ISMRP Jilid 11

 
Jilid 11 

GADIS berbaju putih itu keras kepala, tetapi sikapnya tenang dan penuh kepercayaan terhadap dirinya sendiri, berkata pula: "Disepanyang jalan, aku sudah menaruh tanda rahasia, dalam waktu dua jam, pasti ada orang yang datang mencari kemari."

"Dalam rimba hitamku ini, perjalanannya sangat ruwet, sekalipun orang yang sudah pernah datang, jikalau aku tidak kirim orang keluar menyambut, juga tidak berani sembarangan masuk." berkata nyonya Ho sambil ketawa dingin.

Gadis berbaju putih itu tiba2 tertawa bergelak2, kemudian berkata: "Kau tidak percaya perkataanku, cobalah saja sampai dimana lihainya Kun-liong Ong."

"Nona, sebelum bala bantuan tiba jangan bergembira dulu," berkata Auw-yang Thong.

"Apabila kau tidak ingin mengalami lebih banyak kesulitan, sebaiknya jangan terlalu menuruti hawa napsumu.....apakah nona yakin sanggup melawan kita berempat?"

"Jikalau kalian maju serentak, aku tahu aku tidak sanggup melawannya, tetapi apabila maju satu persatu, aku tidak sampai kalah." berkata gadis itu.

"Bocah yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, sungguh sombong perkataanmu ini." berkata Hui Kong Leang.

"Pada saat dan tempat seperti sekarang ini, kita bukan untuk merundingkan soal kepandaian dengan nona, nona juga seharusnya melihat sendiri, sekarang ini sulah ada orang yang sudah bersedia hendak melakukan siksaan terhadap diri nona." berkata Auwyang Thong.

Gadis berbaju putih per-lahan2 mengeluarkan pedang pendeknya dan berkata sambil tertawa:

"Aku harus berikan kepada siapa?"

"Berikan saja kepadaku." berkata Auw-yang Thong. "Terimalah dengan baik." berkata gadis berbaju putih itu, segera menyerahkan pedang pendek itu.

Semua mata ditujukan kepada pedang pendek itu yang diserahkan kepada Auw-yang Thong sebab tiada seorangpun percaya, gadis itu mau menyerahkan pedangnya dengan hati rela.

Betul saja, selagi Auw-yang Thong menyambuti pedang pendek, gadis itu tiba2 membalikan tangannya, pedang ditangannya berputaran melancarkan serangan.

Auwyang Thong sudah ber-jaga2 selagi tangan gadis itu bergerak, ia juga sudah melompat mundur.

Gerakan kedua pihak sama2 cepatnya, ketika pedang itu melakukan serangan, Auw-yang Thong sudah mundur sejauh tiga kaki.

Gadis berbaju putih itu gagal dalam serangannya, segera melanjutkan serangannya kepada nyonya Ho.

Nyonya Ho memperdengarkan suaranya dihidung, mulutnya memaki: "Bagus sekali perbuatanmu. Setan cilik, apa kau anggap nyonyamu ini seperti lampu yang sudah akan kehabisan minyak?"

Sementara itu kedua tangannya segera bergerak menyerang gadis itu. Gadis itu merasakan sambaran angin kuat, dalam terkejutnya ia cepat2 melompat kesamping.

Serangan nyonya Ho tadi melewati badan gadis itu terus menyambar Tiat Bok taysu.

Dalam ruangan yang kurang luas itu, berdiri begitu banyaK orang, agak kurang leluasa untuk bergerak, lagi pula Tiat Bok taysu harus pertahankan nama dan kedudukannya, tidak boleh menyingkir sembarangan, terpaksa mengibaskan lengan jubahnya hendak menyambut hembusan angin yang keluar dari tangan nyonya Ho itu. Kepandaian nyonya Ho ternyata sudah mencapai ketaraf yang sangat tinggi, ketika melihat gadis itu mengelakkan serangan tadi, segera menarik kembali kekuatan tenaganya, begitu pula kekuatan tenaga dalam yg sudah meluncur dari serangannya tadi.

Sementara itu gadis berbaju putih itu sudah bergerak lagi, ia menikam dengan pedangnya.

Dengan satu gaya yang manis, nyonya Ho bergeser mundur kaki kirinya, badannya memutar untuK mengelakkan serangan tersebut.

Dalam keadaan demikian, gadis berbaju putih itu agaknya tidak mau memberi kesempatan baginya untuk mengelakkan serangannya, tangannya terus bergerak melancarkan serangan bertubi-tubi.

Kepandaian ilmu silat gadis berbaju putih yang sangat aneh itu, bukan saja mengejutkan dan mengherankan nyonya Ho, tetapi juga tiat Bok, Kie Bok, Auwyang Thong dan Hui Kong Leang yang menyaksikan, merasa terheran.

Percuma saja nyonya Ho mempunyai kepandaian tinggi, Karena sudah kenhilangan kesempatan lebih dulu, beberapa bagian dalam darah penting dianggota badannya tetap dibawah ancaman pedang gadis itu, tanpa dapat membalas, hanya mengandalkan gerak badannya yang gesit dan berputaran diruangan itu.

Tiat Bok taysu telah menyaksikan gerakan gadis itu semakin lama semakin gesit, sebentar lagi, apabila nyonnya Ho tidak menyerah dibawah ancaman pedannya, pasti akan terluka.

Auw-yang Thong juga sangat khawatir, pikirnya: 'kepandaian gadis itu benar2 hebat, apabila benar2 ia bertempur denganya, barangkali dalam seratus jurus baru mendapat ketentuan.' Gadis berbaju putih itu disatu pihak mempercepat serangannya, dilain pihak berkata kepada nyonya Ho dengan suara perlahan:

"Djikalau kau tidak ingin terluka diujung pedangku, aku masih bisa memberi muka kepadamu, nanti setelah seratus jurus, aku akan memberikan kesempatan bagimu merebut pedangku dan membiarkan diriku tertangkap olehmu, tetapi kau harus menerima baik permintaanku dalam pertempuran kita ini, harus bertahan sampai satu jam, selama waktu ini kau harus melarang mereka turan tangan membantu kau."

Perkataanya itu diucapkan dengan mengunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga keorang diajak bicara, kecuali nyonya Ho sendiri, yang lainnya tidak mendengarnya sama sekali.

Perkataannya itu sesungguhnya sangat berguna bagi nyonya Ho, sebab dihadapan Auw-yang Thong dan Tiat bok Taysu serta lain-lainnya apabila kalah ditangan gadis berbaju putih itu, sesungguhnya sangat memalukan, tetapi keadaan diwaktu itu sudahh jelas sekali, gerak tipu serangan pedang gadis berbaju putih yang sangat aneh itu, masih mengancam dirinya, dan selama itu ia masih belum sanggup melepaskan diri, sehingga menurunkan kepercayaannya terhadap dirinya sendiri, setelah berpikir sejenak, ia menjawab juga dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara kedalam telinga kepada orang yang diajak bicara:

"Seratus jurus hanya dalam waktu singkat sudah selesai, mengapa harus menunggu sampai satu jam ?"

"Menurut perhitunganku, dalam waaktu satu jam, bala bantuanku mungkin sudah datang kemari maka aku mengajukan perjanjian satu jam ini,"' berkata gadis berbaju putih itu.

"Bagaimana apabila mereka tidak datang?," bertanya nyonya Ho. "Sudah tentu kau harus melakukan menurut perjanjian." "Orang-orang yang sekarang ada disini, semua adalah

orang-orang kuat golongan kelas satu dalam rimba persilatan pada dewasa ini, apakah mereka tidak akan dapat tahu?"

"Asal kita selama melakukan pertempuran, berlaku sedikit hati-hati dan mengeluarkan seluruh tenaga, tidak nanti sampai diketahui!"

"Seratus jurus, sudah pasti tidak memerlukan waktu satu jam."

"Kita harus mengulur waktu sedapat mungkin setidak- tidaknya juga harus memakan waktu setengah jam."

"Baiklah! Aku terima baik permintaanmu itu."

"Masih ada satu hal apabila kau setuju, aku boleh kurangi menjadi lima puluh jurus saja."

"Mengapa?"

"Apabila kau bisa memperpanjang waktu satu jam memerintangi aku diperiksa, aku boleh mengurangi lima puluh jurus."

"Baiklah aku terima permintaanmu."

Serangan gadis itu tiba-tiba berobah gencar, sekaligus melancarkan tiga-kali serangan. nyonya Ho yang diserang begitu hebat terpaksa melompat kekiri kekanan, baru berhasil mengelakkan serangan itu.

Gadis itu memperlambat serangannya, berkata dengan suara perlahan: "Sekarang kau balas menyerang!"

nyonya Ho dalam hati berpikir; 'dalam keadaan seperti sekarang ini, karena beberapa bagian jalan darahku terancam sehingga aku tidak dapat mengeluarkan tenaga untuk balas menyerang, tetapi ia menyuruhku melakukan serangan pembalasan, sebaiknya kugunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kedudukanku. '

Setelah berpikir demikian tangannya lalu bergerak, dalam waktu sekejap mata sudah melancarkan serangan tiga empat kali totokan.

Serangan2 itu benar saja telah memperbaiki kedudukkannya, gadis berbaju putih itu terdesak sehingga gerakan pedangnya kurang jitu.

Ia bergerak dengan pedangnya telah mengancam beberapa bagian jalan darahnya membuat ia tidak bisa balas menyerang, tetapi sekarang setelah ia mendapat kesempatan, tidak akan mudah tertipu lagi, jikalau pertandingan serupa itu berlangsung terus mungkin gadis itu bukan tandinggannya.

Karena itu, serangannya tiba2 menjadi lambat.

nyonya Ho tahu bahwa gadis itu sedang mengulur waktu, hingga diam2 merasa geli, ia mempecepat serangannya, mau tidak mau gadis itu harus balas menyerang untuk mempertahankan kedudukannya.

Dalam keadaan yang demikian jalannya pertempuran itu sangat ganjil, serangan nyonya Ho dilancarkan cepat luar biasa, sedangkan serangan pembalasan gadis itu, sebaliknya hendak mengulur waktu, sebetulnya nyonya Ho mendapat banyak kesempatan untuk melukai lawannya, tetapi karena harus menepati janjinya ia tidak dapat turun tangan.

Tiat-bok Taysu dan Auwyang Thong agaknya sudah mengetahui gelagat tidak beres itu, dua orang saling berpandangan sebentar, lalu maju ber-sama2.

Nyonya Ho khawatir dua orang itu akan turun tangan, cepat-cepat berkata kepada mereka: "Kalian harap minggir sedikit."

Auwyang Thong dan Tiat Bok taysu terkejut, mereka terpaksa menghentikan tindakannya, Serangan nyonya Ho semakin lama semakin cepat, Setiap serangannya selalu ditujukan kebagian jalan darah penting yang mau tidak mau harus dipertahankan oleh gadis itu.

Demikianlah pertempuran itu telah berlangsung seratus jurus dengan memakan waktu kurang lebih setengah jam.

Gadis itu ternyata menepati janjinya, selewatnya seratus jurus, tiba-tiba menarik kembali serangannya, pedangnya dimasukan kedalam sarungnya, kemudian mengangkat tinggi kedua tangannya:

"Aku tidak sanggup melawanmu, sekarang aku menyerah."

Terjadinya perobahan itu benar2 diluar dugaan semua orang, Auwyang Thong, Tiat Bok dan Kie-bok taysu serta Hui Kong Leang semua melengak.

Nyonya Ho segera menotok jalan darah gadis berbaju putih itu.

Gadis itu menggerakkan bibirnya, agaknnya hendak menggatakan sesuatu, tetapi sebelum dapat mengeluarkan perkataan apa-apa jalan darahnya sudah tertotok. Auwyang Thong lalu memberi hormat dan berkata kepada nyonya Ho;

"Gadis ini sangat kejam dan banyak akalnya, kita lebih cepat menanyakan urusannya adalah lebih baik, bagaimana kalau aku meminjam tempatmu ini?"

Nyonya Ho mendadak tertawa terbahak-bahak dan berkata:

"Hingga saat ini, aku baru tahu maksud kedatangan tuan- tuan yang sebenarnya, tidak lain dari pada hendak meminjam tempatku yang sangat rahasia ini, untuk mengompres gadis ini."

