ISMRP Jilid 05

 
Jilid 05

SIANG-KOAN KIE mengadakan pemeriksaan sebentar dalam kamar itu, lalu keluar lagi sambil menutup kembali pintunya, kemudian lari pulang ke loteng penyimpan kitab di bagian belakang kuil tua itu.

Tiba di loteng, ia melihat orang tua aneh itu sedang beristirahat di satu sudut sambil memejamkan matanya.

Ia tiba di atas loteng itu menimbulkan suara cukup keras, tetapi orang tua itu agaknya tidak mendengar sama sekali.

Siang-koan Kie tidak berani mengganggu, ia duduk di sampingnya, matanya mengawasi wajah orang tua itu, dalam hatinya berpikir, “Selama beberapa hari ini, oleh karena ingin membantu kepandaianku supaya mendapat kemajuan, entah berapa banyak tenaga telah dikeluarkannya, budi sebesar ini, entah bagaimana aku harus membalasnya… ”

Sinar matahari masuk melalui lobang jendela, dalam ruangan loteng itu terasakan hawa hangat, orang tua itu yang duduk menyender di satu sudut sedang beristirahat, hampir tidak kedengaran suara bernapasnya.

Siang-koan Kie memperhatikan sikap orang tua itu, seolah- olah bukan sedang bersemedi, melainkan seperti orang tidur nyenyak.

Siang-koan Kie mengamat-amati wajah orang tua itu, pipi dan dahinya yang penuh keriput, nampak pucat pasi, alisnya dikerutkan agaknya sedang memikirkan persoalan rumit. Semakin dipandang semakin kurang enak pikirannya, terpaksa memanggil, “Suhu!”

Orang tua itu membuka matanya, memandang Siang-koan Kie sejenak, lalu bertanya, “Apakah kau tidak keluar pesiar?”

“Suhu, teecu telah menyaksikan suatu pemandangan yang sangat ganyil, teecu ingin minta keterangan suhu.”

“Apakah kau menyaksikan jenazah2 manusia dalam kamar- kamar itu?”

Siang-koan Kie tercengang.

“Apa? Apakah suhu sudah lama tahu?”

“Para padri itu semuanya mati dengan jalan membunuh diri.”

“Mengapa mereka harus membunuh diri?”

“Urusan ini terlalu panjang ceritanya, nanti perlahan-lahan akan kuceritakan kepadamu, hanya apa yang aku ketahui tidak banyak, Kie-jie! Kecuali jenazah dalam kamar-kamar itu, apakah kau menemukan barang lain?”

“Tidak!”

Orang tua itu mendadak melempangkan tubuhnya dan berkata, “Tahukah kau bahwa dalam kuil ini ada sebuah benda yang sedang dicari oleh setiap orang rimba persilatan?”

“Benda apa?”

“Aku sebetulnya ingin menunggu sampai benda itu sudah masak, hendak kugunakan untuk menolong diri seseorang, tetapi aku sudah menunggu hampir duapuluh tahun lamanya, benda itu masih tetap belum masak benar.”

Dalam hati Siang-koan Kie setelah berpikir sejenak lalu berkata, “Benda itu tentunya berharga, entah siapa yang suhu hendak tolong? Apakah teecu boleh mencurahkan tenaga untuk memberi bantuan?” Pemuda itu karena merasa berhutang budi terlalu besar, kepada orang tua itu, tiba-tiba teringat bahwa itulah sebabnya untuk membantu orang tua yang baik budi itu.

Orang tua itu tertawa hambar, lalu berkata, “Nanti saja kita bicara lagi!”

Karena melihat suhunya tidak suka menceritakan, Siang- koan Kie juga tidak bertanya lagi, setelah keduanya hening sejenak, orang tua itu tiba-tiba tertawa dan berkata, “Kie-jie! Jikalau kau sudah memahami kepandaianku, di kemudian hari apabila kau berkelana di dunia Kang-ouw, pasti akan menjumpai banyak kesulitan yang terjadi di luar dugaanmu.”

Siang-koan Kie tercengang. “Mengapa?”

“Sebab apabila mereka mengetahui kepandaian yang kau gunakan, pasti menganggapnya bahwa aku masih hidup di dalam dunia, banyak orang takut aku tidak mati! Mereka bisa memikirkan darimu untuk mencari jejakku, dengan demikian pasti akan berusaha dengan rupa-rupa akal keji menyusahkan dirimu.”

“Kalau begitu musuh suhu tentunya banyak sekali.” Demikian Siang-koan Kie dalam hati berpikir.

Orang tua itu melihat muridnya diam saja, lalu bertanya sambil tersenyum, “Mengapa kau tidak bicara? Apa yang kau pikirkan kau ceritakan! Sekalipun salah juga tidak apa.”

Siang-koan Kie ragu-ragu, kemudian ia berkata, “Suhu, mengapa orang lain setelah mengetahui aku menggunakan kepandaian yang suhu turunkan, lalu berusaha menyulitkan diri teecu?”

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak. “Kau bocah ini bicara denganku juga perlu memutar, mengapa kau tidak bertanya terus terang bahwa musuhku itu terlalu banyak sekali.”

Muka Siang-koan Kie merah, jawabnya agak ke-malu2an, “Dalam hati teecu memang berpikir demikian, hanya tidak berani mengeluarkan.”

“Dalam hatimu pasti berpikir tentang sepak terjangku di dunia Kang-ouw pada masa yang lampau, mungkin karena membunuh orang terlalu banyak, sehingga banyak sekali musuhnya, maka orang lain setelah mengetahui kepandaian itu dari pelayaranku, lalu berusaha mencelakakan dirimu, bukankah demikian maksudmu?”

“Teecu, teecu…   ”

Pemuda itu selamanya tidak membohong, apabila berkata terus terang, ia khawatir akan melukai hati suhunya, maka ia tidak dapat memikir suatu jawaban yang tepat, sehingga hanya mengucapkan teecu, teecu saja, tidak dapat melanjutkan lagi.

Orang tua itu tiba-tiba mendongakkan kepalanya memandang ke atas, ia berkata kepada diri sendiri, “Sebelum kedua kakiku cacad, di dalam kalangan Kang-aow, memang benar aku sudah membunuh orang yang tidak sedikit jumlahnya, kala itu usiaku masih muda, darahku masih panas dengan sendirinya dapat melakukan apa saja menurut hatiku, memang juga tidak sedikit jumlahnya musuh2ku, tetapi ini bukan merupakan sebab yang utama?”

“Kalau begitu apakah sebabnya?”

Di wajah orang tua itu tiba-tiba terlintas senyuman girang. “Ini suatu kejadian yang sudah lalu, suatu masa yang

sangat indah, tetapi sangat pendek untuk selama-lamanya, kalau tidak salah hanya dalam waktu tiga tahun saja, aku telah menikmati suatu kehidupan yang senang dan bahagia, walaupun waktunya sangat singkat sekali, bahkan kemudian mentakdirkan aku harus hidup merana selama beberapa puluh tahun, tetapi menurut hukum alam setelah siang hari, tentu akan diganti malam hari yang gelap dan cukup panjang, inilah merupakan hukum alam yang tidak dapat ditentang oleh siapapun juga, apalagi aku hanya manusia biasa saja… ”

Siang-koan Kie meskipun tidak mengerti maksud dan ucapan suhunya itu, akan tetapi ia dapat mendengarkan nada suara orang tua itu merupakan gabungan perasaan antara suka dan duka, ia menduga dalam hidup orang tua ini, pasti pernah mengalami suatu masa berbelit2.

Orang tua itu tiba-tiba menarik napas panjang, lalu berkata pula, “Kie-jie, tahukah kau bahwa dalam hidup manusia apakah yang paling indah dan paling menggembirakan?”

“Ini agak sulit untuk dikatakan, ada orang yang gemar ilmu silat, orang demikian yang paling menggembirakan adalah bisa menjadi orang terkuat dalam rimba persilatan, juga ada orang suka harta kekayaan, orang semacam ini akan merasa senang apabila dalam hidupnya diuruk oleh banyak emas dan barang perhiasan; ada pula orang yang senang mengumpulkan barang2 kuno atau lukisan… ”

Orang tua itu tersenyum.

“Tidak benar, jangan kau katakan lagi, sebaiknya aku saja yang memberitahukan kepadamu. Dalam penghidupan seseorang, yang paling menyenangkan ialah mendapat cinta kasih dari orang yang dicintai.”

Ia tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata pula, “Tetapi, dalam penghidupan manusia ini, berapa gelintir jumlahnya yang dapat menikmati kesenangan macam itu, aku seharusnya merasa puas, walaupun masa yang penuh keindahan itu hanya tiga tahun saja, tetapi rasa tiga tahun itu, di dalam hatiku telah tergores kesan yang sangat dalam yang tidak akan kulupakan untuk selama-lamanya. Setiap kali kalau aku sudah tidak sanggup menahan kesengsaraan yang kuderita, apabila mengingat dan mengenangkan penghidupanku yang indah itu, segala kesengsaraan di dunia yang menimpa atas diriku, seolah-olah lupa semuanya, semua penderitaan tidak kuhiraukan lagi.”

Siang-koan Kie yang mendengarkan setengah mengerti setengah tidak.

“Suhu, benarkah di dalam dunia ini ada kejadian semacam itu?”

“Sudah tentu ada, apakah perlu aku membohongimu?” Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Kejadian serupa ini,

aku belum pernah mendengarnya agaknya susah dipercaya.”

Orang tua itu agaknya sedang mengenangkan kembali masa yang indah itu, wajahnya terlintas senyuman yang jarang tampak, kemudian berkata yang seolah-olah ditunjukkan kepada diri sendiri, “Beberapa puluh tahun berselang, kala itu aku masih muda belia, baru kira-kira dua tiga tahun menerjunkan diri dalam dunia Kang-ouw, tetapi sudah cukup menggemparkan, bersama kawanku yang tidak berbudi itu, hampir bersamaan kita muncul, bersamaan pula mendapat nama, tetapi ia terkenal karena pandainya menggunakan racun berbisa, sedang aku sendiri terkenal karena kepandaianku yang telah menjagoi di daerah selatan dan utara sungai Tian-kang… ”

Siang-koan Kie yang tidak mengerti apa yang diucapkan oleh suhunya, segera bertanya, “Suhu, siapakah orang yang suhu maksudkan kawan tidak berbudi itu?”

Orang tua itu bersenyum getir.

“Dia adalah saudara angkatku, meskipun kita muncul di dunia Kang-ouw pada waktu yang sama, tetapi dahulu tidak saling mengenal, kami telah berjumpa secara tidak disengaja, tetapi satu sama lain merasa cocok, hanya dalam hati masing- masing timbul perasaan ingin menguji kepandaian yang kami miliki, akhirnya kita telah mengadakan perjanjian mengadakan pertandingan persahabatan, kita bertanding dari pagi hingga malam, pertandingan berlangsung seribu jurus lebih, waktu hari sudah mulai gelap, ia terkena pukulan tanganku. Kala itu aku sudah merasa sangat kagum terhadap kepandaiannya dan kecerdasannya, maka aku tidak menurunkan tangan kejam. Akh! Seandainya waktu itu aku tahu ia berhati jahat, aku membunuhnya mati dan aku sendiri juga tidak akan mengalami nasib menyedihkan seperti sekarang ini.”

Berkata sampai di situ, di wajah orang tua itu nampak tegas rasa dendamnya yang sangat dalam.

“Kalau ia sudah kalah di tangan suhu, kepandaiannya sudah tentu tidak setinggi suhu?”

“Jikalau ia menggunakan kepandaian membuat aku cacat, aku juga tidak akan begitu benci terhadapnya… ”

Orang tua itu agaknya menyadari bahwa kata-katanya itu seperti tiada ujung pangkalnya, maka setelah menarik napas panjang ia lalu berkata pula, “Setelah ia terkena pukulanku, pertandingan segera berhenti, ia juga menyerah kalah, sikapnya pada waktu itu sesungguhnya menunjukkan seperti sikapnya seorang berjiwa besar, maka aku bukan saja sudah membantunya menyembuhkan lukanya, bahkan kemudian aku telah tertarik oleh budi bahasa yang manis, sehingga menganggapnya sebagai seorang baik, demikian kami akhirnya telah mengangkat saudara. Siapa menduga, sejak hari itu sudah menanam bibit bencana sehingga aku mengalami nasib buruk seperti sekarang ini.”

“Apakah ia merasa iri hati atau dengki kepada suhu, karena kepandaian suhu lebih tinggi darinya, sehingga timbul pikiran jahatnya hendak mencelakakan suhu?”

“Meskipun ini juga merupakan salah satu sebab, tetapi bukanlah faktor utama.” “Lalu sebab apa?”

“Sebabnya ialah suniomu, seorang perempuan cantik yang tiada keduanya… ”

Ia menarik napas panjang, lama baru melanjutkan lagi, “Setelah kita angkat saudara, pengaruh kita semakin besar, nama kita di kalangan Kang-ouw semakin terkenal, tetapi pandangan terhadap segala urusan dan orang antara kita berdua, menunjukkan perbedaan makin lama makin jauh.

“Tetapi oleh karena kita satu sama lain menghendaki kepandaian masing-masing, siapapun tidak ingin berpisah. Kita terpaksa tinggal bersama, kira-kira satu tahun lamanya, pada suatu hari di kota Ce lam kita telah menolong seorang gadis dari keluarga seorang kaya, gadis itu bukan saja berparas cantik sekali, tetapi juga sangat cerdik, karena menolong gadis itu kita telah timbul perselisihan dengan Tauw Tay Kang, satu kepala berandal yang pada waktu itu namanya sangat terkenal.”

“Kita bertempur satu malam suntuk, karena Tauw Tay Kang bertempur dengan pembantunya yang kuat, pertempuran itu berlangsung sengit, menyelang pagi hari kita baru berhasil membasmi Tauw Tay Kang bersama dengan pembantunya yang berjumlah dua puluh delapan orang… ”

“Dalam satu malam telah membasmi duapuluh delapan orang, ini sesungguhnya hebat sekali, hanya agak sedikit kejam… ”

Tiba-tiba pemuda itu teringat kematian yang menyedihkan beberapa saudara seperguruannya dan pembunuhan ganas yang dilakukan oleh orang berbayu hijau itu, kalau teringat itu masih bergidik, mungkin demikianlah sifat kejam di dunia Kang-ouw.

Orang tua itu kembali menarik napas panjang kemudian berkata pula, “Sejak pertempuran malam itu, namaku dan nama adik angkatku semakin terkenal, dalam rimba persilatan barang siapa yang mendengar nama kita berdua, semua merasa ngeri, tetapi juga sejak hari itu, perhubungan antara kita semakin renggang. Sementara itu gadis yang telah tertolong itu, karena keluarganya sudah terbasmi habis oleh kawanan berandal itu, sehingga menjadi seorang piatu yang tiada rumah tinggalnya lagi, terpaksa ia berdiam dengan kita. Pada suatu hari tiba-tiba aku merasa bahwa di antara kita, aku dengan saudara angkatku, kecuali sifatnya yang berlainan, masih ada mengeram suatu bahaya yang lebih besar sekali, apabila tidak lekas disingkirkan, mungkin akan berbalik menjadi musuh besarnya… ”

Berkata sampai di situ tiba-tiba berdiam, sikapnya nampak murung.

Siang-koan Kie yang sedang mendengarkan dengan penuh perhatian, ketika suhu itu tidak melanjutkan ceritanya lagi, segera bertanya, “Bahaya apakah?”

“Aku telah merasa bahwa antara kita berdua sama-sama jatuh cinta kepada gadis itu, walaupun masing-masing tidak pernah mengutarakannya, tetapi dalam hati merasa susah karena urusan ini.”

“Aaaaa! Kiranya begitu.”

“Ketika aku merasa bahwa urusan ini semakin gawat, dalam hati aku mengerti bahwa keadaan yang semacam itu, tidak bisa berlangsung terus, aku berpikir satu malam, kemudian aku pergi secara diam-diam meninggalkan rumah itu sambil meninggalkan surat menerangkan duduk perkara itu.”

Siang-koan Kie menarik napas dan berkata, “Tindakan suhu ini benar!”

Orang tua itu berkata pula sambil tersenyum, “Kala itu meskipun aku juga cinta kepada gadis itu, tetapi sampai di mana dalamnya cintaku kepadanya, aku sendiri juga tidak tahu, aku hanya memikir entah berapa banyak perempuan cantik dalam dunia, bagaimana karena satu perempuan sampai merenggangkan perhubungan saudara? Setelah aku meninggalkan rumah tersebut, baru aku merasa urusan tidak semudah seperti apa yang aku pikirkan, parasnya cantik dan senyumnya yang sangat mengiurkan itu, sering terbayang dalam otakku, sering mengganggu pikiranku, semakin keras aku ingin melupakannya, semakin tegas bayangan itu tergores dalam otakku, seolah-olah bayangan itu sendiri yang mengikuti setiap jejakku, biar bagaimana tidak dapat kuusir pergi bayangan itu.”

“Aih! Penderitaan batinku pada waktu itu, sesungguhnya lebih hebat dari pada ditikam oleh sebilah pedang tajam.

“Kalau benar demikian halnya, suhu seharusnya balik mencarinya lagi……..!” Tiba-tiba ia merasa bahwa ucapannya itu terlalu gegabah, maka buru-buru menutup mulutnya.

“Meskipun aku merasa tidak mampu mengusir bayangannya dalam hatiku, tetapi apabila aku mengingat ikatan persaudaraan dengan saudara angkatku bagaimana aku boleh berlaku gegabah hanya karena seorang perempuan saja, sehingga kita harus saling membunuh? Aku merasa serba salah, maka mulailah aku merantau ke seluruh pelosok untuk menikmati pemandangan alam yang terdapat di negara kita, dalam waktu dua tahun aku sudah menjelajahi habis semua gunung2 ternama di daerah Tiong-goan, memang benar pemandangan alam yang indah itu pernah meringankan penderitaan hatiku, bayangan gadis cantik perlahan-lahan juga mulai luntur.

“Bukankah itu sudah baik…   ?”

Orang tua itu menarik napas panjang.

“Apabila urusan itu berakhir demikian, niscaya aku tidak akan mengalami nasib seperti ini… ”

Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak lama baru berkata, “Tuhan hanya memberikan aku waktu tiga tahun lamanya untuk menikmati manisnya penghidupan, apakah aku boleh tidak merasa puas? Apakah artinya penderitaan semacam ini saja.”

“Apa? Apakah suhu mencari gadis itu lagi?”

“Tidak, selagi penderitaanku mulai kurang, aku telah berjumpa lagi dengannya dengan tidak disengaja ”

“Dunia begini lebar, apabila suhu tidak sengaja mencarinya, bagaimana bisa berjumpa secara kebetulan sekali?”

Orang tua itu matanya memandang keluar jendela, ia menjawab dengan lambat-lambat, “Apabila tidak ada pertemuan waktu itu, juga tidak akan berjumpa denganmu di tempat ini… ”

Ia menarik napas perlahan, lalu melanjutkan lagi, “Setelah aku pesiar ke seluruh tempat yang terkenal, di daerah Tiong- goan, tiba-tiba aku merasa bahwa manusia hidup di dalam dunia, hanya beberapa puluh tahun yang sangat singkat saja, perlu apa kita berebut mencari nama, mencari kedudukan, menumpuk kekayaan?”

“Di dalam daerah pegunungan banyak terdapat tempat yang indah untuk berdiam, hal itu telah membuka hatiku, sehingga pikiranku yang ingin menjagoi dunia rimba persilatan mulai merasa tawar, begitu pula pikiranku terhadap gadis itu, aku ingin pergi berlayar jauh dari tempat kelahiranku, untuk mencari suatu pulau yang tidak didiami manusia, aku ingin berdiam di sana, aku ingin coba menuntut penghidupan bagaikan orang suci yang katanya seperti dewa, siapa tahu Tuhan tidak mengijinkan keinginanku, selagi aku timbul pikiran hendak mengasingkan diri, di tepi telaga Tay-beng-ouw dekat kota Ce-lam, akn berjumpa lagi dengannya… ”

“Apakah suhu kembali ke kota Ce-lam lagi?”

“Kedatanganku itu tidak disengaja, aku hanya ingin mengunjungi untuk penghabisan kali sebagai kenang- kenangan tempat di mana dahulu aku menolong dirinya, tempat itu terpisah kira-kira sejarak lima pal dengan telaga Tay-beng-ouw, tempat itu merupakan tanah belukar, kecuali tanah ladang yang luas, masih ada berapa tanaman pohon besar. Waktu itu kira-kira permulaan musim semi, pohon2 baru tumbuh daunnya yang segar, pemandangan alam sangat indah, selagi aku menikmati pemandangan alam itu, di belakang diriku tiba-tiba terdengar suara lembut, “Aku tahu kau akan kembali lagi, aku sudah menantimu satu tahun lebih! Ai, apabila kau tidak datang, ia pasti juga bisa mencari kemari… ”

“Siapakah orang itu?”

