ISMRP Jilid 03

 
Jilid 03

TIBA-TIBA dirasakan desiran angin bercampur bau harum yang agak aneh, kemudian muncul sesosok bayangan manusia, yang melompat keluar dari sebelah kiri belakang rumah, langsung menuju kemedan pertempuran.

Orang yang baru tiba itu mengenakan pakaian berwama hijau, tangannya memegang pedang pendek, wajahnya hitam, agak sulit untuk mengenali kelima panca indranya, hanya sepa-sang matanya yang bersinar bagaikan sinar listrik.

Setiba di medan pertempuran, orang itu memperdengarkan suara tertawanya yang panjang dan nyaring, kemudian disusul dengan kata-katanya, “In-heng jangan bingung, siaotee datang untuk memberi bantuan.”

Sementara itu, orangnya sudah berada di samping diri In Kiu Liong.

Semua orang yang berada dimedan pertempuran, ketika dapat mencium bau harum aneh itu, kepalanya dirasakan pusing, kekuatan tenaganya berkurang, sehingga gerak senjata ditangan masing-masing seketika menjadi lambat.

Orang berbaju hijau itu nampak menggerakkan pedang pendeknya. Terlebih dulu menabas kutung tubuh paderi Tibet yang berpakaian beraneka wama itu, kemudian membalikkan badannya dan menikam dada In Kiu Lion.

In Kiu Liong setelah mengadu kekuatau tenaga dalam dengan paderi dari Tibet itu, masih dalam keadaan letih, ditambah dengan gerak tangan luar biasa cepatnya orang berbaju hijau itu, sudah tentu tidak bisa berbuat apa-apa. Sebelum sempat membuka mulut, pedang orang itu sudah menusuk dadanya.

Gerak orang berbaju hijau itu dilakukan sangat gesit sekali, setelah menikam In Kiu Liong, tahu2 sudah melesat kesamping si Iman dari gunung Mao-san yang sedang bertempur dengan laki-laki setengah umur yang tinggi besar itu, dengan satu tangannya ia menepuk belakang punggung laki-laki setengah umur itu.

Serangan orang itu temyata hebat sekali, sehingga senjata ditangan laki-laki itu terpental jatuh ditanah, mulutnya menyemburkan darah segar, dan kemudian dadanya ditembusi oleh pedang si Imam.

Ketika orang berbaju hijau itu, berada di sampingnya, si imam dari gunung Mao-san itu tercengang, tetapi sebelum ia bisa berbuat apa-apa, pedang pendek orang itu sudah bergerak dengan kecepatan luar biasa, menikam dadanya.

Orang berbaju hijau itu setelah menamatkan riwayat si imam dari gunung Mao-san, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, kemudian melesat tinggi dan langsung menghampiri si kurus Oey Cong.

Oey Cong yang telah menyaksikaa orang berbaju hijau itu dengan beruntun telah membunuh sekian banyak jiwa manusia, sudah siap dengan senjatanya, maka tatkala orang itu menghampirinya, ia sudah menghajar dengan tongkatnya sambil berseru, “’Siapakah engkau?”

Orang berbaju hijan itu mengangkat pedang pendeknya dengan tanpa menjawab, setelah terdengar suara benturan dua senjata, tongkat bambu Oey Cong tertabas menjadi dua potong.

Oey Cong tercengang, orang berbaju hijau itu sudah bergerak lagi kini pedang pendeknya meluncur kearah dada siorang she Oey.

Tiba-tiba kepalanya dirasakan pusing, sehingga tidak berhasil mengerahkan kekuatan tenaganya.

Orang berbaju hijau itu memperdengarkan suara tertawa dingin, pedang pendek menikam kedada Oey Cong. Kemudian ia melompat balik melayang kesamping Ong Kiat, dengan kakinya ia menendang batok kepala Ong Kiat, hingga batok kepala itu remuk dan mati seketika itu juga.

Semua orang yang ada disitu telah terpengaruh semangatnya oleh suara tertawa itu, sehingga tidak berani bergerak.

Dengan sinar matanya yang tajam, orang berbaju hijau itu menyapu wajah semua orang sejenak, kemudian berkata dengan suara nyaring, “Kalian semua sudah terkena racun yaug sangat berbisa, kalau duduk dengan tanpa bergerak, masih bisa hidup tiga jam, jikalau bergerak atau bertempur lagi, nyawa kalian hanya tinggal setengah jam saja.”

Semua orang yang ada disitu setelah mendengar perkataan itu pada tertegun.

Rombongan paderi Tibet setelah mengetahui kematian pemimpinnya, semua pada berlutut di hadapan jenazah pemimpinnya sambil membunyikan tetabuhan mereka.

Suara gembreng dan tambur serta suara jeritan ngeri tercampur aduk, kembali seorang paderi tetah roboh binasa.

Orang berbaju hijau itu tiba-tiba tertawa panjang, diantara suara tertawa itu, terdengar suara seruan tertahan, beberapa orang kuat dari pihak In Kiu Liong dan beberapa paderi Tibet telah robob binasa.

Perobahan secara mendadak itu, sangat mengherankan semua orang yang masih hidup, ketika menyaksikan sang korban jatuh satu persatu, dalam hati setiap orang yang masih hidup hanya bisa menantikan giliran datangnya maut dengan tidak berdaya.

Tiba-tiba terdengar bentakan keras yang keluar dari mulut Hiong Kian Hui, kemudian menerjang kearah orang berbaju hijau itu. Dengan kecepatan bagaikan kilat orang berbaju hijau itu melompat dua langkah kekiri, menghindarkan serangan Hiong Kian Hui, kemudian balas menyerang.

Hembusan kekuatan tenaga dalam yang amat dahsyat, menyambar tubuh Hiong Kian Hui, kemudian disusul oleh suara jeritan orang she Hiong itu, mulutnya lalu menyemburkan darah hidup dan jatuh roboh ditanah.

Mata orang berbaju hijau itu menyapu bangkai2 yang bergelimpangan ditanah, tiba-tiba menggerakkan pedang pendeknya dan menyerbu ke dalam rombongon orang2 itu. Di mana pedang itu bergerak, di situ lalu jatuh korban yang sudah tidak berdaya, dalam waktu sangat singkat, semua paderi dan tokoh2 rimba persilatan daerah selatan sudah roboh ditanah menjadi mayat.

Selagi orang berbaju hijau itu sedang asyiknya menteror, In Kiu Liong yang terluka didadanya tiba-tiba bangkit duduk, ia mengambil bungkusan kain sutera putih yang telah dibawanya kemari, dan bungkusan kain sutra kuning yang dibawa oleh paderi Tibet, kemudian dilemparkan kedalam perapian dupa yang masih mengepul, selesai dengan pekerjaannya itu, ia roboh lagi.

Perbuatan orang berbaju hijau itu sesungguhnya sangat ganas sekali, dalam waktu sekejap saja, beberapa puluh tokoh kuat dari daerah selatan dan beberapa puluh paderi Tibet, semua telah terbunuh habis.

Rumput ditanah lapang menjadi merah tersiram darah, bangkai manusia berserakan dimana-mana, merupakan suatu pemandangan yang mengerikan.

Diatas tanah lapang yang luas itu, hanya tinggal perempuan muda berbaju merah itu yang masih berdiri ditempatnya bagaikan patung hidup.

Ia agaknya sudah hilang perasaannya, bagaikan orang linglung ia mengawasi perbuatan orang berbaju hijau yang sedang membunuh-bunuhi jiwa manasia bagaikan membabat ramput, sepatah katapun tidak keluar dari mulutnya.

Sewaktu orang berbaju hijau itu menghampirinya dengan pedang terhunus, ia masih tetap berdiri seperti tidak merasa bahwa jiwanya sedang terancam.

Orang berbaju hijau itu mengangkat pedang pendeknya, tetapi dengan cepat diturunkan kembali, setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia menotok jalan darah perempuan muda itu.

Dengan serta merta tubuh perempuan itu roboh.

Orang berbaju hijan itu dengan tangan kiri memegang pedang, tangan kanannya dengan cepat menyambar tubuh perempuan itu, lalu dipondongnya, kemudian lompat melesat keatas genteng dan lari laksana terbang.

In Kiu Liong yang rebah di dekat perapian dupa sembahyang, tiba-tiba bangkit duduk lagi, ia merayap ke samping jenazah imam dari gunung Mao-san dan me-raba2 saku imam itu, dari dalam saku mengeluarkan sebuah botol kecil. Botol kecil itu dibuka tutupannya, mengeluarkan beberapa butir pil, kemudian dimasukkan kedalam mulutnya, setelah itu ia memejamkan matanya. Sesaat kemudian tiba- tiba ia berdiri, tetapi baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba berhenti.

Sekonyong-konyong ia menyambar tubuh seseorang yang sudah menjadi bangkai, dengan cepat ia membuka baju pakaian bangkai itu, lalu membuka pakaian sendiri. Pakaian bangkai itu dipakainia, dan pakaian sendiri dipakaikan ke badan bangkai tersebut. Selesai menukar pakaian, bangkai itu diangkatnya, kepalanya dibenturkan di batu perapian pendupa, sehingga remuk, kemudian diletakkan didekat perapian, ia sendiri lalu berusaha kaburkan diri.

Baru saja ia menghilang, orang berbaju hijau itu balik kembali. Matanya menyapu ke tempat itu sejenak, kemudian dengan tindakan lambat2 berjalan menghampiri batu perapian. Dengan kakinya ia menendang bangkai orang itu yang dikiranya adalah bangkai In Kiu Long. Ia menundukkan kepala untuk mengamat-amati bangkai itu.

Karena kepala orang ini sudah remuk wa jahnya sudah susah dikenali. Walaupun ia sangat licin dan cerdik, tetapi juga tidak mengerti apa sebabnya. Ia masih memeriksa sejenak, kemudian mendongakkan kepalanya dan bersiul nyaring, setelah merasa puas, baru lompat melesat dan berdiri di samping.

Suara siulan itu menggema sekian lama, sehingga Siang- koan Kie yang sembunyi di atas loteng merasa sangat kagum kesempumaan kekuatan tenaga dalam orang itu. Sayang perbuatannya sangat ganas, nampaknya bukan orang dari golongan baik.

Sesaat kemudian, dari atas genteng sebelah timur tiba-tiba muncul delapan sosok bayangan orang, orang2 itu, gerakannya gesit sekali, mereka berjalan mendatangi melalui genteng2 rumah.

Setiap orang di mukanya ditutup dengan kerudung kain hitam, hanya dibagian matanya yang terdapat dua lobang. Mereka semua membawa senjata, begitu melihat orang berbaju hijau segera lari menghampiri, setelah memberi hormat dengan jalan menjura, mereka berdiri tegak dengan tangan diluruskan ke bawah. Sikap mereka sangat menghormat sekali.

Sikap orang berbaju hijau itu sebaliknya sangat sombong sekali, bukan saja tidak mau membalas hormat, bahkan memandangnya sajapun tidak. Dengan nada suara amat dingin ia memberi perintahnya, “Kuburlah semua bangkai ini, bekas darah harus disapu bersih, tidak boleh meninggalkan bekas sedikitpun juga.” Delapan orang jang semua berpakaian ringkas itu dengan serentak membongkokkan badan memberi hormat saraya menjawab, “Harap Cungcu tidak usah khawatir.”

Orang berbaju hujau itu menganggukkan kepalanya, dengan tindakan lebar ia berjalan menuju keperapian batu, dengan kakinya ia menendang batu perapian itu, sehingga melayang sejauh satu tombak lehih dan jatuh menelungkup di tanah.

Ia agaknya masih belum merasa puas, kembali berpaling untuk member perintah kepada delapan orang itu, katanya, “Batu perapian ini juga ditanam sekalian, barang-barang dalam perapian jangan diganggu.”

Dengan tanpa menunggu jawaban orang2 itu, tiba-tiba ia menggerakan kedua lengannya, badannya melompat setinggi dua tombak lebih, dalam waktu sekejap mata saja sudah berada di tempat sejauh tiga tombak.

Pekerjaan itu dilakukan cepat sekali, tetapi karena banyak bekas tanda darah, juga sudah memakan waktu kira-kira dua jam lebih, baru selesai. Yang terakhir menanam batu perapian saat itu hari sudah senja.

Benar saja, tiada seorangpun yang berani melihat barang- barang dalam batu perapian itu.

Sekali lagi delapan orang itu memeriksa tempat tersebut, setelah merasa sudah tidak terdapat tanda2 darah, baru berlalu.

Siang-koan Kie yang bersembunyi di atas loteng setelah menyaksikan peristiwa yang sangat menyedihkan itu, hatinya merasa sangat terharu. Berkata ia kepada diri sendiri sambil menghela napas, “Bahaya dalam dunia Kang-ouw, benar- benar sukar sekali dijaganya, betapapun tinggi kepandaian seseorang, juga sulit menjaga serangan secara menggelap. Orang berbaju hijau itu dalam waktu sekejap mata saja sudah membunuh jiwa enam tujuhpuluh orang, bahkan di antaranya terdapat jago2 dan tokoh2 rimba persilatan kenamaan.”

Ia mendongakkan kepala, sinar matahari sore menyinari daun pohon dan genteng di atas loteng, pemandangan di waktu senja, masih tetap indah sebagaimana biasa, tetapi dunia rimba persilatan hari itu telah kehilangan enampuluh jiwa penghuninya. Orang2 itu, di masa hidupnya entah sudah berapa lama dan dengan susah payah mempelajari dan melatih ilmu silatnya, tetapi jeri payahnya selama beberapa puluh tahun itu, dalam waktu sekejap mata saja semua sudah lenyap terkubur di dalam tanah.

Demikiankah nasibnya orang2 kang-ouw? Memikirkan hal itu, dengan tanpa dirasa ia menghela napas panjang.

Tiba-tiba terdengar suaranya orang tua yang cacat kakinya itu, “Sungguh ganas perbuatan orang itu, benar-benar satupun tidak ada yang hidup.”

Pada saat itu, beberapa puluh ekor burung beterbangan di atas tempat sekitar luar kuil itu sehingga dalam hatinya merasa heran, setelah berpikir sejenak ia lalu bertanya kepada orang tua itu, “Locianpwee, apakah yang locianpwee maksudkan itu adalah orang berbaju hijau tadi?”

“Ya, dalam waktu sekejap mata saja ia sudah membunuh enam tujuh puluh jiwa manusia, agaknya masih belum merasa puas, sehingga delapan anak buahnya sendiri juga sudah habis dibunuh.”

Siang-koan Kei terkejut ia lalu bertanya,   “Benarkah itu… ?”

Tiba-tiba ia merasa bahwa pertanyaan itu tidak sopan terhadap satu orang tua, maka selanjutnya ia berkata lagi, “Aku akan pergi lihat.”

“Tidak usah pergi melihat, delapan orang itu barang kali cuma tinggal tulang-tulangnya saja.” “Boan-pwee akan pergi sebentar, akan segera pulang,” berkata SiangKoan-Kie yang segera melompat keluar dari lobang jendela.

Orang tua itu juga tidak merintangi, ia hanya duduk di pinggir jendela sambil mengawasi langit yang saat itu nampak berwarna kuning.

Siang-koan Kie ada orang jujur, ia masih belum mau percaya dalam dunia ini benar-benar ada orang sedemikian kejam, maka setelah mendengar perkataan orang tua itu, ia tidak dapat menahan perasaannya yang ingin menyaksikan sendiri.

Setelah tiba diluar, ia menarik napas panjang, lalu mengerahkan ilmunya lari pesat, lari keluar kuil.

Karena keinginannya begitu keras, maka larinya juga pesat sekali, dalam waktu sekejap saja ia sudah tiba di luar kuil.

Ia segera menampak ratusan ekor burung besar yang sedang berebutan makan bangkainya beberapa orang, sebentar saja daging bangkai manusia itu sudah dimakan habis, yang tinggal hanya delapan buah tengkorak.

Meskipun ia sudah lama mengikuti guruuya berkelana di dunia Kang-ouw, tetapi kejadian semacam ini barulah pertama kali ini ia melihatnya, sehingga diam-diam merasa heran dan terkejut.

Rombongan burung itu setelah makan habis dagingnya delapan bangkai, agaknya masih belum cukup, sehingga pada beterbangan dan saling menyerang sendiri, yang terluka dan jatuh dibawah segera diserbu dan dimakan dagingnya, dalam waktu sekejap mata saja ratusan ekor burung itu sudah ada tiga puluh ekor lebih yang mati, tetapi hanya tinggal bulunya yang berserakan ditanah.

Setelah itu, kawanan burung itu agaknya sudah merasa kenyang, sehingga pada terbang pergi. Siang-koan Kie berdiri tertegun dibawah pohon cemara, menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu.

Setelah kawanan burung itu terbang pergi, ia menghela napas panjang dan berkata kepada diri sendiri, “Burung- burung itu meskipun sangat ganas dan saling membunuh, hanya untuk mengenyangkan perutnya, tetapi setelah merasa kenyang, lantas pergi. Orang yang sangat kejam itu, kalau dibanding dengan kawanan burung itu tenyata ada lebih ganas dan buas… ”

Sementara itu di belakang dirinya tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin yang sangat perlahan. Ketika ia berpaling, segera dapat lihat seorang bermuka hitam yang sulit dikenali letak panca indranya, dengan pakaiannya yang serba hijau berdiri dengan tenang di tempat sejauh sembilan kaki lebih, ujung bibir orang itu masih tersunging senyum yang dingin, kecuali sinar matanya yang dingin, masih terlihat giginya yaug putih, oleh karena mukanya hitam luar biasa hingga giginya nampak tambah putih.

Orang itu terus berdiri dengan tenang, matanya menatap muka Siang-koau Kie, tetapi tiada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Siang-koan Kie hanya merasakan bahwa sinar mata orang itu, penuh dengan nafsu kebuasan, sehingga membuat takut orang yang melihatnya, ia berdiri sekian lama, baru memberanikan diri untuk bertanya, ”Kau siapa, apa perlunya mengawasi aku?”

Orang berbaju hijau itu masih tidak menjawab, ia berjalan lambat2, matanya terus menatap muka Siang-koan Kie dengan tanpa berkedip.

Siang-koan Kie diam-diam sudah siap, sementara itu hatinya berpikir, “Habislah, kepandaian orang ini sangat tinggi sekali, bagaimana aku dapat menandingi?” Sebelum pikiran itu lenyap orang berbaju hijau itu sudah berada di hadapannya, dengan mengulurkan tangan kirinya, dengan cepat menyambar pergelangan tangan kiri Siang-koan Kie.

Gerakan tangannya itu tidak terlalu gesit, tetapi sangat luar biasa anehnya. Siang-koan Kie coba mengelakkan ternyata tidak berhasil, hingga pergelangan tangan kirinya sudah tersambar oleh orang itu. Dalam kegelisahannya, ia lalu menyerang orang itu dengan kepalan tangan kanannya.

Serangan itu dilakukan sangat cepat, juga dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya.

Orang berbaju hijau itu memperdengarkan suara hidung, kemudian menggeser kakinya untuk menyingkir diri, sedang tangan kanannya telah bergerak dengan cepat.

Siang-koan Kie hanya merasakan kesemutan dibagian sikutnya. Kekuatan tenaga dalam badannya tiba-tiba telah lenyap.

Orang berbaju hijau itu bertanya dengan nada suara dingin, “Kau siapa?”

Siang-koan Kie saat itu setengah bagian badannya sudah kaku sehingga sudah tidak mempunyai kekuatan untuk memberi perlawanan. Jalan darah separuh badannya juga tertutup, hingga darahnya tidak bisa mengalir seperti biasa, maka diam-diam lalu berpikir, orang ini terlalu ganas, dalam waktu sekejap mata saja, telah mengambil begitu banyak jiwa manusia, kalau sekarang ia hendak membunuh aku tentunya sangat mudah saja……..