"Kesatu aku berkunjung menengokmu, kedua meminjam tempat nyonya ini sebentar dan tiga minta supaya nyonya menyediakan dua orang untuk melakukan siksaan terhadap gadis ini," berkata Auwyang thong sambil tertawa. Nyonya Ho berpaling mengawasi nyonya tua berpakaian compang-camping yang duduk disuatu sudut, lalu berkata:

"Dia satu orang saja sudah cukup."

Perempuan tua itu tiba-tiba bangkit dan "berjalan menghampiri, sepasang matanya yang selalu dipejamkan. Mendadak terbuka lebar, denngan sinar matanya tajam menatap wajah nyonnya Ho, kemudian berkata:

"Nyonya, maafkan aku terlalu banyak mulut,"

Nyonya Ho agaknya sangat menghargai perempuan tua itu, ia tersenyum dengan sikap menghormat, berkata: "Nenek hendak berkata apa? Katakanlah terus terang."

Dengan sinar Mata yang tajam perempuan tua itu menyapu kearah gadis berbaju putih kemudian berkata:

"Bocah ini dengan kita orang dari rimba hitam tidak mempunyai permusuhan apa-apa, kita betulnya tidak perlu menanam bibit permusuhan oleh kerena perbuatan golongan pengemis."

"Auw-yang Pangcu selama bersahabat baik dengan kita, apakah hendak meminjam tempat saja juga tidak boleh?"

Perempuan yang disebut nenek Ie tadi, menarik napas panjang dan berkata:

"Nenek lihat bocah ini tadi waktu sedang bertempur dengan nyonya, caranya menggunakan pedang, keepandaiannya, mendadak mengingatkan aku sesuatu kejadian dimasa lampau."

"Kejadian apa?" bertanya nyonya Ho.

Nenek Ie itu agaknya masih agak ngeri apa yang telah terjadi pada masa yang lampau itu, kepalanya mendongak keatas, sepasang matanya berputaran, lama baru berkata: "Itu sebetulnya adalah sesuatu pembunuhan besar2an yg sangat menakutkan, dua puluh empat orang kuat rimba persilatan, telah mati dibakar hidup2 "

"Itu bukankah kejadian yang telah terjadi pada tiga puluh tahun berselang?" bertanya Tiat-bok Taysu.

Nenek itu menganggukkan kepala. "Diantara duapuluh empat orang itu, dua memakai pakaian jubah padri, barang kali mereka itu adalah murid kuil Siaow-lim-sie?"

"Memang pada tiga puluh tahun berselang, dua orang anak murid kuil kita yang termasuk orang2 yang berkepandaian tinggi telah hilang di dunia Kangouw, ketua kita telah mengutus beberapa anak muridnya yang terkuat untuk mencari, tetapi tiada kabar apa2." berkata Tiat-bok Taysu.

Perbuatan orarg itu meskipun kejam, tetapi diwaktu bertempur, tidak menggunakan akal busuk...." berkata nenek itu, sinar matanya perlahan2 beralih kediri nyonya janda Ho. "Oleh karena itu, tadi ketika nenek melihat kepandaian yang digunakan oleh gadis itu, segera teringat kejadian dimasa yang lampau itu ilmu pedang yang mengancam seluruh jalan darah lawannya yang digunakan oleh orang itu serupa benar dengan ilmu pedang yang digunakan oleh gadis ini, apabila hari ini kita membantu golongan pengemis memeriksa gadis ini, mungkin untuk selanjutnya keadaan didalam rimba hitam ini tidak akan aman lagi."

Auw-yang Thong mengawasi nona janda Ho sambil tersenyum, kemudian kerkata: "Apabila nyonya merasa takut, aku juga tidak berani mengganggu lagi."

Nyonya janda Ho berpikir sejenak, kemudian berkata: "Selama aku dalam petapaan, Auw-yang Pangcu telah

memberikan banyak bantuan kepada kita, mengadakan pemeriksaan kepada gadis itu didalam rimba hitam ini, meskipun dapat membawa malapetaka besar, tetapi itu juga merupakan suatu kewajiban dari kita untuk menerima permintaan Auw-yang Pangcu."

Perkataannya itu agaknya ditujukan kepada perempuan tua yang dipanggil neneknya itu, juga pada Auw-yang Thong, tetapi sudah nyata bahwa ia sudah menerima baik permintaan Auwyang Thong.

Hui Kong Leang tiba2 maju selangkah dan menyambar badan gadis itu seraya berkata:

"Waktu sudah tidak pagi lagi, jikalau hendak bertanya lekaslah, supaya jangan sampai membuang waktu, apalagi kedua taysu ini masih perlu hendak membawanya kekuil Siao- lim-sie."

"Ucapan saudara Hui benar...." berkata Auw-yang Thong, lalu berpaling dan berkata kepada nyonya Ho; "Harap nyonya ambil pedang dibadannya dan, buka totokannya."

Nyonya Ho berpaling mengawasi nenek Le, kemudian berkata dengan suara perlahan:

"Gadis ini bukan tertangkap oleh kita, sekalipun kita orang dari rimba hitam terlibat dalam urusan ini, ia nanti juga akan mencari golongan pengemis dan Siao-lim-sie lebih dahulu barulah kepada kita, kau tak usah khawatir."

Nenek itu menarik nafas panjang, per-lahan2 memutar tubuhnya, balik ketempat duduknya sendiri.

Nyonya Ho menghampiri gadis berbaju putih itu, lalu mengambil pedang dari badannya, kemudian membuka totokannya.

Gadis itu tiba2 menarik nafas panjang, ia membuka matanya, selagi hendak bicara, Hui Kong Leang dengan cepat sudah menotok jalan darah Hong hu-hiat dilengan tangan kanannya, Kiranya ia takut gadis itu akan melawan lagi, hingga merepotkan orang banyak, Gadis itu meskipun sudah tertotok jalan darahnya, tetapi masih bisa membuka mulut, dengan sinar mata dingin ia mengawasi Hui Kong Leang sejenak, lalu berkata:

"Dikemudian hari apabila kau terjatuh di tanganku, aku akan cincang tubuhmu."

Hui Kong Leang tertawa ter-bahak2 katanya:

"Kejadian yang akan datang masih susah diduga, nanti kalau waktunya tiba boleh kau berbuat sesukamu, tetapi sekarang ini sebaiknya kau jangan bertingkah, supaya tidak menghalangi siksaan badan."

Gadis itu meskipun sudah tak berdaya, tetapi masih keras kepala, sambil ketawa dingin ia berkata;

"Sekarang ini disekitar rumah ini mungkin sudah terkurung rapat, hm,... Aku ingin lihat masih berapa lama kalian bisa berlaku garang seperti ini?"

Auw-yang Thong berkata:

"Satu hal hendak kuperingatkan kepadamu, itu adalah sebelum bala bantuanmu tiba, kita bisa menggunakan berbagai cara kejam untuk mengompres kau. "

Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula: "Hanya, kecuali keadaan memaksa, kita tidak akan menggunakan siksaan itu terhadap diri nona."

"Asal aku terlepas dari bahaya ini, tindakanku yang pertama ialah membasmi pengaruh golongan pengemis, sekalipun anak kecil, apabila masuk menjadi anggota golongan pengemis, jangan harap bisa hidup," berkata gadis itu dengan nada suara dingin.

"Urusan dikemudian hari, dikemudian hari kita bicarakan lagi, jikalau kau tetap membandel, jangan sesalkan aku nanti akan memberikan kau sedikit ajaran," berkata Auw-yang Thong agak mendongkol. "Kalian hendak menanyakan apa? Tanyalah!" berkata gadis itu.

"Itulah sikap seorang gagah......" berkata Auw-yang Thong sambil tersenyum, "siapakah sebetulnya orang yang menamakan diri Kun-liong Ong itu?"

"Kun-liong Ong   adalah   Kun-liong   Ong?,   siapa   dia?

Bukankah ini merupakan suatu pertanyaan aneh?"

"Aku peringatkan kepadamu, kau jangan terlalu main gila menuruti adatmu sendiri, kalau tidak terpaksa, aku sebetulnya tidak suka menggunakan penyiksaan terhadap dirimu."

"Apa yang aku tahu aku menjawab tahu, tetapi apa yang aku tidak tahu, sekalipun kau bunuh aku juga tidak bisa menjawab."

"Kau mendapat gelar Khiun-cu dari mana dan apa sebabnya kau ia mendapat gelar itu?"

"Aku adalah salah satu anak angkat dari empat anak perempuan Kun-liong Ong, dengan sendirinya mendapat gelar Khiun-cu."

Djawaban itu singkat dan tegas, sehingga membuat orang tidak dapat mencari kesalahannya, juga seperti bukan omong kosong.

Auw-yang Tong mengawasi Tiat-bok, Kie Bok dan Hui Kong Leang, Kemudian berkata:

"Kau nyelundup didalam gedung keluarga Pan dan menyaru sebagai anak perempuan Pan loya, apakah maksud perbuatanmu ini?"

"Pertama hendak menyelidiki dimana adanya tiga benda wasiat dan kedua hendak menuntut balas atas kematian ayahku." "Sudah berapa tahun lamanya kau menyelundup kedalam gedung keluarga Pan? Apakah Pan loya tahu asal usulmu? Siapakah nama aslimu?"

"Aku nyeludup dalam gedung keluarga Pan sudah lima tahun, oleh karena hubungan yang tawar dengan anak2nya, dan adat orang tua itu yang sangat dingin, sehingga antara ayah dan anak jarang sekali bertemu muka, pada mulanya aku menempel orang2 bawahannya, membuat diri orang tua itu terpencil, kemudian memaksanya supaya manyerahkan tiga benda wasiat itu."

"Dimana sekarang adanya tiga benda wasiat itu?" bertanya Hui Kong Leang.

"Apabila aku sudah berhasil mendapatkan tiga benda wasiat itu, aku juga tidak bisa berdiam beberapa tahun lamanya dikeluarga itu." menjawab gadis itu, kemudian matanya mengawasi Auwyang Thong dan berkata pula:

"Satu tahun setelah aku berada didalam keluarga Pan itu, tua bangka she Pan itu baru mengetahui kalau aku bukan anak perempuannya, tetapi waktu itu, aku sudah menggunakan pengaruh obat yang diberikan oleh ayah angkatku! Kun-liong Ong, aku berhasil menundukkan beberapa orang penting dalam rumah keluarga itu, seperti kepala pegurus rumah tangga Kim-siao Ho dan anak lelaki tunggalnya orang tua itu Pan tjeng Leang serta lain2nya "

"Entah kemana anak perempuan Pan lo-enghiong?" bertanya Tiat-bok Taysu.

"Kalian orang2 bertanya tidak karuan, suruh aku menjawab kepada siapa?" berkata gadis itu gusar.

"O Mie Tho Hud, ucapan Lie-sicu memang benar, kita minta kepada Auwyang Pangcu seorang saja yang bertanya." berkata Tiat-bok Taysu. "Silahkan nona melanjutkan keterangannya." berkata Auw- yang Thong.

"Setelah mempengaruhi beberapa orang penting dalam gedung keluarga Pan." demikian gadis itu melanjutkan keterangannya, "Aku mulai melakukan pertanyaan dan pemeriksaan kepada orang tua she Pan itu, lebih dulu aku menggunakan ilmu totokan yang diajarkan oleh ayah angkatku, menotok beberapa bagian jalan darahnya, supaya ia tidak bisa bunuh diri, kemudian setiap hari aku majukan pertanyaan dimana adanya tiga benda wasiat itu, semula aku mengira ia tidak mau berkata terus terang tetapi kemudian aku baru tahu bahwa ia memang benar2 tidak tahu dimana adanya tiga benda wasiat itu "

"Aku kira Pan loya itu dibawah pemeriksaan yang begitu keras, pasti mengalami rupa-rupa siksaan badan?"

"Ia adalah seorang yang sangat licin, dengan perbuatannya yang sangat rendah, dan akal licik sehingga mendapat nama baik dikalangan Kang-ouw, sekalipun mengalami sedikit siksaan badan toh tidak apa?"

"Nona Pan yang sebenarnya, seharusnya tidak berdosa, sekarang kau sembunyikan dimana?"

