ISMRP Jilid 04

 
Jilid 04

Siang-koan Kie lari menghampiri, mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya ke kedua tangannya, memisah dua ekor orang hutan yang sedang bergumul itu.

Dua ekor orang hutan itu telah merasakan terdorong oleh semacam kekuatan yang amat dahsyat, masing-masing mundur dua langkah dan mengawasi Siang-koan Kie, kemudian ke-dua2nya perlahan-lahan jatuh roboh di tanah.

Kiranya dua orang hutan itu bergulat sudah sekian lamanya, masing-masing kehabisan tenaga, hanya karena satu sama lain tidak ada yang man menyerah, sehingga bertahan mati2an; dalam keadaan demikian, terdorong oleh Siang-koan Kie yang menggunakan kekuatan tenaga dalam, sehingga seketika itu juga habislah tenaga mereka dan tidak mampu bertahan lebih lama lagi.

Kejadian itu merepotkan Siang-koan Kie, ia harus berusaha menolong dua ekor orang hutan yang sudah amat pajah itu, meskipun orang hutan itu mirip manusia, tetapi keadaan urat2 dan jalan darah agak berlainan dengan manusia, setelah repot hampir setengah harian, ia masih belum berhasil menyadarkan dua ekor orang hutan itu.

Terdorong oleh perasaan perikemanusian, sekalipun ia sendiri harus mengejar waktu untuk pulang ke loteng kuil tua, tetapt ia tidak dapat membiarkan dua orang hutan itu tinggal dalam keadaan demikian. Maka ia terus berusaha sekuat tenaga, achirnya dua ekor orang hutan itu perlahan-lahan bisa bangun tetapi setelah masing-masing bisa berdiri, segera lari pulang masing-masing ke tempatnya tanpa menengok kepada Siang-koan Kie lagi.

Dalan hati Siang-koan Kie merasa heran, apakah kedua ekor orang hutan itu harus bertarung sampai ada salah satu yang binasa?

Tertarik oleh perasaan ingin tahu, diam-diam ia mengikuti ke mana larinya dua orang hutan itu.

Pada saat itu tanah pegunungan timbul kabut putih, semakin lama semakin tebal, kabut itu ternyata sudah membasahkan muka dan baju Siang-koan Kie, meskipun dalam hati Siang-koan Kie rnerasa heran takut, tetapi karena melihat dua ekor orang hutan itu yang lari terbirit2 setelah roboh dalam keadaan pajah, membuat ia tiada berkesempatan untuk berpikir lagi, perasaan aneh yang ingin tahu membuat ia melupakan bahaya.

Tanah yang keadaannya mirip dengan waskom itu, luasnya hanya kira-kira dua bau saja, dua ekor orang hutan itu meskipun sudah luka parah dan tidak bisa lari cepat, tetapi dalam waktu sebentar saja sudah tiba ke satu sudut penghabisan, di antara kabut putih yang tebal, samar2 tampak lamping gunung yang berdiri menjulang ke langit.

Dalam keadaan tidak jelas bagi pandangan mata, telinga Siang-koan Kie tiba-tiba mendengar suara dua ekor orang hutan yang kecebur kedalam air, tatkala Siang-koan Kie mengawasi ke tempat itu ia hanya mendapatkan suatu pemandangan putih bagaikan asap mengepul ke atas, jikalau bukan karena dua ekor orang hutan itu ke cebur ke dalam air, sehingga membuyarkan kabut putih itu, Siang-koan Kie juga tidak dapat melihat bahwa di hadapannya itu adalah permukaan sungai, nampaknja kabut putih yang mengarungi tempat bagaikan waskom ini, timbul dari dalam air sungai itu.

Selagi otaknya masih memikirkan soal itu, dua ekor orang hutan itu sudah tertutup lagi sekujur badannya oleh kabut yang tebal itu, kalau bukan karena suara air yang terbit karena dibuat mandi oleh dua ekor orang hutan itu, ia tidak dapat menemukan dua ekor orang hutan tersebut.

Kabut sedemikian tebal, adalah pertama kali ini Siang-koan Kie menjumpainya, walaupun daya pandangan matanya cukup tajam, tetapi juga tidak berhasil menembusi kabut itu sampai sejarak tiga kaki.

Tanpa banyak berpikir lagi, Siang-koan Kie berjalan dengan tindakan lebar, sehingga dengan demkian ia juga kecebur ke dalam air sungai itu.

Berada dalam air, sekujur badannya terasa panas kiranya air sungai itu adalah yang mengeluarkan mata air panas.

Pada saat itu, ia sudah tiada mempunyai kesempatan menikmari kesegaran mandi dengan air hangat itu, dengan cepat ia naik lagi untuk melanjutkan perjalanannya mencari dua ekor orang hutan itu.

Berjalan baru beberapa langkah, tiba-tiba kakinya terperosok ke tempat yang lebih dalam sehingga badannja turut tenggelam. Dengan cepat ia mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya berusaha mengembang ke atas, kiranya air sungai itu masih terdapat bagian jang dalam sekali.

Ketika ia berada di permakaan air lagi, sudah tidak dapat melihat jejak dua ekor orang hutan itu. Dalam cemasnya, ia menggunakan kedua tangannya untuk mengayun maju ke depan tetapi akhirnya membentur sebuah batu besar. Kiranya sungai itu hanya seluas tiga kaki saja, begitu membentur batu ia segera melompat naik ke atas.

Air sungai itu sangat aneh, bagian tempat yang dalam sangat dalam sekali, tetapi bagian tempat yang dangkal hanya sebatas lutut saja, berjalan kira-kira lima langkah sudah berada di tepinya. Siang-koan Kie dengan keadaan basah kuyup, dengan sangat hati-hati berjalan menuju ke depan.

Oleh karena kabut itu terlalu tebal, orang berjalan seperti orang buta, ia tidak berani berjalan sembarangan, sehingga dua ekor orang hutan itu sudah tidak diketahui lagi ke mana larinya.

Berjalan kira-kira limabelas langkah, tiba di bawah lamping gunung ketika ia mendongak ke atas, hanya tampak kabut putih yang tebal, tidak dapat melihat benda di lamping gunung itu, ia hanya dapat meraba2 dengan tangannya, ternyata lamping itu keadaannya sangat licin, pikirnja dalam keadaan yang begin licin tidaklah mungkin dua ekor orang hutan itu dapat naik ke atas, tetapi andaikata rnereka balik pasti melalui sungai itu lagi, sekalipun tidak kelihatan tetapi kedengaran suara airnja……..

Ia berjalan sambil berpikir, tiba-tiba badannya terjerumus ke dalam suatu jalanan ke lembah pada saat itu samar2 terdengar suara orang hutan.

Kabut dalam lembah itu agak tipis, matanja dapat melihat keadaan sejarak satu tombak lebih.

Jalanan lembah itu dalamnya tidak cukup empat kaki, luasnya hanja cukup untuk dua orang dengan jalan bersama, di bagian yang dekat sungai, diputari oleh batu karang yang menonjol, sehingga memegat mengalirnya air sungai.

Siang-koan Kie diam-diam merasa heran, karena keadaan di tanah jang keadaannya mirip dengan waskom terdapat kabut demikian tebal, tetapi jalan yang menuju ke lembah ini sedemikian tipis. Selagi otaknya berpikir, tubuhnya tiba-tiba merasa dingin, sehingga badarnya menggigil kedinginan, ini agaknya ia baru tersadar kiranya dalam keadaan di dalam gua di atas gunung yang tinggi dengan sendirinya hawanya sangat dingin, dan kabut putih itu sebetulnya timbul dari hawa yang terlalu dingin itu.

Takala ia menengok ke bawah, di sana terdapat banyak batu putih yang bentuknya bagaikan telur, pamandangan itu ada sama dengan apa yang sudah pernah dialaminya sewaktu pertama kali ia tiba di tempat tersebut.

Suara otang hutan itu kedengarannja semakin lama semakin jauh dan akhirnya tidak terdengar lagi, hatinya mulai cemas, maka ia segera lari menuju ke dalam gua.

Begitu masuk ke mulut gua, di situ tidak terdapat kabut sama sekali, meski cuaca nampaknya agak gelap, tetapi daya pandangan mata Siang-koan Kie yang melebibi pandangan mata manusia biasa, dapat melihat keadaan di situ dengan nyata.

Dari dalam gua menghembas keluar angin dingin, meskipun keadaannya gelap, tetapi tidak basah.

Siang-koan Kie terus masuk ke dalam, sebentar kemudian matanya sudah dapat melihat bayangan dua ekor orang hutan.

Entah apa sebabnya dua ekor orang hutan itu bermusuhan demikian hebat, mereka berjalan sambil berkelahi, mereka saling cakar dan saling menggigit sehingga sekujur badannya penuh darah.

Siang-koan Kie tidak tega hati, maka ia segera berseru untuk mencegahnja supaya mereka jangan berkelahi lagi, tetapi dua ekor orang hutan itu sama sekali tidak mengerti ucapannya, mereka masih terus berkelahi tanpa menghiraukan seruan Siang-koan Kie. Dalam keadaan demikian, Siang-koan Kie tidak bisa tinggal diam, dengan cepat ia lari memburu, tangannya menyambar badan orang hutan yang berbulu hitam.

Orang hutan berbulu kuning mas itu ketika menampak musuhnya ditarik oleh Siang-koan Kie tiba-tiba melompat dan lari ke dalam gua.

Orang hutan berbulu hitam itu ketika melihat musuhnya lari, nampaknya sangat cemas, dengan tanpa menghiraukan luka badannja sendiri tiba-tiba merontak dengan sekuat tenaga.

Tetapi karena Siang-koan Kie menggunakan kekuatan tenaga yang cukup besar, hingga orang hutan berbulu hitam itu untuk melepaskan diri tidak berhasil sama sekali.

Di dalam keadaan putus asa orang hutan itu membuka mulut hendak menggigit lengan Siang-koan Kie.

Perbuatan itu di luar dugaan Siang-koan Kie maka terpaksa ia melepaskan tangannya.

Karena saat itu kekuatan dan kepandaian Siang-koan Kie sudah pulih kembali, sebetulnya dapat menundukan orang hutan itu dengan mudah, tetapi sebelum bertindak tiba-tiba pikirannya tergerak, sebab dua ekor orang hutan yang bertarung sedemikian sengit tanpa menghiraukan luka badannya sendiri, pasti bukan tidak ada sebabnya. Untuk mengetahui sebab2nya ia harus berusaha mengintip gerak gerik mereka.

Oleh sebenarnya, maka ia melepaskan orang hutan hitam itu, begitu terlepas dari tangannya orang hutan hitam itu segera lari mengejar musuhnja. Siang-koan Kir juga lalu melompat mengikuti jejaknya.

Melalui dua tikungan, jalanan dalam goa itu mendadak nampak sangat rendah, dan orang hutan berbulu kuning mas itu sudah tidak tampak lagi, sedangkan orang hutan berbulu hitam sedang tengkurap berjalan merankak.

Siang-koan Kie yang menyaksikan keadaan yang demikian diam-diam berpikir, jalanan ini begini sempit mau tidak mau aku harus menelat perbuatan orang hutan hitam itu, berjalan dengan merangkak baru bisa melalui jalanan ini.

Orang hutan hitam itu ternyata dapat berjalan dengan secara demikian dengan cepat sekali, bahkan tidak menghiraukan rasa sakit pada lukanya, sehingga jalanan yang dilaluinya itu banyak bekas tanda darahnya.

Sebetulnya Siang-koan Kie masih ragu2, tetapi karena melihat perbuatan orang hutan hitam itu yang sedemikian nekad, ia juga terpaksa berlaku nekad.

Jalanan pendek dan sempit itu ternyata dingin sekali karena angin dingin menghembus dari dalam.

Jalan rnerangkak kira-kira tiga tombak, tibalah di tempat yang agak luas, di situ terdengar pula suara berteriaknya orang hutan.

Siang-koan Kie hatinya merasa cemas lagi, pikirnya, “Dua ekor orang hutan itu sudah terluka parah, kalau melanjutkan pertarungannya lagi, keduanya barangkali tidak bisa hidup lagi.

Ia segera mengerahkan kekuatannya melesat keluar dari jalanan sempit itu.”

Di depan rnatanya, adalah sebuah kamar batu seluas satu tombak persegi, tingginya kira-kira tiga tombak, di tengah2 kamar itu ada sebuah kolam seluas tiga kaki persegi, tiga buah saluran air mancur terdapat di atasnya sela2 batu, yang mengalirkan air ke dalam kolam itu.

Kolam itu tidak dalam, sehingga keadaan di dasar kolam tampak dengan nyata, dalam kolam itu ada tiga ekor ikan aneh yang bersisik merah, bentuk badannya kira-kira sepanjang satu kaki, sedang berdiam di dalam tanpa bergerak, di sekitar dalam kolam itu terdapat banyak lobang2 kecil, sehingga air yang kelebihan dari kolam mengalir mengalir melalui lobang2 kecil itu, dengan demikian maka air dalam kolam itu selalu tidak bias penuh.

Meskipun airnya tidak banyak, tetapi dingin sekali, hawa dingin menghembus keluar dari kolam itu.

Kedua ekor orang hutan itu sudah bertarung lagi, mereka saling menggigit saling mencakar dan bergumulan di tanah, sehingga tanah di dalam kamar itu penuh dengan darah.

Siang-koan Kie diam-diam menghela napas, ia tidak tahu apa sebabnya bertarung begitu mati2an.

Terpaksa ia bertindak lagi untuk rnemisahkan kedua makhluk yang sedang bermusuhan itu.

Dua ekor orang hutan itu setelah dipisahkan oleh Siang- koan Kie, walaupun tadi begitu galak tetapi kini rnendadak menjadi jinak, dua pasang mata mangawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu dipejamkan.

Siang-koan Kie tahu bahwa dua ekor orang, hutan itu sudah terlalu letih, juga terlaju banyak mengeluarkan darah, sehingga nampaknya sudah tidak sanggup mempertahankan dirinya lagi.

Dalam hati Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Dua ekor orang hutan ini, semuanya aku telah berhutang budi kepada mereka, maka aku tidak boleh memilih kasih, harus kutolong semuanya.

Ia segera menolong orang hutan berbulu kuning mas diletakkan ke satu sudut, kemudian diurut badannya perlahan- lahan.”

Orang hutan itu setelah diurut sebentar, perlahan-lahan membuka matanya mengawasi Siang-koan Kie sejenak kemudian dipejamkan lagi. Siang-koan Kie setelah menyadarkan orang hutan berbulu kuning mas, lalu pergi menolong orang hutan berbulu hitam, begitu juga keadaannya dengan orang hutan berbulu hitam ini, setelah membuka matanya mengawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu dipejamkan lagi.

Selesai menolong dua ekor orang hutan itu, Siang-koan Kie berjalan ke kolam untuk membersihkan tangannya yang penuh dengan darah.

Air kolam itu menimbulkan hawa sangat dingin, yang mengherankan hawa air itu meskipun dingin tetapi tidak meresap ke tulang.

Sedangkan tiga ekor ikan aneh bersisik merah masih tetap berdiam di tempatnya, agaknya tidak pernah bergerak.

Siang-koan Kie merasa heran, mengapa tiga ekor ikan itu tidak bergerak sama sekali, sehingga dianggapnya ikannja sudah mati, tetapi tiga ekor ikan itu mulutnya nampak bergerak-gerak dan terbuka mengeluarkan buih berwarna putih.

Bentuk tiga ekor ikan itu, sesungguhnya sangat aneh, jauh berbeda dengan ikan biasa kecuali mulutnya yang bergerak, kepala dan ekornya belum pernah bergerak samasekali, Siang- koan Kie yang merasa heran itu, lalu memasukan tangannya ke dalam air, selain untuk mencuci tanganaja, juga ingin mencoba apakah perbuatannya itu dapat menghalau tiga ekor ikan yang tidak bergerak sama sekali itu.

Air itu dingin sekali, tetapi tidak menimbulkan rasa tidak enak bagi Siang-koan Kie, meskipun air itu bergolak, tetapi tiga ekor ikan itu tetap tidak bergerak.

Kejadian luar biasa ini sangat menarik perhatian Siang-koan Kie. Selagi hendak menepok air kolam itu lagi, tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki yang lari mendatanginya, kiranya orang hutan berbulu kuning mas itu sudah merayap bangun. Begitu tiba di kolam, dengan tanpa ragu2 ia segera melompat dan menyebur ke dalam kolam.

Meskipun sekujur badannja penuh darah dan luka2, tetapi ternyata masih berani maju dalam air kolam yang sangat dingin itu.

Sebentar saja air kolam yang jernih itu sudah berubah menjadi merah semuanya.

Dengan pikiran terheran2 Siang-koan Kie mengawasi orang hutan yang sedang mandi di dalam air kolam, berbagai pertanyaan timbul dalam otaknya, pikirnya, “Air ini sedemikian dingin sekalipun bagi orang yang tidak terluka juga tidak anggup bertahan tetapi orang hutan yang sekujur badannja penuh dengan luka2nya itu, bagaimana nampaknya sedikitpun tidak merasa menderita apa-apa.”

Orang hutan itu setelah membersihkan darah di sekujur badannya, lalu merayap naik ke tepi kolam, sepasang matanja mengawasi Siang-koan Kie, lalu duduk lagi di pinggir dinding kamar.

Siang-koan Kie khawatir dua orang hutan itu akan bertempur lagi, ia berdiri di-tengah2 mereka, sementara matanya mengawasi ke dalam kolam, air kolam yang tadinya penuh darah itu, dengan cepat mengalir keluar melalui lubang2 kecil di sekitar kolam itu hingga sebentar saja kotoran darah itu sudah tersapu bersih, kejadian ini sangat mengherankan, ketika matanya ditujukan kepada tiga ekor ikan aneh itu, semuanya sedang mengangapkan mulutnya, dari mulut mereka itu mengeluarkan buih berwarna putih, buih yang keluar dari mulutnya itu nampaknya mengandung kekuatan yang amat besar, sebab kotoran darah yang rnemenuhi air kolam itu, semua telah terdorong, hingga dengan cepat keluar melalui lubang2 di sekitar kolam itu.

Siang-koan Kie yang menyaksikan semua itu semakin heran, setelah bekas tanda darah itu tersapu bersih semuanya, tiga ekor ikan aneh itu kembali menutup mulutnya rapat2.

Suatu hal yang membuat Siang-koan Kie tak habis mengerti ialah tiga ekor ikan aneh itu sedikitpun tak bergetak dari tempatnya, sekalipun air kolam tadi bekas dipakai mandi oleh orang hutan berbulu kuning itu.

Ketika ia metihat keadaan orang hutan berbulu kuning itu, badannya yang bekas terluka tadi ternyata sudah mulai rapat kembali, ia segera tersadar, kiranya dua ekor orang hutan itu setelah bertarung sengit dan luka2, mereka lalu lari kemari untuk mandi, dan luka itu segera sembuh kembali.

Karena berpikir demikian maka ia segera mengangkat dirinya orang hutan hitam dan diceburkan ke dalam kolam itu.

Orang hutan hitam itu nampaknya sudah sangat parah, ia sudah tidak bisa bergerak, nampaknya juga sudah sangat susah, tetapi setelah diceburkan ke dalam kolam oleh Siang- koan Kie, segera sadar kembali, kepalanya di-gojang2kan, kemudian dimasukkan ke dalam air, sebentar kemudian ia sudah bisa merayap bangun dan duduk di lain sudut untuk beristirahat.

