ISMRP Jilid 02

 
Jilid 02

Sewaktu Siang-Koan Kie hendak membuka mulut lagi orang itu terus goyang-goyangkan kepala memberi tanda supaya ia jangan berbicara terus, lalu ia berkata, “Lukamu barangkali akan mulai, meski aku mempunyai kepandaian menotok jalan darahmu tetapi aku tidak berdaya mencegah lukamu yang hendak mulai bekerja itu.”

Dalam hati Siang-Koan Kie bertanya-tanya apakah reaksi luka dalam badanku ini, adalah sedemikian hebat seperti apa yang ia katakan… ?

Sebelum lenyap pikirannya itu, benar saja darah dalam badannya dirasakan bergolak, sehingga terkejutlah ia.

Tetapi darah yang bergolak itu, agaknya tertahan oleh sesuatu barang yang kuat sehingga tak dapat menerobos keluar dan menimbulkan perasaan yang tidak enak dalam dirinya……..

Ia mulai merasakan penderitaan siksaan dalam badannya, dalam tubuhnya itu seperti ada gelombang yang menggolak, sehingga menimbulkan rasa muak dan beberapa kali ingin muntah, sakit diotaknya lebih hebat, kepalanya dirasakan seperti akan pecah. Saat itu ia baru tahu bahwa yang dikatakan oleh orang itu, bahwa benarlah penderitaan semacam itu bukan setiap orang yang sanggup menahan.

Orang tua itu dengan seksama mengawasi perobahan muka Siang-Koan Kie, saat itu ia sudah menyaksikan dahinya yang penuh peluh, sehingga ia mengetahui bahwa lukanya sedang mulai, lalu berkata sambil menganggukkan kepala, “Anak, siksaan semacam ini benar-benar tidak enak, lekas dengar nasihatku, pejamkan matamu, hilangkan semua pikiran yang bukan-bukan dalam hatimu, mungkin ada gunanya, jikalau kau menuruti kehendak hatimu dan mencoba melawan dengan kekerasan jangan kata cuma kepandaianmu seperti sekarang ini, sekalipun lebih tinggi kepandaianmu juga tidak mampu menahan……..

Siang-Koan Kie tahu bahwa ucapan orang itu tidaklah bohong, maka ia segera menurut dan benar saja perasaan sakit itu perlahan-lahan mulai berkurang.

Orang tua itu melihat Siang-Koan Kie berbuat seperti apa yang dikatakan, mukanya menunjukkan perasaan girang, ia berkata, “Orang muda yang pernting adalah mau mendengarkan nasihat orang tua, apakah sakarang merasa agak enak?”

“Enak sedikit, terima kasih…   ”

“Aku juga tidak menghendaki terima kasihmu, sekarang meski kau merasa sedikit enak, tetapi luka itu untuk selanjutnya setiap hari tiga jam sekali pasti akan tambah, dan setiap kalinya lebih hebat dari yang sudah-sudah.”

“Semua ini adalah kesalahan sendiri, karena kau tidak mau mendengar permintaanku, sebaliknya ingin berlagak sebagai orang gagah. Meskipun aku dapat melakukan tetapi tidak dapat menyembuhkan luka itu, ah sekarang aku menyaksikan penderitaanmu itu, benar-benar aku merasa menyesal… ”

Dalam hati Siang-Koan Kie meskipun tergerak oleh perkataan orang tua itu, tetapi ia tidak sudi membuka mulut untuk meminta maaf, namun demikian ia juga tidak dapat merobah perkataan orang tua itu tadi bahwa setiap empat jam ia harus menerima penderitaan semacam itu. Dian2 ia berpikir jika luka itu benar seperti apa yang dikatakannya, siksaan ini rupanya tidak sanggup aku tahan lebih lama, rasanya lebih baik aku mati saja……..

Karena kupikir bahwa kematian dapat melenyapkan segala penderitaan, hatinya merasa agak tenang, ia lalu berkata sambil tertawa hambar, “Locianpwee juga tidak perlu merasa menyesal, soal mati hidup sudah tidak kupikirkan lagi, ketika aku menolak permintaanmu tadi, sudah memikirkan akibatnya yang tidak dapat dimengerti oleh Locianpwee… ”

Ia berhenti sejenak, dibibirnya terbayang senyuman pahit, lalu berkata pula, “Boanpwee merasa terima kasih terhadap pelajaranmu untuk menahan penderitaan ini, ingin kudengan sejujurnya untuk menyatakan sedikit gembira kepada Locianpwee, dengan badan cacat Locianpwee semacam ini, susah pergi sendiri untuk mencari musuhmu, sehingga Locianpwee perlu mewariskan ilmu kepandaianmu kepada orang supaya dapat menuntutkan balas untukmu, dalam hal ini sebetulnya tidaklah susah, menurut apa yang Boanpwee tahu, orang-orang dalam rimba persilatan kebanyakan tergila- gila dan tertarik oleh suatu kepandaian ilmu silat yang luar biasa. Locianpwee boleh menunggu lagi dengan sabar dalam waktu setengah atau setahun, dengan menggunakan irama serulingmu yang mengiurkan, daya penarik semacam ini tidaklah susah untuk menarik perhatian orang-orang rimba persilatan, orang bodoh semacam Boanpwee ini, dalam dunia ini, jumlahnya barangkali sedikit sekali, asal Locianpwee suka menurunkan pelajaran yang luar biasa ini, jangan kata menyuruhnya untuk membunuh duapuluh delapan orang itu, sekalipun lebih banyak lagi jumlahnya, mereka juga tidak akan menolaki… ”

Orang tua itu tertawa dingin, lalu berkata, “Aku sudah begini tua, apakah dalam soal serupa itu juga perlu mendengarkan nasihatmu?”

Siang-Koan Kie mendadak membuka matanya, katanya dengan sungguh, “Ucapan Boanpwee tadi setiap kata keluar dari hati yang jujur, kuharap Locianpwee jangan banyak pikiran.”

Orang tua itu berkata sambil menghela napas, “Ae jika urusan ini begitu sederhana seperti yang kau katakan, aku juga tidak perlu berdiam dalam menara ini untuk menunggu sampai sepuluh tahun lebih lama…….. kau harus tahu bahwa kepandaian yang luar biasa, bukanlah setiap orang dapat mempelajarinya, guru sudah tentu mengambil tempat sangat penting dalam menurunkan pelajarannya, tetapi yang lebih penting adalah bakat dari orang yang diberi pelajaran. Kepandaian yang hendak ku wariskan ini, semua bukanlah kepandaian biasa, sudah tentu pula tidak dapat dipahami oleh orang biasa. Selama sepuluh tahun lehih ini, setiap kali aku duduk dipinggir jendela, tidak sedikit jumlah orang yang kulihat, tetapi orang-orang yang pernah kulihat selama itu hanya kau seoranglah yang mempunyai bakat untuk mewarisi semua kepandaian, akan tetapi kau tidak suka mengangkatku sebagai guru dan mempelajari kepandaianku… ”

Berkata sampai disini air matanya mengalir keluar.

Siang-Koan Kie berkata sambil menghela napas, “Boanpwee bukan tidak suka mempelajari kepandaian ilmu silat Locianpwee, sebab terlehih dahulu harus minta ijin kepada gurunya yang pertama, tidak dapat berguru lagi pada Locianpwee ”

“Satu orang berguru kepada beberapa orang guru, itu merupakan soal biasa, apakah sulitnya?”

“Seseorang yang mempunyai beberapa macam kepandaian ilmu silat dan berbareng berguru beberapa guru, didalam rimba persilatan memang sudahlah lumrah, tetapi biar bagaimana terlebih dahulu aku sudah mempunyai guru, dengan sendirinya harus minta ijin guru pertama, setelah diijinkan baru boleh mengangkat guru baru lagi, ini adalah peraturan mutlak bagi setiap orang yang belajar ilmu silat, bagaimana Boanpwee berani berlaku lancang?”

“Aku hendak memberi pelajaran ilmu silat kepadamu, semata-mata karena melihat bakatmu yang luar biasa, sedikitpun tiada bermaksud merebut murid orang lain. Kau ingin mengangkat guru atau tidak, itu bukan merupakan soal penting, segala kebiasaan orang didunia semacam ini, aku tidak suka, sebaiknya kita hapuskan saja.”

“Meskipun Locianpwee tidak berkeras hati memintaku mengangkat guru kepadamu akan tetapi setidak-tidaknya mengandung maksud melepas budi yang ingin mendapat balas, kau menurunkan kepandaianmu yang tidak ada taranya, tetapi kau telah minta aku menggunakan kepandaian tersebut untuk membunuh musuh-musuhmu. Jikalau musuh-musuhmu itu semua adalah orang-orang jahat atau buas, maka meski aku membunuhnya juga tidak merasa berdosa, tetapi sebaliknya jikalau orang-orang baik dan tidak berdosa, maka hal itu akan menyulitkan kedudukanku, karena aku tidak boleh mengingkari janjiku dan melupakan budiku terhadap kau, akan tetapi sebaliknya aku juga tidak dapat membunuh orang baik secara membabi-buta, maka telah kupikir masak2 sebaiknya aku tidak mempelajari kepandaiananu… ”

“Tetapi sekarang aku sudah melukai urat-urat nadi dalam badanmu, jika kau tidak menerima baik permintaanku dalam soal belajar kepandaian itu maka selanjutnya kau akan lewatkan sisa hidupmu didalam menara ini, kecuali tiap hari empat kali harus menerima penderitaan itu, kau masih akan menerima penghinaan dan ejekanku, itu berarti kau hidup tidak, matipun tidak, dalam waktu tiga bulan saja, urat-uratmu yang terluka itu akan mulai membeku, pada saat itu sekalipun hatimu merasa menyesal, tetapi juga tidak bisa berbuat apa- apa lagi. Menurut apa yang kutahu, tabib yang bagaimanapun pandainya juga tidak mampu menyembuhkan penyakit serupa itu, sekarang kau masih mempunyai waktu cukup banyak cobalah dulu dalam waktu tiga hari, benar atau bohong perkataan itu, dalam waktu tiga hari kalau kau bisa berubah pikiran, maka sekalipun mengingat bakatmu yang susah dicari itu, aku tidak sayang menghamburkan kekuatan murni itu untuk menyembuhkan lukamu, jikalau kau masih tetap membandel itu terserah padamu sendiri biarlah kau menghabiskan masa remajamu didalam menara ini untuk mengawani aku seumur hidup!”

“Aku tidak perlu menggunakan waktu tiga hari untuk berpikir sekarang boleh memberi jawaban tegas padamu, selamanya aku tidak akan menyesal!”

Orang tua itu mengawasi kepadanya sejenak, sekonyong- konyong memejamkan matanya dan menggumam sendiri, “Satu bocah yang keras kepala.”

Suasana dalam kamar itu menjadi sunyi, beberapa pot bunga cempaka menyiarkan baunya yang harum semerbak, tetapi bau harum dan indahnya warna bunga itu merupakan suatu kontras yang menyolok dan pemandangan yang menyeramkan keadaan tempat itu.

Siang-Koan Kie berusaha keras untuk melupakan segaIa- galanya supaya hatinya tenang kembali, akhirnya dengan tiada terasa ia telah tertidur pulas.

Waktu ia tersadar lagi, matahari sudah naik tinggi, sinarnya menyinari kedalam ruangan melalui lubang jendela.

Orang tua itu duduk dipinggir jendela sambil memeluk peti hitamnya, matanya memandang keangkasa, sikapnya menunjukkan ketenangan pikiran dan kesunyian hatinya.

Siang-Koan Kie diam-diam menarik napas, hatinya berpikir, “Ia berdiam dimenara seperti ini, ternyata sudah sepuluh tahun lebih lamanya… ”

Dalam otaknya mendadak terlintas suatu pikiran, “Orang yang berkepandaian tinggi seperti dia ini, sekalipun sudah kehilangan dua buah kakinya, rasanya juga tidak mungkin untuk mengurung padanya dalam menara ini, entah apa sebabnya selama sekian tahun lamanya tidal mau berlalu dari sini…….. dalam kuil tua ini jarang ada manusia yang datang, dan siapa pula orangnya yang tulang-tulangnya disimpan dalam guci diruangan bawah itu? Apakah yang dimakan oleh orang tua ini selama sepuluh tahun lebih?”

Semua pertanyaan itu telah mengganggu otaknya, ia semakin bingung memikirkan keadaan orang itu.

Sekonyong-konyong darahnya dirasakan menggolak, ia tahu bahwa lukanya mulai kambuh, maka dengan buru-buru ia menenangkan hatinya untuk menghadapi siksaan dirinya.

Penderitaan kali ini dirasakan lebih hebat dari yang pertama, tetapi ia tahan sambil menggertakkan giginya, sedikitpun tidak mengeluh.

Orang tua itu duduk sambil mengawasinya dengan mata tidak beralih, sikap diwajahnya sangat aneh, entah apa yang dipikirkan dalam otaknya?

Siang-Koan Kie menengok ke arah orang tua itu, lalu melengoskan kepalanya memandang ke arah lain.

Adatnya yang keras lebih suka dirinya menderita, tetapi tidak suka menunjukkan rasa sakitnya kepada orang lain.

Orang tua itu berkata sambil tertawa dingin, “Sekarang ini lukamu baru saja mulai, nanti kalau darah yang tertimbun itu mulai cair dan urat-urat yang kontak mulai kempes, maka dalam darahmu seperti ada binatang yang merayap, penderitaan yang semacam itu, jangan kata bagi kau yang begitu masih muda usiamu, sekalipun aku yang sudah mengalami banyak penderitaan hidup juga tidak sanggup menahan…….. dewasa ini, hanya ada satu jalan yang dapat menologmu ”

Berkata sampai disitu mendadak diam.

Hening sekian lama, ia baru berkata pu1a, “Itu adalah waktu darahmu mulai cair nanti, segera menotok tiga jalan darahmu, supaya kau pingsan. Siang-Koan Kie dengan menahan rasa sakitnya, ia berpaling dan menjawab:

“Kebaikan Locianpwee, Boanpwee terima dalam hati…   ”

Orang tua itu tercengang dan berkata, “Apa? penderitaan semacam itu bukanlah manusia yang sanggup tahan. Anak, sekalipun kau berurat kawat dan bertulang besi juga tidak sanggup bertahan.”

“Kalau benar-benar Boanpwee tidak sanggup menahan, sudah tentu nanti kita akan mengambil keputusan sendiri, tidak perlu Locianpwee ikut memikirkan.”

“Dalam seumur hidupku belum pernah menemukan seorang tidak tahu diri seperti kau ini, nanti kalau kau sudah tidak sanggup tahan, jangan minta pertolongganku.”

Siang-Koan Kie lalu memejamkan matanya.

Sekonyong-konyong ia merasa bahwa darah yang tertimbun dalam beberapa tempat jalan darahnya perlahan- perlahan mulai cair, urat-uratnya yang tadinya melembung, telah menjadi kendur, penderitaan sakitnya mendadak berkurang hatinya merasa lega.

Tetapi ia tahu bahwa perkataan oranq tua tadi itu bukanlah merupakan suatu gertakan saja, rasa enak untuk sementara ini, pasti akan disusul oleh penderitaan yang lebih hebat, selagi merasa keenakan itu dia mengerahkan seluruh tenaganya menggelinding ketempat lain.

Siang-Koan Kie meski sudah merasakan hebatnya penderitaan itu, tetapi ia merasa bahwa waktunya tidak lama, asal ia sanggup menahan mungkin dapat dilewatkan, andai sudath tidak sanggup, ia akan pikirkan lagi caranya bunuh diri tetapi ia tidak suka penderitaannya itu disaksikan oleh orang tua itu, maka selagi badannya merasa sedikit enak, ia menggelinding kelain sudut. Orang tua itu agaknya sudah putus harapan terhadap Siang-Koan Kie sehingga ia tidak mengawasi segala tingkah lakunya, ia hanya membuka kotaknya yang berwarna hitam, air matanya mengucur ngalir keluar.

Sebaliknya dengan Siang-Koan Kie dia nampaknya memperhatikan setiap gerak-gerik orang tua itu, ketika menyaksikan orang tua itu membuka kotak dan mengucurkan air mata, dalam hatinya merasa heran, pikirnya, “Apakah isinya kotak itu? Mengapa orang yang sifatnya yang aneh ganjil ini, setiap membukanya lalu menangis… ”

Belum lenyap pikirannya luka didadanya merasa sakit, lalu disusul dengan perasaan ngeri dan kacau, seolah-olah ada kutu merambat dalam darahnya, bahkan semakin lama semakin hebat.

Ia mencoba menahan sampai gertak gigi, sedikitpun tidak nmengeluh.

Tetapi penderitaan secara demikian sekalipun orang bagaimana keras kepalanya, juga tidak sanggup bertahan, badan Siang-Koan Kie sudah penuh peluh akhirnya ia mengeluarkan keluhan juga……..

Orang tua itu berpaling dan mengawasinya sejenak, kemudian menutup kotaknya, lalu mendongakkan kepala dan tertawa ter-bahak2.

Setelah merasa puas dia tertawa, baru menengok lagi kepada Siang-Koan Kie lalu berkata kepadanya dengan nada suara dingin, “Aku kira kau benar-benar seorang berurat kawat bertulang besi, kiranya juga masih tidak tahan.”

Penderitaan Siang-Koan Kie saat itu sedang dipuncaknya, sehingga tidak dengar apa yang diucapkan oleh orang tua itu.

Orang tua itu sekonyong-konyong melayang kesampingnya, tangan kanannya bergerak beberapa kali menotok empat bagian jalan darah Siang-Koan Kie supaya ia pingsan. Benar saja Siang-Koan Kie lalu pingsan, tidak terdengar pula suara keluhannya.

Ia tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh orang tua itu kepada dirinya, sewaktu ia tersadar, hari sudah malam.

Tatkala ia membuka mata, melihat orang tua itu duduk disampingnya dengan tenang, sinar mata tajam mengawasi dirinya.

Perlahan-lahan ia mengangkat tangannya menekap atas dadanya, agaknya masih merasa ngeri terhadap siksaan yang dideritanya tadi, dengan mata sayupnya memandang wajah orang itu, lalu berkata padanya, “Kita satu sama lain tidak bermusuhan, apakah gunanya kau menyiksa diriku sedemikian rupa?

Diwajah dingin orang tua itu, tiba-tiba terkilas suatu senyuman, ia berkata, “Asal kau mau belajar ilmu silatku dan menolong membinasakan dua musuhku, aku akan menyembuhkan kamu.”

Siang-Koan Kie menggelengkan kepala, ia menjawab sambil berpaling ke arah lain, “Satu hari satu malam, sebahagian besar waktuku tidak diganggu oleh penderitaan yang semecam ini, sekalipun penjagaanmu keras sekali, tetapi juga tidak sanggup menjagaku terus-menerus.”

Orang tua itu berkata dengan suara rendah, “Usiaku sudah sangat lanjut, entah hari apa aku harus memenuhi panggilan Tuhan, jikalau aku tidak bisa mewariskan kepandaianku ini kepada orang yang berbakat baik sesunggulinya sayang sekali… ”

“Dalani dunia ini banyak sekali orang yang berbakat baik, tidak susah kau mendapatkannya, mengapa kau hanya menginginkan diriku saja?”

“Tidak boleh tidak kuharus mewariskan kepandaianku kepadamu!” “Menyuruhku untuk membunuh orang sehabis mempelajari ilmu silatmu, biar bagaimanapun aneh aku tidak mau.”

“Seumur hidupku belum pernah aku membuka mulut minta pertolongan orang, hari ini ada perkecualian aku minta kepadamu sekali saja.”

“Locianpwee ingin minta pertolongan apa dariku?”

