ISMRP Jilid 09

 
Jilid 09

NAMA BAIK dan pengaruh perkumpulan orang2 pengemis, sudah terkenal dalam golongan rimba persilatan, tetapi Ong Khian hanya mendengar namanya saja, belum pernah melihat pemimpinnya, ketika itu ia diam di tepi rimba tidak maju lagi.

Koan Sam Seng lalu berkata sambil tertawa, “Silahkan saudara Ong!” “Sebaiknya saudara Koan yang masuk lebih dulu,” menyahut Ong Khian.

Koan Sam Seng menggandeng tangan Ong Khian seraya berkata sambil tertawa, “Mari kita berjalan ber-sama2.”

Berjalan kira2 empat atau lima tombak, benar saja di dalam rimba lebat itu berdiri sebuah gubuk yang bertutup atap.

Dari dalam gubuk itu terdengar suara orang tertawa bergelak, kemudian disusul oleh kata2nya, “Kedatangan tamu agung dari tempat jauh, siaotee tidak bisa menyambut sendiri, kelalaian ini harap saudara Ong suka maafkan.”

Dari dalam gubuk itu muncul orang pertengahan umur kurus kering, mengenakan pakaian kuning yang terdapat banyak tambalannya.

Orang itu ramah tamah, tetapi nampaknya sangat berwibawa.

Ong Khian lalu maju menghampiri, memberi hormat seraya berkata, “Saudara ini tentunia Auw-yang pangcu, pemimpin golongan pengemis yang namanya tersohor di dunia Kang- ouw?”

Orang kurus kering itu berkata sambil tertawa, “Hanya nama kosong belaka, bagaimana siaotee berani terima pujianmu.”

“Pangcu adalah seorang ramah yang berpengaruh, kabarnya berlaku budiman terhadap orang2 bawahan, kini setelah bertemu muka siaotee baru percaya kabar yang sudah lama itu.”

Pada saat itu Koan Sam Seng juga menghampiri kepada Pangcunya untuk memberi hormat.

Orang kurus kering itu tersenyum, sambil berkata, “Kau tentunya sudah letih.” Koan Sam Seng menjawab dengan sikap menghormat, “Terima kasih atas kecintaan Pangcu.”

Orang berbaju kuning itu berkata kepada Ong Khian, “Silahkan saudara Ong masuk ke dalam gubuk untuk ber- omong2.”

Ong Khian merasa bersyukur mendapat perlakuan begitu baik dari seorang pemimpin yang mempunyai pengaruh begitu besar di dalam rimba persilatan, segera memberi hormat seraya berkata, “Siaotee mengucapkan terima kasih atas perlakuan Pangcu yang manis budi ini.”

Rumah gubuk yang sudah lama tidak didiami itu, kini sudah dibersihkan, dan diperlengkapi dengan perabot rumah tangga, di depan pintu berdiri berbaris beberapa anggota golongan pengemis, di depan barisan itu ada berdiri seorang sastrawan pertengahan umur yang menyambut kedatangan Ong Khian.

“Saudara Ong, salama kita berpisah apakah keadaan saudara baik2 saja? Masih ingatkah saudara kepada siaotee?” demikian sastrawan itu berkata kepada Ong Khian sambil memberi hormat.

Sambil memegang kedua tangan itu Ong Khian berkata, “Saurlara Teng, apakah kau baik? Sudah sepuluh tahun lebih kita tidak berjumpa.”

Sastrawan pertengahan umur itu, adalah Teng Soan yang mempunyai nama julukan Siao-yaow Siucai, penasehat dan organisatoris yang membuat golongan pengemis itu mendapat kedudukan kuat dan nama baik rimba persilatan.

Koan Sam Seng juga mengucapkan selamat bertemu kembali dengan kawan sejawat itu.

Teng Soan mengawasi muka Ong Khian kemudian berkata, “Kalian berdua apakah mendapat perasaan tidak enak dalam diri kalian?” Koan Sam Seng diam2 terperanjat, sebab ia tahu benar bahwa kawannya itu selamanya sangat ber-hati2 kalau berbicara, apabila tidak yakin benar, ia tidak mau berkata sembarangan, maka ia lantas berkata, “Apa? Apakah kau sudah melihat ada tanda2 bahwa aku keracunan?”

“Benar, bukan saja sudah keracunan, bahkan racun itu tidak ringan.” menjawab Teng Soan sambil menganggukkan kepala.

“Menurut penglihatanmu apakah kiranya aku masih bias hidup sepuluh hari lagi?”

“Siaotee tidak bisa meramalkan apa yang belum terjadi, bagaimana berani sembarangan, mengatakan soal mati hidup orang? Tetapi dari muka dan kulit kalian berdua, dalam tiga hari racun itu masih belum bekerja, marilah kita bicara dulu hal2 yang mengenai urusau kita setelah kita berpisahan, barulah menceritakan soal racun itu.”

Siucai ini benar2 mempunyai kepandaian yang melebihi manusia biasa.

Teng Soan mempersilahkan Ong Khian duduk.

Ong Khian menurut, kemudian berkata kepada Pangcu golongan pengemis itu, “Sedikit kesalahan paham siaote dengan golonganmu, mau tidak mau siaote perlu memberi sedikit keterangan kepada Pangcu….”

Aow-yang Pangcu tertawa hambar seraya berkata, “Siaotee sudah mencari keterangan tentang kejadian itu, yang salah adalah orang2 golongan kita sendiri, sedikitpun tidak ada hubungannya dengan saudara Ong.”

Koan Sam Seng lalu berkata, “Siaote telah melalaikan perintah Pangcu, di sini siaote ingin menerima hukuman menurut peraturan perkumpulan.” Teng Soan berkata sambil mengibaskan kipasnya, “Yang salah adalah siaote karena kurang tepat mengaturnya, bagaimana saudara Koan bisa disalahkan?”

“Apa artinya perkataanmu ini?” bertanya Koan Sam Seng. “Aku salah hitung tentang kematian Pan Lo Enghiong yang

ternyata demikian gawat, karena kesalahanku terlalu memandang ringan musuh, sehingga harus menelan pel pahit ini.”

Koan Sam Seng menundukkan kepala tidak menjawab.

Teng Soan agaknya dapat melihat sikap kurang senang dari sahabatnya itu, sambil mengibas-ngibaskan kipasnya ia berkata pula, “Maksud perkataan siaote tadi, bukan sengaja memandang rendah saudara Koan, yang siaote maksud sebetulnya adalah rencana siaote yang kurang sempurna, tidak menduga akan terjadinya perobahan ini, sejak saudata Koan berlalu, tidak lama siaote mengadakan pertemuan dengan Pangcu, ketika itu siaote sudah tahu bahwa dalam hal ini siaote sudah melakukan kesalahan, meskipun saudara Koan berkepandaian sangat tinggi, tetapi apabila pihak musuh tidak mau menghadapi dengan kekuatan, dan saudara Koan tidak ada persiapan, sudah pasti akan mengalami kerugian, oleh karena itu, maka siaote segera minta kepada Pangcu untuk bertindak sendiri, sehingga datang kemari, kesatu untuk turut berduka cita kepada sahahat lama dan kedua hendak mencari keterangan dalam persoalan ini, tak menyangka setelah kita tiba di sini baru tahu bahwa urusan ini ternyata jauh lebih gawat dari apa yang aku duga semula! Ini bukan hanya aku Teng Soan seorang yang menjumpai musuh tangguh yang belum pernah kujumpai seumur hidupku, tetapi seluruh rimba persilatan, juga akan terlibat dalam urusan ini.”

Koan Sam Seng yang mendengarkan uraian sahabatnya itu, sahabat itu agaknya sudah mengetahui semua apa yang terjadi dalam rumah keluarga Pan, maka ia segera bertanya, “Apa? Apakah kau sudah mengirim orang untuk mengadakan penyelidikan?”

“Belum, tetapi begitu kita masuki daerah terlarang, aku segera merasakan gelagat tidak beres, aku dengan Pangcu juga pernah menyaru dan menyusup tempat dekat gedung keluarga Pan, suasana kedukaan itu ternyata diikuti oleh hawa pembunuhan hingga aku segera mengetahui bahwa dalam urusan ini telah terjadi banyak perobahan….

“Suasana ini bagaimana kau bisa mengetahui? Apakah kau benar-benar mempunyai kepandaian meramalkan dan mengetahui lebih dulu semua yang belum terjadi?”

“Tentang ini, bukan saja siaote tidak bisa, menurut pikiranku, dalam dunia ini barangkali juga tidak seorangpun yang mempunyai kepandaian semacam ini, apa yang dikatakan oleh orang tentang pengetahuan yang bisa mengetahui segala kejadian sebelum terjadi, tidak lain hanya suatu kesan sesudah diadakan suatu analisa yang sangat cermat….” Ia berhenti sejenak, “Namun demikian, dalam dunia ini memang benar ada kepandaian yang didasarkan dari pengetahuan tersendiri, yang dapat meramalkan perobahan cuaca dan nasib manusia, hal ini kedengarannya memang sangat aneh, tetapi itu bukanlah suatu pengetahuan yang bisa mengetahui lebih dulu semua kejadian yang belum terjadi, melainkan suatu pemikiran dengan berdasar atas pengetahuannya, sementara sampai di mana jitu perhitungannya, harus ditilik dari orang yang mempunyai pengetahuan itu sampai di mana tingginya, mengenai pengetahuan atau ilmu baik yang lain-lainnya, itu semua hanya semacam ilmu pengetahuan yang terlalu dalam asal kita pelajari dengan tekun, tidak susah untuk mendapatkan ilmu itu.”

“Kalau begitu, apakah kau juga sudah masuk ke gedungnya keluarga Pan?” “Bukan hanya aku seorang saja, Pangcu juga sudah masuk ke gedung keluarga itu, tetapi aku Cuma bisa memeriksa kasarnya saja dan menduga apa yang telah terjadi, duduk perkara yang se-jelas2nya, masih perlu mendapat keterangan dari saudara Koan.”

Koan Sam Seng menghela napas dan berkata, “Perkataanmu tidak salah, kali ini benar2 aku telah terjungkal, satu2nya yang masih dapat menghibur perasaanku, yang terjungkal kali ini bukan hanya golongan pengemis saja, dalam hal ini termasuk beberapa tokoh kuat pada dewasa ini, seperti Tiat Bok Taysu, Ki Bok Taysu dari Siao-lim-sie, dua jago pedang dari Ceng Sia Pay dan Hui Kong Leang dari gunung Hui-san yang namanya sudah terkenal itu….”

“Bagaimana kalau saudara Koan menceritakan kepada kita semua apa yang kau telah melihat, mendengar dan kau alami sendiri?”

Koan Sam Seng setelah mengumpulkan semua ingatannya lalu menceritakan apa yang telah terjadi di gedung keluarga Pan itu.

Teng Soan setelah mendengarkan penuturan itu, nampaknya tidak segera mengambil keputusan, ia hanya me- ngibas2kan kipasnya.

Orang pandai itu setiap menjumpai persoalan penting, selalu melakukan perbuatan semacam itu, hingga selama itu suasana dalam gubuk itu nampak sunyi, agaknya tiada seorangpun yang berani menggangu pikiran Teng Soan.

Tiba2 di luar gubuk terdengar suara tindakan kaki orang, sebentar kemudian suara itu sudah tiba di depan pintu, bersama dengan itu, segera muncul tiga orang berpakaian ringkas yang banyak tambalannya.

Tiga orang itu memberi hormat kepada Pangcunya, lalu berdiri di luar pintu dengan sikap menghormat. Aow-yang Pangcu mengawasi tiga orang itu kemudian bertanya dengan suara perlahan, “Kalian dapat melihat apa?”

Seorang yang berdiri di sebelah kiri menjawab, “Sewaktu tecu mengadakan pemeriksaan di tepi sungai telah menjumpai serombongan orang yang mencurigakan.”

“Orang bagaiman?”

“Dalam rombongan itu terdiri dari orang laki2 dan perempuan, semuanya berjumlah tujuh atau delapan orang, karena tecu tidak ingin menimbulkan perasaan curiga mereka, maka tidak berani terlalu dekat….”

Teng Soan tiba2 bertanya, “Ke mana perginya mereka?” “Naik ke sebuah kapal layar besar yang berlabuh di tepi

sungai.”

Teng Soan terus berdiam sambil berpikir. Seorang yang berdiri di tengah2 lalu berkata, “Hunjuk beri tahu kepada Pangcu, teecu tidak melalaikan perintah Pangcu, sudah berhasil menemukan jejek rombongan Tiat Bok Taysu.

“Mereka sekarang berada di mana?” bertanya Auw-yang Pangcu.

“Mereka berada di dalam sebuah kuil terpisah kira2 belasan pal dari sini.”

Orang yang berdiri di sebelah kanan lalu menyambung, “Kuda dan kereta kaldi, semua sudah siap, hanya tunggu perintah Pangcu, lalu segera berangkat.”

Auw-yang Pangcu berpaling dan berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan, “Kita perlu berangkat sekarang?”

Teng Soan berpikir sejenak, lalu menjawab, “Dalam rimba persilatan pada dewasa ini, belum pernah terdengar ada seorang berpakaian jubah hijau yang mempunyai kepandaian sedemikian tinggi, apakah orang itu adalah Kun-liong-ong yang lama didesas desuskan itu?” Koan Sam Seng lalu berkata sambil mengacungkan ibu jarinya, “Benar, karena kau nyebutkan orang itu, kini aku ingar, orang itu menyebut dirinya sendiri Ong-ya, kemungkinan besar dia adalah Kun-liong-ong.”

“Kun-liong-ong hanya nama julukan saja, apa yang kita perlu selidiki adalah nama aslinya dan tempat tinggalnya.” Berkata Teng Soan.

Ong Khian yang sejak tadi diam saja, kini mendadak membuka mulut, “Menurut pendapatku yang rendah, sebaiknya kita bersatu dengan rombongan Tiat Bok Taysu langsung mencari gadis yang menyebut dirinya Khiun-cu, yang menyaru jadi nona Pan, gadis itu usianya masih sangat muda, tetapi merupakan orang yang sangat penting, asal kita dapat menangkapnya, segala urusan kita bisa mendapat keterangan dari mulutnya.”

“Sewaktu nama Kun-liong-ong mulai terkenal aku sudah merasakan bahwa orang itu sangat misterius, hingga aku perlu menyuruh empat orang pilihan dari dalam golongan pengemis, sesudah makan waktu hampir sebulan, baru berhasil menangkap dua orang bawahannya, tetapi belum sampai satu jam dua orang itu sudah mati semua, sepatah katapun aku belum berhasil mengorek dari mulut mereka…., mereka tidak mau menghadapi lebih dulu dua partai besar yang paling kuat dalam rimba persilatan, mungkin mereka membenci terhadap tindakan kita ini, juga merupakan salah satu sebab dari tindakan itu.”

Auw-yang Pangcu tersenyum dan berkata, “Musuh berada di tempat gelap, sedangkan kita berada di tempat terang, dari sini saja pihak kita sudah dirugikan lebih dulu. Yang paling penting dewasa ini, ialah kita lebih dulu harus berusaha untuk mengetahui keadaan mereka, supaya kita mengetahui keadaan sendiri dan keadaan sana, barulah ada harapan untuk mendapat kemenangan. Kun-liong-ong hanya merupakan nama samaran, yang maksudnya tidak lain untuk mengelabui mata orang, orang ini mungkin hanya seorang, tetapi mungkin juga ada beberapa puluh orang yang hendak menyilaukan mata kita, supaya tidak dapat membedakan mana yang tulen mana yang palsu,” berkata Auw-yang Pangcu sambil berssenyum.

“Pendapat Pangcu memang tepat, aku sudah menyuruh dua orang cerdik dari golongan kita untuk nyelundup ke- orang2nya Kun-liong-ong, yang mengherankan adalah dua orang itu pergi sudah tiga tahun, ternyata tidak ada kabar berita apa apa, hal ini membuat aku menarik kesimpulan bahwa dalam soal ini bukaulah soal biasa, mereke kalau bukan diketahui oleh musuh sehingga dibinasakan, tentunya sudah berubah pikirannya dan menyerah kepada musuh….” Berkata Teng Soan.

Per-lahan2 mengalihkan pandangannya kepada Koan Sam Seng dan Ong Khian, kemudian berkata sambil tersenyum, “Tetapi sekarang mengingatkan kepadaku, kecuali dua sebab itu, mungkin masih ada sebab yang ketiga.”

Auw-yang Pangcu memerintahkan tiga orang yang berdiri di luar itu supaya menunggu di luar rimba.

Tiga orang itu setelah memberi hormat lalu mengundurkan diri.

Auw-yang Pangcu setelah tiga orang itu pergi, baru berkata kepada Teng Soan, “Kau pikir sebab ketiga itu, apakah yang kau maksudkan?”

“Mereka mungkin sudah dipaksa makan racun, sehingga pikirannya berubah dan melupakan asal-usulnya sendiri.”

Auw-yang Pangcu berpikir sejenak, lalu berkata, “Dewasa ini apakah kita perlu menggabungkan diri dulu dengan rombongan Tiat Bok Taysu untuk merundingkan rencana melawan musuh ber-sama2 atau dengan suatu gerakan cepat yang tidak akan ter-duga2, langsung menuju ke tepi sungai untuk menangkap gadis keluarga Pan itu?” “Dari penuturan saudara Koan tadi, nona Pan yang belum diketahui asal-usulnya itu, kedudukannya agaknya tidak rendah, apabila kita berhasil menangkapnya, itulah yang paling baik, soalnya, apabila serangan kita ini tidak berhasil, bukan saja akan mengejutkan mereka akan tetapi juga akan menunjukkan jejak Pangcu.”