Orang berbaju hijau itu agaknya sudah tidak sabar lagi. Dengan suara lebih nyaring ia menegur, “Kau dengar pertanyaanku atau tidak?”

Siang-koan Kie tiba-tiba nyendapat suatu pikiran, maka ia lalu menjawab, “Aku hendak pergi memenuhi janji sahabatku, kebetulan lewat di tempat ini, hingga dapat lihat kawanan burung yang berebut makan bangkai manusia… ”

Orang berbaju hijau itu terbuka mulutnya untuk tertawa tetapi tidak terdengar suaranya, hanya tampak giginya yang putih menyeramkan.

“Kau hendak memenuhi janji siapa?”

“Untuk menemui satu sahabat seorang she Ang……..” Ia berhenti sejenak dan berkata pula, “Pelu apa kau menanyakan persoalanku?”

Orang berbaju hijau itu berpikir sejenak, baru berkata, “Apakah yang kau maksudkan adalah Ang Thian Gee, orang yang mempunyai gelar manusia beracun bertangan seribu itu?”

Siang-koan Kie berpikir, “Nampaknya dia kenal dengan Ang Thian Gee, kalau begitu aku boleh membohonginya.”

Seketika itu ia lalu berkata, “Benar, bagaimana kau bisa menebak jitu?”

Ia mengira bahwa kebohongannya itu akan dapat mengelabuhi mata orang itu, tak disangka orang itu setelah mendengar pertanyaannya, se-konyong-konyong mendongakkan kepalanya dan memperdengarkan suara ketawa dingin, setelah itu baru berkata, “Sungguh licin, apakah kau kira perkataanmu itu dapat membohongi aku?”

Setelah itu, lalu membalikkan badannya dan lari.

Karena pergelangan tangan kiri Siang-koan Kie terpegang olehnya, hingga tidak dapat melepaskan diri, sedang separo badannya sudah kaku sehingga tidak dapat lari, tetapi ditarik secara paksa oleh orang itu, ia merasa dirinya seperti diangkat dan berjalan mengapung di tengah udara. Walaupun badannya sudah terluka, tetapi pikirannya masih jernih, ia sangat heran dan mengagumi kekuatan tenaga dalam orang itu.

Dia merasa seperti terbang, dalam waktu sekejap mata saja sudah berada di atas puncak sebuah gunung.

Orang berbaju hijau itu tiba-tiba menghentikan kakinya, ia melepaskan tangan Siang-koan Kie dan berkata, “Kau terjunlah dari tebing jurang ini! Meskipun kau akan mati dalam keadaan hancur tubuhmu, tetapi setidak-tidaknya lebih baik dari pada mati tersiksa di tanganku.”

Bicaranya itu sangat tenang sedikitpun tidak mengandung hawa amarah. Sejenak Siang-koan Kie ternganga, ia baru teringat maksud dalam perkataannya itu sehingga diam-diam bergidik, sementara itu hatinya berpikir, “Orang ini selagi hendak membunuh orang, masih tetap berlaku tenang, benar- benar sangat kejam dan rmenakutkan… ”

Karena melihat Siang-koan Kie lama tidak menjawab, orang berbaju hijau itu agaknya tidak sabar ia berkata pula, “Dalam waktu yang sangat singkat, kau harus memilih jalan kematiaumu, jika meliwati batas waktu, jangan sesalkan aku yang nanti akan turun tangan sendiri untuk membunuhmu.”

Siang-koan Kie diam-diann mengerahkan tenaga dalamnya, tetapi ia merasa separuh badannya kaku dan kesemutan, sulit untuk bergerak.

Dalam hatinya berpikir, “Orang ini sangat ganas, kalau dibinasakan olehnya, lebih bercelaka lagi, kalau toch betul aku sudah tidak terhindar dari kematian, lebih baik aku mengambil keputusan sendiri jangan sampai terhina olehnya… ”

Orang berbaju hijau itu agaknya dapat menebak isi hati Siang-koaa Kie. Ia berkata sambil tertawa dingin, “Urat-urat dan jalan darah separuh badanmu sudah terluka, kau sudah tidak bisa mengerahkan kekuatan tenaga dalammu lagi, kalan kau terjun dari tebing jurang ini, sudah tidak ada harapan hidup lagi, jangan harapkan jiwamu bisa tertolong.”

Perasaan gusar Siang-koan Kie seketika itu meluap, maka ia lalu berkata, “Seorang laki-laki mengapa harus takut mati?” Dengan tindakan lebar ia lalu berjalan ketepi jurang.

Ketika ia mendongakkan kepala, matahari masih memancarkan sinarnya yang gilang gemilang, pemandangan alam di sekitar guunng itu nampaknya sangat indah,hingga perasaannya saat itu mulai sangsi.

Jiwanya yang sangat berharga, dalam waktu hanya selangkah saja sudah akan tamat meninggalkan dunia yang indah ini, ia seperti selama hidupnya itu belum pernah menyaksikan keindahan alam seperti hari itu. Sepasang matanya berputaran agaknya hendak menikmati sepuas- puasnya keindahan alam yang sudah akan ditinggalkannya itu.

Tiba-tiba ia merasakan satu tangan orang berbaju hijau itu menyentuh belakang punggungnya kemudian disusul oleh kata-katanya yang bernada sangat dingin, “Terjunlah!”

Siang-koan Kie merasakan satu dorongan kuat di belakang dirinya, sehingga tanpa dapat menguasai dirinya ia sudah melompat terjun ke bawah jurang.

Kekuatan yang mendorong dirinya itu sangat hebat sekali, hingga tubuh Siang-koan Kie yang terdorong olehnya, terbang melayang sejauh delapan atau sembilan kaki, baru meluncur ke bawah.

Demikian pesat meluncurnya tubuh itu, bagaikan bintang yang jatuh dari langit.

Orang berbaju hijau itu setelah mendorong Siang-koan Kie, tiba-tiba mementang kedua lenggannya, kemudian lari menuju ke jurusan semula.

Jatuhnya Siang-koan Kie meskipun laju sekali, tetapi pikirannya masih jernih; beberapa kali ia ingin mengumpulkan kekuatan tenaga dalamuya, supaya bisa menujukan badannya ke lereng gunung, tetapi setiap kali ia mengerahkan napas, separuh badannya dirasakan kejang.

Dalam keadaan tidak berdaya, ia hanya merasakan turunnya semakian laju, sehingga diam-diam mengeluh, “Habislah!”

Tiba-tiba sekujur badannya dirasakan dingin, napasnya tersumbat, kiranya tuhuhnya sudah kecebur ke dalam air……..

Walaupun ia bisa berenang, tetapi karena terjatuh dari tempat sangat tinggi, apalagi keadaan tubuhnya separuh kejang, maka sesaat itu badannya sudah berada dalam air sedalam kira-kira tiga tombak, air dingin yang masuk ke dalam mulutnya, telah menyadarkan pikirannya. Cepat2 ia menutup pernapasannya, dengan tangan satu yang masih bergerak, ia berusaha berenang kepermukaan air.

Setelah dengan susah payah ia timbul ke permukaan air dan tiba di pantai, tenaganya sudah habis, badannya merasa letih kepalanya merasa pusing, sehingga ia merebahkan diri untuk beristirahat, pelahan-lahan tertidur.

Entah berapa lama telah berlalu, waktu ia sadar ternyata malam sudah larut, di atas langit bintang2 bertaburan memancarkan sinarnya.

Ia me-nepuk2 kepalanya sendiri, lalu bangun dan duduk di tanah, memperhatikan keadaan sekitarnya.

Meskipun keadaan gelap, tetapi dengan dibantu oleh sinarnya bintang, samar-samar ia masih dapat melihat keadaan disitu.

Tempat itu ada suatu lembah yang panjang dan sempit, lebarnya tidak lebih dari pada tiga tombak, membujur ke timur dan berliku-liku menurun ke bawah. Dasar lembah tanahnya keras, kecuali tumbuh2an yang terdapat di sekitar danau, hampir seluruhnya merupakan tanah tandas yang banyak batunya. Danau itu luasnya hanya kurang lebih tiga kaki, panjangnya dua tombak lebih; andaikata tubuhnya tidak didorong oleh orang berbaju hijau itu mungkin tidak begitu kebetulan terjatuh ke dalam danau yaug dalam itu, tetapi terjatuh ke atas tanah keras berbatu itu.

Memikirkan pengalamannya, ia bergidik, tetapi akhirnya tertawa kecut sendiri.

Setelah lolos dari lubang jarum, semangatnya terbangun lagi. Dengan susah payah ia berdiri dan berjalan menyusuri jalan di lereng gunung, yang menurun ke bawah.

Karena separuh badannya terluka, jalannya sama dengan orang biasa. Berjalan belum antara lama, badannya mulai dirasakan hangat.

Meskipun badannya dirasakan hangat, tetapi urat2 dan daging tubultnya dirasakan semakin kejang, hingga jalannya semakin tidak leluasa.

Lamping gunung yang ada di kedua samping jalanan lembah itu menjulang tinggi ke langit. Karena tempat itu mungkin adalah daerah tandus, tidak terdapat tumbuh2an, apabila ia tidal terluka, mungkin masih bisa merambat ke atas, tetapi karena saat itu badannya terluka, bagaimana dapat naik keatas.

Ia hanya mengharap, semoga jalan lembah itu tidak terlalu panjang. Jika ia sudah ke luar dari lembah itu, mungkin bisa menemukan atau setidak-tidaknya berusaha mencari jalan yang menuju kekuil tua itu. Mungkin orang tua aneh itu dapat menyembuhkan luka2nya.

Sambil berpikir ia melanjutkan perjalanannya, berjalan kira- kira empat atau lima pal, ia telah tiba di suatu tempat yang merupakan pangkal jalanan lembah tersebut.

Tetapi di situ ternyata terhalang oleh lereng_gunung pula yang menjulang tinggi ke langit. Dengan hati pilu Siang-koan Kie berdiri di depan tebing gunung itu, rasa kecewa, duka dan putus asa, telah meruntuhkan semangatnya, sehingga kedua kakinya mendadak lemas dan duduk lemas di tanah.

Ia dudul sambil memejamkan matanya, sementara itu pikirannya terus bekerja; lembah ini apabila lembah mati, sudah tentu akan tergenang oleh air gunung. Tetapi kenyataannya ternyata tidak demikian. Mungkin di bagian lain terdapat jalanan keluar.

Karena berpikir demikian, semangatnya terbangun lagi. Ia segera berbangkit dan berjalan balik dari jurusan semula.

Panjang lembah itu kira-kira limabelas pal. Kalau Siang- koan Kie tidak terluka, sudah tentu dapat dilalui olehnya dengan sangat mudah, tetapi karena separuh badannya terluka dan kejang, perjalanan mundar mandir itu merupakan suatu siksahan hebat baginya. 

Sekalipun sangat letih, tetapi keinginan untuk hidup, telah mendorong semangatnya untuk mempertahankan dirinya menahan siksaan itu.

Ketika ia tiba di ujung lembah, ternyata hari sudah pagi.

Apa mau, di hadapannya kembali terhalang oleh lereng gunung yang sangat tinggi, hingga diam-diam mengeluh, “Habislah, nampaknya di sini benar-benar sudah tidak ada jalan keluar lagi.”

Badannya dirasakan letih sekali, ia lalu duduk menyandar batu gunung.

Pada saat itu semangatnya sudah runtuh sama sekali, pengharapan yang semula dapat menahan kekuatannya, kini perlahan-lahan mulai lenyap.

Perlahan-lahan ia memejamkan matanya dan menghela napas panjang, ia coba berusaha menenangkan pikirannya, akan tetapi perasaan letihnya semakin menjadi-jadi hingga ia akhirnya tertidur.

Dalam tidurya yang nyenyak, entah berapa lama telah berlalu, waktu ia tersadar, matahari sudah naik tinggi. Sinar matahari yang menyinari batu2 kecil yang putih bagaikan telur, menim bulkan cahaya yang menyilaukan mata.

Pemandangan itu tidak menarik perhatian Siang-koan Kie, ia hanya duduk tertegun mengawasi lereng gunung yang tinggi, sementara itu dalam hatinya berpikir, “Di dalam lembah yang buntu ini, kecuali itu danau, seluruh lembah ini agaknya penuh dengan batu2 bagaikan telur angsa ini, sehingga sebatang pohonpun tidak ada, sekalipun aku tidak mati karena lukaku juga akan mati kelaparan… ”

Manusia dalam keadaan terjepit, semakin besar usahanya untuk mempertahankan jiwanya. Begitulah keadaan Siang- koan Kie, karena mengerti jiwanya akan terancam apabila ia tidak berasaha mencari jalan, maka akhirnya dengan susah payah ia bangkit dan melanjutkan perjalanannya untuk mencari jalan keluar.

Ia berjalan sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya, tetapi apa yang disaksikannya, hanya batu2 putih bundar bagaikan telur yang menabur seluruh tempat di dalam lembah itu, tiada tampak setapakpun tanah yang ada ramputnya.

Dalam keadaan putus asa ia duduk lagi, ia merasa heran mengapa lembah itu tiada terdapat tumbuhan hijau, ia mengulur tangannya, mengambil sebuah batu yang macamnya bagaikan telur angsa.

Batu itu sangat licin dan apa yang aneh ialah rasa dingin yang luar biasa yang menyentuh tangannya.

Perlahan-lahan ia mencoba untuk menekan batu itu, ia merasa bahwa batu yang terdapat dalam lembah itu berbeda dengan batu lainnya, dilihatnya bukan saja seperti ada mengandung air yangg didalamnya, tetapi juga agak berat timbangannya kalau dibanding dengan batu yang lain, sehingga menarik perhatiannya, ia ingin mencoba untuk menghancurkan batu itu.

Ia lalu menyambitkan batu itu ke atas lamping gunung.

Tatkala batu itu terbentur dengan batu karang, lalu menimbulkan suara nyaring dan batu- batu halus pada berhamburan.

Ketika ia pergi memeriksa, ternyata batu karang di lamping gunung terdapat tanda gumpal sebagian, sedangkan batu bundar yang disambitkan tetap utuh keadaannya!

Siang-koan Kie semakin heran, ia memungut sebuah dan disambitkan lagi.

Kembali terdengar nyaring, batu kecil bundar itu terpental balik dalam keadaan utuh.

Selagi dalam keadaan terheran-heran oleh keajaiban itu, telinganya tiba-tiba mendengar suara irama seruling, bagaikan ratapan seorang ibu yang memanggil anaknya dengan penuh rasa kasih sayang.

Siang-koan Kie tiba-tiba bangkit, ia mendongakkan kepala dan bersiul panjang.

Tetapi baru saja suara siulan itu ke luar dari mulutnya, paha kirinya tiba-tiba dirasakan kejang,sehingga ia terjatuh di tanah.

Karena separuh badannya terluka, ia sudah tidak bisa mergerahkan kekuatan tenaga dalamnya, perbuatannya tadi yang dilakukan secara tanpa sadar menyebabkan lukanya semakin parah sehingga tidak dapat mempertahankan tubuhnya sendiri. Jatuhnya agak berat, sehingga 1alu pingsan.

Setelah ia siuman kembali, badannya terasa dingin, seperti tidur di atas salju. Dengan susah payah ia duduk, tangannya meraba-raba bekas tempat ia tidur, batu-batu itu ternyata masih dingin.

Ketika ia mendongakkan kepala matahari sudah condong ke barat. Ia menghitung-hitung waktunya sedikitnya dalam waktu dua jam ia sudah pingsan, tetapi batu2 bekas di mana dia rebah ternyata tidak ada rasa hangatpun juga.

Kembali ia menghela napas. Akhirnya ia hendak mengambil keputusan nekad, karena dianggapnya sudah tidak bias keluar dari situ, dari pada mati kelaparan ia harus menanggung siksaan, lebih baik bunuh dir……..

Selagi hendak bertindak, tiba-tiba terdengar suara bunyi burung, sehingga hatinya tergerak pula.

Tatkala ia mendongakkan kepala, seekor burung raksasa telah terbang menghilang ke belakang sebuah batu karang di tempat setinggi sepuluh tombak lebih di atas kepalanya, sehingga dalam hatinya berpikir, “Lembah ini masih ada burung yang datang tentunya terdapat barang berjiwa.

Oleh karenanya, maka timbulah pula keinginannya untuk hidup lagi.”

Ia memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, setelah pikirannya tenang kembali, ia membuka mata dan memandang keadaan sekitarnya, untuk mencari jalan sekiranya dapat ditempuh untuk keluar dari situ.

Kali ini karena pikirannya sangat tenang, matanya perlahan-lahan bergerak mengawasi setiap tempat di sekitar lamping gunung, ia ingin mencari tempat yang dapat digunakan untuk naik ke atas ke tempat batu karang yang menonjol, di mana burung raksasa tadi menghilang.

Tetapi ia merasa kecewa lagi, karena lamping gunung di bawah sepuluh tombak, seluruhnya licin, susah dicari suatu tempat yaug dapat digunakan untuk memanjat. Kalau diwaktu biasa, ia masih dapat menggunakan ilmunya cecak merambat di tembok, tetapi sekarang dalam keadaan terluka seperti itu, jangankan menggunakan ilmu yang mematikan kekuatan tenaga dalam itu, sekalipun berjalan sebagai biasa juga sangat susah.

-odwo-

Bab 10

DALAM keadaan demikian, terdengar pula suara irama seruling, yang mengandung penuh rasa gembira, sungguh aneh, irama seruling itu tiba-tiba membangkitkan perasaan keinginannya untuk hidup lagi.

Semangat Siang-koanKie yang sudah runtuh, telah terbangkit pula oleh pengaruh irama seruling itu.

Ia berdiri dan berjalan ke lamping gunung, kemudian duduk menyandar untuk mengatur pernapasannya.

Karana ia sudah tahu, apabila mengarahkau kekuatan tenaga dalamnya, urat2nya yang terluka segera terasa kejang, hingga menimbulkan penderitaan hebat. Kali ini ia tidak berani mencoba lagi; perlahan-lahan ia mengatur penapasannya, sedapat mungkin menghindarkan penderitaan yang hebat itu.

Betul saja penderitaan itu banyak berkurang, tidak sehebat seperti yang sudah-sudah. ketika kekuatan tenaga dalamnya mulai terpusat, uratnya yang terluka sekonyong-konyong dirasakan kejang pula, terpaksa ia buru-buru menghentikan usahanya untuk memusatkan kekuatan tenaga dalamnya.

Sewaktu kekuatan tenaga dalam itu buyar lagi rasa sakit diuratnya segera berhenti.

Penemuan itu segera menimbulkan pengharapan untuk hldup lagi, pikirnya, “Asal dengan cara demikian perlahan- lahan aku mengatur pernapasanku, mungkin dapat menyembuhkan sendiri lukaku.”

Ia menghitung-hitung mungkin sanggup menahan lapar tiga hari tiga malam, apabila selama waktu itu ia dapat mengendurkan urat-uratnya yang terluka, masih ada sisa tenaga yang dapat digunakan untuk memanjat ke batu karang tempat menghilangnya burung raksasa tadi, mungkin dapat menggunakan tenaga burung raksasa itu keluar dari tempat ini.

Apa bila dalam waktu tiga hari tidak berhasil meringankan luka-lukanya, di bawah keadaan haus dan lapar, tenaganya perlahan-lahan pasti berkurang dan akhirnya pasti akan mati kelaparan di dalam lembah itu.

Ia mulai duduk lagi, untuk bersemedi dan mengatur pernapasannya.

Tak disangka setelah dua hari dua malam ia berusaba menyembuhkan lukanya, bukan saja urat2nya tidak menjadi kendur, bahkan semangkin berat. Ia merasakan urat-uratnya telah terjadi perobahan, hingga terperanjat, ia berusaha hendak berdiri, ia baru mengetahui bahwa paha kiri dan lengan kirinya sudah tidak bisa bergerak lagi.