“Aku minta kau menerima baik permintaanku untuk mempelajari ilmu silatku, kau suka menganggapku sebagai guru atau tidak, tidak menjadi soal, asalkan kau menerima baik permintaanku untuk membunuh seorang saja, sudah cukup.”

Siang-Koan Kie menyaksikan sikap orang tua itu yang nampaknya sangat sedih, hatinya merasa tidak tega, diam- diam ia berkata kepada dirinya sendiri, “Didalam dunia dimana ada satu guru yang minta orang mempelajari kepandaiannya demikian keras permintaan orang ini kepadaku, entah apa maksudnya? Apakah benar seperti apa yang dinyatakan, bakat seorang untuk melatih pelajaran ilmu silat luar biasa, susah didapat dan apakah benar aku mempunyai bakat demikian?”

Setelah itu ia berkata, “Apakah kepandaian Locianpwee itu, kecuali Boanpwee, benar-benar sudah tidak dapat dicari orang yang dapat mewariskan?”

Orang itu kembali menarik napas, lalu berkata, “Orang yang berbakat seperti kau ini, meski tidak mudah dicari tetapi juga bukan susah untuk dapatkan…….. hanya, kecuali bakat yang paling susah dicari ialah kejujuran hatinya dan kebesaran jiwanya, orang yang mempunyai bakat semacam kau serta mempunyai kejujuran dan keagungan jiwa sesungguhnya susah sekali didapatkan, kau harus tahu bahwa orang yang mempunyai bakat dan kepintaran luar biasa, tetapi jikalau tidak mempunyai hati jujur putih bersih dan jiwa besar, maka semakin tinggi kepandaian orang itu, semakin besar bahayanya bagi dunia, aku juga pernah menyaksikan orang semacam itu bahkan sudah pernah mengalami sendiri penderitaannya ”

Berkata sampai disitu sekonyong-konyong dia diam, air mata mengalir turun dari matanya.

“Orang yang Locianpwee ingin aku membunuhnya itu apakah itu orang yang mencelakan diri Locianpwee itu?”

Pengalamanku ini, aku tidak suka menceritakannya kepada orang lain, akan tetapi aku dapat beritahukan kepadamu bahwa orang itu bukanlah orang baik-baik.”

“Bolehkah Locianpwee beritahukan nama orang itu kepadaku?”

“Tidak”

“Jikalau Boanpwee terima baik permintaanmu, tidak nanti akan menginkari janji, setelah itu nanti Locianpwee akan menurunkan pelajaran kepadaku dan memberitahukan nama orang itu, andaikata nanti hal itu menyulitkan Boanpwee, bukankah lebih baik aku mati sekarang saja?”

Karena ia melihat bahwa kepandaiannya orang tua itu luar biasa tingginya, maka musuhnya pasti juga orang yang kenamaan, kalau sekarang ia menerima baik bukan saja berarti menanggung kewajiban berat tetapi juga harus dipikirkan apabila musuh itu dari orang golongan baik, hal itu akan menyulitkan baginya, maka ia tidak mau menerima baik permintaan orang tua itu.

Orang tua itu tiba-tiba berkata, “Baiklah! tidak perduli kau mau menuntutkan balas untuk aku atau tidak, aku juga akan menyembuhkan lukamu dan menurunkan kepandaianku.”

“Boanpwee tidak suka tanpa sebab menerima budi orang.”

Orang tua itu mengangkat tangannya menotok jalan darah dibadan Siang-Koan Kie dan berkata, “Aku hendak menurunkan pelajaranku kepadamu, hasrat ini tidak berobah lagi. Apa kau kira kau dapat menentangnya?”

Karena Siang-Koan Kie sudah ditotok jalan darah yang membuat ia gagap sehingga mulutnya tidak dapat bicara, lagi pula badannya sedang terluka parah maka tidak bisa berbuat apa-apa, ia cuma bisa mengawasi dengan sepasang matanya, membiarkan orang tua itu memperlakukan dirinya menurut sesuka hatinya.

Ia cuma merasa dirinya seperti diurut dan di bolak-balikkan oleh orang tua itu hampir kira-kira setengah hari lamanya ia baru merasa satu tangan orang tua itu seperti ditempelkan diulu hatinya, kemudian hawa panas terasa mengalir masuk kedalam tubuhnya.

Kekuatan tenaga dalam orang tua itu sudah sangat sempurna, hawa panas itu mengalir masuk tidak berhenti- henti, tetapi bahwa panas itu sebegitu dekat bagian yang terluka seperti terhalang mengalirnya.

Tetapi aliran hawa panas itu kuat sekali kira-kira satu menit baru dapat melalui rintangan itu.

Ia merasakan aliran panas yang mengalir dalam badannya itu telah melalui rintangan bagian yang terluka mendadak lenyap, kemudian terdengar suara tarikan napas orang itu.

Setelah orang tua itu menarik napas dan menempelkan lagi telapak tangannya diulu-hatinya, hawa panas itu dirasakan mengalir masuk kembali dalam badannya.

Kalau lukanya mulai terasa lagi, orang tua itu lalu menotok dirinya sehingga pingsan, supaya daya perasaannya hilang dan melupakan sakitnya, setelah penderitaan itu berlalu ia membuka pula totokannya dan melanjutkan usahanya untuk mengobati padanya.

Orang tua itu menggunakan waktu tiga hari tiga malam, baru menyembuhkan luka dalam badan Siang-Koan Kie, ia lalu membuka totokannya dan berkata padanya, Aku sudah berkeputusan hendak menurunkan seluruh kepandaianku kepadamu, satu-satunya permintaanku, setiap hari kau harus rmeninggalkan menara ini tiga jam lamanya, dalam waktu tiga jam ini, kau boleh mencari barang makanan untuk kau bawa pulang, tetapi kau harus dengar serulingku dulu baru boleh naik keatas menara ini… ”

Siang-Koan Kie mengawasi orang tua itu sejenak, perlahan- lahan berbangkit dan menggerak-gerakkan kaki tangannya, kemudian lompat keluar melalui jendela.

Angin meniup ke arahnya, semangatnya terbangun, ia berpaling dan mengawasi dalam menara, tampak olehnya orang tua itu sedang duduk dipinggir jendela dengan tangan memegang seruling dan kotak hitam itu dipangkuannya, kepalanya mendongak keatas mengawasi angkasa, entah apa yang sedang dipikirkan dalam hatinya, terhadap kepergian Siang-Koan Kie agaknya tidak mau memperdulikannya.

Siang-Koan Kie menarik napas pula, ia memikirkan semua pengalamannya didalam menara selama beberapa hari ini benar-benar bagaikan impian……..

Sekonyong-konyong ia teringat kepada jenasah para susiok dan suhenynya yang berada didalam kuil, apakah tidak diganggu oleh binatang buas. Ia segera lari menuju kekuil tua itu.

Masih beberapa tombak jauhnya terpisah dengan kuil itu, hidungnya sudah mencium bau busuk yang amat tajam, ia lalu mempercepat gerak kakinya.

Didalam ruangan diluar kuil itu terdapat banyak bangkai burung, ia merasa heran, dengan cepat lalu masuk kedalam ruangan.

Karena tindakannya yang tergesa-gesa, dengan tanpa sadar kakinya menginjak benda lunak yang hampir saja membuat ia jatuh terpeleset. Tatkala ia menengok kebawah ia baru dapat melihat didepan pintu ada menggeletak seekor harimau matanya sudah tertutup, agaknya sudah lama mati, dan benda lunak yang terinjak kakinya tadi ternyata adalah bangkai harimau tersebut.

Kecuali itu seekor harimau, dalam ruangan pendopo itu masih terdapat banyak bangkai binatang serigala, semua bangkai2 binatang buas itu tidak terdapat tanda luka sedikitpun juga, badannya masih dalam keadaan utuh tetapi telah kaku semuanya.

Dibagian lain empat atau lima jenazah para saudaranya nampak berserakan ditanah dalam keadaan hancur, bau busuk tersiar dimana-mana.

Ia adalah seorang cerdik, menyaksikan keadaan demikian, segera tersadar bahwa ahli racun itu benar-benar hebat, semua burung dan binatang buas itu pasti mati setelah makan bangkai manusia yang dalam tubuhnya beracun.

Ia menghitung jumlah jenazah sambil menutup hidung, bangkai itu ternyata cuma tinggal delapan buah saja, sehingga dalam hatinya berpiikir, “Empat susiok dan duabelas suheng dan sutee, kecuali empat orang yang bertindak selaku mata- mata, seharusnya masih tinggal duabelas buah.

Ia memeriksa lagi dengan seksama, bangkai itu meski ada yang sudah rusak, tetapi masih dapat dikenali, keadaan delapan bangkai itu serupa, empat yang lainnya, tidak mungkin ditelan bulat2 oleh binatang buas itu.

Karena hatinya merasa curiga, sekali lagi ia memeriksa satu persatu dengan seksama, benar saja ia segera dapat kenyataan bahwa di antara bangkai2 itu sudah tidak terdapat satupun yang berjenggot putih sehingga dalam hatinya diam- diam berpikir, “Apakah karena kekuatan tenaga dalam empat susiok yang sudah sempurna sehingga berhasil mengeluarkan racun dari dalam tubuhnya dan kemudian berlalu dari sini…….. Sekonyong-konyong terdengar suara seruling, kali ini sangat aneh dan tidak enak.

Ketika pikirannya merasa heran, tiba-tiba hidungnya dapat mencium bau amis yang terbawa oleh angin, telinganya mendengar suara orang tua itu, “Bocah lekaslah tinggalkan ruangan kuil ”

Suara itu kemudian disusul oleh suara menderunya angin yang meniup kencang.

Dalam hati Siang-Koan Kie lalu timbul perasaan siap siaga, sebab suara angin itu sangat aneh, dengan cepat ia melompat melesat meninggalkan ruangan itu.

Sebentar kemudian, matanya sudah dapat melihat seekor ular raksasa sedang menggoyangkan kepala dan mementang mulutnya yang lebar, sementara itu semua bangkai2 burung yang menggeletak diluar kuil nampak beterbangan, tersedot masuk kedalam mulut ular raksasa itu.

Dalam waktu sekejapan mata saja, bangkai burung yang jumlahnya ratusan ekor itu, sudah masuk kedalam perut semuanya.

Siang-Koan Kie meski seorang yang mempunyai kepandaian cukup tinggi, tetapi ketika menyaksikan bentuknya ular raksasa itu, juga merasa ngeri, tetapi tertarik oleh perasaan heran, ia menyaksikan ini tidak ingin berlalu.

Ditelinganya kembali mendengar suaranya orang tua, “Ular raksasa itu bukan saja seluruh badannya mengandung racun, tetapi juga mulutnya dapat menyemburkan kebut beracun yang dapat membikin badan orang terluka, kalau kau dapat dilihat olehnya, sulit untuk lolos dari mulut ular itu.”

Sementara itu, ular raksasa itu sudah menutup mulutnya dan kepalanya sudah melosok masuk kedalam kuil.

Siang-Koan Kie tidak dapat melihat lagi. Ia melompat naik keatas atap kuil, terus lari menuju kemenara. Orang itu nampak duduk dipinggir jendela begitu dapat lihat Siang-Koan Kie sudah balik, nampaknya sangat girang.

Dalam hati Siang-Koan Kie sebetulnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan pada orang itu, tetapi heran, begitu berada dihadapan orang tua itu, sepatahpun tidak ada yang ditanyakan.

Orang itu berpaling dan mengawasi Siang-Koan Kie sejenak, sebentar kemudian, ia mulai meniup serulingnya lagi, di antara mengalunnya suara seruling itu, ular raksasa mendadak tertampak, ular raksasa itu lari ter-gesa2 keluar dari kuil.

Bukan kepalang terkejut Siang-Koan Kie. Dalam hatinya berpikir, “Kiranya ular raksasa itu tadi dipanggil oleh suara seruling ini……..

Setelah ular raksasa itu berlalu, orang itu menghentikan serulingnya, lalu berpaling dan berkata kepada Siang-Koan Kie, “Anak, hari ini tanggal berapa?”

Siang-Koan Kie berpikir sejenak lalu berkata, “Barangkali tanggal sebelas bulan delapan.”

“Tanggal sebelas, duabelas dan tigabelas malam, ada keramaian akan kita saksikan.”

“Keramaian apa?”

Orang tua itu berpaling dan mengawasi Siang-Koan Kie sejenak, lalu menjawab dengan perkataan yang menyimpang dari pertanyaannya, “Kau beberapa kali keluar masuk ditempat ini, dibawah maupun diatas sekitar tempat ini, sudah meninggalkan banyak bekas, lekas kau hapus semua bekas itu, lalu pergi cari lagi buah-buahan untuk hidangan, mulai besok kita harus bersembunyi dalam menara ini tidak boleh keluar sembarangan, supaya jangan sampai jejak kita diketahui oleh orang lain.” Dengan perasaan heran Siang-Koan Kie mengawasi orang tua itu, kemudian ia keluar dari menara. Meskipun dalam hatinya ingin dengar ucapan orang itu selanjutnya, tetapi tindakannya dengan tanpa disadari sudah berlawanan dengan keinginannya. Ia menghapus dulu bekas2 kakinya disekitar tempat itu lalu berangkat untuk mencari makanan.

Sejak lukanya disembuhlcan oleh orang tua itu ia kadang2 merasa otaknya seperti kosong melompong, adakalanya sekalipun otak yang merasa jernih, tetapi dengan cepat pikiran jernih itu sudah lenyap lagi. Dalam hatinya sebetulnya ingin lehih siang meninggalkan tempat tersebut, tetapi dengan tanpa sadar ia sudah melakukan apa yang diperintah oleh orang tua itu.

Ia lari sejauh kira-kira lima pal, jangankan perkampungan, sedangkan satu manusiapun juga tidak dijumpai.

Diam-diarn hatinya merasa cemas. Ditempat belukar semacam itu, kemana harus mencari makanan? Tiba-tiba terdengar suara bunyi binatang, ketika ia memasang matanya, disuatu tempat yang tidak jauh darinya ada beberapa ekor binatang monyet besar, ia lalu lari ke arah binatang itu.

Binatang2 monyet itu, ketika melihat kedatangannya, mendadak berpencar dan berbaris menjadi satu baris untuk merintangi Siang-Koan Kie. Tempat dimana monyet-monyet itu berdiri merupakan satu mulut dari sebuah lembah yang lebarnya tidak lebih dari satu tombak, maka ketika monyet2 itu berpencar dan berbaris dihadapannya, mulut lembah itu segera penuh dikawal oleh monyet-monyet.

Siang-Koan Kie berhenti, ia mendapatkan kenyataan bahwa kawanan binatang monyet itu mengawasinya dengan sinar mata buas, beberapa ekor di antaranya ada yang menunjukkan gigi, agaknya ingin maju menerkam.

Selagi hendak meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba hidungnya dapat mencium bau wangi yang tertiup angin. Kawanan monyet itu ketika melihat bahwa ia tidak pergi, lalu memperdengarkan suara riuh dan maju menerkam, gerakan kawanan monyet itu lincah dan gesit sekali dibanding dengan orang Kang-ouw biasa mungkin lebih gesit.

Siang-Koan Kie melesat tinggi, menyambuti seranqan kewanan monyet itu, dua ekor monyet dapat terluka, lainnya menjadi kalut, Siang-Koan Kie menggunakan kesempatan itu lari masuk kedalam rimba.

Dalam lembah itu ternyata penuh dengan tanaman buah apel, yang masak-masak harum wangi, dari jauh sudah menusuk hidungnya.

Sudah beberapa hari Siang-Koan Kie tidak pernah makan dan minum maka ketika menghadapi buah-buah yang segar, sudah tentu menelan air liur. Ia lalu memetik dua buah, dan dimakan dengan lahapnya.

Setelah menghabiskan dua buah apel besar itu badannya nampak segar lagi karena dianggapnya ditempat itu tidak ada barang lain yang dapat dicari maka ia lalu memetik lagi sebanyak mungkin dibawa pulang kedalam menara.

Dalam anggapannya, orang tua yang berdiam didalam menara selama sepuluh tahun barangkali belum pernah makan buah apel sesegar ini, tentunya ia akan merasa girang sekali, siapa menduga orang tua itu hanya mengawasi saja buah2 apel itu kemudian berkata padanya dengan nada suara dingin, “Sejak hari ini, aku akan mulai menurunkan pelajaran kepadamu… ”

Perlahan-lahan ia menggerakkan matanya memandang dengan seksama seluruh bagian tubuh Siang Koan Kie, lalu ia berkata pula, “Meskipun kau sudah pernah belajar ilmu silat tetapi sayang apa yang kau pelajari jauh berlainan dengan ilmu silat yang akan aku ajarkan padamu, sekarang terpaksa harus dimulai dari awal lebih dulu harus mempelajari cara2nya mengatur pernafasan dan bersemedi.” “Aku sudah belajar itu semua, jika harus mengulangi lagi… ”

“Soal kekuatan tenaga dalam, sesungguhnya tidak habisnya kita pelajari apalagi pelajaran yang akan kuturUnkan kepadamu, adalah salah satu rahasia besar dalam rimba persilatan, lekas kau atur pernafasanmu, dengarkan syarat2 awalan yang akan kupelajarkan padamu.”

-odwo-

Bab 6

Meskipun dalam hati Siang-Koan Kie penuh rasa curiga, tetapi dengan tanpa menyadari ia sudah menurut perintah orang tua itu. Ia duduk bersila dan mulai mengatur pernapasannya.

Sementara itu di telinganya mendengar suara orang tua itu yang berkata kepadanya, “Pejamkan matamu, bersihkanlah pikiranmu, tujukan perhatianmu kedalam, hati, lima pusar menghadap keluar.”

Siang-Koan Kie menurut apa yang dikatakan tetapi ketika mendengar perkataan terakhir, mendadak membuka matanya, dan bertanya, “Apa artinya lima pusar?”

Orang tua itu menjawab sambil tersenyurn, “Lima pusar artinya… ”

Mendadak ia tutup mulut dan membuka telinganya.

Siang-Koan Kie yang menyaksikan kelakuan orang tua itu, juga segera memasang telinga, tetapi kecuali suara meniupnya angin dari gunung, tidak terdengar suara apalagi.

Ketika hendak bertanya, tiba-tiba orang tua itu berkata pu1a, “Sudah tidak bisa belajar…….. lekas tutup semua jendela.” Menyaksikan sikap orang tua yang sangat serius, ia terpaksa bangkit dan menutup semua daun jendela.

Orang tua itu berkata pula sambil menujuk dalam sebelah kirinya, “Kau boleh menyembunyikan diri dibawah jendela itu untuk menyaksikan keramaian, tidak perduli melihat kejadian apa saja yang menakutkan atau mengejutkan, kau tidak boleh mengeluarkan suara.” 

Siang-Koan Kie mengawasi orang tua itu sejenak, baru melongok keluar sedang dalam hatinya berpikir entah apa yang dilakukan oleh orang tua itu.

Belum lenyap pikirannya kembali terdengar suaranya orang tua itu, “Orang yang datang itu adalah seorang kuat dari golongan Bit-cong-pai di Tibet, kau harus perhatikan kepandaian ilmu silatnya, apa bedanya dengan ilmu silat dari daerah Tiong-goan… ?”

Belum lagi menutup mulutnya, dari jauh tampak suatu titik bayangan merah yang lari menuju kemari.

Siang-Koan Kie mengawasi dengan seksama orang yang datang itu berperawakan tinggi sekali menggunakan serupa benda mas untuk mengikat rambutnya, badannya mengenakan jubah padri warna merah, diatas batok kepalanya ada bekas cacat sebesar telur bebek, orang itu berdiri diatas atap, melongok kebawa memandang keadaan sekitarnya. Mendadak ia melayang melesat tinggi tiga tombak, ditengah udara ia jungkir balik dengan kepala dibawah dan kaki diatas, bagaikan peluru yang meluncur kebawah.

