ISMRP Jilid 08

 
Jilid 08

GADIS berbaju putih itu agaknya merasa malu ditegur demikian oleh Tiat-bok Taysu, ia menghela napas panjang, kemudian berkata, “Baiklah! Kalau aku tadi tahu akan begini kesudahannya, tidak seharusnya aku menerima baik permintaanmu.”

“Aku juga tidak akan merugikan kau, kalau kau menjawab tiga pertanyaanku, lolap juga akan melakukan sesuatu untukmu.”

“Begini saja! Setelah aku menjawab tiga pertanyaanmu, kalian segera meninggalkan ruangan ini.”

“Hal ini……..” tiba2 bertanya kepada para tetamu dengan suara nyaring, “Soal yang diajukan oleh nona Pan ini apakah tuan-tuan dapat menerimanya?”

Terdengar suara jawaban dari sebahagian besar orang yang ada di situ, “Kita menurut keputusan taysu.”

“Jam empat pagi kita boleh berlalu, jam lima nanti kembali lagi, lolap atas nama semua saudara yang ada di sini, terima baik permintaan nona,” berkata Tiat Bok Taysu.

“Sekarang kau boleh bertanya,” berkata gadis berbaju putih itu.

“Lolap ulangi satu kali lagi, nona putri Pan Lo Enghiong atau bukau?” “Antara kita namanya sebagai ayah dan anak, tetapi tidak ada ikatan kasih sama sekali.”

Tiat Bok Taysu tercengang, katanya, “Jawaban ini cerdik sekali, lolap masih belum mengerti kau adalah anaknya Pan Lo Enghiong atau bukan?”

“Kalau tidak mengerti kau boleh pulang bertanya kepada ketuamu.”

“Baiklah! Dan siapa pembunuh Pan Loya?” “Ia meninggal karena makan racun.”

Jawaban ini kembali di luar dugaan semua orang.

Tiat Bok Taysu merangkapkan kedua tangannya sambil mendoa, kemudian bertanya pula, “Tiga benda pusaka yang diambil oleh Pan Lo Enghiong sekarang ada di mana?”

Semua orang memasang telinga untuk menantikan jawaban gadis itu.

Gadis itu tersenyum, kemudian berkata, “Oleh karena ia tidak mau memberitahukan tempat di mana disimpannya tiga benda pusaka itu, barulah bunuh diri.”

Tiat Bok Taysu tercegang.

“Yang lolap tanyakan adalah di mana tersimpannya tiga benda pusaka itu?”

“Aku sudah menjawab sejujurnya, kecuali ayah yang sudah meninggal, di dalam dunia ini sudah tidak ada orang lagi yang mengetahui.”

“Kalau begitu pertanyaan lolap ini Cuma-cuma saja.” “Pertanyaan Losiansu terlalu kejam, agaknya sekaligus

berniat mengetahui semua urusan, apabila urusan dalam dunia ini semua ada demikian mudah, rimba persilatan sudah tidak ada orang lagi yang mempunyai kecerdasan luar biasa, juga tidak akan ada kerewelan dari orang orang yang menggunakan segala akal muslihat.”

“Asal kau bisa menjawab dengan sejujurnya, sekalipun pertanyaan lolap ini kurang pandai mengaturnya, juga tidak akau menyalahkan kau.”

“Masih tinggal satu pertanyaan lagi, aku harap sebelum mengajukan pertanyaanmu, pikirlah baik-baik dulu, supaya pertanyaanmu itu aku tidak dapat menjawab.”

Ucapan gadis itu benar saja membuat Tiat Bok Taysu harus berpikir dahulu, barulah mengajukan pertanyaannya.

“Menurut pandangan lolap, nona sendiri agaknya juga dikendalikan oleh orang lain, orang itu tidak perduli pembunuh Pan Lo Enghiong atau bukan, tetapi dari dirinya sedikit banyak dapat dicari keterangan ”

Wajab gadis itu nampak sedikit berobah, per-lahan2 memejamkan matanya, se-olah2 sedang berusaha untuk menenangkan pikirannya.

Tiat Bok Taysu menatap wajah gadis itu, sambungnya, “Orang yang benar2 merupakan biang keladi di belakang layarnya ini, kau seharusnya tahu siapa orangnya, setidak2nya kau harus tahu siapa itu orang yang berada di belakang dirimu, yang lolap tanyakan adalah nama orang itu… ”

Belum habis perkataan Tiat Bok Taysu, gadis itu sudah berseru, “Kun Liong Ong!”

“Siapa menyuruh kau menjawab begitu cepat? Ucapan tadi masih belum habis.”

“Sudah cukup! Aku sudah bicara terlalu banyak.”

Se-akan2 teringat sesuatu yang menakutkan, sekujur badan gadis itu gemetar, dengan kedua tangannya ia menutupi matanya. Tiat Bok Taysu sebetulnya ingin menegur beberapa kata kepadanya, tetapi ketika menyaksikan sikapnya yang ketakutan itu, hatinya menjadi lemah.

Ia lalu berkata sambil menghela napas panjang, “Karena mengingat keadaanmu ini, baiklah lolap akhiri pertanyaan ini.”

Gadis itu berkata dengan suara perlahan, “Aku sudah bicara terlalu banyak.”

Pada saat itu tiba2 Ki Bok Taysu berkata, “Dua sahabat dari Ceng Sia Pay sudah pergi beberapa lama, bagaimana masih belum kembali? Kita harus pergi mencarinya.”

“Tidak perlu dicari lagi, dua orang itu apabila tidak kembali, kita di sini masih cukup tenaga, apabila dua orang itu balik lagi, hanya dua orang saja, kita harus menyiapkan kekuatan separuh dari semua orang yang ada di sini untuk menghadipinya.”

Semua orang semula terkejut mendengar jawaban itu, tetapi kemudian setelah memahami maksud ucapan itu, semua lalu diam.

Sebab semua sudah tahu apa yang terjadi atas diri Touw Thian Gouw, setelah meninggalkan ruangan itu dan kembali lagi, tiba2 berobah kelakuannya yang berpihak kepada gadis itu, apabila dua jago pedang dari Ceng Sia Pay itu juga seperti Touw Thian Gouw, urusannya menjadi gawat, karena dengan kekuatan dan kepandaian dua orang itu, orang2 dalam ruangan ini yang bisa menghadapi jumlahnya sedikit sekali.

Mengingat suasana demikian gawat, apabila tidak segera berlalu dari ruangan itu, mungkin akan terjadi sesuatu atas diri merka.

Setelah hening cukup lama, Ki Bok Taysu tiba2 berkata kepada Tiat Bok Taysu dengan suara perlahan, “Suheng, benarkah kita harus mengundurkan diri sekarang juga?” Tiat Bok Taysu agaknya juga merasa sulit menghadapi persoalan itu, sehingga tidak mendapatkan suatu cara yang tepat untuk menyelesaikan, ketika mendengar pertanyaan suteenya, ia cuma bisa menghela napas, sebelum menjawab, pintu tiba2 terbuka dan Wan Hauw masuk dengan tindakan lebar, kemudian bertanya, “Sudah habis bicara atau berlum?”

Pemuda itu agak tolol2an, mukanya seperti monyet, di dalam dunia Kang-ouw juga belum mendapat nama atau kedudukkan, maka tiada seorangpun yang menghiraukannya.

Wan Hauw dengan sinar mata yang tajam menyapu orang2 dalam ruangan itu sebentar, melihat tiada orang yang menghiraukan, lalu berjalan ke arah gadis berbaju putih. Ia menghampiri Siang-koan Kie, tiba2 mengulur tangannya, menarik tangan kiri Siang-koan Kie sambil berkata, “Toako, mari kita pergi.”

Karena tenaganya kuat sekali, Siang-koan Kie telah ditarik hampir keluar dari ruangan.

Gadis berbaju putih itu menyaksikan Siang-koan Kie ditarik keluar diam2 terkejut, dengan cepat ia lalu berkata, “Pukul dia!”

Siang-koan Kie berpaling mengawasi gadis itu sejenak, kemudian per-lahan2 mengangkat tinjunya, tetapi tidak melakukan gerakan apa-apa.

Sebentar kernudian, Siang-koan Kie ditarik oleh Wan Hauw ke dekat pintu.

Gadis berbaju putih itu tiba2 mengeluarkan sebilah pedang pendek, lalu di-goyang2kan sambil berkata, “Pukul dia!”

Sungguh heran, Siang-koan Kie setelah melihat pedang pendek itu, segera mengayunkan tinjunya ke pundak Wan Hauw.

Serangan itu cukup hebat, Wan Hauw yang sama sekali tidak menduga, mundur ter-huyung2, tangan yang menarik tangannya Siang-koan Kie juga dilepaskan, dengan perasaan terheran-heran ia bertanya, “Toako siaotee ada kesalahan apa?”

Siang-koan Kie tidak menjawab, hanya mengawasi Wan Hauw dengan perasaan dingin, tiba-tiba menyerang lagi.

K ali ini Wan Hauw sudah ber-jaga2, maka serangannya itu dapat dielakkan dengan baik.

Karena serangannya itu tidak berhasil mengenakan sasarannya, Siang-koan Kie melakukan serangan ber-tubi2 dengan kedua tinjunya, dalam waktu sekejap saja sudah melancarkan empat puluh kali serangan.

Serangannya itu bukan saja hebat, tetapi juga cepat luar biasa, Wan Hauw hanya mengandalkan kelincahannya, ternyata dapat mengelakkan serangan yang hebat itu.

Keterampilan dan kelincahan luar biasa yang ditunjukkan oleh Wan Hauw itu segera menarik perhatian orang banyak, hingga semua mata ditujukan kepadanya.

Tiat Bok Taysu yang sudah banyak pengetahuan, sepintas lalu saja segera dapat mengenali babwa gerakan Wan Hauw itu, adalah gerakan dari kepandaian golongan kelas tinggi, sia2 saja serangan Siang-koan Kie yang demikian hebat, ternyata tidak dapat menyentuh bajunya.

Gadis berbaju putih tiba2 mengeluarkan suara bentakan, “Mundur.”

Setelah pedang pendek di tangannya dikibaskan, Siang- koan Kie benar2 sudah menurut dam mengundurkan diri.

Wan Hauw dengan perasaan heran mengawasi pedang pendek di tangan gadis itu, dalam hatinya berpikir, “Sungguh aneh, mengapa pedang pendek itu dapat membuat toako menurut segala perintahnya?” Selagi masih berpikir, gadis berbaju.putih itu menghampirinya.

Wan Hauw tetap rnengawasi pedang pendek di tangannya ia juga tidak memikir, sementara dalam otaknya memikirkan harus merrbut pedang di tangannya itu atau tidak?

Gadis itu menunjukkan senyumnya yang manis dan bertanya, “Apakah kau saudaranya?”

“Ya.” memjawab Wan Hauw.

“Tahukah kau apa sebabnya ia tidak mengenalimu?”

“Tidak tahu.” jawab Wan Hauw sambil menggelengkan kepala.

“Apakah kau ingin tinggal ber-sama2 dengannya?”

“Selama beberapa tahun kita berada ber-sama2, sudah tentu aku ingin.”

Gadis itu sebelum membuka mulutnya lagi, Tiat Bok Taysu tiba2 maju dan membentak dengan suara keras, “Nona Pan, perbuatanmu terhadap seorang yang masih putih bersih ini, apakah kau merasa tidak terlalu rendah?”

Gadis itu matanya berputaran, kemudian berkata dengan nada suara dingin, “Tadi kita sudah berjanji, kau setelah menanya tiga pertanyaan kepadaku, segera keluar dari gedung ini, mengapa sekarang masih belum berlalu? Apakah maksudmu?”

Tiat Bak Taysu tercengang, dalam hatinya berpikir, “Itu memang benar, aku sudah berjanji dengannya, sudah tentu harus menepati janji itu.”

Sebagai seorang beribadat, sudah tentu tidak mau merusak namanya sendiri, maka seketika itu ia bungkam, lama baru bisa berkata, “Lolap hanya berjanji denganmu keluar dari ruangan ini, tetapi tidak berkata hendak keluar dari gedung ini, dan kapan lolap hendak keluar juga tidak ada batas waktunya, lagi pula kalau sekarang lolap mengundurkan diri, se-waktu2 juga bisa masuk lagi.”

“Biar bagaimana, kalian sekarang harus keluar.”

Tiat Bok Taysu menarik tangan Wan Hauw seraya berkata, “Jalan, mari kita keluar… ”

Wan Hauw melepaskan tangan yang ditarik oleh Tiat Bok Taysu, lalu berkata, “Tidak bisa, aku hendak bersama-sama dengan toako.”

“Ia sudah makan obat berbisa sehingga melupakan dirinya, tidak bisa sadar dalam waktu singkat, kita harus berusaha memunahkan racunnya baru dapat menolongnya.” berkata Tiat Bok Taysu sambil menghela napas.

“Apakah kau dapat berusaha menolong dirinya?”

Tiat Bok Taysu tahu bahwa pemuda itu masih jujur, apabila tidak menyanggupi, sudah tentu ia tidak mau keluar ber- sama2, dengan demikian berarti akan jatuh di tangan gadis itu, kepandaian Siang-koan Kie sudah sedemikian tinggi, dan kepandaian pemuda ini nampak lebih tinggi dari pada Siang- koan Kie, apabila jatuh lagi di tangan gadis itu, berarti menambah satu tenaga kuat bagi gadis itu, maka ia segera berkata, “Biarlah lolap nanti berusaha, mungkin dapat menolongnya, seandai lolap sendiri tidak bisa, juga akan berusaha sedapat mungkin untuk menolongnya.”

“Benarkah ucapanmu itu?”

“Seumur hidup lolap belum pernah membohong.”

Wau. Hauw menundukkan kepala berpikir sejenak, akhirnya menghela napas panjang dan berkata, ”Baiklah, kau bisa menolong toako, aku akan pergi bersamamu.”

Gadis berbaju putih itu menyaksikan Wan How demikian mudah ditipu, dalam hatinya lalu berpikir, “Orang ini sangat bodoh, tetapi kepandaiannya tinggi sekali, apabila aku dapat menguasainya, sesungguhya merupakan pengawal yang sangat baik, tetapi Tiat Bok Taysu nampaknya juga berhasil membujuknya, paderi tua itu banyak pengetahuan, juga tinggi sekali kepandaiannya, di antara semua orang ini hanya dua paderi dari Siao-lim-sie inilah yang paling sulit dihadapinya, bagaiman aku harus mencari akal supaya pemuda itu tidak akan dipengaruhi oleh mereka?”

Ia memang seorang sangat cerdik, dengan cepat segera mendapat akal lain berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara keras, “Kau sudah tidak bisa hidup lama lagi… ”

Wan Hauw meskipun sudah percaya ucapan Tiat Bok Taysu, tetapi tidak bisa berada bersama-sama dengan Siang- koan Kie hatinya selalu kurang tenang, ketika mendengar perkataan gadis itu segera bertanya, “Kau katakan siapa yang tidak bisa hidup lama lagi?”

Gadis itu menjawab sambil menunjuk Siang-koan Kie, “Yang kumaksudkan adalah dia ini. Ai, sungguh kasihan ia sudah tidak bisa hidup lebih lama dari empat hari lagi.”

Wan Hauw terperanjat, dengan tindakan lebar ia berjalan menghampiri Siang-koan Kie.

Selagi Tiat Bok Taysu hendak mencegah, Ki Bok Taysn berkata sambil menghela napas perlahan, “Orang ini selalu mengingat keselamatan diri toakonya, kita menasehatinya juga tidak ada gunanya, sebaiknya kita berlalu saja dari sini dulu… ”

Berkata sampai di situ, paderi itu tiba2 menutup mulut.

Tiat Bok Taysu mengerti maksud yang terkandung dalam ucapan suteenya itu, ialah lebih dulu keluar dari ruangan itu, untuk memenuhi janjinya dengan gadis itu, kemudian balik kembali dan bertindak menundukkan gadis itu kemudian menolong diri Siang-koan Kie dan Wan Hauw. Gadis berbaju putih juga mengerti maksud paderi itu, maka lalu berkata sambil tersenyum, “Kita tadi sudah berjanji, setelah kau memajukan pertanyaan kepadaku, segera keluar dari ruangan ini, sekarang pertanyaan sudah selesai, maka kalian seharusnya meninggalkan ruangan ini.” Ia berhenti sejenak, “Setelah kalian berlalu, andaikata hendak masuk lagi, juga tidak terhitung melanggar janji.”

Ucapan itu sesungguhnya di luar dugaan semua orang. “Nanti kalau lolap masuk ke dalam ruangan ini lagi, kita

masing2 akan mengandalkan kepandaian sendiri, untuk menunjukkan siapa kalah siapa menang, kalau bukan lolap yang mundur dalam keadaau terluka, tentunya kaulah yang akan kita tawan,” berkata Tiat Bok Taysu sambil tertawa dingin.

“Urusan yang belum datang, siapa yang dapat menduganya, apakah kau berani memastikan kecuali berakhir seperti apa yang kau katakan tadi, sudah tidak lain cara lagi?”

“Lolap sesungguhnya tidak dapat mencari jalan yang sebaik-baiknya.”

“Apabila menurut katamu itu, entah siapa di antara kalian yang akan terluka? Apakah sudah pasti boanpwee akan menyerah?”