Berada di dalam tempat lembah mati dalam keadaan luka berat tidak bisa bergerak, sekalipun bagi orang yang mempunyai hati kuat dan perasaan teguh juga akan merasa berada di dalam keadaan putus pengharapan.

Siang-koanKie mulai meraaa kehilangan kepercayaan terhadap jiwanya sendiri, bayangan maut yang menakutkan, karena merasa sudah putus harapan sudah bukan suatu ancaman yang menakutkan lagi baginya.

Ia mendongakkan kepala mengawasi awan di langit sambil berpikir, “Sekarang kecuali setinda demi setindak mendekati ajalku, aku sudah tidak ada jalan lain lagi, sisa waktu yang tingga tidak seberapa ini alangkah besar hatinya bagai seorang yang sudah akan meninggalkan jiwanya, maka aku akan menggunakan sebaik-baiknya ”

Selagi hendak rebah untuk menikmati pemandangan alam dengan tenang, se-konyong-konyong mulutnya dirasakan haus, hatinya lalu berpikir, “Sebelum mati aku tidak boleh menderi kehausan, meskipun di lembah ini tiada barang makanan untuk dimakan, tetapi masih ada air danau yang dapat kugunakan untuk menghilangkan rasa haus.

Make, ia lalu berusaha menuju ke pinggir danau.

Meskipun jarak itu tidak jauh, tetapi dengan susah payah baru ia mencapai tempat tersebut. Oleh karena paha kiri dan lengan kirinya sudah tidak dapat digunakan, ia hanya dapat menggunakan paha kanan dan lengan kanan untuk merangkak di atasnya batu2 itu.

Pakaian di bawah tangan kanan dan kaki kanan sudah terkoyak oleh batu2 bundar itu, tetapi ia agaknya tidak merasa sakit, sebaliknya ia merasa gembira dengan pengalaman barunya itu.

Bagi sesuatu orang yang sudah mengetahui dirinya akan mati, dalam hatinya kadang2 timbul dua macam perobahan, yang satu ialah perasaan kawatir dan takut, yang lain ialah ketenangan yang luar biasa, segala penderitaan sudah tidak dihiraukan lagi. Begitulah keadaan Siang-koan Kie pada waktu itu, termasuk golongan orang yang tersebut belakangan.

Di sekitar danau itu tumbuh rumput hijau, itulah satu2nya tempat di mana tumbuh rumput.

Ketika ia tiba di tepi danau, rasa dahaga sudah memuncak, ia lalu ulur tanganya untuk menciduk air danau, setelah minum beberapa teguk rasa dingin dalam tenggorokan kembali membangkitkan semangatnya.

Bayangan mukanya yang berada di air danau, menunjukkan mukanya yang tenang dan rambutnya yang tak teratur, ia sendiri juga merasa heran akan ketenangannya pada waktu itu.

Se-konyong-konyong nampak berkelebatnya bayangan hitam di permukaan air danau. Dengan perasaan terkejut ia mendongakkan kepala, segera dapat lihat ke angkasa yang biru terdapat gumpalan awan putih. Dalam hatinya segera berpikir, “Mungkin karena lapar hingga kabur mataku, di dalam lembah mati ini yang kedua sampingnya tertutup oleh lamping gunung yang tinggi, sekalipun ada burung terbang, juga tidak bisa terbayang di permukaan air danau.”

Walaupun dalam hati berpikir demikian tetapi ia masih melongok ke air danau.

Di permukaan air danau itu tampak bayangan batu karang yang menonjol lamping gunung, di antara celah-celah batu ini, tampak bergeraknya sesosok bayangan.

Buru-buru ia berpaling, di suatu tempat terpisah kira-kira tiga puluh tombak tingginya, benar saja akan terdapat batu karang yang menonjol, yang sama bentuknya dengan apa yang disaksikannya di dalam air, hanya tidak tampak bayangan yang bergerak tadi.

Dengan hati sayu ia mengawasi tempat itu, tiba-tiba ia merasa letih sekali, lalu rebah di atas rumput dan memejamkan mata untuk beristirahat.

Ia merasa sedikit aneh di bawah badannya, ia segera meraba dengan tangannya, ia merasakan empuk sekali, ternyata tempat itu merupakan suatu tempat yang empuk, di atas tanah itu ada timbul rumput halus, hingga seperti rebah di atas kasur.

Karena selama berada di tempat itu, ia selalu tidur di atas batu bundar yang dingin, dan kini mendadak tidur di atas tanah rumput yang empuk sudah tentu menimbulkan perasaan herannya, segera tertidur dengan cepatnya. Sewaktu ia sadar, dengan tanpa disadarinya perhatiannya lebih dulu ditujukan kepada batu karang yang menonjol itu.

Matanya segera dapat melihat seekor binatang aneh yang berbulu panjang berwarna mas. Binatang itu seperti orang hutan, saat itu sedang menggunakan seutas rotan turun ke dalam lembah, di belakang punggungnya juga menggendong seikat rotan, sambil merayap turun mengendorkan rotan di atas punggungnya, sebentar-sebentar berhenti mengawasi Siang-koan Kie.

Walaupun ia belum pernah melihat binatang aneh itu, tetapi juga dapat mengenalinya sebagai seekor orang hutan yang masih hidup.

Binatang itu mukanya penakut, tetapi juga cerdik, mungkin karena tertarik oleh perasaan herannya sekalipun merasa takut, hingga berhenti melongok tetapi ia masih turun terus.

Siang-koan Kie dapat menduga bahwa binatang itu meskipun masih kecil, tetapi pasti bertenaga besar……..

Selagi otaknya berkerja, binataug itu sudah berjalan menghampirinya, ia mencoba berusaha bangkit, tiba-tiba suatu pikiran timbul dalam otaknya, “Dalam lembah ini, kecuali air minum, sudah tidak terdapat barang yang dapat dimakan, sekalipun tidak menemukan bahaya, juga tidak akan terhindar bahaya kelaparan, sebaiknya aku pura-pura tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh binatang itu?”

Maka ia lalu memejamkan matanya pura-pura tidur.

Ia merasakan tangan binatang yang berbulu dengan perlahan menutup mukanya, tetapi segera ditarik kembali.

Siang-koan Kie membuka matanya, ia melihat binatang itu berdiri sejarak lima kaki, dengan setengah berjongkok mengawasi dirinya.

Tidak berapa lama, binatang itu perlahan-lahan menghampiri lagi. Ia melihat binatang itu mengulurkan tangannya yaug panjang meraba Siang-koan Kie sambil menggoyangkan kepalanya.

Siang-koan Kie meskipun sudah tidak menghiraukan jiwanya sendiri, tetapi ketika tangan yang penuh bulu itu meraba mukanya, dalam hatinya juga timbal perasaan jeri, sehingga diam-diam memejamkan matanya.

Tangan binatang itu dari bagian muka perlahan-lahan bergerak meraba sekujur badannya. Tiba-tiba ia merasakan tangan binatang itu ditarik kembali, ketika Siang-koan Kie membuka mata, binataug itu ternyata sudah lari balik ke arah batu karang yang menonjol itu, dengan tangan memegang di rotan, cepat sekali sudah memanjat ke atas dan sebentar kemudian sudah menghilang di belakangnya batu karang itu.

Setelah binatang itu menghilang, dalam hati Siang-koan Kie tiba-tiba merasa seperti kehilangan seorang sahabat, ia mengharap munculnya kembali binatang itu, sehingga pandangan matanya sebentar2 ditujukan kearah batu karang yang menonjol itu.

Tidak lama kemudian binatang itu tiba-tiba muncul lagi dan segera merayap turun ke bawah bahkan dengan beruntun muncul sebanyak empat ekor, setiap punggung binatang- binatang itu semua membawa ikatan rotan.

Empat binatang itu merayap turun cepat sekali, dalam waktu sekejap mata sudah berada di tanah. Kali ini tanpa ragu2 lagi semuanya lari menghampiri Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie tidak tahu apa maksud binatang2 itu, tetapi karena ia sendiri dalam keadaan sudah tidak berdaya, maka ia diam saja.

Empat binatang orang hutan itu berjalan mengintari dirinya mulutnya mengeluarkan suara yang tidak dimengerti olehnya. Siang-koan Kie yang sudah tidak menghiraukan jiwanya, sedikitpun tidak mempunyai rasa takut, sebaliknya yang merasa senang dalam keadaan kesepian seperti itu mendapat kawan demikian banyak.

Tiba tiba ia merasa kaki dan tangannya bergerak dan badannya terangkat, meskipun ia ingin membuka matanya tetapi ia takut mengejutkan empat binatang itu, maka ia paksakan diri dan membiarkan dirinya diperlakukan apa saja oleh binatang itu.

Kini ia telah merasa bahwa lengan tangan, kedua paha dan badannya telah diikat oleh tali, dalam terkejutnya ia lalu membuka mata, sehingga ia dapat lihat empat binatang itu dengan menggunakan rotan yang mereka bawa untuk mengikat dirinya. Ia coba mengerahkan kekuatannya hendak memutuskan rotan, tetapi lukanya segera meraaa sakit, sehingga tidak berdaya lagi.

Ia terpaksa menyerahkan nasibnya kepada binatang itu.

Empat binatang itu bekerja cepat sekali, sebentar saja sekujur badan Siang-koan Kie sudah terikat seperti lepat kemudian digotong dan dibawa lari ke lamping gunung itu.

Siang-koan Kie meski membuka matanya, tetapi empat ekor binatang itu agaknya sudah tidak takut lagi, sambil mengeluarkan suara cecuitan, mereka meletakkan Siang-koan Kie, kemudian pada lompat seperti kegirangan.

Sejenak kemudian, satu di antaranya tiba-tiba bersiul dan lompat setinggi empat lima kaki, menyambar rotan yang menggantung di tebing gunung itu, binatang itu menggunakan kaki dan tangannya bergerak dengan cepatnya, sebentar saja sudah inemanjat keatas batu karang yang menonjol yang terletak setinggi seratus tombak lebih di lamping gunung itu.

Seekor yang lainnya menelah perbuatan itu, tinggal dua ekor lagi, yang menarik rotan itu kemudian diikat dengan rotan yang mengikat tubuh dan kaki. Dua ekor binatang itu bersiul panjang dan mendongak ke atas, dua ekor lainnya yang berada di atas ketika mendengar suara itu, segera menarik rotannya, hingga badan Siang-koan Kie tertarik ke atas, sebentar saja sudah berada di tempat setinggi tiga empat puluh tombak.

Tatkala ia melongok ke bawah ia telah menyaksikan dua binatang yang di bawah masih mendongakkan kepalanya mengawasi dirinya, hingga diam-diam ia merasa geli sendiri.

Ia merasakan dirinya ditarik ke atas semakin cepat, tiba- tiba matanya menjadi gelap, suara aneh terdengar dalam telinganya, waktu ia memandann dengan seksama ternyata dirinya sedang rebah tertelentang di sebuah gua.

Gua itu sangat luas, di tempat masuk kira-kira dua tombak lalu membelok ke kanan, oleh karena mulut gua teraling oleh batu karang, sehingga tidak mudah terlihat dari bawah.

Dua ekor binatang itu setelah menarik badannya Siang- koan Kie, agaknya merasa letih, mereka hendak beristirahat di mulu gua, tetapi sikapnya nampak sangat gembira, sehingga saban2 mulutnya cecuitan dan tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara siulan, dua ekor binatang itu ketika mendengar suara itu, agaknya baru teringat dua kawannya yang masih berada di bawah lembah, mereka lalu membuka rotan yang mengikat badan Siang-koan Kie, kemudian diturunkan ke bawah.

Sebentar kemudian dua ekor binatang yang berada di bawah juga sudah naik ke atas, empat ekor binatang saling berjumpa, setelah loncat 2′ sebentar lalu menggotong tubuh Siang-koan Kie lagi, berjalan masuk ke dalam gua.

Siang-koau Kie diam-diam memperhatikan keadaan dalam gua itu, ia merasa gua itu kering keadaannya tetapi luas dan dalam. Empat ekor binatang itu menggotong padanya meliwati empat lima tikungan, baru berhenti. Itu ada sebuah kamar batu yang cukup luas di bawahnya terdapat rumput kering, rebah di atasnya, seperti rebah di atas pembaringan. Empat ekor binatang itu setelah meletakkan dirinya di tempat itu, segera berebut hendak lari keluar, agaknya tidak mau ketinggalan, hingga membuat Siang-koan Kie yang menyaksikannya merasa sangat heran.

Tidak antara lama empat ekor binatang itu mundur kembali, tingkah lakunya sama waktu hendak keluar. Setiba di dekat Siang-koan Kie, baru berhenti dengan serentak, kini Siang-koan Kie baru dapat lihat bahwa setiap tangan empat binatang itu ada membawa buah yang disodorkan kepadanya.

Siang-koan Kie yang sudah beberapa hari tidak makan, ketika melihat buah segar yang besar dan menarik itu sudah ingin makan saja, tetapi karena tangannya masih terikat oleh rotan, ia tidak sanggup menyambuti.

Binatang itu meskipun cerdik, tetapi biar bagaimana bukanlah mannsia, berkutet sekian lama seekor di antaranya barulah mengetahui bahwa kedua tangan Siang-koan Kie masih terikat, maka segera membuka rotan yang mengikat tangannya.

Siang koan Kie gerak-gerakan kedua tangannya, ia mengambil buah yang diletakan di tanah lalu dimakannya dengan lahapnya.

Empat binatang yang menyaksikan demikian nampaknya sangat girang, kemudian berjalan keluar lagi.

Siang-koan Kie yang dalam keadaan lapar setelah makan habis empat buah-buahan itu, rasa laparnya lenyap seketika, semangatnya juga terbangun lagi, setelah beristirahat sebentar, ia dapat melepaskan sendiri ikatan rotan pada badannya.

Ia mencoba untuk berdiri dan berjalan sebentar, meski lukanya masih belum berkurang tetapi sudah bergerak, hanya tidak dapat mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya sehingga kepandaiannya hilang semua. Diam-diam ia mengeluh karena dalam keadaan dan tempat seperti itu, orang yang sudah hilang semua kepandaiannya, sekalipun tidak akan terluka oleh binatang buas, juga tak bisa berlalu dari tempat itu……..

Pada saat itu seekor orang hutan besar berbulu warna mas lari masuk.

Orang hutan itu setinggi manusia, bulu sekujur badannya berwarna emas, 1engannya panjang, matanya bersinar, bulu rambut di atas kepalanya panjang menurun sampai batas pinggang, bentuk badannya kekar nampakanya sangat menakutkan, empat orang hutan kecil yang mengikuti di belakangnya hanya sebatas pinggangnya saja.

Siang-koan Kie berdiri tertegun, pikirnya dalam hati, “Binatang ini besar gekali, tenaganya pasti besar juga, karena lukaku belum sembuh, terpaksa kuserahkan kepada nasibku sendiri.”

Orang hutan tinggi besar itu sekonyong-konyong mengulur tangannya, mulutnya cecuitan, agaknya menanyakan apa-apa.

Siang-koan Kie tidak mengerti apa maksudnya, binatang itu bergerak-gerak tangan dan kakinya tetapi juga tidak mengerti apa yang dikatakan.

Binatang itu agaknya sangat sabar, berulang-ulang ia menggerak-gerakan tangan dan kakinya untuk menanyakan maksudnya.

Siang-koan Kie sangat sempit, pikirannya mulai tenang, ketika binatang itu memulai lagi dengan pertanyaannya yang menggunakan gerakan-gerakan tangan dan kakinya, ternyata sudah dapat memahami sebahagian, maka ia segera bersenyum, dan balik lagi untuk merebahkan diri di atas rumput kering itu.

Binatang besar itu ketika melihat Siang-koan Kie merebahkan diri, lalu memberi isyarat kepada empat ekor binatang yang kecil, menyuruh mereka mundur, kemudian dia sendiri juga mengundurkan diri.

Siang-koan Kie yang menyaksikan kejadian itu dalam hati merasa heran, pikiraya, “Binatang ini agaknya mempunyai pikiran bagaikan manasia, ia menyuruh aku beristirahat, maka aku harus beristirahat sebaik-baiknya.”

Ia lalu memejamkan matanya, sebentar sudah tidur nyenyak.

Waktu ia sadar hari sudah malam, keadaan dalam kamar gelap gulita.

Ia merasa agak enakan, kecuali tidak dapat memusatkan kekuatannya, segala-galanya normal seperti orang biasa.

Ia mulai memikirkan pengalaman yang aneh itu, kerena kepandaiannya sudah hilang, untuk bisa keluar dari tempat itu, kemungkinannya sedikit sekali, akan tetapi ia juga tidak bisa berdiam terus di situ bersama orang hutan itu……..

Tiba-tiba hatinya berpikir, “Gua ini letaknya di atas tebing gunung yang tinggi tidak terdapat tumbuhan dan pepohonan, tetapi buah-buahan yang diberikan kepadaku oleh empat ekor orang hutan tadi, terang masih segar, entah dari mana mereka dapatkan? Apakah dalam gua ini masih terdapat jalanan rahasia yang menuju keluar?”

Manusia kalau berada dalam keadaan putus harapan, kadang-kadang dapat memikirkan banyak soal untuk menghibur dirirya, sebagai dorongan bagi harapan hidupnya; Siang-koan Kie berpikir demikian, timbullah pula harapannya untuk hidup, dan harapan itu kini semakin tebal.

Hanya dalam waktu beberapa itu ia telah menjumpai banyak kejadian hal-hal yang luar biasa, juga menyaksikan orang-orang yang mempunyai kepandaian sangat tinggi yang sudah tidak ada taranya, serta orang-orang jahat buas banyak akal yang sangat berbahaya. Semua itu telah membuat dirinya harus waspada dan hati-hati terhadap sesama mannsia. Meskipun ia merasa bahwa di tempat itu ada jalanan rahasia yang menghubungkan dengan dunia luar akan tetapi ia tidak berani berlaku ceroboh.

Sang waktu berlalu dengan cepatnya, Siang-koan Kie sudah sepuluh hari lebih di kamar batu dalam gua itu.

Selama sepuluh hari itu, orang hutan besar itu jarang muncul di dalam kamarnya, hanya empat ekor orang hutan kecil itu, yang setiap hari datang membawakan banyak buah- buahan untuk ia makan.

Hari itu diwaktu senja, orang hutan besar itu tiba-tiba muncul di hadapannya dengan membawa empat ekor orang hutan kecil, ia memegang tangan kiri Siang-koan Kie, digoyang-goyangkan tidak berhenti mulutnya mengeluarkan suara cecuitan, sikapnya nampak sangat gelisah.

Siang-koan Kie meski sudah sekian lama pergaulan dengan beberapa orang hutan itu, hingga terhadat sifat dan kelakuannya sudah tidak merasa asing seperti semula ia datang, tetapi kelakuannya dan kata-katanya pada saat itu, masih belum dapat dimengerti seluruhnya, ia hanya merasa bahwa sikap binatang itu sangat gelisah, jauh berbeda sebagaimana biasanya, jikalau tidak menjumpai kejadian- kejadian yang berbahaya tentunya kejadian2 penting yang menggirangkan.

Kemudian ia merasa bahwa keadaan orang hutan besar itu semakin cemas, hingga terpaksa ia bangkit.

Orang hutan besar itu ketika menampak dirinya berdiri, lalu berhenti bersuara dan melepaskan tangannya kemudian berjalan keluar.