Ilmu meringankan tubuh yang jarang tertampak dalam dunia ini, membuat terpesona Siang-Koan Kie.

Didalam tempat yang sunyi seperti itu, dengan tiba-tiba kedatangan seorang tokoh kuat dari daerah barat, benar- benar merupakan suatu hal yang sangat aneh, meski Siang- Koan Kie dapat menduga akan terjadinya hal-hal yang luar biasa tetapi ia tidak dapat menduga sebab musababnya. Namun demikian ia juga tidak berani menanyakan kepada orang tua itu, semua pertanyaan cuma disimpan dalam hatinya sendiri.

Tiba-tiba dari bawah menara terdergar satu suara tiupan aneh, kemudian disusul oleh suara tindakan kaki yang berat, lalu terdengar pula suara orang bicara, entah dengan menggunakan bahasa apa, segera datang seseorang lagi tetapi apa yang dibicarakan oleh dua orang itu ia tidak dapat mengerti samasekali.

Ia berpaling dan mengawasi siorang tua, nampaknya sedang pasang telinga memperhatikan pembicaraan kedua orang itu, hal itu mengherankannya karena dua orang yang bercakap-cakap itu, kalau bukan menggunakan bahasa Utgul tentunya bahasa Tibet. Buat orang2 daerah Tiong-goan yang mengerti bahasa itu jumlahnya sedikit sekali, tepi orang tua itu mendengarkan dengan seksamna, mungkinkah dia memahami bahasa itu?

Kedua orang itu setelah bercakap-cakap sebentar kembali terdengar suara tindakan kakinya yang berat agaknya sedang berjalan menuruni tangga.

Dalam hati Siang-Koan Kie meski ada banyak hal yang ingin ditanyakan kepada orang tua itu, tapi ketika ia ingat sikap bangga sewaktu ia menanyakan tentang lima pusar, terpaksa ia urungkan maskudnya.

Nampak hening cukup lama, orang tua itu tiba-tiba menanya Siang-Roan Kie sambil ketawa, “Apakah kau mengerti apa yang dibicarakan oleh dua padri dari tibet itu tadi?”

“Boan-pwee tidak paham bahasa Tibet.”

“Meski mereka padri Tibet tetapi dalam pembicaraannya tadi mereka menggunakan bahasa Utgul.” “Benarkah Locian-pwee paham bahasa Utgul?” “Apakah aku perlu membohongi kau?”

“Locianpwee mengerti petnbicaraan mereka, apakah yang mereka bicarakan?”

“Apakah kau meninggalkan sesuatu bekas diatas menara?”

Siang-Kuan Kie meng-angguk2kan kepala, sebelum yang dijawab orang tua itu sudah mendahuluinya, “Seorang Padri menemukan bekas yang kau tinggalkan, ia berkata bahwa dalam menara pasti ada orang yang bersembunyi, sehingga mengusulkan supaya diadakan penyelidikan. Satunya lagi mengatakan bahwa bekas itu belum tentu orang yang meninggalkan, andaikata benar ada orang bersembunyi dalam menara ini, juga tidak perlu ditakuti. Dua orang itu setelah saling tukar pikiran sekian lama lalu berlalu… ”

Setelah berkata sekian banyak, orang tua itu mendadak teringat hal yang penting sehingga sekonyong2 berhenti dan melesat kesatu sudut, ia membuka kotak warna hitam itu dan mengambil sebutir pel warna merah, setelah menutup kembali kotak itu, ia melesat balik dan berkata, “Kau telan dulu pel ini.”

Orang tua itu segera melakukan apa yang telah dipikir, belum pernah menceritakan alasannya.

Siang-Kuan Kie sangsi sejenak lalu menyambuti pel itu ditelannya demikian ia bertanya, “Dua padre dari Tibet itu jauh2 datang kedaerah Tiong-goan, entah apa maksudnya mencari kekuil tua ini?”

Orang tua itu mendadak membuka lebar matanya, dengan sinar mata tajam menatap wajah Siang-Kuan Kie dan berkata, “Ini adalah suatu pertandingan ilmu silat yang menggemparkan dunia rimba persilatan, kedua pihak mengelurkan turunannya yang tidak dapat dinilai, ah! sayang sekali bahwa kejadian besar yang sangat menggemparkan ini, sedikit sekali jumlahnya orang yang tahu… ”

Perkataan itu diucapkan dengan suara agak nyaring sehingga Siang-Koan Kie yang mendengarkan sampai berdiri termangu, lama baru bertanya, “Dalam dunia Kang-ouw soal pertandingan ilmu silat memang sering terjadi tetapi paling2 yuga hanyalah seorang atau beberapa orang yang bersangkutan, yang terluka, atau binasa, dengan bertarungan yang tidak ternilai, benar-benar membuat Boanpwee tidak mengerti.”

Orang tua itu membuka daun jendela disampingnya seraya berkata, “Sebelum sepasang kakiku terpotong, aku pernah menjelajahi seluruh Negeri, banyak sudah pertandingan2 ilmu silat yang aku pernah saksikan, hal serupa itu memang tidak mengherankan, tetapi kali ini yang mengherankan adalah pertaruhan dari kedua pihak yang sangat luar biasa itu, ah! jikalau mereka benar-benar segan memenuhi janji mereka, sesungguhnya akan menimbulkan akibat yang tidak dapat diduga oleh semua orang.”

“Entah apa yang digunakan untuk pertarungan bagi orang kedua belah pihak?”

“Pihak yang satu mempertaruhkan dirinya sebagai budak untuk seumur hidupnya berikut semua orang2 dari daerah barat. Pihak yang lain mempertaruhkan hendak membunuh semua tokoh-tokoh kuat rimba persilatan daerah Tiong-goan, kemudian musnahkan kepandaiannya sendiri, mengundurkan diri dari dunia Kang-ouw dan menyerahkan seluruh daerah kekuasaannya kepada yang menang.”

“Apa? adakah kedua pihak yang bertanding itu raja pada dewasa ini?”

“Bukan.”

“Kalau bukan raja, ia hendak menyerahkan daerah kekuasaannya kepada yang menang, ini bukankah merupakan suatu kejadian yang lucu, sekalipun ia berani mengucapkan demikian, apakah padri Tibet itu mau percaya?”

“Apa yang aku dengar hanya itu saja, soal ini dimulai lima tahun berselang, mereka telah mengadakan perjanjian pertaruhan itu didalam menara penyimpan kitab, aku waktu itu belum dapat melihat bagaimana mukanya orang2 yang mengadakan pertaruhan itu………. di antara daerah-daerah barat. Dua orang dari suku Hwee dan Tibet banyak yang mempunyai kepandaian tinggi, tidak mustahil ada yang timbul keinginan untuk membentangkan sayapnya kedaerah Tiong- goan.”

Perlahan-lahan matanya menatap Siang-Koan Kie kemudian berkata pula, “Tetapi orang-orang kuat yang benar-benar dari golongan Bit-cong, jarang sekali mau diperalat oleh orang lain, maka bagaimana keadaan yang sebenarnya, aku juga tidak mengerti, kini masih ada waktu beberapa hari, setelah mereka datang tidak susah bagi kita untuk mengetahui… ya,

walaupun mengetahui rahasia mereka, tetapi aku juga sudah tidak bisa campur tangan, untuk mengeluarkan tenaga bagi nasib sesama manusia yang tidak berdosa itu.”

Tatkala mengucapkan perkataan yang terakhir ini, orang tua itu menunjukkan sikapnya yang sangat sedih.

Siang-Koan Kie merasakan bahwa orang tua ini tidak begitu jahat sebagai apa yang dibayangkan, bahkan sebaliknya merupakan seorang tua yang berjiwa kesatria, dan mengingat kepentingan sesama manusia, maka timbullah perasaan simpatih dalam kalbunya, ia berkata, “Kepandaian ilmu silat Locianpwee sudah mencapai kesuatu taraf yang tidak ada taranya, hal ini sudah Boanpwee saksikan dengan mata kepala sendiri, walaupun kehilangan dua kaki juga tidak menjadi halangan besar, jikalau salah satu dari orang2 itu benar-benar bermaksud hendak mencelakakan nasib rakyat dan Negara, Boanpwee menyediakan tenaga membantu Locianpwee… ” Tiba-tiba ia ingat kepandaiannya sendiri yang masih belum berarti jika dibandingkan dengan orang2 kuat itu, bagaimana dapat membantu, maka untuk sesaat ia terdiam, kemudian berkata pula, “Boanpwee tahu kepandaian sendiri masih terlalu rendah, sehingga tidak dapat membantu Locianpwee, tetapi Boanpwee rela sekali mengikuti jejak Locianpwee, sekalipun akan hancur lebur badanku juga tidak kupikirkan lagi.”

Orang tua itu mendongakkan kepala dan berpikir, barulah berkata, “Kalau sudah tiba saatnya nanti kita bicarakan lagi, jikalau keadaan dan kekuatan kita mengijinkan, sudah tentu kita harus mengeluarkan tenaga untuk menolong nasib sesama manusia… ”

Setelah berpikir agak lama tiba-tiba ia herkata lagi dengan nada suara dingin, “Tidak perduli kau melihat kejadian apa saja, sebelum aku bertindak kau jangan sembarangan bergerak.”

Siang-Koan Kie baru saja menyaksikan sikap orang tua itu yang sangat ramah, tetapi dengan tiba-tiba telah berobah dingin, dalam hati ia merasa tidak enak.

Pikirnya, “Orang tua ini meski bukan orang jahat, tetapi sikapnya sebentar hangat sehentar dingin, benar-benar sulit sekali diikuti.”

Ketika sedang berpikir tiba-tiba terdengar suara orang tua itu yang berkata dengan nada rendah, “Lekas tutup daun jendela yang terbuka itu, ada orang datang lagi.”

Karena sudah ada pengalaman yang pertama, Siang-Koan Kie tahu bahwa daya pendengaran orang tua itu tajam sekali sudah tentu tidak bisa salah dengar, maka ia cepat2 menutup jendela, lalu menyembunyikan dirinya dibawahnya.

Tidak lama kemudian, benar saja terdapat dua bayangan orang muncul diatas atap rumah. Dua orang itu berpakaian ringkas semuanya, dibelakang punggung mereka masing2 membawa senjata. Begitu melihat, ia sudah dapat mengenali bahwa mereka itu bukanlah orang2 dari daerah perbatasan.

Kedatangan kedua orang itu jauh berbeda dengan kedatangan dua padri dari Tibet itu tadi, kedatangan mereka agaknya memakai benda untuk menyembunyikan dirinya, maka setelah berada diatas atap rumah baru kelihatan.

Dalam hati Siang-Koan Kie lalu berpikir; “Orang2 dari daerah Tiong-goan, memang sifatnya lebih licik dari orang2 daerah luar perbatasan ”

Belum lagi lenyap pikirannya, dua orang yang berada diatas rumah itu mendadak memencarkan diri menuju kemenara dengan mengambil jalan masing2.

Jalan yang diambil oleh dua orang itu sudah berlainan dengan jalan yang ditempuh oleh padri Tibet tadi, mereka berjalan secara sembunyi tidak berani terus terang menunjukkan dirinya.

Siang-Koan Kie sedang mencurahkan seluruh perhatiannya kepada dua orang itu, tiba-tiba diatas atap sebelah kirinya mendadak tampak berkelebatnya bayangan orang, ketika ia berpaling disana ternyata juga ada berdiri dua orang lagi.

Ia terkejut dan cepat2 menyembunyikan dirinya dibawah jendela.

Ia merayap perlahan-lahan kejendela sebelah kiri, benar saja segera dapat lihat dua orang berpakaian ringkas dengan membawa senjata dipunggungnya berdiri diatas atap sebelah kanan.

Satu di antaranya berkata sambil menunjuk kemenara, “Diatas atap rumah ini, ada sebuah renggon kecil yang menonjol baik untuk tempat menyembunyikan diri, dari situ dapat melihat pemandangan keseluruhan sekitar kuil apalagi tempatnya sangat tersembunyi, kalau kita tidak berada diatas atap rumah tidak akan dapat melihatnya.”

Siang-Koan Kie terperanjat, dalatn hatinya berpikir, “Jikalau mereka hendak mengadakan penyelidikan didalam menara ini, sesungguhnya sangat berbahaya.”

Terdengar suara seorang lagi berkata, “Dalam hal ini bagaimana kita dapat bertindak sendiri, tunggu setelah pemimpin kita datang biar beliau yang mengambil keputusan sendiri.”

Orang yang pertama bicara tadi berkata pula, “Kalau begitu kita periksa dulu keadaan dalam menara, toch tidak ada halangan.”

Setelah itu ia menggerakkan tangannya, barangkali memanggil kawan2nya supaya datang berkumpul.

Hati Siang-Koan Kie mulai cemas, pikirnya, “Celaka menara ini tidak seberapa, jikalau mereka hendak memeriksa dimana ada tempat lagi untuk menyembunyikan diri?”

Tetapi ketika ia menoleh ke arah orang tua, ternyata sikapnya masih tenang-tenang saja seperti tidak terjadi apa- apa.

Genting atap diluar jendela tiba-tiba terdengar suara tindakan kaki sangat perlahan.

Siang-Koan Kie tahu bahwa sudah ada orang diluar jendela maka ia menarik kepalanya dan ia cepat menyembunyikan badannya dibawah jendela.

Ia diam-diam siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Diluar jendela tiba-tiba terdengar suara orang berkata sambil tertawa besar, “Saudara2 harus jaga diluar, aku hendak masuk untuk periksa keadaan dalam menara ini.” Siang-Koan Kie cepat2 berdiri bersembunyi dibelakang jendela, ia sudah siap apabila ada orang mendorong pintu jendela, ia segera menyerang dengan kecepatan bagaikan kilat.

Pada saat itu jalan darah Ciok-tie-hiat, seperti disentuh oleh sebuah benda, meskipun tidak sakit tetapi tangannya tiba-tiba merasa kesemutan.

Tatkala ia menengok, segara tampak olehnya bahwa wajah orang tua itu sudah berobah dengan tiba-tiba, seluruh muka orang tua itu nampak kuning seperti mas, duduk dekat tembok disatu sudut, jikalau orang tua itu tidak menggerakkan tangan kepadanya sesungguhnya sulit untuk mengenalnya.

Bukan kepalang terkejut Siang-Koan Kie tetapi ia segera tersadar, karena melihat orang tua itu memakai kedok, ia mengetahui bahwa orang tua itu mempunyai siasat untuk menghadapi musuhnya, cepat2 ia lari menghampiri dan sembunyi dibelakang dirinya.

Orang tua itu bentangkan kedua tangannya, baju panjangnya yang kerowongan tiba-tiba melembung untuk menutupi diri Siang-Koan Kie, sekitar pinggir baju, kecuali bagian lobangnya, semua nampak rapat bagaikan dinding.

Siang-Koan Kie yang berlindung didalam baju itu, sedikitpun tidak merasakan sempit, ia dapat bergerak dengan leluasa.

Tiba-tiba telinganya dapat mendengar suara terbukanya daun jendela, Siang-Koan Kie mengintip dari celah2 lobang baju, ia dapat melihat seorang lelaki kira-kira berumur empat puluhan, badannya tegap romannya galak.

Orang itu agaknya dikejutkan oleh orang tua yang mukanya bagaikan patung, sejenak nampak terperanjat, baru perlahan- lahan menghampiri. Kemudian, disusul oleh munculnya tiga orang kawannya, yang semuanya maju menghampiri orang itu.

Terdengar suara laki2 yang pertama datang tadi berkata, “Saudara Thio, lihatlah, ini patung apa? Budha tidak mirip dengan budha, agak mirip dengan patungnya satu dewa, yang menjadi pengawalnya Tuhan Allah, tetapi dibawah kaki ini tidak terdapat patung harimau, tangannya tidak membawa pecut, sudah banyak aku melihat bentuknya patung2, tetapi belum pernah menyaksikan patung serupa ini.”

Sementara itu semua kawannya sudah berada disekitar orang tua karena jaraknya dekat sekali, ia malah tidak dapat melihat tegas muka tiga orang itu, hanya terdengar suara jawabannya saja, “Patung ini memang aneh bentuknya, bukan terbuat dari kayu ukiran, juga bukan dari tanah liat.”

Siang-Koan Kie yang mendengarkan pembicaraan itu belum juga terkejut sebab ia khawatir penyamaran orang tua itu nanti akan diketahui oleh orang itu, sekalipun orang tua itu sudah sempurna kekuatan tenaga dalamnya, tetapi untuk menghadapi empat orang yang menyerang secara tiba-tiba mungkin jupa berat.

Tetapi secara tidak disengaja tangannya menyentuh badan orang tua itu, tangan itu dirasakan seperti menyentuh barang keras sehingga diam-diam ia terperanjat, orang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam demikian sempurna sebetulnya jarang terdapat.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang bicara, “Patung ini mungkin terbuat dari kayu garu… ”

Terdengar suara orang lain, “Tidak mirip, kayu garu pasti ada bau harumnya… ”

Terdengar pula suara orang yang pertarna, “Kalau bukan dari kayu garu, apakah dia terdiri dari daging manusia yang telah membeku, coba kau raba lengannya, kecuali kayu garu, tidak mungkin dari tanah liat atau batu. Siang-Koan Kie merasa tertarik hatinya ia mengulurkan tangan meraba tangan si orang tua, benar saja tangan itu keras seperti batu.

Terdengar pula suara seorang berkata:

“Kalian jangan rebut, baik terbikin dari kayu maupun dari tanah liat atau daging manusia yang membeku, biar bagaimana toch sebuah patung ”

Seorang lain berkata, “Saudara Go terkenal sebagai seorang cerdik, biasanya kau sangat mengagumkan, tetapi kali ini aku tidak dapat menyetujui pendapatmu.”

Terdengar suara orang itu tadi, “Saudara Lo pasti dapat melihat bahwa debu tanah dalam menara ini sudah dibersihkan, juga ada bekas2 peninggalan orang yang makan buah apel, kau lalu menganggap bahwa didalam menara ini pasti ada orangnya, betul tidak?”

Orang yang dipanggil Lo, itu berkata, “Benar, bagaimana pendapatmu tentang ini?”

Siang-Koan Kie terkejut, pikirnya, “Celaka jikalau mereka dapat menebak jejak kita karena biji buah apel itu benar- benar aku patut disesalkan.

Terdengar suara orang yang dipanggil saudara Go itu, “Setitik pelita, juga berani mengadu penerangan dengan sinarnya rembulan dan matahari, apakah kau kira kau sendiri yang cukup pintar, ketahuilah olehmu, didalam menara ini bukan saja memang ada orangnya, bahkan bukan hanya seorang saja ”

Siang-Koan Kie sangat khawatir, diam-diam menyiapkan tenaganya.

Terdengar pula suara orang itu, “Cuma orang yang berada didalam menara ini, sudah lama pergi, aku baru saja memperhatikan keadaan diatas rumah dan ruangan kuil, semua ada tanda2 banyak bekas jejak kaki manusia, ini berarti sebelum kita tiba, sudah ada orang lain yang datang lebih dulu, bekas kaki itu ada yang besar dan kecil, ini suatu bukti bahwa orang yang datang bukan cuma satu, jikalau dugaanku tidak keliru, mungkin sudah ada berapa padri Tibet, yang sudah datang lebih dulu memeriksa keadaan disini, masih ada lagi seorang dari golongan rimba hijau di daerah Tiong-goan yang bawa mereka kemari, padri Tibet itu berperawakan tinggi besar, maka bekas kakinya lebih besar, nampaknya mereka berdiam didalam menera ini dalam waktu yang cukup lama, biji apel itu sudah tentu mereka yang meninggalkannya.”