“Dalam golongan kita sekarang ada sepuluh orang pilihan yang berada di sini, apabila dikerahkan semuanya, sekalipun tidak dapat menangkap gadis itu, tetapi juga tidak sampai dikalahkan oleh mereka.”

Ong Khian ber-gerak2 bibirnya, tetapi tiada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

Teng Soan berkata, “Tiat Bok Taysu, Ki Bok Taysu dan Hui Kong Leang, meskipun semuanya adalah pendekar2 kenamaan, tetapi bagaimanapun juga mereka bukanlah orang2 yang berkedudukan sebagai ketua partai, apabila Pangcu pergi mengunjungi sendiri, hal ini merupakan suatu perbuatan yang menurunkan derajat, sebaliknya aku dan saudara Koan, yang mewakili Pangcu untuk menjumpai mereka…. aku hendak menasehati mereka supaya menjumpai Pangcu untuk berunding ber-sama2, Pangcu boleh mengutus orang, berusaha untuk merintangi berangkatnya nona Pan itu, menurut perhitunganku urusan ini dapat diselessikan dalam waktu satu jam, asal bisa mencegah mereka lambat satu jam sudah cukup.”

“Kedua pembantuku yang terkuat pergi ber-sama2, bagaimana aku boleh duduk berdiam, kita boleh kerja masing2, kalian pergi menemui Tiat Bok Taysu, sedang aku sendiri akan membawa duabelas orangku, pergi ke tepi sungai untuk merintangi perjalanan nona itu, kita nanti bertemu di tepi sungai,” berkata Auw-yang Pangcu.

“Pangcu se-kali2 jangan turun tangan sendiri, untuk menghadapi musuh kuat, Nanti setelah aku tiba di sana, kita berunding lagi.” “Tidak perduli kau bertemu Tiat Bok Taysu atau tidak, harap lekas ke tepi sungai.”

“Harap Pangcu jangan khawatir.”

Setelah member hormat, Teng Soan bersama Koan Sam Seng berjalan keluar gubuk.

Di luar pintu, sudah disediakan sebuah kuda dan sebuah kereta keledai, Koan Sam Seng naik ke atas kuda, sedangkan Teng Soan naik ke atas kereta.

Kereta yang ditarik oleh keledai itu merupakan kereta istimewa yang dibuatnya sendiri, rodanya besar tetapi awaknya kecil, hingga nampaknya luar biasa, dalam kereta itu hanya dapat muat dua orang, di bagian depan terdapat sebuah pintu, dari jauh seperti sebuah perahu, pembuatannya kereta itu sangat istimewa, awak kereta dapat digerakan ke sana ke mari.

Kereta itu ditarik oleh dua ekor keledai pilihan, dikendalikan oleh seorang laki2 yang memakai kerudung lebar. Setelah Teng Soan sudah berada di dalam kereta, kusir kereta segera melarikan keledainya.

Tiga orang berbaju kelabu yang berdiri di pintu menghampiri kepada Teng Soan sebelum Teng Soan berangkat, lalu berkata sambil membongkokkan badan, “Teng- ya , apakah teng-ya hendak mencari rombongan Tiat Bok Taysu?”

“Benar, marilah kau tunjukan jalannya.”

Menjawab Teng Soan sambil menganggukkan kepala. Orang itu menerima baik, dan lari lebih dulu.

Teng Soan bertanya kepada Ong Khian, “Saudara Ong hendak naik kuda ataukah hendak duduk ber-sama2 denganku?” “Siaotee ingin mencoba kereta saudara Teng ini.” Menjawab Ong Khian, lalu lompat k eats kereta dan duduk di belakang Teng Soan.

Berada di atas kereta, Ong Khian baru bias melihat bahwa di sekitar tempat duduk kereta itu, diperlengkapi dengan alat2 besi, sehingga dalam hati merasa heran.

“Saudara Teng, apa gunanya alat2 besi ini?”

Sementara itu keledai yang menarik kereta itu sudah lari pesat yang ternyata tidak kalah dengan larinya kuda.

Ong Khian diam2 memuji keledai itu.

Teng Soan tiba2 berpaling dan berkata kepada Ong Khian dengan suara perlahan, “Tentang urusan siaotee yang tidak pernah belajar ilmu silat, bukankah saudara Ong sudah tahu?”

“Kekuatan tenag seseorang terbatas, kalau kau hendak bertekun mempelajari ilmu silat, sudah tentu tidak akan mendapat pengetahuan dari buku sampai begitu banyak,” berkata Ong Khian sambil tertawa.

“Seandainya ada orang menyerang keretaku ini, bagaimana?”

Ong Khian tercengang, se-olah2 bangun dari sadarnya, lalu ia berkata, “Oh ya, aku sekarang mengerti, alat2 besi di sekitar tempat duduk ini, tentunya pesawat yang digunakan untuk menahan serangan musuh.”

“Saudara Ong sesungguhnya tidak kecewa menjadi seorang Kang-ouw, yang banyak pengetahuan, dugaanmu itu memang jitu.”

“Aku harap aku mendapat kesempatan untuk menyaksikan bagaimana bekerjanya pesawat ini.”

“Ini tergantung kita akan berjumpa dengan musuh atau tidak, dengan terus terang, semua pesawat yang kupasang di atas kereta ini, semua bukan hasil ciptaan sehari dua hari saja, tetapi apabila pesawat ini bekerja, cukup dengan waktu satu jam saja sudah dapat….”

Bicara sampai di sini, ia berpaling dan tertawa kemudian berkata pula, “Maka itu, saudara Ong tdi menggunakan perkataan kesempatan itu memang tepat, aku tidak paham ilmu silat, apabila ada musuh menyerang, terpaksa meminjam kereta ini untuk melindungi dir.”

Ong Khian tidak bertanya lagi, ia melongok keluar, kini baru tahu bahwa kereta itu lari sangat pesat.

Ketika ia menengok kea rah Teng Soan, orang cerdik pandai ini Nampak sedang berpikir keras, agaknya sedang memikirkan satu soal sulit, hingga ia tidak berani membuka mulut lagi untuk mengganggu pikirannya.

Orang yang lari ke depan sebagai orang yang menunjuk jalan itu tiba2 berhenti dan berkata, “Teng-ya Koan-ya, kita sudah tiba di luar kampung, kuil itu berada di dalam kampung ini.”

Koan Sam Seng menghentikan kudanya, lalu berkata, “Tiat Bok Taysu, Ki Bok Taysu dan Hui Kong Leang, semua adalah tokoh2 kenamaan pada dewasa ini, kita tidak boleh tidak menggunakan aturan.”

Teng Soan sudah turun dari kuda keretanya, lalu berkata kepada kusir kereta itu, “Kau tunggu di luar kampong.”

Orang itu menerima baik, ber-sama2 dengan kusir kuda berhenti di luar perkampungan.

Orang yang bertindak sebagai penunjuk jalan itu, setelah mengeringkan keringat di dahinya lalu berkata, “Mari teecu yang menunjukkan jalan kepada Teng-ya dan Koa-ya.”

Itu adalah sebuah perkampungan yang cukup besar, penghuninya kira2 ada tiga atau empat ratus keluarga. Orang yang bertindak sebagai penunjuk jalan itu, seudah kenal baik keadaan perkampungan itu, ia ajak tiga orang itu melalui jalan2 dalam perkampungan, tibalah di depan sebuah kuil.

Orang itu berpaling dan bertanya, “Teng-ya, perlukah teecu memberikan kabar lebih dulu?”

“Tidak usah, kau tunggu saja di luar,” menjawab Teng Soan yang segera berjalan masuk ke dalam kuil sambil mengibaskan kipasnya.

Koan Sam Seng menyertai kawannya itu dengan jalan berendeng, supaya dapat melindungi kawannya.

Teng Soan berkata dengan suara perlahan, “Tiat Bok Taysu dan Hui Kong Leang, mungkin sedang kesal mencari tahu adanya mata2 yang nyelundup dalam rombongannya….”

Ketika tiba di ruangan tengah, pintu ruangan itu Nampak tertutup, tidak terdengar suara apa2.

Koan Sam Seng mengerutkan alisnya, ia berkata dengan suara perlahan, “Aku hendak masuk lebih dulu untuk melihat keadaan di dalam, kau mundur dulu.”

Selagi hendak berjalan, pintu itu tiba2 terbuka, Hui Kong Leang berjalan keluar matanya mengawasi Teng Soan dan Koan Sam Seng lalu bertanya, “Apakah saudara Koan baru dating? Saudara ini tentunya adalah saudara Teng Soan.”

Teng Soan tersenyum lalu berkata, “Saudara tentunya adalah Hui Kong Leang tayhiap dari gunung Oey-san?”

Dua orang itu satu sama lain belum pernah kenal, tetapi begitu bertemu muka, mereka hamper sama2 dapat menyebutkan namanya.

Ini suatu bukti bahwa mereka sama2 ingat baik apa yang telah didengar dalam rimba persilatan.

Teng Soan dalam hati merasa heran, pikirnya, “Mengapa orang2 ini sembunyi di dalam ruang pendopo kuil dan menutup rapat pintunya.” Sambil berpikir demikian ia bertindak masuk.

Dalam ruangan itu terdapat banyak orang yang berlainan pakaiannya dengan membawa senjata masing2, orang2 itu duduk bersila sambil memejamkan matanya, di tengah2 rombongan orang2 itu, tampak dua paderi berjubah kelabu.

Koan Sam Seng berkata dengan suara perlahan, “Siucai dan paderi itu adalah Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu.”

Dengan tenang Teng Soan mengawasi Tiat Bok dan Ki Bok taysu kemudian mengalihkan pandangan matanya ke setiap wajah semua orang yang ada di situ, ia mengawasi dengan sangat teliti kepada wajah semua orang itu.

Hui Kong Leang yang menyaksikan perbuatan teng Soan, lalu bertanya sambil tertawa, “Saudara Teng, apakah kau kenal dengan mereka semua?”

“Siaote jarang sekali berkelana di dunia Kang-ouw, kenalanku tidak banyak, aku hanya ingin mencari mata2 yang menyelundup ke dalam rombongan orang2 ini.”

Hui Kong Leang terkejut mendengar jawaban itu, pikirnya, “Siucai ini mengoceh, aku harus membuatnya malu di hadapan orang banyak.”

Ia lalu pura2 terkejut lalu berkata, “Urusan ini siaote dan kedua taysu dari Siao-lim-sie itu sudah menggunakan banyak waktu untuk mencari, tetapi masih belum berhasil menemukan, apakah saudara Teng dapat menunjukkan siapa mata2nya itu.

Teng Soan tersenyum, per-lahan2 ia mundur dua langkah, lalu berkata dengan suara perlahan kepada Koan Sam Seng dan Ong Khian, setelah itu ia berdiri serentak dengan Hui Kong Leang.

Koan Sam Seng diam2 mengerahkan kekuatan tenaganya, dengan tindakan lambat berjalan kea rah Tiat Bok Dan Ki Bok Taysu. Ong Khian berjalan di belakangnya terpisah kira2 tiga langkah.

Orang2 itu di luarnya nampak duduk bersila sambil memejamkan mata, tetapi sebagian besar sebetulnya pasang telinga memperhatikan kejadian di sekitarnya, ketika mendengar suara tindakan Koan Sam Seng, semua mata terbuka untuk menyaksikan perbuatan orang she Koan itu.

Koan Sam Seng setelah berada dekat dengan Tiat Bok dan Ki Bok Taysu lalu berkata sambil member hormat, “Tidak kusangka, taysu berdua….”

Tiba2 tangannya balik menyambar, dengan kecepatan luar biasa ia menyambar badan seorang laki2 berpakaian ringkas berwarna biru yang ada di sampingnya.

Laki2 itu ternyata sangat gesit, meskipun tindakan Koan Sam Seng itu dilakukan di luar dugaan orang, tetapi masih dapat dielakkan dengan baik, bahkan masih dapat menggunakan kakinya, untuk melakukan tendangan kepada Koan Sam Seng.

Setelah kedua orang itu bertarung, Ong Khian segera bertindak, tangannya menyambar pergelangan tangan kiri orang berbaju biru itu.

Semua mata orang banyak ditujukan kepada orang berbaju biru itu, tetapi semua agaknya tidak mengenal orang itu.

Orang berbaju biru itu ternyata sangat lincah, dengan gayanya yang bagus ia berhasil mengelakkan sambaran tangan Ong Khian, kemudian balas menyerang dada orang she Ong itu.

Dengan cepat Ong Khian mundur dua langkah, mengelakkan serangan orang itu.

Koan Sam Seng mengeluarkan geraman hebat, tangan kanan dengan cepat melancarkan satu serangan, sedang tangan kirinya dengan menggunakan ilmu Tang-kin-na-chiu- hoat, menyambar pergelangan tangan orang baju biru.

Tetapi orang berbaju biru itu sangat tinggi kepandaiannya, kedua serangan Koan Sam Seng ternyata dapat dielakkan dengan baik.

Koan Sam Seng terkejut, tanpa ayal lagi ia melancarkan serangannya yang kedua.

Baik di dalam golongannya sendiri, maupun dalam kalangan Kang-ouw, Koan Sam Seng mempunyai nama baik, di bawah mata orang banyak, ia tidak mampu membekuk seorang yang tidak pernah dikenal oleh orang banyak, dalam hati merasa mendongkol maka serangannya itu ia sudah menggunakan kekuatan tenaga sepenuhnya, dapat diduga betapa hebatnya serangan itu.

Laki2 berbaju biru itu menyambut serangan Koan Sam Seng, tetapi segera terpental mundur tiga langkah.

Koan Sam Seng yang sudah berhasil dengan serangannya itu ia terus maju mendesak, dengan beruntun melancarkan serangannya sampai tiga kali.

Laki2 berbaju biru itu sangat repot, sementara itu serangan Koan Sam Seng terus dilancarkan semakin gencar.

Laki2 berbaju biru itu ber-putar2an bagaikan gangsing, dalam satu serangan yang hebat, orang itu sudah tidak dapat mengelakkan lagi, sehingga menggunakan tangannya untuk menyambut serangan Koan Sam Seng.

Tak disangka serangan Koan Sam Seng tiba2 berobah, tangannya itu bukannya digunakan untuk menyerang, tetapi untuk memegang pergelangan tangan.

Laki2 baju biru itu ketika pergelangan tangan kanannya tercekal, tangan kirinya mendadak bergerak, tetapi sebelum tercapai maksudnya yang hendak melakukan serangan, segumpal jarum perak jatuh dari genggamannya. Dari sinar matahari yang menyorot masuk melalui pintu, nampak tegas bahwa jarum perak itu memancarkan sinar berwarna biru, jelaslah bahwa jarum yang halus itu semua sudah direndam dengan air berbisa.

Koan Sam Seng diam2 juga bergidik, apabula ia tidak keburu menambah kekuatannya untuk menekan pergelangan tangan orang itu, sehingga tidak bertenaga melancarkan serangannya dengan jarum perak, dalam jarak yang demikian dekat, pasti sulit untuk menghindarkan serangan itu.

Pada saat itu tiba2 terdengar seruan Teng Soan, “Lekas totok jalan darahnya….”

“Ia sudah tidak ada kemampuan melawan, tidak perlu lagi….” menjawab Koan Sam Seng, tetapi sebelum habis ucapannya wajah laki2 berbaju biru itu tiba2 berubah, air keringat membasahi jarinya.

Teng Soan yang menyaksikan keadaan itu, berkata sambil menghela napas perlahan, “Tersia-sia semua usaha kita.”

Koan Sam Seng seolah-olah baru tersadar, dengan cepat ia menotok jalan darah orang berbaju biru itu, saying sudah terlambat, racun di badan orang itu sudah bekerja, ketika jari tangannya menyentuh badan orang itu, wajah orang itu sudah pucat pasi, jiwanya sudah melayang.

Koan Sam Seng berdiri ter-mangu2, katanya, “Ini racun apa, mengapa bekerjanya demikian cepat?”

Hui Kong Leang menghampiri ia memerikasa bangkainya orang itu, lalu berkata sambil menghela napas perlahan, “Orang ini sedikitpun sudah tidak mendapat kesempatan menelannya racun yang berada dalam sakunya, entah bagaimana ia bisa binasa?”

Teng Soan juga menghampiri, hanya sebentar saja ia melihat bangkai itu, lalu berkata, “Racun itu berupa pel yang diraruh dalam mulutnya, waktu hendak menggunakannya, sudah cukup dengan menggigit bungkus luarnya, kemudian ditelannya ke dalam perut, setelah racun itu berada dalam perut segera bekerja dengan cepat.”

Hui Kong Leang tersenym dan berkata, “Dalam dunia Kang- ouw sudah lama tersiar kabar mengenai kepandaian Siao-yao- suicai, hari ini setelah kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, benar2 aku merasa kagum.”

“Seorang kutu buku yang lemah, apa gunanya bagaimana aku berani menerima pujian Hui tayhiap.” Menjawab Teng Soan.

“Ada suatu hal yang siaotee masih belum mengerti, entah berdasar atas apa saudara Teng bias mengetahui bahwa orang ini adalah mata2 musuh?”

“Soal ini sesungguhnya sangat mudah sekali tidak perduli siapa, asal memperhatikan sikap setiap orang, tidak susah untuk mengetahuinya.”