"Ia masih hidup dalam keadaan sehat dan baik-baik saja." "Dimana sekarang berada?"

"Ia sebetulnya dikurung dalam rumah keluarga Pan, tetapi sekarang sudah dibawa pergi oleh ayah angkatku ke istananya sendiri."

"Nona berterus terang aku juga tidak menyulitkan dirimu, asal kau menjawab beberapa pertanyaanku lagi, segera aku serahkan kepada dua taysu ini untuk dibawa kekuil Siao-liem- sie, kuil Siao-liem-sie yang selama ini dianggap sebagai pemimpin semua partay besar rimba persilatan daerah Tiong- goan, tidak nanti akan menanyakan nona dengan menggunakan siksaan."

"Tidak perlu kau coba menghiburi aku," berkata gadis itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Soal hidup atau mati, aku sudah tidak hiraukan lagi......tetapi aku sudah merupakan bibit bencana, kemana saja aku pergi, selalu membawa bencana bagi tempat itu."

"Tentang itu kau tidak perlu bicarakan lagi, nama asli dan tempat asalmu, kau masih belum menerangkan."

Gadis berbaju putih itu nampak berpikir, lama baru menjawab;

"Ayahku adalah Nie San Po, namaku sendiri Nie Soat Kiao. tentang diriku, hanya begitu saja yang dapat kuberitahukan, kau tanya banyak-banyak aku juga tidak bisa menjawab."

"Sudah cukup! Nona Nie kalau memang tidak suka membicarakan asal usul dirimu, aku juga tidak akan menanya lagi, sekarang marilah kita bicarakan soal lain!"

"Nie San Po, Nie San Po, nama ini agaknya tidak asing. "

berkata Hui Kong Leang

sambil mengkerutkan keningnya.

Jenasah dan tulang-tulang ayah sudah berada didalam tanah, tidak perlu kau mengunakan banyak pikiran memikirkan dirinya," berkata Nie Soat Kiao.

Hui Kong Leang ternyata berlaku sabar, ia hanya tertawa saja tidak balas mengejek.

"Nona ini sebagai anak angkat Kun-liong Ong dan mendapat kedudukan Khiun-cu, tentunya

mengetahui asal usul Kun-liong Ong itu......" berkata Auwyang Thong. "Ayah angkatku bagaikan seekor naga yang kelihatan kepalanya tidak kelihatan ekornya bagaimana aku bisa mengetahui asal usul dirinya?"

Mungkin kau benar-benar tidak tahu tetapi juga mungkin kau tidak mau bicara, aku juga tidak akan memaksamu. "

Bicara sampai disitu, tiba-tiba terdengar suara bagaikan geruduk.

Nie Soat Kiao tersenyum girang, katanya: "Bila bantuan yang mencari aku sudah datang mereka sudah berada dekat ditempat ini, dalam waktu sejam, mereka dapat mencari tempat ini."

Nyonya Ho tiba-tiba melambaikan tangannya dan berkata kepada empat orang wanita yang menjadi pengawalnya:

"Kalian keluar membawa perintahku suruh mereka menjaga keras dimasing-masing posnya, jangan keluar menyambut musuh."

Empat wanita yang usianya masing-masing sudah lebih tiga puluh tahun, menyahut dengan serentak dan keluar meninggalkan tempat tersebut.

Tiat-bok Taysu mengawasi sutenya sejenak, lalu berkata; "Toa sutee hitung, waktu kita harus pulang kegunung,

masih berapa hari lagi?"

"Dengan hari ini, masih ada tujuh hari," menjawab Kei-bok Taysu.

Nie Soat Kiao tiba-tiba berkata:

"Tidak perlu dihitung, dalam waktu beberapa jam lagi, bala bantuanku yang hendak menolong aku sudah akan tiba, kalian masih memikirkan urusan dalam waktu tujuh hari, bukankah itu seperti orang mimpi?" "Djangan kata bahwa rimba hitam ini sekitarnya merupakan rimba yang sangat lebat, jalanannya ruwet, penjagaannya kuat, sehingga tidak dapat ditembus oleh orang-orang yang hendak menolong kau, sekalipun bisa masuk kemari, kita juga belum tentu tidak dapat menahannya, sebaiknya kau jangan merasa lebih dulu." berkata auwyang Thong sambil tersenyum.

"Nanti kau akan ketahuinya sendiri asal aku berada disini, batapapun tersembunyinya tempat itu, mereka pasti dapat menemukan," berkata Nie Soat Kiao bangga.

Sikap gadis itu nampak tenang dan senang, sedikitpun tidak dibuat-buat, dengan orang-orang seperti Auw-yang Thong dan Hui kong Leang yang sudah banyak berpengalaman, ketika mendengengar perkataan dan melihat sikap nona itu, segera dapat membedakan bahwa ucapan nona itu bukanlah bohong.

Dengan agak tercengang Auw-yang Thong berkata: "Perkataanmu itu mungkin benar, tetapi bagaimana kau dapat memastikannya?"

"Tentang ini maaf aku tidak dapat membuka rahasianya, nanti kalian akan mengetahui sendiri."

Seorang wanita berbaju hijau yang rambutnya dikepang menjadi dua tiba-tiba lari masuk dengan tindakan tergesa- gesa, kemudian berkata kepada nyonya Ho:

"nyonya! celaka, orang yang datang telah menyerbu masuk melalui jalan rahasia didalam taman bunga!"

Paras nyonya Ho berubah seketika, ia berkata sambil mengawasi Auwyang Tong:

"Tadi sewaktu tuan2 masuk dari pintu rahasia didalam taman bunga, apakah pernah meninggalkan bekas?"

"Tentang ini nyonya tak usah khawatir, aku yakin kita tidak meninggalkan bekas." berkata Auw-yang Thong. "Ini aneh, Dijalanan rahasia di taman bunga itu adalah suatu jalanan yg sangat dirahasiakan dalam golongan kita orang2 rimba hitam ini apabila tidak meninggalkan bekas, mengapa ada orang mencari kemari? hal ini sesungguhnya sangat mengherankan."

"Apa yang heran? Apakah aku tidak bisa meninggalkan tanda2 rahasia?" berkata Nie Soat Kiao sambil tersenyum.

"Waktu itu jalan darahmu tertutup, bergerak sajapun tidak bisa, bagaimana masih bisa meninggalkan tanda rahasia? Kau jangan coba mengoceh disini." berkata Hui Kong Leang dingin.

"Ayahku Kun-liong Ong adalah orang berilmu sakti, perhitungannya sangat jitu, bagaimana kalian dapat menduganya?" berkata Nie Soat Kiao sambil tertawa ter- kekeh2.

Auw yang Tbong berpikir sejenak, lalu berkata sambil menarik napas:

"Apabila Teng siangseng juga berada disini dia pasti dapat membuka rahasia ini."

Nyonya Ho berpaling mengawasi nenek Ie yang duduk disuatu sudut, kemudian berkata: "Sekarang ini waktunya sudah sangat mendesak, musuh kuat sudah menyerbu dari taman bunga yang tidak ada penjagaan sedikitpun juga , nenek Ie lekas pergi menahan, jangan sampai mereka dapat masuk kemari."

Tiat-bok Taysu berkata sambil mengawasi suteenya: "Sutee harap ikut Lie-sicu ini pergi menyambut musuh."

Nenek tua itu perlahan2 berbangkit dari tempat duduknya, berkata kepada diri sendiri: "Aih, Tidak mau dengar kata orang tua, itulah jadinya,"

Dengan tindakannya yang sempoyongan ia berjalan keluar. Kie-bok Taysu juga berbangkit berjalan mengikuti nenek tua itu. Nie Soat Kiao mengawasi berlalunya dua orang itu, lantas tertawa ter bahak2.

"Kau tertawa apa? Sekalipun benar bala bantuan yang mencari kau itu datang, juga belum tentu dapat menolong dirimu." berkata Hui Kong Leang sambil mendelikkan matanya.

"Tuan2 apabila benar yakin dapat menahan bala bantuanku yang hendak menolong aku, sebaik2nya tuan2 dapat membasmi mereka, sebab kalau masih ada satu saja yang hidup, itu berarti suatu mala petaka besar dikemudian hari."

Auw-yang Thong tercengang, pikirnya: 'ucapan itu sekalipun benar, tetapi juga tidak seharusnya keluar dari mulutnya.'

Sementara itu Nie Soat Kiao sudah memejamkan matanya, rebah ditanah se-olah2 sedang tidur nyenyak.

Auw-yang Thong mengerutkan alisnya, berkata kepada Tiat-bok Taysu dengan suara perlahan:

"Sebelum kita berhasil memukul mundur bala bantuan yang datang hendak menolong dirinya, barang kali ia tidak mau menjawab pertanyaan kita lagi."

"Benar!' berkata Tiat-bok Taysu.

"Oleh karena itu, siaotee usulkan totok lagi jalan darah gagunya gadis ini, lalu disembunyikan, kita sama2 keluar pergi melihat, orang kuat bagaimana yang datang itu?"

-odwo-

Bab-42

HUI KONG LEANG menotok jalan darah gagu Nie Soat Kiao seraya berkata:

"Aku selalu merasa bahwa perempuan ini terlalu licin susah dihadapinya, sebaiknya menggunakan kesempatan ini memusnahkan saja kepandaiannya, entah bagaimana pikiran tuan-tuan?"

Nie Soat Kiao meskipun sudah tertotok jalan darahnya, tetapi ia masih bisa dengar ucapan Hui Kong Leang, maka seketika itu ia pentang lebar kedua matanya.

"Pikiran saudara Hui baik sekali, siaotee setuju," berkata Auw yang thong.

Nie Soat Kiao berpaling mengawasi Tiat Bok taysu, dari pandangan matanya mengunjukkan suatu perasaan yg minta dikasihani.

Sebab apabila paderi tua itu juga setuju pikiran Hui Kong Leang, maka Hui Kong Leang pasti akan memusnahkan kepandaiannya.

Tiat Bok taysu berkata sambil menghela napas panjang: "Seorang yang belajar ilmu silat, paling takut adalah kalau seluruh kepandaiannya dimusnahkan, tetapi gadis ini sangat kejam dan ganas perbuatannya, apabila kalian berdua bermaksud hendak memusnahkan kepandaiannya, lolap juga tidak menentang."

Bicara sampai disitu, dari luar terdengar pula dua kali suara getaran hebat. Paras nyonya Ho berubah seketika, dengan cepat ia melesat keluar.

Tiat Bok taysu lalu berkata dengan suara perlahan:

"Kita bawa gadis ini kemari, kini telah menimbulkan kesukaran bagi orang lain, bagaimana kita dapat berpeluk tangan? Kalian berjaga disini, lolap akan keluar untuk melihat apa yang telah terjadi?"

Setelah itu, paderi itu juga keluar menyusul nyonya Ho.

Hui Kong Leang meletakkan gadis itu dan, kemudian berkata sambil tertawa; "Tolong Auw-yang Pangcu menjagai perempuan ini, siaote juga hendak keluar." Kini dalam ruangan ini hanya tinggal Auw-yang Thong bersama Nie Soat Kiao.

Auw-yang Thong membuka totokan jalan darah gadis itu dan berkata dengan sungguh2:

"Nona, kau pikirlah baik-baik, bala bantuan yang datang hendak menolong kau, barangkali Kun-Liong Ong tidak datang sendiri. "

"Jikalau ayah angkatku datang sendiri, barangkali kalian tidak ada satupun yg hidup," berkata Nie Soat Kiao dingin.

"Kalau bukan Kun-liong Ong yang datang sendiri, bagaimana kepandaian orang yang datang itu?" bertanya Auw-yang Thong.

"Kalau hanya mengandalkan kepandaian saja, orang yang datang itu mungkin bukan tandingan kalian, tetapi mereka meminjam kekuatan barang   untuk   menundukkan lawannya. "

Sementara itu dari luar terdengar pula suara bentakan orang.

Auw-yang Thong tercengang, ia merasa heran bagaimana orang itu demikian cepat sudah berada diluar pintu? Apakah Tiat Bok, Kie Bok, Hui Koan Leang dan nyonya Ho tidak sanggup menahan kedatangan orang itu?

