ISMRP Jilid 01

 
Jilid 01

PADA SUATU malam yang sunyi, bulan sabit memancarkan sinarnya yang lemah dari balik gumpalan awan, angin malam meniup kencang sehingga daun pohon tertiup rontok.

Sebuah kuil tua yang terletak di sebuah tempat sunyi keadaannya terang benderang dengan sinar api lilin merah, empat orang tua yang warna pakaiannya berlainan, duduk bersila berpencaran di empat sudut dalam pendopo kuil itu.

Wajah empat orang tua itu, nampaknya sangat serius, mereka duduk dengan tenang bagaikan patung yang tidak bergerak dan tidak bersuara.

Angin malam membawa hembusan bau harum kembang cempaka, juga menggoyangkan api lilin yang berada di atas meja sembahyang, sehingga sinarnya sebentar nampak terang sebentar nampak suram.

Dalam keadaan demikian, dalam sekejap, tengah pendopo itu sudah tambah seorang tua berpakaian baju panjang berwarna hijau dengan jenggotnya yang putih panjang menutupi dadanya.

Ia mengawasi keadaan dalam pendopo itu sejenak, lalu mengangkat tangan untuk memberi hormat seraya berkata, “Saudara-saudara berempat tentunya sudah lama menunggu kedatanganku.”

Tetapi empat orang tua itu masih tetap dalam keadaan semula agaknya tidak mendengar ucapan orang tua berjenggot putih itu.

Melihat keadaan demikian orang tua berjenggot putih itu lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Persoalan yang lalu sudah menjadi lalu apakah saudara-saudara selama tiga puluh tahun ini masih tidak dapat melupakan kejadian itu? Oleh karena kesalahanku yang tidak disengaja, telah membuat kita lima bersaudara saling bermusuhan, meskipun belum sampai saling bunuh, tetapi sudah seperti orang asing. Selama tiga puluh tahun ini, aku merasa tidak enak, hampir setiap hari memikirkan nasib kita berlima, tetapi karena saudara-saudara tidak ketentuan tempat tinggalnya sehingga tidak mudah dicari, dan setelah aku mengetahui jejak saudara-saudara, lalu aku meninggalkan surat dan minta saudara-saudara berkumpul disini, tetapi sungguh tidak kuduga saudara- saudara ternyata masih belum mau memahami kesulitanku selama ini.”

Sekian lama ia berkata seorang diri, tetapi empat orang tua yang duduk bersila itu masih tetap dalam keadaan tidak bergerak.

Selagi ia hendak melanjutkan kata-katanya, sekonyong- konyong terdengar tindakan kaki orang berjalan, sebentar nampak duabelas pemuda yang masing-masing membawa senjata, masuk ke dalam ruangan pendopo dan kemudian berdiri berbaris di ambang pintu.

Orang tua berjenggot putih itu nampak terperanjat, ia mengawasi duabelas pemuda itu, ternyata semuanya nampak sangat gagah, sehingga di wajahnya terkilas suatu senyuman, kemudian ia berkata sendiri, “Anak-anak ini nampaknya sangat gagah, mungkin mereka adalah murid-murid empat saudaraku ini.”

Tetapi empat orang tua duduk bersila itu tiada satupun yang memberikan jawaban.

Keduabelas pemuda itu meski semuanya berpakaian ringkas, tetapi masing-masing berlainan warnanya, setiap tiga orang sewarna pakaiannya, dan warna itu terbagi dengan warna biru muda, kuning telur, putih dan lila, tepat keadaannya dengan warna-warna pakaian yang dipakai oleh empat orang tua yang duduk bersila itu. Orang berjenggot putih itu meski mengharap empat saudaranya itu ada yang mau membuka mulut, supaya ia dapat menjelaskan duduk persoalannya, tetapi empat orang itu ternyata tidak mau membuka mulut dan membiarkan orang tua berjenggot putih itu se-akan2 mengoceh sendiri.

Sudah tentu orang tua berjenggot putih itu agak marah, lalu berkata dengan suara keras, “Saudara-saudara sekalian, kalian tidak mau memaafkan kesalahanku setidak-tidaknya harus menerangkan apa yang kalian inginkan, dengan cara kalian seperti ini, sesungguhnya membuat aku sulit untuk mengendalikan perasaan.”

Tetapi empat orang tua itu masih tetap tidak bergerak.

Timbullah rasa curiga dalam hatinya orang tua berjenggot putih itu, dengan tindakan perlahan ia berjalan menghampiri orang tua berpakaian warna biru muda yang duduk disudut kiri.

Sekonyong-konyong terdengar suara “tahan!” dan tiga pemuda berpakaian warna biru muda melompat keluar menghadang di depan orang tua berjenggot putih seraya berkata, “Kalau Locianpwe ingin berbicara, mohon beritahukan kepada kami, karena suhu masih bersemedi tidaklah pantas kalau diganggu.”

Orang tua berjenggot putih itu nampak tidak senang, tetapi sebentar sudah pulih kembali dengan sikapnya yang tenang dan ramah, katanya sambil tertawa, “Tahukah kalian siapa aku ini?”

Tiga pemuda itu menjawab dengan berbareng, “Tidak perduli siapa, semuanya tidak boleh mengganggu suhu yang sedang bersemedi.”

“Benarkah Suhu kalian sedang bersemedi?”

Seorang dari tiga pemuda itu berpaling dan memandang Suhunya sejenak baru menjawab, “Suhu kalau bersemedi kadang-kadang sampai satu hari satu malam, tidak makan tidak minum dan tidak bergerak, sekarang masih belum cukup satu malam, tidak ada yang perlu diherankan, bukan?”

Orang tua berjenggot putih itu menatap wajah orang tua berbaju biru muda itu sebentar, lalu membalikkan badannya dengan tindakan lambat-lambat berjalan menuju ke lain sudut menghampiri seorang tua lain yang mengenakan pakaian warna kuning.

Sekali ini tiga orang pemuda berpakaian warna kuning telur yang merintanginya.

Orang tua berjenggot putih itu menarik napas perlahan, menggelengkan kepala kembali berjalan ke arah itu orang tua yang mengenakan pakaian warna lila.

Disini kembali mendapat rintangan dari tiga pemuda yang berpakaian warna lila.

Nyatalah sudah bahwa empat orang tua yang duduk bersila di empat sudut itu, masing-masing membawa tiga orang murid yang berpakaian sama warnanya dengan pakaiannya sendiri. Orang tua berjenggot putih itu kemana saja hendak berjalan selalu dirintangi oleh tiga pemuda.

Ia agaknya tidak suka meladeni pemuda itu, dengan tindakan lambat-lambat ia balik ke tengah-tengah pendopo dengan sinar mata tajam menyapu kemuka duabelas pemuda itu kemudian bertanya, “Apakah kalian semuanya dapat memastikan bahwa Suhu kalian sedang bersemedi, dan tidak terjadi sesuatu di luar dugaan kalian?”

Pertanyaan secara mendadak ini, sesungguhnya mengejutkan duabelas pemuda tersebut sehingga masing- masing, serentak mengawasi keempat Suhu mereka.

Tetapi empat orang tua itu masih tetap dengan keadaan semula, sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda aneh, maka lalu menjawab bersama, “Benar memang Suhu sedang bersemedi… ”

Orang tua berjenggot putih itu berkata sambil menganggukkan kepala, “Mudah-mudahan apa yang kalian katakan itu tidak salah……..” dan ia sendiri lalu juga duduk bersila dan pejamkan matanya.

Duabelas pemuda itu, masing-masing mundur dan duduk di belakang Suhu masing-masing, suasana dalam ruangan itu kembali menjadi sunyi.

Angin malam dari luar menghembuskan bau bunga cempaka yang harum, dan membuat api lilin yang sebentar menyala sebentar suram.

Dalam sekejap kemudian, terdengar suara yang halus merdu samar-samar di dalam ruangan pendopo itu.

Suara itu aneh sekali, halus merdu sebentar nyata sebentar lenyap agaknya berputaran merayu di samping telinga, tetapi kalau didengar dengan seksama, lalu melenyap dan tidak terdengar pula. Duabelas pemuda itu semuanya mendengar suara tersebut, akan tetapi tiada satupun yang berani membuka mulut, sebab mereka merasa sangsi apakah orang lain juga mendengar suara itu, karena masing-masing khawatir sedang melamun, sehingga kalau ditanyakan akan membuat tertawaan orang, maka meskipun duabelas pemuda itu semua mendengar, tetapi semua berlagak seperti tidak ada kejadian apa-apa.

Suara aneh itu sekonyong-konyong berubah menjadi suara berat, dan duabelas pemuda itu dengan berbareng timbul semacam perasaan aneh, mereka seolah-olah didorong ke dalam jurang yang dalam tidak berdaya dan tidak berani bersuara hanya pejamkan mata masing-masing dalam keadaan putus harapan……..

Tatkala duabelas pemuda itu sadar kembali, hari sudah terang api lilin juga sudah padam. Orang tua berjenggot putih yang duduk di tengah-tengah pendopo ternyata sudah berlalu. Mereka saling memandang sebentar, masing-masing lalu menatap wajah Suhunya. Empat orang tua yang duduk di empat sudut masih tetap dalam keadaan tidak berobah.

Mungkin dikarenakan hendak menjaga nama baik perguruan masing-masing, duabelas pemuda itu meski satu sama lain tidak saling bermusuhan, tetapi di antara mereka tidak satupun yang membuka suara lebih dahulu.

Terhadap perginya orang tua berjenggot putih secara mendadak itu dalam hati mereka semua timbul perasaan khawatir, sehingga sinar mata mereka ditujukan ke tempat bekas duduk orang tua jenggot putih itu, agaknya ingin dari tempat duduk itu, dapat menemukan tanda-tanda yang mencurigakan……..

Benar-benar merupakan suatu gejala yang aneh, duabelas pemuda itu walaupun merasakan gelagat tidak baik, tetapi tidak satupun yang berani memanggil Suhunya hingga satu sama lain saling berpandangan dengan hati cemas.

Kiranya duabelas pemuda itu sejak mengikuti Suhunya masing-masing masuk ke ruangan pendopo kuil tua itu, empat orang tua itu masing-masing lalu memilih tempat di empat sudut untuk bersemedi. satu sama lain tidak saling bicara dan setelah bersemedi masing-masing pejamkan mata belum pernah dibukanya lagi.

Kejadian serupa itu memang jarang terdengar, duabelas pemuda itu meski semuanya mengikuti Suhu masing-masing, tetapi belum pernah mengalami kejadian serupa itu, maka mereka tidak tahu bagaimana harus berbuat, mereka hanya khawatirkan bahwa empat orang tua itu sedang mengadu kekuatan ilmu masing-masing, mereka tidak satu yang berani mengganggu. Satu hari kembali berlalu dengan cepat, empat orang tua yang berlainan pakaian itu masih tetap duduk bersila di tempat masing-masing, tak satupun pernah bergerak.

Duabelas pemuda itu sangat gelisah, mereka berjalan mondar-mandir di ruangan pendopo itu, tapi tidak berani mengganggu Suhunya.

Seorang pemuda berbaju putih tiba-tiba berkata dengan suara perlahan, “Di dalam rimba persilatan belum pernah terdengar ada orang mengadu ilmu secara duduk bersemedi seperti ini. Sudah satu hari Suhu tidak makan dan tidak minum entah apa gunanya duduk semedi demikian itu?”

Seorang pemuda yang usianya lebih tua menjawab, “Suhu sering duduk bersemedi sambil pejamkan mata kadang- kadang sampai beberapa hari berapa malam dan tidak makan dan tidak minum, kalau baru satu hari satu malam saja, mana bisa mengganggunya.”

Ucapan itu agak nyaring, ia memang sengaja supaya dapat didengar oleh empat orang tua itu.

Tapi heran empat orang tua itu ternyata seperti tidak mendengar hingga tidak menunjukkan reaksi apa-apa.

Dengan tidak terasa hari sudah berganti malam lagi, keadaan dalam ruangan pendopo itu mulai gelap.

Duabelas pemuda itu menjaga di samping masing-masing Suhunya, meliwati hati itu dengan tanpa makan dan minum juga, untunglah kuil tua itu letaknya di suatu tempat yang sunyi dan terpencil sekali, jarang orang datang, maka juga tidak ada orang yang mengganggu mereka.

Malam mulai gelap rembulan mulai menampakkan diri, duabelas pemuda itu perlahan-lahan, mulai merasakan gelagat tidak beres hingga hati mereka masing-masing menjadi gelisah. Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda berpakaian warna biru muda berkata, “Jikalau kita terus menunggu secara begini, entah harus menunggu sampai kapan? Menurut pikiranku yang kerdil ini sebaiknya kita bangunkan Suhu secara bersama……..

Seorang pemuda berpakaian warna lila lalu berkata, “Ucapanmu itu benar, sekalipun kita mempunyai kesabaran hati untuk menunggu terus tetapi kita khawatir akibatnya, dengan kepandaian yang dipunyai oleh Suhu, walaupun sedang bersemedi tetapi telinganya dan pendengarannya masih tetap tajam sekali, sangat mustahil pembicaraan kita yang demikian keras tidak dapat didengarnya?”

Duabelas orang itu mengeluarkan pendapat masing-masing barulah bersepakat untuk membangunkan suhu mereka.

Selanjutnya mereka itu masing-masing menghampiri Suhunya masing-masing, sambil berlutut di hadapan Suhu masing-masing mereka memanggil, “Suhu… ”

Empat orang tua yang bersemedi itu masih tetap tidak bergerak, seolah-olah tidak dapat mendengar suara panggilan muridnya.

Duabelas pemuda itu nampak semakin gelisah, pandangan mata mereka ditujukan kepada masing-masing Suhunya.

Namun empat orang tua itu sikapnya masih biasa tidak menunjukkan tanda aneh hanya mata mereka yang dipejamkan, itu memang suatu tanda bagi orang berilmu tinggi yang sedang bersemedi, duabelas pemuda itu masing- masing mempunyai keyakinan yang kuat bahwa kepandaian Suhu mereka sangat tinggi, tidak mungkin bisa terjadi hal-hal di luar dugaan semasa bersemedi……..

Mereka semua telah menyaksikan Suhu mereka setelah memasuki ruangan pendopo itu lalu duduk bersemedi, kecuali itu orang tua berjenggot putih berpakaian hijau, sudah tidak ada orang lagi yang masuk ke dalam kuil itu, andaikata orang yang berkepandaian tinggi sekali bisa terjadi apa-apa selagi dalam keadaan semedi, itulah adalah suatu kejadian yang sangat mustahil dan rasanya juga tidak mungkin. Satu- satunya hal yang mencurigakan, ialah empat orang tua itu sejak awal sampai akhir belum pernah membuka matanya……..

Duabelas pemuda itu agaknya belum pernah mengalami kejadian aneh serupa itu, hingga mereka semua merasa bingung, dengan pikiran gelisah memandang masing-masing Suhunya……..

Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda berpakaian kuning telur berseru, “Supo”

Air matanya mengalir turun tanpa terkendali.

Yang lainnya telah dikejutkan oleh kejadian yang mendadak itu, dengan hati berdebar-debar berpaling ke arahnya.

Seorang pemuda lain yang juga berpakaian kuning telur menanya dengan suara perlahan, “Ciu Sute, apa kau sudah gila?”

Pemuda She Ciu itu mengusap air mata di kedua pipinya dan berkata, “Supo…….. telah menutup mata ”

Dengan keluarnya ucapan itu, suasana menjadi tegang.

Pemuda baju kuning yang usianya agak tua itu lalu berkata dengan suara gusar, “Suhu sedang duduk bersemedi, bagaimana dengan tanpa sebab bisa meninggal dunia kau mengigau.”

Namun demikian dalam hatinya juga agak tergoncang kecurigaannya makin besar, mungkin karena mengingat nama besar Suhunya di dalam rimba persilatan, hingga ia tidak berani memeriksa dengan teliti, untuk membuktikan ucapan suteenya. Pemuda She Ciu itu lalu berkata dengan perasaan duka, “Kematian supo, memang sebenar-benarnya, karena kedua tangannya sudah kaku dan dingin.”

Pemuda yang usianya agak tua itu perlahan-lahan meraba tangan suponya, tetapi selagi hendak menyentuh tangan orang tua itu, sekonyong-konyong, ditarik kembali dan berkata, “Kepandaiannya sungguh tinggi sekali, bagaimana bisa mati mendadak… ?”

Pemuda itu yakin benar kepandaian Suhunya, meskipun ia tahu bahwa ucapan sutenya tidak bohong, tetapi ia tidak berani mengakuinya.

Pemuda She Ciu itu ketika melihat Suhengnya diam lalu berkata lagi, “Aku lihat karena supo duduk tanpa bergerak hatiku merasa curiga, diam aku ulur tangan meraba kedua tangan supo, baru tahu kalau ia sudah meninggal sekian lama, kedua tangannya itu sudah kaku dan dingin.

Sebelas pemuda lain lalu perdengarkan suara jeritan, semua tangan diulurkan untuk meraba tangan Suhu masing- masing.

Empat orang tua itu, sikap duduknya semua serupa dalam keadaan bersila dan merangkapkan kedua tangan ke depan dadanya.

Sebelas pemuda itu sewaktu tangan mereka hendak menyentuh tangan orang tua, dengan serentak berhenti dan saling berpandangan, lalu perlahan-lahan menarik kembali tangan mereka……..

Sebelas pemuda itu agaknya mempunyai perasaan serupa, semua takut bahwa perkataan yang diucapkan oleh pemuda she Ciu itu adalah benar, hingga kematian Suhu mereka menjadi suatu kenyataan……..

Pada saat itu di luar kuil cuaca sangat gelap hingga keadaan ruangan dalam pendopo itu semakin gelap. Kesunyian dalam kegelapan, nampaknya sangat menyeramkan hanya suara napas saja yang terdengar dalam suasana gelap itu.

Entah siapa, sekonyong-konyong terdengar suara jeritan nyaring, “Supo!” lalu menangis dengan suar keras.

Dalam suasana gelap itu agaknya menambah keberanian beberapa orang, dengan serentak mengulurkan lagi tangannya untuk meraba tangan Suhu masing-masing.

Setelah kematian suhu masing-masing itu sudah menjadi kenyataan, terdengarlah suara tangisan ramai, sebab apa yang dikatakan oleh pemuda She Ciu itu ternyata tidak salah, empat orang tua itu sudah mati dan mereka sudah kaku dan dingin.

Di luar angin malam meniup, membawa harum yang disiarkan oleh bunga cempaka, samar-samar terdengar pula suara halus merdu di dalam suasana yang menyedihkan itu.

Suara itu meskipun sangat lemah dan sebentar terdengar sebentar lenyap, tetapi setiap orang dapat mendengarnya.

Entah siapa dari antara duabelas pemuda itu yang berkata secara sekonyong-konyong, “Dengar! Suara apakah itu?”

Seorang lain menyambung, “Benar kemarin aku juga sudah mendengar suara itu.”

Karena dalam ruangan itu keadaan gelap gulita, hingga cuma dengar suaranya, tetapi tidak kelihatan orangnya yang berbicara.

Terdengar pula suara seorang lain yang berkata, “Suara itu seperti suara seruling… ”

Suara tangisan lantas berhenti lalu terdengar suara orang yang membantah, “Mana mungkin itu irama seruling, sudah sepuluh tahun lebih aku meniup seruling, aku yakin dalam hal itu sudah merupakan suatu ahli bagaimana kita tidak dapat membedakan suara seruling atau bukan.”

Tiba-tiba, terdengar suara nyaring dan agak kasar, “Suara itu meskipun halus dan merdu tetapi membikin orang yang mendengarkannya ingin tidur.”

