ISMRP Jilid 10

 
Jilid 10

MATANYA per-lahan2 menyapu wajah tiap orang, sambungnya:

“Seperti racun yang berada di dalam tubuh saudara2, seharusnya merupakan racun yang paling susah di-jaga2…….. siaotee telah mendengar penuturan dari saudara Koan, semua apa yang telah terjadi agaknya hanya pada waktu saudara2 menuliskan nama di buku kematian itu, merupakan kesempatan satu2nya bagi saudara2 kemasukan racun itu, apabila benar demikian asalnya, racun itu kalau bukan berada di dalam buku kematian, tentunya berada di atas alat tulisnya, di waktu saudara2 memegang alat tulis dan menuliskan namanya, tanpa disadari sudah kemasukan racun… ”

“Penguraian Teng sian-seng memang tepat, lolap juga merasakan kemasukan racun, tetapi karena keadaan sekarang ini sedemikian gawat, sehingga tidak mendapat kesempatan untuk menyembuhkan, terpaksa menunggu sampai lolap pulang ke Siao-lim-sie, barulah akan berusaha lagi,” berkata Tiat Bok Taysu.

“Losiansu meskipun sangat repot, tetapi juga tidak boleh membiarkan racun dalam tubuh bekerja sesukanya, se- tidak2nya juga harus makan sedikit obat pemunah racun, supaya bekerjanya racun sedikit lemah,” berkata Teng Soan.

“Apakah Teng sian-seng mempunyai obat pemunah racun?”

“Siaote hanya berdiam di dalam rumah, dengan mempelajari buku2 yang ditulis oleh orang2 dahulu, membuat semacam obat pemunah racun tetapi obat ini hanya cocok untuk sejenis racun, apakah dapat digunakan bagi racun yang luar biasa atau tidak, siaote masih belum berani memastikan.”

Setelah itu ia mengeluarkan sebuah botol, dari dalam botol itu diambilnya beberapa butir obat pel, lalu di-bagi2kan kepada orang2 itu seraya berkata:

“Obat pemunah bikinan siaote ini, meskipun belum tentu dapat menyembuhkan racun yang ada dalam tubuh saudara2, tetapi tidak ada jahatnya untuk dimakan, hal ini siaote berani jamin saudara boleh makan, jangan khawatir apa-apa.

Hui Kong Leang agaknya masah belum mau percaya sepenuhnya, ia cium2 sebentar pel itu, dan menunggu sampai Koan Sam Seng, Ong Khian dan lain2nya sudah menelan pel itu, barulah dimasukan ke dalam mulutnya.

Sebaliknya dengan Tiat Bok Taysu dan Kie Bok Taysu, dua paderi itu makan tanpa ragu2.

Teng Soan berkata:

“Di waktu biasa setelah makan obat ini, harus ber-jalan2 sebentar supaya obatnya lekas bekerja, tetapi karena saudara2 semua adalah orang2 yang mempunyai kepandaian tinggi, sudah tentu tidak memperlukan itu, asal mengaso dan mengatur pernapasan sebentar sudah cukup.”

Tiat Bok Taysu tersenyum, ia yang lebib dulu memejamkan matanya mengatur pernapasannya.

Perbuatan itu segera ditiru oleh yang lainnya, sebentar kemudian, mereka merasakan ada hawa panas yang mulai bergerak di badan masing2.

Teng Soan menyimpan lagi botolnya, matanya mengawasi wajah setiap orang, tampak di dahi setiap orang ada tanda merah dadu, segera mengetahui bahwa obatnya sudah mulai menunjukkan hasilnya, dalam hatinya segera berpikir: Obat ini setelah bekerja, dalam tubuh setiap orang akan timbul semacam peraaaan yang tidak enak, apabila aku tidak menerangkan lebih dahulu, mungkin bisa menimbulkan kesalah pahaman… ”

Tetapi sebelum ia memberi keterangan, Tiat Bok Taysu sudah membuka matanya, dengan sinar mata aneh menatap wajah Teng Soan.

Teng Soan lalu berkata sambil tersenyum: “Apakah tubuh losiansu merasa sedikit panas?” “Benar.” Jawabnya sambil menganggukkan kepala. Teng Soan berkata dengan suara agak nyaring: “Tidak apa, obat pemunah itu sudah beradu dengan racun yang mengeram dalam tubuh taysu, dengan sendirinya menimbulkan perasaan tidak enak dalam tubuh, barangkali tidak lama lagi, perassan itu akan lenyap sendiri.”

Sementara itu Hui Kong Leang dan Ki Bok Taysu juga sudah membuka matanya, Hui Kong Leang dengan sangat penuh kebencian menatap wajah Teng Soan, tetapi setelah mendengar keterangan Teng Soan, amarahnya mulai lenyap, lalu bertanya sambil tertawa dingin:

“Apakah keterangan saudara Teng ini dengan sejujurnya?” “Karena tadi siaotee tidak memberi keterangan lebih dulu,

siaotee tisak salahkan Hui tayhiap timbul salah pengertian.” menjawab Teng Soan menganggukkan kepala.

Hui Kong Leang kembali memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata:

“Jikalau obat ini bukan obat pemunah racun      ?”

Teng Soan mengeritlam a;osmua dan berlata:

“Hui tayhiap agaknya tidak percaya keteranganku, sekalipun aku member keterangan dengan sejujurnya, juga susah untuk meyakinkan kepada Hui tayhiap, untung perasaan tidak enak ini hanya dalam waktu yang singkat saja, perasaan itu nanti akan lenyap sendiri… ”

Hui Kong Leang mengawasi Auw-yang Thong sejenak, per- lahan2 menundukkan kepala, tetapi diam2 mengerahkan kekuatan, kaki kanannya tiba2 bergerak menotok jalan darah paha kecil Teng Soan.

Bagian jalan darah yang ditotok oleh Hui Kong Leang itu, merupakan salah satu jalan darah terpenting dalam anggota badan manusia, Teng Soan yang tertotok seketika itu seperti diguyur air dingin, sekujur badannya gemetar, mukanya pucat pasih. Auw-yang Thong yang menyaksikan itu sangat terkejut, tanyanya:

“Teng sian-seng kenapa?”

Teng Soan mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus keringat dingin di dahinya, kemudian menjawab sambil tertawa:

“Tidak apa, barangkali tadi malam kena sedikit angin, sehingga badan merasa sedikit kurang enak, sebentar tentu baik sendiri.”

Hui Kong Leang tiba2 berpaling dan bertanya kepada Tiat Bok Taysu:

“Apakah losiansu berdua sudah merasa sedikit enakan?”

Dalam perut merasa bergolak, badan sedikit panas, tetapi tidak ada tanda2 tambah berat?” menjawab Tiat Bok Taysu.

“Apabila obat yang kita makan tadi bukan obat pemunah racun… ”

Teng Soan segera menyahut sambil tertawa:

“Apabila Hui tayhiap sampai terbinasa karena makan obat siaotee, barang kali siaotee sendiri juga tidak bisa hidup lagi.”

Hui Kong Leang menganggukkan kepala sambil tertawa, kemudian berkata:

“Apabila saudara Teng tidak merasa bersalah, tidak perlu merasa takut.”

“Dalam dunia Kang-ouw sudah lama tersiar kabar bahwa Hui tayhiap adalah orang yang susah dihadapinya, hari ini setelah siaotee menghadapi sendiri, apa yang tersiar itu benar2 bukan kabar bohong belaka.”

“Siaotee tidak mempunyai pikiran lain, satu2nya sifat yang istimewa bagiku adalah selama hidupku ini tidak suka dirugikan.” Teng Soan sudah merasa bahwa bagian bawah tubuhnya sudah mulai kejang, tangan kanannya juga agak merasa ngilu, tetapi ia masih tetap bersikap tenang.

“Saudara Hui sekarang boleh mengatur pernapasan dengan hati lega.” Demikian ia berkata.

Ucapan kedua orang itu yang nampaknya saling bertentangan, mengherankan semua orang yang ada di situ, sehingga semua mata ditujukan kepada mereka.

Auw-yang Thong yang menyaksikan wajah Teng Soan sudah mulai merah lagi, hatinya merasa lega, ia berkata sambil menarik napas pasjang:

“Badan sian-seng memang lemah, lagi pula harus bekerja keras untuk kepentingan golongan kita, hingga keadaannya semakin tidak baik, kalau memang merasa tidak enak badan, sebaiknya lekas pergi mengaso dulu, untung kedua taysu dan Hui tayhiap semua adalah orang2 yang berjiwa besar, sudah tentu tidak akan menyesalkan perbuatan sian-seng.”

“Terima kasih atas perhatian Pangcu, walaupun siaotee merasa kurang enak badan, tetapi masih sanggup bertahan, losiansu dan Hui tayhiap semua adalah orang2 yang mempunyai kedudukan tinggi dalam rimba persilatan, bagaimana kita boleh memperlakukannya secara tidak aturan,” menjawab Teng Soan sambil tertawa hambar.

“Auw-yang Thong yang mendengar jawaban demikian, merasa tidak enak untuk memaksa, maka segera berkata sambil tersenyum:

“Sian-seng paham ilmu obat2an, kalau tidak enak meninggalkan tempat ini, bagaimana kalau sian-seng makan sedikit obat dulu?”

“Tidak usah, keadaan siaotee sekarang ini sudah banyak baik.” Tiat Bok Taysu melihat gelagat tidak beres, ia berpaling dan mengawasi Hui Kong Leang sejenak, kemudian bertanya:

“Bagaimana perasaan saudara Hui?”

“Siaotee masih merasa sedikit panas, entah bagaimana dengan losiansu sendiri?”

“Apa yang dikatakan oleh Teng sian-seng memang benar, lolap sekarang sudah merasa lebih baik… ”

“Tetapi siaotee masih belum merasakan apa2,” berkata Hui Kong Leang sambil tertawa sinis, kemudaian memejamkan matanya untuk mengatur pernapasannya.

Sementara itu Auw-yang Thong agaknya juga melihat tanda2 perobahan sikap Hui Kong Leang itu, ia lalu berpaling dan berkata kepada Ciu Tay Cie dengan suara perlahan. Ciu Tay Cie setelah menganggukkan kepala lantas berlari, Auw- yang Thong segera berbangkit dan berjalan menghampiri Teng Soan, lalu bertanya dengan suara perlahan:

“Benarkah Sian-seng merasa tidak enak badan?”

Teng Soan member isyarat dengan mata kepada Auw-yang Thong supaya Pangcu itu jangan campur tangan, kemudian menjawab sambil tertawa besar:

“Siaotee tahu bagaimana harus menjaga diri sendiri, harap Pangcu jangan khawatri.”

Auw-yang Thong selamanya sangat kagum terhadap penasehatnya itu, ketika menyaksikan Teng Soan member isyarat dengan mata kepadanya, ia segera mengetahui bahwa Teng Soan pasti mempunyai maksud tertentu maka terpaksa balik kembali ke tempat duduknya.

Hui Kong Leang yang duduk mengatur pernapasannya, tiba2 membuka mata dan berkata sambil bersenyum:

“Obat saudara Teng benar2 sangat ajaib sekali pengaruhnya, siaote merasa bahwa obat itu sudah bekerja.” “Syukurlah, semoga obat yang Hui tayhiap makan, jangan menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan,” jawab Teng Soan sambil tertawa.

Hui Kong Leang tiba2 berbangkit dan berkata:

“Apabila saudara Teng percaya kepada siaotee, bagaimana kalau kita bicara sedikit?”

“Hui tayhiap ada keperluan apa?”

“Ada sedikit urusan siaotee ingin minta keterangan…   ”

Teng Soan tersenyum sambil menggeleng2kan kepala, masih tetap duduk di tempatnya.

Hui Kong Leang bergerak hatinya, pikirnya: Mungkin karena totokanku tadi hingga ia tidak bisa bergerak……..

Ia lalu mengulurkan tangannya memegang pergelangan tangan kiri Teng Soan, dengan mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya ia mengangkat diri Teng Soan.

Teng Soan menggerakkan kakinya, ber-sama2 dengan Hui Kong Leang berjalan ke tepi sungai.

Auw-yang Thong mendadak berdiri, agaknya ingin mengejar, tetapi dirintangi oleh Tiat Bok Taysu seraya berkata dengan suara perlalaan:

“Pamgcu jangan khawatir, betapapun besarnya keberanian Hui Kong Leang, juga tidak berani mencelakakan Teng sian- seng, mereka mungkin hendak merundingkan sesuatu… ”

Auw-yang Thong meskipun dalam hati merasa curiga, tetapi melihat sikap Tiat Bok Taysu sudah tentu tidak dapat menggunakan kekerasan, hanya sinar matanya terus memperhatikan gerak gerik Hui Kong Leang dan Teng Soan.

Dua orang itu berjalan ke tepi sungai, lalu duduk berhadap- hadapan di bawah sebuah pohon besar, Hui Kong Leang menggerak-gerakan kedua tangannya, agaknya sedang merundingkan sesuatu dengan Teng Soan.

Tidak lama kemudian keduanya sudah kembali lagi kepada rombongan orang banyak.

Tiat Bok Taysu menarik napas lega, ia berkata sambil tertawa:

“Jiwie berdua sama sama ahli pikir, dalam perundingan tadi tentunya sudah mendapatkan suatu rencana untuk menghadapi musuh kita.”

“Hui tayhiap bukan saja kepandaiannya dalam ilmu silatnya melebihi diriku, tetapi kecerdikannya dan pikirannya juga tidak di bawahku,” berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Bisa saja! Siaotee bagaimana dapat dibandingkan dengan Sian-seng?” berkata Hui Kong Leang dengan suara nyaring.

Tiat Bok Taysu berkata:

“Kalian berdua tak perlu merendahkan diri, yang penting sekarang ini adalah untuk merundingkan persoalan yang sedang kita hadapi, entah kalian bagaimana hendak menghadapi gadis berbaju putih itu?”

Teng Soan mendongakkan kepala melihat cuaca, kemudian berkata:

“Siaotee sudah kirim orang membawa obat mabuk nyelundup di atas kapal besar mereka, mungkin sebelum matahari selam sudah dapat kabar, selambat lambatnya juga tidak sampai meliwati tengah malam hari ini.”

“Maksud Teng sian-seng, apakah menunggu sampai terdapat kabar, baru kita mencari mereka?” bertanya Tiat Bok Taysu.

“Apakah obat mabuk itu membawa hasil baik, niscaya kita dapat mengirit banyak tenaga,” berkata Teng Soan. “Apabila pihak mereka sudah ber-jaga2 dan susah turun tangan, bagaimana?” bertanya Hui Kong Leang.

“Terpaksa kita mencari akal lain…….., tetapi siaotee piker rencana yang kita lakukan secara tidak ter-duga2 ini, barangkali tidak akan gagal, yang siaotee khawatirkan adalah bala bantuan mereka nanti tiba sebelum obat mabuk itu bekerja, sehingga keburu mendapat pertolongan.”

“Tidak tahu dengan cara bagaimana sian-seng mengetahui mereka masih ada bala bantuan?” bertanya Tiat Bok Taysu.

“Di tempat sekitar ini, waktu siaotee mengadakan penyelidikan keadaan muruh, pernah menemukan beberapa tanda rahasia dan tanda2 rahasia itu semua menunjukkan kea rah tepi sungai ini, siaotee mengirim orang lagi untuk melakukan penyelidikan yang lebih luas, benar saja menemukan banyak tanda rahasia yang sama, tanda2 itu semua menuju kemari, setelah siaotee pelajari, siaotee merasa bahwa tanda2 itu adalah tanda2 petunjuk untuk bala bantuan mereka, maka siaotee merasa bahwa mereka menambat kapalnya di tempat ini, pasti ada maksudnya,” berkata Teng Soan.

“Begini saja, siaotee akan menyaru sebagai nelayan lebih dulu nyelundup ke atas kapal itu untuk melihat keadaan sebenarnya.” Berkata Hui Kong Leang sambil tertawa.

“Tidak usah, di sekitar kapal besar itu, semua sudah terjaga keras oleh perahu2 golongan kita, tidak mungkin kapal itu dapat melarikan diri, seandai ada kejadian apa2 di atas kapal juga tidak akan lolos dari pengawasan orang2 kita.”

“Sudah lama kita meninggalkan pantai itu, sebaiknya kita selidiki sekali lagi… ” Berkat Tiat Bok Taysu.