Dalam Keadaan gawat pemimpin golongan pengemis itu dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia menotok lagi jalan darah gadis itu, kemudian diletakkan dibelakang pintu dan ia sendiri lalu berjalan keluar.

Baru saja tiba diambang pintu, masih belum sempat untuk melihat apa yang telah terjadi, hembusan angin keras dirasakan menyambar diatas kepdanya.

Auw-yang Thong terperanjat, dengan cepat ia mengerahkan tangannya untuk menangkis. Tetapi barang yang menyambar kepalanya itu dengan cepat melesat lagi keatas. Ia heran, siapakah yang dapat bergerak demikian gesit?

Tatkala mendongakkan kepalanya, matanya segera dapat melihat seekor burung berbulu putih dengan paruhnya yang merah terbang berputar-putaran diatas kepalanya, agaknya hendak menyerang dirinya.

Burung itu berbulu putih mulus, paruhnya yang panjang kira2 tiga dim, warnanya merah membara Auw-yang Thong meskipun sudah lama berkelana didunia Kang-ouw, tetapi juga belum pernah melihat burung yang demikian bagusnya, hingga ia memandangnya sekian lama. 

Tetapi burung itu berputar semakin lama semakin kencang, sebentar saja sudah berubah gulungan putih, berputar tidak berhentinya diatas kepala Auwyang Tong.

Pada saat itu, dari sebelah barat tiba2 terdengar suara saling bentak.

Auw-yang Thong dikejutkan oleh suara bentakan itu, ketika ia menoleh kearah tersebut, segera menyaksikan nyonya Ho. Tiat bok Taysu sedang bertempur dengan beberapa orang laki-laki.

Menyaksikan kejadian itu, Auw-yang Thong diam2 memuji kepandaiannya ramalannya penasehatnya sebab apabika ia tidak bawa gadis berbaju putih itu kemari, tempatnya disungai Tiang-kang sudah diserbu oleh musuh kuat.....

Sementara itu, burung putih itu sudah menyambar kepalanya lagi.

Auw-yang Thong menyerang burung itu dengan tangan kanannya, karena ia merasa sayang dengan burung yg berwarna indah dan tidak jahat itu. maka serangannya itu tidak menggunakan kekuatan tenaga terlalu besar. Diluar dugaannya, burung itu ternyata sangat licin, setelah berhasil mengelakkan serangan Auwyang Thong, tiba2 melejit dan menyambar kearah samping, sesaat lengan tangan Auwyang Thong merasa jeri, dalam kagetnya ia menyerang lagi dengan tangan kirinya.

Burung itu agaknya mengerti bahwa serangan ini sangat hebat, dengan cepat terbang keatas.

Auwyang Thong memeriksa lengan yang sakit, pada baju bagian itu kejambret hancur, dari bekas baju tampak darah mengucur.

Pemimpin golongan pengemis itu diam2 merasa heran, sebab saat itu ia sudah mengerahkan kekuatannya untuk melindungi badannya, orang biasa saja tidak mudah melukai dirinya, tidak disangka paruh burung itu dapat merobek baju dan kulitnya.

Dalam sengitnya, Auwyang Thong memusatkan kekuatan tenaganya menyerang burung itu.

Diluar dugaan, burung itu ternyata sangat cerdik, dengan terbang miring ia mengelakkan serangan Auwyang Thong.

Auw-yang Tong mengerutkan keningnya, dalam hati diam2 berpikir; 'burung ini meskipun hanya merupakan seekor binatang kecil, tetapi merupakan suatu gangguan yang tidak kecil, sebaiknya lekas kusingkirkan.'

Ia telah bertekad hendak membinasakan burung itu, ia pusatkan kekuatan tenaganya, matanya mengawasi gerak gerik burung itu tetapi diluarnya tidak mengunjukkan apa2.

Burung itu meskipun cerdik, tetapi biar bagaimana bukanlah manusia, maka ia tidak insyaf jikalau dirinya diincer.

Benar saja setelah ia berputaran dua kali diatas kepala Auw-yang Thong, selagi hendak turun menyambar Auwyang Thong yang tidak mengunjukan sikap apa2, kemudian dengan cepat melancarkan serangannya. Burung itu tidak keburu menyingkir, badannya menukik turun terpental lagi keatas. Burung itu terpental setinggi dua tombak, baru jatuh melayang ketanah.

Selagi Auwyang Thong hendak mengambil burung itu, tiba2 terdengar suara anjing menggonggong, dua ekor anjing besar lari kearahnya.

Dilain pihak musuh yang bertempur dengan Tiat Bok dan nyonya Ho, jumlahnya nampak semakin bertambah banyak.

Dua ekor anjing besar itu larinya pesat sekali, dalam waktu singkat sudah berada dihadapan Auwyang Thong.

Auwyang Thong menggunakan, kaki dan tangannya menyerang dua ekor anjing besar itu, sementara dalam hatinya berpikir: 'musuh telah membawa dua jenis binatang yang aneh itu, entah apa maksudnya?'

Dua ekor anjing itu meskipun galak tetapi juga tidak sanggup melawan kekuatan Auwyang Thong, seekor jatuh ketempat sejauh kira2 empat kaki dan yang lain tertendang jumpalitan.

Sementara itu nyonya Ho yang menghadapi musuh berjumlah agak banyak, agaknya sudah tidak sanggup melawan, dua dari musuhnya dapat melepaskan diri dan lari kearah Auwyang Thong.

Pada saat itu burung aneh yang jatuh ditanah sudah bangkit dan terbang lagi, sebentar sudah tidak tambak bayangannya.

Auw-yang Thong tercengang, sebab serangannya tadi cukup hebat, tidak disangka burung itu masih hidup.

Sementara itu dua orang dari pihak musuh sudah melakukan serangan terhadap dirinya, satu langsung menyerang kearah dirinya, yang lain menyerbu kedalam kamar. Auw-yang Thong berpikir jumlahnya musuh yang datang tidak sadikit, apabila tidak menggunakan tangan ganas, tidaklah mungkin lekas dibereskan, maka segera menggunakan ilmu serangannya yang paling ganas, tangannya menyambar pergelangan tangan musuhnya, tangan yang lain melancarkan serangan keorang yang hendak masuk kekamar.

Musuh yang menyerang dirinya, segera menarik kembali serangannya, menghindarkan sambaran tangan Auwyang Thong, sedang musuh yang menyerbu dalam kamar telah mendorong tangan kanannya, menyambut serangan Auw- yang Thong.

Ketika kekuatan saling beradu, Auwyang Thong mundur satu langkah, sedang musuhnya terpental mundur sejauh lima kaki.

Auwyang Thong diam2 terkejut menghadapi kekuatan musuhnya itu, kemudian mengerahkan tenaganya lagi melancarkan serangannya yang kedua.

Ia sudah mengetahui maksud musuhnya yang hendak menyerbu kekamar untuk menolong gadis baju putih, apabila tidak turun tangan kejam untuk membinasakan orang yang terlebih dahulu akan membuat keadaan semakin meruncing.

Musuh yang hendak menyerbu kekamar itu setelah menyambut serangan Auw-yang Thong, sudah tahu bahwa kekuatan tenaga dalam lawannya jauh lebih kuat dari dirinya sendiri, namun demikian, ketika Auw-yang Thong melancarkan serangan lagi, ia masih tetap tidak mau menyingkir dan menyambut serangan itu dengan kedua tangannya.

Dalam mengadu tenaga untuk kedua kali ini, segera mendapat kepastian siapa yang lebih unggul, Auwyang Thong hanya merasa kesemutan pada tangan kanannya, sedang musuhnya itu kedua pundaknya tergoncang, mulutnya mengeluarkan darah, kemudian roboh ditanah. Musuh yang satunya ketika menyaksikan kawannya terluka parah, nampaknya bersikap acuh tak acuh, semangatnya masih tak menurun, dengan suatu bentakan keras ia melancarkan serangannya lagi.

Auw-yang Thong sudah marah benar, sambil memiringkan sedikit badannya, tangan kanannya dengan cepat menyambar lengan kanan musuhnya, lalu dengan lima jari tangannya ia memelintir lengan itu, sehingga lengan musuhnya itu patah.

Tetapi orang itu ternyata sangat galak, meskipun lengannya patah dan sekujur badannya sudah mandi keringat, mulutnya masih bungkam, sedikitpun tidak mengeluh.

Auw-yang Thong merasa gemas, dengan tangan kirinya ia menepuk jalan darah lengan atas orang itu, kemudian lengan bawah itu ditarik dengan paksa sehingga terlepas dari tanganya.

Auw-yang Thong sebetulnya adalah seorang yang berjiwa besar, ia jarang sekali melakukan perbuatan demikian kejam, tetapi kerena waktu itu jumlah musuh bertambah banyak, dan bencana itu terjadi karena dirinya sendiri, sehingga dalam hati merasa tidak enak, justru karena itu ia telah bertekad hendak membasmi musuhnya dengan cara yang sangat ganas.

Tiat-bok Taysu sendiri yang juga merupakan seorang beribadat tinggi, juga sudah mengeluarkan serangannya dengan menggunakan gerak tipu simpanannya, hingga dalam waktu sangat singkat ia sudah berhasil menotok roboh empat orang musuhnya.

Sisanya karena menyaksikan serangan hebat padri itu, segera menghentikan tindakannya.

Nyonya Ho yang menyaksikan kejadian itu lalu bertanya dengan nada suara dingin: "Kalian semua ada berapa orang yang datang?" Satu diantaranya menjawab: "Rimba ini sudah terkurung rapat."

"Sekarang ini kalian masih ada enam orang yang masih belum terluka, sekarang ini kalian mau hidup atau mati?" berkata nyonya Ho sambil tertawa dingin.

Orang yang tadi menjawab itu, yang mungkin menjadi kepala rombongan, ganti bertanya: "Mau mati atau mau hidup bagaimana?"

"Mau mati mudah sekali, sekali aku turun tangan membunuh kalian, sebentar saja sudah beres, kalau kau ingin hidup, untuk sementara kalian harus berlaku sabar sedikit, jangan coba-coba berlaku nekad " berkata nyonya Ho.

Musuh yang menyerang masuk itu, dua sudah terluka ditangan Auw-yang Thong, empat ditotok oleh Tiat-bok taysu, enam orang lagi meskipun belum terluka, tetapi serangannya juga lenyap mereka tahu apabila pertempuran dilanjutkan, juga akan terluka atau binasa ditangan musuhnya, karena saat itu burung berbulu putih itu sudah terbang pergi untuk menyampaikan kabar, bala bantuan dalam waktu satu jam pasti akan tiba, maka siasat yang paling baik pada waktu itu ialah mengulur waktu.

Nyonya Ho agaknya mengerti maksud musuh2nya, sambil mengkerutkan alisnya ia berkata:

"Kalian tidak perlu mencoba main gila hendak mengulur waktu, itu berarti suatu perbuatan seolah-olah mimpi disiang hari, keadaan sudah nyata, kalau kau terima baik tawaranku segera serahkan diri kalian, dan kalau tidak menerima baik, aku akan segera turun tangan."

Sebelum orang itu menyawab, tiba-tiba terdengar suara tambur sangat riuh.

Wajah nyonya Ho berubah, ia berkata kepada Tiat Bok- taysu dengan suara perlahan: "Harap losiansu menggunakan tangan kejam kepada orang-orang ini, jangan memikirkan soal kasihan lagi."

Setelah memberikan pesannya, ia segera berlalu meninggalkan tempat itu.

Tiat Bok taysu yang menyaksikan sikap tergesa nyonya janda itu, segera mengerti bahwa dalam rimba itu pasti sudah terjadi perubahan besar, suara tambur yang tidak berhentinya itu mungkin merupakan tanda bahaya dari orang, rimba hitam.

Ia berpaling mengawasi enam orang yang berdiri berbaris dalam hatinya timbul perasaan bingung, menurut pesan nyonya Ho tadi, sudah jelas menyuruh ia membereskan enam orang ini, dengan kepandaian ilmu silat yang dipunyai, memang tidak sukar untuk membereskan enam orang itu tetapi ia adalah seorang yang beribadat tinggi meskipun namanya sudah kesohor, tetapi berhati penuh welas asih, menyuruh ia membinasakan enam jiwa orang sekaligus, sesungguhnya amatlah berat. Tetapi bencana besar yang akan menimpa orang2 rimba hitam kali ini, disebabkan karena kedatangannya ketempat itu, meskipun bukan biang keladinya, tetapi biar bagaimana juga harus turut bertanggung jawab, apalagi ia juga perlu melindungi gadis berbaju putih ini, supaya jangan sampai terjatuh lagi ketangan musuh2nya.....

