ISMRP Jilid 07

 
Jilid 07

SERANGAN demikian cepat yang dilakukan perempuan berbaju putih itu, dapat dielakkan dengan mudah oleh Siang- koan Kie, agaknya juga merasa di luar dugaan, dengan se- konyong2 mundur tiga langkah, matanya mengawasi Siang- koan Kie dengan tidak berkedip.

Parasnya yang cantik, per-lahan2 berubah pucat.

Siang-koan Kie merasakan firasat tidak baik tiba2 ia merasakan bahwa gadis itu sedang berusaha hendak melaksanakan ilmunya, mungkin semacam ilmu yang sangat berbisa.

Perasaan itu menimbulkan khawa yang sangat serius. Gadis itu agaknya sudah berpikir hendak melakukan suatu rencana jahat terhadap dirinya.

Sambil mempersiapkan kekuatannya untuk menghadapi segala kemungkinan ia berkata, “Aku dengan nona tidak ada permusuhan apa-apa, perbuatan tadi hanya untuk menguji kepandaian masing2, apabila nona ingin melakukan pembunuhan dan menggunakan ilmu hitam untuk mendapat kemenangan, jangan sesalkan kalau aku bertindak kejam.

Gadis itu hanya tersenyum, tidak menjawab.

Tetapi senyumnya yang ditunjukkan pada saat itu, jauh berlainan dengan senyum yang sewajarnya, kalau tadi senyumnya itu nampak sangat menggiurkan, tetapi pada itu karena parasnya pucat pasi, hingga senyumnya itu nampak menyeramkan.

Pan Ceng Liang yang berdiri di samping agaknya sudah merasakan gelagat tidak beres, ia tahu apabila adiknya itu menyerang Siang-koan Kie sehingga terluka, pasti akan menimbulkan permusuhan dengan golongan pengemis. Maka ia segera bertindak dan berdiri di hadapan Siang-koan Kie seraya berkata, “Adik jangan bertindak dulu, dengar dulu kataku.”

Gadis berbaju putih itu memandang Pan Ceng Liang dengan mata sayu, agaknya seperti orang yang belum kenal, terhadap perkataannya seperti tidak masuk telinga. Siang-koan Kie berkata kepada Pan Ceng Liang dengan suara rendah, “Saudara Pan lekas mundur, adikmu sudah siap bagaikan anak panah yang sudah akan terlepas dari busurnya, mau tidak mau harus dilepaskan, serangan itu pasti luar biasa hebatnya, mungkin semacam ilmu yang sangat berbisa….”

Di wajah gadis yang pucat pasi itu, tiba2 terlintas satu senyuman, bibirnya bergerak-gerak, sikapnya yang dingin, tiba2 berubah lemah lembut.

Siang-koan Kie berseru dengan cemas, “Adikmu akan segera turun tangan, saudara Pan lekas menyingkir….”

Pan Ceng Liang masih ragu2, suatu kekuatan tiba2 mendorong dirinya ke samping.

Baru saja ia menyingkir, gadis berbaju putih itu sudah melakukan serangannya.

Serangan itu nampaknya sederhana, gerakannya sangat perlahan, juga tidak mengandung kekuatan tenaga hebat.

Siang-koan Kie meskipun sudah tahu serangan gadis itu apabila tidak mengandung kekuatan tenaga yang sangat hebat, tentunya ada semacam ilmu kepandaian sangat berbisa, tetapi ia masih kurang pengalaman dalam menghadapi musuh, maka meskipun ia sudah mengerti, tetapi tidak berusaha menyingkir, di samping itu mungkin karena mengandalkan kepandaiannya sendiri, hingga ia tidak mau menyingkir….

Sementara itu desiran angin menyambar kepada badannya, sebentar kemudian badannya mendadak merasa panas, sampai ia bangkis.

Gadis itu setelah melancarkan serangannya, segera mundur beberapa langkah, kemudian berdiri sambil memejamkan mata, mengatur pernapasannya. Se-olah2 serangannya yang nampaknya sederhana tadi, sudah menggunakan seluruh kekuatan tenaganya, sehingga merasa letih. Sinar matahari pagi menyinari kembang2 dalam taman, dalam pekarangan itu keadaannya masih tetap tenang, se- olah2 tidak pernah terjadi apa-apa….

Pan Ceng Liang menghampiri Siang-koan Kie bertanya dengan suara rendah, “Saudara Koan, bagaimana dengan kau? Bagaimana kau merasakan tidak enak?”

Siang-koan Kie berdiri tenang, seperti juga gadis itu, ia pejamkan mata untuk mengatur pernapasannya, ketika mendengar pertanyaan Pang Ceng Liang, tiba2 membuka matanya dan menjawab sambil tersenyum, “Aku baik2 saja….”

“Kalau saudara Koan tidak terluka, harap lekas berlalu dari sini….”

Siang-koan Kie mengiakan, tetapi ia masih berdiri tanpa bergerak.

Pan Ceng Liang agaknya mendapat firasat tidak beres, ia lalu mendorongnya sambil berkata, “Saudara Koan harap lekas….”

Tangannya tiba2 merasa seperti terbakar, sehingga ia berdiri tertegun.

Ketika ia memandang wajah Siang-koan Kie, wajah itu masih tetap kuning, hanya sekujur badannya nampak merah membara, ia lalu berkata pula dengan suara cemas, “Saudara Koan, saudara Koan, apakah kau sudah terluka….”

Dari belakangnya tiba2 terdengar suara hening, “Dia sudah terluka dalamnya tetapi tidak apa, setelah makan sebutir obatku segera sembuh lagi.”

Orang yang bicara itu ternyata adalah gadis berbaju putih, saat itu dari sakunya ia mengeluarkan sebutir pel, dan berkata pula sambil tertawa, “Saudara Koan, maafkan perbuatanku, dugaanmu tadi tidak salah, setelah aku menggerakkan ilmuku, tidak boleh tidak harus melancarkan serangan….” Sikap gadis itu sebentar ramah sebentar dingin, sehingga membuat Siang-koan Kie bingung tidak berdaya, dengan tanpa disadari, ia mengulurkan tangannya menyambut pel dari tangan gadis itu.

Pel itu berwarna merah tua, bentuknya sebesar biji lengkeng, berada di dalam tangannya sudah mengeluarkan baunya yang harum.

Gadis itu menyaksikan Siang-koan Kie membolak-balikkan pel dalam tangannya tetapi tidak mau makan, lalu berkata sambil bersenyum, “Pel itu besar sekali faedahnya, setelah kau makan, lukamu segera sembuh….”

Ia berkata sejenak, kemudian berkata pula, “Nama besar dua pengawal golongan pengemis benar2 bukan nama kosong belaka, apabila orang lain yang terkena serangan itu tadi, barangkali sudah mendapat luka parah dan roboh di tanah.”

Pada saat itu meskipun pikiran Siang-koan Kie masih belum terang, tetapi karena mendengar perkataan gadis itu, hingga tidak dapat mengatur pernapasannya dengan hati tenang, hingga lukanya mulai bekerja dan pikirannya tidak dapat dikontrol seperti biasa.

Dengan tindakan perlahan gadis itu menghampiri Siang- koan Kie, lalu memegang tangan kanan Siang-koan Kie seraya berkata dengan muka ber-seri2, “Lekas makan! Oleh karena tidak dapat mengendalikan perasaanku, sehingga aku melukai dirimu, oleh karenanya hatiku merasa tidak enak, apabila perbuatanku menimbulkan permusuhan dengan golongan pengemis, ini sesungguhnya bukanlah kehendakku.”

Dibujuk dengan sikap lemah lembut demikian rupa, dengan tanpa sadar Siang-koan Kie masukan pel itu ke dalam mulutnya.

Gadis itu berkata pula sambil tertawa, “Kakaku di sini, terlalu banyak orang keluar masuk, lebih baik kau beristirahat di tempatku, kira-kira dua jam lukamu pasti akan sembuh.” Setelah itu dengan perlahan ia menggapai, Siang-koan Kie tanpa sadar mengikuti di belakangnya.

Pan Ceng Liang menyaksikan keadaan tidak beres itu, buru- buru menyusul dan berkata, “Adik, pengaruh golongan pengemis sangat besar sekali….”

Gadis itu tiba2 berpaling seraya berkata, “Aku sudah tahu, tidak perlu kau peringatkan.”

Pan Ceng Liang agaknya takut benar terhadap adik perempuannya itu, sehingga tidak berani membuka mulut lagi, ia berdiri sambil menundukkan kepala.

Siang-koan Kie berpaling mengawasi Pan Ceng Liang sejenak, kemudian berjalan lagi mengikuti gadis itu.

Setelah melalui beberapa ruangan, tiba lagi di suatu taman bunga, gadis baju putih itu ajak Siang-koan Kie masuk ke kamar.

Kamar itu diperlengkapi perabot yang sangat mewah, di dekat tembok di salah satu sudut terdapat sebuah toilet berhias, dekat toilet itu terdapat sebuah pembaringan komplit dengan kelambunya.

Pada waktu itu, gadis berbaju putih itu agaknya sedikitpun tidak merasa khawatir terhadap Siang-koan Kie, sambil menunjuk pembaringan ia berkata, “Silahkan saudara Koan mengatur pernapasan di atas pembaringan ini, nanti setelah obat itu bekerja, lukamu segera sembuh.”

Siang-koan Kie mengawasi gadis itu sebentar, benar saja ia menuruti perkataannya, ia duduk bersila di atas pembaringan sambil memejamkan kedua matanya.

Gadis itu menarik napas panjang, ia membuka laci meja, mengeluarkan sebilah belati tajam dan sebotol obat bubuk, di atas paras yang cantik tiba-tiba nampak suatu perobahan yang menakutkan…. Pada saat itu di luar pintu terdengar suara tindakkan kaki, kemudian disusul oleh suara orang yang berkata, “Adik ada urusan penting aku hendak beritahukan kepadamu….”

“Engko silahkan masuk,” berkata gadis itu.

Sebentar kemudian Pan Ceng Liang yang masih memakai pakaian berkabung masuk ke dalam kamar.

Ia mengawasi belati dan botol obat di tangan adiknya, kemudian mengawasi Siang-koan Kie yang duduk bersemadi di atas pembaringan, lalu menarik napas panjang dan berkata, “Celaka! Kau tidak membinasakannya, aku kira tidak keburu….”

“Apakah kau sudah menghitung waktunya?” bertanya gadis itu dengan nada suara dingin.

“Sudah….”

“Batas waktu sepuluh hari, masih tinggal berapa hari lagi?” “Sudah lewat tujuh hari, masih tinggal tiga hari lagi.” “Itulah, waktu tiga hari dengan cepat akan berlalu….”

“Batas waktu meskipun sudah mendesak, tetapi biar bagaimana toh masih ada tiga hari, apabila kau membinasakan saudara ini, barangkali sebentar juga akan terjadi kejadian yang tidak enak.”

“Mengapa?”

“Baru saja kau membawa pergi saudara ini orang2 golongan pengemis sudah datang mencari….”

“Siapa yang datang? Apakah kau kenal?”

“Mereka datang bertiga, di antara mereka hanya satu yang aku kenal.”

Gadis itu berpikir sejenak lalu berkata, “Apakah ia pernah menanyakan tentang orang she Koan ini?” “Meskipun tidak menanya, tetapi sikap mereka sedikit kurang baik, ber-ulang2 menanyakan kuburan ayah, katanya hendak berjiara ke sana.”

“Siapa orangnya yang begitu biadab?”

“Koan Sam Seng, yang dalam golongan pengemis menjabat jabatan kepala bagian ilmu silat.”

“Kabarnya Koan Sam Seng ini adalah orang yang terkuat dalam golongan pengemis, apakah itu betul?”

Dalam golongan pengemis ia menjabat kepala bagian silat, kepandaian ilmu silatnya pasti hebat, bukan hanya kepandaiannya saja, kedudukannya hanya di bawah Pangcu seorang saja….”

“Mereka sekarang berada di mana?”

“Aku sudah mengantar mereka ke ruangan tamu, minta paman Kim supaya melayani mereka, mereka sedang mengobrol dengan dua padri dari Siao-lim-sie itu.”

Gadis berbaju putih itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak, ia menyimpan lagi belati dan botot obat itu, kemudian berkata kepada kakaknya, “Mari, aku ingin melihat Koan Sam Seng itu, sebetulnya orang bagaimana?”

Pan Ceng Liang mengawasi Siang-koan Kie, ternyata masih duduk memejamkan matanya, kulit di badannya masih merah, hanya wajahnya yang masih tetap kuning tidak menunjukkan perobahan apa2, diam2 ia menghela napas dan memanggilnya dengan suara perlahan, “Saudara Koan, saudara Koan.”

Beberapa kali ia memanggil, tetapi Siang-koan Kie se-olah2 tidak mendengarnya, matanya juga tidak terbuka.

“Dia sekarang sedang mengerahkan tenaganya untuk menyembuhkan lukanya, mana mendengar panggilanmu!” berkata gadis berbaju putih sambil bersenyum.

“Adik, kau sebetulnya berikan obat apa kepadanya?” “Susah dikata….”

“Koan Sam Seng dari golongan pengemis itu, adalah seorang terkuat dalam rimba persilatan dewasa ini, apabila ia mengetahui kedua pengawal pangcunya telah kau beri obat melupakan diri bagaimana ia mau mengerti, tentunya akan menimbulkan akibat….”

Bagaimana kau tahu aku berikan kepadanya obat melupakan diri?”

“Apabila tidak menggunakan obat yang melupakan dirinya, bagaimana sampai sekarang masih belum sadar?”

Gadis berbaju putih itu agaknya merasa heran bahwa Pan Ceng Liang berani membantah, setelah sejenak ia tercengang, barulah berkata sambil tertawa, “Bagus sekali, koko, nyalimu semakin lama semakin besar!”

Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Obat yang kuberikan kepadanya, meskipun ada kemungkinan untuk melupakan sifatnya yang sebenarnya, tetapi juga dapat menolong jiwanya, dalam urusan ini kau tidak perlu campur tangan lekas ajak aku menjumpai Koan Sam Seng!”

Pan Ceng Liang setelah mengucapkan perkataannya tadi, baru menyadari kesalahannya, hingga hatinya merasa ketakutan, ketika mendengar teguran adiknya. tetapi tidak mengusut lebih jauh, hatinya baru berada lega, ia berkata, “Adik, bukan aku terlalu banyak mulut, aku sebetulnya berpikir untuk dirimu, jikalau kau tidak dapat kendalikan hatimu dalam urusan kecil, nanti akan menggagalkan rencanamu yang besar, perlu apa kau menuruti hawa napsu sehingga membuat permusuhan dengan golongan pengemis?”

Gadis itu berpikir sejenak, baru berkata, “Biar bagaimana hanya tinggal tiga hari saja, dalam tiga hari itu, apabila masih belum berhasil….” Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tarikan napas Siang- koan Kie yang kemudian melompat turun dari pembaringan.

Gadis itu ketika menyaksikan Siang-koan Kie sadar demikian cepat, hal itu merupakan suatu kejadian di luar dugaannya, hingga untuk sesaat lamanya ia berada dalam keheran-heranan.

Sementara itu Siang-koan Kie sudah berjalan dengan tindakan lebar menghampirinya, kemudian berdiri di sampingnya, ia mengawasi Pan Ceng Liang sejenak, agaknya seperti orang yang tidak kenal.

Pan Ceng Liang berkata, “Saudara ini kini sudah sadar, apakah kita perlu bawa ia menjumpai orang-orang golongan pengemis?”

Gadis itu berkata sambil tertawa, “Jalan! biarlah mereka terkejut, sebab orang yang terdekat Pangcu mereka, ternyata juga bisa meninggalkan mereka.”

“Koan Sam Seng sudah banyak pengalaman dalam dunia Kang-ouw, apabila diketahui olehnya bahwa saudara Koan telah berobah sifatnya karena pengaruh obat, mungkin bisa timbul bentrokan.”

“Betapapun tingginya kepandaian Koan Sam Seng, juga tidak berani melukai orang terdekat Pangcu mereka, koko jangan khawatir! Katahkan koko bawa kita….”

“Benar adik hendak membawa dia pergi menjumpai orang- orang golongan pengemis?”

”Sejak kapan aku pernah bohong?”

Pan Ceng Liang berpikir sejenak, akhirnya berkata, “Baiklah!”

Gadis berbaju putih itu dengan satu gerakan perlahan menepuk pundak Siang-koan Kie seraya berkata sambil tersenyum, “Mari ikut aku!” Siang-koan Kie hanya tersenyum tidak berkata apa2, dengan sikap diam ia berjalan mengikuti gadis itu.

Setelah melalui beberapa ruangan, tibalah di ruangan tetamu, ruangan yang sangat luas itu sudah penuh sesak dengan banyak tamu. Di situ juga terdapat Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu dari Siao-lim-sie, sepasang jago pedang dari Ceng-sia-pay dan beberapa orang lagi yang membawa senjata.

Di samping Tiat Bok Taysu, duduk seorang laki-laki tegap setengah umur yang mukanya tumbuh banyak brewok.

Pakaian baju panjang yang berwarna biru meskipun warnanya sudah luntur, tetapi sangat bersih, keistimewaannya ialah pakaian itu ternyata banyak tambalan di sana sini.

Di belakang laki2 tegap brewokan itu berdiri dua laki2 yang rambutnya tak teratur.

Orang2 ini masing2 duduk di tempat sendiri2 dan dilayani dengan sikap ramah tamah oleh Kim Siaoho.