Ia agaknya merasa bahwa perkataannya itu diucapkan terlalu ter-gesa2, sehingga orang lain susah menangkap arti kata yang sebenarnya dalam ucapannya itu, maka ia lalu berdiri dan berkata pula: “Dalam perjalanan ke selatan lolap kali ini, sebetulnya membawa perintah ketua lolap, biar bagaimana harus dapat menyelidiki sebab musabab kematian Pan Lo Enghiong, tetapi dewasa ini sulit untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Nampaknya hanya setelah kita berhasil menangkap gadis berbaju putih itu, lalu lolap bawa pulang ke kuil untuk menunaikan tugas lolap, peraturan dalam kuil lolap sangat keras, karena ketua sudah mengeluarkan perintah, biar bagaimana lolap tidak dapat kembali dengan tangan kosong.” 

“Apabila orang2 golongan kalian bisa membuat mabuk mereka, sudah tentu lolap bersedia tidak menggunakan tenaga, tetapi gadis itu agaknya memegang peranan penting dalam persoalan ini, barangkali golongan sicu sendiri juga perlu mendapat keterangannya, maka dalam hal ini lolap ingin minta bantuan Pangcu… ”

“Dalam hal ini seharusnya siaotee member bantuan, hanya apabila benar2 dapat menangkap gadis itu dalam keadaan hidup, golongan kami juga perlu mendapatkan keterangan yang sebenarnya dari dirinya, untuk mencari tahu sebab2 orang yang memegang peranan yang di belakang layar itu mengapa bermusuhan dengan golongan kita. Dalam soal ini sebetulnya masih ada satu cara yaug baik bagi kedua pihak, tetapi entah taysu setuju atau tidak?”

“Cara bagaimana?”

“Setelah dapat menangkap gadis itu, lebih dulu akan kita tanyakan hal hal yang ada bersangkutan dengan golongan kita, barulah taysu bawa pergi, bagaimana?”

“Di manakah Pangcu hendak menanyakan kepadanya? Apakah Pangcu hendak membawanya ke markas besar golongan pengemis?”

“Ada siaotee di sini, tidak perlu membawanya ke pusat, menanya di sini sudah cukup.”

Hui Kong Leang tiba2 menyelak: “Bagaimana kalau ia tidak mau memberi keterangan?” “Apabila bukan sedang bertempur atau menyangkut urusan

yang perlu ditanya secara mendesak, siaotee selalu tidak setuju mengompres dengan menggunakan kekerasan, tetapi keadaan gadis itu adalah lain, biar bagaimana, golongan kita harus mendapat keterangan yang sebenarnya.”

Ong Khian lalu berkata:

“Pangcu, taysu, untuk sementara, sekarang ini jangan memperbincangkan urusan itu, nanti setelah kita berhasil menangkap gadis itu, baru bicarakan lagi, rasanya masih belum terlambat.”

“Apabila tidak dibicarakan lebih dahulu, nanti bisa menimbulkam pertengkaran, hal itu akan menimbulkan kesulitan bagi kedua pihak, maka sebaiknya kita bicarakan dabulu,” berkata Tiat Bok Taysu.

“Pikiran taysu benar, walaupun kita melakukan pemeriksaan lebih dahulu, tetapi juga tidak sampai melampaui waktu duabelas jam,” berkata Auw-yang Thong.

Tiat Bok Taysu terpaksa mengalah, ia berkata sambil menarik napas:

“Ucapan Pangcu ini lolap percaya semuanya, sekarang lolap pikir sebelum racun dalam tubuh lolap bekerja, supaya bertindak, ini juga berarti membantu Pangcu supaya lekas dapat menundukkan musuh tangguh ”

Teng Soan yang masih mendongakkan kepala melihat keadaan cuaca segera berkata:

“Harap tuan2 tunggu lagi sebentar, apabila masih belum ada kabar, kita membuat rencana lagi bagaimana kita harus bertindak……...., tuan2 memang benar sudah kemasukan racun, bukanlah maksud siaotee hendak me-nakut2i, apabila racun tidak bisa lekas disembuhkan, dikemudian hari pasti akan membawa bahaya bagi tuan2 sendiri, apabila tuan2 bisa menyembuhkan sendiri, harap lekas mulai, seandai tidka bisa menyembuhkan sendiri harap datang ke pusat markas kita di gunumg Kun-san di telaga Tong-teng-ouw, siaotee pasti berusaha untuk membantu menyembuhkan, tetapi jangan sampai lewat dua bulan, siaotee bersedia menunggu tuan2 di sana.”

Tiat Bok Taysu memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangannya, kemudian berkata:

“Budi kebaikan sian-seng, lolap mengucapkan banyak2 terima kasih, di dalam kuil kita Siauw-lim-sie, juga ada obat untuk menyembuhkan racun, hanya tidak tahu dapat digunakan untuk menyembuhkan racun ini atau tidak? Apabila tidak bisa menyembuhkan, sebelum batas waktu tiba, siaotee pasti akan datang ke gunung Kun-san untuk minta bantuan sian-seng.”

Hui Kong Leang juga bangkit, ia berkata dengan sikapnya yang menghormat:

“Siaotee barangkali juga hendak minta bantuan sian-seng.” Teng Soan membalas hormat serta berkata:

“Siaotee merasa bangga dapat membantu menyembuhkan tuan2 sekalian.”

Auw-yang Thong tiba tiba menarik napas panjang, ia mengisi arak dalam cawannya dan mengajak semuanya minum lagi ber-sama2.

Tiat Bok Taysu berkata sambil mengerutkan alisnya: “Pangcu agaknya sedang memikirkan sesuatu yang berat,

bolehkah kiranya lolap ingin tahu apa yang sedang dipikirkan?”

“Sejak siaotee menerima jabatan Pangcu dalam golongan pengemis ini, hingga kini sudah duapuluh tahun lebih lamanya,” berkata Auw-yang Tong. “Selama itu, bukan saja tidak dapat memperluas pengaruh golongan pengemis, bahkan beberapa kali mengalami banyak kejadian besar yang menimpah golongan pengemis, sehingga ambisiku mulai pudar, apabila tidak mendapat banguan tenaga Teng sian- seng yang menbuat segala rencana dalam perkumpulan, nama golongan pengemis ini barang kali sudah lama tinggal menjadi catatan dalam buku sejarah dalam rimba persilatan saja, kita boleh merasa bersyukur bahwa selama beberapa tahun paling akhir ini dunia rimba persilatan tenang tidak mengalami kejadian apa2, di luar dugaan karena kematiannya Pan Lo Enghiong, rimba persilatan kembali terlibat dalam arus pergolakan hebat… ”

Hui Kong Leang tiba2 tertawa ter-bahak, kemudian berkata:

“Gelombang dalam dunia Kang-ouw, seperti juga gelombang air sungai, satu gelombang disusul oleh lain gelombang yang tidak ada berhentinya, siaotee sendiri sudah sepuluh tahun mengundurkan diri tetapi akhirnya bagaimana? Bukankah masih harus terlibat lagi dalam arus gelombang itu? Hingga kini terpaksa menceburkan diri dalam dunia Kang-ouw lagi…….., nampaknya nama yang kita dapat dari dalam dunia Kang-ouw se-olah2 partisan yang telibat pohon, begitu kita terlibat sudah tidak dapat menarik diri lagi, kau tidak ingin mencari orang, tetapi orang akan mencari dirimu, satu hari kita masih hidup dalam dunia, tidak mungkin untuk melepaskan diri selama lamanya, pengaruh dan nama besar Pangcu, semua orang yang ada di sini tidak satupun yang dapat merendengi, oleh karena itu, sudah tentu Pangcu tidak bisa terhindar dari segala keruwetan itu, dengarlah nasehat siaotee, sebaiknya Pangcu matikan pikiranmu yang hendak melepaskan diri dari urusan dunia Kang-ouw.”

Auw-yang Thong mendongakkan kepala melihat cuaca, kemudian bertanya:

“Hari ini bukankah tanggal empatbelas bulan tujuh?” “Benar.” menjawab Tiat Bok Taysu.

“Apabila tuan tuan hendak minta bantuan Teng sian-seng mengeluarkan racun dalam tubuh tuan tuan, harap sebelum tanggal limabelas bulan sembilan sudah tiba di gunung Kung- san, sebab seliwatnya hari itu, Teng sian-seng mungkin sudah tidak berada di gunnung lagi.”

“Tidak di gunung Kun-san?" bertanya Hui Kong Leang heran.

“Benar, sebab perjanjianku dengan Teng sian-seng sudah habis waktunya, pada tanggal limabelas bulan Sembilan, Teng sian-seng akan berpisah dengan golongan kita, untuk meninggalkan usahanya yang dipupuk selama duabelas tahun dan kemudian menyingkir dan mengasingkan diri ke tempat yang sunyi… ”

Koan Sam Seng yang mendengar keterangan Pangcunya itu, lalu melompat bangun dan bertanya dengan perassan terkejut:

“Apa? Dia hendak pergi?”

“Ketika aku mengundang sian-seng supaya membantu kita, sudah mengadakan perjanjian, hanya untuk waktu duabelas tahun, sekarang batas waktu sudah habis, sudah tentu kita harus menepati atau pegang janji itu.”

Koan Sam Seng tiba tiba berseru:

“Saudara Teng! Benarkah kau hendak pergi?”

Teng Soan mengibaskan kipasnya per-lahan2, jawabnya dengan tenang:

“Masih ada waktu dua bulan, nanti setelah waktunya tiba kita bicarakan lagi, sekarang ini yang penting adalah untuk membicarakan bagaimana kita harus menghadapi musuh kita.” Karena itu mengenai urusan dalam rumah tangga golongan pengemis sendiri, maka Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu serta Hui Kong Leang semua tidak campur mulut, tetapi juga mereka agaknya merasakan betapa penting kedudukkan Teng Soan dalam golongan pengemis, kepergiannya itu sesungguhnya merupakan suatu kerugian besar bagi golongan pengemis.

Untuk sesaat lamanya suasana nampak sepi sunyi.

Tiba2 terdengar suara tindakan kaki orang, dua anak buah golongan pengemis datang dengan tindakan ter-gesa2.

Dari sikap mereka yang cemas itu, semua orang mau menduga bahwa kedatangan mereka itu pasti ada sebebnya, suasana sunyi tadi, mendadak berobah menjadi tegang.

Teng Soan tiba2 berdiri dan bertanya:

“Bala bantuan pihak musuh sudah datang, betul tidak?” Dua anak buah golongan pengemis itu member hormat,

satu di antaranya menjawab:

“Teecu mendapat perintah untuk meronda tempat di mana kita terlah pasang tanda2 rahasia, tempat2 itu ternyata ada empat atau lima tempat yang sudah dibersihkan oleh tangan orang.”

Koan Sam Seng lalu berkata dengan suara nyaring:

“Ada kejadian serupa itu? Di mana orang2 yang kita kirim untuk menjaga tempat itu?”

Seorang yang berdiri di sebelah kanan menjawab:

“Teecu sekalian mengadakan tiga tempat di bagian yang terang dan dua tempat di bagian yang tersembunyi, orang2 yang menjaga tempat2 itu sudah mati semuanya.

Auw-yang Thong juga dikejutkan oleh berita itu, ia berkata: “Bagaimana dengan kematian mereka?” Orang itu menjawab:

“Agaknya terkena senjata rahasia yang sangat berbisa, sekujur badannya tidak terdapat tanda luka, tetapi kulit muka berubah menjadi biru.”

Tiat Bok Taysu bertanya:

“Di mana jenazah mereka sekarang?” Dua orang itu menjawab serentak:

“Masih berada di tempatnya masing2, sebelum mendapat perintah Pangcu, kita tidak berani menggeser.”

Teng Soan berkata:

“Tuan tuan harap minum arak dengan tenang biarlah aku dengan saudara Koan pergi memeriksa sebentar, nanti kita berunding lagi.”

Hui Kong Leang berkata:

“Tidak bisa, perbuatan orang orang itu terlalu ganas, biarlah siaotee turut pergi bersama-sama dengan saudara Teng dan saudara Koan, apabila ada kejadian apa-apa juga bisa memberi bantuan.”

Auw-yang Thong tiba-tiba berpaling dan berkata kepada Ciu Tay Cie:

“Kau panggil empat puluh delapan orang pasukan berani mati kita, suruh mereka tinggalkan sebahagian orangnya mengawasi kapal besar itu, sebagian lagi suruh datang kemari untuk menerima tugas.”

Tiat Bok Taysu sebetulnya ingin mencegah, tetapi karena ia pikir itu adalah urusan dalam golongan pengemis sendiri, tidak pantas kalau ia turut campur tangan, maka ia batalkan maksudnya.

Ong Khian tiba-tiba bangkit dan berkata: “Aku juga ikut saudara Teng!”

Teng Soan tersenyum, matanya perlahan-lahan menyapu wajah semua orang, lalu berkata:

“Sudah ada saudara Koan yang beserta, dan kini dapat bantuan saudara Ong dan saudara Hui berdua, siaotee merasa tidak khawatir lagi, harap tuan2 tunggu sebentar, siaotee segera kembali.

Ia lalu memerintahkan dua orang anak buah golongan pengemis tadi berjalan lebih dulu untuk menunjuk jalan.

Mereka berjalan lambat2, karena mereka sudah tahu bahwa Teng Soan tidak mengerti ilmu silat, maka tidak berani berjalan kencang.

Berjalan kira2 tiga puluh tombak, di tepi jalan tampak sebuah kereta yang ditarik oleh keledai.

Koan Sam Seng berkata dengan suara perlahan: “Perjalanan ini barangkali tidak dekat, sebaiknya sian-seng

menggunakan kereta saja.”

Teng Soan tersenyum lalu bertindak mendekati kereta, kemudian berkata:

“Dengan menggunakan kereta ini, waktunya memang lebih cepat.”

Dua orang anak buah pengemis tadi, ketika melihat Teng Soan naik kereta, mereka segera berjalan lebih cepat menuju ke depan.

Koan Sam Seng dan Ong Khian mengikuti di kanan dan kiri kereta sambil mengawasi keaddan di sekitarnya.

Berjalan belum lama ketika tiba di jalan persimpangan, dua orang penunjuk jalan itu berhenti dan sambil menunjuk gerombolan rumput di tepi jalan. “Tanda-tanda tersembunyi yang kita adakan di sini, orangnya sudah dibinasakan dan jenazahnya berada di dalam rumput itu.”

Teng Soan mengibaskan kipasnya, kusir kereta itu tiba tiba melarikan keretanya ke tempat yang ditunjuk oleh orang itu.

Benar saja di tempat itu tampak sesosok bangkai manusia menggeletak di dalam rumput.

Sementara itu Koan Sam Seng, Ong Khian juga sudah tiba di tempat tersebut, Koan Sam Seng mengulurkan tangannya hendak memeriksa bangkai itu, tiba2 Teng Soan berseru:

“Saudara Koan jangan gegabah, jangan menyentuh jenazah itu.”

Koan Sam Seng terkejut, ia rnembatalkan maksudnya, kemudian bertanya:

“Kenapa?”

“Kita harus ber-hati2 menghadapi muslihat musuh, coba kau ambil sepotong ranting kayu, balikan muka jenazah itu, aku hendak melihat bagaimana keadaannya.”

“Kau si siucai ini memang terlalu hati2, aku tidak percaya orang yang sudah mati bisa melepaskan senjata rahasia.”

Orang sha Koan itu meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi melakukan juga apa yang diminta oleh Teng Soan.

Teng Soan memeriksa keadaan bangkai itu, ternyata mukanya sudah biru, mirip dengan orang yang terkena senjata rahasia yang sangat berbisa, tetapi juga mirip dengan kematian orang yang diputuskan pembuluh darahnya.

Ia berpaling dan bertanya kepada dua orang anak buahnya yang telah mendapatkan bangkai itu:

“Apakah kau sudah memeriksa tanda luka di badannya?” Dua orang itu menjawab dengan sikapnya yang sangat menghomat:

“Hamba berdua sudah melakukan pemeriksaan dengan teliti, sesungguhnya tidak ada tanda luka apa2.”

Teng Soan berpikir sejenak, kemudian berkata kepada Koan Sam Seng:

“Siaotee tidak paham ilmu silat, tolong saudara Koan periksa, mati karena akibat senjata rahasia berbisa, ataukah karena putus pembuluh darahnya?”