Siang-koan Kie sejenak merasa sangsi, kemudian mengikuti di belakang orang hutan itu, sementara empat orang hutan yang kecil, yang agaknya sudah kenal betul dengan Siang- koan Kie, nampak berjalan di sampingnya. Meskipun sudah lama ia menyimpan rencana hendak menyelidiki jalan rahasia yang menghubungkan gua itu dengan dunia luar, tetapi karena kepandaiannya sudah lenyap, gerak jalannya sangat lambat, ia khawatir akan diketahui maksudnya oleh binatang itu, karena bahasanya satu sama lain tidak dimengerti apabila terjadi salah paham, pasti tidak dapat menjelaskan. Maka ia terpaksa berlaku sabar sambil mencoba untuk memulihkan kekuatannya, sekalipun kepandaiannya sudah dipulihkan kembali, tetapi apa bila berdiam lebih lama dengan kawanan binatang itu mungkin lama-lama bisa saling mengerti, apabila keadaan sudah baik, ia akan berusaha lagi, apakah di situ terdapat jalan keluar atau tidak? Akan tetapi apa yang telah terjadi, sesungguhnya di luar dugaannya, jalan belum berapa lama ia telah ditarik keluar oleh orang hutan besar itu.

Karena kepandaiannya sudah lenyap, lagi pula separuh badannya kaku, maka jalannya tidak leluasa. Ia berjalan di belakang orang hutan besar itu, setelah melalui tujuh atau delapan tikungan, tiba-tiba sudah berada di suatu tempat yang luas.

Orang hutan itu tiba-tiba bersiul panjang dan lompat melesat ke depan.

Karena cuaca gelap, tidak bisa melihat dengan nyata keadaan di depan matanya, ia hanya samar dapat lihat bahwa tempat itu banyak lebih luas daripada tempat ia berdiri. Menampak caranya orang hutan besar itu melayang turun, tempat yang agak luas itu tiba-tiba merupakan tempat yang agak rendah, ia hanya dapat lihat berkelebatnya warna kuning emas bulu orang hutan itu, dan kemudian menghilang di tempat gelap.

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Jika ditilik dari keadaannya orang hutan tadi melompat ke depan, di depan itu mungkin ada satu tempat yang sangat dalam, sekarang kepandaianku sudah lenyap, sulit untuk memusatkan kekuatan tenagaku, sehingga tidak dapat menggunakan kepandaianku meringankan tubuh. Kalau aku paksakan diri, mungkin akan patah tulang2ku.”

Oleh karenanya, maka ia maju ke depan dengan jalan lambat2.

Benar saja, setelah berjalan kira-kira satu tombak, tanah di depannya tiba-tiba mendatar turun dari atas ke bawah kira- kira setombak dalamnya, karena ia khawatir akan patah tulangnya, ia bersangsi, tidak berani lompat turun……..

Tetapi pada saat itu, empat orang hutan kecil itu sekonyong-konyong sudah pada lompat turun dengan enaknya.

Siang-koan Kie yang menyaksikan tindakan orang hutan kecil itu, tiba-tiba timbul keberaniannya, pikirnya, “Masa aku kalah terhadap orang hutan kecil saja?”

Seketika itu ia lalu lompat turun sambil kertak gigi.

Tetapi memang keadaau badannya tidak mengijinkan, ia lalu jatuh bergulingan, hingga sekujur badannya dirasakan semakin sakit. Lama ia duduk tanpa berdaya, baru bisa merayap bangun lagi.

Tetapi orang hutan besar dan empat orang hutan kecil itu, entah sudah ke mana larinya?

Dengan kedua tangan ia menunjang tanah ia bangkit, tatkala tangannya menyentuh tanah ia merasakan bahwa tanah itu sangat lembek, bukanlah batu seperti apa yang ada di dalam lembah.

Semangatnya terbangun lagi, pikirnya, “Lembah ini merupakan lembah batu tetapi di sini terdapat tanah lembek, sudah tentu terdapat binatang berjiwa atau tumbuhan alam, buah2 yang dibawa oleh empat orang hutan kecil itu, mungkin didapatkan dari sini. Jalanan ini mungkin bisa menuju ke dunia luar.” Karena hatinya merasa girang, ia telah melupakan rasa sakit dibadannya. Dengan susah payah ia baru bisa berdiri, setelah itu, ia menarik napas panjang, kemudian melanjutkan perjalanannya.

Berjalan kira-kira sejauh empat lima tombak, tibalah di tempat terbuka, bintang bertebaran di langit angin malam meniup sepoi-sepoi tercampur bau harumnya bunga, ternyata ia sudah keluar dari gua, dan di atas tanah rumputan.

Dengan penerangan bintang-bintang di langit samar-samar tertampak sebuah rimba, tanah lapang yang tumbuh banyak rumput itu ternyata sangat luas, sayang malam gelap, tidak dapat melihat keadaan yang sebenamya di sekitar tempat tersebut, hanya dapat diduga-duga dengan perasaannya sendiri.

Dalam suasana yang amat sunyi tiba-tiba terdengar suara bunyi orang hutan, empat orang hutan kecil lari mendatangi se-olah2 rasa ketakutan, sehingga pada bersembunyi di belakang Siang-koan Kie.

Siang-koan Kie masih belum mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring, empat orang hutan kecil itu, tiba-tiba juga berbunyi cecuitan, agaknya menyahuti suara siulan tadi.

Empat orang hutan kecil itu tiba-tiba mengulurkan tangannya memegang baju Siang-koan Kie dan mendorongnya berjalan.

Siang-koan Kie se-olah2 baru tersadar, ia menduga bahwa orang hutan besar itu pasti sedang berkelahi, hingga empat orang hutan kecil itu minta dirinya membantu.

Ia mendengar dengan seksama, benar saja samar-samar ia dapat mengenali bahwa suara siulan itu memang keluar dari mulut orang hutan besar itu. Suara itu semakin lama semakin keras tajam dan memecahkan telinga.

Empat orang hutan kecil isu juga perdengarkan suaranya yang lebih nyaring, dua di antaranya memegang baju Siang- koan Kie, dan yang lain mendorong di belakangnya.

Dalam keadaan demikian, Siang-koan Kie dengan tanpa debat menguasai dirinya sendiri berjalan maju terus, berjalan kira kira sepuluh tombak lebih, tibalah di pinggir sebuah rimba.

Tampak olehnya dua ekor orang hutan besar sedang bertempur sengit, seekor adalah orang hutan berbulu emas itu, yang lain adalah seekor orang hutan yang berbulu hitam, satu sama lain sedang saling menyerang kadang-kadang juga bergulatan.

Orang hutan berbulit mas itu, agaknya dapat melihat Siang- koan Kie, semangatnya tiba-tiba bangun sambil bersiul nyaring orang hutan itu melompat tinggi ke atas, kemudian berjumpalitan di tengah udara, lalu menggerakkan kedua tangannya menyambar musuhnya. 

Gerakan itu dilakukan sangat gesit dan ganas sekali, orang hutan berbulu hitam itu bergerak mundur kemudian lompat menerjang.

Dengan tanpa ampun lagi keduanya saling bentur dan terguling di tanah.

Tetapi dua binatang buas yang ganas itu tidak berhenti sampai di situ saja, satu sama lain menjambak bulu masing- masing dan bergulatan di tanah, agaknya tidak mau berhenti sebelum ada salah satu yang mati.

Empat orang hutan kecil itu tiba-tiba melepaskan Siang- koan Kie dan menerjang serentak sehingga orang hutan hitam dihujanni oleh kepalan tangan mereka. Orang hutan hitam itu yang sedang bergulat mati-matian dengan musuhuya, sudah tentu tidak dapat melayani serangan orang hutan kecil itu.

Di luar dugaan, orang hutan hitam itu meskipun tidak mendapat kesempatan menghadapi empat orang hutan kecil, tetapi dengan mengandalkan kulit dan butunya yang tebal, dengan secara tiba-tiba menggelinding ke belakang menggempur empat orang hutau kecil itu. Empat orang hutan kecil itu semuanya terguling ke belakang terjatuh sejauh lima kaki.

Orang hutan besar yang berbulu mas ketika menyaksikan empat orang hutan kecil diserang nampaknya sangat beringas, selagi orang hutan hitam itu menyerang empat orang hutan kecil, tiba-tiba digigitnya.

Siang-koan Kie yang berdiri dalam kegelapan menyaksikan pertempuran dua ekor binatang itu, meskipun agak samar- samar tetapi juga dapat melihat gigi orang hutan yang berbulu mas yang putih itu sedang menggigit lengan tangan orang hutan berbulu hitam.

Gigitan itu mungkin menimbulkan rasa sakit hingga orang hutan hitam itu memperdengarkan suaranya yang aneh, kemudian bergulingan melepaskan gigitan lawannya, kemudian melompat bangun dan lari kedalam rimba.

Orang hutan berbulu mas itu bangkit dengan tanpa menghiraukan badannya sendiri yang sudah letih, buru-buru lari menghampiri empat orang hutan kecil yang jatuh, lalu dibimbingnya.

Siang-koan Kie mengetahui bahwa satu di antara empat orang hutan kecil itu tidak sanggup berdiri, setelah mengeluarkan suara cecuitan, lalu jatuh lagi. Ia segera maju menghampiri untuk memeriksanya, ternyata kaki orang hutan kecil itu patah tulangnya. Ia lalu membimbing orang hutan kecil yang terluka itu, diletakkannya di tanah, dengan kedua tangannya mengurut- urut kaki yang terluka kemudian ditariknya secara tiba-tiba, orang hutan kecil itu menjerit, kemudian lalu berdiri.

Siang-koan Kie walaupun kepandaiannya sudah hilang, tetapi pikirannya masih jernih, sehingga masih teringat pelajaran untuk menyembuhkan tulang patah, maka dengan cara yang sudah dipahaminya betul, tulang kaki orang hutan kecil itu yang patah, dapat disembuhkannya dengan mudah.

Tetapi setelah ia menyembuhkan luka orang hutan kecil itu, sewaktu ia hendak berdiri matanya tiba-tiba berkunang- kunang sehingga jatuh pingsan.

Tatkala ia siuman kembali, apa yang dilihatnya telah berubah semuanya.

Ia telah mendapatkan dirinya tidur di bawah sebuah pohon yang besar, di bawah badannya ada tumpukan rumput kering yang empuk, waktu daun pohon bergerak-gerak, ia dapat melihat langit yang berwarna biru.

Harum bunga tertiup oleh angin menusuk hidungnya, sehingga semangatnya merasa segar kembali.

Karena pikrannya sudah pulih kembali, ia mencoba berusaha untuk duduk.

Tetapi karena urat-urat separuh badannya sudah kejang, ia tidak bisa bangun lagi. Bukan kepalang takut dan terkejut Siang-koan Kie, karena dalam keadaan demikian, ia pasti akan mati kelaparan di tempat itu.

Tiba•tiha ia telah teringat apa yang telah terjadi tadi malam, maka ia lalu melengok dan melihat keadaan sekitarnya.

Ternyata itu adalah sebuah rimba, di situ banyak tanaman bunga beraneka wama, indahnya pemandangan alam di tempat itu sesungguhnya sangat menawan hati. Tiba-tiba matanya dapat melihat bekas tanda darah yang merah, waktu ia mengawasi dengan seksama seketika itu ia menjerit karena terkejut.

Bekas tanda darah itu terpisah dengan tempat ia tidur, kira- kira empat lima tombak jauhnya. Di dekat tanda darah itu, terdapat banyak bulu berwarna mas, beberapa potong lengan tangan dan kaki berserakan di antara bulu mas itu.

Sepintas kilas saja, ia sudah dapat mengenal bahwa potongan lengan dan tubuh itu adalah bangkai orang hutan kecil, maka seketika itu pikirannya merasa terharu.

Dengan empat ekor orang hutan kecil itu, ia sudah bergaul hampir setengah bulan lamanya meskipun hanya binatang saja, akan tetapi ternyata sudah timbul saling mengerti.

Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba terdengar suara siulan panjang, sebentar kemudian seekor orang hutan berbulu hitam, sudah berada di depan matanya.

Di lengan kiri orang hutan itu, masih tampak luka bekas tanda gigitan, sehingga ia dapat segera mengenali bahwa orang hutan hitam itu adalah orang hutan yang tadi malam telah bertempur sengit dengan orang hutan berbulu mas itu. Siaug-koan Kie juga tidak tahu orang hutan berbulu hitam itu hendak berbuat apa terhadap dirinya, tetapi ia mengerti bahwa pada saat itu ia sendiri sudah tidak mempunyai kekuatan sedikitpun juga untuk memberi perlawanan.

Orang hutan hitam itu perlahan-lahan mengulur tangannya yang besar, tampak tegas kuku jarinya yang tajam bagaikan belati, tangan perlahan-lahan meraba muka Siang-koan Kie.

Pemuda itu tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya menghela napas sambil mengeluh, kemudian memejamkan matanya.

Ia hanya dapat merasakan bahwa tangan orang hutan yang penuh bulu itu, sejenak meraba mukanya, kemudian tubuhnya dipondong dan dibawa lari………. -odwo-

Bab 11

PADA saat itu, Siang-koan Kie sudah tidak bisa bergerak sama sekali, hanya lehernya yang masih bisa digerakkan, sekalipun ia ingin berontak tetapi juga sudah tidak bias lagi, maka terpaksa membiarkan dirinya dibawa lari.

Ia merasa seperti dibawa lari ke dalam rimba yang lebat, tiba tiba dirasakan sudah berhenti, telinganya segera mendengar suara seorang wanita yang agak serak, “Apa yang kau dukung?”

Di dalam hutan belukar seperti itu, mendadak mendengar suara manusia, sudah tentu menimbulkan perasaan heran Siang-koan Kie, sebelum dapat kesempatan untuk mengetahui siapa orangnya yang berbicara tadi, tiba-tiba terdengar suara cecuitan yang keluar dari mulut orang hutan itu, kemudian ia merasakan tubuhnya dipondon oleh satu tangan dan tangan yang lain digunakan untuk memanjat tiang pohon, kemudian orang hutan itu meloncat ke atas, lalu turun lagi ke suatu tempat yang terdapat banyak cabangnya.

Siang-koan Kie merasa di tempat gelap, agaknya sedang memasuki sebuah rumah.

Orang hutan itu dengan sangat hati-hati meletakkan tubuh Siang-koan Kie, kemudian membalikkan badannya dan duduk di satu sudut.

Siang-koan Kie perlahan-lahan menggerakkan lehernya, matanya mengawasi keadaan di sekitarnya, ternyata itu merupakan sebuah kamar yang terbuat dari bambu dan rotan, di sebuah tempat tidur yang terbuat dari rotan, nampak duduk seorang perempuan setengah tua. Pakaian perempuan itu nampaknya sudah sangat tua sekali, di beberapa bagian sudah koyak sehingga tampak kulit tubuhnya.

Dari potongan raut mukanya, samar-samar masih dapat menunjukkan bahwa perempuan itu di masa mudanya pasti berparas cantik, tetapi sekarang, paras itu nampak pucat kuning dan banyak keriputnya, ibarat kembang yang sudah mulai layu, tetapi kulit badannya putih sekali.

Perempuan setengah tua itu setelah melihat Siang-koan Kie, entah terkejut atau girang ia ternganga mengawasinya beberapa saat, kemudian baru berkata sambil menghela napas, “Apakah kau dipukul luka olehnya?”

Oleh karena dalam kamar itu hanya ia dan orang hutan itu, maka yang dimaksudkan oleh perempuan itu tentunya orang hutan berbulu hitam itu.

Ia lalu menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Aku telah dipukul jatuh dari atas gunung oleh seorang musuh, untung aku terjatuh ke dalam danau sehingga tidak terluka, tetapi urat2 dan bagian dalam tubuhku sudah terluka parah, sedikitpun tidak ada hubungan dengan dia… ”

Pembicaraan dua orang itu, setengah dimengerti dan setengah tidak oleh orang hutan berbulu hitam itu, ia berdiri dan berbunyi cecuitan dua kali.

Perempuan setengah tua itu tersenyum, juga mengeluarkan suara seperti orang hutan itu kemudian orang hutan itu tiba-tiba melompat turun.

Siang-koan Kie sangat heran menyaksikan kejadian itu, maka lalu bertanya, “Apakah nona mengerti kata-katanya?”

Perempuan setengah tua itu mukanya nampak sedikit merah, ia berkata sambil menghela napas, “Aku sudah tua, di dalam rumah bambu di atas pohon ini, aku telah menyembunyikan diriku sudah duapuluh tahun lamanya… ” “Apa? Di sini kau sudah berdiam duapuluh tahun lamanya?” berkata Siang-koan Kie terkejut.

Perempuan itu menundukkan kepala, kemudian dengan perlahan-lahan mengangkat lagi kepalanya dan berkata, “Tempat ini jarang diinjak oleh manusia, dengan binatang orang hutan itu aku sudah berkawan duapuluh tahun lamanya, duapuluh tahun bagi usia remaja seorang gadis, alangkah indah dan pentingnya… ”

Ia berhenti sejenak, kemudian berkata pula, Tetapi sekarang, dalam hidupku ini, sudah sulit untuk meninggalkan tempat terasing ini kalau kuceritakan, mungkin kau akan merasa heran, di sini aku bukan saja sudah berkawan dengan orang hutan itu selama duapuluh tahun, bahkan… ”

Siang-koan Kie adalah seorang cerdik, ia sudah dapat mengerti bahwa perempuan itu tidak dapat melanjutkan kata- katanya tentunya mempunyai suatu pengalaman pahit yang malu untuk dikeluarkan, jiwa besarnya mendadak bergelora, dengan melupakan dirinya yang terluka, ia masih berkata, “Badanku sudah terluka, sekalipun tidak terluka lagi, barangkali juga aku tidak bisa hidup lebih lama lagi, andaikata nona memerlukan bantuanku… ”

Tiba-tiba teringat dirinya tidak bisa bergerak, bagaimana dapat membantu orang, maka lalu berkata pula sambil menghela napas, “Sayang aku sudah terluka parah, sehingga tidak bisa bergerak.”

Perempuan itu tiba-tiba tersenyum, kemudian berkata, “Aku masih ingat sewaktu aku masih kecil, ibu sering memanggilku A Lian, di sini kecuali orang hutan hanya aku seorang saja yang merupakan manusia, jangan dikata badanmu terluka parah, tidak dapat menolong aku, sekalipun kau bisa menolong, tetapi aku juga tidak mau meninggalkan tempat ini… ” Ia menghela napas panjang, lalu mengawasi atap rumah yang terbuat dari rotan, air mata mengalir bercucuran, dengan suara sangat sedih ia melanjutkan ceritanya, “Pada kira-kira duapuluh tahun berselang, waktu itu kalau tidak salah aku baru berusia delapanbelas tahun, pada suatu hari di waktu tengah hari, dalam kampung di mana aku tinggal, tiba-tiba kedatangan seekor binatang harimau yang sangat buas, yang sudah melukai sepuluh lebih orang kampung sehingga penduduk kampung itu semua ketakutan dan menutup rapat pintu masing-masing, binatang piaraan sudah tentu tidak dihiraukannya lagi, sehingga semua dimakan habis oleh harimau itu. Selanjutnya, binatang itu sering muncul di dalam kampung, melukai atau makan manusia dan binatang, sehingga penduduk di situ tidak ada yang berani keluar, ladang-ladang terbengkalai, hubungan dengan dunia luar se- olah2 terputus, sedang simpanan ransum dalam rumah sudah mulai habis. Sedang semua penduduk kampung berada dalam keadaan gelisah dan putus asa, tiba-tiba muncul seekor orang hutan hitam, lalu bertempur dengan harimau itu di kampung kita… ”

Siang-koan Kie menyela, “Ya, tentunya orang hutan hitam itu telah menyingkirkan satu bahaya besair bagi penduduk kampungmu, dan orang penduduk dalam kampung itu, karena rasa berterima kasih, lalu kau… ”

Tiba-tiba ia merasa bahwa ucapan selanjutnya kurang pantas, maka buru-buru menutup mulut.