“Kie-jie benarkah kau tidak dapat menduga siapa orang itu?”

Siang-koan Kie sebetulnya memang seorang cerdik, hanya kekurangan pengalaman, ketika ditanya kembali oleh orang tua itu, ia lalu berpikir, kemudian baru berkata, “Ah! Orang itu tentunya adalah Sun-nio.”

“Benar, ia telah membuat rumah gubuk kecil di bawah salah satu pohon besar yang terdapat di situ, ia berdiam di dalam gubuk itu, sudah satu tahun lamanya menunggu kedatanganku, ia telah yakin bahwa aku pasti akan kembali ke tempat di mana dahulu kita telah bertemu itu.

“Apakah Sun-nio mengerti ilmu silat?” “Tidak paham.”

“Kalau begitu dengan seorang diri berdiam di tempat belukar semacam itu, apakah ia tidak takut akan gangguan binatang buas?”

Rambut dan kumis orang tua bergerak-gerak, air mata mengalir turun, katanya dengan suara duka, “Oleh karena itu sekalipun aku hidup merana, tetapi asal aku teringat akan suara dan tertawanya, aku tidak menghiraukan segala penderitaan hatiku.”

“Setelah Sun-nio berjumpa kembali dengan suhu, tentunya girang sekali.”

Orang tua itu menghela napas perlahan, lalu berkata, “Setelah kita bertemu kembali, tidak dapat dilukiskan betapa terkejut dan girangnya pada saat itu, aku bertanya kepadanya, mengapa ia menunggu aku di sini? Bagaimana ia tahu aku pasti akan datang? Dan seandainya aku tidak datang, bagaimana… ?”

Siang-koan Kie dalam hati berpikir, “Seorang perempuan yang tidak mengerti ilmu silat berdiam seorang diri di tempat belukar semacam itu, sesungguhnya memang sangat berbahaya… ”

Orang tua itu kembali mendengarkan suara tarikan napasnya, kemudian berkata pula, “Untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tempat itu, ia sengaja merobek2 pakaiannya; ia berdandan sebagai seorang pengemis, meskipun pakaiannya compang-camping, tetapi tidak dapat menutupi sikapnya yang agung, maka ketika aku menoleh, segera mengenalinya siapa dirinya…….. Gubuk itu dibangun sangat sederhana sekali, hanya menggunakan atap dan bambu, kecuali di dalamnya ada pembaringan dan selimut, sudah tidak ada barang apa-apa lagi ”

“Aaaaa! Apakah ia tidak makan?”

“Di salah satu sudut dalam gubuk itu, ada sebuah kuwali yang diletakkan di atas tiga potong batu bata, dengan alat itulah ia memasak bubur atau ubi merah untuk menangsal perutnya, meskipun hidupnya menderita, sungguh mengherankan ia bisa bertahan sampai satu tahun? Jikalau aku tidak melihat dengan mata kepala sendiri aku juga tidak percaya… ” “Kejadian serupa ini, teecu belum pernah mendengarnya… ”

“Kie-jie! Tahukah kau apa sebabnya ia dengan badannya yang begitu lemah, sanggup menderita hidup demikian rupa tanpa mengeluh sedikitpun juga?”

“Teecu tidak tahu!”

“Sebab ia yakin benar bahwa pasti aku akan kembali ke tempat itu, keyakinannya itu telah memberikan dorongan semangat baginya untuk menahan segala penderitaan dengan hati tabah. Malam itu setelah aku berjumpa dengannya, ia lalu jatuh sakit di dalam gubuk itu… ”

“Apabila suhu terlambat dua malam lagi, dan Sun-nio sakit di dalam gubuk itu, tiada orang yang tahu dan merawat, kejadian itu benar-benar terjadi sangat menyedihkan.”

“Tidak mungkin, sekalipun kedatanganku terlambat satu minggu, atau sepuluh hari, ia tetap baik-baik saja tidak bisa jatuh sakit.”

“Hal ini benar-benar teecu tidak mengerti.”

Orang tua itu tiba-tiba menatap wajah Siang-koan Kie, dengan mata terbuka lebar, lalu berkata, “Kie-jie! bagi kita orang-orang yang melatih ilmu silat, semua pernah menjalani latihan berat dalam waktu cukup lama, karena kemajuan yang didapatkan dari latihan yang dilakukan tiap hari, akhirnya menghasilkan suatu hasil yang demikian besar.”

“Kau harus tahu bahwa kehendak manusia meskipun tiada terbatas, tetapi badan manusia sebaliknya tidak dapat menempuh atau melewati batas tertentu. Maka setiap ilmu silat apabila sudah mencapai sesuatu batas tertentu, sukar untuk mendapat kemajuan lagi, dan orangnya dapat mencapai ke taraf demikian, jumlahnya hanya beberapa gelintir saja, apabila hendak melampaui batas yang ditentukan oleh kekuatan tenaga manusia, maka cara latihannya, harus diadakan suatu perombakan mutlak… ”

“Suhu, bolehkah kiranya teecu mendapatkan keterangan rahasianya?”

“Aku ceritakan kepadamu juga tidak ada gunanya, biar bagaimana dalam hidupmu ini, sudah tidak bisa mencapai ke taraf demikian.”

“Sekalipun teecu tahu sudah tidak ada harapan, tetapi untuk dengar saja rasanya toh tidak halangan?”

Orang tua itu menganggukkan kepala dan berkata, “Tahukah kau bahwa golongan budha dan imam, kita sering mendengar soal bertapa apakah sebetulnya itu?”

“Teecu tidak mengerti…   ”

“Seorang paderi yang beribadah tinggi, kebanyakan suka duduk tenang untuk bersemedi, sebab dalam ketenangan bisa menimbulkan keinsafan, insaf akan semua pelayaran suci yang dianutnya, insaf dirinya sendiri mengapa harus menyucikan diri. Demikian pula dengan pelayaran ilmu silat, apabila sudah berhasil melatih diri mencapai ke suatu batas, badannya sudah tidak dapat menyesuaikan lagi terhadap pengaruh lain kekuatan yang lebih tinggi, maka orang itu harus duduk bersemadi menenangkan pikirannya, berlatih dengan cara demikian untuk membersihkan semua gangguan pada hati dan pikirannya, sehingga mencapai ke taraf yang sangat tinggi. Melatih secara demikian mudah sekali dikatakannya, tapi sulit untuk dilakukan, apabila kurang berhati-hati, bisa membawa rusak dirinya sendiri, seringan-ringannya semua kepandaiannya akan musnah atau menjadi seorang cacat seumur hidup, kalau berat sudah tentu binasa seketika itu juga. Tetapi apabila berhasil melakukan latihan itu, akan membawa dirinya seolah-olah mengganti badan, badan itu selamanya tidak bisa rusak, demikianlah maka ada orang mengatakan bahwa orang yang berhasil melatih ilmu demikian dikatakan dewa, pada hal masih tetap manusia, hanya bedanya orang itu akan mencapai umur panjang selalu sehat dan awet muda, mungkin bisa hidup sampai tiga ratus tahun, bukanlah suatu hal yang mustahil… ”

Ia berdiam sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak dan berkata pula, “Tetapi, sehingga dewasa ini, aku masih belum melihat ada seorang yang berhasil seperti itu, itu hanya berupa dongengan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita sebagai bahan dorongan bagi setiap orang yang ingin mendapat kepandaian tinggi. Oleh karena itu, maka terhadap cerita semacam ini, aku masih setengah percaya setengah tidak, karena meskipun banyak yang bercerita, tetapi belum ada buktinya.”

“Sayangnya teecu masih mempunyai ayah bunda, apabila teecu hidup seorang diri, pasti ingin mencoba ilmu yang merupakan cerita dongengan itu.”

“Selama beberapa tahun ini aku berdiam di atas loteng ini, karena setiap hari tidak ada pekerjaan, maka aku selalu mempelajari rahasia kepandaian ilmu silat, di samping itu aku juga mempelajari ilmu bintang, menurut pandangan kau bukanlah orang dari golongan budha, orang semacam kau tidak dapat mencapai kepandaian seperti orang-orang dari golongan budha, sebaliknya dengan tulang-tulangmu dan bakatmu serta kecerdikanmu, sebetulnya merupakan bahan sangat baik untuk melatih ilmu silat… ”

Ia berhenti sejenak dan menghela napas perlahan, kemudian berkata pula, “Apabila kau tidak mempunyai bakat dan bahan baik, aku juga tidak bisa memaksa kau menjadi muridku, apakah kau merasakan bahwa tempat yang sepi sunyi ini, benarkah merupakan satu tempat yang jarang dikunjungi oleh manusia?”

“Hal ini teecu kurang jelas.” “Dalam kuil tua ini benar tumbuh suatu benda ajaib, entah apa sebabnya, urusan ini kemudian tersiar begitu luas di kalangan Kang-ouw, hal ini dapat dibuktikan, setiap tahun pasti banyak orang-orang rimba persilatan yang mencari dan berkunjung ke kuil ini, apabila aku ingin menerima murid, sebetulnya merupakan soal yang sangat mudah, selama sepuluh tahun lebih ini, meski sudah banyak orang yang aku temui, tetapi orang-orang itu jikalau bukan orang-orang yang tidak jujur hatinya, tentunya orang yang tidak mempunyai bakat baik, untuk mencari bahan yang benar-benar baik, sesungguhnya susah didapat.”

Siang-koan Kie jadi teringat pada diri Wan Hauw, meskipun ia terdiri dari darah campuran antara manusia dengan orang hutan, tetapi mempunyai kecerdasan luar biasa, maka lalu berkata, “Suhu, teecu ingat diri seseorang, harap suhu menyempurnakan dirinya… ”

“Apakah yang kau maksudkan adalah Wan Hauw si bocah itu?”

“Benar!”

“Kie-jie, kau hanya melihat dari bentuk luarnya saja, di dalam dunia ini meskipun banyak jumlahnya orang yang mengerti ilmu silat, juga banyak jumlahnya yang berkepandaian sangat tinggi, tetapi ada yang mengerti benar pengertian ilmu silat sampai ke dalam2nya, mungkin jumlahnya tidak seberapa. Kie-jie, seseorang jikalau hanya mengandalkan waktu saja, ingin mendapatkan kepandaian yang tinggi sekali itulah tidak mudah, bagi orang yang mengerti ilmu silat yang paling penting ada dua soal, tahukah kau apa itu?”

“Teecu pernah dengar suhu berkata, untuk melatih ilmu silat, pertama harus mendapat pimpinan guru yang pandai dan baik, kedua harus mempunyai kecerdasan dan kecerdikan.” “Itulah, tentang guru pandai, untuk sementara kita tidak usah bicarakan, tentang kecerdasan dan kecerdikan, tahukah kau apa yang dimaksudkan?”

“Teecu pernah dengar orang berkata, tulang, fisik dan mental serta pengertian, merupakan faktor penting bagi orang belajar ilmu silat.”

“Pelayaran ilmu silat meskipun bisa dicapai ke taraf yang tertinggi, tetapi juga ada yang mudah dimengerti, bagi seorang yang bodoh, asal mendapat petunjuk dari seorang guru pandai asal rajin melatih menurut petunjuk yang diberikan, lama kelamaan juga bisa berhasil baik, hanya hasil yang didapatkan itu terbatas serupa saja, sulit untuk mengerti lebih banyak, dan lagi kepandaian yang didapat dengan latihan demikian kebanyakan merupakan suatu kepandaian mati, susah untuk mencapai terlalu tinggi.”

“Bolehkah kiranya suhu menyebutkan satu dua macam kepandaian ilmu silat semacam ini, untuk menambah pengertian teecu?”

“Kataku bagi seorang yang bodoh tetapi jujur, ia dapat melatih kepandaian tinggi yang sifatnya mati, tetapi bukan dimaksudkan kepandaian semacam itu, hanya orang yang sifatnya bodoh boleh melatih, kepandaian yang serupa dengan guru yang serupa, tetapi hasil dari murid yang mempelajari bisa berbeda2, kepandaian serupa ini, kebanyakan mengutamakan latihan keras, misalnya ilmu yang mengkekarkan badan sehingga tidak mempan dimakan senjata atau pukulan tangan keras yang dapat menghancurkan batu, semua ini merupakan kekuatan tenaga mati asal mengerti caranya berlatih lama kelamaan pasti berhasil. Tetapi kepandaian ilmu silat yang betul-betul tinggi, harus dimulai dari latihan pernapasan untuk menyempurnakan kekuatan tenaga dalam, tenaga murni disalurkan ke-urat-urat dan otot-otot supaya kekuatan tenaga dalam badan lebih sempurna… ” Berkata sampai di situ, wajahnya terlintas suatu perasaan bangga, ia tertawa girang sejenak lalu berkata pula, “Sudah sepuluh tahun lebih aku berdiam di dalam kuil yang sepi ini, karena tidak ada hiburan apa-apa kecuali duduk tenang mengatur pernapasan, adalah memikirkan soal2 yang pelik dalam kepandaian ilmu silat, banyak hal yang dahulu aku tidak mengerti, semua telah kupahami, harus kau ketahui bahwa dalam tenaga manusia semua mempunyai kekuatan yang tersembunyi, yang susah dipercaya, seorang yang biasa saja, apabila menjumpai keadaan bahaya, kadang-kadang dapat mengunjukkan kekuatannya yang diluar dugaan sendiri, tindakan yang sedemikian ini adalah berkat kekuatan yang tersembunyi, di dalam dadanya, hanya kekuatan yang tersembunyi semacam ini, perlahan-lahan bisa musnah berhubungan degan meningkat usianya, bagi kita orang belajar ilmu silat seharusnya memperkembangkan kekuatan tenaga tersembunyi itu, bahkan harus bisa menggunakan sebaik-baiknya. Apabila usaha itu berhasil, itulah merupakan orang yang berkepandaian tinggi sekali, yang dapat melakukan setiap gerakan menurut kehendaknya, Kie-jie! Apa yang dinamakan kecerdasan, itu adalah semacam kekuatan tersembunyi dari pembawaan seorang, pada umumnya, boleh dikata hanya soal tulang-tulang dan pengertian, sementara mengenai mental dan fisiknya, itu tergantung kepada orangnya sendiri. Tulang-tulangmu meskipun termasuk yang paling baik, tetapi sukar untuk mencapai ke puncak yang tertinggi, maka hasilmu di kemudian hari juga sukar untuk mencapai ke taraf yang tertinggi.”

“Teecu tahu bahwa teecu sulit untuk mencapai yang baik, maka harap suhu sudi memberi petunjuk kekurangan yang ada pada diri teecu.

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak, memutuskan ucapan Siang-koan Kie yang masih belum habis. Siang-koan Kie merasa bingung, maka segera menanya, “Suhu, apakah ucapan teecu ada yang salah?”

“Tidak!”

“Kalau benar tidak ada yang salah, mengapa suhu tertawakan?”

“Aku tertawa karena pertanyaanmu ini kecuali aku, dalam dunia ini barangkali tidak ada orang kedua yang bisa menjawab.”

Orang tua itu kemudian berpikir lama, baru berkata lagi, “Bocah itu meskipun tulang-tulangnya luar biasa tetapi pengertiannya tidak seperti kau, seandainya tenaga manusia bisa menangkan kemampuan Thian, hasilnya dikemudian hari bukan saja akan melampaui kepandaianmu, bahkan ada kemungkinan bisa jadi seorang pendekar luar biasa yang jarang ada dalam dunia ”

Matanya kembali memandang keluar jendela, lalu berkata kepada diri sendiri, “Sementara itu, tenaga manusia apakah dapat memenangkan Tuhan Allah, hal ini aku tidak dapat menduganya.

“Harap suhu berusaha sedapat mungkin untuk menyempurnakan dirinya.”

“Baiklah,” berkata orang tua itu sambil tersenyum dan menganggukkan kepala, “akan tetapi ia dengan kau terdapat perbedaan.”

“Di mana perbedaannya?”

“Ditilik dari sudut tulangnya, dia memang benar-benar merupakan satu bahan sangat baik untuk belajar ilmu silat, tetapi biar bagaimana dia bukan manusia seratus prosen, entah bagaimana hatinya, kecerdasannya dan sifatnya?” “Bukankah suhu sudah belajar ilmu bintang, apakah suhu yang bisa melihat watak teecu, tidak dapat melihat watak saudara Wan?”

“Mukanya tertutup oleh bulu hitam, bagaimana aku dapat melihatnya?”

Dia wataknya sangat jujur, dalam dunia ini mungkin susah dicari bandingannya, teecu hanya mengharap agar suhu tidak mensia-siakan satu bahan yang sangat baik ini.”

Lama orang tua itu berpikir, tiba-tiba mendongakkan kepala, badannya agak gemetar, jelas pikirannya tergoncang hebat.

“Suhu, mengapa?” tanya Siang-koan Kie heran.

“Dalam kuil tua ini ada semacam tanaman ajaib yang jarang ditemukan di dalam dunia, tanaman itu dapat membuatnya berubah dari keadaannya seperti sekarang……..

tetapi sungguh sayang, tanaman ajaib itu aku sudah mengambil keputusan hendak kugunakan untuk menyembuhkan racun orang lain.”

“Siapa yang suhu hendak sembuhkan luka racunnya?” “Orang itu adalah suniomu sendiri. Sudah sepuluh tahun

lebih aku berduaan di dalam kuil tua ini, maksudku ialah hendak menunggu sampai tanaman itu masak, kemudian aku hendak mengambilnya untuk menyembuhkan racun yang mengeram dalam tubuh suniomu.”

“Di mana sekarang sunio berdiam?”

“Sekarang ia berdiam di tempat saudara angkatku yang tidak berbudi itu…….. Aih! Srpuluh tahun lebih telah berlalu, masa itu dalam penghidupan manusia tidak terhitung pendek!”

Ia menghela napas panjang, kemudian berkata pula, “Aku setelah berjumpa lagi dengan suniomu, kemudian memang benar pernah mengecap hidup yang penuh bahagia, kita berdua pesiar hampir seluruh tempat, kemudian balik lagi ke kota Cee-lam dan berdiam di tepi telaga Tay-beng-ouw. Sejak waktu itu, dengan tanpa kusadari aku sudah mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw, tidak mau tahu urusan rimba persilatan lagi. Setiap hari aku pesiar di telaga Tay-beng-ouw dengan suniomu, adakalanya memancing ikan, penghidupan yang penuh kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, setahun kemudian, dia tiba-tiba dapat mencari tempat kediaman kita.”

“Orang itu apakah saudara angkat suhu?”

“Siapa lagi kalau bukan dia? Aih! Dengan secara tiba-tiba dia muncul di hadapan kita, sesungguhnya membuat kita agak gugup dan bingung, walaupun antara kita satu sama lain sudah tidak dapat menyesuaikan diri lagi, tetapi di luarnya, kita belum pernah terjadi perselisihan faham. Kita, tiga orang enam mata, saling berpandangan cukup lama, tiada sepatah kata tercetus keluar dari mulut masing-masing, dalam hati masing-masing tidak tahu jelas hubungan itu apakah bersifat lawan ataukah kawan? Semua berdiri terpaku hampir satu jam lamanya… ”

“Kemudian?”

Orang tua itu agaknya mengenangkan semua kejadian di masa yang lampau, lama nampak berpikir, kemudian berkata lagi, “Selanjutnya adalah suniomu yang menuangkan teh untuknya, sehingga memecahkan keheningan yang sangat tidak enak itu. Ia lebih dulu menjura dalam2, kemudian barulah berkata kepadaku, katanya, sejak aku berlalu, ia sangat menyesal, ia pergi mengembara mencari aku.”

“Apakah suhu percaya obrolannya itu?”

-odwo- Bab 18  

ORANG TUA ITU dengan cepat menjawab, “Pada waktu itu ia mengunjukkan sikap yang sungguh2 mengharukan, air matanya mengalir deras, mau tak mau aku harus percaya. Aih! Andaikata pada waktu itu aku tak percaya kepadanya, dan menyingkir saja jauh2, juga tak akan berpencaran dengan isteriku… ”

Ia berhenti sejenak, setelah menarik napas panjang, ia berkata pula, “Semula aku diam-diam masih menjaga dan memperhatikan segala tindak tanduknya, tetapi selama itu ia mengunjukkan sikap sungguh2, sehingga aku perlahan-lahan mulai kendor menjaganya.”

“Kepandaian suhu tinggi sekali, lagipula mengetahui dia seorang ahli dalam hal racun, sekalipun penjagaan agak kendor, juga tidak sampai tak waspada sama sekali. sehingga ia dapat kesempatan menaruhkan racun dalam makanan?”