Sesaat lamanya otaknya bekerja keras, sukar untuk mengambil keputusan.....

Selagi Tiat Bok taysu masih belum mendapat keputusan, tiba2 mendengar beberaapa kali suara siulan yang amat tajam.

Suara itu agaknya mempunyai maksud tertentu, satu sama lain saling bersahutan, seperti orang yang sedang berbicara, meskipun Tiat Bok taysu tak mengerti apa maksudnya, tetapi samar2 seperti orang yg saling bertanya keadaan masing2. Enam orang itu agaknya juga sudah mendapat dengar suara siulan itu, perasaan girang terlintas diwajah mereka, satu diantaranya berkata dengan suara keras:

"Bala bantuan kita sudah tiba, jikalau kau kenal gelagat, lekas menyerah. "

Belum habis ucapan orang itu, sesosok bayangan orang, melayang turun ketempat dimana berdiri enam orang itu, kemudian tangannya bergerak melancarkan serangan, orang yang berbicara tadi yang menjadi sasaran pertama, serangan itu tepat mengenai dadanya, hingga ia belum keburu menangkis, hanya suara jeritan ngeri keluar dari mulutnya, badannya roboh ditanah.

Saat itu Tiat-bok Taysu baru tahu bahwa orang yang baru datang itu bukan lain dari pada Hui kong Leang.

Hui-kong Leang setelah berhasil membinasakan satu musuhnya, agaknya masih belum merasa puas, kembali tangannya bergerak melancarkan serangannya lagi.

Ia agaknya sudah marah benar-benar, setiap serangannya dilakukan secara ganas.

Lima orang yang masih hidup agaknya merasa jeri oleh keganasan Hui Kong Leang, mereka pada berdiri tertegun.

Dalam keadaan demikian, dua orang lagi roboh ditangan Hui Kong Leang.

Tiat Bok taysu yang menyaksikan kematian korban Hui Kong Leang yang sangat mengganas hanya merasa tak tega, maka lalu berkata:

"Orang2 semacam ini bagaimana sanggup menahan serangan Hui-tayhiap? Harap hentikan seranganmu, kita bicara baik-baik. "

Hui Kong Leang menyahut sambil mengeluarkan suara dari hidung: "Kau padri tua ini selalu ingin berbuat berdasar hatimu yang penuh kasih sayang itu" Ternyata ia tidak menghiraukan ucapan padri itu, tangannya bergerak lagi menghantam seorang diantaranya, hingga orang itu jatuh sambil menekan perutnya.

Sejak muncul melakukan serangannya, setiap korban yang terkena serangannya hampir roboh tanpa berdaya.

Tiat Bok taysu ingin menjawab, tetapi akhirnya mengurungkan sendiri maksudnya.

Dua orang yang masih hidup, ketakutan menyaksikan keganasan Hui Kong Leang, hingga mereka hendak melarikan diri.

Hui Kong Leang yang sudah kalap, tidak memberikan kesempatan bagi mereka, tangannya bergerak lagi menyerang orang yang hendak kabur itu.

Sesaat kemudian terdengar suara jeritan dari seorang diantaranya terkena serangan itu, tubuhnya terpental tinggi, kemudian jatuh ditanah dan mati seketika itu juga.

Tinggal satu yang masih hidup dalam keadaan terkejut dan ketakutan, masih belum tahu bagaimana harus bertindak, tangan Hui Kong Leang sudah sampai, bagaikan seekor ayam orang itu diterkamnya, kemudian dihajar belakang punggungnya, sehingga jatuh tersungkur tidak bisa bergerak lagi.

Sekaligus Hui Kong Leang membinasakan enam orang, dengan tenang ia mengawasi Tiat Bok taysu sejenak kemudian berjalan menghampiri.

"Sudah lama mendengar nama besar Hui-tayhiap, hari ini lolap baru membuka mata, kalau begitu dalam pertempuran dengan gadis berbaju putih diatas perahu itu, Hui-tayhiap tentunya belum mengeluarkan seluruh tenaga?" berkata Tiat Bok taysu.

"Pandangan losiansu memang tidak salah, pertama karena ilmu silat si gadis itu sangat aneh, kedua siaotee tidak ingin mengeluarkan seluruh tenaga menghadapi gadis itu dihadapan mata banyak orang kuat," berkata Hui Kong Leang.

"Kepandaian Hui-tayhiap, lolap sesungguhnya sangat kagum, hanya terlalo ganas."

"Losiansu yang berhati emas dan penuh kasih sayang, siaotee sesungguhnya sangat tertarik, tetapi kebodohan taysu yang tidak mengenal keadaan musuh, sesunggunnya membuat siaotee merasa geli."

"Meskipun lolap tidak menghiraukan hinaan Hui-tayhiap ini, tetapi nama baik kuil Siau-liem-sie tidak boleh dibikin noda, maka ucapan Hui-tayhiap sebaiknya jangan keterlaluan. "

"Kalau aku tidak membinasakan enam orang itu, barangkali sebelum kita bisa bicara, musuh tangguh sudah dapat mencari ketempat ini."

Tiat Bok taysu memasang telinganya, benar saja ia mendengar suara siulan itu Sebentar jauh sebentar dekat, agaknya Kehilangan arah.

Hui Kong Leang lalu berkata pula:

"Tentang nama baik taysu dan nama besar Siao-liem-sie, betapapun besar keberanian siaote, juga tidak berani menghina, hanya disebabkan karena keadaan, tidak boleh tidak siaote harus memberi penjelasan, musuh tangguh dan berjumlah besar sudah menyerang rimba hitam dari berbagai penjuru, kalau mereka sebegitu jauh belum masuk kemari, itu semata-mata karena jalan dalam rimba hitam yang berliku- liku, sehingga mereka kehilangan tujuan, apabila kita tidak lekas membinasakan orang-orang yang sudah masuk kemari, sehingga mereka berhasil mengeluarkan tanda petunjuk, dalam waktu sangat singkat musuh itu sudah akan menyerbu kemari." Tiat Bok taysu yang mendengar keterangan itu agak tercengang, katanya: "Hui-tayhiap adalah seorang yang banyak pengalaman dan pengetahuan, lolap sangat kagum."

"Bencana yang menimpa orang-orang rimba hitam hari ini, disebabkan karena kita, biar bagaimana, kita harus melawan sepenuh tenaga."

"Itu memang benar, tetapi entah bagaimana keadaan musuh pada saat ini?"

"Rimba hitam sudah sembunyikan tanda bahaya untuk menghadapi segala kemungkinan, musuh agaknya menyerang berbagai penjuru, nyonya Ho sendiri nampaknya sudah agak bingung,

orang-orang rimba hitam, mungkin sudah keluar semua untuk menyambut kedatangan musuh."

"Apakah benar keadaan sampai sedemikian kacau?"

Sebelum Hui Kong Leang menjawab, tiba-tiba terdengar suara burung, seekor burung berbulu putih dan berparuh merah, terbang diatas kepala mereka.

Setelah burung itu muncul, suara siulan yang ter-putus2 itu terdengar.

"Orang2 ini dibawa masuk oleh dua ekor anjing besar, burung aneh ini, mungkin juga piaraan musuh." berkata Hui Kong Leang.

Dari jauh terdengar suara Auwyang Thong: "Losiansu, Hui- tayhiap, burung aneh itu adalah mata2 yang digunakan oleh musuh, nanti apabila kalian melihat burung itu lagi, sebaiknya lekas binasakan."

Tiat-bok Taysu mendongak keatas, diatas hanya tampak langit biru, sedang burung putih aneh tadi sudah tidak kelihatan lagi, ia lalu berkata sambil menarik napas: "Jikalau musuh menggunakan burung sebagai petunjuk jalan, ini benar2 susah dijaganya."

"Losiansu sudah tahu musuh itu jahat, sebaiknya jangan ada pikiran kasihan lagi. "

berkata Hui Kong Leang sambil tertawa. "Taysu lurus tahu bahwa kita berhadapan dengan musuh, siapa yang kuat berarti yang menang dan yang lemah akan binasa, losiansu tidak mau turun tangan kejam terhadap musuh, tetapi musuh sedikit pun tidak akan memberi kesempatan hidup bagi siansu, tadi aku turun tangan dengan sepenuh tenaga, meskipun sekaligus membinasakan enam orang, tetapi badanku samar2 merasa tidak enak racun yang masuk dalam badanku melalui buku kematian itu, mungkin tidak salah."

Setelah berkata demikian tiba2 lompat melesat dan meninggalkan Tiat-bok Taysu seorang diri.

Pada saat itu, suara siulan itu tiba2 berhenti disitu tidak dengar suara apa2, tetapi kesunyian itu sebaliknya menimbulkan perasaan tegang.

Rimba itu dinamakan rimba hitam, ini memang tepat dengan keadaannya, sebab rimba yang lebat itu keadaannya gelap gulita, hanya pohon yang tumbuh dalam rimba itu bukanlah pohon2 besar, melainkan pohon2 yg penuh rotan, oleh karena rotan yang melibat pohon sehingga daunnya yang rindang menutupi rimba itu, hingga kecuali tiga rumah yang berada di tengah2 rimba, tidak tampak bangunan apa2 lagi.

Tiat-bok Taysu merasa heran, sebab ia tidak tahu kemana perginya nyonya Ho dan empat wanita yg menjadi pengawalnya itu?

Selagi masih berpikir, tiba2 terdengar suara seorang wanita: "Losiansu. " Tiat-bok Taysu berpaling, seorang gadis cilik berusia kira2 limabelas tahun, berpakaian warna merah berdiri dibelakangnya sejauh satu tombak lebih.

Gadis cilik itu berparas cantik, rambutnya dikepang menjadi dua, sikapnya masih ke-kanak2an,

Gadis cilik itu tiba2 bertanya dengan suara nyaring: "Kemana enci?"

"Siapa encimu?" bertanya Tiat-bok Taysu.

"Enciku biasanya suka memakai pakaian warna putih   "

Tiat-bok Taysu terkejut, ia segera mengetahui bahwa yang dicari itu pasti adalah Nie Soat Kiao, entah bagaimana gadis cilik ini bisa masuk kemari tanpa bersuara.

Meskipun dalam hati merasa heran, tetapi diluarnya masih berlaku tenang, ia bertanya lagi sambil tersenyum:

"Apakah encimu itu Seorang she Nie?" "Ya! Dimana sekarang ia berada?"

Tiat-bok Taysu lalu berpikir: 'Gadis ini masih kekanak- kanakan, apabila menggunakan sedikit akal mungkin dapat sedikit keterangan tentang diri Kun-liong Ong.'

"Apakah nona juga anak angkat Kun-liong ong?", demikian ia bertanya.

"Kau agaknya tahu terlalu banyak!" berkata gadis itu sambil tertawa, "Apakah enci Nie yang memberitahukan kepadamu?"

"Enci Nie-mu itu sudah tertangkap hidup-hidup oleh lolap!" "Tentang ini aku sudah tahu, aku hanya menanyakan

dimana sekarang ia berada? "

"Apakah ayah angkatmu itu juga datang?"

"Apabila ayah angkatku datang kemari, rimba ini sudah lama terbakar habis!" Tiat-bok Taysu dalam hidupnya jarang mendapat kesempatan berbicara dengan anak gadis, maka baru beberapa patah kata saja ia rasakan sudah kehilangan bahan, terpaksa hendak meninggalkan gadis itu.

Gadis berbaju merah itu tiba-tiba berkata: "Kau hendak kemana?"

Tiat-bok Taysu terpaksa berhenti dan bertanya: "Nona masih ingin bertanya apa?"

"Enciku itu kau sembunyikan dimana? lekaS beritahukan kepadaku, nanti apabila orang banyak datang kemari yang menemukannya, urusan akan menjadi rewel."

"Lolap sudah berani menangkap encimu, sudah tentu tidak takut kerewelan."