Semua orang itu agaknya sedang menunggu tuan rumah, tiada satu yang membuka mulut maka walaupun dalam ruangan luas itu terdapat banyak orang, tetapi suasana sangat sunyi.

Di salah satu sudut ruangan itu, seorang laki2 bermuka merah, saban2 mengawasi Siang-koan Kie, agaknya ingin minta perhatian pemuda itu, tetapi Siang-koan Kie se-olah,2 tidak mengerti sehingga menengok sayapun tidak.

Pan Ceng Liang setelah memasuki ruangan itu, lalu memberi hormat kepada para tetamu seraya berkata, “Atas kematian ayah telah membuat repot bapak2 dan paman2 yang datang kemari untuk turut berduka cita, boanpwee sangat berterima kasih, sekarang jenazah ayah sudah dikubur, sehingga tidak berani mengganggu bapak2 dan paman2 membuang banyak waktu lagi….” Laki-laki brewokan itu berkata sambil tertawa, “Maafkan aku si orang tua berlaku lancang, bagaimana kalau aku panggil kau hian-tit?”

Pan Ceng Liang tahu bahwa orang yang berbicara itu tadi adalah Koan Sam Seng dari golongan pengemis, ia buru2 beri hormat dan berkata, “Koan locianpwee, ada urusan apa?”

“Aku datang kemari atas perintah Pangcu, pertama hendak mengembalikan sedikit barang untuk ayahmu dan kedua aku ingin memberi hormat penghabisan kepada jenazah ayahmu….”

“Janazah ayah sudah dikubur, budi kebaikan locianpwee ini, boanpwee mengucapkan banyak-banyak terima kasih.”

Sehabis berkata demikian, ia menunduk dalam2, tetapi diam2 memperhatikan sikap dan gerak gerik beberapa orang itu untuk melihat reaksi apa dari mereka setelah melihat Siang-koan Kie.

Apa yang dikhawatirkan anehnya ialah dalam soal ini, siapa menduga bahwa kenyataannya tidak apa2.

Siang-koan Kie se-olah2 tidak kenal dengan beberapa orang itu, mengawasi saja pun tidak.

Pan Ceng Liang merasa sangat heran, pikirnya, “Dengan kedudukan seperti Koan Sam Seng tidak mungkin tidak kenal dua orang terdekat Pangcunya, apakah orang ini sengaja menyaru?”

Gadis itu berkata sambil mengawasi Pan Ceng Liang, “Koko jenazah ayah sudah dikubur, tidak usah membuat repot lagi, harap koko mengantar bapak bapak dan paman paman ini….”

Kata-kata gadis itu, tidak ubahnya bagaikan suatu tanda pengusiran kepada tetamunya sehingga mengherankan semua tetamu yang ada di situ. Koan Sam Seng perdengarkan suara batuk-batuk memotong perkataan gadis itu yang belum habis, “Sudah lama aku mendengar bahwa saudara Pan mempunyai seorang puteri yang sangat pandai, apakah itu adalah nona sendiri?”

“Itu benar, apakah locianpwee adalah Koan Sam Seng dari golongan pengemis?”

Sebutan nama itu mengejutkan semua tamu yang ada di situ.

Koan Sam Seng bukan saja sangat kesohor namanya, adatnya juga terkenal sangat berangasan, dengan kedudukannya di rimba persilatan, disebut begitu saja namanya oleh seorang gadis yang usianya baru belasan tahun, dianggapnya pasti akan marah besar.

Ternyata sikap orang she Koan itu di luar dugaan semua orang. Koan Sam Seng sedikitpun tidak marah bahkan masih bisa berkata sambil tertawa.

“Selama beberapa puluh tahun tidak pernah dengar orang menyebut namaku sekalipun Pangcu sendiri sudah menyebut aku saudara Koan.”

Setelah itu, ia tertawa terbahak-bahak.

“Kau ketawa apa, apakah oleh karena kau kenal dengan ayah, lalu menganggap dirimu sebagai locianpwee? Hem! aku juga belum pernah bertemu muka denganmu, dengan alasan apa menyebut kau Koan locianpwee?” Berkata gadis berbaju putih itu.

Koan Sam Seng tercengang, katanya, “Tidak perduli, bagaimana kau memanggil aku juga tidak akan kuhiraukan.”

“Andai kau tidak senang, lalu mau apa?”

Dibantah demikian rupa, kembali Koan Sam Seng terperanjat, katanya, “Budak perempuan yang sangat lihai sekali….” “Adikku masih terlalu muda, sehingga tidak tahu aturan, harap locianpwee jangan berpikiran seperti dia.” berkata Pan Ceng Liang.

“Kalau aku berpikir seperti dia, sejak tadi aku sudah menghajarnya.” berkata Koan Sam Seng. “Di mana dikuburnya jenazah ayahmu? Aku hendak bersembahyang di hadapan kuburannya, supaya kalau aku pulang dapat melaporkan kepada Pangcu.”

“Kuburan ayah ada banyak emas dan mutiara serta lukisan2 kuno, apa maksudnya kau bertanya demikian melit? Apakah kau hendak membongkarnya?” berkata gadis berbaju putih itu sambil tertawa dingin.

Koan Sam Seng yang ber-kali2 ditegur dengan perkataan pedas, sudah tidak sanggup mengendalikan hawa amarahnya, tangannya menggeprak meja, hingga cawan2 beterbangan.

Dalam ruangan itu ada banyak tamu, cawan dan poci yang beterbangan berikut isinya, membuat gaduh suasana.

Gadis berbaju putih itu tetap berdiam, dengan sikapnya yang tenang mengawasi kegaduhan itu, setelah semua tamu duduk di tempat masing2 lagi, ia baru berkata sambil tertawa dingin, “Jika tidak memandang persahabatan Pangcumu dengan ayah almarhum, dengan perbuatanmu yang tidak sopan ini, sudah seharusnya aku usir kau keluar dari sini.”

Koan Sam Seng setelah menimbulkan kegaduhan itu, juga merasa tidak enak hati, hawa amarahnya per-lahan2 mulai padam, mendengar ucapan gadis itu, meski hatinya panas, tetapi ia tidak mau mengumbar hawa napsunya lagi, dengan perasaan mendongkol ia berkata, “Kau sesungguhnya seorang anak yang tidak tahu adat, demikian kau berlaku terhadap orang tingkatan tua, biarlah aku ditegur oleh Pangcu, terpaksa aku akan beri sedikit ajaran kepadamu.” Dual laki2 berambut gondrong dan berewokan yang berdiri di belakang Koan Sam Seng, segera melompat keluar menyerang gadis berbaju putih itu.”

Dua orang itu bergerak cepat sekali, dari gerak serangannya itu dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka itu berkepandaian sangat tinggi.

“Koan locianpwee….” berseru Pan Ceng Liang, tetapi sebelum melanjutkan kata2nya, gadis berbaju putih sudah berkata, “Koko jangan campur tangan.”

Dengan sangat lincah ia lompat mundur tiga langkah, untuk mengelakkan seangan dua laki2 berambut gondrong itu, kemudian berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara lemah lembut, “Hajar dua orang itu.”

Kata2nya itu se-olah2 terhadap orang yang telah yakin benar dapat mengalahkan dua lawannya itu, sehingga menggelikan para tetamu, tetapi dua laki2 dari golongan pengemis itu, sebaliknya sangat terkejut ketika mendengar ucapan itu, mat mereka ditujukan kepada Siang-koan Kie. Mereka melihat pakaian Siang-koan Kie yang banyak berlobang seperti orang2 golongan pengemis namun mereka belum pernah kenal.

Dengan sikap seperti orang linglung Siang-koan Kie menghampiri dua laki laki itu.

Dua laki2 dari golongan pengemis itu saling berpandangan sejenak, alis mereka dikerutkan, agaknya merasa kehilangan derajat untuk menghadapi orang semacam itu.

Laki2 yang berada di sebelah kiri segera maju setindak dan menegurnya, “Kau siapa? Dengan wajahmu yang berpenyakitan ini, mungkin tidak sanggup menerima kepalan kita….”

Sementara itu, Siang-koan Kie sudah dekat di hadapannya, dengan tinjunya ia menyerang dada orang itu. Serangannya itu bukan saja sangat keras, gerak tipu yang digunakan juga luar biasa anehnya, orang kuat dari golongan pengemis itu semula tidak memandang mata kepada Siang- koan Kie, tetapi setelah menangkis serangan tersebut, ia baru merasa hebatnya serangan itu, sehingga buru2 mundur tiga langkah.

Kepindaian Siang-koan Kie sudah termasuk orang kuat kelas satu dalam rimba persilatan, orang kuat dari golongan pengemis tadi karena memandang rendah kepandaian Siang- koan Kie, sehingga hampir mendapat malu, meskipun ia lalu sadar, tetapi sudah terlambat.

Siang-koan Kie menyerbu terus sambil menendang dengan kakinya, sedangkan tangan kanannya menekan dada orang itu.

Serangannya itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa dan mengandung perobahan2 gerak tipu yang susah diduga, sehingga kawannya orang itu yang berada sangat dekat, juga tidak keburu memberikan pertolongan, serangan itu mengenakan dengan tepat, dan orang lalu jatuh di tanah, mulutnya mengeluarkan darah.

Tindakan Siang-koan Kie itu telah menimbulkan perhatian orang banyak, sekalipun paderi dari Siao-lim-sie Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu serta dua jago pedang dari partai Ceng Sia Pay yang menyaksikan juga kesima.

Kawan orang yang terluka itu, ketika melihat kawannya jatuh dalam keadaan terluka, segera melancarkan serangan dari samping, kemudian menyerbunya.

Siang-koan Kie dengan tanpa menoleh menggeser badannya, tangan kanannya secepat kilat menyambar tangan orang itu, lalu disendalnya dan diserang dengan tangan kirinya. Serangan itu sangat berat, orang itu memperdengarkan seruan tertahan, badannya yang menyerbu telah terpental balik dan jatuh di tanah.

Kejadian itu bukan saja mengejutkan Koan Sam Sang, yang merupakan ahli silat kenamaan dalam golongan pengemis, tetapi juga mengherankan gadis baju putih itu, mereka sungguh tidak menduga kepandaian Siang-koan Kie ternyata sedemikian tinggi.

Siang-koan Kie yang sifatnya baik jujur dan berhati-hati, sebelum makan obat dari gadis baju putih, ia tidak suka sembarangan melukai orang, sifat2 itu kadang2 mengelaikan dirinya, sehingga kalau berhadapan dengan lawan tidak mengforsir kepandaiannya, tetapi kini karena ia dalam keadaan lupa dirinya sendiri, ia turun tangan tanpa dipikir, sehingga seluruh kepandaiannya dikeluarkan semuanya, maka itu, dilihatnya kepandaian Siang-koan Kie seperti mendapat kemajuan dengan mendadak.

Koan Sam Seng memperdengarkan suara batuk2, ia berbangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dengan lambat2, lebih dulu dua orang yang terluka itu masing2 ditepuk badannya, kemudian mengangkat muka mengawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu berkata dengan nada suara dingin, “Tuan pernah apa dengan nona Pan?”

Siang-koan Kie tercengang, ia mengawasi Koan Sam Seng dengan mata sayup, tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Gadis berbaju putih itu buru2 menjawabnya, “Ia adalah guru silat yang melindungi rumah keluarga Pan, apabila kau masih kurang puas, boleh menguji sendiri kepandaiannya.”

Gadis itu sudah menyaksikan sendiri betapa tinggi kepandaian Siang-koan Kie, sehingga ia merasa akan merupakan suatu bahaya besar apabila berada di sampingnya, maka sebaiknya meminjam tangan Koan Sam Seng, untuk menyingkirkan Siang-koan Kie lebih dulu, itulah sebabnya maka ia mengeluarkan perkataan yang membuat panas hati Koan Sam Seng.

Koan Sam Seng tertawa ter-bahak2, baru berkata, “Kalau memang benar ada seorang yang tidak berarti, aku akan turun tangan tanpa ragu-ragu lagi.”

Diam2 la mengerahkan kekuatan tenaganya, tangan kanannya diangkat per-lahan2.

Tiba2 terdengar suara orang memuji nama budha, Tiat Bok Taysu sudah berdiri dan berkata, “Koan Sicu sudilah kiranya memandang muka Pin Ceng, untuk sementara Pin Ceng minta supaya Sicu berlaku sabar sedikit.”

“Taysu ada maksud apa?” demikian Koan Sam Seng balas bertanya.

“Dahulu Pan Lo Enghiong tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri, telah menolong jago2 dari golongan orang baik, orang2 rimba persilatan banyak yang menerima budinya, kejadian itu menjadi buah bibir orang2 rimba persilatan selama beberapa puluh tahun, kiranya Koan Sicu juga sudah mengetahuinya.”

“Jikalau bukan karena Pangcu kita dahulu pernah ditolong oleh Pan Lo Enghiong, niscaya sejak tadi aku tidak dapat mengendalikan hawa amarahku.”

Tiat Bok Taysu setelah menyapu ke arah para tetamu yang berada di dalam ruangan itu, lalu berkata dengan suara nyaring, “Tuan-tuan yang ada di sini apakah semuanya datang untuk turut menyatakan duka cita kepada Pan Lo Enghiong….”

Sebagian besar dari pada tamu itu bangkit dan menjawab, “Benar, entah ada maksud apa Taysu bertanya demikian?”

Mata Tiat Bok Taysu perlahan-lahan beralih ke arah gadis berbaju putih, kemudian berkata dengan nada suara dingin, “Nona Pan, lolap adalah orang dari golongan buddha, terhadap segala permusuhan dalam dunia sejak lama sudah merasa tawar, tentang peristiwa yang terjadi dalam rumah tangga kamu, sebagai orang luar lolap tidak seharusnya turut campur tangan, tetapi oleh karena Pan Lo Enghiong dahulu pernah menolong sahabat-sahabat kita dalam rimba persilatan dari bahaya tanpa menghiraukan jiwanya sendiri, hal itu bukan saja sudah lama menjadi buah tutur orang2 Kang-ouw, tetapi budinya yang besar itu juga terasa sangat oleh orang-orang dari golongan kebenaran….”

“Dalam golongan buddha orang mengutamakan cinta kasih dan tidak boleh membenci orang, kau sudah tahu bahwa urusan itu adalah urusan yang menyangkut rumah tangga Pan, sebaiknya jangan turut campur tangan….” berkata gadis berbaju putih itu dengan nada suara dingin.

“Apabila kedatangan lolap ini adalah atas permintaan ayahmu, apakah lolap harus berpeluk tangan tidak boleh turut tanya?” berkata Tiat Bok Taysu sambil tersenyum.

Pertanyaan itu sesungguhnya di luar dugaan gadis itu, sejenak nampak tercengang kemudian berkata, “Dengan hanya mulut kosong tanpa bukti, bagaimana aku bisa percaya?”

“Apabila lolap mengeluarkan surat yang ditulis oleh ayahmu sendiri, apakah nona hendak memberikan kelonggaran kepada lolap?”

Gadis itu berpikir sejenak lalu berkata, “Kau keluarkan dulu surat itu nanti bicara lagi.”

Tiat Bok Taysu dengan tenang mengeluarkan sebuah sampul berwarna putih, lalu dibuka di hadapan orang banyak.

Gadis itu mendadak maju dua langkah sambil mengulur tangannya dan berkata, “Berikan kepadaku agar aku yang membaca.”

Tiat Bok Taysu berkelit ke samping dan berkata dengan sikap keren, “Nona Pan jangan ter-gesa2, lolap sudah mengeluarkan surat ini, sudah tentu hendak lolap berikan kepada nona untuk membaca, tetapi lolap hendak perlihatkan dahulu kepada beberapa sahabat rimba persilatan, supaya menjadi saksi setelah itu nanti lolap berikan kepada nona.”

Gadis itu menunjukkan sikap tidak senang, ia berkata dengan nada suara dingin, “Sebelum aku membaca surat itu, bagaimana aku dapat mengetahui bahwa itu adalah surat yang ditulis ayahku sendiri, apakah kalian tidak bisa memalsunya….?”

“Nanti setelah lolap perlihatkan kepada sahabat yang ada di sini, nona boleh kenali sendiri.”

“Apabila tulisan itu ditulis oleh ayah sendiri dengan caramu memperlihatkan kepada orang lain itu bukankah berarti sudah melanggar maksud ayah?”

“Dalam surat ini, tidak tertulis hal2 yang perlu dirahasiakan, nona tidak usah khawatir.”

Tiat Bok Taysu lalu memberikan surat itu kepada dua jago pedang dari partai Ceng Sia Pay seraya berkata, “Silahkan jiwie haca lebih dulu.”

Dua jago dari Ceng Sia Pay menyambut surat tersebut dan dibacanya, surat itu tertulis dengan huruf yang agaknya ditulis secara ter-gesa2, bunyinya sebagai berikut, “Kepada yang terhormat Sin Bok losin, dahulu karena kesalahan bertindak oleh perbuatanku, penyesalan selama tigapuluh tahun masih belum cukup untuk menebus kesalahan itu, waktu aku menulis surat ini, sudah dekat pada ajalku, apabila lociansu masih mengingat persahabatan kita yang lama….”

