ISMRP Jilid 06

 
Jilid 06

Wan Hauw berjalan paling belakang, pemuda berpakaian berkabung itu entah karena sudah tidak dapat mengendalikan perasaan tidak senangnya, atau karena melihat bentuk Wan Hauw yang

agak mirip dengan monyet, ketika Wan Hauw berjalan disampingnya, tiba2 menarik tangannya seraya berkata dengan suara perlahan, “Apakah saudara ini juga ingin melihat jenazah ayah?”

Wan Hauw tidak mengerti pertanyaan pemuda Itu mengandung maksud baik atau jahat ia tersenyum dan menjawabnya, “Ia, aku selalu berjalan mengikuti toako.” Setelah itu ia terus berjalan dengan tindakan lebar.

Pemuda berpakaian berkabung itu menarik napas panjang, ia membiarkan Wan Hauw berjalan terus. Sehabis menarik napas tadi, kekusutan dalam pikirannya agaknya sudah lenyap, tiba2 ia

mempercepat gerakan, mendahului Tiat Bok tay yang hendak menunjukkan jalan. Sewaktu rombongan orang2 itu melalui beberapa barak, orang2 yang berada dalam barak itu semua memandangnya dengan perasaan mengiri,

mereka kasak kusuk membicarakan orang2 dari golongan orang kuat itu….”

Setelah mengitari beberapa barak, tibalah dihapan pekarangan disebuah gedung besar.

Pintu yang di cat warna hitam pada gedung besar itu, sudah penuh karangan bunga, tetapi tertutup rapat.

Pemuda berpakaian berkabung itu mengetok pintu tersebut, tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Empat laki2 tegap, berdiri dikedua sisi pintu sambil meluruskan kedua tangannya laki2 itu setiap orang kepalanya diikat dengan kain putih,

Walaupun keadaan didalam barak riuh suara orang ber- cakap2, karena jumlah tetamu yang keliwat banyak, tetapi keadaan didalam gedung itu sunyi senyap.

Tiat Bok taysu yang masuk lebih dulu, lalu diikuti oleh yang lain-lainnya, Wan Hauw baru saja melangkah pintu, empat laki2 yang menjaga dikedua sisi pintu dengan cepat segera menutup pintunya.

Siang-koan Kie kawatir Wan Hauw ketinggalan diluar pintu, maka ia berpaling kebelakang, Sepintas lalu saja, ia sudah dapat melihat bahwa empat laki2 yang menjaga pintu itu, dibalik baju mereka tampak senjata tajam.

Kembali la merasa bahwa kematian Pan Loya ini, agaknya tidak sewajarnya, karena dalam ke adaan berkabung masih dilakukan penjagaan demikian keras.

Sebuah ruangan pekarangan yang luas, ditengah2nya dilapisi kain putih, pemuda berpakaian berkabung itu, berjalan paling depan sebagai petunjuk jalan, ia berjalan sangat lambat melalui atasnya kain putih itu.

Orang2 yang mengikuti, terpaksa juga berjalan diatas kain putih itu.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan demikian dalam hati merasa heran, pikirnja, “tanah diatas kain putih, dan orang2 harus jalan diatasnya, entah apakah maksudnya, apakah itu memang sudah menjadi kebiasaan atau adat istiadat tempat ini.

Meskipun dalam hati tidak mengerti, tetapi ia toh terpaksa mengikuti orang2 itu berjalan di

Kain putih itu terus menutupi tanah sepanjang jalan sehingga kedepan pintu gedung. Ditengah pekarangan depan gedung yang luas itu, kecuali beberapa tanaman pohon besar dan pohon bunga tidak terdapat tanaman lain.

Pemuda berkabung itu naik diatas tangga batu didepan pintu gedung, kemudian berpaling dan berkata kepada Tiat Bok dan Ki Bok Tay su sekalian, “Didalam pintu kedua ini, ada beberapa ekor anjing galak yang menjaga pintu, harap tuan2 berhenti sebentar disini, supaya boanpwe memberitahukan kepada beberapa pelayan untuk mengurung anjing2 itu lebih dulu, nanti akan mempersilakan tuan2 masuk lagi.

“Siao sicu silahkan.” Berkata Tian Bok Taysu sambil merangkapkan kedua tangannya.

Pemuda berkabung itu mulai ngetok pintu, tidak berapa lama pintu itu terbuka tetapi hanya dapat dilalui oleh seorang saja, sebuah kepala menongol keluar, setelah melongok keluar sebentar orang itu menghilang pula dibalik pintu.

Siang koan Kie diam2 merasa heran penjagaan yang demikian hebat itu. Sementara itu pemuda berkabung itu sudah memasuki pintu tersebut.

Tidak lama kemudin pintu itu terbuka lebar pemuda berpakaian berkabung itu berdiri diambang pintu untuk memberi hormat mempersilakan tamu-tamunya masuk.

Tiat Bok-tayau berjalan lebih dulu diikuti oleh Ki Bok-taysu, dua jago pedang dari Ceng Shia pay, Lui Beng Wan, Im yang Siangciok, Touw thian Gouw, Siang-koan Kie dan lain2nya.

Dibelakang pintu itu kembali merupakan satu pekarangan luas, disitu terdapat banyak tanaman bunga nampaknya seperti sebuah taman jalanan di tengah2 taman itu terbuat dari batu bata merah, diatas jalanan batu itu juga dialasi oleh kain putih. Kamar2 yang terdapat dikedua sampingnitu jendelanya terbuka lebar, tetapi tidak nampak bayangan seorangpun. sehabis melalui jalanan itu, disitu terdapat sebuah ruangan luas. Pemuda berpakaian berkabung itu berhenti kemudian berkata sambil memberi hormat:

” Jenasah ayah almarhum akan dimasukkan didalam peti diruangan ini, silahkan lotcianpwe sekalian masuk.”

Setelah itu ia menepi untuk para tamunya masuk. Tiat Bok- taysu bersama rombongan orang berjalan masuk kedalam ruangan besar.

Disitu ditengah ruangan terdapat empat batang lilin putih yang masih menyala serta karangan bunga putih, dibelakangnya nampak tirai yang terbuat dari kain sutra warna putih.Tiat Bok-taysu menghadap tirai kain sutra putih itu berdiri sambil merangkap kedua tangannya, setelah memuji nama Budha, mulutnya membacakan doa dengan suara sangat perlahan. Siang-koan Kie dan yang lain2nya yang berdiri disampingnya juga tidak mendengar apa yang diucapkan.

Pada saat itu, pemuda berpakaian berkabung itu juga sudah turut masuk, diam2 berdiri dibelakang orang banyak.Tiat Bok-taysu berpaling mengawasi pemuda perpakain berkabung, kemudian berkata, “Bolehkah lolap masuk kebelakang tirai ini untuk melihat jenasah Pan Losicu?” “Taysu silahkan”berkata pemuda itu. Tiat Bok-taysu lalu melangkah maju, setelah membuka tirai putih itu dengan tindakan perlahan ia perjalan masuk. Selagi Ki Bok-taysu hendak mengikuti,

pemuda berkabung itu tiba2 berkata, “ Depan peti jenasah di belakang tirai ini, tempatnya sempit, sebaiknya taysu menunggu setelah siansu nanti keluar baru masuk lagi.” Siang-koan Kie yang mendengar itu merasa heran, diam2 berpikir untuk melihat jenasah Pan Loya saja apakah harus melihat satu persatu. Ki Bok taysu merangkapkan kedua tangannya benar saja ia lalu berdiri di depan tirai untuk menunggu gilirian. Tiat Bok-taysu yang masuk kebelakang tirai lama tidak keluar,

agaknya dibelakang tirai putih itu banyak hal dan kejadian yang telah dilihatnya.

Rombongan orang2 itu semua mulai tidak sa bar, sehingga Ki Bok-taysu sendiri yang mempunyai kesabaran luar biasa juga mulai tidak tenang, matanya yang dipejamkan tiba2 terbuka lebar dengan sinar mata yang tajam ia mengawasi pemuda berpakaian berkabung, lalu bertanya dengan nada suara dingin, “Benarkah jenazah Pan lositju berada dibela kang tirai ini?”

“Bagaimana boanpwe berani membohongi cianpwe sekalian?” menjawab pemuda itu sambil menganggukkan kepala.

Kata katanya itu nampaknya diucapkan dengan hati sejurjurnya, mau tidak mau orang harus percaya,

Ki Bok-taysu terpaksa berlaku sabar, ia menarik napas panjang, kembali menunggu diluar.

Beberapa lama ia menunggu, tetapi masih tetap tidak tampak Tiat Bok-taysu muncul, Ki Bok taysu agaknya sudah tidak sabar lagi, maka setelah memuji nama Budha ia lalu berkata, “Sicu, maafkan lolap terpaksa akan masuk kebelakang tirai ini.”

Dengan tanpa menunggu jawaban pemuda berpakaian berkabung itu, ia sudah merobos masuk kebelakang tirai itu.

Pemuda berpakaian berkabung itu, sebetulnya hendak mencegah, tetapi kemudian tiba2 membatalkan maksud ini.

Pada saat itu dua jago pedang dari Tjeng-shia pay segera memberi hormat kepada pemuda berkabung itu seraya berkata:. “Kalau sicu sudah boleh memberi kelonggaran Pin-to juga ingin minta kelonggaran dari sicu.’

Ucapan kedua imam itu meskipun sangat rendah, tetapi sikapnya menunjukkan hendak masuk dengan kekerasan, dengan tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu, mereka sudah masuk kebelakang tirai putih itu.

Si burung elang berkepala sembilan ketika menyaksikan dua imam itu sudah masuk lalu berkata kepada pemuda itu, “Sutit sudah membiarkan orang lain masuk, rasanya toh tidak pantas membiarkan pamanmu ini menunggu diluar bukan?”

Setelah berkala demikian, ia lalu masuk dengan tindakan kaki lebar.

Pemuda berpakaian berkabung itu berkata dengan suara perlahan, “Harap paman Lui tunggu sebentar nanti setelah mereka keluar ….”

Lui Beng Wan mendelikan matanya dan berkata, “Aku dan ayahmu sudah beberapa puluh tahun bersahabat erat, apakah tidak lebih berharga daripada orang lain?”

Pemuda berpakaian berkabung itu terpaksa mundur satu tindak untuk memberi jalan Lui Beng dan suami istri.

Pada saat itu, yang berdiri didepan tirai tinggal Im-yang Siang ciok, Touw Thian Gouw, Siang-koan Kie dan Wan-hauw berlima. Touw Thian Goaw melawasi Im yang Siang sejenak, kemudian berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan:

Kalau semua boleh masuk, mengapa kita harus berdiri disini?”

Sambil mendongakkan kepala orang she Touw Itu berjalan disamping Im-yang Siang-tjiok terus masuk kebelakang tirai.

Siang-koan Kie dan Wan-hauW mengikuti dibelakangnya.Pemuda berpakaian berkabung itu coba mencegahnya sambil berkata, “Bolehkah tuan2 tunggu sebentar?”

“Kita sudah tidak sabar menunggu, ayahmu adalah seorang jago kenamaan, kita hanya karena kagum dan mendjungjung tinggi kepribadiannya barulah datang kemari, maksud kita hanya ingin menyaksikan Wajahnya untuk penghabisan kali, karena kita masih ada urusan penting yang, harus diselesaikan, harap kongcu dapat memaafkan perbuatan kita ini!”

Pemuda berpakaian berkabung itu tiba2 menunjukkan sikap gusar, tetapi akhirnya ia mengendalikan hawa amarahnya, ia mundur kesamping untuk memberi jalan pada Touw Thian Gouw bertiga.

Dibelakang tirai kain berwarna putih itu, ternyata bukanlah tempat untuk menaruh peti mati, hanya merupakan sebuah jalanan sempit yang hanya dapat dilalui oleh dua orang dengan jalan berendeng, jalanan itu terus menuju kebelakang.

Siang-koan Kie diam2 berpikir: pantas dua taysu dari kuil Siao-liem sie itu sudah masuk sekian lama belum nampak keluar, kiranya dibelakang tirai ini, adalah sebuah jalanan yang entah menuju kemana.

Sementara itu pemuda berpakaian berkabung itu juga sudah berjalan per-lahan2 dibelakang Wan Hauw.

Jalan masuk kira2 lima enam tombak, jalanan itu membelok kesamping.

Touw Thian Gouw berpaling mengawasi Siang koan Kie sejenak, lalu berkata dengan suara pelahan, “jalan yang kita lalui ini, mungkin menuju

kebawah tanah ….”

“Hem, jikalau mereka bermaksud jahat menutup jalan masuk tadi, bukankah kita akan terkurung disini?’ “Bukan cuma terkurung saja, bahkan apabila dimasuki air atau dibakar, sekalipun orang berkepandaian tinggi, juga tidak bisa hidup….ada

sUatu hal yang tidak dapat dimengerti, untuk sementara ini, sesungguhnya Sangat membingungkan.”

“Hal apa?”

“jalanan ini yang dimulai dari ruangan tengah, pembuatannya demikian sempurna, sehingga susah diduga orang, pekerjaan yang begini hebat, sudah tentu tidak dapat dilakukan dalam waktu sangat singkat, ini suatu bukti bahwa jalanan ini pasti sudah selesai dibuat sebelum Pan Loya meninggal dunia.”

“Benar.”

“Setelah ia meninggal jenazahnya masih perlu disimpan ditempat yang sangat rahasia seperti ini, entah apa maksudnya?”

Siang koan Kie yang mendengar pernyataan kawannya itu nampak berpikir, kemudian berkata, “ya! Apakah jenazah Pan Loya takut dicuri orang?”

Sementara itu mereka bartiga sudah harus menikung kesuatu belokan lagi dari situ samar2 terdengar suara orang bercakap cakap.

Setelah melalui tikungan itu, keadaan tiba2 berobah didalam satu ruangan yang hias, disitu berdiri Tiat Bok taysu, Ki Bok taysu, Lui Beng Wan suami istri dan seorang gadis berpakaian berkabung.

Touw Thian Gouw bertiga mempercepat tindakan kakinya, masuk keruangan tersebut.

Disuatu sudut dalam ruangan kamar itu, duduk seorang tua berjenggot panjang sedang bicara dengan Tiat Bok taysu, Lui Beng Wan dan lain-lainnya. Mata orang tua itu perlahan2 berkisar kearah Touw Thian Gouw, Siang koan Kie dan Wan Hauw, kemudian menganggukan kepala memberi hormat, Touw Thian Gouw berpikir sejenak lalu berkata sambil memberi hormat, “Lo- eng-hiong adalab Pan-tayhiap?….”

Orang tua itu menjawab sambil membongkokkan badan, “Siaote dan Tjiong Tong, dan saundara….”

“Siaote Touw Thian Gouw.”

“Oh. nama besar itu sudah lama Siaote dengar, sungguh tidak diduga sipecut sakti dari daerah luar perbatasan, ternyata juga datang kedaerah

Tiong Goan….” Kemudian ia mengawasi Siang-koan Kie dan berkata kepadanya, “Saudara kecil ini….”

Siang-koan Kie dengan cepat memberi hormat seraya berkata, “Boanpwe Siang-koan Kie, dan dibelakang boanpwee ini adalah adik angkat boanpwee, Wan HaUW.”

“Kalian datang dari tempat jauh, aku siorang tua mengucap banyak2 terima kasih.”

Siang-koan Kie mengawasi Touw Thian Gouw tetapi mulutnya berkata kepada orang tua itu, “Mana, boanpwee baru menginjak dunia Kang ouw, dapat melibat wajah agung locianpwe sesungguhnya merupakan suatu kehormatan yang paling besar.”

Pan Tjiong Tong menghela napas panjang kemudian berkata, “Aku si tua bangka sudah mendapat luka parah, hanya tinggal menunggu waktunya saja untuk menghadap Tuhan yang Maha Esh. Sebagian besar hidupku didalam dunia Kung-ouw, rasanya sudah bosan penghidupan diujung senjata itu, terhadap segala permusuhan dalam dunia pandanganku juga sudah tawar, kali ini aku pura-pura meninggal sebetulnya mengharap agar sahabat sahabat lama dikalangan Kang-ouw, perlahan2 melupakan diriku, setelah upacara penguburan selesai, aku akan mencari tempat gunung yang sepi untuk mengasingkan diri, dimana aku

hendak menantikan ajalku….”

Ia berdiam sejenak, lalu berkata pula, “Sungguh tidak disangka saudara2 dan sahabat sahabat lama masih demikian besar cintanya terhadap diriku si orang tua, sehingga memerlukan hendak melibat jenasahku, anak2 ku tadi telah datang untuk melaporkan dan minta pikiranku, kali ini sesungguhnya menyulitan aku, tetapi karena aku tidak ingin mengecewakan saudara2 maka aku perintahkan anakku ajak saudara2 sekalian datang kekamar ini untuk mengadakan pertemuan, satu2nya pengharapanku,

ialah kuharap dengan sangat agar supaya soal pertemuan ini jangan sampai tersiar keluar, disini terlebih dahulu aku ucapkan banyak-banyak terima kasih.’”

Perkataan orang tua itu pada umumnya sangat mengherankan dan menimbulkan perasaan curiga bagi semua orang yang berada disitu.

Terutama Lui Bang Wan dengan sinar matanya yang tajam menatap wajah Pan Tjiong Tong tampak berkedip, lalu bertanya, “Loako sudah berapa tahun kita tidak bertemu?”

Pan Tjiong Tong memperdengarkan suara batuk batuk yang amat perlahan, lalu menjawabnya, “Kita berdua mungkin sudah delapan atau sembilan tahun tidak bertemu muka, aih! Manusia kalau sudah berusia begitu lanjut, paling banyak menghadapi perobahan segala kejadian, siaotee bukanlah nampak lebih gemuk sedikit? Hanya usia yang sudah lebih tua sehingga ambisi dimasa muda, kini sudah tidak ada bekasnya….”

Lui Beng Wan tertawa sambil mengurut jenggotnya, ia agaknya ingin bicara apa2 tetapi kemudian dibatalkan, satelah bediam sejenak ia baru berkata lagi, “Waktu berlalu sangat pesat, sehingga manusia juga lekas tua, kita berdua tua bangka ini persahabatannya juga dirasakan semakin renggang.”

Tiat Bok taysu tiba2 berkata sambil merangkapkan kedua tangannya, “Atas perintah ketua kuil, lolap datang kemari hendak turut mengantar jenazah Pan lositju itu, dalam waktu tiga hari lagi ketua kuil Siao-lim-sie segera tiba siapa tahu lositju hanya pura pura saja,

hal ini sesungguhnya sangat menyulitkan lolap”

Pemuda berpakaian berkabung tiba2 menyela, “jiwie Losiansu apabila tidak memandang rendah kediaman kita ini, harap beristirahat dulu disini tiga hari, nanti setelah ketua lotjiansu datang kemari dan sesudah berjumpa dengan ayah baru pulang, entah bagaimana pikiran losiansu?”‘

Tiat bok-taysu dan Ki Bok-taysu saling berpandangan sebentar, selagi hendak menjawab tiba2 terdengar suara gadis berkabung itu:,. Aku pikir tidak usah, jiwie-taysu adalah orang2 yang beribadat tinggi, bagaimana berdiam dirumah kita?”