Perkataan orang itu, telah mengingatkan semua orang pada kejadian semalam, yang setelah mendengarkan suara aneh itu, lalu mempengaruhi perasaan mereka sehingga dengan tanpa terasa telah tertidur semuanya sampaipun berlalunya orang tua berjenggot putih baju hijau itu, tidak seorang pun yang tahu.

Saat itu suara yang merdu halus itu mendadak berubah menjadi suara tinggi, seolah-olah suara tambur dalam medan pertempuran, hingga duabelas pemuda itu dengan serentak seperti berada di dalam kurungan musuh……..

Untung suara itu dengan cepat lantas lenyap.

Entah siapa mendadak berdiri dan mengeluarkan suara bentakan keras dan kemudian lari keluar.

Saat itu keadaan di luar nampak remang-remang, sehingga samar-samar dapat dilihat bahwa orang yang lari keluar itu ada mengenakan pakaian warna putih.

Terdengar suara seorang yang menegur dengan suara yang keras:

“Ong sute kau hendak kemana? Lekas balik      ”

Tetapi orang yang lari keluar itu bahkan semakin cepat, agaknya tidak menghiraukan panggilan suhengnya, sehingga sebentar saja sudah menghilang di luar kuil.

Terdengar pula lain orang berbicara dengan suara agak gusar, “Supo baru saja menutup mata, dia sudah tidak mendengar kata suhengnya, biarlah aku kejar ia dan membawanya pulang.” Orang meski berbicara dengan sutenya tetapi menarik perhatian semua orang yang ada disitu.

Dalam keadaan demikian, semua pemuda itu sebetulnya boleh mengadakan perundingan untuk menghadapi orang yang hendak kabur itu, tetapi oleh karena sejak mereka mengikuti empat orang tua masuk ke dalam kuil tua itu satu sama lain tak pernah mengadakan pembicaraan, sehingga di antara murid-murid itu seolah-olah terpisah satu sama lain, mereka agaknya beranggapan siapa yang membuka mulut lebih dahulu akan menodai nama baik Suhunya.

Dengan mendadak dalam ruangan itu timbul sinar terang, orang tua berjenggot putih yang tadi malam telah berlalu kini nampak muncul kembali di dalam ruangan itu.

Kedatangan orang tua yang tanpa bersuara itu, membuat semua orang yang ada disitu tidak tahu sejak kapan ia masuk ke dalam ruangan itu.

Sinar api lilin menyinari wajah dan jenggot orang tua itu, sebelas pemuda itu dengan serentak berdiri dan mengurung orang tua di-tengah2 mereka.

Dengan sinar mata yang tajam orang itu menatap muka satu persatu sebelas pemuda yang mengurung dirinya, lantas menanya dengan suara keren, “Masih ada seorang lagi kemana ?”

Dua pemuda baju putih berkata berbareng dengan suara gusar, “Kau siapa? Mengapa berani… ”

Orang tua berjenggot putih itu nampaknya hendak marah, tetapi setelah berpikir sebentar ia nampak sabar kembali lalu berkata, “Kalau aku tidak beritahukan pada kalian, kalian tentunya juga tidak tahu aku ini siapa? Apakah kalian pernah mendengar suhu kalian menyebutkan nama Yap It Peng?”

Sebelas pemuda itu semua terkejut, lalu menjawab dengan berbarang, “Apa kau adalah toasupek?” Dengan serentak sebelas pemuda itu berlutut di tanah.

Sepasang mata Yap It Peng berkaca-kaca, lalu berkata sambil menghela napas, “Empat saudaraku ternyata masih belum melupakanku… ”

Ia mengucapkan perasaan demikian entah merasa gembira atau berduka hanya air matanya yang mengalir deras membasahi kedua pipinya.

Dua pemuda berbaju putih berkata berbareng, “Suhu sering menyebut nama supek. Tidak disangka hari ini kita bertemu disini, sayang kedatangan supek sudah terlambat, karena Suhu telah menutup mata… ”

Sekonyong-konyong mereka ingat bahwa orang itu tadi malam juga berada di dalam ruangan itu maka tidak melanjutkan kata-katanya.

Yap It Peng menarik napas dan berkata, “Jikalau aku tidak mengatur lebih dahulu, empat saudaraku ini mungkin benar- benar sudah mengantarkan jiwa di tangan orang itu.”

Sebelas pemuda itu saling berpandangan dengan perasaan heran, mereka bertanya dengan serentak, “Apa? Apakah supo… ”

Yap It Peng berkata sambil menganggukkan kepala, “Mereka semua tidak mati hanya pada saat ini masih belum boleh sadar, musuh kita itu terlalu licin sekali, jika ia tahu Suhu kalian belum mati, pasti akan balik kembali, musuh itu kepandaiannya tinggi sekali, tangannya juga kejam dan ganas, kita tidak berdaya terhadapnya, maka bagi kita cuma… ”

Saat itu tiba-tiba terdengar suara desiran angin, dari luar kuil melompat masuk seorang pemuda tampan berpakaian warna hitam, dibawah ketiak tangan kanannya mengempit seorang muda berpakaian ringkas berwarna putih, tiba di dalam ruangan lalu memberi hormat kepada orang tua berjenggot putih seraya berkata, “Teece sudah totok jalan darahnya, dan menangkapnya hidup-hidup.”

Yap It Peng mengawasi pemuda berbaju putih sebentar, lalu berkata, “Bagus, kau letakkan saja dia, jaga pintu kuil, tidak peduli siapa saja asal hendak keluar dari sini, bunuh saja!”

Pemuda baju hitam itu menyahut baik, lalu menghunus pedang pusakanya dan berdiri menjaga di depan pintu.

Yap It Peng kembali mengawasi sebelas pemuda itu kemudian berkata, “Diantara kalian, siapa yang berguru dengan sudah membawa kepandaian silahkan maju di depanku.”

Ia bertanya berulang-ulang, tetapi tidak seorang yang menjawab.

Dari dalam sakunya ia mengeluarkan sejilid kitab kecil, lalu berkata lagi sambil tertawa:

“Dalam soal ini sudah lama aku mengadakan penyelidikan, apa yang kalian telah lakukan aku telah catat dalam kitab ini, maka janganlah kalian berpikir hendak melarikan diri.”

Ia lalu membuka lembaran kitab kecil itu diperiksanya dengan teliti.

Tiba-tiba seorang pemuda berpakaian warna lila berkata, “Jangan dengar perkataan tidak keruan orang ini, sudah terang dialah sendiri yang menurunkan tangan jahat membinasakan Suhu kita, dan sekarang telah berlagak demikian, tentang kematian Suhu, kita semua sudah menyaksikan sendiri cobalah pikir orang yang sudah mati mana bisa hidup kembali?”

Ucapan orang itu seketika menimbulkan rasa curiga semua orang, sepuluh pemuda dengan serentak mufakat pendapat demikian, sehingga dalam ruangan itu keadaan menjadi riuh. Dengan tanpa pedulikan reaksi orang banyak itu Yap It Peng perintahkan pemuda baju hitam yang menjaga di depan pintu, ia berkata, “Tangkap dulu orang yang coba membakar emosi orang banyak itu!”

Pemuda baju hitam itu menyahut baik, segera menerjang ke dalam rombongan sepuluh pemuda itu dengan tangan yang menyerang pemuda berbaju lila yang membuka suara tadi.

Tindakan pemuda baju hitam itu seketika menimbulkan amarah sepuluh pemuda lainnya dengan serentak mereka melancarkan serangan bersama kepadanya.

Pemuda baju hitam itu mengeluarkan suara tertawa dingin, tangan kanan yang tadi digunakan untuk menyerang, dengan kecepatan bagaikan kilat telah menyambar pergelangan tangan kiri pemuda berbaju lila itu, kemudian ditariknya keluar.

Karena gerakannya cepat dan hebat itu, sehingga orang- orang yang mencoba merintanginya menyingkir tidak satupun yang berani menghalangi maksudnya.

Yap It Peng dengan sinar mata tajam mengawasi mereka kemudian mengeluarkan suara bentakan keras, “Tahan.”

Semua pemuda itu berhenti bergerak dan berdiri di tempat masing-masing.

Yap It Peng memandang pemuda berbaju lila yang telah tertangkap itu, lalu berkata dengan suara perlahan, “Kiejie, totok dulu jalan darahnya.”

Pemuda berbaju hitam itu lalu melakukan apa yang diperintahkan oleh Suhunya.

Yap It Peng berkata pula sambil mengelus jenggotnya yang putih, “Dalam waktu tidak lama lagi, di antara kalian ada empat orang yang akan binasa di dalam ruangan……..” Ia lalu berpaling mengawasi dua pemuda yang sudah tertawan itu kemudian berkata pula dengan suara keras, “Kecuali mereka berdua, masih ada dua orang lagi. Lekas maju ke depan, aku tidak akan menyusahkan kalian, tetapi jika kalian mencoba main gila di hadapanku, jangan sesalkan kalau aku bertindak kejam.”

Sepuluh pemuda itu saling berpandangan, mereka agaknya tidak mengerti maksud ucapan orang tua itu.

Salah seorang di antaranya, sekonyong-konyong maju ke depan lalu menghunus pedang panjangnya dan berkata dengan suara keras sambil menunjuk orang tua itu, “Apakah artinya ini? Kau sengaja dengan sikapmu yang aneh ini, apakah maksudmu yang sebetulnya?”

Yap It Peng dengan tenang mengawasi pemuda itu sebentar, lalu berkata, “Apakah kau mencurigaiku?”

Ketika pemuda itu hendak menjawab, dari belakang meja patung sekonyong-konyong terdengar orang tertawa dan berkata, “Yap It Peng, kau sendiri juga terjebak olehku, sehingga tidak bisa hidup lagi dalam waktu duabelas jam.”

Yap It Peng berpaling. Segera dapat lihat seorang tua berbadan tinggi kurus, mengenakan baju putih, dengan tangan membawa tongkat bambu perlahan-lahan keluar dari tempat persembunyiannya.

Mungkin tadi orang tua itu bersembunyi di belakang meja sembahyang, dan kini telah muncul secara tiba-tiba.

Dengan wajah berobah Yap It Peng berkata, “Ang Thian Gie… apakah ucapanmu masih boleh dipercaya?”

Orang tua kurus kering itu menjawab sambil tertawa, “Sepatah ucapanku tidak boleh dipercaya?”

“Kalau begitu mengapa pula kau menjebakku?”

“Aku hanya sanggup membantumu supaya mereka berempat itu tidak mati, tetapi toch tidak pernah menyanggupi terhadap dirimu sendiri bahwa mereka tetap hidup, betul tidak?”

Yap It Peng berpaling dan mengawasi pemuda berbaju hitam itu sebentar, berkata pula dengan nada suara dingin, “Apakah muridku ini, juga kemasukan racun?”

Ang Thian Gie yang nampak bergerak bibirnya agaknya ingin tertawa tetapi ia tidak menunjukkan ketawanya, lalu berkata, “Semua orang yang berada disini semuanya sudah kemasukan racun.”

“Dan racun yang bersarang di dalam badanku kapankah bekerjanya?”

Ang Thian Gie menengadahkan kepala melongok keluar untuk melihat keadaan cuaca, keniudian berkata, “Masih terlalu pagi, besok kira-kira jam satu tengah hari.”

“Kalau begitu aku masih dapat hidup lima jam lagi?” “Tetapi jika kau suka merobah maksudmu, sedikitnya masih

dapat hidup tiga tahun lagi.”

Yap It Peng diam, nampaknya sedang berpikir keras.

Pemuda baju hitam itu mendadak mengeluarkan suara bentakan keras, lalu menerjang sambil merentang pedangnya.

Ang Thian Gie memukulkan tongkatnya ke tanah, ia membentak, “Diam, dengan kepandaianmu yang tidak berarti ini, bukan tandinganku.”

Yap It Peng berkata sambil menghalangi majunya pemuda itu, “Kie-jie jangan bertindak gegabah, lekas mundur.”

Ang Thian Gie mengawasi orang-orang yang berada di dalam kuil itu, lalu berkata dengan suara dingin, “Orang-orang yang berada disini, semua sudah terluka oleh jarum beracunku, dalam waktu duabelas jam semua akan mati, dalam dunia ini tidak semacam obatpun yang dapat menolong jiwa kalian, satu-satunya kesempatan hidup bagi kalian, adalah makan obat pel buatanku sendiri, setiap tiga hari makan satu butir, jika terlambat, racunnya akan bekerja sehingga sukar ditolong lagi.”

Sebelas pemuda itu menjadi bingung oleh rangkaian kejadian aneh itu, satu sama lain saling memandang, tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Seorang pemuda berbaju kuning telur yang berdiri di sudut paling kiri tiba-tiba berkata, “Harap Locianpwee menghidupkan dulu Suhu kita, nanti bicara soal yang lain lagi.”

Ang Thian Gie berkata sambil geleng2kan kepala, “Mereka berempat sudah kuberi makan obat untuk dimakan, tiga hari kemudian mereka bisa sadar lagi tanpa pertolongan orang.”

Ia berhenti sejenak, tiba-tiba berkata pula dengan suara nyaring, “Apakah kalian ingin mati di dalam kuil ini ataukah masih ingin hidup?”

Ia bertanya berulang-ulang, tetapi tidak seorangpun yang menjawab. Kiranya orang-orang yang ada disitu, kecuali Yap It Peng yang mengetahui siapa orang tua itu, yang lain tidak tahu siapa orang tua kurus kering itu, maka perkataannya tidak ada yang mau percaya.

Ang Thian Gie agaknya sudah merasa bahwa orang-orang itu tidak percaya padanya, maka lalu berkata pula sambil tertawa dingin, “Aku seumur hidupku belum pernah membohong, jikalau kalian tidak percaya silakan memeriksa lengan tangan kiri kalian nanti, kalian pasti tahu sendiri bahwa ucapanku ini bukanlah semacam gertakan saja.”

Sepuluh pemuda itu menurut dan masing-masing menggulung lengan bajunya, benar saja, di lengan masing- masing terdapat tanda titik hitam sebesar biji kacang, seketika mereka terperanjat, karena masing-masing merasa heran entah kapan mereka terkena jarum beracun itu, dan yang mengherankan ialah tanpa menimbulkan rasa sakit sama sekali. Ang Thian Gie dengan sikap tenang berkata pula, “Kalian berada di dalam kuil yang sunyi ini sudah melalui waktu dua hari dan satu malam mungkin dalam pengalaman hidup kalian ini, telah merasa bahwa pengalaman yang kalian alami selama tiga hari ini sangatlah aneh sebetulnya tokoh-tokoh kuat dari golongan hitam dan putih selama dua hari dan satu malam ini, sudah melakukan suatu pertarungan mengadu kecerdasan otak dan kekuatan tenaga, yang jarang ada dalam sejarah rimba persilatan, bahkan sudah tidak sedikit dari mereka yang mundur dalam keadaan terluka… ”

Berbicara sampai disitu api lilin yang berada di tangan Yap It Peng telah padam.

Dalam kegelapan itu entah siapa yang bertanya dengan suara nyaring, “Maksud dari perkataan Locianpwee ini, kami tidak mengerti, bolehkah kiranya Locianpwee memberitahukan sebab-sebabnya kepada kamu?”

Suasana dalam ruangan itu untuk sesaat nampak sunyi, tidak berapa lama baru terdengar pula suara yang keras bertanya, “Mengenai pertempuran mengadu otak dan mengadu tenaga dari tokoh2 golongan hitam dan putih apakah hubungannya dengan Suhu kita yang mengadakan pertemuan dalam kuil tua ini… ”

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa besar, yang memotong pembicaraan orang itu tadi lalu terdengar kata- katanya, “Yap It Peng, kau dengan sembarangan telah menggunakan kekuatan tenaga murnimu, ini berarti akan membuat racun yang mengeram dalam badanmu bekerja lebih cepat dari pada waktunya, lekaslah duduk dengan tenang dan mengatur pernapasan, jikalau kau hendak berkeras kepala, racun itu barang kali akan bekerja dengan segera.”

Saat itu keadaan tiba-tiba menjadi terang kembali, Ang Thian Gie dengan api obor ditangannya, berjalan menuju kemeja sembahyang, menyalakan sebuah lilin besar. Keadaan dalam ruangan kuil itu kini menjadi terang benderang, sementara itu, orang tua berjenggot putih itu nampak duduk bersila ditanah, dengan wajah seperti orang menahan rasa sakit, matanya memandang kepada Ang Thian Gie dan berkata sambil tertawa dingin, “Jika aku Yap It Peng belum terluka terkena racun, tidak nanti akan kalah ditanganmu.”

Ang Thian Gie tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Sahabat-sahabat dalam rimba persilatan, siapakah yang tidak tahu bahwa aku Ang Thian Gie pandai menggunakan racun?”

-odwo-

Bab 2

YAP IT PENG tidak berkata lagi, ia memejamkan kedua matanya untuk mengatur pernapasannya.

Ternyata dua orang tua itu tadi selama keadaan gelap, diam-diam sudah mengadu kekuatan tenaga dalam sampai tiga jurus, oleh karena luka dalam Yap It Peng masih belum sembuh, lagi pula badannya terkena jarum beracun, maka tidak dapat menahan lagi, dan akhirnya kalah ditangan lawannya.

Pemuda berbaju hitam itu, ketika menyaksikan keadaan Suhunya, dalam hati merasa marah, dengan tanpa menghiraukan jarum beracun di badannya sendiri, ia sudah melompat dan menikam dengan pedangnya ke arah Ang Thian Gie.

Ang Thian Gie mengangkat tongkat bambunya untuk menangkis serangan tersebut, kemudian berkata sambil tertawa dingin, “Untuk sementara Suhumu tidak akan mati, hentikanlah gerakanmu, kalau kau berani berlaku kurangajar lagi terhadapku, jangan sesalkan kalau aku nanti bertindak kejam.” Yap It Peng sekonyong-konyong membuka matanya dan membuka suaranya, “Kie-jie, kau tidak mampu melawan dia. Lekas mundur.”

Pemuda baju hitam itu menghela napas panjang, ia menarik kembali pedangnya dan mundur kesamping.

Dengan sinar mata tajam Ang Thian Gie mengawasi keadaan disitu sebentar, kemudian berkata, “Aku bekerja selamanya suka cepat dan tegas, sekarang apakah kalian suka kutolong atau tidak terserah kepada kalian sendiri aku tidak akan memaksa…….. cuma, aku harus menjelaskan lebih dahulu, jarum beracun itu kecuali sifat-sifat racunnya yang keras sekali, bentuknya jarumnya juga halus, setelah masuk ke dalam badan orang, dalam waktu enam jam, kalau jarum itu tidak dikeluarkan ia terus akan menyusup ke dalam melalui mengalirnya darah dan terus masuk ke dalam jantung. Meskipun racun di dalam badan kalian itu besok malam baru bekerja, tetapi kalau kalian hendak melindungi jiwa kalian sendiri tidak menunggu lagi sampai besok.”

Sehabis berkata demikian ia berjalan perlahan keluar kuil.

Yap It Peng tiba-tiba berseru, “Ang Thian Gie, balik! Marilah kita berunding lagi.”

Ang Thian Gie bersenyum, ia balik dan berkata, “Sekarang ini bukan waktunya untuk berlagak dan berlaku keras kepala, saudara Yap harus lekas mengambil keputusan, jikalau aku nanti benar-benar pergi dan tidak mau ambil perduli, bukan saja kalian akan mati semua karena bekerjanya racun itu, juga empat saudara angkatmu itu, karena tidak ada orang yang melindungi tidak akan hidup lagi.”