Entah apa sebabnya, kata2 itu tidak diteruskan, tetapi dari tulisannya yang ter-buru2 itu dapat diduga bahwa pada saat sedang menulis itu pasti berada dalam ketakutan, sehingga tidak keburu menulis lagi, tetapi dari suratnya yang baru ditulis setengah itu, samar2 dapat diduganya bahwa saat ia menulis itu dirinya berada dalam ancaman bahaya kematian. Ber-ulang2 dua jago dari Ceng Sia Pay itu membaca surat tersebut, lalu dikembalikan kepada Tiat Bok Taysu.

Tiat Bok Taysu menyambut surat tersebut, kemudian berpaling dan berkata kepada Koan Sam Seng, “Koan sicu, harap juga membaca surat ini.”

Koan Sam Seng menyambut surat tersebut, setelah dibaca, ia mengerutkan alisnya, lalu mengembalikan surat itu kepada Tiat Bok Taysu.

-odwo-

Bab 26

GADIS BERBAJU PUTIH itu dengan sinar mata dingin mengawasi gerakan beberapa orang itu, beberapa kali parasnya menunjukkan sifat gusar, tetapi ternyata masih dikendalikannya, berhadapan dengan tokoh terkemuka itu, ia masih, mencoba mengendalikan hatinya, maka selama itu ia diam saja, setelah Koan Sam Seng habis membaca dan dikembalikan kepada Tiat Bok Taysu, ia baru berkata dengan nada suara dingin, Sekarang surat ayah itu sudah seharusnya kau berikan kepadaku.”

Tiat Bok Taysu memberikan surat itu kepadanya seraya berkata, “Teka teki kematian ayahmu menarik perhatian semua sahabat dunia rimba persilatan, nona Pan jangan terlalu mengumbar adat….”

Gadis itu se-olah2 tidak menghiraukan perkataan Tiat Bok Taysu, ia mengulur tangannya menyambut surat itu, matanya mengawasi semua orang sejenak, kemudian surat itu dilipat dan dimasukkan ke dalam sakunya tanpa dibacanya, lalu berkata kepada Tiat Bok Taysu, “Terima kasih atas kebaikan lociansu yang sudah mengembalikan surat ayah.”

Tiat Bok Taysu setelah memuji nama Budha, lalu berkata, “Lolap sudah menduga nona akan bertindak demikaan, maka lolap memperlihatkan dulu surat ayahmu kepada beberapa sahabat yang ada di sini, kini sudah ada dua kawan dari Ceng Sia Pay dan seorang dari golongan pengemis yang membaca surat itu, dengan adanya tiga tokoh kuat rimba persilatan sebagai saksi, sekalipun nona menerima kembali surat itu, juga sudah tidak ada gunanya.”

Gads berbaju putih itu tiba2 bersenyum dan berkata, “Apabila locianpwee ingin mengetahui apa yang telah terjadi, tiga hari kemudian harap datang lagi kemari, saat itu boanpwee akan terus terang membuka suatu rahasia dalam rimba persilatan.”

“Dalam waktu tiga hari, apabila melepaskan kapal dalam air mengalir keras, nanti kalau lolap datang kemari lagi nona barangkali sudah berada ribuan pal jauhnya.”

“Kalau begitu bagaimana menurut pendapatmu?” “Sebaiknya sekarang nona menceritakan apa yang telah

terjadi di hadapan sahabat-sahabat rimba persilatan, apabila nona mempunyai kesulitan juga mudah dibereskan!”

“Apakah kau takut aku lari?”

“Nona adalah sebagai tuan rumah gedung ini, kalau hendak berpindah ke lain tempat, itu terserah kepadamu sendiri, lolap hanya ingin menyelidiki rahasia urusan yang ditulis dalam surat ayahmu itu dan teka teki mengenai kematiannya, supaya lolap dapat melaporkan kepada ketua kuil, itu saja sudah cukup!”

“Taysu perlu apa berlaku demikian ceremis, tiga hari kemudian kita nanti bicarakan lagi”

Dengan matanya gadis itu memberi isyarat kepada Pan Ceng Liang, disuruh mengundurkan diri.

Pan Ceng Liang segera memberi hormat kepada para tamunya untuk minta diri, lalu berlalu bersama gadis itu. Tiat Bok dan Kie Bok Taysu serta dua jago pedang dari Ceng Sia Pay dan Koan Sam Seng semua pada melengos.

Para tamu lainnya yang ada dalam ruangan itu setelah duduk lagi sebentar, masing-masing juga pada berlalu dengan perasaan terheran-heran.

Waktu itu Touw Thian Gouw meskipun sudah memakai obat di mukanya dan masuk lagi ke gedung keluarga Pan, tetapi masih belum berhasil mendapat keterangan rahasia apa2, sebaliknya, Siang Koan Kie mendadak berubah sifatnya, hal itu mau tidak mau membuat jago Kang-ouw kawakan yang sudah banyak berpengalaman itu berada dalam kebingungan, tiba-tiba ia ingat bahwa batas janji untuk bertemu lagi dengan Siang-koan Kie dan Wan Hauw sudah sampai, terpaksa ia meninggalkan gedung keluarga Pan dan kembali lagi ke tempat di mana hendak mengadakan pertemuan dengan kedua kawannya itu.

Touw Thian Gouw sebetulnya masih mengandung sedikit pengharapan bahwa Siang-koan Kie sudah tiba ke tempat itu lebih dahulu, tetapi ternyata ketika ia tiba di tempat tersebut, hanya menampak Wan Hauw berdiri bingung seorang diri.

Sementara itu Wan Hauw yang sudah menunggu lama kedatangan dua kawannya, tatkala melihat Touw Thian Gouw datang seorang diri, buru-buru menghampiri dan bertanya, “Di mana toako? Mengapa ia belum datang?”

Pertanyaan Wan Hauw itu membuat Toow Thian Gouw seperti diguyur dengan air dingin, sejenak ia merasa bingung, kemudian baru berkata, “Apa? Apakah ia belum datang?”

“Apa yang dikatakan oleh toako, selamanya belum pernah meleset, kau bawa toako ke mana….? sekarang kembalikan kepadaku….”

Dalam cemasnya ucapara Wan Hauw semakin tidak dapat mengutarakan maksudnya dengan jelas sehingga pada akhirnya, apa yang dikatakan olehnya selanjutnya, tidak dimengerti oleh Touw Thian Gouw.

Wan Hauw semakin gelisah, suaranya semakin keras, matanya terbuka lebar, tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti orang kalap.

Touw Thian Gouw tahu bahwa pemuda itu masih berhati putih bersih dan jujur, apabila tidak segera mendapat pemecahan se-baik2nya, mungkin bisa bertindak menyerang dirinya, ia terpaksa diam saja tidak menyahut, setelah hawa amarah Wan Hauw mulai reda baru berkata dengan sikap ramah tamah, “Saudara Wan, kau jangan marah dulu….”

Tetapi Wan Hauw menggeram dan berkata dengan suara keras, “Siapa saudaramu? Apabila kau tidak carikan kembali toakoku, kita adu jiwa dulu.”

Touvv Thian Gouw tercengang, ia berkata dengan sikap sungguh-sungguh, “Saudara Wan, harap kau tenang dulu, biarlah aku menjelaskan dahulu, kalau kau ingin berkelahi atau bagaimana, semua boleh dibicarakan dulu…..”

“Beritahukan lebih dulu kepadaku, toakoku sebetulnya masih hidup atu tidak? Kita nanti bicara lagi.”

“Dia bukan saja masih hidup, bahkan masih berada dalam gedung keluarga Pan dengan keadaan baik-baik.”

“Apakah ucapanmu ini benar?”

Aku selamanya belum pernah membohong.”

“Toakoku selamanya belum pernah mengingkari janji, ia berkata kepadaku hendak bertemu di tempat ini, mengapa hingga sekarang masih belum datang?”

“Di telah makan obat yang membikin lupa kepada dirinya sendiri….”

“Apa? Mari kita lekas pergi menolong!” Touw Thian Gouw menghela napas perlahan dan berkata, “Urusan tidak sedemikian mudah seperti apa yang saudara bayangkan, di sini bukan tempatnya untuk bicara, mari kita pergi dulu ke tempat yang sepi, setelah aku nanti menjelaskan duduk perkaranya, barulah memikirkan rencananya untuk pergi menolong.”

Wn Hauw berpikir sejenak, lalu berkata, “Mari kita naik ke atas pohon besar ini untuk berunding.”

Touw Thian Gouw mendongakkan kepala, ia melihat pohon besar itu setinggi kira2 tiga tombak, daunya lebat, apabila orang duduk di atasnya, bukan saja dapat melihat keadaan di sekitarnya, juga tidak usah takut ada orang lain yang mendengar, maka ia lalu melompat ke atas pohon.

Wan Hauw buru2 mengejar, ia dapat memanjat pohon itu demikian cepat, hingga dalam waktu sekejap sudah berada di atas Touw Thian Gouw.

Setelah berada di atas pohon, lalu mencari tempat yang agak lebat daun pohonnya untuk duduk berbicara, Touw Thian Gouw lebih dulu menarik napas perlahan, kemudian berkata, “Saudara Wan, kau dengar dulu keteranganku baru boleh bertanya, jangan baru dengar setengahnya lalu marah- marah.”

Wan Hauw menarik napas panjang lalu berkata, “Baiklah, tetapi kau juga harus menerima baik permintaanku.”

“Permintaan apa?”

“Sebelum dapat menemukan toakoku kau harus berjalan bersama-sama denganku.”

Touw Thian Gouw tahu bahwa pemuda itu takut akan ditinggal lari, apabila tidak menerima baik permintaannya, pasti akan menimbulkan pertengkaran, maka ia terpaksa menganggukkan kepala dan menjawab, “Baiklah, masih ada apalagi?” “Apabila toakoku binasa, kita berdua juga tidak perlu hidup lagi.”

Touw Thian Gouw diam2 berpikir, “Orang ini meskipun bodoh, tetapi sangat jujur dan setia kepada kawan.”

Ia lalu bersenyum dan berkata, “Baiklah! Satu hari aku tidak bisa menemukan toakomu, aku tidak akan meninggalkan kau, apabila ada kejadian apa2 yang tidak beruntung, aku akan mengganti jiwanya, tetapi aku juga ada satu permintaan.”

“Asal kau dapat menolong kembali toakoku, tidak perduli permintaan apa saja, aku akan terima baik.”

“Peristiwa yang menimpa keluarga Pan itu, dewasa ini sudah menimbulkan geger dunia rimba persilatan daerah Tiong Goan, banyak orang kuat dalam rimba persilatan daerah Tiong Goan yang tersangkut dalam peristiwa ini, maka kita juga tidak boleh berkata tergesa-gesa atau bertindak sendiri.”

Wan Hauw berpikir sejenak lalu berkata, “Entah berapa lama kita harus menunggu?”

“Barang kali tiga hari.”

Sebagai orang yang sudah berpengalaman, ia dapat menduga bahwa tiga hari kemudian gadis berbaju putih itu justru memerlukan bantuan tenaga, maka selama tiga hari itu pasti tidak akan membinasakan pembantu seorang kuat seperti Siang-koan Kie.

“Mari kita pergi melihat dulu ke gedung keluarga Pan!” berkata Wan Hauw.

“Untuk pergi melihat dulu boleh, tetapi harus bertindak menurut perintahku.”

“Baiklah! Tetapi aku cuma akan dengar perintahmu dalam tiga hari itu saja, apabila tiga hari kemudian aku tidak melihat toako, kau tidak boleh mengendalikan aku lagi.” “Baiklah!”  

Mereka lalu melompat turun dan lasi menuju ke gedung keluarga Pan.

Di sekitar gedung keluarga Pan itu meski terjaga oleh banyak tokoh kuat rimba persilatan, tetapi karena Tiat Bok Taysu sudah berjanji dengan gadis berbaju putih itu, maka selama tiga hari itu gadis berbaju putih itu hanya mengijinkan orang masuk, tetapi tidak boleh ada yang keluar, maka kedatangan kedua orang itu tidak ada yang merintangi.

Kalau menurut pikiran Wan Hauw, ia segera akan menerjang masuk untuk mencari Siang-koan Kie, tetapi keinginan itu dicegah oleh Touw Thian Gouw.

Wan Hauw meskipun sifatnya seperti seorang tolol, tetapi hatinya jujur meskipun keinginannya sendiri berlawanan dengan Touw Thian Gouw, tetapi karena sudah berjanji, ia harus tepati.

Touw Thian Gouw mengajak Wan Hauw ke suatu tempat yang sunyi, keduanya duduk berhadap-hadapan sambil mengatur pernapasan, setelah hari terang, baru mengajaknya ke suatu rumah makan, setelah makan kenyang, baru beristirahat dua hari.

Selama dua hari itu, Wan Hauw merasa cemas sekali, berulang-ulang mendesak Touw Thian Gouw untuk segera mencari Siang-koan Kie, tetapi ditolak oleh Touw Thian Gouw, yang katanya pada malam hari ketiga baru boleh pergi.

Hari yang di-tunggu2 itu akhirnya telah tiba, jam dua malam, Touw Thian Gouw karena mengingat bahwa dalam kunjungannya itu, mungkin terjadi pertempuran besar maka ia memakai pakatan ringkas dan tidak lupa membawa senjatanya, mukanya memakai kerudung kain hitam dengan mengajak Wan Hauw lari menuju ke gedung keluarga Pan. Malam itu rumah keluarga Pan itu tidak ada penjagaan, barak2 yang dibangun itu masih tetap ada, tetapi sudah tidak ada orang yang menjaga, kedua pintu besar gedung itu terbuka lebar tetapi keadaamnya sunyi senyap.

Touw Thian Gouw berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan, “Malam ini kita hanya boleh melihat toakomu, mungkin masih belum berhasil menolong padanya, kau harus mendengar perkataanku tidak boleh sembarangan turun tangan atau ribut2.”

“Apabila tidak berhasil melihat toakoku, malam ini kau tidak boleh mengendalikan aku lagi.”

Touw Thian Gouw berpikir sejenak, lalu berkata, “Sudah tentu.”

Dengan tindakan lebar ia berjalan masuk.

Wan Hauw mengikuti di belakangnya, setelah melalui pekarangan dalam gedung yang luas itu, terus menuju ke ruangan belakang.

Semua pintu dalam gedung itu terbuka lebar tetapi tidak kelihatan lampu menyala, juga tidak kelihatan ada orang yang merintangi, keadaan itu jauh berbeda dengan keadaan tiga hari berselang.

Touw Thian Gouw yang sudah kenal baik dalam keadaan gedung itu, terus menuju ke ruangan itu, Touw Thian Gouw mendadak berhenti sebab ruangan besar yang dijadikan oleh gadis baju putih untuk mengadakan pertemuan Tiat Bok Taysu dan lainnya, ternyata keadaan gelap gulita.

Ia memasang telinga, samar2 menangkap suara orang bernapas, jelas bahwa dalam ruangan itu sudah penuh orang, tidak tahu apa sebabnya, dalam ruangan itu tidak ada lampu terang.

Touw Thian Gouw lalu berpaling dan berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan, “Saudara Wan, hati-hati.” Dengan tindakan perlahan ia berjalan masuk ke dalam ruangan.

Wan Hauw yang mempunyai daya pandangan mata luar biasa, meskipun berada di luar ruangan, ia masih dapat melihat keadaan dalam ruangan.

Dalam ruangan besar itu sudah terdapat banyak kursi, di atas kursi itu terdapat banyak orang yang duduk di tempat masing-masing, tetapi tidak terdengar suara orang berbicara.

Meskipun dalam hati merasa heran, tetapi ia tidak mau bertanya, ia ikut masuk di belakang Touw Thian Gouw, kemudian duduk diam-diam di samping Touw Thian Gouw, sementara itu matanya terus berputaran mengawasi orang- orang yang berada di situ.

Ia dapat lihat bahwa dua paderi dari Siao-lim-sie dan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay yang hari itu sudah pernah dijumpainya, semua sudah ada di situ, di samping mereka masih terdapat banyak orang yang jumlahnya kira-kira enam puluh orang. Sikap orang-orang itu sangat berlainan, banyak yang beristirahat sambil pejamkan mata, tetapi banyak juga yang melongo-longo dengan sikap tegang.

Hampir satu persatu orang orang yang berada dalam ruangan itu diamat-amati oleh Wan Hauw, terapi ia tidak melihat Siang-koan Kie, hingga hatinya semakin gelisah.

Tiba-tiba terdengar suara bunyi kentungan tiga kali, suatu tanda sudah tiba jam tiga malam.

Dalam suasana sunyi itu, terdengar suara beberapa orang yang bergerak, di salah satu sudut dalam ruangan itu terdengar suara orang berkata, “Tiat Bok toheng, aku melihat budak perempuan itu tidak akan balik.”

Tiba-tiba terdengar suara jawaban halus tetapi dingin, “Aku tidak mati, mengapa tidak kembali?” Diambang pintu ruangan besar itu nampak sinar api, baju putih gadis itu nampak penuh darah merah, rambutnya yang panjang terurai di kedua pundaknya, dengan wajah pucat pasi dan tangan membawa api perlahan-lahan berjalan ke dalam ruangan.

Semua tamu yang berada dalam ruangan itu telah dikejutkan oleh perobahan yang tidak terduga-duga itu.

Dengan tindakan perlahan gadis itu menuju ke tempat duduknya, kemudian memasang dua buah lilin merah yang ada di hadapannya, sehingga keadaan dalam ruangan itu menjadi terang benderang.

Paras gadis baju putih yang semula sangat cantik, saat itu berubah sangat menakutkan darah yang mengucur di pipinya, telah menutup kecantikannya, sekujur pakaiannya yang putih bersih juga sudah penuh darah.