Siang-koan Kie benar-benar sangat heran, karena air kolam itu ternyata dapat menyembuhkan binatang yang sudah hampir mati itu, entah itu kekuatan air kolam ataukah khasiatnya tiga ekor ikan itu?

Ia adalah seorang jujur dan berbudi, sekalipun dalam hati ingin menangkap tiga ekor ikan aneh itu untuk diperiksanya, tetapi ia takut akan mengganggu khasiat ikan itu, maka ia tak berani menjamahnja.

Tiba-tiba orang hutan berbulu kuning mas itu mengeluarkan suara perlahan dan berjalan menghampirinya, kemudian menarik bajunya, setelah ditariknya berjalan mengitari kolam lalu menuju ke suatu sudut. Luka2 orang hutan berbulu hitam itu belum sembuh sama sekali, tetapi ketika menyaksikan orang hutan berbulu kuning itu menarik Siang-koan Kie berjalan ke suatu sudut ia segera mengejar tanpa menghiraukan lukanja sendiri.

Siang-koan Kie khawatir dua orang hutan itu akan berkelahi lagi, maka buru-buru mundur dua langkah untuk mencegah terjadinya perkelahian.

Orang hutan berbulu hitam itu mengeluarkan suara perlahan sambil menggoyang2kan kepalanya, meskipun Siang- koan Kie tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya tetapi agaknya tidak mengandung maksud jahat.

Dua orang hutan itu berjalan satu di muka dan satu di belakang, sedangkan Siang-koan Kie berada di tengah2 mereka.

Begitu tiba di tempat yang dituju, orang hutan berbulu hitam itu mengulurkan kedua tangannya mendorong dinding kamar, mungkin tenaganya belum pulih kembali, beberapa kali ia mendorong dinding itu tidak bergerak.

Siang-koan Kie lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, membantunya mendorong dinding itu.

Setelah mendengar suara bergeraknya dinding itu, dinding yang tadinja rapat itu tiba-tiba terbuka.

Kiranya tempat itu adalah merupakan pintu batu dari sebuah jalanan.

Begitu pintu itu terbuka, hawa dingin segera menghembus keluar, hawa itu dingin sekali, sekalipun Siang-koan Kie berkepandaian cukup tinggi, juga masih merasa menggigil.

Orang hutan berbulu kuning mas yang memimpin jalan tadi, ketika melihat pintu terbuka, ia nerobos masuk lebih dulu, selagi Siang-koan Kie merasa sangsi, orang hutan berbulu hitam itu sudah nerobos masuk melalui sampingnya, dan berjalan mengikuti orang hutan berbulu kuning mas itu. Siang-koan Kie tidak ragu2 lagi, dengan tindakan lebar ia berjalan masuk ke dalam gua itu.

Jalanan itu meskipun sangat dingin tetapi rata, dua ekor orang hutan itu berjalan cepat sekali.

Berjalan kira-kira tigapuluh tombak, tiba di bagian yang sangat dalam, jalanan itu tiba-tiba membelok ke samping.

Setelah melalui jalan tikungan itu, keadaan tiba-tiba menjadi terang benderang, kiranya di ruangan dalam gua itu terdapat banyak batu kristal atau mutiara yang tergantung sehingga mengeluarkan sinar terang bagaikan sinar pelita.

Dua ekor orang hutan itu tiba-tiba berhenti, mereka berpaling mengawasi Siang-koan Kie.

Bau obat2an yang sangat tajam menusuk hidung Siang- koan Kie, sehingga menimbulkan keheranannya, suatu pertanyaan timbul dalam hatinya, mengapa dua ekor orang hutan itu mendadak berhenti? Dan dari mana bau obat2an itu?

Meskipun pikirannja bekerja tetapi kakinya berhenti, ia berjalan melampaui dua ekor orang hutan itu terus menuju ke depan.

Bau obat2an semakin merangsang, jalanan kembali membelok ke suatu arah lain.

Melalui beberapa tikungan, keadaan tempat itu nampak lebih luas, beberapa batu kristal jang besar bertumpuk bagaikan batu bata, merupakan batu dapur, di atas tumpukan batu tumpukan kristal itu ada sebuah kuali penggorengan, di bawah kuali ada kaju bakar tetapi sudah tidak ada apinya, di dalam kuali itu terdapat benda hitam bagaikan lilin, bau obat tadi keluar dari benda hitam itu.

Jalanan di dalam goa itu sampai di situ telah berakhir, dinding di sekitar ruangan itu bersih licin bagaikan belahan batu kumala, dinding itu memancarkan sinar biru sehingga keadaan di sekitar itu terang karena sinar itu.

Dua ekor orang hutan itu mengikuti Siang-koan Kie, setelah berada di dalam kamar itu permusuhan mereka agaknya sudah lenyap satu sama lain menunjukkan perasaan duka, mereka berdiri diam sambil menyandar ke dinding.

Siang-koan Kie mengawisi keadaan di sekitarnya, tiba-tiba ia dapat melihat di suatu sudut ada terbuka satu lubang, tertarik oleh perasaan heran ia berjalan ke sudut itu.

Dua ekor orang hutan itu tiba-tiba mengeluarkan suara perlahan, perlahan-lahan menghampirinya.

Siang-koaa Kie berpaling dan mengawasi dua ekor orang hutan itu sejenak, ia dapat kenyataan mereka sedang mengawasi dirinya dengan sikap sangat aneh, maka ia harus berlaku sangat hati-hati untuk melanjutkan tindakannya.

Ia mendorong ke bagian itu, benar saja dinding itu lalu terbuka.

Ketika Siang-koan Kie memandang ke dalam, bukan kepalang terkejutnya, sekalipun ia seorang pemberani, tetapi juga segera mundur beberapa langkah, dalam keadaan gugup, tangannya menekan dinding itu lagi, dan pintu itu mendadak tertutup lagi.

Ternyata pintu batu itu adalah sebuah pintu hidup yang dapat didorong dari kedua pihak, sewaktu Siang-koan Kie mundur karena dalam keadaan gugup tangannya menoel sehingga pintu itu tertutup kembali.

Dua ekor orang hutan itu mengikuti di belakang Siang-koan Kie, ketika Siang-koan Kie mundur, kakinya sudah menginjak kaki orang hutan berbulu kuning, sehingga menyakitkan orang hutan itu.

Siang-koan Kie setelah menenangkan pikirannya kembali, baru dapat memikirkan apa jang dilihatnya dalam kamar itu, kiranya dalam kamar itu terdapat dua mayat manusia, entah sudah beberapa banyak tahun berada di dalam gua ini, dan entah bagaimana dua ekor orang hutan itu bisa datang kemari……..

Ketika ia berpaling dan mengawasi kedua ekor orang hutan itu, ternyata dua ekor orang hutan itu sedang duduk di satu sudut, kepalanya mendekam ke tanah, mata mereka ditujukan ke lobang pintu.

Siang-koan Kie tiba-tiba mendapat suatu pikiran, “Apakah mungkin mayat dua orang dalam kamar aneh ini ada hubungannya dengan dua orang hutan ini?”

Setelah berpikir demikian, ia berjalan menghampiri pintu dinding itu lagi.

Kali ini ia mendorong dengan perlahan-lahan.

Dua mayat manusia itu, yang berambut panjang dan mengenakan pakaian berwarna merah berdiri membelakangi pintu, tiba-tiba ia nampak di belakang punggung mayat orang itu, tertancap sebuah golok mas.

Sebuah tangan yang memegang gagang golok mas itu adalah tangan berbulu hitam, lengan tangannya sudah kering dan beku, orang itu ternyata seorang tinggi besar yang mengenakan pakaian berwarna biru, mukanya menghadap dinding sebelah kiri, lengan tangan kanan terulur keluar, sedang golok mas yang tergenggam oleh tangannya tepat menunjukkan gaya menikam ulu hati orang berambut panjang yang mengenakan pakaian berwarna merah itu.

Yang mengherankan ialah kedua orang itu mukanya menghadap ke dinding, sehingga tidak dapat dilihat bagaimana macamnya.

Sekitar kamar dinding itu, semua bagaikan 1apisan batu kumala yang mengeluarkan sinar ke-biru2an, semua keadaan di situ dapat dilihat dengan nyata. Warna pakaian yang dipakai oleh dua orang itu semua masih nampak seperti baru, pakaian itu agaknya yang terbuat dari bahan istimewa.

Waktu Siang-koan Kie masuk ke dalam kamar itu, dua ekor orang hutan itu juga mengikuti.

Pada saat itu pikiran Siang-koan Kie sudah tenang kembali, ia dapat memeriksa keadaan di sekitar tempat itu dengan setenang-tenangnya.

Dua mayat manusia dalam keadaan berdiri itu, dagingnya sudah kering semua, nampaknja sudah mati lama sekali, tetapi sudah tidak diketahui entah berapa tahun lamanya.

Mayat yang tinggi besar, tangan kiri dan kepalanya menempel dinding batu, sedang golok mas di tangan kanan menusuk belakang punggung orang yang memakai pakaian yang berwarna merah, dengan demikian seolah-olah menahan robohnya orang itu, maka dua mayat orang tersebut sekian tahun lamanya semua tidak roboh di tanah.

Orang yang berpakaian warna biru tubuhnya tinggi besar, sebaliknja dengan orang yang berpakaian warna merah tubuhnya kecil langsing, dari keadaan kedua mayat itu sudah dapat diketahui bahwa mayat orang jang berpakaian merah ini adalah mayat seorang perempuan.

Golok mas yang menancap di belakang punggungnya itu, memancarkan sinar gemerlapan yang menyilaukan mata.

Di atas tanah batu yang putih bersih, terdapat bekas tanda darah yang sudah kering.

Beberapa saat Siang-koan Kie memeriksa keadaan rnayat itu, dalam hati mulai mengerti, bahwa sepasang lelaki dan wanita ini, mungkin sama2 berdiam di tempat ini, entah apa sebabnya mereka saling bunuh sendiri, orang jang berpakaian biru itu agaknya terluka lebih dahulu, dan kemudian setelah perempuan itu agak lengah tiba-tiba ditikam oleh goloknya. Waktu ia memeriksa keadaan di bawah laki2 berpakaian biru itu, benar saja di bawah lantai terdapat tanda darah yang sudah kering, darah itu agaknya keluar dari mulutnya.

Waktu ia memeriksa keadaan luka orang itu kulitnya ternyata sudah kering, mulutnya masih setengah terbuka, hingga tampak giginya, keadaan itu sangat menakutkan.

Siang-koan Kie mengukur jarak dua mayat itu untuk menafsir keadaannya di waktu mereka bertempur, dalam hati merasa aneh, sebab kalau ditinjau dari keadaan dan letak berdirinya dua mayat itu kedua orang itu di masa hidupnja tentu mengenal satu sama lain, sedang pakaian kedua orang itu, juga menunjukkan, agaknya bukan orang datang dari tempat jauh yang mencari atau membalas dendam, seorang lelaki dan seorang perempuan yang hidup dua2an di dalam gua yang tersembunyi ini, tidaklah mungkin kalau satu sama lain tidak ada hubungannya, maka kedua orang ini kalau bukan sepasang kekasih, tentunya sepasang saudara.

Ia agaknya merasa bahwa dugaannya itu tidak keliru, sambil mendongak ke atas ia berkata kepada dirinya sendiri, “Dua orang ini kalau bukan merupakan sepasang kekasih, tentunya kakak beradik, tetapi mengapa saling bunuh di tempat yang sangat tersembunyi ini?”

Ini merupakan suatu pertanyaan yang sulit untuk dijawab, di tempat yang jarang didatangi oleh rnanusia ini, bagaimana rasa sunyinya berdiam di dalam goa ini……..

Matanya kembali menyusuri setiap sudut di dalam kamar itu.

Kamar yang luasnya tidak lebih dari dua tombak persegi itu, dikelilingi oleh dinding batu kumala jang petih dan memancarkan sinar ke-biru2an, sedikit tanda dapat dilihat dengan nyata tetapi ia mencari beberapa lama, tidak terdapat tandaiyang mencurigakan.  Semula ia menduga pertikaian sehingga saling bunuh kedua orang itu, mungkin menemukan semacam benda yang sangat berharga, siapa tahu setelah dicarinya ke setiap pelosok ternyata tidak menemukan barang yang mencurigakan.

Ketika ia menengok ke arah dua ekor orang hutan itu, ternyata dua ekor orang hutan itu masing-masing berlutut di hadapan kedua mayat itu, orang hutan berbulu kuning mas berlutut di hadapan mayat orang perempuan berpakatan merah, sedangkan orang hutan berbulu hitam berlutut di hadapan mayat orang lelaki berpakaian biru.

Mata kedua orang hutan itu semua mengucurkan air mata.

Kini sadarlah Siang-koan Kie apa sebabnya dua orang hutan bermusuhan begitu hebat, kiranya masing-masing ada majikannya, karena melihat majikan mereka saling bunuh sendiri sehingga timbullah demdam permusuhan antara mereka sendiri, perbuatan dua ekor orang hutan itu memang sangat goblok tetapi kesetiaan hati terhadap majikan mereka sesungguhnya patut dipuji.

Ia mengamat-amati perempuan berbaju merah itu, ternyata sudah menempel kepada dinding batu, sehingga tidak dapat dilihat dengan nyata. Selagi hendak mengulurkan tangannya meraba badan mayat perempuan itu, tiba-tiba terdengar suara bunyi orang hutan, kemudian menubruk padanja. Siang-koan Kie melompat ke samping. Orang hutan yang menubruknya tadi, ternyata adalah orang hutan berbulu kuning mas itu, dengan air mata bercucuran orang hutan itu menghadang di hadapan mayat perempuan itu.

Jelaslah sudah bahwa perbuatannya itu hendak melarang Siang-koan Kie menjamah badan majikannya, setelah tidak berhasil merintangnya, ia terpaksa melindungi dan menghadang di hadapannya. Siang-koan Kie diam-diam menganggukkan kepala, dalam hatinya berpikir, “Orang ini entah sudah meninggal beberapa tahun lamanya, tetapi kesetiaan hati binatang ini kepada majikannya masih tetap tidak berobah, nampaknya sekalipun hanya binatang saja tetapi kesetiaannya lebih tebal dari pada manusia.”

Kini ia mengarahkan perhatiannya kepada mayat laki2 yang berpakaian biru itu.

Orang hutan berbulu hitam itu, begitu melihat perhatian Siang-koan Kie ditujukan kepada mayat orang laki2 itu, telah mengira akan berlaku tidak baik terhadap majikannya, maka ia segera bangkit dan rnenghalang di hadapan mayat laki2 itu.

Dalam hati Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Jikalau tidak diperiksa dengan teliti keadaan kedua mayat ini susah untuk mengetahui asal usulnya kedua orang ini, tetapi hendak melakukan pemeriksaan itu lebih dulu harus rnenundukkan dua orang hutan ini. Jika mengandalkan kepandaianku, untuk menundukkan dua binatang ini, sekalipun tidak susah, tetapi mereka begitu setia terhadap majikan masing-masing jikalau mereka timbul salah paham dan mengira aku hendak mengambil barang dari badan mereka, mereka pasti akan menghalangi terus usahanya, hal ini sesungguhnya sangat berabe.”

Lama ia memikirkan suatu cara untuk menghadapi dua binatang itu sehingga terpaksa diam berdiri saja.

Dua binatang itu masing-masing menjaga dan melindungi majikannya, matanya mengawasi Siang-koan Kie tanpa berkedip, mulutnya sebentar2 mengeluarkan geraman perlahan-lahan.

Lama dalam keadaan demikian, orang hutan berbulu kuning mas itu sekonyong2 melompat menubruk orang hutan berbulu hitam, sehingga dua binatang itu mulai bergumulan lagi. Siang-koan Kie berpikir hendak memisah lagi, tetapi ia berpikir lain, karena air dalam kolam itu dapat menyembuhkan luka, sekalipun dua binatang itu terluka parah, asal mencebur ke dalam air segera sembuh kembali, maka ia membiarkan dua binatang itu bergumulan terus, bahkan memancing mereka keluar dari kamar, supaya ia mendapat kesempatan untuk memeriksa keadaan kedua mayat itu.

Kedua orang hutan itu meskipun cerdik, tetapi biar bagaimana tidak secerdik manusia, mereka sedang bertarung sengit, sudah tentu tidak dapat memikirkan soal lainnya.

Siang-koan Kie menggunakan kesempatan balik lagi ke dalam kamar, ia tutup pintunya kemudian menghormat terhadap dua mayat itu, sedang mulutnya mendoa, “Boanpwee Siang-koan Kie, ingin memindahkan jenazah kedua locianpwee untuk mengetahui riwayat dan asal usul locianpwee berdua.

Selesai mendoa, dengan tindakan sangat hati-hati ia memindahkan mayat laki2 berbaju biru itu.

Dua mayat itu meski tidak rusak karena hawa dingin dalam gua itu, tetapi karena sudah terlalu lama meninggal, kulit dan daging sekujur tubuhnya sudah menjadi kering, maka begitu dipindah, dengan sendirinya tidak dapat berdiri lagi seperti semula, golok mas di tangannya terjatuh di tanah.

Mayat perempuan itu karena tertunjang oleh golok mas itu, sehingga masih dalam keadaan berdiri, tetapi ini setelah golok mas jatuh, kekuatannya menunjang telah lenyap, dengan sendirinya mayatnya juga jatuh.

Tetapi Siang-koan Kie bertindak gesit, dengan tangan kiri ia menunjang mayat lelaki itu sedang tangan kanan dengan cepat menyanggap mayat perempuan itu supaya jangan jatuh.

Kedua mayat itu diletakkan di tanah. Keadaan dua mayat, ternyata sudah sukar dikenalnya, hanya alis dan rambutnya yang utuh. Siang-koan Kie meraba pakaian dua mayat itu, bukan saja masih belum hancur bahkan masih tetap seperti keadaan baru, hal ini sangat mengherankan Siang-koan Kie.

Karena dalam kamar itu kecuali dua mayat manusia, hanya terdapat sebilah golok mas, kalau ingin mengetahui riwayat kedua mayat itu, mau tidak mau harus memeriksa kedua mayat itu.

Ia memungut golok mas yang jatuh di tanah dan diperiksanya dengan seksama.

Golok mas itu panjang kira-kira hampir dua kaki sinarnya gemerlapan, gagangnya juga terbuat dari mas. Golok itu lebar dan tebal, tetapi bagian ujungnya tajam sekali.

Siang-koan Kie memeriksa beberapa lama masih tidak dapat menemukan tanda apa-apa, ia letakkan golok di samping, ia mengawasi mayat lelaki.

Laki2 itu di masa hidupnja pasti berperawakkan tegap dan tinggi besar, sekalipun kulit dan kakinya sudah kering, tetapi dari tulangnya dapat dibuktikan jauh lebih tinggi dan besar dari Siang-koan Kie sendiri.

Siang-koan Kie megulur tangannya perlahan-lahan membuka pakaian, di bagian pinggangnya ada terdapat kulit bersisik hitam, agaknya digunakan sebagai tempat golok mas itu.

Kecuali itu, tidak terdapat apa-apa lagi.

-odwo-

Bab 14

KULIT tempat golok itu melekat erat di pinggang mayat laki2 itu, kecuali dipotong dengan pisau tajam harus ditarik secara paksa, tetapi dengan demikian tentu akan merusak tulang mayat itu.

Ia memeriksa sejenak, perlahan-lahan meletakkan mayat itu di tanah lagi, ia jongkok di dekat mayat perempuan, selagi hendak membukakan baju bagian atasnya, tiba-tiba berpikir, “Meskipun hanya satu rangka mayat saja, tetapi biar bagaimana antara laki2 dan perempuan ada perbedaanya bagaimana aku boleh membuka pakaiannya?”