Perempuan itu tertawa menyeringai, lalu berkata, “Ayahku mempunyai kedudukan baik di kampung itu, sekalipun penduduk dalam kampung mempunyai pikiran demikian, juga tidak berani mengusulkan. Tetapi waktu itu karena tertarik oleh perasaan heran, aku tetah keluar, hendak menyaksikan orang hutan yang berani menempur harimau itu. Tak kusangka bahwa perasaan ingin tahu yang mendorong hatiku itu, telah menciptakan suatu tragedi yang menyedihkan.” Siang-kuan Kie menarik napas perlahan lalu berkata, Pengalaman nyonya ini juga merupakan suatu pengalaman yang sangat menyedihkan… ”

Tiba-tiba ia berkata lagi dengan suara agak keras, “Nyonya sudah bertahan sampai duapuluh tahun lamanya, harap nyonya suka sabar lagi beberapa hari, nanti setelah lukaku sembuh, mungkin dapat membantu supaya nyonya bisa berkumpul lagi dengan keluargamu.”

Perempuan itu menhgeleng-gelengkan kepalanya dan berkata sambil tertawa, “Sekalipun kau dapat memikirkan suatu akal supaya aku bisa keluar dari sini, tetapi aku juga tidak suka meninggalkan tempat ini lagi, sudah duapuluh tahun lamanya aku menjadi isteri orang hutan, bagaimana ada muka untuk menemui ayah bundaku lagi?”

Siang-koan Kie menghela napas dan berdiam. Perempuan itu berkata pula sambil tersenyum, “Kejadian yang sudah lalu biarlah tinggal lalu, untuk apa kita memikirkan dan membuat sedih masa yang sudah lalu? Biarlah semna itu tinggal menjadi suatu dongeng yang akan tinggal bagi anak cucu kita. Sekarang aku hendak masak sedikit untukmu.”

Setelah itu perempuan itu turun dari tempat tidurnya.

Dari pembicaraan perempuan itu Siang-koan Kie dapat menduga bahwa nyonya itu tentunya dari keluarga terpelajar baik, ia merasa sangat terharu atas pengalaman perempuan itu, sehingga melupakan dirinya sendiri yang terluka parah.

Gaun perempuan itu sudah banyak yang koyak, ia mengambil sepotong benda yang digunakan untuk menutup badannya lalu berjalan keluar.

Dari dalam sebuah keranjang rotan, dia mengeluarkan sepotong daging rusa yang sudah kering.

Siang-koan Kie meneguk air liur melihat daging rusa itu, rasa lapar perutnya semakin menjadi-jadi. Perempuan itu bersenyum dan berkata, “Sudah tiga tahun lamanya aku tidak makan nasi, setiap hari aku makan buah- buahan. Kebiasaan itu telah membuat aku malas, sehingga daging rusa ini aku juga malas untuk memakannya. Hari ini kebetulan kedatangan tetamu, maka aku ingin menyalakan api lagi dan menyuguhkan daging ini untukmu… ”

Ia berdiam sejenak, lalu berkata pu1a, “Di dalam hutan belukar sulit untuk mendapatkan barang hidangan yang enak, harap kau suka memaafkan.”

“Nyonya tidak perlu capai hati, aku yang terjatuh dalam jurang ini, sudah setengah bulan lamanya, biasa dengan makan buah-buahan, sesungguhnya tidak berani mengganggu merepotkan diri nyoaya.”

Perempuan itu tidak berkata apa-apa, ia berjalan ke pintu, mengambil sebuah arit dan sebuah batu gunung serta segumpal kapas, yang diletakkan di atas batu, kemudian arit besi itu diketuk-ketukan di atas batu, timbullah letikan batu api dan sebentar kemudian kapas itu terbakar.

Nyonys itu mengambil rumput kering sebagai bahan bakar, lalu mengambilnya pula sebuah kuali besi diletakkan di atas perapian.

Siang-koan Kie yang menyaksikstn itu diam-diam merasa khawatir, apabila api itu membakar tiang pohon pasti akan menimbulkan kebiakaran.

Perempuan itu agaknya dapat menduga apa yang dipikir oleh Siang-koan Kie, lalu berkata, “Kau jangan khawatir di sekitar rumah ini, semua ditunjang oleh batu besar, tidak akan menimbulkan kebakaran.”

Siang-koan Kie menganggukkan kepala, sambil tersenyum ia mencoba mengerahkan kekuatannya, di beberapa bagian uratnya, dirasakan semakin sakit, sehingga ia tidak berani mencoba lagi, dalam hatinya berpikir, “Habislah! Urat yang terluka ini nampaknya semakin berat, mungkin sudah tidak dapat disembuhkan lagi, kalau begini lebih baik aku lekas mati saja!”

Perempuan itu melihat Siang-koan Kie berdiam, lalu melanjutkan ceritanya, “Orang hutan hitam itu setelah membinasakan binatang harimau yang mengganas, kejadian itu telah tersiar luas, aku yang baru berusia delapan be1as tahun, karena tertarik oleh perasaan heran, aku keluar untuk melihat orang hutan itu, tak tersangka orang hutan itu setelah melihat diriku, tiba-tiba timbul kebuasannya, ia menerobos di antara orang banyak dan merampas diriku, dengan digendong di atas badannya, aku dibawa lari.”

“Apakah penduduk dalam kampung itu tidak ada yang berani mengejar?”

“Binatang itu tenaganya luar biasa, larinya bagaikan terbang, bagi orang biasa   bagaimana   dapat mengejarnya… ”

Tiba-tiba ia tertawa menyeringai lalu berkata pula, “Ia sudah menjadi suamiku duapuluh tahun lamanya, sekarang sudah tidak harusnya demikian memaki dirinya.”

Siang-koan Kie dapat kenyatatau bahwa dalam senyumnya perempuan setengah tua itu mengandung perasaan sedih yang tidak dapat diutarakan dari mulutnya, maka ia berkata untuk menghiburnya, “Nasib peruntungan seseorang, siapapun tidak dapat menduganya, nyonya sudah bertahan sampai duapuluh tahun lamanya, mudah-mudahan masih bersabar lagi ”

“Kalau aku mau mati, niscaya sudah lama aku mati, tetapi aku masih hidup sampai hari ini, aku sudah melupakan segala siksaan dan nistaan lahir dan batin, segala rasa malu sudah kulupakan.”

Dengan perlahan ia menghela napas kemudian berkata pula, “Enam tahun setelah ia membawaku kemari, aku melahirkan seorang bayi, aku tidak takut akan kau tertawakan, anak itu meskipun tidak mirip manusia atau orang hutan, tetapi biar bagaimana adalah darah dagingku sendiri, lantaran anak itu, aku telah bersusah payah mendidik ia berbicara dan berpakaian, sedikit banyak aku masih mengharap supaya ia meninggalkan bekas-bekasnya sebagai manusia… ”

“Belum habis bicaranya, tiba-tiba terdengar suara aneh yang tidak mirip dengan manusia, suara itu se-olah2 suara seorang anak memanggil ibunya, tidak berapa lama, satu makhluk setinggi empat kaki yang badannya tumbuh bulu hitam pendek, bentuknya agak mirip dengan orang hutan tetapi bukan orang hutan, bagian bawah batas pinggang makhluk itu tertutup dengan rumput kering, tangan kanannya membawa seekor kelinci, tangan kirinya membawa satu buah berwarna merah. Ia berdiri menyandar di sisi badan perempuan itu, tetapi dua matanya yang besar dan bundar terus mengawasi Siang-koan Kie, sikapnya menunjukkan rasa herannya.

Perempuan itu perlahan-lahan mengangkat tanganya mengelus-elus kepala makhluk aneh itu seraya berkata, “Lekas memberi hormat kepada paman itu.”

Makhluk itu meletakkan barang-barang di kedua tangannya, lalu membereskan rumput yang menutupi bagian bawahnya kemudian menghampiri Siang-koan Kie, dan menjatuhkan dirinya sambil mengeluarkan perkataan yang agak susah, “Paman.”

Siang-koan Kie yang badannya sudah kejang, tidak bisa bangun hanya mulutnya saja yang berkata, “Jangan, jangan! Lekas bangun.”

Makhluk yang setengah manusia setengah orang hutan itu berpaling mengawasi nyonya itu, tidak berani berdiri, setelah nyonya itu mengangukkan kepala sambil berkata, “Paman suruh kau bangun, bangunlah!” Ia baru berdiri lagi.

Siang-koan Kie diam-diam memuji, ia sungguh tidak menduga bahwa makhluk aneh itu, begitu berbakti terhadap ibunya.

Perempuan itu berkata pula, “Anak ini sejak masih kecil sudah menjelajah di hutan dan dalam gunung ini, setiap hari hanya makan buah-buahan, sehingga sekujur badannya tumbuh bulu hitam, apalagi waktu ia di rumah sedikit sekali, meskipun dengan susah payah aku mendidik bicara, tetapi sayang, apa yang digunakan tidak banyak, sehingga mudah terlupa, sampai saat ini, hanya dapat mengeluarkan beberapa patah kata saja, satu-satunya kelakuan yang membesarkan hatiku, ialah baktinya terhadap aku.”

Bulu hitam yang tumbuh di atas tubuh bocah ini, barangkali disebabkan karena makan buah- buahan dan dedaunan, apabila diganti makan nasi, bulu itu mungkin akan rontok sendirinya.”

Bagi aku sudah tak mempunyai keinginan apa-apa, aku hanya mengharap supaya lukamu lekas sembuh, dan kalau kau nanti berlalu dari sini, bawalah dia, apabila bisa rontok bulunya, itu adalah keberuntungannya, harap kau suka memberi didikan kepadanya. Apabila ia tidak bisa hilang bulunya, tolong kau antarkan dia ke rumah kakeknya, biar ia tinggal di sana walaupun hanya menganggur saja.”

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Lukaku sendiri mungkin tidak dapat disembuhkan, dalam hidupku ini mungkin sudah tidak bisa keluar dari tempat ini, lagi… ”

Tiba-tiba ia teringat kepada diri orang tua aneh yang meniup seruling di kuil tua itu kalau ia mengetahui dirinya terluka, mungkin dapat menolongnya.

Karena memikirkan orang tua, ia lalu berkata kepada perempuan setengah tua itu, “Ada satu hal, aku ingin minta pertolongan kepada saudara ini, untuk menyampaikan… ” “Aku sebetulnya hendak memberikan nama kepadanya dengan memakai she kakek luarnya, tapi kemudian berpikir, ia bukan keturunan keluarga Ong, ayahku adalah seorang terpelajar apabila mengetahui urusan ini, pasti merasa tidak senang, setelah kupikir bolak-balik aku lalu menberi nama padanya Wan Hauw, Wan berarti memakai nama ayahnya yang merupakan satu binatang orang hutan, Hauw berarti berbakti, untuk selanjutnya kau boleh panggil padanya Wan Hauw saja.”

“Nama ini sesungguhnya sangat tepat.”

“Di masa muda, aku pernah belajar surat beberapa tahun, maka aku mengenal sedikit mata surat, harap jangan kau tertawakan.”

“Sekarang ini lukaku sangat parah, keluar sendiri dari tempat ini, sudah tentu tidak mungkin lagi. Tetapi aku masih mempunyai sedikit harapan, yang perlu minta bantuan anakmu.”

“Jikalau kau memerlukan dia, kau perintahkan saja, kecerdikan anak ini meski belum dapat dibandingkan dengan manusia biasa, tetapi ia sangat jujur, asal urusan yang kau perintahkan kau ceritakan saja dengan jelas, tidak nanti bisa salah.”

“Tetapi entah ia mengerti bahasa manusia atau tidak?” “Kau jangan cemas dulu, nanti setelah aku masak daging

ini dan setelah kau makan kenyang, kau boleh perintahkan

kepadanya.”

Siang-koan Kie tidak berkata apa-apa lagi, ia memikirkan mencari kata-kata yang tepat untuk menulis surat kepada orang tua yang meniup seruling itu.

Tidak berapa lama, daging rusa yang dimasak oleh nyonya itu sudah masak, lalu disuguhkan kepadanya untuk dimakannya. Siang-koan Kie juga tidak main-main lagi, ia makan daging rusa itu dengan lahapnya.

Makhluk aneh itu terus berdiri dengan tenang di samping ibunya.

Siang-koan Kie setelah makan daging rusa, badannya agak segar, ia minta kepada perempuan setengah tua itu potongan2 arang kayu, lalu merobek bajunya sendiri, kemudian menulis surat yang bunyinya sebagai berikut, “Boanwpee didorong kedalam jurang oleh orang berbaju hijau yang sangat buas itu, kini separuh badan boanpwee sudah kejang, tidak bisa bergerak. Jika locianpwee sekiranya ada daya untuk menyembuhkan, harap menulis sepucuk surat dan memberikan kepada pembawa surat ini.”

Perangainya yang keras, meskipun berada dalam kesulitan, masih tidak mau minta pertolongan kepada orang tua itu untuk turun tangan menyembuhkan lukanya, dalam suratnya itu juga tidak mau menyebut orang tua itu sebagai suhu.

Sehabis menulis ia panggil Wan Hauw, dengan jari tangan ia membuat peta gambar letaknya kuil tua itu dan bentuk loteng yang ditinggali oleh orang tua aneh itu. Di samping itu, ia juga menjelaskan dengan kata-kata yang kiranya dapat dimengerti oleh Wan Hauw.

Wan Hauw walaupun sudah diajar berbicara oleh ibunya, tetapi masih belum begitu paham kata-kata Siang-koan Kie untung ibunya memberi penjelasan dengan bahasa orang hutan, hingga dapat dipahami oleh Wan Hauw seluruhnya.

Selesai memberikan pesannya, Siang-koau Kie sudah mandi keringat.

Perempuan setengah tua itu dengan penuh kasih bagaikan seorang ibu terhadap anaknya, menyeka keringat di jidat Siang-koan Kie, lalu berkata, “Siangkong jangan khawatir, bocah ini meski bentuknya setengah manusia dan setengah orang hutan, tetapi mempunyai kepandaian luar biasa, bukan saja bisa berlari-larian di atas bukit yang terjal, tenaganya juga luar biasa besarnya, dibanding dengan ayahnya, masih jauh lebih kuat. Tidak perduli bagaimana sulit dan bahaya jalan gunung itu, mungkin tidak menyulitkannya.”

“Jikalau aku bisa sembuh dari lukaku, aku pasti akan membawa ia keluar dari sini, dan kupandang ia sebagai saudaraku sendiri, sedapat mungkin aku akan melindunginya.”

Di wajah perempuan yang sudah banyak keriputnya itu, telah menunjukkan senyum girang, katanya, “Siangkong sudi melindunginya, sekalipun aku terkubur di gunung yang sunyi ini, aku juga merasa puas… ”

Entah karena terlalu girang, atau karena teringat masa lampau yang menyedihkan itu, waktu berkata demikian, kedua matanya sudah mengembang airmata. Kemudian ia berkata pula, “Kesehatan siangkong mash belum pulih, tidak boleh terlalu banyak menggunakan pikiran, sebaiknya beristirahat dengan pikiran tenang.”

Sementara itu, Wan Hauw selalu medengarkan pembicaraan mereka dengan mata terbuka lebar, mendadak ia berkata, “Ibu, aku hendak pergi!”

Kata-katanya itu masih tercampur suara binatang orang hutan, sehingga didengarnya sangat tidak enak, namun masih dapat dimengerti.

Perempuan itu perlahan-lahan mengangkat tangannya dan menepak pundak anaknya seraya berkata, “Anak, kau dapat berjumpa dengan siangkong, itu adalah rejekimu, biar bagaimana, kau harus berusaha menyampaikan surat itu. Nah, lekas berangkat dan lekas pulang, supaya ibumu tidak selalu memikirkan.”

Wan Hauw bangkit, setelah bersiul panjang ia lalu melompat turun, sebentar sudah menghilang ke dalam rimba. Siang-koan Kie yang menyaksikan gerakan Wan Hauw, ternyata lebih gesit dari padanya sendiri waktu masih belum terluka, sehingga diam-diam merasa kagum.

Perempuan setengah tua itu mengambil kelinci dan buah yang ditinggalkan oleh Wan Hauw katanya sambil tertawa, “Kelinci ini aku nanti akan keringkan untuk kau makan pelahan-lahan, hanya buah ini aku belum pernah melihatnya, baunya harum, tetapi boleh dimakan atau tidak? Ah ! aku tadi lupa menanyakannya.”

“Nyonya sudah repot setengah harian, juga sudah waktunya untuk beristirahat, hanya kamar ini……..” berkata Siang-koan Kie sambil bersenyum.

Perempuan itu agaknya sudah dapat menangkap pikiran Siang-koan Kie, ia tertawa hambar, kemudian berkata, “Di dalam hutan belukar seperti ini, bagaimana kita dapat mengikuti peraturan yang tidak memperbolehkan laki-laki dan perempuan dalam satu kamar, harap siangkong beristirahat dengan tenang, jangan pikirkan soal itu!”

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Itu memang benar, dalam hutan belukar seperti ini, bagaimana kita dapat mengindahkan peraturan itu.”

Ia memejamkan matanya untuk beristirahat.

Karena menggunakan tenaga terlalu banyak, Siang-koan Kie sangat letih, sehingga tidak lama sudah tertidur.

Ketika ia sadar, hari sudah malam, ia lihat di satu sudut dalam kamar itu, di atas sebuah batu, ada perapian untuk menerangi kamar itu.

Orang hutan berbulu hitam itu, entah sejak kapan sudah pulang, ia duduk menyandar di pinggir pembaringan, nampaknya sudah tidur. Sedangkan perempuan setengah tua itu, tidur di pembaringan sambil membuka mata, mengawasi langit kamarnya, entah apa yang sedang dipikirkan. Di dalam hutan belakar yang belum pernah didiami oleh manusia, di dalam sebuah rumah panggung, di situ telah hidup seorang wanita yang hidup sebagai suami isteri dengan orang hutan, ini berarti bahwa wanita ini telah mengubur masa remajanya yang sangat berharga. Tidaklah heran kalau dalam usianya yang baru kurang lebih empat puluh tahun, tetapi sudah seperti seorang nenek2.

Siang-koan Kie memandang sejenak, buru-buru memejamkan matanya lagi, pura2 tidur. Ia khawatir perbuatannya itu diketahui oleh perempuan itu, sehingga menimbulkan kedukaannya.

Entah berapa lama telah berlalu, selagi hendak tidur lagi, tiba-tiba terdengar suara bunyi orang hutan. Siang-koan Kie masih kenali suara itu, kedengarannya mirip dengan suara orang hutan berbulu emas itu, sehingga terkejutlah ia.

Waktu ia membuka matanya, orang hutan hitam yang duduk menyandar di pinggir pembaringan itu tiba-tiba melompat bangun dan lari turun dari atas panggung.

Perempuan setengah tua itu juga bangun duduk. Ia mengawasi berlalunya orang hutan itu sambil menghela napas perlahan seraya berkata, “Apakah siangkong belum tidur?”

Siang-koan Kie pura2 masih tidur, ketika mendengar pertanyaan perempuan itu, baru berpaling dan menanya sambil tertawa, “Nyonya ada keperluan apa?”

Perempuan itu perlahan-lahan turun dari atas pembaringannya, ia berjalan menghampiri Siang-koan Kie, kemudian berkata sambil menghela napas, “Suara orang hutan itu tadi, apakah siangkong dengar?”

“Dengar!” jawab Siang-koan Kie singkat.

“Orang hutan bukan seperti manusia, mereka suka berkelahi dengan sesamanya. Ah! Meski sudah berulang kali aku memberi nasehat kepadanya, tetapi dia……..” berkata perempuan itu dengan suara duka, tetapi ia agaknya merasa kurang tepat dengan perkataannya itu, maka untuk sejenak ia berdiam, kemudian berkata pula, “Kata-kataku terlalu cepat, mungkin siangkong tidak dapat dengar dengan terang………”

“Bukankah nyonya maksudkan bahwa mereka sering berkelahi dengan sesamanya?”