Mata orang tua itu menatap wajah Siang-koan Kie baru berkata, “Racun yang ia gunakan, tiada warna juga tiada rasanya, juga memilih waktunya amat tepat, sehingga orang susah menjaganya… ”

Orang tua itu agaknya mengenangkan kembali kejadian menyedihkan pada masa yang lampau itu, sehingga dengan tanpa dirasa sudah mengucurkan air mata. Ia menarik napas panjang, baru melanjutkan penuturannya, “Itu adalah suatu malam di musim kemarau, dia tiba-tiba pamitan kepada kita, bahkan berangkat pada malam itu juga. Waktu itu aku juga tak tahu perasaanku entah girang atau khawatir. Karena selama dia berada satu hari saja, berarti tambah kekhawatiran dalam hatiku, tetapi anehnya, ketika ia hendak pergi, aku mendadak merasa seperti kehilangan satu saudara.”

“Aku dan Suniomu meskipun coba menahannya, tetapi ia tetap dengan maksudnya, satu haripun tak mau tinggal lagi. Terpaksa malam itu juga kita adakan sedikit perjamuan arak untuk memberi selamat jalan padanya, Suniomu repot membuatkan sedikit hidangan dan memanasi arak, sedang aku sendiri terus menemaninya sambil mengobrol di ruangan tengah… ”

Orang tua itu berhenti sejenak untuk memesut kering air matanya yang membasahi kedua pipinya, kemudian melanjutkan kisahnya, “Mungkin waktu itu sangat terpengaruh perasaanku karena sikapnya yang sungguh2, sehingga tidak tahu sejak kapan ia menaruhkan racun ke dalam arak. Malam itu aku minum agak banyak, kira-kira jam dua tengah malam, aku sudah mulai agak sinting. Dalam keadaan demikian, aku antar dia berangkat pergi… ”

“Suhu begitu baik perlakukan dirinya, toh dia masih tega hati mencelakakan diri suhu, benar-benar lebih buas dan jahat daripada binatang.”

Orang tua itu bersenyum getir, lalu melanjutkan ceritanya, “Aku mengantar sampai sejauh lima pal, baru berpisahan, waktu itu angin malam meniup kencang sehingga rambutnya tak teratur aku masih ingat waktu itu ia membereskan rambutnya itu, aku doakan kepadanya supaya baik-baik menjaga diri, aku masih ingat aku memberitahukan kepadanya, meskipun aku sudah mengundurkan dari kalangan Kang-ouw, tetapi apabila ia memerlukan bantuanku, aku tidak akan menolak. Aih! waktu itu ia malah masih berkata kepadaku bahwa dalam rimba persilatan dewasa ini, kecuali aku, tidak ada orang lain yang dihormati dan ditakuti, aku lihat setelah ia berkata demikian, tiba-tiba mengucurkan air mata, ini adalah untuk pertama kali aku melihat ia mengalirkan air mata selama kita tinggal bersama-sama, mungkin ia tiba-tiba ingat perbuatannya yang menaruh racun ke dalam arakku, sehingga hatinya timbul perasaan menyesal… ”

Peristiwa menyedihkan yang terjadi di masa yang lampau itu, menyebabkan orang tua itu tidak dapat mengendalikan kedukaan dalam hatinya, air mata mengalir deras, sehingga tidak dapat melanjutkan ceritanya, lama sekali ia baru dapat melanjutkannya, “Aku lihat dia menangis, hatiku merasa tidak enak, aku hendak mengejar untuk menjelaskan urusan suniomu, akan tetapi ia mendadak sudah lari jauh, setelah tidak kelihatan bayangannya aku baru pulang ke rumah. Tiba di rumah aku merasa letih sekali, dalam keadaan seperti orang mabuk aku lalu tertidur, waktu itu aku mengira itu adalah pengaruh arak, tetapi kemudian setelah aku berpikir, baru tahu bahwa itu ternyata adalah pengaruh obat racun di dalam arak. Aku tidur seperti mati, hingga esok hampir tengah hari baru tersadar, siapa tahu setelah aku sadar keadaan rumah tangga sudah berantakan, kebahagiaan di masa yang lampau semua telah berubah menjadi kenang-kenangan yang menyedihkan… ” 

“Apa? apakah ia kembali lagi, ataukah racun dalam arak yang diminum oleh suhu juga telah bekerja?”

“Waktu aku membuka mataku, pertamanya aku lihat adalah saudara angkatku yang tidak berbudi itu, pada saat itu wajahnya sudah diliputi oleh napsunya membunuh, aku menanyakan padanya mengapa ia balik kembali, tetapi ia terus berdiri di depan pembaringan, tidak menjawab pertanyaanku, meskipun aku merasakan gelagat tidak beres, tetapi waktu itu aku masih belum memikirkan bahwa diriku sudah kemasukan racun, aku melompat bangun, suniomu waktu itu hanya mengenakan pakaian dalam, duduk di atas kursi yang menyandar di dinding… ”

“Apakah sunio juga sudah diracuni?”

“Setelah aku melihat suniomu, perasaanku malah lebih tenang, perlahan-lahan aku duduk di pembaringan dan berkata kepadanya, betapapun hendak perlakukan diriku, aku hanya minta melepaskan suniomu, segala sesuatunya, kita boleh rundingkan.

“Kepandaian suhu toh masih di atasnya mengapa tidak segera turun tangan membinasakannya, terhadap seorang yang tidak berbudi seperti itu perlu apa masih ingat persaudaraannya?”

“Aku tahu ia seorang kejam dan telengas, juga tahu kepandaiannya tidak dapat menangkan kepandaianku, apabila tidak diadakan persiapan sempurna, tidak nanti ia berani sembarangan bertindak terhadapku, benar saja ketika ia melihat aku tenang, ia lalu berkata sambil ketawa dingin.

“Toako benar-benar seorang cerdik, segera menyadari keadaan diri sendiri, aku sudah memberikan racun padamu melalui arak yang kau minum tadi malam, apabila kau benar- benar hendak berkelahi denganku, tidak sampai seratus jurus racun itu lalu bekerja… ”

“Orang itu benar-benar terlalu jahat dan kejam hatinya!” “Aku menanyakannya mengapa meracuni diriku? Dengan

terus terang dia mengatakan bahwa sebabnya ada dua soal.”

“Apakah sebabnya?”

“Ia berkata menurut apa yang ia ketahui, pada dewasa itu orang-orang rimba persilatan yang berkepandaian lebih tinggi dari pada dirinya, jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan, dan aku adalah satu di antaranya, jikalau ia sudah meracuni aku sehingga binasa, itu berarti kurang satu lawannya yang kuat baginya. Masih ada satu sebab lagi ialah soal suniomu, ia berkata seumur hidupnya belum pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan, entah apa sebabnya, terhadap suniomu ia telah timbul rasa cinta, karena melihat kita hidup penuh bahagia ia merasa iri hati, maka ia hendak memisahkan kita… ”

“Dalam dunia ternyata ada seorang yang begitu jahat dan kejam, tetapi cinta kasih sunio yang begitu besar terhadap suhu, mana sudi menurut kehendaknya?”

“Kala itu aku juga telah menyatakan demikian, minta supaya ia membatalkan niatnya, tak kusangka ia bahkan tertawa terbahak-bahak, katanya ia sudah lama mengadakan persiapan, sebetulnya tidak ingin memberitahukan kepadaku, ia suruh aku menyaksikan perbuatan yang mesra dengan suniomu, supaya aku panas hati, tetapi ia tiba-tiba teringat hubungan persaudaraan kita, ia anggap tindakkan itu keterlaluan, supaya aku binasa tidak penasaran, dia telah menaruh semacam racun di dalam arak suniomu, racun itu setelah diminum, orang yang minum bisa berobah menjadi orang linglung, tidak tahu apa lagi yang dilakukan, sehingga seperti patung hidup. Ia berkata meskipun ia jatuh cinta kepada suniomu, tetapi ia tahu bahwa suniomu itu tidak jatuh cinta kepadanya, apabila suniomu dibuatnya seperti orang gendeng, setelah aku binasa, suniomu tentu tidak mau hidup lagi, tetapi jikalau ia minum racun itu, keadaannya akan berlainan karena pikirannya sudah kalut, sudah tentu akan menurut segala kehendaknya, kala itu meskipun amarahku memuncak, tetapi aku menindasnya, diam-diam aku mengatur pernapasanku, benar saja aku merasakan ada perobahan dalam diriku, hingga aku tahu bahwa ucapannya itu tidak bohong, jikalau waktu itu tidak dapat menahan sabar, lalu berkelahi dengannya selanjutnya sudah tidak ada harapan lagi untuk menuntut balas, maka waktu itu aku terus bersabar menindas perasaan sendiri.”

“Orang itu demikian jahat dan kejam, apakah ia benar- benar mau membiarkan suhu begitu saja?”

“Ia mengira bahwa racun itu sifatnya keras sekali, di dalam dunia ini sukar dicari obat pemunahnya, sekalipun ia tidak membunuhku, aku juga susah hidup lebih lama lagi, tetapi ia tidak tahu kekuatan tenaga dalamku sudah mendapat banyak kemajuan, kala itu aku diam-diam juga mengerahkan kekuatan tenaga dalam, pelahan-lahan mengeluarkan racun yang berada dalam perutku.”

“Apabila orang itu tahu bahwa suhu masih, hidup dalam dunia, pikirannya pasti tidak tenang, orang semacam dia itu, kalau didiamkan hidup dalam dunia, entah berapa banyak orang yang dicelakakan olehnya… ”

Orang tua itu menarik napas panjang.

“Keadaan pada waktu itu agaknya ia sudah menduga bahwa aku masih bisa hidup lama, tetapi ia agaknya juga yakin akan kekuatan racunnya kalau ia tidak membunuhku dalam hati merasa tidak tenang, tetapi hendak membunuhku agaknya tidak bisa turun tangan; kita berhadapan lama sekali dalam kamar itu, akhirnya ia baru mengundurkan diri sambil membawa suniomu, aku tahu ia seorang licik tidak nanti akan pergi begitu saja, ia pasti sembunyi di tempat gelap untuk memperhatikan diriku sudah mati atau masih hidup, maka setelah ia berlalu, aku segera pura-pura tidak tahu, sebab di pembaringan sambil merintih-rintih, aku menanti sampai jauh malam barulah aku mengambil belatiku memotong kakiku sendiri, kemudian lari melalui jendela belakang rumah… ”

Siang-koan Kie terheran-heran mendengar penuturan suhunya, maka segera bertanya, “Setelah suhu memotong kedua kaki sendiri, dengan cara bagaimana bisa melarikan diri?”

“Aku menggunakan dua batang tongkat untuk menahan diriku, dan kugunakan sebagai ganti kedua kakiku, lebih dulu aku mengerahkan kekuatan tenaga dalam untuk menghentikan mengalirnya darah, karena waktu itu aku bertekad hendak mempertahankan jiwaku, supaya di kemudian hari bisa menuntut balas, maka aku tidak mengenal sakit atau takut, dengan tekadku yang bulat aku bisa lari sejauh sepuluh pal, sehingga tiba di rumah satu keluarga petani, di sana aku beristirahat beberapa hari untuk menyembuhkan luka di kakiku, setelah lukaku sembuh aku melanjutkan perjalanan lagi… ”

Tiba-tiba ia menghentikan penuturannya, lama baru berkata pula, “Urusan selanjutnya tidak perlu kututurkan lagi, sampai di sini saja aku akhiri ceritaku.” Hati Siang-koan Kie merasa panas, karena kemarahannya sudah memuncak, sehingga tidak pikir keadaan dirinya sendiri, ia berkata kepada suhunya, Orang itu sedemikian jahatnya, nanti setelah teecu berhasil mendapatkan kepandaian cukup ingin menuntutkan balas dendam untuk suhu ”

Orang tua itu berkata sambil tertawa, “Pada sepuluh tahun berselang, kepandaiannya sudah berimbang denganku, selama duapuluh tahun ini, mungkin ia sudah mendapat banyak kemajuan, bagaimana kau mampu menandinginya? Aih! Cita2ku untuk membalas dendam ini, mungkin dalam hidupku ini sudah tidak ada harapan lagi.”

Siang-koan Kie berpikir bahwa ucapan suhunya itu memang benar, maka ia tidak banyak bicara lagi.

Orang tua itu setelah menceritakan kisah riwayat dirinya yang menyedihkan itu, agaknya sudah merasa lelah, ia memejamkan kedua matanya duduk bersemedi, Siang-koan Kie tidak berani mengganggu, diam-diam ia bangkit, dengan sangat hati-hati ia melompat keluar dari lobang jendela.

Setelah mendengar cerita suhunya, ia baru tahu bahwa di dalam kuil tua yang letaknya di atas daerah pegunungan yang sepi sunyi ini, ternyata mengandung banyak rahasia, orang tua aneh itu mungkin tahu lebih banyak, tetapi tidak mau memberitahukannya.

Kini ia mulai mencurahkan perhatiannya terhadap kuil yang sudah tua itu, dengan tindakan lambat-lambat ia berjalan menyusuri jalanan sepanjang kuil itu.

Dalam pekarangan kuil itu, penuh tumbuhan rumput liar, tetapi di antara gerombolan rumput liar itu kadang-kadang tampak tumbuhan atau bunga2 aneh yang jarang terlihat di lain tempat.

Ia berjalan seenaknya, tanpa disadari, ia sudah tiba lagi di dalam pekarangan kecil yang keadaannya sunyi itu. Pintu kamar di sekitar pekarangan itu tertutup rapat sama seperti keadaannya di lain kamar, bedanya ialah di ruangan pekarangan yang tidak terlalu luas itu tidak tumbuh rumput liar demikian lebat seperti apa yang terdapat di lain tempat pekarangan.

Terhadap keadaan di dalam kuil itu, karena pada saat itu sudah berbeda pandangannya, maka terhadap tempat2 yang keadaannya agak berlainan, segera menimbulkan perhatiannya, ia mulai mengadakan penyelidikan yang sangat cermat terhadap barang2 yang berada di situ.

Ia telah mendapat kenyataan bahwa rumput dan bunga yang tumbuh di situ, semua merupakan tanaman yang jarang dilihatnya.

Pekarangan itu kamarnya nampaknya lebih besar dari pada yang lainnya, masih ada semacam keanehan, pintu2 dan jendela semua masih dalam keadaan baik, hanya pintu2 yang terdapat di situ ada tanda-tanda kerusakan.

Siang-koan Kie memeriksa keadaan kamar itu sebentar tiada terdapat tanda-tanda yang mencurigakan, ruangan kecil yang sunyi itu, agaknya merupakan sebuah tempat untuk memelihara tanaman rumput dan bunga.

Bunga2 dan tanaman aneh yang tumbuh di antara rumput liar itu, semuanya merupakan itu tanaman yang jarang dilihat, Siang-koan Kie meskipun tidak gemar tanaman bunga, tetapi karena bunga2 itu bentuknya bagus dan menarik, sehingga menimbulkan perasaan senang.

Tiba-tiba ia melihat bahwa di antara tanaman itu ada sebuah pohon kecil yang sangat aneh, pohon itu batangnya tidak tinggi besarnya hanya sebesar telur saja, warnanya merah jingga, akan tetapi tidak ada daunnya, tingginya tidak cukup dua kaki, dilihat sepintas lalu seperti sebatang kayu merah jingga yang menancap di tanah, ia merasa heran, mengapa pohon itu tidak berdaun? Lama ia mengamat-amatinya, tetapi masih belum tahu apa sebabnya, akhirnya ia pergi dari tempat tersebut.

Demikian hari itu telah berlalu begitu saja, orang tua itu telah membagi waktunya untuk mendidik pelayaran ilmu silat kedua orang itu, di waktu siang hari Wan Hauw harus pergi mencari barang makanan untuk tiga orang, dan waktu itulah digunakan untuk memberikan pelayaran kepada Siang-koan Kie, di waktu malam Siang-koan Kie di tugaskan melakukan penjagaan di tempat itu, dan waktu itulah Wan Hauw mendapat giliran menerima pelayaran dari orang tua itu.

Mula-mula hal itu tidak mengherankan Siang-koan Kie, tetapi lama kelamaan, Siang-koan Kie telah merasa bahwa orang tua itu sengaja mendidik mereka secara terpisah, sehingga satu sama lain tidak tahu ilmu silat apa yang dipelajarinya.

Ia hanya merasakan bahwa pelayaran makin lama makin mendalam, Siang-koan Kie dan Wan Hauw sama-sama merasakan repot dan letih dalam menghadapi pelayarannya, tetapi orang tua itu semangatnya nampak semakin baik, agaknya ia merasa girang tentang kemajuan yang didapatkan oleh kedua muridnya.

Sang waktu berlalu cepat sekali, dengan tanpa dirasa satu tahun sudah berlalu, Siang-koan Kie dan Wan Hauw semua agaknya sangat sibuk dengan pelayarannya, entah memang sengaja diatur demikian oleh orang tua itu atau tidak, kesempatan bertemu muka dua orang itu makin lama makin sedikit, sekalipun kadang-kadang bertemu juga hanya sebentar saja, harus berpisah lagi, hampir tiada mendapat kesempatan untuk bicara.

Setelah belajar satu tahun itu, Siang-koan Kie semakin menghormat terhadap orang tua itu, ia telah mendapat kenyataan bahwa kepandaian orang tua itu jauh lebih tinggi dari apa yang dibayangkannya, demikian luas pengetahuannya terhadap kepandaian ilmu silat berbagai cabang atau partai, selama setahun itu, setiap tiga hari sekali, ia pasti diberi pelayaran satu rupa gerak tipu yang aneh-aneh luar biasa.

Cara mendidik orang tua itu, agak berlainan dengan orang biasa, ia selalu tidak mau mulai pelayarannya dari pertama sehingga akhir, ia hanya memilih beberapa bahagian gerak tipu yang luar biasa, yang lainnya harus difahami sendiri, setelah selesai dididik, kemudian diberikan penjelasannya nanti, supaya mempelajari dapat memahami keseluruhannya.

Perlahan-lahan Siang-koan Kie timbul rasa takut terhadap orang tua itu, sebab cara dan sikapnya mengajar, dari sabar dan teliti perlahan-lahan berobah demikian keras, hanya perobahan itu terjadi setingkat demi setingkat, tidak secara mendadak, sehingga tidak mudah dirasakan.

Hari itu orang tua itu tiba-tiba mengumpulkan Siang-koan Kie dan Wan Hauw, lalu berkata kepada mereka, “Pelayaran dengan tangan kosong, maupun dengan senyata, sudah cukup, mulai jam satu malam nanti dimulailah latihan kekuatan tenaga dalam ”

Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw sejenak kemudian berkata, “Suhu, apakah saudara Wan juga harus mempelajari kekuatan tenaga dalam?”

“Benar, hanya bakat dan cara melatih kalian berdua banyak berlainan, maka harus dipisahkan cara mendidiknya, Kie-jie, ilmu tenaga dalammu sudah mempunyai dasar yang baik, asal kau mempelajari hafalannya, kau bisa belajar sendiri, keadaan Hauw-jie berbeda dengan orang biasa apakah keadaan fisiknya dapat menyesuaikan diri untuk melatih ilmu kekuatan tenaga dalam masih merupakan satu pertanyaan, oleh karenanya, aku suruh ia berdiam di dalam loteng ini supaya setiap waktu dapat mengawasi… ”

Ia memejamkan mata dan berpikir sejenak, lalu berkata pula, “Dari loteng ini lurus ke barat kira-kira tigapuluh tombak, ada sebuah tempat yang tenang, di sana kau boleh memilih satu kamar untuk keperluan melatih pelayaranmu, segala keperluan makanmu aku nanti suruh Wan Hauw mengantar ke sana.

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Melatih ilmu kekuatan tenaga dalam muda sekali terganggu dan mudah tersesat, di waktu permulaan dan hampir selesai, kebanyakan dibimbing oleh suhunya, suhu suruh aku belajar sendiri, entah apa maksudnya ”

Orang tua itu agaknya dapat menebak hati Siang-koan Kie, ia tersenyum dan berkata, “Kie-jie! apakah kau merasa takut?”

“Tidak.”

“Semua gangguan iblis timbul dari hati sendiri, asal kau bisa menenangkan pikiranmu, tidak terganggu oleh pengaruh dari luar, tidak akan terjadi bahaya apa-apa apalagi kita terpisah beberapa tombak saja, disaat yang penting, aku nanti bisa datang membantumu.”

Mata Wan Hauw yang bersinar tajam, terus menatap wajah Siang-koan Kie, agaknya ingin bicara dengannya, tetapi tenggorokannya seolah-olah terkancing, dia tidak tahu entah apa yang harus dikatakan, lama baru dapat mengeluarkan sepatah perkataan, “Toako… ”

Orang tua itu agaknya takut Wan Hauw nanti akan bicara banyak dengannya, buru-buru memotong, “Aku sekarang hendak mulai memberi pelayaran ilmu melatih kekuatan tenaga dalam taraf pertama, kau harus ketahui bahwa semua jalan darah dan urat nadi dalam tubuhmu sudah dapat menyesuaikan dengan mengalirnya darah yang membalik itu, kemajuan bisa dicapai, lebih cepat dari pada orang biasa.”