Tetapi apabila ia melepaskan niatnya, tidak akan melakukan penyelidikkan, hatinya merasa penasaran sehingga sesaat lamanya hatinya bimbang.

Di dalam kamar ia dengar suara cecuitan dari dua ekor orang hutan itu yang agaknya sedang bertarung sengit sekali.

Beberapa saat lamanya Siang-koan Kie berdiam, ia tetah mengambil keputusan tidak akan memeriksa mayat perempuan itu, selagi hendak meninggalkan mayat itu, matanya telah dapat melihat badan mayat perempuan itu ada sebuah bungkusan yang menonjol tinggi pada badannya.

Penemuan ini sangat merarik perhatian Siang-koan Kie, meski ia tadi sudah berkeputusan tidak akan memeriksa mayat perempuan itu, tetapi perasaan ingin tahu menggoda pikirannya, sehingga hatinya menjadi bimbang lagi.

Lama ia berputar dengan pikiran sendiri, beberapa kali hendak meraba badan mayat perempuan itu tapi setiap menyentuh badan mayat itu, ia menarik kembali tangannya.

Akhirnya ia mendapat satu pikiran, ia hendak mengambil bungkusan di badan mayat itu sambil melengoskan kepala, setelah diperiksanya akan dikembalikan lagi.

Ia segera melakukan perbuatannya itu dan berhasil mengambil bungkusan yang ternyata merupakan satu kantong yang terbuat dari benang sutera mas. Kantong itu tidak cukup satu kaki lebarnya, di dalamnya terisi barang yang menonjol, entah barang apa.

Ia membulak balik kantong itu tetapi tidak terdapat di mana letak alat untuk membukanya, ia merasa heran, karena kantong yang tak ada bagian mulutnya, dengan cara bagaimana memasukkan barang ke dalamnya.

Ia hanya dapat meraba2 dari luar, benda2 dalam kantong itu ada yang keras dan juga ada yang lunak, benda2 itu agaknya tak sedikit jumlahnya.

Ia membuat main kantong yang sangat menarik itu, tetapi ia tidak berdaya untuk membukanya, karena bentuk kantong yang sangat indah itu ia sangat sayang merusaknya.

Akhirnya ia hendak membuat sedikit lubang pada kantong itu, ia coba mengorek dengan jari tangannya, tetapi kantong itu kuat sekali, ia tidak berhasil melubanginya.

Ia mencoba beberapa kali, tetapi usahanya itu selalu gagal, kantong itu sedikitpun tak terdapat tanda2 rusak ataupun cacat.

Sebagai seorang jujur, sekalipun hatinya merasa tertarik oleh benda itu, tetapi ia tak tega hati merusak barang yang indah itu, maka akhirnya ia hanya bisa menghela napas mengawasi kantong itu, kemudian meletakkan lagi ke samping mayat perempuan itu.

Warna mas kantong kecil itu ternyata serupa benar dengan warna pakaian yang dipakai oleh mayat perempuan itu.

Pikiran lain terlintas dalam pikiran Siang-koan Kie, ia agak heran bahan pakaian yang demikian ulet, bagaimana dapat ditembusi oleh golok mas itu?

Tertarik oleh pikiran itu, ia lalu memungut lagi golok mas yang terletak di tanah itu. Kini ia memeriksanya dengan seksama, di bagian gagang golok itu ternyata terdapat ukiran huruf kecil yang berbunyi, “Golok mas ini dapat menembusi apapun juga.”

Huruf itu sedemikian kecil kalau tidak hati-hati tidak mudah dilihatnya.

Kini Siang-koan Kie mencoba golok mas itu, ia tekan bagian ujungnya ke atas batu yang keras, ternyata sedemikian mudah ujung golok itu masuk ke dalam batu yang keras, bagaikan memotong tahu.

Siang-koan Kie terkejut ia sungguh tidak menduga bahwa golok mas itu mempunyai ketajaman demikian rupa.

Siang-koan Kie ingin menggunakan golok mas itu untuk membuka kantong mas, tetapi selagi hendak menusukkan ujung golok ke atas kantong mas, tiba-tiba ditariknya kembali, ia letakan golok itu ke tanah.

Dalam hatinya berpikir kalau aku membuka kantong mas ini bukankah itu berarti sudah mencuri lihat barang simpanan orang lain, perempuan ini meski sudah lama meninggal, tetapi barang ini tetap menjadi kepunyaannya.

Ia membatalkan niatnya untuk memeriksa benda dalam kantong itu dan meletakkan kembali di samping mayat perempuan itu.

Matanya kini diarahkan kembali kepada golok mas, hatinya merasa bimbang, ia tahu bahwa golok mas itu adalah satu golok pusaka, senjata demikian tajam, sesungguhnya mempunyai daya penarik sangat besar bagi orang rimba persilatan. Ia merasa suka dengan golok itu tetapi kalau diambil begitu saja, itu berarti suatu perbuatan mencuri, apalagi kalau mengambil goloknya sudah tentu berikut tempatnya, dan kalau mengambil tempat golok itu mungkin akan merusak tubuh mayat 1aki2 itu. Lama berpikir ia tidak tahu bagaimana harus berbuat. Sementara itu di lain kamar sudah tidak terdengar lagi suara orang hutan yang sedang bertarung sengit itu.

Siang-koan Kie meletakkan golok mas di samping mayat laki itu, ia mendorong pintu kamar, segera dapat melihat dua binatang itu sudah rebah di tepi kolam, ke-dua2nya penuh darah, agaknya sudah pingsan.

Siang-koan Kie menghela napas menyaksikan keadaan kedua binatang itu, ia berjongkok meraba hidung kedua binatang itu ternyata masih bisa bernapas.

Ia berpikir sejenak, kemudian mendukung diri orang hutan berbulu hitam dan diceburkan ke dalam kolam.

Orang hutan berbulu hitam itu begitu berada dalam kolam segera sadar lagi, ia bermandian dengan air kolam yang dingin untuk membersihkan darahnya, kemudian merayap naik lagi setelah mengawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu lari keluar.

Setelah orang hutan hitam itu berlalu, Siang-koan Kie lalu mengangkat tubuh orang hutan berbulu kuning mas dan dilemparkan ke dalam air kolam, tidak lama kemudian binatang itu sudah sadar, setelah membersihkan darah di badannya, lalu merayap naik, dan setelah mengawasi Siang- koan Kie juga berjalan keluar.

Siang-koan Kie mengikuti di belakang orang hutan yang berbulu kuning mas itu, berada di luar gua ia telah mengambil keputusan, apabila kedua binatang itu bertarung lagi, ia tepaksa menggunakan kepandaiannya untuk menundukkan mereka.

Pada saat itu keadaan di luar masih tertutup oleh kabut putih yang tebal, tetapi orang hutan berbulu kuning mas itu agaknya sudah hafal sekali keadaan tempat itu, ia berjalan melalui sungai dan menerobos di antara kabut, sedangkan Siang-koan Kie terus mengikuti di belakang dirinya dan keluar dari tempat yang bentuknya mirip dengan waskom itu. Keluar dari tempat tersebut, tampak tiga ekor orang hutan kecil sedang menantikan, begitu melihat orang hutan berbulu mas itu keluar bersama2 Siang-koan Kie, mereka melompat2 kegirangan menyambut kedatangannya.

Setelah orang hutan berbulu kuning mas itu berlalu dengan tiga ekor orang hutan kecil ia baru balik kembali ke rumah panggung di atas pohon itu.

Perempuan setengah tua itu nampaknya sudah lama menantikannya, ia juga sudah sedia hidangan daging rusa, begitu melihat Siang-koan Kie kembali, ia merasa girang, katanya sambil tertawa, “Luka siangkong sudah sembuh, entah kapan akan berangkat, aku sudah bicara dengan Hauw- jie, ia suka sekali ikut siangkong pergi.”

“Aku akan segera barangkat, tetapi ada suatu hal yang masih menjadi pikiranku, harap nyonya suka memberi bantuan,” jawab Siang-koan Kie sambil menikmati makanannya.

Perempuan setengah tua itu nampaknya sangat heran, ia berkata, “Siangkong ada urusan apa, katakan saja terus terang, kalau aku dapat melakukan, aku pasti akan melakukan dengan sepenuh tenaga, tidak nanti akan mengecewakan Siangkong.”

“Aku hanya minta supaya nyonya mengendalikan suamimu, jangan membiarkannya bertarung dengan orang hutan berbulu kuning mas itu.

Perempuan setengah tua itu nampaknya berpikir keras, sekonyong2 air matanya mengalir keluar, ia lalu berkata, “Siangkong boleh berlalu dengan hati lega, aku nanti akan berusaha sedapat mungkin untuk memenuhi keinginan Siangkong ini………”

Siang-koan Kie yang mendengar ucapan nyonya itu, agaknya mendapat firasat bahwa nyonya itu semula ingin mengakhiri penghidupannya setelah anaknya pergi, tetapi karena permintaan Siang-koan Kie itu, ia terpaksa menjaga suaminya.

Tetapi Siang-koan Kie tidak menyatakan apa-apa ia berkata dengan sungguh-sungguh, “Urusan ini kuserahkan kepada nyonya, nanti setelah aku berlalu dari tempat ini, mungkin masih akan tinggal beberapa waktu di dekat sini, apabila ada kesempatan, aku nanti akan balik bersama Hauw-jie, uutuk menengok nyonya.”

“Aku sebagai perempuan yang bersuami binatang, sebetulnya tidak ingin berjumpa dengan orang luar lagi. Siangkong tidak datang menengok tidak halangan bagiku, andaikata kau mau datang juga harus datang seorang diri saja.”

“Aku akan ingat pesan nyonya ini, dan sekarang aku kira tinggal waktunya aku minta diri.”

“Nanti aku panggil Hauw-jie biar ia yang bertindak sebagai penunjuk jalan!”

Siang-koan Kie sebetulnya ingin pulang dulu ke kuil tua, untuk menjumpai orang tua peniup seruling itu, setelah itu baru boleh kembali mengajak Wan Hauw pergi bersama2, tetapi setelah mendengar ucapan nyonya itu, ia merasa tidak enak untuk menolak, maka ia berkata, “Entah di mana saudara Wan berada sekarang?”

“Ia tadi masih berada di sini, sekarang entah ke mana perginya, mungki di-dekat2 ini saja sebentar aku coba panggil.”

Nyonya itu itu berjalan keluar memanggil anaknya. Sebentar kemudian terdengar suara jawaban Wan Hauw,

yang dengan cepatnya lari mendatanginya.

Wan Hauw bergerak sangat lincah, dengan cepat sekali ia melayang melalui dahan2 pohon, kemudian melompat masuk ke dalam rumahnya, sementara di tangannya membawa banyak daun pohon.

Siang-koan Kie yang menyaksikan itu tertawa geli entah dari mana Wan Hauw mendapatkan daun itu, ia sudah merangkaikan satu sama lain dengan rotan diikatkan kepada pinggangnya untuk menutupi badannya.

Nyonya itu ketika menyaksikan dandanan Wan Hauw, lalu berkata kepada Siang-koan Kie, “Di tempat pegunungan seperti ini, susah didapatkan bahan tenun dan jarum, sehingga tidak dapat membuat pakaian untuknya.”

“Itu tidak menjadi soal, biar bagairnara tempat ini toh tidak pernah didatangi manusia, dengan barang apa saja, untuk menutupi badannya, bukan serupa saja?”

“Walaupun demikian tetapi sejak dilahirkan Hauw-jie belurn pernah memakai pakaian, hari ini mendadak timbul pirkiran demikian, sehingga keadaannya mirip dengan manusia purbakala.”

“Inilah kecerdikannya saudara Wan, dengan tiba-tiba ia dapat pikiran menggunakan daun pohon untuk menutupi badannya.”

Wan Hauw yang berpakaian daun pohon, sengaja menggoyang2kan badannya beberapa kali agaknya merasa senang dengan pujian Siang-koan Kie, ia memandang pemuda itu sebentar kemudian memandang kepada ibunya.

Sang ibu dengan air mata berlinang2 dan suara terisak-isak berkara, “Siangkong boleh membawa Hauw-jie pergi, jangan ingat kembali menengok aku, hati Hauw-jie mendapat pertolongan Siangkong, supaya ia berkenalan dengan dunia luar juga merupakan peruntungannya! Budi Siangkong ini, dalam hidupku ini mungkin tidak bisa membalas!”

Siang-koan Kie adalah seorang gagah, ia sebetulnya paling takut melihat orang nangis, tetapi pada saat itu menyaksikan sikap sungguh-sungguh dan luhur yang ditujukan oleh nyonya itu, juga merasa sangat terharu.

Setelah berdiam beberapa lama, ia memberi hormat dan berkata kepada nyonya itu, “Harap nyonya menjaga diri baik- baik aku sekarang hendak berangkat.”

Perempuan itu mengusap air matanya yang mengalir keluar dan berkata kepada anaknya, “Hauw-jie! Kau boleh ikut pergi bersama Siangkong ini, untuk selanjutnya dalam segala hal kau harus dengar Siangkong!”

Wan Hauw cecuitan entah apa yang dikatakan, kemudian menarik baju Siang-koan Kie, lalu melompat turun dari rumahnya.

Siang-koan Kie melambai2kan tangan kepada nyonya itu berjalan mengikuti Wan Hauw.

Keluar dari mulut lembah yang tertutup oleh kabut tebal, dan melalui sebuah bukit ia berjalan menyusuri jalan bukit, tibalah di satu tebing yang nnenonjol, di bawah tebing itu adalah sebuah jalanan air terapit oleh lamping gunung.

Jalanan air itu terdapat banyak tanaman bunga dan rumput, meskipun tempat itu sangat berbahaya, tetapi masih ada tempat yang digunakan untuk tancap kaki, bagai seorang yang berkepandaian tinggi untuk naik ke tempat tersebut bukanlah soal susah.

Tetapi jalanan itu berliku2 menanjak ke atas entah berapa panjang dan berapa jauhnya, Wan Hauw yang berjalan di muka, menggunakan kaki dan tangannya, sedingkan ia terus mengikuti di belakangnya.

Berjalan kira-kira satu jam, baru mencapai puncak gunung.

Siang-koan Kie memeriksa keadaan di sekitarnya, ia mencoba mencari arah yang harus dituju, lalu bersama2 Wan Hauw berjalan turun, sepanjang jalan ia meninggalkan tanda supaya dikemudian hari apabila mendapat kesempatan datang lagi, dapat mengenali jalannya.

Turun dari atas puncak gunung yang tinggi itu, ia harus mendaki gunung yang lain lagi. Kala itu matahari sudah condong ke barat, dari jauh sudah tampak bangunan kuil tua itu.

Siang-koan Kie menarik napas panjang, ia berpaling dan mengawasi Wan Hauw, sementara dalam hatinya berpikir, “Adat orang tua peniup seruling itu sangat aneh, sebelum aku menjelaskan kepadanya, kalau aku membawa Wan Hauw menjumpai dirinya, apakah ia mau mengerti, andaikata ia tidak senang, ini benar-benar sangat berabe ”

Oleh karenanya, maka hatinya mulai bimbang. Lama ia berdiri bingung memikirkan soal itu.

Wan Hauw yang menyaksikan Siang-koan Kie berhenti dan tidak berjalan lagi, dianggapnya sedang menikmati pemandangan di waktu senja, dengan tidak berkata apa-apa ia berdiri di belakang Siang-koan Kie, kedua matanya dibuka lebar memandang keadaan di sekitar bawah kakinya.

Sejak dilahirkan, kebanyakan ia bergaul dengan orang hutan atau binatang lain, satu2nya manusia yang bergaul dengannya, adalah ibunya sendiri yang telah melahirkan dirinya, sebagai mahluk berayah orang hutan dan beribu manusia, membuat dirinya mempunyai darah campuran dua mahluk yang berlainan jenisnya, ia mempunyai sifat keras galak bagaikan ayahnya, tetapi juga mempunyai sifat baik dan cerdas bagaikan ibunya.

Siang-koan Kie merupakan orang kedua yang menjadi kawan dalam hidupnya, di waktu hendak pergi, ibunya telah pesan wanti2, supaja ia mendengarkan kata Siang-koan Kie, dalam segala hal ia harus belajar perbuatan Siang-koan Kie, perkataan ibunya itu berkesan dalam sekali dalam hati sanubarinya, maka sewaktu melihat Siang-koan Kie berhenti ia juga turut berhenti sambil meniru sikap Siang-koan Kie yang menikmati pemandangan alam di sekitar tempat itu.

Siang-koan Kie yang sangat cerdik, setelah berpikir lama ia segera mengerti, pikirnya, “Ya, aku pasti ingin belajar kepandaiannya, meskipun aku belum pernah memikirkan hal itu tetapi tanpa kusadari, aku sudah timbul pikiran untuk mempelajari kepandaian orang tua itu, oleh karena pikiran itu hingga aku timbul merasa takut dan homat kepada dirinya… ”

Berpikir demikian, ia tertawa geli sendiri, pikirnya lagi, “Nampaknya memang benar bahwa dalam hati manusia tidak boleh timbul pikiran serakah atau tamak, apabila timbul pikiran tamak dengan sendirinya merasa takut perbuatan yang diketahui atau timbul rasa hormat terhadap seorang, aku sudah menerima baik permintaan nyonya itu hedak membimbing Wan Hauw sebaik-baiknya, andaikata orang tua peniup seruling itu ia tidak menginginkan Wan Hauw tinggal bersama-sama, aku harus segera meninggalkan kuil itu, sementara hutang budiku kepadanya, aku akan berusaha untuk membalas budi itu.”

Karena hatinya sudah mengambil keputusan, maka ia merasa lega dengan tindakan lebar ia berjalan menuju ke kuil tua itu.

Wan Hauw yang sudah menantikan beberapa saat lamanya ketika melihat Siang-koan Kie berjalan ia segera mengikuti.

Kuil tua itu terpisah hanya sejarak empat atau lima pal saja, maka sebentar saja Siang-koan Kie sudah tiba di kuil tua itu.

Siang-koan Kie yang sudah mengenal baik keadaan kuil tua itu segera melompat ke atas genteng langsung menuju ke loteng kediaman orang tua peniup seruling itu.

Wan Hauw meskipun belum pernah melatih ilmu meringankan tubuh, tetapi bakat pembawaan dari alam, apalagi sejak kecil berlari2an dan naik turun di atas gunung dan di dalam jurang maka kepandaiannya meringankan tubuh tidak kalah dengan Siang-koan Kie, ia tetap mengikuti di belakang Siang-koan Kie, dengan mudah dan enaknya mencapai ke loteng itu.

Dekat tempat loteng kediaman orang tua itu Siang-koan Kie menghentikan kakinya, ia berpaling dan berkata kepada Wan Hauw, “Kau di sini tunggu aku sebentar, aku akan menjumpai seorang locianpwee lebih dahulu nanti aku panggil kau lagi… ”

Wan Hauw yang mendengar itu Nampak tercengang dan berdiri bingung.

Siang-koan Kie baru ingat bahwa Wan Hauw belum dapat memahami ucapan manusia seluruhnya, ia buru-buru mengunakan tangannya untuk menerangkan maksudnya, Wan Hauw yang memperhatikan gerak tangan itu, lalu tertawa dan berjongkok.

Siang-koan Kie berkata lagi dengan suara perlahan, “Kau di sini saja menunggu aku.”

Kali ini Wan Hauw agaknya sudah mengerti, ia segera mengangguk2an kepalanya dan menyahut, “Aku sudah tahu!”