Pan Tjiong Tong lantas berkata, “Hong Kow….,: Tiba2 ia merperdengarkan suara batuk2, kemudian berkata pula,

..Ucapan Hong-jie memang benar, harap jiwie mengabarkan kepada ketua jiwie, katakan saja bahwa aku si orang she Pan menyatakan banyak terima kasih atas budi kebaikannya “

Ucapan itu meski sangat rendah tetapi mengandung maksud mengusir tetamunya.

Siang-koan Kie yang Sejak tadi mendengarkan pembicaraan itu dengan penuh perhatian, diam2 merasa heran, selagi hendak membuka mulut, di belakang dirinya tiba2 terdengar suara tindakkan kaki orang.

Dengan cepat ia berpaling, segera dilihatnya Kim Siao Ho yang tadi menjemput dirinya telah masuk tergesa2, orang she Kim itu ketika melihat dalam kamar terdapat demikian banyak orang nampaknya terkejut dan terheran heran.

Tetapi dengan cepat ia pulih kembali seperti biasa, sambil memberi hormat ia berkata, “Semua sudah siap, upacara sembahyang apakah sudah boleh dimulai!”

Matanya terus menatap kepada gadis dan pemuda berpakaian berkabung itu dengan bergiliran, agaknya tidak tahu ia harus bertanya kepada siapa.

Pemuda berpakaian berkabung itu mengawasi gadis berpakaian berkabung itu sejenak, baru berkata, “Harap adiK berikan putusannya….”

Gadis itu berpaling kepada ayahnya, kemudian berkata,, Biar ayah saja yang memutuskan.” Pan Tjiong Tong lalu berkata, “Kau semua sudah siap, bolehlah segera dimulai!”

Kim Siao Ho lalu memberi hormat kepada Tiat Bok-taysu, Ki Bok-taysu dan lain lainnya seraya berkata, “Apakah tuan tuan hendak turut menghadiri upacara sembahyang? “

Gadis berpakaian berkabung itu segera menyambungnya, “Sudah tentu harus ikut hadir, apabila mereka tidak menghadiri upacara sembahyang, bukankah akan menimbulkan kecurigaan banyak  orang?…”

Gadis itu nampak berpikir sejenak, kemudian berkata, kepada orang tua yang duduk itu, “Hari ini ayah sudah bicara terlalu banyak, sudah seharusnya beristirahat dulu….”

Kemudian berpaling dan berkata kepada pemuda berpakaian berkabung

“Koko, mari kita jalan dulu!”

Pemuda itu segera memutar badannya dan berlalu dari situ.

Gadis itu kembali memberi hormat kepada orang2 dalam kamar seraya berkata, “Para locianpwee dan paman2 sekalian dalam upacara sembahyang itu, apabila locianpwee dan paman2 sekalian tidak turut hadir, pasti akan menimbulkan banyak kecurigaan, terpaksa minta locianpwee dan paman2 sekalian turut menghadiri upacara sembahyang itu.”

Tiat Bok-taysu dan Ki Bok-taysu tidak menyatakan apa2, segera berjalan keluar.

Dua jago pedang partay Tjeng shia-pay saling berpandangan sebentar lalu berkata, “Setelah upacara sembahyang selesai, masih ada sedikit urusan kita ingin omong2 dengan ayahmu, apakah kau tidak keberatan?”

Dua jago pedang itu agaknya sudah dapat bahwa gadis itulah sesungguhnya yang memegang peranan penting mengurus semua urusan dalam gedung ini, maka ia langsung menanyakan kepadanya.

Gadis itu sambil mengerutkan alisnya menjawab, “Urusan ini harus bertanya kepada ayab sendiri.”

Pada saat itu Pan Tjiong Tong sebetulnya sudah memejamkan matanya, ketika mendengar ucapan anaknya, lalu mengawasinya sebentar, lalu berkata, “Tuan2 datang dari tempat dauh, sudah seharusnya aku menerima baik permintaan tuan2.”

Kedua jago pedang itu tidak bicara lagi, mereka angkat tangan memberi hormat, lalu mengundurkan diri dan berjalan keluar mengikuti dua paderi dari Siao liam sie tadi.

Lui Beng Wan mengawasi istrinya sejenak lalu berkata, “Kita juga pergi.”

Sang istri itu menurut, ia membalikkan badan dan berjalan lebih dahulu’

Lui Beng Wan melambaikan tangan dan berkata kepada Pan Tjiong Tong, “Loako, nanti malam kita berjumpa lagi.”

Setelah itu lalu berjalan dibelakang istrinya. Touw Thian Gouw menarik tangan Siang-koan Kie seraya berkata dengan suara perlahan, “Mari kita juga pergi.”

Im-yang Siang-tjiok juga berjalan dibelakang Wan-Hauw keluar dari ruangan itu.

Ketika beberapa orang itu tiba didalam ruangan yang luas itu, upacara sembahyang sudah dimulai.

Touw Thian Gouw mengerutkan alisnya, agaknya hendak mengucapkan sesuatu kepada Siang koan Kie tetapi kemudian dibatalkan.

Orang2 itu baru tiba diruangan yang luas itu, segera melihat sebuah peti besar yang diatasnya sudah penuh karangan bunga, terletak ditengah tengah ruangan itu, pemuda berpakaian berkabung itu berdiri disampingnya dengan kepala tunduk dan kedua tangannya melurus kebawah, apa yang mengherankan ialah gadis yang berpakaian berkabung itu, ternyata sudah tidak lebih dulu dengan kepala memakai kerudung kain putih, berdiri disebelah kanan peti.

Kim Siao Ho memberi hormat kepada orang2 itu seraya berkata, “Tuan-tuan, harap melakukan upacara sembahyang….”

Ucapannya itu nampaknya sangat sedih dan hikmat, seolah2 dalam peti itu benar2 ada jenazahnya Pan Tjiong Tong. Siang-koan Kie diam diam berpikir, “Orang tua dalam kamar rahasia itu, pasti adalah Pan Loya sendiri, sedang dalam peti mati ini, kalau bukan diisi barang2 lain, tentunya adalah orang; yang menggantikan dirinya pura pura mati, orang2 ini bisa berlaku sedemikian sungguh sungguh, kedukaan setiap orang nampaknya seperti tidak dibuat2nya, sesungguhnya tidaklah mudah….”

Selagi masih berpikir tiba2 terdengar orang berkata dengan suara nyaring, “Upacara sembahyang dimulai….” Pintu besar yang tertutup rapat itu, tiba2 terbuka lebar.

Semua tetamu yang hendak turut sembahyang segera menyerbu masuk.

Tiat Bok taysu dan Ki Bok-taysu berjalan lebih dulu kedepan peti mati, mereka membongkokan badan sambil merangkapkan kedua tangannya dan memuji nama Budha. Kedua padri itu, mungkin sudah tahu karena didalam peti itu bukanlah Pan Tjiong Tong yang sesungguhnya, maka ia tidak mau berlutut, hanya memberi hormat dengan membengkokkan badan kemudian minggir ke samping. Sebaliknya dengan pemuda dan gadis berpakaian berkabung itu, mereka berlutut dikedua samping peti,

setiap kali ada orang melakukan upacara sembahyang, ia harus mcmbalas dengan kehormatan besar.

Dua jago pedang dari Tjeng-shia-pay juga hanya menjura saja hanya Lui BengWan yang melakukan upacara sembahyang itu dengan berlutut, Im-yang Siang-tjiok karena melihat Lui Beng Wan berlutut, mereka terpaksa juga berlutut.

Touw Thian Gouw menarik tangan Siang-koan Kie seraya berkata, “Mari kita juga turut sembahyang!”

Siang-koan Kie mengikuti belakang|Touw Thian Gouw, sedangkan Wan Hauw selalu meniru gerak gerik Siang-koan Kie, setelah mereka selesai melakukan sembahyang, barulah rombongan orang-orang lainnya menyerbu kedepan peti untuk sembahyang.

Upacara itu memakan waktu dua jam lebih baru selesai.

Pada saat itu didalam pekarangan itu masih terdapat seratus orang lebih, agaknya orang2 itu mempunyai sedikit Kedudukan didalam rimba persilatan.

Kim Siao Ho buru2 menghampiri Tiat bok, taysu dan Ki Bok-taysu serta lain2nya lalu berkata dengan suara perlahan2, “Peti jenasah Pan Loya, sekarang hendak diberangkatkan untuk dikubur, taysu sekalian sudah satu hari belum bersantap, aku pikir tidak usah ikut mengantar, diruangan sebelah barat sudah disediakan hidangan ala kadarnya, silahkan taysu sekalian untuk kesana!”

Tiat Bok-taysu dan Ki Bok-taysu saling berpandangan sejenak, sebelum mereka menjawab Lui Beng Wan sudah mendahului berkata, “Aku dengan saudara Pan merupakan sahabat lama sejak masih muda, bagaimana tidak turut mengantar jenazahnya, buat orang lain aku tidak perduli, tetapi aku sendiri harus mengantar.” “ucapan saudara Lui juga benar….,”

berkata Kim Siao Ho sambil mengawasi Lui Beng Wan, kemudian berpaling dan berkata kepada Tiat Bok taysu, Ki Bok-taysu dan dua jago pedang dari Tjeng-shian-pay, Taysu, To-tiang tidak usah pergi saja!”

“Pi-tjeng datang atas perintah ketua, bagaimana boleh melakukan kewajiban hanya setengah jalan saja?” berkata Tiat Bok-taysu.

Sementara itu Touw Thian Gouw menarik tangan Siang koan Kie berpaling memandang kearah lain, ia sengaja tidak mau mengawani Kim Siao Ho.

Sebentar kemudian, peti mati sudah dibawa keluar, digotong oleh enambelas orang berpakaian kain hitan secara bergiliran.

Didepan pintu gedung pekarangan, barisan musik sudah menunggu, ketika melihat peti mati digotong keluar, segera membuka jalan sambil meniup irama berkabung.

Pada saat itu, hari sudah senja, sinar matahari yang sudah mulai terbenam ke barat, menimbulkan warna kuning diatas langit.

Tempat dimana dilalui oleh rombongan peti mati itu, sepanjang jalan banyak orang yang menyaksikan bagaikan lautan manusia, diantaranya malah tidak sedikitnya jumlahnya yang berlutut ditepi jalan, hampir semua orang diliputi kedukaan. Suatu tanda bahwa Pan Loya almarhum itu,

dimasa hidupnya mendapat penghargaan dari rakyat penduduk tempat itu.

Lautan manusia itu sejauh sepanjang kira2 sepuluh pal, rombongan peti mati berjalan kira kira tiga jam, ketika sudah tiba diluar kota orang orang yang memberi hormat penghabisan di sepanjang jalan baru nampak mulai sedikit.

jauh dari perbatasan kota, hari sudah gelap, hanya bintang,2 dilangit yang nampak sinarnya kelap kelip.

Gadis berpakaian berkabung itu melambaikan tangannya, rombongan orang2 yang menggotong peti mati itu ]alu berhenti. Gadis itu lalu berkata kepada pemuda berpakaian berkabung dengan suara perlahan, “Koko, kita sudah hampir tiba ditempat kuburan, orang2 tidak perlu mengantar lagi.”

Pemuda itu agaknya menghargai gadis tersebut, seketika itu ia segera menjawab sambil menganggukkan kepala, ”Itu benar.”

Kemudian ia berpaling menghadapi para tetamunya yang mengikuti mengantar jenazah, lalu berkata sambil memberi hormat, “jenazah ayah sudah hampir tiba ditempat penguburan, boanpwee pikir locianpwee sekalian sampai disini saja, tidak usah mengantar lagi.

Pengumuman secara mendadak itu, sesungguhnya diluar dugaan semua orang, sehingga terkejut.

Tiat Bok-taysu sambil merangkapkan kedua tangannya dan memuji nama Budha, lalu berkata, “Kalau siaositju sudah berkata demikian pintjeng sekalian terpaksa menurut, biarlah sampai disini saja.”

Setelah itu lalu berlalu dengan diikuti oleh Ki Bok-taysu dan yang lain2nya. Sebentar kemudian, yang masih tinggal hanya Lui Beng Wan suami istri, Touw thian Gouw, Siang-koan Kie, Wan Hauw, dan Im-yang Siang tjiok.

Pemuda berpakaian berkabung itu, ketika menyaksikan para tetamunya berlalu satu persatu, perasaannya mendadak kurang enak, sambil mengangkat tangannya ia berkata dengan suara nyaring, “Locianpwee sekalian, harap pulang kekediaman boanpwee dulu sebentar, nanti setelah upacara penguburan ayah selesai, boanpwee segera kembali.”

Gadis berpakaian berkabung itu berkata kepada pemuda tersebut dengan suara perlahan, “Koko minta supaya paman Lui dan lainanya juga pulang dulu!”

Pemuda itu berpikir sejenak, lalu berkata ke pada Lui Beng Wan dan Touw Thian Gouw sekalian, “Hawa malam sangat dingin, boanpwee tidak berani minta locianpwee sekalian mengantar lagi harap supaya juga pulang lebih dulu.”

Lui Beng Wan melototkan matanya dan dia berkata dengan nada suara tidak tenang, “Aku dengan ayahmu bukanlah sahabat biasa, jikalau aku tidak dapat menyaksikan atau mengantar sampai keliang kubur, hatiku tidak akan tenang….”

Pemuda itu mengawasi adiknya sejenak lalu berkata sambil mengerutkan keningnya, “Ini, ini….” Ia tidak tahu dengan alasan apa harus menolak permintaan orang tua itu, maka kata2nya tidak dapat dilanjutkan lagi.

Lui Beng Wan tertawa ter-bahak2, kemudian berkata sambil mengurut jenggotnya yang panjang, “jikalau hiantit tidak suka pamanmu ini mengantar sampai keliang kuburan, aku juga tidak akan memaksa, asal hiantit memenuhi permintaanku, aku akan segera kembali….”

“Entah urusan apa yang paman kehendaki?”

“Aku ingin menyaksikan wajah sahabat lamaku didalam peti mati ini.” Pemuda itu mundur dua langkah, ia berkata sambil meggelengkan kepala, “Peti mati sudah dipantek, bagaimana bisa di buka lagi? Kebaikan paman Lui, dan perhatian terhadap ayah almarhum, disini boanpwee mengucapKan banyak banyak terima kasih.”

Gadis berkabung itu memberi isyarat kepada rombongan pengangkut peti mati, orang2 yang menggotong peti mati itu segera melanjutkan perjalanan.

Lui Beng Wan memperdengarkan suara dihidung, kemudian hendak mengejar, gadis berkabung itu mencegahnya sambil berkata, “Paman Lui tadi toh sudah menjaksikan ayah dibelakang gedung, rasanya tidak melihat lagi.”

Lui Beng Wan menjawab sambil tertawa dingin, “Aku si tua bangka ini kau kira orang macam apa? Bagaimana dengan mudah ditipu begitu saja?”

Gadis itu tiba2 alisnya berdiri dengan cepat memotong perkataan Lui Beng Wan, “Paman dengan ayah bersahabat erat, boanpwee tidak ingin berlaku kurang sopan terhadap paman, urusan dalam keluarga Pan,

sebaiknya paman jagan turut campur tangan.” Lui Beng Wan tercengang, katanya, “Apabila aku hendak membuka peti ini untuk

menyaksikan keadaan sebenarnya, kau mau apa?” Gidis itu nampaknya merasa tidak senang, katanya, “jenazah ayah yang dimasuk kedalam peti mati bagaimana boleh dibuka sembarangan, paman ini agaknya juga tidak perlu membuka peti secara paksa, sekalipun paman Lui ingin berbuat demikian boanpwee juga tidak ingin terjadinya hal demikian.”

Siang koan Kie yang mendengar percakapan itu keherannya makin memuncak, dalam hati diam2 berpikir: Pan Loya sudah terang masih duduk dalam kamar dibawah tanah itu, bagaimana gadis itu masih mengatakan bahwa dalam peti jenasah ayahnya? Ia Yang merasa curiga, tetapi pada saat itu ia tak tahu apa sebabtya, dengan tanpa sadar ia saling mengawasi Touw Thian Gouw. Touw Thian Gouw bersenyum hambar, ia mengelengkan kepalanya, memberi isarat kepada Siang koan Kie supaya jangan campur tangan, dengan urusan ini.

sementara itu Lui Beng Wan sudah berkata sambil tertawa, Itu memang benar, urusan keluarga Pan seharusnya aku turut campur tangan, akan tetapi ayahmu dimasa hidupnya pernah mengangap saudara denganku, menurut adat istiadat dalam rimba persilatan, tidak boleh tidak aku harus campur tangan.”

Sambil berkata orang tua itu berpaling mengawasi istrinya.

Apabila sang istri itu mencegah, Lui Beng Wan sudah tentu tidak berani menentang kehendak istrinya, diluar dugaannya, kali ini sang istri diam diam saja tidak menyatakan pikiran apa2.

Gadis berkabung itu mengawasi Lui Beng Wan sejenak, lalu berkata dengan nada suara dingin

“Apabila aku tidak mengijinkan paman Lui membuka peti mati paman Lui mau apa?”

“Tentang ini….” Mungkin orang tua tidak menemukan kata2 yang tepat untuk menjawab sehingga hanya mengucapkan ucapan itu saja sudah tidak dapat melanjutkan lagi.

Gadis itu tiba2 mengangkat tangannya dan berkata, “Harap koko melindungi peti mati untuk berjalan lebih dulu.”

Pemuda berpakaian berkabung itu, masih tetap mengindahkan adiknya, atas permintaan adiknya tadi ia terpaksa menurut, maka lalu perintahkan orang2 yang menggotong peti mati supaya berjalan terus.

Lui Beng Wan sangat cemas, tiba2 melangkah tiga tindak kearah kiri, ia hendak mengejar rombongan peti mati sambil memutari gadis berpakaian berkabung itu. Tak disangka baru saja badannya bergerak gadis itu sudah menebak maksudnya dengan itui gerakan dan gaya yang gesit sekali, ia memotong dari kanan, sehingga masih tetap menghadang dihadapannya.

Lui Beng Wan agaknya merasa mendongkol menghadapi sikap gadis itu,sambil memperdengarkan suara di hidung ia melompat kekanan jauh satu tombak.

Serentak pada saat itu, gadis itu juga lompat melesat kearah kiri, karena waktunya sangat tepat,maka waktu melayang turun, tepat berada dihadapan Lui Beng Wan.

-odwo-

Bab 22

SIANG KOAN KIE menyaksikan keadaan demikian, berkata kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan sambil mengerutkan keningnya, “Orang tua she Lui itu sesunguhnya juga terlalu kurang sopan orang tidak mengijinkan membuka peti mati, perlu apa  ia harus memaksa?”

Touw Thian Gouw berpaling menggawasi gadis berkabung dari atas sampai kebawah, tiba-tiba mengerutkan alisnya, kemudian berkata sambil menghela napas panjang, “Urusan dalam rimba persilatan kadang2 banyak yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran biasa, siapapun tidak dapat menduga bagaimana keadaan sebenarnya…”

Siang koan Kie menganggukkan kepala sambil mengeluarkan jawaban singkat:” Oh! “

Namun dalam hati merasa kecewa, sebab jawaban Touw Thian Gouw itu sama2 tidak menjawab.