“Siaotee ingin dengan uraianmu.”

“Meskipun sangat mudah, tetapi yang penting harus mempunyai kepandaian untuk membedakan perobahan sikap orang, tadi waktu siaotee memasuki ruangan ini, sudah melihat sendiri bahwa pada dahi setiap orang, semua diliputi oleh kesedihan, hanya orang ini, sebaliknya diliputi oleh hawa rasa kebencian atau hawa napsu membunuh……. Siaotee kala itu masih khawatir salah lihat dengan pandangan mataku, maka kemudian minta bantuan tenaga saudara Koan, untuk turun tangan sebagai percobaan, apabila ia bukan seorang mata2, sudah tentu tidak akan mengerahkan tenaga secara diam2 untuk siap siaga, saudara tahu sendiri betapa cepat saudara Koan bertindak, apabila orang itu tidak berjaga, sudah tentu tidak dapat mengelakkan serangannya itu, tetapi nyatanya ia sudah ada persiapan….”

-odwo- Bab 34

TIBA-TIBA terdengar suara Tiat Bok Taysu berkata, “Omitahud, lolap justru diraisaukan hati lolap oleh perasaan ini, apabila Teng sicu tidak menggunakan akal untuk membukka rahasia itu, perbuatan mata2 ini mungkin tidak dapat diketahui dalam waktu yang singkat.”

Teng Soan member hormat, kemudain berkata sambil tertawa, “Siaotee diutus oleh Pangcu dating kemari untuk menengok tuan2 sekalian.”

“Apakah Auw-yang Pangcu juga sudah dating? Itu bagus, entah di mana sekarang ia berada?”

“PAngcu kita sebetulnya hendak dating sendiri untuk menengok tuan2, tetapi karena baru saja menerima berita nona Pan itu tampak di tepi sungai, bahkan sudah siap hendak berlayar di dalam kapalnya, Pangcu kita ada bersahabat erat dengan Pan loya, apa lagi belakangan ini sangat ramai tersiar kabar yang mengatakan bahwa nona Pan itu mungkin yang melakukan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, karena Pangcu khawatir ia merat, susah dicari lagi, maka buru2 menyusulnay, hendak mencegah suapaya jangan sampai berlalu, setelah dilakukan pemeriksaan, barulah akan dilapaskan.”

Hui Kong Leang menegur, “Apa? Apakah budak perempuan itu sudah berlalu dari gedung kelurarga Pan?”

“Ucapan siaotee tadi, semua menurut laporan yang diberikan oleh anak murid golongan kita yang sudah tidak berani membohong.”

Hui Kong Leang tiba2 berpaling dan berkata kepada Tiat Bok dan Ki Bok Taysu dengan suara nyaring, “Paderi tua, urusan sudah menjadi begini, apa masih perlu dengan pikiranmu yang selalu hendak mengikuti pelajaran Budha yang berkasih sayang terhadap kepada manusia? Kalian tidak ingin membunuh, tetapi se-tidak2nya juga jangan coba merintangi usaha kita, hem! Apabila waktu itu menuruti pikiranku, nona Pan itu sudah lama tertangkap oleh kita, masa ia masih mendapat kesempatan untuk kabur….”

Tiat Bok Taysu per-lahan2 bangkit dengan sikap yang agung ia berkata, “Ada satu hal lolap perlu memberitahukan kepada tuan2, tadi waktu lolap mengatur pernapasan telah merasakan bahwa dalam diri lolap sudah kemasukan racun….”

Mendengar perkataan itu, wajah orang2 yang berada di situ segera berubah, semua mata ditujukan kepada paderi tua itu.

Tiat Bok Taysu menarik napas panjang, kemudian berkata pula, “Tadi waktu lolap bersemedi diri lolap merasakan adanya sedikit perasaan aneh, agaknya sebagai tanda2 kemasukan racun.”

Teng Soan tiba2 berkata, “Memang benar, bukan saja losiansu sudah kemasukan racun, tetapi juga yang lainnya semua sudah kemasukan racun yang sangat berbisa.”

Tiat Bok Taysu berpaling dan berkata kepada Hui Kong Leang, “Saudara Hui, kalau begitu apa yang dikatakan oleh gadis itu ternyata benar.”

Hui Kong Leang mendadak memperdengarkan suara tertawa dingin kemudian berkata, “Saudara Teng coba saudara lihat apakah siaotee juga kemasukan racun?”

Teng Soan menunjukkan sunyumnya yang simpatik, kemudian berkata, “Saudara Hui mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sempurna, sekalipun kemasukan racun tetapi mungkin agak lambat bekerjanya.”

Hui Kong Leang tertawa ter-bahak2, “Waktu siaotee menulis nama di dalam buku kematian itu, sebelumnya sudah makan obat untuk menghindarkan racun.” “Tidak perduli bagaimana, Hui tayhiap juga sudah kemasukan racun, mungkin obat yang saudara makan itu tidak sanggup menolak racun yang lebih berbisa.”

“Dari mana saudara Teng mendapat lihat tanda2 siaotee kemasukan racun, sedangkan siaotee sendiri sedikitpun tidak merasa.”

“Bukanlah siaotee hendak omong besar, dalam waktu satu bulan, racun dalam diri saudara, pasti akan bekerja.”

Hui Kong Leang yang mendengar keterangan itu setengah percaya setengah curiga, ia coba mengatur pernapasannya lagi, masih tidak merasakan tanda apa2, hingga dalam hati merasa tidak senang, pikirnya, “Siucai ini karena berhasil menemukan mata2 nampak semakin sombong.”

Seketika itu ia perdengarkan suara ketawa dingin dan berkata, “Apabila dalam waktu satu bulan racun itu tidak bekerja bagaimana?”

“Apakah saudara Hui hendak bertaruh dengan siaotee?” “Siaotee selamanya tidak percaya segala ilmu gaib, apabila

saudara Teng ingin bertaruh denganku, sudah tentu siaotee suka mengiringi kehendakmu.”

“Dengan cara bagaimana kita harus bertaruh?” “Terserah.”

“Bagaimana kalau siaotee mempertaruhkan batok kepala siaotee? Apabila dalam waktu satu bulan racun dalam tubuh saudara Hui tetap tidak Nampak bekerja, saudara boleh dating keperkumpulan pengemis minta kepala siaotee kepada Pangcu, siaotee pasti akan berikan.”

Hui Kong Leang tidak menduga bahwa pertaruhan ini demikian hebat, hingga seketika itu berdiri melongo.

Koan Sam Seng tiba2 menghampiri dan berkata kepada Teng Soan dengan suara perlahan, “Kepandaian orang ini sangat tinggi sekali, saudara Teng jangan banyak bergaul dengannya.”

Ia sebetulnya ingin mengatakan jangan bergaul dengan orang2 semacan ini yang akhirnya membawa kerugian, tetapi sebelum mengutarakan maksudnya, tiba2 dirubah perkataannya.

Hui Kong Leang lalu berkata, “Baiklah, kalau saudara Teng berani mempertaruhkan kepalanya, siaote terpaksa menurut.”

Tiat Bok Taysu yang menyaksikan dua orang itu bertengkar sendiri, lalu berkata, “Tuan2 berdua perlu apa harus bertengkar sendiri, lolap sudah lama tidak bertemu dengan Auw-yang Pangcu, sebaiknya kita lekas pergi ke tepi sungai, bukan saja dapat menjumpai sahabat lamaku, tetapi juga dapat membantunya untuk mencegah kaburnya anak perempuan itu.”

Mendadak ia berhenti, matanya menyapu kea rah orang banyak sejenak, kemudian berkata pula, “Anak perempuan itu sudah dapat meracuni kita secara licin dan tidak disangka sangka, tentu juga mempunyai obat pemunah racunnya, apabila kita dapat menangkap hidup2, tidak susah bagi kita untuk memaksanya supaya memberikan obat pemunah.”

Orang2 yang ada di situ semua adalah orang2 Kang-ouw ulung, pengetahuan dan pengalamannya sudah lulus, ketika mereka menulis nama di dalam buku kematian, semua sudah waspada, maka mereka semua merasa heran mendengar omongan bahwa diri mereka sudah kemasukan racun.

Sebab keadaan fisik, jasmani dan kepandaian tiap2 orang sangat berlainan, maka racun yang masuk dalam diri mereka juga ber-beda2 pengaruhnya. Namun demikian, mereka juga tidak berani mengabaikan diri sendiri begitu saja, maka ketika mendengar Tiat Bok Taysu hendak mengejar gadis itu untuk memaksanya supaya menyerahkan obat pemunah racun, lalu bangkit. Teng Soan tersenyum, kemudain berkata kepada Hui Kong Leang, “Apa yang dikatakan oleh Tiat Bok Taysu memang benar, kita tidak perlu bertengkar sendiri, supaya tidak meretakkan perhubungan kita.”

“Tidak perduli bagaiman siaote tetap tidak percaya bahwa diri siaote kemasukan racun.”

Maksud Teng Soan mengeruhkan suasana itu, sebetulnya ingin supaya Tiat Bok Taysu yang mengusulkan sendiri untuk pergi menjumpai Auw-yang Pangcu, usaha itu ternyata berhasil, maka ia lalu berkata sambil tersenyum, “Jikalau saudara Hui tidak percaya perkataan siaote, siaote juga tidak bisa berbuat apa2….”

Ia berhenti sejunak kemudian berkata pula, “Apabila kita bisa menangkap hidup2 gadis berbaju putih itu, mungkin bisa ditanya benar atau tidak diri saudara Hui sudah kemasukan racun….”

Hui Kong Leang tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Siaote sudah hamper duapuluh tahun belum pernah bertemu dengan Auw-yang Pangcu, dalam hati juga sudah lama ingin bertemu, maka kalau mau pergi, marilah kita lekas pergi.”

Dengan mendahului yang lainnya, ia berjalan keluar. Perbuatan itu segera diikuti oleh yang lainnya.

Orang2 golongan pengemis beberapa di antaranya sudah menunggu di luar, ketika melihat Teng Soan dan Koan Sam Seng, segera member hormat, Koan Sam Seng segera bertanya kepada mereka, “Di mana sekarang Pangcu berada?”

Seorang di antara mereka menjawab dengan sikap menghormat, “Sekarang berada di tepi sungai, sedang menunggu kedatangan Teng-ya dan Koan-ya.”

Teng Soan Nampak mengerutkan alisnya, “Apakah ada urusan pentinga?” Orang itu Nampak bersangsi, lama baru menjawab, “Kita telah mendapat perintah untuk menyambut Teng-ya dan Koan-ya supaya lekas menyusul ke tepi sungai, agaknya….”

Orang itu agaknya mempunyai kesulitan, sehingga tidak dapat melanjutkan perkataannya.

Teng Soan yang menyaksikan keadaan itu, sudah tahu bahwa di sana terjadi suatu kejadian penting, maka ia lalu berkata, “Tidak usah kau katakana, lekas tunjuk jalan kita.”

Ia lalu menggapai kepada kusir keretanyak, kereta keladai itu dengan cepat menghampiri, Teng Soan segera naik ke atas untuk pergi ke tepi sungai.

Koan Sam Seng meninggalkan kudanya, ia berjalan kaku ber-sama2 rombongan orang banyak.

Sebentar kemudian, mereka sudah menampak sungai yang lebar itu.

Di tepi sungai tampak sebuah kapal layar besar, di atas daratan nampak ber-gerak2 bayangan orang yang agaknya sedang bertempur.

Tiat Bok Taysu mempercepat tindakan kakinya lari menuju ke tempat itu.

Hui Kong Leang, Koan Sam Seng, Ki Bok Taysu, Ong Khian dan lain2nya segera menyusul.

Tiba di tempat itu, baru melihat bahwa kapal layar besar itu di tempat di permukaan air, sejarak lima tombak dari tepi sungai, di antara kapal layar dan tepi sungai, ditambat sebuah perahu kecil.

Di atas perahu kecil itu berdiri seorang pemuda bermuka kuning, tetapi berbadan tegap, dengan mata yang bersinar, pemuda itu mengawasi orang2 di tepi sungai.

Seorang laki2 berpakaian warna kuning, berdiri di tepi sungai sambil mengawasi pemuda itu tanpa berkedip. Teng Soan menghampiri orang berbaju kuning itu, lalu berkata dengan suara perlahan, “Pangcu, adakah orang2 kita yang dilukai oleh pemuda di atas perahu itu?”

Orang berbaju kuning itu yang bukan lain dari pada Pangcu dari golongan pengemis lalu menjawab, “Benar, sudah ada delapan orang yang coba melawan kepadaian pemuda itu, tiada seorang pun yang dapat melawan sampai sepuluh jurus.”

Seorang laki2 bermuka sawo matang yang berdiri di satu sudut berkata, “Pangcu, bagaimana kalau kau yang mencobanya?”

“Tidak perlu….” berkata Teng Soan, “Tiat Bok dan Ki Bok Taysu dari Siao-lim-sie serta Hui Kong Leang dari gunung Oey- san dan yang lain2nya semua ada di sini, apakah Pangcu ingin menemui mereka?”

Pemimpin golongan pengemis itu agaknya sudah tertarik semua perhatiannya oleh pemuda bermuka kuning itu, matanya tidak berkisar dari badan pemuda itu, sehingga sudah tidak tahu kedatangan rombongan orang banyak itu, setelah mendengar perkataan Teng Soan, ia baru menoleh, setelah mengetahui kedatangan orang2 itu baru menghampiri dengan tindakan lebar, sambil tertawa ter-bahak2 ia berkata, “Losiansu berdua, sudah lama kita tidak berjumpa.”

Tiat Bok Taysu menjawab dengan merangkapkan kedua tangannya smabil berkata, “Auw-yang Pangcu, apakah selama kita berpisah baik2 saja?”

Teng Soan ketika menyaksikan Pangcunya ber-omong2 dengan Tiat Bok Taysu, lalu berkata kepada Pek Kong Po dengan suara perlahan, “Pemuda di atas perahu itu, benarkah tinggi sekali kepandaiannya?”

“Sedikitpun tidak salah, dengan anggauta pelindung hukum perkumpulan kita, satu persatu dipaksa terjun ke dalam air olehnya,” jawab Pek Kong Po. “Pemuda itu mukanya kering dan kuning, tetapi kedua tangannya putih halus, pasti mempunyai kepandaian istimewa, kalau tidak begitu, tentunya menggunakan obat untuk merubah mukanya.”

Sipengawal besi Ciu Cay Cie lantas berkata, “Teng-ya, aku ingin naik ek perahu untuk mencoba kepandaiannya.”

“Tidak perlu, Pancu tidak mau memerintahkan kalian berdua naik ke atas perahu itu, tentunya sudah dapat lihat bahwa kepandaian pemuda itu, tidak di bawah kepandaian kalian.”

Ciu Cay Cie berkata sambil terawa dingin, “AKu siorang she Ciu sejak mengikuti Pangcu, entah beberapa banyak pertempuran aku lakukan, entah berapa banyak orang kuat aku hadapi, apakah satu bocah saja aku tidak sanggup menghadapi? Asal Teng-ya suka memberi perintah, lihat aku siorang she Ciu nanti akan membuat diri pemuda itu takluk di hadapanku!”

“DAlam urusan ini harus mendapat putusan Pangcu sendiri, maafkan aku tidak berani melampaui batas2 kekuasaanku.”

Ciu Cay Cie nampaknya penasaran, tetapi ia tidak bisa berbuat apa2.

Teng Soan juga tidak memperdulikan kepadanya, dengan suara perlahan ia berkata kepada Pek Kong Po, “Kau awasi Ciu Cay Cie, jangan sampai ia bertindak sendiri.”

Penasehat golongan pengemis itu berjalan menghampiri Tiat Bok Taysu.

Pada saat itu Tiat Bok dan Ki Bok Taysu serta Hui Kong Leang sedang bicara dengan pemimpin golongan pengemis sambil menunjuk kea rah kapal besar.

Terdengar perkataan Tiat Bok Taysu, “Malam itu ketika lolap berada di gedung keluarga Pan, sudah pernah melihat orang itu, ditilik keadaannya pada waktu itu, agaknya bukan orang keluarga Pan, tetapi sekarang dengan seorang diri ia mencegah orang2 yang hendak ke atas akapl, rupanya ia hendak membela gadis baju putih itu, menurut pikiran lolap, mungkin ia sudah dilupakan pikirannya oleh pengaruh obat.”

Pemimpin golongan pengemis itu berkata, “Memang benar, ketika orang2 golongan kita bertempur dengannya, aku juga pernah menyaksikan dengan seksama gerak-geriknya, meskipun tinggi kepandaiannya, tetapi gerakannya sedikit kaku, mungkin tidak salah anggapan taysu itu.”

Hui Kong Leang tiba2 berkata dengan suara nyaring, “Auw- yang Pangcu, benarkah budak perempuan keluarga Pan itu berada di atas kapal layar besar itu?”

“Jika suadara Hui tidak percaya, silahkan pergi periksa sendiri, siaotee selamanya tidka pernah membohong,” demikian pemimpin golongan pengemis itu menjawab.

Sebagai satu pemimpin, sudah tentu ia merasa tidak senang ditanya dengan suara keras seperti Hui Kong Leang itu, sekalipun ia sendiri masih bisa berlaku sabar, tetapi orang2 golongan pengemis mungkin penasaran, maka ia menjawab dengan perkataan agak kasar, supaya anak2 murid golongan pengemis jangan sampai merasa kurang senang.