Tanpa memberi kesempatan Siang-koan Kie bertanya lagi, ia segera memberitahukan pelayaran dan caranya untuk melatih tenaga dalam itu. Wan Hauw duduk di samping dengan tenang, ia mendengarkan dengan penuh perhatian, meskipun ia sudah dapat memenuhi banyak bahasa manusia, tetapi terhadap ilmu pelayaran yang terlalu dalam itu, ia tidak mengerti sama sekali, kadang-kadang ia dapat menangkap sepatah dua patah, tetapi juga tidak mengerti apa maksudnya.

Sebaliknya dengan Siang-koan Kie, setiap patah kata yang diucapkan oleh orang tua itu semua diingatnya baik-baik.

Setelah selesai orang tua memberikan pelayarannya, Siang- koan Kie segera berlalu dari loteng itu.

Tiba-tiba ia merasa bahwa orang tua itu agak mencurahkan lebih banyak perhatiannya terhadap Wan Hauw, sedangkan terhadap dirinya sendiri sikapnya agak dingin, pikirannya itu telah membangkitkan semangatnya untuk belajar lebih tekun supaya lekas berhasil.

Menurut pesan orang tua itu ia berjalan lurus menuju ke barat, benar saja berjalan kira-kira tigapuluh tombak tibalah di suatu tempat yang sangat tenang keadaannya.

Ia memperhatikan keadaan tempat itu, ternyata tempat itu ia sendiri pernah datang, itu adalah pekarangan yang terdapat banyak tanaman pohon dan bunga yang aneh-aneh.

Untuk kedua kalinya ia datang ke tempat tersebut meskipun keadaan tempat itu masih tetap sama, tetapi perasaan dalam hatinya sudah jauh berlainan.

Ia mengawasi keadaan di sekitarnya, ia melihat kamar di sebelah bawah keadaannya lebih baik, ia lalu menghampiri dan membuka pintunya.

Keadaan dalam kamar itu penuh debu, hawa tidak enak menghembus keluar dari dalam, tetapi dalam kamar itu tidak terdapat bangkai manusia.

Suatu pikiran aneh terlintas dalam otaknya, diam-diam berpikir, “Nampaknya suhu sudah lama mengetahui tempat ini yang tidak ada mayat dari kalangan paderi itu, menyuruh aku datang ke mari… ”

Sambil berpikir ia mulai membersihkan debu dalam kamar itu.

Tempat tidur kayu yang terdapat di dalam kamar itu masih utuh keadaannya, dengan sangat hati-hati sekali Siang-koan Kie membersihkan debu dalam kamar, selesai membersihkan kamar itu mulailah duduk bersemedi untuk melatih ilmu kekuatan tenaga dalamnya.

Tatkala ia membuka matanya, di hadapannya tiba-tiba sudah terdapat sepiring buah2an. Ia tahu bahwa buah2an itu diantar oleh Wan Hauw untuk keperluan makannya, maka segera dimakannya.

Sang waktu berjalan cepat sekali, sebentar saja setengah tahun sudah berlalu, selama itu Siang-koan Kie telah merasakan bahwa kekuatan tenaga dalamnya sudah mendapat banyak kemajuan, untuk menyingkirkan pikiran yang kiranya dapat mengganggu hatinya, sedapat mungkin ia tidak dapat memikirkan urusan orang tua itu dengan Wan Hauw.

Selama setengah tahun itu, belum pernah sekali saja ia bertemu dengan Wan Hauw, segala hidangannya, selalu diantarkan pada saat ia sedang bersemedi, setiap kali ia tersadar, di hadapannya sudah ada makanan yang terdiri dari buah-buahan atau daging binatang yang cukup dimakan untuk salu hari.

Hari itu Siang-koan Kie kembali harus duduk bersemedi, tiba-tiba ia merasakan hawa panas bergolak dalam dadanya, agaknya hendak keluar dari tubuhnya, bagaikan kuda liar yang terlepas dari kandangnya, susah dikendalikan; dalam hati diam-diam merasa cemas, tetapi semakin hebat bergolaknya, hampir tidak dapat menguasai dirinya sendiri. Hawa itu bergolak semakin hebat, seolah-olah gelombang air laut yang meluap, perasaan itu membuat dirinya tergoncang hebat……..

Itu adalah keadaan dan saat yang paling berbahaya bagi setiap orang yang melatih ilmu kekuatan tenaga dalam menyelang tercapainya kepandaiannya, apa bila hawa semacam itu keluar dari tubuhnya bukan saja semua usahanya akan tersia2, tetapi juga akan mengakibatkan orang itu terluka parah musnah seluruh kepandaiannya atau menjadi seorang cacat seumur hidupnya.

Siang-koan Kie mengerti bahwa itulah saat yang paling kritis, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan hawa itu jangan sampai keluar dari mulutnya, tetapi ia tidak sanggup menahan penderitaan yang semakin lama semakin hebat itu.

Ia bertahan terus sehingga sekujur badannya penuh keringat dingin.

Selagi dalam keadaan sangat berbahaya, dibelakang punggungnya tiba-tiba merasa seperti dipukul orang.

Di telinganya lalu terdengar suara orang tua itu, “Kie-jie, lekas gerakkan balik mengalirnya darah dalam badanmu, kau sebarkan hawanya yang mengumpul dalam dadamu ke seluruh urat uratmu.”

Hawa panas itu dirasakan masuk ke dalam melalui jalan darah beng-bun-hiat di belakang punggungnya, hawa yang tadi bergolak di dalam dadanya, seketika merasa seperti ditindas oleh hawa panas yang masuk dari belakang punggungnya itu.

Siang-koan Kie menarik napas lega, ia segera mengalirkan balik darah dalam sekujur badannya, benar saja hawa panas yang hendak keluar dari tubuhnya tadi, telah mengikuti aliran darah perlahan-lahan tersebar ke dalam otot-otot dan urat- uratnya. Setelah keadaan tenang kembali, telinganya terdengar pula suara orang tua itu, “Kie-jie, aku haturkan selamat kau telah berhasil menyempurnakan kekuatan tenaga dalammu.”

Siang-koan Kie berpaling, ia melihat orang tua itu berdiri di belakangnya dengan dua tongkat bambu di bawah ketiaknya untuk menunjang badannya, wajahnya ramai senyuman, dengan penuh rasa berterima kasih Siang-koan Kie berkata, “Jikalau suhu tidak keburu datang untuk memberi bantuan, pada saat ini teecu barangkali sudah menjadi orang cacat.”

“Selama satu bulan ini, aku sering menjaga di sampingmu untuk memberi bantuan kepada dirimu.”

“Suhu sering berada di samping teecu, mengapa teecu sedikitpun tidak tahu?”

“Jikalau kau tahu aku melindungi di sampingmu, kau tidak akan berlatih dengan tekun, mungkin masih memerlukan waktu cukup lama baru berhasil menyelesaikan pelayaranmu.”

“Siang-koan Kie dengan penuh rasa bersyukur ia berkata, “Demikian besar cinta suhu terhadap teecu entah bagaimana teecu harus membalas budi.”

“Kau tidak usah memikirkan tentang budi, asal dikemudian hari kau membuat nama baik di kalangan Kang-ouw dan tidak menyia-nyiakan pengharapanku, itu saja sudah cukup.”

“Teecu, teecu…   ”

Siang-koan Kie masih hendak berkata banyak, tetapi karena rasa terharunya, ia tidak tahu bagaimana harus mengeluarkan ucapan.

Orang tua itu tersenyum lalu berkata, “Kie-jie, kau sekarang boleh beristirahat dulu, kemudian mulai lagi mengatur pernapasanmu, setelah semua hawa dan jalan darah berjalan normal, kau berhenti lagi untuk beristirahat, tiga hari kemudian, kau nanti datang melihatku lagi… ” Ia berhenti sejenak kemudian berkata pula, “Bocah, Wan- jie itu meskipun kelihatannya bodoh, tetapi belajar ilmu silat, kemajuannya pesat sekali, selama setengah tahun ini, dalam pelayaran ilmu kekuatan tenaga dalam juga mendapat kemajuan pesat, nampaknya kalian mungkin lebih cepat meninggalkan kuil ini, sekarang aku hendak pergi!”

Sehabis berkata demikian ia lalu menggerakkan tongkatnya dengan cepat sudah menghilang.

Tiga hari telah berlalu dengan pesat, hari keempat Siang- koan Kie datang lagi ke atas loteng kediaman orang tua itu.

Ternyata kamar dalam loteng itu sudah kosong entah ke mana perginya orang tua itu.

Di satu sudut dalam ruangan itu terdapat sepucuk surat, Siang-koan Kie segera mengambil dan membukanya, di atas kertas itu terdapat tulisan yang berbunyi, “Oleh karena ada urusan penting aku meninggalkan kuil ini, perjalananku ini selambat-lambatnya sepuluh bulan, secepat-cepatnya setengah tahun baru bisa kembali, kepandaianmu dan kepandaian Wan-jie sudah mendapat dasar yang baik, di kemudian hari bisa mendapat hasil yang lebih tinggi atau tidak, tergantung kepada latihan kalian sendiri, dalam waktu setengah tahun, kau gunakan sebaik-baiknya untuk melatih pelayaran yang kalian dapatkan, seliwatnya sepuluh bulan, apabila aku masih belum kembali, kalian boleh membuka peti di ujung dinding itu, dan melakukan apa yang ditunjuk dalam peti itu.”

Pada akhir surat itu hanya terdapat lukisan seruling pendek, tidak terdapat tanda tangan apa.

Siang-koan Kie memandang surat itu sekian lama, dalam hati tiba-tiba timbul perasaan seperti kehilangan sesuatu……..

Rupa-rupa pikiran, satu persatu lewat dalam otaknya, dalam hatinya berpikir, “Sudah duapuluh tahun lamanya orang tua itu berdiam di dalam kuil tua ini, entah apa sebabnya sekarang mendadak meninggalkan tempat ini? Dalam suratnya hanya menyatakan ada urusan penting, entah urusan penting apakah itu, mengapa harus menggunakan waktu sampai setengah tahun……..? Aih…….. kedua kakinya sudah tiada, entah ia bisa berjalan dengan leluasa atau tidak, meskipun berkepandaian tinggi sekali, apabila ia harus melakukan perjalanan hanya dengan mengandalkan sepasang tongkatnya saja… ”

Dalam hati Siang-koan Kie bukan saja memikirkan orang tua itu, tetapi juga merasa sangat khawatir.

Tiba-tiba ia dapat pikiran bahwa soal itu seharusnya diadakan perundingan dengan Wan Hauw, ia berjalan keluar, tetapi entah ke mana harus mencari Wan Hauw?

Selama setengah tahun itu, ia hampir tidak bertemu muka dengan Wan Hauw, ia tidak tahu entah di mana Wan Haow berada, entah ilmu kepandaian apa yang dipelajarinya? Karena ia tidak tahu ke mana harus mencarinya, maka akhirnya balik ke kamar sambil menghela napas panjang.

Di dalam loteng itu sudah empat hari ia menunggu, tetapi masih belum tampak bayangan Wan Hauw, pada hari kelima di waktu tengah hari, Wan Hauw baru muncul dalam keadaan tergesa-gesa.

Sebelum berjumpa dengan Wan Hauw, Siang-koan Kie ingin lekas menemuinya, tetapi setelah bertemu muka, sebaliknya merasa seperti tidak bertemu. Wan Hauw terus mendengarkan keterangan Siang-koan Kie tentang perginya orang tua itu, tetapi tidak sepatah kata keluar dari mulutnya.

Keduanya hening cukup lama, kemudian Siang-koan Kie bertanya, “Saudara Wan, bagaimana pikiranmu dalam urusan ini?”

Wan Hauw hanya menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Terserah kepada toako, siaote menurut saja.” Selama dua tahun ini, ia sudah mengerti banyak kata-kata orang biasa, tetapi bicaranya masih kurang lancar.

Siang-koan Kie lalu berpikir, “Suhu meskipun sudah kehilangan kedua kakinya, tetapi kepandaiannya tinggi sekali, jalannya juga pesat, apalagi sudah liwat beberapa hari, sudah tentu tidak keburu kita kejar, dalam suratnya juga tidak diterangkan ke mana perginya, di dalam dunia seluas ini ke mana harus mencarinya? Sebaiknya aku tunggu saja setengah tahun.”

Ia menyatakan pikirannya itu kepada Wan Hauw, sudah tentu Wan Hauw setuju saja, sebab ia memang tidak mempunyai pendirian apa-apa, seandainya Siang-koan Kie hendak menyusul orang tua itu, ia juga setuju.

Waktu setengah tahun itu, bagi orang yang menanti- nantikan kedatangan seseorang, dirasakan lama sekali, tetapi Siang-koan Kie dan Wan Hauw yang setiap hari berlatih ilmu silat dan kalau di waktu malam berlatih ilmu kekuatan tenaga dalam, tidak dirasakan kesepian.

Permulaan dua bulan dua orang itu masing-masing berlatih sendiri-sendiri, tetapi kemudian berlatih bersama-sama, kadang-kadang mengadakan pertandingan. Wan Hauw yang mempunyai kekuatan tenaga yang luar biasa, hembusan angin yang keluar dari tangannya sungguh hebat, ditambah dengan gerak badannya yang lincah dan gesit, kadang-kadang bertanding dengan Siang-koan Kie sampai tigaratus jurus.

Tanpa dirasa setengah tahun telah berlalu, tetapi orang tua itu masih tiada kabar ceritanya.

Siang-koan Kie yang jujur dan berbudi luhur, ketika mendapat kenyataan bahwa suhunya itu belum kembali setelah lewat waktunya, ia merasa sedih sekali, ia membuka suratnya yang ditinggalkan dan dibacanya sekali lagi, masih ada waktu empat bulan, ia baru boleh membuka peti yang ditinggalkan. Dalam empat bulan selama ia menantikan kedatangan suhunya itu, Siang-koan Kie kehilangan kegembiraannya, ia merasa berhutang budi terlalu banyak kepada orang tua itu, sehingga meninggalkan kesan demikian dalam kepada dirinya.

Wan Hauw yang menyaksikan Siang-koan Kie setiap hari dalam keadaan murung, perlahan-lahan juga turut merasa berduka, sehingga keduanya setiap hari hidup dalam kedukaan.

Bulan kesepuluh yang dijanjikan oleh orang tua itu telah tiba, waktu itu sudah hampir habis tahun, hawa udara di musim salju sangat dingin, tanah di sekitar pegunungan itu juga sudah penuh salju.

Hari terakhir yang sudah dijanjikan oleh orang tua itu telah tiba, Siang-koan Kie dan Wan Hauw duduk diam di dalam loteng. Sejak pagi hingga malam, keduanya tidak berkata apa- apa.

Tengah malam Siang-koan Kie baru berbangkit dan menjura tiga kali menghadap peti besar peninggalan orang tua itu.

Wan Hauw terus mengawasi setiap gerak-gerik toakonya, lalu menirunya, waktu Siang-koan Kie menjura, ia juga menjura, Siang-koan Kie lalu mengangkat peti ke dekat jendela dengan diikuti oleh Wan Hauw.

Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw sejenak, lalu berkata, “Saudara Wan, bukalah peti ini, lihat apa yang ditinggalkan oleh suhu?”

Wan Hauw menurut, ketika tangannya menyentuh peti itu, sekonyong-konyong ditariknya kembali, katanya, “Sebaiknya toako saja yang membuka!”

Siang-koan Kie melihat, bahwa saudara angkatnya itu agaknya sudah tumbuh pengertian tentang adat istiadat, dalam hati merasa girang, ia lalu membukanya sendiri. Dalam peti itu hanya terdapat beberapa potong pakaian, disusun sangat rapi, di atas pakaian terdapat banyak uang recehan dan empat butir mutiara.

Di salah satu sudut peti itu, terdapat sepucuk surat.

Siang-koan Kie mengambilnya, surat itu berbunyi, “Jika lebih sepuluh bulan aku belum pulang kalian tidak usah menunggu lagi. Pakaian, mutiara dan sedikit uang recehan dalam peti ini, sudah cukup untuk keperluan kalian setelah meninggalkan kuil ini. Semua rahasia yang terdapat dalam kuil ini, sekali2 jangan dibicarakan kepada orang lain. Hauw-jie tidak perlu pulang ke tempat asalnya di gunung itu, karena ibunya telah mendapat penyakit aneh, meskipun aku sudah berusaha untuk menyembuhkannya, tetapi tenaga manusia dapatkah menentang kehendak Tuhan, masih merupakan satu pertanyaan. Kalau kalian membaca surat ini, nasib ibunya sudah dapat dipastikan… ”

“Hauw-jie sangat berbakti, kalau mendapat kabar ini, mungkin sangat berduka hal ini bukan saja akan mempengaruhi pelayaran ilmu silatnya, tetapi juga akan mempengaruhi nasib seumur hidupnya, ini harus dicegah supaya jangan sampai pergi menengok ibunya…….. 

Surat itu hanya sampai di situ, tidak ada sambungannya, entah apa sebabnya, orang tua itu tidak melanjutkan pesannya.

Siang-koan Kie setelah membaca habis isi surat itu, dalam hati merasa berat, lama ia memandang Wan Hauw, akhirnya berkata, “Saudara, dalam pesan surat suhu ini katanya kita harus lekas meninggalkan tempat ini… ”

Wan Hauw tiba-tiba memperdengarkan siulan panjang, baru berkata, “Toako, aku hendak pulang untuk menengok ibu, nanti baru kita pergi bersama-sama bagaimana?” Siang-koan Kie meskipun tidak bisa membohong, tetapi dalam keadaan demikian, tidak boleh tidak ia harus membohongi Wan Hauw, terpaksa ia berkata sambil menggelengkan kepala, “Dalam surat suhu itu sudah diterangkan, ibumu sudah pindah ke lain tempat di bawah penjagaan suhu, kalau kita pergi ke sana juga tidak menemukannya.

Wan Hauw terkejut. “Apa?”

“Bibi sudah tidak berdiam di tempatnya yang semula lagi.”

Wan Hauw berpikir sejenak, tiba-tiba tertawa dan berkata, “Ada suhu yang melindungi ibu, aku tidak perlu khawatir lagi, marilah kita berangkat!”

Wan Hauw yang berhati masih putih bersih ia menganggap Siang-koan Kie tidak membohongi dirinya, maka seketika itu ia sudah gembira lagi seperti semula.

Siang-koan Kie diam-diam menghela napas, ia mengambil pakaian dalam peti, lalu mengganti pakaian sendiri, setelah mengambil semua uang dan mutiara, lalu meninggalkan loteng di atas kuil tua yang pernah didiami selama tiga tahun itu.

Wan Hauw selama mengikuti Siang-koan Kie pikirannya kusut, sejak masih kecil ia hidup dalam hutan rimba belukar, kali ini ia harus memulai penghidupannya ke dunia baru, ia tidak tahu bagaimana harus menyesuaikan dirinya sehingga hatinya merasa tegang.

Siang-koan Kie meskipun sudah pernah berkelana di dunia Kang-ouw, tetapi selalu berjalan bersama-sama dengan suhunya, ia sendiri tidak perlu banyak pikiran, dan kali ini ia harus membawa Wan Hauw, dalam segala hal ia harus berusaha dan berpikir sendiri, dengan sendirinya perasaannya agak gelisah…….. -odwo-

Bab 19

MATAHARI pagi baru muncul di ufuk timur, kabut masih belum lenyap. Di atas jalan raya luar kora Bu-ciang, sebuah kereta kuda melakukan perjalanan dalam kabut pagi itu. Karena hawa udara sangat dingin, kusir kereta masih memakai pakaian kulit, ia duduk sambil menggerakkan pecut panjangnya, nampaknya masih bersemangat tetapi sepasang matanya di bawah topi tebalnya, sudah menunjukkan tanda- tanda kantuk, suatu bukti bahwa kereta itu habis melakukan perjalanan jauh.

Ketika kereta itu memasuki kota Bu-ciang, baru saja menginjak jalan yang besar, sang kusir menarik kendalinya, tangan kanannya menggerakkan pecutnya, kuda yang menarik kereta itu membedal kakinya beberapa langkah, mendadak berhenti. Dari dalam kereta terdengar suara orang menegur, “Apa sudah tiba di kota Bu-ciang?”

Sang kusir itu berpaling dan menjawab, “Sudah sampai, kalau belum sampai….. heh heh, aku Kim-sie si kereta cepat ini tidak akan mendapat langganan lagi.”

Ia lalu menghentikan keretanya di tepi jalan.