“Benar, dalam gunung depan tempat kita ini, berdiam beberapa ekor orang hutan yang berbulu kuning emas, entah apa sebabnya, sering berkelahi dengan suamiku ini. Perkelahian itu kadang sampai menimbulkan luka2 di badannya. Suamiku ini meski selalu dengar kata-kataku, tetapi dalam soal ini, ia tidak mau mendengarkan nasehatku.”

“Nyonya, di dalam daerah pegunungan ini, entah ada berapa banyak orang hutan?”

“Aku berdiam di sini sudah duapuluh tahun lamanya, kecuali itu beberapa ekor orang hutan berbulu kuning emas, belum pernah melihat orang hutan lainnya.”

Siang-koan Kie semakin heran, pikirnya, “Dalam hutan belukar ini, kalau memang benar tidak terdapat banyak orang hutan, sudah tentu tidak bisa timbul perkelahian karena berebut makanan; dua ekor orang hutan itu kecuali warna bulunya yang berlainan, agaknya masih merupakan binatang sejenis, entah apa sebabnya sering berkelahi. Dalam soal ini pasti ada sebab musababnya. Sayang lukaku berat sehingga tidak bisa bergerak, kalau tidak, aku tentu akan berusaha untuk mendamaikan mereka… ”

Perempuan itu melihat Siang-koan Kie berdiam saja, agaknya sedang berpikir, lalu melanjutkan kata-katanya, “Aku juga sudah beberapa kali menanyakan kepada suamiku, mengapa berkelahi dengan sesamanya ”

“Bagaimana jawabnya?” “Setiap kali aku menanyakan soal itu, ia selalu gelagapan, tidak segera menjawab, agaknya kesulitan besar yang tidak bisa dijelaskan……… Walaupun antara manusia dengan orang hutan berlainan jenisnya, tetapi biar bagaimana dia sudah menjadi suamiku, kalau dia tidak suka menerangkan, aku juga tidak memaksanya.”

Timbul perasaan curiga dalam hati Siang-koan Kie, tetapi ia merasa tidak enak untuk menanyakan lebih lanjut, maka ia hanya berkata, “Ucapan nyonya memang benar.”

Perempuan itu memejamkan matanya berpikir setjenak, lalu berkata pula, “Menurut pikiranku, dalam soal ini pasti ada sebabnya, tunggu nanti setelah Hauw jie pulang, akan kusuruh dia menyelidiki diam-diam.”

Siang-koan Kie timbul pula perasaan herannya, maka ia lalu bertanya, “Apa? Apakah Wan Hauw belum pernah membantu ayahnya yang berkelahi dengan orang hutan berbulu emas itu?”

“Tidak, ia mempunyai kekuatan tenaga luar biasa besarnya, jika ia membantu ayahnya memukul orang hutan berbulu emas itu, orang hutan berbulu emas itu pasti bukan tandingannya.”

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Nyonya ini sesungguhnya mempunyai ketabahan luar biasa, jika suaminya tidak ada di rumah, dan orang hutan berbulu emas itu datang mencari, bukankah sangat berbahaya keadaannya?”

Perempuan itu melihat Siang-koan Kie diam saja, pikirannya sudah memikirkan kesedihannya, maka ia berkata dengan lemah lembut, “Siangkong tidak usah terlalu sedih, untuk saa memikirkan urusan yang sudah menjadi kenyataan?”

“Nyonya jangan salah mengerti, aku sudah tidak memikirkan tentang mati hidupnya… ” Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara geraman yang keluar dari mulut orang hutan, di waktu malam yang sunyi, suara itu kedengarannya semakin mengerikan sehingga membuat bulu badan pada berdiri.

Perempuan itu menghela napas, lambat-lambat berjalan menuju ke pintu kamar, kepalanya melongok keluar.

Dalam hati Siang-koan Kie berpikir, “Geramnya saja begitu menakutkan kedengarannya, kiranya pertempuran kali ini pasti lebih dahsyat, sayang lukaku terlalu berat, sehingga tidak dapat memisahkannya.”

Suara geraman orang hutan itu, berlangsung terus tidak berhentinya, bahkan semakin lama semakin nyaring, kira.kira seperempat jam lamanya, suara itu baru sirap.

Setelah suara itu sirap, tidak berapa lama, orang hutan berbulu hitam itu balik kembali dalam keadaan penuh luka di badannya.

Perempuan itu mengambil seikat rumput kering untuk membersihkan darah yang ada di badannya, sebentar- sebentar berbicara dengan menggunakan bahasa orang hutan. Siang-koan Kie sedikitpun tidak mengerti apa yang dikatakan, ia hanya dapat lihat orang hutan itu menundukkan kepala dan diam saja, kiranya sedang diomeli oleh istrirya.

Kamar itu kembali berada dalam kesunyian, orang hutan hitam itu sehabis melakukan pertempuran hebat nampaknya keliwat lelah, sehingga tidak lama kemudian sudah tidur dengan nyenyaknya.

Malam itu dilewatkan dengan tenang, esok hari hampir lohor, Wan Hauw sudah kembali. Dalam keadaan masih penuh keringat di badannya, ia sudah berseru memanggil ibunya, kemudian melompat dan menghampiri Siang-koan Kie dan menyerahkan sepotong kain putih. Kiranya orang tua aneh yang meniup sunling itu, juga sama dengan Siang-koan Kie, yang menggunakan robekan kain untuk membalas suratnya.

Di atas sepotong kain itu, terdapat tulisan yang berbunyi, “Aku terima suratmu yang dibawa oleh orang hutan setengah mannsia, sehingga aku tahu kau masih hidup, asal kau masih belum putus nyawa, aku masih sanggup menolong.”

Setelah membaca surat itu, Siang-koan Kie tersenyum, katanya kepada diri sendiri, “Orang tua ini sungguh tinggi hati.”

Ia lalu membaca terus surat itu.

“Sayang aku siorang tua tidak bisa meninggalkan lotengku ini untuk pergi menolong, malam ini jam tiga pagi, kau boleh mendengarkan suara serulingku, yang akan menunjukkan cara-caranya kau melatih ilmu kekuatan untuk menyembuhkan lukamu, tetapi kau bisa memahami atau tidak, itu tergantung peruntunganmu sendiri.”

Hanya itu saja yang ditulis oleh orang tua itu, di bawah surat tidak ada tanda tangannya. Siang-koan Kie setelah membaca habis suratnya, lalu diletakkan di samping, sedang dalam hatinya diam-diam berpikir, “Menyembuhkan luka dengan cara mendengarkan suara irams seruliug, ini benar- benar merupakan suatu hal yang ajaib, pengetahuanku terhadap irama musik sangat terbatas, apabila aku tidak dapat memahami, bukan saja berarti menyia-nyiakan waktu dan usahanya, bagiku juga tidak ada faedahnya.”

Sesaat lamanya pikirannya merasa tidak keruan, ia merasa seperti sudah tidak ada harapan bisa sembuh dari lukanya……..

Perempuan setengah tua itu melihat kelakuan Siang-koan Kie yang sedang membaca surat itu, tiba-tiba bersenyum dan tiba-tiba mengkerutkan keningnya, sehingga dalam hati merasa heran, ia lalu bertanya, “Apa yang dikatakan dalam surat itu? Mengapa Siangkong sebentar girang dan sebentar sedih?”

“Dalam surat ini ditulis suruh aku mendengarkan suara irama serulingnya, dan kemudian menyembuhkan lukaku sendiri, karena terhadap irama musik, pengetahuanku sedikit sekali, aku khawatir tidak dapat memahami.”

Perempuan itn berpikir sejenak, lalu berkata, “Di masa mudaku, kecuali belajar menjahit, aku juga gemar meniup seruling, dalam hal ini mungkin aku dapat membantu Siangkong……..” Berkata sampai di situ, tiba-tiba berhenti, ia menunjukkan senyum getir, kemudian berkata pula, “Tetapi sudah duapuluh tahun lamanya aku tidak meniup seruling, mungkin sudah lupa!”

Siang-koan Kie menyaksikan perempuan itu menunjukan sikap duka, ia tahu bahwa soal itu telah mengingatkan kembali kejadian di masa lampau yang sangat menyedihkan hatinya, maka lalu berkata sambil tertawa, “Nasib seseorang kaya miskin, hidup atau mati, ditentukan oleh Tuhan, aku dapat memahami suara seruling itu untuk menyembuhkan lukaku atau tidak, sudah tidak kupikirkan lagi.”

Wan Hauw yang selama itu terus berliri di samping dengan tenangnya, untuk mendengarkan pembicaraan Siang-koan Kie dengan ibunya, se-olah2 mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tiba-tiba ia meloncat keluar, setelah berada di luar, tiba- tiba balik lagi dan berkata kepada ibunya, “Ibu, aku akan segera kembali!”

Kata-kata itu meski diucapkan dengan mengandung suara binatang, tetapi dapat didengar dengan tegas.

Siang-koan Kie memuji sambil tersenyum, “Anak ini sangat cerdik, tidak beda dengan manusia biasa, hanya dalam waktu dua hari dua malam, sudah dapat mengatakan perkataan manusia.” Perempuan setengah tua itu menunjukan senyum gembira, ia berkata, “Buat sekarang ini aku hanya mempunyai satu keinginan saja, apabila keinginanku itu tercapai, sekalipun aku mati juga akan mati dengan tenteram.”

“Nyonya jangan khawatir, apabila aku dapat menyembuhkan lukaku, aku pasti akan bawa saudara ini berlalu dari sini.”

Sementara itu, orang hutan hitam itu juga sudah sadar, ia mengawasi kedua orang sejenak lalu berjalan keluar.

Siang-koan Kie menampak orang hutan itu terdapat banyak luka di badannya, dan toch masih keluar sendirian, sehingga hatinya merasa tidak tega, ia berkata, “Luka di badannya masih belum rapat, tidak boleh banyak bergerak, nyonya harus menasehatinya supaya ia beristirahat lebih banyak.”

“Setiap ia pulang dalam keadaan demikian, di rumah hanya mengaso sebentar, lalu pergi lagi entah ke mana, selambat- lambatnya dua hari, dan secepat-cepatnya satu hari ia pasti akan kembali, tetapi di waktu kembali, luka-luka di badannya juga sudah sembuh seluruhnya, entah dengan cara bagaimana ia mengobati lukanya.

Siang-koan Kie diam-diam berpikir, “Kalau hal itu benar, nanti apabila lukaku sudah sembuh aku pasti akan mencari tahu dengan menggunakan obat apa ia menyembuhkan luka di badannya, tentunya itu adalah semacam obat daun-daunan atau akar2 yang sangat berharga apabila aku bisa mendapatkan dan kubawa di badanku, di kemudian hari mungkin aku dapat gunakan untuk menolong orang yang terluka.”

Perempuan itu kembali melihat ia termenung, diam-diam berjalan keluar pintu, ia menyalakan api untuk memasak daging, sementara itu Siang-koan Kie juga memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya. Tidak antara lama, Wan Hauw sudah balik lagi dengan membawa banyak buah-buahan, di antaranya terdapat dua biji buah berwarna merah.

Buah-buah itu semuanya masih segar dan di atasnya masih basah dengan air, terang setelah ia memetik buah itu dari pohonnya, lalu dicucinya dengan air sungai.

Perempuan setengah tua itu membawa masuk daging kelinci yang sudah dimasak, ia berikan kepada Siang-koan Kie seraya berkata, “Siangkong makan dulu sedikit daging kelinci, kemudian baru makan buah-buahan, setelah itu beristirahatlah dengan tenang, supaya nanti malam dapat mendengarkan suara irama seruling dengan pikiran jernih.”

Perlakuan mereka itu mengharukan hati Siang-koan Kie, ia diam-diam berpikir, “Setelah lukanya sembuh, entah dengan cara bagaimana harus membalas budi mereka.”

Dengan tidak malu-malu lagi, ia lalu makan daging kelinci yang disuguhkan.

Daging yang masih segar itu, memang enak sekali rasanya, sehingga dalam waktu sekejap saja ia sudah makan separuhnya.

Wan Hauw terhadap ia, nampaknya sangat bersimpatik, setelah selesai makan daging kelinci segera menyodorkan sebuah buahan berwarna marah.

Seumur hidupnya Siang-koan Kie belum pemah melihat buah serupa itu, ia menyambutnya, tetapi tidak berani makan.

Wan Hauw yang menyaksikan sikap Siang-koan Kie ini, agaknya merasa heran, lalu berkata, “Enak, enak.”

Ia agaknya khawatir bahwa kata-katanya tidak dimengerti oleh Siang-koan Kie maka sehabis berkata, ia petah2kan dengan belakang tangannya. Siang-koan Kie lalu berpikir, “Kalau aku tidak makan buah ini, bukankah akan menimbulkan kecurigaan mereka, bahwa aku terlalu banyak pikiran?”

Maka seketika itu buah itu dimakannya.

Ia merasa buah sangat manis, enak sekali dimakannya, sekalipun buah itu mengandung racun, ia juga tidak menghiraukannya lagi. Dengan lahapnya buah besar itu sudah dimakan habis.

Wan Hauw yang menyaksikan buah itu sudah dimakan habis, segera mengambil lagi sebuah, dan diberikannya.

Perempuan setengah tua itu menyaksikan hubungan dua orang yang sangat erat itu, dalam hati merasa girang, sehingga mulutnya selalu tersungging senyuman.

Siang-koan Kie juga tidak malu-malu lagi, buah itu dimakannya lagi.

Perempuan setengah tua itu menghampiri, ia menarik tangan Wan Hauw seraya berkata, “Hauw-jie, tahukah kau beberapa ekor orang hutan berbulu emas itu, mengapa sering berkelahi dengan ayahmu?”

Wan Hauw tiba-tiba melototkan sepasang matanya dan berkata, “Aku akan pergi pukul mampus beberapa orang hutan itu, selanjutnya tentu tidak akan berkelahi dengan ayah lagi.”

Tiba-tiba ia locat keluar.

Perempuan setengah tua itu tiba-tiba mengeluarkan suara bentakan keras, “Hauw-jie balik!”

Sebentar Wan Hauw benar saja sudah lari balik dan melompat naik ke dalam rumah.

“Kau hendak ke mana?” bertauya sang ibu. “Aku hendak pukul mampus supaya mereka tidak akan berkelahi lagi dengan ayah.”

“Sudah berulang kali aku beritahukan kepadamu, aku melarang kau membantu ayahmu memukul orang hutan berbulu mas itu, apa kau tidak ingat?” berkata sang ibu gusar.

Wan Hauw berlutut di hadapan ibunya dan berkata, “Hauw- jie berjanji lain kali tidak berani lagi.”

Kemarahan perempuan itu mulai reda, ia membimbing bangun anaknya, lalu berpaling dan berkata kepada Siang- koan Kie, “Siangkong nanti malam masih akan mendengarkan suara irama seruling untuk menyembuhkan lukamu, sekarang harus beristirahat dulu.”

Dengan tanpa menunggu jawaban Siang-koan Kie, ia sudah berkata lagi kepada anaknya.

“Hauw-jie, sudah lama aku tidak keluar dari rumah ini, gendonglah ibumu, mari kita berjalan-jalan.”

Wan Hauw lalu berjongkok untuk menggendong ibunya, kemudian meloncat turun dari rumah panggung.

Siang-koan Kie menyaksikan gerakan Wan Hauw yang amat gesit dan cekatan, meski di belakang punggungnya menggendong ibunya, dalam hati merasa kagum, pikirnya, “Kekuatan dan kecerdikan bocah itu sesungguhnya tidak dapat dibandingkan dengan manusia biasa, jika dididik pelajaran ilmu silat, hari depannya pasti sangat gemilang.”

Pikiran dan badannya mulai penat, maka lalu memejamkan matanya dan lalu tertidur.

Entah berapa lama telah berlalu, tiba-tiba terdengar suara irama seruliug mengalun masuk ke telinganya, dalam terkejutnya lalu berpikir, “Celaka, pengetahuanku dalam irama musik yang memang sangat terbatas, dan kini tidak dengar dari semulanya, mungkin lebih susah dimengerti.” Ia buru-buru memasang telinga, untuk menangkap makna irama seruling itu.

Suara seruling itu seolah-olah suatu penumpahan isi hati yang merana, kedengarannya sangat mengharukan.

-odwo-

Bab 12

DENGAN penuh perhatian Siang-koan Kie mendengarkan suara irama seruling itu, tiba-tiba merasa tidak beres, sebab suara seruling itu kedengarannya sangat lemah tiada bertenaga, kecuali iramanya yang sangat menyedihkan, kedengarannya terputus-putus, sehingga membangkitkan rasa sedih yang mendengarkannya, sudah tidak ada lagi gayanya seperti apa yang ditiup oleh orang tua aneh itu.

Ketika ia membuka mata, ia segera dapat lihat perempuan setengah tua itu tangannya memegang sebatang seruling, duduk di pembaringan sambil meniup seruling itu. Sedangkan anaknya Wan Hauw, nampak duduk di sampingnya mendengarkannya dengan penuh perhatian.

Perempuan itu ketika melihat Siang-koan Kie membuka mata, lalu berhenti meniup, ia memesut airmata di kedua pipinya, baru berkata sambil tertawa, “Siangkong sudah bangun?”

Aku sudah lama tersadar, karena mendengarkan irama seruling yang nyonya tiup itu sangat menarik, maka aku mendengarkannya sambil memejamkan mata untuk menikmati suaranya.”

Perempuan setengah tua itu geleng-gelengkan kepaalanya kedua pipinya nampak merah, ia berkata sambil tertawa, “Sudah dua puluh tahun aku tidak meniup suling, sehingga rasanya seperti asing lagi, harap siangkong jangan mentertawakanya.” “Bagus sekali tiupan seruling nyonya.”

Perempuan itu meletakan serulingnya lambat-lambat berjalan menuju ke pintu, mulutnya berkata, “Siangkong berkata hendak mendengar suara irama seruling untuk menyembuhkan luka, karena itu aku teringat dengan kesukaanku yang lama ini, aku suruh Hauw-jie mencari bambu dan membuatkan seruling ini, aku lalu tiup sekenanya saja, tidak kusangka telah mengganggu tidurmu.”

Di ambang pintu ia mendongakkan kepala untuk melihat cuaca kemudian berpaling dan berkata pula, “Rasanya sudah liwat jam dua malam, barangkali suara seruling itu sebentar lagi sudah dapat kita dengar… ”

Siang-koan Kie tiba-tiba merasa tegang, dalam hati ia berpikir, “Apabila aku tidak dapat memahami irama seruling itu untuk menyembuhkan lukaku, mungkin tidak bisa hidup beberapa lama lagi.”

Sesaat lamanya ia diam saja.

Perempuan itu mengira ia sedang memikirkan tentang irama seruling, maka tidak berani mengganggu, lalu menyuruh Wan Hauw berlalu.

Tidak berapa lama, benar saja samar-samar terdengar suara serulirg, suara itu makin lama makin nyata, sebentar kemudian dapat didengar dengan tegas.

Suara yang diperdengarkan itu, agaknya menyimpang dari irama seruling biasa, samar-samar seperti suara panggilan sang ibu kepada anaknya.

Perempuan itu tiba-tiba melompat bangun, ia memandang ke angkasa, air mata mengalir bercucuran.

Ia paham segala irama musik, terutama musik seruling, oleh karena itu, irama seruling itu menbawa pengaruh lebih besar kepada dirinya dari pada Siang-koan Kie, mendengar irama yang kedengarannya bagaikan seorang ibu memanggil anaknya pulang, teringatlah kepada ibu-bapak yang ditinggalkan sudah duapuluh tahun lamanya, sehingga tidak mampu lagi menindas meluapnya rasa sedih dalam hatinya.