Koan Sam Seng memeriksa badan orang itu dengan cermat, kemudian menjawab:

“Di badannya memang tidak terdapat tanda luka, tampaknya orang ini mati karena tertutup jalan darahnya, hingga pembuluh darahnya pecah… ”

Ia berhenti sejenak dan beskata pula:

“Apabila kau tidak mengijinkan aku meraba badan bangkai ini, aku sendiri juga tidak dapat menetapkan sebab musabab kematiannya.”

“Kalian ketika menulis nama di dalam buku kematian, dalam waktu sangat singkat saja bisa kemasukan racun, apalagi kau hendak memeriksa tubuh bangkai itu dengan teliti, apabila musuh kita menaruhkan racun di pakaian bangkai itu, dengan cepat bisa membuat pingsan orang yang merabanya, bagaimana kau hendak ber-jaga2?”

“Tentang ini      ”

“Tidak perlu ini itu, aku hanya ingin bertanya kepadamu, andaikata kau benar terkena racun, lalu bagaimana?”

Koan Sam Seng bersenyum, ia tidak menjawab lagi, dengan ranting pohon ia memeriksa rambut bagian kepala bangkai itu, dengan sangat teliti ia memeriksa keadaan bagian kepala, kemudian berkat: “Aku berani memastikan bahwa orang ini tidak mati karena serangan senjata rahasia, tanda luka orang ini terdapat di belakang punggung, mungkin orang yang melakkukan serangan itu berkepandaian sangat tinggi, dengan satu serangan yang tidak ter-duga2 telah memutuskan jalan darahnya… ”

“Kepandaian semacam itu, apakah termasuk kepandaian yang sangat tinggi?”

“Benar, kepandaian ini termasuk dari golongan atas, pada umumnya, dalam dunia Kang-ouw sedikit sekali jumlahnya orang yang berkepandaian serupa itu.”

“Kalau begitu kita sudah bertemu dengan lawan tangguh, nampaknya mereka sudah mempunyai persiapan, maka dalam pertempuran hari ini, kita masih belum bisa menduga siapa yang akan mendapat kemenangan ”

Ia lalu berpaling mengawasi dua orang anak buahnya sejenak, kemudian bertanya:

“Di mana bangkai yang lain, mari kita pergi melihatnya.”

Dua anak buah golongan pengemis itu ajak mereka ke dua tempat lagi, orang2 itu semua seperti dibinasakan oleh semacam senjata rahasia, atau terluka karena serangan tangan berat, keadaannya hampir serupa.

Teng Soan setelah memeriksa semuanya, lalu memerintahkan kepada dua anak buahnya untuk mengumpulkan semua jenazah itu, supaya dibakarnya.

-odwo-

Bab 38

SELESAI memberikan perintahnya, Teng Soan mengajak rombongannya pulang. Koan Sam Seng tahu benar bahwa kawannya itu selalu berlaku cermat, dalam segala hal ia selalu mencari tahu sebab musababnya, tetapi dalam menghadapi urusan ini agaknya kurang cermat, hingga dalam hati merasa berat.

“Apakah kita harus pulang begini saja?” demikian ia bertanya.

“Benar, kita harus lekas pulang, atau mengadakan persiapan baru lagi.” menjawab Teng Soan, kemudian menyuruh dua anak buahnya segera melakukan tugasnya. Setelah itu ia perintahkan kusir keretanya menarik pulang keretanya.

Koan Sam Seng dan Ong Khian saling berpandangan sebentar, lalu lari mengikuti kereta.

Kereta itu berjalan sangat pesat, sebentar saja sudah kembali, kembali ke tempat di mana diadakan perjamuan makan tadi, di sana masih menunggu Auw-yang Thong dan lain2, ketika melihat Teng Soan kembali, segera menyambutnya.

Tiat Bok Taysu yang bertanya lebih dulu:

“Apakah sian-seng menemukan sesuatu tanda?”

Teng Soan turun dari keretanya, ia memberi hormat baru menjawab:

Gadid berbaju putih itu menambatkan kapalnya di tepi sungai, agaknya merupakan suatu rencana yang sudah dipersiapkan masak2.”

Auw-yang Thong berkata sambil mengerutkan alisnya: “Apakah perbuatannya itu sengaja hendak memancing

kita?”

“Jika ditinjau keadaannya pada dewasa ini, memang demikian kiranya, tetapi tindakan pengejaran kita sampai di sini, bukan menurut rencana, hanya suatu tindakan yang diambilnya secara mendadak, sekalipun di dalam golongan kita terdapat mata2, juga tak keburu memberitahukan kepada musuh kita , tetapi keadaan pada waktu ini, mau tak mau

menimbulkan sedikit kecurigaan, betapapun juga, tidak lepas dari dua sebab.”

Hui Kong Leang yang selama itu menganggap dirinya sendiri bisa menduga tepat dalam segala hal, ketika mendengar perkataan Teng Soan itu, lalu mengasah otaknya.

Suasana di situ tampak hening kembali, semua orang agaknya sedang memikir ucapan Teng Soan itu.

Tidak lama kemudian, terdengar suara Hui Kong Leang yang berkata:

“Apakah saudara Teng mencurigai kita ada yang menjadi mata-mata musuh?”

Sementara mulutnya berkata demikian, matanya terus menatap wajah Ong Khian.

Ong Khian memperdengarkan suara di hidung, lalu melengos.

Teng Soan berkata sambil tersenyum:

“Bagaimana siaote berani berpikir demikian, andaikata benar di antara tuan-tuan ada yang bekerja sama dengan musuh, dalam waktu singkat ini juga tidak dapat menyampaikan kabar kepada pihak lawan, yang siaote maksudkan dengan dua sebab tadi adalah: apabila musuh kita mengirim mata-mata di dalam golongan kita, maka mata-mata itu kemungkinan besar berada di samping Pangcu.”

Koan Sam Seng berkata:

“Di samping Pangcu katamu, ini bukankah kau sedang bersenda gurau dengan kita? Sebab orang-orang yang berada di samping Pangcu semuanya sudah lebih dari sepuluh tahun… ” “Dan sebab yang kedua, ialah pihak musuh itu mengandung lain maksud, kebetulan dapat kita kejar… ”

berkata Teng Soan.

Tiat Bok Taysu berkata:

“Menurut pikiran lolap, sebab yang kedua ini kemungkinannya lebih besar.”

Hui Kong Leang berkata sambil menganggukkan kepala: “Siaote juga berpikir demikian.”

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara jeritan orang, kemudian muncul sesosok bayangan orang yang lari mendatangi.

Orang itu adalah seorang laki2 berpakaian biru, orang itu agaknya sudah menggunakan tenaganya yang penghabisan, ketika tiba di tempat itu jalannya sudah sempoyongan.

Auw-yang Thong mengerutkan alisnya, ia berkata kepada Koan Sam Seng dengan suara perlahan:

“Lekas kau bimbing dia.”

Koan Sam Seng menurut, sayang sudah terlambar, laki2 berpakaian biru itu sudah kehabisan tenaganya, hingga jatuh roboh di tanah.

Teng Soan berkata dengan suara nyaring:

“Saudara Koan lekas bawa kemari, lihat masih bisa ditolong atau tidak.”

Koan Sam Seng membawa tubuh orang itu, diletakkan di hadapan Teng Soan.

Tiat Bok Taysu menundukkan kepala untuk melihat keadaan orang itu, yang berusia kira kira empat puluh lebih, wajahnya nampak pucat pasi, napasnya sudah lemah……..

Tiat Bok Taysu lalu bertanya kepada Auw-yang Thong: “Apakah orang ini anak murid dari golongan pengemis?” “Bukan, kalau anak murid golongan kita, siaotee juga tidak

sampai begini terkejut.” menjawab Auw-yang Thong sambil menggeleng kepala.

“Jikalau dia bukan orang golongan pengemis, entah bagaimana dia bisa lolos dari pengawasan anak buah golongan pengemis?” bertanya Hui Kong Leang heran.

“Inilah yang siaotee tidak mengerti……..” menjawab Auw- yang Thong, kemudian mengalihkan pandangan matanya kepada Teng Soan, lalu bertanya:

“Apakah sian-seng kira orang itu masih dapat ditolong?”

Dengan sangat teliti Teng Soan memeriksa keadaan orang itu, kemudian berkata:

“Orang ini meskipun terluka parah, tetapi rasanya masih dapat ditolong, asal ditotok beberapa bagian jalan darahnya, lalu diberi minum sedikit obat, ia akan sadar.”

“Kalau memang benar masih bisa disadarkan, itulah paling baik, harap Teng sian-seng segera bertindak, aku hendak bertanya sedikit keterangan kepadanya.” berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan dari sakunya mengeluarkan botol obat, kemudian berkata kepada Koan Sam Seng:

“Saudara Koan lekas totok jalan darah khie bun hiatnya.”

Koan Sam Seng menurut, ia melakukan seperti yang diminta oleh kawannya.

Teng Soan lalu mengeluarkan sebutir obat pel dan dimasukan ke mulut orang itu.

Tidak lama kemudian laki2 berbaju biru itu yang rebah terlentang di tanah tiba2 menarik napas panjang, kemudian duduk. Auw-yang Thong mengawasi badan orang itu, kemudian bertanya:

“Sahabat siapa?”

Laki2 berbaju biru itu memandang keadaan di sekitarrnya sejenak, baru menjawab:

“Aku seorang she Ang, siapakah di antara tuan2 yang menjadi Pangcu golongan pengemis?”

“Itu adalah aku sendiri, sahabat ingin bertanya apa, katakanlah.” berkata Auw-yang Thong.

Laki2 berbaju biru itu mengawasi Auw-yang Thong sejenak, kemudian berkata:

“Di sini ada sepucuk surat, harap Pangcu terima…   ”

Dengan susah payah ia mengeluarkan sepucak surat dari sakunya, lalu diberikan kepada Auw-yang Thong.

Auw-yang Thong menyambuti surat itu, selagi hendak dibukanya, tiba2 Teng Soan berkata:

“Pangcu, tunggu sebentar, berikan surat itu kepada siaotee.”

Auw-yang Thong berpikir sejenak, lalu menyerahkan suratnya kepada Teng Soan.

Teng Soan setelah menerima surat itu diletakan di atas kipanya, tetapi tidak segera membuka, matanya menatap wajah laki2 berbaju biru, kemudian bertanya:

“Siapakah yang menyuruh kau menyampaikan surat ini kepada Pangcu?”

Laki2 berbaju biru itu balas bertanya sambil tertawa getir: “Bagaimana? Apakah kau mencurigai aku?” “Siapa berkata begitu? Tetapi surat2 untuk Pangcu sebagian besar akulah yang membukanya, kali ini sudah tentu tidak terkecuali.” berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Baiklah, siapapun yang membacanya itu sama saja asal aku menyampaikan surat itu ke tangan Pangcu, itu berarti bahwa maksud kedatanganku ini sudah tercapai, siapa di antara kalian yang membuka surat ini, tidak menjadi soal, juga tidak halangan bagiku.”

Tiba-tiba ia membalikkan badannya dan berlalu. Koan Sam Seng lalu berkata:

“Bagus sekali. Kau sudah datang apakah hendak berlalu begitu saja? Mana begitu enak.”

Ia segera mengejar dengan tindakan lebar.

Teng Soan segera mencegah dan membiarkan orang itu pergi.

Setelah orang itu menghilang dari depan mata, Teng Soan baru berkata:

“Kita harus berjaga-jaga terhadap siapa saja.”

Auw-yang Thong menyambut surat dari tangan Teng Soan, sehabis membaca wajahnya mendadak berobah.

Teng Soan sudah menduga bahwa surat itu pasti mengandung urusan yang mengejutkan, maka ketika menyaksikan wajah Pangcu yang berobah, ia tidak merasa heran.

Hanya Tiat Bok dan Ki Bok Taysu yang menyaksikan itu, hatinya merasa tidak tenang.

Tiat Bok Taysu bertanya dengan suara perlahan: “Apakah Pangcu merasa kurang enak?” Auw-yang Thong tidak menjawab, setelah pikirannya mulai tenang, lalu memasukan surat itu ke dalam sakunya.

Teng Soan sebetulnya juga ingin mengetahui isi surat itu, tetapi ta tidak berani mengatakan maksudnya kepada Auw- yang Thong, hanya di dalam hatinya diam-diam berpikir: Di waktu yang lalu Pangcu apabila menjumpai sesuatu urusan, selalu berunding denganku, kali ini apa sebabnya ia tidak mau menyerahkan surat itu kepadaku?

Karena tidak dijawab pertanyaannya Tiat Bok Taysu merasa heran, sambil mengerutkan alisnya ia mengulangi pertanyaannya lagi.

Auw-yang Thong seolah-olah baru tersadar dari mimpinya, segera menjawabnya:

“Siaotee baik baik saja, terima kasih atas perhatian taysu.” Teng Soan tersenyum, kemudian berkata kepada Tiat Bok

Taysu:

“Losiansu kapan kiranya hendak pulang?”

Orang she Teng itu sudah menyaksikan bahwa Tiat Bok Taysu agaknya sudah timbul perasaan curiganya terhadap perobahan sikap Auw-yang Thong tadi, maka cepat-cepat mengalihkan perhatiannya ke lain soal.

“Tentang ini masih belum bisa ditetapkan, karena lolap berdua diutus turun gunnung untuk menyelidiki sebab musabab kematian Pan Lo Enghiong, satu hari lolap belum berhasil menyelidiki soal itu, sudah tentu tidak ada muka untuk kembali.” berkata Tiat Bok Taysu.

“Tentang kematiaan   Pan   Lo   Enghiong,   sekarang   ini

agaknya sudah merupakan satu rahasia besar dalam dunia Kang-ouw, satu-satunya jalan untuk mengadakan penyelidikan, hanya turun tangan kepada gadis berbaju putih itu… ” berkata Teng Soan. “Keadaannya memang begitu, tidak dapat memeriksa sebab musababnya, terpaksa kita harus berusaha untuk membawanya pulang ke kuil.”

Pada saat itu Ciu Tay Cee telah kembali dengan membawa dua puluh orang anak buah golongan pengemis yang masing2 membawa dua macam senjata, dari sikap orang2 itu setiap orang agaknya mendapat latihan khusus.

Orang2 itu berhenti sejarak empat lima tombak di mana Pangcunya berkumpul.

Ciu Tay Cie segera memberi hormat dan berkata kepada Auw-yang Thong:

“Perintah Pangcu hamba sudah jalankan, sekarang dua puluh dari antara pasukan berani mati itu sudah ada di sini, harap Pangcu memberikan perintah selanjutnya.”

Auw-yang Thong yang saat itu sudah pulih dalam keadaan biasa, lalu berkata:

“Biarlah mereka beristirahat sebentar dulu.”

Ciu Tay Cie selagi hendak berlalu, Auw-yang Thong tiba2 seperti ingat sesuatu, ia suruh Ciu Tay Cie balik kembali.

Ciu Tay Cie kembali seraya bertanya:

“Pangcu masih ada perintah apa?”

“Bagaimana keadaannya kapal besar itu?” bertanya Auw- yang Thong.

“Masih tetap sama, perahu kecil yang berada di depan kapal besar itu, juga masih terjaga oleh orang, kapal besar itu masih belum ada tanda2 hendak berlayar.”

“Apakah perahu2 kecil kita itu masih tetap menjaga dan mengawasi kapal besar itu?”

“Sebelum mendapat perintah dari Pangcu, sudah tentu mereka tidak berani mengundurkan diri.” Auw-yang Thong mengibaskan tangannya, Ciu Tay Cie lalu berlalu.

Tiat Bok Taysu berpaling dan berkata kepada Teng Soan: “Keadaan pada dewasa ini, nampaknya merupakan suatu

ketenangan sebelum badai tiba, apabila bala bantuan itu tiba, kalian yang sudah mengerahkan pasukan berani mati, apabila terjadi pertempuran pasti sengit sekali…….. menurut pikiran lolap, sebelum bala bantuan musuh itu tiba, kita bertindak lebih dulu, entah bagaimana pikiran sian-seng?”

“Apabila losiansu sudah mempunyai rencana, sudah tentu siaotee tidak berani menghalangi.” Berkata Teng Soan.

“Lolap pikir hendak pergi ke tepi sungai untuk memeriksa gerak geriknya kapal besar itu, kemudian barulah kita bertindak!”