Dari dalam kereta melompat turun tiga laki-laki, setelah melihat keadaan di sekitarnya, agaknya hendak mendapat kepastian bahwa itu benar kota Bu-ciang, barulah tertawa puas sambil berseru “Sungguh dingin!” kemudian berjalan berpencaran.

Sang kusir menyaksikan berlalunya tiga orang itu, tiba-tiba mengerutkan keningnya dan menggedut awak kereta yang terbuat dari bahan kayu itu seraya berkata, “Hai, kedua toako dalam kereta, sudah tiba di kota Bu-ciang, hayo turun.” Dari dalam kereta terdengar suara batuk-batuk ringan, kemudian terdengar suara lantang, “Saudara, sudah tiba!”

Terdengar pula suara seorang yang agaknya baru belajar bicara, “Apakah sudah sampai?”

Kusir kuda berpaling mengawasi ke dalam, baru saja membuka pintu kereta, sesosok bayangan orang sudah melompat turun, kusir kereta itu menggumam sendiri, “Orang ini bukan saja bentuknya mirip monyet, tetapi sikapnya dan suaranya juga ada beberapa bagian mirip dengan binatang monyet; Sungguh heran mengapa berjalan bersama-sama dengan pemuda yang begitu cakap ganteng, entah dari golongan apa orang-orang itu?”

Dari dalam kereta itu turun seorang pemuda berpakaian bayu panjang berwarna biru, begitu berada di tanah, ia melihat keadaan di sekitarnya kemudian berkata sambil ketawa, “Pagi2 kabut begitu tebal, hari ini hawa udara pasti baik.”

Si kusir kereta tertawa kering beberapa kali lalu berkata, “Meskipun hawa udara baik, tetapi aku hendak tidur.”

Setelah itu ia larikan kudanya pulang ke rumah.

Pemuda berbayu biru itu mengawasi berlalu kereta lalu berkata sambil menghela napas panjang, “Orang yang menuntut penghidupan menarik kereta di waktu malam hari, benar-benar sangat berbahaya.” Kemudian tertawa kepada pemuda yang turun duluan dan berkata pula, “Saudara Wan Hauw lihat keadaan di atas jalan raya ini, di mana perbedaan dan keadaan di atas gunung dan hutan belukar? Aihl satu orang apabila tidak mempunyai sesuatu kepandaian dan tidak tahu bagaimana harus mencari kemajuan, keadaannya sama dengan orang-orang seperti kusir kereta itu tadi, setiap hari ia sibuk terus menerus, hanya untuk mencari sesuap nasi, bagaimana masih ada pikiran lagi untuk mencari kemajuan… ” Berkata sampai di situ, mendadak berhenti, ia berpaling dan mengawasi pemuda di sampingnya kemudian berkata pula, “Apakah kau mengerti maksud dalam perkataanku tadi?”

Pemuda yang ditanya itu menganggukkan kepala, meskipun kabut tebal, tetapi sinar matanya tampak demikian terang,

Kedua pemuda itu berjalan menyusuri jalan raya yang masih agak sepi keadaannya, waktu kabut mulai buyar, mereka memasuki salah satu rumah makan kecil di tepi jalan untuk makan pagi dan menanyakan keterangan jalan yang menuju ke sungai.

Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan, setelah pemuda itu berlalu, pemilik rumah makan itu berkata kepada salah seorang tamunya, “Pemuda itu benar-benar kuat makan, kedua tangannya nampaknya terdapat banyak bulu, kalau bukan di waktu siang hari aku melihat orang semacam itu, benar-benar aku akan ketakutan setengah mati.”

Dari pembicaraan orang itu, kita dapat menduga bahwa pemuda yang disebut bukan lain dari pada Wan Hauw yang mengikuti Siang-koan Kie dan untuk pertama kalinya bergaul dengan manusia.

Karena dua orang itu keadaannya jauh berlainan, yang satu tampan dan yang satu jelek maka sepanjang jalan sangat menarik perhatian orang, untung Wan Hauw selalu mendengar kata-kata Siang-koan Kie, asal Siang-koan Kie memberi isyarat segera dimengerti.

Wan Hauw yang baru pertama memasuki dunia sopan penghidupan manusia, sudah tentu merasa banyak yang mengherankan hatinya, meskipun terhadap segala hal yang belum pernah dilihatnya itu ia ingin mencobanya, tetapi keinginan itu selalu ditindas oleh perasaan sendiri karena khawatir akan menimbulkan kekacauan. Waktu matahari sudah naik tinggi, keadaan di sungai Tiang-kang sudah ramai dengan perahu2 yang menantikan muatan2 untuk diseberangkan ke lain tepi.

Wan-hauw yang hidup di hutan belukar, air sungai dan air mancur sudah banyak ia melihat tetapi belum pernah menyaksikan keadaan serupa itu, ketika pertama Siang-koan Kie tiba di tepi sungai, ia menyaksikan dengan sikap terheran- heran.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan kawannya itu, lalu menegurnya sambil tertawa, “Saudara Wan girangkah menyaksikan keadaan pemandangan ini? Mari kita lekas mencari perahu untuk menyebrang, di daerah selatan jauh lebih baik dari ini pemandangan alamnya.”

Wan Hauw tersenyum menghadapi hari-hari yang akan datang, seolah-olah membayangkan harapan yang indah dan penuh kegembiraan.

Tetapi sesaat kemudian senyum di bibirnya mendadak lenyap, wajahnya menimbulkan perasaan duka.

Siang-koan Kie terperanjat, dalam hatinya berpikir, “Mengapa ia mendadak berobah?”

Kemudian ia bertanya sambil menepuk pundaknya Wan Hauw, “Saudara, kau kenapa?”

Wan Hauw menarik napas panjang, matanya memandang ke arah jauh, dari sela-sela matanya tertampak butiran2 air mata, kemudian ia berkata dengan suara terisak-isak, “Toako, aku… sedang berpikir alangkah senangnya apabila ibu juga

berada di sampingku, tempat di sini demikian indah dan menyenangkan, sayang…….. ibu mungkin tidak dapat melihatku lagi untuk selama-lamanya.

Siang-koan Kie yang mendengar ucapan itu hatinya juga merasa terharu, karena ia sendiri juga sudah lama meninggalkan ayah bundanya, saat itu teringat juga akan ayah bundanya yang sudah tua, ia menundukkan kepala dan menghela napas panjang, tiada tahu bagaimana harus menjawab.

Dua pemuda itu perlahan-lahan jalan di tepi sungai, kini wajah mereka nampak murung.

Selagi mereka berjalan, dari sebuah perahu tiba-tiba lompat keluar seorang laki-laki berpakaian hitam, ketika berjalan di hadapan mereka, mengawasi sebentar lalu berkata sambil memberi hormat, “Tuan-tuan tentunya sudah lelah.”

Siang-koan Kie tercengang, ia tidak kenal siapa adanya orang itu, hanya dari bentuk dan potongan badannya dapat diduga bahwa orang itu tentunya sebangsa orang gagah dari golongan daerah pengairan ini, tetapi ia tidak tahu entah apa maksudnya.

Sebelum ia dapat menjawab laki-laki itu dari dalam sakunya mengeluarkan semacam barang dan diberikan kepadanya seraya berkata, ”Tuan-tuan tentunya tergesa-gesa, sehingga sudah lupa memakai barang ini.”

Siang-koan Kie baru melihat bahwa barang yang berada di tangan laki-laki itu, ternyata dua potong kain hitam yang umumnya dipakai bagi orang yang berkabung, ia mengira laki- laki itu bermaksud menggoda dirinya, maka dalam hati merasa tak senang, sebelum menyatakan pikirannya, ia sudah dapat melihat bahwa di lengannya laki-laki itu juga memakai tanda kain hitam, maka ia segera mengerti bahwa dalam hal ini pastilah terjadi kesalahan faham, maka ia segera menjawabnya sambil membalas hormat, “Siaotee sebetulnya juga hendak menyeberang sungai… ”

Laki-laki itu mengerutkan alisnya, tidak menantikan Siang- koan Kie mengutarakan maksudnya ia sudah berkata pula, “Bukankah saudara berdua tidak akan pergi kepada keluarga Pan Loya di kota Han Yang untuk turut menyatakan berduka cita?” Siang-koan Kie menggelengkan kepala, laki-laki itu nampaknya terkejut dan terheran-heran, kemudian berlalu tanpa berkata apa-apa.

Siang-koan Kie bersenyum sebentar kemudian laki-laki itu tiba-tiba balik kembali, katanya dengan nada suara dingin, “Apabila tuan tidak pergi turut berduka cita, hari ini sebaiknya jangan menyeberang sungai, karena semua perahu yang ada di sungai ini semua sudah diborong untuk menyeberangkan orang-orang yang hendak turut menyatakan duka cita, maka mungkin agak sulit bagi tuan untuk mencari perahu yang mau menyeberangkan kalian. Aku dengar logat saudara seperti bukan orang daerah sini, maka aku memberitahukan dengan baik, jikalau tuan tidak percaya, boleh coba sendiri.”

Setelah itu ia menghampiri perahunya lagi dan naik di atasnya.

Siang-koan Kie melongo, dalam hatinya diam-diam berpikir, “Orang itu nampaknya tidak bermaksud jahat tentunya juga tidak perlu membohongi…….. hanya entah bagaimana orangnya yang Pan Loya itu? Bagaimana kematiannya mendapat perhatian banyak orang dan banyak yang datang turut berduka cita…….”

Wan Hauw yang di sampingnya tiba-tiba bertanya dengan suara perlahan, “Toako, apakah sebetulnya telah terjadi?”

“Di sini agaknya sudah tidak ada perahu yang akan menyeberangkan kita.”

“Perahu yang ada di sana itu, bukannya semuanya kosong?”

“”Perahunya meskipun kosong, tetapi semua perahu itu sudah diborong orang lain.”

Wan Hauw mengerutkan alisnya sambil berpikir, agaknya tidak mengerti, maka ia bertanya pula, “Kalau semua perahu itu toh memang kosong, mengapa kita tidak bisa naik lebih dulu minta diseberangkan? Orang-orang yang datang belakangan, mereka datang terlambat, seharusnya menunggu kita sehabis menyeberang baru diseberangkan lagi, sekarang ini belum kelihatan ada seorang yang datang, perlu apa perahu banyak itu menunggu?”

Siang-koan Kie berpikir sejenak, lalu menarik napas panjang dan berkata, “Saudara Wan, ucapanmu ini meskipun tidak salah, akan tetapi aih, banyak hal di dalam dunia ini

yang tidak sedemikian sederhana seperti apa yang kau saksikan di dalam hutan, tentang ini di kemudian hari kau bisa mengerti sendiri.”

Wan Hauw menundukkan kepala, terus memikirkan persoalan itu, biar bagaimana ia masih belum mengerti tetapi ia juga tidak berani bertanya lagi, karena ia yang biasa hidup di daerah pegunungan dan hutan belukar dengan cara hidupnya yang sederhana, sudah tentu tidak mengerti cara2 penghidupan manusia yang menganggap dirinya sopan,

Siang-koan Kie yang menyaksikan kawannya itu, lalu berkata sambil tersenyum, “Dalam penghidupan di pegunungan dan hutan belukar, apabila perutmu berasa lapar, kau melihat buah di atas pohon kau boleh ambil sesukamu untuk kau makan, dalam hatimu juga merasa bahwa itulah merupakan suatu perbuatan wajar, tetapi penghidupan dalam dunia sopan, apabila perutmu berasa lapar, kau tidak bisa mengambil buah orang dengan sembarangan untuk dimakan, sebabnya karena buah2an di atas pohon di hutan belukar merupakan barang yang tidak ada pemiliknya, tetapi barang2 yang ada di dunia sopan semua ada pemiliknya, sekalipun pemilik itu tidak mempunyai kekuatan tenaga, tetapi ada undang2 negara yang melindunginya, apabila kau mengambil dengan seenaknya, itu berarti kaulah melanggar undang2 negara. Semua perahu ini meskipun kosong, tetapi perahu itu ada miliknya orang lain, kau dan aku tidak boleh memaksa cara seenaknya, mengertikah kau maksudku?” Wan Hauw kembali berpikir sambil menundukkan kepala, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya dan berkata sambil tertawa, “Aku mengerti, apabila ada orang lain hendak mengambil barangku, aku juga hendak memukulnya.”

Siang-koan Kie mengganggukan kepala, sambil lalu ia berkata, “Pengertian ini meskipun sangat sederhana, tetapi sudah merupakan suatu aturan yang tidak dapat dirobah sejak dahulu kala, di dalam dunia tidak ada orang yang mendapatkan barang tanpa mengeluarkan tenaga, walaupun kadang-kadang ada orang yang menggunakan akal licik atau kekerasan merampas barang orang lain, tetapi dengan cepat akan hilang lagi, saudara Wan tahu ”

Belum lagi melanjutkan kata-katanya di belakangnya tiba- tiba ada sepuluh orang lebih, orang-orang itu terdiri dari beberapa golongan, tua muda, semuanya memakai pakaian hitam. wajahnya mengunjukkan perasaan duka, tetapi gerak kaki mereka menunjukkan orang-orang yang mengerti ilmu silat semuanya, yang agak aneh ialah semua orang itu di lengan tangannya memakai ban kain hitam, mereka berduyun- duyun berjalan menuju ke tepi sungai, sewaktu mereka liwat di hadapan Siang-koan Kie dan Wan Hauw, mereka mengawasi kedua pemuda itu sejenak, laki-laki berpakaian hitam yang berada di atas perahu itu, dengan cepat melompat dari atas perahunya dan lari menghampiri, kemudian menyambut mereka dan diayaknya naik ke sebuah perahu, samar-samar terdengar kata-kata yang keluar dari mulutnya, “Sungguh tidak diduga tuan-tuan dari Oiy Ho Piauw-kiok datang semuanya, aku yang rendah di sini atas nama keluarga Pan mengucapkan banyak2 terima kasih……..

Siang-koan Kie terkejut, pikirnya, “Sudah lama aku mendengar Oiy Ho Piauw-kiok ini sangat tersohor di kalangan kang-ouw, ternyata semua Piauwsu suka datang untuk turut berduka cita, nampaknya orang yang disebut Pan Loya itu pasti orang ternama, mengapa aku tidak pernah mendengarnya?”

Ia terus memikirkan, tetapi belum juga ingat bahwa di antara orang-orang ternama dalam kalangan Kang-ouw ada seorang she Pan itu.

Wan Hauw yang sejak tadi berdiri termangu-mangu berapa lama, tiba-tiba bertanya kepada Siang-koan Kie, “Toako, kau lihat laki-laki itu hanya menggunakan galah bambu saja, dengan mudahnya dapat menggerakkan perahu yang begitu besar……..

Tiba-tiba ia melihat Siang-koan Kie sedang berpikir, maka segera diam, sebab ia teringat keadaan sendiri apabila sedang berpikir tidak suka diganggu orang lain, maka ia sendiri juga tidak mau mengganggu orang yang sedang berpikir.

Siang-koan Kie tiba-tiba tersenyum dan berkata kepada diri sendiri, “Urusan orang lain perlu apa aku pikirkan?”

Kemudian ia berpaling dan berkata kepada Wan Hauw, “Mari kita pergi lihat kesana, mungkin masih ada perahu lain yang kosong yang mau menyeberangkan kita.

Wan Hauw sama sekali tidak mengerti cara penghidupan dalam dunia sopan, maka ia selalu menurut apa yang dikatakan oleh Siang-koan Kie, ia mengikuti toakonya itu berjalan menuju ke bagian bawah sungai itu.

Siang-koan Kie berjalan lambat-lambat di sepanjang sungai, meskipun sikapnya tampak tenang, tetapi dalam hatinya sangat gelisah, ia teringat kepada suhunya, apakah dalam perjalanannya ini dapat menemukan suhunya itu……..

Selagi pikirannya bekerja keras tiba-tiba Wan Hauw berkata kepadanya, “Toako, kau lihat, di depan sana benar saja ada sebuah perahu kosong, dugaanmu benar-benar tidak salah.”

Siang-koan Kie tersenyum, di tempat yang agak jauh di tepi sungai, benar saja ada sebuah perahu kecil ditambat di sebuah pohon di tepi sungai, seorang tukang perahu setengah tua duduk bersila di bagian kepala perahu sambil mengisap pipa panjang, orang itu meskipun pakaiannya mesum, tetapi sikapnya tenang.

Sewaktu Siang-koan Kie berjalan dekat perahunya, tukang perahu itu baru berpaling mengawasi mereka berdua, kemudian berpaling lagi mengawasi ke arah lain.

Siang-koan Kie lalu berkata kepadanya sambil memberi hormat, “Kita berdua ingin menyeberang sungai, sudikah kiranya toako memberi bantuan, menyeberangkan kita kesana?”

Tukang perahu itu dengan tanpa menoleh menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, “Perahu ini bukan perahu sewaan untuk menyeberangkan orang.”

Jawabnya itu dingin dan ringkas sedikitpun tidak memberi kesempatan berunding. Siang-koan Kie tercengang, ia masih tetap dengan sikap merendah ia berkata, “Kita sebetulnya ada keperluan penting sekali menyeberang sungai, apabila toako sudi membantu, aku pasti akan memberikan ongkosnya yang cukup pantas.”

Tukang perahu itu berpaling mengawasi mereka, Siang- koan Kie mengharap supaya tukang perahu itu menerima permintaannya, siapa tahu tukang perahu itu kembali menggelengkan kepalanya seraya berkata, “Perahu ini tidak disewakan.”

Kemudian ia bangkit dan masuk ke dalam perahunya, tidak memperdulikan mereka lagi.

Siang-koan Kie melongo, meskipun dalam hati merasa mendongkol, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, terpaksa hanya menghela napas dan berkata kepada Wan Hauw, “Mari kita lihat lagi ke depan.” Tak disangka selagi hendak berjalan, tukang perahu itu keluar lagi dan berkata kepadanya dengan lambat-lambat, “Kalian nampaknya begitu cemas hendak menyeberang sungai, apakah hendak turut berduka cita ke rumah keluarga Pan Loya?”

Selagi Siang-koan Kie hendak menggelengkan kepala, Wan Hauw sudah berkata, “Kalau kita hendak ke sana sejak tadi sudah menyeberang dengan perahu besar itu, siapa lagi ingin menggunakan perahumu?”

Karena ia melihat sikap tukang perahu yang nampaknya sangat sombong, dalam hati rasa mendongkol, maka ia menjawab dengan kata-kata yang pedas.

Tukang perahu itu hanya mengeluarkan suara dari hidung.

Dari dalam perahu saat itu tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang merdu, “Kalian hanya dua orang saja, apabila suka duduk di bagian kepala, tidak masuk ke dalam kamar perahu, kita bersedia menyeberangkan kau.”

Dari dalam kamar di atas perahu itu muncul keluar seorang berpakaian warna hijau, Siang-koan Kie buru-buru menundukkan kepalanya tidak berani memandang, tetapi walaupun hanya sepintas kilat saja, ia sudah dapat lihat bahwa gadis itu berparas cantik dan berperawakan langsing semampai.

Kini ia baru mengerti apa sebabnya, tukang perahu itu tidak mau menyeberangkan, karena dalam perahu itu masih ada seorang gadis.

Saat itu terdengar pula suaranya gadis itu, “Apabila kalian ada urusan penting, tidak perlu berlaku merendah lagi, naik saja. Meskipun perahu ini kecil, tetapi tidak halangan ditambah dua orang.”

Siang-koan Kie buru-buru berkata, “Kalau begitu lebih dulu kuucapkan banyak2 terima kasih atas kebaikan nona.” Meskipun Siang-koan Kie dalam hati tidak ingin berada bersama-sama dalam satu perahu dengan seorang perempuan yang masih asing, tetapi karena ia melihat sikap perempuan itu yang tulus, kecuali itu ia juga sudah tidak ada jalan lain, maka setelah berpikir sejenak, ia lalu naik ke atas perahu sambil menundukkan kepala.

Gadis itu bersenyum lalu masuk lagi ke dalam kamarnya, si tukang perahu berkata dengan nada suara dingin sambil menunjuk dengan pipa panjangnya, “Kalian duduk di sini, sekali2 jangan masuk ke dalam kamar.”

“Sudah tentu,” menjawab Siang-koan Kie, kemudian dari dalam sakunya mengeluarkan uang recehan diberikan kepada tukang perahu itu, saat itu ia sudah dapat melihat bahwa tukang perahu itu bukan tukang perahu biasa, maka kata- katanya juga sangat merendah.

Tetapi tukang perahu itu menolak dan berkata sambil tertawa dingin, “Uangmu kau boleh disimpan kembali!”

Kemudian ia melompat ke tepi sungai, membuka tambatan yang diikat pada pohon.

Siang-koan Kie meskipun merasa tidak puas sikap sombong orang itu, tetapi kemudian berpikir, “Karena sudah baik hati menolongnya, maka ia bersabar, bersama Wan Hauw duduk bersama di bagian kepala perahu itu.”