Walaupun ia baru muncul didunia Kang-ouw dan sedikit Sekali yang diketahui urusan dalam rimba persilatan, akan tetapi padi saat itu sedikit banyaknya ia sudah dapat menduga bahwa dalam urusan ini sesungguhnya bukanlah perkara biasa, sesaat itu pikiran yang diliputi oleh berbagai pertanyaan sehingga matanya terus ditujukan kepada diri gadis berkabung itu.

Gadis itu dengan alis berdiri dan paras dingin berkata dengan nada suara dingin pula, “Hawa malam sungat dingin aku lihat paman Lui apabila ada seorang cerdik, sebaliknya pulang saja.”

Lui Beng Wan membentak dan berkata dengan suara gusar, “jikalau kau berlaku demikian kurang ajar lagi, kau jangan sesalkan kalau aku tidak memandang diri orang dari tingkatan muda, sehingga perlu turun tangan terhadapnya.”

Gadis itu menjawab dengan nada suara dingin, “Apabila paman Lui tetap hendak mencampuri urusan keluarga Pan, nama baikmu yang telah kau pupuk selama beberapa tahun itu mungkin akan rusak dalam waktu sekejap saja!”

Wan Hauw yang sejak tadi berdiri disamping diam Saja, saat itu tiba2 berkata, “Anak perempuan ini bagaimana berlaku tidak sopan terhadap orang tua, apakah dia….”

Belum lagi habis ucapan Wan Hauw, Lui Beng Wan tiba2 memukul gadis berkabung itu. Sambil tertawa dingin gadis berkabung itu menggeser kakinya setengah langkah menghindarkan serangan Lui Beng Wan, tangannya dengan cepat melakukan suatu gerakan memotong kepada tangan orang tua itu, tak disangka serangan Lui Beng Wan segera ditarik kembali.

Wan Hauw yang belum habis ucapannya, ketika melihat Lui Beng Wan membatalkan serangannya dan balik mundur, ia tidak mengerti apa sebabnya, sejenak ia merasa heran, kemudian berkata, “Orang tua itu juga aneh, ia sendiri turun tangan lebih dulu, mengapa mundur lagi? apakah ….” Sampai disitu, tiba2 ia berdiam, tidak sepatah perkataanpun keluar lagi dari mulutnya.

“Maksudmu, apakah orang2 dalam dunia ini, semua, demikian aneh?” Demikian Siang-koan Kie berkata sambil bersenyum.

Muka Wan Hauw merah seketika, katanya sambil menundukkan kepala, “Sebetulnya ada juga yang tidak aneh.”

Touw Thian Gouw baru berkata sambil tertawa, “Seorang suami mendengar kata istrinya, sesungguhnya merupakan seuatu hal biasa, apa yang mengherankan? Sekalipun adat Lui Beng Wan berangasan, tetapi asal istrinya melarang atau menarik tangannya, semua beres.”

Siang-koan Kie pada saat itu meskipun pikirannya diliputi oleh beberapa kecurigaan, tetapi ketika menyaksikan Lui Beng Wan ditarik bajunya oleh sang isteri, segera dengan cepat menrik kembali serangannya, dan kemudian terdengar pula kata2 Touw Thian Gouw, dalam hati juga merasa geli.

Gadis berkabung itu ketika menyaksikan Lui Beng Wan membatalkan serangannya dan minggir, kesamping kemudian ditarik oleh istrinya lalu entah apa yang dikatakan oleh sang istri itu amarahnya mendadak mereda.

Lalu berkata sambil mengerutkan keningnya, “Locianpwee sekali lagi silahkan kembali!”

Setelah berkata demikian ia lalu memutar ba dannya, menyusul rombongan orang2 yang menggo tong pati mati saat itu sudah berlalu jauh.

Lui Beng Wan yang mendengar ucapan istrinya sambil menganggukkan kepala, sebentar kemudian lalu berlalu dan menghilang ditempat gelap.

Siang-koan Kie lalu bertanya kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan. “Saudara Touw, apakah kita juga perlu menyelidiki persolan ini?”

Touw Thian Gouw agaknya juga sudah tertarik oleh kejadian yang agaknya ganjil itu, ia lalu menjawab sambil menganggukkan kepala, “Baiklah! Mari kita kejar “

Setelah berkata demikian lebih dulu mengejar gadis itu.

Ia seorang Kang-ouw ulung yang sudah banyak pengalaman, ia mergejar gadis dan rombongan orang menggotong peti mati itu dengan mengambil jalan memutar.

Im-yang Siang-tjiok yang menyaksikan Lui Beng Wan suami istri, Touw Thian Gouw, dan Siang-koan Kie serta Wan Hauw sudah pada berlalu, lalu berunding sebentar, kemudian lari meninggalkan tempat tersebut.

Orang orang itu semua mempunyai satu tujuan, ialah hendak mengejar gadis berkabung itu, tetapi masing2 memilih jalan sendiri”, dengan rombongan orang2 yang menggotong peti mati itu terpisah satu jarak agak jauh, dalam suasana gelap itu satu sama lain tidak dapat melihatnya.

Diluar dugaan semua orang, angin malam tiba2 meniup kencang, sebentar kemudian, bintang2 di langit tertutup oleh awan tebal, sehingga cuaca meyadi gelap.

Sebentar lagi nampak berkelebatnya sinar kilat dan gemuruhnya bunyi geledek, lalu disusul oleh turunnya hujan yang se-olah2 dituang dari langit Touw Thian Gouw memperlahan gerak kakinya, ia ingin menunggu Siang koan Kie dan Wan Hauw kemudian baru mengejar lagi. Diwaktu malam gelap gulita dan hujan angin demikian keras, betapapun tajam daya pandangan dan pendengaran seseorang, semua sudah tidak ada gunanya sama sekali

Tak disangka baru saja ia berpaling ia sudah dapatkan Siang-koan Kie dan Wan Hauw berdiri dibelakang dirinya. Pada hal Touw Thian Gouw tadi sudah mengerahkan seluruh kepandaiannya, karena ia sudah mengetahui bahwa kepandaian kedua pemudi itu sangat tinggi sekali maka ia ingin menggunakan kesempatan itu, hendak mencoba ilmu lari pesat kedua pemuda itu.

Menurut tafsirannya kedua pemuda itu pasti akan ketinggalan se-tidak2nya tiga tombak atau lebih sebab ia selama lari tidak kedengaran suara gerakan kaki kedua pemuda itu berada dibelakangnya. Maka ketika melihat kedua pemuda itu mengikuti dengan tanpa menimbulkan suara juga tetap berada dibelakangnya, diam2 merasa heran, Siang-koan Kie tersenyum, sambil kibas kibaskan bajunya yang sudah basah dengan air hujan ia berkata, “Lui Bang Wan suami istri dan Im yang Si-ang-ciok barangkali akan tiba.”

“Benar hujan lebat malam ini, sesungguhnya memberi bantuan tidak sedikit bagi nona Pan itu.” Berkata Touw Thian Gouw sambil menganggukan kepala.

“Maaf siaotee tidak mengerti maksud yang terkandung dalam ucapan saudara Touw tadi, bolehkah kiranya..”

Touw Thian Gouw, lalu memotongnya sambil menghela napas, “Ketika untuk pertama kali aku melihat Pan Loya dikamar bawah tanah itu, meskipun terkejut dan ter-heran2 tetapi aku masih berpikir mungkin karena orang tua sudah bosan dengan hidupnya didunia Kang-oaw yang banyak palsu dan kejahatan sehingga lekas2 mengundurkan diri, atau karena namanya yang terlalu terkenal dan pergaulannya yang terlalu luas membuat dirinya tidak dapat menuntut penghidupan dengan tenang, sehingga berpura2 mati, tetapi sekarang setelah aku pikir lagi, aku merasa bahwa semuA agaknya tidak masuk diakal…”

“Pan Loya yang berada didalam kamar dibawah tanah itu, apakah orang lain yang menyaru?” Kemungkinan besar begitu, sekarang ini Kuncinya terletak pada diri gadis berkabung itu gadis itu agaknya mempunyai pengaruh besar sekali dalam keluarga Pan itu.”

“Siaotee juga dapat melihat hal2 yang tidak beres, hanya tidak dapat menganalisa segala sesuatunya demikian teliti seperti saudara Touw.”

“Didalam dunia Kang-ouw memang banyak hal2 yang sulit diduga sekalipun oleh orang yang sudah berpengalaman banyak.”

Wan Hauw yang berdiri disamping memperhatikan pembicaraan mereka, tiba2 menyelak, “Toako, gadis beikabung itu sudah akan mengejar kita.”

Touw Thian Gouw dan Siang koan Kie berpaling, tetapi karena cuaca malam itu sangat gelap, ditambah hujan begini lebat, sehingga sulit untuk melihat benda berjarak lima tombak lebih.

Siang-Koan Kie setelah berpikir sejenak lalu bertanya, “Saudara Wan, benarkah kau sudah melihat gadis berpakaian berkabung itu?”

“Aku sudah menampak sangat tegas, sedikitpun tidak salah, menjawab Wan Hauw dengan pasti,

Touw Thian Gouw setelah berpikir lalu berkata, “Kalau kita hitung waktunya, memang mereka sekarang sudah dapat mengejar kita, mari kita pergi menenggoknya.”

“Saudara Wan, kau lihat rombonpan mereka sudah sampai belum?” bertanya Siang-koan Kie.

“Mereka seperti berjalan menuju keteapi sungai.” jawab Wan Hauw.

TouW Thian Gouw terkejut, katanya dengan perasaan heran, “Untuk apa mereka menuju ketepi sungai, apakah hendak mengubur jenazah Pan loya di didalam air…” Ia menundukkan kepala untuk berpikir, tiba2 meloncat dan berkata, “Jalan, mari kita lekas mengejar kesana.”

Setelah itu, ia sudah lompat melesat lari menuju ketepi sungai.

Sedang Siang koan Kie dan Wan Hauw buru2 mengejar, sehingga tiga batangan orang itu berlarian didalam cuaca gelap dan, dibawah hujan lebat.

Sebentar kemudian, mereka sudah tiba ditepi sungai.

Touw Thian Gouw berhenti dan berpaling mengawasi Wan Hauw agaknya hendak berkata sesuatu tetapi kemudian dibatalkan.

Siang koan Kie agaknya sudah dapat menduga perasaan orang she Touw itu, tetapi karena takut Wan Hauw salah paham, sehingga membatalkan maksudnya, maka ia segera berkata, “Saudara Wan kau tadi melihat gadis berkabung sudah tiba ditepi sungai, apakah ditempat sekitar ini?”

Wan Hauw berpikir sejenak baru berkata, “Aku hendak mencari tempat lagi untuk melihat mereka.”

Se konyong ia lompat melesat setinggi dua tombak lebh kemudian melayang kesuatu tempat ditepi sungai itu.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan gerakan Wan Hauw yang demikian gesit, dalam hati diam-diam memberi pujian: Kesempurnaan ilmu meringankan tubuh pemuda ini dalam rimba persilatan dewasa ini, mungkin susah dicari tandingannya.

Setelah Wan Hauw berlalu, dua orang itu terpaksa menunggu sambil berdiri dibawah hujan lebat lalu berkata kepada Touw Thian Gouw, “Saudara Touw, kita dengan menempuh hujan angin demikian lebat untuk menyelidiki peristiwa ini apabila kita mengetahui keadaannya yang sebenarnya, apakah perlu campur tangan atau tidak?”

“Orang2 rimba persilatan kebanyakan memang berniat demikian, banyak urusan yang sedikitpun tidak ada hubungan dengan dirinya sendiri, tetapi selalu ingin campur tangan untuk mencari tahu, dan setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, kadang2 ditinggalkan begitu saja, ada kalanya juga terlibat dalam urusan itu, menurut pandanganku dalam urusan ini bukan saja mengandung segi2 yang sangat ruwet, tetapi juga mempunyai latar belakang yang sangat luas, orang2 dengan kedudukan seperti Tiat Bok dan Ki Bok taysu dari Siao liem-sie, serta dua jago pedang ceng-shia-pay yang jarang sekali mencampuri urusan dunia Kang-ouw juga pada datang sendiri untuk turut berduka cita, jelas sekali bahwa kematian Pan Loya ini barangkali bukanlah merupakan suatu kematian biasa, apabila dugaanku tidak keliru, mungkin Tiat bokk dan Ki boktaysu serta dua imam dari ceng-shia pay itu diam2 juga sudah mengintai rombongan peti mati itu….”

Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula

“Mungkin juga malam ini kita akan menyaksikan kejadian yang sangat mengejutkan.”‘

Siang koan Kie pernah dua kali menyaksikan kejadian mengerikan, hingga saat itu belum terhapus dari ingatannya, bahkan didalam dua peristiwa yang hebat ia sendiri terlibat didalamnya itu adalah kejadian dimana pertamakali ia mengikuti suhunya, dalam pertemuan lima orang tua yang kemudian berubah menjadi peristiwa berdarah, dan yang kedua kalinya adalah dalam pertandingan

antara in Kin Liong dengan paderi tibet, yang kemudian dengan munculnya orang ber baju hijau secara tiba2 dan melakukan pembunuhan secara kejam, semua itu masih memberikan kesan yang sangat dalam baginya, maka terhadap ucapan Touw Thian Couw sedikitpun merasa tak heran; dalam hatinya berpikir apabila sudah mengetahui rahasia kejadian itu, sikap apa yang harus diambil olehnya? Berpeluk tangan atau apakah turut campur tangan membela pihak yang be nar?”

Selagi otaknya masih berpikir telinganya tiba-tiba mendengar suara Wan Hauw, “Toako, mereka semua berada ditepi sungai.”

“Baik! Mari kita pergi melihatnya “, berkata Touw Thian Gouw, Wan hauw lalu memutar tubuhnya lari menuju kesuatu tempat diepi sungai.

Dengan menempuh hujan angin lebat, sebentar saja mereka sudah tiba ditempat yang di tuju.

Touw Thian Gouw berkata kepada Wan Hauw dengan suara perlahan, “Saudara Wan, hati2 sedikit jangan sampai diketahui oleh mereka.”

Wan Hauw berhenti, sambil menunjuk kearah depan bagian kiri ia berkata, Gadis berpakaian berkabung itu sudah tidak tampak lagi, sekarang hanya tinggal orang2 yang mengusung peti mati.”

Touw Thian Gouw sudah memasang mata kearah yang ditunjuk oleh Wan Hauw, tetapi tidak melihat bayangan seorangpun juga, hingga diam diam mengerutkan keningnya dan bertanya, “Apakah peti mati itu masih ada?”

“Masih ada!”, menyawab Wan Hauw.

Touw Thian Gouw memandang kearah itu lagi sambil berjalan lambat lambat.

Berjalan kira2 sejauh lima tombak, baru kelihatan bayangan orang.

Orang2 yang ditngaskan menggotong peti mati itu pada berdiri tegak tanpa bergerak, peti mati masih ada, tetapi gadis berpakaian berkabung entah kemana perginya. Touw Thian Gouw berjongkok, memperhatikan keadaan sekitarnya, kini ia dapat melihat bahwa tempat dimana orang2 mengotong peti mati itu berdiri, adalah sebuah tempat ditepi sungai yang agak dangkal, tempat tersebut penuh tumbuhan alang2 setinggi tubuh manusia, alang2 itu tertiup oleh angin dan ketimpa oleh air hujan, menimbulkan suara berisik.

Terpisah kira2 dua tombak dimana orang itu berdiri, ada sebuah tanah tanggul yang menonyol tinggi, apabila berada dibelakang tanggul itu, bukan saja bisa menggunakan tanah yang agak tinggi itu sebagai tempat untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga bisa menyaksikan segala gerak gerik orang2 yang menggotong peti mati itu.

Touw Thian Gouw berpaling dan menarik lengan baju Siang koan Kie, diajak sembunyi dibelakang tanggul itu.

Dua orarg itu setelah menyembunyikan diri ditempat tersebut muLai memasang mata untuk memperhatikan gerak gerik orang orang itu.

Enambelas laki2 yang tadi menggotong peti mati itu berdiri berbaris pakaian mereka nampak ber-gerak2 tertiup angin, tetapi orangnya se olah2 tiang yang menancap ditanah,

sedikitpun tidak bergerak.

Pemuda berkabung yang tadi ikut mengantar peti mati itu, juga entah kamana perginya, saat itu sudah tidak tampak.

Siang-koan Kie memanggil2 Wan Hauw dengan suara perlahan, “Saudara Wan, saudara Wan….”

Beberapa kali ia memanggil, tiada jawaban dari Wan Hauw. Ketika ia berpaling ternyata Wan Hauw sudah tidak kelihatan jejaknya.

Ia terkejut seketika itu sudah lupa keadaan nya sendiri, selagi hendak memangil lagi, pundaknya tiba2 merasa ditekan oleh satu tangan, kemudian terdengar suara, “jangan bergerak, lekas lihat dalam gerombolan alang2 itu….” Siang koan Kie memasang matanya, ia telah dapat lihat bahwa gadis berkabung itu dengan tindakan lambat2 keluar dari dalam alang2 itu, dibelakangnya diikuti oleh pemuda berkabung itu beserta empat laki2 bertubuh tinggi besar.

Touw Thian Gouw berkata dengan suara perlahan kepada Siang-koan Kie, “Benar saja ditepi sungai ini ada orang yang menyambut mereka.”"

Dengan mata terbuka lebar, Siang-koan Kie mengawasi gadis berkabung itu tanpa berkedip, gadis tersebut kala itu sedang menunjuk peti itu, mulutnya ber-gerak2, karena hujan angin lebat, tidak terdengar apa yang dikatakan.

Siang-koan Kie memasang telinganya betul2, samar2 terdengar beberapa patah kata yang terakhir:”..dalam peti ini….”

Hatinya lalu tergerak, pikirnya: apakah dalam peti mati itu bukan jenazah Pan loya?

Empat laki2 bertubuh tinggi besar itu segera

lari menuju kepetimati, kemudian diangkanya dan lari balik lagi kedalam gerombolan alang2 itu

Gadis berkabung itu setelah menyaksikan empat laki2 itu menggotong peti mati tersebut, tiba2 mengayun tangannya menepuk belakang pungung enambelas orang yang tadi menggotong peti mati dari rumahnya.

Ber-ulang2 ia menggerakkan tangannya, setiap kali ia bergerak, orang2 itu lalu jatuh rubuh ditanah.

Bukan kepalang tetkejut Siang-koan Kie yang menyaksikan kejadian itu, kekejaman yang di lakukan oleh gadis itu hampir menyerupai apa yang terjadi didalam kuil tua yang dahulu pernah disasikannya….

Sekalipun seorang Kang-ouw kawakan seperi Touw Thian Gouw, juga menganggapnya kejadian itu terlalu kejam. Ketika Siang-koan Kie menengok kebelakang ternyata sudah tidak tampak bayangan Wan Hauw, dalam keadaan herannya ia lalu bertanya kepada Touw Thian Gouw, Saudara Touw, saudara Wan pergi kemana?’

