerdas, mendengar perkataan orang berjubah hijau itu, segera mengerti maksudnya, dalam hati berpikir: "ayah setelah melihat pemuda ini, dalam hati lalu timbul curiga, oleh karena pemuda itu memakai obat pengganti warna dimukanya, hingga ayah tidak dapat mengenali, kalau ayah hendak menggunakan kesempatan ini, dari gerakan ilmu silatnya untuk membuktikan dugaannya, tidak sulit bagi ayah untuk mengenalnya, kalau begitu pemuda ini pasti pernah bertemu muka dengan ayah."

Ia ingat ketika banyak tamu datang melawat dirumah keluarga Pan, ada seorang yang mukanya mirip dengan monyet dan Touw Thian Gouw ingatan itu telah membuka hatinya untuk mengingat kembali bahwa disamping dua orang itu, masih ada seorang pemuda tampan dan gagah ber-sama2 mereka. Karena ia sedang melamun mengenangkan kejadian yang sudah lalu itu, sehingga lupa menjawab perkataan ayah angkatnya.

"Apakah kau takut aku akan melukai dirinya." demikian ayah angkat itu bertanya dengan nada suara dingin.

Nie Suat Kiau terkejut, buru2 menjawab, "Bagaimana anak berani menyuruh orang baWahan anak bertanding dengan ayah?"

"Tidak halangan, aku hanya ingin mencoba kepandaiannya, juga ingin mengetahui dari gerakan pukulannya, untuk membuktikan dugaanku."

Nie Suat Kiao diam2 mengeluh, ia tahu benar kepandaian ayahnya luar biasa tingginya dan keganasannya, barang siapa yang bertanding dengannya, kalau tidak binasa se-tidak2nya juga terluka parah, ada orang yang mengundurkan diri dalam keadaan selamat, meskipun kepandaian Siang-koan Kie sangat tinggi, tetapi juga sulit menandingi kepandaian ayahnya.....

Meskipun dalam hati mengerti apabila ia perintahkan Siang- koan Kie bertanding dengan ayahnya, tidak ubahnya bagaikan mengantarkan kambing kedepan harimau tetapi ia tidak berani menentang perintah ayah angkatnya, maka ia pura2 berlaku tenang, sambil tersenyum ia berkata:

"Kepandaian orang ini, dalam orang2 yang berada dibawah perintah anak, terhitung paling tinggi, sebetulnya merupakan suatu tenaga yang berharga bagi anak, semoga ayah menaruh belas kasihan jangan turun tangan terlalu berat."

"Aku tahu, kau suruh lekas turun tangan!"

Nie Suat Kiao menatap wajah Siang-koan Kie, kemudian mengacungkan tangan kanannya.

Gerakan gadis itu merupakan suatu perintah bagi Siang- koan Kie, dengan cepat pemuda itu bergerak menyerbu orang berjubah hijau dan menyerang dengan satu gerak tipu Harimau kumbang menerkam mangsanya.

Gerak itu meskipun biasa saja, tetapi dilakukan oleh pemuda itu dengan disertai oleh kekuatan tenaga yang sangat hebat.

Orang berjubah hijau itu bergerak sangat gesit, cepat sekali ia sudah melompat mundur ketengah ruangan.

Tidak berhasil dengan serangannya itu, Siang-koan Kie merobah gerak tipunya, dengan kedua tangan melindungi dadanya ia mengejar keluar.

"Ilmunya meringankan tubuh bagus sekali," demikian suara pujian menerus keluar dari mulut orang berjubah hijau itu, tidak menantikan sampai Siang-koan Kie tancap kaki tangannya telah bergerak melakukan serangan.

Suatu kekuatan tenaga dalam luar biasa, meluncur keluar dari serangan orang berjubah hijau itu kearah Siang-koan Kie.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan orang berjubah hijau itu melancarkan serangan demikian dahsyat, dalam hati merasa takut pikirnya: 'barang kali ia tidak sanggup menyambut serangan itu.' Tak disangka kesudahannya diluar dugaan, Siang-koan Kie ternyata berani menyambut serangan itu. Kedua kekuatan saling beradu, dalam ruangan itu timbul getaran hebat.

Orang berjubah hijau itu kembali mengeluarkan pujian: "Cukup kuat tenagamu."