Selagi Siang-koan Kie menikmati pemandangan alam di sungai Tian-kang itu, di belakangnya tiba-tiba terdengar suara merdu dari gadis itu tadi, “Dua anak muda ini meskipun usianya masih muda, tetapi kelakuannya sangat sopan.”

Siang-koan Kie diam-diam merasa girang mendapat pujian itu, suara gadis itu sebetulnya sangat perlahan sekali juga tidak bermaksud ditujukan kepada Siang-koan Kie, hanya daya pendengaran Siang-koan Kie luar biasa tajamnya maka ia dapat menangkap kata-kata gadis tadi. Di luar dugaan tukang perahu itu menjawabnya dengan nada dingin, “Karena ia ingin minta tolong kepada kita, sudah tentu berlaku sangat merendah terhadap kita.”

Siang-koan Kie melengak, ia merasa sangat mendongkol dihina demikian rupa, maka dengan serta-merta ia melompat bangun, ia menggerakkan lengan bayunya ke arah kamar agaknya hendak berkata apa-apa, tetapi dibatalkan, kemudian ia melompat melesat ke tepi sungai.

Wan Hauw meskipun dalam hati merasa heran, tetapi karena melihat toakonya pergi, ia juga mengikuti.

Tukang perahu itu merasa heran kepergiannya Siang-koan Kie secara tiba-tiba itu, begitu pula gadis berbayu hijau itu.

Wan Hauw yang menyaksikan Siang-koan Kie berlalu dengan sikap marah, ia diam-diam mengikutinya dari belakang. Berjalan tidak lama, ia melihat Siang-koan berkata sendiri sambil mengepal tangannya, “Siang-koan Kie, Siang- koan Kie, kalau kau tidak bisa minta pertolongan orang sebaiknya jangan minta pertolongan orang lain!”’

Apa yang dipikirkan oleh Siang-koan Kie saat itu, sudah tentu tidak diketahui oleh Wan Hauw maka ia diam saja.

Berjalan belum berapa jauh, Siang-koan Kie tiba-tiba berpaling dan berkata sambil tertawa, “Saudara Wan, kau jangan banyak bicara, lihat aku bawa kau menyeberang sungai.”

Wan Hauw menganggukkan kepala dengan perasaan bingung, ia melihat Siang-koan Kie membereskan pakaiannya, berjalan menuju ke sebuah perahu, dengan kedua tangannya lurus ke bawah dan mata memandang ke depan ia terus berjalan masuk ke dalam perahu, kemudian mencari tempat kosong untuk duduk, Wan Hauw yang menyaksikan kelakuan toakonya agaknya merasa heran tetapi ia juga meniru perbuatannya duduk di sampingnya. Dalam perahu itu, sudah ada sepuluh orang lebih yang duduk di situ, mereka saling bercakap-cakap dengan suara perlahan-lahan, ketika kedatangan kedua pemuda itu, meskipun memandangnya dengan terheran-heran, tetapi sebentar sudah tidak menghiraukan lagi, mereka masing- masing duduk di tempat sendiri, tiada seorang yang menegur atau menghalangi.

Siang-koan Kie sebetulnya ingin menimbrung, dalam rombongan orang banyak itu menyeberang sungai, ketika menyaksikan sikap orang-orang itu, dalam hati diam-diam merasa bangga, ia tahu bahwa perbuatannya itu meskipun agak gegabah, tetapi ternyata tepat, Wan Hauw yang sama sekali tidak mengerti, meskipun dalam hati merasa heran, juga tidak memikirnya.

Tidak lama kemudian, kembali ada dua orang lagi naik ke dalam perahu, tukang perahu setelah menghitung jumlah orangnya, lalu menggerakkan perahunya.

Laki-laki yang duduk di samping Siang-koan Kie wajahnya kurus kering, matanya bersinar tajam ia mengawasi Siang- koan Kie dan Wan Hauw sejenak, lalu berkata, “Saudara dari mana? Tentunya juga ingin berkunjung ke rumah keluarga Pan.”

Siang-koan Kie menjawab sekenya, sementara itu dalam hatinya berpikir, “Orang-orang ini bukan saja dari budi bahasanya, dari sikapnyapun menunjukkan betapa besar penghargaan mereka terhadap Pan Loya, nampaknya orang yang disebut Pan Loya itu bukan saja seorang terkenal dalam rimba persilatan, tetapi juga mempunyai perhubungan sangat luas.”

Terdengar pula suaranya laki-laki kurus kering itu berkata, “Pan Loya selama hidupnya banyak berbuat baik terhadap sesamanya, tidak diduga aih!” Siang-koan Kie merasa tertarik, maka lalu bertanys, “Bolehkah aku tahu nama saudara yang mulia?”

Laki-laki itu mengerutkan keningnya, ia mengawasi keadaan sekitarnya sejenak lalu berkata, “Aku bernama Touw Thian Gouw, dengan Pan Loya meskipun bukan sahabat akrab, tetapi sudah lama aku menghargai pribadinya, maka hari ini kebetulan aku lewat di sini, dan mendengar kabar buruk ini, aku ingin berkunjung ke tempat ini untuk memberi hormat yang penghabisan.”

Siang-koan Kie merasa bahwa nama itu seperti pernah mendengarnya, sekali hendak berkata apa-apa lagi tiba-tiba ia melihat bahwa semua orang yang ada di situ setiap orang mengawasi Touw Thian Gouw dengan sikap terheran-heran.

Kejadian itu menggerakkan hatinya, tiba-tiba ia teringat dirinya seorang maka bertanya, “Apakah tuan jago pecut yang mendapat julukan Koan-goa-sin-pian, yang namanya menggemparkan dunia rimba persilatan itu?”

Touw Thian Gouw tersenyum, agaknya merasa bangga mendapat pujian demikian, ia berkata sambil tertawa, “Namaku memang Touw Thian Gouw, tetapi nama julukanku Sian-pian atau pecut sakti itu aku merasa malu menerimanya. Sudah lama aku berdiam di luar perbatasan, terhadap jago2 di daerah selatan banyak yang tidak kenal, entah bagaimana sebutan saudara yang mulia, bolehkah saudara memberitahukan kepadaku?”

“Aku yang rendah bernama Siang-koan Kie hanya satu piun yang tidak berarti dalam rimba persilatan.”

Sementara itu dalam hatinya berpikir, “Sudah lama kukenal bahwa Touw Thian Gouw ini dengan sebuah pecut emasnya, di daerah luar perbatasan itu belum pernah menemukan tandingan benar-benar boleh dikata seorang gagah, sungguh tidak diduga bahwa orang yang berkepandaian tinggi ini sikapnya demikian merendah.” Touw Thian Gouw berkata pula, “Saudara masih muda belia, meskipun aku tidak dapat menebak muka orang, tetapi aku berani memastikan bahwa saudara pastilah bukan seorang sembarangan.”

Ia lalu tersenyum kepada Wan Hauw kemudian berkata pula, “Dan tentang saudara ini sifatnya masih putih bersih dan jujur, meskipun di luar kelihatannya bodoh tetapi sebenarnya sangat cerdik, suksesnya di kemudian hari lebih hebat, sementara tentang diriku sendiri… nama julukan yang tidak

berarti ini, sebetulnya tidak berarti apa-apa.

Wan Hauw meskipun tidak dapat menangkap maksud seluruhnya perkataan Touw Thian Gouw tetapi karena melihat sikapnya ramah tamah, maka ia juga merasa senang terhadapnya.

Semua orang yang ada di situ, agaknya tertarik oleh nama besar Touw Thian Gouw, kalau tadi masing-masing bercakap- cakap, saat itu mendadak semua diam dan mengawasi jago pecut dari daerah luar perbatasan itu.

Touw Thian Gouw sebaliknya masih bicara dan tertawa- tawa dengan sikap ramah sedikitpun tidak menunjukkan sikap congkak.

Siang-koan Kie merasa senang dalam perjalanannya itu mendapat kawan yang sangat setia.

Selagi dua sahabat itu masih asyik bercakap-cakap, perahu yang ditumpangi itu sudah merapat ke darat. Touw Thian Gouw lalu berkata sambil tersenyum, “Aku dengan saudara meskipun baru saja berkenalan tetapi rasanya sudah seperti sahabat lama, kau lihat, rasanya belum cukup puas pembicaraan kita tetapi kita harus mendarat.”

Ia lalu bangkit berjalan keluar dengan diikuti oleh Siang- koan Kie dan Wan Hauw, ketika tiba di tepi sungai, Siang-koan Kie tercengang, Karena di sepanjang tepi sungai itu sudah dibangun barak yang sangat panjang, dalam barak itu sudah penuh manusia, setiap orang memakai pakaian panjang berwarna hitam, meskipun jumlah orangnya banyak sekali tetapi tiada terdengar suara tertawa-tawa, di antara orang banyak itu kadang-kadang tampak laki-laki berpakaian berkabung, mundar mandir di antara orang banyak, ditilik dari sikap orang-orang itu semua menunjukkan perasaan duka.

Kira-kira sepuluh tombak dari sungai, dibuat sebuah bangunan dari bambu yang sangat tinggi, di dalamnya seperti ada peti mati, samar-samar terdengar suara tangisan, sehingga menimbulkan suasana sedih.

Siang-koan Kie sejenak merasa bingung, tetapi ia terpaksa mengikuti Touw Thian Gouw naik ke darat, demikianpun Wan Hauw, yang baru pertama kali masuk ke dunia sopan, sudah tentu hanya mengikuti saja.

Touw Thian Gouw saat itu sudah tidak tampak lagi senyumnya, ia berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan, “Orang mati meninggalkan nama, harimau mati meninggalkan kulit, Pan Loya ini meskipun orangnya sudah mati, tetapi sudah cukup merasa bangga.”

Dalam hati Sang-koan Kie beberapa kali ingin bertanya siapakah sebetulnya Pan Loya itu? Tetapi ia terus bersabar mengendalikan perasaannya, ia sebetulnya ingin setelah menyeberang sungai itu akan berlalu secara diam-diam, sungguh tidak diduga begitu tiba di tepi sungai keadaan sudah demikian rupa, maka ia terpaksa mengikuti jejak Tauw Thian Gouw saja.

Baru berjalan dua langkah, dari dalam bangunan tinggi besar itu nampak berjalan keluar lima orang, semuanya berpakaian berkabung bahkan tanda air matanya juga belum kering, dua orang di antaranya membimbing seorang muda pendek gemuk, dengan cepat berjalan menghampiri Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie kemudian berlutut di hadapan mereka sambil menangis dengan sedihnya. Siang-koan Kie tahu bahwa pemuda itu pasti anak laki-laki Pan Loya, menyambut kedatangan tetamu secara demikian memang sudah biasa dalam keluarga yang sedang berkabung, tetapi bagi Wan Hauw yang sama sekali tidak mengerti peraturan dunia, ketika melihat orang berlutut di hadapannya, ia merasa terheran-heran.

Setelah upacara penyambutan itu selesai, anak laki-laki dari keluarga yang berkabung itu dibimbing berjalan ke lain tempat, dua orang berpakaian hitam segera menghampiri Tauw Thian Gouw bertiga, dengan sikap sangat menghormat mengayak mereka ke satu tempat di dalam barak itu.

Siang-koan Kie pada saat itu terpaksa menyesuaikan diri dengan keadaan itu. Kemudian datang lagi seorang dengan cepat menghampirinya, orang itu memelototkan matanya kepada dua orang yang pertama kemudian berpaling mengawasi Touw Thian Gouw, lalu menghormat dan ia berkata kepadanya, “Sungguh tidak terduga To tayhiap dari tempat demikian jauh juga sudah memerlukan datang ke mari, maafkan penyambutan kita yang kurang sempurna ini.

Touw Thian Gouw balas menghormat, seorang berpakaian hitam menyambutnya, “Harap To tayhiap ikut aku yang rendah ke barat ke tempat tetamu agung, sahabat tayhiap ini juga boleh diayak sekalian.”

Siang-koan Kie terkejut, baru saja hendak menolak, tetapi dua orang berpakaian hitam itu sudah ayak mereka ke tempat dekat bangunan besar tinggi itu.

Orang-orang di lain barak meskipun jumlahnya tidak sedikit tetapi dalam barak itu ternyata sedikit sekali orangnya, di situ terdapat dua imam berpakaian berwarna biru, sedang duduk diam sambil mengawasi cawan teh di hadapannya. Yang lainnya masih ada kira-kira sepuluh lebih orang-orang yang semuanya berpakaian panjang, di satu sudut yang agak jauh, duduk seorang tua tinggi besar tetapi rambutnya sudah putih seluruhnya, orang tua ini sikapnya nampak sangat sombong. Di sampingnya duduk seorang wanita yang masih muda, sanggulnya tinggi, ia memakai pakaian berwarna putih meskipun sudah tidak terlalu muda, tetapi masih nampak kecantikannya.

Siang-koan Kie mengawasi keadaan di sekitarnya sehingga dapat menyaksikan sikap orang-orang itu meskipun ia tidak kenal, tetapi ia tahu bahwa orang-orang itu semua pasti orang-orang ternama dalam rimba persilatan daerah selatan.

Terdengar suara Touw Than Gouw yang berkata kepadanya dengan suara perlahan, “Yang lain aku tidak kenal, tetapi orang tua berambut putih itu apakah bukan jago tua dari daerah telaga ini yang bernama Lui Beng Wan dengan julukannya Burung Elang Berkepala Sembilan.

Baru saja Siang-koan Kie hendak menjawab ketika berpaling ke belakang ia terkejut, maka lalu berkata, “Ke mana Wan Hauw?”

Ia mencoba berpaling ke sana ke mari, ternyata Wan Hauw saat itu sedang berdiri bingung di luar barak, di hadapannya berdiri beberapa orang laki-laki berpakaian hitam, agaknya sedang bertengkar dengan Wan Hauw.

Siang-koan Kie terperanjat, dia buru-buru keluar menghampiri, satu di antara orang berbayu hitam itu tiba-tiba mendorong Wan Hauw, tetapi ia tidak tahu bahwa Wan Hauw mempunyai kekuatan luar biasa, ditambah latihan ilmu silat selama beberapa tahun ini, pemuda yang di luarnya dipandang ia bagaikan monyet itu, dalam dirinya sebetulnya tersembunyi kepandaian ilmu silat yang tinggi sekali, maka dorongan orang berbayu hitam itu, sedikitpun tidak membuat Wan Hauw kecil hati.

Wan Hauw mengerutkan keningnya yang tebal, dari sinar matanya menunjukkan perasaan marahnya, kiranya tadi ketika ia berjalan bersama-sama dengan Siang-koan Kie, karena tertarik oleh kelakuan orang-orang yang dalam matanya sebagai suatu pemandangan yang masih asing baginya, maka sebentar2 berpaling mengawasi orang-orang yang pada berlutut itu, dianggapnya sangat ludu.

Meskipun ia sudah dewasa, tetapi sifat kekanak- kanakannya masih belum lenyap, apa yang dianggapnya lucu, ia lalu tertawa.

Tak disangka selagi ia tertawa, seorang laki-laki berbayu hitam menyamperi dan berkata padanya sambil tertawa dingin, “Mengapa saudara tertawa?”

Wan Hauw tercengang, jawabnya, “Aku tertawa itu adalah urusanku sendiri, tidak perlu kau campur tangan.”

Sebagai orang jujur, ia tidak bisa berlaku pura-pura, apa yang dipikir dalam hatinya dinyatakan secara sejujurnya, ia tidak tahu bahwa di tempat semacam itu dan saat seperti itu, setiap orang harus menunjukkan perasaan dan sikap kedukaan, maka tertawanya tadi sesungguhnya sudah merupakan satu pantangan besar, apalagi jawabnya itu dianggapnya terlalu kurang ayar.

Sebentar saja, dirinya sudah dikurung beberapa orang berpakaian hitam, semuanya menegurnya dengan sikap galak, semua itu mengejutkannya. Ia tidak tahu bagaimana harus menjawab, demikianlah salah satu di antara orang itu lalu mendorongnya, Wan Hauw mendadak menjadi marah, selagi hendak memukul orang itu, Siang-koan Kie sudah lari menghampiri sambil berkata berulang-ulang, “Jangan berkelahi, jangan berkelahi.”

Wan Hauw meskipun dalam hati sedang murka, tetapi ketika mendengar ucapan Siang-koan Kie ia terpaksa menarik kembali tangannya, Touw Thian Gouw pada saat itu juga sudah lari menghampiri, di samping ia juga ada seorang yang memakai pakaian berkabung yang datang ke tempat itu, Wan Hauw lalu berkata sambil menuding kepada orang yang mendorongnya tadi, “Mengapa ia mendorongku?” Orang yang memakai pakaian berkabung itu, meskipun usianya sudah tua, tetapi gerak kakinya masih gesit sekali, ketika mendengar perkataan itu, segera ia membentak dan menyuruh beberapa orang berpakaian hitam itu berlalu, kemudian ia berkata sambil memberi hormat, “Orang-orang itu tak tahu adat, harap tuan-tuan jangan berkecil hati!”

Siang-koan Kie mengerti bahwa Wan Hauw pasti menimbulkan onar dengan tidak disengaja, tetapi saat itu ia juga merasa kurang pantas untuk mencela. Orang tua itu berkata beberapa kata pula dengan Touw Thian Gouw, “Aku yang rendah Kim Siao Ho, sudah lama mendengar nama besar To tayhiap, tetapi baru hari ini mendapat kesempatan bertemu muka, sungguh tak disangka2 To tayhiap sudah memerlukan datang dari tempat yang demikian jauh untuk turut berduka cita, persahabatan ini patut kita hargakan, harap To tayhiap memandang mukaku yang rendah, jangan menganggap urus orang-orang yang tak tahu adat tadi, sehingga mengganggu pikiran tayhiap.”

Touw Thian Gouw mengucapkan terima kasih kepadanya, orang she Kim itu kembali minta maaf kepada Siang-koan Kie dan Wan Hauw sesudah itu baru berlalu.

Dalam hati Siang-koan Kie berpikir, “Kim Siao Ho ini rupa- rupanya pandai bergaul, juga banyak mengenal orang, nampaknya seorang yang mempunyai kedudukan baik dalam rimba persilatan, mengapa ia turut berkabung atas kematian Pan Loya ini?”

Karena berpikir demikian, terhadap diri Pan Loya ini ia semakin heran, sambil menarik Wan Hauw ia masuk ke dalam barak kembali.

Wan Hauw tidak tahu bahwa kericuhan tadi sebetulnya memang kesalahannya sendiri, tetapi dalam hati masih merasa mendongkol, di hadapan Siang-koan Kie tidak berani menyatakan itu. -odwo-

Bab 20

SEMENTARA itu mata Touw Thian Gouw terus berkisar dari diri Wan Hauw, tiba-tiba ia berkata dengan suara perlahan, “Sungguh tidak kusangka saudara yang usianya masih sedemikian muda, bukan saja mempunyai kekuatan tenaga dalam dan luar yang sudah sempurna, kekuatan luar saudara bahkan sudah mencapai taraf yang tidak mempan dengan senjata tajam, sesungguhnya sangat mengagumkan!”

Wan Hauw hanya memandang jago She-Touw sambil tersenyum juga tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih atas pujiannya itu tadi.

Siang-koan Kie dalam hati diam-diam berpikir, “Touw Thian Gouw ini tajam sekali pandang matanya, hanya melihatnya sepintas lalu saja, ia sudah dapat mengetahui kepandaian orang.

Touw Thian Gouw berkata kepadanya sambil tertawa, ”Sahabatmu ini demikian keadaannya, kiranya ilmu kepandaian saudara, pasti lebih mengagumkan.”

Siang-koan Kie berpikir sejenak, lalu berkata, „Saudaraku ini sejak masih anak2 sudah mempunyai pembawaan tenaga besar, kekuatan di luarnya memang cukup sempurna, aku sendiri tidak dapat dibandingkan dengannya.”

Touw Thian Gouw tersenyum, ia mengalihkan pembicaraannya ke soal lain, tidak membicarakan soal ilmu kepandaian lagi.

Tidak lama kemudian, dari luar masuk lagi dua orang tetamu, satu tubuhnya tinggi gemuk mukanya merah, satu lagi kurus kecil, wajahnya seperti seorang berpenyakitan, begitu masuk ke dalam barak, mata mereka berputaran sejenak, lalu berjalan menghampiri orang tua tinggi besar dan perempuan muda seraya berkata, “Sudah lama kita tidak berjumpa, sungguh tidak disangka saudara Lui nampaknya tambah muda.”

Touw Thian Gouw tersenyum, ia berbisik-bisik di telinga Siang-koan Kie, “Orang tua itu benar saja Lui Beng Wan, si burung elang berkepala sembilan, entah siapa dua orang itu?”