“Entahlah.” jawabnya ter-heran2.

“Kemana sebetulnya saudara Wan telah pergi?

“Kepandaian saudara Wan sangat, tinggi, kita tidak usah kaWatir ia mendapat halangan.”

Siang koan Kie meskipun dalam hati gelisah tetapi ia tidak bisa berbuat apa2, ketika ia me ngalihkan pandanganya ketepi sungai lagi, gadis berkabung itu sudah lari menuju kegerombolan alang2 dengan ter-gesa2.

Siang-koan Kie dan Touw Thian Gouw diam menarik napas menyaksikan kejadian yang tidak terduga-duga itu.

Pan-kon tju menunggu sampai adiknya berlalu, tiba2 berjongkok ditas badan laki2 itu me-raba2 sejenak kemudian bangkit dan tmengeleng2kan kepalanya. Kala itu meskipun cuaca gelap dan Hujan angin lebat, tetapi karena Siang koan Kie terpisah dekat sekali dengan pemuda she Pan itu maka ia dapat menyaksikan dengan jelas semua perbuatannya.

Sebentar kemudian gadis berkabung itu balik kembali dan berdiri dibelakang pemuda berkabung itu. terdengar suaranya yang keluar dan digin:

“Koko, apakah kau merasa bahwa perbuatanku terlalu kejam?” Adik kau jangan terlalu banyak pikiran, bagaiana kokomu berani berpikir demikian.”

“Apa bila koko mempunyai pikiran demikian,” Tentang ini kokomu tidak berani”

Pembicaraan kedua saudara itu, meskipun suaranya tidak keras, tetapi sudah didengar jelas oleh Touw Thian Gouw dan Siang Koan Kie. Tiba2 terdengar suara tertawa dingin dari gadis itu. kemudian memutar tubunya dan mengeluarkan bentakan keras, “ Siapa berani main gila mengintip orang?” Siang Koan Kie mengira bahwa teguran gadis itu ditujukan kepadanya, sehingga diam2 terperanjat pikirnya karena dirinya sudah ketahuan sebaiknya menampakan diri secara terang2an.

Selagi hendak keluar dari tempat persembunyiannya, tiba2 terdengar suara orang batuk2 dibela kang gundukan tanah yang menonjol sejauh tiga tombak, tampak diri seseorang yang bukan lain dari pada Lui Beng Wan.

Gadis berkabung itu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata, “Aku kira siapa, teryata adalah Paman Lui.”

Lui Beng Wan menghampiri dengan tindakan lebar seraya berkata;

“Benar, itu adalah aku sendiri.”

Gadis beekabung itu berpaling mengawasi ka kaknya sebentar, kemudian berkata kepada Lui Beng Wan, “Apakah paman Lui terus mengikuti jejak kami?”

“Aku datang belum lama.”

Mata gadis itu berputaran, kemudian berkata sambil tertawa, “Paman Lui terus mengikuti kami, apakah sebetulnya maksud Paman?”

“Apakab aku masih perlu menurut kehendak kalian….”

Gadis berkabung itu tersenyum, karena Paman Lui terus mengikuti kami, tentunya sudah mengetahui banyak?”

“Kalau sudah mengetahui mau apa?’

“Sudah mengetahui, paman Lui jangan pikir untuk balik lagi.”

“Apakah kau dapat menahanku?” “Jikalau paman tidak percaya boanpwee dapat menahanmu, cobalah saja!”

Gadis itu lalu mengacungkan tangannya keatas dari dalam gerombolan alang2 lompat keluar empat laki2 berbaju hitam,

dengan cepat sudah mengurung Lui Beng Wan.

Lui Beng Wan memperdengarkan suara tertawa dingin, matanya mengawasi keadaan sekitarnya sejenak, lalu berkata dengan suara keras, “Jenasah siapa sebetulnya yang berada dalam peti mati itu?”

Gadis berkabung itu melambaikan tangannya, kemudian berkata, “Jikalau paman Lui ingin melihat, ikutilah ber-sama2 dengan peti mati itu!”

Empat laki2 berpakaian hitam itu bergerak dengan serentak menyerang Lui Beng Wan.

Dengan menggerakkan kedua tangan dan kakinya Lui BENg Wan MENANGKIS serangan empat laki-laki itu. Serangan Lui Beng Wan itu meskipun nampaknya dilakukan sekaligus, tetapi sebetulnya mengandung empat rupa gerakan, sehingga dapat digunakan untuk menangkis dan balas menyerang kepada empat orang yang menyerang dirinya.

Gadis berkabung itu berkata sambil tertawa, “Serangan ini bukan saja dapat digunakan untuk menangkis, tetapi juga bisa balas menyerang, ditilik dari kepandiaian ini, memang cukup sempurna, pantas dalam rimba persilatan namamu cukup terkenal, akan tetapi….”

Matanya berputaran sambil memperdengarkan suara tertawa dingin, sikapnya dengan tegas sudah memdang rendah kepada orang tua itu.

Lui Beng Wan yang sedang menghadapi empat lawannya, meskipun tidak dapat melihat sikap gadis itu, tetapi dari nada suara bicaranya sudah dapat mengerti maksudnya, sudah tentu seketika itu lalu naik pitam, sambil mengeluarkan suara bentakan keras ia menghajar empat lawanya dengan serangan lebih hebat.

tetapi empat laki2 berbaju hitam itu juga bukan mangsa lemah,terutama serangan mereka yang terdiri dari empat orang ternyata bisa bekerjasama bagus sekali, mungkin mereka sudah sering berhadapan dengan musuh tangguh maka untuk sementara Lui Beng wan juga belum dapat mematahkan serangan mereka.

Gadis berkabung itu menyaksikan pertempuran itu sambil tersenyum. Dilihat dari sikapnya,siapapun tidak akan menduga bahwa gadis yang demikian gemulai ternyata bisa berbuat kejam.

Sebentar kemudian, dari dalam gerombolan alang2 itu, keluar lagi empat orang berpakaian hitam.

gadis berkabung itu lalu berkata kepada mereka, “ Lui Beng Wan ini adalah seorang jagoan dalam kalangan kang-ouw, kalian boleh menghadapinya sunguh2.” Empat orang berpakain hitam yang baru tiba itu, setelah mendengar perintah itu lalu maju menyerang dari empat penjuru. Rombongan orang perpakaian hitam itu, ternyata sudah mendapat latihan keras, empat orang itu, telah bantu menyerang kawannya. Sudah tentu menambah tekanan berat bagi Lui Beng Wan. Lui Beng Wan mengeluarkan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi delapan lawannya yang hingga delapan orang itu juga tidak berdaya.

Gadis berkabung itu mengawasi keadaan sekitarnya kemudian berkata, “Apakah paman Lui hanya seorang diri saja, entah kemana bibi sekarang?”

Lui Beng Wan yang bertempur dengan delapan orang berpakaian hitam itu, dalam hati mengerti Keadaan malam itu tidak dapat diselesaikan dengan baik, apabila ia tidak melukai orang barang kali tidak bisa terlepas dari kurungan delapan orang itu, atas pertanyaan gadis itu, ia menjawab dengan suara keras, “Aku seorang diri saja sudah cukup untuk menghadapi kalian, perlu apa harus dibantu oleh bibimu?”

Setelah itu, ia merobah gerak tipu serangannya, dengan suatu gerak tipu yang amat dahsyat menyerang empat orang satu persatu.

Karena hebatnya serangan itu, empat dari delapan orang laki2 berpakaian hitam yang mengurungnya, terpaksa harus mundur.

Gadis berkabung itu mengerutkan alisnya dan berkata, “Paman Lui mencari penyakit sendiri, jangan salahkan boanpwee berlaku tidak sopan.”

Karena gadis itu sudah mendapat kenyataan bahwa delapan orang berpakaian hitam itu tidak sanggup menjatuhkan Lui Beng Wan, maka ia sedia hendak menghadapi sendiri, tetapi ia juga tidak au lalu turun tangan, maka sengaja mengejek Lui Beng Wan Supaya orang tua itu panas hatinya.

Akal gadis itu benar saja berhasil, Lui Beng wan sangat marah, sambil melancarkan serangannya kepada delapan musuhnya, ia menjawab dengan nada suara dingin, “Kau mempunyai kepandaian apa, boleh keluarkan semuanya, aku ingin belajar kenal sampai dimana tingginya kepandaianmu?”

Gadis berkabung itu sikapnya telah mengunjukkan betapa besar napsunya hendak menjatuhkan orang tua itu, tetapi mulutnya masih mengeluarkan kata2 dengan suaranya yang merdu sekali, “Kalau paman Lui memang ingin mencoba kepandaian boanpwee, terpaksa boanpwee mengiringi

keinginan paman Lui….” Ia berhenti sejenak, tiba2 membentak dengan suara keras, “Minggir.”

Delapan laki2 berpakaian hitam itu segera munddur ketempat masing-masing. Gadis berkabung itu dengan tindakan lambat2 menghampiri Lui Beng Wam seraya berkata sambil tertawa, “Karena paman Lui mendesak terus menerus terpaksa boanpwee tidak memandang persahabatan paman dengan ayah lagi!”

“Kepandaian ayahmu dahulu berimbang denganku, apakah kepandaianmu sekarang melampaui kepandaian ayahmu? Kalau benar2 hendak bertempur, belum tentu kau sanggup melewati, tetapi aku tidak ingin disaat jenazah sahabat lamaku masih belum dingin, telah melukai anak perempuannya…”

Paman Lui meskipun dikalangan Kangouw sudah mendapat nama cukup baik, tetapi menurut apa yang boanpwee tahu, orang2 rimba persilatan umumnya tidak menakuti kepandaian paman, mereka sebaliknya merasa jeri terhadap senjata rahasia bibi yang sangat ganas, lebih jelasnya, karena bibi dari keluarga Teng dari sucoan,

maka orang2 pada takut kepadanya, ini juga berarti orang2 itu takut kepada keluarga Teng….”

Kalau demikian halnya apakah kau benar2 hendak melawan Pamanmu?”

Paras gadis itu tiba2 berobah katanya dengan nadaa suara dingin, “Bagi bonpwee sendiri bukan saja tidak merasa takut kepada paman Lui, sekalipun bibi, boanpwee juga tidak pandang dimata, keluarga teng di Sucoan, meskipun terkenal Sebagai ahli senjata rahasia berbisa. juga belum tentu boanpwee akan terluka dibawah senjatanya.” Kata kata gadis itu terlalu pedas dan kejam, hingga Lui Beng Wan sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi, lalu membentaknya dengan suara keras, “Dunia telah terbalik, aku hanya memandang muka sahabat lamaku, maka aku tidak mau turun tangan terhadapmu, apakah kau kira aku benar benar takut kepadamuu?”

Gadis berkabung itu tertawa dingin dan berkata, “Dengan menempuh hujan angin demikian lebat Paman Lui datang kemari, tentunya bibi juga berada tidak jauh dari sini, mengapa tidak minta ia keluar sekalian, supaya boanpwee bisa belajar kenal dengan ilmu senjata rahasia keluarga Teng yang namanya tersohor di dunia” Gadis itu sungguh cerdik dan kejam, ia tidak mau segera bertindak, sebaliknya mengejek Lui beng Wan supaya memanggil istrinya, agaknya ia sudah mengandung maksud hendak dibasmi sekarang.

Biar bagaimana Lui Beng Wan sudah banyak pengalaman dalam dunia Kang ouw, setelah hawa amarahnya mulai reda,

pikirannya per-lahan2 mulai tenang, ia memikirkan maksud yang terkandung dalam ucapan gadis itu agaknya supaya istrinya juga menunjukkan diri hingga dalam hatinya timbul perasaan curiga, pikirnya: apakah ia benar2 sudah mempersiapkan suatu rencana yang sempurna untuk menghadapi kita suami istri….

Tiba-tiba ia merasa bahwa urusan ini sangat gawat, ia mengamat-amati gadis itu wajah dan sikapnya yang dingin, sedikitpun tidak mirip dengan keadaan gadis biasa yang dalam usia seperti dia, hingga diam diam merasa bergidik.

Apabila Lui Beng Wan tidak kenal dengan gadis itu, mungkin sudah tidak sabar diperlakukan demikian tetapi karena gadis itu dahulu merupakan gadis yang lemah lembut dan ramah tamah ceria menyenangkan, apalagi terhadap ia sendiri serta istrinya dahulu demikian erat hubungannya, tetapi kini dengan mendadak telah berobah seperti orang lain dibalik wajahnya yang dingin, agaknya mengandung kekejaman, hal itu jauh berbeda seperti apa yang dikenalnya pada beberapa tahun dahulu.

Perbedaannya yang sangat menjolok itu, menimbulkan kecurigaan dan rupa2 dugaan dalam hati Lui Beng Wan.

Oleh karena itu maka ia juga sedapat mungkin mengendalikan adatnya sendiri yang biasanya sangat berangasan, dengan suara agak lunak ia telah berkata, “Aku hanya ingin melihat jenazah dalam peti mati itu betul atau tidak jenazah sahabat lamaku….”

“Kalau paman pasti hendak melihatnya tidak halangan minta bibi datang melihat sekalian!”

jawab gadis itu sambil tertawa hambar.

Kata2 gadis Itu meskipun biasa saja, tetapi dalam pendengaran Lui Beng wnn, menimbulkan semacam perasaan seram, sehingga untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana untuk menjawab.

Pada saat itu hujan dan angin sudah mulai berhenti.

Awan dilangit perlahan2 mulai buyar, bintang2 muncul lagi. Gadis berkabung itu tiba2 berpaling dan berkata;

“Kalian berdua silahkan keluar sekalian, main sembunyi apakah tidak memalukan?”

Siang Koan Kie berputaran mencari Wan Houw tetapi masih belum tampak bayangan saudaranya itu. sedang dibelakang tanggul tanah itu, hanya ia bersama Touw thian Gouw dua orang saja, gadis itu mengatakan dua orang sudah tentu dianggapnya dirinya sendiri yang ditunjuk, selagi hendak melompat keluar, lengan bajunya tiba2 ditarik oleh Touw thian Gouw.

Selagi ia belum mengerti apa maksud kawannya itu, dari belakang tanggul diSebelah barat tiba2 nampak diri Im Yang siang ciok yang berjalan keluar dengan tindakan lebar.Gadis berkabung itu lalu berkata sambil tertawa dingin: .Apakah kalian berdua juga ingin meramaikan suasana disini?”

Tho-Tong batuk2 sebentar lalu menjawabnya, “Nona kalau bicara sebaiknya tahu sedikit atau kita hanya memandang Pan Loya, tidak suka berurusan dengan orang tingkatan muda seperti kau ini…”

Ayahku sudah meninggal, kalian tidak perlu memandang mukanya lagi.” jawab si gadis sambil tertawa, tiba2 bergerak dengan cepat jari tangannya menotok jalan darah badan Tho tong..

Serangan yang dilakukan secara tiba2 dan sangat gesit itu, hampir Tho tong tidak sempat menyinkir, untung Gan Kang dengan cepat mengeluarkan serangan dari samping,menyambut serangan gadis itu sehingga Tho tong terhindar dari serangan tersebut.

Gadis itu memutar tangan kanannya yangng digunakan untuk menyerang mulutnya berseru, “Kalian berdua majulah Serentak!”

Dengan gerak tipu tidak berobah, totokannya itu ditujukan ke bagian jalan darah Kie bun Hiat dibadan Gan Kang.

Meskipun ilmu totokan itu merupakan ilmu biasa saja tetapi digunakan oleh gadis itu nampaknya sangat berbahaya.

Sebelum Gan Kang menarik, kembali serangannya dari tangan gadis itu sudah menyerang kepadanya.

Tetapi Im yang Siang ciok yang sudah lama biasa bekerja sama, Tho Tong yang sudah menyingkir dengan cepat sudah melancarkan serangan dengan tinjunya.

Tho Tong terkenal dengan tinjunya yang keras, setiap serangannya mengandung kekuatan hebat.

Gadis itu tidak menduga adanya kerja sama begitu rapi dari dua orang ini, serangan Tho Tong yang bebat itu, membuatnya terdesak mundur, ke samping.

Gan Kang yang terlepas dari ancaman bahaya semangatnya terbangun, sambil mengeluarkan bentakan keras

ia juga mulai melancarkan serangannya.

Kerja sama dua orang itu sangat rapi sekali, setiap orang mengerahkan kepandaian masing2, untuk menghadapi gadis itu. Lui Beng Wan yang menyaksikan pertempuran itu diam2 juga terperanjat, ia telah dapat melihat bahwa dua kali serangan yang dilacarkan oleh gadis berkabung itu, sesungguhnya dapat membinasakan salah satu diantara dua kawan itu, tetapi dua orang ini yang menggunakan dua macam serangan dari golongan keras dan lunak dengan kerjasama yang sangat rapi, barulah dapat menghindarkan serangan yang aneh dan mematikan dari gadis itu.

Ilmu kepandaian yang digunakan malam itu sesungguhnya sangat aneh, kepandaiannya itusangat berlainan dengan kepandaian ilmu silat ayahnya.

-odwo-

Bab 23

Tho Tong dan Gan Kang setelah berhasil mendesak mundur diri gadis berkabung itu, juga meloncat mundur dan berdiri berdampingan.

Gadis itu nampaknya sangat murka agaknya merasa heran bahwa kedua kali serangannya tadi tidak berhasil melukai dua lawannya itu. Ia berdiri tanpa bersuara, hanya kedua matanya rerus menatap wajah Tho Tong dan Gan Kang.

Pada saat itu angin dan hujan sudah berhenti sama sekali, dilangit juga tampak rembulan yang memancarkan sinarnya, sehingga keadaan sejauh beberapa tombak, dapat dilihat dengan nyata,

Lui Heng Wan Setelah mengawasi keadaan disekitarnya tiba2 berkata dengan suara keras, “Betapapun tinggi kepandaianmu, juga bukan tandinganku dan Im yang Siang ciok “

Gadis berkabung itu tiba2 berpaling dengan nada suara dingin ia memotong ucapan orang tua itu, “Barang siapa yang malam ini berada disini, satupun jangan harap bisa menyingkir dalam keadaan hidup..”

Tiba2 ia melambaikan tangannya, delapan laki2 berpakaian hitam itu segera bergerak melompat kedalam gerombolan alang2, sebentar saja sudah menghilang, kemudian terdengar pula-suara gadis itu, “Hanya, karena memandang perhubungan Paman Lui dengan ayah dahulu, aku memberikan kelonggaran tidak akan mengambil jiwamu.”

Lui Beng Wan mengerti bahwa ucapan gadis itu tidaklah berlebih2an, maka ia segera berkata sambil tertawa “•

“Entah dengan cara bagaimana yang kau maksudkan dengan kelonggaran itu?”

“Urusan ini mudah dikatakan, tetapi paman Lui barangkali tidak dapat menerimanya, sekalipun paman Lui dapat menerima, barangkali juga tidak akan setujui oleh bibi, aku pikir sebaiknya tidak perlu dijelaskan lagi.”

“Aku justru ingin mendengarnya, kau katakan saja.”