Siang-koan Kie tersenyum, ia melompat melesat ke loteng kediaman orang tua itu.

Tetapi daun jendela loteng itu ternyata tertutup rapat, keadaan di dalam sunyi senyap, Siang-koan Kie yang menyaksikan kesunyian itu terperanjat.

Tiba-tiba ia teringat bahwa dalam waktu satu hari itu, ia tidak pernah mendengar suara seruling orang tua aneh itu.

Dengan hati-hati ia menghampiri jendela, dengan perlahan mengetuk dan berkata, “Apakah locianpwee sedang beristirahat? Boanpwee Siang-koan Kie, datang untuk mengucapkan terima kasih atas budi pertolonganmu.” Ia menunggu beberapa saat lamanya, dalam loteng itu masih sunyi tidak terdengar jawaban.

Keadaan di luar dugaan ini, sangat mengejutkan hati Siang- koan Kie, ia berdiri bingung tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Dalam otaknya tiba-tiba terbayang pemandangan yang sangat menakutkan, perbuatan ganas orang yang berbaju hijau itu terbayang kembali sehingga dalam hatinya berpikir, “Apakah orang berbaju hijau itu balik kembali mencelakakan diri orang tua ini… ”

Tetapi kemudian ia berpikir pula, “Andaikata orang berbaju hijau itu balik kembali dan membunuh orang tua itu, tidak mungkin ia menutup rapat semua daun jendela loteng ini.

Ia lalu menganggap bahwa orang tua itu mungkin sedang bersemedi sehingga tidak menjawab perkataannya.”

Ia menunggu lagi sekian lama, kemudian mengetuk jendela sampai tiga kali, tetapi di dalam tetap sunyi tidak mendapat jawaban apa-apa.

Siang-koan Kie tidak sabar lagi, ia membuat lubang kecil dengan tangannya pada jendela itu lalu mengincer ke dalam.

Orang tua itu ternyata rebah tertelentang di lantai, tangannya memegang erat serulingnya itu.

Bukan kepalang terkerjutnya Siang-koan Kie menyaksikan pemandangan itu, ia dobrak daun jendela dan melompat masuk ke dalam, ia berjongkok di dekat orang tua itu untuk memeriksa pernapasannya.

Orang tua itu napasnya lemah sekali, agaknya seperti tidur nyenyak, tetapi juga seperti terluka parah, ia lalu meletakkan jari tangannya ke bagian jalan darah Than kie hiat di badan orang tua itu. Tiba-tiba ia merasakan tempat jalan darah itu keras bagaikan besi, sehingga diam-diam merasa heran, pikirnya, “Bagaimana dengan orang tua ini tidak seperti tidur juga tidak seperti orang terluka.

Beberapa saat ia merasa bersangsi, kemudian mengulur tangannya memegang pergelangan tangan orang tua itu, ia merasakan tangan orang tua itu dingin sekali tetapi keras, bagaikan sepotong besi.”

Kejadian serupa ini, adalah kejadian aneh yang ia belum pernah dialaminya. Kalau dilihat napasnya yang masih belum putus, tidak mungkin orang tua itu meninggal dunia, tetapi kalau mau dikatakan luka parah, bagaimana badannya keras dan dingin? Maka untuk sesaat lamanya ia tidak tahu bagaimana harus berbuat.

Tiba-tiba ia mendengar suara Wan Hauw yang agaknya sudah tidak sabar menunggu demikian lama.

Siang-koan Kie meletakkan tangan orang tua itu, berjalan menuju kepintu jendela lalu melambaikan tangannya memanggil Wan Hauw.

Wan Hauw masih tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak, ketika mendengar suara panggilan Siang-koan Kie, ia lalu lompat masuk ke dalam loteng. Ia mengawasi orang tua yang rebah tertelentang, kemudian mengawasi Siang-koan Kie sikapnya menunjukkan heran2an kemudian dengan bahasanya yang kaku tetapi masih dapat didengar ia bertanya, “Apakah orang ini sudah mati?”

“Dia telah tidur, kita jangan ganggu, duduk di sini menunggu sebentar!” jawab Siang-koan Kie sambil menggoyang2kan kepala kemudian duduk di samping orang tua itu.

Wan Haaw ingat pesan ibunya, ia harus belajar setiap gerakan Siang-koan maka ketika menyaksikan sikap Siang- koan Kie, ia juga meniru sikap itu duduk di lantai dekat orang tua itu.

Lama Siang-koan Kie menunggu tetapi ia sedikitpun tidak bergerak.

Matahari sudah selam ke barat, hari mulai gelap.

Siang-koan Kie menghela napas perlahan, ia coba merebahkan kepalanya di dada orang toa itu, ternyata jantungnya masih berdenyut tetapi semakin lama semakin lemah, napasnya juga hampir putus, menyaksikan keadaan demikian terkejutlah ia, diam-diam lalu berpikir, “Nampaknya ia benar-benar terluka, kalau aku menunggu terus secara demikian, ini bukan suatu cara yang baik, meskipun aku tahu tidak dapat menolong jiwanya, tetapi juga tidak dapat membiarkan mati karena luka2nya, setidak2nya aku harus berusaha.”

Ia segera angkat dan mendudukan orang tua itu, tangannya dengan perlahan menotok jalan darah Beng-bun- hiat di belakang punggungnya.

Tetapi jarinya dirasakan seperti menotok besi keras, semua jalan darah orang tua itu agaknya sudah tertutup rapat semuanya, sehingga orang tidak mudah mencari letaknya.

Tiba-tiba sebilah pedang pendek terjatuh di lantai, tetapi tangan orang tua itu masih memegang erat serulingnya.

Siang-koan Kie meletakkan lagi orang tua itu di atas lantai, ia mengambil pedang pendek itu dan mengeluarkau dari kerangkatnya, ia merasakan hawa dingin menghembus keluar dari pedang itu, sinar kegelapan hampir menerangi keadaan kamar yang gelap itu, Siang-koan Kie diam-diam memuji, “Pedang yang bagus sekali.”

Ia memeriksa pedang itu, bentuk pedang itu ternyata cuma kira-kira satu kaki panjangnya walaupun pedang itu pendek, tetapi sinarnya gemerlapan. Siang-koan Kie walaupun merasa senang dengan pedang itu, tetapi setelah memeriksa sejenak, ia memasukkan kembali ke dalam sarungnya, ia meletakkan pedang itu di samping kepala si orang tua, ia memeriksa lagi pernapasan oraug tua itu ternyata semakin lemah, bahkan sebentar2 terputus. Ia menarik napas, dengan tanpa dirasa dua tetes air mata mengalir keluar, dengan sikapnya yang menghormat sekali ia menunduk kepada orang tua itu seraya berkata, “Budi locianpwee besar sekali, boanpwee masih belum bisa membalas, tetapi kini sakit locianpwee begini keras, boanpwee sangat menyesal tidak mrempunyai cukup tenaga untuk member pertolongan… ”

Berkata pada akhirnya kedua pipinya sudah basah dengan air mata.

Lama dalam keadaan kesedihan, Siang-koan Kie baru teringat kepada Wan Hauw, maka lalu berpaling dan berkata kepadanya, “Saudara Wan mari kita mencari tempat untuk mengubur orang tua ini.”

Meskipun Wan Hauw tidak mengerti seluruhnya apa yang dikatakan oleh Siang-koan Kie tetapi melihat Siang-koan Kie berdiri, ia juga turut berdiri kemudian mengikuti di belakangnya dan melompat keluar dari jendela.

Di pekarangan kuil yang sunyi sepi, Siang-koan Kie mencari tempat yang dianggap baik, ia bersama Wan Hauw mulai membersihkan rumput2nya dan menggali tanahnya.

Wan Hauw ternyata pandai sekali dalam hal menggali tanah, dengan kuku jarinya yang tajam dan keras bagaikan baja serta gerakannya yang gesit, sebentar saja sudah berhasil membuat lubang yang cukup dalam.

Selesai membuat lubaang, Siang-koan Kie balik lagi ke atas loteng.

Ia memeriksa napas orang tua itu, ternyata semakin lemah, tangan dan tubuhnya mulai dingin dan kaku. Siang-koan Kie sangat pilu, air matanya mengalir lagi tetapi napas orang tua itu sekalipun lemah tetapi masih belum putus.

Siang-koan Kie dan Wan Hauw duduk di samping menantikan dengan tenang, mereka siap, apabila orang tua itu sudah meninggal dunia, segera akan dikuburkan.

Tetapi menunggu sampai semalaman suntuk napas orang tua itu masih tetap dalam keadaan yang sama.

Langit di sebelah timur sudah mulai narnpak terang, ini berarti bahwa malam sudah akan berganti siang.

Mata Siang-koan Kie nampak merah dan bendul, selama semalam suntuk itu, meskipun ia tidak menangis keras, tetapi air matanya terus mengalir keluar tak henti2nya.

Tatkala hari mulai terang napas orang tua itu sudah berhenti. Pedang mas memancarkan sinarnya yang gemerlapan. Siang-koan Kie sambil mengambil sarung pedang itu dimasukan ke dalam badan orang tua itu, kemudian ia mengangkat jenasahnya, hendak dikubur dalam lubang yang sudah dibuatnya, siapa tahu tubuh itu baru saja diangkatnya, empat butir mutiara sebesar buah langkeng, jatuh berhamburan di tanah, mutiara itu mengeluarkan sinarnya yang indah, setiap butir merupakan benda yang jarang terdapat di dalam dunia, bisa diduga betapa besar harganya barang itu.

Wan Hauw segera memungutnya dan diberikan kepada Siang-koan Kie.

Ia sejak dilahirkan belum pernah menyaksikan mutiara, tidak tahu bahwa barang itu adalah barang yang sangat berharga, dianggapnya barang bandar itu seperti batu biasa yang banyak tertdapat di tempatnya, maka sedikitpun tak merasa tetarik. Sebaliknya dengan Siang-koan Kie, ia adalah seorang yang mengenali barang2 berharga, ia sendiri segera dapat mengetahui bahwa butir mutiara itu semua merupakan barang2 berharga yang susah dicari dalam dunia, dalam hatinya berpikir, “Orang tua ini juga sangat aneh, dengan membawa barang mutiara ini, tetapi mengapa harus menyiksa diri dalam kuil tua yang sepi sunyi ini, andaikata hendak melatih kepandaiannya, di mana saja toh serupa saja, perlu apa harus memilih tempat ini?”

Sementara itu empat butir mutiara itu sudah dimasukan kembali ke dalam saku siorang tua, kemudian berkata dengan suara perlahan, “Locianpwee, harap memaafkan perbuatan boanpwee yang kurang sopan, di dalam kuil tua dan daerah pegunungan yang sepi ini, sebetulnya sangat sukar mencari peti, maka boanpwee terpaksa mengubur jenazah iocianpwee secara sederhana.

Aeh! budi locianpwee yang begitu besar, boanpwee masih belum dapat membalasnya tidak disangka locianpwee sudah pergi untuk selama2nya.

Berkata sampai di situ, tiba-tiba ia teringat sesuatu lalu diletakkannya jenazah orang tua itu ke satu sudut, kemudian ia berlutut di hadapannya dan bedoa.

“Locianpwee di masa hidup ingin menerima aku sebagai murid, tetapi sebelum boanpwee menerangkan kepada suhu boanpwee, tidak berani mengangkat suhu lagi, sekarang meskipun locianpwee sudah meninggal, tetapi boanpwee tetap sebagai muridmu, untuk memenuhi keinginan locianpwee di masa masih hidup… ”

Ia menarik napas panjang, sebelum ia bangkit, ia mengucapkan perkataan, “Suhu… ”

Orang tua itu tiba-tiba membuka lebar matanya dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Bocah! Ucapan yang sudah keluar dari mulut, tidak boleh ditarik kembali!” Siang-koan Kie terperanjat, sebentar ia merasa bingung dan terheran2, lama ia baru berkata, “Lho! Apakah locianpwee belum meninggal?”

“Bagaimana kau, masih berbahasakan locianpwee, tadi baru saja kau melakukan upacara pengangkatan suhu, bagamana sebentar saja sudah lupa?”

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Tadi aku mengangkatnya sebagai guru, memang terbit dalam hati keinginanku sendiri, sebagai seorang laki2 setiap kata yang dikeluarkan seharusnya tidak boleh ditarik kembali.”

Oleh karenanya maka ia segera berkata, “Suhu, mengapa mendadak hidup 1agi?”

Kedua tangan orang tua itu menekan dinding, badannya lompat melesat kepinggir jendela, setelah duduk lalu berkata, “Apakah kau percaya bahwa orang yang sudah mati bisa hidup kembali?”

“Meskipun boanpwee tidak percaya, tetapi hari ini menyaksikan kejadian atas diri suhu yang sudah mati tetapi bisa hidup kembali, sebetulnya tidak habis dimengerti.”

“Jangan berkata kau tidak percaja sekalipun aku sendiri juga tidak percaya bahwa orang yang mati bisa hidup kembali, aku memang sama sekali belum pernah mati!”

Siang-koan Kie terkejut, katanya, “Suhu telah menutup pernapasan, sehingga napasnya terhenti, itu masih dapat dimengerti tetapi seluruh jalan darah sekujur badannya semua tertutup, sekujur badan juga mulai kaku dan dingin, itu apa sebabnya?”

“Dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam aku menutup semua jalan darah, kemudian dengan menggunakan ilmu, aku menutup jalan pernapasanku, dengan demikian sudah tentu tubuhku menjadi kaku dan dingin, kalau tidak begitu bagaimana aku dapat mengelabui matamu?” Siang-koan Kie terperanjat, katanya, “Kiranya kepandaian seorang yang sudah mencapai ketarap yang tinggi, banyak sekali faedahnya.

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak katanya, “Meskipun dengan akal aku mengambil kau sebagai murid, tetapi aku juga ada ingatan hendak membunuh kau, jikalau tadi kau timbul pikiran tamak, sekarang kau sudah terkubur dalam lobang yang kau gali sendiri!”

“Jikalau muridmu tadi benar-benar mempunyai pikiran jahat, hendak merampas pedang dan mutiara suhu, bisa saja dengan tiba-tiba muridmu menggunakan pedang pendek itu untuk menghabiskan jiwa suhu, suhu yang sedang berlagak mati mungkin agak sulit untuk menghindarkan diri dari serangan yang mendadak itu.”

“Aku ada orang macam apa bagaimana kau dapat bokong secara mudah, asal kau timbul ingatan jahat, sudah tentu segara kuketahui dari gerak gerikmu, maka sebelum kau bertindak aku sudah bertindak lebih dulu menotok jalan darah kematianmu.

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Orang tua ini pernah menolong jiwaku, aku berguru kepadanya juga atas kemauanku sendiri sudah tentu tidak bisa kutarik kembali, lagi pula dengan kepandaianku sekarang ini, bagiku juga susah untuk menuntut balas sakit hati suhu, apa salahnya aku berguru kepadanya… ”

Orang tua itu ketika menyaksikan sikap Siang-koan Kie, sekonyong2 memperdengarkan suara tertawa dingin, kemudian berkata, “Bocah, kau sedang berpikir apa? Kau harus tahu bahwa aku bukan seorang yang dapat kau permainkan, andaikata kau tidak sejujurnya mengangkat aku sebagai guru kemudian mempelajari ilmu silat kepadaku, lalu kau hendak menghianatiku, ini berarti aku mencari mati sendiri.” “Muridmu sudah berguru kepada suhu, sudah tentu.menganggap suhu scbagai ganti orang tua sendiri, bagaimana boleh timbul pikiran jahat?”

Orang tua itu tiba-tiba melototkan matanya, dengan sinar mata tajam menatap wajah Siang-koan Kie kemudian berkata dengan nada suara dingin, “Di dalam dunia Kang-ouw banyak manusia jahat dan berhati palsu bagaimana aku bisa tahu kalau perkatanmu keluar dari hati sejujurnya?”

Wajah Siang-koan Kie berubah, matanya mengawasi ke atas dan berkata sendiri, “Apa bila muridmu mengandung pikiran jahat dan hati palsu, biarlah Tuhan mengutuk diriku.”

Wan Hauw yang menyaksikan dari tadi, meski tidak mengerti seluruhnya apa yang dibicarakan mereka, tetapi ia dapat melihat sikap Siang-koan Kie telah berobah, tiba-tiba ia menggeram, matanya mengawasi orang tua itu, asal orang tua itu bertindak terhadap Siang-koan Kie, ia segera menyerangnya.

Orang tua itu tiba-tiba menghela napas, kemudian berkata, “Aku sebetulnya sudah merasa takut karena sering tertipu oleh manusai, maka terhadap siapapun aku selalu berlaku sangat hati-hati… ”

Ia berdiam sejenak, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata pula, Kita meskipun sudah sebagai guru dengan murid, tetapi aku sudah tidak mempunyai keinginan minta kepadamu untuk melakukan pekerjaan bagiku, aku hanya ingin menurunkan kepandaianku kepadamu agar supaya ilmu kepandaianku yang kudapat dengan susah payah ini, dapat kuturunkan kepada orang yang berbakat untuk mendapat warisan itu, ini saja sudah cukup.

“Muridmu sudah menjadi murid yang mewarisi kepandaianmu, dengan sendirinya harus turut memikul tanggung jawab semua dendam dalam perguruan ini.” “Apakah ucapanmu ini terbit dari hati sanubarimu yang sejujurnya?”

“Bagaimana murid berani permainkan suhu.”

Orang tua itu berpikir sejenak, tiba-tiba menggeleng2kan kepalanya dan berkata, “Sudahlah! sekalipun kau nanti dapat mewarisi seluruh kepandaianku, barangkali juga masih bukan tandingan orang yang menjadi musuhku.”

“Kalau dalam satu tahun teecu tidak dapat melawan, akan melatih lagi satu tahun, sepuluh tahun masih belum sanggup melawan, akan melatih lagi sepuluh tahun, pada suatu hari pasti dapat menandingi orang itu.

“Jikalau seumur hidupmu, kau masih belum mampu melawan kepandainnya, bukankah ini akan berarti seumur hidupmu kau sudah susah untuk balas dendam sakit hatiku?”

Siang-koan Kie tercengang, ia berkata, “Tentang ini…   ”

Orang tua itu tiba-tiba berkata dengan sungguh-sungguh, “Orang belajar ilmu silat, terutama harus berhati jujur dan bersungguh-sungguh, sedikitpun tidak boleh ada pikiran lain dalam hatinya… ”

Siang-koan melihat orang tua itu tiba-tiba menguraikan kuncinya orang belajar ilmu silat, buru-buru menyingkirkan semua pikiran yang timbul dalam hatinya, ia mendengarkan dengan tekun.

Orang tua itu berkata pula, “Tiga faktor penting bagi orang yang mempelajari ilmu silat, ialah melatih kekuatan tenaga, melatih hawa pernapasan dan melatih keterampilan, kepandaian ilmu silat meskipun tidak ada batasnya, tetapi semua tidak lebih daripada tiga faktor itu.”