Auw-yang Thong mengawasi Teng Soan sejenak, kemudian berkata:

“Sian-seng ”

Teng Soan tidak menunggu sampai Auw-yang Thong melanjutkan perkataannya, sudah dipotong:

“Sekarang ini bala bantuan musuh yang kuat sudah akan tiba, apabila ditunggu lagi, belum tentu menguntungkan bagi kita, apabila kedua taysu mengharap dapat menundukan gadis berbaju putih itu dengan menggunakan kekuatan dan kepandaian, juga merupakan salah satu rencana yang baik!”

Auw-yang Thong mendengar keterangan Teng Soan itu, sudah tentu tidak mencegah tindakan Tiat Bok Taysu.

Tiat Bok Taysu berkata kepada Teng Soan:

“Perintah ketua kuil kita keras sekali, apabila gadis berbaju putih itu lolos, dan lolap berdua kembali ke gereja dengan tangan kosong, sebetulnya sulit bagi lolap untuk memberikan tanggung jawabnya kepada ketua kita, mungkin tindakan lolap ini agak terburu napsu, sehingga mempengaruhi seluruh rencana Sian-seng, tetapi karena keadaan memaksa, harap sian-seng sudi memaafkan.”

Sehabis berkata demikian, paderi itu berjalan menuju ke tepi sungai.

Hui Kong Leang lalu berkata:

“Siaotee dengan Tiat Bok dan Ki Bok Taysu bersahabat sudah beberapa puluh tahun, seharusnya membantu mereka.”

“Silahkan,” berkata Teng Soan sambil tertawa.

Hui Kong Leang segera menyusul Tiat Bok dan Ki Bok Taysu.

Selagi Auw-yang Thong hendak memerintahkan beberapa anak buahnya yang kuat untuk membantu Tiat Bok Taysu bertiga, telah dicegah oleh Teng Soan.

Setelah tiga orang itu pergi jauh, Teng Soan baru berkata sambil menghela napas perlahan:

“Dua paderi dari Siauw-lim-sie itu lekas ingin turun tangan kepada lawannya tidak lain karena khawatir kita bertindak lebih dahulu, sebab kalau hal itu terjadi, sudah tentu mereka tidak enak untuk minta kita menyerahkan gadis berbaju putih itu dibawa pulang ke kuil Siao-lim-sie.”

Ia berpikir sejenak sambil mengawasi Auw-yang Thong, kemudian berkata pula:

“Dan soal yang lain, Pangcu tadi setelah membaca surat dari laki2 berbaju biru, sikap Pangcu telah berubah, hal ini juga membuat mereka merasa tidak enak, dengan kedudukan Pangcu di dalam rimba persilatan, sampai sikapnya berubah demikian rupa setelah membaca surat itu tadi, sudah tentu kita tidak dapat menyalahkan orang lain yang timbul dugaan bukan2.” Auw-yang Thong menarik napas perlahan, ia hendak menyatakan sesuatu tetapi kemudian dibatalkan.

Mata Teng Soan sangat tajam, menyaksikan keadaan Pangcunya, segera mengetahui bahwa dalam hati Pangcu itu sedang menderita hebat, maka ia lalu mengalihkan pembicaraannya ke lain soal:

“Paderi Siao-lim-sie itu bertindak lebih dahulu, agaknya sudah bertekad hendak menjatuhkan lawannya, apakah Pangcu bermaksud membantu mereka? Harap supaya lekas mengambil keputusan.”

Semangat Auw-yang Thong terbangun, seketika bertanya: “Sekalipun gadis itu tertangkap lebih dahulu oleh paderi

Siao-lim-sie itu, kita juga tidak boleh tidak memberi bantuan.”

“Tentang ini Pangcu tidak usah khawatir, sekalipun paderi Siao-lim-sie dapat manangkap gadis berbaju putih itu, mereka juga akan menyerahkan lebih dulu kepada kita, setlah minta Pangcu periksa lebih baru dibawa pergi… tetapi

kemungkinan mereka akan gagal dalam usahanya untuk menangkap gadis itu.” berkata Teng Soan.

“Tiat Bok dan Ki Bok Taysu adalah orang-orang terkuat dalam kuil Siao-lim-sie pada saat ini, bukan hanya di dalam golongan Siao-lim-sie saja, tetapi di dalam golongan rimba persilatan juga termasuk orang kuat golongan nomor satu, begitu juga dengan Hui Kong Leang, namanya sudah terkenal pada beberapa puluh tahun berselang, tadi ketika bertempur dengan orangnya gadis itu, agaknya belum menggunakan tenaga sepenuhnya, apabila mereka bertiga menggunakan tenaga sepenuhnya, rasanya tidak mungkin mendapat kekalahan.”

“Pandangan Pangcu, sudah tentu ada betulnya, tetapi agak berbeda dengan pandangan siaotee terlepas prihal kepandaian orangnya gadis berbaju putih itu, hanya kepandaian dua jago pedang Ceng Sia Pay dan pemuda bermuka kuning serta pemuda yang mirip dengan monyet itu, sudah cukup membuat Tiat Bok, Ki Bok dan hui Kong Leang susah menghadapinya… ”

“Tiat Bok Taysu ingin lekas-lekas menangkap gadis itu untuk dibawa pulang, ia juga khawatir gadis itu terjatuh di tangan kita, maka ia hendak bertindak lebih dahulu, namun demikian bagi rencana kita juga tidak membawa akibat apa apa, malah ada kemungkinan membantu usaha kita, tetapi apabila Pangcu sudah berkeputusan hendak membantu mereka, sebaiknya mengutus beberapa anak buah kita yang kuat naik ke atas kapal, bukan saja dapat menjaga persahabatan kita dengan Siao-lim-sie, tetapi juga sudah terhitung turut bertempur, seandainya kepandaian Tiat Bok dan Ki Bok sedemikian tinggi di luar perhitungan kita dan berhasil menangkap gadis itu, kitapun berhak turut mengadakan pemeriksaan ”

“Sian-seng benar, mari kita pergi lihat.”

Auw-yang Thong berjalan lebih dulu diikuti oleh Teng Soan, Koan Sam Seng, Ong Khian, Ciu Tay Cie dan lain-lainnya.

Tiba di tepi sungai, pertempuran sudah berlangsung.

Tiat Bok dan Ki Bok Taysu sudah berhasil meliwati perahu kecil, kini sedang bertempur dengan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay di atas kapal.

Yang ditugaskan untuk menjaga di perahu kecil itu bukan pemuda bermuka kuning itu yang sudah diganti dengan Touw Thian Gouw, yang saat itu sedang bertempur sengit dengan Hui Kong Leang, sedangkan pemuda bermuka kuning dan pemuda seperti monyet tidak tampak sama sekali.

Dua pemuda itu dalam mata Teng Soan merupakan orang- orang yang sangat misterius, juga merupakan orang yang paling menarik perhatiannya Touw Thian Gouw nampaknya bukan tandingan Hui Kong Leang, serangannya mulai kendor, sebaliknya dengan Hui Kong Leang, nampaknya semakin gagah.

Auw-yang Thong yang menyaksikan jalannya pertempuran itu, bertanya kepada Teng Soan dengan suara perlahan:

“Apakah kita perlu kirim orang untuk membantu?”

“Harap saudara Koan pergi sebentar!” berkata Teng Soan sambil tertawa.

“Aku harus bantu kepada siapa, dua jago pedang dari Ceng Sia Pay sedang bertempur sengit dengan Tiat Bok dan Ki Bok Taysu, keadaannya tampak seimbang, sulit baginya untuk turun tangan, Hui Kong Leang sudah berhasil menguasai keadaan, dalam seratus jurus pasti dapat mengalahkan lawannya, kalau aku pergi membantu, bukankah dianggap hendak merebut kepala orang……..?” berkata Koan Sam Seng sambil tersenyum.

“Kau pergi saja, begitu tiba di dalam perahu, pasti akan ada orang yang menyambut.”

“O ya! Jikalau kita tidak turun tangan, pihak manapun yang akan menang, kita tidak mendapat bagian untuk mencampur tangan.”

“Ini hanya merupakan salah satu sebab saja.”

Koan Sam Seng tidak menantikan keterangannya lebih jauh, sudah lompat meleset ke dalam perahu.

Benar saja ketika ia tiba di dalam perahu sesosok bayangan orang melayang turun dari atas kapal sambil melancarkan serangan terhadap dirinya.

Koan Sam Seng menyambut dengan tangannya, ia merasakan serangan itu hehat sekali, dengan cepat balas menyerang dengan lain tangamnya, tidak mengijinkan orang itu tancap kaki. Orang itu mengenjot kakinya, badannya tiba2 meleset tinggi ke atas, untuk menghindarkan serangan Koan Sam Seng, kemudian melayang turun lagi dengan cepat.

Kini Koan Sam Seng baru mengetahui bahwa orang yang menyerangnya itu adalah pemuda bermuka kuning yang tadi ditugaskan menjaga di perahu kecil itu, dalam terkejutnya ia berpikir: Kepandaian orang ini, di antara orang-orang gadis

itu, nampaknya ia yang paling tinggi, tetapi ia baru muncul dalam dunia Kang-ouw, sekalipun dapat menangkan dirinya juga kurang pantas, tetapi kalau kalah namaku akan rusak. Selagi masih dalam berpikir pemuda itu sudah turun tangan.

Koan Sam Seng dengan menggunakan ilmu Kin-na-thjiu- hoat hendak menyambar tangan pemuda itu.

Pemuda itu bukan lain dari pada Siang-koan Kie, ketika tangannya hendak disambar oleh Koan Sam Seng, lalu memutar badannya mengelakkan serangan tersebut, kemudian balas menyerang dengan kedua tangannya.

Serangan itu sangat berlainan dengan serangan biasa, nampaknya seenaknya saja, tetapi ternyata luar biasa cepatnya, dalam waktu sebentar, dengan beruntun sudah melancarkan sampai dua puluh kali.

Koan Sam Seng agaknya dibuat repot oleh serangan cepat Siang-koan Kie, diserang demikian gencar ia tidak bisa membalas samasekali.

Auw-yang Thong yang menyaksikan itu menarik napas perlahan, kemudian berkata kepada Teng Soan:

“Pemuda bermuka kuning itu, kepandaiannya sangat aneh susah untuk diduga, Koan Sam Seng barangkali bukan tandingannya………”

Tiba-tiba terdengar suara Ciu Tay Cie yang berkata: “Pangcu, kita telah berhasil menangkap seorang mata- mata.”

Auw-yang Thong berpaling, ia dapat melihat seorang laki laki berbaju biru dengan dikawal oleh dua orang anak buah golongan pengemis, berdiri sejarak dua tombak untuk menunggu perintahnya.

Teng Soan melihat sekilas saja, sudah dapat mengenali bahwa laki2 berbaju biru itu, adalah orang yang tadi telah mengantarkan surat itu, ia agak terkejut, tetapi diam2 memperhatikan bagaimana Auw-yang Thong hendak membereskan soal itu.

Terdengar suara Auw-yang Thong berkata:

“Ia sudah terluka parah bagian dalamnya, tidak boleh berdiam di sini, bawalah dia ke tempat yang lebih aman, supaya ia bisa istirahat dulu………”

“Dibawa ke mana?” bertanya Ciu Tay Cie.

“Pek Kong Po masih belum pulang, kau saja yang pergi mengantar! Kalau ia suka tinggal kalian jangan banyak bertanya tentang asal usulnya, kalau ia hendak pergi, jangan dirintangi.”

Ciu Tay Cie tercengang, ia berkata sambil menghela napas: “Demikian Pangcu pesan, demikian pula hamba lakukan.”

Terang bahwa sipengawal besi itu merasa bingung atas sikap Auw-yang Thong terhadap lawannya itu.

Teng Soan bertanya sambil mengerutkan alisnya: “Apakah Pangcu kenal dengan laki2 berbaju biru tadi?”

“Mata sian-seng sangat tajam, mungkin sudah dapat lihat dalam hal ini ada apa2nya, tentang lelaki berbaju biru itu meskipun aku tidak kenal, tetapi orang yang menyuruh mengantarkan surat itu, adalah sahabat lamaku yang sudah beberapa   tahun    aku   tidak   bertemu    dengannya…    ”

menjawab Auw-yang Thong sambil menghela napas perlahan.

Teng Soan yang menyaksikan sikap Pangcunya, tidak berani menanya lebih lanjut.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara seruan Hui Kong Leang: “Saudara Touw terimakasih.”

Ternyata Hui Kong Leang yang hendak menyambar senjata pecut dari tangan Touw Thian Gouw, tangan lain digunakan untuk membabat.

Touw Thian Gouw agaknya merasa sulit untuk mengelakan serangan itu, ia terpaksa melepaskan senjatanya dan melompat ke samping.

Hui Kong Leang yang sudah berhasil merebut senjata pecut dengan tangan kirinya, jari tangan kanannya menotok jalan darah di pundaknya Touw Thian Gouw.

Touw Thian Gouw bukan saja tak menyingkir, malah menyongsong serangan itu.

Hui Kong Leang terkejut, pikirnya: Serangan itu terang dapat dielakkan, mengapa ia sengaja menyambutnya, apakah ia mengandalkan hebatnya tenaga dalamnya.

Karena berpikiran demikian, serangannya juga agak perlahan, sementara itu Touw Thian Gouw lalu mengeluarkan seruan perlahan, badannya roboh di tanah.

Hui Kong Leang mengerutkan alisnya dalam hati berpikir: Orang ini pandai berlagak, sudah terang seranganku tadi tidak menyentuh dirinya, mengapa ia roboh.

Tiba2 suatu pikiran terlintas dalam otaknya, tindakan Touw Thian Gouw itu sudah tentu sengaja mengalah, maka ia mengeluarkan seruan demikian dan terus lompat melesat ke atas kapal. Pada saat itu Tiat Bok dan Ki Bok Taysu sedang melawan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay dengan menggunakan tangan kosong, meskipun tidak kalah tetapi juga belum begitu kuat kedudukannya, dua jago pedang itu bekerja sangat rapih, sehingga agak sulit untuk mencari lowongan dari mereka.

Ketika Hui Kong Leang berada di atas kapal, segera berkata dengan suara nyaring:

“Pada saat seperti ini, taysu berdua ternyata masih berpikir tentang sayang sehingga tidak mau menggunakan senjata.”

Sementara itu ia sudah menyerang kepada dua jago pedang itu dengan senjata pecutnya.

Pecut yang lemas itu segera melibat dua bilah pedang kedua jago pedang itu.

Dua jago pedang dari Ceng Sia Pay itu agaknya tidak menduga kekuatan tenaga Hui Kong Leang itu sedemikian hebat, ketika pedang mereka dilibat, keduanya menggetarkan tangannya dengan berbareng untuk membebaskan pedangnya dari libatan itu.

Meskipun usahanya itu berhasil, tetapi dengan demikian telah memperlambat serangan pedangnya.

Apabila Tiat Bok dan Ki Bok Taysu berhati kejam, pada saat itu sebetulnya dapat menggunakan kesempatan itu untuk melukai kedua lawannya, tetapi karena dua paderi itu berhati baik, sehingga kesempatan kesempatan itu dilewatkan begitu saja.

Kekuatan tenaga dalam Hui Kong Leang sudah sempurna, tetapi juga tidak berhasil menahan gentakan dua jago pedang itu, setelah dua pedang itu terlepas dari libatan pecutnya, tangannya merasa kesemutan.

Ia berbuat demikian tadi, sebetulnya hendak memberi kesempatan kepada Tiat Bok dan Ki Bok, untuk menjatuhkan lawannya, di luar dukaannya, dua paderi tua itu ternyata berdiri tidak bergerak, hingga amarahnya lalu meluap, sambil memperdengarkan suara tertawa dingin ia berkata:

“Taysu, jikalau kalian masih mempunyai pikiran kasih sayang seharusnya berdiam di kuil membaca kitab suci, jangan mencampuri urusan ini, apakah maksud taysu berdua terjun ke dunia Kang-ouw hanya untuk menyebar kasih sayang kalian?”

Tiba2 terdengar suara seorang wanita yang merdu tetapi dingin:

“Kau jangam mecampuri urusan orang lain     ”

Hui Kong Leang berpaling, segera dapat melihat seorang gadis berbaju putih berdiri di dekatnya dengan tangan membawa sebilah pedang panjang.

“Kalau kau merasa penasaran, mari kita coba2 beberapa jurus.” demikian gadis berbaju putih itu berkata pula.