Siang-Koan Kie yang mendengar keterangan orang itu diam-diam juga memuji kecerdikan orang tersebut, sayang karena menganggap dirirya sendiri terlalu pintar sehingga akhirnya menjadi tergelincir.

Orang she-Lou itu terdengar pula suaranya, “Keterangan saudara Go ini benar-benar sudah membuka pikiranku, kau mendapat julukan sebagai seorang cerdik pandai benar-benar tidak sia2, kita sudah didahului oleh orang lain, besar kemungkinan bahwa musuh kita sudah mempunyai siasat lain, sebaiknya kita lekas pulang memberitahukan kepada pemimpin kita supaya selekas mungkin mengadakan persiapan.”

Seorang yang bicaranya agak kasar, saat itu tiba-tiba mengeluarkan suaranya, “Tidak disangka padri dari Tibet yang kelihatannya tolol dan bodoh, ternyata juga banyak akalnya.”

Setelah itu suara empat orang itu perlahan-lahan kedengarannya sangat jauh dan akhirnya lenyap sama sekali.

Siang-Koan Kie menunggu sekian lama lagi, setelah menduga orang2 itu sudah pergi jauh, baru mengulur tangannya untuk menyingkap baju orang tua tetapi ternyata tidak bergerak sama sekali.

Perasaan ingin tahu telah membangkitkan keberaniannya untuk mencoba mendorong dengan tenaga sekuatnya. Tetapi segera merasakan ada kekuatan tenaga yang membentur balik dirinya sehingga ia hampir terjatuh.

Dalam pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang tua itu berkata, “Pusar dua telapak tangan, pusar dua telapak kaki, dan pusar diatas kepala, itulah yang dinamakan lima pusar. Lima pusar itu menghadap keatas untuk menampung semua kekuatan tenaga murni ini adalah cara melatih kekuatan dalam yang tertinggi.”

Siang-Koan Kie berpikir cukup lama lalu berkata, “Boan- pwee adalah seorang dungu sehingga hanya mengerti satu dua bagian saja.”

Orang tua itu berkata, “Inilah salah satu rahasia terbesar dalam kepandaian ilmu silat, kalau kau sudah dapat memahami satu dua bahagian saja, sudah cukup kau gunakan untuk seumur hidupmu sekarang duduklah bersila dan pejamkan matamu.”

Siang-Koan Kie menurut, ia berbuat seperti apa yang dikatakan oleh si orang tua itu.

Ia merasa bahwa tenaga murni dalam tubuhnya yang biasa mengalir dengan leluasa, kali ini mendadak seperti terhalang oleh semacam kekuatan hebat sehingga kecepatan mengalirnya darah dalam tubuhnya banyak berkurang, diatas dadanya seperti tertindih oleh barang berat, semua isi perutnya seperti hendak terlepas dari tempatnya. Dalam waktu sangat singkat saja keringat sudah membasahi sekujur badannya, menimbulkan semacam perasaan yang tidak enak.

Tetapi ia adalah seorang keras kepala, semakin hebat penderitaannya, semakin tidak mau menyerah, dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan semua penderitaan itu.

Entah berapa lama sudah berlalu, mendadak ia merasakan kekuatan tenaga murni dalam tubuhnya perlahan-lahan mengalir kebahagiaan yang belum pernah dilalui, tindasan diatas dadanya mulai berkurang, mengalirnya darah mulai teratur, tetapi ia merasakan sangat letih, dengan tanpa dirasa telah tertidur.

Ketika ia sadar dan membuka matanya, hari sudah hampir gelap.

Orang tua itu sedang duduk dipinggir jendela, matanya mengawasi dirinya setelah nampak ia telah sadar, orang tua itu tersenyum dan berkata, “Didalam daerah pegunungan yang sunyi ini, kecuali buah-buahan, hanya daging burung dan binatang terbang yang dapat digunakan untuk pengisi perut, sudah lama kau makan nasi, barangkali tidak biasa dengan hidangan semacam ini.”

“Boan-pwee sering mengikuti Suhu melakukan perjalanan kedaerah pegunungan yang jarang didatangi oleh manusia, tidur dibawah langit terbuka dan makan buah-buahan sudahlah biasa. Locianpwee tidak perlu memikirkan diri Boan- pwee.”

“Itu bagus, aku juga tidak perlu bersusah hati.”

Tiba-tiba ia mengambil serulingnya dan mulai meniup lagi.

Siang-Koan Kie yang berada disampingnya, dapat mendengar suara seruling itu sangat lemah, tetapi samar- samar seperti memanggil-manggil seorang.

Tidak berapa lama, orang tua itu berhenti meniup, dan berkata kepadanya sambil tertawa, “Hati manusia banyak yang palsu, bersahabat dengan manusia adalah lebih baik bersahabat dengan binatang.”

Siang-Koan Kie tiba-tiba teringat bahwa orang tua itu pernah menggunakan serulingnya untuk memanggil ular raksasa, maka ia lalu berkata, “Apakah Locian-pwee hendak memanggil ular raksasa itu lagi?”

“Semua binatang buas atau burung terbang disekitar gunung ini, ada kenal baik dengan aku tetapi yang suka bersahabat dengan aku jumlahnya tidak banyak. Dulu kalau aku yang tinggal seorang diri dalam menara ini merasa kesepian, aku sering menggunakan seruling ini memanggil mereka datang kemari sebagai kawan mengobrol.”

Siang-Koan Kie heran. Ia bertanya, “Apa? apakah Locian- pwee dapat memanggil mereka?”

“Benar.”

“Di antara manusia dengan hinatang, bahasanya sangat berlainan apakah Locian-pwee paham bahasa binatang?”

Orang tua itu mendongakkan kepala melihat cuaca kemudian berkata, “Malam ini rembulan terang, kalau bukan karena mereka sedang bertaruh aku boleh memanggil semua sahabat2ku yang terdiri dari harimau, ular raksasa, lutung dan burung garuda untuk kuperlihatkan kepadamu. Meski bentuk mereka buruk dan buas tetapi jujur, tidak banyak akal, kalau mereka sedang marah cukup dengan membuka mulutnya menunjukkan giginya atau mementang kukunya, begitu kita melihat sudah tahu, mereka itu dalam keadaan senang atau marah, jauh lebih baik kalau dibanding dengan itu manusia- manusia yang diluarnya kelihatan ramah dan sopan tetapi hatinya lebih kejam dari pada binatang.”

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara geraman harimau.

Orang tua itu nampak gembira, ia berkata, “Ah! Si kuning itu sudah kembali, setengah tahun berselang entah apa sebab ia pergi dari sini, berkali-kali kupanggil dengan seruling belum pernah lihat ia datang.”

“Si kuning itu bukankah seekor harimau besar?”

Orang tua itu mengawasi Siang-Koan Kie sejenak selagi hendak menjawab, seekor burung besar mendadak melayang turun dan hinggap diatap rumah didepan jendela.

Burung itu besar sekali bentuknya sehingga diatap rumah tingginya dua kaki lebih. Orang tua itu mendadak mengulurkan tangannya dan berkata sambil tertawa, “Oh, burung elang sudah lama kita tidak ketemu.”

Burung besar itu menonjolkan kepalanya, paruhnya tajam bagaikan pedang, matanya bersinar tajam dengan sikapnya yang ramah sekali, menonjolkan kepalanya kedepan dada orang tua itu.

Menyaksikan bentuknya yang besar dan gekar Siang-Koan Kie lalu bertanya, “Burung ini begini cerdik, didalam dunia jarang ada, apakah ini bukan burung elang rajawali raksasa?”

“Benar, ia sebetulnya bukan penghuni didalam gunung ini, pada tiga tahun berselang kebetulan liwat disini dan bersahabat dengan aku, tidak disangka tiga tahun kemudian ia masih datang menengok aku, nampaknya rasa persahabatan dari binatang dan burung, rasanya jauh lebih baik dari pada manusia.”

Siang-Koan Kie tertarik oleh perasaan heran, ia mengusap- usap badan burung besar itu. Bulunya ternyata sangat licin dan lemas.

Pada saat itu dihadapannya kembali tampak seekor harimau besar yang lompat masuk dari jendela.

Siang-Koan Kie dikejutkan oleh bentuk badan harimau itu yang besar sekali itu.

Sementara itu burung rajawali itu tiba-tiba membentangkan sayapnya, dengan kecepatan bagaikan kilat menerkam harimau.

Terdengar suaranya orang tua itu berkata, “Rayawali, si kuning ini juga sahabatku.”

Tetapi burung itu ternyata belum paham bahasa manusia, mereka bertempur diatas atap rumah. Pertempuran antara burung dan harimau ini tampaknya ramai sekali.

Orang tua itu berulang kali berteriak-teriak memanggilnya tetapi tiada satupun yang mau mendengarkan perkataannya.

Setelah kedua pihak masing2 terdapat luka, orang tua itu agaknya baru ingat bahwa burung dan harimau itu tidak mengerti perkataannya, maka cepat2 ia meniup serulingnya untuk menghentikan pertempuran tersebut.

Benar saja, pertempuran dahsyat itu lalu berhenti. Burung rajawali itu lebih dulu terbang kembali kemudian disusul oleh harimau si kuning, ke-dua2nya berada dihadapan si orang tua.

Orang tua itu berhenti meniup lalu mengulurkan kedua tangannya untuk meng-elus2 kedua binatang itu.

Orang tua itu lalu berpaling dan berkata kepada Siang-Koan Kie, “Kau lihat kedua sahabatku bagaimana kalau dibanding dengan rnanusia?”

Siang-Koan Kie nampak sangsi sejenak lalu menjawab, “Belum tentu semua begitu,, sekalipun binatang yang sangat sempit juga tidak sempat membedakan yang baik dengan yang jahat… ”

Pada saat itu burung rajawali itu mendadak menonjolkan kepalanya keluar jendela dan harimau itu juga menunjukkan sikap hendak menerkam.

Orang tua itu agaknya terpengaruh oleh perasaan yang sangat girang sehingga daya pendengarannya yang tajam telah hilang, setelah menyaksikan gerakan kadua binatang itu, baru tersadar, ia lalu memasang telinganya kemudian berkata kepada Siang-Koan Kie, “Ada orang datang!”

Baru saja ia mengeluarkan ucapannya mendadak tampak satu bayangan merah diatas atap rumah didepan jendela, berdiri seorang wanita muda berbaju merah. Hebat sekali kepandaian meringankan tubuh wanita muda itu. Kedatangannya itu tidak menimbulkan suara sedikitpun juga, tahu-tahu sudah muncul diatas atap rumah.

Mata burung rajawali dan harimau itu semua ditujukan kepada diri wanita muda itu, agaknya sedang mengawasi segala gerak-geriknya, juga seperti menantikan perintah si orang tua.

Siang-Koan Kie kini baru dapat kenyataan bahwa wanita muda itu cantik sekali tetapi dandanannya agak aneh, rambutnya diikat dengan selendang sutera warna merah terurai kebelakang pundaknya, lengan bajunya cuma sampai dibahagian sikut, sehingga tampak tegas kedua lengan tangannya yang putih, sepuluh jari tangannya, kecuali dua jari kepala, semua mengenakan cincin mas, sedang dilehernya ada serenceng kalung mutiara yang mengeluarkan sinar gemerlapan, gaun pendeknya cuma sampai dibagian lutut, sehingga tertampak nyata paha kecilnya yang putih, sepasang kakinya mengenakan sepatu sok yang terbuat dari kulit binatang rusa.

Dari dandanannya itu sudah dapat diketahui bahwa perempuan muda itu bukanlah orang dari daerah Tiong-goan, namun romannya cantik sekali.

Perempuan cantik itu agaknya dikejutkan olen kedua binatang yang luar biasa besarnya itu, tetapi sejenak kemudian ia tenang kembali, dengan tindakan perlahan ia berjalan menuju kedalam menara.

Orang tua itu, dengan sinar matanya yang tajam mengawasi diri perempuan muda itu agaknya sedang memikirkan sesuatu, mulutnya diam dalam seribu bahasa.

Perempuan muda berbaju merah itu ketika berjalan ketepi atap rumah, dengan tanpa ragu-ragu lompat melesat ke arah daun jendela. Siang-Koan Kie sangat kagum menyaksikan kelincahan perempuan itu, sementara kedua binatang raksasa itu hendak menerjang!

Perempuan muda itu agaknya sudah siap, maka tatkala diserbu oleh kedua binatang itu, ia sudah lompat tinggi dua tombak, setelah berputaran ditengah udara ia melayang turun kelain jendela.

Harimau agaknya penasaran, dia berbalik dan menyerbu lagi.

Tetapi gerakan perempuan itu lebih gesit, sebentar saja sudah menyerobot masuk dari lobang jendela.

Siang-Koan Kie mendadak berdiri dan melompat maju merintang didepan perempuan itu sambil berseru, “Diam.”

Perempuan muda itu menggeser kesamping kakinya, ia berdiri dengan membelakangi daun jendela, biji matanya berputaran mengawasi Siang-Koan Kie, tiada sepatah kata keluar dari mulutnya, parasnya juga tiada menunjukkan perobahan sikap apa-apa, ketenangannya itu sesungguhnya diluar dugaan Siang-Koan Kie, sehingga untuk sesaat ia tidak tahu bagaimana harus bertindak, tetapi akhirnya ia bertanya juga, “Apakah kau tidak paham bahasa Han?”

Perempuan muda itu mengawasi keadaan didalam ruangan itu sejenak baru menjawab, ternyata menyimpang dari pertanyaan Siang-Koan Kie, “Apakah didalam menara ini cuma kalian berdua saja?”

Ternyata perempuan muda ini bukan saja fasih berbahasa Han, tetapi juga suaranya sangat tegas dan enak sekali kedengarannya.

-odwo-

Bab 7 Belum lagi Siang-Koan Kie membuka mulut, orang tua itu sudah melayang kesampingnya dan menanya perempuan itu dengan nada suara dingin, “Kau bocah perempuan ini adakah murid dari golongan Bit-tiyong?”

Perempuan muda itu menjawab sambil tersenyum, “Golongan Bit-tiyong jarang menerisna murid perempuan, meski aku datang dari daerah perbatasan, tetapi bukan murid golongan Bit-tiyong.”

“Tidak perduli kau dari golongan Bit-tiyong atau bukan, tetapi karena kau datang dari daerah perbatasan, pasti merupakan salah seorang yang turut ambil bagian dalam pertaruhan pertandingan ilmu silat ini? Kau sudah berani memasuki menara ini jangan pikir bisa keluar dengan selamat.

Perempuan muda itu bersenyum, lalu berkata, “Kakaku sendiri tidak bisa mengendalikan aku bagaimana dengan kau?”

Ucapan itu kedengarannya terlalu kekanak-kanakan sehingga Siang-Koan Kie merasa geli dan berkata, “Kita memang tidak seharusnya mencampuri urusannya, tetapi karena kau sudah mengetahui rahasia kita… ”

Perempuan muda itu melirik Siang-Koan Kie sejenak lalu berkata dengan nada suara dingin, “Kalian orang2 dari suku Han, biasanya sangat keras sekali dalam peraturan terhadap kaum pria dan wanita, tetapi mengapa kau nampaknya selalu ingin mencari kesempatan untuk berbicara dengan aku?”

Pertanyaan itu meski sangat lucu tetapi perempuan itu sikapnya nampak serius.

Siang-Koan Kie merasa sangat malu, ia mundur dua langkah dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, “Apakah benar aku memperhatikan kecantikannya?”

Perempuan itu dengan bangga berkata pula, “Didalam kalangan kita suku Utgur, siapa yang berani melanggar aku secara berani begini, segera dihukum mati…….. tetapi kalau sedang kita merayakan hari suci Tuhan Allah kami dibawah sinar rembulan yang terang, mereka boleh bebas mengajak aku menari.”

Orang tua itu tiba-tiba mengacungkan tangannya dan berkata dengan nada dingin, “Sudah sepuluh tahun lebih aku tidak pernah membunuh orang, hari ini karena keadaan terpaksa, apa boleh buat aku akan membuka pantangan sekali saja.”

Perempuan itu sedikitpun tidak menunjukkan rasa jeri, sambil bersenyum manis ia berkata, “Benarkah kau berani membunuh aku?”

“Mengapa tidak berani?”

Tetapi orang tua itu ketika menyaksikan paras yang cantik, hatinya bercekat, dalam hatinya lalu berpikir, “Perempuan ini meski dandanannya agak aneh tetapi dari sikapnya, menunjukkan sifatnya yang masih kekanak-kanakan dan kejujuran, ia ternyata tidak percaya kalau aku bisa membunuhnya sehingga sedikitpun tidak bersedia……..

Oleh karenanya hati orang tua itu merasa ragu2 tidak dapat mengambil keputusan.

Setelah perempuan itu berjalan menuju kedaun jendela ia baru keluarkan suara bentakannya, ia memerintahkan supaya perempuan itu tetap berdiri ditempatnya.

Sementara itu binatang harimau dan burung rajawali itu sudah menghalang dimulut jendela.

Dengan alis berdiri perempuan itu berpaling dan bertanya kepada si orang tua.

“Mengapa kau hendak membunuh aku.”

Orang tua itu berpikir sejenak baru menjawab, “Asal kau tidak memberitahukan kepada orang lain tentang pertemuanmu dengan kita, aku akan lepaskan kau dari sini.” Paras perempuan muda itu mendadak menunjukkan sikapnya yang heran, biji matanya yang hitam jernih berputaran diwajah dua orang itu, dalam hatinya agaknya sedang memikirkan suatu persoalan yang amat sulit. Lama ia baru menanya dengan nada suara dingin, “Kalian tidak mengijinkan aku memberitahukan kepada orang lain, kiranya pasti ada orang yang bermusuhan dengan kakaku… ”

“Kalau aku ada orang yang bermusuhan dengan kalian bagaianana aku dapat mengijinkan kau dengan mudah berlalu dari sini, asal kau tidak membocorkan rahasia dalam menara ini, kita tidak akan membantu pihak yang manapun juga, tetapi jika hal ini kau katakan kepada orang lain sudah tentu lain lagi tindakanku.”

“Baiklah! begitulah kita tetapkan, tetapi kalian orang2 suku Han, ada paling licik sering2 mengingkari janji… ”

Siang-Koan Kie lalu berkata dengan suara gusar, “Kita orang2 daerah Tiong-goan selalu mengutamakan soal janji, apa yang kita sudah janjikan tidak nanti akan ditarik kembali, hanya orang2 dari daerah perbatasan mungkin yang demikian.”

Paras perempuan itu menunjukkan sedikit perobahan dengan mata menetap wajah Siang-Koan Kie ‘berkata dengan nada dingin, “Kau ini bagaimana, mengapa selalu ingin bicara dengan aku, Hem! tidak tahu malu.”

Dimaki demikian, Siang-Koan Kie tercengang, mukanya merah seperti kepiting direbus, ia hanya merasa bahwa soal ini sulit untuk dibantahnya, ia cuma bisa menarik napas dengan hati mendongkol.

Perempuan muda itu bersenyum dan berkata kepada si orang tua, ,,Baiklah! begitulah kita tetapkan, aku tidak akan membocorkan rahasia kalian dalam menara ini, tetapi jika diketahui oleh orang lain, kau tidak dapat menyalahkan diriku.” Sehabis mengucap demikian, ia lalu keluar melalui jendela, sebentar kemudian sudah diatas atap rumah lain seberang.

Burung garuda dan harimau itu agaknya sudah tahu bahwa perempun baju merah mengadakan perdamaian dengan si orang tua maka tidak megejar lagi.