“Susah dikata, kau mempunyai banyak akal, sehingga sulit bagi orang untuk berjaga.”

“Kau terlalu memuji.”

Ki Bok Taysu berkata dengan suara perlahan, “Perempuan ini pandai bicara, tidak perlu suheng adu lidah dengannya, marilah kita keluar dari sini dulu.”

Tiat Bok Taysu menganggukkan kepala, berjalan keluar dengan tindakan lebar. Gadis itu tiba-tiba berkata dengan suara nyaring, “Tuan- tuan jangan lupa bahwa dalam buku daftar kematian nama kalian sudah terdaftar semua, ini berarti hanya dapat hidup sepuluh hari lagi.”

Tiat Bok Taysu tidak memperdulikannya, ia meneruskan tujuannya, yang segera diikuti semua orang.

Tiba di pekarangan tengah, Tiat Bok Taysu mendadak berhenti dan berpaling, berkata kepada orang banyak, “Peristiwa dalam keluarga Pan ini, sudah menjadi perkara pembunuhan yang lazim terjadi di dunia Kang-ouw, dalam hal ini menyangkut persoalan permusuhan dan balas dendam, tadi tuan-tuan sudah mendengar sendiri, sekarang jelaslah sudah persoalannya, meskipun nona Pan belum tentu merupakan pembunuh ayahnya sendiri, tetapi apa yang telah terjadi, ia pasti mengetahui, tetapi sudah jelas bahwa di belakang perempuan itu masih ada orang lain yamg mengendalikan, dan orang yang bekerja di belakang layar ini, mungkin berada di dalam gedung keluarga Pan……..” Ia berhenti sejenak. “Perubahan yang terjadi atas diri Touw Thian Gouw yang memihak ke gadis itu kalau bukan terbokong orang dan diberi makan obat yang melupakan dirinya sendiri, tentunya ada suatu rahasia yang terjatuh di tangan orang lain sehingga ia terpaksa berbuat demikian, sementara itu dua jago pedang Ceng Sia Pay yang tadi keluar mengejar orang hingga kini belum kembali, juga tidak tahu bagaimana nasibnya, serentetan kejadian aneh, merupakan kejadian aneh yang jarang terjadi di kalangan Kang-ouw, sekarang gedung keluarga Pan ini sudah menjadi suatu tempat seram, di antara tuan tuan ada yang menjadi sahabat baik Pan Lo Enghiong di masa hidupnya dan datang hendak turut berduka cita dengan setulus hati, tetapi ada juga yang mengandung maksud lain, yang ingin mengetahui di mana adanya tiga benda pusaka yang dibawanya, tetapi kini urusan sudah berobah begini rupa, sudah tiba ke taraf yang tidak dapat diselsaikan dengan omongan saja, maka kalau kita nanti masuk ke dalam ruangan lagi, mau tidak mau harus turun tangan bertempur dengan musuh tangguh, di antara tuan tuan apabila ada yang tidak ingin terlibat dalam kekeruhan ini, sekarang masih keburu untuk mengundurkan diri, harap tuan tuan pikir masak2 lebih dahulu sebelum bertindak.”

Tiat Bok Taysu menengadah ke langit, agaknya hendak memberikan waktu lebih banyak untuk orang-orang itu berpikir.

Tiba-tiba terdengar suara orang bertanya dengan nada suara kasar, “Entah rencana apa taysu berdua hendak jalankan?”

Tiat Bok Taysu menjawab, “Kedatangan lolap berdua adalah atas tugas ketua, sudah tentu harus dapat menyelesaikan persoalan ini baru kita pulang untuk menyampaikan jawaban.”

Seorang dengan nada suara orang tua berkata, “Biar bagaimana kita sudah terdaftar dalam buku kematian, apabila ucapan Nona Pan itu bukan untuk menakut-nakuti saja, itu berarti nyawa kita cuma tinggal sepuluh hari lagi, maka selama kita masih hidup sebaiknya kita mengadu jiwa dengannya.”

Kata-kata itu agaknya memberi semangat kepada semua orang, maka lalu terdengar suara sambutan riuh, “Benar, kita harus menundukkan gadis itu dulu, kalau gadis itu mendapat kesulitan, orang yang di belakarag layar pasti akan keluar, mungkin dengan tertangkapnya dia, mungkin kita bisa berhadapan dengan orang yang di belakang layar itu.”

Tiat Bok Taysu diam diam menghitung jumlah orang yang ada di situ, ternyata masih ada tiga puluh orang lebih, orang- orang itu kebanyakan merupakan orang-orang Kang-ouw yang sudah ada namanya, walaupun bukan seluruhnya orang-orang dari golongan kelas satu tetapi semuanya termasuk orang- orang yang berkepandaian tinggi, maka ia lalu berkata, “Kedudukan kita sekarang ini sudah seperti anak panah di atas busur, tidak perduli siapa orangnya yang berada di belakang layar itu, apakah ia masih berada di dalam gedung keluarga Pan, tetapi kunci kematian Pan Lo Enghiong ini tetap masih ada, tetap masih pada diri gadis itu, karena kedatangan lolap adalah atas perintah ketua gereja, lolap mau tidak mau harus membikin terang persoalan ini, maka lolap memberanikan diri minta pertolongan tuan tuan… ”

Koan Sam Seng dari golongan pengemis tertawa terbahak- bahak dan berkata, “Losiansu hendak berkata apa bicaralah terus terang, asal kita sanggup, siaote yang lebih dulu akan terima baik permintaan losiansu.”

“Maksud lolap setelah kita berhasil menawan nama Pan, lolap minta supaya nona itu diserahkan kepada lolap untuk lolap bawa pulang ke kuil Siao-lim-sie, sudikah kiranya tuan- tuan menerima baik permintaan lolap ini?” berkata Tiat Bok Taysu.

Koan Sam Seng berpikir sejenak, lalu berkata, “Pangcu golongan kita meskipun juga ada maksud demikian, supaya siaote dapat membawa pulang pembunuhnya, tetapi karena losiansu lebih dulu sudah mengajukan permintaan ini, sudah seharusnya siaote mengalah, tetapi bolehkah kiranya kalau Pan kongcu siaote yang membawa pulang?”

“Lolap asal dapat membawa pulang nona Pan seorang, sudah cukup, yang lainnya lolap tidak turut campur tangan.”

“Siaote juga hanya ingin membawa pulang Pan kongcu seorang saja, yang lainnya tidak ingin tahy lagi… ”

Ia mengawasi semua orang yang berada di situ, lalu berkata pula, “Entah bagaiman pikiran tuan-tuan?”

“Usul itu sangat baik,” demikian terdengar jawaban dari orang banyak. “Bagus! Kalau sudah tidak ada orang menentang, bagaimana kalau kita sekarang bertindak? Bertanya Koan Sam Seng.

“Koan sicu harap pegang komando, biarlah lolap yang masuk lebih dulu,” berkata Tiat Bok Taysu.

Koan Sam Seng bergerak di hadapan Tiat Bok Taysu seraya berkata, “Taysu adalah seorang beribadah tinggi, sebaiknya taysu yang pegang komando, biarlah aku yang menjadi pelopor.”

Tanpa menunggu jawaban Tiat Bok Taysu ia sudah mendorong pintu ruangan itu, sehingga pintu itu terbuka lebar.

Sebentar kemudian ia sudah berada di dalam kamar lagi, tetapi ruangan itu ternyata kosong melompong, gadis berbaju putih dan Siang-koan Kie serta yang lainnya, semua entah ke mana perginya.

Tidak lama kemudian, semua orang sudah menyusul masuk ke dalam ruangannya itu.

Koan Sam Seng lalu berpaling dan berkata kepada Tiat Bok Taysu, “Dalam ruangan ini mungkin ada jalan rahasia, mereka sudah lari semua.”

Untuk sesaat Tiat Bok Taysu berdiri tertegun, ia berkata sambil menghela napas, “Kita kalah set, tidakan kita ini barangkali tidak ada gunanya.”

Tiba2 terdengar suara orang berkata, “Sekalipun mereka sudah keluar dari ruangan ini, tetapi toh tidak mungkin meninggalkan gedung keluarga Pan, kita toh sudah siap bertindak menghadapi mereka, sudah tidak perlu ragu-ragu lagi, apakah benar kita sudah tidak mempu mencari jejak mereka?”

Pada saat itu entah siapa orangnya yang tiba2 menyalakan penerangan lilin. Keadaan dalam ruangan itu ternyata masih tetap seperti sedia kala, sedikitpun tidak ada tanda-tanda adanya jalanan rahasia.

Koan Sam Seng berkata sambil tertawa dingin, “Aku tidak percaya tidak dapat mencari jalan keluar mereka.”

Ia lalu mengayun tangannya menyerang dinding yang tergantung lukisan pemandangan alam.

Serangan hebat itu membuat hancur dinding tersebut, semua orang sudah mengeluarkan senjata masing2 yang segera meniru perbuatan Koan Sam Seng itu, hingga dinding dalam ruangan itu semuanya telah digempur.

Tetapi mereka tidak dapat menemukan tanda2 yang mencurigakan.

Selagi mereka dalam keadaan tidak berdaya, tiba2 terdengar seorang berkata, “Jalanan rahasia itu mungkin di bawah tanah, mari kita cari lagi.”

Semua orang mengerahkan senjata masing2 menggempur tanah seluruh ruangan itu.

Sebentar kemudian terdengar suara orang berkata, “Ada di sini.”

Yang lainnya segera menghentikan usahanya untuk mencari, semuanya maju mengerumun kepada seorang setengah tua yang berdiri di-tengah2 sambil memegang golok di tangan kirinya dan tangan kanannya memegang senjata gaitan.

Sebagian orang2 yang ada di situ kenal padanya sebagai seorang tokoh kuat dari rimba hijau, orang itu bernama Ong Kiam.

Orang tua itu terkenal licik dan buas dalam kalangan Kang- ouw, kecuali terkenal dengan kekejamannya, juga terkenal dengan banyak akal muslihatnya, ia selamanya bekerja seorang diri, perbuatannya itu hampir membikin pusing kepala orang yang mengusahakan pengantaran barang2.

Koan Sam Seng berkata dengan suara perlahan, “Tidak kusangka kau juga datang.”

Ong Kiam tersenyum dan berkata, “Dewasa ini kita semua berdiri dalam satu garis, tidak seharusnya terbit onar sendiri, persoalan siaotee dengan golonganmu, paling baik kita selesaikan setelah urusan ini beres.”

“Baiklah, tetapi setelah urusan ini nanti selesai, kau jangan coba2 ingin kabur.”

Siaote selamanya berpendirian siapa yang kuat makan yang lemah, tidak suka dirugikan, pada saat itu apabila keadaan tidak mengijinkan, sudah tentu lebih baik kabur, tetapi saudara Koan boleh mengutus lebih banyatk orang-orangmu yang kuat untuk mencari aku, biar bagaimana masing masing mendapat kesempatan untuk hidup, siapapun tidak mau dirugikan.”

Tanpa menunggu jawaban Koan Sam Seng orang she Ong itu sudah menggunakan senjata gaitannya untuk membuka lantai di hadapannya, benar saja di situ terdapat suatu jalanan yang menuju ke dalam tanah, jalanan itu sangat gelap.

Ong Kiam melongok ke bawah, lalu berkata sambil menggelengkan kepala, “Apabila di dalam ini ada tersembunyi orang, dalam jalanan yang sempit ini sesungguhnya tidak mudah tidak terlihat.”

Semua orang bergiliran melongok ke bawah, tetapi satu persatu menyingkir, tiada seorangpun yang berani turun lebih dulu.

Tiat Bok Tysu yang menyaksikan keadaan demikian, terpaksa berkata, “Harap tuan-tuan tunggu di ruangan, lolap hendak turun lebih dulu.” Ki Bok Taysu dan Koan Sam Seng dengan serentak melompat maju ke depan Tiat Bok Taysu. Koan Sam Seng lalu berkata dengan suara perlahan, “Losiansu yang harus memimpin mereka, bagaimana boleh menempuh bahaya, sebaiknya aku yang turun lebih dulu… ”

Sementara itu Ki Bok Taysu sudah melompat masuk ke jalanan yang menuju ke bawah tanah itu.

Tiat Bok Taysu mengkhawatirkan sutenya, maka ia lalu berkata, “Mari kita turun bersama-sama!”

Koan Sam Seng melongok ke bawah, ternyata sudah tidak menampak bayangan Ki Bok Taysu, maka lalu menyusulnya.”

Setelah tiga orang itu masuk, semua orang yang ada di situ lalu menyusul.

Marilah kita tengok kepada Ki Bok Taysu yang berjalan lebih dulu, ia lari dengan cepat sambil mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya.

Jalanan di bawah tanah itu berliku-liku, jalan tidak jauh, jalanan itu membelok ke kanan, jalan belum sampai satu tombak kembali membelok ke kiri, jalanan nampak semakin lebar juga tidak lembab, jelas bahwa jalanan itu sering dibersihkan.

Melalui dua tikungan lagi, jalanan tiba-tiba terputus, Ki Bok Taysu meraba dengan tangannya, ia menyentuh benda dingin, ternyata benda itu adalah pinta besi yang tertutup rapat.

Sementara itu Koan Sam Seng dan Tiat Bok Taysu serta yang lainnya juga sudah tiba di tempat tersebut.

Koan Sam Seng mengerahkan kekuatan tenaganya, ia mendorong dengan kedua tangan, tetapi hanya bergerak sedikit saja tetapi tidak terbuka.

Tiat Bok Taysu tiba2 berseru, “Lekas mundur!” Semua orang terkejut, sebelum bisa bertindak sesuatu, telinganya menangkap suara bergeraknya benda logam.

Pada saat itu terdengar suara orang bicara dengan suara kasar, “Budak hina itu benar2 sangat jahat, kita semua telah tertipu olehnya.

Tiat Bok Taysu hendak kembali, tetapi ternyata sudah terlambat, di bagian tikungan tiba2 terhalang oleh jeruji besi, tempat di mana mereka berada tidak lebih hanya dua tombak persegi saja.

Sebagai orang yang sudah banyak makan asam garam, menyaksikan keadaan demikian, Tiat Bok Taysu malah menjadi tenang, diam2 mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, mencoba hendak mematahkan jeruji besi itu.

Tetapi jeruji besi itu terbuat dari besi yang kokoh kuat, sekalipun Tiat Bak Taysu yang mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat sempurna juga tidak berhasil mematahkannya.

Pada saat itu entah siapa yang menyalahkan api, sehingga jalanan di bawah tanah itu seketika terang benderang.

Tigapuluh orang lebih berada dalam satu ruangan di bawah tanah yang sempit itu, sudah tentu Nampak berjubel.

Koan Sam Seng berkata sambil menghela napas perlahan, “Kita tadi seharusnya meninggalkan beberapa orang dalam ruangan besar itu, supaya kalau ada apa2, mereka segera dapat memberi pertolongan, Aih! Apabila si cerdik dalam golongan pengemis kita itu berada di sini, tidak nanti bisa terjebak oleh setan perempuan itu, sayang ia tidak bisa datang bersamaku.”

Tiat Bok Taysu berkata sambil menghela napas, “Kita sekarang sudah terkurung dalam jalan buntu, pintu besi dan jeruji besi ini, semua merupakan barang2 logam yang kokoh kuat, tidak dapat disingkirkan oleh kekuatan tenaga manusia… ” Tiba2 terdengar suara yang amat tajam melengking, “Apakah kita harus duduk saja menerima kematian?”

“Kecuali apabila di antara tuan ada yang membawa golok atau pedang mustika yang mempunyai ketajaman luar biasa, yang dapat menabas barang logam bagaikan tanah, supaya dapat kita gunakan untuk memotong jeruji besi ini, jikalau tidak, kita tidak nanti bisa keluar dari tempat ini. Apa yang penting bagi kita saat ini, harus tetap tenang, per-lahan2 mencari akal untuk keluar dari tempat ini.” berkata Tiat Bok Taysu.

“Apakah taysu sudah mencoba berapa kerasnya jeruji besi itu?” bertanya Koan Sam Seng.

“Sudah, sangat kokoh sekali,” menjawab Tiat Bok Taysu.

Andaikata ditambah dengan kekuataa Ki Bok Taysu dan siaotee sendiri, apakah taysu sanggup mematahkan jeruji besi itu?”

“Susah diduga.”

Koan Sam Seng bertindak maju, sambil menggerakan kekuatan tenaga dalamnya ia coba menentang terali besi itu, lalu berkata pula, “Taysu berdua harap pegang tubuhku, kita tarik bersama-sama.”

Tiat Bok Taysu meskipun tahu harapan sangat tipis, tetapi ia menurut permintaan Koan Sam Seng, ia sendiri memeluk tubuh Koan Sam Seng, Ki Bok Taysu memeluk dirinya, lalu Koan Sam Seng membentak dengan suara keras, tiga orang itu sama2 menarik ke belakang. 

Kekuatan tenaga gabungan tiga orang itu sesungguhnya cukup hebat, tetapi jeruji itu pembuatannya sedemikian rapat, orang yang membuatnya itu seolah-olah sudah menduganya lebih dulu mungkin satu waktu akan digunakan untuk mengurung orang yang bertenaga luar biasa, maka dibuatnya sedemikian kokoh.