Gadis itu tiba-tiba mempelototkan matanya, katanya dengan suara gusar:

"Kau paderi tua ini benar-benar tidak mengetahui maksud baik orang, orang dengan baik hati meminta kehadapanmu, kau sebaliknya banyak tingkah, hem, kau nanti akan merasakan sendiri. "

"Nona jangan sembarangan memaki orang."

"Kau tidak mau memberitahukan dimana enciku, sudah tentu aku memaki kau!"

Tiat-boK Taysu adalah seorang beribadat, sudah tentu hendak memegang derajatnya, ia tidak bisa membalas memaki orang, juga tidak bisa menggertak sembarangan, ia takut gadis itu nanti akan memaki dengan perkataan mesum, ini akan merupakan suatu kehinaan baginya, maka lalu berkata dengan sungguh-sungguh:

"Lolap adalah seorang beribadat, peraturan didalam agama sangat keras, tidak suka bersenda gurau." Gadis cilik itu lalu mengeluarkan sebuah suitan kemudian ditiupnya, suara itu menggema didalam rimba.

Tiat-bok Taysu coba mencegah, tetapi gadis itu tidak menghiraukan.

Tiat-bok Taysu yang selalu hendak pegang derajatnya, tidak mau turun tangan terhadap seorang gadis kecil, tetapi setelah perkataanya tidak mengindahkan, ia terpaksa turun tangan.

Gadis cilik itu dengan masih tetap meniup suitannya badannya bergerak menyingkir.

Tiat Bok taysu mengira gadis ciiik itu ketakutan hingga menghentikan serangannya. Diluar dugaan gadis itu masih menunjukkan paras berseri-seri, sedikitpun tidak ada tanda2 ketakutan, ia teringat pula gerak badannya mengelakkan seranganya sendiri tadi, diam-diam menghela napas sendiri...

Sementara itu dari berbagai penjuru terdengar suara siulan yang agaknya menyambuti suara siulan gadiS tadi itu.

Gadis cilik itu menyimpan lagi suitannya dan berkata sambil tersenyum:

"Kau tidak mau memberitahukan dimana enciku disembunyikan, aku terpaksa minta pertolongan orang lain untuk mencari!"

"Lolap tidak suka melukai seorang perempuan seperti kau ini, sehingga kau mendapat kesempatan untuk membunyikan suitanmu, apabila orang lain yang menghadapimu, barangkali kau sekarang sudah menjadi bangkai."

"Paderi tua kau tidak perlu omong besar, apakah kau kira aku ini gampang dibinasakan?"

-odwo- Bab-43  

TIAT BOK TAYSU, mengamati paras gadis itu, ternyata amat cantik, meskipun nakal, tapi jelas sifat keagungannya sebagai gadis sebetulnya ia tidak tega melukai dirinya, maka ia mengulapkan tangannya sambil berkata:

"Kau lekas pergi.      ''

"Kau suruh aku pergi kemana?" berkata gadis berbaju merah itu.

"Lekas meninggalkan tempat ini, sebentar lagi kau boleh kembali. "

"Kenapa?"

"Meskipun lolap sendiri tiada maksud melukai dirimu, tetapi dua sahabatku itu, semua merupakan orang yang ganas dan kejam, kau berada disini, apabila terlihat oleh mereka, jiwamu dalam bahaya."

Paras gadis cilik itu mendadak berubah, tidak menunjukan kenakalannya lagi, otaknya berpikir sambil mengawasi Tiat- bok Taysu, kemudian berkata dengan suara sedih sambil menghela napas:

"Aih, kau padri tua ini, benar2 seorang yang terlalu baik, semua orang mengatakan bahwa orang yang mensucikan diri, hatinya baik dan penuh dengan belas kasih, nampaknya memang benar sedikitpun tidak salah."

Sementara itu suara siulan yang timbul dari berbagai jurus kedengarannya semakin nyaring, kiranya orang2 itu perlahan2 sudah mendekati tempat yang merupakan pusatnya rimba hitam itu.

Yang mengherankan ialah nyonya Ho setelah pergi, tidak mengunjukkan diri lagi, dan orang2 rimba hitam juga tidak kelihatan barang satupun juga. Hui Kong Leang dan Auw-yang Thong juga tidak tampak lagi, hingga tempat seluas sepuluh tombak lebih itu, kecuali gadis cilik berbaju merah, hanya beberapa bangkai, manusia yang menggeletak ditanah.

Gadis cilik berbaju merah itu tiba2 memutar tubuhnya, dengan tindakan lambat2 berjalan kedalam gubuk.

Suara siulan yang menyeramkan itu, memecahkan kesunyian rimba hitam itu, menimbulkan suasana tegang, dengan seorang yang sudah mempunyai latihan sempurna seperti Tiat Bok taysu juga merasa tidak tenang pikirannya karena terganggu oleh suasana yang agak misterius itu.

Ia menarik napas perlahan, kemudian berkata kepada dirinya sendiri: "keadaan seperti ini sangat mengganggu perasaan orang, ada lebih baik musuh itu mengunjukkan diri, supaya kita bisa bertempur terang terangan. "

Suara burung aneh itu terdengar lagi dan melayang diatas kepalanya, selagi hendak terbang masuk kedalam gubuk, tiba2 balik lagi dan terbang balik kearah asalnya.

Tiat-bok Taysu ketika menyaksikan gadis cilik berbaju merah itu sudah berada diambang pintu rumah gubuk, lalu membentak dengan suara keras: "jangan masuk." kemudian ia terus lompat mengejar.

Gadis cilik itu tiba2 melompat kesamping mengelakkan serbuan Tiat-bok Taysu, kemudian dengan satu gerakan membalik ia melancarkan satu serangan.

Tiat-bok Taysu mengibaskan lengan jubahnya, badannya mendadak memutar kedepan gadis cilik itu, ia berdiri diambang pintu dan berkata:

"Nona sebelum mendapat ijin penghuni rimba hitam ini, sebaiknya jangan sembarangan memasuki kamar itu."

"Kalian semua sudah dalam kepungan orang-orang kita, asal aku mengeluarkan perintah, dalam waktu sekejap mata saja, berbagai penjuru rimba ini akan timbul kebakaran besar." berkata gadis cilik itu sambil menghela napas.

"Apakah nona sebagai pemimpin yang menyerbu rimba hitam ini?" bertanya Tiat Bok taysu heran.

"Kenapa? Atau kau tidak pandang mata kepadaku?"

"Nona sudah sanggup memimpin satu pasukan besar, kepandaianmu atau kecerdikanmu pasti melebihi orang biasa."

"Kau tidak perlu bicara secara berputar-putaran terhadap aku, kalau kau memang ingin mengajak aku berkelahi, kau boleh turun tangan sesukamu, apakah kau anggap aku seorang perempuan yang masih terlalu muda, sehingga tidak pantas menjadi lawanmu, betul tidak?"

Tiat Bok taysu diam-diam merasa kagum atas kecerdikan gadis cilik itu, bukan saja sanggup pandai bicara, tetapi juga dapat menduga perasaan orang,

Karena pikirannya sudah tertebak oleh gadis cilik itu, Tiat Bok taysu terpaksa mengiringi kehendak gadis itu, hanya dengan menggunakan lengan jubahnya ia menyerang kepada gadis itu.

Tiat Bok taysu tidak begitu percaya pengakuan gadis itu, yang katanya sebagai pemimpin rombongan orang2 yang menyerbu rimba hitam, maka serangannya itu hanya menggunakan tiga bagian tenaganya saja.

Gadis cilik itu mengawasi dengan sepasang matanya yang berputaran, tiba-tiba memiringkan badannya dan terus menyerbu masuk kedalam gubuk. Ia tidak melompat untuk mengelakkan diri dari serangan, juga tidak menyambut serangan itu, sebaliknya dengan secara berani terus menyerbu kedalam.

Tiat bok Taysu meskipun tiada maksud hendak melukai dirinya, tetapi setelah melakukan serangannya juga tidak keburu menarik kembali, maka ia lalu berkata dengan suara cemas:

"Lekas mundur. "

Baru saja ucapannya itu keluar dari mulutnya ia telah dapat merasakan bahwa serangannya itu seolah-olah mengenakan batu licin, kekuatannya tiba-tiba meleset kesamping, hingga diam-diam juga terperanjat. Ia tidak tahu entah kepandaian ilmu apa yang digunakan oleh gadis itu.

Sementara itu gadis cilik itu dengan kecepatan bagaikan kilat sudah masuk kedalam gubuk.

Tiat bok Taysu buru-buru memutar balik badan, tangannya menyambar tubuh gadis itu. Kali ini ia menggunakan lima bagian dari kekuatan tenaganya, gerakannya juga sangat cepat pikirannya pasti berhasil menangkap dirinya gadis itu.

Diluar dugaan, ketika jari tangannya menyentuh belakang badan gadis itu, ia rasakan seolah-olah memegang ikan dalam air, begitu licin sehingga gadis itu terlepas lagi.

Gadis cilik itu seolah-olah tidak terjadi apa-apa, matanya dengan cepat menyapu keadaan sekeliling kamar itu, kepalanya tanpa menoleh, agaknya tidak tahu bahwa dibelakang dirinya masih ada Tiat-bok Taysu.

Tiat-bok Taysu yang dua kali gagal dalam usahanya hendak menangkap gadis cilik itu, baru merasa bahwa gadis itu benar- benar mempunyai kepandaian luar biasa, sehingga pikirannya untuk memandang ringan lenyap seketika.

Sementara itu dalam gubuk itu sudah kosong melompong, Auw-yang Thong dan Nie Soat Kiao sudah tidak tampak lagi entah kemana perginya.

Gadis cilik itu perlahan-perlahan membalikan mukanya, ia berkata dengan nada suara dingin: "Gubuk yang kosong melompong ini, apakah merupakan pusat tempat yang digunakan untuk memberi komando bagi pemimpin orang2 rimba hitam?"

Pertanyaannya itu seolah mengandung sesalan terhadap Tiat-bok Taysu yang dianggapnya telah memperdayai dirinya.

Ia tidak tahu bahwa Tiat-bok Taysu sendiri juga merasa heran, kalau Auwyang Thong dan Hui Kong Leang tidak disitu, itu masih dapat dimengerti, tetapi orang orang rimba hitam, satupun tidak tampak batang hidungnya, benar-benar sangat mengherankan, apakah dalam rimba hitam itu masih mempunyai tempat persembunyian lainnya untuk mereka sembunyikan diri, ataukah mencari jalan rahasia yang lainnya?

Karena ia memikirkan kejadian yang aneh itu, sehingga sudah lupa menjawab pertanyaan gadis cilik itu.

Gadis cilik yang tidak mendapat jawaban, lalu menanya lagi: "Aku sedang berbicara denganmu, kau dengar atau tidak?"

Tiat-bok Taysu yang memang tidak tahu keadaan yang Sebenarnya sudah tentu tidak dapat menjawab sembarangan, maka ia hanya dapat menjawab:

"Lolap bukan orang rimba hitam, terhadap keadaan dalam rimba ini tidak banyak yang tahu."

Gadis cilik itu tiba-tiba tertawa bergelak-gelak dan berkata: "coba kau menoleh dan lihat sendiri. "

Tiat-bok Taysu berpaling, segera menampak dua orang tua yang berusia kira-kira lima puluh tahun berdiri diambang pintu dengan sikapnya yang dingin.

"Paderi tua, apakah kau kenal dengan dua orang ini?"

Tiat-bok Taysu mengamat-amati dua orang itu, ia merasa bahwa keadaan dua orang itu, jauh berbeda dengan orang biasa, dua orang itu seolah-olah datang dari kutub utara yang hampir tidak pernah melihat matahari, kulitnya putih kebiru- biruan, tidak tampak sedikit ada darahnya.

Keadaan luar biasa dua orang itu, agaknya sudah pernah mendengar orang berkata, tetapi untuk sesaat itu ia tidak ingat lagi siapa yang mengatakan itu.

Dua orang tua berpakaian warna abu-abu itu, menatap wajah Tiat-bok Taysu dengan sinar mata dingin tanpa berkedip.