Hui Kong Leang melengak, ia berkata sambil tertawa dingin, “Auw-yang Thong, apakah kau sudah memastikan aku siorang she Hui tidak mampu meliwati perahu kecil itu?”

Koan Sam Seng ketika mendengar Hui Kong Leang memanggil nama pemimpin secara tidka sopan, seketika itu lantas marah, dia berkata sambil tertawa dingin, “Hui Kong Leang, apabila kau yakin dapat menerjang perahu kecil itu, kau boleh segera bertindak, kau bukan murid atau anggauta golongan pengemis, tidak perlu minta ijin kepada Pangcu.”

“Sudah berapa tahun aku tidak turun gunung segala kurcaci hendak berlakau bertingkah….” berkata Hui Kong Leang gusar. Koan Sam Seng membentak dengan suara keras, “Mulutmu jangan asal dibuka saja, kau maki siapa?”

Sikaki sakti dan sipengawal besi yang berdiri tidak jauh, ketika melihat dua orang itu bertengkar, segera lari menghampiri dan berdiri mendampingi pemimpinnya.

Tiat Bok Taysu setelah memuji nama budha, lalu berakata, “Tuan2 berdua jangan rebut di hadapan musuh tanguh, kita bagaimana boleh timbul pertikaian sendiri di dalamnya, harap tuan2 sudi pandang muka lolap, berlakulah sabar untuk sementara>”

Auw-yang Thong tersenyum, ia berkata kepada Tiat Bok Taysu sambil menghormat, “Losiansu jangan khawatir, siaote sudah lama mendengar kabar nama besar saudara Hui, hanya sepatah dua patah kata yang diucapkan menurut hawa napsu, tidak nanti sampai menimbulkan pertikaian.”

Hui Kong Leang yang masih belum sirap hawa amarahnya, dengan tindakan lebar berjalan menghampiri perahu itu sambil berkata dengan suara nyaring, “Aku tidak percaya ia sanggup menjaga perahu kecil itu tanpa dapat dilewati orang.”

Tiba2 ia mendengar suara tindakan kaki orang, empat laki2 berpakaian ringkas lari melalui Hui Kong Leang dan melompat ke atas perahu kecil itu.

Hui Kong Leang yang menyaksikan gerakkan empat orang itu, nampaknya semua mempunyai kepandaian cukup tinggi….”

Pemuda muka kering kuning yang menjaga di atas perahu kecil itu, bukan lain dari pada Siang-koan Kie, ketika melihat ada orang lompat ke atas perahunya, segera disambut dengan satu serangan tangan.

Satu di antara empat orang yang lompat ke atas perahu itu menyambut dengan tangannya, tetapi segera terpental ke tengah udara, kemudian terjatuh dalam air. Hui Kong Leang yang menyaksikan kejadian itu, dalam hati diam2 berpikir, “Bocah ini di luarnya tidak menunjukan tanda2 luar biasa, mengapa kekuatannya begitu hebat? Apakah aku salah mata?”

Tiga orang lainnya ketika menyaksikan kawannya kecebur ke dalam sungai, segera menyerang dari tiga jurusan.

Siang-koan Kie tiba2 melesat tinggi ke atas, tangannya melancarkan satu serangan kepada orang yang berada di tengah itu.

Orang itu agaknya tidak menduga pemuda itu bisa melesat tinggi, maka waktu diserang nampaknya sangat bingung, selagi masih berpikir harus menyambut serangan itu atau tidak, tinju Siang-koan Kie yang hebat sudah mampir di dadanya, hingga orang itu berjumpalitan dua kali kemudian kecebur ke dalam air.

Siang-koan Kie yang sudah berhasil menjatuhkan lawannya, badannya berputaran bagaikan kitiran dan menyerbu kepada orang yang berdiri disebelah kiri itu.

Orang yang berdiri di sebelah kanan ketika melihat Siang- koan Kie menyerang kawannya, segera mengerahkan kekuatan tenaganya, dengan cepat menyerang belakang punggung Siang-koan Kie.

Orang yang berdiri di sebelah kiri itu mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya, menyambut serangan Sianbg-koan Kie, tetapi ia telah terpental hamper roboh.

Orang yang berdiri di sebelah kanan, ketika serangannya itu hendak mengenai belakang punggung Siang-koan Kie, tiba2 melihat Siang-koan Kie berkelit ke samping menghindarkan serangannya.

Karena orang itu menggunakan tenaga terlalu besar, ketika serangannya mengenai tempat kosong, badannya lalu nyelonong ke depan, Siang-koan Kie menggunakan kesempatan itu menyerang punggung orang tersebut.

Serangan itu cukup berat hingga orang itu mulutnya menyemburkan darah kemudian kecebur ke dalam sungai.

Orang yang berdiri di sebelah kiri, ketika menyaksikan kawannya diserang oleh Siang-koan Kie, sebelum ia dapat memberi bantuan, telah tertumbuk oleh kedua kawannya, hingga ikut tercebur ke dalam air.

Hui Kong Leang yang menyaksikan pemuda itu merobohkan keempat lawannya demikian mudah, dalam hati terkejut, ia tidak tahu murid siapa pemuda yang belum pernah dikenalnya itu. Setelah itu ia lalu melompat melesat ke atas perahu itu.

Siang-koan Kie yang melihat kedatangan Hui Kong Leang, segera melanjutkan serangannya.

Kali ini mungkin ia menggunakan tenaga penuh, hingga perahu itu sampai ber-goyang2.

Hui Kong Leang mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya di tangan kanan, untuk menyambut serangan Siang-koan Kie,

Ketika kekuatan tenaga dua orang itu saling beradu timbul goncangan hebat pada perahu kecil itu, Siang-koan Kie tidak bisa berdiri tegak, dengan beruntun mundur tiga empat langkah.

Perahu kecil yang sudah bergoncang hebat itu ketika diinjak oleh Siang-koan Kie yang mundur sampai tiga langkah, perahu itu berguncang semakin hebat.

Hui Kong Leang juga terpental ke atas, sehingga terbang setinggi sembilan kaki, baru berhasil mempertahankan dirinya.

Dengna mengadu kekerasan itu, terkejutnya dalam hati Hui Kong Leang, dirasakan lebih hebat dari pada terpental dirinya, setelah ia berhasil menenangkan kembali pikirannya, sebelum Siang-koan Kie berdiri tegak, ia sudah melompat turun ke dalam perahu.

Pada saat itu, ia sudah memandang Siang-koan Kie sebagai lawan tangguh, ketika berada dalam perahu, segera melancarkan serangannya, ia ingin mendorong Siang-koan Kie ke dalam air sebelum pemuda itu berdiri tegak.

Di luar dugaan sebelum serangannya itu menyentuh diri Siang-koan Kie, pemuda itu tiba2 lompat melesat, dengan gaya yang sangat bagus sekali mengelakkan serangannya, kemudian melayang turun dan balas menyerang.

Hui Kong Leang tiba2 maju dua langkah, tangan kanannya menyerang dada, kakinya membabat bagian tulang iga.

Siang-koan Kie yang menghadapi dua macam serangan hebat itu, ternyata tidak menyingkir, dengan merangkapkaan kedua tangannya, ia menggunakan gerak tipu yang luar biasa, telah berhasil menyingkirkan dua serangan Hui Kong Leang yang hebat itu.

Kini keadaan telah memaksa Hui Kong Leang mau tidak mau harus mundur dua langkah, untuk menghindarkan serangan pembalasan Siang-koan Kie.

Disaksikan oleh orang banyak, Hui Kong Leang tidak berhasil menjatuhkan lawannya yang dianggap ringan tadi, hingga dalam hati marah sekali. Pikirnya, “Hari ini apabila aku tidak berhasil menjatuhkan bocah ini, pasti akan ditertawakan oleh orang2 golongan pengemis.”

Karena berpikiran demikian, timbullah napsunya hendak membunuh Siang-koan Kie, tiba2 ia mengankat kaki tangannya, sedang tangan kirinya menggunakan ilmu Kin-na- ciu-hoat, dan tangan kanannya dikepal untuk melancarkan serangannya. Ia melakukan serangan dengan kedua tangannya dan macam gerak tipu, gerakannya itu menimbulkan rasa kagum bagi semua orang yang menyaksikannya.

Siang-koan Kie agaknya tidak menghiraukan serangan orang she Hui itu, dengan badan berputaran, dan gaya yang luar biasa anehnya, ia telah berhasil mengelakkan serangan Hui Kong Leang, bahkan dapat balas menyerang dengan menggunakan kaki dan tangannya.

Serangan pembalasan itu dilakukan sangat cepat dan hebat sekali.

Hui Kong Leang ternyata sudah terdesak mundur sampai dua langkah, kini ia baru tidak berani memandang ringan lawannya itu lagi, ia harus menghadapi lawannya dengan sangat hati2, namun demikian setiap serangannya juga masih dilakukan dengan cepat.

Demikainlah di atas perahu kecil itu lalu terjadi pertempuran hebat yang jarang tertampak dalam rimba ptersilatan.

Tiat Bok Taysu, Ki Bok Taysu, Auw-yang Thong dan Koan Sam Seng, semua telah dikejutkan oleh kepandaian Siang- koan Kie yang luar biasa itu, sungguh tidak diduga bahwa satu orang muda yang belum terkenal namanya, ternyata bisa mengimbangi kekuatan dan kepandaian Hui Kong Leang yang sudah terkenal sebagai tokoh terkuat dalam dunia Kang-ouw.

Pada saat itu, orang2 di atas kapal layar besar itu, juga dikejutkan oleh pertempuran sengit itu, Touw Thian Gouw dan Wan Huaw juga terdapat di antara orang2 yang menyaksikan pertempuran tersebut.

Wan Huaw dengan sikapnya yang tegang, matanya terus mengawasi jalannya pertempuran, khawatir Siang-koan Kie tidak sanggup melawan musuhnya. Tidak lama kemudian, gadis berbaju putih itu per-lahan2 keluar dari dalam kapal, ia berdiri di kepala kapal menyaksikan pertempuran itu.

Hui Kong Leang yang hendak mempertahankan nama baik dan kedudukannya, saat itu sudah marah benar2, serangannya makin lama makin hebat.

Siang-koan Kie agaknya juga mempunyai kekuatan tenaga dalam yang tidak terbatas dan gerak tipunya yang tidak habis2, tidak perduli betapa ganas dan hebat serangan Hui Kong Leang, semua dilayani dengan mudah.

Dalam waktu sangat singkat, pertempuran itu sudah berjalan dua ratus jurus lebih, bahkan jalannya pertempuran semakin seru, kedua fihak agaknya sama2 mempunyai kekuatan tenaga yang tidak habis2nya, hingga sebegitu jauh belum kelihatan tanda2 mana yang akan kalah.

Tiat Bok Taysu menarik napas perlahan, ia berpaling dan berkata kepada Auw-yang Thong, “Auw-yang Pangcu sudah lama berkelana di dunia Kang-ouw, apakah sudah tahu dari golongan mana kepandaian ilmu silat pemuda itu?”

Auw-yang Thong menjawab sambil menggelengkan kepala, “Gerak tipu yang digunakan sangat luas sekali, ada pelajaran ilmu silat dari golongan kalian Siao-lim-pay, juga ada dari golongan Bu-tong-pay, banyak lagi gerak tipu serangan dari berbagai golongan, semua gerak2 tipunya itu ada dari golongan kebenaran yang hebat keras, tetapi ada yang ganas telegas, sehingga sangat membingungkan orang.”

“Kedua orang itu seperti mempunyai kekuatan yang tidak habis2nya, nampaknya pertempuran hebat ini akan berlangsung lama.”

Tiat Bok Taysu berkata, “Apabila orang2nya gadis berbaju putih itu masing2 mempunyai kepandaian seperti pemuda itu, maka dalam pertempuran yang akan terjadi nanti, barangkali kedua pihak akan sama2 mengalami kerusakan hebat.” Auw-yang Thong juga sudah dapat melihat bahwa Hui Kong Leang sudah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, setiap serangannya dilakukan dengan tanpa kenal kasihan, kepandaian dua orang itu sangat berimbang, hanya kekuatan tenaga dalam Hui Kong Leang nampak lebih unggul, tetapi gerak tipu serangan Siang-koan Kie yang lebih aneh, yang menguntungkan pemuda itu.

Auw-yang Thong setelah menyaksikan lagi pertandingan itu lalu berkata, “Sudah beberapa puluh tahun siaote berkecimpung di kalangan Kang-ouw, bukan saja sudah pernah menyaksikan, tetapi juga sudah mengalami sendiri banyak sekali pertempuran sengit, tetapi belum pernah menyaksikan pertempuran dengan menggunakan kepandaian untuk bertempur dalam jarak pendek seperti ini, nampaknya kita hanya dapat mengharap pengalaman saudara Hui untuk dapat memenangkan pertempuran ini.

Tiat Bok Taysu berkata, “Pendapat saudara Auw-yang memang benar, lolap juga piker begitu, aih! Seandainya Hui tayhiap jatuh di tangan pemuda itu, ini besar sekali pengaruhnya bagi nama baiknya.”

Ki Bok Taysu tiba2 menyela, “Perlukah siaote yang menggantikannya?”

“Hui tayhiap beradat keras, kali ini ia sudah marah benar2, apabila kau menggantikannya, barangkali ia akan merasa tidak senang, apalagi kepandaian kita juga belum tentu di atas Hui tayhiap.” Berkata Tiat Bok Taysu.

“Meskipun ucapan suheng ini benar, tetapi kita toh tidak dapat membiarkan sampai nama Hui tayhiap ternoda karena pertempuran ini, seandainya ia kalah, barangkali….”

Pada saat itu tiba2 terdengar suara bentakan Hui Kong Leang, “Coba sambut ilmuku tangan Cu-see-ciang!” Ki Bok Taysu yang mendengar suara bentakan itu, tidak melanjutkan perkataannya, matanya ditujukan kepada Hui Kong Leang.

Di bawah sinar matahari, tangan kanan Hui Kong Leang Nampak merah membara, tangan itu didorong kea rah Siang- koan Kie.

Siang-koan Kie menyaksikan tangan yang agak berbeda itu, tidak berani menyambut ia lompat menyingkir.

Hui Kong Leang tertawa bergelak-gelak, tangan itu digunakan untuk menyerang.

Dari serangan tangan itu mengeluarkan hembusan angin panas yang hebat.

Siang-koan Kie mengerutkan alisnya, ia melompat ke suatu sudut di atas perahu, kembali berhasil mengelakkan serangan itu.

Dua kali Hui Kong Leang menyerang tidak berhasilm ia tidak mengejar lagi, ia berdiri di tengah2 perahu, per-lahan2 mengangkat tangan kanannya.

Tiat Bok Taysu berkata, “Ilmu pukulan Cu-see-ciang yang sulit dipelajari, oleh Hui tayhiap sudah dilatih demikian sempurna, ilmu pukulan ini terlalu panas, mungkin pemuda itu tidak sanggup menyambutnya.”

Sementara itu mata Siang-koan Kie terus ditujukan kepada tangan kanan Hui Kong Leang yang meran membara itu, agaknya ia sudah tahu hebatnya tangan itu.

Akhirnya tangan merah Hui Kong Leang itu per-lahan2 mendorong maju, kali ini gerakan itu sangat lambat sekali, jauh berbeda dari pada yang duluan.

Pada saat itu, gadis berbaju putih yang berdiri di atas kapal besar, agaknya juga sudah mengetahui tangan Hui Kong Leang mengandung bisa itu, ia takut Siang-koan Kie terluka, segera berpaling dan memberi pesan kepada Touw Thian Gouw yang berdiri di sampingnya.

Pada saat itu tiba2 Siang-koan Kie membusungkan dada, kemudian mengulur tangan kanannya, dengan dua jari tangan menyerang tangan Hui Kong Leang yang merah itu.

Ketika jari tangan itu menyentuh telapak tangan merah, Hui Kong Leang tiba2 melompat mundur, sedang Siang-koan Kie masih tetap berdiri di tempatnya.

Sesosok bayangan manusia dari atas kapal melayang turun ke dalam perahu kecil itu.

Tiat Bok Taysu sambil memuji nama Budha ia berkata, “Hui tayhiap barang kali sudah terluka.”

Sesaat itu juga ia lompat melesat ke dalam perahu kecil.

Walaupun ia bergerak belakangan, tetapi karena gerak badannya sangat gesit, hampir serentak dengan Touw Thian Gouw tiba di atas perahu kecil itu.

Touw Thian Gouw menghalang di depan Siang-koan Kie, sedang Tiat Bok Taysu turun di samping Hui Kong Leang.

Hui Kong Leang mengawasi Tiat Bok Taysu sejenak lalu berkata, “Orang ini melatih ilmu kepandaian jari tangan Thian- seng-cie, yang khusus untuk memecahkan segala kepandaian yang aneh2, siaote karena tadi kurang hati2, sehingga mengalami kerugian.

Tiat Bok Taysu tahu bahwa Hui Kong Leang itu yang beradat keras dan sombong, di bawah mata orang banyak, telah mengalami kerugian sebesar itu, kemarahannya sudah pasti makin memuncak, maka ia lantas menghibur;

“Sesuatu kepandaian mempunyai lawannya ter-sendiri2, kalau menemukan lawan lebih hebat memang harus menerima kekalahan, ini bukan berarti kalah benar2, tetapi entah bagaimana keadaan luka tayhiap?” “Masih untung, selagi jari orang itu baru menyentuh tanganku, aku sudah dapat melihat bahwa orang itu menggunakan ilmu Thian-seng-cie, suatu kepandaian ilmu silat yang sudah beberapa puluh tahun menghilang dari dunia Kang-ouw, maka aku segera tarik kembali seranganku, andaikata aku bertindak kurang gesit, barangkali aku sudah terluka parah.”