Siang-koan Kie setelah berpikir sejenak lalu berkata, “Memang benar setiap kepandaian dari golongan manapun, barangkali tidak luput dari tiga faktor utama ini.” “Akan tetapi dalam tiga faktor ini mengandung banyak segi arti dan perobahannya, kedengarannya sangat sederhana tetapi hendak menjalani tiga faktor ini dengan sempurna, bukanlah itu suatu pekerjaan yang mudah, sekalipun kau menggunakan waktu seumur hidupmu juga sulit untuk memahirkan seluruhnya, apalagi setelah melatih kekuatan tenaga, melatih hawa pernapasan dan melatih keterampilan, jikalau kita secara tersendiri2 akan menjadi golongan sendiri melatih serentak akan menjadi gagal seluruhnya. Semua orang dalam rimba persilatan meskipun tahu tiga faktor ini merupakan inti sarinya pelajaran ilmu silat, tetapi semua tidak berdaya mempelajarinya dengan sebaik-baiknya, maka diwaktu melatih pelajarannya tidak dapat mengatur dengan sebaik-baiknya, sehingga itu berarti membuang waktu saja, sesudah agak berhasil dengan latihannya, barulah perlahan- lahan mengerti sendiri dan dengan sendirinya dapat digunakan menurut sesuka hatinya. Dengan berdasarkan tiga faktor yang terlatih baik dapat dipergunakan untuk menghadapi musuhnya, tetapi sebagian besar hanya tahu kepandaiannya sendiri sudah dapat kemajuan dan sudah cukup digunakan untuk menjaga diri dalam menghadapi musuhnya, tetapi masih susah untuk mengerti dengan cara bagaimana menggunakan tiga faktor itu menjadi satu… ”

-odwo-

Bab 15

ORANG TUA ITU menguraikan caranya orang belajar ilmu silat, kedengarannya sangat sederhana, tetapi sebetulnya mengandung arti sangat penting, semakin dipikir ia semakin merasa bahwa penjelasan orang tua itu merupakan suatu penjelasan yang mungkin belum pernah dipahami setiap orang sehingga rasa hormatnya semakin tebal.

Orang tua itu mendengar pujian Siang-koan Kie nampaknya sangat gembira, ia berkata sambil tertawa, “Jikalau dalam dunia rimba persilatan pada dewasa ini ada orang yang bisa membagi tiga faktor itu menjadi tiga bagian, dan mendapat kemajuan dengan serentak apakah mendapat hasilnya.”

Siang-koan Kie berpikir lama baru menjawab, “Mungkin bisa, tetapi tiga faktor itu meskipun dibagi menjadi tiga bagian, tetapi di antara tiga faktor itu masih sulit dipisahkan hubungannya satu sama lain, sebab tenaga merupakan soal pokok, hawa pernapasan merupakan inti dan keterampilan atau kecerdasan merupakan pelaksanaannya, jikalau tiga faktor itu dijadikan satu, barulah menjadi sempurna.”

Orang tua itu bersenyum dan berkata, “Nampaknya kau punya kecerdasan yang melebihi manusia biasa, tetapi tiga faktor yang tergabung menjadi satu itu kedengarannya susah dibagi dan digunakan sendiri2, namun demikian bukanlah merupakan suatu hal yang mutlak yang tidak dapat dibagi, jikalau tiga faktor itu bisa menjadi suatu ilmu tersendiri2 dan setelah masing-masing sudah mahir demikian rupa, lalu digabung menjadi satu untuk menghadapi musuh akan lebih hebat dan ampuh, di waktu melatih kita harus mencari jalan yang sederhana, tetapi kalau kita gunakan harus dari sederhana dibikin demikian rumit supaya membingungkan musuh.”

“Keterangan suhu ini, membuat teecu segera tetsadar sedalam2nya sehingga membawa faedah yang tidak sekikit.”

Orang tua itu membuka pintu jendela, ia dongakan kepala mengawasi angkasa, kemudian ia berkata dengan tenang, “Uraian ini meskipun kedengarannya sederhana dan gampang dimengerti, tetapi untuk mewujudkan itu aku sudah menggunakan waktu beberapa puluh tahun lamanya, kecuali ilmu kepandaian yang tersendiri, semua kepandaian ilmu silat di dalam dunia, barangkali tidak terlepas dari tiga faktor penting ini… ”

Ia berdiam sejenak, tiba-tiba berpaling dan mengawasi Siang-koan Kie, kemudian berkata pula, “Kau sudah menjadi muridku, maka pekerjaan selanjutnya, harus cara dengan begaimana aku menurunkan kepandaianku kepadamu, betul tidak?”

“Suhu menurunkan kepandaian kepada teecu, teecu seharusnya juga melakukan sedikit upacara bagi suhu… ”

Orang tua itu menggeleng2kan kepala dan berkata sambil tertawa, “Peraturan upacara ini sudah tidak usah saja.”

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Ia ingin menurunkan kepandaiannya kepadaku, sudah tentu ingin aku menuntut balas dendam untuknya, sekarang barangkali ingin mendengar penjelasanku untuk melakukan pekerjaan itu.”

Karena berpikir demikian, maka ia segera berkata, “Apabila teecu berhasil mempelajari ilmu kepandaian suhu, sudah tentu akan menuntut… ”

Orang tua itu menggoyang2kan tangannya, mencegah Siang-koan Kie melanjutkan bicaranya, kemudian berkata, “Aku tadi sudah kata kau tidak perlu melakukan apa-apa untukku lagi, apalagi kau juga belum tentu dapat menuntut balas dendamku ini.”

“Ini aneh, suhu tidak ingin aku melakukan kewajiban, mengapa hendak mengajar kepandaian kepadaku?”

“Aku pikir seorang harus mengawani aku di dalam kuil tua yang sunyi sepi ini selama delapan tahun atau sepuluh tahun, sudah tentu bisa menimbulkan perasaan kesepian orang itu.

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Ucapan ini memang benar, ayah bundaku masih hidup, suhuku sendiri masih belum tahu di mana sekarang berada dan bagaimana nasibnya, jikalau dalarn waktu sepuluh tahun aku tidak boleh meninggalkan tempat ini setindak saja, bukankah ini merupakan suatu kejadian yang menyulitkan?”

Maka ia lalu berkata, “Ayah bunda teecu masih hidup semuanya, jikalau suhu dalam waktu sepuluh tahun tidak mengijinkan teecu turun gunung untuk menengok ayah bunda teecu, sekalipun pelajaran ilmu silat tinggi sekali, teecu juga tidak dapat mempelajarinya dengan tekun hati.”

“Ilmu silat yang akan diturunkan kepadamu, walaupun bukan kepandaian luar biasa, tetapi buat rimba persilatan dewasa ini, juga sudah terhitung suatu kepandaian yang jarang ada dalam hidupku, kecuali burung dan binatang buas, aku sudah tidak mendapat kawan lain lagi, juga belum pernah menerima seorang muridpun juga tentang kepandaianku ini, sedikit sekali yang tahu, kalau aku tidak menurunkannya kepada orang lain masih tidak apa, tetapi kalau aku akan turunkan kepada muridku, setidak2nya harus dapat mewarisi enam atau tujuh bagian dari seluruh kepandaianku barulah tidak mengecewakan pengharapanku, aku sudah hitung waktu untuk mempelajari kepandaian itu, sedikitnya harus menggunakan waktu delapan tahun, masa delapan tahun meski tidak terlalu panjang tetapi dalam penghidupan manusia juga terhitung tidak pendek lagi.”

Siang-koan Kie setelah berpikir sebentar lalu berkata, “Asal suhu mengijinkan teecu tiap dua tahun pulang ke rumah untuk menengok orang tua, sekalipun belajar sepulah tahun, bagi teecu tidak merasa keberatan apa-apa.”

Orang tua itu menggeleng2kan kepala dan berkata, “Kepandaian ini, semua merupakan pelajaran yang mengandung kekuatan yang amat dahsyat kecuali perobahan dalam ilmu pukulan tangan kosong dengan senjata dalam setiap gerakan, untuk menghadapi masih mengandung berbagai tipu muslihat tersendiri, apabila belum berhasil mempelajarinya dengan sempurna, harus berlalu bukan saja akan tersia2 semua pelajaran yang sudah dipelajarinya, juga hagimu sangat berbahaya karena kau akan mudah terluka… ”

Siang-koan Kie diam saja, sementara dalam hatinya berpikir, “Mana ada kejadian semacam ini di mana ada kepandaian ilmu silat yang tidak dapat dipelajari, kalau kita belajar satu tahun seharusnya mendapat kemajuan satu tahun, bagaimana harus belajar berpuluh-puluh tahun baru berhasil… ”

Selagi masih berpikir, orang tua itu lalu berpaling kepadanya, sambil menatap wajah Siang-koan Kie ia berkata, “Sekarang ada dua macam cara, kau harus pilih salah satu di antaranya, jikalau dua macam cara ini kau tidak setuju semua, maka kau tidak usah mempelajari ilmu silat ini lagi.”

“Entah cara bagaimana, teecu ingin dengar dulu.”

Orang tua itu menghela napas pelahan, kemudian berkata, “Cara ke satu, sudah tentu menurut cara biasa, kau harus berdiam di dalam kuil tua ini selama delapan tahun, kau tidak boleh meninggalkan tempat ini, kecuali melatih ilmu serangan tangan kosong dan senjata tajam, kau harus duduk bersemedi untuk melatih pernapasan dan berbagai ilmu kepandaian tinggi.”

Siang-koan Kie berpikir sejenak lalu berkata, “Ajah bundaku masih hidup semuanya, usia mereka sudah lanjut semuanya, apabila selama waktu delapan tahun teecu tidak mendapat kesempatan untuk menengok… ”

Orang tua itu tanpa menantikan sampai habis pembicaraan Siang-koan Kie, sudah memotong, “Kalau begitu terpaksa menggunakan cara yang kedua.”

Siang-koan Kie diam-diam merasa heran, apakah belajar ilmu silat ada jalan yang lebih cepat?

Orang tua itu menampak Siang-koan Kie menunjukkan ke- heran2an, lalu berkata sambil tersenyum, “Dalam segala hal selalu ada jalan yang ditempuh, begitupun dengan kepandaian ilmu silat, hanya jalan yang singkat itu kebanyakan sangat berbahaya dan lebih sulit dari jalan biasa, jikalau kau ingin mempelajari ilmu kepandaian supaya lekas berhasil dengan menempuh yang tidak sewajarnya, maka kau harus menempuh jalan yang tidak sewajarnya, jaitu kau harus menempuh jalan yang paling berbahaya, bahkan masih membutuhkan tiga syarat penting, kesatu bakat, kedua guru yang pandai, dan yang ketiga tekad yang tidak takut bahaya atau kesulitan, ke tiga syarat satupun tidak boleh kurang.”

“Suhu anggap bagaimana dengan teecu, apakah memenuhi syarat untuk mencapai jalan sinkat itu?”

Orang tua itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu berkata sambil tertawa, “Tulang-tulangmu sangat luar biasa, kau mempunyai dasar baik untuk belajar ilmu silat, aku seorang tua ini, sekalipun tidak terhitung guru terbaik nomor satu, tetapi masih bolehlah termasuk golongan baik juga, hal yang lainnya, tergantung dirimu sendiri, apa kau mempunyai tekad bulat atau sanggup menerima segala penderitaan atau tidak.”

“Teecu yakin sanggup tahan.”

“Jalannya darah dan urat2 nadi manusia semua menurut jalan biasa, jikalau orang ingin mencari jalan singkat itu berarti melanggar ketentuan alam, selama beberapa tahun ini meskipun aku juga dapat memikirkan banyak hal, tetapi aku belum pernah mencobanya, maka tindakan ini akan berhasil ataukah gagal, besar sekali hubungannya, sekali gagal, sekalipun kau tidak mati juga akan cacad seumur hidupmu; andaikata segalanya berjalan lancar, tetapi kau harus menderita kesengsaraan selama tiga bulan dari akibat mengalirnya darahmu yang berlawanan dari biasa.”

Siang-koan Kie terperanjat, diam-diam batinnya berpikir, “Darah dalam setiap manusia, mengalirnya menurut cara yang tertentu, kalau harus diputar balik dan mengalir berlawanan arahnya penderitaan ini pasti hebat… ”

Orang tua itu berkata pula sambil menghela napas panjang, “Menurut peraturan biasa, setiap mempelajari kepandaian ilmu silat harus menurut peraturan setarap demi setarap, supaya kekuatan tenaga dalam mendapat kemajuan setingkat demi setingkat, dengan demikian kekuatan itu akan dapat disesuaikan dengan keadaan badannya, jikalau hanya mengetahui pelajarannya, sedangkan kekuatan tenaga dalam dan gerak badannya tidak disesuaikan, maka orang itu tidak akan berhasil mangeluarkan kepandaiannya.”

“Dengan caraku yang singkat ini, waktu delapan tahun yang kau harus butuhkan untuk menyempurnakan kepandaianmu bisa diperpendek jadi tiga tahun, tetapi kau harus mengalami satu masa penderitaan karena mengalirnya darah didalam tubuhmu yang akan berlawanan dari biasa waktu itu kira-kira tiga bulan, kau harus pikir masak2 sendiri, walaupun aku sebagai suhumu, tetapi aku tidak suka memaksa kau berada dalam kesulitan.”

Sang-koan Kie diam-diam berpikir, “Orang ini dapat rnenyembuhkan luka tenaga dalamku dengan hanya irama serulingnya, maka tinggi kepandaiannya sesungguhnya jarang ada, kalau aku sudah bertekad menjadi murid dengan sendirinya harus dapat mempelajari sebaik-baiknya, jikalau aku takut menderita selamanya akan tidak berhasil mendapatkan kepandaiannya.”

Karena berpikir demikian maka timbullah tekadnya yang bulat untuk menerima penderitaan itu. Ia lalu berkata sambil tertawa nyaring, “Jangan kata rnenderita hanya tiga bulan saja, sekalipun lebih lama lagi teecu yakin masih sanggup menahannya.”

Orang tua itu berkata dengan sikap sungguh-sungguh, “Dalam waktu tiga bulan kau tidak boleh melangkah keluar setindak saja dari loteng ini, sekalipun aku juga tidak boleh bergerak sembarangan, barang2 untuk keperluan makan dan minum, harus sedia cukup, kau boleh mencari dulu barang2 makanan yang bisa tahan lama, boleh kau taruh di loteng ini untuk keperluan makanmu.” Siang-koan Kie berpaling kepada Wan Hauw kemudian ia berkata, “Apakah selama tiga bulan ini, saudara Wan ini boleh berdiam di sini mengawasi kita?”

Orang tua itu berpikir sejenak, lalu berkata, “Asal ia bisa dengar katamu, tidak halangan berdiam di sini.”

Siang-koan Kie lalu memanggil Wan Hauw ke sampingnya, ia menceritakan dengan perkataan dan dibantu dengan tangan, minta ia selama waktu tiga bulan selanjutnya, setiap hari harus mencari barang makanan.

Wan Hauw meskipun mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi masih banyak yang tidak mengerti, maka Siang-koan Kie harus menjelaskan berulang2, sampai menggunakan waktu satu jam lebih baru dapat dimengerti oleh Wan Hauw. Bahkan dari pembicaraan ini Wan Hauw banyak tambahan banyak kata2 bahasa manusia.

Orang tua itu selama itu terus mendengarkan pembicaraan dua kawan itu, sehingga pembicaraan dua orang itu selesai baru berkata, “Selama tiga bulan ini, kecuali selama waktu dua jam setiap hari, kau kebanyakan berada dalam keadaan setengah pingsan, tetapi waktu dua jam itu justru ada waktunya untukku bersemedi, kecuali selama waktu dua jam itu, meskipun aku akan menggunakan kekuatan tenaga

dalam membantu mengalirnya jalan darahmu, juga masih cukup untuk menghadapi serangan apabila ada musuh dating, tetapi selama dua jam itu, aku tidak boleh diganggu sedikitpun juga, kau beri tahu kepada saudara Wan itu, selama waktu dua jam ini, merupakan saat2 yang sangat penting, sebaiknya ia bisa berada di dalam loteng ini untuk melindungi kita jikalau ada bahaya.”

Jikalau teecu berada dalam keadaan sadar, entah mempunyai kekuatan tenaga untuk melawan musuh atau tidak?” Orang tua itu menggeleng2kan kepala dan berkata, “Tidak bisa, selama tiga bulan ini, bukan saja kau tidak boleh mengeluarkan tenaga menghadapi lawan, tetapi juga tidak boleh sembarangan marah tidak perduli melihat kejadian bagaimana, kau harus selalu tenang dan sabar seperti tidak terjadi apa-apa, hal ini bangat penting, kau harus ingat baik- baik.”

Siang-koan Kie menyampaikan maksud orang tua itu kepada Wan Hauw.

Wan Hauw sambil mengangguk2kan kepala, ia berkata dengan bahasa manusia, “Aku akan ingat semua.”

Tiba-tiba ia lompat melesat melalui jendela, sebentar sudah menghilang.

Kira-kira setengah jam kemudian ia balik lagi ke dalam loteng itu, tangannya banyak membawa buah-buahan dan seekor kelinci, nampaknya cukup untuk makan dua hari bagi tiga orang.

Orang tua itu mengajari Wan Hauw bagaimana caranya memanggang daging kelinci itu, tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan keras, “Di luar jendela ada orang.”

Sang-koan Kie terkejut, ketika ia mendongakkan kepala menengok keluar jendela, ia hanya dapat melihat sinar matahari, tetapi tidak nampak bayangan seorang manusiapun juga.

Selagi dalam hati merasa heran, tiba-tiba terdengar pula suara orang tua itu, “Orang di belakang jendela.”

Siang-koan Kie berpaling, tiba-tiba merasa ada angin menyambar ke arah jalan darah di atas kepalanya, kemudian badannya menggigil sebentar jatuh pingsan.

Dalam keadaan antara sadar dan tak sadar badannya merasa seperti terjatuh ke suatu jurang yang sangat dalam, semua isi perutnya seperti tersedot oleh semacam kekuatan, bagian2 jalan darah sekujur badannya seperti terlepas bagaikan per lonceng yang telah putus, rasanya seperti ada ribuan binatang semut yang merayap masuk dan bergerak masuk ke-urat2 dan tulang-tulangnya, penderitaan itu hebat sekali……..

Beberapa kali ia ingin membuka mulutnya tetapi mulut itu seperti tak mau mendengar kata lagi, meskipun ia sudah menggunakan seluruh kekuatan tenaga, masih juga tak dapat mengeluarkan suara sedikitpun juga……..

Sementara itu telinganya tiba-tiba mendengar suara seruling yang sangat merdu, irama itu bagaikan irama yang mengandung daya tidur, dalam penderitaan yang sangat hebat itu, telinganya yang mendengarkan irama seruling yang amat merdu dan mengasyikkan itu, pikirannya merasa agak tenang.

Pada saat itu darah dalam sekujur badannya mulai mengalir ke arah kebalikannya, meskipun matanya terbuka, tetapi penglihatannya sudah kabur segala benda tak dapat dilihat dengan nyata.

Entah berapa lama telah berlalu, rasa sakit itu tiba-tiba berhenti, pikirannya jernih kembali, benda2 yang di depan matanya dapat dilihat kembali dengan nyata.

Ketika ia menengok ke arah orang tua itu, ternyata sedang duduk bersemedi sambil menundukan kepala dan memejamkan mata.

Siang-koan Kie menghela napas perlahan, ia berkata pada dirinya sendiri, “Kiranya darah yang mengalir ke arah yang berlawanan ini ternyata demikian hebat penderitaannya, jikalau tidak dibantu dengan irama seruling itu aku tak sanggup bertahan.”

Ia mencoba menggerakkan kaki dan tangannya ingin duduk dan mengatur pernapasannya, tak disangka semua tulang- tulang sekujur badannya seolah-olah terlepas dari tempat masing-masing, badannya merasa lemas tidak bertenaga, jangankan untuk duduk, sedangkan bergerak saja sudah merasa susah.

Tiba-tiba mukanya terasa dingin, sebuah tangan yang penuh bulu diulurkan ke mukanya telinganya mendengar suara Wan Hauw yang berkata setengah bahasa binatang setengah bahasa manusia, “Kau makanlah buah ini.”