Tiba-tiba memutar tubuhnya menggeser kaki lima langkah.

Bagaikan bayangan yang mengikuti jejak, Siang-koan Kie terus mengejar, kedua tinjunya melancarkan serangan bertubi-tubi, dalam waktu singkat dengan beruntun ia sudah menyerang delapan kali. Serangannya itu demikian seru dan rapat, sedikitpun tidak terdapat peluang lagi bagi lawannya, sehingga orang berjubah hijau itu terdesak tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang, tetapi sebagai seorang sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya dan luas pengetahuannya tentang segala ilmu silat, meskipun tidak sanggup mematahkan serangan pemuda itu, tetapi ia masih dapat menangkis dengan baik.

Nie Suat Kiao yang menyaksikan ketangkasan dan kegagahan Siang-koan Kie, dalam hati bahkan merasa sangat khawatir, sebab semakin tinggi kepandaian Siang-koan Kie, semakin besar keinginan sang ayah angkat untuk menyingkirkan pemuda itu, nampaknya Siang-koan Kie tiada harapan lagi dapat menghindarkan nasibnya dari tangan ganas ayah angkatnya itu.

Kini ia tiba-tiba merasakan betapa penting kedudukan Siang-koan Kie, dalam penghidupannya, tetapi ia tidak dapat membedakan perasaan apakah itu, apakah karena mengagumi kepandaian dan kegagahannya, apakah Karena ia butuh tenaganya untuk melindungi dirinya sendiri?

Pada saat itu, orang berjubah hijau dan Siang-koan Kie sudah menghentikan pertempurannya yang mengadu kekuatan tenaga dalam, dua orang itu berdiri terpisah sejarak beberapa kaki, masing-masing. melancarkaa serangan dengan gerak tipunya yang aneh2, untuk dapat merebut posisi lebih baik.

Wajah yang tidak berperasaan dari orang berjubah hijau itu, tidak tampak apakah ia merasa heran, girang, ataukah marah, sedangkan Siang-koan Kie juga sudah dikendalikan perasaannya oleh pengaruh obat berbisa, wajahnya cuma nampak dingin, maka dua orang itu meskipun bertempur sengit, tetapi dari wajah mereka sedikitpun tidak tampak adanya perasaan bermusuhan.

Gerak tipu aneh-aneh yang digunakan oleh dua orang itu, membuat tertegun Nie Saat Kiao yang menyaksikannya.

Tiba-tiba terdengar suara orang berjubah hijau yang berkata kepada Nie Suat Kiao:

"Suruh dia hentikan serangannya!"

Nie Suat Kiao segera mengacungkan tangannya dan berseru: "Berhenti!"

Siang-koan Kie yang seluruh pikirannya sudah dikendalikan oleh Nie Suat Kiao, benar saja lalu mengundurkan diri.

Orang berjubah hijau itu per-lahan2 menarik kembali serangannya dan berkata dengan nada suara dingin:

"Orang ini bernama siapa?"

"Anak sendiri masih belum tahu namanya," menjawab Nie Suat Kiao.

"Kepandaian ilmu silatnya sangat aneh, kalau dibiarkan dia akan merupakan bencana bagi kita."

Nie suat Kiao terkejut, katanya: "Apakah perlu dibunuh sekarang juga?"

Orang berjubah hijau itu berpikir, kemudian berkata: "Sekarang kita sedang membutuhkan tenaga, kepandaiannya sudah cukup untuk menghadapi musuh tangguh, untuk sementara biarkan saja, tapi dalam waktu sepuluh hari, ia harus disingkirkan untuk mencegah bahaya dikemudian hari."

"Meskipun anak tertangkap oleh orang-orang golongan pengemis, tetapi untung masih tidak mengalami kecelakaan apa-apa, harap ayah memberi tugas baru lagi."

"Aku sudah mengirim beberapa orang memasuki daerah Tiong-goan, kuharap dapat mengaburkan mata-mata golongan pengemis, supaya mereka mengerahkan semua orang-orangnya yang kuat sehingga markasnya digunung Kun-san dikosongkan, dan kita diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga, sekaligus memusnahkan pusat gerakannya, tindakan ini meskipun tidak sampai menghancurkan kekuatan golongan pengemis yang pengaruhnya sudah kuat dibeberapa propinsi daerah Tiong-goan, tetapi terhadap nama baiknya dikalangan Kang-ouw, akan merupakan suatu pukulan hebat."