Meskipun semua orang yang ada di situ merupakan orang2 yang berkepandaian tinggi, tetapi ketika menyaksikan keadaan demikian juga merasa jeri.

Tiat Bok Taysu setelah menyebut nama Budha lalu berkata, “Nona Pan benar2 seorang yang boleh dipercaya, entah saudaramu turut datang atau tidak?”

Gadis itu menarik napas panjang, kemudian berkata, “Saudaraku juga belum mati, mengapa tidak datang?”

Ia lalu menggapaikan tangannya, sebentar kemudian Pan Ceng Liang bersama Siang-koan Kie dan Kim Siao-ho berjalan masuk ke dalam ruangan.

Sekujur badan Pan Ceng Liang juga penuh darah, lengan tangan kiri dan pundak tangan kanan ddikatnya dengan kain putih, tetapi masih ditembusi oleh darah merah.

Siang-koan Kie dan Kim Siao-ho tetap dalam keadaan biasa, dua orang itu tidak terdapat tanda luka. Tiat Bok Taysu mengerutkan alisnya dan bertanya, “Nona Pan, apakah artinya ini?”

Gadis itu tertawa hambar, kemudian berkata, “Kuberitahukan kepadamu juga tidak ada gunanya.”

Sejenak Tiat Bok Taysu nampak tercengang, kemudian berkata sambil tertawa, “Harap nona beristirahat dulu sebentar, lolap bersedia mendengar keteranganmu.”

Gadis itu tidak perdulikan Tiat Bok Taysu, ia memejamkan kedua matanya, lalu mengatur pernapasannya.

Sementara itu Wan Hauw telah memasang matanya, untuk memperhatikan wajah Siang-koan Kie.

Sudah beberapa tahun lamanya ia berada ber-sama2 dengan Siang-koan Kie, meskipun saat itu Siang-koan Kie sudah berubah mukanya, tetapi masih dikenali olehnya.

Beberapa kali ia hendak memanggil, tetapi selalu dicegah oleh Touw Thian Gouw.

Mata Siang-koan Kie yang sayu, sedang ditujukan kepada setiap orang yang berada di situ, juga matanya menatap wajah Wan Hauw se-olah2 tidak pernah mengenal.

Kali ini Wan Hauw tidak dapat dikendalikan lagi, ia lalu bangkit dan berjalan dengan tindakan lebar. Touw Thian Gouw menarik tangannya tetapi Wan Hauw sudah lari menuju ke samping Siang-koan Kie dan memanggilnya, “Toako.”

Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw sejenak, tetapi tidak berkata apa-apa.

Wan Hauw berkata pula dengan suara keras, “Toako, apakah kau sudah tidak mengenal saudaramu?”

Mata Siang-koan Kie berputaran menatap Wan Hauw sejenak, lalu per-lahan2 berpaling mengawasi ke arah lain. Gadis berbaju putih itu juga tidak berkata apa2, hanya dengan sinar mata yang dingin mengawasi reasi Siang-koan Kie.

Touw Thian Gouw takut Wan Hauw dalam cemasnya akan menimbulkan huru hara maka segera menghampiri sambil memegang tangan kiri Wan Hauw, ia berkata dengan suara perlahan, “Saudara Wan, kita duduk dulu, pada saat ini pikirannya masih belum jernih, sebentar kita panggil dia lagi.”

Wan Hauw berpaling mengawasi Touw Thian Gouw lalu berkata, “Apa? Kita tunggu sebentar apakah ia bisa sadar?”

“Pada waktu itu apabila, ia masih belum sadar, kita mencari akal lagi.”

“Baiklah!”

Sinar lilin merah itu menerangi seluruh kamar yang luas, semua mata orang banyak ditujukan kepada gadis berbaju putih, saat itu darah masih nampak mengucur, sehingga dapat diduga bahwa lukanya masih belum sembuh.

Yang mengherankan ialah, bagian yang terluka itu semua merupakan bagian yang tidak mudah terluka dalam pertempuran, dan apabila bagian itu sampai terluka, luka itu seharusnya parah, tetapi gadis itu ternyata masih sanggup bertahan.

Oleh karena tertutup oleh pakaian dan darah merah, siapapun tidak tahu bagaimana keadaan lukanya, tetapi menurut dugaan, gadis itu agaknya berdiri tanpa bergerak, membiarkan dirinya dilukai.

Keadaan menjadi sunyi lagi, akhirnya perkataan Tiat Bok Taysu memecahkan kesunyiaan itu.

“Bagaimana keadaan luka nona?”

“Tidak sampai mati.” menjawab gadis itu dingin. “Pinceng membawa obat luka dari gereja kita, bagaimana kalau nona gunakan menyembuhkan luka nona?”

“Tidak perlu! Aku masih ingin hidup beberapa hari lagi.” Wajah Tiat Bok Taysu berubah, setelah memuji nama

Budha ia berkata, “Apakah nona mencurigai Pin Ceng hendak mencelakakan diri nona?”

“Bukan itu maksudku, obat2an yang berada dibadanku, barang kali tidak lebih rendah kemanjurannya dibandingkan dengan obat2 Siao-lim-sie.”

Tiat Bok Taysu meskipun merupakan salah satu paderi berilmu tinggi yang banyak pengetahuan juga merasa bingung mendapat jawaban yang mengesankan itu, setelah berpikir sejenak, baru berkata, “Kalau memang benar nona ada membekal obat2an, mengapa tidak mau pakai? Pinceng ingin mendengar keterangan nona….”

“Aku suka menggunakan obat atau tidak, ada hubungan apa dengan kau? Kalian hendak menanyakan apa, silahkan!”

“O Mie To Hud, apakah ayahmu masih hidup?”

“Sudah meninggal. Apa yang kalian lihat itu adalah penyaruan.”

Jawaban terus terang itu mengejutkan semua orang.

Dua jago pedang dari Ceng Sia Pay lalu berkata, “Jenazah dalam peti mati itu, benarkah jenazah ayahmu?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Kalau benar ayahmu meninggal dunia, mengapa tidak diumumkan kepada sahabat2 rimba persilatan? Sebaliknya kau berbuat sedemikian misteri, apalaah maksudnya?” berkata Tiat Bok Taysu. “Tetang kematian ayah ini, sudah tersiar luas di dalam kalangan rimba persilatan daerah Tiong-goan, perlu apa lagi harus diumumkan?”

“Nona di satu pihak menyiarkan kabar duka cita atas kematian Pan Lo Enghiong, di lain pihak mencari orang menyaru sebagai Pan Lo Enghiong, disembunyikan dalam ruangan di bawah tanah, kemudian sengaja membawa pinceng sekalian untuk menjumpai ayahamu tiruan itu, perbuatan ini se-olah2 sengaja membuat suasana menjadi misteri, dan malam ini semua orang pada berkumpul di sini, juga boleh dikata atas perbuatan nona seorang.”

Gadis berbaju putih itu mendadak berdiri, berkata dengan nada suara dingin, “Kalau kalian masih ada pertanyaan penting, lekas tanya! Aku sudah kehilangan darah terlalu banyak, susah untuk bertahan lebih lama lagi, pertanyaan yang tidak berarti seperti ini, sebaiknya jangan dimajukan.”

Touw Thian Gouw mendadak bangkit dan berkata, “Aku ingin mengajukan satu pertanyaan kepada nona, pada malam hujan angin tiga hari berselang, ketika nona mengangkut peti jenazah ke tepi sungai, telah membunuh habis orang yang menggotong peti mati itu, kemudian mengangkut peti jenazah ayahmu itu ke dalam kapal besar, dan diberangkatkan malam itu juga, entah apa sebabnya?”

Mata gadis itu menatap Touw Thian Gouw, kemuudian berkata, “Apakah malam itu kau menyaksikan semua kejadian itu?”

“Yang menyaksikan bukan hanya aku seorang saja.” “Entah masih ada siapa lagi?”

“Kecuali aku, masih ada Im Yang Siang-ciok dan suami istri Lui Beng Wan….”

Semua orang ketika mendengarnya disebut nama2 itu, semua pada celingukan untuk men-cari2, ternyata di dalam ruangan itu tidak terdapat empat orang yang namanya disebut itu, sehingga menimbulkan sedikit gaduh.

Gadis berbaju putih itu tiba2 membereskan rambutnya yang awut2an dan berkata, “Kau Siapa?”

“Aku Touw Thian Gouw.” menjawab Touw Thian Gouw setelah ragu2 sejenak.

Para tetamu yang ada di situ, sebagian besar sudah pernah mendengar nama yang sudah lama kesohor itu, sehingga semau mata ditujukan kepadanya.

“Bagus! Namamu sudah tecatat dalam daftar kematian, kematianmu sudah tidak lama lagi.” Berkata gadis berbaju putih itu.

Touw Thian Gouw tercengang. “Apa!”

“Aku katakan tidak lama lagi kau akan mati.”

Touw Thian Gouw mengeluarkan sehelai sapu tangan, dipesutkan kemukanya, sehingga pulih kembali dengan wajah aslinya.

“Nona Pan, lihatlah lihat tegas wajah asliku, jangan sampai kesalahan.”

“Jangan khawatir! Ke mana saja kau hendak lari, juga tidak akan lolos dalam batas waktu dua hari!”

Tiat Bok Taysu berkata, “Suami istri Lui Beng Wan dan Im Yang Siang-ciok, apakah semua nona sudah binasakan?”

Gadis itu tiba2 mendongakkan kepala mengawasi atap rumah, lalu berkata dengan suara nyaring, “Catat namanya Tait Bok dan Ki Bok Taysu.”

“Mencatat nama lolap berdua, apa gunanya?” bertarya Ki Bok Taysu sambil tertawa. “Kalau nama kalian sudah dicatat, itu berarti bahwa kalian hanya masih bisa hidup sepuluh hari saja.

“Benarkah ada kejadian serupa itu?” bertanya dua jago pedang dari Ceng Sia Pay sambil tertawa besar.

Jikalau kalian berdua tidak percaya boleh coba saja!”

Ia berhenti sejenak, “Catat namanya dua jago pedang dari Ceng Sia Pay.”

Semua tamu yang berada di situ, lebih dulu sudah dikejutkan oleh sikap dan gerak gerik yang aneh gadis itu, tetapi sebentar kemudian mereka merasa bahwa apa yang diucapkan oleh gadis itu sesungguhnya sangat menggelikan, sehingga pada tertawa.

Hanya Tiat Bok dan Ki Bok Taysu serta Touw Thian Gouw yang memandang urusan itu sangat serius, mereka agaknya mengerti bahwa ucapan gadis itu bukanlah perkataan sembarangan, Tiat Bok Taysu lalu berkata sambil merangkapkan kedua tangannya, “O Mi To Hud, sekalipun nona sudah menetapkan waktu sepuluh hari bagi lolap, tetapi lolap sekalian sebelum meninggalkan dunia yang fana ini, masih ingin mendapat sedikit tambahan pengertian, untuk mendengarkannya penuturan nona tentang kejadian sangat misteri dalam rimba persilatan ini.”

“Barang siapa yang merdengarkan peristiwa ini, barangkali tidak akan bisa hidup lagi, apabila takut mati, sekarang masih keburu untuk menyingkir ,siapa yang tidak takut mati semua boleh tinggal di sini.”

Terjadi sedikit kegoncangan di antara para tamu itu, tidak lama kemudian sudah ada tujuh atau delapan orang yang meninggalkan ruangan tersebut.

“Apakah masih ada lagi yang ingin meninggalkan tempat ini? Jikalau sekarang tidak pergi nanti sudah tidak keburu lagi.” Bertanya gadis berbaju putih itu. Kali ini tidak ada reaksi apa2 dari para tamu juga tidak ada orang yang meninggalkan tempat duduknya.

Tiat Bok Taysu lalu berkata sambil menghela napas, “Dengan nyawa untuk mempertaruhkan ingin mendengar suatu rahasia rimba persilatan, sesungguhnya sangat tidak berharga, tuan2 apabila tidak ada sangkut pautnya dengan urusan ini, sebetulnya tidak perlu menempuh bahaya.”

Sebagai seorang yang sudah terkenal namanya serta dijunjung tinggi oleh orang2 rimba persilatan, tidaklah heran ucapan itu mendapat perhatian orang banyak, benar saja kembali ada sepuluh orang lagi yang berdiri dari tempat duduknya dab berlalu meninggalkan tempat tersebut.

Tiat Bok Taysu mengawasi para tetamu yang masih ada di situ, dengan sungguh2 berkata pula, “Sahabat2 yang masih ada di sini mungkin tidak percaya segala urusan gaib yang tidak masuk diakal, mungkin juga menganggap bahwa perkataan nona Pan ini tidak masuk diakal, tetapi menurut pandangan lolap, ucapan nona itu bukanlah sebagai gertakkan sambal belaka, sekarang ini waktunya tidak banyak lagi, apabila tuan2 suka undurkan diri sebaiknya keluar saja.”

Setelah mendengar perkataan itu, kembali ada sepuluh orang lebih yang meninggalkan tempat duduk masing masing.

Waktu itu dalam ruangan yang luas itu, hanya tinggal dua atau tigapuluh orang yang tidak mau berlalu, Tiat Bok Taysu yang menyaksikan keadaan demikian, lalu berkata kepada gadis berbaju putih itu, “Harap nona menasehati lagi mereka, berlakulah sedikit penuh kasih sayang terhadap sesama manusia.”

Gadis itu agaknya terpengaruh pikirannya oleh perkataan Tiat Bok Taysu, benar saja ia segera berkata kepada semua para tetamu, “Tentang kematian ayah bukan berarti suatu kejadian besar, sebabnya kematian ayah menggemparkan dunia Kang-ouw, tidak lain karena dahulu ayah pernah menolong jiwa beberapa tokoh kuat dalam rimba persilatan daerah Tiong Goan, di samping itu juga ada hubungan baik dengan partai besar golongan kebenaran seperti Siao-lim-pay, Ceng Sia Pay dan lain2nya, maka kematian ayah ini telah menarik banyak perhatian orang kuat, sehingga pada memerlukan datang kemari.”

Tiba-tiba ia berhenti matanya menyapu ke arah para tetamunya sejenak, lalu melanjutkan ucapannya, “Dan sekarang, aku minta tuan2 sekalian, siapa yang ingin pergi supaya lekas pergi, siapa yang tinggal di sini dan mendengar penuturanku nanti, jangan harap bisa terlolos dari batas waktu sepuluh hari, maka inilah saatnya yang terakhir bagi tuan tuan sekalian.”

“Kami takut apa? Seorang hanya mempunyai satu nyawa, sekalipun kau telah mencatat sepuluh hari, juga cuma mati satu kali.”

Di antara para tetamu itu, ada empat orang yang berdiri, tetapi setelah mengawasi tetamu lainya sebentar, mereka duduk lagi di tempat masing-masing.

Gadis berbaju putih itu berkata kepada Tiat Bok Taysu, “Orang-orang ini semua masih tidak mau sadar akan bahaya atas dirinya, aku juga tidak berdaya.”

Tiat Bok Taysu mengerutkan alisnya, kemudian berkata dengan suara nyaring, “Di antara tuan-tuan, apabila tidak ingin terlibat dalam urusan ini sebaiknya meninggalkan tempat ini, sebab pada saat dan tempat seperti ini bukanlah waktunya untuk berlaku gagah atau menuruti emosi, apa perlunya harus mencari perkara.”

Para tamu itu agaknya sangat perhatikan ucapan orang beribadat tinggi itu, tetapi tiada seorangpun yang meninggalkan tempat itu.

Gadis itu setelah mendapat kesempatan mengaso, semangatnya nampak bangun lagi, wajahnya juga sudah nampak merah, ia tertawa terkekeh kekeh sejenak lalu berkata, “Kalau begitu aku tidak dapat disesalkan, dengan penuh kasih sayang Toa-hoo-siang ingin menasehatkan mereka, tetapi ternyata mereka adalah orang-orang kepala batu yang tidak dapat diinsafkan.

Sejenak ia berhenti, lalu berpaling dan berkata kepada Pan Ceng Liang, “Koko, catat nama mereka.”

Pan Ceng Liang per-lahan2 bangkit, setelah mengawasi semua tetamunya sejenak lalu berkata, “Tuan-tuan tetap tidak mau pergi, kita juga tidak berdaya….” Ia menghela napas perlahan, tangannya lalu menggeprak meja sambil berkata, “Ambilkan buku daftar kematian!”

Dari luar ruangan terdengar suara wanita yang menyahut, tidak berapa lama dua gadis berbaju hijau berjalan memasuki ruangan tersebut, memberi buku dan alat tulis kepada Pan Ceng Liang.

Gadis berbaju putih itu lalu berkata kepada para tetamunya, “Tuan-tuan berani diam di sini, tentunya merupakan orang-orang gagah yang tidak takut mati maka apabila tuan tidak ingin mengulur waktu, dipersilahkan menulis nama tuan-tuan didalam buku ini.”

Para tetamu itu mengawasi keadaan sekelilingnya, mereka saling berpandangan, tetapi tiada orang yang mau mencatat namanya di atas buku itu.

Gadis berbaju putih itu berkata kepada Tiat Bok Taysu, “Bukankah Taysu ingin lekas-lekas mengetahui sebab-sebab kematian ayah?”

“Benar,” menjawab Tiat Bok Taysu.

“Orang-orang yang berada dalam ruangan ini jika masih ada satu saja yang tidak mau mencatat namanya, aku tidak suka kata, sebaiknya taysu yang memimpin mereka, supaya urusan jangan sampai terlarut-larut.” “Tadi bukankah nona sudah mencatat nama lolap?” “Apakah taysu takut mati?”