Pada saat itu, tiba2 terdengar suara jeritan ngeri, ada empat atau lima orang telah rubuh di tanah dengan serentak.

Semua orang terperanjat, ketika mereka berpaling kea rah di mana datangnya suara itu, orang3 itu ternyata sudah putus jiwanya.

Tiat Bok Taysu buru2 menghampiri, ia meraba-raba orang2 yang roboh itu, kemudian berkata sambil menghela napas, “Sudah tidak tertolong lagi.”

“Dengan cara bagaimana mereka menemukan kematiannya?” bertanya Koan Sam Seng.

“Mereka binasa terkena senjata rahasia beracun,” menjawab Tiat Bok Taysu.

“Senjata rahasia apa demikian berbisa?”

Tiat Bok Taysu mengeluarkan sebuah benda gemerlapan panjang kira2 satu dim dari pundak salah satu korban yang sudah binasa itu, kemudian berkata, “Senjata rahasia ini mungkin yang dinamakan paku mencabut nyawa.”

Semua mata ditujukan kepada senjat rahasia berbisa itu, setiap orang merasa heran, dalam tempat sempit yang terkurung oleh dinding dan besi kokoh kuat itu, dari mana senjata itu datangnya……..

Belum lenyap pikiran itu, tiba2 terdengar pula suara jeritan ngeri, beberapa orang lagi telah roboh binasa.

Kejadian aneh itu, menimbulkan kepanikan dan rasa takut kepada orang banyak itu, Mereka saling ber-tanya2 sendiri, siapakah yang akan mendapat giliran menjadi sasaran senjata rahasia beracun selanjutnya?

Dalam gelap gulita itu, hanya terdengar suara menggesernya kaki manusia yang masing2 hendak sembunyikan diri, jelas bahwa pembunuhan kejam itu sudah menimbulkan rasa khawatir sangat hebat.

Tiba2 dalam kesunyian itu terdengar suara dingin tetapi lembut, “Nama tuan2 sudah terdaftar dalam buku kematian, kalau hari ini tidak mati, dalam waktu sepuluh hari pasti mati karena racun… ”

Suara itu tiba2 terputus, tetapi beberapa patah kata itu sudah cukup untuk menambah seramnya suasana.

Hening sejenak, Koan Sam Seng yang memecahkan keheningan itu, “Losiansu tidak terluka?”

“Lolap masih baik2 saja,” menjawab Tiat Bok Taysu.

“Entah dari mana datangnya senjata rahasia itu? Mengapa setiap orang yang terkena senjata itu segera binasa… ”

“Di atas senjata rahasia itu, mereka sudah menaruh racun yang sangat berbisa, senjata itu begitu mengena anggota badan manusia, segera menyebabkan kematian.”

“Hari ini nampaknya semua orang yang berada di sini tidak akan terluput dari bahaya maut ini….”

“Dalam dinding tembok ini mereka sudah menyediakan jalan rahasia, selagi kita lengah, mereka melakukan serangan dengan menggunakan senjata rahasia beracun, asal kita pasang mata kepada dinding sekitar kita ini dan dapat menemukan tempat di mana senjata2 itu dilepaskan, tidak sulit untuk menjaganya.”

-odwo-

Bab 30

PERKATAAN PADERI TUA itu menyadarkan semua orang, masing2 lalu menyiapkan senjata rahasia sendiri2, perhatian mereka ditujukan ke dinding sekitarnya. Tiat Bok Taysu yang mempunyai kekuatan yang sudah sempurna, setelah beristirahat sebentar, matanya bias melihat benda2 di tempat gelap, saat itu ia baru mengetahui bahwa banyak di antara orang2 itu pada bersembunyi di setiap sudut, tangan mereka memondong satu jenazah orang digunakan untuk perisai dirinya sendiri.

Paderi beribadat tinggi itu menghela napas perlahan, dalam hatinya berpikir, “Di dalam dunia ini orang yang benar2 tidak takut mati, sesungguhnya tida seberapa jumlahnya, seperti orang2 yang berada di sini semua merupakan orang2 ternama dalam dunia Kang-ouw, biasanya tidak takut mati, tetapi apabila berhadapan dengan maut yang sesungguhnya, mereka lalu merasa takut demikian rupa.”

Sementara itu, terdengar pula suara lembut tetapi dingin, “Tuan2 boleh beristirahat dengan tenang, dalam waktu satu jam, tidak aka nada bencana, tetapi satu jam kemudian, aku hendak menggunakan api untuk membinasakan kalian dalam lorong ini.”

Koan Sam Seng berkata dengan suara nyaring, “Dengan cara rendah yang kau tunjukkan ini apakah itu perbuatan seorang gagah? Sekalipun kita binasa oleh karenanya… ”

Tiat Bok Taysu buru2 menyela, “Koan sicu tidak perlu menjawabnya, kalau kita berbantah seperti ini dengannya, itu berarti masuk perangkap dalam akal muslihatnya.”

Benar saja terdengar pula suara gadis itu, “Apabila tuan2 merasa penasaran karena mati terbakar, kalau begitu aku hendak menggunakan air untuk merendam tuan2 sehingga binasa, mati dibakar atau direndam dengan air, tuan2 boleh pilih satu di antaranya……..” Berhenti sejenak, kemudian terdengar tertawanya. “Tetapi semua ini akan terjadi satu jam kemudian, sekarang kalian boleh menikmati waktu untuk beristirahat.” Koan Sam Seng berkata kepada Tiat Bok Taysu dengan suara perlahan, “Suara ini kedengarannya seperti dari atas lorong.”

“Benar, dalam lorong ini bukan saja ada pintu rahasianya, tetapi juga ada lubang hawa di bagian atasnya,” menjawab Tiat Bok Taysu sambil menganggukan kepala.

“Apabila mereka benar2 hendak menggunakan api atau air, hari ini kita mungkin tidak ada yang akan terhindar dari bencana.” Berkata Koan Sam Seng dengan suara lebih perlahan.

“Benar, apabila mereka benar2 hendak menggunakan api atau air, semua orang yang ada di sini, tak satupun akan lolos.”

“Apakah kita harus menanti kematian sambil berpeluk tangan saja?”

Tiat Bok Taysu berdiam, meskipun ia seorang berkepandaian tinggi yang sudah banyak pengalaman dan yang biasanya bisa berlaku tenang, tetapi berada dalam keadaan demikian, ia juga tidak berdaya.

Hening cukup lama, di antara orang banayk itu tiba2 ada seorang pendek kecil dan kurus kering serta bentuk wajahnya yang aneh, menghampiri Tiat Bok Taysu dan Koan Sam Seng. Tiat Bok Taysu mengawasi orang itu dengan sinar mata yang tajam, tiba2 berkata sambil merangkapkan kedua tangannya, “Apabila mata lolap masih belum lamur, sicu ini apakah bukan Hui Kong Leang Tayhiap dari gunung Oey San?”

Orang pendek kurus itu tersenyum kemudian berkata, “Betul, tetapi aku si pendek ini sekarang ini tidak ada gunanya.”

Semua orang yang ada di situ dikejutkan oleh jawaban orang pendek itu, karena si pendek kurus dari gunung Oey San yang namanya pernah menggemparkan dunia Kang-ouw ini, hamper satu malaman berada di antara orang banyak, ternyata tiada satupun yang tahu.

Orang pendek kurus ini, pada tigapuluh tahun berselang lamanya sudah menggemparkan dunia Kang-ouw, ia pernah malang melintang tidak ada tandingan, sepuluh tahun berselang ia mengumpulkan semua tokoh kuat dunia Kang- ouw di atas gunung Oey San dan mengumumkan kepada mereka bahwa mulai saat itu ia akan mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw, sejak waktu itu sudah lama ia tidak pernah menunjukkan diri dalam rimba persilatan, maka munculnya jago yang sudah mengasingkan diri itu sesungguhnya di luar dugaan semua orang.

Dengan adanya Hui Kong Leang itu, agaknya memberi harapan tinggal sedikit bagi semua orang, hingga semua pada berkerumun menghampirinya.

Tiat Bok Taysu juga terbangun pula semangatnya, ia berkata sambil tertawa, “Hui Tayhiap mempunyai kecerdasan yang melebihi manusia biasa, tentu sudah mempunyai rencana untuk meloloskan diri dari kurungan ini, lolap merasa sangat bersyukur.”

Dengan sinar matanya yang tajam Hui Kong Leang mengawasi semua orang yang ada di situ sejenak, lalu berkata, “Harap tuan2 berada di tempat masing2, aku situa bangka sudah memikirkan suatu cara untuk melepaskan diri dari sini, tetapi lebih dulu aku perlu berunding dengan dua paderi dari kuil Siao-lim-sie ini.”

Tiat Bok Taysu lalu berkata, “Lolap suheng dan sutee, bersedia menurut perintah Hui Tayhiap.”

Hui Kong Leang berkata sambil tertawa, “Akal ini aku masih belum tahu dapat dijalankan atau tidak? Harap taysu jangan memuji lebih dahulu.”

Ki Bok Taysu berkata, “Dabulu dalam suatu pertempuran, Hui Tayhiap pernah dimasukan ke dalam peti besi, lalu ditenggelamkan ke dalatn danau, tetapi mereka toh tidak berhasil membinasakanmu, kalau Hui Tayhiap benar2 hari ini hendak meloloskan diri dari sini, bukankah itu sungguh mudah saja bagi Hui Tayhiap?”

Hui Kong Leang menggelengkan kepalanya, ia berkata dengan suara perlahan, “Di dalam lorong jalan ini, bukan saja terbuka jalanan rahasia, tetapi mungkin juga ada orang yang ditugaskan untuk mengawasi gerak gerik kita semua, maka akal yang kuhendak gunakan ini, tidak bisa kuberitahukan dulu kepada tuan2 sekalian… ”

Suaranya itu meski kedengarannya sangat perlahan, tetapi setiap patah kata dapat didengar dengan nyata oleh semua orang.

Tiat Bok Taysu bertanya, “Perlukah bantuan tenaga lolap?” Hui Kona Leang mendadak berkata dengan suara nyaring,

”Tidak perlu.”

Ia lalu berjalan dengan tindakan lebar menuju ke depan ruji besi, kemudian duduk di tanah, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sebuah benda pendek gemerlapan, di-gerak2an ke atas jeruji besi itu.

Tiat Bok Taysu diam2 berpikir, “Orang ini benar saja mempunyai pikiran begitu sempurna, ia sudah siap dan membawa gergaji, agaknya sudah menduga akan ada bahayanya itu, ruji besi ini meskipun bentuk kasar, tetapi dengan kekuatan tenaga dalam Hui Kong Leang yang sudah sempurna, ditambah lagi dengan senjata gergajinya, dalam waktu satu jam pasti dapat mematahkan jeruji itu.”

Selagi merara girang, telinganya tiba2 dapat menangkap satu suara halus lagi tegas, “Taysu, kau jangan bergirang dulu, senjata dalam tanganku ini, sebetulnya hanya sebilah belati yang baru kuambil dari badan seorang kawan yang binasa, ruji ini terbuat dari besi2 yang kokoh kuat, kalau hanya hendak mengandalkan belati ini, jangan harap dapat mematahkan jeruji besi ini, sebabbnya aku berbuat demikian tidak lain hanya hendak menarik perhatian orang2 yang memperhatikan kita, harap taysu memperhatikan kedua dinding di samping, apabila dugaanku tidak salah mereka pasti membuka pintu rahasia untuk mengintip gerak-gerik kita, asal kita berhasil menemukan di mana letakaya pintu rahasia itu, kita nanti mencari akal untuk gempur dinding itu, sekarang kita berada di jalan buntu, inilah satu2nya jalan hidup bagi kita, budak perempuan itu berani berkata juga berani berbuat, satu jam kemudian, kalau bukan menggunakan api pasti menggunakan air, maka kita harus sudah selesaikan rencana kita dalam waktu satu jam, selewatnya satu jam, siapapun jangan harap bisa lolos dari bencana ini.”

Perkataan itu diucapkan dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga orang yaug diajak bicara, kecuali Tiat Bok Taysu, tidak ada yang bisa mendengarnya.

Padri itu diam2 memssang mata mengamat-amati dinding di kedua samping, benar saja di sebelah kiri dinding terdapat sedikit lubang, dari lubang nampak ada mata manusia yang sedang mengintai.

Semua orang yang ada di situ pada saat itu sedang memperhatikan gerak gerik Hui Kong Leang dengan pengharapan berhasil mematahkan jerugi besi itu.

Hanya Tiat Bok Taysu yang diam2 mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, dengan menggunakan ilmunya yang tinggi, per-lahan2 menggeser tubuhnya ke tempat di mana ada orang mengintai tadi.

Ketika berada beberapa kaki di tempat itu, mata yang mengintai itu mendadak lenyap.

Tiat Bok Taysu lalu ber-tanya2 pada diri sendiri, “Apakah ia telah dapat melihat gerakanku? Selagi masih memikirkan soal itu, di tempat yang agak jauh dari sela2 dinding mengepul asap.

Tiat Bok Taysu yang sudah banyak pengalaman, begitu melihat asap putih itu, segera menduga bahwa asap itu mungkin semacam asap dupa yang bisa membikin mabuk orang, maka ia segera menahan napas, dengan cepat menggerakkan kakinya ke tempat itu.”

Ki Bok Taysu yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik suhengnya, juga melihat asap itu.

Tiat Bok Taysu dapat kenyataan bahwa dinding yang mengepulkan asap itu, hanya merupakan sela2 yang kecil sekali, ia lalu mengerahkan kekuatan tenag dalamnya sambil berdoa, “Budha yang penuh kasih saying, maafkan teecu akan membuka pantangan membunuh.”

Secara tiba2 ia menyerang dinding itu dengan sepenuh tenaga.

Sebentar kemudian terdengar suara jeritan tertahan, dan dinding itu terbuka satu lubang kira2 delapan dim persegi.

Hui Kong Leang segera melompat ke hadapan Tiat Bok Taysu lalu berkata sambil tersenyum, “Sungguh hebat kekuatan tenaga Siansu ”

Tiba-tiba merasakan bau aneh, ia segera menutup pernapasannya.

Tiat Bok Taysu mengibaskan lengan jubahnya seraya berkata dengan suara nyaring, “Harap tuan-tuan menutup jalan pernapasan masing-masing.”

Orang-orang yang ada di situ semua merupakan orang- orang Kang-ouw ulung, hanya itu saja sudah mengerti apa maksudnya. Hui Kong Leang dengan tanpa berkata apa2, lebih dulu masukkan kedua tangannya ke dalam lobang itu, agaknya ingin lolos dari lubang yang sempit itu.

Meskipun badannya pendek kurus, tetapi kalau mau memasuki lobang sempit itu, sesungguhnya tidak mudah, tetapi tindakannya itu ada mempunyai hubungan erat dengan mati hidupnya orang2 yang berada di situ, sehingga tiada satupun yang tidak mengharap berhasilnya usaha orang pendek kecil itu.

Sementara itu kedua pundak Hui Kong Leang dan tubuhnya per-lahan2 nampak mengkerut, tidak lama kemudian, ternyata ia sudah lolos dari lobang itu.

Tiat Bok Taysu diam2 memuji, “Ilmu memperkecil tubuh orang ini telah berhasil sedemikian rupa, sesungguhnya tidaklah mudah, hanya kepandaiannya itu saja sudah cukup membuat terkenal namanya.”

Pada saat itu terdengar suara Hui Kong Leang berkata, “Orang yang hendak membokong kita dengan menggunakan asap dupa ini, sudah binasa karena serangan Lo siansu tadi, apakah serangan Lo siansu tadi menggunakan ilmu seangan Tay-lek-kim-kong-ciang?”

Tiat Bok Taysu diam2 menarik napas, bau obat mabuk itu agaknya sudah buyar, maka ia lalu berkata sambil menghela napas, “Kepandaian tidak berarti lolap ini, apabila dibanding dengan ilmu mengerutkan tubuh tayhiap sesungguhnya tidak berarti apa2.”

“Lo siansu tidak usah merendah……..,” berkata Hui Kong Leang sambil tertawa.

Sebentar tidak terdengar pula suara Hui Kong Leang, sebaliknya terdengar suara seperti sedang bertempur. Tiat Bok Taysu melongok ke dalam, benar saja Hui Kong Leang pada saat itu sedang bertempur dengan Wan Hauw yang mukanya mirip seperti monyet.

Tiat Bok Taysu mengerutkan alisnya, dalam hati berpikir, “Bocah yang mukanya seperti monyet ini kepandaiannya tinggi sekali.”

Karena ia sendiri tahu tidak bias lolos dari lobang sempit itu, maka ia menganjurkan kepada siapa yang mempunyai ilmu kepandaian mengerutkan tubuh supaya lolos dari lobang itu lebih dulu.

Selagi masih bicara, dinding itu memperdengarkan suar bergerak dan sebentar kemudian, dinding itu terbuka satu pintu kira2 dua kaki lebarnya.

Semua orang yang melihat terbukanya pintu itu segera berebutan untuk keluar.

Tiat Bok Taysu membiarkan orang2 itu keluar lebih dulu, setelah semua sudah keluar, barulah ia bertindak keluar.