Orang tua itu mengawasi berlalunya perempuan tersebut, setelah lenyap dari pandangan matanya, lalu mengeluarkan suara tarikan napas perlahan, sementara dalam hatinya berpikir, perempuan itu meski dari Tibet, tetapi kepandaiannya tidak mirip dengan golongan Bit-tiyong……..

Siang-Koan Kie yang merasa malu dimaki oleh perempuan tadi, sehingga ia duduk saja sambil berdiam.

Orang tua itu lalu mengawasinya dan berkata dan tertawa,

,,Mengapa kau merasa tidak gembira?”

,,Tidak apa-apa” jawabnya singkat.

Orang tua itu tertawa ter-bahak2 dan berkata, ,,Kau tentunya merasa tidak enak habis dimaki oleh perempuan itu tadi.”

Siang-Koan Kie tidak dapat membantah, terpaksa mengakui sambil tersenyum.

Orang tua itu berkata pula, ,,Dimaki oleh seorang perempuan, juga tidak merupakan suatu hal yang memalukan. Kita sebagai laki2 bagaimanapun tidak boleh berpikiran seperti orang perempuan.” Bicara sampai disitu, tiba-tiba ia menghela napas kemudian bertanya, ,,Kau taksir berapa usia perempuan tadi?”

,,Boan-pwee tidak mengawasi dengan cermat. Hanya sepintas lalu saja, mungkin tujuhbelas atau delapan belas tahun.”

,,Tay-jie tahun ini juga sudah tujuh belas tahun.” “Siapa itu Tay-jie?” Orang tua itu menghela napas lalu berkata, “Tay-jie adalah Tay-jie, ah! bagaintana rupanya akupun tidak tahu.”

Siang-Koan Kie tercengang, dalam hatinya berpikir orang ini kata2nya tidak keruan, benar-benar sulit untuk mengetahui apa yang dipikirkan.

Orang tua itu agaknya dapat menduga pikiran Siang-Koan Kie, sambil bersenyum ia berkata, ,,Mari kita mulai mempelajari ilmu silat! mungkin tiga hari kemudian kita akan gunakan.”

Siang-Koan Kie tidak berkata apa-apa hanya otaknya yang bekerja, dalam waktu tiga hari cepat sekali, sekalipun pandai mengajarnya, berapa banyak yang aku dapat pelajari?

Orang tua itu dengan sikapnya yang sungguh2 berkata,

,,Sebetulnya aku ingin memulai dari dasarnya kekuatan tenaga dalam. Lebih dulu aku hendak kokohkan dasarmu dulu kemudian baru kuturunkan pelajarannya, tetapi itu memerlukan waktu panjang sekali. Sekarang keadaannya sudah berlainan, tiga hari kemudian, kalau pertandingan mereka itu dimulai mungkin mereka akan dapat menggunakan tempat ini, jika kita diketahui oleh mereka, sulit bagi kita untuk menghindarkan dari pertempuran ini, bagaimana akibatnya susah sekali kita duga, maka dalam waktu tiga hari ini, sedapat mungkin akan aku gunakan untuk menurunkan semua kepandaianku kepadamu. Andaikata kita harus terlibat dalam pertempuran itu, mungkin menara ini akan menjadi tempat istirahatku untuk selama-lamanya. Sementara itu kau dapat meloloskan diri dari bencana itu atau tidak, itu tergantung dengan nasibmu sendiri.”

,,Meski kaki Locianpwee sudah tercacat, tetapi kepandaiannya toch masih ada sebaiknya kita lekas pindah dari sini… ”

,,Wajah orang tua itu mendadak berobah, berkata dengan nada suara dingin, ,,Aku sudah mengadakan perjanjian dengan orang, dalam waktu duapuluh tahun tidak bisa meninggalkan menara ini. Lekas pejamkan matamu, untuk memperhatikan pelajaran2 yang kuturunkan padamu.”

Siang-Koan Kie melongok keluar jendela mengawasi burung rajawali dan harimau sejenak lalu berkata, “Apakah binatang2 ini harus disuruh pergi dulu?”

Orang tua itu membalikkan badannya dan megawasi kedua binatang raksasa itu, kemudian lambai-lamaikan tangannya sambil menghela napas perlahan.

Burung rajawali itu menggerak-gerakkan sayapnya, lalu terbang keangkasa sedangkan harimau itu berjalan mundar- mandir duakali, baru pergi.

Orang tua itu mengawasi berlalunya binatang tersebut merasakan seperti kehilangan apa-apa, kemudian lalu berpaling dan berkata, “Mari kita mulai.”

Tiga hari telah berlalu dengan cepat, selama tiga hari tiga malam itu, Siang-Koan Kie menggunakan seluruh kecerdikannya untuk mendengarkan semua pelajaran yang diberikan oleh orang tua utu, hari keempat pagi2 sekali, Siang- Koan Kie merasa sangat letih sekali hingga dengan tanpa dirasa telah tertidur.

Entah berapa lama telah berlalu, badannya tiba-tiba seperti digoyang-goyang orang, ketika ia membuka mata, ia segera merasakan kedua tangan orang itu tengah mengurut-urut badannya, dimana tangan itu sampai, pasti ada semacam kekuatan yang mengandung hawa panas masuk kedalam tubuhnya.

Orang tua itu ketika melihat Siang-Koan Kie sudah sadar, lalu menghentikan tangannya dan berkata sambil tersenyum, “Apa rasa 1etihmu sekarang sudah mulai berkurangan?”

Siang-Koan Kie melompat bangun, lalu berlutut ditanah seraya berkata, “Locian-pwee telah menggunakan kekuatan tenaga murnimu untuk membantu menambah kekuatan Boan- pwee… ”

“Kita tidak ada ketentuan hubungan antara guru dengan murid, tidak perlu kau berlutut, kau sudah tidur tiga jam lamanya, baru saja aku sudah mendengar suara orang2 kedua pihak yang akan bertanding, sudah tiba didekat kuil tua itu, jikalau kau tidur lagi bukan saja akan mensiasiakan kesempatan yang jarang dijumpai ini, tetapi juga akan membuat susah dirimu sendiri andaikata kita akan terlibat, maka aku dengan kekuatan tenaga dalamku membantu kau supaya lekas sadar… ”

Berkata sampai disitu, tiba-tiba berhenti, ia memasang telinganya sejenak, kemudian berkata pula dengan suara perlahan, “Sudah datang!”

Siang-Koan Kie berdiri, lari menuju kejendela sebelah kiri.

Orang tua itu sudah siap, ia mengeluarkan sebungkus obat bubuk dari dalam badannya, lalu dipulaskan dimukanya, sebentar saja muka itu sudah berobah warnanya menjadi warna kuning mas.

Siang-Koan Kie tahu bahwa ia akan menggunakan akal lamanya, jikalau perlu, ia akan pura2 berlaku sebagai patung, maka ia lalu tersenyum dan memasang matanya keluar jendela, segera tampak olehnya diatas atap rumah dibagian seberang, muncul serombongan orang, delapan laki2 berpakaian ringkas dan membawa senjata tajam, mengiring seorang laki2 pertengahan umur yang dibawah hidungnya memelihara kumis pendek berpakaian baju panjang, dan ikat kepala diatas kepalanya.

Orang itu nampaknya seorang licik, Siang-Koan Kie yang mengawasinya sejenak diam-diam mengutuk: orang semacam ini apakah juga berkepandaian tinggi, dari mukanya saja orang merasa muak untuk bertanding dengannya. Meskipun ia tidak tahu sebab musabab pertikaian itu, tetapi ia tidak pilih kasih terhadap pihak yang manapun juga, hanya dalam alam pikirannya sebagai orang daerah Tiong-goan, sedikit banyak condong perhatiannya kepada orang2 yang mewakili rimba persilatan daerah Tiong-goan, maka ketika menyaksikan roman mukanya yang tidak sedap dan bukan seperti tingkah laku orang gagah diam-diam menjumpainya.

Pada saat itu dari bawah menara bagian penyimpan kitab terdengar suara orang berkata dengan suara yang kasar, “Apakah yang datang itu adalah In Chung Cu? Pemimpin golongan kita sudah lama menantikan kedatangannya didalam kuil tua.”

Orang itu berbicara dalam bahasa suku Han, tetapi agak kurang jelas.

Siang-Koan Kie lalu menoleh ke arah suara itu. Segera dapat melihat seorang padri dari Tibet yang tinggi besar, berjalan menghampiri rombongan orang2 itu.

Orang yang mukanya licik itu, juga segera turun dari atas genting rumah, dengan diiringi oleh delapan pengiring, lalu maju menyambut kedatangan padri itu seraya berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat, “Chung Cu kami oleh karena ada urusan, sehingga datang agak terlambat dan terpaksa minta Taysu menanti sebentar.”

Waktu orang itu bicara, delapan pengiringnya selalu berdiri melindunginya, disisi dan dibelakang dirinya agaknya sangat kawatir akan jiwa orang itu.

Padri tinggi besar itu menjawab sambil merangkapkan dua tangannya, “Tuan bukan In Chung Cu, tentunya adalah sitangan sakti Hiong Kian Hui?”

Orang yang ditanya itu menjawab, “Saudara Hiong adalah komandan pimpinan barisan pasukan perkampungan kami, tetapi aku adalah pemimpin bagian sekretariat dalam perkampungan tersebut, namaku Siong Khun. Chung Cu kami kali ini mengadakan perjandiian pertandingan ilmu silat dengan golongan Thay-su, meskipun yang diutamakan pertandingan ilmu silat, tetapi hal yang sebenarnya, ialah ingin menggunakan kesempatan ini hendak bertemu muka dan belajar kenal dengan pemimpin Taysu. Sudah lama pengaruh dan nama besar golongan Taysu sangat terkenal di daerah barat, ilmu silatnya jauh berlainan dengan ilmu silat golongan Tiong-goan, meskipun demikian tetapi suksesnya sangat mengagumkan.”

Sehabis berkata orang itu menunduk dengan sikapnya yang sangat terhormat.

Sebaliknya sikapnya padri Tibet itu yang sangat sombong, ketika mendengar keterangan orang itu lalu berkata dengan suara dingin, “Didalam golongan kami, ada semacam peraturan istimewa jikalau pihak lawan bukan seorang pemimpin tidak mau menjumpai, tetapi kalau pasti ingin menemui juga harus sanggup meliwati rintangan dari dua belas pasukan pelindung hukum kami.”

“Tetapi aku yang rendah tiada maksud untuk menemui pemimpin Taysu pada saat ini juga ”

Padri tinggi besar itu tiba-tiba membalikkan badan dan menggerakkan tangannya, segera ada empat orang padri berjubah warna biru yang menghampiri, kemudian duduk berbaris dihadapan orang banyak itu.

Siong Khun menggeleng-gelengkan kepala mundur dua langkah, meski mulutnya tidak berkata apa-apa, tetapi wajahnya menunjukkan sikap muak, mungkin ia mengutuk orang2 dari daerah perbatasan yang dianggapnya tidak tahu adat.

Delapan pengiringnya itu ketika melihat Siong Khun mundur dua langkah, lalu segera bergerak dengan serentak mengurung dirinya ditengah-tengah, kemudian duduk semuanya. Siang-Koan Kie yang bersembunyi dibelakang jendela, telah melihat dan mendengar semua kelakuan dan pembicaraan dari kedua pihak, dalam hatinya diam-diam berpikir, jikalau mereka tidak melakukan pertandingan dibawah menara ini, kita tentu tidak dapat menyaksikan.

Selagi berpikir, tiba-tiba terdengar siulan nyaring, delapan laki2 yang bertindak sebagai pengiring itu dengan serentak melompat bangun dan berdiri menjadi dua baris.

Siong Khun kembali mengangkat tangan, meraba-raba mukanya lalu berkata kepada padri yang duduk dihadapannya itu, “Chung Cu kami akan datang, lekas beritahukanlah kepada pemimpin kalian untuk datang menyambut.”

Seorang padri bangkit perlahan dan berkata, “Pemimpin kami berkedudukan sangat tinggi, bagaimana sudi sembarangan menyambut orang, nanti setelah Chung Cu datang, suruh dia saja yang pergi menjumpai.”

Delapan laki2 itu ketika mendengar ucapan padri itu mengandung hinaan terhadap Chung Cunya, semua merasa gusar dan memandang kepada Padri itu dengan sinar mata membara.

Sementara itu suara siulan tadi makin lama makin mendekat, suara itu kedengarannya datang dari dalam kuil.

Siang-Koan Kie memasang lagi matanya, segera tampak olehnya sepuluh lebih laki2 tinggi besar mendatangi sambil menggotong sebuah tandu kecil yang tertutup oleh kain hijau.

Didepan tandu tertutup oleh kain sutra berwarna biru, sehingga susah dilihat mukanya orang yang berada diatas tandu. Dibelakang tandu diikuti oleh empat orang yang berpakaian berlainan warnanya, empat orang itu rupanya seperti pengawal karena masing2 membawa senjata tajam.

Siang-Koan Kie diam-diam berpikir: orang ini mungkin adalah In Chung Cu sendiri. Tetapi belum lama lenyap pikiran itu, ia telah dapat melihat pula dibelakang tandu itu, ada lagi sebuah tandu yang dihiasi dengan kain sutra berwarna merah sebagai penutup tandu itu, kedua tandu itu terpisah hanya jarak delapan atau sembilan kaki.

Siang-Koan Kie diam-diam menarik napas, pikirnya: orang ini benar-benar terlalu banyak tingkah, di Daerah pegunungan semacam ini juga harus mempergunakan tandu.

Tidak lama setelah munculnya tandu dengan tutupnya sutra merah itu, dibelakangnya muncul lagi sebuah tandu kecil yang tertutup oleh sutra berwarna kuning!

Siang-Koan Kie merasa bingung oleh pemandangan didepan matanya itu entah mana di antara tiga tandu itu, yang diduduki oleh In Chung Cu.

Diluar dugaannya, kini muncul lagi tandu yang keempat, tandu ini tertutup oleh kain sutra berwarna hijau, dan setelah tandu ini tidak kelihatan ada tandu lagi.

Empat tandu itu satu sama lain terpisah delapan atau sembilan kaki, semua langsung menuju ke menara tempat penyimpan kitab.

Orang-orang yang memikul tandu itu, semua agaknya mahir sekali ilmu meringankan tubuh, mereka berjalan ditanah pegunungan diatas genting rumah, sedikitpun tidak nampak susah, bahkan tindakan mereka nampak gesit sekali, dalam sekejap mata saja, sudah tiba diatas payon rumah seberang loteng penyimpan kitab.

Payon rumah itu kira-kira satu tombak diatas tanah, delapan laki-laki yang memikul tandu itu, dengan tanpa ragu- ragu melompat turun kebawah.

Beberapa puluh orang yang bertindak sebagai pengawal, dengan cepat berpencar, empat tandu kecil berbaris disuatu tempat dengan rapinya. Empat laki-laki yang mengikuti tandu kecil itu, dengan pakaian mereka yang berlainan warnanya, berpencaran menjaga di depan pintu tandu.

Pada saat itu, Siang-koan Kie baru dapat melihat, bahwa warna pakaian empat laki-laki itu sama dengan warna kain yang digunakan untuk menutup tandu, warna itu terbagi dari warna hijau, merah, kuning dan biru muda.

Terdengar suara memuji Budha yang keluar dari mulut Padri yang memakai jubah warna merah darah, Padri itu dengan tindakan lebar berjalan maju, ia berkata sambil merangkapkan dua tangannya, “Di antara tuan-tuan siapakah In Cungcu? Ketua partai kita sudah lama menantikan kedatangan tuan di dalam pendopo.”

“Dari antara orang banyak itu nampak berjalan keluar seorang laki-laki berbadan tegap, laki-laki itu lalu berkata kepada Padri itu sambil member hormat, “Cungcu kita sudah berjanji dengan ketua partaimu untuk bertemu muka dibawah loteng penyimpan kitab ini, silahkan padanya supaya datang kemari!”

Padri Tibet yang berbadan tinggi besar itu dengan sikapnya yang angkuh, ia berkata, “Ketua partai kita sudah datang setengah jam dimuka dari waktu yang telah ditetapkan untuk mengadakan pertemuan itu, sebaliknya In Cungcu yang terlambat setengah jam, kalian orang2 gagah rimba persilatan daerah Tiong-goan, sering mengandalkan bahwa mereka bisa pegang janji, tetapi nampaknya semua itu hanya omong kosong belaka!”

Laki-laki berbadan tegap itu menggerutkan keningnya, kemudian berkata, “Jikalau tidak mengingat bahwa kalian datang dari tempat jauh untuk menempati janji, sebagai orang dari daerah pinggiran yang tidak tahu adat, dengan ucapanmu itu tadi, seharusnya sudah dihukurn mati, Cungcu kita meskipttn datang terlambat setengah jam, tetapi lebih dahulu sudah mengirim utusan kepala pengurus datang tepat pada waktunya untuk memberitahukan kelambatannya itu.” Padri Tibet itu berkata sambil tertawa dingin, “Orang-orang partai kita sekalipun selama itu selalu berdiam di daerah barat, tetapi tidak akan kalah dengan kalian orang-orang daerah Tiong-goan, kini sudah akan dimulai pertandingan itu siapa yang kalah atau yang menang, sebentar akan diketahui.”

Sehabis berkata ia memutar tubuhnya hendak berlalu, tetapi mendadak seperti teringat sesuatu ia lalu balik lagi dan bertanya, “Mendengar ucapattmu tadi apakah kau adalah kepala pengurus In Cungcu yang bernama Hiong Kian Hui yang mempunyai gelar Tangan Sakti meraba awan?”

Laki-laki itu menjawab sambil tertawa, “Benar, bagaimana nama sebutan taysu?”

“ Aku yang rendah bernama Hage, sudah lama aku dengar nama besarmu.”

Dada Hage nampak dipelembungkan, dari situ tiba-tiba meluncur keluar hembusan angin keras, menyerang Hiong- Kian Hui.

Hiong Kian Hui memasang kuda-kuda, tangan kirinya diletakkan kedepan dada untuk membalas hormat, sedang tangan kanannya digunakan untuk menyambut serangan Padri itu, sedangkan mulutnya berkata sambil bersenyum, “Ah, taysu terlalu memuji. Hiong Kian Hui hanya mencari sesuap nasi, bernaung dibawah perlindungan In Cungcu.”

Dua kekuatan tenaga dalam itu setelah saling beradu, segera menimbulkan angin keras sehingga pasir dan batu pada beterbangan, kaki dan pundak Hiong Kian Hui nampak bergerak, sedangkan Padri Tibet itu nampak mundur setengah langkah.

Setelah satu sama lain mengadu kekuatan tenaga dalam itu, dalam hati rnasing-masing merasa kaget, mereka saling berpandangan sejenak lalu mengangkat tangan memberi hormat satu sama lain. Hage berkata sambil tersenyum, “Nama gelar tangan sakti meraba awan benar-benar bukan hanya nama kosong belaka, Pinceng kini telah belajar kenal dengan kekuatanmu.”

Setelah itu ia membalikkan badan dan berlalu.

Dari dalam tandu kecil yang tertutup oleh kain warna hijau terdengar suara orang tertawa bergelak-gelak, kemudian disusul oleh kata-katanya kepada Padri Tibet itu, “Tolong taysu beritahukan kepada pemimninnya, katakan saja bahwa aku orang She In, bersama Mao-san It-cin dan dua sesepuh partai Ceng-shia-pay, telah menantikan kedatangannya ditanah lapang bawah loteng penyimpan kitab!”

Suaranya itu tidak besar, tetapi setiap patah kata terdengar nyata seolah-olah air mengalir yang masuk kedalam telinga.