-odwo-

Bab 27

TIAT BOK TAYSU berkata, “Kalau lolap takut mati, tidak nanti datang kemari.”

Dengan tindakan lebar ia berjalan menuju ke meja tempat pendaftaran.

Ki Bok Taysu per-lahan2 bangkit dari tempat duduknya, ia mengikuti di belakang Tiat Bok Taysu berjalan menuju ke meja pendaftaran.

Tiat Bok Taysu setelah menuliskan namanya di atas buku pendafaran lalu berkata dan berpaling kepada Ki Bok Taysu, “Sutee, kau juga harus menulis namamu.”

Ki Bok Taysu bersenyum lalu menuliskan namanya di dalam buku itu.

Gadis itu mengawasi dua paderi itu, kemudian berkata, “Bagus, kalian berdua benar2 tidak takut mati.”

“Lolap ada seorang yang sudah beruasia lanjut kalau sekarang harus mati juga tidak penasaran.” Berkata Tiat Bok Taysu yang kemudian balik lagi ke tempat duduknya.

Perbuatan dua paderi Siao-lim-sie itu, agaknya, menambah keberanian semua tetamu yang masih ada di situ, mereka pada berdiri dan berjalan ke meja pendaftaran untuk menuliskan namanya.

Gadis berbaju putih itu tiba2 berdiri dan berkata, “Tuan2 jikalau hendak menulis namanya harus menulis terus terang dengan nama aslinya, apa bila merobah nama atau ingin membikin celaka orang lain, perbuatan itu bukan saja tidak akan dapat menolong diri sendiri sebaliknya malah akan membikin celaka keluarga kalian sampai tiga turunan.

Pada saat itu seorang berbaju panjang warna hitam sedang mengangkat alat tulis hendak menuliskan namanya ketika mendengar ucapan gadis itu segera berkata sambil tertawa dingin, “Sejak dahulu sehingga sekarang, di dalam kalangan Kang-ouw juga pernah timbul orang kejam yang sepak terjangnya sangat ganas dan telengas, tetapi juga tidak ada orang yang menunjukkan sikap aneh seperti noma Pan….”

Ia tertawa ter-bahak2, sebentar kemudian berkata pula, “Untung aku hanya seorang diri saja, sudah tiada mempunyai ayah bunda, juga tidak mempunyai isteri dan anak, sekalipun benar2 akan mencelakakan sampai tiga turunan, bagiku juga tidak berarti apa2.”

“Aku hanya memperingatkan kepada kalian saja, percaya atau tidak terserah kepadamu.”

Orang berbaju hitam itu tidak menjawab lagi, setelah mencatat namanya lalu mengundurkan diri.

Semua orang sudah mendaftarkan namanya secara bergiliran, hanya Wan Hauw setelah pergi ke meja pendaftaran hanya me-lihat2 sebentar, lalu balik lagi ke tempat duduknya.

Kiranya selama itu ia belum pernah menulis dengan menggunakan alat tulis sehingga ia tidak tahu bagaimana ia harus menulis namanya.

Gadis itu menatap wajah Wan Hauw lalu bertanya, “Mengapa kau tidak menulis namamu?”

“Aku tidak bisa menulis.” Jawab Wan Hauw sambil menggelengkan kepala.

gadis itu mengerutkan alisnya dan berkata, “Semua orang yang ada di sini, sudah menulis namanya sendiri, kau tidak bias menulis, bagaimana kau boleh turut mendengarkan? Baiklah kau keluar saja!”

Wan Hauw yang hatinya masih putih bersih, ketika mendengar perkataan itu diam2 juga membenarkan ucapan gadis itu, maka lalu berkata sambil menghela napas, “Perkataan nona memang benar, baiklah aku berdiri di luar ruangan ini saja, untuk menunggu setelah kau habis menuturkan aku nanti masuk lagi.”

Ia mengira bahwa tindakannya itu dapat dibenarkan, maka setelah berkata demikian lantas berlalu.

Touw Thian Gouw sebetulnya ingin menegah, tetapi kemudian berpikir, “Sekalipun orang2 yang namanya sudah dicatat dalam buku kematian, toh belum tentu mati, tetapi sedikit banyak menimbulkan perasaan tidak enak di dalam hati, maka biarlah Wan Hauw menyingkir keluar.”

Tiat Bok Taysu setelah Wan Hauw berlalu, lalu berkata, “Sekarang orang2 yang berada dalam ruangan ini, namanya sudah terdaftar semua ini berarti mereka sudah rela mempertaruhkan nyawanya, hanya ingin mendengar penuturan nona, supaya dapat penjelasan sebab musabab kematian Pan Lo Enghiong, meskipun lolap sekarang sudah berusia delapan puluh tahun lebih, tetapi dalam urusan seperti ini, merupakan suatu kejadian yang baru pertama kali ini lolap mendengarnya, bahkan lolap diberi kehormatan untuk memimpin orang2 yang ada di sini yang bersedia menghadap kepada raja akhirat, nona agaknya tidak ada suatu alasan hendak mengulur waktu.

Gadis itu per-lahan2 duduk di tempatnya kembali, kemudian berkata kepada kakaknya, “Koko, tutup semua pintu ruangan ini.”

Pan Ceng Liang menurut, menutup semua pintu.

Gadis itu berdiri lagi seraya berkata, “Aku hendak padamkan api lilin.” Setelah itu dua batang lilin yang menyala itu apinya padam, sehingga keadaan dalam ruangam itu menjadi gelap.

Tiat Bok Taysu lalu berkata, “Apabila nona ingin menggunakan pesawat rahasia dalam ruangan ini hendak kabur secara diam2 janganlah sesalkan kepada lolap sekalian yang terpaksa akan bertindak kasar.”

“Toa Hosiang, kau jangan khawatir, apabila aku ingin lari, tidak nanti aku berani datang kemari.” Menjawab gadis berbaju putih itu.

Sementara itu tiba-tiba terdengar suara Koan Sam Seng yang berkata, “Kau boleh tidak usah lari, tetapi kita tidak boleh tidak berjaga-jaga.”

Pada saat itu terdengar suara tindakkan kaki orang dan gerakan digesernya kursi, agaknya para tamu itu semua menganggap betul ucapan Koan Sam Seng tadi benar sehingga masing2 pada bergerak meninggalkan tempat dudukuya untuk mengurung gadis itu di tengah2 mereka.

Keadaan dalam ruangan itu meskipun gelap gulita, tetapi orang-orang yang berada di situ, semua merupakan tokoh kenamaan di dalam rimba persilatan, walaupun belum tentu setiap orang berkepandaian sangat tinggi, tetapi semuanya merupakan orang-orang Kang-ouw kawakan, sehingga semua dapat mengerti apa yang dimaksudkan dalam ucapan Koan Sam Seng tadi.

Gadis berbaju putih itu lalu berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Kalian lekas berdiri di tempat masing2!”

Gadis itu setelah berpikir agak lama, barulah berkata, “Tentang kematian ayah, hanya merupakan suatu akal untuk memancing musuh-musuhnya, supaya tuan-tuan datang untuk mengantar nyawa….” Penuturan yang sangat singkat itu, segera menimbulkan kegoncangan di antara para tamu itu, suara ejekan dan makian, terdengar sangat riuh.

Gadis itu berkata pula dengan suara nyaring, “Barang siapa yang sudah mendaftarkan namanya di dalam buku kematian, mulai saat ini paling lama masih bisa hidup sepuluh hari lagi, tidak perduli betapa tinggi kepandaiannya, betapa kuat penjagaannya, semua tidak akan dapat menghindarkan diri dari batas waktu yang sudah ditetapkan itu, tetapi tuan semua sudah rela atas kematian ini, sehingga tidak dapat menyesalkan aku.”

Tiat Bok Taysu berkata dengan nada suara dingin, “Tentang ini kita sudah dengar terlalu banyak, nona tidak perlu bicarakan lagi, sebaiknya kau lekas dengan penuturanmu yang se-benar2nya.”

Di dalam keadaan gelap itu semua orang tidak dapat melihat bagaimana perobahan wajah gadis itu, mereka hanya mendengar suara tertawanya yang sangat dingin menggema ditelinga.

“Toa-hong-sian, demikian melit kau menanyakan sebab musabab kematian ayah, apakah kau bermaksud hendak mencari pembunuhnya?”

Pertanyaan itu dengan sendirinya sebagai pengakuan bahwa kematian ayah gadis itu bukanlah karena penyakit, tetapi mati terbunuh, meskipun semua tetamu itu lebih dahulu sudah merasa curiga, tetapi jawaban itu toh masih menimbulkan sedikit kericuhan, sehingga di mana2 terdengar suara helahan napas.

Tiat Bok Taysu berkata pula, “Tentang kematian Pan Lo Enghiong, di bawah rencana akal busuk musuh2nya, dalam surat yang diberikan kepada kepala kuil kita, samar2 sudah diketahui, apa yang lolap tak mengerti ialah siapa orangnya yang mencelakakan diri orang tua yang baik itu? Bahkan hanya dia seorang diri saja yangdiambil jiwanya, orang itu boleh dikatakan adalah seorang yang cukup berjiwa besar, karena cuma mencari pembalasan terhadap diri Pan Lo Enghiong seorang saja, tidak akan me-rembet2 orang yang tidak berdosa.”

“Hem! Maksud ucapan locianpwee ini, apakah mencurigakan boanpwee yang berbuat?”

“Bagaimana lolap berani mempunyai pikiran demikian, tetapi kematian ayahmu itu sangat aneh, apalagi semua kejadian tidak mungkin secara begitu kebetulan, sehingga mau tidak mau menimbulkan kecurigaan lolap.”

“Kau bercuriga apa, dan bagaimana kau hendak berbuat?”

Tiat Bok Taysu seorang beribadat tinggi, setelah berpikir sejenak, pikirannya segera tenang kembali.

“Lolap sekalian sudi mendaftar nama dalam buku kematian, maksudnya ialah ingin mendengar nona punya keterangan tentang kematian ayah nona, sebelum urusan menjadi jelas, lolap tidak suka menduga sembarangan, karena tadi nona sudah menerima baik permintaan lolap. Dengan sendirinya lolap sekalian kini ingin mendengarkan keterangan nona.”

Gadis itu agaknya sengaja hendak membuat marah Tiat Bok Taysu, katanya dengan nada suara dingin, “Aku tidak bersedia mengatakan, apakah yang kau rmasih bisa berbuat?

Tiat Bok Taysu diam tidak menjawab.

Hening beberapa lama, tiba2 dari jauh terdengar suara tambur dan genderang membising di telinga semua orang.

Karena suara itu bukan seperti suara tambur dan genderang yang biasa, tetapi dapat menimbulkan perasaan ngeri kepada orang2 yang mendengarkan.

Koan Sam Seng segera berkata, “Eh, suara apakah itu?

Dahulu aku rasanya seperti pernah dengar.” Gadis itu tiba2 berkata, “Itu adalah suara tambur dan genderang sebagai tanda hendak mencabut nyawa.”

“Tidak perduli mencabut nyawa atau bukan, harap nona lekas terangkan sebab musabab kematian ayahmu, jangan coba mengulur waktu lagi. Berkata Koan Sam Seng gusar.

“Jikalau aku tidak mau bicara kau mau apa?”

“Apakah kau kira aku tidak dapat turun tangan satu kali untuk member pelajaran kepadamu?”

“Coba saja!”

Koan Sam Seng, memperdengarkan suara bentakan keras, lalu melancarkan serangannya.

Karena ia mempunyai kekuatan tenaga dalam yang sudah sempurna, maka serangan itu sangat hebat.

Gadis itu menggerakkan tangannya, dalam keadaan gelap gulita itu, tiba-tiba berkelebat sinar terang.

Setelah itu, lalu terdengar suara tertawa dingin, kemudian disusul dengan hembusan angin yang menyambut serangan Koan Sam Seng tadi.

Koan Sam Seng telah merasakan bahwa serangan gadis itu ternyata mengandung kekuatan yang sangat hebat, dalam terkejutnya ia mundur satu langkah.

Tiat Bok Taysu lalu berseru, “Koan sicu, nona Pan, harap segera hentikan tindakan kalian.”

Gadis berbaju putih itu tidak menggerakkan pedang pendek di tangannya lagi, setindak mengadu kekuatan tenaga tangan sebentar, lalu menghentikan serangannya.

Para tamu yang sudah sekian lamanya berada dalam kegelapan, matanya sudah biasa lagi dalam gelap, sehingga dapat mengawasi keadaan dalam ruangan itu, orang yang bergerak menyambut serangan Koan Sam Seng tadi, ternyata adalah pemuda yang mengikuti gadis itu dan yang selama itu tidak pernah mengeluarkan perkataan.

Semua tamu tidak kenal orang itu, hanya Touw Thian Gouw yang tahu bahwa itu adalah Siang-koan Kie, ketika menyaksikan kekuatan hebat pemuda itu yang ternyata dapat mengimbangi kekuatan tenaga dalam Koan Sam Seng, diam2 merasa terkejut dan girang.

Dalam hatinya berpikir, “Sepasang mataku ternyata masih belum lamur, pemuda itu mempunyai kepandaian dan kekuatan yang disembunyikan, tetapi dengan perbuatannya yang membantu gadis itu, nampaknya bukan sengaja atau pura2 membantu kepadanya….”

Pada saat itu terdengar suaranya Tiat Bok Taysu, “Nona Pan tadi sudah berjanji setelah kita orang menulis nama masing2 di dalam buku kematian, nona lalu hendak menerangkan kematian ayahmu, kita sudah menurut apakah sekarang nona hendak melanggar janjimu sendiri?”

Dengan mendadak paderi itu menggerakkan badannya, secepat kilat sudah berada di depan meja, tangannya menyambar buku kematian.”

Perbuatan Tiat Bok Taysu itu, sesungguhnya di luar dugaan gadis berbaju putih itu, apalagi tindakannya itu cepat luar biasa.

Gadis itu agaknya khawatir Tiat Bok Taysu akan merobek buku kematian, maka buru-buru berkata, “Lo siansu harap jangan merusakkan buku itu.”

Tergerak hati Tiat Bok Taysu, sambil memegang buku itu ia berkata, “Jikalau nona Pan tidak mau memenuhi janjimu sendiri, lolap akan rusak buku ini lebih dulu, supaya kita semua tidak akan mati konyol.”

Gadis itu lambat2 menghampirinya seraya berkata, “Kau kembalikan dulu buku itu, aku nanti akan menerangkan.” Koan Sam Seng segera berkata, “Taysu jangan kembalikan kepadanya, perempuan itu tidak boleh dipercaya perkataannya.”

Tiat Bok Taysu berkata sambil tertawa, “Kita sudah menurut menuliskan nama di dalam buku kematian, tetapi nona masih sengaja hendak mengulur waktu, dan tidak mau bicara terus terang, sekarang bagaimana kau suruh lolap percaya ucapanmu lagi?”

“Kalau begitu kau mau apa?” bertanya gadis berbaju putih itu.

“Setelah nanti kau terangkan, lolap nanti akan kembalikan buku ini.”

“Kau tidak percaya kepadaku, bagaimana aku boleh percaya kepadamu?”

“Lolap adalah seorang beribadat, bagaimana kau boleh bandingkan seperti orang2 yang bermentalitet seperti kau?”

Tiba2 terdengar tiga suara tambur dan genderang yang aneh itu tadi, suara itu kini kedengarannya semakin nyaring agaknya tidak jauh dari luar rangan itu.

Du jago pedang dari Ceng Sia Pay tiba2 berjalan dan membuka pintu yang tertutup rapat itu kemudian melongok ke luar.

Koan Sam Seng sudah tidak dapat mengendalikan hawa amarahnya lagi, ia menghampiri Tiat Bok Taysu dan berkata dengan suara perlahan, “Budak perempuan ini banyak akal bangsatnya, ia sengaja mengulur waktu barang kali ada mengandung lain maksud, kita jangan sampai dibodohi.”

“Bagaimana maksud Koan sicu?” bertanya Ki Bok Taysu. “Menurut pikiranku, kita sebaiknya ringkus dulu budak

perempuan ini lalu membawanya ke kuil Siao-lim-sie, atau dibawa ke golongan pengemis kita, kemudian kita Tanya, dengan demikian tidak usah takut ia tidak akan berkata terus terang.”

“Perempuan ini nampaknya sangat kuat….” Berkata Tiat Bok Taysu, tiba2 suaranya dirubah demikian perlahan, maka semua orang yang ada di situ kecuali Koan Sam Seng tiada seorang lagi yang mendengar apa yang dikatakan olehnya.

Kiranya Tiat Bok Taysu mendadak dapat merasakan suasana pada saat itu, bukanlah pada tempatnya untuk menyatakan terus terang apa yang terpikir dalam hatinya, maka perkataan selanjutnya diucapkannya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga kepada orang yang diajak bicara, demikianlah kata2nya itu, “Apabila kita ingin mencari keterangan sedalam-dalamnya, harus menggunakan kesabaran, karena kematian Pan Lo Enghiong ini, agaknya mempunyai sangkut paut yang sangat luas, gadis itu agaknya juga bukan orang terpenting dalam peristiwa ini, menurut apa yang lolap tahu dalam urusan ini barangkali menyangkut seluruh rimba persilatan, golonganmu dari kaum pengemis selalu melakukan perbuatan2 baik dalam kalangan Kang-ouw, sehingga nama golongan pengemis ditakuti oleh segala manusia rendah, lolap meskipun tidak ada jodoh bertemu muka dengan Pangcumu, tetapi sudah lama mendengar namanya, harap Koan sicu mengingat kepentingan seluruh rimba persilatan bersabarlah, lolap akan bersedia sekuat tenaga untuk membantu Koan sicu….”