Pada saat itu ia baru mendapat tahu bahwa pertempuran itu sudah berhenti, di samping Hui Kong Leang dan Wan Hauw, masih ada seorang laki2 pertengahan umur yang bukan lain dari pada Touw Thian Gouw.

Hui Kong Leang lalu berkata kepada orang banyak sambil menunjuk Touw Thian Gouw, “Tuan2 semua telah ditolong oleh tayhiap ini.”

Touw Thian Gouw buru2 memotong, “Pada saat dan tempat seperti ini bukanlah waktunya untuk berbicara. Nona Pan itu sudah menyediakan air hendak merendam hidup2 tuan2 sekalian, siatee telah menggunakan kesempatan selagi ia lengah untuk dating kemari… ”

Koan Sam Seng berkata sambil member hormat, “Terima kasih atas pertolongan Touw Tayhiap.” Semua orang lalu mengangkat tangan untuk member hormat kepada Touw Thian Gouw.

Touw Thian Gouw gugup, ia berkata sambil membalas hormat, “Peristiwa yang terjadi dalam keluarga Pan ini, mempunyai latar belakang yang sangat luas, siaote juga tidak terang seluruhnya, tetapi apa yang dapat aku beritahukan kepada tuan2, nona Pan itu bukanlah biang keladinya, orang penting yang memegang rol di belakang layar dalam urusan ini, kepandaiannya tinggi sekali, tuan2 semua mungkin secara tidak sadar sudah terkena racun, maka harus lekas keluar dari tempat ini, lebih dulu harus berusaha untuk mengetahui sudah terkena racun atau tidak, kemudian mencari daya supaya untuk menuntut balas… ”

“Apakah To tayhiap sudah melihat orang yang memainkan rol di belakang layar itu?” bertanya Tiat Bok Taysu.

“Hanya sepintas lalu saja, tidak melihat tegas. Waktu sangat berharga, harap tuan2 lekas pergi, dengan menyusuri lorong jalan ini terus menuju ke utara, siaote sendiri tidak bisa berdiam di sini lama-lama.”

Sambil menarik tangan Wan Hauw, Thian Gouw melompat melesat ke tangga batu dan keluar dari mulut gua.

Hui Kong Leang berpaling dan berkata pada Tiat Bok Taysu, “Bocah yang wajahnya mirip dengan monyet itu, entah murid siapa, kepandaiannya merupakan salah seorang yang jarang kuketemukan… ”

“Lolap juga merasa heran, kalau kita perhatikan gerak tipunya yang luar biasa anehnya itu seperti kepandaian ilrnu dari berbagai golongan besar, kekuatan tenaganya demikian besar, ini tidak seimbang dengan usianya yang demikian muda… ,” berkata Tiat Bok Taysu dengan suara perlahan.

Koan Sam Seng tiba2 berkata, “Touw Thian Gouw agaknya tidak terpengaruh atau dibikin mabuk oleh obat gadis itu, ucapannya itu entah dapat dipercaya atau tidak?” Tiat Bok Taysu sudah mengerti maksud pertanyaan itu, maka lalu berkata, “Kita harus lekas berlalu dari sini.”

Hui Kong Leang segera menggerakan badannya berjalan lebih dahulu.

Orang she Hui ini bukan saja berkepandaian tinggi, tetapi juga mempunyai daya pemandangan melebihi manusia biasa, dalam keadaan gelap seperti itu ia dapat melihat segala benda seperti di waktu siang hari.

Ucapan Touw Thian Gouw agaknya tidak salah, jalan di bawah tanah itu ber-liku2 dan pan jang sekali, berjalan kira2 dua tiga pal, mulai berbau lembab, jelas bahwa tempat itu jarang dilalui oleh manusia.

Koan Sam Seng berkata kepada Tiat Bok Taysu dengan suara perlahan, “Jalanan rahasia di bawah tanah keluarga Pan ini, agaknya menjurus ke mana2, apabila mereka mencari melalui jalan di bawah tanah ini pasti dapat menemukan kita.”

“Lolap sebaliknya percaya perkataan itu, Pan Lo Enghiong meski mendapat nama baik, tetapi sebetulnya cuma merupakan seorang yang egoistis dan terlalu jahat, orang2 dari golongan kebenaran, semua agaknya sudah dikelabuhi olehnya,”’ berkata Tiat Bok Taysu.

“Tidak perduli bagaimana, ia pernah menolong tokoh2 kuat dari golongan kebenaran, ini toh merupakan suatu kejadian yang sebenarnya.”

Tiat Bok Taysu diam, ia seorang yang sangat ber-hati2, sebelum dapat membuktikan apa sebenarnya yang telah terjadi, ia tidak mau berkata sembarangan.

Pada saat itu tiba2 terdengar suara Hui Kong Leang, “Kita sudah tiba di tempat penghabisan.”

Tiat Bok Taysu dengan cepat menghampiri, ia mendongakkan kepala, di situ ia mendapat lihat ada beberapa tingkat tangga batu yang naik ke atas, lalu berkata dengan suara perlahan, “Pintu di atas ini, entah ada pesawatnya atau tidak.”

Hui Kong Leang berkata sambil tertawa, “Pembuatan jalanan ini, agaknya disediakan untuk keperluan melarikan diri, tuan2 harap mundur beberapa langkah, biarlah aku yang mencobanya.”

Semua orang sudah tahu ilmu kepadaiannya orang she Hui itu, maka tiada seorangpun yang merintangi.

Tubuh Hui Kong Leang pendek kurus itu dengan cepat menaiki tangga batu itu, tiba di atas lalu menyangga dengan kedua tangannya, dari situ segera menampak sinar terang menyorot masuk, Hui Kong Leang menggerakkan badannya sebentar kemudian sudah melompat keluar dari jalan di bawah tanah itu.

Ketika semua orang berada di atas tangga batu, baru melihat bahwa batu yang besar yang menutup lobang jalan keluar itu sudah digeser ke samping oleh Hui Kong Leang.

Di hadapan mereka terbentang tanah belukar yang tepat berada di belakangnya sebuah kuil tua.

Dari jauh terdengar suara gelombang air sungai yang memecahkan kesunyian di waktu malam.

Hui Kong Leang mendongakkan kepala memandang bintang2 di langit, kemudian berkata, “Entah berapa banyak jumlalmya orang yang binasa di dalam lorong jalan di bawah tanah itu?”

“Lolap belum menghitung, barang kali ada tujuh atau delapan orang,” berkata Tiat Bok Taysu.

Tiba2 Ong Khian menyela, “Seluruhnya ada empat belas orang.”

Koan Sam Seng sejak keluar dari jalan di bawah tanah itu, selalu memperhatikan diri orang she Ong itu takut kalau ia melarikan diri, saat itu tiba2 berkata, “Ong Kian apakah kau masih ada urusan yang masih belum selesai?”

“Apa? Apakah saudara Koan ingin bertindak?” bertanya Ong Khian.

“Empat jiwa anak murid golongan pengemis toh tidak dapat dibiarkan mati cuma2.”

Ong Khian tiba2 tertawa ter-bahak2.

“Empat anak murid golongan pengemis, bukan mati di tanganku, aku hanya secara kebetulan saja menyaksikan kejadian menyedihan itu ”

Koan Sam Seng membentak dengan suara keras, “Kejadian itu telah disaksikan dengan mata kepala sendiri oleh anak murid golongan pengemis yang masih hidup, mungkinkah bisa salah?”

Ong Khian tertawa dingin.

“Dalam soal ini, apabila murid dari golonganmu itu tidak diperalat oleh orang lain, tentunya pada waktu itu sedang berada dalam gelap pikiran, sehingga kabur pandangannya, sudah salah melihat aku sebagai pembunuhnya ”

Tiba2 ia tertawa ber-gelak2.

“Orang yang membunuh mati empat murid dari golonganmu, sekarang ini telah berdiri di hadapanmu, sayang kau sendiri tidak tahu.”

Koam Sam Seng matanya berputaran mengawasi wajah semua orang, yang saat itu pada berdiri, orang2 itu sebagian besar menatapkan matanya kepada diri Ong Khian, karena cuaca gelap, tidak dapat dilihat bagaimana sikap setiap orang, sesungguhinya tidak mudah untuk mengetahui siapa yang dimaksudkan oleh Ong Khian sebagai orang yang membunuh empat anak murid golongan pergemis. Setelah mengawasi semua orang yang ada di situ, Koan Sam Seng berkata dengan nada suara dingin, “Siapa sebetulnya yang kau maksudkan? Sebaiknya kau tunjuk hidungnya!”

Ong Khian kembali tertawa nyaring, kemudian baru berkata, “Demikian aku memberi petunjuk kepadamu, ini sudah lebih dari pada cukup, apakah masih perlu aku harus membantumu menangkap pembunuhnya?”

“Siapa ingin kau membantu menangkap pembunuh? Asal kau tunjuk hidungnya, sudah cukup!” Berkata Koan Sam Seng gusar.

Ong Khian tertawa ter-bahak2 dan berkata, “Tidak peduli partai atau golongan apa saja, semua mempunyai peraturannya sendiri2, bagi kita golongan rimba hijau sejak dahulu berlaku suatu peraturan yang disebut siapa melihat mempunyai bagian, meskipun aku tidak membunuh orang, tetapi aku mendapat bagian barang2 dari murid golonganmu ”

“Anak murid golongan kami ada membawa barang apa, yang ada harganya untuk kau rampas?”

“Duapuluh empat butir besar kecil mutiara, setiap butir mempunayi nilai harga yang sangat tinggi, hanya itu saja, apakah tidak cukup untuk menimbulkan perhatian orang?”

“Dari mana mereka mendapatkan mutiara itu?”

“Menurut apa yang aku sudah periksa, barang itu agaknya barang2 dari kalangan istana, buat rakyat biasa, sekalipun mempunyai kekayaan besar, juga tidak mungkin bisa dapat barang berharga seperti itu, tidak perduli siapa, rasanya tidak mungkin dapat menjamin keselamatan barang itu… ”

“Kau mengoceh, dalam rimba persilatan golongan pengemis selalu mendapat nama baik, anak murid golongan pengemis, bagaimana bisa mempunyai barang berharga semacam itu?”

Ong Khian dari dalam sakunya mengeluarkan sebutir mutiara sebesar biji buah lengkeng, kemudian berkata, “Inilah mutiara yang kuambil dari badan murid golonganmu, apabila ucapanku ini ada yang tidak benar, aku bersumpah biarlah dikutuk oleh Tuhan, saudara Koan sesungguhnya terlalu memandang rendah diriku.”

Menyaksikan sikap orang she Ong yang demikian sungguh2 dan bersumpah berat Koan Sam Seng melengak, pikirnya, “Dalam golongan rimba hijau di daerah selatan ini, Ong Khian masih terhitung seorang jago, kalau aku terlalu mendesak kepadanya, barangkali akan menimbulkan buah tutur sahabat2 rimba persilatan, dan akan mengatakan aku sebagai seorang yang berjiwa kecil.”

Setelah berpikir demikian, sikapnya lalu menjadi lunak, lalu ia berkata, “Sekalipun mutiara ini kau ambil dari tangan murid golongan lain, juga belum bisa membuktikan bahwa barang itu adalah hasil curian anak murid kami ”

Saudara Koan terlalu banyak pikiran, aku juga tidak mengatakan dengan pasti bahwa mutiara ini dicuri oleh anak murid golonganmu dari dalam Istana, tetapi adalah benar bahwa barang ini kudapatkan dari badan murid golonganmu itu, sementara dari mana mereka mendapat mutiara ini, aku tidak berani menduga sembarangan.

Tiat Bok Taysu, Ki Bok Taysu dan Hui Kong Leang serta lain2nya, semua menunjukkan perhatiannya kepada mutiara itu, meskipun cuaca masih gelap, tetapi mutiara itu masih memancarkan sinarnya yang berkilauan, benar2 memang merupakan barang yang sangat berharga.

Ong Khian berkata pula sambil menghela napas perlahan, “Mutiara ini seluruhnya berjumlah dua puluh empat butir dan warnanya serupa, barang bergarga seperti ini, dengan sendirinya menggerakkan hati orang… ”

Koan Sam Seng lalu berkata, “Tidak perlu dari mana didapatkannya mutiara ini, dan murid2 golongan kita ada yang melakukan perbuatan yang melanggar peraturan golongannya atau tidak, bagaimanapun juga bukankah saudar Ong yang harus menertibkan aturan itu, sekarang empat orang anak murid golongan kita sudah binasa secara menyedihkan, permusuhan ini apabila tidak dibalas, apakah golongan pengemis masih ada muka tancap kaki di dalam rimba persilatan?”

Ong Khian per-lahan2 memasukan lagi mutiara itu ke dalam sakunya, kemudian berkata, “Maksudku hanya hendak menerangkan duduk perkaranya, aku terkecuali mendapatkan mutiara ini, belum pernah mengganggu seujung rambut pun anak murid golonganmu, apabila saudara Koan tidak percaya, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.”

Koan Sam Seng berpikir sejenak lalu berkata, “Kalau begitu harap kau tunjukan siapa pembunuhnya, supaya golongan kami dapat mencarinya untuk membuat perhitungan.”

“Aku tadi sudah berkata bahwa pembunuhnya itu berada di sini, ini sudah cukup menunjukkan persahabatanku, apabila menyuruh aku menunjuk dan menerangkan namanya lagi, sesungguhnya sangat berat bagiku.”

Koan Sam Seng kembali meng-amat2i semua orang yang ada di situ, ternyata sikap mereka tenang2 saja, hingga ia merasa agak sulit, dalam hatinya berpikir, “Ucapannya she Ong ini mungkin tidak bohong, tetapi orang2 yang jumlahnya tiga puluh lebih ini bagaimana aku dapat mengenali pembunuhnya, nampaknya dalam soal ini terpaksa dicari darinya.” Maka dia lalu berkata, “Jikalau saudara Ong memang betul tidak membunuh, sudikah kiranya ber-sama2 aku menjumpai Pangcu kami?”

“Tentang ini maaf aku tidak dapat memenuhi permintaanmu.”

“Kita golongan pengemis selalu dapat membedakan dengan tegas siapa kawan siapa lawan, jikalau kau tidak melakukan pembunuhan atas diri orang2 golongan pengemis, mengapa tidak berani menjumpai Pangcu kita?”

“Aku tadi sudah menerangkan kepadamu bahwa aku tidak membunuh orang2 golonganmu, keterangan itu kuberikan dengan se-sungguh2nya, apakah masih belum cukup? Aku bukan orang dari golonganmu, sudah tentu tidak perlu menjumpai Pangcumu.”

Karena satu sama lain tidak ada yang mau mengalah, hingga suasana menjadi gawat, Koan Sam Seng setelah berpikir sejenak, ia berkata dengan nada suara dingin, “Jikalau saudara Ong kukuh tidak mau menjumpai Pangcu kami, terpaksa aku harus menggunakan kekerasan.”

Ong Khian segera menjawab sambil tertawa dingin, “Dengan demikian saudara Koan mendesak aku, apakah perlu memaksa aku ikut kehendakmu?”

Koan Sam Seng lalu berkata kepada semua orang sambil memberi hormat, “Persoalan siaotee dengan saudara Ong ini, harus diselesaikan selekas mungkin, terpaksa siaotee hendak berjalan lebih dulu… ”

Kemudian berpaling dan berkata kepada Ong Khian, “Mari kita jalan.”

“Baiklah! Apakah kau anggap aku takut kepadamu?” jawab Ong Khian sambil tertawa dingin dan berlalu meninggalkan rombongan itu berjalan ber-sama2 Koan Sam Seng. Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rimba, Koan Sam Seng lalu berpaling dan berkata, Saudara Ong benarkah kau tidak mau memberitahukan pembunuh sebenarnya?”

“Saudara Koan kau ajak aku datang kemari, apakah maksudnya hanya ingin menanyai soal itu saja?”

“Perkara kematian empat anak murid golongan kami, selama ini masih menjadi pikiran kita semua, sehingga ketua kita sering menanyakan urusan ini, kalau selama ini kita masih belum bertindak itu se-mata2 masih belum mengetahui jelas duduknya perkara, dan sekarang urusan ini nampak ada sedikit titik terang, dalam waktu yang dekat sekali, ketua kami pasti akan mengutus orang2nya yang terkuat untuk menyelidiki urusan ini, apabila saudara Ong dapat memberitahukan nama pembunuhnya, bukan saja golongan kami akan mengalami banyak keringanan tetapi juga akan mengurangi kerewelan rimba persilatan daerah selatan.”

“Apabila saudara Koan coba berdiri dipihakku dan coba memikirkan dengan tenang, mungkin tidak sampai demikian mendesak aku.” Ia berhenti sejenak, “Bagi sahabat2 yang hidup dalam rimba persilatan sebagai aku ini, tidak pantang merampok, juga tidak segan membunuh jiwa orang, tetapi paling pantang menjual sahabat, apalagi aku sudah mendapat bagian enam butir dari pada dua puluh empat butir mutiara itu, baik dipandang dari sudut umum maupun sudut pribadi, tidaklah pantas kalau aku mengumumkan namanya pembunuh itu. Kalau aku tadi memberi sedikit keterangan tentang urusan ini, pertama karena aku merasa simpati terhadap kematian empat murid golonganmu itu dan aku merasa benci terhadap cara yang keji dan rendah pembunuhnya itu, maka aku tidak segan untuk memberi sedikit keterangan, ini bukan berarti aku takut golongan kalian membuat perhitungan terhadap diriku.”