Siang-koan Kie mengawasi Wan Hauw, ternyata di tangannya membawa sebuah buah alkohol yang besar diletakkan ke mulutnya.

Perutunya tiba-tiba merasa lapar, ia membuka mulut, tetapi giginya nampak susah digerakkan baru makan dua kali giginya sudah dirasakan sakit sehingga tidak bisa makan lagi.

Sekalipun ia hanya bicara beberapa kata saja dengan Wan Hauw, tetapi sudah merasa letih sekali terpaksa ia berdiam lagi, hanya dalam hati mengerti, bahwa pada saat itu sedikit gerakan saja yang menimpa dirinya segera membuat jiwanya akan melayang.

Satu jam dilewatkan dengan cepat, orang tua itu setelah bersemedi selama satu jam itu, tiba-tiba membuka matanya mengawasi dirinya, kemudian berkata dengan suara perlahan, “Apakah kau tahan dengan penderitaan itu? Jikalau kau tidak tahan, sekarang ini masih keburu, liwat enam jam lagi setelah melalui proses yang kedua, bagian2 urat dan jalan darah akan mulai menyesuaikan diri dengan darah yang mengalirnya berlawanan arahnya itu, sehingga perlahan-lahan mulai berubah, kalau kau ingin kembali ke asalnya lagi sudah terlambat!”

Dengan susah payah Siang-koan Kie menganggukkan kepala, hanya dari sinar matanya menunjukkan keteguhan hatinya.

Orang tua itu tersenyum, lalu menotok jalan darah ‘Hian- kie-hiat’ di badan Siang-koan Kie. Sekujur badan Siang-koan Kie merasa kesemutan, kemudian pingsan lagi.

Sang waktu berlalu sangat cepat sekali, dengan tidak dirasa dua bulan sudah berlalu.

Selama enam puluh hari itu, Siang-koan Kie kecuali pada jam2 yang tertentu berada dalam keadaan jernih pikirannya, sebagian besar waktunya berada dalam keadaan setengah pingsan. Tetapi kesengsaraan yang timbul dari akibat berlawanan mengalirnya jalan darah dalam tubuhnya, semakin lama semakin berkurang. Urat2 nadi dan jalan darah dalam tubuhnya, agaknya sudah mulai dapat menyesuaikan keadaan yang baru dalam perobahan mengalirnya darah.

Hari itu, di waktu tengah hari, setelah Siang-koan Kie sadar, oranq tua itu tiba-tiba berkata, “Proses pertama telah berhasil dengan baik, mulai sore nanti, aku hendak menyalurkan kekuatan tenaga dalamku, untuk membantu kekuatan tenaga dalammu. Satu bulan lagi kau boleh melakukan sendiri latihanmu menurut ajaranku; setengah tahun kemudian sudah harus melatih ilmu pelajaran serangan tangan dan senjata tajam. Nampaknya tidak usah tiga tahun, kau sudah akan berhasil menyelesaikan pelajaranmu dan boleh berlalu dari sini.”

“Budi suhu yang sudah memberi didikan teecu tidak akan melupakan ” berkata Siang-koan Kie sambil tersenynm.

“Kau menjadi muridku, dan aku menurunkan kepandaianku kepadamu, ini adalah suatu hal sudah semestinya. Sebaliknya aku dapat membuktikan penemuanku tentang mempelajari ilmu silat dengan jalan singkat di atas dirimu, aku merasa sangat girang.”

Sejenak ia berdiam, kemudian ia berkata pula, “Jikalau eksperimenku menurunkan kepandaianku atas dirimu kali ini berhasil dengan baik dalam rimba persilatan, akan merupakan suatu kejadian yang sangat menggemparkan… ” Ucapannya itu meski belum selesai, tetapi mendadak diam, kepalanya mendongak ke atas, matanya mengawasi langit di luar jendela, bibirnya tersungging senyum puas, agaknya sedang memikirkan suatu kejadian yang menggembirakan.

Mendengar keterangan orang tua itu. Siang-koan Kie tahu bahwa saat2 yang paling kritis sudah lewat, maka dalam hati juga sangat girang, sambil tersenyum ia bertaka, “Suhu, kapankah teecu boleh duduk melatih pernapasan sendiri?”

“Sudah akan tiba waktunya, nampak hanya memakan waktu duapuluh hari saja lagi, kau boleh duduk melatih pernapasan sendiri.”

“Apakah hanya tinggal duapuluh hari saja?” “Ya.”

Orang tua itu tiba-tiba membimbingnya duduk seraya berkata, “Lekas duduk, aku hendak menyalurkan kekuatan tenaga dalamku untuk membantu kekuatan tenags dalammu.”

Dengan tangan kiri memegang pundaknya, tangan kanan menunjang punggung, orang tua itu lalu mengerahkan kekuatan tenaga dalam, hawa panas tiba-tiba dirasakan mengalir ke dalam tubuh Siang-koan Kie.

Hawa panas itu perlahan-lahan mengalir menyusuri seluruh tubuhnya.

Kali ini bukan saja tidak merasakan sakit, sebaliknya merasakan segar dan nyaman.

Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba terlentar suara mengaungnya binatang bukan binatang, manusia bukan manusia, tetapi bagi Siang-koan Kie, segera dapat mengenali bahwa itu adalah suara Wan Hauw.

Wajah orang tua itu segera berobah, ia berkata kepada Siang-koan Kie dengan suara perlahan, “Suara itu terdengar aneh sekali, kalau bukan karena Wan Hauw menjumpai musuh tangguh, tentunya menemukan jejak orang baru ”

Suara Wan Hauw itu kedengarannya tidak terputus2, tetapi suara itu tetap dari suatu tempat yang tidak jauh dan tidak dekat dari kuil tua itu.

Tidak berapa lama, suara itu mendadak berhenti, kemudian disusul oleh munculnya Wan Hauw yang melompat masuk ke dalam loteng.

Siang-koan Kie membuka matanya mengawasi Wan Hauw sejenak, kemudian memejamnya pula.

Tangan Wan Hauw membawa sebuah benda yang mirip pedang, golok bukan golok, dengan sangat gembira melompat masuk. Biji matanya bergerak2, tetapi matanya segera dipejamkan. Kemudian seperti teringat apa-apa, diletakkannya senjata di tangannya itu di sisi Siang-koan Kie, lalu melompat keluar lagi.

Wan Hauw sangat jujur dan setia, dalam hatinya cuma ada Siang-koan Kie seorang, apa yang diperintahkan oleh Siang- koan Kie, ia harus melakukan sebaik-baiknya.

Terhadap orang tua aneh itu, ia juga tidak menghiraukan, maka ketika melihat Siang-koan Kie sedang bersemadi, tidak boleh diajak bicara, kegembiraannya lenyap seketika, sehingga ia keluar lagi.

Entah berapa lama telah berlalu, telinga Siang-koan Kie samar2 mendengar suara pertempuran.

Ketika ia membuka matanya, di luar jendela nampak berkelebatnya bayangan orang yang sedang bergerak2 ternyata itu adalah Wan Hauw yang sedang bertempur melawan seorang memegang golok tanto. Pertempuran itu narnpaknya sangat sengit sekali. Kali ini Wan Hauw agaknya tidak mau mengganggu Siang- koan Kie, maka tidak mengeluarkan suara jejeritan seperti tadi.

Orang tua itu berkata dengan suara perlahan, “Wan-jie ini agaknya paham ilmu silat, gerak kaki dan serangan tangannya, semuanya menunjukkan gerak gerik orang yang sudah belajar ilmu silat. Apakah kau pernah mengajarkan ilmu silat?”

“Tidak!” jawab Siang-koan Kie singkat.

“Ini sungguh aneh, apakah sejak dilahirkan ia sudah mengerti ilmu silat? Ini agaknya sangat mustahil.”

Orang tua itu berkata pula sambil menghela napas perlahan, “Sudah lama aku tidak pernah berkelahi, tetapi hari ini aku terpaksa harus turun tangan sendiri, jikalau aku membiarkan orang itu kabur lagi, barang kali ia akan balik lagi dengan membawa kawan2nya, lekas kau suruh Wan-jie masuk!”

Siang-koan Kie menurut, ia lalu memanggil Wan Hauw masuk ke dalam.

Wan Hauw yang sedang bertempur sengit dengan orang itu, tetapi ketika mendengar suara panggilan Siang-koan Kie, ia segera meninggalkan musuhnya dan melompat masuk ke dalam loteng itu.

Orang bersenjatakan benda aneh itu ketika mendengar dalam loteng ada suara orang yang memanggil Wan Hauw, segera berkata dengan suara keras, “Siapa dalam kamar?”

Setelah itu, ia lalu melompat masuk sambil melintangkan senjatanya di dada.

Orang tua itu mengayunkan tangan kanannya, satu serangan tenaga dalam yang keluar dari jari tangannya menyebabkan orang itu roboh di atas genting. Siang-koan Kie terkejut, ia berpaling dan bertanya kepada siorang tua, “Suhu, ini ilmu kepandaian apa?”

“Ilmu ini dinamakan ‘Thian-ceng-cie’, kalau sudah mahir sekali, dapat menyerang jalan darah musuh dari jarak jauh. Ilmu ini dapat dilatih dengan menggunakan waktu tiga hingga lima tahun, nanti aku juga akan menurunkan kepadamu, asal kau mempelajari dengan sungguh-sungguh, pasti akan berhasil. Lekas kau suruh Wan-jie mengangkat orang itu, aku hendak menanyakan kepadanya, dengan maksud apa ia datang kemari?”

Siang-koan Kie menyampaikan maksud orang tua itu kepada Wan Hauw.

Wan Hauw agaknya sudah mengerti banyak bahasa manusia, ia segera melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Siang-koan Kie.

Orang tua itu mengamat2i orang yang sudah dibawa masuk oleh Wan Hauw, ternyata adalah seorang bertubuh tinggi besar, usianya kira-kira empat puluh tahun, berpakaian ringkas, agaknya orang dari golongan rimba hijau.

Orang tua itu mengerutkan keningnya, kemudian mengangkat tangannya, menotok jalan darahnya untuk menyadarkan dirinya.

Orang tinggi besar itu mengeluarkan suara tarikan napas panjang, kemudian melompat bangun dan melancarkan serangan kepada Siang-koan Kie.

Selagi Siang-koan Kie hendak berkelit, tiba-tiba melihat satu tangan diulur dari belakangnya, menyambut serangan kepalan tangan orang itu.

Tatkala kepalan tangan orang itu beradu dengan tangan itu, orang tinggi besar itu tiba-tiba mengeluarkan suara jeritan, kemudian roboh terjengkang, sambil memegangi kepalan tangannya, orang itu bergulingan di tanah. Siang-koan Kie kini baru dapat melihat bahwa kepalan tangan orang itu ternyata sudah bengkak sehingga dalam hati diam-diam merasa terkejut. Ia sangat kagum menyaksikan kepandaian orang tua itu, entah dengan menggunakan ilmu apa, orang tinggi besar itu sampai terluka demikian hebat?

Telinganya pada saat itu mendengar suara orang tua aneh itu, yang menegur kepada orang tinggi besar yang masih bergulingan di tanah.

“Kau siapa? Dengan maksud apa kau datang kemari? Kau ceritakan terus terang, mungkin aku masih memberi jalan hidup bagimu, tetapi apabila kau berani main gila coba membohongi aku, jangan sesalkan aku nanti akan berlaku kejam kepadamu.”

Orang itu setelah bergulingan beberapa lama, nampaknya rasa sakitnya mulai berkurang, tetapi kepalan tangan kanannya semakin membengkak.

Sambil memegangi kepalan tangannya yang bengkak, orang itu kemudian duduk, dengan sinar mata beringas ia mengawasi keadaan sekitar ruangan kamar di atas loteng itu.

Orang tua itu berkata pula sambil tertawa dingian, “Apa yang kau lihat? Apakah kau ingin coba dengan tangan kirimu lagi?”

Orang tinggi besar itu tiba-tiba berdiri dan melompat ke jendela.

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak, kemudian berkata, “Kau sudah datang kemari, apa masih hendak lari?”

Tangannya bergerak menepuk bagian lutut orang tinggi besar itu, hingga orang itu segera memperdengarkan suara seruan tertahan, kemudian roboh ke lantai, karena tulang- tulang bagian belakang lututnya telah patah.

Orang tinggi besar itu kini memegangi kedua lututnya sambil bergulingan, badannya basah dengan keringat dingin. Orang tua itu menekan lantai dengan sebelah tangan, kemudian melesat ke depan orang tinggi besar itu dan bertanya kepadanya dengan nada suara dingin, “Bagaimana rasanya patah tulang dan urat2?”

Orang tinggi besar itu dengan airmata berlinang-linang dan napas memburu menahan rasa sakitnya, sehingga tidak dapat menjawab pertanyaan siorang tua.

Orang tua itu lalu mengulur kedua tangannya, membetot kedua kaki orang tinggi besar itu. Nampaknya orang itu kesakitan setengah mati, setelah memperdengarkan suara jeritan, lalu pingsan.

Orang tua itu menepok jalan darahnya, sehingga orang tinggi besar itu sadar lagi.

Agaknya rasa sakitnya sudah lenyap, orang itu memandang orang tua itu dengan perasaan takut, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya. Sinar matanya yang semula begitu galak beringas, kini telah berobah seperti minta dikasihani.

Kiranya orang tua itu kini sudah menyambung lagi tulang lututnya yang dipatahkan.

Siang-koan Kie merasa kasihan, ia berkata kepada suhunya dengan suara perlahan, “Suha, asal ia suka menjawab baik- baik pertanyaan kita, sudahlah jangan dibunuh!”

Hemm! mana begitu enak suruh ia mati? Aku hendak menyiksa dirinya perlahan-lahan, lebih dulu aku hendak memutuskan semua urat dan otot dalam tubuhnya, supaya ia menderita selama delapan atau sepuluh hari.”

Orang tinggi besar itu yang mendengar perkataan orang tua itu nampaknya bergidik, keringat dingin mengucur keluar, badannya gemetaran.

Orang itu ternyata juga sebangsa orang yang keras kepala, meski dalam hati merasa takut, tetapi tidak sudi minta ampun. Dengan sinar tajam, orang tua itu memandang kepadanya, kemudian berkata, “Kalau kau berani membohongi aku, kau nanti akan merasakan bagaimana siksaan itu!”

Orang tinggi besar itu menganggukkan kepalanya.

Orang tua itu lalu bertanya kepadanya, “Bagainiana kau bisa datang kemari? Kau datang seorang diri atau berkawan?”

Orang tinggi besar itu memperdengarkan suara batuk2 sebentar, baru menjawab, Kita berkawan tiga orang, datang kemari atas perintah untuk mencari seorang sahabat pemimpin kita.”

“Di mana kedua kawanmu yang lain itu sekarang?”

Orang itu menjawab sambil menggeleng2kan kepala, “Setelah kita memasuki daerah pegunungan, lalu berjalan berpencaran, kemana sekarang kedua kawanku itu? Aku sendiri juga tidak tahu.”

Tiba-tiba matanya dapat melihat senjata aneh yang berada di samping Siang-koan Kie, sejenak tampak ia terkejut, kemudian berkara pula, “Senjata itu adalah senjata salah satu kawanku………”

Wan Hauw tiba-tiba berkata dengan bahasa manusia yang masih mengandung bahasa binatang.

Orang ini sudah binasa di tanganku.”

Orang itu tidak mengerti betul perkataan Wan Hauw, hingga memandangnya dengan sinar mata terheran2.

Siang-koan Kie lalu berkata sambil menghela napas, “Sahabatmu itu sudah binasa.”

“Pantas aku tidak dapat menemukannya lagi.” jawab orang itu.

Orang tua itu setelah berpikir sejenak, lalu bertanya pula, “Siapa nama pemimpinmu itu?” “Nama asli pemimpin kita dalam dunia Kang-ouw sedikit sekali yang tahu, semua hanya menyebutnya Kun-liong- ong… ”

“Apakah kau sendiri juga tidak tahu namanya?” bertanya Siang-koan Kie sambil mengerut keningnya.

“Tidak tahu. Kita hanya melakukan segala perintahnya melalui suaranya, maka hanya mendengar suara dan mengenali panjinya yang ada tanda seekor naga, itu saja sudah cukup.”

“Panji naga apa?”

“Panji bergambar naga itu adalah tanda bagi pemimpin kita untuk menyampaikan perintahnya, asal kita melihat panji itu, tidak perduli siapa yang membawa panji itu, kita harus mendengar dan menurut perintahnya… ”

“Oh kiranya begitu!”

Orang tinggi besar itu agaknya membanggakan pemimpinnya, tanpa menantikan Siang-koan Kie bertanya lagi, ia sudah melanjutkan penuturannya, “Panji itu dewasa ini di kalangan Kang-ouw sudah mempunyai pengaruh besar sekali, sedangkan pada dua tahun berselang panji itu pengaruhnya hanya terbatas pada daerah sekitar sungai Tiang-kang utara, tetapi sekarang sudah sampai ke daerah selatan ”

“Sebuah panji kecil saja, bagaimana begitu besar pengaruhnya?”

“Kau jangan memandang rendah panji naga itu, sekalipun kau bukan orang rimba persilatan tetapi asal kau membawa panji itu, kau boleh tanpa menemukan rintangan di seluruh daerah utara dan selatan sungai Tiang-kang… ”

Ia berdiam sajenak, matanya memandang ke atas, kemudian ia berkata, “Orang2 dari golongan hitam, barang kali tiada orang yang tidak tahu tentang panji Naga itu, asal mereka lihat panji itu, bukan saja tidak berani mengganggu seujung rambutmu, bahkan hendak melindungimu secara diam-diam………”

Siang-koan Kie nampaknya sangat tertarik, katanya, “Sebuah panji kecil saja, sudah mempunya pengaruh begitu besar di kalangan Kang-ouw, Kun-liong-ong juga patut merasa bangga!”

Orang itu tiba-tiba tertawa besar dan berkata, “Tetapi untuk mendapatkan panji susah sekali.”

Orang tua itu sejak tadi mendengarkan dengan tenang, dan ia lalu berkata, “Apakah kau pernah melihat Kun-liong-ong?”

Di luar dugaan orang itu melengak setelah berpikir agak lama, baru ia menjawab, “Sudah sih sudah, hanya terpisah sangat jauh, aku tidak dapat melihat dengan tegas.”

“Apa? Pemimpinmu sendiri kau tidak dapat melihat dengan tegas?” bertanya Siang-koan Kie.

“Orang kuat dunia Kang-ouw yang ingin berkenalan dengannya, jumlahnya tidak sedikit tetapi yang dapat melihat wajah aslinya, kecuali beberapa orang dan pengawalnya yang terdekat, jumlahnya sedikit sekali.”

Orang tua itu agaknya sangat tertarik oleh pemimpin rimba hijau yang bergelar Kun-liong-ong itu, ia sangat memperhatikan penuturan orang.

“Kalau begitu, kau benar-benar sudah pernah melihat Kun- liong-ong itu?” demikian ia bertanya.

“Sudah pernah melihat dua kali,” jawabnya sambil menganggukkan kepala.

“Bagaimana macamnya?”

“Setiap kali kita berdiri terpisah kira-kira lima tombak, kita hanya dapat lihat bentuk tubuhnya yang tinggi besar, wajahnya yang penuh berewok mengenakan pakaiannya panjang, warnanya kuning yang disulam dengan gambar seekor Naga emas. Tetapi kedua kalinya aku melihatnya agaknya…….. agaknya………”

“Agaknya bagaimana?” “Agaknya berobah macamnya.”