Padri Tibet itu dengan tanpa menghentikan kakinya menjawab dengan suara keras, “Perkataan In Cungcu itu, Pin- ceng tidak berani gegabah menerima baik begitu saja, Pinceng masih perlu memberitahtrkan kepada ketua kami lebih dulu, untuk mendapatkan keputusannya.”

Dari tandu kecil itu tersingkap kain tutup yang berwarna hijau, lalu nampak berjalan keluar seorang laki-laki berusia tigapuluhan, dengan memakai pakaian panjang berwarna biru langit.

Dalam hati Siang-koan Kie semula mengira bahwa Cungcu dari perkembangan yang disebut sebagai perkampungan nomor satu itu, tentunya adalah seorang yang sudah lanjut usianya, siapa tahu ternyata adalah seorang yang masih begitu muda sehingga diam-diampun merasa heran.

Semua orang yang berpencar disekitar tempat itu, lalu membungkukkan badan untuk memberi hortnat.

Laki-laki berpakaian warna biru langit itu tertawa pula, kemudian berkata kepada orang-orang dalam tiga tandu kecil yang lainnya itu, “To-hen, Ong-heng, Oey-heng, silakan keluar.”

Kain tandu berwarna merah, kuning dan biru muda nampak tersingkap, dari dalam tandu keluar seorang tua berdandan pakaian imam dengan tangan membawa kebut, dan dua orang tua perawakan pendek kecil yang warna pakaiannya sama, dua orang tua itu masing2 membawa tongkat bambu.

Imam tua itu lalu berkata kepada laki-laki itu, “Saudara In, apakah tempat inilah yang saudara hendak gunakan sebagai tempat pertaruan mengadu kekuatan?”

Laki-laki itu menjawab sambil tersenyum!

“Ya, ditanah lapang bawah loteng penyimpan kitab ini.” Wajah laki-laki itu meski nampaknya penuh senyuman,

tetapi masih belum dapat menutupi perasaan masgul yang tampak nyata dalam wajahnya.

Dua orang tua yang membawa tongkat bambu itu, sekeluarnya dari tandu, mereka terus berdiam tidak berkata apa-apa.

Laki-laki berpakaian biru itu lalu berpaling dan berkata kepada orang tua tersebut, “Ong-heng dan Oey-heng, kali ini siaotee merasa tidak enak sekali harus minta bantuan kalian berdua, tetapi karena mengingat besar sekali sangkut pautnya dengan nasib orang rimba persilatan dalam pertandingan ini, maka terpaksa siaotee minta bantuan kalian berdua.”

Orang tua yang berdiri disebelah kiri berkata dengan suara dingin, “Dalam rimba persilatan dewasa ini orang yang bisa mengundang si Imam dari gunung maosan, dan kita dua tua bangka turun gunung untuk memberi tenaga, kecuali kau In Cungcu, barangkali sudah tidak ada yang keduanya lagi. Kita berdua saudara tidak gampang2 memberikan janji, tetapi kalau sudah sanggup juga tidak ingin orang mengucapkan terima kasih.” Orang tua itu nada suaranya ketus dan dingin, sungguh tidak enak didengar.

Laki-laki berpakaian biru itu mendongakan kepala melihat cuaca, lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Mengapa masih belum dating?”

Imam tua itu mengurut jenggotnya yang panjang dan putih kemudian berkata, “Saudara In, kecuali kita bertiga apakah kau masih minta bantuan orang lain lagi?”

“Perkataan yang siaotee ucapkan dengan tanpa sengaja pada beberapa tahun berselang tidak kusangka telah dianggap benar-benar oleh Padri Tibet, ia lalu mengirim orang menyampaikan surat mendesak siaotee supaya mengundang orang-orang kuat rimba persilatan daerah Tiong-goan supaya suka datang untuk menepati janji, oleh karena urusan ini men,yangkut sangat luas dengan nasib rimba persilatan, bukan cuma soal mati hidupnya siaotee seorang, maka tidak boleh tidak siaotee harus berlaku hati-hati, semula siaotee sebetulnya ingin mengundang semua orang gagah dalam rimba persilatan berunding guna menghadapi musuh itu, tetapi kemudian terpikir lagi bahwa urusan ini tidak tepat diumumkan kepada dunia rimba persilatan, lagi pula dengan mengundang semua orang gagah, juga belum tentu dapat memberi bantuan tenaga kepada kita, maka terpaksa siaotee hanya mengundang tuan-tuan saja… ”

Ia berdiam sejenak, kemudian berkata pula, “To-heng, Ong-heng dan Oey-heng, kini ternyata bersedia turun gunung untuk memberi bantuan tenaga, hal ini benar-benar menambah kepercayaan siaotee… ”

Pada saat itu tiba-tiha terdengar suara tambur dan gembreng dari jauh terdengar semakin dekat.

Dari sudut loteng penyimpan kitab nampak berjalan keluar sepuluh lebih kawanan Padri yang mengenakan jubah warna kuning, mereka berjalan mendatangi dengan tindakan perlahan.

Dibelakang kawaan Padri itu, tampak pula ernpat Padri berjubah warna merah, mereka itu memikul sebuah tempat sembahyang dari batu yang masih nampak mengepul asap dupanya.

Dibelakang batu tempat sembahyang itu kembali ada delapan padri berpakaian merah yang melindungi seorang Padri tinggi kurus dengan jubah yang beraneka warna, Padri tinggi kurus itu dilehernya tergantung serenceng biji2 tasbih, Padri itu berjalan sambil merangkapkan kedua tangannya, matanya seperti tertutup, dibelakangnya diikuti oleh seorang laki-laki gagah berusia tigapuluh tahunan bersama seorang perempuan muda berparas cantik yang mengenakan pakaian warna merah serta sepuluh lebih kawanan padri yang mengenakan jubah berwarna merah, biru dan kuning.

Kedua pihak terpisah sejarak satu tombak lebih kawanan Padri itu mendadak berhenti, begitu pula suara tambur dan gembreng.

Laki-laki berbaju panjang berwarna biru itu berjalan menghampiri kemudian berkata sambil mengangkat tangan memberi hormat, “In Kiu Liong karena ada urusan penting sehingga datang terlambat, hal mana telah menyebabkan taysu lama menanti, aku sesungguhnya merasa tidak enak sekali.”

Kawanan Padri yang membawa alat tabuhan itu, tiba-tiba memencarkan diri kedua samping, mereka berdiri sambil meluruskan kedua tangannya sedang empat Padri yang memikul tempat sembahyang tadi, juga meletakkan batu tempat dupa itu kemudian mundur dua langkah.

Padri tinggi kurus yang berpakaian aneka warna tiba-tiba membuka sepasang matanya, dengan sinar mata yang tajam ia menatap In Kiu Liong sejenak, lalu berkata, “Karena In Cungcu ada urusan penting kelambatan tidaklah disengaja, bagaimana Pin-ceng berani menyalahkan?”

Wajah In Kiu Liong sedikit beruhah, ia berkata, “Walaupun kedatanganku agak terlambat, tetapi sudah mengirim orang untuk memberi kabar pada waktu yang tepat, entah taysu diberitahukan oleh orangku itu atau tidak?”

Padri Tibet itu hanya tersenyum, tidak berkata apa-apa lagi, kemudian berpaling dan mengawasi kepada anak buahnya laki-laki yang berbadan tegap dan gagah itu baru berkata lagi, “Tiga tahun berselang Pin-ceng mengirim utusan datang berkunjung ketempat tuan untuk menyampaikan lagi soal janji dalam kuil tua pada sepuluh tahun berselang, apakah In Cungcu masih ingat?”

“Seorang laki-laki seharusnya bisa memegang janji, bagaimana siaotee bisa melupakan perjanjian itu?”

“Itu bagus, In Cungcu adalah salah seorang kuat dalam rimba persilatan daerah Tiong-goan, perkataan yang sudah dikeluarkan, dengan sendirinya dapat dianggap, entah barang2 yang harus disediakan sudah lengkap atau tidak?”

Dad dalam sakunya In Kiu Liong mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutra berwarna kuning, kemudian ia berkata, “Barang-baranq yang aku harus sediakan sudah lengkap, apakah taysu juga sudah sedia?”

Padri tinggi kurus itu dari dalam jubahnya yang gerombongan mengeluarkan sebuah bungkusan kain sutra berwarna kuning, lalu berkata, “Dalam bungkusan ini, kecuali barang-barang pusaka perkumpulan Bit-cong-kauw, masih ada lagi golok mas turunan kita, asal In Cungcu bisa mengambil golok mas itu, maka semua anak murid perkumpulan kita akan mendengar perintah Cungcu, sekalipun menyuruh mereka terjun kelautan apipun juga tidak berani menolak.”

“Dalam bungkusan ini, kecuali tanda kepercayaan yang berupa naga terbang bagi perkampunganku In-kee-chung, masih ada lagi daftar nama2 orang kuat rimba persilatan daerah Tiong-goan, serta tiga buah gambar rahasia, siapa yang mendapatkan tanda kepercayaan perkampunganku, maka orang-orang baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih dari tujuh profinsi dari daerah selatan sungai Tiong-Kang, sebahagian besar akan tunduk dan tiga gambar peta rahasia ini, merupakan taktik dengan rencana untuk menundukkan orang-orang kuat daerah Tiong-goan, asal taysu sanggup melukai orang-orang kita yang datang memenuhi janji ini, taysu boleh berbuat menurut rencana yang tertulis dalam gambar rahasia itu, maka untuk menjagoi dunia rimba persilatan sangat mudah sekali.”

Tiba-tiba terdengar suaranya Imam dari Mao San itu yang berkata sambil tertawa dingin, “Bagus sekali! In Cungcu kau telah menjual kita!”

In Kiu Lion tertawa terbahak-bahak kemudian berkata, “In Kiu Liong dan tuan-tuan bertiga kalau hari ini terluka didalam kuil tua ini, didalam rimba persilatan dewasa ini, siapa lagi yang bisa melawan, dari pada dibunuh secara menyedihkan, bukankah lebih baik menyerah saja?”

Imam dari Mao San itu perlahan-lahan pejamkan matanya dan berkata, “Ucapan ini juga benar ”

Tiba-tiba terdengar orang berkata dengan suara dingin, “In Cungcu telah berjanji hendak mengadu kepandaian, sebaiknya lekas bertanding supaya lekas beres, kita bersaudara masih ada urusan penting yang harus diurus, kalau tidak lekas bertindak, kita terpaksa tidak dapat menunggu lagi!”

Orang yang berkata itu bukan lain dari pada Ong-kiat, saudara tua dari dua sesepuh partai

Ceng-shia.

Dua sesepuh partai Ceng-shia itu dan Imam dari gunung Mao San, sudah lama mengasingkan diri, sudah tigapuluh tahun tidak pernah muncul dikalangan Kang-ouw, orang-orang tingkatan muda dalam rimba persilatan, sudah lama tidak mengetahui diri mereka, maka itu Siang-koan Kie sejak tadi tidak mengambil perhatian terhadap diri tiga orang tua itu, dia hanya memperhatikan In Kiu Liong seorang, sebab ia sering mendengar cerita suhunya mengenai kejadian luar biasa tentang diri Cungcu itu, dengan mengandalkan sebuah tanda kepercayaan naga terbang, ia dapat menggerakkan orang- orang golongan hitam dan golongan putih dari tujuh profinsi daerah selatan sungai Tiang Kang.

In Kiu Liong agaknya merasa kurang mempunyai keyakinan dalam pertandingan itu, maka ia tidak ingin segera bergerak, setelah berdiam sejenak ia lalu berkata, “Urusan ini sangat penting, begitu kita bergerak, tidak akan berhenti sebelum ada yang mati, mungkin kita akan mengetahui siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam waktu singkat, tetapi mungkin juga beberapa hari dan beberapa malam belum diketahui hasilnya, siaotee sudah minta bantuan seorang lain, yang kini masih belum tiba, setelah ia datang, kita nanti baru bertindak.”

Ong-kiat yang kurus kering memandang saudaranya sejenak, kemudian berkata, “In Cungcu masih merasa ragu- ragu, biarlah kita berdua yang tidak takut mati ini bertindak lebih dahulu.”

Padri Tibet yang tinggi kurus itu lalu berkata samba tertawa dingin, “Kalian berdua kalau memang ingin turun tangan, senang sekali pinceng melayani.”

Ong-kiat segera berjalan keluar dengan tindakan lebar, sinar matanya yang tajam dingin menyapu wajah Padri itu sejenak, lalu berkata, “Kalian hendak maju berbareng, atau satu-persatu?”

Padri Tibet tinggi kurus itu menggapaikan tangannya, dari dalam rombongan kawanan Padri maju menghampiri tiga orang padri yang berjubah warna merah, biru dan kuning. Ong-kiat berkata sambil tertawa dingin, “Apakah tiga orang tidak terlalu sedikit?”

Orang tua itu lalu menggerakkan tongkat bambunya, badannya melesat tinggi, sebelum kakinya menginjak tanah tongkatnya sudah melakukan serangan kepada tiga padri itu.

Gerakan tiga Padri itu juga sangat gesit, hanya sebentar saja masing-masing sudah mundur lima kaki, tetapi kemudian maju lagi dan balas menyerang dengan serentak.

Kepandaian ilmu silat golongan Bit-ciong lain dari pada ilmu silat golongan Tiong-goan, gerak badan tiga padri itu walaupun gesit, tetapi kekuatan yang keluar dari serangan nampaknya tidak mengandung kekuatan hebat.

Ong-kiat merasa bahwa serangan tiga padri itu mengandung hawa dingin, ia tahu bahwa itu adalah ilmu kekuatan tenaga dalam yang amat berbisa tetapi ia mengandalkan ilmu kepandaiannya yang sangat tinggi, ia ingin mencoba sendiri kepandaian ilmu silat Bit-ciong yang telah menggemparkan daerah barat itu, ia segera mengerahkan kekuatannya, dengan mengeraskan sekujur badannya bagaikan besi, untuk menyambuti serangan tiga Padri itu.

Tiga Padri itu agaknya tidak menyangka bahwa lawannya itu berani menyambuti serangan, mereka nampak tercengang, ketiganya melompat mundur sambil menarik kembali serangannya.

Ong-kiat perdengarkan suara tertawa dingin, kemudian maju mendesak dengan tindakan perlahan, wajahnya nampak dingin kaku.

Padri Tibet tinggi kurus itu tiba-tiba berkata dengan suara dingin, “Kau sudah terluka oleh ilmu serangan tangan In- hong-ciang dari golongan kami, jikalau kau tidak lekas mengatur untuk mengeluarkan hawa dingin yang sangat berbisa itu, maka dalam waktu duabelas jam, semua tulang- tulang dalam badanmu akan mulai kaku, dalam waktu tiga bulan bisa itu akan menyerang jantungmu dan tamatlah riwayatmu… ”

Perkataan itu diucapkan dengan nada suara dingin dan menyeramkan, sehingga menimbulkan perasaan tidak enak bagi orang yang mendengarnya.

-odwo-

Bab 8

“Ong-kiat tergerak hatinya ketika mendengar ucapan itu, tatkala matanya mengawasi padri tinggi kurus itu nampak berdiri dibelakang batu tempat dupa, di antara mengepulnya asap dupa, wajah itu nampaknya bagaikan patung yang keram, yang pada saat itu sedang mengawasi dirinya.

Ketika sinar mata Ong-kiat beradu dengan sinar mata Padri itu, hatinya bergoncang keras, hawa dingin seolah-olah menyusup kedalam hulu hatinya sehingga dengan tanpa sadar badannya lalu menggigil.

Terdengar pula kata-katanya Padri tinggi itu, “Kau sudah terluka parah, jikalau kau tidak lekas duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan dalam waktu dua jam, kau akan merasa tersiksa oleh hawa dingin yang masuk kedalam tulangmu.”

Perkataannya itu meski diucapkan dalam bahasa Han, tetapi kedengarannya masih agak kaku.

Ong-kiat dengan tanpa sadar mengawasi lagi Padri tinggi kurus itu, tetapi ketika sinar matanya beradu, kembali hatinya tergoncang hebat badannya menggigil.

Padri tinggi kurus itu tiba-tiba tersenyum, lalu perlahan- lahan duduk sambil merangkapkan kedua tangan diatas dadanya.

Asap dupa yang mengepul dari pendupaan semakin tebal, warna2 jubah Padri tinggi kurus itu semua merupakan warna yang menyolok, ketika tertutup oleh asap yang mengepul itu samar-samar nampak sebentar merah sebentar hijau, semuanya seperti pemandangan dalam khayalan, hanya sinar mata tajam dari Padri itu yang tetap kelihatan seperti telah menembus asap itu untuk mengawasi Ong-kiat.

In Kiu Liong dan Mao San It-cien, telah merasakan bahwa sikap Ong-kiat makin lama makin tidak beres, matanya seperti mata orang linglung tetapi mata itu terbuka lebar2 sedang wajahnya menunjukkan tanda-tandanya yang amat letih.

Imam dari gunung Moo San itu segera berlompat keluar, sambil mengeluarkan pedang dari belakang punggungnya lalu mengeluarkan suara yang memuji nama Budha.

Suara itu diucapkan dengan menggunakan kekuatan tenaga dalam sehingga dalam telinga orang seperti mengaung.

Sikap Ong-kiat tiba-tiba menunjukan kesadaran pikirannya, matanya yang terbuka lebar lalu dipejamkan, badannya mundur beberapa langkah.

Sang adik Oey Ciong segera melompat masuk kedalam kalangan.

Tangan kirinya membimbing Ong-kiat, tongkatnya ditantapkan ketanah, tangan kanannya digunakan untuk menotok jalan darah dibelakang punggung kakaknya.

In Kiu Liong berkata kepada Imam dari gunung Mao San dengan suara perlahan, “To-heng sudah banyak pengalaman, apakah Padri itu menggunakan ilmu memindahkan sukma yang terdapat dalam kalangan Budha?”

Imam itu menjawab sambil menganggukkan kepala, “Nampaknya memang mirip dengan ilmu memindahkan sukma dalam cerita itu, tetapi Pinto tidak berani memastikan… ”

“Ilmu dari golongan Bit-ciong, adalah yang paling ajaib dan susah diduga, hanya ilmu golongan Jie-ka, meskipun siaotee mengerti, tetapi sangat terbatas, untuk menghadapi orang2 semacam itu, tidak perlu mentaati peraturan dalam persilatan.”

Ia lalu melompat keluar dan berkata pula dengan suara nyaring, “Aku In Kiu Liong angin belajar kenal dengan kepandaian taysu.”

Ia mengeluarkan perkataan itu sambil mendorong keluar kedua tangannya.

Dua kekuatan tenaga dalam yang dibarengi dengan suara menderunya angin meluncur keluar dari kedua tangannya.

Padri tinggi kurus itu, memperdengarkan suara tertawa dingin, ia lalu mengangkat kedua tangannya untuk menyambut serangan tenaga dalam In Kiu Liong.

Tatkala dua kekuatan saling beradu In Kiu Liong mendadak merasakan bahwa serangannya sendiri telah dipunahkan oleh semacam kekuatan yang sangat lunak dan dingin sehingga lenyap seketika, ia terperanjat, tidak tahu kepandaian apa iang digunakan oleh Padri itu yang dapat memusnahkan serangannya sendiri yang demikian hebat.

Ia lalu pusatkan seluruh kekuatannya dan melancarkan serangannya lagi. Tiba-tiba terdengar suara Imam dari gunung Mao San yang berkata, “Saudara In, tunggu dulu.”

In Kiu Liong melompat mundur tiga langkah kemudian bertanya, “Ada apa To-heng?”

“Kalau hendak bertindak, lebih baik menetapkan peraturan, lalu mulai bertanding secara benar, agar diketahui siapa yang lebih unggul”, berkata Imam itu sambil bersenyum.