Yap It Peng berkata, “Mereka berempat meskipun sudah mengangkat saudara denganku, tetapi antara kita sudah tiga puluh tahun lamanya tidak pernah bertemu dan berkumpul maka aku juga tidak berani mengambil keputusan bagi mereka untuk sekarang, hanya satu jalan ialah kau mengeluarkan dulu jarum yang mengeram dalam badan duabelas anak muridnya itu, lalu sadarkan empat saudara angkatku itu, kemudian berunding dengan mereka, tidak peduli mereka akan terima baik atau tidak, tetap aku akan menjamin, tidak akan menyusahkannya.”

Ang Thian Gie nampak berpikir, matanya menyapu semua orang yang berada di tempat itu kemudian berkata sambil tertawa, “Jikalau aku tidak menerima baik permintaanmu barangkali masih ada orang yang akan menganggapku hanya main gila dan menggertak saja.”

Yap It Peng menengadahkan kepala melongok keadaan cuaca di luar kuil, katanya pula, “Waktu sudah tidak pagi lagi jikalau kau menerima baik permintaanku ini seharusnya segera bertindak.”

Ang Thian Gie menganggukkan kepala, ia berjalan ke depan meja sembahyang lalu berkata, “Siapa yang ingin kuambil jarumnya lebih dulu?”

Pemuda berbaju hitam itu menghampirinya dengan langkah lebar lalu berkata, “Aku akan mencoba dulu perkataanmu ini benar atau bohong?”

Ang Thian Gie mengawasinya sebentar kemudian berkata sambil tertawa, “Bagus, buka bajumu.”

Pemuda berbaju hitam itu sejenak nampak sangsi, ia bertanya, “Bagian yang mana aku terkena racun?”

“Di atas lengan kirimu.”

Pemuda berbaju hitam itu membuka lengan bajunya dan berkata, “Kalau kubuka lengan bajuku secara demikian bolehkah kau mengambilnya?”

Ang Thian Gie tidak menjawab, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sepotong besi semberani yang berbentuk telapak kaki kuda, lalu meletakkan tongkat di tangannya, kemudian dengan tangan kiri memegang erat lengan kiri pemuda itu, dan besi seberani itu ditempelkan kebagian yang terluka, lalu digerak-gerakkan maju-mundur, sebentar kemudian lengan tangan yang putih pemuda itu telah berubah menjadi merah.

Pemuda yang lain pada maju mengerumun untuk menyaksikannya.

Tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk Ang Thian Gie, besi di tangannya diangkat dan berkata, “Meskipun jarumnya sudah keluar, tetapi racunnya sudah masuk ke dalam darahmu. Jika kau tidak memakan obatku, besok malam sebelum jam ini, racun itu akan bekerja dan matilah kau.”

Ketika semua orang menatapkan matanya ke arah besi itu, benar saja di atas besi itu menempel sebuah jarum yang halus sekali dengan warnanya yang kebiru-biruan.

Keadaan itu menyebabkan semua orang yang menyaksikannya terkejut dan ketakutan, dengan serentak menggulung lengan baju masing-masing untuk melihat luka di tangannya.

Pemuda berbaju hitam itu telah mengundurkan diri, Ang Thian Gie mulai mengambil jarum dari lengan orang yang kedua, dan begitulah seterusnya.

Dalam waktu tidak seberapa lama semua jarum beracun janq ada dilengan keduabelas pemuda itu sudah dikeluarkan semuanya. Ang Thian Gie memasukkan lagi besi itu ke dalam sakunya lalu berkata kepada mereka, Meski jarum beracun sudah kuambil dari dalam badan kalian, tetapi racunnya sudah masuk ke dalam darah, tidak seorangpun bisa hidup sampai duabelas jam lagi.”

Semua orang itu, karena sudah menyaksikan sendiri jarum- jarum yang dikeluarkan dari badan mereka maka tidak lagi yang merasa curiga terhadap keterangannya, satu sama lain memandang dengan tanpa banyak bicara. Yap It Peng menarik napas perlahan dan berkata, “Waktu sudah tidak pagi lagi kau sadarkan dulu mereka, nanti kita bicara lagi.”

Ang Thian Gie berkata sambil tersenyum, “Untuk menyadarkan mereka, sangat mudah sekali, tetapi sebelum aku menyadarkan mereka lebih dulu aku perlu memberi makan racun yang keras kepada mereka, karena nama besar dari lima orang jago daerah Tiong-goan pada tiga puluh tahun yang lalu, sudah menggemparkan dunia rimba persilatan, dan hari ini tiga puluh tahun kemudian kurasa kepandaian dan kekuatan kalian, pastilah lebih tinggi dan lebih hebat, aku tahu bahwa kekuatanku sendiri tidak mampu melawan kekuatan kalian berlima, tetapi kalau mereka sudah termakan racunku, maka aku tidak merasa perlu khawatir lagi.

Yap It Peng mengawasi pemuda-pemuda itu sejenak, lalu diam.

Sudah tiga puluh tahun lamanya ia tidak pernah bertemu muka dengan empat saudara angkatnya itu sehingga tidak tahu sama sekali penghidupan mereka selama ini, untuk sementara agak sulit untuk mengambil keputusan, ia menatap wajah keempat saudara angkatnya seolah-olah ingin mencari keterangan darinya.

Sebaliknya dengan sebelas pemuda itu, setiap orang menantikan dengan sikap serius tetapi tidak menunjukkan sesuatu reaksi yang mereka itu ada setuju atau tidak terhadap usul Ang Thian Gie tadi.

Sementara itu Yap It Peng diam-diam telah berpikir, “Ang Thian Gie adalah seorang ahli berbagai jenis racun sehingga di kalangan Kang-ouw mendapat gelar orang tua beracun tangan seribu, siapapun yang mendengar nama itu akan lari jauh- jauh, empat saudara angkatku ini sudah makan obatnya, mati atau hidupnya sudah ditangannya, maka sebaiknya aku menerima baik usulnya, biar ia hidupkan dulu mereka, nanti kita bicarakan lagi.” Setelah itu ia pun berkata, “Biarlah aku yang memutuskan untuk menerima baik usulmu, tetapi kau harus menyerahkan lebih dulu obat pemunah racunnya kepadaku… ”

Ang Thian Gie bersenyum lalu berkata, “Aku selamanya tidak pernah mengingkari janjiku sendiri, apa yang pernah kusanggupi tidak nanti aku tidak tepati, saudara Yap kau begitu tidak percaya kepadaku, sesungguhnya terlalu memandang rendah kepribadianku.”

“Aku sudah terkena racunmu, dan empat saudara angkatku itu juga sudah makan obatmu jikalau aku tidak percaya dan memandang kedudukanmu di kalangan Kang-ouw, bagaimana aku menerima baik usulmu tadi itu?”

“Tentang empat orang saudara angkatmu makan obatku toch kau sudah menerima baik lebih dahulu apakah kau masih perlu menyesalkan aku?”

“Tetapi saudara Ang, perbuatanmu memasukkan racun ke dalam badanku mengapa tidak kau beritahukan lebih dahulu?”

“Saudara Yap toch sudah tahu bahwa aku sudah lama terkenal sebagal ahli racun, menurut peraturan rimba persilatan sebelum menggunakan racun, tidak perlu memberitahukan lebih dahulu, apakah dalam hal ini kau juga hendak menyalahkan aku?”

“Bukan maksudku hendak menuduh, tetapi dengan kedudukan saudara Ang, di kalangan Kang-ouw, perbuatan semacam ini seolah-olah kau hendak menggunakan keahlian itu untuk menekan orang, dan sekarang kau bahkan merasa bangga dengan keahlianmu ini, tetapi bagi aku orang sep… ”

Ang Thian Gie yang mendengar ucapan itu mukanya menjadi berubah, ia lalu berkata sambil tertawa terbahak- bahak, “Menurut logikamu ini, maka nama julukan orang tua beracun tangan seribu yang diberikan kepadaku itu seharusnya dihapus? Hem! orang-orang di kalangan Kang- ouw, siapakah yang tidak tahu bahwa aku orang yang pandai menggunakan racun?”

“Itu memang benar namamu terkenal karena keahlianmu dalam berbagai racun, selama beberapa puluh tahun, kau telah menjagoi rimba persilatan, sehingga mendapat julukan itu, dan sahabat2 dari rimba persilatan yang mendengar namamu harus lari jauh-jauh…….. Tetapi kau kecuali, menggunakan racun, dalam hal ilmu kepandaian lainnya, barangkali sangat terbatas kepandaianmu, jikalau tidak demikian sudah tentu tidak perlu khawatir   terhadap kami… ”

Ang Thian Gie kibaskan tongkat bambunya dengan suara gusar ia berkata, “Apakah saudara Yap menghina kepandaian ilmu silatku? Mari kita coba2 beberapa jurus, aku ingin lihat berapa tingginya kepandaianmu.”

Yap it Peng berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Saudara Ang ingin bertanding dengan menggunakan kepandaian ilmu silat, ini sebetulnya merupakan sesuatu kejadian yang jarang tampak di kalangan Kang-ouw, cuma sebelum kita bertindak, lebih dulu kau harus menyadarkan dulu empat orang saudara angkatku itu kemudian kita boleh mengadu kekuatan ”

Ang Thian Gie memperdengarkan suara tertawanya yang aneh, tiba-tiba membelalakkan matanya, sambil mengetukkan tongkatnya di tanah ia berkata, “Kau ingin aku tidak menggunakan racun, bukankah itu suatu impian gila, hari ini perbuatanku terhadap kalian berlima sudah merupakan kekecualian dalam kebiasaanku, jikalau kau dalam segala hal ingin menggunakan peraturan terhadapku, maka aku tidak mau perdulikan lagi… ”

Wajah Yap It Peng berubah, diam-diam ia berpikir, jikalau orang tua itu pergi, bukan saja empat orang saudaranya tidak dapat disadarkan untuk selama-lamanya, tetapi anak muridnya empat saudara itu yang juga sudah terkena racun akan membawa akibat hebat bagi mereka.

Setelah agak sangsi sejenak tiba-tiba ia berkata dengan suara nyaring, “Bagainiana aku berani berlaku tidak aturan terhadapmu, hanya di dalam kalangan rimba persilatan kita harus mengutamakan kepercayaan dan kekesatriaan, jikalau saudara Ang tetap ingin menggunakan racun, maka jiwa ke empat orang saudara angkatku ini berarti semua berada di dalam tanganmu… ”

“Jikalau demikian ini berarti aku tidak mentaati peraturan dunia Kang-ouw lagi, saudara ingin menguji kepandaian ilmu silatku, dewasa ini barangkali waktunya kurang tepat, maaf aku tidak sanggup melajani.”

Yap It Peng sengaja berbicara sekian lama dengannya, maksudnya ialah hendak mengulur waktu untuk memberikan kesempatan bagi murid empat saudaranya berpikir, tetapi ketika menyaksikan semua anak murid itu masih diam saja ia lalu mengambil keputusan sendiri dan berkata, “Baiklah, berbuatlah menurut pikiranmu, tetapi ada suatu hal perlu aku menerangkan lebih dahulu, ialah setelah kau nanti menyadarkan empat saudaraku itu, usahakan supaya mereka tersadar benar-benar agar di antara kita lima semua saudara mempunyai waktu untuk berbicara secara sadar benar-benar.”

“Ini sudah tentu, kecuali itu masih ada perlu apa lagi?” “Jikalau lima saudara sudah menerima baik permintaanmu,

apakah kau akan segera memberikan obat pemunah kepada kita?”

Ang Thian Gie nampak berpikir sebentar, lalu berkata, “Aku juga ,mempunyai sebuah syarat, jikalau saudara Yap sungguh- sungguh jujur, lebih dulu kau harus memberitahukan kepadaku hafalannya ilmu silat itu, supaya aku mendapat kesempatan untuk membedakan hafalan itu tulen atau palsu, baru aku akan memberikan obat pemunah padamu.” “Baiklah kita tetapkan secara demikian.”

Ang Thian Gie meletakkan tongkatnya, ia mengeluarkan dua buah botol kecil, sebuah berwarna hijau sebuah lagi berwarna putih.

Ia mengangkat botol yang berwarna hijau dan berkata, “Botol ini dalamnya berisi obat bubuk paling berbisa yang pernah kugunakan, bagi orang biasa setelah makan racun ini dalam waktu seratus langkah orang berjalan, lalu mati dan mengeluarkan darah dari tujuh lobang anggota badan, tetapi saudara Yap, dan empat orang saudara angkatmu itu mempunyai ilmu kepandaian tinggi sekali, sudah tentu keadaannya lain asal kau bisa menutup sendiri jalan darahmu, supaya racun itu tidak sampai menyelinap dan merasuk ke dalam badan tidak akan menjadi halangan. Dan obat pel dalam botol putih ini, khasiatnya ialah khusus untuk memusnahkan racun itu tadi, setelah saudara Yap memberitahukan hafalan kepadaku, aku segera memberikan obat pemunahnya.”

Yap It Peng terkejut mendengar keterangan itu, ia berkata, “Sebelum empat orang saudaraku itu tersadar, kalau makan obat racun ini sudah tentu tidak tahu bagaimana harus menutup jalan darahnya sendiri, bukankah akan menjadi celaka?”

Ang Thian Gie tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Tentang hal ini, harap saudara Yap jangan khawatir, siang- siang aku sudah bersedia, obat bubuk ini aku masukkan ke dalam lapisan tipis, empat orang saudaramu itu setelah makan obatku asal mau mendengar perkataanku, jangan asal marah saja, dalam waktu setengah jam lapisan tipis itu tidak akan hancur, sehingga racunnya tidak bisa bekerja, akan tetapi jikalau bergerak sembarangan atau marah, ini berarti akan mendesak lebih cepat bekerjanya racun itu, jadi kalau ada apa-apa janganlah salahkan padaku.” “Kalau begitu, ternyata saudara Ang sudah lama merencanakan untuk menghadapi kita lima bersaudara?”

“Harap saudara Yap pikir dahulu masak-masak, aku tidak akan memaksa.”

“Biarlah aku yang mengaku kalah.”

Ang Thian Gie berjalan kesatu sudut di dalam ruangan kuil tua itu, menghampiri ke depan orang tua yang mengenakan pakaian berwarna lila, ia membuka botol warna putih, mengeluarkan sebutir pel lalu membuka mulut orang tua itu dan memasukkan pel itu ke dalam mulutnya, tangan kanannya meraba-raba ke duabelas bagian jalan darah di sekujur badan orang tua itu.

Ia bekerja cepat sekali, dalam waktu sebentaran saja, empat orang tua yang duduk berpencaran di empat sudut itu masing-masing sudah diberi pel dan ditutup jalan darahnya, kemudian ia berjalan ke depan Yap It Peng, lalu duduk ber- hadap2an untuk mengatur pernapasannya.

Ia sudah mengeluarkan banyak tenaga kepada empat orang tua itu hingga mukanya sudah menunjukkan tanda- tanda kelelahan.

Keadaan dalam ruangan kembali menjadi sepi sunyi, meskipun disitu ada sembilan belas orang yang duduk tetapi tidak terdengar suara apa-apa.

Kira beberapa waktu kemudian, empat orang yang duduk diempat sudut itu, badannya nampak mendadak bergerak kemudian membuka mulut dan menarik napas panjang.

Beberapa puluh pasang mata, semua ditujukan kepada orang tua itu, tetapi orang itu setelah menarik napas, kembali duduk ke dalam seperti biasa.

Ang Thian Gie kemudian bangkit dan berkata, “Sebentar lagi obat yang kuberikan kepada mereka akan hilang kekuatannya.” Setelah itu kembali ia mengeluarkan empat rupa butir pel dari botol warna hijau, lalu dimasukkan ke mulut empat orang tua itu, setelah itu ia balik ke depan Yap It Peng dan berkata padanya sambil tertawa, “Sebentar saudara Yap juga makan sebutir.”

Yap It Peng berkata sambil tertawa, “Aku sudah terkena racunmu, apakah masih perlu makan racun lagi?”

“Racun yang berada dalam badanmu, memerlukan waktu beberapa jam lagi baru bekerja, kalau dibanding dengan racun ini bedanya jauh sekali, jikalau empat orang saudaramu itu nanti sadar, saudara Yap lalu memaksa aku memberikan obat pemunah, maka aku nanti akan sulit untuk memberi perlawanan, ini akan berakibat besar bagiku.”

Yap It Peng menyambut obat dari tangan Ang Thian Gie, lalu berkata sambil tertawa, “Begini saudara Ang baru merasa lega bukan?”

Ang Thian Gie berkata sambil tersenyum, “Jikalau saudara Yap menyembunyikan obat itu ke dalam mulut dan tidak ditelan, maka lapisannya akan menjadi lamer dengan cepat, hal ini bagi saudara Yap sendiri ada jahatnya dan tidak ada baiknya, aku terangkan lebih dahulu, kau mau percaya atau tidak, itu bukan urusanku lagi.”

Yap It Peng menjawab sambil tersenyum, “Terima kasih atas petunjukmu.”

Diam-diam ia menggunakan lidahnya untuk menjilat pel yang berada dalam mulutnya, benar saja ada rasa manisnya, hingga ia tahu bahwa ucapan orang tua itu tidaklah bohong.

Sementara itu Ang Thian Gie menatap mukanya dengan tanpa berkesip, sehingga sulit baginya untuk mengeluarkan pel itu dari mulutnya.

Selagi berada dalam kesulitan, dari antara anak murid empat orang saudaranya itu mendadak terdengar suara pukulan nyaring, kemudian disusul oleh suara orang memaki, “Kenapa kau memukul orang?”

Terdengar pula suara jawaban orang, “Apakah matamu buta, di waktu kau menyelonjorkan kaki, kenapa matamu tidak melihat sehingga menendang badanku?”

Ang Thian Gie dengan tanpa sadar berpaling ke arah suara ribut2 itu, kesempatan baik itu digunakan oleh Yap It Peng, cepat sekali ia muntahkan pel yang berada dalam mulutnya lalu disimpan ke dalam sakunya, setelah itu ia baru dapat melihat bahwa orang yang bertindak memukul orang tadi adalah muridnya sendiri, Siang-koan Kie, kini ia baru tahu bahwa murid itu memang sengaja menimbulkan kacau, untuk mengalihkan perhatian Ang Thian Gie, sehingga dalam hatinya dia memuji kecerdikannya murid itu……..

Saat itu tiba-tiba terdengar suara tarikan napas panjang dari orang tua yang mengenakan pakaian warna lila, yang kemudian membuka matanya.

Setelah berada dalam keadaan tidak ingat diri selama satu hari satu malam, ketika tersadar ingatannya masih belum pulih kembali, ia terkejut waktu membuka mata dan menyaksikan di hadapannya duduk begitu banyak orang.

Yap It Peng kemudian berkata sambil tersenyum, “Apakah jietee masih mengenal saudaramu ini? Dahulu oleh karena suatu kesalahan kecil telah menyebabkan kita lima orang bersaudara selama tiga puluh tahun seperti orang lain, untuk ini aku terus merasa tidak tenang, juga pernah mencari jejak kalian, tetapi pertama sebab tempat kediaman kalian tidak menentu, sehingga tidak mudah diketemukan, dan kedua kalian masing-masing sudah berhasil dalam usaha sendiri- sendiri, sehingga semua sudah berhasil mendapat kedudukan baik, hanya saudaramu ini… ”

Saat itu terdengar pula suara tarikan napas panjang, seorang tua dilain sudut berkata, “Kejadian pada tiga puluh tahun yang lalu bagaikan impian, kalau diingat kita semua masih merasa sedih, kita berempat sejak memutuskan hubungan persaudaraan dengan toako, selama itu tidak satu saat tidak memikirkan diri toako, waktu itu meskipun karena sedikit salah faham, sehingga tali persaudaraan kita telah putus, tetapi setahun kemudian, dalam hati kita timbullah rasa penyesalan kita berempat lalu pergi ketempat dimana kita dulu mengikat persaudaraan itu, kita saling berjanji, sebelum kita bertemu muka dengan toako diantara kita berempat, juga tidak akan saling berhubungan, siapa tahu jejak toako susah dicari, sehingga kesalahan faham itu telah menciptakan suatu kesedihan antara kita selama tiga puluh tahun. Kita masih ingat tatkala kita berpisah dengan toako kita semua masih merupakan anak-anak muda, tetapi sekarang rambut kita sudah putih semua, sekalipun saudara kita yang kelima juga sudah lanjut usianya.”