Orang tua itu tidak bertanya lagi, agaknya tidak mau peduli tentang terjadinya perobahan rupa itu.

Sebaliknya dengan Siang-koan Kie, ia merasas heran dengan soal itu, maka lalu bertanya, “Apa? Apakah Kun-liong- ong bisa menyulap dirinya, mendadak berobah menjadi seorang muda belia?”

“Kedua kalinya aku melihatnya, ia agaknya jauh lebih muda dari pada yang pertama aku melihatnya, bahkan berewok di mukanya juga sudah tidak tampak lagi,” jawab orang itu sambil menganggukan kepala.

“Omong kosong, di mana ada kejadian seperti ini?”

“Aku selamanya tidak pernah membohong, kalau kau tidak percaya, sudah saja!” jawab orang itu gusar.

“Bagi seorang yang pandai ilmu mengganti rupa, sebentar bisa berobah menjadi orang tua sebentar lagi bisa berobah seperti anak muda, ini bukan soal yang aneh,” berkata orang tua itu sambil tertawa.

-odwo-

Bab 16

SIANG KOAN KIE sebetulnya masih ingin bertanya lagi, tetapi ketika mendengar ucapan orang tua itu, ia lalu terdiam.

Orang tua itu setelah berpikir sejenak lalu bertanya pula kepada orang tinggi besar itu, “Kun-liong-ong mengutus kalian memasuki daerah pegunungan Pek-ma-san ini, entah siapa yang dicari?” Orang itu memandang wajah orang tua aneh itu sejenak, baru berkata, “Untuk mencari seorang……..,” tiba-tiba ia menggelang2kan kepala, kemudian berkata pula, “Aku tak dapat menyebutkan nama orang itu, tetapi wajah dan bentuknya aku ingat baik, asal aku melihatnya, segera dapat kukenali!”

Orang tua itu tiba-tiba melototkan matanya, ia menatap wajah orang itu, kemudian berkata, “Apa kau hendak mencari aku?”

“Bukan, aku di sini membawa gambarnya,” jawab orang itu smabil menggeleng2kan kepala.

Orang tua itu mengambil sebuah lukisan dari badan orang itu, di atas kain sutera putih itu ada terlukis sebuah gambar seorang lelaki tegap dan tinggi besar mengenakan pakaian warna biru.

Siang-koan Kie yang menyaksikan gambar itu, hatinya tergerak, dalam hatinya berkata, “Orang lelaki itu aku ingat seperti mayat laki2 yang aku pernah lihat di dalam goa di atas gunung belukar itu… ”

Oleh karena mayat itu kulit dan dagingnya sudah kering, wajahnya sudah susah dikenali, tetapi pakaian orang dalam lukisan itu serupa benar dengan pakaian mayat laki2 itu.

Orang tua itu setelah memandang gambar lukisan itu sebentar, wajanya tiba-tiba berobah, katanya, “Apa? Apakah ia juga berada di dalam gunung Pek-ma-san ini?”

“Belum tentu, orang2 yang diutus oleh pemimpin kita bukan hanya rombongan kita bertiga saja, kecuali di gunung Pek-ma-san ini, masih ada lain tempat lagi.”

Sikap orang tua itu pulih seperti biasa lagi, ia meletakan gambar lukisan itu di lantai dekat dirinya, lalu bertanya pula, “Rombongan kalian yang memasuki daerah pegunungan Pek- ma-san ini, bukankah hanya bertiga saja? Betul tidak?” “Betul.”  

Orang tua itu mengawasi Wan Hauw, lalu berkata sambil tertawa, “Satu sudah binasa di tangan Wan Hauw, dank au tertangkap hidup2, sekarang yang berada di dalam gunung ini hanya tinggal seorang saja.”

Mendengar suara orang itu, laki2 tinggi besar itu merasa ada gelagat tidak beres, tetapi ia tidak berani bertanya, terpaksa menganggukkan kepala dan menjawab, “Ya.”

“Kawanmu yang masih hidup itu, entah ia tahu kau dating ke kuil ini atau tidak?”

Orang itu berpikir lama, baru menjawab, Waktu kita memasuki daerah pegunungan ini, masing-masing berjalan berpencaran, tetapi sudah berjanji, tujuh hari kemudian, kita berjumpa di salah satu tempat di daerah pegunungan ini, entah mereka tahu aku datang ke kuil tua ini atau tidak, aku sendiri juga tidak tahu.”

Orang tua itu mengawasi Siang-koan Kie sejenak, lalu berkata, “Jikalau kita tidak membunuh orang ini, kemudian membebaskannya, dia nanti pasti akan membocorkan rahasia dalam kuil tua ini, selanjutnya akan menimbulkan banyak kerewelan.”

Siang-koan Kie diam-diam membenarkan pikiran orang tua itu, setelah menghela napas perlahan, lalu berkata, “Meskipun ucapan suhu ini benar, tetapi dia dengan kita tidak ada permusuhan apa-apa, dengan tanpa sebab kita membunuhnya, sesungguhnya kurang pantas.”

“Tetapi jika kita tidak membunuhnya, di kemudian hari kita tidak bisa tenang lagi.”

Laki2 itu dengan sinar mata meminta-minta, mengawasi Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie berpikir, kemudian berkata kepada suhunya, “Suhu, apakah kita tidak dapat mencari akal, supaya dia jangan menceritakan kejadian atau keadaan dalam kuil ini… ?”

Belum habis ucapan Siang-koan Kie, orang tua itu sudah berkata, “Orang2 golongan rimba hijau paling palsu dan berbahaya hatinya, aku tidak dapat memkirkan suatu cara yang baik untuk menghadapi mereka, kau pikirlah sendiri.”

Kemudian ia memejamkan matanya untuk bersemedi, agaknya tidak mau menghiraukan soal itu lagi.

Laki2 itu tiba-tiba menarik napas, kemudian berkata, “Kalian bunuh saja aku! Walaupun aku bisa pergi dari sini, tetapi jikalau tidak memberitahukan apa yang aku lihat dan dengar kepada pemimpinku, juga tidak luput dari kematian, bahkan kematian itu bertambah mengerikan, maka sebaiknya mati di sini sekarang juga.”

Siang-koan Kie terkejut mendengar perkataan orang itu, katanya, “Kau memasuki daerah pegunungan ini toh bukan akan mencari suhu?”

“Bukan, meski aku tidak tahu siapa namanya orang yang harus kucari itu, tetapi aku membawa gambarnya, suhumu sedikitpun tidak mirip dengan orang yang kucari.”

“Itulah, justru kau tidak mempunyai sangkut paut dengan kita, kau tidak mengatakan apa yang kau tahu di sini juga tidak melanggar peraturan, mengapa pemimpinmu harus membunuhmu?”

“Setiap anak buah Kun-liong-ong, tidak boleh mengelabui sedikitpun terhadapnya, apalagi jaringan mata-matanya sangat luas, sekalipun hendak mengelabuinya juga tidak mungkin. Di kemudian hari apabila diketahui olehnya, sulit untuk lolos dari hukuman. Daripada menerima siksaan hebat, lebih baik mati sekarang juga. Aku hanya meminta supaya kalian jangan menyiksa diriku, aku sudah merasa bersukur.” Siang-koan Kie semakin heran, ia bertanya, “Dunia begini luas, di mana saja kau toh bisa menghindarkan diri. Asal kau tidak menuntut penghidupan dalam golongan rimba hijau, bagaimana ia dapat mencarimu?”

“Dia tidak perlu mencari kita, setahun kemudian kita akan mati sendiri secara mengerikan.” berkata laki2 itu sambil tersenyum getir.

“Perkara semacam ini aku belum pernah mendengarnya, aku semakin tidak mengerti.”

Mata laki2 itu berputaran mengawasi orang tua aneh itu, tetapi orang tua itu sedang memejamkan kedua matanya, seolah-olah paderi yang sedang bersamedi, napasnya saja tidak kedengaran. Kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah Siang-koan Kie, lalu berkata, “Jikalau suhumu mendengar keterangan ini, mungkin mengerti… ”

Dengan susah payah ia menggerakan badannya, kemudian berkata pula, “Barang siapa yang ingin menjadi anak buahnya, sebelum masuk menjadi anggauta, lebih dulu harus melakukan upacara sumpah berat, seumur hidupnya tidak boleh berkhianat… ”

“Mungkin kau takut sumpahmu sendiri, maka tidak berani berkhianat?”

“Kecuali melakukan sumpah berat, masih diharuskan minum beberapa cawan arak, justru arak itulah yang merupakan penyakitnya.”

Siang-koan Kie masih tidak mengerti, ia bertanya lagi kepadanya, “Apa penyakitnya arak itu?”

“Dalam arak itu dicampur semacam racun, tetapi pada waktu itu tidak diketahui namun bagi siapa yang sudah masuk ke pintunya, berarti kita sudah menyerahkan nasib kita untuk dikendalikan olehnya, seumur hidup menjadi budak.” Ia diam sejenak, kemudian berkata pula, “Meskipun kita sudah minum arak yang ada racunnya, tetapi wakru itu tidak mengetahui sehingga racun itu bekerja dan kau menderita siksaan beberapa hari, dia baru mengirim orang untuk memberi obat pemunahnya. Penderitaan itu bukan berupa rasa sakit atau gatal, tetapi sudah cukup membuat orang sangat menderita.’”

“Waktu pertama kali racun itu bekerja didalam tubuhmu, apakah kau tidak berusaha untuk memanggil tabib.”

“Racun dia itu tiada rasanya dan tiada warnanya, waktu masuk ke dalam perut, juga tidak menimbulkan perasaan apa- apa. Tetapi diwaktu sedang bekerja, dalam tubuh kita seolah- olah ada banyak semut, merayap menyusup ke seluruh tulang, sekalipun orang yang sangat membandal, juga tidak tahan penderitaan serupa itu. Sekalipun tabib yang bagaimana pandainnya, juga tidak dapat mencari di mana letak penyakitnya, kecuali minum obat pemunah pemberiannya, kita tidak bisa menenangkan diri.”

“Racun apakah yang dimasukan ke dalam arak, bagaimana begitu hehat?”

“Racun kutu.”

Di waktu mengikuti berkelana suhunya yang terdahulu, Siang-koan Kie pernah mendengar cerita tentang orang2 suku Biaw yang memelihara kutu beracun, maka ia sangat terkejut ketika mendengar keterangan itu.

Laki2 itu berdiam sejenak, kemudian berkata pula, “Kutu beracun yang dipelihara itu sangat luar biasa, setelah masuk ke dalam perut kita, bisa bekerja pada waktu yang ditentukan, di waktu bekerja meskipun orangnya menerima penderitaan hebat, tetapi keadaannya masih seperti biasa. Jikalau orang itu tidak berkhianat kepadanya, setiap setengah tahun, dia akan memberikan obat pemunahnya untuk dimakan, sehingga keadaan orang itu tidak mendapat gangguan apa-apa.” “Apakah semua orang yang mendiadi anggautanya, harus diberi makan racun itu?”

“Kecuali beberapa sahabatnya yang paling akrab, siapapun tidak suka membicarakan soal itu. Menurut dugannku, mungkin semua sudah pernah meminum arak beracun itu. Sementara beberapa pengawalnya yang terdekar, aku tidak tahu benar mereka minim arak semacam itu atau tdak?”

Siang-koan Kie rnendadak timbul rasa simpatiknya terhadap laki2 di hadapannya itu, ia menghela napas, kemudian berkata, “Sekarang kau coba hitung2, kira-kira masih berapa lama racun dalam tubuhmu itu akan bekerja?”

“Tidak perlu dihitung, barang kali masih tinggal setengah bulan. Hanya, dalam badanku kini ada membawa obat pemunahnya, kalau saatnya sudah tiba, aku akan minum obat pemunah itu, dengan demikian berarti dapat diperpanjang bekerjanya racun itu setengah tahun lamanya. Tetapi setengah tahun kemudian, kalau aku tidak pulang, racun itu akan bekerja lagi.”

“Apakah kau tidak bisa menyerahkan obat pemunah itu kepada seorang tabib yang pandai, supaya membuatnya beberapa butir, bukankah kau akan terlepas dari hukuman?”

“Obat pemunahnya itu, entah terdiri dari beberapa jenis obat2an yang dicampur menjadi satu, obat itu sangat sulit didapatkannya, sekalipun kau membayar dengan harga sangat tinggi, juga tidak dapat beli.”

Orang tua itu tiba-tiba membuka matanya dan berkata, “Kutu ada berapa jenis, setiap jenis mempunyai pembawaan racunnya tersendiri. Kecuali orang yang memelihara, orang lain sulit untuk mencari obat pemunahnya. Ada sejenis kutu yang diberi makan darah orang yang memelihara kutu itu, berarti sudah bersatu dengan orang yang memeliharanya, tidak perduli kau kabur kemana, asal kau menemukan bahaya, ia segera akan mandapat firasat… ” “Pengetahuan suhu sangat luas, apakah juga tidak mengetahui caranya untuk menolong dia?” bertanya Siang- koan Kie.

“Kecuali orang yang pandai sekali dalam ilmu itu, tiada orang lagi yang mampu menolong, aku sendiri juga tahu sedikit saja,” jawab gurunya.

Laki2 itu tiba-tiba berkata dengan suara nyaring, “Nanti setelah aku mati, harap kalian membuatkan aku lobang yang dalam sekali untuk mengubur jenazahku, supaya tidak menyusahkan orang lain!”

“Sebaiknya jenazah itu dibakar menjadi abu, baru dapat mencegah bahaya untuk selama2nya, berkata orang tua itu.

Laki2 itu berpikir sejenak lalu berkata, “Baiklah! Tetapi aku masih ada sedikit waktu untuk hidup… ”

Agaknya ia merasa bahwa permintaannya itu sangat keterlaluan, mungkin tidak akan diterima maka ia lalu bungkam.

Orang tua itu seolah-olah tidak dengar perkataannya, ia berpaling dan berkata kepada Wan Hauw, “Di mana bangkainya orang yang kau bunuh?”

“Aku lempar ke dalam lembah, barang kali sudah dimakan oleh binatang buas.” jawab Wan Hauw yang sudah berkata dalam bahasa manusia agak lumayan.

“Jikalau racun dalam tubuhnya itu mempunyai kekuatan yang bisa menyalar, binatang2 yang memakan dagingnya, barang kali akan terkena racun semuanya.

Siang-koan Kie yang menyaksikan sikap masgul laki2 itu, hatinya merasa tidak enak, ia melongok keluar jendela, dalam hatinya berpikir, “Orang2 dunia Kang-ouw ternyata ada banyak yang begitu jahat dan berbahaya, bukan hanya saling membunuh saja, bahkan saling berebut pengaruh dengan rupa2 akal keji dan jahat. Kalau aku sudah berhasil dengan ilmu silatku, di kemudian hari sudah tentu akan berkelana di dunia Kana-ouw. Andaikata aku makan racun orang itu, kemudian diperbudak seumur hidupku bukankah berarti siksaan batin seumur hidup… ?”

Orang tua itu menyaksikan sikap Siang-koan Kie seperti orang bingung dan berkata kemak kemik seorang diri segera menegurnya dengan suara perlahan, “Kie-jie, kau sedang memikirkan apa?”

“Suhu, teecu sedang memikirkan apakah teecu perlu melanjutkan pelajaran ilmu silat teecu?”

“Kenapa?”

“Kalau kepandaian teecu semakin tinggi, bukankah nama teecu di kalangan Kang-ouw semakin terkenal betul tidak?”

“Betu1. Apakah kau tidak ingin menjauhi seorang yang terkenal? Apakah kau tidak ingin dihormati oleh sahabat2 rimba persilatan?”

“Apakah gunanya berkepandaian tinggi? Jangan kata sudah tidak sanggup melawan orang seperti Kun-liong-ong yang menggunakan pengaruhnya kutu beracun, dan orang seperti si Tangan beracun Ang Thian Gee, juga susah dijaganya… ”

Orang tua itu tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Bocah, apakah kau anggap bahwa orang2 dunia Kang-ouw yang pandai menggunakan racun sudah bisa malang melintang? Apakah orang berkepandaian sangat tinggi sudah tidak ada gunanya sama sekali?”

Siang-koan Kie mengawasi laki2 itu sejenak, lalu berkata, “Umpama dia ini, dia mempunyai kepandaian cukup tinggi, tetapi apa gunanya? Bukan saja tidak bisa menjamin jiwanya sendiri, bahkan diperbudak orang seumur hidupnya, nasibnya lebih buruk dari pada kuda atau kerbau… ”

Orang tua itu kembali tertawa terbahak-bahak, lalu memotong ucapaa muridnya, “Kau harus mengetahui bahwa kepandaian ilmu silat itu tidak terbatas, sangat luas sekali, jikalau kau sudah melatih ilmu kepandaianmu sampai taraf tinggi tertentu, sekalipun terkena racun bagaimana berbisapun, juga tidak apa-apa… ”

“Keterangan suhu ini teecu tidak mengerti, satu orang, biar bagaimana terdiri dari darah dan daging, tidak perduli sampai batas mana tinggi kepandaian ilmu silatnya, isi perutnya toh tidak mungkin bisa keras bagaikan batu atau besi, sehingga tabu terhadap racun.”

“Bagi orang yang sudah melatih ilmu kekuatan tenaga dalam sampai kebatas tertentu semua gerakan dalam tubuhnya juga dapat dikendalikan menurut keinginannya. Asal kau segera mengetahui bahwa dirimu kemasukan racun, atau waspada pada sebelumnya, kau dapat mengeluarkan racun dalam perutmu, ini bukanlah mudah.”

“Tetapi jika racun itu tidak menunjukkan tanda atau menimbulkan perasaan apa-apa apalagi belum berjaga2 pada sebelumnya, bukankah sangat membahayakan?”

“Dalam hal membedakan jenis racun, banyak sekali caranya. Pada saat ini kurang tepat bagimu untuk membagi perhatianmu kepada persoalan lain, nanti setelah pelajaranmu selesai seluruhnya aku akan mengajarmu bagaimana caranya membedakan racun. Siang-koan Kie merasa bahwa saat itu sudah tiba waktunya untuk melakukan latihannya, sehingga ia tidak mau membuang temponya lagi. Ia menghela napas dan berkata, “Harap suhu mengasihani sesama mahluk, tolonglah… ” sebelum ucapan ‘orang ini’ keluar di mulutnya,

orang tua itu tiba-tiba sudah bergerak tangannya, menotok jalan darah ‘Thian-leng-hiat’ Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie merasa sedikit menggetar, semua pikirannya lalu dipusatkan, dengan menurut ajaran orang tua itu, ia mulai bersemedi. Sewaktu ia tersadar lagi, laki2 tinggi besar itu sudah tidak ada, sedangkan orang tua itu tengah duduk dengan tenangnya sambil memejamkan mata.

Sementara itu, Wan Hauw yang selalu menjaga di sampingnya, juga tidak tahu ke mana sudah pergi.

Dua kali ia memanggil suhunya dengan suara perlahan, tetapi orang tua itu agaknya tidak mendengarnya sama sekali.

Cuaca sudah gelap, di langit tidak terdapat sebuah bintangpun juga, angin gunung meniup keras, sehingga menimbulkan suara keresekan pada loteng itu.

Siang-koan Kie yang duduk beberapa lama seorang diri, hatinya merasa kesepian, selagi hendak membuka jendela, sebuah tangan kurus kering tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya, telinganya mendengar suara suhunya, “Pada saat ini selagi pelajaranmu sudah akan selesai, kalau pikiranmu bercabang, pasti akan mempengaruhi kemajuanmu, lekas kau pejamkan mata dan duduk bersemadi lagi, pusatkan seluruh pikiranmu.”