“Harap Hui tayhiap beristirahat dulu, lolap hendak mencobanya.”

Sementara itu Ki Bok Taysu dan Auw-yang Thong, juga sudah melayang turun ke dalam perahu kecil.

-odwo-

Bab 35

PEMIMPIN golongan pengemis itu setelah berdiri di atas perahu kecil, lalu berkata ke arah kapal layar, “Aku yang rendah Auw-yang Thong dari golongan pengemis, siapakah kiranya yang berhak berbicara denganku?”

Gadis berbaju putih itu tertawa dingin, kemudian berkata, “Kau kiranya Auw-yang Pangcu, nama itu sering aku dengar dari ayah.”

Auw-yang Thong sudah mendapat keterangan dari Koan Sam Seng apa yang telah terjadi di dadam kuil tua itu, hingga tahu gadis itu bukan anak perempuan Pan Loya, maka ia lalu berkata sambil tersenyum, “Bensarkah Khiun-cu adalah nona Pan?”

Wajah gadis berbaju putih itu mendadak berobah, lalu balas menanya, “Kalau ia bagaimana? Dan kalau bukan mau apa?”

Auw-yang Thong tiba tiba tertawa bergelak-gelak, kemudian berkata, “Aku dengan Pan Lo Enghiong, bukan merupakan sahabat biasa, kalau nona benar adalah anak perempuan Pan Lo Enghiong silahkan nona datang keperkumpulan kami, aku sebagai seorang golongan tua, sepatutnya terima nona sebagaimana pantasnya, apabila nona bukan nona Pan, terpaksa aku akan perlakukan dengan lain cara….”

Di atas wajah gadis berbaju putih yang angkuh dingin itu, tiba2 menunjukkan senyum ramai.

“Jikalau aku tidak mau pergi, bagaimana?”

“Urusan sudah sampai ke suatu titik yang tidak boleh tidak harus diselesaikan, pergi atau tidak, barangkali tidak dapat nona putuskan sendiri.”

“Benar saja sebagai seorang pemimpin dari satu golongan, perkatanmu juga sombong sekali.”

“Apabila nona tetap tidak mau pergi, terpaksa aku hendak menggunakan kekerasan.”

Gadis itu mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak, lalu berkata, “Apabila Pangcu yakin mempunyai kekuatan, boleh coba saja.”

“Kalau kau berkata demikian, aku tidak akan berlaku sungkan lagi.” Berkata Auw-yang Thong sambil tertawa dingin, mendadak menggapaikan tangannya, Pek Kong Po yang berdiri di pantai, lalu mengeluarkan benda yang seperti tanduk kerbau dan ditiupnya.

Gadis itu mengawasi perbuatan Pek Kong Po itu hanya tersenyum saja, sedikitpun tidak menghiraukan.

Saat itu terdengar suara Tiat Bok Taysu yang berrkata dengan bersikap agung, “Tidak disangka sipecut sakti dari luar perbatasan yang namanya sangat kesohor dalam rimba persilatan ternyata juga telah menjadi kaki tangan musuh yang diperbudak oleh orang.” Touw Thian Gouw yang pikirannya masih waras seperti biasa, mendengar teguran itu hatinya merasa pilu, tetapi ia juga takut perbuatannya itu diketahui oleh gadis berbaju putih

, maka lekas2 berpaling pura2 tidak dengar.

Ki Bok Taysu berkata kepada kawanya dengan suara perlahan, “Biarlah aku yang mencobanya.”

Dengan tindakan lebar Ki Bok Taysu menghampiri Touw Thian Gouw.

Siang-koan Kie yang sudah lupa kepada diri sendiri, begitu melihat orang mendatangi, segera disongsongnya.

Touw Thian Gouw sebetulnya ingin berkata apa2, tetapi ia tidak berani membuka mulut, meskipun ia sudah dianggap oleh gadis berbaju putih itu sebagai orang yang sudah diberi makan obat melupakan dirinya sendiri, sehingga segala apa yang terjadi di sekitarnya ia dapat menyaksikannya, tetapi perbuatan orang berbaju hijau yang sangat misterius itu, hingga saat itu ia masih belum dapat tahu siapa sebetulnya orang itu, ia tidak mau melepaskan kesempatan menjadi mata2 itu, apalagi tentang asal usulnya dari siapa ia juga masih belum tahu, ia harus sabar menerima sagala hinaan, menantikan kesempatan untuk mendapat tahu asal usul orang2 itu.

Ini memang merupakan suatu pekerjaan yang sangat berat, setiap saat ada bahaya apabila kepergok perbuatannya, sebab Siang-koan Kie dan kedua jago pedang dari Ceng Sia Pay semua sudah makan obat yang melupakan dirinya sendiri, maka ia harus berlaku hati2, supaya terus ber-pura2 sebagai orang sudh diberi obat lupa diri.

Pada saat itu, Siang-koan Kie sudah berdiri ber-hadap2an dengan Ki Bok Taysu dalam jarak yang sangat dekat sekali.

Ki Bok Taysu bertanya kepada Siang-koan Kie, “Sicu sapa namanya?” Siang-koan Kie seperti orang bingung, ia balas menanya, “Kau menanyaku?”

“Benar, lolap menanyakan namamu.”

Siang-koan Kie Nampak berpikir sejenak, baru menjawab, “Alu bernama Siang-koan Kie.”

Ki Bok Taysu menyaksikan keadaan Siang-koan Kie seperti seorang linglung, sehingga hampir tak tahu namanya sendiri, dalam hati diam2 merasa heran, ia menghela napas per- lahan2 dan berkata pula, “Apakah kau telah makan obat yang membuat lupa pada dirimu sendiri?”

“Apa kau bilang?”

Sebelum Ki Bok Taysu bertanya lagi, gadis berbaju putih itu sudah mengeluarkan sebilah pedang pendek dan memerintahkan kepada Siang-koan Kie untuk segera membunuh paderi itu sambil menunjuk kea rah Ki Bok Taysu.

Ki Bok Taysu yang merasa kasihan, saat itu ia sudah melihat bahwa pemuda itu sudah makan obat sehingga melupakan keadaan dirinya sendiri, ketika ia diserang ia hanya lompat menyingkir sambil tersenyum.

Pedang pendek di tangan gadis itu terus bergerak gerak, Siang-koan Kie dengan mengikuti gerakan pedang pendek, melakukan serangannya semakin hebat.

Ketika Ki Bok Taysu merasakan tekanan hebat, ternyata sudah terlambat, sebab serangan Siang-koan Kie terus dilakukan tanpa kenal kasihan.

Ki Bok Taysu berusaha keras memperbaiki kedudukannya, dua kali ia pernah melakukan serangan pembalasan, tetapi tidak berhasil memperbaiki kedudukannya.

Siang-koan Kie semakin lama semakin hebat serangannya, setiap serangannya sangat aneh, bahkan seperti orang gila. Ki Bok Taysu meskipun tidak dapat memperbaiki kedudukannya, tetapi sanggup bertahan, di luar dugaan serangan Siang-koan Kie semakin lama semakin hebat dan ganas, hingga mengejutkan dirinya. Dalam hatinya diam2 berpikir, “Sejak aku muncul di dunia Kang-ouw, belum pernah mengalami kekalahan, hari ini apabila dijatuhkan oleh seorang yang belum terkenal, ini benar benar merupakan suatu hinaan besar, bagi aku sendiri masih tidak apa, tetapi nama baik Siao- lim-sie tidak boleh kubikin noda.”

Oleh karena pikiran itu maka ia berusaha sedapat mungkin supaya dapat merebut kemenangan, diam diam mengerahkan kekuatannya tenaga dalam menyambuti serangan Siang-koan Kie yang hebat.

Ia menyambuti serangan itu dengan menggunakan kekuatan tenaga hampir sepenuhnya, ia mengharap supaya dapat menahan serangan Siang-koan Kie yang hebat itu.

Akan tetapi, kenyataannya ternyata di luar dugaannya, bukan saja tidak berbasil menahan serangan Siang-koan Kie, bahkan serangan itu nampak lebih hebat.

Ki Bok Taysu baru merasakan bahwa ia sudah berhadapan dengan musuh tangguh yang belum pernah dijumpai dalam seumur hidupnya, maka ia harus berhati-hati, kemudian mengeluarkan ilmu silatnya Lo-han-ciang dari golongan Siao- lim-sie yang sudah terkenal.

Siang-koan Kie agaknya mempunyai banyak pengetahuan berbagai ilmu silat, tidak peduli Ki Bok Taysu menggunakan ilmu silat apa, ia selalu dapat mengatasinya, sedangkan kekuatan tenaga dalamnya, seperti tidak ada habisnya.

Gadis berbaju putih itu sudah timbul pikirannya hendak membasmi semua lawannya itu, sambil meng-goyang2kan pedang pendek di tangannya ia berseru, “Lekas bunuh!”

Siang-koan Kie melihat gerakan pedang, tiba2 mengeluarkan bentakan keras, kemudian dengan menggunakan ilmu jari tangan Thian-seng-cie dengan beruntun melancarkan serangan sampai tiga kali. Ki Bok Taysu merasakan hembusan angin dari tangan itu bagaikan pedang tajamnya, sesungguhnya tidak mudah dilawannya dengan kekerasan.

Tiat Bok Taysu khawatir suteenya akan menempuh bahaya, maka segera berseru, “Jangan menyambuti serangan itu, lekas menyingkir!”

Kemudian paderi tua itu mengibaskan lengan jubahnya untuk menghalaukan serangan jari tangan Siang-koan Kie.

Sementara itu Ki Bok Taysu sudah lompat ke samping mengelakkan serangan Siang-koan Kie.

Serangan Siang-koan Kie yang dihalaukan oleh Tiat Bok Taysu, menimbulkan kegusaran padanya, hingaa mengawasi paderi itu desngan mata menyala.

Pada saat itu dari permukaan sungai tertampak beberapa titik hitam yang menuju ke kapal besar itu, kecuali Auw-yang Thong yang dapat melihat itu, yang lainnya semua tidak ambil perhatian.

Gadis berbaju putih itu tiba2 menujukan pedang pendeknya kepada Auw-yang Thong sambil berseru, “Hajar dia!”

Siang-koan Ie segera lompat maju dan melancarkan serangan kepada Auw-yang Thong.

Auw-yang Thong sambil meyambut serangan Siang-koan Kie ia berkata, “Orang ini sudah melakukan pertempuran terus menerus, sekalipun bertenaga besar, juga tidak sanggup menghadapi aku lagi, apa lagi ia sudah makan obat yang membikin lupa dirinya.”

Gadis berbaju putih itu sebetulnya merasa sayang kepada Siang-koan Kie, ia sudah bersedia menyuruh Touw Thian Gouw yang menggantikannya, tetapi ketika mendengar ucapan terakhir A uw-yang Thong itu, mendadak gusar, pikirnya, “Biarlah dia mati kehabisan tenaga.”

Sementara itu dua orang itu sudah mulai bertempur.

Benar saja Siang-koan Kie sudah kehabisan tenaga, Wan Hauw yang berdiri di atas kapal, tiba2 lompat masuk ke dalam perahu kecil itu, ia melayang turun di samping Touw Thian Gouw, matanya terus mengawasi Siang-koan Kie, asal melihat Siang-koan Kie terdesak mundur, ia pasti turun tangan.

Apabila Siang-koan Kie belum lupa keadaannya sendiri karena pengaruh obat, ia pasti akan mengetahui keadaan sendiri yang membahayakan dirinyaa, mungkin lekas mundur, tetapi saat itu pikirannya tidak jernih, ia hanya ingin merebut kemenangan, sehingga semua kepandaian yang didapat dari orang peniup seruling itu, ia keluarkan seluruhnya.

Meskipun ia hampir kehabisan tenaga, tetapi gerak tipunya amat luar biasa, sehingga Auw-yang Thong hampir kewalahan.

Tetapi Auw-yang Thong yang sudah banyak pengalamannya dan pernah menghadapi musuh besar, sikapnya tenang luar biasa meskipun ia dikejutkan oleh kepandaian Siang-koan Kie yang juga sedang kesulitan karena hampir tidak sanggup melawan, tetapi ia masih tetap tidak menunjukkan sikap bingung, dengan rapat ia menutup dirinya sendiri.

Ia mengerti bahwa sipemuda sudah hampir kehabisan tenaga, asal ia sendiri sanggup menutup rapat dirinya tidak usah menyerang, Siang-koan Kie pasti tidak sanggup melakukan serangan lagi.

Di luar dugaannya, serangan Siang-koan Kie tiba tiba berobah, setiap serangannya semakin ganas, terutama serangannya dengan jari tangan merupakan suatu ancaman besar bagi Auw-yang Thong. Usaha Auw-yang Thong yang hendak mengulur waktu dengan menutup rapat dirinya, ternyata dikacaukan oleh serangan jari tangan Siang-koan Kie yang hebat, hingga nampak sedikit kalut.

Tiat Bok Taysu yang menyaksikan keadaan itu, diam diam berpikir, “Nampaknya Auw-yang Thong sudah mulai kewalahan, asal ia sedikit lengah, pasti akan terluka di tangan pemuda itu, tetapi apabila aku turun tangan memberi bantuan, sekalipun dapat menangkapnya, juga akan membuat tertawaan orang, apabila aku berpeluk tangan, ini berarti membiarkan Auw-yang Thong menempuh bahaya….”

Selagi berada dalam keadaan kesulitan, tiba2 dari jauh terdengar suara irama seruling.

Sungguh aneh, suara seruling itu setelah masuk ke telinga setiap orang, Siang-koan Kie mendadak menghentikan serangannya.

Ketika Auw-yang Thong mengancam dengan serangannya, Siang-koan Kie se-olah2 tidak tahu dirinya terancam.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara bentakan tajam, “Jangan melukai toakoku!”

Suara itu segera disusul oleh munculnya Wan Hauw yang menghalang di depan Siang-koan Kie.

Sebetulnya gerakan Auw-yang Thong tadi hanya suatu gerakan pura pura saja, apabila bermaksud hendak membinasakan Siang-koan Kie, betapapun cepatnya Wan Hauw bertindak, juga sudah tidak terburu.

Sementara itu irama seruling itu terus mengalun, hingga semua orang yang berada di dalam perahu kecil pada mendongakkan kepala, agaknya hendak mencari dari mana datangnya suara seruling itu. Gadis berbaju putih itu tiba2 menggerakkan pedang pendeknya dan membentak dengan suara nyaring, “Mengapa kau tidak bergerak lagi, lekas bertindak!”

Siang-koan Kie mengawasi pedang itu dengan mata melongo, tetapi tidak mau bertindak.

Gadis itu menyaksikan Siang-koan Kie tidak dengar lagi perintahnya, dalam hati merasa gusar ia memerintahkan lagi sambil meng-goyang2kan pedangnya.

Siang-koan Kie terus mengawasi gerakan pedang itu, tetapi masih tetap berdiri dengan tenang tidak bergerak apa2.

Pada saat itu, suara seruling itu makin lama makin nyata, hingga semua orang dapat mendengar suara itu.

Dengan tanpa sadar semua orang yang ada di situ se-olah2 sudah dipengaruhi oleh suara seruling itu.

Tiba2 terdengar suara bentakan Wan Hauw, yang kemudian lompat dan terjun ke sungai, dengan suatu gerakan luar biasa ia lari di permukaan air menuju ke sebuah perahu kecil yang jauh dari perahunya sendiri.

Pemuda yang mirip seperti monyet itu, semula memang tidak menarik perhatian orang, tetapi ilmu meringankan tubuhnya yang bisa berjalan di atas air itu, kini telah mengejutkan semua orang.

Badanya yang lari pesat itu per-lahan2 telah menghilang seperti tertelan air ombak.

Semua orang yang menyaksikan perbuatan Wan Hauw itu, selain menunjukkan sikap yang kagum, juga agaknya merasa terharu.

Mungkin orang2 itu sudah menganggap Wan Hauw terkubur dalam air sungai.

Sementara itu suara seruling tadi mendadak berhenti. Pada saat itu, di antara orang banyak itu, yang paling menderita perasaannya adalah Touw Thian Gouw, sebab di antara semua orang itu, hanya ia yang sedikit mengetahui tentang diri Wan Hauw. Meskipun Siang-koan Kie juga terkena pengaruhnya obat, sehingga sifatnya sudah berubah, ia sudah tidak dapat membedakan yang baik dan yang jahat, suka atau duka, ia hanya berdiri ter-mangu2 bagaikan patung hidup.

Tiat Bok Taysu setelah memuji nama Budha lalu berkata, “Auw-yang Pangcu, Hui tayhiap biar bagaimana hari ini kita tidak boleh melepaskan gadis itu.”

“Benar.” Berkata Hui Kong Leang, dan bergerak lebih dulu kea rah kapal besar itu.

Ketika ia lewat di samping Siang-koan Kie, tangannya menotok dua bagian jalan darah pemuda itu.

Siang-koan Kie setelah mendengar suara seruling tadi, ingatannya sedikit pulih, tetapi kelelahan membuat dirinya merasa kehabisan tenaga, waktu Hui Kong Leang menotok dirinya, ia sudah tak sadar.