Koan Sam Seng setelah berpikir sejenak, baru berkata, “Apabila ucapan saudara Ong ini benar, hanya kami perlu selidiki lebih dulu, bukanlah soal siapa pembunuhnya, melainkan soal dengan cara bagaiman anak murid golongan kami bisa mendapatkan duapuluh empat butir mutiara itu. Dalam golongan rimba persilatan dareah selatan, saudara Ong namanya sangat kesohor, meskipun tindakanmu hanya mengutamakan pandangan dan perasaan sendiri, tetapi penilaian rimba persilatan terhadap saudar Ong masih terhitung baik, maka ketika aku mendengar bahwa pembunuh empat anak murid kami itu adalah saudara, aku merasa agak heran.”

“Saudara Koan tidak perlu menjunjung tinggi diriku, tidak peduli bagaimana, tidaklah mungkin kalau saudara Koan suruh aku memberitahukan nama pembunuhnya.”

“Begini saja, apabila saudara Ong sanggup melawan aku sampai seratus jurus, maka aku tidak akan menanyakan soal ini lagi.”

“Kalau saudara Koan berkukuh hendak memaksa aku turun tangan, aku juga tidak bisa berbuat apa2, tetapi di waktu pertempuran satu sama lain mengutamakan mencari kemenangan, dengan demikian pasti akan menimbulkan pertumpahan darah… ”

“Kau mempunyai kepandaian apa keluarkan saja seluruhnya, apabila malam ini saudara Ong bisa mengalahkan aku, walaupun aku harus menerima teguran Pangcu, juga akan membela kau dalam urusan kematian anak murid golongan kami ini, untuk selanjutnya, orang2 golongan kami tidak akan mencari kau untuk membuat perhitungan lagi… ”

“Saudara Koan bisa berpegang janji, aku percaya sepenuhnya ”

Ia lalu mengeluarkan senjatanya dan berkata pula, “Silahkan saudara Koan keluarkan senjatamu!”

Di mulutnya meskipun Koan Sam Seng sangat galak, tetapi dalam hatinya mengerti benar bahwa Ong Khian ini merupakan salah seorang kuat dalam rimba hijau daerah selatan, hingga sedikitpun tidak mempunyai pikiran memandang tingan, diam2 ia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya.

“Saudara Ong boleh menyerang sesukanya, siaotee hanya hendak menggunakan sepasang tangan kosong ini untuk menyambut seanganmu.”

Selagi Ong Khian hendak melakukan serangannya, tiba2 terdengar suara jeritan ngeri kemudian disusul oleh suara ribut2.

-odwo-

Bab 31

KEDUA ORANG yang hendak bertempur itu dengan serentak menoleh ke arah datangnya suara itu, jelas bahwa perobahan yang mendadak itu, telah mengurangi rasa permusuhan kedua pihak.

Koan Sam Seng lalu berkata, “Apabila saudara Ong tidak keberatan, bagaimana kalau pertandingan kita undurkan sampai lain waktu? Mari kita pergi melihat dulu ke sana apa sebenarnya yang telah terjadi.”

Ong Khian yang juga ingin tahu urusan apa itu, maka segera menyetujui usul Koan Sam Seng itu.

Keduanya lalu bergerak menuju ke asalnya tadi.

Ketika dua orang itu tiba di tempat di mana orang banyak tadi berkumpul, orang-orang itu ternyata sudah tidak ada semuanya, di situ hanya terdapat empat sosok bangkai manusia.

Koan Sam Seng lompat melesat ke atas sebuah pohon besar, dari atas pohon itu ia memandang keadaan sekitarnya, tetapi orang banyak itu sudah tidak tampak bayangannya entah ke mana perginya. Sebaliknya dengan Ong Khian ia berjongkok memeriksa keadaan empat bangkai itu, agaknya hendak mencari sebab2 kematiannya dari bekas luka2 bangkai itu, tetapi ia memeriksa beberapa lama, ternyata tidak dapat menemukan apa2, hingga dalam hati merasa heran.

Koan Sam Seng yang ingin juga bertanya tetapi masih belum dapat kesempatan, ketika menampak Ong Khian terheran-heran ia segera bertanya, “Apakah saudara Ong telah menemukan tanda-tanda yang mencurigakan?”

“Tidak, apakah saudara Koan dapat melihat ke mana perginya orang-orang itu?”

“Tidak.”

“Empat orang ini badannya tidak terdapat luka apa-apa, tidak terdapat tanda tertotok jalan darahnya, kematiannya ini mungkin disebabkan bekerjanya racun dalam tubuhnya.”

“Mati karena racun, bukankah kita semua juga sudah kena racun? Mengapa tidak terdapat tanda atau perasaan apa-apa.”

“Kematiannya empat orang ini sekarang masih susah dipastikan, lebih dulu kita harus berusaha mencari Tiat Bok Taysu dan rombongan orang banyak itu, untuk mencari keterangannya… ”

Bicara sampai di situ, tiba-tiba bungkam, matanya ditujukan kepada salah seorang dari empat bangkai itu, kemudian menghunus senjatanya digunakan untuk membalikan badan bangkai itu.

Sebagai seorang Kang-ouw ulung, ia takut badan bangkai itu mengandung racun sangat berbisa, maka tidak mau menyentuh dengan tanganya.

Koan Sam Seng yang menyaksikan perbuatan orang she Ong itu, sudah tahu bahwa orang itu telah menemukan sesuatu, hingga matanya ditujukan kepaka bangkai itu dengan tidak berkata apa-apa. Ong Khian memperdengarkan suara helahan napas perlahan, kemudian berkata, “Ap,akah saudara Koan kenal dengan orang ini?”

“Tidak,” menjawab Koan Sam Seng sambil menggelengkan kepala.

Orang ini adalah salah satu daripada tiga pembunuh yang membinasakan empat murid golongantmu itu, jikalau saudara Koan tidak percaya, boleh memeriksa badannya.”

Koan Sam Seng memandang Ong Khian sejenak, tidak berkata apa-apa.

Ong Khian tahu bahwa orang she Koan itu timbul rasa curiganya, maka ia menggunakan senjataaya untuk memukul- mukul badan bangkai itu, kemudian mengulur tangannya, dan dari dalam sakunya bangkai itu rnengeluarkan enam buah mutiara, ia lalu tersenyum dan berkata, “Apabila enam butir Mutiara ini ia simpan di lain tempat, hari ini orang2 golongan kalian pasti menambah kesalah pahaman terhadap siaotee.

Tetapi dalam hati Koan Sam Sang berpikir, “Sekalipun semua mutiara itu diketemukan, juga tidak dapat dibuktikan kalau kau tidak terlibat dalam peristiwa itu.”

Meskipun dalam hati berpikir demikian, tetapi mulutnya tidak berkata apa-apa.

Ong Khian yang menyaksikan sikap Koan Sam Seng, segera mengetahui bahwa rasa curiganya masih belum lenyap. Ia lalu memberikan enam butir mutiara itu seraya berkata, “Barang ini adalah barang golongan kalian enam butir mutiara ini, harap saudara Koan terima kembali.”

“Mutiara ini meski barang yang sangat berharga, tetapi bagi orang-orang golongan pengemis kita sedikitpun tidak ada harganya, untuk sementara siaote mengambil sebutir saja, untuk membantu dalam usaha penyelidikan kematian empat anak murid kami itu, sisanya lima butir, tolong saudara Ong simpan baik-baik.

Ong Khian menerima dan menyimpan lima butir mutiara itu dalam sakunya seraya berkata, “Siaote boleh tolong simpan dulu, di kemudian hari nanti siaote kembalikan kepada kalian lagi.”

Ia membalikan badan bangkai itu lagi, matanya tiba-tiba mendapat lihat bahwa kepalan tangan kiri bangkai itu dikepal erat-erat, tergeraklah hatinya, ia segera bertanya, “Saudara Koan, orang setelah mati, lima jari tangannya itu lurus atau dikepal?”

“Kita harus lihat keadaan diwaktu menemukan kematiannya, jikalau ia mati dalam keadaan tidak terkejut, ketakutan atau dalam penderitaan, sudah tentu lima jari tangannya diluruskan, tapi apabila dalam keadaan ketakutan… ”

Ong Khian menyambungnya dengan mengguman, “Kalau begitu, orang ini mati dalam penderitaan hebat.”

Kemudian ia mengawasi tangan kanan bangkai itu, lima jari tangan bangkai itu nampak setengah bengkok, seolah-olah urat-urat dari jari tangan itu tiba-tiba mengkerut.

Koan Sam Seng agaknya juga sudah dapat melihat bahwa keadaan sepasang tangan bangkai itu agak berlainan, maka ia juga timbul rasa curiganya, ia lalu berjongkok dan memeriksa dengan teliti keadaan bangkai itu, kemudian berkata sambil menganggukkan kepala, “Kematian orang ini seperti urat-urat sekujur badannya mengkerut, dan tangan kiri orang ini, agaknya sedang menggenggam barang.”

Ong Khian tiba-tiba menggerakkan senjata di tangannya, untuk nabas dua jari tangan yang dikepal dari bangkai orang itu, ketika memeriksanya, ternyata tidak terdapat barang2 yang mencurigakan. Koan Sam Seng memeriksa potongan jari tangan itu, lalu berkata dengan nada suara dingin, “Saudara Ong sudah potonng jari ini, sekalipun ada barang apa2, juga sulah diambil orang, bagaimana kita dapat temukan lagi?”

Ong Khian mengawasi Koan Sam Seng sejenak, dengan tidak berkata apa2 ia berjalan menghampiri salah satu bangkai lagi.

Dengan beruntun ia memeriksa tiga bangkai yang lainnya, setiap bangkai mengepal erat kepalan tangan kirinya hingga menimbulkan perasaan herannya.

Koan Sam Seng juga merasa bahwa keadaan itu sangat luar biasa, ia berjongkok lagi, hendak membuka kepalan tangan itu.

Ong Khian tiba2 menggerakkan senjatanya seraya berkata, “Saudara Koan lekas menyingkir.”

Ketika Koan Sam Seng berpaling, senjatanya Ong Khian sudah dekat badannya, hingga ia merasa gusar, ia lalu melompat bangun dan menyerang dengan tangan tangannya.

Ong Khian lompat menyingkir lalu berkata sambil tertawa dingin, “Apabila kematian orang2 ini disebabkan karena racun berbisa, kepalan tangan kiranya yang dikepal itu, barangkali mengandung akal jahat, saudara Koan bersifat tinggi hati, apabila siaote memperingatkan dengan kata2 saja mungkin saudara Koan tidak mau dengar, apalagi keadaan sangat mendesak, saudara Koan pasti tidak mau dengar.”

Koan Sam Seng membenarkan keterangan Ong Khian itu maka ia tidak berkata apa2 lagi.

Ong Khian dengan menggunakan kaki menginjak tangan kiri bangkai itu kemudian membuka kepalan tangan yang terkepal itu dengan senjata gaitannya.

Ia memandang dengan seksama, dalam kepalan tangan itu, tampak tanda hitam sebesar biji kacang. Ong Khian mengeluarkrn korek api, sambil memasang korek api ia memeriksa dengan berjongkok, tanda hitam itu ternyata adalah darah matang yang sudah beku. Dengan beruntun ia memeriksa kepalan tangan yang lainnya, semuanya serupa keadaannya, hanya otaknya saja yang berlainan.

Dengan perasaan ter-heran2 ia bertanya, “Saudara Koan banyak pengetahuan, tahukah adat hubungan apa kematian mereka ini dengan tanda darah matang dalam kepalan tangannya?”

“Siaote juga tidak mengerti, mungkin saudara Ong sudah tahu.”

Ong Khian berpikir sejenak, tiba2 berjongkok lagi dengan menggunakan ujung senjata gaitannya, menjuntik bagian tanda darah matang itu, karena darah orang2 itu sudah berhenti mengalir, sudah tentu luka itu tidak mengucurkan darah.

Ia mengorek lebih dalam, benar saja dari bekas luka itu ia telah menemukan sebatang jarum perak yang halus sekali, di bawah sinar korek api, menimbulkan sinar berwarna biru.

Dengan sangat hati2 Ong Khian mengeluarkan sebuah kotak yang terbikin dari batu giok, ia meletakkan jarum itu di atas kotak lalu berkata, “Sekarang teranglah sudah, barang inilah yang membuat kematian mereka.”

Koan Sam Seng dengan sangat hati2 memeriksa jarum itu, kemudian berkata, “Ini adalah jarum racun yang pernah direndam dalam air racun sangat berbisa, kematian empat orang ini pasti disebabkan karena jarum beracun ini… ”

“Celaka… ”

Koan Sam Seng dikejutkan oleh perbuatan Ong Khian itu, lalu bertanya, “Ada apa?” “Kita harus lekas dapat menemukan Tiat Bok Taysu dan rombongannya, apabila terlambat, ini berarti menambah bahaya bagi mereka.”

Koan Sam Seng agaknya masih belum mengerti maksud perkataan Ong Khian itu, maka ia lalu bertanya dengan heran, “Mengapa?”

“Dalam kepalan tangan orang-orang ini semua ada jarum perak halus ini, kematian orang-orang ini pasti disebabkan karena jarum perak ini.”

Koan Sam Seng meng-angguk2kan kepala dan berkata, “Itu benar, hal ini siaote juga sudah memikirkan.”

“Dengan cara biagaimana jarum ini bisa berada dalam kepalan tangan orang-orang ini, sebetulnya merupakan suatu kunci rahasia yang terpenting. Dalam malam gelap gulita ini, betapa pun pandainya orang menggunakan seajata rahasia, juga tidak mungkin dapat rnengenakan dengan jitu pada sasarannya yang berada sejauh setombak lehih, apalagi orang kuat seperti Tiat Bok Taysu, Hui Kong Leang dan lain-lainnya, betapa tajam daya melihat dan daya pendengaran rnereka, dalam jarak satu tombak apabila ada orang hendak membokong, pasti tidak terluput dari pendengaran dan penglihatan mereka, dari sini kita dapat menduganya bahwa serangan ini tidak mungkin… ”

Koan Sam Seng segera memberi pujian, “Sauadara Ong betul pendapatmu.”

“Saudara Koan terlalu memuji……..” menjawab Ong Khian sambil tertawa hambar sejenak, ia berpikir lalu berkata pula, “Tetapi kematian orang2 ini yang disebabkan karena jarum beracun ini memang sudah tidak salah lagi, berdasarkan atas ini, orang yang melancarkan serangan jarum beracun itu, pasti berada dalam rornbongan orang banyak itu, ia melakukan serangan gelap selagi orang2 itu tidak ber-jaga2.” Koan Sam Seng melompat dan berkata, “Benar, mari kita lekas cari mereka.”

“Oleh karena itu, apabila kita terlambat setindak, itu berarti menambah……..” Berbicara sampai di situ, tiba2 bungkam, setelah berpikir lama ia baru berkata lagi, “Tidak perlu mencari mereka lagi.”

Koan Sam Seng tercengang, tanyanya, “Ada apa lagi?” “Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu adalah orang2 beribadat

tinggi, dalam segala hal dan dalam keadaan bagaimanapun juga, mereka bias berlaku tenang, akal muslihat semacam ini masih tidak dapat menipu kita, sudah tentu juga tidak dapat menipu mereka, apalagi Hui Kong Leang, ia adalah seorang yang banyak akalnya pada dewasa ini, kalau kita bisa menyadari, dua paderi itu dan Hui Kong Leang juga pasti bisa mengetahui.”

Koan Sam Seng yang mempunyai kedudukan tinggi dalam tingkatan pengemis, dalam perjalanannya kali ini, ternyata menemukan rupa2 kejadian yang tidak terduga lebih dulu olehnya, ketenangannya masih kalah dengan Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu, kecerdikannya tidak sebanding dengan Hui Kong Leang, dan kepandaian menafsir sesuatu perkara ternyata masih kalah dengan seorang penjahat dalam rimba hitam, dari situ bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang yang ingin mendapat kedudukan baik dan lama terkenal, sesungguhnya bukanlah soal yang mudah, kecuali berkepandaian sangant tinggi, kecerdikan, akal muslihat dan ketenangan harus melebihi orang biasa……..

Karena pengalamannya malam itu, membuat Koan Sam Seng yang biasanya beradat tinggi itu, seketika merasa seperti mendapat kekalahan hebat.

Ong Khian yang menyaksikan Koan Sam Seng menundukkan kepala dan berpikir keras, dikiranya sedang memikirkan keadaan di hadapan matanya, maka ia juga tidak mengganggunya, per-lahan2 ia membuka kotak batu gioknya, ia masukkan jarum perak ke dalamnya lalu disimpannya ke dalam saku.

Koan Sam Seng setelah mengalami semua kejadiaan itu, hatinya mulai sabar, ia berpaling dan berkata kepada Ong Khian, “Hui Kong Leang meskipun cerdik, tetapi dalam rombongan itu, banyak terdapat mukanya yang masih asing, sesungguhnya juga tak mudah hendak mencari tahu penghianat yang nyusup ke dalam orang banyak itu.