“Aku tadi minta paman Lui jangan datang, tetapi kau ternyata datang juga, ini adalah kesalahanmu sendiri, jangan sesalkan aku, sekarang ini cuma ada dua jalan, satu jalan ialah kematian, jalan yang lain ialah minta paman Lui mengutungi kedua tangan sendiri, supaya tanganmu tidak dapat menulis apa yang kau saksikan malam ini, lalu memotong lidahmu supaya mulutmu tidak dapat menyatakan keadaan disini disamping itu masih harus bersumpah bahwa seumur hidupmu, tidak boleh membocorkan rahasia ini….”

“Apakah kau sudah gila? Aku ini orang macam apa, bagaimana harus menerima kau perlakukan sesukamu.”

“Jikalau paman Lui tidak suka terima, tunggulah saja kematianmu!” Baru saja menutup mulutnya, dari dalam gerombolan alang alang itu muncul pula empat orang berpakaian warna merah yang masing masing membawa pedang panjang.

Empat orang itu bukan saja seluruh pakaiannya berwarna merah mukanya juga tertutup oleh kerudung kain merah hanya dibagian matanya terdapat dua lubang, munculnya empat orang itu dalam suasana demikian menambah seram suasana.

Gadis berkabung itu mengacung tangan kanannya keatas, mulutnya berkemat kemit entah sedaang berkata sendiri ataukah mendoa.

Tiba tiba berkata dengan suara bengis, “Kalian bunuh tiga orang ini!”

Empat orang berpakaian merah itu menurut, mereka segera bergerak, dua menyerbu im-yang Siang ciok, dua lagi menyerbu Lui Beng Wan.

Gerakan empat orang itu gesit sekali, kepandaian juga sangat tinggi, serangannya hebat.

im-yang Siang-ciok melancarkan serangannya dengan serentak, serangan mereka yang terdiri dari golongan keras dan lunak sebelum dua orang berbaju merah itu berhasil menyerangnya sudah didahului oleh serangan Im-yang Siang ciok.

Kedua orang itu tiba2 melesat setinggi enam tujuh kaki, dengan cepat melayang sejauh lima enam kaki, menghindarkan serangan im-yang Siang-ciok, kemudian masing2 menggerakkan pedangnya balas menyerang Im-yang Siang ciok.

Tho Tong terkejut, diam2 berpikir, “ilmu pedang doa orang ini sangat aneh, entah mereka dari golongan mana, mengapa dikalangan Kang-onw belum pernah ada yang menceritakannya. Sambil berpikir orang itu sudah melompat kesamping.

Gan Kang yang berpikiran serupa dengan Tho Tong, juga dikejutkan oleh serangan aneh orang berbaju merah itu, ia juga melakukan gerakan serupa dengan kawannya.

Dua orang itu meskipun menyingkir kelain jurusan yang tidak sama, tetapi kelihatannya seperti mengumpul disuatu tempat.

Kiranya dua orang itu sudah lama biasa bekerja ber sama2, mereka satu sama lain sungguh saling mengerti, sehingga setiap gerakannya juga bersama-sama.

Ketika serangan dua orang berbaju merah itu tidak mengenai sasarannya, kedua2nya segera melayang turun ketanah, tetapi kemudian melesat naik lagi dan menyerang kepada dua orang lawannya.

Sesaat kemudian dua orang itu sudah berhasil mendesak, Im-yang Siang-ciok, sehingga bekerja sama mereka, dibikin kocar kacir oleh serangan pedang kedua orang berbaju merah itu, serangan itu semakin lama semakin ganas.

Im-yang Siang-ciok terus terdesak mundur, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

Kalau dua orang itu sedang repot didesak oleh kedua lawannya dipihak Lui Beng Wan keadaannya juga mulai repot tidak dapat menyambut serangan hebat dua orang berbaju merah itu.

Gadis berkabung itu yang menyaksikan disamping nampaknya sangat gelisah.

Dalam pertempuran hebat itu, tiba2 terdengar suara keluhan tertahan, lengan tangan kiri Tho Tong lebih dulu tertikam oleh ujung pedang orang berbaju merah.

Gan Kang ketika melihat kawannya terluka, mengeluarkan serangan dengan seluruh kekuatan tenaganya, ia berhasil mendesak mundur orang yang menyerang Tho Tong sehingga jiwa Tho Tong terhindar dari kematian.

tetapi ia sendiri yang sedans berusaha hendak menolong kawannya, telah melalaikan penjagaan terhadap dirinya sendiri, sebentar punggungnya merrasa dingin, hulu hatinya dirasakan sakit sekali, dengan tanpa sadar badannya hendak jatuh tengkurap, pada saat itu belakang pungungnya telah dihajar oleh kepalan tangan, sehingga matanya ber-kunang2 dan kemudian jatuh roboh ditanah.

Tho Tong yang menyaksikan Gan Kang telah roboh, hatinya merasa jeri karena luka dilengannya sendiri tidak ringan, ditambah lagi hatinya merasa pilu, sehingga serangannya mulai kalut, pada saat itu jalan darahnya dibawah ketiak tertotok oleh lawannya belakang pinggangnya kembali telah tertendang, sehingga tanpa ampun lagi ia jatuh roboh ditanah.

Setelah Im-yang Siang-ciok tertangkap, Lui Beng Wan semakin repot keadaannya, pedang dua orang berbaju merah menyerang semakin hebat.

Siang-koan Kie menghela napas, dengan suara perlahan ia berkata kepada Touw Thian Gouw

“Saudara Touw, aku lihat Lui Beng Wan agak sulit untuk bertahan sampai sepuluh jurus lagi, nona Pan itu kejam dan ganas, apabila tiga orang itu terjatuh kedalam tangannya, jiwa mereka barangkali tidak tertolong lagi….”

Touw Thian Gouw tahu bahwa pemuda itu su dah siap hendak turun tangan memberi bantuan, maka seketika itu ia menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan suara perlahan, “Ini bukanlah persoalan dendam biasa seperti yang terjadi didunia Kang-ouw, aku lihat urusan ini nampaknya sangat ruwet, sekarang ini $usah diketahui siapa yang benar dan siapa yang

salah….” Berkata sampai disitu ia berdiam, setelah mengatur pernapasannya sebentar baru berkata lagi, “Didalam rumput gerombolan alang2 itu, kita masih belum mengetahui dengan pasti berapa banyak komplotnya gadis itu, sebelum kita mengetahui jelas keadaannya yang sebenarnya, sebaiknya jangan bertindak dulu.” Touw Thian Gouw sebagai seorang Kang-ouw kawakan yang sudah banyak makan asam garam didunia Kang-ouw, maka ia bisa berlaku hati2, Imu pedang empat orang berbaju merah itu sagat mengejutkannya, sekalipun ia sendiri turun tangan, juga tidak yakin bisa merebut kemenangan, apa lagi keadaan pada dewasa itu begitu ruwet, dan aneh susah diduga bagaimana sebenarnya, gadis berkabung itu bukan saja besar sekali pengaruhnya dalam keluarga Pan, bahkan agak nya ia merupakan seorang pemimpin dari suatu

golongan….”

Keadaan yang demikian ruwet itu, mau tidak mau Touw Thian Gouw harus berlaku sangat hati2.

Sementara itu Lui Beng Wan badannya sudah terkena serangan pedang lawannya, tetapi ia masih melawan dengan nekad,

dengan sepasang tagan kosong ia melawan mati2an kedua lawannya itu.

Gadis berkabung itu berkata sambil mengerutkan keningnya, “Paman Lui sudah sangat berbahaya keadaanmu mengapa tidak lekas menyerah, kalau Kau melawan terus kau jangan sesalkan boanpwee tidak memandang muka Kepada sahabat lama.”

Lui Beng Wan yang sudah nekad, agaknya tidak mendengar apa yang dikatakan oleb gadis itu, bagaikan banteng ketaton, ia mengamuk demikian hebat.

Karena latihan kekuatan tenaga dalam sudah cukup sempurna, meskipun serangannya mulai agak kalut tetapi setiap serangannya masih mengandung kekuatan amat dasyat.

Gadis berkabung itu tiba2 berkata sambil mengacungkan tangan kanannya.

“Kalau sudah tidak dapat menangkap hidup, bunuh sajalah!”

Dua orang berbaju merah itu segera merobah gerakan serangannya, setiap serangan mengandung serangku mematikan, tiga empat jurus kemudian, Lui Beng Wan kembali sudah terkena satu tikaman lagi.

Tikaman itu nampaknya hebat, sehingga Lui Beng Wan menggeram dan mundur sampai empat lima langkah, badannya sempoyongan hampir saja roboh ditanah.

Agaknya dua Orang berbaju merah itu menyerang lagi, Lui Beng Wan pasti akan binasa diujung pedang mereka.

Mungkin karena orang berbaju merah itu dengann dandannya yang menyeramkan,

telah menimbulkan perasaan benci Siang-koan Kie,

mereka menyaksikan Lui Beng Wan dalam keadaan bahaya, timbulah pikiran yang hendak memberi pertolongan, selagi hendak bergerak tiba2 terdengar suara bentakan menyerang kemudian disusul oleh berkelebatnya sesoSok bayangan, oranq itu bukan lain dari pada istrinya Lui Beng Wan.

Dua orang berbaju merah itu ketika mendengar suara bentakan itu sejenak merasa terkejut sehingga gerakan pedangnya juga agak lambat.

Sementara itu Nyonya Lui sudah tiba dihadapan mereka.

Hanya tampak tangan kirinya bergerak, empat buah benda berkeredapan melesat keluar kearah dua orang berbaju merah itu. Senjata rahasia berbisa keluarga Teng dari sucuan, sudah lama menjagoi dirimba persilatan tetapi dua orang berbaju merah itu dalam berKelana didunia Kang-onw, mereka tidak tahu asal usul Nyonya Lui itu, tetapi gadis berkabung itu mengetahui dengan baik lihainya wanita itu, maka segera membentak dengan suara keras, “Awas senjata rahasianya mengandung racun sangat berbisa….”

Dua orang berbaju merah itu memutar pedangnya untuk melindungi dirinya, sebentar terdengar suara beradunya barang logam, empat benda berkeredapan itu semua terkumpul Satu.

Pada saat itu Nyonya Lui sudah berada disamping suaminya, sambil membimbing suaminya yang hampir roboh, mulutnya kembali membentak, “coba lagi senjata rahasia jarumku yang sangat berbisa ini.”

Tangan kanannya segera bergerak dari situ tersebar segumpal jarum yang halus.

Kali ini karena kedua pihak jarak sangat dekat, dua orang berbaju merah itu agaknya, tidak menduga bahwa dalam dua tangan wanita itu membawa senjata rahasia, meskipun mereka buru2 berusaha menangkis serangan itu dengan pedangnya, tetapi sudah terlambat.

Sebentar terdengar satu diantaranya mengeluarkan jeritan tertahan, kemudian jatuh terlentang ditanah.

Satunya lagi karena gerakkannya lebih gesit telah berhasil memukul jatuh jarum berbisa itu.

Gadis berkabung itu setelah memperdengarkan suara bentakkan keras lalu menyerbu sambil melancarkan tiga kali serangan.

Serangan itu begitu hebat, sehingga Nyonya Lui tidak mendapat kesempatan melancarkan senjata rahasianya lagi, ia terpaksa menyambut dengan tangannya. Serangan gadis berkabung itu teryata luar biasa anehnya, setiap perobahan dalam gerakkannya susah untuk diduga, belum sampai sepuluh jurus sudah berhasil mendesak Nyonya Lui sedemikian rupa.

Tidak lama kemudian, terdengar suara jeritan tertahan, nyonya Lui sempoyongan dan kemudian roboh ditanah.

Lui Beng Wan yang saat itu sekujur badannya sudah penuh darah dan pikirannya kalut ketika melihat Nyonyanya terluka, segera menyerang sambil membentak keras dan melancarkan satu serangan hebat.

Gadis berkabung itu melompat minggir kesamping, mengelakkan serangan hebat itu,

kemudian kakinya menendang lutut laki Lui Beng Wan, dan tangan kanannya menyambar pergelangan tangan orang tua itu.

Setelah berhasil menyambar pergelangan tangan orang tua itu, gadis berkabung itu mendorongnya jatuh ditanah kemudian menyuruh kakaknya mengikatnya.

Pemuda berkabung itu yang sejak tadi berdiri disamping menyaksikan sambil berpeluk tangan, saat itu tiba2 memburu dan menotok jalan darah Lui Beng Wan.

Pertempuran sengit telah berakhir dengan tertangkapnya Lui Beng Wan

Gadis berkabung itu setelah memeriksa keadaan disekitarnya sebentar lalu memerintah kan kepada orangnya supaya membawa tawanannya keataS perahu.

Enam orang berpakaian hitam segera membawa Im-yang Siang-ciok bersama Lui Beng Wan suami istri dan orang berbaju merah yang terluka kena jarum racun nyonya Lui, lalu menuju kegerombolan rumput alang2. Tiga orang berbaju merah yang tidak terluka masing2 berdiri sambil melintangkan pedangnya, agaknya masih menunggu perintah gadis berkabung itu.

Gadis itu mendongakkan kepala mengawasi rembutan dan menghela napas perlahani, kemudian memerintahkan tiga orang itu juga naik keperahu.

Setelah tiga orang itu berlalu, gadis itu lalu berpaling dan berkata kepada pemuda berkabung yang berdiri tegak seperti tugu, “Koko, mari kita pulang”

Suaranya lemah lembut, jauh berlainan dengan sikapnya yang dingin tadi akhirnya dalam waktu secepat itu sudah pulih keasalnya ialah seorang gadis yang lemah lembut.

Pemuda berkabung itu agaknya dikejutkan oleh perkataan adiknya, ia menjawab dengan suara gugup, “Benar, kita harus pulang.”

Pemuda itu agaknya sudah dikejutkan oleh semua kejadian yang tidak ter-duga2 pada malam itu, sehingga pikirannya dan semangatnya seperti sudah terbang.

Gadis berkabung itu dengan tindakan lambat2 menghampirinya, sambil menggandeng satu tangannya ia berkata dengan suara lemah lembut, “Koko apakah kau merasa takut?”

“Tidak takut, tidak takut, apa artinya kejadian serupa ini?” jawab pemuda itu gugup sambil melembungkan dada.

Gadis itu tersenyum, kemudian menarik tangan pemuda itu berlalu dari tempat tersebut.

Setelah dua orang itu berlalu, Siang-koan Kie berdiri, ia menarik napas panjang, kemudian berkata kepada Touw Thian Gauw, “Saudara Touw, mari kita menengok ketepi sungai.” Sebelum Touw Taian Gouw menjawab, tiba2 terdengar suaranya Wan Hauw, “Toako, tidak usah pergi, dua buah perahu itu sudah berlayar.”

Siang-koan Kie segera berpaling, dibawah sinar rembulan, ia dapat melihat Wan Hauw berdiri terpisah kira2 tujuh kaki dibelakangnya.

“Kau tadi pergi kemana….”, bertanya Siang-koan Kie.

“Aku tadi naik keatas pohon besar itu, menyaksikan keadaan disore ini….”, jawab Wan Hauw.

“Kau tadi dapat melihat apa?”

“Semula karena hujan deras dan cuaca gelap, tidak dapat melihat dengan nyata, sejak hujan habis berhenti, aku dapat melihatnya dengan nyata.”

“Apakah kau dapat melihat peti mati?”

“ya aku melihat, mereka telah menggotong peti mati itu kedalam sebuah kamar disebuah perahu besar.”

“Orang2 berbaju hitam dan orang2 berbaju merah itu tadi, apakah keluar dari perahu besar itu?”

“Benar.”

Touw Thian Gouw lalu berkata sambil mengerutkan keningnya, “Saudara Siang-koan, kau menanya demikian melit, apakah tidak merasa membosankan?”‘

Sebelum Siang koan Kie menjawab Wan Hauw sudah berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak, tidak.”

Touw Thian Gouw hanya mengira bahwa pemuda itu berlaku merendah, maka lalu berkata sambil tersenyum, “Saudara Wan terlalu merendah, dengan pertanyaan yang dilakukan oleh saudara Siang Koan, rasanya agak menyulilitkan bagi  saudara untuk menjawabnya.” “O, sama Sekali tidak.”

Touw Thian Gouw yang menyaksikan sikap sungguh2 pemuda itu agaknya merasa heran, tetapi ia juga tidak tahu apa sebabnya.

Siang-koan Kie lalu berkata sambil tertawa, “Saudara Touw tidak usah banyak pikiran, saudara ini sejak kecil dibesarkan didalam gunung dan hutan belukar, terhadap segala utusan dalam masyarakat, sedikit sekali pengetahuannya, sedangkan perkataannya saja, juga tidak dapat dimergerti seluruhnya apabila menyuruhnya menceritakan semua apa yang dilihatnya, barang kali banyak yang ketinggalan….”

“Oh, kiranya begitu, aku seorang Kang ouw kawakan ini ternyata sudah dibingungkan oleh kalian.”

Siang-koan Kie berpaling mengawasi Wan Hauw sejenak, lalu melanjutkan pertanyaan lagi, “Apakah perahu itu besar sekali?”

“Disamping perahu besar itu masih ada empat perahu kecil, menjawab Wan Hauw Sambil meuganggukkan kepala.

“Didalam perahu besar itu, terdapat orang semacam apa?”

Wan Hauw berpikir sejenak baru berkata, “Kalau ada yang keluar aku baru dapat melihatnya, kalau tidak keluar aku tidak dapat melihatnya

Touw Thian Gouw tercengang, ia berpikir sambil menundukkan kepala. Kiranya ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan jawaban Wan Hauw itu.

Siang-koan Kie yang sudah pernah bergaul lama dengan Wan Hauw, ia tahu bahwa Wan Hauw menghadapi soal yang tidak dapat diceritakannya

dengan jelas sehingga menggunakan kata-kata yang samar2, yang dimaksudkan dalam kamar diatas perahu itu, tidak terdapat pernerangan lampu, sehingga siapa2 yang berada dalam kamar itu tidak dapat dilihatnya, kecuali delapan orang berpakaian hitam dan empat orang berpakaian merah, ia tidak melihat siapa siapa lagi.

Setelah Siang-koan Kie memberi penjelasan, Touw Thian Gouw baru mengerti, ia laju bertanya, “Saudara Wan diatas perahu itu apakah ada tanda tanda istimewa?”

Wan Hauw menundukkan kepala dan berpikir sejenak, kemudian mengaruk2 kepalanya sambil menghela napas.

Touw Thian Gouw terkejut, ia bertanya kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan, “Kenapa dengan saudara Wan ini?”

“Tidak apa2, setiap kali ia menemukan kejadian kejadian yang ia tidak dapat menceritakan, memang sering berlaku demikian, tetapi ia

sangat pintar, selelah berpikir, nanti batu dapat menceritakanya.

“Oh. kiranya begitu.”

Pada saat itu Wan Hauw duduk jongkok sambil bertopang dagu, setelah berpikir sekian lama baru berkata, “0h ya, semuanya ada dua buah perahu besar dan empat buah perahu kecil, diatas dua perahu besar itu ada bendera putih.”

“Apakah pada bendera putih itu terdapat lukisan gambar?” bertanya Touw Thian Gouw.