Touw Thian Gouw sebetulnya ingin merintangi tindakan Hui Kong Leang itu, tetapi kemudian ia berpikir, Siang-koan Kie sudah terlalu letih, sebaiknya dibiarkan saja ia tertotok jalan darahnya supaya mendapat kesempatan untuk beristirahat, maka ia pura2 tidak tahu.

Hui Kong Leang setelah menotok jalan darah Siang-koan Kie lantas berseru, “Losiansu jangan memikirkan hendak berlaku kasihan lagi, lekas menerjang ke kapal besar itu, tangkap lebih dulu gadis baju putih itu.”

“Saudara Hui tidak perlu ter-gesa2, mereka juga tidak bisa kabur lagi.” Berkata Auw-yang Thong sambil tertawa.

Tiat Bok Taysu mengawasi keadaan di sekitarnya, ia melihat beberapa puluh buah perahu kecil dating dari berbagai penjuru mengurung kapal besar itu, setiap perahu itu berdiri empat orang berpakaian abu2 yang terdapat banyak tambalan.

Perahu itu semua berjumlah dua belas buah, orang2 yang membawa senjata macam2 semua berjumlah empat puluh delapan orang.

Dari dandanan orang2 itu, segera dapat dikenali bahwa orang2 itu adalah dari golongan pengemis.

Sementara itu Hui Kong Leang sudah berada di atas kapal besar.

Mata gadis itu berputaran mengawasi keadaan sekitarnya, ia sudah tahu bahwa dirinya telah terkurung.

Tetapi ia masih berlaku tenang, sedikitpun tidak gugup atau bingung.

Ia berpaling dan berkata dengan suara perlahan, “Kim Siao Ho, awas kapal kita.”

Kim Siao Ho menyahut, lalu berjalan masuk ke dalam kamar kapal.

Gadis itu dengan sinar mata dingin mengawasi Hui Kong Leang, kemudian berkata, “Kau apakah Hui Kong Leang dari gunung Oey-san?”

“Benar, Hui Kong Leang adalah aku sendiri.”

Gadis itu tiba2 berkata dengan suara nyaring, “Touw Thian Gouw, lekas buka totokannya.”

Touw Thian Gouw menyahut dan berjalan menghampiri Siang-koan Kie.

Dua jago pedang partai Ceng Sia Pay yang sejak tadi berdiri ter-manggu2, ketika melihat pedang pendek di tangan gadis itu bergerak ke arahnya, masing2 segera menghunus pedangnya dan bertindak maju. Dua jago pedang yang namanya sudah kesohor dalam kalangan dunia Kang-ouw apabila mereka turun tangan ber- sama2, Hui Kong Leang pasti susah melawan, maka ketika menyaksikan dua orang itu menghampiri, bukan kepalang terkejutnya, sambil menyoja ia berkata kepada mereka, “Kedua toheng, sudah lama kita tidak berjumpa.”

Di luar dugaan dua jago pedang itu sama sekali tidak menghiraukan tegurn Hui Kong Leang.

Tiat Bok Taysu lantas memperingatkan kepada Hui Kong Leang, “Saudara Hui hati2, kedua toyu itu sudah makan obat yang melupakan dirinya….”

Belum lagi habis ucapan Tiat Bok Taysu, dua jago pedang Ceng Sia Pay itu sudah turun tangan serentak menyerang Hui Kong Leang.

Dua imam itu terkenal dengan kepandaiannya menggunakan pedang, sudah beberapa puluh tahun ia mendapat nama baik di kalangan Kang-ouw, dan saat itu justru mereka dalam keadaan tidak ingat dirinya sendiri, maka serangannya itu lebih ganas dari biasanya.

Hui Kong Leang tidak berani melawan dengan tangan kosong, ia melompat mundur ke dalam perahu kecil.

Tiat Bok Taysu berkata dengan suara perlahan, “Harap saudara Hui juga menggunakan senjata, dua jago pedang Ceng-sia-pay itu sudah lupa kepada dirinya sendiri, maka jangan berlaku gegabah.”

Hui Kong Leang menganggukan kepala, tangan kirinya mengeluarkan sebuah garisan besi, tangan kanannya mengeluarkan sebuah rantai mas, dengan dua rupa senjata itu ia melompat lagi ke atas kapal.

Dua jago pedang dari Ceng-sia-pay, ketika melihat Hui Kong Leang balik lagi, segera menyambut dengan serangannya yang hebat. Hui Kong Leang kali ini sudah siap, ia segera menyambut serangan itu dengan senjata garisannya, ternyata dapat menyingkirkan serangan itu, dan ia sendiri berada di atas kapal.

Setelah berada di atas kapal, ia melakukan serangan pembalasan dengan menggunakan rantai mas.

Pada saat itu Touw Thian Gouw sudah berada di samping Siang-koan Kie, ia hendak membuka totokannya.

Meskipun ia sendiri dalam keadaan sadar tetapi tidak boleh tidak harus menurut perintah gadis baju putih itu supaya jangan terbuka rahasianya, kalau ia lambat2 bertindak, se- mata2 hanya mengharap supaya Tiat Bok Taysu dan lain2nya turun tangan merintangi perbuatannya.

Benar saja Tiat Bok Taysu sudah lompat maju dan menyerang dengan tangan kirinya.

Touw Thian Gouw menyingkir mengelakkan serangan tersebut, kemudian balas menyerang.

Dua orang itu lalu bertempur di atas perahu kecil itu.

Tiat Bok Taysu kini telah mengetahui bahwa kapal besar itu sudah terkepung rapat oleh beberapa perahu kecil itu, ia lalu bertanya kepada Auw-yang Thong dengan suara perlahan, “Apakah pasukan perahu itu semua anak buah Pangcu?”

“Benar….” jawab Auw-yang Thong sambil bersenyum.

Tiat Bok Taysu tergerak hatinya, sambungnya, “Apakah pasukan perahu ini adalah empatpuluh delapan jago yang namanya sudah lama terkenal dikalangan Kang-ouw ini?”

“Itu hanya nama kosong belaka, taysu jangan percaya,” jawab Auw-yang Thong merendah.

“Lolap sudah lama mendengar bahwa pasukan, yang terdiri dari empatpuluh delapan jago ini, mereka merupakaa satu pasukan yang kuat, dapat menggerakkan tujuh macarn barisan, kabarnya setiap orang mempunyai kepandaian istimewa, kekuatan pasukan itu tidal kalah dengan barisan Lo- han-tin kita….”

“Taysu terlalu memuji.”

“Jikalau tidak perlu, sebaiknya jangan menggunakan mereka, biarlah lolap yang membantu Hui tayhiap.”

Paderi tua itu lalu lompat melesat ke kapal besar.

Gerakan pedang dua jago pedang Ceng-sia-pay itu, mendadak berobah, sinar pedangnya melebar, sehingga Tiat Bok Taysu yang baru tiba juga berada di bawah ancaman sinar pedang mereka.

Sementara itu duabelas perahu kecil itu, sudah mulai melakukan gerakan mengurung.

Gadis berbaju putih itu tertawa dingin, ia menggapai ke dalam kapal, dari dalam kapal itu muncul dua belas laki2 berpakaian hitam, di punggung setiap orang ada membawa pedang, di bagian depan orang2 itu ada sebuah benda hitam bagaikan gelas bentuknya, dengan cepat lari ke atas kapal, setiap orang menghadapi perahu kecil yang datang mengurung itu.

Auw-yang Thong mengangkat tangan kanannya, duabelas perahu kecil itu, semua berhenti sejarak dua tombak di sekitar kapal besar itu.

Pada saat itu Teng Soan mengeluarkan sebuah bendera berwarna merah, lalu di- kibar2kan.

Auw-yang Thong tahu penasehatnya itu hendak bicara, tetapi saat itu keadaan sedang gawat, kedua pihak sedang bertempur, demikian tanda kibaran bendera yang diberikan oleh Teng Soan itu juga merupakan tanda paling gawat, tidak boleh tidak harus dilayani, maka terpaksa ia melompat ke tepi. Bersamaan pada saat itu gadis berbaju putih itu juga melompat tinggi di tengah udara, ia jumpalitan dua kali, lantas melayang turun ke dalam perahu kecil, lalu membuka totokan Siang-koan Kie.

Ki Bok Taysu dengan tangan kiranya mendesak mundur Touw Thian Gouw, tangan kanannya digunakan untuk menyerang gadis berbaju putih itu.

Gadis berbaju putih itu pentang lima jari tangannya, balik menyambar pergelangan tangan Ki Bok Taysu, sedang jari tangan kanannya digunakan untuk membuka totokan Siang- koan Kie.

Ki Bok Taysu menghalau serangan Touw Thian Gouw dengan kakinya, tangannya digunakan untuk menahan perbuatan gadis berbaju putih itu.

Tetapi usahanya itu ternyata tidak berhasil, gadis itu sudah membuka totokan Siang-koan Kie, setelah itu tangannya digunakan untuk menyambuti serangan Ki Bok Taysu.

Karena kekuatan tenaga dalamnya masih dibawah Ki Bok Taysu, maka ia terpental mundur dua langkah.

Siang-koan Kie yang sudah terbuka totokannya, kala itu tertumbuk oleh gadis baju putih itu, dan saat itu juga darahnya jalan seperti biasa.

Gadis berbaju putih itu maju lagi, ia membalas menyerang dengan kedua tangannya, meskipun kekuatan tenaga dalamnya tidak seimbang dengan Ki Bok Taysu, tetapi gerak tipunya sangat aneh, gerak badannya juga sangat lincah, keduanya segera bertempur.

Siang-koan Kie setelah terbuka jalan darahnya meskipun darahnya sudah mengalir seperti biasa tetapi badannya dirasakan letih sekali, maka ia buru2 beristirahat mengatur pernapasannya. Touw Thian Gouw diam2 memeriksa keadaan kedua pihak, dalam jumlah orang meskipun golongan pengemis lebih banyak, tetapi pertempuran itu sudah tentu akan dilakukan di atas kapal, apabila Siang-koan Kie, dua jago pedang Ceng Sia Pay dan ditambah lagi dengan gadis berbaju putih itu serta dirinya sendiri, pertempuran itu bagaimana kesudahannya nanti, sesungguhnya susah diramalkan.

Di samping itu, ia juga tidak tahu di dalam kapal itu masih ada terdapat orang kuat lagi atau tidak? Selagi ia masih berpikir, tiba2 terdengar suara Auw-yangThong yang berkata, “Saudara Hui dan jiwie taysu, harap mundur dulu ke dadam perahu kecil, siaotee ingin bicara.”

Hui Kong Leang yang sedang bertempur sengit ketika mendengar panggilan Auw-yang Thong serta peringatan Tiat Bok Taysu, agaknya baru tersadar, pikirnya, “Dua jago Ceng Sia Pay ini sudah kena pengaruhnya obat, sehingga bertempur mati2an tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, jikalau aku sampai melukai mereka, pasti akan menanam permusuhan dengan partai Ceng Sia Pay.”

Karena berpikir demikian, maka ia segera melompat turun ke dalam perahn kecil dan kemudian melompat ke pantai.

Tiat Bok Taysu juga segera meniru perbuatan orang she Hui itu.

Gadis berbaju putih yang sedang bertempur dengan Ki Bok Taysu, tiba2 berkata kepada Siang-koan Kie, “Kau tahan dia.”

Siang-koan Kie berpaling segera dapat melihat Tiat Bok Taysu yang baru turun dari kapal besar, tanpa bicara apa2 ia segera menyerangnya.

Tiat Bok Taysu menyambuti serangan itu, kemudian membalas menyerang.

Keduanya lalu bertempur sengit hingga perahu ber-gerak2 tidak berhentinya. -odwo-

Bab 36

PERTEMPURAN berlangsung baru lima jurus, Tiat Bok Taysu sudah merasa bahwa pemuda ini merupakan lawan paling tangguh selama hidupnya, sehingga dalam hati diam2 berpikir, “Pantas dengan kepandaian seperti Hui Kong Leang dan Aaw-yang Thong masih belum sanggup mengalahkan dia, kepandaian pemuda ini sesungguhnya jarang kujumpai.”

Gadis berbaju putih itu terus memperhatikan setiap gerakan Siang-koan Kie, ia dapat lihat gerakan pemuda itu gesit sekali, serangannya makin ganas, sehingga dalam hati merasa girang pikirnya, “Kepandaian orang ini demikian tinggi sesungguhnya merupakan salah satu pembantu yang paling kuat bagiku, maka untuk selanjutnya aku harus menyayanginya.”

Karena ia memikirkan dirinya Siang-koan Kie sehingga pikirannya agak lengah, kesempatan itu digunakan se- baik2nya oleh Tiat Bok Taysu, paderi tua itu menyerang ber- tubi2, sehingga gadis itu sangat repot dan mundur ke tepi perahu.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara siulan panjang, kemudian sesosok bayangan orang dari tengah udara melayang turun ke perahu kecil itu.

Orang2 yang sedang bertempur semua berhenti karena dikejutkan oleh suara tajam itu.

Kini semua baru tahu bahwa orang itu bukan lain dari pada Wan Hauw yang saat itu sedang berdiri di tengah2 perahu, tangannya memegang sebatang seruling perak yang gemerlapan.

Sambil mengangkat seruling perak di tangannya, Wan Hauw berkata kepada Siang-koan Kie, “Toako….” Siang-koan Kie memandang sambil menyeringai, kemudian dengan mendadak tanganya bergerak menyerang Ki Bok Taysu.

Wajah Ki Bok Taysu berubah, ia melompat menyingkir, kemudian balas menyerang.

Wan Hauw mengibaskan tangan kirinya menutup serangan Ki Bok Taysu, kemudian berkata, “Toakoku telah dibuat lupa dirinya sendiri oleh pengaruhnya obat, taysu jangan berpikir seperti dia.”

Setelah itu angkat serulingnya dan ditiup.

Begitu mendengar suara seruling, Siang-koan Kie segera menghentikan serangannya.

Gadis berbaju putih itu membuka lebar matanya mengawasi wajah Wan Hauw dengan penuh kebencian dan ke-heran2an.

Siang-koan Kie tiba2 menarik napas dan berduduk di atas perahu.

Dua jago pedang dari Ceng Sia Pay agaknya juga dipengaruhi oleh suara seruling itu, per-lahan2 menurunkan pedangnya.

Touw Thian Gouw menyaksikan Siang-koan Kie dan dua jago pedang itu seperti orang letih, juga buru2 berlaku demikian.

Gadis berbaju putih itu ketika menyaksikan keadaan demikian, bukan kepalang rasa terkejut dan khawatirnya, tiba2 ia bergerak menghampiri Wan Hauw, tangannya dengan cepat menotok jalan darah di belakang punggung Wan Hauw.

Touw Thian Gouw terkejut, tetapi ia tidak dapat memberi peringatan, hanya perasaan sendiri yang sangat khawatir.

Di luar dugaan, Wan Hauw seperti mempunyai mata di belakang kepalanya, ketika ditotok oleh gadis itu, dengan cepat ia memiringkan badannya, kemudian maju dua langkah mengelakkan serangan gadis itu, selama melakukan gerakan, ia tetap meniup serulingnya tanpa menoleh.

Suara seruling yang mengalun ke angkasa kedengarannya me-rayu2, duabelas 1aki2 berpakian hitam yang berdiri di atas kapal besar, juga per-lahan2 terpengaruh suara seruling itu, mereka per-lahan2 mengundurkan diri.

Gadis berbaju putih itu tak berhasil dalam serangannya, segera menggunakan dua jari tangannya dengan serentak menyerang jalan darah seluruh badan Wan Hauw.

Wan Hauw melompat melesat mengelakkan serangan itu sambil meneruskan tiupan serulingnya.

Serangan gadsi berbaju putih itu hampir dua puluh kali, tetapi tiada satu kalipun yang mengenakan sasarannya, tiba2 menghentikan serangannya dan berkata dengan suara tajam, “Kau jangan meniup lagi.”

Wan Hauw terkejut, lalu berhenti meniup, kemudian bertanya, “Mengapa?”

Ia teringat suara ibunya kalau sedang marah juga pernah mengeluarkan suara tajam dan penuh rasa sedih seperti itu, maka ketika ia mendengar suara jeritan si gadis berbaju putih itu, pikirannya lalu tergoncang.

Gadis berbaju putih itu berbuat demikian, karena ia melihat Siang-koan Kie, dua jago pedang Ceng Sia Pay dan lain2nya, semua telah terpengaruh oleh suara seruling itu akhirnya juga tergoncang pikirannya, sehingga hatinya sangat gemas.

Meskipun di waktu biasa ia bisa berlaku tenang, tetapi ketika pikirannya tergoncang tanpa sadar ia lalu mengeluarkan jeritan.

Sisa suara seruling itu hilang membuyar di angkasa, keadaan di permukaan sungai kembali sunyi senyap seperti semula. Tiba2 angin meniup, air sungai yang tertiup angin keras menimbulkan gumpalan gelombang air, di bawah sinar matahari gelombang itu memancarkan sinar yang indah.

Tetapi gumpalan air gelombang yang indah itu sebentar kemudian sudah tertelan oleh gelombang yang lebih besar, dengan mengikuti arusnya gelombang itu mengalir ke timur.

Gadis berbaju putih itu menyaksikan pemandangan di permukaan air itu, agaknya teringat kejadian di masa yang lampau, sambil mengerutkan alisnya ia Nampak berpikir keras kemudian mengelengkan kepala dan menghela napas perlahan.