"Perhitungan ajah, sulit diselami oleh pikiran manusia biasa."

"Nama Kun-liong Ong, didalam kalangan dunia rimba persilatan pada dewasa ini, meskipun sudah diketahui oleh semua orang, tetapi yang tahu keadaan kita sebenarnya, jumlahnya terlalu sedikit sekali, dalam hal ini sudah tentu berkat khasiatnya obat mujijatku yang dapat melupakan diri orang yang makan, sehingga orang2 itu tidak berani timbul pikiran untuk memberontak. Selain dari pada itu, tindakan2 tegas yang kuambil terhadap orang2 yang berniat jahat, juga merupakan salah satu factor penting. Empat raja muda Timur, Selatan, Barat dan Utara, meskipun kedudukannya penting, tetapi mereka tidak turut ambil bagian dalam urusan yang benar2 rahasia. Mereka hanya bertindak menurut perintahku saja..... Sudah beberapa tahun lamanya kau berada dalam gedung keluarga Pan, tentunya mengalami banyak kesulitan. " "Inilah tugas dan kewajiban anak, budi ayah yang sudah membesarkan dan mendidik anak sehingga dewasa, meskipun anak mati juga belum dapat membalasnya. "

"Kau mempunyai pikiran demikian, itulah baik sekali, Tetapi aku selamanya berpendirian dari pada aku dikecewakan orang, lebih baik aku mengecewakan orang sedunia. Sekalipun terhadap ayah sendiri dan anak sendiri, juga serupa. "

Hati Nie Suat Kiao mendadak bercekad, keringat dingin mulai keluar. Ia berusaha untuk menenangkan perasaannya, Supaya suaranya tidak berubah, dengan berpura-pura tersenyum dan berkata dengan suara lemah lembut;

"Ayah masih ada perintah apa, sekalipun disuruh mati anak juga tidak menolak."

"Aku ingin minta kau makan sedikit barang makanan." "Sekalipun racun yang sangat berbisa, anak juga akan

memakannya."

"Itu bagus," berkata sang ayah, tiba2 mengambil sebuah botol kecil dari dalam sakunya, dari dalam botol kecil itu mengeluarkan dua butir pil yang warnanya biru, sambungnya: "Dua buah pil ditanganku ini, warnanya biru, kau ambil sendiri untuk menentukan nasibmu."

Nie Suat Kiao mengawasi dua butir pil itu, kemudian mengambilnya semua.

"Letakkan kembali." perintah sang ayah angkat itu.

Nie Suat Kiao meletakkan kembali dua butir pil itu kedalam tangan orang berjubah hijau katanya: "Ayah masih ada pesan apa?"

"Dua butir pil ini, semua telah kubuat sendiri, yang satu sifat bekerjanya racun sangat perlahan, setelah dimakan, pelahan2 menyusup kedalam perut dan usus, barangkali satu tahun racun itu baru bekerja dan yang akan makan mati. Yang lain adalah obat pil mukjijat yang dapat menambah kekuatan tenaga dan umur setelah dimakan, besar sekali faedahnya bagi orang yang makan. Sekarang dua butir pil kuletakkan diatas meja, kau boleh pilih salah satu diantaranya."

"Anakmu menurut."

Orang berjubah hijau itu benar2 meletakkan pilnya diatas meja, kemudian ia berjalan kesatu sudut dan berkata:

"Kau jangan melihat aku, pilihlah sendiri."

Nie Suat Kiao terima baik perintah ayahnya, matanya mengawasi dua butir pil itu.

Pil itu satu berwarna hijau, yang lain berwarna putih perak, dan memancarkan cahaya gemerlapan.

Dengan cepat ia mengingat-mengingat kembali warna- warna yang biasa digunakan olah ayahnya kalau membikin obat, setelah berpikir sejenak, ia merasa bahwa warna2 seperti ini jarang dipakainya.

Lama otaknya bekerja, kemudian secepat kilat tangannya mengambil salah satu diantaranya yang diambil ialah yang berwarna hijau.