In Kiu Liong sebetulnya ingin menantikan kedatangan seorang lagi yang hendak membantu padanya, barulah dimulai pertandingan secara resmi, tetapi dua sesepuh dari Ceng-shia- pai dan Imam dari gununn Mao San, semua sudah siap bergerak, apalagi perbuatan Padri Tibet yang agak aneh itu, membuat perasaannya tidak tenang. Dalam hatinya lalu berpikir: Memang sudah lama aku mendengar golongan lama itu mempunyai kepandaian yang ajaib, nampak kejadian hari ini mungkin benar, hanya pandangan mata saja sudah dapat menundukkan seorang berkepandaian sangat tinggi. Kepandaian yang mirip dengan ilmu gaib itu, sebetulnya sulit dimengerti, apabila waktunya diperpanjang lagi, barangkali tidak menguntungkan pihakku sendiri maka lebih baik kita lekas selesaikan soal ini.

Karena berpikir demikian, maka ia lalu berkata, “Ucapan To-heng ini memang benar, mari kita segera mulai supaya lekas mendapat kepastian siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam pertandingan ini.”

Padri tinggi kurus itu berkata dengan nada suara dingin, “ Itulah yang paling baik, Pin-ceng juga beranggapan demikian, bagaimana kita harus bertanding, terserah kepada In Cungcu.”

Dengan sinar mata yang tajam In Kiu Liong mnegawasi kawanan Padri, dalam hatinya mulai menghitung-hitung, dipihaknya sendiri hanya ada empat orang yang berkepandaian tinggi, kecuali Ong-kiat yang sudah terluka masih ada Oey Ciong, Imam dari gunung Mao San dan ia sendiri. Ia pikir sebaiknya diadakan perjanjian untuk bertanding dalam tiga rombongan siapa yang dapat menangkan dua kali dialah yang menang.

Sebab di antara kalangan Padri itu, hanya ketuanya yang perawakannya tinggi kurus itu yang berkepandaian sangat aneh, yang lainnya, seperti anak muridnya, dengan bertanding secara demikian, sekalipun ia sendiri tidak dapat melawan, tetapi dalam pertandingan itu sudah terhitung pihaknya yang menang. Maka ia lalu berkata, “Kalau taysu menghendaki demikian, aku terpaksa menurut, menurut pikiranku yang pendek, kita mengadakan tiga kali pertandingan untuk menetapkan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Di antara anak murid taysu boleh memilih dua orang yang berkepandaian tinggi, siaotee juga akan memilih dua orang di antara orang yang aku minta bantuannya, untuk bertanding, dalam pertandingan terakhir biarlah sioatee yang belajar kenal dengan kepandaian taysu apakah taysu dapat menyetujui cara demikian?”

Padri itu tidak segera menjawab, ia berpaling mengawasi laki2 yang berbadan tinggi dan gagah itu untuk bicara sekian lama bahasanya sendiri.

Mereka berbicara dengan menggunakan bahasa Uighur yang tidak dimengerti oleh In Kiu Liong dan lain-lain.

Setelah bicara cukup lama, Padri tinggi kurus itu baru berpaling dan berkata dengan suara dingin, “Baiklah kami terima baik usulmu itu.”

In Kiu Liong lalu berkata kepada Oey-ciong, “Harap Oey- heng supaya mulai lebih dulu.”

Oey Ciong perlahan-lahan melepaskan dirinya Ong-kiat, kemudian mencabut kembali tongkatnya yang ditancapkan ditanah lalu berjalan menuju kelapangan dengan tindakan lebar.

Padri tinggi kurus itu tiba-tiba berkata sendiri dengan bahasa Uighur, dari dalam rombongan Padri segera berjalan keluar seorang Padri pendek kecil.

Padri itu yang bentuk badannya sama dengan Oey Ciong yang pendek kurus, sepasang matanya yang sipit nampak meram melek seolah-olah sedang mengantuk, ia berjalan menuju kelapangan dengan tindakan perlahan.

Oey Ciong memperdengarkan suara ketawa dingin, kemudian berkata sambil lintangkan tongkatnya, “Lekas keluarkan senjatamu, aku seorang tua kalau sedang menghadapi pertandingan, selamanya tidak suka banyak bicara.” Padri pendek kurus itu agaknya tidak mengerti bahasa Han, dengan sikap agak bingung ia mengawasi Oey Ciong sejenak, kemudian dari belakang punggugnya perlahan-lahan mengeluarkan sepasang gelang Mas, ia pegang gelang itu dengan sepasang tangannya, kemudian dirangkapkan didepan dadanya, lalu dipisahkan lagi, mulutnya mengucapkan kata2 yang tidak dimengerti oleh Oey Ciong.

Karena satu sama lain tidak mengerti bahasanya, maka hanya dari sikap mereka untuk meraba-raba maksud dari perkataan-perkataannya.

Oey Ciong segera melintangkan tongkatnya, tangan kirinya diletakkan diatas pergelangan tangan kanan, lalu mendorong kedepan.

Perbuatan itu sebetulnya merupakan suatu gerakan yang maksudnya minta lawannya turun tangan lebih dulu, itulah menurut peraturan rimba persilatan daerah Tiong-goan, tetapi karena Padri itu tidak mengerti peraturan demikian, karena melihat lawannya bergerak demikian, ia juga meniru perbuatan semacam itu.

Oey Ciong menganggap berhadapan dengas orang yang tidak mengerti tata cara, tidak ada gunanya berlaku merendah terhadapnya, maka ia lalu menggerakkan tongkatnya menotok bagian perut lawannya.

Sebetulnya ia sendiri tidak mengerti bahsa Uighur, dan tidak mengerti peraturan gohongan Bit-cong, sekalipun Padri itu mempersilakan kepadanya untuk membuka serangan lebih dulu ia juga tidak mengerti maksudnya.

Ketika ujung tongkat Oey Ciong meluncur ke arah perutnya, Padri itu dengan menggunakan Gelang Masnya untuk menindih ujung tongkat tersebut, Gelang Mas ditangan kanannya tiba-tiba terbang melesat untuk balas menyerang.

Oey Ciong terperanjat, dengan cepat ia menarik kembali tongkatnya dan melompat kesamping jauh lima kaki. Padri Tibet itu menggerakkan tangan kanannya, Gelang Mas yang melesat terbang tiba-tiba tertarik kembali ditangannya.

Ternyata Gelang Mas itu diperlengkapi dengan seutas rantai Mas yang halus sekali.

Oey Ciong diam-diam memaki: Kurang ajar aku kira ia menggunakan ilmu gaib apa, tidak tahunya cuma permainan sulap belaka.

Karena ia telah menyaksikan luka yang diderita oleh Ong- kiat, maka selalu waspada, tidak berani bertindak sembarangan, setelah mengetahui senjata lawannya terikat oleh rantai Mas hatinya merasa lega, tongkat lalu digunakan lagi untuk membabat pinggang lawannya.

Serangan itu hebat sekali, sehingga mengeluarkan suara hembusan angin sangat hebat.

Mata Padri yang semula nampak meram melek itu tiba-tiba terbuka lebar, badannya yang pendek kurus tiba-tiba melesat tinggi keatas, sepasang gelangya terlepas dari tangannya menyambar kepala lawannya.

Oey Ciong menarik kembali serangannya, dengan satu gerakan memutar tongkat digunakan untuk menyapu rantai yang menghubungkan antara gelang dengan tangan si Padri, ia melakukan semua itu dengan suatu gerakan yang luar biasa cepatnya.

Padri pendek kurus itu agaknya dapat lihat Oey Ciong memandang rendah dirinya. Ia segera memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, badannya naik membung lagi keatas setinggi tujuh delapan kaki, dan sepasang gelangnya ikut naik mumbung untuk menghindarkan serangan Oey Ciong.

Tetapi Oey Ciong tidak menghentikan serangannya, sambil mengeluarkan suara bentakan keras, melompat keatas, tongkatnya terus meluncur untuk menotok lawannya. Padri Tibet itu tiba-tiba mengerakkan tangan kanannya, Gelang Masnya melesat keluar dan tepat mengalungi ujung tongkat Oey Ciong, kemudian badannya luncur turun.

Oey Ciong diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, tongkatnya dikibaskan keatas.

Meskipun ia bergerak demikian dengan badan masih terapung, tetapi karena sudah mahir kekuatan tenaga dalamnya, kekuatan gerakan tangannya itu juga sangat hebat, Padri Tibet yang sedang meluncur turun itu dikibaskan secara demikian tiba-tiba terlempar bagaikan layang2 yang putus talinya. Ditengah udara ia berputaran dan kemudian melesat sejauh empat lima tombak, baru melayang turun ketanah.

Tetapi Oey Ciong yang mengeluarkan serangan dengan badan terapung, sekalipun berhasil melemparkan lawannya, tetapi ia sendiri juga tidak berhasil kendalikan dirinya, maka ketika sepasang kakinya menginjak tanah, sudah menimbulkan getaran hebat pada dirinya.

Padri Tibet itu ketika jatuh ditanah, ternyata tidak mendapat luka apa-apa, ia lompat melesat lagi menghampiri lawannya.

Oey Ciong tidak menantikan datangnya Padri itu, ia sudah lompat menyambut sambil menyerang.

Serangan itu nampaknya biasa tidak ada apa yang aneh, tetapi karena ia menggunakan tenaga dalam, sehingga tongkatnya mengeluarkan suara menderu-deru.

Padri Tibet itu agaknya sudah tahu bahwa orang tua kurus kering itu mempunyai kekuatan tenaga dalam yang hebat, maka ia tidak berani menyambut serangannya, sambil berputaran ia mengelakkan serangan tersebut.

Serangan Oey Ciong dengan demikian mengenai tempat kosong, tetapi ia merobah dengan cepatnya dan kali ini tongkatnya membabat pinggang lawannya. Padri Tibet itu masih belum sempat balas menyerang, sudah disusul oleh serangan selanjutnya, ia terpaksa lompat melesat kesamping untuk menghindarkan serangan tersebut.

Oey Ciong dengan gerakannya yang cepat luar biasa, dan beruntung sudah meluncurkan dua kali serangan, karena ia tidak berhasil merebut posisi lebih dulu, maka ia melanjutkan serangannya dengan cepat, dalam waktu sekejap mata saja Padri Tibet itu sudah terkurung oleh bayangan tongkat yang dibarengi oleh menderunya suara angin.

Sepuluh jurus kemudian nampaknya sudah terlihat siapa yang lebih unggul dalam pertempuran itu, Padri Tibet kurus kering itu didesak oleh serangan Oey Ciong, gerak kakinya nampak mulai kalut, sehingga tidak sanggup melakukan serangan pembalasan.

Laki-laki tinggi besar itu, tiba-tiba maju dan berkata kepada Padri tinggi kurus dengan suara sangat perlahan.

Padri tinggi kurus itu gelengkan kepalanya, perlahan-lahan memejamkan sepasang matanya.

Dua orang itu berbicara dengan menggunakan bahasa Uighur, sehingga tidak dimengerti oleh In Kiu Liong, tetapi dari sikap dua orang itu, dapat dilihat sedikit maksud pembicaraan mereka itu. Imam dari gunung Mao San lalu berkata kepada In Kiu Liong dengan suara perlahan , “Saudara In, Padri tinggi kurus itu, kalau dilihat dari sikapnya, agaknya tidak menghiraukan nasib Padri yang sedang bertempur itu, maka pertandingan ini mungkin pihak kita yang akan mendapat kemenangan.”

Dalam hati In Kin Liong juga merasa heran, tetapi ia sendiri selalu waspada dan berjaga2 untuk menghadapi kepandaian orang2 golongan Bit-cong. Dalam hatinya masih belum berani percaya anggapan kawannya itu. Selagi masih merasa curiga, tiba-tiba terdengar suara bentakan Oey Ciong, kemudian disusul oleh suara jeritan ngeri. Ia segera dapat lihat Oey Ciong berdiri ditengah lapangan sambil melintangkan tongkat ditangannya, sedangkan Padri Tibet kurus kering itu sudah menggeletak ditanah dalam keadaan remuk kepalanya.

Imam dari gunung Mao San lantas lompat masuk kedalam kalangan sambil menenteng pedangnya, kemudian berkata dengan nada suare dingin, “Pertandingan pertama sudah selesai, sekarang dalam pertandingan kedua ini siapa yang ingin bertanding dengan Pinto?”

Padri tingi kurus tiba-tiba berpaling kepada laki-laki tinggi besar itu dan berkata dengan menggunakan bahasa Uighur, “Imam ini nampaknya mepunyai kekuatan tenaga dalam hebat sekali, kepandaiannya pasti lebih hebat dari pada orang tua kurus kering itu, aku sendiri masih perlu menghadapi In Kiu Liong yang lebih lihai itu, maka dalam pertandangan ini, kita harus majukan siapa?”

Laki-laki tinggi besar dan tegap itu segera menjawab dengan menggunakan bahasa Uighur juga, “Sayang Kum-tok susiok tidak ikut sama-sama kita, jikalau ia ada, kepandaiannya lebih dari cukup untuk menghadapi Imam itu.”

Wajah Padri tinggi kurus itu nampak berobah, kemudian berkata, “Kim-tok susiokmu gemar sekali dengan kepandaian ilmu silat daerah Tiong-goan, ia juga menentang bermusuhan dengan orang-orang rimba persilatan daerah Tiong-goan, ia berkata bahwa daerah Tiong-goan sangat luas, dalam rimba persilatan terdapat banyak sekali orang yang berkepandaian tinggi, bermusuhan dengan orang-orang rimba persilatan daerah Tiong-goan, pasti akan mengalami suatu kekalahan total, aku takut ia akan menggagalkan usaha kita, maka sudah kumasukan dalarn tahanan, orang-orang kita sekarang ini, banyak yang mengerti ilmu pelajaran bathin golongan kita, jika hanya menggunakan kepandaian ilmu silat untuk menghadapi lawannya barangkali sulit untuk merebut kemenangan ” “Bagaimana kalau aku sendiri menghadapi padanya?” “Dalam tiga pertandingan, kalau ingin merebut

kemenangan, harus dapat menangkan dua kali, maka pertandingan babak kedua ini sangat penting, aku sudah berkeputusan, menggunakan ilmu bathin yang tertinggi dalam golongan kita untuk menghamburkan tenaga murni mereka sehingga menyapu bersih orang-orang rimba persilatar daerah Tiong-goan yang turut dalam pertandingan ini, maka asal kau sanggup bertahan seratus jurus jangan sampai dikalahkan sudah cukup.

Laki2 berbadan tegap itu lalu berjalan keluar dengan tindakan lebar sambil berkata , “Untuk melayani sampai seratus jurus, aku yakin masih sanggup… ”

Ia lalu mengeluarkan sepasang benda Mas yanq gamerlapan, benda itu bentuknya sepanjang satu kaki lebih dan lebar kira-kira satu dim, diletakkan kedalam dua tangannya.

Imam dari gunung Mao San sudah siap sedia, begitu orang yang akan menghadapinya itu muncul didalam kalangan, akan diserang dengan segera.

Karena mereka sudah dapat melihat gelagat pada saat itu, apabila mengulur waktu semakin lama, semakin tidak menguntungkan bagi pihaknya sendiri, sebab kawan Padri Tibet itu berbicara menggunakan bahasa Uighur yang tidak dimengerti oleh In Kiu Liong dan kawan-kawannya sehingga dirasakan oleh mereka bahwa gerak-gerik kawanan Padri itu sangat aneh dan menakutkan, maka mereka semua sudah bertekad hendak mengakhiri pertandingan itu secepat mungkin.

Tetapi Imam dari gunung Mao San itu setelah menyaksikan senjata laki-laki besar dan tegap itu nampaknya sangat terkejut, ia lalu berkata, “Senjatamu ini apakah terdapat tanda tulisan?” Laki-laki itu tersenyum, kemudian berkata dengan menggunakan bahasa Han, “Benar, bagaimana kau tahu?”

Imam dari gunung Mao San itu terdengar kata-katanya yang ditujukan kepada dirinya sendiri, “Apakah benar ia masih berada didalam dunia?” Setelah berdiam sejenak ia lalu berkata kepada 1aki2 ini, “Bolehkah aku melihat senjatamu itu?”

Laki-laki besar tegap itu tiba-tiba mengangkat tangannya dan menunjukkan senjatanya itu seraya berkata, “Boleh saja, silahkan kau lihat.”

Imam dari gunung Mao San mengamat-amat dengan seksama, ternyata diatas senjata yang mirip dengan papan atau plat Mas itu terdapap tulisan yang berbunyi, “Tanda perintah menangkap sukma.”

Sedangkan diatas plat yang terbuat dari perak itu terdapat tulisan yang berbunyi, “Tanda perintah memanggil sukma.”

Bunyi dari tulisan itu sudah cukup membuat berdiri bulu roma orang yang melihatnya.

Wajah Imam dari gunung Mao San itu berubah seketika, tetapi dengan cepat ia sudah tenang lagi, dengan nada suara dingin ia bertanya, “Dimana orang yang menggunakan senjata ini?”

Imam itu meski diluarnya nampak sangat tenang, tetapi ia tidak berhasil mengendalikan tergetarnya perasaan hatinya, maka pertanyaan yang diajukan itu belum mencakup arti sebenarnya yang hendak dikeluarkannya.

Laki-laki besar dan tegap itu menjawab dengan nada suara dingin, “.Orang yang menggunakan sepasang senjata ini adalah aku sendiri.”

Jawaban itu mengandung ejekan sangat tajam, sehingga Imam dari gunung Mao San itu yang mendengarkannya seketika menjadi murka, sambil mengkibaskan pedang ditangannya ia berkata dengan sikap gusar, “Sekalipun si iblis tua yang menggunakan senjata itu menunjukkan diri sendiri, aku juga tidak takut.”

Ia lalu menggerakkan pedangnya untuk menikam.

Laki-laki besar dan tegap itu selagi hendak menggunakan senjata ditangannya untuk menutup dirinya, serangan Imam itu tiba-tiba ditarik kembali.

Kiranya ia tiba-tiba teringat kedudukannya sendiri yang sangat tinggi didalam rimba persilatan di daerah Tiong-goan, maka perbuatannya yang bergerak lebih dahulu terhadap lawannya sesungguhnya merupakan suatu perbuatan yang merendahkan kedudukannya sendiri, maka ia membatalkan serangannya.

Laki-laki besar dan tegap itu sebaliknya sudah menggunakan kesempatan tersebut untuk merebut posisi. Plat Mas dan Perak digunakan untuk melancarkan serangan saling menyusul.

Serangan demikian, jarang tampak didalam kalangan Kang- ouw, sepasang senjata Plat itu bukan digunakan untuk menyerang secara berbareng atau saling berganti mengarah dua bagian lawannya, sebaliknya saling menyusul dengan cara satu lebih dahulu dan yang satu belakangan. Serangan secara demikian merupakan suatu cara tersendiri.

Imam dari gunung Mao San segera mengeluarkan suara bentakan keras, “Benar ada kepandaian ilmu silat tersendiri iblis tua itu.”

Ia lalu menggerakkan pedang panjang ditangannya, dengan satu gerak tipu sinar emas bertebaran dalam kabut, pedang ditangannya itu menimbulkan bayangan ribuan pedang dihadapan lawannya.

Sebentar terdengar suara beradunya senjata, laki-laki besar dan tegap itu tiba-tiba melompat mundur sejauh lima kaki. Kiranya Imam dari gunung Mao San itu hebat sekali kekuatan tenaga dalamnya, ketika senjata kedua pihak saling beradu, laki-laki besar dan tegap itu segera dapat merasakan tidak sanggup menyambuti serangan lawannya, maka ia dengan cepat lompat mundur sambil menarik kembali serangannya.