“Nona ingin bertempur dengan aku, sebaiknya kita berkelahi sampai ada salah satu yang kalah.” jawab Hui Kong Leang dingin.

“Jangan ada orang lain yang turut membantu, nonamu suka sekali mengiringi kehendakmu.”

“Tempat ini terlalu sempit, juga sudah digunakan oleh dua jago pedang dari Ceng Sia Pay yang bertempur dengan dua paderi Siao-lim-sie, kalau nona senang, mari kita mencari keputusan di pantai.”

Gadis itu tiba2 tertawa ter-kekeh2, kemudian berkata: “Apakah kau hendak pancing aku ke darat?”

“Di atas kapal ini terlalu sempit, tidak leluasa untuk kita bertempur.”

Gadis itu mendongak mengawasi dua batang tiang layar yang menjulang tinggi, kemudian bertanya: “Hui Kong Leang, bagaimana dengan ilmumu meringankan tubuh?”

“Barangkali tidak kalah olehmu.”

“Itu bagus, di atas geladak sudah ada orang bertempur, tetapi di atas tiang ini keadaannya sangat luas dan bebas, bagaimana kalau kita bertempur di atas tiang layar ini?”

Hui Kong Leang mendongakkan kepala mengawasi tiang yang menjulang tinggi itu, katanya kepada dirinya sendiri: Pecut yang kurebut dari tangan Touw Thian Gouw sekarang ternyata ada gunanya.

Ia segera berkata sambil tertawa ter-bahak2:

“Cara pertempuran yang kau usulkan ini benar benar agak luar biasa.

Ia segera lompat melesat lebih dulu ke atas tiang.

Gadis itu juga segera menyusul, tangan kiri menyambar tambang layar, badannya bergelantungan di tengah udara, dengan cara demikianlah pedangnya digunakan untuk menikam Hui Kong Leang.Hui Kong Leang dengan tangan kiri memeluk tiang, sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya badannya melesat ke atas untuk mengelakkan serangan pedang gadis itu, kemudian balas menyerang dengan pecutnya.

Gadis itu kakinya menjejak tiang, badannya kembali bergelantungan di tengah udara menghindarkan serangan Hui Kong Leang.

Dalam segebrakan itu, gadis itu sudah merasa bahwa dirinya terlalu dirugikan, sebab senjata pecut di tangan Hui Kong Leang yang panjangnya lebih dari delapan kaki, dapat digunakan dengan leluasa, sedang pedangnya sendiri tidak lebih dari tujuh kaki, dengan demikian ia merasa repot untuk melayani senjata orang she Hui itu. -odwo-

Bab 39

TETAPI gadis itu mau tidak mau harus menggunakan tambang tiang layar untuk bergelantungan.

Hui Kong Leang juga pada saat itu mengetahui bahwa ia sendiri berada dalam posisi yang menguntungkan, juga membuktikan bahwa pikirannya itu telah tenang, maka ia tidak mau melepaskan kesempatan baik itu, pecutnya menyerang bertubi-tubi.

Gadis itu kecuali menggunakan pedangnya untuk menangkis, kebanyakan menggunakan tambang untuk bergelantungan ke sana ke mari, menghindarkan serangan Hui Kong Leang.

Hui Kong Leang yang menyaksikan caranya gadis itu beterbangan bagaikan kupu2, pikirannya lalu bekerja: Apabila aku memutuskan tambangnya kemudian menyerang dirinya, mungkin ia tidak keburu mengelakkan diri.

Pikiran itu lalu dilaksanakannya dengan segera.

Gadis itu meskipun mempunyai kecerdikan luar biasa, tetapi pengalamannya dalam kalangan Kang-ouw masih kurang, apalagi serangan Hui Kong Leang dilakukan dengan gencar tanpa berhenti, sehingga ia tidak mendapat kesempatan untuk berpikir.

Sebentar kemudian, pecut Hui Kong Leang sudah menyerang tambang yang diguuakan oleh gadis itu untuk bergelantungan.

Hui Kong Leang telah berhasil dengan serangannya itu, pecutnya segera disentak. Gadis itu yang tertarik oleh pecut Hui Kong Leang, tubuhnya mendadak terbang keluar.

Tetapi gadis itu dengan cepat melesat ke atas tiang, dengan menggunakan ilmu memberatkan badan, hingga tiang yang diinjak itu mengeluarkan suara keretekan hampir tidak dapat menahan berat badanuya.

Hui Kong Leang menarik kembali pecutnya, digunakan lagi untuk menyerang gadis itu.

Gadis itu meskipun sudah tahu bahwa pedangnya itu merupakan satu kesulitan baginya, tetapi karena ia beradat tinggi dan terlalu mengandalkan kepandaianya sendiri, apalagi pertempuran di atas tiang itu adalah ia sendiri yang mengusulkan, sudah tentu ia tidak mau menarik kembali usul sendiri.

Ketika pecut Hui Kong Leang mengancam dirinya, ia terpaksa gertek gigi, pedang diputar demikian rapat untuk melindungi dirinya.

Beberapa kali terdengar suara nyaring karena beradunya dua senjata itu, sementara itu badan gadis itu kembali melayang ke lain tiang.

Kiranya dua orang itu telah mengadu kekuatan tenaga dalam di atas senjata masing2, ketika beradu tadi rnenimhulkan perasaan hebat, tangan kanan Hui Kong Leang yang menggenggam pecut merasa kesemutan, tangan kiri yang memeluk tiang, sudah juga merasa berat, hingga diam2 ia juga memuji kekuatan tenaga dalam gadis itu.

Gadis itu biarpun kepandaiannya sangat tinggi, tetapi kekuatan tenaga dalamnya masih tidak dapat dibandingkan dengan Hui Kong Leang, dengan cara mengadu kekuatan secara demikian, sudah tentu sangat merugikan dirinya, untung ia memegangi tambang sehingga dapat digunakan untuk bergelantungan. Hui Kong Leang yang menyaksikan mengalirnya air sungai, dalam otaknya tiba2 terlintas satu pikiran baru, ia tidak tahu apakah gadis itu pandai berenang atau tidak, apabila ia tidak pandai berenang, ia aken memutuskan tambang yang digunakan oleh gadis itu, supaya ia terlempar ke dalam air, dengan demikian agak mudah menangkapnya.

Selagi berpikir, gadis itu kembali sudah melayang dengan caranya yang semula, sambil melancarkan serangan dengan pedangnya.

Karena ancaman serangan gadis itu terlalu dekat hingga pecutnya tidak berguna lagi.

Keadaan memaksa Hui Kong Leang melepaskan tangan kirinya yang memeluk tiang, sedang kaki kiri menginjak tiang dan badannya meleset untuk menghindarkan serangan pedang gadis itu, tangan kirinya menyambar sebuah tambang.

Karena ia menggunakan tenaga terlalu kuat, hingga melayang tubuhnya hampir lurus dengan tiang.

Tambang itu panjangnya kira2 tiga tombak, dengan cara melayang demikian, badan Hui Kong Leang se-olah2 sedang meluncur ke dalam sungai.

Pada saat itu, apabila gadis itu menabas tambang yang dipegangi oleh Hui Kong Leang, Hui Kong Leang pasti terlempar ke dalam sungai.

Tetapi ia tidak berbuat demikian, hanya menggunakan kaki kirinya menginjak tiang dan badannya melayang ke belakang.

Ini adalah semacam pertempuran dahsyat luar biasa, kedua pihak sama2 menggunakan tambang dan tiang layar, masing2 saling menyerang dengan senjatanya.

Setelah masing2 memperbaiki kedudukannya sendiri, pertempuran dimulai lagi, kali ini karena sudah mendapat pengalaman dalam pertempuran yang pertama, kedua pihak sangat hati2, pertempuran berjalan sehingga duapuluh jurus lebih, nampak masih seru. Hui Kong Leang diam2 merasa cemas, sebab pertempuran secara demikian entah memakan waktu berapa lama baru dapat diselesaikan.

Ia lalu mengerahkan seluruh kekuatannya, selagi hendak melancarkan serangannya, tiba2 gadis itu melayang menjauhi dirinya.

Kiranya selama pertempuran berlangsung itu, gadis itu juga sudah memikirkan caranya untuk menjatuhkan lawannya, dengan menggunakan kelincahan tubuhnya ia selalu melayang menjauhi musuhnya.

Hui Kong Leang sudah banyak pengalaman, melihat sikap gadis itu, sudah mengetahui bahwa gadis itu pasti sudah mendapat pikiran untuk menghadapi dirinya, maka ia lalu memberatkan badannya, menghentikan gerakannya untuk menantikan tindakan gadis itu.

Badan gadis itu yang bergelantungan telah melayang mendatangi, ketika berada sejarak kira2 satu tombak dengan Hui Kong Leang, tiba2 melepaskan tangan kirinya, dan terus menyerbu.

Hui Kong Leang tidak menduga gadis itu melepaskan tangannya yang berpegangan dengan tambang dan menyerbunya secara nekad, dalam terkejutnya, ia menggunakan pecutnya untuk menyerang gadis itu, tetapi gadis itu agaknya sudah siap, pedang di tangannya diangkat lempang ke dada, agaknya sedikitpun tidak takut terhadap serangan senjata lawannya, ia menunggu sampai pecut itu sudah dekat di depan dadanya, tiba-tiba menangkis dengan pedangnya.

Tangkisan itu agaknya menggunakan tenaga sepenuhnya, karena setelah dua senjata saling beradu, badan gadis itu tiba-tiba melesat setinggi sembilan kaki, dan kakinya menayambar tambamg. Sewaktu Hui Kong Leang menyadari perbuatan gadis itu, ia berusaha hendak merintangi, tetapi sudah terlambat, gadis itu kembali sudah bergelantungan di tambangnya lagi.

Pada saat itu, dua orang sama-sama bergelantungan di atas tambang.

Tubuh gadis itu memutar dengan kepala di bawah dan kaki di atas, ia menggunakan kedua kaki untuk berpegangan dengan tambang, kedua tangannya digunakan untuk melancarkan serangan.

Karena dua orang berada sama-sama di atas satu tambang, keadaan pertempuran segera berubah, kini gadis itu berada di atas Hui Kong Leang oleh karena jaraknya terlalu dekat, senjata pecut Hui Kong Leang malah tidak dapat digunakan dengan leluasa, sehingga terdesak oleh serangan gadis itu dan terpaksa merosot turun.

Di lain pihak Koan Sam Seng yang sedang bertempur dengan Siang-koan Kie di atas perahu kecil, sudah nampak siapa yang unggul dan siapa yang kalah, Siang-koan Kie sebetulnya sudah unggul dan Koan Sam Seng sudah hampir jatuh.

Di luar dugaan selagi Siang-koan Kie sudah mendekati kemenangannya, belakang lututnya tiba tiba kesemutan, kekuatan tenaganya mendadak lenyap.

Koan Sam Seng rnenggunakan kesempatan itu kepelannya menyerang jalan darah kian-kin-hiat di pundak Siang-koan Kie, sehingga pemuda it roboh di atas perahu.

Kiranya Touw Thian Gouw yang menyaksikan jalannya pertempuran itu, sudah mengetahui bahwa Koan Sam Seng akan roboh, karena pengaruh golongan pengemis besar sekali, apabila Siang-koan Kie melukai Koan Sam Seng, pasti akibatnya menanam bibit permusuhan dengan golongan pengemis, karena Touw Thian Gouw tidak makan obat, pikirannya masih jernih ia meraa gelagat tidak baik maka segera turun tangan dengan diam diam ia menotok jalan darah di belakang lutut Siang-koan Kie.

Demikianlah Siang-koan Kie akhirnya dijatuhkan oleh Koan Sam Seng.

Agak heran Koan Sam Seng mendapat kemenangan itu. Ia mengawasi Siang-koan Kie yang roboh di perahu sejenak, kemudian lompat melesat ke atas kapal.

Auw-yang Thong yang menyaksikan pertempuran dari pantai, dapat menyaksikan semua kejadian itu dengan jelas, Touw Thian Gouw sengaja mengalah pada Hui Kong Leang, dan kemudian membantu kepada Koan Sam Seng secara diam2, perbuatannya itu semua tidak lolos dari matanya, ia lalu berpaling dan berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan:

“Touw Thian Gouw ternyata membantu kita.”

“Pangcu sebaikanai pegang rahasia ini, jangan sampai tersiar,”' berkata Teng Soan.

Semeatara itu Koan Sam Seng yang melompat ke atas kapal sudah disambut kedatangannya oleh lima laki2 berbaju hitam dengan senjata golok besar.

Koan Sam Seng segera melancarkan serangan tanpa banyak bicara, lima orang itu mundur serentak satu langkah untuk menghindarkan serangan Koan Sam Seng, kemudian balas menyerang berbareng dengan senjata masing2.

Koan Sam Seng melompat ke samping mengelakkan serangan yang rapat itu, kemudian dengan kedua tangannya menyerang dua orang yang berada paling dekat dengannya.

Kepandaian Koan Sam Seng meskipun bukan tandingan Siang-koan Kie, tetapi di dalam rimba persilatan sudah tergolong orang kuat nomor satu, untuk menghadapi orang2 semacam itu, sudah tentu tidak dipandang mata, maka sebelum sampai sepuluh jurus, sudah berhasil merobohkan tiga di antaranya, dan berhasil pula merebut sebuah golok dari tangan mereka.

Begitu golok berada di tangannya dengan cepat membereskan dua yang lainnya.

Pada saat itu pertempuran di antara gadis berbaju putih dengan Hui Kong Leang juga sudah memasuki babak penting, gadis berbaju putih yang mendesak dengan serangannya dari jarak dekat, membuat Hui Kong Leang tidak bisa berbuat apa- apa, senjata pecutnya yang semula berguna baginya, kini sebaliknya merupakan rintangan dalam gerakannya.

Oleh karena serangan gadis itu yang demikian gencar dan selalu mengarah bagian penting anggaota badannya, sehingga ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk menukar senjatanya.

Sementara itu Tiat Bok Taysu dan suteenya yang melawau dua jago pedang partai Ceng Sia Pay sudah berhasil mendesak kedua lawannya itu.

Bahkan Ki Bok Taysu sudah berhasil membuat terpental pedang lawannya.

Melihat suteenya berhasil, ia juga terus mendesak lawannya dan merebut pedangnya, kemudian menotok jalan darahnya.

Dua jago pedang itu karena satunya telah terluka, yang lainnya berdiri melongo, hingga dengan mudah ditotok jalan darahnya oleh Ki Bok Taysu dan jatuh.

Setelah menjatuhkan dua lawannya, Tiat Bok Taysu berkata kepada suteenya:

“Kau siap membantu Hui Kong Leang, aku hendak mermeriksa ke dalam kapal ini lebih dulu.” Ki Bok Taysu berjalan ke perahu kecil menyaksikan jalannya pertempuran antara Hui Kong Leang dengan gadis berbaju putih itu.

Pada saat itu Koan Sam Seng sudah berada di pintu kamar dalam kapal, ketika melihat Tiat Bok Taysu hendak masuk, segera lompat menghampiri.

Tiat Bok Taysu berhenti lalu berpaling dan berkata kepada Koan Sam Seng sambil tertawa:

“Saudara Koan silahkan      ”

“Siaotee hanya hendak menjaga pintu untuk losiansu.” menjawab Koan Sam Seng.

Tiat Bok Taysu tidak berkata apa2, ia berjalan masuk ke dalam kapal.

Di sini sudah ada delapan atau sembilan orang berbaju hitam, masing2 berdiri di tempatnya siap menantikan kedatangan musuh.

Pemuda yang mirip dengan monyet itu duduk di belakang sebuah meja sambil bertopang dagu entah apa yang dipikirkan.

Tiat Bok Taysu sudah menyasikan sendiri betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh pemuda itu, sudah tentu tidak berani memandang ringan, ia lalu berkata sambil merangkapkan dua tangannya:

“Lolap di sini mengunjuk hormat.”

Wan Hauw agaknya sedang berpikir keras, ia se-akan2 tidak mendengar perkataan Tiat Bok Taysu tadi.

Tiat Bok Taysu diam2 merasa heran, dengan sangat hati2 ia maju menghampiri.

Orang2 berbaju hitam itu memyaksikan Tiat Bok Taysu lewat di sampingnya juga tidak merintangi, matanya sedikitpun tidak bergerak, sehingga pikirannya semakin heran, ia segera mengulurkan tangan kirinya menyambar salah seorang dari mereka.