"Anak, mengapa kau tidak mengambil yang berwarna putih perak?" Demikian sang ayah angkat tiba2 berkata dengan nada suara dingin.

Hati Nie Suat Kiao merasa pilu, air mata bercucuran, dengan suara perlahan ia menjawab:

"Pil yang berwarna hijau ini, apakah pil yang mengandung bisa?"

Orang berjubah hijau itu mendadak tertawa terbahak- bahak, katanya: "Kau harus dapat membedakan dari warna."

Nie Suat Kiao mengeringkan air matanya, tiba2 memutar tubuhnya dan berkata dengan suara gemetar: "Ayah telah membesarkan anak, maafkan anakmu tidak bisa mambalas budimu yang besar ini!"

Sang ayah hanya memperdengarkan suara dari hidung, tidak berkata apa2.

Nie Suat Kiao berkata pula: "Anak tidak perlu lagi makan obat ini, karena ayah sudah timbul perasaan curiga terhadap anak, maka anak hanya dengan jalan Kematian saja untuk mengunjukkan hati anak "

Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula:

"Sebelum anak meninggalkan dunia ini, ada beberapa perkataan anak ingin katakan kepada ayah. "

"Baiklah! Kau katakan!"

"Ayah terhadap kita empat saudara, meskipun sama2 cinta dan sayangnya, tetapi banyak orang mengatakan anakmu yang paling disayang oleh ayah. "

"Emm! Itu memang benar, aku juga dengan orang berkata demikian!"

"Oleh karenanya, sehingga menimbulkan rasa iri hati atau dengki dua adikku, sering timbul pikiran hendak menyingkirkan diri anak."

Dengan sinar mata dingin orang berjubah hijau itu memandang Nie Suat Kiao, kemudian berkata: "Apa kau merasa tidak puas dengan keputusanku?"

"Betapapun besar keheranan anak, juga tidak berani menentang keputusan ayah, tetapi kedua adikku itu, sesungguhnya terlalu kejam, hanya disebabkan hendak mendapat kasih sayang ayah saja, telah anggap aku sebagai musuh besar, yang harus disingkirkan barulah merasa puas."

Sejenak ia berdiam, "Anak telah mendapat perintah ayah untuk menyusup kerumah kediaman keluarga Pan beberapa tahun lamanya, meskipun tidak banyak berjasa, tetapi juga tidak melakukan kasalahan besar. Pengaruh dan kekuatan golongan Pengemis besar sekali, banyak orangnya yang berkepandaian sangat tinggi, selama beberapa tahun anak berada dirumah keluarga Pan melakukan tugas yang ayah berikan, menghadapi segala perubahan dan bahaya, syukur semuanya telah dapat anak lakukan dengan sebaik-baiknya, tak disangka pada detik terakhir, telah kalah ditangan orang2 golongan Pengemis."

Orang berjubah hijau itu agaknya sudah bosan mendengar penuturan itu, ia berkata sambil menggulapkan tangannya:

"Jangan kau bicarakan lagi!"

Nie Suat Kiao tertawa sedih, matanya mengawasi pel dalam tangannya, kemudian per-lahan2 dimasukan kedalam mulutnya.

Siang-koan Kie masih tetap seperti orang linglung berdiri disampingnya, dengan ter-mangu2 mengawasi paras Nie Suat Kiao.

Selagi pel dalam tangannya hendak ditelannya, tiba-tiba terdengar suara bentakan orang berjubah hijau itu:

"Tahan!"

Betapapun juga Nie Suat Kiao masih sayang terhadap jiwanya sendiri, ketika mendengar suara itu, segera membatalkan maksudnya hendak menelan pel itu.

"Berikan pel itu kepadaku!" demikian orang berjubah hijau itu berkata, lalu mengulurkan tangannya dan mengambil pel itu dari tangan Nie Suat Kiao, kemudian berkata pula: "Pilihanmu tidak salah, pel berwarna hijau ini, nampaknya seperti beracun, tetapi sebetulnya tidak, ini adalah pel yang berhasiat menambah kekuatan dan umur Manusia, jikalau kau tadi ragu-ragu dan segera menelannya, terhadap dirimu banyak paedahnya." Setelah berkata demikian, lalu ia menelan pel itu kedalam mulutnya.