Berbicara sampai di situ, tiba2 mendengar suara bentakan perlahan yang keluar dari mulut dua jago Ceng Sia Pay, “Apa?” Ke-dua2nya lompat melesat keluar dan sebentar kemudian sudah menghilang.

Koan Sam Seng berkata dengan suara perlahan, “Terima kasih atas petunjuk Taysu.”

“Mala mini mungkin akan terjadi hal2 di luar dugaan kita,” berkata Tiat Bok Taysu sambil tersenyum. Pada saat itu di atas genting terdengar suara bentakan keras, kemudian disusul oleh suara siulan panjang yang menggema beberapa lama di malam yang sunyi itu.

Semua orang dalam ruangan itu berdiri sambil menahan napas, mereka tidak bertindak apa2 oleh suara bentakan di luar rumah itu.

Karena nama besar kedua jago dari Ceng Sia Pay itu, sudah lama kesohor di kalangan Kang-ouw, dan semua orang yang berada di situ, semuanya adalah orang2 Kang-ouw angkatan lama, meskipun jumlahnya orang yang kenal dengan kedua tokoh itu tidak banyak, tetapi nama mereka sudah lama didengar, dengan kepandaian dua orang itu, sekalipun menjumpai musuh tangguh, juga tidak sampai mendapat bahaya, maka tiada seorangpun yang pergi ke luar.

Gadis berbaju putih itu agaknya juga hendak menantikan terjadinya perobahan, perhatiannya dipusatkan ke kejadian di luar ruangan itu.

Setelah semua suara di luar sirap, suara tambur dan genderang misterius itu, juga berhenti secara mendadak, sehingga pada saat itu suasana menjadi sunyi, tidak terdengar suara apa-apa.

Keadaan sunyi itu berlangsung cukup lama, sehingga semua orang dalam ruangan itu mulai tidak sabar lagi, Touw Thian Gouw satu-satunya orang yang rupanya mengenali suara siulan panjang itu tadi, suara itu adalah suara Wan Hauw, oleh karena ia kawatirkan keselamatan pemuda itu, maka ia segera mengusulkan, “Mari kita keluar melihat!”

Tanpa menunggu jawaban yang lainnya ia sudah berjalan ke luar lebih dulu dengan tindakan lebar.

Tiat Bok Taysu juga merasa khawatir akan keselamatan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay, ia berkata kepada Ki Bok Taysu dengan perlahan, “Sutee coba keluar sebentar, apabila menjumpai kejadian aneh, jangan bertindak sendiri harap sutee segera panggil suhengmu ini.”

Ki Bok Taysu menganggukkan kepala, kemudian berjalan keluar.

Pada saat itu, Touw Thian Gouw sudah berada di pintu ruangan, hampir serentak keduanya meninggalkan ruangan tersebut.

Di luar keadaan sunyi senyap, tiada tampak bayangan seorangpun juga.

“Taysu tolong selidiki keadaan dalam pekarangan itu, aku hendak mengadakan pemeriksaan di atas genteng.” berkata Touw Thian Gouw deagan suara perlahan.

“Touw sicu silahkan,” menjawab Ki Bok Taysu, yang segera lompat melesat ke dalam pekarangan.

Setelah Ki Bok Taysu berlalu, Touw Thian Gouw juga melompat naik ke atas genteng.

Ia memasang mata mengawasi keadaan di sekitarnya, tetapi tidak menemukan bayangan Wan Hauw dan dua jago pedang dari Ceng Sia Pay, hingga diam2 merasa terkejut. Pikirnya, “Dengan kepandaian tiga orang itu, tidak perduli menjumpai musuh yang bagaimana tangguh, setidak2nya juga masih sanggup bertahan sampai sepuluh jurus, mengapa terdengar suara bentakan dan siulan, tetapi tidak keliltatan bayangannya? Andai kata terpancing oleh akal musuh, Wan Hauw yang masih belum mempunyai pengalaman mungkin terjadi, akan tetapi dua jago pedang Ceng Sia Pay yang sudah berpengalaman, mana mungkin dapat dipancing?”

Semakin dipikir, otaknya semakin buntu, ia semakin merasakan bahwa semua kejadian itu sesungguhnya bukan soal biasa, sehingga diam2 merasa bergidik….

Tiba-tiba di sudut timur utara tertampak berkelebatnya sinar terang, tetapi sebentar sudah lenyap lagi. Touw Thian Gouw agaknya menampak di mana adanya sinar terang tadi, adalah dua sosok bayangan orang berkelebat, tetapi karena dilihatnya hanya sepintas lalu saja ia tidak berani menentukan kepastiannya.

Ia ingin memanggil, tetapi ia khawatir kesalahan, setelah berpikir sejenak ia lompat melesat ke arah sinar terang tadi.

Setelah melalui beberapa genteng rumah, ia tiba di suatu tempat di bawah loteng yang menjulang tinggi.

Tempat itu merupakan taman bunga keluarga Pan, meski hanya di bawah penerangan bintang di langit, tetapi semua tanaman dan bunga2 di taman itu dapat dilihat dengan nyata, dan loteng tinggi itu tadi, justru dibangun di-tengah2 taman bunga itu.

Menurut perhitungannya, tempat di mana ada berkelebat sinar terang tadi, tentunya tidak jauh dari tempat itu tetapi setelah ia tiba di tempat tersebut, kecuali angin malam yang meniup tanaman dalam taman itu, tidak terdengar suara apa- apa lagi.

Selagi Touw Thian Gouw masih memikirkan kejadian itu, tiba2 mendengar suara benda meluncur, dari atas loteng itu meluncur kain sutera putih sepanjang beberapa tombak.

Touw Thian Gouw terperanjat, ketika ia mengawasi kain putih itu, ternyata terdapat tulisan yang berbunyi, “Silahkan tuan naik ke atas loteng untuk beromong-omong.”

Touw Thian Gouw pikirannya bekerja keras sambil mengawasi kain putih itu, ia tidak tahu bagaimana harus bertindak, dia ingin balik ke ruangan untuk memberitahukan kejadian itu kepada yang lain, tetapi ia juga ingin pergi melihat dahulu ke atas loteng itu. 

Lama ia berpikir, barulah mengambil keputusan ke atas loteng lebih dahulu. Sebagai seorang Kang-ouw ulung yang sudah banyak pengalaman, ia tidak mau segera memasuki loteng merah itu, lebih dulu ia berada di atas gentingnya untuk memperhatikan keadaan di dalam.

Pada saat itu, dari dalam loteng itu terdengar suara orang tertawa dingin, kemudian disusul dengan kata-kata, “Sudah berani datang seorang diri ke tempat ini, mengapa tidak mau masuk ber-omong2.

Ucapan itu agaknya sangat merendah, tetapi nada suaranya amat dingin dan tajam, sehingga orang tidak dapat membedakan suara itu suara orang laki2 ataukah suara orang perempuan.

“Aku selamnya tidak kena dipancing oleh akal bulus, kalau kau hendak menipu aku, itu adalah suatu impian belaka,” rnenjawab Touw Thian Gouw.

“Kalau kau merasa takut, sebaiknya lekas pulang lagi,” berkata suara dari dalam loteng.

“Tidak sedemikian mudah, karena aku sudah datang kemari, biar bagaimana aku ingin tahu sedikit apa-apa baru kembali….”

Kain putih itu tadi tiba2 ditarik lagi dengan cepat, dalam waktu sekejap saja sudah tidak kelihatan lagi. Kemudian terdengar suara orang turun dari tangga, orang yang berada dalam loteng itu agaknya sudah turun ke bawah.

Touw Thian Gouw lalu berkata dengan suara perlahan, “Apabila kalian tidak bermaksud memancing aku, harap pasang pelita.”

Sementara itu, suara tindakan kaki tadi kedengarannya makin jauh, per-lahan2 tidak terdengar lagi.

Touw Thian Gouw berkata pula, “Hem! Muslihat semacam ini bagaimana dapat mengelabui mataku?” Dengan cepat ia membuka satu genteng di atas loteng itu, kemudian melompat ke dalam ruangan loteng.

Di luar dugaan ketika genteng itu melayang turun, ternyata tidak terdengar suara apa2 se-olah2 masuk ke dalam air laut.

Touw Thian Gouw berkata sambil tertawa ter-bahak2, “Bagus! Kalau kau tidak menyambut genteng yang kulemparkan tadi, sebentar mungkin aku akan turun untuk melihatnya, tetapi perbuatanmu yang menyambut gentengku itu tadi, bukankah suatu jawaban bahwa kau masih sembunyi di dalam loteng?”

Ia pikir sebetulnya perkataannya itu pasti dapat memancing orang dalam loteng itu menjawab dirinya, tetapi tiada jawaban sama sekali.

Touw Thian Gouw kembali mengambil sebuah genteng, disambitkan ke dalam loteng, ternyata tidak terdengar reaksi apa2, ia mengambil lagi tiga buah dan dismbitkan dengan serentak.

Menurut tafsirannya, betapapun tinggi kepandaiannya orang dalam loteng itu, tetapi dalam keadaan gelap gulita, mungkin tidak mudah menyambut tiga buah genteng secara serentak.

Di luar dugaan, tiga buah genteng itu tidak menimbulkan suata apa2.

Keadaan itu benar2 mengherankan Touw Thian Gouw, seyogyanya ia hendak segera turun setelah genteng itu menimbulkan suara, tetapi sekarang ia mulai timbang lagi….

Dengan tenang ia memikirkan kejadian itu, tiba2 ia merasa bahwa keadaan itu sangat seram, seandainya ada bahaya apa2 atas dirinya, orang2 dalam rangan pasti tidak mengetahuinya. Karena berpikiran demikian, ia segara mengerahkan seluruh kekuatan tenag dalamnya, ia telah siap untuk mengeluarkan siulan panjang untuk minta bantuan.

Selagi hendak mengeluarkan suara, belakang punggungnya tiba2 merasa seperti ditepuk orang, telinganya mendengar suara yang amat dingin, “Jangan bersuara, apabila kau mengadakan perlawanan aku segera memutuskan pembuluh jalan darahmu.”

Belum sempat Touw Thian Gouw menjawab, pergelangan tangan kanannya sudah berada dalam genggaman orang. Sebentar kemudian separuh badannya merasa kesemutan tenaganya lenyap seketika.

Tatkala ia berpaling, matanya dapat melihat seorang aneh dengan wajahnya yang tidak menunjukkan sedikit perasaan, berdiri di sampingnya.

Orang itu berpakaian berwarna hijau,meskipun pancaindranya tidak menunjukkan cacat, tetapi seraut wajahnya seperti orang yang sudah mati beberapa bulan, kulit, di wajah itu, bagaikan bangkai manusia yang sudah dingin, baru melihat sepintas lalu saja, perasaan takut sudah timbul dalam hati siapa yang menyaksikannya.

Tetapi biar bagaimana Touw Thian Gouw adalah yang sudah lama berkecimpung di dalam dunia Kang-ouw, dalam keadaan bagaimanapun juga ia masih bias berlaku tenang, ia segera dapat menduga bahwa orang itu memakai kedok kulit manusia, maka lantas berkata sambil ketawa dingin, “Kau siapa mengapa tidak berani menunjukkan wajah aslimu? Dengan memakai kedok kulit manusia apakah kau kira dapat menggertak aku?”

Orang itu tidak menjawab, diam2 menambah kekuatannya sehingga sekujur badan Touw Thian Gouw gemetar, darahnya dirasakan seperti bergolak, perasaan itu menimbulkan penderitaan hebat. Orang berbaju hijau itu baru membuka suara, ia berkata dengan nada suara yang dingin.

“Apabila kau tidak ingin menanggung siksaan lebih lama, ikut aku dan jangan banyak bicara.”

Touw Thian Gouw mengerti tiada gunanya ia lawan, karena dengan demikian berarti suatu bahaya bagi jiwanya sendiri, maka terpaksa iamenurut kehendak orang itu.

Orang berbaju hijau itu membawanya ke tepi genteng rumah, tiba-tiba menotok dua bagian jalan darahnya, kemudian menendang tubuh touw Thian Gouw, setelah itu ia sendiri juga lompat turun.

Meskipun ia belakangan lompat turun tetapi tiba di tanah lebih dulu sedangkan tubuhnya Touw Thian Gouw masih berada di tengah udara.

Orang berbaju hijau itu dengan tenang menyambut tubuh Touw Thian Gouw.

Pada saat itu dari gerombolan pohon di dalam taman, segera muncul dua orang berpakaian hitam yang masing2 membawa pedang di atas punggungnya, setelah berada di hadapan orang berbaju hijau itu satu di antaranya tiba2 menghunus pedangnya siap menantikan perintah orang berbaju hijau.

Orang berbaju hijau itu setelah berpikir sejenak, lalu berkata, “Jangan bunuh, bebaskan ia pulang.”

Setelah mengeluarkan perintahnya, orang itu lompat melesat dan sebentar kemudian sudah menghilang, sebelum berlalu, ia membuka totokan jalan darah Touw Thian Gouw sehingga Touw Thian Gouw sadar kembali, tetapi ketika ia membuka matanya, orang berbaju hijau itu sudah tidak tampak lagi, sedang dua orang berbaju hitam itu berdiri di sampingnya. Satu di antaranya menunjukkan ujung pedangnya di depan dadanya, yang lain mengeluarkan sebungkus obat dan berkata dengan suara perlahan.

“Lekas buka mulutmu, makan obat ini, kau nanti boleh pulang.”

Toue Thian Gouw dalam hati berpikir, “Obat ini mungkin sama dengan obat yang dimakan oleh Siang-koan Kie, setelah makan orang akan lupa akan dirinya sendiri dan mandah menjadi budak untuk selama-lamanya.”

Ia ingin melawan, tetapi ketika dengan dia mengerahkan tenaganya, segera dapat merasakan bahwa bagian jalan darah dari kedua lengan tangannya sudah tertotok oleh orang berbaju hijau tadi, sehingga tidak dapat digunakan.

Sebagai orang yang sudah berpengalaman, dalam keadaan seperti itu ia tidak mau mengorbankan jiwa dengan cuma2, maka ia tidak ingin melawan dan segera membuka mulutnya.

Orang berbaju hitam yang membawa obat itu lalu berkata sambil tersenyum, “Kau ternyata sangat menurut, setelah kau makan obat ini, ada harapan bekerja sama sama dengan kita.”

Orang berbaju hitam yang memberikan pedang itu tiba2 meletakkan pedangnya dan berkata, “Saudara, orang ini tidak melawan, maka kau berikan obatnya agar ringan sedikit, agar isi perutnya tidak mendapat luka, di kemudian hari apabila kita bekerja sama2, satu sama lain masih perlu saling membantu.”

Orang yang membawa obat itu mengurangi dua butir obat yang diberikan kepada Touw Thian Gouw, kemudian berkata dengan suara perlahan, “Apabila kau makan semuanya, sedikitnya dalam tiga hari tiga malam kau tidak sadar, dan tidak akan minum, aku kurangi dua butir, barangkali kau t idak akan mabuk.”

Touw Thian Gouw sangat heran, bagaimana mereka bisa tahu di kemudian hari akan tinggal bersama dengannya. Orang berbaju hitam yangi membawa pedang itu, agaknya dapat menyaksikan sikap Touw Thian Gouw yang merasa ter- heran2 itu, lalu berkata sambil tertawa, “Kita semua adalah dua di antara duabelas orang pengawal Ceng-cu, kemarin satu di antara kita sudah binasa, hari ini Ceng-cu tidak ingin membunuhnya, nampaknya ia sudah memilih kau untuk menggantikan kedudukan kawan kita yang kemarin mati itu.”

Tauw Thian Gouw terperanjat, tetapi sikapnya menunjukkan tenang2 saja, ia bahkan berkata sambil tertawa, “Ceng-cu hanya baru pertama kali ini berjumpa denganku, mengapa demikian percaya kepada diriku dan memihakku sebagai pengawalnya? Apakah tidak takut aku timbul pikiran jahat?”

Dua orang berbaju hitam itu pada tertawa lalu berkata, “Tentang ini kau jangan khawatir! Makanlah obat itu, nanti kita bicara lagi.”

Meskipun Touw Thian Gouw tahu bahwa kucinya berada di obat itu tetapi ia toh tidak boleh tidak makan.

Setelah obat itu berada di dalam mulutnya, ia segera tutup rapat mulutnya dan meletakkan butiran obat itu di bawah lidahnya.

Sebagai orang yang sudah banyak pengalaman, ia pandai berlaku pura2 sudah menelanya, sikapnya itu agaknya sangat menderita, dua orang berbaju hitam itu terus mengawasi wajahnya, agaknya hendak melihat reaksinya setelah maka obat pel itu.

-odwo-

Bab 28

TOUW THIAN GOUW mencuri lihat sikap dua orang itu, namun hatinya merasa cemas, pikirnya, “Setelah makan obat ini pasti timbul reaksi, apabila aku berlaku salah, barangkali dapat diketahui oleh mereka.”

Selagi berada dalam kesulitan, satu di antara mereka berdua berkata, “Saudara, kau lihat orang ini setelah makan obat, masih sanggup bertahan begitu tidak pingsan.”