“Ada, ada….”, jawabnya sambil mengangukkan kepala, kemudian menundukkan kepala lagi nampaknya sedang berpikir.

Touw Thian Gouw tahu bahwa ia tidak dapat melukiskan dengan kata2 apa yang dilihatnya diatas bendera putih, tetapi ia tahu bahwa diatas perahu itu terdapat bendera putih, dengan diketahui tanda2nya itu, lebih mudah untuk mencari tahu, maka ia lalu berkata sambil tertawa, “Saudara Wan, kau tidak usah pikir lagi, beberapa perahu itu berlayar menuju kemana?”

“Berlayar mengikuti aliran air sungai.”

Touw Thian Gouw menganngukkan kepala lalu berkata kepada Siang-koan Kie, “Saudara Siang-koan, meskipun aku belum tahu bagaimana keadaan sebenarnya, tetapi mungkin kudapat memikirkannya, tidak luput daripada dua perobahan.

,.Dua perobahan apakah itu?”

Touw Thian Gouw mendongakkan kepala mengawasi cuaca, kemudian berkata, “Mari kita jalan, sudah hampir setengah malam kira disiram air hujan, mari kita mencari tempat untuk bermalam lebih dulu. nanti kita bicarakan lagi per-lahan2, kejadian ruwet semacam ini tidak cukup dibicarakan sepatah duapatah kata saja.”

Siang-koan Kie menurut, bersama2 Wan Hauw mengikuti Touw Thian Gouw, berjalan kira2 puluh pal, barulah tiba didalam kota.

Pada saat itu sudah jam empat pagi, semua rumah penginapan kebanyakan sudah tutup pintu, hanya sebuah gedung yang dekat ditepi sungai masih nyala lampunya,

Touw Thian Gouw sudah lama berkelana di dunia Kang- ouw, begitu melihat sinar lampu itu

ia segera mengenali letaknya bahwa gedung itu adalah gedung keluarga Pan.

Dalam keadaan demikian dan waktu sudah mendekati pagi masih menyalakan lampu, tentunya tamu2 keluarga itu belum pargi seluruhnya, maka ia lalu berkata kepada Siang-koan Kie, “Saudara Siang-koan, urusan keluarga Pan ini nampaknya tidak ada sangkut pautnya dengan kita, tetapi mungkin menyangkut nasib seluruh rimba persilatan.” “ya! Siaotee juga merasa bahwa dalam urusan ini bukan saja sangat mengherankan, tetapi juga terdapat banyak tanda2 yang mencurigakan, nampaknya bukan soal permusuhan biasa.

“Kalau begitu, apakah kau sudah ada maksud handak menyelidiki peristiwa ini?”

Dalam hal ini, siaotee khawatir tidak dapat melakukan dengan seorang diri saja.”

“Apabila saudara bermaksud hendak menyelidiki peristiwa ini, aku mendapat satu pikiran.”

“Siaote ingin dengar bagaimana pikiran saudara Touw,” “cara ini mudah sekali, tapi bagaimana dengan saudara

Wan?”

“Saudara jelaskan dulu, siaote pikirkan lagi” “Kalau kita ingin menyeliki rahasia ini, mau

tidak mau kita harus berusaha menyelinap kerumah keluarga pan.”,.Benar!’

“Apabila kita masih tetap dalam keadaan seperti sekarang ini, sudah tentu tidak lolos dari mata Pan-kongcu dan adiknya, kalau kita ingin menyelinap kedalam rumahnya harus berusaha menganti rupa dan pakaian kita.

“Untuk mengganti pakaian tidak susah, tetapi bagaimana merobah muka kita?”

“Tentang ini, saudara tidak usah khawatir, aku membawa obat yang digunakan untuk merobah muka kita, tetapi obat ini hanya dapat digunakan untuk merohah warna kulit, tidak dapat merobah bentuk mata hidung atau mulut, wajah saudara Wan agak berlainan, sekalipun menggunakan obat ini, juga tidak dapat menutupi bentuk wajah aslinya, sehingga mudah dipergoki.” Siang-koan Kie berpikir, kemudian berkata:, Maksud saudara apakah ingin siaotee dengan saudara, dengan menggunakan pengaruh obat ini untuk menyembunyikan wajah asli kita, kemudian menyelinap kegedung keluarga Pan?”

Touw Thian Gouw menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian berkata sambil mengawasi Wan Hauw.

“Kesulitan kita pada sekarang ini, terletak pada diri saudara Wan yang belum mempunyai pengalaman sedikitpun juga dikalangan Kang-ouw, apabila membiarkan ia seorang diri bertin dak, barangkali kurang tepat, apalagi didunia Kang ouw, pada umumnya banyak akal tipu jahat yang sangat membahayakan, sudah tentu tidak mudah dihadapinya oleh saudara Wan.”

Wan Hauw tiba2 menyelak, “Tidak apa aku bisa menyembunyikan diri di tempat yang tiada terdapat manusia tanpa keluar lagi.”

“Disini penduduknya sangat rapat, dimana ada tempat yanh tiada terdapat manusia, untuk sembunyikan diri jangan sampai terlihat orang bukanlah soal mudah.”

“Aku bersembunyi diatas pohon besar tanpa turun, bagaimana orang lain dapat melihatnya?”

Touw Thian Gouw tercengang, dalam hati berpikir: akal demikian bagus sekali, mungkin hanya dia yang dapat memikirkannya.

“Berdiam diatas pohon, tidak bisa terlalu lama, apalagi harus mencari soal makannya….”

“SejaK kecil aku sudah biasa tidur diatas pohon, sekalipun ada hujan angin besar, aku juga bisa tidur nyenyak, tentang makanan sudah cukup sayuran dan buah2annya, tidak makan nasi juga tidak halangan.

Siang-koan Kie tahu bahwa Wan Hauw sudah biasa hidup dalam rimba, tahan lapar dan dahaga, yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa, ia berkata sambil menghela napas perlahan, “Baiklah! Besok jam tiga malam kita akan berjumpa lapi ditempat ini, kau harus memberitahukan tempat persembunyianmu, supaya kalau ada kita bisa mencarimu.”

Wan hauw tertawa kemudian lompat melesat dan sebentar kemudian sudah merghilang.

Touw Thian Gouw dari dalam sakunya mengeluarkan dua botol kecil, ia berkata sambil tertawa, “Obatku untuk merubah warna kulit ini, adalah pemberian dari seorang luar biasa dari daerah luar perbatasan, orang luar biasa itu tidak seorang tahu nama aslinya, orang hanya kenal nama julukannya Hoa- sin Sie-seng, saudara nanti kalau sudah memakai obat ini akan segera berobah muka saudara.”

“Hoa-sin Sie-seng nama julukan itu sungguh aneh.”

“Orang itu adalah seorang cerdik pandai, bukan saja dalam pengertian ilmu silatnya, kepandaian ilmu silatnya juga sangat tinggi, hanya adatnya yang luar biasa, kadang2 suka berbuat banyak kebaikan, tetapi kadang2 bisa berlaku kejam orang2 rimba persilatan daerah luar perbatasan, meskipun semua tahu siapa adanya Hoa-sin Sie-seng itu, tetapi siapapun tidak dapat mengatakan bagaimana macamnya orang itu. Karena dia bukan saja sering merobah mukanya, tetapi juga logat bicaranya, kadang2 bisa berobah seperti orang dari lain tempat..”

Siang koan Kie yang mendengarkan penuturan itu merasa ter-heran2, katanya, “Didalam dunia benarkah ada seorang semacam itu?”

“Didaerah luar perbatasan banyak terdapat orang gagah, tetapi Hoa-sin Sie-seng terhadap aku baik sekali sikapnya, kita sering bertemu muka, ada kalanya ia menjadi seorang sastrawan yang seperti tidak mengerti ilmu silat, ada kala nya ia seperti orang desa yang berpakaian kasar dan bersikap loyo….” ” Dengan keadaannya yang sering2 dirobah itu jikalau kau ingin mencarinya, bukankah susah sekali?”

“Kalau ia tidak suka menjumpaimu sekalipun kau mencari ke-mana2, juga tidak dapat mene mukannya ada kalanya kau bertemu muka, tetapi kau juga tidak mengenalnya.”

“Aih! Didalam dunia Kang-ouw memang banyak hal2 yang sangat aneh….”

Apa yang telah terjadi dimasa yang lampau, kini terbayang kembali didalam otaknya, pembu nuhan yang sangat kejam didalam kuil tua itu serta apa yang disaksikan tadi

ditepi sungai meninggalkan kesan yang sangat dalam dan tidak akan dapat dilupakan dari dalam hatinya.

Dan kini ia harus menghadapi pula suatu kejadian aneh yang tidak dapat dimengerti dalam soal kematian Pan loya….

Touw Thian Gouw agaknya tidak ingin mem bicarakan lebih banyak tentang diri Hoa-sin-sie, seng ia lalu mengeluarkan obat bubuk dari dalam botol kecil itu, kemudian mengambil sedikit air lalu diulaskan diatas mukanya.

Sebentar kemudian, warna kulit Touw Thian-Gouw perlahan2 berubah sawo matang.

Dengan perubahan itu orang sudah tidak mengenali dirinya lagi.

Siang-koan Kie lalu berkata, “Obat ini sungguh menakjubkan, benar saja warna kulit berobah seketika, sekalipun orang yang sudah mengenal baik, rasanya juga sudah tidak mengenali lagi.

Touw Thian Gouw membuka botol yang lain, bubuk yang berwarna kuning diberikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata, “Pakailah ini, kulit wajahmu yang putih bersih itu, akan berobah menjadi pucat kuning bagaikan orang berpenyakitan.” Siang-koan Kie mengambil sedikit air untuk mengaduk obat bubuk itu kemudian diulaskan di atas mukanya.

Benar saja wajahnya yang putih tampan, segera berubah menjadi pucat kuning.

Touw Thian Gouw berkata sambil tersenyum, “Sekarang kita pergi lagi kerumah keluarga Pan, sudah tidak ada orang yang mengenalinya,

yang penting sekarang kita harus pikirkan bagaimana kita harus mengganti pakaian kita, supaya tidak menimbulkan perhatian orang….”

“Sebaliknya kita bergerak di dalam rumah kelu arga Pan tanpa menimbulkan perhatian orang.”

Touw Thian Gouw berpikir sebentar, kemu dian berkata, “Aku mendapat satu akal, tetapi sedikit menyu sahkan saudara.”

“coba saudara ceritakan.”

“Kalau kita tidak ingin menimbulkan perhatian orang, sebaiknya bertindak secara berpencaran, aku sendiri tetap berlaku sebagai orang rim ba persilatan dan pura2 pergi ke keluarga Pan un tuk mentatakan duka cita, lalu menyelinap dalam rombongan orang2 rimba persilatan, sebaliknya sa udara pakaian compang camping, pura2 berlaku sebagai orang dari golongan pengemis, lalu mondar mandir di depan gedung keluarga Pan, dengan demikian bisa bergerak lebih leluasa, karena dika langan Kang-ouw, memang ada orang2 gagah dari golongan pengemis, yang berkepandaian sangat ting gi, karena adanya golongan pengemis itu sekalipun saudara nanti mengunjukkan kepandaian ilmu silat, juga tidak menarik perhatian orang.”

“Tetapi apabila aku berjumpa dengan orang2 golongan pengemis yang benar2 bukankah akan terbuka rahasiaku?” Dalam segala sesuatu kita harus menggantung kan diri kepada kecerdasan pikiran sendiri untuk menghadapi segala kejadian, saudara adalih seorang cerdik, meskipun pengalaman dunia Kang ouw agak kurang, tetapi apabila saudara berlaku hati2, tidak akan sampai terbuka rahasianya apalagi kecuali golongan pengemis,

didalam kalangan Kang-ouw masih terdapat orang gagah yang sifatnya aneh yang sering suka menyaru sebagai pengemis.

“Aku ingin mencobanya” Berkata Siang koan Kie sambil tertawa, kemudian membikin lobang bajunya sendiri, rambutnya juga dibikin aut2an, setelah itu lalu bertanya, “Saudara Touw lihat dengan dandanan seperti ini, mirip atau tidak?”

“Meskipun masih banyak terdapat kekurangannya tetapi diwaktu malam, apabila tidak diperhatikan betul tidak mudah dikenali.”

Ia memberikan obat bubuk warna kuning itu seraya berkata, “Sebaiknya tangan dan kulitmu yang tampak, diluar juga diolesi obat ini supaya tidak meni bulkan kecurigaan, saudara boleh berangkat belakangan, aku akan pergi dahulu.”

Dengan tanpa menunggu jawaban Siang-koan kie, ia sudah bergerak menuju kegedung keluarga Pan.

Siang-koan Kie tiba2 teringat ia belum menanyakan obat itu apakah akan luntur apabila tersiram air, selagi hendak memanggil, Touw Thian Gauw sudah tidak tampak bayangannya.

Setelah menunggu Touw Thian Gouw sudah kira kira tiba dirumah keluarga Pan Siang-koan Kie baru berjalan.

Waktu ia mendekati rumah keluarga Pan, perasaannya tiba2 mulai tidak tenang, sejenak ia merasa bimbang, pikirnya: kelakuan sekarang ini entah mirip, atau tidak dengan seorang pengemis apabila tiba dirumah keluarga Pan lalu men imbulkan kecurigaan orang, bukankah akan men Jadi tertawaan orang?”

Selagi masih berpikir dengan perasaan cemas, dibelakangnya terdengar suara tindakan kaki orang.

Ketika ia berpaling, segera dapat melihat seorang laki2 berpakaian ringkas dengan sikapnya yang garang berjalan dengan tergesa gesa.

Laki2 itu ketika berjalan dekat Siang-koan Kie tiba2 berhenti, setelah mengawasi Siang-koan Kie sejenak lalu bertanya, “Bocah pengemis tahukah kau dimana ke diaman Pan lo Ing Hiong?”

Siang-koan Kie diam2 berpikir: Apabila aku bica ra menunjukkan jalan orang ini, tentunya akan mengurangi kecurigaan orang2 keluarga Pan.

“Apakan hendak turut mengatakan duka cita kepada Pan Lo-ing Hiong,?” Demikian Siang-koan Kie bertanya.

“Apa? Apakah benar Pen Loya sudah mening gal?”

Siang-koan Kie kini dapat kenyataan bahwa tindak tanduk orang itu agak kasar, begitu pula perkataannya, sehingga ia mau mendupa bahwa orang itu orang bangsa kasar yang agak bodoh.

“Ya! Ia sudah meninggal beberapa hari, hari ini baru dikubur, barisan orang yang mengantar panjangannya beberapa pal….”

Laki2 itu menarik napas panjang, kemudian berkata, “Pan Loya adalah seorang yang sangat baik sekali, bagaimana tidak bisa berumur panjang..’

Karena ia ada seorang bangsa bodoh yang pi kirannya agak sempit, sehingga tidak biasa men gunakan kata2 sopan, tetapi dari sikapnya telah menunjukkan bagaimana penghargaannya dan rasa hormatnya terhadap Pan Loya.

Hati Siang-koan Kie tergerak, pikirnya: Orang yang bodoh dan jujur, kebanyakan berlaku te rus terang, orang ini demikian besar pengharga an dan penghormatannya terhadap orang yang su dah meninggal, Pan Loya itu tentunya adalah se

orang yang memang patut dihormati….”

Saat itu laki2 kasar itu berkata pula: „Saudara pengemis, tahukah kau dimana letak kuburan Pan lo Ing Hiong? Bolehkah kau ajak aku untuk menengoknya?”

Siang-koan Kie terperanjat, aku hanya tahu tanah kuburan Pan Lo-ing Hiong sangat jauh. sekali terpisah diri sini, entah apa namanya tempat itu, aku tidak tahu.

Laki2 itu agaknya menjumpai persoalan yang sangat rumit, ia berpikir sambil mendongakkan kepala dan tidak berkata apa-apa. Siang-koan Kie berkata pula:,,Mari aku ajak kau kerumahnya saja! Di-sana masih ada banyak orang yang datang turut berduka cita.” Laki2 itu berpikir sejenak lalu bertanya: „Dimana kediamannya?”

“To, disana!” jawah Siang-koan Kie sambil menunjuk kegedung yang masih menyalah lampunya.

Laki2 itu bepikir lagi sebentar, kemudian berkata, “Baiklah!”

Siang-koan Kie tersenyum, lalu berjalan men uju kegedung itu dengan diikuti oleh laKi-laki tersebut, tidak berapa lama, mereka sudah tiba didepan pekarangan rumah keluarga Pan.

Waktu itu meski sudah jam empat pagi, tapi dalam barak yang dibangun diluar gedung itu, masih terdapat banyak orang, mereka masih duduk2 sambil minum dan mengobrol, hanya suara mereka sangat pelahan, tidak mudah didengar oleh orang lain. Yang mengherankan adalah pintu besar yang pada siang hari tadi tertutup rapat, kini telah terbuka lebar, si apapun boleh keluar masuk dengan bebas.

Siang-koan Kie dengan sangat hati2 memperhatikan keadaan sekitarnya, ia tidak menemukan Touw Thian Gouw. Orang2 dalam barak itu, nampaknya seperti orang2 yang diminta untuk membantu keluarga Pan, pinggang mereka semua memakai ikat pinggang kain putih, orang2 rimba persilatan yang tadi siang hari begitu banyak jumlahnya, entah kemana perginya, satupun sudah tidak ada.

Laki2 itu mengawasi keadaan pintu sebentar, lalu berjalan dengan tindakan ter-gesa2 waktu mendekati pintu, tiba2 terdengar suara orang: „Tuan tunggu sebentar.”

Dari dalam pintu berjalan keluar seorang laki2 pertengahan umur berwajah sawo mateng.

Siang koan Kie terperanjat, bukankah itu Touw Thian Gouw sendiri? Mengapa ia bisa sebagai penerima tamu?”

Laki2 itu berkata pula sambil memberi hormat;

“Saudara ini bukankah hendak datang memberi hormat penghabisan kepada Pan Loya?”

Lelaki kasar itu menjawab sambil memberi hormat, “Benar, aku kecuali hanya kenal dengan Pan lo-ing Hiong, yang lainnya tidak kenal lagi, harap saudara suka memberitahukan dirimu tem pat kuburan Pan-lo-ing Hiong, supaya aku bisa pergi kesana untuk bersembahyang dihadapan kuburannya,”

“Saat ini sudah terlalu malam, harap saudara berdiam disini satu malam dulu, besok pagi kita berangkat kesana, rasanya masih belum ter lambat.”

-odwo- Bab 24  

LAKI LAKI kasar itu masih merasa sangsi, yang menyambut itu sudah mempersilahkan tumunya masuk kedalam. Dalam keadaan demikian, laki2 kasar itu agaknya sudah tidak dapat menolak Lagi maka segera turut masuk kedalam.

Siang-koan Kie juga menggunakan kesempatan itu turut masuk dengan berjalan mengikutidibelakang laki2 kasar itu. Didalam pintu terdapat, dua bangku panjang setiap bangku duduk empat orang mungkin anak buahnya Pan Loya.