Siang-koan Kie merasakan bahwa genggaman tangan suhunya itu sangat kuat sekali, seketika sekujur badannya dirasakan kesemutan, jalan darahnya agak kencang, sehingga hatinya merasa cemas. Ia lalu membuka mulutnya memanggil, “Suhu… ”

Tetapi beberapa bagian jalan darah di atas dadanya ditotok oleh suhunya, sehingga ucapan selanjutnya tidak dapat dikeluarkan lagi.

Telinganya terdengar pula suara suhunya, “Sekarang aku telah menotok tiga bagian jalan darahmu yang terpenting, sebentar lagi kau akan mengalami suatu proses berputarnya urat nadi dan otot2 dalam tubuhmu ”

Siang-koan Kie hanya merasakan dadanya sesak susah bernapas agaknya hendak meledak; bibir dan lidahnya seolah- olah sudah tidak bisa digerakkan lagi, sehingga tidak dapat mengeluarkan suara dari mulutnya.

Sebentar kemudian, benar saja Siang-koan Kie merasakan darah di urat nadi dan otot2nya berputaran, tetapi pikirannya malah lebih tenang.

Sekalipun dalam hatinya mengerti, tetapi mulutnya tidak dapat mengeluarkan perkataan apa-apa, apalagi sikap orang tua pada saat itu tiba-tiba berobah demikian dingin, walaupun ia bisa bicara, barang kali juga tidak berani membuka mulut.

Sikap dingin orang tua itu, telah menimbulkan reaksi dari sifat Siang-koan Kie yang keras kepala, sehingga pikirannya dipusatkan, ia bersedia menerima segala penderitaan.

Maka ia segera memejamkan matanya, memusatkan semua kekuatan tenaganya.

Dalam keadaan demikian, ia merasakan kedua tangan suhunya tidak berhentinya bergerak di sekujur bagian jalan darahnya, menurut urat dan otot seluruh tuhuhnya.

Siang-koan Kie perlahan-lahan kehilangan tenaganya untuk mempertahankan dirinya, kekuatan tenaga dalam yang sudah dipusatkan, perlahan-lahan telah lenyap setelah diurut oleh tangan suhunya.

Tetapi dalam hatinya selalu memikirkan penderitaan dan siksaan yang akan dialaminya, pengalaman yang sudah2 telah membuktikan bahwa penderitaan itu sesungguhnya bukan segala orang yang sanggup menahannya.

Tetapi kenyataannya ternyata di luar dugaan. Ia merasa tempat dan bagian di mana tangan suhunya sampai, darah mengalir dengan baik tanpa menimbulkan rasa sakit apa-apa.

Kekhawatiran dan kekuatannya perlahan-lahan mulai lenyap, dari tegang pulih menjadi tenang dengan tanpa dirasa ia telah tidur pulas. Entah berapa lama telah berlalu, waktu ia sadar lagi, matahari sudah naik tinggi, orang tua itu sedang duduk di pinggir jendela, matanya memandang keluar entah apa yang sedang dipikirkan.

Siang-koan Kie menggerakkan tubuhnya, kemudian duduk, kini ia merasakan badannya ringan, kekuatan dan kepandaian agaknya sudah pulih kembali……..

Sinar matahari menyorot masuk melalui jendela yang terbuka, sehingga keadaan dalam loteng itu segar hangat.

Dengan suara agak gemetar orang tua itu bertanya kepada Siang-koan Kie, “Kie-jie, apakah kau sudah sadar?”

Perasaan kurang senang yang timbul dalam hati Siang-koan Kie, tiba-tiba telah lenyap, ia hanya merasakan bahwa suara orang tua itu penuh kasih sayang, ia menjawab sambil menundukkan kepala, ”Sudah!”

“Coba kau sodorkan lengan tanganmu, lihat tangan dan kakimu bisa bergerak atau tidak?”

Siang-koan Kie menurut, ia melakukan seperti apa yang diminta oleh suhunya.

Orang itu matanya masih tetap ditujukan keluar jendela, sedikitpun tidak menengok, ia berkata dengan suara perlahan, “Kie-jie, kau coba jalan pernapasanmu, apakah urat nadi dan jalan darah dalam tubuhmu sudah merasa seperti biasa? Anak, kau jangan membohongi aku, apabila ada merasa sedikit halangan, kau harus memberitahukannya kepadaku.”

Siang-koan Kie menurut, ia merasakan bahwa jalan darahnya sudah seperti biasa, tidak merasakan ada halangan apa-apa maka lalu betkata sambil menggelengkan kepalanya, “Suhu, teecu tidak merasakan ada halangan apa-apa.”

Orang tua itu agaknya masih tidak percaya, katanya dengan suara perlahan, “Kie-jie, apakah perkataanmu ini benar?” Perlu apa teecu harus membohongi suhu?”

Mata orang tua itu menatap wajah Siang-koan Kie, ia menghela napas panjang.

“Kie-jie, kau benar tidak halangan suatu apa-apa!” Demikian orang tua itu berkata dengan suara terharu, ia menghapus airmatanya yang berlinang-linang membasahi pipinya.

Siang-koan Kie tiba-tiba merasakan bahwa orang tua yang aneh ini sebetulnya mempunyai perasaan yang sangat halus dan berhati baik. Menyaksikan kecintaannya yang begitu besar terhadap dirinya, hatinya merasa terharu, maka ia lalu berjongkok dan duduk di samping suhunya.

Orang tua itu mengulur tangannya membelai ramhut Siang- koan Kie, katanya sambil tertawa, “Kie-jie, aku tadinya mengira kau tidak bisa tersadar lagi, aku juga takut setelah kau tersadar, kau akan menjadi orang cacad… ”

“Mengapa?”

“Aku lihat kau membagi perhatianmu terhadap laki2 tinggi besar itu, aku takut selagi pelajaranmu hendak selesai, akan menemukan kegagalan, atau karena pikiranmu memikirkan keselamatan dirinya, sehingga tidak bisa dipusatkan maka aku terpaksa menggunakan kekuatan tenaga dalamku membantu kau mengusir segala pikiran yang mengganggu hatimu itu. Aku hanya memikirkan supaya kau lekas selesai pelajaranmu melalaikan bahayanya. Setelah aku melakukan usaha itu, tiba- tiba ingat bahwa di bawah pengaruh kekuatan paksaan demikian, apabila dalam hati timbul reaksi perlawanan, tidak mau menjalankan pernapasanmu maka darah dan hawa yang mengalir dalam tubuhmu akan berhenti tidak bergerak dengan demikian akan menimbulkan luka dalam yang sangat parah, sekalipun tabib yang betapapun tinggi kepandaiannya, juga tidak sanggup menyembuhkan. Akibatnya kalau tidak cacad tentunya binasa… ” Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Sungguh berbahaya, untung reaksi perlawanan yang timbul dalam hatiku tadi tidak terlalu kuat, jikalau ketika itu aku mengadakan perlawanan hebat, kini aku tentunya sudah menjadi orang bercacad dan binasa.”

Orang tua itu berkata pula sambil menghela napas panjang, “Ketika aku memikirkan itu, sayang sudah terlambat, jalan darah dalam tubuhmu sudah mengalir seperti biasa, jikalau kau tidak mau mengatur pernapasanmu untuk mengimbangi, aku juga tidak berdaya sama sekali.”

“Mati atau hidup sudah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, andaikata teecu sudah ditakdirkan mati atau menjadi orang cacad, juga tidak menyesalkan suhu.”

“Waktu itu pikiranku sangat bingung, setengah malam aku memikirkan itu, masih belum berhasil menemukan caranya untuk menolong.”

“Suhu memperlakukan teecu demikian baik sesungguhnya teecu sangat berat untuk membalas budi suhu ini.”

“Aku takut apabila kau sadar dan dapat melihat orang 1agi, kau akan terganggu pikiranmu maka kusuruh Wan-jie membawanya keluar untuk mengurungnya di tempat yang aman.”

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula, “Sudah setengah malam aku duduk di pinggir jendela ini, tidak berani menengok ke arahmu, supaja jangan sampai menyaksikan bagaimana keadaanmu yang menderita kesakitan dari akibat darah yang berhenti dalam tubuhmu tidak mengalir seperti biasa.”

Siang-koan Kie sangat terharu, airmata mengalir turun, ia hanya dapat memanggil “Suhu!” sudah tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Orang tua itu berkata pula, “Sungguh tidak kusangka kau ternyata tidak terluka, hal ini benar-benar di luar dugaanku!”

Siang-koan Kie mengawasi ke udara bebas, pikirannya melayang jauh. Tiba-tiba ia bertanya, “Suhu, teecu masih harus menggunakan waktu beberapa lama, baru berhasil mempelajari kepandaian yang suhu akan ajarkan?”

“Sekarang kau sudah berhasil menyelesaikan dasar pertamamu yang cukup baik, ini merupakan satu sukses besar bagimu, sehingga di kemudian hari kau tidak usah khawatir akan terganggu pengaruh jahat yang akan merusak tubuhmu, selama beberapa bulan ini, kau belum pernah keluar dari loteng ini, hari ini kau boleh keluar pesiar satu hari, besok pagi aku akan mulai memberi pelajaran ilmu pukulan tangan kosong.”

“Siang-koan Kie sangat girang mendengar ucapan suhunya, ia bangkit dan selagi hendak melompat keluar melalui jendela, tiba-tiba hatinya berpikir, “Aku berada di dalam loteng ini baru baberapa bulan saja, sudah merasa kesepian, apalagi suhu yang sudah berdiam bertahun2, sudah tentu sangat rindu akan keadaan di luar kuil ini. Hari ini udara sangat baik, sebaiknya aku gendong suhu untuk keluar pesiar, supaya ia juga merasa gembira.

Karena berpikir demikian, maka ia berkata, “Suhu, mari teecu gendong suhu, bagaimana kalau kita keluar pesiar bersama-sama?”

“Aku sudah biasa dengan penghidupan menyendiri yang sunyi seperti ini, kau pergilah sendiri!” jawab sang suhu sambil menggelengkan kepala. “Sebelum malam tiba, kau harus sudah kembali.”

Siang-koan Kie menerima baik pesan itu, lalu melompat keluar melalui jendela. Tiba di tanah ia berjalan perlahan- lahan menuruti keinginan sang hati. Kuil yang sudah tua sekali usianya itu, keadaannya masih tetap seperti biasa seperti pertama kali ia datang ke situ, namun demkian, di tanah pegunungan yang sepi sunyi itu, sudah pernah mengalami dua kali pertumpahan darah yang sangat mengerikan……..

Mengingat akan pertempuran dahsyat yang mengakibatkan melayangnya banyak jiwa itu, otaknya tiba-tiba timbul suatu pikiran, “Suhu dan empat susiok, mengapa mengadakan pertemuan di dalam kuil yang terpencil ini? Mengapa tidak mencari tempat lain… ”

Apa sebabnya pula In Kiu Liong dan paderi Tibet juga memilih tempat ini sebagai tempat untuk mengadakan pertandingan ilmu silat? Apakah itu hanya secara kebetulan saja?

Pikiran itu terus berkecamuk dalam otaknya, tiba-tiba ia mendapat suatu kesan bahwa hal yang sangat kebetulan itu, pasti ada sebabnya.

Lagi pula orang tua aneh yang kini telah menurunkan kepandaian kepada dirinya itu, dengan kepanpaiannya seperti sekarang, meskipun kedua paha kakinya sudah buntung, tetapi toh tidak merintangi pergerakannya, apakah ia akan berdiam dalam kuil tua yang sepi sunyi ini untuk seumur hidupnya? Benarkah semata-mata karena bertaruhan dengan orang saja? Dengan siapa ia bertaruh? Pertaruhan soal apa?

Berbagai kecurigaan timbul dalam pikirannya, sehingga menimbulkan perasaan heran.

Tertarik oleh perasaan ingin tahu, maka ia mengambil keputusan hendak mengadakan penyelidikan dengan cermat keadaan dalam kuil tua itu.

Angin gunung meniup keras, daun alang2 yang panjang dan lebat bergerak2, menimbulkan suara berisik. Ketika ia berpaling, ternyata sudah tidak melihat loteng kediaman orang tua itu, sementara dirinya sedang berdiri di suatu perkarangan terbuka.

Kuil tua ini meskipun sudah banyak bagian yang hancur dan rusak, tetapi masih ada bekasnya kemegahan bangunan tua ini, dahulu tentu merupakan satu kuil yang ramai dengan banyak pengunjungnya.

Sebelah timur dan utara kuil itu, masing-masing terdapat sebuah kamar, pintunya yang sudah berobah warnanya, nampak tertutup rapat.

Kuil itu ternyata banyak terdapat pekarangannya, meski waktu pertama kali ia datang ke tempat itu sudah pernah melihatnya, tetapi ia tidak menaruh perhatian. Kali ini karena ingin menyelidiki keadaan tempat itu, baru merasa bahwa pekarangan2 yang tersendiri2 itu juga terdapat kamar2 yang tertutup rapat pintunya.

Ia tertegun sejenak, kemudian berjalan menuju ke kamar sebelah utara.

Semua pekarangan dalam kuil itu meski banyak tumbuh rumput atan alang2 yang lebat, tetapi kemegahan bentuk bangunan di masa yang lampau masih tampak tegas jejaknya. Depan kamar sebelah utara itu, masih terdapat tangga batu empat tingkat yang terbuat dari batu warna hijau, tetapi karena sudah lama tidak ada orang yang mengurus, batu2 itu sudah ditumbuhi lumut.

Siang-koan Kie mendaki tangga batu itu, menuju ke pintu kamar dan mendorongnya.

Dalarn dugaannya, pintu yang umurnya sudah tua sekali itu, tentunya sudah lapuk, asal didorong barangkali segera terbuka, tak disangka kenyataannya tidak demikian, pintu itu ternyata masih utuh kokoh dan kuat, tiada terdapat tanda- tanda sudah lapuk. Siang-koan Kie yang tidak berhasil membuka pintu itu, dalam hati merasa heran, pikirnya, “Dalam kuil ini sudah tidak ada yang meninggali, pintu juga tidak terkunci dari luar, bagaimana susah didorong? Apakah dikunci dari dalam?”

Kecuali ini, sudah tidak ada alasan lagi, apa sebabnya pintu tidak bisa dibuka.

Beberapa saat lamanya ia mengawasi pintu itu, tiba-tiba berkata dengan suara nyaring, “Apakah di dalam ada orang?”

Meskipun ia tahu bahwa dalam kamar itu tidak mungkin ada orangnya, tetapi karena tidak bisa didorong, dianggapnya dikunci dari dalam, maka ia mencoba menegurnya.

Apa yang didengarnya hanya suaranya sendiri yang mantul balik, lama menggema tidak hentinya.

Siang-koan Kie lalu mengerahkan kekuatan tenaganya, kemudian mendorong sekuat tenaganya, pintu yang tertutup rapat itu tiba-tiba terbuka, bau tidak enak menyerang hidungnya.

Ia berhenti di ambang pintu beberapa lama, baru melangkah masuk.

Perlengkapan dalam kamar itu sangat sederhana, kecuali sebuah dipan itu, sudah tidak terdapat apa-apa lagi.

Di atas dipan itu nampak menonyol, entah barang apa yang tertutup kain putih.

Lama Siang-koan Kie mengawasi dipan itu, tertarik oleh perasaan ingin tahu, ia berjalan menghampiri, tangannya memegang ujung kain putih itu, selagi hendak ditarik, kain itu segera hancur berkeping-keping.

Di bawah kain yang sudah hancur itu, terdapat tulang tengkorak yang tidur terlentang di atas dipan itu.

Siang-koan Kie mengawasi keadaan tengkorak itu, ternyata terdapat rambut di atas kepalanya, sehingga ia menduga bahwa tengkorak itu pasti adalah tengkoraknya seorang paderi, entah sudah berapa lama meninggal di dalam kamar?

Di satu sudut dipan, terdapat sebuah tempat dupa, di dalamnya penuh abu yang masih menhembuskan bau harum, mungkin ada dupa yang dinyalakan oleh paderi itu selagi hendak menutup mata.

Dengan penemuannya itu, Siang-koan Kie berpikir dalam kamar lainnya yang tertutup pintu dan jendelanya itu, mungkin terdapat keadaan yang serupa.

Karena menyaksikan sikap tenang paderi yang meninggal dunia itu, suatu bukti kematiannya bukan karena terbunuh.

Ia lalu keluar dari kamar itu, dan mengadakan pemeriksaan kamar lainnya.

Apa yang dilihatnya dalam kamar yang dibuka, adalah serupa dengan keadaan kamar yang pertama, tetapi tengkorak yang terdapat di atas dipan bukanlah satu, melainkan dua!

Tengkorak itu rebah berdampingan, nampak keadaannya, kedua paderi itu tentunya meninggal dalam sangat tenang.

Di bagian kepala kedua tengkorak itu, terdapat sebuah pendupaan, dalamnya masih berbau harum, tetapi sudah tidak ada bekas dupa, hanya tinggal abunya saja.

Suatu pertanyaan yang sulit dijawab terlintas dalam otaknya, “Bangkai2 para paderi ini hanya tinggal tulang- tulangnya saja, semua kulit dan dagingnya sudah tidak terdapat tanda bekasnya, waktunya tentu sudah terlalu lama sekali. Tetapi selama itu, mengapa tidak ada kawanan tikus atau sebangsanya yang mengganggu? Apalagi kain yang menutup bangkainya itu, meskipun sudah temoh, tetapi nampaknya masih seperti keadaan baru, sedikitpun tidak ada tanda bekas lalat atau nyamuk di atasnya………” Semakin memikir semakin tidak mengerti, akhirnya cuma bisa menghela napas dan berjalan keluar dengan tindakan lesu.

Sambil berjalan sambil berpikir, dengan tanpa dirasa sudah tiba di sebuah pekarangan lain lagi.

Keadaan pekarangan itu agak berlainan, meski tumbuh banyak rumput, tetapi di antar tumbuhan rumput itu terdapat banyak bunga beraneka warna. Tangga batunya juga terbuat dari batu kumala putih, dinding temboknya terdapat banyak lukisan.

Melihat keadaan tempat itu, ia mau menduga bahwa tempat itu tentunya adalah tempat kediamannya paderi kepala atau paderi yang tertua dalam kuil itu.

Ia mendaki tangga batu kumala itu, di depan matanya terbentang sebuah pintu warna merah yang tertutup rapat.

Lama ia berpikir, kemudian mendorong dengan tangannya. Tetapi pintu ternyata sangat kokoh, sekalipun ia sudah menggunakan enam bagian kekuatan tenaganya, masih belum berhasil membuka pintu itu.

Perlahan-lahan ia menambah kekuatannya, selagi hendak menggunakan sepenuh tenaganya, baru terdengar suara kayu patah, dan pintu itu lalu terbuka lebar.

Kamar itu diperlengkapi dengan meja dan kursi yang sangat rapi, di atas sebuah meja persegi delapan, terdapat sebuah tempat bunga yang sangat indah dan empat buah cangkir porselin. Di sebelah kamar itu tertutup oleh tirai kain sutra berwarna kuning.

Dengan sangat hati-hati Siang-koan Kie menyingkap tirai itu, tetapi kain itu lalu hancur berantakan.

Dalam kamar itu terdapat sebuah dipan besar, di atas dipan terdapat tengkorak seorang paderi yang mati dalam keadaan duduk bersemedi. Meski sudah berubah menjadi tengkorak, tetapi sikapnya masih tidak berobah.

-ooodwooo-