“Apabila hanya Hui Kong Leang sendiri yang melakukan pernyelidikkan sesungguhnya juga tidak susah, dengan adat yang aneh dan tindakannya yang tegas, apabila ia telah marah, semua orang yang ada di situ barang kali tak luput semua dari tangannya, kesulitannya adalah pada Tiat Bok dan Ki Bok Taysu.”

“Siaotee tak mengerti maksud saudara Ong?”

“Kedua paderi beribadat tinggi itu, merupakan orang2 yang penuh kasih sayang, apabila Hui Kong Leang menggunakan tangan besi untuk mencari penjahat itu, sudah pasti mendapat rintangan dari dua paderi itu.”

“Tidak perduli mereka dapat menemukan penjahat yang menyusup dalam rombongan orang banyak itu atau tidak, kita juga harus memberitahukan tentang penemuan kita ini, dengan adanya bahan ini, agak mudah untuk melakukan penyelidikan.”

Ong Khian berpikir sejenak, lalu berkata, “Yang mengherankan ialah, entah ke mana jejak mereka.”

“Kita berlalu belum seberapa lama, apalagi setelah mendengar suara jeritan segera mengejar kemari betapapun cepat perginya mereka, juga tidak mungkin tidak dapat dicari jejaknya.” Mata Ong Khian tiba2 ditujukan kepada kuil tua yang berdiri di atas tanah belukar itu, kemudian berkata, “Mungkinkah mereka berada di dalam kuil tua itu?”

“Bagaimana kalau kita masuk melihatnya?”

“Baik,” berkata Ong Khian dan lebih dulu melompat melesat ke dinding tembok yang mengitari kuil tua itu.

Di dalam dinding itu terdapat banyak tanaman pohon tua dan rumput serta alang2 yang sangat lebat.

Koan Sam Seng yang bergerak belakangan lebih dulu melayang turun ke dalam pekarangan yang penuh alang alang.

Ong Khian yang turun belakangan, ketika berada di sisi Koan Sam Seng segera memberi peringatan, “Saudara Koan hati2 sedikit, jangaan meninggalkan bekas bagi orang lain untuk mencari kita, dengan pengalaman siaote di kalangan Kang-ouw selama beberapa puluh tahun ini, siaote berani memastikan bahwa Tiat Bok Taysu, Hui Kong Leang dan lain2nya, tidak masuk ke dalam kuil ini.”

“Siaote juga berpendapat demikian.”

“Tetapi kuil tua ini bukanlah merupakan satu kuil yang sudah lama tidak diambah oleh jejak manusia, harap saudara Koan tetap terpisah sejarak satu tombak, dengan demikian kita mudah menyembunyikan diri, juga mudah saling membantu.”

Pada saat itu, permusuhan dua orang sudah lenyap, Koan Sam Seng benar saja menurut perkataan Ong Khian, ia mundur lima langkah.

Sebentar kemudian, Ong Khian memasukkan senjatanya ke dalam sarungnya, ia lalu menekan, dengan teliti sekali ia memeriksa jalanan untuk masuk dan keluar kuil itu, kemudian baru bergerak melompat turun ke samping pintu. Koan Sam Seng dengan menggunakan alang2 rumput sebagai perlindungan berjalan maju, lalu berhenti di belakang Ong Khian sejarak kira2 enam kaki.

Dengan cara demikian mereka merayap maju, setelah melalui dua pekarangan, tibalah di dalam pendopo.

Dengan sangat hati2 Ong Khian berjalan ke depan meja sembahyang, ia mengulur tangannya hendak meraba patung di belakang meja, tiba2 mendapat suatu pikiran, ia segera berpaling dan berkata kepada Koan Sam Seng dengan suara perlahan, “Saudara Koan, mari kita sembunyi di belakang patung ini.”

“Maksud kita dalam perjalanan ini ialah hendak mencari rombongan Tiat Bok Taysu, mereka tidak berada di sini, seharusnya kita pergi.”

“Malam gelap, juga tidak tahu ke mana mereka pergi, bagaimana kita harus mencari? sebaiknya kita tunggu sampai terang tanah baru pergi mencari lagi.”

“Sekalipun tidak dapat menemukan mereka, kita juga tidak boleh duduk berdiam dalam pendopo ini.”

Ia lalu memutar tubuhnya dan berjalan keluar.

Kiranya tadi waktu Ong Khian mengulur tangannya meraba ke meja sembahyang, meja itu bersih tidak terdapat debu sedikitpun juga, maka tergeraklah hatinya, sebab sekalipun tempat itu ada orang yang dating untuk membersihkan juga tidak mungkin setelah satu malaman tidak terdapat tanda debu, ini ternyata bahwa tadi baru saja dibersihkan oleh tangan orang. Oleh karena itu, maka ia segera timbul pikirannya hendak mengintai.

Dengan pengalamannya berpuluh-puluh tahun di kalangan kang-ouw, ia yakin bahwa dugaannya tidak salah, tetapi ia tidak mau menjelaskan kepada Koan Sam Seng, sebab apabila dugaannya salah, pasti akan menimbulkan tertawaan orang. Waktu Koan Sam Seng berlalu, ia juga tidak merintangi, selagi berada dalam kesulitan, Koan Sam Seng mendadak balik lagi ke sampingnya, bahkan menarik dirinya untuk sembunyikan diri ke belakang patung itu.

Melihat sikapnya yang cemas dari Koan Sam Seng, ia tahu bahwa orang she Koan itu pasti telah melihat sesuatu, maka ia juga tidak bertanya.

Baru saja dua orang itu menyembunyikan dirinya, di dalam pendopo itu terdengar suara tindakkan kaki orang.

Cuaca gelap, ditambah dengan terhalangnya meja sehingga mereka tidak dapat melihat tegas berapa banyak orang yang masuk dalam pendopo itu, hanya dari suara tindakan kaki, mereka dapat menduga bahwa orang-orang itu jumlahnya tidak sedikit.

Tiba-tiba terdengar suara orang yang nada suaranya dingin bertanya, “Benarkah mereka sudah pergi semua?”

Seorang dengan suara dalam menjawab, “Sudah pergi semua.”

Terdengar pula pertanyaan orang yang nada suaranya dingin itu, “Sudahkah diadakan pemeriksaan di dalam pendopo ini?”

Terdengar jawaban dari seorang yang suaranya kasar, “Sudah.”

Orang yang nada suaranya dingin itu bertanya pula, “Apakah sudah diadakan penjagaan di luar kuil ini?”

Satu suara yang halus tetapi nyaring menjawab, “Tempat- tempat sekitar empat ratus tombak dari kuil ini, sekalipun burung terbang juga tidak terluput dari pengawasan kita.”

Nada suara dingin itu terdengar pula, “Kalau begitu boleh menyalahkan api penerangan.” Sebentar kemudian, tampak bekerjanya korek api, keadaan dalam ruangan pendopo itu menjadi terang benderang.

Ong Khian mengintip, di bawah penerangan empat batang lilin besar yang terletak di atas meja sembahyang, ia dapat melihat orang-orang yang berada di situ kira-kira berjumlah beberapa puluh orang.

Orang itu nampak bergerak mondar mandir, kemudian mendadak berhenti, orang orang itu seolah-olah mempunyai tempat tertentu, setelah berdiri di tempat masing-masing, lalu bagaikan tiang yang menancap di tanah, sedikitpun tidak bergerak.

Koan Sam Seng menarik ujung baju Ong Khian, selagi hendak bicara dengannya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga orang yang diajak bicara, Ong Khian menggoyangkan tangannya melarang Koan Sam Seng buka mulut.

Tiba2 terdengar pula suara orang yang bernada dingin itu, “Kalian masih ada urusan apa, lekas ceritakan, aku akan segera berangkat ke utara, tidak bisa berdiam lama di sini.”

Terdengar jawaban dari seorang yang nada suaranya tenang dan rapi, “Sekarang ini Tiat Bok Taysu dan lain2nya sudah berada di tangan kita, dalam.waktu tiga atau lima hari dapat dibereskan seluruhnya.”

Terdengar suara di hidung dari orang yang bernada dingin itu, “Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu dua paderi tua itu, adalah tokoh terkuat dalam partai Siao-lim-pay, apabila kau pandang ringan, pasti mereka dapat lolos, di kemudian hari barangkali tidak akan dapat menemukan kesempatan baik seperti hari ini.”

Oranp yang suaranya tenang itu berkata, “Ong-ya, rombongan orang2 itu sudah terjatuh dalam pesawat jebakan kita, kita telah bergerak serentak dengan secara terang dan menggelap, betapapun tingginya kepandaian dua paderi tua itu, juga tidak mungkin lolos dari tangan kita.”

Orang bernada dingin yang disebut Ong-ya itu terdengar pula suaranya, “Apabila kali ini kita berhasil, tindakan kita selanjutnya akan ditujukan kepada golongan pengemis, kabarnya dalam golongan pengemis itu, dua jago tua si budak dan si gagu sudah muncul lagi, dua orang tua itu meskipun bercacat tetapi kepandaianny tinggi luar biasa, apabila ingin membasmi golongan pengemis mau tidak mau dua orang itu harus disingkirkan lebih dulu.”

Orang yang bernada tenang itu berkata, “Ong-ya dapat berpikir secara cermat, hamba sangat kagum, golongan pengemis mendapat kedudukan seperti sekarang, itu hanya mengandalkan dua orang, satu ialah penasehatnya yang pandai, dan kedua ialah pahlawannya yang mempunyai kekuatan luar biasa, tetapi kekuatan orang itu tidak seberapa dikhawatirkan, hanya penasehatnya yang terdiri dari seorang di belakang itu kabarnya sangat cerdik dan banyak akal muslihatnya orang itulah yang kita tidak boleh pandang ringan, asal kita bisa menyingkirkan lebih dulu orang itu, sehingga golongan pengemis tidak ada orang yang bisa mengatur lagi.”

Orang yang disebut Ong-ya itu setelah mendengar perkataan itu, tiba2 berjalan mondar-mandir dalam ruangan itu.

Di bawah penerangan sinar lilin itu, Koan Sam Seng dan Ong Khian hanya dapat melihat ujung jubah berwarna hijau orang itu.

Tiba2 terdengar pula suara tindakan kaki, lalu disusul oleh suaranya seorang perempuan yang berkata, “Ong-ya selamat malam.” Suara itu sudah tidak asing bagi Koan Sam Seng dan Ong Khian, mereka segera dapat mengenali bahwa suara itu adalah suara nona Pan.

Orang berjubah hijau itu tiba2 berhenti berjalan, lalu terdengar suara tertawanya yang nyaring, kemudian disusul dengan kata2nya, “Kedatanganmu sangat kebetulan sekali.”

Nona Pan itu nampak berjalan maju, kemudian dengan tiba2 ia berlutut di hadapan orang berbaju hijau itu.

Koan Sam Seng yang saat itu sedang mengintai, matanya telah tertatap dengan sepasang mata, tetapi mata nona itu setelah tertatap dengan sinar mata Koan Sam Seng dengan cepat menundukkan kepala.

Kali ini Koan Sam Seng dapat melihat dengan tegas bahwa perempuan itu benar2 adalah nona Pan.

Gadis itu juga agaknya ssudah dapat melihat Koan Sam Seng dan Ong Khian yang bersembunyi di belakang patung, sebentar2 menunjukkan matanya ke bawah meja sembahyang.

Kini terdengar suara orang berjubah hijau itu, “Selama beberapa tahun ini kau berada di gedung keluarga Pan, meskipun belum berhasil menemukan di mana adanya tiga barang pusaka itu, tetapi asal situa bangka she Pan itu belum mati, tentu tidak sanggup menerima siksaan hebat, urusan selanjutnya, aku sudah mengatur orang lagi untuk mengurus, kau boleh beristirahat tiga bulan, setelah habis waktu istirahatmu, nanti akan mendapat perintah lagi.”

Nona Pan yang berlutut di hadapannya Nampak mengangkat kepalanya dan berkata, “Hamba ada beberapa permintaan yang barang kali tidak pantas, entah Ong-ya dapat menerimanya atau tidak?” Orang berbaju hijau itu tiba2 tertawa dingin kemudian berkata, “Apa? Kau hendak berunding tentang syarat denganku?”

Si gadis memperdengarkan jawabannya, “Mana hamba berani, hamba hanya ingin mohon kepada Ong-ya.”

Orang berjubah hijau itu Nampak berpikir kemudian berkata, “Baik, kau ceritakan dahulu.”

Gadis itu berkata, “Mohon Ong-ya agar supaya beberapa orang kepercayaan yang hamba dapatkan dari keluarga Pan ini, Ong-ya ijinkan bekerja kepada hamba.”

Orang berjubah hijau dengan sikapnya yang kaku per- lahan2 menyapu orang2nya gadis itu, kemudian berkata, “Kecuali Touw Thian Gouw, yang lainnya untuk sementara boleh membantu kau.”

Touw Thian Gouw yang mendengar itu nampaknya terkejut, dan dalam hatinya berpikir, “Orang ini belum pernah kukenal, bagaimana ia tahu namaku?”

Orang berbaju hijau itu tiba2 berkata, “Tunggu dulu, tentang Pan kongcu ini apabila dibiarkan dia hidup, mungkin akan membawa bencana di kemudian hari, aku bekerja selamanya tidak suka meninggalkan bibit bencana lebih baik dibunuh saja.”

Gadis itu nampaknya sangat gelisah ia lalu berkata, “Pan koncu sifatnya lemah, ia tidak bias menjadi seorang besar, apalagi ia tidak mempunyai bakat baik untuk mempelajari ilmu silat, sekalipun mendapat guru yang pandai, juga tidak bias berbuat apa2, hamba telah bergaul beberapa tahun dengannya, tahu benar keadaannya, mohon keampunan Ong- ya, ampunilah jiwanya.”

Orang berjubah hijau itu diam saja nampaknya sedang berpikir keras. Gadis itu berkata pula, “Apalagi sudah lama ia merasa tidak puas terhadap kelakuan dan sepak terjang ayahnya, hamba pernah berkata bahwa ayahnya itu dosanya sudah terlalu banyak, maka apa yang telah terjadi sekarang ini, boleh dikata merupakan suatu pembalasan untuk dirinya sendiri.

Orang berjubah hijau itu, masih tetap diam tidak menjawab, agaknya merasa sulit terhadap permintaan gadis itu.

Gadis itu kembali berkata, “Selama beberapa tahun ini, orang tua she Pan itu telah beberapa kali hendak mencelakakan diriku, tetapi berkat bantuan Pan Ceng Leang yang diam-diam member kabar kepadaku, sehingga hamba bias selamat dan memenuhi tugas yang Ong-ya berikan.”

Orang berjubah hijau itu nampaknya telah tergerak hatinya oleh ucapan gadis itu, ia berkata dengan nada suara tetap dingin, “Kalau begitu biarlah kau berikan kepadanya obat bikinanku, kuserahkan dia kepadamu!”

Orang berjubah hijau itu berjalan ke depan meja sembahyang kemudian berkata pula, “Kalian masih ada permintaan apa lagi?”

Dalam ruangan tampak sunyi, lama tidak terdengar suara orang berbicara.

Orang berjubah hijau itu tiba2 berjalan keluar kemudian berkata dengan suara nyaring, “Kalau sudah tidak ada urusan apa2, rencana kita jalankan menurut garis yang semula, setengah tahun kemudain kalian berkumpul di lembah Tiat- hun-kok di gunung Hok-bu-san.”

Selagi orang berjubah hijau itu hendak berlalu, gadis she Pan itu memburu dan berkata, “Ong-ya tunggu sebentar!”

Orang berjubah hijau itu berpaling dan bertanya, “Kau masih ada urusan apa lagi?” Gadis itu berkata, “Tugas hamba masih belum selesai semuanya, tetapi sudah menanam permusuhan dengan musuh2 tangguh maka untuk selanjutnya setiap gerak gerik hamba pasti di bawah pengawasan orang2 rimba persilatan daerah Tionggoan, maka hamba memberanikan diri mohon kepada Ong-ya, agar Touw Thian Gouw itu Ong-ya berikan kepada hamba, supaya dapat menambah kekuatan hamba.”

Orang berjubah hijau itu berpikir kemudian berkata, “Kau masih hendak mencari tiga barang pusaka itu, sudah selayaknya harus memdapat bantuan orang2 kuat, Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu dua paderi itu merupakan orang2 yang sulit dihadapi, sedapat mungkin harus dihindarkan, jangan sampai timbul bentrokan secara langsung dengan partai Siao-lim-pay, paling baik harus dikalahkan dengan menggunakan akal. Touw Thian Gouw, meskipun tinggi kepandaiannya, tetapi dalam rimba persilatan daerah Tionggoan namanya masih belum cukup untuk mempengaruhi musuh tangguh.” Ia berdiam sejenak, lalu berkata pula, “Aku sebetulnya hendak membawa dua jago pedang Ceng Sia Pay ke lembah Tiat-hun-kok, tapi karena memikirkan keadaanmu ini, baiklah dua orang itu juga kutinggalkan di bawah perintahmu, dengan kekuatan mereka dalam rimba persilatan daerah selatan, jarang orang yang mampu melawannya.”

Touw Thian Gouw melirik kepada Siang-koan Kie dan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay, mereka pada berdiri sambil memejamkan matanya, maka ia juga meniru sikap tiga orang itu, jangan sampai menimbulkan curiga.