Dari lain sudut dua orang tua yang masing-masing berpakaian kuning telur dan biru muda berkata, “Apakah toako selama ini baik-baik saja?”

Keduanya lalu mengangkat tangan memberi hormat kepada Yap It Peng.

Yap It Peng membalas hormat dan berkata dengan suara rendah, “Selama tiga puluh tahun ini saudaramu ini selalu merasa tidak tenang dan merasa malu terhadap saudara sekalian, kalau mengingat keadaan sewaktu kita sama-sama belajar ilmu silat dari orang tua itu, sikap orang tua itu sengaja mengatur berbagai cara yang sangat misteri maksudnya sedikit banyak menimbulkan kecurigaan. Sayang waktu itu aku agak lalai sehingga tertipu olehnya dan kemudian bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ilmu kepandaian yang kupelajari, hal ini telah mengakibatkan kita lima saudara saling curiga dan akhirnya memutuskan perhubungan ” Ang Thian Gie mendadak berkata sambil tertawa dingin, “Waktu sudah akan sampai kelapisan tipis untuk pembungkus racun itu, sudah akan lumer.”

Wajah Yap It Peng nampak sedikit berubah, tetapi sebentar kemudian sudah pulih seperti biasa, ia bersenyum hambar dan berkata, “Tadi aku sudah berkata kepadamu setelah empat orang saudaraku ini tersadar, harus memberikan waktu kepada kita untuk berbicara.”

“Saudara Yap kau lebih baik menceritakan kepada empat orang saudaramu apa yang telah kita janjikan, beritahukan dulu kepadaku hafal ilmu silatnya, dan aku nanti akan memberikan obat pemunah racunnya, setelah kalian makan obat pemunah itu, kita boleh bicara tanpa khawatir lagi.”

Empat orang tua itu dengan serentak berpaling ke arah Ang Thian Gie, orang tua berbaju lila yang sadar paling dahulu berkata dengan nada suara dingin, “Aku kira siapa, ternyata adalah orang tua beracun tangan seribu Ang Thian Gie yang kenamaan itu… ”

Ang Thian Gie lalu berkata, “Bisa saja kau, hari ini aku merasa beruntung dapat bertemu dengan lima jago daerah Tiong-goan yang namanya menggemparkan dunia rimba persilatan, aku merasa sangat gembira sekali cuma,

julukan siaotee orang tua beracun tangan seribu juga tidak sia-sia diberikan orang padaku, tuan-tuan sekalian yang ada disini, semua sudah makan racunku yang akan mengakibatkan kematian dalam waktu seratus langkah, kecuali obat pemunahku, dalam dunia persilatan pada dewasa ini, barangkali sudah tidak ada bandingnya yang bisa memunahkan racun itu.”

Seorang tua berbaju putih berkata dengan suara gusar. “Jangan   berkata   akan   mati   dalam   seratus   langkah,

sekalipun sepuluh langkah, apakah yang takutkan? Apakah kau kira lima orang jago daerah Tiong-goan semua adalah orang-orang yang takut mati?”

Sehabis berbicara demikian kemudian ia lantas bangun berdiri.

Tiga orang tua yang masing-masing duduk dilain sudut, juga marah semua, mereka berdiri sambil mengawasi Ang Thian Gie, agaknya sudah ingin segera bertindak.

Ang Thian Gie khawatir bahwa empat orang itu benar- benar akan bertindak terhadap dirinya, sehingga diam-diam sudah siap sedia sambil mengawasi Yap It Peng ia berkata dengan suara rendah, “Jika mereka bertindak menyerangku maka jangan sesalkan kalau aku tidak menepati janjiku.”

Yap It Peng dengan bergiliran mengawasi empat saudaranya, lalu berkata, “Saudara-saudara silakan duduk dulu untuk mengatur pernapasan, jikalau merasakan apa-apa yang tidak beres, lekaslah tutup jalan darahmu.”

Empat orang tua itu semua mengawasi diri Ang Thian Gie dan berkata, “Ang Thian Gie kau harus hati2, jikalau kita merasakan adanya racun di dalam tubuh kita jangan harap kau bisa keluar dari sini dalam keadaan hidup.”

Yap It Peng menarik napas panjang, perlahan-lahan mengangkat tangan kanannya lalu mengulurkan satu jari tangannya seraya berkata, “Ang Thian Gie, lihatlah jurus pertama dari ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang dinamakan pena melajang menggapai sukma… ”

Semua mata orang yang ada disitu, ditujukan kepada diri Yap It Peng untuk menyaksikan sikapnya.

Ang Thian Gie perdengarkan suara batuk-batuk, sinar matanya menyapu kesemua sudut dalam ruangan itu.

Yap It Peng mendengar suara batuk-batuk Ang Thian Gie, segera mengerti apa maksudnya, maka lalu berkata, “Saudara Ang silahkan kemari untuk mendengarkan hafalannya.” Ang Thian Gie berpaling mengawasi empat orang tua itu sejenak, lalu berjalan menghampiri Yap It Peng, kemudian duduk disampingnya sambil memasang telinga.

Cepat sekali Yap It Peng sudah membacakan tiga jurus hafalan ilmu silat itu. Ang Thian Gie yang mendengarkan terus angguk-anggukkan kepalanya.

Ang Thian Gie sudah mempunyai kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi, setelah mendengarkan hafalan itu, segera dapat merasakan bahwa ilmu silat ini sesungguhnya jauh berbeda dengan ilmu silat lainnya.

Yap It Peng setelah mernbacakan tiga hafalan itu lalu berkata, “Ilmu silat Hong-mo-ciang-hoat ini kita lima orang bersaudara setiap orang cuma belajar beberapa jurus saja, apa yang kuketahui dan kupelajari hanya cuma tiga jurus ini, jikalau kau merasa bahwa hafalan ini bukanlah bikinanku sendiri, harap kau suka menyerahkan obat pemunah biar empat saudaraku itu makan dulu obat pemunah itu barulah aku nanti akan meminta mereka mengajarkan hafalannya kepadamu.”

Ang Thian Gie diam-diam berkata kepada diri sendiri memang benar, Chungcu juga pernah berkata bahwa ilmu silat ini adalah warisan dari seorang tua yang tidak tahu namanya, sebab orang tua itu tidak bisa berdiam lebih lama di kediaman lima orang jago itu, maka lima orang jago itu dipanggil kehadapannya, lebih dulu ia sendiri mempertunjukkan dua jurus kepada lima diago itu, dan kemudian menanyakan kepada mereka ingin mempelajarinya atau tidak.

Waktu itu nama lima orang jago itu sudah menggemparkan dunia Kang-ouw, kepandaian mereka itu semuanya sudah termasuk kepandaian orang-orang kelas satu dalam rimba persilatan, tetapi ketika menyaksikan dua jurus ilmu pukulan yang dimainkan oleh orang tua tak bernama itu, lalu merasa tertarik sehingga masing-masing menyatakan ingin belajar. Orang tua itu setelah mengetahui mereka ingin belajar, ia sendiri lalu bersembunyi ke dalam sebuah kamar, agar lima orang itu satu persatu untuk diberi pelajaran ilmu silat itu secara terpisah.

Itu disebabkan karena ilmu silat terlalu aneh, siapa saja tidak dapat mempelajari seluruhnya dalam waktu yang pendek, justru ia sendiri karena masih ada urusan penting tidak dapat berdiam lebih lama, maka diturunkan pelajaran itu secara terpisah kepada lima saudara itu……..

Ang Thian Gie setelah lama berpikir baru berkata lagi, “Saudara Yap kau sudah menepati janjimu, sudah tentu aku percaya perkataanmu.”

Setelah itu dia lalu memberikan botol warna putih kepada Yap It Peng.

Yap It Peng sebaliknya malah tidak menduga bahwa Ang Thian Gie berlaku begitu royal maka ia lalu menyambuti botol yang diberikan kepadanya itu.

Ia baru saja menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Ang Thian Gie memasukkan obat racun kepada empat saudaranya sehingga mereka tersadar dari tidurnya, maka ia tak sedikitpun merasa curiga terhadap obat yang diberikannya kepadanya itu.

Ia mengambil empat butir pel dari dalam botol itu diberikan kepada empat saudaranya seraya berkata. Saudara Ang ini di dalam rimba persilatan adalah seorang yang mempunyai kedudukan baik dalam soal obat pemunah ini, aku juga menyaksikan kalian makan dalam pel ini. Sudah tentu tidak ada yang mencurigakan, kuharap saudara-saudara lekas makan supaya aku juga boleh merasa lega……..

Empat orang tua itu mengawasi Yap It Peng sambil tersenyum lalu menelan obat yang diberikannya tadi. Yap It Peng menutup botol dan bertanya, “Saudara Ang, apakah pel ini benar-benar dapat memunahkan racun dalam diri mereka?”

Meskipun ia sendiri baru saja menyaksikan Ang Thian Gie menggunakan obat ini untuk menyadarkan keempat orang saudaranya, tetapi ia masih merasa agak sangsi, maka mengajukan pertanyaan demikian.

Ang Thian Gie lalu berkata, “Kalau saudara Yap masih merasa curiga terhadapku, itu apa boleh buat……..

Yap It Peng berkata, “Bukan aku merasa curiga, tetapi sesungguhnya karena urusan ini sangat penting, aku belum merasa lega sebelum mendapat kepastian.”

Tetapi ketika ia mengawasi wajah empat orang saudaranya nampaknya mulai segar sehingga hatinya merasa lega.

Ang Thian Gie berkata dengan nada suara tinggi, “Persoalan saudara Yap, yang ingin aku lakukan telah selesai dan ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang, juga seharusnya kau turunkan semuanya padaku.”

Yap It Peng berkata, “Saat ini obat mereka belum berjalan, barangkali masih susah memberi pelajaran. Lima orang jago daerah Tiong-goan, selamanya belum pernah mengingkari janji. Aku sudah menerima baik permintaanmu, tidak nanti kuingkari.”

Orang yang berbaju putih tiba-tiba membuka mata dan bertanya, “Toako, obat apakah yang diberikan oleh orang tua beracun itu tadi, agaknya sedikit tidak beres?”

Yap It Peng menjawab sambil tertawa, “Jietee jangan khawatir, aku tadi sudah menyaksikan sendiri ia telah menyadarkan saudara berempat dengan obat ini, mungkin obat yang manjur rasanya agak pahit, sebab selama obat itu sedang berjalan bisa menimbulkan rasa tidak enak” Orang tua berbaju putih itu agaknya percaya benar kepada Yap It Peng maka ia kemudian tersenyum dan kemudian memejamkan matanya tidak berkata apa-apa lagi.

Tiga orang tua yang lainnya masing-masing membuka mata mengawasi Yap It Peng sejenak kemudian memejamkan lagi matanya.

Ang Thian Gie agaknya merasa tidak sabar berkata dengan suara keras, “Yap It Peng ucapanmu masih berlaku atau tidak?”

Orang tua yang berpakaian putih itu sekonyong-konyong membuka matanya dan berkata dengan suara gusar, “Ang Thian Gie, kau lancang mulut, apakah ingin mencari penyakit? Hem! apakah Yap It Peng boleh kau panggil begitu saja? Lima orang jago dari daerah Tiong-goan seumur hidupnya belum pernah membohong, bagaimana mau menjual kepercayaannya kepada dirimu?”

Ang Thian Gie berkata dengan suara dingin, “Aku tadi sudah berjanji dengan saudaramu, dia akan menurunkan pelajaran ilmu Hiang-mo-sip-sam-ciang kepadaku dan aku akan memberikan pel penawar racun kepadanya untuk menghilangkan racun dalam tubuh kalian berempat, sekarang aku sudah berikannya kepadanya, tetapi saudara Yap hendak mengulur waktu, tidak mau menurunkan pelajaran itu kepadaku, apakah ini bukan berarti suatu penipuan terhadap diriku?”

Orang tua berbaju putih itu tercengang, ia berpaling dan berkata kepada Yap It Peng, “Toako apa ucapannya itu benar?”

Yap It Peng menarik napas panjang dan berkata, “Untuk

,menolong jiwa saudara berempat, aku telah terima baik permintaannya dengan memberikan pelajaran silat Hiang-mo- sip-sam-ciang untuk ditukar dengan pelnya penawar racun… ” “Kalau toako sudah menerima baik permintaannya, sudah tentu kita tidak dapat mengingkari janji.

“Ada suatu rahasia yang kusimpan di dalam hati selama beberapa puluh tahun, belum kuceritakan kepada kalian… ”

Orang tua berbaju lila menyela, “Persoalan yang sudah lalu, sebaiknya jangan dibicarakan lagi.”

Yap It Peng berkata sambil tersenyum, “Aku merasa sangat girang mendapat tahu bahwa kalian berempat telah mengerti keadaanku, tentang urusan ini jika tidak kukatakan aku tetap merasa tidak tenang walaupun aku harus melanggar sumpahku sendiri. Tetapi rasanya adalah lebih baik kalau hal itu kujelaskan… ”

Ia berhenti sejenak kemudian berkata, “Pada tiga puluh tahun berselang ketika orang tua tak bernama yang sengaja memisahkan kita berlima dengan maksud hendak mengajarkan ilmu silatnya yang luar biasa kepada kita, waktu itu meski dalam hatiku merasa heran tetapi karena tertarik oleh perasaan ingin tahu, kuterima baik permintaannya, kupikir dengan nama besar yang dikenal pada kala itu, sudah tentu tidak dapat dibandingkan dengan segala manusia rendah dalam kalangan Kang-ouw, kiranya ia juga tidak berani menipu kita, apalagi persoalan semacam ini dapat segera diketahui ilmu silat itu benar-benar atau palsu, siapa tahu yang telah mengusulkan suatu cara yang memberikan pelajaran secara satu persatu dengan gerak tipunya yang berlainan, menurut keterangan ilmu silat itu adalah suatu kepandaian paling hebat dalam rimba persilatan dengan tenaga seorang saja ilmu silat yang terdiri dari tigabe1as jurus itu tidak mungkin dipelajari seluruhnya dalam waktu beberapa tahun yang sangat singkat, maka barulah ia mencari kepada kita dan ilmu silat itu diturunkan kepada kita lima orang secara berlainan. Waktu itu aku tertarik oleh teorinya itu, dengan tanpa berunding dengan kalian berempat lebih dulu aku sudah menerima baik permintaannya. Lebih dulu aku yang dipanggil masuk ke dalam kamar, setelah menurunkan pelajarannya satu jurus, tiba-tiba saja ia berhenti dan menyuruhku melakukan sumpah berat, berjanji selama hidupku tidak boleh mengatakan kepada orang lain tentang dirinya yang memberi pelajaran ilmu silat kepadaku. Sebab gerak tipu itu terlalu ampuh, dan aku tertarik oleh keanehannya itu, maka itu aku bersumpah tanpa pikir lagi, sehingga tanpa sengaja menanam bibit percideraan diantara kita lima saudara sendiri.”

Keempat orang tua itu mendengarkan penuturan tersebut dengan mata terbuka lebar, kemudian mereka berkata serentak, “Ketika orang tua tanpa nama itu memberi pelajaran kepada kita, keadaannya juga serupa seperti apa yang toako ceritakan tadi, hanya… ”

Entah apa sebabnya empat orang itu menutup mulut dengan serentak.

Jap It Peng rnenghela papas dan berkata, “Entah pelajaran apa yang diturunkan kepada kalian berempat itu? Tetapi yang diturunkan kepadaku hanya… ”

Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari mulutnya orang tua yang mengenakan baju kuning telur, kemudian muntahkan darah di hidung.

Yap It Peng lalu bertanya kepada Ang Thian Gie sambil mengerutkan keningnya, “Apakah obat penawar ini tidak salah?”

“Obat penawar racunku ini adalah obat yang sangat manjur……..” jawab Ang Thian Cie sambil menggelengkan kepala.

Sementara itu terdengar pula beruntun-runtun suara jeritan orang tua berbaju biru muda, lila dan putih, masing-masing sudah menyemburkan darah dari mulutnya.

Wajah Ang Thian Cie berubah seketika, ia segara melompat bangun. Orang tua yang mengenakan baju putih mendekap dadanya seraya berkata, “Toako kita semua telah tertipu oleh Ang Thian Gie………”

Yap It Peng gusar sekali, sambil mengeluarkan bentakan keras ia melompat melesat dan menyerang Ang Thin Gie.

Bersamaan pada saat Yap It Peng lompat menyerang Ang Thian Gie, duabelas pemuda itu juga berdiri semuanya, hendak merintangi berlalunya Ang Thian Gie.

Dengan tongkat bambunya Ang Thian Gie mengadakan perlawanan, setelah berhasil mendesak mundur empat orang pemuda itu, dengan cepat ia lari keluar.

Siang-koan Kie telah ,menyaksikan semua orang sudah bertindak, ketika hendak berdiri tiba-tiba terdengar suara gedebukan, duabelas pemuda itu hampir serentak roboh di tanah.

Ia adalah seorang cerdik ketika menyaksikan keadaan demikian, tidak berani lagi mengerahkan tenaganya, lalu merebahkan diri di antara orang banyak.

Empat orang tua yang duduk di empat sudut, dengan mendadak semua berdiri, sambil mendekap perut dengan kedua tangannya dan mata terbuka lebar mereka lari keluar, tetapi baru berjalan empat lima langkah, bersama roboh di tanah, darah menyembur keluar dari mulut masing-masing.

Yap It Peng yang tidak berhasil menyerang Ang Thian Gie, selagi hendak mengejar keluar, telah dikejutkan oleh kejadian yang mengerikan itu sehingga ia berdiri tertegun bagaikan patung.

-odwo-

Bab 3 MENYAKSIKAN empat saudara angkatnya beserta duabelas muridnya dan muridnya sendiri yang tersayang Siang-Koan Kie, semua telah roboh dalam ruangan kuil tua itu, Yap It Peng merasa ditusuk oleh pedang tajam. Walaupun ia sudah lama berkelana di dunia Kang-ouw dan mempunyai keteguhan hati bagaikan baja, tak terasa juga masih mengeluarkan air mata.

Ia lalu berkata kepada dirinya sendiri, “Empat saudaraku beristirahatlah dulu, sebelum racunku bekerja aku hendak menggunakan sisa tenagaku untuk mengejar dan membunuh Ang Thian Gie, aku nanti akan sodorkan bangkai Ang Thian Gie di hadapan arwah kalian, setelah itu aku nanti akan bunuh diri untuk menyusul kalian berempat.”

Sehabis berkata demikian ia lalu keluar.

Kekacauan telah berlalu, dalam ruangan itu kembali menjadi sunyi.

Angin malam menutup sinar lilin dalam ruangan, menyinari tujuh belas bangkai manusia yang berserakan di tanah.

Sementara itu Siang-Koan Kie diam-diam mengeluarkan napas lega, dalam hatinya berpikir duabelas pemuda ini, berbareng terkena jarum racun dengan aku, mengapa racun dalam tubuhku tidak bekerja sedang mereka sudah rubuh semua? Apa barangkali karena mereka gusar dan mengerahkan tenaganya, sehingga racun itu bekerja lebih cepat?”