Nie Suat Kiao sejak kanak2 hidup dalam kalangan rumah tangga yang penuh rahasia dan kejahatan, dengan sendirinya mempunyai kebiasaan berlaku pura2, ia dapat menangis atau tertawa dengan mendadak, bahkan dapat melakukan dengan mirip. Orang berjubah hijau itu mengambil pil di atas meja seraja berkata:

"Sebelum aku mengetahui keadaan sebenarnya, sulit untuk memutuskan jasa atau kesalahanmu, maka urusan ini untuk sementara ditunda dahulu, tunggu setelah aku mengetahui jelas duduknya perkara kita bicarakan lagi. "

Sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula sambil mengawasi Siang-koan Kie:

"Kepandaiannya memang boleh diandalkan untuk menghadapi lawan tangguh, tetapi sayang kita tidak dapat memakai tenaganya keliwat lama. Dewasa ini kita sedang butuh tenaga, setelah rencanaku selesai, kita membunuhnya masih belum terlambat. Sekarang bawalah dia kesuatu tempat " tiba2 ia perlahankan suaranya.

Nie Suat Kiao tahu benar adat ayah angkat, banyak curiga, kejam, maka ia buru2 memasang telinga.

Benar saja sang ayah itu lalu berkata lagi dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga orang yang diajak bicara:

"Aku sudah mengerahkan tenaga banyak orang kuat, dipusatkan kedaerah Tiong-goan, memancing orang terpenting golongan pengemis masuk perangkap "

Sesaat tiba2 terdengar suara tindakan kaki, seorang laki2 tegap dengan membawa golok ditangannya masuk kedalam ruangan, kemudian berdiri ter-mangu2 didepan pintu, sejenak mengawasi orang berjubah hijau, kemudian dengan sikap ter- gesa2 berkata kepada Nie Suat Kiao:

"Khuncu ada seorang sastrawan berkendaraan kereta datang kemari, ia menyebut dirinya orang dari golongan pengemis, yang khusus datang untuk berkunjung."

Laki2 itu termasuk anak buahnya Kun-liong Ong, tetapi belum pernah melihat pemimpinnya itu, maka ia tidak mengenali orang berjubah hijau itu.

"Mereka ada berapa orang?" bertanya Nie Suat Kiao. "Termasuk kusir kereta, semuanya ada empat orang."

jawab laki2 itu.

"Baik! Undang mereka masuk."

Laki2 itu setelah menerima baik pesan itu kemudian mengundurkan diri.

"Sudah lama aku mendengar Siao-you Siucay Teng Soan dari golongan pengemis itu katanya cerdik dan banyak akalnya, ia datang kemari untuk menengok kau pasti ada maksudnya." berkata orang berjubah hijau itu.

"Apakah ayah hendak menjumpai dia?"

"Tidak usah, aku akan sembunyikan diri dalam kamar, akan kudengar apa yang hendak dibicarakan denganmu."

"Menurut apa yang anak tahu, orang she Teng itu belum pernah belajar ilmu silat, orang2 yang mengawal dirinya, pasti ada orang2 kuat golongan pengemis."

"Temuilah dia lebih dulu, aku lihat apa yang hendak dibicarakan."

Orang berjubah hijau itu setelah berkata demikian lalu masuk kedalam kamar.

Nie Suat Kao diam-diam menghela napas, lambat-lambat berjalan keluar, dari ambang pintu ia melihat Teng Soan yang berpakaian seperti sastrawan, ia berjalan dimuka, dibelakang dirinya diikuti oleh dua pemuda menyoren pedang.

Dari jauh Teng Soan sudah memberi hormat kepada Nie Suat Kiao, kemudian berkata dengan suara lantang:

"Kunjungan secara tiba-tiba ini, tentunya mengganggu kesenangan Khuncu."

"Keberanianmu terlalu besar sekali," jawab Nie Suat Kiao dingin.

"Sekalipun negara yang sedang berperang, juga tidak akan mengganggu utusannya, kunjunganku ini sedikit pun tidak bermaksud jahat," berkata Teng Soan sambil tersenyum.

Nie Suat Kiao mempersilahkan tetamunya masuk sambil menggeser kakinya. Teng Soan masuk kedalam ruangan tamu dan duduk diatas sebuah kursi.

Dua pemuda menyoren pedang itu berdiri didua sisi kursi.