Gadis itu menghaturkan terima kasih kepada orang yang berjubah hijau itu.

Orang yang berjubah hijau itu berkata pula sambil tertawa ter-bahak2, “Dengan ditambahnya kekuatan dari dua orang Ceng Sia Pay ini, dapat menambah kekuatan, tetapi juga akan menimbulkan kesulitan banyak bagimu, orang2 Ceng Sia Pay tentu tidak senang melihat kau memerintah sesukanya kepada dua sesepuhnya, mereka pasti akan menggunakan segala daya supaya untuk menyulitkan kau.”

Gadis itu berkata, “Ramalan Ong-ya belum pernah meleset, kalau sudah mengetahui adanya bahaya ini pasti sudah mempunyai rencana untuk menghindarkannya.”

Orang berjubah hijau itu berkata, “Apabila Ceng Sia Pay tidak berpikir demikian, itulah yang paling baik, tetapi apabila mereka benar2 berpikir demikian, itu berarti suatu kehancuran bagi mereka sendiri, untuk selanjutnya sudah tentu aku mengirim beberapa orangku yang pandai menggunakan racun, diam2 untuk membantumu, maka kau tidak usah khawatir.”

Gadis itu kembali mengucapkan terima kasihnya.

Orang berjubah hijau itu bergerak sebentar sudah menghilang, kemudian disusul oleh bergeraknya beberapa orang yang lari keluar dari ruangan itu, hingga sebentar saja dalam ruangan itu hanya tinggal beberapa orang saja.

Setelah orang berjubah hijau itu berlalu, gadis baju putih itu dalam rombongan orang2 itu kedudukannya paling tinggi sehingga semua orang member hormat padanya.

Tiba2 terdengar suara serak, “Tadi Ong-ya telah menyerahkan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay di bawah perintah Khiun-cu hendak menerima dua orang itu?”

Gadis berbaju putih berkata sambil tertawa, “Dewasa ini pengaruh dan kekuatan di dunia Kang-ouw cukup kuat, kalau aku dapat menundukkan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay ini, bukankah berarti menunjukkan kelemahan pada partai itu… ”

Orang suara serak itu berkata sambil tertawa, “Khiun-cu tidak usah khawatir, dua jago pedang Ceng Sia Pay itu sudah makan obat mabuk buatan Ong-ya, Ong-ya yang selalu tidak gagal dalam perhitungannya, sudah memikirkan kekuatan dua orang itu, maka dosis yang diberikan oleh Ong-ya kepadamu itu, yang dapat memerintah mereka, sekalipun Cowsu dari Ceng Sia Pay hidup lagi, mereka juga tidak akan mau dengar perintahnya.”

Gadis itu tiba2 tertawa nyaring dan berkata, “Kepandaian Ong-ya tidak dapat diukur betapa tingginya, juga pandai menggunakan segala urusan, hamper semuanya jitu, pedang utusan yang diberikan oleh Ong-ya itu, sesungguhnya sangat mengherankan, sebilah pedang yang pendek yang biasa saja, mengapa bias membuat orang terpengaruh demikian rupa, sehingga menuruti segala perintahnya?”

Orang suara serak itu berkata, “Ong-ya untuk mendapat pedang utusan itu, pernah bertapa sepuluh tahun lamanya di dalam gunung yang jarang didatangi oleh manusia, selama itu telah berhasil membuat lima buah pedang, sebilah yang dinamakan pedang agung, dan empat bilah dinamakan pedang utusan dan kabarnya pedang agung itu, kegaibannya jauh di atasnya empat pedang utusan ini, tentang empat bilah pedang utusan itu, dewasa ini hanya ada dua orang yang membawa, Khiun-cu sudah lama membawa pedang itu, apakah masih belum tahu kegaibannya?”

Gadis yang disebut Khiun-cu itu menjawab, “Kegaibannya aku sudah tahu, apa yang aku tidak mengerti ialah apa sebabnya pedang ini bisa menimbulkan kekuatan gaib itu?”

-odwo-

Bab 32

ORANG yang suaranya serak itu, agaknya tak berani membuka rahasia pedang itu, ia hanya memperdengarkan suara ketawanya dan kemudian berkata, “Khiun-cu merupakan orang kesayangan Ong-ya, mengapa tidak menanyakan sendiri kepada Ong-ya?” Gadis itu Nampak berpikir sejenak lalu berkata, “Aku hanya iseng2 menanya saja, tiada maksud untuk mengetahui rahasianya…….. dua jago pedang Ceng Sia Pay itu, sekarang ada di mana?”

Suara orang serak itu berkata, “Mereka berada di luar kuil ini, apakah Khiun-cu ingin mencoba kegaiban pedang utusan?”

Gadis itu berkata, “Ya, bawa mereka masuk.”

Koan Sam Seng dan Ong Khian tertarik oleh perasaan heran, mereka memasang mata.

Tidak lama kemudian, tiga laki2 membawa masuk dua jago pedang dari Ceng Sia Pay.

Dua jago pedang itu sikapnya seperti orang bodoh, mereka agaknya mengalami perobahan secara mendadak.

Gadis berbaju putih itu menghampiri dengan tindakan perlahan, lalu mengeluarkan sebilah pedang pendek.

Touw Thian Gouw yang pura2 bodoh menyipitkan matanya, ia telah dapat melihat bahwa pedang pendek di tangan gadis itu, adalah pedang pendek yang telah digunakan untuk memerintah Siang-koan Kie malam itu.

Gadis berbaju putih itu berdiri di hadapan dua jago pedang itu, per-lahan2 mengangkat pedang pendeknya, lalu membuat lingkaran di depan dua orang itu.

Sungguh heran, mata kedua jago pedang itu terus berputaran di atas pedang pendek itu.

Gadis berbaju putih itu tiba2 menggerakkan pedang pendeknya ditujukan pada meja sembahyang.

Mata kedua jago pedang it uterus mengikuti pedang pendek itu, tiba2 menggeram, kemudian mengangkat tangannya dan melakukan serangan kepada meja sembahyang itu. Serangan kedua jago pedang itu ternyata sangat hebat, sehingga meja dan patung dalam kuil itu menjadi hancur berantakan.

Koan Sam Seng dan Ong Khian yang sembunyinya di belakang patung sekujur badannya teruruk oleh runtuhan batu dan kayu, tetapi mereka tidak berani bergerak, hanya menutup mata dan pernapasannya jangan sampai kemasukan debu.

Mereka mendengar suara tertawanya dan kata2nya gadis itu, “Kekuatan dua orang ini sesungguhnya hebat sekali.”

Orang yang suaranya serak itu menyahut, “Nama dua jago pedang Ceng Sia Pay di kalangan Kang-ouw sudah empatpuluh tahun lebih lamanya belum pernah luntur, sudah tentu tidak boleh dibandingkan dengan orang biasa, Khium-cu mendapat tenaga bantuan dua orang kuat itu dan ditambah lagi dengan kepandaian Khiun-cu yang luar biasa, tidak perduli betapa tangguhnya musuh juga tidak perlu merasa takut.”

Gadis berbaju putih itu tersenyum, kemudian berpaling dan berkata sambil menunjuk kepada Siang-koan Kie, “Kepandaian orang itu juga tak jelek, dan Touw Thian Gouw yang mendapat gelar ‘pecut sakti’ itu, pernah malang melintang di daerah luar perbatasan juga merupakan seorang tokoh terkuat daerah itu………”

Matanya lalu ditujukan kepada Wan Hauw, untuk sesaat ia diam agaknya sedang mengenangkan kepandaian Wan Hauw, setelah berpikir agak lama, baru terdengar pula perkataannya, “Orang yang mukanya seperti monyet ini, meskipun belum pernah ia turun tangan menghadapi musuh, tetapi dari kegesitan dan kelincahannya, aku sudah dapat mengukur kepandaiannya, mungkin tak di bawah dua jago pedang ini.”

Orang yang suaranya serak itu agaknya tidak percaya perkataan gadis itu, ia menggelengkan kepala dan tersenyum, tetapi tidak membantah. Keheningan kembali meliputi suasana dalam ruangan pendopo itu.

Setelah hening cukup lama, baru terdengar suara tarikan napas gadis itu, kemudian terdengar kata2nya, “Selama aku berada di gedung keluarga Pan, suami isteri Lui Beng Wan perlakukan aku baik sekali, apabila jiwa mereka tak terganggu, boanpwee sangat berterima kasih.”

Setelah berkata demikian, gadis itu lalu member hormat kepada orang yang suaranya serak itu.

Orang yang suaranya serak itu buru2 membalas hormat seraya berkata, “Ucapan Khiun-cu ini terlalu berat bagaimana aku sanggup menerimanya.”

Gadis itu berkata pula, “Ong-ya selalu dengar nasihat Kunsu, asal kau mengatakan sepatah dua dengan perkataan baik, untuk menolong jiwa dua orang itu sesungguhnya mudah sekali.”

Orang suaranya serak itu agaknya merasa senang mendapat pujian gadis itu, ia tertawa ber-gelak2 dan berkata, “Perintah Khiun-cu bagaimana aku berani menolaknya, apabila ada kesempatan, aku pasti melakukan seperti apa yang Khiun- cu kehendaki.”

Gadis berbaju putih itu lalu menyatakan terima kasih, dan orang bersuara serak itu juga lalu minta diri.

Lama setelah orang itu berlalu, baru terdengar pula suaranya gadis itu, “Kim congkoan kepal sudah disediakan atau belum?’

Lalu terdengar suara jawaban dari Kim siaoho, “Sudah lama tersedia, tinggal menunggu perintah Khiun-cu.”

Gadis itu berkat, “Baik, mari kita berangkat.”

Setelah itu terdengar ramai tindakan kaki orang, yang per- lahan2 menjauh. Suasana dalam pendopo itu kembali sunyi senyap.

Koan Sam Seng per-lahan2 menyingkirkan reruntuhan batu dan kayu yang menguruk badannya, ia melongok keluar, tetapi sudah tidak melihat bayangan manusia satupun juga.

Ong Khian bertanya dengan suara perlahan, “Apakah sudah pergi semuanya?”

“Sudah bersih.”

Setelah itu ia bangkit dan berjalan keluar.

Ong Khian juga keluar dari tempat persembunyiannya, setelah mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak lalu berkata, “Apakah saudara Koan tadi melihat wajah orang berjubah hijau itu?”

“Sesungguhnya sangat memalukan, kecuali nona Pan yang disebut Khiun-cu itu, wajahnya orang2 yang lainnya, aku tidak melihatnya.”

“Saudara Koan tidak perlu sesalkan diri sendiri, siaote sendiri juga tidak melihat.”

Koan Sam Seng berpikir lama, kemudian berkata, “Saudara Ong sudah lama berkelana di dunia Kang-ouw, tahukah orang rimba persilatan golongan mana, ada yang menggunakan sebutan yang aneh itu, apa Ong-ya, Khiun-cu segala, se-olah2 benar dari golongan kerajaan.”

“Urusan di dunia Kang-ouw banyak yang aneh umpama saudara Koan disebut orang sebagai pahlawan bagian kekuatan, apakah betul sebagai menteri dalam kerajaan?”

“Nama julukan siaote ini, adalah pemberian dari golongan kita, tetapi itu hanya semata-mata sebutan dalam golongan pengemis saja.”

“Itulah, mereka sengaja menggunakan sebutan Raja atau Puteri, maksudnya tentu hendak membikin kabur mata dan telinga orang saja, mengapa tidak boleh?” “Sudah beberapa puluh tahun siaote berkecimpung dalam dunia Kang-ouw, belum pernah mendengar orang cerita ada orang2 yang mempunyai gelar yang aneh2 itu.”

Pada saat itu, cuaca sudah mulai terang, Ong Khian mendongakkan kepala dan berkata, “Saudara Koan, ada suatu hal kita harus lekas selesaikan, supaya siaote bisa menentukan tindakan selanjutnya.”

“Urusan apa?”

“Saudara Koan hendak paksa aku menjumpai Pangcumu, bolehkah kiranya kalau hal ini ditunda untuk sementara waktu?”

“Tidak usah pergi lagi, setelah siaote nanti pulang menemui Pangcu, akan menceritakan semua ucapan saudara Ong ini dan minta keputusan Pangcu sendiri, apabila Pangcu masih memerlukan bantuan saudara Ong, sudah tentu ia bias mengutus orang untuk mencarimu ”

“Maksud saudara Koan, apakah tidak akan menceritakan cara pertemuan dengan siaote kali ini?”

“Benar, harap saudara Ong menentukan tindakan selanjutnya sendiri, siaote juga ingin pulang.”

Ia memberi hormat dan memutar tubuhnya hendak berlalu.

Ong Khian memanggilnya, “Saudara Koan jangan pergi dulu!”

“Saudara Ong masih ada urusan apa?” “Saudara Koan hendak kemana?”

“Siaote ingin lekas pulang untuk menjumpai Pangcu, siaote hendak memberitahukan kepada Pangcu apa yang siaote lihat tadi, supaya mengadakan persiapan.”

“Golonganmu mempunyai pengaruh sangat besar, anak muridnya tersebar di mana2, untuk menyelidiki asal-usul orang itu sudah tentu sangat mudah, tetapi yang penting sekarang ini ialah harus mencari Tiat Bok Taysu dan rombongannya, kita beritahukan lebih dulu kepada mereka apa yang telah kita saksikan tadi, dan kita juga harus berusaha untuk menyingkirkan lebih dulu penghianat yang nyelundup dalam rombongan itu, lalu berusaha lagi untuk menyelidiki gadis berbaju putih dan orang berjubah hijau, apabila urusan ini dapat mempersatukan partai2 besar dunia Kang-ouw, ber-sama2 melawan musuh tangguh, juga merupakan suatu hal yang sangat menguntungkan bagi semua orang.”

“Kita berdiam dalam kuil ini sudah cukup lama, mereka yang pergi sudah tentu sudah terlalu jauh, kemana kita harus mencari mereka?”

“Dengan terus terang, siaote seorang saja bukannya tidak bias mencari mereka, tetapi di sepanjang jalan mungkin akan dicegat atau dirintangi oleh orang2 mereka, ini bukan kekuatan tenaga siaote seorang saja yang dapat menghadapinya…….. soal kematian bagi siaote tidak terlalu dipentingkan, tetapi apabila berita ini tidak bisa disampaikan kepada Tiat Bok Taysu dan lain2nya, akan merupakan suatu sesal besar.

Koan Sam Seng setelah berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah! Mari kita segera berangkat jangan sampai terlambat.”

Ong Khian menganggukkan kepala sambil tertawa, kemudian berjalan dulu dengan tindakan lebar.

Kedua orang itu setelah keluar dari kuil, terus menuju ke tepi sungai.

Berjalan kira2 tiga atau empat pal, tiba2 menemukan sebuah bangkai manusia yang menggeletak di tepi jalan. Koan Sam Seng menghampiri, ia memeriksa kedua tangan bangkai itu, benar saja kepalan tangan kiri bangkai itu masih terkepal.

Ong Khian berkata dengan suara perlahan, “Arah kita mengejar tidak salah, mari kita lekas jalan.”

Dua orang itu lalu menggunakan ilmu lari pesat, lari menuju ke tepi sungai.

Berjalan lagi kira2 tiga pal, di tepi jalan mereka menemukan dua bangkai manusia lagi.

Waktu diperiksa oleh Koan Sam Seng, kematian dua orang itu sama dengan yang diketemukan duluan.

Ong Khian berkata sambil menghela napas, “Orang yang mati jumlahnya sudah tidak sedikit!”

Koan Sam Seng juga mersakan gawatnya soal itu, ia berkata dengan cemas, “Nampaknya kita harus lekas dapat menemukan mereka.”

“Saudara Koan, siaote teringat sesuatu hal,” berkata Ong Khian sambil menghela napas perlahan.

Melihat sikap agak aneh Ong Khian, Koan Sam Seng diam2 merasa heran, tanyanya, “Urusan apa?”

“Mengenai urusan kita mendaftar nama dalam buku kematian, hal ini mungkin bukan gertakan saja.”

“Tetapi siaote tidak merasakan apa2 yang aneh.”

“Itu memang benar, waktu siaote menulis nama juga pernah ber-jaga2, tetapi seandai gadis itu menaruh racun yang tidak berwujud atau berbau di atas alat tulis atau kertasnya, maka kita yang menuliskan nama dalam buku itu, mungkin sudah terkena racun semuanya.”

“Saudara Ong terlalu banyak berpikiran.” “Siaote juga sebetulnya tidak menghiraukan soal ini, tetapi tadi di dalam ruangan pendopo ketika menyaksikan pedang di tangan gadis itu, tiba2 siaote timbul perasaan bahwa urusan ini sesungguhnya sangat gawat.

Koan Sam Seng agaknya merasa tertarik dengan ucapan Ong Khian itu, sehingga wajahnya juga berubah, katanya, “Benar, hanya sebilah pedang saja, entah dengan cara bagaiman bias membuat dua jago pedang Ceng Sia Pay yang sudah malang melintang beberapa puluh tahun di dunia Kang- ouw sampai begitu dengar perintah?”