Di luar dugaan, orang itu masih tetap berdiri tanpa bergerak, sampaipun Wan Hauw yang duduk di belakang meja itu juga seperti tidak melihat.

Ketika tangan Tiat Bok Taysu menyentuh badan orang itu, baru mengetahui bahwa orang2 itu sudah tertotok jalan darahnya.

Bukan kepalang terkejutnya Tiat Bok Taysu, karena ia merasa heran, entah siapa orangnya yang sanggup menotok jalan darah Wan Hauw yang berkepandaian sangat tinggi itu?

Bukan cuma ia saja, bahkan orang2 yang jumlahnya begitu banyak juga tertotok semua jalan darahnya.

Koan Sam Seng yang berdiri di luar, tiba2 berjalan masuk dengan tindakan lebar, ia berkata sambil tertawa:

“Sekarang inilah saatnya yang paling baik untuk menangkap gadis berbaju putih itu.”

Tiat Bok Taysu dapat kenyataan bahwa orang2 yang tertotok jalan darahnya ini, agaknya sedikitpun tidak merasa takut atau terkejut, hingga pikirannya bertambah heran, tanyanya kepada Koan Sam Seng:

“Ada suatu hal lolap ingin minta keterangan kepada saudara Koan.”

“Apakah losiansu hendak menanyakan orang yang tertotok jalan darahnya ini?” berkata Koan Sam Seng.

“Entah siapa orangnya yang mempunyai kepandaian semacam ini?”

“Itu dilakukan oleh orang golongan kita…   ” “Dilakukan oleh Pangcu saudara Koan, ataukah dua sesepuh golongan pengemis yang datang kemari?”

Koan Sam Seng dalam hati berpikir: Siao-lim-sie agaknya jarang mencari urusan dunia Kang-ouw, tetapi sebetulnya mungkin lebih memperhatikan keadaan rimba persilatan dari pada partai lain, tentang munculnya kembali dua sesepuh kita si gagu dan si tuli, hanya pada baru2 ini saja, entah bagaimana telah diketahui oleh paderi ini?

“Losiansu sungguh tajam pendengarannya.” demikian ia berkata sambil tertawa.

Tiat Bok Taysu agaknya mengetahui telah terlepasan omong, seketika itu hanya tersenyum tidak berkata apa2.

Koan Sam Seng berkata pula:

“Yang menotok jalan darah orang2 ini, meskipun itu perbuatan orang golongan kita, tetapi bukan dilakukan oleh si tuli dan si gagu kedua sesepuh kita itu, juga bukan dilakukan oleh Pangcu kita.”

Tiat Bok Taysu mengawasi Wan Hauw sejenak, kemudian berkata:

“Saudara Koan lihat bagaimana kepandaian pemuda yang mirip dengan monyet itu?”

“Nampaknya tidak di bawah pemuda bermuka kuning itu.” “Hanya kepandaiannya jalan di atas air itu saja, lolap sudah

merasa tidak menempilnya.”

“Oleh karenanya maka losiansu mencurigai keteranganku itu tadi?”

“Demikianlah.”

“Losiansu seharusnya masih ingat penasehat kita Teng Soan pernah kata hendak menggunakan obat berbisa yang bisa membikin mabuk orang, dengan obat itu pula untuk menaklukan orang.”

“Benar, tetapi orang2 ini sudah terang tertotok jalan darahnya.”

“Apabila mereka diberi obat mabuk lebih dulu, sehingga kehilangan daya perlawanannya, kemudian ditotok jalan darahnya, bukankah keadaannya seperti sekarang ini?”

“Oh? Jadi rencana yang Teng Soan hendak jalankan itu kini telah berhasil.”

Koan Sam Seng tersenyum dan berkata: “Demikian siaotee juga pikir.”

“Kalau benar seperti apa yang kita pikir, tetapi mengapa orang yang melepaskan obat berbisa itu tidak tampak?”

Koan Sam Seng yang ditanya juga pikirnya: Orang orang ini tertotok jalan darahnya, terang sudah ada orang datang kemari, mengapa tidak tampak jejaknya.

Ia mengawasi keadaan sekitarnya sejenak, baru berkata: “Mungkin orang itu setelah menotok jalan darah orang

orang ini, lalu berlalu.”

“Tidak peduli siapa, dengan perbuatannya ini membantu banyak dalam usaha kita… ”

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa ringan, kemudian disusul oleh munculnya bayangan orang, dua anak laki laki berusia kira kira empatbelas tahun, berdiri berdampingan di dalam kapal itu.

Dua anak laki laki itu usianya sebaya, pakaiannya juga serupa, waktu mereka tertawa, kelihatan sebaris giginya putih.

Koan Sam Seng yang menyaksikan dua anak itu, agaknya merasa gembira, ia bertanya sambil tersenyum: “Kalian dua setan cilik ini kapan datang kemari?” Anak yang sebelah kiri berkata sambil tertawa: “Kita datang sudah lama.”

“Dua siaosicu ini, tentunya adalah dua anak laki laki kanan kiri yang lolap pernah dengar itu?” bertanya Tiat Bok Taysu.

Anak yang sebelah kanan menjawab sambil tersenyum. “Orang-orang di dunia Kang-ouw sembarangan saja

memberi nama julukan, sama sama manusia mengapa harus

dibeda-bedakan kanan dan kiri? Bukankah begitu losiansu?”

“Sungguh pandai bicara, lolap sesungguhnya sudah lama mendengar nama bear kalian berdua.”

Dua anak laki laki itu saling berpandangan sejenak dan tertawa.

Koan Sam Seng bertanya:

“Apakah orang2 ini kalian yang menotok jalan darahnya?” Anak yang berdiri di sebelah kiri segera menjawab:

“Benar! Kita datang atas perintah Teng-ya, setelah menggunakan obat, lalu memotok jalan darah orang orang ini, sayang gadis berbaju putih itu sudah keburu pergi, sehingga tidak sampai terkena obat kita.”

Tiat Bok Taysu mengawasi Koan Sam Seng sejenak, kemudian berkata:

“Saudara Koan, bagaimana kita harus berbuat terhadap orang orang ini.”

Anak yang berdiri di sebelah kanan berkata:

“Losiansu tidak perlu repot-repot, sewaktu kita mendapat perintah untuk menggunakan obat beracun, juga sudah mendapat perintah dari Teng-ya, barang siapa yang terluka karena obat itu, asal belum binasa, semua harus diserahkan untuk dibawa pergi oleh perahu perahu kecil yang sudah kita sediakan.”

Tiat Bok Taysu tercegang.

“Teng sianseng kemana hendak bawa orang-orang ini?”

Anak yang berdiri di sebelah kiri berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa:

“Hal ini aku tidak tahu lagi, mungkin akan dibawa kemarkas kita di gunung Kun-san, tetapi juga mungkin akan dibawa ke tempat yang sudah disediakan.”

“Perahu-perahu itu sudah menunggu di dekat kapal ini, mari kita lekas bertindak!” demikian sambungnya anak yang berdiri di sebelah kanan.

Anak sebelah kiri itu segera bergerak, dengan kedua tangannya ia mengempit dua orang berbaju hitam dan lari keluar dari dalam kamar, dalam waktu singkat, orang-orang itu termasuk juga Wan Hauw sudah diangkut pergi semua oleh dua anak laki-laki itu tadi.

Tiat Bok Taysu berkata sambil menghela napas perlahan: “Pantas Pangcu kalian begitu menghargai Teng Soan,

benar-benar perhitunganya tidak ada yang meleset.” Koan Sam Seng tersenyum dan berkata:

“Sekarang ini musuh kita sebagian besar sudah tertangkap, asal berhasil menaklukkan gadis berbaju putih itu, maka segala rahasia mengenai orang2 ini, tidak susah untuk dibikin terang.”

“Ucapan saudara Koan benar, biarlah lolap pergi membantu Hui tayhiap!”

Setelah itu ia lalu lari keluar.

Sementara itu Hui Kong Leang masih bertempur sengit dengan gadis berbaju putih dengan cara yang istimewa itu. Tiat Bok Taysu yang menyaksikan itu, segera mengerutkan alisnya, pikirnya: Bertempur cara demikian, entah kapan baru mendapat keputusan, seketika itu ia sudah siap, waktu Hui Kong Leang melayang ke hadapannya, ia lalu berkata dengan suara nyaring:

“Saudara Hui silahkan beristirahat dulu, lolap ingin bertanya.”

Hui Kong Leang melepaskan tangan kirinya melayang turun di samping Tiat Bok Taysu, lalu bertanya:

“Losiansu hendak menanya apa?”

“Musuh-musuh yang tersembunyi dalam kapal, sudah tertangkap oleh Teng Soan dengan menggunakan akal, sekarang di atas kapal besar ini hanya tinggal gadis berbaju putih itu saja.”

Hui Kong Leang terkejut. “Benarkah perkataanmu ini?”

“Lolap telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sesungguhnya memang benar.”

Gadis berbaju putih agaknya juga sudah mendapat pirasat buruk, ia melepaskan pegangannya dan lari masuk ke dalam kapal.

Tiat Bok Taysu mengibaskan lengan jubahnya gerombongan, kemudian melancarkan serangannya kepada gadis itu seraya berkata:

“Nona tidak perlu masuk lagi.”

Gadis itu membalikkan tangan kanannya, dengan dua jari tangan ia balas menotok pergelangan tangan Tiat Bok Taysu seraya berkata:

“Kenapa?” Tiat Bok Taysu menggeser kakinya, badannya bergerak ke kiri, setelah mengelakkan serangan gadis itu tadi, masih tetap berdiri melintang di depan pintu.

Alis gadis berbaju putih itu nampak berdiri, ia berkata dengan suara nyaring:

“Kau menyingkir biarlah aku melihat dulu, baru aku mau percaya perkataanmu.”

“Apabila dalam kapal ada orang tadi ketika mendengar suara jeritanmu, tentunya siang2 sudah keluar untuk menolongmu, berkata Tiat Bok Taysu.

Gadis itu meng-kedip2kan matanya, mendadak bergerak melesat ke atas tiang layar di sebelah kirinya.

Tiat Bok Taysu sejak tadi sudah memberi isyarat kepada Ki Bok dan Hui Kong Leang supaya memperhatikan gerak gerik gadis itu, ketika melihat gadis itu hendak kabur, dua orang itu segera bertindak, masing2 mengeluarkan serangan menyerang padanya.

Gadis berbaju Putih itu nampak hebatnya serangan dua orang itu, tidak berani menyambutinya, ia mengendalikan maju dirinya dirinya dan lompat ke samping.

Tiat Bok Taysu mengibaskan lengan jubah tangan kanannya merintangi perjalanannya gadis itu, kemudian mementang lima jari tangan kirinya, menyambar pundak kiri gadis itu.

Sementara itu Ki Bok Taysu mendadak maju selangkah dan menotok jalan darah di belakang pundak gadis itu, tetapi sebagai seorang terhormat, sebelum melakukan serangan ia telah memberi peringatan dulu:

“Lie sicu, maafkanlah lolap akan berlaku kurang ajar.”

Gadis itu masih berdiri di tempatnya, hanya badannya miring ke samping mengelakkan serangan Ki Bok Taysu, dan kedua tanganmya bergerak dengan serentak, jari tangan digunakan untuk menyerang Tiat Bok Taysu, tangan yang lain digunakan untuk menyerang Ki Bok Taysu.

Tiat Bok Taysu sudah bertekad hendak menangkap hidup gadis itu, mengetahui dirinya diserang, diam2 sudah memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, siap untuk rnenghadapi serangan tersebut, ketika jari tangan gadis itu hendak menyentuh pundaknya, mendadak ia membalikkan tanganya, dengan cepat menyambar pergelangan tangan gadis itu.

Itu adalah salah satu gerak tipu dari ilmu silat simpanan Siao-lim-pay, apabila belum mahir benar kepandaian dan kekuatan tenaga dalamnya, kebanyakan tidak berani menggunakan serangan itu.

Serentak pada saat tangannya menyambar, badannya juga lompat ke samping, untuk mengelakkan serangan totokkan gadis itu.

Serangan Tiat Bok Taysu yang menggunakan gerak tipunya yang luar biasa aneh dan gesitnya itu, orang2 kuat dalam rimba persilatan yang sanggup menghindarkan serangan itu, jumlahnya terlalu sedikit sekali.

Gadis berbaju putih itu meskipun lincah gesit dan cerdik sekali, tetapi masih tidak sanggup mengelakan, ketika ia mengetahui keadaan dirinya telah terancam, ternyata sudah terlambat, pergelangan tangannya dirasakan kesemutan, kekuatan tenaga dalamnya musnah seketika.

Tiat Bok Taysu berkata sambil menghela napas perlahan: “Lie sicu, harap maafkan perbuatan lolap yang kurang

pantas.”

Kemudian ia menotok jalan darah gadis itu.

Koan Sam Seng menyaksikan kejadian itu, lantas berkata sambil memberi hormat dan tertawa: “Kepandaian ilmu silat Siao-lim-sie benar2 bukan nama kosong belaka, kita orang hari ini baru membuka mata.”

“Mana, suatu tindakan untung2an, tidak pantas mendapat pujian demikian tinggi.” berkata Tiat Bok Taysu.

“Taysu tadi dalam keadaan terdesak telah berbalik mendapat kemenangan, perubahan2 setiap gerakan yang taysu lakukan sesungguhnya di luar dugaan orang, hampir setengah dari penghidupanku berkecimpung di dunia Kang- ouw, juga hari ini aku baru menyaksikan kepandaian serupa itu.” berkata Hui Kong Leang yang mengagumi gerak tipu itu.

Tetapi gerak tipu yang digunakan oleh Tiat Bok Taysu itu adalah salah satu ilmu simpanan yang tidak boleh diturunkan kepada orang yang bukan murid Siao-lim-pay, betapapun besar jiwa Tiat Bok, juga tidak berani mengagumkan, meskipun ia mengerti maksud ucapan Hui Kong Leang, tetapi ia juga pura2 tidak mengerti, sambil bersenyum ia berkata:

“Hui tayhiap terlalu memuji.”

Setelah itu ia lalu lompat ke pantai sambil menenteng tubuh gadis itu……..

Kedatangannya itu disambut oleh Auw-yang Thong dan Teng Soan dengan pernyataan selamat.

Pada saat itu, Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie yang mengggeletak di dalam perahu, entah sejak kapan sudah dibawa pergi orang, perahu2 kecil yang ada di sekitar kapal besar, semua juga sudah mengundurkan diri.

Bab 40

TIAT BOK TAYSU meletakkan gadis itu di tanah, kemudian memberi hormat kepada Teng Soan sambil berkata:

“Lolap sesungguhnya merasa sangat kagum atas kepandaian Sianseng.” “Orang yang tiada berguna adalah kaum pelajar, nama taysu sangat kesohor dalam rimba persilatan, mana aku siorang she Teng dapat dibandingkan?” berkata Teng Soan sambil membalas hormat.

Tiat Bok taysu mencari kesana kemari dengan pandangan matanya, tetapi tidak dapat melihat orang2 yang tertangkap itu, hingga dalam hati merasa heran.

Sementara itu Koan Sam Seng dan lain2nya juga sudah pada balik ke pantai.

Teng Soan lalu berkata dengan suara nyaring:

“Orang2 kita yang diutus untuk melakukan penjagaan secara menggelap, telah melaporkan kilat, katanya bala bantuan kuat dari pihak musuh sudah tiba, maka tempat ini tidak tepat bagi kita berdiam lebih lama, mari kita lekas berlalu dari sini!”

Hui Kong Leang tiba2 tertawa dingin dan berkata:

“Dengan cara bagaimana orang2 sian-seng mengetahui kedatangan bala bantuan musuh? Apakah tidak mungkin itu ada orang2 dari sahabat rimba persilatan?”

“Dari tanda2 rahasia yang ditinggalkan oleh mereka, orang2 kita dapat mengetahui gerak gerik mereka……” berkata Teng Soan sambil tertawa, “apalagi perkumpulan kita di daerah Tiong Goan ini sudah beberapa puluh tahun lamanya, bagi sahabat2 rimba persilatan daerah Tiong Goan, asal yang sudah pernah muncul satu atau dua kali saja, kebanyakan kits kenal, tetapi orang2 itu masih asing bagi anak buah kita, hanya berdasarkan ini saja, siaote berani memastikan bahwa orang2 itu pasti adalah orang2nya gadis ini.”