Selagi pikirannya masih bekerja matanya tiba-tiba dapat melihat seorang pemuda yang berbaju lila yang berada beberapa kaki depannya, kaki dan tangannya bergerak-gerak, dalam herannya diam-diam lalu berpikir: apakah mereka semua seperti aku masih belum mati?

Ia lalu berdiam tidak bergerak untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak berapa lama pemuda yang menggerakkan kaki tangannya itu mendadak bangun dan duduk, kedua tangannya menepuk tiga kali.

Mendengar tepukan tangan itu tiga pemuda lain yang berlainan warna pakaiannya, telah bangun dan duduk.

Siang-Koan Kie diam-diam berkata sambil menghela napas, “Benar saja di antara anak murid empat susiok, ada yang bertindak sebagai mata-mata… ”

Keempat pemuda itu masing-masing mengucapkan kata- kata rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka, kemudian pemuda yang berpakaian warna putih lalu bangkit dan berkata dengan suara perlahan, “Apakah suheng bertiga semua datang dari Heng-hoa-po?”

Tiga pemuda berpakaian warna lila, kuning dan biru, juga bangkit dan menjawab, “Benar, apakah suheng orang she Tan?”

Pemuda baju putih itu dengan sinar matanya yang tajam menyapu bangkai orang-orang itu sejenak, kemudian menjawab sambil tertawa, “Siaotee Tan It Cie, apa kau sutee bertiga sudah berhasil mempelajari ilmu silat Hiang-mo-sip- sam-ciang?”

Tiga pemuda itu menjawab dengan sikapnya yang menghormat, “Kita telah berusaha segenap tenaga dan menggunakan waktu tiga tahun, tetapi hanya dapat mencari belajar tiga jurus saja… ”

Tan It Cie bersenyum lalu berkata, “Jurus pertama dari ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang itu apakah bukan bernama pena melajang menggapai sukma?”

Tiga pemuda itu nampak berpikir sejenak lalu menjawab, “Benar.”

“Im dan Yang bersatu, bukankah itu nama jurus kedua?” Tiga pemuda itu berpikir agak lama, baru menjawab dengan serentak juga “betul”.

“Dan jurus ketiga bukankah bernama kuda terbang di angkasa?”

Tiga orang itu menjawab sambil serentak, “Kepandaian suheng tinggi sekali, tiga jurus yang kau sebutkan itu, tidak satupun yang salah.”

“Kecuali tiga jurus itu, apa sutee bertiga pernah melihat jurus keempat?”

Tiga pemuda itu menjawab dengan serentak, “Sudah tiga tahun lamanya kita mencoba mengintai, tetapi Supoh belum pernah melatih jurus keempat, tetapi tiga jurus yang suheng sebutkan di atas tadi, sering melihatnya.”

Tan It Cie tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Lantaran tiga jurus gerak tipu suatu ilmu silat, kita empat orang telah menghamburkan waktu sampai empat tahun, kalau bukan lantaran supoh setahun yang lalu diam-diam memanggil, dan mengatakan bahwa ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang itu mungkin cuma mempunyai tiga jurus gerak tipu, yang diturunkan kepada lima jago daerah Tiong-goan, maka aku sendiri juga terpedaya oleh lima jago itu, bahkan aku masih mengira bahwa perbuatanku yang mengintai itu telah diketahui, sehingga tidak mau melatih jurus keempat… ”

Tiga pemuda baju lila, biru dan kuning itu saling memandang sejenak, lalu berkata, “Tindak tanduk supoh, selalu dirahasiakan, kita berempat meski sama-sama diutus pura-pura menjadi muridnya lima orang jago daerah Tiong- goan, untuk mempelajari ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang, sehingga empat tahun lamanya, tapi satu sama lain tidak saling mengenal. Jangankan lima jago itu, sedangkan kita sendiri, juga tidak tahu siapa di antara muridnya yang menjadi utusan oleh supoh untuk mencuri belajar ilmu silat tersebut. Kata-kata rahasia yang diberikan kepada kita, ternyata telah berguna dalam kuil tua ini, maka untuk dewasa ini, dalam dunia Kang-ouw mungkin tidak ada seorangpun yang demikian rapi rencananya.”

Tan It Cie berkata sambil ketawa, “Kepandaian supoh bukan cuma itu saja, dari tempat ribuan lie jauhnya, beliau dapat melihat setiap gerak gerik kita, bahkan dapat tahu bahwa ilmu silat tersebut cuma ada tiga jurus gerak tipu; ini telah terbukti dari ucapan tiga sutee tadi sendiri, serta apa yang kita berempat telah saksikan, ternyata tiga jurus gerak tipu itu adalah bersamaan. Dengan demikian, hingga ucapan supoh itu sedikitpun tidak salah.”

Pemuda berbaju lila itu menanya, “Benarkah ucapan suheng ini?”

Pemuda itu meskipun tidak percaya seluruh keterangan Tan It Cie tadi, tetapi ia tidak berani membantah, sehingga perlu mengajukan pertanyaan demikian.

“Tadi ketika Yap It Peng memberi pelajaran hafalan kepada Ang Thian Gie, jurus pertama diucapkannya dengan suara nyaring, ternyata juga Pena melajang menggapai sukma, dan hafalan ini kita semua sudah sangat hafal sekali, sudah tentu tidak bisa salah lagi!” berkata Tan It Cie.

“Benar! ucapan itu aku juga mendengar nyata.” berkata pemuda baju lila itu.

Tan It Cie bersenyum, katanya pula, “Tetapi Yap It Peng tadi telah berkata bahwa orang tua tak bernama itu dulu waktu memberi pelajaran kepada lima jago itu, diberikannya secara bergiliran di dalam kamar, tetapi kini ternyata bahwa jurus pertama yang dipelajari oleh lima jago itu, sebetulnya adalah serupa, kalau orang tua tak bernama itu tidak bermaksud sengaja hendak menyesatkan lima orang jago agar mereka saling cakar sendiri, tentunya ia sendiri juga belum berhasil mempelajari seluruh ilmu silat Hiang-mo-sip-sam- ciang yang terdiri dari tigabelas jurus itu. Kalau ia memang benar menganggap kekuatan lima orang jago itu tidak mampu mempelajari ilmu silat tersebut seluruhnya dalam waktu singkat, sehingga perlu diberikan pelajaran secara terpisah, maka setiap orang yang dipelajarinya seharusnya berlainan. Tetapi apa yang mereka pelajari ternyata sama, maka aku berani pastikan, bahwa lima orang jago itu hanya mendapat pelajaran tiga jurus yang serupa itu saja.”

Pemuda berbaju kuning itu tiba-tiba menyela, “Entah apa sebabnya supoh tidak memerintahkan aku untuk tidak mempelajari ilmu silat lainnya, kecuali ilmu silat Hiang-mo-sip- sam-ciang itu saja?”

Tan It Cie berpikir sejenak, barti berkata, “Tentang ini aku belum pernah mendengar keterangan dari supoh, tetapi aku menduga tentunya mengandung maksud tertentu, mungkin ilmu silat Hiang-mo-sip-sam-ciang itu merupakan satu ilmu silat yang dapat menundukkan ilmu silat supoh sendiri!”

Siang-koan Kie yang pura-pura rebah di tanah, dapat mendengar dengan jelas pembicaraan empat orang pemuda itu, dalam hatinya diam-diam lalu berpikir, “Entah siapa orang yang mereka sebut sebagai supohnya itu?”

Pada saat itu, terdengar pula suara pemuda berbaju biru berkata, “Dalam surat perintah suhu itu, kita diminta melakukan pekerjaan apa lagi?”

Jawab Tan It Cie, “Dalam surat perintah supoh itu, kita disuruh lekas pulang setelah lima orang jago Tiong-goan itu meninggal dunia.”

Pemuda berbaju lila itu berkata, “Keadaan sekitar kuil tua ini meskipun sepi sunyi, tetapi kalau tigabelas bangkai manusia dibiarkan begitu saja, apalagi yang mati adalah lima orang jago Tiong-goan yang namanya masjhur di dalam rimba persilatan, pasti akan menerbitkan kegemparan; sebaiknya kita mencari rumput kering dan sebagainya, ditumpuk dalam kuil ini, lalu kita bakar sampai tidak meninggalkan bekas… ” Tan It Cie berkata sambil meng-geleng2kan kepala, “Dalam surat supoh itu, juga pernah menyebut soal ini, beliau menyuruh kita setelah menyaksikan kematian lima orang jago Tiong-goan itu, lalu berusaha memindahkan jenazah mereka kelain tempat yang ada orangnya, supaya kejadian yang menggemparkan dunia Kang-ouw ini, lekas tersiar luas di kalangan Kang-ouw. Tindakan supoh ini sudah tentu ada maksudnya, hanya, beliau adalah seorang luar biasa, kita tidak dapat menduga apa maksudnya.”

Pemuda berbaju kuning itu berkata sambil mengawasi bangkai-bangkai yang berserakan di lantai, “Entah orang- orang ini benar-benar sudah mati semuanya atau tidak? Apakah kita perlu melakukan pemeriksaan yang seksama lebih dulu, baru pergi?”

“Ucapan ini memang benar.” kata Tan It Cie yang kemudian memeriksa semua bangkai itu dengan sangat teliti.

Orang-orang yang sudah menjadi bangkai itu, kecuali Siang-koan Kie, semua mempunyai hubungan perguruan dengan empat pemuda itu. Diperiksanya satu persatu muka orang-orang yang sudah tidak bernyawa itu, semuanya pucat kuning, agaknya sudah lama mati, sedangkan empat orang tua yang berlainan warna pakaiannya itu, juga sudah tidak bernyawa lagi.

Siang-koan Kie menutup semua jalan darahnya, supaya tubuhnya dingin.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba pipinya dirasakan dua tamparan keras, lalu terdengar suara seorang memakinya, “Bocah ini adalah murid Yap It Peng.”

Kembali satu tamparan keras melajang di pipinya.

Terdengar pula suara seorang lain, “Bocah ini agaknya sudah mendapat warisan dari Yap It Peng… ” Seorang lagi berkata, “Dia sudah mampus, sekalipun mendapat warisan kepandaiannya Yap It Peng, apa gunanya? Mari kita lekas pergi… ”

Lalu terdengar suara gerakan kaki, empat pemuda itu sudah pergi.

Siang-koan Kie meski merasakan tamparan pipinya, tetapi ia masih menahan napas, tidak berani membuka mata. Ia mengerti apabila mereka mengetahui bahwa dirinya masih hidup, pasti tidak mau melepaskannya begitu saja.

Setelah mendapatkan kepastian bahwa empat pemuda itu sudah pergi, ia baru berani membuka mata.

Suasana di dalam ruangan masih sunyi, kecuali beberapa sosok bangkai, tidak terdengar suara apa-apa lagi.

Ia duduk dan menarik napas panjang, lalu mengamat-amati bangkai setiap orang, dengan pengharapan dapat menemukan salah satu yang masih hidup seperti dirinya sendiri……..

Dalam pikirannya, ia sendiri sudah terkena racun seperti juga para saudaranya dalam perguruan itu, walaupun pada saat itu ia masih belum binasa, tetapi juga tidak dapat hidup dua jam lagi. Karena berpikir demikian, terhadap soal kematiannya malah dianggap sepi.

Pelahan-lahan ia bangkit, lalu mengadakan pemeriksaan sekali lagi kepada setiap bangkai……..

Selesai melakukan pemeriksaan, ia telah mendapat kenyataan bahwa setiap orang benar-benar sudah tidak bernyawa, satu-satunya yang masih hidup, hanyalah ia sendiri.

Dengan mata sayu ia mengawasi keadaan di sekitarnya sejenak, keadaan dalam ruangan itu ternyata masih tidak berbeda dengan keadaan beberapa jam berselang. Tetapi selama beberapa jam itu, dalam ruangan kuil itu telah terjadi suatu perubahan besar, orang-orang yang tadi masih bernyawa, kini sudah menjadi bangkai semua……..

Meski ia beradat keras, tetapi berperasaan sedih menyaksikan kematian orang-orang yang pernah menjadi saudara atau para susiok dalam perguruan, perasaan duka memenuhi dadanya, airmata mengalir deras tak terkendalikan lagi.

Angin lembut meniup masuk, tubuhnya merasakan sedikit dingin, ketika ia menengok keluar pintu, dari ufuk Timur tertampak sinar kuning emas, ia tahu fajar telah menyingsing.

Diwaktu biasanya, pemuda yang penuh energi itu, setiap waktu menjelang pagi hari itu, pasti melakukan latihan penuh semangat, tetapi pagi itu, ia hanya dapat memandang arah ke timur sambil menarik napas panjang.

Cuaca mulai terang, di tempat yang agak jauh, tampak puncak gunung berwarna hijau. Ia masih berdiri tegak, memandangnya dengan mata sayu. Entah sejak kapan, sinar matahari yang menembus dari balik awan di sebelah timur, memancarkan sinarnya yang pertama, menyinari tangga batu kuil, sehingga tangga yang sudah mesum itu nampak berubah warnanya menjadi keemas-emasan.

Tetapi sinar matahari itu sedikitpun tidak menimbulkan perubahan perasaannya, sebab meski yang dihadapinya itu adalah sinar matahari pagi yang gilang gemilang, tetapi di belakang dirinya tangan maut melambai-lambai, setiap saat dapat merenggut jiwanya.

Ia tidak tahu apa yang harus diperbuat saat itu, juga tidak tahu ia bisa berbuat apa. Pikirnya, “Jenazah2 ini sebaiknya kukubur dahulu, supaya tidak terlantar.”

Ia balik kembali, selagi hendak mengangkat salah satu di antaranya dari jenazah bekas persaudaraan dalam perguruannya itu, dengan tiba-tiba, suara seruling samar- samar terdengar dari tempat jauh, kemudian disusul oleh bau harum bunga cempaka yang menusuk hidung.

Suara seruling itu sangat aneh, agaknya tertiup dari tempat jauh, suaranya tidak besar, tetapi iramanya terdengar tegas dan menyebabkan yang mendengarkan merasa tenang dalam menghadapi kematian.

Siang-koan Kie tergugah semangatnya oleh irama seruling itu, ketika hendak lari keluar untuk mencari dari mama datangnya irama seruling itu, suara seruling itu tiba-tiba terputus, seolah-olah menghilang tertiup angin.

Bau harum bunga cempaka yang sangat pekat, juga lenyap seketika.

Dalam hati Siang-Koan Kie sudah mempunyai perasaan bahwa dalam tubuhnya mengeram racun, dalam waktu satu dua jam pasti mati, sekonyong-konyong dia dapat suatu pikiran apabila semua jenazah orang-orang itu dikubur dan ia sendiri juga kemudian mati, maka kuburan semua orang itu mungkin akan menjadi rahasia terpendam untuk selama- lamanya. Maka sebaiknya dibiarkan di dalam ruangan, supaya mudah dilihat orang……..

Karena berpikiran demikian, ia tiada berniat untuk mengubur semua jenazah orang itu, perLahan ia meninggalkan kuil tua itu.

Timbul pula suatu pikiran aneh dalam otaknya. Andaikata ia sendiri bisa mati di pinggir jalan, bukan saja mudah dilihat oleh orang yang lewat dijalan tetapi juga mungkin sebelum ia mati bisa berjumpa dengan yang hendak pesiar ke tempat itu, sehingga dia dapat menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam kuil itu…….. supaya oleh orang itu disiarkan kepada dunia kang ouw, baik orang dari rakyat atau orang-orang Pemerintah, asal dapat menyiarkan peristiwa itu sudah cukup.

Diluar kuil terbentang luas tanah belukar, angin di musim kemarau meniup kencang, daun-daun pohon yang kering pada rontok, cuma beberapa tangkai pohon bunga seruni yang tumbuh di antara rumput hutan itu masih tetap memekarkan bunganya yang indah.

Ia sudah tidak mempunyai hati dan pikiran untuk menikmati pemandangan alam itu, keinginan satu-satunya ialah supaya lekas-lekas berjumpa dengan seseorang supaya ia dapat menceritakan peristiwa di dalam kuil itu.

Mendadak ia rasakan kakinya sangat berat, seolah-olah dibanduli oleh barang berat.

Ia berjalan menuju ke depan, tanpa tujuan juga tanpa arah, apa yang dipikir dalam hatinya ialah lekas menjumpai seorang hidup, karena ia tahu bahwa ia sendiri sudah tidak mempunyai kekuatan untuk menyiarkan kejadian tersebut.

Dalam gunung dan tempat belukar itu, di pagi buta seperti itu bagaimana ada orang datang? Maka ia berjalan sudah hampir tiga pal jauhnya masih belum menjumpai seorangpun juga.

Tiba-tiba ia merasakan goncangan jantung semakin keras sehingga dipikirnya racun dalam tubuhnya sudah mulai bekerja.

Sepasang kakinya mendadak juga merasa lemas, racun yang keras itu agaknya sudah menjalar kesekujur badannya……..

Godaan pada pikirannya sendiri itu, telah membuat runtuh semangatnya sendiri, perlahan-lahan ia duduk di pinggir jalan dan memejamkan matanya……..

Tiba-tiba ia merasakan darahnya menggolak, dengan tanpa sadar rebahkan diri dan kemudian tidur pules.

Entah berapa lama berlalu telinganya sayup-sayup terdengar suara seruling, ia mengucak-ucak matanya, lalu mendengarkan dengan saksama, didengarnya irama seruling itu seperti mengandung perasaan gembira, sehingga membangunkan semangat siapa yang mendengarkannya.

Perasaan ingin hidup telah timbul secara mendadak, lalu bangkit dan menggerak-gerakkan kakinya sebentar, kemudian berjalan menuju ke arah seruling itu dengan langkah lebar.

Irama seruling yang menggembirakan, membuatnya untuk sementara melupakan dirinya yang sudah kemasukan racun. Ia mencari suara seruling itu, dengan tanpa disadarinya tindakan kakinya dipercepat. Sebentar kemudian ia bergerak bagaikan terbang, kiranya dalam keadaan demikian dengan tanpa disadarinya ia sudah mengeluarkan ilmunya meringankan tubuh.

Suara seruling itu makin lama kedengarannya makin nyaring, agaknya terpisah tidak jauh dengan dirinya, iramanya yang mengalun-alun didengarnya sangat menawan hati……..

Sebentar kemudian ia sudah tiba di bawah tebing gunung yang tinggi.

Itu adalah sebuah puncak gunung yang tingginya seratus tombak lebih, tebingnya licin tajam, suara seruling itu datangnya dari tengah-tengah lamping gunung itu.

Siang-Koan Kie kerahkan pandangan matanya mengawasi ke tebing tinggi itu, tetapi ia memandang sekian lamanya, hanya tampak tebing gunung yang menjulang tinggi dan licin, tidak terdapat sesuatu gua atau lobang yang kiranya dapat digunakan untuk kediaman orang, sehingga dalam hati diam- diam merasa heran.

Meskipun ia adalah seorang yang cerdik, tetapi berhadapan dengan suatu kejadian ganjil ini juga tidak berdaya.

Ia mulai memasang telinganya 1agi, didengar pula irama seruling yang lembut dan merayu, keluar dari celah-celah tebing gunung itu. Entah berapa saat irama seruling itu dari suatu irama yang menggembirakan, sudah berubah menjadi suara lembut halus dan merayu-rayu.

Irama itu sedikitpun tidak mengandung irama sedih, seolah-olah rayuan dari sepasang gase yang lama berpisah baru berjumpa lagi……..