Lui Beng Wan segera berbangkit dan berkata sambil tertawa, “Benar-benar tidak disangka, aku si orang tua di sini akan bertemu dengan sepasang orang kuat Im dan Yang.”

Kemudian ia mempersilahkan kedua tetamunya itu duduk.

Perempuan muda itu biji matanya berputaran, ia hanya bersenyum dan masih duduk di tempat, kemudian berkata dengan suara perlahan, “Beng Wan kau tidak melihat di sini tempat apa? Mengapa kau bicara dengan suara demikian keras, apa kau kira orang lain itu tuli?”

Orang tua itu meskipun nampaknya sombong dan galak, tetapi ketika mendengar ucapan perempuan itu, ia lantas duduk lagi di tempatnya, bahkan masih berkata sambil tertawa, “Karena aku berjumpa dengan kawan lama, sehingga lupa daratan.”

Si kurus dan si gemuk itu saling berpandangan sebentar, lalu mengambil tempat duduk, mereka agaknya juga merasa takut terhadap perempuan muda itu, tidak berani lagi bicara atau tertawa dengan suara keras, hanya dengan suara perlahan mereka berkata, “Toaso sudah lama tidak bertemu tetapi keadaan toaso masih tetap seperti sedia kala sedangkan kita berdua saudara sudah nampak semakin tua, gigipun sudah pada ompong.”

Perempuan itu hanya tersenyum, tidak menjawab.

Touw Thian Gouw yang menyaksikan dari tempat agak jauh diam-diam merasa geli, ia berkata dengan suara perlahan, “Di luar perbatasan aku sudah mendengar bahwa di dalam rimba persilatan daerah Tiong-goan ada beberapa orang gagah terkenal yang takut bini, Lui Beng Wan itu adalah salah satu di antaranya, hari ini setelah aku menyaksikan sendiri, ternyata bahwa apa yang kudengar itu bukan siaran kosong belaka.”

Siang-koan Kie yang sejak kecil sudah belajar ilmu silat, terhadap orang-orang ternama rimba persilatan, meskipun tidak sedikit yang diketahui tetapi terhadap urusan pribadi orang-orang itu sedikitpun tidak tahu, maka ia hanya berkata, “Siaotee cuma tahu orang tua she Lui itu, bukan saja namanya yang sangat terkenal di daerah Ouw-lam dan Opak, bahkan mempunyai kekayaan yang sangat besar, tentang kabar ceritanya bahwa ia takut isteri, hal ini siaotee tidak tahu sama sekali.”

“Lui Beng Wan sangat terkenal sebagai orang gagah yang takut istri, jikalau tidak aku yang berada jauh di luar perbatasan, bagaimana bisa mengetahui, kabarnya isterinya ini, adalah pelayan tersayang nyonya Tong tua di Su-cuan, bukan saja mahir sekali ilmunya meringankan tubuh orangnya juga cantik, dan kepandaiannya menggunakan senjata rahasia berbisa sudah mendapat warisan dari keluarga Tong, dalam usia lanjut Lui Beng Wan mendapatkan isteri sedemikian muda, karena cinta perlahana2 timbul merasa takut, sudah tentu akhirnya ia menjadi seorang yang takut kepada isterinya.”

“Oh, kiranya isterinya itu adalah orang dari keluarga Tong di propinsi Su-cuan.”

Keluarga Tong dari propinsi Su-cuan, sudah dua puluh tahun lebih namanya sangat terkenal dalam rimba persilatan sebagai ahli dalam senjata rahasia beracun, sudah tentu Siang-koan Kie mengetahuinya.

Touw Thian Gouw berkata pula, “Dua orang yang baru datang itu ternyata adalah Im Yang Siang-ciok, kabarnya juga dua orang aneh, kedua orang itu, yang satu sebetulnya murid Siau-lim-sie dari golongan orang biasa, kepandaiannya juga dinamakan tong-cu-kang, kabarnya sudah mencapai ketarap demikian tinggi sehingga tidak mempan senjata tajam, tetapi yang satu lagi adalah sute dari pada ketua golongan ilmu silat pukulan tangan keluarga Gan di kota Cin-ciu, ilmu kekuatan tenaga luar sudah tentu sudah sempurna. Dua orang itu bukan saja kepandaiannya yang dilatih berlainan sifatnya, ialah yang satu mengutamakan kekuatan tenaga yang bersifat Im, sedang yang lain mengutamakan ilmu kepandaian yang bersifat Yang, tetapi juga watak mereka yang satu bersifat Im dan yang lain bersifat Yang, maka orang-orang rimba persilatan memberikan nama julukan mereka Im Yang Siang- siok. Apa yang mengherankan ialah kedua orang itu meskipun sifat dan wataknya berlainan tetapi selama beberapa puluh tahun ini, satu sama lain selalu belajar bersama-sama belum pernah berpisahan.”

“Saudara Touw lama berdiam di luar perbatasan tetapi terhadap urusan dalam rimba persilatan, daerah Tiong Goan, sebaliknya mengetahui demikian jelas, benar-benar sangat mengagumkan.”

“Dalam urusan rimba persilatan, sebetulnya baik di daerah Tiong Goan maupun di luar perbatasan, satu sama lain masih ada hubungannya.” Tiba-tiba ia diam, kemudian berkata pula dengan suara yang lebih perlahan, “Hanya aku sesungguhnya tidak menyangka, bahwa hari ini ada sedemikian banyak orang-orang terkemuka dalam rimba persilatan yang datang kemari, lihat sampaipun golongan Siao-lim-pay, juga ada yang datang.

Siang-koan Kie berpaling ke arah luar, saat itu orang tua Kim Siao Ho itu, sedang mengantar dua orang paderi berjalan masuk ke dalam barak di mana berkumpul orang-orang ternama, dua paderi itu sikapnya agung, sambil merangkapkan dua tangan di atas dadanya, berjalan masuk dengan tindakkan pelahan, mereka mengawasi keadaan di situ sejenak, lalu berjalan ke tempat dua imam berjubah biru itu duduk, kemudian berkata kepada mereka, “Sahabat lama dari Ceng-shia, apakah selama ini baik-baik saja?”

Siang-koan Kie dan Thian Goaw terkejut, kembali Touw Thian Gouw berbisik2 di telinga Siang-koan Kie, “Tadi ketika pertama kali aku melihat dua imam itu agaknya sangat asing, sungguh tidak disangka mereka ternyata adalah imam dari golongan Ceng-shia-pay yang sudah lama tidak mau tahu urusan dalam rimba persilatan.”

Dua imam itu juga bangkit dan berkata sambil merangkapkan kedua tangannya, “Terima kasih atas perhatian Siang-jien.”

Seorang lainnya berkata, “Dengan penghidupan di atas dunia, tidak memikirkan waktu, tetapi sejak perpisahan di atas gunung Ngo-bie-san dahulu, mungkin sudah ada sepuluh tahun lebih, tidak disangka keadaan Siang-jien masih tetap sedia kala, kiranya selama ini ilmu Siang-jien pasti lebih banyak mendapat kemajuan.”

Kim Siao He lalu menyambungnya samba menundukkan kepala, “To-tiang dan Siang-jien sama-sama merupakan orang-orang beribadat tinggi, bukan saja tinggi sekali kepandaiannya, bahkan bisa menjaga diri sehingga kelihatannya awet muda, hanya aku si orang tua, aih!……..

urusan di dalam dunia membuat aku sibuk tidak karuan, hampir selalu mengganggu pikiran, bagaimana bisa demikian bebas dan tenang seperti penghidupan di atas gunung yang sepi sunyi?”

Pada saat itu hampir semua mata ditujukan pada imam dan paderi itu, di antaranya orang yang mengetahui asal usul mereka, lalu berkata dengan suara perlahan, “Dua paderi itu adalah Tiat Bok Taysu dan Ki Bok Taysu dari gereja Siau-lim- sie, sedangkan dua imam itu, kalau didengar dari pembicaraan mereka, tentunya adalah dua jago pedang partai Ceng-shia- pay yang dahulu pernah membasmi kawanan penjahat dengan sepasang pedang mereka. Siang-koan Kie saat itu perasaannya semakin heran, Pan Loya ini sekalipun merupakan seorang gagah rimba persilatan, tetapi rasanya juga tidak sampai Ceng-shia-pay dan Siau-lim- sie mengirim utusannya datang untuk memberi hormat yang penghabisan!

Karena itu diam-diam lalu berpikir, apakah dalam upacara ini, masih ada mengandung rahasia apa-apa?

Karena selalu terganggu oleh pikirannya itu maka ia lalu bertanya kepada Touw Thian Gouw, “Saudara Touw, siapakah sebetulnya Pan Loya ini, mengapa demikian besar pengaruhnya, sampaipun orang-orang kuat kalangan Kang- ouw yang susah dijumpai, juga datang untuk turut berduka cita?”

“Pan Loya ini adalah satu Piauw Tauw dari salah satu Piauw Kiok terkemuka daerah selatan, tetapi sewaktu ia memasuki usia setengah tua, lalu melepaskan penghidupannya sebagai Piauw Tauw itu, lalu berdiam di tempat ini, karena sering melakukan perbuatan yang mulia, sehingga namanya perlahan-lahan makin terkenal, mula-mula hanya terbatas di antara orang-orang golongan nelayan di daerah sekitar sungai Tiang-kang, dua puluh tahun berselang beberapa partai rimba persilatan daerah Tiong Goan telah timbul bentrokan dengan golongan Sam-seng dari golongan barat, mereka akhirnya hendak bertanding dan memilih tempat di bawah loteng rumah makan Oey-hoo-lauw, sebagai tempat pertandingan… ”

Baru berkata sampai di situ, tiba-tiba terdengar suara nyaring yang berkata, “Atas kunjungan tuan-tuan yang terhormat kami atas nama kelurga Pan Loya lebih dulu mengucapkan banyak2 terima kasih, arwah Pan Loya di alam baka kalau mengetahui kunjungan dan kecintaan demikian besar, pasti akan merasa sangat bersyukur… ”

Suara orang itu meskipun nyaring, tetapi ada sedikit parau, mungkin sudah beberapa malam kurang tidur. Orang itu berhenti sejenak, baru terdengar lagi suaranya, “Dalam masa berkabung ini, sudah tentu penyambutan kita kurang sempurna, maka kami minta maaf sebear2nya atas kelalaian itu, sekarang putra dan putri Pan Loya, hendak mengucapkan terima kasih sendiri kepada tuan-tuan sekalian.”

Seorang laki-laki berusia empat puluhan, menggandeng seorang muda berusia duapuluhan yang memakai pakaian berkabung, berdiri di bagian masuk barak itu, kedua mata pemuda itu nampak benggul, kiranya selama beberapa hari ini hatinya terlalu duka sehingga terus menepas air mata.

Di belakang pemuda itu, ada seorang perempuan berusia empat puluhan membimbing seorang gadis bertubuh langsing, gadis itu selain memakai pakaian berkabung, wajahnya juga tertutup selembar kain putih, sehingga tidak tampak wajahnya.

Pemuda berkabung itu mengangkat tangannya memberi hormat kepada tetamu di sekitarnya sambil berkata, “Atas kematian ayah, telah membikin repot para taysu, to-tiang, paman sekalian untuk datang turut berduka cita, boanpwee yang sedang dalam kedukaan sehingga tidak dapat menyambut sebagai mana mestinya, tentang ini, semoga paman2 sekalian memaafkan sebesar-besarnya.”

Sehabis berkata demikian, kembali mengangkat tangan memberi hormat.

Semua orang yang berada dalam barak berbangkit dan membungkukkan badan membalas hormat.

Selesai mengucapkan perkataannya, pemuda itu minggir ke samping, kemudian gadis berkabung itu bertindak maju untuk menyatakan terima kasih kepada para tetamunya.

Lui Beng Wan tiba-tiba bangkit data berkata, “Saudara Pan sebetulnya mendapat sakit apa, bagaimana demikian cepat sudah meninggal.” Pemuda berkabung itu lalu menjawab, “Ayah almarhum karena… ”

Lelaki yang ada di sampingnya itu segera menyambungnya, “Saudara Lui dengan Pan Loya bersahabat akrab maafkan Pan kongcu yang masih dalam keadaan berduka, tidak dapat menyampaikan kata-kata yang tepat untuk melukiskan sebab musabab kematian ayahnya, sebentar pasti akan menyilahkan saudara Lui untuk menyaksikan sendiri keadaan jenazah Pan Loya.”

Tiba-tiba terdengar suara memuji budha, dua paderi dari Siau-lim-sie berbangkit, paderi di sebelah kiri lalu berkata, “Pin-ceng yang datang atas perintah ketua kami, juga mengharap supaya dapat menyaksikan jenazah Pan Losicu.”

Kim Siao Ho sebelum orang pertengahan umur yang di samping pemuda berkabung itu membuka mulut, lebih dulu sudah menjawab sambil memberi hormat, “Jiewie Siansu jangan khawatir, sebelum upacara penutupan peti mati dimulai, pasti akan mempersilahkan Siansu sekalian menyaksikan jenazah Pan Loya.”

Dua imam berbaju biru itu juga bangkit mereka mengawasi Kiam Siao Ho sejenak lalu berkata, “Bolehkah sekiranya Pinto sekalian juga ingin menyaksikan jenazah Pan Losicu?”

“Sudah tentu, kalau saatnya sudah tiba, nanti siaote akan mempersilahkan tuan-tuan menyaksikan jenazah Pan Loya di gedung belakang, mungkin masih minta bantuan tuan… ”

jawab Kim Siao Ho, tetapi agaknya ia merasa bahwa dalam jawaban itu ada mengandung rahasia maka mendadak bungkam.

“Kenapa? Apakah saudara Pan mati dianiaya orang secara menggelap?”

Pemuda  berkabung itu berkata, “Kematian ayah……..

adalah… ” Pemuda itu agaknya tidak suka mengumumkan sebab2 daripada kematian ayahnya di hadapan banyak orang, maka ia tidak melanjutkannya.

Sebaliknya dengan gadis berkabung yang berdiri di belakangnya, segera menyambungnya, “Kematian ayah memang secara mendadak, untuk sementara susah dipastikan sebab musababnya, sebentar setelah tuan-tuan menyaksikan sendiri jenazah ayah almarhum, mungkin dapat memberi petunjuk.”

Im Yang Siang-ciok saling berpandangan sebentar, lalu duduk lagi di tempatnya masing-masing.

Kim Siao Ho berkata pula sambil memberi hormat, “Silahkan tuan-tuan duduk dulu sebentar, aku yang rendah hendak membawa mereka untuk mengucapkan terima kasih kepada para tetamu.”

Setelah itu, ia berjalan lebih dahulu keluar dari dalam barak dengan diikuti oleh pemuda dan pemudi yang memakai pakaian yang berkabung itu.

Setelah mereka berlalu, Siang-koan Kie berkata kepada Touw Thian Gouw dengan suara perlahan, “Apakah saudara Touw tidak ingin melihat wajah jenazah Pan Loya?”

“Tentang ini kita tidak perlu memaksa, jikalau saatnya sudah tiba, apabila mereka tidak mengundang kita, kita juga tidak perlu mencari urusan.”

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Hanya untuk melihat jenazah seorang jago ternama saja, bagaimana berarti mencari urusan… ”

Tetapi hal itu ia tidak berani menanya, terpaksa disimpan dalam hatinya sendiri.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara tajam, “Kau lihat bocah yang macamnya bagaikan monyet itu juga diundang ke dalam barak tamu-tamu terhormat, kita sungguh tidak tahu dari mana asal usul bocah itu?”

Dalam barak yang tidak terlalu luas itu perkataan orang itu sudah tentu dapat didengar oleh Siang-koan Kie, Touw Thian Gouw dan Wan Hauw serta lain-lainnya, sehingga semua mata ditujukan kepada Wan Hauw, sampaipun dua paderi dari Siau- lim-sie juga berpaling mengawasi Wan Hauw, sebentar saja Wan Hauw sudah menjadi perhatian orang banyak.

Siang-koan Kie baru dapat melihat bahwa orang yang mengucapkan perkataan itu tadi adalah orang kecil kurus yang nampaknya seperti berpenyakitan dari Im Yang Siang-ciok.

Wan Hauw agaknya juga mengerti bahwa ucapan orang itu mengejek dirinya, ia angkat pundaknya, dengan sinar mata tajam, menatap wajah orang kurus kecil itu, agaknya sudah ingin bertindak menghajarnya.

Siang-koan Kie khawatir Wan Hauw akan turun tangan benar-benar, maka segera memperingatinya, “Wan Hauw jangan bertindak sembarangan.”

Wan Hauw berpaling mengawasi Siang-koan Kie sejenak, kemudian menundukkan kepala.

Orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah merah itu berkata sambil tertawa, “Saudara, kau dengar tidak, bocah itu bukan saja bentuknya seperti monyet shenya juga she Wan, mengapa begitu aneh dan kebetulan sekali?”

Touw Thian Gouw menampak Wan Hauw menundukkan kepala dan memejamkan mata, seolah-olah tidak menghiraukan pembicaraan dua orang itu, tetapi dalam hatinya sesungguhnya merasa panas, badannya gemetar, air mata mengalir ke luar dari ujung matanya, timbul perasaan ingin membela pemuda itu, maka lalu memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata, “Badan sendiri tumbuh bulu hijau, masih mengatakan orang lain yaokoay, ambillah cermin kacakan diri sendiri ada berapa bagian yang mirip manusia?”

Orang kurus kecil dari Im Yang Siang-ciok tiba-tiba berdiri dan berkata dengan suara gusar, “Perkataanmu ini kau tujukan kepada siapa?”

Touw Thian Gouw juga berdiri, dengan sinar mata dingin memandang Im Yang Siang-ciok sejenak, jawabnya dengan suara hambar, “Kutujukan kepada siapa perkataanku itu tadi perlu apa kau mau tahu?”

Im Yang Siang-ciok yang sudah terkenal dengan kebuasan dan keganasannya, sehingga orang-orang golongan putih dan hitam di daerah selatan tidak suka berurusan dengannya.

Orang sebuas itu bagaimana mau mengerti oleh jawaban Touw Thian Gouw yang ada maksud hinaan itu? Maka ia segera menggebrak meja seraya berkata, “Aku lihat kau tentunya sudah bosan hidup.”

Touw Thian Gouw mengawasi keadaan orang-orang sejenak, dua paderi dari Siau-lim-pay itu ternyata masih duduk tenang, agaknya tidak menghiraukan terjadinya pertengkaran itu.

Sedangkan dua imam berbaju biru itu juga hanya mengawasi sebentar, kemudian tidak mau ambil perduli lagi.

Hanya Lui Beng Wan yang agaknya sangat memperhatikan, sebentar2 mengawasi dirinya.

Tetapi sikap perempuan muda itu sangat dingin sekali, meskipun tidak merintangi Lui Beng Wan, tetapi setiap kali Lui Beng Wan tujukan matanya kepada Touw Thian Gouw, alisnya lantas berdiri, jelas bahwa ia tidak ingin suaminya itu terlibat dalam pertikaian itu.

Yang mengherankan adalah orang bertubuh tinggi besar itu, ia dengan orang kecil kurus itu disebut Im Yang Siang- ciok, yang satu sama lain selalu tidak berpisah tetapi saat itu ia duduk tenang saja dengan tidak bicara apa-apa.

Touw Thian Gouw setelah menyaksikan sikap orang-orang di sekitarnya, dalam hati sudah mempunyai keyakinan, pikirnya, “Nampaknya Tiat Bak dan Ki Bok dua orang beribadat tinggi itu tidak suka mencampuri urusan ini, dua jago pedang dari Ceng-shia-pay nampaknya juga tidak ambil pusing, hanya Lui Beng Wan mungkin akan campur tangan, tetapi isterinya itu agaknya tidak suka suaminya terlibat dalam urusan ini. Orang yang takut isteri itu, apabila isterinya tidak setuju, barangkali juga tidak berani berkeras. Im Yang Siang- ciok meskipun orang-orang yang terkenal buas, tetapi Siang- koan Kie dan Wan Hauw sudah cukup untuk menghadapi yang satu dan yang lainnya aku yang menghadapi, rasanya tidak sukar… ”

Sebagai orang yang mempunyai perhitungan cerdik, ia dapat mempertimbangkan kekuatan sendiri dan kekuatan musuhnya setelah itu ia baru berkata pula sambil tertawa dingin, “Mungkin belum tentu, sekarang ini masih belum tahu di antara kita siapa yang bosan hidup?”

Orang kecil kurus itu adalah Gan Kang, yang terkenal dengan seangannya ilmu tangan yang mengandung hawa dingin, orang ini kecuali sudah berhasil dalam latihannya serangan tangan yang mengandung hawa dingin tercampur dengan kekuatan keras, masih mengandalkan nama besar keluarga Gan, di kota Cin-ciu, biasanya suka berlaku sewenang-wenang, dibanding dengan kawannya yang bernama Pho Tong yang terkenal dengan kepalan tangan kerasnya, masih jauh lebih sombong ugal2an tentu ia segera meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menghampiri Touw Thian Gouw dengan tindakan lebar.