Teng Soan yang berdiri di pantai, terus memperhatikan setiap perobahan wajah gadis berbaju putih itu….

Wan Hauw setelah berpikir tertegun sebentar baru bertanya lagi, “Mengapa kau tidak mengijinkan aku meniup seruling?”

Pada saat itu gadis berbaju putih itu sudah pulih kembali ketenangannya, sambil tertawa dingin ia menjawab, “Tiupanmu tidak enak didengar, hanya menimbulkan perasaan sedih orang lain saja.”

Wan Hauw berkata sambil menggelengkan kepala dan tertawa, “Aku baru saja bisa meniup seruling, sudah tentu tidak enak kedengarannya, setapi lambat laun aku pasti bisa meniup lebih baik….”

Gadis berbaju putih itu biji matanya berputaran, ia bersenyum, kemudian mengulurkan tangannya dan berkata, “Bolehkah aku melihat seruling itu?”

“Tidak bisa, seruling ini adalah hadiah pemberian suhuku, bagaimana boleh diperlihatkan orang secara sembarangan.”

Gadis baju putih itu tahu bahwa permuda seperti monyet itu sifatnya jujur dan terus terang, kalau ia sudah kata tidak boleh, jangan harap dapat dipaksa, maka seketika itu ia tarik kembali tangannya dan berkata, “Setan2 sekakar, aku melihat saja toh tidak akan rusak, kau takut apa?”

“Suhu pernah berpesan kepadaku, seruling ini tidak boleh diperlihatkan kepada siapapun juga.”

Ia berpaling ke arah Siang-koan Kie, kemudian berkata pula, “Sudah tentu, jikalau toako itu ingin melihat, aku tidak boleh tidak harus perlihatkan kepadanya.”

”Siapakah suhumu itu?” “Suhu adalah suhu.”

“Dan siapakah suhu toakomu?” “Suhu toako adalah suhuku juga.”

Gadis itu diam-diam memaki, “Tidak disangka orang bodoh seperti kau ini, ternyata sangat licin.

“Kalau begitu toakomu dengan kau berguru kepada satu orang?”

“Benar! Dugaanmu jitu sekali!”

Gadis berbaju putih itu meski dalam hati sangat mendongkol, tetapi di luarnya ia berlaku tetap tenang, ia tahu bahwa orang yang bodoh tetapi jujur seperti Wan Hauw itu, apabila marah di hadapannya, hanya akan menimbulkankericuhan saja, maka sambil menahan sabarnya ia berkata, “Orang itu bernama siapa?”

“Kau menanyakan siapa?” “Suhumu yang kumaksudkan.”

“Kau menanya suhuku? Siapa namanya aku sendiri juga tak tahu, bagaimana bisa menjawab pertanyaanmu ini?”

“Apakah dia tidak mempunyai nama atau she?”

“Ia tidak perlu menggunakan namanya lagi, kita memanggilnya suhu, toh sama juga.” “Apabila ada orang luar datang berkunjung apakah juga memanggil dia suhu?”

“Aku belum pernah melihat ada orang luar yang mencari dia.”

Gadis berbaju putih itu sangat mendongkol, tetapi ia tak bisa berbuat apa2.

Tadi ketika ia melakukan serangan kepada Wan Hauw, sudah mengetahui bahwa pemuda itu mempunyai kepandaian ilmu silat luar biasa, apabila hendak bertempur dengannya, ia yakin benar bahwa ia sendiri tak sanggup mengalahkannya, apalagi seruling perak di dalam tangannya itu, merupakan sebuah benda yang paling ditakuti sebab apabila pemuda itu meniupnya, bukan saja semua orang2nya akan terpengaruh perasaannya, ia sendiri juga tak sanggup menahan gangguan itu.

Keadaan memaksa ia mau tak mau harus mengendalikan hawa amarahnya, dengan pura2 tersenyum ia berkata, “Kau sendiri she apa?”

“Aku she Wan, toakoku she Siang-koan.” “Aku tidak menanyakan toakomu.”

“Toakoku adalah orang ketiga yang paling kuhormati dalam hidupku ini. Bagaimana kau boleh tidak menanyakannya….”

“Dan siapakah orang pertamaa yang paling kau hormati itu?”

“Orang pertama yang paling kuhomati adalah ibuku yang merawat dan membesarkan aku.”

“Dan orang kedua?”

“Orang kedua, adalah suhu yang mendidik dan mempelajari aku ilmu sitat.” Mata gadis berbaju putih itu tiba2 dialihkan ke arah Siang- koan Kie, lalu berkata, “Orang ketiga itu apakah toakomu yang mukanya kering kuning itu?”

Wan Hauw menghela napas perlahan, “Toakoku sebetulnya sangat tampan, dan seorrang yang pintar sekali, tetapi….”

Per-lahan2 matanya ditujukan kepada Touw Thian Gouw, tetapi tiba2 ia membungkam.

Hati gadis berbaju putih itu tergerak, ia lalu mengibaskan tangannya dan berkata kepada Siang-koanKie dan Touw Thian Gouw, “Kalian balik ke atas kapal.”

Siang-koan Kie lompat melesat ke atas kapal layar, begitu juga Touw Thian Gouw.

Gadis itu berkata pula kepada Wan Hauw, “Bagaimana?

Apakah kau hendak balik ke kapal besar bersama kita?”

Wan Hauw mengawasi Siang-koan Kie yang sudah berada di atas kapal besar lalu menarik napas panjang, kemudian berkata, “Di mana toakoku berada, sudah tentu aku harus menyertainya.”

Setelah itu ia juga lompat melesat ke atas kapal.

Tiat Bok Taysu mengawasi gadis berbaju putih itu balik ke atas kapal layar dengan membawa Siang-koan Kie dan lainnya, barulah bertanya kepada Auw-yang Thong, “Pangcu memanggil kita, entah ada keperluan apa?”

Auw-yang Thong berpaling dan mengawasi Teng Soan sejenak, selagi hendak menjawab telah didahului oleh Teng Soan, “Taysu berdua dan Hui tayhiap, sejak tadi malam hingga saat ini, berangkali masih belum makan dan minum, siaotee sudah memerintahkan orang menyediakan hidangan, harap taysu sekalian bersantap dahulu, siaotee masih perlu berunding lagi dengan taysu sekalian.” Jui Kong Leang berpaling dan mengawasi kapal besar itu, lalu berkata, “Kalau kita nanti berlalu, apabila kapal yang ditumpangi oleh gadis berbaju putih itu berlayar, mungkin tidak mudah bagi kita mengejarnya lagi.”

“Tentang ini Hui tayhiap tidak usah khawatir, siaotee sudah perintahkan orang2 golongan kita, supaya mengawasi kapal besar itu, asal ada gerakan apa2, harus segera bertindak merintanginya serta melaporkan dengan suatu tanda bahaya. Di permukaan air sungai ini siaotee sudah mempersiapkan beberapa puluh kapal pesat, biar bagaimana mereka juga tidak bisa telepas dari pengawasan kita.”

Teng Soan berkata sambil menggoyang-gyangkan tangannya.

“Menurut pandangan siaote, dalam waktu beberapa jam ini, kapal besar itu tidak mungkin melakukan gerakan apa-apa.”

“Bagaimana diketahuinya?” bertanya Hui Kong Leang. “Sudah beberapa lama gadis itu berada di atas kapal,

apabila hendak pergi, seharusnya kapal itu sudah berlayar,

tetapi hingga kini ia belum mengangkat jangkar, berdasar atas ini, maka siaotee menduga mereka mungkin di sini ada yang ditunggu.” Menjawab Teng Soan.

“Tunggu apa?”

“Tentang ini siaote juga tidak tahu, mungkin menunggu orang, mungkin juga menunggu bala bantuan.”

Hui Kong Leang diam2 berpikir, kemudian mengulurkan tangannya menggenggam tangan Teng Soan seraya berkata, “Sudah lama siaote mendengar nama besar saudara Teng, hari ini kita bertemu muka, benar saja saudara Teng merupakan seorang pandai, siaotee benar-benar sangat kagum.”

“Hui tayhiap terlalu memuji,” berkata Teng Soan kemudian memberi hormat dan berkata kepada Tiat Bok Taysu, “Siaote hendak berjalan lebih dulu, untuk menunjuk jalan bagi saudara2 sekalian.”

Setelah berkata demikian ia memutar tubuh dan berjalan lebih dulu.

Tiat Bok Taysu bertiaa mengikuti di belakangnya, berjalan kira2 tiga pal, tiba di bawah sebuah pohon besar. Di bawah pohon itu sudah disiapkan barang hidangan yang ditunggui oleh empat orang yang berpakaian abu abu.

Teng Soan memberi pesan kepada empat orang itu, “Kalian pasang mata di sekitar tempat ini, begitu ada gerakan apa apa, segera melaporkan.”

Empat orang itu berlalu setelah mendapat perintah itu.

Si pengawal besi Ciu Tay Cie dan si kaki sakti Pek Kong Po, terus berjalan mengikuti Auw-yang Thong, ketika Auw-yang Thong duduk, dua orang itu masih tetap berdiri di kanan dan kiri belakang Auw-yang Thong.

Hui Kong Leang mengawasi dua orang itu sejenak lalu berkata sambil tertawa, “Dua orang di belakang Pangcu itu, apakah si saki sakti dan si pengawal besi yang namanya sangat termasyur di dunia Kang-ouw itu?”

“Itu hanya sahabat-sahabat dunia Kang-ouw yang terlalu memuji-muji. Hui tayhiap tidak usah percaya,” berkata Auw- yang Thong yang lalu mengangkat cawan araknya, kemudian berkata pula, “Saudara2 silahkan minum.”

Tiat Bok Taysu berkata, “Sebagai murid golongan budha selalu pantang minum arak, biarlah lolap menggunakan air the sebagai gantinya arak.”

Hui Kong Leang setelah mengeringkan dua cawan arak, berkata sambil bersenyum, “Pangcu mengajak kita datang kemari, entah ada keperluan apa?” Teng Soan menjawab sambil tersenyum, “Tadi ketika tuan2 bertempur dengan orang2nya gadis itu, siaotee menyaksikan dari samping, nampaknya untuk menghadapi mereka kita hanya dapat menggunakan akal, tidak boleh menggunakan kekuatan tenaga.”

“Ucapan saudara Teng ini memang benar, tetapi entah harus menggunakan akal bagaimana?”

“Siaotee mengundang tuan2 datang kemari, pertama mengundang tuan2 untuk makan dan minum, kedua untuk merungingkan suatu rencana menghadapi musuh tangguh ini.”

“Saudara Teng adalah seorang cerdik dan banyak akal, tentunya sudah mempunyai suatu rencana positip dalan tangan, maka lolap sekalian bersedia mendengarkan uraian saudara.” Berkata Tiat Bok Taysu.

“Losiansu terlalu memuji, siaotee adalah seorang pelajar yang lemah, berkecimpung di dalam dunia Kang-ouw ini se- mata2 karena permintaan Auw-yang Pangcu, siaotee merasa malu tidak pernah mendirikan pahala apa2 bagi golongan pengemis.”

“Sianseng terlalu merendahkan diri, selama beberapa tahun ini dengan bantuan Sianseng sehingga golongan golongan pengemis mendapat kedudukan seperti sekarang ini, terhadap bantuan Sianseng yang sangat berharga ini kami hingga kini masih belum sempat mengucapkan terima kasih kami,” berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan menghela napas perlahan, dengan suara tertharu berkata, “Tetapi pada saat ini kita golongan pengemis sedang menghadapi musuh tangguh yang belum pernah dihadapinya, musuh tangguh ini bukan hanya menunjukkan permusuhannya terhadap golongan pengemis sendiri, bagi seluruh rimba persilatan, juga merupakan suatu ancaman besar.” Tiat Bok Taysu berkata sambil menghela napas, “Ucapan saudara Teng ini apakah ditujukan kepada gadis berbaju putih itu?”

“Ia hanya merupakan salah seorang kaki tangannya saja, orang yang sebenarya pegang rol penting di belakang layar, jauh lebih tinggi dan cerdik dari pada gadis itu entah beberapa lipat ganda.”

“Entah siapa orangnya itu? Apakah saudara Teng kiranya sudah menemukan tanda2nya?”

“Dia adalah Kun-liong Ong yang namanya sudah lama tersiar di kalangan Kang-ouw. Tetapi siapa sebetulnya dia itu, sekarang ini masih belum diketahui, namun orang itu tinggi kepandaiannya, juga mempunyai kecerdikan luar biasa, sesungguhnya tidak dapat dibandingkan dengan sembarangan orang. Bukan hanya itu saja, gerak geriknya selalu dirahasiakan hampir seumur hidupnya ia mengenakan kedok kulit manusia, untuk menyembunyikan wajah aslinya, segala sepak terjangnya di dalam kalangan Kang-ouw, bagaikan naga sakti yang sangat misterius.”

“Entah berdasarkan apa ucapan sianseng ini?”

“Apabila siaotee tidak mempunyai bukti yang nyata juga tidak berani berkata sembarangan, taysu silahkan tanya kepada saudara Ong ini dan saudara Koan dari golongan kita, nanti taysu akan tahu sendiri bahwa ucapan siaotee itu bukan cuma suatu karangan belaka.”

Koan Sam Seng segera bangkit dan berkata, “Urusan ini adalah siaotee dan saudara Ong yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri sedikitpun tidak salah.”

Ia lalu rmenceritakan apa yang disaksikanya di dalam kuil tua itu. Keterangan itu mengejutkan Tiat Bok Taysu, Ki Bok Taysu dan Hui Kong Leang, sehingga wajah mereka berobah seketika itu juga.

Hui Kong Leang setelah berpikir sejenak, lalu bertanya, “Apakah saudara Koan berdua tidak melihat wajah orang itu?”

“Suasana pada waktu itu, sesungguhnya membuat kita tidak berdaya untuk pasang mata sungguh sungguh, sebab pandangan kita terhalang oleh meja sembahyang,” menjawab Koan Sam Seng.

Ong Kian lalu menyambung, “Apabila tidak terhalang oleh meja sembahyang itu, meskipun kita bisa melihat lebih nyata, tetapi kita sendiri juga akan kepergok oleh mereka.”

Tiat Bok tayau berkata, “Meskipun lolap jarang injak kaki di dunia Kang-ouw, tetapi juga sudah pernah dengar nama Kun- liong Ong ini, orang itu sudah lama menunjukkan diri di dalam dunia Kang-ouw, tetapi orang yang pernah menyaksikannya benar2 jumlahnya sedikit sekali.”

Teng Soan berkata, “Bukan cuma sedikit saja boleh dikata hampir tidak ada, hal ini membuat siaotee ingat kepada suatu peristiwa penting.”

“Lolap ingin keterangan sianseng,” berkata Tiat Bok Taysu. “In Cengcu In Kiu Liong yang di muka umum seperti sudah

mengundurkan diri, tetapi di belakang layar masih memimpin dunia rimba persilatan daerah selatan, agaknya sudah lama tidak ada kabar, orang itu dengan golongan pengemis ada mempunyai hubungan pribadi sangat dalam, siaotee juga pernah dua kali bertemu muka dengannya….”

Ong Khian berkata, Ucapan saudara Teng ini mengingatkan siaotee tentang suatu peristiwa.”

Semua mata orang2 dari situ ditujukan kepada Ong Khian, ucapan itu agaknya menarik perhatian mereka. Ong Khian berkata pula, “Setiap tahun In Kiu Liong selalu mengundang berkumpul kepada beberapa sahabat akrabnya untuk diajak pesiar di telaga ‘Tong-teng-ouw’, selama sepuluh tahun tidak pernah putus….”

Hui Kong Leang tiba-tiba menyela, “Apakah saudara Ong dapat memastikan bahwa In Kiu Liong benar-benar hanya untuk pesiar di telaga saja?”

Ong Khian tiba2 tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata, “Sudah tentu bukan, orang yang setiap tahun diundangnya kebanyakan orang2 yang berkepandaian luar biasa, bahkan waktu pesiar kadang2 sampai tiga hari, kalau mau dikata hanya pesiar saja, barang kali ia tidak mempunyai kegembiraan demikian rupa sehingga harus diadakan setiap tahun sekali, lagi pula harinya mereka mengadakan pesiar, agaknya juga sudah tentu hari dan tanggal itu2 juga….”

“Tanggal berapa?’ bertanya Tiat Bok Taysu.

Kalau aku tidak salah ingat seperti sesudah lewat musim Tiong-ciu, sebelum tanggal lima belas bulan Sembilan, selalu pada tanggal itu,” jawab Ong Khian, kemudian mengangkat cawannya mengeringkan araknya, lalu berkata pula sambil mengawasi Auw-yang Thong, “Apabila siaotee tidak salah ingat, Auw-yang Pangcu seperti juga merupakan salah satu orang yang pernah diundang oleh In Kiu Liong.”

Auw-yang Thong berkata, “Memang benar, pada beberapa tahun berselang, siaotee memang sering diundang olehnya, tetapi beberapa tahun waktu akhir2 ini, karena repot dalam urusan perkumpulan, aku tidak dapat membagi waktuku untuk pergi, sehingga dua kali aku pernah menolak undangan itu dan selanjutnya tidak pernah menerima undangannya lagi.”