Irama setiap alat musik, memang mengandung kekuatan yang dapat pengaruhi perasaan manusia, tetapi irama yang keluar dari seruling itu lain dari pada yang lain, kedengarannya tidak mempunyai noot tertentu, akan tetapi bisa membawa banyak macam perobahan sebentar tinggi sebentar rendah, sebentar tegang dan sebentar lembut……..

Siang-Koan Kie telah tertarik seluruh perhatiannya oleh suara seruling yang aneh itu sehingga melupakan tujuannya yang hendak mencari suara itu tadi, ia berdiri dibawah tebing gunung untuk menikmati irama seruling itu.

Tiba-tiba irama seruling itu berubah pula, Siang-Koan Kie dengan tanpa sadar mendongakkan kepala ke atas.

Ia merasa suara itu seolah-olah memanjat ke atas melalui tebing tinggi itu, dan setelah tiba di atas dan mendadak berhenti, suaranya masih mengalun di tengah udara.

Siang-Koan Kie seperti baru tersadar dari mimpinya. Ia mendongakkan kepala memandang keangkasa, lalu memaki dirinya sendiri sambil menepuk kepalanya, benar-benar gila aku sebetulnya hendak mencari suara seruling itu, bagaimana kini telah terpengaruh olehnya……..

Ia memang seorang yang mempunyai kemauan keras dan pikiran teguh, meskipun suara seruling itu sudah berhenti, tetapi keinginannya untuk mencari masih tetap kuat, maka ia lalu mengerahkan ilmunya meringankan tubuh, memanjat ke atas tebing gunung itu. Ia pikir suara seruling itu datang dari atas tebinq, orang yang meniup pasti berdiam dalam lubang atau gua dipuncak gunung, tetapi ia mencari sekian lama masih tidak menemukan apa-apa. Sementara itu keringat sudah mulai membasahi sekujur badannya.

Tebing itu memang sangat licin, maka ia harus menggunakan seluruh kepandaiannya agar supaya badannya tidak merosot kebawah, meskipun ia mempunyai kepandaian sangat tinggi tetapi merambat di tempat licin semacam itu sulit mendapat kesempatan untuk berhenti, karena sudah tidak dapat bertahan lagi terpaksa ia merosot turun ke bawah.

Tiba-tiba ia teringat dirinya sendiri yang terkena racun, mengapa sampai saat itu masih belum binasa……..

Irama seruling yang menghilang tadi tiba-tiba terdengar pula, tetapi kali ini iramanya berlainan, tinggi dan penuh semangat, seolah-olah para pejuang yang hendak menuju ke medan laga.

Siang-Koan Kie mendengarkan itu tertarik pula perasaannya. Ia lalu melompat bangun dan tatkala mendengarkan lagi dengan saksama, suara itu datang dari sebelah kirinya.

Ia sudah tertarik sekali seluruh perhatiannya oleh irama seruling yang ganjil itu sehingga ingin sekali menemui orang yang meniupnya, dengan tanpa dirasa ia perlahan-lahan berjalan ke arah sebelah kiri.

Ketika tiba di suatu tikungan, saat itu ia lalu berdiri termangu sebab puncak gunung menjulang tinggi itu serupa dengan keadaan yang pertama dengan tebingnya yang tinggi licin dan suara seruling itu datangnya dari celah-celah tebing tinggi itu……..

Ia lalu memeriksa keadaannya, ternyata itu adalah dua buah puncak gunung yang tidak bersambungan, kecuali adanya sebuah jalan yang menghubungkan antara kedua puncak gunung itu maka orang yang meniup seruling tadi dengan gerak badannya yang gesit dapat pindahkan diri dari satu puncak ke lain puncak, selain itu juga tidak ada lain jalan lagi yang dapat memindahkan suara dari satu ke puncak lainnya.

Ia coba mengukur letak kedua puncak gunung itu semua itu tidaklah mungkin, sebab diantara dua puncak gunung itu terpisah satu jurang yang dalam, tidak mungkin dapat dilalui oleh tenaga manusia.

Ini memang merupakan suatu kejadian ajaib. Sing-Koan Kie meski seorang cerdik juga tidak mampu memecahkan persoalan itu.

Ia mendengarkan sekian lama, kembali berusaha untuk memanjat ke atas. Tetapi baru saja tiba di tengah-tengahnya suara seruling itu mendadak lenyap pula.

Ia sudah dengar betul bahwa suara seruling itu tersiar di antara tebing puncak gunung itu yang tidak dapat dicari dari mana asalnya tetapi ia tetap hendak mencarinya.

Sampai ia sudah merasa lelah dan tidak sanggup naik lagi, baru merosot turun dan duduk bersila untuk mengatur pernapasannya.

Suara seruling yang aneh itu benar-benar sudah menarik perhatiannya, ia melupakan dirinya sendiri yang sudah hampir mati, menantikan suara seruling itu lagi.

Siapa tahu sudah hampir setengah jam ia menunggu, seruling itu tidak terdengar lagi suaranya.

Ia membuka matanya, ternyata sudah hampir tengah hari hingga kekawatirannya akan mati timbul pula dalam hatinya……..

Kejadian semalam terbayang pula dalam otaknya, sekonyong-konyong ia teringat bahwa semalam di dalam kuil, ia juga pernah mendengar suara seruling yang sangat aneh itu, tempat ini terpisah sejauh lima pal dengan kuil itu, andaikata orang yang meniup seruling itu benar-benar berada di puncak gunung itu tidak mungkin suara seruling itu bisa sampai ke dalam kuil.

Selagi masih berpikir, irama seruling itu kembali mengalun ke udara, kali ini ia sudah siap sedia memasang telinga, ingin mencari tahu dari mana datangnya suara itu?

Siapa tahu terjadinya perobahan diluar dugaan, rama seruling itu agaknya ditiup dari tempat yang sangat jauh, meski suaranya tidak besar tetapi kedengarannya sangat nyata.

Ia sebetulnya ingin mencari suara itu, tetapi setelah dipikir masak2 ia lupa rencananya, kini ia duduk lagi sambil bersila dan memejamkan mata.

Tetapi irama seruling yang disiarkan kali ini berlainan pula dengan yang duluan, sehingga dalam hatinya diam-diam berpikir, “Orang yang meniup seruling itu entah dapat meniup berapa macam irama, yang setiap kali agaknya sangat berlainan.”

Tiba-tiba irama itu berubah menjadi tinggi, orang yang meniup agaknya juga dari tempat jauh telah berpindah ke tebing gunung sebelah kiri ini.

Suara seruling yang aneh dan sulit diduga dari mana asalnya itu telah membangkitkan sifat-sifat dan kemauan keras Siang-Koan Kie untuk mencari sampai dapat dimana suara itu.

Pada saat itu, ia tidak akan mencari lagi ke arah tinggi puncak gunung itu, sebaliknya ia memanjat ke atas pohon besar yang tingginya kira-kira enam tombak lebih.

Ia berada di atas pohon dan mendengarkan dengan saksama, tetapi usahanya itu ternyata sia-sia saja. Karena ia telah merasa bahwa suara seruling itu agaknya berasal dari lain tempat dan setelah tiba di tebing gunung itu mengeluarkan suara pantulannya.

Hanya, irama itu sangat lemah, tetapi suara memantul yang balik keluar kedengarannya lebih nyaring.

Pikiran aneh timbul dalam otak, mungkinlah ada seseorang yang berdiri di tempat jauh dengan kekuatan tenaga dalamnya yang sangat sempurna meniup seruling, dan suara seruling itu setelah membentur dinding puncak gunung lalu memantulkan suara yang lebih nyaring.

Hal itu adalah semacam pikiran aneh yang ia sendiri belum yakin sedalam-dalamnya, apakah dalam dunia ini ada kejadian serupa ini.

Tetapi kecuali teori ini sudah tidak ada lain jalan untuk menjelaskan apa sebabnya suara seruling itu bisa keluar dari tebing gunung itu.

Ia mendongakkan kepala, ternyata matahari sudah berada di tengah-tengah, ia mulai putus harapan, dalam hatinya diam-diam berpikir andaikata aku masih bisa hidup dua hari lagi, aku pasti dapat menemukan asal suara seruling itu, tetapi kini sudah tengah hari, racun dalam tubuhku sudah waktunya harus bekerja.

Karen Ang Thian Gie adalah seorang ahli racun kenamaan, Siang-Koan Kie yang menganggap dirinya sudah kemasukan racun, maka ia selalu ingat ucapan Ang Thian Gie yang mengatakan bahwa racun itu akan bekerja sebelum matahari terbenam……..

Penderitaan bathin ini, menyebabkan ia kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri, seorang yang akan meninggal dunia, hendak menghamburkan tenaganya untuk mencari asal-usul suara seruling yang aneh itu, sebetulnya memang tidak mungkin. Perasaan Sing-Koan Kie berada dalam keadaan berlawanan, sifat-sifat keras hati pembawaannya selamanya membuat ia menjadi seorang yang berkemauan keras, apa yang dipikir segera dilakukan tanpa menghiraukan segala rintangan dan kesulitan, tetapi kalau ia memikirkan jiwanya sendiri biar bagaimana tidak mampu menyelesaikan usahanya itu, sekalipun andaikata saat itu ia sudah tahu benar, bahwa irama seruling itu ditiup oleh orang yang berada di tempat jauh dengan menggunakan tenaga dalamnya yang sudah sempurna…….. tetapi waktunya hidup yang sudah tidak seberapa itu, barangkali tidak mungkin dapat menemukan dimana orang tersebut berada.

Perlahan-lahan ia merayap turun dari atas pohon, lalu duduk di bawahnya sambil menyandarkan badannya, ia mengenangkan semua pengalamannya, hatinya merasa sangat duka, jerih pajah Suhunya yang menurunkan kepandaian kepadanya sampai sembilan tahun, akhirnya tersia-sia semuanya sebab sebelum berhasil melakukan pekerjaan yang bermanfaat bagi sesamanya, ia harus mati karena racun.

Tiba-tiba ia teringat peristiwa menyedihkan yang terjadi kemarin malam, empat susioknya mati seketika begitu pula murid-muridnya, hanya empat pemuda yang bertindak sebagai mata-mata musuh bisa berlalu dengan selamat. Sedangkan suhunya sendiri dengan racun dibadannya coba mengejar Ang Thian Gie sehingga kini tak ketahuan kabar beritanya.

Perbuatan keji yang sekali gus menumpas lima orang jago daerah Tiong-goan bersama anak muridnya, sehingga tidak ada satupun yang hidup untuk menuntut balas, mereka mati konyol, sampaipun siapa sebenarnya yang merencanakan pembunuhan itu juga tidak jelas……..

Tiba-tiba terdengar pula suara seruling aneh itu dan kali ini iramanya berubah pula agaknya mengandung rasa kasih sayang seolah-olah timbul dari mulut ibu yang memanggil anaknya……..

Dengan tanpa sadar Siang-Koan Kie bangkit dan berjalan menuju ke arah suara seruling itu. Saat itu perasaannya sudah terpengaruh benar-benar oleh irama seruling itu, seluruhnya sudah dikendalikan oleh suara itu, hingga seperti seorang yang sudah tidak bersukma.

Suara seruling kali ini agaknya sengaja memancing dirinya supaya tidak bimbang seperti tadi, suara itu mengalun tegas datang dari arah tertentu.

Siang-Koan Kie mempercepat pindah kakinya, sebentar kemudian sudah tiba kembali di depan pintu kuil tua itu.

Saat itu ia sudah dikendalikan oleh irama seruling dengan tanpa ragu-ragu, bertindak masuk ke dalam dan menuju ke belakang.

Kuil tua itu keadaannya memang sudah bobrok, dinding disana sini sudah banyak yang runtuh, dimana-mana terdapat galagasi yang memenuhi ruangan dalam kuil.

Ketika ia tiba di sebuah menara tua yang berada di belakang kuil itu, suara seruling itu tiba-tiba berhenti. Ia menengadahkan kepala, di bagian atas menara itu samar- samar dapat terlihat tulisan dua huruf penyimpan kitab.

Kuil tua itu meskipun keadaannya sudah banyak yang rusak, tetapi bentuknya masih meninggalkan bekasnya yang megah namun tiada seorang padripun yang mengurusnya, apalagi sekitar lima pal kuil itu tidak terdapat sebuah rumahpun.

Begitu suara seruling itu berhenti, pikiran Siang-Koan Kie jernih kembali, ia memeriksa keadaan sekitar tempat itu, tetapi kalau ia melihat sinar matahari, tiba-tiba teringat pula racun yang mengeram dalam dirinya. Perlahan-lahan ia menghela napas dan mendorong pintu menara yang tertutup rapat itu.

Pintu itu entah sudah berapa tahun lamanya belum pernah bergerak, ketika didorong oleh Siang Koan Kie lantas terbuka, dari dalam menara menghembuskan banyak debu sehingga Siang Koan Kie harus mundur beberapa langkah, untuk menunggu sampai debu itu habis.

Ruangan dalam menara itu terdapat beberapa buah guci tanah jg berbaris sangat rapihnya namun di atasnya juga terdapat debu yang tebal. Guci tanah untuk menyimpan tulang-tulang manusia itu entah sudah berapa tahun lamanya tidak dibersihkan.

Siang-Koan Kie perlahan-lahan bertindak ke dalam ruangan, matanya memeriksa keadaan di sekitarnya tetapi dalam ruangan itu kecuali guci tanah tersebut tidak terdapat barang apa-apa lagi.

Ia dulu sering mengikuti suhunya berkelana di dunia Kang- ouw, sehingga sedikit banyak sudah mendapat pengalaman, maka ia segera tahu bahwa guci itu adalah benda untuk menyimpan tulang-tulang manusia.

Di sudut kiri dalam ruangan tersebut terdapat sebuah tangga.

Dengan tanpa ragu-ragu Siang-Koan Kie mendaki tangga itu, sedapat mungkin ia hendak mengejar waktu agar sebelum putus jiwanya ia dapat menemukan orang yang dicari, sekalipun ia tahun bahwa tangga itu adalah suatu jebakan, tetapi ia tidak memperdulikannya 1agi.

Tangga itu rupanya terbuat dari kayu yang kuat keadaannya ternyata masih belum ada yang lapuk.

Ia mendaki sampai ke tingkat limabelas. Di depan matanya terbentang sebuah ruangan kitab yang luas, disitu terdapat banyak lemari kayu yang tertutup pintunya, kecuali debu-debu yang terdapat di atasnya, tetapi tiada satupun yang rusak. Perlahan-lahan ia berjalan mengitari ruangan itu sekali, kecuali lemari-lemari kitab, tidak ada tanda apa-apa lagi, entah dari mana suara seruling tadi.

Ia membuka sebuah daun jendela, untuk melihat cuaca, hatinya lalu berpikir saatnya sudah hampir tiba, tempat ini begini tenteram, baik sekali untuk mengubur diriku……..

Ia memilih suatu tempat di tengah-tengah, lalu membersihkan debunya, kemudian merebahkan dirinya, pikirnya, “Mati demikian tenang, biarlah kitab2 ini mengawani bangkaiku.

Ia lalu memejamkan matanya, karena dianggapnya sudah waktunya harus mati, maka tidak antara lama lalu tertidur……..

Ketika ia terbangun, hari sudah malam, keadaan dalam kamar gelap gulita, ia yang memang sudah menganggap dirinya sudah mati, waktu sadar dalam keadaan gelap lalu mengira dirinya betul2 sudah mati, perlahan-lahan ia duduk dan bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Sekarang ini aku manusia ataukah setan……..

Desiran angin malam tiba-tiba meniup dimukanya, membawa bau harum dari bunga cempaka. Ia yang sudah pernah mencium bau harum serupa itu maka kali ini ketika dapat mencium lagi, otaknya tiba-tiba menjadi terang, ia mengulurkan jari tangannya untuk digigit sendiri.

Rasa sakit telah menyadarkan seluruh ingatannya, kiranya ia masih hidup, maka ia lalu berdiri dan berjalan menuju ke jendela.

Diluar keadaan gelap, di langit nampak bertebaran sinar bintang, angin malam yang membawa bau harum bunga cempaka, semakin keras menutup hidungnya. Kini ia sudah dapat kepastian bahwa dirinya masih hidup, diam-diam ia merasa heran mengapa semua orang yang sudah terkena racun Ang Thian Gie, kecuali itu empat pemuda yang bertindak sebagai mata-mata, seluruhnya sudah mati, mengapa ia sendiri tidak?

Sekonyong-konyong ia mendengar orang menarik napas panjang yang datang dari atas kepala.

Suara itu datangnya secara tiba-tiba dalam kuil yang keadaannya yang sangat sunyi dan seram itu, sekalipun orang yang keberanian besar, juga akan timbul rasa takutnya.

Ia telah dikejutkan oleh suara tarikan napas itu, untuk sesaat bulu romanya berdiri, ia mencoba meraba ke belakang punggungnya, ia baru ingat bahwa pedangnya sudah tertinggal dalam kuil.

Suara tarikan napas itu kedengarannya sangat berat. Setelah ia menenangkan pikiran ia masih dapat ingat dengan jelas bahwa suara itu bukanlah timbul karena sedang melamun, tiba-tiba saja ia tertarik pula oleh perasaan herannya, pikirnya, “Dekat tempat ini kalau benar tumbuh bunga cempaka, mengapa waktu aku tadi naik ke menara ini tidak pernah menciumnya, apakah bau harum bunga ini dibawa oleh tiupan angin dari tempat jauh?”

Dia lalu teringat pula setiap kali setelah hembusan harum bunga cempaka itu, lalu disusul oleh suara seruling yang sangat aneh. Hatinya mendadak tergerak, ia lalu melompat melalui jendela menuju ke atas atap.

Ia mulai memasang mata mengamati keadaan sekitarnya. Di bawah sinar bintang, matanya dapat melihat satu kepala manusia aneh yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua, muncul di sebuah daun jendela.

Ternyata menara itu mempunyai dua kamar yang serupa, karena kamar kitab itu sangat luas, maka kamar lainnya itu dibangun di atas kamar kitab tadi. Jikalau orang tidak naik ke atas atap tidak akan dapat melihatnya.

Orang itu agaknya duduk di pinggir jendela, badannya, pakaian bawah tertutup oleh dinding seluruhnya sehingga cuma kelihatan kepalanya yang putih seluruhnya.

Pada waktu dan tempat seperti itu, tiba-tiba saja mendapat penglihatan pemandangan yang sangat aneh itu, betapapun besar beraninya Siang-Koan Kie juga terkejut dan ketakutan, ia lalu menjerit dan memejamkan matanya.

Ketika pikirannya tenang kembali dan ia mulai membuka matanya, kepala aneh yang terdapat di mulut jendela itu ternyata sudah lenyap.

Ia memeriksa keadaan di situ dengan teliti, ternyata semua jendela terbuka, bau bunga cempaka yang harum itu tersiar keluar dari dalam ruangan tersebut, tetapi karena keadaan sangat gelap, tidak dapat melihat barang-barang di dalamnya.

Perlahan-lahan ia berjalan ke ruangan itu, mengawasi keadaan di dalamnya.

Ia memang sudah mempunyai kepandaian dapat membedakan benda2 dalam keadaan gelap, maka setelah memandang dengan saksama, segera dapat lihat dengan tegas benda yang ada dalam kamar.

Kepala aneh yang terdapat di mulut jendela ternyata berada di tengah-tengah kamar itu.

-odwo-

Bab 4

SETELAH berpikir sejenak, Siang-Koan Kie segera mengerti, bahwa orang itu mengenakan pakaian berwarna hitam, karena berada di dalam kamar yang gelap gulita, maka yang tertampak hanya kepalanya saja yang seolah-olah diletakkan di atas meja.