“Hanya berdasar itu saja lantas memastikan bahwa orang datang itu adalah bala bantuan gadis ini, bukankah itu agak gegabah?” berkata Hui Kong Leang. “Memang, hanya berdasar ini saja untuk mengambil keputusan juga ada kemungkinan menimbulkan kekeliruan, tetapi asal kita tidak kebentrok dengan mereka. sekalipun bukan musuh juga tidak akan timmbul salah paham.”

Hui Kong Leang berpikir sejenak baru berkata:

“Orang2 anak buah Sian-seng yang melihat kedatangan orang2 itu, kira2 sudah berapa lama?”

“Kira2 sudah ada setengah jam.”

“Setengah jam berselang anak buah sian-seng melihat musuh datang kemari, lalu memberi lapor, tetapi bala bantuan musuh hingga saat ini masih belum tiba, andaikata benar orang2 itu adalah bala bantuan musuh, juga hanya bangsa2 kantong nasi yang tidak perlu ditakuti.”

Teng Soan mengerti bahwa maksud ucapan Hui Kong Leang itu, memang sengaja hendak mempersulit dirinya, maka diam2 berpikir: Orang ini ber-putar2 hendak mempersulitkan aku, entah apa masudnya?

“Siaotee diam2 sudah mengutus orang untuk merobah tanda2 rahasia yang mereka pasang, sehingga bala bantuan musuh itu pergi menurut arah tanda2 rahasia yang kita robah itu, sudah tentu tidak datang kemari dalam waktu sesingkat ini.” Demikian ia berkata.

Hui Kong Leang melengak, lalu diam.

Teng Soan tiba2 berkata kepada Tiat Bok Taysu:

“Losiansu, bolehkah nona yang losiansu tangkap ini losiansu serahkan kepada kita untuk ditanya beberapa patah kata saja?”

“Lolap besok pagi hendak bawa gadis ini pulang ke kuil Siao-lim-sie, mulai saat ini hingga besok pagi bagaimana sian- seng hendak menanya kepadanya, lolap tidak keberatan.” berkata Tiat Bok Taysu. Auw-yang Thong berkata:

“Itu bisa saja, taysu berdua apabila mempunyai kegembiraan, bagaimana kalau sekarang kita berangkat?”

Tiat Bok Taysu sudah tahu bahwa golongan pengemis ini bukan saja sangat kuat kedudukannya, juga beberapa propinsi daerah Tiong Goan ini, tersebar anak buahnya, mungkin di segala pelosok ada cabangnya, maka ia terima baik usul Pangcu itu.

Auw-yang Thong berjalan lebih dulu mengajak rombongan orang itu meninggalkan pantai.

Berjalan kira kira tujuh delapan pal, rombongan orang- orang itu tiba di sebuah perkampungan.

Auw-yang Thong memperlambat tindakan kakinya, berjalan masuk ke sebuah pintu gerbang.

Tiat Bok Taysu dan lain-lainnya nampak bersangsi, tetapi kemudian ikut masuk.

Itu adalah sebuah tempat yang mempunyai pekarangan luas, setetah memasuki pintu gerbang, di situ terdapat taman bunga yang luas.

Sebuah jalan kecil yang teralas oleh batu-batu putih merupakan jalan satu-satunya dalam taman bunga itu, dengan melalui jalan kecil itu, Auw-yang Thong mengajak mereka masuk ke dalam.

Tiat Bok Taysu berkata kepada suteenya dengan suara sangat perlahan:

“Tempat ini agaknya bukan tempat biasa, kita tidak boleh merusak peraturan rumah tangga orang.”

Ki Bok Taysu menjawab sambil menganggukkan kepala: “Suheng jangan khawatir.”

Hui Kong Leang berkata sambil tertawa dingin: “Mana ada begitu banyak aturan.”

Kiranya Auw-yang Thong jalannya sangat lambat, seolah- olah ada sesuatu yang dikhawatirkan.

Ketika mendengar perkataan Hui Kong Leang Tiat Bok Taysu mengerutkan alisnya, lalu berkata kepada diri sendiri: Auw-yang Thong dengan kedudukannya sebagai Pangcu, berlaku demikian ramah dan merendah terhadap kita, sikap ini sudah jarang dipunyai oleh lain orang. Ucapan Hui Kong Leang ini mungkin akan menyinggung perasaannya.

Namun demikian ia juga tidak dapat mencegah Hui Kong Leang, hingga merasa cemas sendiri.

Sementara itu Auw-yang Thong yang sudah naik ke tangga batu lalu berpaling kepada para tamunya dan berkata:

“Tuan-tuan silahkan naik!”

Tiat Bok Taysu berjalan dengan tindakan lebar sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Taman bunga itu seluruhnya ditanami berjenis-jenis bunga beraneka warna, bangunan yang berdiri terpencil di tengah tengah taman yang sangat luas itu, menimbulkan perasaan heran baginya.

Auw-yang Thong sambil menunjuk meja kursi di dalam taman, berkata sambil tertawa:

“Tuan tuan silahkan duduk.”

Tiat Bok Taysu setelah duduk, bertanya:

“Apakah Pangcu hendak menanyakan gadis ini di sini?” “Tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk memeriksa

orang, apalagi bala bantuan mereka sudah tiba, kalau mereka tidak dapat menemukan pasti bisa datang kemari.” menjawab Auw-yang Thong sambil tersenyum. Hui Kong Leang bungkam, tetapi matanya terus berputaran mengawasi keadaan sekitarnya, agaknya hendak memperhatikan setiap letak barang barang yang ada di situ.

Ki Bok Taysu yang jarang bicara, mendadak bertanya sambil merangkapkan kedua tangannya.

“Tempat ini sesungguhnya bagus sekali, hanya taman bunga ini saja, nampaknya begini luas, pastilah bukan tempat sembarangan.”

“Dugaan taysu sangat jitu, hari ini siaotee hendak memperkenalkan tuan tuan dengan seorang kuat yang sudah lama namanya sangat tersohor di dalam rimba persilatan… ”

berkata Auw-yang Thong sambil tertawa.

Sementara itu seorang pelayan wanita kecil tergesa-gesa berjalan menghampiri rombongan orang orang itu.

Mata Tiat Bok Taysa, Ki Bok Taysu dan Hui Kong Leang ditujukan kepada pelayan itu, pelayan perempuan kecil itu demikian gesit gerakkannya, dalam waktu sekejap saja sudah berada di antara mereka.

Pelayan itu agaknya kenal baik dengan Auw-yang Thong, sambil membongkokkan diri dan tertawa pelayan itu berkata kepada Auw-yang Thong:

“Majikan menyilahkan tuan tuan minum teh di ruang belakang.”

Auw-yang Thong menjawab sambil tertawa: “Terima kasih.”

Ia lalu bangkit dari tempat duduknya. Pelayan itu berkata pula:

“Maaf aku hendak jalan lebih dulu sebagai penunjuk jalan tuan-tuan.” Pelayan itu berjalan keluar dan menuju ke tempat yang banyak terdapat pohon bunga.

Tiat Bok Taysu dan lain-lainnya juga bangkit berjalan di belakang Auw-yang Thong.

Pelayan itu sesudah melalui taman bunga yang luas itu, tiba-tiba membalik ke dalam sebuah rimba lebat.

Di dalarn rimba lebat itu terdapat sebuah jalan yang sempit.”

Pelayan kecil itu berjalan kira2 satu tombak, lalu berhenti di depan sebuah pohon bunga, tangannya bergerak menyambar ke atas pohon, di sini tiba2 terbuka sebuah pintu bundar.

Tiat Bok Taysu yang menyaksikan itu lalu berpikir: Kiranya mereka berdiam di dalam tanah, pantas rumah ini tidak tampak bangunan rumah.

Pelayan kecil itu lebih dulu bergerak masuk ke dalam pintu yang mirip dengan sebuah goa.

Tiat Bok Taysu bertanya sambil mengerutkan alisnya:

“Auw-yang Pangcu, apakah kita juga harus masuk ke dalam gua ini?”

“Di dalam keadaannya sangat luas, tidak nanti losiansu akan merasa tidak enak.” menjawab Auw-yang Thong yang masuk lebih dulu.

Tiat Bok Taysu setelah bersangsi sejenak, lalu mengikuti jejak Auw-yang Thong.

Lubang di bawah tanah itu ternyata ada terdapat tangga yang terus menuju ke bawah.

Hui Kong Leang berkata dengan nada suara dingin: “Tempat ini mirip dengan neraka.” Auw-yang Thong yang ber-ulang2 diejek oleh Hui Kong Leang, merasa agak mendongkol, maka lalu berpaling dan berkata:

“Tempat ini bukanlah daerah kekuasaan kita golongan pengemis, terhadap saudara Hui kita juga tidak mempunyai kewajiban sebagai tuan rumah, apabila saudara Hui tidak suka masuk, silahkan meninggalkan tempat ini.”

Hui Kong Leang berkata:

“Kalau memang bukan tempat kalian golongan pengemis, maka aku hendak datang atau pergi Pangcu juga tidak perlu ambil pusing.”

Tiat Bok Taysu yang tangan kirinya mengempit tubuh gadis berbaju putih, tangan kanannya dengan perlahan nepok punggung Hui Kong Leang seraya berkata:

“Harap saudara Hui suka berlaku sabar.”

Hui Kong Leang mungkin karena anggap memang perbuatannya itu agak keterlaluan, hingga ia mau dengar nasehatnya Tiat Bok Taysu.

Beberapa orang itu setelah melalui suatu jalanan agak panjang, tiba2 merasa bahwa jalanan itu mulai menanjak lagi, Tiat Bok dan Ki Bok Taysu meskipun dalam hati merasa gelisah, tetapi tidak berani bertanya.

Berjalan tidak lama lagi, di depan nampak terang, kemudian terdengar suaranya pelayan perempuan kecil itu:

“Sudah sampai, tuan2 silahkan naik.”

Orang2 itu telah melalui jalanan istimewa itu, kini mereka telah tertegun.

Kiranya di hadapan mereka terdapat tiga buah rumah atap yang sekitarnya dikelilingi oleh pohon tua yang tinggi besar, rumah itu perlengkapannya sangat sederhana, hanya sebuah meja persegi dan beberapa bangku panjang. Dilihat dari luar rumah, hanya tampak daun hijau lebat yang menutupi atap rumah, kalau orang tidak berada di depannya, tidak akan mengetahui di situ ada bangunan rumah.

Di dinding belakang rumah terdapat sebuah jendela, Hui Kong Leang tiba2 menghampiri lubang jendela itu, selagi hendak melongok keluar, daun jendela tiba2 tertutup sendiri.

Kemudian terdengar suara halus yang berkata:

“Harap tuan menghargai diri sendiri, mencuri lihat barang2 di rumah orang, itu bukanlah perbuatan seorang laki laki.”

Hui Kong Leang menoleh ke arah suara itu, di satu sudut dalam rumah itu ada duduk seorang perempuan tua berpakaian compang camping, kedua matanya dipejamkan, sikapnya sangat agung.

Tiat Bok Taysu tiba2 merasa gelagat agak kurang baik, lalu bertanya kepada Auw-yang Thong dengara suara perlahan:

“Auw-yang Pangcu, apakah artinya ini? Di mana sekarang kita berada?”

Auw-yang Pangcu menjawab sambil bersenyum:

“Taysu jangan khawatir, siaotee sedikitpun tiada maksud untuk mencelakakan taysu sekalian.”

Dengan sinar mata gusar Hui Kong Leang mengawasi perempuan itu sejenak, kemudian berkata kepada Auw-yang Thong dengan nada suara dingin:

“Dalam seumur hidupku ini, tidak tahu mengalami berapa banyak kejadian hebat, kalau Auw-yang Pangcu hendak main gila, itu akan ter-sia2 saja.”

“Hui tayhiap terlalu banyak curiga, siaotee kali ini bawa tuan2 kemari, hanya ingin mencari keterangan sesuatu dan meminjam tenaga tuan2, tetapi se-kali2 tidak bermaksud lain………” berkata Auw-yang Thong sambil tertawa. Tiat Bok Taysu berkata:

“Kalau begitu, Pangcu tidak perlu berlaku yang begini misterius lagi… ”

Auw-yang Thong berkata dengan sikap sungguh-suggguh: “Kita sudah datang kemari, apakah masih perlu takut orang

tidak mau menyambut kita? Harap tuan tuan suka berlaku sabar sedikit, sebentar lagi pasti ada orang yang keluar menyambut kita… ”

Belum lagi habis ucapannya, tiba2 terdengar suara pintu terbuka.

Empat perempuan berpakaian berwarna-warni, berjalan masuk dari luar.

Mata Hui Kong Leang terbuka lebar, empat perempuan itu semua berusia tigapuluhan tahun.

Meskipun bukan termasuk perempuan2 yang masih terlalu muda, tetapi dandanannya masih sangat menyolok bagaikan gadis remaja.

Tiat Bok Taysu sebagai seorang beribadat sudah tentu tidak berani mengawasi, dengan cepat memejamkan matanya.

Empat perempuan itu saling berpandangan selalu berdiri di samping dengan sikap yang sangat sopan.

Ki Bok Taysu menyentuh tangan Auw-yang Thong, berkata dengan suara perlahan:

“Tempat apakah ini? Siapakah yang hendak kita jumpai?”

Sebelum Auw-yang Thong menjawab, terdengar pula suara tindakan kaki orang, seorang pertengahan umur berjalan masuk.

Perempuan itu berusia empat puluhan tahun, tetapi masih menampakan bekas2 kecantikannya di masa mudanya, gerak geriknya sangat luwes dan masih mempunyai daya tarik yang sangat besar.

Dengan gaya yang sangat menarik ia membereskan rambut kepalanya, kemudian berkata:

“Angin apa yang meniup Anw-yang Pangcu datang kemari, tiga tahun lamanya kita tidak berjumpa, kau ternyata masih ingat diriku.”

Auw-yang Thong mengangkat tangannya memberi hormat seraya berkata:

“Menurut perhitunganku, tiga bulan berselang kau sudah habis waktu bertapamu, maka aku sengaja datang menengokmu, sekalian memperkenalkan kepadamu dengan beberapa sahabat kuat dari rimba persilatan.”

Perempuan itu biji matanya berputaran mengawasi Tiat Bok Taysu, Ki Bok Taysu dan Hui Kong Leang sejenak, kemudian berkata sambil tertawa:

“Sudah tiga puluh tahun aku hidup menyendiri sebagai janda, seharusnya menikah lagi, tetapi karena tidak tega meninggalkan warisan rumah yang besar dan luas ini, barangkali agak mengecewakan Pangcu ”

Tiat Bok Taysu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya:

“O MI TO HUD, orang beribadat tidak bisa bersenda gurau.”

Auw-yang Thong lalu berkata:

“Kedua orang beribadat tinggi ini adalah Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu dari gereja Siao-lim-sie.”

Perempuan itu tiba-tiba mengawasi gadis berbaju putih yang dikempit oleh Tiat Bok Taysu, lalu berkata sambil tersenyum: “Nama besar kedua taysu, sudah lama sekali aku yang rendah mendengar nama itu.”

Auw-yang Thong berkata pula sambil menunjuk Hui Kong Leang.

“Dan ini adalah Hui tayhiap dari gunung Oey-san yang malang melintang di dalam rimba persilatan beberapa puluh tahun lamanya, namun namanya masih tetap harum.”

Perempuan itu tiba tiba tertawa terkekeh kekeh dan berkata:

“Tuan-tuan yang datang hari ini, semuanya mempunyai nama baik dan kedudukan tinggi, termasuk kau Auw-yang Pangcu sendiri, ini menyulitkan bagiku bagaimana harus memilih.”

Tiat Bok Taysu merasa agak tidak senang mendengar perkataan itu lalu berkata:

“Harap Liesicu suka berlaku sedikit sopan, orang yang beribadat seperti lolap tidak suka dengar perkataan yang kurang sopan… ”

Perempuan itu tidak menghiraukan perkataan Tiat Bok Taysu, ia masih menggoda dengan seenaknya, sehingga Tiat Bok Taysu merasa malu sendiri.

Auw-yang Thong lalu berkata sambil mengerutkan alisnya: “Tiat Bok dan Ki Bok Taysu adalah orang2 beribadat tinggi,

yang tidak suka bersenda gurau, dengan caramu yang agak berandalan ini, sudah tentu menjengahkan mereka.”