Ia sengaja mengulur waktu, sekalipun sanggup menyambut serangan pedang lawannya yang hebat, namun dia tidak mau berbuat demikian.

Imam dari gunung Mao San mengejar dengan serangannya, kali ini ujung pedang digunakan untuk menikam dada lawannya.

Laki-laki besar dan tegap itu menggunakan senjata plat Masnya untuk menangkis pedang lawannya, sedangkan senjata plat perak ditangan lainnya digunakan menyerang pundak lawannya.

Gerak tipu serangan orang itu sangat aneh, meski dalam tangannya ada dua macam senjata, tetapi diwaktu turun tangan menyerang lawannya, seolah-olah serangan itu dilakukan oleh dua orang.

Imam dari gunung Mao San dengan cepat menyingkirkan dua senjata laki-laki kemudian melakukan serangan dengan suatu gerakan menikam lagi.

Dua lawan itu meski baru bertanding beberapa jurus saja, tetapi orang-orang yang menyaksikan semua telah mengetahui bahwa itu adalah suatu pertandingan yang sangat hebat dan berbahaya, meskipun nampaknya senjata kedua pihak tidak terlalu tegang, tetapi setiap kali sehabis melakukan serangan, selalu disusul oleh serangan yang lebih hebat.

Wajah dan sikap Imam dari gunung Mao San nampaknya sangat serius, ia berdiri sambil melintangkan pedangnya. Sedang laki-laki besar dan tegap itu sepasang matanya terbuka, lebar ia berdiri sejauh empat lima kaki, sikapnya juga nampak berubah sungguh-sungguh.

Kiranya kedua pihak setelah mengadu kekuatan, semua sudah merasakan telah menemukan tandingan kuat yang belum pernah ditemukan pada waktu sebelumnya.

Imam dari gunung Mao San saat itu sudah tahu bahwa laki- laki besar dan tegap itu telah mewarisi kepandaian iblis tua, yang menggunakan sepasang senjata aneh itu, dahulu sepasang senjata Plat itu pernah satu kali menggemparkan rimba persilatan daerah Tiong-goan, sungguh tidak disangka bahwa orang yang menggunakan senjata itu setelah menghilang beberapa puluh tahun lamanya, senjata itu kini telah muncul lagi didalam kuil tua di daerah pegunungan yang sepi dan sunyi itu……..

Selagi kedua pihak sedang mengumpulkan kekuatan dan hendak bertanding lagi, tiba-tiba terdengar tiga kali suara bunyi tambur yang kemudian disusul oleh bunyi gembreng dan tetabuhan lainnya, sehingga menimbulkan suatu irama musik dalam kalangan ilmu budha daerah Tibet. Kawanan padri yang berdiri ditempat masing-masing, tiba-tiba bergerak dengan mengikuti suara irama tersebut.

Padri tinggi kurus yang mengenakan pakaian yang beraneka warna itu tiba-tiba berbangkit, ia maju melalui batu dupa, kemudian duduk bersila, setelah itu ia mengeluarkan suara bentakan keras dan suara tetabuhan itu berhenti dengan mendadak, kawanan para Padri itu lantas pada duduk.

Tempat kawanan Padri itu, semua telah berobah dari tempat yang semula, masing-masing rangkapkan kedua tangan diatas dadanya sambil memejamkan matanya.

Perbuatan aneh kawanan Padri itu membuat In Kiu Liong merasa tidak sabar lagi, ia merasa bahwa dengan cara demikian, pasti dipihaknya sendiri yang akan mengalami kerugian, maka ia segera berjalan keluar dan berkata kepada Padri tinggi kurus sambil mengangkat tangan memberi hormat, “Taysu ingin lekas mendapat kemenangan, siaote juga beranggapan bahwa lebih cepat mendapat keputusan adalah lebih baik.”

Padri tinggi kurus itu menjawab dengan menggunakan bahasa Han, “Maaf Pinceng tidak mengerti maksud ucapan In Cungcu.”

“Siaote ingin supaya pertandingan siaote dengan taysu dimajukan waktunya agar di mulai dengan serentak.”

Dipihak kalian sudah menang satu kali apabila pertandingan kedua dan ketiga dilangsungkan serentak, bukankah kalian tidak akan merasa dirugikan?”

Meski dalam hati In Kiu Liong memaki kelicinannya Padri Tibet itu, tetapi mulutnya masih berkata sambil tersenyum, “Sekalipun kita menang satu kali lagi, namun khawatir bahwa pertandingan ini masih akan terus berlangsung, maka sebaiknya dilakukan secara serentak, supaya yang menang dan pihak yang kalah semua merasa takluk benar-benar.”

Padri itu masih akan menolak, tetapi In Kiu Liong sudah bertindak. Cungcu itu diam-diam mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya lalu meluncurkan serangan dari jarak jauh.

Ketika serangan yang hebat itu meluncur keluar dari tangannya, orangnya juga menerjang maju menyusul dengan serangannya yang lebih hebat.

Kiranya In Kiu Liong yang sudah mengetahui bahwa Ong- kiat dijatuhkan oleh Padri itu dengan menggunakan kekuatan ajaib dari sepasang matanya, maka ketika melihat kawanan Padri bergerak sambil membunyikan suara tetabuhan, ia sangsi kawanan Padri itu akan menggunakan akal muslihat jahat, maka hatinya merasa tidak tenang. Itulah sebabnya maka ia mau tidak mau lalu mendesak padri itu supaya segera mengadakan pertandingan dengannya. Padri tinggi kurus itu sepasang tangannya yang dirangkapkan diatas dadanya tiba-tiba mendorong keluar untuk menyambut serangan In Kiu Liong yang hebat itu seraya berkata sambil ketawa, “Hebat sekali kekuatan tenaga In Cung cu.”

In Kiu Liong juga merasa bahwa kekuatan tenaga Padri itu juga sangat hebat, sehingga dalam hatinya diam-diam juga merasa kagum.

Ketika ia mengawasinya Padri itu ternyata sedang membuka lebar sepasang matanya mengawasi dirinya, tatkala pandangan matanya beradu dengan sinar mata Padri itu, hatinya merasa seperti tergoncang hebat.

In Kiu Liong yang sejak semula sudah waspada, buru-buru berpaling, ia lalu memusatkan hawa dan kekuatan dalamnya untuk menenangkan pikirannya, kemudian tangannya bergerak menyerang lagi.

Padri itu menyambut serangan tersebut dengan cara seperti semula.

Ketika dua kekuatan itu saling beradu, In Kiu Liong tiba-tiba merasakan hatinya tergoncang, kakinya bergerak mundur satu langkah diam-diam lalu bertanya pada dirinya sendiri, “Benarkah kekuatan Padri ini lebih tinggi dari kekuatanku sendiri?”

Dengan tanpa sadar ia angkat kepalanya memandang Padri itu lagi.

Pada saat itu dari sinar mata Padri tinggi kurus itu, seolah- olah ada benda yang meluncur keluar menyusup kedalam hulu hatinya sendiri, hatinya kembali dirasakan tergoncang, maka ia buru-buru pejamkan sepasang matanya untuk mengatur pernapasannya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawanya Padri tinggt kurus itu yang kemudian berkata kepadanya, “In Cungcu kau bukan tandingan Pinceng, lebih baik lekas mengaku kalah, supaya terhindar dari luka parah, itu sangat tidak berharga bagi dirimu.”

Setiap patah perkataan Padri itu seolah-olah mengandung ancaman yang dapat merenggut nyawa orang.

In Kiu Liong yang mendengarkan suara aneh itu, hatinya berdebar keras, badannya menggigil, ia buru-buru memusatkan kekuatan tenaga dalamnya untuk menghindarkan perasaan itu.

Karena ia mempunyai kekuatan tenaga dalam sangat sempurna, maka begitu memusatkan pikirannya, perasaannya segera tenang kembali, sedang dalam hatinya terus memikirkan, entah kepandaian ilmu apa yang digunakan oleh Padri itu, apakah benar golongan Bit-cong dapat menggunakan ilmu gaib yang mujizat?

Selagi pikirannya bekerja memikirkan soal itu, tiba-tiba merasakan suatu kekuatan tenaga hebat menyerang dadanya.

Kepandaian dan kekuatan Cungcu itu, didalam rimba persilatan daerah Tiong-goan merupakan suatu tokoh kuat yang jarang terdapat, sejak muncul didunia Kang-oiw selama lima belas tahun telah menundukkan semua orang kuat rimba persilatan dalam tujuh profinsi Daerah selatan sungai Tiong- kang, tidak mengherankan daya refleknya melebihi dari orang lain, ia segera dapat merasakan hebatnya serangan itu, belum sempat ia membuka matanya sepasang tangannya mendorong keluar.

Serangan Padri itu meski hebat, tetapi ternyata dapat ditolak oleh sambutan serangannya sendiri. Selagi hendak balas menyerang, tiba-tiba mendengar suara kata-kata Padri tua itu yang sangat menusuk hatinya, “In Kiu Liong, kau sudah terluka oleh serangan ilmu tunggal dalam golonganku yang mengandung hawa dingin, jikalau kau tidak mau mengaku kalah, dalam waktu tiga jam hawa dingin itu akan menyerang jantungmu sehingga binasa.”

Ketika In Kiu Liong mendengar suara itu, kekuatan tenaga dalam sekujur badannya segera dirasakan jauh berkurang, sehingga kekuatan tenaga serangannya juga berkurang.

Suara tertawa aneh yang menyeramkan terdengar pula kedalam telinganya, suara itu dalam pendengarannya seolah- olah suara dari dalam neraka.

Ketika suara tertawa itu berhenti, terdengar pula suara kata-katanya Padri Tibet itu yang sangat dingin, “In Kiu Liong, Pinceng mengingat bahwa kepandaianmu ini tidak mudah kau dapatkan maka tidak tega melukai dirimu, sekarang aku memberi nasehat yang terakhir kepadamu apabila kau tidak segera menyerah kalah, Pinceng terpaksa akan menurunkan tangan kejam.”

In Kiu Liong terus memejamkan sepasang matanya, ia tidak berani membuka, sebab ia sudah dapat merasakan bahwa sinar mata Padri Tibet itu sangat aneh, apabila berpandangan dengannya hatinya segera tergoncang hebat.

Siapa tahu setelah ia pejamkan matanya, perasaannya dibikin kalut oleh suara kata2 Padri itu yang seolah-olah hendak mencabut nyawanya.

Tetapi sebagai seorang yang mempunyai kepandaian sudah sempurna, meskipun perasaannya dikalutkan oleh suara Padri Tibet itu, tetapi ia masih dapat menahan tidak sampai roboh.

Sambil mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya untuk melindungi dirinya, hatinya memikirkan caranya untuk menghadapi Padri itu, ia berpikir: dalam keadaan seperti ini terpaksa menyerangnya dengan cara tidak terduga-duga, lalu mengadakan pergulatan dengan cara pendek supaya ia tidak sempat mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Karena berpikir demikian maka setelah mengerahkan semua kekuatannya ia berlaku sangat letih supaya mengalihkan perhatian lawannya.

Suara yang amat dingin dari Padri Tibet itu terdengar pula didalam telinganya, “In Kiu Liong, kau masih ada urusan apa yang masih belum selesai… ”

In Kiu Liong tiba-tiba memperdengarkan suara bentakan keras, memutuskan ucapan Padri tinggi kurus itu, dengan sepasang mata mendelik, ia lompat menerjang.

Padri Tibet tinggi kurus itu agaknya tidak menduga perbuatan In Kiu Liong itu, namun demikian sepasang kakinya masih bisa bergerak lompat keatas, kemudian melompat kebelakang batu pendupaan.

Dua Padri yang melindungi Padri tinggi kurus itu, segera maju serentak menahan In Kiu Liong. Tiga buah senjata yang berupa kecer, melesat melayang ke arahnya.

In Kiu Liong dengan mengerahkan seluruh kekuatannya, mengeluarkan sepasang tangannya untuk memukul jatuh tiga senjata itu, badannya melesat setinggi dua tombak, dengan gerakannya bagaikan burung elang menyambar burung dara dengan cepat menerjang Padri tinggi kurus itu.

Sebagai seorang yang menduduki orang kuat kelas satu dalam rimba persilatan, kekuatannya sudah tentu tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan orang-orang Kang-ouw biasa, Padri Tibet itu meskipun tidak suka bertempur dengan jarak dekat dengannya, tetapi dengan kedudukannya sebagai ketua golongan Bit-cong, sudah tentu tidak dapat menyingkir terus menerus dari serangan In Kiu Liong, terpaksa ia juga mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya, sambil mendorong keluar sepasang tangannya, ia ingin mendesak balik In Kiu Liong sebelum kakinya menginjak tanah. Siapa tahu In Kiu Liong sudah bertekad hendak mengadu jiwa, ketika melihat serangan hebat itu segera menggunakan ilmu memberatkan badan ia meluncur turun kebawah.

Kekuatan hebat sedang menyerang badan In Kiu Liong yang sedang luncur turun, tetapi masih tidak sanggup merintangi lajunya badan In Kiu Liong yang sedang luncur turun itu.

Ketika kaki In Kiu Liong menginjak tanah, mulutnya segera menyemburkan darah merah dengan cepat ia bergerak maju lagi menyerang dengan tangan dan kakinya.

Serangan gencar itu, bukan saja ia lakukan dengan cepat, tetapi setiap serangan yang juga mengandung kekuatan tenaga dalam yang hebat, sehingga Padri tinggi kurus itu terpaksa mundur sampai lima langkah.

In Kiu Liong tidak menunggu lawannya membuka mulut kembali ia lompat menyerang sambil keluarkan bentakan keras.

Kali ini ia mengendorkan serangannya dan berkata dengan nada suara dingin, “Sudah lama siaote dengar kepandaian ilmu silat golongan Bit-cong yang sangat aneh, siapa tahu pandangan itu bukan seperti apa yang telah disaksikan dengan mata kepala sendiri, apabila taysu mempunyai keberanian, sambutlah seranganku ini.”

Ditantang demikian Padri tinggi kurus itu dengan tanpa sadar sudah mengeluarkan dua tangannya untuk menyambut serangan tersebut.

In Kiu Liong tiba-tiba mempercepat serangannya, ketika terdengar suara beradunya dua kekuatan yang sangat perlahan, badan kedua jago itu dengan serentak tergetar hebat, tetapi telapak tangan kedua orang itu tidak segera terpencar. Beradunya dua pasang telapak tangan itu seolah-olah kedua pihak sudah memusatkan seluruh kepandaiannya, maka setelah saling beradu, kedua pihak menarik napas panjang lalu pejamkan matanya seolah-olah belum mengatur baik pernapasannya, siapapun tidak mempunyai tenaga untuk membalas menyerang lagi.

Dilain pihak, Imam dari gunung Mao San dan laki-laki besar dan tegap itu, juga sedang berlangsung suatu pertandingan yang ganas dan hebat.

Dengan kepandaian dan kedudukan Imam dari gunung Mao San itu, ternyata masih tidak berani memandang ringan senjata yang hanya merupakan sepasang plat itu, ia bertempur dengan cara hati-hati dan menggunakan seluruh kekuatannya.

Laki-laki besar dan tegap itu, setelah dua kali mengadu kekuatan dengan Imam dari Mao San itu, sudah tahu kalau menjumpai suatu musuh kuat, untuk menghadapi musuh sekuat itu sesungguhnya tidak mudah akan mempertahankan kedudukannya sampai seratus jurus, maka ia selalu siap sedia, asal musuh tidak bertindak, ia juga tidak bengerak, sedapat mungkin ia mencoba berusaha untuk mengulur waktu.

Semua apa yang telah terjadi dengan Kiu Liong dan Padri tinggi kurus itu, sudah dapat dilihat oleh Imam dari gunung Mao San. Nyatalah sudah bahwa kawanan Padri dari Tibet itu tidak akan merebut kemenangan dengan mengandalkan kepandaian ilmu silat yang sebenar-benarnya, mereka hendak menggunakan akal muslihat dan kepandaian ilmu gaib, maka cara yang paling baik untuk menghadapi mereka, ialah tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk menggunakan ilmunya. Karena berpikir demikian, maka pedang Imam itu lalu menyerang dengan hebatnya kepada lawannya.

Laki-laki besar dan tegap itu menyambut serangan lawannya dengan sepasang senjata plat, meskipun ia dapat menahan serangan itu, tetapi orangnya telah terpental mundur sampai tiga langkah.

Imam dari gunung Mao San itu lalu berkata sambil tertawa dingin, “Orang yang mewariskan kepadamu sepasang plat ini, sekarang berada dimana, suruhlah keluar untuk menghadapi aku, mungkin masih dapat mengimbangi kekuatanku, dengan kepandaianmu yang tidak berarti ini, sesungguhnya bukanlah tandinganku.”

Selama mulutnya bicara, pedangnya terus menyerang dengan gencar.

Kali ini, laki-laki itu tidak berani menyambut lagi dengan senjatanya, ia melompat kesamping untuk menghindarkan serangan itu, sementara sepasang senjatanya melakukan serangan pembalasan dengan gerakan yang aneh.

Kita kembali lagi kepada In Kiu Liong dan Padri tinggi kurus itu, setelah mengadu kekuatan, kedua pihak beristirahat sambil memejamkan matanya, setelah itu, keduanya lalu saling menyerang lagi.

Dilihat sepintas lalu serangan kedua jago itu nampaknya tenang, dan tidak menimbulkan gelombang apa-apa, tetapi bertempur secara demikian sebetulnya merupakan suatu pertempuran yang paling berbahaya, sebab pertempuran dengan cara pendek itu, kecuali menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk menjatuhkan lawannya sudah tidak ada lain cara lagi, pertempuran yang mengandal kekuatan sebenar-benarnya itu, sedikitpun tidak boleh berlaku nakal, meskipun kekuatan tenaga dalam In Kiu Liong lebih kuat daripada lawannya, tetapi karena sewaktu ia melayang turun terkena serangan lawannya yang mengguncangkan dadanya, maka untuk sementara kekuatan itu menjadi berimbang.

Tiba-tiba terdengar suara Padri tinggi kurus itu, yang menggunakan cara lama, “In Kiu Liong, kau masih belum mau menyerah kalah, apakah kau benar-benar sudah tidak sayang jiwamu?”

Dengan tanpa sadar In Kiu Liong mengangkat kepala, tetapi setelah pandangan matanya beradu dengan sinar mata Padri itu, perasaannya segera terpengaruh dan kekuatannya banyak berkurang, seketika itu ia mundur tiga langkah dan jatuh duduk ditanah.

Padri itu menggunakan kesempatan terebut melancarkan serangannya.

In Kiu Liong setelah jatuh duduk ditanah, tiba-tiba menggerakkan kedua tangannya mendorong dengan seluruh kekuatannya.

Serangan balasan itu mesikipun dapat menahan serangan Padri Tibet itu, tetapi ia sudah mengeluarkan darah dari mulutnya.

Hiong Kian Hui yang menyaksikan Cungcunya tidak berhasil menjatuhkan lawannya, dalam hati merasa cemas, sambil mengeluarkan bentakan keras, ia menerjang dan menyerang.

Gads berpakaian merah itu yang sejak tadi sudah ingin terjun kedalam kalangan, ketika melihat Hiong Kian Hui menerjang ia segera menghunus pedangnya menyambut kedatangan orang she-Hiong itu.

Pengikut In Kiu Liong, kebanyakan terdiri dari orang2 kuat kenamaan dari daerah selatan, mereka ketika melihat Hiong Kian Hui sudah bertindak juga segera bergerak sambil menghunus senjata masing-masing.

Kawanan Padri dari Tibet itu segera menyambut serangan orang-orang itu, sehingga terjadilah suatu pertempuran total.

-odwo-