Karena tetamu yang batu datang itu membaWa golok besar dibelakang punggungnya, maka Semua mata orang2 yang duduk dibangku panjang itu ditujukan kepada golok tersebut.

Laki2 bermuka sawomateng itu tiba2 berpaling dan berkata, “Golok saudara ini harap dititipkan disini du lu, nanti kalau saudara hendak pulang boleh di ambil lagi.

Laki2 kasar itu berpikir sejenak, achirnya me lepaskan goloknya yang tergantung

diatas punggungnya dan diberikan kepada laki2 bermuka sa womateng itu yang kemudian diserahkan pula ke pada orang yang ditugaskan untuk menjaga pintu.

Setelah dua orang itu berjalan Siang-koan Kie juga mengikuti dibelakangnya.

Para petugas yang menjaga pintu itu, ketika melihat Siang- koan Kie masuk sambil melembung kan dada, agaknya dibingungkan oleh sikapnya itu, sehingga mereka tidak tahu harus mencegahnya atau tidak, selagi belum tahu apa yang diperbuat. Siang-Koan Kie sudah mengikuti dua orang itu masuk ke ruangan dalam.

Orang bermuka sawo mateng itu tiba2 mempercepat tindakannya, setelah melalui pekarangan depan, lalu masuk pintu kedua dan mengajak laki2 tinggi kasar itu masuk kesebuah kamar, kemudian berkata sambil tertawa, “Silahkan saudara beristirahat disini dulu, sebentar siaote suruh orang membawa arak dan hidangan.”

“Tidak usah, aku sekarang belum merasa la par.” jawab laki2 itu sambil menggelengkan ke pala.”

“Kalau begitu, harap saudara beristirahat saja dulu,” berkata orang itu yang kemudian undurkan diri.

Siang koan Kie yang menunggu diluar kamar, ketika melihat Touw Thian Gouw keluar selagi hendak menegur, orang she Touw itu sudah ber kata lebih dulu, “Apakah kau juga hendak turut berduka cita?”

Siang-koan Kie mendadak merasakan bahwa logat suara orang itu berlainan dengan Touw Thian Couw, dalam terkejutnya ia lalu menegur, “Kau siapa?”

Orang itu tersenyum dan berkata, “Kau adalah orang dari golongan pengemis, silahkan beristirahat dikamar sebelah timur, dalam dikamar sebelah timur itu, masih ada tem pat tidur yang kosong.”

Tanpa menunggu jawaban Siang koan Kie, ia sudah berjalan dengan tindakan lebar.

Siang-koan Kie merasa bimbang, ia tidak dapat memastikan orang itu Touw Thian Gouw atau bukan.

Dengan tenang ia memikirkan persoalan itu, kini ia pikir hanya dua jalan yang ada baginya, satu ialah segera keluar dari dalam gedung kelu arga Pan itu, dan yang kedua ialah menurut perintah orang itu tadi beristirahat dulu dikamar disebelah timur.

Achirnya ia telah mengambil keputusan bertin dak menurut petunjuk orang itu tadi dan berjalan kekamar sebelah timur.

Sebuah ruangan yang mempunyai pemandangan alam yang sangat indah, bau harumnya bunga yang tertiup oleh angin malam rasa menusuk hi dung Siang-koan Kie, tempat itu sunyi sekali, tidak tampak sinar lampu.

Siang koan Kie lebih dulu memeriksa keadaan disekitarnya, lalu langsung menuju kekamar pertama.

Pintu kamar terbuka lebar, dalam kamar terdapat empat buah tempat tidur, dua sudah ada isinya dua yang lain masih kosong.

Siang-koan Kie mengawasi orang yang berada ditempat tidur itu, mereka bukannya tidur tertelentang, melainkan duduk bersemedi, dua orang itu ternyata adalah padri dari gereja Siao-lim sie Tiat Bok taysu dan Ki Bok taysu.

Kedua orang beribadat itu membuka matanya sejenak mengawasi Siang-koan Kie, kemudian dipejamkannya lagi.

Siang-koan Kie yang selama beberapa bulan ini telah menjumpai banyak kejadian aneh dengan sendirinya menambah pengalamannya yang tidak sedikit, ia terus menuju kesebuah tempat tidur dekat pintu lalu merebahkan dirinya tanpa membuka pakaiannya lagi.

Selama beberapa tahun ini, kekuatan tenaga dalamnya sudah mendapat banyak kemajuan, meskipun hampir satu malam ia sudah mengeluarkan banyak tenaga, tetapi tidak merasa letih dan ngantuk. Dengan pura2 seperti orang tidur ia memperhatikan dua padri itu.

Padri yang berada ditempat tidur sebelah kiri tiba2 bergerak bibirnya, agaknya sedang berbicara dengan kawannya, tetapi ia tidak mendengar suara apa2.

Ia segera mengerti bahwa kedua padri itu sedang berbicara dengan menggunakan ilmu yang menyampaikan suara kedalam telinga kepada orangnya yang diajak bicara tanpa didengar oleh orang ketiga. Padri itu nampak bersenyum lalu mengawasi Siang-koan Kie sejenak, ia juga menggunakan ilmu itu menjawab pertanyaan kawannya tadi .

Siang-koan Kie meskipun tahu bahwa dua padri itu adalah Tiat Bok taysu dan Ki Bok taysu,

tetapi yang mana Tiat Bok dan yang mana Ki Bok, dia serdiri tidak dapat membedakannya.

Dari sikap kedua orang itu, Siang-koan Kie sudah merasa bahwa kedua padri itu sedang membicarakan dirinya, hingga dalam hatinya tiba2 merasa kurang tenang, pikirnya: sikapku ini mungkin menimbulkan perasaan kurang senang bagi mereka.

Sebentar kemudian tiba2 terdengar suara tindakan kaki orang yang berjalan masuk kedalam kamar, kemudian disusul oleh suara orang yang rebah dipembaringan, sehingga ia mengetahui bahwa tempat tidur yang kosong itu kini sudah ada isinya lagi.

Siang-koan Kie ingin membuka matanya untuk melihat siapa adanya orang itu, tetapi karena ia merasa bahwa kedua padri itu sedang memperhatikan gerak geriknya, maka ia tidak berani membuka mata.

Sebentar lagi tiba2 terdengar suara orang yang tidur menderus, orang yang baru datang itu agaknya sudah tidur lelap.

Siang koan Kie yang cerdik, segera berlaku seperti orang dikejutkan oleh suara mengorok itu, lalu bangun berduduk.

Kini ia telah menyaksikan bahwa Tiat Bok taysu dan Ki Bok taysu masih duduk bersila sambil memejamkan matanya, se- olah2 tidak menghiraukan keadaan orang itu.

Diluar cuaca gelap, sinar lampu dalam kamar sangat lemah, kecuali suara mengoroknya orang yang tidur itu, tidak terdengar suara apa2 lagi. Siang-koan Kie berpaling ingin melihat bagaimana macamnya orang yang baru datang itu? tetapi orang itu tidur miring kesebelah  dalam

sambil mengerudungi badannya dengan selimut, kecuali suara mengoroknya, wajah dan dedaknya orang itu, susah dilihat.

Pemandangan demikian, seharusnya menimbulkan rasa mengantuk, tetapi Siang-koan Kie yang baru habis menyaksikan pertempuran hebat ditepi sungai dan perbuatan kejam gadis berkabung itu, memberikan firasat kepadanya suatu gelagat tidak baik, hingga dalam ketenangan itu dirasakan mengandung kegawatan yang tersembunyi.

Tiba tiba merasa bahwa suara mengorok orang itu agaknya mengandung irama tertentu.

Ia memasang telinga memperhatikan suara itu benar saja memang agak aneh, sebab suara itu bukan seperti orang meugorok biasa.

Ia tidak dapat membedakan suara mengorok yang sebentar pendek dan sebentar panjang itu mengandung maksud apa, tetapi ia dapat memastikan bahwa suara mengorok itu bukan dilakukan oleh orang yang benr2 tidur nyenyak.

Selagi masih memikirkan soal itu, padri tua yang duduk ditempat tidur sebelah kiri, tiba-tiba membuka matanya,dengan sinar mata yang tajam mengawasi Siang- koan Kie sejenak, lalu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar. cuaca diluar kamar bertambah gelap, ilmu meringnkan tubuh padri itu ternyata sudah mencapai ketingkat yang sangat sempurna, Siang-koan Kie yang menyaksikan padri itu turun dari tempat tidur dan berjalan keluar, ternyata tidak menimbulkan sedikit suarapun juga.

Dalam dugaannya kedua padri itu pasti akan bertindak ber- sama2, karena yang satu sudah berjalan dahulu, yang lain pasti akan menyusul. Tak disangka dugaannya itu ternyata meleset, sudah lama padri yang satu itu berlalu, yang lain masih tetap duduk tidak bergerak, se-olah2 tidak mengetahui bahwa kawannya sudah berlalu secara diam diam.

Suara mengorok secara teratur itu tetap berlangsung, diluar kamar keadaan tetap sunyi.

Malam per-lahan2 mulai terang suatu tanda bahwa saat itu sudah mendekati pagi hari.

Siang koan Kie diam2 menarik napas, ia berpikir sambil memejamkan matanya: Gedung besar yang kelihatannya tenang ini,sebetulnya sudah berkumpul orang2 kuat dari golongan benar dan sesat, untuk apa sebetulnya? Apakah se- mata2 hanya disebabkan kematian Pan-lo Ing Hiong San?

“Apa kematiannya itu, sedemikian penting pengaruhnya bagi orang2 rimba persilatan?”

Semua pertanyaan itu bagaikan kabut yang meliputi dalam otaknya.

Suatu pikiran baru tiba-tiba terlintas dalam otaknya, dalam peti mati itu entah terisi barang apa?

Apabila benar2 jenazah seseorang, mengapa gadis berkabung itu perlu mengangkut pergi jenasah itu? Tidak perduli jenaZah itu benar jenazah Pan Loya atau bukan, rasanya tidak perlu sedemikian susah payah untuk menyingkirkan dan membawa pergi peti itu kelain tempat…. „

Tatkala ia membuka matanya kembali, padri tua tadi telah berlalu, dalam sekejap sudah balik kekamarnya dan duduk bersila diatas tempat tidur.

Siang-koan Kie sudah tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan urusan pederi tua itu,

karena pikirannya sedang dipusatkan kearah barang apa sebetulnya yang berada didalam peti mati itu? Semakin dipikir semakin kuat anggapannya bahwa apa yang diduga itu tidak salah lagi, maka dengan tanpa disadari ia sudah berseru, “Tidak salah lagi, didalam peti mati itu pasti bukan jenazah orang….”

Karena seruan itu tadi, telah menyebabkan dua paderi itu mendadak membuka matanya mengawasi dirinya.

Siang-koan Kie baru sadar apa yang telah diperbuatnya tadi, perlahan2 ia merebahkan diri untuK tidur.

Karena pikirannya terus memikirkan persoalan yang dihadapinya, biar bagaimana ia tidak dapat tidur, ia mengerudungi dirinya dengan selimut, mulai menganalisa semua persoalan yang dihadannya.

Ia memang seorang cerdik, setelah memikir dengan tenang, persoalan itu dibagi menyadi dua bagian serta dibuatnya tafsiran akan terjadinya beberapa perobahan.

Apabila isi dalam peti mati itu bukan jenazah manusia, lalu apa?

Benarkah gadis berkabung itu adalah anak perempuan Pan Loya? Mengapa ia agaknya mempunyai pengaruh demikian besar? Pan Kongcu yang seharusnya masih pernah kakaknya, mengapa demikian takut terhadap adiknya?

Apabila dalam peti mati itu benar2 adalah jenazah Pan Loya, apakah keistimewaannya jenazah itu sehingga memerlukan mengerahkan demikian banyak orang untuk mengangkutnya dengan perahu?

Semua pertanyaan itu, setelah dianalisa olehnya, ia segera menitikberatkan urusan ini kepada gadis berkabung itu, tetapi kepandaian gadis itu sangat tinggi sekali bukanlah seorang yang mudah dihadapanya, untuk mencari keterangan dari padanya, barangkali lebih sulit, cara yang paling baik, ialah lebih dulu, harus dapat membuktikan bahwa Pan Loya dalam kamar rahasia dibawah kamar itu, benar Pan Loya yang tulen ataukah yang tiruan?

Sekarang soalnya ialah dengan cara bagaimana dapat menemukan pintu masuk kekamar rahasia itu? Hari itu meski ia sudah pergi satu hari, tetapi tidak memperhatikan perjalanannya tahu2 sudah berada dikamar bawah tanah itu…

Sambil berkerudung selimut itu, ia telah memikirkan banyak persoalan, dianggapnya ia telah mendapat banyak hasil, maka ia menarik napas lega dan melihat keadaan sekitarnya.

Dua paderi dan orang yang tidur mengorok itu, dalam sekejap sudah berlalu semuanya, sinar matahari sudah masuk kedalam kamar, ia buru2 melompat turun, sebelah memakai sepatunya perlahan2 keluar dari kamarnya.

Ketika ia berjalan melalui taman, matanya memperhatikan keadaan sekitarnya, ternyata semua pintu kamar, yang terdapat disekitar taman itu telah terbuka lebar, tetapi tidak kelihatan bayangan seorangpun juga.

Kesunyian yang luar biasa itu, menimbulkan rasa sunyi dalam hati Siang koan Kie, ia menghela napas sambil menggelengkan kepala, tidak tahu harus menuju kemana.

Tiba2 ia mendengar suara tindakan kaki sangat perlahan dibelakang dirinya, ia lalu bersiap berjaga2, tetapi orang itu pura2 tidak tahu dan berjalan mendekati dirinya.

Suara tindakan kaki itu tiba2 berhenti, kemudian disusul oleh suara batuk2.

Dengan tanpa menoleh Siang-koan Kie melontarkan pertanyaan, “Siapa? “

Orang dibelakang dirinya kembali memperdengarkan suara batuk2, kemudian baru menjawab, “Apakah tuan orang golongan pengemis?” Siang-koan kie tercengang, dalam hatinya berpikir: apabila aku tidak mengaku orang dari golongan pengemis pasti akan menimbulkan kecurigaan mereka, apabila aku mengaku, namun sama sekali tidak tahu keadaan dalam golongan pengemis itu sampaipun siapa namanya Pang-cu golongan itupun tidak tahu, apabila ditanya, mungkin akan menimbulkan kecurigaan lebih besar.

Untuk sesaat lamanya, ia tidak dapat memikirkan suatu jawaban yang tepat, maka ia lalu memperdengarkan suara tertawa dingin barulah menjawab yang sebetulnya bukan merupakan suatu jawaban, “Kalau ia bagaimana? Dan kalau bukan bagaimana pula?”

Orang itu terus berdiri dibelakangnya, sehingga ia tidak dapat melihat bagaimana sikapnya pada saat itu, ia hanya dengar kata2nya yang sangat menghormat, “Aku yang rendah sudah lama mendengar nama besar golongan pengemis,

didalam golongan itu locianpwee tentunya menduduki kedudukan sangat tinggi….”

Siang-koan Kie diam2 berpikir: sekarang aku terpaksa harus Mengelabuhinya….”

Dalam waktu sangat singkat itu pikirannYa bekerja keras, tetapi ia dapat mengambil keputusan dengan segera.

“Kau mencari aku ada urusan apa?”, demikian ia bertanya dengan nada suara dingin.

“Apabila tuan adalah orang dari golongan pengemis, aku ingin minta tolong untuk menengok beberapa kenalan lama.”

Siang koan Kie tiba2 memutar badan, kini ia segera menyaksikan seorang berpakaian ringkas yang ternyata adalah orangnya Pan Loya.

Orang itu menatap wajah Siang-koan Kie, kemudian bertanya?” “Apakah dan golongan tuan hanya tuan seorang saja yang datang?”

Kembali Siang-koan Kie harus menghadapi kesulitan, pertanyaan itu susah untuk dijawab, berapa orang yang datang golongan pengemis ia sendiri juga tidak tahu. Apalagi mengurus ia nengok beberapa kenalan lamanya, orang itu pasti mempunyai kedudukan dalam golongan pengemis, apabila ia tidak bisa menjawah, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang.

Oleh karenanya, maka lama Siang-koan Kie berpikir masih tidak dapat menemukan jawaban yang tepat.

Orang itu nampaknya mulai cemas, sambil menghela napas perlahan orang itu berkata , “Tuan muda kita ada mempunyai hubungan baik dengan beberapa sahabat dari golongan tuan”

Ada urusan apa tuan mudamu hendak mencari sahabatnya dari golonganku?”

jawaban Siang-koan Kie ini diucapkan sangat perlahan dengan hati2 sekali, tetapi dengan sendirinya berarti pengakuan bahwa ia adalah orang dari golongan pengemis.

Orang itu tiba2 menunjukkan sifat girang katanya, “Kalau tuan adalah orang dari golongan pergemis, pasti juga mengenal tuan muda kita?”

“Tidak kenal,” jawab Siang koan Kie sambil menggelengkan kepala.

Orang itu menunukkan sikap Terkejut.

“Silahkan tuan kekamar kongcu untuk omong omong sebentar, bagaimana?”‘

Dalam keadaan demikian, Siang-koan Kie sudah tidak berdaya terpaksa menganggukkan kepala menerima baik permintaannya. Orang itu menghormat dan berkata, “Maaf hamba akan berjalan dimuka sebagai penunjuk jalan.”

Setelah itu ia berjalan lebin dahulu, baru berjalan beberapa langkah, sekonyong-konyong berpaling dan berkata, “Tuan sebaiknya berjalan terpisah satu jarak dengan hamba, supaya tidak diketahui oleh orang orang dari rona kita.”

Setelah itu ia melanjutkan tindakkannya. Siang koan Kie terkejut, dalam hatinya berpikir, Orang ini mengajak aku menjumpai Pan-kong cu, tetapi takut diketahui oleh orang2nya nona mereka, kalau begitu diantara keluarga Pan ini,

telah terjadi perselisian sendiri.

Sambil memikirkan bagaimana barus menghadapi Pan Kongcu itu, berjalan dibelakang orang itu.

Keluar dari taman itu, keadaannya jauh berlainan, disitu terdapat banyak orang yang berdandan dengan pakaian ringkas atau berpakaian panjang, mundar mandir tiada putusnya.

Dengan adanya banyak orang itu, Siang koan Kie sebaliknya merasa tenang, ia mengikuti orang itu berjalan terpisah satu jarak.

Setelah melalui beberapa pekarangan, tibalah di suatu pekarangan yang sunyi, ditempat itu orangnya tidak banyak.

Orang yang berjalan sebagai penunjuk jalan itu, berdiri didepan pintu bundar dengan wajah cemas, ia menengok kesana kemari, seperti lakunya seorang pencuri yang takut kepergok, sebentar sebentar menggapaikan tangannya kearah Siang koan Kie.

Siang koan Kie mempercepat tindakkan kakinya menuju kepekarangan itu. Itu ada merupakan suatu pekarangan kecil yang terdapat banyak karangan bunga, Pan-kongcu yang masih memakai pakaian berkabung, sedang berdiri ditangga batu diluar ruangan, nampaknya sedang menantikan kedatangannya, begitu melihat Siang-koan Kie segara menghormat dan lari menyongsong, kemudian mengajak Siang-koan Kie masuk kedalam ruangan.