Siang-Koan Kie setelah memandang sejenak, dalam hatinya lalu berpikir, “Orang ini bukan saja aneh dandanannya tetapi juga memilih tempat yang begini menyeramkan sebagai tempat tinggalnya, mungkin ia bukan seorang baik, sebaiknya aku jangan mengganggunya.” 

Selagi hendak berlalu, tiba-tiba terdengar suara yang keluar dari mulut orang aneh itu, “Hem dalam hati kau berani memaki aku?”

Siang-Koan Kie terperanjat, ia lalu menyahut, “Bagaimana kau tahu?”

“Aku melihat sikap diwajahamu, aku segera dapat tahu kau sedang memaki aku, kalau hal itu terjadi dimasa mudaku, siang-siang niscaya sudah kuhajar mampus kau… tetapi

sekarang usiaku sudah lanjut, adat juga tidak keras lagi. Dalam hatimu memaki aku, juga tidak apa-apa.”

Siang-Koan Kie lalu berpikir, “Meski aku tidak memaki padanya, tetapi memang agak jemu terhadapnya, dalam keadaan begini gelap ia dapat melihat sikap jiwa jago, tajam pandangan matanya sesungguhnya sangat luar biasa… ”

Terdengar pula ucapannya orang aneh itu, “Di tempat penjuru ruangan ini, jendela terbuka, kalau kau ingin melihat- lihat silahkan masuk saja.”

Siang-Koan Kie maju lagi dua langkah seraya menanya, “Locianpwee, andakah yang meniup seruling?”

Orang aneh itu agaknya merasa girang mendapat pujian, seketika menjawab, “Benar-benar baguskah tiupanku itu?”

Siang-Koan Kie diam-diam terkejut, dalam hatinya berpikir, “Kalau benar seruling itu dia yang meniup, maka kekuatan tenaga dalam orang ini benar-benar sudah tidak ada taranya. Orang aneh itu ketika menyaksikan Siang-Koaa Kie melongo memandangnya dan tidak menjawab, dalam hatinya agaknya merasa kurang senang, maka ia menanya pula dengan suara keras, “Katakan suara itu bagus atau tidak?”

Ditanya demikian Siang-Koan Kie segera menjawab, “Irama seruling Locianpwee sesungguhnya bagus sekali.”

Orang aneh itu agaknya tidak percaya jawaban itu, kembali ia bertanya, “Benarkah ucapanmu itu? Atau kau sengaja membohongi aku?”

“Semua ucapanku adalah sejujurnya, bagaimana aku membohongi Locianpwee? Cobalah Locianpwee pikir sendiri, jikalau tidak karena tertarik oleh irama seruling yang sangat indah itu, bagaimana aku dapat mencari kemari, dan bagaimana pula aku dapat menjumpai Locianpwee?”

Orang aneh itu ketika mendengar ucapan Siang-Koan Kie nampaknya sangat gembira sekali sehingga ia bersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata, “Keteranganmu ini agaknya memang benar, rasanya bukan ingin mengkecapi diriku……..

Orang aneh itu menatap wajah Siang-Koan Kie sejenak, lalu dengan bangga berkata pula, “Tidak kusangka hari ini dapat berjumpa dengan seorang yang mengenal irama.

“Woan pwee adalah seorang bodoh kalau dikatakan mengenal suara, sesungguhnya tidak berani, tetapi irama yang keluar dari seruling, benar-benar suara dewa, menyebabkan orang yang mendengarkan menjadi bersemangat, ini memang sesungguh-sungguhnya… ”

Orang aneh itu tertawa terbahak-bahak, lalu berkata, “Suara dewa, gampang kau berkata, cuma di atas seruling ini aku memang benar pernah menggunakan waktu untuk mempelajarinya… ” Tiba-tiba ia teringat bahwa mereka berbicara terpisah oleh jendela, ia lalu tertawa pula dan berkata, “Selama beberapa tahun ini, kaulah satu-satunya tamuku disini, mari-mari, silahkan masuk jika kita berbicara dalam keadaan semacam ini bukankah itu berarti aku tidak mengindahkan tetamu.”

Siang-Koan Kie sebetulnya tidak ingin mengobrol dengan orang aneh itu, tetapi kesatu karena merasa suka dengan irama serulingnya, dan kedua, orang itu kadang-kadang masih menunjukkan sikap kekanak-kanakan, maka waktu diundang masuk ia segera menerima baik undangan tersebut.

Orang aneh itu berkata pula, “Oh ja, kali ini kita berjumpa juga boleh dikatakan jodoh, kau sudah datang sudah tentu harus duduk dulu.”

Sementara itu Siang-Koan Kie sudah berada dihadapannya. Orang yang aneh itu mengangkat kepala mengamat-amati

Siang-Koan Kie, lalu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata, “Hem, gerakanmu boleh juga, pantas kau berani menempuh bahaya.”

Orang itu menggerakkan kepalanya menoleh ke samping seolah-olah memberi tanda kepada Siang-Koan Kie lalu berkata pula, “Duduklah, mari kita mengobrol.”

Siang-Koan Kie mengawasi keadaan di sekitarnya, di samping meja kayu ada sebuah kursi, ia lalu duduk di atasnya.

Orang yang aneh itu menantikan setelah Siang-Koan Kie duduk baru bertanya lagi, “Benarkah kau karena ingin mencari suara seruling sehingga datang kemari?”

“Benar, suara seruling locianpwee sesungguhnya luar biasa, sehingga Boanpwee mencarinya sampai kemari ”

Orang yang aneh itu mendengar kata Siang-Koan Kie nampaknya sangat bergirang lagi, ia berkata, “Kalau begitu, kau tentunya bisa memahami irama serulingku?” “Boanpwee meskipun tidak berani mengatakan faham, tetapi perasaan sedih dan gembira yang timbul karena pengaruh irama seruling itu, Boanpwee masih juga dapat merasakan ”

“Itu memang, jangankan manusia sekalipun binatang, juga dapat mengenali bagus atau jeleknya suara…….. hanya saja setelah mendengarkan, perasaan yang timbul kepada mereka berbeda-beda.”

Dalam hati Siang-Koan Kie diam-diam berpikir, “Orang tua ini sungguhpun aneh kelakuannya tetapi perkataannya masih masuk diakal.”

Orang yang aneh itu tiba-tiba nampak sangat gembira, ia berkata, “Malam-malam aku kedatangan tamu yang mengenal irama musik, baiklah kutiup lagi beberapa lagu untuk kau dengarkan, bagaimana?”

“Kalau Locianpwee senang, suka sekali Boanpwee dengar.” Orang tua itu lalu mengambil sepotong kain dari atas meja,

dengan   sikapnya   yang   hati2   diletakkan   dihadapannya,

kemudian dengan sikapnya yang sangat menghormat sekali ia mengeluarkan serulingnya yang diletakkan di atas kain itu.

Siang-Koan Kie dengan matanya yang tajam dapat menyaksikan seruling tembaga yang diletakkan di atas kain itu, bentuknya sangat berlainan dengan seruling tembaga umumnya, seruling itu panjangnya hanya satu kaki lebih, warnanya hitam cengat, entah terbuat dari bahan apa, di bagian ujung terdapat sebuah gumpalan sepotong.

Orang tua itu memejamkan matanya, merangkapkan kedua tangannya di atas dada, lebih dulu ia mendoa, kemudian membuka matanya dan memandang seruling itu dengan sikap sangat menghormat, ia mengangkat seruling itu, kemudian badannya mendadak melesat ke atas dengan sikap yang tidak berobah, lalu melajang turun di depan jendela. Siang-Koan Kie terkejut dan keheranan, entah semacam gerakan apa yang dilakukan oleh orang tua itu, karena dengan tanpa menggerakkan kaki dan tangannya, hanya dengan mengandalkan satu tangan kiri yang digunakan untuk menekan tanah, orangnya sudah melajang ketengah udara dengan sikap yang tidak berobah.

Setelah berada di pinggir jendela, mulailah orang tua itu meniup serulingnya.

Tetapi sudah sekian lam ia meniup, tiada terdengar suara irama keluar dari seruling itu, hal ini mengherankan Siang- Koan Kie, tapi orang tua itu nampaknya memang sedang benar-benar meniup dengan sungguh-sungguh nampak mengeluarkan banyak tenaga.

Selagi hendak membuka mulut untuk menanya, sekonyong- konyong terdengar irama seruling sayup-sayup terbawa oleh tiupan angin…….

Mula2 irama seruling itu kedengarannya halus lembut, sebentar2 terputus, tetapi kemudian perlahan-lahan berubah nyaring.

Siang-Koan Kie berdiri menghampiri orang tua itu, ia pasang matanya sungguh-sungguh untuk menyaksikan caranya orang tua itu meniup seruling.

Kini ia telah menyaksikan suatu pemandangan yang ajaib, dibagian ekor seruling itu seperti ada gelombang asap putih bagaikan kabut melajang ke udara……..

Setelah menyaksikan lama, Siang-Koan Kie baru tersadar ternyata orang tua itu benar-benar sudah menggunakan kekuatan tenaga dalamnya yang sudah sempurna, menghembus keluar semacam gelombang suara, setelah gelombang itu menemukan rintangan lalu mengeluarkan suara seruling yang memantul balik…….. sehingga orang tua itu nampaknya harus menggunakan banyak tenaga. Orang tua itu agaknya dapat melihat perhatian Siang-Koan Kie terhadap dirinya sekonyong-konyong ia berhenti meniup, dan bertanya dengan nada suara dingin, “Perlu apa kau melihat aku?”

Melihat sikapnya orang tua itu yang kembali telah menunjukkan adat sifat-sifatnya yang aneh dalam hati Siang- Koan Kie berpikir, “Orang tua ini sifat-sifat dan sikapnya tidak mudah dilayani, sebaiknya aku berusaha supaya lekas berlalu dari sini.

Karena berpikir demikian, maka ia kemudian menjawab, “Karena menyaksikan sikap Locianpwee meniup seruling yang agaknya menggunakan banyak tenaga tadi, dengan tanpa sadar Boanpwee sangat tertarik sehingga mencoba untuk memperhatikan.

Sementara itu, irama seruling itu masih terdengar sangat nyata.

Orang itu meskipun berhenti meniup, tetapi suara dari serulingnya masih tetap mengalun sampai beberapa saat lamanya baru berhenti.

“Anak kau masih terlalu muda, sudah tentu tidak mengerti keajaiban ini demikian orang tua itu berkata.

Siang-Koan Kie adalah seorang yang beradat keras, ketika mendengar perkataan orang tua itu, mengatakan kepadanya tidak mengerti, dalam hati merasa tidak puas, maka ia lalu berkata sambil tertawa dingin, “Meskipun usia Boanpwee masih terlalu muda, tetapi terhadap irama masih sedikit banyak mengerti juga, terhadap berbagai macam alat musik meski belum mempelajari semua tetapi tidak sedikit juga yang Boanpwee kenal baik… ”

Orang tua itu setelah mendengar ucapan Siang-Koan Kie segera mengerti bahwa pemuda itu tidak puas, lalu berkata sambil tertawa dingin, “Mendengar keteranganmu ini agaknya kau mengerti tidak sedikit, sekarang aku bertanya padamu, kau lihat apakah tiupan serulingku ini sama dengan orang biasa?”

“Kalau Locianpwee hendak dibandingkan dengan orang lain, memang tidak sama.”

Orang tua itu buka matanya lebar-lebar, di wajahnya nampak sikap keheran-heranan, tiba-tiba ia bersenyum dan berkata,   “Dimana   letak    perbedaannya?    Coba ceritakanlah ”

Setelah berpikir sejenak, Siang-Koan Kie berkata, “Alat-alat musik sebetulnya digunakan untuk mencari hiburan, orang yang meniup atau menabung pada waktu itu, meskipun perasaannya senang atau sedih, tetapi ia tetap meniup atau membunyikannya menurut lagu yang ditentukan, terutama orang yang meniup seruling harus berpikiran tenang haru dapat mengeluarkan iramanya yang enak.”

“Tetapi Locianpwee jauh berbeda dengan orang biasa, apa yang ditiup tidak menurut lagu yang tertentu bahkan… ”

Sekonyong-konyong ia ingat bahwa orang tua dihadapannya itu adalah seorang tua beradat aneh kalau ia berkata sejujurnya malah kurang baik.

Orang tua itu berulang-ulang menganggukkan kepalanya sikapnya nampak sangat girang sekali saat itu Siang-Koan Kie sudah menutup mulut maka ia lalu bertanya, “Lekaslah kau katakana… ”

Melihat sikapnya itu, Siang-Koan Kie tahu apa bila ia tidak mengatakannya pasti akan menimbulkan kemarahan orang tua itu. Maka ia lalu berkata, “Bahkan sewaktu Locianpwee sedang meniup mengerahkan seluruh perhatian dan kekuatan, sehingga nampaknya seperti menggunakan banyak tenaga, menurut pandangan Boanpwee tiupan seruling Locianpwee ini, seperti juga sedang melatih ilmu kekuatan tenaga dalam.” Orang tua itu mendadak tertawa terbahak-bahak, “Sungguh tidak diduga, usiamu yang masih begini muda, tetapi terhadap irama dan kepandaian ilmu silat ternyata mempunyai pengetahuan yang tidak sedikit… ”

Ia lalu berpaling dan mengawasi anak muda itu, kemudian berkata pula, “Selama beberapa puluh tahun ini, orang yang mendengarkan irama serulingku ini, sudah tentu tidak sedikit jumlahnya, tetapi yang dapat mengikuti suara itu dan mencarinya sampai kemari, hanyalah kau seorang saja, terus terang kukatakan kepadamu caraku meniup ini memang berlainan dengan orang biasa, kalau orang biasa meniup seruling untuk menghibur diri atau melampiaskan perasaan, tetapi bagiku, kecuali itu juga mengandung wasiat semacam ilmu kekuatan tenaga dalam yang sangat tinggi, maka kalau aku meniup seruling, harus mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam, cara demikian dapat melukai orang tanpa kelihatan… ”

“Boanpwee meski seorang bodoh, tetapi dari irama seruling itu sudah dapat menduga bahwa Locianpwee adalah seorang yang berkepandaian tinggi dalam rimba persilatan.”

Orang tua itu dipuji oleh Siang-Koan Kie hatinya semakin girang, ia tertawa ber-gelak2, kemudian berkata, “Dalam rimba persilatan dewasa ini, orang yang mampu menandingi aku, jumlahnya dapat dihitung dengan jari, sayang meski kepandaianku tinggi sekali, tetapi belum menemukan seseorang yang dapat mewarisi kepandaianku itu… ”

Diluar jendela mendadak berkelibat bayangan hitam, orang tua itu cepat mengulur tangannya kemudian ditarik kembali, gerakan mendadak itu mengejutkan Siang-Koan Kie, saat itu orang tua itu berkata pula kepadanya sambil ketawa, “Kau lihat bagaimana keahlianku ini.”

Ia lalu menentang tangannya, dalam telapakan tangannya ternyata ada seekor burung kelawar hitam. Burung kelelawar itu berdiam di dalam telapakan tangannya, sayapnya bergerak-gerak agaknya ingin terbang, tetapi tidak berdaya.

Orang tua itu mengawasi gerakan kelelawar yang berada dalam telapakan tangannya, wajahnya nampak sangat gembira, lalu berkata pula kepada Siang-Koan Kie, “Aku senang dengan keberanianmu dan kecerdikanmu, mulai besok, aku hendak menurunkan kepandaianku kepadamu.”

Siang-Koan Kie diam-diam berpikir, “Kepandaiannya orang tua ini memang luar biasa, hanya dalam satu lambaian tangan, ia dapat menangkap burung terbang, sesungguhnya bukan setiap orang mampu melakukan, tetapi dalam rimba persilatan ada mengutamakan dan menjunjung tinggi peraturan perguruan, aku yang sudah berguru dari orang lain bagaimana boleh berguru padanya lagi.

Maka iapun, lalu berkata dengan tegas, “Locianpwee suka menurunkan kepandaianmu kepadaku meski dengan bermaksud baik, tetapi menyesal sekali aku tidak dapat menganggap kau sebagai guru.”

Orang tua itu nampak berpikir, kemudian berkata sambil ketawa, “Dalam dunia pada dewasa ini entah ada berapa banyak orang yang ingin berguru padaku tetapi semuanya telah kutolak, kau tidak mau menganggap aku sebagai guru, sebaliknya ingin mempelajari kepandaianku, bagaimana itu bisa terjadi?”

“Jang mengatakan hendak menurunkan kepandaiannya, adalah Locianpwee sendiri, aku belum pernah mempunyai pikiran itu, kalau Locianpwee tidak suka menurunkan sudah saja… ”

Ia lalu balikkan badannya berjalan menuju keluar.

Tiba-tiba ia merasakan suatu kekuatan hebat menyerang dirinya, dengan sendirinya ia mengerahkan kekuatannya untuk melawan, tetapi kekuatan itu dirasakan menindih semakin hebat, ia mulai tidak mampu menahan, apalagi sepasang kakinya agaknya juga sudah tidak mau dengan perintahnya lagi.

Kiranya kekuatan tenaganya yang dikerahkan olehnya tadi, dipusatkan untuk melawan serangan kekuatan kepada dirinya, maka ketika kekuatan lain bagian terserang ia sudah tidak berdaya sama sekali.

Kekuatan yang menyerang dirinya itu mendadak berhenti sendiri, di belakangnya terdengar suara orang tua itu yang berkata sambil ketawa dingin, “Sudah beberapa puluh tahun aku berdiam di tempat ini, belum pernah ada orang yang menginjak kemari, kau bocah ini sudah masuk kemari, bagaimana bisa keluar dengan sesukamu?……..

Dalam hati Siang-Koan Kie berpikir, “Adalah kau sendiri yang menyuruhku kemari, bagaimana kau dapat menyalahkan aku……..

Meskipun dalam hatinya ingin membantah, tetapi sudah tidak mempunyai kekuatan untuk bicara.

Terdengar pula suaranya orang tua itu yang berkata, “Kau sekarang harus tahu perkataanku itu tidak salah dalam dunia pada dewasa ini orang yang mampu melawan kepandaianku, barangkali cuma dua atau tiga orang saja, tetapi selama beberapa puluh tahun ini sejak aku berdiam disini, siang malam aku melatih ilmuku, maka kepandaianku dengan sendirinya pasti mendapat banyak kemajuan, jika kau suka menjadi muridku dan mewarisi kepandaianku, sepuluh tahun kemudian kau pasti akan menjadi seorang kuat nomor satu……..

Siang-Koan Kie dapat merasakan bahwa kekuatan tenaganya yang digunakan untuk melawan serangan tadi perlahan-lahan berkurang, dahinya sudah mandi air peluh, sehingga tiada kesempatan untuk mendengarkan perkataan orang tua itu, tidak jelas baginya apa yang diucapkan tadi. Tetapi orang tua itu ketika menyaksikan Siang-Koan Kie berdiri saja tanpa menjawab perkataannya hatinya menjadi murka, ia berkata puladengan suara keras, “Apa yang kukatakan tadi, kau dengar atau tidak… ?”

Sementara itu tenaga perlawanan Siang-Koan Kie tiba-tiba lenyap, badannya jatuh rubuh ditanah.

Orang tua itu mulutnya memaki, “Bocah yang tidak ada guna!”

Tangan kirinya lalu menekan tanah dan badannya melajang ke udara menghampiri turun didekat Siang-Koan Kie, kemudian ia mengulur tangan dan menotok tiga bagian jalan darah dibadan Siang-Koan Kie.