Satunya lagi menjawab, “Ia sedang mengerahkan kekuatan tenaga dalam untuk melawan, karena dosisnya aku kurangi, bekerja obat barang kali agak lambat.”

Orang yang bicara lebih dulu itu tadi berkata dengan suara perlahan, “Saudara, kau diam2 mengurangi dosis obat yang harus ia makan, perbuatanmu itu apabila diketahui oleh Ceng- cu, apa jadinya nanti?”

Orang itu menghela napas perlahan dan berkata, “Lihat saja! Apabila sebentar lagi masih tidak ada perobahan apa2, terpaksa berikan sebungkus lagi kepadanya.”

Touw Thian Gouw terkejut, pikirnya, “Apabila ia suruh aku makan obat lagi, dan dapat lihat dalam mulutku belum kutelan, mereka pasti akan memaksa aku menelan atau menggunakan kesempatan selagi aku masih belum mempunyai kekuatan untuk melawan, membinasakan diriku.

Tiba2 ia ingat dirinya orang berbaju hijau itu, wajahnya yang tidak mempunyai perasaan dan kepandaiannya yang luar biasa, memberi kesan sangat dalam, kesan itu tidak akan dihapuskan untuk se-lama2nya, apabila orang berbaju hijau itu datang lagi, pasti segera dapat lihat bahwa ia ber-pura2, maka harus bertindak sebelum orang itu datang lagi….”

Orang pertama bicara itu agaknya sudah tidak sabar lagi, ia mendesak kawannya supaya memberikan satu bungkusan lagi.

Touw Thian Gouw sangat gelisah, sehingga dahinya penuh keringat dingin. Dua orang itu yang menyaksikan keadaan demikian lalu berkata sambil tertawa, “Sudah, dahinya sudah penuh keringat.”

Satunya lagi berkata, “Karena dosisnya agak sedikit, waktu pingsannya barangkali tidak lama, mari kita pindahkan dulu ke gerombolan pohon itu!”

Touw Thian Gouw segera dapat pikiran, ia pura2 pingsan dan rubuh di tanah.

Dua orang berpakaian hitam itu saling berpandangan sambil tertawa, kemudian pondong tubuh Touw Thian Gouw ke dalam gerombolan pohon.

Touw Thian Gouw menggunakan kesempatan sewaktu menjatuhkan diri tadi, dengan cepat mengeluarkan obat dalam mulutnya, lalu disimpan dalam sakunya, setelah itu diam2 memperhatikan bagaimana sikap dua orang itu terhadap dirinya.

Kedua orang berpakaian hitam itu setelah meletakkan tubuh di bawah pohon, satu di antaranya lalu berkata, “Kita tunggu saja sebentar, ia makan obat tidak banyak, kekuatan tenaga dalamnya juga cukup sempurna barangkali lekas sadar.”

“Kepandaian orang ini barangkali tidak di bawah kita,” berkata satunya lagi.

Pembicaraan dua orang itu semua masuk ke telinga Touw Thian Gouw, dalam hatinya berpikir, “Dalam ruangan tamu itu sekarang entah apa yang terjadi? Mereka berkata aku bisa sadar dengan cepat, sebisanya aku bertindak seperti apa yang mereka kata, mungkin masih bisa menyaksikan apa yang telah terjadi dalam ruangan itu.”

Ia menunggu sebentar lagi, kemudian membuka matanya per-lahan2 dan bangun duduk di tanah. Dua orang berpakaian hitam itu nampaknya terkejut, matanya memandang wajah Touw Thian Gouw.

Touw Thian Gouw diam2 merasa khawatir akan menimbulkan kecurigaan mereka, maka buru2 menunjukkan sikap seperti orang bingung, dengan ter-heran2 mengawasi dua orang itu.

Benar saja sikapnya itu tidak menimbulkan curiga mereka, satu di antaranya lalu berkata, “Hai! Kau bernama siapa?”

Touw Thian Gouw sesaat lamanya tidak tahu bagaimana harus menjawab, setelah berpikir cukup lama baru menjawab, “Aku Touw Thian Gouw.”

“Kau sekarang merasa bagaiamana?” “Aku baik-baik saja!”

“Kau anggap bagaimana dengan Ceng-cu kita?”

Touw Thian Gouw sebetulnya hendak memuji Ceng-cu itu, tetapi ia berpikir lagi, orang berbaju hijau itu Ceng-cu merek atau bukan masih belum diketahui, apabila menjawab sembarangan mungkin akan menimbulkan kecurigaan mereka, maka ia pura2 tidak mengerti, hanya menggelengkan kepala tidak menjawab.

“Kau sudah makan obat yang dapat membawa kebinasaan dirimu, apabila obat itu bekerja kau akan mati dalam keadaan hancur semua badamu!”

Touw Thian Gouw mengawasi orang itu tanpa berkata apa- apa.

Orang itu tersenyum dan berkata pula, “Tetapi, tidak apa, obat itu meskipun sangat berbisa namun bekerjanya sangat lembat, asal selanjutnya kau suka menurut petunjuk Ceng-cu, sebelum waktu bekerja obat tiba, ia akan memberi obat penawar. Touw Thian Gouw menganggukkan kepala, mulutnya tetap bungkem.

Orang itu tertawa terbahak-bahak dan berkata pula, “Waktu sampai bekerjanya obat itu kira2 tiga bulan, apakah kau sekarang sudah merasai bahwa kau sudah dalam keadaan sadar betul-betul?”

Touw Thian Gouw berpikir, “Apabila aku tidak menjawab lagi, mereka menganggap aku terkena racun terlalu dalam, juga merepotkan diriku,” maka ia lalu berkata, “Pikiranku sudah terang, hanya kepalaku masih pening, perut merasa agak sakit.”

“Apakah ingin muntah?”

Touw Thian Gouw adalah seorang cerdik, melihat sikap orang itu, segera mengetahui bahwa reaksi keterangannya tadi itu rupanya keliru, lalu berkata ia sambil menggelengkan kepala, Dua orang berbaju hitam itu ssling berpandangan sejenak, satu di antaranya berkata, “Barangkali karena makannya tidak banyak, hingga rasanya dengan orang lain, tersadarnya juga lebih cepat.”

Seorang lagi berkata, “Sesudah kau makan obat yang pertama kali ini, badanmu dan ususmu serta kantong nasi masih belum dapat menyesuaikan diri mengikuti perobahan obat, waktu bekerjanya agak dipersingkat mungkin dalam waktu sepuluh hari lebih gejalanya, terhitung mulai hari ini, kau masih ada waktu sepuluh hari untuk hidup.”

Touw Thian Gouw pura-pura terkejut, katanya, “Aku hanya bisa hidup sepuluh hari saja….?”

“Benar, dalam waktu sepuluh hari racun itu akan bekerja, tetapi belum tahu pasti mati.”

“Aku semakin tidak mengerti.”

“Kau dalam waktu sepuluh hari ini, apabila mengunjukkan sikap setia kepada Ceng-cu kita dan membuat jasa, sebelum racun bekerja, Ceng-cu bias mengirim orang memberitahu obat penawar racun, apabila perbuatanmu menunjukkan sikap berlawanan terhadap Ceng-cu, tidak perlu mengirim orang mencari atau membunuh kau dalam waktu sepuluh hari itu kau pasti mati.”

Orang itu tiba2 memutar ke belakang diri Taouw Thian Gouw, dengan sendirinya melangkan maju setindak tetapi tidak bergerak lagi.

Orang itu tertawa ter-bahak2 dan berkata, “Kau sudah sabar betul2.”

Kemudian dua tangannya bekerja membuka totokan Touw Thian Gouw.

Touw Thian Gouw diam2 mengerahkan kekuatan tenaganya, mengalirnya darah seperti biasa tetapi ia pura2 berlaku bingung, matanya mengawasi dua orang itu.

Seorang di antara mereka berkata kepadanya, “Dari mana kau datang, sekarang kau boleh pulang lagi ke sana!”

Touw Thian Gouw tidak menduga demikian mudah ia dibebaskan, dalam hatinya berpikir, “Mereka telah menganggap aku benar2 sudah makan obat, hingga membiarkan aku pulang, nampaknya keyakinan mereka terhadap obat itu sangat kuat, keadaan dan kejadian malam ini sudah jelas bahwa pemimpin di belakang layar semua kejadian itu adalah orang aneh berbaju hijau itu, nona Pan hanya sebagai budak yang dikasihani, asal dapat menunjukkan orang berbaju hijau itu semua rahasia dengan sendirinya akan terbongkar.”

Karena ia ingin tahu apa yang telah terjadi dalam ruangan tamu itu, maka ia lompat melesat ke atas genteng dan balik ke dalam ruangan.

Tidak jauh di depan ruangan itu, dia dapat lihat Wan Hauw berdiri di luar ruangan sambil mengawasi bintang2 di langit, pintu kamar tertutup rapat, sebentar2 terdengar suara orang berbicara.

Wan Hauw yang mempunyai pandangan mata dan pendengaran yang luar biasa, ketika Touw Thian Gouw melayang turun dari atas genteng, segera diketahuinya, ia segera menyongsong seraya berkata, “Di mana toakoku?”

“Ia masih berada dalam ruangan.”

Wan Hauw agaknya masih ingin bertanya lebih banyak, tetapi dalam cemasnya ia tidak tahu bagaimana harus membuka mulut, sehingga cuma bisa garuk-garuk kepala.

Touw Thian Gouw sebetulnya ingin bertanya ia tadi pergi ke mana, tetapi kemudian berpikir bahwa hal itu akan menghambat waktu, maka ia membatalkan maksudnya dan mendorong pintu masuk ke dalam ruangan.

Pintu yang tertutup rapat itu sewaktu didorong olehnya, menimbulkan kegoncangan dalam ruangan.

Dari dalam tiba2 terdengar suara orang menegur, “Siapa?”

Pintu mendadak terbuka lebar Tiat Bok Taysu berdiri di hadapannya.

Touw Thian Gouw memberi homat, lalu masuk ke dalam melalui samping Tiat Bok Taysu dan balik lagi ke tempatnya.

Gadis berbaju putih itu mengawasi Touw Thian Gonw sejenak, lalu memanggilnya sambil menggapaikan tangannya.

“Kemari.”

Touw Thian Gouw terperanjat, pikirnya, “Barangkali ia sudah menganggap aku sudah makan obat.”

Ia mengawasi keadaan sekitarnya, ternyata tidak terdapat jago pedang dari Ceng Sia Pay, hingga ia berpikir dua orang itu sudah mendapat bahaya. Tanpa ragu2 ia segera berjalan menghampiri gadis berbaju putih itu. Gadis berbaju putih itu berkata pula sambil menunjuk Siang-koan Kie.

“Berdiri di sana bersama ia!”

Touw Thian Gouw lalu berpikir, “Kalau mau ber-pura2 biarlah ber-pura2 seterusnya, aku ingin lihat bagaimana sebetulnya!”

Karena berpikir demikian maka ia lalu berjalan dan berdiri di samping Siang-koan Kie.

Gadis berbaju putih itu tertawa ter-bahak2 dan berkata, “Sebentar lagi tuan2 semua barangkali akan jadi orang seperti mereka.”

Semua orang yang ada dalam ruangan itu benar2 dikejutkan oleh perobahan mendadak tentang diri Touw Thian Gouw itu, sebagai orang berkepandaian tinggi dan banyak pengalaman seperti Touw Thian Gouw, tidaklah mungkin tidak bias berlaku hati2, dan toh masih dapat diperdayai oleh orang, yang mengherankan adalah ia sekarang telah berobah seperti Siang-koan Kie yang mau diperbudak oleh gadis berbaju putih itu.

Tiat Bok Taysu tiba-tiba merasakan bahwa kejadian itu sangat genting, maka ia berkata kepada Ki Bok Taysu dengan suara perlahan, “Aku hendak pergi melihat, orang itu sebetulnya terpengaruh oleh ilmu apa? Entah ilmu gaib ataukah pengaruhnya obat?”

“Awas jangan sampai terbongkar,” berkata Ki Bok Taysu.

Tiat Bok Taysu tidak berkata pap2 lagi, dengan tindakan lebar berjalan menghampiri Touw Thian Gouw.

Gadis berbaju putih itu tiba2 berseru, “Hajar paderi itu, jangan biarkan ia mendekati!”

Touw Thian Gouw tahu bahwa pada saat itu ia harus ber- pura2 menurut segala perintahnya, supaya ia jangan sampai timbul curiga maka ia segera angkat tangannya menyerang Tiat Bok Taysu.

Tiat Bok Taysu diam-diam sudah siap siaga, begitu melihat dirinya diserang, segera menyambut serangan tersebut, tetapi ia hanya menggunakan kekuatan lima bagian saja.

Di luar dugaan, ketika tangannya beradu dengan Touw Thian Gouw, hatinya tergerak seketika, sebagai seorang beribadat tinggi, dalam segala hal selalu memikirkan orang lain sekalipun dunia Kang-ouw banyak kepalsuan, tetapi ia masih tetap percaya di pihak yang baik, begitu merasa serangan Touw Thian Gouw itu tidak mengandung kekuatan tenaga dalam, dengan cepat ia segera menarik kembali kekuatan tenaga dalamnya yang dikerahkan ke dalam tangannya.

Karena sudah sempurna kepandaiannya, ia dapat mengeluarkan atau menarik kembali kekuatan tenaga dalam menurut kehendak hatinya.

Namun demikian, Touw Thian Gouw masih merasakan hebatnya kekuatan tenaga paderi tua itu, sehingga terpental mundur satu langkah.

Gadis berbaju putih itu ketika menyaksikan keadaan demikian, lalu memaki, “Manusia tidak berguna.”

Ia segera mengeluarkan sebilah pedang pendek, pedang itu dilemparkan ke arah Siang-koan Kie, sungguh heran pemuda itu segera melompat maju menyerang Tiat Bok Taysu.

Tiat Bok Taysu kali ini tidak berani menggunakan lima bagian kekuatan tenaganya, dengan ditambah tiga bagian lagi ia menyambut serangan Siang-koan Kie.

Tetapi serangan Siang-koan Kie itu hebat sekali, juga mengandung kekuatan tenaga dalam sangat besar, sehingga Tiat Bok Taysu terpental mundur dua langkah. Siang-koan Kie maju mendesak, melancarkan serangannya yang lebih hebat.

Tiat Bok Taysu dengan beruntun sampai tiga kali menyambut serangan Siang-koan Kie, dalam hati sangat heran, ia hanya merasa serangan pemuda itu sangat hebat, gerakannya mengandung tipu2 luar biasa anehnya.

Paderi tua itu kini benar2 telah menjumpai lawan yang sangat tangguh, ia hendak melakukan serangan pembalasan, tetapi sudah terlambat, serangan Siang-koan Kie datang secara ber-tubi2 sehingga tidak ada kesempatan lagi baginya untuk balas menyerang.

Ruangan itu sangat gelap, serangan dua orang itu juga dilakukan demikian cepat, hingga orang lain tidak dapat melihat bagaimana gerakan mereka, hanya mendengar hawa hembusan angin yang men-deru2, dapat diduga betapa hebatnya pertempuran itu.

Ki Bok Taysu dengan penuh perhatian menyaksikan pertempuran itu, ia dapat melihat serangan dan gerak tipu Siang-koan Kie makin lama makin hebat, sedangkan Tiat Bok Taysu karena posisinya tidak menguntungkan, hingga nampaknya seperti tidak berdaya tetapi karena kekuatan tenaga dalamnya sangat sempurna, juga sudah memahami banyak ilmu kepandaian simpanan dari kuil Siao-lim-sie, meskipun kedudukannya tidak menguntungkan, tetapi masih dapat melayani dengan tenang.

Gadis berbaju putih itu meskipun sudah tahu Siang-koan Kie berkepandaian sangat tinggi, tetapi ia tidak menduga sanggup melayani paderi Siao-lim-sie yang termasuk orang kuat kelas satu dalam rimba persilatan, bahkan sejak semula terus berada di atas angin.

Ia mulai menaruh perhatian kepada pemuda itu, meski nampaknya mukanya kuning seperti orang sakit, tetapi badannya kekar, meskipun hanya memakai pakaian rombeng, tetapi masih tidak menutupi perawakannya yang tegap gagah, entah apa sebabnya, seorang yang mempunyai perawakan yang begitu bagus, tetapi mukanya seperti orang sakit, dan yang paling mengherankan adalah warna kulit di badannya jauh berlainan dengan warna kulit di mukanya.

Pada mulanya, semua orang tidak dapat melihat dengan tegas gerakan kedua orang itu, namun setiap orang mempunyai kesan bahwa dengan nama dan kedudukan Tiat Bok Taysu di kalangan Kang-ouw, dalam waktu sepuluh jurus tentu dapat mengalahkan Siang-koan Kie, tidak disangka kenyataannya tidaklah demikian, dua orang itu bertempur sudah tiga puluh jurus Siang-koan Kie bukan saja tidak menunjukkan tanda2 akan kalah, bahkan Tiat Bok Taysu, yang semula dicecer terus oleh Siang-koan Kie masih belum berhasil memperbaiki kedudukannya.

Kejadian di luar perhitungan semua orang, segera menarik perhatian orang banyak, semua mata ditujukan kepada mereka.