Nie Suat Kiao mengawasi kedua pemuda itu sambil tertawa dingin, katanya: "Dengan mengandalkan tenaga dua pemuda ini kau berani memasuki sarang Harimau, nyalimu benar-benar besar sekali hee."

"Kedatanganku bukan untuk mencari setori," berkata Teng Soan sambil tertawa hambar.

Biji mata Nie Suat Kiao yang bundar jeli nampak berputaran, lalu berkata sambil tertawa: "Kalau begitu kunjunganmu ini dengan maksud baik?"

Teng Soan tidak mau menjawab pertanyaan itu, dengan mata mengawasi Siang-koan Kie, ia mengajukan pertanyaan kelain soal:

"Apakah ia kemasukan racun terlalu berat?" Nie Suat Kiao juga tidak mau menjawab pertanyaan orang she Teng itu, sebaliknya berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan:

"Jaga pintu."

Serta merta Siang-koan Kie lompat melesat kedepan pintu, kemudian berdiri disitu.

Dua pemuda disamping Teng Soan, dengan berbareng mengawasi gerakan Siang-koan Kie, tetapi masih tetap berdiri ditempatnya.

Teng Soan mengambil kipas dari punggungnya kemudian berkata sambil tertawa: "Percayakah nona Nie bahwa aku bisa menempuh bahaya masuk kedalam gua harimau?"

"Betapapun kau pandai bersilat dengan lidah, hari ini barangkali tidak mudah lagi kau bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup!"

Teng Soan tertawa menyeringai, katanya:

"Empatpuluh delapan pengawal pilihan dari golongan pengemis, sudah mengurung gedung ini asal aku mengeluarkan perintah, mereka segera akan menyerang tempat ini berbagai penjuru."

Nie Suat Kiao bercekat, tetapi diluarnya masih tetap bersikap tenang, katanya: "Barangkali kau sudah sulit untuk mendapat kesempatan untuk mengeluarkan perintah. "

Ia berhenti sejenak, sambungnya: "Terangkan dulu apa maksud kunjunganmu ini, nanti kita mancoba lagi untuk bertanding siapa yang akan unggul?"

"Aku hanya ingin minta keterangan diri seseorang darimu." "Siapa?"

"Kun-liong Ong."

Alis Nie Sut Kiao berdiri. "Kau hendak menjumpainya?" "Benar, aku hendak menjumpainya, karena aku ingin membuktikan suatu hal."

"Hal apa?"

"Entah dia adalah itu orang berkepandaian luar biasa yang seperti dalam terkaanku atau bukan?"

"Tahukah kau peraturan sebagai syarat untuk menjumpai Kun-liong Ong?" berkata Nie Suat Kiao sambit tertawa ter- bahak2.

”Aku harap nona suka memberikan petunjuknya."

"Barang siapa yang ingin menemui Kun liong ong, hanya ada dua jalan."

"Dua rupa jalan apa yang nona maksudkan?"

"Jalan pertama ialah menjadi murid dan mengabdi kepada kita selama2nya."

"Dan yang kedua?"

"Jalan kedua lebih mudah, cukup dengan satu istilah ialah MATI!"

Teng Soan tersenyum.

"Dalam hal ini, barang kali nona tidak dapat mengambil keputusan sendiri, dua rupa jalan itu tidak kusukai semua."

"Kalau kau tak suka sebaiknya jangan menemuinya." "Tetapi aku pasti hendak menemuinya ."

Nie Suat Kiao tercengang, katanya dengan nada gusar: "Kau kira Kun-liong Ong itu manusia macam apa? Bagaimana boleh ditemui oleh sembarang orang?"

"Nona jangan marah dulu, apabila dugaanku tidak salah, sekarang ini Kun-liong Ong berada justru berada didalam kamar itu. " Dengan tanpa menoleh Nie Suat Kiao bersikap acuh tak acuh, kemudian berkata sambil tertawa hambar: "Dikalangan Kang ouw banyak tersiar kabar bahwa kau adalah seorang cerdik yang banyak akalnya, tetapi aku belum pernah dengar orang mengatakan bahwa kau mempunyai kepandaian ilmu silat?"