Perempuan itu tiba2 menghentikan suara tertawanya, dan berkata kepada empat perempuan yang berdiri di samping:

“Tetamu sudah berdiri beberapa lama, mengapa tidak depersilahkan duduk?” Empat perempuan itu buru2 mengambil empat kursi mempersilahkan para tamunya duduk.

Auw-yang Thong duduk lebih dulu, setelah itu ia berkata sambil menunjuk gadis berbaju putih yang dikempit oleh Tiat Bok Taysu:

“Adakah nyonya kenal dengan gadis ini?”

Tiat Bok, Ki Bok dan Hui Kong Leang, setelah mendengar perkataan Auw-yang Thong itu baru mengerti maksud kedatangan Pangcu itu, sehingga hati mereka merasa lega.

Perempuan pertengahan umur itu mengawasi gadis berbaju putih itu dengan sangat teliti, kemudian menjawab sambil menggilengkan kepala:

“Tidak kenal.”

“Harap nyonya periksa lagi dengan cermat, kalau memang kenal katakanlah terus terang saja, jangan coba menyangkal……..” berkata Auw-yang Thong dengan sungguh2. “Gadis ini mempunyai kepandaian ilmu silat luar biasa, sehingga membuatku teringat kepada nyonya.”

Perempuan setengah umur itu kembali menatap wajah gadis berbaju putih itu, kemudian berkata sambil tertawa:

“Kau tidak perlu coba main sandiwara, apa maksud kedatanganmu yang sebenarnya? Kau katakana saja secara terus terang, supaya orang tidak terlalu banyak pikiran.”

“Jikalau tidak perlu akau tidak akan datang kemari, kunjungan hari ini aku minta keterangan dalam dua hal,” berkata Auw-yang Thong sambil tersenum. “Gadis ini telah bentrok keras dengan golongan kita, beberapa puluh orang telah luka atau mati, ini bukan merupakan persoalan kecil, sudah tentu golongan kita tidak rala melepaskannya begitu saja… ”

Perempuan itu tiba2 tertawa ter-bahak2 dan berkata: “Apakah golonganmu khawatir salah orang dan tidak suka bermusuhan denganku, maka kau datang kemari untuk bertanya?”

“Benar, dan kecuali itu, masih ada satu hal aku ingin minta keteranganmu.”

“Urusan apa?”

“Setelah nyonya mengakhiri pertapaan nyonya kali ini, bagaimana tindakanmu selanjutnya?”

Perempuan itu menatap Tiat Bok Taysu dan lain2nya sejenak, lalu berkata sambil tertawa:

“Adakah kau bermaksud mengundang aku masuk ke golonganmu kaum pengemis?”

“Apabila nyonya sudi menerima jabatan, maka kami akan menyambutnya dengan tangan terbuka.”

Hui Kong Leang yang mendengarkan pembicaraan mereka beralih ke soal masuk perkumpulan segera mengerutkan alisnya.

Sikapnya itu sudah tentu diketahui oleh Auw-yang Thong dan perempuan setengah umur itu, perempuan itu tiba2 berbangkit dan berkata kepada Auw-yang Thong sambil memberi hormat:

“Pangcu telah berkunjung sendiri untuk menawarkan jabatan bagiku, sangat menyesal untuk sementara aku belum dapat memberi keputusan, ijinkanlah aku berpikir dulu beberapa hari, apabila sudah tidak ada keperluan lain, aku juga tidak enak menahan lebih lama di sini kepada tuan2 sekalian.”

Tindakannya yang berarti mengusir tetamumya secara tidak langsung itu, jarang tampak di kalangan Kang-ouw, dengan orang2 yang mempunyai nama dan kedudukan seperti Tiat Bok, Ki Bok dan Hui Kong Leang, diperlakukan secara demikian, sungguh merupakan suatu kejadian yaug nnenghilangkan muka mereka, maka wajah mereka segera berubah.

Auw-yang Thong sebaliknya masih bersenyum kemudian berkata:

“Nona ini kalau memang tidak ada hubungannya dengan nyonya, maka kita akan segera mengurusnya sendiri.”

Perempuan itu tiba2 menghampiri Tiat Bok Taysu, hingga suasana tiba2 menjadi gawat.

Tiat Bok Taysu diam2 sudah siap, tetapi di luarnya masih tetap tenang.

Perempuan itu ketika berada di samping Tiat Bok Taysu lalu berkata sambil tersenyum:

“Bolehkah taysu membuka totokannya nona ini, supaya aku dapat bertanya kepadanya.”

Tiat Bok Taysu berpikir: Kita di sini ada empat orang, sekalipun kubuka totokannya, gadis ini juga tidak sampai kabur.

Setelah itu ia lalu membuka totokan jalan darah gadis itu. Ki Bok Taysu dan Hui Kong Leang masing2 maju selangkah,

untuk menjaga gadis itu jangan sampai lari.

Hanya Auw-yang Thong yang masih berdiri di tempatnya sambil mengerutkan alisnya, agaknya sedang memikirkan sssuatu persoalan besar.

Gadis itu setelah tetbuka totokannya, lalu membuka matanya mengawasi keadaan di sekitarnya, kemudian bangkit duduk.

Ia mempunyai ketenangan luar biasa, dalam keadaan demikian ia masih dapat melakukan gerakan tangan yang digunakan untuk membereskan rambutnya, kemudian bertanya dengan nada suara dingin:

“Ini tempat apa?”

Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu yang mempunyai kesabaran luar biasa, hanya bersenyum tidak memperdulikannya.

Sebaliknya dengan Hui Kong Leang yang agak berangasan, segera menjawab dengan sikap ketus:

“Ini bukan rumah keluarga Pan, juga bukan di atas kapal, sikap pertanyaanmu ini, sebaiknya harus sedikit hati hati, kau jangan mencari kesulitan sendiri.”

Gadis itu dengan mata mendelik memandang Hui Kong Leang, lalu per-lahan2 berdiri, matanya dialihkan kepada Auw- yang Thong dan Ki Bok Taysu, kemudian berhenti di wajah perempuan setengah umur itu, badannya gemetar, se-olah2 berjumpa dengan suatu kejadian yang mengejutkan.

Perempuan setengah umur itu menghela napas perlahan dan berkata:

“Budak yang sangat licin, nampaknya kau lebih pandai berpura-pura daripadaku.”

Hui Kong Leang ulur tangan kanannya, dengan cepat menotok jalan darah gadis berbaju putih itu.

Gadis itu memiringkan badannya dan melompat ke samping, Hui Kong Leang segera memutar tubuhnya menghadang di pintu.

Perempuan setengah umur itu menyaksikan keadaan demikian lalu berkata dengan nada suara dingin:

“Tuan tuan harap bisa menghargai dirinya sendiri, sebaiknya jangan berkelahi di dalam rumahku ini.”

Auw-yang Thong berkata sambil mengawasi gadis itu: “Nona juga jangan pikir bisa lari dari sini, pada saat dan tempat seperti sekarang ini, hanya kesusahan bagi nona sendiri.”

Gadis itu dengan biji mata berputaran memandang ke arah perempuan setengah tua itu dan berkata:

“Jikalau kau suka membatu aku melepaskan diri dari bahaya ini, aku hendak menghadiahkan sepuluh butir mutiara yang sangat berharga.”

“Mutiara meskipun berharga, tetapi biar bagaiman masih merupakan barang yang dapat dinilai harganya, maaf aku tidak dapat menerima permintaanmu.” menjawab perempuan setengah tua itu sambil tertawa.

“Apa yang sedang kau pikir dalam hatimu? Mungkinkah kau dapat menceritakan?”

“Aku memang sedang memikirkan sesuatu, tetapi barangkali kau tidak mau memberikan kepadaku.”

“Asal aku punya, tidak akan aku sayang.”

“Aku ada mempunyai seorang anak laki2 yang masih belum beristri, asal kau suka berjanji menjadi menantu keluarga Ho, dengan demikian barulah aku dapat membantumu.”

“Baiklah, tetapi aku tidak tahu apakah anakmu itu mempunyai rejeki mengawini aku atau tidak?”

“Perkawinan adalah soal besar, bukan soal permainan anak anak, kau harus pikir dulu masak masak baru menjawab.”

Hui Kong Leang tiba tiba tertawa ter-bahak2, kemudian berkata:

“Aku kira siapa, tidak disangka nyonya ternyata adalah janda keluarga Ho!”

“Janda keluaro Ho?” bertanya Tiat Bok Taysu. “Benar, aku adalah janda keluarga Ho.” berkata nyonya pertengahan umur itu sambil tertawa dingin.

Tiat Bok Taysu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya:

“Sewaktu lolap masih berada di kuil Siao-lim-sie, sudah pernah dengar nama besar nyonya Ho.”

Nyonya Ho itu tertawa hambar dan berkata:

“Taysu terlalu memuji, seorang wanita bagaimana bisa mendapat nama besar… ”

Ia berbenti sejenak, matanya menyapu semua orang sebentar kemudian berkata pula:

“Nona ini sudah terima baik menjadi menantu keluarga Ho, harap tuan tuan suka membebaskannya.”

“Kunjunganku kemari, bukanlah untuk mengantarkan nona menantu bagimu, golongan pengemis sudah kehilangan banyak nyawa?” berkata Auw-yang Thong.

Hui Kong Leang berkata dengan suara nyaring:

“Dahulu waktu Ho toako masih hidup, denganku pernah merupakan sahabat baik, kita pernah saling menguji kepandaian di gnnung Oey-san satu hari satu malam lamanya, dan kemudian kita mengikat tali persahabatan, kala itu aku pernah dengar Ho toako cerita tentang diri nona, sayang belum mendapat kesempatan untuk berkunjung, sungguh tidak disangka hari ini aku dapat menjumpai nona.”

Nyonya itu berkata dengan nada suara dingin:

“Sudah berjumpa lalu mau apa? Jikalau kau benar adalah sahabat baik suamiku almarhum hari ini seharusnya kau membela jandanya untuk membantu omong beberapa patah kata.” Hui Kong Leang sebetulnya hendak tidak turut campur urusan itu, tidak disangka sudah dibuat tidak berdaya oleh nyonya Ho itu, sehingga seketika itu ia berdiri melengak, lama tidak bisa bicara.

Auw-yang Thong lalu berkata dengan sungguh sungguh: “Nyonya Ho, selama kau dalam pertapaan, orang orang

golongan kita bukan saja tidak pernah mengganggunya, sebaliknya malah mengirim beberapa orang yang kuat untuk memberi perlindungan, kalau kau dapat mengakhiri pertapaan dalam tiga tahun ini dengan tenang, sesungguhnya tidak sedikit berkat bantuan orang orang golongan kita… ”

“Nona ini sudah menerima baik permintaanku untuk menjadi menantuku, sesungguhnya di luar dugaanku, oleh karena perkataan sudah keluar mulut, sudah tentu tidak boleh ditarik kembali, harap Pangcu suka memaafkan.” berkata nona Ho sambil tertawa.

“Apabila aku tidak bawa gadis ini berkunjung, apakah anak lelakimu tidak kau kawinkan selama-lamanya?”

“Itu memang betul, tetapi karena urusan sudah terlanjur begini, terpaksa aku minta maaf kepada kalian semua.”

Tiat Bok Taysu berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong:

Urusan sudah berupa menjadi begini, harapanku lekas mengambil keputusan.”

Auw-yang Thong mengawasi nyonya Ho, kemudian berkata dengan sungguh-sungguh:

“Kunjungan kali ini, pertma-tama hendak menengokmu, dan kedua aku ada maksud untuk mengundang kau, tetapi tidak diduga telah terjadi perobahan yang menyulitkan ini.”

Nyonya Ho mendadak menarik napas dan berkata: “Tentang cacat dan penderitaan anakku, Pangcu toh sudah lama mengetahuinya, apabila Pangcu tetap tidak sudi memberi maaf ini sesungguhnya juga terlalu kejam bagi seorang janda seperti aku ini.”

Gadis berbaju putih itu terus mendengarkan pembicaraan mereka, ketika mendengar perkataan nyonya Ho yang mengatakan bahwa anaknya bercacat dan menderita, tergeraklah hatinya, maka segera bertanya:

“Apa? Anakmu itu tuli ataukah buta?”

“Kalau anaku itu normal dan gagah ganteng, aku juga tidak perlu sampai harus korbankan persahabatanku dengan Auw- yang Pangcu, dan hendak memberi kebaikan bagimu,” berkata nyonya Ho.

Auw-yang Thong berkata:

“Aku merasa sangat simpati dengan keadaan nyonya, tetapi gadis ini sesungguhnya sangat penting bagi kita, apalagi tindakannya terlalu kejam dan ganas, ia bisa turun tangan membunuh ayahnya sendiri, sudah tentu nanti juga bisa membunuh suaminya sendiri… ”

“Oh! Ada kejadian serupa itu?” bertanya nyonya Ho. Tiat Bok Taysu berkata:

“Perkataan Auw-yang Pangcu benar seluruhnya, dan orang- orang yang dicelakakan olehnya, bahkan adalah Pan Lo Enghiong yang mendapat nama baik di dalam rimba persilatan dan letaknya tidak jauh dari sini, kiranya Lie-sicu juga tahu… ”

Auw-yang Thong sebetulnya hendak mencegah, tetapi sudah tidak keburu.

“Apakah bukan Pan Tay Seng sijahanam tua itu?” Tiat Bok Taysu tercengang, jawabnya: “Dia adalah Pan losicu yang dulu pernah melepas budi kepada orang2 kuat dari lima partai besar.”

“He, segala jahanam begituan.” berkata nyonya Ho gusar, kemudian berpaling dan bertanya kepada gadis berbaju putih itu:

“Adakah kau anak perempuan Pan Tay Seng?”

Gadis itu setelah mendapat waktu beristirahat beberapa lama, kekuatannya sudah pulih kembali, ia mengawasi nyonya Ho sebentar lalu berkata:

“Kalau ya, mau apa? Kalau bukan bagaimana?” Nyonya Ho sikapnya berobah menjadi sedih, katanya:

“Ayahmu itu, di luar kelihatannya jujur dan ramah tamah, tetapi dalam hatinya kejam dan jahat… ”

Tiat Bok Taysu dengan cepat memotong:

“O Mi Tho Hud, Pan Lo Enghiong itu namanya sangat terkenal di kalangan Kang-ouw, jasanya besar sekali bagi rimba persilatan, sekalipun Li sicu mempunyai permusuhan dengannya, itu juga menjadi urusan pribadi antara dua rumah tangga, dengan perkataanmu yang menyakiti orang itu, sesungguhnya agak keterlaluan.”

Nyonya Ho tiba2 mengangkat tangannya menampar pipi gadis berbaju putih itu.

Gadis itu berdiri tanpa bergerak, mengawasi nyonya Ho dengan sinar mata dingin.

Auw-yang Thong tiba2 bertindak maju dan berkata dengan sungguh2:

“Kalau nyonya sudah tahu asal usulnya gadis ini, tentunya hendak membatalkan maksud nyonya akan mengambil menantu padanya?” “Karena ia adalah anak perempuan musuh besarku yang mencelakakan ayahku almarhum, aku juga tidsk fapat berpeluk tangan, melepaskannya begiyu saja.” berkata nyonya Ho sambil menghela napas.

“Gadis ini sebetulnya anak perempuan Pan Lo Enghiong yang sebenarnya atau bukan, dewasa ini masih belum dapat dipastikan, jikalau nyonya suka, kita boleh sama memeriksa gadis ini berkata Auw-yang Thong.

“Tempatku ini meskipun tidak dilindungi oleh dinding besi, tetapi jikalau tidak ada orang yang mengantar kemari, tidak mungkin dapat ditemukan, tuan2 boleh melakukan permeriksaan tanpa khawatir!” berkata nyonya Ho sambil tertawa.

Gadis itu mendadak berkata dengan nada suara dingin: “Ini masih belum tentu.”

“Tidak percaya kau boleh coba saja!” berkata nyonya Ho gusar.

Gadis itu matanya berputaran mengawasi rimba di luar rumah, ia mendapat kenyataan bahwa rimba itu seperti tertutup oleh daun lebat dalam rimba itu.

Auw-yang Thong mendadak mengulur tangan kanannya dan berkata:

“Harap nona keluarkan dulu pedang pendekmu…   ”

ooo0D0W0ooo