Tiat-bok Taysu diam-diam mengerahkan kekuatan tenaganya, kemudian baru berkata;

"Keadaan kedua tuan ini, lolap seperti pernah dengar orang berkata, tetapi sekarang sudah tidak ingat lagi "

Salah satu dari orang tua itu yang berdiri sebelah kiri lalu berkata dengan suara nada dingin;

"Dalam rimba persilatan, orang-orang yang pernah mendengar nama kita dua bersaudara entah berapa banyak jumlahnya, tidak perlu kau coba memuji."

Orang tua yang berdiri disebelah kanan mendadak mengangkat kakinya melangkah masuk kedalam rumah.

Tiat-bok Taysu segera mencegah, ia berkata dengan sikap, sungguh-sungguh: "Sebelum mendapat ijin tuan rumah rimba hitam ini, tuan-tuan jangan masuk sembarangan."

Orang tua yang berdiri disebelah kanan itu perdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata:

"Orang didalam kolong langit ini ada berapa jumlahnya yang berani melarang perbuatanku siorang tua,"

Ia lalu menyambut tangan Tiat-bok Taysu dengan tangan kanannya. Kedua tangan telah mengadu kekuatan, sesaat kemudian timbul angin bergulung-gulung ditempat itu. Tiat-bok Taysu diam2 berpikir: 'Aku sudah menggunakan tujuh bagian dari kekuatan tenagaku, orang ini ternyata dapat menyambuti dengan enak, nampaknya hari ini aku akan berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh.'

Sementara itu orang tua yang berdiri disebelah kiri juga sudah melangkah masuk. Tiat-bok Tuysu sudah merasa bahwa tidak mungkin untuk mencegah masuknya dua orang itu dengan hanya mengandalkan kekuatan tenaga, maka dengan cepat ia mundur empat langkah berdiri disatu sudut.

Jelas bahwa ia sudah siap2 hendak mengadu kepandaian dengan dua lawan tangguhnya yang menyerbu masuk itu, ia memilih disatu tempat yang strategis untuk menghindarkan bokongan dari belakang.

Gadis cilik berbaju merah itu telah menggunakan kesempatan selagi dua orang tua berbaju abu2 berbicara, dengan cepat sudah melakukan pemeriksaan didalam kamar itu.

Tiat-bok Taysu lalu berkata dengan nada suara dingin: "Apabila kalian bertiga tidak keluar dari dalam ruangan ini, jangan sesalkan lolap berlaku tidak sopan."

Gadis cilik berbaju merah itu tidak menemukan diri Nie Soat Kiao yang sedang dicari, sehingga hatinya merasa cemas, ia membentak dengan suara keras:

"Kau paderi tua yang tidak tahu diri ini, bukan saja rimba hitam sudah didalam kepungan orang-orang kita, begitupun keadaannya dengan rimba ini, betapapun tinggi kepandaianmu seorang, juga tidak sanggup melawan kita yang jumlahnya lebih banyak, apalagi kawan-kawanmu semua sudah berlalu meninggalkanmu, apa perlunya kau masih menjual jiwa untuk mereka ?"

"Lolap kau anggap orang apa, bagaimana mau mendengar ucapanmu yang bersifat mengadu domba ini...." berkata Tiat- bok Taysu sambil tertawa hambar. Gadis cilik itu membuka lebar kedua matanya berkata dengan suara keras: "Entah apa sebabnya dalam hati kecilku sejak anak2 aku mempunyai kesan baik yang aneh teradap kalian bangsa orang suci, barulah aku tadi berbicara begitu banyak denganmu, jikalau kau tidak mau dengar nasihatku jangan kau sesalkan kita akan menghadapimu dengan orang yang lebih banyak jumlahnya."

"Dalam seumur hidup lolap, belum pernah bertempur dengan menggunakan seluruh kekuatan tenaga, apabila nona mempunyai kegembiraan, boleh saja nona mengeluarkan perintah untuk mengeroyok, lolap masih yakin sanggup menghadapi."

Gadis cilik itu nampak berpikir sejenak, kemudian dengan mendadak melancarkan satu serangan.

Serangannya itu dilakukan demikian cepat diluar dugaan Tiat-bok Taysu, hingga paderi tua itu diam-diam juga terkejut.

Tiat-bok Taysu menggunakan satu tangan kanan menyambut serangan gadis cilik itu. Gerak badan gadis itu sangat lincah, bagaikan anak, panah yang melesat dari busurnya itu melompat kesamping menghindarkan serangan balasan Tiat-bok Taysu kemudian berkata kepada dua orang tua itu dengan suara perlahan:

"Tahan dia, jangan sampai ia keluar dari kamar ini."

Setelah itu gadis, itu keluar dari dalam gubuk. Tindakan gadis cilik itu yang mengundurkan diri tanpa bertempur, benar2 diluar dugaan Tiat bok taysu, ia sepera mengibaskan lengan jubahnya sambil membentak:

"Kau hendak kemana!" Dengan cepat ia juga bergerak mengejar keluar.

Orang tua yg berdiri disebelah kiri berkata dengan nada suari dingin: "Balik.''

Serentak dengan itu tangannya melakukan suatu serangan. Tiat Bok taysu mengandalkan tenaga dalam yang sudah sempurna, apalagi ia sudah mempelajari ilmu Kim kong-ciang dari Siao-liem-sie, sehingga setiap kali berhadapan dengan musuh, dengan sendirinya menyambut serangan lawannya dengan kekerasan. Maka ketika diserang ia lalu melintangkan tangan kirinya sambil berkata:

"Lolap tidak percaya kau sanggup menggempurkan lolap!"

Dua tangan menempel satu sama lain, masing2 mengeluarkan kekuatan tenaga dalam.

Badan Tiat Bok taysu yang bergerak maju ternyata sudah tertahan oleh orang tua itu, tetapi orang tua itu Sendiri juga terpental mundur dua langkah oleh dorongan tenaga dalam Tiat Bok taysu.

Orang tua yang berdiri disebelah kanan lalu berseru: "Nama paderi dari kuil Siao-liem sie, benar-benar bukan nama kosong belaka."

Dengan cepat orang itu menggunakan kakinya menendang jalan darah dibagian perut Tiat Bok taysu.

Tiat Bok taysu dengan badan tidak bergerak dua jari tangan kanan meluncur menotok jalan darah Koan-goan-hiat kaki kanan orang tua itu.

Kaki kiri orang tua itu berputar, kaki kanannya ditarik mundur, kemudian menyerang dengan tinjunya,Orang tua yang menyeraag lebih dulu juga menyerang lagi dengan hebat.

Dengan seorang diri Tiat Bok taysu melawan dua orang tua itu, setelah pertempuran berlangsung limabelas jurus, meskipun tidak ada tanda tanda akan kalah, tetapi juga sudah merasa berat.

Kiranya dua orang itu, bukan saja mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna, tetapi juga sangat aneh gerak tipu serangannya, apalagi mereka berdua bisa bekerja sama sangat rapi.

Tiat Bok taysu bertahan beberapa jurus, diluar tiba-tiba terdengar suara saling bentak, sehingga membuat cemas pikirannya.

Terang bahwa diluar juga sedang berlangsung suatu pertempuran hebat.

Untuk menyingkirkan kedua lawannya yang tangguh itu, Tiat Bok taysu mau tidak mau harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya dan membuka pantangan membunuh, maka gerak tipunya mendadak berubah, ilmu simpanan yang menyerang orang tua yang sebelah kiri.

Serangan itu memang hebat, orang tua sebelah kiri itu agaknya merasa jeri oleh serangan itu, ia tidak berani menyambut dengan kekerasan lagi, dengan cepat lompat menyingkir mengelakkan serangan tersebut.

Dengan sikapnya yang agung dan keren Tiat-bok Taysu membentak dengan suara keras: "Siapa yang berani merintangi aku akan mati, sekarang siapa yg berani menyambut seranganku?"

Ia mengeluarkan serangannya lagi dengan menggunakan ilmu Kim-kong-ciang yang ternyata lebih hebat dari yang pertama.

Dua orang tua itu, entah merasa jeri terhadap serangan Tiat-bok Taysu yang hebat itu ataukah karena mengandung lain maksud? Tiba-tiba melompat keluar.

Tiat-bok Taysu juga lari menyusul. Diluar ternyata sudah berdiri banyak orang, yang jumlahnya lebih dua puluh orang, kecuali gadis cilik yang berpakaian warna merah, yang lainnya semua mengenakan pakaian ringkas warna hitam.

Orang-orang itu sudah mengambil posisi mengurung, agaknya sedang menantikan keluarnya Tiat-bok Taysu. Dua orang tua itu dengan cepat sudah berada dikedua samping gadis cilik itu.

Tiat bok Taysu memperhatikan sikap orang2 itu, tidak menampak ada orang yang bertempur, suara saling bentak tadi juga sudah tidak terdengar lagi, sehingga dalam hatinya diam-diam merasa heran..

"Kau melihat kesana kemari, apa yang kau cari?", bertanya gadis cilik itu sambil tertawa dingin

Tiat-bok Taysu tercengang, ia tidak dapat menjawab.

Gadis cilik itu menggerakan tangannya dan berkata; "Apakah kau hendak melihat orang-orangmu?"

Empat laki laki pakaian hitam yang berdiri di belakang gadis itu lantas berpencar.

Saat itu ia segera melihat dua wanita berpakaian warna warni telah tertawan oleh dua orang berpakaian hitam, mereka menundukan kepala tidak berkata apa-apa agaknya sudah tertotok jalan darahnya.

Gadis cilik itu berpaling kearah dua wanita itu sejenak, kemudian berkata sambil tertawa dingin:

"Sekarang kau seharusnya bisa mengerti, dalam rimba hitam ini, sekarang kecuali dua wanita yang sudah tertawan ini, hanya kau seorang saja."

Meskipun diluarnya Tiat-bok Taysu bersikap tenang, tetapi dalam hatinya dikejutkan oleh ucapan gadis cilik itu. Dalam hatinya berpikir: 'sungguh aneh! Kalau mau dikata bahwa Auw-yang Thong, Hui Kong Leang dan lain-lainnya berlalu meninggalkan aku, hal ini tidak mungkin sama sekali, tetapi beberapa orang itu telah menghilang secara mendadak, sesungguhnya sangat mengherankan, ditilik dari kekuatan dan kepandaian beberapa orang itu rasanya juga tidak mungkin terjatuh ditangan musuh, dan yang paling mengherankan adalah orang-orang dari rimba hitam, kecuali dua wanita yang tertawan itu, mengapa seorangpun tidak tampak?'

Gadis cilik itu nampak Tiat Bok taysu diam saja tidak menunjukkan reaksi apa-apa, lalu berkata pula:

"Aku memberikan waktu sebentar kepadamu untuk berpikir, kau ingin bertempur terus, atau hendak menyerah?"

Tiat Bok taysu mengawasi keadaan disekitarnya sebentar lalu menjawab sambil tertawa dingin:

"Sekalipun lolap ingin menyerah, tetapi tidak boleh mencemarkan nama baik Siao-liem-sie."

"Kalau begitu kau sudah bertekad hendak bertempur lagi?" "Tangan tidak ada matanya, nona seharusnya pikir dulu

masak-masak, apabila keadaan memaksa sehingga lolap tidak mempunyai pilihan lain, hari ini barangkali akan terjadi suatu pertumpahan darah yang mengerikan."

Gadis cilik itu berpaling kearah dua orang berbaju hitam yang berdiri dibelakangnya, lalu berkata dengan suara perlahan: "Bunuh dulu dua orang itu."

Dua orang berbaju hitam itu dengan serentak mengeluarkan dua bilah pisau tajam, kemudian membuka totokan jalan darah dua wanita itu...

Tiat Bok taysu menyaksikan tindak tanduk gadis kecil itu, diam-diam merasa aneh. "Seorang gadis yang masih muda belia seperti kau, ternyata mempunyai hati yang demikian kejam dan perbuatan demikian telengas." demikian Tiat Bok taysu berkata, diam-diam dua jari tangannya menyentil, hingga dua butir biji tasbeh melesat keluar.

Sebentar kemudian terdengar suara seruan tertahan, dua orang yang tangannya memegang pisau tajam, tiba-tiba pisaunya terlepas dan orangnya roboh terjengkang. Paras gadis cilik itu mendadak berubah, ia berkata dengan nada suara dingin: "Bagus sekali perbuatanmu paderi tua ini, Kau benar2 tidak tahu diri."