“Apa yang siaote khawatirkan juga soal ini, pikiran dan sifat dua jago pedang itu disebabkan oleh pengaruh obat yang gaib, hal ini tidak mengherankan, yang mengherankan adalah pedang pendek itu, mengapa mempunyai pengaruh memperbudak orang? Siaote selalu tidak percaya kepada segala ilmu hitam, tetapi sejak menyaksikan pengaruh ajaib pedang pendek itu……..” mendadak ia berhenti, setelah berpikir sejenak, ia mengangkat muka mengawasi Koan Sam Seng dan berkata pula, “Apakah saudara Koan percaya bahwa di dalam dunia ini ada kekuatan ilmu gaib?”

“Siaote meskipun pernah dengar, tetapi belum pernah menyaksikan, hanya aku tidak percaya dengan segala ilmu begituan.”

“Siaote juga percaya bahwa dalam dunia ini ada ilmu mujijat, tetapi kecuali ilmu gaib itu, satu2nya pengertian yang dapat digunakan untuk menerangkan pengaruh kekuatan aneh dari pedang itu hanya satu jalan.”

Koan Sam Seng tiba2 menarik kesimpulan, bahwa berandal besar ini, bukan saja berkepandaian tinggi sekali, tetapi juga mempunyai kecerdikan luar biasa, kalau ia bisa mendapat nama besar di dalam kalangan Kang-ouw, sesungguhnya bukan kebetulan saja, ia lantas berkata, “Siaote ingin mendengar pendapatmu.” “Di atas pedang pendek itu pasti dipolesi dengan semacam obat yang susah didapat oleh orang biasa, dan obat ini dapat digunakan untuk menundukkan orang2 yang makan obat beracun yang lainnya, obat yang dimakan orang dapat mempengaruhi sifat dan pikirannya orang yang makan, sedangkan obat yang dipoleskan di atas pedang, dapat mengendalikan atau mempengaruhi obat yang dimakan oleh orang itu dengan demikian pedang itu lalu timbul kekuatan gaib yang bisa memerintah orang.”

“Pendapatmu ini memang benar siaote merasa sangat kagum.”

“Apabila dugaanku ini tidak keliru, maka besar kemungkinan obat racun itu sudah berada di badan kita. Orang yang menggunakan obat itu, apabila mempunyai kepandaian semacam ini dapat menggunakan obat2nya di atas alat tulis atau kertas, bukanlah satu hal yang mengherankan lagi. Berdasarkan atas pemikiran ini, maka kemungkinan adanya obat racun di dalam badan kita lebih besar lagi.”

Koan Sam Seng berpikir sejenak, lalu berkata, “Keterangan saudara Ong ini, sesungguhnya membuka pikiranku… ”

“Saudara Koan terlalu merendahkan diri, siaote sudah lama mendengar kabar tentang advisir golongan Teng Soan, bukan saja merupakan satu ahli pemikir yang luar biasa, tetapi juga hampir mengerti segala sesuatu, pengetahuannya banyak sekali, benarkan ucapanku ini?”

“Siucai miskin itu, memang benar mempunyai kepandaian yang berarti, sampai di mana kepandaiannya, karena ia tidak suka menyombongkan diri, siaote tidak dapat mengetahui dengan pasti, tetapi urusan dalam golongan kita, hampir semuanya direncanakan olehnya, selama beberapa puluh tahun ini, ia belum pernah membuat kesalahan.” “Apakah perjalanan saudara Koan kali ini juga atas perintahnya?”

“Dalam golongan kita baru2 ini telah terjadi perkara besar, si siucai itu turun tangan sendiri, ia membawa duabelas anggauto terkuat dalam golongan kita, untuk mengurus soal itu, waktu siaote dating kemari, ia masih belum kembali.”

“Menurut apa yang siaote tahu, Teng Soan itu bukan saja seorang terpelajar yang dalam sekali pengetahuannya dalam ilmu silat, tetapi juga mengerti ilmu bintang segala, bahkan terhadap segala jenis racun berbisa, ia juga dapat memunahkan atau menggunakan. Apabila saudara Koan bisa kembali ke markasmu dalam waktu empat hari, sekalipun saudara terkena racun juga tidak apa, orang she Teng itu pasti dapat memusnahkannya.”

“Tentang pengertiannya menggunakan racun atau memunahkan racun si siucai itu, siaote sendiri belum pernah mendengarnya.”

“Bagaimana saudara mengetahui demikian jelas?”

“Dalam soal ini panjang sekali ceritanya, saudara sering berkumpul bersama dia, paling baik menanyakan sendiri kepadanya.”

Koan Sam Seng tidak bertanya lagi, ia berkata sambil tertawa hambar, “Sekarang apakah kita masih perlu mengejar rombongan Tiat Bok Taysu?”

“Ya! Mengapa tidak? Beberapa puluh lembar jiwa orang kuat rimba persilatan, bagaimana kita boleh pandang seperti mainan anak2?”

Tanpa menunggu bergeraknya Koan Sam Seng, ia sudah angkat kaki lari menuju ke tepi sungai.

Sambil mengejar Koan Sam Seng berkata, “Nampaknya hati saudara Ong lebih banyak welas asihnya dari pada kekejamannya, menyebutkan sebagai berandal besar, sebetulnya keterlaluan.”

“Tidak perduli dalam pekerjaan apa saja, selamanya ada yang baik dan yang jahat, apakah saudara tidak ingat ucapan banditpun mempunyai kebijaksanaannya sendiri?”

“Siaote sebelum bertemu dengan saudara, sering dengar orang berkata bahwa perbuatan saudara terlalu terlengas dan kejam, sehingga ini siaote baru tahu bahwa omongan orang itu hanya omongan kosong belaka.”

“Siaote tidak seperti saudara yang terikat oleh ketua dan peraturan perkumpulan, hingga setiap gerak-geriknya tidak boleh sembarangan. Siaote hanya seorang sebatang kara yang mengembara ke mana saja, tidak perduli urusan apa, apa yang siaote anggap baik, siaote lalu melakukannya, tidak ada yang mengikat, sehingga tidak perlu untuk memikirkan baik atau tidak pada anggapan umum, siaote juga tidak perduli dengan undang2 negara, asal perbuatan itu tidak bertentangan dengan hati nuraniku… ”

Ong Khian mengucapkan kata2nya itu dengan semangat ber-api2, sehingga membuat Koan Sam Seng diam2 memujinya, “Ditilik dari sepak terjangnya, orang ini namanya saja berandal besar, tetapi perbuatannya itu kecuali agak menuruti perasaannya sendiri, sedikit banyak masih mengandung kebajikan, nampaknya antara garis orang budiman dan penjahat besar, tidak mudah dibedakan… ”

Selagi masih terbenam dalam lamunannya, Ong Khian tiba2 menarik bajunya dan berkata dengan suara perlahan, “Saudara Koan, lekas kita sembunyikan diri.”

Dengan cepat ia melompat ke suatu tempat yang terdapat banyak rumputnya.

Koan Sam Seng mengandalkan kedudukan sendiri, tidak mau sembunyi seperti Ong Khian. Selagi ia masih belum tahu apa yang telah terjadi, kakinya dapat menangkap suara tindakan kaki kuda.

Suara itu datangnya sangat cepat, sebentar saja sudah berada di tempat sejauh beberapa tombak.

Pada waktu itu, matahari sudah menunjukkan diri di ufuk timur, hingga cuaca gelap per-lahan2 mulai terang.

Koan Sam Seng yang tidak ingin sembunyikan diri, segera berpaling ke arah suara itu, ia dapat melihat di atas seekor kuda tinggi besar, duduk seorang berpakaian baju panjang, kepalanya memakai kerudung topi bambu lebar.

Baju panjangnya gerombongan, menutupi sepasang paha dan pelana kudanya.

Kuda itu berjalan dengan mendongakkan kepala, liwat di samping Koan Sam Seng, kepala orang di atas kuda itu tidak menoleh, agaknya tidak melihat ada orang berdiri di tepi jalan.

Setelah kuda itu berlalu, Koan Sam Seng mendadak seperti orang kebingungan, ia merasa bahwa ia tadi sangat memperhatikan kuda dan penunggangnya, tetapi sedikitpun tidak dapat melihat dengan tegas wajahnya atau bentuk tubuhnya yang dapat digunakan untuk mengenalnya kembali.

Kecuali kuda tinggi besar yang berjalan sambil mendongakkan kepala itu, bagaimana macamnya itu orang yang duduk di atasnya, sama sekali tidak dilihat dengan tegas.

Tiba2 terdengar suara elahan napas Ong Khian, kemudian disusul dengan perkataannya, “Saudara Koan, apakah saudara sudah melihat tegas orang itu tadi?”

“Tidak, tetapi aku tadi benar2 pernah memperhatikannya,” menjawab Koan Sam Seng sambil menggelengkan kepala.

“Ya, siaote juga begitu, orang itu se-olah2 sebentar2 bergerak dan merubah sikap duduknya sehingga orang tidak dapat mengingat sikap duduknya. Ia berhenti sebentar. “Di atas kuda itu agaknya tidak ada pelananya… ”

Koan Sam Seng tiba2 seperti ingat sesuatu katanya, “Benar, aku juga tidak melihat kedua pahanya yang menurun ke bawah.”

“Emmm! Orang itu seperti duduk bersila di atas punggung kuda.”

Dua orang itu hanya saling men-duga2, tetapi tidak mendapat gambaran yang nyata.

Dua orang itu sama2 tidak mendapat lihat tegas keadaannya orang di atas kuda itu, sampai sikap dan cara duduknya, juga sudah tidak ingat lagi. Tetapi heran, dalam otak kedua orang itu, sama2 mempunyai kesan yang dalam namun juga samar2, mereka tidak dapat mengenalinya. Se- gala2nya yang mengenai orang itu, se-olah2 berlainan dengan orang biasa.

Dari jauh terdengar suara ombak sungai. Lamunan Koan Sam Seng segera dibuyarkan oleh suara ombak itu, tiba2 ia ingat perkataan gadis berbaju putih di dalam kuil itu, katanya hendak pergi dengan menggunakan kapal……..

Apabila hendak mencari jejak Tiat Bok Taysu dan rombonganya, paling baik harus dapat menemukan sebelum gadis itu berlalu dari sini.

Ia berpaling mengawasi Ong Khian, orang she Ong itu ternyata masih berdiri melamun sambil mendongakkan kepala.

Koan Sam Seng menghampiri dan berkata dengan suara perlahan, “Saudara Ong, mari kita lekas cari mereka.”

“Orang tua itu duduk bersila di ats kudanya,” jawaban Ong Khian ternyata menyimpang dari perkataan Koan Sam Seng.

Sebelum Koan Sam Seng menyahut, tiba2 menampak dua bayangan orang dengan cepat lari mendatangi. Ong Khian angkat muka, ia lihat dua orang itu dandanannya serupa, semua mengenakan baju panjang warna abu2 yang terdapat banyak tambalan, tetapi perawakan mereka tegap, di atas punggung membawa bungkusan warna kuning, sekilas lintas, segera dapat mengenali bahwa orang2 itu dari golongan pengemis.

Dua orang itu dari jauh sudah member hormat kepada Koan Sam Seng seraya berkata, “Koan-ya.”

“Apa? Apakah Pangcu sudah tiba?” demikian Koan Sam Seng balas menanya.

Seorang gendut berwajah hitam yang berdiri di kiri segera menjawab, “Pangcu dan Teng-ya sudah datang semua.”

“Si siucai juga sudah dating, bagus sekali!” berkata Koan Sam Seng sambil tersenyum.

“Saudara Koan, bolehkah aku bertanya, dua saudara ini apakah bukan si pengawal besi dan si kaki sakti dari golongan pengemis?” bertanya Ong Khian dengan suara perlahan.

“Saudara Ong benar2 seperti tahu se-galanya, siaote sangat kagum sekali,” menjawab Koan Sam Seng. “Apakah saudara pernah melihatnya?”

“Belum, tetapi nama is Pengawal besi dan si Kaki sakti sangat kesohor dalam dunia Kang-ouw, meskipun siaote belum pernah melihat, tetapi sudah lama mendengar namanya.”

“Kalau begitu, marilah kuperkenalkan,” berkata Koan Sam Seng sambil bersenyum, kemudian menunjuk kepada si gendut yang bermuka hitam itu.

“Ini adalah saudara Ciu Tay Cie yang mempunayi nama julukan si pengawal besi.” Ong Khian lalu berkata sambil mengangkat tangan member hormat, “Aku yang rendah merasa beruntung bisa bertemu dengan tuan.”

Koan Sam Seng menunjuk lagi kepada orang yang bermuka sawo matang, “Dan ini adalah Pek Kong Po si Kaki sakti yang namanya sangat kesohor itu.”

Ong Khian segera berkata, “Dalam kalangan Kang-ouw tersiar kabar luas, bahwa saudara Pek dalam satu hari bisa berjalan sejauh delapan ratus pal, sudah lama siaote ingin bertemu, sungguh beruntung hari ini bias berjumpa di sini.”

Koan Sam Seng lalu menunjuk Ong Khian dan berkata kepada dua orang itu, “Ini adalah saudar Ong Khian yang namanya sangat kesohor dalam rimba persilatan daerah selatan.”

Si gendut Ciu Tay Cie tiba2 melembungkan perutnya dan berkata, “Bukankan Ong Khian yang membinasakan empat anak murid golongan kita itu?”

Ong Khian yang menyaksikan sikap tolol dan lucu si gendut itu, dalam hati berpikir, “Orang ini agaknya ada seorang tolol, aku tidak boleh bersikap seperti dia.”

“Saudara Ciu tidak perlu banyak curiga, siaote sudah menjelaskan semua duduk perkaranya kepada saudara Koan.”

Ciu Tay Cie tiba2 maju setindak dan berkata, “Pangcu kita sudah mengumumkan kepada anak buahnya, supaya menangkap kau, sekarang aku terpaksa minta kau menemui Pangcu kita sebentar.”

Wajah Ong Khian segera berubah katanya, “Saudara Ciu mengundang siaote, ataukah hendak memaksa siaote pergi?”

“Tidak perduli mengundang atau memaksa, tuan harus ikut aku ke sana.” Menjawab Ciu Tay Cie.

“Bagaimana andaikata aku tidak mau?” “Terpaksa aku menangkapmu.” berkata Ciu Tay Cie dengan suara keras dan mata mendelik.

Ong Khian mengawasi Koan Sam Seng sejenak, lalu berkata, “Siaote sudah lama mendengar nama besar Pengawal besi, katanya hebat sekali kepandaiannya… ”

Koan Sam Seng lalu berkata sambil mengulapkan tangannya, “Saudara jangan berpikiran seperti dia, ada siaote di sini, dia pasti tidak berani berlaku kasar terhadapmu.”

“Saudara Ong ini sekarang sudah menjadi sahabatku, kalau kalian berani berlaku kurang ajar, aku terpaksa menghukum kalian dengan menurut peraturan perkumpulan.”

Ciu Tay Cie tercengang, sambil mengangkat tangan member hormat ia berkata kepada Ong Khian, “Siaote tidak tahu bahwa tuan sudah bersahabat dengan Koan-ya, harap tuan maafkan kesalahanku ini.”

Ong Khian yang menyaksikan perubahan sikap si gendut itu, dalam hati memuji peraturan keras golongan pengemis, tetapi juga merasa geli. Ketika itu ia lalu membalas hormat seraya berkata, “Ah, mana boleh saudara berlaku demikian, adalah siaote yang berlaku kasar terhadap saudara, harpa saudara suka maafkan se-besar2nya.”

Koan Sam Seng lantas berkata, “Pangcu kita sudah datang, siaote perlu menjumpainya, sekalian memberitahukan apa yang terjadi selama beberapa hari ini, kalau saudara Ong masih ada urusan lain, silahkan.”

Ong Khian tersenyum dan berkata, “Bolehkah siaote ikut saudara untuk menjumpai Pangcumu?”

“Jikalau saudara suka ikut, sudah tentu siaote merasa sangat girang sekali,” menjawab Koan Sam Seng.

Si gendut tertawa ter-bahak2. “Kalau kau tadi mengatakan demikian, tidak sampai aku berbuat kesalahan terhadapmu.”

“Kepergianku kali ini, sangat berbeda dengan cara saudara yang mendesak tadi, kepergian siaote ini, se-mata2 hanya atas nama persahabatan dengan saudar Koan untuk menjumpai Pangcumu, sekalian menjelaskan kesalah pahaman di waktu yang lalu.”

Koan Sam Seng khawatir mereka akan timbul perselisihan lagi, maka buru2 menyela, “Di mana sekarang Pangcu berada, lekas ajak menjumpainya.”

Ciu Tay Cie menjawab sambil menunjuk rimba, “Dalam rimba itu ada sebuah gubuk yang tidak ada penghuninya, dalam gubuk itulah Pangcu berdiam.”

“Sekarang ini justru ada urusan penting, mari kita lekas menjumpai Pangcu, supaya dapat minta keputusannya,” berkata Koan Sam Seng yang segera bergerak lebih dulu ke rimba yang ditunjuk oleh si gendut tadi.

Tidak lama kemudian, rombongan Koan Sam Seng itu sudah tiba di rimba itu, Pek Kong Po telah mendahului yang lainnya, berjalan lebih dulu ke dalam rimba untuk memberi kabar.

-ooodwooo-