"Baik kepandaian ilmu siasat maupun kepandaian ilmu silat, masing2 ada kegunaannya sendiri2, urusan didalam dunia, belum tentu dapat dibereskan hanya dengan ilmu silat saja."

Nie Suat Kiao menggapaikan tangannya kepada Siang-koan Kie seraya berkata: "Kemari, berikanlah sedikit hajaran kepadanya."

Siang-koan Kie berjalan lambat2 menuju kearah yang ditunjuk oleh Nie Suat Kiao. Dua pemuda yang berdiri dikedua samping Teng Soan, mendadak melompat maju dua langkah, menghadang dihadapan Teng Soan dengan pedang terhunus.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara yang dingin sekali: "Tahan."

Tanpa menoleh Nie Suat Kiao juga sudah tahu suara siapa itu, maka ia lalu perintahkan Siang-koan Kie kembali.

Siang-koan Kie memandang Nie Suat Kiao sejenak, lalu balik kembali ketempatnya.

Teng Soan mengangkat muka, dipintu kamar berdiri seorang berjubah hijau dengan paras dingin tanpa berperasaan.

Orang itu berdandan dengan pakaian biasa, begitu pula jejak dan potongan mukanya juga biasa, hanya mukanya yang seperti bangkai hidup, memberikan kesan tidak enak bagi orang yang melihatnya."

Teng Soan bangkit perlahan-perlahan, ia berkata kepada dua pemuda disampingnya dengan suara rendah: "Kalian tunggu aku diluar saja."

Dua pemuda itu sejenak nampak ragu-ragu, tetapi akhirnya menurut dan mengundurkan diri keluar ruangan.

Orang berjubah hijau itu juga memerintahkan Nie Suat Kiao dan Siang-koan Kie keluar ruangan. Nie Suat Kiao menurut, dengan mengajak Siang-koan Kie ia keluar dari ruangan.

Sebentar kemudian dalam ruangan itu hanya tinggal Teng Soan dan orang berjubah hijau itu berdua.

Teng Soan per-lahan2 menutup kipasnya, ditaruhnya lagi diatas punggungnya, kemudian mengeluarkan sebilah pedang pendek dan berkilat sambil membongkokkan badan: "Suheng, apakah sejak ber-pisah baik2 saja? Disini siaotee hendak kembalikan pedang suheng."

Orang berjubah hijau itu mengawasi pedang pendek ditangan Teng Soan sejenak, dengan tindakan perlahan berjalan manuju kesebuah kursi, per-lahan2 ia duduk dan berkata: "Siapa suhengmu?"

"Kun-liong ong." menjawab Teng Soan sambil tertawa, "Kecuali suheng, siaotee sudah tidak dapat menduga lagi kepada lain orang bahwa dalam dunia ini ada orang yang sanggup menciptakan kekuasaan yang demikian misterius."

Orang berjubah hijau itu tertawa tetapi tiada suara terdengar dari mulutnya, setelah itu ia berkata: "Aku juga sudah lama dengar bahwa digolongan pengemis ada seorang bernama Teng soan, aku merasa bersyukur hari ini bisa bertemu muka."

"Meskipun suheng bisa menggunakan kedok kulit manusia yang sempurna untuk menutupi wajah asli suheng, tetapi tidak merubah suara yang biasa siaotee dengar sejak muda."

Orang berjubah hijau itu diam tidak menjawab. Teng Soan tertawa hambar dan berkata pula: "Suheng harap terima dulu pedang ini, nanti siaotee akan memberi hormat selajaknya kepada suheng."

Orang berjubah hijau itu mendadak mendelikkan matanya, napsunya membunuh berkobar seketika, katanya dengan nada suara dingin:

"Kalau aku hendak bunuh kau, aku dapat melakukan dengan sangat mudah sekali."

"Apabila suheng membunuh aku, niat dan usaha suheng hendak menguasai rimba persilatan, baik dengan menggunakan racun kekuatan tenaga, atau akal muslihat, sudah tiada orang yang sanggup menandingi lagi, hingga usaha suheng itu pasti akan berhasil, akan tetapi kau nanti akan merasa menyesal karena tidak menemukan tandingan, ini berarti mensia-siakan kepandaian yang luar biasa itu."

"Pantas nama dan pengarah golongan pengemis dalam waktu belakangan ini sangat terkenal dikalangan Kangouw, kiranya kaulah yang merencanakan segala sesuatunya."