Sehabis berkata demikian ia lalu lompat melesat menyerbu Tiat Bok taysu.

Hati Tiat Bok taysu tergerak, pikirnya: 'menangkap maling harus menangkap kepalanya, gadis ini meskipun usianya masih terlalu muda, tetapi rupanya seperti kepala rombongan orang orang ini, maka aku harus berusaha menangkapnya lebih dulu, baru mencari dimana Auw-yang Thong dan lain- lainnya.'

Ia segera membuka serangan, tangan kiri melakukan serangan dengan menggunakan ilmu Lohan-ciang, tangan kanan menggunakan ilmu menangkap pergelangan tangan lawannya, belum sampai gadis cilik itu bertindak, ia sudah menyerang lebih dulu. Tetapi gerak badan gadis itu sangat aneh dan lincah sekali, meskipun Tiat Bok taysu menyerang lebih dulu, tetapi semua serangannya dapat dielakan dengan mudah, hingga Tiat Bok taysu diam-diam juga terperanjat.

Tidak banyak kesempatan bagi gadis cilik itu melakukan serangan pembalasan, Tiat Bok taysu yang sudah melancarkan serangan tiga kali itu, ia baru balas menyerang satu kali, agaknya ia sengaja hendak mempertunjukkan kelincahan dirinya, pertempuran sudah berlangsung sepuluh jurus lebih, keadaan masih tetap sama.

Tiat Bok taysu per-lahan2 mulai tidak sabar gerak tipu serangannya mendadak berubah, ia menggunakan ilmu Tay- kek-kimkong-ciang, dengan beruntun melancarkan dua kali serangan, serangannya itu meski hanya dua kali saja, tetapi setiap kalinya mengandung kekuatan tenaga dalam sangat hebat yang dapat menghancurkan batu keras. Gadis cilik itu agaknya kena digertak oleh serangan hebat itu, ia melompat mundur sejauh delapan kaki dan berdiri sambil tersenyum. Tiat Bok taysu setelah melancarkan serangannya itu, matanya tiba2 merasa gelap, kepalanya puyeng sehingga dalam hatinya diam2 merasa terkejut dan heran.

Sebentar kemudian ia merasakan bahwa orang2 disekitarnya pada ber-goyang2, bumi yang diinjak seperti berputaran.

Ia adalah seorang yang banyak pengetahuan, begitu merasakan gelagat tidak beres, segera mengetahui bahwa dirinya sudah terbokong oleh semacam kekuatan obat mabuk, maka buru2 memejamkan kedua matanya, mengatur pernapasannya, ia ingin mengunakan ilmu dan golongan Buddha untuk menenangkan pikirannya.

Ilmu dari golongan Buddha benar saja mengandung kekuatan yang mujijat, Tiat Bok taysu yang menggunakan ilmu itu, sebentar saja rasa puyeng dikepalanya lenyap. Tetapi dihadapannya masih berdiri begitu banyak musuh tangguh, bagaimana ia dapat mengatur pernapasannya.

Tiba2 ia melihat gadis itu melambaikan tangannya, dua laki2 berpakaian hitam segera lari kearahnya.

Gadis ciik itu berkata sambil tertawa: "Paderi tua, bukalah matamu, kau saksikan sendiri!"

Tiat Bok taysu meskipun tahu bahwa saat itu mendapat kesempatan sejenak saja untuk mengatur pernapasnnya, berarti menambah kekuatan tenaganya, tetapi gadis itu karena memanggil namanya, mau tidak mau harus membuka matanya.

Ketika ia membuka mata, per-tama2 yang dilihatnya adalah dua bilah pedang gemerlap yang mengancam dikedua sisi badannya.

Menyaksikan keadaan demikian hati Tiat Bok taysu tergoncang hebat, katanya dengan sinar mata gusar: "Nona masih demikian muda, tetapi perbuatanmu begini ganas, orang2 bawahan Kun-liong Ong benar saja satu lebih kejam dari pada yang lain, dikemudian hari apabila lolap bisa berjumpa lagi, pasti lolap hancurkan dengan tongkat lolap tanpa ampun lagi."

Sementara itu dua perempuan anggota rimba hitam, baju bagian dada sudah dirobek, hingga berdiri dengan dada terbuka, bagian hati dua wanita itu, masing2 tertancap sebilah pisau tajam. Pisau itu menancap sehingga gagangnya, tetapi tidak setetes darah nampak mengalir keluar, karena dua wanita itu tertotok jalan darahnya, sehingga tidak bisa bergerak juga tidak bisa bicara, hanya dari sikap mereka mengunjukkan betapa hebat penderitaan itu.

Apabila pisau itu tidak dicabut, dua wanita itu untuk sementara masih bisa hidup.

Itu merupakan satu pemandangan yang sangat mengerikan, hingga Tiat-bok Taysu yang menyaksikan itu hatinya berdebaran, tetapi ia juga tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Gadis cilik itu mengangkat muka dan berkata sambil tertawa: "Dalam waktu sekejap mata saja, seluruh rimba terbakar, tetapi sekarang ini yang masih dapat mewakili rimba hitam untuk berbicara denganku, hanya kau seorang saja, meskipun kau bukan penghuni rimba ini, tetapi pada saat ini kau memegang kunci untuk mati hidupnya atau kemusnahannya rimba hitam ini. "

"Lolap tidak mengerti maksud perkataanmu ini." berkata Tiat-bok Taysu, sementara dalam hatinya berpikir: 'tuan rumah rimba hitam ini dan Hui Kong Leang ini serta lain- lainnya entah kemana perginya, bagaimana sekian lamanya tidak muncul, apakah mereka benar-benar seperti apa yang dikatakan oleh gadis ini, semua sudah meninggalkan aku?' Tiba-tiba ia teringat kepada jalanan rahasia yang dilalui ketika ia masuk kedalam rimba ini, mungkin Auw-yang Thong dan Hui Kong Leang sudah berlalu melalui jalan rahasia itu, karena menganggap dia sudah mengetahui jalan rahasia itu maka tidak memberitahukan kepadanya....

Dalam keadaan dan suasana seperti itu, ia hanya dapat menduga demikian saja untuk menghilangkan kecurigaannya.

"Sekarang kau sudah tidak mempunyai waktu untuk berpikir lagi," berkata gadis cilik itu.

Tiat bok Taysu yang didesak oleh gadis cilik itu, terpaksa menjawab: "Kau hendak berkata apa? Katakanlah saja."

"Kau sudah terima baik? Demikianlah kita tetapkan." "Urusan yang menyangkut diri lolap, kalau aku sudah

terima baik, sudah tentu tidak akan mungkin, tetapi urusan

yang menyangkut diri orang orang rimba hitam, lolap tidak berhak untuk mengambil keputusan."

"Kalau begitu kau tidak usah pedulikan lagi."

Tiat-bok Taysu matanya mendadak merasa berkunang- kunang, dengan tanpa dapat Kuasai dirinya lagi lalu roboh ditanah.

Dia ada seorang yang berpengetahuan luas dan sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya sesaat itu sudah mengetahui bahwa dirinya sudah Kena perangkap akal jahat gadis cilik itu dalam keadaan demikian, ia terpaksa mengerahkankan kekuatan tenaga dalamnya, kemudian berusaha untuk bangkit dan menghampiri gadis cilik itu.

Paderi tua yang selamanya berlaku welas kasih, sudah mendapat firasat bahwa dirinya dalam waktu yang sangat singkat, sudah akan kehilangan kekuatan melawan musuh- musuhnya, tetapi gadis cilik itu sengaja berbicara yang bukan- bukan untuk mengalihkan perhatiannya sehingga obat racun yang masuk dalam tubuhnya bisa bekerja. Paderi tua yang sudah mempunyai latihan kekuatan tenaga dalamnya beberapa puluh tahun lamanya, membuatnya mempunyai kekuatan dan daya bertahan menghadapi racun yang melebihi dari manusia biasa, kekuatan tenaga dalam yang mengalir disekujur badannya telah berhasil menunda kembali bekerjanya racun dalam tubuhnya.

Dengan wajah gusar ia per-lahan2 mengangkat tangan kanannya ia berkata dengan sikap gusar:

"Nampaknya meski usiamu masih terlalu muda, tetapi hatimu merupakan seorang yang paling kejam dan berbahaya dari pada orang2 yang pernah lolap ketemukan, tetapi sebelum racun dalam tubuhku bekerja dan selama aku masih mempunyai tenaga, kalian semua harus merasakan dulu dengan tetesan darah sesuai dengan perbuatanmu sendiri "

"Untuk menghadapi musuh tidak perlu takut dikatakan orang jahat...." berkata gadis cilik itu sambil tertawa ringan,"kau sudah merupakan seorang yang sudah hampir habis tenaganya sebentar lagi racun dalam tubuhmu akan bekerja dan tamatlah riwayatmu."

Tiat Bok taysu menggerakkan tangannya, kekuatan tenaga dalam yang sangat hebat meluncur keluar.

Sebentar kemudian terdengar suara jeritan ngeri, seorang berpakaian hitam jatuh rubuh ditanah sambil mengeluarkan darah dan binasa seketika itu juga.

Gadis cilik itu agaknya tidak menduga bahwa paderi tua itu mempunyai kekuatan yang demikian hebat, sambil berpaling kekanan dan kekiri ia berkata kepada orang2nya:

"Paderi tua ini sudah terkena racun tetapi masih berani berlaku demikian jahat, pergilah kalian dan musnahkan kepandaiannya!"

Empat laki2 muncul berpakaian hitam keluar dan menyerbu Tiat Bok taysu. Tiat bok taysu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya: "O Mie Tho Hut Buddha yang belas kasihan, maafkan muridmu terpaksa akan melanggar pantangan membunuh."

Kemudian dengan kedua tangannya itu ia menyerang kepada orang2 yang menyerbu dirinya. Seorang berpakaian hitam terpental mundur empat langkah dan jatuh ditanah tidak bisa bangun lagi.

Tiat Bok taysu yang sudah murka, dengan beruntun melanjutkan seranganya, dua orang lagi terluka dibawah tangannya, tetapi dengan cara demikian, kekuatan tenaga dalamnya telah terhambur, ini membuat bekerjanya racun semakin cepat, sehingga kemudian matanya berkunang- kunang dan kepala berat dan akhirnya ia rubuh ditanah.

Seorang berpakaian hitam segera maju dan mencekal pergelangan tangan Tiat Bok taysu.

Pada saat itu pikiran Tiat Bok taysu sudah kurang terang, hanya kemurkaan dan napsu membunuh yang ada pada dirinya, ketika merasa pergelangan tangannya dicekal, segera mengeluarkan bentakan keras, tangannya balik menyambar pergelangan tangan orang itu dengan tangan yang lain menyerang dada orang berpakaian hitam itu,

Orang berpakaian hitam itu tidak menduga sama sekali Tiat Bok taysu akan menyerang dirinya, ia hanya bisa mengeluarkan seruan tertahan kemudian badannya terpental dan binasa seketika itu juga.

Dua orang tua berpakaian abu-abu, menyaksikan orang- orang berpakaian hitam yang bergerak mengepung Tiat Bok taysu, sebegitu jauh tidak berhasil menawannya, sebaliknya malah ada empat orang terbinasa ditangannya, satu sama lain saling berpandangan sebentar, kemudian berkata dengan berbareng;

"Kalian minggir." Orang2 baju hitam yang mengepung Tiat-bok Taysu benar saja lalu mengundurkan diri. Tiat-bok Taysu melihat orang2 itu mendadak mengundurkan diri, buru2 mengatur pernapasannya.

Namun pada saat itu racun dalam tubuhnya sudah mulai bekerja, hanya mengandalkan kesempurnaan kekuatan tenaganya berhasil menindasnya, setelah mendapat kesempatan mengatur pernapasannya kembali, tetapi belum sampai berhasil mencegah bekerjanya racun lebih lanjut, bumi yang diinjak mendadak seperti berputar, hingga akhirnya ia tidak sanggup mempertahankan dirinya lagi dan terpaksa jatuh roboh ditanah.

-oodwoo-