Hui Kong Leang berkata, “Auw-yang Pangcu maafkan kalau aku terlalu banyak mulut, bolehkah aku bertanya dengan maksud apa In Kiu Liong mengundang kawannya pesiar di atas telaga?” Auw-yang Thong menjawab, “Secara terang katanya untuk menikmati pemandangan alam musim kemarau di atas telaga itu, tetapi menurut pikiran siaotee, ia mungkin mencari sesuatu barang, setiap orang yang pernah diajak pesiar hamper semua mengetahui, tetapi In Kiu Liong belum pernah mengatakan.”

“Tiat Bok Taysu berkata, “Lolap juga sering dengar cerita orang tentang diri In Kiu Liong yang memimpin rimba persilatan daerah selatan, tetapi belum pernah bertemu muka dengannya….”

Teng Soan berkata, “In Cengcu itu adalah seorang baik dan ramah serta baik budi bahasanya….”

Tiat Bok Taysu berkata, “Tetapi lolap pernah mendengar orang mengatakan banyak yang kurang baik terhadap dirinya, katanya di luarnya ramah tamah dan baik budi bahasanya, tetapi sebetulnya adalah seorang jahat yang banyak akalnya, pura2 mengasingkan diri, sebetulnya diam2 memerintah golongan rimba hijau di daerah selatan yang kemudian dibagi keuntungan yang didapat oleh mereka….”

Teng Soan berkata sambil tertawa, “Apa yang taysu dengar, tidak boleh dikata salah, perbedaan antara pendekar dan penjahat memang sedikit sekali, In Kiu Liong memang benar sudah pernah melakukan perbuatan yang terkutuk, tetapi juga melakukan banyak pekerjaan yang mulia, orangnya terhitung orang2 yang berdiri di-tengah2 antara golongan baik dan jahat, kalau losiansu mengatakan ia baik atau jahat ke- dua2nya tidak salah.”

Tiat Bok Taysu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya, “Kalau begitu apa yang lolap dengar itu tidak boleh dipercaya.”

“Apabila ada sahahat yang baik yang dapat menasehatinya supaya mengendalikan diri, In Kiu Liong tidak susah menjadi seorang pendekar rimba persilatan dewasa ini.” “Bagaimana orangnya In Kiu Liong, siaotee tidak ingin memberi penilaian,” berkata Auw-yang Thong. “Tetapi kepandaian ilmu silatnya benar2 sangat tinggi sekali, siaotee sendiri juga mengaku kalah dengannya.”

“Sayang seorang jago seperti dia itu, siaotee tidak mempunyai jodoh untuk bertemu muka dengannya, di kemudian hari masih mengharap bantuan Pangcu, supaya perkenalkan dengannya.” berkata Hui Kong Leang.

“Siaotee bersedia membantu saudara.” berkata Auw-yang Thong.

Teng Soan menyambung sambil menggoyangkan kipasnya. “Tetapi pada waktu belakangan ini In Kiu Liong se-olah2

mendadak menghilang dari dunia Kang-ouw, sedikitpun tak ada kabar beritanya.”

“Apakah saudara Teng mencurigai Kun-liong Ong adalah In Kiu Liong yang menyamar?” bertanya Hui Kong Leang.

“Siaotee boleh mengatakan dengan pasti bahwa Kun-liong Ong bukan In Kiu Liong.” Menjawab Teng Soan tegas.

“Di dalam dunia ini banyak kejadian di luar dugaan kita, saudara Teng jangan keburu napsu memberikan kepastian.”

“Biarlah siaotee omong agak terkebur, In Kiu Liong bukan saja bukan Kun-liong Ong, malah kemungkinan besar ia sudah dibinasakan oleh Kun-liong Ong.”

“Bagaimana saudara berpendapat demikian?”

“Daerah Selatan dan Utara sungai Tiang-kang merupakan daerah kekuasaan golongan pengemis, apa yang terjadi dalam daerah ini tak bisa lolos dari mata orang2 golongan pengemis, tetapi Pangcu kita selamanya bekerja sangat hati2, tidak mau bertindak sembarangan sebelum mengetahui asal usul sebenarnya, tak perduli siapa saja yang berbuat di daerahnya, kita tidak akan gampang3 campur tangan….” “Apabila ada orang mati karena perkara pipi licin, apakah golongan pengemis juga tak mau perduli?”

“Tentang ini, golongan kita bisa kirim orang untuk mencegah secara diam2, supaya usaha mereka tak akan tercapai, setelah mengetahui sebab musabab sebenarnya atau asal usul orang yang bersangkutan dari golongan atau partai mana, kita lalu mengirim orang untuk golongan atau partai yang bersangkutan, supaya mengirim orangnya untuk menangkap sendiri orang yang bersalah, kemudian dihukum menurut peraturan partai. Sudah tentu, apabila golongan atau partai yang bersangkutan tidak mau perduli, atau orang yang bersalah itu orang2 penjahat besar terpaksa harus kita hadapi dan selesaikan sendiri.”

Tiat Bok Taysu berkata, “Rakyat beberapa propinsi daerah Tiong-goan di mana lolap pernah kunjung, semua pandang golongan pengemis sebagai Budha hidup, rakyat dari daerah2 tersebut mungkin sudah banyak menerima budi kalian….”

“Tetapi sepak terjang In Kiu Liong jauh berbeda dengan golongan kita,” berkata Teng Soan.

Hui Kong Leang menghela napas perlahan, nampaknya hendak berkata apa2, tetapi kemudian dibatalkan.

Teng Soan mengawasi wajah ketiga orang itu, agaknya sedang menantikan reaksi mereka, setelah itu ia baru berkata lagi, “Dalam rimba persilatan daerah selatan, meskipun tidak bisa dikata sudah di bawah pengaruh In Kiu Liong seluruhnya, tetapi memang bukti pengaruh dialah yang paling kuat, seperti Kui-liong Ong, orang yang begitu ganas apabila belum mendapat ijin In Kiu Liong, tidak mungkin dia berani berbuat demikian sesukanya di daerah selatan….”

“Tetapi keadaan pada dewasa ini, adlah Kun-liong Ong yang malang melintang di rimba persilatan daerah selatan, sabaliknya tidak mendengar kabar cerita tentang diri In Kiu Liong….” berkata Tiat Bok Taysu. “Inilah yang membuat kita tidak habis mengerti, tetapi In Kiu Liong bukanlah ciptaan diri In Kiu Liong, hal ini siaotee berani pastikan, maka siaotee khawatir bahwa In Kiu Liong sudah dibinasakan oleh Kun-liong Ong.” berkata Teng Soan.

“In Kiu Liong mempunyai kedudukan kuat dan nama baik di kalangan Kang-ouw, tidak perduli apa telah terjadi atas dirinya, di kalangan Kang-ouw pasti sudah tersebar luas, se- tidak2nya orang baik baik dari golongan hitam maupun golongan putih, tentunya sudah lama menyiarkan beritanya,” berkata Tiat Bok Taysu.

“Apabila tempat di mana ia mendapat kecelakaan ada sangat terpencil atau sepi, dan setelah peristiwa itu terjadi sengaja dirahasiakan, untuk sementara waktu juga tidak mungkin diketahui orang…. juga ada kemungkinan ia sudah digunakan oleh Kun-liong Ong dengan pengaruhnya obat.”

Semua orang yang ada di situ, agaknya sangat kagum akan analisa penasehat yang sangat cerdik itu, sehingga semua pada diam dan berpikir.

Teng Soan berkata sambil meng-goyang2kan kipasnya, “Meskipun siaotee belurn pernah melihat bagaimana rupa Kun-liong Ong itu, tetapi dari bahan-bahan yang dapat dikumpulkan oleh orang2 golongan kita, memang dia adalah seorang jago kuat yang mewarisi segala kepandaian, baik kepandaian ilmu silatnya, maupun kepandaian ilmu suratnya dan pikirannya, semua jauh di atas In Kiu Liong, baik bertanding dalam kekuatan tenaga maupun akal, In Kiu Liong sekali-kali bukan tandingannya.”

Hui Kong Leang menyelak, “Auw-yang Pangcu bersahabat demikian akrab dengan In Kiu Liong, apa salahnya kalau menulis sepucuk surat, lalu mengutus seseorang mengantarkan ke In-kee-cung?” “Usul saudara Hui ini, siaotee terima baik,” berkata Auw- yang Thong, kemudian berpaling dan berkata kepada Pek Kong Po, “Kau ambil alat2 tulis.”

Setelah disediakan alat tulis, Auw-yang Thong lalu menulis sepucuk surat kemudian diberikan kepada Pek Kong Po seraya berkata, “Kau bawa surat ini, segera berangkat ke In-kee- cung, kau harus serahkan pada In Kiu Liong sendiri.”

Pek Kong Po menerima surat yang diberikan, sebelum berangkat ia bertanya, “Bagaimana apabila In Kiu Liong tidak di rumah?”

Setelah berpikir agak lama, Auw-yang Thong baru menjawab, “Kau boleh minta bertemu dengan nyonya In, minta ia segera membuka surat itu dan segera memberi balasan dengan tulisan maupun lisan.”

Pek Kong Po menerima baik tugasnya, lalu berlalu.

Hui Kong Leang berkata, “Sudah lama siaotee mendengar Pek Kong Po ini mempunyai nama julukan si kaki sakti, dalam perjalanannya ini, entah memerlukan waktu berapa lama?”

“Itu hanya nama kosong belaka, ia bisa berjalan satu hari kira2 enam atau tujuh ratus pal saja.” menjawab Auw-yang Thong.

“Perjalanan dari sini ke In-kee-cung, apabiaa berhasil menjumpai In Kiu Liong sendiri, nanti jam dua malam ia bisa kembali. Tetapi apabila tidak menjumpai orangnya, susah dikata.” berkata Teng Soan.

“Jika diingat persahabatan In Kiu Liong dengan Pangcu kita, asal dia berada di rumah, tidak nanti ia tak mau menemui. Hanya, dapat menemukan In Kiu Liong bukan soal penting, asal kita dapat menangkap gadis berbaju putih itu, tidak susah bagi kita untuk mencari tahu siapa adanya orang yang pegang rol di belakang layar itu….” Orang2 yang ada di situ sejak melakukan pertempuran dengan gadis berbaju putih itu, sudah tahu bahwa gadis itu berkepandaian tinggi sekali, hingga mereka tak mempunyai keyakinan dapat menangkap gadis itu hanya mengandalkan kepandaian atau kekuatan saja, maka tiada seorangpun yang berani membuka mulut.

Teng Soan berkata pula sambil meng-goyang2kan kipasnya, “Apabila kita berlaku keras dengan mengandalkan kekuatan dan kepandaian terhadap gadis itu, sekalipun bisa merebut kemenangan, tetapi juga membawa banyak korban, maka siaotee pikir hendak menangkapnya dengan menggunakan akal.”

“Pikiran saudara Teng ini betul, tetapi entah hendak menggunakan akal apa?” bertanya Hui Kong Leang.

“Mereka menggunakan pengaruh obat untuk mengendalikan anak buahnya, maka kita juga menggunakan obat racun untuk menghadapi mereka. Siaotee sudah memerintahkan kepada dua belas orang anak buah kita yang pandai menyelam dalam air, supaya menambat kapal mereka, jikalau perlu boleh dilobangi, sehingga kapal itu tenggelam, kemudian kita menangkapnya di dalam air. Tetapi kemudian siaotee berpikir pula, mereka berani menambat kapalnya di tengah sungai, mungkin juga pandai berenang, maka siaotee baru berpikir hendak menggunakan pengaruhnya obat mabuk, apabila bisa membuat mereka mabuk dan kemudian ditangkapnya dengan tidak perlu menggunakan kekerasan….”

Matanya mengawasi Tiat Bok dan Ki Bok Taysu, kemudian berkata pula, “Mungkin kedua taysu ini tidak menyetujui perbuatan siaotee ini, tetapi keadaan sudah mendesak, musuh kita bukan saja berkepandaian tinggi, bahkan di antara mereka ada yang dipengaruhi oleh pengaruhnya obat, orang2 ini sudah tidak dapat mengendalikan pikirannya sendiri hingga semuanya berubah menjadi buas dan tidak takut mati. “Siaotee tadi sudah menyaksikan pertempuran dari pantai, pendapat siaotee ini tidak bisa salah lagi. Dua jago pedang partai Ceng Sia Pay terang adalah orang2 dari golongan partai kebenaran, dan pemuda bermuka kuning itu mungkin juga dari golongan kebenaran, pemuda itu tangannya putih bersih, tetapi mukanya kuning mungkin sudah menggunakan obat untuk merobah warna mukanya….”

Siucai itu nampaknya sangat gembira, bibirnya ramai dengan senyuman, setelah meng-goyang2kan kipasnya ber- ulang2, lalu berkata pula, “Mungkin pemuda itu setelah mencuci bersih mukanya, tuan2 sudah pernah mengenalnya.”

“Dalam rimba persilatan sudah lama tersiar nama baik golongan pengemis, hari ini setelah lolap mendengar uraian saudara Teng, benar2 bahwa apa yang dikabarkan itu benar adanya.” berkata Tiat Bok Taysu.

Muka Teng Soan mendadak berobah sungguh2, lalu berkata, “Kedua siansu dan tayhiap, siaotee masih ada ucapan yang mungkin kurang tepat, harap saudara2 jangan berkecil hati.”

Tiat Bok Taysu tercengang.

“Lolap bersedia untuk mendengarkan.” demikian katanya. “Saudara Teng hendak mengutarakan apa2, katakan saja

terus terang.” berkata Hui Kong Leang.

“Siaotee melihat wajah kalian,” berkata Teng Soan, “Semua sudah kemasukan racun, tetapi racun itu ada yang berat ada yang ringan, waktu bekerja mungkin agak lama, bisa jadi sampai sepuluh hari, setengah bulan atau sebulan. Tetapi apabila tidak lekas diobati, biar bagaimana akan menyulitkan saudara2 sendiri.”

“Kalau begitu, saudara Teng tentunya dapat menyembuhkan racun dalam tubuh kita ini?” bertanya Hui Kong Leang. “Susah dikata, meskipun siaotee mengerti sedikit menggunakan atau menggunakan racun, tetapi racun terlalu banyak jenisnya, orang yang pandai mempergunakan racun, kadang2 bisa mencampur beberapa jenis racun, dijadikan menjadi satu macam racun yang sangat jahat, sekalipun ahli racun, juga sulit untuk dapat menentukan dalam waktu yang sangat singkat….”

“Saudata Teng lihat, bagaimana racun dalam diri lolap dan sutee lolap?” bertanya Tiat Bok Taysu.

“Keadaan racun dalam tubuh taysu berdua, jauh lebih berat daripada racun yang berada dalam tubuh Hui tayhiap.”

“Lolap sudah mencobanya dengan mengatur jalan pernapasan, tetapi tidak ada tanda2 kemasukan racun.”

“Sahabat2 rimba persilatan, kebanyakan dihinggapi suatu perasaan yang salah, mereka menganggap bahwa dengan mengandalkan kekuatan tenaga dalam sendiri yang sudah sempurna, selama bersemedi atan mengatur jalan pernapasannya lalu dapat mengetahui dirinya kemasukan racun atau tidak, cara ini memang tidak boleh terlalu disalahkan, tetapi bagi orang yang suka menggunakan racun, juga selalu mengadakan perubahan caranya menggunakan racunnya; Penggunaan racun yang terdiri dari beberapa jenis racun, dalam dunia Kang-ouw sudah merupakan suatu hal biasa, tetapi beberapa ratus tahun berselang sudah ada orang memikirkan suatu cara, yang tidak lagi memasukkan racunnya kedalam tubuh korbannya melalui ucus dan kantong nasi, tetapi dimasukan kedalam urat syaraf sehingga sang korban tidak dapat merasakan, sehingga racunnya bekerja, korban itu baru berasa, tetapi sudah terlambat, sekalipun ada tabib berilmu tinggi, juga sudah tidak sanggup menyembuhkan lagi….”

“Lolap omong2 tidak sampai satu jam dengan sianseng, sudah mendapat tambah pengetahuan seperti hasil bersekolah sepuluh tahun,” berkata Tiat Bok Taysu. “Siaotee hanya merupakan satu siucai yang meninggalkan posnya sendiri, omong2 perihal keprajuritan di atas kertas, sesungguhnya tidak ada gunanya, semua itu siaotee hanya dapatkan dari hasil pembacaan buku, betul begitu atau tidak, masih susah dikata, harap losiansu jangan keburu memuji dulu.”

“Penguraian Teng sianseng benar2 memang membuka pikiran orang, se-olah2 mendengar suara lonceng gereja di waktu pagi hari.” betkats Hui Kong Leang.

“Ah, itu adalah anggapan saudara Hui saja. Tentang penggunasn racun campuran, kadang menimbulkan banyak kejadian yang sangat lucu. Sering kejadian racun2 penting saling beradu sendiri, sehingga racun itu kehilangan sifatnya, racun yang sudah dicampur dengan susah payah, akhirnya tidak ada gunanya. Ada kalanya bahan racun yang sifatnya tidak begitu berbisa, tetapi setelah dicampur dengan racun lainnya, segera berubah menjadi sangat berbisa. Cara untuk menggunakan racun, juga sudah banyak kemajuan, ada yang menggunakan dengan meminjam kekuatan angin, ada juga yang menggunakan kekuatan air, api, senjata rahasia dan sebagainya, warna racun juga turut berubah, sehingga saat ini, racun yang tiada warna dan rasa, tetapi hebat sekali kekuatannya, masih jarang orang bisa menggunakan, racun itu dengan sedikit saja sudah cukup melukai korbannya….”

-ooo0dw0oo-