Siang-Koan Kie sebetulnya sudah hampir melajang nyawanya, tetapi setelah ditepuk tiga jalan darahnya, ia mengeluarkan suara tarikan napas panjang, lalu melompat bangun dengan tiba-tiba dari mulutnya menyemburkan banyak darah, sambil mengawasi orang tua itu ia berkata dengan suara gusar, “Sekalipun kepandaianmu sudah tidak ada tandingannya, aku juga tidak sudi menganggap kau sebagai guru untuk mempelajari kepandaianmu.”

Kembali ia berdiri dan berjalan keluar.

Orang tua itu agaknya terpesona oleh kekerasan sikap Siang-Koan Kie itu, dengan mendadak ia menarik napas panjang dan berkata, “Baik kau tidak mau menganggapku sebagai guru, ya sudah asal kau mau menyanggupi melakukan beberapa hal bagiku, aku juga boleh menurunkan kepandaianku kepadamu.”

Siang-Koan Kie berpaling dan berkata, “Apakah yang kau inginkan dariku.”

Ia sangat tertarik akan kepandaian orang tua itu, tetapi karena sipatnya yang keras dan rasa hormatnya kepada gurunya yang lama, ia tidak mau menyerah terhadap orang tua itu.

Orang tua itu matanya mengawasi ke atas, mulutnya menghitung: satu, dua, tiga, empat…….. tiba-tiba ia berpaling dan berkata kepada Siang-Koan Kie, “Persoalan ini sangat mudah sekali asal kau mau menyanggupi, setelah kau nanti berhasil mempelajari kepandaianku, kau melakukan pembunuhan atas diri duapuluh delapan orang untukku, hitung-hitung sebagai pembalasan budimu terhadap aku.”

Siang-Koan Kie menanyakan, “Orang macam apakah ke duapuluh delapan orang itu? Locianpwee harus memberi penjelasan lebih dahulu supaya aku dapat menimbangnya.”

Orang tua itu mendadak menepuk tangannya di tanah sehingga menimbulkan suara gemuruh lalu berkata dengan suara gusar, “Kau bertanya begitu teliti, adakah itu cara seorang yang hendak belajar ilmu dariku. malah lebih mirip aku yang hendak belajar darimu.”

Siang-Koan Kie berkata dengan nada suara dingin, “Meski kepandaianku biasa saja, tetapi dalam hatiku dapat membedakan yang baik dan yang jahat, jika orang-orang yang kau pinta aku bunuh itu adalah orang jahat semuanya, jangan hanya duapuluh delapan orang, sekalipun duaratus delapan puluh atau duaribu delapan ratus jiwa aku juga akan lakukan, tetapi jika mereka orang-orang baik dan jujur sekalipun hanya satu saja aku juga tidak sudi membunuhnya… ”

Sehabis berkata ia hendak berpaling dan hendak berjalan lagi.

Orang tua itu berkata, Diam, masuk ke dalam tempatku ini mudah, tetapi kalau hendak keluar, Hem, apakah kau kira begitu gampang?”

Siang-Koan Kie berhenti memandang orang tua itu sejenak lalu berkata sambil tertawa, “Kepandaian Locianpwee tinggi sekali, tidak susah bagi Locianpwee membunuh mati aku, aku bukan seorang yang takut mati… ”

Mendadak ia keluarkan perkataan keras, “Locianpwee kalau ingin bunuh aku bunuhlah, aku tahu kepandaianku tidak dapat melawan kepandaianmu, tidak nanti aku akan melawan.”

Ia lalu berdiri sambil melembungkan dada dan pejamkan mata.

Suasana dalam menara itu mendadak sunyi, lama tidak terdengar suara jawaban orang tua itu.

Siang-Koan Kie merasa heran, ia membuka matanya, ternyata orang tua itu sudah menghilang. Selagi hendak memalingkan badan, tiba-tiba terdengar suara tarikan napas panjang yang keluar dari satu sudut dalam ruangan itu.

Siang-Koan Kie menengok, ia lihat di tangan orang tua itu memeluk sebuah kotak warna hitam berukuran kira-kira satu kaki persegi, sepasang matanya tergenang air……..

Siang-Koan Kie mendadak merasa bahwa nasib orang tua itu patut dikasihani, dengan tanpa berasa timbullah perasaan kasihannya……..

Dalam keadaan sunyi itu tetesan air mata terdengar nyata jatuh di atas kotak itu, terang bahwa hati orang tua itu tengah dirundung kedukaan yang hebat.

Siang-Koan Kie dengan tanpa berasa menghampirinya, orang tua itu Nampak mendongakkan kepala mengawasi ke atas, mulutnya bergerak-gerak tetapi tiada terdengar sepatah katapun keluar dari mulutnya, hanya air matanya yang mengalir deras membasahi kotaknya.

Ia agaknya sudah lupa bahwa dalam ruangan itu masih ada Siang-Koan Kie, ia tetap dalam keadaan tanpa bergerak. Siang-Koan Kie berdiri di sampingnya berkata dengan suara perlahan, “Locianpwee sedang memikirkan apakah? Mengapa kau demikian berduka… ?”

Orang tua itu menoleh, ia meletakkan peti dari tangannya, lalu berkata, “Mengapa kau ingin tahu, jangan katakan aku tidak berduka, sekalipun ada, apakah gunama aku beritahukan kepadamu… ”

Jawaban itu, kedengarannya sangat menggelikan.

Dengan menahan rasa geli Siang-Koan Kie berkata pula dengan suara rendah, “Jikalau Locianpwee memerlukan aku, perintahkan saja asal aku mampu, pasti tidak akan menolak.”

“Seumur hidupku tidak suka meminta bantuan orang.” Siang-Koan Kie berpikir, “Ucapannya itu memang benar,

kepandaiannya yang begitu hebat sekalipun minta bantuan, aku juga tidak dapat membantu apa-apa… ”

Setelah berpikir demikian ia berjalan lagi ke dekat jendela, selagi hendak lompat keluar tiba-tiba terdengar suara orang tua itu memanggil padanya, “Tunggu dulu, aku justru ingin memintamu melakukan satu hal.”

Siang-Koan Kie membalikkan badannya dan menjawab, “Locianpwee perintahkan saja, boanpwee nanti akan melakukannya sedapat mungkin.”

Orang tua itu menarik napas panjang dan berkata, “Aku minta kau suka belajar ilmu silatku, sukakah kau?”

Siang-Koan Kie berpikir sebentar lalu menjawab, “Maksud Locianpwee hendak memberi pelajaran ilmu silat kepadaku, ialah untuk kemudian menyuruhku membunuh orang untukmu, dalam hal ini aku tidak dapat menerima.”

Orang tua itu nampak berpikir dan berkata, “Kalau begitu kukurangi jumlahnya menjadi separuhnya saja.”

“Separoh berarti empat belas…   ” “Benar-benar, separuh dari duapuluh delapan orang memang empat belas.”

Siang-Koan Kie geleng-gelengkan kepala dan berkata, “Tidak, aku tidak suka membunuh empat belas orang yang tidak ada permusuhan dengan aku… ”

Orang tua itu tidak menantikan Siang-Koan Kie melanjutkan kata-katanya sudah memotong, “Kalau begitu kukurangi lagi separuhnya, jadi tinggal tujuh orang, bagaimana?”

“Membunuh seorang saja yang tidak berdosa, sudah tidak seharusnya, apalagi tujuh jiwa.

“Kalau begitu kukurangi lagi separuh, kau tinggal membunuh tiga orang saja.”

Siang-Koan Kie melihat orang tua itu agaknya menantikan jawabannya dengan penuh pengharapan, tetapi ia hanya menarik napas perlahan tidak menjawab.

Orang tua itu tangan kirinya tiba-tiba menekan ke tanah, dengan sikap tidak berubah dia melajang dan turun dihadapan Siang-Koan Kie lalu berkata, “Asal kau menganggukkan kepala, aku segera pelajari ilmu silat padamu ”

Siang-Koan Kie mendadak mengangkat muka dan berkata, “Tidak.”

Lalu ia melompat keluar dari jendela.

Orang tua itu mengulurkan tangan kanannya, dengan kecepatan luar biasa menyambar lengan kiri Siang-Koan Kie, dengan secara paksa menarik kembali badan Siang-Koan Kie dan kemudian dilempar ke lantai.

Siang-Koan Kie sebetulnya ingin bangun lagi tapi orang tua itu tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya dan menekan pundak kirinya, semacam kekuatan yang hebat menindih badannya sehingga ia tidak bisa bergerak. Orang tua itu berkata sambil mengawasi Siang-Koan Kie, “Bocah, apakah kau percaya bisa kabur dari sini? Kau sesungguhnya tidak tahu, dalam dunia ini banyak orang yang ingin berguru padaku tetapi semuanya tidak kupandang sebelah mata. Sekarang begitu merendah aku minta kau, dengan rela hati aku ingin menurunkan seluruh kepandaianku kepadamu, tidak kusangka kau begitu sombong dan keras kepala, apapun yang aku kata, sedikitpun kau tidak abaikan. Katakanlah, dengan demikian kau perlakukan aku? Bagaimana aku tidak membencimu ”

Siang-Koan Kie yang sudah tidak berdaya, dalam hati diam lalu berpikir, “Kepandaian orang tua ini terlalu tinggi sekali, rasanya tidak mungkin bagiku untuk lari keluar dari sini. Sekarang orang tua ini sudah begitu membenciku, pasti tidak mengandung maksud baik, dari pada terhina, lebih baik aku mati saja.”

Setelah mengambil keputusan demikian ia lalu berpaling dan berkata kepada siorang tua, “Perkara belajar kepandaian, sudah tentu harus kedua pihak sama suka, tetapi kini Locianpwee dengan mengandalkan kepandaian yang tinggi, hendak memaksaku, tidak ubahnya bagaikan satu hinaan, aku Siang-Koan Kie meski hanya seorang tingkatan muda dalam rimba persilatan namun juga tidak suka dihina orang, sekarang sudah berada di dalam tanganmu, terserah padamu apa yang kau hendak lakukan, kalau kau inginkan aku mengangkat guru kepadamu, itu tidak bias… ”

Orang tua itu membuka lebar matanya, ia memandang Siang-Koan Kie sekian lama lalu berkata, “Bocah kau salah hitung, kau ingin menentang aku dan ingin aku supaya membunuhmu agar kau dapat mati secara enak, tetapi ha ha ha……..” Orang tua itu habis tertawa lalu berkata pula, “Seumur hidupku aku suka berbuat menurut kehendakku, orang ingin belajar kepandaian kepadaku aku malah tidak sudi menerimanya, kau tidak ingin mempelajari kepandaianku, sebaliknya aku harus akan dapatkan kau, jikalau ada orang yang tidak mau mendengarkan perkataanku, maka aku akan menggunakan cara yang paling kejam dalam dunia, untuk menotok urat2 nadinya supaya ia menderita seumur hidupnya…….. bocah, aku justru suka dengan kesombonganmu sekarang aku berikan kesempatan terakhir, jika kau terima baik permintaanku aku tidak akan tarik panjang persoalan yang sudah-sudah dan kuturunkan pelajaranku kepadamu.

Siang-Koan Kie melihat sikap yang sangat sombong dari orang tua itu, hawa amarahnya naik seketika maka lalu memotong pembicaraannya, dan membentak dengan suara keras, “Jangan kata lagi, apa kau kira Siang-Koan Kie seorang yang takut mati, kau akan membunuhku atau akan bagaimana terserah, tidak nanti aku akan menyesal……..

Orang tua itu mengeluarkan suara ketawanya yang aneh lalu berkata, “Bagus-bagus, ini adalah kau yang mencari penyakit sendiri, jangan sesalkan aku berlaku kejam, sekarang aku hendak beritahukan kepadamu, siksaan ini akan membikin kau menderita hebat… ”

Siang-Koan Kie meski dalam hati merasa sedih, tetapi ia adalah seorang keras kepala, tidak suka menyerah begitu saja, dalam gusarnya lalu berkata, “Kau jangan merasa bangga, Siang-Koan Kie belum tentu takut siksaanmu, jangan banyak bicara lagi lekaslah turun tangan… ”

Orang tua itu kembali memperdengarkan suara katawanya yang aneh, berkata, “Bocah yang keras kepala, aku tidak percaya kau adalah manusia yang terbikin dari besi atau baja.”

Setelah itu tangan kanannya mendadak menepuk badan Siang-Koan Kie.

Siang-Koan Kie merasakan tempat dimana yang ditepuk itu, semua jalan darah dan urat nadinya seperti terserang hebat, sehingga separuh badannya seketika menjadi kaku, tangan dan kakinya tidak bisa bergerak.

Orang tua itu berkata pula sambil tertawa dingin, “Siksaan yang kejam dalam dunia adalah membiarkan orang itu hidup tidak matipun tidak, sepuluh tahun lebih aku berdiam di dalam menara ini meliwati hari hidupku yang sepi dan sunyi, selama itu tiada seorangpun yang mengawani aku, sekarang aku hendak membikin jalan darahmu dalam badanmu berbalik mengalir, lebih dulu akan membuat kau mengalami penderitaan tiga hari tiga malam, setelah itu aku akan membikin rusak tangan dan kakimu, supaya kau mengawani aku seumur hidup dalam menara ini.”

Perkataannya itu diucapkan dengan nada yang menyeramkan, sehingga membikin berdiri bulu roma.

Siang-Koan Kie mengangkat muka mengawasi orang tua itu dalam hati ia berpikir, “Orang tua ini sudah sepuluh tahun lebih berdiam di tempat ini, maka sekarang kesunyian kebencian selama itu telah dikeluarkan, sudah tentu ia dapat melakukan apa yang dikatakan, dari pada harus mengalami siksaan begitu hebat lebih baik aku cari jalan untuk mati saja… ”

Ia diam-diam lalu keraskan tenaganya, ia ingin bunuh diri dengan memukul kepalanya sendiri.

Tetapi tiba-tiba ia merasakan bahwa urat dan jalan darahnya seperti tertutup, rasa sakit sangat hebat membuat dia tidak mampu bergerak lagi.

Orang tua itu menyaksikan dengan sikap dingin semua gerak gerik Siang-Koan Kie itu, diperhatikannya dengan seksama, lalu berkata dengan nada suara dingin, “Lukamu sebetulnya dua tiga jam lagi baru mulai bekerja, tetapi sekarang kau telah menggunakan tenaga sehingga darah dalam badanmu mengalir dengan cepat, dengan demikian maka itu berarti kau akan lebih cepat menderita siksaan, kau coba rasakan dulu bagaimana rasanya.”

Siang-Koan Kie yang merasakan gejala tidak baik, lekas- lekas tenangkan pikirannya dan memikirkan bagaimana supaya dapat lekas mati.

Orang tua itu dalam sejenak, mendadak mengangkat tangan kirinya kembali menotok bagian jalan darah di badan Siang-Koan Kie.

Setiap kali tangan itu menyentuh badannya, Sianq-Koan Kie segera merasakan tulang-tulangnya seolah-olah terlepas dari tempatnya, kecuali sedikit rasa sakit tidak menimbulkan reaksi lebih hebat, satu-satunya perasaan, bagian yang ditotok itu seolah-olah bukan kepunyaannya sendiri sehingga tidak dapat digerakkan menurut keinginannya sendiri……..

Perlahan-lahan ia mengawasi wajah orang tua itu, dalam hatinya berpikir kita satu sama lain tidak bermusuhan kau perlakukan aku demikian rupa?

Sifat-sifatnya yang keras kepala, membuat ia tidak ingin mengeluarkan apa yang dipikir dalam hatinya, ia hanya menelan napas panjang sambil pejamkan matanya.

Terdengar suaranya orang tua itu yang menanya padanya, “Kau menyesal?”

Dengan sekuat tenaga Siang-Koan Kie baru dapat menggelengkan kepalanya, ia menjawab dengan suara tegas, “Tidak, selamanya aku tidak akan menyesal!”

Jawabannya itu singkat tegas bahkan tanpa dipikirkan lagi.

Orang tua itu berkata dengan nada suara dingin, “Inilah kesempatanmu yang terakhir, sebentar lagi kau akan menderita siksaan hebat, kau tidak akan sanggup menderita siksaan ini.” Perkataannya terakhir itu kedengarannya lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Siang-Koan Kie tertawa hambar, ia berkata, “Perkara mati atau hidup sudah tidak kupikirkan lagi, tetapi ada suatu hal, yang aku masih belum jelas bolehkah Locianpwee memberitahukan kepadaku?”

Orang tua itu merasa heran mendengar nada suara Siang- Koan Kie yang tidak mengandung rasa dendam sakit hati kepadanya, setelah berpikir sejenak lalu berkata, “Soal apa, tanyalah saja.”

“Kepandaian Locianpwee dalam dunia ini sudah tidak ada tandingannya, entah apakah sebabnya harus berdiam dalam menara ini, meniup seruling untuk menghibur diri dan tidak muncul ke dunia Kang-ouw lagi?”

“Hem, dunia Kang-ouw banyak manusia palsu tetapi manusia susah diduga, dunia ini masih lebar, tetapi tidak begitu tenang dan tenteram seperti dalam menara ini.”

“Manusia yang mempunyai kepandaian luar biasa dalam dunia ini kebanyakan suka memang mempunyai sifat-sifat menyendiri, kepandaian Locianpwee merupakan satu-satunya orang yang Boanpwee pernah ketemukan, terutama seruling itu iramanya merupakan tersendiri, kepandaian yang semacam ini pasti tidak didapatkan dengan secara mudah. Mungkin karena perhatian Locianpwee dalam seruling itu sehingga membuat sifat-sifat Locianpwee jauh berbeda dengan orang biasa, hal ini memang tidak mengherankan, tetapi apakah yang Boanpwee tidak harus mengerti ialah mengapa Locianpwee timbul pikiran membunuh orang, bahkan sudah ditetapkan duapuluh delapan jiwa.”

Orang tua itu berpikir sejenak baru menjawab, “Sebab duapuluh delapan orang itu semua bermusuhan denganku, kalau tidak dapat membunuh mereka dendam dalam hatiku ini, sulit dimusnahkan.” Siang-Koan Kie mendadak membuka matanya, ia menanya pula.

“Tetapi mengapa Locianpwee tidak mau bertindak sendiri untuk mencari musuh itu? sebaliknya bersembunyi di dalam menara ini, dengan irama seruling kau memancing orang datang kemari, lalu minta orang lain mati untukmu, sedang sendirinya berada diluar garis sambil menonton, apakah Locianpwee sengaja hendak menguji kepandaianmu… ?”

Suara Siang-Koan Kie makin keras bahkan yang terakhir diucapkan dengan sikap bengis, maka orang tua itu lantas membentak dengan suara keras, “Tutup mulut!”

Kemudian ia membuka bayu panjang yang menutupi bagian kakinya.

Siang-Koan Kie mengawasi dengan saksama kedua kaki orang tua itu ternyata sudah terpotong semuanya maka ia lalu berkata sambil menghela napas, “Kiranya Locianpwee adalah orang yang bercacat pantas… ”

Mendadak darah dalam dadanya terasa bergolak, urat2nya seperti mau putus, sehingga ia tidak bisa melanjutkan perkataannya.

Orang tua itu tiba-tiba sikapnya berubah dengan penuh kasish sayang ia berkata dengan suara rendah, “Lekas pejamkan matamu, tenangkan pikiranmu, buang segala pikiran yang bukan-bukan.

Siang-Koan Kie berkata, “Boanpwee ingin siang-siang…   ”

Orang tua itu berkata, “Anak jangan kau keras kepala, menurut apa yang aku tahu, tiada seorang yang sanggup menahan penderitaan semacam ini, kau lebih dulu harus mempunyai persiapan yang sempurna dalam hatimu, setiap kali mukamu akan terasa kau sanggup menahan dan menghadapinya dengan tenang…….

-ooodwooo-