Siang-koan Kie yang menyaksikan Touw Thian Gouw karena hendak membela Wan Hauw, tidak segan2 bentrok dengan orang lain, dalam hati merasa tidak enak, lebih dulu ia berdiri dan menyambut kedatangan Gan Kang.

Gan Kang lalu membentak sambil tertawa, “Apakah kau ingin mencari mampus? Lekas minggir!”

Dengan sikap tidak memandang mata kepada lawannya, orang she Gan itu menyerang Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie tidak berkelit atau menyingkir, ia membalikkan tangan kanannya, dengan cepat memotong urat nadi tangan Gan Kang dengan kedua jari tangannya.

Gan Kang agaknya tidak menduga bahwa baru turun tangan Siang-koan Kie sudah menggunakan gerak tipu serangan menotok urat nadi yang termasuk ilmu golongan tertinggi, dia bukan kepalang terkejutnya buru-buru melompat mundur.

Touw Thian Gouw meskipun sudah tahu bahwa pemuda itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi yang mendapat didikan dari guru ternama, tetapi juga tidak menduga bahwa dalam usia yang masih muda sudah mahir tipu serangan memotong urat nadi semacam ilmu silat dari golongan tinggi.

Serangan semacam itu tidak dapat dibandingkan dengan ilmu totokan jalan darah biasa, bukan saja harus mahir betul segala perobahan gerakannya, juga harus dibantu dengan kekuatan tenaga dalam sudah sempurna betul.

Gan Kang setelah mundur tidak berani bertindak lagi, ia menunggu sebentar, kemudian bertanya dengan nada suara dingin, “Kau murid siapa, lekas jawab! Jangan sampai aku nanti kesalahan tangan terhadap orangnya kawan lama.”

Kiranya ia sudah mengetahui bahwa pemuda itu berkepandaian tinggi, hingga tidak berani gegabah turun tangan, setelah berpikir lama, barulah ia majukan pertanyaan di atas supaya mengetahui asal usul Siang-koan Kie, selain daripada itu juga ingin menyudahi pertikaian itu secara terhormat yang tidak memalukan dirinya.

Siang-koan Kie tidak suka memberitahukan asal usul dirinya kepada orang lain, ia pura-pura berpikir sejenak, baru menjawab, “Tentang asal usul diriku, maaf aku tidak dapat memberitahukan, tetapi yang sudah pasti dan kau juga tidak usah khawatir perguruanku sedikitpun tidak ada hubungan denganmu.”

Gan Kang sebetulnya ingin menyudahi urusan itu, sebab ia sudah tahu bahwa Siang-koan Kie merupakan lawan tangguh yang tidak mudah dilawannya, tetapi jawaban Siang-koan Kie itu, membuat ia sudah tidak bisa mundur lagi, terpaksa sambil mengerahkan kekuatannya ia masih berlagak berlaku seperti orang tingkatan tua, bertanya dengan nada suara dingin,

„Siapa namamu?”

Siang-koan Kie berpaling dan menunjuk kepada Wan Hauw,

„Ia bernama Wan Hauw dan aku Siang-koan Kie…   ”

Tanpa menunggu Siang-koan Kie melanjutkan keterangannya, Gan Kang tiba-tiba berkata dengan nada suara dingin, “Dua bocah yang tidak ada namanya.”

Lalu mengulur tangan kirinya dengan cepat menyambar Siang-koan Kie.

Orang itu ternyata sangat licik, ia ingin menyambar pergelangan tangan Siang-koan Kie dalam satu serangan yang tidak terduga2, tetapi ia masih ingat kedudukannya sendiri di kalangan Kang-ouw, tidaklah seharusnya di hadapan banyak orang melakukan penyerangan secara mendadak yang bersifat membokong itu, maka begitu turun tangan disertai dengan ucapan di atas tadi.

Siang-koan Kie dengan cepat melompat ke samping, kemudian dengan satu gerak tipu yang luar biasa hebatnya balas menyerang. Serangannya bukan saja hebat, tetapi juga luar biasa anehnya.

Sebelum serangannya tiba, hembusan angin kuat sudah menyambar hebat.

Gan Kang terperanjat, buru-buru melompat mundur sejauh lima langkah.

Meskipun sudah cukup gesit ia menyingkir, tetapi toh masih tersambar oleh hembusan angin serangan Siang-koan Kie, hingga badannya terhuyung2 mundur lagi tiga langkah baru bisa berdiri.

Semua orang yang ada di dalam barak itu, agaknya dikejutkan oleh gerak tipu serangan yang aneh dan kekuatan tenaga dalam Siang-koan Kie yang luar biasa, hingga semua perhatian ditujukan kepadanya, dan padri dari Siau-lim-sie juga mengawasinya dengan sinar mata terheran-heran,

Dua jago pedang dari Ceng-shia-pay saling berpandangan sejenak, lalu mengerutkan alisnya.

Lui Beng Wan hampir lompat bangun, tetapi kemudian hanya dapat mengeluarkan perkataan, “Eh!”

Perempuan di sampingnya juga tertarik oleh gerak tipu Siang-koan Kie, matanya berputaran ke arah diri pemuda itu.

Si kepalan tangan keras Pho Tong mendadak berdiri, ia berjalan menghampiri Gan Kang, dan bertanya dengan suara perlahan, “Apakah bocah ini hebat?”

Siang-koan Kie yang tidak tahu peraturan dalam dunia Kang-ouw, juga tidak tahu bahwa Gan Kang mencari kesempatan untuk mengundurkan diri, jawabnya yang dingin tadi, membuat Gan Kang tidak ada muka untuk mengundurkan diri lagi.

Pho Tong tertawa dingin, ia berkata sambil mengawasi Siang-koan Kie, “Pada saat dan tempat seperti ini, bukan waktunya untuk berkelahi, sebaiknya kita mengadakan perjanjian untuk bertanding sepuas-puasnya di suatu tempat yang sunyi.”

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Aku dengan mereka sebetulnya tidak mempunyai permusuhan apa-apa agaknya tidak mengadakan perjanjian untuk bertanding dengan mereka. Tetapi apabila aku tidak menerima baik tantangan ini, tentu akan menodai nama baik Touw Toako… ”

Sesaat itu ia sulit akan mengambil keputusan, maka ia berpaling mengawasi Touw Thian Gouw.

Sementara itu, kejadian tersebut sudah disampaikan kepada Kim Siao Ho, maka orang she Kim itu buru-buru datang ke barak itu, lebih dulu ia memberi hormat kepada Im Yang Siang-ciok, kemudian memberi hormat kepada Siang- koan Kie seraya berkata, “Samwie apabila ada urusan apa-apa harap memandang muka siaotee, satu sama lain mengalah sedikit, sebentar siaotee akan mengadakan sedikit perjamuan untuk mendamaikan Samwie.”

Orang she Kim itu agaknya ada urusan penting, nampaknya sangat gelisah, setelah berkata demikian, matanya berputaran mengawasi tiga orang itu.

Touw Thian Gouw lalu berkata sambil bersenyum, “Saudara kecil, lekas balik ke tempatmu, saudara Kim sudah turun tangan sendiri hendak menyelesaikan persoalan ini, sekalipun kita masih sedikit penasaran, tetapi sudahlah.”

Siang-koan Kie segera memberi hormat kepada Kim Siao Ho, kemudian balik kembali ke tempat duduknya sendiri.

Ia masih belum banyak pengalamannya dalam dunia Kang- ouw, juga tidak tahu harus berkata apa kepada juru pemisah itu, sudah balik ke tempatnya sendiri. Im Yang Siang-ciok saling berpandangan sejenak, mereka mengerutkan alisnya, juga tidak tahu bagaimana harus menyelesaikan soal itu.

Kim Siao Ho kembali memberi hormat kepada Im Yang Siang-ciok seraya berkata, “Harap jiwie suka memandang muka Siaotee!”

Im Yang Siang-ciok membalas hormat, kemudian balik kembali ke tempatnya masing-masing.

Kim Siao Ho setelah menyelesaikan persoalan itu, kembali memberi hormat kepada tetamu lainnya dan berkata dengan suara nyaring, “Siaotee masih ada sedikit urusan, harap tuan- tuan duduk dulu, sebentar akan disediakan hidangan dan minuman alakadarnya.”

Setelah Kim Siao Ho berlalu, suasana dalam barak itu nampak sunyi.

Dua jago pedang dari Cen-shia-pay dan Lui Beng Wan suami isteri, sebentar2 menujukan matanya ke arah Siang- koan Kie, Im Yang Siang-ciok yang nampaknya masih penasaran, masih memandang pemuda itu dengan sinar matanya.

Siang-koan Kie mendadak teringat pesan suhunya, “Apabila kau menggunakan ilmu silat yang kuwariskan pasti akan menimbulkan banyak perhatian orang Kang-ouw dan mendatangkan bayak kerewelan.”

Ingat akan pesan suhunya itu, hatinya mendadak merasa tidak tenang.

Perubahan itu agaknya dapat dilihat oleh Touw Thian Gouw, ia berkata dengan suara perlahan dengan tersenyum, “Saudara kecil, benar-benar seorang luar biasa, seranganmu itu tadi, sudah cukup membikin kuncup keberanian Im Yang Siang-ciok.”

“Mana, saudara Touw terlalu memuji.” “Im Yang Siang-ciok hanya garang di luarnya tetapi dalam hatinya merasa jeri. Mereka sudah mengerti, bahwa kepandaiannya sendiri tidak sanggup melawannya, kata- katanya untuk mengadakan pertandingan di lain tempat, sebetulnya hanya merupakan suatu alasan untuk mengundurkan diri.

Kata-kata itu meskipun diucapkan dengan suara sangat perlahan tapi orang-orang yang berada dalam barak itu, semuanya merupakan orang-orang kuat dalam dunia Kang- ouw, hampir semuanya mempunyai pendengaran sangat tajam, meskipun tidak dengar jelas apa yang mereka bicarakan tetapi toh sudah dapat menangkap sebagian.

Gan Kang semakin tidak enak, dalam hati merasa sangat mendongkol, ia berkata kepada Pho Tong dengan suara perlahan, “Kita hari ini kalau tidak mengadakan pertandingan dengan bocah itu, nama baik Im Yang Siang-ciok mungkin akan ternoda.

Pho Tong matanya mengawasi ke arah Tiat Bok Taysu sejenak, baru menjawab, “Di sini bukan tempatnya untuk mengumbar hawa amarah, jikalau saudara bisa menahan sabar, itulah yang paling baik, tetapi andaikata tidak bisa, saat ini juga tidak baik bentrok dengan mereka, sebaiknya mengadakan perjanjian saja.”

Gan Kang dan Pho Tong sudah lama berdiam bersama- sama, asal usul masing-masing juga diketahuinya dengan baik.

Gan Kang tahu bahwa kawannya itu dahulu adalah murid Siau-lim-sie, karena melanggar peraturan, telah lari dari Siau- lim-sie. Kejadian itu mesti sudah lewat duapuluh tahun tetapi terhadap kawanan paderi dari Siau-lim-sie masih merasa takut mungkin karena Tiat Bok dan Kie Bok berada di situ, maka Pho Tong tidak berani sembarangan turun tangan, takut diketahui asal usulnya…….. Karena itu maka mendongkolnya terhadap Pho Tong lalu lenyap seketika. Ia segera bangkit dan berjalan menghampiri ke tempat duduk Siang-koan Kie.

Wan Hauw mengira orang she Gan itu hendak mencari ribut lagi, segera lompat bangun dari tempat duduknya, dengan gerakan yang gesit luar biasa menyerbu Gan Kang.

Siang-koan Kie segera mencegahnya seraya berkata, “Saudara Wan, jangan membuat onar.”

Gan Kang agaknya tidak menduga bahwa pemuda yang bentuknya bagaikan monyet itu mempunyai gerakan demikian gesit, karena perhatiannya semula ditujukan kepada Siang- koan Kie, maka ketika mendengar suara sambaran angin dan menyadari sedang diserang orang, tahu-tahu Wan Hauw sudah berada di hadapannya, dengan lima jari tangannya sudah mengancam kepalanya.

Jikalau Siang-koan Kie tidak mencegah pada saat yang tepat, dan Gan Kang tidak keburu berkelit, pasti tidak terhindar dari serangan Wan Hauw.

Gerakan serangan Wan Hauw itu dilakukan sangat cepat sekali, tetapi ketika dilarang oleh Siang-koan Kie, ia segera menarik kembali dengan satu gerakan yang tidak kalah cepatnya. Cepat sekali ia sudah melesat tinggi dan dengan secara jumpalitan di tengah udara balik lagi ke tempat duduknya.

Ia adalah seorang berhati jujur, sebetulnya tidak memikirkan untuk mempertunjukkan kepandaiannya, tetapi dengan tanpa disadari, ia sudah menunjukkan ilmunya meringankan tubuh yang luar biasa, hingga perbuatannya itu mengejutkan semua orang yang ada di situ.

Gan Kang yang menyaksikan kepandaian Wan Hauw, seketika timbul rasa jerinya, ia bersangsi sejenak, barulah melanjutkan tindakannya, ia baru berhenti di hadapan Siang- koan Kie sejenak kira-kira tiga langkah, kemudian berkata, “Pada saat dan tempat seperti sekarang ini tidak tepat untuk bertanding ilmu kepandaian, tetapi perselisihan paham kita hari ini, juga tidak akan habis sampai di sini saja, setengah bulan kemudian, kita bertemu lagi di bawah loteng Oey Hoo- low, waktu itu kita nanti akan mencari tempat lagi yang lebih baik untuk menyelesaikan urusan kita hari ini.”

Setelah berkata demikian, ia berdiam menunggu jawaban si anak muda, tetapi sekian lama ia menunggu, tidak terdengar jawaban Siang-koan Kie.

Kiranya antara Touw Thian Gouw dan Siang-koan Kie sudah timbul salah pengertian, Touw Thian Gouw menganggap bahwa persoalan itu harus Siang-koan Kie sendiri yang mengambil keputusan sedangkan Siang-koan Kie pikir harus ditetapkan oleh Touw Thian Gouw, sehingga akhirnya dua orang itu tiada satu yang menjawab.

Gan Kang yang menunggu sekian lama tidak mendapat jawaban, merasa sangat malu, hingga naik pitam, bentaknya dengan suara keras, “Kalian dengar atau tidak?”

Siang-koan Kie mengerutkan alisnya, selagi hendak menjawab, dari luar tiba-tiba terdengar suara orang berkata, “Gan Locianpwee telah memerlukan datang untuk turut berduka cita atas kematian ayah almarhum, kita merasa banyak2 terima kasih, akan tetapi apabila pada saat dan tempat seperti ini menimbulkan urusan, agaknya kurang patut, tidak perduli siapa yang sudi datang memberi penghormatan terakhir kepada ayah almarhum, kita akan pandang sebagai sahabat, sekalipun Gan Locianpwee berjumpa dengan orang yang pernah bermusuhan, juga harap supaya suka meninggalkan tempat ini.”

Siang-koan Kie memandang ke luar mengawasi orang yang bicara itu, ternyata adalah pemuda yang memakai pakaian berkabung itu. Ia berdiri di tengah-tengah pintu, matanya terus menatap wajah Gan Kang, di balik perasaan sedih, tegas menunjukkan perasaan amarahnya. Gan Kang yang biasanya berlaku sewenang-wenang dan malang melintang di dunia Kang-ouw, bagaimana dapat menerima rasa malu dan hinaan semacam itu? Hari itu beberapa kali ia telah mendapat malu besar, dalam hatinya sudah seperti dibakar dengan bara, maka setelah mendengar ucapan pemuda itu, amarahnya semakin memuncak, sambil berpaling kepada Pho Tong ia berkata, “Kedatangan kita ke mari sebetulnya karena menghargai kepribadian Pan Loeng- hiong, tidak mempunyai hubungan apa-apa, karena orang tidak suka kita, perlu apa kita berdiam lama-lama?”

Jelas dalam perkataannya orang she Gan itu mengajak kawannya berlalu.

Pemuda pakaian berkabung itu tidak merintangi juga tidak berkata apa-apa lagi.

Pho Tong bangkit lambat-lambat ia berjalan dengan tindakan sangat lambat, agaknya tidak ingin berlalu begitu saja, tetapi ia juga tidak mau mengabaikan permintaan kawannya.

Lui Beng Wan tiba-tiba mengeluarkan suara batuk-batuk, kemudian berkata, “Jiewie tunggu sebentar, dengar dulu ada perkataanku, bagaimana?”

Im Yang Siang-ciok yang sudah berjalan ke pintu barak, ketika mendengar perkataan Lui Beng Wan, lalu berhenti.

Isterinya yang muda itu mengerutkan keningnya agaknya merasa kurang senang terhadap sikap suaminya yang dinamis itu, tetapi ia tidak melarang.

Lui Beng Wan mungkin juga tahu bahwa tindakan itu tidak disetujui oleh isterinya, maka ia tidak berani mengawasi sang isteri itu, sambil menatap wajah ImYang Siang-ciok ia berkata pula, “Jiewie pada waktu orang sedang berduka telah menimbulkan onar, sesungguhnya juga tidak dapat menyalahkan Pan Kongcu berkata demikian, apabila jiewie merasa tersinggung dan meninggalkan tempat ini, dikemudian hari pasti akan menimbulkan banyak omongan sahabat- sahabat rimba persilatan, menurut pikiran siaotee, harap jiewie pikir dulu masak-masak jangan sampai menimbulkan buah tertawaan orang lain.”

Pho Tong juga menggunakan kesempatan itu lantas berkata kepada kawannya, “Kalau saudara Lui sampai campur tangan memberi nasehat, aku pikir kita sebaiknya sabar dan berdiam dulu di sini, nanti setelah upacara sembahyang selesai, baru pergi!”

Gan Kang berpikir sejenak, kemudian mengangkat tangan memberi hormat kepada Lui Beng Wan seraya berkata, “Dengan memandang muka saudara Lui dalam ucapanmu itu tadi, kita berdua saudara walaupun tersinggung juga akan bersabar.”

Pemuda berpakaian berkabung itu tiba-tiba menghormat kepada Im Yang Siang-ciok, kemudian berkata, “Perbuatan boanpwee tadi, mungkin kurang sopan mohon maaf sebesar- besarnya dari Cianpwee berdua.”

Im Yang Siang-ciok meski orang-orang yang berpikiran cupat, tetapi dalam keadaan demikian terpaksa menindas perasaannya sendiri, mereka lalu membalas hormat dan balik kembali ke tempat masing-masing.

Pemuda berpakaian berkabung itu, kembali memberi hormat sambil menyoja, kemudian berkata kepada para tetamunya, “Bapak2, paman dan saudara2 yang terhormat, jenazah ayah segera akan dimasukkan ke dalam peti, siapa yang ingin menyaksikannya untuk penghabisan kali, silahkan ikut boanpwee ke gedung belakang.”

Tiat Bok dan Kie Bok berbangkit lebih dulu setelah mengucapkan pujian kepada Budha lalu berjalan lambat- lambat ke luar dari barak. Dua jago dari Ceng-shia-pay, Lui Beng Wan suami isteri juga segera bangkit mengikuti kedua paderi tua itu berjalan ke luar.

Im Yang Siang-ciok setelah saling berbisik sebentar, juga berdiri. Touw Thian Gouw segera mendapat firasat hawa gelagat semakin tidak baik, timbullah keheranan dalam hatinya, dengan suara perlahan ia berkata kepada Siang-koan Kie, “Mari kita juga ikut lihat!”

Siang-koan Kie yang masih belum lenyap pikiran ke- kanak2annya, kadang-kadang suka menindas perasaan sendiri.

Kini setelah mendengar perkataan Touw Thian Gouw, sudah tentu setuju seratus persen, ia berbangkit dan berkata, “Apabila saudara ingin pergi, aku juga bersedia ikut.”

Touw Thian Gouw tersenyum, ia berdiri dan berjalan di belakang Im Yang Siang-ciok, ke luar dari barak itu.

Siang-koan Kie dan Wan Hauw berjalan mengikuti di belakangnya.

Pemuda berpakaian berkabung itu agaknya tidak menduga bahwa semua orang dalam barak itu hendak pergi menyaksikan seluruhnya, sehingga ia mengerutkan keningnya.

Mungkin karena sudah terlanjur omong, ia tidak dapat menarik lagi atau mencegah keinginan para tetamunya itu, maka meskipun ia merasa tidak senang, tetapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.

Touw Thian Gouw meski dapat lihat sikap pemuda itu, tetapi ia pura-pura tidak lihat, dengan tenang ia berjalan liwat di sampingnya.

-ooodwooo-