Siang-koan Kie mengawasi keadaan disekitarnya, ia mencoba berusaha untuk menenangkan pikirannya yang tegang.

Pan kongcu menuangkan teh sendiri sebagai tanda menghormat kepada tetamunya itu, setelah mempersilahkan tamunya minum teh lalu bertanya, “Apakah dari golongan tuan hanya tuan seorang saja yang datang?”

Pada saat itu perasaan Siang-koan Kie sudah banyak tenang, karena ia takut jikalau terlalu banyak bicara nanti akan membuka rahasianya, maka ia sengaja bersikap dingin, atas pertanyaan Pan-kongcu itu ia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.

Pan-kongcu nampaknya sangat kecewa, dengan tindakan lambat2 ia berjalan keluar, dengan suara perlahan ia memberi pesan kepada orang yang mengantar Sian -koan Kie tadi, kemudian balik lagi kekamar ruangan dan berkata Siang-koan Kie, “Aku yang rendah bersama Pan ceng Liang dengan Kim locinpwee dari golongan tuan pernah beberapa kali bertemu muKa.”

Siang-koan Kie tidak tahu sama sekali bagaimana orangnya yang disebut Kim locianpwee itu, maka ia hanya menganggukkan kepala saja.

Pan ceng Liang berkata pula, “Siapa nama tuan yang mulia?”‘

“Siaotee she Kian,” jawab Siang-koan Kie sekenanya. “Kedatangan saudara Koan itu adalah atas perintah ketua ataukah….”

Siang-koan Kie diam2 berpikir: apa bila aku mengatakan atas perintah ketua, ia pasti akan bertanya lebih banyak, apabila jawabanku tidak benar, bukankah segera terbuka kedokku?

Setelah berpikir sejenak ia baru menjawab, “Siaotee hanya kebetulan lewat  disini, ketika

mendengar kabar meniggalnya Pan lo Ing Hiong. barulah aku datang kemari untuk turut berduka cita, Pang-cu kami dan Kim locianpwee, mungkin belum mengetahui atau mendengar kabar ini.”

“Tahukah saudara Koan dimana Kim-Locianpwee berada sekarang?” bertanya Pan ceng-Liang dengan hati cemas.

“Tentang ini…,….”

Siang koan Kie agak bingung, ia tidak dapat memikirkan suatu jaWaban yang tepat.

Pan ceng Liang sangat kecewa, ia berkata sambil menghela napas, “Kim locianpwee memang tidak menetap jejaknya, kadang2 bisa berjumpa tetapi sulit untuk dicari….”

Melihat wajah Pan ceng Liang yang diliputi kedukaan itu, menimbulkan perasaan ingin membantu untuk meringankan penderitaan pemuda itu, maka Siang-koan Kie lalu berkata, “Apabila Pan-kongcu ada kesusahan, beritahu kanlah kepadaku juga boleh, mungkin dalam singkat siaotee dapat mencari dimana Kim locianpwee berada.”

Pan ceng Liang mengerutkan keningnya lalu berkata, “Mungkin waktunya sudah tidak keburu….”

Ia menghitung2 dengan jari tangannya, kemudian berkata pula, “Batas waktu sepuluh hari, ini hanya tinggal tiga hari saja….” “Sekalipun sudah tidak keburu untuk mencari Kim locianpwee, tetapi saudara Pan yang pernah mempunyai hubungan baik

dengan orang2 golongan kita, sudah seharusnya siaote turut mengeluarkan tenaga untuk memberi bantuan.”

Pan ceng Liang mendadak dongakan kepala, menatap Siang-koan Kie, lalu berkata, “Sekalipun Kim locianpwee datang sendiri, mungkin juga tidak dapat berbuat apa-apa..”

Ia menghela napas dalam2, dua tetes air mata mengalir turun katanya pula, “Tetapi ia berkedudukan tinggi sekali dalam golongan saudara, hanya rendah setingkat daripada pangcu, mungkin sebelum batas waktu tiba dapat mengumpulkan orang2 kuat dalam golongan saudara….”

Berkata sampai disitu, tiba2 terdengar suara seperti orang melemparkan sebuah batu kecil kedalam ruangan itu.

Suara itu meskipun kecil, tetapi sangat mengejutkan Pan ceng Liang, wajahnya berubah seketika, ia buru2 mengusap kering air matanya dan pura2 girang dengan suara nyaring ia berkata, “Apakah saudara Koan tidak duduk lagi sebentar?”

Siang-koan Kie diam2 terkejut karena ia sebetulnya belum ingin pergi, tetapi karena tuan rumah sudah berkata demikian, mau tidak mau dia harus pergi.

ia lalu bangkit dan berjalan keluar dengan tindakan lebar sambil menyahut: „Tidak usah….”

Dibelakang dirinya tiba2 terdengar suara tindakan kaki yang amat ringan, tatkala ia berpaling, seorang gadis berpakaian putih sedang berjalan menghampirinya.

Siang-koan Kie terkejut, ia berdiri membisu diluar ruangan.

Gadis berpakaian putih itu mengawasi Siang koan Kie sambil tersenyum, kemudian berpaling dan berkata kepada Pan ceng Liang, “Koko, tuan ini datang dari mana?” “Saudara Koan dari golongan pengemis.” jawab pemuda itu.

Siang-koan Kie memberi hormat kepada Pan-ceng Liang seraya berkata, “Aku tidak berani merepotKan saudara Pan, setelah siaotee nanti bersembahyang dimeja abu Pan-lo-ing Hiong, nanti akan pergi lagi.”

Gadis berpakaian berkabung itu berdiri dibawah tangga ruangan merintangi berlalunya Siang koan Kie kemudian berkata sambil tertawa, “Beberapa sesepuh dari golongan pengemis, semua merupakan sahabat baik ayah di masa hidupnya, sesungguhnya semua bukan orang luar, harap saudara Koan berdiam sebentar disini baru pergi lagi, aku ingin menanya beberapa patah kata denganmu.”

Siang-kom Kie diam2 merasa cemas, pikirnya

“celaka! Apabila ia menanya urusan dalam golongan pengemis, dan jawaban tidak tepat bukanlah akan terbuka rahasiaku?”

“Meskipun dalam hati sangat gelisah, tetapi ia masih menjawab, “Entah nona Pan ingin menanya urusan apa?”

“Silahkan saudara Koan duduk dalam kamar!”

Sikap gadis itu membuat Siang-koan Kie merasa agak kikuk menghadapinya, untung wajahnya sudah memakai obat, jikalau tidak pasti sudah merah seluruhnya.

Gadis itu melihat Siang-koan Kie berdiri saja tanpa bergerak lalu tersenyum dan berkata pula, Apakah saudara Koan masih ada urusan penting?”

Siang-koan Kie berpikir sejenak, kemudian balik masuk keruangan.

Gadis berkabung itu mengikuti dibelakangnya. Setelah berada didalam ruangan Siang-koan Kie diam saja, pikirannya bekerja keras mencari akal bagaimana harus menghadapi gadis itu.

Gadis itu agaknya merasa heran menghadapi Siang-koan Kie yang bersikap dingin itu, sejenak nampak bersangsi, kemudian berkata sambil tersenyum, “Apakah saudara Koan sudah lama kenal kakakku?”

Siang-koan Kie pada saat itu sangat hati-bati sekali terhadap segala perkataannya setelah berpikir dahulu baru menjawab, “Aku dengan saudaramu sebetulnya tidak kenal, tetapi dari pembicaraan para sesepuh golongan kami sering mendengar disebutnya Pan-lo Ing Hiong dan Pan-kongcu, sayang kedatangan siaote agak terlambat, jenazah Pao-lo-ing Hiong ternyata sudah dikubur, maka aku coba memberanikan diri untuk berkunjung kepada Pan-kongcu, untuk menanyakan keadaan tentang meninggalnya Pan-lo ing Hiong, agar dikemudian hari apabila siaote ditanya oleh Pan-cu atau para sesepuh dapat menjawabnya.”

jawaban itu telah mengelakan tanggung jaWab Pan- kongcu, ia merasa jawaban itu cukup tepat.

Gadis berkabung itu tersenyum dan bertanya pula, “Apakah saudaraku pernah memberitahukan kepada saudara tentang kematian ayah?”

“Tidak, saudara nona hanya mengatakan bahwa kematian ayah nona itu secaara tidak terduga-duga, yang pada waktu ini belum dapat dikatakan kepada siapapun juga, dikemudian hari akan kuberitahukan sendiri kepada Pang cu.

Gadis itu agaknya memuji jawaban saudaranya itu, biji matanya berputaran mengawasi diri saudaranya sebentar lalu berkata, “Apa yang dikatakan oleh saudaraku sedikitpun tidak salah, apa yang kita hadapi dewasa ini, kita berdua saudara memang masih banyak kesulitan yang kita tidak dapat lupakan, aih! urusan ini sebetulnya tidak boleh diketahui oleh orang luar.

“Karena saudaramu tidak mau memberi keterangan, sudah tentu siaote tidak perlu menanya lebih jauh,….”

Wajah gadis itu tiba2 berobah, dengan nada suara dingin ia berkata, “Kedatangan saudara Koan kali ini, apakah atas perintah para sesepuh dari golongan saudara ataukah atas keinginanmu sendiri?”

Siang-koan Kie herpikir, “nampaknya gadis ini mendesak terus ingin mendapat keterangan apabila jawabanku salah, pasti akan terbuka rahasiaku, sebaiknya aku mengambil sikap tidak perduli.

“Demikian belit nona bertanya, maaf siaote tidak suka menjawab….”jawabnya dengan sikap dan nada suara

dingin.

Kemudian ia berpaling dan menghormat kepada Pan ceng Liang seraya berkata, “Kunjunganku ini telah mengganggu ke tenangan saudara, kini siaote ingin mohon diri.”

Dengan tindakan lebar ia berjalan keluar.

Gadis berkabung itu tiba2 bergerak dan merintangi dihadapan Siang koan Kie kemudian berkata dengan nada suara dingin.

“Saudara Koan harap jangan pergi dulu ..”

Siang-koan Kie karena terhalang perjalanannya, apabila ia tidak menurut, itu berarti harus menerjang dengan kekerasan, setelah bersangsi sejenak, akhirnya ia berhenti dan bertanya.

“Nona Pan masih ada keperluan apa lagi?

“Ayah dengan beberapa sesepuh golongan tuan ada mempunyai hubungan baik, tidak tahu saudara Koan dibawah siapa?” Pertanyaan itu nyata sudah mengandung kecurigaan. “Pertanyaan nona ini, siaote sebetulnya ingin menolak

memberi jawaban, mengingat persahabatan ayah nona dengan beberapa sesepuh golongan kami, terpaksa aku akan menjaab juga aku sebetulnya sering mengikut disamping Pangcu.”

Wajah gadis yang dingin itu mendadak berubah, dengan wajah ramah senyuman ia berkata;

“Dugaanku ternyata tidak salah, mengapa saudara Koan berani berlaku dan bersikap demikian, kiranya adalah orang terdekat dari Pangcu

Kembali ia menunjukkan senyumnya kemudian berkata pula, “Sudah lama aku dengar bahwa didamping Pangcu ada mempunyai dua murid muda ditangan kirinya yang disebut To- thjin jie-Tong,

kedua orang itu maasing2 mempunyai kepandaian sangat tinggi, dari sikap saudara Koan, apabila dugaanku tidak keliru, tentunya adalah salah satu dari kedua pemuda itu?”

Siang-koan Kie diam2 berpikir: tentang keadaan dalam golongan pengemis, aku sedikitpun tidak tahu, jika telah memberikan petunjuk kepadaku, boleh juga aku berlagak gila saja.

Atas pertanyaan nona itu tapi, ia tertawa dingin tetapi tidak menjawab.

Sikapnya itu benar2 telah membuat gadis berkabung itu percaya, maka seketika itu ia nampak terkejut.

Ia sebetulnya bermaksud mengejek Siang-koan Kie, sungguh tidak diduga Siang-koan Kie telah berlagak gila tidak menjawab pertanyaannya.

Telah lama berpikir, gadis itu lalu berpaling dari bertanya kepada saudaranya. “Koko benarkah saudara ini adalah salah satu dari Tho- thiU-joe-tong golongan pengemis?”

“Tentang ini, aku sendiri tidak jelas,” jawab Pan ceng Liang.

“Tho chiu-jie-tong selalu tidak terpisah dari samping pang- cu, bagaimana bisa berjalan seorang diri? Sudah terang saudara ini sengaja menyaru….”

Siang-koan Kie karena sudah terlanjur kini sudah tidak bisa mundur lagi terpaksa ia bersikap keras kepala, ia mendengarkan suara ketawa dingin bibirnya bergerak hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian dibatalkan.

Semula ia ingin berkata bahwa Pang-cunya berada didekat tempat itu, tetapi kemudian tiba tiba ia merasa bahwa jawaban itu kurang tepat

sebab dari pembicaraan mereka berdus ia sudah tahu bahwa kedudukan ketua golongan pengemis itu tinggi sekali, kalau ia melakukan perjalanan, bagaimana tiada seorangpun yang tahu atau mendengar kabar.

Karena berpikir demikian maka ia menjawab dengan nada suara dingin, Entah dengan maksud apa nona menanya demikian teliti? Pang-cu dan para sesepuh golongan kami, selalu merahasiakan jejaknya, sekalipun aku tahu, juga tidak akan memberitahukan kepada siapapun juga.”

“Kalau begitu silahkan saudara Koan berdiam disini untuk sementara waktu, biarlah sesepuh saudara nanti yang datang menolongmu!”

“Apakah nona bermaksud hendak menahan aku di sini, perbuatan nona ini sesungguhnya terlalu gegabah….”

“jikalau kau tidak percaya boleh coba saja!”

Siang koan Kie menatap wajah gadis itu, untuk sesaat ia tidak dapat mengambil keputusan ia tidak tahu apakah harus menerjang keluar secara paksa?” Gadis itu meskipun sikapnya dingin, tetapi Siang-koan Kie yang memandang tanpa berkedip juga merasa malu, katanya dengan suara gusar, “Mengapa kau mengawasi aku sedemikian rupa? Hem! Tidak tahu adat.”

“Siang koan Kie sedang memikirkan baik menerjang secara paksa atau tidak, ketika mendengar teguran itu baru tersadar bahwa sikapnya itu memang kurang pantas, maka buru2 berpaling kearah lain seraya berkata, “Apabila nona, bertindak secara tidak aturan aku terpaksa akan menerjang keluar secara paksa.”

Gadis itu tiba2 bergerak maju jari tangan kanannya menotok jalan darah kie-bun-hiat Siang koan Kie.

Serangan yang dilakukan secara mendadak itu sendirinya sudah sulit untuk dielakkan, apalagi kedua belah pihak terpisah dekat sekali, sedangkan gadis itu bergerak demikian cepat dan gesit, sehingga Pan ceng Liang yang menyaksikan itu lalu berseru, “Aah….”

Bersamaan dengan itu, Siang koan Kie tubuhnya mendadak miring kesamnping dan melompat tiga kaKi lebih, ternyata sudah berhasil mengelakkan Serangan gadis itu.

Gadis itu agaknya terkejutkan dan ter-heran2 karena Siang- koan kie dapat mengelakkan serangannya yang dilakukan secara tiba2 tadi, sesaat itu merasa tertegun, kemudian lalu berkata, “Nama besar To-thjiu jie-tong dari golongan pengemis benar2 bukan siaran kosong belaka, dapat mengelakkan serangan yang kulakukan secara tiba2 ini, sudah boleh terhitung sebagai orang kuat kelas satu dalam rimba persilatan.”

“Serangan nona secara demikian itu, sesungguh nya tidak pantas dilakukan oleh seorang yang mempunyai nama baik dari keluarga Pan, karena mengingat nona adalah kaum wanita, tidak perlu aku berpikiran seperti kau, sekarang aku hendak pergi.” Gadis itu kembali merintangi Siang koan Kie sambil berkata, “Kau ingin pergi? Tidak demikian mudah!’”

“Kau mau apa?”

“Jikalau kau mampu menyambut seranganku sampai tigapuluh jurus Tanpa mengalami kekalahan, kau boleh pergi.”

Siang-koan Kie diam2 berpikir, jikalau aku hendak menyelidiki urusan ini, cepat atau lambat pasti tidak terhindar dari suatu pertempuran, aku boleh mencoba dulu tigapuluh jurus, supaya mengetahui sampai dimana dan dari golongan mana kepandaiannya yang dipunyai.

“Karena nona selalu mendesak, terpaksa aku mengiringi kehendakmu, tetapi perlu kuterangkan lebih dulu, kita hanya bertanding tigapuluh jurus saja, tidak lebih.”

“Baiklah! Karena ruangan ini sempit mari kita bertarung di Pekarangan!”

Gadis itu lalu berjalan lebih dulu menuju kepekarangan.

Siang koan Kie sudah pernah menyaksikan kepandaian gadis itu ia tahu gadis itu terlalu ganas dan telengas diluarnya memang cantik tetapi dalam hatinya lebih jahat dari ular berbisa. Diam2 ia sudah siap siaga mengikuti dibelakang gadis itu.

Nona itu berkata sambil tertawa, “Sekeluar dari pintu kamar, sudah terhitung medan pertempuran, maka kau harus waspada.”

Suara nona itu kedengarannya manis dan enak kali, sedikitpun tidak tampak kejahatannya. “Nona boleh bertindak dan mengeluarkan seluruh kepandaianmu!” jawab Siang-koan Kie.

Gadis itu mendadak berhenti dan bertanya kepada Siang- koan Kie sambil tertawa, “Saudara Koan adalah To tong atau ciu-tong. “Tentang ini maaf aku tidak dapat memberitahukan,”

Gadis itu tiba2 bergerak, jari tangan kanannya dengan cepat menotok jalan darah dada Siang-koan Kie, namun mulutnya masih berkata sambil tertawa, “Kau ini bagaimana mengapa selalu tidak suka menjawab pertanyaanku?”

Sementara itu tangan kanannya sudah bergerak melancarkan suatu serangan.

Siang-koan Kie mengerahkan kekuatannya ke kaki kiri, badannya tiba2 melesat, kebelakang sejauh tiga kaki untuk mengelakkan serangan dari totokan nona itu, sementara mulutnya juga berkata, “Aku hanya tidak suka menjawab pertanyaan nona itu.”

“Kutanya dengan baik kau tidak suka menjawab, sebentar kau mau tidak mau pasti akan menjawab.”

Gadis itu melakukan serangan dengan kedua tangannya, ia menggunakan serangan telapak tangan dan totokan dengan jari tangan, dalam waktu yang sangat singkat ia sudah melancarkan serangan sampai lima jurus, yang semuanya dilakukan secara cepat dan ganas serta selalu diarahkan ke bahagian badan terpenting Siang koan Kie.

Siang-koan Kie yang diserang secara ber-tubi2, diam2 juga terperanjat dalam hatinya berpikir, “Apabila pada tiga tahun berselang, serangan itu sudah cukup membuat diriku terluka parah.”

-ooodwooo-