Suara seruling itu tiba-tiba berobah, suara itu begitu hening, agaknya seperti padri yang membaca doa, orang yang mendengarkan se-olah2 tersadar akan dosanya, tetapi kalau didengar dengan seksama lalu tidak dapat dipahami ke mana tujuannya.

Irama yang menyimpang garis dari irama musik itu, merupakan irama yang tersendiri. Walaupun perempuan itu paham irama musik, tetapi ia juga tidak mengerti. Ketika ia berpaling menengok ke arah Siang-koan Kie, pemuda itu agaknya sedang menikmati irama itu, tangan dan kakinya ber- gerak2 mengikuti irama itu.

Selama berdiam di tempat itu, ia sudah tahu bahwa luka Siang-koan Kie sangat berat, kecuali bagian kepala dan leher serta satu tangannya yang masih bisa bergerak mengambil barang, hampir sekujur badannya tidak bisa bergerak, tetapi saat itu tertarik oleh suara irama seruling, ternyata bisa bergerak lambat-lambat.

Perempuan itu tidak tahu, bahwa dalam irama seruling itu, mengandung petunjuk cara-caranya mengatur pernapasan dan jalan darah, oleh karena Siang-koan Kie paham ilmu silat, maka begitu mendengarkan, segera mengerti. Perempuan itu walaupun ia paham irama musik, tetapi ia tidak paham ilmu silat, maka ia hanya dapat menangkap arti dan tujuannya.

Ia yang semula bersedia membantu Siang-koan Kie memberi keterangan tentang irama seruling yang Siang-koan Kie tidak mengerti, tak disangka kesudahannya ternyata sebaliknya. Siang-koan Kie yang tidak paham benar irama musik, ternyata dapat menangkap inti sari irama itu, sebaliknya dengan ia sendiri yang tidak dapat menangkap artinya. Irama seruling itu makin lama makin menyimpang jauh dari pada irama biasa, sebentar tinggi sebentar rendah, agaknya tidak menurut lagu, tetapi Siang-koan Kie agaknya mendengarkan begitu nikmat.

Kira-kira satu jam lamanya, irama seruling itu tiba-tiba berhenti, tetapi suaranya masih kumandang sekian lama di waktu malam yang sunyi itu.

Siang-koan Kie yang menikmati irama itu, sudah lama irama seruling itu berhenti ia masih menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, kira-kira seperempat jam baru berhenti. Ia lalu berpaling dan berkata kepada perempuan setengah tua itn sambil tertawa, “Nyonya paham irama musik, apakah dapat menyelami maksud irama seruling itu tadi?”

Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala dan menjawab sambil tertawa, “Sedikitpun aku tidak mengerti, aku lihat siangkong agaknya asyik sekali mendengarkan irama seruling itu.”

“Semula aku mengira irama seruling itu susah dimengerti, tetapi ternyata begitu mudahnya.”

“Irama seruling itu kedengarannya seperti orang berbicara, tetapi aku tidak mengerti apa yang dikatakan?”

Ya memang, irama dalam suara seruling itu tadi, lagunya mengandang petunjuk semacam cara melatih ilmu silat, oleh karena nyonya tidak paham ilmu silat, sudah tentu tidak mengerti.”

Di paras nyonya itu terlintas perasaan gembira, ia berkata sambil tertawa, “Semoga luka siangkong lekas sembuh, supaya anakku Hauw-jie itu juga bisa lekas berlalu dari sini.”

“Nyonya jangan khawatir, apabila lukaku bisa sembuh, aku pasti akan membawanya berlalu dari sini.”

“Ah! Walaupun siangkong tidak merasa jijik terhadap dirinya, tetapi anak semacam dia yang seperti manusia bukan manusia, dan sekujur badannya penuh dengan bulu hitam, di dalam mata orang biasa barangkali susah untuk diterima, soal ini mungkin akan menyulitkan diri siangkong sendiri.”

“Dalam hal ini nyonya tidak perlu khawatir, andaikata saat ini bentuk tubuhnya sudah seperti manusia, apabila diberi makanan seperti manusia biasa, mungkin bulunya akan rontok sendiri, sekalipun bulunya tidak bisa rontok tetapi asal kita cukur bersih rambut halus di mukanya, juga tidak menjadi soal, aku sudah menyiapkan suatu rencana bagi dirinya, harap nyonya jangan khawatir.”

Siang-koan Kie agaknya masih kurang puas dengan keterangannya itu, setelah berhenti sejenak ia berkata pula, “Aku merasa sangat bersyukur atas perlakuan nyonya terhadap diriku selama ini, budimu ini tidak kulupakan untuk selama-lamanya, setelah aku nanti membawanya berlulu dari sini, aku pasti akan memandang dan memperlakukannya sebagai saudara sendiri, apabila aku tidak memenuhi janjiku ini biarlah diriku dikutuk oleh Tuhan.”

Perempuan itu tiba-tiba menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Siang-koan Kie, air matanya mengalir bercucuran, namun di bibirnya tersungging senyuman girang, ia berkata, “Aku yakin siangkong seorang baik, bagaimana aku berani tidak menaruh kepercayaan? Dengan sumpah siangkong yang begini berat, bagaimana aku sanggup menerimanya.”

Siang-koan Kie menjadi gugup, dua kali ia ingin bergerak untuk membimbing bangun, tetapi usahanya itu sia-sia saja, maka buru-buru berkata, “Harap nyonya lekas bangun, dengan cara nyonya ini bagaimana aku sanggup menerima?”

Perempuan itu bangkit dan berkata pula, ”Harap siangkong beristirahat lagi, mungkin irama seruling itu akan terdengar lagi, baru saja habis berkata, tiba-tiba terdengar suara geraman orang hutan. Paras perempuan itu mendadak berobah, sambil berkata, “Hauw-jie… ” Ia segera lari keluar.

Siang-koan Kie juga dapat mendengar suara geraman orang hutan itu, aneh tidak mirip dengan suara geraman orang hutan biasa, karena ia khawatir nyonya itu nanti terjatuh dari rumah panggungnya, maka segera membentak, “Jangan bergerak.”

Suara bentakan itu, ia sudah menggunakan seluruh kekuatannya, kalau di dalam keadaan biasa, suara bentakan itu sudah cukup membuat pingsan orang yang tidak mengerti ilmu silat, tetapi karena pada saat itu dalam keadaan terluka, maka suara itu beda tidak jauh dari orang biasa.

Perempuan itu sudah berada di ambang pintu, ia lalu berhenti dan bertanya, “Siangkong, ada urusan apa?”

Dalam hati Siang-koan Kie berpikir, “Keadaan badannya yang begitu lemah, bagaimana kalau jatuh ke bawah rumah itu? Tetapi cinta kepada anaknya, jikalau tidak diberi nasehat sebaik-baiknya, perasaannya tentu tidak akan tenang.”

Maka ia segera berkata, “Nyonya adalah seorang yang mengerti surat, mengapa bertindak begitu gegabah, aku benar-benar tidak mengerti.”

Sing-koan Kie sejak berada di dalam rumah itu, selama itu budi bahasanya sopan santun, tetapi kali ini mendadak sikapnya begitu keras, ucapannya begitu tajam, sehingga perempuau itu yang mendengarkan nampaknya sangat heran, katanya, “Entah dalam hal apa aku berlaku salah terhadap siangkong?”

“Nyonya lari pergi tergesa-gesa, adakah ingin melihat anakmu?”

“Sebagai seorang ibu bagaimana boleh tidak memperhatikan anaknya?” “Inilah yang aku katakan tindakan gegabah nyonya itu, anakmu itu apabila melihat kau, pasti akan lengah perhatiannya, sehingga merupakan suatu kesempatan baik bagi musuhnya, perhatianmu terhadap dirinya, bukan berarti mencintainya, sebaliknya akan mencelakakan dirinya.”

Perempuan itu berpikir sejenak lalu berkata, ”Benar juga perkataan siangkong itu!”

“Taruhlah anakmu itu menemukan bahaya, nyonya juga tidak dapat membantu, sebaliknya… ?”

Suara geraman itu tiba-tiha seperti sudah berada di bawah panggung, mungkin di situ terjadi pertarungan hebat, sehingga rumah itu bergoyang-goyang.

Siang-koan Kie juga merasa heran, pikirnya, “Apabila Wan Hauw yang bertarung dengan orang hutan yang berbulu emas itu, mungkin tidak begini hebat, entah makhluk apa yang sedang bertarung.”

Paras perempuan itu pucat pasi, sekujur badannya gemetar, air mata mengalir turun membasahi kedua pipinya, tidak lagi dapat menguasai getaran hatinya, maka lalu berseru, “Hauw-jie, Hauw jie!”

Tiba-tiba terdengar suara mengaungnya binatang, kemudian disusul oleh suara patahnya bambu, rumah panggung itu tergoncang hebat, agaknya akan rubuh.

Siang-koan Kie dengan perasaan cemas berkata, “Nyonya, lekas pegangkan tiang!”

Tetapi nyonya itu sudah tidak dengar perkataannya, ia terus lari hendak keluar.

Siang-koan Kie berseru, “Nyonya lekas balik…   !”

Tetapi hanya terlihat bayangan berkelebat, orangnya sudah lari keluar dari kamar. Saat itu terdengar pula suara geraman Wan Hauw yang sangat hebat, lalu disusul pula oleh suara mengaumnya binatang buas, tidak berapa lama, keadaan menjadi sunyi lagi.

Siang-koan Kie yang tergoncang dari getaran hebat itu, terjatuh menggelinding di tanah, kepalanya membentur dinding rumah yang terbuat dari rotan, sehingga pingsan seketika.

Tatkala ia siuman kembali, keadaan pulih kembali seperti biasa, perempuan setengah tua itu sudah tidur di tempat tidurnya dengan tenang, Wan Hauw duduk di sampingnya, kedua tangannya mengurut-urut badan ibunya.

Siang-koan Kie menggerak-gerakan kaki dan tangannya, ia merasa kepalanya masih pusing, tetapi gerakannya sudah agak leluasa, sehingga diam-diam merasa girang, ia coba bangun hendak duduk, tetapi pinggangnya tiba-tiba dirasakan kejang, lenyaplah tenaganya, hingga jatuh lagi kepembaringan.

Usahanya kali ini meski tidak berhasil, tetapi ia merasakan sedikit perobahan pada dirinya hingga diam-diam berterima kasih kepada orang tua yang meniup seruling itu, pikirnya, “Orang tua itu benar-benar berkepandaian sangat tinggi sekali, hanya menggunakan irama seruling sudah dapat menyembuhkan luka dalam, ini sesungguhnya adalah suatu keajaiban yang belum pernah terdengar.”

Ia masih belum tahu, setelah ia mendapat petunjuk cara- caranya mengatur pernapasan yang diberikan oleh orang tua itu dengan pengaruh irama serulingnya, jalan pernapasannya dan darahnya sudah mulai teratur sehingga lukanya agaknya sudah ada perobahan, tetapi tatkala ia tergoncang oleh getaran hebat sehingga dirinya terpelanting dan jatuh di tanah, jalan darahnya dengan sendirinya telah mengalir masuk kebeberapa bagian uratnya yang terluka, maka waktu ia tersadar, penyakitnya dirasakan banyak berkurang. Wan Hauw setelah melihat ibunya sudah tidur nyenyak, lalu bangkit dan menghampiri Siang-koan Kie, katanya dengan suara yang tidak tegas, “Seekor singa yang besar sekali……..

telah bertarung…….. dengan aku…….. hamper        setengah

malaman.”

Dengan susah payah ia mengucapkan perkataannya itu yang dibantu dengan gerak gerik tangannya.

Sebaliknya dengan Siang-koan Kie, ia merasa heran bahwa dengan secara tiba-tiba Wan Hauw dapat mengeluarkan serentetan kata-kata yang agak nyata, maka setelah sebentar ia merasa ter-heran2 barulah ia berkata, “Ini bukan suatu usaha yang dapat dilakukan dengan secara tergesa-gesa, kau harus belajar bicara dengan sabar dari perlahan-perlahan, tetapi aku melihat kemajuanmu yang begini pesat, tiga empat bulan lagi, mungkin dapat memahami dan mengatakan seluruhnya.”

Wan Hauw tidak melanjutkan kata-katanya, ia hanya menarik napas panjang dan berkata, “Memang aku bodoh!”

Lalu membalikkan badannya dan melompat turun dari rumah panggung itu.

Siang-koan Kie tidak mengerti apa maksud ucapan Wan Hauw tadi, selagi memikirkan tiba-tiba melihat Wan Hauw sudah balik lagi sambil memondong seekor singa besar.

Singa itu kepalanya sudah remuk, sekujur badannya penuh darah, isi perutnya sebagian sudah keluar.

Wan Hauw meletakkan bangkai singa itu di samping Siang- koan Kie lalu berkata, “Singa ini telah kupukul mati.”

Singa itu sebesar kerbau, sehingga Siang-koan Kie yang menyaksikan itu diam-diam merasa heran, pikirnya, “Singa begini besar, sekalipun pada masa sebelum kepandaianku lenyap, kalau berjumpa dengannya, barangkali juga belum sanggup membunuhnya, sekalipun bisa juga harus menggunakan senjata. Bocah ini tidak mengerti ilmu silat, hanya mengandalkan kekuatan tenaganya yang besar pembawaan dari alam, ternyata sanggup membinasakan seekor singa yang begini besar, di kemudian hari, apabila dapat didikan ilmu silat dengan baik, pasti akan menjadi salah seorang tokoh terkemuka dalam kalangan Kang-ouw.”

Sementara itu ia lalu menjawab, “Bagus-bagus, kalau kau tidak bisa membunuh mati singa ini, pada saat ini barangkali kita sudah menjadi santapannya.”

Wan Hauw menggeleng-gelengkan kepala dan berkata, “Singa ini tenaganya besar sekali, aku…….. hampir tidak sanggup melawan, ketika aku melihat ibu jatuh dari atas, hatiku merasa cemas lalu kuhajar kepalanya… ”

Perkataan selanjutnya, ia tidak dapat melanjutkan, nampaknya sangat gelisah, ia berputar putaran sambil menggaruk-garukkan kepalanya.

Sepatah demi sepatah Siang-koan Kie menanyakan kepadanya, “Apakah ibumu terluka?”

“Tidak, waktu ibu jatuh dari atas, aku segera lari menyambutnya.”

Siang-koan Kie mengawasi singa itu sejenak, lalu berkata, “Di dalam hutan belukar ini, apakah sering mendapat gangguan binatang buas semacam ini?”

Wan Hauw menggelengkan kepala dan manyahut, “Tidak, singa ini entah datang dari mana.”

Siang-koan Kie diam-diam merasa heran, pikirnya, “Apakah singa ini diundang oleh orang hutan berbulu emas itu, yang disuruhnya mengganggu orang hutan hitam?”

“Bangkai singa ini kau bawa turun ke bawah, sebaiknya kau letakkan di tempat yang tersembunyi, atau dikubur saja.” Wan Hauw agaknya tidak mengerti apa maksud perkataan Siang-koan Kie itu. Sejenak ia tercengang, tetapi tidak berani banyak bertanya, ia pondong lagi bangkai singa itu dan melompat turun ke bawah.

Siang-koan Kie rebah tertelentang, pikirannya bekerja, di dalam hutan belukar ini meskipun merupakan satu daerah terpencil yang tidak ada manusianya, tetapi nampaknya penuh rahasia, penuh ketegangan. Orang hutan berbulu mas dan orang hutan berbulu hitam itu semua merupakan orang hutan

– orang hutan raksasa yang jarang tampak, nampaknya sudah cerdik, tetapi di dalam daerah yang luas ini, walaupun banyak terdapat buah-buahan, tetapi jarang terdapat binatang lainnya, urusan berebutan makanan mungkin tidak akan timbul, kalau toh benar tidak usah berebutan soal makanan, rasanya tidak perlu saling bertengkar dan berkelahi mati- matian dengan sesamanya sendiri……..

Walaupun ia merasakan bahwa dalam hal ini pastilah ada sebabnya, tetapi untuk sementara itu ia juga tidak dapat memikirkan sebab-sebabnya itu.

Tidak berapa lama, Wan Hauw sudah balik kembali, nyonya setengah tua itu pada saat itu juga sudah sadar, berbicara tentang pertarungan hebat Wan Hauw dengan singa itu, agaknya masih merasa ketakutan, sehingga badannya masih menggigil.

Malam itu terdengar pula suara irama seruling, dengan menurut petunjuk dari irama seruling itu, Siang-koan Kie mengatur jalan pernapasannya untuk menyembuhkan luka- lukanyas. Perempuan setengah tua itu karena sudah mendapat pengalaman satu kali, ia juga dapat turut menikmati dengan hati tenang.

Dua hari kemudian, orang hutan berbulu hitam baru pulang, luka-luka di sekujur badannya sudah sembuh seluruhnya. Kejadian ini kembali menimbulkan perasaan heran Siang-koan Kie, tetapi ia tidak berani bertanya. Sang waktu berlalu dengan cepat, sebentar saja dua bulan telah berlalu, 1uka luka Siang-koan Kie boleh dikata sudah sembuh, urat-urat sekujur badannya sudah normal lagi keadaannya.

Malam itu, udara terang, perempuan setengah tua itu takut mengganggu Siang-koan Kie yang baru sembuh dari luka- lukanya, pada jam dua tengah malam, bersama-sama anaknya meninggalkan kamarnya dan pergi menikmati pemandangan malam, orang hutan hitam itu, sejak Siang-koan Kie berada di sana jarang sekali pulang, kadang-kadang pulang, tetapi sebentar sudah pergi lagi.

Meski dalam hati Siang-koan Kie timbul banyak pertanyaan, tetapi karena itu merupakan saat-saat penting baginya untuk memulihkan kekuatan dan kesehatannya, maka ia tidak banyak bertanya, setelah lukanya sembuh seluruhnya, ia nanti akan mencari keterangan dan sebab- sebabnya dalam soal itu.

Setelah Wan Hauw dan ibunya berlalu dari kamar, ia mulai duduk bersemedi untuk menantikan petunjuk dari irama seruling, tak disangka ia menunggu sehingga jam tiga liwat tengah malam, masih belum terdengar suara seruling, sehingga hatinya sangat gelisah.

Selama dua bulan itu, suara irama seruling itu setiap hari jam tiga tengah malam pasti menggema di tengah udara dalam hutan belukar itu, selema itu juga, belum pernah terputus, tidak perduli ada hujan angin besar atau geledek menyambar, apapun yang terjadi di sekitarnya, tidak mempengaruhi suara seruling itu. Tetapi malam itu, udara bersih, rembulan terang benderang, entah apa sebabnya, suara seruling itu tidak terdengar lagi.

Perobahan yang sangat besar ini, menimbulkan rasa gelisah Siang-koan Kie, dalam otaknya timbul tafsiran rupa-rupa, ia pikir orang tua aneh itu mungkin celaka di tangan musuhnya yang datang karena tertarik suara serulingnya, mungkin juga karena menghamburkan banyak tenaga dalam sehingga mendapat sakit, atau mungkin kawan-kawannya yang merupakan binatang-binatang buas itu berpindah ke lain tempat sehingga tidak ada orang yang mengantarkan makanan……..

Tafsiran yang bukan-bukan itu, menyebabkan kalut pikirannya, ia tidak tahu mana satu yang benar.

Selama dua bulan ia menyembuhkan lukanya dengan menurut petunjuk dari irama seruling itu, ia sudah tahu bahwa pada saat itu ia sedang menghadapi saat-saat yang terpenting, apabila suara seruling itu datang 1agi pada waktunya, lagi tiga atau lima hari, mungkin ia berhasil menyembuhkan bagian jalan darah yang terakhir, bukan saja luka-lukanya akan sembuh seluruhnya tetapi kepandaiannya juga akan pulih kembali; jika suara seruling itu tetputus, bukan saja kepandaiannya susah dipulihkan, bahkan semna usahanya yang sudah-sudah akan menjadi tersia-sia.