Touw Thian Gouw diam2 memperhatikan sikap gadis berbaju putih itu, semula nampaknya bermaksud hendak member bantuan, tetapi kemudian mungkin karena menyaksikan kepandaian dan kekuatan Siang-koan Kie ternyata di atas dirinya sendiri, bukan saja sudah membatalkan maksudnya hendak memberi bantuan, bahkan tidak memperhatikan jalannya pertempuran lagi, matanya hanya ditujukan kepada Siang-koan Kie, agaknya sudah mencurugai asal usulnya pemuda itu.

Sebetulnya, pakaian Siang-koan Kie itu memang dapat menimbulkan kecurigaan.

Menyaksikan itu semua Touw Thian Gouw mendapat kesimpulan bahwa pemuda itu benar2 telah dipengaruhi oleh kekuatan obat ajaib, karena telah menimbulkan kecurigaan gadis itu, maka ia berusaha hendak melindungi secara diam2. Pada saat itu, dua orang yang bertempur itu sudah berlangsung empat puluh jurus lebih, Tiat Bok Taysu masih tetap belum berhasil memperbaiki kedudukannya, meskipun ia diam2 mengagumi kepandaian pemuda itu, tetapi ia merasa apabila ia tidak menggunakan ilmu simpanannya, mungkin tidak dapat memperbaiki kedudukannya sendiri. Dalam suatu pertempuran sengit, diam2 ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, tiba2 mengeluarkan suara bentakan keras, lalu mengeluarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Serangan itu sangat hebat, semua orang yang ada dalam ruangan itu telah dikejutkan oleh getaran dan hembusan angin yang keluar dari serangan itu.

Sebaliknya dengan Touw Thian Gouw ia sangat khawatirkan keselamatan Siang-koan Kie, ruangan itu meskipun luas, tetapi karena sekitarnya penuh orang, untuk menyingkir sudah tentu tidak mudah maka diam2 ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, apabila Siang-koan Kie tidak sanggup menyambut serangan tersebut, ia segera turun tangan member bantuan.

Selagi ia sedang mengerahkan kekuatannya, sementara itu Siang-koan Kie sudah menyambuti serangan Tiat Bok Taysu.

Setelah kedua kekuatan saling beradu, Siang-koan Kie terdorong mundur dua langkah.

Tiat Bok Taysu sendiri meskipun masih tetap berdiri di tempatnya, tetapi serangan yang keluar dari tangannya tadi, tiba2 telah lenyap tanpa bekas.

Semua orang yang berada dalam ruangan itu merupakan orang2 Kang-ouw yang kawakan, tetapi kejadian serupa itu jarang sekali disaksikannya, maka sesaat itu mereka melongo.

Tetapi Tiat Bok Taysu dalam hatinya mengerti, Siang-koan Kie sanggup menyambut serangannya, walaupun ia mundur dua langkah, tetapi ia menggunakan kesempatan itu melenyapkan serangannya sendiri. Ki Bok Taysu yang mengetahui benar kekuatan suhengnya, serangannya itu cukup untuk menghancurkan batu besar, sekalipun ia sendiri apabila hendak menyambut serangan tersebut juga hendak menggunakan tenaga sepenuhnya. Tetapi pemuda itu ternyata dapat menyambut tanpa mendapat luka apa2.

Dari sikap suhengnya, ia sudah melihat bahwa sang suheng itu dikejutkan oleh kekuatan Siang-koan Kie, ia lalu menghampirinya dan bertanya dengan suara perlahan, “Pemuda itu sudah terluka atau tidak?”

Tiat Bok Taysu menggelengkan kepala, ia menjawab dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara ke dalam telinga.

“Aku telah menjumpai lawan tangguh yang selama hidupku belum pernah kutemukan, apabila ia membalas menyerang, serangan itu pasti hebat sekali.”

Gadis berbaju putih itu tiba2 menghampiri Siang-koan Kie dan bertanya dengan suara perlahan, “Apakah kau terluka?”

Siang-koan Kie tersenyum, lalu menggelengkan kepala tidak menjawab.

Perbuatan gadis itu bukannya timbul rasa kasihan terhadap Siang-koan Kie, melainkan dikagumkan oleh kepandaian dan kekuatan pemuda itu, yang akan merupakan satu tenaga pembantu paling baik baginya.

Suasana dalam ruangan itu kembali sunyi senyap, semua orang agaknya dikejutkan oleh pertempuran itu.

Pada saat itu dari luar tiba2 terdengar suara pertanyaaan Wan Hauw bagaikan geledek, “Kalian sudah habis bicara atau belum? Aku hendak masuk.”

Gadis berbaju putih itu menyahut dengan suara nyaring, “Belum, kau tunggu lagi di luar!” “Tiat Bok Taysu tiba2 berkata, “Nona tidak perlu menghambat waktu lagi, urusan ayahmu lolap sudah dapat menduga sebagian, akal muslihatmu mungkin sudah habis, kini sudah hampir subuh, kau mau menerangkan atau tidak terserah kepadamu sendiri….”

Gadis itu tiba tiba tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata, “Aku hendak bertanya tuan2 lebih dulu, semua orang yang ada dalam ruangan ini harap tanya kepada hati nurani sendiri, benarkah kedatangan kalian ini hanya untuk menyatakan berduka cita atas kematian ayah?”

Semua orang yang ada di situ tertegun mendengar pertanyaan gadis itu.

Memang kedatangan mereka itu bukan se-mata2 untuk menyatakan berduka cita saja.

Gadis itu kembali tertawa, terbahak-bahak dan berkata, “Di masa hidupnya, ayah pernah melepas banyak budi terhadap beberapa partai besar golongan kebenaran, kalau tuan2 menjunjung tiuggi orangnya, itu masih merupakan soal kecil, yang penting ialah karena takut ada perbuatan2 yang tidak baik terhadap ayah, sehingga menimbulkan kericuhan dalam golongan Partai2 besar, juga karena takut kepandaian dan kekuatan ayah yang sedemikian tinggi, maka meskipun terhadap kita orang2 keluarga Pan mengandung perasaan tidak senang, tetapi toh tidak berani menyatakaa secara terang-terangan….”

Semua orang agaknya sulit untuk membantah ucapan gadis itu, mereka diam.

Gadis itu setelah berpikir sejenak lalu berkata, “Sebetulnya ayah sangat khawatir bahwa urusan yang lalu akan terbongkar rahasianya, selama beberapa puluh tahun ini selalu merasa tidak senang, di satu pihak ayah dengan tekun melatih kepandaiannya lagi, di lain pihak diam2 telah mengirim orang untuk mencelakakan semua sabahatnya yang dahuhu telah mengetahui rahasianya, apabila semua orang yang mengetahui, rahasia terbunuh seluruhnya, maka rahasia itu tetap akan menjadi suatu rahasia uutuk se-lama2nya, dan dia juga akan menjadi seorang yang dijunjung dan dihormati oleh orang2 rimba persilatan untuk se-lama2nya.

Tiat Bok Taysu agaknya ingat sesuatu, lalu bertanya, “Kalau begitu, apakah dalam pertempuran orang2 golongan kebenaran dan golongan sesat pada masa yang lalu itu, sengaja ditimbulkan oleh ayahmu?”

“Bukan hanya ditimbulkan secara sengaja, bahkan atas perbuatannya ia seorang diri, yang ingin menarik keuntungan dalam pertempuran itu, kemudian mengangkangi tiga rupa benda pusaka.”

Tiat Bok Taysu diam2 berpikir, “Gadis ini telah membongkar rahasia ayahnya sendiri, dalam hal ini mungkin mengandung maksud tertentu, apakah antara ayah dan anak ini telah terjadi bentrokan sendiri?”

“Gadis itu berkata pula, “Sayang rencana itu bukan hanya kekuatan tenaga ie seorang yang dapat melaksanakan, maka tidak boleh tidak harus mencari tenaga bantuan yang diam2 membantunya, dalam pertempuran itu orang2 kedua pihak menderita kerugian hebat, sebetulnya kedua pihak akan hancur, tetapi karena akal muslihatnya itu tiba2 diketahui oleh orang, dan ayah karena mengingat kepentingan sendiri, maka pada akhirnya ia berpihak kepada golongan kebenaran sehingga orang2 golongan sesat mengalami kekalahan total….”

Mengenai kejadian dalam pertempuran besar antara golongan orang2 kebenaran dan golongan sesat itu, semua tahu bahwa Pan Lo Enghiong pernah membantu pihak Siao- lim-pay dan Bu-tong-pay, bukan saja menghindarkan kehancuran partai2 besar pada saat itu, bahkan orang2 golongan sesat yang ikut dalam pertempuran pada saat itu, hampir binasa seluruhnya, tetapi dengan cara bagaimana Pan Loya itu telah membantu golongan kebenaran? Sedikit sekali orang yang tahu.

Tiat Bok Taysu menghela napas perlahan kemudian berkata, “Kiranya dalam hal ini terkandung rahasia demikian, apa yang lolap tidak mengerti ialah….”

“Kau maksudkan, dengan cara ini aku perlakukan ayahku sendiri, sesungguhnya menimbulkan keheranan orang, bukan?”

Entah siapa yang berkata dengan suara keras, “Setiap manusia memang sulit untuk menghindarkan nasib secara itu, Pan Lo Enghiong meskipun mendapat penghargaan tinggi dari orang rimba persilatan, tetapi mempunyai anak durhaka seperti kau ini, juga tidak bias berbuat apa2.”

Perkataan itu memang terlalu pedas, sehingga pemuda berkabung itu bercucuran air matanya sedangkan gadis berbaju putih itu nampak melengak, dengan, dengan gerakan lambat2 ia menghapur air peluh di dahinya, kemudian berkata, “Ia telah mabuk kedudukan dan harta kekayaan sehingga melupakan kebajikkan, dengan diam-diam membinasakan saudara angkatnya sendiri, kemudian telah berusaha membunuh seluruh rumah tangganya, orang semacam ini bagaimana orang bisa menghargainya?”

Di antara tetamu itu kembali terdengar seorang yang berkata sambil menghela napas, “Tetapi biar bagaimana kau adalah anak perempuan Pan Loya!”

Gadis itu tiba2 mengangkat lengan bajunya, menutupi mukanya dan berkata, “Aku bukan anaknya, aku tidak mempunyai ayah begitu tidak berbudi dan kejam serta tidak mempunyai perikemanusiaan.”

Tiat Bok Taysu berkata, “Mengenai perbuatan ayahmu masa hidupnya, dalam rimba persilatan sudah lama orang menilainya, tidak perduli perbuatannya yang membantu orang2 golongan kebenaran itu terbit dari kemauannya sendiri ataukah hendak menyingkirkan orang2 yang sebagai musuhnya atau mengandung maksud hendak menarik keuntungan dari dalamnya, tetapi perbuatannya yang membantu orang2 golongan kebenaran itu, memang benar2 ada, hanya itu saja, sudah cukup mendapat penghargaan sahabat2 rimba persilatan….”

Gadis itu tiba2 menurunkan tangannya dan berkata dengan suara gusar, “Kalian orang2 beribadat selalu mengutamakan sebab dan akibat, orang jahat semacam dia itu, apakah tidak seharusnya mendapat pembalasan?”

“Sebagai anak tidak boleh membicarakan kesalahan ayah, perbuatan noana ini sudah merupakan perbuatan suatu anak yang tidak berbakti.”

Gadis itu ditegur demikian rupa, jelas sekali nampak sangat gugup, ia telah kehilangan ketenangannya, sehingga ia membentak dengan suara keras, “Siapa mengatakan ia ayahku?”

Pertanyaan itu agaknya merasa ia sudah tidak dapat kendalikan perasaannya sendiri, dalam kesunyian itu ia coba berusaha menenangkan pikirannya.

Tiat Bok Taysu tiba2 maju, dengan sinar mata yang tajam menatap wajah gadis itu kemudian bertanya, “Apakah ayahmu itu kau binasakan sendiri?”

Pertanyaan terus terang ini, sesungguhnya mengejutkan semua orang yang ada dalam ruangan itu, hingga semua mata ditujukan kepada gadis itu.

Gadis itu ketika ditanya demikian nampaknya terkejut, tetapi sesaat kemudian ia bias berlaku tenang lagi, lalu menjawab dengan suara sedih, “Aku mempunyai kepandaian apa, dapat membunuh dia?” “Siapakah sebetulnya yang membinasakan Pan Lo Enghiong? Kau harus member keterangan kepada sahabat2nya.”

“Orang itu berkepandaian tinggi sekali, berhati kejam bertangan ganas, tindak tanduknya misterius. Apa gunanya aku ceritakan.”

Dari antara para tamu itu terdengar suara orang berkata, “Di dalam dunia Kang-ouw di mana ada orang kepandaian tinggi yang tidak diketahui namanya, budak busuk kau jangan coba main gila.”

“Aku terangkan kepadamu, kau juga tidak sanggup menghadapinya, berkata gadis itu sambil tertawa.”

“Ada kejadian serupa ini, kalau begitu orang itu pasti orangnya mempunyai tiga kepala dan enam lengan tangan, nona Pan, tidaka halangan kau ceritakan dulu, supaya lolap mengetahuinya, berkata Tiat Bok Taysu.

“Kau dengar juga percuma.”

“Waktu sudah menjelang pagi sebaiknya nona jangan coba mengulur waktu lagi.”

“Baiklah! Aku sekarang sebutkan nama orang itu, ia mempunyai nama julukan Kun Liong-ong, apakah kalian tahu?”

“Kun Liong-ong, apakah orang itu seorang pemimpin atau tokoh baru dalam dunia Kang-ouw? bertanya Tiat Bok Taysu.

“Dugaanmu tidak salah tetapi kau sudah tidak bisa lari dari cengkramannya lagi.”

“Kalau nona sudah mengetahui bahwa kita sudah tidak mempunyai harapan hidup lagi mengapa tidak mau menerangkan duduknya perkara, mungkin sebelum lolap meninggalkan dunia yang fana ini dapat membantu nona.” Gadis itu tiba2 tertawa terbahak-bahak lalu berkata, “Apakah kalian masih dapat kesempatan membantu aku?”

“Manusia dalam dunia, sulit untuk menjadi orang yang mahir dalam segala-galanya, betapapun tinggi kepandaian nona, juga tidak boleh dikata tidak memerlukan bantuan orang.”

“Pan Lo Enghiong sudah meninggal, meskipun ia tidak binasa di tanganku, tetapi dalam urusan ini aku sudah mengetahui lebih dulu, aku lihat kegelisahannya yang patut dikasihani waktu ia berusaha minta pertolongan dari para sahabat. Dalam hatitku sebetulnya merasa pilu, tetapi karena mengingat keadaanku sendiri, aku tidak dapat bertanya banyak2, sekarang kejadian ini sudah menjadi kenyataan, tidak perlu aku bicara terlalu banyak, jikalau tuan-tuan ingin berlalu, juga harap lekas berlalu.”

Dalam perkataan itu, agaknya mengandung peringatan supaya orang-orang itu lekas menyingkir.

Tiat Bok Taysu berkata, “Benar, tentang kematian ayahmu itu memang sudah menjadi kenyataan tetapi lolap masih ada beberapa pertanyaan yang ingin minta keterangan nona.”

“Apakah taysu tidak merasa bahwa hal itu terlalu menyebalkan?”

“Aku ingin menanyakan yang penting saja, nona boleh menjawab secara ringkas.”

“Baiklah! Aku hanya menjawab tiga pertanyaan saja, lebih dari tiu, maaf aku tidak akan jawab.”

“Ayahmu sebetulnya mati di tangan siapa?”

Gadis itu Nampak berpikir lama, kemudian baru menjawab, “ini susah dikata….”

“Yang kumaksudkan ialah orang yang membunuh langsung.” “Tiada orang yang langsung membunuhnya, ia hanya tidak sanggup menderita godaan dalam hati nuraninya sendiri, hingga binasa dalam keadaan ketakutan.”

“Nona sebetulnya anak perempuan Pan Loya sendiri atau bukan?”

Gadis itu lama berpikir, tiba2 ia berkata dengan suara gusar, “Kau paderi tua ini terlalu cerewet, kau selalu menanyakan urusan pribadi orang, tidak tahu apakah maksudmu?”

Tiat Bok Taysu juga berkata dengan suara bengis, “Kau dengan cara sangat licin telah memancing aku sampai di sini, kemudian coba main gila, suruh orang mendaftar dalam buku kematian segala….”

“Kapan aku memancing kau, bukankah aku sudah memberitahukan kepada kalian tentang rahasia Pan Lo Enghiong di masa hidupnya?”

“Kau pandai berputar lidah, kau selalu menuturkan hal2 yang mendebarkan orang saja, tetapi apabila ditanya hal2 yang penting kau selalu mengelakkannya dan menjawab sembarangan….”

Perkataan Tiat Bok Taysu itu, telah menyadarkan semua orang sehingga semua orang lalu berpikir, “Ya, sudah sekian lama ia berkata, tetapi siapakah sebetulnya orang yang membunuh Pan Loya dan mengapa ia harus mengadu domba dari golongan kebenaran dan golongan sesat serta tiga rupa benda Pusaka apakah yang dimaksudkan? Semua ini belum diterangkan.”

Maka ramailah ucapan2 yang keluar dari mulut orang2 itu, “Benar, benar….”

Tiat Bok Taysu berkata pula dengan sikap keren, “Kau sudah berjanji mau menjawab tiga pertanyaan lolap, seharusnya kau menjawab  dengan benar  pertanyaan yang lolap ajukan, mengapa kau coba mengelakkan untuk menjawab pertanyaan yang lolap ajukan?”

Siapakah sebetulnya pembunuh Pan Lo Enghiong itu?

-ooodwooo-