"Biar bagaimana siaote masih kalah satu set dalam percaturan ini, tidak seperti suheng yang namanya menggemparkan rimba persilatan. "

"Kau tidak usah memikirkan untuk membangkitkan perasaan persahabatan yang lama, betapapun pandainya kau mainkan lidah, juga tidak dapat menggerakkan hatiku yang keras bagaikan baja. Untuk dewasa ini, hanya kau seorang yang dapat menandingi aku dalam menggunakan segala akal, setelah aku membunuhmu, aku pasti dapat menguasai rimba persilatan."

Setelah berkata demikian orang berjubah hijau itu berbangkit mendekati Teng Soan.

Teng Soan dengan sikap tenang mengibas-ngibaskan kipasnya, kemudian berkata sambil tertawa: "Suheng jangan marah dulu, dengarlah keterangan siaote, nanti baru kau membunuh juga belum terlambat."

Orang berjubah hijau itu perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya seraya berkata:

"Katakanlah!"

Mata Teng Soan mengawasi tangan orang berjubah hijau itu, lalu berkata sambil tertawa: "Kita sama-sama keluaran dari satu perguruan, suheng tentunya sudah tahu bahwa siaotee tidak bertenaga, kalau kau hendak membunuhku, mudah sekali seperti mematahkan, ranting kayu."

"Kau datang sendiri untuk mengantarkan jiwamu, bagaimana dapat menyesalkan aku berhati kejam?"

"Suheng tahu benar adat siaote, dalam hidup siaote, selamanya belum pernah melakukan pekerjaan yang harus menempuh bahaya, kalau aku sudah berani datang menjumpai suheng, sudah tentu sudah memperhitungkan lebih dulu kemungkinannya, bahwa kau akan membunuh aku. "

"Sekalipun kau menggerakkan seluruh kekuatan golongan pengemis, apa yang kau bisa perbuat terhadap aku?"

Teng Soan tiba-tiba membentak dengan sikap serius: "Harap suheng mundur dua langkah, pada diri siaute ada

sebuah alat yang melindungi, hendak siaote memperlihatkannya kepada suheng."

Orang berjubah hijau itu yang menyaksikan sikap dan kata- kata Teng Soan yang serius, tanpa sadar sudah mundur satu langkah.

Teng Soan berkata dengan nada suara dingin: "Harap suheng mundur dua langkah lagi. "

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula: "Apabila siaotee mati bersama suheng, dalam waktu sepuluh tahun dalam dunia Kang-ouw tidak akan ada orang lagi yang ingin menguasai rimba persilatan."

Orang berjubah hijau itu menurut mundur dua langkah, tetapi tangan kanannya yang diangkat tinggi2 masih belum diturunkan, katanya:

"Seranganku dari jarak jauh, dalam jarak sepuluh langkah pasti dapat menghancurkan batu, aku kira tubuhmu yang terdiri dari darah dan daging, sudah pasti tidak sanggup menahannya, sekarang aku sudah pusatkan sepenuh tenagaku, bagaikan anak panah yang sudah dipasang dibusurnya, mau tidak mau harus dilepaskan. "

"Sebelum suhu menutup mata, pernah meninggalkan kata2 kepada siaotee bahwa keadaan dalam dunia rimba persilatan selama dua puluh tahun yang akan datang, akan merupakan suatu pertentangan antara kita berdua suheng dan sutee, aih! Tak disangka ramalan suhu itu ternyata benar akan terbukti'"

"Jikalau benar ia mempunyai kepandaian dapat mengetahui segala kejadian yang belum terjadi, tidak seharusnya ia menerima aku menjadi murid."

"Kepandaian suhu seolah-olah manusia keturunan dewa, apa yang dikatakan siaote, semua telah terbukti kebenarannya. "

"Kau mengoceh   "

"Suhu berkata bahwa suheng berjiwa kecil berhati sempit, diatas kepalanya terdapat tulang pemberontak, selama hidupnya mudah berubah, tangan panas hati kejam, pasti akan menjadi seorang buas yang tidak ada taranya, asal usahamu agak berhasil, orang yang pertama kau hendak bunuh pastilah aku sendiri. "

-OoodwooO-