Manusia apabila sndah berada dalam keadaan patus harapan, biasanya suka memandang ringan jiwanya sendiri, tetapi apabila masih ada harapan hidup, maka pengharapan untuk hidup itu juga lebih kuat dari biasa.

Begitulah keadaan Siang-koan Kie, dengan terputusnya suara seruling yang akan nnemulihkan kekuatan dan kepandaiannya, bukan saaja membuat gelisah pikirannya, tetapi juga mengkhawatirkan keselamatan jiwa orang tua yang meniup seruling itu, dan bertambah pula perhatiannya terhadap orang tua yang aneh itu.

Hanya dalam waktu tidak ada setengah jam itu, bagi Siang- koan Kie dirasakan seperti bertahun tahun; kegelisahan dan kekhawatiran membuat dirinya tidak dapat menguasai ketenangannya lagi, ia sudah tidak memperdulikan lukanya sudah sembuh seluruhnya atau belum, ia sudah bangkit dan lari keluar. Karena luka di seluruh badannya meskipun sebahagian sudah sembuh, tetapi dua bagian jalan darah yang terpenting mash belum berhasil dipulihkan, maka waktu ia berdiri dan lari, segera menimbulkan perobahan bagian jalan darahnya, ia merasakan kedua pahanya lemas, sehingga jatuh lagi di tanah. Selagi hendak merayap bangun, urat2 di separuh badannya tiba-tiba mulai mengkerut, sekujur badannya dirasakan sakit.

Walaupun ia masih sanggup menahan, tetapi penderitaan itu sesungguhnya sangat hehat, meskipun ia tidak mengeluarkan suara menjerit-jerit, tetapi juga sudah bergulingan di tanah.

Dalam keadaan demikian, suara seruling itu tiba-tiba berkumandang lagi, Siang-koan Kie yang sedang menderita hebat, tetapi toh terpengaruh oleh suara seruling itu, dengan tanpa disadari ia bergulingan menuruti irama seruling itu, kalau irama seruling itu semakin gencar maka Siang-koan Kie juga bergulingan semakin cepat, sehingga dalam rumah panggung itu nampak tergoyang- goyang, karena tergoncang oleh gerakan Siang-koan Kie.

Setetah pikirannya kabur dan tenaganya habis, ia telah tertidur.

Waktu ia sadar lagi ia mendapatkan dirinya sudah tidur di atas pembaringan lagi, Wan Hauw dan ibunya dalam sekejap sudah balik kembali, keduanya berdiri di samping pembaringan, paras mereka penuh rasa kekhawatiran.

Perempuan setengah tua itu ketika melihat Siang-koan Kie sadar, baru menunjukkan senyumnya, ia lalu bertanya, ”Apakah siangkong mengalami sesuatu?”

Siang-koan Kie diam-diam mengatur pernapasannya, ia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya, rasanya sudah banyak leluasa, lukanya juga sebahagian besar sudah sembuh, dalam herannya ia lalu bangun dan duduk, pertanyaan nyonya itu dijawabnya dengan singkat, “Tidak apa-apa.”

Ia turun dari pembaringan, jalan beberapa langkah, ia masih merasa tidak ada perobahan apa-apa, pikirannya lalu tergerak, sambil menepuk kepalanya ia berkata kepada dirinya sendiri, “Apakah ia sengaja supaya aku bergulingan? Apakah cara bergulingan ini juga merupakan suatu cara untuk menyembuhkan luka?”

Ia berkata seorang diri, sehingga Wan Hauw dan ibunya yang tidak dapat menangkap arti perkataannya itu, dianggapnya sedang menggigau. Selagi hendak bertanya, tiba-tiba terdengar suara bentakan Siang-koan Kie, kemudian disusul dengan kelakuannya yang aneh, setelah menggerakkan kedua tangannya ia lari keluar dari kamar.

Kiranya waktu ia mengatur penapasannya tadi, ia merasa bahwa jalan darah Hian-kia-hiat dan Beng-bun-hiat sudah normal seperti biasa, dalam girangnya, maka ia lalu lari lompat keluar.

Setelah berada di ambang pintu, ia baru dapat lihat babwa rumah panggung itu terpisah dengan tanah setinggi dua tombak lebih, sehingga diam-diam berpikir, “Lukaku baru sembuh, bagaimana bisa lompat turun dari tempat setinggi ini?”

Tetapi karena hatinyat terlalu girang yang baru semhuh dari lukanya, agaknya sudah kehilangan ketenangannya, meskipun dalam hati memikirkan bahaya, tetapi toh masih meloncat turun juga.

Selagi mulai turun, tiba-tiba teringat bahayanya, ia coba mengerahkan kekuatannnya untuk menahan lajunya gerakannya, tetapi tak tesrangka begitu ia mengerahkan kekuatannya, tubuhnya yang melayang turun itu, tiba-tiba melesat lagi ke atas, sebentar kemudian ia sudah berada di dekat pintu rumah lagi, tangannya lalu menyambar tiang pohon dan melompat balik lagi ke dalam rumah.

Perempuan setengah tua itu mengawasi Siang-koan Kie dengan perasaan terheran-heran, lama ia baru berkata sambil tertawa, “Aku haturkan selamat kepada Siangkong, badanmu sudah pulih kembali.”

Siang-koan Kie tidak dapat mengendalikan perasaan girangnya, ia tertawa terbahak-bahak dan menjawab, “Selama dua bulan ini aku sudah banyak mengganggu diri nyonya, di sini kuucapkan banyak-banyak terima kasih.”

Nyonya itu tiba-tiba menghela napas panjang, katanya kemudian, “Luka Siangkong sudah sembuh, rasanya tidak bisa tinggal lama lagi di tempat ini, biarlah aku membuat api dan sedikit hidangan, sekedar sebagai perasaan girangku terhadap siangkong.”

Siang-koan Kie yang sebetulnya sudah ingin pamitan dengan nyonya itu tiba-tiba hatinya tergerak, ia lalu berkata, “Nyonya tidak perlu tergesa-gesa, sejak aku terjatuh ke dalam jurang itu, lukaku terlalu berat, sekarang meskipun sudah sembuh, tetapi aku masih ingin tinggal beberapa hari lagi, hendak menikmati pemandangan di tempat ini.”

Tiba-tiba ia teringat soal perkelahian antara orang hutan berbulu mas dan orang hutan berbulu hitam itu, yang ia beranggapan perlu diselidiki sebabnya, dan ia harus berdaya untuk mendamaikan mereka untuk supaya jangan saling bertengkar lagi.

Nyonya itu agaknya sudah dapat menebak isi hati Siang- koan Kie, ia berkata sambil tersenyum, “Apakah siangkong ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyelidiki persoalan yang mengganggu pikiran siangkong?”

Siang-koan Kie terkejut ditanya demikian, ia lalu menjawab, “Aku tidak berani membohongi nyonya, memang aku bermaksud hendak menyelidiki beberapa soal yang selama ini mengganggu pikiranku.”

“Jikalau siangkong memerlukan apa-apa, perintahkanlah saja kepadanya,” berkata nyonya itu sambil menunjuk Wan Hauw.

“Aku rasa untuk menyelidiki soal itu, sudah cukup kulakukan seorang diri saja.”

Nyonya itu agaknya masih ingin menyatakan sesuatu, tetapi diurungkan.

Siang-koan Kie lalu mengangkat tangan memberi hormat dan berkata sambil tertawa, “Dalam waktu dua hari, aka pasti akan kembali, aku ingin minta saudara Wan sebagai penunjuk jalan.”

Jelaslah sudah bahwa dua hari setelah ia kembali, baru akan mengajak Wan Hauw meninggalkan tempat ini.

Aku akan menantikan kedatanganmu, harap siangkong jangan salah.”

“Nyonya tidak usah khawatir.” Setelah itu ia lalu keluar dari kamar.

Saat itu matahari sudah naik tinggi, ia coba mencari arahnya, kemudian berjalan ke gua batu tempat tinggalnya beberapa orang hutan berbulu mas itu.

Keluar dari dalam rimba, tampak olehnya lamping gunung yang menjulang tinggi ke langit, setelah mencari-cari sejenak ia segera menemukan gua batu yang luas itu, dua ekor orang hutan kecil berbulu mas, sedang berdiri dimulut gua, waktu pertama melihat Siaug-koan Kie, orang hutan itu nampaknya sangat takut sehingga lari masuk, tetapi sebentar kemudian, setelah melongok sebentar lalu lari keluar menyambut. Siang-koan Kie mementang kedua tangannya, menyambut kedatangan dua ekor binatang kecil itu lalu menanya, “Apakah ibumu berada di dalam gua… ?”

Tiba-tiba ia teringat bahwa dua ekor binatang itu bagaimana mengerti pertanyaannya maka lantas diam.

Dua ekor orang hutan kecil itu berbunyi cecuitan, sambil menggerak-gerakkan tangannya agaknya hendak memberitahukan soal penting, Siang-koan Kie meskipun memperhatikan gerak gerik dua binatang itu tetapi masih belum dapat menangkap artinya, ia lalu teringat kepada nyonya setengah tua itu, apabila ia berada di sini, mungkin dapat mengerti apa yang dikatakan oleh dua binatang kecil itu.

Selama berpikir, kakinya sudah bergerak memasuki gua, seekor kera kecil agaknya menyambut kedatangan mereka dari dalam gua, kembali nampak seekor orang hutan kecil lari menghampiri.

Tiga ekor orang hutan kecil, mengurung Siang-koan Kie sambil lompat-lompat dan cecuitan. Siang-koan Kie mengira mereka sangat gembira berjumpa lagi dengan dirinya, tetapi ternyata dugaannya itu keliru, karena suara orang hutan kecil itu nampaknya mengandung kedukaan.

Tatkala ia mengawasi dengan seksama, benar saja di matanya tiga ekor binatang kecil itu tergenang air mata.

Satu di antaranya tiba-tiba berlutut di hadapan Siang-koan Kie dan menangis dengan sedihnya sambil menarik-narik baju Siang-koan Kie, perbuatan itu segera ditiru oleh yang lainnya.

Siang-koan Kie sangat bingung, karena tidak mengerti bahasanya, meskipun hati merasa cemas juga tidak dapat menghibur binatang kecil itu. Tiba-tiba hatinya tergerak, ia berpikir apabila tidak ada kejadian yang menyedihkan, tidak nanti binatang kecil itu berbuat demikian, apakah ada terjadi apa-apa dengan orang hutan besar itu? Karena menganggap berada di situ tidak ada gunanya, maka ia berpikir hendak masuk ke dalam gua hendak menyelidiki sebabnya.

Selagi hendak bergerak masuk tiba-tiba terdengar suara geraman nyaring yang menggetarkan hati. Siang-koan Kie segera dapat mengenali bahwa suara itu adalah suaranya Wan Hauw, maka ia segera bergerak lari keluar lagi.

Tiga ekor orang hutan kecil itu agaknya juga dikejutkan oleh suara itu, mereka berhenti menangis dan berjalan mengikuti Siang-koan K ie.

Suara itu sebentar2 terdengar, tercampur oleh suara binatang srigala dan singa, sehingga membangunkan bulu roma orang yang mendengarkannya.

Siang-koan Kie tiba-tiba merasa bahwa suara itu seperti pernah didengarnya, tidak sempat baginya untuk berpikir banyak-banyak, segera mempercepat gerak kakinya lari menuju ke arah suara itu.

Karena kepandaiannya sudah pulih kembali maka gerak larinya pesat sekali, sebentar kemudian sudah masuk ke dalam rimba.

Dalam rimba itu terdengar suara ribut dengan patahnya pohon2 dan suara geraman binatang, agaknya pertarungan hebat sedang berlangsung.

Ia segera teringat kepada diri Wan Hauw, apakah ia sedang berkelahi dengan binatang buas lagi?

Ia lalu pentang kedua tangannya, mencegah tiga ekor orang hutan kecil itu, supaya jangan mengikuti dirinya, kemudian ia sendiri lompat melesat ke atas pohon.

Ia lalu memasang mata, dari situ ternyata dapat melihat di bawah pohon besar yang di atasnya dibangun rumah panggung itu, Wan Hauw sedang berkelahi dengan seekor singa besar, Keduanya saling menerkam dan saling meloncat, pertempuran itu agaknya sengit sekali.

Singa itu agaknya lebih buas daripada yang dibinasakan oleh Wan Hauw tadi malam, terkamannya dan serangannya sangat hebat. Wan Hauw agaknya tidak berani adu tenaga dengan binatang itu. Dengan mengandalkan gerak badannya yang gesit dan cekatan, ia melesat ke sana ke mari, bila ada kesempatan baru balas menyerang.

Siang-koan Kie memotong sebatang ranting pohon sepanjang tiga kaki, diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, kemudian lompat melesat dari pohon, beberapa kali lompatan lagi, ia sudah tiba di dekat tempat Wan Hauw berkelahi.

Ia lalu mengeluarkan suara bentakan keras, tangkai pohon di tangannya digunakan sebagai senjata pedang, menyerang binatang singa itu.

Karena baru sembuh dari lukanya, ia masih belum mempunyai keyakinan terhadap kekuatannya sendiri. Serangan itu ia menggunakan kekuatan tenaga penuh; binatang singa yang sedang meloncat ke tengah udara menerkam Wan Hauw, tidak menduga akan diserang oleh Siang-koan Kie dengan senjata tangkai pohon itu. Karena sudah tidak keburu menyingkir, maka tangkai pohon itu menancap di tulang iganya. Binatang singa itu mengeluarkan suara geraman hebat, tubuhnya yang besar terpelanting dari tengah udara.

Wan Hauw menggunakan kesempatan itu, segera maju menyerang. Ia mengangkat tubuh singa yang besar itu, dilemparkan dan dibanting ke tanah.

Binatang singa yang sudah terluka karena serangan Siang- koan Kie tadi, bagaimana bisa melawan Wan Hauw   lagi? Tidak ampun lagi, badannya kebentur sebuah pohon besar, pohon itu rubuh, binatang singa itu juga binasa seketika itu juga.

Wan Hauw setelah membinasakan musuhnya, lalu menghampiri Siang-koan Kie dengan sikap berterima kasih, lalu berkata kepadanya, “Terima kasih atas pertolongan Siangkong.”

Mendengar ucapan itu Siang-koan Kie terkejut, ia berkata, “Bicaramu bukan saja sudah mendapat banyak kemajuan, logatnya juga sudah tidak kaku lagi.”

Wan Hauw agaknya mengerti dirinya dipuji, tidak hentinya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Siang-koan Kie tiba-tiba teringat kepada diri tiga ekor orang hutan kecil berbulu emas yang ditinggalkan itu, ia segera berpaling, tetapi tiga ekor binatang kecil itu sudah tidak tahu kemana perginya, ia menjadi cemas, lalu berkata kepada Wan Hauw, “Lekas tengok ibumu, terkejut atau tidak ? Aku akan kembali.”

Dengan cepat ia membalikkan badannya dan lari menuju gua.

Sebentar ia sudah berada di mulut gua, tetapi sudah tidak menemukan jajak binatang kecil itu lagi.

Selagi dalam keadaan gelisah, tiba-tiba terdengar suara seruling, mengalun di udara.

Sejak ia menyembuhkan luka2nya dengan bantuan irama seruling itu, suara seruling itu selalu terdengar di waktu tengah malam; selama dua bulan itu, belum pernah terdengar suara seruling itu di waktu siang hari, maka ia merasa terheran-heran.

Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, suara seruling itu seolah-olah sedang memanggil namanya, yang meminta kepadanya supaya lekas kembali. Siang-koan Kie berdiri menyandar di lamping gunung, dalam hatinya berpikir, “Orang tua itu terpisah sedemikian jauh denganku, bukan saja dapat menyembuhkan lukaku dengan pertolongan suara serulingnya, bahkan seperti sudah tahu batas sembuhku. Kejadian semacam ini, sebetulnya merupakan suatu kejadian yang sangat ajaib. Sekarang ia memanggil aku dengan perantaraan suara serulingnya, pasti ada kejadian yang sangat penting sekali.”

Suara seruling itu berbunyi kira-kira setengah jam lamanya, tiba-tiba berhenti.

Suara seruling itu agaknya sudah membangkitkan perasaan ingin pulang Siang-koan Kie, ibarat seorang perantauan yang sudah ingin pulang ke tanah airnya.

Perasaan yang timbulnya secara mendadak itu, membuat lenyap semua tujuannya yang hendak melakukan penyelidikan ke dalam gua itu.

Dengan tindakan lambat2 ia keluar dari dalam gua itu.

Ia berjalan menyusuri lamping gunung dengan menuruti kehendak kakinya, ia hanya merasakan tanah yang diinjak itu agaknya tidak rata, namun ia tidak memperhatikan sama sekali.

Selagi enak berjalan, tiba-tiba merasakan semburan air dingin di mukanya, sehingga sesaat itu tergugah dari lamunannya.

Telinganya lalu mendengar suara mancurnya air dari atas, ketika ia mendongakkan kepala, kabut tebal menutupi depan matanya, di sekitarnya menjulang puncak2 gunung, di tengah- tengah terdapat satu tempat rendah bagaikan danau seluas kira-kira dua bau, ia sendiri sedang berdiri di bawah bukit, sebuah air mancur mengalir turun dari sela2 batu gunung, sehingga menimbulkan pericikan air bagaikan kabut. Siang-koan Kie membersihkan bekas air di mukanya, ia memperhatikan keadaan di tempat itu, air gunung itu mengalir ke sebuah sungai kecil yang terus mengalir ke tempat rendah itu. Di atas tempat bagaikan danau itu tertutup kabut putih yang tebal, barang-barang sejarak dua atau tiga tombak, semua tertutup oleh kabut, hingga tidak diketahui air itu terus mengalir ke mana.

Ia bersangsi sejenak, lalu dongakkan kepala mengeluarkan suara siulan panjang, kemudian berjalan ke tempat yang tertutup oleh kabut tebal.

Berjalan kira-kira dua tombak, kakinya tiba-tiba lemas, tempat yang tertutup oleh kabut tebal itu, agaknya tumbuh banyak tanaman semacam rumput, tetapi bukan rumput, semacam pohon tetapi bukan pohon, tangkainya berdiri tegak ke atas, sekitarnya tumbuh daun, di ujung daun terdapat semacam buah berwarna merah.

Siang-koan Kie memetik sebuah, ia segera dapat mengenali bahwa buah itu adalah buah yang pernah diberikan oleh Wan Hauw, hanya buah yang ia baru petik itu masih terdapat banyak tanah kuning di atasnya.

Tiba-tiba terdengar suara patahnya pohon kering dan suara beradunya dua tangan yang sangat perlahan, ia terkejut, segera memasang matanya, dalam keadaan gelap yang tertutup oleh kabut tebal itu, samar-samar ia dapat melihat dua bayangan yang sedang bergulat. Karena kabut terlalu tebal, pandangan mata terhalang oleh kabut itu, sehingga tidak dapat melihat dengan tegas, ia tidak tahu bagaimana rupanya dua orang yang sedang bergulat itu. Ia segera menggerakkan kakinya menuju ke tempat itu.

Waktu ia sudah berada sangat dekat, seketika berdiri terpaku. Kiranya dua bayangan yang sedang bergulat itu, adalah orang hutan berbulu hitam dan orang hutan berbulu emas. Kedua binatang itu agaknya sedang berkelahi mati-matian, mereka saling menggigit, saling menyerang, satu sama lain sudah terluka parah, sekujur badannya sudah penuh darah, tetapi masih belum ada yang mau lepas tangan, agaknya menunggu sampai ada salah satu yang mati baru mau berhenti.

Rupa2nya kedua binatang itu sedang berkelahi sengit, sehingga tidak tahu kedatangan Siang-koan Kie, mereka masih saling menghantam dan saling menggigit……..

-ooodwooo-